Kitab Pusaka Jilid 32

Mode Malam
Jilid : 32
Suma Thian yu menjadi sangat terperanjat setelah mendengar seruan tersebut, dengan cepat dia berpaling, ternyata si makhluk pembalik awan Ay Siang telah muncul pula disana. Dengan langkah pelahan Ay Siang mendekati pemuda tersebut, sementara dibelakangnya mengikuti gorilla hitam andalan-nya itu.

Setelah berhasil membinasakan musuhnya barusan, rasa percaya pada kemampuan sendiri dari Suma thian yu semakin bertambah, dia tidak merasa jeri lagi terhadap kakek tersebut namun tetap merasa sangsi terhadap gorilla yang berada di belakangnya.

Sementara itu makhluk pembalik awan Ay Siang telah  berdiri tegak hanya enam langkah dihadapan si anak muda  itu, setelah memandang sekejap kearah sang pemuda dengan pandangan hina, kemudian memandang pula ke arah Tio ci hui, katanya kemudian:

"Nyali kalian berdua benar-benar amat besar, kau anggap lembah Put kui kok merupakan tempat yang gampang dibuat huru-hara? Hmm, bukan saja membunuh Ko Lip kun dan Si tay kong berdua kalian pun berani menyerbu keluar dari penjara. Hmm... boleh saja bila ingin keluar dari lembah Put kui kok ini, cuma kalian harus sanggup merobohkan diriku lebih dulu"

Semua perkataan-nya diucapkan dengan nada tegas dan bertenaga, bukan saja kelewat mengunggulkan kemampuan sendiri, jumawanya bukan kepalang.

Suma Thian yu segera menjawab dengan ketus:  "Siapa yang akan menurut aku akan hidup, siapa yang

menentang akan mati, setan tua kau jangan mencoba-coba hendak merintangi perjalananku ini"

Begitu selesai berkata, dengan jurus dewa memetik buah dia menghantam tubuh Si makhluk pembalik awan Ay Siang keras-keras.

Siapa tahu baru saja dia bergerak gorilla yang berada dibelakang Ay Siang turut bergerak pula, agaknya binatang tersebut cukup memahami maksud majikan-nya, begitu melihat ada orang menyerang majikan-nya, dia segera menghadapi serangan tersebut dengan cepat.

"Blaaamnm..!" serangan dahsyat dari Suma Thian yu itu nyaris menghantam diatas dada Gorilla tersebut.

Biarpun serangan tersebut sangat dahsyat ternyata sama sekali tidak berpengaruh pada sang gorilla tersebut, jangan lagi terluka, bergetar pun tidak.

Suma thian yu menjadi keder sendiri, dia melompat mundur dua langkah ke belakang, tapi gorilla itu sambil menggerakkan tangan-nya malahan mendesak lebih kedepan.

Lama-kelamaan Suma Thian yu dibuat mendongkol dengan sendirinya, dia segera menarik napas panjang begitu melihat gorila itu sudah berada tiga langkah dihadapan-nya, dia lantas mengeluarkan ilmu pukulan Sian poo hwe hong ciang ajaran Ciong liong sianjin untuk menyerang binatang tersebut.

Dalam pada itu, makhluk pembalik awan Ay Siang yang menyaksikan gorilanya sudah mencegat Suma thian yu, dia segera mengalihkan sasarannya ke arah pena baja bercambang Tio Ci hui.

Sementara itu Tio Ci hui telah bersiap siaga dengan menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya ke dalam sepasang lengan, begitu melihat Ay Siang datang mendekat ia segera membentak keras:

"Lihat serangan!"

Serangan tersebut segera menumbuk dada si makhluk pembalik awan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat. "Serangan yang bagus!" jengek Ay Siang sambil tertawa

dingin.

Tubuhnya miring kesamping, lalu telapak tangan kirinya dilontarkan ke depan, dengan jurus Awan melintangi bukit Wu san, dia hantam pinggang Tio Ci hui.

Dalam pada itu Tio Ci hui benar-benar sangat gelisah, dengan mengeluarkan semua kepandaian silat yang pernah dipelajarinya selama puluhan tahun terakhir ini dia bertarung sengit melawan makhluk pembalik awan.

Bila dibicarakan sesungguhnya, keadaan Ay Siang dengan Tio Ci hui sekarang ibaratnya orang dewasa menghadapi anak kecil, pada hakekatnya dia hanya mempermainkan si pena baja bercambang itu saja.

Berbeda dengan Tio Ci hui, dia telah mempergunakan seluruh kepandaian yang dimilikinya, setiap jurus, setiap gerakan semuanya disertai dengan tenaga penuh, sayang sekali kemampuannya memang kalah setingkat, biarpun dia sudah menggunakan segenap kemampuan yang dimilikipun sama sekali tak berguna.

Di pihak lain, pertarungan antara Suma thian yu melawan gorilla itu pun berlangsung seru, berbicara soal tenaga dalam Suma Thian yu masih jauh lebih unggul apa lagi manusia berotak dan gorilla tidak, jadi posisi sungguhnya lebih menguntungkan bagi anak muda kita.

Ketika ia melihat Ay Siang telah bertarung melawan Tio ci hui, hatinya mulai gelisah tak hentinya, ia mencoba mengamati jalan-nya pertarungan tersebut.

Kalau tidak dilihat masih mendingan, begitu melihat keadaan tersebut, peluh dingin segera terjatuh bercucuran membasahi tubuhnya, ternyata Tio Ci hui sudah terdesak hebat, keadaannya berbahaya sekali, ibarat telur diujung tanduk.

Buru-buru Suma Thian yu menghimpun segenap tenaga yang di milikinya dengan melangsungkan pertarungan cepat, semua pelajaran yang baru saja dipelajari dari kitab tanpa katapun di keluarkan semua.

Bagaimana pun jua gorilla cuma seekor hewan, dia hanya mengandalkan kulit tubuh nya yang keras saja untuk menghadapi musuh, sadarlah Suma Thian yu, apa bila dia ingin meraih kemenangan, maka akallah yang harus digunakan.

Maka dengan mengerahkan tenaga besar enam bagian dia hantam perut gorilla itu keras-keras.

Termakan pukulan yang di lancarkan dengan ilmu sakti dari kitab tanpa kata ini, gorilla tersebut tidak mampu mempertahankan diri, begitu terhajar badannya segera terjungkal keatas tanah. Begitu hewan tersebut roboh, Suma thian yu tidak menyianyikan kesempatan baik yang ada, bersamaan waktunya dia cabut keluar pedagnya lalu menusuk tenggorok-kan binatang itu dengan kecepatan bagakan sambaran kilat.

Mendadak terdengar gorilla itu menjerit kesakitan, dari tenggorokannya muncrat keluar darah segar yang menyembur ke mana-mana, setelah meronta berapa saat akhirnya lemas dan tewaslah binatang tersebut.

Sementara itu makhluk pembalik awan Ay Siang yang  sedang bertarung menjadi tertejut ketika mendengar jeritan ngeri dari binatang kesayangannyam ketika dia berpaling dan mengetahui binatang itu sudah mampus, hatinya menjadi sakit sekali seperti diiris-iris dengan pisau, serangannyapun secara otomatis turut terhenti.

Padahal pada waktu itu napas si pena baja bercambang Tio Ci hui sudah ngos-ngosan seperti kerbau, melihat musuhnya meng-hentikan serangan secara tiba-tiba ia segera menganggap inilah kesempatan yang baik sekali.

Dengan menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya, sebuah bacokan kilat segera dilontarkan ketubuh lawan.

Makhluk pembalik awan Ay Siang adalah seorang jagoan yang berilmu sangat tinggi, sekalipun dia sedang terpengaruh oleh binatang kesayangannya, namun tidak lupa sedang menghadapi lawan.

Baru saja angin serangan menerpa tubuhnya, dia telah sadar dari kekilafan tersebut.

Terbakar oleh amarahnya karena kematian gorila kesayangannya, Ay Siang segera melampiaskan semua perasaan dendam, benci dan amarahnya itu kepada Tio Ci hui.

Mendadak terdengar ia membentak keras: "Lebih baik kau temani dia masuk kubur saja!"

Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, sebuah pukulan dahsyat telah dilontarkan kedepan.

Tio ci hui mengira musuhnya sama sekali tidak membuat persiapan apa-apa karena sedang terpengaruh oleh kematian binatang kesayangannya, maka dia menyerang secara kalap dengan melupakan pertahanan diri.

Menanti ia saksikan Ay Siang menyerang dengan amarah, terlambat sudah baginya untuk menjaga diri, tahu-tahu dadanya terasa sakit, pandangan matanya menjadi gelap kemudian roboh tak sadarkan diri.

Ilmu pukulan yang digunakan makhluk pembalik swan Ay Siang adalah tenaga Im, bagi korban serangannya tidak akan merasakan kesakitan yang enteng akan segera roboh pingsan, sedang yang parah segera tewas dalam seketika.

Barusan, makhluk pembalik Awan Ay Siang melancarkan serangan dalam keadaan gusar, otomatis dia menyerang dengan tenaga yang maha dahsyat, kasihan pena baja bercambang Tio Ci hui, dengan sudah payah dia meloloskan  diri dari penjara, tapi siapa sangka sebelum keluar dari lembah Put kui kok, jiwanya keburu terbang ditangan Ay Siang Si   setan tua ini!

Disaat Suma Thian yu berhasil menghabisi nyawa gorila itu, tepat pada saatnya Tio Ci hui roboh termakan serangan, dia mau menolong sudah tak sempat lagi, segera teriaknya dengan kaget:

"Tio toako!"

Tubuhnya segera menerjang kedepan dan memeriksa denyut nadi Tio Ci hui tapi denyut nadi orang itu sudah berhenti.

"Dia telah tewas!" dengan pedih Suma Thian yu bergumam.

Kemudian ia bangkit berdiri, sorot matanya memancarkan sinar buas penuh hawa napsu membunuh, ditatapnya Makhluk pembalik Awan itu lekat-lekat, kemudian bentaknya sambil menggigit bibir:

"Suma Thian yu bersumpah akan membunuhmu!"

Makhluk pembalik awan Ay Siang mendesis sinis dengan angkuhnya dia berkata:

"Hmm, dengan mengandalkan kemampuan sekecil itupun kau berani bicara besar " Namun semua perkataan ini tak ada sepatah katapun yang masuk ketelinga Suma Thian yu, dia sudah hilang kesadarannya, kematian Tio Ci hui telah membuatnya kalap, karena Tio Ci hui adalah teman senasib sependeritaannya, sebab hanya Tio Ci hui yang mempercayai kesucian dirinya....

Makhluk pembalik awan Ay Siang melirik sekejap kearah Suma Thian yu yang masih termangu karena kesedihan yang memuncak, tiba-tiba timbul suatu ingatan jahat dalam hatinya, mengapa dia tidak menyergap dan membunuh pemuda itu selagi lawannya tidak siap?

Berpendapat demikian, diam-diam dia lantas menghimpun segenap tenaga dalamnya sedalam lengan dan siap melancarkan serangan yang mematikan.

Siapa tahu baru saja dia bergerak, Suma thian yu sudah merasakan hal tersebut, hanya saja dia tetap berlagak bodoh dan berdiri seperti keadaan semula.

Diiringi bentakan keras penuh amarah dari Mahluk pembalik awan Ay Siang, sepasang telapak tangannya dengan menghim pun tenaga sebesar sepuluh bagian langsung dibabatkan kedada dan lambung si anak muda tersebut.

Keadaan Suma Thian yu saat ini tak ubahnya seperti perasaan Ay Siang yang kehilangan gorilanya, rasa gusar, sedih dan kosong sedang menunggu sasaran pelampiasan, dan Ay Siang kebetulan merupakan satu-satunya sasaran pelampiasan.

Suma Thian yu telah menghimpun tenaga dalamnya  sebesar sepuluh bagian yang mengelilingi seluruh badan, dia tak mau memandang Ay Siang yang busuk dan munafik itu, maka pandangannya dialihkan ke tempat jauh sana.

Tatkala serangan Ay Siang dengan telak menghajar diatas dada dan lambung Suma Thian yu, mendadak terdengarlah suara ledakan yang memekikkan telinga.

Tubuh Suma Thian yu seolah-olah sudah tumbuh akarnya, sama sekali tidak bergerak sedikitpun, bagaimana dengan A Siang si setan tua itu? Ketika sepasang tangan-nya menghantam tubuh lawan tadi, dia merasa seolah-olah menghajar diatas dinding baja yang kuat, sepasang lengan-nya menjadi sakit sekali hingga menusuk-nusuk tubuhnya, kemudian ia merasakan pula seguluag tenaga pantulan yang kuat melemparkan tubuhnya ke luar.

Sekalipun selama berada diudara dia masih dapat merasakan segala sesuatunya, akan tetapi badannya seperti tidak bertenaga lagi, tubuhnya segera mencelat sejauh dua kaki lalu terbanting keras keatas diatas tanah dan tewas seketika.

Begitulah nasib manusia yang berhati keji, siapa yang telah melakukan kejahatan, dia pasti akan menerima ganjaran yang setimpal dengan kejahatan yang pernah diperbuatnya.

Setelah berhasil membunuh Ay Siang si mahkluk pembalik awan tersebut, perasaan Suma Thian yu sama sekali tidak riang, apalagi ketika sorot matanya memandang mayat Tio Ci hui yang membujur kaku diatas tanah, rasa sedih kembali mencekam perasaannya.

Ketika dia membangunkan mayat Tio Ci hui, air matanya tak terbendung lagi, setetes demi setetes jatuh membasahi tubuh Tio Ci hui yang telah kaku.

Tanpa tujuan pemuda itu membopong jenasah temannya dan selangkah demi selangkah berjalan ke depan.

Untuk mencapai lembah depan, maka dia harus melewati sebuah tebing bukit yang dijaga ketat.

Suma Thian yu segera membaringkan jenasah Tio Ci hui diatas tanah, membuat liang kubur disisi sebuah tebing dan mengubur jenasah rekannya itu disana.

Ia teringat pula sumpah Tio Ci hui ketika dia bertekad hendak membalas dendam kepada penyamun berkerudung yang telah menewaskan tiga belas orang jagonya.

Pemuda itu segera berlutut didepan pusara temannya yang masih baru itu, kemudian dengan sedih dia bersumpah:

"Tio toako semoga arwahmu dialam baka dapat beristirahat dengan tenang. Lindungilah Thian yu agar secepatnya dapat menemukan penyamun pembegal barang kawalan itu. Thian yu bersumpah akan membalaskan dendam bagi dia dan sakit hatimu itu"

Selesai berdoa dia bangkit dan pelan-pelan menuruni bukit tersebut, kematian dari Tio toako nya membuat pemuda itu cepat-cepat ingin kembali kedaratan Tionggoan.

Sebenarnya dia hendak membantai semua orang dalam lembah Put kui kok tapi setelah teringat bahwa selain kokcu tua yang angkuh tersebut, nyonya kokcu serta putrinya pernah menyelamatkan dia dari siksa dan penderitaan, maka niat tersebut di urungkan kemudian.

Disiang hari, penjagaan dalam lembah Put kui kok amat ketat, Suma thian yu menunggu sampai tibanya malam baru selangkah demi selangkah meninggalkan lembah tersebut kembali ke daratan Tionggoan.

Ketika pemuda itu sudah tiba di kota Aun yang, mendadak didengarnya suatu berita yang mengejutkan, yaitu  pertarungan antara kaum sesat dan lurus sudah tersiar sampai dimana-mana.

Konon waktu pertarungan sudah ditentu kan pada malam Tiong ciu bulan delapan tanggal lima belas.

Tempat pertarungan adalah puncak bukit Hoa san.

Ketika Suma Thian yu menghitung dengan jari ternyata jarak sampai bulan delapan tanggal lima belas masih ada tiga puluh lima hari, hal ini membuat pemuda tersebut amat gelisah.

Sebab bagaimana pun juga sebelum pertarungan itu diseleng-garakan, dia harus berangkat ke Hui im tong dan menyambangi Ciong liong lo sianjin sambil memberitahukan pengalamannya kepada orang tua itu.

Berbicara dari situasi sekarang, biarpun Ciong liong lo  sianjin berhasil mendapatkan kitab tanpa kata pun belum tentu mampu memadamkan kobaran api yang mulai membara itu.

Suatu badai pembunuhan berdarah ternyata berhasil diramalkan oleh Ciong liong Lo sianjin secara tepat sekali. Tiga puluh hari lagi malam liong Ciu akan tiba, bila  golongan lurus dan golongan sesat mulai bertarung yang pasti darah akan berceceran d seluruh bukit Hoa san, tapi siapakah yang akhirnya akan muncul sebagai pemenang?

Kota Hun Yang adalah sebuah kota yang besar dan ramai, tidak kalah bila dibandingkan dengan kota Tiang An. Suma thian yu yang baru memasuki kota tersebut segera terkesan oleh ramainya orang yang berlalu lalang di kota tersebut.

Tiba-tiba ia  melihat seorang tosu diantara kerumunan orang banyak, wajahnya seperti amat terkenal, tapi untuk sementara waktu ia lupa mengingat siapakah dia, sementara dia sedang berpikir, tosu itu telah membalikkan tubuhnya dan lenyap dikeramaian orang banyak.

Cepat-cepat Suma Thian yu mengejar kedepan, tapi saking tegangnya tanpa sengaja ia menumbuk orang yang berjalan dibelakangnya.

Orang itu segera menjerit kesakitan lalu mengumpat kalang kabut:

"Setan cilik, kau sialan! kemana kau taruh sepasang matamu, mau menumbuk aku mati ya... aduh...tolong...aduh.... tolong kau si pembunuh cilik!"

Kecut hati Suma Thian yu setelah mengetahui korbannya adalah seorang kakek tua berambut putih yang telah berusia kira-kira tujuh puluhan, kakek itu roboh terlentang sambil mengaduh tiada hentinya, sehingga mengenaskan sekali keadaannya.

Cepat-cepat Suma Thian yu membimbing tangan kakek itu, lalu katanya dengan nada minta maaf:

"Maaf pak tua, aku memang kelewat pikun sehingga tanpa sengaja menumbukmu hingga terjerembab, maaf, maaf sekali lagi maaf "

Kakek itu mengaduh tiada hentinya, lama kelamaan kemudian hal ini telah banyak menarik perhatian orang sehingga datang mengerubung.

Tampaknva kakek itu mencari gara-gara, semakin banyak orang yang mengerubung jeritnya semakin menjadi-jadi, mendadak ia mencengkeram baju Suma Thian yu dan mulai berkaok-kaok:

"Coba kalian lihat bocah keparat ini mau menginjak-injak aku sampai mati, aduh biung... perutku sakit sekali, hei kunyuk... kauingin membunuh aku ya?"

Sebenarnya Suma Thian yu sedang kalut pikirannya apalagi setelah mendengar kaokan kakek itu dan melihat orang-orang yang mengerubung semakin banyak, wajahnya menjadi  merah padam seperti udang direbus.

Ulah kakek itu semakin menjadi-jadi, melihat paras muka pemuda itu memerah, ia berteriak semakin keras.

"Ayoh ganti, kau harus mengganti kerugian, aduh habis sudah uangku, tadi aku membawa lima tahil perak rupanya, bocah ini sudah mencomotnya sekaligus, aduh mak, aku tak mau hidup lagi"

Mendengar kata-kata itu sadarlah Suma thian yu bahwa tujuan kakek tersebut dengan ulahnya adalah ingin memeras dia, coba kalau disana tiada orang lain apalagi memang ia yang tanpa sengaja menubruknya, sejak tadi kakek itu sudah ditempelengnya.

Sekarang kakek tersebut hanya bermaksud minta uang saja, hal ini justru dianggap olehnya sebagai suatu yang kebetulan sekali, karenanya diapun memohon:

"Lopek, maafkanlah aku, kalau kau tak punya uang, aku bersedia memberi lima tahil untukmu, cuma disini banyak orang, bagaimana katau kita minum dua cawan arak dirumah makan?"

Agaknya kakek itu seperti tertarik, dia segera berhenti mengaduh dan mengawasi pemuda tersebut dengan mata melotot.

"Baiklah, sekarang juga kita boleh berangkat" katanya kemudian.

Dengan melepaskan diri dari kerumunan orang banyak, dia segera beranjak pergi lebih dulu. Para penonton yang menyaksikan kejadian tersebut bukan saja tiada yang menaruh simpatik, sebaliknya diam-diam malah menyumpai kakek tersebut.

Suma Thian Yu dengan mulut membungkam mengikuti di belakangnya, ternyata kakek itu tidak menuju kepusat kota sebaliknya malahan pergi keluar kota.

Melihat hal ini, Suma Thian Yu menjadi keheranan dan tak tahu obat apa yang sedang dipersiapkan kakek tersebut, tapi dia menduga tentu bukan mengandung maksud baik.

Setelah keluar dari pintu kota, kakek itu membalikkan badan dan menghadang jalan perginya sambil berkata:

"Setan cilik, apakah ingin menghantar kematianmu?" "Empek tua, aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan!" "Kau mengejar terus tosu siluman tersebut, kalau bukan

ingin mengantar kematian, lantas mau apa?"

Suma Thian yu jadi tertelan setelah pendengar ucapan ini, diam-diam pikirnya:

"Sungguh aneh, darimana dia tahu kalau aku sedang mengejar tosu tua itu? tampaknya dia adalah seorang manusia yang punya nama atau asal usul "

Meski begitu dia toh telah menyangkal:

"Tidak, aku sedang meneruskan perjalananku "

"Meneruskan perjalanan? Hmm aku lihat kembali ke gua Hui im tong yang benar bukan?"

Begitu ucapan tersebut diutarakan, Suma Thian yu semakin terkejut lagi, jangan-jangan dia telah bertemu dengan seorang dewa ?

Kembali kakek itu berkata:

"Ciong liong si tua bangka itu sudah tidak berada di Hu im tong lagi ke sana pun percuma saja. Bagaimana kalau aku memberi petunjuk kepadamu? Lebih baik kau berangkat ke perkampungan Lu ming ceng di kaki bukit Hoa san saja!"

Suma thian yu segera sadar bahwa dibalik kesemuanya itu tentu ada hal-hal yang tak beres, cepat-cepat dia memberi hormat seraya berseru: "Terima kasih atas petunjuk dari cianpwe, bolehkah aku tahu siapa nama cianpwe?"

Kakek itu segera tertawa terkekeh.

"Aku tak punya nama, hidupku sederhana dan hambar, sampai nama sendiripun kulupakan"

Semula Suma Thian yu tidak menangkap sesuatu dibalik ucapan tersebut, namun setelah berpikir lebih jauh, dia seperti teringat akan sesuatu, segera serunya:

"Apakah locianpwee adalah Tam Pak cu?" kakek itu segera tertawa terbahak bahak:

"Haaa... haaa... rupanya gurumu sudah pernah menyinggung diriku?"

"Suhu boanpwee seringkali membicarakan tentang nama besar cianpwee, dan boanpwe pun sangat berharap dapat berjumpa dengan cianpwee, sunggah beruntung hari ini kita dapat bersua muka"

"Cukup, cukup, kau tidak usah berkentut terus, buat apa   kau membicarakan soal begini? Aku masih mempunyai banyak tugas dan tak ada waktu untuk berbicara betele-tele lagi, yang penting gurumu berada di perkampungan Lu ming ceng sekarang, sedangkan suhengmu Hian cing totiang berada dirumah penginapan Cing keng di sebelah selatan kota..."

Mendapat kabar tentang suhengnya Hian ceng totiang, Suma Thian yu merasa girang di samping malu, dia girang karena gurunya put gho cu pernah berpesan agar dia mencari suhengnya itu sampai ketemu.

Sebaliknya Tam pak cu adalah satu diantara dua tokoh dunia persilatan yang angkat nama bersama-sama dengan gurunya Put gho cu, sudah barang tentu kelihayan ilmu silatnya luar biasa sekali.

Tanpa memberi kesempatan kepada lawannya untuk menjawab, dengan cepat Tam pak cu berkata lagi:

"Adapun tosu yang kau kejar tadi tak lain adalah utusan dari Kun lun indah untuk mencabut nyawa mu, selanjutnya kau mesti berhati-hati, mara bahaya masih akan muncul diperjalanan selanjutnya, asalkan kau selalu waspada, sudah tentu setiap bencana berubah menjadi rejeki. Nah, aku mau pergi dulu"

Selesai berkata, dia segera bersajak pergi meninggalkan tempat tersebut.

Suma Thian yu segera membalik-kan badan masuk kembali ke kota Hoa yang, dari orang ditepi jalan dia mencari tahu letak rumah penginapan Cing keng.

Sebenarnya rumah penginapan adalah tempat untuk menginap para pelancoang yang se dang berkunjung, tetapi rumah penginapan Cing keng justru khusus disediakan bagi kaum tojin.

Ketika Suma Thian yu sampai didepan pintu, dia masih mengira dirinya sudah salah alamat dan mendatangi sebuah pertokoan.

Rumah penginapan Cing keng memang khusus dibangun menyerupai sebuah pertokoan. Seandainya didepan pintu tidak terpancang papan nama yang bertuliskan Cing keng, niscaya Suma Thian yu sudah pergi meninggalkan tempat itu.

Sementara dia masih berdiri termangu, seorang seperti orang bodoh, dari balik rumah penginapan telah muncul seorang tosu kecil yang segera menegur:

"Apakah tuan sedang mencari seseorang?" "Benar, aku sedang mengunjungi Hian cing tojin"

Tosu kecil Itu memperhatikan seluruh badan Sumaa Thian yu dari atas sampai kebawah, kemudian baru katanya:

"Silahkan masuk ke dalam"

Ia mengajak Suma Thian yu menelusuri beranda menuju kesebuah kamar dipaling ujung, kemudian sembari menunjuk kamar itu, kata tosu kecil itu:

"Itu dia kamarnya"

Seusai berkata diapun beranjak pergi.

Suma Thian yu segera mengetuk pintu kamar itu pelanpelan, dari balik kamar pun terdengar suara seseorang menegur:

"Siapa disitu?"

"Aku Suma Thian yu" Pintu kamar segera dibuka dan muncul seorang tosu tua yang berwajah penuh welas kasih.

"Silahkan masuk" katanya lembut.

Setelah melangkah masuk kedalam ruangan, Suma thian yu segera berseru lagi:

"Bolehkah aku tahu apakah Hian cing totiang adalah "

"Yaa, pinto lah orangnya, siauhiap menyebut diri sebagai Suma Thian yu, apakah kau sute?"

Suma Thian yu segera menjatuhkan diri berlutut sambil memberi hormat, tapi Hian Ceng totiang segera membangunkan pemuda itu dan tertawa terbahak-bahak.

"Haah...haah...haah...silahkan bangun hiante, kita bukan orang luar, tak usah kelewat banyak adat"

Setelah bangkit berdiri, Suma Thian yu baru berkata: "Sewaktu aku berpamitan dengan suhu tempo hari, suhu

memerintahkan kepadaku untuk menyambangi suheng, sudah sepantasnya bila aku memberi hormat kepadamu setelah berjumpa, apalagi selama inipun aku belum sempat mencari suheng karena tugas yang bertumpuk, untuk itu harap suheng sudi memaafkan"

Hian cing totiang sudah berusia enam puluh tahun,  berwajah keren, gagah dan berwibawa, namun memancarkan pula sinar welas kasih, membuat siapapun yang berjumpa, segera timbul perasaan hormat dan kagum terhadapnya.

Sesudah mempersilahkan Suma Thian yu duduk, Hian cing totiang baru berkata lagi:

"Bulan berselang, suhu telah berkunjung ke Bu tong dan membicarakan soal hiante, saat itulah pinto baru tahu kalau hiante sudah pulang dari Tibet dengan selamat, sungguh tak disangka diluar dugaan hiante telah datang berkunjung"

Suma Thian yu segera menuturkan pengalamannya secara ringkas bagaimana dia bertemu dengan Tam pak cu dan bagaimana dia diberi petunjuk untuk menjumpai Hian cing totiang, disamping itu dia pun menceritakan pula semula pengalamannya selama ini. 000O000

Dengan cermat dan seksama Hian cing totiang mendengarkan semua penuturan tersebut, ketika mengetahui adik seperguruan telah berhasil mempelajari isi kitab tanpa kata, sudah barang tentu tosu itu manjadi amat girang.

Pembicaraan diantara merekapun segera berlangsung lebih akrab dan santai, sementara Hian cing totiang menceritakan pula semua peristiwa yang belakangan ini terjadi didalam dunia persilatan kepada pemuda tersebut.

Saat itulah Suma Thian yu baru mengetahui pangkal pokok perselisihan dari kaum lurus dan sesat.

Sebetulnya pihak kaum lurus sama sama mengusulkan

Ciang liong lo sianjin sebagai pimpinannya, namun usul ditolak oleh yang bersangkutan karena merasa dirinya sudah tua dan tak ingin terikat lagi, sehingga dalam pertarungan inipun dia enggan untuk turut menghadirinya.

Namun setelah direcoki terus, akhirnya dia memberikan juga kesanggupannya untuk memberi bantuan.

Disamping itu diapun mengusulkan agar Hui im tongcu sebagai pemimpin, sebab berbicara soal tingkatan kedudukan sudah sepantasnya jika Hui im tongcu sebagai pimpinan.

Tapi kalau berbicara menurut keadaan situasi didalam dunia persilatan, maka Hian cing totiang yang terasa lebih cocok untuk menduduki jabatan tersebut.

Bagaimana pun juga, Hian cing totiang adalah seorang   ketua dari Bu tong pay, kedudukan maupun posisi Bu tong pay dalam mata masyarakat amat tinggi dan disegani.

Namun Hian cing totiang tak ingin melibatkan segenap

anak muridnya kedalam persoalan ini, dia hanya bersedia turut serta sebagai seorang preman yang yang terlepas dari ikatan.

Sesungguhnya tindakan ini memang merupakan sebuah pilihan yang amat tepat, sebagai seorang ketua partai, memang sepantasnya bila dia mengutamakan keselamatan orang banyak lebih dulu, tentu saja dia tak ingin dikarenakan ambisi pribadi sehingga menjerumuskan seluruh partai ke dalam posisi yang sulit.

Kini segenap jago dari golongan lurus lelah berdatangan dari empat arah delapan penjuru untuk berkumpul di perkampungan Le ming ceng di kaki bukit Hoa san.

Hui im tongcu Gak Say bwee dengan membawa Gak Sin liong yang binalpun telah pindah pula ke perkampungan Lu ming ceng.

Sepintas lalu pertarungan antara golongan lurus dan sesat ini hanya biasa saja, padahal bencana tersebut tak ubahnya seperti pertempuran antara dua neraka besar.

Begitulah, dari keterangan dan laporan yang diberikan Hian cing totiang kepadanya, Suma Thian yu banyak mendapat tahu tentang segala gerak gerik dan sepak terjang dari Kun lun indah belakangan ini.

Ketika berpamitan dengan Hian ceng totiang, waktu sudah menunjukkan tengah malam, berhubung dia adalah seorang preman, maka ia tak diperkenankan berdiam dalam rumah penginapan Cing keng. Hian cing totiang sama sekali tidak menghantarnya sampai pintu, Suma thian yu muncul dari rumah penginapan seorang diri.

Setelah menarik napas panjang, dengan kepala tersuruk dia melangkahkan kaki.

Tak lama setelah meninggalkan rumah penginapan, pemuda itu segera merasa dirinya sedang diikuti orang, satu ingatan segera timbul didalam benaknya.

"Mengapa tidak kugunakan sedikit akal untuk mempermalukannya?"

Cepat-cepat dia berganti arah dan menuju keluar kota, setelah itu dia pun secara diam-diam memperhatikan apakah para penguntitnya masih mengikuti terus.

Belum sampai setengah li, dia telah menjumpai bahwa orang yang menguntilnya bukan hanya seorang saja.

Siang hari tadi, dari mulut Tam pak cu, ia mendapat tahu kalau si harimau angin hitam sekalian telah menyusul kesana, maka dia pun bisa menduga kalau orang yang menguntilnya sekarang sudah pasti merupakan jago-jago kelas satu.

Maka diapun mempercepat langkahnya menuju keluar kota.

Tak lama setelah meninggalkan kota, tiba-tiba dari belakang tubuhnya terdengar seseorang membentak keras:

"Bocah keparat jangan pergi dulu!"

Suma Thian yu memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, melihat tempat tersebut adalah sebuah jalan raya menuju kekota yang gampang menarik perhatian orang, maka dia segera bergerak meluncur kearah hutan di sebelah kanan jalan.

Pada saat Itulah dari belakang tubuhnya terdengar suara desingan angin tajam, ketika Suma Thian yu berpaling, la jumpai ada tiga sosok bayangan manusia sedang meluncur datang dengan kecepatan luar biasa.

Dalam sekilas pandangan saja Suma Thian yu segera mengenali ketiga orang itu sebagai si ular berekor nyaring Mo Pun ci yang merupakan musuh besarnya, lalu leng khong  taysu dari Go bi pay dan seorang tosu lagi yang pernah dijumpainya waktu masuk kota pagi tadi, Hu hok cu adanya.

Selesai memperhatikan orang-orang itu, Suma thian yu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa keras, serunya:

"Heeh... heeeh... heeeh... aku mengira sobat dari mana  yang telah datang, rupanya tayhiap bertiga. Orang she Mo, perjumpaan kita hari ini benar-benar suatu kebetulan, jadi aku tak perlu mencarimu kemana-mana lagi"

Sebelum si ular berekor nyaring Mo Pun ci menjawab, Leng khong taysu telah berseru lebih dulu:

"Bocah keparat, tak kusangka kau belum mampus. Hmm, nyawanya sungguh amat panjang, sudah kukirim kau ke  neraka kau justru kau balik lagi ke dunia, tampaknya kau ingin memilih cara  kematianmu? Hmm, baiklah,  terpaksa pinto harus mengirimmu sekali lagi"

Sambil menjejakkan kakinya ke atas tanah, dia menerjang kedepan sambil mengayunkan tangan-nya melepaskan sebuah pukulan kearah tubuh Suma Thian yu. Begitu berjumpa dengan Leng khong taysu, Suma thian yu pun merasakan darah panas mendidih dalam tubuhnya, ia bisa terkurung dalam lembah Put kui kok selama ini, tak lain adalah berkat hasil karya dari orang ini, dia merasa dendam sakit hati semacam ini harus dibalas.

Berpikir demikian, dia menjadi nekad dan diam-diam mengerahkan tenaga dalamnya kedalam telapak tangan.

Tapi satu ingatan kembali melintas didalam, ia berpikir: "Seandainya kubunuh Leng khong dalam sekali pukulan,

niscaya perbuatanku ini akan mengejutkan yang lain dan sudah pasti si ular berekor nyaring dan Hu hok cu pasti akan melarikan diri ketakutan, mengapa aku tidak berbuat begini...begini saja?"

Baru saja ingatan tersebut melintas lewat dalam benaknya, telapak tangan Leng kong taysu sudah mengancam didepan dada.

Pemuda itupun segera berseru keras:

"Sebuah serangan yang amat bagus!"

Dia segera miringkan badan-nya kesamping lalu dengan mengeluarkan ilmu pukulan Tay ciong to liong ciang ajaran Put gho cu, dia melangsungkan pertarungan seru melawan musuhnya.

Tempo hari Leng kong taysu sudah pernah merasakan kelihayan dari ilmu silat yang di miliki lawannya, oleh sebab itu begitu bertarung, dia segera mengeluarkan ilmu pukulan Go bi pay dan melepaskan serangkaian serangan yang mematikan ditujukan kebagian tumbuh yang mematikan dari lawannya.

Suma Thian yu yang melihat musuhnya mengambil taktik pertarungan kilat, segera merasakan semangatnya turut berkobar pula, cepat-cepat dia memperkokoh pertahanan-nya terus dilawan dengan jurus, pukulan disambut dengan pukulan, dalam waktu singkat dua puluh gebrakan sudah lewat.

Sementara itu si ular berekor nyaring Mo pun ci yang menonton jalan-nya pertarungan dari sisi arena mulai ragu setelah menyaksikan kesemuanya itu, dia berpikir nama besar Suma thian yu sudah cukup termasyur dikolong langit, mengapa dia bertarung begitu? Padahal sewaktu bertempur ditelaga Tong ting tempo hari, pemuda itu perkasa seperti harimau ganas, atau mungkin selain permainan ilmu pedangnya, dia tak memiliki kemampuan yang lain?

Hu Hok Ci pun turut bergembira oleh keadaan tersebut,  sebab dia menganggap ilmu silat yang dimiliki lawan amat luar biasa, dalam anggapannya tidak akan sulit baginya untuk membekuk musuhnya.

Sementara semua orang sedang merasa gembira, tiba-tiba dari arah arena bergema suara jeiitan ngeri yang memilukan hati, pada mulanya si ular berekor nyaring mengira Leng khong taysu telah berhasil memenangkan pertarungan itu, namun dia segera menjerit kaget:

“Aaaahhh!"

Ternyata batok kepala Leng khong taysu sudah memar dan hancur berantakan, mayatnya tergelepar diatas tanah dalam keadaan yang amat mengerikan.

Bagaimana mungkin Leng khong taysu bisa binasa?

Ternyata mereka berdua tidak berhasil melihat keadaan tersebut secara jelas, padabal berbicara dari gerakan tubuh Suma Thian yu tadi, sudah jelas mustahil baginya untuk membunuh Leng khong taysu dalam sekejap mata.

Padahal orang yang menghabisi nyawa Leng khong taysu bukan Suma Thian yu, melainkan Leng khong taysu sendiri, ketika dia sedang melancarkan pukulan kearah lawan-nya tadi, tahu-tahu segulung tenaga lembut yang sangat kuat telah menghadang tenaga serangannya, maka ketika  tenaga pukulan itu memantul balik, akibatnya senjata makan tuan, ia dihajar mampus oleh tenaga pukulan sendiri.

Menyaksikan Leng khong taysu mati mengenaskan, sebelum si ular berekor nyaring Mo pun ci sempat berbicara,

Hu hok cu telah menerjang lima langkah ke depan Suma thian yu, lalu dengan mata merah membara, bentaknya keras: "Bocah keparat, tak nyana kau masih mempunyai kepandaian juga, mari, mari, biar aku saja yang mengirimmu pulang ke neraka"

Sambil menerjang kedepan, dia segera melepaskan sebuah pukulan dashyat keatas jalan darah ki hay hiat ditubuh Thian yu dengan jurus Guntur menggelegar petir menyambar.

Melihat serangan tersebut, Suma Thian yu segera mendengus dingin, jengeknya:

"Huuh...kau mah belum pantas untuk bertarung melawan diriku...!"

Begitu kata terakhir diucapkan, tubuhnya sudah menyelinap ke belakang punggung Hu hok cu, lalu dengan jurus menyembah Buddha diruang emas, dia totok jalan darah Ki tong hiat di punggung lawan.

Hu Hok cu bukan seorang jago yang bodoh, begitu serangan-nya mengenai sasaran kosong, tiba-tiba dia membalikkan badan lalu menyergap pusar lawan dengan jurus Burung merak pentang sayap.

Pertarungan sengit pun segera berkobar dengan serunya, untuk sesaat sulit rasanya untuk menentukan siapa menang siapa kalah.

Sementara itu si ular berekor nyaring Mo pun ci yang menonton jalan-nya pertarungan dari sisi arena pun sudah melihat kalau Suma Thian yu sedang menggunakan akal licik untuk membohongi mereka, tanpa terasa dia bergeser maju ke depan sambil mempersiapkan sebatang senjata rahasia beracun, dia bersiap-siap menyerang lawannya di saat pe muda itu sedang lengah nanti.

Suma Thian yu pun bukan manusia bodoh, ia memiliki ketajaman mata yang melebihi siapapun, apalagi pertarungannya melawan Hu Kok cu ibarat orang yang sedang mempermainkan seekor monyet saja,  semua  dilakukan dengan seenaknya dan santai.

Oleh sebab itulah segala gerak gerik dari si ular berekor nyaring dapat disaksikan olehnya dengan jelas, hal ini justru semakin mengobarkan perasaan dendam dari pemuda itu. Maka dia pan berpekik nyaring, gerakan tubuhnya segera dirubah dan kali ini dia melancarkan serangan dengan ilmu pukulan angin pusing ajaran Cong liong lo sianjin. Kalau tadi Hu Hok cu masih dapat menghadapi serangan lawan dengan terpaksa, maka begitu lawan-nya berganti serangan, dia menjadi keteter hebat dan kelabakan setengah mati.

Bayangan tubuh Suma Thian yu yang terlihat didepan matanya seakan-akan menjadi banyak, sebentar kekiri, sebentar lagi ke kanan, membuat Hu Hok cu menjadi pening dan kebingungan setengah mati, diam-diam dia mulai mengeluh.

Ular berekor nyaring Mo pun Ci yang menyaksikan kejadian tersebut pun ikut menjadi gelisah, tiba-tiba dia membentak keras:

"Lihat serangan!"

Tangannya segera diayunkan kedepan, sekilas cahaya  tajam bagaikan sambaran kilat cepatnya langsung menerjang ketubuh Suma Thian yu.

Menyaksikan kejadian tersebut, Suma Thian yu segera tertawa terbahak-bahak, dengan gerakan tubuh Ciok tiong loan poh dia menyelinap kebelakang tubuh Hu Hok cu, bukan begitu saja, sepasang telapak tangan-nya segera dilontarkan pula kedepan, seketika itu juga muncul segulung angin pukulan yang melemparkan tubuh Hu Hok cu sejauh satu kaki lebih dari posisi semula.

Ketika tubuh Hu hok cu terlempar kedepan, secara kebetulan pula senjata rahasia beracun dari si ular berekor nyaring sedang menyambar dengan kecepatan luar biasa.

Tak ampun lagi, Hu Hok cu segera menjerit kesakitan dengan suara yang memilukan hati, sekujur badan-nya gemetar keras, disusul kemudian tubuhnya terbanting keatas tanah, muntah darah lalu berkelejetan sebelum ajalnya tiba.

Tak terlukiskan rasa geram si ular berekor nyaring Mo pun ci melihat rekan-nya tewas oleh senjata rahasia sendiri, bagaikan orang kalap dia segera melompat kehadapan Suma thian yu, kemudian tanpa banyak cincong mengayunkan kepalan-nya melepaskan sebuah pukulan ke depan.

Dengan sangat cekatan Suma Thian yu mengegos kesamping untuk meloloskan diri dari ancaman tersebut, kemudian sambil tertawa dingin jengeknya:

"Orang she Mo, jangan keburu menyerang, berbicara dulu sebelum bergebrak"

"Tiada perkataan yang bisa di bicarakan lagi denganmu, bocah keparat, lihat serangan!" bentak si ular berekor nyaring Mo Pun ci sambil mengertak gigi.

Lalu dengan jurus mencari hari berganti waktu, dia bacok ubun-ubun Suma Thian yu.

Si anak muda itu sama sekali tidak memberikan perlawanan, dengan cekatan tubuhnya menyapu ke samping untuk menghindarkan diri dari ancaman tersebut.

Si ular berekor nyaring segera mengira lawan-nya takut, tanpa terasa dia mendesak maju ke depan sambil menyarangkan sebuah pukulan lagi.

Namun semua serangannya itu berhasil dipunahkan atau dihindari oleh Suma Thian yu secara gampang, andaikata si ular berekor nyaring cukup teliti, dia seharusnya tahu diri dan segera mengundurkan diri.

Siapa tahu orang ini sudah dibikin kalap lantaran gusar dan dendamnya, bukannya berhenti, secara beruntun dia malah melancarkan tiga buah serangan lagi.

Sebetulnya Suma Thian yu bermaksud menghabisi nyawa lawannya dalam satu gebrakan saja, namun berhubung masih banyak persoalan yang merupakan teka teki baginya, maka sembari melompat mundur, serunya:

"Bajingan Mo, apakah kau masih belum juga mau sadar?"

Si ular berekor nyaring Mo Pun ci tertawa dingin dengan suara yang menyeramkan:

Heeh...heeh...heeeh bocah keparat, yang harus sadar adalah kau, toaya mendapat perintah untuk membereskan nyawa anjingmu, apakah kau masih belum juga mau menyerah?" "Bajingan Mo, jawab dulu, siapa yang telah membunuh ayahku?" kata Suma Thian yu dengan wajah serius.

"Kalau toaya, mau apa kau?" jawab si ular berekor nyaring dengan angkuh.

"Kau? Suma Thian yu melotot gusar, kau tidak berbohong?"

Si ular berekor nyaring Mo Pun ci tertawa terbahak-bahak dengan suara yang menyeramkan.

"Bocah keparat, toaya lah yang telah membunuh Suma Tiong ko, apakah kau kurang jelas? Kalau memang begitu menghadaplah kepada raja akhirat dan tanyakan sendiri kepada bapak anjingmu setibanya disana nanti, tanya kepada mereka apa betul aku she Mo yang melakukan perbuatan tersebut?"

Suma Thian yu benar-benar amat gusar, dadanya mau meledak saja, kepalanya berputar, kesadarannya hampir saja punah. Sambil menancapkan kakinya keatas tanah, ia segera menggetarkan tangannya keras-keras sambil membentak nyaring, tulang belulang disekujur badannya segera berbunyi gemerutukan nyaring.

Inilah gejala dari seseorang yang sedang menghimpun tenaga dalamnya, sebagai seorang yang berpengalaman sudah barang tentu si ular berekor nyairing dapat melihat akan hal ini.

Maka diapun segera menghimpun tenaga dalamnya dan bersiap sedia melakukan suatu pertarungan beradu jiwa. Mendadak terdengar Suma Thian yu membentak keras:

"Bajingan tengik, serahkan nyawamu!"

Sepasang telapak tangannya segera dilontarkan bersama kedepan, segulung angin pukulan yang maha dahsyat langsung menyambar kearah tubuh si ular berekor nyaring Mo pun ci.

Si ular berekor nyaring adalah seorang manusia licik yang berotak cerdas, melihat datangnya serangan, dia tak berani menyambut dengan kekerasan sebaliknya malah kabur untuk menghindarkan diri, dengan demikian angin serangan Suma Thian yu yang maha dahsyat itu pun menyapu lewat dari sisi tubuhnya.

Meskipun demikian, sisa tenaga pukulan yang terpancar keluar toh cukup membuat sekujur badan si ular berekor nyaring Mo pun ci merasakan panas dan peri, rasanya benarbenar amat tak sedap.

Atas kejadian ini, semangat si ular berekor nyaring Mo Pun ci menjadi luntur, sekujur tubuhnya bergetar keras, sambil tertawa dingin serunya:

"Bocah keparat, tak kusangka kau mempunyai kepandaian yang cukup tangguh, sayang sekali kau telah salah mencari sasaran, selama berada dihadapan toaya, lebih baik kau serahkan saja nyawa mu tanpa melawan daripada toaya mesti repot-repot turun tangan"

Suma Thian yu sama sekali tidak menggubris, ketika serangannya tidak mengenai sasaran, dia segera menerjang lebih kedepan sambil mengembangkan ilmu pukulan Siap poo bwee hong ciang.

Dua buah pukulan beruntun yang dilancarkan memaksa si ular berekor nyaring Mo Pun ci merasakan daya tekanan yang amat berat menyiksa dadanya, hal ini membuatnya cepatcepat menghindarkan diri.

Akan tetapi Suma Thian yu sama sekali tidak memberi kesempatan lagi baginya untuk berganti nafas, jurus demi jurus dilancarkan bagaikan air yang mengalir ke bawah, dia menguasahi seluruh keadaan dan kemenangan sudah berada ditangan-nya.

Dengan demikian keadaan dari si ular berekor nyaring Mo Pun ci berubah sebagai sasaran pemukulan, bukan hanya dipihak yang terserang, sampai akhirnya hakekatnya dia bagaikan seekor anjing gila yang berada di dalam kerangkengan saja, sebentar harus berkelit kekiri sebentar lagi menghindar kekanan, namun belum berhasil juga meloloskan diri dari lingkaran angin pukulan Suma Thian yu.

Berbicara soal tenaga dalam, perbedaan dari ular berekor nyaring dengan Suma Thian yu pada hakekatnya seperti langit dan bumi, asalkan Suma Thian yu mengeluarkan jurus yang mana pun dari ilmu yang dipelajari dalam kitab tanpa kata, niscaya dia akan ber hasil membinasakan bajingan cabul ini.

Namun dia tidak ingin berbuat begitu secepatnya, dia  butuh penjelasan yang lebih banyak lagi tentang seluk beluk terbunuhnya ayahnya dan persoalan tentang dibasminya keluarga Suma.

Itulah sebabnya dia mengambil keputusan untuk  melancarkan serangkaian serangan yang gencar dan melelahkan, alhasil tindakan diambilnya ini memang sangat tepat, praktis semua gerakan si ular berekor nyaring Mo pun ci terbelenggu, dia tinggal menunggu saat ajalnya saja.

Peluh sebesar kacang kedelai jatuh bercucuran membasahi seluruh tubuh si ular berekor nyaring, napasnya mulai tersengal-sengsal, kendatipun segenap kepandaian sakti yang dimilikinya telah dipergunakan semua, kenyataannya tak berhasil menjawil seujung baju pun dari lawannya.

Sebaliknya dia sendiri justru sudah di penuhi dengan luka, akhirnya dengan perasaan putus asa dia membentak keras:

"Bocah keparat, apabila kau punya keberanian, ayoh hadiahkan sebuah pukulan untuk membunuh toaya ini!"

Suma Thian yu tertawa terbahak-bahak: "Haah...haah...haah, sauya justu mau menyiksamu habis-

habisan, mau apa kau?"

Dengan mengeluarkan ilmu langkah Ciok tiong luan poh cap lak tui, tampak bayangan manusia berkelobat lewat dan

menyelinap ke belakang tubuh si ular berekor nyaring, dimana kelima jari tangannya menyambar lewat, pakaian yang dikenakan segera sobek dan tubuhnya terlihat jelas.

Si ular berekor nyaring Mo Pun ci segera membentak

marah, sambil membalikkan badan-nya, dia balas melancarkan sebuah serangan ke tubuh lawan.

Dengan cekatan Suma Thian yu mengibaskan bahunya menghindarkan diri dari ancaman tersebut, mala bersamaan waktunya dia sempat mencubit pinggang si ular berekor nyaring itu dengan sebuah cubitan yang keras. Tak heran kalau si ular berekor nyaring segera menjerit kesakitan dan mundur beberapa langkah sempoyongan.

Suma thian yu segera bertindak lebih cepat, pada saat si   ular berekor nyaring mundur ke belakang, pedang Kit hong kiam nya segera dicabut keluar dari punggungnya, di mana cahaya pedang menyambar lewat, bagaikan sekilas petir yang menyambar, tahu-tahu sudah meluncur mundur ke arah tubuh orang itu.

Dalam sekejap mata ujang pedang Suma Thian yu sudah menempel diatas tenggorokan si ular berekor nyaring, dalam keadaan demikian Mo pun ci praktis mati kutunya, sekarang biarpun ada malaikat yang datang menolongnya pun tak ada gunanya lagi.

Dengan suara dingin Suma thian yu segera membentak: "Orang she Mo, ayoh cepat terangkan hal ikhwal sampai

mencelakai keluarga ku, asal kau bersedia menjawab dengan jujur, sauya pun akan memberi kematian yang memuaskan untukmu, kalau tidak, sebelum ajalmu tiba, mungkin kau harus merasakan dulu suatu penghidupan yang penuh siksaan"

Sesungguhnya si ular berekor nyaring Mo Pun ci adalah seorang manusia keparat yang bernyali kecil, dia adalah bajingan cabul yang pengecut dan takut mati, berada dalam keadaan begini kembali timbul niatnya untuk membohongi pemuda tersebut.

Dengan suara keras segera teriaknya:

"Orang yang membunuh ayahmu adalah orang she Lim, bukan toaya mu "

Kalau tidak mendengar perkataan tersebut mungkin Suma thian yu masih kuat menahan diri, tapi begitu mendengar kata-kata tersebut, amarahnya segera berkobar kembali, pedangnya menyambar kebawah dengan cepat.

Sebuah telingan si ular berekor nyaring Mo pun ci pun segera terkepas kutung dan rontok ke atas tanah.

"Ayoh bicara, cepat bicara!" bentak Suma Thian ya dengan penuh kegusaran. Ular berekor nyaring Mo Pun ci kembali ngotot menuduh Lim khong sebagai pembunuhnya, Suma Thian yu yang semakin marah segera mengayunkan pedangnya sekali lagi, kali ini batang hidung ular berekor nyaring yang terpapas kutung sampai rata.

Jeritan kesakitan segera bergema memenuhi angkasa berbareng dengan pancaran darah segar dari luka dihidung ular berekor nyaring tersebut...

"Ayoh cepat berbicara, benarkah kau ingin mampus secara pelan-pelan?" ancam Suma Thian yu dengan suara keras.

Ular berekor nyaring Mo Pun ci tak sanggup menahan rasa sakit yang mencekam dirinya lagi, ia segera berteriak:

"Toaya yang membunuh"

"Kau tidak bohong?" seru Suma Thian yu dengan perasaan bagaikan disayat-sayat setelah mendengar pengakuan itu.

"Toaya yang telah melakukan pembunuhan itu, seorang lelaki sejati berani berbuat berani bertanggung jawab, seluruh keluarga Suma Thiong ko mati ditangan toaya seorang"

Akhirnya Ular berekor nyaring Mo Pun ci mengaku juga secara berterus terang.

Berhadapan dengan musuh besar pembunuh keluarganya, Suma Thian yu benar-benar merasa geram dan marah, sekujur badannya gemetar keras menaban emosi, pedangnya segera ditusukkan kedepan keras-keras....

Diiringi jeritan ngeri yang memilukan hati, darah segar muncrat keluar dari tenggorokan si ular berekor nyaring Mo pun ci dan memancar kemana-mana, tak selang berapa saat kemudian habis sudah riwayatnya.

Menanti si ular berekor nyaring Mo Pun ci sudah mampus, Suma Thian yu baru merasakan hatinya amat lega, dia menyeka darah dari ujung pedangnya kemudian menyarungkan kembali, setelah itu dengan perasaan riang gembira dia berjalan kembali kekota Hun yang.

Tak lama setelah Suma Thian yu berlalu, dari balik hutan muncul kembali seseorang, dia adalah si harimau angin hitam Lim Khong. Semua peristiwa yang barusan terjadi dapat diikuti olehnya dengan jelas sekali, tapi mengapa ia tidak segera terjun kearena, sebaliknya baru muncul setelah ketiga orang rekannya terbunuh dan Suma Thian yu berlalu dari situ?

Disinilah letak kelicikan dari harimau angin hitam Lim Kong kali ini, sebenarnya dia memperoleh perintah dari Kun lun indah Siau Wi goan untuk datang ke Hun yang dengan tujuan utama adalah menyelidiki jejak dari Suma Thian yu, kemudian kedua, bagaimana caranya menghadang, menyergap dan membinasakan pemuda tersebut.

Dari kedua macam tugas yang di bebankan kepadanya satu diantaranya sudah berhasil dilaksanakan,  sedangkan mengenai penyergapan dan membinasakan pemuda tersebut, ia tidak berani bertindak secara sem barangan, sebab dia tahu Suma Thian yu amat kosen bagaikan seekor harimau dan tak mungkin bisa dibunuh oleh mereka berempat.

Oleh sebab iiu dia merasa tidak perlu mengorbankan diri secara percuma apalagi konyol, dia bertekad untuk melanjutkan hidupnya sambil menanti kesempatan untuk menbinasakan pemuda tersebut.

Tatkala Leng khong taysu dan Hu hok cu terbunuh tadi, sebenarnya dia sudah bersiap sedia untuk turun tangan, tapi kemudian ia merasa lebih baik berpeluk tangan belaka membiarkan orang-orang itu mati konyol, sedangkan diapun bisa pulang dengan cerita-cerita hebat yang melukiskan kegagahan sendiri.

Bagaimana pun juga dia beranggapan bahwa Kun lun indah tak mungkin akan memperdulikan persoalan-persoalan semacam itu.

Bersahabat dengan bajingan, tak ubahnya seperti sekulit dengan harimau, rasanya ucapan ini memang tepat sekali.

Jangan dilihat dihari-hari biasa mereka selalu berhubungan akrab seperti saudara sendiri, mati hidup bersama-sama, tapi bila salah satu pihak mulai terancam bahaya, maka kalau bisa kabur mereka pasti akan berusaha untuk melarikan diri. Begitulah si harimau angin hitam Lim khong memeriksa sekejap ke tiga sosok mayat itu, kemudian beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut.

Dalam pada itu, Suma Thian yu menginap satu malam di  kota Hun yang untuk kemudian pada keesokan harinya, sesuai dengan petunjuk dari Tam Pak cu berangkat menuju ke perkampungan Lu ming ceng di kaki bukit Hoa san.

Hari ini Suma Thian yu menyeberangi sungai sampai di dusun Bun Siang, ketika melihat bahwa waktunya sampai bulan Tiong ciu nanti tinggal lima hari lagi, dan bilamana ditempuh dengan berjalan kaki mungkin akan terlambat sampai di perkampungan Lu ming ceng, maka di dusun tersebut dia membeli seekor kuda.

Di dusun itu terdapat sebuah peternakan yang sangat  besar, letaknya disebelah utara dusun, konon pemiliknya adalah seorang pedagang kuda terkenal dari Shoa tiang, atas petunjuk orang maka berangkatlah dia menuju kepeternak an tersebut.

Ketika dia akan memasuki pintu gerbang peternakan itu, dari hadapannya muncul tiga ekor kuda yang berlarian amat kencang.

Tergesa-gesa Suma Thian yu menghindar ke samping, namun apa yang kemudian terlihat membuat pemuda itu menjerit kaget.

"Aaah, saudara Thia..."

Atas panggilan tersebut ketiga orang penunggang kuda itu serentak melompat turun dari atas pelana dan melayang turun dihadapan anak muda tersebut.

Ternyata mereka bertiga adalah sahabat-sahabat karib  Suma Thian yu, mereka adalah sastrawan pena baja Thian Cuan serta Toan im siancu Thia Yong dan Bi hong siancu wan Pek lan.

Sastrawan berpena baja Thian Cuan langsung berjalan menuju kehadapan Suma Thian yu kemudian digenggamnya tangan pemuda tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sampai lama kemudian, sastrawan berpena baja Thia Cuan baru berseru dengan suara gemetar:

"Thian yu kau kah? aku tidak percaya...aku benar-benar tak berani percaya"

Memandang sikap hangat dari sastrawan berpena baja itu, Suma Thian yu merasa amat terharu dan girang sehingga untuk beberapa saat pun dia tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Bi hong siancu Wan Pek lan dan Toan im siancu Thia Yong serentak mengerubungi pemuda itu pula, mereka turut terharu atas perjumpaan tersebut, sehingga keduanya sama-sama berdiri mematung tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Kau belum mati? Ooooh, sungguh bagus, Thian yu bagus sekali...aku saigat merindukan dirimu..."

"Saudara Thia..." Suma Thian yu pun hanya sanggup memanggil namanya, sebab kata-kata selanjutnya tertelan oleh suara sesenggukkan yang menyumbat kerongkongannya.

"Aku bukan lagi bermimpi bukan, ooh...Thian yu, bukankah kau sudah terjerumus kedalam jurang? Sungguh suatu keajaiban, benar-benar suatu keajaiban, nampaknya nasib baik masih berada dipihakmu, oh Thian yu, aku benar-benar kelewat gembira"

Setelah pembicaraan yang akrab, Sastrawan berpena baja Thia Cuan baru bertanya maksud tujuan Suma Thian yu datang kesana, Suma Thian yu menunggu sampai ketiga orang itu menjadi tenang kembali baru menceritakan semua pengalamannya secara ringkas.

Mengetahui akan pengalaman yang dialami Suma Thian yu selama ini, Thia Cuan sekalian bertiga menjadi kegirangan setengah mati, maka mereka pun kembali ke peternakan untuk membelikan seekor kuda lagi bagi Thian yu kemudian baru berangkat meninggalkan dusun tersebut.

Setibanya di Tong kwan, mereka meneruskan  perjalanannya menuju ku Hoa im. Sastrawan berpena baja Thian Cuan segera mengusulkan untuk beristirahat semalam,

sebenarnya Suma Thian yu merasa berat hati, karena dia ingin cepat-cepat berangkat ke perkampungan Lu ming ceng dan menjumpai Ciong liong lo sianjin untuk menyerahkan kitab tanpa kata tersebut kepadanya.

Tapi akhirnya ia merasa tak baik untuk menampik permintaan rekan-rekannya, maka diapun memberi persetujuannya.

Sepanjang perjalanan, Bi hong siancu Wan Pek lan selalu tidak memperoeh kesempatan untuk menyampaikan rasa rindunya terhadap Suma Thian yu berhubung disampingnya hadir Thia Cuan bersaudara, ini menyebabkan perasaannya menjadi gelisah dan murung.

Suma Thian yu yang sedang memikirkan persoalan lain tentu saja tak akan menemukan hal tersebut, tidak demikian dengan Thia Yong ia dapat menyaksikan kesemuanya itu dengan jelas.

Biasanya kaum wanita memang berpikir lebih cermat terutama sekali Thia Yong yang sudah lama menaruh perasaan cinta terhadap Suma Thian yu, tidak heran kalau ia menaruh perhatian secara khusus.

Tampaknya sastrawan berpena baja Thia Cuan pun dapat menjumpai keanehan itu, maka setelah termenung sejenak dia pun mencari alasan untuk menginap semalaman, disana  diapun segera mengajak adiknya pergi ke kota untuk mengunjungi sanak keluarga.

Dengan demikian didalam penginapan tinggal Suma Thian yu dan Bi hong siancu dua orang, sebagai seorang pemuda yang baru pertama kali mengunjungi kota tersebut ia segera mengajak Wan Pek lan untuk berjalan-jalan pula.

Berangkatlah mereka keluar kota dan memasuki sebuah warung teh yang termashur disebelah utara kota, setelah mengambil tempat duduk mereka pun memesan air teh.

Suasana hening untuk sesaat, tiba-tiba Bi hong siancu wan Pek lan berkata:

"Engkoh Thian yu, bukankah tadi kau pernah membicaiakan soal paman Tio?" "Ya, kasihan Tio toako, dia telah menemui ajalnya di  lembah Put kui kok" kata Suma Thian yu sedih, "bencana ini bisa terjadi gara-gara ulah ku, kalau diingat kembali sekarang aku benar-benar merasa menyesal sekali"

Padahal wan Pek lan menyinggung soal Tio Ci hui tak lain karena hendak mencari alasan untuk mengajak pemuda itu berbincang-bincang.

Siapa sangka Suma Thian yu tidak menduga sampai disitu, berbicara soal Tio Ci hui diapun berbicara terus tiada hentinya.

Atas perkataan itu, boleh dibilang Wan pek lan sama sekali tidak memperhatikan-nya, barang sepatah kata pun dia tak menaruh perhatian.....

Apa yang dikuatirkan wan Pek lan sekarang adalah bagaimana menggiring si anak muda untuk membicarakan persoalan diantara mereka, sedang mengenai tewasnya Tio Ci hui, dia tak ingin memperhatiannya untuk sementara waktu.

Suma Thian yu yang sedang berbicara tiada hentinya, tibatiba saja menjumpai paras muka Wan Pek lan amat dingn dan hambar, ia menjadi tertegun dan segera bertanya keheranan:

"Adik Lan, apakan kau merasa tak enak badan?" "Tidak"

"Aku lihat paras muka mu rada tak beres, cepat katakan kepadaku, sebenarnya apa yang sedang kau murungkan?"

"Kau!"

"Aku?" Suma Thian yu terkejut di samping keheranan, menguatirkan aku ?"

"Tapi sekarang sudah tidak kuatir lagi"

Sejak berpisah dengan dirimu... dengan tersipu-sipu malu dia menundukkan kepalanya kembali.

Suma Thian yu segera menggeserkan badan-nya mendekati gadis itu, kemudian bertanya lirih:

"Adik Lan persoalan apa yang membuat hatimu sedih?" "Aku menguatirkan keselamatan jiwamu"

"Bukankah sekarang aku berada dalam keadaan baik baik?" "Tapi "

"Tapi kenapa?" "Sewaktu kau pergi ke Tibet aku telah jatuh sakit"

Suma Thian yu segera menjadi paham, digenggamnya tangan Wan Pek lan erat-erat lalu katanya:

"Adik Lan, aku telah mencelakaimu, tapi aku pun mempunyai kesulitan ku sendiri yang tak dapat diutarakan kepada orang, sudahlah, kau tak usah bersedih hati lagi, aku toh sudah kembali kesisimu tanpa kekurangan sesuatu apa pun?"

"Aku takut kehilangan kau" bisik Wan Pek lan tersipu-sipu, "engkoh Thian yu, masih ingatkah kau dengan sumpah dan janji kita dulu ?"

"Tentu saja masih ingat, adik Lan kau kelewat curiga, demi kau, aku telah pulang dengan menyerempet bahaya, kesemuanya ini kaulah yang memberikan semangat dan keberanian kepadaku, kini kita dapat berkumpul kembali untuk selamanya"

Mendengar perkataan tersebut, Wan Pek lan menjadi

tenang kembali bagaikan menelan obat penenang saja, pikiran dan perasaan-nya segera menjadi cerah kembali.

Tapi bila teringat olehnya bahwa badai pembunuhan berdarah sudah makin mendekat, rasa murung dan sedih segera timbul kembali.

"Aku selalu merasa takut" katanya kemudian, "berapa hari lagi, pertarungan antara kaum lurus dan sesat akan berlangsung, aku kuatir kau "

"Aai....adik Lan kau jangan terlalu menguatirkan persoalan itu"

"Tidak, mungkin kau tak merasakan apa-apa, tapi aku sudah pernah merasakan bagaimana menderitanya akibat suatu perpisahan, aku tak ingin merasakan kembali siksaan akibat berpisah dalam kematian "

"Adik Lan, buat apa sih kau mengucapkan perkataan yang tidak mendatangkan keberuntungan seperti itu? Kau seharusnya mendorongku, memberi semangat kepadaku, kita adalah orang-orang persilatan yang memandang tawar soal mati hidup, apalagi badai berdarah itupun sudah merupakan suatu takdir yang tak mungkin bisa diselamatkan oleh setiap orang, sekali pun kita bakal tewas didalam pertarungan berdarah ini, kematian tersebut merupakan suatu kebanggaan, apa kau lupa dengan ucapan Bu Thian sang?

Dari dahulu sampai sekarang manusia manakah yang sanggup menghindari kematian? Bila kita dapat mati secara kesatria demi kepentingan dan keadilan orang banyak, maka kematian kita itu merupakan suatu kematian yang terhormat, bukankah demikian?"

Wan Pek lan segera tertunduk malu sesudah mendengarkan perkataan dari Suma Thian Yu yang gagah perkasa itu, tapi dari ini pula dapat di ketahui bahwa kekasihnya memang seorang pemuda gagah berjiwa besar, beruntunglah dia dapat memperoleh seorang calon suami yang begini gagah dan perkasa seperti Suma thian yu.

Maka dia pun tersenyum, tersenyum manis sekali, cantik sekali dan menawan hati.

Sementara mereka masih berbincang-bincang dengan riang gembira, mendadak dari samping meja mereka berdiri seorang lelaki kekar yang langsung berjalan menghampiri mereka.

Lelaki kekar itu bertubuh tinggi besar dan berwajah menyeramkan, setibanya disamping wan pek lan, ia segera tertawa cengar-cengir sambil menegur:

"Nona manis, apakah kau berasal dari luar daerah?"

Wan Pek lan mendongakan kepalanya memandang sekejap ke arah orang itu, kemudian sama sekali tidak menggubris, kembali dia melanjutkan pembicaraannya dengan Suma Thian yu.

Melihat wan Pek lan sama sekali tidak mengubris  tegurannya, lelaki kekar itu menjadi amat gusar, dengan suara menggeledek ia segera membentak:

"Nona manis, apakah kau tidak mendengar perkataan toaya mu? Ayoh bangkit berdiri, kau harus menemani toaya mu secara baik-baik, kalau tidak, toaya akan menghajar batok kepala mu sampai hancur berantakan" Rupanya lelaki ini memang sengaja datang untuk mencari gara-gara, ketika dilihatnya kedua orang muda mudi itu berasal dari luar daerah, timbul niatnya untuk mempermainkan mereka, sayang seribu kali sayang, ia justru sudah salah mencari sasaran.

Pelan-pelan wan pek lan bangkit berdiri, lalu dengan suara yang tetap lembut katanya:

"Bangkit berdiri ya bangkit berdiri, mau apa kau?"

Lelaki kekar itu diam-diam tertegun melihat korbannya sama sekali tidak takut, tapi segera bentaknya keras-keras:

"Ayoh cepat menyembah kepada toako mu untuk minta  maaf atau kalau tidak turut toaya pulang ke rumah, tanggung kau akan senang sepanjang hidup"

Mendingan kalau tidak mendengar perkataan itu, paras muka Wan Pek lan segera berubah hebat, matanya melotot besar dan mukanya merah membara karena marah.

Suma Thian yu yang berada disisinya kuatir nona itu mencari urusan, cepat-cepat dia menarik gadis itu sambil berkata:

"Adik Lan, duduklah saja, buat apa kau mesti mencari garagara dengan anjing budukan semacam itu"

"Bocah keparat, apa kau bilang!" teriak lelaki itu dengan kening berkerut dan mata mendelik, "toaya adalah anjing budukan? bagus sekali kau berani mencari gara-gara dengan toaya mu? Hmm tampaknya kau sudah bosan hidup!"

Dia segera mengayunkan telapak tangan-nya membacok tubuh Suma Thian yu.

Menghadapi serangan tersebut Suma Thian yu sama sekali tidak gugup, segera disambutnya ancaman itu lalu mencengkeram pergelangan tangannya kencang-kencang, tak ampun lagi lelaki itu segera menjerit kesakitan bagaikan ayam yang mau disembelih.

Dengan wajah tetap tenang dan senyumaan dikulum, Suma Thian yu berkata:

"Saudara kau benar-benar manusia bermata anjing, terus terang saja aku katakan, bila ingin mempermainkan orang, lebih baik carilah korban yang lemah, jika berani membuat gara-gara dengan sauyamu, maka sama artinya kau lagi mencari penyakit buat diri sendiri!"

Sementara itu si lelaki kekar tadi sudah mandi keringat, wajahnya menunjukkan penderitaan yang hebat, suara rintihannya yang semula keras makin lama semakin pelan dan akhirnya lirih sebagai gantinya dia mulai merintih dan merengek minta ampun.

Suma Thian yu segera melepaskan kembali cengkeramannya dan duduk kembali ke tempat semula.

Siapa tahu lelaki itu memang tak tahu diri, dia bukannya mundur teratur setelah peristiwa tersebut sebaliknya malahan mengayunkan telapak tangannya membacok batok kepala Suma Thian yu.

Padahal jarak diantara mereka berdua amat dekat, apa lagi lelaki itupun menyerang disaat anak muda tersebut tidak siap akibatnya semua orang yang berada dirumah makan itu samasama menjerit tertahan karena kaget.

Pada saat kepalan lelaki itu hampir mengenai batok kepala Suma Thian yu, tiba-tiba saja pemuda itu berkelit sambil mengayunkan kembali tangan-nya.

"Enyah kau dari sini!"

Lelaki kekar itu menjerit kesakitan, seluruh badan-nya terlempar ketengah udara bagaikan layang-layang putus benang, setelah melewati dua buah meja, badannya segera terbanting keras-keras diatas tanah.

Sekali lagi lelaki tersebut mengerang kesakitan.

Suma Thian yu yang menyaksikan masalahnya sudah berkembang semakin besar menjadi kehilangan kegairahnya untuk tetap berada disitu, ia segera menarik Wan Pek lan, membayar rekening dan segera beranjak dari situ.

Baru saja kedua prang itu melangkag keluar dan pintu warung, mendadak terdengar seseorang membentak keras:

"Berhenti, tunggu dulu!" Ketika mendengar bentakan tersebut, Suma Thian yu mengira rekan-rekan dari lelaki kekar itu datang mencari garagara, dengan cepat ia berpaling.

Tampak seorang kakek berbaju sastrawan yang kumal dan penuh tambalan, ternyata kakek berusia enam puluh tahunan itu tak lain adalah Sin sian siangsu Yu Seng see.

Sejak berpisah digua Jit yang sian tong, baru kali ini Suma Thian yu berjumpa lagi dengan orang ini, dia segera berteriak gembira:

"Yu locianpwee"

Mengetahui siapa yang memanggilnya, Sin sian siangsu segera tertawa terbahak-bahak dengan gembiranya.

"Haahh...haaahh...ternyata kau belum mati? Dunia persilatan pasti akan selamat, haaahh...haaahh..."

Kemudian setelah melirik sekejap kearah Bin hong siancu, sambil tertawa misterius, terusnya:

"Heeehh...heeehh...orang bilang kalau lolos dari kematian rejeki pasti akan berdatangan, tampaknya rejekimu sedang berdatangan semua...haaa... haaa.."

Tapi ketika tertawa sampai setengah jalan, mendadak ia seperti teringat akan sesuatu, segera ujarnya lagi kepada Suma Thian yu:

"Bocah cilik, mari kuperkenalkan seorang sahabat kepadamu"

Tidak sampai Suma Thian yu menjawab, dia sudah berpaling sambil teriaknya:

"Hey, setan cilik ayoh cepat keluar!"

Suma Thian yu tidak tahu siapakah yang akan  diperkenalkan kepadanya, sementara dia masih berpikir, dihadapan matanya telah muncul seorang pemuda yang amat tampan.

Begitu bersua pemuda tadi, mula-mula Suma Thian yu merasa agak terkesiap, kemudian sambil tertawa terbahakbahak, katanya: "Saudara Chin" mengapa kau pun berada disini, tampaknya dunia memang bulat, di mana saja kita akan bersua, selamat berjumpa, baik-baik bukan dirimu selama ini?"

Sin sian siangsu yang menyaasikan kejadian ini menjadi tercengang juga, serunya keheranan:

"Hei, rupanya kalian adalah kenalan lama, kalau begitu aneh jadinya"

Ternyata pemuda itu tak lain adalah Chin Siau, musuh bebuyutan dari Suma Thian yu.

ooOoo  
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Kitab Pusaka Jilid 32"

Post a Comment

close