Lembah Tiga Malaikat Jilid 16

Mode Malam
Jilid 16

Tanpa terasa ia berkerut kening, lalu katanya. "Akan kucoba sebentar, sampai dimanakah keganasan orang-orang tersebut?"

Sambil meloloskan pedangnya, dia lantas melangkah maju. "Kau harus berhatihati." Bisik Nyo hong leng dengan penuh perhatian. Buyung Im Seng berpaling sambil tertawa kemudian melanjutkan langkahnya.

Ketika tiba lebih kurang tiga langkah dari hadapan orang orangan baja itu, dia lantas berhenti, kemudian pedangnya digerakkan menusuk orang2an tersebut. Dalam tusukan tersebut, diam2 Buyung Im Seng telah sertakan tenaga tusukan yang amat besar sekali.

Ketika pedang dan orang2an baja itu saling membentur, terjadilah suara benturan nyaring yang memekakkan telinga.

Namun orang orangan itu masih tetap berdiri ditempat tanpa bergerak barang sedikitpun juga.

Menyaksikan kejadian itu, Buyung Im Seng segera berkerut kening, baru saja dia akan memperbesar tenaganya untuk melancarkan sebuah tusukan kembali, tibatiba terdengar suara seruan yang kecil dan lembut berkumandang tiba. "Jika kalian ingin menuju ke Seng tong, mau tak mau harus melalui pos penjagaan yang lohu jaga ini."

Buyung Im Seng segera menarik kembali senjatanya, lalu berkata. "bagaimana caranya untuk menembusi barisan Thi jin tin (barisan orang2an baja) mu itu?" "Maju saja terus, asal sudah masuk ke tengah barisan yang lohu atur ini, otomatis orang2an baja itu akan memberikan reaksinya sendiri."

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan. "Lohu selamanya paling tak suka banyak bicara, maaf kalau aku takkan menjawab pertanyaanmu lagi." 

Buyung Im Seng agak tertegun, segera serunya kembali. "Bolehkah aku menembusinya seorang diri?"

Namun meski sudah ditanyakan beberapa kali, tidak terdengar lagi jawaban dari orang itu. Kontan saja Buyung Im Seng naik darah, pedangnya diayun lagi ke depan melancarkan bacokan.

"Trang...!" bunyi dentingan nyaring diiringi percikan bunga api. Orang2 yang berdiri tak bergerak itu tampaknya sudah dibikin marah oleh bacokan pedang

Buyung Im Seng yang amat dahsyat itu, sepasang lengan yang segera digerakkan, dengan mengayun sepasang kepalan bajanya, pukulan keras dilancarkan.

Buyung Im Seng telah bersiap sedia sedari tadi, sambil menarik napas, tubuhnya mundur tiga langkah dan meloloskan diri dari ancaman sepasang tinju orang2an baja itu.

Gagal dengan serangannya, orang2an baja itu segera kembali ke posisi semula. Buyung Im Seng melancarkan empat buah serangan berantai yang semuanya ditujukan ke dada, lambung dan bagian rawan dibagian orang2an itu, namun orang2an tersebut tetap berdiri tak berkutik ditempat semula.

Pelan-pelan Kwik soat kun berjalan maju, kemudian berbisik lirih. "Kongcu, orang2an baja ini dikendalikan oleh seseorang dari balik dinding." "Bukankah kalau begitu, sulit bagi kita untuk menembusi barisan ini?"

"Ia menyembunyikan diri dibalik kegelapan, sebelum kita memasuki barisan tersebut, ia enggan menggerakkan alat rahasianya, terpaksa kita haru saling menunggu terus."

Buyung Im Seng segera memasukkan pedangnya ke dalam sarung, setelah itu berkata. "Bik, aku akan masuk ke dalam barisan untuk mencobanya, akan kulihat sampai dimana kelihaiannya?"

"Kongcu jangan masuk terlalu dalam", bisik Kwik soat kun, "sekalipun ilmu silatmu lebih baik juga terdiri dari darah daging, mustahil kau dapat beradu kekerasan dengan orang2an yang terbuat dari baja belaka..."

"Aku mengerti" Buyung Im Seng tersenyum. Diam-diam ia menghimpun tenaganya, kemudian pelan-pelan berjalan maju. Setelah melewati orang2an baja yang pertama, dia belum juga melihat adanya suatu gerakan, maka dengan sangat berhati-hati si anak muda itu melampaui orang2an kedua. Ketika menengadah ia temukan orang2an itu tetap berdiri kaku tanpa menunjukkan gejala apa-apa, maka kembali dia beranjak melampaui orang2an ketiga.

Siapa sangka belum lagi dia berdiri tegak, mendadak berkumandang suara gemerincingnya suara rantai yang bergesek kemudian tampak orang2an itu mulai bergerak bersama.

Sambil menghimpun tenaga dalamnya, Buyung Im Seng menghentikan langkah kakinya, ketika mengalihkan sorot matanya sekeliling tempat itu tampak olehnya tiga buah orang2an yang berada di belakangnya tadi, kini telah membalikkan badan, lalu sambil berdiri berjajar mereka menggerakkan tinju bajanya kesana kemari. 

Dengan berdiri berjajar tiga, otomatis jalan mundur Buyung Im Seng menjadi tersumbat sama sekali. Ditambah pula dengan bergeraknya enam buah lengan baja secara bersamaan dengan kecepatan luar biasa, hampir semua celah kosong di sekeliling tempat itu tersumbat seluruhnya.

Padahal pada saat itulah orang2an yan berada dihadapannya sudah bergerak maju sambil melakukan terjangan.

Dengan suatu gerakan cepat Buyung Im Seng menghitung jumlah mereka ternyata dihadapannya masih ada enam orang ditambah tiga sosok yang menghadang jalan mundurnya, sehingga jumlah mereka menjadi sembilan. Ke sembilan sosok itu dengan delapan belas kepalan bersama sama diayunkan ke depan, bahkan digerakkan semakin cepat.

"Blum, blum!" dua ledakan api memancar ke empat penjuru dan terjadilah dua buah kobaran api yang segera menerangi seluruh lorong rahasia tersebut.

Menyaksikan betapa rapat dan ketatnya serangan gabungan dari ke sembilan orang2an itu, diam-diam Buyung Im Seng merasa terkesiap, pikirnya kemudian. "Tampaknya orang2an ini telah diatur menurut suatu perhitungan yang sangat cermat, semua gerakan tangannya hampir menutup setiap celah kosong yang berada di sana, anehnya gerakan tangan itu semua tidak kalut dan tidak saling membentur... sungguh amat lihai!"

Sementara dia masih melamun, orang2an itu sudah menyerbu tiba dan semakin mendekati tubuhnya. Mendadak tiga sosok orang2an yang menghadang jalan mundurnya itu berhenti ditempat, sementara enam sosok yang datang dari depan masih menerjang terus tiada hentinya.

Dalam waktu singkat, kedua belah pihak orang2an itu sudah saling berhadapan dalam jarak lima depa. Buyung Im Seng berusaha keras untuk mempertahankan ketenangannya, dia berharap dapat menemukan setitik harapan untuk hidup dalam lingkungan situasi yang amat gawat tersebut.

Tapi sayang, orang2an itu tingginya hampir mencapai langit-langit gua, ruang kosong yang masih tersisa pun paling banter cuma satu inci, mustahil ia dapat melarikan diri lewat celah sekecil itu.

Sedangkan celah yang ada diantara orang2an yang satu dengan yang lainnya hanya bisa dilewati sesosok tubuh manusia, itu berarti satu satunya harapan hanyalah berusaha keras untuk merobohkan sesosok manusia besi itu kemudian baru melompat keluar.

Meski pendapat itu baik, namun orang2an itu mempunyai perawakan yang tinggi besar, kepala bajanya pun besar mengerikan, tipis harapannya untuk menang bila dia ingin beradu kekerasan dengan orang2an itu.

Berpikir sampai di situ, hawa murninya segera dihimpun ke dalam sepasang lengannya, kemudian bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Tiga sosok orang2an yang berada di belakang masih tetap berdiri tak berkutik, hal ini mengurangi kerisauan Buyung Im Seng untuk menguatirkan keselamatannya dari belakang. 

Segenap perhatian dan kekuatannya segera dihimpun menjadi satu untuk menyongsong datangnya serangan dari depan. Tampak orang2an yang mendekat itu bergerak dengan jalan bersanding, dua sosok di depan dan tiga sosok di belakangnya, jarak diantara dua rombongan itu mencapai empat depa lebih.

Sekalipun jarak diantara kedua sosok orang2an di depan mempunyai ruang kosong yang bisa dilalui orang, namun ruang kosong itu segera disumbat secara ketat oleh tiga sosok orang2an yang berada di belakang.

Yang membuat Buyung Im Seng tidak habis mengerti adalah orang2an yang terakhir itu, orang2an itu berdiri di belakang tiga sosok orang2an di depannya sepintas lalu orang2an itu seperti sama sekali tak ada gunanya.

Sementara dia masih termenung, dua sosok orang2an yang berada dipaling depan telah menerjang tiba, orang2an yang berada di sebelah kanan segera menggerakkan sepasang kepalan raksasanya untuk menghantam ke depan.

Diam-diam Buyung Im Seng berpikir. "Pukulan yang dilepaskan orang2an ini sangat dahsyat, tak baik untuk disambut dengan kekerasan, tapi kalau tak kucoba kekuatan dari kepalan baja tersebut, takkan kutemukan cara untuk mematahkan barisan orang2an besi ini, yaa, tampaknya aku harus menyerempet bahaya." Ketika kepalan baja itu menyambar lewat dari depan dada Buyung Im Seng segera memanfaatkan kesempatan itu untuk turun tangan, dia cengkeram pergelangan orang2an tersebut.

Tiba-tiba orang2an itu menggerakkan lengannya ke bawah, kekuatan yang besar sekali hampir saja menggerakkan tubuh Buyung Im Seng. Dengan cepat si anak muda itu menggerakkan tenaga dalamnya, tenaga tekanan yang tercampur keluar dari pergelangan tangannya bertambah besar, secara paksa dia tekan kembali gerakan tangan orang2an tadi.

Sebenarnya selama ini orang2an besi hanya menggerakkan lengannya ke atas dan ke bawah, tapi setelah Buyung Im Seng berhasil menangkap lengan orang2an tersebut, mendadak lengan lain dari orang2an itu diayun ke samping membabat pinggang.

Sejak semula Buyung Im Seng telah menduga sampai kesana, dia tahu bila orang2an itu kena ditangkap, kemungkinan besar hal mana akan menimbulkan permusuhan gerak dari lengan yang lain, meski demikian ia tak menyangka kalau gerakan itu merupakan babatan ke samping, buru-buru ia menggerakkan tangan kirinya untuk menyambut datangnya serangan lawan.

Begitu sepasang lengan orang2an itu tertangkap semua, agaknya gerakan dari orang2an lainpun seperti kena dikendalikan pula, mendadak orang2an yang di sisinya itu turut berhenti bergerak.

Buyung Im Seng dengan menggunakan sepasang tangannya masing2 menahan lengan baja dari orang2an itu, betul orang2an tersebut berhasil dikuasai, namun dia sendiripun telah mempergunakan segenap tenaga yang dimilikinya. 

Seandainya bentuk orang2an itu dibuat lebih praktis lagi, sehingga mereka dapat bergerak sendiri2 dan saling bantu membantu, niscaya Buyung Im Seng sudah terluka di ujung orang2an baja itu.

Sayang orang2an itu bukan manusia sungguhan, bagaimanapun sempurnanya gerakan dari alat2 rahasia tersebut, benda tersebut tak bisa bergerak menurut keadaan yang dihadapinya.

Buyung Im Seng mencoba-coba untuk mengamati orang2an yang berada disampingnya, ternyata orang2an itu bukannya sama sekali berhenti tak berkutik, melainkan berputar dengan gerakan perlahan.

Pada saat yang bersamaan, tiga sosok orang2an yang berada di belakangnya masih tetap bergerak dengan pelan2. mereka menghadang jalan mundur pemuda itu sementara enam buah lengan bajanya bergerak kesana kemari makin lama makin cepat.

Tiba2 cahaya api menjadi padam. Rupanya cahaya api yang dipancarkan oleh Kwik soat kun sudah terkena pukulan orang2an tersebut, sehingga padam sama sekali. Dalam waktu singkat seluruh gua itu berubah menjadi gelap gulita sehingga lima jari tengah sendiripun sukar terlihat jelas. Begitu suasana menjadi gelap, Buyung Im Seng segera mendengar suara benturan besi yang amat nyaring.

Setelah itu terdengar suara Nyo hong leng sedang bertanya. "Toako, baik-baikkah kau?"

Buyung Im Seng merasa ada segulung angin pukulan yang sangat keras menyambar tiba, tidak terlukiskan rasa terkesiap yang mencekam hatinya waktu itu. Tak sempat menjawab teguran, sepasang tangannya segera mengendor dan melepaskan cekalan pada sepasang lengan baja itu, kemudian seluruh tubuhnya dijatuhkan berbaring ke tanah.

Kiranya secara tiba-tiba ia teringat bahwa orang2an itu hanya menggerakkan sepasang tangannya, sedang sepasang kakinya sama sekali tak berguna, dengan membaringkan diri ke tanah, berarti jiwanya untuk sesaat dapat diselamatkan.

Saat itulah terdengar Kwik soat kun berseru dengan suara keras. "Jangan menyerempet bahaya!"

"Tak usah kau campuri urusanku!" sahut Nyo hong leng. Agaknya Nyo hong leng hendak menyundul ke muka untuk memberikan pertolongan, namun dicegah oleh Kwik soat kun, akibatnya, kedua orang itu bertengkar sendiri.

Dengan cemas Buyung Im Seng segera berteriak, "Aku baik-baik saja, kalian tak usah bertengkar!"

Waktu itu Nyo hong leng sudah bersiap sedia menerjang ke depan, tapi setelah mendengar jawaban dari Buyung Im Seng, niat tersebut segera diurungkan.

Terdengar Siau tin berseru tiba-tiba. "Kita lepaskan dua butir peluru api lagi untuk membantu penerangan baginya."

"Aku rasa suasana gelap jauh lebih baik daripada terang." Kata Kwik soat kun dengan suara dingin. 

"Mengapa?" "Orang2an besi itu benda mati, ada sinar juga boleh tak ada sinar juga boleh, baginya toh sama saja, berbeda dengan Buyung kongcu, ia butuh penerangan untuk melihat keadaan musuh."

"Betul orang2an itu adalah benda mati, tapi toh ada orang hidup yang mengendalikannya. Musuh ada di kegelapan sedang kita ada ditempat terang, cahaya bisa menyinari gerak gerik orang2an itu serta bisa membantu Buyung kongcu, tapi hal inipun bisa digunakan orang itu untuk mengendalikan alat rahasianya. Bila orang yang mengendalikan orang2an itu tak dapat melihat Buyung kongcu maka barisan orang besi itu pasti akan digerakkan menuruti perubahan yang telah ditetapkan dengan kecerdasan yang dimiliki Buyung kongcu, asal ia dapat menyelidiki cara serta sumber dari gerak gerik mereka itu, sudah pasti diapun akan bisa menemukan cara terbaik untuk mematahkan serangan dari barisan ini."

Perkataan itu diucapkan dengan suara keras, bukan saja dipakai untuk menundukkan Nyo hong leng, agaknya juga dimaksudkan agar didengar oleh Buyung Im Seng.

Benar juga, beberapa kata itu segera mendatangkan reaksi yang cukup besar bagi si anak muda. Dengan menggerakkan ketajaman matanya dia mulai memeriksa ke sekeliling tempat itu, dijamahnya orang besi yang sepasang tangannya kena ditangkap olehnya itu, masih menggerakkan lengannya dengan gerakan pelan, agaknya alat rahasia yang mengendalikan gerakan orang besi tersebut masih belum dapat dipulihkan kembali.

Berbareng itu pula orang2an yang sedang berputar di sebelah kiri itupun sedang berputar balik dengan gerakan lamban.

Dari pengamatan itu, Buyung Im Seng segera dapat menarik suatu kesimpulan, tampaknya alat rahasia yang mengendalikan orang besi itu mempunyai kaitan antara yang satu dengan yang lainnya, apabila ia dapat merusak salah satu alat

rahasia yang mengendalikan sesosok saja, maka segenap barisan orang2an itu akan menjadi lumpuh, atau paling tidak akan mengurangi kelincahan mereka.

Dengan termangu pemuda itu mengawasi gerakan kaki dari orang besi tadi, tibatiba ia menemukan sebuah rantai besi sebesar lengan anak yang mengendalikan sepasang kaki orang besi itu, ujung rantai yang lain menembusi tanah berhubungan langsung dengan balik dinding lorong, hal mana segera menggerakkan hatinya.

Rantai besi yang bergerak di bawah tanah itu pasti berfungsi untuk mengendalikan gerakan dari orang2an itu, jika kupatahkan rantai penghubung tersebut bukankah secara otomatis orang2an itu akan lumpuh dan tak dapat bergerak lagi?

"Toako, kau dimana?" tiba-tiba terdengar Nyo hong leng berteriak dengan suara keras.

Buyung Im Seng menyaksikan kedua sosok orang2an itu sudah hampir pulih ke posisinya semula, dia tahu bila posisi tersebut sudah kembali ke tempat kedudukan yang semula, sudah pasti serangkaian serangan yang cepat dan gencar akan dilancarkan. 

Atau dengan kata lain, sebelum kedudukan orang2an itu pulih kembali ke posisi semula, dia harus mematahkan rantai pengendali itu. Keadaan makin kritis sekali, bila dia harus menjawab pertanyaan Nyo hong leng, niscaya akan mengejutkan orang yang mengendalikan alat rahasia tersebut serta meningkatkan kewaspadaannya.

Berpikir demikian, dia lantas membungkam diri dalam seribu bahasa. Tangan kanannya segera bergerak untuk meloloskan pedangnya, kemudian secepat kilat ditusukkan ke atas rantai besi yang berada di kaki orang2an besi itu.

Didalam melancarkan tusukan ini, Buyung Im Seng telah sertakan tenaga dalamnya sebesar tujuh bagian, pedangnya menusuk sampai sedalam dua depa lebih. "Bluup, bluup..." dua benturan keras terjadi, suara itu mirip ada benda yang putus.

Tiba-tiba saja bergema suara gemerincing nyaring yang memekakkan telinga, orang2an besi dalam barisan thi jin tin itu segera bergerak dengan kencang. Tampak dua sosok orang2an besi yang berada di hadapan berhenti secara tiba-tiba, sedangkan tiga sosok di belakangnya segera menerjang ke muka.

"Trang..." suatu benturan benda keras yang amat nyaring berkumandang, enam buah kepalan baja dari orang2an di belakangnya telah menghantam tubuh dua sosok orang besi di depan.

Pukulan dari ketiga sosok orang besi yang ada di belakang itu amat keras dan

berat, membuat dua sosok orang besi lainnya bergoncang keras, seakan akan setiap saat bakal roboh ke tanah.

Buyung Im Seng menjadi girang sekali, segera pikirnya. "Ternyata cara untuk merusak orang2an besi ini terletak di kakinya."

Hawa murni segera dihimpun jadi satu, kemudian pedangnya diayunkan ke depan menusuk bawah kaki orang besi kedua. "Trang..." kembali terjadi dentingan

nyaring, agaknya ada benda yang putus. Dua sosok orang besi yang berada dimuka itu segera terhenti sama sekali, bahkan ke empat buah lengan merekapun turut berhenti.

Diam-diam Buyung Im Seng tertawa geli, pikirnya. "Barisan orang2an ini tampaknya menakutkan sekali, tapi asal dihadapi dengan hati yang tenang, ternyata tidak sulit untuk mematahkannya..."

Peristiwa ini segera memberikan suatu pelajaran yang amat baik kepada Buyung Im Seng, dia merasa bila seseorang berada dalam keadaan yang berbahaya, maka semakin gawat keadaannya orang harus semakin tenang untuk menghadapinya.

Sementara itu tiga sosok orang2an lainnya secara tiba-tiba ikut berhenti. Ketika dia mencoba berpaling, tampaklah ketiga sosok yang lainpun ikut berhenti.

Saat itulah Nyo hong leng berteriak lagi. "Toako, baik-baikkah kau?"

Buyung Im Seng tertawa terbahak-bahak. "Haa... ha.. aku baik sekali, ternyata barisan orang besi ini cuma begitu saja."

"Buyung Im seng!" terdengar suara yang amat dingin bergema memecahkan keheningan, "kau sudah berhasil melewati barisan orang besi." 

"Terima kasih" sahut Buyung Im Seng sambil bangkit berdiri, terdengar serentetan suara gemerincingan yang amat menusuk pendengaran bergema dalam lorong itu, semua orang besi tersebut telah balik kembali ke posisi semula, cuma dua sosok orang yang menyerang lebih dulu tetap berdiri tegak ditempat.

Tampaknya alat rahasia yang mengendalikan kedua orang besi itu sudah mengalami kerusakan hebat. Kwik soat kun kembali melepaskan sebutir peluru api, gua batu yang gelap itu kembali terang.

Kwik soat kun dan Nyo hong leng segera memburu ke depan dengan langkah lebar, menyaksikan kedua orang besi yang berdiri melintang di depan mereka itu, mereka memandang sekejap ke arah Buyung Im Seng, kemudian katanya sambil tertawa. "Kongcu, benar2 memiliki tenaga sakti yang mengerikan..."

Buyung Im Seng segera menggelengkan kepalanya berulang kali. "Seseorang walau memiliki tenaga dalam yang bagaimanapun lihainya, jangan harap dia bisa

melawan kekuatan dari orang2an yang terbuat dari baja, aku hanya berhasil menemukan cara untuk mematahkan alat rahasianya belaka."

Setelah menghembuskan napas panjang, dia melanjutkan. "Barisan orang2an besi ini telah memberikan suatu pelajaran yang besar bagiku, bila seseorang berada dalam keadaan bahaya, semakin gawat keadaannya dia harus makin tenang untuk menghadapinya."

"Lantas bagaimana caramu untuk mematahkan barisan orang2an besi itu?" tanya Nyo hong leng.

"Hanya ada satu cara yang bisa dipergunakan yaitu aku lihat orang2an itu cuma menggerakkan sepasang kepalannya belaka sementara kakinya tak menunjukkan gerakan apa2, ku teliti bagian kakinya, dan disanalah kutemukan cara untuk mematahkan serangan dari orang besi itu."

"Terlampau menyerempet bahaya." Bisik Nyo hong leng, "lain kali kau tak boleh berbuat demikian, untung saja nasibmu makin mujur."

Buyung Im Seng dapat merasakan dibalik ucapan itu mengandung api cinta kasih yang tebal, tanpa terasa dia tersenyum. "Tak usah kuatir, setelah berada di sini, sekalipun tak akan menyerempet bahaya juga tak mungkin." Katanya

"Lain kali, biar aku saja yang menghadapinya, kau tak boleh berebut lagi denganku."

"Baiklah, sampai waktunya kita tetapkan lagi." "Entah di depan sana masih ada rintangan atau tidak?" kata Kwik soat kun.

Dengan langkah lebar dia berjalan lebih dulu. Buyung Im Seng segera mengikuti di belakang Kwik soat kun, kemudian bisiknya. "Nona Kwik, ada satu hal aku merasa agak keheranan,"

"Persoalan apa?" "Seandainya orang yang menjaga bagian senjata rahasia itu menyerang dengan air beracun, aku rasa sulit buat kita meloloskan diri dalam keadaan selamat." 

"Dia selalu memberi peringatan kepada kita apakah kongcu masih belum mengerti?"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, tiba-tiba keadaan medan berubah, lorong itu menjorok ke arah bawah.

Kwik soat kun segera berhenti, ujarnya. "Kalau dilihat keadaannya, makin dalam keadaannya makin berbahaya, apakah kita bertekad akan mengunjungi Seng tong mereka?"

"Mungkin saja setelah memasuki gua ini, jangan harap bisa keluar lagi dalam keadaan hidup, tapi bagaimanapun kita harus membuktikan beberapa hal yang mencurigakan."

"Setelah sampai di sini, apakah kita masih akan mengundurkan diri?" ucap Nyo hong leng pula dengan suara dingin.

Kwik soat kun segera tertawa hambar. "Kini lorong rahasia ini secara tiba-tiba menjorok ke bawah, bila kita berjalan makin ke depan maka kita akan masuk semakin dalam lagi, seandainya di suatu tempat yang strategis tiba-tiba mereka menurunkan pintu besi yang besar dan berat, lalu melepaskan air beracun, bagaimanapun lihainya kita, aku rasa sulit buat kita untuk lolos dari tempat ini dalam keadaan selamat."

"Andaikata kita benar-benar menjumpai situasi semacam ini, aku juga mempunyai akal untuk menyelamatkan kalian semua dari situ" seru Nyo hong leng cepat. "Ooh... nonaku yang amat baik, persoalan ini menyangkut mati dan hidup kita..." "Aku tahu", sela Nyo hong leng, "apa yang telah kukatakan takkan kutarik kembali, selama hidup aku tak pernah berbohong."

Kwik soat kun tidak banyak berbicara lagi, dia lantas beranjak maju. Kurang lebih dua puluh menit kemudian, tiba-tiba di bawah sinar lentera yang redup tampak keadaan medan di sana tiba-tiba menjadi lapang dan datar.

Di atas dinding batu sebelah timur, tampak sebuah lentera berkaca kristal, sinar lentera itu menyinari sekeliling tempat itu seluas dua tiga kaki dengan terang benderang.

Kwik soat kun memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian ia berkata. "Mungkin kita telah berada tiga puluh kaki dari permukaan tanah..."

Belum sempat Buyung Im Seng menjawab, tiba-tiba terdengar seseorang menjawab dengan suara yang datar. "Kionghi saudara semua, kalian telah lolos dari tempat berbahaya dan tiba dalam Seng tong."

"Di depan sini sudah tak nampak jalan keluar, bagaimana cara kami meninggalkan tempat ini?" tanya Kwik soat kun cepat.

"Setelah kalian dapat sampai di sini, tidak usah kalian repot2 untuk mencari jalan sendiri."

"Kalau kudengar dari nada pembicaraan anda, agaknya kalian telah mempersiapkan kereta kencana untuk menyambut kedatanganku?" 

Orang yang berada dibalik dinding batu itu rupanya mempunyai kesempurnaan iman yang tebal, dia tak menjadi marah oleh sindiran tersebut, sebaliknya malah tertawa. "Ha... ha... sekalipun tiada kereta kencana untuk menyambut kalian, tapi kamipun takkan menyuruh kalian repot2 berjalan."

Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan. "Sebentar lagi, dari atas dinding batu akan muncul sebuah pintu, dari pintu batu itu akan muncul sebuah kereta, kereta tersebut dapat memuat kalian berempat sekaligus, kereta tersebut tak bisa dikatakan megah atau mewah, tapi nyaman untuk diduduki."

"Setelah berada di sini, tentu saja segala sesuatunya kami akan menuruti perkataanmu." Ucap Kwik soat kun.

Orang itu masih tetap berbicara dengan suara yang lembut dan halus. "Setelah kalian berhasil menembusi barisan orang besi, maka selanjutnya tiada halangan lagi, kamipun tiada bermaksud mencelakai lagi, jadi kamu semua boleh berlega hati."

"Sampai kapan kereta itu baru akan muncul?"

Orang itu segera tertawa, "Sebentar lagi, harap kalian tunggu sejenak."

Baru selesai dia berkata, tiba-tiba berkumandang suara dinding yang merekah, menyusul kemudian muncullah pintu batu di atas dinding. Di bawah cahaya lentera, tampaklah sebuah kereta berada dibalik pintu batu itu, cuma bentuknya jauh lebih kecil daripada bentuk kereta biasa, diatasnya tanpa atap dan sekelilingnya mirip tirai besi, dalam kereta itu terdapat empat buah tempat duduk. Suara yang lembut tadi kembali berkumandang. "Sekarang kalian boleh naik kereta."

Kwik soat kun berpaling dan memandang sekejap ke arah Buyung Im Seng, lalu ujarnya. "Mari kita naik kereta!" seraya berkata dia lantas berjalan menuju ke pintu kereta itu.

Ke empat orang itu secara beruntun masuk ke dalam kereta. Kemudian Kwik soat kun berseru dengan lantang. "Eeh, bagaimana caranya untuk menjalankan kereta ini?"

"Duduk saja kalian secara baik. Kereta segera akan berangkat!" terdengar gemerincing yang nyaring bergema, kereta itu mulai bergerak ke atas.

Terasa kereta itu makin lama makin cepat, kurang lebih setengah jam kemudian mendadak pandangan mata mereka menjadi terang, ketika mendongakkan kepala, tampak langit nan biru dengan awan putih yang melayang terhembus angin, ternyata mereka sudah tiba di luar gua batu itu.

Kereta tadi berhenti di suatu tempat di luar gua batu, tapi di depan kereta tampak sebuah tirai besi yang menghalangi jalanan mereka selanjutnya.

Empat orang bocah berbaju hijau yang menyoren pedang, pelan-pelan berjalan menyambut kedatangan mereka, sambil membuka tirai besi tersebut mereka menjura sambil menegur. "Siapakah yang bernama Buyung kongcu?"

"Akulah orangnya!" jawab Buyung Im Seng sambil bangkit berdiri.

"Masih ada seorang lagi yang merupakan wakil pangcu dari Li ji pang, siapa dia?" 

"Akulah orangnya, ada urusan apa?"

Bocah baju hijau yang berada di sebelah kiri segera tersenyum, sahutnya. "Kami mendapat perintah untuk menyambut kedatangan kalian berdua...!"

"Cuma kami berdua?"

"Dua orang pembantu hu pangcu harus ditinggalkan dibalik tirai besi dan tak boleh ikut masuk ke dalam Seng tong."

Nyo hong leng sudah biasa dimanja oleh orang tuanya sejak kecil, dayang dan pelayannya banyak tak terhitung, kewibawaannya sungguh menggetarkan hati orang. Tapi setelah menyaru sekarang, berulang kali dia harus menerima cemoohan orang, tanpa terasa keningnya berkerut, tampaknya dia hendak mengumbar hawa amarahnya.

Tapi Siau tin segera menarik ujung bajunya sambil berbisik. "Jangan gara-gara urusan sepele membuat urusan besar menjadi terbengkalai."

Sementara itu Kwik soat kun telah berkata dengan suara yang dingin. "Kami serombongan terdiri dari empat orang, mana boleh terbagi jadi dua orang?" "Hal mana sudah merupakan peraturan dari Seng tong kami!" jawab bocah itu cepat. "kami hanya memperkenankan majikannya masuk, tapi melarang pengikutnya turut masuk Seng tong."

"Aku rasa selain cara tersebut, tentunya masih ada cara yang lain bukan?" sela Buyung Im Seng.

Bocah itu termenung sebentar, lalu menjawab. "Ada, dalam Seng tong kami terdapat sebuah peraturan yang bisa menolong larangan tersebut." "Peraturan apakah itu?"

"Kalian harus dapat mematahkan barisan pedang dari kami berempat, asal hal ini dapat dilakukan, sekalipun kedudukan kalian hanya seorang pembantu sekalipun diperkenankan juga masuk."

"Asal ada peraturan yang mengatur hal tersebut, itu sudah lebih dari cukup" kat Nyo hong leng, "silahkan kalian loloskan pedang!"

Ke empat orang bocah berbaju hijau itu saling berpandangan sekejap, kemudian bersama sama meloloskan pedang. "Baiklah!" kata bocah itu, "silahkan nona juga meloloskan pedang!"

Rupanya sejenak rahasia mereka sudah terbongkar, baik Nyo hong leng maupun Siau tin telah berdandan sebagai seorang gadis lagi, cuma Nyo hong leng masih mengenakan topeng kulit manusia untuk menutupi raut muka sebenarnya.

Agaknya kwik soat kun sudah menduga kalau Nyo hong leng tersebut, bakal menggunakan kekerasan dia segera meloloskan pedangnya dan diserahkan kepada gadis itu sambil ketawa. "Gunakan pedangku ini."

Pelan-pelan Nyo hong leng menyambut pedang itu, kemudian sambil menggandeng tangan Siau tin dengan tangan kirinya, dia berkata dingin. "Aku rasa kita tak perlu turun tangan bersama, asal aku seorang saja sudah lebih dari cukup," 

Kemudian sambil berpaling kepada Siau tin katanya. "Adikku, kau tak usah turun tangan, aku akan mengajakmu kesana."

Siau tin mengedipkan matanya lalu mengangguk. "Baiklah!"

Bocah baju hijau itu segera mengayunkan pedangnya lalu berkata. "Nona, senjata tak bermata, salah-salah kalau tidak mati tentu akan luka."

"Akupun hendak menasehati kalian berempat, agar kalian pun sedikit berhatihati."

Bocah itu segera menyelinap maju, sambil memandang Buyung Im Seng dan Kwik soat kun, ujarnya. "Harap kalian berdua lewat lebih dulu!"

Buyung Im Seng dan kwik soat kun segera keluar dari balik pintu besi itu dan berjalan sejauh dua kaki dari tempat semula.

Ketika berpaling, tampaklah ke empat bocah itu telah membentuk barisan pedang yang sangat tangguh.

"Kalian harus berhati-hati!" ujar Nyo hong leng dengan suara dingin.

Tiba-tiba ia mengayunkan tangannya, cahaya tajam segera berkelebat langsung menerjang ke tubuh empat bocah itu.

"Trang..." bentrokan senjata yang amat nyaring berkumandang memecahkan keheningan, kemudian terdengar serentetan suara dengusan tertahan menyusul tiba.

Ketika menengok kembali ke arena, tampak ke empat orang bocah itu masih berdiri dengan senjata terhunus, namun lengan kanan mereka sudah basah oleh darah.

Kwik soat kun menjadi tertegun setelah menyaksikan kejadian tersebut, diam diam pikirnya. "Baru satu gebrakan, secara beruntun dia telah melukai empat orang, bahkan semuanya terluka pada lengan kanannya yang memegang pedang, kalau dilihat dari darah yang membasahi tubuh mereka, agaknya luka yang mereka derita termasuk cukup parah."

Untuk melukai musuh dalam sekali gebrakan, sesungguhnya bukan suatu hal yang sulit dilakukan bila seseorang te4lah memiliki kepandaian silat tingkat tinggi, tapi kalau melukai empat orang sekaligus dalam sekali gebrakan dengan luka yang semuanya terletak pada lengan kanan yang memegang pedang, jelas hal ini teramat sulit sekali.

Tampaknya bocah baju hijau itu telah sadar bahwa mereka telah bertemu dengan musuh tangguh, sesudah tertegun sesaat katanya. "Ilmu pedang yang dimiliki nona benar2 lihai sekali, kami semua merasa sangat kagum."

Pelan-pelan Nyo hong leng menurunkan kembali pedangnya, kemudian berkata. "Bolehkan kami menyeberang kesana?"

"Kami sudah kalah, tentu saja nona boleh pergi kesana." Jawab empat orang bocah itu serentak.

Dengan cepat mereka menyingkir dan membuka jalan lewat... sambil menggandeng tangan Siau tin, pelan-pelan Nyo hong leng berjalan dari balik tirai besi. 

Bocah baju hijau itu segera menutup kembali pintu tirai, kemudian ujarnya. "Jurus pedang yang nona pergunakan itu lihai sekali, belum pernah kutemui kepandaian selihai itu."

Nyo hong leng segera tertawa hambar, "Dengan pelajaran yang kuberikan kepada kalian itu, aku harap agar kalian semakin menyadari bahwa di atas langit masih ada langit, di atas manusia masih ada manusia."

Bocah baju hijau itu segera tertawa. "Kami telah menyaksikan kelihaiannya ilmu pedang nona, sekalipun kini nona berkata demikian, kami pun hanya bisa berdiam diri saja."

"Nah, kalau begitu bawalah jalan untuk kami sekarang!"

Agaknya bocah itu sudah menaruh perasaan kagum terhadap Nyo hong leng, dia segera mengangguk. "Aku turut perintah!"

Sambil membalikkan badan dan berjalan, kembali dia berkata. "Sekalipun ilmu silat yang kumiliki terbatas sekali, namun masih banyak kepandaian sakti yang pernah kujumpai..."

Sementara itu mereka telah tiba di hadapan Buyung Im Seng. Nyo hong leng segera menyerahkan kembali pedang itu kepada Kwik soat kun, lalu katanya, "Kau

hendak menakut-nakuti kami?"

"Tidak," jawab bocah baju hijau itu dengan suara rendah. "aku sangat mengagumi ilmu silat nona, aku ingin menasehati nona dengan beberapa kata"

"Katakanlah, soal apa?"

"Setelah kalian memasuki ruang Seng tong nanti, andaikata situasinya mengalami suatu perubahan besar, aku rasa nona tak perlu untuk beradu jiwa dan mati bersama mereka."

Ucapan yang terakhir itu diutarakan dengan suara yang teramat lirih. Sedemikian lirihnya sehingga cuma Nyo hong leng seorang yang mendengar.

Nyo hong leng segera berkerut kening katanya. "Apa maksudmu mengucapkan perkataan itu?"

"Aku sangat mengagumi kepandaian nona, aku tak mau menyaksikan kau menerima nasib yang malang seperti mereka."

"Apakah ada suatu cara yang baik untuk menolong keadaan ini?"

"Bila nona sedang terjerumus dalam situasi yang amat gawat, silahkan kau berteriak : 'harap Sengcu berbelas kasihan', teriakanmu itu akan menolong kau untuk lolos dari keadaan gawat, selanjutnya terserah pada keputusan nona sendiri."

Baru saja Nyo hong leng akan bertanya lagi, bocah itu sudah maju dan langsung mendahului Kwik soat kun sekalian, katanya : "Harap kalian suka mengikuti di belakangku!"

Setelah berjalan lebih kurang 50 kaki, tiba-tiba pemandangan berubah, tampak lautan bunga terbentang luas di depan mata, beraneka warna bunga melambai 

lambai terhembus angin dan menyiarkan bau yang semerbak, beberapa ekor burung bangau dan ku tilang bermain disekitar bunga, sekalipun melihat ada manusia menghampirinya, ternyata binatang2 itu tak tampak ketakutan.

Buyung Im Seng segera memperhatikan situasi di sekitarnya, tampak olehnya kebun bunga itu paling tidak mencapai sepuluh hektar luasnya, bunga2 itu beraneka warna, jelas ditanam dengan tenaga manusia.

Nyo hong leng paling suka dengan bunga, para hoa-li dan dayang bunganya ratarata merupakan seorang ahli dalam hal menanam bunga.

Menyaksikan lautan bunga yang terbentang di depan mata itu, tanpa terasa Buyung Im Seng berpaling dan memandang sekejap ke arah Nyo hong leng. Sambil tertawa dingin Nyo hong leng segera berkata. "Kalau dilihat aneka warna bunga yang ditanam di sini, rasanya sedap dilihat dan amat semarak, padahal warna bunganya tidak lengkap dan keindahannya kurang, hmm... entah siapa yang telah menanam bunga2 tersebut di sini? Untuk kebodohan dan ketidak-tahuannya soal seni bunga, dia pantas untuk dijatuhi hukuman mati."

Walaupun perkataan tersebut tidak diucapkan dengan suara keras, namun bocah baju hijau itu, toh sempat mendengarnya juga, sambil berpaling dia segera menyela, "Kalau begitu nona pasti mempunyai kepandaian yang khas terhadap seni bunga?" Agaknya Nyo hong leng enggan untuk banyak berbicara lagi dengan bocah berbaju hijau itu, dia mendongakkan kepalanya memandang cuaca di langit dan berlagak seakan akan tidak mendengar perkataan itu.

Ketika bocah pembawa jalan merasa ketanggor batunya, dia segera berpaling lagi dengan tersipu-sipu dan tak bicara lagi.

Menelusuri sebuah jalan kecil ditengah kebun bunga itu, mereka berjalan terus, sepanjang jalan Kwik soat kun mengalihkan sorot matanya untuk mengawasi keadaan sekitarnya, tampak empat penjuru merupakan barisan pegunungan yang menjulang tinggi ke angkasa dengan tebing yang curam, tampaknya tempat itu merupakan sebuah lembah yang terbuat dari alam.

Siapapun pasti takkan menyangka kalau didalam lembah yang terpencil dan dikelilingi oleh bukit yang terjal tersebut sesungguhnya terdapat sebuah markas besar suatu perkumpulan yang menguasai dunia persilatan dewasa ini.

Setelah menembusi kebun bunga yang sangat luas, bocah itu mengajak mereka memasuki sebuah hutan yang amat lebat. Sebuah jalanan kecil beralas batu putih terbentang jauh ke depan menembusi hutan lebat itu. Setelah berputar dua kali, pemandangan kembali berubah, tampak ditengah hutan yang lebat itu terdapat sebuah tanah kosong yang luasnya tiga kaki, di atas tanah lapang itu tumbuh rumput yang amat lembut, sebuah papan nama yang ditunjang dua buah kayu berdiri ditengah tanah lapang itu. Di atas papan nama tertera tiga huruf besar yang berbunyi.

"CIAT KIAM CU" (Tempat melepaskan pedang)

Bocah berbaju hijau itu segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Buyung Im Seng sekalian, setelah itu pelan-pelan ujarnya. "Andaikata kalian membawa 

senjata tajam harap digantungkan ditempat ini, bila akan kembali nanti senjata tersebut baru diambil kembali."

Buyung Im Seng dan Kwik soat kun sekalian saling berpandangan sekejap, kemudian pelan-pelan mereka melepaskan senjata tajamnya dan digantungkan pada sebuah rak kayu yang telah tersedia.

Kembali bocah itu memandang ke empat orang itu sekejap, lalu berkata lebih jauh. "Selain pedang mustika, bila kalianpun menyimpan senjata rahasia, harap disimpan pula ditempat ini."

"Apakah didalam Seng tong terdapat senjata tajam berupa pedang atau golok?" tanya Kwik soat kun dingin.

"Tentu saja ada."

"Kalau toh orang-orang dari partai kalian boleh membawa senjata, mengapa kami tak diperkenankan membawa secuil besipun?"

"Aku tak lebih cuma menasehati kalian saja, mau menurut atau tidak, terserah pada kalian."

Tanpa menggubris Kwik soat kun lagi, dia segera melanjutkan perjalanannya menuju ke depan.

Kwik soat kun, Buyung Im Seng, Nyo hong leng dan Siau tin mengikuti di belakangnya. Lebih kurang belasan kaki kemudian, keadaan medan bertambah lebar, sebuah dinding pekarangan yang terbuat dari batu hijau menghadang perjalanan mereka.

Dinding pekarangan itu amat tinggi besar dan hampir boleh dibilang menutupi semua pemandangan, tak nampak sebuah bendapun selain dinding itu.

Pintu batu yang besar berada dalam keadaan tertutup rapat, tidak tampak bayangan manusia yang berlalu lalang, juga tak kedengaran sedikitpun suara, suatu keheningan yang aneh, menciptakan suatu keseraman yang mengerikan. Tiba-tiba saja bocah itu berhenti dari dalam sakunya dia mengeluarkan secarik sapu tangan untuk membungkus mulut luka pada lengan kanannya, kemudian berkata. "Setelah memasuki pintu batu itu, berarti kalian telah memasuki ruang Seng tong, aku hanya bisa menghantar sampai di sini saja, semoga saja kalian bisa baik2 menjaga diri."

Selesai bicara tanpa menunggu jawaban dia membalikkan badan memasuki hutan dan lenyap dari pandangan mata.

o-O-o Bagian 24

Sepeninggal bocah itu, Buyung Im Seng baru berkata dengan suara lirih. "Sepanjang jalan kemari, tak seorang manusiapun yang kita jumpai, keadaan semacam ini benar2 membuat orang sukar untuk mempercayainya." 

"Mungkin mereka bersembunyi di atas pohon atau di semak belukar, hal ini bukan suatu yang aneh, yang aneh justru pekarangan ini, belum pernah kujumpai dinding pekarangan setinggi dan sebesar ini.." kata Kwik soat kun.

"Kenapa dengan dinding tersebut?"

"Kalau dilihat dari namanya lembah tiga malaikat, seharusnya ditempat ini terdapat tiga buah istana yang berbeda-beda atau paling tidak terdapat sebuah ruang megah yang dihuni tiga orang, tapi dibalik dinding pekarangan itu tampaknya tidak ada bangunan yang lebih tinggi dari pada dinding ini."

Diam-diam Buyung Im Seng mencoba untuk menilai keadaan di sekitarnya waktu itu mereka berdada lebih kurang sepuluh kaki di depan dinding itu, lagi pula keadaan tanahnya agak tinggi, andaikata dibalik dinding tersebut ada bangunan yang tinggi atau megah, sudah seharusnya kalau hal itu terlihat dari luar.

Tiba-tiba Nyo hong leng berkata. "Aku rasa dibalik dinding ini mungkin terdapat keadaan yang sama sekali lain, mari kita masuk kita hadapi saja keadaan menurut situasi yang kita hadapi nanti."

Kwik soat kun tersenyum, sahutnya. "Benar juga perkataan itu, masa sebelum musuh menampakkan diri kita sudah ketakutan setengah mati."

Pelan-pelan Buyung Im Seng melangkah maju, sambil berjalan diam-diam dia berbisik. "Sewaktu memasuki pintu batu nanti, lebih baik kita bisa mempertahankan suatu jarak tertentu sehingga bila sampai terjadi suatu perubahan yang tak diinginkan, orang yang berada di belakangnya bisa menghadapi dengan sebaiknya."

Sementara itu ia telah mendekati pintu batu tersebut. Buyung Im Seng segera mengerahkan tenaganya lalu menekan pintu batu tersebut dan di dorongnya, menyusul gerakan tadi, secepat kilat dia menerobos ke samping untuk berjaga jaga terhadap segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Ternyata sepasang pintu itu segera terbentang lebar, ketika melongok ke dalam, ternyata dibalik pintu itu merupakan sebuah jalan besar yang beralaskan batuan hijau, dikedua belah sampingnya berupa rumah2 baru yang rendah, tapi bangunannya kokoh dan sangat rapi sekali.

Buyung Im Seng segera mendehem pelan, kemudian berseru. "Aku adalah Buyung Im Seng, sengaja datang untuk menyambangi Seng tong!"

Sampai lama kemudian, dari balik lorong itu masih belum kedengaran suara jawaban, juga tak nampak seorang manusiapun yang menampilkan diri untuk menyambut kedatangan mereka.

Suasana yang begitu sepi dan hening ini mengingatkan orang pada neraka yang mengerikan, memberikan suasana seakan akan di sana tiada kehidupan belaka. Buyung Im Seng mencoba untuk menengok ke belakang, sehingga tampak olehnya baik Kwik soat kun, maupun Siau ting sama2 menunjukkan sikap yang bingung

tapi amat serius. 

Jelas pemandangan serta suasana semacam ini telah mendatangkan perasaan seram dan aneh bagi mereka semua.

Diam-diam Buyung Im Seng menghembuskan napas panjang, kemudian setelah tertawa, katanya. "Kalau memang tiada orang yang menjawab pertanyaan ini, terpaksa aku akan masuk sendiri!"

Pelan-pelan dia lantas melangkah masuk. Nyo hong leng yang berada disampingnya segera mendahului ke depan dan mengikuti di belakang Buyung Im Seng dengan ketat, bisiknya kemudian. "Hati-hati dengan rumah2 rendah yang berada dikedua samping jalan tersebut."

Kwik soat kun serta Siau tin segera menyusul pula, dengan langkah yang amat hati-hati.

Setelah berjalan dua kaki, sampailah mereka di depan pintu ruangan yang besar, mendadak Buyung Im Seng membalikkan badannya dan membelok ke arah sebuah rumah kecil dari batu putih yang berada disamping ruangan, dengan cepat ia mendorong pintu ruangan.

Ketika melongok, maka tampaklah dalam ruangan itu duduk seorang lelaki dan seorang perempuan. Yang lelaki berusia 50 th dengan jenggot sepanjang dada dan mengenakan baju biru. Sedang perempuan itu berusia 40 th memakai baju kasar dengan dandanan yang amat sederhana sekali.

Diantara mereka berdua terletak sebuah meja kayu, dia tas meja itu tersedia empat macam sayur kecil, sepoci arak dan mereka sedang bersantap.

Sewaktu Buyung Im Seng mendorong pintu dan melongok, lelaki maupun perempuan itu seakan2 tidak merasakan kehadirannya, mereka sama sekali tak menengok barang sekejappun.

Tampak yang perempuan sedang mengangkat cawan arak dan memberi tanda kepada lelaki itu, sedang lelaki tadi segera mengangkat cawan araknya dan meneguk isinya sampai habis.

Sebenarnya Buyung Im Seng bermaksud hendak menegur, tapi ketika dilihatnya kedua orang itu hanya duduk saling berhadapan sambil mengeringkan cawan dan selama ini tak mengucapkan sepatah katapun, tergerak juga hatinya.

"Mungkin mereka adalah orang yang bisu dan tuli, lebih baik tak usah marah pada mereka." Berpikir demikian, dia lantas berusaha keras untuk menekan hawa amarah yang berkobar di dadanya, setelah mendehem berat, diapun menegur. "Locianpwe."

Pelan-pelan lelaki itu meletakkan kembali cawan araknya dan memalingkan kepalanya, dengan sorot mata yang dingin dan hati bergidik dia memandang sekejap ke arah Buyung Im Seng, kemudian tegurnya "Siapakah kau?" Suaranya nyaring, nadanya jelas, sama sekali tidak berbeda dengan keadaan manusia biasa. "Sewaktu aku membuka pintu tadi, apakah kau telah mengetahuinya?" tegur Buyung Im Seng.

Kakek itu segera manggut-manggut. "Kau sama sekali tak tahu sopan santun!" katanya. 

"Aku telah berteriak beberapa kali namun sama sekali tidak terdengar suara jawaban, apakah kaupun tidak mendengar teriakan tadi?"

"Sudah kudengar." Sahut kakek itu dingin. "Apakah lohu harus menjawab teriakanmu itu?"

Mendengar ucapan itu Buyung Im Seng segera berkerut kening, lalu katanya. "Kalau begitu kalian berdua sudah mendengar teriakanku, tapi sengaja tak mau menjawab?"

"Benar!" kembali kakek itu manggut2.

Kontan saja Buyung Im Seng tertawa dingin tiada hentinya, dia berkata dengan ketus. "Sungguh tak kusangka orang2 didalam Seng tong adalah manusia2 tak tahu sopan santun seperti ini!"

Tiba tiba kakek baju biru itu mendongakkan kepalanya dan tertawa. "Ha.. ha... bocah cilik, apakah kau sedang memaki lohu?"

"Locianpwe sudah hidup puluhan tahun lamanya, kenapa caramu berbicara sama sekali tak tahu sopan santun? Sekalipun boanpwe sampai mendampratmu dengan beberapa patah kata rasanya juga bukan suatu perbuatan yang kurang hormat." Mendadak kakek itu melototkan sepasang matanya bulat2, kemudian serunya dengan gusar. "Bocah cilik, nyalimu benar2 amat besar, berani benar kau bersikap begitu kurang ajar terhadapku."

"Kau sendiri yang kurang hormat lebih dulu, mengapa aku mesti memegang tata kesopanan lagi?"

Kakek berbaju biru itu semakin gusar serunya "Hei, orang muda, kau begitu kurang ajar dan tak tahu diri, tampaknya lohu harus memberi pelajaran sebaik baiknya kepadamu."

"Jika kau bersedia memberi petunjuk, dengan senang hati akan kulayani keinginanmu itu."

Kakek berbaju biru itu segera bangkit berdiri, katanya dengan suara lantang, "Masuklah kemari, lohu pasti akan memberi pelajaran yang sebaik2nya kepadamu." "Baik! Aku akan menyaksikan sendiri sampai dimanakah kelihaianmu yang sebenarnya."

Selesai bicara, dia benar2 melangkah masuk ruangan tersebut. Tiba-tiba Kwik soat kun mengeluarkan tangannya menghalangi jalan pergi Buyung Im Seng, katanya. "Tunggu sebentar."

Sorot matanya segera dialihkan ke arah kakek baju biru itu, kemudian lanjutnya, "Aku lihat paras muka kalian berdua amat dikenal, apakah kamu berdua adalah Liong Hong siang kiam (Sepasang pedang naga dan burung hong) yang amat terkenal itu...?"

Kakek baju biru itu agak tertegun, kemudian serunya. "Siapakah kau? Kenapa secara tiba-tiba bisa mengenali kami suami istri berdua?"

(Bersambung ke jilid 17)
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Lembah Tiga Malaikat Jilid 16"

Post a Comment

close