Lambang Naga Panji Naga Sakti Jilid 25 (Tamat)

Mode Malam
 “BIARKAN dulu mereka melakukan persiapan kemudian kita baru turun tangan.” kata Kwan Tiong Gak sambil tertawa.

“Haaa…. haaas….sungguh bersemangat!”. Ditengah suara gelak tertawa yang amat nyaring, Nyioo Su Jan munculkan diri kembali dengan langkah lebar, setelah menjura ujarnya, “Lapor Cong Piauw tauw. hamha telah menyampaikan perkataan tersebut kepada mereka, dan bertanya apakah rencana mereka selanjutnya?”

“Lalu apa jawab mereka?”.

“Kata mereka, dalam berminum teh kemudian segera akan menyerang masuk kedalam kantor kita. seandainya Cong Piauw tauw tidak ingin banyak orang yang terluka serta kehilangan nyawa, maka silahkan Cong piauw tauw munculkan diri menjumpai mereka serta membicarakan pertukaran syarat!….”

“Apakah kau telah menjumpai pemimpin mereka?” “Hamba telah bertanya, tapi mereka berusaha untuk

menghindarkan diri dari pertanyaan ini. Mereka hanya berkata bahwa pemimpinnya telah tiba, kalau Cong Piauw tauw ingin tahu silahkan keluar untuk berjumpa sendiri.”

 “Baik, kita segera keluar menjumpai mereka.”

Seorang lelaki berpakaian ringkas segera berjalan menghampiri dan menberikan senjata serta senjata rahasia Kwan Tiong Gak.

Setelah menggembol senjata rahtsia serta goloknya.

Kwan Tiong Gak tertawa ujarnya;

“Cwan heng silahkan duduk sebentar di ruang tamu, siauw te akan pergi keluar sebentar untuk melihat macam apakah mereka itu.”

“Tujuan kedatangan aku orang She Swan adalah berharap bisa membantu diri Kwan Cong Piauw tauw. jikalau Kwan heng terlalu memandang ringan diriku. Lebih baik kami mohon diri saja”.

“Maksud baik Swan heng membuat siauw te merasa sangat terharu, namun antara kita tidak saling kenal, membiarkan Cwan heng pun terikat oleh perselisihan ini aungguh membuat siauw te merasa tidak tentram.”

“Haaa.haaa…. haaa….kita berjumpa bagaikan sahabat lama. Kwan heng sudah bersahabat dengan aku orang she Swan sudah cukup membuat cayhe merasa sangat bangga dan gembira.”

“Baik, kalau begitu akupun tak akan bertindak sungkan sungkan lagi dengan diri Cwan heng!”.

Mereka berdua melangkah keluar dari ruangan diikuti Seng Thian Kie dari belakang.

Nyioo Su Jan segera berebut jalan lebih dahulu selangkah didepan, katanya.

“Cayhe akan membawa jalan buat ciu wie sekalian.”

Setelah melewati ruang tengah mereka langsung menuju kehalaman belakang

 “Su Jan!” kembali Kwan Tiong Gak berseru sehabis memandang cuaca. “Suruh mereka pasang obor penerangan!”

Nyioo Su Jan mengiakan. Ia segera memberikan perintah kepada anak buahnya.

Tidak selang beberapa saat kemudiaa cahaya api berkedip ditengah kegelapan, seketika suasana disekeliling tempat itu dibikin terang benderang.

Setelah keadaan dibuat terang. Kwan Tiong Gak segera menjura, serunya lantang.

“Cayhe Kwan Tiong Gak mendengar laporan dari bawahanku bahwa ada sahabat malam malam datang berkunjung, aku orang she Kwan tidak berani kehilangan rasa hormat sengaja datang menyambut, jikalau kalian ada maksud bertamu kenapa tidak segera munculkah diri? Aku orang she Kwan menanti kalian disini.”

Sebelum pihak lawan memberi jawaban! Swan Cwan telah merebut bicara.

“Cayhe si Raja Roda Terbang Swan Cwan mempuyai ikatan persahabatan yang erat dengan Kwan Cong Piauw tauw, perduli siapakah pihak kawan yang telah datang, aku orang she Swan telah bulatkan tekad untu mencampuri urusan ini. Hmmn….! Ditinjau dari keberanian kalian mencari gara-gara dengan pihak perusahaan Hauw Wie Piauw Kiok, aku pikir tentu bukan manusia bangsa tempe semua. Kini Kwan Cong Piauw tauw sudah munculkan diri menyambut kedatangan kalian, kenapa sahabat sekalian masih juga bersembunyi macam cucu kura kura?”

Dari tengah kegelapan segera berkumandang datang suara tertawa dingin yang manggidikkan hati.

 “Orang she Kwan. kau tak usah kucing menangisi tikus pura pura menunjukkan berperasaan welas, kita adalah malam gelap pa lentera, pukul genta mendengar suara, apa maksud dari kau orang she Swan tidak lebih adalah siasat Suma Can yang diketahui oleh orang jalan sekalipun, berusaha mendapatkan harga menggunakan cara yang berbeda namun Lie Poa yang kau orang she Swan pakau terlalu belebihan,Hmmnn! Kwan Tiong Ga bukan lentera yang kekurangan minyak, kau ingin coba mencari untung dengan mencampuri air keruh ini? Aku ingin lihat perbuatan mu sama saja dengan bermimpi disiang bolong…. “

Swan Cwan segera tertawa terbahak bahak memotong ucapan selanjutnya orang itu, tukasnya, “Sudah cukup sahabat, kau tak usah menggunakan kata kata yang tajam untuk mencari gara gara. Aku orang she Swan sudah pernah melakukan perjalanan dalam Bu lim selama separuh umurku. Kau harus tahu aku paling tidak doyan untuk makan permainanmu Itu, sudahlah …. setelah gelap malam sang surya segera akan menyingsing, waktu mu tidak terlalu banyak lagi. Kiri kanan depan belakang dari kantor perusahaan  Hauw Wie Piauw-kiok sudah ditanam puluhan jago lihay, anak panah, senjata rahasia sudah cukup untuk membuat kalian kelabakan dan kerepotan setengah mati, namun Kwan Cong Piauw tauw berjiwa besar menyambut kedatangan kalian, kalau kini kalian tidak sudi unjukan diri. apakah tidak terlalu merusak pamor kalian sendiri.”

Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, seorang lelaki berbaju serba hitam secara mendadak munculkan diri dihadapan ke dua orang itu.

Ketika dilihatnya gerakan orang itu amat gesit dan cepat laksana kilat, baik si Raja Roda Terbang maupun

 Kwan Tiong Gak segera menyadari bahwa musuh mereka adalah seorang jago berkepandaian lihay. Sekalipun begitu mereka tetap berdiri tak bergerak, hanya secara diam-diam hawa murni disalurkan mengelilingi badan siap menghadapi segala kemungkinan.

Orang itu memakai pakaian ringkas berwarna hijau, sepasang tangannya kosong tidak membawa senjata. Hanya saja diatas wajahnya telah memakai sebuah topeng yang berwajah amat mengerikan.

“Kawan” jengek Swan Cwan dingin seraya maju melangkah kedepan. “Tak usah jual lagak lagi disini. lepaskan topeng yang kau kenakan itu “

“Hm! Orang she Swan. Kalau kau benar benar punya kepandaian silahkan segera turun tangan melepaskan sendiri topeng yang kukenakan ini.”

“Itu sih bukan suatu persoalan yang terlalu sulit, aku rasakan menemui kami dengan memakai topeng tentu mempunyai kesulitanmu sendiri bukan?”

“Cwan heng.” sementara itu terdengar Kwan Tiong Gak berseru seraya manjura ke-arah orang itu. “Biarlah siauw te bercakap-cakap dulu beberapa patah kata dengan orang ini.”

“Apa yang hendak kau utarakan kepada ku?” seru orang berbaju hijau itn dengan suara dingin.

“Kalau kudengar nada suaramu, agaknya kita pernah saling berjumpa muka?”

“Aku rasa soal itu tidak terlalu penting.”

“Baik! Kalau begitu silahkan sahabat mengutarakan maksud kedatanganmu.”

 “Aku rasa Kwan Cong Piauw-tauw sudah paham sendiri!”

“Tidak salah, aku paham, namun aku tetap berharap bisa mendengar dari mulutmu sendiri.”

“Soal Itu gampang sekali,” kata siorang berbaju hijau dengan suara dingin. “Seandainya Kwan Cong Piauw tauw suka menyerahkan peta mustika pengangon kambing itu kepadaku Kami segera akan membubarkan diri.”

“Ooow! Ternyata dugaanku tidak salah kalau benar benar datang dikarenakan peta pengangon kambing itu.”

“Urusan telah diterangkan jelas, lagipula sudah ada didugaan Kwan Cong piauw-tauw, bagaimana seharusnya? Aku pikir tentu anda sudah mengambil keputussn bukan?”

“Sebelum menjawab aku orang she Kwan ingin menerangkan dulu akan satu persoalan,” ujar Kwan Tiong Gak sambil tertawa, “peta mustika pengangon kambing itu mamang benar ada disaku aku she Kwan bahkan sekarangpun kubawa. Jikalau cuwi sekalian ingin mendapatkannya, silahkan pamerkan dulu sedikit kepandaian silat kalian.”

“Sungguhkah ucapanmu ini?” seru si Orang berbaju hijau sambil tertawa hambar.

“Apakah saudara merasa kurang percaya?”

“Pepatah dalam dunia kangouw mengatakan: Mendengar dengan telinga lebih baik melihat dengan mata! Aku pikir kaupun tahu bukan akan maksudku?”

Dari dalam sakunya Kwan Tiong Gak segera mengambil  keluar  peta  pengangon  kambing  itu  dan

 diayunkan ketengah udara serunya, “Kawan, kau pernah menjumpai peta pengangon kambing?”

“Belum pernah.”

“Benda yang ada ditangan cayhe inilah yang sedang kau cari.”

Sembari berkata ia masukkan kembali benda itu kedalam saku.

Siorang berbaju hijau itu mengejek sinis tiba tiba serunya.

“Kwan Cong Piauw tanw, sekarang kau harus berhati hati.”

Mendadak ia angkat tangannya, dengan suatu gerakan yang cepat laksana sambaran kilat ia babat batok kepala Kwan Tiong Gak.

Melihat gerakan tubuh sedemikian cepatnya Kwan Tiong Gak sangat terperanjat.

“Sungguh dahsyat serangan ini!” pikirnya dalam hati.

Situasi amat mendadak. Kwan Tiong Gak tidak sempat mencabut keluar goloknya dari belakang punggung, dengan cepat ia segera berkelebat lima langkah kebelakang.

Sepasang kepalan orang berbaju hijau itu secara berani laksana bayangan tubuh saja meluncur kembali mengancam seluruh tubuh Kwan Tiong Gak tidak menanti ia berdiri tegak.

Berturut turut Kwan Tiong Gak terdesak mundur berulang kali, serangan kepalan si orang berbaju hijau itupun mendesak dan mengikuti terus menerus, dalam sekejap mata sudah mengirim delapan buah serangan gencar.

 Kedelapan buah jurus serangan ini dilancarkan dalam waktu yang bersamaan walaupun dilancarkan secara terpisah namun kedelapan serangan berantai itu laksana sebuah serangan belaka.

Agaknya si orsng berbaju hijau itu marasa peristiwa ada diluar dugaan melihat Kwan Tiong Gak berhasil menghindarkan diri dari kedelapan buah serangan berantainya, ia merandek sejenak kemudian berseru memuji, “Nama hebat anda ternyata bukan nama kosong belaka.”

Padahal, sekalipun Kwan Tiong Gak berhasil menghindarkan diri dari kedelapan jurus serangan tersebut, saking lelahnya keringat, lelah menancur keluar membasahi seluruh tubuhnya, asalkan si orang berbaju hijau itu melancarkan dua buah serangan gencar lagi maka Kwan Tiong Gak segera akan terluka oleh serangan lawan.

Terdengar Kwan Tiong Gak mendehem ringan lalu berkata, “Kawan, kedelapan buah serangan berantaimu benar-benar hebat, laksana guntur membelah bumi saja.”

“Terlalu memuji, terlalu memuji!”

badannya miring kesamping kemudian menerjang kembali kedepan.

Kali ini Kwan Tiong Gak telah membuat persiapan, ia tidak ingin membiarkan lawannya meneter dia terus menerus.

Tangan kanan segera diangkat meloloskan golok emasnya dari sarung, kemudian diantara ayunan tangan ia menciptakan selapis cahaya golok melindungi seluruh tubuhnya.

 Sambaran golok amat dahsyat secara samar samar membawa desiran angin, tajam yang mengidikan.

Tiba tiba si orang berbaju itu menarik kembali gerakan tubuhnya yang menerjang kedepan dan segera berhenti.

Jelas ia telah dibikin terkesiap oleh kehebatan desiran golok lawan, dan kini tidak berani menerjang lagi kedepan secara serampangan.

Si Raja Roda terbang Swan Cwan sendiri sewaktu melibat permainan golok Kwan Tiong Gak sangat dahsyat, Iapun dibikin melengak pikirnya, “Kehebatan permainan golok emas Kwan Tiong Gak benar benar luar biasa, desiran angin serangan tajam dan dingin, jelas ilmu goloknya telah berbasil mencapai puncak kesempurnaan. .”

Siorang berbaju hijau itu tidak berani berlaku gegabah lagi. dari dalam pinggangnya ia segera meloloskan sebuah cambuk panjang berwarna hitam pekat.

Menemui cambuk tersebut Kwan Tiong Gak segera merasakan hatinya tergetar keras, Serunya tanpa terasa, “Aaaach! Tui Hun Sio Fian….”….

“Sedikit pun tidak salah” tukas siorang berbaju hijau, ia segera melepaskan kain kerudung yang menutupi wajahnya sehingga di bawah Sorotan sinar obor dapat ditangkap raut muka bentuk kudanya yang berwarna hijau menyeramkan.

Melihat orang itu si Raja Roda Terbang Swan Cwan segera tertawa terbahak bahak.

“Haa…. haa. ,haaa…. aku kira malaikat dari mana yang datang berkunjung, tidak disangka ternyata kau orang haaa…. haaa sudah dua puluh tahun lamanya kita tidak pernah saling berjumpa!”

 “Siauwte pun tidak menyangka Swan heng bisa mencampurkan diri dalam air keruh kali ini. Kita sudah saling kenal selama tiga puluh tuhan lamanya. Bila saat ini Swan heng ingin mengundurkan diri masih sempat.”

“Walaupun perkataanmu tidak ralat, namun antara siauw te dengan Kwan Cong Piauw tauw sudah ada janji lebih dahulu” seru Swan Cwan seraya menggeleng “Ucapan seorang lelaki sejati berani laksana bukit karang. mana boleh bicara mencla mencle?? Seandainya Tong heng suka mengingat diatas persahabatan Kita selama tiga puluh tahun, silahkan kau orang memberi muka kepada siauw te dan segera meninggalkan tempat ini bersama sama anak buahmu”

Si Cambuk sakti Pencabut nyawa kontan tertawa dingin tiada hentinya.

“Kwan Tiong Gak tidak lebih hanya seorang pengawal barang, perduli siapapun asal suka keluar uang ia tentu jual nyawa buat orang itu. nama besar Swan heng dalam dunia kangouw sudah tersohor agaknya kau tidak usah membuang nama besar yang kau dapatkan dengan susah payah itu karena suatu urusan sepele …. “

“Selamanya siauw te bekerja sesuai dengan janji. Aku tidak tahu Kalau orang yang datang adalah Tong heng, namun aku sudah menyanggupi Kwan Cong Piauw tauw lebih dahulu …. maka dari ini walau Tong heng tidak mau kasi muka kepadaku, terpaksa kita maju selangkah sambil merencanakan langkah selanjutnya.”

“Hmmnn! Kwan Tiong Gak sudah membayar berapa banyak kepadamu?” jengek si Cambuk sakti Pencabut nyawa dengan suara dingin.

Kontan Swan Cwan tertegun dibuatnya “Apa maksud dari ucapan Tong heng?”

 “Kwan Tiong Gak telah bayar berapa kepadamu? Siauw te rela membayar dirimu dengan harga satu kali lipat lebih banyak. Asalkan Swan heng bekerja kerena uang aku juga seharusnya kau membantu pihak mana yang keluar uang lebih banyak bukan?….”

Sekali lagi Swan heng menggeleng.

“Bukannya siauw te memandang rendah diri Tong heng. harga yang dibayar Kwan Cong Piauw Tauw kepadaku tidak mungkin bisa kau bayar.”

“Mungkin kau terlalu pandang rendah diriku. Hmmm! berapa harga yang kau minta silahkan diutarakan saja.”

“Separuh dari harta karun yang tercantum dalam peta pengangon kambing, menurut penilaianku secara kasaran mungkin bisa mencapai sepuluh laksa tahil emas, bagaimana? kau bisa membayar aku sejumlah itu?”

Mendengar ucapan itu si Cambut Sakti Pencabut Nyawa berdiri tertegun, akhirnya ia berkata, “Kalau begitu kau Swan heng sudah pastikan diri akan mencampuri pertikaian ini?”

“Kalau Tong heng memang berkeinginan demikian, aku pun tak bisa berbuat apa-apa lagi.”

Tiba tiba si Cambuk Sakti Pencabut Nyawa menggerakkan pergelangan tangannya, cambuk hitam yang ada di tangan dengan membawa desiran angin serangan yang tajam menciptakan diri jadi selapis bayangan cambuk yang tebal laksana mega.

Si Raja Roda Terbang pun segera meloloskan golok lemas sepanjang lima enam koen yang ada di pinggangnya.

 Diantara getaran golok lemas, bunga-bunga golok berkelebat memenuhi angkasa.

ia telah mengerahkan hawa Iweekangnya ke dalam senjata tersebut membuat sebilah golok lemas seketiak keras laksana toya.

Sambil melangkah satu tindak ke depan menghadang di hadapan Kwan Tiong Gak ujarnya dingin.

“Tong heng, apa yang ingin kau ketahui sekarang sudah kau ketahui, mau maju atau mundur seharusnya kau cepat ambil keputusan “

“Jadi knlau begitu, Cwan heg silahkan ambil keputusan untuk mencampurkan diri dalam pertikaian ini?”

“Peta pengangon kambing boleh dikata separuh sebagian sudah menjadi milik siauw-te, manusia mati demi harta, burung mati demi makanan, jikalau Tong heng tidak suka kasi muka kepadaku dan melepaskan satu jalan bagiku, terpaksa kita harus tentukan kelihayan kita didalam pertarungan ilmu silat.”

“Oooouw….jadi Cwan heng bukan saja akan mencampuri urusan ini bahkan hendak turun tangan dalam pertarungan pertama?”

“Inilah yang dinamakan burung bodoh terbang lebih dahulu, yang membawa bendera jalan didepan, asalkan cambuk pencabut nyawa dari Tong heng bisa menangkan golok lemas ditanganku ini, maka Cong Piauw-tauw pun pasti akan turun tangan mengganti kedudukanku.”

“Cwan heng!” seru si cambuk sakti pencabut nyawa kembali setelah mendehem ringan. “Tahukah kau siapa

 yang bertindak sebagai pemimpin didalam perebutan peta pengangon kanbing malam ini?”

“Hm…. haaaa…. haaaa….” si Cambuk Sakti Pencabut Nyawa Tong Si Yen “siapapun kenal, orang orang Bu lim mana yang tidak mengerti”

“Kau salah,” tukas Tong Si Yen dengan suara perlahan. “Sampai dimanakah kemampuan siauw te, dalam hati sekali aku paham walaupun aku tak akan jeri terhadap Kwan Tiong Gak namun untuk merebut peta pengangon kambing tersebut dari tangannya mungkin bukan suatu pekerjaan yang gampang.”

“Jadi kalau begitu masih ada orang yang menjadi atasanmu? Lalu siapakah orang itu sehingga kau Tong  Si Yen pun tunduk kepadanya dan suka menjalankan perintah yang ia berikan?”

“Perkataanmu tidak salah, jago jago lihay dalam Bu lim tidak banyak yang bisa memaksa siauw te turun perintah dan melaksanakan perintahnya, tanpa membantah siauw te pun percaya dengan kemampuan orang itu bukan saja siauw te tunduk kepadanya. Bahkan pun kau si Raja Roda Terbang pun aku rasa akan tunduk seratus delapan puluh derajat.!”

“Hm Siauw te percaya masih punya beberapa kerat tulang keras “.

Sebelum menyelesaikan kata katanya, dari tempat kegelapan tiba-tiba berkumandang datang suara tertawa dingin yang sangat menyeramkan disusul suara teguran keras-

“Sungguh besar nyalimu, ingin kuhitung sebenarnya dihadapanmu benar-benar punya berapa kerat tulang yang sangat keras.”

 Suara itu seolah olah muncul dari tempat yang sangat jauh, tetapi ketika ia menyelesaikan kata kata tersebut, tubuhnya sudah berada kurang lebih lima depa dari  sana.

Dibawah sorotan cabaya obor. tampaklah seorang nenek tua berbaju kuning berambut putih munculkan diri dari kegelapan. di-tangannya membaawa sebuah tongkat berkepala naga yang besar dan berat.

Dia bukan lain adalah Liong Popo berjalan terkenal diseluruh kolong langit.

Disisi kiri dan kanan Liong Popo berjalan dua orang perempuan setengah baya yang kira kira telah berusia tiga puluh tiga, empat tahunan, mereka memakai baju warna hijau, rambut dikepang dua dan mencekal sebilah pedang tajam.

Merekalah yang tersohor sebagai dua dayang kiri dan kanan, sejak umur dua tiga belas tahun kedua orang wanita ini telah ikut Long Popo berkelana dalam dunia persilatan dibawah serangan sepasang pedang mereka entah sudah berapa banyak jago Bu Lim yang menemui ajalnya.

Selama ini kedua orang tersebut selalu mengikuti Liong Popo dan tidak pernah kawin. sekalipun usianya telah mencapai setengah baya tetapi mereka tetap berstatus perawan, Rambutnya panjang dan dikepang jadi dua.

Liong popo ini tersohor akan kekejiannya di dalam dunia kangouw, setiap kali bertindak atau bekerja selain mengikuti napsu serta pikiran sendiri, jadi kalau dibicarakan ia termasuk manusia setengah sesat dan setengah lurus.

 Lima belas tahun berselang, pada saat-saat nama besar Liong Popo tersohor dimana mana mendadak ia melenyapkan diri dari keramaian Bu lim selama lima belas tahun. orang Bu lim tak pernah mendengar kahar beritanya lagi, tidak disangka malam ini nenek tua tersebut bisa munculkan diri dikota Kay Hong, Kwan Tiong Gak serta si Raja roda terbang Swan Cwan mimpinpun tidak menyangka orang itu adalah Liong Popo, tanpa terasa lagi kedua orang itu sama sama dibikin tertegun,

Liong Popo perlahan lahan mengetukkan tongkat berkepala naganya keatas tanah, lalu sambil memandang si Raja Roda Terbang Swan Cwan serunya.

“Kau kemari! “

Suara ini tidak begitu keras, tetapi mempunyai daya pengaruh yang sangat besar. Tanpa terasa Swan Cwan telah maju dua langkah kedepan. seraya menjura tanyanya penuh rasa hormat, “Liong Popo ada urusan apa?”

Inilah yang dinamakan Manusia punya nama. Pohon punya bayangan. Walaupun si Raja Roda Terbang Swan Cwan adalah seorang jago yang sombong dan  tinggi hati, namun dibawah pengaruh Liong Popo tanpa ia rasa ia sudah menunduk kalah.

“Kau yang bernama si Raja Roda terbang Swan Cwan?” Seru Liong Popo sambil tertawa dingin.

“Benar cayhe adanya!”

“Orang yang bekerja untukku apakah tulangnya tidak keras semua?”

“Cayhe tidak tahu kalau Tong seng bekerja untuk popo!”

 Liong popo tersenyum ujarnya. “Selama banyak tahun bersedia, keberangkatanku sudah banyak berkurang, sekarang coba kau katakan, setelah mengetahui pekerjaan ini adalah urusanku, apa yang hendak kau lakukan?”

Dibawah desakan Liong Popo. Swan Cwan merasa serba susah untuk menjawab pertanyaan itu, namun teringat akan kekejian serta keganasan Liong Popo terpaksa sahutnya

“Kalau cayhe tahu bahwa dia bekerja untuk Popo, tentu aku tak akan berani buka suara mengejek “

“Sekarang kau sudah tahu, apa yang hendak kau kerjakan mulai detik ini?….” seru Liong Popo kembali dengsn wajah serius.

“Potong kepala tidak lebih membuat batok kepala terpisah dari badan….” pikir Swan Cwan didalam hati. “Kau begitu mendesak diriku, bukankah tindakan ini sangat keterlaluan….”

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa lagi semangat jantannya berkobar kembali, diam-diam ia melakukan persiapan dan balik tanya nya.

“Popo siap hendak menghukum cayhe dengan cara Bagaimana?”

“Selamanya aku paling tidak suka mendesak orang kepojokan aku akan memberi peluang bagimu untuk memilih sendiri.”

“Cayhe pentang telinga mendengarnya baik-baik!” “Lepaskan golok lemasmu dan berlalu bersama sama

anak buahmu.”

 “Masih ada jalan lain?” seru Swan Cwan setelah melengak sejenak.

“Bantu aku menyelesaikan persoalan ini dan hadapi orang orang Hauw Wie Piauw Kiok!”

“Masih ada jalan ketiga?”

“Ada! terima sepuluh jurus serangan toya berkepala nagaku atau sepuluh jurus seorangan gabungan dari sepasang budak kanan kiriku!”

Mendengar keputusan itu. Swan Cwan mulai menimbang didalam hatinya.

“Untuk menerima sepuluh jurus serangan toya kepala naganya bukan suatu pekerjaan gampang, sebaliknya untok menerima sepuluh jurus serangan gabungan sepasang dayang kiri kanannya, aku mungkin masih sanggup.”

Satelah ambil keputusan ia lantas berkata.

“Kalau cayhe berhasil menerima kesepuluh jurus serangan gabungan dari sepasang dayang kiri kanan, popo bermaksud hendak apakah diriku lagi?”

“Aku segera tinggalkan tempat ini.” jawab Liong Popo dengan wajah dingin. Memandang diatas wajahmu selama tiga tahun tak akan mencari gara gara lagi dengen perusahaan Hauw Wie Piauw kiok.”

“Baik! caphe ingin menjajal taruhan Ini.”

Melihat si Raja Roda Terbang sudah ambil keputusan, Liong Popo lantas berpaling sekejap kearah dua orang perempuan setengah baya yang ada disisi kiri kanannya.

“Kalian keluar layani orang itu! Hmm! dia tidak tahu tebalnya tanah dan tingginya langit, seturusnya kalian

 kasi sedikit pelajaran kepadanya, bila perlu cabut sekalian jiwanya.”

Suasana berubah makin tegang, diam-diam Swan Cwan tarik napas panjang panjang, golok lemasnya segera dilintangkan didepan dada siap menghadap segala sesuatu.

Kedua orang perempuan setengah baya itupun perlahan-lahan maju kedepan, pedangnya segera diloloskan dari dalam sarung dan secara terpisah dari kiri dan kanan mendesak Swan Cwan.

Langkah kaki kedua orang perempuan itu sangat lambat dan selama ini tak pernah mengucapkan sepatah katapun. Namun dari keseriusan wajahnya secara lapat lapat memancarkan hawa napsu membunuh yang berkobar.

“Tahan!” tiba tiba Kwan Tiong Gak berebut maju dua langkah kedepan.

Kedua orang perempuan yang sedang mendesak maju kedepan segera menghentikan gerakannya dan sama sama menengok kearah orang she Kwan itu.

“Cwan heng!” ujar Kwan Tiong Gak sambil mencabut keluar golok emasnya. “Persoalan ini merupakan urusan pribadi perusahaan Hauw Wie Piauw kiok kami, tidak mungkin bagi kami untuk membiarkan Cwan heng bertarung dalam pertempuran pertama, silahkan Cwan heng mengundurkan diri. biar siauwte menerima dulu pertarungan ini.”

Wajah kedua orang perempuan itu amat kering. mereka memandang sekejap kearah Kwan Tiong Gak namun tidak mengucapkan sepatah katapun.

 Perlahan lahan Kwan Tiong Gak maju ketengah kalangan, kemudian sambil melintangkan goloknya dldepan dada ia berkata, “Cayhe-Kwan Tiong Gak merupakan Cong Piauw tauw dari perusahaan Hauw Wie Piauw kiok. Ingin sekali aku menerima petunjuk tinggi dari nona berdua”

“Kwan Tiong Gak. apakah kau percaya dirimu jauh lebih hebat dari ilmu silat Hwee Loen Ong?” seru Liong Popo sambil tertawa dingin.

Kwan Tiong Gak tertawa hambar.

“Sepasang pedang kiri dan kanan sudah pernah menggemparkan dunia persilatan pada dua puluh tahun berselang, puluhan tahun berlatih tekun aku rasa kepandaian kalian kini sudah mencapai puncak kesempurnaan, mana mungkin cayhe merupakan tandingan mereka.”

“Hmmnn kiranya kau masih mengetahui kekuatan sendiri!”

“Popo!” ujar Kwan Tiong Gak kembali sambil lintangkan goloknya kembali didepan dada. “Sungguh banyak tahun kau mengundurkan diri dari keramaian Bu lim, aku rasa kemunculanmu malam ini di kota Kay Hong tentu membawa maksud tertentu, apakah kau tidak akan selesai sebelum memperoleh benda yang ingin kau dapatkan itu?”

“Hm …. .! Sudah ada puluhan tahun lamanya aku tidak pernah berkelana didalam dunia kangouw. ambisiku sudah banyak meluntur. asalkan kau suka menyerahkan peta pengangon kambing itu kepadaku, akupun tidak ingin banyak melakukan pembunuhan disini.”

 “Perintah dari Popo sudah seharusnya cayhe penuhi.” kata Kwan Tiong Gak setelah termenung sejenak. “Tetapi

….”

“Tetapi kenapa….!” teriak Liong Popo gusar.

“Popo setelah mendapat tahu peta pengangon kambing itu ada di tanganku, tentu tahu bukan bahwa peta ini bukan milikku.”

“Hm! Perduli siapakah pemilik peta pengangon kambing ini, pokoknya sekarang ada dldalam sakumu, lebih baik cepat kau serahkan keluar dari pada banyak korban yang harus berjatuhan.”

“Waktu yang diberikan terlalu cepat, untuk beberapa saat aku orang she Kwan sudah mengambil keputusan, entah apakah Popo bisa memberi waktu beberapa hari kepada cayhe nntuk berpikir?”

“Tidak bisa. setiap kata yang telah ku ucapkan tidak pernah ditarik kembali dan selamanya aku tidak pernah memberi keringanan kepada siapa pun.”

“Seandainya beruntung cayhe dapat meloloskan diri dari serangan gabungan sepasang budak kiri kanan, dapatkah Popo lepaskan diri cayhe?”

“Tidak dapat, seandainya kau bisa lolos dari serangan gabungan sepasang dayang kiri kananku, kaupun harus mencoba dulu bagaimana kehebatan permainan tongkat kepala naga aku sinenek tua. kalau tidak cepat cepatlah serahkan peta pengangon kambing itu kepadaku, tetapi seandainya karena kau serahkan peta mustika itu kepadaku mengakibatkan dirimu memperoleh penindasan. Aku mengabulkan untuk memberi bantuan kepadamu.”

 Sewaktu si Raja Roda Terbang Swan Cwan datang pertama kali tadi, semangatnya berkobar kobar, tetapi sejak munculnya Liong Popo disitu ia membungkam dalam seribu bahasa.

“Popo!” Terdengar Kwan Cong Gak mendehem ringan. “Jikalau kau tidak ingin melepaskan aku orang she Kwan, terpaksa cayhe harus menempuh jalan mengadu jiwa.”

“Kurang ajar, kalian mau memberontak!” maki Liong Popo sambil mengetukan tongkatnya keras keras keatas tanah. “Seorang Cong Piauw tauw kecil berani benar bersikap karang ajar kepadaku. Eeeei. …. kenapa kalian belum juga turun tangan? Apa yang kalian tunggu lagi?”

Sepasang dayang kiri dan kanan segera mengiakan dan turun tangan melancarkan serangan, dua rentetan cahaya putih laksana kilat menusuk tubuh Kwan Tiong Gak, Cong Piauw tauw dari perusahaan Hauw Wie Piauw kiok inipun segera menggerakkan golok emasnya menyongsong serangan tersebut dengan gerakan “Hong Hoo Kee Say” yaitu Menyegel Menteri menggantung Jendral. cahaya tajam berkilauan memenuhi angkasa menangkis datangnya kedua bilah serangan pedang itu, sedang sang badan mundur dua langkah kebelakang.

Sepasang dayang kiri dan kanan sewaktu itu melihat serangannya tidak mengenai sasaran serangan kedua segera menyusul datang.

Sepasang pedang meluncur kedepan menciptakan bunga bunga pedang yang amat banyak mengurung seluruh tubuh Kwan Tiong Gak dalam lautan cahaya pedang mereka.

Selama terjun kedalam dunia persilatan Kwan Tiong Gak  entah  sudah  betapa  banyak  kali  bertemu  musuh

 tangguh, namun belum pernah ia jumpai ilmu pedang yang demikian cepatnya seperti permainan pedang kedua orang dayang ini.

Walaupun Kwan Tiong Gak telah memutar golok emasnya sedemikian rupa sehingga menciptakan selapis cahaya tajam yang melindungi seluruh tubuhnya, namun dibawah tekanan serta desakan sepasang pedang kedua orang perempuan tersebut. permainan goloknya mulai keteter dan kedesak habis habisan.

Tiba tiba pedang panjang dari budak kiri mengeluarkan sebuah jurus aneh. ujung pedang bergeletar menciptakan titik titik cahaya perak menerobos masuk kedalam pertahanan.

Sewaktu Kwan Tiong Gak bermaksud menangkis dengan goloknya. Tahu tahu senjatanya sudah kena terkunci oleh permainan pedang budak kanan.

Dalam keadaan terburu buru. Ia segera tarik napas panjang panjang dan mundur dua langkah kebelakang.

Walaupun reaksinya sangat cepat. Namun tetap terlambat selangkah, Pedangnya menyambar tangan kiri membuat baju terobek dan darah segar mengucur keluar dengan derasnya.

Kwan Tiong Gak terperanjat, golok emasnya segera diputar kedepan, sedang sang badan mengikuti gerakan tersabet menyingkir lima depa kesamping. Tetapi pedang panjang budak kanan tidak mau melepaskan dirinya begitu saja. bagaikan bayangan badan menguntit terus menggurat punggung Kwan Tiong Gak.

Baru saja orang she Kwan itu melayang turun keatas tanah, serangan pedang lawan telah meluncur  mendekat.

 Dalam keadaan terburu buru ia membungkuk kedepan. golok emasnya dengan gerakan ‘Wan Teh Huan In’ atau dibawah pergelangan menggulung awan menusuk keatas.

Menyingkir balas menyerang dilancarkan dalam waktu yang hampir berbareng.

Namun pedang panjang budak kanan laksana kilat cepatnya telah menyambar di-atas pinggangnya.

Ujung pedang meninggalkan hawa dingin yang menggidikkan, merobek pakaian Kwan Tiong Gak dan melukai kulit punggungnya, darah segar kembali mengucur keluar membasahi seluruh badan.

Sudah dua puluh tahun lamanya Kwan Tiong Gak berkelana didalam dunia persilatan dan pernah menjumpai beratus ratus kali pertarungan sengit, namun belum pernah ia jumpai keadaan seperti ini hari, serangan gabungan dari kedua orang dayang kiri kanan telah membuat badannya menderita luka luka kulit.

Si Raja Roda Terbang Swan Cwan ketika dilihatnya Kwan Tiong Gak dua kali menderita luka dibawah serangan gabungan sepasang budak kiri kanan, dalam hati merasa terkesiap bercampur gusar, pikirnya, “Jikalau tidak beruntung Kwan Tiong Gak terluka ditangan sepasang budak ini, mereka pasti tak akan melepaskan diriku.”

Karena berpikir demikian iapun segera menggetarkan golok lemasnya seraya berkata dingin, “Sepasang budak kiri kanan selamanya bertarung dua lawan satu. Hm Seandainya satu lawan satu belum tentu bisa menaklukan kami dengan gampang.”

Seraya berseru ia segera menerjang ke-depan.

 Sementara itu dengan jurus “Kie Hong Teng Ciauw” atau burung hong terbang ular membumbung Kwan Tiong Gak memutar goloknya sedemikian rupa menciptakan selapis cahaya golok yang tajam menangkis datangnya serangan pedang dari sepasang budak kiri kanan.

Jurus serangan ini datangnya sangat ganas, desakan sepasang dayang kiri kananpun seketika tertahan oleh cahaya golok tersebut.

Setelah berhasil menahan serangan gabungan dari sepasang dayang itu, Kwan Tiong Gak kembali membentak keras, “Hati hati….”.

Mendadak golok emas diputar keras lalu dibabat kearah depan.

Gerakan ini sepintas lalu kelihatan tak memakai aturan, padahal justru dibalik kekacauan tersebut tersembunyi suatu daya serangan yang sangat dahsyat.

Melihat datangnya bacokan golok tersebut sangat kaku, sepasang dayang kiri kanan sama sekali tidak dipikirkannya didalam hati.

Baru saja mereka siap melancarkan serangan, mendadak terasalah beribu ribu kuntum cahaya golok bagaikan selapis awan mengurung daerah seluas beberapa depa disekeliling tempat itu.

Sepasang dayang kiri kanan sama sama terkesiap sambil melindungi badan mereka segera mengundurkan diri kebelakang.

Kemudian dengan jurus. “Tok Liong Jut Hiat” atau Naga Beracun Keluar Gua pedang mereka secara berpisah menerjang kedepan.

 Kedua orang itu maju dan menyerang dengan jurus yang sama, hanya satu dari kiri yang lain dari kanan.

Hawa pedang laksana gulungan ombak ditengah samudra menciptakan segulung tekanan hawa yang amat dahsyat mengguling keluar.

Kwan Tiong Gak membentak keras goloknya kembali membabat kearah depan.

Gerakannya kali ini kembali kelihatan kaku dan ketolol tololan, namun di balik kekuatan tadi tersembunyilah sesuatu kekuatan dahsyat,

Ketika sepasang dayang kiri kanan merasa tubuh serta permainan pedang mereka terkurang dibawah putaran golok lawan buru-buru berubah jurus dari menyerang jadi melarikan diri. sambil putar pedang melindungi badan mereka meloncat kebelakang.

Dua buah jurus golok yang kelihatan sederhana dan kaku ini benar-benAr hebat bagaikan terjangan air yang jatuh dari air terjun, mendatangkan suatu perasaan bergidik bagi orang yang melihat.

bukan saja kedua orang dayang kiri kanan merasakan tekanan berat itu. Sekalipun Liong Popo serta Hwie Loen Ong yang ada diatas kalanganpun dapat merasakan kelihayan ini.

Sementara itu se pasang dayang kiri kanan telah kena didesak mundur sejauh satu tombak lebih oleh kehebatan permainan golok itu, mereka berdua tertegun disana sambil saling bertukar pandangan.

Serangan gabungan mereka berdua entah sudah pernah menghadapi berapa banyak jago lihay, namun belum  pernah  kedua  orang  perempuan  itu  menemui

 permainan golok sehebat permainan golok Kwan Tiong Gak ini.

Lama sekali kedua orang dayang itu berdiri tertegun akhirnya mereka persatukan pedang mereka dan maju kembali kedepan.

“Tahan!” mendadak Liong Popo membentak keras seraya mengetukkan tongkatnya ke atas tanah.

Tubuh sepasang dayang kiri kanan yang sedang menerjang kedepan segera berhenti kemudian bersama sama meloncat kesisi Liong Popo.

“Kwan Tiong Gak.” seru Liong Popo sambil tertawa dingin. “Nama besarmu ternyata bukan nama kosong belaka, permainan golokmu barusan betul betul luar biasa!”

“Locianpwee terlalu memuji.” sahut Kwan Tiong Gak tertawa hambar.

“Hmmm! permainan golokmu barusan mungkin bisa mengelabui orang lain, tapi tak akan berhasil mengelabui diriku.”

“Apakah Locianpwe menemukan suatu titik kelemahan?” seru orang she Kwan tertegun.

“Permainan golokmu barusan membuktikan kalau kau tidak begitu hapal dengan ilmu golok tersebut, jikalau aku yang turun tangan rasanya tidak mudah bagimu untuk memperoleh kesempatan mengeluarkan permainan terhebat….”

“Perusahaan Hauw Wie Piauw kiok tiada ikatan dendam maupun sakit hati dengan Liong Popo, cayhe pun tiada niat untuk melukai orang, sebelum jiwaku benar benar terancam aku tidak ingin mengeluarkan ilmu tersebut.”

 “Apa nama dari kedua jurus ilmu golokmu barusan?”

“Suatu ilmu golok yang telah hilang dari peredaran, pengetahuan loocianpwe sangat luas, tentunya sudah mengetahui sejak tadi bukan?”

“Hmmm….! sekalipun aku tidak kenal kedua jurus ilmu golok itu, belum tentu kau bisa melukai diriku.”

perlahan lahan ia angkat tongkat kepala naganya dan selangkah demi selangkah mendekati Kwan Tiong Gak.

Agaknya Kwan Tiong Gak menyadari apa bila ilmu silat Liong Popo sangat luar biasa, melihat ia gerakkan toya berjalan mendekat ia segera tarik napas panjang panjang.

Goloknya lambat lambat disilangkan di depan dada berdiri dalam suatu posisi tertentu menanti serangan lawan.

Tampak tubuh Liong Popo makin lama berjalan makin mendekat, wajah yang semula menunjukan keangkuhan mendadak berubah penuh rasa terkejut, tubuh yang sedang maju kedepan seketika berhenti.

Kiranya dengan ilmu silat yang dimiliki Liong Popo, mendadak ia merasakan gaya pertahanan yang diperlihatkan Kwan Tiong Gak mempunyai suatu pertahanan alam yang sangat kuat, perduli diserang dari arah mana pun susah untuk mencapai tujuan.

Sementara itu setelah Kwan Tiong Gak memperlihatkan posisi pertahanannya, perlahan lahan air muka pun berubah jadi sangat serius.

Hawa pembunuhan secara lapat lapat memancarkan keluar dari goloknya.

 Lama sekali mereka berdiri saling berhadap hadapan, perlahan lahan Liong popo mulai mengundurkan diri sejauh satu tombak dan berseru keras, “Mari kita pergi”.

Sekali loncat ia segera berlalu terlebih dulu dari sana.

Kiranya sewaktu kedua orang itu berdiri saling berhadap hadapan tadi, dengan teliti Liong popo telah memperhatikan posisi dari Kwan Tiong Gak. ia merasa gaya tersebut sangat aneh, perduli diserang dari sudut manapun susah untnk menembusi penahanan tersebut.

Liong popo adalah seorang jago kawakan melihat Kwan Tiong Gak memperlihatkan suatu pertahanan aneh, teringat pula dua jurus serangan yang polos namun lihay, hatinya jadi sedikit bergerak, tanpa banyak bicara lagi ia kontan tarik kembali semua pasukannya.

Dengan berlalunya Liong popo maka sepasang dayang kiri kanan serta si cambuk sakti pencabut nyawapun segera berlalu dari situ.

Dalam sekejap mata tak tertinggal seorang pun di halaman tersebut….

Agaknya Hwie Loen Ong merasa kejadian ada diluar dugaan, sembari memandang arah lenyapnya Liong popo ia bergumam seorang diri, “Sungguh aneh sekali! sungguh aneh kenapa secara tiba-tiba Liong popo mengundarkan diri?”

Sebaliknya Kwan Tiong Gak sama selali tidak manunjukan perasaan diluar dugaan, ternyata tetap mendukung gerakan orang orang gagah dalam memperjuangkan nasibnya, Walaupun dengan jalan mengorbankan diri dan Nasibnya, wanita itu telah melakukannya dengan penuh rasa sadar, guna menolong    sesama    bangsa,    Itulah    yang  membuat

 sekalian kesatria jadi terperanjat dan kagum. Termasuk diantaranya adalah Bwe Han Ku Tojin dan puteri Hoasan itu. Mereka sungguh tak menduga bahwa Hong houw itu begitu mulia hatinya.

Sedang Pek sian Tie hendak berlalu dari hutan tempat pemakaman Hong houw.tiba-tiba Tan Thian Kui telah mendekati sambil berlari lari dengan selembar surat berada di tangannya.

“Suheng! Ada Eng hiong tiap (kartu undangan kesatria). Bacalah dari siapa dia?” , Surat itu berbunyi sebagai berikut:

“Dengan kehendak langit dan bumi. pada tanggal purnama cap jie gwee, kami hendak mengadakan sebuah perayaan, pembukaan Go bie pay yang jaya. Mohon kedatangan para tokoh kang ouw maupun golongan Bu-lim untuk merestui dan memberkati hari perayaan kami itu.

tertanda

Tan Thian Ong”

“Apa? Dari mana sute dapatkan surat undangan ini?” tanya Pek Sian Tie cepat.

“Seekor burung, dan burungku sien sien-ya dulu, yang memberikan ini kepadaku, tepat pada waktu ramai ramainya pedang tadi. Tan Thian Hong adalah adikku, dia hendak menjadi ciangbujin? Masya Allah. Bahagiaku tiada terkira, suheng. Mari kita pergi sekarang?! Bukankah Pek Siao Yu tentunya itu, adalah adikmu? “

Pek Sian Tie melongo, demikian pula, sekalian yang mendengar, juga ikut tertegun.

Tapi sebaliknya mereka juga tahu, bahwa pendirian partai persilatan Go bie pay itu pastilah atas dorongan

 kakek sakti Boe Hian Siansu dan Thian hwa Hong hong. sebab itu sebelum ini, mereka mendengar bahwa tadi locianpwe itu bermaksud mendirikan partai itu. Oleh karena itu. hampir semuanya serempak berkata, bahwa mereka pasti akan memenuhi undangan itu.

TAMAT
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Lambang Naga Panji Naga Sakti Jilid 25 (Tamat)"

Post a Comment

close