Kuda Besi (Kuda Hitam dari Istana Biru) Jilid 01

Mode Malam
Jilid 1 

Empat wajah beku yang duduk mengitari meja yang diterangi dengan sebatang lilin itu, tampak dicengkam ketegangan.

Halilintar meringkik-ringkik menggetarkan bumi. Api lilinpun memantulkan cahaya bayangan yang bergoyang gontai.

Setiap kali kilat mencuatkan cahaya menerangi tempat kegelapan, keempat

orang itu serempak mengangkat kepala memandang ke luar jendela.

Namun tiap kali, wajah merekapun hanya menyuram kecewa. Mereka tampak menanti kedatangan seseorang tetapi yang ditunggu tak kunjung tiba.

Diantara keempat misteri guest atan tetamu misterius itu, terdapat seorang wanita yang cantik. Usianya lebih kurang tigapuluh tahun.

Wanita itu mengenakan chang-ih (semacam long dress) dari sutera warna gres atau soklat muda. Wajah dan penampilannya mempunyai, daya yang mempesona.

Kemudian seorang pria yang brewok. Dihadapannya seorang sasterawan setengah baya. Wajah sasterawan itu pucat seperti mayat sehingga menyeramkan orang.

Yang misterius sendiri adalah orang keempat. Bagaimana raut wajahnya tak diketahui karena dia mengenakan kain cadar atau kerudung muka. Tetapi yang jelas, tubuhnya pendek kecil seperti seorang anak.

Tak berapa lama kemudian hujanpun turun seperti dicurahkan dari langit. Tiba2 

si brewok berbangkit dan berseru dengan suara menggeledek, "Menjemukan sekali, maaf, aku tak dapat menemani kalian lebih lama !"

Sambil berkata diapun sudah ayunkan langkah keluar. Tetapi baru dua langkah, dia sudah berhenti.

Saat itu hujan mencurah deras dan halilintar tak henti-hentinya mengamuk tetapi sayup2 terdengar suara derap kuda berlari pesat. Makin lama makin dekat.

“Katanya menjemukan, mengapa anda tak jadi pergi," tiba2 sasterawan berwajah pucat berseru dengan nada dingin.

Si brewok berputar tubuh. Tangannya melekat pada punggung kim to (golok emas) yang terselip di pinggangnya. Dipandangnya sasterawan itu dengan geram.

Sasterawan itu tertawa mengekeh. Secara seperti tak sengaja, kipas yang   berada ditangannya ditebar-katupkan. Waktu menebar kipas itu seperti memantulkan bunyi mendering lembut menandakan bahwa kipas itu terbuat dari logam.

Tring si brewok mencabut golok kim-tonya yang tipis dan ditudingkan ke

arah sasterawan.

"Siapakah Nyo toaya (tuan besar Nyo) ini? Masakan sudi duduk bersama manusia semacam mayat hidup!"

Tampak sasterawan itu seperti agak membungkukkan tubuh sambil membenturkan kipasnya ke ujung golok si brewok.

Si brewok mengendap tubuh dan menggentakkan goloknya keatas. Melihat itu sasterawan berwajah pucatpun menekankan kipasnya lebih keras.

Baik wanita cantik maupun orang yang memakai kerudung muka, mengira tentu akan terjadi benturan keras antara golok dan kipas.

Tetapi suatu peristiwa yang tak terduga telah muncul. Pada saat golok dan kipas hanya terpaut beberapa inci, sekonyong-konyong pintu ruangan didobrak dan seseorang terus. menerobos masuk.

Baik si brewok maupun sasterawan berwajah, pucat, walaupun terkejut tetapi masih sempat untuk menarik pulang senjatanya masing-masing.

Sasterawan cepat duduk kemball di kursinya. 

Tetapi si brewok lain. Dia cepat ulurkan tangan kirinya untuk menyambar pendatang itu. Sambarannya cepat dan tepat. Dia dapat mencengkeram bahu orang itu.

Tetapi gerak terjangan orang itu waktu menerobos masuk, cepat dan dahsyat, maka diapun terus melaju sehingga bahu bajunya saja yang robek... brakkkkk

Meja berhamburan jungkir balik. Lilinnyapun tumpah dan padam. Wanita cantik dan sasterawan berwajah pucat loncat ke belakang.

Kini ruang itu gelap gelita.

Wut, wut terdengar deru tinju menghamburkan angin. Tetapi dalam ruang

yang gelap itu tak dapat diketahui apa yang terjadi. Siapa yang memukul dan siapa yang dipukul, tak diketahui dengan jelas. Untuk menjaga keselamatan diri masing-masing maka setiap orang melintangkan tangan untuk melindungi diri masing-masing.

"Siapa yang datang itu?" tiba2 si brewok berseru memecah kesunyian, sedangkan tangannya masih mengepal secabik kain baju yang berasal dari pendatang itu.

Tetapi tiada penyahutan sama sekali.

Kilat memancar. disusul dengan raung guruh yang menggerung-gerung di angkasa. Pada lain saat sinar kilat itupun lenyap dan ruangan menjadi gelap lagi.

Namun walaupun hanya sekejab mata, pancaran sinar kilat yang merekah kedalam ruang gelap, memberi penerangan yang cukup jelas bagi keempat orang itu untuk melihat keadaan dalam ruang itu.

Pendatang yang menerjang masuk tadi, saat itu sedang ngelumpruk diatas permukaan meja yang remuk tadi.

'"Lekas sulut korek!'' teriak si brewok pula.

"Cresss terdengar suara orang membenturkan goresan korek api. Ternyata

yang menyulut korek itu adalah orang kate yang mukanya bertutup kain kerudung hitam.

Dan dua buah lubang pada kain kerudung hitam, tampak kedua gundu mata si kate itu bersinar tajam. Dia memungut lilin yang jatuh dilantai, menyulutnya lalu diangkatnya untuk menyuluhi pendatang yang rebah di meja itu. 

“Mati!" serunya dengan nada sedingin es.

"Mati?" teriak si brewok, "siapakah dia? Apakah orang yang mengirim surat undangan tanpa nama itu? Mengapa dia mati?"

Rupanya si brewok itu memang seorang limbung. Kalau tidak masakan dia bertanya mengapa orang itu bisa mati? Bukankah dia sudah tahu kalau orang itu menerjang masuk dengan laju sekali dan terus membentur meja sehingga meja hancur berantakan?

Si brewok maju menghampiri ke tempat orang itu lalu membalikkan tubuhnya. Sedang si katepun lalu menyuluhi muka orang tak dikenal itu.

Ihhhhh .

Mereka berempat serempak mendesis kaget. Bukan karena ngeri melihat wajah orang tak dikenal itu. Memang wajahnya menampiikan kerut orang yang menderita kesakitan hebat. Tetapi mereka berempat sudah biasa melihat orang yang menampilkan wajah begitu. Mereka berempat adalah tokoh2 persilatan yang ternama. Sepanjang perjalanan hidup mereka, entah sudah berapa banyak lawan yang harus mereka hadapi. Dan banyak pula lawan yang dikalahkannya  itu juga menampilkan kerut wajah ngeri seperti itu.

Bukan, bukan karena hal itu yang menyebabkan keempat tokoh itu mendesis kaget tetapi karena mereka kenal dengan wajah itu.

Orang yang menerjang masuk, membentur meja dan terus rubuh tak bernyawa itu tak lain adalah seorang tokoh persilatan yang ternama yakni kepala cong-cu keluarga Lui di wilayah Ou-pak.

Lui Toa Gui, demikian nama kepala dari marga Lui yang menggeletak tak bernyawa itu, seorang jago silat yang termasyhur. Dia bergelar Sip-jiu-lo-han atau Malaekat-bertangan-sepuluh.

Bluk . . . begitu si brewok lepaskan cekalannya, mayat Lui Toa Guipun jatuh ke lantai lagi.

Sasterawan berwajah pucat cepat merogoh kedalam baju dan terus melontarkan sebuah surat. Surat itu bertebaran melayang-layang ke atas. Ditengah cahaya lilin, orangpun dapat membaca jelas huruf2 yang tertera pada kertas surat itu:

“Kepada Im kaucu ketua perkumpulan Thian-sim-kau di Bu-ih san. 

Apabila pada tanggal empat-belas bulan enam, anda tiba di per-batasan Oupak di Istana-biru yang terletak di kaki gunung Bok-tok-san Anda tentu akan mengalami peristiwa yang amat menggembirakan sekali.

Kecuali anda, pun ketua Hoasan-pay Naga-emas-sakti Nyo Hwat, Siluman-cantik Pik Ing Ing dari Thay-san, Lui Toa Gui kepala marga Lui, Thian-san-sin-kau ( kera-sakti gunung Thian-san) Lo Pit Hi, dan ketua Ceng-shia-pay Thian Go lojin juga menerima undangan ini...”

Kertas surat yang dilontar dengan tenaga dalam oleh sasterawan berwajah pucat, pelahan-lahan melayang keatas sampai beberapa meter, kemudian melayang-layang turun dengan pelahan.

Cret tiba2 sasterawan berwajah pucat itu menutuk kertas dengan kipasnya

sehingga kertas itu berlubang.

Lubang dari tutukan kipas itu tepat sekali menembus pada huruf yang berbunyi: Lui Toa

Gui kepala marga Lui.

Ketiga orang kawannya tahu maksud sasterawan itu yang hendak menyatakan bahwa Toa Gui sudah mati.

Tokoh bermuka brewok itu tak lain adalah Nyo Hwat ketua partai Hoa-san-pay. Dia bergelar Cek-kim-sin-liong atau Naga-emas-sakti..

"Hm," desuhnya, "aku tak sudi menunggu lagi. Siapa sih yang kenal dengan pengirim surat itu!"

Dia terus hendak ayunkan langkah tetapi pada saat itu dari arah pintu besar terdengar bunyi berderek-derek ....

Mereka berempat setelah menerima surat undangan yang aneh itu, sebenarnya tak mau menghiraukan. Tetapi makin dekat waktunya yakni 14 bulan enam, keinginan untuk mengetabui makin bergolak dalam hati mereka.

Keempat tokoh itu berasal dari partai perguruan yang tak sama. Dan tak sama pula alirannya. Walaupun mereka sudah mempunyai nama besar dalam dunia persilatan dan sudah banyak sekali pengalaman-pengalamannya, namun tetap mereka tak mampu menebak siapakah orang yang mengirim surat undangan itu dan apakah maksud tujuannya.

Sekalipun begitu, akhimya keempat tokoh itupun pergi juga untuk memenuhi undangan misterius itu. 

Pada waktu mereka tiba di sebuah kopoh (istana kuno) yang bercat warna biru   di kaki gunung Bo-tok-san, waktu mendorong pintu gerbang dari istana itu, daun pintu yang engselnya sudah berkarat, mengeluarkan bunyi berderak-derak.

Maka pada saat mendengar dari arah pintu gerbang terdengar bunyi berderak- derak, ketua Hoa-san-pay Nyo Hwat hentikan langkah dan ketiga orang yang lainnyapun terkesiap. Mereka serempak memandang kearah luar.

Pintu yang diterjang oleh Lui Toa Gui tadi masih terpentang sehingga mereka dapat memandang keluar.

Pada lorong yang gelap, terdengar suara langkah orang berjalan pelahan-lahan. Bahkan langkah itu halus sekali sehingga keempat tokoh yang berada dalam ruangan itupun menjadi sangat tegang.

Memang sebenarnya mereka menduga bahwa pengirim surat undangan itu adalah orang yang mereka kenal yang sengaja suruh orang untuk mengantar undangan itu dengan cara yang misterius. Untuk berolok-olok, demikian dugaan mereka berempat.

Tetapi setelah terjadi peristiwa yang mengejutkan dalam ruangan itu tadi,  dimana tokoh Lui Toa Gui yang termasyhur begitu menerjang masuk terus rubuh binasa, keempat orang itupun serentak menyadari bahwa anggapan mereka terhadap pengirim surat undangan itu salah. Peristiwa yang akan mereka hadapi bukan hanya sekedar olok-olok saja tetapi benar2 serius sekali.

Maka suara langkah kaki orang di lorong itu, cepat menimbulkan rasa tegang dalam hati mereka berempat.

Walaupun mereka itu tokoh2 persilatan yang ternama namun menghadapi keadaan yang sedemikian aneh yalah surat undangan yang tak diketahui pengirimnya dan kematian Lui Toa Gui yang begitu mendadak sekali, mau tak mau mereka menjadi gelisah sekali. Diam2 merekapun bersiap untuk menghadapi apa yang akan terjadi.

Saat itu langkah kaki orang yang berasal dari lorong serambi makin lama makin lambat. Rupanya setiap berjalan selangkah, orang itu berhenti beberapa saat.

Keempat tokoh yang berada dalam ruanganpun makin dicengkam rasa tegang karena harus menunggu begitu lama.

Lebih kurang sepeminum teh lamanya, tiba2 terdengar suara bergedebuk di lantai, seperti sebuah benda berat yang jatuh. 

"Haya, ada yang mati lagi!"' serentak Naga-emas-sakti Nyo Hwat, ketua Hoa- san-pay melonjak kaget.

"Ngaco!" bentak si cantik Pek Ing Ing, "Thian Go lojin kan bukan tokoh sembarangan mana mungkin akan bernasib seperti Lui Toa Gui!”

Diantara mereka berempat, walaupun ada yang belam pernah bertemu muka dengan Thian Go lojin ketua partai Ceng-shia-pay, tetapi mereka rata2 sudah pernah mendengar nama tokoh yang termasyhur itu. Apalagi dalam surat undangan itu pun disebut juga nama Thian Go lojin turut diundang. Oleh karena itu mereka segera dapat menebak siapakah kiranya yang menjadi korban diluar ruangan itu.

Wanita cantik itu jelas adalah Thay-san-yau-ki atau Siluman-cantik-gunung-Thay- san yang terkenal ganas. Dia seorang tokoh dari aliran hitam.

Sasterawan berwajah pucat itu adalah ketua perkumpulan Thian-sim-kau dari gunung Bu-ih-san, bernama Im Som. Peraturan dari perkumpulan agama Thian- sim-kau itu amat keras sekali. Anak muridnya tak boleh mengadakan hubungan dengan orang luar. Oleh karena itu tiada seorang pun tak mengetahui   bagaimana keadaan perkumpulan itu, demikian pula tak ada orang yang tahu bahwa Im Som, ketua perkumpulan agama itu sendiri sering mengembara dalam dunia persilatan.

Memang ilmu kepandaian Im Som, sakti dan aneh sekali. Karena tak tahu jelas akan dirinya maka kaum persilatanpun tak mau memusuhinya.

Sementara si pendek kecil yang mukanya bertutup kain hitam itu adalah tokoh yang paling memusingkan kaum persilatan. Dia bernama Thian-san-sin-kau atau Kera-sakti-gunung-Thian-san Lo Pit Hi. Wataknya nyentnk dan suka mengolok- olok orang hingga orang sampai tobat, terutama tokoh aliran hitam, mereka tentu gemetar apabila mendengar nama Lo Pit Hi.

Dalam surat undangan itu disebut lima tokoh yang diundang. Yang sudah datang empat orang dengan begitu jelas yang akan datang dan mungkin yang jatuh bergedebuk itu, tentulah ketua partai Ceng-shia-pay Thian Go lojin.

Tetapi hal itu memang sukar dipercaya. Siluman-cantik Pek Ing Ing juga tak percaya kalau seorang tokoh seperti Thian Go lojin, belum datang sudah binasa.

"Kita lihat!" seru Nyo Hwat ketua Hoa-san-pay.

Mereka berempat serempak melangkah keluar. Si setan pendek yang mukanya 

berkerudung kain hitam menyuluhi dengan lilin.

Tiba dilorong serambi mereka melihat sesosok tubuh berpakaian hitam, menggeletak ditanah tak berkutik lagi.

Naga-emas-sakti Nyo Hwat melesat maju dan mencongkel tubuh orang itu dengan ujung kaki. Begitu tubuh orang itu terbalik tertelentang, tampaklah wajahnya dengan jelas. Tubuhnya kurus kering, jari2nya seperti seekor kera. Wajah, mulut dan pipinya juga mirip orangutan.

Saat itu ujung mulutnya mengumur darah dan tubuhnya tak berkutik sama sekah. Jelas dia sudah mati!

Sesaat Nyo Hwat terkesima lalu menjerit, "Thian-san-sin-kau Lo Pit Hi!" "Ya, memang dia," sahut Pek Ing Ing.

Im Som ketua Thian-sim-kau serempak ber-balik tubuh memandang si setan pendek. Siluman-cantik Pek Ing Ing dan ketua Hoa-san-pay Nyo Hwatpun juga serempak memandang kearah setan pendek itu dan serempak berseru menegurnya, "Siapakah anda ini?”

Sebenarnya mereka sudah menduga bahwa setan pendek yang mukanya bertutup kain kerudung itu adalah Lo Pit Hi. Tetapi saat itu ketika melihat Lo Pit Hi menggeletak di lantai serambi dalam keadaan tak bernyawa lagi, serempak mereka terkejut dan heran. Bukankah orang yang mukanya ditutup kain kerudung itu juga Lo Pit Hi?

Ah, tidak, Lo Pit Hi jelas yang menggeletak tak bernyawa itu. Dan jelas pula bahwa orang pendek yang mukanya bertutup kain kerudung itu tentu bukan Lo Pit Hi dan tentu seorang tokoh luar yang misterius.

Mendengar pertanyaan ketiga orang itu, setan pendek bertutup kain kerudung serentak mundur selangkah.

Sekali lintangkan tangannya, lilin yang dipegangnya itu disongsongkan kearah kipas Im Som.

Cret karena Im Som menyalurkan tenaga-dalam yang kuat kearah kipasnya

maka lilin itupun padam seketika. Serambi itu menjadi gelap gelita lagi. "Jangan lepaskan dia!" teriak Im Som.

Naga-emas-sakti Nyo Hwat cepat menabaskan goloknya tetapi serempak pada 

saat itu Pek Ing Ing membentaknya, "Sudah bosan hidup, ya?"

Dan saat itu juga Nyo Hwa merasakan sebuah gelombang tenaga dahsyat melanda ke arah dadanya dan hidungnyapun tertampar bau yang amat harum.

Nyo Hwat menyadari bahwa tabasannya tadi telah salah alamat, menuju ke arah Pek Ing Ing. Dan Pek Ing Ingpun lantas melontarkan sebuah hantaman yang beracun. Sudah tentu Nyo Hwat terkejut dan cepat2 enjot tubuhnya mundur menghindar.

Saat itu Nyo Hwat berada di samping pintu gapura. Saat itu kilat memancar dan Nyo Hwat tiba2 melihat seseorang berada di sampingnya. Sudah dia kaget sekali dan terus menarik tangannya lalu menabas kearah orang itu.

Nyo Hwat adalah ketua partai Hoa-san-pay. Dalam ilmu golok, partai Hoa-san- pay memang menjagoi dunia persilatan. Sebagai ketua partai itu, sudah tentu ilmu kepandaian Nyo Hwat hebat sekali. Apalagi dia menabas dengan kecepatan yang luar biasa.

Jurus yang dimainkannya itu disebut Sun-cui-jip-jing atau Air-mengalir- mencurah-cinta. Lengan agak ditekuk, siku terpisah beberapa dim dari pinggang, tangkai golok dikepit diantara pinggang sedang ujung golok mencuat keluar.

Senjata goloknya disebut Cek-kim-to atau golok-emas-ungu. Panjangnya satu meter. Sekali dimainkan segera menimbulkan sinar setengah ling-kar. Setiap musuh yang dekat kepadanya tentu tak dapat menghindar lagi. Jurus Sun-cui- jip-jeng itu merupakan jurus permainan yang istimewa untuk membabat musuh yang berani mendekati.

Tetapi pada lain saat, terkesiaplah Nyo Hwat ketika merasakan ujung goloknya seperti tergetar. Hal itu menandakan bahwa sekalipun ujung goloknya berhasil memapas tetapi bukan mengenai tubuh orang melainkan hanya menabas pakaiannya saja. Dan orang itu tetap berada di dekatnya. Je-las bahwa orang itu tentu seorang yang berkepan-daian luar biasa.

Dalam keadaan seperti itu, sebelum jurus selesai Nyo Hwat sudah berganti dengan lain gerak memutar golok untuk melindungi diri.

Dalam menggerakkan tiga buah lingkaran golok untuk melindungi tubuhnya itu, sempat pula Nyo Hwat memandang ke muka untuk mengetahui situasi. Ternyata yang berada di sebelah muka, hanya Siluman-cantik Pek Ing Ing, ketua Thian- san-sin-kau Im Som yang tengah bertarung dengan setan pendek bertutup kain kerudung tadi, orang yang dilihatnya berada disampingnya tadi tak tampak sama sekali. 

"Apakah aku tadi khilaf?" mau tak mau Nyo Hwat tertegun.

Kilat memancar dan pada lain saat serambi itupun gelap lagi. Nyo Hwat maju menghampiri dan membentak, "Ho, sahabat, bagaimana engkau mung-kin menang kalau berhadapan dengan dua tokoh seperti mereka? Mengapa tak lekas menyerah saja!"

Tetapi baru saja ia membuka mulut, tiba2 ia merasa sebuah gelombang tenaga- dalam yang amat lunak, meniup kearah pinggangnya. Nyo Hwat terkejut dan cepat membabat. Tring, sebelum babatan golok tiba, kembah sudah terdengar dering dan su-atu senjata yang membentur goiok Nyo Hwat.

Sebenarnya senjata itu hendak ditujukan ke pinggang Nyo Hwat. Tetapi karena walaupun kea-daarrnya gelap sekali, Nyo Hwat dapat merasakan bahwa benda membentur pedangnya itu sebenarnya suatu gerak hendak menutuk lumbungnya Maka cepat diapun melintangkan golok untuk menangkis.

Tring .....

Baru dia melintangkan golok, batang golok-nya sudah terbentur dengan sebuah senjata lain. Memang karena suasana gelap, dia tak dapat me-lihat apa2 di sekelilingnya. Tetapi sebagai seorang ketua partai persilatan yang berilmu tinggi, diapun dapat merasakan bahwa yang membentur batang pedangnya itu adalah sebuah benda runcing yang biasa digunakan untuk menutuk jalan darah. Dan cepat diapun membayangkan bahwa jago yang me-miliki senjata penutuk jalan darah bukan lain, adalah Im Som ketua perkumpulan agama Thian-sim-kau. Ya, siapa lagi kalau bukan orang itu. De-ngan begitu jelas kalau Im Som diam2 hendak mencelakai dirinya ...

Seketika meluaplah kemarahan Nyo Hwat.

""Bajingan! Kalau engkau bisa menyerang secara gelap, apakah aku tidak mampu berbuat begitu juga!" dia memaki keras dan terus menyerang dengan jurus Ceng-hong-te-lui atau Tawon-hijau-memetik-madu, kearah tempat Im Som.

Tetapi baru begerak sampai setengah jalan, tiba2 ia mendengar Pek Ing Ing membentaknya, "Mau cari mati?"

Menyusul sebuah angin pukulan yang berbau anyir segera melandanya.

Nyo Hwat terkejut sekali. Dia tahu kalau pukulan itu bukan dari Im Som. Maka buru-buru ia alihkan goloknya kepada Pek Ing Ing untuk menghapus pukulan 

kemudian dia loncat mundur.

"Harap sekalian berhenti dulu," serunya.

"Uh, apa engkau tak ingin bertempur lagi?" seru Pek Ing Ing dengan nada mengejek.

Nyo Hwat merasakan suatu gelombang angin pukulan kembali meniup ke arahnya. Ia tahu kalau Pek Ing Ing menyerangnya lagi.

Nyo Hwat seorang limbung. Karena merasa diserang dia tak mau ambil pusing lagi siapa Pek Ing Ing itu jika tadi dia hanya menangkis dan terus mundur, sekarang dia marah dan terus menyerang wanita cantik itu. Dalam beberapa saat saja dia segera terlibat pertempuran dengan Pek Ing Ing.

Keduanya bergerak dengan cepat sekali. Dalam beberapa kejab saja Nyo Hwat sudah melancarkan tujuhbelas jurus.

Tiba2 pada saat itu dari arah pintu gerbang istana terdengar suara orang membentak dengan keras.

Karena mendengar suara teriakan yang nya-ring tanpa disadari Nyo Hwat hentikan serangan dan mundur selangkah. Tetapi karena takut Pek Ing Ing akan menyerang, maka diapun tetap bersiaga.

Tetapi ternyata Pek Ing Ing tak bergerak. Jelas dia sendiri juga terkejut akan suara bentakan yang nyaring itu.

Pada lain saat itu tepi pintu gapura yang terbuat dari besi itu tampak api   menyala terang. Pada saat itu juga Nyo Hwat baru tahu kalau Pek Ing Ing berdiri di mukanya, lebih kurang satu dua meter jaraknya. Karena kaget, Nyo Hwat menyurut mundur tiga empat langkah lagi supaya lebih jauh,

Tetapi Pek Ing Ing sendiri juga tak kalah kagetnya. Melihat Nyo Hwat dekat dengan dia, diapun terus menyurut beberapa langkah.

Setelah keduanya saling menyurut mundur, baru mereka melihat ke pintu. Ternyata pada saat itu di ambang pintu gerbang tampak tegak seorang lelaki setengah tua dengan mengenakan jubah warna biru, seorang pria yang tinggi besar, sehingga seperti sebuah tiang yang tegak di tengah ambang pintu.

Sikapnya gagah berwibawa.

Orang itu menyalakan korek, sepasang matanya berkilat-kitat memandang keempat penjuru. Begitu kesompokan dengan pandang mata Nyo Hwat dan Pek 

Ing Ing yang tengah memandang kepadanya, orang itupun tertawa dingin. "Ah, kiranya kalian berdua sudah datang lebih dulu!" serunya.

Nyo Hwat dan Pek Ing Ing cepat mengenali orang itu. Tokoh tinggi besar itu bukan lain adalah kepala dari Ngo-toa-kiam-pay.

Dalam dunia persitatan, terdapat berbagai persilatan, dengan dasar ilmu pelajaran yang diutamakan masing2. Ada yang mengutamakan ilmusilat tangan kosong dengan ilmupukulan dahsyat, baik ilmupukulan dengan tenaga-luar (gwa-kang) maupun pukulan tenaga-dalam (lwekang). Tetapi ada juga partai persilatan yang mengutamakan ilmu senjata. Dan ilmu bermain senjata yang paling disegani adalah ilmu pedang Partai persilatan yang terkenal dengan pelajaran ilmu pedangnya disebut Kiam-pay. Toa-kiam-pay artinya partai persilatan ilmupedang yang tergolong besar atau kelas satu Ngo-toa-kiam-pay artinya, lima perguruan ilmupedang.

Tokoh tinggi besar yang diagungkan sebagai pemimpin perguruan ilmupedang itu tak lain adalah Thian Go lojin, ketua dari partai Ceng-shia-pay.

Sudah tentu Nyo Hwat kesima. Masakan seorang tokoh besar seperti Thian Go lojin juga menerima undangan yang misterius itu.

Tidak demikian sambutan Pek Ing Ing. Wanita cantik itu diam2 terkejut setengah mati.

Thian Go lojin seorang tokoh yang paling membenci kejahatan. Dia berwatak berangasan dan keras. Thian Go lojin dengan Pek Ing Ing, iba-rat air dengan api. Yang satu membenci kejahatan, yang satu berlumuran kejahatan. Apalagi Pek  Ing Ing dulu pernah melukai dua orang murid ang-katan ketiga dari partai Ceng- shia-pay.

Dalam menghadapi penstiwa itu, walaupun partai Ceng-shia-pay memberi keterangan kepada orang luar bahwa kedua mundnya itu yang salah karena mudah terpikat oleh paras cantik dan Ceng-shia-paypun tak mau mencari Pek Ing Ing untuk membuat perhitungan, tetapi sejak itu Ceng-shia-pay tak mau berhubungan lagi dengan Pek Ing Ing. Dengan begitu jelas kedua belah fihak masih mendendam permusuhan.

Waktu datang memenuhi undangan, sebenarnya Pek Ing Ing sudah tahu juga kalau Thian Go lojin juga menerima undangan. Tetapi ia memperhitungkan, menilik kedudukan Thian Go lojin, sebagai tokoh yang termasyhur, tentulah tak mau datang. 

Tetapi ternyata dugaan itu meleset. Apa boleh buat, terpaksa Pek Ing Ing mengiakan tetapi tanpa disadari diapun menyurut.

Begitu Pek Ing Ing mundur selangkah, Thian Go lojin maju selangkah. Melihat itu Pek Ing Ing mundur lagi selangkah. Tetapi Thian Go lojin maju selangkah pula.

Begitulah berulang suatu adegan. Yang satu mundur selangkah, yang satu maju selangkah. Yang seorang mundur, yang seorang maju. Dalam beberapa kejab keduanya sudah mundur sampai tujuh delapan langkah.

Melihat Thian Go lojin tak mau melepaskannya, diam2 Pek Ing Ing terkejut dan gelisah. tetapi dia hanya main mundur saja dan tak sempat memperhatikan keadaan tanah yang diinjaknya. Pada saat dia mundur sampai langkah yang kedelapan, tiba2 tumitnya membentur sesosok benda yang lunak sehingga dia hampir terhuyung ja-tuh.

Untunglah kepandaian siluman cantik itu hebat. Cepat ia menggunakan ujung tumit untuk menyongsongkan tubuhnya melayang ke samping sampai tiga empat meter jauhuya. Dan waktu masih melayang, dia sempat mencuri kesempatan untuk melihat benda yang dibenturnya tadi. Ah, ternyata sesosok tubuh manusia yang menggeletak di lantai.

"Ah, tentulah mayat dari Kera-sakti Lo Pit Hi," pikirnya.

Tiba2 ia terkejut ketika mendengar orang yang disangka mati itu kedengaran merintih pelahan.

Pek Ing Ing memandang dengan seksama. Saat itu baru dia melihat jelas bahwa yang menggeletak di lantai bukan Kera-sakti Lo Pit Hi tetapi Im Som, ketua  partai Thian-sim-kau dari gunung Bu-ih-san.

Jelas saat itu Im Som sedang menderita luka sehingga menggeletak tak dapat berkutik. Dan mayat Lo Pit Hi tadi, entah kemana perginya. Dan si setan pendek yang mukanya bertutup kain hi-tam itu juga tak tampak lagi.

Pek Ing Ing benar2 tak mengerti mengapa seorang tokoh sehebat Im Som, dalam waktu yang singkat saja, sudah mendenta luka berat. Tetapi dia tak sempat memikirkan hal itu lagi. Buru2 ia mengangkat kepala memandang ke arah Thjan Go lojin.

Tampak Thian Go lojin masih memandang-nya dengan berapi-api. Melihat itu siluman cantik yang ternasuk durjana perempuan nomor satu da-lam dunia persilatan, diam2 merasa ngeri juga. 

Sambil berbatuk-batuk, dia berseru, "Apakah anda juga datang keman?"

Dengan nada dingin Thian Go lojin menja-wab, "Siapa yang menjadi tuan rumah? Apakah belum unjuk diri?"

"Kami semua telah dipermainkan orang," seru Nyo Hwat.

Thian Go lojin terus melangkah maju dan ayunkan tangan, banggg sebuah

pintu kayu yang besar dan kokoh, sempal seketika dan papannya berhamburan jatuh. Thian Go lojin memungut sebilah papan lalu disulut dengan api. Seketika lorong serambipun terang.

Pertama-tama, ketua partai Ceng-shia-pay itu memandang ke arah Im Som. Saat itu Im Som sudah merangkak bangun dan berdiri. Wajahnya pucat seperti   kertas. Tanpa berkata apa2 dia terus melangkah keluar.

Saat itu hujan sudah berkurang. Sejenak ber-henti di halaman, Im Som terus melanjutkan lang-kah menerobos hujan.

“Im kaucu, apakah engkau memerlukan ban-tuanku?" teriak Pek Ing Ing, sambil melesat keluar.

Memang cerdik sekali siluman cantik itu. Sebenarnya mana dia begitu baik hati menawarkan tenaganya? Adalah karena hendak menghindar te-kanan Thian Go lojin maka ia menggunakan kesempatan itu untuk ngacir.

Karena hujan masih mencurah, Pek Ing Ing menjadi basah kuyup. Tetapi dia merasa lega juga karena melihat Thian Go Iojin tak mengejarnya. Dia tak lari terus melainkan melesat ke samping dan bersembunyi di balik segunduk batu besar.

Dari tempat persembunyiannya itu Pek Ing Ing dapat melihat keadaan dalam istana itu. Sedangkan orang-orang yang masuk keluar Istana tidak dapat melihatnya.

Tetapi dia tak dapat terhindar dan curahan hujan sehingga dalam beberapa kejab saja pakaiannya basah kuyup. Terpaksa dia menyalurkan hawa cin-gi (murni) untuk menahan dingin.

Setelah Pek Ing Ing pergi, Thian Go lojin beralih pertanyaan kepada ketua Hoa- san-pay, "Saudara Nyo, sudah berapa lama engkau datang di tempat ini?"

Golok-emas-sakti Nyo Hwat menjawab, "Akulah yang pertama sendiri. 

Thian Go lojin menengadah memandang ke atas. Istana itu mempunyai tangga- lingkar yang menghubungkan ke tingkat dua. Walaupun obor kayu itu masih menyala terang tetapi sinarnya tak dapat mencapai ke wuwungan yang begitu tinggi dan gelap.

Beberapa saat kemudian tampak ketua partai Ceng-shia-pay itu kerutkan kening.

"Apakah didalam istana ini terdapat peng-huninya?” tanyanya sesaat kemudian.

"Waktu aku datang, telah kuperiksa dengan teliti tetapi dimana-mana hanya kawanan kelelawar yang muncul. Tak ada seorang manusiapun juga. Thian Go lojin, menurut dugaanmu siapakah yang mengirim surat undangan kepada kita itu?"

Thian Go lojin gelengkan kepala.

"Kurasa," kata Nyo Hwat menjawab pertanyaannya sendiri. "tentu ada orang yang sengaja hendak mempermainkan kita ...'."

Tiba2 dia hentikan kata-katanya. Seketika dia teringat akan Lui Toa Gui yang sudah mati. Teringat akan Lo Pit Hi yang menderita luka dan teringat pula akan Pek Ing Ing yang ngacir pergi tanpa alasan. Terakhir ia teringat akan setan pendek yang mukanya ditutup kain hitam. Ah, teringat akan hal itu semua, ia malu sendiri mengucapkan kata2 tadi. Adakah kesemuanya itu hanya suatu olok- olok saja? Begitukah cara orang berolok-olok?
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Kuda Besi (Kuda Hitam dari Istana Biru) Jilid 01"

Post a Comment

close