Lembah Tiga Malaikat Jilid 04

Mode Malam
Jilid 4

“Pangcu kami!”

“Kau dari perkumpulan Li-ji-pang (Perkumpulan putri-putri)?” bisik pemuda itu. “Benar!”

“Darimana pangcu kalian bisa tahu kalau aku akan datang kemari?”

“Ia tidak tahu, tapi sejak beberapa bulan berselang budak mendapat perintah rahasia untuk memperhatikan Buyung kongcu, apabila kau mendapat bahaya maka budak harus berusaha untuk memberi pertolongan.”

“Kalau begitu, nona juga menyelundup kedalam Sam-seng bun sebagai mata-mata?” Ciu Peng segera mengangguk.

“Budak sudah lima tahun bercokol di tempat ini, bahkan mendapat kepercayaan penuh dari nona Im, seandainya bukan menghadapi urusan penting, pangcu tidak memperkenankan budak untuk mencapurinya, dari pada rahasiaku ketahuan.” “Nona mempunyai bukti apa yang menunjukkan bahwa kau benar-benar anggota perkumpulan Li-ji-pang?” tanya Tong Thian hong.

BAGIAN KELIMA

“Sukar untuk dibuktikan, sekalipun bisa kubuktikan belum tentu kalian mengerti, bila aku orang Sam-seng-bun, apalagi setelah menaruh curiga kepada kalian berdua, tidak nanti akan kudatangi tempat ini seorang diri untuk menyerempet bahaya, persoalan ini pasti akan kulaporkan kepada nona lebih dulu.”

“Nona pernah berjumpa dengan pancu kalian?” pelan-pelang Buyung Im seng bertanya.

“Kedudukanmu didalam perkumpulan tidak rendah, kenapa belum pernah berjumpa dengan pangcu?” 

“Ehmm… bagaimana wajah pangcu kalian?”

“Ciu Peng segera tersenyum. Ia sebentar jelek sebentar cantik, wajahnya susah diikuti”, Buyung kongcu bertanya begini kepadaku, apakah kau pernah berjumpa dengan pangcu kami..? ia berpikir dalam hati.

“Betul, aku memang pernah bersua dengan pangcu kalian.”

“Apa saja yang pernah pangcu bicarakan denganmu?” tanya Ciu Peng tersenyum. “Dia mengajarkan kepadaku agar mau bekerja sama dengannya, tapi aku belum menyanggupinya.”

Ciu Peng termenung sejenak, kemudian katanya sambil tertawa. “Aku tak dapat berdiam terlalu lama disini, semoga kalian berdua baik-baik menjaga diri, budak akan pergi dulu.”

Seusai berkata dia lantas membalikan badan dan beranjak meninggalkan tempat itu.

Dengan termangu-mangu Buyung Im seng dan Thian hong memperhatikan bayangan punggung Ciu Peng hingga lenyap dari pandangan mata jauh didepan sana.

Tong Thian hong segera berbisik kepada Buyung Im seng. “Saudara Buyung, bisa dipercayakah orang itu?”

“Apa yang dikatakannya memang benar semua, aku rasa tak mungkin ada persoalan.”

“Kalau orang tidak memikir jauh kedepan tentu ada kesedihan didepan mata, jika budak itu menipu kita sehingga membocorkan rahasia kita berdua, apa yang saudara Buyung siap lakukan?”

“Bila keadaan terlalu mendesak, terpaksa aku akan bertarung melawan mereka.” “Benar! Kita boleh menggunakan kesempatan ini untuk melenyapkan kantor cabang mereka dan melakukan pembunuhan secara besar-besaran.”

“Baik! Sampai waktunya kita boleh menghadapi menuruti situasi waktu itu.” Setelah merundingkan cara yag paling baik untuk mengatasi keadaan, perasaan mereka berdua malah menjadi lega, maka merekapun memejamkan mata untuk mengatur pernapasan.

Lebih kuran sepertanak nasi kemudian, Ciu Peng dengan membawa dua orang pelayan datang menghidangkan sayur dan arak.

Ciu Peng memandang kearah mereka berdua, lalu bisiknya. “Kalian boleh bersantap dengan lega hati.”

Kemudian dengan membawa kedua orang itu berlalu dari ruangan tersebut. Sepeninggal dayang itu, Tong Thian Hong mendehem pelan, lalu katanya lirih, “Saudara Buyung, biar siaute mencicipi lebih dulu hidangan ini, jika ada racunnya, maka saudara Buyung tak usah makan.”

“Tidak, lebih baik aku yang makan dulu.” 

Mereka berdua segera turun tangan bersama melahap hidangan itu, setelah bersantap kedua orang itu baru salaing berpandangan dan tertawa geli.

Setengah harian lewat dengan cepatnya.

Mendekati malam harinya, Ciu Peng mucul kembali dalam ruangan rahasia itu sambil berbisik.

“Congcu kami telah pulang!”

“Lihaikah ilmu silat yang dimiliki cengcu kalian itu?” tanya Tong Thian hong.

“Ya, kungfunya sangat lihai, bukan cuma tinggi saja kepandaiannya bahkan cerdik, licik dan banyak tipu muslihatnya, harap kalian suka bertindak berhati-hati.” “Bagiamana berhati-hatinya?”

“Aku rasa malam nanti kalian berdua pasti akan melakukan sesuatu tindakan, kuanjurkan kepada kalian lebih baik jangan sembarangan bergerak…”

Tong Thian Hong dan Buyung Im seng saling berpandangan sekejap, dalam hati kecilnya mereka berpikir bersama.

“Cerdik betul budak ini!”

Tidak mendengar jawaban dari kedua orang itu, sambil tertawa ewa kembali Ciu Peng berkata.

“Apa yang ingin berdua ketahui, aku dapat memberitahukan kepada kalian, dan aku rasa kalian tak usah menyerempet bahaya dengan percuma.”

“Kami ingin mengetahui letak Sam seng tong, apakah nona tahu letak tempat itu?” tanya Tong Thian hong.

“Waah.. baru pertanyaan yang pertama saja aku sudah dibikin kesulitan untuk menjawab.” seru Ciu Peng sambil menghela napas. “Sudah banyak tahun aku tinggal disini, banyak sudah yang kuketahui tentang perkampungan itu, tapi aku tak pernah berhasil mengetahui letak Sam seng tong mereka, pangcu kami pun berunlang kali mengajukan pertanyaan ini, tapi aku selalu gagal untuk memberi jawaban.”

“Menurut apa yang kuketahui, agaknya Sam seng tong terletak dibukit Tay hu san apa benar?”

“Tempo dulu akupun berpendapat demikian, tapi setelah memulai penyelidikan seksama kutemukan bahwa Sam seng tong agaknya bukan berada dibukit Tay hu san, seandainya diatas bukit iut benar-benar terdapat Sam seng tong maka jelas tempat itu merupkan sebuah perangkap untuk menjebak orang.”

Tong Thian hong termenung sejenak lalu bertanya lagi.

“Apakah kedudukan cengcu dari perkampungan ini di dalam perkumpulan Sam seng tong?”

“Salah seorang dari Sam toa tongcu, menurut kalian bagaimana kedudukannya? Mungkin selain ketiga malaikat Sam seng, kedudukan mereka berada diurutan kedua.” 

“Aku ingin bertanya lagi pada nona,” sambung Buyung Im seng, yang dimaksudkan sebagai Sam seng bun (perguruan tiga malaikat) tentunya diselenggarakan oleh tiga orang, apakah nona juga mengetahui siapakah nama mereka?”

“Kalian berdua benar-benar sangat lihai, pertanyaan kedua kembali membuatku sukar menjawab, kalau didengar nama perguruannya, semestinya perkumpulan itu dipimpin tiga orang, tapi benarkah begitu, mungkin hanya beberapa orang saja bisa menjawab.”

“Dengan kedudukan cengcu dari perkampungan ini apakah diapun tidak tahu?” desak Buyung Im seng.

“Aku tak dapat bertanya kepadanya, dia sendiripun tak akan membicarakannya, dari mana aku bisa tahu?”

“Selama banyak tahun ini, apakah nona pernah berhasil menemukan sebuah titik terang?”

“Tidak!”

Buyung Im seng merenung sebentar, kemudian tanya lagi. “Apakah tuan rumah ditempat ini seringkali berada dirumah?”

“Yang membuat orang tidak habis mengerti justru terletak disini, dia sebagai seorang tongcu yang berkedudukan tinggi, seharusnya sering berada dalam ruangan Sam seng tong tapi di dalam kenyataannya dalam satu tahun ada setengah tahun dia berada dirumah.

“Benarkah demikian?”

“Benar! Selama beberapa tahun ini diam-diam budak berusaha untuk menyelidikinya, akan tetapi aku tak pernah berhasil untuk menemukan dimana letak alasannya.”

“Mungkin mereka mempunyai cara lain untuk mengadakan pertemuan.” sela Tong Thian hong.

“Benar, cuma saja kami tak punya akal yang baik untuk menyelidiki persoalan ini sejelasnya.”

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan: “Cuma, aku tahu mereka seringkali berhubungan surat dengan melalui merpati pos.”

“Aku dengar Sam seng bun memang amat ahli didalam menggunakan merpati pos, tampaknya kita haru turung tangan lewat hal tersebut.”

“Baik! Pembicaraan kali ini sampai disini dulu, aku tak bisa berdiam terlalu lama disini, semoga kalian berdua baik-baik menjaga diri, akupun berharap kalian mau percaya dengan perkataan budak, jangan sembarangan melakukan gerakan, mungkin kalian tepat sekali kedatangan untuk ikut menyaksikan suatau keramaian.”

“Keramaian apa?”

“Sekarang aku sendiripun kurang jelas!” seusai berkata nona itu segera beranjak pergi. 

Sepeninggal dayang itu, Tong Thian hong berkata lirih.

“Walaupun Ciu Peng hanya berkedudukan sebagai dayang, tapi dia adalah seorang manusia yang amat cerdas dengan pikiran yang cermat, kita tak boleh bersikap terlalu pandang enteng terhadap dirinya.”

“Dia mengakui sendiri kalau kedudukannya dalam perkumpulan Li ji pang tidak rendah kelihatannya ucapan tersebut bukan kata-kata bualan belaka.”

“Ia bilang kedatangan kita mungkin bertepatan dengan akan terjadinya suatu keramaian entah apa yang dia maksudkan?”

Mungkin apa saja pada malam nanti ada orang yang akan datang menyatroni tempat ini?

“Yang membuat kita tak habis mengerti kecuali kita, masih ada siapa lagi yang bernai memusuhi orang-orang Sam seng bun?”

“Soal ini mah sulit untuk dibicarakan, bukankah orang-orang yang ingin menolong kita ditengah jalan kemarin adalah musuh-musuh dari Sam Seng bun? Mereka juga memusuhi pihak Sam seng bun, cuma saja tak berani memperlihatkan nama serta kedudukan yang sebenarnya.”

Tong Thian hong termenung sejenak, lalu katanya, “Benar juga perbatasan saudara Buyung kalau toh Ciu Peng tidak memperkenankan kita melakukan suatu gerakan pada malam ini, mugkin saja ia telah memperoleh sesuatu kabar berita penting.

Tampaknya mau tak mau kita harus menuruti juga perkataanya itu…” Kata Buyung Im seng.

Setelah berunding sebentar, mereka berdua lantas memutuskan untuk menuruti anjuran Ciu Peng dan berdiam saja dalam kamar sambil menanti terjadinya perkembangan selanjutnya.

Mereka berdua lantas duduk bersila diatas pembaringan sambil mengatur pernapasan.

Kentongan kedua sudah lewat, akan tetapi tidak juga terjadi sesuatu peristiwa, Tong Thian hong mulai agak tak sabar lagi, dengan suara lirih segera bisiknya. “Saudara Buyung mungkin berita yang diperoleh Ciu Peng belum tentu benar, kau berjaga-jagalah dalam ruangan ini, bagaimana kalau aku keluar untuk melakukan pemeriksaan?”

“Lebih baik tunggu saja sebentar lagi, jika selewatnya kentongan kedua belum terjadi sesuatu juga, saudara Tong baru keluar mencari keterangan.” Barus selesai dia berkata, mendadak terdengar suara desingan angin tajam mendesis diluar ruangan.

Tong Thian hong segera bangkit berdiri sambil berbisik: “Kau memeriksa dari depan jendela, akan kulihat keadaan dari tepi pintu.”

Buyung Im seng segera bangkit berdiri dan melongok keluar dari daun jendela. Tampak sesosok bayangan manusia secepat sambaran kilat meluncur keluar dari balik gunung gunungan dan melayang ke bawah, lalu melompat kesuatu tempat yang tak jauh dari ruang kecil itu. 

Orang itu memakai baju serba hitam dengan wajahpun dibungkus kain hitam, hanya sepasang matanya saja yang tampak, ia bersenjata sebilah pedang. Malam itu adalah malam yang tak berbulan, dibawah cahaya bintang secara lamat-lamat masih dapat terlihat pemandangan diluar ruangan tersebut.

Buyung Im seng menyaksikan orang itu hanya berada lebih kurang satu kaki dari ruangan mereka berada, dengan cepat dia menutup semua pernapasannya. Tibatiba terdengar suara teguran dingin berkumandang dari balik bangunan beberapa kaki didepan sana.

“Lepaskan senjatamu!”

Mendengar teguran tersebut, Buyung Im seng menjadi tertegun, segera pikirnya. “Sepintas lalu kebun bunga ini tampak tenang dan sepi, ternyata dibalik aneka bunga tersebut telah dipersiapkan penjagaan yang sangat ketat, sungguh sesuatu yang diluar dugaan.” 

Sementara itu, orang berbaju hitam itu tidak menjawab, tiba-tiba ia menghimpun tenaganya dan melompat kedepan, kemudian melayang naik keatas ruangan kecil itu.

Pada saat yang bersamaan ketika orang berbaju hitam itu melayang naik keatap atap, dua batang anak panah dengan membawa desingan angin tajam telah menyambar.

“Plook! plook!” dua batang anak panah itu segera ditangkis oleh ayunan pedang orang berbaju hitam itu sehingga rontok ke bawah.

Dari tempat Buyung Im Seng berada sekarang, sulit baginya untuk melihat keadaan diatas atap rumah, tapi berdasarkan ketajaman pendengarannya ia tahu dengan pasti bahwa orang berbaju hitam itu sudah melayang turun di atas atap rumah.

Tampaklah dari balik bebungaan didepan sana, segera melayang keluar dua sosok bayangan manusia yang segera menerjang kearah ruangan kecil itu.

Baru saja Buyung Im Seng akan duduk, mendadak… “Blaamm!” pintu kamar itu diterjang orang sehingga terpentang lebar. Pada saat yang bersamaan ketika pintu itu ditendang orang, dengan suatu gerakan yang sangat cepat Buyung Im Seng menjatuhkan diri berbaring diatas ranjang.

Ketika Buyung Im Seng menengok kesamping maka tampaklah orang berkerudung itu sudah menerjang masuk kedalam ruangan dengan langkah lebar, kemudian menutup kembali pintu ruangan.

Buyung Im Seng kembali berpikir, “Dengan menghindarkan diri masuk kedalam ruangan ini bukankah orang itu justru telah membawa dirinya masuk perangkap? Entah apa maksudnya?”

Agaknya manusia berkerudung itu hanya memperhatikan musuh yang ada diluar, ia tidak menyangka kalau dalam ruangan masih ada orang lain, dengan bersandar dinding dan menggigit pedangnya dia menggerakkan tangan kanannya untuk mencabut keluar sebilah anak panah yang menancap dilengan kirinya. 

Kemudian dengan cepat tangan kanannya merogoh kedalam saku mengeluarkan secarik sapu tangan untuk membalut lukanya itu.

Ternyata manusia berbaju hitam berkerudung itu telah terluka oleh bidikan panah. Tiba-tiba Buyung Im Seng teringat dengan Tong Thian hong yang masih berada didepan pintu, entah waktu itu dia menyembunyikan diri dimana?

Dengan sorot mata tajam dia mencoba untuk mengawasi sekeliling tempat itu, akan tetapi bagaimanapun ia mencoba, tempat persembunyian Tong Thian hong belum juga diketemukan.

Ia sudah amat lama berada dikamar gelap sinar matanya waktu itu sudah terbiasa dengan keadaan gelap, maka pandangan disekitar tempat itu bisa terlihat olehnya dengan jelas.

Terdengar serentetan suara yang dingin berkumandang datang dari luar ruangan itu.

“Ruang kecil itu adalah sebuah tempat terpencil, kau sudah tidak ada kesempatan untuk hidup lebih jauh, jika bersedia untuk melepaskan pedang dan menyerahkan diri, mungkin selembar jiwamu masih dapat diampuni.”

Dengan suatu gerakan cepat manusia berkerudung itu membungkus lukanya, kemudian sambil memegang pedanganya tiba-tiba ia melompat maju ketempat pembaringan.

Pedangnya segera ditodongkan diatas dada Buyung Im Seng, bentaknya dengan suara lirih, “Bila kau berani berteriak, akan ku renggut nyawamu!”

“Bagus sekali!” pikir Buyung Im Seng, “rupanya ia telah melihat kehadiranku disini.”

Berpikir demikian ia lantas berkata.

“Sekeliling ruangan ini merupakan tanah kosong yang sangat luas…”

“Aku tahu, paling tidak kau dapat menemani aku untuk berangkat bersama ke akhirat.”

Buyung Im Seng lantas berpikir, “Entah siapa saja orang ini dengan keberaniannya untuk menyelidiki perkampungan ini, hal tersebut menunjukkan kalau dia berani pula memusuhi pihak Sam seng bun, aku harus membantunya secara diam-diam, tapi… jika aku membantunya berarti rahasiaku akan ketahuan.”

Untuk sesaat lamanya dia menjadi serba salah, dan tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Tiba-tiba terdengar orang berbaju hitam itu membentak lagi. “Lepaskan pakaianmu!”

“Oh, rupanya dia hendak kabur dengan siasat coberet emas lepas kepompong, cara ini memang merupakan suatu cara yang baik untuk membantunya meloloskan

diri.”

Berpikir demikian, ia lantas mengiakan. “Baik!” 

Baru saja ia akan bangkit berdiri, mendadak terdengar seseorang berseru dengan suara nyaring: “Pasang lentera!”

Cahaya api memancar keempat penjutu, diluar ruang kecil itu segera muncul sebuah lentera. Menyusul kemudian pintu dibuka dan sorang manusia baju putih telah pelan-pelan berjalan masuk kedalam.

Buyung Im Seng segera mengalihkan sorot matanya kedepan, setelah mengetahui bahwa orang itu tak lain adalah manusia baju putih yang pernah dijumpainya ketika mereka pura-pura terluka dulu, dengan cepat ia berbaring tak berkutik.

Terdengar orang berbaju putih itu berkata dengan dingin. “Lepaskan senjata yang ada ditanganmu!”

Ditengah ucapannya yang dingin bagai es itu, membawa suatu kewibawaan yang membuat orang merasa tak bisa melawan, untuk sesaat lamanya orang berkerudung itu menjadai tertegun.

Sementara ia sedang tertegun itulah, mendadak orang berbaju putih itu melakukan suatu gerakan dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, tangan kanannya tibatiba mencengkram pergelangan tangan kiri orang berkerudung itu serta merampas pedangnya.

Diam-diam Buyung Im Seng merasa terkejut, pikirnya. “Cepat benar gerakan tangan orang ini!”

Rupanya orang berkerudung itu menyadari bahwa sulit baginya untuk meloloskan diri, mendadak ia menubruk dada orang berbaju putih itu dengan kepalanya.

Cara bertarung semacam ini adalah suatu siasat pertarungan beradu jiwa, apalagi jarak kedua belah pihak sangat dekat, orang itupun menyerang secara tidak terduga semestinya ancaman semacam itu sulit sekali untuk menghindari.

Tapi orang berbaju putih itu memang benar-benar memiliki kepandaian silat yang luar biasa sekali, tangan kanannya dengan enteng tapi cepat telah menyambut tumbukan batok kepala orang berkerudung itu, menyudul kemudian dengan suatu gerakan yang tak terduga dia menyambar cadar hitam yang menutupi wajah orang itu.

Beberapa buah perubahan itu terjadi amat cepat dan diluar dugaan orang, “Sreeet…!” terdengar suara mendesis, tahu-tahu kain cadar yang menutupi wajah orang berkerudung itu sudah tersambar lepas. Selama pertarungan antara orang berbaju putih melawan orang berkerudung itu berlangsung, tangan kirinya sama sekali tak bergerak, malah masih memegang lampu lentera seperti sediakala.

Kemampuannya yang tenang bagaikan bukit karang, bergerak secepat sambaran petir ini sungguh membuat Buyung Im Seng merasa terkejut bercampur kagum.

Tampak sekujur badan orang berbaju hitam itu mengejang keras, mendadak ia roboh terkapar diatas tanah dan tewas seketika itu juga. Ternyata diantara selasela gigi orang berbaju hitam itu telah dipersiapkan semacam obat racun yang bhebat sekali daya kerjanya, begitu keadaan tidak menguntungkan, racun itu segera digigit lalu ditelan kedalam mulut. 

Pelan-pelan orang berbaju putih itu membungkukkan badan untuk memeriksa dengusan napas dari orang berbaju hitam itu, setelah mendengus dingin, pelanpelan iapun bangkit kembali.

Sorot matanya segera dialihkan kearah wajah Buyung Im Seng, katanya dengan dingin, “Cukup lama kau berbincang-bincang dengannya?”

“Ya, senjatanya ditodongkan diatas dada hamba…” Buyung Im Seng menerangkan. Orang berbaju putih itu tertawa dingin.

“Hee… hee… hee.. kau takut mati?” jengeknya ketus.

“Ia sama sekali tidak bertanya apa-apa kepadaku, bila masalahnya penting, sekalipun hamba harus mati diujung pedangnya juga tidak akan hamba menjawab pertanyaannya.”

Orang berbaju putih itu kembali tertawa dingin, katanya. “Tentu saja, karena apa yang dia ketahui jauh lebih banyak daripada apa yang diketahui olehmu, maka dia tak usah bertanya-tanya lagi kepada dirimu..”

“Kenapa?” tanya Buyung Im Seng tertegun.

“Karena dia sendiripun juga anggota Sam seng bun!”

Buyung Im Seng segera berpura-pura menunjukkan perasaan tercengang bercampur tidak percaya, serunya. “Sungguhkah ini?”

Orang berbaju putih itu segera mendengus dingin. “Hmm…! Kurang ajar, kau sedang berbicara dengan siapa? Berani benar begitu kurang adat?”

Buyung Im Seng berusaha keras menekan hawa amarahnya yang sedang berkobar dalam hatinya, cepat dia berkata berulang kali.

“Hamba pantas mati, hamba pantas mati.”

Orang berbaju putih itu segera mengalihkan sinar matanya memperhatikan ruangan itu sekejap, kemudian tegurnya.

“Kemana perginya yang seorang lagi?”

Buyung Im Seng sendiripun merasa heran dan tak tahu dimanakah Tong Thian hong menyembunyikan diri, terpaksa ia menggelengkan kepalanya berulang kali. “Hamba tidak tahu!” sahutnya.

“Sebelum meninggalkan ruangan ini, apakah dia tidak memberitahukan dulu kepadamu?”

“Tidak, mungkin dia keluar ketika hamba sudah tertidur tadi!”

Orang berbaju putih itu tidak memperdulikan Buyung Im Seng lagi, sambil berpaling keluar ruangan, katanya.

“Seret keluar mayat ini!”

Seorang lelaki kekar berbaju ringkas segera masuk ke dalam dan membopong jenasah dari orang berbaju hitam itu keluar dari dalam ruangan.

Sesudah itu, orang berbaju putih itu baru mengalihkan sinar matanya kewajah Buyung Im Seng, tegurnya. 

“Kau kenal dengan Ong Thi-san?”

“Hamba kenal, didalam pertempuran waktu itu, Ong-ya mungkin berhasil lolos dari musibah.”

“Ya, dia, cuma terluka! Aku telah mengirim orang untuk membawanya kemari, besok mungkin dia sudah sampai disini.”

Sekalipun Buyung Im Seng merasa amat terperanjat setelah mendengar perkataan itu, tapi diatas wajahnya sama sekali tidak menunjukkan perubahan apa-apa, rasa kaget atau takut tidak pula melintas diatas wajahnya itu.

Orang berbaju putih itu gagal untuk menjumpai rasa takut diatas wajah Buyung Im Seng, maka segera gumamnya seorang diri.

“Setelah Ong Thi san tiba disini, maka rasa curiga dalam hatikupun bisa segera dibuktikan.”

Dari ucapan tersebut, jelaslah sudah persoalannya, tak bisa disangkal lagi terhadap kehadiran Buyung Im Seng serta Tong Thian hong orang berbaju putih itu selalu menaruh perasaan curiga. Tapi Buyung Im Seng berlagak seakan akan tidak memahami perkataan itu, dia cuma berbaring diatas ranjang dengan sikap yang sangat tenang sekali.

Tiba-tiba orang berbaju putih itu memutar badan berjalan keluar dari sana, ketika tiba di depan pintu, mendadak ia membalikan badan seraya berkata.

“Seandainya rekanmu itu masih bisa pulang dalam keadaan hidup, suruh dia baikbaik berada dalam ruangan, jangan lari kesana kemari secara sembarangan.” “Akan hamba ingat selalu!” Buyung Im Seng mengiakan.

Sambil menenteng lampu lentera, orang berbaju putih itu baru berlalu dengan langkah lebar.

Buyung Im Seng tahu bahwa ilmu silat yang dimiliki orang itu sangat lihai, tenaga dalamnya juga amat sempurna, ia sama sekali tak berani bertindak secara gegabah. Menanti orang berbaju putih itu sudah pergi jauh, dia baru bangkit berdiri dan dengan hati-hati sekali mendekati pintu serta melongok keluar. Tampaklah bayangan manusia secara lamat-lamat kelihatan dibalik semak belukar disekitar kebun bunga itu, jelas dalam kebun itu telah dipersiapkan kawanan jago yang tak sedikit jumlahnya.

Yang paling mengherankan Buyung Im Seng adalah ketidak munculan Tong Thian hong, dengan suara lirih lantas ia berteriak.

“Saudara Tong!”

“Ada apa?” suara rendah yang berat segera mengiakan.

Tong Thian hong menampakkan diri dengan melayang turun dari atas atap, rupanya dia telah menyembunyikan diri dibalik penyanggah ruangan.

“Sudah kau dengar apa yang dikatakan oleh Im tongcu tadi?” tanya Buyung Im Seng sambil tersenyum.

Tong Thian hong manggut manggut. “Ya. sudah kudengar semua!” 

“Rupanya selama ini dia selalu menaruh perasaan curiga terhadap kita berdua.” “Benar, itulah sebabnya siaute sengaja menyembunyikan diri agar hal mana mendatangkan pelbagai pikiran didalam benaknya.”

“Besok Ong Thi san sudah akan sampai disini, rahasia penyaruan kita sudah pasti akan terbongkar.”

“Itulah sebabnya, sebelum Ong Thi san sampai disini, kita harus melakukan pergerakan terlebih dahulu.”

“Tapi pergerakan macam apakah yang harus kita lakukan?”

“Itu yang akan saya rundingkan dengan saudara Buyung.” Mendengar perkataan itu, Buyung Im Seng lantas berpikir didalam hatinya.

“Tong Thian hong berpengalaman banyak dan berpengetahuan luas, diapun berotak tajam entah rencana apa lagi yang berhasil diperolehnya?” Berpikir sampai disitu, dia lantas berkata.

“Saudara Tong mempunyai rencana apa? Silahkan kau utarakan keluar, siaute pasti akan berusaha untuk melaksanakannya.”

Tong Thian hong segera tersenyum.

“Aaah, saudara Buyung terlalu sungkan.” katanya, “Akal yang siaute peroleh semuanya tak lebih adalah mencari untung dengan menyerempet bahaya, aku masih memohon banyak petunjuk dari saudara Buyung sendiri.”

“Situasi yang kita hadapi sekarang amat berbahaya sekali, kalau tidak mencoba menyerempet bahaya, rasanya memang tiada kemungkinan buat kita untuk meraih keuntungan.”

“Perkataan saudara Buyung memang tepat sekali, menurut siute, seandainya rahasia penyaruan kita tak bisa diperhatikan lagi, maka lebih baik kita buat keonaran saja ditempat ini.”

“Tapi keonaran yang macam apakah itu?”

“Barusan siaute sempat mengamati cara Im Hui merampas pedang ditangan orang berkerudung itu, kepandaian yang dipergunakan memang luar biasa sekali, andaikata kita musti bertarung dengannya satu gebrakan demi satu gebrakan, mungkin kita semua masih bukan tandingannya.”

“Ya, siaute pun berpendapat demikian.”

“Itulah sebabnya, jika kita ingin meraih kemenangan, maka kita berdua harus kerja sama.”

“Sekalipun kita berdua kerja sama, belum tentu bisa menandingi pula dirinya.” pikir Buyung Im Seng dihati.

Namun diluar ia berkata sambil tertawa. “Apakah kita berdua dapat menangkan dirinya?”

“Soal ini mah susah untuk dikatakan, sekalipun kita bisa menangkan dirinya, itupun menyerempek bahaya, menurut pendapatku, lebih baik saudara Buyung sengaja membeberkan sedikit masalah yang penting dikala bercakap cakap 

dengannya, sementara pikirannya bercabang, siaute akan turun tangan secara tibatiba, siapa tahu dengan mempergunakan siasat ini kita akan berhasil membekuknya.”

Buyung Im Seng kembali berpikir.

Meskipun tindakan semacam ini kurang mencerminkan kejujuran seseorang, tapi berbicara menurut keadaan yang terbentang saat ini, rasanya terpaksa kita harus berbuat begini, apalagi orang-orang Sam seng bun bukan manusia-manusia lurus yang berjiwa gagah.

Berpikir sampai disini, dia lantas mengangguk.

“Soal waktu adalah soal yang terpenting, saudara Tong mesti bertindak lebih berhati-hati.”

Tong Thian hong tersenyum.

“Seandainya seranganku tidak mengenakan sasaran, saudara Buyung harus turut melancarkan serangan kilat, tampaknya kita tak bisa berdiam terlalu lama lagi disini, itulah sebabnya kita musti menerjang keluar dari tempat ini.”

“Andaikata rahasia kita masih dapat dipertahankan, apakah kita pun harus bertindak demikian?”

“Andaikata Im Hui tidak menaruh curiga lagi terhadap kita atau seandainya situasi sudah bertambah lunak tentu saja kita tak perlu untuk turun tangan lagi.”

Selesai berunding, kedua orang itu merasa pikirannya bertambah terbuka, masingmasing lantas mengatur napas untuk bersemedi.

Ditengah semedi mereka, lamat-lamat dari tempat kejauhan sana mereka mendengar suara bentrokan senjata yang sedang berlangsung dengan sengitnya. “Ada pertempuran disana!” Tong Thian hong segera berbisik.

“Yaa, suara itu tampaknya berasal dari luar perkampungan ini, jaraknya amat jauh dari sini.”

“Mungkin itulah keramaian yang dimaksudkan nona Ciu Peng tadi, tapi orangorang itu sudah diluar perkampungan, Im Hui sendiripun tak ada kesempatan untuk menjumpai kita lantas pergi dengan terburu-buru, mungkin hal mana ada sangkut pautnya dengan persoalan ini.”

“Betul, Siaute sendiripun merasa heran, kalau Im Hui sudah tahu kalau salah seorang diantara kita sudah lenyap tak berbekas, tanpa menyelidiki keadaan yang sesungguhnya ia sudah pergi dengan terburu-buru, ternyata hal itu terpaksa dilakukan karena harus menghadapi serbuan musuh tangguh.”

Tiba-tiba Tong Thian hong melompat bangun seraya berseru.

“Tidak bisa begini terus, kita harus segera memberi kabar pada nona Ciu Peng.” “Im Hui tidak memeriksa soal ketidakhadiran Siaute hanya disebabkan dia harus segera menghadapi serbuan musuh, karena itu tiada kesempatan baginya untuk menghadapi kita berdua, tapi seandainya persoalan itu sudah selesai bila dugaan siaute tidak salah, sehabis mengundurkan musuh tangguh dia pasti akan balik lagi kemari, sekarang orang orang yang berada diluar ruangan sebagian ditujukan 

untuk pertahankan perkampungan, separuh lagi untuk mengawasi gerak gerik kita berdua.

“Tapi apa sangkut pautnya persoalan ini dengan nona Ciu Peng?” “Seandainya Ciu Peng benar-benar mata-mata Li-ji-peng yang sengaja

diselundupkan kemari, sesungguhnya dia adalah seorang pembatu yang sangat baik, kita tak boleh merusak posisi mata-mata ini, karenanya sebelum melakukan tindakan kita harus berunding lebih dulu dengannya.”

“Tapi, bagaimana cara kita kesana? Jangankan disekitar ruangan ini sudah dipersiapkan orang untuk melihat sikap kita hingga sulit buat kita untuk melakukan suatu pergerakan, sekalipun kita berhasil menghindari pengawasan

orang-orang itu, masakah ditengah malam buta begini kita harus memasuki kamar seorang nona untuk mencari dirinya…?”

“Aku lihat Im Hui adalah seorang yang cekatan dan pintar, otaknya penuh dengan akal muslihat serta sangat lihai, bila Ciu Peng tanpa persiapan bisa jadi rahasianya bakal ketahuan.”

“Kecuali Ciu Peng datang mencari kita, rasanya sulit buat kita untuk pergi meninggalkan tempat ini secara diam-diam.”

“Kenapa? Apakah saudara Tong bermaksud hendak pergi meninggalkan tempat ini?”

Bila kita tak dapat meninggalkan tempat ini sebelum Im Hui kembali kedalam perkampungan, mungkin suatu pertempuran sengit tak bisa dihindari lagi.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang datang, cepatcepat mereka berdua menutup mulut. Tong Thian hong segera berjalan kedepan pintu dan melongok keluar, dilihatnya ada seorang lelaki yang menyoren pedang panjang menempelkan telinganya diatas daun jendela dan berusaha untuk menyadap pembicaraan mereka.

Rupanya orang itu sudah mendengar suara pembicaraan mereka berdua, tapi lantaran jaraknya terlampau jauh sehingga tidak kedengaran apa yang sedang dibicarakan, maka diapun lantas berjalan mendekat.

Tong Thian hong segera mengetuk diatas pintu dua kali, lelaki itu segera mendorong pintu dan berjalan masuk dengan langkah lebar.

Tong Thian hong yang bersembunyi dibelakan pintu, dengan suatu gerakan cepat segera meloloskan pedang yang tersoren dipunggung lelaki itu, kemudian tangan kirinya ditempelkan diatas tubuhnya.

Mencabut pedang menempelkan tangan, hampir gerakan itu dilakukan bersamaan waktunya…

Mimpipun lelaki itu tidak menyangka kalau dua orang kusir kereta yang berada dalam ruangan itu sesungguhnya adalah jago persilatan yang berilmu tinggi, tanpa terasa ia menjadi tertegun.

Dengan suara dingin Tong Thian hong mengancam: “Bila kau sampai bersuara, segera kugetarkan jantungmu sampai putus…!” 

Belum lagi lelaki itu sempat menyaksikan keadaan dalam ruangan itu, senjatanya telah dilucuti dan jalan darahnya tertotok, maka segera tegurnya.

“Siapa kau?”

“Si pencabut nyawa!”

Hawa murninya segera dipancarkan lewat telapak tangannya, segulung angain pukulan yang sangat kuat segera menerjang keluar dan menggetar putus nati penting ditubuh lelaki itu.

Lelaki tersebut segera mendengus tertahan, darah kental meleleh keluar dari hidung dan mulutnya, selembar jiwanya pun segera melayang meninggalkan raganya.

Selesai membinasakan musuhnya, Tong Thian hong menyerahkan pedang rampasannya itu ketengah Buyung Im Seng, kemudian katanya.

“Saudara Buyung, ambillah senjata ini. Siaute akan pergi mencari sebilah lagi, jika Im Hui kembali kemari nanti, kita segera hajar dia bersama-sama.”

0OO0

BAGIAN ENAM

Buyung Im Seng tidak menjawab, sebaliknya segera berpikir. “Kedatanganku kemari adalah bertujuan untuk menyelidiki dimanakah letak

markas besar Lembah tiga malaikat, andaikata sampai bertarung melawan Im Hui bukankah tindakan semacam ini sama halnya dengan mengungkap rahasia sendiri?”

Ketika Tong Thian Hong tidak mendengar jawaban dari Buyung Im Seng, tahulah dia bahwa orang itu curiga maka katanya kemudian sambil tersenyum.

Seandainya dugaan siaute tidak salah, sedari permulaan Im Hui sudah tahu kalau kita adalah musuh yang mengajak menyelundup kemari, maka kedatangannya tadi kemari kalau bukan berniat untuk mencelakai kita, sudah pasti sedang berusaha untuk menyelidiki keadaan latar belakang kita berdua, ketidak munculan siaute

tadi rupanya telah menimbulkan kecurigaan pula dalam hatinya, kebetulan ada musuh yang menyerang tiba, maka hal mana membuat ia tak ada waktu untuk tetap tinggal disini guna menghadapi kita, tapi bila musuh sudah terpukul mundur nanti, aku yakin dia pasti akan datang kemari untuk menghadapi kita lebih dahulu…”

“Dengan susah payah kita datang kemari, bukankah perjalanan kita akan menjadi sia-sia belaka?”

“Walaupun kita sudah sampai disini, juga belum tentu bis mengetahui letak markas besar Lembah tiga malaikat!”

Sekalipun Buyung Im Seng kurang setuju dengan pendapat itu, namun dia sendiripun tidak banyak membantah lagi, terpaksa katanya kemudian, “Benar juga perkataan saudara Tong, kalau ada persiapan musibah baru akan terhindari.” Dengan suatu gerakan cepat mereka berdua menyembunyikan jenasah lelaki tadi, kebawah kolong ranjang. 

Kemudian berkatalah Tong Thian hong.

“Saudara Buyung mungkin kau masih belum terlalu percaya dengan perkataan siaute bukan?”

“Bukannya begitu, siaute hanya merasa sia-sia belaka perjalanan kita yang telah menyusup kemari dengan susah payah, seandainya setitik beritapun gagal ditemukan, apalagi kalau sampai bentrok secara kekerasan dengan mereka.” “Sebaliknya bila kita tanpa persiapan mungkin akan sulit sekali untuk pergi meninggalkan tempat ini.” Sementara Buyung Im Seng akan berbicara lagi, mendadak nampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat dan menerjang masuk kedalam ruangan itu.

Ternyata setelah lelaki tadi memasuki ruangan tersebut, ia tak merapatkan kembali pintu besar tersebut.

Sambil membalikan badan Tong Thian hong segera melancarkan sebuah pukulan, serunya.

“Siapa?”

Pendatang itu mengangkat tangan kanannya dan menyambut datangnya ancaman tersebut.

“Blamm!” suatu benturan keras segera mengema dalam ruangan itu dikala sepasang tangan mereka saling membentur.

“Aku adalah Ciu Peng!” suara lirih seorang perempuan segera berbisik disisi telinga mereka. Buru-buru Tong Thian hong menarik kembali serangannya seraya bertanya.

“Ada urusan?” “Yaa, ada!”

Tong Thian hong segera memusatkan perhatiannya untuk mendengarkan keterangan gadis itu, ketika sampai lama sekali Ciu Peng belum juga menyambung kata-katanya, tak tahan dia lantas bertanya:

“Mengapa tidak kau lanjutkan?” “Kau bukan Buyung kongcu!” “Aku berada disini!” Buyung Im Seng segera menyambung. Ciu Peng memang sangat teliti sampai ia mendengar suara tadi Buyung kongcu baru terusnya.

“Im tongcu telah mengetahui bahwa kalian adalah mata-mata yang khusus datang untuk menyelundup kemari, perintah telah diturunkan untuk mengawasi gerak gerik kalian lebih baik sebelum ia kembali kesini, berusahalah untuk kabur dari sini.”

“Terima kasih banyak atas pemberitaan nona.”

“Dewasa ini, penjagaan disekitar kebun amat lemah sekali, jika ingin kabur maka kaburlah sekarang juga, maaf aku masih ada urusan lain dan tak bisa menemani kau lebih lanjut.”

Seusai berkata, secepat kilat ia lantas beranjak dan meninggalkan tempat itu. Sepeninggal gadis itu, Buyung Im Seng baru memuji. 

“Saudara Tong, kau memang hebat sekali, ternyata dugaanmu tak meleset, sungguh membuat siaute merasa amat kagum.”

“Aaahh, terlalu memuji!”

Setelah berhenti sebentar, dia baru melanjutkan: “Persoalan paling penting yang harus kita putuskan sekarang adalah perlu tidak kita melangsungkan pertarungan melawan Im Hui?”

“Maksud saudara Tong?”

“Akan siaute terangkan untung ruginya, kemudian saudara Buyung memutuskan sendiri.”

“Siaute siap mendengarkan keterangan itu.”

“Bila kita menitik beratkan pada meloloskan diri saja, maka sekarang kita harus berangkat, biar Im Hui menebak sendiri indentitas kita, sebaliknya jika saudara Buyung enggan meninggalkan tempat ini dengan begitu saja, maka kita bikin keonaran disini dan bila perlu kita coba kepandaian dari Im Hui.”

“Menurut saudara Tong, bagaimana baiknya?”

“Im Hui sebagai seorang tongcu didalam perguruan Sam seng bun, sudah barang tentu terhitung juga salah seorang jago lihai didalam perguruan tersebut.”

“Betul!” Buyung Im Seng manggut manggut.

“Andaikata kita bertarung dengannya, entah menang entah kalah, paling tidak kita bisa menduga latar belakang dari perguruan Sam seng bun.”

Mendengar perkataan itu, Buyung Im Seng menjadi sangat tertarik segera serunya. “Baik! Bila saudara Tong mempunyai semangat demikian, mari kita mencoba sampai diman kehebatan dari Im Hui.”

“Cuma, ada suatu hal yang perlu saudara Buyung ingat!” “Soal apa?”

“Bila gelagat tidak menguntungkan, kita harus bekerja sama untuk menerjang keluar dari kepungan dan tak bertarung terus.”

“Baik, segala sesuatunya terserah pada keputusan saudara Tong.”

“Sekarang siaute akan memeriksa keadaan dulu disekitar kebun, sekalian akan kucari sebuah senjata lagi.”

Seusai berkata tubuhnya lantas berkelebat keluar dari ruangan tersebut… Memandang bayangan punggung Tong Thian hong yang menjauh, diam-diam Buyung Im Seng berpikir.

Tampaknya pertarungan tak bisa dihindari lagi pada hari ini…

Tanpa terasa diam-diam ia mulai menimbang pedang yang berada ditangannya. Kepergian Tong Thian hong sangat cepat, sewaktu kembalipun amat cepat, tak sampai sesaat dia sudah muncul kembali sambil menenteng sebilah pedang. 

“Lagi-lagi kau sudah membunuh orang.” bisik Buyung Im Seng setelah menyaksikan kedatangannya.

Tong Thian hong segera menggeleng.

“Aku hanya menotok jalan darah kakinya, dua belas jam kemudian dia baru akan sadar kembali.”

“Kau meletakkan tubuhnya dimana?”

“Ditengah kebun sana, rasanya tak akan diketemukan orang!” “Ketatkah penjagaan diluar sana?”

“Tidak terhitung ketat, mungkin semua jago yang ada diperkampungan ini telah dibawa Im Kui untuk melawan musuh.”

Tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin berkumandang datang dari luar, menyusul kemudian seseorang melanjutkan dari luar ruangan.

“Benar, tapi kalian tidak menyangka kalau Im Hui akan kembali kesini sedemikian cepatnya!”

Tong Thian hong dan Buyung Im Seng sama sama merasa terperanjat, segera pikirnya.

“Dengan ketajaman pendengaranku ternyat tak kuketahui sendiri kapan ia sampai disitu, ilmu silat yang dimiliki orang ini betul-betul tak boleh dianggap enteng.” Terdengar Im Hui berkata lagi dengan suara dingin.

“Rahasia kalian sudah ketahuan, rasanya tak ada gunanya untuk dirahasiakan lagi, mengapa kalian tidak keluar untuk bertarung melawanku? Ataukah kalian menginginkan agar aku yang masuk kedalam?”

Tong Thian hong tertawa dingin, ejeknya.

“Rupanya kau ingin sekali bertarung melawan kami?”

“Aku akan menangkap kalian hidup-hidup, akan kupaksa kalian untuk mengakui asal usul kalian yang sebenarnya!”

“Im tongcu, tidakkah kau merasa bahwa ucapanmu itu terlalu berlebihan?” “Kalian boleh segera turun tangan, aku hendak membekuk kalian berdua dalam dua puluh gebrakan.”

“Seandainya dalam dua puluh gebrakan kau gagal menangkan kami?” “Kulepaskan kalian dari sini!”

“Bagus, ucapan seorang lelaki sejati…” “Bagaikan kuda yang dicambuk!”

Tong Thian-hong segera berpaling dan memandang sekejap kearah Buyung Im Seng, lalu katanya.

“Aku akan turun tangan dulu, seandainya tak kuat, tak ada salahnya kau baru turun tangan pada saat itu.”

Buyung Im Seng segera manggut2. 

“Berhati-hatilah!”

Sambil menenteng pedang melindungi bada, pelan-pelan Tong Thian hong berjalan keluar dari ruangan tersebut.

Buyung Im Seng mengikuti dibelakangnya.

Ketika menengokkan kepala, tampaklah Im Hui yang memakai baju putih itu dengan pedang tersoren dan bergendong tangan berdiri ditengah sebuah lapangan lebih kurang beberapa kaki dihadapan mereka sana.

Tong Thian hong berjalan terus kemuka dan berhenti lebih kurang lima depa dihadapan Im Hui, katanya kemudian dengan lantang.

“Im tongcu, sekarang kau boleh meloloskan pedangmu.” “Dapatkah memberitahukan kepadaku, siapakah kalian berdua?”

“Bila Im tongcu berhasil menawan kami hidup-hidup serta menyiksa secara keji, memangnya masih kuatir untuk tidak mengetahui asal usul kami…?”

“Sekali lagi aku bertanya, siapakah diantara kalian yang bernama Buyung Im seng?”

“Kedua-duanya ada kemungkinan adalah dia kemungkinan juga bukan.” “Hmm! Berdasarkan perkataanmu itu, sudah cukup beralasan bagiku untuk merenggut nyawamu.” seru Im Hui dingin.

Begitu selesai berkata tangan kanannya segera diangkat, pedangnya diloloskan dari sarung dan melepaskan sebuah bacokan kedepan dengan disertai kilatan tajam.

Kecepatan serangan yang dilancarkan itu ibaratnya sambaran petir ditengah udara.

Tong Thian hong segera mengangkat pedangnya untuk menangkis. “Trang…!” suatu benturan yang memekikkan telinga berkumandang memecahkan keheningan. Im Hui mengayunkan pedangnya berulang kali, cahaya pedang berkilauan, dalam waktu singkat dia telah melancarkan belasan jurus serangan dahsyat.

Tong Thian hong harus menggunakan segenap kemampuan yang dimilikinya sebelum berhasil membendung belasan jurus serangan lawan itu, kendatipun demikian, ia sudah dipaksa mundur sejauh lima langkah lebih dari tempat semula. Buyung Im seng sendiripun diam-diam merasa terperanjat setelah menyaksikan betapa cepatnya serangan pedan Im Hui, segera pikir dalam hati.

“Ilmu pedang yang dimiliki orang ini sedemikian cepatnya, boleh dibilang jarang sekali dijumpai dalam dunia ini, aaai…! Mungkin sulit buat Tong Thian hong untuk menahan serangannya sebanyak duapuluh gebrakan.”

Berpikir demikian, dia lantas maju kemuka sambil mempersiapkan senjata, serunya tiba-tiba.

“Aku ingin sekali minta petunjuk ilmu pedang dari Im tongcu!”

Gebrakan pedang Im Hui segera menampilkan dua kuntum bunga pedang yang secara terpisah merusak dua buah jalan darah penting di tubuh Buyung Im seng. 

Menghadapi ancaman tersebut, Buyung Im seng mengangkat pedangnya keatas, dengan jurus Yah whe-sau-thian (api liar membakar langit) dia tangkis datangnya ancama tersebut.

Im Hui mendengus dingin, pedangnya segera direndahkan kebawah lalu… “Sreet! Sreet! Sreet!” secara beruntun melepaskan serangan berantai yang kesemuanya tertuju bagian bawah tubuh si anak muda tersebut.

Dengan cekatan Buyung Im seng mundur lima langkah kebelakang dan menghindarkan diri dari serangkaian srangan berantai dari Im Hui ini… Tapi begitu mundur dia lantas maju kembali, serangan balasan segera dikembangkan, pedangnya diputar bagaikan hembusan angin puyuh, serangannya benar-benar amat gencar dan dahsyat.

Sekalipun ilmu pedang Im Hui mengandalkan kecepatan gerak, akan tetapi dibawah serangkaian serangan cepat dari Buyung Im seng, ternyat ia tak mampu melancarkan serangan balasan selain menangkis dan bertahan terus menerus.

Tong Thian hong yang nonton jalannya pertarungan itu diam-diam menghela napas panjang, pikirnya. “Ternyata ilmu pedang yang dimiliki Buyung Im seng jauh lebih tangguh daripada kepandaianku.”

Tampak kedua orang itu saling menyerang saling membacok dengan sengitnya, angin pedang menderu-deru, hawa pedang menggulung-gulung dalam sekejap mata pertarungan sudah bergerser hampir tujuh delapan depa dari tempat semula.

Ditengah pertempuran sengit, mendadak Im Hui mundur dua langkah ke belakang, kemudian berntaknya dingin. “Tahan!”

Waktu itu Buyung Im seng sedang menyerang dengan sepenuh tenaga, seluruh perhatiannya terpusat menjadi satu, sampai Im Hui berteriak tadi ia baru menghentikan serangannya seraya bertanya. “Ada apa?”

“Buyung tiang kim tak punya keturunan, tapi ilmu pedang yang kau pergunakan adalah ilmu pedangnya Buyung Tiang Kim!”

Buyung Im seng segera tertawa dingin.

“Ilmu silat yang ada didunia ini dasrnya adalah sama saja, toh sumbernya juga satu!”

“Tapi ilmu pedagn dari Buyung Thiang kim jauh berbeda dengan ilmu pedang lainnya.”

Setelah berhenti sejenak, mendadak hardiknya. “Sebenarnya siapakah kau?” Buyung Im seng bukannya menjawab, sebaliknya malah bertanya. “Sudah berapa gebrakan kita bertarung?”

“Tiga puluh lima gebrakan” “Apa yang telah Im Tongcu ucapkan apakah masih masuk hitungan?” “Tentu saja!”

“Sekarang kita sudah bertarung sebanyak 35 gebrakan lebih bukan saja Im tongcu tak mampu untuk menangkap kami, bahkan menangkan setengah juruspun tidak.” “Jadi kalian hendak pergi?” 

“Pergi atau tidak adalah urusan kami, tapi yang pasti Im Tongcu harus memberi jalan lewat buat kami!”

Im Hui segera tertawa hambar.

“Baik!” katanya, “Apa yang telah kuucapkan tak akan kusesali kembali, cuma sebelum mereka berdua pergi dari sini, terlebih dahulu aku ingin mengajukan satu pertanyaan kepada kalian.”

“Itu mah tergantung pada persoalan apakah yang kau ajukan?”

“Konon dalam dunia persilatan tersiar berita yang mengatakan bahwa putra Buyung Thiang kim telah munculkan diri dan ingin membalaskan dendam ayahnya, apakah kau orangnya?”

Buyung Im seng termenung dan berpikir sejenak, kemudian ujarnya. “Benarkah Im Tongcu ingin mengetahui siapa gerangan diriku ini?”

“Benar!”

“Bila Im tongcu bersedia pula untuk menjawab sebuah pertanyaan yang kuajukan, akupun bersedia untuk memberikan namaku.”

“Persoalan apa?”

“Dimanakah letak marka besar lembah tiga malaikat?” Im Hui segera tertawa hambar.

“Sekalipun aku berbicara yang sesungguhnya, belum tentu kau bersedia untuk mempercayainya.”

“Aku merasa sebagai seorang tongcu tentunnya ucapanmu bukan suatu ucapan kosong belaka.”

“Justru karena itulah, aku baru merasa bahwa kau tak akan percaya.” “Mohon kau suka memberi petunjuk!”

“Aku sendiri juga tidak tahu!” Buyung Im seng menjadi tertegun.

“Im Tongcu, bukankah kedudukanmu didalam perguruan Sam seng bun tinggi sekali?”

“Betul, kedudukanku hanya tiga sampai lima orang, tapi diatas beribu ribu orang!” “Dengan kedudukan Im Tongcu yang begitu tinggi didalam perguruan Sam seng bun, ternyata kau tidak tahu dimanakah letak markas besarnya, apakah hal ini mungkin terjadi? Sungguh membuat orang sukar mempercayainya.”

“Silahkan saja kau tidak percaya, tapi ucapanku orang she Im semuanya adalah kata-kata yang jujur.”

“Kalau begitu Sam seng tong yang berada diatas bukit Tay hu san adalah palsu?” Im Hui segera tertawa dingin, katanya. “Di atas bukit Tay hu san memang terdapat sebuah Sam seng thong…” 

“Kalau toh Im tongcu telah mengetahuinya mengapa kau katakan tidak tahu?” tukas Buyung Im seng cepat.

Im Hui mendengus dingin. “Hmm! Selain diatas bukit Tay hu san, paling tidak didunia ini masih terdapat dua tiga tempat Sam seng thong.”

“Im tongcu ternyata kau memang amat licik dan pandai sekali bersiasat…!”

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya. “Buyung tayhiap tidak berahli waris, tapi aku dapat mempergunakan ilmu pedangnya Buyung tayhiap, siapakah aku, silahkan Im tongcu untuk memikirkannya sendiri!”

“Sekalipun kau adalah Buyung kongcu juga belum tentu bisa menguasai ilmu pedangnya Buyung Tiang kim!”

Buyung Im seng tidak menanggapi ucapan orang lagi, dengan suara lantang dia lantas berseru. “Im tongcu, sekarang kau boleh menyingkir!”

Ternyata Im Hui cukup memegang janji, benar juga dia lantas mundur sejauh dua langkah.

Buyung Im seng segera berpaling sekejap kearah Tong Thian hong seraya berseru. “Mari kita pergi!”

Buru buru Tong Thian hong maju dua langkah, kemudian mereka bersama-sama meninggalkan tempat itu.

“Lepaskan dia untuk pergi, jangan dihalangi!” Im Hui segera berteriak keras. Jelas disekitar kebun bunga itu masih banyak sekali jagoan lihai yang melakukan pengepungan.

Buyung Im seng dan Tong Thian hong saling berpandangan sekejap, kemudian dengan langkah lebar berjalan meninggalkan tempat itu.

Mereka berdua tidak kenal jalan, dengan langkah lebar mereka hanya tahu

berjalan terus ke depan, setibanya ditepi pagar dinding mereka segera melompat ke atas dan melewati pagar tersebut.

Diluar dinding pekarangan adalah sebuah padang rumput yang sangat luas, sejauh mata memandang tidak tampak setitik cahaya lampu maupun bayangan rumah.

Bersambung ke jilid 5 
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Lembah Tiga Malaikat Jilid 04"

Post a Comment

close