Kitab Pusaka Jilid 34 (Tamat)

Mode Malam
Jilid : 34 (Tamat)
"Saudara Wi, apakah kau ingin mencoba untuk melemaskan otot-ototmu?"

Siau yau kay segera menggeleng:

"Kekalahan sudah berada didepan mata Kwa Lun, kenapa aku mesti ikut kuatir?"

"Benarkah begitu? Aku justru kuatir kalau dia sampai menderita kalah "

"Coba kau perhatikan, tidak sampai tiga gebrakan lagi Kwa lun sudah pasti akan keok!"

Hui im tongcu mengalihkan sorot matanya mengikuti jalannya pertarungan di tengah arena, betul juga, tiba-tiba saja terdengar Sin sian siangsu berseru sambil tertawa keras:

"Maaf, maaf "

Semua orang segera menjumpai diatas dada dari kakek tujuh bisa telah bertambah dengan sejumlah lubang sebesar jari tangan, terbukti bahwa Sin sian siangsu berhasil mengungguli lawan-nya.

Sin sian siangsu adalah seorang tokoh silat kenamaan, begitu berhasil dengan serangan-nya, dia enggan mendesak lebih jauh, setelah memberi hormat dia pun membalik-kan badan dan mengundurkan diri.

Siapa tahu baru saja berjalan dua langkah, mendadak terdengar dari para jago dari golongan lurus berteriak keras:

"Hati-hati dengan belakangmu!"

Sin sian siangsu terkejut, ia segera merasakan desingan angin tajam menyambar tiba dari belakang, tergopoh-gopoh dia menghindar kesamping. Siapa tahu gerakan itu toh masih terlambat setengah langkah, kakek tujuh bisa yang menyergap dari belakang dengan ayunan kampak raksasanya telah membacok secara telak.

Sin sian siangsu yang terbokong oleh serangan lawan hanya merasakan bahunya sakit bukan main sehingga merasuk ke tulang, cepat ia menghimpun tenaga dalamnya

sebesar sepuluh bagian kedalam lengan kanan-nya bersamaan dengan terkena serangan lawan, dia melancarkan pula serangan kilat.

"Blaammm!"

Diiringi suara benturan keras, tiba-tiba saja terdengar

kakek tujuh bisa mengerang kesakitan, perutnya robek dan isi perutnya segera berhamburan keluar, tewaslah iblis tersebut seketika.

Sin sian siangsu sendiripun segera mundur terhuyung dan roboh keatas tanah, darah segar mengucur keluar dengan deras dari bahu kirinya ditambah pula dia mesti menggunakan tenaga kelewat batas dalam seranggan-nya yang terakhir, maka begitu selesai menyerang, roboh pingsanlah si tukang ramal rudin ini.

Dengan demikian, pertarungan babak ini diakhiri dengan keadaan sama-sama terluka.

Siau yau kay segera melompat masuk ke dalam arena untuk menolong Sin sian siangsu, sedang pihak lawanpun muncul untuk menarik jenazah rekannya.

Setelah arena dibersihkan, Sam yap koay mo dan dan wanita seribu tahun Bwee ciang terjun ke arena dan menantang para jago bertarung.

Berdasarkan beberapa kali pertarungan yang berlangsung sebelumnya, bisa disimpulkan kalau taktik bertarung dari Kun lun indah Siau Wi goan sudah kehilangan bobotnya, persoalannya yaitu dia selalu mengutus orang lebih dulu untuk terjun ke arena, dengan begitu memberi kesempatan kepada Hui im tongcu untuk mengira-ngira dulu kekuatan lawan sebelum mengutus jago dari pihaknya. Demikian pula keadaannya dengan pertarungan kali ini, setelah Sam yap koay mo dan ibiis perempuan seribu tahun terjun ke arena, Hui im Tongcu segera mempertimbangkan dulu kekuatan lawannya, setelah itu ia baru mengutus sepasang manusia bodoh dari bukit Wu san untuk menghadapi pertarungan kali ini.

Berbicara soal kekuatan dan kedudukan dari sepasang manusia bodoh bukit Wu san ini, sudah barang tentu masih jauh di atas kedua orang gembong iblis tersebut, hingga sebelum pertarungan dilangsungkan pun setiap orang sudah menduga kalau Sam yap koay mo dan iblis perempuan seribu tahun akan menderita kekalahan.

Begitu melihat sepasang manusia bodoh dari Wu san yang terjun ke arena, Kun lun indah Siau wi goan menjadi panik, cepat-cepat dia memerintahkan si pedang bunga satu huruf Yu Liang gi agar terjun pula kedalam arena.

Tay gi siu Khong Sian segera berpaling kepada Ji gi siu dan berkata:

"Si nenek dan bocah muda itu kuserahkan kepadamu, jangan lupa untuk membendung gerakan mereka, menanti aku sudah selesai membereskan Sam yap koay mo, barulah kita beresi mereka secara bersama-sama"

Ji gi siu tidak mengucapkan sepatah katapun, sesudah mengangguk dia langsung berjalan mendekati iblis perempuan seribu tahun dan pedang bunga satu huruf.

Si pedang bunga satu huruf merupakan jago lihay angkatan kedua dari partai Thiam cong, pedangnya segera diloloskan dan tubuhnya menerjang kemuka sambil melancarkan serangan dengan jurus Seribu lelaki menuding, dia tusuk perut lawan-nya.

Iblis perempuan seribu tahun pun tidak ambil diam, bersamaan waktunya dia melancarkan sebuah pukulan kearah Ji gi siu.

Selama ini Ji gi siu jarang sekali berbicara dan suka membungkam diri dalam seribu bahasa, namun kepandaian silat yang dimilikinya sudah mencapai tingkatan yang luar biasa.

Melihat serangan gabungan dari kedua orang lawannya, dia segera mengembangkan ilmu gerakan tubuhnya, dalam sekali kelebatan saja tahu-tahu dia sudah lolos dari arena pertarungan.

Bagaikan sedang menangkap kelinci liar saja, kedua orang tersebut menyerang Ji gi siu dari kiri dan kanan, tapi lawannya begitu cekatan dan selalu berhasil menghindar, maka  terjadilah adegan saling kejar mengejar bagaikan anak kecil yang sedang bermain petak umpat.

Dipihak lain Sam yap koay mo dan Tay gi siu pun sudah terlibat dalam suatu pertarungan yang seru, bila berbicara soal tenaga dalam maka kemampuan yang dimiliki sam yap koay  mo masih ketinggalan jauh sekali.

Tidak sampai sepuluh gebrakan kemudian sekujur badan Sam yap koay mo sudah penuh luka, darah bercucuran membasahi wajahnya dan pakaian yang pada dasarnya memang tak karuan semakin compang-camping dibuatnya sehingga boleh dibilang sama jeleknya dengan pakaian tambal sulam yang dikenakan si pengemis Siau yau kay.

Tay gi siu merupakan tokoh silat yang termashur karena kebijaksanaan dan kebaikan hatinya, dia tak pernah membunuh orang tanpa alasan yang kuat, meski begitu siksaan yang diberikan kepada lawannya sekarang cukup mendatangkan penderitaan dan siksaan yang lebih hebat bagi Sam yap koay mo.

Sambil tetap bertarung, Tay gi siu Khong sian mengejek sambil tertawa:

"Hey tua bangka yang tidak mampus-mampus, apakah kau belum mau menyerah kalah? Cepatlah pulang kerumah untuk belajar beberapa tahun lagi, dengan mengandalkan kemampuan itu masih jauh dari cukup untuk menjagoi dunia persilatan, tidakkah kau rasakan bahwa kulit mukamu kelewat tebal?" Sam yap koay mo merasa amat sakit hati, begitu menderitanya dia hingga perasaan-nya bagaikan diiris-iris dengan pisau tajam, sambil meraung penuh amarah teriaknya:

"Tolol, aku menginginkan nyawa anjing mu itu!"

Bersamaan dengan selesainya teriakan mana secara membabi buta dia menubruk kedepan.

Melihat kenekadan dan cara menyerang lawannya yang membabi buta, Tay gi siu Khong sian menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas.

Begitu tubrukan musuh tiba, dia segera mengegos kesamping, tapi serangan Sam yap koay mo sungguh teramat cepat, tahu-tahu saja dia sudah menerjang kembali kesisi tubuhnya.

Dengan gusar Tay gi siu Khong Sian mengumpat: "Rupanya kau benar-benar sudah bosan hidup!"

Secara beruntun dia lancarkan beberapa pikulan keatas panggung lawan, Sam yap koay segera berteriak:

"Aduuuhh!"

Sam yap koay mo menjerit kesakitan dan memuntahkan darah segar, tubuhnya segera terguling keatas tanah dengan selembar wajahnya menempel diatas permukaan tanah, lama sekali tubuh itu tak bergerak lagi, rupanye ia sudah tewas seketika.

Dengan kematian dari Sam yap koay mo, Tay gi siu khong Sian segera berjalan menghampiri rekannya Ji gi siu.

Sebaliknya ketika Ji gi siu menjumpai kawan-nya telah berhasil sukses, dia segara merubah gerakan tubuhnya, seperti seekor kupu-kupu dia mulai bergerak cepat diantara kedua orang lawan-nya.

Tahu-tahu terdengar dua kali dengusan tertahan bergema memecahkan keheningan, Ji gi siu tertawa panjang dan mengundurkan diri kesisi Tay gi siu, rupanya dia telah berhasil menaklukkan pula kedua orang lawan-nya, demonstrasi kepandaian yang dilakukan sepasang manusia  bodoh  dari bukit Wu san ini, selain hebat, lagi pula sangat mengagumkan, justru karena kemuliaan dan kebajikan mereka inilah maka kedua orang itu disambut dengan perasaan kagum oleh setiap jago.

Dengan senyuman gembira menghiasi wajahnya, Hui im Tongcu Gak Siy bwee segera menyambut kedatangan mereka berdua sambil berkata:

"Kalian berdua tentu cukup lelah..."

Dalam pada itu paras muka si Kun lun indah Siau Wi goan telah berubah menjadi merah padam seperti babi panggang.

Sudah jelas terlihat sekarang bahwa pertarungan malam ini berakhir dengan kekalahan total di pihaknya, bila ia masih  juga tak tahu diri serta tidak mau segera berganti lain haluan, sudah jelas lebih banyak ancaman bahaya baginya daripada keberuntungan.

Maka dengan cepat dia mengajak si mayat hidup Ciu Jit hwe dan Manusia penghisap darah Pi Ciang hay untuk merundingkan situasi tersebut.

Dengan wajah angkuh dan senyum dingin menghiasi wajahnya, si mayat hidup Ciu jit hwee segera berkata:

"Biar aku yang turun ke gelanggang"

"Tapi...tapi...hal ini mana boleh jadi? kata Kun lun indah Siau Wi goan dengan perasaan keberatan.

"Atau kau bermaksud untuk turun tangan sendiri?"

Kun lun indah Siau Wi goan semakin sangsi sehabis mendengar perkataan itu, untuk sesaat dia menjadi terbungkam.

Melihat itu si mayat hidup Ciu Jit hwee segera berkata sambil tertawa dingin:

"Aku cukup mengerti tentang perasaanmu sekarang, hmm!

Andaikata kita bukan lagi menghadapi musuh tangguh, kaulah orang pertama yang ku bacok sampai mampus!"

Keringat dingin segera bercucuran keluar membasahi  seluruh tubuh Kun lun indah Siau wi goan sehabis mendengar perkataan ini, terutama sesudah menyaksikan mimik wajah si Mayat hidup Ciu Jit hwee yang begitu buas dan bengis, ia semakin terkesiap lagi dibuatnya. Tanpa sadar dia segera bangkit berdiri dan bersiap-siap untuk terjun kearena.

Dengan suara yang menyeramkan si Mayat hidup Ciu jit hwee kembali berkata:

"Lebih baik kau terjun pada babak yang terakhir nanti, biar aku yang turun tangan lebih dulu untuk membereskan beberapa orang itu "

Dengan langkah pelan, si mayat bidup Ciu Jit hwe terjun kearena, setelah mengalihkan sorot matanya yang bengis untuk me mandang sekejap kawanan pendekar tersebut jengeknya dingin:

"Siapa yang akan turun kegelanggang lebih dulu?"

Menjumpai Si Mayat hidup Ciu Jit hwee turun tangan sendiri, diam-diam Hui im Tongcu dibuat panik, dia tak tahu siapa yang harus diutus untuk turun ke gelanggang kali ini.

Mendadak tampak olehnya Siau yau kay bangkit berdiri, melihat pengemis tersebut, Hui im tongcu pun segera manggut-manggut menyatakan persetujuan-nya.

Dengan langkah yang setengah terseret Siau yau kay terjun kearena pertarungan dan langsung menghampiri si mayat hidup Ciu Jit hwee, lalu katanya sambil tertawa:

"Tua bangka Ciu, orang tua seusia mu sudah sepantasnya hidup santai sambil menikmati sisa hidup, buat apa sih kau mesti menampilkan diri untuk menyerempet bahaya?"

Si mayat hidup Ciu Jit hwee sama sekali tidak menggubris ejekan tersebut, malahan bentaknya dengan marah:

"Kembali kau!"

"Hee...hee...hee...apakah aku si pengemis tua kurang pantas untuk melawanmu?" kembali Siau yau kay berseru sambil tertawa.

"Betul, suruh Ciong liong si keledai gundul itu untuk keluar !"

"Waduh...waduuuh... kenapa sih mesti mengumbar hawa amarah dengan percuma? orang yang sudah tua, semestinya punya jiwa yang lebih terbuka dan watak lebih lembut, kalau dia yang keluar maka kehadiran-nya tak bakal mermenguntungkan dirimu, kalau pingin makan, silahkan mencicipi aku si tulang lembek saja"

"Pergi kau dari sini! Dengan kedudukanmu dan kemampuanmu, kau masih belum berhak untuk bertarung melawanku"

Sekalipun perkataan dari si Mayat hidup ini tidak kelewatan namun nadanya toh kedengaran rada jumawa, bayangkan  saja bagaimana pun juga Siau yau kay termasuk seorang jago lihay yang punya nama dan kedudukan didalam dunia persilatan, berbicara soal kedudukan diapun hanya setingkat dibawah Ciong liong lo sianjin, tidak seharusnya dia menggunakan kata-kata semacam itu untuk menghadapinya.

Akan tetapi Siau yau kay masih saja menunjukkan wajahnya yang penuh senyum sambil berkata:

"Tua bangka, setelah hidup sekian lama didunia ini, aku si pengemis sudah bosan hidup, tolonglah kau suka berbuat kebajikan dengan memenuhi pengharapanku ini, berilah kematian kepadaka secepatnya, jasa dan budi mu itu tentu akan kuingat selalu"

Si mayat hidup Ciu Jit hwee paling benci mendengarkan perkataan gila semacam itu, amarahnya semakin membara selesai mendengarkan perkataan tersebut, dengan wajah menyeringai seram dia segera menghimpun tenaga dalamnya lalu sambil membentak keras melontarkan telapak tangan-nya kemuka.

Segulung angin serangan yang amat dahsyat pun segera menggelung dan meluncur ke depan.

Sepintas lalu orang mengira Siau yau kay adalah manusia yang hidup semaunya sendiri, padahal dalam otaknya justru penuh siasat, begitu melihat datangnya serangan musuh, ia tak berani menyambut dengan kekerasan.

Dengan cekatan tubuhnya berputar untuk menghindar sejauh dua kaki lebih, serta meloloskan diri dari ancaman tersebut.

Si Mayat hidup Ciu Jit hwee tetap mempertahankan kewibawaan-nya dengan tidak mendesak musuhnya lebih jauh, ketika lawan-nya menghindar maka diapun segera menghentikan pula gerakan tubuhnya.

Pelan-pelan Siau yau kay berjalan kembali menuju kehadapan-nya, lalu sambil tertawa katanya:

"Tua bangka Ciu, tenaga yang kau pergunakan masih kurang kuat, kumohon kepadamu tolonglah memperketat seranganmu itu"

Sesungguhnya si Mayat hidup Ciu Jit hwee memang tak pernah memandang sebelah matapun terhadap lawannya, tampak dia menggerakkan tubuhnya dan maju kedepan sambil melepaskan sebuah pukulan lagi.

Siau yau kay Wi Kian pun tidak ambil diam, dengan cepat dia mengeluarkan ilmu gerakan tubuh andalannya Ciok tiong lun poh cap lak tui, dalam sekali berkelebatan saja tubuhnya sudah melesat maju kemuka.

Tindak tanduk dari si mayat hidup Ciu jit bwee memang sangat aneh, seusai melepaskan sebuah serangan, dia tidak melanjutkan dengan serangan berikut, seakan-akan ilmu silat yang di milikinya terdiri dari jurus-jurus tunggal yang tidak bersambungan satu dengan lainnya.

Tatkala Siau yau kay baru saja menghindar, Mayat hidup   Ciu Jit bwee pun mengincar posisi musuhnya lalu melancarkan sebuah pukulan lagi, namun dengan cekatan pula Siau yau  kay telah berkelit kembali.

Secara beruntun si mayat hidup Ciu Jit bwee melancarkan tiga buah serangan, tapi semuanya berhasil dihindari Wi Kian secara mudah.

Andaikata berganti orang lain, niscaya serangan lain akan dilepaskan secara beruntun untuk mendesak lawan-nya, namun tidak demikian dengan gembong iblis tua itu, oleh sebab itu suasana diarena tidak berlangsung seru, ibarat seorang guru yang sedang memberi pelajaran kepada muridnya saja, pertarungan berjalan tersendat-sendat.

Siau yau kay sendiripun merasa sangat keheranan menghadapi kejadian seperti ini, maka sesudah berpikir sebentar dia segera berpekik nyaring, gerakan tubuhnya berubah secara tiba-tiba dan secepat sambaran kilat melepaskan sebuah pukulan dahsyat ke dada Ciu jit hwee.

Jurus serangan tersebut sesungguhnya di maksudkan untuk memancing musuh masuk perangkap, betul juga, Ciu Jit bwee segera naik pitam, pikirnya dihati:

"Kurang ajar benar pengemis sialan ini, aku tak ingin menghajarnya serta memberi kesempatan hidup untukmu, kau justru berani mencabut kumis harimau, tampaknya kalau tidak diberi pelajaran dia tak akan tahu diri "

Maka dengan cepat dia melancarkan serangan balasan dan secara beruntun melepas tiga jurus pukulan gencar, yang digunakan-nya gerakan tubuh yang amat cepat bagaikan sambaran kilat.

"Pengemis busuk, kau benar-benar pingin mampus rupanya!" dia membentak dengan penuh amarah.

Melihat musuhnya sudah turun tangan, Siau yau kay menjadi amat gembira, cepat-cepat dia mengeluarkan ilmu

langkahnya yang luar biasa untuk bergerak kian kemari seperti orang yang mabuk kepayang, tahu-tahu saja dia sudah  terlepas dari ancaman si mayat hidup Ciu jit hwee tersebut.

Sementara itu si mayat hidup Ciu Jit bwee tidak bertindak santai lagi, begitu ketiga buah serangan-nya mengenai sasaran yang kosong, dia sudah dibuat amat gusar sampai jenggot putihnya pada berdiri kaku, mendadak muncul niat jahatnya.

Diam-diam dia menyalurkan hawa beracun Hu si im tong ciang nya kedalam lengan, kemudian melepaskan pukulan gencar kedepan.

Atas kejadian ini maka dibalik serangan itu segera terasa hawa dingin yang menusuk tulang, hal ini membuat sekujur tubuh Siau yau kay mengigil kedinginan.

Sadarlah pengemis kita bahwa musuhnya telah menggunakan pukulan beracun-nya, dalam keadaan begini diapun tak berani ber tindak main-main lagi.

Segenap hawa murni yang dimilikinya segera dihimpun kedalam tubuhnya, sementara itu langkah kakinya masih mengeluarkan gerakan tubuh yang aneh untuk menghindari ancaman musuh.

Orang kuno bilang:

"Daripada berjaga lebih baik menyerang", sebab bila seseorang hanya berdiri melulu diarena niscaya banyak titik kelemahan yang akan terlihat, meskipun kau memiliki kepandaian yang hebat pun tak mungkin mampu menghadapi ancaman tersebut secara beruntun, kecuali musuhmu hanya seorang manusia kelas tiga, kalau tidak sudah pasti kekalahan berada dipihakmu.

Adapun musuh yang dihadapi Siau yau kay sekarang adalah seorang gembong iblis yang memiliki kedudukan sangat tinggi didalam golongan hitam dunia persilatan dewasa ini, berarti dia harus mengandalkan kecepatan geraknya untuk meraih kemenangan, sebaliknya bila mempertahankan diri terus menerus, ini sama artinya dengan mencari kematian buat diri sendiri.

Dalam pada itu, si mayat hidup Ciu Jit bwee melancarkan serangan untuk mempertahankan diri, pukulan demi pukulan semuanya dilancarkan dengan jurus-jurus maut yang mematikan, disamping, terselip pula hawa racun Hu si im tong ciang yang maha dahsyat, bisa dilihat betapa hebatnya ancaman tersebut.

Tak sampai setengah seminuman teh kemudian, Siau yau kay hanya mampu menangkis belaka dan sama sekali tak berkemampuan lagi untuk melancarkan serangan balasan.

Hui im tongcu Gak say hwee yang menyaksikan kejadian itu segera memohon kepada Put Gho cu untuk terjun kearena sambil berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan yang tidak diinginkan, tapi sebelum Put gho cu beranjak, Hian cing tojin telah menampilkan diri lebih dahulu.

Sudah barang tentu Hui im Tongcu merasa kurang leluasa untuk menampik, maka dia pun mengangguk memberikan persetujuannya, maka Hian Cing tojin segera terjun kearena.

Kun lun indah Siau Wi goan yang menyaksikan ketua Bu   tong pay telah terjun kearena, buru-buru minta kepada An tay cu untuk turun ke arena, tapi Leng gho cinjin yang merupakan gurunya telah terjun lebih dulu ke gelanggang.

Hian cing tojin sedang bersiap sedia terjun ke arena untuk membantu Siau yau kay, ketika menjumpai Leng gho cinjin terjun kearena pula, ia menjadi tertegun dan untuk sesaat tak mampu berkata-kata.

Sementara itu Leng gho cinjin telah menghampirinya dan berseru sambil tertawa seram.

"Hian cing totiang, baik-baikkah kau selama ini? hutang piutang kita pada dua puluh lima tahun berselang seharusnya diselesaikan pula pada kesempatan ini"

Diantara Hian cing tojin dengan Leng gho cinjin memang mempunyai perselisihan lama, sebagai seorang tosu yang pendiam terutama memandang hina terhadap Kun lun pay, maka Hian cing tojin tidak menanggapi perkataan dari Leng gho cinjin tersebut.

Menyaksikan hal ini, mencorong sinar bengis dari balik  mata Leng gho cinjin, serunya kemudian sambil tertawa licik:

"Cabut keluar pedangmu, masih kita ulangi sistem pertarungan tempo dulu, bagaimana kalau bertarung lagi sebanyak ratusan jurus?"

Dari punggungnya pelan-pelan Hian cing tojin meloloskan sebilah pedang, lalu sambil menatap musuhnya tajam-tajam ia menyahut denga suara hambar:

"Bertarung bukan beradu mulut, silahkan!"

Tak terlukiskan amarah Leng gho cinjin menghadapi sikap lawannya yang sombong dan tak memandang sebelah matapun kepadanya itu, dengan cepat dia meloloskan pedangnya lalu dengan menggunakan jurus Selaksa lebah keluar dari sarang, secepat sambaran kilat dia tusuk tubuh Hian cing tojin sambil teriaknya:

"Hidung kerbau, lihat pedang!"

"Serangan yang bagus!" dengus Hian cing tojin dingin.

Pedangnya diputar dengan cepat sambil melakukan getaran, tiga kuntum bunga pedang segera memercik diangkasa dan secara terpisah mengancam lawan-nya dari posisi atas, tengah dan bawah.

Dalam sekali gebrakan saja, dia sudah mengancam tiga buah jalan darah penting ditubuh musuh.

Bagi seorang ahli silat, satu gebrakan saja sudah cukup untuk mengetahui apakah lawan-nya berisi atau tidak, Hian cing tojin memang tenang seperti perawan, begitu bergerak segesit kelinci, serangan yang dilepaskan langsung menggunakan satu diantara tiga jurus maut dari Bu tong kiam hoat, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya ancaman tersebut...

Sebaliknya Leng gho cinjin adalah ketua Kun lun pay,  lagipula merupakan guru dari si Kun lun indah Siau Wi goan, sudah barang tentu kesempurnaan tenaga dalam maupun ilmu silatnya bukan sembarangan.

Meski melihat datangnya ancaman, dia tak sampai gugup dan dihindari dengan mudah, menyusul kemudian ia balas melepaskan sebuah serangan dahsyat.

Disaat kedua orang itu masih terlibat dalam pertarungan yang amat seru itulah, menndadak terdengar suara Siau yau kay sedang menjerit kesakitan.

Hian cing tojin segera berpaling dengan perasaan terkejut, lalu serunya tertahan:

"Aaaah!"

ooo0ooo0ooo0oo0ooo

Rupanya Siau yau kay telah menderita luka parah dan terduduk diatas tanah denga wajah pucat pias seperti mayat dan noda darah membasahi ujung bibirnya.

Sementara itu si Mayat hidup Ciu Tit bwee masih melanjutkan langkahnya kedepan dan mendekati pengemis tersebut.

Tatkala Hian cing tojin menjerit kaget karena menyaksikan peristiwa itu, Leng gho cinjin segera memanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk melepaskan serangannya dari samping.

Bagi jago-jago lihay yang bertarung, pikiran cabang merupakan pantangan yang amat besar, begitu Hian cing tojin terganggu kosentrasinya tadi, pihak musuh  segera manfaatkan peluang itu melakukan penyerangan.

Tahu-tahu saja sebuah tusukan pedang dari Leng gho cinjin telah dilepaskan.

Serta merta Hian cing tojin memutar pedangnya berulang kali untuk memunahkan serangan mana dengan keras lawan keras, posisinya pun dari pihak penyerang menjadi pihak terserang...

Begitu Leng gho cinjin berhasil menempati posisi sebagai penyerang, keangkuhan-nya segera timbul kembali, sambil berpekik nyaring dia getarkan pergelangan tangan-nya sambil berubah jurus dan mengembangkan permainan lima pedang Kun lun kiam hoatnya.

"Sreet..sreet..sreet..!"

Secara beruntun dia lancarkan tiga buah serangan pedang yang diarahkan ke atas, tengah dan bawah, kesempurnaan ilmu pedangnya memang mengagumkan, sedang gerakan tubuhnya sangat aneh, kekejiannya pun tak malu menjadi ketua Kun lun pay.

Didalam keadaan demikian, Hian cing tojin tak berani   berayal lagi, cepat-cepat dia lepaskan pula tiga jurus seraagan pedang untuk memunahkan ancaman mana, bahkan napsu ingin menangnya segera timbul kembali.

Tiba-tiba saja dia melompat mundur sejauh beberapa langkah, kemudian sambil menjejakkan kakinya keatas tanah dan berpekik nyaring, tubuhnya melayang ditengah udara, lalu pedangnya digetarkan dan menggunakan jurus Bintang rembulan saling berpadu, secepat petir dia babat kepala Leng gho cinjin.

Waktu itu Leng gho cinjin sedang dibuat keheranan karena melihat gerak mundur dari Hian cing tojin, belum habis rasa tercengangnya itu melintas lewat, tahu-tahu tubuh Hian cing tojin sudah melejit keudara dan menyambar batok kepalanya.

Cepat-cepat Leng gho ciajin mengerutkan tulang sambil merendahkan badannya, sapuan pedang dari Hian cing tojin itu persis menyapu diatas kepalanya yang membuat rambutnya terpapas dan bergugutan keatas tanah.

Menyusul kemudian Hian cing tojin melayang turun keatas tanah, pedangnya segera dicolokkan kemuka dengan jurus mendorong bukit membendung samudra dan menusuk Hoa kay hiat ditubuh Leng gho cinjin.

"Huuuh, kepandaian silat kucing kaki tiga begitu mah belum pantas untuk dipamerkan dihadapan orang, saudara Leng gho, sudah tiba saatnya bagimu untuk beristirahat panjang!"

Hijau membesi selembar wajah Leng gho cinjin seusai mendengar perkataan itu, namun mau tak mau dia harus menangkis serangan dari Hian cing tojin tiu dengan kekerasan.

Siapa tahu dalam serangannya barusan Hian cing tojin hanya mengerahkan tenaga dalamnya sebesar dua bagian saja, begitu tertangkis, pedang itupun melejit kesamping.

Tapi gara-gara untuk menangkis serangan pedang itu Leng gho cinjin telah menggunakan tenaga dalamnya sebesar puluhan bagian, akibatnya pertahanan tubuhnya menjadi terbuka sama sekali.

Memang disinilah letak tujuan dari Hian cing cinjin, dengan siasatnya itu disaat pedangnya tertangkis, tidak tampak gerakan tubuh yang digunakan, tahu-tahu saja pedangnya sudah menusuk kembali ke dada lawan.

Leng gho cinjin segera mendengus tertahan sambil mengeluh kesakitan, sedangkan Hian Cing tojin sudah melompat keluar dari arena dan berseru sambil tertawa:

"Maaf, maaf !"

Sampai Hian cing tojin sudah mengundurkan diri dari arena, Leng gho cinjin masih tetap berdiri tegak di tempat semula dengan sepasang mata melotot besar lagi bulat. Mendadak pedangnya terjatuh dari cekalan, menyusul kemudian tuabuhnya bagaikan batang pohon yang tumbang, tahu-tahu ikut roboh terjungkal keatas tanah.

Menanti semua orang menengok kearahnya dengan pandangan terkejut ternyata Leng gho cinjin sudah menghembuskan napasnya yang penghabisan.

Saat itu di arena tinggal si mayat hidup Ciu Jit bwee

seorang masih tetap berdiri di situ, sementara Siau yau kay Wi Kian sudah ditolong orang untuk memperoleh pengobatan dari Ciong liong lo sianjin.

Suma Than yu yang menjumpal si mayat hidup Ciu Jit hwee masih berdiri ditempat, maka diapun minta ijin kepada Hui im tongcu lalu melompat kehadapan gembong iblis itu sambil ujarnya:

"Mohon petunjuk dari locianpwee!"

Mayat hidup Ciu Jit bwee melirik sekejap searah Suma  Thian yu, tiba-tiba saja paras muka setan-nya yang menyeramkan itu berubah menjadi dingin dan kaku bagaikan selapis baja, dengan suara geram bentaknya keras-keras:

"Bocah dungu yang masih bau tetek, lebih baik pulang saja kerumah untuk minta ibumu menyusui, apa gunanya mencari kematian ditempat ini?"

Baru saja perkataan itu selasai diutarakan, nampak si harimau angin hitam Lim Khong telah melompat keluar dari barisan dan memberi hormat kepada gurunya, si mayat hidup sambil berkata:

"Suhu, untuk membunuh ayam buat apa memakai golok penjagal kerbau? Biar Lim khong saja yang membereskan bocah bau ini!"

Si mayat hidup Ciu Jit hwee tertawa hambar dan mengundurkan diri dari situ.

Sepeningga1 si mayat hidup, dari barisan lawan kembali tampil seseorang yang tak lain adalah si rasul garpu terbang Kiong Lui.

Begitu tiba disamping Lim Khong, dia segera berseru dengan wajah menyeringai seram: "Orang she Suma, toaya khusus datang untuk membuat perhitungan denganmu"

Suma Thian yu memandang sekejap kearah dua orang lawan-nya ini, kemudian tanyanya sambil tersenyum:

"Kalian berdua hendak maju bersama, atau kah...?" "Tentu saja maju bersama!" sahut si Rasul garpu terbang

Kiong Lui dangan licik dan hina.

Suma Thian yu tertawa panjang, dipandangnya sekejap orang itu dengan sinar mata menghina, lalu sahutnya sambil menggelengkan kepalanya berulang kali:

"Baru pertama kali ini kujumpai manusia bermuka setebal kalian berdua, ayoh loloskan senjata kalian untuk bertarung!" Sedari tadi Rasul garpu terbang Kiong Lui memang sudah mempersiapkan senjata andalan-nya, tongkat kepala harimau

ber bentuk rembulan, tampak ia membentak keras lalu merentangkan senjatanya di tengah udara, mulutnya yang lebar menyeringai memperlihatkan wajah yang menyeramkan, sementara hidungnya yang besar lagi tebal bergetar tiada hentinya.

Harimau angin hitam Lim Khong pun meloloskan sebilah senjata yang berbentuk aneh dari pinggangnya, mereka berdua dengan sorot mata yang tajam menggidikkan mengawasi Suma Thian yu dengan pandangan penuh amarah.

Sesungguhnya tujuan Suma Thian yu terjun ke arena tadi adalah untuk menghadapi si mayat hidup Ciu Jit hwee, sedang terhadap kedua orang ini boleh dibilang tak memandang sebelah matapun juga.

Pelan-pelan dia meloloskan pedang Kit hong kiamnya dari punggung, lalu dia konsentrasikan diri pada ujung pedang dan mengunakan tenaga dalamnya untuk bersiap diri.

Harimau angin hitam Lim Khong dan Rasul garpu terbang Liong Lui saling berpandangan sekejap, tiba-tiba rasul garpu terbang itu menggerakkan senjatanya, diiringi suara bentakan keras, toya kepala harimaunya segera dibabatkan ke depan.

Senjata andalannya Suma Thian yu adalah pedang yang termasuk senjata ringan, bila dia harus menangkis  serangan tongkat kepala harimau lawan dengan kekerasan, niscaya akibatnya tak terlukiskan dengan kata-kata.

Maka dengan cekatan dia melangkah kesamping untuk menghin-darkan diri dari ancaman tersebut.

Harimau angin hitam Lim Khong jauh lebih licik dan munafik ketimbang rekan-nya, dia sama sekali tidak

melepaskan serangannya mengarah kemuka, ditunggu sampai kesempatan baik tiba, serangan baru dilepaskan secara gencar.

Begitulah ketika Suma Thian yu menghindar kekanan tadi, serta merta dia ayunkan senjatanya untuk membabat tubuh musuh.

"Serangan bagus" jengek Suma thian yu sambil tertawa dingin, "orang she Lim, hari ini aku tak akan membiarkan kau hidup lebih lama"

Secepat sambaran kilat, pedang Kit hong kiamnya ditusukkan ketubuh Lim khong, ketika serangan sampai ditengah jalan, tiba-tiba ia memutar badan sambil berganti gerakan, dengan membawa tenaga serangan yang kuat dan gerakan yang cepat, dia babat wajah si rasul garpu terbang.

Taktik suara ditimur menyerang dibarat yang diterapkan pemuda tersebut memang sangat jitu lagipula tepat, Rasul garpu terbang dibuat gelagapan dan panik sehingga hampir saja termakan oleh ancaman Suma Thian yu tersebut, untung saja dia masih sempat mengegos kesamping untuk melepaskan diri.

Siapa tahu taktik yang dipakai Suma thian yu merupakan taktin berantai yang mengandung maksud ganda, tujuan yang sesungguhnya dari serangan ini bukan Kiong lui melainkan harimau angin hitam Lim khong.

Dia sengaja berpura-pura melancarkan serangan-nya kearah Kiong lui tak lain untuk menjebak kelengahan Lim Khong, dimana kekuatan dan sasaran yang sebenarnya tak lain adalah Lim Khong sendiri.

Begitulah, secara tiba-tiba Suma Thian yu memutar badannya, segenap tenaga dihimpun kedalam lengan kanan lalu dengan jurus mengejar guntur membendung petir, dia serang Lim Khong secara mendadak.

"Serahkan nyawsa anjingmu!" serunya sambil tertawa panjang.

Mimpi pun si Harimau angin hitam Lim Khong tak menyangka kalau Suma Thian yu akan menggunakan taktik berantai untuk menjebak dirinya, melihat keadaan sudah mendesak dan tak mungkin lagi baginya untuk menghindar, dengan tubuh bergetar keras ia berpekik pedih:

"Mati aku!"

Suma Thian yu sangat membencinya karena peristiwa dilembah Cing im kok tempo hari, dimana dia dipaksa sampai tercebur ke air, maka kali inipun dia tidak ragu-ragu melepaskan tusukan-nya keperut Lim Khong.

Pada saat itulah mendadak dari arah belakang terasa desingan angin tajam, ternyata Rasul garpu terbang telah menyergapnya dari belakang.

Dalam keadaan begini, andaikata Suma Thian yu melanjutkan tusukan-nya ketubuh Lim Khong, niscaya dia sendiripun akan terserang oleh sergapan Kiong Lui.

Disaat yang amat kritis inilah tiba-tiba melintas satu  ingatan didalam benak Suma Thian yu, tiba-tiba saja dia mengegos kesamping sambil mengeluarkan ilmu langkah Ciok tiong luan poh nya.

Dalam sekejap mata dia sudah menghindar dan menyelinap kepunggung Lim Khong, telapak tangan kirinya langsung didorong kemuka dengan kecepatan tinggi.

Waktu itu si Harimau angin hitam Lim Khong telah memejamkan matanya sambil menunggu kematian, tiba-tiba saja dia merasakan pandangan matanya menjadi terang, ketika membuka matanya kembali ternyata bayangan tubuh Suma Thian yu sudah lenyap dari pandangan.

Sebagai penggantinya dia justru melihat Kiong lui dengan tongkat kepala harimaunya sedang menerjang tiba. Ia menjadi terkejut sekali, dalam anggapan-nya Kiong Lui telah berkhianat kepadanya, pagar makan tanaman dengan mengorbankan dirinya demi keuntungan sendiri.

Sementara dia masih tertegun dan belum sempat melakukan sesuatu gerakan untuk menghindarkan diri, tahutahu dari belakang tubuhnya sudah menyambar datang segulung kekuatan yang menghantam badan-nya sehingga terhuyung kedepan.

Atas kejadian tersebut, tubuh si harimau angin hitam Lim Khong pun secara otomatis terhuyung kemuka dan  menyambut datangnya serangan maut tongkat kepala  harimau dari si rasul garpu terbang Kiong lui, andaikata serangan tersebut mengenai tubuhnya sudah dapat dipastikan nyawanya akan melayang.

Rasul garpu terbang pun bukan manusia sembarangan, ketika kehilangan jejak Suma thian yu dan melihat Lim khong sedang menyongsong kedatangannya, dia menjadi sangat terkejut, dalam keadaan demikian dengan sekuat tenaga tongkat kepala harimaunya dimiringkan kesamping, namun tubuh Lim khong masih tetap menerjang ke atas tubuhnya.

Untuk menyelamatkan diri sendiri dari musibah yang tidak diinginkan, Rasul garpu terbang segera mendorongkan telapak tangannya kemuka dan menahan gerak terjangan Lim Kong secara paksa.

Tapi pada saat itulah pedang Kit hong kiam dari Suma Thian yu telah menembusi punggung si harimau angin hitam itu sehingga tembus sampai kedadanya.

Diiringi jeritan ngeri yang memilukan hati pelan-pelan tubuh Lim Khong roboh terjengkang ke atas tanah.

Menyaksikan kecepatan gerak dari Suma Thian yu, sadarlah si Rasul garpu terbang Kiong Lui bahwa kepandaian silat yang dimiliki si anak muda itu kini telah mengalami kemajuan yang pesat dan bukan seperti dulu lagi.

Dengan perasaan gusar dan benci yang bercampur aduk, si Rasul garpu terbang segera memutar tongkat kepala harimaunya dan langsung dihantamkan ketubuh Suma Thian yu.

Pada saat inilah si mayat hidup Ciu jit hwee yang semula telah mengundurkan diri, sekali lagi terjun kedalam arena.

Melihat penampilan kembali si mayat hidup kedalam arena, Hui im Tongcu segera sadar bahwa gembong iblis ini tentu bertekad untuk bertarung sampai titik darah penghabisan dengan pemuda tersebut, hatinya menjadi amat gelisah.

Mendadak.....

Dari tengah udara berkumandang datang suara pekikan keras yang memekakkan telinga, mendengar suara itu Suma Thian yu segera mengundurkan diri dari arena.

Tampak sesosok bayangan manusia melayang turun kedalam arena dengan kecepatan luar biasa, ternyata pendatang tersebut adalah Heng ci Cin jin, gurunya dua bersaudara Thia.

Toan im siancu Thia Yong yang pertama-tama datang menyongsong disusul pula oleh Bi hong siancu Wan Pek lan.

Dengan langkah yang pelan Heng si cin jin berjalan menuju kehadapan Hui im Tongcu, lalu katanya sambil tertawa ramah:

"Apabila kedatangan pinto agak terlambat harap sudi dimaafkan!"

Hui im tongcu merendah berulang kali serta mempersilahkan Heng si cinjin untuk mengambil tempat duduk.

Tapi sambil tertawa Heng si Cinjin segera berkata: "Pinto sudah datang terlambat, oleh sebab itu sudah

sepantasnya bila pinto yang menghadapi babak pertarungan ini sebagai penebus dosa"

"Kalau begitu, merepotkan toheng untuk turun tangan" sahut Hui im tongcu Gak Say owee sambil tersenyum.

Heng si cinjin segera melangkah masuk kedalam arena. Rasul garpu terbang Kiong Lui sadar kalau kepandaian silatnya tak akan mampu mengungguli Suma Thian yu, tapi

lain halnya dengan bertarung melawan tosu tua tersebut, meskipun hasilnya belum ketahuan, paling tidak ia dapat memaksa Suma Thian yu untuk bertarung melawan si mayat hidup Ciu Jit hwee.

Berpikir demikian, dia segera menghadang jalan pergi Heng si cinjin, serunya:

"Kiong Lui mohon petunjuk darimu!" "Haaah...haaah...haaah, kedatanganmu memang paling

tepat, silahkan!" jawab Heng si cinjin sambil tertawa terbahakbahak.

Dengan cepat Kiong Lui mengerahkan kembali tenaga dalamnya dan mengangkat senjata tongkat kepala harimaunya untuk melancarkan serangan, ditengah deruan angin serangan yang sangat kuat dan bayangan tongkat yang menyelimuti angkasa, ia langsung menerjang tubuh Heng si cinjin habishabisan.

Dengan tangan kosong Heng si cinjin segera mengembangkan pula permainan silatnya untuk melayani serangan lawan.

Dalam pada itu si mayat hidup Ciu jit hwee sudah tak sabar lagi untuk menunggu, tiba-tiba bentaknya:

"Bocah keparat Suma, ayoh cepatan sedikit menyerahkan nyawa anjingmu!"

Perlahan-lahan Suma Thian yu masuk kedalam arena, sahutnya hambar:

Bertarung melawan manusia macam kau hanya akan mengotori tangan sauya mu saja, lebih baik suruh manusia she Siau itu yang keluar berbicara!"

"Bocah keparat" tukas mayat hidup Ciu jit hwee dingin, "asalkan kau mampu bertarung sebanyak sepuluh jurus melawanku, kau tak usah kuatir"

"Sepuluh jurus?"  Suma Thian yu  tertawa nyaring, "setan tua, kau terlalu memandang tinggi kemampuanmu itu, jangan lagi sepuluh jurus, seratus gebrakan pun masih sanggup sauya layani"

Mencorong sinar buas dari balik mata mayat hidup Ciu Jit hwee sesudah mendengar perkataan ini, dengan wajah menyeringai seram seperti binatang buas yang siap menerkam mangsanya, dia awasi Suma Thian yu tanpa berkedip.

Sebaliknya Suma Thian yu kembali mengejek sambil tersenyum:

"Hey setan tua, aku dengar ilmu pukulan Hu si im tong ciang mu merupakan kepandaian tangguh diantara kalangan perampok, sauya mu ingin sekali mencoba kehebatan ilmu tersebut, bagaimana kalau kita beradu tiga pukulan lebih dulu?"

Si Mayat hidup Ciu jit hwee segera mendongakkan kepalanya dan tertawa.

"Haah...haah...haah... bagus, bagus sekali, memang tantanganmu paling bagus, sudah sekian lama aku hidup di dunia ini namun baru pertama kali ini ku jumpai bocah yang bernyali begitu besar seperti kau, bila tidak kupenuhi harapanmu itu, kau tentu mengira aku tidak memberi muka untuk mu, baiklah, bersiap-siaplah untuk menerima seranganku!"

Sembari berkata dia segera bergerak mundur sejauh tujuh delapan langkah kebelakang sehingga jarak di antara kedua belah pihak menjadi satu kaki lebih lima depa.

Suma Thian yu bukannya mundur malah maju lebih kedepan, jarak yang semula sudah jauh pun kini semakin diperpendek lagi.

Mayat hidup Ciu Jit hwee segera duduk bersila diatas tanah, membusungkan dadanya dan mendongakkan kepalanya sambil mengawasi Suma thian yu dengan pandangan hina.

Suma Thian yu yang menyaksikan kejadian ini menjadi gembira sekali, diam-diam dia ulangi lagi rahasia ilmu silat yang dipelajari dari kitab tanpa kata lalu turut bersila pula diatas tanah sambil menghimpun tenaga.

"Setan cilik apa yang kau ragukan lagi?" tegur mayat hidup Ciu Jit hwee secara tiba-tiba dengan suara dingin.

Suma thian yu tertawa hambar. "Yang ragu-ragu justru kau sendiri hey setan tua, meskipun ilmu pukulan Hu si im tong ciang dahsyatnya luar biasa,  namun jangan harap bisa melukai sauyamu barang seujung rambutpun"

Begitu ucapan mana diutarakan ke luar, semua hadirin sama-sama terperanjat, sorot mata setiap orangpun samasama dialihkan ke wajah Suma Thian yu.

Bi hong siancu Wan Pek lan dengan mata berkaca-kaca mengawasi pula wajah kekasihnya dengan perasaan kuatir, panik dan penuh perhatian.

Sepasang manusia bodoh dari bukit Wu san berpaling pula kearah Put gho Cu dan bertanya lirih:

"Amankah anak Yu? Kami kuatir bocah ini hanya menuruti emosi sehingga tidak mikirkan keselamatan sendiri"

Put gho cu menggelengkan kepalanya berulang kali: "Dengan tenaga dalam yang pinto miliki pun masih belum

mampu untuk menandingi Ciu Jit hwee, tentu saja anak Yu pun tak akan mampu"

"Bagaimana kalau kita panggil saja agar dia mundur?" tanya Tay gi siu Khong Sian dengan perasaan kuatir.

Tiba-tiba terdengar Ciong liong lo sian jin berkata sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haaah...haaah...haaah... kalian bertiga terlalu menguatirkan keselamatan anak Yu, andaikata ia tak yakin bisa mengatasi musuhnya, tak mungkin bocah itu berbuat demikian, kalian toh tahu anak Yu tak pernah melakukan perbuatan yang menyerempet bahaya"

Perkataan dari Ciong liong lo sianjin hanya dapat menenangkan perasaan para jago untuk sementara waktu, namun tak dapat menghilangkan perhatian mereka terhadap keselamatan si anak muda tersebut.

Pada saat itu, kedua orang yang duduk saling berhadapan itu sudah saling menghimpun tenaga dalamnya.

Tiba-tiba terdengar si Mayat hidup Ciu jit hwee membentak keras dengan suara yang menggeledek:

"Lihat pukulan!" Sekilas cahaya biru segera menyelimuti angkasa disertai angin yang menderu-deru dengan kencangnya, diringi pula suara desingan angin tajam segera menyambar ketubuh Suma Thian yu.

Tanpa sadar semua jago mengalihkan sorot matanya ke wajah Suma thian yu, tampak si anak muda itu meluruskan sepasang telapak tangan-nya ke depan dengan mata tangan menghadap keluar, sepasang matanya melotot tajam kearah sepasang tangan-nya, tidak terdengar suara bentakan, tidak jelas pula kemana larinya angin serangan yang dilepaskan.

Mendadak terdengar suara ledakan keras yang memekikkan telinga berkumandang ditengah arena.

"Blaaamm!"

Dengan pandangan terkejut dan tertegun semua orang mengalihkan pandangan-nya ke arena.

Suma Thian yu sama sekali tak bergerak dari posisi semula, hanya permukaan tanah dimana ia duduki telah amblas sedalam tiga inci lebih.

Sebaliknya si mayat hidup Ciu Jit hwee masih tetap seperti keadaan semula, sama sekali tak berkutik dari posisinya.

Hui im Tongcu Gak Say hwee yang menyaksikan kejadian tersebut menjadi amat gelisah, cepat-cepat dia bertanya kepada Ciong liong lo siang jin:

"Suhu, anak Yu "

"Tidak usah kuatir, dia tak akan menderita kalah!" "Tapi dia sudah !"

"Kau tak akan mengerti, tak usah banyak bertanya lagi"

Hui tongcu segera berpaling kembali ke arena, tiba-tiba saja ia mendengar si Mayat hitam Ciu Jit hwee telah membentak lagi dengan penuh kegusaran:

"Setan cilik, sambut lagi sebuah pukulan ku ini!"

Angin serangan yang menyambar kedepan kali ini jauh lebih kencang dan dahsyat, cahaya biru yang menyelimuti angkasa pun, semakin tebal menggulung datang bagaikan awan hitam sebelum badai menjelang, dengan hebat dan dahsyatnya menggulung keseluruh badan Suma Thian yu. Senyuman dingin yang tipis dan  hambar  segera tersungging di ujung bibir Suma Thian yu, sekali lagi sepasang telapak tangan-nya di lontarkan kedepan, tidak terdengar suara tiada pula sesuatu gerakan, semua orang menyaksikan udara menjadi cerah secara tiba-tiba dan tak kelihatan suatu gejala yang aneh pun.

Tiba-tiba...

"Blaamm...! Blaammm...!"

Secara beruntun terdengar lagi suara dentuman keras yang bergema secara beruntun.

Angin puyuh segera menderu-deru, awan gelap

menyelimuti seluruh angkasa dan suasana menjadi amat kalut.

Dalam waktu singkat bayangan tubuh kedua orang itu sudah terkurung oleh deruan angin yang memekikkan telinga itu.

Beberapa orang yang hadir didalam arena hanya menangkap sekali suara dengusan kecil yang tertahan.

Dengan perasaan kuatir Hui im tongcu dan Bi hong siansu segera berseru tertahan:

Bagaimana ini? Bagaimana ini?"

Diam-diam Ciong liong lo sianjin sendiri pun merasa gelisah sebab ditinjau dari suara dengusan tadi, mirip sekali dengan suara dari Suma Thian yu, hal ini membuat rasa percayanya pada diri sendiri menjadi goyah.

Lambat lain pasir yang beterbanganpun mulai mereda, awan hitam mulai buyar dan keadaan dalam arena menjadi

cerah kembali, apa yang kemudian terlihat membuat para jago berseru kaget.

Ternyata kedua orang yang sedang bertarung itu tetap duduk kaku seperti patung, sama sekali tak bergerak barang sedikitpun jua, keadaan mereka tidak ubahnya seperti para hwesio yang sedang bersemedi.

Tak lama kemudian Suma Thian yu menggerakkan badannya dan bangkit berdiri, lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun kembali kerombongan-nya. Bi hong siancu Wan Pek lan yang menjumpai kekasihnya masih hidup menjadi amat gembira, cepat-cepat dia maju kemuka menyambut kedatangannya.

Sementara itu para jago masih mengawasi si mayat hidup  Ciu Jit hwee tanpa berkedip, mereka yang berpihak kepadanya berharap agar gembong iblis itu bangkit kembali, tetapi yang membencinya berharap agar ia tak pernah bisa bangkit kembali.

Namun akhirnya si mayat hidup bergerak, namun ia bukan bangkit berdiri melainkan pelan-pelan roboh terjungkal keatas tanah dan tak berkutik lagi.

Buih putih meleleh keluar dari ujung bibirnya dan buih itu sudah bercampur darah, wajahnya menjadi hijau membesi lalu putuslah nyawa iblis tersebut.

Akhirnya si gembong iblis yang menjuluki diri sebagai mayat hidup itu tergeletak di atas tanah dan tak pernah berkutik lagi, ia benar-benar menjadi sesosok mayat.

Kejadian ini kontan saja disambut dengan tepuk sorak yang gegap gempita dari pihak para pendakar.

Bukti menunjukkan bahwa ilmu silat dari kitab tanpa kata mampu mengatasi keganasan Hu si im hong ciang yang amat beracun dan kini Suma Thian yu telah menjadi seorang pahlawan.

Tiba-tiba terdengar kembali suara pekikan nyaring bergema memecahkan keheningan.

Heng si cinjin dan Rasul rasul garpu terbang yang semula masih bertarung sengit, kini sudah lenyap entah pergi kemana.

Namun tiada orang yang menaruh perhatian akan kejadian ini sebab perhatian semua orang telah ditujukan keatas wajah Sip hiat jin mo atau iblis manusia penghisap darah ini.

Hui im tongcu sebagai pemimpin rombongan akhirnya juga turun tangan, Put gho cu dan Tam Pak cu bermaksud menghalangi tapi segera dicegah oleh Ciong Hong lo sianjin.

Hui im tongcu merupakan nama yang asing bagi umat persilatan, kecuali para pendekar bahkan Kun lun indah sendiripun tak tahu tentang orang tersebut, tentu saja rasul garpu terbang tahu dengan jelas, hanya sayang dia tak sempat memperkenalkan-nya kepada si iblis penghisap darah.

Ketika iblis manusia penghisap darah Pi Ciang hay melihat seorang perempuan yang terjun menghadapinya, dia menjadi mendongkol, timbul niat jahatnya untuk menghabisi nyawa perempuan ini.

Siapa tahu Hui im tongcu yang tiba dihadapan Manusia iblis penghisap darah itu segera menjura dengan, hormat sambil menegur:

"Empek Pi, mungkin kau sudah melupakan Say bwee?"

Manusia iblis penghisap darah Pi Ciang hay tertegun dan mengawasi wajah Gak Say bwee tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia merasa bingung karena perempuan asing ini menyebut empek kepadanya.

Hui im tongcu Gak Say bwee kembali berkata sambil tertawa manis:

"Tentu saja kau tak akan teringat kepada Say bwee, tapi kau pasti kenal dengan mendiang suamiku!"

"Siapa yang kau maksud?"

"Gak Cing thian!" Gak Say bwee segera menyebut nama suaminya.

Paras muka manusia iblis penghisap darah segera berubah hebat sesudah mendengar nama itu, tanpa terasa dia berseru:

"Kau...kau adalah... aku benar-benar hampir tak percaya" "Yaa, empek Pi pasti masih ingat bahwa kau pernah

membopong seorang bayi perempuan loloskan diri dari cengkeraman maut"

"Tentu masih ingat, peristiwa ini berlangsung empat puluh tahun berselang, aaai waktu berlalu amat cepat, aku sudah melupakan diriku sendiri apalagi orang lain?"

Setelah menghela napas panjang dengan perasaan pedih, kembali dia berkata:

"Yaa, aku masih ingat waktu itu kau berusia tiga tahun, kemudian sewaktu kita bersuara kembali, waktu itu kau sudah kawin dengan Cing thian..!" Hui im tongcu Gak Say bwee mengangguk berulang kali, dia gembira karena pertarungan ini berhasil dihindari dan pertumpahan darah yang tak perlupun bisa dilewati.

Dengan keputusan si Manusia iblis penghisap darah untuk melepaskan babak pertarungan ini maka Kun lun indah Siau Wi goan menjadi kelabakan setengah mati dan benar-benar mati kutunya apalagi setelah mengetahui bahwa korban dipihak dia amat besar, tiba-tiba saja timbul niatnya untuk melarikan diri.

Secara diam-diam ia menarik ujung baju istrinya sambil berbisik lirih:

"Adik Eng, kalau tidak angkat kaki sekarang juga, kita bakal kehilangan nyawa di sini"

"Aku tak akan pergi dari sini!" tukas Hu yong tertawa Chin Lan eng sambil tertawa dingin, "paling tidak aku harus membunuh seseorang lebih dahulu sebelum dapat melampiaskan rasa dendamku!"

"Adik Eng....kau "

"Kau tak usah turut campur, kau suami bedebah, kalau ingin kabur silahkan kabur lebih dulu, tapi aku perlu

memberitahukan kepadamu, lebih baik kau tak usah bermimpi disiang hari bolong, dalam keadaan demikian kau hanya bisa menyelamatkan diri bila mau beradu jiwa "

Selesai berkata dia meloloskan pedangnya dan terjun kearena, umpatnya kepada para jago:

"Kalau ada nyali ayoh segera terjun ke arena, dengan mengandalkan pedangku ini Chin Lan eng siap membantai kalian manuia manusia bedebah dari golongan lurus!"

Tay hoa kitsun Chin Leng hui merasa sangat sedih melihat perbuatan putrinya itu, namun dia tak ingin menyaksikan putri kandungnya itu tewas ditangan orang lain, maka timbul tekadnya untuk membereskan sendiri nyawa putrinya yang sesat itu.

Tanpa merundingkan persoalan ini dengan para jago lagi, ia segera terjun ke arena. Namun sebelum dia sempat bertindak, Chin siau sudah melompat kehadapan Chin lan eng lebih dulu sambil membentak marah:

"Sauya akan menuntut balas hutang berdarahmu itu!" "Hutang berdarah? Hmm hutang darah apa?"

"Hutang darah dari keenam anggota keluarga Chin!" "Apa urusannya dengan lonio? Kan perbuatan itu

merupakan hasil karya dari bocah keparat Suma?" "Perempuan bedebah, kau masih ingin memfitnah orang?"

umpat Chin Siau sangat gusar, "apakah kau masih juga melakukan perbuatan terkutuk ini menjelang kematianmu?"

"Setan cilik, kau tak usah banyak bicara, lihat pedang!" Dengan jurus bangau putih pentang sayap, pedangnya ditusukkan kajalan darah Thian loh hiat ditubuh Chin Siau

secara tiba-tiba.

Chin Siau membentak keras, pedangnya dengan jurus walet sakti membalik awan, menyelinap ke samping sambil menangkis tusukan itu, kemudian dengan jurus naga muncul diempat samudra, dia melancarkan serangan balasan.

Sementara melancarkan serangkaian serangan yang gencar tadi, diam-diam Chin lan eng telah merogoh kedalam sakunya dan mengeluarkan dua batang panah beracun.

Waktu itu berhubung Chin Siau sedang memejamkan matanya sambil berkonsentrasi mengeluarkan ilmu pedang butanya, sudah barang tentu ia tidak sempat memperhatikan semua gerak-geriknya itu.

Chin Lan eng sendiripun merupakan seorang jago pedang kenamaan, dia mempunyai kesempurnaan yang luar biasa dalam ilmu pedang terutama aliran Bu tong pay, karenanya pertarungannya melawan Chin Siau jadi seimbang dan untuk sesaat sukar untuk menentukan siapa yang lebih unggul diantaranya.

Ditengah berlangsungnya pertarungan yang amat seru itu, mendadak terdengar Tay hoa kitsu berteriak keras:

"Hati-hati siauhiap dengan senjata rahasia!" Dengan perasaan terkejut para jago berpaling kearena, ternyata entah sejak kapan Hu yong senyum Chin Lan eng telah menyambit ke dua batang panah beracun-nya itu.

Chin Siau amat terkesiap, cepat-cepat pedangnya diputar menciptakan selapis bunga pedang yang melindungi seluruh tubuhnya, lalu dengan cekatan mundur kebelakang.

"Traanng! traaang!"

Terdengar dua kali dentingan nyaring bergema memecahkan keheningan, kedua batang panah beracun itu sudah tertangkis semua, lalu nampak Chin Siau berpekik nyaring dan secepat kilat menerobos masuk kebalik lapisan pedang dari Chin Lan eng sambil membentak keras:

"Perempuan bedebah, serahkan nyawamu!"

Jeritan ngeri yang memilukan hati segera berkumandang memecahkan keheningan, suara itu berasal dari mulut Chin Lan eng dan bergema hingga menembusi angkasa.

Ketika semua jago mengalihkan kembali perhatian-nya, tampak Chin Siau telah bermandi darah, sedangkan Chin Lan eng berdiri sambil menggunakan pedangnya untuk menopang badan, sepasang matanya melotot besar dan penuh penderitaan, dia mengawasi Chin siau tanpa berkedip, sementara darah bercucuran keluar dari dadanya.

Lambat laun sinar mata yang melototi Chin Siau itu

semakin memudar dan sayu, meski begitu dia masih mencoba untuk mempertahankan diri, sorot matanya dengan liar berkeliaran mengawasi sekitar arena seakan-akan tak rela mati sendirian sebelum suaminya ikut tewas pula.

"Blaamm...!" akhirnya robohlah iblis perempuan ini ketanah dan tak bangun lagi untuk selamanya.

Tay hoa kitsu segera menutup mukanya dengan kedua

belah tangan-nya, dia tak tega menyaksikan perstiwa tersebut.

Hatinya benar-benar hancur lebur.

Dengan mata kepala sendiri ia saksikan putrinya lahir, dan sekarang diapun menyaksikan dengan mata kepala sendiri dia tewas, biarpun selama ini dia membenci perbuatan serta tingkah laku putrinya, bagaimanapun juga dia adalah tetap putri kandungnya, siapa yang tak merasa sedih?

Setelah Siau hu yong Chin Lan eng tewas secara mengerikan maka sorot mata semua orang pun dialihkan kewajah Kun lun indah Siau Wi goan.

Ternyata gembong iblis ini masih tetap duduk dengan tenang ditempat semula, bergerak sedikitpun tidak.

Sekali lagi Suma Thian yu tampil kedepan arena sambil membentak keras:

"Siau tayhiap, apakah kau hanya bersembunyi terus macam cucu kura kura?"

Walaupun ia sudah berteriak berulang kali namun tak terdengar suara jawaban sekejap pun.

Sementara semua orang merasa keheranan, pada saat itulah terdengar seorang berkata dengan lantang:

"Anak Yu, dia telah tewas bunuh diri, Omintohud..." "Apa?" Suma Thian yu berseru tertahan.

Ketika mengetahui orang itu adalah Heng si Cinjin, kembali dia berseru:

"Locianpwe, mana si rasul garpu terbang?"

"Ia sedang tidur, paling cepat besok baru bangun, tapi selama hidupnya jangan harap dia mampu memegang tongkatnya lagi!"

"Kenapa? Apakah ilmu silatnya sudah punah?" tanya Suma thian yu keheranan.

Sambil bertanya ia berpaling kearah Manusia iblis penghisap darah, sebab Kiong lui adalah muridnya, kejadian ini tentu akan menyebabkan Manusia iblis penghisap darah mendendam kepada Heng si cinjin, bahkan bisa menjadi timbul pertarungan yang seru dan mati-matian antara mereka berdua.

Siapa tahu Manusia iblis penghisap darah sama sekali tidak menjadi gusar karena kejadian ini, malahan sambil tertawa terbahak-bahak katanya:

"Haha ha ha ha....kalau sudah di punahkan ilmu silatnya malah kebetulan bagiku, sebab aku sendiripun memang bermaksud akan memunahkan kepandaian silat yang dimilikinya, dia berbakat jelek dan berotak bebal, kemajuan yang diperolehnya sangat lamban seperti jalan-nya siput, tak mungkin manusia semacam dia bisa berhasil dengan baik, malahan jadi rakyat biasa lebih baik baginya"

Siapapun tak akan menyangka kalau seorang gembong iblis macam Manusia iblis Penghisap darah dapat mengucapkan perkataan seperti ini, opo tumon?

Dengan tewasnya beberapa iblis itu, maka ancaman terhadap kedamaian dunia pun berakhir...

Untuk sementara waktu suasana dalam dunia persilatan menjadi tenang kembali.

Menyaksikan mayat-mayat yang bergelimpangan diatas tanah serta darah segar berceceran bagaikan anak sungai, para jago sama-sama menghela napas sedih.

Mereka sama-sama sebagai manusia, mengapa ada satu golongan yang berbuat sesat, serta suka melakukan kejahatan sehingga harus berakhir secara demikian tragis?

Bila tak ingin mengalami nasib seperti ini mengapa pula mereka melakukan perbuatan terkutuk semacam itu?

Para jago bersama-sama berdiri serius di depan lapangan itu sambil berdoa bagi ketenangan arwah para gembong iblis tersebut, sekalipun orang-orang itu pernah menjadi musuh mereka, namun setelah mati berarti semua dosa dan kesalahan merekapun berakhir.

Dan sampai disini pula kisah "KITAB PUSAKA" ini, sampai berjumpa kembali dalam kisah lain.

TAMAT 
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kitab Pusaka Jilid 34 (Tamat)"

Post a Comment

close