Kuda Besi (Kuda Hitam dari Istana Biru) Jilid 08

Mode Malam
Jilid 8. 

Kun Hiap dapat mendengar jelas ucapan orang aneh itu, tetapi dia tak tahu apa maksud orang itu.

Saat itu dia sudah tiba di belakang si orang aneh dan ketika memandang ke muka dilihatnya wajah Hui Giok pucat lesi, seperti orang yang dibuka rahasia hatinya.

Tanpa mengangkat muka lagi, nona itu ber-putar tubuh terus melesat pergi. Kun Hiap hendak mengejar tetapi dihalangi orang aneh itu.

Tak perlu mengikutinya, biarkan dia pergi seorang diri," katanya. "Tetapi kemanakah dia hendak pergi?" tanya Kun Hiap.

Orang berkerudung itu menghela napas, ujarnya," "Dia sudah

tahu. Tetapi kalau dia tak pergi, akupun juga tak dapat berbuat apa2. Mengapa engkau bergaul dengan gadis semacam itu?"

Sudah tentu Kun Hiap tak senang hati, sa-hutnya, "Dalam hal apa dia tak baik? Mengapa aku tak dapat bergaul dengan dia?"

"Sekarang engkau sudah pemuda dewasa,” kata orang aneh itu, "tali kim-kong- jwan itu peninggalan mendiang ayahmu. Apakah engkau tidak merencanakan pembalasan?"

Kun Hiap terlongong. Sama sekali tak disangkanya bahwa orang aneh yang mukanya berselubung kain hitam itu tahu sampai jelas segala sesuatu tentang dirinya.

"Bagai . , . , bagaimana engkau tahu?" akhirnya dengan terbata-bata dia bertanya.

Orang itu menghela napas panjang lalu pelahan-lahan menghembuskannya, "Ah, kalau tahu seluruhnya juga tidak. Tetapi ketika itu mamamu pernah dengan menangis menceritakan hal itu kepada kami berdua suami isteri."

Kejut Kun Hiap bukan alang kepalang, "Ci-anpwe, engkau ini "

Bahu orang itu bergetar, "Kalau kulepaskan selubung mukaku ini, engkau tentu tahu siapa aku. 

Ketika Kun Hiap terkesiap, orang itu pelahan-lahan berpaling tubuh ke belakang dan melepaskan kerudung mukanya. Beberapa jenak kemu-dian baru dia pelahan-lahan berputar tubuh ke muka lagi.

Begitu melihat wajah orang itu, pertama-tama Kun Hiap terkejut sekali sehingga diluar kesadarannya dia sampai lompat mundur ke dalam ruang dan duduk di sebuah kursi..

Orang aneh itu tertawa hambar, "Engkau tentu sudah tahu siapa diriku, bukan?"

Kun Hiap memandang lekat2, Pada kedua pipi orang itu terdapat dua bekas luka yang tak sedap dipandang, bentuknya mirip dengan kun-tum bunga bwe-hoa.

Sedemikian hidup cap bunga bwe-hoa itu sehingga sepintas orang mengira kalau kedua pipinya ditempeli dengan bunga bwe-hoa.

Kun Hiap menghela napas, "Ya, kutahu siapa cianpwe ini."

Orang aneh itu kembali tertawa hambar, "Memang dalam dunia persilatan terdapat ciri2 yang terkenal. Sekali lihat orang tentu mengenalnya. Demikian juga aku. Begitu melihat pada be-kas luka kedua pipiku ini orang tentu segera tahu kalau aku adalah roh gentayangan yang berhasil menyelamatkan diri deri keganasan Tian Put Biat. Heh, heh, tokoh persilatan semacam aku, rasanya memang jarang terdapat."

Waktu mengucapkan kata2 terakhir itu, nadanya amat tajam menusuk hati.

Kun Hiap berbangkit "Cianpwe, pandangan orang persilatan dengan cianpwe ternyata berbeda. Tian Put Biat malang melintang di dunia persilatan tak ada orang yang berani melawannya. Sepasang suaini-isteri Ko dari gua Song-yang- tong telah menempurnya di bawah kaki gunung _Liok-poan-san. Walaupun  kedua suami-isteri itu kalah dan mukanya menderita luka tetapi Tian Put Biat  juga terluka. Sekarang Tian Put Biat telah mati. Siapa tahu kematiannya itu juga akibat luka yang dideritanya dalam pertempuran dulu itu. Nama suami-isteri dari lembah Song-yang-koh yakni Ko Thian Hoan dan Ko hujin, dikagumi seluruh in- san persilatan. Sungguh suatu keberuntungan yang tak pernah kuimpikan bahwa hari ini aku dapat bertemu muka dengan cianpwe.”

Sejak menderita kekalahan dari Tian Put Biat memang Ko Thian Hoan dan isteri tak pernah muncul dalam dunia persilatan lagi. Mendengar kata-kata Kun Hiap, Ko Thian Hoanpun berseri tawa, "Ah, pandai sekali engkau mengambil hati orang."

Sebenarnya Kun Hiap tak bermaksud mengambil muka orang tetapi diapun tak mau membantahnya. 

"Ko tayhiap, tadi engkau mengatakan kalau mamaku pernah datang dan dengan menangis menceritakan kepadamu?" tanyanya.

Ko Thian Hoan memanggul kedua tangan-nya sambil berjalan mondar mandir.

"Ya, benar," katanya sesaat kemudian, "itu terjadi beberapa tahun yang lalu. Kala itu aku dan isteri sedang berlatih di gua Song-yang-tong di gunung Tong- pik-san. Kala itu pada saat senja dia lalu bercerita :

Ditingkah sinar matahari senja, pohon2 dan batu karang membengkakkan bayangan yang aneh beraneka rupa. Saat itu Ko Thian Hoan dan isteri sedang duduk berhadapan dibawah pohon. Ma-sing-masing menempelkan kedua tangannya pada batang pohon. Pejamkan mata dan mengerahkan pernapasan. Ubun kepala keduanya menguap asap tipis.

Saat itu sunyi senyap. Kecuali suara burung gagak yang pulang ke sarang, tiada terdengar su-ara apa-apa lagi.

Entah berapa lama kemudian tampak Ko Thian Hoan membuka mata dan berbisik, "Ada orang datang."

Nyonya Ko tertawa tawar, "Mengapa harus ribut? Langkah kaki orang itu kacau, hawa-murninya tak teratur, jelas tentu seorang yang sedang dirundung kekacauan batin. Malah mungkin menderita luka parah."

Saat itu sekeliling gunung memang masih hening lelap, tak terdengar apa2.  Tetapi berkat ketajaman telinga kedua suami isteri itu, mereka dapat menangkap langkah kaki seseorang yang tengah mendatangi. Bahkan bagaimana keadaan pendatang itupun dapat didengarnya.

Kedua suami isteri Ko berpaling memandang ke arah suara itu. Sesosok bayangan melesat dari mulut lembah, dan tiba2 seorang dara juga menerobos masuk kedalam lembah dan berhenti di tempat suami-isteri Ko.

Nyonya Ko berbangkit, "Wan Giok, kenapa engkau? Siapa yang mengejar engkau?"

Memang dara itu bukan lain adalah Tong Wan Giok atau mama dari Kun Hiap. Wajahnya pucat dan sudut matanya seperti habis menangis, tubuhnya menggigil gemetar. Begitu melihat nyonya Ko terus dia lari menghampiri dan jatuhkan diri di dada nyonya itu.

Dengan menangis dara itu berkata, "Bibi Ko, aku bagaimana ini, bagaimana 

ini?"

Saat itu Ko Thian Hoanpun cepat melesat keluar lembah dan lari berputar-putar untuk mencari orang yang menurut dugaannya hendak mengejar Tong Wan Giok.

Tetapi karena tak terlihat barang seorangpun juga, akhirnya dia kembali masuk kedalam lembah.

Saat itu Tong Wan Giok masih menangis sembari menjerit-jerit, “Aku ini bagaimana? Aku bagaimana ini?"

Dengan pelahan nyonya Ko menepuk bahu nona itu, "Wan Giok, takut apa? Sekalipun langit rubuh, kami berdua tetap akan mampu melindungi mu." <

Dengan lunglai Wan Giok mengangkat mu-ka. Dengan airmata yang masih membasahi kedua pipinya, dia berkata, "Dia . . . . mati "

Ko Thian Hoan dan isterinya saling berpan-dangan lalu serempak menegas, “Siapa?"

"Yang bulan lalu .... bersama aku datang kemari itu ," kata Wan Giok dengan

terputus-putus.

"Dia? Dia kan masih muda bagaimana bisa mati?" teriak nyonya Ko terkejut. Kembali Tong Wan Giok melengking tangis.

"Wan Giok," seru Ko Thian Hoan dan istrinya, "aku bersahabat lama dengan ayahmu. Kalau ada apa2, bilanglah kepada kami. Siapakah musuh itu?"

Wan Giok menangis tetapi airm?t.inya sudah kering. Beberapa saat kemudian baru dia dapat menjawab, "Aku .... tak tahu lalu bagai-mana aku ini?'

"Cara bagaimana dia sampai mati?" tanya suami isteri Ko.

Pelahan-lahan Tong Wan Giok hentikan tangisnya dan dengan suara yang agak tenang, dia berkata, "Paman Ko, aku benar2 tak tahu siapa musuhnya. Aku hendak mengatakan sesuatu kepada bibi."

Mendengar itu nyonya Ko memberi isyarat kepada suaminya, "Thian Hoan, dengar tidak? Ha-rap engkau menyingkir dulu."

Thian Hoan deliki mata tetapi mau juga dia melangkah keluar sampai lima enam 

tombak jauhnya.

Dari jarak itu seharusnya memang tak mungkin dapat mendengar tetapi karena telinga Thian Hoan itu luar biasa tajamnya, diapun dapat menangkap kata2 Wan Giok walaupun diucapkan dengan berbisik, "Bibi, aku . . . sudah . . . mengandung."

Diam2 Thian Hoan terkesiap dan menghela napas.. Dia geleng2 kepala dan pelahan-lahan melangkah keluar lembah. Tak mau dia mendengar pembicaraan itu lebih lanjut.

Saat itu hari makin gelap. Waktu rembulan terbit barulah nyonya Ko mengantar Wan Giok keluar dari lembah. Wan Giok masih menangis dan wajah nyonya Ko tampak serius. Ko Thian Hoan mengantar. Setelah keluar dari lembah sejauh sekian li, barulah Wan Giok pamitan.

Beberapa saat setelah mengantar dengan pandang mata sehingga nona itu lenyap dari pandang mata, barulah Ko Thian Hoan berkata, 'Wan Giok seorang gadis yang tahu memegang harga diri, mengapa dia sampai berbuat begitu?"

Nyonya Ko menghela napas, "Cinta itu buta, kuasanyapun besar sekali. Yang suci, bisa melakukan cemar. Pemuda she Can itu tampaknya memang seorang hidung belang, entah bagaimana Wan Giok sampai jatuh hati kepadanya ? Telah kunasehatinya supaya lekas menikah dengan orang agar namanya jangan  sampai ternista."

Ko Thian Hoan terkejut, "Apa maksudmu?"

"Kecuali harus memikirkan kepentingan dirinya., Wan Giokpun harus memikirkan kepentingan bayi yang berada dalam kandungannya. Salahkah kalau aku menasehatinya supaya lekas saja menikah dengan seseorang?”

Ko Thian Hoan tak dapat menjawab. Hari makin gelap dan segumpal awan beramk-arak menutupi rembulan sehingga cuaca malam makin pekat.

Selama mendengarkan cerita Ko Thian Ho-an, Kun Hiap hanya terlongong- longong saja. apa yang diceritakan Ko Thian Hoan memang sesuai dengan dugaan Hui Giok. Kini tak perlu diragukan lagi bahwa dia adalah putera dari Can Jit Cui..

Menatap Kun Hiap, Ko Thian Hoan berkata, "Sejak saat itu aku tak pernah berjumpa dengan mamamu lagi. Hanya kudengar dia memang menikah dengan keluarga Wi dari Liong-se . . ." 

"Dia menikah dengan pembunuh dari ayahku," seru Kun Hiap dengan nada

sarat.

Ko Thian Hoan terkesiap, "Bagaimana bisa terjadi begitu? Aku sungguh tak mengerti!"

"Aku juga tak mengerti!" kata Kun Hiap, "baru pada akhir2 ini kutahu hal itu."

Ko Thian Hoan mondar mandir beberapa sa-at, serunya, "Lalu bagaimana tindakanmu?"

Kun Hiap menghela napas. Ko Thian Hoan bukan merupakan orang pertama yang bertanya begitu. Tetapi dulu setiap kali dia mendapat pertanyaan begitu, hatinya selalu bimbang, tak tahu bagaimana harus mengambil keputusan.

Tetapi sekarang secara positif dia sudah memastikan bahwa dia adalah putera kandung dari Can Jit Cui. Sekarang dia harus memberi jawaban yang pasti. Dia harus mengambil keputusan untuk membalaskan sakit-hati dari ayahnya yang belum pernah diLihatnya sejak dia lahir..

Seketika meluaplah darahnya dan berserulah dia dengan nyaring, "Aku akan menuntut balas. Dan sejak saat ini aku bukan orang she Wi lagi!''

Ko Thian Hoan mengangguk pelahan, ujarnya, "Masih ada lagi beberapa hal yang mau tak mau engkau harus tahu."

Saat itu mulai timbul rasa dendam kebencian dalam hati Kun Hiap kepada Wi Ki Hu. Dia tak sudi lagi memakai she Wi. Dia sekarang berganti dengan she yang asli yaitu Can.

"Biarlah kukatakan menurut apa adanya," kata Ko Thian Hoan pula, "setelah mamamu pergi, kami berdua suami isteri telah memerlukan un-tuk menyelidiki bab musabab dari kematian ayah-mu. Walaupun penyelidikan itu tidak menghasilkan sesuatu tetapi kami lebih banyak mempunyai gambaran terhadap peribadi ayahmu.

"Bagaimana perihadinya?" gopoh Kun Hiap bertanya.

Ko Thian Hoan gelengkan kepala, "'Kesan yang kami peroleh yalah bahwa dia memang seorang pemuda yang romantis, suka bertualang da-lam percintaan tetapi tak pernah mempunyai kesetiaan. Banyak gadis2 cantik yang jatuh hati kepa-danya tetapi dia tak pernah membalas cinta mereka. Kami pernah bertemu dan bicara dengan seorang gadis yang pernah ditipunya. Gadis itu ma-sih 

mencintai dan tak membencinya. Gadis itu tak lain dikemudian hari menjadi isteri dari Tian Put Biat, yaitu Biau Koh. Mengapa kami berdua sampai bertempur dengan Tian Put Biat tak lain sumbernya juga karena masalah itu. Karena wak-tu kami bertemu muka dengan Biau-koh, saat itu Tian Put Biat juga hadir."

Kun Hiap tertawa murung, "Lepas dari ayahku seorang yang tipis moral, tetapi ditilik dari peristiwa secara keseluruhannya, dapatlah disimpulkan bahwa Wi Ki Hu dan ayah telah sama2 mencintai seorang gadis. Wi Ki Hu lalu membunuh ayah. Sedangkan pada waktu itu sebenarnya mereka berdua masih terikat sebagai saudara angkat. Dari situ dapat ditarik kesimpulan bahwa Wi Ki Hu itu seorang manusia yang licik dan hina.

“Engkau benar," kata Ko Thian Hoan, "sakit hati sebesar itu kalau engkau sampai tak menuntut balas, engkau pasti akan ditertawakan orang. Kelak engkau tentu tiada muka untuk berdiri dalam dunia persitatan."

Mendengar itu Kun Hiap kepalkan tinju dan menggeram, "Aku pasti akan menuntut balas, pasti!"

Dia melangkah ke pintu. Setelah berada di luar ruangan rumah baru dia berkata, "Ko cian-pwe, kemana saja nyonya Ko? Aku hendak minta pamit."

Tiba2 Ko Thian Hoan menghela napas, ujarnya, “Dia pergi ke mana, masa engkau tak tahu?"'

Kun Hiap terkesiap, “Apa katamu?”

"Silakan pergi, tak perlu banyak peradatan,” kata Ko Thien Hoan.

Kun Hiap tak mau banyak bicara lagi. Dia, serentak lari keluar lembah dan tak berapa lama dia telah berlari di sepanjang jalan setapak sam-pai lima enam li.

Tiba2 dia melihat Hui Giok tegak di sebelah muka, sambil masih mencekal cakar Hiat-hun-jiau yang berkilat-kilat merah.

"Nona Tian," seru Kun Hiap gembira sekali, "engkau tahu siapakah kedua suami isteri yang mukanya berselubung kain hitam itu?”

Hui Giok paksakan tertawa, "Ya, sudah tentu aku tahu."

Sebenarnya seenaknya saja nona itu menjawab tetapi Kun Hiap menanggapi dengan rasa terkejut sekali.

"Jadi engkau sudah tahu siapa mereka itu?" teriaknya, "mereka adalah musuh 

besar dari ayahmu. Engkau menemui mereka " — sebenarnya Kun Hiap

hendak bertanya apa keperluan nona itu menemui Ko Thian Hoan suami istri, tetapi tiba2 dia teringat dan membayangkan apa maksud kedatangan Hui Giok kepada suami isteri Ko Thian Hoan. Mau tak mau dia bercekat da-lam hati dan termangu-mangu.

"Ih, engkau ngelamun apa lagi itu?" buru2 Hui Giok menegurnya.  Menunjuk pada cakar Hiat-hun-jiau, Kun Hiap berseru, "Engkau apakah

bukan mengatakan kepada nyonya Ko kalau Hiat-hun-jiau dan baju Kim-wi-kah

sudah "

"Ya, benar," tukas Hui Giok, "memang kukatakan kepada mereka bahwa kedua pusaka itu sudah berada di tanganmu."

"Agar mereka tahu bahwa kedua pusaka itua sudah tidak berada di tangan mamamu, bukan?" desak Kun Hiap.

Diam2 Hui Giok terkejut, dan cepat balas bertanya, "Kalau begitu lalu bagaimana?"

Terlintas dalam benak Kun Hiap bahwa di dunia ini rasanya tiada seorang anak yang akan memberitahukan kepada musuh mamanya bahwa mamanya sudah tak menyimpan pusaka yang pa-ling ditakuti musuh itu. Dengan tindakan itu apakah bukan berarti Hui Giok seperti menganjurkan agar musuh itu segera mencari mamanya?

Bermula dia mengharap agar dugaannya itu salah tetapi nyatanya nyonya Ko Thian Hong memang benar2 sudah mencari Biau-koh.

"Ah, celaka," seru Kun Hiap sembari menggentakkan kakinya ke tanah, "apakah engkau tak menyadari kalau nyonya Ko itu sudah men-dendam sakit hati selama bertahun-tahun kepada mamamu? Begitu mendengar Biau-koh sudah tak punya pusaka, dia tentu akan melakukan pemba-lasan."

"Jangan terlalu memandang rendah kepada mamaku," seru Hui Giok. "Apakah Biau-koh tak takut?"

"Ayah dan mamaku tak pernah takut kepada siapapun juga. Engkau kira ketika kedua orangtuaku itu malang melintang menjagoi dunia persilatan apakah karena mengandalkan kedua pusaka itu saja? Kalau benar begitu, mungapa mamaku rela memberikan kepadamu?" 

Pikir punya pikir, apa yang dikatakan Hui Giok itu memang beralasan sekali. Ditilik dari kepandaian ketiga saudara taci beradik yang begitu hebat, tentulah kepandaian Biau-koh itu tiada lawannya di dunia persilatan.

"Mengapa kita tak kesana untuk melihat keadaannya?” sesaat kemudian Kun Hiap bertanya, "siapa tahu kalau2 Biau-koh perlu hendak menggunakan kedua pusaka ini."

Hui Giok tak mencelah melainkan berkata dengan hambar, "Kalau mau ke sana silakan pergi sendiri. Mama sudah tidak sudi lagi melihat kepadaku. Aku tidak dapat menemanimu."

Rupanya Kun Hiap tahu kalau nona itu tak suka hati maka diapun membatalkan maksudnya. "Karena Biau-koh tak takut kepada nyonya Ko tak perlu kita ke sana."

Hui Giok geleng2 kepala. "Tidak, lebih baik engkau ke sana saja. Toh lambat atau cepat akhirnya kita juga akan berpisah, Lebih baik sekarang saja.”

"Berpisah?" Kun Hiap terkejut. "Mengapa kita harus berpisah?"

Pelahan-lahan Hui Giok berputar tubuh, serunya, ''Mengikat persahabatan, yang penting ada-lah saling percaya. Tetapi engkau sebentar menduga aku berbuat begini, seberitar lagi mencurigai aku berbuat begitu. Mana kita dapat bersama- sama lagi?"

Merah muka Kun Hiap. "Hui Giok, aku memang bersalah."

Hui Giok menghela napas dan tak bicara apa-apa lagi. Da hanya ayunkan langkah dengan pelahan sembari menunduk.

Karena merasa telah kesalahan omong sehingga menyinggung perasaan si nona maka Kun Hiappun mengikuti di belakang.

Akhirnya Hui Giok mau memberi maaf, katanya. "Bicara apa Ko Thian Hoan kepadamu? Apakah mengatakan kejelekanku?"

Kun Hiap menghela napas, "Setelah mende-ngar penuturannya barulah aku mengerti jelas asal usul diriku. Wi Ki Hu . . , . bangsat tua itu ternyata seorang manusia yang berhati binatang. Dia telah menipu aku supaya menghormatinya dan mengakunya sebagai ayah kandung." Dia meng-gertakkan geraham, menumpahkan kemarahan.

Sekonyong-konyong dari gerumbul rumput yang tak jauh dari tempat itu 

terdengar suara orang berseru. "Manusia berhati binatang. Sungguh seorang manusia berhati binatang!"

Suara orang itu tajam sekali sampai seperti menusuk telinga, Kun Hiap terkejut dan Hui Gi-okpun berobah wajahnya, cepat dia tebaskan ta-ngannya ke belakang untuk menabur serangkum senjata jarum.

Jarum yang berkilat-kilat itu menyusup ke dalam gerumbul tetapi anehnya tak dapat menembus dan tetap terpancang pada daun gerum-bul saja.

Kun Hiap memandang ke arah gerumbul i-tu. Seluas satu tombak dari lingkaran gerumbul itu apabila memang terdapat orang yang bersembunyi tentu sudah keluar. tetapi ternyata sepi2 saja.

"Siapa yang menyembunyikan kepala menunjukkan ekor itu?" bentak Kun Hiap.

Tiba2 terdengar suara tertawa gelak2. Arahnya dari gerumbul yang penuh dengan taburan jarum itu, "Aku . . . ," seru orang itu.

Kata2 itu menyusup jelas ke telinga Kun Hiap dan Hui Giok. Begitu jelas sekali tetapi di manakah dia bersembunyi?

Kun Hiap makin tegang tetapi Hui Giok ma-lah tenang dan berseru, "Apakah bukan Sam Coat sianseng? Mengapa tidak muncul menunjukkan diri agar wanpwe dapat menghaturkan hormat?"

"O, engkau kenal padanya?'' kata Kun Hiap.

"Sam Coat sianseng itu seorang tokoh luar biasa dalam dunia persilatan. Wataknya nyentrik dan aneh sekali. Lebih baik engkau menyingkir agak jauh dulu. Akan kulihat apakah saat ini dia sedang gembira atau marah, baru nanti kuberitahu lagi kepadamu."

Kun Hiap sesali lagi memandang ke muka dan tetap tidak melihat apa2. Dia semakin heran, "Di manakah Sam Coat sianseng itu?"

"Aku sendiripun tidak dapat mengatakan," sahut Hui Giok, "lebih baik engkau menyingkir dulu agak jauh. Kalau belum kupanggil, jangan bersuara.."

Sukar bagi Kun Hiap untuk membantah. Tetapi dia merasa bahwa selama bersama-sama Hui Giok, dia seperti orang-orangan dari kayu saja. Setiap hal dia harus menurut perintah nona itu. Memang dia anggap no-na itu bukanlah orang jahat tetapi dia merasa bahwa Hui Giok menyembunyikan sesuatu kepa-danya. 

Tanpa membantah dia terus berputar diri dan dengan dua tiga kali loncatan dia sudah menyingkir sampai tujuh delapan tombak jauhnya.

"Sam Coat sianseng, mengapa engkau tak unjukkan diri? Sungguh tak kira kalau dapat berjumpa disini, bagus sekali," terdengar Hui Giok berseru.

Kembali Kun Hiap memperhatikan keadaan di muka. Tetapi tetap di tempat gerumbul itu tia-da muncul seseorang. Entah dimanakah orang yang tertawa tadi?

Karena hanya memperhatikan ke depan, Kun Hiap tak sempat memperhatikan bahwa gunduk tanah yang berada dihadapan itu tiba2 seperti merekah dan bergerak-gerak. Kun Hiap menunduk, dia terkejut ketika dibawah kakinya terdengar suara orang tertawa dan tiba2 timbul sebuah liang lalu muncul pula sesosok tubuh manusia yang bertepuk tangan tertawa-tawa, "Aku disini. Hai, mengapa engkau berdiri ditempat sejauh itu?”

Sudah tentu Kun Hiap terkejut bukan kepalang dan terus loncat mundur, ketika memandang lekat2, ternyata orang itu seorang kate yang tingginya hanya lebih kurang satu meteri, memakai topi baja yang mengkilap. Diatas topi baja itu ber hias dengan gigi-baja yang saat itu penuh dengan lumpur. Dengan begitu jelas kalau dia berjalan menyusur dalam tanah.

Begitu muncul Sam Coat sianseng lalu me-lepaskan topi bajanya. Selain kate, pun wajahnya juga aneh seperti wajah setan.

Semula Kun Hiap mengira karena menyan-dang gelar Sam Coat sianseng (Tiga Ahli), tentu-lah orang itu mahir dalam ilmu syair, melukis dan ilmupedang.

Wajahnya tentu cakap dan berwiba-wa. Siapa tahu ternyata hanya seorang kate yang berwajah aneh.

Kun Hiap terlongong. Tiba2 tokoh kate itu berputar tubuh dan memandang Kun Hiap lalu tertawa, "Sahabat lama, maaf. "

Kun Hiap terkesiap karena tak tahu apa maksud ucapan si kate itu. Tetapi tiba2 orang kate itu menarik tangan dan berganti menyodok pinggang Kun Hiap dengan siku lengannya.

Kun Hiap hendak menghindar tetapi tiba2 siku lengan si kate itu mendering dan dari lengan bajanya meluncur tiga batang besi sepanjang 30an senti.

Kun Hiap terkejut. Bagaimanapun dia hendak menghindar, tetap tak dapat menyelamatkan diri. Namun dia tetap berusaha juga untuk loncat ke samping kiri, plek tangkai besi menyambar pinggang kiri, tidak keras tetapi cukup 

membuat jalandarahnya tertutuk.

Sam Coat sianseng tertawa haha, lalu melesat ke muka Kun Hiap dan memandang pemuda itu dari ujung kaki sampai ke atas kepala. Dia mendesis.

Karena jalandarahnya tertutuk, Kun Hiap tak dapat berkutik. Tetapi dia tahu kalau Sam Coat sianseng memandangnya dan tertegun. Pikirnya, tentulah tokoh itu kenal dengan mendiang ayahnya, Can Jit Cui.

Beberapa jenak kemudian barulah Sam Coat sianseng menepuk bahu Kun Hiap, "Sahabat lama,' maafkan.'"

Tiba2 dia menendang ke belakang dan tahu2 tubuhnya melenting sampai 5-6 tombak di udara, berjumpalitan dan melayang turun di hadapan Hui Giok.

Kun Hiap terkesiap. Bertahun-tahun dia hanya tinggal di rumah saja. Dia mengira tokoh seperti Wi Ki Hu dan Poa Ceng Cay itu, tokoh yang paling hebat. Tetapi sekarang terbukalah matanya bahwa dalam dunia persilatan itu penuh dengan tokoh2 yang luar biasa.

Serempak dengan kenyataan itu, diapun menyadari betapa rendah kepandaian yang dimilikinya sehingga selama berkeliaran dalam dunia persilatan, dia selalu menjadi bulan2 dan dikuasai orang.

Terdengar Sam Coat sianseng tertawa lagi, serunya, "Sababat, aku sudah tahu semua."

"Kalau begitu mengapa engkau tak lekas bertindak?" balas Hui Giok.

"Masih ada sebuah hal yang belum kuselesaikan," jawab Sam Coat sianseng, "tahukah engkau?”

Kata-katanya diucapkan pelahan sekali sehingga Kun Hiap tak dapat mendengarkan.

"Soal apa? Apakah masih ada lain soal yang lebih penting dari urusan ini?" tanya Hui Giok..

Sam Coat sianseng tertawa mengikik .dan menuding Hui Giok, "Sekarang engkau masih muda belia tetapi sudah berani melakukan segala perbuatan. Apabila aku sudah menyelesaikan, baik dendam tetapi kalau masih membiarkan engkau   hidup di dunia, itu sia2 namanya. Kelak aku ten-tu juga menenma nasib pahit  dari engkau. Pepa-tah mengajarkan 'siapa yang turun tangan lebih duhi, dia   yang kuat dan yang bertindak terlam-bat tentu menderita kerugian’. Yang akan 

kukerjakan tak lain adalah soal itu "

Sebelum orang menyelesaikan kata-katanya, Hui Giok sudah tahu apa tujuannya. Tangan kanan serentak mencekal cakar Hiat-hun-jiau dan sebelum Sam Coat sianseng selesai bicara diapun su-dah menyerang dada orang.

Sam Coat sianseng melengking kaget dan loncat mundur, "Sahabat, yang pantas turun tangan lebih dulu supaya menang adalah aku. Mengapa malah engkau  yang mema.nfaatkan ajaran itu untuk menyerang aku lebih dulu."

Hui Giok tidak mau adu mulut. Dia menerjang dan menyerang hebat dengan Hiat-hun-jiau.

Sam Coat sianseng menyambut dengan topi bajanya, tring gigi baja pada topi

itu hancur dua batang.

"Lihay !" teriak Sam Coat sianseng sembari loncat melambung ke udara. Tiga kali dia berjungkir balik Sehingga melambung makin tinggi sampai lima tombak. Dia memakai topi bajanya lagi lalu tiba2 dia bergeliatan menukik ke bawah, kaki di atas kepala menghadap bawah dia meluncur turun.

Waktu berjumpalitan ke udara, gerakannya begitu cepat. Dan ketika menukik turun gerakannya lebih cepat lagi, bum seperti bom ja-tuh, dia terus

membentur tanah, dan menyusup masuk ke bumi.

Hui Giok loncat memburu dengan gerak secepat angin tetapi ketika tiba di tempat Sam Co-at ambles bumi, ternyata bekas liang telah tertimbun kembali dengan tanah, Kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, tentulah Kun Hiap tidak percaya behwa di dunia ini terdapat ilmu masuk ke dalam bumi..

Hui Gok berputar tubuh untuk mencari dimana Sam Coat berada. Tetapi permukaan tanah tiada tampak suatu gerakan apa2.

Hui Giok penasaran. Dia ayunkan cakar untuk menghantam tanah sehingga di sana sini penuh dengan lubang. Tetapi Sam Coat tetap meng-hilang seperti ditelan bumi..

Hui Giok lalu melesat ke tempat Kun Hiap dan membuka jalandarah pemuda itu. Tepat pada saat itu Kun Hiap melihat tanah di belakang gadis itu tiba2 menggunduk ke atas. Dilihatnya Hui Giok tak mengetahui hal itu. Sedang saat itu ja-landarah Kun Hiap belum melancar sehingga dia tak dapat berteriak memberi peringatan.

Tiba2 dari tanah yang membengkak itu menjulur ke luar sebuah tangan 

manusia. Dua buah jari tangan itu segera menutuk jalandarah witiong-hiat di belakang persambungan lutut Hui Giok.

Saat itu Hui Giok baru terkejut. Namun untuk menghindar sudah tak keburu lagi. Dalam keadaan gugup, Hui Giok mengangkat kakinya keatas. Ah, dia berhasil menghindari tutukan orang tetapi sebelum dia sempat untuk menggunakan  cakar Hiat hun-jiau, kelima jari Sam Coat sianseng sudah menerkam tumit kaki Hui Giok terus ditariknya, bluk, Hui Giok terpelanting jatuh.

Saat itu kepala Sam Coat muncul keluar bersama topi baja. Dia tertawa gelak2, "Sahabat, maaf !"

Hui Giok berguling-guling lalu melenting bangun dan terus menyerang dengan ganas. Sam Coat menyelusup ke dalam tanah lagi sembari membuang gunduk tanah ke atas.

Hui Giok terpaksa enjot tubuhnya ke udara lalu menunjuk ke tanah. Dia melepaskan tenaga-dalam melalui jari telunjuk untuk menyerang Sam Coat. Tetapi gunduk tanah tempat Sam Coat tadi, berputar arah dan melaju membentur tubuh Kun Hiap. Seketika jalandarah Kun Hiappun melancar lagi.

"Hai, kalian tadi bicara dengan baik2 mengapa tiba2 berhantam?” teriak Kun Hiap setelah ja-landarahnya terbuka.

Hui Giok melayang turun, "Ayo kita pergi," serunya secara menarik tangan Kun Hiap diajak pergi. “Orang itu sukar dihadapi, lebih baik kita pergi, makin cepat makin baik.

Dalam waktu beberapa kejab saja keduanya telah mencapai 5-6 li, baru berhenti.

"Ah, walaupun Ilmunya lari di bawah tanah cepat sekali tetapi tak mungkin dapat menandingi lari kita," kata Kun Hiap.

"Tolol," damprat Hui Giok, "mana dia akan lari di bawah tanah? Jelas dia takkan memberi ampun kepada kita . . . .

Sambil berkata Hui Giok memandang ke empat penjuru. Dilihatnya di atas lereng gunung terdapat sebuah dataran karang. Cepat dia mena-rik Kun Hiap menuju  ke tempat itu.

"Di sini kita tak perlu takut kalau dia akan ambles bumi lagi. Dia hebat dalam ilmu ambles bumi, lihay dalam ilmu di air dan sakti dalam membuat alat2. Itulah sebabnya dia digelari Sam Coat sianseng. ilmu silatnya juga tinggi. Kecuali dikalahkan oleh ayah dan mamaku, selamanya be-lum pernah terdengar kalau 

dia kalah dengan orang lain," menerangkan Hui Giok.

Ada sesuatu dalam hati Kun Hiap yang hendak ditanyakan tetapi entah bagaimana dia tidak jadi bicara. Apa yang hendak ditanyakan itu tak lain adalah bahwa Sam Coat sianseng itu ternyata musuh besar dari kedua orangtua Hui Giok.

Sambil beristirahat di dataran karang, Hui Giok tetap memandang dan menperhatikan sekeliling empat penjuru. Setiap terjadi rumput bergoyang tertiup angin, wajahnya tentu berubab tegang. Namun sampai setengah jam berlalu, tetap tak terjadi suatu apa.

" Dia mungkin tak datang," kata Kun Hiap.

"Tidak," bantah Hui Giok, "dia masih menung-gu kalau kita turun dari karang ini lalu menye-rang."

"Apakah kita menunggu di sini seumur hidup?" tanya Kun Hiap. "Uh, perlu apa engkau, tergesa-gesa? Aku punya rencana sendiri."

Kun Hiap hanya dapat menghela napas. Diam-diam dia membatin bahwa untuk yang kesekian kalinya dia harus disuruh tunduk lagi.

Tiba2 terdengar suara orang berbatuk. Nadanya parau dan kering seperti nada seorang tua.

"Siapa?" cepat Hui Giok berputar tubuh. Dilihatnya seorang tua sedang melintasi gerumbul pohon dan berjalan pelahan-lahan dengan sebatang tongkat.

Mengenakan pakaian warna kelabu, Jalannya pelahan sekali sehingga beberapa detik baru mencapai jarak satu tombak.

Berulang kali Hui Giok meneriakinya tetapi orang itu seperti tidak mendengar dan lanjutkan langkah. Sret . . . Hui Giok ayunkan lengan ba-ju dan sebatang hui to atau pisau-terbang mela-yang.

Melihat orang itu seperti bukan orang persilatan dan wajahnya seperti orang sakit, Kun Hiap terkejut sekali, "Hui Giok !?”

"Jangan ribut!" bentak Hui Giok, "aku hanya menjajal apakah dia itu orang persilatan atau bukan."

Dalam saat itu hui-to sudah melayang di atas kepala si orang tua dan segumpal rambut putihnya terpapas. 

Memang Hui Giok hanya menyelidiki keadaan orang itu. Kalau benar seorang tokoh persilatan tentu akan berusaha menangkis atau meng-hindar dari hui-to. Tetapi setelah tahu orang tua itu hanya berdiri tegak dan tak melakukan suatu gerakan apa2, baru legalah hati Hui Giok.

Orang tua itu mengangkat muka. Wajahnya pucat dan tubuh kurus kering. Dia batuk2 sam-pai beberapa saat. Tongkat di tangannya tampak gemetar. Setelah itu dia mengangkat tongkatnya dan berkata, "Apakah yang itu Wi-kongcu?"

Kata-katanya diucapkan dengan lemah seka-li. Kun Hiap terkesiap lalu menjawab, "Aku she Can, bukan she Wi."

Kembali orang tua itu batuk2. Tiba2 Hui Giok melihat bahwa tanah di samping orang tua itu membengkak ke atas. Dia segera tahu kalau Sam Coat sianseng hendak ke luar dari tanah.

Cepat dia enjot tubuhnya ke muka dan tiba di tempat tanah membengkak tadi. Dia bersiap-siap, mengerahkan segenap tenaga-dalam untuh menghantam.

Tanah membengkak itu makin lama makin tinggi sehingga orang tua itu terkejut dan mundur tiga langkah. Pada saat tanah menggunduk sampai setengah meter, dengan melengking keras, Hui Giok lalu menghantam, bum . . . .

Hantaman itu benar2 disertai dengan seluruh tenaga. Tanah dan pasir berhamburan muncrat ke udara dan terbukalah sebuah liang besar. Tetapi anehnya dalam liang itu tak terdapat Sam Coat sianseng.

Tahu kalau tertipu, Hui Giok hendak berputar tubuh tetapi tiba2 dari belakang terdengar suara Sam Coat sianseng berseru, "Sahabat, maafkan."

Setiup angin pukulan melancar ke punggung Hui Giok. Nona itu masih nekad berputar tubuh sambil menghantam. Dia tahu kalau lawan itu punya bermacam- macam alat rahasia.. Kalau dia lon-cat menghindar ke muka, memang dapat terhindar dari pukulan tetapi dia tentu akan menderita dari alat2 rahasia Sam Coat sianseng. Oleh karena itu dia nekad menghadapinya saja.

Tanah dan debu berhamburan menutup sekeliling penjuru sehngga Hui Giok tidak dapat melihat wajah Sam Coat sianseng. Yang kelihatan hanyalah sebuah tangannya menjulur dari kepulan debu.

Hui Giok cepat balikkan tangan dan terus menerkam siku lengan Sam Coat. Betapa girangnya karena terkamannya itu berhasil. Tetapi betapa kejutnya ketika terdengar suara orang terta-wa mengejek dari samping dan sesaat itu diapun merasa bahwa yang diterkamnya itu bukan seperti lengan manusia. 

Hui Giok cepat lepaskan terkamannya, peletak-peletek terdengar bunyi seperti benda putus. Ternyata kelima jari dari tangan palsu yang diterkam Hui Giok tadi serempak sama patah semua dan dari lubang kelima jari itu berhamburan keluar lima ekor ular yang besarnya hanya seperti jari tangan. Ular2 itu berwarna hijau dan disebut ular Tiok-yap-ceng-coa atau ular daun bambu, jenis ular yang berbisa.

Masih untung Hui Giok dapat bertindak dengan cepat. Pada saat kelima ekor ular Ceng-tiok-yap itu muncul dan menyerang, Hui Giok segera menampar dengan jurus Jiu-bun-ngo-hian atau tangan-memetik-lima-senar. Jari telunjuk,  jari tengah dan jari manis, dapat mengenai see-kor ular ceng-tiok-yap hancur kepalanya.

Tetapi ular-ular crng-tiok-yap peliharaan Sam Coat sianseng itu sudah terlatih baik. Dua ekor ular yang terhindar dari tamparan Hui Giok dengan cepat segera melilit siku lengan nona itu. Sudah tentu Hui Giok terkejut sekali. Cepat dia menampar dengan tangan kiri dan remuklah kedua ular itu dengan seketika.

Tetapi karena dia sibuk menghadapi serangan ular, dia sampai tak menaruh perhatian terha-dap ancaman Sam Coat sianseng.

Setelah menonjolkan tangan palsu untuk menggoda perhatian Hui- Giok, Sam Coat sianseng sudah berputar ke samping si nona. Pada saat Hui Giok sedang membasmi ular, Sam Coat siansengpun tertawa sinis dan serentak mengayunkan tangan, plak sebatang batang besi melayang ke arah pinggang Hui Giok.

Hui Giok terkejut tetapi tak sempat untuk menghindar lagi. Pinggangnya terhantam telak.

"Sahabat, maaf," teriak Sam Coat. Dia memiliki tenaga-dalam yang hebat. Sekalipun Hui Giok mengenakan baju Kim-wi-kah tetapi tidak urung tubuhnya terpelanting jatuh.

Hui Giok kaget dan marah. Pada saat ja-tuh ke tanah dia terus menekankan kakinya ke tanah dan melambung ke udara, melayang turun sampai tiga tombak- jauhnya.

Karena kedua orang itu bertempur dalam kabut debu yang tebal. Kun Hiap tak dapat melihat dengan jelas. Saat itu melihat Hui Giok tiba2 melayang keluar, diam2 dia menghela-napas longgar dan gopoh bertertak,'' Hui Giok. !"

Tetapi saat itu Hui Giok masih berada di udara. Tiba2 nona itu berputar-putar dan sesaat kemudian sudah mengayunkan cakar Hiat-hun-jiau yang 

memancarkan sinar merah. Selekas turun diatas gunduk batu, diapun segera enjot tubuh me-layang kearah kepulan debu lagi.

Serentak Kun Hiap melihat bahwa kepulan kabut debu yang tebal itu dilingkupi dengan sinar merah. Wah, kalau terus-terusan begini, kapan akan selesai.

Pikirnya. Dia hendak turun membantu Hui Giok tetapi pada saat itu dari bawah gunduk batu besar terdengar suara orang tertawa pelahan.

"Sam Coat sianseng," pikirnya terkejut, Kalau tokoh itu sudah bersembunyi dibawah gunduk batu, lalu dengan siapakah Hui Giok bertempur itu?

Belum sempat ia menemukan jawaban, tiba2 sesosok tubuh melesat dan muncullah Sam Coat sianseng dengan berseri tawa dan berbisik-bisik," Ha, sahabat, rupanya engkau disukai bndak perempuan itu, ya? Kalau kuringkus engkau, tentulah budak perempuan itu akan menyerah, Maaf, maaf, . , . ," sambil berkata dia ulurkan tangan menerkam siku lengan Kun Hiap. Kun Hiap tertegun, dia hendak menghindar tetapi tiba2, entah dari mana datangnya, tahu2 sebatang tongkat telah menekan lengannya. Dan pada saat itu tangan Sam Coat tadipun tiba, Cret. dia menerkam ujung tongkat itu. Betapa

kagetnya ketika dia mencengkeram keras ujung tongkat itu. Ah, bukan lengan manu-sia (Kun Hiap) serentak dia menyadari dan tertegun. Dia biasa mempermainkan orang dengan alat2 buatan yang hebat. Misalnya seperti tadi, diapun berhasil mengelabui Hui Giok dengan tangan palsu. Tetapi sekarang dia berbalik terkecoh karena mencengkeram ujung tongkat- Kurang ajar!

Buru2 dia merentang mata memandang kemuka. Tetapi hanya keheranan yang dirasakannya. Dilihatnya Kun Hiap sudah mundur beberapa langkah. Sedang dia sendiri masih tetap mencengkeram ujung tongkat. Lebih kaget lagi, ternyata ujung tongkat itu berasal dari sebatang tongkat yang tengah dipegang oleh seorang tua kurus kering seperti sedang mengidap penyakit.

"Siapa engkau?" teriak Sam Coat seraya lepaskan cengkeramannya.

Lebih dulu orang tua itu batuk2 baru kemu-dian menjawab dengan suara yang lemah.

“Orang mengatakan, yang datang pertama akan mendapat lebih dulu. Sebelum anda datang, aku sudah .... hek-hek di sini. Sababat kecil ini, hendak

kuajak menemui seseorang, Harap jangan mengganggunya "

Waktu orang tua itu bicara, Sam .Coat memutar otak untuk menggali  ingatannya, mencari ingatannya, mencari tahu siapakah gerangan orang tua itu. Tadi jelas dia menerkam Kun Hiap tetapi tiba2 dia menerkam ujung tongkat.

Dengan begitu Jelas menandakan betapa sakti kepandaian orang tua itu. 

Sampai orang tua itu habis bicara, belum juga Sam Coat berhasil menemukan asal usul orang tua itu.

Setelah orang tua itu selesai bicara, Sam Co-at tertawa lalu tamparkan   tangannya kebelakang ke arah gulungan debu dan seketika terdengarlah dua kali bunyi benda menghantam tubuh, plak, plak ....

Menyusul terdengar Hur Giok berteriak-teriak memaki menandakan bahwa dia masih mengira Sam Coat berada dalam gulungan debu itu.

Habig menempuk, Sam Coat berputar tubuh dan berkata kepada orang tua pucat itu, “Sahabat, engkau ini "

Sambil batuk2, orang tua itu menukas, "A-ku tak kenal anda. Tetapi aku mempunyai seorang sahabat yang anda kenal. Kalau kukatakan namanya, entah apakah anda mau mengalah. kepadaku?"

Ssm Coat sianseng tertawa mengikik, "Saha-bat, silakan bilang."

Saat itu Kun Hiap merasa bingung. Bagai-mana tadi orang tua itu tiba di sampingnya, sama sekali dia tak tahu. Dan kini orang tua itu mengatakan hendak membawanja pergi. Ah, mum-pung mereka masih terlibat dalam pembicaraan, mengapa dia tak mengajak Hui Giok meloloskan diri dari tempat itu?

Setelah mengambil keputusan, diapun lalu berseru kepida Hui Giok, "Hui.." tetapi saat itu juga dia tak dapat melanjutkan kata-katanya kareua jalandarah Tay- moh-hiat pada pinggangnya terasa kesemutan. Dilihatnya mulut orang tua itu seperti bergerak-gerak, entah sedang berkata apa.

Tampak wajah Sam Coat berubah dan setelah mundur tiga langkah ke samping batu besar. Topi baja dipakai dan sekali berjumpalitan dia segera menyusup ke dalam tanah.

Tepat pada saat itu Hui Giok berteriak ma-rah dan menerobos ke luar dari gumpalan asap debu.

Ternyata tadi setelah menerjang ke dalam gumpalan debu, dia seperti melihat sesosok tubuh orang berkelebatan. Dia mengira kalau sosok tu-buh itu tentu Sam Coat yang sedang mengem-bangkan ilmu kecepatan gerak untuk menghindari serangan Hiat-hun-jiau. Maka diapun ngotot un-tuk menyerang gencar. 

Kini setelah mendengar bunyi letusan ketika Sam Coat ambles bumi, barulah Hui Giok sadar kalau termakan tipu permainan Sam Coat. Dia segera memberosot keluar dari gumpalan debu.

Tepat pada saat itu dia melihat orang tua kurus tadi berada di samping Kun Hiap dan di dengarnya Kun Hiap berteriak keras2," Aku tak mau. Aku tak kenal padamu, sudah tentu akupun tak kenal dengan orang yang hendak engkau pertemukan dengan aku. Perlu apa aku kesana?"

Orang tua itu batuk2," Orang itu selalu memanggil namamu, sudah tentu. . . .

engkau kenal."

Mendengar pembicaraan itu diam2 Hui Giok terkejut karena merasa salah lihat. Tadi dia tak bersungguh hati melepaskan Hui-to untuk menjajal orang tua itu. Dengan melengking nyaing dia terus melayang keatas batu.

Tetapi pada saat dia berada di atas batu, orang tua itu sudah membawa Kun Hiap ke bawah batu.

"Hai, mau kemana!" bentak Hui Giok sera-ya melayang turun.

Tetapi orang tua itu tetap berjalan dengan tongkat, sembari menggandeng  tangan Kun Hiap. Pelahan sekali langkahnya. Sekali ayunkan tubuh tentu dapat menyergapnya, pikir Hus Giok. Teta-pi sampai tujuh delapan kali dia berloncatan, tetapi tak dapat mengejar. Bahkan jaraknya dengan orang tua itu makin lama makin jauh.

Hui Giok terkejut sekali. Ketika mendiang ayahnya masih hidup, sering mengatakan bahwi ada dua jenis ilmu ginkang yang paling sakti dalam dunia. Kesatu, disebut Leng-gong-poh-hi atau Mengapung-diudara-menginjak- kekosongan. Dan yang kedua adalah Sut-li-seng-jun atau Menyurut-li-jadi-cun. Li artinya satu mil dan cun artinya dim-

Sut-li-seng-cun tidak sama dengan ilmu sihir sut-tekang atau Ilmu-menyurut- bumi, tetapi sebuah ilmu ginkang yang paling tinggi. Memang tampaknya seperti bergerak pelahan tetapi ternyata cepatnya bukan kepalang Tampaknya seperti berjalan beberapa langkah tetapi kenyataannya sudah amat jauh.

Serentak Hui Gok terkesiap. Apakah orang tua ahli dalam ilmu ginkang Sut-li- seng-cun ?

Namun Hui Giok masih penasaran dan tetap mengejar sekuat tenaga. Tetapi nyatanya, makin lama malah makin ketinggalan jauh. Dan ketika menikung di sebuah di bawah gunung, dia kehilangan jejak kedua orang itu. Kejut dan marah 

Hui Giok bukan kepalang. Dia terpaksa berhenti. Tiba2 dia mendengar suara Sam Coat dari a-rah depan.

"Sungguh berbahaya, sungguh berbahaya," kata Sam Coat dengan napas terengah-engah, "sahabat. bukannya aku menakut-nakuti engkau. Tetapi baiklah engkau berjalan pelahan saja. Supaya otak tidak pindah tempat!"

Dengan menahan napas Hui Giok menghampiri maju beberapa tombak. Dilihatnya Sam Coat sedang muncul dari tanah, Jelas tadi dia hanya omong sendirian.

Tampak Sam Coat sedang sibuk menghapus keringat dan menepuk-nepuk dada seperti orang yang baru lolos dari Kui-bun-kwan atau akhirat.

Hui Giok heran mengapa Sam Coat ribut sendiri, Diam-diam dia teringat bahwa saat itu adalah kesempatan yang bagus untuk menyerangnya. Dengan langkah yang ringan dan tidak mengeluarkan suara, dia segera menghampiri.

Saat itu Sam Coat sedang berdiri meng-hadap ke arah sana, Hui Giot maju tiga langkah lagi. Sekoayong-konyong Sam Coat mengangkat tangan, Ternyata dia sedang melihat pada sebuah cermin kaca yang tengah dipegangnya.

Hui Giok terkejut. Dalam cermin kaca itu dia sedang melihat dirinya sedang berindap-indap ayunkan langkah. Sudah tentu ulahnya diketahui Sam Coat. Diapun berhenti.

Tanpa berpaling tubuh, Sam Coat tertawa mengikik," Hayo, mari, silahkan menyerang dari belakang!" serunya.

Sambil memasang Hiat-hun-jiau di muka dada, berserulah Hui Giok," Kalau sudah tahu me~ ngapa engkau tak menyingkir?"

"Ih, bukankah aku tadi sudah bilang? Aku hendak turun tangan lebih dulu supaya kuat. Setelah membunuhmu baru aku melakukan rencanaku.

Sambil mengangkat cakar Hiat-hun-jiau, Hui Giok mengejek," Aku mempunyai dua buah pusaka Apakah engkau mampu membunuh aku?"

Sam Coat miringkan kepala berseru," sahabat, kita naik keledai sambil baca buku, jalan sambil baca!"

Marah Hui Giok bukan kepalang tetapi dia menekan perasaannya dengan tertawa, “Sebenarnya percuma saja engkau hendak membunuh aku. Sakit hatimu beberapa tahun yang lalu, malah tak dapat engkau himpaskan!" 

Sam Coat berjingkrak, teriaknya," Sahabat, kalau bicara hati2 sedikit!"

Hui Giok tertawa dingin," Menilik watak budimu itu, lebih baik engkau sembunyi saja selama-Iamanya. Hati-hatilah kalau sampai dimasukkan orang kedalam peti besi dan dibawa ke mana-mana. "

Hua, hua. Sam Coat menjerit seperti orang kebakaran jenggot dan terus

menyerbu, ja-ri telunjuk. menutuk ke dada Hui Giok.

Memang tadi Hui Giok hendak memancing kemarahan orang. Kini melihat Sam Coat menjadi kalap dan menyerangnya, diam2 dia girang. Sambil condongkan kepala sedikit ke belakang dia ayunkan Hiat-hun-jiau kearah kedua jari lawan.

Cakar Hiat-hun-jiau itu tajam sekali dan mengandung racun tiada taranya. Sekali kena, tak ada obatnya lagi.

Hui Giok tak perlu menyerang jalandarah maut lawannya. cukup dengan memapas jarinya saja, lawan tentu sudah binasa. Dia sudah memperhitungkan, apabila lawan menarik tangannya, dia segera akan mendesak dengan serangan yang gencar, dengan demikian dia tentu menang angin.

Teanyata Sam Coat tak menarik pulang ta-ngannya, cret cret, cakar Hiat-hun- jiau dengan tepat dapat menggaetnya, Dan cepat Hui Giokpun segera menarik Hiat-hun-jiau. Dia ingin menunggu saat2 racun cakar itu akan merenggut jiwa Sam Coat.

Tetapi diluar dugaan, Sam Coat malah tertawa gelak2 dan tring, tring. kedua

jarinya bukan saja tidak berdarah, malah menghamburkan dua batang jarum perak yang amat halus.

Saat itu jarak Hui Giok dengan lawan, terpaut dekat sekali. Tak mungkin dia dapat meng-hindari semburan jarum. Namun dia tetap berusaha untuk menyelamatkan diri. Setelah menggerakkan cakar Hiat-hun-jiau ke bawah, dia terus melambung ke udara.

Kedua batang jarum lembut itu sebenarnya menabur kemukanya. Yang sebatang dapat tersapu jatuh oleh tenaga angin dari ayunan Hiat-hun-jiau. Yang sebatang lagi, karena Hui Giok bergerak keatas, telah ganti menyasar dadanya.

Hui Giok bahwa dengan mengenakan baju Kim-Wi-kah itu dia memang terlindung. Tetapi karena tahu bahwa jarum-perak yang digunakan Sam Coat itu merupakan senjata yang khusus untuk menghancurkan tenaga-dalam maka diapun cemas. 

Kecemasan Hui Giok itu memang beralasan sekali. Jarum-perak itu mengandung racun yang amat ganas, begitu ganas sehingga tokoh2 kalangan Hitam sendiri, juga jarang menggunakannya.

Begitu menunduk, kejut Hui Giok bukan kepalang. Dadanya penuh berhias jarum.

Serentak dia ayunkan tangan kiri ketanah. Sebelum kaki mendarat di bumi, tubuhnya kemba-ili melayang ke udara dan berjumpalitan ke belakang.

Sam Coat tetap mengejarnya. Diam2 Hui Giok mengeluh. Walaupun mengenakan baju Kim-wi-kah dan menggunakan cakar Hiat-hun jiau, tetap dia tak mampu mengalahkan Sam Coat. Tetapi dia pun tahu bahwa Sam Coat juga sukar untuk membunuhnya.

Hui Giok memperhitungkan. Satu-satunya cara adalah hanya melanjutkan pertempuran itu. Dengan begitu walaupun Sam Coat mempunyai banyak macam alat2 rahasia seperti jari-palsu dan sebagainya, toh lama kelamaan akan habis digunakannya juga. Nah, pada saat itu baru dia dapat merebut kemenangan.

Setelah mengambil keputusan, dia berjung-kir tubuh di udara, mengayunkan Hiat-hun-jiau menghantam kepala Sam Coat yang memburu datang.

Tetapi Sam Coat tegak di tempat tak mau menyurut muadur. Selekas Hiat-hua- jiau hampir tiba2 di ubun2 kepalanya, barulah dia berputar kebelakang lawan.

Hui Giok tak menghendaki orang mendekatinya. Diapun berbalik melancarkan serangan. keduanya bertempur dengan cepat sekali dalam jarak yang amat merapat sehingga untuk beberapa saat sukar mengetahui siapakah yang akan menang dan kalah.

Sekarang kita tinggalkan dulu kedua orang yang sedang bertempur mati-matian itu untuk mengikuti Kun Hiap yang dibawa oleh orang tua tak dikenal itu.

Kun Hiap merasa seperti dibawa terbang di antara desir angin yang menderu- deru. Tak bera-pa lama sudah mencapai jarak jauh sekali. Bebe-rapa kali Kun Hiap hendak bertanya, kemanakah orang tua itu hendak membawanya. Tetapi karena angin terlalu keras membuat dia tak mampu mem buka mulut.

Baru setelah melintasi beberapa gunduk bukit dan tiba di jalan besar, orang tua berpenyakitan itu berhenti. Tepat pada saat tampak dua ekor kuda tegar tengah lari pesat menimbulkan kepulan debu yang tebal. 

Kun Hiap melontarkan pandang kearah kedua kuda itu dan saking kejutnya dia berteriak tertahan.

Kuda yang lari di muka, dikendarai oleh seorang wanita setengah tua yang bukan lain adalah mamanya, Tong Wan Giok. Sedang kuda yang dibelakang dinaiki oleh Wi Ki Hu. Rupanya Wi Ki Hu sedang mengejar Tong Wan Giok..

Melihat itu serentak meluaplah darah Kun Hiap. Dengan sekuat tenaga dia menghantam ke muka.

Sebenarnya pada saat dia tertegun tadi, kedua kuda itu sudah melintas dan melesat tiga empat tombak jauhnya. Maka hantaman Kun Hiap itu hanya menambah angin yang makin membuat kepulan debu membubung tinggi.

Sambil deliki mata, Kun Hiap meronta dari tangan si orang tua, "Lepaskan aku ! Lepaskan aku!"

Tetapi orang tua berpenyakitan itu, hanya menjawab kaku, "Orang yang hendak kupertemukan kepadamu belum berjumpa, bagaimana akan kulepaskan engkau

?"

Sambil menunjuk ke muka dengan menggentak gentakkan kaki ke tanah karena kesal, Kun Hian menggeram, "Ah, tak dapat mengejarnya, tah dapat mengejarnya'."

"Apa engkau kenal dengan kedua orang itu?" tanya orang tua dengan heran.

"Bukan hanya kenal tetapi yang satu itu adalah mamaku dan yang satu adalah musuh yang telah membunuh ayahku dan merebut mamaku. Kali itu aku tak dapat mengejarnya tetapi biar sampai di ujung langit, aku pasti akan tetap mencarinya.”

Sepasang alis yang jarang dari orang tua berpenyakitan itu tampak mengerut, "Engkau salah duga. Orang itu adalah Kim-liong-kiam-khek Wi Ki Hu.. Kalau dia membunuh ayahmu, itu mungkin juga. Tetapi dia tak mungkin akan mencemarkan mamamu."

Melihat musuh besarnya tengah mengejar mamanya dan dia tak dapat berbuat apa2, Kun Hiap kelabakan setengah mati. Dari karena mendengar nada ucapan orang tua itu seperti masih membela Wi Ki Hu, marahlah Kun Hiap, teriaknya, "Bah ! Bagaimana engkau tahu hal itu ? Dari mana!"

Sebenarnya Kun Hiap itu seorang pemuda yang sopan santun, halus budi. Tetapi dia tak kuat menahan emosinya sehingga membentak bentak orang tua itu. 

Orang tua berpenyakitan itu gelengkan kepala, "Apapun hendak engkau katakan, aku tetap tak percaya. Aku paling tahu akan peribadi Wi Ki Hu."

Orang tua itu hanya mencekal tangan kanan Kun Hiap maka tangan kiri pemuda itu masih dapat bergerak. Karena marahnya, dia ayunkan tangan kiri menghantam muka orangtua itu.

Orang tua itu diam saja, sedikitpun tak mau menghindar. Kun Hiap   menggunakan tenaga penuh. Dia sebenarnya hanya hendak menampar mu-ka orang untuk menumpahkan kemarahannya. Tetapi biasanya dia jarang turun tangan terhadap orang. Waktu tamparannya melancar, dia tiba2 tenngat bahwa Wi Ki Hu itu memang pandai sekali bermain sandiwara untuk menyelimuti peribadinya. Bukankah dia sendiri telah dikelabuhi hampir selama 20 tahun untuk mengakui Wi Ki Hu itu sebagai ayah kandungnya ? Kalau orang tua  berpenyakitan itu juga mengagumi Wi Ki Hu sebagai seorang ksatrya luhur budi, memang tak dapat disalahkan, Dia tentu juga kena dikelabuhi.

Memikir sampai djsitu Kun Hiap agak kendor kemarahannya. Dia hendak menarik tangannya tetapi dia sudah terlanjur menggunakan tenaga sepenuhnya. Sudah tentu sukar untuk ditarik dengan seketika. Satu-satunya cara yang dapat dilakukan hanyalah dengan mengurangi tenaganya.

Pada saat tamparan tangannya hampir tiba di muka si orang tua, hanya tinggal beberapa dim saja, tiba2 setiup tenaga-kuat menghambur dan menolak lengan Kun Hiap sedemikian rupa sampai dia meringis kesakitan karena lengan itu serasa copot dari persambungannya.

Kun Hiap terkejut sekali sehingga saat itu dia tak dapat berkata apa2.

"Engkau masih muda mengapa tindakanmu begitu tak monghormat kepada orang tua ? Untung tadi engkau menyadari dan menarik sebagian tenagamu. Kalau tidak, hm, hawa murni it-wan-cin-gi dalam tubuhku memancar, lenganmu tentu hilang," kata orang tua berpenyakitan itu.

Lemah dan pelahan kata2 itu diucapkan tetapi telinga Kun Hiap serasa pecah sehingga tubuhnya gemetar.

Kun Hiap tahu bahwa orang tua itu bukan hanya menggertak kosong karena saat itu lengannya ma-sih terasa sakit.

Setelah melonggarkan napas, Kun Hiap berkata," mengapa tiba2 di tengah jalan aku meronta hendak melepaskan diri- adalah karena kasihan kepadamu yang kena dikelabui orang sampai bertahun-tahun." 

"Cara bagaimana Wi Ki Hu membunuh ayahmu dan merebut namamu, ceritakanlah," kata orang tua itu.

"Dia...,"baru berkata sepatah tiba2 Kun Hiap teringat bahwa soal itu menyangkut rahasia yang memalukan dari keluarganya. Bagaimana dengan begitu saja dia hendak menceritakan kepada orang lain?

Dia segera melanjutkan kata2nya tetapi dialihkan," Wi Ki Hu adalah musuh besarku. Bagaimana peribadinya, sudah tentu aku tahu jelas. Kalau sakit hati itu tak kuhimpaskan, aku bersumpah takkan hidup lagi!"

Wajah orang tua itu, mengerut gelap. Sejenak termangu, dia berkata," Kepandaian yang engkau miliki sekarang ini tak ada sepersepuluh kepandalan Wi Ki Hu. Tetapi engkau mempunyai bakat tulang yang bagus sekali. Apa bila  engkau bertemu orang sakti, engkau tentu dapat mengungguli Wi Ki Hu. Tetapi engkau berkeras menganggap Wi Ki Hu itu berbuat jahat tentu karena engkau mendengar ocehan orang yang sengaja memutar-balikkan fakta. Maka  betapapun lihay kepandaian yang akan engkau peroleh, aku tetap takkan mengizinkan engkau bertindak dengan gegabah."

Bermula Kun Hiap gembira karena orang itu memuji bahan tulangnya bagus, tetapi kata-kata orang tua itu lebih lanjut, makin lama makin tak karuan dan akhirnya marahlah Kun Hiap," Engkau. engkau mengatakan akan menentang

aku menuntut balas?"

"Nanti kalau sudah tiba saatnya kita bicara lagi, Mungkin kelak engkau akan tahu kesalahanmu itu," kata orang tua berpenyakitan.

Kun Hiap mendengus," Atau engkau yang akan menyadari hal itu, siapa tahu."

Orang tua gelengkan kepala," Mari kata lanjutkan perjalanan, jangan membiarkan orang menunggu tak sabar."

Begitu melangkahkan kaki, orang tua itu sudah membawa Kun Hiap terbang melintasi jalan besar dan tak berapa lama tiba di sebuah lembah.

Tampak beberapa buah rumah pondok di bangun pada dinding karang.

Sekali orang tua itu ayuhkan tangan, Kun Hiappun terlempar lima tombak kedalam lembah, serunya," Orang yang hendak menemui engkau sedang menunggu di dulam pondok itu. Lekaslah engkau ke sana!"

Orang tua itu tidak ikut masuk melainkan menjaga di mulut lembah. Kun Hiap 

memperhatikan bahwa kecuali mulut lembah itu, tiada lain jalan keluar lagi. Apa boleh buat, dia ayunkan langkah menghampiri ke pondok. Dia ingin tahu siapakah orang yang hendak menemuinya itu.

Begitu tiba di muka pondok dia lantas mendorong pintunya. Ternyata dalam pondok itu merupakan sebuah liatong (ruangan upacara yang indah, Kanan kirinya terdapat kamar.

"Siapakah yang hendak men.emui aku ? Aku Sudah datang ?" serunya. Tetapi sampai diulang dua kali, tetap tiada jawaban.

Dia melangkah masuk dan membuka kamar sebelah kiri. Disitu dilihatnya seorang wanita tengah berbaring diatas sebuah ranjang bambu. Kun Hiap tersipu-sipu merah mukanya. Cepat dia mundur selangkah. Tetapi serempak pada saat itu wanita itupun berputar tubuh. 

Begitu melihat wajahnya, Kun Hiap terlongong-longong. Walaupun wajah wanita itu pucat tetapi kecantikannya masih tampak jelas seperti dulu. Siapa lagi wanita itu kalau bukan Tian Hui Yan!

Hati Kun Hiap berdetak keras. Dia menuding Hui Yan, bibirnya bergerak-gerak tetapi sampai beberapa saat belum juga dapat mengeluarkan kata2. Dia seperti kena pesona melihat yang tak mungkin terjadi itu.

Mungkin Hui Yan yang sudah meninggal itu berada dismi? Ah, tidak, tidak. Tak mungkin orang yang sudah mati akan hidup kembali.

Sampai lama sekali baru dapatlah meluncur kata2 dan mulutnya," Sam-kounio, apakah arwahmu masih penasaran dan hendak mencari aku?"

Nona yang berbaring di balai2 bambu itu menghela napas.

Timbul lain pikiran pada Kun Hiap. Ya, di dunia ini memang banyak sekali orang yang serupa wajahnya. Apakah nona itu bukan Tian Hui Yan?

"Siapakah nona ini? Ah, engkau mirip sekali dangan seseorang. Aku kaget sekali," kata Kun Hiap pun.

Tiba2 nona itu berkata dengan suara. lemah, "Aku mirip dengan siapa?" "Engkau mirip dengan seorang nona she Tian."

"Dia sudah mati," kata nona itu." oleh karena itu engkau begitu ketakutan sekali melihat aku bukan?” 

Kun Hiap terkesiap," Bagaimana engkau tahu hal itu? Ah, benar, dia memang sudah meninggal dan lagi. . . . dapat dikatakan... kalau mati ditanganku. Aku sungguh menyesal dan merasa berdosa kepadanya. Tetapi apa mau dikata lagi.”

Tiba2 tangan gadis itu menekan balai2 bambu dan duduk. Dengan wajah terkejut heran dia berseru menegas," Engkau yang mencelakainya ? Bagaimana hal itu dapat terjadi?"

Kun Hiap terus memandang gadis itu dengan lekat. Melihat bagaimana gadis itu kepingin sekali mengetahui hal itu dan sikapnya begitu bersung-guh-sungguh, Kun Hiap mendapat kesan bahwa itulah Tian Hui Yan yang sebenarnya. Memang wajah bisa saja serupa, tetapi apakah sikap, gaya juga dapat serupa?

Dengan hati berdebar keras, Kun Hiap berkata," Apakah engkau ini sam-kounio? Aduh, lekas kita pergi, hayo kita lekas pergi!"

"Ya, aku menang belum mati," kata gadis itu.

Kun Hiap cepat melangkah maju dan mengulurkan tangan hendak menarik gadis itu. Tetapi pada saat tangannya menyentuh lengan si gadis, tiba2 terdengar deru sebuah benda hitam yang menerobos masuk dan jendela. ...

Kun Hiap terkejut tetapi tak dapat menghin-dar. Benda itu tepat mengenai siku lengannya sehingga dia terpental selangkah ke belakang.

Ternyata benda itu hanya segulung rumput kering dan menyusul terdengar si orang tua berpenyakitan tadi berseru dan luar jendela," Dia menderita luka- dalam yang parah, kalau engkau tarik tentu akan binasa. Mengapa engkau begitu gegabah?"

Mendengar itu Kun Hiap menarik pulang tangannya.

"Engkau hendak membawa aku kemana?” tanya gadis itu yang bukan lain adalah Hui Yan.

"Betapa sedih hati Biau-koh mendengar engkau binasa. Kalau tahu engkau tidak meninggal, dia tentu gembira sekali. Mengapa engkau tak lekas2 menemuinya?" seru Kun Hiap.

HuiYan mengerang kecil, "Walaupun aku belum meninggal tetapi aku tak dapat bergerak. Bagaimana mungkin aku dapat menemui mama? Engkau, " - ia

memandang Kun Hiap tanpa melanjutkan kata-katanya. 

"Baikm aku akan mengatakan kepadanya," seru Kun Hiap terus berputar tubuh dan terus ayunkan langkah. Tetapi baru beberapa tindak, terdengar Hui Yan meneriakinya dengan suara lemah. Engkau. kembalilah. Aku masih akan

bertanya lagi kepadamu."

Biasanya Kun Hiap segan dekat dengan si dara karena selalu menderita olok- oloknya, tapi saat ini dia menderita luka parah dan lagi daa merasa kalau dia yang menyebabkan derita itu maka mendengar teriakan Hui Yan diapun cepat berputar tubuh dan bertanya," Soal apa?"

Hai Yan memandang beberapa jenak baru berkata," Apakah engkau bertemu dengan Jiciku?"

Kun Hiap paksakan tertawa," Ya, aku dan dia. "

"Engkau bersama-sama," tukas Hui Yan dengan tertawa paksa," benar bukan?" “Ya, saat ini dia sedang bertempur dengan Sam Coat sianseng. Cianpwe yang. . .

. berpenyakitan itu berkeras membawa aku kemari untuk menemui engkau."

Wajah Hui Yan agak berubah makin pucat, ujarnya." Apakah engkau tak suka menemui aku?"

"Ah bukan begitu," sahut Kun Hiap gopoh, "sudah tentu aku senang sekali bertemu dengan engkau. Karena tindakanku yang kurang hati-hatilah yang menyebabkan engkau sampai terlempar jatuh dari kuda sampai mati. o , tidak

sampai terluka parah."

Sambil pejamkan mata, berkatalah Hui Yan, “itu ji-ci yang mengatakan, bukan?" "Ya, dia yang bilang," Kun Hiap mengangguk.

Dengan pelahan, Hui Yan berkata," Benar, memang aku jatuh dari kuda tetapi tidak mati, hanya pingsan. Apakah engkau tak dapat membedakan antara orang mati dengan orang pingsan ?”

"Saat itu aku tak mendekati engkau," bela Kun Hiap, "hanya waktu itu ji-siocia mengatakan, aku sudah tertimpa bencana besar, Aku jadi panik dan kehilangan akal.”

"Kalau kuberitahukan kepadamu,” kata Hui Yan dengan nada makin pelahan, "pada saat aku hendak siuman dari pingsan waktu itu, jici telah meletakkan tubuhku kedatam lubang pohon dan menghantam dadaku satu kali sehingga aku muntah darah lalu pingsan lagi. Karena percaya aku telah mati barulah dia 

meninggalkan tempat itu. Apakah engkau percaya pada keteranganku ini?”

Sebelum Hui Yan selesai bicara, wajah Kun Hiap sudah berubah dan kedua tangannya bergoyang-goyang menolak, "Sam-siocia, apakah kata-katamu itu tidak terlalu berlebih-lebihan ?"

"Engkau percaya atau tidak ?" dengan agak merentang mata Hui Yan menegas.

Teringat akan keterangan Hui Giok dalam peristiwa kematian Hui Yan tempo hari, untuk beberapa saat Kun Hiap tak dapat menjawab pertanyaan Hui Yan.

"Kalian berdua adalah kakak beradik,” akhirnya dia berkata juga," bagaimana mungkin dia sampai melakukan hal yang sedemikian itu?”

Hui Yan kembali pejamkan mata, ujarnya, "Memang kutahu, kalau hal itu kukatakan kepada orang, tentu orang sukar percaya. Tetapi yang tahu tentang diri seorang anak perempuan itu hanyalah mamanya. Perbuatan ji-ci itu tentu tak mungkin dapat mengelabuhi mama!”

Mendengar itu hati Kun Hiap berdetak keras, pikirannya kacau, “Akan kuberitahu kepada Biou-koh. Harap engkau baik2 beristirahat dan merawat diri."

"Apakah engkau tidak. datang kemari untuk menjenguk aku lagi?" seru Hui

Yan dengan lemah.

Tanpa banyak pikir Kun Hiap mengiakan dan terus keluar. Baru tiba di ambang pintu, didengarnya Hui Yan menghela napas panjang. Setelah keluar dari pintu, dia merasa longgar perasaannya. Bukan karena dia takut menemani seorang dara yang sedang menderita luka parah, melainkan dia ngeri mendengar keterangan Hui Yan tadi. Dia masih meragu dan menganggap bahwa tak mungkin seorang kakak begitu sampai hati hendak mencelakai adiknya sendiri.

Sejenak dia tertegun di pintu- Dilihatnya orang tua berpenyakitan tadi berdiri di kejauhan sambil menggendong kedua tangannya. Sikapnya santai2 saja.

Kun Hiap menghampiri, memberi hormat dan pamitan. Tetapi orang tua itu hanya mendesuh seperti tak menghiraukannya.

Karena buru2 hendak memberi kabar kepada Biau-koh, Kun Hiap terus melesat loncat keluar dari lembah. Tetapi tiba2 telinganya terngiang suara orang tua berpenyakitan itu, "Turut apa yang kuketahui, keterangan nona Tian kepadamu tadi memang benar semua."

Kun Hiap terkejut heran. Bilakah orang tua itu mengikutinya? Buru2 dia berputar 

tubuh. Ah, tak tampak seorangpun juga. Saat itu dia sudah berada diluar lembah. Memandang kearah lembah dia masih dapat melihat orang tua berpenyakitan itu tetap berdiri di tempatnya. Aneh, mengapa suaranya begitu jelas terdengar di telinganya?

"Hm, dia tentu menggunakan ilmu menyusup suara Coan-li—Coan-im. Sebuah ilmu tenaga dalam yang sakti," pikirnya. Dan dia menarik kesimpulan bahwa orang tua itu tentulah seorang tokoh aneh yang berilmu tinggi.

Beberapa saat tertegun, tetapi dia masih meragukan kebenaran kata2 Hui Yan tadi. Lalu dia lari sekuat tenaga untuk mengejar waktu. Pada hari kedua keesokannya, dia sudah tiba diluar lembah kediaman. Biau-koh.

"Biau-koh cianpwe, Biau-koh cianpwe," dia berteriak sekeras-kerasnya. Dia percaya Biau-koh memiliki kepandalan tinggi. Walaupun terpisah jarak jauh, asal dia berteriak, tentulah Biau-koh dapat mendengarnya.

Tetapi waktu dia tiba di mulut lembah, teriakannya yang dilakukan berulang- ulang itu tiada juga mendapat penyahutan. Apa mungkin Biau-koh tidak berada di tempat, pikirnya.

Dia terus lari masuk kedalam lembah. Memandang ke muka, dilihatnya Biau-koh dan Tian toa-siocia tengah duduk bersila beradu punggung, Kedua tangannya menjulur ke depan. Tampaknya separti orang yang tengah berlatih.

Kun Hiap terus hendak lari menghampiri seraya berseru, "Biau-koh cianpwe, harap berhenti dulu, aku hendak menyampaikan berita gem-bira "

Baru berkata begitu, tiba2 dia seperti dihadang oleh tembok karet yang kokoh. Dia hanya terpisah satu lombak dari tempat Biau-koh dan kedatangannya itu disertai dengan lari yang cepat. Uh. dia tertolak mencelat ke udara. Setelah

jungkir balik sampai tiga kali barulah dia melayang turun.

Dia terkejut heran. Dia tak melihat sesuatu tetapi mengapa sampai terlempar ke belakang.

Sesaat dia menginjak tanah, terdengarlah suara seorang wanita berteriak nyaring, "Biau-koh, sampai berapa lamakah engkau mampu bertahan begitu mati-matian itu ?"

Kun Hiap terkejut. itulah nada suara dari nyonya Ko, isteri Ko Thian Hoan. Menurutkan arah suara itu barulah dia tahu bahwa dalam lembah disitu kecuali Biau-koh dengan puteri sulungnya,-masih ada lagi empat orang yang memecah diri pada empat jurusan, mengepung Biau-koh. Jaraknya terpisah dua tombak 

dari tempat Biau-koh. Merekapun tengah julurkan tangan ke muka.

Cepat Kun Hiap dapat mengetahui apa yang terjadi dalam lembah itu. Ternyata Biau-koh dan Tian toa-siocia sedang berhadapan melawan empat musuh. Tadi yang dibenturnya tak lain adalah pancaran tenaga-dalam dari mereka yang sedang bertempur adu tenaga-dalam. 

Kun Hiap terkejut. Ternyata nyonya Ko memang hendak mencari balas dan dari ucapannya tadi, tampaknya Biau-koh dan Tian toa-siocia sudah kewalahan. Lalu siapakah keempat orang itu?

Kun Hiap mengeliarkan pandang ke sekeliling. Dilihatnya diantara mereka terdapat dua orang rahib pertengahan umur. Wajah dan sikapnya, seperti pinang dibelah dua. Sama2 bertubuh kurus kering dan berwajah dingin.

Kun Hiap terkesiap. Tiba2 dia teringat bah-wa di kalangan kaum paderi dan rahib, yang paling tinggi kepandaiannya adalah Po-to-song-ni atau sepasang rahib Po. Ilmu kepandaian dari kedua rahib itu -berbada dengan kepandaian tokoh2 dari kalangan agama. Keduanya memihki, ilmu Hok- mo~kang yang luar biasa dahsyatnya. Dan itu sesuai dengan sifat mereka berdua yang paling membenci kejahatan.

Setiap tiga tahun sepasang rahib itu tentu turun dari gunung Po-to-san untuk menjalankan dharma kebaikan. Entah sudah berapa banyak orang jahat yang mati di tangan mereka. Oleh karena itu setiap mereka turun gunung maka kawanan tokoh persilatan jahat tentu buru2 menyingkir bersembunyi.

Mungkin di seluruh dunia persilatan sukar untuk mencari sepasang rahib yang baik wajaha sikap dan perangainya serupa satu sama lain.

Diam2 Kun Hiap mencemaskan keselamatan Biau-koh. Dia mengalihkan pandang ke lain sudut. Dilihatnya tokoh yang berada disitu seorang. imam yang. bertubuh tinggi besar berwajah merah segar. Dia tak lain adalah Thian Go lojin, ketua dari partai Ceng-shia-pay.

Kun Hiap makin kaget. Keempat tokoh itu tergolong jago2 kelas satu. Biau-koh hanya berdua dengan puterinya. bagaimana mampu menghadapi mereka?

Dia memandang kearah Biau-koh. Tampak Biau-koh masih biasa saja tetapi wajah Tian toa-siocia sudah berwarna kuning lesi, dahinya bercucuran keringat.

Yang dihadapi Tian toa~siocia itu adatah Po-to-song-ni. Walaupun ilmu kepandaian Tian toa-siocia itu tinggi tetapi sukar untuk melawan sepasang rahib dari gunung po-to-san itu. Tubuh Tian toa-siocia agak gemetar. Makin lama dia makin tak dapat bertahan. 

Sekonyong-konyong dia memekik keras, tubuhnya tiba2 berdiri, dengan meregangkan sepuluh jari dan rambut terutai, muka penuh keringat dan sikap seperti sesosok iblis, dia menerjang maju.

Sepasang rahibpun serentak berdiri. Keduanya memperdengarkan suara tawa yang membuat buluroma berdiri.

Tian toa-siocia bergerak cepat sekali. Sekali mengayun tubuh dia sudah tiba dihadapan kedua rahib lalu kesepuluh jarinya yang seperti berlumuran cat hitam, menerkam muka kedua rahib.

Po-to-song-ni mencondongkan tubuh ke belakang untuk menghindari. Tepat pada saat itu Biau-kohpun "'meringkik panjang dan berbangkit diri dan melesat ke belakang.

Sebenarnya tadi dia sedang menahan serangan tenaga-dalam dari Thian Go lojin dan nyonya Ko. Karena dia menyurut mundur maka arus pancaran tenaga-- dalam Thian Go dan nyonya Ko itupun segera melanda seperti gelombang pasang.

Tetapi Biau-koh bukanlah tokoh sembarangan. Karena sudah merencanakan mundur, sudah tentu dia mempersiapkan cara penjagaan.

Dia bergerak mundur dengan cepat sekali dan meminjam arus tenaga-dalam kedua lawannya sehingga gerakannya mundur makin deras.

Hanya dalam sekejab mata saja dia sudah berada di belakang puterinya. Dan tanpa berbalik tubuh, dia melambung keatas, bergeliatan naik turun dan tahu2 sudah berada di belakang kedua rahib ......
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Kuda Besi (Kuda Hitam dari Istana Biru) Jilid 08"

Post a Comment

close