Kitab Pusaka Jilid 23

Mode Malam
Jilid : 23 

"Mau apa kau?"

"Uang, mana uangnya? Sepuluh tahil perak"

"Omong kosong" seru sang pelayan cepat, "atas dasar apa kau menagih uang dariku? Toh Jian jiu lo sat belum kalah?"

"Atau kita lipat gandakan jumlah taruhannya menjadi dua puluh tahil perak?"

"Boo,aaii, jangan.. Jangan!"

Baru habis si pelayan itu berkata,Chin Siau yang berada diatas panggung telah berseru sambil tertawa panjang:

"Maaf, maaf!"

Jian jiu lo sat Siau Bwee ci dengan rambut putih yang awut-awutan tak karuan mundur beberapa langkah dengan langkah sempoyongan,

wajahnya hijau membesi sementara diatas lengan-nya bertambah dengan sebuah mulut luka yang memanjang, darah kental bercucuran keluar dengan amat derasnya.

Dengan sorot mata memancarkan sinar buas, dia berseru kemudian sambil menggertak lagi:

"Bocah keparat, tinggalkan namamu, selama hayat masih di kandung badan, lo nio pasti akan membalas dendam atas sakit hati hari ini"

Chin Siau tersenyum.

"Aku she Chin bernama Siau, setiap saat akan kunantikan petunjuk saudara"

Pelan-pelan jian jiu lo sat mengundurkan diri dari atas panggung.

Sementara Suma Thian yu yang berada di bawah panggung segera menengok ke arah sang pelayan yang bermuram durja sambil berkata:

"Kasihan aku melihat keadaanmu, bayar saja satu tahil perak"

"Ooh, tuan, kasihanilah hambamu, kini dalam sakuku hanya tinggal satu tahil, masa kau tak tahu? kata sang pelayan sambil tertawa getir. "Mau kau bayar atau tidak terserah, aku bisa memotongnya dari uang persen nanti"

"Betul.. betul.. memang paling baik kalau dipotong dari persenku nanti" seru sang pelayan dengan gembira.

Mendadak ia teringat akan sesuatu, kembali tanyanya: "Tuan mengapa kau bisa menduga hal-hal yang belum

terjadi..?"

"Karena aku pandai meramal, orang menyebutku poan sian (setengah dewa), aku dapat melihat hal yang sudah lewat maupun akan datang, apakah kaupun ingin meramalkan nasib mu?"

"Terima kasih banyak, aku tidak mempunyai uang untuk berbuat begitu"

Sementara dua orang itu masih berbicara dengan asyik, dari barak sebelah timur telah berjalan keluar seseorang.

Setelah melirik sekejap kearah wajah orang itu, sang pelayan segera bersorak gembira:

"Hooree...akhirnya Thio Wengwee menampilkan diri" Suma Thian yu memperhatikan sekejap wajah Thio

Wangwee, kemudian ujarnya.

"Tua bangka ini lebih-lebih tak becus lagi" "Darimana kau bisa tahu?"

"Mau percaya atau tidak terserah kepadamu, bila kurang puas kita boleh bertaruh lagi"

"Oooh, Poan sian ya, hamba tidak berani lagi.." seru sang pelayan dengan wajah memelas.

Sementara itu Thio wangwee telah berjalan menuju keatas panggung, setelah menjura dia berkata:

"Chin siauhiap memang luar biasa sekali, kesempatan baik semacam ini jarang bisa kujumpai, lohu ingin sekali memohon petunjukmu"

Dengan cepat Chin Siau menggeleng.

"Aku ingin sekali meminjam panggung ini untuk mengajak seorang teman bertanding, sedang pertarungan diantara kita lebih baik ditunda dulu, toh diantara kita tak ada dendam kesumat ataupun perselisihan apapun jua" "Boleh saja!" Thio wangwee tertawa sambil manggutmanggut, "tapi siapakah yang hendak Chin siauhiap tantang untuk bertarung?"

Dengan suara lantang Chin Siau segera berseru kearah para hadirin:

"Orang yang kutantang untuk bertarung adalah dia!"

Sembari berkata, dia lantas menuding kearah Suma Thian yu yang duduk dibawah panggung.

Ucapan tersebut dengan cepat menimbulkan kegaduhan  yang luar biasa, serentak semua orang berpaling kearah Suma Thian yu.

"Aku?" Suma Thian yu berseru pula sambil menunjuk keujung hidung sendiri, "ini... ini... tidak mungkin, tidak mungkin ...masa aku harus mengorbankan selembar jiwaku sendiri?"

Dalam pada itu, suasana dalam arena pun telah terjadi kegaduhan, sedangkan pelayan penginapan itu tertawa terbahak-bahak pula sembari berseru:

"Haaah... haaaha.... kejadian ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang lucu, dia toh tak pandai silat, masa diajak bertanding!"

Chin Siau yang berada diatas panggung segera berseru lagi sambil tertawa:

"Heeeh... heeh... heee... memangnya kau hendak menunggu sampai sauya turun ke bawah menyeretmu kemari?"

Berubah hebat paras muka pelayan itu setelah mendengar perkataan tersebut, cepat dia menarik tangan Suma Thian yu sembari berkata:

"Bagaimana baiknya sekarang? Kau tak mampu bersilat, kepergianmu kesitu sudah pasti akan mati, aaaai mengapa

sih kau membuat gara-gara dengannya?"

"Ssstt, bukankah kau pernah belajar ilmu silat selama tiga tahun?" bisik Suma Thian yu kemudian, "bagaimana kalau kau saja yang mewakiliku? Kuberi hadiah seratus tahil perak" "Waaah, tidak bisa....tidak bisa. Nyawaku tak bernilai seratus tahil perak."

Mendengar itu, Suma Thian yu menghela napas panjang. "Aaiii... baiklah, kalau orang lagi susah memang susah

mencari teman, baiklah, aku memang lagi bernasib buruk!" Dia lantas beranjak dan pelan-pelan mendekati panggung,

kemudian dipandangnya sekejap panggung yang tingginya satu kaki lebih itu, kemudian serunya agak gelisah:

"Waah begitu tinggi panggung ini, bagaimana caraku untuk naik keatas?"

Ucapan ini segera disambut gelak tertawa nyaring oleh semua hadirin, tapi ada pula yang berkeringat dingin menguatirkan jiwanya.

Pelayan itu segera berlari menghampirinya, kemudian berseru:

"Naiklah dengan tangga, jangan gugup, dia tak bakal membinasakan dirimu"

Suma Thian yu menurut dan memanjat dengan anak tangga, ini semua membuat sang pelayan jadi ketakutan, serunya dihati:

"Oooh Thian, bisa mampus dia kali ini..."

Sementara itu Suma Thian yu sudah naik keatas panggung.

Begitu melihat musuhnya sudah naik, Chin Siau segera tertawa dingin sambil berseru:

"Kau tak usah berlagak pilon lagi, memangnya kau anggap caramu ini bisa menarik simpatik orang?"

Suma Thian yu tersenyum.

"Cepat amat langkah kaki saudara Chin, ternyata kau bisa menyemarakkan pula keramaian disini, tolong tanya ada urusan apa kau mengundangku kemari?"

"Tidak usah banyak omong!" hardik Chin Siau sambil

melotot penuh kegusaran, "cabut pedangmu dan kita tentukan siapa diantara kita berdua lebih jagoan!"

Cepat-cepat Suma Thian yu menggelengkan kepalanya berulang kali. "Apa salah pahammu belum juga mereda?" Chin Siau mendengus dingin.

"Hmmm! Memperkosa anak Istri orang, membantai keluarga petani, kau manusia jahanam sampah masyarakat,

hari ini aku orang she Chin sengaja kemari untuk menegakkan keadilan dan kebenaran bagi dunia persilatan"

Suma Thian yu tertegun setelah mendengar ucapan itu, tanpa terasa ia bertanya:

"Saudara Chin, apa yang sebenarnya kau maksudkan?" "Lebih baik kau berterus terang saja, kenalkah kau dengan

manusia yang bernama Kho Gi?"

"Tidak kenal!" Jawab Suma Thian yu tegas.

"Baik kalau toh kalau tidak mengenal siapa-siapa, tentunya cukup kenal dengan pedang sauya ini bukan?"

"Yaa aku kenal sekali benda tersebut merupakan pedang mestika milik Bu bek ceng (pendeta buta).

Chin Siau segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak tiada hentinya .

"Haaaah... haaah... kalau memang begitu kau boleh mati dengan mata meram serta menjadi sukma yang hilang diujung pedang kenamaan!"

"Saudara Chin kau jangan selalu memojokan posisi orang, ketahuilah aku Suma Thian yu bukanlah seorang lelaki pengecut yang takut menghadapi kematian, apabila kau mendesak diriku terus menerus, jangan salahkan kalau kesabaranku akan hilang"

"Memang inilah yang kunantikan, cabut pedangmu!"

Suma Thian yu merasa sedih sekali karena difitnah orang tanpa bisa membantah, namun peristiwa tersebut sudah berkembang lebih jauh, enggan bertarung pun sukar rasanya, pelan-pelan dia meloloskan pedang Kit hong kiamnya dari belakang punggung.

Beribu pasang mata yang berada dibawah punggung Lui  tay bersama-sama ditujukan ke tubuh mereka, apalagi disaat Suma Thian yu meloloskan pedangnya, beribu-ribu buah jantung berdebar dengan kerasnya, perasaan tak tenang mencekam hati mereka.

Setelah menyaksikan Suma Thian yu meloloskan pedangnya, Chin Siau segera berkata sambil tertawa dingin:

"Heeh...heeh...heeeh... hari ini hanya ada seorang diantara kita yang boleh hidup, kalau bukan kau yang mampus, akulah yang mati!"

"Buat apa sih pertarungan diantara kita mesti menjurus ke pertarungan serius? Toh diantara kita tiada ikatan dendam ataupun sakit hati apa pun? Bukankah tujuan Pi bu (bertanding ilmu silat) hanya unuk menjalin persahabatan?"

Chin Siau sama sekali tidak menegubris ucapan lawan, mendadak ia berpekik nyaring, pedangnya dengan jurus Siau ci lam san (Sambil tertawa menuding Lam san) secepat kilat menusuk ketubuh Suma Thian yu.

Suma Thian yu bersikap tenang sekali, ketika dilihatnya ujung pedang sudah semakin mendekat, dia menggerakan kepalanya mengegos ke samping, kemudian dengan menggunakan ilmu gerakan tubuh Luan tek luan poh dia menghindarkan diri.

Siapa tahu tujuan Chin Siau melancarkan serangan tersebut hanya bermaksud memancing lawan, begitu melihat Suma Thian yu berkelit, mendadak saja pedangnya melancarkan serangan dengan jurus To tnian huan jit (mencuri hari berganti waktu).

Diiringi desingan angin tajam, dia membabat pinggang pemuda kita.

Agak tertegun Suma Thian yu menyaksikan kejadian ini, sekuat tenaga dia melejit ketengah udara.

"Weeess...!" pedang Chin Siau menyambar lewat persis dibawah kakinya, boleh dibilang ancaman itu nyaris membabat kutung sepasang kakinya.

Lompatan Suma Thian yu ketengah udara tersebut tak dapat disangkal lagi memberikan kesempatan kepada lawan untuk menempati posisi yang lebih menguntungkan. Sudah barang tentu Chin Siau tidak menyia-nyiakan kesempatan baik tersebut dengan begitu saja, mendadak pedangnya memainkan jurus serangan Sian tong siau hio (Bocah dewa memasang hio) ia langsung membabat tubuh Suma Thian yu yang masih berada ditengah udara .

Mimpi pun si pelayan rumah penginapann tersebut tak pernah menyangka kalau Suma Thian Tu merupakan pendekar muda yang memiliki ilmu silat sangat lihay, begitu dilihatnya pemuda itu sanggup bertarung dengan hebatnya, ia menjadi terbelalak dan duduk melongo seperti patung.

Waktu itu, Suma Thian yu sedang merasa amat terperanjat setelah menyaksikan datangnya tusukan Chin Siau yang begitu hebat, berada diudara mustahil bagi jago kita untuk berkelit, dalam keadaan begini ia berpekik dihati:

"Habis sudah riwayatku kali ini!"

Kalau orang berada dalam ancaman bahaya maut biasanya akan timbul suatu kekuatan tak terduga yang kadang kala diluar pemikiran manusia sehat, keadaan tersebut bisa disebut kekuatan indera ke enam dari manusia.

Sementara itu, pedang Chin siau sudah ditusuk ke atas persis menyongsong datangnya tubuh Suma thian yu yang sedang meluncur ke bawah, seandainya serangan tersebut sampai mengenai sasarannya dengan telak, niscaya isi perut Suma Thian yu akan berhamburan kemana-mana dan sukmanya melayang.

Berada dalam keadaan berbahaya, tiba-tiba Suma Thian yu menarik napas panjang, dengan mengeluarkan ilmu meringankan tubuh Liu im ti (tangga awan berjalan) yang merupakan semacam kepandaian sakti yang sudah lama punah dari dunia persilatan, tiba-tiba saja dia melayang naik ke udara dua depa lebih tinggi.

Oleh sebab perubahban ini dilakukan mendadak, otomatis serangan Chin Siau yang nampaknya pasti akan berhasil menembusi tubuh lawan-nya itu menjadi mengenai sasaran kosong. 00O00 ooOoo

Sama Thian yu tertawa nyaring, tubuhnya berjumpalitan berulang kali ditengah udara lalu melayang turun ke atas tanah, meski amat berbahaya namun keindahannya luar biasa.

Kontan saja gerakan tersebut memancing tempik sorak yang gegap gempita dari semua hadirin dibawah panggung.

Tempik sorak dan tepuk tangan yang gegap gempita tersebut tak disangka lagi merupakan suatu sindiran dan ejekan bagi Chin Siau, dengan amarah yang semakin membara, segera bentaknya:

"Anjing geladak, serahkan jiwa anjingmu!"

Diiringi bentakan nyaring, pedangnya melepaskan serangan lagi dengan jurus Hong sau lok yap (angin berhembus daun berguguran), secepat kilat langsung membacok ke tubuh musuh.

Setelah ada pengalaman pertama, Suma Thian yu tak berani melambung lagi ketengah udara, pedang Kit hong kiamnya di getarkan kesamping untuk menangkis ancaman itu, lalu bersiap sedia mempergunakan ilmu pedang Bu beng kiam hoat untuk meraih kemenangan.

Mendadak satu ingatan melintas dibenaknya, ia berpikir demikian:

"Bila Chin Siau kurobohkan, sudah pasti kesalahan paham  ini akan semakin mendalam, yaa, mengapa tak kumanfaatkan kesempatan baik ini untuk kabur dari sini? Buat apa aku mesti ngotot terus? Kalau sampai terperangkap oleh siasat musuh kan berabe?"

Berpikir demikian hawa murni yang semula telah dihimpun tiba-tiba di buyarkan, serunya kemudian:

"Chin heng, ilmu pedangmu sangat hebat, aku menyerah kalah saja, bila dilain saat ada kesempatan, kita boleh berduel kembali."

Dengan cepat dia melejit ketengah udara kemudian melayang turun dari panggung, dengan suatu gerakan yang cekatan dia menyelinap diantara kerumunan orang banyak dan lenyap tak berbekas.

Tentu saja Chin Siau tidak akan membiarkan dia kabur dengan begitu saja, sambil membentak gusar dia turut melejit keudara dan siap melakukan pengejaran.

Siapa tahu dari barak sebelah timur muncul belasan orang lelaki kekar yang segera menghadang jalan perginya, salah seorang diantarsnya yang berdandan pendeta membentak dengan suara keras seperti geledek:

“Orang she Chin, tidak gampang untuk kabur, dengan begitu saja, kau mesti tahu kota Hok seng tin bukan tempat yang bisa di datangani dan ditinggalkan semau sendiri, kalau ingin pergi boleh saja, tapi tinggalkan dulu beberapa jurus kepandaian saktimu"

Ucapan tersebut semakin mengobarkan hawa amarah Chin Siau, jauh-jauh berangkat dari bukit Ngo tay san, tujuannya adalah untuk mengamati Suma thian yu.

Padahal tujuannya merobohkan It tim tojin dan Jian jiu lo sat tadi bukan lain adalah untuk memancing Suma Thian yu naik ke psnggung, kini Suma Thian yu sudah kabur, apa gunanya dia tetap tinggal disana?

Sekarang dia dikepung oleh kawanan manusia tersebut, kejadian ini sama artinya dangan memberitahukan kepadanya bahwa Suma Thian yu berasal dari satu golongan dengan mereka.

Pandangan semacam ini menyebabkan dia semakin yakin kalau Suma Thian yu adalah manusia sebangsa kawanan sampah masyarakat tersebut.

Apa lagi penghadangan dari orang-orang itu sekarang bisa diartikan pula sebagai pembelaan terhadap pemuda itu serta memberi kesempatan kepadanya untuk melarikan diri.

Ya, kesalahan paham yang terjadi didunia ini kadangkala memang terbentuk karena suatu keadaan yang kebetulan.

Chin Siau amat membenci Suma Thian yu, maka hawa amarahnya segera dilampiaskan pada kawanan manusia tersebut. Tanpa sangsi lagi pedangnya segera diputar, secepat angin puyuh dan secepat kilat menyerang hweesio tersebut.

Sebenarnya kepandaian silat yang dimiliki pendeta itu cukup tangguh, namun serangan yang dilancarkan lawan kelewat cepat, tidak sempat lagi baginya untuk menghindarkan diri, tahu-tahu batok kepalanya sudah berpisah dengan badan.

Berhasil dengan serangannya, Chin Siau me nyerang lebih jauh seperti banteng terluka, pedangnya menari kian kemari seperti naga sakti yang sedang bermain d udara, dimana cahaya perak berkelebat lewat, jeritan ngeri yang menyayat hati segera berkumandang susul menyusul.

Setelah Chin Siau berhasil membinasakan beberapa orang jagoan tersebut, rekan-rekan lainnya dari komplotan itu mulai jeri, serentak mereka mundur kebelakang dan berusaha untuk menyelamatkan diri.

Setelah belasan orang itu sudah kabur semua, Chin Siau baru berlalu dari sana, tapi tatkala dia sudah keluar dari kuil Hut hong si, bayangan tubuh dari Suma Thian yu sudah tak tampak lagi.

Untuk beberapa saat lamanya dia berdiri termenung, kemudian sumpahnya dihati.

"Biarpun kau akan kabur ke ujung langit, aku Chin Siau bersumpah akan mengejarmu sampai dapat!"

Pertarungan dipanggung Lui tay yang diselenggarakan di kota Hok Seng tin setahun se kalipun berakhir dalam suasana yang tidak gembira, pihak Hok seng tin di barak sebelah timur untuk kesekian kalinya menderita kembali kekalahan secara mengenaskan.

000o000 000o000

MUSIM GUGUR sudah berlangsung, angin puyuh yang amat kencang berhembus di daratan tinggi Tibet.

Kuil Buddha disebelah timur laut kota Lhasa berada dalam keadaan tertutup rapi, dinding pekarangan setinggi beberapa kaki dikelilingi pepohonan cemara yang lebat, semuanya seolah-olah gemetar karena kedinginan.

Waktu itu senja sudah menjelang tiba, matahari senja yang memancarkan sinar kemerah-merahan sudah mulai menyembunyikan diri di balik daratan tinggi Tibet.

Kegelapan malam yang seram mulai menyelimuti angkasa, angin pvyuh yang berhembus menderu-deru menggoncangkan pohoncemara raksasa dan menggugurkan dedaunan yang mulai layu.

Kesemuanya itu mendatangkan suasana seram dan ngeri disekitar kuil Budhala si.

Tiga kali dentingan genta bergema membelah kegelapan yang hening....

Tampaknya para pendeta yang berdiam diri dalam kuil tersebut sedang bersembahyang malam.

Dalam keadaan seperti inilah, dari sudut ruangan sana muncul seseorang yang berjalan mendekati pintu kuil dengan langkah amat lambat.

Ketika mencapai tiga langkah lagi dari depan pintu kuil, mendadak orang itu roboh terjengkang keatas tanah.

Ketika dialamati lebih seksama, maka dapat diketahui bahwa dia adalah seorang pemuda yang menyoren sebilah pedang dipunggungnya dia baru berusia delapan sembilan belas tahunan.

Sungguh aneh, mengapa diwilayah Tibet yang terpencil bisa muncul seorang pemuda semacam ini? Kemunculanuya sendiri sudah menarik perhatian orang, apalagi muncul didepan kuil Buddhala si, hal ini lebih mengherankan lagi.

Dengan menggunakan sepenuh tenaga yang dimilikinya pemuda itu merangkak ke depan pintu kuil, lalu dengan kepalanya yang lemas tak bertenaga dia mengetuk pintu kuil beberapa kali, lalu ia roboh ke tanah dan tidak berkutik lagi.

Daun kering berguguran dari tengah udara dan menutupi tubuh pemuda tersebut, tidak selang berapa saat kemudian seluruh badan pemuda itu sudah tertutup oleh daun kering. Mendadak dari tempat kejauhan sana terdengar suara langkah kaki manusia yang berjalan mendekat, lalu tak selang berapa saat kemudian didepan pintu kuil telah muncul rombongan peronda.

Sebagai pemimpin dari rombongan itu adalah seorang pendeta berjubah putih yang berusia empat puluh tahunan.

Tatkala ia menjumpai seseorang terkapar d depan pintu kuil tertutup daun kering, dia menjerit kaget dan buru-buru membangunkan pemuda tersebut.

Tampak paras muka pemuda itu pucat pias, napasnya amat lirih dan keadaannya sangat lemah.

Buru-buru ia memanggil para anak buahnya untuk menolong pemuda itu sambil membukakan pintu.

Mendadak salah seorang diantara pendeta itu berkata kepada pemimpinnya:

"Toan suheng, asal usul orang ini tidak jelas, kita jangan sembarangan membawanya masuk, kalau sampai hongtiang menegur nanti bagaimana jadinya?"

Dengan wajah serius pendeta itu menjawab:

"Menolong selembar nyawa sama artinya dengan berbuat kebajikan tujuh puluh kali, apalagi kita sebagai murid Buddha mengutamakan welas asih, entah siapapun orangnya yang penting kita mesti selamatkan dulu nyawanya"

Selesai berkata ia membuka pintu dan memerintahkan agar pemuda tersebut di gotong masuk.

Pendeta itu bernama It hok taysu, dia adalah murid angkatan ketiga dari kuil Buddhala si, sebagai seorang pendeta senior, hatinya bajik dan penuh perasaan welas asih, dia pun cukup memahami perasaan setiap orang yang dihadapinya, maka ia cukup di segani orang.

It hok taysu langsung membawa pemuda itu menuju ke ruang tamu kemudian setelah menutup pintu ia beranjak menuju ke ruangan hongtiang.....

Tak lama sstelah kepergian It hok taysu, mendadak pemuda itu melompat bangun dan berguman sambil tertawa rendah: "Salah siapa kalau bertindak kurang hati-hati? Kali ini kalian akan terkena perangkapku, Suma Thian yu"

Dengan cepat dia menyelinap kedepan pintu dan menengok kekiri kanan, tatkala ada orang mendekati ruangan itu buruburu dia kembali keruang dalam dan berlagak setengah mati.

Rupanya sejak meninggalkan kota Hok seng tin, siang malam Suma Thian yu menempuh perjalanan tiada hentinya, sehingga tiga hari berselang ia sudah tiba dikota Lhasa.

Sesampainya dikota tersebut setiap malam ia pasti melakukan pengintaian disekitar kuil Buddhala si, namun oleh sebab penjagaan disekitar tempat itu sangat ketat ibaratnya sarang naga dan harimau, terpaksa ia mesti menahan diri berulang kali.

Dasar memang cerdas, akhirnya dia berhasil menemukan siasat untuk berlagak seolah-olah setengah mati, ternyata siasat ini termakan dan dia berhasil memasuki kuil tersebut.

Begitulah, baru saja Suma Thian yu membaringkan diri, It hok taysu sudah berdiri di depan pintu.

Pendeta itu segera berjalan menghampiri Suma Thian yu. mengguruti sebentar seluruh badannya dan memeriksa dengusan napasnya, setelah itu dia baru membangunkan anak muda tersebut.

Pelan-pelan Suma Thian yu membuka matanya dan memandang sekejap ke arah It hok taysu dengan pandangan terkejut, kemudian serunya tertahan:

"Aaah, mengapa aku bisa berada disini?" It hok taysu tertawa ramah.

Pinceng justu ingin bertanya kepada sicu, siapakah namamu dan ada urusan apa datang kemari?"

Suma Thian yu pura-pura mengawasi It hok taysu beberapa saat lamanya, lalu agak sangsi dia berkata:

"Tolong tanya toa suhu, kuil manakah ini?" "Buddhala si!"

Wajah Suma Thian yu segera berseri, serunya kegirangan: "Terima kasih langit, terima kasih bumi, akhirnya aku sampai juga ditempat tujuan!" Seraya berkata ia bangkit dari pembaringan dan siap turun.

Buru-buru It hok taysu membimbingnya bangun seraya berkata:

"Sicu, kau belum sembuh dari sakitmu, lebih baik jangan sembarangan bergerak, bila ada persoalan, dibicarakan dengan berbaring pun tak mengapa "

Suma Thian yu segera makan siasat tersebut dengan begitu saja, dengan duduk ditepi pembaringan ia berkata:

"Toa suhu aku tidak mengapa, terima kasih atas kebaikan hatimu yang bersedia menolong ku, bila suatu waktu ada kesempatan, budi kebaikanmu ini pasti akan ku balas"

It hok taysu tersenyum.

Sicu tak usah sungkan-sungkan, sudah menjadi kewajiban seorang pendeta untuk menolong sesama manusia! apalagi pertolongan ini tak seberapa, kau tak usah memikirkannya dihati. Cuma sincu belum menjawab pertanyaan tadi"

"Oohh, aku she Tan bernama Thian yu, berasal dari wilayah Shoa say"

It hok taysu menggut-mangut.

"Jika kudengar dari nada pembicaraanmu serta keadaanmu yang mengenaskan, agaknya ada sesuatu hal yang mengganjal dihatimu, bolehkah aku mengetahuinya?"

Suma Thian yu segera menghela napas panjang, dengan wajah memelas dia berkata:

"Aku dicelakai orang, seluruh anggota keluargaku dibunuh orang dan tak bisa hidup aman didaratan Tionggoan, oleh sebab itu terpaksa aku mesti kabur kemari dengan harapan hong-tiong suka menerimaku ditempat ini. Sewaktu datang tadi, bahkan aku dihadang dan dikejar-kejar musuh, harap taysu sudi melindungi aku"

Sambil berkata dia bersiap sedia untuk menjatuhkan diri berlutut... It hok taysu segera membimbingnya bangun dan mencegah dia berlutut, ujarnya sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Sicu tak boleh berbuat demikian, bila pinceng telah berjumpa dengan hongtiang nanti, pasti akan kuusahakan agar keinginanmu terkabul!"

Sembari berkata dia mengeluarkan sebuah botol Kecil dan menuang tiga butir pil hitam yang segera diberikan kepada Suma Thian yu, katanya:

Sekarang, harap sicu menelan ketiga butir ini lebih dulu, beristirahatlah semalam, nanti pinceng akan mengajakmu untuk bersua dengan hongtiang"

Sepeninggal It hok taysu, Suma Thian yu mulai merasa  tidak tenteram, perasaannya saling bertentangan dan menderita sekali. Penampilan dari It hok taysu amat ramah dan bijaksana, selain ramah orangnya pun saleh, padahal dia datang dengan membawa maksud tertentu, tindakan tersebut dirasakan olehnya sebagai tindakan yang rendah dan memalukan.

Tapi cong liong lo sinjin telah berpesan wanti-wanti bahwa perjalanannya kali ini akan berpengaruh terhadap keamanan dalam dunia persilttan dimasa mendatang.

Akhrnya setelah termenung beberapa saat lagi, dia menelan ke tiga butir pil itu lalu duduk bersila sambil mengatur pernapasan.

Entah berapa lama sudah lewat, dari luar sana terdengar

dua kali kentongan, menyusul kemudian suasana dicekam oleh keheningan yang luar biasa.

Suma Thian yu kembali berpikir:

"Mungkin saat ini para pendeta sudah naik ke pembaringan untuk beristirahat, inilah saat yang terbaik bagiku untuk segera bertindak..."

Buru-buru dia bangun dari pembaringannya dan siap untuk kebawah. Mendadak terlihat olehnya ada sesosok bayangan marusia berkelebat lewat didepan jendelanya kemudian lenyap dari pandangan.

Suma Thian yu sangat terkejut, sebenarnya dia ingin menyembunyikan diri ke belakang pembaringan, tapi ia berpikir kembali, tindakkan semacam itu malah justru gampang menimbulkan kecurigaan orang....

Akhirnya dia mengambil keputusan untuk membuka pintu dan berjalan keluar.

Betul juga, dibelakang pohon sana berdiri seorang pendeta yang sedang mengawasi gerak-geriknya dengan seksama.

"Ooooh, sungguh berbahaya..!" pekik Suma Thian yu dalam hati, "seandainya aku bertindak gegabah tadi, sudah pasti semua rahasia penyaruan ku akan terbongkar"

Berpikir demikian, dia sengaja berjalan menuju ke tempat persembunyian pendeta itu, lalu dengan wajah ramah tanyanya:

"Taysu, bolehkah aku tahu dimana letak kakus?"

Mula-mula pendeta itu agak tertegun ketika menyaksikan suma Thian yu berjalan mendekatinya, ia baru merasa lega setelah mendengar pertanyaan itu.

Di sana...!" sahutnya agak tersipu-sipu.

Selesai menjawab dia pun berlalu dari situ, mungkin merasa rikuh karena perbuatannya mengawasi gerak-gerik orang tertangkap.

SUma Thian yu melangkah ke arah kakus, melihat pendeta itu sudah pergi, diam-diam ia merasa gelisah sekali, kembali pikirnya:

"Mungkin sulit bagiku untuk berhasil pada malam ini, aai, mengapa aku mesti berdiam terus disini? Seandainya rahasiaku ketahuan, mungkin akan sulit sekali bagiku untuk pergi meninggalkan tempat ini."

Pikir punya pikir akhirnya dia mengambil keputusen, entah apapun yang terjadi, malam ini dia harus menemukan pagoda tempat penyimpanan kitab. Masalahnya sekarang tinggal bagaimana caranya memanfaatkan kesampatan yang ada dengan sebaik-baiknya, sehingga perjalanan kali ini tidak pulang dengan tangan kosong.

Berpikir demikian, ia menjadi nekad untuk mempertaruhkan jiwanya. Dari kakus ia tidak kembali kekamarnya melainkan secara diam-diam menguntil di belakang hweesio tersebut.

Untung sekali ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya sangat sempurna, sehingga gerak-geriknya sama sekali tidak menimbulkan sedikit suara pun.

Pendeta itupun sama sekali tidak merasa kalau dirinya sedang dikintil, ia masih melanjutkan perjalanannya dengan tenang.

Dengan sepasang matanya yang tajam, Suma Thian yu mencoba mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, kemudian setelah yakin kalau disekitar sana tak ada orang, dia melompat ke belakang pendeta itu dan segera menotok jalan darah bisunya.

Kemudian dia menyerat hwesio itu menuju ke kamarnya  dan dibaringkan diatas pembaringan lalu setelah membebaskan jalan darah bisunya dan menekan lehernya, ia bertanya:

"Beritahu kepadaku, dimanakah tempat penyimpanan kitab!"

Pendeta itu sama sekali tidak nampak gugup atau cemas, malah dengan tenangnya ia menuding ke luar jendela sambil menyahut:

"Diatas pagoda sana, di bawah gardu genta, persisnya ruangan yang masih bercahaya lentera"

Kemudian setelah mengawasi tubuh Suma Thian yu dengan seksama, ia berkata lagi:

"Namun jangan harap kau bisa memasukinya, kalau Cap pwee lohan si dalam kuil Siau lim si termashur sebagai kuil yang paling sukar di tembusi, maka ruang penyimpan kitab dari kuil kami merupakan lembah kematian. Apa bila kau sudah bosan hidup, silahkan saja mencoba, cuma, janganlah menyesal setelah nasi menjadi bubur nanti."

Suma Thian yu mendengus dingin, ia menotok jalan darah tidur pendeta itu, melepaskan jubahnya dan menutupi badan hweesio itu dengan kain selimut.

Sedang dia sendiri segera mengenakan jubah pendeta tersebut dan beranjak pergi.

Waktu itu semua cahaya lentera di dalam kuil sudah padam, tinggal setitik cahaya lemah dari ruang penyimpan

kitab yang masih berkedip, memandang dari kejauhan, cahaya tersebut mirip dengan sebuah bintang.

Agaknya sinar itu sengaja di dipasang untuk memancing perhatian Suma Thian yu.

Dengan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki pemuda tersebut, tanpa mengalami kesulitan, ia sudah berada di depan gardu genta.

Tak selang berapa saat kemudian pemuda itu sudah melejit ke udara naik ke atap gardu genta itu seperti seekor kucing, begitu mencapai puncaknya, dengan jurus Hee to kim kou (kaitan emas jungkir kebawah) sepasang kakinya segera menggaet pinggiran atap rumah dan mengintip kedalam ruang penyimpanan kitab.

Dalam ruangan waktu itu hanya tampak seorang pendeta tua berbaju pendeta berwarna emas sedang duduk mengantuk di situ.

Memandang berbagai macam kitab  yang memenuhi ruangan itu, diam-diam Suma Thian yu tertawa geli, pikirnya:

"Hwesio itu kelewat membual, masa ruangan semacam inipun di samakan dengen ruang Cap pwee lohan si dari kuil Siau Lim si, apa tak membual selangit? Bila aku Suma Thian  yu tidak berhasil memperoleh kitab terebut, percuma saja aku hidup didunia ini"

Berpikir demikian, diam-diam dia mengerahkan tenaga dalamnya keujung jari kemudian melepaskan sebuah sentilan dari kejauhan. Pendeta tua yang selang mengantuk ini seperti kena disambar aliran listrik bertegangan tinggi, setelah tubuhnya bergetar keras, ia segera tertidur nyenyak.

Suma Thian yu segera melepaskan kaitannya dan melayang masuk kedalam ruang penyimpanan kitab itu.

Siapa tahu baru saja sepasang kakinya mencapai permukaan tanah, mendadak terdengar suara tertawa digin yang rendah dan berat bergema memecahkan keheningan.

Dengan terkejut Suma Thian yu berpaling, tampak olehnya pendeta tua yang sudah ditotok jalan darah tidurnya tadi, kini sedang duduk disitu sambil memandang kearahnya dengan senyum dikulum.

Bahkan sambil tertawa pendeta tua itu menegur:

"Engkoh cilik, besar amat nyalimu, kau tadi meminjam nyali siapa sih?"

Suma Thian yu merasakan hatinya terkesiap dan diam-diam menarik napas dingin, jelas kalau pendeta tua tersebut sudah ditotok jalan darah tidurnya, mengapa ia dapat membebaskan pengaruh totokan tersebut? Mungkinkah ilmu silat yang dimiliki pendeta tua itu sudah mencapai pada puncak kesempurnaan.

Sementara dia masih termenung dengan perasaan kaget, terdengar pendeta tua itu membentak lagi:

"Hei, kau ini tuli? Atau bisu? Mengapa tidak mendengarkan perkataan lolap?"

Agak terkejut juga Suma thian yu, buru-buru dia menjawab:

"Kedatangankn kemari sama sekali tidak bermaksud jahat toa suhu "

Pendeta tua berbaju kuning itu mendengus dingin, tukasnya dengan cepat:

"Tidak bermaksud jahat? Menyerang orang dari belakang pun tidak termasuk perbuatan jahat?"

"Aku kan cuma menotok jalan darah dari toa suhu, tak berniat untuk melukaimu " "Haahaahahaa... berani menyelundup masuk, baik, sebagai lelaki sejati, kuanjurkan kepada mu tidak usah beralasan  terus, berani berbuat beranilah bertanggung jawab, lolap sebagai seorang pendeta yang mengutamakan welas kasih boleh saja membuka sebuah jalan kehidupan kepadamu, kalau tidak, dengan mengandalkan kepandaian silatmu itu, jangan harap bisa meninggalkan kuil ini dengan leluasa!"

Suma Thian yu merasa sangat tidak puas, dia berseru: "Kalau tiada kepentingan, orang tidak akan mengunjungi

Sam poo tian dengan susah payah, aku berangkat dari daratan Tionggoan, dengan melewati jalan yang jauh dan kesukaran yang tak sedikit sampai kemari, bila tidak berkeyakinan bisa keluar masuk dari kuil ini dengan leluasa, mengapa aku kemari?"

Ketika mendengar ucapan tersebut, pendeta tua itu segera mendongakkan kepalanya dan berpekik nyaring.

Bigitu keras suara pekikan tersebut sehingga menggetarkan lubang telinga orang, dari sini dapat disimpulkan kalau tenaga dalam yang di miliki pendeta tua ini paling tidak sudah mencapai seratus dua puluh tahun hasil latihan.

Dingin separuh hati Suma Thian yu setelah mendengar suara pekikan tersebut ia tahu kalau sekarang tidak turun tangan, mau menunggu sampai kapan lagi?

Baru saja ingatan tersebut melintas lewat, mendadak terdengar suara gemuruh yang amat keras berkumandang memecahkan keheningan, tahu-tahu dari atas ruangan muncul sebuah terali besi yang mengurung ruangan penyimpanan kitab tersebut secara ketat.

Selesai tertawa tergelak, pendeta tua itu membentak lagi penuh kegusaran:

"Sicu, bila ada persoalan, debatlah besok pagi saja!"

Sehabis berkata, dia mengebaskan sepasang ujung bajunya ke muka, dua gulung angin pukulan yang sangat kuat segera menyambar keatas tubuh Suma Thian yu.

Serta merta Suma Thian yu menghindarkan ke belakang dan mengundurkan diri ke tepi jendela, ia tahu usahanya malam ini menemui kegagalan total, maka dia memutuskan untuk meninggalkan kuil tersebut lebih dulu kemudian baru mencari kesempatan lagi di masa mendatang.

Berpikir demikian, ia pun mengundurkan diri dari jendela dan melompat naik keatas atap.

Tapi baru saja kakinya melayang keatas atap rumah, kembali hatinya terkesiap.

"Habis sudah nyawaku kali ini!" pekiknya dihati.

Entah sejak kapan, ternyata seluruh kuil itu sudah bermandikan cahaya lentera, diatas atap rumah dimana ia berada sekarang, tampak beratus-ratus orang pendeta berdiri disitu dengan golok terhunus ditangan.

Menyaksikan pemandangan semacam itu, Suma Thian yu sadar bahwa pertahanan musuh tangguh bagaikan dinding baja, jangan lagi manusia, burungpun sukar untuk melewati tempat tersebut.

Tanpa terasa ia menghela napas panjang dan melepaskan jubah kependetaannya, lalu serunya keras keras:

"Aku menyerah kalah!"

Seorang lelaki yang pintar adalah seorang lelaki yang bisa mengetahui keadaan, kalau ditinjau dari situasi yang terbentang didepan mata sekarang, dapat disimpulkan kalau pihak lawan telah mempersiapkan penjagaan secara matang terperinci dan menurut perencanaan yang sempurna.

Berada dalam keadaan seperti ini, seandainya dia sampai berani berbuat secara gegabah lagi, niscaya jiwanya akan turut melayang dalam ruangan tersebut.

"Yaa, mengapa aku tidak memakai siasat untuk meloloskan diri dari ancaman bahaya untuk kemudian mencari kesempatan lain untuk turun tangan?” demikian ia berpikir.

Sementara dia masih berpikir, tampak dua orang pendeta sudah menyerobot kehadapanya, Suma Thian yu mengenali seorang diantara nya sebagai It hok taysu.

Dengan wajah diliputi amarah, It hok taysu segera mendamprat begitu sampai didepan anak muda itu: "Tan siahiap, pinceng sudah tahu kalau kau adalah seorang mata-mata, besar amat nyalimu, mengapa tidak kau tanyakan dulu kepada orang lain kuil Buddha ini adalah tempat apa! Kau betul-betul tidak tahu diri, ketahuilah kau sudah menelan tiga butir pil yang merupakan obat pemabuk berkadar paling   tinggi, apabila kau mengerahkan hawa murnimu maka daya kerja obat tersebut akan menyebar ke seluruh badan yang berakibat kau akan tertidur pulas. Hamm... sekarang kau  sudah mengerti bukan kuil Budhala si adalah tempat yang rawan bagi manusia sebangsa kau!"

Suma Thian yu merasakan badannya sangat menderita setelah mendegar perkataan dari pendeta itu, hingga kini dia baru menyadari kalau pengalamannya kelewat rendah, tapi harus bersukur karena tidak memberikan perlawanan dengan kekerasan, kalau tidak entah bagaimana akibatnya.

Dengan suara dingin ia lantas berkata:

"Oooh, tampanya toa suhu cuma seorang manusia yang berlagak sok alim dan mulia, kalau begitu aku telah salah menduga orang baik..."

It hok taysu segera tertawa terbahak-bahak. "Haahaahaahaa... gunakanlah cara yang sama untuk

menghadapi orang yang sama, ini menurut nasehat para ulama dulu. Kau berniat jahat dengan mengincar kitab pusaka milik kami, haruskah kami melayanimu dengan segala hormat?"

Bantahan ini kontan saja membungkamkan Suma Thian yu sehingga tak mampu berkata-kata lagi, ia mengakui kesalahan memang berada dipihaknya, orang lain berbuat demikinu pun demi kepentingan sendiri, jadi tak dapat sembarangan menuduh sebagai berniat tak baik kepada dirinya.

Berpikir demikian, diam-diam ia menggertak gigi dan memejamkan matanya tanpa berkutik lagi.

It hok taysu berjalan ke sisi Suma Thian yu sambil menggenggam lengan pemuda itu, katanya:

"Setiap keputusan hanya ditentukan oleh Hongtiang, sedangkan pinceng tak mampu mengambil keputusan, terpaksa Tan siauhiap harus menemani pinceng untuk menghadap Hongtiang. Turutilah perkataan pinceng, tak usah memberikan perlawanan, karena berbuat demikian cuma akan menggali kuburan bagi diri sendiri"

Suma Thian yu yang menyaksikan situasinya sangat tidak menguntungkan bagi dirinya, tentu saja tidak akan melakukan perlawanan, bahkan boleh dibilang ingin melawanpun tak ada gunanya, terpaksa dia mengikuti It hok taysu melayang turun keatas permukaan tanah lalu masuk ke ruangan hongtiang.

Dibelakang mereka berdua mengikuti pula serombongan pendeta yang berjubah kuning, merah, abu-abu dan putih, semuanya memasuki ruangan Hongtiang dengan wajah serius.

Begitu masuk ke ruangan hongtiang, Suma Thian yu segera menyaksikan seorang pendeta tua berjubah cerah, beralis putih dan berwajah keren bercahaya duduk ditengah  ruangan.

Pendeta tua ini tidak lain adalah ketua kuil Buddhala si di Tibet yang disebut orang Keng sim taysu.

Suma Thian yu masuk kedalam ruangan di iringi para pendeta, tampak kawanan padri ini segera menyebarkan diri dan mengurung sekeliling ruangan rapat-rapat, kini cuma Suma Thian yu seorang yang berdiri tegak ditengah ruangan.

Setelah semua pendeta itu duduk, Keng sim taysu segera merangkap tangannya didepan dada sambil memuji keagungan Buddha, pujian ini disambut pula oleh para pendeta lainnya dengan hal yang sama.

Kacau balau tak karuan perasaan Suma Thian yu setelah menyaksikan kejadian ini, dia merasa seperti seorang murid yang mendapat hukuman, atau seorang tertuduh yang sedang menantikan keputusan pengadilan, hatinya murung, sedih dan menderita dan tak terlukiskan lagi dengan kata-kata.

Agaknya mereka hendak menunggu sampai datangnya sang fajar sebelum memulai dengan pemeriksaan, Coba bayangkan saja waktu yang begitu panjang dan lama harus dilewati dengan perasaan apa.....

Mendadak dari depan pintu berjalan masuk seorang pendeta tua berjubah kuning, sewaktu Suma Tnian yu berpaling, ternyata pendeta itu tak lain adalah pendeta tua yang ditemui dalam ruang penyimpanan kitab tadi...

Tampak pendeta itu berjalan menuju kehadapan Keng sim taysu, kemudian lapornya:

"Omintohud, lapor hongtiang, sukhong telah mendusin, ia sama sekali tidak cedera kecuali jalan darah tidurnya yang tertotok"

Keng sim taysu menggerakkan matanya yang lembut dan menggangguk tersenyum.

"Keng ken taysu, kau boleh mundur dulu!"

Pelan-pelan dia mengalihkan sorot matanya kewajah Suma Thian yu, setelah mengawasinya beberapa saat, dengan nada serius dia mulai menegur:

"Sicu, sesungguhnya apa maksudmu memasuki kuil kami? Kalau dilihat dari gerak-gerikmu, nampaknya bukan kemari untuk menuntut balas, lalu apa maksud tujuanmu? Lolap tidak habis mengerti dengan perbuatan mu ini, atau mungkin kau berniat mencuri kitab pusaka dari kuli kami?"

"Betul!" jawab Suma thian yu, "terus terang saja, aku memang kemari untuk mencuri kitab pusaka"

Begitu pengakuan tersebut diberikan, semua pendeta yang berada dalam ruangan itu sama-sama menjadi terperanjat, semenjak kuil buddhala si di dirikan, belum pernah ada orang yang memiliki nyali sebesar ini untuk datang mencuri kitab, bahkan berani mengakui maksud tujuannya secara berterus terang.

Mencorong sinar tajam dari balik mata Keng sim taysu setelah mendengar perkataan itu, ditatapnya Suma thian yu sekejap, kemudian bertanya lagi:

"Kejujuran sicu benar-benar patut dihargai, kau berani datang kemari untuk mencuri kitab pusaka, tentu ada yang kau andalkan bukan? Siapakah gurumu?"

Suma Thian yu mendongakkan kepalanya balas menatap wajah Keng sim taysu, walaupun empat mata saling bertemu, namun pemuda tersebut sama sekali tidak terpengaruh oleh kewibawaan dan kekerenan pendeta tua itu. Keberanian serta kegagahan semacam ini, mau tak mau membuat Keng sim taysu merasa kagum sekali.

Pelan-pelan Suma Thian yu menjawab:

"Guruku adalah Put gho cu!"

"Put gho cu? Ehmm...sebuah nama yang sangat kukenal!" keng sim taysu manggut-manggut, "namun lolap sudah tak bisa menginggat kembali siapakah dia, apakah sicu datang mencuri kitab atas perintah dari gurumu?"

"Tidak! Guruku sudah lama tidak mencampuri urusan keduniawian lagi, aku datang kemari sebenarnya atas perintah dari Cong liong lo sian jin!"

Begitu mendengar nama "Cong liong lo sian jin", paras muka Keng sim taysu berubah hebat, hatinya terasa bergetar keras, dengan cepat ia bertanya:

"Dia orang tua masih hidup didunia ini? Kau tidak membohongi lolap...?"

"Tidak, aku tak pernah berbohong!"

Lama sekali Keng sim taysu mengamati wajah pemuda itu tanpa berkedip, kemudian ia baru berkata:

"Cong liong locianpwee memang mempunyai hubungan yang cukup akrab dengan kuil kami, mengapa dia tak datang sendiri kemarih melainkan mengutusmu untuk melakukan pencurian? Aku rasa hal ini tak mungkin terjadi. Petugas, tangkap pencuri kecil yang berbohong ini.

Baru selesai Keng sim taysu berkata, tiga orang pendeta  tua berjubah kuning telah menggurung Suma Thian yu dalam posisi segitiga.

"Tunggu dulu!" bentak Suma Thian yu setelah menyaksikan kejadian ini, "kalian tak boleh memfitnah orang semaunya sendiri tanpa membedakan mana yang benar dan mana yang salah!"

Keng seng taysu beserta dua orang pendeta tua berjubah kuning lainnya merupakan tiga orang pelindung kuil Buddhala si, bersama Keng sim taysu terhitung saudara seperguruan. Kalau berbicara soal urutannya, maka setelah Keng seng taysu adalah Keng khong tayu dan paling akhir adalah Keng ken taysu.

Terdengar Keng seng taysu membentak dengan suara sedingin salju:

"Siau sicu asal kau mampu untuk menembusi barisan dari kami bertiga maka apapun yang kau inginkan akan segera kau peroleh, kalau tidak, disinilah tempat tinggalmu yang  terakhir!"

Suma thian yu segera berpekik nyaring:

"Baik aku akan menuruti perintah!"

Seraya berkata, telapak tangannya segera diayunkaa kedepan, diam-diam dia sertakan pula empat bagian tenaga pukulan Hai po sian hong cian kearah Keng ken taysu.

Angin pukulan yang menderu segera berputar seperti angin berpusing yang menyapu jagad, dengan membawa tenaga angin tajam langsung menerjang tubuh Keng ken taysu.

Mungkin Sama Thian yu menganggap usia Keng ken taysu paling muda, maka dialah yang paling gampang dihadapi.

Bagi Keng ken taysu, tindakkan tersebut boleh dibilang merupakan suatu penghinaan, tidak jauh-jauh, cukup pukulan yang dilancarkan ke arahnya saja paling tidak menandakan bahwa musuh menganggapnya sebagai pihak yang terlemah.

Tampak Keng ken taysu tertawa nyaring, telapak tangannya diayunkan pula kedepan melepaskan sebuah pukulan untuk menyongsong datangnya serangan lawan.

Menyusul kemudian, tubuhnya ikut menerjangke depan sambil melancarkan sebuah pukulan lagi, kali ini dia menghantam ke ubun-ubun pemuda tersebut.

Tujuan Suma Thian yu menang untuk memancing musuh, dia yakin dengan ilmu langkah Ghok liong loan poh cap lak poh nya Siau yau kay, ia masih sanggup untuk menghindari serangan ke tiga orang tersebut.

Maka gerakan tubuhnya segera berubah, kali ini dia menyelinap ke sisi Keng khong taysu lalu membacok tubuhnya dengan jurus Ha hou ciang liong (mengandalkan harimau menaklukan naga).

Keng khong taysu tertawa nyaring, ia tidak menghindar atau pun berkelit, sepasang telapak tangannya dipergunakan berbareng satu dari atas yang lain dari bawah serentak diayunkan kemuka melepaskan dua gulung angin pukulan yang sangat keras.

Dengan cepat suma Thian yu melayang kembali ke  hadapan Keng ken taysu, telapak tangan kirinya melepaskan

sebuah pukulan udara kosong, kemudian sambil membalikkan badan ia melancarkan serangan kembali kearah keng ken taysu dengan jurus Tiau hou ji san (memancing harimau meninggalkan bukit).

Siasat suara ditimur menghantam kebarat ini segera mendatangkan hasil yang diharapkan.

Tiba-tiba Keng seng taysu tertegun, kemudian sambil miringkan badan, sepasang telapak tangannya dipakai bersama untuk melancar-kan serangan balasan.

Begitulah, Suma Thian yu seorang diri harus bertarung melawan tiga orang sekaligus, disamping mempergunakan ilmu langkahnya yang sakti, dia pun menandingi serangan musuh dengan jurus-jurus yang tersembunyi.

Dalam waktu singkat, dua puluh gebrakan sudah lewat, namun kedua belah pihak masing-masing tetap bertarung seimbang.

Keng sim taysu yang mengikuti jalannya pertandingan itu, diam-diam hatinya merasa terperanjat, terutama sekali setelah menyaksi-kan sang pemuda lemah yang bertarung melawan ketiga orang pelindung hukumnya, ternyata makin bertarung semakin gagah dan perkasa.

Mendadak terdengar suara Keng seng teysu berpekik nyaring, sepasang lengannya diputar membentuk gerakan melingkar ditengah udara kemudian secepat burung yang terbang diudara menyerang ke arah Suma Thian yu. "Sicu, hebat amat kepadaianmu, terpaksa lolap mesti memper-gunakan ilmu silat yang lebih hebat" serunya keraskeras.

Benar juga, angin pukulan yang dilancarkan kali ini benarbenar disertai tenaga serangan yang menggidikkan hati.

Suma Thian yu segera mengambil keputusan pula dihati, dengan mengerahkan ilmu Hwee po sian hong ciang ajaran Cong liong lo sian jin, dia sambut datangnya serangan lawan.

"Blaaammm... blaaammmm...”

Ledakan keras yang menggetarkan seluruh ruangan bergema memecah keheningan, seluruh tiang dalam ruangan hongtiang itu bergoncang keras, atap beterbangan dan angin puyuh yang maha dashyat langsung menggulung ke tubuh tiga orang pendeta tersebut.

Mendadak terdengar Keng sim taysu membentak keras: "Cepat kabur!! Hui po sian hong ciang tak boleh dilawan

dengan kekerasan!"

Begitu ucapan tersebut diutarakan, tampak tiga sosok bayangan manusia meluncur keudara.

Serentak semua pendeta yang berada didalam ruangan itu kabur keluar ruangan untuk menghindarkan diri.

Suatu ledakan keras yang memekikkan telinga segera bergema memecahkan keheningan, sebagian dinding ruangang Hongtiang tersebut jebol sehingga muncul sebuah lubang besar, angin puyuh itu hilang lenyap setelah berada diluar ruangan.

Serangan yang dilancarkan Suma Thian yu kali ini telah pergunakan tenaga dalam hasil latihannya selama sepuluh tahun, dia baru berbuat demikian karena merasa jiwanya terancam.

Namun setelah serangan di lepaskan, mendadak ia merasa penat sekali, semangatnya bertambah merosot, kakinya menjadi lemas dan setelah sempoyongan akhirnya roboh terungkal ketanah.

ooo0ooo 

SEBAGAIMANA di ketahui, dia sudah dicekoki tiga butir pil oleh It hok taysu yang ternyata adalah obat pemabuk, oleh sebab dia harus mengerahkan tenaga dalamnya, maka sebagai akibatnya daya kerja obat itu menyebar keseluruh tubuhnya yang menyebabkan dia roboh tak sadarkan diri.

Entah berapa jam kemudian, ketika dia membuka matanya kembali, ternyata ia menemukan dirinya sudah berbaring didalam kamar tidurnya semula.

Sedangkan disamping pembaringannya berdiri It hok taysu beserta dua orang pendeta setergah umur yang mengenakan jubah berwarna putih....

Melihat pemuda itu mendusin, It hok taysu dengan senyuman dikulum segera berkata:

"Sicu, apakah kau sudah merasa agak enakan dengan kesehatan tubuhmu?"

"Terima kasih banyak atas perhatian mu, aku sudah sembuh dan tidak kekurangan sesuatu apa pun"

"Hongtiang senantiasa menantikan kedatangan sicu" ucap It hok taysu lagi sambil tertawa.

Suma Thian yu segera berpaling kejendela seraya berseru: "Hei, jam berapa sekarang? Apakah Hongtiang belum

beristirahat?"

It hok taysu segera tertawa terbahak-bahak. "Haaahaahaaaa...... beberapa saat lagi fajar akan

menyingsing, sicu sudah tidur seharian penuh, justru karena Hongtiang menguatirkan keselamatanmu, ia belum beristirahat sampai sekarang!"

Cepat Suma thian yu melompat bangun dan membereskan bajunya, lalu bersama It hok taysu menuju ruangan Hongtiang.

Kali ini dalam ruangan hanya hadir empat orang pendeta tua, selain Keng sim taysu cuma tiga orang penting lainnya yang hadir... Dengan perasaan berat dan masgul, Suma Thian yu berjalan menuju kehadapan Keng sim taysu, lalu dengan wajah serius berkata:

"Taysu, harap kau suka memaafkan kecerobohanku!" "Sicu memang benar-benar murid Cong liong locianpwee"

ucap Keng sim taysu dengan senyum dikulum, "semalam aku memang sengaja menitahkan ketiga orang sesepuh ini untuk membuktikan kebenaran tersebut!"

Suma Thian yu baru memahami duduknya persoalan setelah mendengar perkataan itu, yaa, bagaimanapun juga semakin tua jahe akan terasa semakin pedas.

Maka dengan sikap yang menghormat dia menjawab: "Aku tidak berniat berbohong, sesungguhnya aku kemari

karena masalahnya menyangkut suatu musibah besar yang akan terjadi tak lama kemudian, dan musibah tersebut sangat ber pengaruh terhadap kehidupan umat persilatan pada umumnya. Oleh sebab keadaan yang makkn mendesak, terpaksa aka mesti menempuh cara yang berbahaya ini.

Padahal aku tidak berniat merampok atau mencuri, maksudku hanya ingin menyelidiki nasib dari sejilid kitab pusaka"

"Sebetulnya nasib kitab pusaka apa yang sedang sicu selidiki?" tanya Keng sim taysu sambil tersenyum.

"Kitab pusaka Kun tun kan kun huan siu cin keng!"

Ucapan itu segera mengundang seruan kaget dari Keng sim taysu beserta ketiga orang pelindung hukumnya.

"Kitab pusaka Kun tun kan kun huan siu cin keng?" Keng sim taysu mengulang, "jadi sicu kemari karena kitab tersebut?"

"Betul"

Keng sim menghela napas.

"Aaai, sia-sia saja sicu menempuh perjalanan jauh dengan susah payah kemari, sebab kitab pusaka yang dibuat oleh toa supek ku Ku hay sinsu sebetulnya tidak disimpan dalam kuil kami!" "Sungguh tidak keliru perkataan Toa suhu?" Suma Thian yu bertanya kaget, semangatnya yang semula berkobar-kobar seketika menjadi lenyap seperti terguyur air sebaskom.

"Kitab pusaka itu sudah berada didaratan Tionggoan, mengapa sicu tidak mencarinya di daratan Tionggoan saja? Datang kemari cuma membuang waktu saja dengan percuma"

Segera timbul kecurigaan dihati Suma Thian yu setelah mendengar perkataan itu, agak tercengang ia balik bertanya:

"Toa suhu, kalau toh kitab pusaka itu sudah beredar di daratan Tianggoan, mengapa toa suhu tidak mengirim orang untuk mencarinya kembali?"

Keng sim taysu menghela napas panjang, katanya berterus terang:

"Lebih baik jangan ditanya lagi, pulang saja ke Tionggoan, lolap beserta segenap pendeta dari kuil ini memberi jaminan dengan kehormatan kami bahwa kitab tersebut sudah tidak berada dalam kuil kami lagi, soal lain maaf tak dapat kukatakan"

"Toa suhu, tahukah kau kalau kitab tersebut terbagi  menjadi dua bagian, satu yang asli dan satu lagi yang palsu?" desak Suma thian yu lebih lanjut.

"Tidak, kitab pusaka itu cuma sejilid saja" "Sejilid? bukan selembar?"

Dengan wajah serius dan bersungguh-sungguh, keng sim taysu segera berkata:

"Apakah sicu curiga kalau lolap sedang berbohong?" "Ooohh, tidak....tidak...! Aku tak berani menuduh demikian,

sebab kitab itu sebetulnya sudah kudapatkan, kemudian lantaran karena kitab itu palsu, maka kuserahkan kepada Sam yap koay mo, adapun kedatanganku kemari tidak lain adalah untuk membuktikan kebenaran dari kitab tersebut!"

Keng sim taysu segera menanyakan lebih jauh tentang keadaan yang sebenarnya.

Dengan berterus terang, Suma thian yu menceritakan semua pengalaman yang dialaminya mengenai kitab pusaka tersebut kepada Keng sim taysu. Tiba-tiba Keng sim taysu berteriak keras:

"Aaaah, kalau begitu sicu tertipu! Kitab tersebut sebetulnya kitab yang asli!"

"Dari mana kau bisa tahu?" agak tegang Suma Thian yu bertanya.

Keng sim taysu berpaling dan serunya kepada Keng Khong taysu:

"Keng Khong sute, ambil kemari botol air Biau heng sui!"

Setelah Keng Khong taysu berlalu untuk melaksanakan perintah, Keng sim taysu baru berpaling ke arah Suma Thian yu, dia berkata lebih jauh:

"Lembar kertas kulit itu halus dan licin, sedemikian licinnya sehingga tak bisa ditulis dengan tinta bak, tapi dengan pisau kecil, tulisan dapat diukir diatas lembaran kertas tadi, lalu pada lapisan depannya diberi selembar kertas putih yang diberi tulisan yang kacau dan dilapisi pula dengan lilin.

"Justru karena kekacauan-nya itu orang tidak akan melihat sebuah tulisan pun disana, tapi jika lilinnya dibuang maka   akan terbacalah huruf-hurufnya. Mungkin karena hal itu Wu  san siang gi siu mengira kitab itu palsu, padahal kitab tersebut adalah kitab yang asli!"

Bagaikan disambar guntur disiang hari bolong, Suma Thian yu meraskan hatinya hilang separuh dan hampir saja jatuh semaput, serunya tak tahan:

"Oooh, bagaimana baiknya ini? Thian, aku telah mencelakai orang banyak "

Tanpa terasa titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, sedang tubuhnya gontai tak menentu, nampaknya pemuda tersebut mendapat pukulan batin yang sangat berat.

Keng seng taysu menjadi sangat terperpanjat setelah menyaksikan kejadian ini, sambil membimbingnya ia terseru:
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Kitab Pusaka Jilid 23"

Post a Comment

close