Misteri Lukisan Tengkorak Bab 17 : Burung Gereja Dan Elang

Mode Malam
17. Burung Gereja Dan Elang.

Seandainya di bawah permukaan tanah terdapat sebuah anglo raksasa yang sedang menggodok permukaan tanah itu, maka sekaranglah saat tanah itu mulai mendidih dan bergolak.

Pertemuan udara panas dan dingin yang terjadi di bawah lekukan tanah berkubang itu sudah mencapai titik yang tak terlukiskan dengan kata, "Blaaam!", diiringi ledakan keras, bubur lumpur dan air panas dalam jumlah besar segera menyembur dari pusat kubangan lumpur itu.

Semburan material tanah yang berupa campuran bubur lumpur, bebatuan dan air panas ini segera memancar ke empat penjuru, ketika tertimpa cahaya matahari, segera membiaskan sinar aneh yang menyilaukan mata, bagaikan hujan lumpur, material semburan itu segera menyebar dan jatuh kembali ke dalam kubangan.

Hujan lumpur ini benar-benar luar biasa panasnya.

Serangan yang dilancarkan Ni Jian-ciu pun tak kalah panas dan gencarnya. Rambutnya yang beruban nampak berkibar kencang, diiringi pekikan nyaring, tubuhnya melambung ke udara, kemudian dari atas menuju ke bawah, sinar tajam yang memancar keluar dari balik buli-bulinya langsung diarahkan ke tubuh Leng-hiat.

Leng-hiat tak bergerak, posisinya saat itu bagaikan seekor burung elang yang siap menerkam burung gereja di bawahnya.

Tampaknya Ni Jian-ciu sudah memperhitungkan luka di kaki Leng-hiat, menurut dia sulit bagi opas itu untuk menghindar atau berkelit dengan gerakan cepat.

Dia berniat melancarkan serangan maut ke arah Leng-hiat di saat semburan lumpur panas itu belum berhamburan ke bawah, kemudian baru menghindarkan diri, bagi dia maupun lawannya, jelas hal ini merupakan sebuah tantangan.

Siapa yang tak berhasil lolos dari tantangan ini berarti dialah yang akan mati!

Seorang jago tangguh tulen, biasanya memang gemar mencari tantangan, sebab tantangan merupakan rangsangan baginya, dengan tantangan maka semangat tempurnya tumbuh, bila semangatnya tumbuh maka kemajuan baru bisa dicapai.

Menjalankan sampan dengan menentang arus, bukannya maju sebaliknya malah mundur, bagi seorang pembunuh, mundur berarti sebuah kematian.

Lumpur panas, air panas menyembur ke tengah angkasa, membentuk sekuntum bunga yang sangat aneh.

Tubuh Ni Jian-ciu ibarat seekor elang, elang yang menerkam Leng-hiat.

Sanggupkah dia membunuh si darah dingin di saat semburan lumpur panas itu belum sampai berhamburan kembali ke atas permukaan tanah? 

Yan Yu-sim dan Yan Yu-gi bergerak cepat dengan menarik buli-buli, Ting Tong-ih, Ko Hong-liang serta Tong Keng ternyata turut berjalan di belakang mereka tanpa melawan, seakan-akan terdapat selembar jaring tak berwujud yang telah mengurung mereka semua, membuat mereka sama sekali tak mampu berkutik.

Mereka sudah menempuh perjalanan sejauh dua tiga li, Yan Yu-sim masih saja berpaling menengok ke belakang.

Tiba-tiba Yan Yu-gi berkata, "Mari kita menggunakan jalan setapak untuk kembali."

"Kenapa?" tanya Yan Yu-sim keheranan.

"Kini Li-thayjin dan Lu-thayjin sedang dalam perjalanan menuju ke kota Cing-thian, bukan saat yang tepat bagi kita untuk pergi ke tujuan yang sama, daripada sepanjang jalan harus menjumpai banyak masalah."

Betapa terperanjatnya Ko Hong-liang serta Tong Keng ketika mendengar Li Ok-lay datang sendiri ke kota Cing-thian- tin, pikir mereka tanpa terasa, "Aneh, kenapa gara-gara kasus ini, mereka harus mempersiapkan diri begitu serius, seolah- olah sedang menghadapi pertempuran besar saja?"

Terdengar Yan Yu-gi menyahut sambil tertawa, "Kali ini kita berhasil membekuk ketiga orang ini, jelas merupakan sebuah pahala besar bagi kita."

"Tapi sayang

"Apanya yang sayang?"

"Sayang ketiga orang itu ditangkap si Auman harimau di tengah malam."

Mendengar perkataan itu, Yan Yu-gi segera tertawa terkekeh-kekeh, katanya, "Kau sangka Ni Jian-ciu masih punya kesempatan untuk menerima pahala itu?" "Maksudmu...?”

Yan Yu-gi tidak menjawab, dia hanya memandang ke angkasa dan dahan pepohonan.

Di angkasa bebas terlihat ada seekor burung elang sedang terbang sambil mementangkan sayapnya, sementara di atas dahan terlihat ada burung gereja.

Burung gereja sedang menyembunyikan kepalanya sembari menengok elang yang sedang terbang di angkasa, entah dia sedang mengagumi ataukah sedang ketakutan?

Dengan sorot mata setajam sembilu ujar Yan Yu-gi lagi, "Bila tebakanku tidak keliru, pemuda berpedang itu adalah...”

Dia tidak melanjutkan perkataannya, hanya gumamnya lirih, "Entah siapa yang menjadi burung gereja? Dan siapa pula sang burung elang?"

Tubuh Ni Jian-ciu sudah melambung di tengah udara, tubuhnya yang besar telah menutupi separuh cahaya sang surya.

Leng-hiat berada di balik remang-remang cuaca.

Dia tidak menyurut mundur, juga tidak menyongsong datangnya terkaman itu.

Tiba-tiba saja sebuah pukulan dahsyat dilontarkan ke depan!

Tenaga serangan itu bukan diarahkan ke tubuh Ni Jian-ciu, melainkan menghajar semburan lumpur panas yang masih muncrat di tengah udara.

Begitu terhantam tenaga pukulannya, lumpur panas yang membara itu seketika mencelat ke belakang dan menghantam tubuh Ni Jian-ciu. Betapapun hebatnya ilmu silat yang dimiliki Ni Jian-ciu, tak nanti ia berani tersiram lelehan lumpur panas yang bersuhu tinggi itu, segera jubahnya dikebaskan ke bawah untuk menggulung datangnya muncratan lumpur itu, sementara tubuhnya dengan meminjam tenaga pantulan itu melayang turun beberapa kaki dari posisi semula.

Dengan cepat muncratan lumpur panas itu berhamburan ke empat penjuru.

Di saat kakinya menginjak di atas tanah itulah mendadak dari belakang telinganya terasa segulung angin dingin menyambar lewat.

Perlahan-lahan dia berpaling ke belakang, sebilah pedang tahu-tahu sudah menempel di atas tenggorokannya.

Sebilah mata pedang yang tajam dan berkilat. Pedang itu berada dalam genggaman si darah dingin.

Mata pedang yang dingin, tapi sorot matanya jauh lebih dingin.

Tiba-tiba Ni Jian-ciu melangkah maju ke depan, dengan maju selangkah, sama artinya dia mengantar tenggorokan sendiri ke atas mata pedang itu.

Tetapi Leng-hiat justru tidak menggorok lehernya, malah ia bergerak mundur selangkah.

Mata pedang masih tetap menempel di atas tenggorokan Ni Jian-ciu, namun tiada butiran darah yang meleleh dari ujung senjatanya.

Sekali lagi Ni Jian-ciu mengebaskan kepalanya ke samping, kebasan itu sama halnya dengan menggorokkan tengkuknya pada ujung pedang.

Terlihat mata pedang ikut berputar satu lingkaran, menanti kebasan kepala Ni Jian-ciu berhenti, mata pedang masih tetap menempel di sisi lehernya, sama sekali tidak menimbulkan luka.

"Ilmu pedang yang hebat," jengek Ni Jian-ciu sambil tertawa dingin, "tapi sayang tak berani membunuh orang."

Rupanya di saat dia menghancurkan kemampuan buli- bulinya tadi, Leng-hiat telah menghadang jalan mundurnya.

Leng-hiat segera tertawa, begitu ia tertawa, sorot matanya nampak jauh lebih hangat.

"Kenapa aku harus membunuhmu?" dia balik bertanya, seraya berkata ia menarik kembali pedangnya, membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ.

Kini tinggal Ni Jian-ciu seorang masih berdiri termangu, bukan saja dia berdiri melongo, bahkan pakaiannya terlihat kotor di sana sini karena kena cipratan lumpur panas.

"Aku hendak membunuhmu, kenapa kau tidak membunuhku?" teriak Ni Jian-ciu penasaran, "kenapa kau tidak membunuhku? Ternyata pedang milik Leng-hiat tak berani dipakai untuk membunuh orang!"

Leng-hiat sama sekali tidak berpaling, jawabnya, "Apakah lantaran kau ingin membunuhku maka aku harus membunuhmu? Apakah pedang milik Leng-hiat baru terhitung pedang milik Darah dingin jika sudah digunakan untuk membunuh?"

Kontan Ni Jian-ciu tertegun setelah mendengar pertanyaan itu.

Sambil melanjutkan langkahnya kembali Leng-hiat berkata. "Kau harus hidup terus, saksikanlah hubungan persahabatan dari tanpa perasaan berubah menjadi berperasaan, aku pun harus tetap hidup karena ada tiga orang temanku difitnah orang, dijadikan kambing hitam, aku tak bisa membiarkan mereka hidup sebagai kambing hitam orang, hidup memanggul fitnahan." ooOOoo

Ketika dua bersaudara Yan tiba di desa kebun buah di belakang 'gelembung air kecil', hari sudah senja.

Yan Yu-gi masih ingin melanjutkan perjalanannya, tapi Yan Yu-sim segera berkata, "Lebih baik kita beristirahat sebentar di sini, konon di seputar tempat ini terdapat sebuah wilayah yang disebut 'gelembung air kecil', di sana terdapat banyak kubangan lumpur panas serta pasir tenggelam, jika kurang berhati-hati tubuh kita bisa tenggelam dan tak tertolong lagi."

Saat itu serangga sudah mulai berbunyi dari empat penjuru, di tengah hembusan angin malam, hanya suara langkah kaki kelima orang itu yang terdengar.

Yan Yu-gi berpikir sejenak, kemudian sahutnya, "Baiklah!"

Di sekitar tempat itu hanya terdapat beberapa buah rumah gubuk, meskipun berjalan di bawah pepohonan yang lebat, namun karena bintang bertaburan di angkasa maka suasana tidak terlalu gelap, mereka berusaha menghindari jalanan yang dekat dengan kubangan lumpur.

Setelah memutar biji matanya sekejap, ujar Yan Yu-gi, "Aku rasa lebih baik kita mencari sebuah rumah yang punya kebun untuk tinggal semalam."

Maka Yan Yu-sim pun menendang sebuah pintu rumah gubuk dan menerobos masuk ke dalam.

Rumah itu berpenghuni empat orang, setelah seharian bekerja di kebun, saat itu mereka sedang menikmati hidangan malam ketika tahu-tahu telah kedatangan tamu tak diundang.

"Siapa kalian?" tegur tuan rumah.

Yan Yu-gi tidak menjawab, ia justru menghajar lelaki itu hingga roboh terkapar. Melihat orang itu menyiksa rakyat yang tak berdosa. Tong Keng maupun Ko Hong-liang sekalian merasa amat gusar, tapi mereka tak dapat berbuat apa-apa selain menyimpan rasa dongkolnya di dalam hati.

Kembali Yan Yu-gi menghardik, "Kalian punya makanan apa? Ayo, keluarkan semua!"

Di dalam rumah itu masih terdapat seorang wanita, seorang anak perempuan dan seorang bocah lelaki, mereka semua sedang menangis tersedu-sedu.

Terdengar wanita itu berseru sambil menangis terisak, "Toaya, jangan kau pukuli dia, yang bisa dimakan semuanya

... semuanya berada di sini ... tolong jangan menyusahkan kami sekeluarga”

Melihat hidangan yang ada hanya terdiri dari sayur asin dan gorengan, sontak dua bersaudara Yan menjadi sewot, umpatnya dengan gusar, "Apa? Inipun dianggap makanan?"

"Toaya," keluh wanita itu sambil menangis, "kini pemerintah memaksa kami membayar pajak tiga empat kali lipat lebih banyak, mana ada hidangan lain untuk kami sekeluarga? Apalagi setelah uang pajak yang kemarin hilang dibegal orang, kami diharuskan sekali lagi membayar pajak, kami ... kami sudah teramat miskin ... mana ... mana ada hidangan yang lebih baik?"

Dengan perasaan menyesal Ko Hong-liang dan Tong Keng menundukkan kepalanya.

Sambil memegangi sepatu Yan Yu-gi, kembali wanita itu merengek, "Toaya, berbuatlah baik ... lepaskan kami... sepanjang hidup kami sekeluarga tak akan melupakan budi kebaikan kalian”

"Tak akan melupakan kami?" Yan Yu-gi tertawa terkekeh- kekeh, "tahukah kau siapa kami ini?" Sambil menuding ke hidung sendiri, lanjutnya, "Akulah pembesar dari pengadilan, sementara kedua orang itu...”

Sambil berkata ia menuding Ko Hong-liang dan Tong Keng, kemudian terusnya, "Merekalah Kokcu dan piausu dari perusahaan ekspedisi Sin-wi-piau-kiok yang kalian caci-maki!"

Sambil menangis perempuan itu mendongakkan kepala memandang mereka sekejap, air mata bercucuran makin deras membasahi wajahnya yang ternyata cukup cantik.

"Kalian ... kalian telah mencelakai kami semua!"

Ko Hong-liang serta Tong Keng merasa amat sedih, selain pedih mereka pun merasa gusar bercampur dendam, sebetulnya orang lain mau mengundang mereka mengawal barang, hal ini merupakan kepercayaan orang terhadap mereka, bagaimanapun nyawa boleh hilang tapi barang kawalan tak boleh lenyap.

Tapi kenyataannya sekarang, bukan saja barang yang dikawal adalah uang pajak rakyat, bahkan setelah hilang pun hingga kini jejaknya belum terlacak, bukan saja tak berhasil merebut kembali uang kawalan itu, sebaliknya mereka malah ditangkap pemerintah, bagaimana mungkin mereka bisa berbicara dalam keadaan begini?

Dalam pada itu Yan Yu-gi sedang mengamati wajah perempuan itu, lalu memandang pula wajah si bocah perempuan yang sedang menangis, akhirnya tak tahan dia memegang dagu wanita itu, semakin dilihat semakin kesemsem, timbul keinginannya untuk meniduri perempuan ini, segera tanyanya, "Siapa namamu?"

"Aku... aku...” perempuan itu tergagap, tapi naluri kewanitaannya segera menangkap ada maksud jahat di balik pertanyaan itu, tanpa terasa dia mulai waswas. Terdengar Yan Yu-gi tertawa terbahak-bahak, serunya mendadak, "Kakak Sim, pergilah mencari makanan yang bisa dimakan, sementara aku hendak bermain cinta dulu."

Sembari berkata dia menyeret perempuan itu menuju ke dalam kamar.

Segera Ko Hong-liang membentak nyaring, "Manusia laknat! Hentikan perbuatan bejadmu!”

Tong Keng ikut pula berteriak, "He, jangan sembarangan kau!”

Sambil tertawa terkekeh Yan Yu-gi menyeret perempuan itu menuju ke kamar, dengan sekuat tenaga perempuan itu meronta, suaminya yang terkapar di tanah pun sekuat tenaga merangkak bangun dan menyeret kaki Yan Yu-sim.

Sambil mendengus Yan Yu-sim menghadiahkan sebuah tendangan ke dada lelaki itu, tak ampun tubuhnya segera mencelat hingga menumbuk dinding, ketika terjatuh kembali ke tanah, tubuhnya terkulai lemas, jelas nyawanya sudah putus.

Kontan saja peristiwa ini membuat wanita itu menangis sejadi-jadinya, teriaknya sambil meraung-raung, "A-lay, A- lay...”

Dengan sekali ayunan tangan Yan Yu-gi menampar perempuan itu hingga jatuh terjerembab, kemudian dengan sekali raih ia cengkeram bocah perempuan itu, gumamnya, "Baguslah, kalau yang tua tak mau biar aku cicipi yang muda, toh rasanya yang muda pasti lebih nikmat."

Bocah perempuan itu ingin mengegos, tapi dengan sekali cengkeram Yan Yu-gi sudah menangkap tubuhnya.

Perempuan itu menangis, rengeknya, "Toaya, lepaskan dia

... kumohon Toaya, lepaskan dia ... dia masih kecil, tak tahu urusan...” "Kau yang tahu urusan justru tidak menurut!"

Pucat pias wajah perempuan itu, akhirnya sambil menggigit bibir sahutnya, "Aku akan menurut... aku pasti akan menuruti perkataan Toaya."

Yan Yu-gi tertawa terkekeh, sambil membopong perempuan itu dia segera menuju ke dalam kamar.

Yan Yu-sim yang menyaksikan kejadian itu hanya menggeleng kepala berulang kali, kepada bocah laki dan bocah perempuan itu ancamnya, "Kalian duduk di situ jangan bergerak, sebentar ibumu juga akan keluar untuk menyiapkan hidangan buat Toaya. Hmmm! Barang siapa berani bergerak, aku akan segera membunuhnya, seperti...”

Ia menuding lelaki yang sudah tewas di lantai itu sambil menambahkan, "Seperti bapakmu itu!"

Mendadak Ting Tong-ih memanggil, "Yan-lotoa, kemarilah!"

Yan Yu-sim agak tertegun, kemudian sambil tertawa dan menuding ke hidung sendiri balik tanyanya, "Aku?"

Ting Tong-ih mengerling genit, katanya, "Hari itu ... ketika berada di penjara ... kenapa kau bebaskan aku?"

Yan Yu-sim segera berkerut kening, kini Ting Tong-ih sudah menjadi tawanannya, bisa saja ia segera menegurnya atau tak usah menjawab pertanyaan itu, namun ketika menyaksikan wajah si nona yang senyum tak senyum, pipinya yang bersemu merah, bibirnya yang menantang, ia menjadi agak terangsang juga.

Selama ini belum pernah ia jumpai perempuan secantik ini, apalagi dalam situasi yang berbahaya, dalam kondisi sebagai tawanan pun gadis itu masih tampil begitu menawan.

Berpikir sampai di situ, tak tahan Yan Yu-sim tersenyum sendiri, senyum malu-malu. Tentu saja Tong Keng serta Ko Hong-liang jadi heran, bagaimana mungkin seorang gembong iblis yang membunuh tanpa mengedipkan mata dapat bersikap malu ketika menghadapi seorang gadis? Apa yang sebenarnya telah terjadi?

Mereka pun tidak habis mengerti, kenapa dalam situasi seperti ini Ting Tong-ih justru menanyakan hal seperti ini kepada Yan Yu-sim? Apa tujuan nona itu?

Terdengar Yan Yu-sim menyahut, "Nona Ting, masa ... masa kau masih belum tahu maksud hatiku?"

Mendadak terdengar suara bentakan gusar diiringi jeritan kaget berkumandang dari balik kamar.

Paras muka Yan Yu-sim yang semula berubah halus dan lembut seketika berubah seperti semula, dingin kaku tak berperasaan, dengan cepat dia membalikkan badan.

Segera Ting Tong-ih berseru lagi, "Yan-lotoa, mengingat kau menaruh hati kepadaku, kumohon kau melindungi keselamatan jiwa kedua bocah itu...”

Tampaknya Yan Yu-sim sendiri pun sudah merasa ucapan lembut Ting Tong-ih terhadapnya mempunyai maksud tertentu, rasa gusar bercampur tak senang seketika melintas di wajahnya.

Belum sempat dia mengumbar amarah, mendadak "Blaaam!", pintu kamar sudah terbuka lebar, menyusul seseorang berlari keluar dengan sempoyongan.

Dengan sekali lompatan Yan Yu-sim memayang tubuh Yan Yu-gi, tampak tubuh bagian bawah Yan Yu-gi berlumuran darah, wajahnya kelihatan sedang menahan rasa sakit yang luar biasa.

"Loji, kau ” seru Yan Yu-sim keheranan. Sambil menahan sakit, umpat Yan Yu-gi, "Perempuan sialan

... ternyata dia menggunakan gunting untuk. hmmm!"

"Menggunakan gunting?" Yan Yu-sim tertegun.

"Betul, dia menggunting barang milikku," umpat Yan Yu-gi geram, "karena itu kuhajar dia sampai mampus!"

Tong Keng tak kuasa menahan diri lagi, segera makinya dengan penuh gusar, "Manusia she Yan! Kau memang anak jadah yang berhati busuk, bejad dan tak tahu malu, cucu kura-kura berhati binatang yang sukanya hanya merogol perempuan baik-baik, manusia macam kau lebih cocok menjadi hewan, kusumpahi kau agar cepat mampus dan masuk neraka, anak jadah tak tahu malu, kau ”

Dengan sekali lompatan Yan Yu-gi sudah tiba di hadapannya, sebuah tendangan keras langsung dilontarkan ke depan.

Tendangan itu bersarang telak dan berat, bila orang biasa yang menerima serangan itu, tanggung dia akan langsung muntah darah dan mampus.

Untung Tong Keng memiliki tubuh yang keras dan terlatih, kendatipun begitu kata berikut tak sanggup lagi dilanjutkan.

Ting Tong-ih segera menengok ke arah Yan Yu-sim, sorot matanya penuh dengan permohonan.

Tergerak perasaan Yan Yu-sim, cepat dia menarik tangan Yan Yu-gi yang sudah siap melancarkan tendangannya yang kedua, bujuknya, "Loji, mereka adalah tawanan yang harus kita serahkan ke pemerintah, kalau kau bunuh, kita sendiri yang bakal susah!"

"Maknya sialan!" umpat Yan Yu-gi sambil mengertak gigi, "anak pusakaku sudah digunting setengah, sekarang ada yang berani mengumpat diriku hmmm! Kalau bukan lantaran

ingin naik pangkat dan kaya, akan kutendang dia hingga mampus!" Yan Yu-sim menghela napas panjang. "Aai! Siapa sih yang tak ingin naik pangkat? Siapa yang tak ingin kaya? Demi nama, kedudukan dan harta, pantangan sebesar apapun harus tetap dijaga, kalau tidak, mana mungkin semua itu bisa diraih?"

Yan Yu-gi tertawa seram, sorot matanya kembali berkeliaran ke sekeliling tempat itu, ketika menyaksikan bocah perempuan yang bersembunyi di sudut kamar, segera serunya, "Baiklah, biar kali ini aku bermain dengan yang kecil."

Sambil berkata dia menghampiri bocah perempuan itu. Yan Yu-sim segera berpaling ke arah Ting Tong-ih. Dengan cepat gadis itu manggut-manggut, kemudian menggeleng, sorot matanya semakin memancarkan permohonan.

Sorot mata lembut membawa daya pikat semacam ini belum pernah dilihat Yan Yu-sim sepanjang hidupnya, dia berkerut kening, lalu menarik bahu Yan Yu-gi dan bujuknya, "Sudahlah, kau telah terluka, lebih baik jaga kondisi badanmu."

Yan Yu-gi segera berpaling sambil melototi Yan Yu-sim sekejap, dengan wajah keheranan ditatapnya rekannya sebentar, tapi akhirnya dia menyahut, "Aku tahu!"

ooOOoo
*** ***
Note 15 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Membaca cersil dapat menimbulkan efek candu!!!."

(Regards, Admin)

0 Response to "Misteri Lukisan Tengkorak Bab 17 : Burung Gereja Dan Elang"

Post a Comment

close