Kelelawar Hijau Jilid 23 (Tamat)

Mode Malam
Pada dasarnya dalam tubuh pemuda itu terdapat hawa murni bayi sakti, terdapat pula sari buah merah, cairan empedu naga sakti dan Tok Si- lip. semuanya merupakan benda mustika yang sulit diperoleh, hanya saja untuk sementara waktu benda2 tadi tidak berkasiat.

Kini setelah kesadarannya pulih maka benda-benda mustika itupun segera menunjukkan kasiatnya. sisa obat perangsang yang masih tertinggal dalam tubuhnya sama sekali tersapu habis,

Pertama-tama ia saksikan cu Li-yap yang terlentang dalam keadaan setengah telanjang, gadis itu masih berliuk- liuk seperti ular diatas tanah karena pengaruh obat perangsang. kemudian ia saksikan pula suma Ing sedang menindih diatas tubuh Pek-li Hiang yang kedua-duanya berada dalam keadaan telanjang bulat.

Bagaikan disambar geledek disiang hari belong pemuda itu tersentak kaget dan segera sadar kembali dari semua pengaruh menjerit didalam hati. "oooh.-.Thian habislah sudah Pek-li Hiang oooh adik Hiang sayang, kasihan kau akhirnya kau termakan oleh bajingan anjing itu, habislah sudah segala-galanya... Suma Ing kau bangsat terkutuk "

Ia tak mampu menahan rasa sesal dan kecewa yang berkecambuk dalam benaknya. ia benci pada diri sendiri, ia malu pada ketololan serta ketidak becusan sendiri, meskipun memiliki ilmu silat yang tinggi akan tetapi tak mampu untuk melindungi keselamatan dua orang istrinya yang tercinta.

Rintihan binal dan rangsangan napsu berahi yang memancar dari Pek-li Hiang kian menusuk pendengaran, sementara Suma ing menggesek dan menindih tubuh dara itu makin kalap. Menyaksikan kesemuanya itu Lam-kong Pak hanya bisa menekan rasa sakit hatinya belaka, ia merasa hatinya seperti di-iris2 dengan pisau tajam.

Lam-kong Pak berusaha tenangkan hati dan salurkan hawa murninya untuk membebaskan jalan darahnya yang tertotok. akan tetapi menghadapi peristiwa yang cukup menggusarkan hati itu perhatiannya tak mampu disatukan apalagi salurkan hawa murni untuk menerjang lepas pengaruh totokan orang.

Di-saat2 seperti itulah, sesosok bayangan manusia kembali berkelebat lewat dimulut gua, orang itu langsung menerjang kearah Suma ing dan menotok jalan darahnya.

Tanpa memberi perlawanan pemuda Suma roboh terjengkang keatas tanah dan tak berkutik lagi.

Sementara itu Pek-li Hiang sudah tetangsang hingga mencapai pada titik puncaknya, ia langsung bangkit berdiri dan menubruk kearah bayangan manusia yang baru muncul itu. Dengan cekatan orang itu berkelit kesamping, kemudian sambil tertawa ter-kekeh2 serunya:

"Budak ingusan, jenisku tak jauh berbeda dengan kau. punyaku juga tonjolan seperti punyamu..heehh...heehh...heebh.. sekalipun saat ini kau sangat butuhkan itu.. tapi sayang aku tak bisa memberikan apa yang kau butuhkan-.,"

SEKARANG Lam-kong Pak dapat melihat siapakah yang datang. diam2 ia hela napas panjang dan berpikir:

"Habislah sudah Kalau sampai perempuan cabul inipun muncul disini, ini berarti aku tak akan lolos dari bencana."

Ternyata bayangan manusia yang baru muncul bukan lain adalah Janda kawin tujuh kali Pui Kun- sementara itu sambil picingkan matanya ia melirik sekejap kearah dua orang gadis yang menggeletak ditanah kemudian sambil tertawa dingin katanya:

"Heeeh-heeeh-heeehh...Hakekatnya kalian memang budak2 goblok Yang masih berfungsi tidak kalian Cari, sebaliknya manusia bobrok yang sudah loyo kalian tubruk tolol benar2 amat tolol. Ehm nampaknya rejekiku hari ini luar biasa baiknya, malam ini aku akan makan nikmat. ayam jejaka haaah-haaahh-haaah..."

Sambil goyang pinggul ia maju menghampiri sianak muda itu, sebutir pil diambil dari saku dan dijejalkan kemulutnya ...

Tapi pada saat itulah kembali sesosok bayangan manusia menerjang masuk kedalam gua. Dengan cepat Pui Kun menyadari akan kahadiran tamu tak diundang itu, tiba-tiba ia berpaling.

Betapa terperanjatnya setelah ia tahu bahwa orang itu bukan lain adalah Kakek ombak menggulung, perempuan itu sadar kalau kepandaian silatnya masih bukan tandingan orang, maka sambil mundur dua langkah serunya.

"Hey setan tua, disini terdapat tiga orang perempuan dan seorang pria, aku rasa setelah ada dua orang gadis yang masih muda belia, tentunya kau tak akan tertarik pada diriku bukan? Nah, karena itu bagaimana kalau kita bagi hasil secara adil? Dua orang bocah perempuan itu kuberikan kepadamu, sedangkan Lam-kong Pak berikan kepadaku dan masing masing pihak tak akan mengganggu yang lain, tentunya setuju bukan-. .?"

Pada dasarnya Kakek ombak menggulung adalah seorang kakek cabul yang suka main2 perempuan- apalagi menyaksikan tubuh Pek-li Hiang yang telanjang bulat  dalam posisi siap bertempur, kontan saja napsu birahinya berkobar dalam dada. "Senjata"nya tak ampun segera menegang siap bekerja.

Akan tetapi diapun bukan manusia sembarangan, ia tak sudi menerima tawaran orang dengan begitu saja, dan soal yang terpenting ia tak tega hati kalau biarkan Janda kawin tujuh kali tetap bermesraan secara bebas. Maka sambil tertawa seram tiada hentinya ia berseru:

"Pui Kun. perkataanmu tak salah. Setelah tersedia dua orang gadis muda yang begitu cantik jelita dan lagi masih perawan, tentu saja aku tak akan tertarik oleh tubuhmu yang sudah kendor, tapi.. heehh...heehh.. heeh.. .sebelum bekerja. terpaksa aku harus bereskan dirimu lebih dahulu"

Janda kawin tujuh kali lebih terperanjat, ia mundur kearah Lam-kong Pak. sementara paras mukanya berubah hebat dan tubuhnya sangat gemetar.

"Heehh-heehh-heehh...rase tua" ejek Kakek ombak menggulung. "kalau tahu diri, alangkah baiknya kalau jadi seorang penurut,jangan beri perlawanan Kalau aku sudah menyelesaikan hajadku nanti maka kaupun akan kulepas, kesenanganmu tentu tak akan kuganggu"

Sebagai jago kawakan yang banyak pengalaman- sudah tentu Janda kawin tujuh kali tak mau menempuh bahaya, yaa kalau pihak lawan menepati janji dan beri kebebasan kepadanya, kalau tidak, kan berabe??

Walau pun begitu, diapun sadar bahwa kepandaian silatnya masih bukan tandingan orang, cepat ia mengundurkan diri kesamping Lam-kong Pak sedang dihati ia berpikir:

"Baiklah kalau toh kakek ombak menggulung bersikeras akan turun tangan atas diriku. terpaksa akupun akan bebaskan jalan darah Lam-kong Pak yang tertotok."

Dalam anggapannya bila Lam-kong Pak dibebaskan, maka keadaan jauh lebih menguntungkan dirinya. meskipun hasratnya menikmati ayam jejaka gagal total, akan tetapi asalkan gembeng iblis tua tersebut berhasil dipukul kabur, niscaya pemuda itu bersedia pula untuk mengampuni selembar jiwanya.

Dalam pada itu selangkah demi selangkah Kakek ombak menggulung telah maju kedepan, Janda kawin tujuh kali segera menggigit bibir, diam2 ia tepuk bebas jalan darah Lam-kong Pak yang tertotok.

Dipihak lain pemuda Lam-kong juga sudah menebak maksud hati Janda kawin tujuh kali, ia tahu perempuan itu mundur kesisinya tidak lain tidak bukan adalah hendak bebaskan jalan darahnya yang tertotok. karenanya begitu peredaran darah berjalan lancar, hawa murninya segera disalurkan mengelilingi seluruh badan. Sekalipun begitu ia masih tetap berbaring diatas tanah, ia pura2 tak bisa berkutik dan membiarkan musuhnya makin mendekat,

Sementara itu jarak antara kakek ombak menggulung dengan Janda kawin tujuh kali hanya terpaut dua langkah, secepat sambaran kilat ia lancarkan satu cengkeraman maut kedepan, Pui Kun menghindar kesamping sedang Lam- kong Pak loncat bangun dari atas tanah.

Walaupun gerak geriknya sangat cepat, akan tetapi berhubung jalan darahnya sudah tertotok agak lama, dan lagi peredaran darahpun baru berjalan lancar. maka gerakannya agak terlambat setindak.

Kakek ombak menggulung tampak terperanjat, kemudian cepat- cepat mundur beberapa langkah kesamping dan mendekati Suma ing-

Lam-kong Pak melirik sekejap kearah Pek-li Hiang berdua yang masih menggeletak di tanah, ia lihat napsu birahi yang berkobar ditubuh mereka telah pudar sekalipun masih tidak sadarkan diri akan tetapi keadaannya jauh mendingan, ia lantas gertak gigi dan berseru:

"Hey iblis tua,jangan harap kau bisa kabur dari gua pada malam ini "

Kakek ombak menggulung sendiripun tahu babwa kepandaian silatnya bukan tandingan lawan, apalagi masih ada Janda kawin tujuh kali yang belum diketahui akan berpihak kemana, biji matanya segera berputar melirik kesana kemari.

Sekarang Lam-kong Pak telah menghadang dimulut gua, itu berarti tak mudah lagi baginya untuk melarikan diri dari situ, Dalam keadaan terdesak, tiba2 iblis tua itu teringat kembali akan diri Suma ing yang tertotok jalan darahnya oleh Pui Kun, meskipun bajingan cilik itu sudah menghianati dirinya tapi saat ini Lam-kong Pak sangat membenci dirinya hingga merasuk ketulang sumsum, dengan cepat ia bertindak, jalan darab Suma ing dibebaskan.

Begitu jalan darahnya dibebaskan, Suma ing segera lompat bangun dari atas tanah, teriaknya.

"Sekarang kita tak usah jeri kepadanya lagi, dengan tenaga gabungan kita berdua rasanya masih cukup untuk menandingi bangsat itu "

"Hmm Bangsat terkutuk. kalau ingin coba silahkan maju"

Suma ing menyeringai seram, tiba2 ia berpaling kearah Janda kawin tujuh kali dan menegur.

"Hey Pui Kun, engkau berpihak siapa ?"

"Tentu saja berpihak pada Lam-kong Pak." jawab janda kawin tujuh kali sambil terkekeh-kekeh.

Dengan suara lantang Lam-kong Pak berkata:

"Pui Kun Kau tak usah kuatir, selamanya aku dapat membedakan mana budi mana dendam, walaupun perbuatanmu dimasa lampau cukup menyakitkan hati dan kejahatanmu pantas diganjar hukuman mati, akan tetapi kau telah selamatkan jiwaku, untuk itu akupun akan ampuni jiwamu..Nah pergilah sekarang dari sini"

"Huuuh.. tak usah berlagak mesra. ketahuilah Lam-kong Pak sangat mendendam kepadamu, rasa bencinya padamu sudah merasuk ketulang sumsum. tak nanti ia lepaskan dirimu" Janda kawin tujuh kali bukan manusia bedoh, sudah tentu diapun telah menduga sampai kesitu, ia percaya dengan perkataan dari Suma ing.

Hakikatnya Lam-kong Pak sendiri sama sekali tiada maksud untuk membinasakan perempuan cabul itu. walaupun ia pernah menaruh maksud cabul terhadapnya, bagaimanapun juga dialah yang bebaskan jalan darahnya yang tertotok dan itu berarti dia pula yang menyelamatkan dua orang gadis itu dari perkosaan-

"Baik Aku segera pergi."

Sementara Janda kawin tujuh kali Pui Kun kabur dari gua itu melewati samping sang pemuda, Lam-kong Pak segera kerahkan tenaga untuk menjaga segala kemungkinan yang tak diinginkan, pada saat itulah mendadak Kakek ombak menggulung membentak keras ber-sama2 Suma Ing mereka lancarkan sebuah pukulan dahsjat.

Lam-kong Pak berkelit kesamping, Suma Ing segera manfaatkan kesempatan itu se-baik2nya. dia  enjotkan badan dan kabur keluar dari gua itu....

Lam-kong Pak sangat mendendam atas perbuatan Suma ing. ia ingin sekali membunuh bangsat itu secara keji, meskipun begitu ia tak dapat mengejar lawannya karena pemuda itu kuatir Kalau Kakek ombak menggulung turun tangan terhadap dua orang gadis tersebut.

Baru saja ingatan itu berkelebat dalam benaknya. Kakek ombak menggulung membentak keras. sekuat tenaga dia lancarkan sebuah pukulan dahsyat lalu menerjang kearah dua orang gadis itu.

Lam-kong Pak bertindak cepat, ia bergerak maju kedepan untuk melindungi keselamatan gadis2 itu, Siapa tahu rupanya Kakek ombak menggulung sedang jalankan siasat suara ditimur memukul kebarat, baru saja Lam-kong Pak menggerakkan tubuhnya, ia sudah tertawa ter-bahak2 dan kabur keluar gua.

Gelak tertawanya yang amat nyaring amat menusuk perasaan si anak muda itu. ia merasakan hatinya sakit bagaikan di-sayat2 dengan pisau tajam. dipandangnya sekejap dua orang gadis itu, sekujur badan gemetar keras karena mendongkol.

Ia tahu bagaimanakah tabiat Pek-li Hiang, bila ia sadar dan mengetahui apa yang telah menimpa dirinya niscaya gadis itu akan bunuh diri. oleh sebab itu Lam-kong Pak berpendapat bahwa sebelum gadis itu sadar kembali maka mereka harus berpakaian kembali, sehingga kejadian itu bisa dikelabui.

Dengan perasaan gusar. marah, malu bercampur penasaran Lam-kong Pak mengenakan kembali pakaian dari dua orang gadis itu. kemudian menguruti pula jalan darahnya. Beberapa saat kemudian Pek-li Hiang dan cu Li- yap telah sadar kembali. Sianak muda itu segera berkata.

"Sungguh berbahaya apabila Janda kawin tujuh kali  tidak datang tepat pada waktunya jangan harap kita bisa hidup dalam keadaan selamat"

Secara ringkas diapun menceritakan apa yang telah terjadi, tentu saja adegan Pek-li Hiang yang ditindih dan dinodai Suma Ing telah dirahasiakan.

Mendengar cerita tersebut, betapa malunya dua orang gadis itu hingga mereka tundukkan kepala dengan muka merah padam, secara lapat2 mereka masih ingat betapa memalukannya perbuatan serta tingkah lakunya tadi, terutama sekali Pek-li Hiang. walaupun kesadarannya telah hilang akan tetapi lapat2 ia merasa ada seseorang telah menindih tubuhnya.

Dengan paras muka sedih dara itu melirik sekejap kearah Lam-kong Pak. sekuat tenaga ia berusaha untuk menahan lelehnya air mata, sambil pura2 berlagak seperti tak pernah terjadi sesuatu, ujarnya lirih. "Engkoh Pak, mari kita pulang."

"Engkoh Pak" seru Cu Li-yap pula, "apakah kami telah diperkosa bajingan itu?"

Lam-kong Pak merasa hatinya amat sakit bagaikan di- sayat2, tapi diluaran dia paksakan diri untuk tertawa.

"oooh... tidak Suma Ing walaupun orang pria, dalam kenyataan anu-nya sudah tidak berfungsi lagi. dia sudah impoten- Masa orang yang sudah impoten mampu melakukan perbuatan itu??"

Walaupun demikian- Pek-li Hiang tetap tertawa sedih. Karena ia merasa diantara belahan pahanya terdapat benda cairan yang lengket seperti lem. apakah cairan kental itu cairan yang keluar dari tubuhnya sendiri ataukah cairan itu adalah air mani dari Suma Ing, yang terang tubuhnya sudah ternoda, ia sudah tak suci lagi, dan tentu saja badan yang sudah kotor tak pantas untuk dipersembahkan kepada Lam- kong Pak-

Sayang Lam-kong Pak tidak menemukan perubahan wajahnya itu, ia mengira dua orang gadis itu sedang kikuk dan malu lantaran peristiwa tadi, maka diapun membungkam dalam seribu bahasa.

Ketika mereka bertiga tiba ditempat yang dijanjikan, tampaklah sepasang manusia jelek dari Hay-thian serta Loo Liang-jen telah menunggu disana. maka mereka pun berangkatlah kekota Lok-yang. Rupanya Sun Han Siang telah membeli sebuah gedung besar dikota Lok-yang sebagai persiapan perkawinan putranya. ia bermaksud setelah beberapa orang gembeng iblis itu dilenyapkan- mereka akan berdiam dikota itu.

Baru saja mereka masuk kekota Lok-yang Salju bulan keenam Tong Hui telah menanti dipintu kota, maka ber- bendong2 mereka antar kedalam sebuah gedung mentereng yang letaknya berdekatan dengan kebun Kim-kok-wan.

Lampu lentera, kertas warna warni bergelantungan di- mana2, gedung itu dihias dengan indahnya, disana sini tertempel tulisan yang mengartikan pernikahan-

"Eeeei...apa-apaan ini?" tegur Lam-kong Pak.

"Siauhiap. masa kau lupa? beberapa cianpwee telah menyiapkan perjamuan untuk merayakan hari perkawinanmu, sekarang semuanya sudah slap dan hanya menunggu kedatanganmu"

Pek-li Hiang tertawa sedih mendengar ucapan itu, ketika semua orang masuk kedalam gedung, pertama2 pencuri tua Pek-li Gong yang menyambut kedatangan mereka. tapi begitu menyaksikan paras sedih yang tertera diwajah Pek-li Hiang, ia nampak tertegun, kemudian tegurnya:

"Bocah muda, belum2 kau sudah berani menganiaya putriku ya...bagaimana kalau sudah menikah nanti?"

Lam-kong Pak tertawa getir dan tak mampu menjawab. semua orang segera menuju keruang tengah.

Sekilas pandangan Sun Han Siang yang banyak pengalaman segera mengetahui pastilah sudah terjadi peristiwa besar, dengan cepat ia menarik putranya kesamping sambil berbisik:

"Anak Pak, apa yang telah terjadi?" Terpaksa Lam-kong Pak menceritakan apa yang telah dialaminya bersama dua orang gadis itu. hanya peristiwa tentang ternodanya Pek-li Hiang sengaja ia rahasiakan-

Sun Han Slang bukan orang bodoh, dia adalah seorang jago kawakan yang banyak pengalamannya. dari sikap dua orang gadis yang berbeda ia telah menduga apa yang telah terjadi.

Walaupun cu Li- yap kelihatan malu dan kikuk. akan tetapi keadaan Pek-li Hiang jauh lebih mengenaskan-

Akan tetapi iapun dapat memahami perasaan putranya. diam2 ia memuji akan kebesaran jiwanya putranya itu, meski peristiwa ini sedikit banyak telah menodai nama keluarga. tapi toh bukan salah gadis itu, terpaksa diapun pura2 berlagak tenang se-akan2 tak pernah terjadi peristiwa apa2.

Hari perkawinan ditetapkan sore itu, sementara waktu itu fajar baru saja menyingsing. Sun Han Siang mengantar dua orang gadis itu kekamar pengantin mereka sambil pesannya:

"Yang paling penting bagi orang persilatan adalah jiwa yang berbudi luhur, semangat yang gagah perkasa serta tujuan yang mulia. kadangkala untuk menegakkan keadilan dan kebenaran seseorang tak sayang untuk mengorbankan diri, karena itu menurut anggapanku peristiwa yang terjadi kemarin malam tidaklah terhitung seberapa. asal dalam hati tak memikirkan nyeleweng itu sudah cukup"

Pek-li Hiang dan cu In yap hanya tundukkan kepala dengan air mata berCucuran, mereka tetap membungkam dalam seribu bahasa. Sun Han Siang berkata lebih lanjut:

"Beristirahatlah disini, hari baik jatuh sore nanti, sebentar ada orang yang akan bantu kalian berdandan. kejadian ini merupakan suatu peristiwa besar, bergembiralah... jangan bermuram durja terus"

Sementara itu dipihak lain- Pencuri tua juga sedang menarik Lam-kong Pak ketempat sunyi sambil menegur:

"Bocah muda, bicaralah terus terang, kemarin malam apa yang telah terjadi?"

sekali lagi Lam-kong Pak menceritakan apa yang telah terjadi. Mendengar penuturan tersebut Pek-li Gong segera berseru

"Aku tahu masih ada beberapa bagian Cerita yang sengaja kau rahasiakan, ayoh Cepat katakan"

"Benar2 sudah tak ada lagi"

"Bocah muda, engkau tak perlu ragu2 dalam pembicaraan, apapun yang terjadi sudah SepantaSnya kalau aku sebagai mertuamu mengetahuinya, kalau tidak kau katakan bagaimana andaikata sampai terjadi sesuatu peristiwa yang tragis? Dan bagaimana pula aku bisa memberikan pertanggungan jawabnya?? "

"Hakikatnya hanya itu saja, apalagi yang musti kukatakan?" teriak Lam-kong Pak dengan lantang.

"Mereka berdua sama-sama kena dikecundangi oleh Suma Ing. kenapa hanya Hiang-ji saja yang nampak murung dan termangu-mangu seperti orang kehilangan sukma? Hmm ketahuilah, aku bukan orang goblok yang mudah dibohongi "

Lam-kong Pak putar otak mempertimbang masalah itu, akhirnya ia berpendapat lebih baik tidak membicarakan persoalan itu. toh dia sendiri sudah tahu kenapa orang ketiga musti ikut tahu? Dengan muka serius ia segera berkata. "Tiada perkataan lain yang bisa kukatakan lagi. Gakshu legakanlah hatimU."

Dengan putus asa Pek-li Gong gelengkan kepala lalu pergi tinggalkan pemuda itu, dia yakin masih ada cerita lain yang sengaja dirahasiakan oleh Lam-kong Pak.

Kewaspadaannya diam2 dipertingkat, penjagaan disekitar gedung yang sedang bergembira riapun diperketat, sebab menurut dugaannya ada kemungkinan Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng serta kakek ombak menggulung dan Suma ing akan gunakan kesempatan itu untuk mengacau.

Sorenya Sun Han siang turun tangan sendiri untuk mendandani kedua orang pengantin itu, mula2 ia membantu cu Li-yap berdandan kemudian baru masuk kekamar Pek-li Hiang.

Apa yang dilihat disitu? gadis itu sedang menangis ter- sedu2 dengan sedihnya, mata merah dan muka pucat.

TerCekat hati Sun Han Siang menyakslkan kejadian itu, suatu firasat jelek melintas dalam benaknya, walau begitu dia berusaha untuk menghibur dengan kata2 halus:

"Hiang-ji kerugian sedikit yang kau derita masih belum terhitung seberapa ingatlah. Asal anak Pak tidak keberatan untuk menerima kau sebagai istrinya, soal lain tak perlu kau pikirkan lagi dihati, cepat seka air matamu Aku akan bantu kau berdandan."

Pek-li Hiang tak dapat menahan lelehan air mata, karena dia telah ambil keputusan yang maha besar. dan keputusan tersebut akan merubah jalan hidupnya.

Sun Han siang mulai turun tangan membedaki pipinya, tapi setiap kali pupur itu lumer kena air, sampai ketiga kalinya pupur itu baru melekat diwajah, sebab selama itu Pek-li Hiang tak dapat menahan pedih hatinya.

Kembali Sun Han Siang harus menghibur dengan kata lembut, dalam keadaan demikian terpaksa Pek-li Hiang kuatkan hati dan berhenti menangis. bahkan pura2 memperiihatkan muka gembira, atas perubahan tersebut Sun Han Siang pun dapat berlega hati.

Hari baik telah ditetapkan pukul enam sore, oei ci-hu segera menyebar para jago untuk menjaga keamanan disekitar gedung dengan ketat, bahkan ia sendiripun turun tangan untuk memikul tanggung jawab itu, tentu saja kesemuanya itu demi menghindari segala kemungkinan yang tidak dlinginkan,

Akhirnya hari baik yang di-tunggu2 telah tiba. Lam-kong Pak sudah berdandan, meja sembahyang diruang tengahpun telah siap.

San Han Siang memapak sendiri dua orang pengantin dari kamarnya, namun ketika muncul kembali diruangan tengah ternyata ia hanya membimbing cu Li- yap seorang. Tertegun hati Pek-li Gong menyaksikan peristiwa itu,  segera tegurnya: "Sun Han Siang, bagaimana dengan putriku?"

"Jangan terburu napsu," jawab Sun Han siang, "satu persatu secara bergilir, setelah mereka menyembah "Thian- kong" barulah Hiang-ji keluar untuk bersembahyang pula"

Begitulah pengantin laki dan pengantin perempuan ber- sama2 menyembah kepada Thian-kong, selesai bersembahyang Sun Han Siang baru berseru dengan nada serius "Hiang-ji telah pergi" Berita ini ibaratnya guntur membelah bumi disiang hari bolong, seketika suasana jadi gempar danpara hadirin berseru tertahan-Dengan marah Pek-li Gong berteriak.

"Sun Han Siang, kalau toh engkau membenci putriku, kenapa tidak kau katakan sedari dulu2. Kau anggap anakku sudah tak laku kawin sehingga terpaksa harus kawin dengan anakmu, IHmm...hmm sedari permulaan aku sudah tahu, kalian pilih kasih, menghina orang miskin-.,"

"Pencuri tua " kata Sun Han siang sambil menahan lelehnya air mata, "engkau tak usah menyindir diriku. kalau kau lanjutkan kata2mu itu, aku jadi bosan hidup lagi -Nah coba lihatlah dulu isi surat tersebut"

Dengan penuh kegusaran Pek-li Gong menyambar surat itu. lalu dibaca isinya.

"Ayah, setelah kau baca suratku ini, janganlah kau  marah atau menyalahkan siapa pun, nasibku memang jelek, ternyata sebelum hari pernikahan tubuhku telah dinodai oleh Suma ing bangsat itu, aku merasa tubuhku sudah tak suci lagi, tidak pantas tubuh yang ternoda ini kusembahkan untuk engkoh Pak, biarlah adik Yap yang mendampingi engkoh Pak sampai dihari tua nanti. Aku pergi dulu? Tatkala kalian temukan surat ini mungkin aku sudah berada seratus li jauhnya, jangan cari aku, keputusanku telah bulat dan selama hidup tak akan bertemu lagi dengan kalian-

..ayah yang tercinta, biarlah hutang budiku kepadamu kubayar kembali pada penitisan yang akan datang. tertanda: Pek-li Hiang."

Titik-titik air mata membasahi kertas itu, yang lama adalah bekas air mata dari Pek-li Hiang. sedang yang baru adalah bekas air mata dari Pek-li Gong. Dalam pada itu semua orang telah merubung datang, suasana yang semula riang gembira Seketika berubah jadi sepi dan penuh kesedihan.

Lam-kong Pak menjerit tertahan. ia putar badan dan lari keluar pintu rumah.

Tapi dengan cepat pencuri tua itu menarik lengan bajunya sambil berseru: "Bocah, tak usah kau cari lagi jelas bagaimanakah watak gadis itu, kalau sudah bertekad untuk menghindar jangan harap kau bisa temukan kembali jejaknya sepanjang masa, sudah...biarkan dia pergi"

Lam-kong Pak tak dapat menahan diri lagi, air mata bercucuran membasahi wajahnya.

"Gakshu. siau-say (menantu) benar2 tak becus. aku pasti akan mencarinya hingga ketemu"

"Tak usah." tukas Pek-li Gong. "urusan itu tak usah kau pikirkan lagi, aku yakin musuh tangguh pasti akan datang malam nanti kalau kau pergi bagaimana dengan kami? masa engkau tak menggubris kami lagi?"

Dalam pada itu cu Li- yap telah menangis tersedu-sedu, kabar kesedihan menyelimuti seluruh ruang upaCara, terpaksa Lam-kong Pak menghibur istrinya dengan kata- kata,

"Adik Yap. legakan hatimu, cepat atau lambat aku pasti akan mencarinya kembali."

Perjamuan berlangsung dalam suasana kurang menggembirakan siapapun tak punya minat untuk makan minum, setelah berlangsung beberapa waktu maka para tamupun pada bubar. sementara Lam-kong Pak serta cu Li- yap diantar masuk kedalam kamar pengantin. Setelah berada sendirian, cu Li-yap berkata: "Engkoh Pak, bagaimana keadaan yang sebetulnya saat itu? apakah kau bersedia memberitahukan kepadaku?"

Lam-kong Pak kuatir pikiran cu Li-yap ikut tertutup lantaran peristiwa itu. terpaksa ia bicara terus terang:

"Kemungkinan besar Suma ing berhasil mendapat obat perangsang dari siau- hong, obat itu telah dilemparkan kedalam api unggun sehingga mengakibatkan kabut tipis berwarna merah menyebar Keseluruh ruangan, kabut itu adalah racun yang keji, tak lama setelah kita keracunan Suma ing masuk ke dalam gua..."

"Dan ia robohkan kau?" sela cu Li-yap.

"Wakku itu aku sudah tak tahan, melihat kalian lepas pakaian- napsu birahi dalam tubuhku segera bangkit, tapi sepasang tanganku dicengkeram oleh Suma ing hingga tenagaku punah, saat itulah jalan darahku di totok olehnya"

"Setelah kau roboh. ia pasti turun tangan menggagahi tubuh kami secara bergantian?" seru cu Li-yap dengan paras muka berubah hebat.

"Benar dan ia pilih adik Hiang lebih dulu, ia menindihi diatas tubuhnya dan. "

"Darimana adik Hiang bisa tahu akan kejadian ini?" kata cu Li-yap sambil menggigit bibir menahan emosi. "bukankah kesadaran kami sudah punah pada waktu itu??"

"Selama kesadaran seseorang belum seratus persen lenyap. ia masih bisa ingat semua kejadian yang dialaminya....apalagi bajingan terkutuk itu telah merobek celana dalam adik Hiang, tentu saja adik Hiang mengetahui akan hal ini. " "Aaaii" cu Li-yap menghela nafas sedih "meskipun siau- moay tak sampai diperkosa olehnya, akan tetapi semua bagian tubuhku telah dilihat olehnya..,"

"Apa yang musti kau pikirkan tentang hal itu?" berkata Lam-kong Pak dengan suara dalam, "kita sebagai orang persilatan, dari pagi sampai malam kerjanya hanya bergelimpangan diantara hujan golok, hujan pedang, tak bisa terhindar bila menghadapi kejadian seperti itu, andaikata karena urusan itu maka lantas ambil pikiran pendek, tindakan itu lebih lebih tidak mencerminkan jiwa besar seorang ksatria sejati."

"Engkoh Pak, setelah kau saksikan tubuhku yang telanjang bulat serta tingkah lakuku yang begitu rendah. masa tiada pandangan hina dalam hatimu atas diriku?"

"Adik Yap. ucapanmu sama artinya sedang memaki diriku, coba bayangkan dengan kekuatan yang jauh melebihi kalian berdua ternyata tak mampu untuk menyelamatkan kalian dari ancaman bahaya, aaai... kalau dipikir kembali aku benar-benar merasa malu sekali."

cu Li-yap jatuhkan diri kedalam pelukan Lam-kong Pak bisiknya: "Semoga aku dapat serahkan kesucianku hanya untukmu seorang"

"Sekarang toh belum terlambat??"

Tiba-tiba...'criing-criiing-criiing' serentetan desiran angin tajam meluncur masuk dari luar jendela dan langsung mengancam jalan darah penting ditubuh dua orang itu.

Lam-kong Pak amat terperanjat, ia ayun telapak tangannya melancarkan satu pukulan dahsyat... 'criiing criing criiing' tujuh delapan batang senjata rahasia mencelat kesamping menghajar dinding ruangan, sementara pemuda itu menyambar tubuh istrinya dan melayang keatas atap rumah lewat jendela.

Ber-puluh2 tombak dihadapannya tampaklah sesosok bayangan hitam sedang kabur kemuka, sekilas pandangan Lam-kong Pak dapat kenali orang itu sebagai Suma Ing, kontan pemuda itu tancap gas dan mengejar dengan ketatnya.

Suma Ing sama sekali tidak berpaling lagi, dia kabur keluar kota dan menuju kedaerah pegunungan yang terpencil, sepanjang jalan selisih jarak mereka tetap seimbang. meskipun hanya puluhan tombak akan tetapi berhubung Lam-kong Pak harus mengempit tubuh seseorang, terpaksa ia ketinggalan terus dibelakang.

Tak Lama kemudian sampailah mereka ditepi sebuah hutan. mendadak Suma ing berhenti dan memandang kearah musuhnya sambil menyeringai seram,

Satu ingatan segera berkelebat dalam benak Lam-kong Pak. dia yakin suma ing pasti telah persiapkan permainan busuk. kalau tidak tak nanti ia berani menghadapinya seorang lawan seorang diri.

Rasa benci dan dendam Lam-kong Pak terhadap musuhnya boleh dibilang sudah merasuk ketulang sumsum, sekalipUn ia tahu kehadiran lawannya sudah pasti bukan seorang diri, namun ia tidak ambil perduli. tubuhnya bergerak maju kedepan sambil berseru

"Suma Ing. kau makhluk terkutuk berhati srigala, kalau malam ini tubuhmu tak kucingcang sampai hancur ber- keping2, aku bersumpah tak akan jadi manusia"

Suma Ing sama sekali tidak jeri atau gentar menghadapi keadaan tersebut, malahan sambil tertawa seram ejeknya: "Lam-kong Pak enak bukan perasaan hatimu pada malam ini? Hehh..heehh.. Pek-li Hiang telah kunodai kesuciannya tentu saja ia tak punya muka untuk kawin dengan kau lagi... anggaplah kejadian itu sebagai pembalasan dendamku, Lam-kong Pak sekarang telitilah wajahku baik2, andai kata engkau yang menjadi aku, apa yang hendak kau lakukan?"

"Siapa berani berbuat jahat dia tak boleh hidup, itulah pembalasan yang harus diterima oleh manusia2 terkutuk macam kau. kalau engkau sampai terjatuh kembali ketanganku.. Hmm akan kucingcang tubuhmu jadi ber- keping2 dan kusiksa engkau hingga mati tak bisa hiduppun susah"

"Lam-kong Pak. sewaktu berada dalam kebun bunga keluarga Sick tempo hari sebetulnya aku ada niat untuk mengadakan kontak lagi dengan Sun Han Siang. tak nyana pencuri tua itu sudah menuturkan cerita tersebut. karena itulah terpaksa aku harus berubah pikiran"

"Apa yang ia tuturkan adalah kenyataan yang sungguh2 terjadi. angkatan yang lebih tua mengetahui semua akan kejadian ini. "

"Benar..justru karena kejadian itu sungguh. maka aku harus menuntut balas"

Agak tertegun Lam-kong Pak setelah mendengar perkataan itu,

"Engkau malah hendak balas dendam setelah tahu kalau kejadian itu? sungguh2 manusia gila yang takpunya otak. rupanya kebejadan moralmu sudah tak dapat diobati lagi"

"Terus terang kukatakan kepadamu, dikolong langit sebenarnya jarang ada orang baik, manusia2 yang  tergabung dalam golongan putih tidak lebih hanya manusia2 munafik yang memakai kedok untuk berbuat kebaikan, contohnya saja Sian-yan Peng serta Sun Han Siang mereka telah mendirikan Pegadaian dunia persilatan serta perkumpulan bulu hijau, tinjau saja semua tindak tanduk serta sepak terjang kedua buah organisasi itu. benarkah mereka bertujaan baik dan berbuat amal? benarkah tangan mereka tidak pelepotan darah dan tak pernah membunuh manusia seperti membabat rumput? Hehh.., heeh..heehh.. bila sudah bosan hidup mereka lepaskan golok pembunuh dan pura2jadi manusia budiman, benar2 perbuatan terpuji dari seorang manusia munafik"

"Oooh jadi menurut anggapanmu. hanya kaulah manusia paling baik dilolong langit?" damprat Lam-kong Pak.

"Tentu saja aku bukan manusia baik, dan justru karena aku bukan manusia baik maka akulah musuh bebuyutan dari kaum pendekar gadungan yang berjiwa munafik. IHmm... kalau toh mereka tak akan lepaskan aku masa aku juga sudi lepaskan mereka ?"

"Lalu apapula sebabnya cerita dari pencuri tua telah merubah kembali jalan pikiranmu ?"

Suma ing menyeringai seram.

"Ayahku adalah Hiat-hu-tiap kupu2 darah Suma ciau. sedang ibuku adalah Boan-cuang-hui menari diatas pembaringan Liau Giok Ing. mereka berdua menemui ajalnya ditangan kawanan pendekar yang katanya berjiwa ksatria, aku dengar pula Jago angin geledek Lam-kong Liu serta sun Han Siang ikut serta pula dalam pengeroyokan atas orang tuaku. karena perbuatannya itu mereka lantas pelihara aku, mereka pura-pura bersikap baik dan berbudi kepadaku, padahal dalam kenyataan hanya ingin menutupi perbuatan mereka yang munafik,... Hmm semakin munafik perbuatan mereka semakin benci aku terhadap mereka."

Lam-kong Pak tak kuat mendengarkan obrolan tersebut. dia membentak keras dan secepat kilat lepaskan satu pukulan dahsyat kedepan.

Suma ing sama sekali tak menghindar ataupun berkelit, diapun melancarkan sebuah pukulan kedepan-..Blaamm dalam benturan yang amat nyaring Suma ing terpental sejauh satu tombak dari tempat semula.

Napsu membunuh menyelimuti seluruh wajah Lam-kong Pak, ia tak berani turunkan cu Li-yap dari kempitannya, terpaksa sambil bertempur ia tetap mengempit tubuhnya itu.

Walau begitu, angin pukuian yang dilancarkan olehnya sama sekali tak berkurang malahan sama dahsyatnya dengan keadaan biasa.

Suma ing meraung keras, dia menubruk kembali kedepan, kali ini serangannya ditujukan keatas tubuh cu Li- yap.

Lam-kong Pak sama sekali tidak menghindar ataupun berkelit, ia balas Cengkeram urat nadi lawan-

Menyaksikan datangnya ancaman itu Suma ing geserkan langkah menghindar kesamping, sementara sepasang biji matanya berputar kesana kemari dengan liar.

Lam-kong Pak tahu bajingan itu tentu sedang menantikan bala batuannya, Cepat ia terpikir:

"Mumpung bala batuannya belum datang. lebih baik kubereskan dahulu bajingan ini. "

Karena berpendapat demikian, maka serangannya dipergencar, semua ancaman ditujukan ke bagian penting ditubuh lawan- Suma ing selalu menghindar atau berkelit kian kemari, rupanya ia sedang mengulur waktu sambil menunggu tibanya seseorang. Lam-kong Pak mendesak kian gencar, pukulan2 mematikan dilepaskan secara ber-tubi2. dalam waktu singkat ia sudah mendesik musuhnya mundur enam tujuh tombak dari tempat semula.

Sementara itu Suma ing sudah mundur ke dalam sebuah hutan belantara, ditengah kegelapan yang mencekam seluruh jagad sukar untuk melihat pemandangan disekitar tempat itu, andaikata ada orang bersembunyi disanapun mungkin tak mudah diketahui.

Sambil bertempur Suma ing mundur terus ketengah hutan, melihat itu Lam-kong Pak tertawa dingin, serunya:

"Bajingan anjing. tak usah bermain setan lagi, aku tak nanti termakan oleh siasat busukmu itu"

Serentetan setangan berantai yang dilepaskan memaksa Suma ing harus membela diri dengan repotnya. sebentar lagi ia bakal tak tahan bila keadaan berlangsung terus seperti itu, sementara ratusan gebrakan sudah lewat.

Pada saat itulah tiba2 terdengar gelak tertawa aneh berkumandang dari arah hutan, suaranya melengking memekikkan telinga, diikuti kakek ombak menggulung serta Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng munculkan diri didepan mata.

Payung mustika itu masih tergantung dipunggung Bintang yang bertaburan diangkasa, sedang muka merah kelihatan merah membara dan matanya memancarkan cahaya berkilat.

Lam-kong Pak amat terperanjat, ia sadar asal dua orang gembeng iblis itu bekerja sama niscaya ia bakal keok, apa lagi kalau pihak lawan menggunakan payung mustikanya yang luar biasa, keadaan jauh lebih mengenaskan lagi.

Dalam pada itu Suma ing sudah mundur satu tombak kebelakang dan berdiri disamping kakek ombak menggulung, napasnya ngos2an seperti kerbau, mukanya kelihatan senyum tak senyum, se-akan2 dia gembira sekali dengan keadaan tersebut.

Lam-kong Pak bukan manusia bodoh, tentu saja ia tahu bahwa mereka telah bersekongkol, dan Suma ing bertugas untuk memancing kehadirannya ketempat itu.

Kalau rejeki bukan bencana, kalau sudah bencana tak akan terhindar. itulah prinsip pemuda kita, dalam keadaan demikian tak mungkin bagi Lam-kong Pak untuk menghindarkan diri, apa lagi pemuda itu memang sama sekali tiada minat untuk mundur dari situ.

Setelah suasana hening sejenak. Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng berkata:

"Sute, bereskan bocah keparat itu. rasanya tanpa bantuanku kau sudah mampu untuk membekuk dirinya bukan?"

Kakek ombak menggulung menglakan, ia segera loncat kedepan dan melancarkan serangan dengan ilmu pukulan Kun-tun-liat-hwe-ji-kang atau ilmu dua unsur gulungan api membara, ditengah desiran angin tajam terselip hawa panas yang menyengat badan, pasir dan batu beterbangan memenuhi angkasa dan menyelimuti daerah seluas lima enam tombak.

Dengan telapak tunggal Lam-kong Pak sambut ancaman musuh, walau begitu ia sama sekali tidak terdesak dibawah angin bahkan dalam serangannya itu dia berhasil memukul mundur kakek ombak menggulung sejauh dua langkah lebar.

"Engkoh Pak" terdengar cu Li-yap berseru, "turunkan aku dari kempitanmu"

"jangan bergerak dan jangan berteriak hingga memecahkan perhatianku"

"Kakek ombak menggulung adalah seorang manusia yang angkuh, sayang nasibnya belakangan ini kurang mujur dan berulang kali harus menelan kekalahan ditangan orang muda."

Mendengar sindiran tersebut apa lagi berada dihadapan suhengnya serta Suma ing, ia jadi naik pitam, dengan muka hijau membesi secara beruntan tujuh delapan belas buah pukulan dilancarkan ber-tubi2.

Satu ingatan segera berkelebat dalam benak Lam-kong Pak, pikirnya dihati:

"Aaah.. hampir saja aku tertipu, rupanya dua orang gembeng iblis ini sedang menggunakan siasat rodi berputar untuk memeras habis kekuatan tubuhku, kemudian Bintang yang bertaburan diangkasa baru turun tangan menghabisi jiwaku..Hmm aku tak boleh tertipu."

Setelah ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, Lam-kong Pak pura2 menunjukkan sikap kewalahan dan kehabisan tenaga. tubuhnya melayang kesana kemari tak menentu, walau begitu ditengah gulungan angin pukulan dahsyat, ia masih merasakan betapa ganasnya pukulan dari iblis tua itu.

Setelah kakek ombak menggulung menyelesaikan pukulannya yang kedelapan belas ia baru sadar kalau dirinya tertipu. tapi didalam keadaan gusar ia tak berpikir lebih jauh, dia hanya tahu bagaimana harus berusaha untuk merobohkan lawannya dalam waktu singkat.

Perbuatannya itu justru melanggar pantangan besar dari seorang jago silat. ketika ia menerjang kembali untuk kedua kalinya tenaga merni yang masih tersisa sudah jauh berkurang. walau begitu ia masih tetap melepaskan tiga puluh buah pukulan secara berantai.

Dalam waktu singkat kabut dan debu beterbangan memenuhi angkasa, suasana berubah jadi tenang dan semua orang tercekam dalam ketegangan yang hebat.

Menyaksikan kesemuanya itu, Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng tertawa seram,

iblis tua itu berhati keji dan berotak licik apa lagi setelah payung sengkala terjatuh ketangannya, keadaannya ibarat harimau tumbuh sayap.

Walaupun begitu dia masih agak jeri terhadap Lam-kong Pak. dan dia pun tahu bahwa Kakek ombak menggulung dan Suma ing bukan manusia2 baik, jelas mereka hanya bertujuan untuk mengincar payung mustika itu dari tangannya.

Karena itulah ia pura2 tak tahu, dan menggunakan siasat lawan siasat ia justru menggunakan tenaga mereka dengan se-baik2nya.

Begitulah. ia segera mengerling sekejap kearah Suma ing, melihat kerdipan itu bajingan muda tersebut menerjang kedepan, secara beruntun ia lepaskan tiga belas buah pukulan berantai.

Menghadapi gerangan musuh dari muka dan belakang, Lam-kong Pak merasakan daya tekanan yang menghimpit tubuhnya kian lama kian bertambah berat. tapi ia tetap teguh dan melawan dengan sekuat tenaga kadangkala ia menerima serangan lawan dengan keras lawan keras, kadangkala pula menghindar kekiri atau kekanan dengan ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi. dengan begitu untuk sementara waktu ia masih dapat mengimbangi kekuatan lawannya.

Keadaan dari Kakek ombak menggulung pada saat ini ibaratnya binatang yang sudah kalap. seringkali ia menyerang tanpa bertahan bahkan kadangkala jadi nekad dan menyerang tanpa memikirkan keselamatan sendiri.

Sebaliknya Suma Ing masih tetap tenang. ia dapat memahami maksud keji dari Bintang yang bertaburan diangkasa, karena itu selama pertarungan berlangsung dia hanya berkelit dan menghindar dengan gerakan enteng.

Dengan begitu maka sebagian besar daya tekanan yang memancar keluar dari Lam-kong Pak hanya menindih ditubuh kakek ombak menggulung, seratus gebrakan kemudian napas iblis tua itu sudah ngos2an seperti kerbau. sebaliknya Lam-kong Pak yang harus mengempit seseorangpun mulai agak payah dan keteter.

Seratus jurus kembali sudah lewat, angin pukulan yang terpancar keluar dari telapak tangan kakek ombak menggulung kian berkurang, gerakan tubuhnya semakin lemah. dalam keadaan demikian Lam-kong Pak alihkan sasarannya pada diri Suma Ing, dengan himpunan tenaga sebesar delapan bagian ditelapak kanannya ia hajar tubuh bajingan itu.

Jerit kesakitan bergema memecahkan kesunyian, sebelum tubuh Suma Ing mencapai tanah. dengan gerak jurus yang tak berbeda Lam-kong Pak menambah lagi tenaganya sebesar dua bagian dan balik membacok Kakek ombak menggulung. Dua gulung angin pukulan saling membentur satu sama lainnya menimbulkan ledakan dahsyat yang menggocangkan seluruh permukaan bumi, belum sempat iblis tua itu mendengus. kekuatan tubuhnya sudah mencelat sejauh tiga tombak dari tempat semula, bagaikan biligo matang yang terlindas pedati, batok kepalanya hancur berantakan, darah segar tersebar di-mana2... susah untuk membedakan lagi mana bagian kepala dan mana bagian kaki.

Lam-kong Pak sendiri mundur tujuh delapan langkah kebelakang dengan sempoyongan, peluh membasahi seluruh tubuhnya. uap panas mengepul keluar dari atas kepala, rambut telah basah dan muka jadi pucat, keadaannya mengenaskan sekali.

Dengan napas tersengal-sengal pemuda itu turunkan cu Li-yap keatas tanah, napasnya yang memburu mengiringi hembusan angin ditengah malam yang sunyi membuat suasana benar2 mengerikan.

Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng tertawa seram, dengan sinis ia melirik sekejap kearah Kakek ombak menggulung serta Suma Ing, kemudian per-lahan2 maju kedepan menghampiri musuhnya.

Lam-kong Pak amat terperanjat. ia tahu meskipun pihak lawan tak usah menggunakan payung mustika tersebut, susah baginya untuk lolos dari bahaya, terpaksa sisa tenaga yang dimilikinya dihimpun dan bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Jarak mereka dari empat tombak jadi tiga tombak.. dua tombak...satu tombak.. akhirnya saling berhadapan-

Keadaan dari Bintang yang bertaburan diangkasa waktu itu ibaratnya kucing lempar yang berada ditepi gedung berisi ikan emas, dengan penuh keyakinan ia siapkan cakar mautnya untuk meremas mampus musuhnya.

Keadaannya saat ini amat mantap dan lebih besar harapannya untuk menang daripada kalah, walaupun dengan cara yang rendah ia telah singkirkan dua orang musuhnya, toh tak seorangpun yang mengetahui perbuatannya itu.

Dan Waktu itu sekalipun Suma Ing belum mati, tapi ia anggap pemuda itu bukan musuh yang perlu dikuatirkan, sebab cukup ia lepaskan satu pukulan niscaya nyawanya sudah kabur tinggalkan raga.

Dalam pada itu cu Li-yap telah berdiri tegak dengan penuh semangat, tiba2 ia berkelebat kedepan menghadang didepan tubuh Lam-kong Pak. serunya dengan penuh kebencian:

"iblis tua masa sebagai seorang jago kenamaan, engkau sudi melakukan perbuatan terkutuk seperti ini?"

Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng tertawa seram.

"Haaah-haaah-haaah agar aku berhasil menjagoi kolong langit tanpa tandingan terpaksa aku harus menggunakan cara apapua untuk mencapainya. Sekarang aku tak usah menangkan dia dengan payung sengkala, aku rasa keringanan yang kuberikan ini cukup mermuaskan hati kalian bukan?"

cu Li-yap amat gusar, tiba2 ia membentak keras: "iblis tua, sambutlah beberapa buah pukulanku"

Lam-kong Pak mendengus dingin, ia tarik kembali cu Li- yap sambil berkata: "Adik Yap. ingatlah baik2, mulai sekarang perhatikan keselamatanmu sendiri, asal engkau berbuat demikian berarti pula kau sudah membantu aku. andaikata aku tak mampu bertahan maka engkau harus segera kabur dari sisi, ingat perkataan ini adalah perintahku, bukan perintahku..."

Ketika sepasang mata mereka saling bertemu, cu Li-yap merasakan tubuhnya bargetar keras, ia lihat sorot mati suaminya telah memancarkan hawa napsu membunuh yang menggidikkan hati, mau tak mau terpaksa ia harus turuti perkataannya itu. Terdengar Lam-kong Pak berkata lagi:

"Selain itu engkaupun harus perhatikan Suma Ing, karena dia belum mampus."

Dengan air mata bercucuran cu Li-yap mengangguk.

Lam-kong Pak maju kedepan, serunya dengan suara dalam: "iblis tua, sekarang kita boleh langsungkan pertempuran, "

Sejak permulaan tadi Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng telah menghimpun tenaga dalamnya dalam telapak tangan, baru saja Lam-kong Pak menyelesaikan kata2nya, ia telah lancarkan sebuah pukulan dahsyat kedepan-

Tampaklah dari balik telapak tangannya terpancar keluar tiga titik Cahaya putih, itulah sumber dari kekuatan angin pukulan bintang tiga yang dia yakini.

Deruan angin puyuh yang menggulung ke empat penjuru dan men-cabik2 daerah seluas sepuluh tombak disekitar gelanggang.

Lam-kong Pak tak berani menyambut datangnya serangan itu dengan keras lawan keras. dia hanya menggunakan empat lima bagian tenaganya untuk menyentuh sejenak ditepi angin pukulannya, kemudian Cepat mundur kebelakang.

Walau begitu, tulang lengannya terasa sakit bagaikan patah, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya angin pukuian itu.

Tubuh Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng bagaikan bayangan menguntil terus kedepan, sebelum Lam-kong Pak sempat berdiri tegak. kembali tiga gulung angin pukulan yang maha dahsyat mengunci jalan mundur Lam-kong Pak kesamping kiri maupun kanan

Kejadian ini dengan cepat menimbulkan semangat jantan pemuda kita, ia himpun segenap kekuatan yang dimilikinya dan menerima serangan tersebut dengan keras lawan keras.

"Blaamm..." benturan dahsyat menimbulkan suara ledakan yang memekikkan telinga, bumi bergoncang keras, Lam-kong Pak mendengus tertahan lalu mundur satu tombak kebelakang dengan sempoyongan... mentah2 ia telah kembali darah yang mengalir keluar dari bibirnya.

Sedangkan Bintang yang bertaburan diangkasa sendiri hanya tergetar mundur dua langkah lebar, jelas keputusan menang kalah telah tertera nyata.

Dalam sekejap mata itu pula bintang yang bertaburan diangkasa telah tertawa ter-babak2, per-lahan2 ia maju kembali kedepan-

Sekujur badan cu Li-yap gemetar keras, walaupun ia tahu nasib suaminya telah ditentukan dalam waktu singkat. tapi untuk mewujudkan janjinya dan lagi tak ingin pecahkan perhatiannya terpaksa ia hanya membungkam dalam seribu bahasa. dapat dibayangkan betapa sedih dan tersiksanya perasaan hati dara tersebut pada waktu itu. Rupanya Lam-kong Pak sendiripun sadar bahwa kekuatan tubuhnya tak sanggup untuk menyambut serangan lawan yang menggunakan tenaga sebesar delapan bagian itu, mau tak mau terpaksa ia melirik sekejap kearah istrinya dengan pandangan perpisahan- ketika empat mata saling bertemu mereka menumpahkan segenap rasa hormat, sayang serta Cintanya dalam pandangan itu, bahkan semua rasa Cinta dan mesrahnya dilimpahkan diatas wajah, kendati senyuman mereka adalah senyum getir.

Sementara itu Bintang yang bertaburan diangkasa telah menghimpun segenap kekuatannya dalam telapak tangan, asal serangan itu dilancarkan niscaya Lam-kong Pak tak dapat menghindar lagi, dan dalam keadaan tersebut terpaksa ia harus melawan dengan mati2an-

Disaat yang amat kritis itulah, tiba2 terdengar bentakan keras menggema diangkasa diikuti dari tengah hutan muncul dua sosok bayangan hitam.

Waktu itu kemenangan sudah pasti berada ditangan Bintang yang bertaburan diangkasa, ia tak pandang sebelah mata lagi atas diri Lam-kong Pak. mendengar desiran angin tajam muncul dari belakang ia segera berpaling. tapi...tiba2 ia berteriak kaget: "Aaah kau. "

Rasa kaget hanya sebentar melintas diatas wajahnya, kemudian sambil menyeringai seram katanya:

"Heehh-heeeh-heeehh. bagus, sungguh kebetulan malam

ini akan kubunuh pula kau bajingan tua, hingga dengan begitu akupun tak usah bersusah payah untuk mencari jejakmu "

Ternyata orang yang barusan munculkan diri ini bukan lain adalah Jit-mo iblis matahari salah seorang dari Mo-jiu- sam-seng yang masih hidup, kakek ini pula yang menghadiahkan Tok Se-lip kepada Lam-kong Pak, bayangan hitam yang berada disampingnya adalah ular hitam raksasa itu.

Paras muka iblis matahari pucat pias bagaikan mayat, Lam-kong Pak tak tega menyakslkan kakek itu mati ditangan murid murtadnya, segera dia menjura seraya berseru:

"Locianpwee bukankah kau pernah minta bantuanku untuk bersihkan perguruan dari manusia murtad? kalau toh sudah kusanggupi maka itu berarti persoalan ini merupakan tanggung jawabku, aku harap cianpwee suka jagakan diriku."

"Bocah muda, tanggung jawabmu telah selesai" seru iblis matahari sambil mengebaskan ujung bajunya, "murid murtadku kakek ombak menggulung telah mampus diujung telapak tanganmu, untuk itu kuucapkan banyak terima kasih, sedang mengenai sampah masyarakat ini...biariah kubunuh dengan tanganku sendiri"

Lam-kong Pak tetap bersikeras untuk maju. tapi iblis matahari segera membentak keras:

"Bocah muda, engkau harus tahu apa sebabnya Mo-jiu- sam-seng hidup menderita selama puluhan tahun diatas tonggak batu itu?"

Lam-kong Pak menghela nafas panjang, akhirnya tanpa banyak bicara ia mundur ke belakang.

"Bocah muda" kembali iblis matahari berkata "menggunakan kesempatan dlkala aku sedang bergebrak, duduklah atur pernafasan. aku yakin engkau akan peroleh hasil yang sama sekali diluar dugaan "

Lam-kong Pak yang berjiwa besar tentu saja tak mau mendengarkan perkataannya ia tetap berdiri tegak ditempat semula. Sementara itu Bintang yang bertaburan di angkasa telah lepaskan payung sengkalanya dari punggung, kemudian hardiknya keras2:

"Anjing tua jangan salahkan aku bertindak kejam, andaikata sedari dulu kalian serahkan payung sengkala kepada kami, aku dan sutepun tak nanti akan turun tangan terhadap kalian-"

Iblis matahari berpekik sedih, gumamnya dengan lirih: "Sute berdua, tak lama siau-heng akan menyusul kalian

masuk   kedalam   tanah."   Begitu   ucapan   terakhir selesai

diutarakan ia bersiul nyaring dan ular hitam raksasa itupun menerjang kedepan, sementara kakek itu sendiri melepaskan pula satu pukulan dahsyat.

Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng putar payung mustikanya sambil menyapu keluar, dalam suatu benturan keras kedua belah pihak sama2 mundur selangkah kebelakang.

Begitu terdesak kebebelakang. dengan cepat iblis matahari dan ular hitam itu menerjang kembali kedepan, dari deruan angin pukulan serta kekuatan serangannya jelas kelihatan bahwa tenaga murni yang dimiliki kakek itu tidak berada dibawah Bintang yang bertaburan diangkasa, ditambah pula terjangan2 maut ular hitam. untuk sesaat menang kalah sukar ditentukan.

Dipihak lain, cu Li-yap sedang berkata kepada sianak muda itu:

"Engkoh Pak. gunakanlah kesempatan baik ini untuk atur pernapasan- sekalipun Suma Ing telah sadar rasanya aku masih sanggup untuk melayaninya."

Setelah berpikir sebentar Lam-kong Pak merasa ada gunanya juga bersemedi. toh bagaimanapun sulit bagi mereka untuk kabur dari situ, maka tanpa banyak bicara ia segera duduk bersemadi.

Ratusan gebrakan sudah lewat, makin bertarung Bintang yang bertaburan diangkasa makin gagah perkasa. sebaliknya iblis matahari yang dasarnya sudah lemah kian lama kian tak tahan.

Selama ini ular hitam itu menerjang terus dengan ganasnya untuk mengurangi daya tekanan pada diri majikannya, sering kali ia memberikan tubuhnya untuk digebuk. karena itulah serangan2nya tidak seganas dahulu lagi.

Diam2 cu Li-yap merasa amat gelisah, namun ia tak berani bertindak gegabah, matanya selalu waspada mengawasi semua gerak gerik disekeliling tempat itu.

Suatu ketika mendadak Suma Ing bangkit berdiri, matanya yang bengis menyapu sekejap sekeliling tempat itu, begitu dilihatnya Lam-kong Pak duduk bersila ditanah sambil menyeringai seram ia segera maju menghampirinya.

Secepat kilat cu Li-yap menghadang didepan pemuda itu, hardiknya dengan lantang

"Suma Ing. kau tak usah buang pikiran dengan percuma. saat ini kepandaian silatmu masih bukan tandinganku"

Suma Ing tertawa dingin, dia maju kedepan dan lancarkan sebuah Cengkeraman keatas dada cu Li-yap. gadis itu tak berani berkelit, sambil gigit bibir ia sambut serangan tersebut dengan keras lawan keras.

"Blaamm.. " benturan keras memekikan telinga, Suma Ing tidak berhasil meraih keuntungan apa2. malahan tubuhnya terdorong mundur selangkah. Setelah menderita kerugian kecil, paras muka Suma Ing berubah makin seram, sekali lagi ia menerjang kedepan dan bertempur sengit melawan cu Li-yap. untuk bebarapa waktu lamanya keadaan berjalan seimbang.

Dipihak lain, iblis matahari yang bertempur melawan Bintang yang bertaburan diangkasa sudah hampir mendekati akhir, waktu itu ular hitam raksasa tersebut sudah menggeletak ditanah sambil bergerak lemah, sementara kakek itu sendiri terdesak mundur terus kebalakang.

Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng tertawa seram, suaranya amat keras hingga memekikkan telinga. sambil mendesak maju kedepan ejeknya:

"Anjing tua, sebelum ajalmu tiba aku bendak menanyakan satu persoalan kepadamu, kalau toh payung mustika yang asli berada ditanganmu lalu dari manakah cu Hong Hong mendapatkan payung sengkala dan kitab pusaka ilmu silatnya? apakah benda itupun benda yang asli?"

"Baru2 ini aku baru tahu, kiranya payung sengkala dan kitab pusakaku telah dicuri Awan hitam pengejar rembulan oei ci-hu, sedangkan oet ci-hu sendiri telah menggunakan kitab pusaka itu untuk ditukar dengan ilmu hipaotis Tong- bin-bu-goan-toa-hoat milik Sian-yan Peng, siapa tahu Sian- yan Peng Cuma memberitahukan ilmu hipnotis Tong-bin- bu-goan-toa-hoatnya saja, sedang ilmu penyembuhannya sengaja dirahasiakan. Tentu saja kitab itu adalah kitab pusaka asli, sedang payung mustiki yang berada ditangan cu Hong Hong hanya payung palsu bikinan oei ci-hu sendiri, payung aslinya disimpan dalam kuil Li-sau-si.,.."

"Blaamm,." menggunakan kesempatan dikala iblis matahari sedang berbicara, Bintang yang bertaburan diangkata melipat payung mustikanya lalu menghajar bahu kirinya keras2.

Hancuran pakaian beterbangan diangkasa tulangnya langsung retak dan dagingnya hancur, dengan sempoyongan ia mundur beberapa langkah kebelakang.

Kebetulan sekali tubuhnya mundur kebelakang suma Ing, padahal waktu itu Suma Ing sudah terluka parah dibawah serangan cu Li-yap yang ber-tubi2 ia sudah tak kuasa menahan diri lagi.

Ketika merasa datangnya sesosok tubuh dibelakang tubuhnya, sekuat tenaga ia lancarkan serangan sambil berputar. ketika dilihatnya iblis matahari dengan wajah menyeringai seram dan darah bercucuran dimana-mana sedang melotot kearahnya. tanpa pikir panjang lagi sepasang lengannya segera disodok kedepan menusuk dada lawan-

Jeritan ngeri yang menyayat hati bergema memecahkan kesunyian, tusukan jari tangan Suma Ing dengan telak menembusi perut iblis matahari, sebaliknya sepasang telapak tangan iblis mataharipun menembusi dada Suma Ing, darah segar dan isi perut segera berhamburan keluar dan mengotori seluruh lantai, walaupun nyawa mereka sudah tinggalkan raga namun jenasahnya masih tetap berdiri tegak.

Menyaksikan peristiwa yang sangat mengerikan itu, untuk beberapa saat lamanya cu Li-yap maupun Bintang yang bertaburan di angkasa Liok Hoa Seng hanya bisa berdiri ter-mangu2.

Sesaat kemudian Bintang yang bertaburan diangkasa telah sadar kembali dari lamunannya, sambil tertawa seram ia maju kemuka menghampiri Lam-kong Pak yang masih duduk bersemedi. cu Li-yap amat terkejut, cepat2 ia maju menyongsong kedatangan iblis tua itu. gadis itu tahu bahwa suaminya sedang berada dalam keadaan yang paling kritis bagi seseorang yang bersemedi, ia rela dirinya mati daripada suaminya mati konyol ditangan orang.

Karena itu tanpa berpikir panjang lagi, dia himpun tenaga dalamnya sebesar dua belas bagian dan melepaskan sebuah pukulan dahsyat dengan jurus sakti payung sengkala.

Kali ini Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng tidak menggunakan payung mustikanya lagi, dengan tenaga tujuh bagian yang dihimpun kedalam telapak tangan kiri ia lepaskan satu pukulan dengan ilmu tiga bintang.

"Blaaamm..." benturan keras memekikkan telinga, tubuh cu Li-yap ibaratnya daun kering yang terhembus angin puyuh mencelat sejauh tiga tombak dari tempat semula, iblis tua itu sama sekali tak pandang sekejappun terhadap korbannya. setelah merobohkan cu Li-yap ia putar payung sengkalanya dan menghantam batok kepala Lam-kong Pak.

Paras muka Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hwa seng penuh dihiasi senyum kemenangan, sebab ia tahu bila Lam-kong Pak telah mampus maka tiada jago yang sanggup menandingi kepandaian silatnya, bahkan oei ci hu sekalian tak terkecuali, dengan begitu maka dunia persilatan akan terjatuh ketangannya dan dialah pemimpin tertinggi dari dunia persilatan-

Siapa tahu ketika payung sengkalanya hampir mengena diatas batok kepala Lam-kong Pak. suatu pemandangan yang aneh telah berlangsung. tampaklah sesosok bayi kecil warna putih yang gemuk munculkan diri dari atas ubun2nya, dengan tangan yang kecil bayi putih gemuk itu menyambut datangnya serangan payung tersebut, sementara Lam-kong Pak sendiripun tiba2 bangkit berdiri.

Rupanya pada detik terakhir, sianak muda itu berhasil menyempurnakan ilmu bayi kebal Kim-kongnya yang maha sakti.

Betapa terkesiapnya Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng menyaksikan kejadian itu, sukma serasa melayang tinggalkan raga sementara peluh dingin  mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.

Sekuat tenaga dia berusaha membetot kembali payung sengkalanya yang tergenggam bayi putih itu, siapa tahu walau segenap kekuatan sudah dikerahkan namun payung tersebut tetap tak bergeming barang sedikitpun juga , iblis tua itu jadi tertegun dan untuk beberapa saat lamanya ia tak tahu apa yang musti dilakukan-

Pada saat itulah Lam-kong Pak menjengek sinis, telapak tangannya direntangkan kedepan dan-.. “Kreees” bagaikan sebilah pedang mustika perut iblis itu ditusuk hingga tembus kedalam.... bukan begitu saja, setelah berada dalam perut telapaknya segera dipuntir dan dibetot keluar.

Isi perut dan darah segar segera memancar keluar bagaikan sumber mata air. Bintang yang bertaburan diangkasa Liak Hoa Seng menjerit kesakitan.

"Plook" Mayatnya ditendang hingga mencelat sejauh sepuluh kaki dari tempat semula tubuhnya bergelejet sebentar kemudian menjerit keras.

Jeritannya amat nyaring dan memekikan telinga. se- akan2 pada saat yang terakhir ia telah mengerahkan segenap sisa kekuatan yang dimilikinya untuk berteriak. namun hanya sampai ditengah jalan...suara pekikan itu berhenti dan suasanapun pulih kembali jadi sunyi. Dengan ter-mangu2 Lam-kong Pak memandang beberapa sosok mayat yang menggeletak diatas tanah dalam keadaan mengerikan darah kental berceceran disana sini dan menyiarkan bau amis. begitu tertegun pemuda itu sampai2 ia tak merasa kalau cu Li-yap telah berdiri disampingnya .

"Sreeet sreeet Sreeet " ber-puluh2 sosok bayangan manusia meluncur masuk kedalam gelanggang ternyata mereka adalah oei ci-hu, Sun Han Siang serta segenap jago lihay dari kalangan putih, ketika menyaksikan mayat2 yang bergelimpangan diatas tanah dalam keadaan ngeri, untuk beberapa saat kawanan jago lihay itu tertegun dan berdiri melongo akhirnya helaan nafas panjang menggema memecahkan kesunyian.

==000000==

Suatu malam setengah bulan kemudian, di belakang pintu gedung kediaman Lam-kong Pak suami istri telah kedatangan seorang nikoh muda, dengan ujang bajunya dia menutup hampir seluruh wajahnya, ketika ia tiba ditengah kebun bunga dan melongok kejendela bangunan dihadapannya, kebetulan sepasang bayangan sedang berpelukan dibalik tirai, diikuti lampupun dipadamkan.

Nikoh muda itu turunkan ujung bajunya air mata nampak berlinang membasahi pipinya, dengan suara lirih ia bergumam:

"Semoga Buddha yang maha pengasih melindungi umatnya, semoga mereka bisa hidup bahagia hingga akhir tua." Angin malam berhembus sepoi, setelah bergumam nikoh itu putar badan dan berlalu dari sana, sekejap kemudian bayangan tubuhnya telah lenyap dibalik kegelapan-

Suasana dalam gedung itupun pulih kembali dalan keheningan. kesunyian yang mencekam seluruh jagad.

Siapakah nikoh muda itu ? saya rasa Pembaca yang budiman dapat menebak sendiri Nah sampai disini pula cerita "Kelelawar Hijau" ini, dan sampai jumpa dalam cerita yang lain, selamat berpisah

TAMAT
*** ***
Note 19 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Jangan lupa makan dan tetap jaga kesehatan Gan!!!."

(Regards, Admin)

0 Response to "Kelelawar Hijau Jilid 23 (Tamat)"

Post a Comment

close