coba

Kunanti Di Gerbang Pakuan Jilid 10 (Tamat)

Mode Malam
“Engkau jangan melihat Arya Damar atau pun Yudakara. Mereka datang ke sana ke mari bukan untuk mengusung kepentingan agama baru. Mungkin mereka hanya berlindung dibaliknya, memanfaatkan kesempatan untuk kepentingan pribadinya semata. Aku katakan sekali lagi, sejak dulu Cirebon tak berniat menyerang Pajajaran, kecuali menginginkan agama baru tersebar luas ke penjuru dunia. Agama kami ini untuk kepentingan hidup manusia. Maka alangkah muskilnya bila dalam menyebarkannya kami lakukan dengan penghancuran,” Ki Jayaratu berpanjang-lebar bicara.

Banyak Angga mengangguk dan menyembah takzim.

“Saya mengerti perihal ini dan akan saya laporkan kepada penguasa negri. Namun seperti yang Ki Jayaratu katakan tadi, seorang abdi negara wajib mempertahankan negrinya. Aki telah sadar bahwa Pajajaran tengah diancam oleh kelompok manusia seperti yang digambarkan tadi. Maka itulah perjuangan kami, ingin menepis orang-orang seperti itu sehingga tak mengganggu dan merusak ketentraman hidup,” jawab pemuda itu.

Ki Jayaratu mengangguk-anggukan kepala dan tersenyum tipis.

“Pergilah anak muda. Memang nilai terbaikmu ada di sana, yaitu membela nama baik negri,” tutur Ki Jayaratu.

Banyak Angga mengangguk. Dan untuk kesekian kalinya dia menyembah takzim.

***

Banyak Angga berjalan menuruni bukit. Tidak terburu-buru namun juga tidak berlaku santai. Dia sadar, berita yang akan disampaikannya ke pusat pemerintahan sungguh penting dan bila terlambat menyampaikannya akan membahayakan negri.

Namun pemuda ini pun sadar, untuk tiba di dayo Pakuan tak bisa secepat itu. Perjalanan dari puncak Gunung Cakrabuana yang ada di wilayah Karatuan Talaga ke ibu negri Pajajaran yang begitu jauh, paling cepat akan menghabiskan waktu satu minggu, itu pun bila tidak ada rintangan. Padahal Banyak Angga sadar, perjalanan menuju wilayah barat bukan merupakan perjalanan yang nyaman. Sudah dia buktikan sendiri, betapa susah-payahnya dia manakala ingin melakukan perjalanan dari Pakuan ke Cakrabuana. Di samping medan perjalanan yang berat, juga ditambah oleh gangguan keamanan. Beberapa kali rombongannya dicegat pasukan misterius yang tujuannya nyata-nyata hendak membunuhnya.

Siapa calon-calon pembunuh itu, membuat alis pemuda itu berkerut.

Mungkin di antara pencegat itu ada di antaranya yang datang dari Cirebon. Atau mungkin juga hanya sekedar perampok biasa. Namun Banyak Angga pun berpikir, di antara para pembunuh itu ada yang datang dari Pakuan sendiri. Mengapa tak begitu sebab semuanya serba misterius. Semuanya serba tertutup. Di antara kaum penyerang ketika itu ada beberapa yang bisa ditangkap. Namun pada akhirnya mereka tewas misterius sebelum diperiksa. Kendati samar-samar, belakangan Banyak Angga berani meraba-raba, barangkali penyerang yang mati misterius sebelum ditanyai adalah pembunuh yang muncul dari dalam sendiri.

Utusan Pangeran Yudakara?

Banyak Angga bergidik memikirkannya. Bisa saja dia hendak dibunuh oleh Pangeran Yudakara. Dan kalau benar jalan pikirannya ini, maka bulu kuduknya semakin bergidik juga sebab dia harus lebih jauh lagi meaba-raba kemungkinannya. Kemungkinan paling buruk, Pragola pun ikut terlibat. Paling tidak, anak muda itu tahu bahwa dirinya jadi sasaran pembunuhan Pangeran Yudakara, bekas majikan pemuda itu. Bekas majikan? Ow, barangkali selama ini yang jadi majikan Pragola buka keluarga Yogascitra, melainkan Pangeran Yudakara. Ya, Pragola pasti sengaja diselundupkan oleh pangeran itu untuk memata-matai dan juga membantu melenyapkannya.

Banyak Angga bergidik menduganya. Betapa tak menduga begitu. Kendati Pragola tidak berani langsung membunuhnya tapi tapi paling tidak pemuda itu mencoba membiarkan orang lain membunuhnya. Banyak Angga teringat pada pertempuran terakhir di hutan jati di tengah perjalanan antara karatuan Sumedanglarang dan Karatuan Talaga. Waktu itu rombongannya dikepung pasukan misterius. Banyak Angga sudah payah dikepung banyak orang. Karena melihat kedudukan Pragola agak longgar, Banyak Angga memohon bantuan. Namun pemuda itu seperti mengulur-ngukur waktu untuk membantunya kalau pun tak disebut sebagai membiarkannya. Sambil sempoyongan karena kepala pusing banyak mengeluarkan darah, Banyak Angga ketika itu sempat mengetahui, betapa Pragola memilih diam tak bergerak manakala beberapa golok musuh hendak mencehcarnya. Padahal kalau mau, waktu itu Pragola masih sempat mengulurkan bantuan.

Karena Pragola masih tetap diam, akhirnya Banyak Angga memejamkan mata dan pasrah akan nasibnya manakala belasan golok hendak mencecarnya. Banyak Angga sudah tak tahu apa-apa lagi karena pingsan, untuk selanjutnya kembali sadar sesudah berada di Puncak Cakrabuana.

Banyak Angga duduk di atas batang pohon yang tumbang di tengah hutan. Banyak pikiran menggayutinya. Dia pun ingat kepada teman-temannya yang lain. Di manakah Paman Angsajaya kini berada? Di mana pula Paman Manggala? Pertemuan terakhir kali adalah di tengah kepungan pasukan misterius itu. Semuanya terkepung dan semuanya kepayahan.

Sesudah itu, semuanya tak diketahui. Ketika Banyak Angga sudah selamat berada di puncak, dia pun teringat mereka dan ingin sekali bertanya perihal teman-temannya yang lain. Tapi kelihatannya, baik Ki Darma mau pun Ki Jayaratu tidak mengetahuinya. Buktinya, mereka tak pernah menyebut-nyebut pertempuran di hutan jati secara rinci. Barangkali Ginggi yang menolongnya, tak mengabarkan kejadian pertempuran secara lengkap karena terlalu tergesagesa untuk segera pergi ke Pakuan. Atau bisa juga sebetulnya kedua orang tua itu sudah dilapori Ginggi perihal pertempuran di sana, hanya saja mereka tak mau mengabarkannya kepada Banyak Angga.

Maka Banyak Angga pun kembali melanjutkan perjalanannya. Perlu dua hari untuk sampai ke wilayah Karatuan Sumedanglarang itu. Itu terjadi karena Banyak Angga harus melakukan perjalanan dengan hati-hati. Dia tahu, Sumedanglarang sudah merupakan negri yang memihak Cirebon. Dan barangkali mereka rak menyukai melihat orang Pakuan keluyuran di wilayahnya. Itulah sebabnya, perjalanan berjalan lambat.

Namun ketika tiba di hutan jati bekas pertempuran, Banyak Angga hanya menemukan kesunyian. Di sana tak ada kehidupan apa pun kecuali gundukan-gundukan tanah.

Banyak Angga menduga, gundukan tanah itu tentu kuburan. Pemuda ini percaya kalau seusai pertempuran banyak orang menjadi korban. Namun, kuburan siapakah itu, jumlahnya cukup banyak. Hanya saja, dari sekian gundukan tanah, ada dua kuburan terpisah.

Banyak Angga berpikir sejenak. Dia mencoba menduga-duga jalan pikiran penguburnya. Mungkin dia tahu, yang tewas ada dua belah pihak, makanya mayat mereka dikuburkan secara terpisah. Beberapa buah di sebelah sana dan hanya dua buah di tempat lainnya. Banyak Angga terkejut mengikuti jalan pikirannya ini. Kalau dua kuburan terpisah itu ternyata anak buahnya, siapa lagi kalau bukan Paman Angsajaya dan Paman Manggala? Ya,

bukankah dia tahu Pragola selamat? Siapa lagi yang tak bisa tiba ke Puncak Cakrabuana kalau bukan Paman Angsajaya dan Paman Manggala?

Banyak angga terduduk lesu. Ada burung gagak beterbangan di angkasa, seolah-olah memberi tahu bahwa kuburan yang dia renungi adalah benar kuburan dua anak buahnya. Satu kuburan Paman Angsajaya dan satunya lagi kuburan Paman Manggala.

Sungguh bingung memikirkannya. Kalau mau bercuriga, sebenarnya Paman Manggala tak perlu mati. Bukankah dia tadinya ank buah Pangeran Yudakara juga? Kalau benar begitu, Paman Manggala pun berkomplot sama dengan Pragola. Namun herannya, Paman Manggala pun ketika itu dikepung ramai-ramai dengan darah bersimbah di sana-sini. Banyak Angga pun mengeryitkan dahi, kendati waktu itu Pragola terbebas dari luka-luka, namun Banyak Angga melihat bahwa serangan musuh terhadap pemuda itu sungguh-sungguh dan berniat hendak mengambil nyawanya. Hanya karena Pragola lebih kosen saja maka tak ada musuh yang sanggup melukainya.

Banyak Angga semakin bingung memikirkan hal ini. Siapakah pasukan penyerang di hutan jati itu? Mereka memang memperlihatkan ciri sebagai perampok, begitu menghadang minta harta. Namun mengaku perampok dan minta harta, belum tentu perampok beneran. Bisa saja mereka utusan tertentu untuk melakukan pembunuhan. Utusan siapa mereka, inilah yang membingungkan sebab semuanya serba gelap.

Namun, terbukti atau tidak mereka bertindak sebagai utusan, yang jelas di Pakuan kini bersarang tokoh yang membahayakan. Betapa tidak, Pangeran Yudakara begitu dipercaya oleh Sang Prabu Nilakendra. Dia adalah kerabat dekat Sumba Sembawa, tokoh pemberontak dari Sagaraherang di masa pemerintahan Sang Prabu Ratu Sakti. Barangkali agar hubungan dengan wilayah Sagaraherang membaik kembali, maka tampuk pemerintahan di kandagalante itu diserahkan kepada Pangeran Yudakara.

Banyak alasan mengapa Sang Prabu Nilakendra menyerahkan Sagaraherang kepada pangeran itu. Sang Prabu selalu ingin mengurangi permusuhan dengan berbagai pihak. Sang Prabu rupanya ingin menghapus jejak ayahandanya yang gemar menanam permusuhan. Maka Pangeran Yudakara yang diketahui pernah berkiblat ke negri Carbon dan bahkan kerabat dekat Kandagalante Sunda Sembawa yang memberontak, tokh diberinya kepercayaan untuk menguasai Sagaraherang.

Sang Prabu barangkali bermaksud menghilangkan rasa dendam atas kematian kerabatnya, yaitu Sunda Sembawa. Maka dianugrahilah Pangeran Yudakara dengan jabatan tinggi.

Banyak Angga bahkan menerima khabar bahwa wilayah Sagaraherang akan semakin diperluas ke arah timur yang berbatasan dengan wilayah Carbon dan Pangeran Yudakara akan dinaikkan pangkatnya tidak sekadar sebagai kandagalante (setingkat wedana kini) namun akan menjadi mangkubumi yang menguasai wilayah tanah setingkat gubernur untuk ukuran sekarang.

Selama berada di Pakuan, Pangeran Yudakara memang tidak menampakkan gerakan di Pakuan, Pangeran Yudakara memang tidak menampakkan gerakan yang mencurigakan. Bahkan dia banyak berpikir perihal kemajuan Pakuan. Sebagai contoh, Pangeran Yudakaralah yang mengirim Pragola ke Pakuan untuk memberikan laporan mengenai adanya belasan pasukan balamati yang katanya terkepung di Puncak Cakrabuana itu.

Tentu saja, Banyak Angga sebelumnya terkecoh kalau saja tidak mendapat khabar dari Puncak Cakrabuana. Ki Jayaratu malah mengabarkan bahwa Pangeran Yudakara sebetulnya tak lebih dari sekadar petualang politik saja. Ki Jayaratu mengabarkan, betapa semasa berada di Carbon, Pangeran Yudakara selalu mempengaruhi para pimpinan di sana agar menghancurkan Pajajaran dengan alasan untuk memperluas sendi-sendi agama baru di Jawa Kulon. Kata Ki Jayaratu, begitu uletnya Pangeran Yudakara dalam upaya membelokkan perjuangan Carbon. Buktinya, Purbajaya, murid terkasih Ki Jayaratu yang berangakat ke Pakuan dengan tugas ikut menyebarkan agama baru, pada akhirnya terjerumus ke kancah politik yang salah.

Tentu saja Banyak Angga tak bisa menuduh begitu saja. Ucapan Ki Jayaratu hanya akan dianggap sebagai panduan saja. Sedangkan untuk membuktikan gerakan apa yang sebenarnya tengah dilakukan Pangeran Yudakara, haruslah melakukan penyelidikan dengan seksama.

Sesudah merenung cukup lama, akhirnya Banyak Angga bergegas meninggalkan hutan jati itu. Hari sudah mulai gelap dan dia tak mau kemalaman di sini.

Dia harus cepat melakukan perjalanan, sesulit apa pun yang terjadi. Kali ini benar-benar diburu waktu. Di samping untuk memikirkan bahaya yang ditimbulkan Pangeran Yudakara, Banyak Angga pun harus memikirkan nasib Ginggi dan Pragola. Pemuda ini khawatir sekali bahwa bila Pragola berhasil menemui Ginggi, maka akan terjadi peristiwa yangh tak diinginkan. Jangan sampai dua kakak-beradik mengadu nyawa oleh sesuatu sebab yang tak berarti.

Pragola diketahui menyimpan dendam kepada Ginggi. Prgola harus dicegah jangan sampai melampiaskan rasa dendamnya itu.

***

Banyak Angga terus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Pada siang hari dia melakukannya seperti orang kebanyakan. Tapi pada malam hari atau bila menempuh perjalanan yang bersuasana sepi, dia berjalan secara napak sancang. Napak sancang adalah sejenis ilmu meringankan tubuh. Semakin tinggi memiliki ilmu ini, akan semakin ringan tubuhnya.

Banyak Angga menerima pelajaran napak sancang dari Ginggi manakala pemuda itu masih bekerja padanya belasan tahun silam.

Dan kalau ingat Ginggi, Banyak Angga suka tersenyum sendiri memikirkannya. Ginggi itu manusia aneh. Dia memiliki ilmu kepandaian tinggi tapi selalu acuh tak acuh dn masa bodoh terhadap kemampuannya ini. Kalau pemuda lain, sedikit punya kepandaian saja sudah berbondong-bondong melamar untuk jadi prajurit Pakuan. Sebaliknya dengan Ginggi. Dia tak pernah menganggap bahwa dirinya berharga. Ketika ayahanda Banyak Angga, yaitu Pangeran Yogascitra ingin memasukannya menjadi anggota pasukan balamati (pengawal Raja), Ginggi menolaknya, padahal orang lain harus menempuh ujian-ujian berat.

Ginggi pandai menggunakan ilmu napak sancang sehingga Banyak Angga ketika itu tertarik dan ingin menganggap pemuda Ginggi sebagai gurunya.

“Ah, tak perlu berguru. Kalau engkau mau, akan saya kasih contoh,” tutur Ginggi ketika itu. Maka Ginggi mendemontrasikan kepandaiannya. Dia mengajak Banyak Angga bermain di Telag Rena Mahawijaya, sebuah telaga buatan di Pakuan yang pada waktu-waktu tertentu digunakan raja dan kerabatnya untuk melakukan upacara suci.

Banyak Angga begitu terkagum-kagum ketika melihat Ginggi memperlihatkan kepandaiannya. Ginggi begitu hebatnya berlari dan meloncat-loncat di atas permukaan air. Kalau tak menyaksikan sendiri, maka siapa pun tidak akan percaya, mana mungkin orang bisa berlari di atas permukaan air. Atau kalau pun bisa menyaksikan, maka orang akan menganggapnya sebagai perbuatan sihir.

“Bukan sihir atau pun ilmu gaib sebab ini hanyalah peristiwa alamiah belaka,” tutur Ginggi ketika. Kemudian pemuda lugu itu memberikan contoh sederhana. Diambilnya sebuah batu berbentuk pipih tipis. Benda itu dia celupkan ke air.

“Lihat, benda ini tenggelam,” kata Ginggi. Sesudah Banyak Angga mengiyakan, batu pipih itu diambil lagi. Kemudian Ginggi melemparkannya keras-keras mengarah ke tengah telaga. Cara melemparkan, diusahakannya agar bagian yang pipih mendatar sejajar permukaan air. Batu itu melesat sejajar permukaan air. Ketika turun dan menempel ke permukaan air, batu itu tidak tenggelam, melainkan masih tetap meluncur meloncat-loncat dan baru benar-benar tenggelam ketika tenaganya habis.

“Begitulah cara telapak kaki kita pun dalam menginjak permukaan air,” tutur Ginggi. “Diusahakan telapak kaki kita memijak datar ke atas permukaan air tapi dengan gerakan cepat dan jangan biarkan gaya berat tubuh kita punya kesempatan menekan lama kepada permukaan air,” lanjutnya.

Banyak Angga mengerti teori ini. Namun untuk mempraktekaknya sungguh sulit. Dia tak pernah berhasil meniru apa yang pernah dilakukan Ginggi. Tenaga dalamnya kurang kuat sehingga tak mampu menggerakkan sepasang kakinya dengan kecepatan penuh seperti apa yang jadi persyaratan.

Sampai tiba saatnya berpisah dengan Ginggi, Banyak Angga tak pernah berhasil melatih ilmu napak sancang dengan baik. Artinya, Banyak Angga tak pernah bisa meniru apa yang pernah diajarkan Ginggi, yaitu berlari di atas permukaan air.

Namun kendati demikian, seburuk apa pun kemampuannya, tokh apa yang dipelajari Banyak Angga terasa manfaatnya. Walau pun dia tak bisa napak sancang di atas permukaan air, namun ketika dia menggunakan ilmu itu di tempat datar, hasilnya sungguh mencengangkan. Banyak Angga bisa berlari amat cepat seperti panah melesat dari busurnya. Kalau orang biasa menyaksikannya, mereka pasti akan terbengong-bengong, atau barangkali akan bergidik ketakutan karena yang terlihat hanya sesuatu benda berkelebat saja.

Itulah sebabnya, untuk tidak membuat perhatian orang, maka Banyak Angga hanya melakukan kepandaiannya di tempat-tempat sepi saja.

Di tempat ramai menjelang ketibaannya di wilayah Sagaraherang, Banyak Angga tidak berani melakukan hal-hal aneh menurut perkiraan orang biasa. Bahkan dia pun tak mau diketahui oleh siapa pun bahwa dirinya memiliki sedikit kepandaian. Bahkan di wilayah Sagaherang ini, dian ingin melakukan penyelidikan secara diam-diam.

Beberapa hari lalu ketika dia akan berangkat menuju Cakrabuana dan singgah di wilayah ini tak punya kecurigaan apa-apa. namun setelah menerima khabar dari Ki Jayaratu, persoalan lain lagi. Dia harus berusaha membuktikan benar tidaknya sepak-terjang Pangeran Yudakara. Jauh di luar kota, Banyak Angga sudah mendapatkan berita bahwa kali ini Pangeran Yudakara tengah berada di purinya. Pemuda ini bersyukur dalam hatinya sebab dengan demikian dia bisa mulai melakukan penyelidikan.

Banyak Angga menunggu hari malam. Kemudian sesudah waktu ditunggu tiba, dia segera bergerak. Tujuannya adalah puri Yudakara.

Wilayah kandagalante Sagaraherang ini cukup besar. Pusat kota dilindungi benteng tanah yang disusun kokoh setinggi lebih dari empat depa ( 1 depa kurang lebih 1,698 meter).

Lawang Saketeng (pintu gerbang) menghadap ke sebelah timur, ke arah di mana dalam perjalanan kuda dua hari sudah merupakan wilayah Nagri carbon (Cirebon).

Persinggahan beberapa hari lalu di wilayah ini tidak begitu menarik perhatian dirinya. Dia yang beberapa hari lalu masih memimpin rombongan menuju Cakrabuana hanya singgah sebentar saja. Pertama karena waktu itu hari masih siang dan keduanya karena tuan rumah yaitu Pangeran Yudakara sedang tak berada di tempat.

Amat kebalikan dengan hari ini. Sekarang Banyak Angga datang dengan segudang rasa penasaran. Namun sudah barang tentu, kehadirannya kali ini harus dilakukan diam-diam. Dia ingin menyelidik. Dan untuk itu, tk boleh ada orang tahu. Itulah sebabnya, Banyak Angga menunggu malam jauh di luar benteng. Dia bermaksud ingin menyelundup ke puri Yudakara secara diam-diam.

Dan waktu yang ditunggu telah tiba. Manakala senja jatuh di ufuk barat, maka terdengar lenguhan terompet tiram. Tidak lama kemudian terdengar pula derit pintu kayu jati ditutup jagabaya (prajurit penjaga).

Ini merupakan aba-aba bagi Banyak Angga agar segera bersiap-siap untuk melakukan penyelundupan.

Banyak Angga harus menunggu lagi untuk beberapa lama agar malam benar-benar gelap. Amat beruntung langit malam tidak dihiasi bulan. Dengan demikian dia akan bisa bergerak dengan sedikit leluasa. Kini yang harus diperhatokan adalah gerakan tugur (peronda) yang setiap saat datang menusuri benteng. Tugur bergerak tiap empat orang. Dua orang di depan membawa oncor (obor) yang apinya menyala cukup besar dan menerangi seputarnya.

Sedangkan dua orang di belakang selalu siap dengan gobang (pedang) terhunus.

Banyak Angga perlu menyimak gerakan mereka untuk beberapa saat. Dia ingi tahu setiap kapan tugur akan lewat, sehingga pada akhirnya dia akan bisa mencuri kesempatan untuk menerobos masuk.

Namun sungguh mengherankan, interval gerakan tugur sungguh amat ketat. Keheranan ini sekaligus mengundang perasaan curiga, mengapa penjagaan seketat ini? Semakin tebal rasa curiga Banyak Angga, seolah-olah benar, Pangeran Yudakara akan melakukan gerakan yang membahayakan Pakuan.

Banyak Angga semakin tertarik untuk menyelidiki puri ini. Kalau benar terdapat hal-hal yang mencurigakan, dia harus segera kembali ke dayo (ibukota) untuk melapor.

Banyak Angga sudah mendekam di atas benteng. Namun demikian, dia masih belum punya kesempatan untuk menyelundup masuk.

Meloncat turun begitu saja, merupakan sebuah tindakan riskan sebab di dalam benteng merupakan lapangan rumput yang cukup terbuka. Bisa saja dia berlari kencang menuju paseban (bangunan tempat melakukan pertemuan). Namun bangunan terkecil di tengah hamparan rumput beratap sirap itu terbuka di keempat sudutnya. Artinya, bangunan itu berdiri tak berdinding. Banyak Angga akan bisa ketahuan tugur bila sembunyi di sana. Pemuda itu memperhatikan ke sekelilingnya. Di depan paseban terdapat tiga bangunan berjejer. Namun dari ketiganya, hanya satu yang besar dan indah. Banyak Angga tahu, itulah bangunan di mana Pangeran Yudakara tinggal.

Bagaimana dia bisa ke sana tanpa diketahui penjaga? Banyak angga tengadah ke atas. Di sana terlihat dahan pohon kihujan. Pohon jenis ini ada berjejer tiga buah dan yang palin ujung terletak di sisi bangunan samping. Pohon-pohon itu seolah memberitahu bahwa dia harus bergerak lewat dahan untuk bisa mendekat bangunan inti.

Maka ketika rombongan tugur pembawa obor sudah lewat, Banyak Angga segera meloncat ke atas dan sepasang tangannya bergayut ke ujung dahan pohon. Ada sedikit suara berkeresekan karena dahan pohon bergoyang. Pemuda itu menahan napas dan hatinya berdoa agar suara keresekan tak didengar kaum peronda.

Beruntung tak ada petugas yang kembali. Ini pertanda suara keresekan tak didengar mereka. Namun kendati begitu, Banyak Angga mengeluh. Segala sesuatu yang menyelamatkannya selalu berbau keberutungan dan bukan atas kebolehannya. Bila ingat ini, pemuda itu selalu iri kepada Ginggi. Ginggi hidupnya acuh tak acuh dan sedkit ugal-ugalan. Pemuda itu terkadang tak peduli terhadap keberadaan dirinya. Ginggi pernah berkata, Ki Darma sebagai gurunya suka memaksa agar dia selalu berlatih kedigjayaan. Namun Ginggi kerapkali menolak dan bersikap ogah-ogahan. Anehnya, kendati begitu tokh punya kepandaian hebat. Dia amat digjaya dan amat disegani di mana-mana. Seorang diri dia pernah melumpuhkan puluhan prajurit tangguh anak Buah Sunda Sembawa tanpa membuat luka apalagi tewas. Ini adalah kepandaian maha hebat sebab orang baru bisa meloloskan diri dari kepungan banyak orang kalau sudah melumpuhkan atau menewaskannya.

Banyak Angga mengeluh. Bila dibandingkan dengan Ginggi, dia tak ada apa-apanya. Padahal kini tengah menangani pekerjaan berat, barangkali berbahaya. Kalau saja kepandaiannya setingkat Ginggi dia lebih leluasa dan lebih punya keyakinan.

Bukan karena takut. Tapi pekerjaan ini tak boleh gagal. Kematian baginya bukan suatu hal yang perlu dirisaukan. Tapi mara-bahaya untuk negara harus dihindarkan. Itulah yang dirisaukannya. Dia takut penyelidikannya gagal sehingga berakibat fatal bagi negrinya.

Tak ada bantuan yang bisa dicari. Penghuni puri ini, barangkali semuanya orang-orang Yudakara. Artinya, malam ini dia kerja sendirian.

Maka Banyak Angga segera merayap menuju dahan lebih besar. Dia merangkak dengan hatihati. Meloncat ke dahan lain dan segera berhenti karena ada tugur lain yang lewat membawa obor dengan cahayanya yang menggelebur terang.

Sesudah rombongan peronda lewat jauh, kembalai Banyak Angga bergerak. Kali ini menggapai dahan pohon di sebrang. Sayang ujung dahan itu terlalu kecil, sehingga ketika dia bergayut dahan melenting karena tak kuat menahan berat badannya.

Pemuda itu terpaksa menjatuhkan diri ke atas tanah berumput sebab kalau tetap memaksakan diri terus bergayut, akan menimbulkan perhatian penjaga kalau dahan kecil itu patah dan mengeluarkan bunyi.

Begitu jatuh ke atas tanah, Banyak Angga segera meloncat dan berlindung di balik pohon itu. Kini tinggal terhalang satu pohon lagi untuk sampai ke jajaran bangunan yang dia tuju itu.

Dan Banyak Angga kembali meloncat-loncat agar bisa tiba di sana sebelum kehadiran peronda baru.

Tadinya yang ingin dia tuju adalah bangunan besar di tengah. Namun niat itu dia rahkan ke tempat lain. Dari dalam bangunan pertama sayup-sayup terdengar suara lecutan cambuk disusul oleh suara orang menahan rasa sakit.

Banyak Angga segera menduga, di dalam bangunan itu ada orang yang tengah disiksa. Siapa yang siksa dan siapa pula yang menyiksa, itu pula yang jadi pusat perhatian Banyak Angga. Pemuda itu ingin mengetahuinya.

Maka dengan sangat hati-hati pemuda itu berusaha menaiki dinding bangunan yang terbuat dari serpihan papan jati. Hati-hati sekali sebab dia tak ingin ada suara keresekan biar sedikit pun. Banyak Angga sadar, di puri ini banyak orang pandai. Pangeran Yudakara dikenal punya kepandaian tinggi dan Banyak Angga tidak ingin bertindak gegabah.

Pemuda itu merayap ke atas dan menuju atap genting sirap. dengan amat hati-hati dia mencoba mencongkel serpihan daun sirap dengan harapan bisa membuat celah untuk mengintip ke bawah.

Sudah dilakukan. Sorot matanya bisa melihat ke bawah. Pertama-tama yang dilihatnya adalah seorang prajurit bertubuh tinggi besar dengan muka penuh cambang bauk. Dia bertolak pinggang sambil tangannya memegangi cemeti (cambuk) terbuat dari kulit hitam yang dilinting.

Banyak Angga menggerak-gerakkan kepalanya, mencoba mengarahkan pandangannya ke tempat lain. Dia ingin sekali tahu, siapa yang tengah disiksa prajurit itu.

Ada sepasang tangan yang diikat tambang ijuk ke atas balok kayu dan sepertinya sepasang tangan itu sengaja dikerek ke atas.

Banyak Angga ingin sekali melihat wajah orang yang terikat itu. Namun apa daya, tepat di hadapan orang yang terikat itu berdiri seorang laki-laki yang tubuhnya cukup tinggi sehingga menghalangi pandangan. Siapa orang bertubuh tinggi itu, Banyak Angga pun tak bisa memastikan sebab orang itu berdiri berkacak pinggang sambil menghadap ke arah tawanan, artinya pas membelakangi Banyak Angga. Namun ketika orang itu berbicara, Banyak Angga serasa kenal dengannya.

“Pengkhianat harus dibunuh!” desis orang itu. Kemudian dijawab oleh tawanan,”Aku bukan pengkhianat sebab tak pernah bersetia kepada siapa pun sebelumnya,”

Banyak Angga terkejut. Kedua orang yang bertanya-jawab itu tak lain Pangeran Yudakara dan Pragola. Pragola kini yang jadi tawanan Pangeran Yudakara. Karena apa?

“Dasar anak dungu! Bertahun-tahun kau berada di bawah pengawasanku, berarti kau anak buahku. Berarti pula kau harus bersetia kepadaku,” desis Pangeran Yudakara.

“Saya datang dan bergabung denganmu karena punya tujuan yang sama yaitu melawan musuh yang sama,” jawab Pragola.

“Nah, kau bilang begitu. Tapi mengapa kau abaikan perintahku?” “Soal apa?”

“Berminggu-minggu kau dekat dengan Banyak Angga dan banyak kesempatan untuk melenyapkan pemuda itu, nyatanya tidak kau lakukan,” tutur Pangeran Yudakara.

Diam sejenak.

“Kau keni bersetia kepada Banyak Angga?”

“Sudaj aku katakan, aku tak bersetia kepada siapa pun juga, kecuali kepada rasa benciku terhadap orang Pajajaran,”

“Bukankha Banyak Angga orang Pajajaran?”

“Ya, tapi aku hanya mau mencari si Ginggi yang kuanggap teha menjadi gara-gara kematian Ki Guru Sudireja,” kata Pragola lagi.

“Dungu. Kau hanya berkutat pada kepentingan pribadi belaka,” dengus Pangeran Yudakara. “Pada akhirnya semua orang bekerja untuk kepentingan pribadi, tidak juga engkau Pangeran!” sergah Pragola.

Pangeran Yudakara memungut cambuk yang tengah dipegang prajurit brewok itu. Lantas cambuk itu dilecutkannya ke tubuh Pragola. Melalui celah genting sirap, Banyak Angga menyaksikan ada darah mengucur dari dada kiri Pragola yang tersayat ujung cambuk. “Bunuhlah kalau aku tak menguntungkanmu!” teriak Pragola.

“Sudah barangtentu engkau harus kubunuh sebab hanya akan mengacaukan gerakan kami belaka,” cetus Pangeran Yudakara berkerot giginya.”Engkau hanya berfikir tentang dendam pribadi belaka. Hai orang dungu dengarkan, membunuh mungkin saja bagian dari perjuangan tapi itu bukan tujuan satu-satunya, dan bukan karena dendam. Kau hanya ingin bunuh Ginggi dan menolak perintah bunuh Banyak Angga. Itulah mengacaukan. Tindak-tandukmu yang liar tak terpimpin itu hanya akan membahayakan gerakan kami saja,” tutur lagi Pangeran Yudakara.”Bunuh bedebah ini!” teriaknya memerintahkan prajurit brewok. Yang diperintah segera mencabut kelewang.

Banyak Angga yang mengintip dari atas wuwungan amat terkejut. Dia akan segera mendobrak genting sirap untuk memberikan pertolongan. Pragola boleh menjadi penyelundup yang membahayakan Pakuan. Namun Banyak Angga berfikir bahwa Pragola adalah pemuda baik. Apalagi dia tahu bahwa Pragola adik kandung Ginggi. Dia harus berusaha menyelamatkan pemuda itu.

Namun belum juga niatnya terlaksana, terdengar suara dentangan dari bawah. Banyak Angga kembali mengintip, ternyata kelewang yang tadi diayunkan prajurit sudah menancap di tiang kayu jati dan bergoyang-goyang mantap.

Banyak Angga semakin terkejut. Entah dengan cara apa, namun kelewang yang sedianya diayunkan ke tubuh Pragola tentu ditepis oleh orang yang baru datang. Inilah yang membuat dirinya terkejut sebab pendatang itu dia hafal betul siapa.

“Ki Banaspati…”bisiknya bergetar.

Mengapa tak terkejut sebab Ki Banaspati adalah tokoh yang dicari-cari pihak Pakuan selama ini.

Secara diam-diam, ayahandanya tengah menyelidiki tokoh ini yang secara misterius menghilang dari Pakuan belasan tahun silam.

Seperti sudah diterangakan di bagian awal, belasan tahun silam semasa Pakuan dirajai Prabu Ratu Sakti (1543-1551 M), terjadi pemberontakan dari wilayah sagaraherang yang ketika itu dipimpin Kandagalante Sunda Sembawa. Sunda Sembawa dapat dibunuh waktu itu juga oleh pasukan Pakuan, begitu pun pengikut-pengikutnya bisa dilumpuhkan. Namun dari hasil penyelidikan pemerintah, ternyata gerakan Sunda Sembawa tak berdiri sendiri. Para pejabat di Pakuan yang bersetia kepada raja bahkan mencurigai bahwa Sunda Sembawa sebetulnya hanya dipakai sebagai anak panah belaka. Artinya, ada kekuatan lain yang bertindak sebagai penarik busur. Namun siapakah gerangan, pihak Pakuan belum bisa membuktikannya.

Selentingan mengatakan, Ki Bagus Seta berambisi menguasai Pakuan. Untuk itu serta-merta “meberikan: putrinya Nyi Mas Layang Kingkin sebagai selir Raja, dengan maksud agar bisa lebih leluasa masuk ke istana. Ki Banaspati malah dianggap lebih berbahaya lagi sebab tindak-tanduknya tak kentara dan amat misterius. Sewaktu Prabu Ratu Sakti berkuasa, Ki Banaspati menjabat sebagai Muhara (petugas penarik pajak). Dia banyak mempengaruhi Raja

agar menaikkan seba (pajak) sebab kejayaan negara harus dikembalikan ke masa silam seperti masanya pemerintaha Sri Baduga Maharaja (1482-1521 M). Musuh-musuh harus dihancurkan dan angkatan perang harus diperkuat.

Sang Prabu Ratu Sakti terpengaruh sehingga rakyat menjerit karena beban pajak yang tinggi. Akibatnya banyak wilayah yang mencoba memberontak dan memilih memisahkan diri atau ikut bergabung dengan negara agama baru yaitu Carbon (Cirebon).

Ki Banaspati disetujui Raja untuk membiayai angkatan perang yang dibentuk di wilayah timur, yaitu Sagaraherang, dengan dalih untuk membendung kekuatan musuh dari timur, yaitu Carbon. Namun belakangan diketahui, angkatan perang yang susah payah dimodali dari pajak rakyat, akhirnya bergerak ke Pakuan dan berupaya melakukan pemberontakan.

Terlibatkah Ki Banaspati? Itulah yang misterius. Sebab seusai kegagalan pemberontakan, Ki Banaspati menghilang tak tentu rimbanya (baca episode Senja Jatuh di Pajajaran).

Jadi tak aneh kalau kini Banyak Angga terkejut dengan kehadiran Ki Banaspati di Sagaraherang ini. Dari mana saja orang ini dan apa keperluannya di tempat ini? “Ki Banaspati…” gumam Pangeran Yudakara dengan bibir terlihat bergetar.

“Lepaskan ank itu,” kata lelaki yang berusia hampir enampuluh namun bertubuh tinggi besar dan berdada bidang ini.

“Dia anak buah saya,”

“Anak buahmu berarti anak buahku juga. Maka lepaskanlah anak itu,” nada Ki Banaspati seperti perintah.

“Anak ini membahayakan, cara kerjanya serabutan. Yang dia pikirkan hanya dendam pribadi semata,” kata Pangeran Yudakara.

“Hahaha!! Dendam adalah kekuatan untuk memenangkan perjuangan. Kudengar barusan, anak muda ini benci si Ginggi dan ingin balas dendam. Itu bagus. Si Ginggi akan jadi duri dalam daging, sebab bila kita mulai bergerak ke Pakuan, anak bengal itu pasti menghalangi jalan kita. Jadi, mengapa tidak kau hargai usaha anak muda ini?” kata Ki Banaspati.

“Dia saya tugaskan membereskan orang-orang Pakuan satu-persatu. Namun sekedar Banyak Angga pun dia tidak mampu membunuhnya,” kata Pangeran Yudakara.

“Apalah pentingnya Banyak Angga,” potong Ki Banaspati.”Anak muda itu jiwanya lemah, kepandaiannya pun tak seberapa. Jadi tak perlu kau hiraukan sebab Banyak Angga bukan tokoh membahayakan. Yang harus kita perhatikan malah ayahandanya. Yogascitralah yang justru punya peranan dalam upaya mempertahankan Pakuan. Belasan tahun silam, gerakan Sunda Sembawa yang dari dalam dibantu Bangsawan Soka dan Ki Bagus Seta bahkan gagal karena Yogascitra sanggup menggalang persatuan. Jadi kalau kau hendak bergerak, maka terlebih dahulu enyahkanlah dulu orang tua bangkotan itu,” kata Ki Banaspati membuat hati Banyak Angga bergetar mendengarnya.

Sesudah itu, Pragola dilepaskan dan Ki Banaspati berkata bahwa Pragola akan dibawanya. “Engkau harus bersiap-siap di pintu gerbang barat sebab kekuatan dari barat akan segera tiba,” kata Ki Banaspati. Pangeran Ytudakara menganggukkan kepala tapi terlihat lesu. Sementara itu Ki Banaspati segera bergerak meninggalkan ruangan itu sambil diikuti Pragola. Di depan pintu mereka berpapasan dengan dua orang yang hendak masuk. Banyak Angga hafal, mereka adalah Goparana dan Jayasasana, pembantu dekat Pangeran Yudakara. Sejenak mereka saling pandang dengan Ki Banaspati. Namun Ki Banaspati mendengus dan berlalu dengan langkah congkak.

“Pangeran…” bisik Goparana dan Jayasasana hampir berbareng. Dijawab oleh Pangeran Yudakara dengan keluhan.

“Mengapa Pangeran membiarkan orang itu keluar-masuk wilayah kita?” tanya Goparana heran.

“Dia punya kekuatan dan aku tak kuasa membendungnya,” gumam Pangeran Yudakara. “Dengan kata lain, perjuangan kita akan tuntas sampai di sini, Pangeran?” tanya Goparana lagi.

Pangeran Yudakara yang tadi menunduk segera mendongak dan menatap tajam pembantunya. “Cita-citaku tak akan padam begitu saja, Pakuan tetap harus jadi milikku,” gumam pangeran itu sedikit geram.

“Lantas orang tadi?”

“Biarkan kekuatan dari barat memasuki Pakuan dan kita ikut di belakang. Mungkin orangorang kita hanya membukakan pintu gerbang barat. Namunbiarkan mereka saling bertempur dan kita tinggal menonton untuk kemudian segera menggebuk pemenangnya,” tutur Pangeran Yudakara.

“Tapi, Pangeran…” gumam Jayasasana. “Ada apa?”

“Kami ingin meminta penjelasan dari Pangeran, sejauh mana hubungan anda dengan Nyi Mas Layang Kingkin?” tanya Jayasasana.

Terlihat Pangeran Yudakara tersenyum tipis.

“Kau sangka aku benar-benar cinta terhadap perempuan tolol itu?”

tanyanya masih tersenyum tipis dan sifatnya mengejek sekali.

”Aku hanya membuak jalan agar bisa keluar-masuk istana, dan kunci pintu ada di tangan si bodoh itu. Perempuan tak laku itu gila laki-laki. Dia mudah jatuh ke pangkuan lelaki mana pun. Mengapa aku tak memanfaatkannya?” Pangeran Yudakara mengerling ke arah kedua pembantunya.

“Tapi Pangeran, tidakkah sebaliknya, perempuan itu yang memanfaatkan kita untuk kepentingannya?” tanya Goparana.

“Apa maksudmu, Goparana?”

“Nyi Mas Layang Kingkin sudah kami selidiki dan dia mencurigakan sebab punya pasukan tersembunyi,” jawab Jayasasana.

Pangeran Yudakara meoleh ke arah Goparana dan yang ditatap menganggukkan kepalanya. “Ini sesuai dengan perkataan Pragola bahwa Nyi Mas Layang Kingkin pun mengirimkan pasukan pembunuh menyusul rombongan Banyak Angga,”

“Apa yang mereka perbuat?” tanya Pangeran Yudakara heran dan penuh minat.

“Kata Pragola, dia hendak dibunuhnya kendati nampak juga bahwa Banyak Angga pun jadi sasaran pembunuhan,” jawab Jayasasana.

“Membingungkan. Kalau benar utusan itu diutus oleh Nyi Mas Layang Kingkin, apa maksudnya?” gumam Pangeran Yudakara mengerutkan dahi.

“Itulah yang harus kita selidiki,”

Nampak Pangeran Yudaka mengatupkan mulut dan mengepalkan tangan kanannya. beRgeak melangkah ke sana ke masti sambil memukul-mukulkan tinju kanan ke telapak tangan kirinya. Banyak Angga yang sejak tadi mengintip dari atas, sudah merasa waktunya untuk berlalu dan diharapkan tidak akan membuat perhatian sebab ketiga orang yang ada di bawahnya tengah tersita oleh masalah yang meruwetkannya.

Yang harus dia lakukan kemudian adalah mencoba mengejar ke mana Ki Banaspati membawa Pragola.

Dia merayap dengan penuh hati-hati. Sesudah berada di atas tanah, Banyak Angga berindapindap menuju batang pohon. Dia keluar dari lingkungan benteng mengikuti jalan ke mana tadi dia masuk.

***

Banyak Angga berlari cepat di kegelapan malam. Dia berfikir, tentu Ki Banaspati membawa Pragola meninggalkan wilayah Sagaraherang. Dan ke mana lagi mereka menuju kalau bukan ke barat, ke wilayah Pakuan?

Ingat ini hatinya berdebar kencang. Ki Banaspati pasti mempunyai kekuatan tersembunyi. Kalau tak begitu, tak nanti Pangeran Yudakara begitu takut menghadapinya.

Kini Banyak Angga bertambah bingung sebab keruwetan makin melebar. Ketika berada di Puncak Gunung Cakrabuana dia mendapatkan berita mara-bahaya akan datang dari Pangeran Yudakara. Namun malam ini bisa dia saksikan, betapa sebetulnya ada bahaya kekuatan lain selain Pangeran Yudakara.

Siapakah kekuatan itu?

Sambil berlari kencang di kegelapan malam, Banyak Angga berfikir keras. Di tahun-tahun terakhir ini Pakuan punya kekhawatiran akan adanya serangan dari musuh. Karena pernah terjadi Carbon menyisipkan orang-orangnya ke Pakuan, maka yang dianggap akan mengganggu keamanan dan keutuhan Pajajaran tentu dari timur.

Belakangan diketahui bahwa sebenarnya Nagri Carbon sudah tak punya ambisi untuk melanjutkan peperangan dengan Pajajaran dan cenderung lebih menitikberatkan menyebarkan agama baru secara damai. Kalau pun Pangeran Yudakara terbukti ingin merusak keberadaan Pakuan, itu tergerak oleh ambisi pribadi. Dia ingin menyerang Pakuan, pertama sebagai balas dendam akan kekalahan dan kehancuran kerabatnya, Sunda Sembawa pada belasan tahun silam, dan yang kedua karena ambisinya untuk memiliki kekuasaan.

Melihat kenyataan ini, tadinya Banyak Angga sudah mengambil kesimpulan bahwa Pangeran Yudakara adalah orang yang paling bahaya. Belakangan Ki Banaspati muncul dan menampilkan marabahaya yang dirasa lebih besar lagi. Kalau Pangeran Yudakara yang sudah merasa punya kekuatan untuk menyerang Pakuan sudah merasa takut menghadapi Ki Banaspati, bisa dipastikan, betapa kuatnya dia. Dan kekuatan apa yang mendorongnya untuk melakukan penyerangan ke Pakuan? Banten?

Terhenyak hati Banyak Angga. Betulkah Ki Banaspati akan datang ke Pakuan denga diusung kekuatan dari Banten?

Ayahandanya kerap berpikir bahwa Banten memang akan selalu merupakan ancaman bagi Pakuan. Sudah terbukti pada puluhan tahun silam, betapa sebuah pasukan tanpa identitas pernah menyerbu pusat kota pada zamannya pemerintahan Sang Prabu Ratu Dewata (15351543 M). di alun-alun benteng luar pertempuran terjadi. Pasukan balamati, yaitu perwira pengawal Raja berhasil membendung serangan musuh namun dua perwira handalnya yaitu Tohaan Ratu Sangiang dan Tohaan Sarendet tewas dalam mempertahankan negrinya. Itu adalah pasukan misterius dan tak bisa dibuktikan dari mana datangnya. Hanya saja kendati begitu, Pakuan mencurigai bahwa serangan gelap itu datang dari Banten.

Banyak Angga merasa khawatir kalau ancaman palin besar justru datang dari barat, yaitu Banten. Mengapa tak begitu sebab di tahun-tahun terakhir ini dari tiga negara yang berhaluan agama baru yaitu Demak, Carbon dan Banten, hanya Bnatenlah yang menjadi negara berhaluan agama baru yang terbesar. Semakin hari kekuatannya semakin besar, dulu sebagai mana halnya Carbon, Banten merupakan bagian dari Pajajaran. Ketika Carbon menjadi kuat karena dibantu Demak, Banten yang waktu pemerintahan Sri Baduga Maharaja (1482-1521

M) merupakan salah satu pelabuhan internasional milik Pajajaran, direbut Carbon. Karena Banten semakin hari semakin berkembang, maka oleh Carbon diberi peranan lebih besar lagi menjadi wilayah kesultanan. Belakangan keberadaan Carbon menjadi lemah karena Demak sebagai pendukungnya dalam tahun-tahun terakhir ini disibukkan oleh perang saudara. Setahun yang lalu (1566 M) Banyak Angga pun mendengar berita bahwa akhirnya Banten melepaskan diri dari Demak dan Carbon dan memilih berdiri sebagai kesultanan yang merdeka.

Berita besar ini oleh sementara penguasa Pakuan sengaja tak dibesar-besarkan. Sang Prabu Nilakendra yang tak menyukai kekerasan tetap berpendapat bahwa tak mungkin adanya bahaya dari luar selama Pajajaran tak melakukan hal-hal yang merugikan pihak luar. Oleh sebab itu Raja berkata bahwa bangkitnya Banten tak perlu dikhawatirkan.

Namun apa yang disaksikan malam ini membuktikan lain. Ada Ki Banaspati yang membawa khabar mengejutkan. Benarkah dalam waktu dekat ini kekuatan dari barat akan menerpa Pakuan?

Dan Ki Banaspati sepertinya berada di pihak sana. Banyak Angga tak habis mengerti, bagaimana mungkin orang itutiba-tiba bisa menyebrang ke sana?

Dia berfikir, seingatnya Ki Banaspati tak punya pertalian erat dengan Banten atau pun Carbon. Bahkan ketika tokoh ini masih berpengaruh di Pakuan, dia paling benci kepada keberadaan negara-negara yang berhaluan agama baru. Itulah sebabnya dia menggosok Sang Prabu Ratu Sakti untuk memperkuat militer dengan maksud menghalau pengaruh negara agama baru.

Sekarang, belasan tahun kemudian, setelah ambisinya amblas, secara tiba-tiba Ki Banaspati sudah bisa menyebrang dan berfihak kepada kekuatan yang dulu dibencinya. Banyak Angga bingung memikirkannya.

“Kekacauan selalu diciptakan oleh para petualang politik,” gumamnya sendirian.

Pemuda ini menilai, barangkali benar Ki Banaspati yang misterius ini gemar melakukan petualangan politik yang mungkin semuanya dia lakukan demi kepentingan demi kepentingan pribadi semata. Banyak Angga kekurangan bukti, sejauh mana Ki Banaspati melakukan petualangan. Namun barangkali gerakan orang ini pun tak jauh berbeda dengan petualangan Pangeran Yudakara. Seperti yang diterangakan oleh Ki Jayaratu beberapa waktu lalu, demi mengejar ambisi pribadi, Pangeran Yudakara nekad mengatasnamakan sebagai kekuatan Carbon dalam upaya menggempur Pakuan. Padahal seperti yang disebutkan Ki Jayaratu, Carbon kini lebih menitikberatkan usahanya dalam menyebarkan agama baru dengan caracara damai. Dengan licinnya, Pangeran Yudakara pun bisa memasuki Pakuan dan mendapatkan kepercayaan penuh dari Sang Prabu Nilakendra.

Banyak Angga berhenti dan menyeka peluh yang deras mengalir di wajahnya. Dia bahkan menjatuhkan diri, duduk di atas tonjolan batu. Suasana sunyi-sepi di sekeliling. Hawa malam terasa dingin karena langit bersih tak berawan.

Banyak hal-hal ruwet yang dia pikirkan, termasuk pula urusan Nyi Mas Layang Kingkin. Benarkah wanita yang pernah dicintainya itu pun bertualang dalam berpolitik?

*** 
PREVIOUS
This is the most recent post.
Older Post

0 Response to "Kunanti Di Gerbang Pakuan Jilid 10 (Tamat)"

Post a Comment