Lembah Tiga Malaikat Jilid 34

Mode Malam
Jilid 34

Buyung Im seng tertegun, lalu katanya:

"Perkataanmu memang benar, semakin sulit rahasia itu diketahui orang, makin besar daya tariknya. Kau begitu gagah dan perkasa, aku rela terjatuh ke dalam perhitunganmu."

Kembali Buyung Tiang kim tertawa tergelak-gelak.

"Haaah.... haaah... haaah... tampaknya kau benar-benar sudah terpikat, bila rahasia dari kota batu ini belum terbongkar, rasanya kau seperti mati tak meram." "Benar, aku memang ibarat manusia yang kehausan di padang pasir, rasa haus tersebut sudah sukar dikendalikan lagi."

"Nak, kau harus membayar mahal."

"Kau toh bisa melihat dengan jelas, berapa banyak yang bisa kubayar, modalku yang terbesar hanya selembar jiwaku."

"Lohu tak akan menyusahkan dirimu, tentu saja apa yang lohu inginkan dapat pula kau lakukan."

"Baik, kalau begitu bukalah harga !"

"Serahkan pedang pendek yang berada di tanganmu itu kepadaku." "Soal ini... soal ini..."

Setelah mengucapkan beberapa patah kata itu, dia masukkan kembali pedangnya ke dalam sarung kemudian diangsurkan ke depan.

Setelah menerima pedang pendek itu, dengan pancaran sinar mata penuh kasih sayang Buyung Tiang kim berkata:

"Inilah yang dinamakan dicari dengan susah payah, akhirnya didapatkan tanpa membuang tenaga."

"Apakah kau ingin mengingkari janji ?" seru Buyung Im seng dengan penuh kemarahan.

Buyung Tiang kim menyimpan kembali pedang pendek itu, kemudian katanya: "Ulurkan tanganmu, lohu hendak menotok jalan darah Ci-ti-hiat pada kedua belah lenganmu."

"Kini aku sudah tak bersenjata lagi, aku sudah bukan tandinganmu, buat apa kau mesti menotok jalan darahku ?"

"Lohu kuatir kau kelewat emosi setelah mendengar penuturanku sehingga sukar untuk menahan diri dan bunuh diri, atau mungkin juga kau akan turun tangan menyerang lohu, guna mencari kematian, oleh sebab itu aku harus menotok jalan darah Ci-ti-hiat pada kedua belah lenganmu lebih dulu untuk melindungi jiwamu." Buyung Im seng menghela napas panjang, terpaksa dia mengulurkan tangannya ke depan.

Sambil tersenyum Buyung Tiang kim menotok jalan darah Ci-ti-hiat pada kedua belah lengan Buyung Im seng, kemudian baru berkata:

"Sekarang, kendatipun dalam hati kecilmu terdapat hal-hal yang tidak memuaskan hatimu, sulit bagimu untuk turun tangan, tapi dengan begitu kaupun dapat menyelamatkan diri dari bencana kematian."

"Aku tidak bermaksud meninggalkan tempat ini, kau tak usah banyak memberi penjelasan." seru Buyung Im seng kecut.

Buyung Tiang kim segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahhh... haaaahhh... haaahh... tak dapat mengendalikan rasa ingin tahu agaknya merupakan kekurangan dari watak setiap enghiong hohan, semakin gagah orang itu rasa ingin tahunya semakin besar pula..."

Dengan perasaan tak sabar Buyung Im seng berseru:

"Kau tak usah banyak bicara lagi, pujianmu dan gertak sambalmu sudah kelewat banyak yang kudengar, agaknya kau tak usah mengulangi sekali lagi, yang ingin kuketahui sekarang adalah duduk persoalan yang sesungguhnya."

"Baik, pertama-tama lohu akan memberitahukan satu hal yang paling kau kuatirkan, sesungguhnya akulah Buyung Tiang kim yang asli."

"Kau adalah Buyung Tiang kim yang asli ?" Buyung Im seng tertegun.

"Benar, dalam keadaan dan saat seperti ini, buat apa aku mesti membohongi dirimu

?"

"Baiklah, anggap saja kau adalah Buyung Tiang kim yang asli, tapi jurus pedangku hampir semuanya berasal dari ilmu silat peninggalan Buyung Tiang kim, mengapa kau tidak mengenali jurus seranganku ?"

702 

"Benar, ilmu silat yang kau gunakan memang merupakan ilmu silat yang ditinggalkan Buyung Tiang kim di dunia ini. Namun semuanya itu merupakan hasil karyaku dengan dasar kecerdasan serta kemampuan yang kumiliki, kitab jurus pedang dan kitab ilmu pukulan yang kubuat belum sempat kupelajari sama sekali, aku memang tahu akan jurus pedang yang kau gunakan, tapi untuk sesaat sulit bagiku untuk mematahkannya, maka aku harus menotok jalan darah pada kedua ketiakmu, agar aku mempunyai cukup waktu untuk memikirkan jurus serangan guna mematahkan jurus pedangmu itu."

"Semua persoalan itu, kini sudah menjadi masalah yang basi, jalan darah pada kedua ketiakku pun sudah kau totok, kini aku sudah kehilangan kemampuan untuk melawan, aku hanya berharga bisa mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya." "Aku akan memberitahukan satu hal yang paling kau kuatirkan lagi, yakni Buyung Tiang kim tidak berputera, aku tidak mengakui dirimu sebagai putraku, apa yang kuucapkan semuanya kenyataan dan sejujur-jujurnya"

"Aaai ! Aku tak habis mengerti, mengapa orang lain bersikeras hendak mencampuri urusan ini ? Bukan saja menghantar aku masuk ke dalam gedung keluarga Buyung, bahkan memalsukan tulisan dari Buyung Tiang kim dan meninggalkan sepucuk surat bagiku, waktu itu aku tak lebih baru seorang bayi, agaknya aku toh sama sekali tiada sangkut pautnya dengan siapa saja."

"Tak bisa menyalahkan dia. ia mengatur segala sesuatunya itu hanya demi diriku, dia sengaja mengaturkan sebiji bibit untuk membalas dendam, namun mereka sama sekali tidak menyangka, Pendekar Besar mana itu Buyung Tiang kim ternyata telah berubah menjadi pentolan dan otak yang mengendalikan kehidupan kota batu di bawah tanah."

"Jadi aku bukan putra Buyung Tiang kim, tapi dalam keadaan belum tahu persoalan telah dilibatkan dalam soal budi dendamnya orang persilatan ?"

Buyung Tiang kim tertawa terbahak-bahak.

"Haah... haaah... haaaahnak, seandainya kau tidak dianggap orang lain sebagai

putranya Buyung Tiang kim, entah kau dilahirkan dalam keluarga yang manapun, apakah kau bisa memperoleh kegagahan dan kepopuleran seperti hari ini. sisa dari kehidupan Buyung Tiang kim telah menciptakan pengalaman yang penuh kegembiraan, kegetiran serta mara bahaya bagimu."

"Aku hendak menemukan ayah ibu yang telah melahirkan kau, entah mereka itu seorang petani atau penebang kayu, entah bagaimanakah miskin dan sengsaranya kehidupan mereka, aku ingin berbuat sebagai anak yang berbakti untuk memelihara mereka."

"Seandainya kau benar-benar mempunyai seorang putra yang begitu berbakti seperti kau, wah, aku pasti akan senang."

"Heehh... heeeh... heeehjangan harap kau bisa berputera lagi sepanjang hidupmu

sekarang, jadi masalah itu tak usah dibicarakan lagi." tukas Buyung Im seng sambil tertawa dingin.

703 

"Kini, kau sudah tahu kalau aku bukan ayah kandungmu, buat apa kau masih ingin tahu latar belakang yang sebenarnya dari peristiwa ini..."

"Jalan darahku telah kau totok, tentu saja aku harus tahu sampai sejelas-jelasnya." "Baiklah, lohu akan memberitahukan kepadamu, cuma persoalan ini meliputi banyak masalahnya, lohu tak tahu harus mulai bercerita dari bagian yang mana ?" Setelah menghembuskan napas panjang, lanjutnya:

"Pengalaman hidup lohu selama ini ibarat gelombang ditengah samudra, naik turun tiada hentinya. Sebelum memasuki kota batu di bawah tanah ini, lohu memang seorang pendekar besar, selama hidup aku pernah melakukan banyak sekali perbuatan amal, banyak membantu orang dan menyelamatkan banyak masalah pelik bagi umat persilatan, entah manusia itu dari golongan putih maupun dari golongan hitam, tiada seorang pun yang membenciku, entah musuh atau teman, bahkan orang yang menderita kerugian di tanganku, tak ada seorang pun yang menaruh perasaan benci atau dendam kepadaku."

"Lantas mengapa kau harus membuang segala sesuatunya dan menyembunyikan diri di bawah kota batu yang terpencil ini untuk melakukan kejahatan...?" pelanpelan Buyung Im seng bertanya.

"Tapi aku telah membayar mahal segala sesuatunya ini." "Membayar dengan apa ?"

"Aku mempunyai banyak teman, tapi mereka telah meninggalkan aku setelah berhubungan sekian lama dengan diriku, bahkan istriku sendiripun akhirnya pergi meninggalkan aku."

"Waah, aneh sekali kalau begitu" seru Buyung Im seng keheranan, "kau adalah orang yang paling dihormati dan disanjung oleh umat persilatan, mengapa mereka justru pergi meninggalkan kau ?"

"Karena orang yang berada di sekelilingku semuanya merasa bahwa aku bersikap kurang baik terhadap mereka. Orang yang sebenarnya menaruh rasa terima kasih atau berhutang budi kepadaku, karena kelewat dekat berhubungan denganku, akhirnya setelah melewati suatu jangka waktu tertentu, bukan saja tidak merasa berterima kasih lagi kepadaku, malah sebaliknya banyak menyalahkan aku." "Diantara sifat ingin tahu yang merupakan kelemahan umat manusia, sesungguhnya di dunia ini masih terdapat suatu titik kelemahan lagi." kata Buyung Tiang kim.

"Kelemahan apa ?"

"Serakah ! Serakah akan harta, serakah akan perempuan, nama, pahala dan segala-galanya. Mereka semua merasakan bahwa aku seharusnya bersikap lebih baik lagi terhadap mereka."

Sesudah bernapas panjang, lanjutnya:

"Istriku misalnya, dia merasa kau lebih memperhatikan orang lain dan bersikap dingin kepadanya, sedang teman-temanku mereka menganggap aku kurang setia kawan terhadap mereka. Aaai... ! Mereka seperti lupa bahwa Buyung Tiang kim cuma seorang, aku toh tak dapat menciptakan seribu atau selaksa orang Buyung 

Tiang kim untuk memuaskan hati mereka semua. Semakin kucari kesempurnaan hidup, kenyataan yang datang semakin berantakan, sebab di dunia ini pada hakekatnya memang tiada persoalan yang seratus persen sempurna, tiada pula manusia yang seratus persen sempurna."

"Maka, kaupun berubah ?"

Buyung Tiang kim tidak memperdulikan pertanyaan anak muda itu, kembali sambungnya.

"Nak, kau tahu, mengapa aku bisa disanjung dan dihormati oleh setiap umat persilatan ?"

"Aku tidak habis mengerti."

"Karena mereka menganggap Buyung Tiang kim sudah mati, karena orangnya sudah tiada maka mereka baru teringat akan kebaikannya, mereka baru merasa kalau di dunia ini sulit untuk menemukan manusia kedua seperti Buyung Tiang kim."

"Sayang, sayang sekali... " pelan-pelan Buyung Im seng bergumam "Apanya yang disayangkan ?"

"Sayang kau tidak benar mati, seandainya kau benar-benar mati maka kau akan menjadi orang yang paling dihormati di dalam dunia persilatan, nama kamu akan harum sepanjang jaman, tapi mengapa kau tak mati saja ?"

"Lohu belum ingin mati karena ada dua alasan yang melarangku berbuat demikian, sebab seorang hanya mati sekali, maka kematian jangan coba sembarangan, alasan lain adalah lohu ingin tahu, bila aku telah mati bagaimana reaksinya umat

persilatan terhadapku ?"

"Kalau begitu dalam peristiwa terbunuhnya seluruh anggota keluarga Buyung Tiang kim pun hal ini terjadi atas rencanamu pula ?"

"Benar, akulah yang merencanakan semua itu. Bahkan aku masih sengaja agar orang menaruh kecurigaan terhadap kematian dari Buyung Tiang kim."

"Lantas apa sebabnya kau menyeret pula seorang bocah yang tidak tahu urusan ke dalam kancah pertikaian dunia persilatan ini ?"

"Aku hendak mengatur seorang bocah untuk berperan sebagai putra Buyung Tiang kim, aku ingin lihat bagaimanakah cara mereka dalam menghadapi bocah tersebut."

"Maka kaupun meninggalkan surat wasiat, bahkan meninggalkan kitab pedang dan kitab ilmu pukulan didalam tanah bawah kolam teratai untuk meninggalkan

sebuah rahasia besar di sini ? Jadi semua rencana ini hanya bertujuan untuk menilai bagaimanakah sikap umat persilatan atas kematianmu itu...?"

"Bagi manusia yang hidup di dunia ini, siapakah yang dapat menyaksikan kejayaan dan kepedihan yang berada di belakangnya ? Tapi aku, Buyung Tiang kim dapat melihatnya." 

"Tahukah kau akan akibat dari gurauanmu itu ? Beribu-ribu lembar jiwa manusia telah melayang gara-gara perbuatanmu itu."

"Aku pernah menyelamatkan beribu lembar jiwa manusia, andaikata seseorang punya pahala pun punya kesalahan, maka aku harus menggunakan pahalaku untuk menutupi kesalahan tersebut."

"Kematian Buyung Tiang kim sesungguhnya telah meninggalkan suatu rahasia yang sangat besar dan tak dimengerti setiap orang dalam dunia persilatan, tapi setelah mendengar penjelasanmu itu, baru kuketahui bahwa kenyataannya tak lebih hanya begitu, sekalipun dibalik kesemuanya masih ada lika-liku persoalan itupun cuma daun dan ranting dari sebatang pohon besar. Aku sudah tidak berminat lagi untuk mendengar lebih jauh. Kini, didalam hatiku masih ada beberapa hal yang mencurigakan, setelah mendapat keterangan darimu nanti, aku bersedia menerima hukuman apa saja yang hendak kau limpahkan padaku." "Persoalan apa lagi yang mencurigakan hatimu ?"

"Siapakah orang tuaku ? Sekarang mereka berada dimana ? Aku tak ingin membonceng ketenaran mu sebagai Buyung tayhiap, aku ingin mengetahui asal usulku yang sebenarnya agar aku bisa mengganti namaku yang sebenarnya, hingga orang tidak salah menganggap diriku lagi sebagai Buyung Tiang kim mengawasi wajah Buyung Im seng lekat-lekat, kemudian tegurnya:

"Nak, kau bersikeras ingin mengetahui asal usulmu yang sesungguhnya ?" "Seorang putra tak akan malu oleh kerendahan tingkat hidup orang tuanya, sekalipun orang tuaku mempunyai hal-hal yang memalukan untuk diketahui orang lain, aku sebagai putranya sudah menjadi kewajiban untuk turut memikulnya bersama mereka."

"Baiklah, akan kuberitahukan kepadamu, kalau dibilang sesungguhnya orang tuamu bukan orang luar, mereka semua adalah pelayan dari gedung keluarga Buyung. Sayang sekali, mereka semua ikut tewas didalam peristiwa pembunuhan tersebut."

"Kaukah yang mencelakai mereka ?" seru Buyung Im seng dengan penuh amarah. "Bukan aku" Buyung Tiang kim segera menggelengkan kepalanya berulang kali. "Tapi toh kau yang mengatur segala sesuatunya."

Buyung Tiang kim tertawa terbahak-bahak.

"Haaah... haaah... haaa... sebetulnya kejadian itu cuma sebuah sandiwara belaka, tapi tak kusangka kalau sesungguhnya benar-benar laksanakan secara sungguhan, seandainya aku tidak bertindak sangat berhati-hati dan memiliki kecerdasan melebihi orang lain, mungkin akupun akan kehilangan selembar nyawaku dalam permainan tersebut. Kelicikan dan kekejian hati manusia memang sukar diduga dan dihadapi. Sebetulnya kau menyuruh mereka melakukan pertarungan secara pura-pura dan tidak sampai mengakibatkan kematian, siapa tahu mereka adalah manusia-manusia berhati kejam, ternyata menggunakan kesempatan tersebut

mereka melakukan pembantaian secara besar-besaran, sehingga lelaki perempuan, tua muda yang berada dalam gedung keluarga Buyung tewas semua terbunuh.

Yang paling mengenaskan adalah sekawanan sahabat persilatan yang malam itu 

menginap dalam gedung keluarga Buyung, mereka ikut terbunuh semua dalam peristiwa tersebut."

"Hanya kau seorang yang berhasil meloloskan diri ?"

"Tujuan mereka yang terutama adalah aku, tapi mereka tidak menyangka kalau aku sudah mempersiapkan pengganti untuk perananku ini, rupanya sebelum peristiwa berlangsung, secara diam-diam mereka telah mencampuri hidangan dan air teh kami dengan sejumlah obat beracun yang tidak berwarna dan tidak berbau. Meski pada waktu itu dalam gedung keluarga Buyung terdapat banyak jago lihai, akan tetapi mereka sudah tidak berkemampuan lagi untuk melakukan serangan balasan, menanti aku sadar akan bahaya dan ingin mencegah, barulah kuketahui kalau diriku pun ikut dipecundangi, terdesak oleh keadaan, terpaksa kupersiapkan dulu pengganti diriku untuk melakukan peranan mati, sedang aku harus mempertahankan nyawaku yang berguna ini guna membalaskan dendam bagi mereka."

"Kalau toh kau adalah Buyung Tiang kim, mengapa pula harus berbuat macammacam dengan mencari seorang Buyung Tiang kim yang lain untuk disekapnya dalam kota batu ?"

"Setelah terjadinya peristiwa pembunuhan di gedung keluarga Buyung di kota Kung ciu, secara diam-diam aku telah melakukan penyelidikan yang seksama, alhasil kuketahui bahwa dibalik kesemuanya itu ternyata memang sedang disusun suatu rencana busuk yang maha besar. Kecuali membuat mereka ragu akan mati hidupku, kalau tidak niscaya rencana busuk itu akan segera meletus."

Kemudian setelah tertawa terbahak-bahak, dia melanjutkan.

"Haaahh.... haaahh... haaahhhh... seandainya rencana busuk itu sampai meletus, paling tidak akan ada beribu orang jago persilatan akan tewas dalam rencana busuk itu bahkan akan menyusahkan pula banyak orang yang sesungguhnya tidak berdosa. Oleh sebab itu mau tak mau aku harus membocorkan berita tentang lolosnya Buyung Tiang kim dari musibah ke dalam dunia persilatan, cuma berita ini jarang diketahui orang, kecuali beberapa orang yang mengotaki rencana busuk itu, yang lebih aneh lagi adalah merekapun tak berani membocorkan rahasia ini keluar, rupanya mereka kuatir kalau hal mana akan mempengaruhi rencana mereka."

Buyung Im seng segera menghembuskan napas panjang.

"Oooh.. rupanya dibalik kesemuanya ini masih terdapat liku-liku yang begitu banyak."

"Itulah sebabnya mau tak mau harus mencari seorang pengganti yang akan berperanan bagi diriku, orang itu tak lain adalah kakek berbaju biru yang kau jumpai tadi. Sebetulnya dia adalah seorang sastrawan yang tidak lulus ujian, berhubung wajahnya amat mirip dengan wajahku, terpaksa akupun memakai dia untuk menyaru sebagai Buyung Tiang kim..."

Buyung Im seng memperhatikan wajah Buyung Tiang kim, lalu ujarnya: "Seandainya orang itu amat mirip dengan Buyung Tiang kim, seharusnya aku bukan Buyung Tiang kim ?" 

"Benar ! Suatu pertanyaan yang sangat bagus, hal ini menandakan kalau kau amat teliti. Sejak belasan tahun berselang, aku sudah tidak berwajah sebagai Buyung Tiang kim lagi."

"Jadi kau menyaru dengan bahan obat-obatan ?" Buyung Tiang kim segera menggeleng.

"Tidak, menyaru dengan bahan obat-obatan hanya mengelabui orang untuk sementara waktu, lama kelamaan hal itu takkan bermanfaat lagi. Ditambah pula beberapa orang pentolan yang menyusun rencana busuk itu selain memiliki kepandaian silat yang luar biasa, kecerdasan merekapun sangat mengagumkan, dengan suatu pengamatan yang teliti, bagaimana mungkin penyaruan dengan obatobatan dapat mengelabui mereka ? Didesak oleh keadaan, terpaksa aku harus merusak raut wajahku sendiri>"

Buyung Im seng menghela napas panjang.

"Aaai, aku sudah menjumpai dua orang manusia yang merusak wajah sendiri untuk menghindari orang lain untuk mengenal kembali dirinya, cuma yang satu

berkorban demi teman sehingga pantas dihargai, maka yang lain untuk mewujudkan rencana busuknya. Ratusan tahun kemudian, yang satu masih punya nama yang harum dalam dunia persilatan, sedangkan yang lain akan dikutuk orang sepanjang masa."

"Yang kau maksudkan dikutuk orang sepanjang masa itu tentu aku bukan ?" "Seharusnya kau dapat merasakan sendiri, buat apa aku mesti banyak berbicara ?" "Yang kau maksudkan sebagai namanya akan dikenang orang sepanjang masa apakah Seng cu-sian ?"

Dengan perasaan terperanjat Buyung Im seng berpikir:

"Oooh, rupanya dia sudah tahu." Namun di luar, katanya ketus:

"Tebak saja sendiri !"

"Yang kau maksudkan sudah pasti dia, aku pernah menengoknya dua kali, cuma dia sendiri sama sekali tidak mengetahuinya."

Buyung Im seng segera mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, katanya. "Bagaimana kemudian ? Kau pun menggabungkan diri dengan perguruan tiga malaikat ?"

"Setelah merusak wajah asliku, aku pun bergabung ke dalam kelompok mereka, dengan mengandalkan kecerdasanku dan ilmu silat yang kumiliki, lambat laun aku berhasil menyusup ke dalam kelompok pimpinan."

"Apakah kelompok pimpinan tersebut kau kenal semua ?"

"Bukan cuma kenal, dahulu mereka semua adalah sahabat-sahabatku, juga merupakan tamu yang sering berkunjung ke gedung keluarga Buyung, tapi secara diam-diam mereka selalu berusaha menyusun rencana untuk mencelakai aku, 

sayangnya apa yang mereka harapkan tak pernah tercapai, aku masih tetap hidup segar bugar di sini."

"Sebenarnya siapa saja beberapa orang pentolan itu ? Sekarang, apakah mereka masih berada di sini ?"

Buyung Tiang kim mengangguk.

"Sebagian besar masih berada di sini, tapi salah seorang diantaranya yang justru merupakan tokoh yang paling penting, justru berhasil meloloskan diri"

Setelah menghela napas panjang, sambungnya:

"Aaai, semenjak peristiwa itu watakku pun turut mengalami perubahan yang amat besar. Orang jahat di dunia ini terlalu banyak, aku, Buyung Tiang kim hanya satu orang dan tak mungkin bisa menghadapi begitu banyak musuh, hal ini membuat aku mulai menyadari bahwa menjadi orang jahat yang bernama busuk pun bukan sesuatu yang menakutkan, yang menakutkan justru manusia-manusia munafik yang berpura-pura salah, tapi justru manusia yang menyembunyikan golok dibalik senyuman. Nak, dapatkah kau bayangkan, Buyung Tiang kim yang bernama besar ternyata tak sanggup mempertahankan bininya sendiri."

"Apakah ia dibunuh orang ?"

Suatu pancaran emosi yang besar dan perasaan sedih yang tebal segera menghiasi raut wajah Buyung Tiang kim, pelan-pelan katanya:

"Dia telah menjual kehormatannya dengan menyeleweng bersama orang lain, akhirnya dia pun kabur dengan lelaki itu."

Ucapan mana sungguh di luar dugaan Buyung Im seng, seandainya berita itu bukan muncul dari mulut Buyung Tiang kim sendiri, siapakah orang di dunia ini yang percaya kalau Buyung Tiang kim, seorang pendekar besar dari dunia persilatan ternyata tak sanggup mempertahankan istri sendiri ?

Mendadak timbul perasaan simpatik di dalam hati kecil Buyung Im seng, ujarnya kemudian dengan suara dalam:

"Kalau seorang perempuan tidak setia dan berbuat serong di luar pengetahuan suaminya, maka hal itu merupakan urusan dari kaum wanita sendiri, sebagai orang lelaki, buat kita mesti mempersoalkan masalah itu didalam hati ?"

"Dapatkah kau melepaskan nona Nyoo dan tidak memikirkannya lagi untuk selamanya ?"

Ucapan tersebut sama sekali di luar dugaan Buyung Im seng, ia menjadi tertegun. "Soal ini... soal ini"

"Nak, pernahkah kau mendengar kata yang berbunyi begini: Segagah-gagahnya seorang lelaki, dia tak akan lolos dari masalah perempuan?"

Buyung Im seng mengangguk. "Ya, aku tahu"

"Aku terlalu ternama, setiap orang menyanjungku dan menghormatiku, sehingga berapa benar kerugian dan penghinaan yang kuterima semuanya tak mungkin bisa 

dibalas. Nama kosong hanya menyesatkan orang, betapapun pedih dan hancurnya perasaanku, diluaran ku tetap harus memperlihatkan sikap yang acuh tak acuh, biar hidupmu sengsara dan terkekang, namun senyuman harus tetap tersungging di ujung bibirnya. Nak, begitulah kehidupan yang sesungguhnya dari seorang pendekar besar yang bernama Buyung Tiang kim..."

Buyung Im seng termenung dan berpikir sebentar, kemudian katanya: "Burung manyar yang terbang lewat meninggalkan suara, manusia yang mati

meninggalkan nama, paling tidak kau sudah mendapatkan nama, kini aku telah menghancurkan lagi nama pendekar yang kau bangun dan kau ciptakan dengan penderitaan dan keringat serta darah itu, aku tidak habis mengerti apakah tindakanmu ini merupakan suatu tindakan yang pintar ataukah bodoh ?"

Buyung Tiang kim menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Nak, mungkin saja cara kerjaku serta cara yang kugunakan agak keliru, agak emosi dan keras, namun aku tidak bermaksud melakukan kejahatan, seandainya tiada aku, Buyung Tiang kim, entah bagaimanakah keadaan dunia persilatan dewasa ini ? Banyak tokoh-tokoh yang buas dalam dunia persilatan, kalau bukan kena ku sekap di dalam kota batu bawah tanah, mereka telah ku taklukkan dan ku peralat dengan menggunakan nama tiga malaikat. Sebagaimana kau ketahui, perguruan tiga malaikat memiliki peraturan yang ketat serta cara dan tindakan yang buas dan kejam, kami tak takut mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar perikemanusiaan..."

Buyung Im seng segera menukas:

"Tetapi nama perguruan tiga malaikat kalian sudah teramat jelek dalam pandangan umat persilatan."

"Ya, taktik yang kami gunakan memang menggunakan tombak menyerang tameng, dengan mempergunakan tenaga gabungan dari perguruan tiga malaikat yang sempurna, kita hadapi manusia-manusia bengis dalam dunia persilatan. Nak, perguruan tiga malaikat bukan aku yang mendirikan, sebenarnya mereka mempunyai suatu rencana yang amat ketat sekali, sehabis membunuh aku, mereka hendak melaksanakan rencananya jadi kenyataan, sebab Buyung Tiang kim belum mati, maka rencana busuk mereka pun tak dapat terlaksana sebagaimana mestinya"

"Tapi sekarang tentunya mereka sudah tahu bukan kalau kau adalah Buyung Tiang kim ?"

"Tidak tahu" Buyung Tiang kim menggeleng, "seandainya mereka mengetahui kedudukan yang sesungguhnya, masa aku akan dibiarkan hidup hingga sekarang ?" "Buyung Tiang kim gadungan yang berada dalam kota batu sama sekali tak mengerti kepandaian silat, mana orang lain tidak dapat mengetahuinya" ujar

Buyung Im seng dingin.

"Orang lain tak mungkin akan melakukan pemeriksaan terhadap orang-orang yang disekap dalam kota batu ini kecuali lohu sendiri, bahkan mereka pun segan untuk mendatangi tempat ini." 

"Selain mengerikan, di sana sini pun dilengkapi dengan aneka alat jebakan yang amat berbahaya."

Walaupun Buyung Im seng masih belum begitu memahami, tapi diapun merasa bahwa persoalan-persoalan semacam itu hanya merupakan kembangnya saja, andaikata latar belakang yang terutama dapat dipahami, masalah-masalah kecil itupun tak sulit untuk diketahui pula.

Maka dia lantas mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, katanya:

"Di luar kota batu terdapat ruang tiga malaikat, dalam ruangan itu terdapat patung tiga malaikat, sebenarnya apa yang terjadi ?"

Buyung Tiang kim tersenyum.

"Itulah perguruan tiga malaikat. Kota batu di bawah tanah ini disebut pula sebagai neraka dunia, tempat penyekapan orang-orang lihai yang berani menentang perguruan tiga malaikat, tapi setelah mengorbankan tenagaku selama sepuluh tahun, tempat ini telah berubah menjadi suatu tempat untuk menyingkir dari mara bahaya."

"Apa maksud perkataanmu tadi ?"

"Alasannya sederhana sekali, setelah mereka menyekap orang-orang itu di sini, setiap hari mereka akan meracuni orang-orang itu, agar dalam suatu jangka waktu tertentu mereka akan keracunan dan mati."

"Mengapa kalian tidak sekali bacok menghabisi saja nyawa mereka.. ?" "Sebab kita harus memaksa mereka untuk mengungkapkan ilmu silat yang dimilikinya, walaupun orang-orang itu semuanya merupakan jago kelas satu di

dalam dunia persilatan, namun mereka tak akan tahan menghadapi siksaan dan penderitaan yang akan dialaminya siang malam, dalam keadaan terdesak, terpaksa mereka akan menyerahkan ilmu silatnya."

"Setelah berhasil memaksa mereka untuk menyerahkan ilmu silatnya, mengapa mereka belum juga dibunuh ?"

"Sekalipun siksaan sukar ditahan, walaupun ilmu silat mereka diserahkan keluar, namun sifat menyimpan rahasia tetap merupakan ciri manusia, tentu saja mereka tidak akan mengungkapkan ilmu rahasia yang menjadi andalan mereka. Akan tetapi, begitu mereka merasa kalau kematian sudah tidak jauh di depan mata, mereka pasti akan merasakan pula bahwa ilmu silat mereka akan punah bila tidak diwariskan kepada orang lain, hati mereka tentu tak akan tega untuk membawa kepandaiannya ke liang kubur. Maka semua rahasia ilmu silat yang selama ini disembunyikan pun akhirnya akan diturunkan juga, ada yang diturunkan dalam bentuk tulisan, ada pula lewat lukisan, mereka tahu kalau ilmu silat yang diturunkan lewat cara begini belum tentu bisa dipahami orang-orang dari angkatan muda, tapi mereka pun berharap terjadinya suatu keajaiban. Padahal ilmu silat yang mereka turunkan itu semuanya terjatuh kembali ke tangan orang-orang tiga malaikat, sejak mereka disekap di sini, tujuannya memang memaksa mereka untuk muntahkan kembali ilmu silat yang dimiliki kemudian dipelajari dan diselidiki oleh mereka, itulah yang merupakan alasan terutama mengapa jago-jago lihai itu disekap semua di sini." 

"Waah, sempurna amat rencana kalian itu ?"

"Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya akan jatuh pula, walaupun rencana mereka itu amat sempurna, namun mereka tidak menyangka kalau aku telah merusak rencana mereka itu secara diam-diam."

"Aai, sudah setengah harian kau bercerita, tapi belum kau sebutkan otak atau dalang yang sebenarnya dari peristiwa ini serta asal usul dari tiga malaikat yang memimpin perguruan."

"Sudah kukatakan, kecuali satu orang yang berhasil meloloskan diri, dua orang lainnya disekap semua didalam kota batu ini, sedangkan kedudukan dari ke perguruan tiga malaikat tersebut, sesungguhnya mereka tak lebih hanya beberapa orang boneka yang diperalat belaka !"

"Mungkin kau menilai terlampau rendah kemampuan yang mereka miliki, buktinya, ilmu silat yang dimiliki Khong Bu siang mungkin tidak berada di bawah kepandaianmu."

Buyung Tiang kim tertawa hambar.

"Seandainya kita hendak memperalat mereka, tentu saja kita harus menciptakan mereka sebagai jagoan hebat, apalagi kalau ilmu silat yang mereka miliki semakin tinggi, hal mana semakin baik lagi."

"Seandainya kepandaian mereka sudah mencapai suatu taraf tertentu, mungkin kau tak akan dapat mengendalikan mereka lagi."

"Aku tak akan sedemikian bodohnya sehingga harus mengadu kekerasan dengan mereka menggunakan ilmu silat."

"Jadi kau mempunyai cara lain untuk menghadapi mereka ?"

"Benar, selama banyak tahun ini aku telah mempelajari banyak sekali kepandaian ampuh, terutama kepandaian ilmu sesat yang aneh-aneh, andaikata kepandaian tersebut bisa digunakan sebagaimana mestinya, besar kemungkinan akan mendatangkan suatu hasil yang luar biasa sekali."

"Aku lihat Khong Bu siang amat normal, dia seperti tidak dipengaruhi oleh suatu ilmu sesat."

Buyung Tiang kim segera tertawa terbahak-bahak.

"Haahh... haahh... haaahh... nak, kau tidak mengerti, sebelum lohu memasuki kota batu di bawah tanah ini, akupun sama saja tidak mengerti cuma kau dapat memberitahukan kepadamu, ilmu sesat bukan berarti bisa lebih unggul daripada ilmu silat murni yang dilatih secara tekun dan bersungguh-sungguh, tapi jika digunakan pada saat yang tepat, maka bisa jadi mendatangkan suatu hasil yang di luar dugaan, tapi hal mana harus disesuaikan antara waktu dan keadaan, kota batu di bawah tanah ini justru memiliki situasi dan waktu yang cukup bersyarat untuk melaksanakan ilmu tersebut."

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya. 

"Nak, persoalan yang mencurigakan hatimu sebagian besar sudah kujawab terungkapkan, sekarang sudah seharusnya kita membicarakan persoalan diantara kita."

"Tatkala Buyung Im seng mendengar Buyung Tiang kim hendak membicarakan persoalan diantara mereka berdua, buru-buru dia bertanya:

"Diantara kita masih ada urusan apa ? Berapa banyak rahasia yang kau beritahukan kepadaku, sebentar saja bila kau menghadiahkan sebuah tusukan ke dadaku dan merenggut nyawaku, bukankah segala sesuatunya akan menjadi beres dengan sendirinya ?"

"Sekarang aku telah berubah pikiran, walaupun kau bukan putraku, tapi kau memiliki jiwa ksatria yang amat mirip dengan diriku, di kolong langit setiap orang sudah tahu kalau kau adalah Buyung kongcu, aku tak boleh membiarkan mereka terlampau kecewa."

"Maksudmu... ?"

"Aku menginginkan kau berlutut di hadapanku dan menjadi anak angkatku, agar kau benar-benar menjadi Buyung kongcu yang sebenarnya."

"Bila kau telah menjadi Buyung kongcu yang sebenarnya ?"

"Kita berdua akan sama-sama memahami, kau tak akan mengeluarkan rahasia itu keluar dan aku pun tak akan memberitahukan kepada orang. tentu saja orang lain tak akan mengerti semua."

"Sekalipun kau dapat membohongi orang lain, tapi tak dapat membohongi diri sendiri, bukan ?"

oooOooo

"Ada banyak hal di dunia ini yang dipaksa jadi oleh keadaan" ujar Buyung Tiang kim pelan, "pokoknya asal tujuan kita mulia, itu sudah lebih dari cukup. Apa lagi namamu Im seng adalah nama pemberianku."

"Mengakui dirimu sebagai ayah angkatku bukan suatu aib bagiku, tapi sebelumnya aku harus memahami lebih dahulu maksud hatimu yang sesungguhnya."

"Aku menginginkan kau mewakili diriku untuk mengurusi kota batu di bawah tanah ini."

Buyung Im seng jadi tertegun setelah mendengar perkataan itu, serunya tertahan: "Dan kau ?"

"Aku sudah tua, kekuatan tubuhku maupun kecerdasanku sudah mulai mundur dan menua."

Setelah menghela napas panjang, lanjutnya:

"Dewasa ini di kota batu bawah tanah ini disekap dua macam manusia, tapi macam manusia yang manapun tak boleh dilepaskan."

"Apakah antara lelaki dan perempuan ?" Buyung Tiang kim tertawa terbahak-bahak.

713 

"Hahahahabukan perbedaan seperti itu, yang kumaksudkan dua macam

manusia adalah antara orang baik dan orang jahat."

"Seandainya orang jahat, biarkan saja dia mati menua di sini, agar orang persilatan tak usah merisaukan tentang kehadiran mereka lagi, seandainya orang baik, mengapa kita tak boleh melepaskan mereka ?"

"Pertama, mereka sudah keracunan kelewat dalam, sudah tiada sejenis obatpun yang dapat menyembuhkan racun yang mengeram di tubuh mereka. Aku telah membaca semua kitab racun yang ada di dunia ini, sudah meminta petunjuk dari berbagai tabib kenamaan, namun mereka tak berhasil menemukan cara penyembuhan yang baik, satu-satunya cara yang bisa dipergunakan hanyalah menyerang racun dengan racun, dengan racun memunahkan racun guna memperpanjang kehidupan mereka. Oleh sebab itu setiap orang yang disekap dalam kota batu ini entah orang baik atau orang jahat, hampir semuanya sudah diliputi oleh hawa racun, setiap orang merupakan orang hidup yang menelan racun tiap hari, dalam dada mereka hanya ada api amarah, perasaan dengki, bila api amarah tersebut sampai terbakar, sudah pasti akan membangkitkan sifat buas dan keji, orang baikpun akhirnya akan berubah menjadi orang jahat."

Buyung Im seng menghela napas panjang.

"Masuk diakal juga perkataanmu itu, tapi masih berapa lama mereka dapat bertahan untuk hidup ?"

"Walaupun obat beracun yang mereka telan merupakan sejenis obat beracun yang sama tapi daya tahan mereka berbeda satu dengan lainnya, tentu saja hal ini terpengaruh juga oleh bakat alam yang dimiliki, dasar tenaga dalam yang diyakini serta perbedaan dalam soal usia."

Setelah tertawa getir, lanjutnya:

"Dalam usahaku menyelidiki obat beracun guna memperpanjang umur mereka, tanpa aku sadari akupun sudah terkena racun jahat itu, dewasa ini aku telah menjadi orang yang bertanggung jawab paling berat dalam kota batu ini, aku harus meniru cara mereka dengan menelan obat beracun guna memperpanjang batas waktu hidupku. Tapi suatu hari toh aku bakal mati juga secara mendadak, bila kota batu ini sampai bubar, maka mara bahaya yang mengancam dunia persilatan pasti akan merupakan bencana terbesar bagi umat manusia, aku pun tak rela menyerahkan kepengurusan tempat ini kepada orang yang tak dapat kupercayai, oleh sebab itu aku memikirkan suatu cara yang amat keji !"

"Cara apa ?"

"Aku hendak membakar kota batu ini dengan api, dengan musik, dengan alat peledak, agar semua orang yang tersekap di sini mati semua didalam kota batu ini." "Hmm, caramu itu memang kelewat kejam."

"Itulah sebabnya sekarang aku membutuhkan bantuan dirimu, bila kau bersedia meneruskan kedudukan untuk mengetuai kota batu ini, tentu saja merekapun masih dapat melanjutkan hidup lebih jauh."

"Tanggung jawab ini terlampau berat, aku kuatir tak sanggup memikul beban ini." 

"Aku akan membantumu sepenuh tenaga."

"Berilah kesempatan lagi bagiku untuk berpikir sebelum aku mengambil suatu keputusan."

"Tentu saja, aku tak dapat memaksamu, siapa yang bersedia melewati kehidupan yang serba sepi, tidak nampak matahari dan sengsara begini... ?"

"Walaupun usiaku masih muda, namun aku tidak mempunyai kesan yang mendalam terhadap kehidupan di alam bebas, mati hidup bagiku adalah masalah kecil, selama aku mempunyai kemampuan untuk mengurusi kota batu ini tentu akan kucoba melaksanakan tugas tersebut dengan sebaik-baiknya, cuma ada berapa persoalan yang belum begitu kupahami."

"Asal ada syaratnya, hal mana bisa kita rundingkan dengan sebaik-baiknya, kau masih ada persoalan apa yang kurang jelas, silahkan saja ditanyakan !"

"Dalam kota batu di bawah tanah ini terkurung banyak sekali budak-budak perempuan, seorang diantaranya bernama Coa Nio-cu, tahukah kau akan dia ?" "Tampaknya memang ada seorang manusia yang bernama begitu."

"Dapatkah ia dihadapkan padaku sekarang ?"

"Persoalan diantara kita belum selesai dibicarakan, asal kau menyanggupi, kota batu ini akan kuserahkan kepadamu, jangankan baru Coa Nio cu, sekalipun yang lain juga tak menjadi soal."

Buyung Im seng termenung dan berpikir berapa saat lamanya, kemudian baru berkata:

"Di dunia yang luas aku tak punya sanak tak punya keluarga, untuk tinggal di kota batu ini, tentu saja bukan masalah yang berat bagiku."

"Jadi kau telah menyanggupi ?"

"Menyanggupi sih sudah menyanggupi, cuma aku mempunyai tiga buah syarat." "Asal syaratmu itu bukan suatu persoalan yang kelewat memaksa, pasti akan lohu lakukan."

"Pertama, aku hendak menyelidiki dahulu dimanakah jenazah orang tuaku berada, setelah mengubur mereka dengan selayaknya, aku baru akan kembali ke sini." "Mencari tahu jenazah orang tua merupakan kebaktian seorang putera terhadap orang tuanya, tentu saja lohu setuju, bahkan akan kubantu dengan sekuat tenaga." "Kedua, aku hendak membawa beberapa orang kemari, mereka semua adalah bekas teman karibmu dimasa lampau, seperti misalnya Ting-ciu-it-kam (pedang sakti dari Tiong-ciu), Cin Cu sian, Kiu-ji taysu, Kit-pit suseng (sastrawan berpena emas Lui

Hua hong, konon masih ada seorang bernama Ci-im Kiongcu, untuk mengetahui mati hidupmu dia telah menyelundup ke dalam perguruan tiga malaikat dan hingga kini mati hidupnya tidak jelas."

"Mau apa kau membawa mereka datang ke sini ?" 

"Untuk membuktikan identitasmu. Berada di hadapan beberapa orang sahabat karibmu seandainya kau bukan Buyung Tiang kim yang asli, maka kebohonganmu akan segera terlihat."

Buyung Tiang kim termenung dan berpikir sejenak, kemudian katanya:

"Baiklah ! Sudah banyak tahun aku tak jumpa mereka, ku berharap bisa berkumpul dengan mereka, cuma pertemuan itu tak akan berlangsung di bawah tanah ini." "Mengapa ?"

"Sebab kota batu ini banyak rahasia yang tidak boleh sampai bocor keluar. Tentu saja, pada suatu ketika kota batu ini akan dibuka sebagai tempat umum yang boleh dikunjungi setiap umat persilatan, tetapi sekarang tempat tersebut masih belum dapat dibiarkan menjadi tempat umum yang terbuka."

"Baiklah, coba katakan kita akan bersua dimana ?"

"Tempat itu harus tenang dan terpencil sehingga bisa dilangsungkan suatu pembicaraan yang panjang, setiap saat aku dapat kontak denganmu. Coba utarakan syaratmu yang ketiga."

"Syarat ketiga, yakni setelah aku memegang kekuasaan di kota batu ini, aku berhak merubah peraturan yang ada atau memberikan pengampunan yang diperlukan."

Buyung Tiang kim segera tertawa.

"Setelah menerima jabatan, berarti kau adalah satu-satunya orang yang berkuasa dalam kota batu di bawah tanah ini, tindakan apa pun yang hendak kau lakukan tak bakal ada yang melarang. Tapi justru karena hal ini pula, aku harus memilih orang yang tepat untuk meneruskan jabatanku ini."

"Baik ! Kalau begitu kita tetapkan dengan sepatah kata ini, sekarang aku hendak pergi dulu."

Buyung Tiang kim segera membebaskan jalan darah pada kedua lengannya yang tertotok, ujarnya lagi:

"Nak, sekarang tentunya kau sudah boleh mengakui diriku sebagai ayah angkatmu bukan ?"

"Andaikata semua perkataan yang telah kau utarakan itu adalah kenyataan yang sesungguhnya, tentu saja akan kuakui dirimu sebagai ayah angkatku.."

Buyung Tiang kim tertawa.

"Andaikata di kemudian hari kau berhasil menyelidiki kalau aku ada niat membohongi dirimu, perjanjian ini boleh saja dibatalkan."

"Baiklah, kini orang tuaku sudah tiada, orang-orang di dunia persilatan pun sudah terlanjur mengenal diriku sebagai Buyung kongcu, aku memang sudah seharusnya menjadi Buyung kongcu yang sesungguhnya, ayah terhormat, terimalah sembah sujud dari ananda."

Dia lantas menjatuhkan diri berlutut dan menyembah tiga kali.

Setelah menerima penyembahan itu, kata Buyung Tiang kim sambil tersenyum: 

"Kapan kau hendak pergi meninggalkan tempat ini ?"

"Ananda merasa gelisah sekali, aku hendak segera berangkat meninggalkan tempat ini."

"Bagaimana kalau ditunda setengah harian lagi ?"

"Setengah hari sih tak menjadi soal. Tapi apa maksud Gi-ho (ayah angkat) menahan diriku ?"

"Aku hendak mengajakmu untuk memeriksa sebagian besar dari kota batu di bawah tanah ini, sekalian memilihkan dua orang pelayan untuk melindungi keselamatan jiwamu."

"Ananda yakin masih mampu melindungi diri, tak usah dilindungi oleh pembantu lagi." nampak Buyung Im seng tertawa.

"Kau tidak mengerti, setelah kau pergi meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat, kemungkinan besar ada orang ingin merenggut nyawamu. Rahasia dibalik kejadian ini, sukar diterangkan sepatah dua patah kata, jadi aku minta tak usah

kau menampik lagi."

"Kalau memang begitu, ananda akan menurut saja daripada menolak." "Kalau begitu mari kita berangkat !"

Seusai berkata dia lantas beranjak keluar lebih dahulu meninggalkan tempat itu. Mereka berdua berjalan keluar dari ruangan itu, dari depan sana tampak seorang dayang yang membawa secarik kertas sedang berjalan mendekat dengan langkah tergesa-gesa.

Buyung Tiang kim menerima surat itu, tanpa dipandang sekejap pun, dia serahkan surat itu kepada Buyung Im seng.

Dengan cepat Buyung Im seng membuka kertas itu dan dibaca isinya: Aku telah tiba dengan selamat di ruang rahasia.

tertanda: Hong-leng.

Sambil tersenyum Buyung Im seng lantas berkata:

"Ilmu silat Nyoo Hong leng berasal dari suatu aliran tertentu, tak heran dengan usianya masih begitu muda, ia berhasil memiliki serangkaian ilmu silat yang begitu hebatnya."

Buyung Tiang kim termenung beberapa saat lamanya, katanya:

"Nyoo Hong leng bukan cuma kelewat cantik lagi pula kelewat cerdas, kecuali nenek moyangnya dahulu sudah banyak berbuat kebajikan dan amal sehingga tidak mempengaruhi rejekinya sekarang, kalau tidak, dia hanya sebuah benda mestika yang amat indah dan sempurna cuma sayang hanya bisa dipandang"

"Maksud ayah" 

"Aku hanya merasakan kecantikan dan kecerdasannya ibarat sebilah pedang mestika yang tajam, tajamnya menyilaukan mata namun mudah melukai orang, juga mudah melukai dirinya sendiri."

Sementara pembicaraan berlangsung, mereka telah tiba di daerah yang diliputi kabut beracun.

Dari sakunya Buyung Tiang kim mengeluarkan sebuah botol porselen dan mengambil sebutir pil, kemudian katanya:

"Telanlah pil anti racun ini, kau akan terhindar dari pengaruh kabut beracun di situ."

Setelah Buyung Im seng menelan pil itu, kembali Buyung Tiang kim mengeluarkan dua pasang kaca tembus pandangan seraya berkata:

"Kenakan kaca mata ini, kau tak akan terpengaruh oleh kabut beracun terpengaruh oleh kabut beracun tersebut."

Mendadak Buyung Im seng merasakan hatinya tergetar, serunya:

"Yang menghantar kami kemari tadi seperti tidak mirip manusia, entah makhluk apakah itu."

"Dia adalah seekor gorilla !"

"Ananda sempat melirik sekejap ke arah makhluk itu, lengannya besar lagi kasar, masa dikolong langit benar-benar terdapat gorilla sebesar ini ?"

"Menyinggung soal gorilla ini, dia mempunyai sebuah kisah lagi yang menarik, cerita ini menyangkut seorang jago persilatan yang berilmu tinggi, cuma sayang umurnya tak panjang, dia sudah mati lama."

"Siapa yang kau maksudkan ?"

"Seorang tokoh persilatan yang cerdas dan berbakat bagus dan mempunyai ilmu pertabiban yang hebat sekali."

"Ada sangkut pautnya antara ilmu pertabiban dengan gorilla raksasa itu ?"

"Ia berhasil menciptakan semacam bahan makanan yang sangat istimewa, bila makanan itu diberikan kepada sebangsa binatang, maka ia akan melampaui batas alam yang dimilikinya hingga terwujud suatu makhluk raksasa yang besar dan mengerikan."

"Aaah, masa ada kejadian seperti ini ?" Buyung Im seng merasa amat terperanjat. "Lohu menyaksikan dengan mata kepala sendiri, tentu saja hal ini tak bakal salah. Justru karena gorilla itu memakan obat-obatan buatannya itu maka terwujudlah ia menjadi seekor makhluk yang luar biasa."

"Bila obat-obatan tersebut manjur untuk binatang kera, bukankah berarti obatobatan itu pun akan memberikan khasiat yang sama untuk manusia ?"

"Nak, soal ini tak usah dikuatirkan, gorilla itu merupakan percobaannya yang pertama, tapi juga merupakan percobaannya yang terakhir." 

"Akan tetapi kalau resep itu ditinggalkan di dunia ini, bukankah setiap umat manusia dapat membuat obat-obatan itu ?" sambung Buyung Im seng dengan perasaan gelisah.

"Sebelum ajalnya tiba, ia telah membakar habis semua resep yang dibuatnya itu." Buyung Im seng menghela napas panjang,

"Sudah berapa lama dia mati ? Mengapa mati ?" tanyanya kemudian.

"Ia sudah meninggal lima tahun berselang karena sewaktu membuat sejenis obatobatan beracun, tanpa disengaja dia telah keracunan hingga menemui ajalnya." Setelah menghela napas sedih, lanjutnya:

"Aaai, seandainya dia dapat hidup hingga kini, masa pemandangan dalam kota batu di bawah tanah ini bisa macam begini ?"

"Kalau begitu, pemandangan macam apakah yang seharusnya terjadi ?" "Mungkin kota batu di bawah tanah ini sudah tak ada lagi, paling tidak tempat ini sudah bukan merupakan tempat untuk menyekap manusia."

"Mengapa ?"

"Obat beracun yang sedang diselidikinya adalah obat untuk menawarkan racun, yakni menawarkan racun yang mengeram dalam tubuh orang-orang yang disekap di sini, seandainya racun dalam tubuh mereka dapat ditawarkan sehingga

semuanya bisa sadar kembali, mereka yang jahat akan segera dibunuh sedang yang baik dilepaskan, buat apa kita membutuhkan kota batu ini lagi ?"

"Kejadian di dunia ini banyak variasinya, aku lihat ucapan ini memang tak salah." Setelah berhenti sejenak, lanjutnya:

"Ayah, seandainya kau telah menyerahkan tanggung jawab kota batu ini kepadaku, apakah kau masih akan tinggal di dalam kota batu ini ?"

"Tidak, aku akan pergi meninggalkan tempat ini."

"Ayah, dapatkah kau memberitahukan kepadaku apa yang menjadi alasanmu hendak meninggalkan tempat ini ?"

"Aku hendak keluar untuk membunuh seseorang. Tapi apakah niatku itu akan terwujud atau tidak, hal mana masih tergantung pada soal nasib."

"Mengapa tidak kau serahkan saja tugas tersebut kepada ananda untuk dilaksanakan ?"

"Kau bukan tandingannya, selain memiliki ilmu silat yang sangat lihai, dia pun memiliki kepandaian menggunakan racun, bila aku sendiri yang harus bertarung melawannya, maka kesempatan menang masih terhitung separuh-separuh." "Apakah orang ini adalah salah satu diantara ketiga orang pemimpin yang berhasil kabut meninggalkan tempat ini ?"

"Benar, dialah pentolan yang utama."

"Siapakah dia ? Apakah kedudukannya dalam dunia persilatan ?" 

Buyung Tiang kim tertawa.

"Nak, kau tidak boleh menyerempet bahaya. Aku sudah merupakan lampu lentera yang hampir padam, sekalipun aku dapat hidup tenteram, itupun tidak akan lebih dari satu tahun. Sepanjang hidupku, aku selalu mengutamakan kepentingan orang banyak, maka sebelum ajalku tiba, akupun sudah sepantasnya melakukan suatu pekerjaan terakhir yang akan mendatangkan keuntungan bagi umat persilatan"

Sesudah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh:

"Apalagi akupun sudah dapat menduga siapakah dia, tapi masih ada hal yang harus dibuktikan lebih dulu sebelum bisa pergi mencarinya. Mungkin dia menganggap ilmu menyapu muka yang dimiliki sangat lihai, namun ia tak akan dapat mengelabui diriku."

"Tampaknya dibalik kesemuanya ini terdapat banyak liku-likunya persoalan ?" "Betul, ketiga orang itu semuanya merupakan jago-jago yang memiliki kecerdasan luar biasa, tentu saja kalau mereka bertiga digabungkan menjadi satu akan menciptakan banyak sekali masalah besar yang akan menggetarkan langit. Mereka tak berani turun tangan hingga kini karena mereka masih was-was dan ragu dengan kemampuanku, bila aku berhasil disingkirkan, tentu saja mereka dapat turun tangan dengan sekehendak hati sendiri."

"Tiada nama besar yang bisa diperoleh karena keberuntungan, ayah dapat menjadi seorang tokoh dalam dunia persilatan yang disanjung dan dihormati setiap orang, tentu saja kau harus membayar kesemuanya itu dengan suatu pengorbanan yang besar pula, berapa banyak penderitaan dan siksaan yang harus kau alami sebelum kesemuanya itu dapat terwujud"

Buyung Tiang kim tersenyum.

"Mari kita pergi ! Kalau ada persoalan, kita bicarakan setelah melampaui daerah berkabut beracun saja."

Selesai berkata, dia lantas masuk lebih dulu ke dalam gua.

Gerakan tubuh kedua orang itu cepat sekali, dalam waktu singkat mereka sudah melalui wilayah berkabut racun itu.

Sepanjang jalan, Buyung Im seng memperhatikan keadaan di sekelilingnya dengan seksama, dia berharap bisa menyaksikan gorilla raksasa tersebut.

Hingga hampir keluar dari gua tersebut, dia baru menyaksikan seekor gorilla setinggi delapan depa dengan lengan besar mengerikan sedang berdiri dihadapannya.

Gorila itu sedang mementangkan mulutnya lebar-lebar sehingga kelihatan sepasang taringnya yang tajam dan mengerikan.

Dengan perasaan terkejut buru-buru Buyung Im seng mengerahkan tenaga dalamnya sambil bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Buyung Tiang kim mengulapkan tangannya, mendadak gorila itu membalikkan badan dan masuk ke dalam sebuah ruangan batu. 

Buyung Im seng menghembuskan napas panjang, gumamnya kemudian: "Benar-benar suatu keajaiban alam, entah bagaimana dengan watak makhluk tersebut ?"

"Dia sangat lembut dan amat setia, agaknya diapun sudah mempunyai perasaan yang lebih tajam untuk menangkap pembicaraan manusia" ucap Buyung Tiang kim sambil tertawa.

Di luar daerah berkabut racun terdapat banyak sekali alat rahasia, sambil bekerja membuka semua alat rahasia tersebut, Buyung Tiang kim sibuk memberi penjelasan kepada Buyung Im seng.

Pada dasarnya Buyung Im seng memang seorang pemuda yang pintar, hanya satu kali ia mendengar penjelasan dari Buyung Tiang kim, semuanya dapat diingatkan di luar kepala.

Alat rahasia yang berada di luar daerah kabut beracun itu mencapai seribu macam, semuanya memiliki perubahan yang berbeda-beda, ditambah pula ada kabut beracun dan gorila raksasa melakukan penjagaan, maka walaupun seseorang memiliki ilmu silat yang hebat, sulit juga baginya untuk melepaskan diri dari situ.

Selesai memeriksa semua alat rahasia yang ada di situ, Buyung Im seng lantas berbisik:

"Agaknya semua persiapan yang berlapis-lapis ini hanya dimaksudkan untuk melindungi ruangan batu dimana kami berada tadi."

"Apakah kau merasa agak keheranan ?" tanya Buyung Tiang kim sambil tertawa, "bukankah ruangan itu menurut anggapanmu tiada sesuatu rahasia atau benda berharga yang patut dilindungi ?"

"Ananda memang mencurigai hal tersebut." Buyung Tiang kim segera tertawa.

"Sepintas lalu memang nampaknya demikian, padahal didalam ruangan batu itu memang tersimpan benda mestika yang tidak ternilai harganya di dunia ini." Dengan cepat Buyung Im seng membayangkan kembali semua benda yang pernah dilihatnya dalam ruangan batu itu, lalu sambil menggeleng katanya.

"Ananda tidak berhasil menemukan benda mestika apakah yang bisa tersimpan di ruang itu."

"Hal ini tak bisa menyalahkan dirimu karena dalam ruangan batu itu masih terdapat sebuah pintu rahasia yang dikendalikan dengan alat rahasia, dibalik pintu rahasia itulah disimpan semua kitab pusaka yang diserahkan orang yang disekap dalam kota batu ini, sedemikian luasnya ilmu silat yang tersimpan di situ, pada hakekatnya meliputi tujuh puluh dua macam kepandaian sakti dari Siau-lim-si." Buyung Im seng menghembuskan napas panjang, gumamnya kemudian:

"Ooo, rupanya begitu, kalau demikian, harta karun yang disimpan di situ benarbenar merupakan suatu harta mestika yang tak ternilai dalam dunia persilatan." Buyung Im seng tersenyum. 

"Kecuali menyimpan seluruh kitab pusaka yang diserahkan para jago lihai dari seluruh kolong langit, tempat itupun merupakan tempat yang paling aman di dalam kota batu."

"Kalau begitu setiap orang tak dapat melampaui alat rahasia yang berlapis-lapis itu

!"

"Selain terdapat banyak sekali alat rahasia yang berlapis-lapis, di situpun terdapat pula gorila raksasa serta kabut beracun yang bisa membuat orang jatuh pingsan dan kehilangan pandangan matanya, padahal obat penawarnya disimpan olehku, sebelum mendapat persetujuanku dan menelan pil penawar dariku, siapapun jangan harap bisa melewati wilayah berkabut racun itu dengan selamat."

"Bagaimana dengan kedua orang dayang tersebut ?" tanya Buyung Im seng tibatiba.

"Setiap butir obat penawar hanya bisa bertahan selama enam jam" kata Buyung Tiang kim, "selewatnya batas waktu tersebut daya kerja obatnya akan hilang, selain itu setelah memberi obat penawar kepada mereka, selamanya aku selalu menunggu sampai mereka menelannya ke dalam perut, agar obat penawar racun itu tak pernah akan terjatuh ke tangan orang lain."

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan:

"Akan tetapi gorila raksasa itu tidak takut kabut beracun, sewaktu membuat tempat itu dulu dialah yang paling berjasa membantuku, sebab dia telah minum obat penawar racun yang bersifat kekal."

"Tapi sewaktu aku dan nona Nyoo melewati daerah berkabut racun itu, rasanya tak pernah menelan pil apapun."

Pertama, karena kalian sangat menurut dan sama sekali tidak membuka mata untuk mengintip, kedua seluruh tubuh gorila itu mempunyai daya kemampuan untuk menghindari pengaruh racun, maka selama berada dalam pelukan mereka, sesungguhnya kalian hanya keracunan ringan, kemudian akupun telah mencampurkan obat penawar racunnya ke dalam sayur dan nasi kalian, sehingga tanpa kalian sadari, obat penawar racun itu sudah kalian telan."

"Segala sesuatu yang diatur ayah benar-benar amat sempurna" puji Buyung Im seng, "coba kalau kau tidak menerangkan, mungkin siapapun tak akan menduga sampai ke situ."

Tiba-tiba berkumandang suara pertempuran dari kejauhan sana, tampaknya di suatu tempat yang jauh dari situ sedang berkobar suatu pertempuran sengit.

Buyung Tiang kim segera berkata:

"Nona Nyoo dan Khong Bu siang sudah mulai bergerak, kita harus keluar untuk melihat keadaan."

Dengan mempercepat langkah kakinya, mereka memburu ke depan sana.

Setelah melewati dua buah lorong, betul juga, mereka saksikan Nyoo Hong leng dan Khong Bu siang sedang terlibat dalam suatu pertarungan yang seru melawan dua orang kakek berbaju hitam, pertarungan itu berlangsung amat seru. 

Walaupun pertarungan berlangsung sengit tapi berhubung kekuatan masingmasing berimbang, maka untuk sesaat sukar untuk menentukan siapa menang siapa kalah.

Baru saja Buyung Im seng hendak menyerbu ke muka, Buyung Tiang kim telah mencegahnya seraya berkata:

"Tak menjadi soal, biarkan saja mereka bertempur, dua orang manusia berbaju hitam itu adalah dua orang penjahat tersohor di dunia persilatan, Tui bun siang sat (Sepasang malaikat bengis pengejar sukma?"

Meskipun sudah berhenti, namun Buyung Im seng merasa cemas juga, buru-buru serunya:

"Bila dua harimau bertempur, salah satu diantaranya tentu akan terluka, jika mereka dibiarkan terus, sudah pasti akan jatuh korban."

Tui bun siang sat sudah mempunyai nama jelek yang kelewat batas, seandainya mereka sampai terluka di tangan Khong Bu siang dan Nyoo Hong leng, sekali pun tewas juga tak usah disayangkan."

"Kalau nona Nyoo yang terluka ?"

"Perhatikan saja dengan seksama, bila Nyoo Hong leng kelihatan akan kalah nanti, toh tak ada salahnya kau segera turun tangan untuk membantunya..."

"Ayah, sebenarnya apa tujuanmu ?"

"Aku ingin menyaksikan kehebatan ilmu silat yang dimiliki Tui bun siang sat, mengalami kemajuankah atau kemunduran."

Buyung Im seng berseru tertahan dan tidak banyak bicara lagi, tapi secara diamdiam ia perhatikan gerak gerik Nyoo Hong leng selama pertarungan berlangsung. Mendadak Khong Bu siang membentak keras:

"Roboh kau !"

"Blaammm... !!" sebuah pukulan menghajar telak di depan dada manusia berbaju hitam itu.

Ternyata kakek berbaju hitam itu penurut sekali, tubuhnya bergoncang keras kemudian roboh terkapar di tanah.

Begitu berhasil merobohkan musuhnya, Khong Bu siang melompat ke depan menghampiri Nyoo Hong leng, lalu serunya:

"Nona Nyoo, harap kau menyingkir dulu ke samping, biar aku yang menghadapinya."

Nyoo Hong leng mengiakan, dia segera melompat ke belakang untuk menghindarkan diri.

Khong Bu siang miringkan tubuhnya lalu menerjang ke muka, tangannya diayun ke depan melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Kakek berbaju hitam itu sama sekali tak ambil perduli terhadap kematian rekannya, begitu menyambut datangnya serangan dari Khong Bu siang, suatu pertempuran sengit segera berkobar.

723 

Nyoo Hong leng berpaling dan memandang sekejap ke arah Buyung Im seng, kemudian sambil menghimpun tenaga dalamnya, pelan-pelan ia berjalan mendekat, bisiknya kepada Buyung Im seng:

"Baik-baikkah kau ?"

"Aku merasa sangat baik !"

"Ia tidak mencekoki sesuatu obat beracun kepadamu ?" kembali Nyoo Hong leng bertanya dengan kening berkerut.

Buyung Im seng segera tersenyum

"Tidak. Dia adalah ayahku, masa ada ayah yang tidak menyayangi jiwa putranya." "Jadi dia adalah Buyung Tiang kim ?"

"Betul" sahut Buyung Tiang kim yang berada disamping sambil tertawa, "aku adalah Buyung Tiang kim yang tulen !"

"Kau tidak mirip" seru Nyoo Hong leng cepat, "Buyung Tiang kim adalah seorang tayhiap yang dihormati setiap umat persilatan, masa seorang tayhiap bersikap semacam kau ?"

Buyung Tiang kim segera tertawa.

"Betul, Buyung Tiang kim yang dahulu memang tidak bertampang seperti ini."

"Aku tidak percaya, bial seseorang yang sudah tua maka sampai raut wajahnya pun turut berubah."

"Untuk merahasiakan identitasnya yang asli, ayahku telah merusak sendiri wajahnya !" Buyung Im seng segera menerangkan.

"Bila aku bukan Buyung Tiang kim, masa kalian bisa masuk ke kota batu di bawah tanah dalam keadaan selamat ?" sambung Buyung Tiang kim.

"Kalau begitu, peristiwa terbunuhnya kau hanya suatu sandiwara belaka"

"Nona Nyoo, liku-likunya persoalan tak mungkin bisa diterangkan dalam sepatah dua patah kata saja," sela Buyung Im seng cepat, "lebih baik kuceritakan di kemudian hari saja."

( Bersambung ke Jilid 35) 
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Lembah Tiga Malaikat Jilid 34"

Post a Comment

close