coba

Kunanti Di Gerbang Pakuan Jilid 08

Mode Malam
 “Saya pun sudah tak kerasan jadi anggota kelompok kalian. Saya akan undur diri,” tuturnya sambil beranjak hendak meninggalkan tempat itu.

“Pangeran memerintahkan kami agar membunuhmu!” cetus Goparana. Pragola membalikkan tubuhnya menatap Perwira Goparana.

“kalian tak akan ada yangsanggup. Engkau dan juga Jaya Sasana sedang terluka parah,” kata Pragola.

“Manggala, bunuh anak itu!” teriak Goparana.

Pragola terkejut mendengarnya. Kalau begitu, dengan amat sedih dia harus melawan orang tua itu. Ini memang menyedihkan. Sudah bertahun-tahun dia bersamanya. Paman Manggala sudah dianggap orang tuanya sendiri. Tapi Pragola tahu, Paman Manggala selama ini banyak menyembunyikan sesuatu karena dia sudah menjadi pengikut Pangeran Yudakara.

Kini Pragola menghadap ke arah Paman Manggala. Sepasang tangannya menyilang di depan dada dan kedua kakinya terpentang lebar, siap untuk bertarung.

Pragola tahu, sungguh berat melawan Paman Manggala. Kepandaiannya mungkin satu tingkat di atasnya. Namun apa boleh buat, lebih baik melawan dulu dari pada mandah dibunuh begitu saja.

“Saya tak bisa membunuh anak itu, Gusti…” gumam Paman Manggala pelan.

“Manggala, apakah engkau pun sudah tak setia lagi kepada perjuangan Pangeran Yudakara,” tanya Goparana tersinggung oleh sikap ini.

“Maafkan saya Gusti, sampai saat ini saya sebenarnya tak pernah mengerti perjuangan Pangeran Yudakara,” tutur Paman Manggala dan hal ini amat mengagetkan Pragola. “Aku tak paham maksudmu, Manggala,” kata Goparana.

“Saya ragu terhadap perjuangan ini. Pangeran Yudakara mengaku orang Cirebon tapi begitu akrab denganNyi Mas Layang Kingkin. Padahal, kita semua tahu, Nyi Mas Layang Kingkin adalah tulen orang Pajajaran dan tak secuil pun berpikir untuk menyebrang ke Cirebon,” kata Paman Manggala.

“Ini adalah urusan orang-orang besar. Tentu saja olehmu tak bisa dicerna. Tapi boleh aku katakan, Pangeran Yudakara mendekati Nyi Mas Layang Kingkin hanyalah taktik belaka agar bisa lebih mudah keluar-masuk istana,’ kata Goparana.

“Tapi ada satu pengetahuan yang membuat saya bingung. Semenjak Demak tak lagi punya kekuatan, Cirebon pun sebetulnya sudah lemah. Kecuali lebih mendekatkan diri ke dalam kegiatan keagamaan, Cirebon tak punya kekuatan militer untuk melakukan penyerbuan ke Pakuan. Saya pernah menyelidik, sebetulnya puncak pimpinan di Cirebon tak berniat untuk melakukan penyerbuan Pakuan. Kalau pengetahuan saya ini benar, berinduk ke manakah sebenarnya rencana-rencana yang dilakukan Pangeran Yudakara ini?” tanya Paman Manggala.

Pertanyaan ini seperti amat mengejutkan baik kepada Perwira Goparana mau pun kepada Jaya sasana yang masih tetap terduduk sambil memegangi ulu hatinya.

“Engkau terlalu banyak tahu, Manggala!” desis Perwira Goparana menahan kemarahan. Perwira yang dulunya datang dari tanah arab ini mendelikkan matanya yang lebar. Dia berdiri dan sepertinya hendak menerjang Paman Manggala. Namun tak pernah terjadi, betapa tangan kirinya menderita kesakitan hebat karena tulangnya patah.

Goparana hanya saling pandang dengan Jaya Sasana yang juga tengah menderita luka dalam. “Hari ini kalian selamat. Tapi Pangeran Yudakara tidak akan membiarkan penkhianat bebas. Hati-hatilah kalian,” gumam Goparana.

Pragola lega. Dia mencoba menutupi mayat Paman Angsajaya yang ternyata tewas dalam pertempuran dengan perampok tadi. Ditutupinya mayat itu dengan berbagai ranting dan daundaunan. Dengan perasaan sedih dia hanya bisa merawat mayat Paman Angsajaya seperti itu. Orang tua itu selama dalam perjalanan tak banyak tingkah, sedikit bicara tapi sanggup menampilkan kesetian kepada majikannya sampai akhir hayatnya. Pragola sedih sebab sebetulnya dia perlu hormat kepadanya.

“Mari Paman, kita pergi dari tempat ini,” ajaknya pada Paman Manggala.

Tanpa mengucapkan selamat tinggal kepada siapa pun, kedua orang itu pergi meninggalkan tempat itu.

Sekali lagi ada perasaan lega di hati Pragola. Ternyata paman Manggala masih punya waktu untuk menyadari dan melepaskan diri dari urusan yang menurutnya tiada arti dan tak melibatkan kepentingannya. Kalau saja tak begitu, sudah bisa dipastikan dia akan bentrok dengan orang tua itu.

***

Pragola ingin berjalan cepat, namun sebaliknya Paman Manggala seperti tak bersemangat. Dia malah berjalan tertatih-tatih seperti orang luka.

“Mari Paman, kita harus bergerak cepat,” seru Pragola tak sabar.

“Mau ke manakah berjalan cepat-cepat?” tanya Paman Manggala dengan nada datar.

“Mau ke mana? Kita harus mengejar orang asing yang pergi memondong Banyak Angga itu,” jawab Pragola. Mendengar ini, Paman Manggala malah menghentikan langkah.

“Ada apa, Paman?” Pragola heran.

“Mengapa kita harus mengejarnya?” tanya Paman Manggala sambil duduk di tonjolan batu. “Saya mencurigai orang misterius itu…” gumam Pragola.

“Ya, aku bisa menduga apa yang akan kau katakan. Kau pasti mencurigai orang itu adalah Ginggi,”

“Tepat dugaanmu, Paman. Tindak-tanduknya aneh. Dan yang lebih khas, dia selalu mengalahkan lawan tanpa membunuh. Siapa lagi kalau bukan Ginggi?” kata Pragola yakin. “Kalau benar dia Ginggi, mau apa?” tanya Paman Manggala. Pragola memandang heran kepada orang tua itu.

“Apakah Paman sudah lupa bahwa orang itu punya kaitan erat dengan terbunuhnya Ki Guru pada belasan tahun silam?” tanya Pragola.

“Aku tak pernah lupa,” jawab Paman Manggala. “Kalau begitu mari kita kejar dia!”

Tapi Paman Manggala malah terlihat menghela napas. “Mengapa, Paman?”

“Bukankah kau pernah bilang bahwa secuil pun tak punya kepentingan ikut terlibat kepada kegiatan Pangeran Yudakara?” orang tua itu menjawab dengan cara balik bertanya.

“Ya, perjuangan Pangeran Yudakara terlalu besar dan tak saya mengerti. Lebih dari itu saya merasa tak punya kepentingan untuk ikut terlibat di dalamnya. Itulah sebabnya, sudah sejak lama saya ingin pergi dan melepskan diri dari urusan mereka,” jawab Pragola.

“Nah, itu juga yang kau pikirkan sekarang ini,” tukas Paman Manggala membuat Pragola melenggak heran.

“Mengapa Paman tak ingin mengejar dan membalas dendam kepada Ginggi?” tanyanya. “Aku tak punya kepentingan tentang itu. Engkau merasa berkepentingan karena Ki Sudireja adalah gurumu,”

“Tapi Ki Guru adalah teman seperjuanganmu ketika di Karatuan Talaga,” potong Pragola. “Banyak yang menjadi teman seperjuangan ketika melawan Sang Prabu Ratu Sakti (15431551) belasan tahun silam. Yang tewas pun banyak. Kalau aku harus membalas dendam kepada perseorangan, betapa banyaknya orang Pajajaran yang harus aku kejar. Kebanyakan bahkan aku tak tahu siapa mereka,” tutur Paman Manggala.

“Dengan kata lain, Paman tak mau membalaskan sakit hati teman-teman seperjuanganmu?” tanya Pragola.

Untuk kedua kalinya Paman Manggala terlihat menghela napas.

“Kami dulu berjuang bukan untuk kepentingan pribadi. Demikian pun kami bukan melakukan perlawanan kepada orang-perorang. Kendati yang bertanggung jawab atas kemerosotan wibawa Kerajaan Pajajaran adalah Sang Prabu Ratu Sakti, tapi terjadinya berbagai kemerosotan itu tidak semata-mata kesalahan raja itu sendiri. Itulah sebabnya, kebencian pribadi tak berlaku di sini, tidak pula kepada orang yang bernama Ginggi. Apalagi kita tahu, Ki Sudireja gurumu tidak tewas oleh tangan Ginggi. Kalau pun kita menyalahkan dia, hanya karena bantuannya maka pasukan Pajajaran semakin kuat dan berhasil memukul mundur pasukan kami,” tutur Paman Manggala panjang-lebar.

Hal ini amat tak menyenangkan perasaan Pragola. Dia kecewa terhadap kenyataan ini. Padahal sudah bertahun-tahun dia ikut Paman Manggala, bahkan mau bergabung dengan Pangeran Yudakara, tadinya hanya karena punya harapan bisa “membonceng” agar bisa balas dendam. Sekarang kenyataannya menjadi lain.

“Kalau begitu, mungkin kita bersilang jalan…” gumam Pragola kecewa. “Barangkali begitu…” jawab Paman Manggala pendek.

Pragola membalikkan badan dan melangkah beberapa tindak.

“Jangan sesali sikapku sebab sebenarnya kita punya persamaan sikap yaitu tak kerasan mengikuti pendapat orang lain yang tak bisa kita mengerti,” kata Paman Manggala.

Pragola mengangguk. Sesudah itu dia kembali melangkahkan kakinya dan pergi meninggalkan orang tua itu. Dia tak mau mencoba menoleh ke belakang, padahal dia merasakan betapa sedih hatinya. Ini adalah perpisahan. Bukan sekadar perpisahan tubuh tapi juga perpisahan dalam persesuaian pendapat. Ini yang membuat Pragola sedih. Perpisahan ini membuat hatinya sepi sebab sesudah Paman Manggala pergi, tak ada lagi teman baginya.

Pragola terus berjalan ke arah selatan, mengikuti arah lelaki misterius itu lari membawa Banyak Angga. Pemuda ini menduga, tentu lelaki yang dia duga sebagai Ginggi itu tengah menuju Gunung Cakrabuana. Pragola mendengar khabar, Ki Darma adalah guru Ginggi dan bersembunyi di puncak gunung itu. Jadi pemuda ini merasa yakin, lelaki misteius itu pasti menuju ke selatan.

Dan karena perkiraan inilah maka Pragola bergegas ke selatan.

Pragola bertekad ingin bertemu Ginggi. Inilah cita-citanya sejak awal. Dia ikut bergabung dengan Pangeran Yudakara karena punya harapan pada suatu saat bisa ikut membasmi orang Pajajaran yang telah membunuh Ki Sudireja, gurunya. Ginggi dielu-elukan orang Pakuan karena berhasil menggagalkan upaya pemberontakan yang dipimpin Ki Sunda Sembawa.

Namun bagi Pragola, Ginggi orang yang paling dibencinya karena orang itulah pasukan pemberontak gagal melumpuhkan Pakuan. Dan Ki Sudireja tewas oleh kepungan perwira Pakuan. Pragola menganggap, karena Ginggilah maka Ki Sudireja tewas.

Tentu bukan Ginggi seorang yang harus dia kejar. Namun karena orang itu yang sudah dia tahu, maka orang itulah yang pertama kalinya harus dikejar.

Di sepanjang jalan Pragola harus bertanya, kalau-kalau penduduk kampung melihat orang yang pergi membawa seseorang yang lagi luka. Sebagian mengatakan tak tahu tapi sebagian lainnya mengatakan pernah lihat.

“Ya, tadi pagi saya lihat seorang lelaki kumal membawa seseorang yang lagi luka parah. Dibawanya dengan sebuah tandu sederhana yang diseret di belakangnya,” tutur penduduk yang ditanya.

Ini adalah hari kedua dimana Pragola berusaha menguntit orang itu.

Di dusun itu hari sudah demikian senja. Kalau memaksakan diri melakukan perjalanan, Pragola akan kemalaman di tengah hutan. Tapi kalau istirahat di dusun ini, berarti buruan semakin jauh.

Bertemu dengan orang itu lebih penting lagi. Maka Pragola pun memaksakan diri melajutkan perjalanan. Hati kecilnya kagum kepada orang itu. Kendati sambil membawa Banyak Angga yang terluka namun dia masih bisa berjalan dengan cepat. Sedangkan Pragola yang berjalan tanpa beban, ternyata tertinggal hampir satu hari. Barangkali orang itu sudah hapal benar dalam memilih jalan, sedangkan dia setiap saat musti berheti untuk bertanya sana-sini.

Namun pada akhirnya orang yang dikuntit telah membawanya ke Gunung Cakrabuana. Gunung ini penuh misteri sebab sejak belasan bahkan puluhan tahun silam selalu menghadirkan peristiwa penting namun kebenarannya selalu ada yang meragukannya. Orang-orang Pakuan percaya, Ki Darma, bekas perwiradari pasukan Balamati (pasukan pengawal raja) pergi bersembunyi di puncak Cakrabuana karena selalu dikejar-kejar pasukan pemerintah yang ketika itu dirajai oleh Prabu Ratu Sang Mangabatan (1543-1551 M). “Laporan” Pragola kepada Yogascitra, penasihat Raja Nilakendra sebenarnya tak seluruhnya bohong. Ketika jamannya Prabu Ratu Sakti, belasan perwira kerajaan pernah dikirim untuk mengejar Ki Darma ke Puncak Cakrabuana. Prabu Ratu Sakti mengirimkan pasukan ke sana

sebab mengira Ki Darma menguasai tombak pusaka Cuntangbarang. Cuntangbarang dulunya kepunyaan Karatuan Talaga. Ketika negri itu jatuh ke tangan Cirebon (1530) ada beberapa perwiranya yang tak setuju Talaga menyerah ke negri yang beraliran agama baru dan mereka melarikan tombak pusaka ke Gunung Cakrabuana. Dan hanya karena Ki Darma menyembunyikan diri di gunung itu, maka Prabu Ratu Sakti langsung menuduh Ki Darma pergi ke gunung itu untuk menguasai tombak pusaka. itulah sebabnya belasan perwira dikirim ke sana. Pertama untuk merebut tombak pusaka dan keduanya untuk menangkap atau membunuh Ki Darma. Namun belakangan, belasan perwira Pakuan tak didengar khabar beritanya. Belasan tahun lamanya hingga pemerintahan beralih dari tangan Prabu Ratu Sakti ke tangan Raja Nilakendra. Peristiwa inilah yang dijadikan Pangeran Yudakara untuk “membujuk” Pakuan agar mau mengirimkan kembali pasukan pencari. Pragola diatur agar mau melaporkan seolaholah belasn perwira Pakuan tak bisa kembali karena jalan menuju lereng diblokade pasukan Cirebon. Belasan perwira harus kembali dikirim untuk menyelamatkan mereka yang terkepung. Ini adalah taktik untuk mengundang macan keluar. Orang-orang handal dari Pakuan harus keluar agar pada saatnya Pakuan diserbu Cirebon, di sana sudah tak ada kekuatan lagi.

Namun seperti sudah disebutkan tadi di atas, sebetulnya tak seluruh ucapan Pragola bohong. Belasan tahun silam, tepat di hari belasan perwira Pakuan tiba di lereng Cakrabuana, ada pasukan lain yang juga tiba di sana. Khabar menyebutkan, itu adalah pasukan yang dikirim Arya Damar, salah seorang Pangeran di Cirebon dan yang juga pernah menjadi mertua Pangeran Yudakara. Tujuan mereka sama, yaitu hendak memerangi Ki Darma dan sekalian merebut tombak pusaka Cuntangbarang. Namun seperti juga nasib pasukan Pakuan, pasukan Cirebon pun sama tak didengar lagi khabar beritanya. Orang hanya menduga-duga, kedua pasukan itu terlibat pertempuran di lereng dan saling bantai di antara mereka. Ada juga yang menduga, semua pasukan, baik dari Pakuan mau pun dari Cirebon sebetulnya habis dibantai Ki Darma. Hal ini mungkin terjadi sebab Ki Darma adalah orang terjepit. Oleh Cirebon dia dimusuhi sebab ketika terjadi perang dengan Pakuan ketika dirajai Prabu Surawisesa (15271543 M) Ki Darma adalah perwira handal yang banyak menewaskan prajurit Cirebon. Orang Cirebon benci terhadap Ki Darma. Sebaliknya, orang Pakuan pun memendam perasaan tak enak sebab KI Darma yang gemar mengkritik Raja dianggap pemberontak. Dan sungguh ironis, Ki Darma dituding pengkhianat karena menolak perang.

Pragola tidak mendapatkan keterangan yang rinci sebab berita itu hanya datang secara simpang-siur. Kalau bukan datang dari mulut ke mulut, tentu hanya bisa didapatkan melalui kisah-kisah Ki Juru pantun yang membawakan cerita itu melalui dendang dan lantunan lagu diiringi dawai-dawai kecapi. Hanya dari percakapan para anak buahnya yang mengabarkan bahwa Pangeran Yudakara menjadi satu-satunya saksi pertemuan pasukan Cirebon dan Pakuan di lereng Cakrabuana. Namun Pangeran Yudakara sendiri tak pernah bicara apa pun padanya.

Pragola tiba di lereng bukit pada dini hari. Bulan tersembul di langit sebelah barat dan cahayanya amat pucat. Namun kendati begitu, cukup untuk menerangi lereng yang lebat ditumbuhi pohon pinus. Tak ada kehidupan di sana kecuali suara binatang malam. Namun ketika Pragola semakin naik ke lereng, sayup-sayup didengarnya suara lantunan orang.

Melantunkan apa dan di mana?

Pragola memicingkan mata melihat ke sebuah lembah. Remang-remang terlihat ada kerlapkerlip cahaya pelita. Ada rumahkah di sana?

Pragola mencoba menuruni lembah dengan hati-hati. Dia tak ingin mengejutkan penghuni rumah gubuk yang atapnya terbuat dari susunan ijuk itu.

Setelah agak dekat, pemuda itu, pemuda baru tahu bahwa di sana ada orang tengah melantunkan ayat-ayat suci dari agama baru. Lantunan itu sungguh merdu dan terasa membelah kalbu memberi ketenangan, padahal Pragola tak tahu maknanya.

Pragola tergerak dan ingin sekali tahu, siapa yang melantunkan ayat-ayat itu pada dini hari yang dingin seperti ini.

Dia semakin dekat ke pekarangan gubuk itu.

“Lantunan ayat-ayat sucimu enak didengar,” terdengar satu suara di dalam sana. Si pelantun ayat berhenti sejenak.

“Kalau engkau sudah mengerti isinya, maka bukan enak didengar, melainkan meresap ke dalam hati sanubari, menciptakan rasa damai dan mengenyahkan kerisauan,” tutur suara lain. Pragola menduga, suara ini tentu yang tadi melantunkan ayat suci.

“Aku tidak menyuruhmu, hanya ingin mengatakan saja bahwa aku betah dalam agamaku karena kedamaian,” tutur si pelantun.

Terdengar tawa kecil sebagai jawaban dari perkataan tadi.

“Aku percaya omonganmu. Tapi tentu saja banyak kedamaian dari sejauh apa kita mendapatannya,”

“Dari mana engkau mendapatkan kedamaian itu?” tanya si pelantun.

Tak ada jawaban langsung, kecuali terdengar suara serak melantunkan tembang. Syair lantunannya amat mengejutkan Pragola sebab dia pernah dengar sebelumnya.

Hidup banyak menawarkan sesuatu Namun bila salah memilihnya

Maka kita adalah orang-orang yang kalah

Brakk!!! Pragola mendorong pintu gubuk sehingga berantakan. Penghuninya, dua orang kakek-kakek yang diperkirakan usianya lebih delapan puluh tahun hanya sedikit menganga heran tanpa beranjak dari duduknya.

Pragola melihat kesana-kemari seperti mencari sesuatu.

“Hai, apa yang kau cari anak gendeng?” tanya salah satu dari kakek itu. “Mana Ginggi?” teriak Pragola.

“Ginggi? Tak ada anak bengal itu di sini!” jawab si kakek berambut putih yang tergelung rapih di atas.

“Barusan aku dengar lantunan tembangnya. Yang menembang seperti itu hanya Ginggi!” kata Pragola dengan nada tinggi tak mengenal sopan-santun.

Pragola sendiri merasa aneh, mengapa dia bisa bertingkah kasar di hadapan orang-orang tua seperti ini. Namun yang lebih aneh lagi, kedua orang tua itu sedikit pun tak merasa tersinggung oleh sikapnya.

“Enak saja engkau bicara. Siapa bilang lantunan itu milik si Ginggi? Anak bawel itu hanya meniru-niru aku sebab tembang itu aku yang punya. Sejak zaman Surawisesa puluhan tahun silam aku sudah biasa melantunkan tembang itu,” kata kakek berambut perak yang riapriapan.

“Engkau siapa kakek?” tanya Pragola.

“Hehehe! Begitu entengnya bocah gendeng ini bertindak-tanduk. Tiba-tiba datang mendobrak pintu, lantas tanya itu tanya ini. Jayaratu, jawablah, barangkali bocah ini dulunya anak buahmu juga,” kata kakek berambut riap-riapan itu tanpa melirik ke arah Pragola. “Mendengar logat lidahmu, sepertinya engkau datang dari Cirebon, anak muda,” kata kakek yang disebut sebagai Jayaratu.

Pragola sebentar menahan napasnya karena merasa tegang. Nama Ki Jayaratu pernah dia dengar. Dulu puluhan tahun silam pernah terdengar ada pengikut Kanjeng Sunan dari Cirebon yang hilang di Cakrabuana, bersamaan dengan bentrokan antara pasukan Cirebon dan pasukan Pakuan di lereng gunung ini.

“Andakah Ki Jayaratu yang disebut-sebut puluhan tahun silam?” tanya Pragola dengan suara bergetar.

“Hehehe! Tempat ini sudah terlalu mudah didatangi siapa pun. Harimau kumbang dan lodaya sudah tak sanggup mengusir pendatang. Engkau musti pindah makin ke atas, Jayaratu,” kata si kakek berambut riap-riapan.

“Aku tidak menjauhi keramaian sepertimu, Darma sebab agamaku harus diamalkan kepada banyak orang,” tutur Ki Jayaratu.

Semakin terkejut hati Pragola. Jadi kakek berambut riap-riapan ini adalah Ki Darma, tokoh tersohor yang banyak dibicarakan orang.

Pragola bingung, mana yang harus diperhatikan sebab kedua orang di hadapannya ini adalah orang-orang penting yang perlu diperhatikan. Ki Jayaratu banyak dibicarakan di Cirebon, sebagai seorang pandai yang lenyap begitu saja. Sedangkan Ki Darma sudah jelas hampir semua orang mengenal namanya. Kedua orang itu menjadi misterius sebab hilang bagaikan ditelan bumi. Hanya Pragola seorang kini yang sanggup membuktikan bahwa orang-orang penting ini berkumpul di sini.

“Ki Jayaratu, saya adalah utusan Cirebon, datang hendak membuat perhitungan dengan Ki Darma atau siapa pun yang punya kaitan dengan Pakuan,” kata Pragola. Tapi kemudian Pragola bingung sendiri, mengapa musti bicara begitu. Padahal beberapa hari lalu dia sudah berkata undur diri dari urusan politik. Barangkali dia berkata begitu karena tahu Ki Jayaratu dulunya perwira Cirebon dan selalu berperang untuk negri dalam melawan Pajajaran. Dan apabila tak salah dengar, Ki Darma adalah musuh besar Ki Jayaratu.

“Hehehe, kau hadapilah sendiri. Aku malas ketemu dengan orang-orang dungu macam ini,” tutur Ki Darma masih tertawa-tawa. Entah bagaimana caranya, hanya secara tiba-tiba angin berdesir dan Ki Darma hilang dari pandangan.

“Ki Darma!” teriak Pragola. Dia hanya melongok keluar namun suasana dingin dan sepi. “Ki Jayaratu, tolonglah, saya ingin membalas dendam,” kata Pragola duduk bersila dan menyembah takzim.

Ki Jayaratu tersenyum dan mengelus-ngelus jenggotnya yang menjuntai dan memutih. “Kasihan sekali anak muda sudah demikian terlilit penderitaan,” gumam Ki Jayaratu. “Yang membuat saya menderita adalah Ginggi, murid Ki Darma. Gara-gara dia maka guru saya Ki Sudireja tewas. Saya menderita karena hidup menjadi menderita dan terlunta-lunta. Tolonglah, ajari saya berbagai ilmu kepandaian agar saya bisa melawan Ginggi dan kalau mungkin melawan Ki Darma sebagai musuh Cirebon,” pinta Pragola. Hanya dijawab oleh senyum tipis orang tua itu.

“Mengapa berkata begitu kepadaku seolah-olah kau menganggap aku terlibat urusan seperti itu,” kata Ki Jayaratu.

“Bukankah dulu anda perwira Cirebon dan selalu melawan Pajajaran?” “Kau katakan itu dulu. Sekarang tentu sudah tidak lagi,” jawab Ki Jayaratu.

“Tapi segalanya belum berubah. Cirebon masih tetap akan memerangi Pakuan. Saya adalah anak buah Pangeran Yudakara yang selalu berjuang untuk Cirebon,” jawab Pragola. “Kasihan, semua orang menderita karena ambisi pribadi,”

“Mengapa anda katakan ini ambisi pribadi?” tanya pragola.

“Engkau hanya berambisi ingin membalas dendam kematian gurumu dan Yudakara pun berambisi untuk kepentingan dirinya. Yudakara itu pengkhianat. Dia bertindak sendiri tanpa sepengetahuan Cirebon. Cirebon kini tidak terlibat urusan politik. Tapi lebih menitik beratkan dalam pengembangan agama. Bagaimana mungkin Cirebon punya keinginan menyerang Pakuan padahal tak punya kekuatan militer?” tanya Ki Jayaratu.

“Tapi Pangeran Yudakara punya pasukan prajurit. Itu semua prajurit Cirebon,” kata Pragola. “Bohong, tak ada prajurit Cirebon berkeliaran di wilayah Pajajaran. Kalau Yudakara punya kekuatan militer, itu tentu dihimpun sendiri olehnya. Yudakara ingin melanjutkan cita-cita kerabatnya yaitu Ki Sunda Sembawa yang dulu gagal melawan penguasa Pakuan. Seperti Sunda Sembawa, Yudakara pun punya ambisi merebut Pakuan dan dia ingin jadi raja di sana,” tutur Ki Jayaratu.

Pragola melengak mendengar keterangan ini.

“Tapi anda tak pernah ke mana-mana, bagaimana mungkin bisa mengetahui peristiwa yang terjadi,” tanya Pragola. “Tak ke mana-mana bukan berarti tak memiliki pengetahuan. kI Darma punya murid bernama Ginggi yang kerjanya bertualang kesana-kemari. Aku pun banyak memilik murid yang berpencar ke seantero Pajajaran untuk meluaskan agama baru. Mengapa aku tak bisa mendapatkan berita seperti itu?” Ki Jayaratu balik bertanya.

Pragola mengeluh dalam hatinya. Kalau benar begitu, jelas selama ini hidupnya terombangambing oleh permainan yang tak menguntungkan. Dalam hal ini Ki Manggala benar, dia sudah mencurigai bahwa gerakan Pangeran Yudakara tak utuh. Pragola dan Paman Manggala hanya mengabdi kepada orang yang berjuang untuk ambisi pribadi.

“Pulanglah ke rumahmu dan jangan terlibat ke dalam urusan yang tak penting benar,” kata Ki Jayaratu.

“Saya tak punya rumah. Kampung halaman saya di Caringin. Ayah saya seorang Cutak, tewas karena peperangan dengan orang Pajajaran kendati tak secara langsung. Namun hal ini tak mengurangi rasa benci saya terhadap Ginggi, atau siapa pun dari Pajajaran,” keluh Pragola. “Repot sekali kalau setiap orang diracuni perasaan dendam dan benci. Semua orang bisa saling bunuh. Harap kau tahu, dulu aku punya murid bernama Purbajaya. Dia diutus Cirebon untuk menyelundup ke Pakuan. Muridku tewas oleh Ginggi. Tapi mengapa aku harus benci.

Purbajaya berjuang untuk Cirebon dan Ginggi membelan negrinya. Keduanya sedang menjalankan kewajibannya mempertahankan negaranya masing-masing. Dan kalau pun harus berbicara urusan hukum-menghukum, tanpa aku membalas dendam, Ginggi sendiri pun sudah merasa terhukum. Itulah pembunuhan satu-satunya yang pernah dia lakukan seumur hidupnya. Dan peristiwa itu terus membekas di hatinya hingga kini,” tutur Ki Jayaratu.

Pragola menghela napas. Pahit rasanya hidup ini. Tak ada orang yang mau mendengar keluhkesahnya. Setiap bicara perihal kepahitan, setiap itu pula orang berkata perihal ketegaran dan kehebatan Ginggi.

Akhirnya Pragola menyembah kepada orang tua itu dan beranjak hendak keluar. “Saya akan ke puncak mencari Ginggi …” kata pragola pelan.

“Anak itu tak ada di sini,” kata Ki Jayaratu.

“Saya menguntit dia dan saya yakin dia ke puncak,”

“Benar, tadi malam dia ke puncak, tapi sesudah menitipkan sahabatnya yang terluka, dia segera turun gunung diperintah Ki Darma. Ada pekerjaan besar yang harus diselesaikan mereka di Pakuan,”

“Ginggi ke Pakuan?”

“Begitulah manusia dipermainkan nasib. Anak itu sudah ingin berhenti melibatkan diri di dunia ramai, namun nasib menghendaki lain. Hahaha! Ki Darma itu tua bangkotan yang berperangai licik. Dia sendiri sudah tak ingin ikut campur urusan dunia tapi masih tak rela kalau negrinya diancam bahaya. Dia suruh muridnya untuk melaksanakan keinginannya. Dasar tua bangkotan munafik. Hahaha … “ kata Ki Jayaratu tertawa.

Hanya Pragola yang hatinya mengeluh. Dengan tubuh lunglai dia berdiri. Untuk kesekian kalinya dia menghormat ke arah Ki Jayaratu.

“Saya mohon diri, Aki …” kata Pragola.

“Katanya engkau ingin belajar di sini? Mari belajar di sini. Yang paling hebat di dunia ini bukan dendam tapi sinar keagamaan. Bila sinar agama memasuki jiwamu, maka dunia akan damai sebab benci dan dendam akan sirna,” kata Ki Jayaratu.

“Saya hanya ingin berangkat ke Pakuan, Aki…” gumam Pragola sesudah terdiam agak lama.”Kalau sudah bertemu Ginggi barangkali kelak baru saya bisa ikut Aki di sini,” lanjutnya.

Ki Jayaratu hanya tersenyum tipis.

“Ya Allah, aku hanya sanggup berusaha. Tapi yang menentukan keputusan adalah engkau jua,” gumam Ki Jayaratu menengadahkan kedua belah tangannya. Sesudah itu dia menatap Pragola.

“Pada akhirnya hanya jalan pikiranmu yang membawamu. Hati-hatilah jangan sampai engkau salah langkah … “ tuturnya. Pragola menatap sebentar. Kemudian dia membalikkan badan dan berlalu dari tempat itu. Dia kembali menuruni lereng gunung padahal daerah itu didakinya dengan susah-payah. Ada suara ayam hutan berkokok. Ketika Pragola berjalan di tempat agak terbuka, suasana sudah terang tanah.

Pragola terus berjalan menuruni lereng. Pelan tak beremangat. Dia harus kembali melakukan perjalanan jauh, pulang ke arah tempat semula, Pakuan. Entah apa yang dijalani kelak!

***

Ketika sepasang matanya dibuka, maka yang pertama kali dilihatnya adalah wajah seorang kakek. Sulit ditaksir berapa usianya. Menilik rambutnya yang seluruhnya putih keperakperakan, kakek itu kira-kira berumur dii atas delapan puluh tahunan. Namun bila melihat kulitnya yang tanpa keriput, sepertinya dia baru berusia empat atau limapuluh tahun.

Namun yang pasti kakek itu benar-benar lelaki tua yang sehat. Gerak-geriknya tidak loyo dan lamban walau pun tak dikatakan lincah.

Pemuda itu hendak bangkit. Tak sopan rasanya terbaring begitu saja ditunggui seorang tua. “Engkau masih lemah, Angga. Tetaplah berbaring,” kata kakek itu.

“Anda mengenal namaku, Ki?” tanya pemuda itu heran.

“Engkau Banyak Angga, putra Yogascitra, bukan?” tanya kakek itu.

Banyak Angga mengangguk mengiyakan. Namun tentu saja belum menebus rasa herannya sebab dia sendiri tak kenal, siapa orang tua di hadapannya ini.

Pemuda itu mengerutkan dahinya, mengingat-ingat peristiwa sebelum dia tiba-tiba terbaring di atas balai-balai bambu ini.

Seingatnya, ketika itu dia terlibat pertempuran. Di tengah hutan jati di wilayah antara Sumedanglarang dan Karatuan Talaga. Waktu itu empat orang kelompoknya terdiri dari Paman Angsajaya, Paman Manggala, Pragola dan dia sendiri, dikepung puluhan perampok. Kaum perampok menyerang membabi-buta membuat dirinya terdesak. Banyak Angga menduga, barangkali hari itulah akhir hayatnya sebab banyak luka di sana-sini disertai limbahan darah. Banyak Angga tubuhnya limbung, pandangannya berkunang-kunang sampai akhirnya terjerembab dan tak ingat apa-apa.

Maka sungguh merasa aneh kalau tiba-tiba dia terbaring di gubuk yang berdinding gedek, berlantai palupuh (lantai bambu ditumpuk rata) dan beratap ijuk ini. Di manakah tempat ini dan siapa pula yang membawanya sampai di sini?

Dia merasakan betapa seluruh tubuhnya sakit-sakit dan ngilu-ngilu. Ada beberapa bagian badan yang dibebat lembaran dedaunan. Di bagian itu terasa perih namun ada juga rasa sejuk. Mungkin karena daun-daun menempel itu .

“Aki mengenal saya, namun maafkan kebodohan saya yang tak tahu siapa Aki,” gumam Banyak Angga.

“Tentu saja engkau tak kenal aku sebab waktu itu engkau belum lahir ke dunia. Bahkan aku pun tak mengenalmu kalauy saja si Ginggi tak membawamu dan memperkenalkanmu padaku,” tersentak hati Banyak Angga ketika orang tua itu menyebut nama Ginggi. Jadi, orang yang selama ini dicarinya bahkan pernah menolongnya.

“Ini tempat apa, Aki?” tanyanya.

“Tempat yang terpencil jauh dari keramaian dunia, terletak hampir di Puncak Gunung Cakrabuana,” tutur sang kakek.

Banyak Angga akan memcoba bangun namun rasa sakit mengganggunya. Maka yang dia lakukan hanyalah menatap orang tua itu dengan penuh rasa hormat dan kagum.

“Anda tentu Ki Darma…” gumamnya dengan suara setengah bergetar. Terasa ada dorongan hawa memenuhi dadanya. Namun dorongan itu hanya tersalurkan melalui sudut-sudut matanya yang terasa panas.

“Mengapa engkau menangis, anak muda?” tanya Ki Darma heran namun sambil tersenyumsenyum.

Banyak Angga menyeka sudut-sudut matanya sambil memalingkan wajahnya. Dia pun heran, mengapa tiba-tiba dia ingin menangis ketika tahu bahwa orang tua di hadapannya ini adalah Ki Darma. Mungkin hatinya terharu sebab Ki Darma adalah guru Ginggi. Mungkin juga dia bahagia sebab baik Ki Darma mau pun Ginggi adalah sebagian dari orang-orang yang tengah dibutuhkan di Pakuan. Bersusah-susah dia melakukan perjalanan jauh ke wilayah timur sambil beberapa kali dihadang mara-bahaya, kesemuanya hanya untuk mencari Ki Darma dan Ginggi. Dan sekarang sudah kesampaian!

Barangkali juga Banyak Angga menangis karena suatu hal yang lain. Ki Darma ini orang terkenal. Setiap prepantun di Pakuan dan wilayah Pajajaran selalu mengisahkan dirinya. Bahwa Ki Darma ini adalah pahlawan yang berani berkorban membela negrinya tanpa pamrih. Kendati dia dimusuhi Raja Surawisesa (1521-1535 M) karena berani melontarkan kritik dan bahkan dikejar-kejar untuk dibunuh di masa pemerintahan San Prabu Ratu Sakti (1543-1551 M), namun kecintaannya Ki Darma terhadap negara tak pernah pudar.

Sekarang Pajajaran semakin lemah di bawah kepemimpinan Sang Prabu Nilakendra (15511567 M). maka para patriot seperti Ki Darma dan Ginggi ini amat dibutuhkan kehadirannya. Jadi bagaimana tak terharu bila kini Banyak Angga telah berhasil menemukan mereka. “Saya rindu ingin bertemu Ginggi,” tutur Banyak Angga menoleh kesana-kemari.

“Hampir dua hari dua malam anak itu tekun merawat tubuhmu yang luka,” jawab Ki Darma. “Dua hari? Kalau begitu, selama itu pula saya tak sadarkan diri,” Banyak Angga heran. “Barangkali lebih dari itu kau tak ingat apa-apa. si Ginggi memanggulmu dari wilayah Sumedanglarang sana hingga Puncak Cakrabuana ini,”

Banyak Angga semakin melengak mendengar keterangan ini.

“Saya rindu bertemu dengannya. Belasan tahun tak bersua dengannya. Di mana dia sekarang? Sedang apa dia sekarang? Kembali Banyak Angga melirik kesana-kemari.

Sedangkan yang ditanya hanya ketawa saja seperti melihat anak kecil yang kehilangan mainannya.

“Anak bengal itu sudah pergi turun gunung,” jawab Ki Darma masih tertawa-tawa. Namun Banyak Angga menjadi sedih mendengarnya.

“Sepertinya dia tak ingin bertemu denganku…” keluh Banyak Angga.

“Lho, anak itu barangkali sudah bosan berhari-hari menatap wajahmu,” jawab Ki Darma seenaknya.

“Tapi saya tak sempat melihatnya,” gumam Banyak Angga.

“Salahmu sendiri, mengapa kau beri dia surat,” kata lagi Ki Darma sambil lalu.

Banyak Angga serasa diingatkan. Maka serta-merta dia meraba-raba pakaiaannya seperti ada sesuatu yang tengah dicari.

“Mencari surat lembaran daun nipah itu, ya?” tanya Ki Darma. Banyak Angga mengangguk “Karena tahu surat daun nipah itu untuknya, maka dia beranikan diri untuk membukanya. Tak salah, kan?”

Banyak Angga menggelengkan kepala.

“Makanya dia begitu bersemangat ketika aku perintahkanagar dia segera kembali ke dayo Pakuan ,” tutur Ki Darma sambil mengambil beberapa lembar daun sirih. Diberinya beberapa ramuan rempah. Sesudah itu daun sirih dilipat-lipatnya dan dimasukkan ke mulutnya. Sirih itu dikunyahnya kuat-kuat.

“Tapi benarkah Nyi Mas Banyak Inten, adikmu itu mencintai si Ginggi?” tanya Ki Darma samil mulutnya dipenuhi daun sirih. Dijawab secara tak langsung oleh Banyak Angga bahwa ayahandanya memeritahkan Nyi Mas Banyak Inten untuk mengundang Ginggi datang ke puri Yogascitra untuk suatu keperluan yang mendesak.

“Kami tahu, sebenarnya Ginggi beberapa kali pernah datang kep Pakuan tapi sekedar menengok adikku di mandala. Kami inginkan kehadiran Ginggi secara resmi. Itulah sebabnya dianjurkan adikku yang meminta sebab kami yakin saudara Ginggi akan mau mengabulkan keinginan Nyi Mas Banyak Inten,” kata Banyak Angga.

Mendengar penjelasan ini, Ki Darma hanya tertawa masam sambil tetap menguyah sirih. “Sudah sejak dulu sebenarnya tak lazim orang kebanyakan menyandingkan anak bangsawan. Jadi kalau anak bengal itu memaksakan diri, artinya melanggar kebiasaan,” tutur Ki Darma. Kami tak pernah memperbincangkan hal ini. Lagi pula, dulu pun Ginggi sudah kami angkat sebagai ksatria di puri Yogascitra. Ginggi adalah orang berjasa bagi keluarga kami sebab dia telah berhasil menyelamatkan kehormatan dan harga diri Nyi Mas Banyak Inten dari kebejatan moral Suji Angkara,” tutur Banyak Angga kembali teringat peristiwa masa lalu ( baca episode Senja jatuh di Pajajaran).

“Hehehe! Tapi kalian tak merasa kasihan kepada Nyi Mas Banyak Inten. Masa seorang wiku harus menikah?” tanya Ki Darma.

“Adikku masuk mandala bukan keinginannya, melainkan karena perintah Raja. Mengapa sekarang tak boleh keluar dengan perintah jua?” tanya Banyak Angga.

“Untuk kepentingan politik, agama bahkan bisa diatur,” gumam Ki Darma. Banyak Angga serasa terpukul mendengarnya.

“Kami tak bermaksud mempermainkan agama, namun kami tahu, adikku masuk mandala tidak atas keyakinan sendiri, melainkan karena dihukum Raja. Dia dimasukkan ke mandala di usia muda, di saat-saat masih memerlukan kehidupan duniawi. Agama tak boleh dilalui dengan jalan keterpaksaan apalagi merasa karena dihukum. Oleh sebab itu kami mengusulkan kepada Sang Prabu agar meninjau kembali keputusan Raja terdahulu,” tutur Banyak Angga lagi. Hanya dibalas oleh Ki Darma dengan senyum.

“Terserah apa pendapat kalian. Aku hanya berharap, mudah-mudahan si Ginggi bisa berpikir dewasa, sebab seperti apa katamu tadi, agama bukan keterpaksaan. Begitu pun cinta, tidaklah hadir karena keterpaksaan,” kata Ki Darma sesudah berdiam diri sejenak.

Banyak Angga hanya mengatupkan sepasang matanya sejenak.

“Tapi anak itu bergegas pergi bukan lantaran surat daun nipah itu saja. Aku memang telah menyuruhnya agar dia pergi ke Pakuan. Aku rasa, memang di dayo akan terjadi sesuatu…” gumam Ki Darma datar.

Banyak Angga kembali membuka kelopak matanya. Dia melirik ke arah orang tua itu. “Apakah Aki tahu situasi terakhir di Pakuan?” tanya pemuda itu.

“Tahu sekali sih tidak. Tapi anak murid Ki Jayaratu yang kerapkali mengembara ke wilayah barat banyak mengabarkan perihal situasi Pakuan,” kata Ki Darma.

“Ki Jayaratu? Serasa pernah saya dengar nama itu!” gumam Banyak Angga.

“Hm, dulu dia musuh besarku. Dia kan perwira negri Carbon (Cirebon). Sudah barang tentu kami sering bertemu dalam pertempuran.

Ya, ketika negri kita dipimpin Sang Prabu Surawisesa dulu,” kata Ki Darma. “Apakah Ki Jayaratu kini ada di sini?”

“Sudah belasan tahun dia tinggal di lereng selatan bersama beberapa orang sesama bekas perwira Carbon lainnya. Mereka sepertinya membuka perguruan agama baru,” jawab Ki Darma, “kerapkali kami bertemu,”

“Maksud Aki, selalu bertempur juga hingga kini?” tanya Banyak Angga. Ki Darma tertawa renyah. “Anak kecil saja kalau bermusuhan selalu selesai dalam waktu singkat, mengapa orang-orang yang sebentar lagi mau masuk kubur terus main cakaran? Lagi pula, apa urusan antara si Darma dan si Jayaratu sehingga perlu menciptakan permusuhan berkepanjangan? Hah, orang tolol yang hidupnya terjerembab ke perangkap politik. Dulu kami bertempur karena diperkuda kepentingan politik. Meski bertempur belasan tahun dengan dengan untuk membela negara.

Padahal apa, rakyat dan negara bahkan menderita akibat peperangan. Dan itu yang kami katakan sebagai pembelaan,” tutur Ki Darma menggebu.

Banyak Angga menghela napas. Yang pernah dia dengar, baru kali inilah dapat dibuktikan. Dan memang benar, Ki darma ini kala bicara selalu ceplas-ceplos, termasuk dalam menilai ketatanegaraan. Dia selalu berkata apa yang ada dalam hatinya. Ketika Sang Prabu Surawisesa senang berperang melawan negri-negri kecil bawahan Pajajaran yang membangkang, atau bahkan ketika berperang melawan Carbon, Ki Darma mengkritiknya sebab dianggapnya peperangan hanya menghabiskan dana dan menyengsarakan rakyat. Kritik di masa itu memang sudah dikenal dan orang menamakannya Panca Parisuda (lima obat penawar). Namun tak semua orang senang menerima obat yang pahit rasanya, apalagi bagi seorang raja. Itulah sebabnya Sang Prabu tersinggung sebab kritik Ki Darma artinya mengorek kelemahan orang lain, kelemahan seorang raja!

Kini, pendapat Ki darma tak pernah berubah, dia mencela kehidupan akal-akalan (politik) yang dianggapnya menghancurkan kehidupan rakyat. Ini yang membuat Banyak Angga menghela napas. Bila begini jadinya, Ki Darma barangkali tak bisa dibujuk untuk ikut bergabung memperkuat Pakuan.

“Aki, kalau Aki sering dengar perihal situasi akhir Pakuan, barangkali Aki sudah memikirkan cara penanggulangannya,’ kata Banyak Angga tiba-tiba.

“Menanggulangi apa?”

“Bukankah tadi Aki bilang di Pakuan akan terjadi sesuatu?” kata lagi Banyak Angga. “Ya, begitu kira-kira…”

“Kalau begitu Aki harus mau menanggulangi agar sesuatu yang akan terjadi tidak terlalu buruk,” kata Banyak Angga.

“Mengapa harus aku?” Ki Darma celingukan seperti aneh mendengar omongan pemuda itu. “Karena Aki amat dibutuhkan. Hanya Aki orang Pajajaran yang berjuang untuk negri tanpa pamrih pribadi.”

“Hahaha! Ayahmu bagaimana?”

“Ayahanda bukan orang yang berpikir untuk kepentingan pribadi. Tapi ayahanda bukan akhli jurit (peperangan) sehingga bila terjadi sesuatu terhadap Pakuan, dia tak bisa mempertahankan negri dengan baik,” kata Banyak Angga.

“Hahaha! Jangan meremehkan Pakuan. Kota ini dikawal oleh seribi orang pasukan balamati (siap mati), menguasai tigabelas tekhnik pertempuran dan siap mengamankan Raja,” kata Ki Darma tertawa.

“Tapi itu dulu, ketika zamannya Aki malang-melintang di pasukan balamati. Sekarang banyak perwira seangkatan Aki yang berhenti karena undur-diri atau meninggal. Sedangkan penggantinya tak setangguh para pendahulunya. Mereka tak sanggup menuruni bakat dan kemampuan para perwira tua,” jawab Banyak Angga.

“Mustahil!”

“Lebih dari itu, Sang Prabu seperti tak mendukung upaya meningkatkan kembali kemampuan akhli jurit,”

“Mengapa?”

“Sang Prabu lebih memilih memperkuat kehidupan agama ketimbang militer, padahal bahaya sudah mengancam dari sana-sini,”

“Sang Prabu mungkin benar,” gumam Ki Darma. “Mengapa benar?”

“Sebab barangkali dia sudah waspada akan sesuatu yang tengah berjalan,” ujar Ki Darma. “Apakah itu?”

“Sesuatu kekuatan yang tak bisa dilawan,”

“Ya, apakah itu?” tanya Banyak Angga tak sabar. “Sebuah perubahan!” jawab Ki Darma tandas.

“Perubahan?” gumam Banyak Angga. “Maksud Aki, perubahan itu datang dibawa oleh kekuatan agama baru? Apakah Aki bermaksud mengatakan bahwa Pajajaran akan kalah oleh kekuatan agama baru?” lanjutnya.

“Jangan kau anggap suatu perubahan itu adalah kekalahan. Kalahkah siang terang-benderang yang kemudian mulai redup karena malam hendak datang? Atau, kalahkah sang malam ketika mentari mulai muncul di ufuk timur?” tanya Ki Darma.

Hening untuk beberapa lama. Ada suara burung walik berceloteh di dahan-dahan pohon pinus di sekitar gubuk. Namun celoteh burung itu membuat suasana semakin sepi yang dirasakan Banyak Angga.

“Jangan kau risaukan perubahan itu sebab ini merupakan hal alami yang terjadi di dunia. Yang engkau harus hadapi dengan baik adalah adalah penyakit keserakahan karena kepentingan ambisi manusia. Dan bahaya seperti itu bukan datang luar melainkan dari dalam tubuh kita sendiri,” kata Ki Darma.

Banyak Angga masih merenung.

“Engkau keliru bila takut menghadapi kekuatan agama baru. Sudah sejak zaman Sri Baduga Maharaja, bahkan jauh sebelum itu, kehidupan agama baru sudah ada di Pajajaran. Bukankah Pesantren Syech Quro sudah hadir di wilayah Tanjungpura (Karawang) ratusan tahun silam? Agama itu tak berbahaya bagi Pajajaran. Dan sekali lagi aku katakan, yang membahayakan, justru orang-orang yang punya ambisi pribadi,” kata Ki Darma lagi.”Kalau agama dibawa dengan benar, lihatlah, betapa damainya Ki jayaratu. Dia datang dari Carbon. Bukan untuk memerangiku sebagai bekas musuhnya, melainkan untuk menyebarkan agama. Dia tak melakukan pemaksaan, hanya ditampilkannya agama baru itu dengan tindak-tanduk yang mengundang simpati. Kenyataanya, lihatlah, agama baru semakin merebak ke mana-mana.

Dia menjadi besar tanpa melalui kekerasan. Inilah yang aku sebut perubahan. Sesuatu yang baru akan datang menggantikan yang lama,”

Banyak Angga mengangguk-angguk pelan namun sebetulnya tanpa begitu mengerti apa yang barusan disimaknya. Sampai pada akhirnya Ki Darma menyuruhnya untuk kembali tidur agar kesehatannya cepat pulih.

Eentah berapa lama dia tidur, sampai tiba-tiba dikejutkan oleh suara orang yang datang. “Assammualaikum…!” kata suara dari luar.

“Rampes….” Jawaban dari dalam. Banyak Angga tahu, yang menjawab adalah Ki Darma. Sedangkan suara sang tamu, Banyak Angga tak kenal.

“Masuklah Jayaratu. Ada apa tergesa-gesa begitu?” tanya Ki Darma.

Baru pemuda itu tahu, bahwa yang datang adalah Ki Jayaratu. dIa mencoba bangun sebab ingin sekali mengenal orang tua yang terkenal karena menjadi musuh besarnya Ki Darma dulu.

“Aku ingin lihat pemuda itu, apa sudah agak baikan?” kata Ki Jayaratu sambil mendekati balai-balai bambu tempat di mana Banyak Angga terbaring.

Banyak Angga walau pun hati-hati namun sudah bisa duduk sambil bersandar. Dia lihat ada seorang kakek yang usianya hampir sebanding dengan Ki Darma. Bedanya, penampilan kakek ini sedikit rapi. Dia memakai baju kurung warna nila dan rambutnya yang panjang memutih diikat kain kasar warna hitam. Orang tua itu membawa bungkusan kain yang diselendangkan di bahunya. Ketika duduk di balai-balai segera menurunkan buntalan tersebut dan membukanya. Isinya ternyata tumpukan berbagai dedaunan. Dia memilih-milih beberapa lembar.

“Mari, aku buka bebatmu yang lama, mungkin daun itu sudah kering,” tuturnya kepada Banyak Angga.

“Hahaha! Engkau beruntung di datangi juru obat sakti,” kata Ki Darma.

“Ki Darma dan Ginggi bahkan lebih hebat dalam menguasai pengetahuan obat-obatan, hanya saja mereka orang-orang malas dan seenaknya merawat pasen,” tutur Ki Jayaratu.

Ki Darma hanya heheh-heheh saja.

“Itu daun-daun apa, Aki?” tanya Banyak Angga memperhatikan Ki Jayaratu membuka bebat di tangannya dengan pelan.

“Hahaha! Ini hanya daun babadotan saja, sejenis tumbuhan liar yang hidup di semak-semak. Tapi jangan menyepelekan. Daun tak berharga bagi orang yang tak mengenalnya, sebenarnya merupakan obat mujarab untuk menghentikan pendarahan dan bagus untuk mengeringkan luka,” kata Ki Jayaratu sambil meremas-remas lembaran daun itu hingga lusuh. Sedikit kapur sirih yang sudah diberi air dioleskan ke setiap lembaran daun itu. Sesudah jumlah lembaran daun dianggap cukup, Ki Jayaratu melepaskan tempelan-tempelan lembaran daun yang lama dan menggantinya dengan daun yang baru. Banyak Angga meringis sambil sedikit mengatupkan mata. Ada beberapa luka yang cukup parah di beberapa bagian tubuhnya.

Beberapa di antaranya sedikit membengkak dan matang biru. Kata Ki Jayaratu, luka yang membengkak karena terlambat menerima pengobatan. Ki Darma menerangkan, barangkali Ginggi terlalu tergesa-gesa membawa Banyak Angga sehingga tak sempat merawatnya dengan baik dan telaten.

“Bisa jadi begitu, si Ginggi tergesa-gesa karena diikuti orang. Bukankah tak selang sehari ada orang yang mencari-carinya?” tanya Ki Jayaratu sambil tangannya tak henti-hentinya merawat beberapa bagian tubuh Banyak Angga.

“Oh, ya! Aku ingat anak itu. Ke mana dia sekarang?” tanya Ki Darma mengambil tempat air minum terbuat dari kulit buah kukuk yang sudah kering. Ki Darma minum sambil menentengkan tempat air itu begitu saja ke mulutnya.

“Anak itu seperti gila. Mula-mula datang mencak-mencak cari si Ginggi. Namun sesudah itu merengek-rengek minta diajari ilmu kedigjayaan. Karena aku tolak, dia pergi dan akan tetap mencari si Ginggi!”

“Begitu bencinya anak dungu itu kepada si Ginggi. Siapakah dia?” tanya Ki Darma acuh tak acuh.

“Bahkan engkau akan diperangi juga,” gumam Ki jayaratu. “Oh,ya aku dengar itu,” Ki Darma masih acut tak acuh.

“Aku tak tahu namanya sebab bocah edan itu tak memperkenalkan diri, kecuali…” kata Ki Jayaratu tersendat.

“Kecuali apa, Jayaratu?” tanya Ki Darma menoleh.

“Kecuali dia katakan bahwa dia murid Ki Sudireja,” tutur Ki Jayaratu.

“Hm. Kalau tak salah Ki Sudireja itu perwira Kerajaan Karatuan Talaga yang membenci Pajajaran,” gumam Ki Darma.

“Dia mengaku anak buah Pangeran Yudakara,” kata lagi Ki Jayaratu.

0 Response to "Kunanti Di Gerbang Pakuan Jilid 08"

Post a Comment