coba

Kunanti Di Gerbang Pakuan Jilid 06

Mode Malam
Pragola turun ke atas tanah dengan mantap, tepat membelakangi pertempuran lain yang dilakukan Banyak Angga.

Baru saja tubuhnya berdiri tegak, serangan sudah menghambur dari depannya. Yang melakukan serangan adalah tiga orang tadi itu. Pragola harus siap-siap kembali menerima serangan mereka. Namun sebelum mereka benar-benar dekat, terdengar teriakan Banyak Angga jauh dibelakangnya.

“Pragola, awas di belakang!!!” teriak Banyak Angga. Dengan gerakan amat cepat Pragola memutar tubuhnya. Ternyata tiga penyerang tengah mengayunkan golok besar ke arah punggungnya. Pragola tak ada waktu untuk menghindar. Maka satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri adalah mencoba mendahului melakukan penyerangan. inI adalah lomba kecepatan. Apakah serangan golok yang lebih dulu mencehcar dirinya, ataukah sodokan sepasang kepalan tangannya yang mengarah kekiri dan kanannya.

Namun tak percuma Pragola digembleng bertahun-tahun oleh mendiang Ki Guru Sudireja. Sejak usia dini dia telah dilatih melakukan gerakan-gerakan cepat. Mula-mula dalam waktu singkat harus mampu melayangkan pukulan kiri-kanan ke batang pohon pisang masingmasing seratus kali. Semakin usia latihan bertambah, maka jumlah pukulan harus semakin banyak. Yang dipukul pun bukan sekadar batang pohon pisang lagi, melainkan batang pohon enau. Dalam usia remaja, Pragoal sudah sanggup memukul hancur batang pohon kelapa sekali tohok.

Ini adalah lomba kecepatan. Dan gerakan cepat itu dilakukannya dengan kekuatan penuh. Maka tak ayal, hasilnya adalah jeritan-jeritan kesakitan. Ketiga orang penyerangnya terlontar keras hampir tiga depa ke belakang. Dua penyerang di kiri kanannya mendapatkan sodokan keras dari sepasang tangan yang dilakukan secara silang dan penyerang yang berada di tengah menerima tendangan telak di ulu hati.

Tentu ini adalah serangan yang cukup kejam sebab hasilnya adalah kematian. Betapa tiga orang lawan yang terpental itu jatuh bergulingan beberapa kali, berkelojotan dan kemudian diam tak bergerak.

Untuk sementara Pragola bebas sari penyerang. Dengan kaki terpentang lebar dia berdiri bertolak pinggang, mengawaskan sibuknya Banyak Angga menghindarkan kepungan dari kiri-kanannya.

Pragola juga mengawasi, betapa teman-temannya yang lain tengah mendapatkan kepungan. Paman Manggal adikeroyok tiga orang dan Paman Angsajaya dikeroyok dua lawan. Pragola tak perlu membantu kedua orang ini sebab dalam selintas pun dia sudah dapat menarik kesimpulan bahwa kemampuan lawan masih di bawah kepandaian kedua orang itu. Paman Manggala dengan entengnya berkelit ke sana-kemari menghindarkan serbuan golok-golok lawan. Begitu pun Paman Angsajaya dengan amat indahnya menggerakkan langkah kaki dalam upaya menghindari serbuan lawan. Paman Angsajaya sanggup bergerak indah mungkin dia punya gaya berkelahi yang indah tapi mungkin juga karena sanggup mengendalikan lawan yang kemampuannya di bawahnya. Baik Paman Angsajaya mau pun Paman Manggala ternyata tak mencoba untuk membunuh lawan. Paman Manggala mungkin tak punya niat sebab dia tahu, “musuh” yang menghadang ini sebenarnya teman. Tapi Pragola patut memuji kepada Paman Angsajaya. Sudah jelas nyawanya selalu diancam sebab lawan berniat untuk membunuhnya. Tapi prajurit Pajajaran setengah baya ini seperti tak berniat untuk membunuhnya. Dia memang balik menyerang dan melakukan beberapa pukulan namun tak ada pukulan telak yang mengarah nyawa lawan.

Mungkin Paman Angsajaya ingin menagkap lawan hidup-hidup untuk kelak diteliti identitasnya tapi juga karena mungkin orang ini punya hti lembut. Seperti yang banyak didengar Pragola, rata-rata orang Pajajaran punya kelembutan hati. Mereka tak suka mengganggu orang lain tapi juga tak suka diganggu. Mereka tak suka membohongi tapi juga tak suka dibohongi. Tapi menurut Pangeran Yudakara, sifat-sifat seperti ini adalah sesuatu yang lemah. Karena selalu jujur maka orang Pajajaran pun selalu menganggap orang lain jujur. Sekali dipermainkan oleh tindakan akal-akalan seperti permainan politik misalnya, maka hancurlah mereka.

Pragola kembali berpaling untuk memperhatikan nasib Banyak Angga. pemudA tampan berusia sekitar 27 tahun atau lebih ini nampak sibuk sekali dikeroyok oleh lima orang lawannya. Pragola tak sayang jiwa anak pejabat Pakuan ini. Kalau mati dalam pertempuran ini tak mengapa sebab hanya punya arti satu bagian dari tugasnya sudah terselesaikan secara tak langsung. Tapi Pragola pun tak mau orang bercuriga padanya. Kelima orang pengeroyok itu memang masih bersikap mengepung namun sepertinya tak sanggup membunuh Banyak Angga dalam waktu cepat. Kalau kesibukan pemuda itu tak cepat dibantu hanya akan membuat curiga saja. Siapa pun tak boleh ada yang menduga bahwa Pragola berpihak pada kaum penyerang. Maka untuk itu dia terpaksa harus membantu Banyak Angga untuk menyapu “lawan”.

Maka ketika melihat kelima orang itu begitu bertele-tele dalam upaya membunuh Banyak Angga, Pragola hanya menganggap bahwa ini sebuah kegagalan. Kegagalan yang satu tak boleh disusul oleh kegagalan yang lainnya. Timbullah rasa curiga orang-orang Pakuan karena tak membantu Banyak Angga dalam membebaskan diri dari mara-bahaya hanya akan menciptakan kegagalan lebih parah lagi. Maka untuk itu, dia segera turun melibatkan diri.

Kini Banyak Angga kepas dari kepungan bahkan dari bahaya kematian sesudah Pragola turun membantu. Bahkan dalam waktu yang cukup singkat para pengepung sudah porak-poranda. Semuanya sudah bisa dilumpuhkan oleh Pragola sebab perhatian para penyerbu tengah tertumpu kepada Banyak Angga.

Banyak Angga sendiri terpana melihat kehebatan Pragola. Barangkali pemuda itu sebelumnya tidak pernah menduga bahwa pembantunya ini demikian tinggi ilmu berkelahinya.

Diperhatikan secara khusus seperti ini Pragola sedikit gagap dan merasa serba-salah. Barangkali dia terlalu memperlihatkan kebolehannya di depan umum, teristimewa di hadapan “majikan”nya, Banyak Angga. Mungkin Banyak Angga akan merasa tersimggung sebab kegagahannya yang baru saja ditampilkan sepertinya mendudukkan pemuda itu ke tempat yang rendah. Terlalu cepatnya Pragola menundukkan lawan hanya mencoreng harga diri Banyak Angga, karena pemuda anak pejabat ini, yang mendapatkan tugas berat melakukan perjalanan ke wilayah timur yang berbahaya ini, nyatanya tak memiliki kepandaian berarti.

Namun perkiraan-perkiraan yang membuat dada pragola berdebar adalah kalau saja Banyak Angga berpikir lain. Bagaimana bila pemuda ini mencurigai dirinya? Pragola diperkenalkan oleh Pangeran Yudakara ke pihak istana hanya sebagai prajurit biasa. Mungkinkah seorang prajurit biasa memiliki kepandaian begitu tinggi? Ini yang membuat Pragola khawatir.

Dengan perasaan sedikit tegang Pragola menatap Banyak Angga yang datang mendekat untuk melakukan sesuatu yang tidak diharapkan.

Belakangan Banyak Angga datang ternyata hanya untuk memeluknya.

“Adikku, ternyata kepandaianmu demikian hebat. Aku bangga padamu,” tutur pemuda itu sejujurnya. Ditepuk-tepuknya punggung Pragola dengan penuh suka-cita.

Lega hati Pragola. Ternyata Banyak Angga tak berburuk sangka padanya.

“Pangeran Yudakara adalah seorang yang senang merendah. Dia tak pernah mengatakan bahwa prajurit yang jadi bawahannya demikian tinggi ilmunya. Apakah Pangeran Yudakara memiliki banyak prajurit sepertimu?” tanya Banyak Angga masih dengan tatapan kagum.

Pragola hanya menahan napas, tak tahu harus berkata apa.

“Kepandaian saya tak begitu hebat. Kebetulan saja perhatian para pengeroyok hanya tertumpu padamu sehingga saya lolos dari penglihatan mereka,” kata Pragola pada akhirnya. “Jangan merendahkan diri. Kau tadi melumpuhkan tiga orang dalam satu gerakan.

Seranganmu cepat dan mantap. Tak sembarang orang sanggup melakukannya,” susul lagi Banyak Angga masih dengan nada memuji.

“Ah, Raden terlalu melebih-lebihkannya. Orang yang dicekam rasa takut bila ditekan keadaan akan melakukan sesuatu kenekadan. Saya tadi takut sekali melihat tiga orang melakukan serangan sekaligus dari tiga jurusan. Saking takutnya dilukai mereka, saya mendahului menyerang mereka. Hanya sekenanya saja dan kebetulan kena,” tutur Pragola, juga bicara sekenanya.

Banyak Angga hanya senyum dikulum. Dan Pragola tak bisa menduga apa yang ada dibalik senyuman itu.

“Radenlah yang menyelamatkan nyawa saya. Kalau saja Raden tak memperingatkan, saya tentu sudah tewas oleh mereka,” kata Pragola.

“Engkau pun berjasa. Kalau aku kau biarkan dikeroyok kelima orang itu. Sudah pasti aku akan binasa. Aku akan khabarkan pada ayahanda bahwa engkau telah berjasa menyelamatkan nyawaku. Pada peringatan Kuwerabakti tahun depan, akan aku perjuangkan agar kau ikut tes keperwiraan. Engkau cukup pandai untuk dijadikan perwira,” tutur lagi Banyak Angga.

Sementara itu Paman Manggala dan Paman Angsajaya telah meringkus para penghadang. Lima orang penghadang tewas oleh Pragola dan Paman Manggala serta Paman Angsajaya. Sisanya tujuh orang luka-luka walau pun tidak sampai membahayakan jiwa mereka. “Semuanya sudah kami cangkalak (ringkus), Raden,” lapor Paman Angsajaya.

“Perlukah mereka dibunuh?” tanya Pragola sedikit menguji. “Jangan bunuh mereka!” sergah Banyak Angga.

“Mereka adalah orang jahat! Mereka perampok!” sekali lagi Pragola menguji. Namun Banyak Angga menggelengkan kepala. “Kejahatan mereka karena sesuatu sebab juga dan tak berdiri sendiri. Semua saling berkaitan. Kejahatan hanya bisa dilenyapkan dengan mencoba menciptakan keadaan agar orang tak berpikir menjadi penjahat,” tutur Banyak Angga.

“Lalu akan kita aoakan mereka kini?” tanya Pragola. Nampak Banyak Angga termenung sejenak.

“Ya, pada akhirnya yang berbuat jahat akan mendapatkan hukuman.

Kita serahkan kepada para penguasa setempat. Kita akan membawa mereka ke cutak (pejabat setingkat camat kini), untuk diproses lebih jauh,” gumam pemuda itu sesudah menghela napa beberapa kali.

***

Mengubur lima mayat musuh korban pertempuran kecil itu ternyata cukup menyita waktu juga. Ini menyebabkan rombongan kecil itu harus bermalam di tempat itu.

Untuk kesekian kalinya Pragola dipaksa harus memuji perilaku dan pendirian Banyak Angga. Dengan alasan mengejar waktu, Pragola mengusulkan agar mayat-mayat berserakan itu ditinggal begitu saja, atau paling tidak ditutupi dedaunan. Namun Banyak Angga berpikir lain. Kata pemuda itu, selagi hidup bisa saja orang itu jahat. Namun sesudah mati yang sisa hanyalah jasadnya. Dan jasad orang mati si jahat mau pun si baik tak ada bedanya, semua harus dirawat dan dihormat.

Tentu saja pendirian Pragola pun sebetulnya begitu. Kalau pun dia tadi mengusulkan laibn, itu karena ingin lebih mengenal karakter pemuda itu saja.

Pragola tahu, ada kebiasaan orang Pajajaran dalam menyempurnakan jasad si mati. Di wilayah Pajajaran yang banyak didapat sungai besar seperti wilayah Galuh (Ciamis sekarang) ada istilah nerebkeun (melabuhkan). Jasad orang mati dibenamkn ke dasar sungai atau telaga. Tapi di wilayah pegunungan yang jauh ke sungai besar, terdapat istilah ngurebkeun (mengubur). Jasad orang mati ditanam ke dalam tanah.

Malam hari keempat orang itu tidur giliran. Bila dua orang beristirahat, maka dua orang lagi tugur (meronda). Pragoa memilih tugur bersama Paman Manggala padahal Banyak Angga nampaknya ingin sekali satu kelompok dengannya.

“Kepanadaian Paman Manggala kurang begitu tinggi, begitu pun Paman Angsajaya. Supaya kekuatan seimbang, terpaksa saya harus menyertai Paman Manggala dan sebaliknya Raden menyertai Paman Angsajaya,” tutur Pragoal memberikan alasan. Dan ini dapat dimengerti pemuda pejabat itu yang lantas setuju dan mendapatkan jatah tidur paling awal.

Padahal yang sebetulnya diingini Pragola adalah bercakap-cakap dengan Paman Manggala perihal kecurigaan yang ada dibenaknya.

Di saat Banyak Angga dan Paman Angsajaya tidur pulas, pragola mengajak Paman Manggala agak menjauh dari tempat itu.

Paman Manggala memeriksa ke tujuh tawanan yang terikat jadi satu. Sesudah itu baru dia menghampiri Pragola.

“Ada apa?” tanya Paman Manggala. Mereka duduk bersila saling berhadapan.

“Saya heran dengan tindak-tanduk para penghadang. Benarkah mereka prajurit Cirebon. Gerakan tempurnya kasar sekali. Mereka pun beringas dan kejam. Ke padaku mereka melakukan serangan ganas, seolah-olah mereka menginginkanku mati…” kata lagi Pragola. “Barangkali itu hanya perasaanmu saja, Pragola,” gumam Paman Manggala.

“tak terasakah tindakan dan perlakuan mereka pada Paman?”

“Memang terasa. Tapi aku anggap itu wajar sebab penyamaran mereka tak boleh diketahui,” “Kita bisa mati kalau kepandaian mereka berada di atas kita,” tutur Pragola. “Itulah sebabnya kita dipercaya mengemban misi ini,” kata Paman Manggala.

Di kegelapan malam Pragola mencoba menatap Paman Manggala, namun suasana terlalu gelap. Setiap bermalam di tengah perjalanan memang tak pernah memasang api unggun, takut diserang prajurit Cirebon.

“Bisakah mereka dipercaya seperti kita dalam mengemban misi ini?” tanya Pragola. ”Mereka bisa dipercaya,”

“Tak akan buka rahasia bahwa sebetulnya mereka bukan perampok melainkan prajurit Cirebon yang dikendalikan Pangeran Yudakara?” tanya Pragola lagi.

“Tak akan buka rahasia!” jawab Paman Manggala yakin. Pragola puas dengan jawaban ini. Tapi dia sendiri pun tak tahu mengapa merasa puas dengan jawaban Paman Manggala.

Beberapa lamanya kedua orang itu tugur. Beberapa kali Paman Manggala memeriksa tawanan seolah-olah ingin meyakinkan tawanan tak akan melarikan diri.

“Bisakah kita usahakan mereka melarikan diri?” tanya Pragola. “Tak bisa, mereka luka parah…” bisik Paman Manggala.

“Karena tadi mereka seperti berusaha membunuhku, aku terpancing dan marah, sehingga mereka terbunuh…” keluh Pragola penuh sesal.

“Itu resiko mereka. Tapi kau pun ceroboh,” “Aku terlalu kasar…”

“Maksudku kau ceroboh memperlihatkan kepandaian aslimu,” gumam Paman Manggala. Pragoal mengeluh pendek.

“Mungkin penyamaranmu sedikit terkuak,” desis Paman Manggala.”

Akan ada sedikit kesulitan karena hal ini…” sambungnya lagi penuh sesal.

Beberapa kali Paman Manggala memeriksa tawanan, sampai tiba waktunya tugur mereka selesai. Banyak Angga bangun tepat pada waktunya dia giliran tugur.

Pragola tidur nyenyak saking lelahnya. Namun serasa belum lama, dia segera terjaga di saat seberkas cahaya tipis sudah nampak di langit timur. Tapi yang membuat dirinya terbangun bukan karena keadaan sudah terang tanah, melainkan karena didengarnya suara kaget Banyak Angga.

“Ada apa?” tanya Pragola sambil mengucak-ngucak kelopak matanya. “Semua tawanan sudah tak bernapas!” teriak Banyak Angga.

“Mati?” tanya Pragola. Dia berjingkat mendekati kelompok tawanan yang nampak duduk saling bersandar satu sama lainnya. Kedudukan mereka sebetulnya masih belum berubah seperti tadi malam yaitu duduk berhimpitan saling beradu punggung. Tak dinyana ternyata pagi ini semuanya sudah tak bernapas.

Pragola memeriksa, tak ada luka baru di tubuh mereka. “Kenapa mereka mati?” tanyanya menatap Banyak Angga. “Itulah yang ingin aku ketahui!” kata pemuda itu.

“Radenlah yang tugur. Jadi tentu Raden harus mengetahui mengapa mereka tewas,” kata Pragola sedikit keras karena tak senang tawanan itu tewas. Bukankah mereka sebetulnya bagian dari kelompoknya?

“Mereka mati karena luka-lukanya…” kata paman Manggala yang ternyata tengah memeriksa satu-persatu tawanan itu.

“Mati karena luka-lukanya?” tanya Pragola mengerutkan dahi.

Mereka memang menderita luka. Tapi rasanya terlalu jauh kalau harus mati secara tiba-tiba ini.

“Luka-luka mereka biasa saja. Tak semestinya mereka mati!” kata Pragola penuh sesal. Ucapannya ini membuat Banyak Angga menatapnya. Begitu pun Paman Manggala menatapnya secara khusus. Pragola cepat sadar terhadap kekeliruannya ini. Barangkali Banyak Angga merasa heran terhadapnya. Mengapa secara tiba-tiba dia penuh perhatian terhadap keselamatan para tawanan, padahal baru kemarin dia mengusulkan agar semua “perampok” dibunuh saja. Paman Manggala yang menatapnya penuh seksama mungki maksudnya menegur dia agar tidak menampakkan kemarahan ini.

“Lihatlah ada pembengkakan di seputar bekas luka. Aliran darah mereka mungkin terganggu oleh pembengkakan ini,” gumam Paman Manggala. Paman Angsajaya ikut memeriksa. Tapi jelas dalam pandangan Pragola, prajurit ini tak tahu apa-apa perihal kondisi tubuh. Dia hanya mengangguk-angguk saja ketika Paman Manggala memeriksa dan mengambil kesimpulan seperti ini.

“Tadi malam aku teledor tidak memeriksa mereka. Kalau tak begitu, kita bisa tahu saat kapan mereka tewas,” gumam Banyak Angga penuh sesal.

“Kami tak menyalahkanmu, Raden. Biarlah, ini keinginan Hyang (Yang Kuasa) semata…” tutur Paman Manggala.”Mari kita kureubkan saja cepat-cepat, jangan sampai perjalanan kita terhambat lagi,” tutur Paman Manggala sambil segera mengambil gobang (pedang) untuk digunakan menggali tanah. Tindakannya ini segera diikuti oleh yang lainnya kendati nampak nyata masih ada penasaran baik dari Pragola mau pun Banyak Angga.

Sampai matahari agak tinggi barulah pekerjaan mengubur tujuh mayat selesai.

Mereka akhirnya kembali melanjutkan perjalanan. Tujuannya, dalam waktu dua hari berjalan kaki harus sudah tiba di Sagaraherang. Sagaraherabg ini adalah sebuah daerah yang dipimpin oleh Pangeran Yudakara. Tigabelas tahun silam daerah ini pernah memberontak terhadap Pajajaran dan sempat mengirimkan hmpis seribu pasukan untuk menyerang Pakuan. Berkat kegagahan para ksatria Pajajaran yang dibantu oleh Ksatria Ginggi, pasukan pemberontak bisa dibendung. Kandagalante Sunda Sembawa yang memimpin pemberontakan ini terbunuh dalam sebuah pertempuran yang berlangsung di tepian Telaga Rena Mahawijaya, Pakuan.

Sebagian meloloskan diri, sebagian lagi kalau tak tewas, menyerahkan diri.

Kejadian itu berlangsung pada zamannya pemerintahan Sang Prabu Ratu Sakti (1543-1551

M) yang terkenal kejam dan ambisius.

Sekarang pada zamannya Prabu Nilakendra (1551-1567 M) wilayah Sagaraherang bukan saja “tak dihukum”, penguasanya bahkan diberi kemudahan dalam upaya memperluas wilayahnya. Buktinya dalam waktu dekat wilayah ini akan diperlebar wilayahnya dan Pangeran Yudakara akan diangkat setingkat bupati. Prabu Nilakendra sudah bosan dengan peperangan. Maka untuk meredam berbagai pemberontakan, tekanan terhadap daerah yang dulu dianggap pembangkang diperlunak. Buktinya, penguasa sagaraherang kini, yaitu Pangeran Yudakara bahkan mendapatkan kepercayaan begitu besar, padahal seudah jelas dia punya hubungan dekat dengan Kandagalante Sunda Sembawa.

Menurut penilaian Pragola, ini salah besar, sebab kendati Pangeran Yudakara tak punya niat pribadi melakukan pemberontakan, namun tetap saja pejabat ini akan melakukan tindakan yang merugikan kepentingan Pakuan. Orang-orang Pajajaran tidak pernah menyangkanya, bahwa Pangeran Yudakara adalah utusan Cirebon dalam upaya meruntuhkan Pajajaran.

Selama melakukan perjalanan yang kini dilakukan dengan jalan kaki, Pragola tak habishabisnya berpikir perihal kejadian malam itu. Rasanya ada yang ganjil yang terdapat pada diri Paman Manggala.

Sudah belasan tahun Pragola kenal dengan orang tua ini. Sejak dirinya dilatih oleh Ki Guru Sudireja dan bahkan sejak mereka diminta Pangeran Yudakara untuk membantu perjuangan Cirebon, Pragola tak pernah melihat Paman Pragola seganjil ini.

Pragola mencoba menyimak kembali kejadian tadi malam. Tujuh tawanan diketemukan tewas pada pagi harinya, padahal malam hari tak ditemui tanda-tanda tawanan akan mengalami nasib sial seperti itu. Memang benar tawanan itu rata-rata menderita luka karena perkelahian. Namun luka-lukanya tak mungkin menyebabkan kematian. Kalau pun ada, musthil pula ketujuh tawanan itu mati secara bersamaan. Seperti apa kata Paman Manggala, memang benar ketujuh orang “perampok” itu mati karena aliran darahnya tersumbat. Ini jelas terlihat dari pembengkakan-pembengkakan pada bagian tubuh mereka.

Mengapa aliran darah mereka tersumbat? Inilah yang mencurigakan. Walau pun hanya selintas tapi Pragola bisa menduga, jaln darah ke tujuh orang itu sebenarnya sudah putus, atau sengaja diputuskan. Oleh seseorangkah? Ya! Dan Pragola justru mencurigai Paman Manggala.

Pragola hafal betul kepandaian Paman Manggala. Dulu pernah menyaksikan Paman Manggala melatih telunjuknya dengan keras dan tekun. Paman Manggala gemar melatih telunjuknya dengan cara melakukan tusukan-tusukan jari ke berbagai benda. Mula-mula hanya menusuk benda-benda lunak seperti batang pisang atau batang pepaya saja. Namun semakin keras dan semakin tinggi tingkat latihannya, semakin keras juga benda yang jadi bahanperaganya.

Belakangan bahkan Paman Manggala sanggup menusuk sebongkah batu tanpa batu itu menjadi hancur. Batu bahkan hanya berlubang dengan bentuk yang rapih.

Mudah diduga, latihan kekuatan jari ini diperuntukkan bagi keperluan perkelahian. Betapa tengkorak atau ubun-ubun lawan akan tertembus oleh jari Paman Manggala.

Namun kata Ki Guru Sudireja, kepandaian Paman Manggala bahkan sudah lebih baik lagi dari itu. Hasil serangan jari Paman Manggala lebih halus dan lebih beradab walau pun hasilnya tetap saja sadis, yaitu menyebabkan kematian. Serangan jari halus kini sudah diperagakan kepada Pragola. Ketujuh tawanan itu tewas karena urat darahnya putus oleh serangan jari Paman Manggala. Pragola yakin itu. Tapi yang membuat pemuda ini mengerutkan dahi, mengapa Paman Manggala melakukan semua ini? Mengapa pula merahasiakannya?

Pragola bingung memikirkannya. Ada terjadi beberapa keanehan dalam perjalanan ini. Mulamula mereka mendapat serangan “komplotan perampok”. Pragola sebetulnya yidak akan kaget sebab sudah jauh hari dia diberitahu, bahwa untuk mengganggu perjalanan Banyak Angga, mereka akan diserang sepasukan “perampok”. Menurut khabar yang disampaikan, ”perampok” itu sebetulnya prajurit Cirebon yang ada di bawah kendali Pangeran Yudakara. Pragola memang sudah tahu bakal ada penyerangan di tengah jalan. Dalam serangan itu, kemungkinan orang-orang Pakuan akan dibunuh. Namun yang membuat Pragola heran, mengapa dalam serangan itu sepertinya dia sendiri pun masuk daftar unuk dibunuh?

Sebelum rasa bingung ini sempat terjawab, sudah disusul lagi dengan kebingungan yang lain. Tujuh tawanan tewas secara mencurigakan dan Pragola bercuriga Paman Manggalalah pelakunya. Mengapa ini bisa terjadi?

Pragola hanya menduga, ketujuh perampok yang sebetulnya kawan sendiri itu sengaja dibunuh Paman Manggala untuk melenyapkan jejak. Mereka perlu dilenyapkan sebab gagal mengemban tugas. Tentu kalau mereka semua tewas oleh Banyak Angga bukanlah suata masalah. Namun ternyata mereka telah jadi tawanan. Banyak Angga sudah berkata bahwa tawanan akan diserahkan kepada cutak terdekat untuk segera diperiksa.

Barangkali inilah yang dipikirkan Paman Manggala sehingga memutuskan melenyapkan tawanan sebelum rahasia terbongkar.

Bisa dimaklumi tindakan ini. Namun yang tak Pragola habis pikir, mengapa Paman Manggala merahasiakan padanya? Jelas sekali Paman Manggala pura-pura tak melakukan sesuatu di hadapannya. Ini hanya punya kesan bahwa Paman Manggala tak memperbolehkan dirinya tahu.

Sementara itu perjalanan sudah ada di ujung senja. Ini adalah hari pertama perjalanan. Berarti satu hari lagi perjalanan harus dilakukan untuk sampai di tujuan.

Namun ketika empat orang itu sudah siap-siap untuk istirahat, bencana datang lagi. Untuk yang kedua kalinya mereka diserbu lagi oleh “perampok”.

Maka pertempuran pun kembali terjadi. Kali ini dilakukan di tengah hutan jati yang sudah mulai meremang karena senja mulai jatuh.

Untuk yang kesekian kalinya Pragola menjadi bingung sebab “perampok” benar-benar ingin menghabisi jiwa mereka. Tidak saja ingin membunuh Banyak Angga dan Paman Angsajaya, tapi juga seperti ingin melenyapkan nyawa Pragola dan Paman Manggala.

Di tengah-tengah kepungan ini, selintas Pragola bisa melihat rasa heran yang sangat diperlihatkan Paman Manggala. Melihat kebrutalan para penyerbu, Paman Manggala nampak mengerutkan kening. Apalagi kebrutalan ini juga diarahkan kepadanya.

Para penyerbu yang jumlahnya mencapai puluhan itu memang melAkukan serangan brutal dan tujuannya membabat habis keempat orang itu.

Serangan brutal ini telah memaksa Pragola untuk berlaku hati-hati. Jangan sampai dia terkena sabetan golok atau tusukan pedang lawan.

Untuk yang kesekian kalinya pemuda ini pun merasa heran, bahwa cara berkelahi orang-orang ini tidak seperti prajurit Cirebon. Dan di balik kebrutalan serbuan ini, Pragola sempat melihat keanehan. Pemuda ini mendapatkan ada gerakan berkelahi mirip orang Pajajaran. Prajurit Pajajaran yang memiliki kepandaian biasa-biasa saja cenderung menggunakan tenaga kasar dalam bertanding. Terkadang bila emosinya timbul, mereka melakukan gerakan burtal.

Namun dalam kebrutalan ini selalu nampak ada kejujuran. Mereka tidak melakukan gerakan menipu atau berbuat licik. Dalam upaya melumpuhkan lawan, mereka berterika terlebih dahulu sehingga sebelum yang diserang terluka dia sudah menyadari bahwa dirinya tengah diserang. Dan itulah yang diperlihatkan para pengepung ini. Jauh berbeda dengan pengepung kemarin malam yang kesemuanya asing dan licik dalam pandangan Pragola.

Kalau melihat gerakan tipe berkelahi antara penyerbu kemarin dengan yang hari ini, sepertinya mereka bukan dari satu kelompok. Dan karena ada kemiripan dengan cara berkelahi orang Pajajaran, maka Pragola menduga bahwa mereka tentu ada pertalian dengan orang Pajajaran. Apakah mereka merupakan prajurit Pajajaran yang mulai memalingkan muka dari tuannya? Bila benar, Pargola memuji kepada kehebatan Pangeran Yudakara yang sudah sanggup menarik orang Pajajaran untuk mengikutinya.

Yang tidak nampak bingung menghadapi gerakan pengeroyok adalah Banyak Angga dan Paman Angsajaya. Mungkin mereka pun sudah menduga pula bahwa pengepungnya ini adalah orang Pajajaran. Namun yang Banyak Angga yakini, tentu pengepung ini benar-benar merupakan orang jahat semata. Seperti yang sudah dikhabarkan Kandagalante Subangwara, sepanjang Tanjungpura dan Sagaraherang banyak kaum penjahat yang berupaya merampok kaum penempuh perjalanan.

Yang tak diduga dalam pertempuran ini adalah gerakan-gerakan Paman Manggala. Menghadapi serangan-serangan brutal lawan, disambutnya dengan gerakan yang tak kalah ganasnya. Dalam satu dua gerakan tiga sampai empat orang pengepungnya jatuh berpelantingan dan tak mampu bangun lagi. Paman Manggala bahkan tak kepalang tanggung bergerak. Sesudah pengepungnya habis, dia segera meloncat mendekati para pengepung Banyak Angga. Dengan gerakan cepat satu-persatu kaum pengeroyok dia lumpuhkan. Maka tak ayal terdengar pekik-pekik kesakitan di tempat itu. Beberapa pengeroyok terlontar dan tubuhnya menabrak batang pohon jati. Mereka tak sempat mengaduh atau pun menggerakkan tubuh. Barangkali mereka sudah tewas oleh pukulan Paman Manggala sebelum tubuhnya menubruk batang pohon.

***

Pragola terkesiap melihat keganasan Paman Manggala. Dia pun amat heran, mengapa Paman Manggala tak “memberi” kemenangan kepeda kaum penyerbu, bahkan sebaliknya seperti berupaya memporak-porandakannya?

Pragola bingung memikirkannya. Dan karena teka-teki ini tak pernah terkuak, maka akhirnya dia pun ikut-ikutan membabat lawannya. Hal ini dia lakukan tanpa ragu karena para pengeroyoknya selalu berusaha untuk membunuhnya. Pragola tak bisa menahan kesabarannya. Walau pun sejak dini sudah diberitahu bahwa para pencegat itu adalah “orangorang sendiri”, tapi karena tindakan mereka terhadapnya demikina kejam dan berniat membunuhnya, maka terpaksa dia pun menurunkan tangan kejam pula. Dan apalagi ini sudah diberi contoh oleh Paman Manggala .

Pragola tak perlu mengeluarkan seluruh kepandaiannya sebab lawan pada umumnya hanyalah prajurit-prajurit biasa yang punya kepandaian biasa. Dalam beberapa gebrakan saja tubuh para pengeroyoknya sudah berserakan, bergulingan dang mengaduh-aduh, sebagai tanda mereka kalah tanpa tewas.

“Sudah! Sebagian tak usah dibunuh” teriak Paman Manggala seperti memberi perintah. Tentu saja Paman Manggala sebetulnya tak perlu berteriak begitu, sebab ketiga orang itu dalamberkelahi tidak membunuh lawannya. Bukankah yang tega membunuh musuh hanya Paman Manggala seorang?

Paman Manggala meminta kepada Banyak Angga agar tak membunuh para tawanan yang masih hidup. Sudah barang tentu hal ini diizinkan pemuda itu sebab pada dasarnya Banyak Angga bukanlah seorang yang kejam.

“Para tawanan ini akan kita serahkan kepada cutak agar diperiksa,” tutur Banyak Angga.”Kita harus menjaga tawanan dengan baik jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi,” kata Banyak Angga.

Malam harinya diadakab tugur lagi. Kali ini Pragola tugur bersama Banyak Angga dan Paman Manggala bergabung dengan Paman Angsajaya.

Ada empat tawanan disini. Dengan kata lain, sebagian besar dari “perampok” mati terbunuh. Ini sesuatau yang disesalkan Banyak Angga yang pada dasarnya berhati lemah juga. Pemuda ini sebetulnya hanya menginginkan perampok dilumpuhkan saja tanpa harus dibunuh.

Pragola dan Banyak Angga menerima giliran jaga paling awal dan sebaliknya Paman Manggala beserta Paman Angsajaya istirahat. Pada tengah malam giliran Banyak Angga dan Pragola istirahat.

Namun karena sudah bercuriga kepada Paman Manggala, Pragola hanya pura-pura tidur. Yang sebenarnya terjadi, dia mencoba mengamati gerak-gerik Paman Manggala, takut peristiwa malam kemarin terulang lagi.

Benar saja, Paman Manggala membuat tindak-tanduk yang mencurigakan. Entah dengan cara apa, Paman Manggala telah membuat Paman Angsajaya mengantuk dan akhirya terlena di batang kayu. Sesudah membuat teman jaganya tidur, Paman Manggala segera mendekati keempat tawanan. Paman Manggala mencoba memeriksa tawanan-tawanan itu. Berbagai pertanyaan dikemukakan dengan suara halus setengah berbisik namun bisa ditangkap telinga Pragola yang cukup terlatih.

Paman Manggala mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Pragola bingung memikirkannya.

Paman Manggala mendesak kepada kepada keempat orang tawanan itu agar mau mengatakan siapa yang mengutus mereka menyerang rombongan.

Inilah yang mengejutkan Pragola sebab dengan kata lain, Paman Manggala mencurigai bahwa para penyerang ini bukanlah diutus oleh Pangeran Yudakara.

“Ada imbalan bagi kalian bila mau mengatakannya,” bisik Paman Manggala. Namun satu orang pun tak ada mau membuka mulut.

Beberapa kali Paman Manggala mendesak agar tawanan sudi berbicara. Namun Pragola memuji keteguhan dan kesetiaan orang-orang itu. Semuanya tak mau membeberkan siapa tuan mereka.

Pragola menghela nafas sebab sudah menduga akan akan nasib keempat orang itu. Mereka pasti dihabisi Paman Manggala menurunkan tangan kejam. Pragola perlu mencegah pembunuhan sebab keselamatan keempat orang tawanan dibutuhkan Pragola. Untuk mencegah tindakan Paman Manggala, Pragola akan pura-pura batuk kemudian bangun. Namun Pragola kecele. Paman Manggala ternyata tak melakukan sesuatu. Keempat orang tawanan tidak diganggu dan Paman Manggala segera kembali mendekati tempat di mana Paman Angsajaya tertidur. Paman Manggala pun nampak pura-pura merebahkan diri.

Ketika kokok ayam pertamam terdengar dari bagian hutan sana Paman Angsajaya terjaga duluan. Dia sangat terkejut karena tidur, padahal seharusnya bertugas sebagai tugur.

“Oh, maafkan saya tertidur. Ngantuk sekali rasanya malam tadi…” gumam Paman Angsajaya sedikit malu. Namun dengan pandainya Paman Manggala seolah memaklumi keadaan ini. “Saya pun sebenarnya diganggu kantuk yang hebat. Memang kita semua lelah. Tanpa melakukan perkelahian pun sebenarnya tenaga kita sudah terkuras banyak oleh perjalanan yang demikian panjang,” tutur Paman Manggala. Dan ucapan ini nampaknya membuat Paman Angsajaya sedikit lega karena tak terlalu disalahkan.

Kedua orang itu tergopoh-gopoh memeriksa keempat orang tawanan masih segar-bugar. “Sesudah sarapan pagi, kita segera melanjutkan perjalanan. Tapi sebelumnya kita serahkan tawanan itu pada cutak,” kata Banyak Angga.

Yang dimaksud sarapan pagi adalah memakan daging burung walik yang mudah ditangkap di hutan jati itu. Banyak Angga membagi daging walik bakar kepada keempat orang tawanan padahal dia sendiri pun belum menerima bagian. Perilaku pemuda ini tak luput dari perhatian Pragola. Sehingga Pragola terpaksa harus mengakui bahwa sebenarnya Banyak Angga berbudi halus dan penyayang terhadap sesama.

Sesudah semua orang mendapatkan bagian daging, barulah pemuda itu berani makan.

***

Satu hari perjalanan menuju Kandagalante Sagaraherang. Sedangkan untuk mencapai wilayah kacutakan paling dekat, mereka harus berjalan kaki hampir setengah hari.

Maka untuk tidak terlalu banyak membuang waktu, mereka melakukan perjalanan cepat. Para tawanan dipacu untuk ikut berjalan cepat padahal nampak nyata mereka kedodoran.

Namun sesuai dengan perkataan Kandagalante Tanjungpura, bahwa sepanjang perjalanan Tanjungpura-Sagaraherang akan mengalami banyak hambatan sebab para penjahat malangmelintang di sepanjang wilayah ini.

Baru saja perjalanan cepat dilakukan sepemakan sirih lamanya, mereka sudah mendapatkan hadangan lagi. Ada puluhan orang dengan pakaian hitam-hitam, tubuh tinggi besar dan wajah brewok bercambang-bauk. Belasan orang dengan pedang terhunus itu segera mengepung keempat orang itu.

“Kalau tak mau nyawa melayang, serahkan harta kalian!” teriak seseorang dari mereka yang berdiri paling depan. Ancaman ini hanya dijawab dengan dengusan pendek Paman Manggala. Dan sebelum belasan perampok melakukan gerakan, Paman Manggala sudah mendahului dengan melancarkan serangan gencar. Paman Manggal dengan cepatnya menerjang ke depan, sepasang jari-jari tangannya melayangkan serangan berbentuk cakaran. Pragola hafal betul, inilah jurus Lodaya Ngangkang, sebuah terjangan meniru-niru loncatan harimau. Hanya bedanya, bila harimau akan langsung melakukan serangan dengan cakarnya, maka Paman Manggala hanyalah menggunakan cakaran sebagai tipuan belaka, sedangkan serangan yang sebenarnya dilakukan melalui tendangan salto. Tubuh Paman Manggala melambung ke udara melewati ubun-ubun lawan. Ketika berada di atas, Paman Manggala melakukan salto beberapa kali.

Ketika keududukan kaki ada di bawah, Paman Manggala segera melepaskan tendangan beruntun. Tiga kepala lawan dalam satu kali sapuan terhajar telak. Maka tak ayal terdengar tiga teriakan ngeri disusul oleh tiga tubuh berpelantingan ke sana ke mari. Semua temantemannya kaget melihat gerakan ganas yang diperlihatkan Paman Manggala. Dan kekagetan mereka merupakan kesempatan emas sebab Paman Manggala yang terus bersalto segera melakukan serangan susulan. Kali ini adalah serangan cakaran silang kiri-kanan. Dua orang lawan yang ada di kiri dan dua orang yang ada di kanan berteriak ngeri ketika pipi-pipi mereka tersayat lima cakaran jari. Darah menyembur dari pipi-pipi mereka sebab sayatan kuku demikian dalam. Tubuh empat orang lawan limbung dan akhirnya terjerembab tak mampu bangun kembali. Dalam satu gebrakan, Paman Manggala telah melumpuhkan tujuh orang penghadang. Dan untuk yang kesekian kalinya, semua orang terkejut dengan tindaktanduk ini. Pragola menghitung, sudah dua kali pertempuran Paman Manggala melakukan kekejaman terhadap lawan. Mengapa begitu, Pragola masih belum mengerti. Siapa para penghadang ini sebenarnya. Apakah Paman Manggala mencurigai bahwa penghadangpenghadang ini bukan anak buah Pangeran Yudakara?

Pragola tak sempat berpikir lama sebab pihak penghadang sudah mulai hilang kaget dan tergantikan oleh kemarahan ketika melihat tujuh temannya ambruk dalam satu gebrakan. Belasan orang mengepung dan menyerang empat orang dengan membabi-buta. Bahkan ada sekitar enam orang menyerang empat tawanan Banyak Angga padahal keempat orang itu sedang dalam keadaan terikat kedua tangannya.

Sudah barang tentu keadaan keempat orang dalam keadaan terikat, tak mungkin menyambut dan melakukan perlawanan. Maka dalam beberapa gerakan saja, keempat orang itu sudah menderita luka di sana-sini.

Pragola terkejut dengan kejadian ini. Padahal dia menginginkan tawanan tetap selamat karena dia akan menyelidiki misteri mereka. Rupanya jalan pikiran ini pun sama terdapat di benak Paman Manggala. Buktinya, baik Pragola mau pun Paman Manggala sama-sama meloncat mendekati keempat orang tawanan. Dengan gerakan yang sama cepat, seolah-olah keduanya saling berlomba menjatuhkan enam penyerang tawanan. Dan ketika keenam penyerang terjungkal oleh pukulan-pukulan maut mereka, baik Pragola mau pun Paman Manggala segera menghampiri empat orang tawanan yang nampak payah karena menderita luka parah.

Pragola menghampiri seorang tawanan yang masih mampu bergerak, demikian pun Paman Manggala menghampiri satu orang lainnya yang dirasa masih bisa ditanya.

“Cepat katakan, siapa yang mengutusmu datang ke sini?” teriak Paman Manggala di tengah hiruk-pikuk pertempuran. Dan, trang! Paman Manggala menangkis sebuah ayunan golok dengan sebuah pedang yang dengan cepat dipungut dari tanah. Golok beserta pemegannya sama-sama terlontar ke belakang.

“Lihatlah, pada akhirnya kalian pun mati oleh orang-orang yang sepertimu, yaitu diutus seseorang untuk membunuh kami. Kamu membuang nyawa percuma sebab tuanmu tak setia padamu. Sekarang masih ada waktu kamu menebus dosa. Cepat katakan, siapa yang mengutusmu membunuh kami?” teriak pula Pragola. Buk! Ujung kaki pemuda itu menendang seorang penyerang yang hendak mencecar dengan hunjaman pedang.

Baik Paman Manggala mau pun Pragola berusaha mendapatkan jawaban sambil berkelit dan menangkis hunjaman dan cecaran senjat apara penyerang. Tangan kiri Pragola sibuk mengguncang-guncang tawanan yang nampak tengah sekarat, sedangkan tangan kanannya melakukan tangkisan bahkan balik menyerang kepada kaum penyerangnya.

“Cepat katakan! Sebentar lagi kau akan mati!” teriak Pragola jengkel.

Bak! Bik! Buk! Pragola menerima beberapa gebukan tongkat rotan di punggungnya. Pemuda ini terpaksa membalikkan tubuh dan mendorongkan sepasang telapak tangannya. Terdengat angin bersiutan dan tubuh tiga orang penggebuknya terlontar bagaikan daun tertiup angin.

Tubuh mereka berdebuk di atas tanah berbatu hampir empat depa jauhnya. Namun ketika Pragola kembali berbalik menghampiri tawanan, hatinya sungguh terkejut. Tepat di atas perut tawanan sudah tertancap sebuah tombak. Tapi Pragola masih penasaran. Dia segera mendekatkan telinganya ke dekat bibir tawanan itu. Orang itu belum mati, nampak nyata bibirnya bergerak-gerak sepertinya ingin mengatakan sesuatu. “Cepat Katakan! Cepar katakan!” kata Pragola tak sabar.

“Nyi Mas … Nyi Mas Layang … Layang Kingkinnn…” dan kemudian tawanan itu menghembuskan napas terakhir.

Telinga Pragola masih menempel di mulut tawanan yang baru saja mati tapi mata pemuda itu menatap ke arah Paman Manggala. Ternyata orang tua itu pun tengah mendekatkan telinganya ke mulut tawanan lainnya yang sama terbaring lemah karena luka-lukanya. Paman Manggala pun sama tengah menatap dirinya, sehingga akhirnya Pragola dan orang tua itu saling memandang lama sekali.

Pragola belum bisa menduga, apakah Paman Manggala pun telah mendapatkan berita yang sama, namun yang pasti, sedikit rahasia mulai terkuak. Bahwa sebetulnya ada pihak yang lain yang juga berkepentingan dalam upaya menghalangi misi perjalanan yang dilakukan Banyak Angga ini. Nyi Mas Layang Kingkin? Berdebar jantung pemuda ini. Betulkah tawanan Banyak Angga yang mati ini diutus oleh ibu suri Nyi Mas Layang Kingkin?

Dencingan-dencingan senjata yang beradu disertai teriakan kemarahan menggangu lamunan Pragola, sehingga untuk sejenak dia menoleh ke arah pertempuran.

Tinggal sekitar tujuh atau delapn orang yang mengepung Banyak Angga dan Paman Angsajaya. Melihat perkelahian ini, kendati orang itu dikeroyok tujuh atau delapan perampok, namun nampak nyata sebetulnya tingkat kepandaian Banyak Angga dan Paman Angsajaya satu atau dua tingkat di atas para pengeroyoknya. Namun mereka tak sanggup menyelesaikan pertempuran karena kelemahan batin mereka sendiri. Baik Banyak Angga mau pun Paman Angsajaya sepertinya tak pantas menjadi tulang punggung keamanan negri sebab mereka tak bisa tegas dalam bertindak. Sudah jelas para pengeroyok menginginkan nyawa mereka tapi mereka tetap tak mau menurunkan tangan kejam. Padahal kalau berniat, sebetulnya amat mudah bagi mereka untuk membabat habis nyawa pengeroyok itu. Mungkin jalan pikiran Banyak Angga tak pernah berubah, bahwa manusia berbuat jahat karena sakit jiwanya. Maka untuk melenyapkan kejahatan, bukanlah badannya yang harus dibasmi, melainkan jiwanya harus diobati. Itulah barangkali yang menyebabkan pemuda anak pejabat Pakuan ini tak menurunkan tangan kejam. Akan halnya Paman Angsajaya, dia sebagai bawahan pemuda itu pasti akan ikut berprilaku tuannya juga. Perkelahian yang dilakukan prajurit setengah baya ini hanya menjaga agar dirinya tak terluka saja dan dia pun mengusahakan agar menundukkan lawan dengan tidak membunuhnya.

Pragola menduga begitu, namun dia turun membantu agar tak punya anggapan bahwa dia membiarkan Banyak Angga bekerja sendiri.

Pragola melibatkan diri dalam perkelahian tanpa menggunakan senjata. Dan manakala melihat Pragola ikut terjun, Paman Manggala pun segera ambil bagian pula. Namun orang tua ini rupanya tak mau bertele-tele seperti yang lainnya. Dia segera melakukan gerakan cepat. Maka dalam belasan jurus saja, sudah banyak tubuh-tubuh berpelantingan. Mereka memang tak mati, tapi setiap orang yang kena gebukan Paman Manggala rata-rata menderita luka dalam cukup parah. Dua orang pengeroyok mengaduh-aduh karena tangan mereka patah-patah.

Empat orang pengeroyok sudah dilumpuhkan oleh Paman Manggala sendirian saja. Dan empat orang lagi malah langsung menjatuhkan diri berlutut karena sudah merasa tak sanggup memenangkan perkelahian. Tentu saja ini pemandangan mengherankan. Empat orang bertubuh tinggi besar dengan wajah brewok merunduk-runduk minta ampun kepada dua orang pemuda yang ukuran tubuhnya biasa-biasa saja.

Dari sekitar duapuluh lima orang perampok, hanya empat orang ini yang masih bisa duduk kendati dengan tubuh menggigil seperti tikus tercemplung air. Sedangkan sebagian besar dari mereka bergeletakan di tanah dengan tubuh tanpa daya.

Banyak Angga merunduk sedih ketika melihat banyak orang bergeletakan ini. Apalagi dari sejumlah ini, ada belasan yang tewas. “Pemandangan ini sungguh membuat aku tak suka…” gumannya sendirian.

“Namun harus pula diingat olehmu Raden, bahwa misi yang tengah engkau emban ini pun sebetulnya untuk persiapan ke arah kejadian seperti ini. Barangkali lebih besar dan lebih mengerikan ketimbang ini,” jawab Pragola secara tak sadar.

Banyak Angga menoleh heran dan Paman Manggala mengerutkan dahi. “Mengapa engkau merasa seperti begitu?” tanya Banyak Angga.

“Secara diam-diam engkau dan ayahandamu berupaya mengumpulkan orang-orang pandai dalam memperkuat kembali Pakuan. Ini adalah tindakan dengan risiko cukup besar. Kangjeng Prabu Nilakendra belum tentu setuju dengan kebijaksanaan ini. Kalau benar tak setuju, maka terjadi pertentangan di istana. Kalau pertentangan terjadi berlarut-larut, mungkin akan terjadi adu kekuatan di antara kalian sendiri. Sebaliknya bila usaha kalian berhasil, maka musuh Pajajaran yang berada di sekeliling kalian pun akan lebih meningkatkan kemampuannya.

Itulah risiko yang lebih besar dan barangkali akan menghasilkan korban serta kesengsaraan yang lebih parah ketimbang pertempuran kecil hari ini,” tutur Pragola panjang lebar. Nampak nyata Paman Manggala semakin mengerutkan kening manakala mendengarkan Pragola semakin banyak bicara ini. Jelas, Paman Manggala tak senang dengan ucapan yang dikeluarkan Pragola ini.

Sebaiknya dengan Banyak Angga. Pemuda ini menundukkan kepala dan wajahnya nampak sedih. Ucapan Pragola sepertinya masuk dan meresap ke benaknya.

“Ya … pada akhirnya kita tak berdaya diombang-ambingkan situasi ini …” gumam Banyak Angga masih menundukkan kepalanya.

***

Aakhirnya perjalanan menjadi terlambat satu hari sebab keempat orang itu menjadi sibuk mengurusi para pengeroyok itu. Semuanya bekerja keras membuat lubang untuk mengubur perampok yang mati. Celakanya, yang paling keras bekerja membuat lubang adalah empat orang itulah sebab kebanyakan pengeroyok sudah luka parah dan tak bisa dimanfaatkan secara maksimal dalam membantu menguburkan teman-temannya.

Banyak Angga tetap ingin menempuh prosedur yang berlaku yaitu mengirimkan penjahatpenjahat itu ke cutak terdekat agar diadili sebagaimana mestinya.

“Mengapa Paman setuju dengan kebijakan Raden Banyak Angga yang memaksa mengirimkan tawanan agar diadili?” tanya Pragola kepada Paman Manggala.”Kalau mereka diperiksa, jangan-jangan mereka membuka rahasia penyamaran,” tuturnya setengah menyelidik.

“Jalan pikiranmu terlalu polos, Pragola. Pada suatu saat, kepolosanmu ini akan menjebakmu ke arah sesuatu yang membahayakan,” gumam Paman Pragola, suaranya hampir-hampir dingin.

“Benar Paman, sehingga orang yang berpikiran polos perlu dibodohi,” desis Pragola dengan nada dingin pula. Paman Manggala menatap dengan alis berkerut. Pragola pun balik menatap, sehingga kedua orang itu saling tatap.

“Aku tak mengerti maksudmu…” kata Paman Manggala pendek.

“Justru saya tak mengerti maksud Paman. Dan saya memerlukan keteranganmu,” jawab Pragola.

“Tentang apa?”

“Tentang siapa mereka!” menunjuk dengan matanya kepada sekelompok tawanan di sebelah sana.

“Mereka adalah perampok biasa. Makanya aku biarkan mereka diperiksa orang Pajajaran agar mereka yakin bahwa kaum penghadang yang lainnya pun mereka sangka sebagai perampok biasa juga,” kata Paman Manggala.

“Berarti sudah ada tiga kelompok berlainan yang menghadang saya…” gumam Pragola. “Aku tak mengerti maksudmu,” tutur Paman Manggala. Namun percakapan mereka tak diteruskan sebab Banyak Angga nampak mendekati.

“Kita terlambat satu hari,” tutur Banyak Angga. Baik Pragola mau pun Paman Manggala hanya mengangguk.

“Kita memang banyak dihadang kesulitan. Maafkan saya telah membuat kalian repot,” tutur pemuda itu mengeluh. Pragola dan Paman Manggala buru-buru menimpali bahwa keributan ini adalah sudah jadi bagian dari tugas negara dan yang harus mereka laksanakan dengan penuh tanggung jawab.

“Tapi kalau saya tak memilih kalian, tak nanti kaliam nantidirundung kesulitan dan dihadang bahaya terus-menerus,” tutur lagi Banyak Angga.

“Saya selalu siap membela Pakuan, Raden…” kata Pragola yang kemudian daun telinganya serasa panas. Hatinya mengakui, sebenarnya ini adalah ucapan bohong belaka. Padahal yang sesungguhnya tengah dia lakukan adalah berupaya mengagalkan usaha-usaha pemuda ini. “Seorang raja hanya bisa bertitah tanpa mau tahu apakah itu berkenan atau tidak di hati hambanya. Begitu seorang pemimpin, atau orang berpengaruh lainnya. Mereka punya keinginan, gagasan atau rencana. Tapi hanya itu. Yang harus melaksanakannya adalah bawahannya, atau orang-orang yang harus melaksanakan gagasan si pemimpin hati kecilnya menolak. Anggota perampok yang mati itu belum tentu setuju merampok. Tapi karena pemimpin memaksanya dan dia tak punya daya, dia akhirnya ikut jadi perampok. Ada juga yang ikut-ikutan merampok karena tertekan sesuatu, oleh sesuatu keadaan misalnya,” tutur Banyak Angga panjang-lebar.

“Saya bekerja untukmu tanpa rasa tertekan atau keterpaksaan, Raden ….”gumam Pragola, namun kembali telinganya memerah sebab ucapannya berlawanan dengan hatinya.

Banyak Angga hanya termanggu untuk kemudian tersenyum tipis. Pragola tak bisa menduga apa yang ada di benak pemuda itu ketika tersenyum ini.

Sementara itu malam telah semakin larut. Pragola menyodorkan diri untuk menjaga tawanan sendirian sepanjang malam.

“Baik Raden mau pun kedua Paman pasti menderita kelelahan yang sangat. Biarlah kalian bertiga beristirahat penuh, sehingga esok hari semuanya sudah dalam keadaan bugar,” kata Pragola memberikan alasan.

“Dan engkau sendiri bagaimana?” tanya Banyak angga.

“Lebih baik hanya satu orang yang kelelahan dari pada semuanya harus capek. Lagipula saya belum merasa payah benar,” tutur Pragola.

Akhirnya ketiga orang itu mau beristirahat dan Pragola sendirian menjaga tawanan. Pragola duduk terpisah tiga sampai empat tindak dari ketiga orang yang tergolek tidur. semEnntara lamunanny amenerawang ke mana-mana.

Pragola masih teringat kejadian tadi siang. Tawanan yang mati sebelumnya telah mengaku sebagai utusan Nyi Mas Layang Kingkin. Siapa yang akan dibunuh Layang Kingkin? Banyak Angga atau dirinyakah? Lantas apa kepentingan ibu suri membunuh mereka?

Selama dalam perjalanan, sebetulnya Pragola selalu teringat Nyi Mas Layang Kingkin. Wanita cantik bekas selir terkasih mendiang Kangjeng Prabu Ratu Sakti ini demikian penuh perhatian kepadanya. Dua kali pertemuan dengannya, wanita dewasa bermata binar itu seolah menjanjikan sesuatu kepadanya.

“Jadilah mata-mataku agar segala keinginanmu terkabul,” kata Nyi Mas Layang Kingkin tempo hari. Janji yang disodorkan wanita berlesung pipit ini seperti tak ada ujung batasnya. Sebab naliuri kelaki-lakiannya membisikkan bahwa ada janji cinta dari kerling manis mulut mungil rona merah itu. “Janji cinta? Tapi mungkinkah orang yang mencinta akan melakukan pembunuhan? Membunuhku? Atau membunuh Banyak Angga?” pikir Pragola.

Tiga kali menerima penyerangan memang dirinya selalu menjadi incaran lawan. Tak perlu diherankan benar bila dalam pertempuran paling akhir tadi siang dia pun menerima ancaman pembunuhan sebab kaum penyerang tadi siang merupakan perampok tulen seperti apa kata Paman Manggala. Tapi penyerang yang kedua dan yang pertama, Pragola tak mengerti, mengapa dia jadi sasaran pembunuhan?

Memang sudah ada khabar dari Pangeran Yudakara bahwa prajurit Cirebon secara rahasia akan menghadang mereka agar perjalanan mencari orang pandai ke wilayah timur akan terganggu. Para penghadang mungkin akan melakukan pembunuhan. Ya, mungkin begitu. Tapi mengapa dirinya menjadi sasaran pembunuhan juga? Paman Manggala memang berkata bahwa untuk memeperlihatkan serangan itu nyata, maka semua orang seolah-olah mengalami bahaya yang sama. Tapi tetap saja ucapan ini meragukan. Apa pun dalihnya, Pragola merasa bahwa nyawanya diancam orang. Siapa yang mengancamnya dan apa pentingnya dia dibunuh?

Pragola mencoba menganalisa jalan pikiran Pangeran Yudakara dan Nyi Mas Layang Kingkin. Pangeran Yudakara mengirimkan dirinya untuk menyelundup ke puri Yogascitra tentu karena percaya. Mengapa orang kepercayaan musti dibunuh?

0 Response to "Kunanti Di Gerbang Pakuan Jilid 06"

Post a Comment