Lembah Tiga Malaikat Jilid 06

Mode Malam
Jilid 6

CIU PENG menyuruh kita dari pada menanam bibit permusuhan lebih baik mengikat tali persahabatan, aku pikir dibalik kesemuanya ini pasti ada rahasia lain.

"Dengan dandanan kita sekarang, seandainya sampai diketahui oleh orang-orang Sam Seng bun maka Im Hui sendiripun akan merasakan akibatnya. Ucapan saudara Buyung memang benar kita harus berganti dengan dandanan lain, sebab hal ini penting sekali artinya."

Maka berangkatlah kedua orang itu melanjutkan kembali perjalanannya, sampai matahari sudah di atas awang-awang baru sampai didalam sebuah kota besar. Kota itu ramai sekali, sepanjang jalan banyak sekali terdapat warung makan dan rumah penginapan.

Tong Thian hong mencari sebuah rumah penginapan yang baru saja membuka pintu, seorang pelayan sedang menyapu halaman, ketika melihat ada dua orang lelaki berbaju compang camping akan masuk ke dalam penginapan, dia segera melemparkan sapunya ke tanah dan menghadang jalan pergi kedua orang itu. "Hei, mau apa kalian berdua ?" tegurnya.

Tong Thian hong segera merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan sekeping perak yang dua tahil beratnya, sambil diangsurkan ke depan serunya: "Pelayan, adakah kamar yang bersih? Sudah semalaman suntuk kami melakukan perjalanan, sekarang hendak ganti pakaian dan membersihkan badan, hadiah kecil itu buat kau membeli semangkuk teh"

Melihat ada uang, paras muka pelayan itu berubah menjadi ramah, dengan senyum dikulum, katanya: "Sepanjang jalan kalian pasti lelah sekali, hamba akan membawakan jalan untuk kalian berdua." 

Seraya berkata tangan kanannya menyambut uang itu dan dimasukkan ke dalam saku, kemudian dengan langkah lebar berjalan ke dalam.

Tong Thian hong dan Buyung Im seng saling berpandangan sekejap sambil tertawa, mereka segera mengikuti di belakang pelayan itu melewati sebuah halaman dan menuju ke dalam sebuah ruangan yang bersih.

Tampak aneka bunga bersemarak di sana sini, ternyata tempat itu adalah sebuah ruangan tersendiri yang ada ruang tamunya.

Sambil tertawa pelayan itu berkata lagi: "Sebenarnya kamar ini sudah dipesan oleh Kim-ji-ya dari toko emas untuk menyambut kedatangan seorang tamunya yang datang dari jauh, besok orangnya tiba, tempat ini bersih dan tenang, silahkan kalian berdua beristirahat, asal besok pagi bisa mengosongkan kembali kamar ini, semuanya bakal beres."

"Besok kami pasti berangkat"

"Baik!" kata pelayan itu sambil tertawa. "Hamba akan mempersiapkan air teh untuk kalian berdua"

Sepeninggalan pelayan itu Buyung Im seng lantas berkata: "Saudara Tong, kita harus bertanya kepadanya kota apakah ini"

"Tong Thian hong tertawa: "Dia telah menganggap kita sebagai orang hitam kalau begitu buka mulut kita menanyakan nama tempat, bisa jadi kita akan dianggap enteng oleh pelayan itu."

"Benar juga perkataan saudara Tong, kita pun harus beristirahat dengan baik!" Sungguh cepat gerak gerik pelayan itu, tidak selang beberapa saat kemudian dia sudah muncul sambil membawa sepoci air teh, katanya sambil tertawa: "Api di tungku sudah mulai dibuat, hamba telah berpesan ke dapur untuk mempersiapkan hidangan buat kalian berdua"

"Bagus sekali!" Tong Thian hong manggut-manggut. "Kami butuh juga beberapa stel pakaian, cuma waktunya tidak banyak, suruh penjahitnya kerja lembur..." Pelayan itu segera memenuhi cawan tamunya dengan air teh lalu katanya pelan: "Perawakan kalian berdua tidak tinggi juga tidak pendek, tidak sulit untuk membeli pakaian jadi, cuma harganya..."

"Soal harga bukan menjadi masalah" tukas Tong Thian hong: "Kami berdua masingmasing butuh dua stel, satu berwarna biru yang satu berwarna hijau. Selain itu belikan celana panjang dan sepatu, sepuluh tahil perak cukup tidak?"

Pelayan itu kembali tertawa terkekeh, sahutnya: "Aaaah... tidak perlu sebanyak itu, sisanya hamba pasti kembalikan.."

Tong Thian hong segera mengeluarkan sepuluh tahil perak sambil menukas dengan cepat: "Tak usah dikembalikan lagi, sisanya persen buat kau minum arak."

Pelayan itu segera membungkukkan badan dan memberi hormat tiada hentinya: "Harap kalian beristirahat dulu, hamba akan keluar sebentar." Dengan langkah lebar dia lantas beranjak keluar ruangan. 

Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Tong Thian hong, serunya dengan cepat: "Tunggu sebentar !"

"Toaya masih ada pesan lain ?" tanya pelayan itu sambil membalikkan badannya. "Ditempat kalian ini apakah ada tempat untuk bersenang senang ?"

"Tempat bersenang senang ada dimana mana" sahut pelayan itu sambil tersenyum. "Sebentar hamba pasti membawa kalian berdua mengunjungi tempat itu." Memandang bayangan punggung pelayan itu sudah pergi jauh, Tong Thian hong baru berkata sambil tersenyum. "Pelayan itu adalah orang yang paling jeli matanya tapi juga paling sulit dihadapi, biji matanya tak boleh melihat uang, asal melihat uang matanya lantas jadi hijau, cuma merekapun paling pandai bekerja, entah persoalan yang bagaimana sulitnya, asal mereka bersedia untuk melaksanakannya, maka mereka pasti bisa melakukannya dengan segera."

"Sekarang, apa yang harus kita lakukan ?"

"Setelah pelayan itu membawa pulang pakaian yang dibeli, kita pulihkan dulu wajah kita, lalu berjalan jalan mengelilingi kota, siapa tahu bisa berjumpa dengan orang-orang Li ji pang"

"Betul, kita memang harus berjalan jalan mengitari kota, mata-mata Li ji pang paling banyak siapa tahu kita bisa bersua dengan mereka... ?"

Setelah menunggu beberapa saat lamanya, pelayan itu sudah kembali sambil membawa pakaian yang dipesan. "Cepat amat cara bekerja pelayan ini!" seru Tong Thian hong sambil tertawa.

"Ada uang setanpun bisa disuruh, apalagi cuma beberapa stel pakaian." jawab pelayan itu cepat, "cobalah dulu, kalau tidak cocok hamba akan pergi menukarkan yang lain. Sekarang akan kupersiapkan dulu hidangan untuk kalian berdua."

Dia lantas melangkah keluar dari ruangan itu. Dengan cepat Tong Thian hong serta Buyung Im seng telah berganti pakaian baru. Cara bekerja pelayan itu memang mengagumkan, baru saja kedua orang itu bertukar pakaian dan membersihkan obat penyaru dari atas wajahnya, pelayan itu sudah datang menghidangkan nasi dan arak.

Waktu itu wajah Buyung Im seng dan Tong Thian hong tampan dan gagah sekali, seolah-olah sudah berganti orang saja. Pelayan itu sampai lama sekali berdiri termangu-mangu sambil mengawasi kedua orang tamunya, kemudian ia baru bertanya, "Apakah kalian berdua yang tidak itu?"

"Buddha memerlukan perlengkapan emas, manusia-manusia memerlukan pakaian. Apanya yang salah?"

Pelayan itu tertawa. "Setelah berganti pakaian, hakekatnya kalian berdua telah berubah muka, hamba percaya dengan ketajaman mata hamba ini, toh tidak berhasil mengetahui juga." Sambil menghidangkan makanan ke meja, katanya lagi, "Silahkan yaya berdua bersantap dan beristirahat sebentar. Setelah tengah hari nanti hamba akan minta ijin untuk libur setengah hari dan mengajak yaya berdua jalan keliling kota. Di sini terdapat seorang Siok cu poan cu yang bernama Siau Ling2, seperti nama orang itu cantik dan ramping, persis seperti lukisan, cuma 

perangainya rada jelek. Tapi dengan potongan kalian berdua, siapa tahu kalau budak itupun akan terpikat."

Tong Thian hong cuma tersenyum dan tidak berkata apa-apa. Selesai berkata pelayan itu juga mohon diri. Sepeninggal pelayan itu, Buyung Im seng lantas bertanya, "Saudara Tong, apa yang dimaksudkan dengan Siok-cu poan cu?" "Buat mereka yang berusaha di bidang pelacuran, istilah nona Siok cu di rumah menjadi Siok-cu poan cu."

"Oh, rupanya sarang pelacur." Buyung Im seng tertawa.

"Saudara Buyung belum pernah berkunjung ke rumah pelacuran?"

Buyung Im seng gelengkan kepalanya berulang kali. "Belum pernah, tempat seperti itu lebih baik jangan dikunjungi saja"

"Siaute dua kali pernah berkunjung ke tempat semacam itu bersama teman2. Sarang pelacur hanya penuh dengan perempuan yang bergincu dan berdandan menyolok. Jangankan saudara Buyung tak akan tertarik, sekalipun siaute juga muak, cuma, kali ini kita patut berkunjung ke sana"

"Kenapa?"

"Bila Li ji pang mengatur pula jaringan mata-matanya di sini, maka dia pasti akan mengatur jaringan mata2nya di tempat yang paling ramai."

"Maksud saudara Tong, kemungkinan besar Siau Ling2 adalah mata2 dari Li ji pang?"

"Siaute cuma berpendapat demikian, betul atau tidak, tak berani memastikan. Toh tak ada salahnya kita berkunjung sekali ke sana"

Buyung Im seng tersenyum. "Baiklah," dia berkata, "memang tak ada salahnya untuk mencari pengalaman dengan berkunjung ke tempat semacam itu." Mereka berdua segera bersantap dan kemudian beristirahat. Selewatnya tengah hari, pelayan itu telah bertukar pakaian baru, sambil tertawa dia muncul di dalam kamar sambil katanya. "Hamba telah minta ijin kepada ciangkwe untuk libur setengah hari, agar bisa menemani yaya berdua berpesiar sampai puas. Betul tempat ini tidak besar, tapi terhitung juga sebuah bandar yang ramai, tempat

pelacuran, tempat bermain judi semuanya ada, tempat untuk mencari hiburan tak sedikit jumlahnya."

"Hai pelayan, siapakah namamu?"

"Hamba Li-Ji hek, orang daerah menyebutku Li-Hek-cu!" "Kelihatannya kau punya hubungan yang luas di tempat ini?"

Li-Ji-hek segera tersenyum. "Aaaah, mana, mana, seorang pelayan tidak terhitung seberapa, cuma berkat cinta kasih teman, semua masyarakat akupun kenal teman2 mau membantu, sesungguhnya sudah memberi muka kepada hamba." Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan. "Bicara setengah harian, hamba belum menanyakan marga dari toaya berdua!" 

Tong Thian hong segera menuding ke arah Buyung Im seng sambil berkata. "Dia adalah Im toaya!"

"Im toaya?" Li-Ji-hek tampak agak tertegun.

"Yaa, betul! Im toaya, sedangkan aku? Aku she Che!"

Dengan sepasang matanya yang jeli Li-Ji-hek memperhatikan wajah Buyung Im seng beberapa saat lamanya, kemudian berguman. "Ooohrupanya Im dan Che

dua orang toaya!"

Mendadak ia menjatuhkan diri berlutut di atas tanah, sambil menyembah di hadapan Buyung Im seng, katanya, "Hamba benar-benar punya mata tak berbiji, tidak kenal dengan wajah Im ya, bila berbuat salah, harap kau sudi memberi maaf." Mula-mula Buyung Im seng agak tertegun, kemudian tertawa hambar. "Bangunlah, siapa tidak tahu dia tidak bersalah."

Li-Ji hek bangkit berdiri, kemudian bertanya lagi. "Hamba berjodoh untuk berkenalan dengan Im ya, sesungguhnya hal ini merupakan suatu keuntungan bagi hamba."

Buyung Im seng tahu bahwa orang itu sudah salah paham, diapun tidak mengungkapnya, Cuma katanya sambil tersenyum. "Mari kita pergi!"

"Hamba akan membawakan jalan buat Im ya!" dengan langkah lebar buru2 pelayan itu berjalan lebih dulu. Tong Thian hong dan Buyung Im seng saling berpandangan sekejap, kemudian mengikuti Li Ji hek pergi meninggalkan tempat itu. Perkataan dari Li-Ji hek memang tidak salah, meskipun kota itu tidak terlampau besar, tapi ramainya bukan kepalang, orang yang berlalu lalang di jalan hampir mendekati saling berdesakan.

Li-Ji hek memang tidak malu disebut penunjuk jalan yang berpengalaman, dia selalu menghindari jalan yang ramai dan menerobos jalan lorong yang sempit. Setelah melalui beberapa jalan dan lorong akhirnya sampailah mereka di depan gedung yang besar sekali. Li-Ji hek segera berhenti, katanya, "Sudah sampai, biar hamba pergi mengetuk pintu."

Ketika Buyung Im seng mencoba untuk mendongakkan kepalanya, terlihat bangunan itu tinggi besar dengan pintu gerbang berwarna hitam yang tertutup rapat, ia merasa heran sekali. Maka dengan suara lirih tanyanya,

"Tempat ini seharusnya ramai sekali, mengapa suasana begini sepi dan hening, tak seorangpun manusia yang kelihatan?"

Sambil membungkukkan badannya, sahut Li-Ji hek. "Menjawab pertanyaan Im ya, saat ini masih awal sekali, belum  sampai  waktu  untuk  menerima  tamu." "Aaaahkalau memang terlalu pagi lebih baik kita balik lagi nanti saja!"

Li Ji hek segera tersenyum. "Punya uang setanpun bisa diperintah, germo yang membuka rumah pelacuran ini lebih suka uang daripada setan, asal Im-ya bersedia menghamburkan sedikit uang, sekalipun datang lebih awal lagi juga akan disambut mereka. Bahkan kalau suasana makin tenang makin syahdu rasanya, toh toaya berdua tidak kuatir menghamburkan uang" 

Ketika dilihatnya Li Ji hek cuma ngoceh melulu, Tong Thian hong segera mendehem seraya menegur. "Cukup, sekarang ketuklah pintu terlebih dahulu!" Li Ji-hek mengiakan dan segera mengetuk pintu gerbang berwarna hitam itu. "Kreek..! pintu gerbang dibuka, seorang lelaki berbaju hitam membuka pintu

dengan wajah bengis. Rupanya Li Ji hek cukup berpengalaman, dia segera menjura kepada lelaki itu sambil berseru. "Thio-heng selamat pagi!" Kemudian ia membisikkan sesuatu di sisi telinga lelaki tersebut.

Sebenarnya lelaki itu berwajah dingin bagaikan es, tiba-tiba saja senyuman segera menghias wajahnya, serunya dengan cepat. "Kalau yang dibawa saudara Li adalah tamu agung mah tidak jadi soal, silahkan masuk!" Buyung seng segera berpaling ke arah Tong Thian hong sambil berbisik, "Saudara Che, silahkan!"

Rupanya dia belum pernah masuk ke rumah pelacuran, hatinya merasa agak takut. Tong Thian hong tersenyum, dia lantas melangkah masuk lebih dahulu ke dalam ruangan. Buyung Im seng buru2 mengikuti di belakang rekannya itu, sedangkan LiJi hek mengikuti paling belakang.

Dengan suara lantang orang berbaju hitam itu segera berteriak. "Suruh nona sekalian berdandan untuk menerima tamu!"

Tampak seorang nyonya setengah umur berbaju biru menyongsong kedatangan mereka dengan langkah lebar, kemudian membawa beberapa orang tamunya ke dalam ruang tamu. Li-Ji hek lantas berbisik pada nyonya setengah umur itu. "Im dan Che-ya adalah orang kaya yang banyak uang, nona biasa tak akan menarik perhatian mereka, lebih baik suruh Siau Ling-ling saja yang menyambut mereka. Nyonya setengah umur itu segera berkerut kening, lalu keluhnya. "Oooh Hek-cu! Kau bukannya tak tahu betapa jeleknya adat Siau Ling-ling, kalau sampai menyalahi toaya berdua, bagaimana mungkin aku bisa menanggungnya?" "Tidak menjadi soal, nona yang cantik tentu jelek adatnya." seru Buyung Im seng dengan cepat.

Nyonya setengah umur itu segera tertawa hambar. "Kalau memang begitu, aku akan menyuruhnya menerima tamu."

Dia lantas membalikkan badan dan beranjak pergi dari ruangan tamu itu. Tong Thian hong lantas berpaling sekejap ke arah Li Ji hek, kemudian katanya. "Di sini tiada sayur dan arak?"

"Akan hamba pesankan di luar, suruh dia siapkan kamar yang besar." kata Li Jihek tertawa.

Sementara pembicaraan berlangsung, tampak serombongan perempuan muncul dalam ruangan dan berbaris rapi. Buyung Im seng mencoba untuk memperhatikan perempuan-perempuan itu, tampaknya mereka berdandan aneka ragam dengan mukanya memakai gincu dan bedak yang terlalu tebal, sekalipun begitu sedikitpun tidak kelihatan menarik.

Tong Thian hong berpaling dan memandang Buyung Im seng sekejap kemudian, tanyanya, "Bagaimana?" 

Buyung Im seng menggelengkan kepalanya berulang kali. "Tidak berani menerimanya!"

"Baik!" kata Tong Thian hong kemudian, "Kalau begitu akan kuberikan Siau Lingling untuk Im heng, Siaute sudah pernah merasakan kenikmatan di tempat seperti ini, biar aku pilih yang lain saja."

Dia lantas menuding ke arah seorang nona yang memakai baju serba hijau, sambil katanya, "Nona, siapa namamu?"

Li Ji-hek yang berada di sisinya segera memuji. "Che ya, sungguh tajam amat pandangan matamu, dia adalah orang kedua yang paling top di sini setelah Siau Ling-ling, maka urutannya adalah nona Siau po cha ini."

Tampak Siau po cha memberi hormat lalu duduk di samping Tong Thian hong. Li Ji-hek lantas berpaling dan membisikkan sesuatu ke sisi telinga lelaki berbaju hitam di luar pintu itu, lelaki itu manggut2 dan mengulapkan tangannya, kecuali Siau po cha, nona lainnya mengundurkan diri dari situ.

Buyung Im seng menghembuskan napas panjang. "Saudara Che, berapa lama kita harus berada di sini." tanyanya.

"Sehabis berjumpa dengan Siau Ling-ling nanti, kita bicarakan lagi...!"

Siau Po-cha juga tersenyum, katanya pula, "Bila telah bertemu dengan Siau Lingling, tanggung toaya ini tak akan ribut untuk pergi lagi. Im-ya ini berpandangan tinggi, kuatirnya Siau Ling-ling pun tak sanggup menahannya. Siau Ling-ling cantik dan cerdik, jauh berbeda dengan perempuan lainnya, entah berapa banyak hartawan dan putra hartawan yang jatuh hati kepadanya, meski Im-ya berpandangan tinggi tak akan sampai merasa kecewa setelah berjumpa dengannya."

"Sungguhkah itu?" tanya Tong Thian hong sambil tersenyum.

"Kalau Che-ya tidak percaya tak ada halangannya untuk membuktikan sendiri nanti."

"Aku lihat kata-katamu cukup terpelajar, agaknya pernah belajar ilmu sastra?" "Aaaah... perempuan penghibur macam aku begini, sekalipun pernah belajar ilmu sastra juga percuma, urusan masa lampau lebih baik tak usah disinggung lagi." Buyung Im seng menjadi tertegun, pikirnya, "Kata2 perempuan itu menunjukkan kalau ia terpelajar, sudah pasti dia pernah belajar ilmu sastra, tapi... heran, kenapa perempuan terpelajar semacam itu bisa terjerumus dalam rumah pelacuran seperti ini?"

Sementara dia masih melamun, terdengar Siau Po-cha berseru. "Im-ya, cepat lihat! Nona Siau Ling-ling telah datang!"

Ketika Buyung Im seng berpaling, maka tampaklah seorang gadis cantik jelita bergaun hijau yang bersanggul tinggi, sambil memegang seorang dayang cilik yang berbaju hijau, dia melangkah masuk ke dalam ruangan. Tampak gadis itu hanya memakai pupur yang tipis, tubuhnya ramping dan matanya jeli, tangan kanannya memegang sebuah sapu tangan.

Sembari memberi hormat, katanya: "Hamba menjumpai saudara sekalian !" 

Tong Thian hong tersenyum, pujinya: "Ehmm, memang tidak bernama kosong..." Sambil menepuk bangku di sisi Buyung Im seng, terusnya: "Silahkan duduk di sini!"

Siau Ling-ling berjalan ke depan dan duduk di sisi Buyung Im seng, kemudian sambil tersenyum sapanya: "Kongcu she apa ?"

"Silahkan duduk nona, aku She Im" Jawab Buyung Im seng. "Oooh, rupanya Im ya..."

"Sudah lama kudengar akan nama besarmu, sungguh beruntung hari ini kita bisa bersua"

"Aaah cuma perempuan rendah seperti aku tidak berani menerima pujian dari kongcu"

Belum pernah Buyung Im seng menghadapi suasana seperti ini, untuk sesaat lamanya dia tidak tahu bagaimana harus melanjutkan pembicaraan, setelah mendehem sejenak, akhirnya dia tutup mulut dan tidak berbicara lagi.

Tong Thian hong tertawa, katanya kemudian: "Im-ya belum pernah mengunjungi tempat seperti ini, kali ini adalah kunjungan yang pertama kali, harap nona suka memberi kehangatan kepadanya."

Siau Ling-ling tersenyum, katanya kemudian: "Im-ya sudah menikah ?" Merah padam selembar wajah Buyung Im seng dengan ia menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Aku jelek dan bodoh, tak ada yang mau denganku !" "Aaah, sungguh pilihan Im-ya terlampau tinggi"

"Im-ya" kata Siau Po cha pula: "Meskipun adik Siau Ling-ling adalah berasal dari perempuan penghibur, tapi sesungguhnya dia adalah sekuntum bunga teratai putih yang belum ternoda, bila Im-ya bersedia untuk menebusnya, budak bersedia menjadi perantara."

"Nona Ling-ling adalah sekuntum bunga indah yang disenangi orang, sedang aku tak lebih cuma seorang rudin..."

"Cici gemar amat bergurau" tukas Siau ling-ling. "Perempuan penghibur macam aku mana pantas mendampingi Im toaya ?"

Mendadak Buyung Im seng merasakan urusan menjadi serius, walaupun terhadap seorang perempuan penghibur, namun dia tak ingin sembarangan memberi janji, maka sambil tersenyum dia tak memberi tanggapan lebih jauh.

Tong Thian hong tahu bahwa Buyung Im seng tidak terbiasa dengan suasana ini, buru buru sambungnya:

"Nona Ling-ling, agaknya kau bukan berasal dari sini ?" "Aku berasal dari kota Siok ciu !"

"Kenapa bisa sampai di sini ?" Sembari berbincang bincang secara diam-diam dia memperhatikan diri Siau Ling-ling. 

"Ayahku adalah seorang saudagar yang seringkali berkeliling, sayang ia meninggal sejak aku masih kecil, tinggal kami ibu dan anak yang hidup berkelana tak menentu..."

"Maka nona bersedia menjual diri sebagai wanita penghibur ?" sambung Tong Thian hong.

Siau ling-ling segera menggeleng: "ibuku membawa aku melewati suatu kehidupan yang sangat sengsara, mungkin karena terlampau letih akhirnya jatuh sakit dan meninggal pula, tinggal aku seorang diri, waktu itu aku baru berumur sepuluh tahun..."

"suatu pengalaman hidup yang pantas dikasihani !"

Siau Ling-ling tertawa sedih kembali katanya: "Setelah mengubur ibuku, akupun menjadi pelayan orang, majikanku sangat baik terhadapku, apalagi mereka memang tidak berputri maka dianggap bagaikan anak kandung sendiri, sayang merekapun tidak diberkahi panjang umur, akhirnya aku ditinggal lagi seorang diri" "Nona, jelek amat nasibmu!" kata Tong Thian hong.

"Aku tahu bahwa nasibku memang jelek, maka akupun bersedia menjadi wanita penghibur untuk mencari sesuap nasi"

"Hidup sebagai seorang manusia, kesulitan dan kesusahan memang selalu ada" kata Buyung Im seng dengan kening berkerut, tapi mengapa nona harus memilih jalan yang begini ini ?"

Siau ling-ling tertawa: "Kalian berdua datang kemari toh mencari hiburan buat apa musti membicarakan masalah yang menyedihkan hati ?" tukasnya.

"benar" sambung Siau Po-cha, Im-toaya baru pertama kali ini berkunjung ke tempat seperti ini, kalau terlalu banyak membicarakan soal sedih bisa hilang selera Imtoaya, lain kali mungkin ia enggan datang lagi"

Sementara itu lelaki berbaju hitam itu sudah masuk ke dalam ruangan, sambil memberi hormat katanya: "Sayur dan arak telah dihidangkan, silahkan Im-ya, Cheya masuk ke meja perjamuan"

"Hamba akan membawakan jalan untuk Im-ya" Li Ji-hek yang berada disamping segera berseru.

Buyung Im seng dan Tong Thian hong saling berpandangan sekejap, kemudian beranjak dan mengikuti di belakangnya. Tempat itu adalah sebuah ruangan kecil yang sangat indah, sebuah meja berkaki delapan berada ditengah ruangan, sayur dan arak telah siap dihidangkan.

Siau Ling-ling dan Siau Po-cha segera mengambil duduk mendampingi Buyung Im seng dan Tong Thian hong.

Siau po-cha mengambil poci arak dan memenuhi ke empat cawan arak tersebut, kemudian katanya sambil tertawa: "Mari, aku akan menghormati arak untuk kalian semua"

Dia mengangkat cawan dan sekali teguk menghabiskan isinya. 

Tong Thian hong mengambil cawan arak di depannya sambil berkata: "Im-ya tak pandai minum arak, biar aku saja yang menemani kalian berdua...!"

Siau Ling-ling juga turut minum seteguk, pipinya langsung berubah menjadi merah padam bisiknya kemudian: "aku juga tak pandai minum."

Diam diam Buyung Im seng berpikir: "andai kata kedua orang ini bukan anggota Li ji pang bukankah perbuatan semacam ini hanya menghambur hamburkan waktu dengan percuma..."

Ketika Siau Ling-ling tidak mendengar jawaban dari Buyung Im seng dia lantas berkata lagi: "Im-ya kau menjadi kaya dimana ?"

"Aku hanya seorang penggede yang bekerja di sebuah rumah penitipan uang..." Siau Ling-ling segera tertawa. "Im-ya gagah dan perlente, masa pegawai orang lain? aku tak percaya"

"Nona terlalu memandang tinggi diriku"

"Aku tahu Im-ya memandang rendah kami perempuan penghibur, maka namapun tidak mau mengaku terus terang."

Satu ingatan kembali melintas dalam benak Buyung Im seng, tanyanya dengan cepat: "Mengapa nona berkata demikian ?"

Siau Ling-ling tertawa tawa, buka menjawab dia malah berkata lagi: "Teratai putih berasal dari tanah berlumpur tapi tidak menodai kesucian dan kebersihannya, entah Im-ya mau percaya atau tidak kalau aku tetap suci bersih?"

"Aku datang karena mengagumi nama besarmu, kini kita sudah bersua, mana berani kupikirkan hal yang bukan-bukan."

Mendadak Siau Ling-ling menggulung baju lengannya sembari bertanya lagi. "Imya kenal dengan benda ini?"

Ketika Buyung Im seng mengalihkan perhatiannya ke sana, maka tampaklah di atas lengan Siau Ling-ling yang putih bersih bagaikan salju itu sebuah tahi lalat sebesar kacang hijau yang berwarna merah.

Setelah termenung sebentar, sahutnya, "Itu kan tahi lalat Siu-kiong-sah?"

Siau Ling-ling manggut-manggut. "Benar, aku telah bersumpah di dalam hati, aku hendak berkecimpung selama tiga tahun di tempat ini tanpa kehilangan kehormatanku."

"Ehmm, tidak mudah, tidak mudah" kata Buyung Im seng.

"Apakah Im-ya tidak percaya?" tukas Siau Ling-ling sambil menurunkan kembali gulungan bajunya.

Buyung Im seng kembali tertawa. "Aku hanya merasa bahwa hal ini bukan suatu pekerjaan yang terlalu gampang."

Mendadak Tong Thian hing mencengkeram pergelangan tangan kiri Siau Po-cha, kemudian katanya sambil tertawa. "Apakah di atas lengan kiri nona juga terdapat tahi lalat Siu-kiong-sah..?" Tidak menunggu jawaban dari Siau Po-cha lagi dia lantas menaikkan baju gadis itu. 

Sambil berkerut kening Siau Po cha berseru, "Che-ya, pelan sedikit, hancur nanti tulang pergelangan tanganku."

Walaupun mulutnya mengaduh, tapi dia tidak melawan dan membiarkan Tong Thian hong menggulung lengannya. Tampak lengannya yang putih bersih itu halus sekali, sedikitpun tiada cacatnya.

Kedengaran Siau Po-cha berseru. "Che-ya tak usah memeriksa lagi, aku sudah merupakan perempuan yang ternoda, mana bisa dibandingkan dengan kesucian Siau Ling-ling.."

Sementara itu Li Ji-hek dan dua lelaki lainnya telah mengundurkan diri dari situ. Dalam kamar tinggal Buyung Im seng, Siau Ling-ling, Tong Thian hong dan Siau Po-cha empat orang.

Pelan2 Tong Thian hong menurunkan kembali gulungan baju Siau Po-cha, kemudian katanya, "Apakah nona bukan datang bersama Siau Ling-ling?" Kami tidak saling mengenal, setelah sampai di sini baru kenal, aku datang tiga bulan awal dari pada Siau Ling-ling!"

-ooo0ooo-

BAGIAN KE SEMBILAN

"Kalian berdua adalah bintang-bintang top di tempat ini," kata Tong Thian hong, "sekalipun di luar bersahabat, tentunya dalam hati saling bersaing, bukan?" "Aaaah, mana mungkin," tukas Siau Ling-ling, "aku bodoh dan tak tahu aturan, semuanya adalah berkat petunjuk dari enci Po-cha."

"Aaaah, adik Ling-ling adalah pemimpin kita semua, aku mana berani menaruh rasa dengki atau iri kepadanya..." bantah Siau Po-cha cepat.

Tiba2 muncul seorang nyonya setengah umur yang masuk sambil menyingkap tirai, sambil memberi hormat, katanya, "Maaf toaya berdua, agak mengganggu sebentar, seorang tamu Siau Po-cha yang datang dari jauh ingin bertemu dengan nona Pocha, berilah kesempatan baginya untuk menjumpai sebentar."

Siau Po-cha segera berkerut kening. "Siapakah orang itu?" tegurnya.

"Thio toa-koanjin!"

Siau Po-cha segera beranjak. "Che-ya harap tunggu sebentar, aku hanya pergi sebentar saja."

"Silahkan nona," kata Tong Thian hong sambil tersenyum.

Nyonya setengah umur itu menengok sebentar ke arah Siau Ling-ling, kemudian berpesan, "Nona Ling-ling, baik-baik melayani tamu, jangan sampai menelantarkan toaya berdua."

"Jangan kuatir, mama!"

Sambil tertawa nyonya setengah umur itu segera memberi hormat lalu mengundurkan diri dari ruangan itu. Tiba2 Siau Ling-ling beranjak dan menuju ke pintu, setengah mengintip sekejap sekeliling tempat itu, dia balik kembali dan 

membelalakkan matanya lebar2, bisiknya, "Kalian berdua tidak mirip orang yang datang mencari hiburan."

"Darimana kau bisa berkata begitu?" tanya Tong Thian hong. "Sebab kalian berdua terlalu sopan dan terpelajar."

"Oooh... rupanya begitu."

"Apakah kalian berdua seringkali melakukan perjalanan di luar?" bisik Siau Lingling lagi.

"Benar!"

"Aku ingin mencari tahu tentang seseorang, apakah kalian berdua kenal dengannya?"

"Siapa?"

Siau Ling-ling menatap wajah Buyung Im seng tajam2, lama kemudian ia baru balik bertanya. "Kau bukan she Im bukan?"

Buyung Im-seng termenung sebentar, lalu mengangguk. "Benar, aku bukan she Im, tapi ada hubungannya dengan huruf Im!"

"Buyung kongcu bernama Im-seng juga ada hubungannya dengan huruf Im." sambung Siau Ling-ling tiba-tiba dengan suara lirih.

Paras Buyung Im-seng berubah hebat, tangan kanannya dengan cepat diayunkan ke depan mencengkeram pergelangan tangan kanan Siau Ling-ling... Siapa tahu dengan sangat cekatan sekali Siau Ling-ling memutar jari tangannya lalu menyongsong datangnya serangan dari Buyung Im-seng sambil bisiknya lirih. "Kongcu, harap jangan melancarkan serangan dulu, masih ada perkataan yang hendak disampaikan."

"Katakan nona !" ujar Buyung Im seng sambil menarik kembali pergelangan tangannya ke belakang.

"Pagi ini aku mendapat perintah untuk menyelidiki jejak kongcu, dalam surat perintah tadi terlampir juga gambar lukisan dari kongcu, oleh sebab itu setelah berjumpa dengan kongcu tadi, aku lantas menduga kalau kongcu besar kemungkinan adalah Buyung kongcu, ternyata dugaanku memang tidak meleset" "Kau adalah... "

"Aku berasal dari perkumpulan Li ji pang!" tukas Siau ling-ling dengan cepat.

Tiba-tiba Tong Thian hong menimbrung. "Aku lihat nona Siau po cha seperti bukan berasal dari golongan wanita penghibur"

Sudah lama aku menaruh curiga kepadanya, cuma dia menutup mulutnya rapatrapat, meski aku sudah berulangkali memancingnya dengan kata-kata selalu gagal untuk menemukan titik terang"

"Apakah dia bukan anggota Li ji pang ?" tanya Buyung Im seng.

"Bukan, setiap anggota li ji pang mempunyai kode rahasia untuk mengadakan kontak, mustahil kalau dia tak tahu kedudukan masing-masing, setelah beberapa kali melakukan pembicaraan, setelah berhenti sejenak, terusnya: "Setelah 

mendapat perintah itu, sebetulnya aku sedang kesal bagaimana caranya menemukan jejak kongcu, sungguh tak kusangka kalau kalian malah sengaja datang mencari kami"

"Walau Po cha pandai bermain sandiwara" kata Tong Thian hong.

"Sayang dia tak dapat menutupi sinar matanya yang tajam dari balik matanya itu, sinar mata setajam itu jelas bukan sinar mata manusia sembarangan..."

"Ucapan che-ya memang benar, ilmu silat yang dimiliki Siau Po cha lihay sekali, menurut pengamatanku secara diam-diam, memiliki ilmu meringankan tubuh yang amat sempurna"

"Mungkin kah mata-mata dari Sam seng bun?" Buyung Im seng menunjukkan kekuatirannya.

"Aaku sendiripun menaruh curiga sampai ke situ!"

"Apakah Siau po che juga telah mengetahui rahasia penyaruan diri nona... ?" "Soal ini sukar untuk dikatakan, paling tidak dia sudah menaruh curiga kepadaku" Dia celupkan jari tangannya ke dalam cawan araknya, kemudian menulis di atas meja. "Kentongan pertama malam nanti, pangcu kami akan mengadakan pertemuan dengan kongcu di Giok pay hong"

Sehabis membaca tulisan itu, dengan cepat Buyung Im seng menyeka bekas arak itu sampai kering.

Baru saja Tong Thian hong hendak bertanya lagi, mendadak Siau ling-ling mengangkat cawan araknya sambil tertawa cekikikan.

"Aku akan menghormati Che-ya dengan secawan arak lagi...!" serunya.

Terdengar suara cekikikan lain berkumandang dari luar pintu, menyusul seseorang berseru. "Bagus sekali, kau sudah mempunyai Im toya seorang masa tidak cukup ?" Berani betul kau merampas Che toya itu"

Menyusul seruan tadi, siau po che dengan senyuman dikulum telah berjalan masuk ke dalam ruangan.

"Apakah Thia toa koanjin sudah pergi " Tong Thian hong lantas bertanya dengan cepat.

"Ia membawakan sebuah gelang kemala untukku, tapi berhubung aku tak berani melupakan Che toya, maka aku sudah menyuruh dia pergi dulu"

"Gelang kemala pemberian dari Thia Toa koajin tersebut pastilah suatu benda yang mahal harganya, nona, bagaimana kalau kau keluarkan agar menambah pengetahuan kami ?"

"Aaah... Gelang tersebut tidak lebih cuma gelang kemala biasa saja..."

"Kami toh cuma ingin melihatnya sebentar, memangnya nona kuatir kalau kami akan merebutnya setelah melihat gelang tersebut ?" 

"Bukan, bukan begitu, gelang kemala sudah kusimpan dalam kamar, tapi jika cheya ingin melihatnya, terpaksa aku harus kembali ke kamar untuk mengambilnya" "Kalau begitu merepotkan nona untuk mengambilnya sebentar!"

Siau po cha memandang sekejap ke arah Tong Thian hong, kemudian dengan perasaan apa boleh buat terpaksa bangkit berdiri, katanya: "Kalau memang che-ya bersikeras ingin melihatnya, terpaksa aku akan pergi untuk mengambilnya"

Pelan-pelan dia berjalan keluar dari ruangan. Tong Thian hong dengan melalui jendela mengawasi bayangan tubuh Siau po cha sehingga lenyap di sudut ruangan sana, kemudian ia baru berpaling dan memandang sekejap ke arah Buyung Im seng, katanya: "Kalian berdua tentu merasa heran bukan? apa sebabnya aku bersikeras menyuruh siau po cha kembali ke kamarnya untuk mengambil gelang kemala tersebut ?"

"Betul siaute merasa keheranan"

"Siaute yakin Thia toa koan jiu tiu pasti belum pergi... " ujar Tong Thian hong. "Oooh... rupanya kau sedang cemburu!" sela Siau ling-ling sambil tertawa cekikikan.

Dengan cepat Tong Thian hong menggelengkan kepalanya berulang kali "bukan, aku tidak cemburu, aku hanya ingin membuktikan saja sebetulnya siapakah Siau po cha tersebut."

"Bagaimana cara pembuktiannya?"

"Aku percaya didalam kamar tidur siau po cha tentu tersimpan banyak sekali rahasia, harap kalian tunggu sebentar di sini, aku akan mengintip sebentar ke situ."

Tidak menunggu jawaban dari kedua orang itu lagi, dia lantas beranjak dan meninggalkan ruangan.

Dengan suara lirih siau ling-ling lantas berbisik: "Kongcu sudah ingat tempat pertemuan dengan pangcu kami malam nanti ?"

"Tempatnya sih sudah teringat" jawab Buyung Im seng. "tapi dimanakah letak Giok pay hong tersebut?"

"Lima lie di sebelah utara kota" Mendadak ia merendahkan suaranya, kemudian melanjutkan.

"Bila kongcu pergi seorang diri, hal ini jauh lebih baik lagi"

"Kenapa? apakah dalam surat perintahnya pangcu kalian juga menerangkan tentang soal ini"

"Sekalipun tidak diterangkan, tapi aku dapat merasakan bila kejadian ini merupakan suatu rahasia besar, maka makin sedikit yang tahu semakin baik, bagaimana menurut pendapat kongcu?"

"teori tersebut memang benar, tapi saudara che itu bukan orang luar, baiklah sampai waktunya nanti aku baru mempertimbangkan lagi usulmu itu" 

Siau ling-ling termenung dan berpikir sebentar, kemudian tanyanya lagi: "sekarang kongcu tinggal dimana?"

"Di rumah penginapan Li ji hek!" Kembali siau ling-ling termenung beberapa saat lamanya, kemudian ia berkata.

"aku mempunyai suatu usul yang mungkin bisa memberi kesempatan kepada kongcu untuk berangkat memenuhi janji seorang diri tanpa menimbulkan curiga temanmu itu.

"Apa usulmu itu ?"

"Lebih baik kalian menginap di sini "

"Menginap di sini ?" seru Buyung Im seng tertegun.

"Benar, bila chee ya tinggal di sini maka selain dia bisa mengawasi gerak gerik diri au pho cha, kaupun bisa memperoleh kesempatan untuk pergi memenuhi janji seorang diri bukankah cara ini sama halnya dengan sekali timpuk mendapatkan dua hasil ?"

"Tapi antara lelaki dan perempuan ada batasnya, mana boleh aku berdiam dalam sekamar denganmu ?"

"Asal hati kita suci bersih, sekalipun tinggal dalam sekamar apalah salahnya ?" "Betul juga perkataan ini" pikir Buyung Im seng, asal aku berniat untuk menginap di sini tentu saja aku bisa pergi memenuhi janji tersebut seorang diri.

Berpikir sampai di situ, dia lantas berkata: "Masalah ini sulit untuk diambil keputusannya dengan begitu saja, bagaimana kalau dirundingkan dulu dengan saudara Che, kemudian baru memberi jawaban kepada nona ?"

Siau Ling-ling segera tersenyum.

"Baik ! aku tak lebih cuma memberi usul saja" katanya, "soal bagaimana keputusanmu, terserah kepada kongcu sendiri yang mengambil keputusan... " Terdengar suara langkah kaki berkumandang datang, menyusul kemudian tampak Tong Thian hong dan Siau poo cha muncul sambil bergandengan tangan... Kalau dilihat dari wajah mereka yang berseri, tampaknya sedang gembira, jelas tiada sesuatu bentrokan yang tak menyenangkan telah terjadi.

Kenyataan ini sangat mencengangkan Buyung Im seng, diam diam pikirnya dihati. kalau bukan diantara mereka terdapat kecocokan satu sama lainnya, jelas menunjukkan kalau Siau po cha juga seorang manusia lihay yang pandai sekali menguasai perasaan.

Berpikir demikian, segera tanyanya sambil tertawa: "Nona, sudahkah kau temukan gelang kemala itu ?" Siau Po che segera tertawa: "Aku tahu che-ya adalah seorang lelaki yang satu tak akan menjadi dua, bila gelang kemala tersebut tidak ditemukan, mana mungkin dia mau sudahi dengan begitu saja ?"

"Yaa memang begitulah watakku harap nona sudi memaafkan" kata Tong Thiang hong sambil tertawa. 

"Aku pikir gelang kemala tersebut sudah pasti adalah suatu benda yang luar biasa sekali dapatkah kau mengeluarkannya agar akupun bisa turut membuka mataku ?" pinta Buyung Im seng.

"Bila Im-ya ingin melihat, masa aku berani menampik?"

Dari sakunya dia lantas mengeluarkan sebuah gelang kemala hijau dan diangsurkan ke depan Buyung Im seng segera menyambut dan diperiksanya sebentar, ia merasa selain warnanya memang indah, tiada sesuatu yang mencurigakan dengan benda itu, maka sambil mengangsurkan kembali gelang kemala tersebut kepada pemiliknya dia berkata sambil tertawa: "Suatu batu kemala yang indah, gelang kemala yang indah sekali..." karena dia tak tahu apa yang musti diucapkan lebih lanjut maka setelah mengucapkan kata-kata tersebut, diapun membungkam.

Setelah menerima kembali gelang kemala tadi, Siau Po-cha memasukkannya ke dalam saku. kemudian katanya: "Im-ya terlalu memuji!"

Dalam pada itu, Buyung Im seng merasa makin dilihat Siau Po Cha semakin mencurigakan, dalam hati kecilnya dia lantas berpikir; "Kalau toh pihak Li-ji pang bisa mengutus anak buahnya untuk menyelundup ke dalam rumah pelacuran, kenapa tidak pula dengan pihak Sam seng bun ? lebih baik ku usulkan saja untuk menginap di sini coba lihat bagaimana reaksinya"

Berpikir sampai di situ, pelan-pelan dia lantas berkata: "Saudara Che, siaute ingin menginap di sini malam nanti, entah bagaimana pendapat saudara Che?" Dengan cepat siau po cha menyela: "Im-ya, maafkan aku kalau banyak bicara!" "Nah, betul juga, ada reaksi dirinya..." Pikir Buyung Im seng segera diam-diam.

Sambil tersenyum dia lantas berkata: "Nona ada urusan apa ? silahkan diutarakan saja!"

Siau po cha memandang sekejap ke arah Siau ling-ling, kemudian ujarnya: "Padahal aku berbicara demikian hanya mewakili nona Siau ling-ling saja... Im-ya tahukah kau apa maksud yang sebenarnya dari nona ling-ling ketika memperhatikan tanda tahi lalat Siau kiong sah tersebut tadi ?"

"Aku tidak tahu !"

"Im-ya jarang sekali melakukan kunjungan ke rumah hiburan semacam ini, tentu saja kau pun tak tahu seluk beluknya. Ketika dia memperhatikan tahi lalat Siau kiong sahnya tadi, sesungguhnya dia hendak menerangkan bahwa dia masih seorang perawan, maka bila Im-ya ingin menginap di sini. aku kuatir nona ling-ling tak bisa melayani dirimu."

Siau ling-ling menyambung dengan suara lirih: "hidup dalam dunia hiburan seperti ini, siau-moay pikir tak bisa mempertahankan kesucian tubuhku terus menerus... " "Aaah... kalau begitu kau telah mengambil keputusan untuk mempersembahkan kesucian tubuhmu itu untuk Im-toya?" seru Siau po-cha agak terperanjat.

Merah padam selembar wajah Siau ling-ling setelah mendengar perkataan itu, sambil menundukkan kepalanya dia berbisik. "Salahkah perbuatan siaumoay ini ?" 

Siau po cha segera mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap ke arah Buyung Im seng, kemudian katanya: "Im Toya memang seorang yang tampan dan bermanis budi, cici merasa kagum sekali dengan ketajaman matamu, cuma Im toya ialah seorang yang sangat repot, besok tentu akan berburu buru meninggalkan tempat ini." Dalam pembicaraan tersebut, ia selalu berusaha untuk menghindari kata menolak, sekali pun maksud dari ucapannya tersebut jelas berusaha menghindarkan diri dari kejadian itu.

Siau ling-ling segera menghela napas panjang, katanya: "Sekalipun dalam rumah pelacuran ini penuh dengan manusia yang berlalu lalang, tapi siau moay belum pernah..."

Diam-diam dia melirik sekejap ke arah Buyung Im seng, kemudian menundukkan kepalanya dan tidak berbicara lagi.

Pandai benar dia bersikap pura-pura, lagaknya waktu itu persis seperti seorang gadis yang sedang merasa malu sekali.

Tiba tiba Siau po cha tersenyum, katanya: "Aaai... hal ini memang tak bisa menyalahkan dirimu, manusia yang gagah dan tampan seperti Im Toaya, jangan toh jarang sekali dijumpai dalam tempat kita ini, sekalipun kongcu dari keturunan

kenamaan juga belum tentu ada beberapa orang yang sanggup menandinginya, kita cici dan adik cuma orang yang bernasib jelek, cepat atau lambat akan terlantar juga akhirnya, bisa memilih kekasih yang dicintai untuk mempersembahkan kesucian tubuhnya, sesungguhnya kejadian itu memang merupakan suatu hiburan ditengah kesengsaraan"

Dengan cepat Buyung Im seng dapat menangkap kalau suara pembicaraan perempuan itu telah berubah, nada mulanya dia masih berusaha untuk menampik, tapi sekarang telah menyetujuinya, maka tanpa terasa diapun lantas berpikir. "Pandai benar budak ini mengalihkan pembicaraannya menuruti keadaan, entah apa masuknya dia bersikap demikian ?"

Sementara itu Siau Po-cha telah berkata lagi: "Tadi sewaktu adik Ling-ling memperlihatkan tahi lalat Siu kiong sah di lenganmu itu, cici sudah merasa keheranan, tapi sekarang kalau dipikir kembali, dapat ditarik kesimpulan bahwa sedari tadi adik Ling-ling sudah mengambil keputusan untuk mempersembahkan kesucian tubuhnya"

"Cici memang amat cantik, cuma waktu itu siaumoay merasa takut jika Im-ya tidak memandang sebelah matapun kepadaku, maka aku tak berani mengatakannya secara terus terang"

"Kenapa? Apakah sekarang semuanya telah beres ?"

"Yaa, untung saja Im-ya tidak menampik diriku dan bersedia untuk menginap di sini !"

"Kalau begitu, malam ini cici tentu akan kebagian secawan arak kegirangan, akan kusuruh mama untuk menyiapkan perjamuan besar, mengundang rombongan pemusik dan kita meramaikan bersama sama secara meriah sekali.." 

Terkejut sekali Buyung Im seng setelah mendengar perkataan itu, pikirnya: "Kalau sampai dibuat meriah dengan apa yang diucapkan itu, kendatipun hubunganku dengannya masih suci bersih, tapi jika sampai tersiar sampai ditempat luaran, sudah pasti akan menodai juga nama baikku maupun nama baiknya"

Terdengar Siau Ling-ling telah berkata: "Enci Cha juga tahu, siaumoay bukan dalam waktu pendek berdiam di sini, dengan caraku yang lihay bukan saja berhasil mengelabuhi semua rekan-rekan yang lain, sekalipun Mama juga ku tipu mentahmentah, coba kalau tadi siaumoay tidak memperlihatkan tahi lalat Siukiong sah ku itu, mungkin cici sendiripun tak akan mengetahui akan rahasia ini..."

Siau Po-cha cuma tersenyum dan tidak berkata lagi.

Terdengar Siau Ling-ling berkata lebih jauh: "Oleh karena itu, Siaumoay tak ingin kejadian ini sampai tersiar di tempat luaran, asal persoalan ini diketahui oleh Imya dan cici, hal ini sudah lebih dari cukup"

"Apakah kejadian ini tak akan merugikan diri adik Ling ?"

"Asalkan siaumoay bersedia dengan hati yang gembira, tentu saja tak akan merugikan diriku, cuma, hal ini musti memohon bantuan dari cici... "

"Kalian akan menjadi pengantin baru, apa pula bantuan yang bisa diberikan aku si orang ini"

"Aku minta enci Cha suka tinggal pula di sini untuk menemani Che toaya..." Siau Po-cha segera mengerutkan dahinya kencang-kencang, katanya: "Hari ini aku tak bisa membantumu !"

"Haai... kita kan sesama saudara, lagi pula selama ini siaumoay belum pernah meminta bantuan cici, sungguh tak disangka baru pertama kali membuka suara... " "Adik Ling, kita berdua sama-sama adalah perempuan, kini cici tak lebih hanya seorang perempuan yang tidak suci bersih lagi, dapat menerima tamu semacam Che toaya sudah merupakan suatu kebanggaan bagiku, tapi hari ini justru aku tak

bisa."

"Kalau memang begitu, siaumoay merasa tak leluasa untuk memaksamu lagi..." kata siau ling-ling dengan kening berkerut.

Selama ini Tong Thian hong cuma berdiri tenang disamping dengan senyuman dikulum dan sepatah katapun tidak berbicara, dalam hati kecilnya ia telah menduga kemungkinan besar hal ini merupakan rencana yang telah dipersiapkan oleh Buyung Im seng dan Siau Ling-ling karena itu meski ditolak oleh Siau Po cha, dia sama sekali tidak menjadi gusar, sebaliknya malah tenang saja tidak terjadi perubahan paras-paras mukanya itu.

Walaupun di luar mereka berbicara sesuatu yang tidak penting, padahal masingmasing pihak sedang mempergunakan kecerdasannya untuk beradu otak.

Tampak Tong Thian hong mengangkat cawannya dan meneguk habis isinya, kemudian katanya sambil tersenyum: "Aku mah merupakan seorang yang sudah sering kali masuk keluar rumah penghiburan semacam ini, peraturan tempat inipun sudah cukup kuketahui, apa lagi perempuan yang termasyhur seperti nona Siau Po cha, bila aku yang menjadi tamu baru ingin menginap di sini dalam 

pertemuan pertamanya, sesungguhnya hal ini merupakan suatu tindakan yang sedikit tak tahu diri."

"Khe-ya, mengapa kau mesti berkata begitu ? Lewat dua atau tiga hari lagi dengan segala senang hati aku pasti akan menyambut kedatangan Che-ya untuk menginap di sini. Tong Thian hong segera tersenyum: "Kalau begitu nona memang tiada bermaksud untuk menjauhi diri aku orang she Che"

"Aaaah, perkataan Che-ya terlampau serius seru Siau Po Cha sambil tertawa, bila che-ya bersedia menebus diriku, sampai mati aku pasti akan mengikuti kemana saja aku pergi"

"Aaaai... susah-susah... setelah mendengar perkataan dari nona itu, aku merasa benar-benar tak ingin pergi. Tapi tak mungkin bagiku pada malam ini, aku... !" (Bersambung ke jilid 7)
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Lembah Tiga Malaikat Jilid 06"

Post a Comment

close