Kuda Besi (Kuda Hitam dari Istana Biru) Jilid 06

Mode Malam
jilid 6

Saat itu Wi Kiam Liong sedang duduk dibawah sebatang pohon. Ia mengangkat 

muka dan seperti menghitung-hitung daun pohon yang lebat. Wajahnya tampak sarat

Beberapa saat kemudian baru dia menjawab, "Pada waktu itu ketika menjelang senja "

Ia lalu menceritakan peristiwa yang dialaminya ketika itu.

Saat itu senja hari. Kabut malam berwarna merah. Hawa udara panas sekali, pertanda bahwa hujan lebat segera akan turun. Waktu itu Wi Kiam Liong yang masih, muda, tengah berjalan mondar mandir di ruang tulis. Kadang dia berhenti memandang keluar jendela.

Sedang saat itu Wi Ki Hu sedang duduk memandang tak berkesiap pada pedang kim-liong-kiam yang terletak di meja.

Beberapa saat Wi Kiam Liong hendak membuka suara tetapi setiap kali tak jadi. Cuaca langit merah membara. Guntur dan guruh berdentam-dentam sahut menyahut. Tak lama kemudian hujanpun turun seperti dicurahkan dari langit.

Wi Kiam Liong melangkah. ke serambi. Tiba2 dia mendengar suara orang bertengkar. Seorang wanita dengan nada yang melengking tajam tengah mendesak pengurus rumahtangga keluarga Wi.

"Bilang terus terang saja, Wi Ki Hu ada atau tidak?" seru wanita itu.

Mendengar Wi Kiam Liong bergegas menuju ke pintu. Dilihatnya seorang gadis berpakaian biru, basah kuyup ditimpah hujan. Rambutnya terurai kebahu dan sikapnya gugup sekali. Tetapi kecantikannya sangat menonjol sekali.

Buru2 Wi Kiam Liong menyambut, "Apakah nona ini "

Nona itu mendorong pelayan dan menjawab pertanyaan Wi Kiam Long, "Aku datang kemari hendak mencari Wi Ki Hu."

"Apakah nona ”

"Aku Tong Wan Giok," seru nona itu dengan sengit.

Wi Kiam Liong terperanjat, "O, kiranya nona Toan, silakan masuk, biarlah kuberitahukan suko “

"Tak perlu," seru Tong Wan Giok, "aku ada urusan penting dengan dia. Antarkan saja aku kepadanya." 

Pada saat Wi Kiam Liong sedang bersangsi tiba2 dari arah belakang terdengar suara Wi Ki Hu berseru, "Wan Giok "

Tentulah karena mendengar suara Tong Wan Giok maka Wi Ki Hu terus keluar. Wajahnya tampak tak sedap dipandang.

Tong Wan Giok cepat maju menyongsong ke muka Wi Ki Hu lalu berseru dengan keras, "Ki Hu, dimana dia? Engkau tahu tidak?"

Wajah Wi Ki Hu makin pucat. Saat itu cuaca makin gelap sehingga wajah Wi Ki Hu makin tampak jelas. Dia berusaha untuk mencerahkan wajah dengan seri tawa tetapi malah makin jelek dilihat.

" Siapa? Siapa yang engkau tanyakan? " sahutnya.

"Ih, Ki Hu, engkau ini bagaimana? Engkau tentu tahu siapa yang kutanyakan itu. Dia pergi dengan engkau. Dimana dia sekarang? "

Wi Kiam Liong yang berada disamping, berdebar-debar. Dia tahu siapa yang dicari Tong Wan Giok itu. Ya, tentulah Can Jit Cui..

Wi Ki Hu geleng kepala, " Engkau maksudkan sam-te? Aku, sudah berpisah

dengan dia hampir 10- an hari."

Tong Wan Giok tertegun,"Lalu bagaimana ini? Ya, bagaimana ini?" Wajahnya makin gelisah.

"Wan Giok, dengarkan," kata Wi Ki Hu, "sam-te itu romantis sekali. Siapa tahu dia sudah punya teman baru lagi. Tak perlu engkau memikirkan dia."

Tiba2 Tong Wan Giok tercengang. Beberapa saat kemudian baru dia mengangkat muka. Air yang berada di rambutnya mengucur ke mukanya.

"Bagaimana aku tak memikirkannya? Engkau tahu, saat ini aku tak dapat tidak memikirkan dia," katanya.

"Wan Giok, apa maksud perkataanmu?" seru Wi Ki Hu.

"Engkau tentu tidak mengerti. Soal itu hanya aku dan dia berdua yang tahu. Pokoknya, apakah engkau dapat membantu aku mencarikannya?"

Pelahan-lahan Wi Ki Hu berbalik tubuhi lagi, menjawab, “Aku tak dapat." 

"Ki Hu, kutahu engkau iri kepadanya,"seru Tong Wan Giok. "Ya, memang ," sahut Wi Ki Hu dengan nada sarat.

"Tetapi kalian kan bersahabat baik tersiar kabar di dunia persitatan. bahwa ada orang yang menemukan jenasahnya dan mengatakan kalau dia sudah meninggal," suara Tong Wan Giok makin parau dan airmatanyapun bercucuran.

Wi Ki Hu tak mau bicara. Dia hanya tegak seperti patung.

Kata Tong Wan Giok pula, "Kalau dia sampai meninggal, aku . . juga tak ingin hidup lagi."

"Apakah engkau mencintainya sedemikian besar?" kata Wi Ki Hu dengan pelahan.

Tong Wan Giok mengangguk. Karena berdi ri membelakangi maka Wi Ki Hu seharusnya tak melihat kalau Tong Wan Giok mengangguk itu. Tetapi rupanya dia sudah dapat menduga apa yang dilakukan Tong Wan Giok. Dia tertawa pudar, "Tetapi cintanya kepadamu, tuk mungkin sebesar perasaan hatiku kepadamu."

Mendengar itu bukan kepalang kejut Wi Kiam Liong. Cepat dia mendapat kesan hahwa Wi Ki Hu dan Can Jit Cui itu sama2 mencintai si jelita Wan Giok. Oleh karena itu maka Wi Ki Hu lalu membunuh Can Jit Cui. T'etapi pada lain saat dia cepat menghapus dugaan seperti itu. Dia tak percaya, suko yang dihormatinya itu akan berbuat semacam itu.

Sebenarnya Wi Kiam Liong merasa kalau dia tak layak hadir di tempat itu. Tetapi karena ingin tahu, maka diapun tak mau bergerak dari tempat dia berdiri. Dan kedua orang itu, Tong Wan Giok maupun Wi Ki Hu, karena sedang dilanda perasaan hati masing2, sampai tak sempat memikirkan bahwa. Wi Kiam Liong berada. disitu.

Hujan masih turun dengan derasnya. Langit gelap pekat. Beberapa saat kemudian baru terdengar- Tong Wan Giok berkata, “Mungkin begitu, tetapi Ki Hu, apakah engkau tak mengerti isi hatiku?"

"Tentu saja aku mengerti," jawab Wi Ki Hu, "dalam hatimu hanya ada dia seorang dan tak ada diriku sama sekali."

"Karena itulah maka engkau tak mau membantu untuk mencarikannya, bukan?" tukas si jelita. 

Wi Ki Hu tertegun lagi sampai beberapa jenak. Hujan dan halilintar mencengkam suasana dalam keseraman. Wi Kiam Liong beringsut untuk bersembunyi di tempat yang gelap.

Beberapa saat kemudian tiba2 Wi Ki Hu berkata, "Dia sudah mati ..."

Diluar dugaan Wi Kiam Liong, Tong Wan Giok tak mengeluarkan reaksi suatu apa. Tetapi pada saat sinar kilat merekah, dia melihat wajah si jelita itu pucat seperti kertas dan berdiri seperti patung.

" Bagaimana dia sampai mati itu? " tiba-tiba ia bertanya dengan tenang. Dengan suara gemetar Wi Ki Hu menyahut, "Aku . . . tidak tahu.."

Tong Wan Giok serentak berputar tubuh dan melesat keluar. Waktu lewat di sampingnya, hampir saja Wi Kiam Liong hendak berseru menghentikannya untuk memberitahukan tentang kema-tian Can Jit Cui. Dia benar2 tak sampai hati melihat keadaan Tong Wan Giok saat itu.

Tetapi pikirannya sadar. Kalau dia sampai melakukan hal itu, tentulah sukonya (Wi Ki Hu) akan marah. Apa boleh buat, terpaksa dia mena-han diri dan membiarkan Tong Wan Giok mener-jang keluar halaman yang masih dilanda hujan le-bat.

Wi Ki Hu seperti orang yang kehilangan semangat, dia pun mengejarnya. Tetapi sampai dimuka pintu dia berhenti. Dia membiarkan dirinya ditimpah hujan lebat

Bercerita sampai disini Wi Kiam Liong menghela napas, "Kalau benar suko bertindak begitu karena mencintai Tong Wan Giak, ah, sungguh tak layak sekali."

Tian Hui Giok tertawa dingin, "Mengapa tak selayaknya? Bukankah karena berhasil membunuh Can Jit Cui, Wi Ki Hu lalu memperisteri nona Tong?"

"Ya. peristiwa itu terjadi dua bulan kemudian, mereka menikah, Karena   keduanya merupakan tokoh persilatan ternama, pernikahan mereka merupakan peristiwa besar yang menggemparkan dunia persilatan. Aku juga hadir. Pada hari perni-kahan itu kulihat suko tidak bergembira. Setiap ada kesempatan dia selalu pesan wanti2 kepadaku agar jangan sampai membocorkan rahasia pembunuhan Can Jit Cui itu kepada siapapun juga."

"Sudah tentu dia merasa sendiri," seru Tian Hui Giok, "Can kongcu, apakah sampai detik ini engkau belum mengerti? Apa yang dikatakan Poa Ceng Cay itu memang benar semua. Tong lihiap menikah dengan manusia yang berhati 

binatang, adalah karena terpaksa saja. Ketahuilah, waktu mereka berdua menikah Tong lihiap sudah " waktu berkata sampai disini, merahlah wajah

Tian Hui Giok. Dia menunduk dan tak lanjutkan kata-katanya.."

Rupanya Kun Hiap masih belum dapat menangkap arti kata2 Tian Hui Giok. Melihat nona itu diam tak melanjutkan kata-katanya, dia segera bertanya, "Sudah bagaimana?"

Sudah tentu wajah Hui Giok makin tersipu merah, "Entahlah."

Kun Hiap terkesiap. Dia berpaling kepada Wi Kiam Liong, "Paman, terus bagaimana. kelanjutannya?”

"Selanjutaya tak terjadi suatu apa," kata Wi Kiam Liong, "setelah menikah  mereka bertamasya ke empat penjuru. Waktu berjumpa dengan aku lagi, engkau sudah lahir dan merupakan bocah yang belajar omong.

"O, kiranya begitu," seru Kun Hiap.

Ternyata tak banyak yang dapat diketahui dari keterangan Wi Kiam Liong kecuali hanya Wi Kiam Liong kenal pada Can Jit Cui tetapi tidak begitu jelas mengetahui siapa sebenarnya Can Jit Cui itu. Dia hanya tahu bahwa Can Jit Cui mati dibunuh Wi Ki Hu dan Tong Wan Giok atau mama Kun Hiap sangat mencintai Can Jit Cui.

Kun Hiap menyimpulkan bahwa hanya mamanya dan Wi Ki Hu yang dapat menerangkan peristiwa itu dengan jelas. Tetapi mereka berdua sudah meloloskan diri entah kemana. Tapi taruh kata dapat menemukan mereka, belum tentu mere-ka mau menerangkan sejujurnya.

"Can kongcu," tiba2 Tian Hui Giok berkata pula," kurasa mamamu tentu paling tahu peristiwa itu. Mengapa engkau tak mau pergi bersama-sama kami?" - sambil berkata dia melirik kearah Tian Hui Yan.

Tadi waktu Gong Gong Tin menuturkan tentang perkenalannya dengan Can Jit Cui, si dara-Hui Yan mengajak Kun Hiap untuk pergi tetapi Kun Hiap tak mau.   Hui Yan ribut mulut dengan Hui Giok dan terus ngambul pergi. Tetapi tak berapa lama datang kembali sehingga dapat mendengar sebagian besar dari. cerita yang dibawakan Gong Gong Tin.

Dan setelah kembali itu, Hui Yan tak pergi lagi. Sejak Wi Kiam Liong bercerita, Hui Yan tak mau mengganggu Kun Hiap tetapipun tak mau menghiraukan ji-ci atau taci nomor dua yakni Tian Hui Giok.

Pada saat Tian Hui Giok melirik pandang kepadanya, serentak Hui Yanpun 

menyemprotnya, "Mengapa engkau memandang aku?"

"Aku bertanya kepadamu. Engkau mau ikut pulang menemui mama atau tidak?" kata Hui Giok.

"Hm," dengus Hui Yan, "engkau menghendaki aku ketemu mama atau tidak?"

Hui Giok kerutkan atis, "Sam-moay, engkau ini bagaimana. Apakah engkau memang bermak-sud ribut mulut dengan aku?"

Hui Yan kerutkan wajahnya menjawab, "Ah, tidak, mana aku berani mengajak bertengkar mulut dengan taci. Aku hanya menimang, kalau engkau hendak mengajak dia bertemu mama, sudah tentu engkau tak menghendaki aku ikut"

Wajah Hui Giok agak berobah, "Sam-moay, apa maksud kata-katamu itu?" "Seharusnya engkau.tahu sendirilah."

Karena tak dapat melawan adu mulut dengan adiknya, Hui Giok lalu berpaling ke arah Kun Hiap, "Can kongcu, dengarkanlah, omongan macam apakah itu?"

Dengan setengah berbisik Kun Hiap berupaya untuk melerai, " Sudahlah nona Tian, tak usah engkau hiraukan dia. Aku sendiripun takut kalau melihatnya dan berusaha untuk menyingkir jauh. "

Karena seperti orang berbisik maka Hui Yan tak mendengar kata2 Kun Hiap itu. Apabila dia sampai mendengar tentulah dia akan. marah sekali. Dia hanya melihat bagaimana intiemnya ketika Kun Hiap berbisik kedekat telinga Hui Giok. Hal itu saja sudah cukup membuat nek (tidak enak ) hatinya.

"Hm," kalian tentu tak suka kalau aku bersama kalian. Tetapi aku memang sengaja akan mengikuti kalian," pikirnya. Kemudian, dia berkata kepada Hui Giok.

“Ya. aku ini memang bisa menimbulkan kebencian orang. Kalau orang tak suka melihat aku, justeru aku malah akan berdiri di mukanya, Ji-ci, bagaimana kalau kita bersama-sama pulang menemui mama?"

Tian Hui Giok menyahut dengan hambar, "Sudah tentu boleh saja, apanya yang tidak boleh?"

Hui Yan tertawa, " Ji-ci, benarkah hatimu berkata begitu?"

Hui Giok mendongkol bukan main tetapi dia berusaha untuk tenangkan diri dan 

menjawab, "Lebih dulu kita pergi ke tempat toaci. Kita kasih tahu toaci kalau cihu sedang mengerjar Poa Ceng Cay. Disana nanti kita juga akan mtnta beberapa ekor kuda kepada toaci agar perjalanan kita pulang lebih enak dan cepat."

Mendengar Hui Giok hendak mengajaknya lebih dulu ke gunung Cin-nia markas ketiga benggolan jahat, diam2 Kun Hiap tak senang dalam hati tetapi dia perlu akan menemui mama Hui Giok. Ya, apa boleh buatlah.

"Nanti ditempat toacimu aku tak dapat tinggal lama2,'' katanya. "Tentu," sahut Hui Giok, "setelah selesai bicara, kita terus pergi."

Sejenak memandang kearah tempat dimana dia dibesarkan, setiap wuwungan rumah dan pohon dari perkampungan keluarga Wi takkan dia lupakan. Tetapi entah bagaimana, pada saai itu, dia merasa seperti asing dengan tempat itu.

Dengan tundukkan kepala dia berjalan melanjutkan perjalanan. Wi Kiam Liong terkejut dan berseru memanggilnya tetapi tak dihiraukan. Wi Kiam Liong menghela napas dan dengan tak bersemangat diapun terpaksa kembali lagi ke perkampungan keluarga Wi.

Demikian ketiga muda mudi itu menempuh perjalanan dengan menggunakan ilmu lari cepat, masing2 mempunyai perasaan sendiri-sendiri..

Kun Hiap bingung gelisah. Hui Yan mendongkol dan Tian Hui Giok ada sesuatu yang dipikirkan Sepanjang jalan mereka tak bicara bahkan ketika hari menjelang senja, mereka tetap tak berhenti.

Adalah si dara Hui Yang berwatak polos dan terus terang, karena melihat cuaca makin gelap, dia lantas berseru," Bagaimana ini? Apakah kita tetap akan melanjutkan perjalanan sampai malam?"

Kun Hiap hendak menjawab mengiakan tetapi baru hendak membuka mulut, dia membungkam lagi. Dia benar2 tak mau bicara dengan si dara centil itu. Sekali sambung omongan, dia kuatir akan menderita olok2 lagi.

'"Sudah tak jauh," jawab Hui Giok, "dua atau tigapuluh li lagi, sebelum tengah malam, kita sudah sampai. Perlu apa kita harus berhenti di tengah jalan?"

"Hm, engkau kira aku takut gelap?” dengus Hui Yan, lalu tancap gas lari ke muka.

Melihat itu Hui Giokpun mempercepat larinya. Kedua taci beradik itu seperti 

sepasang anak panah yang lepas dari busur cepatnya. Yang payah adalah Kun Hiap. Dia tak mampu menyusul lalu berkaok-kaok meneriaki, -"Nona, Tian, berhenti dulu!"

Hui Yan dan Hui Giok serempak berhenti. K.B-6 15

Begitu menyusul Kun Hiap tak berani memandang Hui Yan melainkan bertanya kepada Hui Giok, "Nona Tian, kalian berlari cepat sekali, aku tak mampu mengejar."

“Bagaimana kalau engkau kubawa? " kata Hui Giok.

"Boleh,” kata Kun Hiap. Hui Giok lalu ulurkan tangan, disambut Kun Hiap. Dengan bergandengan tangan keduanya lalu lari.

Melihat adegan itu kecutlah hati Hui Yan.

Wajahnya pucat Dia mengertek gigi. Setelah sesaat tertegun baru dia mengejar.'

Lebih kurang sejam kemudian mereka masuk kedaerah gunung. Dari jauh tampak empat batang api obor yang besar. Tingginya satu tombak. Api. obor itu menerangi segunduk batu besar yang dipahat dengan tiga huruf berbunyi: Sam- sian-soh, atau Lembah Tiga-dewa.

Sebenarnya orang persilatan memberi julukan Cin-nia-sam-shia atau Tiga- benggolan gunung Cin ma kepada tiga tokoh jahat yang bermukim digunung itu. Tetapi mereka menamakan dirinya sendi ri sebagai Cin-nia-sam-sian atau Tiga- dewa gunung Cin~nia. Oleh karena itu tempat tinggal merekapun disebut Sam- sian-koh.

Batu besar itu terletak disebuah tebing gunung. Oleh karena ita walaupun dari jauh, orang

sudah dapat melihatnya.

Walaupun perkampungan keluarga Wi itu tak jauh dari gunung Cin-nia tetapi Kun Hiap belum pernah datang ke gunung itu.

Sambil masih menggandeng tangan Kun Hiap, Hui Giok menuujuk kearah tiga buah huruf pada batu karang itu, " Ketiga huruf itu, dibuat oleh mereka bertiga. Setiap orang satu huruf. Karena cihu-ku yang paling tinggi kepandaiannya maka cobalah engkau lihat, huruf koh yang terakhir itu. tentu berbeda jauh, dengan kedua huruf di mukanya. 

Tebing karang dimana batu itu terletak, luasnya hampir satu li, tetapi permukaan tebing tak dapat dibuat berdiri orang. Dengan begitu, memang sukar sekali   untuk menggurat huruf pada karang itu.

Tiba2 dari bawah karang gunung terdengar suara orang tertawa yang menimbulkan gema sua-ara sehingga lembah seolah bergetar.

Kun Hiap bertiga terkesiap dan hentikan la-rinya. Mereka tak tahu apa yang terjadi di sebelah muka.

"Lihatlah tiba2 Hui Yan melengking.

Menurutkan arah yang ditunjuk si dara, segera Kun Hiap dan Hui Giok melihat dibawah tebing karang itu tampak sesosok tubuh manusia tengah merayap dengan cepat keatas. Sedemikian cepatnya dia sudah merayap keatas sehingga mes-kipun Kun Hiap bertiga tak jauh dari tempat itu, merekapun tak sempat melihat bagaimana roman muka orang itu.

Cepat sekali orang itu sudah mencapai pada karang yang bertuliskan Sam-sian- koh. Dia melentangkan tubuh untuk menempel rapat pada karang dan lalu ulurkan tangan untuk menghapus huruf sam (tiga). Karena setiap guratannya lebih kurang dua meter panjangnya maka orang itupun harus beringsut kian kemari untuk menghapus.

Kini huruf sam telah berobah menjadi hu-ruf ji ( dua ). Karena huruf sam dalam tulisan Tionghoa itu terdiri dari tiga buah garis yang melintang berlapis tiga.

Kalau garis yang diatas dihapus maka hanya tinggal dua buah garis itu dan menjadi huruf ji.

Kun Hiap dan kedua gadis saudara Tian, tahu jelas bahwa orang itu menggunakan apa yang disebut Bik-hou-ih-jiang atau Cicak-berpindah-di tembok, sebuah ilmu ginkang atau Meringankan tubuh yang hebat.

Karena garis yang satunya dihapus maka huruf Sam-sian-koh atau ( Lembah Tiga Dewa) kini menjadi Ji-sian-koh atau Lembah Dua Dewa.

“Celaka," Hui Yan berseru tertahan, "cihu akan didatangi musuh yang tangguh sekali! "

Sebelum Tian Hui Giok menjawab, kembali muncul sesosok tubuh lain yang dengan gunakan ilmu Bik-hou-ih-jiang juga merayap lurus naik keatas batu karang. "Toaci," tiba2 Hui Giok dan Hui Yan serempak berteriak dan terus lari menuju kepada sosok tubuh yang baru muncul itu. Sebenarnya Kun Hiap tak 

mau ikut campur dengan urusan disitu tetapi karena dia ingin menemui saukoh ( mama Hui Yan ), apa boleh buat terpaksa ia menyusul kedua gadis itu.

Setelah lari setengah li, dia melihat orang yang baru muncul itu ternyata seorang wanita. Hal itu kentara dari rambutnya yang terurai panjang. Saat itu wanita tersebut sudah mencapai diatas puncak batu karang.

Puncak karang itu paling2 hanya satu meter lebarnya Wantta itu tadi tegak berhadapan dengan orang yang menghapus tulisan sam itu. Kedua-nya melangsungkan pertempuran sengit. Berulang kali tubuh mereka seperti tak menginjak permukaan puncak karang. Tetapi beberapa kejab lagi, merekapun kembali berada di atas karang itu. Hal itu menandakan bahwa kepandaian kedua orang itu memang bukan olah2 hebatnya.

Ketika Kun Hiap tiba dibawah karang, dilihatnya Hui Giok dan Hui Yan sedang bicara dengan seorang lelaki yang berwajah segitiga. Disamping itu sesosok tubuh lelaki gemuk menggeletak mati di tanah. Mengerikan sekali keadaannya, sebelah tangannya hancur mumur.

Tfba2 dari ataa karang terdengar suara wanita melengking, "Hai, mengapa engkau tak mau balas menyerang?"

Terdengar penyahutan yang bernada aneh, "Aku disebut Ing-put-hoan-jiu atau Selamanya-tak-pernah-membalas. Apakah engkau tak tahu?

“Kalau benar selamanya tak pernah membalas, mengapa engkau tak diam saja tetapi selalu menghindar?"

Orang itu tertawa, "Benda ditanganmu itu khusus untuk menghancurkan tenaga- murni orang. Kalau aku sampai terkena pukulanmu, lha tenaga-ku Sam-yan-sian- cin-gi bukankah bakal menjadi seperti Sam-sian-koh itu, hilang satu manjadi Ji- sian-koh. Pun Sam-yang~cin-gi bakal menjadi Ji-yang-cin-gi nanti?"

Setelah mendengar pembicaraan mereka tahulah Kun Hiap bahwa orang yang bertempur melawan taci sulung dari Hui Giok dan Hui Yan itu adalah Koan Sam Yang, kepala pulau Moh-hun-to di laut Selatan. Dia teringat ketika ia bersama Hui Yan tempo hari, diapun pernah bertemu dengan tokoh dari pulau Moh-hun- to itu. Dan saat itu Hui Yan tak berani berkutik lagi.

Bahwa kalau sekarang toaci dari Hui Yan berani menempur Koan Sam Yan, jelas menandakan bahwa kepandaian dari toaci Hui Yan itu jauh lebih hebat dari kedua adiknya.

Kun Hiap memandang keatas,untuk memperhatikan pertempuran mereka. 

Tampak kedua tangan toaci dari Hui Yan itu bergerak laksana petir menyambar. Dan samar2 gerakan tangannya memancarkan suatu sinar kuning gelap.

Hebatnya bukan kepalang.

Tetapi Koan Sam Yang si Selamanya-tak-pernah-membalas itu tetap berkelebatan menghindar dan tak mau balas menyerang.

Pikir Kun Hiap. Kalau mereka bertempur ca ra begitu, kapan akan berakhir?

Tiba2 Koan Sam Yang tertawa," Ah, tempat ini terlalu sempit, mari kita turun saja kalau bertempur!"

Habis berkata dia terus melayang turun. Batu karang itu tingginya tak kurang dari lima sampai enam puluh tombak. Sungguh mengejutkan sekali kalau ada orang senekad itu berani loncat turun.

Koan Sam Yang melayang turun dengan lurus kira2 kurang setombak dari tanah, barulah dia tampak mengibaskan lengan baju ke tanah, bum . . . terdengar letupan keras, debu dan pasir berhamburan ke udara dan di tanah pun bertambah sebuah lubang.

Bilakah Koan Sam Yang tegak di tanah, tiada orang yang tahu.. Tahu2 terdengar dia tertawa gelak2 dan melangkah keluar dari kepulan debu yang tebal itu.

Hui Giok, Hui Yan dan laki2 bermuka segitiga, serempak mundur dengan cepat sekali tetapi sekali Koan Sam Yang berkelebat, tahu2 dia sudah menerkam lelaki berwajah segitiga itu.

"Hai, Koan tocu, bukankah engkau bergelar Selamanya-tak-pernah-membalas? Mengapa engkau menerkam sahabat itu?,'' teriak Kun Hiap.

Koan Sam Yang berpaling kepada Kun Hiap, sahutnya, "Hai, engkau? Benar, aku memang bergelar Selamanya-tak-pernah-membalas. Tetapi bukan Selamanya- tak-pernah-turun-tangan. Kalan kunyuk ini sampai menyerang aku, aku memang takkan membalas, Tetapi begitu melihat aku, dia terus lari, itulah sebabnya maka kuringkusnya. Mengertikah engkau?"

Kun Hiap tahu bahwa perangai Koan Sam Yang itu memang nyentrik seperti Hui Yan. Dia paling gemar berdebat mulut. Pikir Kun Hiap, lebih baik dia tik perlu melayaninya saja.

Saat itu Hui Giokpun tiba disamping Kun Hiap, katanya berbisik, " Lekas mundur, biarlah toaci-ku yang menghadapinya. " 

Tepat pada saat itu juga setiap angin berberhembus dua seorang wanita telah muncul di hadapan Koan Sam Yang.

Ketika memandang wanita itu, bercekatlah hati Kun Hiap. Hui Yan dan Hui Giok, cantik bagai bunga mekar dipagi hari Dahlia dan ma-war, masing2 mempunyai kecantikan sendiri sendiri.

Tetapi toaci atau kakak sulung dari Hui Yan dan Hui Giok itu, benar2 tak patut kalau menjadi saudara dari Hui Yan atau Hui Giok. Dia memiliki kening yang menonjol, hidung lebar, mulut besar dan potongan mukanya seperti muka kuda. Alis tebal tetapi matanya kecil. Sungguh seorang wanita yang jelek sekali.

Kedua tangan wanita itu memegang semacam senjata. aneh. Tampaknya seperti separoh dari belahan bola. Disebelah atasnya penuh diberi ujung tajam yang panjangnya hanya satu dim, mirip duri. Warnanya kuning emas. Entah senjata apa namanya itu.

Selekas berdiri tegak dihadapannya, Koan Sam Yang sudah menyambut dengan tertawa sinis, "Sekarang terimalah sebuah seranganku! " – Cepat sekali dia sudah menerkam dada wanita itu.

Nyonya Tian tiba2 telentangkan tubuh kebelakang hingga tubuhnya sampai terbaring di tanah. Sudah tentu terkaman Koan Sam Yang hanya menemui angin kosong. Tian toa-siocia (gadis tertua dari keluarga Tian) menendang dan menyurut mundur seraya berseru mengejek, " Bagus, aka takkan membalas!"

Jelas ucapan itu ditujukan kepada Koan Sam Yang. Dia bergelar Selamanya-tak- pernah-membalas, tetapi nyatanya sekarang dia melakukan serangan.

Koan Sam Yang mundur dan saat itu Tian toasiociapun melenting bangun lalu menerjang lawannya. Pertempuran sengit berlangsung lagi.

Melihat itu Kun Hiap menjadi sibuk, serunya kepada Hui Giok. " Nona Tian, ilmu kepandaian toaci-mu ternyata lebih unggul dari Koan Sam Yang."

" Bukan begitu, " jawab Hui Giok, “adalah karena toaci menggunakan senjata Kim-wi-tho yang khusus untuk menghancurkan tenaga-dalam orang maka Koan Sam Yang jeri juga sehingga kalah angin."

Tergerak hati Kun Hiap. Dia teringat entah kapan ayah dan mamanya pernah menceritakan tentang senjata Kim-wi-tho itu. Karena ia lupa maka diapun tak tahu dari mana dan bagaimana asal usul senjata itu.

Ketika memperhatikan kedua tangan Tian toa-siocia, ternyata seperti 

memancarkan sinar pelangi kuning. Karena cepatnya dia bergerak maka diapun ( Kun Hiap) sampai tak dapat melihat bagaimana bentuk senjata yang disebut Kim wi-tho itu.

Keduanya bertempur seru sekali. Koan SamYang berkeliaran kian kemari dengan amat cepat sekali. Setiap kali tampaknya seperti hampir termakan senjata Tian toa-siocia, tetapi setiap kaii tentu dapat terhindar dari bahaya.

Setelah menyaksikan sampai beberapa saat, berkatalah Kun Hiap kepada Hui Giok, "Nona Tian, rasanya meskipun bertempur sampai sehari suntuk, mereka akan tetap begitu saja. Apakah kita ...”

Belum sempat Kun Hiap menyelesaikan kata-katanya, tiba2 Hui Yan sudah berteriak, "Ji-ci, mengapa kita berdiri disini berpeluk tangan saja?"

Rupanya Hui Giok tersadar, "Ya benar, wa-laupun kita tak dapat mengalahkannya agar lebih mendekat kepada toa-suci agar toa-suci dapat menghantamnya."

Kedua taci-beradik itu serempak melesat kemuka. Kun Hiap tertegun. Saat itu ketiga taci-beradik sudah mengepung Koan Sam Yang. Mereka berempat bergerak cepat sekali sehingga sukar dikenali lagi yang mana Hui Giok, yang mana Hui Yan.

Diam2 Kun Hiap mengeluh. Kalau dia melanjutkan perjalanan sendiri, dia kuatir Hui Giok akan menyesalinya karena tak mau menunggu dan sama2 pulang menemui mamanya.

Pada saat dia masih ragu, terdengar berulang kali Koan Sam Yang berteriak- teriak, "Ho, pendekar2 cewek keluarga Tian sungguh lihay!"

Ternyata walaupun Koan Sam Yang masih berlincahan dengan tangkas tetapi pelahan-lahan dia didesak Hui Giok dan Hui Yan semakin rapat pada Tian toa- siocia. Sungguh berbahaya sekali.

Kun Hiap tahu bahwa dengan mengandalkan ilmu tenaga-dalam Sam-yang-cin- gi, sekali Koan Sam Yang mau balas menyerang, tentulah ketiga kakak beradik Tian itu akan kalah. Tetapi selama ini, tampaknya Koan Sam Yang memang selalu menjaga gelarnya sebagai Selamanya-tak-pernah-membalas. Maka meskipun terancam bahaya dia tetap tak mau membalas menyerang.

Sebenarnya Kun Hiap tak sabar lagi melihat jalannya pertempuran itu. Tetapi dia sempat, memperhatikan bagaimana dalam keadaan seperti lolos dari lubang jarum, beberapa kali Koan Sam Yang berhasil menghindari dari senjata kim-wi- 

thau Tian toasiocia.

Diam2 Kun Hiap menyadari bagaimana jauh. terpautnya kepandaiannya dengan keempat orang itu. Dan setelah rumahtangganya mengalami perobahan, kelak dia tentu harus berkelana. Pertempuran luar biasa seperti yang disaksikan saat itu benar2 suatu pertempuran yang jarang terjadi di dunia persilatan. Belum tentu kelak dia mendapat kesempatan untuk menikmati pertempuran semacam itu lagi.

Memikir begitu,. diapun batalkan niatnya untuk pergi dan makin menaruh perhatian untuk mengikuti jalannya pertempuran.

Memang ilmu kepandaian Kun Hiap tidak berapa tinggi tetapi otaknya cerdas. Cepat sekali ia dapat mengetahui bahwa jurus2 yang dilancarkan kedua taci- beradik Tian itu hanya jurus kosong. Pukulannya tak disentuhkan tubuh Koan Sam Yang melainkan hanya meminjam tenaga pukulan untuk mendesak agar Koan Sam Yang jangan sampai dapat menghindar dan melawan.

Sudah tentu hal itu membuat Koan Sam Yang menderita tekanan. Daa merasa tak leluasa sekali untuk bergerak sebaliknya Hui Giok dan Hui Yan dengan santainya menyerang.

Kun Hiap mendapat kesan bahwa kekalahan Koan Sam Yang hanyalah soal waktu saja. Dari gerakan keempat orang yang bertempur itu serasa Kun Hiap mengerti-tak-mengerti maka perhatiannyapun, makin tertumpah.

Sekonyong-konyong tampak Hui Yan melesat ke samping, kedua jari telunjuk dan tengah sebelah kanan menusuk kedua mata Koan Sam Yang.

Koan Sam Yang bertubuh besar dan Hui Yan jauh lebih pendek. Oleh karena itu waktu melancarkan tusukan kearah mata itu, Hui Yan harus melonjak keatas.

Tetapi tak terduga-duga, Koan Sam Yang malah mengendap kebawah dengan begitu tusukan jari Hui Yan hanya lewat di ataa kepala tetapi tidak sampai mengenai matanya. Apabila Koan Sam Yang mau, dengan mudah dia dapat menghancurkan Hui Yan yang saat itu sedang terbuka pertahanannya karena lengannya tengah di julurkan ke atas.

Hui Yan menyadari bahaya itu. Bahkan Kun Hiap yang menyaksikan itu tanpa disadari telah berteriak memberi peringatan, " Lekas hantam ke bawah ...!"

Hui Yan julurkan kelima jarinya untuk di tamparkan kebatok kepala Koan Sam Yang. Tetapi tepat pada saat itu, Tian toa-siociapun menerkam dada Koan Sam Yang seraya berseru kepada adiknya, "Sam-moay, tarik tanganmu, jangan sekali-kali memukulnya." 

Ah, benar. Seketika Kun Hiap seperti disadarkan. Gelar Koan Sam Yang adaiah Selamanya-tak-pernah-membalas. itu disebabkan karena tenaga Sam-yang-cin-gi yang dimilikinya dapat meng-hancurkan tulang dan uratnadi tangan lawan yang memukulnya.

Memang tadi Koan Sam Yangpun hanya mengendap kebawah sedikit dan seolah- membiarkan batok kepalanya dihantam Hui Yan. Ternyata hal itu memang disengaja. Dia memang hendak pasang siasat.

Ubun-ubun kepala merupakan bagian yang fatal dari manusia. Setiap jago silat tentu takkan membiarkan batok kepalanya dihantam lawan. Hat itu memang dijadikan alasan mengapa Koan Sam Yang yakin tentu dapat menyiasati |si dara, Hui Yan tentu masuk perangkap.

"Sam-siocia, jangan!" cepat sekali Kun Hiap pun berteriak.

Rupanya seruan tacinya yang tertua dan Kun Hiap itu dapat menyadarkan Hui Yan. Dara itu cepat menarik. Tetapi tiba2 Hui Gioklah yang terangsang. Entah bagaimana tiba2 dia kibaskan kedua lengan bajunya seperti orang yang bernafsu hendak menerjang ke muka. tetapi karena sangat bernafsunya, ujung lengan bajunya telah menyampok siku lengan Hui Yan dan kebetulan mengenai jalan darah Jia-cek-hiat.

Saat itu sebenarnya Hui Yan sudah hendak menarik pulang tangannya yang hendak menghantam batok kepala Koan Sam Yang. Tetapi karena Jalandarah Jia-cek-hwatnya tertampar ujung lengan baju Hui Giok, tenaga-murniyapun kesumbat dan plak mau tak mau karena tak kuasa menarik lagi,

tangannyapun menampar batok kepala Koan Sam Yang, plak .....

Koan Sam Yang tertawa gelak2 lalu berdiri tegak. Peristiwa itu terjadi dalam sekejab mata. Terdengar Hui Yan melengking aneh, tubuhnya melayang seperti layang2 putus tali ....

Melihat itu Hui Giok loncat ke udara untuk menyambuti tubuh adiknya, "Sam- moay, engkau kenapa? Sam-moay, engkau kanapa?" -- berulang kali dia bertanya dengan nada yang gugup.

Kun Hiap tertegun. Pikirnya, dilihatnya tadi ujung lengan baju Hui Giok telah menyerempet lengan Hui Yan. Apakah karena itu maka Hui Yan terdorong sehingga terlanjur menabok kepala Koan Sam Yang? Tetapi mungkin Hui Giok tak sengaja berbuat begitu. Dan karena melihat adiknya terlempar, dia tentu gugup. 

Saat itu -Hui Giok membopong tubuh Hui Yan melayang turun ke tanah. Tampak wajah Hui Yan pucat seperti kertas, matanya memejam. Jelas dara itu tentu menderita luka-dalam yang parah.

Sambil gentak-gentakkan kaki ke tanah, Hui Giok berseru menyesali, Sam-moay, toaci kan sudah memperingatkan, jangan turun tangan. mengapa engkau tetap menghantamnya? Sekarang engkau terkena tenaga Sam-yang-cin-ginya, lalu bagaimana?"

Merdengar itu, Kun Hiap terkejut. Dari kata-katanya, seolah Hui Giok tak merasa bahwa tindakan Hui Yan sampai menampar kepala Koan Sam Yang itu, disebahkan karena lengannya tertampar oleh ujung lengannya (Hui Giok).

Terdengar Hui Yan berkata dengan pelahan dan terputus-putus, "Jici .... aku ....

sendi-ri juga tak tahu apa sebab .... secara mendadak tak dapat menarik

tanganku “

"Toaci, sam-moay terluka!" tanpa mengacuhkan keterangan.Hui Yan, Hui Giok berseru memberitahu kepada tacinya yang pertama.

Kun Hiap baru tahu kalau Hui Yan sendiri juga tak tahu sebabnya mengapa dia sampai tak dapat mengendalikan pukulannya. Mungkin saja karena pada saat itu sedang tegang, Hui Yan sampai tak sempat memperhatikan kalau lengannya tersampok ujung lengan baju Hui Giok.

Saat itu Tian toa-siocia berulang-ulang berteriak aneh, rambutnya terurai dan tubuhnya bergerak seperti terbang untuk menerjang dan menye-rang bertubi- tubi kepada Koan Sam Yang.

Tetapi tokoh aneh itu tetap tertawa gelak2, "Nona Tian, lebih baik engkau serahkan saja kuda besi kecil itu. perlu apa engkau simpan?'

“Bangsat tua," teriak Tian toa-siocia sengit, “kalau kusimpan berguna atau tidak untukku, peduli apa engkau? Engkau telah melukai adikku, mana aku mau membiarkan engkau pergi?"

Masih Koan Sam Yang tertawa terus, " kalau engkau tak mau membiarkan aku, mampu apa engkau berbuat kepadaku?"

Saat itu dia hanya menghadapi Tian toa-sio-cia seorang. Sudah tentu ringan sekali. itulah sebabnya maka. dia masih mempunyai luang untuk beraksi sambil geleng2kan kepala."

Tiba2 Hui Giok berteriak, "Toaci, jangan menempurnya lagi! Harap lihat kemari, 

sam-moay . . . berbahaya ...a . "

Dalam berkata-kata itu biji matanya berli-nang airmata. Memang layak kalau seorang taci bersedih hati melihat keadaan adiknya menderita luka yang sedemikian berbahaya itu.

Kun Hiap terkejut. Diam2 dia malu dalam hati.. Tadi dia dengan mata kepala sendiri ikut menyaksikan peristiwa itu tetapi ternyata dia tak mampu mengetahui jelas. Dia mendapat kesan bahwa Hui Giok memang sengaja hendak mencelakai adiknya tetapi melihat keadaan Hui Giok yang begitu gugup, dia menganggap bahwa tentulah Hui Giok juga tak tahu sendiri apa yang dilakukannya tadi.

Kemungkinan hanya secara kebetulan saja.

Memikir sampai disitu diam2 Kun Hiap malu hati karena ia telah menduga yang tidak baik kepada Hui Giok

Mendengar Hui Giok berulang-ulang meneriakinya, Tian toa-siocia juga gugup, serunya, "Ji-moay, sam-moay terkena getaran Sam-yang-cin-gi, aku juga tak dapat menyembuhkan. Lekas saja engkau tutuk jalandarah Leng-tay-hiat dan Hoa- kay-hiatnya. Dalam tiga hari ini lekas engkau bawa ke tempat mama, biar mama yang menolongnya. Sekarang ini, biar bagaimana juga, aku harus menempur bangsat tua ini!"

Koan Sam Yang tertawa terbahak-bahak, "Benar, mamamu dapat menolongnya tetapi harus jangan sampai lewat tiga hari ini. Kalau sampai lebih dari tiga hari, siapapun tak mungkin mampu menolongnya, Lekas pergilah!"

Hui Giok lalu menutuk kedua jalandarah di punggung adiknya. Setelah itu dipanggul dan mengajak Kun Hiap, "Mari kita berangkat!"

Walaupun Kun Hiap segan dekat dengan Hui Yan tetapi pada saat itu melihat wajah si dara pucat seperti kertas dan matanya memejam, mau tak mau dia iba juga.

"Tetapi nona Tian, apakah dalam tiga hari kita bisa mencapai tempat itu? " tanyanya dengan nada kuatir.

Sambil melesat kemuka, Hui Giok menjawab, "Kalau kami kerahkan seluruh tenaga, pasti akan keburu."

Hui Giok bersuit panjang. Lima ekor kuda tegar bulu putih seperti salju muncul dan lari menghampiri.

"Can kongcu, lekas naik kuda," seru Hui Giok yang terus melayang keatas seekor 

kuda, Kun Hiap terpaksa mengiknti.

Beberapa kuda putih sama jenisnya dengan kuda putih yaiig digunakan Hui Yan ketika menyamar menjadi lelaki dan menculik Kun Hiap ke tempat kediaman Poa Ceng Cay. Ketiga beng-golan gunung Cin-nia memang memelihara kuda yang bagus-bagus.

Begitu mencemplak, kuda putihpun segera membawa Kun Hiap terbang.. Waktu lari beberapa tombak jauhnya, terdengarlah suara Koan Sam Yang berseru kepadanya, "Hai, budak she Can, dahulu aku pernah berhutang budi kepada bapamu, sampai sekarang belum dapat kubalas. Bebe-rapa tahun ini bapamu tak kelihatan batang hi-dungnya. Kemungkman dia sudah menjadi setan hidung belang, Budinya itu, kapan saja engkau hendak menagih kepadamu, asal engkau bilang, tentu akan, kubayar!"

Pada saat Koan Sam Yang mengucapkan kata2 yang terakhir, kuda Kun Hiappun sudah setengah li jauhnya. Tetapi Kun Hiap masih dapat mendengar.

Tiba2 tergeraklah hati Kun Hiap. Yang dimaksud Koan Sam Yang dengan 'bapamu' itu tentulah Can Jit Cui. Dengan begitu Koan Sam Yang tentu tahu banyak tentang Can Jit Cui.

Tetapi saat itu Kun Hiap sudah terlanjur dibawa lari oleh kuda putih sehingga tak mungkin lagi dia kembali untuk meminta keterangan kepada Koan Sam Yang.

Apa boleh buat terpaksa dia lanjutkan perjalanan dengan catatan, kelak kalau ada kesempatan terhu lagi dia pasti akan bertanya.

Tiba2 dilihatnya kuda putih yang berada di depan memperlambat larinya. Cepat dia menyusul.

"Tuh! dengar tidak tadi," seru Hui Giok, "Koan Sam Yang telah berhutang budi kepada  ayahmu Can Jit Cui!"

"Nona Tian, engkau . .. . sudah memastikan, kalau aku ini anak dari Can Jit

Cui?"

"Tolol, setiap orang sudah tahu engkau ini puteranya siapa, hanya engkau sendiri yang tak mau mengakui," seru Hui Giok.

Kun Hiap menghela napas, "Nona Tian, a ku bukan tak mengakui. Cobalah,

engkau pikir. Duapuluh tahun lamanya aku dibesarkan, mendadak orang yang kuanggap sebagai ayahku itu tiba2 saja berobah menjadi musuh yang membunuh ayahku. Sedang ayahku itti belum pernah ku-lihat dan selamanya pun takkan dapat bertemu. Aku harus bertanya kepada setiap orang untuk 

mengenal ayahku itu. Cobalah engkau pikir, apakah aku disuruh begitu saja mengakuinya sebagai ayah kandungku?"

Hui Giok tertawa masam, "Walaupun engkau tak mau mengakui, pun percuma saja. Nanti setelah bertemu dengan mamaku, beliau pasti tahu banyak sekali tentang diri ayahmu. Ai, kalau Koan Sam Yang tidak mengganggu toaci-ku, kemungkinan saja toaci juga tahu tentang Can Jit Cui."

"Mengapa Koan Sam Yang harus mencari perkara kepada toaci-mu?" tanya Kun Hiap.

"Bukankah engkau sudah mendengar sendiri kalau dia hendak meminta sebuah kuda besi kepada toaci? Entah apa yang dimaksud dengan kuda besi itu.

Memang di dunia persilatan banyak sekali peristiwa yang aneh."

"Aku tahu," seru Kun Hiap, "kuda besi itu adalah semacam mainan kuda yang terbuat dari pada besi. Adalah karena benda itu maka Koan Sam Yang sampai mengundang tokoh2 persilatan untuk datang di Istana Tua itu - . - . "

Kun Hiap secara singkat lalu menuturkan peristiwa yang dialaminya di Istana Tua. Bahkan diapun mengatakan kalau dia sendiri juga mendapatkan sebuah kuda besi. "'

"Coba kulihatnya," seru Hui Giok.

Kun Hiap segera mengambil benda itu dari dalam bajunya. Memang tampaknya tak ada yang luar biasa pada kuda besi itu, kecuali yang hitam mengkilap.

Tetapi ketika Hui Giok memain-mainkan benda itu di tangannya, tampaknya dia suka sekali, "Can kongcu, bagaimana kalau engkau berikan mainan ini kepadaku?"

"Boleh saja," cepat Kun Hiap menjawab.

Hui Giok hendak menghaturkan terima kasih tetapi entah bagaimana ttba2 kudanya meringkik keras lalu rubuh ke tanah.

Hui Giok bersuit nyaring. Setelah menekan pada pelana, tubuhnya melambung ke udara. Wa-laupun masih memanggul Hui Yan tetapi gerakannya masih lincah sekali.

Kun Hiap terkejut Tejapi dia tak sempat menghentikan kudahya dan terus lari maju. Setelah lima tombak jauhnya barulah dia dapat meng-hentikan kudahya dan berpaling. Ternyata Hui Giok sudah berdiri tegak di tanah. Walaupun 

mengalami peristiwa yang mengejutkan tetapi wajahnya masih tetap tenang. Bahkan dia sibuk menca~ri kuda besi tadi.

"Kenapa?" tegur Kun Hiap.

"Ada orang melakukan serangan gelap kepadaku. Tolong sambuti sam-moay ini," serunya seraya menghampiri. Sekali bahunya bergetar, tubuh Hui Yan yang berada di bahunya itupun melayang ke muka. Kua Hiap tergopoh-gopoh membungkukkan tubuh ke bawah pelana untuk menyambuti.

Sedang disana Hui Giok sudah melesat seraya berteriak, "Hai, tikus dari mana itu, berani menyerang gelap orang!"

Dia terus memburu maju dan pada lain kejab menerobos masuk kedalam hutan.

Sudah tentu Kun Hiap bingung. Kalau Hui Giok terlalu jauh mengejarnya dan penyerang ge-lap itu tiba2 muncul di situ, bukankah dia tak mampu menghadapinya?

Dia celingukan kian kemari. Apabila terjadi sesuatu yang berbahaya, dia terus hendak mencongklangkan kudahya. Tetapi ternyata sekeliling penjuru sepi-sepi saja.

Lebih kurang sepeminum teh lamanya, ma-sih juga Hui Giok belum muncul. Pada saat itu terdengar Hui Yan berkata dengan suara lemah, "Mengapa berhenti?"

Kun Hiap menunduk- Dilihatnya wajah Hui Yan yang berada dalam pelukannya, makin pucat lesi. Bibirnya merapat dan matanya meram.

Kun Hiap menghela napas, "Ada orang yang melakukan serangan gelap sehingga kuda tacimu mati."

Entah bagaimana ketika melihat keadaan Hui Yan yang begitu mengenaskan, rasa muak Kun Hiap terhadap dara itupun lenyap.

"Tacimu sudah mengejarnya, tentu takkan terjadi apa-apa, jangan kuatir," dia menghibur si dara.

"Tetapi . . . kalau . .. . Kalau dia tak kembali?" tanya Hui Yan.

"Jangan berkata yang tidak2," jawab "Kun Hiap, "mengapa dia tak kembali?"

Tiba2 Hui Yan menghela napas lalu tertawa sedih, "Kupikir, kalau aku sampai mati di tengah perjalanan, yang paling gembira sendiri tentulah, jici-ku. Karena 

aku tak dapat bersaing lagi dengannya."

"Nona Tian, kata-katamu itu sungguh keli-watan sekali " sebenarnya Kun

Hiap hendak mendampratnya tetapi melihat keadaan Hui Yan yang begitu mengibakan, ia tak sampai hati dan hanya tertawa hambar saja.

"Jangan menuduh kalau aku ngoceh," ban-tah Hui Yan, Nanti pada suatu hari engkau tentu akap tahu apa sebabnya."

Kun Hiap tak menyahut tetapi entah kena-pa tiba2 saja ia teringat mengapa Hui Yan sampai menderita luka itu. Saat itu dia menyaksikan di pinggir. Dia seperti mendapat kesan bahwa perbuatan Hui Giok itu memang disengaja hendak mencelakai adiknya. Tetapi pada lain saat dia geleng-gelengkan kepala untuk

menghalau dugaan begitu.

Pada saat itu sesosok bayangan melesat dari gerumbul pohon dan terus loncat ke punggung kuda yang dinaiki Kun Hiap. Dengan begi-tu kuda itu harus muat tiga orang. Sekali keprak, kudapun lari. Walaupun harus membawa tiga orang tetapi kuda itu tetap pesat larinya.

"Nona Tian," seru Kun Hiap yang tahu kalau nona yang naik dimukanya itu tak lain adalah Hui Giok, "apa engkau sudah berhasil mengejarnya?"

"Tidak," sahut Hui Giok, "Kulihat sesosok tubuh melesat di sebelah muka. Ketika kukejar dia sudah menghilang. Luka sam-moay berat sekali, jangan kita menunda perjalanan ini karena mengurus gangguan dari orang yang licik."

Kun Hiap mendengus. Dia menunduk memandang Hui Yan. Hui Yan masih pejamkan mata. Wajahnya menampilkan sikap yang sukar diterka.

Kuda mencongklang pesat sekali. Makin la-ma perjalanan itu makin memasuki hutan belantara yang sepi. Lebih kurang tiga empat li, seko-nyong-konyong kuda itu meringkik aneh lagi, kaki belakangnya menjungkat ke atas.

Kejadian itu terjadi dengan mendadak seka-li dan kuda itu menjungkat dengan kuatnya. Mau tak mau Kun Hiap menjorong jatuh kemuka dan diluar kehendaknya, tubuh Hui Yanpun terlepas jatuh terus terguling guling kebawah dan membentur segunduk batu besar.

Kun Hiap terkejut sekali. Dengan sekuat tenaga dia loncat memburu. Tetapi diapun tahu kalau kepandaiannya tak cukup. Ia merasa tak dapat menyambar dan menghentikan tubuh Hui Yan. Satu-satunya jalan dia lalu menelingkupi batu itu seraya memeluknya erat2. Dengan begitu nanti tubuh Hui Yan takkan membentur batu melainkan mengenai dirinya. 

Pada lain kejab dia rasakan tubuh Hui Yan menjatuhi tubuhnya, bluk . . . Dara itu terguling jatuh dari ketinggian satu tombak. Ditimpah tubuh si dara yang cukup berat, dada Kun Hiap yang tengkurap di batu terasa sakit bukan kepalang.

Seketika matanya berkunang-kunang dan terus tak sadarkan diri.

Beberapa saat kemudian ia mendengar suara Hui Giok melengking. Kun Hiap mengangkat kepala memandang ke atas. Dalam cuaca yang remang-remang, dilihatnya Hui Giok seperti orang gelisah.

"Apa apa ada orang yang menyerang secara gelap lagi?" seru Kun Hiap.

Tiba2 Hui Giok berseru dengan nada dingin, "Can kongcu, engkau telah membunuh sam sumoayku!"

Sudah tentu Kun Hiap kaget seperti disam-bar petir. Dengan paksakan dirinya, dia berseru gemetar, ”Aku membunuh sam-kounio?"

Hui Giok condongkan tubuh sedikit dan menuding ke muka, "Lihatlah sendiri itu!"

Menurut arah yang ditunjuk si nona, Kun Hiap melihat tubuh Hui Yan melingkar di tanah

tak berkutik lagi. Serentak Kun Hiap mengucurkan keringat dingin. "Nona Tian, apakah dia . . . dia "

Hui Giok menghela napas, "Engkau memang tak hati2. Kuserahkan kepadamu mengapa engkau membantigg ke tanah?"

Bermula Kun Hiap mengira kalau peristiwa itu tiada sangkut pautnya dengan dirinya. Tetapi setelah mendengar tuduhan Hui Giok, Kun Hiap kelabakan setengah mati.

"Apakah dia dia sudah mati?" serunya gemetar.

"Mengapa engkau bertanya begitu?" kata Hui Giok sambil gentak2kan kakinya ke tanah.

Kun Hiap melongo. Benar2 dia tak mengerti mengapa dia tak boleh bertanya begitu. Tetapi karena saat itu perlu mengurus Hui Yan, diapun tak mau berbantah dengan Hui Giok.

"Hayo, lekas kita tinggalkan tempat ini!” kembali Hui Giok berseru. 

Kun Hiap memandang ke atas. Dilihatnya kuda putih tadi masih segar bugar tak kurang suatu apa. Dia heran mengapa tadi kuda itu kaki belakangnya menjungkat keatas. Kuda putih itu termasuk jenis kuda pilihan., mengapa wakta lari tiba-tiba bisa beringas liar?

Kun Hiap paksakan diri berbangkit dan hendak menghampiri ke tempat Hui Yan. Tetapi tiba-tiba Hui Giok membentaknya, "Sudah, jangan menghiraukannya lagi!”

Hampir Kun Hiap tak percaya apa yang didengarnya. Sesaat dia tegak seperti patung.

"Engkau telah mengundang bahaya besar. Kalau mamaku tahu puteri kesayangannya mati di tanganmu, mana mama akan mengampuni engkau?" tanpa menunggu si anakmuda membuka mu-lut, Hui Giok mendahului berkata lagi.

Kun Hiap pucat, serunya, "Nona Tian, eng... kau kan tahu. Meskipun aku

tidak hati-hati tetapi bukan aku yang harus bertanggung jawab."

Hui Giok menghela napas dan menghampiri lalu mengeluarkan saputangan yang harum untuk mengusap keringat di dahi Kun Hiap.

"Can kongcu," katanya dengan lemah lem-but, karena sudah terlanjur melakukan kesalahan, kita harus berusaha untuk menutupi kejadian mi. Agar kecuali aku dan engkau, jangan sampai ada orang lain yang tahu. Mengertikah engkau?"

Diam2 Kun Hiap curiga. Misalnya, sudah tahu kalau adiknya tertimpah bahaya maut, menga-pa Hui Giok tak kelihatan sedih? Dan lagi kuda putih itu masih segar bugar, mengapa tadi secara tiba2 berobah buas? Dan ketika dia jatuh bersa-ma Hui Yan apa saja yang dilakukan Hui Giok?

Kini Hui Giok mengajukan usul yang begi-tu aneh. Dia tak dapat berbuat apa2 kecuali menurut saja. Dia hendak bicara tetapi Hui Giok cepat mendahului, "Kurasa tak perlu engkau gelisah. Siau-moay memang dicelakai Koan Sam Yang. Dan engkau hanya melakukan kesalahan kecil karena kurang hati2 saja."

Sesaat tertegun diam barulah Kun Hiap berkata, "Apakah kita akan membiarkan dia menggeletak disini saja?"

"Ya,” sahut Hui Giok.

Kun Hiap terkejut, "Kalau nanti mama dan toaci-mu bertanya, lalu lalu

bagaimana kita akan menjawabnya?" 

Sengaja Kun Hiap tak mengatakan ' bagaimana" engkau akan menjawab', melainkan dia menggunakan kata2 kita Berarti dia mau bergabung dengan Hui Giok.

"Kita bilang saja," kata Hui Giok, "ditengah perjalanan karena lukanya terlalu parah, dia menghembuskan napas terakhir."

"Tetapi sekalipun begitu, kita kan tidak dapat membiarkan dia ..." tiba2 Kun Hiap-tak dapat melanjutkan kata2. Entah bagaimana hatinya serasa seperti disayat.

"Ya, memang tidak," sahut Hui Giok, "akan kutaruhkan dia didalam gua. Harap engkau berputar tubuh ke belakang, jangan melihatuya.

Kun Hiap menurut. Dia tak tahu bagaimana dan kemana Hui Giok akan membawa jenasah adiknya. Dia hanya rasakan telinganya mendenging-denging dan sayup2 terngiang pula suara Hui Yan yang lemah . . . , ' kalau aku mati di tengah jalan, yang paling gembira sendiri adalah jici-ku'.

Tiba2 Kun Hiap berputar tubuh ke muka. Dilihatnya Hui Giok berjalan dengan tenang.

"Dia dia?" seru Kun Hiap .tergagap-gagap.

"Sudah kukubur dengan baik2. Setelah bertemu mama, akan kuajak mama untuk mencarinya lagi. Dengan begitu, engkau sudah bebas darr kesulitan," kata Hui Giok.

Kun Hiap makin curiga. Dia rasakan hal itu seperti suatu komplotan tetapi ia tak tahu bagai-mana persoalannya.

"Can kongcu," kata Hui Giok pula, "mama ku paling sayang kepada sam-moay. Kalau beliau tahu sam-moay mati akibat engkau kurang hatihati, percayalah, engkau pasti akan menderita seumur hidup. Hal ini, akan kubantu munutupi kesalahanmu tetapi engkaupun jangan seka!i-kali mem-bocorkan pada lain orang, tahu?"

Kun Hiap mengangguk, "Ya, tahu. Tetapi nona Tian "

Hui Giok menghela napas dan menukas.

"Tetapi bagaimana? Engkau tak tahu bagaimana perangai mamaku. Memang tindakan untuk mengelabuhi mama ini kurang layak tetapi apa mau di kata, demi 

kebaikanmu."

Karena apa yang hendak dikatakan Kun Hiap sudah diungkap oleh Hui Giok maka pemuda itupun tak dapat bicara apa2 lagi. Dia hanya menghela napas.

Hui Giok menarik lengan pemuda itu untuk diajak naik kuda lagi dan terus berangkat. Entah bagaimana serasa dalam hati, Kun Hiap merasa ada sesuatu yang menindih. Beberapa kali Hui Giok mengajaknya bicara dia tak dapat menjawab. Pikirannya hanya mengingat pada peristiwa yang telah terjadi.

Mengapa kuda pntih mendadak bisa berobah buas. Lalu Hui Giok lari mengejar musuh kedalam hutan. Dan apa yang diucapkan Hui Yan mengenai diri tacinya. Dan lain-lain.

Hari kedua pada waktu tengah hari, keduanya telah melintasi sebuah lembah yang panjang. Jalanan makin lama makin curam dan berbahaya.

"Kita terpaksa harus turun dari kuda. dan melintasi puncsk gunung di muka itu," ksta Hui Giok. I

"Setelah melintasi puncak gunung, apakah sudah sampai?" tanya Kun Hiap.

"Tak jauh lagi," jawab Hui Giok, "setelah melintasi puncak gunung paling lama sejam lagi, adalah aku dan engkau pertama kali bertemu dahulu."

Kun Hiap tertawa rawan. Diam2 dia meni-mang. Jika begitu, waktu yang dibatasi hanya tiga hari tmtuk Hui Yan yang menderita luka itu, takkan keliwat...

Keduanya turun dari kuda dan Hui Giok lalu menepuk pantat kuda beberapa kali. Kuda meringkik keras, melonjak dan terus lari pergi.

"Kuda itu memang tajam nalurinya. Meski-pun berjalan jauh tetapi mereka dapat pulang lagi ke Cin-nia," kata Hui Giok.

"Aneh, kalau kuda itu sedemikian tajam nalurinya, mengapa ditengah perjalanan bisa tergelincir sehingga aku dan Hui Yan dilempar jatuh?"

Hui Giok berpaling kesamping dan menggumam, 'Binatang tetap binatang. Setiap saat bisa timbul keliarannya. Sudahlah, jangan membicarakan peristiwa itu lagi."

Kun Hiap hanya dapat menghela napas da-lam hati lalu melanjutkan perjalanan dengan Hui Giok..

Setelah melintasi puncak gunung, haripun sudah menjelang petang. Kini mereka berada di luar lembah. Serentak Kun Hiap teringat. Dulu dia datang kesitu 

karena dibawa Hui Yan. Tetapi sekarang ....

Mereka lalu memasuki lembah. Hui Giok berhenti dan berbisik, "Can kongcu,  demi kebaik-anmu sendiri. Kuharap engkau suka ingat baik2 apa yang kuusulkan kepadamu tadi."

Menganggap bahwa Hui Giok bersungguh hati hendak melindunginya dari kemarahan mamanya, Kun Hiap menghaturkan terima kasih, "Ya, pasti akan kuingat. Nona Tian, kebaikanmu itu, pasti takkan kulupakan selama-lamanya.

Merah muka Hui Giok, sahutnya, " Ah, tak perlu begitu."

Hui Giok berpaling lalu berteriak, “Ma. ma, aku sudah pulang."

Dari dalam lembah terdengar suara sau-koh atau mama Hui Giok, "Pulang ya pulang, mengapa harus berteriak-teriak?"

Sambil berjalan, Hni Giok berseru puta, "Ma, telah terjadi suatu peristiwa!"

"Peristiwa apa? Kalau langit roboh, kan ada orang yang bertubuh tinggi yang menyanggahnya, perlu apa engkau bingung2 begitu!"

"Sam-moay meninggal!" seru Hui Giok.

Begitu mendengar keterangan itu, seketika tiada jawaban dari lembah. Hati Kun Hiap berdebar keras. Wajah Hui Giok juga berobah pu-cat.

Hui Glok dan Kun Hiap menunggu dengan berdebar-debar bagaimana reaksi sau- koh. Setelah menunggu beberapa saat baru terdengar wanita itu menghela   napas dan diluar dugaan dengan nada tenang dia berseru, "Sam-ah-thau mati?

Ji-ah-thau, apakah engkau bergurau?"

Wajah Hui Giok pucat dan sejenak memandang Kun Hiap, dengan suara gemetar dia menjawab, "Ma, masa aku bergurau? Ini Can kongcu datang juga, Waktu sam-sumoay meninggal, Can kongcu juga menyaksikan."

Kali ini suara sau-koh berobah, "Apakah sam-ah-thau mati ditangan Can kongcu?"

Mendengar itu seketika gemetarlah Kun Hiap.

"Bukan," Hui Giok gopoh memberi keterangan, "di lembah Sam~sian-koh kami dan toaci bersama-sama menempur Koan Sam Yang. Kare-na terlalu bemafsu, sam-moay telah menampar batok kepala Koan Sam Yang " 

Mendengar itu Kun Hiap kerutkan dahi.'Memang yang diberitakan Hui Giok itu tak jauh dari kenyataan. Tetapi kalau du mengatakan bah-wa Hui Yan ' terburu nafsu’ , itu tidak benar.

Ttba2 sau-koh tertawa gelak2, "Tidak, sam-ah-thau takkan mati!"

Hui Giok dan Kun Hiap terkesiap, Kalau Kun Hiap tak mengerti apa yang dimaksudkan sau-koh. Adalah Hui Giok terkesiap dan berobah wajahnya... mqwa-;ahn ...

Sebelum keduanya sempat bicara, sau-koh sudah berseru pula, "Sam-ah-thau, engkau sudah terluka berat, mengapa engkau pura2 mati supaya aku kaget? Engkau sudah besar, mengapa masih ugal-ugalan begitu? Awas, kelak engkau tentu mempunyai anak perempuan yang jauh lebih nakal dari engkau, biar engkau tahu rasa!"

Suara itu makin lama makin cepat dan sebelum kumandangnya lenyap, dari  mulut gua muncul seorang wanita dengan wajah berseri-seri berjalan pelahan- lahan. Melihat Kun Hiap, dia terus menegur, "Can kongcu, terhadap mamanya sam-ah-thau juga berani mempermainkan, memang kurang ajar sekali budak itu. Untung engkau sudah. tahu wataknya sehingga tak heran."

Diam2 Kun Hiap menghela napas! Mungkin di kolong langit ini tiada seorang mama yang seperti itu. Kalau mendengar anak kesayangannya meninggal, tentu akan kaget dan menjerit histeris mungkin pingsan. Tak ada seorang ibu yang men-dengar berita tentang kematian anaknya, begitu gembira seperti sau-koh.

Demikian kesimpulan Kun Hiap. Tetapi pada lain kilas, ia mendapat kesan. Mungkin karena bersedih, sau-koh sampai bertingkah begitu aneh. Kasihan.

Kun Hiap menghela napas, katanya, "Cian-pwe sam-siocia memang benar telah meninggal."

Sau-koh tertawa gelak2, "Can kongcu, kalau menilik engkau ini seorang pemuda jujur, sungguh tak kira kalau engkau juga berkomplot dengan mereka untuk mengelabuhi aku. Ketahuilah, walaupuh sam-ah-thao terkena getar ilmu Sam- yang-cin-gi dari Koan Sam Yang, tetapi dengan kepandaiannya sekarang, dia tentu dapat bertahan sampai tiga setengah hari. Dari gunung Cin-nia kemari hanya dua setengah hari. Maka apakah aku harus mempercayai keterangan kalian itu? Sam-ah-thau, engkau bersembunyi di dalam gerumbul pohon, awas  ya kalau sampai digigit ular beracun!"

Kun Hiap terkejut. Dia berpaling. meman-dang Hui Giok. Dilihatnya wajah nona 

itu makin pucat sekali. Entah apakah bersedih memikirkan kematian adiknya atau takut karena rahasianya diketahui mamanya.

"Ma," kata Hui Giok dengan paksakan nya-linya, "memang toaci dan Koan Sam Yang menga-takan kalau sam-moay dapat bertahan sampai tiga hari tiga malam. Tetapi di tengah jalan, dia'. . . . dia ternyata tak kuat , . . dan

menghembuskan napas  terakhir "

Wajah sau-koh pelahan-lahan berobah gelap, "Apakah bertemu dengan musuh yang tangguh lagi?"

Kun Hiap mendapat kesan bahwa sau-koh itu seorang wanita yang tajam perasaannya. Tak mungkin orang dapat mengelabuhinya. Walaupun andaikata sekarang dapat menipunya tetapi toh pada suatu hari nanti dia tentu tahu juga.

Kun Hiap kebat kebit hatinya. Hampir saja dia hendak mengaku terus terang tentang kecelakaan yang dialaminya, kuda mendadak liar dan melemparkan dia bersama Hui Yan jatuh ke tanah.

Tetapi sebelum dia sempat membuka mulut, ia merasa lengan bajunya telah ditarik pelan oleh Hui Giok yang berada di sampingnya. Jelas nona itu melarangnya bioara. Terpaksa dia hanya tertawa murung dan diam.

"Ya, memang kita telah mendapat serangan gelap dari musuh sehingga dua ekor kuda yang kami naiki mati. Akupun sudah berusaha untuk mengejar penyerahg gelap itu tetapi dia sudah menghilang," kata Hui Giok dengan nada beriba-iba.

Wajah cerah sau-koh berganti gelap dan dengan suara sarat dia berkata, "Apa engkau tak da-pat mengenali bagaimana orang itu?"

"Orang itu luar biasa cepatnya,- Aku tak ber daya melihatnya," jawab Hui Giok. "Sam-ah-thau . . . dia . . , dimana?" teriak sau-koh dengan melengking tinggi.

"Kuatir kalau melihatnya mama akan bersedih maka kutaruh jenasahnya dalam terowongan sebatang pohon besar . . .

Biau-koh mendengus. Sekonyong-konyong sabuk pinggang sutera putih yang melilit di ping-gangnya, melayang keluar seperti seekor ular dan melilit siku lengan Hui Giok. Dan tahu2 Hui Giofe seperti ditarik kemuka sehingga terhuyung-huyung. .

"Ma, engkau ," teriak Hui Giok dengan pucat sekali. 

'"Ji-ah-thau, engkau mau mengelabui aku, ya?" teriak biau-koh dengan nyaring sehingga .telinga Kurt Hiap hampir pecah.

Melihat adegan itu diam2 Knn Hiap menge-luh bahwa tak mungkm dapat mengelabuhi wanita tua sakti itu. Buru2 dia berseru, "Cianpwe ..."

Tetapi baru dia berkata begitu dilihatnya Hui Giok menyusupkan tangan kiri ke belakang punggung dan beberapa kali bergoyang-goyang, memberi isyarat agar Kun Hiap jangan bicara. Terpaksa Kan Hiap diam lagi.

"Ma, jenasah sam-moay masih berada dalam lubang pohon. Apakah dia mati karena terkerna tenaga Sam-yang-cin-gi dari Koan Sam Yang, engkau dapat memeriksanya sendiri. Tetapi engkau begitu tak percaya kepada, aku lalu bagaimana aku aku punva muka bertemu orang lagi?" - Sambil berkata,

Hui Giok menangis.

Diam,2 Kun Hiap memuji kelihayan Hui Giok bersandiwara. Andaikata dia yang menerima keterangan itu, tentulah dia akan percaya penuh. Tetapi menilik wajah sau-koh jelas wanita itu belum begitu percaya. Diam2 Kun Hiap heran, Hui Giok dan Hui Yan itu puteri saukoh tetapi mengapa wanita itu lebih menyayangi Hui Yan dari pada Hui Giok. Buktinya walaupun dengan mencucurkan airmata membari keterangani tetap Hui Giok tak dipercaya.

"Bawa aku kesana!" bentak saukoh.

Sesaat mendengar bentak itu, tiba2 mata Kun Hiap serasa bersinar karena terlanda setiup angin yang menghambur disampingnya. Dan tahu2 wanita itu bersama Hui Giok sudah berada tiga tombak jauhnya. Cepatnya seperti angin saja.

"Cianpwe!" teriak Kun Hiap. Tetapi wanita itu tanpa berpaling menyahut, "Engkau tunggu sa-ja di lembah ini "

Dan pada lain kejab ibu dan anak itupun sudah tenyap dari pandang mata.

Semula Kun Hiap mengira begitu mendengar berita kematian Hui Yan, wanita itu tentu bersedih sekali. Siapa tahu ternyata wanita itu malah pena-saran. Apa boleh buat Kun Hiap terpaksa harus –menunggu di lembah situ.

Dengan menghela napas, diapun mulai ayunkan langkah pelahan-lahan masuk kedalam lembah. Dia pernah mengikuti Hui Yan datang kesitu.

Kini keadaan- di lembah itu tetap seperti dulu tetapi orangnya (Hui Yan.) sudah tiada. Diam diam Kua Hiap merasa sendu perasaannya. 

Sambil menunduk dia memasuki sebuah ruangan batu. Setelah itu baru dia mengangkat muka. Ketika memandang ke muka, kejutnya bukan kepalang sehingga dia sampai menyurut selangkah.

Di tengah ruang itu tampak seseorang sedang duduk bersila. Kun Hiap serentak berseru, "Biau-koh suruh aku menunggu disini. Tanpa sengaja aku telah masuk kemari "

Tetapi baru berkata setengah bagian, tiba-tiba dia tertawa. Ternyata yang duduk itu bukan manusia melainkan sebuah patung. Karena menge-nakan pakaian  maka sepintas pandarig menyerupai seperti orang.

Patung itu dahinya lebar, hidung mekar dan bermata kecil seperti tikus. Bentuknya mirip dengan Tian toa-siocia atau puteri biau-koh yang tertua.

Di belakang patung terdapat sebuah meja panjang. Ah, meja sembahyangan karena terdapat dupa dan tempat abu. Pada tempat abu itu tertulis huruf yang berbunyi ' Tempat abadi dari sianhu (meadiang suami) Tian Put Biat.

Kun Hiap tertegun dan mundur beberapa langkah lagi. Keringat dingin mengucur deras. Tanpa disadari dia menjerit lalu mundur dan terus lari keluar.

Waktu memastiki ruang batu tadi, dia hanya menurutkan langkah kakinya saja. Dia tak merasa kalau tadi dia harus berbiluk beberapa tikungan, Sekarang waktu dia ketakutan dan hendak lari ke luar, beberapa kali dia hampir membentur dinding batu -dan karena gugup dia sampai tak dapat menemukan jalan keluar. Dia semakin gugup. Setelah pontang panting tak karuan akhirnya dapat juga dia keluar.

Begitu tiba di tempat terbuka, dia terhu-yung-huyung jatuh ditanah. Dia bangkit tetapi ja-tuh lagi, bangkit jatuh lagi. Setelah dia loncat ba-ngun tiba2 dia merasa dimukanya seperti terdapat sepasang kaki orang.

Dia mengangkat kepala, memandang kedepan.. Ternyata pemilik dari sepasang kaki itu seo-rang lelaki yang bertubuh tinggi kurus tetapi kepalanya kecil sehingga aneh dipandang. Orang itu tak lain adalah si Selamanya-tak-pernah- membalas Koan Sam Yang.

"Ih, budak kecil, " desis Koan Sam Yang, mengapa engkau begitu gugup sekali? Apakah eng kau bertemu setan?"

Lidah Kun Hiap serasa kelu, "Tian .... Tian . .. Tian " - dia hanya dapat menga-

takan sepatah kata Tian. Beberapa saat kemudian baru dapat menambahkan 

lagi, " Tian Put Biat!”

'' Hayo,” teriak Koan Sam Yang melonjak kaget, wajahnya berobah seketika, " Dimana Tian Put Biat?"

Waktu melonjak ke udara, tanpa melayang turun ke tanah dia terus bergeliat melesat ke mu-ka sampai lima tombak. Dan begitu melayang turun di tanah, tangannya menekan tanah sehingga tubuhnya melambung ke atas lagi seraya

.berseru "Tian Put Biat berada di sini!'' "Dia sudah meninggal," seru Kun Hiap.

Mendengar itu laju luncur tubuh Koan Sam Yang berhenti. Tubuh tegak lurus   dan meluncur turun ke tanah, kemudian menghela napas longgar, "Sudah mati? Oh, ya, memang Tian Put Biat sudah mati. Semua orang tahu hal itu. Ih,  sungguh memalukan, Tian Put Biat yang sudah mati masih dapat membuat Koan Sam Yang kucurkan keringat dingin!"

Dia melesat ke muka dan memaki Kun Hiap, "Budak busuk, Tian Put Biat kan sudah mampus, mengapa engkau menyebut namanya? "

Kun Hiap menghela napas, "Sungguh tak ku-kira kalau ayah mereka itu ternyata Thian Pit Hong dari gunung Bi-ih-san. Dia bergelar Tian Put Biat si Tidak-akan- lenvap.."

Kembali Koan Sam Yang menghela napas longgar dan wajahnyapun mulai tenang, "Biau-koh, mengapa puterimu bersahabat dengan orang, tak maa memberitahukan nama ayahnya? Lihat- dia sampai ketakutan setengah mati, Sungguh keterlaluan sekali!"

Tepat pada saat itu terdengar suara yang ngeri dan seram melengking tajam.

"Biau-koh, lekas keluar dan kasih tahu kepada puteri sulung kesayanganmu itu kalau adiknya tak bakal mati. Dia mati-matian mengejar aku sampai kehabisan jalan nih."

Sambil berteriak itu Koan Sam Yang menu-ju ke mulut lembah dan berdiri tegak disamping segunduk batu besar.

Kun Hiap tak mengerti akan gerak gerik tokoh aneh itu. Tiba2 dari mulut lembah berkelebat sesosok bayangan dan tahu2 Tian toa-siocia sudah menerjang masuk.

Tiba2 Koan Sam Yang muncul dan terus gerakkan tangan kanannya untuk menutuk jalan-darah di punggung Tian toa-siocia. Tian toa-sio-cia merasa kalau 

dirinya hendak diserang secara menggelap. Cepat dia berputar tubuh. Tetapi terlambat. Baru berputar separoh bagian, wataupun jari Koan Sam Yang belum mengenai tetapi tena-ga Sam-yang-cin-ginya sudah memancar. Kek-gong-tiam- hiat atau ilmu menutuk jalandarah dari jauh. demikian ilmu yang digunakan Koan Sam Yang. Seketika jalandarah Tian toa siocia tertutuk dan setelah berputar- putar beberapa kali, barulah dia jatuh ke tanah.

Koan Sam Yang tertawa lalu kebutkan lengan baju untuk menahan jatuhnya tubuh Tian toa-siocia sehingga tak sampai jatuh telak tetapi pelahan-lahan rebah di tanah.

Waktu menggeletak di tanah, sepasang mata Tian toa-siocia mendelik. Jelas dia. marah sekali tetapi karena jalandarahnya tertutuk, dia tak da-pat berbuat apa2 kecuali melototkan mata.

"Aku telah melukai Tian sam-siocia, ,tak berani lagi mencelakai Tian toa-siocia, Biau-koh, mengapa engkau tak mau keluar?" teriak Koao Sam Yang. '"

Saat itu baru Kun Hiap berani membuka mulut, "Biau-koh tidak ada di sini.”

"Celaka," Koan Sam Yang terkejut, " kema-na dia? Luka sam-siocia hanya tahan tiga hari. Kalau dia tak dirumah...”

“sam-siocia sudah mati," Kata Kun Hiap.

"Ngaco!" beritak Koan Sam Yang, "aku hanya gunakan lima bagian dari tenaga Sam-yang-cin-gi untuk menggentakkan. Bagaimanapun dia tentu dapat bertahan tiga hari. Heh, engkau kira aku benar2 berani menyalahi Hujin {nyonya) yang digelari sebagai momok nomor satu di dunia persilatan?"

Kun Hiap tahu yang dimaksud dengan wanita momok nomor satu di dunia itu adalah Biau-koh. Dia tertawa dingin, “Kalau begitu lebih baik engKau lekas2 kabur jauh saja! Sam siocia memang benar2 meninggal."

Koan Sam Yang tertegun. Tiba2 dia meng-hampiri ke tempat Tian toa-siocia dan berjongkok terus ulurkan tangan hendak merogoh ke baju Tian toa-siocia. Tetapi tiba2 ditariknya dagu. Wa-jahnya ketakutan, serunya, " Celaka, celaka! Kalau Gong Gong Tin tahu, tentu celaka, ha, ha!"

Dia mengangkat muka dan menuding Kun Hiap, "Aku minta tolong kepadamu. Ambilkanlah sebuah kuda besi dari bajunya dan berikan kepadaku. Dengan begitu aku berhutang dua macam budi kepadamu. Kelak kalau engkau perlu bantu-anku, aku tentu takkan menolak." 

Selamanya-tak-pernah membalas, Koan Sam Yang termasuk tokoh yang paling menonjol didunia persilatan. Kalau dia mengatakan begitu sudah tentu suatu keuntungan bagi Kun Hiap.

Tetapi permintaan Koan- Sam Yang yang kelihatannya sepele saja itu ternyata sukar bagi Kun Hiap untuk meluluskan. Dia tertegun diam.

"Hai, lekas lakukan," teriak Koan Sam Yang.

Kun Hiap gelengkan kepula, "Maaf, aku tak dapat."

''Goblok, hanya begitu saja masa engkau ta-kut? Apa takut kalau dia akan memakanmu?" teriak Koan Sam Yang.

Diam2 Kun Hiap menimang. Kalau dia menolak, Koan Sam Yang tentu akan mendesak. Mengapa dia tak mau melakukan perintah itu saja? Bukankah dia nanti mempunyai kesempatan untuk membuka jalandarah Tian toa-siocia yang tertutuk agar nyonya itu dapat segcra menghalau Koan Sam Yang?

Setelah mengambil putusan begitu, dia, terus menghampiri ke tempat Tian toa- siocia.

"Kuda besi kecil itu tentu berada dalam bajunya. Mudah saja engkau mengambilnya," seru Koan Sam Yang.

Agar tidak menimbulkan kecurigaan Koan Sam Yang, Kun Hiap menjawab, "Bukankah ku-da besi itu hanya seperti mainan anak2? Perlu apa engkau hendak mengambilnya?"

Koan Sam Yang tidak menyahut melainkan tertawa gelak2. Dia gembira sekali. Kun Hiap berjongkok dan ulurkan tangan, plak . . . tiba2 dia menampar sekeras- kerasnya pada jalandarah Ki-hu-hiat di bahu Tian toa-siocia. .

Jalandarah Ki-hu-hiat itu, menembus keatas pada jalandarah Gi-ham-hiat dan ke bawah pada jalandarah Gi-jong-biat. Begitu dihantam sekeras-i kerasnya oleh Kun Hiap, jalandarah Tian toa-siociapun segera terbuka.

"Hai, budak bangsat, engkau melakukan apa itu?" teriak Koan Sam Yang seraya maju mener-jang.

Setelah jalandarahnya terbuka, tangan kiri Tian toa-siocia menekan ke tanah, tangan kanan mencekal siku lengan Kun Hiap terus dilempar dan sepasang kakinya susul menyusui menendang dada Koan Sam Yang. 

Sungguh suatu adegan yang menarik sekali. Gerakan yang dilakukan Tian toa- siocia itu ham-pir serempak pada satu saat. Dengan meminjam tenaga tekanan ke tanah itu, tubuhnya melenting bangun dan lemparannya itu membuat tubuh Kun JHiap melayang tinggi dan jauh tetapi tak sampai menderita cidera.

Karena disambut dengan tendangan oleh Tian toa-siocia, terpaksa K.oan Sam Yang hentikan gerakannya. Dia membiarkan kedua tendangan itu mengenainya,

- baru dia hendak gerakkan tenaga Sam-yang-cin-gi untuk melukainya. .

Tetapi ternyata walaupun wajahnya jelek, ilmu kepandaian Tian toa-siocia itu hebat sekali. Dia dapat menghadapi setiap perobahan dengan cepat.

Dua buah tendangan yang dilakukan Tian toa-siocia itu hanyalah untuk mendahului serangan lawan. Tetapi diapun tahu kalau tendangannya sampai mengenai, dia sendiri yang akan menderita.

Tendangan kaki kirinya tiba2 dihentikan setengah jalan dan tendangan kaki kanan dikenakan pada kaki kiri. Dengan meminjam tenaga tendang-an itu tubuhnya metuncur ke belakang sampli beberapa langkah. Sepintas mirip dengan sebuah meteor terbang.

Koan Sam Yang terkejut. Dia tak menyang-ka sama sekali kalau Tian toa-siocia mempunyai kepandaian yang sedemikian hebatnya. Dengan berteriak aneh dia terus mengejar. Tetapi saat itu Tian toa-siocia sudih berdiri tegak dan sudah siap dengan senjata Kim-wi-thau. Begitu Koan Sam Yang datang, terus saja disambutnya dengan han-taman dan terkaman.

Rupanya Koan Sam Yang lupa bagaimana lihaynya senjata Kim-wi-thau itu. Tahu.2 matanya silau dengan sinar kuning pelangi yang sudah tiba di depan hidungnya. Dia berteriak aneh dan terus melesat ke samping..

Saat itu Kun Hiap sedang bergeliatan jung-kir balik di udara. dia berusaha untuk memperbaiki posisi tubuhnya agar jangan sampai terban-ting jatuh di tanah.

Secara kebetulan ketika Koan Sam Yang melesat menghindar ke samping tadi, dia berada tepat di tempat Kun Hiap akap.melayang jatuh.

"Budak busuk, hantamlah dia," teriak Tian toa-siocia kepada Kun Hiap.

Adalah karena berterima kasih kepada Kun Hiap yang telah membuka jalandarahnya tadi maka Tian toa-siocia mau memberi petunjuk kepada Kun Hiap.

Tetapi ketika melihat Koan Sam Yang berada di bawahnya, Kun Hiap sudah gugup. Sekali mendengar teriakan Tian toa-siocia tetapi dia tetap terkesiap. 

Koan Sam Yang tertawa gelak2 dan ulurkan tangan menerkam pinggang Kun Hiap. Koan Sam Yang bertubuh tinggi besar maka waktu mener-kam Kun Hiap tadi, tangannya tidak menjulai ke bawah. Dia malah mengangkat tubuh si anakmuda ke atas 'kepalanya.

Kun Hiap rasakan tubuhnya lemas lunglai tak punya tenaga sedikitpun juga ......
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kuda Besi (Kuda Hitam dari Istana Biru) Jilid 06"

Post a Comment

close