Kitab Pusaka Jilid 22

Mode Malam
Jilid : 22

BELUM HABIS DIA berkata, tiba-tiba Chin Siau telah membentak dengan penuh kegusaran:

"Apa? Sungguhkah perkataanmu itu?"

"Sungguh, buat apa aku mesti membohongi mu?" jawab lelaki tersebut sambil berlagak amat sedih.

Hawa amarah segera membara didalam dada Chin Siau, kontan saja dia menyumpah:

"Oooh Thian, aku Chin Siau telah tertipu" Orang she Suma, bila aku tidak berhasil mencincang tubuh mu sehingga hancur berkeping-keping, aku bersumpah tak akan hidup sebagai manusia!"

Mendadak perkataanya itu terhenti oleh isak tangis yang menyedihkan dari lelaki tersebut.

Dengan perasaan tercengang Chin Siau segera bertanya: "Hei, mengapa kau menangis?"

Dengan air mata bercucuran lelaki itu mengeluh: "Oooh... sepasang kakiku... aku tak dapat membalas

dendam lagi....uuuh.... uuhhh.... uuuhhh "

Sembari berkata, kembali dia menangis tersedu-sedu.

Chin Siau menjadi ikut bersedih hati setelah menyaksikan kejadian itu, hatinya menjadi sakit seperti diiris-iris dengan pisau tajam, dengan cepat dia cengkeram bahu lelaki itu, kemudian berseru dengan suara yg terharu:

“Toako, maafkanlah aku, semuanya ini memang aku yang salah sehingga melukaimu, tapi kau tak usah kuatir, aku Chin Siau bertekad akan memenggal batok kepala bocah keparat itu untuk menebus dosa-dosaku ini "

Mendengar janji tersebut, buru-buru lelaki itu tertawa gembira, serunya cepat:

"Oooh, sungguh? Aku benar-benar berterima kasih sekali kepada mu "

Kembali Chin Siau menghibur lelaki tersebut dengan katakata yang halus, kemudian dengan mengurungkan niatnya untuk menunggui kuburan selama tiga hari, dengan membawa pedangnya dan menjuru kepada lelaki tersebut, dia segera melakukan pengejaran kearah mana perginya Suma Thian yu tadi.

Lelaki tersebut memandang bayangan punggung Chin Siau sehingga lenyap tak berbekas kemudian baru tertawa terbahak-bahak.

"Haahh... haaahh... haaah... bocah keparat she Suma, kali ini mampus kau"

Mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang suara tertawa merdu seseorang, disusul seseorang berkata:

"Kho Gi, bagus sekali perbuatanmu, sekembalinya ke markas nanti aku harus baik-baik memberi hadiah kepadamu, sepasang kakimu juga berusaha disembuhkan kembali"

Ternyata lelaki itu bernama Kho Gi, segera berpaling, tampak seorang perempuan muda cantik yang kehilangan sebuah telinga serta berambut pendek karena terpapas pedang telah berdiri dibelakang tubuhnya...!

"Terima kasih banyak hujin" buru-buru Kho Gi berseru, "sekalipun sepasang kaki Kho Gi kutung, hal ini tak perlu dipikirkan, asal selanjutnya hujin bersedia mengangkat diriku keatas, selama bidup Kho Gi sudah berterima kasih sekali kepadamu"

Sesungguhnya perempuan muda yang berparas cantik itu bukan orang lain, dia adalah perempuan berhati keji bagaikan ular berbisa Siau hu yong (hu yong tertawa) Chin Lan eng.

Tampak Chin Lan eng kegirangan setengah mati, sambil tertawa terbahak-bahak dia berseru:

"Haah...haah...haah dengan demikian, nyonya besar akan duduk menonton harimau berkelahi, menyaksikan mereka saling gontok-gontokan sendiri haaah...haaah...haaah...haaaah "

Rupanya semenjak rambutnya dipapas dan telinganya dikutungi oleh Suma thian yu, Siau Hu yong Chin lan eng membenci pemuda itu sehingga merasuk ketulang sum-sum, selama ini dia selalu mengawasi gerak-gerik Suma thian yu secara diam-diam.

Pertarungan di telaga Tong ting, jebakan dari bukit Kun sau sebagian besar adalah hasil rencana busuk dari Siau hu yong Chi lan eng.

Menyusul kemudian ketika mereka saksikan Suma Thian yu meninggalkan bukit Kun san, Siau hu yong dan si Ular berekor nyaring Biau Pun ci segera menyusun rencana busuk lain-nya untuk menghajar Suma Thian yu habis-habisan.

Mereka sengaja mengirim surat kepada Siau yau kay Wi Kian serta Manusia iblis penghisap darah dengan harapan ke dua orang tokoh persilatan itu bisa membunuh pemuda tersebut, namun usaha mereka mengalami kegagalan total.

Akhirnya timbul rencana mereka untuk mempergunakan siasat menyiksa diri, tentu saja pembicaraan antara Suma thian yu dengan Chin Siau berhasil disadap pula oleh Siau hu yong sehingga dia lantas memerintahkan Kho gi untuk melakukan serangan terhadap Chin Siau.

Kasihan Kho gi, dia tak lebih hanya merupakan seorang korban demi ambisi orang lain.

Sebagai pemuda yang kurang pengalaman dan gampang percaya dengan perkataan orang lain, Chin Siau tak berpikir panjang lagi setelah mendengar perkataan tersebut, dia segera berangkat mencari Suma thian yu untuk dibunuhnya.

Dalam pada itu, Kho gi sedang merasa gembira sekali setelah mendengar pujian dari Chin lan eng, dia seolah-olah lupa kalau sepasang kakinya telah terpapas kutung dan menjadi cacad untuk selamanya.

"Hujin, kita tak usah mengejar bocah keparat itu lagi?" serunya kemudian.

"Toh sudah ada si tolol itu! Memangnya bocah keparat itu bisa terbang kelangit?"

Baru selesai Siau Hu yong Chin lan eng berkata, mendadak seseorang membentak penuh kegusaran: "Perempuan rendah, harimau lebih keji daripada ular berbisa, kau perempuan laknat, perempuan rendah berhati busuk!"

berbarengn dengan seruan tersebut, tampak bayangan manusia meluncur datang ketengah arena dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.

Paras muka Siau Hu yong Chin lan eng berubah hebat setelah mngetahui siapa yang datang, tiba-tiba teriaknya tertahan:

"Aaah kau"

Orang itu berusia enam puluh tahunan dan berjubah  panjang warna biru, ia berjenggot hitam dan berwajah gagah, dalam sekilas pandangan saja dapat dikenali kalau dia adalah pemilik rumah makan Kun eng lo yang disebut orang Tay Hoa kitsu (pertapa dari Tay hoa) Chin leng hui adanya.

Begitu tampil ditengah lapangan, Chin leng hui segera menuding Siau Hu yong sambil mengumpat:

"Perempuan rendah, dalam keluarga Chin bisa tumbuh  tumor ganas macam kau, kejadian tersebut sungguh merupakan aib bagi leluhur kita, ayo cepat berlutut dan minta ampun!"

Siau hu yong Chin Lan eng mendengus dingin, katanya dengan nada sombong:

"Hmmm, hubungan kekeluargaan diantara kita telah putus, kau tidak berhak untuk mencampuri urusanku lagi, lebih baik jangan berkaok-kaok lagi disini!"

Chin Leng hui tertawa seram saking gusarnya, tiba-tiba ia merasa napasnya menjadi sesak, dadanya sakit sekali, tampaknya darah yang mengalir telah tersumbat.

Tak ampun dia muntah darah segar, kemudian agak sempoyongan dia mundur sejauh beberapa langkah.

Timbul perasaan iba dalam hati kecil Siau Hu yong Chin lan eng setelah menyaksikan keadaan itu, ditariknya tangan Kho gi sembari berkata:

"Mari kita pergi saja! Jangan menggubris orang gila ini lagi!" Sepasang kaki Kho gi telah kutung, dia tak mampu bergerak sendiri, maka Siau Hu yong Chin lan eng segera menghampirinya dan pelan-pelan berlalu dari situ.

Anak yang berani dengan orang tuanya merupakan suatu kejadian yang tragis, apalagi bagi orang tua yang mengalaminya bisa di bayangkan betapa hancurnya perasaan Tay hoa kitsu menyaksikan ulah putrinya.

Melihat perempuan itu beranjak pergi, segera bentaknya dengan amat gusar:

"Berhenti, jangan meninggalkan tempat ini!" Siau hu yong Chin lan eng berhenti, kemudian sambil berpaling tegurnya dingin:

"Mau apa kau? Tak usah berlagak pilon lagi, maksudku toh sudah cukup kau pahami"

"Lohu mengerti, kau memang binatang yang berhati buas, aku menghendaki nyawamu!" seru Tay hoa kitsu Chin Leng hui sambil tertawa mengenaskan.

Sewaktu mengucapkan perkataan itu, air mata bercucuran membasahi wajah Chin leng hui, betapa hancurnya orang itu melihat ulah putrinya.

Chin Leng eng bermaksud untuk membantah ucapan mana, namun secara tiba-tiba ia mendengar bergemanya suara lirih dari balik kegelapan, niat tersebut segera diurungkan, katanya kemudian dingin:

"Tak ada manfaatnya banyak berbicara dengan kau, sampai jumpa lain kesempatan!"

Dia segera mengempit tubuh kho gi dan segera terbang berlalu dari situ, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya telah lenyap dari pandangan mata.

Tay hoa kitsu Chin leng hui meraung gusar, ia menjejakkan kakinya ke atas tanah lalu melejit ke udara, dia berniat untuk menyusul di belakang tubuh Chin Lan eng.

Mendadak bayangan manusia berkelebat lewat, seorang pengemis tua tahu-tahu sudah berdiri menghadang dihadapannya. Dalam sekilas pandangan saja, Chin Leng hui segera mengenali orang itu sebagai Siau yau kay Wi kian, amarahnya langsung saja ber kobar, tanpa banyak berbicara segera hardiknya:

"Hei, mengapa kau menghadang jalan pergi ku?"

Siau yau kay tertawa terbahak-bahak, dia berkelit ke samping sambil ujarnya:

"Oooh kalau begitu salah! Silahkan kau meneruskan pengejaran mu, aku si pengemis tua pasti tak akan menghalangi niatmu ini"

Tay hoa Kitsu Chin Leng hui sama sekali tidak menggubris Siau yau kay, dia benar-benar bermaksud untuk meneruskan pengejaran terhadap Siau hu yong.

Melihat hal ini, Siau yau kay Wi Kian segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh... haaah... haaahh... bila kau sudah bosan hidup, lebih baik menggorok leher sendiri saja dengan pedangmu tak usah membuat malu didepan orang lain"

Tay hoa Kitsu Chin Leng hui tertegun, lalu dia merasa sangat tidak puas dengan sindiran dari Siau yau kay tersebut tegurnya ketus:

"Apa maksudmu berkat demikian?"

Siau yau kay Wi kian menggelengkan kepalanya berulang kali lalu menghela napas panjang.

"Mepersembahkan tubuh yang berguna untuk santapan harimau dan srigala, apakah tindakan semacam itu benar? Chin lote, kau jangan mengira putri kesayanganmu itu tak mampu melakukan perbuatan semacam itu, lebih-lebih jangan kau anggap karena mempunyai hubungan darah dengan mu maka dia akan berbelas kasihan kepadamu! Dia sedang mempersiapkan jebagan agar kau masuk perangkap, bila kau ingin mengorbankan dirimu, pergi sajalah kesana!"

Tay hoa kitsu sadar kembali dari impian setelah mendengar perkataan itu, semakin dipikir dia merasa semakin mendongkol, makin mendongkol hatinya pun makin mendendam, buru-buru tanyanya: "Memangnya kau suruh aku membiarkan dia berfoya-foya dan bersenang-senang terus sekehendak hati sendiri?"

"Ya, kecuali begini memang tiada cara lain, bila kau ingin memberi pelajaran kepadanya, lebih baik nantikan saja hingga kedatangan Suma siauhiap dari Tibet!"

"Mengapa?"

"Rahasia langit tak boleh dibocorkan, bila saatnya telah datang segala sesuatunya akan terwujud sendiri"

"Bagaimana sekarang? Apa yang kulakukan?"

Kasihan si pendekar dari Bu tong pay ini, saking dibuat pusingnya oleh ulah putrinya, sampai-sampai dia sendiripun tak tahu apa yang barus diperbuat.

Siay yau kay tertawa terbahak-bahak.

"Hah... hah... hah... kembali saja ke bukit Tay hoa san, bila saatnya membutuhkan tenagamu telah tiba, aku pasti akan mengundang mu untuk turun gunung"

"Tapi "

"Apakah kau belum puas? Atau ada sesuatu yang belum selesai kau laksanakan?" tukas Siau yau kay Wi Kian cepat.

"Tidak! Aku cuma menguatirkan keselamatan Suma siauhiap, aku kuatir dia akan menjumpai banyak kesulitan!"

Kembali Siau yau kay Wi kian tertawa panjang setelah mendengar perkataan itu.

"Haaah... haaaah... haaaah orang budiman akan selalu dilindungi Thian, soal ini tak perlu kau kuatirkan!"

Tay hoa kitsu Chin leng hui tidak bicara apa-apa lagi, dia mengikuti saran dari Siau yau kay dan bebar-benar kembali ke Tay hoa san untuk bertapa.

oooo0oooo

SETELAH meninggalkan Chin Siau, Suma thian yu menempuh perjalanan siang malam melewati bukit Ngo tay san dan menuju kearah Tibet.

Sepanjang jalan dia merasakan hatinya amat risau dan berat, yaa memang begitulah bila banyak kejadian tragis menimpa seseorang seringkali sikap maupun perasaannya akan turut berubah juga.

Terutama sekali pengalaman yang dialami Suma thian yu amat istimewa, kecuali dendam kesumat dari keluarga sendiri, diapun harus memikul tanggung jawab dari pamannya yakni Kit hong Kiam kek Wan liang serta semua kejadian besar yang sedang berlangsung didalam dunia persilatan sekarang.

Pelbagai macam peristiwa yang menimpanya membuat pengalamannya turut bertambah pula, sudut pandangannya terhadap pelbagai masalah dan watak manusia ikut pula berubah, satu satunya yang tidak turat berubah hanya lah budinya yang luhur.

Hari ini, tibalah dia dikota Hak li seng, ko ta ini kecil sekali dan terletak dibawah kaki bukit Gou ciok san, sebab tempat yang boleh di ibararkan sarang naga gua harimau.

Meskipun kota itu kecil, penduduknya amat banyak, kota tersebut merupakan kota perda gangan yang amat ramai.

Kebetulan hari ini merupakan hari besar untuk kota tersebut, suasana disana bertambah ramai, manusia yang berlalu lalang banyak sekali.

Ketika Suma Thian yu tiba dikota tersebut, yang tampak olehnya adalah lelaki perempuan yang berpakaian warnawarni, dengan dandanan yang mencolok, seakan-akan wayang dalam panggung opera.

Rumah-rumah dihiasi dengan indah, orang-orang yang berada disitu pun berseri, penuh dengan dihiasi senyuman.

Suma Thian yu segera mengerti, rupanya di kota itu sedang diselenggarakan pesta besar.

Sebagai seorang pemuda macam dia, tentu saja perasaan ingin tahu menyelimuti hatinya, niatnya untuk melanjutkan perjalanan

segera diurungkan, dia mengambil keputusan untuk menginap dirumah penginapan kota itu semalaman. Baru saja berpaling untuk beristirahat, pelayan muncul didepan pintu sambil menegur: "Kek koan, apakah kau tidak kekota untuk melihat keramaian?"

Sambil tertawa Suma thian yu menggeleng.

"Aku masih lelah setelah menempuh perjalanan jauh, sekarang hanya ingin beristirahat dahulu"

"Begitupun baik juga, pulihkan dulu kondisi badan, malam nanti baru menonton panggung Lui tay"

"Panggung Lui tay?" dengan perasaan kaget bercampur keheranan Suma Thian yu mengulangi perkataan itu.

Tampaknya pelayan itu berhasil mendapat  kesempatan untuk mencari uang persen, dia segera mengandalkan selembar bibirnya yang pandai bicara untuk menarik perhatian orang, katanya kembali:

"Aaah, rupanya kau belum tahu? Hari ini adalah hari peringatan kota kami, diluar kota depan kuil Hui bong si telah didirikan panggung lui tay untuk mengadakan pertandingan ilmu silat seperti juga tahun berselang, yang mengikuti perlombaan ini banyak sekali, sehingga diluar kuil orang pada berjubel. Kek koan kedatanganmu memang kebetulan sekali, tanggung kau bakal menonton sampai puas!"

"Yaa betul, aku memang bernasib mujur sahut Suma Thian yu hambar.

Kembali pelayan itu tertawa cekikikan.

"Cuma kau harus memesan tempat bila ingin kebagian tempat duduk, cuma kau tak usah kuatir, soal ini mah bukan masalah, asal kek koan bersedia mengeluarkan sedikit uang, sudah tentu hamba akan mencarikan tempat duduk paling depan, hiih...hiih...hiiih..."

Sembari berkata, dia lantas menunjukan sikap menanti persen.

Mendengar itu, Suma thian yu tertawa terbahak-bahak. "Haaah... haaah... haaah... kalau soal itu mah tentu saja

tak ada persoalan, aku pasti akan memberi persen untukmu" Pelayan itu bertambah semangat, wajahnya berseri,

senyuman menghiasi wajahnya, dengan cepat ceritanya kembali: "Tahun lalu toa kongcu dari Thio wangwee dihajar orang sampai menjadi cacad, konon tahun ini ji kongcu yang akan naik ke panggung lui tay menggantikan kedudukannya, malah dia telah mempersiapkan jago-jago dari luar untuk membalas dendam atas aib yang di derita keluarganya tahun berselang, maka aku yakin tahun ini suasananya tentu bertambah ramai"

Suma Thian yu hanya mengiakan.

"Hamba ingin mengajukan satu permohonan, apakah kek koan bersedia memenuhinya?" kembali pelayan itu berkata.

"Soal apa? Katakan saja"

Sambil tertawa cekikikan pelayan itu berbisik:

"Kek koan! Kau tidak tahu, meski hamba bekerja sebagai pelayan disini, sesungguhnya pernah pula belajar silat, hamba paling suka menyaksikan pertandingan silat semacam itu, bila kek koan tidak menampik, malam ini hamba bersedia mendampingimu, sekalian menjadi penunjuk jalan bagimu..."

"Kebetulan sekali!"

"Sungguh? Ooh, bagus sekali, cuma "

Berbicara sampai disini sengaja dia berhenti sejenak dan memandang sekejap kearah Suma thian yu dengan licik.

"Masih ada soal apa lagi?" tanya pemuda itu cepat. "Majikan hamba melarang hamba untuk meninggalkan

rumah penginapan ini "

"kalau begitu, kau tak usah ikut"

"Aaah, mana boleh jadi? Asal kek koan bersedia mintakan ijin untuk hamba, tauke pasti akan mengabulkan"

"Kalau begitu, siapa yang bertugas di dalam rumah penginapan ini ?"

"Masih ada orang lain, Kek koan tak usah kuatir"

"Bila mereka semua seperti kau, bukankah berabe jadinya" "Soal ini "

Pelayan itu menjadi terpojok dan tak mampu untuk menjawab lagi....

Suma thian yu segera tertawa terbahak-bahak, sambil memukul pantat pelayan itu, serunya: "Sudahlah, keluar sana! Pokoknya nanti malam kau pasti akan kuajak"

Dengan wajah berseri, pelayan itu segera berlalu meninggalkan tempat itu.

Setelah beristirahat cukup, semua rasa lelah ditubuh Suma thian yu pun menghilang, setelah bersantap malam dan menyampaikan pesan kepada pemilik penginapan, dia mengajak pelayan itu menuju keluar kota.

Pelayan itu amat gembira, sambil menempuh perjalanan, tiada hentinya dia mengisahkan keadaan tentang panggung lui tay tersebut kepada Suma thian yu, dengan begitu si anak muda itupun banyak mengetahui tentang peristiwa tersebut.

Tiba didepan kuil Hui hong si, betul juga mereka saksikan sebuah panggung lui tay yang tingginya satu kaki dengan lebar sepuluh kaki terbentang didepan mata, pada kedua belah sisi panggung diberi pagar yang memanjang.

Di atas panggung terbentang sebuah papan nama yang bertuliskan:

GI BU HUI YU

artinya: Dengan ilmu silat menjalin persahabatan.

Tulisan itu ditulis dengan gaya tulisan yang kuat dan indah, dalam sekilas pandangan saja orang akan tahu kalau tulisan itu berasal dari penulis kenamaan.

Sementara dikedua belah sisinya tergantung sepasang "Lian", yang berada disebelah kanan bertuliskan:

KUN TA THIAN HEE ENG HIONG

artinya: Dengan tinju menjumpai orang gagah didunia. Nadanya latah, gampang buat orang naik darah.

Suma thian yu bertanya kepada pelayan itu:

"Manusia macam apa sih ji kongcu dari Thio Wangwee itu?" "Rupanya kek koan adalah katak dalam air, masa nama thio

suhu, Thio cu dari kota Hek seng jin saja tidak kenal?"  "Thio cu? Aku belum pernah mendengar nama orang ini!"

Pelayan itu segera menggelengkan kepalanya sambil menghela napas, katanya kemudian: "Aaaii...tak heran kalau kau tak tahu, dilihat dari dandananmu macam pelajar, bagaimana mungkin bisa mengetahui urusan dalam dunia persilatan? kau tahu, Yhio cu adalah seorang tokoh silat yang mempunyai asal usul luar biasa, dikota ini saja mempunyai murid sebanyak lima ratus orang.

Berbicara sesudahnya, hambapun pernah berlatih ilmu silat selama tiga tahun dibawah bimbingannya, bukan hamba sengaja mengibul, sepuluh orang lelaki macam kek koan pun tak akan hamba pandang sebelah matapun"

"Ooooh...tentu saja, tentu saja...." Suma thian yu tertawa.

Mendengar sanjungan tersebut, si pelayan semakin bangga, dengan wajah berseri dia berkata lagi:

"Thio suhu kami ini disebut orang Hui Thian hou (harimau terbang dari luar angkasa), kepandaian, silatnya seperti harimau buas sungguhan, siapa pun merasa takut bila bersua dengan-nya, terutama sekali kepandaian silat yang di miliki ayahnya, konon dalam sekali gebukan saja seekor harimau dapat dihajar sampai mampus, katanya dia mempelajari ilmu sebangsa Thi cah ciang"

"Oooh... sungguh lihay, apakah malam nanti dia pun akan naik ke atas panggung?"

"Coba kau lihat, bukankah mereka telah datang?" tiba-tiba pelayan itu menunjuk kearah pintu kuil.

Ketika Suma Thian yu mengalihkan sorot matanya ke depan, betul juga, dari balik pintu kuil berjalan keluar serombongan manusia di antaranya terdapat pendeta, tosu, lelaki perempuan, tua maupun muda, jumlahnya hampir mencapai tiga puluhan orang.

Yang berjalan paling depan adalah seorang kakek berusia enam puluh tahunan mengenakan jubah seorang hartawan, dia beralis tebal, mata besar, hidung besar, mulut lebar, wajahnya menampilkan kelicikan serta hawa sesat.

Pelayan itu segera berbisik: "Orang itulah Thio Wangwee, sedangkan orang yang berjalan dibelakangnya adalah suhu hamba, si harimau terbang Thio cu!"

Suma Thian yu mencoba untuk mengawasi orang tersebut, tampak si harimau terbang Thio Cu mengenakan pakaian ringkas dengan mantel berwarna merah, wajahnya menunjukan kelicikan dan hawa sesat, usianya tiga puluh tahun, gerak geriknya membikin orang mau muntah rasanya.....

Rombongan tersebut langsung menuju ke barak sebelah timur, mereka berjalan sambil bergurau, sikapnya amat santai.

Mungkin lantaran waktunya belum tiba, maka barak sebelah barat masih berada dalam keadaan kosong.

"Hei, mengapa barak sebelah barat masih kosong melompong?" dengan keheranan Suma thian yu segera menegur.

"Barak itu dipersiapkan bagi orang-orang Hok siu cun, tahun lalu putra sulung Thio wang wee menderita kekalahan ditangan putrinya kepala dusun Hok siu cun"

"Seorang lelaki kalau sampai menderita kekalahan ditangan seorang wanita, apakah hal ini tidak sangat memalukan?"

"Sttt!" buru-buru pelayan itu menempelkan jari tangannya ke atas bibir, kemudian setengah berkisik peringatnya, "kalau berbicara semaunnya sendiri, salah-salah nyawamu pun akan ikut melayang"

Suma thian yu tidak banyak bicara lagi, bersama pelayan

itu mereka duduk dikursi yang telah disediakan bagi penonton.

Lambat laun penonton yang menyaksikan jalannya pertandingan berbondong-bondong memenuhi lapangan.

Mendadak terdengar pelayan itu berseru:

"Aaah, sudah datang, mereka sudah datang! Oooh, mengapa begini banyak yang mereka ajak tahun ini?"

Ketika Suma thian yu berpaling, tampaklah dari sudut lapangan bermuncullan serombongan lelaki kekar yang bersenjata sangat lengkap, sebagai pemimpinnya adalah seorang gadis cantik bercelana hijau dan menyoren pedang dipunggung, rambutnya yang panjang terurai sepundak hingga mendatangkan kesan manis.

Tanpa terasa timbul kesan baik dalam hati Suma thian yu terhadap nona itu.

Sambil memimpin anak buahnya gadis itu langsung menuju kebarak sebelah barat dan mengambil tempat duduk.

Beberepa waktu kemudian berkumandang suara genta yang amat nyaring, suara tersebut berasal dari panggung lonceng di belakang kuil Hui hong si.

Bersama dengan berkumandangnya suara genta itu, Hui thian hoa berjalan keluar dari barak timur, setelah melepaskan mantel merah nya, dia menuju ketengah panggung, lalu   sambil mnenjura kepada para hadirin, katanya dengan  lantang:

"Untuk kesediaan saudara sekalian..... untuk menghadiri pertemuan kali ini, aku Thio Cu mengucapkan banyak-banyak terima kasih.

Tahun yang lalu, nasib dari kami Hong seng tinkurang beruntung sehingga menderita kekalahan ditangan pihak Hok siu ceng, untuk kekalahan mana kami akan berusaha untuk merebutnya kembali ditahun ini, untuk hal mana kami mohon dulungan sert semangat dari hadirin sekalian"

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan: "Tahun ini berbeda sekali dengan tahun kemarin, aku orang

she Thio sengaja mengundang beberapa orang sahabat dari luar dusun untuk ikut meramaikan suasana disini, oleh se bab itu selain pertarungan kami dengan pihak Hok siu cun, bila di antara kalian ada yang berkepandaian, silahkan untuk naik kepanggung luy tay serta turut menyemarakkan pertandingan ini. Bagi yang berhasil unggul akan disediakan hadiah sebesar lima puluh tahil emas, semoga saudara sekalian tidak menyianyiakan kesempatan baik ini."

Selesai berpidato, dia lantas berpaling kebarak sebelah barat dan serunya:

"Hohan manakah dari pihak Hok siu cun yang akan tampil untuk bertarung Dengan cepat muncul seorang lelaki setengah umur dari barak sebelah barat, setelah melompat ke atas panggung, sahutnya:

"Aku bernama Oh Hui hou, kali ini khusus kemari untuk memohon petunjuk dari Thio suhu"

"Suatu keberuntungan bagi aku orang she Thio bila Oh suhu bersedia memberi petunjuk" kata Hui tian hou tertawa nyaring.

Pelan-pelan dia maju menghampiri Oh hui hou, lalu serunya:

"Silakan!"

"Suhu!" tiba-tiba dari barak timur melompat seseorang, "untuk membunuh ayam mengapa meski memakai golok kerbau, biar tecu saja yang memeri pelajaran kepadanya!"

Orang itu hanya seorang lelaki kekar yang berusia masih muda. Pelayan yang duduk di samping Suma Thian yu segera berbisik:

"Kek koan! Orang ini murid tertua dari Thio Suhu"

Suma thian yu manggut-manggut lalu mengawasi orang itu sekejap, lalu pikirnya:

"Orang ini sembrono dan takabur, sudah pasti berada dipihak yang kalah!"

Belum habis ingatan itu melintas, pertarungan tengah berlangsung diatas panggung.

Suma thian yu benar-benar tidak tertarik untuk menyaksikan jalannya pertarungan, sebab pertarungan yang berlangsung itu, dalam pandangannya seperti kucing yang berkelahi, sedikitpun tiada daya tariknya.

Berbeda sekali dengan pelayan itu, dia asyik mengikuti jalannya pertandingan,

saban kali tangannya yangmengepal ikut membuat gerakan, ketika ditemuinya Suma thian yu memejamkan matanya rapat-rapat, ia segera menegur dengan keheranan:

"Kek koan, kau benar-benar kutu buku, mengapa tidak menonton jalannya pertandingan?"

"Aaahh, ngeri, aku tidak berani melihat." Mendengar itu, si pelayan segera tertawa. "Haah...haah...haaah dasar... aai..!"

Tiba-tiba dari atas panggung Lui Tay berkumandang jerit kesakitan yang memilukan.

Cepat-cepat pelayan itu mendongakan kepalanya, kemudian dengan terkejut serunya:

"Aduh celaka! Sungguh menggemaskan!"

Ternyata Oh Hu hou telah berhasil mengajar lelaki kekar itu sehingga terpelanting dari atas parggung lui tay, setelah muntah darah, orang itu tak sadarkan diri.

Dengan demikian kemenangan  berhatil diraih oleh pihak Hok siu cun yang berada dibarak sebelah barat, tepik sorak yang gegap gempira sepera mengiringi kemenangan tersebut.

Sebaliknya paras muka Hui thian hou Thio cu berubah amat tak sedap setelah menyaksikan murid tertuanya dipukul jatuh dari panggung lui tay, dengan cepat dia melompat kedepan Oh hu hou kemudian bentaknya amat gusar:

"Bagus sekali Kung fu mu, lhatlah pelajaran dari toayamu!" Dengan jurus Hek Hok to sim (harimau hitam mencari hati)

dia jotos hidung Oh hu hou.

Sambil mendengus, Oh hu hou mengegos kesamping, begitu lolos dari ancaman, segera teriaknya:

"Aku bernama Hu hou (penakluk harimau), sejak dilahirkan memang berkemampuan menghajar harimau, sebentar lagi akan kubuat si ahrimau terbang berubah menjadi anjing buduk-kan yang merangkak ditanah"

Mendengar ejekan mana, Hui thian hou Thio cu berkoakkaok gusar, segenap tenaganya segera dikerahkan, sambil meraung gusar dia mainkan jurus Sian jin ci tok (dewa sakti menunjuk jalan), tetapi sampainya ditengah jalan segera merubah kepalan-nya menjadi serangan jari, dengan sebuah totokan kilat dia menotok jalan darah tam liong hiat di tubuh Oh hu hoa.

Rupanya saking amarahnya dia telah menunjukkan kepandaian silat yang sesungguhnya.

Melihat hal itu, Suma Thian ya segera bergumam: Memang lumayan juga kepandaiannya, sayang tak akan berhasil mencapai kemenangan"

"Aah, kau ini mengerti apa? Jangan sembarangan berbicara" tegur pelayan itu tak senang hati.

Suma Thian yu tertawa terbahak-bahak, sambil menepuk bahu pelayan itu serunya:

Cepat lihat, suhumu berhasil meraih kemenangan!"

Cepat-cepat pelayan itu mendongakkan kepalanya, namun ia segera menjerit kaget:

"Aah! Habis sudah kali ini!"

Rupanya Hui thian hou Thio Cu telah terkurung di tengah lapisan bayangan dari Oh Hui hoa sehingga posisinya sangat kritis, tak heran kalau pelayan itu menjerit kaget.

Sambil tersenyum Suma Thian yu berseru:

"Buat apa kau mesti gelisah? Suhumu pasti akan unggul"

Sementara pelayan itu masih ragu mendadak dari atas panggung kedengaran orang berseru:

"Maaf!"

Ternyata Oh Hu hou terhajar sehingga terjungkal dari atas panggung Lui tay.

Pelayan itu menjadi kegirangan setengah mati, dia segera melompat bangua sambil bertepuk tangan dan bersorak sorai.

Berhasil memenangkan pertarungan itu, dengan angkuhnya Hui tian hou Thio Cu berseru ke arah barak sebelah barat:

"Aku orang she Thio mohon petunjuk dari nona Yap"

Baru selesai dia berkata dari barak sebelah barat nampak sesosok bayangan manusia berwarna hijau melayang ke tengah udara.

Sementara semua orang masih terkejut bercampur keheranan, tahu-tahu diatas panggung telah bertambah dengan seorang gadis yang cantik dan bertubuh ramping.

Sambil mendengus dingin pelayan itu berseru:

"Sok amat gaya dari lonte itu, hmmm, tahun ini dia bakal merasakan kegetiran"

Sementara itu Suma Thian yu pun sedang mengawasi gadis itu lekat-lekat, dia merasa nona itu memancarkan sinar kegagahan dan kejujuran, sudah jelas kalau dia memiliki ilmu silat lihay.

Ternyata nona ini adalah putri kesayangan dari kepala kampung Hok siu cun yang bernama Yap Cai cui, tentang asal usul perguruan-nya, amat jarang yang mengetahui.

Menyaksikan nona Yap sudah tampil keatas panggung, Hui thian hou Thio Cu mengerutkan alis matanya yang tebal, kemudian setelah tertawa dingin katanya:

"Tahun lampau kakak ku telah menerima sebuah hadiah pukulan dari noan, atas pemberian tersebut aku orang she Thio tak pernah melupakannya, maka dari ini, mumpung ada kesempatan yang sangat baik, aku ingin menuntut keadilan dari nona"

Yap Cui cui tertawa ringan.

"Bila pertarungan berlangsnng, soal luka atau mampus adalah sesuatu kejadian lumrah, bila mana Thio suhu mampu mengalahkan aku, sudah pasti akupun tak akan menggerutu kepadamu, sudahlah, tak usah berbicara lagi, silakan turun tangan!"

Hui thian hou Thio cu meraung keras, sepasang telapak tangannya segera digerakkan bersama, satu menyerang tubuh bagian atas sementara yang lain meraih ke arah 'rahasia' diantara belahan paha si nona....belahan paha si nona.

Serangan yang cabul dan tak tahu malu ini segera memancing siulan dan teriakan marah penonton.

Yap Cui cui sendiripun sangat mendongkol setelah menyaksikan serangan tersebut, dia segera mengegos kesamping, lalu dengan jurus Siang liong pau cu (Sepasang naga memeluk tiang) menangkis datangnya ancaman mana.

Gagal dengan jurus serangan yang pertama, Hui thian hou memutar pergelangan tangannya menggunakan jurus Suit tee lau gwat (mendulang rembulan didasar air).

Jurus serangan ini lebih cabul dan tak tahu malu lagi,  karena sementara telapak tangan kanannya menyerang tubuh bagian atas, maka telapak tangan kirinya mencengkeram bagian 'rahasia' dari si nona di bawah tubuh. Seorang jago silat yang tulen tidak akan menggunakan jurus serangan semacam ini untuk menghadapi kaum wanita.

Tapi Hui thian hou Thio Cu memang dasarnya seorang lelaki hidung bangor yang suka bermain perempuan, oleh sebab itu meski sedang bertempur, ia tak pernah melupakan watak cabulnya itu.

Melihat hal mana, Yap Cui cui melotot besar, kemudian bentaknya keras-keras:

"Pingin mampus rupanya kau!"

Tidak nampak gerakan apa yang dipakai, ujung bajunya saja yang terlihat terhembus angin lalu terdengar Hui thian hou Thio Cu menjerit kesakitan, seluruh tubuhnya terlempar ketengah udara bagaikan layang-layang putus benang, tubuhnya terlempar keluar dari atas punggung lui tay langsung terjauh ketengah para penonton.

Suasana diarena menjadi sangat gaduh, menyusul kemudian meledak tempik sorak yang gegap gempita.

Menggelikan sekali keadaan Hui thian hou Thio Cu waktu itu, dia telah berubah menjadi anjing terbang yang mencium tanah.

Dari barak sebelah timur segera melompat keluar dua orang manusia, seorang segera melompat turun dari panggung memburu ke arah mana Hui thian hou Thio Cu terjerembab, sedangkan yang lain menuju ketepi panggung dan menjura kepa Yap Cui cui tambil berseru:

"Hebat sekali kepandaian silat nona, aku Mao san it tim ingin sekali memohon petunuk dari nona"

Begitu mendengar nama 'Mao san it tim' Suma thian yu segera mendonggakkan kepalanya, betul juga, orang itu adalah It tim tojin.

Tampaknya yap Cui cui terparanjat juga setelah mengerti kalau lawannya adalah It tim tojin, sambil tertawa paksa segera ujarnya:

"Totiang ingin bermain tangan kosong atau bermain pedang?"

It tim tojin segera tertawa seram. "Haaah...haah...haah... ini namanya sudah tahu masih berpura-pura tanya" ejeknya, "masa kau tidak tahu dengan mengandalkan apakah Mao san pay bisa menggetarkan dunia persilatan? Tentu saja mempergunakan ilmu pedang"

Sewaktu mengucapkan perkataan tersebut, sikapnya sangat congkak dan takabur, seolah-olah dialah seorang jagoan lihay yang tak terkalahkan dari dunia persilatan.

Hal ini tak bisa disalahkan, sebab bila seorang jagoan macam It tim tojin harus muncul disebuah dusun macam Hok seng cun, sudah barang tentu kepandaian silatnya bisa dianggap sebagai nomor wahid.

Namun dia lupa kalau diantara hadirin masih terdapat pula jago-jago lihay, ucapannya yang kelewat takabur itu kontan saja menimbulkan perasaan geli dihati mereka.

Yap Cui cui tertawa merdu kemudian sambil berlagak terkejut, serunya tertahan:

"Ooh...! Rupanya totiang ingin beradu pedang, wah, malah kebetulan kalau begitu! Baiklah, boanpwe akan mengiringi keinginan mu itu !"

"Cabut pedangmu!" bentak It tim totiang dengan suara dingin, sedang ia sendiri pun segera meloloskan pedangnya dari punggung.

Yap Cui cui tidak sungkan-sungkan lagi, cepat dia meloloskan pedangnya lalu membentak keras:

"Boanpwee akan menyerang dulu!"

Dengan jurus Cong liong ji hay (naga sakti masuk samudra) dia menggetarkan bunga pedangnya dan langsung menusuk jalan darah Tiong hong hiat.

It tim tojin tertawa seram, dengan posisi kaki senaknya, dia berdiri menanti, tatkala ujung pedang sudah tinggal satu depa dihadapannya, tiba-tiba saja pedangnya berubah  menjadi jurus Ya ma hun si (kuda liar mementangkan bulu suri), pelanpelan menangkis ancaman musuh,  menyusul  kemudian dengan jurus Cu to hui liong (menerjang sampai disarngnya) menusuk jalan darah Ki bun hiat dibawah buah dada si nona. Merah dadu selembar wajah Yap Cui cui karena jengah, segera bentaknya dengan gusar:

"Pingin mampus rupanya kau !"

Sembari berseru dia mundur setengah langkah, menyusul kemudian menyerobot kedepan sambil melepaskan serangkain serangan.

"Sreet! Sreet! Sreet!" secara beruntun dia melancarkan tiga jurus serangan pedang, semuanya digunakan jurus serangan yang mematikan.

Sekalipun It tim totiang terhitung jagoan pedang kelas satu dari Mao san pay, toh terdesak juga sehingga mundur sejauh tiga langkah, terdengar ia berpekik aneh lalu tertawa seram, sambil mengembangkan ilmu pedang Mao san pay, serentak serangan balasan segera dilancarkan kembali.

Pelayan yang berada dibawah panggung menjadi berdebar ketakutan, dengan tegang ia menarik tangan Suma thian yu sambil berseru:

"Kek koan, kau takut?"

"Takut sekali! Tentu saja aku takut!

Tidak kah kau lihat seluruh tubuhku sedang gemetar?" Betul juga, sekujur tubuhnya sedang gemetar.

Dengan sepasang gigi yang saling beradu, pelayan itu berkata kembali:

"Menurut pendapatmu siapa yang bakal memenangkan pertarungan kali ini?"

"Tentu saja tosu yang dikirim oleh suhumu itu!" "Darimana kau bisa tahu?" dengan perasaan tidak habis

mengerti pelayan itu bertanya.

Suma Thian yu merasa dia telah salah bicara, maka buruburu serunya:

"Tentu saja, coba kau lihat bukankah usianya jauh lebih tua?"

Alasan tersebut segera berhasil mengelabuhi si pelayan itu, mengetahui kalau It tim totiang bakal merebut kemenangan, dia nampak jauh lebih tenang. Sementara itu pertarungan yang sedang berlangsung ditengah panggung sudah mencapai puncaknya, menang kalah segera akan diketahui dalam beberapa saat lagi.

Sekalipun Cui cui memiliki kepandaian silat yang luar biasa, bila dibandingkan dengan It tim totiang yang berpengalaman tentu saja masih terpaut lebih jauh.

Kini dia hanya bisa menangkis belaka dengan bersusah payah, pada hakekatnya tidak berkepandaian untuk membalas, keringat telah membasahi seluruh tubuhnya sedang napasnya pun terengah-engah.

It tim totiang memang tak malu disebut sebagai jagoan lihay dari Mao san pay, semakin bertarung dia nampak semakin perkasa, jurus-jurus serangan yang dipergunakan juga sema kin ganas tak berperi kemanusiaan, hampir semuanya ditujukan kejalan darah penting ditubuh lawan.

"Bocah perempuan" ejeknya kemudian, "menginggat kau masih muda, wajahmu cantik lagi, aku sengaja berbalas kasihan kepadamu, asal kau bersedia mengikuti toaya pulang ke rumah, tanggung kau akan terjamin hidupmu dan melewati kehidupan yang paling berbahagia di dunia ini "

Yap Cui cui gusar sekali sampai seluruh tubuhnya gemetar keras, sambil membentak gusar cahaya pedangnya digetarkan keluar, setetika itu juga bayangan pedang menyelimuri seluruh angkasa, serangan yang dahsyat itu bersama-sama tertuju ke tubuh It tim totiang.

Menyaksikan hal ini, It tim totiang mendengus dingin, pedangnya segera memainkan jurus Hong cuan-jian im (angin berhembus membuyarkan awan) menyerang tubuh Yap Cui  cui yang sedang menerjang kemuka.

Tiba-tiba saja Yap Cui cui merasakan cahaya pedang dirinya menjadi lenyap kemudian serentetan hawa pedang yang menusuk tulang sudah menyergap kearah tenggorokannya.

Tak terlukisan perasaan terkejutnya menghadapi ancaman semacam ini, segera pekiknya:

"Mampus aku kali ini..!" Dia memejamkan matanya siap menantikan ajalnya. Disaat yang kritis itulah....

Tiba-tiba dari bawah panggung berkumandang suara

pekikan nyaring, kemudian tampak sesosok bayangan manusia meluncur meluncur keatas panggung dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, sambil meluncur ke atas, serunya keras:

"Berbelas kasihanlah diujung pedangmu!"

Mendengar pekikan tadi, It tim totiang menjadi tertegun sehingga gerakan pedangnya melamban, belum sempat dia berbuat sesuatu tahu-tahu segulung angin lembut sudah mendorong tubuhnya sahingga mundur sejauh beberapa langkah.

Dengan cepat dia mendongakkan kepalanya tahu-tahu diatas panggung telah bertambah dengan seorang pemuda berpakaian sastrawan.

Waktu itu, sebenarnya Yap Cui cui mengira dirinya pasti akan tewas, siapa tahu dari tengah udara muncul seorang bintang penolong yang telah menyelamatkan jiwanya.

Setelah rasa kagetnya hilang, dia melihat penolongnya  adalah seorang pemuda yang berwajah amat tampan, tergetar keras pedangnya, sambil menjura katanya kemudian:

"Atas pertolongan anda, budi kebaikan ini tak akan kulupakan untak selamanya"

Kemudian agak tersipu-sipu dia kembali kearah barak sebelah barat....

Suma Thian yu yang berada dibawah panggungpun merasa sangat terkejut setelah menyaksikan kemunculan pemuda sastrawan itu, tanpa terasa gumamnya:

"Mengapa dia pun bisa muncul disini? Jangan-jangan dia khusus datang kemari untuk mengejarku?"

Si pelayan yang mendengar gumaman ini segera menimbrung dengan rasa tercengang:

"Kek koan, apa kau bilang? Dia mengejarmu? Apakah kau kenal dengan dirinya?" Suma Thian yu menggelengkan kepalanya sambil membungkam dalam seribu bahasa, maka pelayan itupun tidak bertanya lagi.

Ternyata orang yang berada diatas panggung sekarang adalah Chin Siau, tampak dia berdiri disitu dengan amat gagahnya.

Dengan dandanannya sebagai seorang pelajar ditambah  pula dengan tingkah lakunya yang halus dan teratur, siapa   pun tak akan menyangka bahwa pemuda selembut ini memiliki kepandaian silat tinggi.

Akan tetapi kenyataan telah terbentang didepan mata, cukup dari gerakan tubuhnya saja, setiap orang sudah dibuat kagum setengah mati.

Yaa, siapakah diantara mereka yang hadir sekarang dapat melakukan gerakan macam ini?

It tim tojin yang menyaksikan penampilan pemuda tersebut membuat daging gemuk yang sudah hampir berada dimulut terlepas kembali, jadi naik darah, bagaimana mungkin dia bisa tahan membiarkan hal semacam itu terjadi?

Dengan suara yang menyeramkan dia lantas membentak: "Bocah muda, kau terlalu suka mencampuri urusan orang   lain, kau harus tahu, banyak mencampuri urusan orang hanya akan menimbul kan bencana kematian bagi diri sendiri, Toaya

menasehati kepadamu lebih baik janganlah mengorbankan diri demi seorang wanita, terlalu besar kerugian mu itu "

Chin Siau bersikap dingin dan kaku, setelah mendengar ucapan mana, sahutnya hambar:

"Bukankah tujuan mendirikan panggung lui tay ini untuk saling menguji kepandaian?" Tapi bagaimanakah kenyataannya? Totiang berusaha untuk membinasakan lawanmu, apakah beginikah peraturan dari di dirikannya panggung lui tay?"

"Kurang ajar, darimana kau bisa tahu jika toaya bermaksud hendak membinasakan dia?" bentak It tim totiang dengan gusar.

Chin Siau mendengus dingin. "Hmmm! Sudah lama kukagumi kelihayan dari ilmu pedang aliran Mao san pay, sungguh beruntung aku bisa menyaksikan sendiri, hal ini, apabila totiang tidak menampik, tolong berilah sedikit petunjuk kepadaku sehingga maksud hatiku dapat terpenuhi"

Begitu ucapan tersebut diutarakan, para hadirin berbisikbisik memperbincangkan kejadian ini.

Sang pelayan pun berkata pula sambil menghela napas: "Mungkin sastrawan itu terkena penyakit kurang beres

pikiran nya, apa dia sudah bosan hidup sehingga pingin mencari kematian bagi diri sendiri? Mau berguru mah boleh saja, tapi jangan sembarangan macam dia itu"

Suma Thian yu tertawa terbahak-kahak. "Haaah...haahh...hei pelayan, bagaimana kalau kita

bertaruh? Aku tebak pemuda itu pasti dapat menangkan pertarungan ini"

"Boleh boleh saja, cuma aku tak ingin merebut keuntungan dari mu kek koan, aku lihat kita tak usah bertaruh saja nanti kalau aku menang, orang akan menuduhku membohongimu!" Sekali lagi Suma Thian yu tertawa terbahak-bahak.

"Haah... haah... haaah... asal aku senang siapa yang dapat menghalanginya?"

Kemudian sambil memperlihatkan jari tangannya, dia berseru:

"Bagaimana kalau bertaruh lima tahil perak saja?" Kali ini sang pelayan yang tertawa tergelak.

"Haaahh... haaahh... haaahh.... lima tahil perak? Sepuluh kali lipat lebih pun aku berani, kek koan, bagi kalian yang berduit, lima tahil bukan seberapa, tapi kalau ingin kalahpun harus kalah dengan puas, jika tahu sudah pasti akan kalah tapi tetap bertaruh, itu mah namanya..."

"Sudahlah, jangan banyak berbicara lagi, cepat kau lihat!"

Sementara itu It tim tojin sudah mengangkat pedangnya sambil bersiap sedia melakukan serangan, wajahnya menyeringai seram, sekulum senyuman angkuh menghiasi bibirnya, kemudian pedang itu digerakan kedepan, nampaknya seperti melamban tapi sesungguhnya mengandung suatu perubahan yang luar biasa.

Sebagaimana diketahui, Chin Siau belum lama turun gunung, sedikit sekali jago persilatan yang mengenali dirinya, oleh karena itu baik jagoan di barak sebelah timur maupun yang berada disebelah barat merasa kuatir juga bagi keselamatan jiwanya.

Padahal tujuan Chin Siau sejak turun gunung adalah angkat nama dan menggetarkan dunia perrsilatan.

Oleh sebab itu dia bersikap amat tenang meski menyaksikan It tim tojin mengerakkan pedangnya, ia sama sekali tak berkutik, serunya sambil tertawa dingin.

"Totiang, maaf kalau aku akan berbicara takabur, sekarang aku hendak merebut tusuk konde mu itu"

It tim totiang membentak gusar, pergelangan tangannya segera diputar lalu melancarkan sebuah tusukan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, umpatnya:

"Bocah keparat, kau kelewat kurang ajar!" "Hmmmm...hmmmm... buktikan saja kekurang ajaran ku

ini!" jengek Chin Siau sambil tertawa sinis.

Begitu habis berkata, cahaya tajam berkelebat lewat dari punggungnya, kemudian setelah cahaya pedang berputar ditengah gelak tertawa nyaring Chin Siau telah mundur kembali ke belekang.

It tim totiang hanya merasakan pangdangannya menjadi kabur, lalu pihak lawan sudah mundur kembali. Sesudah agak tertegun, ia lantas membentak gusar:

"Bocah keparst, kau ketakutan? Jangan kabur dulu, agar di kemudian hari jangan suka mencampuri urusan orang lain lagi!"

Chin Siau segera mendonggakkan kepalanya lalu tertawa terbahak-bahak.

"Haaah...haah...haaah.. totiang, kau suka bergurau, lihat saja dulu rambutmu!" Mendengar ucapan mana, It tim totiang segera memeriksa ikatan rambutnya, siapa tahu begitu tersentuh, rambutnya segera terurai berantakan....

Gelak tertawa yang sangat ramai dengan cepat meledak

dan memecahkan keheningan, sebagian diantaranya ada yang mengumpat:

"Dasar tosu bau yang tak tahu malu!"

Suma Thian yu berpaling kearah pelayan itu lalu tegurnya pula sambil tertawa:

"Bagaimana? Mengaku kalah saja, serahkan lima tahilmu!"

Tidak bisa, menang kalah toh belum ketahuan, kejadian ini tidak bisa masuk hitungan" seru sang pelayan mendongkol.

"Kalau begitu, mari kita saksikan kejadian selanjutnya!"

Tiba-tiba dari atas panggung terdengar suara bentakan marah dari It tim totiang:

"Aku akan beradu jiwa denganmu!"

Pedangnya langsung dibacok kemuka secara garang, jurus serangan dari Mao san kiam hoat turut dikembangkan pula melancarkan serangkaian serangan gencar.

Menghadapi kekalapan orang, kembali Chin Siau tertawa tergelak:

"Haaah...haaah... kau tahu diri, tampaknya aku harus membuat mu malu, hati-hati dengan jubah pendetamu !"

Bersama dengan selesainya ucapan itu, kembali cahaya takam menyambar lewat, tahu-tahu jubah pendeta yang dikenakan It tim tojin telah robek menjadi dua bagian.

Sorak sorai berkumandang lagi memecahkan keheningan.

It tim totiang sangat penasaran, kejadian yang menimpanya berulang kali membuatnya semakin panas hati, ia mulai berkaok-kaok macam anjing menyalak, kemudian secara ganas mengayunkan pedangnya berulang kali.

"Sreet! sreet! sreet! secara beruntun dia melepaskan serangan berantai.

Amat sayang serangan itu tak berhasil mengenai sasarannya, bahkan menyentuh ujung rambut orang pun tak mampu, sebaliknya justru bertambah marah lagi. "Totiang!" sambil tertawa Chin Siau lantas bersrru, "Bagaimanah kalau kau ganti dulu jubahmu sebelum kita melanjutkan pertarungan ini? Kesannya aku telah menangkan kau kalau keadaan seperti ini dibiarkan berlangsung lebih lanjut"

Sejak keluar dari kandungan ibunya, belum pernah It tim tojin mendapat hinaan seperti ini, tak heran kalau amarahnya meledak-ledak, tubuh berikut pedangnya segera menerjang kembali kearah Chin Siau.

Serta merta Chin Siau mengegos kesamping setelah melihat orang itu menerkam macam anjing gila, kemudian pedangnya diputar dan mengetuk bahu tosu itu dengan gagang pedangnya.

Tak ampun lagi It tim totiang menjerit ke-sakitan, tubuhnya segera roboh terjengkang dan tak sanggup berkutik lagi.

Dengan demikian Chin Siau berhasil meraih kemenangan, suatu kemenangan yang diperoleh dengan santai, gembira dan tidak usah mengucurkan setitik keringat pun.

Langsung saja Suma Thian yu menyodorkan tangannya kehadapan pelayan penginapan itu sambil berseru:

"Mana uangnya, lima tahil perak persis, setengah pun tak boleh kurang!"

Padahal gaji pelayan itu sebulan belum mencapai enam tahil, menyaksikan Suma Thian yu menyodorkan tangannya menagih janji, dengan bermuram durja, terpaksa merogoh kedalam sakunya dan mengeluarkan lima tahul perak.

Sembari diserahkan ke tangan orang, dia mengeluh: "Huuuh....dasar lagi sial, ditambah lagi tosu bau itu cuma

gentong nasi yang tak becus, huuuh.... tahu kalau dia tak mampus, aku tak akan menjagoi dia!"

Suma Thian yu tertawa terbahak-bahak, tanpa sungkan diambilnya uang tersebut, kemudian pikirnya sambil tertawa geli:

"Inilah pelajaran baginya kalau banyak mulut, akan ku lihat lain kali dia berani banyak bacok lagi  atau tidak " Sementara itu, dengan robohnya It tim tojin dari atas panggung, dari barak sebelah timur segera melompat naik seorang nenek berambut putih.

Nenek ini berusia enam puluh tahun tua renta dengan wajah yang peyot, pelan-pelan dia menghamniri It tim tojin lalu membimbingnya mundur kebarak sebelah timur, setelah itu sambil menghampiri Chin Siau katanya:

"Engkoh cilik, kepandaianmu sungguh hebat, lo nio ingin meminta pelajaran darimu"

Chin Siau cukup berhati-hati, walaupun ia tidak melihat nenek itu membawa senjata, namun dari sorot matanya yang tajam bagaikan sembilu ia tahu kalau nenek tersebut merupakan seorang jagoan yang berilmu sangat tinggi.

Terkesiap juga hatinya menghadapi tantangan itu, buru-buru sehutnya dengan cepat:

"Permintaanmu pasti akan kuturuti, tolong tanya kau ingin bertarung dengan pedang ataukah "

"Tentu saja bertarung dengan pedang!" "Tapi kau "

"Kau tak usah kuatir seru nenek berambut putih itu sambil tertawa.

Sembari berkata, dia lantas mengambil pedang milik It tim tojin dari atas tanah, kemudian ujarnya:

"Bukankah ini pedang?"

"Bolehkah aku tahu siapa nama mu?"

Nenek berambut putih itu tertawa terbahak-bahak. "Haah... haah... haaa... lo nio tak punya nama, tapi aku

berdiam bukit Ci san, orang-orang menyebutku sebagai Jian jiu lo sat (iblis wanita bertangan seribu)"

Agak tertegun Chin Siau sesudah mendengar nama tersebut, tanpa terasa serunya:

"Oooh, rupanya kau adalah satu di antara Ci san su mo (empat iblis dadi bukit Ci san) si iblis wanita bertangan seribu, sudah lama kukagumi nama besarmu, sungguh beruntung kita dapat bersua pada hari ini" Setelah mengetahui kalau nenek berambut putih itu adalah iblis wanita bertangan seribu Siau Bwee ci, hatinya malahan terasa tenang, sebab gurunya pernah berkata, asal dia dapat mengalahkan satu satu saja diantara empat iblis bukit Ci san maka namanya akan tersohor dengan cepat.

Sementara dia masih termenung, Jin jiu lo sat Siau Bwee ci telah berkata sambil tertawa dingin:

"Tak usah berkerut kening, selama hidup lo nio paling benci dengan manusia yang belum apa-apa sudah minta ampun, lebih baik kita tentukan menang kalah diujung senjata"

"Silakan!" sahut Chin Siau cepat.

Kemudian ia pejamkan matanya rapat-rapat sambil berdiri seenaknya sendiri, pedangnya diluruskan ke depan dan siap menunggu serangan dari musuh.

Melihat musuhnya berdiri sambil memejam kan mata, Jian jiu lo sat Siau Bwee ci menganggap kejadian ini sebagai sikap memandang rendah musuh terhadap dirinya, membara amarah didalam dadanya, dengan gusar bentaknya keraskeras:

"Lihat serangan!"

Dengan jurus Wan hong tiau yang (burung hong menghadap matahari) dia tusuk tubuh Chin Siau.

Menghadapi datangnya ancaman tersebut, chin Siau bersikap tenang, ia menunggu sampaipedang musuh hampir menempelditubuhnya, kemudian baru mengegos ke samping untuk meloloskan diri dari ancaman tersebut.

Sementara itu, pelayan penginapan yang berada dibawah panggung jadi mendongkol sekali melihat sikap jumawa Chin Siau, langsung umpatnya:

"Bajingan ini sungguh takabur, mana berkelahi sambil memejamkan mata.... haah....! Mampus baru rasa..."

"Bagaimana kalau kita bertaruh lagi?" tiba-tiba kata Suma Thian yu sambil tertawa.

"Bagus sekali!" sorak sang pelayan dengan gembira, "bagaimanah kalau kali ini kita bertaruh sepuluh tahil?" "Sepuluh tahil?" Suma thian yu menjulurkan lidahnya sambil membuat muka setan, kemudian sambil tertawa getir terusnya, "aahh, aku jadi sungkan, bila kau sampai kalah lagi kan berabe jadinya?"

"Aaah, kalau cuma sepuluh tahil mah bukan apa-apa bagiku" seru pelayan itu sambil mencoba meyakinkan lawan taruhannya.

Sementara itu pertarungan diatas panggung lui tay telah berlangsung dengan sengitnya, Ci san su mo sudah lama termashur, mereka pernah menggetarkan sungai telaga semenjak empat puluh tahun berselang, kendatipun, pada akhirnya dibikin keok oleh "Put Gho cu, namun kekalahan mana tidak mempengaruhi pamor mereka dimata umat persilatan lainnya.

Dengan mengandalkan sebilah pedang, dia betul-betul memperlihatkan kelihayannya, dimara serangannya dilancarkan, angin serangan segera menderu-deru.

Dengan waktu singkat seluruh panggung lui tay tersebut telah dilapisi oleh hawa pedang yang amat tebal.

Tak selang berapa saat kemudian, yang terlihat ditengah arena tinggal dua gulung cahaya putih yang sebentar kekiri sebentar ke kanan, sebentar ke atas sebentar lagi ke bawah, angin serangan yang menderu-deru membuat keadaan sungguh menegangkan.

Terbelalak mata para hadirin yang ikut menyaksikan jalannya pertarungan itu, saking terpesonanya mereka sampai melongo, untuk sesaat mereka tak dapat membedakan mana yang Jian jiu lo sat dan mana yang Chin Siau.

Diantara sekian banyak penonton, si pelayan penginapan itu yang terhitung paling tegang, sepuluh tahil perak bukan suatu jumlah yang kecil bagi pandangannya.

Tiba-tiba Suma Thian yu menyodorkan kembali tangannya ke hadapan pelayan itu:

Dengan gugup sang pelayan segera berseru:
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kitab Pusaka Jilid 22"

Post a Comment

close