Lembah Tiga Malaikat Jilid 39

Mode Malam
Jilid 39

Mendadak dia mengayunkan tangan kirinya ke depan…. “Blaamm !” sebuah pukulan dahsyat segera menghantam diatas dinding batu itu.

Ketika Kwik Soat kun berpaling, dia menyaksikan diatas dinding batu itu muncul sebuah bekas telapak tangan yang dalam sekali, hal ini membuatnya amat terkejut, pikirnya : “Dinding batu ini begini kuat dan keras, sekalipun dihajar dengan martir pun belum tentu bisa hancur, tapi pukulan telapak tangan orang ini bisa membekas diatas batu, hal ini menunjukkan kalau tenaga dalam yang dimiliki orang ini benar-benar mengejutkan sekali.

Sayang sepasang bahu dan sepasang kakinya telah dibelenggu oleh serat ulat langit Thian jian si toh tersebut, walaupun aku berhasil membujuknya untuk membantuku, toh

mustahil bisa melepaskan diri dari belenggu mana dan pergi meninggalkan tempat ini…” Berpikir sampai disitu, dia lantas bertanya.

“Siapakah yang telah menyekap locianpwe ditempat ini ?” Tiba-tiba Hong-ya tojin tersenyum dan menulis diatas tanah :

“Buyung Tiang kim !”

Kwik Soat kun semakin tertegun lagi.

“Sayang sekali Buyung Tiang kim sudah mati selama banyak tahun.”

Hong-ya tojin menggelengkan kepalanya berulang kali, kembali dia menulis diatas tanah. “Pinto bersedia membantu dirimu, akan tetapi kaupun harus membantuku untuk membebaskan ikatan tali yang membelenggu tubuhku ini.”

Dengan kening berkerut Kwik Soat kun segera bertanya. 819 

“Locianpwe, dapatkah kau menunjukkan sebuah jalan terang bagi boanpwe ?” Segera Hong-ya tojin menulis lagi diatas tanah.

“Ikutilah asal mula dari keempat buat serat putih ini dan carilah sumber dari tali itu, bila sudah kautemukan dimanakah tali tersebut diikat, lepaskan tali mana dan pinto pun bisa pergi meninggalkan ruangan ini.”

Kwik Soat kun segera bangkit berdiri.

“Kecuali cara tersebut, tampaknya dewasa ini tiada caralain yang lebih baik lagi, baiklah, boanpwe akan melihat-lihat dulu keluar sana, aku ingin tahu darimanakah keempat buah tali putih itu bersumber…”

DIa segera bangkit dan beranjak keluar dari ruangan tersebut

Sesudah keluar dari ruangan itu, Kwik Soat kun berjalan menuju ke belakang ruangan, ia sudah memperhitungkan dengan baik, semestinya tali putih itu berhubungan dengan ruangan bagian belakang, tapi setelah diperiksa dengan teliti, ternyata disitupun tidak nampak sedikit jejak pun.

Dengan cepat dia menjadi sadar kembali, pikirnya kemudian.

“Rupanya sebelum membangun ruangan ini, si pembangun rumah sudah mempunyai rencana yang matang dan ruangan ini memang khusus dibuat untuk menyekap Hong-ya tojin. Padahal rahasia ini merupakan rahasia amat besar, jarang sekali orang yang berada didunia ini yang mengetahuinya, mengapa si penulis surat itu bisa mengetahui akan hal ini ?”

Berpikir demikan, dia lantas mengerahkan tenaga dalamnya ke dalam tangan kanan dan mencoba untuk mendorong dinding batu tersebut.

Dengan cepat diketahui kalau dinding batu itu kuat sekali, bila ingin mencari sumber dari tali putih itu sudah jelas akan memakan waktu yang cukup lama.

Maka selesai melihat keadaan, pelan-pelan dia berjalan kembali ke dalam ruangan, lalu katanya.

“Tali itu berada didalam tanah, kecuali kalau kita gali dinding batu ini untuk mencari sumbernya, aku rasa sudah tiada jalan lain lagi yang bisa ditempuh.”

Hong-ya tojin tertawa dan manggut-manggut, mendadak dia turun tangan menotok jalan darah dikaki kanan Kwik Soat kun.

Sambil tersenyum Kwik Soat kun segera berkata :

“Apakah locianpwe takut aku akan melarikan diri.”

Hong-ya tojin manggut-manggut, kemudian menulis lagi diatas permukaan tanah. “Benar, bila kau tak dapat menyelamatkanku untuk meninggalkan ruangan ini, kau sendiripun tak usah pergi dari sini.”

“Bila aku tidak berhasil menyelamatkan dirimu, locianpwe mengusir aku dari sini pun belum tentu aku mau pergi.” jawab Kwik Soat kun cepat.

Hong-ya tojin kembali menulis diatas tanah. 

“Ketika Buyung Tiang kim menyekapku disini, dia pernah bilang akan menyekapku selama tiga puluh tahun disini dan melenyapkan sifat liarku, sampai saatnya bila aku masih hidup, dia pasti akan datang kemari untuk menolong aku. Tapi kenyataannya Buyung Tiang kim mengingkari janji dan tidak datang kemari, namun ia pasti telah meninggalkan cara untuk melepaskan tali tersebut.”

Selesai membaca tulisan itu, Kwik Soat kun manggut-manggut, katanya kemudian.

“Aku pun percaya kalau Buyung tayhiap tak akan berbohong, tapi cara yang ditinggalkan olehnya untuk menolongmu sudah pasti tak akan ditinggalkan di dalam ruangan batu ini sehingga kau dapat mengetahuinya. Sekarang, kau harus membebaskan jalan darahku lebih dulu, aku akan melakukan pencarian yang seksama lagi ditempat luaran sama.” “Bagaimana mungkin aku bisa mempercayai dirimu ?” Hong-ya tojin menulis diatas tanah.

“Kau harus bertaruh kali ini, aku datang karena mempunyai maksud dan tujuan tertentu, bila kau tak berhasil menolongmu untuk meninggalkan tempat ini, berarti perjalananku kali ini mengalami kegagalan total.”

Hong-ya tojin termenung lagi beberapa saat lamanya, kemudian ia menulis lagi diatas tanah.

“Pinto akan menotok jalan darah Sin coang hiat dan Ci kiong hiat ditubuhmu, kau akan muntah darah sampai mati, entah bagaimanakah menurut pendapatmu ?”

“Sewaktu datang kemari, boanpwe sudah bertekad hendak menyelesaikan tugas mulia ini, silahkan saja locianpwe turun tangan.”

Selesai berkata, dia segera pejamkan mata rapat-rapat.

Setelah turun tangan menotok tiba buah jalan darah penting ditubuh Kwik Soat kun, Hong-ya tojin membebaskan jalan darah dikaki si nona, kemudian tulisnya lagi diatas tanah :

“Tiada orang yang bisa membebaskan totokan khusus lohu ini, bila kau enggan mati penasaran, lebih baik urungkan saja niatmu untuk melarikan diri.”

Kwik Soat kun segera tersenyum. “Boanpwe mengerti” katanya.

Kemudian sambil bangkit berdiri, katanya lebih jauh.

“Aku akan melakukan pencarian lagi diluar ruangan sana, moga-moga saja dapat kutemukan cara untuk melepaskan tali tersebut, sehingga kita bisa cepat-cepat meninggalkan tempat ini.”

Hong-ya tojin manggut-manggut.

Sesudah berjalan keluar dari ruangan, Kwik Soat kun bergerak mengelilingi ruangan batu tersebut, dengan sorot mata yang tajam dia melakukan pemeriksaan disekeliling tempat itu, meski rumput atas batu, tak sebuah pun yang terlepas dari pengawasannya. 

Segenap perhatian dan pikirannnya hampir tertuju semua kesana, pikirannya tak bercabang ke soal lain, tanpa terasa sudah lima kali putaran dia mengelilingi ruangan batu tersebut.

Mendadak sorot matanya tertuju ke atas sebuah batu cadas hitam yang berada berapa kaki dibelakang bangunan rumah berbatu itu, batu karang hitam itu menyolok sekali.

Tergerak hati si nona itu, pelan-pelan dia segera berjalan menghampirinya.

Sewaktu diteliti dengan seksama, ditemukan kalau batu karang berwarna hitam itu sama sekali berbeda dengan batu karang sejenis yang berada dalam sekelilingnya, sudah jelas kalau bongkahan batu karang yang berwarna hitam itu didatangkan dari tempat lain yang secara sengaja ditempatkan disana.

Terdorong oleh perasaan curiga dan ingin tahu, gadis tersebut terus melakukan penggalian dibawah batu karang hitam tersebut.

Benar juga setelah menggali sedalam berapa depa, akhirnya ia menemukan sebuah kotak kemala.

Kwik Soat kun segera bekerja keras membongkar batu hitam itu, menggali keluar kotak kemala tadi dan membersihkannya dari lapisan lumpur dan pasir yang melapisi kotak tadi Akhirnya setelah kotak itu bersih dan diperhatikan dengan seksama, terbacalah beberapa huruf tertera diatas kotak itu.

“Isi kotak itu hanya bencana bukan rejeki, yang menemukan harap jangan membuka secara sembarangan.”

Sambil memegang kotak itu, Kwik Soat kun termenung beberapa saat, akhirnya pelanpelan dia membuka kotak tersebut.

Terlihatlah pada dasar kotak itu tertera pula beberapa huruf kecil yang berbunyi demikian.

“Galilah satu depa lagi, disitulah letak mata rantai untuk melepaskan serat langit penebus tulang dari orang yang disekap diruangan, tapi orang yang berada dalam ruangan itu amat gemar membunuh, lagipula ilmu silatnya sangat lihai, tanpa dasar tenaga dalam sebesar puluhan tahun hasil latihan sulit untuk menaklukan sifat liarnya itu, bila kedatanganmu bukan atas permintaan orang, janganlah mencampuri urusan ini.

Bila tidak mempercayai perkataan ini disaat kau bebaskan tambatan tali tersebut, saat itulah merupakan saat kematianmu.”

Tertanda : Buyung Tiang kim.

Selesai membaca surat tersebut, Kwik Soat kun segera berpikir kembali :

“Aku datang atas permintaan orang, berarti aku boleh saja membebaskan tali serat ulat langit tersebut.”

Berpikir demikian, sepasang tangannya segera bekerja keras untuk melanjutkan penggalian.

Segala sesuatunya berlangsung seperti apa yang tertera dalam kotak batu itu, setelah menggali sedalam satu depa, betul juga, segera ditemukan dua buah pancangan besi yang 

tertanam disana, empat buah tali serat ulat langit masing-masing diikat pada kedua pancangan besi tersebut.

Sekalipun tali serat itu diikat kencang sekali pada kedua pancang besi tersebut, namun berhubung ikatannya dilakukan dengan simpul hidup, maka dengan mudah sekali Kwik Soat kun berhasil membuka ikatan tali serat itu.

Setelah memendam kembali kota batu itu dan menutup liang tanah dengan pasir, Kwik Soat kun baru pelan-pelan berjalan kembali ke dalam ruangan.

Tampak olehnya Hong-ya tojin sedang mengawasi tubuhnya dengan sorot mata tajam bagaikan sembilu, sementara wajahnya menampilkan sikap menanti dengan perasaan gelisah.

Kwik Soat kun berusaha keras untuk mengendalikan perasaannya agar tetap tenang, kemudian tanpa perubahan dia berjalan mendekati Hong-ya tojin, katanya kemudian. “Aku telah berhasil menemukan cara untuk membebaskan tali serat ulat langit tersebut, cuma….”

Ketika dilihatnya dari balik amat Hong-ya tojin memancar keluar hawa napsu membunuh yang mengerikan, ia segera tutup mulut dan tidak berbicara lagi.

Lebih kurang seperempat jam kemudian hawa napsu membunuh yang terpancar keluar dari balik mata Hong-ya tojin baru perlahan-lahan menjadi pudar kembali.

Diam-diam terkesiap juga Kwik soat kun setelah menyaksikan hal itu, pikirnya :

“Sudah puluhan tahun lamanya dia disekap disini, namun sifat buas dan kejamnya masih menyelimuti seluruh wajahnya, orang ini benar-benar merupakan seorang manusia yang sukar dihadapi. Berada bersama orang macam begini berarti sedikit salah tindak bisa berakibat fatal diri sendiri…”

Sementara dia masih termenung, Hong-ya tojin telah menggerakkan kembali tangan kanannya dan pelan-pelan menulis diatas tanah.

“Mengapa kau tidak segera membebaskan ikatan tali serat ditubuh pinto ?” Kwk Soat kun tersenyum, katanya kemudian.

“Melepaskan ikatan tali serat dari tubuhmu hanya merupakan tindakan yang gampang, hanya…. sebelumnya kita harus membicarakan dulu syaratnya.”

Cepat-cepat Hong-ya tojin menulis lagi diatas tanah.

“Pinto telah membaca suratmu dan bersedia untuk membantu usahamu, persyaratan apa yang harus dibicarakan lagi ?”

“Puluhan tahun disekap dalam ruangan ini ternyata tidak mengubah watak dan kegemaran membunuhmu, malah sebaliknya kejadian ini menimbulkan perasaan dendam dihatimu, membuat kau bertambah kejam, tak berperi kemanusiaan dan penuh dengan hawa pembunuhan. Berada bersamamu berarti setiap saat aku akan mati ditanganmu.” Cepat-cepat Hong ya tojin menulis lagi diatas tanah.

“Pinto telah menyanggupi permintaan nona, pokoknya aku tidak akan turun tangan secara sembarangan untuk melukai orang.” 

Membaca tulisan itu, Kwik Soat kun segera berpikir dalam hati kecilnya.

“Orang ini sudah disekap selama sepuluh tahun diruangan ini, seharusnya pertapaan selama ini sudah cukup untuk membuatnya insyaf dan tobat dari perbuatan jahatnya, dilihat dari perubahan mimik wajahnya itu, dia sepertinya masih merupakan seseorang yang berangasan, untuk menghadapi manusia seperti ini, perlu kugunakan sedikit akal muslihat.”

Berpikir sampai disitu, pelan-pelan dia mengeluarkan sebutir pil dari dalam sakunya dan diletakkan diatas telapak tangannya, kemudian katanya :

“Buku mulutmu dan telan pil ini !”

Berubah hebat paras muka Hong-ya tojin, cepat-cepat dia menulis diatas tanah. “Obat apa ?”

“Obat beracun cuma bekerjanya sangat lambat, setelah meninggalkan tempat ini asal menjaga diri dan memenuhi janji dengan setia, tidak melukai orang secara sembarangan dan segala sesuatunya sesuai dengan apa yang tertera dalam surat tersebut, sampai waktunya tentu saja akan kupersembahkan obat penawar tersebut kepadamu, tapi apabila kau masih saja bertindak sesukamu sendiri, terpaksa aku akan membiarkan kau mati karena keracunan.”

Mencorong sinar buas dari balik mata Hong-ya tojin, hawa pembunuhan menyelimuti seluruh wajahnya tapi dengan cepat kesemuanya itu hilang kembali, tulisnya kemudian. “Sampai kapan obat itu baru akan mulai bekerja ?”

“Tiga kali tujuh, dua puluh satu hari.”

Hong-ya tojin termenung sambil berpikir sejenak, kemudian dia membuka mulutnya lebar-lebar.

Kwik Soat kun memutar biji matanya dan memandang sekejap ke wajah orang itu, dilihatnya lidah orang itu tinggal separuh, sudah jelas yang separuh telah dipotong orang. Dalam keadaan begini, dia tak sempat untuk banyak bertanya lagi, dia lantas mengayunkan tangannya dan sebutir pil dilontarkan kedalam mulut Hong-ya tojin.

Kwik Soat kun mencoba untuk mengawasi wajah orang itu, tampak paras mukanya amat dingin dan kaku, sedikitpun tanpa emosi, tanpa terasa tergerak hatinyasetelah melihat hal mana, katanya kemudian dengan suara dingin.

“Aku telah menyimpan obat pemunahnya di tempat lain, apabila kau mencoba untuk membunuhku, jangan harap kau bisa mendapatkan obat penawar itu.”

Ketika dilihatnya Hong-ya tojin sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa-apa, gadis itu segera berkata lebih lanjut.

“Sekarang aku sedang membutuhkan bantuan saudara, sudah barang tentu aku tak akan membiarkan kau mati keracunan, asalkan kau dapat melaksanakan apa yang diperintahkan, sampai waktunya obat penawar tersebut tentu akan kuberikan kepadamu.” Selesai berkata, dia lantas menarik tali serat urat langit dari balik dinding ruangan. 

Mendadak Hong-ya tojin membuka sepasang matanya lebar-lebar, mencorong sinar tajam dari balik matanya itu dan menatap wajah Kwik Soat kun lekat-lekat.

Tampak ia menarik keempat buah tali itu dengan gerakan yang amat pelan, kemudian secara tiba-tiba mengayunkan telapak tangannya melepaskan sebuah pukulan.

Serang tersebut dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, bagaikan sambaran petir saja, padahal Kwik Soat kun dapat menyaksikan dengan jelas ke arah mana gerak serangan itu tiba, namun anehnya ia justru tak mampu menghindarkan diri.

Tahu-tahu tengkuknya terasa kaku, lalu dia roboh tak sadarkan diri….

Ketika sadar kembali, ruangan tersebut telah kosong, sedangkan Hong-ya tojin entah sudah pergi kemana.

Sambil memijit tengkuknya yang kaku, pelan-pelan Kwik Soat kun bangkit berdiri, mendadak ia saksikan diatas tanah tertera beberapa deret huruf yang berbunyi. “Pinto akan membantumu seperti apa yang tercantum dalam surat, tapi bila kau tidak menyampaikan obat penawarnya pada saat yang semestinya, pinto akan membunuh seribu orang sebagai hukuman atas pengingkaran janjimu.”

Membaca sampai disitu, Kwik Soat kun menghembuskan napas panjang, gumamnya kemudian.

“Orang ini benar-benar kalapnya bukan kepalang, hendak membunuh seribu orang manusia tak bersalah….? Masa itupun dianggapnya sebagai suatu hukuman bagiku ?” Berpikir demikian, pelan-pelan dia bangkit berdiri lalu berjalan dua langkah ke depan mendadak tergetar hatinya dan berpikir kembali.

“Aduh celaka, aku sama sekali tidak tahu harus berjumpa dimana dengannnya dan bantuan macam apa yang harus dia berikan kepadaku, surat yang kuberikan kepadanya itu tidak sempat turut kubaca, aku tak tahu dimana harus bertemu lagi dengannya….” Berpikir sampai disitu, dia lantas merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan surat yang ketiga.

Ketika isi surat tersebut dibaca, maka terlihatlah beberapa kalimat tertera disitu. “Berusaha untuk menaklukan Giok hong Niocu, gunakan kemampuan dari lebah kemalanya untuk melawan kawanan jago lihai dari perguruan tiga malaikat.”

“Di dalam surat ini tertera satu jurus ilmu Ki na jiu hoat yang sangat hebat, ilmu tersebut merupakan Ki na jiu hoat yang paling unik dan lihai dalam dunia persilatan dewasa ini, sedangkan Giok hong niocu kecuali lihai didalam mengendalikan kawanan lebahnya, ilmu silat yang dimilikinya tidak terlalu tinggi, asalkan kau bisa berusaha untuk

mendekatinya kemudian mengeluarkan jurus Ki na jiu hoat tersebut, sudah pasti orang itu dapat kau kuasai dalam sekali gebrak saja.”

“Tapi Giok hongnNio cu adalah seorang cerdik dan cekatan, seandainya dia sampai menaruh curiga kepadamu, sudah dapat dipastikan kau akan merasakan dulu bagaimana sakitnya disengat lebah.”

Kwik Soat kun termenung sambil berpikir beberapa saat lamanya, kemudian ia membuka kembali sampul surat yang kedua. 

Betul juga, didalam sampul surat itu tertera selembar kertas yang berisikan rahasia ilmu Ki na jiu hoat yang dimaksudkan tadi.

Si penulis surat itu memang sangat teliti orangnya, bukan saja semua keterangan ditulis amat jelas, malah disertai pula dengan sebuah lukisan dari gerakan tersebut.

Kwik Soat kun meneliti gambar dan keterangan itu lekat-lekat, dalam perasaannya dia dapat merasakan bahwa ilmu Ki na jiu hoat tersebut benar-benar merupakan sebuah jurus yang sangat lihai sekali.

Dalam hati kecilnya dia berpikir.

“Entah bagaimanapun juga, aku harus mencoba untuk berlatih dahulu, jurus Pho Hou ciang liong (mengikat harimau menundukkan naga) ini hingga hapal, mumpung ruangan batu ini sangat sepi dan terpencil, inilah tempat yang paling ideal bagiku untuk berlatih diri.”

Berpikir sampai disitu, dia lantas mengikuti keterangan yang tertera diatas kertas itu dan mulai melatih diri.

Walaupun hanya satu jurus, namun perubahan yang terkandung di dalamnya sedemikian rumit sehingga pada hakekatnya sukar sekali untuk dipahami.

Pada mula pertama melatih diri, Kwik Soat kun merasakan jurus serangan yang dipelajarinya ini mengandung tiga macam perubahan tapi setelah berlatih lebih jauh, dia merasakan dibalik satu jurus serangan tersebut sesungguhnya terkandung tujuh macam perubahan.

Ketika dilatih lebih jauh, perubahannya makin lama semakin bertambah banyak seakanakan entah mau ditangkis atau dibendung dari arah mana pun, sulit untuk membendung ancaman tersebut.

Kwik Soat kun makin bersemangat lagi, makin dilatih dia merasakan pecahan inti kekuatan dari ilmu itu tersebut makin bertambah luas, basah kuyup seluruh tubuhnya oleh keringat tapi dia tak ambil perduli.

Dalam hati kecilnya, diam-diam ia sedang berpikir, dia tak menyangka kalau dalam dunia persilatan ternyata terdapat ilmu silat yang begitu hebatnya sampai-sampai dia terpikat dan lupa diri.

Entah berapa sudah lewat, sampai dia merasa kalau gerak serangan Poh hou ciang liong tersebut sudah hapal diluar kepala, dia baru menghentikan gerakan itu.

Belum lama Kwik Soat kun berhenti melatih ilmu Poh hou ciang liong tersebut, tiba-tiba muncul seorang tojin setengah umur yang membawa baki berisi makanan berdiri tertegun di depan pintu.

Waktu itu Kwik Soat kun sedang memusatkan seluruh pikiran dan perhatiannya untuk melatih diri, sedemikian asyiknya sampai dia tak tahu sedari kapan tojin muncul disitu. Melihat Kwik Soat kun telah menghentikan latihannya, dengan wajah gugup bercampur ngeri tojin setengah umur itu baru berseru :

“Siangkong… eeh… nona…..”

“Apa kau bilang ?” tegur Kwik Soat kun dengan kening berkerut. 

Rupanya pakaian yang dikenakan Kwik Soat kun compang camping, rambutnya awutawutan, seluruh tubuhnya basah oleh keringat dan mukanya penuh dengan debu sehingga sepintas lalu mirip bocah lelaki, tapi mirip juga seorang anak gadis, tentu saja sulit bagi orang lain untuk membedakannya.

Dengan wajah semakin gugup tojin setengah umur itu berseru :

“Sian to tak bisa membedakan apakah kau seorang lelaki atau perempuan, setelah kau buka suara, sian to baru mengerti kalau kau adalah li sicu…”

Memandang kegugupan dan kepaniika diwajah tosu tersebut, Kwik Soat kun segera tersenyum.

“Kau tak usah kuatir, bila hendak mengucapkan sesuatu, silahkan saja diutarakan.” “Kemana perginya Hong-ya tojin yang berada diruangan batu ini… ?” tanya tojin setengah umur itu kemudian.

“Sudah kabur !”

“Sudah kabur ? Bagaimana kaburnya ?” seru tojin setengah umur itu dengan perasaan terkejut.

Menyaksikan tindak tanduk orang, Kwik Soat kun kembali berpikir.

“Sudah puluhan tahun lamanya Hong-ya tojin disekap ditempat ini, agaknya para tojin tersebut masih belum mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya, lebih baik aku jangan membongkar rahasia tersebut…”

Berpikir demikian, diapun segera menjawab.

“Oleh karena dia enggan berdiam lama disini, tentu saja ia lantas merat dari sini.” “Aduh celaka !” pekik tojin setengah umur itu, “padahal dia sinting, mana kalap lagi, ilmu silatnya juga sangat lihai, apabila dibiarkan pergi meninggalkan tempat ini…” oooOooo

Kwik Soat kun segera bangkit berdiri, selanya. “Totiang, apa yang kau bawa didalam baki itu ?” “Makanan”

Kwik soat kun segera mengerakkan tangannya dan menyambar baki di tangan tojin setengah umur itu, serunya.

“Totiang, aku sedang merasa lapar, bolehkah kau berikan hidangan tersebut kepadaku untuk mengisi perut ?”

Walaupun dia berbicara dengan sungkan padahal secara diam-diam telah mengerahkan tenaga dalamnya untuk merampas baki kayu tersebut dengan kekerasan.

Tampaknya tojin setengah umur itu sedang membuat terperanjat oleh kaburnya Hong-ya tojin, sehingga untuk beberapa saat lamanya dia hanya berdiri tertegun saja ditempat. 

Dengan terburu Kwik Soat kun menghabiskan hidangan yang berada diatas baki itu, ketika dilihatnya si tojin masih berdiri tertegun ditempat, dia lantas menyerahkan baki itu keatas tangan si tosu tersebut lalu katanya.

“Mungkin dia tak akan pergi terlalu jauh, selewatnya berapa hari lagi dia akan bakal balik lagi kemari.”

Selesai berkata dia lantas melompat keluar dari ruang batu itu, mempercepat langkahnya dan meninggalkan kuil tersebut.

Setelah keluar dari to koan, Kwik Soat kun merasa bimbing, dia tak tahu harus pergi kemana.

Diam-diam dia menggerutu kepada dirinya.

“Ketika orang ini menyerahkan surat kepadaku, berulang kali ai telah menerangkan agar kugunakan kecerdasan otakku untuk menyelidiki latar belakang dari perguruan tiga malaikat, namun di dalam kenyataannya aku telah melupakan hal ini, aku tidak manfaatkan kesempatan itu untuk memutar otak dan menanyakan masalah tersebut.” “Giok hong Niocu mempunya dendam kesumat dengan pihak Li ji pang, tidak mudah

untuk membicarakan hal ini dengannya, aku harus berusaha keras untuk menyaru sebagai seseorang yang tidak gampang menimbulkan kecurigaannya…”

Satu ingatan segera melintas didalam benaknya, pikirnya kemudian.

“Bulan berselang, aku pernah menyaksikan Giok hong Niocu meninggalkan sarangnya, entah sekarang sudah kembali ke gunung atau tidak. Dewasa ini, dari tiga orang sudah kutemukan dua diantaranya, mengapa aku tak berangkat kembali lebih dahulu ke sekitar perguruan tiga malaikat, disamping berusaha keras mengumpulkan anak buah dari Li jipang, sekalian aku pun bisa menyelidiki jejak dari Giok hong Nio cu…”

Berpikir sampai disitu, dia lantas mempercepat langkahnya untuk menuju ke depan sana. Ditengah jalan, setiap kali bertemu dengan persimpangan jalan atau tempat strategis lainnya dia lantas meninggalkan tanda rahasia dari Li ji pang untuk mengumpulkan mereka.

Ternyata ia sudah tersekap cukup lama didalam perguruan tiga malaikat, sehingga hubungannya dengan perkumpulan Li ji pang boleh dibilang sudah putus sama sekali. Hari ini, tibalah dia dalam sebuah kota besar, karena perutnya merasa lapar maka dia mencari sebuah rumah makan terbesar di kota itu untuk bersantap, sebelum melangkah masuk, dia sempat meninggalkan tanda rahasia di sana.

Setelah memesan sayur, Kwik Soat kun bersantap dengan pelan-pelan sambil menunggu munculnya anak murid perkumpulan Li ji pang.

Selesai bersantap dan menunggu lama lagi namun belum nampak juga sesuatu gerakan, terpaksa Kwik Soat kun membayar rekening, bangkit berdiri dan beranjak keluar dari rumah makan tersebut.

Tampak seorang pengemis kecil berdiri di depan pintu warung, sewaktu berpapasan dengan Kwik Soat kun, dia segera berbisik : 

“Berjalan ke arah utara, dibawah sepasang pohon Pak lima li dari sini, pangcu menantikan kedatangan Hu pangcu.”

Suaranya lembut dan halus, rupanya suara seorang gadis.

Selama ini anggota Li ji pang jarang sekali menyaru sebagai pengemis, kini mereka bisa menyaru sebagai pengemis, hal ini membuktikan kalau posisi mereka sedang terjepit dan keadaannya berbahaya sekali.

Kwik Soat kun segera merasakan suatu ketegangan yang amat sangat mencekam perasaannya, diam-diam dia mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, kemudian berjalan menuju ke arah selatan.

Hingga tiba disuatu tempat yang sepi dan yakin kalau tiada orang yang menguntit dibelakangnya, dia baru berbelok ke arah utara. Yang dimaksudkan sebagai Siang pak su atau sepasang pohon Pak sesungguhnya merupakan dua batang pohon yang tumbuh menjadi satu, tapi lantaran sudah tua, dahannya besar dan daunnya lebar, maka sekilas pandangan, kedua batang pohon itu seakan-akan sebatang pohon saja.

Kwik Saot kun berjalan dengan berhati-hati ke bawah pohon itu, baru saja dia celingukan kesana kemari, mendadak tampak bayangan manusia berkelebat lewat, dari atas pohon yang telah melayang turun seorang nona berdandan gadis dusun.

“Menjumpai Hu pangcu !” serunya lirih.

Kwik Soat kun segera kenali gadis itu sebagai pengawal pangcunya yang bernama Ui hong, buru-buru serunya :

“Mana pangcu ? Peristiwa apakah yang telah terjadi di dalam perkumpulan Li ji pang kita

?”

“Aaai, tak habis dibicarakan dengan sepatah kata, bulan-bulan terakhir ini Li ji pang telah mengalami musibah beruntun. Ngo hoa toucu mengalami tragedi cabang-cabang disemua tempat dibikin rata oleh orang bahkan markas besar pun turut diserbu dan dibakar sampai rata dengan bumi. Pangcu yang bertarung mati-matian terluka pada lengannya karena beliau tak ingin anggota lainnya menjadi korban, maka diperintahkan agar segenap anggota Li ji pang untuk mengasingkan diri sementara waktu dan tak boleh melakukan pekerjaan lagi, sementara pangcu sendiri dengan membawa siau moay sekalian berdelapan mengembara di dalam dunia persilatan, disamping menyelidiki siapa gerangan pembunuh yang telah menyergap partai kita, mencari pula kesempatan untuk bangkit berdiri lagi.”

“Namun para anggota partai masih setia semua pada perkumpulannya, meski telah mendapat perintah untuk mengasingkan diri, namun kebanyakan enggan menyerah dengan begitu saja, hanya saja dari gerakan berkelompok yang terpimpin kini berubah menjadi gerakan sendiri-sendiri. Itulah sebabnya tanda rahasia yang ditinggalkan Hu pangcu segera terdengar pula oleh pangcu.”

Kwik Soat kun segera menghela napas sedih sesudah mendengar perkataan ini, katanya kemudian.

“Bagaimana keadaan luka pangcu ? Sekarang dia berada dimana ? Dapatkah kau membawaku untuk pergi menjumpainya ?” 

“Luka yang diderita pangcu cukup parah, sekalipun sudah beristirahat cukup lama, namun kesehatan badannya belum juga pulih kembali, sebenarnya dia memang ingin sekali bertemu dengan Hu pangcu, namun oleh karena ditemukan jejak musuh yang mengejar kemari, maka sengaja dia mengutus siau moay untuk mengantarkan cap kebesaran partai kita kepada Hu pangcu, seandainya dia mengalami sesuatu musibah, maka tugas membangun kembali parta berada di tangan Hu pangcu.”

Mendengar perkataan tersebut, Kwik Soat kun menghela napas panjang, katanya kemudian.

“Apakah aku tak bisa berjumpa dengan pangcu ?”

“Dia telah memancing pergi musuh-musuhnya, saat ini mungkin sudah berada belasan li dari sini.”

Dari dalam sakunya dia mengeluarkan cap kebesaran partai dan diserahkan kepada Kwik Soat kun, kemudian katanya lebih jauh :

“Pangcu bilang, masih ada dua kantor cabang rahasia kita yang hingga kini belum diketahui musuh, dengan cap kebesaran partai ditangan Hu pangcu, tidak sulit bagi Hu pangcuuntuk membangun kembali kejayaan perkumpulan Li ji pang dikemudian hari.” Setelah menerima tanda kekuasaan tersebut, Kwik Soat kun menghela napas panjang, katanya kemudian.

“Bagaimana dengan kau ? Apa yang hendak kau lakukan sekarang ?'

“Pangcu menitahkan kepada tecu untuk secara diam-diam mengiringi Hu pangcu sambil menantikan perintah. Cuma, demi keselamatan Hu pangcu, kita tak boleh melakukan perjalanan bersama-sama.”

“Hanya kau seorang ?”

“Selama beberapa bulan terakhir ini, teculah yang mewakili pangcu untuk menurunkan perintah, terhadap keadaan Li ji pang setelah ini boleh dibilang tecu telah memahaminya, asal tecu melaksanakan perintah dari pangcu, maka didalam waktu singkat tecu dapat mengumpulkan semua anggota perkumpulan yang kebetulan berada disekitar tempat ini.” “Kalau begitu turunkanlah perintah, coba diselidiki sekarang Giok hong Nio cu berada dimana ?” kata Kwik Soat kun sambil menyimpan tanda kekuasaan tersebut.

Ui Hong segera membungkukkan badannya memberi hormat.

“Walaupun uicu sekalian telah berhasil lolos dari musibah besar, bukan berarti kami sudah lolos sama sekali dari pengejaran musuh, mau tak mau terpaksa segenap anggota perkumpulan harus mempergunakan berbagai cara apa pun untuk merahasiakan identitas diri. Hu pangcu…”

“Aku mengetahui akan maksudmu” tukas Kwik Soat kun cepat, ” tapi dewasa ini masih ada satu persoalan yang lebih besar lebih penting yang harus segera kuselesaikan, mau tak mau terpaksa masalah perkumpulan kita harus ditunda sementara waktu, mungkin

saja apa yang kukerjakan sekarang justru ada sangkut pautnya dengan lemah atau jayanya perkumpulan Li jipang kita dikemudian hari.” 

“Keputusan yang diambil Hu pangcu sudah tentu telah melalui pemikiran yang panjang, tecu hendak mohon diri lebih dulu, tentang kabar berita Giok hong Nio cu, bila tecu telah berhasil memperoleh kabar, segera akan tecu laporkan.”

Selesai memberi hormat, dia segera membalikkan badan dan mengundurkan diri dari situ. Kwik soat kun tahu dengan pasti bahwa Ui Hong tidak mengungkapkan seluruh rahasia yang diketahuinya, namun diapun tidak banyak bertanya, sekalipun dia menuruti pesan dari pangcunya dengan menyerahkan tanda kekuasaan tersebut, namun sudah pasti hati kecil nona tersebut timbul perasaan curiga dan tak habis mengertinya, mengapa dia mengambil sebagai wakil ketua sudah begitu lama tak pernah mengadakan hubungan kontak dengan partai.

Namun situasi yang dihadapi sekarang sudah mencapai pada puncak yang amat kritis, dalam keadaan demikian mustahil bagi Kwik Soat kun untuk memberikan suatu penjelasannya lagi, oleh sebab itu terpaksa dia harus memikul beban berat dengan menanggung penderitaan akibat kesalahan paham para anggota terhadapnya.

Ia bangkit berdiri dan pelan-pelan berjalan menuju ke depan, perasaannya bimbang dan kosong.

Dahulu, orang sering memuji kecerdasan otaknya dan kecekatan bekerja, tapi sekarang dia justru merasa seperti tak sanggup untuk memikul beban yang berat tersebut.

Apakah Kiu ci mo ang dan Hong-ya tojin akan datang tepat pada saatnya seperti apa yang dijanjikan si penulis surat tersebut, hingga kini dia tak berani menduga secara sembarangan, yang lebih hebat lagi adalah ia tak berhasil memahami duduk persoalan yang sebenarnya dari kedua orang itu, juga tidak diketahui mereka akan bertemu dimana. Makin dipikir dia merasa perjalanannya kali ini sejak awal sampai akhir seberanarnya mengalami kegagalan total.

Dewasa ini, hanya tinggal Giok hong Nio cu seorang yang mungkin bisa dimanfaatkan kesempatannya untuk mengetahui segala sesuatunya itu, dia berharap bisa menemukan perempuan itu secepatnya, sehingga segala sesuatunya dapat segera terungkap.

Tapi ada satu hal yang dapat dibayangkan pula oleh Kwik Soat kun, si penulis surat tak dapat menyampaikan surat tersebut hingga kini, hal mana membuktikan kalau ia sendiri tak dapat meninggalkan tempat disekitarnya, keculai Kiu ci mo ang dan Hong-ya tojin enggan menepati janjinya, kalau tidak, bisa dipastikan kalau tempat pertemuan mereka tentu dalam wilayah perguruan tiga malaikat.

Untung saja dia cukup hapal dengan jalanan disekitar sana, kendatipun perguruan tiga malaikat terletak ditengah-tenah keliling bukit yang susun menyusun, namun arah dan situasi disekitar situ cukup berkesan didalam benaknya.

Begitulah, setelah menempuh perjalanan selama beberapa hari, akhirnya tibalah Kwik Soat kun didalam bukit Bu-gi-san.

Tampak bukit menjulang tinggi ke udara, jurang membentang beribu-ribu kaki, begitu seram dan angkernya suasana disitu sehingga meninggalkan kesan aneh dalam hati kecilnya. 

Rupanya bukit yang menjulang disekeliling bukit Bu-gi-san begitu banyak jumlahnya dan lagi satu dengan yang lain hampir mirip, sehingga gampag bagi seseorang untuk sesat jalan.

Terpaksa Kwik Soat kun harus mencari dengan penuh kesabaran, sudah dua hari lamanya dia menyelusuri tanah perbukitan tersebut.

Senja itu, sampailah si nona di depan sebuah kuil, karena terasa lelah dan mengantuk akhirnya dia masuk kedalam ruangan kuil dan duduk bersandar diruangan.

Maksudnya dia akan beristirahat sebentar kemudian baru pergi mencari makanan untuk mengisi perut.

Siapa tahu, perjalanan yang melelahkan selama dua hari ini banyak menguras kekuatan tubuhnya, begitu bersandar diatas dinding rasa lelah dan mengantuknya kian lama kian bertambah berat, tanpa disadari akhirnya dia terlelap tidur.

Ditengah nyenyaknya tidur, mendadak ia merasa tubuhnya seolah-olah dibelenggu oleh sesuatu, akhirnya dengan perasaan kaget dia mendusin dari tidurnya.

Ketika membukan matanya, dia saksikan tubuhnya telah dibelenggu oleh seekor ular besar berwarna merah yang melilit tubuhnya kencang-kencang, bau amis yang menusuk penciuman membuat perutnya terasa sangat mual.

Serta merta dia mendongakkan kepalanya, tampak seorang kakek berjenggot putih sepanjang dada sedang berdiri didepan pintu kuil, kecuali ular berwarna merah sedang melilit diatas tubuhnya, masih ada seekor ular raksasa bersisik merahlagi yang melingkar tepat dihadapan mukanya.

Sekalipun Kwik Soat kun sudah seringkali mengalami kejadian besar dan ancaman mara bahaya, saat ini tak urung terkesiap juga dibuatnya.

Tiba-tiba terdengar kakek berjenggot putih itu berkata :

“Wahai bocah perempuan, apabila lohu mengulapkan tangannya, maka ular merah yang melilit diatas tubuhmu itu akan segera memagutmu atau bila lohu memerintahkan maka dia akan mengencangkan lilitan tubuhnya sehingga meremukkan seluruh tubuhmu.” Kwik Soat kun segera berubah keras untuk menemukan hatinya, kemudian menegur. “Siapakah kau ?”

“Lohu adalah Coa sin (si Dewa ular) Tong Lim !”

“Ehmm, seharusnya aku sudah menduga dirimu sejak tadi.”

Si Dewa ular Tong Lim jadi tertegun oleh jawaban tersebut, namun dia tidak segera menanyakan nama dari Kwik Soat kun melainkan berkata lagi pelan-pelan.

“Bila kau tak ingin mati, jawablah pertanyaan lohu ini secara berterus terang, bila kau berani berbohong dan lohu ketahui, akan kuperintahkan ular beracun itu untuk memagutmu sampai mampus.”

“Tanyalah !”

“Bocah perempuan, kau pemberani, darimana kau datang ?”

832 

“Dari bukit Hong-san !” jawabanya. “Ooh, mau apa datang kemari ?”

Kwik Soat kun termenung dan berpikir sebentar, kemudian baru jawabnya pelan. “Hendak mencari markas besar dari perguruan tiga malaikat !”

“Apa kau anggota perguruan tiga malaikat ?”

“Bukan ! Aku adalah wakil ketua dari perkumpulan Li ji pang, Kwik Soat kun.” “Lohu toh tidak menanyakan soal nama serta asal usulmu.”

“Sekalipun tidak kau tanyakan, aku toh harus menjawabnya juga akhirnya !” Si Dewa ular Tong Lim segera tersenyum.

“Kau memang pintar….”

Berbicara sampai disitu, dia lantas bersuit rendah sambil mengulapkan tangannya, ular merah yang sedang melilit diatas Kwik Soat kun itu tiba-tiba saja mengendorkan lilitannya dan meluncur balik ke sisi tubuh Tong Lim.

Sembari mengendorkan otot-otot didalam tubuhnya yang kaku, Kwik Soat kun berseru lagi.

“Tong locianpwe, sudah cukup lama kau tak pernah melakukan perjalanan didalam dunia persilatan.”

“Dalam situasi dan kondisi seperti ini, waktu bagi kita lebih berharga daripada emas, sepantasnya bila kita bicarakan masalah-masalah yang penting saja.”

“Baik ! Ada urusan apa locianpwe datang kemari ?” tanya Kwik Soat kun kemudian. “Seperti kau, datang mencari markas besar perguruan tiga malaikat….” “Menyambangi teman ataukah mencari musuh ?”

“Dan nona sendiri ?”

Dari perubahan mimik orang, Kwik Soat kun sudah tahu kalau kedatangan Tong Lim bukan untuk mengunjungi teman, maka sahutnya kemudian.

“Aku datang untuk menolong orang.”

Mula-mula si Dewa ular Tong Lim tertegun menyusul kemudian serunya sambil tertawa dingin.

“Nona, sebenarnya kau sedang bergurau atau sedang berbicara secara sungguhan ?” “Tentu saja secara sungguhan.”

“Hanya mengandalkan sedikit kemampuan yang nona miliki itu ?”

“Untuk meraih kemenangan toh belum tentu harus mengandalkan pada ilmu silat saja, apalagi aku masih mempunyai bala bantuan.”

“Siapakah bantuan dari nona ?”

Kwik Soat kun termenung sambil berpikir sebentar, kemudian dia baru menjawab. 833 

“Kiu ci mo ang, Hong-ya tojin, apakah Tong locianpwe kenal dengan mereka berdua ?” Tong Lim semakin tertegun.

“Apakah kedua orang itu belum mampus ?” serunya dengan nada kurang percaya. “Ya, mereka belum mati, bahkan mereka telah menyetujui untuk membantu diriku.”

“Soal Li ji pang memang lohu dengar orang membicarakannya, tetapi Kiu ci mo ang serta Hong-ya tojin sudah puluhan tahun lamanya lenyap dari dunia persilatan, sedangkan partai kalian baru belasan tahun bercokol dalam dunia persilatan, lohu tidak percaya kalau kau kenal dengan mereka berdua.”

“Boanpwe memang tidak kenal dengan mereka, bahkan pada sebulan berselang, aku sama sekali tak mengetahui akan kedua orang ini.”

“Lantas bagaimana caramu menemukan mereka serta memperoleh bantuan dari mereka berdua ?”

“Boanpwe mendapat petunjuk dari seseorang.” “Siapakah orang itu ?”

Kwik Soat kun termenun sambil berpikir sebentar, kemudian sahutnya.

“Semua pertanyaan yang locianpwe ajukan kepada boanpwe telah boanpwe jawab semua dengan sejujurnya, sedang mengenai pertanyaan yang terakhir ini, bagaimana kalau boanpwe simpan dahulu untuk sementara waktu… ?”

“Kau tidak takut mati ?”

“Aku sangat takut mati, sebab aku masih mempunyai banyak persoalan yang belum selesai dikerjakan, tapi bila locianpwe bermaksud hendak membunuhku juga, toh sekalipun sudah kukatakan, locianpwe juga saja akan membunuhku.”

Tong Lim segera tertawa hambar.

“Selama hidup lohu paling suka dengan orang pintar, apakah kau ingin mengajukan pertanyaan kepada lohu ?”

“Benar”

“Baik, tanyakan !”

“Ada urusan apa locianpwe datang mencari markas besar perguruan tiga malaikat ?” “Setelah kulihat hampir seluruh dunia persilatan terjatuh dibawah kekuasaan orang-orang tiga malaikat lohu merasa tidak sepantasnya untuk berpeluk tangan belaka, maka aku bermaksud mencari pemimpin mereka untuk memperbincangkan persoalan ini, apalagi didalam perguruan tiga malaikat pun banyak terdapat sahabat karib lohu sekalian datang menjenguk mereka semua.”

“Apakah locianpwe mampu untuk memasuki perguruan tiga malaikat ?”

“Kalau toh lohu berani datang kemari, tentu saja harus melakukan sedikit persiapan, apalagi usia lohu sudah lanjut, sekalipun harus mati rasanya juga tak perlu disayangkan.” Kemudian sesudah tertawa terbahak-bahak, dia menyambung lebih jauh. 

“Penjelasan dari lohu sudah cukup terang, pertanyaan apalagi yang hendak nona ajukan

?”

Kwik Soat kun termenung beberapa saat lamanya, kemudian berkata :

“Boanpwe banyak mengetahui tentang persoalan dalam perguruan tiga malaikat, apabila locianpwe ingin mengetahui sedikit latar belakangnya, boanpwe bersedia untuk memberi penjelasan.”

“Waah… wahh.. waahh… perkataanmu makin lama semakin melantur, apakah nona sudah pernah memasuki perguruan tiga malaikat.. ?”

“Ya, sudah pernah, seandainya boanpwe belum pernah mengunjungi perguruan tiga malaikat, bagaimana mungkin bisa mengetahui tentang Hong-ya tojin dan Kiu ci mo ang

?”

Dengan kening berkerut Tong Lim segera berseru :

“Waah, nampaknya lohu kena kau gertak juga.” Kwik Soat kun segera berkata lebih jauh.

“Bukan saja boanpwe sudah pernah memasuki perguruan tiga malaikat, bahkan pernah mengunjungi kota batu dibawah tanah, disitulah para enghiong dari seluruh kolong langit disekap.”

“Ehm, dari perkataan diri nona memang kedengarannya rada mirip-mirip juga.” seru Tong Lim sambil mendehem.

“Bukan cuma mirip saja, melainkan memang begitulah kenyataannya, aku pernah berkunjung ke ruang Seng tong, pernah melewati Kiu ci kiau, bahkan pernah pula menyaksikan raut wajah yang sesungguhnya dari ketiga orang sengcu mereka.” “Aaah, masa iya ?”

“Bila locianpwe tidak percaya, boanpwe ogah banyak bicara lagi.” Tong Lim segera tertawa terbahak-bahak.

“Haah, haaah, haaah, bocah perempuan, rupanya kau sudah melihat kalau lohu sedikit agak kurang percaya ?”

“Bila kau percaya, hal ini tentu saja jauh lebih baik dan mari kita membicarkan pertukaran syarat.”

“Syarat apa ?”

“Kau harus menjawab beberapa buah pertanyaanku, lagi pula jawabanmu harus sejujurnya blak-blakan dan tak boleh dicampuri dengan kembangan apa saja.” “Waduh.. waduh… satu generasi lebih hebat dari generasi sebelumnya, kau memang hebat sekali !”

“Jadi locianpwe sudah setuju ?”

“Bila lohu tidak setuju, nampaknya hal ini tak mungkin bisa terjadi….” 

“Baiklah !” kata Kwik Soat kun kemudian, “harap locianpwe suka menjawab pertanyaan boanpwe yang pertama, apakah locianpwe kenal dengan Buyung Tiang kim ?”

“Kenal”

“Kenal dengan akrab ?” “Ehm ! Ada apa ?”

Kwik Soat kun segera mengalihkan pembicaraan ke soal lain, katanya lagi. “Bagaimana dengan Khong Bu siang ? Apakah kau kenal dengan orang ini… ?” Tong Lim termenung sampai berapa saat lamanya, kemudian dia balik bertanya. “Apa pekerjaannya ?”

“Toa sengcu dari perguruan tiga malaikat.”

Dengan cepat Tong Lim menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Nama tersebut tidak terlalu kukenal, tapi lohu sudah puluhan tahun lamanya mengundurkan diri dari dunia persilatan, tak heran bila tidak kenal dengan orang-orang dari angkatan muda atau mereka yang muncul agak belakangan.”

“Baiklah untuk sementara waktu tak usah kita bicarakan dulu masalah tersebut, berapa orang locianpwe datang kemari ?”

“Banyak sekali”

“Apabila mereka punya nama dan kedudukan yang amat termashur, tolong sebutkan beberapa orang diantaranya untuk boanpwe.”

“Lohu percaya kau sudah pasti kenal mereka, Seng Cu Sian, Lut Huan hong dan laing sebagainya, semuanya merupakan anak buah kepercayaan dari Buyung Tiang kim.” “Seng Cu sing, Lui Hua hong… ya, pernah kudengar orang membicarakan tentang mereka.”

“Apalagi yang hendak kau tanyakan ?”

“Apa hubungan antara locianpwe dengan Buyung Tiang kim ?”

“Nona, panjang sekali untuk dibicarakan tentang persoalan tersebut, tapi ringkasnya saja dia mempunyai budi kepadaku, tapi juga mempunyai hutang sakit hati.”

“Kemunculan locianpwe dalam dunia persilatan kali ini, apakah bermaksud untuk mebalas budi kepadanya ?”

“Kalau dibicarakan sesungguhnya menggelikan sekali. Seng Cu sia dan Lui Hua hong harus bersilat lidah berhari-hari lamanya tanpa berhasil menggerakkan hati lohu, tapi akhirnya justru tergerak hatinya oleh seorang gadis cilik dan menyetujui untuk terjun kembali ke dunia persilatan, Oleh sebab itu, terhadap kalian orang-orang muda, lohu selalu menaruh perhatian was-was dan takut.”

“Locianpwe, boanpwe ingin tahu siapakah orang itu ?”

“Seorang gadis lincah, polos yang menyenangkan hati, tak bisa dikatakan kalau dia mempergunakan akal muslihat, dia hanya bilane kepada lohu, cepat atau lambat akhirnya

836 

aku toh harus mati juga, mengapa sebelum mati tidak kau lakukan suatu pekerjaan besar yang bisa meninggalkan sedikit kenangan bagi orang lain ?”

“Seringkali ucapan yang sejujurnya merupakan perkataan yang paling menarik hati.” kata Kwik Soat kun.

Kemudian setelah berhenti sejenak, sambungnya lebih jauh. “Apakah locianpwe bersedia untuk bekerja sama dengan boanpwe ?”

Tong Lim termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian ia baru berkata. “Sebelum datang kemari, sebenarnya lohu sudah merasa tiada harapan untuk hidup lagi, tapi sekarang, tampaknya lohu sudah digerakkan oleh ucapanmu itu sehingga muncul kembali setitik harapan untuk hidup dalam hati kecilku.”

“Kalau toh locianpwe bersedia untuk bekerja sama, maka masing-masing pihak harus mentaati satu syarat lebih dahulu.”

“Apakah syaratmu itu ?”

“Kedua belah pihak harus berbicara secara terus terang, semua pembicaraan tak ada yang boleh dirahasiakan.”

“Oooh, hal itu tentu saja.”

Kwik Soat kun segera bangkit berdiri.

“Kalau begitu, mari kita berangkat !” ajaknya.

“Kemana ?” si dewa ular Tong Lim berseru dengan wajah tertegun keheranan. “Pergi menjumpai Seng Cu sian serta Lui Hua hong, boanpwe akan memberitahukan latar belakang perguruan tiga malaikat yang sebenarnya kepada kalian.”

Tong Lim berpaling dan memandang sekejap ke sekeliling tempat itu, kemudian katanya. “Mereka berdiam tidak jauh dari sini, tentu saja lohu akan mengajakmu untuk pergi menjumpai mereka, cuma aja, lohu merasa sudah seharusnya kau mengajak lohu untuk berjumpa lebih dahulu dengan Kiu ci mo ang serta Hong-ya tojin.”

“Aaai… mereka sudah pasti akan datang kemari, cuma sekarang boanpwe tak tahu dimanakah mereka berada sekarang.”

Tidak menanti Tong Lim mendesak lebih jauh, dia lantas menceritakan kembali bagaimana ada orang meminta kepadanya untuk menyampaikan sepucuk surat kepada Kiu ci mo ang maupun Hong-ya tojin, bahkan menerangkan pula secara seksama.

Si dewa ular Tong Lim juga mendengarkan dengan seksama, selesai mendengar, dia termenung sambil berpikir lama sekali akhirnya dia berkata.

“Kalau ditinjau dari kemampuannya untuk memerintahkan Kiu ci mo ang serta Hong-ya tojin, sudah jelas kalau dia bukan seorang manusia biasa…”

Satu ingatan mendadak melintas di dalam benar Kwik Soat kun, katanya kemudian. “Lociapwe, apakah kau menaruh curiga kalau si pengikat keleningan dan si pelepas keleningan sesungguhnya adalah seorang ?” 

“Apakah nona pun menaruh kecurigaan tersebut ?”

Kwik Soat kun termenung sambil berpikir sejenak, kemudian katanya.

“Soal ini, boanpwe sendiri pun tidak dapat menduga, tapi kunci terutama yang membuat boanpwe curiga adalah orang yang menulis surat dan menyuruh boanpwe mengantarkan surat.”

“Kunci apa maksudmu ?”

“Tampaknya dia mengetahui banyak tentang persoalan-persoalan yang menyangkut tentang perguruan tiga malaikat, dia pun banyak mengetahui tentang persoalan dalam dunia persilatan, dia mempercayai boanpwe, oleh sebab itu suratnya baru diserahkan kepadaku untuk disampaikan kepada mereka yang bersangkutan, tapi dia pun tidak memperkenalkan kepadaku untuk menyaksikan raut wajah aslinya.”

“Apa yang kau curigai tentang dia ?” tanya Tong Lim kemudian setelah mendehm beberapa kali.

“Aku pikir, sudah pasti dia seorang persilatan sudah cukup dikenal orangnya, alasan yang terutama mengapa dia tidak membiarkan aku menyaksikan raut wajah aslinya, tak lain tak bukan karena kuatir kalau aku membocorkan rahasia ini ditempat luaran….”

Tong Lim termenung sambil berpikir sebentar kemudian manggut-manggut berulang kali. “Ya, ucapanmu memang ada benarnya juga, hanya orang yang mempunyai hubungan sangat akrab dengan perguruan tiga malaikat baru bisa memahami seluk beluk tentang perguruan tiga malaikat.”

“Apa yang harus boanpwe ucapkan sekarang telah selesai kuucapkan, bilamana locianpwe percaya dengan diriku, sudah sepantasnya bila kau mengajakku untuk bertemu dengan Seng Cu sian sekalian.”

Tong Lim termenung sambil berpikir beberapa saat lamanya, kemudian baru berkata. “Bukannya lohu enggan mengajakmu kesitu, yang benar adalah perjumpaan lohu dengan mereka belum sampai, kekuatan yang kita miliki sekarang masih belum cukup untuk bermusuhan dengan pihak perguruan tiga malaikat, oleh sebab itu mau tak mau kita harus bersikap hati-hati.”

Mendengar sampai disitu, tanpa terasa Kwik Soat kun segera berpikir.

“Tahu orangnya, tahu wajahnya tidak tahu hatinya, dia selalu enggan mengajakku untuk bertemu dengan Seng Cu sian sekalian, aku harus bersikap berhati-hati lagi kepadanya….”

Berpikir sampai disitu, dia lantas berkata.

“Locianpwe, kau datang seorang diri ketempat ini, tentunya mempunyai suatu maksud atau tujuan tertentu bukan ?”

Tong Lim mendongakkan kepalanya memandang keadaan cuaca lebih dahulu, kemudian katanya.

“Lohu sedang menggunakan ular untuk menyampaikan kabar dan mengajak seorang sahabat lamaku untuk bertemu muka disini.” 

“Menyampaikan kabar lewat ular ? Baru pertama kali ini kudengar tentang peristiwa tersebut” pikir Kwik Soat kun di dalam hati, “tapi dia memang termashur sebagai si dewa ular, sudah pasti kepandaiannya mengendalikan ular sudah mencapai tingkatan yang luar biasa…”

Berpikir begitu, dia lantas bertanya lagi. “Locianpwe, siapa sih yang sedang kau nantikan ?”

Tong Lim tidak menjawab, tiba-tiba saja dia bangkit berdiri dan menyelinap masuk ke tuan dalam kuil itu, bisiknya cepat.

“Ada orang datang !”

Dia mengulapkan tangannya dan kedua ekor ular raksasa berwarna merah itu mendadak menyusup keluar kuil dan menyembunyikan diri dibalik semak belukar diluar ruangan

kuil sana.

Kwik Soat kun mencoba untuk memusatkan perhatiannya dan memasang telinga baikbaik, namun nyatanya dia tak berhasil menangkap sedikit suara pun, tanpa terasa pikirnya dihati.

“Dia sudah merasakan ada orang datang, sebaliknya aku masih belum sempat mendengar sedikit suarapun, tampaknya ilmu silat yang ia miliki memang berkali lipat jauh lebih

hebat daripada diriku.”

Rupanya Tong Lim sudah dapat menangkap kecurigaan Kwik Soat kun, sambil tersenyum dia lantas berbisik.

“Bocah perempuan, apakah kau tidak percaya dengan perkataan lohu ?” Dengan suara yang ditekan rendah-rendah, sahut Kwik Soat kun kemudian.

“Boanpwe bukannya tidak percaya, melainkan merasa kalau tenaga dalamku masih belum mampu menandingi locianpwe, sehingga sulit bagiku untuk menangkap sedikit suarapun.”

Tong Lim memasang telinga dan mendengarkan lagi beberapa saat, kemudian ujarnya. “Apabila dugaan lohu tidak salah, jejak kita ketahuan orang lain.”

“Aah masa begitu ?” seru Kwik Soat kun dengan wajah agak tertegun karena keheranan. “Sekarang kau boleh keluar dari kuil untuk mengadakan pembicaraan dengan mereka, usahakan untuk memencarkan perhatian mereka, lohu akan membantumu dengan mengendalikan ular-ularku, paling baik lagi jika dapat membekuk mereka hidup-hidup.” Kwik Soat kun termenung sejenak, tetapi akhirnya ia beranjak juga meninggalkan kuil tersebut.

Sementara itu fajar telah menyingsing, cahaya sang surya mulai muncul di ufuk timur dan menerangi seluruh jagad.

Seorang kakek berjubah panjang berwarna abu-abu, berdiri dibawah sebatang pohon si ong lebih kurang tujuh delapan depa di depan bangunan kuil sana. 

Paras muka kakek itu amat serius, kemunculan Kwik Soat kun disana pun sama sekali tidak menimbulkan perasaan kaget atau tercengang baginya, dengan suara hambar malah katanya.

“Lohu Hoo Heng hui, sengaja datang kemari untuk menjumpai si dewat ular Tong Lim.” Kwik Soat kun manggut-manggut.

“Harap tunggu sebentar !”

Baru saja akan membalikkan badan untuk memanggil Tong Lim, si dewa ular Tong Lim telah muncul dengan langkah cepat sambil menegur.

“Saudara Hoo, kau memang amat memegang janji.”

Meskipun berjumpa dengan sahabat lama, ternyata paras muka Ho Heng hui tidak menunjukkan perasaan gembira, dia memperhatikan Tong Lim beberapa kejap, kemudian katanya.

( Bersambung ke jilid 40 )
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Lembah Tiga Malaikat Jilid 39"

Post a Comment

close