coba

Kemelut Di Cakrabuana Jilid 10

Mode Malam
Tapi bagaimana dengan ucapan yang ketiga yang sepertinya Nyimas Yuning jadi mandah menerima perjodohan ini?

Ah, ini hanya ucapan seorang anak yang tak mau menolak keinginan orang tua saja. Dan kalau pun Nyimas Yuning menerima perjodohan ini, hal ini bukan untuk dirinya tapi untuk orangtuanya semata. Dan kalau benar begitu, maka jelas Purbajaya tak mau. Bukan begitu caranya seorang pria dan wanita menempuh perjalanan sebagai suami-istri. Tapi benar pulakah gadis itu tak mencintai Purbajaya?

Ada sepasang mata jernih tapi dengan sorot yang amat sayu. Hati dan perasaan Purbajaya terguncang dan ada getar berahi meresap ke dadanya. Namun aneh, manakala getaran itu ditelusuri, getaran tak diakuinya sebagai getaran.

Nyimas Yuning Purnama bisa jadi benar tak sepenuhnya mencintai Purbajaya. Tapi bagaimana dengan dirinya sendiri? Apakah Purbajaya merasakan kalau dia mencintai gadis itu? Ah, aku pun harus "sama" mengaku kalau aku pun "tidak" mencintainya, pikir Purbajaya. Aku takut dengan yang namanya cinta sebab cinta selalu membawa nestapa, katanya di dalam hatinya.

Ya, betapa menyakitkan cinta itu. Aditia tersiksa batinnya sebab selama dia melihat Purbajaya berduaan dengan Nyimas Yuning rasa bencinya bergolak memecah dadanya. Betapa tidak nyaman perasaan hati Raden Ranggasena. Setiap saat dia harus berseteru dengan Purbajaya karena selalu kalah bertarung dalam memperebutkan perhatian Nyimas Waningyun. Lantas, Purbajaya sendiri pun memendam kesedihan yang dalam ketika perasaan cintanya kepada Nyimas Waningyun begitu saja dirampas oleh Raden Yudakara.

Sungguh tak berperasaan hati pemuda bangsawan itu. Purbajaya mengeluh dan meminta tolong kepadanya, agar ikut mememikirkan perasaan cintanya kepada Nyimas Waningyun. Namun yang terjadi belakangan, malah Raden Yudakara sendiri yang mempersunting gadis itu.  Betapa sakitnya punya kekasih direbut orang. Betapa sakitnya. Oh, betapa sakitnya! Jadi amat beralasan bila Aditia membenci Purbajaya habis-habisan. Sungguh bisa dimengerti bila Raden Ranggasena dari Carbon begitu memusuhinya. Sementara Purbajaya sendiri, tidak ingin punya musuh dan tidak ingin memiliki dendam hanya karena urusan cinta-kasih. Itulah sebabnya, sesedih apa pun karena cinta, Purbajaya tak mau terikat oleh yang namanya cinta.

Ketika suatu malam sebelum berangkat tugas, baik di Carbon mau pun di Sumedanglarang, Purbajaya selalu dilepas oleh tatapan mata indah seorang gadis. Baik Nyimas Waningyun mau pun Nyimas Yuning Purnama, keduanya sama-sama melepas Purbajaya dengan menyembunyikan sebuah perasaan berat bernama cinta. Namun Purbajaya mencoba menulikan telinga dan membutakan mata, agar langkahnya tidak terhambat dan agar wajahnya tak berpaling ke belakang untuk menguak kenangan. Segala masalah dilewatkan begitu saja, hanya menghasilkan hilangnya dendan dan benci di hati. Itulah sebabnya, Purbajaya sanggup mengikuti ke mana Raden Yudakara pergi. Tanpa perasaan dendam di hati, maka penyelidikan bisa berjalan dengan lancar. Paling tidak, Purbajaya bisa mencari kebenaran tanpa memperhitungkan kepentingan pribadi.

Itu pula sebabnya, berhari-hari Purbajaya bersama Raden Yudakara, tidak secuil pun dia bertanya perihal Nyimas Waningyun. Dia tak ingin tahu, mengapa pemuda bangsawan yang "dititipi amanat" malah memakan isi kebun yang musti dijaganya. Purbajaya tak bertanya sebab kalau bertanya hanya akan menguak luka lama saja. Satu-satunya kepentingan Purbajaya mengikuti Raden Yudakara, hanyalah untuk menyelidiki misteri yang menyelimuti pemuda bangsawan itu.

***

ADA satu masalah lagi yang jadi teka-teki hati Purbajaya. Kematian pemuda Wista membuat hatinya penasaran. Ketika jasad pemuda itu mau dia kuburkan, di leher mayat Wista terdapat luka memar. Ini hanya menandakan, pemuda itu tewas karena dibunuh orang. Ada orang membunuh Wista dengan sebuah pukulan telak di leher. Siapa yang membunuh pemuda itu?

Aditia memang menuduh Purbajaya yang bunuh Wista hanya karena alasan dialah yang tidurnya dekat dengan Wista. Namun Purbajaya pun bisa menuduh kalau Aditialah yang bunuh Wista dan tanggungjawabnya ditimpakan kepada Purbajaya.

Purbajaya bergidik sendiri kalau dugaannya sampai sejauh itu. Benarkah Aditia yang bunuh Wista?

Hal ini memang amat memungkinkan. Aditia mungkin marah kepada Wista yang mulai akrab dengan Purbajaya, padahal Aditia punya keinginan semua teman-temannya memusuhi Purbajaya. Bisa saja kebencian Aditia kepada Wista semakin berlipat setelah Wista kerapkali menyalahkan tindakan Aditia yang dianggapnya ceroboh dan sebaliknya jadi memuji-muji Purbajaya karena Wista banyak menerima bantuan.

Menurut perkiraan Purbajaya, Aditia punya orang yang bisa dikambinghitamkan dalam upaya melenyapkan nyawa Wista, yaitu dirinya. Waktu itu Wista banyak mengomel kepada Purbajaya dan kemudian Purbajaya balik membalas dengan omelan pula karena Wista manja dan cengeng. Maka "pertengkaran" ini digunakan Aditia sebagai peluang dalam membunuh Wista sebab kelak yang akan dituduhnya adalah Purbajaya. Oleh sebab itu, siang harinya setelah Wista mati, Purbajaya langsung dituduh sebagai pembunuh Wista.

Akan halnya Yaksa yang akhirnya dibunuh Aditia, mungkin pemuda ini pun akhirnya jadi sasaran kemarahan Aditia karena ragu-ragu dan bimbang saat diperintah untuk balik membunuh Purbajaya. Apalagi kemarahan Aditia semakin memuncak ketika Yaksa malah balik menuding kalau Aditia mungkin pembunuh sebenarnya. Aditia marah merasa dikhianati oleh kedua orang temannya, padahal menurut hemat dia, kedua orang temannya musti bantu dia dalam membenci Purbajaya habis-habisan.

Kalau benar Aditia membunuh dua temannya, maka jelaslah sudah, alasan utamanya adalah kecewa karena sikap dua temannya yang plinplan dalam memusuhi Purbajaya. Baik Wista mau pun Yaksa dianggapnya sudah tak mendukung lagi dan ini amat tak disukai Aditia.

Namun benar atau tidak sangkaan ini, yang jelas, peristiwa ini telah menyeret Purbajaya ke jurang kesulitan. Bagaimana tak begitu, secara tak sengaja dia telah terlibat pembunuhan. Aditia telah terbunuh hanya karena Purbajaya tak bisa menahan emosi. Bagaimana kelak dia musti mempertanggungjawabkan perkara ini kepada Ki Dita, kepada Ki Bagus Sura, bahkan kepada penguasa Sumedanglarang? Semuanya akan menuntut dia dan mungkin akan menghukumnya.

Purbajaya jadi susah untuk menemui mereka sebab Purbajaya tak punya apa yang musti jadi bahan yang bisa menjelaskannya. Ki Dita pasti akan marah besar dan akan mudah saja menuding kalau ketiga muridnya dia yang bunuh sebab selama ini antara ketiga orang muridnya dengan Purbajaya tidak punya kecocokan. Ki Bagus Sura memang benar tak menyukai ketiga orang murid Ki Dita. Namun dalam menghadapi urusan ini, orang tua itu akan menderita kesulitan dalam membela Purbajaya. Barangkali dia pun akan ikut terseret oleh masalah ini mengingat antara Ki Bagus Sura dengan para orangtua ketiga orang muda itu tidak pernah akur pula.

Hubungan Ki Bagus Sura dengan ketiga orangtua anak muda yang tewas itu akan semakin memburuk jua. Jelas, urusan ini akan membuat posisi Ki Bagus Sura menjadi terganggu.

Buruk, memang buruk. Dan ini terjadi hanya karena Purbajaya tak bisa menahan diri. Memang benar kata Paman Jayaratu, orang cepat marah hanya akan merugikan dunia.

Ah ... Kalau saja aku tak bunuh Aditia, keluhnya.

Tidak! Aku tak bunuh dia, bantah hatinya lagi. Paling tidak, aku tak bermaksud membunuhnya. Yang membuat dia terbunuh karena keberingasannya saja, bantah hati Purbajaya lagi. Ya, sebab kalau pun dia tak bunuh Aditia, urusan belum tentu beres. Aditia akan tetap bertahan pada fitnahnya dan akan tetap menuduh Purbajaya sebagai pembunuh Wista. Mungkin kematian Yaksa pun akan ditimpakan kepadanya dengan alasan bahwa cekcoknya Yaksa dengan Aditia karena memperkarakan Purbajaya.

"Ah ... Aku tak bisa kembali ke Sumedanglarang ... " keluh Purbajaya.

Dan ingat Sumedanglarang jadi ingat Nyimas Yuning Purnama. Hatinya kembali menjadi sedih. Sudah semakin jelas kini kalau dirinya tak mungkin bertemu lagi dengan gadis bermata sayu itu. Atau paling tidak, dia sudah tak mungkin bisa melaksanakan apa yang jadi harapan Ki Bagus Sura agar Purbajaya mau merawat dan melindungi kehidupan gadis itu.

"Aku tak bisa berbuat apa-apa ... " keluhnya lagi berkali-kali.

Yang bisa dia lakukan kini hanyalah ikut ke mana Raden Yudakara pergi. Mungkin ini menyebalkan sebab harus selalu berdekatan dengan orang yang tidak dia sukai. Mungkin ini membuatnya muak sebab harus selalu bersama-sama dengan orang yang selamanya harus dia curigai.

Terus-terusan mencurigai seseorang bagi Purbajaya merupakan sebuah siksaan. Namun suka atau tidak suka, pemuda pesolek yang romantis atau bahkan gila perempuan ini harus terus dikuntit. Pertama karena pertalian amanat Ki Bagus Sura agar terus menyelidiki Raden Yudakara kalau surat daun lontar milik negara tidak bisa diselamatkan dan kedua karena memang Purbajaya kini di bawah tekanan pemuda ini.

Ya, halus atau tidak ucapan Raden Yudakara, maksudnya tetap satu, bahwa pemuda itu mengisyaratkan agar Purbajaya ikut dia. Perbuatan Purbajaya yang membunuh Aditia secara tak sengaja, dijadikannya sebuah tekanan agar Purbajaya tetap berada di samping Raden Yudakara.

Purbajaya tak tahu, mengapa pemuda aneh itu tidak mau melepaskannya. Apa yang diharapkan Raden Yudakara darinya? Padahal dia tahu, berdekatan satu sama lain tidak saling cocok. Raden Yudakara selalu banyak bicara, sementara Purbajaya tidak. Raden Yudakara semberono dan gila wanita, sedang Purbajaya selalu bertindak hati-hati dalam hal apa pun, termasuk urusan cinta.

Sama sekali tidak ada kecocokan. Tapi mengapa Raden Yudakara selalu ingin dekat dengannya? Mungkinkah benar pemuda bangsawan ini membutuhkan tenaga Purbajaya untuk melakukan penyusupan ke Pajajaran dengan mengandalkan keakhlian dirinya sebagaipuhawang (akhli kelautan) atau hanya karena ada tekanan dari pihak luar agar Raden Yudakara "menjaga" Purbajaya?

Purbajaya ingat, Pangeran Arya Damar pun sama seperti begitu "memerlukan"nya dan dia harus ikut misi penyusupan ke Pajajaran. Benar-benarkah amat diperlukannya, sementara Paman Jayaratu sendiri menekankan agar misi yang dianggap gila ini dibatalkan saja?

Segalanya masih misteri baginya. Namun justru agar misteri ini bisa terungkap, maka Purbajaya mau tak mau musti ikut ke mana Raden Yudakara pergi. Dengan perkataan lain, biarkan dirinya dimanfaatkan oleh pemuda aneh ini sehingga dia bisa tahu, misi apa yang sebenarnya tengah mereka lakukan.

Satu misteri telah bisa ditelusuri sekali pun masih samar-samar. Raden Yudakara ternyata selalu menguntit ke mana pasukan siluman bergerak.

Melihat hal ini, Purbajaya mencoba menarik kesimpulan. Pertama, pemuda itu berusaha menguntit jejak pasukan siluman karena sama merasa merasa penasaran kepada kemisteriusan pasukan itu. Dan kesimpulan yang kedua, Raden Yudakara pun sama menginginkan surat daun lontar itu. Bila kesimpulan kedua yang benar, maka bisa dipastikan, Raden Yudakara sudah tahu kalau surat daun lontar itu isinya membahayakan kedudukannya. Tentu saja bila dilihat sepintas, baik Purbajaya mau pun Raden Yudakara sepertinya punya keinginan yang sama yaitu ingin merebut surat daun lontar yang kini dikuasai oleh Pasukan Siluman Nyi Rambut Kasih. Namun motif dari keduanya tentu jauh berbeda. Purbajaya ingin surat daun lontar yang dikirimkan Kangjeng Pangeran Santri dari Sumedanglarang harus sampai ke tangan Kangjeng Sunan Parung di Karatuan Talaga. Sementara Raden Yudakara malah punya tujuan sebaliknya. Surat daun lontar tidak boleh sampai. Ini hanya perkiraanperkiraan semata sebab hal sebenarnya belum diketahui persis dan baru bisa diketahui bila Purbajaya terus mengikuti dan meneliti tindak-tanduk pemuda aneh ini.

Yang jelas, baik Purbajaya mau pun Raden Yudakara sekarang ini sama-sama tengah menguntit pasukan siluman secara diam-diam tapi kalau surat daun lontar lepas dari genggaman pasukan misterius itu, maka giliran Purbajaya dan Raden Yudakaralah yang bersaing memperebutkannya.

***

PERJALANAN kedua orang itu akhirnya tiba di persimpangan jalan pedati. Jalan yang lurus ke selatan akan mengarah ke Gunung Cakrabuana dan yang ke timur akan menuju Karatuan Talaga.

Purbajaya jadi terkenang kepada peristiwa sepuluh bulan atau setahun yang silam. Waktu itu pun Purbajaya melakukan perjalanan menuju kaki Gunung Cakrabuana. Bedanya, dulu lewat timur melalui Karatuan Rajagaluh sementara sekarang datang dari sebelah utara. Dulu berangkat dari Carbon, sekarang datang dari wilayah Ciguling (ibu kota Karatuan Sumedanglarang).

Purbajaya pun jadi terkenang akan gurunya. Ingin sekali dia naik ke puncak dan menemui Paman Jayaratu. Barangkali Purbajaya akan memaksa agar dirinya diterima orang tua itu dan tetap tinggal bersamanya hingga akhir hayat.

Kalau ingat ini, Purbajaya merasa kalau Paman Jayaratu bertindak tak adil. Dengan alasan masih muda, Purbajaya diperintahkan melakukan pengembaraan agar banyak menerima pahitgetirnya pengalaman hidup, sementara Paman Jayaratu yang sudah tua tinggal menyepi di tempat sunyi dan mengasingkan diri dari kemelut dunia.

Ya, ini tak adil. Mengapa orang tua boleh menjauhkan diri dari kemelut sementara dirinya yang masih muda malah "sengaja" disuruh mendekatkan diri kepada berbagai permasalahan dunia? Apakah anak muda tidak sah menjadi manusia kalau belum merasakan pahit-getirnya kehidupan? Purbajaya ingin bahagia, tetapi mengapa harus melalui kepahitan dulu?

Padahal yang dimaksud kebahagiaan oleh Purbajaya tidak banyak. Dia tak ingin jadi orang terkenal, tak ingin jabatan atau pun kekayaan. Yang dia inginkan adalah hidup yang tentram. Dan ketentraman baginya adalah bila bisa menjauhkan diri dari berbagai permasalahan dunia, menjauhkan diri dari perbedaan pendapat dan menjauhkan diri dari persaingan hidup. Selama bersama Paman Jayaratu di wilayah Carbon, hal itu sudah pernah dirasakan. Purbajaya tak pernah punya masalah sebab Paman Jayaratu tidak pernah memberinya masalah. Masalah mulai hadir ke hadapannya setelah dia banyak berjumpa dengan orang lain yang punya kehendak lain dan pandangan hidup berbeda. Maka di sanalah kemelut terjadi dan di sanalah ketentraman hidupnya terganggu. Jadi menurutnya, Paman Jayaratu kejam karena telah menjauhkan dirinya sehingga Purbajaya terlontar ke kehidupan ramai yang begitu banyak ragamnya dan amat memusingkannya.

Menurut kata hatinya, pendapat Paman Jayaratu itu salah. Orang tua itu mengatakan bahwa nilai kehidupan yang sempurna adalah bila memiliki wawasan dan pengalaman yang luas. Itu salah. Menurut Purbajaya, pengetahuan dan pengalaman hanya menambah kesulitan belaka. Karena punya pengetahuan jadi punya keinginan. Dan karena punya pengalaman jadi punya penderitaan. Padahal selama bersama Paman Jayaratu, dia tak punya keinginan. O, Paman Jayaratu lupa, hanya karena manusia punya keinginan maka akan berhadapan dengan kesulitan dan penderitaan.

Sekarang, mengunjungi Paman Jayaratu rasanya mustahil. Raden Yudakara tidak akan mengajaknya ke puncak. Bagi pemuda bangsawan itu, puncak Cakrabuana baginya adalah mimpi buruk. Betapa tidak, dia yang bertugas memerangi Ki Darma malah sembunyi manakala terjadi pertempuran antara pasukan Carbon dan pasukan Pajajaran. Betapa memalukan ini. Dan agar serasa tak diingatkan kepada peristiwa ini, maka bisa ditebak kalau pemuda bangsawan ini tidak berniat singgah di Cakrabuana.

Nama Paman Jayaratu dan Ki Darma bagi Raden Yudakara bukanlah nama yang boleh diakrabi. Pemuda itu tak akan cocok untuk bergaul dengan kedua orang tua bijaksana itu. Lagi pula, tujuan Raden Yudakara adalah menguntit ke mana pasukan siluman bergerak. Kalau yang dikuntitnya menuju wilayah Cakrabuana, barangkali baru dia mau.

Dan kenyataannya, yang dikuntit tidak menuju ke wilayah gunung, melainkan lurus ke timur, sepertinya mau menuju ke Bantarujeg atau ke Talaga. Tapi benarkah mereka mau menuju ke sana?

Entah ini perjalanan yang menguntungkan atau tidak bagi Purbajaya. Bisa disebut menguntungkan sebab Talaga sudah tak begitu jauh lagi. Dengan demikian, kepada penguasa Talaga Purbajaya bisa segera menyampaikan hal-hal yang mencurigakan yang dikerjakan Raden Yudakara. Namun juga bisa disebut tidak menguntungkan sebab sampai dengan hari ini, Purbajaya belum bisa merebut kembali surat daun lontar dari genggaman pasukan siluman.

Tanpa bukti surat ini, berita apa pun sulit dipercaya kebenarannya. Apalagi Purbajaya tidak memiliki identitas apa-apa yang bisa diperlihatkan kepada penguasa Talaga. Orang Talaga takkan berani begitu saja ikut mencurigai Raden Yudakara yang jadi kepercayaan Carbon selama ini.

Dan waktu semakin sempit, sementara kesempatan untuk mendapatkan kembali surat daun lontar itu belum juga ada.

Malam itu mereka berdua kemalaman di sebuah hutan. Untuk menjaga diri dari bahaya binatang buas, Raden Yudakara mengajak Purbajaya tidur di dahan pohon. Masing-masing memilih dahan pohon yang sekiranya enak dan nyaman untuk dibuat tempat tidur. Purbajaya sengaja memilih dahan yang jaraknya tak terlalu dekat dengan dahan yang dipilih oleh Raden Yudakara. Sudah diputuskan di dalam hatinya, malam ini Purbajaya akan menyelinap pergi dengan tujuan mencari pasukan siluman seorang diri. Purbajaya menduga, bila Raden Yudakara mengajaknya beristirahat, pertanda kelompok yang tengah dibuntutinya berada di dekat-dekat situ. Purbajaya sudah memperhitungkan, di saat pemuda itu tertidur pulas, maka di situlah dia akan meninggalkannya.

Tengah malam di saat cuaca dingin berkabut, sudah terdengar dengkur keras pemuda bangsawan itu. Purbajaya sebetulnya sedikit iri, orang seperti itu oleh Tuhan diberi kemudahan untuk menikmati tidur dalam keadaan apa pun. Kata orang, yang mudah tidur dan tidurnya mendengkur bebas hanya menandakan bahwa orang itu tidak punya permasalahan berat dalam hidupnya. Sementara Purbajaya sendiri kalau mau tidur susahnya bukan main. Mata mengantuk tetapi pikiran jalan. Yang dipikirkan kebanyakan yanag ruwet-ruwet saja. Nanti kalau capek dan kalau malam hampir berganti pagi, baru bisa tidur saking lelahnya.

Malam ini, Purbajaya pun tidak tidur barang sekejap. Makanya dia tahu persis kalau Raden Yudakara sudah mendengkur aman. Oleh sebab itu, dia pun segera melorot turun dari dahan dengan amat hati-hati. Begitu hati-hatinya sampai-sampai upaya menuruni batang pohon itu demikian makan waktu lama. Purbajaya tak ingin ada gerakan walau sedikit. Jangan ada binatang serangga yang tengah bunyi mendadak berhenti karena gerakan asing. Kalau serangga malam berhenti berbunyi, Raden Yudakara pasti curiga.

Tapi walau dengan susah-payah, akhirnya Purbajaya bisa juga melorot turun. Dan sambil tak mengurangi kehati-hatian, Purbajaya meninggalkan tempat itu.Pergi ke mana? Tentu pergi ke daerah agak tinggi dari hutan itu. Kendati malam terbungkus kabut, namun samar-samar Purbajaya sebenarnya sudah sejak tadi bisa melihat adanya sebuah cahaya. Samar-samar dan amat tipis sekali. Tapi kalau diamati dengan baik, cahaya yang bagaikan setitik kunangkunang itu bisa diyakini sebagai cahaya api. Kunang-kunang akan bercahaya kuning kehijauhijauan sementara cahaya api kemerah-merahan. Purbajaya menduga itu adalah cahaya api unggun.

Memasang api unggun di saat malam gelap berkabut dengan cuaca begitu dingin memang amat cocok. Namun, siapakah yang memasang api di tengah hutan begini? Tadi siang Purbajaya meneliti kalau di sini tidak terdapat perkampungan penduduk, tidak juga ada petani yang menjaga huma. Satu-satunya perkiraan Purbajaya, yang memasang api unggun di malam berkabut ini tentulah anggota pasukan siluman.

Dengan perasaan tegang, Purbajaya mencoba mendekati tempat itu. Tapi untuk mendekatinya musti merambah bukit kecil sebab cahaya itu sepertinya datang dari sebuah lereng bukit. Dan ketika dia mendekati daerah itu, semakin nyata kalau di sana ada orang tengah menyalakan api unggun.

Purbajaya berpikir kalau anggota pasukan siluman ini amat melecehkannya. Betapa tidak. Gerakan mereka selalu dilakukan secara misterius dan main sembunyi. Datang dan pergi tak pernah orang tahu kapan dan di mana. Namun kali ini mereka tak memperlihatkan kebiasaan itu. Menyalakan api unggun di tengah malam hanya menandakan bahwa mereka tak takut siapa pun.

Namun kendati lawan demikian tangguh, Purbajaya akan tetap berusaha. Keputusannya sudah bulat untuk merebut kembali kotak surat daun lontar yang sempat dirampas pasukan siluman. Dia harus melaksanakan amanat Ki Bagus Sura yang tetap menginginkan keberadaan Raden Yudakara yang penuh misteri terkuak dan diberitakan kepada penguasa Karatuan Talaga.

Kini Purbajaya semakin mendekati cahaya api. Dan dari jarak pandang tak begitu jauh lagi, Purbajaya melihat bahwa di sebuah hamparan tanah miring perbukitan belasan orang tengah berkumpul mengelilingi api unggun. Ya, melihat jenis pakaian mereka yang menggunakan kain serba hitam dengan ikat kepala hitam hampir menutupi jidatnya, bisa dipastikan kalau mereka adalah anggota Pasukan Siluman Nyi Rambut Kasih.

Api menjilati kayu bakar dan semakin lama semakin membuat cahaya semakin benderang juga. Kini bunga api malah beterbangan ke udara karena api sengaja disulut semakin besar, sepertinya mereka sengaja hendak membikin suasana jadi terang agar yang tengah mengintip bisa leluasa melihat mereka.

Apakah ada orang yang ditunggu? Rasanya benar, sebab walau pun mereka duduk berkumpul, namun cara duduknya seperti membentuk kuda-kuda, siap melakukan gerakan sesuatu yang mendadak.

"Ah, yang datang bukan pimpinan kita. Tapi hai,Ki Silah (Saudara) yang sembunyi di semak, silakan hadir ke sini untuk sama-sama menghangatkan tubuh," kata seseorang dari anggota pasukan siluman.

Purbajaya amat terkejut. Dia mau bangun dari tempat sembunyinya sambil celingukan ke sana ke mari. Dengan pipi terasa panas karena malu diketahui musuh, Purbajaya akan segera berdiri, ketika tiba-tiba dari rimbunan pohon di arah sana keburu ada orang lain yang berdiri dan kemudian meloncat mendekati tempat di mana anggota pasukan siluman berada.

Purbajaya bernapas lega. Ternyata yang kepergok ngintip bukan dirinya, melainkan orang lain. Hanya saja Purbajaya jadi terkejut sebab yang barusan loncat adalah Ki Sudireja. Dia heran, orang tua itu begitu tangguh tapi ternyata ceroboh sehingga diketahui lawan kalau dia tengah mengintip.

"Lho, malah Ki Sudireja yang datang. Tak apa. Mari ke sini. Malam sungguh dingin dan membuat tulang serasa ngilu," kata orang dari pasukan siluman.

"Jangan banyak basa-basi. Aku hanya inginkan anak bernama Pragola kembali ke tanganku," kata Ki Sudireja tak menerima sambutan hangat.

"Ah, anak itu masih terlalu kecil. Anak usia tujuh tahun jangan kau bawa-bawa ke dalam urusanakal-akalan (politik)," jawab anggota pasukan siluman sambil menambah kayu bakar di bara api.

"Mau dibawa ke mana anak itu, aku yang bertanggungjawab, sebab akulah yang tengah dan akan membesarkannya," jawab Ki Sudireja kaku.

"Sikap mau menang sendiri seperti ini amat berbahaya. Apa kau tak merasa khawatir kalau anak itu kelak selamanya berada dalam mara-bahaya?" "Justru bila anak itu berada di dalam kungkungan kalian maka anak itu akan berada di dalam bahaya. Kalian hidup dalam kurungan mimpi. Entah setan apa yang mempengaruhi kalian sehingga kalian tak menghargai hidup masa kini," kata Ki Sudireja tandas.

"Jangan mengolok-olok. Semua orang punya keyakinan dan semua orang hanya beranggapan, keyakinan dirinyalah yang benar dan baik."

"Memang benar. Tapi sejauh mana keyakinan itu punya arti? Benarkah selama ini engkau mendapatkanwangsit (amanat) dari Nyi Rambut Kasih? Siapa di antara kalian yang pernah bertemu dengan putri Sindangkasih yang telah menghilang puluhan tahun silam itu?" tanya Ki Sudireja.

Tidak ada yang menjawab.

"Kalian telah diracuni oleh jalan pikiran sendiri," cerca Ki Sudireja lagi. "Tidak. Kami punya pemimpin."
"Kalau begitu, pimpinan kaliannlah yang meracuni!"

"Diam! Kau tak punya hak menilai pemimpin kami. Orang yang jauh dan tak mengenal seseorang tak mungkin bisa menilai baik buruknya seseorang itu. Sudahlah, nyawamu di tanagan kami. Hanya karena pemimpin tak menginginkan kau mati maka nasibmu baik hingga kini. Tempo hari kami kehilangan tiga orang anggota hanya karena pemimpin kami tak menyukai kami menganiayamu. Sekarang pergilah sebelum pemimpin kami berubah pikiran!" kata seorang anggota pasukan siluman bertubuh tinggi besar berkulit hitam legam dan yang rupanya pemimpin dari mereka."Pergilah, kami jamin anak itu selamat tak kurang suatu apa," katanya lagi.

"Di mana anak itu?"

"Di wilayah Sindangkasih."

"Aku ingin bertemu pimpinan kalian!"

"Tidak bisa. Cepatlah pergi, kami tak mau ehilangan nyawa anggota kami lagi. Hanya satu kesalahan saja, maka pemimpin kami tak tanggung-tanggung membunuh kami seperti tempo hari!" kata si tinggi besar dan itu membuat hati Purbajaya terkejut setengah mati. 

***

"PERGILAH cepat!" untuk ke sekian kalinya anggota pasukan siluman mengusir Ki Sudireja.

Dan rupanya orang tua setengah baya itu pun tahu diri. Sesudah mendengus sebentar, Ki Sudireja meloncat pergi dan menghilang di kegelapan malam.

Purbajaya pun sebetulnya setuju Ki Sudireja pergi sebab pengalaman tempo hari ketika dia melawan anggota pasukan siluman, terlihat amat payah dikeroyok dengan ketat oleh lawan. Dan kalau saja Raden Yudakara tidak menolongnya dengan menyambit tiga orang anggota pasukan siluman, mudah diduga kalau Ki Sudireja akan kalah dan bahkan mungkin tewas.

Tapi ingat sampai di sini, wajah Purbajaya kembali pucat saking terkejutnya. Tapi anggota pasukan siluman berkata kalau pemimpin mereka telah menewaskan tiga orang dari mereka karena pemimpin tak setuju Ki Sudireja dianiaya. Sudah gilakah jalan pikiran Purbajaya kalau kali ini dia menduga Raden Yudakara adalah pemimpin anggota Pasukan Siluman Nyi Rambut Kasih?

"Hai, engkau yang jongkok di semak, cepat ke sini!" tiba-tiba terdengar teriakan dari si tinggi besar dan amat mengejutkan Purbajaya.

Kembali Purbajaya celingukan. Mudah-mudahan saja kejadiannya seperti tadi, yaitu orangorang itu bukan memanggil dirinya. Tapi setelah ditunggu lama, tak ada orang lain muncul dari semak. Dengan demikian, kini Purbajaya yakin kalau dirinyalah yang barusan dipanggil.

Dengan perlahan Purbajaya keluar dari semak. Semua orang menatap dirinya dengan penuh ejekan.

"Sebetulnya sejak tadi engkau aku panggil tapi yang datang malah orang lain. Kenapa dari tadi kau ngintip kami?" tanya si tinggi besar berkacak pinggang.

Purbajaya tersipu malu. Jadi benar mereka orang hebat. Ketika dia baru datang pun sebetulnya mereka sudah tahu kehadirannya. Itulah sebabnya api unggun semakin dinyalakana. Namun barangkali Ki Sudireja tadi salah menyangka. Disangkanya, kedatangan dirinya telah diketahui lawan sehingga dia langsung terjun memperlihatkan diri.

"Dia dari kelompok Ki Bagus Sura!" teriak salah seorang dari mereka menudingkan telunjuknya.

"Ya, aku pun tahu. Tapi yang aku bingungkan, mengapa pula pemuda bodoh ini menguntit kita?" tanya si tinggi besar masih berkacak pinggang.

"Kalian pasti sudah tahu maksud kedatanganku!"jawab Purbajaya tandas. Urat-urat di tubuhnya menegang, siap mengahadapi hal-hal yang tak diinginkan.

"Bahkan kami tak tahu. Engkau bersusah-payah menguntit kami, ada apakah?" tanya si tinggi besar mengerutkan dahi.

"Serahkan peti surat daun lontar milik Ki Bagus Sura!" tangan kanan Purbajaya menyodorkan tangan kanan ke depan seolah-olah menyuruh agar barang yang dimintanya segera dikembalikan padanya.

"Heh, berani-beraninya. Engkau tak punya kepentingan khusus mengenai ini. Pergilah sana!" telunjuk si tinggi besar mengarah ke tempat jauh sepertinya memang menyuruh Purbajaya pergi jauh dan jangan mengganggu mereka.

"Secara pribadi mungkin benar aku tak punya kepentingan. Namun aku adalah anggota misi Sumedanglarang, harus menyelamatkan benda yang jadi tugas kami untuk dijaga agar tiba dengan selamat kepada orang yang berhak kami serahkan. Cepat serahkan surat itu!" bentak Purbajaya namun hanya disambut gelak ketawa mereka

Purbajaya marah dan terhina, orang bicara serius malah diketawain. Sepertinya Purbajaya hanyalah anak-anak di mata mereka.

"Kalian mungkin orang hebat dan aku tak bisa kalahkan kalian. Tapi tugas harus aku kerjakan. Mati dalam tugas bukan sesuatu yang dosa buatku!" kata Purbajaya. Dan serentak dengan itu Purbajaya melakukan serangan tajam. Serangan ini tak main-main. Dia mengeluarkan seluruh tenaga dan kemampuannya karena tahu lawan orang-orang hebat semua. Namun hanaya satu kali gerakann saja, semua serangan bisa digagalkan si tinggi besar.

"Engkau pemberani dan setia kepada tugas. Kami butuh orang sepertimu, maka bergabunglah, anak muda," kata si tinggi besar masih memainkan jurus-jurus menghindar karena Purbajaya tetap melakukan serangan.

"Keluarkan surat daun lontar dan serahkan padaku!" teriak Purbajaya tak  menggubris tawaran si tinggi besar.

Si tinggi besar tertawa. Lantas dariendong (kantung kain) yang dari tadi tersandang di bahunya, dia mengeluarkan sesuatu dan diangkatnya tinggi-tinggi.

"Inikah yang engkau maksud, anak muda?"

Purbajaya menatap susunan daun lontar yang tersusun rapi dan diikat benang sutra warna merah. Dia memang tak tahu, apa benda itu yang dimaksud sebab sebelumnya dia pun tak pernah melihatnya.

"Isinya tidak akan kau mengerti kecuali hanya mengacaukan keadaan saja," kata si tinggi besar masih mengacungkan susunan daun lontar tinggi-tinggi.

"Kumengerti atau tidak, kewajibanku hanya menyelamatkan benda itu! Cepat serahkan!" kata Purbajaya sambil kembali menyerang dan untuk ke sekian kalinya serangannya lolos begitu saja karena gerakan hindar si tinggi besar demikian gesit dan ringan.

"Sudah kuangkat tinggi-tinggi benda ini. Kewajibanmu ringan saja, yaitu hanya menggapainya. Mari anak muda, semua orang perlu berjuang untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya," kata si tinggi besar menantang.

Ini adalah tantangan terbuka. Mereka tak mau memberikan benda itu secara cuma-cuma kecuali dengan sebuah ujian. Purbajaya mengerti, anggota pasukan siluman terus mengujinya dan tidak berniat mencelakakan dirinya. Dan ini amat menguntungkan Purbajaya sebab dengan demikian dia bisa leluasa melakukan serangan tanpa khawatir dirinya terluka oleh serangan balik dari pihak lawan.

Melihat benda yang diincarnya diangkat tinggi-tinggi, maka Purbajaya segera meloncat bagaikan macan hendak menangkap mangsa. Tangan kanan Purbajaya segera mencakar ke depan mengarah wajah lawan sementara kaki kiri lurus menendang menyerang ulu hati. Namun lawan sepertinya sudah tahu kalau gerakan yang diperagakan Purbajaya hanyalah sebuah pancingan. Sebab gerkan ap punyang dilakukan, pada intinya tetap mengincar benda yang diangkat tinggi-tinggi. Oleh sebab itu, ketika serangan kaki kiri datang meluncur, tubuh lawan hanya mundur satu tindak. Dan selanjutnya dia balik menyerang tangan kanan Purbajaya melalui "patukan" tangan kirinya.

Purbajaya tak mau tangan kanannya diserang dengan totokan. Kalau totokan itu tepat mengarah urat nadi, maka bisa diduga tangan kanan Purbajaya akan mendadak lumpuh. Sebagai gantinya, tangan kanan dia tarik kembali dan tangan kiri menyorong ke depan dengan telapak tangan dibuka lebar. Namun demikian, serangan ini terpaksa harus ditarik kembali sebab tangan kiri si tinggi besar terus nyelonong dan berubah sebagai pukulan telak mengarah dada.

Purbajaya tak punya niat untuk menangkis serangan ini sebab dia tahu tenaga si tinggi besar amat bagus. Untuk itu dia harus menghindar dengan cara bersalto ke belakang beberapa kali dan jatuh di tempat agak jauh dengan kaki menapak lebih dahulu.

Purbajaya tak menghentikan gerakan. Maka ketika baru saja kakinya menginjak tanah, segera dia totolkan kembali untuk melesat ke depan dan mencoba merebut daun lontar.

Si tinggi besar seperti agak terkesima melihat gerakan Purbajaya ini. Biasanya bila orang baru saja bersalto tidak akan buru-buru membuat serangan baru sebab yang dia lakukan adalah memperbaiki kedudukan kakinya dulu. Namun yang dilakukan Purbajaya adalah lain dari kebiasaan. Itulah memang yang diajarkan Paman jayaratu, yaitu mencoba mengubah kebiasaan sehingga orang tak menduga.

Si tinggi besar yang terkejut tidak melakukan gaya hindar lagi, melainkan langsung memapaki serangan Purbajaya dengan serangan pula.

Untunglah, serangan lawan sudah diduga sebelumnya. Maka karena Purbajaya tetap tak mau mengadu tenaga, untuk kedua kalinya dia bersalto di udara. Kali ini putaran saltonya maju mengarah lawan dan Purbajaya mencoba bersalto melampaui tubuh lawan. Sambil demikian, tangan kanan Purbajaya melakukan gerakan dalam upaya merebut daun lontar di udara. Namun gerakan dan isi hati Purbajaya sudah ditebak lawan. Maka dengan entengnya si tinggi besar melengos ke samping dan tangkapan tangan purbajaya luput dari sasaran.

Purbajaya kecewa dan putus asa. Dia marah oleh kemampuannya yang terbatas. Padahal hanya dengan tangan kiri saja si tinggi besar demikian enaknya menghindar dan menyerang Purbajaya sebab tangan kanannya sejak tadi hanya mengacung ke udara memegang ikatan surat daun lontar.

Dalam keadaan terhina begini, Purbajaya jadi teringat gurunya, Paman Jayaratu. Orang tua ini dikenal sebagai bekas perwira Carbon yang handal, disegani baik oleh lawan mau pun oleh kawan. Sebagai bukti, Ki Darma saja yang dikenal hebat di Pajajaran, akhirnya tak memilih Paman Jayaratu sebagai seteru untuk selama-lamanya.

Kini kedua orang tua itu malah hidup damai di puncak Cakrabuana karena bila bermusuhan terus maka satu sama lain tak pernah saling mengalahkan. Yang menyedihkan dari semua ini, mengapa Purbajaya yang katanya murid terkasih Paman Jayaratu malah secuil pun tidak memiliki ilmu sehebat seperti gurunya?

Dan inilah akibatnya. Menghadapi lawan yang punya kepandaian, pemuda ini menjadi bulanbulanan. Kalau saja lawan bertindak kejam, maka sudah sejak tadi dia akan kalah.

Yang membuat Purbajaya menghargainya, biar pun lawan terkesan sombong namun sedikit pun dia tak bermaksud melukainya. Kendati Purbajaya dijadikan mainan seperti tikus dipermainkan kucing, namun sejauh ini tubuhnya selamat tak kurang suatu apa selain rasa malu yang menyesak di dada dan membuat wajahnya terasa panas saking jengkel dan malunya.

Ini adalah untuk yang kedua kalinya Purbajaya bertempur menghadapi anggota pasukan siluman. Dan melihat cara-cara mereka bertempur, sebetulnya mereka tidak memiliki jurusjurus keras dan kejam. Kalau saja baik Paman Ranu, Ki Bagus Sura mau pun Ki Dita mengalami luka, itu karena tingkat kepandaian mereka lebih rendah ketimbang kebolehan yang diperagakan anggota pasukan siluman.

Anggota pasukan siluman memang tidak kejam. Namun demikian, Purbajaya tidak perlu memberi hati kepada mereka. Apalagi perbutan mereka telah menimbulkan keresahan bagi yang lain.

Purbajaya ingin sekali menghentikan aksi-aksi mereka. Tapi apa daya, kemampuannya demikian rendah. Sekarang pun dia begitu susah-payah hanya untuk berusaha merebut sebuah benda yang diacung-acungkan dengan santainya oleh lawan dan tanpa lawan bermaksud menempurnya.

Untung sekali, ketika dia dijadikan mainan oleh anggota pasukan siluman, tiba-tiba muncul Raden Yudakara. Dengan kehadirannya, siapa tahu akan mengubah keadaan kendati di dalam hatinya teringat kembali akan kecurigaannya.

"Raden ... bantulah saya!" kata Purbajaya sedikit menguji dan meneliti apa yang akan dilakukan pemuda itu kelak. Namun sambil demikian, Purbajaya pun ada sedikit heran. Raden Yudakara yang tadi tidur mendengkur nyatanya secara cepat bisa menemukan tempat ini juga.

"Ada apa, Purba?" tanya pemuda itu mengerutkan dahi namun ada sedikit senyum di bibirnya.

"Tolonglah ... rebutlah ..." Dan kata-kata ini tak terselesaikan sebab hatinya pun jadi ingat akan kecurigaannya. Mana mungkin Raden Yudakara mau membantunya sementara Purbajaya menduga, pemuda ini pun punya kepentingan dengan surat daun lontar itu.

"Apa yang engkau inginkan dari orang-orang ini, Purba? Hai, coba kau perlihatkan padaku, benda apa yang barusan kau acung-acungkan itu?" tanya Raden Yudakara kepada si tinggi besar.

Dan sungguh menakjubkan, dengan serta-merta benda itu dilemparkan oleh si tinggi besar kepada Raden Yudakara yang menangkapnya dengan tenang. "Inikah yang engkau perlukan, Purba?" tanya Raden Yudakara. Dan ikatan surat daun lontar itu diangkatnya tinggi-tinggi, persis seperti si tinggi besar mempermainkan dirinya.

Serasa berhenti degup jantung Purbajaya karena rasa curiganya semakin kuat.

"Talaga sudah tak begitu jauh dari sini, sayang surat ini tidak akan pernah sampai, Purba ... " gumam Raden Yudakara. Dan dengan entengnya pemuda itu melemparkan ikatan surat daun lontar ke atas gundukan api unggun yang apinya kian membesar. Hanya dalam waktu tak begitu lama, surat yang diburu dan menimbulkan banyak korban ini berubah menjadi abu.

Untuk sejenak Purbajaya termangu. Namun sesudah itu rasa terkejutnya muncul kembali. Benar dugaannya, Raden Yudakara punya hubungan dekat dengan anggota pasukan siluman. Dan, Ya Tuhan, hubungan itu demikian dekatnya. Purbajaya ingat akan perkataan anggota pasukan siluman kepada Ki Sudireja bahwa tiga orang anngotanya tewas karena sang pemimpin tidak senang Ki Sudireja diganggu pasukan siluman. Sementara itu Purbajaya tahu persis bahwa yang membunuh tiga orang anggota pasukan siluman adalah Raden Yudakara.

"Saya tak menyangka, Radenlah yang mengendalikan semua ini ..." gumam Purbaya mengusap wajahnya sendiri. Nada suara Purbajaya terdengar bergetar. Getaran itu terjadi karena didorong oleh perasaan kesal, marah dan juga terkejut.

Sejak dulu dia memang telah merasa kalau pemuda bangsawan itu banyak diselimuti kabut misteri. Tindak-tanduk Raden Yudakara selalu terlihat ganjil dan terkesan banyak memendam rahasia.

"Terlalu banyak memikirkan urusan orang lain tak ada gunanya bagimu. Bukankah dulu di puncak Cakrabuana aku pernah bilang ahwa urusan-urusan besar tak akan mampu dicerna oleh orang sekecil kamu? Tugasmu bukan berpikir, melainkan hanya mentaati saja," kata Raden Yudakara masih dengan senyum tipisnya.

Sakit rasanya dikatakan begini oleh Raden Yudakara. Serasa benar, dirinya tak ada harganya.

"Engkau tak bisa ke mana-mana, kecuali ikut bersamaku, Purba ..." kilah Raden Yudakara lagi.

"Mengapa Raden menahanku, padahal engkau barusan bilang kalau saya ini orang tak berarti?" kata Purbajaya setengah kesal.

"Bersamaku kelak engkau akan banyak membuka mata. Tentu, kau pun akan mendapatkan tahu lebih rinci lagi, siapa dirimu sebenarnya."

"Saya tahu kalau saya adalah anak penguasa wilayah Tanjungpura dan keluarga saya dibantai oleh pasukan Pangeran Arya Damar. Dengan demikian, saya tidak akan kembali lagi ke Carbon. Tak punya manfaatnya bagi saya mengabdi kepada orang yanag membunuh kedua orangtua saya!" kata Purbajaya dengan ketus.

"Kau tak bisa meninggalkan Carbon begitu saja, sebab kalau begeitu kau akan dikejar. Ingat, kau punya dosa. Di puncak Cakrabuana kau bersama Ki Jayaratu menempur empat perwira pembantu utama Pangeran Arya Damar. Kalau berita ini sampai ke Carbon, maka secara resmi kau akan dituding pengkhianat. Apa pun yang dilakukan pasukan itu di Cakrabuana, yang jelas itu adalah pasukan resmi yang dikirim pemerintah," kata Raden Yudakara lagi.

Purbajaya teringat lagi kejadian hampir setahun lalu. Betapa dia dan Paman Jayaratu menempur pasukan Carbon karena Paman Jayaratu tak setuju pasukan itu menyerang puncak Cakrabuana.

Ucapan Raden Yudakara benar, dia akan dicap pemberontak daan pengkhianat kalau berita ini sampai ke Carbon. Dan kalau urusan lama ini diungkit, hanya punya arti bahwa Raden Yudakara ingin menekan Purbajaya dengan kejadian setahun yang lalau itu.

"Saya tak mau dituding pengkhianat, namun saya pun tak mau mau ikut engkau, Raden ... " kata Purbajaya.

"Tidak bisa! Engkau harus ikut aku!" "Mengapa harus ikut engkau?"
"Karena kalau menolak kau akan kulaporkan sebagai pengkhianat. Sementara bila ikut aku, aku punya rencana besar di Pakuan. Dan itu semua perlu bantuanmu. Ingat, kau adalah keluarga bangsawan di Tanjungpura, wilayah Pajajaran."

"Terus terang saya muak dengan rencana-rencanamu, Raden. Apa yang engkau rencanakan, sepertinya hanya membuat kekacauan semata. Lihatlah Pasukan Siluman Nyi Rambut Kasih yang engkau ciptakan, betapa hanya menghasilkan keresahan di lingkungan persahabatan Sumedanglaranga dan Talaga. Saya tak mengerti, mengapa kau ciptakan suana seperti ini?" tanya Purbajaya tak habis mengerti.

"Hahaha! Dengarkan, anak muda ini mempertanyakan kehadiran kalian. Adakah di antara kalian yang ingin menjawabnya?" tanya Raden Yudakara menatap berkeliling.

"Kaimi adalah keturunan Karatuan Sindangkasih yang merasa simpati kepada kesedihan dan rasa sakit hati Kangjeng Nyimas Rambut Kasih. Putri itu adalah orang yang terasing, terdesak dan terhempas dari dunianya. Mengapa kami sebagai keturunannya tidak merasa sakit hati?" kata seseorang dari anggota pasukan siluman Nyi Rambut Kasih lantang. Aneh sekali, kendati lantang tapi nada bicaranya seperti menahan tangis dan haru. Bahkan akhirnya semua anggota menangis sesenggukan.

Purbajaya merasa bulu romanya berdiri. Demikian fanatiknya mereka terhadap junjungannya yang bernama Nyimas Rambut Kasih. Padahal melihat usia mereka yang paling tinggi ratarata sekitar tigapuluh tahun, mereka takkan pernah mengenal tokoh Karatuan Sindangkasih itu secara dekat, tokh Nyimas Rambut Kasih telah menghilang tak tentu rimbanya lebih dari enampuluh tahun silam.

"Junjungan kalian puluhan tahun silam, benar memimpin Karatuan Sindangkasih. Namun setelah Nagri Carbon berkembang, beliau menyadari sepenuhnya bahwa kehidupan baru mulai muncul untuk menggantikan kehidupan lama. Beliau rela melepaskan zaman yang dimilikinya untuk diberikannya kepada zaman baru," kata Purbajaya mencoba menyadarkan anggota pasukan siluman. "Kangjeng Putri adalah wanita yang arif. Beliau tidak meminta apa yang beliau mau dan tidak menolak apa yang beliau tak suka. Segala sesuatu terpulang kepada kita ayang memperlakukannya. Apakah kita meminta sesuatu kepada beliau sesuai dengan kelayakan atau tidak? Itulah yang kami sakitkan. Orang melakukan perubahan tanpa menilai apakah orang lain suka atau tidak akan perubahan itu," kata lagi anggota pasukan siluman.

"Sudah, hentikan pertikaian. Sebab yang akan kita kerjakan kelak, bukan mengira-ngira perihal jalan pikiran junjungan kalian, melainkan untuk merencanakan bagaiamana perjalanan hidup kita kelak menjadi lebih baik," Raden Yudakara menengahi."Sekarang kalian boleh pergi. Tunggulah aku di tempat biasa ..." Raden Yudakara berkata sambil membalikkan tubuh membelakangi anggota pasukan siluman. Seperti sudah mengerti melihat sikap ini, sepertinya benar, ini adalah perintah untuk segera angkat kaki. Buktinya tanpa bertanya itu-ini, semua anggota pasukan segera berloncatan meninggalkan tempat ini.

Tinggallah Raden Yudakara berdua dengan Purbajaya.

"Engkau mempengaruhi mereka agar punya keyakinan seperti itu?" tanya Purbajaya. "Hahahaha. Engkau cukup pandai, Purba ... "
"Tidak perlu sambil ketawa. Tapi kau terangkanlah Raden, mengapa hal itu musti dilakukan?" tanya Purbajaya namun dengan nada masih ketus.

"Masih ingatkah ucapan para pembantu Pangeran Arya Damar kepada Ki Jayaratu di puncak Cakrabuana?"

"Apa itu?" Purbajaya mengingat-ingat.

"Bahwa untuk melahirkan pahlawan maka ciptakanlah kemelut dan engkau pun akan muncul!" kata Raden Yudakara.

"Apa keuntungan Raden menciptakan kemelut di sini?"

"Panageran Arya Damar butuh permasalahan agar punya alasan menggempur Pajajaran. Maka aku ciptakan Pasukan Nyi Rambut Kasih, dibentuk dari orang-orang Sindangkasih yang tetap rindu akan masa lalu. Orang-orang yang berkutat dengan masa lalu, pasti akan membenci masa kini.

Orang-orang Sindangkasih pasti membenci Carbon, Sumedanglarang atau Talaga dan akan berpihak kepada Pajajaran. Inilah sebuah masalah. Tidak salahkah bukan, kalau aku bertindak pula sebagai pahlawan dalam menyelamatkan situasi?" tutur Raden Yudakara dengan senyum dikulum namun membuat Purbajaya semakin sebal mendengarnya.

"Engkau dan Pangeran Arya Damara setali tiga uang!" teriak Purbajaya jengkel dan berjingkat meninggalkan tempat itu.

Namaun belum lagi beranjak, Purbajaya sudah dijegal Raden Yudakara. Tangan kiri Purbajaya ditarik keras sehingga tubuh Purbajaya terjengkang ke belakang. Sebelum tubuhnya jatuh, dia segera salto. Akibatnya, pegangan tangan Raden Yudakara lepas karena terpelintir gerakan salto. Purbajaya beberapa kali bersalto agar segera menjauh dari pemuda jahat itu. Namun Raden Yudakara terus mengejar, bahkan kini mengirimkan pukulan-pukulan keras.

Dan akhirnya terjadilah perkelahian seru.

Sudah lama Purbajaya ingin menguji sejauh mana kepandaian pemuda yang banyak memiliki akal licik ini. Dulu pertanding lari ke puncak Cakrabuana dan rasanya Purbajaya bisa memenangkan lomba itu. Namun adu tenaga seperti itu tidak menjamin bahwa dalam pertempuran pun Purbajaya bakal unggul. Bahkan Purbajaya musti berhati-hatai. Kalau Raden Yudakara sanggup memimpin pasukan siluman yang semua anggotanya hebat-hebat, barangkali pemuda bangsawan itu kini semakin memiliki kepandaian hebat. Purbajaya ingat, dari jarak cukup jauh, Raden Yudakara sanggup melukai tiga orang anggota pasukan siluman hanya dengan lemparan batu kerikil.

Purbajaya melawan Raden Yudakara dengan semangat tinggi dan hati tenang. Dia tidak khawatir Raden Yudakara akan mencelakai atau bahakan membunuhnya. Keyakinan ini didasarkan pada perkataan pemuda bangsawan itu sendiri yang amat memerlukan agar Purbajaya tetap berada di sampingnya. Dengan demikian, keadaan ini akan menjamin keselamatan dirinya.

Purbajaya lebih dahulu berinisiatif melakukan serangan. Berbagai jurus dan tipu daya yang pernah dipelajari dari Paman Jayaratu dia kerahkan untuk melumpuhkan Raden Yudakara. Untuk sementara, pemuda bangsawan itu kelabakan. Mungkin dia tak menduga kalau Purbajaya langsung menyerangnya dengan mati-matian. Namun sesudah pertarungan berlangsung cukup lama, akhirnya Raden Yudakara bisa mengimbangi permainan. Bahakan semakin pertarungan berlangsung, suasana jadi semakin berbalik, giliran Purbajaya semakain terdesak. Mungkin setelah beberapa bertanding, Raden Yudakara bisa mempelajari jurus-jurus yang dipergunakan Purbajaya.

Yang membuat Purbajaya tidak menjadi kalah dalam pertarungan ini, karena Raden Yudakara memang tidak berniat mencelakakannya. Ini sesuai dengan dugaan Purbajaya bahwa pemuda bangsawan itu amat memerlukan dirinya.

Namun demikian, Purbajaya tak mau berterimakasih karena "kebaikan" ini. Dia sudah tak mau lagi ikut Raden Yudakara. Purbajaya tetap berpendapat kalau pemuda bangsawan ini tindak-tanduknya penuh misteri dan membahayakan. Sama bahayanya dengan Pangeran Arya Damar, atau bahkan juga lebih. Ini karena Raden Yudakara pekerjaannya sebagai mata-mata dan punya dua sisi seperti apa kata Paman Jayaratu. Pemuda ini sekali waktu berada di Carbon namun sekali waktu berada di Pajajaran. Siapa yang benar-benar tahu bahwa dia bekerja untuk kepentingan Carbon? Bagaimana kalau yang terjadi itu malah sebaliknya?

Tanda-tanda ke arah itu memang belum didapat. Namun demikian Purbajaya mendapatkan kalau gerakan-gerakan yang dibuat oleh pemuda ini bisa membahayakan keberadaan Carbon. Sebagai contoh, Raden Yudakara telah menciptakan sebuah keresahan. Dia menghimpun orang dari Sindangkasih agar memiliki fanatisme kepada leluhurnya. Oleh Raden Yudakara diciptakanimage seolah-olah Nyimas Rambut Kasih, penguasa Karatuan Sindangkasih memendam rasa sakit hati kepada perubahan zaman yang dihembuskan oleh Carbon. Raden Yudakara telah membangkitkan rasa permusuhan orang Sindangkasih kepada Carbon dan sekutunya. Orang-orang yang tergabung ke dalam Pasukan Siluman Nyi Rambut Kasih, menjauhi Carbon dan mendekatkan diri kepada Pajajaran dan membuat kekacauan serta meresahkan masyarakat di wilayah kekuasaan Carbon. Dengan adanya situasi demikian, Raden Yudakara sepertinya berharap akan ada kebijakan lain dari penguasa Carbon dalam menangani "kekacauan yang ditimbulkan oleh sekelompok simpatisan kehidupan masa lalu".

Semakin resah keadaan semakin diharapkan adanya kebijakan baru dalam menindas lawan. Dan para penganut garis keras seperti Pangeran Arya Damar misalnya, akan punya peluang untuk memilih jalan keras dalam menguasai situasi. Banyak yang berlomba untuk menyelesaikan dan meredam situasi ini sebab bila berhasil tentu dia akan keluar sebagai pahlawan. Begitu kira-kira yanga dicita-citakan oleh Raden Yudakara.

Kendati surat daun lontar yang sedianya dikirim oleh penguasa Sumedanglarang untuk Kangjeng Sunan Parung di Talaga tidak pernah diketahui apa isinya, namaun Purbajaya bisa menduga, surat itu pasti memperbincangkan perihal ini. Orang-orang di Sumedanglarang tentu sudah mencium kegiatan Raden Yudakara yang dianggapnya membahayakan ketentraman.

Menduga ke arah itu, menyebabkan Purbajaya semakin sebal kepada pemuda bangsawan itu. Itulah sebabnya, hari ini dia bertekad melepaskan diri dari belenggu yang mengikatnya. Purbajaya sudah tak mau ikut Raden Yudakara, apa pun yang diamanatkan Paman Jayaratu.

Namun Purbajaya harus berjuang mati-matian untuk bisa melepas genggaman pemuda bangsawan ini.Raden Yudakara memang berilmu tinggi. Gerakannya cepat dan ganas. Jurusjurus yang dia keluarkan diarahkan untuk membunuh. Namun kalau saja Purbajaya sejauh ini tidak terluka, itu karena dugaannya tadi, yaitu Raden Yudakara membutuhkan Purbajaya.

Karena hal ini, maka pertempuran menjadi alot. Purbajaya tak bisa mengalahkan, namun Raden Yudakara sebaliknya tak mau melumpuhkan. Samapai matahari muncul dari timur dan kabut tebal mulai hilang, pertempuran tidak juga selesai.

"Berhentilah, engkau tak bisa mengalahkan aku!" teriak Raden Yudakara menangkis beberapa pukulan Purbajaya.

"Tapi kau pun tidak bisa membunuhku!" Purbajaya balas teriak. Keringat sudah bersimbah di seluruh tubuh.

"Ya. Karena itu, hentikanlah perlawananmu, sebab kita hanya akan menghabiskan tenaga siasia. Ingatlah, perjalanan kita masih jauh!" kata Raden Yudakara.

"Aku tidak akan ke mana-mana!" jawab Purbajaya sambil menjatuhkan diri saking lelahnya. "Tidak. Kau akan ke wilayah Pajajaran!"
"Tidak mau!"

"Coba sekali lagi, pilihlah hai manusia dungu," teriak Raden Yudakara dengan bertolak pinggang dan sepasang matanya menyorot tajam ke arah Purbajaya, "Bila kau pergi ke Pajajaraan, kau akan jadi manusia terhormat, sebaliknya bila kau tak ke mana-mana, hukumanlah ganjarannya. Kau akan dicap pemberontak dan pengkhianat. Itu adalah derajat paling rendah yanag terdapat pada diri manausia. Apa kau sanggup bertanggungjawab kepada gurumu?" sambung Raden Yudakara.

Purbajaya menatap tajam kepada Raden Yudakara.

"Sekali lagi kutegaskan, hidupmu tergantung padaku. Begitu pun derajatmu. Hanya aku yang tahu pengkhianatanmu di Cakrabuana. Jadi dengan amat mudah aku bisa mencampakkanmu. Namun sebaliknya, aku pun dengan mudah mengangkat derajatmu bila kau tetap ikut aku, sesuai yang diperintahkan Carbon."

Purbajaya menjadi bimbang mendengar perkataan Raden Yudakara ini. Kalau tadi dia bertekad memisahkan diri, kini malah timbul keraguan. Memang benar omongan pemuda bangsawan itu, posisi Purbajaya tergencet. Kalau dia memisahkan diri dari Raden Yudakara, semua orang akan mudah menuduhnya sebagai pengkhianat.

Tanpa dilaporkan perihal peristiwa di Cakrabuana pun, kalau Purbajaya tak ikut Raden Yudakara, ini sudah pengkhianatan sebab dianggapnya melanggar perintah negara. Kalau dia tetap menolak ikut Raden Yudakara, dia mungkin terlunta-lunta sebab tak mungkin kembali ke Carbon, Sumedanglarang atau ke mana pun. Pulang ke Sumedanglarang pasti akan dihadang pertanyaan mengenai tewasnya tiga calon ksatria itu. Kalau Ki Bagus Sura masih hidup, Purbajaya pasti tak tahu bagaimana musti bertanggungjawab. Amanat dan keinginan orang tua itu, tidak satu pun yang bisa dikerjakan dengan baik.

Satu-satunya jalan terbaik, tentu hanya ikut ke mana Raden Yudakara pergi. "Bagaiamana ...?" tanya Raden Yudakara.
Tanpa menjawab sepatah pun, Purbajaya bangun dari duduknya. Namaun demikian Raden Yudakara sepertinya mengerti akan pilihan Purbajaya. Buktinya dia segera berjalan duluan.

Dia yakin betul bahwa Purbajaya akan mengikutinya dari belakang.

***

DENGAN amat lesunya Purbajaya melangkah di belakang Raden Yudakara. Sementara pemuda bangsawan itu kelihatannya kalem-kalem saja. Dia sepertinya tak mau tahu atau purapura tak tahu kalau selama ini Purbajaya enggan ikut bersamanya. Raden Yudakara tak mau tahu kalau selama dalam perjalanan Purbajaya membisu seribu-bahasa.

Sementara itu, Raden Yudakara hahah-heheh selama di perjalanan. Sesekali terdengar bersenandung. Senandungnya memang merdu dan enak didengar kendati isi lantunannya Purbajaya tak suka.

Kalau tidak mendapatkan cahaya matahari

tidak apa cahaya rembulan pun

Kalau tidak ada cahaya rembulan tidak apa tanpa cahaya pun

Hidup susah dicaridan hidup mudah dicari yang susah kalau bertahan dengan kejujuran yang mudah kalau penuh keberanian
Bukan berpikir untuk hari esok tapi berpikirlah esok
sebab yang namanya hidup adalah hari ini!
"Hmm ... Tak bertanggungjawab!" Purbajaya mencemooh.

Dan Raden Yudakara menghentikan langkahnya sejenak. Lantunan nyanyiannya pun mendadak berhenti.

"Mengapa tak bertanggungjawab?" tanyanya melirik ke belakang.

"Orang yang hanya berpikir tentang hari ini saja dan sambil menolak kejujuran adalah kejahatan!" Purbajaya hanya bicara seperti kepada dirinya. Balas memandang kepada Raden Yudakara pun dia tidak.

0 Response to "Kemelut Di Cakrabuana Jilid 10"

Post a Comment