Lambang Naga Panji Naga Sakti Jilid 11

Mode Malam


 “Demikian Saja!” kata Liauw Thayjien kemudian setelah mendehem perlahan. “Jikalau Phoa-ya berjumpa lagi dengan mereka katakan saja kepada orang itu, coba lihat apa yang mereka inginkan? Asalkan barang yang diminta ada di tanganku, He-koan rela menyerahkan kepadanya, perkataan Siauw-li sedikitpun tidak salah, harta kekayaan merupakan barang sampingan, apalagi barang yang dimintapun tidak akan lebih merupakan uang atau emas, barang-barang ini walaupun merupakan benda berharga tapi sama sekali tidak berguna bagi kami.”

“Sekalipun Thayjien siap serahkan barang yang mereka inginkan, tapi cayhe tak akan menyanggupi…..”

“Phoa-ya, urusan ini tiada sangkut pautnya dengan perusahaan expedisi kalian, urusan ini adalah aku sendiri yang rela serahkan padanya.”

“Sekalipun Thayjien ada maksud berbuat demikian, aku berharap bisa melakukan hal ini dalam waktu yang tepat.”

“Baiklah! Kita putuskan besok siang melanjutkan kembali perjalanan, jika ada musuh mencegat lagi maka He-koan akan serahkan barang yang mereka inginkan.”

“Dapatkah besok siang COng Piauw-tauw tiba di sini, dalam hati Phoa Ceng Yan pada saat ini masih belum punya pegangan yang kuat, karena itu iapun tidak banyak bicara lagi.

Liauw Thayjien sendiripun tidak banyak bicara lagi, ia putar badan meninggalkan tempat itu.

 Semalaman lewat dengan cepat, hari keduapun telah tiba. Tapi hingga mendekati siang hari masih belum kelihatan munculnya Cong Piauw-tauw mereka di kuil tesebut.

Liauw Thayjien tidak sungkan-sungkan lagi sambil mengerutkan alisnya ia menegur diri Phoa Ceng Yan.

“Phoa-ya, menurut apa yang He-koan ketahui, kebanyakan jago kangouw mengutamakan janjinya yang telah diucapkan, kemarin malam kau sudah menyanggupi untuk melanjutkan perjalan setelah menjelang siang hari……”

Perlahan-lahan Phoa Ceng Yan dongakkan kepala memeriksa keadaan cuaca sedikitpun tidak salah kiranya siang hari sudah lewat karena itu ia mengangguk.

“Baiklah! Jikalau Thayjien ngotot ingin melanjutkan perjalanan kitapun segera berangkat.”

Ia menoleh dan memandang sekejap ke arah Lie Giok Liong, kemudian ujarnya, “Giok Liong, suruh mereka siapkan diri kita akan segera berangkat.”

Lie Giok Liong bongkokkan badan terima perintah, ia segera perintahkan beberapa orang anak buahnya untuk persiapkan kereta.

Gerak-gerik beberapa orang itu ternyata cukup terlatih, tidak selang beberapa waktu keretapun telah disiapkan.

Phoa Ceng Yan mendehem ringan, ujarnya kemudian, “Silahkan nyonya dan putrimu naik ke dalam kereta, kita segera berangkat… ”

Liauw Thayjien tidak banyak bicara ia panggil kacung bukunya, dayang sang nyonya serta Siao-cia naik ke dalam  kereta,  setelah  itu  baru  ujarnya,  “Phoa-ya! Jika

 ditengah jalan kita berjumpa lagi dengan para penjahat, apa yang mereka minta katakanlah kepadaku.”

“Baiklah, cuma cayhe ada beberapa patah perkataan harus diutarakan dulu sebelumnya.”

“Urusan apa?”

“Thayjien serahkan barang yang akan mereka minta adalah untuk mengganti nyawa kalian suami istri serta putrimu, kami orang-orang perusahaan Liong Wie Piauwkiok tidak pernah makan macam begini… ”

“Phoa-ya, jika orang-orang itu memiliki kepandaian silat yang sangat lihay?” potong Liauw Thayjien.

“Itu urusan kami sendiri, kau Liauw Thayjien tidak perlu kuatir.”

Liauw Thayjien yang ketanggor batunya tidak banyak bicara lagi, ia turunkan horden dan berdiam diri tak berbicara lagi.

“Giok Liong” teriak Phoa Ceng Yan kemudian dengan suara keras. “Kau dengan Toa Hauw berjalan di depan kereta.”

“Siauw-tit menerima perintah!”

Dengan Thio Toa Hauw ia melangkah ke depan cepat. “Jie-ya, kau sungguh-sungguh hendak berangkat?”

bisik Nyoo Su Jan lirih.

“Disekitar kuil yang terasa agak menyolok letaknya tinggali tanda rahasia perusahaan katakan saja kita berangkat siang ini dan suruh ia mengejar datang cepatcepat.”

“Hamba terima perintah!”

 Ia lantas meninggalkan tanda di depan pintu besar kuil tersebut.

Setelah keluar dari kuil melakukan perjalanan di atas jalan raya tidak ada berapa lagi lama mendadak muncul tiga orang lelaku kekar yang menggembol senjata menghadang jalan pergi mereka.

Lie Giok Liong ulapkan tangannya, rombongan keretapun pada berhenti.

Tidak sampai menanti laporan dari Lie Giok Liong, si kakek tua she Phoa ini sudah menerjang maju ke depan kereta.

“Giok Liong, kembali jaga keretamu.”

Kiranya sejak semula Phoa Ceng Yan sudah persiapkan perubahan dalam menghadapi musuh, oleh karena itu begitu melihat jejak lawan masing-masing pun segera berdiri pada posisi-posisinya sendiri.

Terdengar suara ringkikan kuda yang memanjang, lima buah kereta kuda dengan cepat menggabungkan  diri membentuk lingkaran bulat.

Phoa Ceng Yan selangkah demi selangkah berjalan mendekati ketiga orang itu, setelah menjura ujarnya.

“Cayhe Phoa Ceng Yan, kawan bertiga setelah menghadang kereta barang kami aku rasa tentu ada urusan hendak bicarakan bukan?”

Dalam hati ia mengerti yang baik tidak akan datang, yang datang pasti tidak mengandung maksud baik, tapi urusan sudah berada di depan mata memberi penjelasanpun tak berguna, jauh lebih baik bila memperlihatkan keangkeran dari seorang Hu Cong Piauw-tauw.

 Usia ketiga orang lelaki itu rata-rata berada di antara empat puluh tahunan, orang yang berada di sebelah kiri menyoren sepasang kaitan Hauw Tauw Siang Kouw, orang yang ditengah menggembol golok Yen Ling To sedang orang yang ada disebelah kanan menggembol sebuah cambuk lemas tiga belas ruas yang dilibatkan pada pinggang.

Si orang yang berada di paling tengah berjalan dua langkah ke muka, katanya.

“Sudah lama aku mendengar nama besar dari Thiat Ciang Kiem Huan, Phoa Jie-ya, ini hari bisa bertemu sungguh merupakan suatu keuntungan seumur hidup.”

Phoa Ceng Yan tetap bertangan kosong, ia rangkap tangannya menjura dan tertawa hambar.

“Tidak berani….tidak berani, maaf cayhe bermata tak berbiji susah mengenal siapakah kawan bertiga?”

“Phoa-ya adalah seorang jago kenamaan dalam dunia persilatan, sudah tentu saja tak bakal kenal kami tiga orang prajurit tak ternama dalam Bu-lim.”

“Hmmm!” Phoa Ceng Yan mendengus dingin. “Kawan! Di tengah hawa dingin yang membekukan badan, rasanya kalian bertiga mencari aku bukan untuk mengajak aku orang she Phoa kongkouw bukan!”

“Kedatangan kami memang sedang membawa tugas……….” lelaku yang berada di tengah itu tertawa seraya mengangguk.

“Mendapat perintah dari siapa kalian bertiga?”

“Si Dewa Api Ban Cau, menurut Ban-ya katanya ia pernah berjumpa dengan Phoa-ya.”

 “Sedikitpun tidak salah, urusan apa yang diperintahkan Ban Cau agar kalian bertiga suka menyampaikan kepada aku orang she Phoa?”

Lelaki kasar yang berdiri di tengah kalangan itu tertawa terbahak-bahak.

“Haaa……haaa…..haaa….. kata Ban-Toaya ia dengan pihak perusahaan expedisi Liong Wie Piauw-kiok tidak pernah terikat dendam sakit hati apapun, ia tidak ingin dikarenakan persoalan kecil telah menyesetkan kulit muka, karena peristiwa ini lantas terikat dendam sedalam lautan……”

“Haaa…… haa…..haaa….. kalau begitu bagus sekali” Phoa Ceng Yan pun tertawa terbahak-bahak memotong pembicaraannya yang belum selesai itu. “Si Dewa Api Ban Cau bisa timbul maksud hati yang begitu baik aku orang she Phoa merasa sangat berterima kasih sekali, harap Cu-wi beberapa orang suka menyampaikan rasa terima kasihku yang sedalam-dalamnya, katakan saja, setelah aku orang she Phoa selesai menghantar barang kawalan kami ini, tentu akan naik ke gunung akan menyambangi dirinya dan mengucapkan terima kasih atas maksud baiknya kali ini.”

“Phoa-ya, siauwte masih ada beberapa urusan belum disampaikan.”

“Baik! Katakanlah, aku orang she Phoa akan pentang telinga lebar untuk mendengarkan perkataanmu itu.”

“Walaupun Ban-ya punya maksud untuk berpikir demikian, tapi di dalam hatinya pun punya kepahitan sendiri dan berharap Phoa-ya suka memaafkan.”

“Soal apa yang perlu dimaafkan?”

 “Majikan yang Phoa-ya lindungi kali ini, Liauw Thayjien katanya memiliki gambar lukisan..”

“Lukisan pengangon kambing!” sambung Phoa Ceng Yan dingin.

“Tidak salah, Phoa-ya! Kau sudah mengetahui jelas bukan?”

“Hee….hee….hee… lukisan pengangon kambing yak kau maksudkan? sungguh sayang cuma sebuah.”

Ternyata si lelaki kasar yang berdiri di tengah itu mempunyai mulut tajam dan pandai berbicara, ia tertawa hambar.

“Phoa-ya! Jika di kolong langit terdapat sepuluh atau delapan buah lukisan pengangon kambing, si Dewa Api Ban Toaya pun tak akan memohon bantuan dari Phoaya.”

Mendengar perkataan tersebut tiba-tiba Phoa Ceng Yan merasakan hatinya rada tergerak, pikirnya, “Apa yang dibawa oleh Liauw Thayjien agaknya sudah diketahui jelas oleh orang luar, mengapa aku tidak pinjam kesempatan yang sangat baik ini untuk melakukan penyelidikan?”

Teringat akan persoalan itu, segera ujarnya, “Lukisan pengangon kambing itu? sungguh sayang dia sudah dipesan terlebih dahulu oleh orang lain, jikalau kecuali lukisan pengangon kambing itu, masih ada barang lain yang bisa menggantikan benda tersebut mungkin cayhe bisa bantu-bantu diri Ban Cau untuk membujuk sang pemilik barang dan suka memberikan kepada kalian.”

“Siapa yang sudah pesan lukisan pengangon kambing itu terlebih dahulu…..?” seru si lelaki tadi dengan nada tertegun.

 “Sekalipun aku beritahu kepadamu kawan belum tentu cuwi bernyali untuk pergi menanyakan persoalan ini kepadanya!”

“Kami bertiga mungkin tidak bernyali, tapi Ban Toaya serta beberapa orang kawan mungkin bisa bertindak tolong silahkan Phoa Jie-ya mengutarakan secara terus terang!”

“Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang rasanya kalian bertiga sudah pernah mendengar namanya bukan!”

Mendengar disebutkannya nama orang itu, ketiga orang lelaki tadi segera berubah muka, setelah termenung beberapa saat lamanya si lelaki yang berdiri di tengah berkata kembali.

“Perkataan dari Phoa-ya berat bagaikan sembilan Hioloo, kami percaya kau Phoa Jie-ya tidak sedang berbohong.”

“Ke Giok Lang sudah mengirim orang datang untuk memesan lukisan pengangon kambing itu, tapi aku orang she Phoa belum setuju untuk berikan barang itu kepadanya.” jawab Hu Cong Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok ini dingin.

“Ooouw……. kiranya begitu.”

Perlahan lahan Phoa Ceng Yan menoleh dan memandang sekejap ke arah formasi kereta kawalannya, setelah melihat barisan telah siap iapun berkata kembali.

“Ban Cau mengirim kalian bertiga datang kemari, rasanya ia sendiripun sudah berada di dekat sini bukan?”

“Bila Phoa Jie-ya ada perkataan, utarakan saja kepadaku!”

 “Begitupun baik, tolong saudara suka memberi laporan kepada Ban Cau, katakan saja aku orang she Phoa dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok tidak senang membeli hubungan persahabatan ini, Cong Piauw-tauw kami sebentar lagi bakal tiba, jika Ban Cau ada urusan hendak dibicarakan dengan aku orang she Phoa maka suruh ia muncul sendiri, bila terlambat terpaksa aku akan persilahkan dia orang membicarakan sendiri persoalan ini dengan Cong Piauw-tauw kami.”

“Cong Piauw-tauw kalian apakah benar “Thian Tan Kim Leng Ceng Pat Fang” atau si Lempengen Besi Genta Emas yang menggetarkan delapan penjuru Kwan Tiong Gak, Kwan Toaya?” seru si lelaki itu rada tertegun.

“Di kolong langit saat ini baik dari kalangan Pek to sama pada tahu bila COng Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie piauw-kiok adalah Kwan Tiong Gak, Kwan Toaya, Kawan! Agaknya kau rada kurang percaya?”

Kwan Tiong Gak punya gelar manusia yang menggetarkan delapan penjuru, ia benar-benar punya kemampuan untuk mengusir dan menumpas gangguan iblis, begitu menyebutkan nama besarnya seketika itu juga membuat ketiga orang itu merasa terperanjat dan bergidik.

“Phoa-ya!” ujar si lelaki yang berdiri di tengah itu seraya menjura.”Kami datang kemari karena sedang menjalankan tugas, apa yang Phoa Jie-ya katakan tadi pasti akan kami sampaikan seadanya tanpa ditambahi dengan sepatah katapun.”

“Heee…..heee…..heee…… sekalipun kalian bertiga ada maksud menambahi perkataanku pun boleh saja,” sambung Phoa Ceng Yan sambil tertawa dingin.

“Phoa Jie-ya terlalu banyak curiga!”

 Ia mendehem perlahan, kemudian tambahnya.

“Kami telah mengganggu perjalanan Phoa Jie-ya dengan beberapa perkataan yang tak berguna, dalam hati merasa sangat tidak enak kesalahan yang telah kami perbuat masih mengharapkan Phoa Jie-ya suka memaafkan, kami mohon diri terlebih dahulu.”

Ia putar badan lantas berlalu dengan langkah lebar. “Saudara bertiga harap tunggu sebentar” tiba tiba

Phoa Ceng Yan berseru setelah termenung beberapa saat.

Ketiga orang itu sama-sama menghentikan langkahnya dan putar badan.

“Phoa Jie-ya, masih ada pesan apa lagi?”

Sinar mata Phoa Ceng Yan perlahan-lahan menyapu sekejap ke atas wajah ketiga orang itu, lalu sambil tertawa katanya.

“Sewaktu kalian bertiga berjumpa dengan si Dewa Api Ban Toaya, tolong sampaikan salam dari aku orang she Phoa.”

“Pesan Phoa Jie-ya pasti akan kami sampaikan,” sahut si lelaki itu mengiakan.

“Kalau begitu bagus sekali, aku orang she Phoa mengucapkan terima kasih dahulu kepada kalian bertiga…”

Ia mendehem berat, setelah merandek sejenak sambungnya, “Burung belibis lewat meninggalkan suara, manusia lewat meninggalkan nama, kalian bertiga bersemangat jantan, mengapa tidak suka meninggalkan nama?”

 “Jika Phoa Jie-ya masih ingin bertanya cayhe pun tidak bisa tidak harus memberitahu juga, kami bersaudara adalah Lam Thian Sam Yen atau Tiga Belibis dari Lam Thian.”

“Selamat berjumpa!” seru Phoa Ceng Yan sambil ulapkan tangannya.

Si lelaki itu menjura setelah itu bersama-sama putar badan berlalu.

Gerakan tubuh ketiga orang itu cepat bagaikan kilat, tidak selang beberapa saat lamanya jejak mereka sudah lenyap tak berbekas.

Beberapa buah kereta kuda itu masih tetap berada dalam posisi bulat siap menghadapi serbuan musuh.

Perlahan-lahan Lie Giok Liong melangkah maju ke depan.

“Paman Jie-siok!” bisiknya lirih. “Kita akan melanjutkan perjalanan ataukah tetap berada dalam posisi begini sambil menanti perubahan situasi?”

“Lam Thian Sam Yen tidak lebih cuma kaki tangan pembantu belaka, saat ini mereka kembali untuk menyampaikan laporan. Si Dewa Api Ban Cau selama ini bergerak di sekitar daerah utara sedangkan Lam Thian San Yen muncul di daerah sekitar Kang Lam, kali ini jago Liok-lim dari kalangan Kang Lam serta kang Pok bisa bersekongkol sudah tentu urusan tidak sedemikian gampang, sekarang kita masih belum bisa melanjutkan perjalanan, tunggu sebentar lagi baru ambil keputusan.”

“Perkataan dari paman Jie-siok sedikitpun tidak salah,” kata Lie Giok Liong seraya menjura. “Aku akan pergi memberi kabar kepada mereka dahulu.”

 Pada wajtu itu, tiba-tiba Liauw Thayjien muncul dari balik kereta seraya berjalan mendekat.

“Phoa Jie-ya!” sapanya.

“Thayjien ada pesan?” tanya Phoa Ceng Yan dengan alis berkerut.

“Bagaimana pembicaraan Phoa Jie-ya dengan mereka?”

“Bicarakan soal apa?”

“He-koan telah berunding dengan hujien dan siauw-li, selain lukisan pengangon kambing, kamipun rela untuk memberikan semua yang ada pada kami asal bisa selamat tiba di tempat tujuan.”

“Thayjien terlalu royal…..”

Sewaktu mereka sedang berbicara, mendadak muncul dua butir benda hitam sebesar telor itik menggelundung datang di atas permukaan salju.

Melihat benda itu Phoa Ceng Yan jadi sangat terperanjat.

“Thayjien cepat menyingkir!” teriaknya keras.

Sebaliknya Liauw Thayjien malah tercengang dibuatnya.

“Aaaaakh! Dua ekor tikus tanah!” serunya.

Dalam pada itu, kedua gulung bayangan hitam tadi telah tiba kurang lebih enam-tujuh langkah di depan kedua orang itu.

“Bluuum…….! Bluuum…..!” diikuti dua kali ledakan keras, kedua gulung bayangan hitam tadi telah meledak di atas permukaan salju.

 Bila dibicarakan sungguh aneh sekali, kedua benda bayangan hitam tadi ternyata memercikan bunga-bunga api yang amat besar di atas permukaan salju kemudian berkobar menjadi suatu kebakaran yang sangat besar.

Selama hidup Liauw Thayjien belum pernah menemui kejadian macam begini, ia jadi amat terperanjat.

“Apa yang telah terjadi?” tanyanya lirih. “Suatu permainan dari si Dewa Api Ban Cau!”

Tampak dua gulung bunga api yang menimbulkan kebakaran di atas permukaan salju itu makin lama berkobar makin besar dalam sekejap mata percikan api sudah meluap hingga mencapai ketinggian tiga depa dengan luas enam depa lebih, separuh bagian jalan raya sudah dijilati oleh kobaran api, salju mencair dan mengalir kemana mana tapi sama sekali tidak mempengaruhi kobaran api tersebut.

Melihat jilatan api yang makin lama meninggi itu Liauw Thayjien berdiri termangu mangu, jelas dihatinya merasa amat terperanjat oleh kejadian tersebut.

Lain halnya dengan Phoa Ceng Yan, ia sama sekali tidak terpengaruh oleh oleh kobaran api yang membakar permukaan salju itu, sepasang matanya dengan tajam memperhatikan perubahan situasi di empat penjuru.

“Bluum…..! Bluum………..!” kembali terjadi dua kali ledakan keras yang memekakkan telinga, dua gumpalan api yang sedang berkobar memenuhi angkasa itu kembali menyalakan cahaya biru yang menyilaukan mata membumbung jauh tinggi ke angkasa mencapai ketinggian tiga tombak lalu punah dalam bentuk asap biru yang tebal.

 Ketika itu sang surya tepat di atas kepala, sinar matahari sangat tajam……..semisalnya ketika itu malam hari maka bunga api yang terpercikkan dari asap biru tersebut tentu sangat menarik untuk dilihat.

Perhatian Phoa Ceng Yan tanpa terasa ikut tersedot oleh kobaran cahaya biru yang membumbung tinggi ke angkasa itu.

Menanti ia tersadar kembali si Dewa Api Ban Cau sudah muncul dari balik dua gumpalan asap biru itu.

Keadaan dari si Dewa Api Ban Cau pada saat ini sangat aneh, ia memakai baju warna merah padam yang menyolok, bahkan sampai kepalapun memakai topi warna merah darah, tangan memakai kaos tangan warna merah pula.

“Thayjien, silahkan mengundurkan diri ke belakang, jangan sampai terluka badanmu!” seru Phoa Ceng Yan dengan nada berat.

Liauw Thayjien menurut dan berturut-turut mundur lima langkah ke belakang, tapi ia tetap tidak suka mengundurkan diri ke dalam kereta.

Phoa Ceng Yan kerutkan alisnya, tetapi ia tetap tidak menegur lebih lanjut.

Terdengar Ban Cau mendehem berat.

“Phoa-heng! Siauw-te sama sekali tiada minat untuk mencari keonaran dengan dirimu tapi Phoa-heng tidak suka mengalah satu tindak untuk orang lain, maka Siauw-te terpaksa harus mengenakan kembali pakaian yang sudah ada dua puluh tahun lamanya belum pernah dikenakan.”

 “Saudara telah berganti dengan mengenakan pakaian ini, aku pikir tentu kau sudah bulatkan tekad untuk membegal barang kawalanku kali ini bukan??”

“Saat ini rasanya kita masih bisa saling merundingkan persoalan ini secara damai.”

“Heee……heee…..heee…..heee…… tempo dulu Banheng dengan mengenakan pakaian merahmu ini telah main bakar sesukanya sehingga membuat kawan-kawan Bu-lim di sekitar daerah Kiang Pak pada jeri dibuatnya setiap kali mendengar namamu….” seru Phoa Ceng Yan sambil tertawa dingin.

“Haaa……haaa…..haaa….. Phoa heng terlalu memuji..”

“Kalau begitu silahkan Ban-heng suka membakar, bakar dulu diri aku she Phoa.”

“Maksud Phoa Jie-ya kau anggap siauw-te takut untuk membakar dirimu?” seru Ban Cau dengan air muka berubah hebat.

“Sudah tentu Ban-heng berani melaksanakan pekerjaan tersebut, tapi siauw-te merasa bahwa api dari Ban-heng tersebut belum tentu bisa membakar habis semua orang yang aku bawa ini, bersamaan itu pula kemungkinan sekali perbuatan itu bakal memancing serangan balasan dari kami.”

“Haa….haaa……haaa….soal itu sih aku tahu” Ban Cau tetawa tergelak. “Maksud Phoa heng bukankah sedang memperingatkan kepada siauw-te agar jangan lupa terhadap serangan balasan dari gelang emas pencabut nyawamu itu bukan?”

“Hee….heee……heee…. sedikitpun tidak salah” Phoa Ceng Yan tertawa dingin. “Jikalau kau Ban Cau main api,

 terpaksa aku pun harus mengandalkan anak panah serta gelang emas untuk balas melancarkan seranganmu.”

Dalam pada waktu Lie Giok Liong serta Ih Coen masing-masing dengan golok tersoren di punggung dan tangan mencekal anak panah berdiri di kedua belah sisi jalan raya.

Agaknya kedua orang itupun merasa rada jeri terhadap permainan api dari Ban Cau, kurang lebih satu tombak dari Ban Cau berada mereka berdua sama pada berhenti.

“Kalian berhati-hatilah memperhatikan” teriak Phoa Ceng Yan dengan suara keras-keras. “Begitu aku turun tangan, kalian umpan anak panah kepadanya.”

“Turut perintah!” sahut Lie Giok Liong serta Ih Coen berbareng.

Sikap Ban Cau tetap sinis, serius, dan sepasang matanya dengan memancarkan cahaya tajam memperhatikan sekejap keadaan di sekeliling empat penjuru.

“Dua buah kotak anak panah ditambah permainan gelang emas dari kau Phoa Jie-ya belum tentu bisa melukai aku Ban Cau” ejeknya.

“Asal Ban heng tidak main api kamipun tak akan umpan anak panah serta senjata rahasia untuk balas melancarkan serangan.”

“Maksud Phoa Jie-ya…”

“Jikalau kau Ban Cau bisa mengalahkan aku orang she Phoa barang satu atau setengah juruspun dengan tidak menggunakan senjata api, maka aku akan segera putar   badan   berlalu   dan   sejak   ini   hari   tak   akan

 melakukan pekerjaan mengawal barang lagi dalam dunia kangouw….”

“Heee………heee……..heee……. sumpah Phoa-ya terlalu berat………” jengek Ban Cau sambil tertawa dingin.

“Kau Ban-ya berani terima tantanganku…”

Sekonyong konyong terdengar suara tertawa panjang bergema datang memecahkan kesunyian seraya memotong pembicaraan Hu Cong Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok yang belum selesai itu.

“Sekalipun Ban Cau setuju, cayhe tak akan menyetujui!.”

Bersamaan dengan munculnya suara, bayangan manusiapun muncul di tengah kalangan.

Orang itu bukan lain adalah si Hoa Hoa Kongcu “Im Yang Pan” atau si penguasa Im Yang Ke Giok Lang adanya.

Orang itu memakai jubah warna biru, walupun dalam udara sangat dingin tangannya tetap juga mencekal sebuah kipas.

Dengan gaya seorang pelajar ia simpan kipasnya lalu dengan hormat menjura ke arah Liauw Thay jien, kemudian sinar matanya perlahan-lahan dialihkan ke arah Phoa Ceng Yan, sambungnya lebih lanjut.

“Phoa-ya! Sejak semula cayhe sudah kirim orang untuk memesan barang tersebut rasanya Phoa Jie-ya masih ingat bukan??”

Diam-diam Phoa Ceng Yan menjerit pahit, seorang Dewa  Api  Ban  Cau  saja  sudah  cukup  merepotkan,

 apalagi saat ini bertambah lagi dengan seorang Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang, bukankah hal ini sama halnya di tengah hujan salju tertutup pula oleh badai kabut.

Tetapi justru dengan munculnya si Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang membuat situasipun terjadi suatu perubahan yang sangat menguntungkan.

Setelah berpikir beberapa saat, ia lantas menyahut. “Sedikitpun tidak salah, orang yang Ke Kongcu kirim

sudah tiba, cuma aku orang she Phoa belum ambil keputusan.”

“Ooouw…….soal itu sih tidak penting,” kata Ke Giok Lang sambil goyang goyangkan kipas dan tertawa. “Asalkan aku orang she Ke berjalan setindak lebih didepan dengan menduduki posisi “Ceng li”, maka Siauw-te tidak percaya ada manusia yang bernyali cari gara-gara dengan aku orang she Ke!”

Beberapa patah perkataan ini diucapkan dengan sangat jelas sekali, agaknya ia sengaja mencari urusan dengan si Dewa Api Ban Cau.

“Ke Kongcu, cayhe adalah si Dewa Api Ban Cau,” kata orang itu dengan alis berkerut.

“Ban Toa-ya, sewaktu aku orang she Ke berkelana dalam dunia persilatan, agaknya Ban-heng telah lama meninggalkan dunia kangowu bukan?” seru Ke Giok Lang sambil goyang goyangkan kipasnya.

“Benar, sewaktu Ke Kongcu angkat nama dalam dunia persilatan, cayhe memang telah mengundurkan diri.”

“Setelah Ban-heng mengundurkan diri dari keramaian Bu Lim, mengapa saat ini harus munculkan diri kembali? Haruslah kau ketahui Ombak-ombak belakang sungai Tiang Kang mendorong ombak  yang  ada  di  depannya,

 manusiapun generasi baru mulai menghentikan generasi lama, saat ini waktu masih belum terlambat, apabila Ban heng suka jauh meninggalkan tempat ini mungkin masih bisa meninggalkan akhir yang baik.”

Air muka si Dewa Api Ban Cau langsung saja berubah hebat.

“Menurut apa yang Ke Kongcu katakan, jikalau aku orang she Ban tidak pergi ada kemungkinan besar bisa memperoleh akhir yang tidak baik.”

“Pertarungan tak bermata, siapa orang yang bisa menyakinkan suatu kemenangan dalam pertarungan sengit.?” seru Ke Giok Lang tertawa.

“Heee……heee……heee….. tapi aku lihat agaknya Ke Kongcu merasa begitu yakin bisa menekan para jago lainnya…….”

Ke Giok Lang ulapkan kipasnya memotong perkataan Ban Cau ujarnya.

“Siauw-te hanya bermaksud baik belaka, tapi jikalau Ban-heng tidak suka mengikuti nasehat tersebut, maka terpaksa kita harus selesaikan persoalan ini dengan mengandalkan kepandaian kita.”

Phoa Ceng Yan yang menonton kejadian tersebut dari samping, begitu melihat pembicaraan kedua orang itu makin lama diucapkan semakin ketus dan kaku, agaknya sebentar lagi bakal terjadi suatu pertarungan, diam-diam dalam hati berpikir.

“Anjing menggigit anjing, bilamana mereka berdua bisa bertarung terlebih dahulu maka aku bisa menjadi nelayan yang tinggal pungut hasilnya…… inilah suatu saat yang sangat menguntungkan.”

 Karena sudah ada perhitungan maka dari itu mulutnya tetap membungkam, siapa nyana tiba-tiba Ke Giok Lang menoleh, sambil memandang wajah Phoa Ceng Yan katanya.

“Phoa-heng, rasanya kau sudah mendengar seluruh pembicaraan di antara kami bukan.”

“Hmm…..! Sudah aku dengar semua.”

“Jika ditinjau dari persoalan itu, rasanya orang yang menginginkan lukisan pengangon kambing itu bukanlah siauw-te seorang?”

“Perduli siapapun bila ingin memperoleh lukisan pengangon kambing itu, maka ia harus menerobos dahulu barikade dari perusahaan Liong Wie piauw-kiok.”

Ke Giok Lang dongakkan kepala tertawa terbahak bahak.

“Haaa……..haaa…….haaa…….. Phoa-heng manusia budiman cepat bicara, perkataan yang telah diucapkan selalu teguh bagaikan karang, justru aku orang she Ke punya satu persoalan ingin minta petunjuk.”

“Aku orang she Phoa akan pentang telinga lebar untuk mendengar perkataanmu itu.”

“Lukisan pengangon kambing itu adalah Cayhe yang pesan terlebih dahulu, bila semisalnya Phoa heng hendak mengalah, bukankah siauw-te orang pertama yang bakal memperoleh benda pusaka tersebut.?”

“Cuma sayang aku orang she Phoa sama sekali tidak berniat untuk mengalah kepada siapapun.”

“Aku orang she Ke cuma ingin menjelaskan terlebih dahulu persoalan ini, tentang Phoa heng suka mengalah atau tidak, rasanya itu merupakan persoalan lain.”

 Liauw Thayjien yang selama ini berdiri di samping kalangan, tiba-tiba menimbrung.

“Jikalau He-koan rela menghadiahkan lukisan pengangon kambing itu kepadamu, maka apa yang hendak kau lakukan?”

“Soal ini tergantung barang tersebut hendak kau serahkan kepada siapa!” sahut Ke Giok Lang.

Phoa Ceng Yan hendak mengutarakan pendapatnya, tapi kena dicegah oleh goyangan tangan Liauw Thayjien.

“Barang itu milikku, sudah tentu akulah yang berhak untuk mengambil keputusan, Hu Cong Piauw-tauw tidak perlu ikut campuri dalam persoalan ini.”

“Bisa menyelesaikan persoalan tanpa melakukan hubungan di antara kita semua itulah yang paling bagus, sekarang kau boleh membuka harga,” kata Ban Cau.

“Syaratku sederhana, asalkan kami sekeluarga bisa tiba di kota Kay Hong sebelum tutupan tahun maka barang itu akan kuserahkan kepada kalian.”

Ke Giok Lang tertawa dingin, dengan mulutnya tetap membungkam.

Phoa Ceng Yan sendiripun bungkam sambil memandang ke arah Liauw Thayjien.

Sebaliknya Ban Cau alihkan sinar matanya menyapu sekejap ke arah para jago di sisinya.

“Saudara bermaksud hendak serahkan lukisan pengangon kambing itu kepada siapa?”

“Aku sama sekali tidak mengenal cuwi, siapa saja sanggup menghantar aku sampai ke kota Kay Hong maka lukisan pengangon kambing itu akan aku serahkan kepadanya.”

 “Setiap orang munculkan diri di tempat ini sama berharap bisa mendapatkan lukisan pengangon kambing itu, dan saudara harus memilih salah satu di antara kami semua,” ujar Ban Cau lagi.

Liauw Thayjien mendehem perlahan.

“Siapakah di antara cuwi sekalian yang berkepandaian silat paling tinggi cayhe sama sekali tidak tahu, secara bagaimana aku bisa jatuhkan pilihan?”

“Jikalau demikian adanya, maka saudara harus mengadu untung,” seru si Dewa api seraya menggeleng.

“Phoa-ya!” kata Liauw Thayjien kemudian sambil alihkan sinar matanya ke arah Phoa Ceng Yan. “Kau sudah lama melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, rasanya tentu sudah lama mengenal kedua orang ini bukan?”

“Sedikitpun tidak salah, orang yang memakai jubah warna biru itu adalah Ke Kongcu sedang orang yang memakai jubah serba merah itu adalah si Dewa Api Ban Cau.”

“Lalu lukisan pengangon kambing itu aku harus serahkan kepada siapa?”

“Menurut jalan pikiranku, siapapun jangan diserahkan lukisan tersebut karena siapapun diantara mereka tak ada yang bertenaga untuk melindungi kalian tiba di kota Kay Hong sebelum tutupan tahun.”

Ke Giok Lang tertawa dingin serunya.

“Sekarang kecuali si Dewa Api Ban Cau boleh dikata cayhepun terhitung salah satu jikalau kau Liauw Thayjien suka menyerahkan lukisan pengangon kambing itu kepadanya, itu berarti telah menyalahi orang baik, harap

 kau suka berpikir tiga kali sebelum mengambil keputusan!”

“Inilah syaratku, asalkan cuwi bisa melindungi aku sekeluarga tiba di kota Kay Hong sebelum tutupan tahun, lukisan pengangon kambing ini pasti cayhe serahkan kepada kalian.”

“Menurut apa yang cayhe ketahui” ujar Ke Giok Lang kembali sambil tertawa. “Kecuali kami masih banyak para jago Bu Lim yang berusaha turun tangan membegal barang kawalan kalian.”

“Siapa mereka itu?” sela Liauw Thayjien.

“Pokoknya banyak orang, kau tak pernah berkelana dalam dunia kangouw, sekalipun kusebut nama mereka juga percuma saja.”

“Phoa-ya, sebetulnya apa yang telah terjadi…..” akhirnya saking bo-hoatnya Liauw Thayjien bertanya kepada Phoa Ceng Yan.

“Dunia kangouw sangat berbahaya dengan segala tipu muslihat licik. Thayjien adalah keluarga berasal dari kaum terpelajar, sudah tentu tak mungkin bisa hadapi mereka!”

Ia merandek sejenak untuk tukar napas, kemudian tambahnya.

“Thayjien, bila kau ingin kembali ke dalam kereta, silahkan untuk beristirahat!”

“Tapi Phoa-ya, urusan belum ada penyelesaiannya………”

Ia perendah suaranya, lalu sambungnya lebih lanjut, “Jikalau mereka berdua pada ngotot untuk sama-sama

 bisa peroleh barang itu, lalu baiknya diselesaikan dengan apa?”

Phoa Ceng Yan termenung sejenak, kemudian jawabnya, “Serahkan kepada siapapun sama saja, tapi di antara mereka tentu akan terjadi suatu pertarungan yang amat sengit.”

Suara jawabannya ini diutarakan sangat rendah, sehingga Liauw Thayjien yang berdiri di sisinya pun dengan paksa baru berhasil menangkap apa yang dimaksudkan.

“Ban-heng! Aku lihat kalian boleh segera berlalu!” terdengar Ke Giok Lang berseru kembali.

“Lalu kenapa Ke Kongcu sendiri tidak pergi?” “Ooouw Cayhe masih ada urusan.”

“Siauw-te sih kalau tak ada urusan juga tak bakal datang kemari di tengah hawa dingin yang menggigilkan dengan tiupan angin utara yang amat dingin,” balas si Dewa api Ban Cau sambil tertawa kering.

“Ban heng!” seru Ke Giok Lang kembali seraya tertawa hambar. “Tempat ini bukan tempat yang bagus untukmu, kau tetap berdiam di sini bukannya bakal memperoleh kebaikan sebaliknya malah akan mendapatkan kejelekan.”

“Lalu Ke Kongcu sendiri apakah tidak takut?”

“Siauw-te ada maksud baik menasehati dirimu, jikalau Ban-heng tidak mau percaya itupun merupakan suatu persoalan yang tak bisa dipaksakan …!”

Melihat situasi yang dihadapi saat ini dalam hati Phoa Ceng Yan lantas berpikir.

 “Jika ditinjau dari tindak tanduk Ke Giok Lang, agaknya ia ada maksud mencari gara-gara dengan Ban Cau, sekalipun Ban Cau sendiri ada maksud untuk mengalah tapi sebaliknya Ke Giok Lang selangkah demi selangkah mendesak maju ke depan, demi muka dan nama baik rasanya Ban Cau tak akan mengalah terus menerus…. jika mereka berdua sampai saling bentrok dan terjadi pertarungan, maka aku bisa menonton suatu pertunjukan bagus.”

Tiba tiba Ke Giok Lang menarik kembali kipasnya sepasang mata dengan memancarkan cahaya tajam melototi wajah Liauw Thayjien tak kejap, ujarnya.

“Ada pepatah yang mengatakan berani berderma lenyapkan bencana. Saudara suka serahkan lukisan pengangon kambing itu kepada kami hal ini menunjukkan suatu tindakan yang cerdik, cuma situasi yang kita hadapi pada saat ini sangat kacau, orang yang menginginkan lukisan pengangon kambing pun sangat banyak, di antara banyak orang ini kau harus memilih salah satu diantaranya.”

“Aku suka menyerahkan lukisan pengangon kambing itu lantaran ingin melindungi keselamatan kami sekeluarga,” kata Liauw Thayjien sambil ulapkan tangannya. “Bila aku sudah serahkan lukisan pengangon kambing itu tapi tidak berhasil juga melindungi kami sekeluarga, bukankah sama halnya tindakan cayhe menyerahkan lukisan pengangon kambing itu hanya nihil belaka dan sama sekali tak bernilai?”

“Maksudku bukan begitu, “ kata Ke Giok Lang mendehem, “Asalkan pilihanmu tepat, sudah tentu keselamatanmu ditanggung beres.”

 Ketika itu, kedua gulung bola api yang berkobar di tengah angkasa sudah punah sama sekali hingga udara kembali pada keadaan semula.

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw!” kata Liauw Thayjien sambil melirik sekejap ke arah si orang tua itu. “Menurut pandanganmu lukisan pengangon kambing ini harus diserahkan kepada siapa?”

“Menurut pendapat cayhe, lukisan pengangon kambing itu tak boleh diserahkan kepada siapapun, tapi lukisan itu adalah milik Thayjien, jika kau paksa juga hendak menyerahkan lukisan itu kepada mereka, cayhepun tak akan terlalu paksa mencegah.”

Perlahan lahan Liauw Thayjien menghela napas panjang.

“Bilamana setelah aku serahkan lukisan pengangon kambing itu tidak juga berhasil mendapatkan keselamatan kami sekeluarga, ada lebih baik ini tidak kuserahkan,” ujarnya.

“Menyimpan pusaka mencelakai diri sendiri, jikalau saudara tidak suka serahkan lukisan pengangon  kambing itu kepada kami, walaupun kami kini suka lepas tangan belum tentu orang lain berpendirian demikian,” kata Ke Giok Lang sambil mendehem perlahan.

“Bila aku berikan kepada kalian apa untungnya terhadap kami……?” tanya Liauw Thayjien kembali.

“Jika kau serahkan lukisan pengangon kambing itu kepada cayhe, maka cayhe suka memikul beban melidungi kalian sekeluarga tiba di kota Kay Hong dalam keadaan selamat bahkan sebelum tutup tahun.”

“Sungguh?” teriak bekas pembesar she Liauw ini dengan mata berkilat.

 “Selamanya apa yang aku orang she Ke ucapkan belum pernah diingkari kembali, kau boleh berlega hati.”

“Heee……heee……heee….. aku lihat tidak bisa dipertahankan kejujurannya.” tiba-tiba si Dewa Api Ban Cau menimbrung sambil tertawa dingin.

Air muka Ke Giok Lang berubah hebat setelah mendengar perkataan tersebut.

“Ban heng “ serunya keras. “Kau ada maksud mencari satroni dengan diri siauw-te?”

“Hmmm! Delapan dewa menyeberangi lautan dengan andalkan kepandaian masing-masing!” seru Ban Cau dengan nada yang dingin. “Jikalau Ke Kongcu ingin mengambil lukisan pengangon kambing itu seorang diri, seharusnya perlihatkan dulu warnamu, agar kamipun bisa tinjau apakah kau benar-benar becus atau tidak.”

“Agaknya sebelum Ban heng melihat peti mati tak akan mengucurkan air mata, tidak tiba di tepi sungai Huang hoo tidak akan puas hati, jikalau kau betul betul paksa siauw-te tunjukan atosnya baja, sekarang juga kita bisa buktikan secara terbuka, hanya saja…. berkelahi tanpa alasan sama sekali tidak menarik hati.”

“Jadi maksud Ke Kongcu?”

“Jika Ban heng paksa juga ingin melihat kepandaian siauw-te, ada baiknya kita beri sedikit variasi dalam pertarungan kita kali ini.”

“Turut petunjukmu.”

Ke Giok Lang tertawa dingin, sinar matanya lantas dialihkan ke arah wajah Liauw Thayjien.

“Ada baiknya Liauw Thayjien pun ikut serta dalam pertarungan kita kali ini.”

 “Tapi He-koan tak mengerti ilmu silat.”

“Sampai detik ini walaupun jumlah orang yang menginginkan lukisan pengangon kambing itu tidak sedikit, tapi menurut peninjauan kekuatan masing-masing orang seharusnya siauw-te serta Ban heng inilah termasuk dua golongan manusia yan paling kuat.”

“Dan apa sangkut pautnya urusan ini dengan Hekoan?”

“Saudara sedang kebingungan tak menentu, sebaliknya dua golongan kekuatan yang kuat sudah siap akan melangsungkan suatu pertarungan yang sengit.”

“Secara bagaimana aku ikut serta dalam soal ini?” “Kami harus bertempur mati-matian, ada seharusnya

kaupun memberi sedikit variasi sehingga pertarungan tersebut semakin syahdu lagi, sebelum tercipta salah satu luka atau sama sama terluka pertarungan ini belum termasuk ramai.”

“Entah apa yang harus aku lakukan dalam memberikan variasi ini?”

“Lukisan pengangon kambing.”

“Untuk serahkan lukisan pengangon kambing, mudah cuma urusan ini tiada sangkut paut dengan keberangkatan kami sekeluarga ke kota Kay Hong.”

“Sudah tentu ada sangkut pautnya”.

“Silahkan menerangkan pendapatmu yang tinggi itu.”

Ke Giok Lang dongakkan kepalanya tertawa terbahak bahak.

“Kau Liauw Thayjien adalah seorang terpelajar, rasanya pernah mendengar pepatah yang mengatakan

 dua ekor harimau berkelahi salah satu tentu ada yang terluka bukan?”

“Sedikitpun tidak salah, soal ini memang pernah kudengar.”

“Dalam pertarungan sengitku melawan si Dewa Api Ban Cau tentu ada salah seorang yang bakal kalah dan salah satu yang menang, yang menang memperoleh hadiah dan bertanggung jawab dalam melindungi kalian keluarga Liauw tiba di kota Kay Hong dalam keadaan selamat.”

“Ooouw…….kiranya begitu, cuma ……” “Cuma apa?”

“Untuk mengambil keluar lukisan pengangon kambing buat He-koan sih tak ada persoalan, tapi lukisan itu cuma ada sebuah saja, jikalau He koan tetapkan lukisan tersebut sebagai hadiah pemenang dan didapatkan salah seorang di antara kalian, jikalau di tengah jalan kembali berjumpa dengan orang yang menginginkan lukisan ini, kau suruh He-koan menghadapi dengan cara apa?”

“Tepat sekali pertanyaan yang kau ajukan, bilamana di tengah jalan kau berjumpa lagi dengan orang yang ingin merebut lukisan itu, maka ia harus menghadapi dahulu diri aku orang she Ke…….”

“Hmmmm! Agaknya Ke heng sudah menganggap kemenangan pasti terjatuh di tanganmu” jengek si Dewa Api Ban Cau dingin.

“Jika Ban heng tidak percaya, sekarang juga kita boleh buktikan kebenaran ini.”

Dalam soal gertakan Ke Giok Lang sudah menang satu tingkat terlebih dahulu, sehingga semangat si  Dewa

 Api Ban Cau sedikit banyak tertindas dahulu oleh kegagahan jago muda dari dunia kangouw ini.

Kembali terdengar Ke Giok Lang mendehem ringan dan tambahnya.

“Sekalipun misalnya bisa melewati rintangan siauw-te, masih ada penjagaan dari kawan kawan perusahaan Liong Wie Piauw-kiok.”

Diam-diam Phoa Ceng Yan mulai meninjau situasi yang dihadapinya saat ini, bilamana semisalnya ia biarkan antara Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang dengan si Dewa Api Ban Cau melakukan dulu suatu pertarungan sengit antara mati hidup, walaupun di luaran kelihatan ia yang bakal menjadi nelayan mujur yang tinggal memungut hasilnya saja, tapi keadaan sesungguhnya dikarenakan antara Ke Giok Lang dengan Ban Cau selalu menjaga segala dengan cermat, bilamana dalam pertarungan sengit itu salah satu berhasil merebut kemenangan maka ia pasti akan segera turun tangan pula untuk merebut lukisan pengangon kambing tersebut.

Tapi jikalau dalam pertarungan ini Liauw Thayjien ikut campur dan setiap urusan pegang peranan sendiri, maka hal ini akan mengganggu rencana dirinya yang hendak memanfaatkan keuntungan tersebut.

Walaupun begitu ia tetap duduk tenang sambil menanti perubahan situasi selanjutnya dengan mulut membungkam.

Sinar mata Liaw Thayjien perlahan dialihkan ke atas wajah Phoa Ceng Yan, katanya, “Phoa Hu Cong Piauwtauw, tolong kau suka bantu He-koan pikirkan bolehkah aku cantumkan lukisan pengangon kambing itu sebagai hadiah bagi pemenang pertarungan ini?”

 Phoa Ceng Yan tertawa hambar.

“Jikalau Thayjien suka percaya terhadap omongan aku orang she Phoa maka serahkan saja seluruh urusan ini biar aku yang membereskan sendiri menurut jalan pikiran aku orang she Phoa, apa yang hendak aku lakukan lebih baik jangan Thayjien potong atau mencegah di tengah jalan. Bilamana Thayjien merasa kekuatan orang she Phoa tidak memadai untuk melindungi keselamatan kalian sekeluarga serta thayjien ingin mencampuri sendiri urusan dunia kangouw maka ada baiknya ambil keputusan sendiri tanpa perlu berunding lagi dengan cayhe.”

“Baiklah!” kata Liauw Thayjien kemudian dengan alis berkerut. “He-koan tetapkan lukisan pengangon kambing ini sebagai hadiah pemenang, jikalau salah satu di antara kalian berhasil menangkan pertandingan ini maka lukisan pengangon kambing ini menjadi milik si pemenang, cuma He-koan harus terangkan dahulu……”

“Liauw Thayjien ada persoalan apalagi?” seru Ke Giok Lang cepat.

“Lukisan pengangon kambing itu tak dapat aku serahkan pada saat ini ….”

“Lalu kapan hendak kau serahkan?”

“Setelah tiba di kota Kay Hong baru kuserahkan lukisan pengangon kambing itu kepadamu.”

“Bicara sesungguhnya, perkataan kalian orang yang memangku jabatan pemerintahan susah dipercaya omongannya.”

“He-koan akan tulis tanda terima dengan diserta tanda tanganku,   setelah   tiba   di   kota   Kay   Hong   dengan

 andalkan surat keterangan itu kau bisa menerima lukisan pengangon kambing.”

“Ehmmm………, perkataanmu ini memang cengli, cuma kami harus lihat dulu gambar lukisan tersebut.”

“Lukisan pengangon kambing yang He-koan bawa cuma sebuah saja, jikalau kalian maksudkan dan semisalnya cuwi sampai salah mencari, bukankah hal ini merupakan suatu lelucon yang sangat menggelikan sekali.”

“Maka dari itu, cayhe ingin melihat dahulu keaslian lukisan tersebut.”

“Tidak bisa jadi, urusan ini tidak mungkin bisa dilakukan.”

Liauw Thayjien menggeleng berulang kali. “Kenapa?”

“Cuwi semua memiliki kepandaian silat yang amat tinggi, jikalau cayhe keluarkan lukisan pengangon kambing itu, perduli siapa saja di antara kalian yang berhasil rebut lukisan tersebut, bukankah He-koan hanya bisa membelalakkan mata dengan mulut melongo?”

“Soal ini, cayhe rasa tidak mungkin terjadi.”

“Maksud mencelakai orang tidak boleh ada, maksud berjaga-jaga tidak boleh tak ada, He-koan tak bisa tidak harus bikin persiapan terlebih dahulu…….”

Phoa Ceng Yan yang mendengar perkataan tersebut, diam-diam lantas berpikir dalam hatinya, “Hanya beberapa hari saja ternyata iapun berhasil mempelajari cara untuk menghadapi kaum Bu Lim.”

Ke Giok Lang sebaliknya malah dongakkan kepalanya tertawa terbahak bahak.

 “Haaa………haaa……..haaa……… Bagus sekali, bagus sekali, maksud menjaga diri tidak boleh tidak ada, silahkan kau buat surat tanda terima tersebut.”

Liauw Thayjien menyahut, ia suruh kacung bukunya persiapkan pit, bak dan kertas lalu membuatnya sepucuk surat tanda terima yang kira-kira berbunyi “

“Dengan berdasarkan surat ini dapat menerima sebuah lukisan pengangon kambing.” dibawahnya ia cantumkan sekalian namanya.

Ke Giok Lang memandang sekejap ke arah kertas tersebut, lalu tertawa.

“Liauw Thayjien! Jikalau di atas bukti itu dicantumkan pula nama besar dari Phoa Hu Cong Piauw-tauw, maka surat tanda bukti itu bertambah laku lagi.”

“Hmmm! Urusan ini tiada sangkut pautnya dengan perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kami, juga tiada sangkut paut dengan aku orang she Phoa, mengapa aku orang she Phoa harus ikut mencantumkan pula namaku di atas surat tanda bukti itu?”

“Mohon Phoa heng suka mencantumkan pula namamu di atas tanda bukti itu, aku rasa inipun tak akan merugikan diri Phoa heng,” kata Ke Giok Lang sambil tertawa.

“Hmmm! Silahkan kau mengajukan pendapatmu.”

“Di atas nama Phoa heng kau boleh terangkan pula jika barang tersebut sengaja diserahkan Liauw Thayjien secara sukarela dan disetujui pula oleh Phoa-heng, dan barang tersebut bukan direbut dengan kekerasan.”

“Cuma itu saja?” tanya Phoa Ceng Yan setelah termenung sejenak.

 “Di lain waktu jikalau siauw-te menemui Liauw Thayjien untuk minta lukisan tersebut dengan andalkan surat bukti tadi, Phoa heng-pun bisa bertindak pula sebagai saksi.”

Tiba-tiba Phoa Ceng Yan dongakkan kepalanya tertawa terbahak-bahak, “Haaa…..haaa…..haaaa……. Ke Kongcu, bukankah sudah berulang kali aku katakan bahwa urusan ini sama sekali tiada sangkut pautnya dengan aku orang she Phoa, jikalau kau paksa juga ingin minta persetujuan dari aku orang she Phoa, maka cayhe bisa terangkan bahwa aku sama sekali tidak setuju untuk serahkan lukisan pengangon kambing itu kepada siapapun.”

“Bilamana Siauw-te datang tidak tepat pada waktunya, kemungkinan sekali kalian sudah dibakar hancur berantakan oleh serangan senjata berapi dari si Dewa Api Ban Cau.”

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw!” mendadak Liauw Thayjien berseru.

“Ada urusan apa?” sahut Phoa Ceng Yan dengan alis berkerut.

“Perkataan dari Ke Kongcu sedikitpun tidak salah, rasanya Phoa Hu Cong Piauw-tauw hanya cantumkan namamu di atas surat bukti itupun bukan merupakan suatu persoalan yang merugikan dirimu.”

“Jadi maksud Thayjien. kau ingin cayhe pun cantumkan pula namaku di atas surat tanda bukti itu?”

“Mencantumkan nama untuk membuktikan bahwa barang itu adalah cayhe yang rela serahkan kepadanya, aku rasa persoalan ini tidak merugikan nama baik perusahaanmu bukan?”

 “Ke heng!” seru Phoa Ceng Yan kemudian sambil menoleh kearah Ke Giok Lang.

“Nama besar Hoa Hoa Kongcu ternyata luar biasa sekali, dengan dua tiga patah kata ternyata kau bisa bikin tunduk si pemilik barang dari perusahaan kami.”

Ke Giok Lang tersenyum.

“Pil mujarab tersebut merupakan obat kuat yang susah didapatkan, cayhe pun berhasil memperoleh barang tersebut dengan kerahkan seluruh tenaga yang dipunyai, aku rasa penyakit yang diderita nona Liauw sudah banyak berkurang bukan!”

Phoa Ceng Yan tak bisa berbuat apa-apa lagi, diterimanya surat tanda bukti itu seraya angkat pit siap mencantumkan namanya.

“Ke Kongcu!” ujarnya kembali. “Minta aku orang she Phoa ikut mencantumkan namaku di atas surat tersebut bukan suatu pekerjaan yang sukar, tapi aku orang she Phoa pun ingin menanyakan dulu satu persoalan kepadamu, asalkan Ke Kongcu suka memberikan jawaban yang memuaskan hatiku, maka aku orang she Phoa akan segera cantumkan pula namaku di atas kertas tersebut.”
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Lambang Naga Panji Naga Sakti Jilid 11"

Post a Comment

close