Kitab Pusaka Jilid 28

Mode Malam
Jilid : 28

Menyusul pekikan ini, dia memutar sepasang lengannya dengan menyertakan tenaga dalamnya sebesar enam bagian, kemudian dengan jurus Bintang bergeser awan berubah dia lepaskan bacokan maut kearah Suma Thian yu.

Suma Thian yu menggertak gigi kencang-kencang, mendadak pedang Kit hong kiamnya menciptakan berjuta-juta bunga pedang dengan jurus guntur menyambar kilat berkelebat, secepat petir angin dingin meluncur kedepan.

Tahu-tahu si harimau angin hitam Lim Kong merasakan telinga kanannya menjadi dingin, sebuah telinganya sudah terpapas kutung dan terjatuh kebawah, darah segarpun bercucuran keluar dari mulut luka tersebut.

Semua peristiwa berlangsung dalam sekejap mata, gerakan yang dilakukan kedua orang itupun bersamaan waktunya, sebelum ketiga orang rekannya melihat jelas apa yang terjadi, Harimau angin hitam kembali ketempat semula sambil meraba telinga kanannya, darah kental kelihatan bercucuran keluar dari sela jari tangannya.

"Maaf Lim Khong!" jengek Suma Thian yu sambil tertawa dingin.

Kakek tujuh bisa Kwa Lun nampak tertegun setelah menyaksikan si Harimau angin hitam kehilangan sebuah  telinga kanannya, sebelum ia sempat turun tangan, mendadak terdengar ular berekor nyaring Mo pun ci telah membentak gusar, goloknya kembali dipakai untuk menyapu badan Suma Thian yu.

Menyaksikan cara si ular berekor nyaring bertarung, Suma Thian yu segera dibuat tertegun.

Perlu di ketahui, kedua orang itu sama-sama mempergunakan senjata ringan, kedua belah pihakpun seharusnya sama-sama menggunakan gerakan tubuh yang ringan untuk meraih kemenangan, tapi kenyataannya sekarang, si ular berekor nyaring Mo Pun ci justru membacok pedang lawan dengan goloknya, dia berusaha menggunakan tehnik keras lawan keras untuk meraih kemenangan, cara seperti ini boleh dibilang belum pernah dijumpai sebelumnya.

"Traaangg...!"

Suara bentrokan nyaring segera berkumandang memecahkan keheningan, ketika dua batang senjata mestika itu saling beradu kekerasan tadi, masing-masing pihak merasakan pergelangan tangannya menjadi kaku dan tubuh mereka seketika tergetar mundur sejauh tiga langkah.

Suma thian yu tertawa terbahak-bahak, mendadak ia menerjang maju kemuka, pedangnya dengan jurus Pelangi panjang mengurung matahari langsung menusuk kedada si ular berekor nyaring Mo pun ci.

Mendadak terlihat sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu kakek tu juh bisa Kwa Lun dengan menggenggam sebilah kapak pendek telah mendesak kedepan serta melancarkan bacokan ketubuh anak muda tersebut.

Sebagai seorang pemuda yang bersorot mata tajam, dalam sekilas pandangan Suma Thian yu sudah mendapat tahu kalau benda yang digenggam lawan merupakan sebilah senjata mestika. Serta merta dia memutar pergelanggan tangannya dan menarik kembali gerak serangan pedangnya secara  paksa.

Tentu saja Kakek tujuh bisa Kwa Lun tidak rela membiarkan musuhnya menghindar, sambil berpekik nyaring tangannya menari-nari lagi menciptakan selapis bayangan kapak yang semuanya mengurung batok kepala lawan.

Memanfaatkan kesempatan yang ada, si ular berekor nyaring Mo Pun ci membentak pula.

"Bocah keparat, serahkan jiwamu!" "Sreeeet...!".

Goloknya kembali melepaskan sebuah bacokan kilat. Suma Thian yu menggertak gigi keras-keras, pedang Kit hong kiam nya dengan memainkan jurus awan gelap menutupi bulan menciptakan selapis cahaya biru yang tebal, kemudian kakinya dengan menggunakan langkah Ciok tiong luan poh menerobos masuk ditengah kabut golok dan kapak musuh.

Mendadak terdengar dua kali jerit kesakitan bergema memecahkan keheningan, sinar tajam mereda. Kakek tujuh bisa Kwa Lun serta si ular berekor nyaring Mo Pun ci telah mundur bersama kebelakang.

Tatkala semua orang mengalihkan pandangannya ke muka, ternyata ke dua orang itu sama-sama telah kehilangan sebuah telinganya.

Setan muka hijau Siang Tham yang menyaksikan kejadian tersebut diam-diam menjadi bergidik dan ketakutan sendiri.

Mendadak terdengar Suma Thian yu tertawa terbahakbahak:

"Haaahh... haaahh... haaahh... Kwa cianpwee dan Mo tayhiap, hari ini aku sengaja mengampuni jiwa kalian dengan harapan menggunakan kejadian hari ini sebagai pelajaran, kalian bisa tahu diri dan menyesali kesalahan yang telah kalian buat..."

Belum habis ia berkata, Harimau angin hitam Lim Kong yang mendendam karena kehilangan sebuah telinganya telah menyela:

"Bocah keparat, hari ini aku akan mempertaruhkan jiwa raga ku untuk beradu jiwa denganmu, aku bersumpah akan membinasakan kau diatas bukit Ki ciok san ini"

Selesai berkata ia bersiap-siap untuk mendesak maju ke depan.

Mendadak....

Terdengar suara gelak tertawa yang amat nyaring bergema di angkasa dan menusuk pendengaran semua orang yang hadir disitu.

Kaki kanan si harimau angin hitam Lim Kong yang sudah maju ke depan, tiba-tiba saja dibatalkan, kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah mana berasalnya suara itu.

Tampak semak belukar disisi jalan bergoyang keras, kemudian tampak seorang pemuda berjubah panjang warna hijau pelan-pelan munculkan diri.

Ketika Suma Thian yu melihat pemuda yang barusan munculkan diri ternyata adalah Chin Siau, ia menjadi terkejut, segera pikirnya dengan cepat:

"Apabila orang ini berpihak kepada lawan, wah... posisiku akan semakin terdesak dan nasibku hari ini jelas lebih banyak bahayanya dari pada rejeki"

Tiba-tiba terdengar Chin Siau berkata sambil tertawa: "Empat orang menganinya satu orang, sungguh merupakan

suatu kejadian aneh di dunia ini, kalian berempat selain pengecut dan munafik juga sangat tak tahu malu, mari, mari, terhitung pula aku, biar kita dua melawan empat, ini lebih terasa adil namanya"

Ke empat gembong iblis yang berada di dalam arena sekarang, pada hakekatnya tidak ada yang kenal dengan Chin Siau, melihat orang itu cuma seorang pemuda ingusan yang masih berbau tetek, tapi dipunggungnya justru menggembol sebilah pedang mestika, lagipula ucapannya sombong dan takabur, kontan saja membuat semua orang menjadi tertegun dan berdiri saling berpandangan.

Diantara empat gembong iblis tersebut, setan bermuka hijau Siang Tham boleh dibilang merupakan satu-satunya orang yang berkedudukan paling rendah, berbicara soal ilmu silat pun deretannya pada urutan terakhir, maka setelah dilihatnya Chin Siau masih muda dan bisa dihadapi secara mudah, ia segera maju ke depan dan membentak penuh amarah:

"Setan cilik, kau adalah anak jadah yang datang dari mana?

Jika berani banyak bicara lagi, segera kubantai dirimu!"

Chin Siau mengerling sekejap ke arahnya, namun sama sekali tidak memperhatikannya barang sekejap pun, malah kepada kakek tujuh bisa Kwa Lun katanya: "Biasanya orang yang semakin tua akan semakin sabar, hanya manusia yang sudah bosan hidup saja tak punya kesabaran, kalau kulihat dari tampangnya yang bengis dan buas, seakan-akan terburu napsu ingin melapor diri ke akhirat, aku jadi gemas rasanya. Jika kau benar-benar ingin  secepatnya berangkat, biar pedang sauya membantumu untuk berangkat secepatnya"

"Tanpa sebab kakek tujuh bisa didamprat dan dicaci maki lawan, kontan saja marahnya meledak, sambil mengayunkan kapaknya dia bersiap sedia untuk membacoknya.

Mendadak terdengar si setan muka hijau Siang Tham membentak keras keras:

"Saudara Kwa, untuk membunuh seekor ayam kenapa

mesti memakai golok penjagal sapi? biar aku orang she Siang saja yang membereskan bocah keparat ini!"

Sambil mencabut keluar pedangnya dengan jurus Delapan penjuru ramping dia bacok tubuh Chin Siau.

Dengan cekatan sekali Chin Siau mengegos ke samping lalu katanya sambil mendengus:

"Waaah, kalau kepandaian mu mah masih ketinggalan sangat jauh, dengan memandang tampangmu itu, biarpun belajar delapan sampai sepuluh tahun lagi pun kau masih pantasnya untuk mencucikan kaki sauya mu!"

Gagal dengan serangannya, mendadak setan muka hijau Siang Tham membalikkan pergelangan tangannya, kemudian dengan berganti jurus awan teba1 menutup Wu san, secepat petir dia tusuk dada Chin Siau.

Walaupun ancaman tersebut sangat berbahaya, ternyata Chin Siau tetap menghadapinya dengan tenang, katanya kemudian dengan tertawa merdu:

"Jurus serangan ini merupakan jurus yang ke dua, Sauya akan mengalah sekali lagi kepadamu!"

Ketika kata ‘mu' keluar dari mulutnya, bayangan tubuh Chin Siau sudah lenyap dari depan mata si setan muka hijau.

Dua kali serangan-nya mengenai sasaran yang kosong membuat setan muka hijau Siang Tham berkaok-kaok penuh amarah, bila sekarang ia menjadi sadar, niscaya urusan selesai dengan begitu saja. Siapa sangka dia justru semakin sewot, pedangnya diputar kencang membuat selapis bayangan hijau yang rapat dan langsung embacok tubuh Chin Siau.

Menghadapi ancaman macam begitu, Chin Siau cuma tertawa didalam hati, tidak gugup tidak gelisah ia menunggu sampai pedang lawan tiba dua depa saja dari hadapannya. kemudian baru berpekik nyaring.

Diantara kilatan gerak tangannya tahu-tahu pedang mestika milik si Setan muka hijau Siang Tham telah terlepas dari tangannya dan dirampas orang. Tampaknya Chin Siau

memang ada maksud untuk mendemontrasikan kemampuanya terutama sekali memberi suatu peringatan tanpa kata-kata terhadap Suma Thian yu.

Begitu menerima pedang mestika si setaan muka hijau itu, tubuhnya segera majuke depan dan memainkan jurus petir menyambar di angkasa.....

Semua orang yang hadir dalam arena hanya merasakan berkelebatnya cahaya hijau kemudian ditengah lapangan terdengar seseorang menjerit kesakitan.

Ternyata setan muka hijau Siang Tham telah mundur beberapa langkah dari posisi semula dengan sepasang tangan memegangi perut, kemudian tubuhnya roboh terjungkal ke atas tanah dan tidak bangun lagi.

Chin Siau tersenyum nyengir sambil membuang pedang mestika itu dia berjalan mendekati sisi tubuh setan muka hijau Siang Tham, kemudian katanya angkuh:

"Barang siapa berani melakukan dosa, dia tak akan hidup terus, inilah contoh yang terutama bagi kalian semua!"

Waktu itu si setan muka hijau Siang Tham sama sekali

tidak mati, namun perutnya sudah robek sehingga darah segar memancar keluar membasahi lantai.

Dengan cepat si harimau angin hitam Lim Kong berebut  maju kedepan untuk membopong Siang Tham serta buru-buru mengobati luka yang diderita. Setelah itu dengan sorot mata yang bengis dan buas dia awasi wajah Chin Siau lekat-lekat, begitu selesai mengobati luka adik perguruannya, pelan-pelan ia bangkit berdiri lalu serunya kepada pemuda itu:

"Kepandaian silatmu memang luar biasa cepat, ayo sebutkan siapa namamu, toaya sudah tak punya waktu lagi untuk banyak ngebacot, lagipula toaya tak suka mem bunuh manusia tak bernama..."

Mendengar perkataan si harimau angin hitam yang masih kekanak-kanakan ini, Chin Siau tertawa tergelak:

"Haaahh...haaahh... haaahh... pertanyaanmu itu terlalu kekanak-kanakan, sekalipun sudah mengetahui nama sauya mu toh kalian tak akan mampu berbuat apa-apa apalagi mengingat kedudukanmu, sungguh terasa geli bila kau ingin mengetahui siapa nama ku..."

Harimau angin hitam Lim Kong semakin naik darah, namun amarahnya itu sama sekali tidak diperlihatkan keluar, cuma selangkah demi selangkah ia berjalan mendekati Chin Siau.

Suma Thian yu menjadi amat tegang sekali melihat

kejadian itu, sampai dimana kah watak Lim Kong sudah cukup dipahami olehnya yang dikuatirkan sekarang adalah disaat Chin Siau tak waspada, musuh menyerang secara tiba-tiba.

Dengan suara lirih ia segera berbisik:

"Saudara Chin, hati-hati dengan gembong iblis tersebut, agaknya mereka mempunyai rencana busuk!"

Chin Siau mendengus dingin dan sama sekali tak mau menerima kebaikan tersebut, tak bisa disangkal lagi dalam hati kecilnya dia masih menaruh dendam terhadap Suma Thian yu.

Mendadak terdengar si harimau angin hitam Lim Kong menbentak keras dengan penuh amarah:

"Setan cilik, serahkan jiwamu!"

Sepasang telapak tangannya disilangkan kemudian secara tiba-tiba melepas sebuah pukulan yang maha dahsyat ke atas dada Chin Siau...

Dengan lincah sekali Chin Siau menghadapi serangan musuh itu tanpa gugup ataupun panik, pedangnya diputar membentuk satu lingkaran cahaya, kemudian dengan cepat menciptakan selapis kabut pedang yang sangat tebal.

Ketika angin pukulan dari Harimau angin hitam Lim Kong menyambar kedepan seakan-akan bertemu dengan selapis dinding baja yang tebal dan kuat, seketika itu juga terpental kembali dan memancar keempat penjuru.

Menghadapi kejadian seperti ini, si harimau angin hitam merasa terkejut sekali, buru-buru dia melompat kedepan dengan segera, kemudian dengan wajah berubah hebat, tanyanya agak tercengang:

"Apa hubunganmu dengan si pendeta tanpa nama?" "Dia adalah guruku" jawab Chin Siau sambil menarik

kembali pedangnya.

Sekali lagi harimau angin hitam Lim Khong tertegun. "Ooh, rupanya kau adalah si bocah keparat she Chin

tersebut, benar-benar tak kusangka kita dapat bersua muka dengan tanpa bersusah payah. Siau tayhiap sedang berdaya upaya untuk membekukmu, hari ini ternyata kau telah datang menghantar diri, hmm... hmm...kalau begitu bukit Ki ciok san adalah tempatmu untuk berisrirahat selama lamanya.."

Chin Siau tertawa hambar.

"Lim khong" katanya, sauya mu sudah cukup memahami bagaimanakah watak orang she Siau tersebut, ternyata kalian adalah manusia komplotan-nya, hampir saja sauya kena tertipu. Aku Chin Siau adalah seorang lelaki sejati, bila kalian berempat memang merasa punya kemampuan, silahkan saja datang menyerang, sauya akan menghadapi kalian satu persatu!"

Kakek tujuh bisa Kwa Lun tertawa seram:

"Bocah keparat, kalau toh kau memang kepingin mampus aku akan segera memenuhi keinginanmu itu!"

Selesai berkata, dia segera mengayunkan kapak pendeknya dengan jurus ular berbisa menunjukkan lidah, secepat sambaran petir langsung dibacokkan ke tubuh Chin Siau.

Sesungguhnya tujuan Chin Siau adalah membangkitkan amarah musuh, dengan kepandaian ilmu pedangnya yang sempurna sesungguhnya tidak bsnyak manusia dalam dunii persilatan saat ini yang mampu menahan serangannya tersebut.

Bu bek ceng adalah seorang pendekar dalam daratan Tionggoan, tapi bagaimanakah orangnya dan sampai dimanakah kehebatan ilmu silatnya belum pernah disaksikan dengan mata kepala sendiri. Sedang apa yang ditampilkan oleh Chin Siau saat inipun belum cukup memberi keterangan kepadanya.

Oleh sebab itu jurus pertama yang digunakan kakek tujuh bisa Kwa Lun tidak lebih hanya bertujuan untuk memancing musuh, begitu mencapai tengah jalan, mendadak ia merubahnya menjadi jurus Seluruh angkasa penuh cahaya bintang.

Tampak sinar kapaknya berkilat kilat seperti hujan badai yang datang dari empat arah delapan penjuru dan bersamasama menyambar tubuh Chin Siau.

Gerak serangan yang sangat aneh ini boleh dibilang jarang dijumpai dalam kolong langit, entah siapapun yang sedang bertarung, biasanya cahaya kapak hanya bisa datang dari arah depan saja.

Tapi dalam kenyataannya sekarang, dia dapat melancarkan ancamannya dari empat arah delapan penjuru, tidak heran kalau kemampuannya itu segera mengejutkan orang. Bagi orang yang berisi, sekali coba akan segera diketahui kemampuannya, kakek tujuh bisa Kwa Lun bisa menempatkan diri dalam urutan nama kelompok iblis da lam dunia persilatan sudah barang tentu kepandaian silat yang dimilikinya tak  boleh dianggap enteng.

Chin Siau merasa sedikit diluar dugaan menghadapi datangnya ancaman tersebut, hatinya terkesiap, pedangnya dengan jurus mengangkat api membakar langit membuat sapuan ke udara kemudian dengan ju rus selaksa lebah memetik putik, pedangnya menciptakan kabut pedang yang bergulung-gulung, ditengah udara segera muncul berjuta-juta titik cahaya tajam yang berkilauan. Dalam waktu singkat, terdengarlah serangkaian suara dentingan nyaring yang memekikkan telinga.

Tiba-tiba bayangan kapak dan cahaya pedang bilang lenyap tak berbekas, sedangkan kedua orang itu sama-sama mundur beberapa langkah dari posisi semula.

"Ilmu pedang bagus!" puji kakek tujuh bisa Kwa Lun tanpa terasa.

Chin Siau juga turut berseru:

"Gerakan tubuh yang sangat indah!"

Kedua orang itu sama-sama memiliki kelebihan sendiri, hingga dalam bentrokan yang barusan berlangsung, keadaan tetap seimbang dan tiada yang menang atau kalah.

Tapi dihati kecil kakek tujuh bisa Kwa Lun timbul perasaan yang tak puas, sebab berbicara soal usia maupun tenaga dalam, seharusnya dia masih berada diatas kemampuan Chin Siu, tapi kenyataannya sekarang dia hanya mampu berimbang dengan seorang pemuda yang masih berbau tetek, andaikata kejadian ini sampai tersebar luas, bukankah orang akan mentertawakan dirinya sampai copot semua gigi mereka?

Sebaliknya Chin Siau sendiripun diam, ini selain disebabkan perasaan tak puas, dia pun ingin memperlihatkan kehebatannya didepan Suma Thian yu, jika dia gagal merobohkan kakek tujuh bisa Kwa lun, maka melanjutnya dia tak akan berkesempatan lagi untuk mengangkat kepala.

Mendadak dia meluruskan pedangnya ke depan kakek tuuh bisa, kemudian sambil tertawa hambar ia berkata:

"Sambut baik-baik pedang ini! Dalam tiga jurus mendatang, sauya hendak memotong sisa telinga yang kau miliki..."

Ketika kakek tujuh bisa Kwa Lun menyaksikan pedang itu disodorkan ke depan tanpa suatu keanehan, dihati kecilnya segera berpikir:

"Asal kupuku1 pedang itu pelan, niscaya senjata tersebut akan terjatuh ke tanah, tapi apa maksud dan tujuannya berbuat demikian?"

Jago yang ahli memang berbeda sekali dengan jagoan   biasa, coba bila orang lain yang menjumpai keadaan demikian sudah pasti mereka akan berusaha untuk memukul rontok pedang tersebut.

Berbeda sekali dengan kakek tujuh bisa, dia merasa semakin sederhana gerak posisi seseorang, semakin berbahaya sikap terse but karena di balik kesemuanya tentu mengandung suatu perubahan yang luar biasa. Akhirnya dia menjadi sangsi dan tak berani turun tangan secara sembarangan.

Chin Siau tertawa mengejek, setelah melirik sekejap kearah Kwa Lun dengan pan dangan menghina ia berkata:

"Bagaimana? Apakah kakek tujuh bisa yang termashur dalam rimba hijau sekarang menjadi cucu kura kura yang ketakutan?"

Sambil berkata, tenaganya disalurkan kedalam pedang dan mencukil ujung senjata tersebut keatas sehingga hampir saja merobek dagu lawan.

Buru-buru kakek tujuh bisa miringkan kepalanya untuk berkelit, kemudian kapaknya menyapu kedepan menghantam senjata Chin Siau.

Begitu ia bergerak, Chin Siau turut bergerak, dia cepat, Chin Siau makin cepat pula.

Tampak cahaya perak berkelebat lewat, Kakek tujuh bisa menjerit kesakitan dan telinga yang tinggal sepotong rontok ke tanah.

Berhasil dengan perbuatannya itu, Chin Siau tertawa tergelak dengan wajah penuh kebanggaan katanya:

"Maaf, maaf..."

Sejak terjun kedunia persilatan sehingga setua ini belum pernah kakek tujuh bisa Kwa Lun menderita kekalahan sedemikian mengenaskannya, tidak heran kalau dia menjadi naik darah dan kalap setengah mati, tiba-tiba jeritnya:

"Bangsat muda, terimalah seranganku!" Kapaknya segera disambit ke depan, diiringi cahaya tajam yang berkilauan senjata tersebut langsung menyambar kewajah Chin Siau.

Bersamaan dengan di sambitnya kapak pendek itu, buruburu kakek tujuh bisa Kwa Lun merogoh kedalam sakunya dan mengambil bubuk penghenti darah untuk menghentikan darah dari mulut luka, menyusul kemudian ia menghimpun tenaga dalamnya dan sepasang tangan menari-nari melepaskan tiga buah serangan secara berantai.

Chin Siau menangkis kapak itu dengan pedangnya, baru saja berhasil, ia segera merasakan datangnya segulung angin pukulan yang dahsyat menerjang dadanya.

Begitu cepat datangnya ancaman tersebut seolah-olah dilepaskan bersamaan waktunya, Chin Siau menjadi amat terkejut, tergopoh-gopoh dia memutar senjatanya membentuk selapis kabut pedang.

Siapa sangka baru saja pukulan pertama dilontarkan, menyusul kemudian pukulan yang kedua, akibatnya Chin Siau menjadi keletihan dan tak punya kesempatan lagi untuk berganti napas.

Akibatnya dengan memaksakan diri ia berhasil juga mematahkan ancaman yang kedua tersebut tapi pukulan ketiga segera menyusul tiba.

Secara beruntun kakek tujuh bisa Kwa Lun telah melepaskan tiga buah pukulan semua ancaman tersebut hebat, terutama sekali pukulan yang ketiga, tenaga yang di sertakan merupakan tenaga gabungan dari serangan pertama dan kedua.

Sayang sekali Chin Siau tidak memahami rahasia itu, ia segera terjebak dalam siasat lawan, apalagi saat itu tenaganya sudah habis dan jurus serangannya sudah mendekati akhir.

Tenaga pukulan Kwa Lun dengan amat dahsyatnya langsung menembusi kabut pertahanan dan menghantam dadanya.

Tampaknya Chin Siau tak mungkin bisa menghindarkan diri lagi dari serangan tersebut dan pasti akan terluka.

Mendadak terdengar seseorang membentak keras: "Cepat mundur!"

Segulung angin lembut berhembus datang dari samping dan melemparkan tubuh Chin Siau sejauh satu kaki lebih dari posisi semula, menyusul kemudian dari tengah udara kedengaran suara benturan yang memekikkan telinga.

Blaaammm..!

Ketika dua gulung tenaga pukulan saling beradu, angin puyuh menyapu permukaan tanah, kemudian bayangan manusia berkelebat lewat, tubuh si kakek tujuh bisa Kwa Lun bergeter keras sebelum akhirnya dapat berdiri tegak.

Ketika ia mendongakkan kepalanya lagi, didepan mata telah berdiri Suma Thian yu.

Sementara itu Chin Siua yang melihat orang yang telah menolongnya lagi-lagi Suma thian yu, bukan saja ia tidak merasa berterima kasih, malah sebaliknya amat murung dan tak senang hati.

Tak terbayangkan amarah yang membara didalam dada kakek tujuh bisa Kwa Lun waktu itu, mencorong sinar buas dari balik matanya, dengan kening berkerut ia berseru sambil tertawa seram:

"Bocah keparat, beranikah kau beradu tiga pukulan denganku?"

"Bagaimana jika kau kalah?" tanya Suma Thian yu sambil tersenyum.

Kakek tujuh bisa Kwa Lun tertawa seram:

"Heeh... heeeh... heeh...bila kau yang menang aku bersedia kau cincang!"

"Sungguhkah perkataanmu itu? Siapa yang bersedia menjadi saksi?" seru Suma Thian yu cepat, sementara matanya melirik sekejap ke arah si harimau angin hitam Lim Khong.

Kakek tujuh bisa Kwa Lun tertawa seram:

"Ucapan seorang lelaki bagaikan kuda, dicambuk sekali diucapkan selamanya tak bisa ditarik kembali"

"Bagus sekali, kata Suma Thian yu sambil tersenyum dan manggut-manggut, silahkan kau mulai menyerang!"

Sekulum senyuman licik segera menghiasi wajah Kakek tujuh bisa, ia mengambil posisi dan menghimpun segenap tenaga dalam yang yang dimilikinya kedalam tangan. Suara gemerutuk keras segera terdengar menggema dari sendi sendi tulangnya.

Tatkala Chin Siau memperhatikan dengan seksama, ia menjadi terperanjat, ternyata sepasang telapak tangan kakek tujuh bisa telah berubah menjadi hitam pekat.

Kalau dilihat dari julukannya sebagai Kakek tujuh bisa. semestinya ia memiliki tujuh macam racun keji yang diserap kedalam telapak tangannya itu, setiap kali serangan dilontarkan maka sari racun pun akan turut berhembus  keluar, barang keluar, barang siapa terkena pukulan itu, jiwanya segera akan melayang, jadi boleh dibilang berbahaya sekali!

Sekarang, ia telah mengeluarkan ilmu simpanannya, pukulan tujuh bisa untuk memtaruhkan kedudukan serta pamornya.

Melihat hal tersebut, diam-diam Suma Thian yu merasa terkejut juga di buatnya.

Mendadak terdengar kakek tujuh bisa Kwa Lun membentak keras:

"Lihat serangan!"

Sepasang telapak tangannya segera di lontarkan kedepan, dua gulung angin pukulan yang dingin menusuk tulang pelanpelan menggulung kedepan di samping hawa dingin tersebut sesungguhnya tidak nampak sesuatu kehebatan lain yang menggidikkan hati.

Suma Thian yu segera menghimpun pula tenaga dalamnya dan mendorong telapak tangan kirinya kedepan, segulung tenaga lembut segera meluncur kemuka menyongsong datangnya ancaman lawan.

Menyaksikan dua jago kelas satu dari dunia persilatan saling berada kepandaian semua orang segera masang mata baik-baik mengikuti jalannya pertarungan tersebut.

Mendadak.......

"Blaaam, blaaammm !"

Ditengah ledakan keras, pukulan dari kakek tujuh bisa telah saling membentur dengan angin pukulan dari Suma Thian yu, seketika itu juga muncul selapis cahaya hijau yang membumbung ke angkasa dan menyebar ke mana-mana.

Kuatir keracunan, segenap jago yang menonton jalannya pertarungan tersebut sama-sama menyingkir jauh-jauh dari tepi arena.

Kedua orang itu masih tetap berdiri tegak ditempat semula, bergerak sedikitpun tidak.

Paras muka kakek tujuh bisa Kwa Lun sama sekali tidak berubah, agaknya peristiwa tersebut sudah dalam dugaannya sehingga tidak terlalu mengejutkan.

Mendadak terdengar ia membentak lagi: "Sambutlah pukulan ku ini!"

Seperti gerakan semula, sepasang telapak tangannya

pelan-pelan dilontarkan ke depan, hanya kali ini tenaga yang disertakan dalam serangan tersebut jauh lebih hebat.

Baru saja angin pukulan dilontarkan, empat penjuru seperti tercekam oleh udara yang dingin membekukan, membuat setiap orang menggigil tanpa terasa karena kedinginan.

Diam-diam Suma Thian yu melipatkan tenaga serangannya dengan dua bagian lagi, telapak tangan kanannya diayunkan keudara dan melepaskan sebuah pukulan pula.

Ledakan nyaring bergema untuk kedua kalinya di angkasa, seperti juga bentrokan pertama, tubuh Suma Thian yu masih tetap berdiri kekar di posisi semula.

Dua kali serangannya sama-sama menderita kegagalan, hal tersebut membuat perasaan kakek tujuh bisa Kwa Lun tak karuan lagi, dia sadar bila serangannya tidak disertakan dengan segenap kekuatan yang dimiliki, mungkin usahanya kembali akan sia-sia belaka, bukan cuma begitu, bisa jadi kapal samudra akan karam dalam selokan.

Tatkala masih berada di bukit Kou teng san tempo hari ia sudah pernah menjajal kepandaian sakti dari Suma Thian yu, cuma pada waktu itu ia tidak menyertakan segenap kekuatan yang dimiliki.

Tapi sekarang dihadapan sekian banyak jago lihay kaum rimba hijau, jangan lagi sampai keok ditangan seorang pemuda, hasil seripun akan membuat pamornya merosot dan ditertawakan semua orang.

Maka setelah dua buah pukulan lewat dan kini tinggal serangannya yang terakhir, ia bertekad untuk mempertahankan pamor, ke dudukan serta nama besarnya dalam serangan-nya yang terakhir ini bisa dibayang kan sudah barang tentu ia tak boleh berbuat ayal lagi 

Paras mukanya segera berubah menjadi serius, tulang persendiannya gemerutuk keras kini ia sudah menghimpun tenaga pukulannya sebesar dua belas bagian untuk menggencet mampus musuhnya.

Siapa sangka luka baru pada telinganya belum merapat mungkin disebabkan pengerahan tenaga yang melampaui batas, akibatnya luka-luka itu pecah lagi, darah segera

bercucuran keluar, dan tenaga murni yang telah terhimpun pun tahu-tahu sudah membuyar kembali.

Kejadian tersebut amat mengejutkan hatinya, buru-baru dia menghimpun kembali tenaga dalamnya dan mengalirkan kembali hawa murni tersebut kedalam pusar.

Seketika itu pula wajahnya berubah menjadi pucat pias, seluruh tubuhnya gemetar keras, sepasang tangannya gemetar keras, sudah jelas hawa racunnya telah membuyar bahkan bisa jadi merembes kearah lukanya itu....

Suma Thian yu yang menyaksikan kejadian ini segera menghembuskan napas lega.

Dalam pada itu si harimau angin hitam Lim Khong juga telah merasakan keanehan pada rekannya, buru-buru dia mendekat pada si kakek tujuh bisa, lalu tanyanya dengan penuh perhatian:

"Apakah saudara Kwa terluka?"

Kakek tujuh bisa Kwa Lun menggeleng, sambil mendorong  si harimau angin hitam Lim Khong, katanya sambil tetap keras kepala:

"Tidak menjadi masalah, hari ini bila aku tak dapat memakan daging dan darah keparat ini, bagaimana mungkin aku bisa melampiaskan rasa dendam dihatiku?" Harimau angin hitam Lim Khong bukannya orang bodoh, ia tahu bahwa racun tujuh bisa yang dilatih si kakek tujuh bisa telah berbalik menghanyam tubuh sendiri, racun tersebut jelas sudah meresap ke dalam tubuhnya, apa bila keadaan seperti  ini tidak ditolong dengan cepat, niscaya jiwanya akan terancam.

Maka cepat-cepat dia menotok tiga buah jalan darah penting ditubuh kakek tujuh bisa, kemudian memerintahkan dua bersaudara Kho untuk membimbingnya pergi.

Menyaksikan kekek tujuh bisa telah mundur sebelum bertarung, Suma Thian yu menghembuskan napas panjang pula sambil mundur dari situ.

"Jangan mundur dulu!" tiba-tiba si harimau angin hitam Lim Khong membentak keras.

Suma Thian yu membalikkan badannya, kemudian bertanya dengan suara hambar:

"Lim tayhiap masih ada urusan apa lagi?" Harimau angin hitam tertawa anggkuh, katanya:

"Toaya anjurkan kepada kalian berdua agar hapuskan saja niat kalian untuk tetap hidup, betul bukit Ki ciok san bukan sarang naga gua harimau, tapi kami telah mempersiapkan dua buah peti mati untuk kalian pergunakan!"

Chin Siau segera berpaling, dengan penuh amarah ia berseru ketus:

"Dengan mengandalkan kemampuanmu itu?

Haah...haah...haah... orang she Lim, jangan sesumbar dulu, bila orang lain yang berkata begitu tentu saja aku tak berani bicara apa-apa, tapi jika kau yang hendak melawanku, lebih baik tak usah bermimpi lagi disiang hari bolong"

Perkataan ini memang benar juga, dengan empat lawan dua, alhasil ke empat jago rimba hijau itu sama-sama keok, malah kakek tujuh bisa Kwa Lun dan setan muka hijau Siang Tham menderita luka yang teramat parah.

Bila si Harimau angin hitam Lim Khong dan ular berekor nyaring Mo Pun ci menahan ke dua jago muda itu dengan kekerasan jelas hal tersebut bukan pekerjaan yang gampang bagi mereka.

Terutama sekali bagi si ular berekor nyaring Mo pun ci, ia lebih ketakutan lagi, orang bilang, Sekali terpagut ular, sepanjang tahun takut tali. Begitu pula keadaan Mo Pun ci, bertemu dengan Suma Thian yu ia lebih suka mengundurkan diri mencari selamat.

Harimau angin hitam Lim Khong agak tertegun sejenak, lalu serunya sambil tertawa seram:

"Setengah li di barat daya bukit ini terdapat sebuah tebing curam, disitulah sudah tersedia dua buah peti mati, bersediahkah kalian ke situ?"

00000o00000

MENDENGAR ucapan tersebut, Chin Siau segera mendengus dingin, serunya cepat:

"Sauya ingin melihat sampai dimana sih kehebatan dari bukit Ki ciok san ini!"

Seusai berkata, dia lantas membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ, sekejap mata kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Menyaksikan keadaan tersebut, diam-diam Suma Thian yu menggelengkan kepalanya sambil menghela napas, kemudian membalikkan badan dan menyusul dibelakangnya.

Siapa tahu meski sudah dikejar sekian waktu, belum  nampak juga bayangan tubuh Chin Siau, padahal jarak sejauh setengah li tak cuma berapa menit dicapai.

Setengah perminum teh kemudian ia sudah menuruni sebuah bukit, didepan situ terbentang sebuah jurang yang terjal.

Suma Thian yu mencoba untuk memperhatikan sekeliling sana, namun alhasil ia belum juga menemukan bayangan tubuh Chian Siau.

Tanpa terasa pemuda itu berpikir: "Jangan-jangan dia sudah kabur? Aaaah.. tapi hal ini tak mungkin, dia bukan termasuk manusia yang berjiwa pengecut, bisa jadi ia justru telah terjebak dalam perangkap lawan"

Pikir punya pikir kembali ia merasa hal ini tidak benar,   antara dia dengan Chin Siau tak lebih hanya selisih selangkah, dengan jarak sejauh kira-kira setengah li, mustahil dapat terjerumus ke dalam perangkap lawan, ini berarti ia sudah tersesat atau lari kearah bukit yang lain.

Tiba ditebing terjal tersebut, tiba-tiba Suma Thian yu menyaksikan diatas sebatang pohon besar, kulit pohon dikupas sebagian, ditengah kupasan itulah tertera beberapa huruf yang berbunyi.

"Silahkan tuan masuk lembah"

Lama sekali Suma Thian yu berdiri menungu disitu, sebelum akhirnya mengambil keputusan untuk meneruskan perjalanan menuju ke dasar tebing.

Dibilang memang cukup aneh, baru saja berjalan berapa langkah, tiba-tiba ditemukan diantara semak belukar terdapat sebuah undak-undakan yang terbuat dari tenaga manusia.

Buru-buru Suma Thian yu lari ke situ dan pelan-pelan turun ke lembah dengan menelusuri undak-undakan batu.

Dssar lembah penuh tumbuhan rumput, Suma Thian yu berdiri termangu tapi dengan cepat ia berhasil menemukan jawaban kemana perginya Chin Siau, Bisa jadi Chin Siau telah memasuki lembah tersebut dan menyembunyikan diri dibalik rerumputan, oleh sebab itulah jejaknya tidak berbasil ditemukan.

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa ia berteriak keras: "Saudara Chin! Saudara Chin!"

Tapi setelah berteriak berulang kali, tiba-tiba ia merasa geli sendiri, gumamnya:

"Aku memang kelewat bodoh, bagaimana mungkin Chin

Siau akan memperdulikan aku? Dia sudah membenciku hingga merasuk ke tulang sumsum, biarpun berada disekitar sini pun belum tentu dia akan memperdulikan aku " Setelah berteriak kalang kabut tadi, Suma Thian yu pun kehilangan arah, hal tersebut membuatnya gelisah dan cepatcepat balik kembali ke tempat semula.

Mendadak.....

Suara tertawa seram berkumandang dari sekitar tempat itu. Tanpa terasa Suma Thian yu menegur:

"Saudara Chin, dimana kau?"

Mendadak terdengar ada orang menyahut dari belakang. "Bocah keparat, jalan ke surga enggan kau lewati, jalan menuju neraka malah kau kunjungi, Hmm... Hmm satelah

masuk ke dalam lembah ini jangan harap kau bisa keluar lagi dalam keadaan selumat !"

Suma Thian yu memperhatikan dengan seksama asal mula datangnya suara tersebut, ke mudian sepasang kakinya menjejak tanah dan melayang ke atas rumput dengan mengeluar kan ilmu meringankan tubuh terbang diatas rumput, secepat petir dia bergerak menuju ke arah mana datangnya suara tersebut.

Siapa tahu tempat itu kosong dan tak nampak sesosok bayangan manusia pun. Suma Thian yu tahu orang itu tentu sudah melarikan diri dengan menelusuri rerumputan yang lebat, hal tersebut membuat hatinya amat gusar.

Cepat-cepat dia melejit ke tengah udara lalu menghimpun tenaga murninya dan mem perhatikan sekejap ke sekeliling tempat tersebut.

Namun kecuali angin yang berhembus lewat tak seorang manusia pun yang nampak bersembunyi disekitar sana.

Dalam mendongkolnya Suma Thian yu segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang paling sempurna untuk melintasi padang ilalang itu dan menuju ke dasar tebing yang lain.

Walaupun ia sudah lolos dari padang ilalang tersebut, namun jejak musuh masih belum juga kelihatan.

Sementara Suma Thian yu masih ragu-ragu, mendadak dari belakang tubuhnya terdengar suara desingan angin tajam menyambar tiba. Ternyata sebuah senjata rahasia telah dibidikkan kebelakang batok kepalanya.

Suma Thian yu cepat mundur dua langkah kemudian memutar badannya untuk menghindarkan diri dari ancaman senjata rahasia tersebut, setelah itu bentaknya keras-keras:

"Siapa disitu? Bajingan tengik darimana yang beraninya main sembunyi dan melukai orang secara menggelap? Jika kau memang laki laki, ayo capat menampakkan diri!"

Baru selesai ia berkata, mendadak dari balik rumput kedengaran seseorang berseru sambil tertawa dingin.

"Untuk menghadapi manusia macam kau, terpaksa aku harus berbuat demikian, inilah yang dinamakan dengan cara yang sama untuk menghadapi orang yang sama, sambutlah baik-baik bocah keparat!"

Mendadak rerumputan nampak bergoyang. "Sreeeet! sreeet! steeet!"

Secara beruntun meluncur keluar panah-panah terbang yang menyelimuti seluruh angkasa, kemudian menyergap serta mengepung seluruh badan Suma Thian yu.

Pemuda itu amat terkejut, mimpi pun dia tak menyangka kalau dibalik semak sudah disiapkan pemanah-pemanah tangguh.

Serta merta dia mengebaskan ujung bajunya berulang kali melepaskan segulung angin puyuh yang membuyarkan panahpanah terbang itu.

Mendadak terdengar suara bentakan keras bergema lagi di angkasa:

"Lepaskan panah!"

Seketika itu juga hujan panah berhamburan diangkasa dan meluncur ketubuh si anak muda tersebut bagaikan hujan deras.

Suma Thian yu benar-benar naik pitam setelah dihadapkan dengan keadaaan seperti ini, ia tak berani menyambut serangan tersebut dengan kekerasan, cepat-cepat hawa murninya disalurkan mengelilingi seluruh badan, baru saja hawa murninya tebentuk, serangan panah sudah berhamburan datang.

Mendadak terdengar si anak muda itu menjerit kesakitan, kemudian tubuhnya roboh terjengkang.

Dengan robohnya pemuda itu, dari balik semak belukar segera melompat keluar dua orang lelaki setengah umur berwajah bengis, ketika mereka saksikan seluruh tubuh Suma Thian yu telah dipenuhi dengan tancapan panah terbang, salah seorang diantaranya segera tertawa terbahak-bahak, serunya:

"Rasain sekarang, baru kini keparat tersebut tahu kalau lembah si hun kok bukan tempat yang boleh didatangi semau hati sendiri"

Lelaki bengis yang lain turut tertawa licik katanya: "Saudara Him, sudah edan nampaknya kau? Keparat itu

kan sudah mampus, kau lagi berbicara dengan siapa?" "Saudara Kou, kali ini kita dua bersaudara benar-benar

akan memperoleh nama besar" "Kenapa?"

"Aaaai, kau memang goblok... bayangkan saja pentolan kita berusaha dengan segala cara untuk mendapatkan keparat tersebut, tapi setiap kali keparat itu selain berhasil kabur meloloskan diri. Sedang kita berhasil membidiknya sampai mampus kini, berarti kita telah menyelesaikan sebuah tugas yang berat, jika berita ini sampai tersiar kedalam dunia persilatan, siapa yang tidak bakal memuji diri kita...? Hmm... hmmm..."

Seusai berkata, kembali ia tertawa terbahak-bahak seperti orang kalap.

Orang she Kou itu manggut-manggut, teriaknya kemudian: "Kita tak usah menunda-nunda waktu lagi, ayo segera kita

gotong keparat itu untuk mendapat jasa!"

Seraya berkata mereka berdua segera mendekati Suma Thian yu, baru saja hendak mengangkat tubuh pemuda itu, tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin yang amat tak sedap bergema diudara. Tahu-tahu Suma Thian yu sudah melompat bangun, sedangkan panah-panah terbang yang semula menancap diatas tubuhnya, kini bagaikan dibidikkan secata langsung dari busur, secepat kilat menyambar bersama ke tubuh lelaki bengis she Kou itu, jarak diantara kedua orang itu sangat dekat, lagipula Suma Thian yu pun bertindak secara   mendadak dan sama sekali diluar dugaan, tak sempit lagi  lelaki bengis she Kou itu berteriak kaget, puluhan batang panah terbang itu sudah menancap semua diatas dada serta lambungnya.

Terdengar jerit kesakitan yang memilukan hati bergema memecahkan keheningan, lelaki bengis itu roboh terjengkang keatas tanah dan tewas seketika.

Suma Thian yu tak berani berayal lagi, bahunya bergerak dan secepat kilat ia terjang ke hadapan lelaki she Him itu, kemudian menotok jalan darahnya.

Semua kejadian berlangsung dalam waktu singkat, hsnya dengan satu taktik yang sederhana, ia berhasil membereskan kedua orang itu bersamaan waktunya.

Dengan langkah lebar Suma Thian yu berjalan mendekati lelaki she Him itu, kemudian setelah menekan badannya dengan tangan sebelah, tangan yang lain yang dipakai untuk membebaskan jalan darahnya, lalu bentaknya keras-keras:

"Masih ada siapa lagi dibalik semak belukar?"

Lelaki itu melototkan sepasang matanya dengan penuh kegusaran, dia hanya memandang sekejap kearah pemuda itu tanpa menjawab sepatah kata pun.

"Ooooh, kau enggan berbicara?" jengek Suma Thian yu, "bagus sekali, aku pun tak akan memaksa dirimu!"

Selesai berkata dia lantas memencet sebuah jalan darah yang berada di iga lelaki itu.

Akibatnya sekujur badan lelaki itu gemetar keras, peluh  jatuh bercucuran, mukanya dari merah berubah menjadi hijau, keadaan-nya nampak mengenaskan sekali.

Sambil tersenyum Suma Thian yu kembali berkata: "Ayo cepat berbicara, kalau tidak sauya akan bikin kau mampus tak bisa hidup pun tak dapat!"

Sambil berkata dia siap-siap menotok lagi jalan darahnya.

Kontan saja lelaki bengis itu dibuat ketakutan setengah mati, segera jeritnya:

"Baik, baik, aku akan berbicara, didalam situ tiada orang lagi..."

"Omong kosong!" bentak Suma Thian yu marah, "sudah jelas dibidikkan beribu-ribu batang anak panah, masa disini cuma ada kalian berdua saja?"

"Aku berbicara sesungguhnya, kalau tidak percaya silahkan membuktikan sendiri, tadi kami membidikkan panah tersebut dengan Hoat si tay..."

"Hoat si tay?" tanya Suma Thian yu keheranan, "sungguh nama yang sangat aneh, sudah sekian lama ssuya hidup didunia ini, belum pernah kudengar nama alat yang begini aneh, rupanya kau berniat membohongi diriku?"

Sambil berkata kembali dia siap-siap menotok jalan darah ditulang iga lelaki tadi.

Kontan saja lelaki itu menjerit ketakutan.

"Eeeh.... tunggu dulu, kalau kau tidak percaya, segera kutunjukkan alat tersebut kepadamu!"

Dari caranya berbicara maupun sikap serta gerak geriknya, Suma Thian yu segera mengetahui kalau lelaki itu tidak mem bohonginya, maka katanya kemudian"

"Tidak usah, asal kau tidak membohongi aku, hal tersebut sudah lebih dari cukup. Kini aku ingin bertanya lagi kepadamu, bukankah si harimau angin hitam telah menyiapkan dua buah peti mati didalam lembah ini, di mana ia letakkan peti mati tersebut?"

"Disana!" sahut lelaki itu sambil menunjuk ke arah barat lembah.

"Cepat bawa aku ke sana!"

Lelaki itu segera bangkit berdiri, tiba-tiba iganya terasa  kaku dan semua penderitaan yang dialaminya tadi kini lenyap tak berbekas. Mendadak terdengar Suma Thian yu berkata lagi: "Sekarang kau tak usah keburu bersenang hati, sebab

sauya menotok sebuah Im hiat mu lagi asal kau telah membawaku ketempat tujuan, sudah barang tentu sauya akan melepaskan selembar jiwamu, jangan lupa, kecuali aku  sendiri, tiada manusia lain dunia ini yang mampu membebaskan jalan darahmu itu"

Ucapan tersebut membuat lelaki bengis itu merasakan hatinya dingin separuh, dia menghela napas sedih dan mengajak pemuda itu menuju kedepan sana.

Setelah melewati padang ilalang yanglebat tersebut, tibatiba lelaki bengis itu menghentikan langkahnya seraya berkata:

"Tempat itu terletak didepan sana, aku tak bisa maju lagi lebih kedepan, kalau tidak aku pasti akan mati"

Suma Thian yu mencoba untuk menengok kedepan, benar juga tak jauh didepan sana benar-benar terdapat dua buah peti mati!

Dengan suatu gerakan cepat dia lantas menotok bebas jalan darah Im hiat ditubuh lelaki itu, tapi pada saat yang sama dia menotok pula jalan darah tidurnya.

Maka tak ampun lagi robohlah lelaki itu dan tertidur dengan sangat nyenyak.

Dengan langkah yang sangat berhati-hati, Suma thian yu meloloskan pedang Kit hong kiam nya, kemudian selangkah demi selangkah dia mendekati peti mati itu.

Tiba didepan peti mati, tiba-tiba terbaca olehnya pada papan tutup peti mati itu tertera beberapa tulisan yang berbunyi demikian:

"Dipersembahkan untuk Suma siauhiap" Sedangkan pada peti mati sebelah kanan di tulis: "Semoga tuan beristirahat dengan tenang"

Menyaksikan hal tersebut, tanpa terasa Suma thian yu mendongakkan kepalanya dan tertawa keras, pedang Kit hong kiamnya diayunkan kedepan dan...

"Kraaakk!" Penutup peti mati yang pertama segera terbongkar, ternyata didalamnya hanya berisikan kertas perak.

"Bedebah!" umpat Suma Thian yu dengan gusar.

Pedangnya kembali diayunkan kedepan, penutup peti mati yang berada disebelah kanan pun segera tersambar hingga terbuka.

Mendadak....

Berkumandang serentetan suara tertawa yang mengerikan dari balik peti mati itu.

Suma Thian yu terkejut dan ngeri, tanpa terasa dia mundur beberapa langkah dengan bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Tiba-tiba dari balik peti mati itu muncul seorang kakek berambut panjang sebahu dan berwajah penuh bulu panjang, dengan melototkan sepasang matanya yang hijau bercahaya, dia awasi pemuda itu tanpa berkedip.

"Bocah, kau masih kenal dengan aku?" Suma Thian yu mengamati lelaki tua itu dengan seksama, kemudian bertanya keheranan:

"Siapakah kau?"

Kakek itu tertawa seram, tiba-tiba dia mengayunkan tangannya dan melemparkan sebuah benda ke arah Suma Thian yu.

"Itu ambillah, kau memang bedebah!" teriaknya. Serta merta Suma Thian yu menerima sambitan tadi,

setelah disambut, paras mukanya berubah hebat, cepat-cepat benda itu dimasukkan ke dalam sakunya.

"Jadi kau adalah Sam yap koay mo?" serunya kemudian terkejut.

Ternyat benda yang disambitkan kearah Suma Thian yu itu tak lain adalah kitab pusasa tanpa tulisan bu ci cinkeng yang diidamkan Suma Thian yu selama ini, sementara kakek yang dihadapinya bukan lain adalah Sam yap koay mo.

Ketika masih berada dipuncak Ning Im hong tempo hari, Suma Thian yu telah mempermainkan Sam yap koay mo serta manusia iblis berkepala ular Sin Moay him, bahkan menyerahkan kitab tanpa kata itu kepada Sim Moay him. Saat itu pemuda tersebut tidak tahu kalau kitab tanpa kata itu merupakan kitab yang asli, karena itu hal mana tak terlalu dipikirkan dihati, tapi setelah tahu dari Ciong liong lo sianjin dan Keng sim taysu di Tibet bahwa benda itu sesungguhnya merupakan benda yang asli ia baru menyesalnya setengah mati, bahkan bertekad hendak me rebut secepat mungkin.

Siapa tahu hari ini dia telah bertemu dengan Sam yap koay mo, bahkan tanpa buang banyak tenaga telah berhasil mendapatkan kembali kitab tersebut, tak heran kalau pemuda itu cepat-cepat menyimpannya kedalam saku dengan wajah gembira, seperti apa yang sudah diduga oleh Suma thian yu, sejak mendaparkan kitab pusaka tanpa kata, manusia iblis berkepala ular Sim Moay him berhasrat untuk mengakanggi benda tersebut seorang diri, tapi Sam yap koay mo ternyata jauh lebih licik dan keji, menggunakan kesempatan disaat lawannya tidak siap ia segera turun tangan menghabisi nyawa Sim Moay him dan merampas kitab pusaka tersebut.

Tak terlukiskan rasa gembira Sam yap koay mo setelah berhasil mendapatkan kitab pusaka itu, dia pun segera berangkat kelembah Si hun kok dibukit Ki ciok san ini untuk mengasingkan diri dan menekuni isi kitab pusaka tersebut.

Tapi  akhirnya usaha tersebut sia-sia belaka, malah  berakibat hampir saja dia mengalami jalan api menuju neraka.

Sudah barang tentu dia tak akan mencapai hasil apa-apa karena tulisan Han yang tercantum dilembaran atas kertas kulit itu hanya bermaksud untuk mengelabuhi orang.

Ketika Sam yap koay mo mengetahui bahwa usahanya gagal total, rasa benci dan dendamnya menjadi membara, ia bersumpah hendak mencari Suma Thian yu untuk membalas dendam.

Kebetulan sekali pada saat itulah Kun lun indah Siau Wi goan dan Wan wan cu baru pulang dari perbatasan dengan membawa luka.

Begitu ke tiga gembong iblis itu saling bertemu, dari mulut Siau Wi goan dapat diketahui bahwa Suma Thian yu akan kem bali ke daratan Tionggoan tak lama kemudian, mendengar kabar tersebut, Sam yap koay mo pun mengurungkan niatnya semula dengan tetap menantikan kedatangan pemuda tersebut disini.

Kemarin ia mendapat laporan kalau Suma Thian yu akan melalui jalanan tersebut, maka dia pun mengatur segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan musuh besarnya itu.

Dalam pada itu, Sam yap koay mo telah melompat bangun dan dalam peti mati, kemudian sambil melejit keluar, ia menuding anak muda tersebut sambil melejit keluar, ia menuding anak muda tersebut sambil mencaci maki:

"Bocah keparat, selembar kertas rongsokan telah  membuang waktuku hampir separuh abad, hari ini aku hendak mencabut selembar jiwa anjingmu!"

Suma Thian yu tertawa terbahak-bahak:

“Haaah... haahh... haaah... bencana itu datang lantaran serakah, kau mesti menyalahkan siapa? Tolong tanya bagaimana kabar adik angkatmu manusia she Sim tersebut?"

Ketika Suma Thian yu tidak menjumpai kehadiran manusia iblis berkepala ular, bahkan melihat kitab pusaka tersebut sudah terjatuh ketangan Sam yap koay mo, hatinya menjadi terang benderang, ia tahu Sim Moay him tentu sudah mengalami musibah, karena itulah ia pun menyindir lawannya dengan sinis.

Menyinggung soal manusia iblis berkepala ular Sim Moay him, tak beda mengorek hati Sam yap koay mo, ibarat api bertemu minyak, seketika itu juaga Sam yap koay mo mencakmencak kegusaran, sambil membentak keras, ia mengayunkan tangannya dan membacok tubuh Suma Thian yu dengan jurus Bukit Tay san menindih kepala.

Suma Thian yu tersenyum, dengan cekatan dia menghindar ke samping, kemudian serunya sambil tertawa terbahakbahak:

Haaah...haaah... haah... tampaknya ilmu silat peninggalan orang kuno memang amat dahsyat, cukup dilihat dari seranganmu hari ini, bisa diduga banyak manfaat yang berhasil kau raih dari kitab pusaka tersebut!"

Lagi-lagi perkataan tersebut menusuk perasaan Sam yap koay mo, hal mana semakin mengorbankan amarahnya, dengan setengah berteriak segera jeritnya:

"Bocah keparat, aku menghendaki nyawa anjingmu!"

Telapak tangannya dengan jurus guntur dan petir saling menyambar, menghajar tubuh Suma Thian yu.

Menghadapi ancaman itu, Suma Thian yu pura-pura merasa terkejut bercampur keheranan, ia segera berseru tertahan:

"Aduh celaka, ilmu silat yang tercantum dalam kitab tanpa kata benar-benar telah kau pelajari semua!"

Sam yap koay mo semakin gusar, secara beruntun dia melancarkan sebuah serangan berantai, angin pukulan segera meluncur ketubuh anak muda itu bagaikan hujan badai.

Menghadapi ancaman mana, Suma Thian yu segera menghindar kian kemari dengan cekatan, dengan andalkan ilmu ciok tong luan poh hoat, ia justru malah mempermainkan musuhnya habis-habisan.

Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah bertarung puluhan jurus banyaknya, bagi Sam yap koay mo, pertarungan ini benar-benar terasa amat berat, jangan lagi merobohkan musuhnya yang masih muda itu, menjawil ujung bajunya pun tak sanggup.

Sewaktu berada dipuncak Ning Im hong tempo hari, Sam yap koay mo sudah menjadi panglima yang pernah keok ditangan Suma Thian yu, kini meski kejadian tersebut sudah terlangsung banyak tahun, toh ia ia tetap menjadi bahan permainan anak muda tersebut.

Makin bertarung Sam yap koay mo merasa semakin

gelisah, sampai akhirnya ia mulai menyerang secara membabi buta dan mengeluarkan sebuah jurus-jurus serangannya yang beradu jiwa.

Menghadapi orang nekad seperti ini, Suma Thian yu dibikin kerepotan juga, akhirnya dia terdesak mundur juga sejauh beberapa langkah.... Menghadapi keadaan tersebut, Suma Thian yu amat terkejut, sambil membentak keras ia segera melancarkan serangan balasan dengan jurus menyapu rata lima bukit!

Melihat datangnya ancaman yang begitu tangguh, tiba-tiba Sam yap koay mo menjejakkan kakinya keatas tanah dan tubuhnya melejit ke udara, setelah terlepas dari babatan pedang pemuda itu, sepasang telapak tangan-nya dirubah menjadi serangan cengkeraman.

Kesepuluh jari tangan yang dipentangkan lebar-lebar, dia menyerang Suma thian yu dengan jurus elang sakti menangkap kelinci, kekuatan yang disertakan dalam serangan tersebut pun tak boleh dianggap enteng.

Sejak semula, biarpun Suma Thian yu menggenggam pedangnya, namun ia tak pernah mempergunakan untuk melancarkan serangan, apalagi ia saksikan Sim yap koay mo tidak mengegam secuil besipun, sudah barang tentu diapun sungkan mempergunakan pedangnya itu.„

Tiba-tiba ia mundur beberapa langkah untuk menghindarkan diri dari serangan lawan, setelah itu dia menyarungkan kmbali pedangnya, sementara telapak tangan kirinya di putar dan membabat kearah Sam yap koay me dengan sebuah pukulan dahsyat.

Sim yap koay mo menjadi terkejut sekali karena tenaga pukulannya dipatahkan oleh serangan lawan yang begitu lembut, tergopoh-gopoh dia menghimpun tenaga dalamnya dan cepat melayang kembali keatas permukaan tanah.

Suma Thian yu segera tertawa terbahak-bahak.

"Haah... haah... haah... siluman tua, bagaimana kalau kau sambut sebuah pukulan sauya mu itu?"

Telapak tangan kanannya diayunkan kedepan seolah-olah tidak menggunakan sedikit tenaga pun, serangan tersebut pun tidak menimbulkan angin, sehingga sepertinya tidak ada sesuatu apa pun.

Tapi bagi Sam yap koay mo yang menyaksikan peristiwa tersebut menjadi amat kaget, ia tahu musuhnya sudah memiliki kepandaian silat yang telah mencapai puncak kesempurnaan, bila ia kurang berhati didalam menghadapi ancaman tersebut, niscaya akan menderita kerugian yang teramat besar.

Pada dasarnya ia memang seorang manusia licik yang  berakal panjang, lagipula dia pandai memperhitungkan situasi, sebelum mengetahui secara pasti kemampuan yang dimiliki oleh lawannya, sudah barang tentu ia tak sudi menyerempet bahaya dengan begitu saja.

Maka dengan cekatan tubuhnya berkelit ke samping untuk meloloskan diri dari ancaman tersebut, kemudian sepasang lengannya dia ayunkan melepaskan sebuah pukulan amat dahsyat.

Kali ini Sim yap koay mo masih tetap menyerang dari samping, angin pukulan yang kuat langsung saja mendesak serangan dari si anak muda itu miring dari sasaran semula.

"Blaaammm...!"

Serangan dahsyat yang dilontarkan Suma Thian yu itu ternyata mengnantam diatas peti mati yang berada dibelakang Sim yap koay mo, alhasil hancurkan peti mati itu menjadi berkeping-keping.

Suma Thian yu segera tertawa terbahak-bahbak "Haah...haah...haah... sayang, sungguh seribu kali sayang,

terpaksa entar kau dikubur dalam tanah tanpa rumah lagi!"

Sam yap koay mo betul-betul sewot, mau balas mendamprat, apa mau dibilang kemampuannya tak bisa melebihi orang, akibatnya dia semakin kalap lagi termakan ejekan musuh.

Mendadak ia membalikkan badan dan menyambar penutup peti mati itu, lalu sambil diangkat ke atas bentaknya:

"Bocah keparat, aku akan merenggut nyawa anjingmu!" Kemudian penutup peti mati itu ditimpuk ke depan....

"Weeesss!" penutup peti mati tersebut langsung meluncur ke arah Suma Thian yu dengan kekuatan yang dahsyat.

Suma Thian yu tertawa dingin, ia menghimpun segenap tenaga yang dimilikinya kedalam telapak tangan, begitu melihat penutup peti mati itu menerjang datang, sepasang telapak tangannya segera menolak ke atas sambil melepaskan hisapan yang hebat.

Jangan dilihat penutup peti mati itu beratnya mencapai lima puluhan kati, ditambah pula daya luncurnya yang begitu  besar, tapi setelah terhisap oleh kekuatan pemuda itu, ibarat lalat yang menempel diatas gula-gula, benda itu tak mampu bergerak lagi.

Kembali Suma Thian yu tertawa terbahak-bahak.

"Haah... haah... haah... siluman tua kau jangan begitu ah, rumah sudah roboh masa pintu pun kau buang? Jika kulihat kekejian mu ini, tidak heran kalau saudara angkat sendiri pun kau bunuh secara mengerikan, aku bisa bayangkan mayatnya pasti kau buang dengan begitu saja tanpa liang kubur!"
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kitab Pusaka Jilid 28"

Post a Comment

close