Kuda Besi (Kuda Hitam dari Istana Biru) Jilid 07

Mode Malam
jilid 7

Setelah mengangkat tubuh. Kun Hiap keatas, Koan Sam Yang tertawa mengekeh, "Heh, heh, budak busuk, sebenarnya aku berhutang sebuah budi kepadamu. Kalau tadi engkau mendengarkan perintahku, aku berhutang budi lagi hingga dua kali. Budak busuk, aku orang she Koan sebenarnya berhutang budi duakali kepadamu, seumurhidup boleh dikata engkau pasti menikmati keenakan. Tetapi karena engkau berani menghianati aku, maka hutang budi kepadamupun sudah impas. Kalau kubantingmu engkau bakal jadi apa?"

"Aku akan jadi apa?" seru Kun Hiap gugup.

Koan Sam Yang tertawa, "Engkau pasti hancur lebur terkena tenaga Sam-yang- cm-gi. Begitu tiba di tanah, engkau pasti akan jadi gumpalan darah."

Mendengar itu, menggigillah Kun Hiap. Dia tak berani bicara lagi. Dia hanya merasa kalau tangan Koan Sam Yang mulai melayang ke ba-wah dan tubuhnyapun mulai berayun ke tanah.

Dalam saat2 yang berbahaya itu, tiba2 Tian toa-siocia berseru keras, "Tunggu!"

Kun Hiap rasakan luncuran tubuhnyapun tiba2 berhenti. Ketika membuka mata, dia hanya terpi-sah setengah meter dari tanah.

“Bukankah- tujuanmu hendak menghendaki kuda besi itu?” seru Tian toa-siocia.

"Tentu saja," sahut Koan Sam Yang, "aku lebih suka enak2 tinggal di pulau Moh- hun-to, tetapi berada disini dan menderita hinaan dari seorang budak kecil, apalagi kalau bukan karena kuda besi itu."

Tian toa-siocia tertawa dingin, "Kurasa engkaupun tak mungkin dapat mengumpulkan kedelapan kuda besi itu. Lepaskan dia nanti akan kuberimu.."

"Kasih aku dulu baru nanti kuletakkan dia dengan baik2," seru Koan Sam Yang. 

Tian toa-siocia merogoh kedalam baju dan terus melemparkan sebuah mainan kuda besi sebesar kepalan tangan. Koan Sam Yang menyambutinya. Sejenak memeriksa, dia tertawa panjang dan terus meletakkan tubuh Kun Hiap.

Dia bersuit panjang. Seekor keledai lari menghampiri- Sekali ayunkan tubuh, Koan Sam Yang hinggap di punggung keledai. Binatang itu-pun segera mencongklang dan dalam beberapa sa-at sudah lenyap dari pandang mata.

Setelah tokoh aneh itu pergi barulah Kun Hiap dapat bernapas longgar. Didengarnya Tian toasiocia berkata, “Eh, bagaimana engkau?"

Dengan tersipu - sipu malu Kun Hiapa. menyahut, " Terima kasih atas pertolongan Gong hujin. Aku menyesal sekali karena engkau harus kehilangan- sebuah kuda besi. Sebenarnya aku juga punya sebuah tetapi sayang sudah kuberikan orang. Kalau tidak, tentu akan kuhaturkan kepadamu, Gong hujin."

Tian toa-siocia terbeliak. "Engkau juga punya satu? Tak mungkin! Dari mana engkau. mendapatkannya? "

"Koan Sam Yang pernah mengundang beberapa tokoh silat ternama untuk berkumpul di Istana Tua. Di istana itu- telah timbul bermacam kejadian yang aneh sehingga Lui Toa Gui dari marga Lui sampai mati. Kuda besi yang kumiliki itu kudapatkan dari tangan Lui cungcu itu."

Tian toa-siocia kembali tertegun. Berulang kali seri wajahnya berubah-ubah dan akhirnya berseru gugup, "Siapa saja yang diundang Koan Sam Yang?"

"Antara lain Siluman-cantik Pek Ing Ing dari gunung Thay-san. Naga-sakti Nyo Hwat ketua partai Hoa-san-pay itu, kaucu ketua partai agama Thian-sim-kau dari gunung Bu-ih-san. Kera-sakti Thian-san Lo Pit Hi . . .“

Setiap Kun Hiap menyebut sebuah nama tentulah, wajah Tian toa-siocia menjadi suram dan makin suram. Sebenarnya kalau dinilai dari ilmu kepandaian, seharusnya Tian toa-siocia tidak dibawah tokoh2 yang dikatakan Kun Hiap itu.

Seharusnya Tian toa-siocia tenang2 saja. Kalau airmukanya sampai berobah, tentulah ada sebabnya.

"Gong hujin, apakah engkau tak enak ba-dan?" tegur Kun Hiap. "Uh, apakah beberapa tokoh itu saja?" ba-las Tian toa-siocia. "Masih ada seorang lagi ..."

Dengan memaksakan tertawa, Tian toa-siocia berseru menukas, "Bukankah 

ketua partai Ceng-shia-pay Thian Go lojin?" "Ya, benar, kiranya engkau sudah tahu sendiri.

Ternyata apa yang telah dialami Kun Hiap selama tersesat masuk kedalam Istana Tua hingga akhirnya bertemu si dara Hui Yan, telah diceritakan si dara kepada toa-cinya ata Tian toa-siocia itu.

"Hm, kiranya dia sudah mendengar semua. Sungguh tak gampang, Tian toa siocia berkata seorang diri.

“Siapa yang mendengar semua?" tanya Kun Hiap.

Cepat2 Tian toa-siocia mengalihkan persoalan, "Ah, tak apa2. Engkau berikan siapa kuda besi itu?"

Mendengar itu diam2 Kun Hiap bingung. Kalau dia berterus terang mengatakan kuda besi itu dia berikan kepada Tian Hui Giok, dalam kedudukannya sebagai saudara yang tertua kemungkinan Tian toa-siocia akan meminta benda itu dari tangan Tian Hui Giok.

Kun Hiap mendapat kesan betapa sayangnya Hui Giok akan mainan kuda besi itu. Haruskah dia mengatakan terus terang kepada Tian toa-sio-cia?

Melihat Kun Hiap bersangsi, Tian toa-siocia tak mendesak lagi, "Kalau engkau tak mau mengatakan, tak apalah. Tetapi, jangan engkau bilang kepada orang lain juga.. Ingat, sekali orang mendengar hai itu, orang yang engkau beri KUDA BESI itu tentu akan terancam bahaya maut."

Kun Hiap terkejut sekali, "Apa?"

"Mengandung bahaya maut. Apakah engkau tak tahu bagaimana Koan Sam Yang mati-matian mengejar benda itu dari tanganku? Dan aku berani mengatakan bahwa dalam pertemuan di Istana Tua itu tentu muncul seorang tokoh yang misterus.”

"Benar," teriak Kun Hiap serempak, "setelah Lui Toa Gui mati, Kera-sakti Lo Pit Hi juga meninggal. Dan masih terdapat seorang yang misterius, mukanya mengenakan kain kerudung. "

Tiba2 Tian toa-siocia menerkam lengan Kun Hiap, "Orang.-berkerudung. Bagaimana bentuk wajah orang misterius itu?"

Kun Hiap meringis "kesakitan karena diterkam Tian toa-siocia, "Lepaskan dulu! 

Karena mukanya ditutup kain kerudung, bagaimana aku bisa melihatnya?"

Karena gugup, pertanyaan Tian toa-siocia tadi sampai ngawur. Cepat dia berganti pertanyaan, "Bagaimana perawakannya?"

"Hampir sama dengan Kera-sakti Lo Pit Hi." jawab Kun Hiap.

Dengan suara agak gemetar berkatalah Tian toa-siocia, "Engkau. melihatnya?"

"Malah aku berdebat dengan dia," seru Kun Hiap.

Tian toa-siocia memandang Kun Hiap beberapa kali dan bertanya, "Engkau...

tidak takut?-"

Melihat Tian toa-siocia begitu gentar, Kun Hiap menduga tentulah tokoh misterius itu seorang yang luarbiasa, katanya, "Aku tak tahu siapa dia, mengapa aku harus takut?"

Tian toa-siocia menghela napas..

Selanjutnya janganlah engkau mengatakan diri orang misterius itu kepada orang lain, tahu tidak?" katanya pula.

Melihat Tian toa-siocia memesannya begitu serrus, Kun Hiap menduga tentu ada apa-apanya dalam soal itu. Diapun hanya mengiakan saja.

"O, ya, aku lupa bertanya, Apa keperluanmu datang kemari?" tanya Tian toa- siocia.

"Aku hendak bertemu Biau-koh," kata Kun Hiap. "Perlu apa engkau hendak menemui mama-ku?"

Kun Hiap tertawa masam, "Aku hendak menanyakan seseorang kepada beliau."

"Kalau begitu mengapa engkau tak pergi ke tempat mama, melainkan mondar mandir di lembah ini?" tegur Tian toa-siocia.

"Aku sudah menemui beliau, tetapi "

"Bicara yang jelas, jangan plegak-pleguk seperti itu," beritak Han toa-siocia. Kun Hiap menghela napas panjang, "Sam-siocia telah tertimpa malapetaka.

Biau-koh dan ji-siocia sedang mencari jenasahnya." 

Tian toa-siocia meraung keras dan menampar muka Kun Hiap. Sebelum  tamparan tiba, anginnya sudah melanda sehingga membuat Kun Hiap sempoyongan dan jatuh ke samping. Memang dia tak terkena tamparan itu  tetapi karena Tiao toa-siocia terlalu besar menggunakan tenaga hingga anginnya menampar Kun Hiap jatuh.

"Engkau berani menghina sam-sumoayku?" serunya.

Sambil berbangkit, Kun Hiap menyatakan, “Ya, memang sungguh begitu."

Tian toa-siocia tertegun seperti patung, "Kalau begitu, Koan Sam Yang itu hanya mencelakai sam-sumoayku?" ia menegas.

Mulut Kun Hiap berkomat kamit tetapi tak berani menceritakan apa yang terjadi di perjalanan.

Tian toa-siocia kerutkan alis, "Ah, tak mungkin. Dia masih dapat bertahan selama tiga hari. Mengapa di tengah perjalanan sampai meninggal?"

"Mungkin tubuhnya lemah sehingga tak kuat bertahan," kata Kun Hiap menyelidik.

"Kentut!" damprat Tian toa-siocia, "dia paling disayang kedua orangtuaku. Begitu dia lahir, ayah terus berkelana ke delapan penjuru untuk mencarikan daun obat yang istimewa khasiatnya. Dengan daim2 obat itu tubuh sam-sumoay siang malam direndam sehingga tulang dan urat-uratnya mungkin tiada manusia di dunia yang mampu menandingi. Sekalipun dia terkena pancaran tenaga Sam- yang-cin-gi tetapi dia tentu masih kuat bertahan tiga hari. Pula andaikata dia diserang orang lain lagi, tak mungkin dia akan mati."

"Kalau kalau jatuh dari kuda?" tanya Kun Hiap dengan berbisik.

"Juga takkan mati apa? Dia jatuh dari kuda?" teriak Tian toa-siocia.

"Tidak, tidak!' Kun Hiap gopoh berseru.

Dan dia hanya mengatakan ‘tidak', tanpa ada lanjutannya. Memang dia sedang dilanda kecurigaan mengenai peristiwa Hui Yan jatuh dari kuda itu.

Untung saat itu Tian toa-siocia tidak memperhatikannya melainkan berkeliaran memandang kian kemari seraya berseru, "Mengapa belum kembali? Mengapa belum kembali?" 

"Aku tahu kemana mereka menuju. Gong hujin, bagaimana kalau kuantarkan engkau ke sana?"

"Sialan," gerutu Tian toa-siocia, mengapa tadi-tadi tidak bilang sehingga membuat aku hampir mati kelabakan. Hayo, lekas!" — ia terus menarik lengan baju Kun Hiap dan terus dibawa lari. Kun Hiap rasakan kakinya seperti tak menginjak tanah. Dalam beberapa kejab saja dia sudah lari sejauh empat limapuluh li. Walaupun masih jauh tetapi disebelah muka tampak seseorang tengah berdiri tegak dibawah sebatang pohon. Dan orang itu tak lain adalah Biau-koh.

Tian toa-siocia hentikan larinya tepat dihadapan mamanya, "Ma, sam-moay,” sebelum melanjutkan sudah cepat2 dia beralih, "Ma, engkau kenapa?"

Ternyata saat itu wajah Biau-koh pucat lesi dan tegak seperti patung. Matanya tak berkedip. Walaupun diulang sampai beberapa kali oleh Tian toa-siocia, tetap mamanya tak menyahut.

"Ini bagaimana toh? Ini bagaimana toh?" seru Tian toa-siocia seperti mau menangis.

"Beliau terlalu bersedih ," belum selesai Kun Hiap menghibur tiba2 Biau-koh

sudah berteriak, "Sam-ah-thau tidak mati, mengapa aku bersedih?"

Suaranya melengking keras dan sikapnya seperti orang kalap sehingga membuat Tian toa-siocia dan Kun Hiap melonjak kaget, Kun Hiap tertegun. Dia tak tahu  apa yang dimaksudkan Biau-koh.

Tian toa-siocia menghela napas panjang, katanya, "Ma, kalau sam-moay tak kena apa2, itu sungguh menggembirakan sekali. Kalau tidak begitu, bukankah aku telah melakukan kesalahan besar karena melepaskan Koan Sam Yang?"

Memang watak Tian toa-siocia itu berangasan. Walaupun masih belum jelas, tetapi dia terus menuduh kalau Koan Sam Yanglah yang menjadi penyebab fari kematian sam-moaynya.

Biau koh tidak menjawab melainkan tertawa nyaring. Hal itu membuat Tian toa- siocia tertegun dan sesaat kemudian ia merasa ada sesuatu yang tak beres dalam persoalan itu.

"Toaci, toaci, lekas kemari !" tiba2 dari arah belakang terdengar orang memanggil.

Tian toa-siocia terkejut dari serentak berpaling ke belakang. Dilihatnya seseorang 

tengah berusaha merangkak bangun dari gerumbul  rumput.  Bahunya berlumuran darah, separoh pakaiannya telah robek dan rambutnya kalang kabut. Dia bukan lain adalah Tian Hui Giok.

"Ji-moay, apa engkau terluka ?" teriak Tian toa-siocia kaget.

"Toaci, jangan keras2, kemarilah aku hendak bicara dengan engkau," kata Tian Hui Giok yang terhuyung-huyung dan menggelandot pada pohon.

Tian toa-siocia memandang Hua Giok Lalu memandang mamahnya (Biau-koh). Dengan sikap ragu2, perlahan-lahan dia menghampiri ketempat Hui Giok.

Saat itu Kun Hiap juga tak tahu apa yang telah terjadi.

"Ji-moay, bagaimana engkau?" tanya Tian toa-siocia setelah berada di muka Hui Giok.

Hui Giok tertawa getir lalu mengisarkan bahu kirinya, "Toaci, lihatlah!"

Ketika Tian toa-siocia memandang dengan seksama, tampak bahu kiri adiknya itu terdapat lima gurat bekas luka berdarah yang cukup dalam panjangnya hampir 20an senti. Guratan luka itu dari bahu menyusur ke dada, darahnya masih mengucur.

Seketika berubahlah wajah Tian toa-sio-cia. Jelas luka Hui Giok itu dikarenakan terkena cengkeraman ilmu keluarga Tian yakni Hiat-hun-jiau atau Cakar-arwah- berdarah.

"Stapa. siapa yang melakukan itu?" teriak Tian toa-siocia.

Dengan menangis Htai Giok menyahut, "Toa-ci, kalau aku tak cepat menghindar, aku tentu sudah mati di tangan mama dan tak dapat bertemu dengan engkau lagi. —"

Tian toa-siocia terkejut sekali, "Jimoay, walaupun tidak begitu sayang kepadamu tetapi mama tentu tak nanti akan turun tangan begitu ganas kepadamu."

Hui Giok menangis terus, "Lihatlah luka pada bahuku mi, aku ... aku "

Tian toa-siocia menghela napas, "Apa yang sebenarnya terjadi dengan sam- moay?"

Hui Giok gemetar menerima pertanyaan itu, "Sam-moay meninggal, mama memaksa aku supaya menunjukkan tempat jenasahnya. Sebenarnya jenasah 

sam-moay kutaruh dalam lobang sebuah pohon tua. Tetapi sampai di sana, ternyata sudah tak ada. Tiba2 mama marah sekali. "

Tian toa-siocia tengah kerutkan kening menimang atau tiba2 Biau koh memanggilnya, “Toa-ah-thau!"

"Ya, aku datang ma," seru Tian toa-sio-cia. Mendengar nada panggilan mamanya tenang seperti biasa, diam2 ia gembira dan buru2 lari menghampiri. Tampak Biau-koh tertegun beberapa saat lalu menghela napas panjang. Dia tak bicara apa2.

Kun Hiap memandang wanita itu. Dilihatnya wajah Biau-koh lusuh sekali, semangatnya layu. Tetapi bagaimanapun lebih mending dari sikapnya yang tadi yalah begitu dingin Diam2 Kun Hiap yang merasa menjadi gara2 atas kematian Hui Yan, diam2 menghela napas longgar dalam hati. Ketika dia hendak menghampiri ke tempat Biau-koh, tiba2 dari arah belakang Hui Giok berseru pelahan, "Can kong cu, kemarilah "

Kun Hiap menurut. Hui Giok menatapnya dengan pantdang geram2 sedih, "Apakah engkau tak mau segera memanggul aku?"

Saat itu Kun Hiap berada pada jarak yang dekat. Melihat bahu kiri si nona tak tertutup baju, hatinya mendebar keras sehingga dia gugup, "Ini... aku. "

Hui Giok menghela napas pelahan dan berbisik, "Demi menyelamatkan engkau, aku sampai dicakar maka begini rupa. Apakah engkau tak mau membalutkan lukaku?"

Kun Hiap gelagapan dan cepat menyahut,-"Baik, akan kubalut dulu lukamu baru nanti kita bicara lagi."

Dia segera merobek ujung bajunya terus membalut luka Hui Giok. Hatinya berdentam-dentam keras sehingga dia tak dapat menangkap pembicaraan antara Biau-koh dengan Tian toa-siocia.

Beberapa saat setelah puterinya yang pertama itu datang barulah Biau-koh membuka mulut, "Toa-ah-thau, ji-ah-thau. dialah yang melakukannya. Ya,

dialah yang melakukannya."

Kata2 itu diucapkan dengan penuh kedukaan dan keharuan.

"Dia melakukan apa saja, ma?" tanya Tian toa-siocia yang tak mengerti.

Biau-koh mengangkat muka dan memandang kearah tempat Hui Giok. Begitu 

melihat Kun Hiap tengah membalut lu Hui Giok, wajah wanita itu segera menampilkan sikap muak, serunya, "Apa engkau tak ingat lagi ? Waktu engkau kecil, engkau memperlakukan adikmu baik sekali. Tetapi ji-ah-thau tidak demikian. Setiap mendapat benda, mainan baru, tentu kuberikan kepada sam- moay-mu. Memang aku lebih sayang kepada sam-moay-mu. Ji-ah thau hendak merebut barang kepunyaan sam-moaymu, aku selalu membela sam-moay-mu. Sering kali dengan geram ji-ah-thau mengatakan kalau hendak membunuh adiknya. Sekarang yah sekarang, akhirnya dia melakukannya juga !"

Mendengar itu Tian toa-siocia mengucurkan keringat dingin. Setelah beberapa saat tertegun, dia berkata, "Ma, mungkin engkau salah duga. Itu penstiwa pada waktu kanak2, Ji-moay sangat penurut, masa dia akan melakukan hal sedemikian ? Kalau sampai sam-moay menderita bencana, tentulah dikarenakan tenaga-tolak dari Sam-yang~cin-gi Koan Sam Yang."

Pelahan-lahan Biau-koh gelengkan kepala, umrnya, 'Engkau tak tahu. Karena engkau sudah lama meninggalkan kami, engkau hanya tahu kalau ji-moaymu itu sangat lembut dan penurut. Tetapi engkau tak tahu isi hatinya. Dalam dunia ini ada dua orang yang paling dibencinya. Kesatu, sam-moaymu. Dan kedua adalah aku. Sekarang dia bersaing dengan sam-moaymu, sudah tentu dia mencari kesempatan untuk mengerjai .... membunuh sam-moay-mu "

Waktu mengucapkan kata2 yang terakhir, tubuh Biau-koh gemetar.. Dia tahu kalau puteri yang paling dicintainya sudah meninggal dan yang membunuh adalah puterinya yang lain.

Biau-koh merupakah tokoh wanita yang hebat sekali dalam dunia persilatan. Tetapi menghadapi penstiwa yang sedemikian menghancurkan hatinya, dia seperti kehilangan faham.

Saat itu luka Tian Hui Giok sudah dibalut Kun Hiap. Dia mengangkat kepala dan berseru nyaring kepada Tian toa-siocia, "Toaci, mama tentu mengatakan kalau aku yang membunuh sam moay, bukankah begitu ?"

Sebelum Tian toa-socia menyahut, Biau-koh sudah berseru bengis, "Tutup mulutmu ! Mulai saat ini engkau bukan anakku lagi! Engkaupun jangan mengaku aku mama lagi!”

Seketika wajah Tian Hui Giok berobah tetapi dia tak membantah.. Dan setelah melampiaskan kemarahannya itu, Biau-koh kelihatan letih sekali.

Tangan kanannya memegang bahu Tian toa-siocia dan pelahan-lahan dia berputar tubuh. 

"Biau-koh cianpwe, aku ," tiba2 Kun-Hiap berteriak.

Tetapi secepat itu Hui Giok sudah menarik lengan baju Kun Hiap dan berbisik, "Can kongcu, karena hal ini sudah begini, tak perlu engkau berbanyak bicara lagi. Semuanya biarlah aku yang menanggung sendiri."

Melihat nona itu bercucuran airmata dengan sikap yang kasihan sekali, tergeraklah hati Kun Hiap, "Ah, mana bisa ?" serunya.

"Bisa atau tidak bisa toh sudah begini, bukankah engkau hendak bertanya tentang ayahmu? Kurasa mama tentu akan mau memberi keterangan kepadamu," kata Hui Giok.

“Lalu engkau ?" tanya Kun Hiap.

"Akan kutunggu engkau disini. Sesudah menemui mama engkau terus datang lagi kemari," kata Hui Giok.

Kun Hiap percaya, karena menutupi kesalahannya (Kun Hiap) Hui Giok mau mempertanggung jawabkan semua kesalahan itu. Mau tak mau tersentuhlah hati Kun Hiap dan dia tak tega meninggalkan nona itu seorang diri. Tetapi kedatangannya kesitu tak lain adalah hendak menanyakan diri Can Jit Cui   kepada Biau-koh. Apakah dia hendak melepaskan tujuannya itu hanya karena   tak tega meninggalkan Hui Giok?

Tiba2 Biau-koh yang sudah berjalan beberapa, berpaling dan berseru, "Can kongcu, aku hendak berkata sedikit kapadamu."

“Tuh mama memanggilmu, lekas engkau ke sana, "desak Hui Giok," kalau teringat pada papamu dan mama sampai memberikan sesuatu kepadamu, jangan sekali-kali engkau menolak, mengerti ?"

Kun Hiap mengangguk dan terus menuju ke tempat Biau-koh.

Biau-koh menyambut kedatangan Kun Hiap dengan menjabat tangan anakmuda itu dan menghela napas.

"Ah, kalau aku mempunyai seorang anak laki itu lebih baik "

"Apakah anak perempuan tidak sama ?" tukas Tian toa-siocia.

"Anak perempuan kurang lapang dada. Meskipun dengan taci dan adik, tetap tak. mau mengalah. Tetapi anak laki tidak begitu. Biau-koh geleng2 kepala dan melanjutkan berjalan. 

Lima enam langkah, dia baru berkata lagi, "Can kongcu, aku dengan ayahmu . . .

. , bersahabat baik. Ada sedikit hal yang perlu kusampaikan kepadamu. Ketiga anak perempuanku itu, yang besar memang berwatak keras tetapi jujur dan terus terang. Dia bukan wanita jahat."

"Kutahu hal itu," sahut Kun Hiap, “waktu aku tertangkap, Tian toa-siocialah yang menolong."

“Anak perempuanku ketiga itu nakal dan keras kepala tak mau mengalah pada orang," Biau-koh melanjutkan kata2nya," akulah yang merusak mereka karena sejak kecil terlalu kumanjakan. Tetapi hati budinya tidak buruk. Dia seorang gadis yang baik ," berkata sampai disini air-mata wanita itu mengalir deras.

Teringat sewaktu masih bersama-sama Hui Yan. Kun Hiap agak menyangsikan komentar Biau-koh yang mengatakan bahwa puterinya nomor tiga itu seorang gadis baik. Sebenarnya dia hendak menyanggah tetapi mengingat akan kedukaan Biau-koh. dia tak enak hati untuk membantah. Maka diapun hanya mengiakan ala kadarnya saja.

Pelahan-lahan Biau-koh berhenti mengucurkan airmata, katanya pula. "Hanya ji- ah-thau yang di luar sikapnya tampak lemah lembut dan penurut tetapi hatinya ganas sekali. Can kongcu, kuharap engkau jangan meragukan keteranganku ini. Engkau harus menjauhkan diri dari dia, makin jauh makin baik. Kalau tidak, lambat atau cepat kelak engkau tentu akan mati ditangannya juga."

Benar2 Kun Hiap tak menduga bahwa Biau-koh akan mengeluarkan ucapan begitu, sehingga dia melongo dan tak dapat berkata apa2. Kalau Biau-koh mengatakan bahwa Hui Yan itu seorang dara yang baik, itu sih Kun Hiap walaupun enggan, masih dapat menerima. Tetapi waktu Biau-koh mencelah habis2an pada Hui Giok yang dikatakan berhati jahat, Kun Hiap benar2 menolak.

Sejenak berpikir, berkatalah pemuda itu, "Cianpwe, ucapanmu terhadap ji-siocia, apakah adil?"

Tiba2 tangan Biau-koh yang memegang tangan Kun Hiap meremas kencang sekali sehingga Kun Hiap menjerit kesakitan.

Biau-koh tertegun, katanya, "Kalau engkau tak percaya omooganku dan tetap menganggapnya seorang mamisia baik. engkau pasti akan mati tak berkubur!"

Melihat waktu mengucapkan kata2 itu sepasang mata Biau-koh memancarkan sinar berkilat-kilat tajam dan sikapnya begitu seram, mau tak mau Kun Hiap melonjak ketakutan. Dia tak berani membuka mulut lagi. 

Biau-koh menghela napas dan lepaskan cekalannya, "Engkau mau. bilang apa lagi ?"

"Aku hendak bertanya tentang diri Can Jit Cui," kata Kun Hiap.

"Ih," desis Biau-koh, "menanyakan tentang diri ayahmu tetapi bertanya kepadaku ?"

Kikuk rasa hati Kun Hiap mendengar pertanyaan balik dari Biau-koh.

"Cianpwe," katanya, "engkau selalu salah faham maka izinkanlah aku memberi penjelasan. Sebenarnya aku ini bukan orang she Can."

"Ngaco!" bentak Biau-koh, "saat ini hatiku sedang gundah, jangan ngaco tak keruan. Kalau ingin bicara apa2, lekaslah katakan !"

Dengan gugup Kun Hiap herkata, "Ayahku adalah Kim-liong-kiam-khek Wi Ki Hu, bukan Can Jit Cui."

Biau-koh serentak berpaling memandangnya dengan tajam sekali.

Rupanya Kun Hiap menyadari kalau persoalan itu sukar dijelaskan maka diapun laju menyusuli kata2, "Tetapi sekarang ada orang mengatakan bahwa Can Jit Cui itulah ayahku yang sebenarnya."

"Siapa yang bilang begitu?" tegur Biau-koh.

"Poa Ceng Cay dan Koan Sam Yang sama mengatakan begitu."

"Akupun juga bilang begitu," kata Biau-koh. "Engkau seperti pinang dibelah dua dengan ayahmu dulu. Ayo, kalau begitu, kotak kumala yang kuberikan kepadamu dulu, engkau berikan kepada Wi. Wi siapa ?"

"Tidak," bantah Kun Hiap, "dia tak kenal cianpwe. Kotak kumala itu dilempar ke atas po-hon."

"Di mana pohon itu ?" seru Biau-koh.

Dengan sabarkan diri, Kun Hiap menerangkan, "Di dalam hutan dekat rumah marga Poa. Kemungkinan sekarang masih disitu."

"Toa-ah-thau," seru Biau-koh kepada puteri sulungnya, "engkau tentunya pernah melihat kotak itu, ya kotak yang sering2 kubuat mainan itu. Lekas engkau cari 

kotak itu."

"Tetapi ma," bantah Tian toa-siocia, "saat ini kesehatanmu kurang baik, aku hendak menemanimu pulang."

“Pergi! Pergi! Pergi!" teriak Biau-koh, "apakah engkau juga hendak ikut menambah kemarahanku ?"

Tian toa-siocia tak berani berkata apa2 lagi. Setelah pamit, dia mundur berapa langkah dan terus berputar tubuh dan melesat pergi.

"Can kongcu." kata Biau-koh kepada Kun Hiap, "omonganmu tadi membuatku pusing. Kiranya engkau tak tahu siapa ayah kandungmu itu? Kalau begitu sekarang kalian bakal berjumpa."

Kun Hiap tertawa hambar, "Mana mungkin kami bertemu ? Sebelum aku lahir, beliau sudah meninggal."

Selama itu, Biau-koh bercakap-cakap sambil berjalan. Tetapi begitu mendengar keterangan Kum Hiap, serentak berhenti dan terlongong-longong..

"Dia sudah mati!" beberapa saat kemudian baru terdengar dia berkata dengan suara hampa.

"Ya, sudah meninggal. Beliau mati di tangan Wi Ki hu.

Lagi2 Biau-koh tertegun beberapa saat, "Wi siapa itu, memang aku pernah mendengar ayahmu mengatakan. Katanya saudara angkat, benar atau tidak ?"

"Benar," sahut Kun Hiap, "mereka dan Poa Ceng Cay berbahasa engkoh adik."

Plak, Biau-koh menampar pipinya sendiri, "O, Allah, mengapa semua peristiwa yang malang terjadi pada sehari ini? Mengapa? Ai . . . "

Tubuh wanita itu bergetar keras seperti mau rubuh. Buru2 Kun Hiap menyanggapinya. Biau-koh berpaling dan menatap pemuda itu dengan lekat. Perasaannya melayang-layang jauh.

"Lalu apa yang engkau ingin tahu?" katanya beberapa jenak kemudian. "Aku ingin mengetahui kisahnya semasa masih hidup."

Biau-koh ayunkan langkah lagi dan Kun Hiap mengikuti dari belakang. Selama itu Biau-koh hanya diam, matanya memandang jauh ke muka dan Kun Hiappun tak 

berani mengganggu.

Setelah tiba di tengah lembah barulah Biau-koh berhenti dan berkata, "Mengenai kisah ayahmu waktu masih hidup, sukar untuk dari mana memulai menceritakannya. Aku tak malu mengatakan kepadamu bahwa dia adalah satu- satunya pria yang paling kucintai dalam hidupku."

Kua Hiap tak mau menukas dan hanya mengiakan saja. Biau-koh tundukkan kepala lalu pelahan-lahan lanjutkan langkah. Setelah masuk kedalam gua baru dia menghela napas.

"Tetapi ayahmu tiada cinta kepadaku. Dia seorang pria romantis, setiap datang ke suatu tempat tentu meninggalkan bekas petualang asmara. Dia banyak menjatuhkan hati wanita tetapi dia tak pernah jatuh hati. Ah, peristiwa yang lampau bagaikan gumpalan awan, tak perlu kuceritakan lebih banyak lagi," katanya.

Kun Hiap kecewa. Kedatangan itu hendak mencari keterangan dari Biau-koh mengenai perjalanan hidup Can Jit Cii. Tetapi ternyata wani-ta itu tak mau.menceritakan lebih banyak lagi.

Biau-koh sedang kehilangan seorang puteri dan telah mengusir puterinya yang lain. Betapa remuk rendam hati wanita itu, Kun Hiap dapat memakluminya. Dia tak mau mendesak lagi, kecuali hanya termangu-mangu.

Beberapa saat kemudian baru dia berkata, "Karena cianpwe tak mau memberi keterangan lagi, baiklah lain hari aku datang kemari pula."

Tampak Biau-koh seperti letih sekali. Dia duduk di atas sebuah batu seraya menggerak-gerakkan tangan seperti orang mengantar perpisahan.

Kun Hiap memberi hormat lalu melangkah keluar. Baru tiba di mulut gua, tlba2 Biau-koh berseru, "Apakah ayahmu benar-benar mati ditangan Wi Ki Hu dan engkau tetap menganggap Wi Ki Hu itu sebagai ayahmu?"

"Ya," dengan suara sarat Kun Hiap menjawab.

"Kalau engkau tahu persoalan, lalu bagaimana. tindakanmu?''

"Entah, aku tak tahu," jawab Kun Hiap seperti orang kehilangan faham.

Wajah Biau-koh berubah gelap. Sebenarnya dia berwajah terang dan ramah tamah. Tetapi saat itu ia berubah menjadi bengis. 

"Mengapa tak tahu?" serunya tajam, "soal itu sudah gamblang sekali. Wi Ki Hu telah merebut kecintaan ayahmu dan membunuh ayahmu. Ia membutakan pikiranmu karena suruh engkau mengaku ayah kepada pembunuh ayah kandungmu.

Ia menipu mamamu supaya mau diperisteri. Sekarang engkau sudah tahu jelas persoalan itu masih engkau mengatakan tidak tahu apa yang akan engkau lakukan. Apakah engkau ini seorang anak manusia?"

Setiap patah kata diucapkan Biau-koh dengan tajam dan pada kata2 yang terakhir meletus seperti haliiintar sehingga Kun Hiap menggigil.

Memang terjadi suatu pertentangan batin dalam hati pemuda itu. Bermula dia belum tahu, kemudian pelahan-lahan dia mulai mengerti bahwa Wi Ki Hu itu bukan ayah kandungnya. Tetapi dalam hati dia masih mengharap supaya hal itu jangan terjadi sungguh-sungguh. Hanya itu yang- terkandung dalam hatinya. Dia tak sampai pada pemikiran seperti yang dikatakan Biau-koh tadi. Benar-benar dia tak memikirkan hal itu sampai Biau~koh dengan tajam telah memberi dampratan yang pedas.

Serentak terlintaslah dalam pikirannya bahwa ayahnya memang telah dibunuh Wi Ki Hu dan selama duapuluh tahun mamanya telah ditipu menjadi isteri pembunuh ayahnya itu. Dan diapun menganggap pembunuh itu sebagai ayah kandungnya. Ya, benar, kesemuanya itu Wi Ki Hu lah yang telah merencanakan dan mencelakainya. Tetapi apakah yang harus dia lakukan sekarang.

Kun Hiap terlongong-longong beberapa saat baru berkata, "Aku masih ingin menyelidikinya lagi."

"Tidak perlu menyclidiki lagi," teriak Biau-koh dengan bengis, "mamamu belum meninggal. Kalau engkau dapat mencari dan bertanya kepadanya, segala tentu akan jelas!"

Kun Hiap menganggap ucapan Biau-Koh itu tepat sekali. Mamanyalah yang menjadi kunci dari segala rahasia itu. Tetapi kemanakah ia hendak mencari mamanya? Dia tak tahu kemana saja mamanya telah menghilang.

Pikiran Kun Hiap kacau sekali sehingga tak memperhatikan lagi apa yang diucapkan selanjutnya oleh Biau-koh. Dia berputar tubuh lalu dengan langkah terseok-seok dia tinggalkan tempat itu.

Tetapi walaupun kakinya berjalan, tetapi dia tak tahu arah mana yang hendak ditujunya. 

*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Kuda Besi (Kuda Hitam dari Istana Biru) Jilid 07"

Post a Comment

close