Kelelawar Hijau Jilid 19

Mode Malam
Dengan penuh rasa hormat Suma ing mendengarkan semua perkataan itu, kemudian ia kata:

"Empek oei begitu pandang tinggi diri siau-tit, membuat keponakan merasa berterima kasih sekali, tetapi tenaga dalam yang keponakan miliki masih belum kembali seperti Sedia kala, tak pantas aku untuk memikul tanggung jawab sebesar ini, lagi pula kesehatan cianpwee bertiga masih belum pulih kembali, dari mana keponakan merasa  lega hati untuk meninggalkan kalian bertiga?"

"Asal engkau punya rasa bakti seperti apa yang kau ucapkan, hal itu sudah lebih cukup buat kami." ujar Lu It Beng, "bicara sesungguhnya, dengan tenaga dalam yang kami bertiga miliki sekarang, kendatipun kakek ombak menggulung atau Bintang bertaburan diangkasa datang sendiri kemari, untuk mengundurkan diri dari cengkeraman mereka masih bukan menjadi persoalan bagi kami. engkau tak usah menguatirkan keselamatan kami"

"Kalau memang begitu," sambung Lam-kong Liu, "Anak Ing, sekarang juga berangkatlah untuk menunaikan tugas tersebut." Suma ing segera jatuhkan diri keatas tanah, tatanya^ "Ananda akan turuti perintah ayah, harap ayah suka jaga diri baik2"

Mengikuti peristiwa tersebut sampai disini Lam-kong Pak tak dapat menahan diri lagi, ia menghela napas berulang kali sambil pikirnya dihati:

"Rupanya ia benar2 sudah bertobat dan hidup bagaikan seorang manusia yang lain, jikalau dengan kekejaman, kebengisan serta kebrutalan dari Sma ing pun sekarang bisa berubah jadi baik, kejadian ini boleh dianggap sebagai suatu peristiwa yang paling aneh dikolong langit..."

sementara itu Suma ing telah berlutut dan menyembah pula kearah Lu It Beng sebanyak tiga kali sambil berbisik:

"Empek Lu, baik21ah menjaga dirimu."

Terakhir kepada oei ci IHu dia bertanya, "Empek oei apakah engkau masih ada petunjuk lain??"

"Hidup sebagai seorang manusia dikolong langit. janganlah lupa barang sedikitpun akan kata2 jujur asal engkau dapat ingat selalu perkataan itu dan melaksanakan dengan se-baik2nya aku rasa hidup tentram dikolong langit bukanlah suatu masalah yang menyulitkan- Nah, pergilah"

Suma Ing berlutut dan menyembah tiga kali kearah tiga orang kakek tua itu, disaat ia bangkit dari atas tanah itulah tiba2 sepasang telapaknya direntangkan kesamping, gulungan angin pukulan yang maha dahsyat dengan Cepat menyapu kearah tiga orang yang duduk diatas permukaan tanah itu.

Lam-kong Liu serta Lu It Beng yang tepat ada dihadapannya seketika tersapu oleh angin pukulan yang maha dahsyat itu sehingga terpental sejauh satu tombak dari tempat semula. kedua orang itu kontan jatuh tak sadarkan diri.

Rupanya oei ci Hu sudah menduga kalau sianak muda itu ada maksud jelek terhadap mereka, namun ia sama sekali tak menduga kalau pemuda itu dapat melancarkan serangan pada saat itu juga , dalam gugupnya buru2 ia sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

"Blamm" ditengah benturan nyaring, tubuhnya tergetar hingga mencelat sejauh lima enam depa dari tempat  semula, karena mereka sudah terlalu banyak mengorbankan tenaga dalam yang dimilikinya untuk menyembuhkan luka dalam Suma Ing, maka saat ini ia tak mampu untuk menahan datangnya serangan dari Suma Ing yang dilancarkan dengan sepenuh tenaga itu.

Kontan ia muntah darah segar, tapi dengan suara keras jago tua she- oei itu sempat berteriak:

"Suma Ing, engkau jangan anggap dengan kelicikanmu yang melampaui batas maka kamu bisa bergerak seenaknya ditempat luaran. Hmm suatu saat pasti ada orang yang akan membereskan jiwamu. "

Belum babis ucapan itu diutarakan. Lam-kong Pak yang bersembunyi diluar gua telah membentak keras dan melancarkan sebuah pukulan dahsyat kearah Suma Ing.

"Blaamg..m .." getaran dahsyat menggoncangkan seluruh seluruh goa dan menggUgurkan pasir diatas dinding goa tersebut. pemandangan jadi kabur dan sukar untuk melihat alam sekelilingnya.

Lam-kong Pak kuatir suma Ing turun tangan keji lagi terhadap tiga orang kakek tua itu, dengan cekatan ia loncat kedepan dan menghadang dihadapan mereka. Suma Ing sendiri setelah tahu musuhnya amat tangguh. tak berani bercokol terlalu lama lagi disitu. menggunakan kesempatan yang sangat baik itulah sambil tertawa seram dia kabur keluar dari gua tersebut.

Lam-kong Pak amat gusar bercampur penasaran, ia siap melakukan pengejaran namun oei ci Hu dengan Cepat mencegah,

"Anak Pak tak usah dikejar lagi, sejak pertama kali tadi aku sudah tahu kalau engkau bersembunyi diluar gua karenanya aku tidak menguatirkan apa2, tapi aku sama sekali tak mengira kalau dia bakal turun tangan sekejap itu. Aaai orang ini benar2 sudah terlalu bejad sehingga tak ada obat untuk dapat menolong dirinya lagi."

Lam-kong Pak membimbing ayahnya Lam-kong Liu serta gurunya Lu It Beng, ketiga orang itu saling memeluk sambil meneteskan air mata, siapa yang bilang pria sejati tak dapat mengucurkan air mata? kalau sudah mencapai puncak kesedihan maka bagaimana juga kerasnya hati dan imam seseorang tetap akan mengucurkan air mata.

Sesudah menangis beberapa saat akhirnya oei ci Hu bagikan sebutir obat penyembuh kepada kedua orang itu, kemudian ujarnya:

"Kalian tak usah bersedih hati lagi Pak-ji berada disini semuanya akan berlangsung dengan riang gembira"

"Bukannya aku menggerutu kepada oei-heng," ujar Lam- kong Liu, "bukankah aku tadi sudah katakan janganlah beritahukan letak penyimpanan benda mustika itu kepadanya tapi engkau tak sudi mendengarkan perkataan siau-te aaai sekarang urusan sudah jadi begini siau-te..." Tiba2 oei ci IHu menengadah dan tertawa ter-bahak2 paras mukanya berubah sambil menguruti dadanya dan mengatur pernapasan ia berseru:

"Lamkong-heng bukannya aku oei ci Hu sengaja berjual mahal dihadapanmu, bicara soal pengalaman dalam dunia persilatan kembali kalian kalah setingkat jika dibandingkan dengan diriku, terus terang saja kuberitahukan kepadamu, selama tiga hari terakhir ini aku selalu menaruh perhatian khusus terhadap tingkah laku serta pembicaraan dari Suma Ing, akupun melihat pula kalau dia sengaja menyisihkan ransumnya untuk makanan kita sedang ia cuma minum air untuk menghilangkan lapar, atas perbuatannya itu aku merasa terbaru dan mengira dia benar-benar sudah bertobat dan tak akan melakukan kejahatan lagi, tapi ada suatu hal aku masih menaruh curiga meskipun luka dalam yang ia derita kali ini sangat parah tapi dibawah bantuan kita bertiga yang sudah mengerahkan tenaga untuk membantu menyembuhkan dirinya, bukan saja semestinya sudah pulih kembali seperti sedia kala, bahkan tenaga dalam yang dimilikinya pantas kalau peroleh kemajuan yang pesat, tetapi ketika ia ambil air diluaran tadi lagaknya begitu lemah tak bertenaga seakan-akan sama sekali tak kuat menahan diri hingga untuk mengangkat sebuah hioloo batupun tidak kuat, tingkah lakunya itu merupakan titik kecurigaanku yang pertama. Selanjutnya ketika ia dengar aku utarakan letak tempat penyimpan harta pusaka itu, paras mukanya menunjukan perubahan yang sangat besar tapi ia pura2 berlagak se-akan2 tak memandang terlalu serius persoalan itu, perbuatannya itu tak mungkin akan mengelabui diriku oleh sebab itu aku segera makan siasatnya itu dan beritahukan rahasia tersebut kepadanya"

Mendengar uraian tersebut. diam-diam. Lam-kong Pak merasa sangat kagum, tadi iapun menyaksikan pula kalau paras muka Suma Ing menunjukan perubahan yang sangat mencurigakan namun ia sama sekali tak menduga kalau pemuda itu bakal turun tangan begitu cepat terhadap tiga orang kakek tua itu sekarang ia baru sadar bahwa kadangkala pengalaman jauh lebih penting daripada ilmu silat. Berpikir sampai disitu sianak muda itu segera bertanya:

"oei cianpwee engkau toh sudah memberitahukan letak penyimpanan benda mustika itu kepadanya? apa kah engkau telah membohongi dirinya ???"

"Tidak tempat itu benar dan aku sama sekali tidak membohongi dirinya" sahut oei ci Hu.

"Kalau memang begitu mana mungkin tindakan Cianpwee ini disebut siasat lawan siasat?" oei ci Hu tertawa.

"Walaupun letaknya tidak keliru tetapi aku sudah memutar balikan letak penyimpanan harta mustika itu dari keadaan yang sesungguhnya, untuk beberapa waktu tak mungkin ia temukan letak pusaka itu tapi lama kelamaan tentu saja ia akan menemukan juga letak penyimpanan benda mustika tersebut oleh sebab itu sekarang juga engkau harus berangkat kesitu."

"Tapi kesehatan cianpwee bertiga belum pulih kembali seperti sediakala, lagi pula sekarang menderita luka dalam yang cukup parah, bagaimana Pak-ji bisa tega untuk meninggalkan kalian bertiga.??"

"Engkau tak usah kuatir, asal beristirahat tiga hari tiga malam lagipasti kesehatan kami sudah akan pulih kembali seperti sediakala sebaliknya urusan itu tak dapat di-tunda2 lagi, jlkalau benda pusaka itu sampai terjatuh ketangan Suma ing akibatnya benar2 sukar dilukiskan dengan kata2." Lam-kong Liu membelai kepala putranya dengan penuh kasih sayang dengan suara lembut bisiknya.

"Anakku cepatlah berangkat kami bisa merawat keselamatan kami dengan sebaik2nya."

oei ci Hu segera menggapai Lam-kong pak agar mendekati dirinya kemudian ia membislkan sesuatu disisi telinganya, pemuda itu mengangguk tanda mengerti, jelas jago tua tersebut sedang memberitahukan letak penyimpanan harta mustika yang sebenarnya.

"Begitu saja" ujar Lam-kong Pak kemudian, "aku akan membantu cianpwee bertiga lebih dulu untuk menyembuhkan luka yang kalian derita, setelah itu aku baru berangkat kesana, dengin kecepatan gerak aku yang muda rasanya tak akan ketinggalan terlalu jauh dari dirinya."

"Tidak usah." sahut Lam-kong Liu seraya menggeleng, "engkau harus tahu, tenaga dalam yang dimiliki Suma ing pada saat ini hanya sellsih sedikit saja dari dirimu, kali ini engkau harus berangkat dengan mengerahkan sepenuh tenaga, berusahalah se-cepat2-nya mencapai bukit Toa-pek san- sebab kalau sampai terlambat barang selangkah pun maka engkau akan menyesal untuk se-lama2 nya cepatlah berangkat."

Atas desakan tiga orang kakek itu, akhirnya Lam-kong Pak ambil keluar catatan ilmu hipnotis, Tong-bin-bu-goan, pemberian ketua perkumpulan bulu hijau untuk ayahnya kemudian dengan air mata bercucuran ia mohon diri dan berangkat tinggalkan gua itu.

Bukit Toa-pek san disebut pula bukit Lu-san, bukit itu jadi tersohor namanya dan dikenal oleh setiap orang karena diatas bukit tadi terdapat sebuah kuil yang bernama kuil Lu- siau-si. Sisi kiri dan kanan bukit itu diapit oleh dua buah sungai besar, sungai Kang-sua mengalir kearah selatan sedang sungai Han-sui mengalir dari barat laut.

Ketika jaman sam-kok tempo dulu. wilayah tersebut merupakan daerah kekuasaan dari Go, Liok, Sun serta cu- kat Jin.

Waktu itu rembulan bersinar dengan benderangnya ditengah angkasa, angin gunung berh embus kencang, tampaklah sesosok bayangan manusia bagaikan gulungan asap tipis berkelebat menuju kearah bukit dengan kecepatan Luar biasa, kadangkala dalam sekali kelebat tubuhnya sudah mencapai tujuh delapan tombak jauhnya.

orang itu bukan lain adalah Lam-kong Pak. Setelah beriarian selama dua hari lamanya sampailah penuda itu diatas bukit Toa-pek san, ia langsung berkelebat menuju kearah kuil Lu Siau-si.

Dengan mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya pemuda she Lam-kong ini melakukan perjalanan tiada hentinya, ia kuatir kalau payung sengkala benda mustika dari dunia persilatan itu sampai terjatuh ketangan Suma ing yang akhlaknya jauh lebih bejad dari binatang.

Setelah melewati beberapa bukit, tampaklah dihadapannya muncul sebuah bukit yang sangat besar, puncak bukit menjulang jauh menembusi awan tebal, sebuah bangunan kuil berdiri mentereng dipinggang bukit tersebut, suasana dalam bangunan itu sangat gelap dan tak nampak sesosok bayangan manusiapun, mungkin penjaga kuil itu sudah tertidur, sebab ketika itu waktu menunjukkan kentongan ketiga.

Lam-kong Pak tidak berani berayal, sebab kalau Suma ing bersembunyi didalam kuil itu dan keadaan musuh dalam kegelapan sedang ia berada dalam keadaan terang, kemungkinan besar dirinya bakal disergap secara tiba2.

Selain itu, andaikata ia sampai sudah berhasil mendapatkan payung sengkala. benda mustika tersebut, jangan dibilang disergap secara tiba2, sekalipun bertempur secara terang2an belum tentu ia merupakan tandingannya.

Dengan gerakan tubuh yang enteng dan cepat ia melayang naik keatas tembok pekarangan dan bersembunyi dibalik wuwungan rumah. dari situ dengan gerakan yang sangat hati2 menengok kearah balik kuil.

Bangunan kuil itu semuanya terdiri dari lima buah bilik, pintu ruang tengah setengah tertutup dan suasana dalam ruangan gelap gulita sukar untuk memeriksa keadaan disitu, kendatipun rembulan bersinar dengan terangnya diatas awan, namun serambi yang luas telah menghalangi cahaya rembulan untuk menyorot kedalam ruangan-

Lam-kong Pak mendekam tak berkutik diatas dinding pekarangan, telinganya dipasang baik2 untuk memeriksa keadaan disekitar tempat itu. dari suasana yang sunyi dan sepi orang pasti akan beranggapan bahwa ruangan itu kosong dan tak ada seorang manusia pun, tapi bagi sang pemuda yang bertenaga dalam amat sempurna. ia sempat mendengar adanya seorang sedang berjalan hilir mudik tiada hentinya.

Dengan gerakan yang sangat hati2 ia segera berputar kebelakang ruang kuil, kemudian mengintip dari atas jendela.

Tampaklah disebuah meja altar yang sangat besar, berdirilah sebuah patung area yang besar pula. meskipuntak dapat melihat jelas keadaan patung tersebut, tapi Lam-kong Pak dapat menduga bahwa patung tersebut sudah pasti adalah patung dari Lu siau. Sorot matanya segera menyapu kearah lain, Tapi dengan cepat pemuda itu tertegun dibuatnya. ternyata dalam ruangan itu berisikan penuh patung2 raksasa, tepat dihadapan patung area dari Lusiau berdirilah sebuah patung raksasa pula dari cu-kat Bu-ho.

Dibelakang patung cu-katBu-ho terdapat patung area dari Lau Pi, Thio Hui serta Kwan Kong, sedang dibelakang ketiga patung area itu terdapat pula patung dari Tio in serta panglima perang lainnya.

Pokoknya dihadapan patung area dari Lu Siau terdapat lima enam belas buah patung area raksasa lainnya, tak kuasa lagi Lam-kong Pak dibikin terperangah.

"Jangan2 kuil ini bukan kuil Lu-siau-si? Kalau tidak kenapa terdapat begitu banyak patung area disini??" pikir sianak muda itu dalam hati keeilnya.

Mendadak Lam-kong Pak menemukan sesosok bayangan manusia sedang duduk diantara patung2 area tersebut, rupanya ia sedang bertopang dagu sambil memikirkan sesuatu, orang itu bukan lain adalah Suma ing pemuda bermoral bejad yang sudah tak ketolongan lagi.

Menyaksikan keadaan dari sianak muda itu, Lam-kong Pak segera berpikir didalam hatinya.

"Mungkin ia sudah meneari setengah harian lamanya tanpa berhasil mendapatkan sesuatu. dan sekarang sedang putar otak memikirkan persoalan itu...

Tapi Lam-kong Pak kembali gelengkan kepalanya, ia menganggap dengan watak serta perangai dari Suma ing tak mungkin ia akan bersikap begitu jujur kenapa ia tidak menghancurkan semua patung area yang berada disitu?  buat apa dia peras otak memikirkan soal itu dengan susah payah?? Siapa tahu sebelum ingatan tersebut berkelebat lewat dari benak Lam-kong Pak. tiba2 Suma ing loncat bangun dari atas tanah berguman seorang diri:

"Kemungkinan besar oei ci Hu bajingan tua itu sudah dapat menebak reneanaku dan mengetahui pula kalau Lam- kong Pak bersembunyi diluar gua maka sengaja dia suruh aku datang kemari untuk repot sendiri ... tapi aku percaya kalau payung sengkala tersebut pasti berada didalam ruang kuil ini hanya saja entah tersimpan didalam patung besi yang mana??"

Sekarang Lam-kong Pak baru mengerti rupanya patung2 area itu terbuat dari besi semua, tidak aneh kalau Suma Ing tak mampu untuk merusak patung tersebut. Lam-kong Pak tersenyum sendiri, pikirnya didalam hati:

"Engkau sibajingan cecunguk biasanya sangat cerdik dan punya banyak akal busuk kali ini akan kuuji kepandaian dan kecerdasanmu itu, akan kulihat apakah engkau mampu untuk menebaknya atau tidak...??"

Sementara itu, Suma Ing dengan sebuah mata tunggalnya sedang menyapu satu patung dengan patung yang lain akhirnya sorot mata pemuda itu berhenti diatas patung area cu-katBu-ho, gumamnya seorang diri.

"Kalau ditinjau dari sejarahnya tempo dulu cu-katBu-ho ( Khong Beng ) pernah bantu pihak Go untuk menghancurkan co-cho kepandaian serta siasatnya sangat dikagumi oleh Lu Siau tua semua perintah serta nasehatnya selalu dituruti, aku rasa diantara patung2 besi yang ada disini hubungan cu-kat Khong Beng dengan Lu Siau lah yang paling erat dan akrab jangan payung mustika itu tersimpan didalam tubuh cukat Khong Beng?" Lam-kong Pak yang mendengar gumaman tersebut seketika itu juga merasakan hatinya bergetar keras disamping itu diapun menghela napas panjang pikirnya:

"KeCerdasan otak bajingan ini benar2 sangat tinggi kepintarannya melebihi siapa pun jika ia dapat dibimbing kejalan yang benar niscaya kemampuannya tak akan berada dibawahku"

= =^^O^^= =

Sementara itu Suma Ing telah tertawa seram per-lahan22 ia berjalan mendekati patung area dari cu-kat Khong Beng, sebaliknya Lam-kong Pak yang bersembunyi ditempat itu telah menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya untuk bersiap sedia.

Setelah tiba dipatung area diri cu-kat Khong Beng dengan penuh seksama Suma Ing periksa sekitar patung tadi, sementara Lam-kong Pak sendiri telah menyusup masuk kedalam ruangan dan menyembunyikan diri dibelakang sebuah patung area.

Suma Ing sedang pusatkan semua perhatiannya pula. memeriksa sebentar patung area dari cu-kat Khong Beng karena itu ia tidak merasakan kehadiran seseorang disekitarnya dengan tangannya yang kuat dia mulai mengetuk seputar dada patung tersebut ^criing... cring ..^ kecuali bunyi gemerincing tidak nampak suatu pertanda apapun yang mencurigakan.

SUMA Ing segera berputar kebelakang patung dan mengetuknya berulang kali disekitar sana akhirnya ia bergumam seorang diri

"Sepasang tangan cu-kat khong Beng diangkat lurus keatas, seandainya payung sengkala itu benar2 berada dalam sakunya. maka benda itu pasti berada diantara kedua belah tangannya..."

Dengan tanganya ia meraba pakaian patung cu-kat Khong Beng itu, lalu dengan sepanuh tenaga ditarik kebawah....^Kraaakk^ sepasang lengan itu ternyata  bergerak kebawah kemudian seCepat kilat memeluk pinggang pemuda she Suma itu.

Suma Ing merasa amat terperanjat. dengan cepat ia menyingkir tiga langkah kesamping siapa tahu patung area itu dapat pula menggerakaan badannya, patung itu miring kesamping dan kembali memeluk kearah pinggang pemuda itu.

Dengan sekuat tenaga Suma Ing melancarkan sebuah pukulan gencar kearah patung itu. pukulan itu dengan telak menghajar dibawah sikut kiri patung tadi...Braaak tiba2 sebuah benda terjatuh dari balik ujung baju patung tersebut,

Suma Ing jadi amat gembira. dia lihat benda itu panjangnya kurang lebih tiga depa dengan lebar setengah depa terbungkus rapi oleh selembar kulit menjangan yang kuat.

Dengan cepat dia pungut benda itu lalu dipeluknya erat? karena gembira ia menjerit-jerit keras.

Siapa tahu belum habis ia tertawa kegirangan Lam-kong Pak dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat telah menerjang kedepan, sekali menyambar tahu2 sudah berhasil merampas benda tadi dan mengundurkan diri sejauh satu tombak dari tempat semula.

"Heeeehhh...heeehhh...heeehh, bajingan anjing durjana engkau tak menyangka bukan?" ejeknya, "kalau benda mustika semacam ini sampai terjatuh ketanganmu, Thian loo-ya benar2 sudah salah melihat haahh...haaahh...haaahhh"

Paras muka Suma Ing yang jelek dan menyeramkan itu mulai berkerut kencang, dari perubahan mimik wajahnya dapat diketahui betapa gusar dan bencinya pemuda itu terhadap lawannya, ia tak menyangka kalau kegembiraannya akan sia-sia belaka, bukan saja benda mustika itu sudah terjatuh ketangan Lam-kong Pak, bahkan keselamatan jiwanya benat2 sangat terancam.

Kendatipun berada dalam keadaan yang sangat tidak menguntungkan, namun manusia durjana tersebut tetap bersikap cerdik, otaknya berputar keras berusaha mencari jalan keluar, sementara biji matanya berputar kian kemari,. Mendadak ia tertawa dingin, serunya: 

"Lam-kong Pak. semua orang mengatakan engkau adalah seorang pria jujur yang tak berbuat curang, tapi kalau ditinjau dari perbuatan serta tingkah lakumu pada malam ini... Huuh rupanya nama besarmu itu hanya nama kosong belaka"

"Anjing durjana lebih baik jangan coba2 menggunakan siasat miskin seperti itu untuk menipu aku, sekalipun engkau ngobrol sampai lidahmu terbelah dan bibirm upecah, tak nanti aku bakal tertipu lagi oleh siasat busukmu itu"

"Lam-kong Pak. tenaga dalam yang kita miliki seimbang, bila kita benar2 beradu kepandaian sesuai dengan kemampuan masing2. belum tentu engkau bisa menandingi diriku"

"Huuh lebih baik jangan tekebur, kalau engkau tidak percaya silahkan mencoba sendiri"

Suma Ing segera tertawa dingin. "Heehh...heeehh..heehh.. sungguh tak kusangka ternyata engkau pun telah mempelajari kelicikan serta kekejian orang persilatan"

"Sejak kapan aku mempelajari kekejian dan kelicikan orang persilatan?"

"Payung sengkala toh berada ditanganmu, seandainya sampai terjadi pertarungan maka bisa saja engkau menyerang aku dengan menggunakan payung mustika tersebut, dalam keadaan begitu tentu saja aku suma Ing bukan tandinganmu, Hmm engkau anggap aku benar2 tidak tahu akan siasat busukmu itu?

"Kalau aku hendak membinasakan dirimu, maka sekalipun engkau punya sepuluh lembar nyawa cadanganpun tetap akan habis semua ditanganku. buat apa aku musti menggunakan Payung sengkala benda mustika tersebut untuk menghadapi dirimu?"

"Huuh kalau bicara melulu tanpa bukti sama sekali tak ada gunanya, beranikah engkau letakkan payung sengkala itu diatas tanah kemudian baru berduel satu lawan satu dengan aku?"

Lam-kong Pak tertawa dingin-

"Heehah heehhh-heehhh... anjing jahanam engkau ingin mengincar benda mustika ini? jangan bermimpi ditengah hari belong."

"Aah rupanya engkau hanya bisa menggunakan hal tersebut sebagai alasan, aku rasa engkau sibangsat cilik sama sekali tidak memiliki ilmu silat yang sungguh2 hebat tapi selama ini hanya mengandalkan sementara jago lihay untuk melindungi dirimu."

"Heehh-heehh heeh... Sauma Ing "seru Lam kong pak sambil tertawa dingin, "maksud dan tujuanmu sudah amat jelas sekali. bukankah engkau hendak menggunakan kesempatan yang sangat baik itu untuk merampas payung sengkala tersebut? aku tak nanti akan tertipu oleh mu"

"Hmm payung sengkala ini akan kugantungkan diatas punggungku dan aku tak nanti akan mempergunakannya sekarang engkau boleh berlega hati bukan?"

Bicara sampai disitu pemuda itu benar2 mengga ntungkan payung sengkala tersebut di atas punggungnya.

Melihat siasatnya sama sekali tidak termakan oleh musuhnya kembali Suma ing putar sepasang biji matanya sambil tertawa seram ia berseru:

"Lam-kong Pak isi perutku yang terluka belum sembuh benar2, aku tahu kalau kepandaian silatku masih belum mampu menandingi dirimu. Nah, kalau mau turun tangan cepatlah turun tangan"

"Sekalipun aku akan membinasakan engkau akan kubunuh dirimu setelah engkau benar-benar merasa takluk, sekarang cepatlah mulai turun tangan"

Suma Ing menyeringai dan tertawa seram,

"Heeehh-heeeh-heeehh, kenapa engkau musti berlagak pilon?? meskipun payung sengkala diatas punggungmu toh setiap saat dapat kau lepaskan dan kau gunakan sekalipun aku Suma Ing harus mati ditanganmu aku akan mati setelah menjadi jelas duduknya persoalan"

Lam-kong Pak jadi sangat mendongkol, sambil tertawa dingin serunya.

"Baiklah sebelum kubunuh dirimu, akan kusuruh engkau pentangkan mata lebar2 sehingga dapat mati dengan mata meram, akan kuturuti kemauanmu itu. Hehmm .. . hemm bukannya aku Lam-kong Pak sengaja mengibul, kalau engkau pingin rampas benda mustika itu maka kemampuanmu masih belum berhasil mencapai puncak kemampuan tersebut."

"Nah begitulah baru bisa dikatakan seorang pria sejati seorang lelaki gagah perkasa, sekalipun aku Suma Ing tak mampu menandingi dirimu dan mati, tak nanti akan kuucapkan sepatah katapun kata2 yang bernada menggerutu."

Lam-kong Pak lepaskan payung sengkala tersebut dari punggungnya kemudian diletakkan diatas tanah. setelah itu baru ujarnya: "Suma Ing. sekarang engkau tak usah kuatir lagi."

Suma Ing melirik sekejap kearah payung sengkala tersebut. benda mustika itu terletak ditengah2 mereka berdua yang berjarak sama antara yang satu dengan lainnya, tapi ia sadar bahwa kecepatan gerakan tubuhnya jauh kalau dibandingkan kecepatan Lam-kong Pak, karena itu mau tak mau dia musti menggunakan otaknya untuk mengatasi persoalan itu.

Menyaksikan tingkah laku dari musuhnya. Lam-kong Pak segera tertawa dengan sambil berseru:

"Tidak usah putar otak untuk mencari akal busuk lagi, engkau tak akan berhasil mendapatkan benda mustika itu, ayohlah cepat turun tangan "

Sepasang mata Suma Ing berputar tiada henti. mendadak wajahnya berubah dan dihiasi dengan senyum menyeringai yang mengerikan sekali, dia membentak keras. dengan menghimpun hawa murni Kun-tun-kang-kienya sebuah pukulan dahsyat dilepaskan kearah depan, begitu pukulan dilepaskan ia sendiri menyingkir kearah samping. Tentu saja Lam-kong Pak sama sekali tidak takut untuk menghadapi musuhnya. dengan cepat ia putar telapak untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.

"Blaammm . . " benturan keras yang memekikkan telinga berkumandang memecahkan kesunyian, tubuh Lam-kong Pak sama sekali tidak bergeming barang sedikitpun juga . ia sadar bahwa tenaga dalamnya telah memperoleh kemajuan pesat. mungkin itulah hasil dari telur ikan leihi bergaris merah serta buah besar dimakan belum lama berselang.

Siapa tahu belum habis ingatan tersebut berkelebat lewat dalam benaknya, Suma Ing sudah ayunkan telapaknya dan melemparkan sebuah betol porselen kedepan.

Ketika botol kecil itu mencapai setengah jalan, kembali Suma Ing melancarkan sebuah pukulan-

Lam-kong Pak jadi amat terperanjat ia tahu isi botol tersebut adalah air keras Sim wi ceng-sui milik salju bulan keenam Tong Hui. dan pukulan yang disusulkan oleh Suma Ing tersebut telah menghancurkan botol tadi sehingga membuat air racun yang berada dalam botol tadi bermuncratan keempat penjuru. wilayah seluas lima enam tombak disekitar tempat itu seketika terkurung oleh hujan air racun.

Mau tak mau terpaksa Lam-kong Pak harus menyingkir kesamping, pada saat itulak Suma Ing segera berkelebat maju kedepan sambil menyambar payung sengkala tersebut.

Setelah berhasil menyapu kebalik air racun yang menyebar kearahnya, Lam-kong Pak menyerang pula kedepan sambil berusaha menyambar payung sengkala tersebut. namun gerakan tubuhnya terlambat satu tindak, pada saat yang terakhir pihak lawan berhasil memegang senjata itu lebih dahulu. Dalam Cemas dan gelisahnya hawa murni bayi saktinya secara otomatis menerjang keluar dari selangkangan dan langsung menghantam bahu kiri Suma ing.

Manusia durjana itu seketika merasakan badannya kena dihantam sehingga terasa amat sakit. namun ia bersikeras tetap memegang payung sengkala tersebut tanpa dilepas barang sebentarpun juga .

Bagaimanapun juga Lam-kong Pak adalah seorang pemuda yang berhati baik, ia tahu andaikata terjangan ini dilanjutkan, dalam keadaan tak terhadang oleh hawa murninya niscaya Suma Ing akan dihantam sehingga tubuhnya hancur ber-keping2, diam2 ia menghela napas panjang dan segera tarik kembali hawa murni bayi saktinya.

Pada saat itulah Suma Ing sudah berhasil mendapatkan payung sengkala itu, sambil loncat mundur satu tombak kebelakang ia tertawa keras tiada hentinya.

"Haahhh-haaahh-haaahh.. Lam-kong Pak, rupanya engkau masih selisih jauh kalau dibandingkan dengan diriktu, sekarang benda mustika ini sudah berada ditanganku itu berarti engkaupun sudah berada dalam genggamanku. haaahh. . .haaahh. "

Sambil tertawa seram, dengan sepasang kakinya ia jepit payung mustika itu kemudian melepaskan kulit menjangan yang membungkus benda tadi.... apa yang dilihat? ternyata dibalik bungkusan kulit menjangan masih terdapat selapis kertas minyak, ketika kertas minyak itu dibuka ternyata didalamnya masih dibungkus oleh selembar kulit yang tebal.

Dua orang itu terperangah dibuatnya, maka Suma Ing pun segera membuka kembali kulit tersebut, tapi dibalik kulit masih terbungkus oleh selapis kain kumal, ketika kain kumal dibuka didalamnya masih terbungkus oleh selembar kertas minyak.

Setelah pembungkusnya selapis demi selapis dibuka, maka bungkusan payung sengkala yang semula tiga depa panjangnya dan setengah depa lebarnya, kian lama kian menipis dan kian lama kian pendek.

Air muka Suma Ing makin lama makin berubah semakin tak sedap dipandang sebenarnya Lam-kong Pak hendak melancarkan sergapan pada saat itu maka itu akan dilakukan dengan gampang bagaikan membalik telapak tangan sendiri, tapi ia tak sudi berbuat demikan, meskipun Suma Ing telah melakukan perbuatan semacam itu kepadanya namun ia sendiri tak tega uatuk membalas dengan cara yaang sama.

Belasan lapis kertas minyak kain kumal dan kulit menjangan telah dibuang, sekarang yang tertinggal cuma sebuah bungkusan yang panjangnya satu depa dan lebar dua cun, sementara dibalik bungkusan masih terdapat pula selapis kertas minyak.

Suma Ing benar2 amat gusar Sreeet, ia robek kain sutera yang membungkus benda itu, mendadak. . . .

"Aaaah" ia berseru tertahan, dibalik kain sutera itu muncullah sebuah payung kecil yang panjangnya satu depa dengan lebar dua cun yang memancarkan cahaya merah membara.

Payung sengkala ternyata amat kecil bentuknya kenyataan tersebut sama sekali diluar dugaan siapapun, benarkah benda mustika yang begitu kecil betulnya dapat menunjukan kedahsyatan yang luar biasa?

Dengan ter-manggu2 dua orang muda itu berdiri memandang payung mustika tadi, mereka percaya benda itu pastilah benda mustika yang betul2 asli, disamping itu Lam- kong Pak merasa beriba hati karena persoalan benda mustika itu sudah puluhan orang jago persilatan yang menemui ajalnya dan sekarang benda mustika itu terjatuh ketangan seorang durjana.

Benarkah dunia persilatan akan terjerumus dalam lembah kehancuran?? benarkah semua pendekar bakal mati konyol?

Sekarang Lam-kong Pak mulai murung dan bingung dibuatnya, Khong Hu cu mengajarkan kebajikan sedang Beng-cu mengajarkan kesetiaan namun Suma Ing yang berada dihadapannya sudah kehilangan perangai yang sebenarnya baik kebajikan maupun kesetiaan sama sekaii tak akan terdapat pada tubuhnya.

"Sreeet..." Suma Ing membentangkan payung sengkala tersebut, cahaya merah yang amat menyilaukan mata segera memancar ke empat penjuru membuat suasana dalam kuil Lu-siau-si terang benderang bagaikan berada disiang hari belong belaka.

Suma Ing tertawa seram tiada hentinya, selangkah demi selangkah ia maju mendekati Lam-kong Pak. katanya:

"Lam-kong Pak, malam ini untuk pertama kalinya akan kupergunakan payung sengkala ini untuk menghadapi dirimu. ber-siap2lah untuk menjadi kelinci percobaanku"

Dengan terkesiap Lam-kong Pak mundur kebelakang, meskipun ia tidak takut ancaman pemuda itu tak rela kalau mati ditangan Suma Ing. lagi pula tugas berat yang dibebankan beberapa orang cianpwee diatas pundaknya bukan saja belum terselesaikan bahkan makin runyam keadaannya, matipun dia akan mati dengan mata tak terpejam, Lam-kong Pak mundur kebelakang deretan patung area tersebut dan bersandar diatas dada patung Thio Hui, patung tersebut besarnya sampaii tiga depa lebih tinggi daripada tubuh Lam-kong pak sendiri, hingga ditengah kegelapan nampak jauh lebih mengerikan.

Rasa bangga dan gembira yang menyelimuti perasaan hati Suma Ing pada saat ini benar2 sukar dilukiskan dengan kata2. sebab ia merasa yakin bahwa payung sengkala yang berada ditangannya bukan payung palsu lagi. dengan andalkan mustika tersebut kendatipun Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa seng datang kesanapun ia tak akan merasa jeri. Sambil memandang kearah Lam-kong pak. Suma Ing tertawa seram tiada hentinya.

"Heehh-heehh-heehh.. Lam-kong Pak." teriaknya, "malam ini tak akan terjadi keajaiban lagi bagimu. tak mungkin ada orang yang datang untuk menolong dirimu, kematianmu sudah pasti dan tak dapat gagal lagi."

Sambil berkata ia tutup kembali payung sengkala itu dan secepat kilat berkelebat mengancam dada Lam-kong Pak.

Ketika serangan tersebut mencapai jarak satu depa dan tubuhnya. Lam-kong Pak merasakan desiran angin tajam menyambar tubuhnya, dada dan tubuhnya jadi sakit bagaikan di-iris2. hal ini membuat hatinya terperanjat sekali hingga buru2 menyingkir kesamping.

Dalam keadaan menang posisi tentu saja Suma Ing tak mau melepaskan lawannya dengan begitu saja, ujung payung miring kesamping dan sekali lagi melancarkan serangan gencar.

Lam-kong Pak sadar babwa ia tak akan mampu menandingi lawannya dengan tangan kosong belaka. dengan cepat senjata tanduk Naganya dilepaskan dari pinggang. Dengan salurkan hawa murninya hingga mencapai sepuluh bagian ia tangkis datangnya serangan payung itu, pikirnya :

"Tanduk Naga sakti adalah benda dari makhluk aneh yang telah berusia ribuan tahun kerasnya bukan kepalang. aku rasa payung sengkala itu tak nanti akan mampu menahan serangannya, . . "

Siapa tahu sebelum tanduk naga itu sempat menempel diatas senjata lawan, Sumi Ing yang kuatir payung mustika itu rusak atau cacad buru2 tarik kembali serangannya, sekali lagi dia menyerang tubuh bagian bawah dari Lam-kong Pak.

Rasa percaya pada diri sendiri muncul makin kuat dalam hati kecil Lam-kong Pak, ia bertekad untuk mengadu senjatanya denganpayung sengkala itu. maka senjata tanduk naganya sekali lagi disapu kearah depan.

Suma Ing tak dapat menghindarkan diri lagi. dengan menggunakan payung mustika itu dia sambut datangnya serangan tersebut.

Pada saat itulah sesosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat menyambar keluar dari balik patung area dari panglima Thio In dan langsung mencengkeram payung sengkala dalam genggaman Suma Ing.

Mimpipun Suma Ing sama sekali tak menduga kalau dalam kuil tersebut hadir orang ketiga. ia rasakan urat nadinya jadi kencang dan tahu2 payung sengkala itu sudah dirampas orang.

"Huahh-haahh-haahh..." gelak tertawa yang amat memekikkan telinga berkumandang memecahkan kesunyian. Rupanya orang itu bukan lain adalah Kakek ombak menggulung, ditengah jalan secara tiba2 ia temukan gerak- geriknya Lam-kong Pak yang sedang bergerak menuju kebelakang kuil Toapek san dengan gerakan cepat, dia segera melakukan penguntitan secara diam2, apa yang barusan terjadi dapat dilihat olehnya dengan jelas.

Baik Lam-kong Pak maupun Suma Ing sama-sama menjerit kaget, masing2 mundur selangkah kebelakang.

"iblis tua engkau punya rasa malu atau tidak ?" teriak Suma ing dengan penuh kegusaran-

Sambil membelai payung mustika itu dengan penuh rasa kasih sayang, kakek ombak menggulung tertawa bangga, sahutnya:

"Haahhh-haaahh-haaahh... untuk mendapatkan benda mustika dari dunia persilatan, mau tak mau terpaksa aku harus menggunakan cara apapun agar usahaku ini berhasil, pokoknya perbuatanku pada malam initoh cuma diketahui oleh kalian berdua saja kecuali itu siapa lagi yang tahu ? Hmm sekarang. kalau aku ada niat untuk membereskan kalian berdua maka perbuatan ini bisa kulakukan dengan gampang sekali ibaratnya membalik telapak tangan sendiri "

Gembeng iblis itu sama sekali tidak mengibul meskipun untuk berduel satu lawan satu Lam-kong Pak sama sekali tidak jeri kepadanya tapi sudah jelas Suma ing bukan tandingannya, apa lagi sekarang payung mustika itu berada ditangannya, kedahsyatan gembeng iblis itu betul2 tak boleh dipandang enteng.

Suma Ing sepera putar biji matanya mencari jalan keluar, kepada Lam-kong pak tiba-tiba ujarnya:

"Lam-kong Pak kalau engkau ingin mundur dari sini dalam keadaan selamat maka kita harus bekerja sama untuk menghadapi dirinya sebab kalau tidak maka kita tak ada yang hidup bebas lagi"

Lam-kong Pak segera tertawa dingin-

"Heeehhh-heeehh-heeehhh... engkau lebih baik mundur saja dari situ biar aku seorang yang membereskan dirinya"

Suma Ing. memang mengharapkan agar Lam-kong Pak mengucapkan perkataan tersebut, ia segera menyingkir kesamping sementara biji mata bajingannya berputar terus untuk meloloskan diri dari tempat celaka itu.

Dipihak lain dengan langkah lebar Lam-kong Pak maju selangkah kedepan, serunya^ "Hey iblis sekalipun engkau memiliki benda mustika dari dunia persilatan namun aku tidak jeri menghadapi dirimu mari... mari... mari... sambutlah dulu beberapa jurus serangan ini"

Kakek ombak menggulung sudah pernah merasakan kelihayan diri Lam-kong Pak meskipun payung sengkala sudah berada ditangannya namun ia tak berani pandang enteng musuhnya.

"Bocah muda" ia berseru, "engkau sendiri yang minta aku berbuat demikian andaikata sampai cedera atau mampus janganlah salahkan aku terlalu andalkan keampuhan dari payung sengkala ini untuk memeras yang muda, engkau musti tahu benda mustika ini merupakan senjata dahsyat yang memiliki daya penghancur sangat hebat"

Lam-kong Pak memutar senjata tanduk naganya untuk memukul pergelangan tangan kakek ombak menggulung.

Sebetuinya kakek ombak menggulung tak ingin menerima datangnya serangan tersebut dengan senjata payungnya, tapi ketika ia rasakan betapa kuat dan hebatnya daya serangan yang terpancar keluar dari senjata tanduk naga sehingga sukar ditahan ia segera berubah pikiran. dengan payung sengkala ia sambut datangnya ancaman itu.

"Traaang.. " benturan nyaring berdenting diudara, bayangan manusia saling berpisah dan masing2 mundur tiga langkah kebelakang.

Ketika Lam-kong Pak tundukkan kepalanya untuk memeriksa senjata tandUk naga itu ia lihat senjata andalannya gUmpal dan membekas sebUah lekukan sedalam setengah cUn, kenyataan tersebut kontan saja membUat hati si anak muda itu jadi tercekat dan diam2 merasa bergidik.

Kakek ombak menggulung sendiri ketika tundukkan kepala memeriksa payung mustika tersebut. ia temukan senjata itu tetap utuh saperti sedia kala dan sama sekaii tidak cacad, tak tahan lagi sambil tertawa seram ia berseru."Heeehh-heeehh-heeehhh...benda mustika dari dunia persilatan ini benar2 sangat dahsyat, hey bocah keparat sekarang engkau sudah rasakan kelihayannya bukan?"

Lam-kong-Pak sudah tahu kalau tenaga dalam yang dimilikinya jauh diatas kepandaian musuhnya, cuma daya pengaruh dari payung itu teramat besar dan lagi sorot matanya menyilaukan mata maka sulitlah baginya untuk menghadapi serangan tersebut.

pada saat itulah kakek ombak menggulung sambil putar payung mustika menerjang maju kedepan. senjata tersebut dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat dan kekuatan bagaikan gunung Tay-san menindih kepala menghajar batok kepala sianak muda itu.

Lam-kong Pak tak berani menerima keras lawan keras, ia menyingkir liga langkah kesamping. Pada saat itulah tiba2 Suma ing menjerit kaget. mendengar jeritan itu Lam-kong Pak merasa amat terperanjat dan segera berpaling.

Tampaklah sesosok bayangan manusia dengan suatu gerakan yang cepat telah menerjang kearah kakek ombak menggulung dan merampas payung mustika itu, kemudian secepat kilat mundur satu tombak kebelakang.

Kakek ombak menggulung amat terkesiap ia tak habis mengerti jago dari manakah yang memiliki ilmu silat selihay itu, Ketika ia berpaling, jago tua itu menjerit tertahan: "Suheng kira....kiranya engkau. "

Lam-kong-Pak jadi sangat terperanjat, pikirnya, "Habislah sudah..., ternyata kakak seperguruannya Bintang yang bertaburan diangkasa telah datang, tipis sudah harapanku untuk merampas kembali payung mustika itu pada malam ini"

Tampaklah orang itu berwajah penuh bopeng, alisnya tebal dengan mata yang besar. Jenggot kambingnya lurus kaku bagaikan sikat, pakaiannya lebar dengan belahan dilutut, mukanya nampak bengis dan sadis sekali.

= =ooooooooo= =

KAKEK ombak menggulung yang tersohor sebagai seorang gembong iblis paling lihay. paling disegani oleh setiap umat persilatan, setelah bertemu Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng segera menunjukkan sikap yang sangat jeri dan menghormat, lagaknya bagaikan tikus bertemu dengan kucing saja....

Sambil ber-bungkuk2 memberi hormat ia berseru tiada hentinya dengan suara lirih: "oooh.. suheng. baik2kah engkau...suheng baikkah engkau. ???" Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng mendengus dengan sikap yang hambar.

"Hmmm tentu saja aku berada dalam keadaan baik2, siapa bilang aku tidak baik??"

"Heeehh-heeehh-heehh..." kakek ombak menggulung tertawa paksa, "suheng tenaga dalammu sudah mencapai taraf yang tak dapat dilukiskan lagi dengan kata2 tak seorang manusiapun dikolong langit yang mampu menandingi kehebatanmu, aku rasa... aku rasa engkau tak akan sampai tertarik oleh mainan kanak2 yang tak ada gunanya bagimu itu bukan??"

"Tentu saja engkau tahu siapakah suhengmu ini? dan sampai dimanakah kedudukanku dalam masyarakat? kalau sebuah payung sengkala belaka tentu saja tak terpandang sebelah matapun dihadapan suhengmu ini, cuma masih ingatkah engkau dengan apa yang pernah kukatakan kepadamu beberapa hari berselang?..."

"Ingat... Ingat... aku masih ingat dengan apa yang suheng katakan" sahut kakek ombak menggulung sambil anggukan kepalanya berulang kali.

"coba ulangi sekali lagi apa yang pernah kukatakan kepadamu beberapa hari berselang."

"Suheng pernah berkata jika payung sengkala tersebut suatu hari terjatuh ketanganku, maka untuk sementara waktu suhenglah yang akan menyimpankan benda mestika tersebut."

"Bagus. kalau engkau masih ingat hal ini jauh lebih  bagus lagi.. engkau harus tahu, suhengmu sama sekali tidak jeri untuk menghadapi kawanan jago lihay dari kalangan putih, tapi terhadap tiga orang setan tua itu..." Kakek ombak menggulang melirik sekejap dengan sorot mata penuh kelicikan, kemudian sambil tertawa katanya:

"Aah suheng, engkau bersikap terlalu hati2 pada saat ini mungkin saja ketiga orang setan tua itu sudah lama mampus dan tulang belulangnya telah hancur musnah, apa yang perlu kau takutkan lagi..? toh dimasa lampau kita telah. "

Tiba2 bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng melotot besar menyadarkan Kakek ombak menggulung bahwasanya ia telah terlanjur bicara salah. buru2 ia membungkam dan alihkan pokok pembicaraan ke soal lain-

"Suheng, bagaimana penyelesaiannya terhadap dua orang bocah keparat ini?"

Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng tertawa tawa.

"Dengan andaikan tenaga dalam yang kau miliki, masa untuk menyelesaikan merekapun tak mampu??"

Bagaikan kena listrik. sekujur badan Kakek ombak menggulung gemetar keras, paras mukanya berubah jadi merah padam bagaikan kepiting rebus, dengan suara ter- bata2 katanya:

"Suheng. bicara terus terang saja siau-te benar2 merasa sangat malu... hingga sekarang. "

"Sekarang bagaimana jadinya...?" tegur Bintang yang bertaburan diangkasa sambil tertawa dingin.

"siau-te cuma mampu untuk bertarung seimbang dengan dirinya, tapi aku yakin dia takkan mampu bertahan sebanyak tiga sampai lima jurus jika bertempur melawan saheng Sendiri... dalam hal ini siau-te betul-betul merasa amat malu dan kecewa sekali." Mendengar pujian itu Bintang yang bertaburan  diangkasa Liok Hoa Seng merasakan hatinya berbunga, namun diluaran ia tertawa dingin tiada hentinya.

"Heehh-hreeh-heehh...ucapanmu itu memang sedikitpun tidak salah..."

Belum habis dia berkata, Lam-kong Pak telah tertawa dingin sambil menyela dari samping:

"Hey iblis tua bangkotan, aku lihat rupanya engkau sudah terlalu biasa mengibul dan omong kosong sehingga tiap kali mengibul muka tidak sampai memerah dan.napas tidak sampai ter-sengkal2... Huuuh dalam lima puluh jurus mendatang,jikalau engkau sanggup menangkan satu atau setengah jurus dariku, maka akan kuberitahukan suatu persoalan yang maha penting kepadamu"

Jenggot kambing Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng bergetar keras, rupanya ia merasa gusar sekali sesudah mendengar perkataan itu pikirnya, "Bocah keparat, engkau berani mempermainkan diriku?? Hmm rupanya sudah bosan hidup?"

"Selamanya aku tak pernah mempermalukan orang lain apa lagi menghina atau menfitnah dirinya, aku hanya bicara terus terang saja sesuai dengan kenyataan yang ada. Hmm bicara yang sebetulnya, engkau tidak lebih hanya mempergunakan siasat licik yang amat rendah uatuk membohongi payung sengkala tersebut dari tangan sutemu. setelah mendapatkan payung mustika itu engkau baru berani bicara sesumbar seenaknya... IHuuh kalau engkau benar2 jantan, beranikah engkau serahkan kembali payung sengkala itu kepada Kakek ombak menggulung agar disimpan olehnya untuk sementara waktu, kemudian bertarung sebanyak ratusan jurus dengan diriku?" Selama ini Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng selalu menganggap dirinya sebagai jago silat nomor satu dikolong langit. sikapnya selalu jumawa dan tekebur, diam2 diapun dapat menyadari bahwa kepandaian silat yang dimiliki lawannya pasti lihay sekali, terbukti sampai sutenya yang ia ketahui berilmu tinggi pun hanya bisa bertarung seimbang dengan dirinya, sudah tentu ia tak sudi menyerahkan payung mustika itu kepada adik Sepergurannya. karena dia tak akan berlega hati selama mustika itu terjatuh ketangan orang lain-

Sementara itu Lam-kong Pak telah tertawa ter-bahak2 sambil mengejek.

"Haaahh-haaahh-haaahh... iblis tua, kalau engkau tak berani menerima tantanganku itu, lebih baik mengakulah terus terang akuta nanti akan paksa orang untuk mencari penyakit buat diri sendiri"

Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng naikpitam dibuatnya, seluruh rambut dan jenggot kambingnya pada berdiri kaku bagaikan landak, dengan mata melotot kulit dan muka merah padam bagaikan babi panggang ia membentak keras:

"Bocah keparat, aku tak pernah mengenal rasa takut dan tak ada pekerjaan yang tak berani kulakukan coba katakan, engkau suruh aku mengatakan soal besar apa??"

"Soal apa yaa?? aku hanya ingin engkau menceritakan kembali tentang nasib tiga orang setan tua seperti apa yang barusan kalian bicarakan itu"

begitu ucapan tersebut diutarakan keluar dua orang gemboog iblis tua itu sama2 merasakan tubuhnya bergetar keras karena terperanjat. Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng segera tertawa dingin. "Heeehh-heeehh-heeehhh...Tahukah engkau siapakah ketiga orang setan tua yang barusan kubicarakan itu"

"Aku sendiripun kurang begitu tahu cuma aku ingin sekali memberitahukan persoalan penting yang ada hubungannya dengan Matahari, rembulan dan bintang tiga orang tua itu"

Sekali lagi dua orang gembong iblis itu menjerit keras saking terperanjatnya sambil mundur selangkah kebelakang kakek ombak menggulung segera menegur: "Engkau sudah pernah berjumpa dengan orang tua itu?"

"Karena mengikuti pembicarasn kalian berdua maka aku sebut mereka sebagai setan tua juga tapi mulai sekarang aku merubah nama panggilan tersebut menjadi sebutan Loocianpwee"

"Bocah keparat engkau pernah bertemu dengan mereka dimana??" seru dua orang gembong iblis tua itu setelah saling berpandangan sekejap.

"Bukankah barusan sudah kukatakan asal engkau bisa menangkan satu jurus atau setengah gerakan dariku dalam lima puluh gebrakan tanpa menggunakan payung mustika tersebut rahasia tersebut pasti akan kuberitahukan padamu dan jangan kuatir ku tak akan mengingkari janji. "

"Kalian jangan mau dengarkan ocehannya." tiba2 Suma Ing berteriak keras, "bangsat muda sedang jalankan siasat menunda pasukan mungkin ia sedang menantikan dari bala bantuannya"

Mendengar teriakan tersebut Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng segera melotot sekejap kearah Suma Ing dengan penuh kegusaran ia segera menegur: " Siapakah bajingan muda ini?" "Dahulu dia adalah anak murid siau-te, tapi sekarang dia telah mengkhianati diriku." jawab kakek ombak menggulung dengan cepat.

Bintang yarg bertaburan diangkasa segera tertawa dingin tiada hentinya, "Heehh-heeeh-heeehh... ringkus dahulu bajingan cilik itu"

Untuk menghadapi Lam kong pak yang diketahui olehnya berilmu tinggi dan bertenaga dalam sempurna Kakek ombak menggulung merasa tak punya keyakinan untuk menangkan pertarungan tersebut lain halnya dengan menghadapi Suma Ing.

Terhadap pemuda yang pernah menjadi anak muridnya ini bukan saja ia yakin bisa menangkapnya bahkan besar harapannya untuk sekalian membekuk dirinya. begitu mendapat perintah dengan cepat ia salurkan segulung hawa pukulan yang maha dahsyat dan dilontarkan ke depan.

Suma Ing sendiripun tak tahu bahwa posisinya pada saat itu sangat terjepit. untuk laripun sudah tak mungkin bisa. buru2 ia berkelebat dan menghindarkan diri kebelakang patung area tersebut.

"Blaamm" hawa pukulan ombak menggulung yang sangat dahsyat itu segera meluncur kedepan menubruk diatas patung area dari Tio In membuat patung area raksasa itu jadi peot dan melengkung kearah dalam

Suma Ing sangat terperanjat, ia berusaba keras menghindarkan diri dari gencetan angin pukulan lawan dengan berkelit diantara kawanan patung area itu

Lama kelamaan Kakek ombak menggulung jadi kehabisan sabar, dengan hati gelisah dia meraung gusar berulangkali. kendatipun begitu gembong iblis tua ini belum mampu untuk mendesak musuhnya yang sangat jelek itu Bintang yang bertaburan diangkasa Liok Hoa Seng yang menyaksikan kejadian itu segera tertawa seram.

"Heeh-heehhn sute. untuk sementara waktu mundurlah lebih dulu kebelakang."

Mendengar perintah itu dengan cepat Kakek ombak menggulung bergerak mundur tiga langkah kebelakang,

Terlihatlah bintang yang bertaburan diangkasa dengan suatu gerakan yang cepat dan ringan segera berkelebat masuk kedalam barisan patung area itu. dengan suatu gerakan yang amat dahsyat dan cepat sepasang telapaknya bekerja sama kian kemari, masing2 telapak menekan satu kali diatas setiap patung area yang dilewati olehnya.

Hampir pada saat yang bersamaan, dengan menimbulkan sUara benturan yang amat nyaring hingga sangat memekikkan telinga, patung2 area itu pada roboh bergelimpangan kesana kemari.

"Sekarang engkau boleh turun tangan kembali." seru bintang yang bertaburan diangkasa kemudian-

Kakek ombak menggulung segera menubruk maju kedepan, setelah patung2 area yang digunakan untuk menyembunyikan diri bertumbangan semua keatas, Suma Ing tak bisa berkelit ataupunn menghindarkan diri lagi, terpaksa ia berkelebat keluar dari ruang tengah dan tiba ditengah halaman luar.

Kakek ombak menggulung tentu saja tidak sudi membiarkan lawannya kabur dengan begitu saja, dia segera maju menghadang jalan perginya sambil berseru: "Anjing cilik lebih baik serahkanlah jiwa anjingmu.."

suma Ing putar biji matanya, lalu ia berbisik lirih: "Eeei...bagaimanapun juga kita toh sudah pernah terikat oleh hubungan antara guru dan murid, aku rasa engkau tentu masih mengingatnya bukan? beberapa hari berselang ketika masih berada dalam markas besar perkumpulan bulu hijau. ketua perkumpulan bulu hijau telah melantarkan sebuah pukulan dengan payung ketika engkau sedang tidak siap sehingga mengakibatkan engkau terluka parah, pada saat itu semua anak buahmu telah menghianati engkau. hanya aku seorang yang selamanya mengikuti dirimu. tentu engkau belum lupa bukan?"

Kakek ombak menggulung tertawa dingin.

"Heehh-heehh-heehh lain dulu lain sekarang pada waktu itu engkau bersedia mengikuti aku karena hal tersebut kau lakukan terdorong oleh maksud pribadimu, engkau anggap aku tidak tahu kalau pihak golongan putih sudah tak mungkin mengampuni dirimu sedang ketua perkumpulan bulu hijaupun sudah memahami sampai dimanakah kebejadtan dan perangaimu dia tak mungkin melepaskan dirimu juga tentu saja dalam keadaan seperti ini engkau harus mendayung sampan, mengikuti aliran arus air dan berlalu mengikuti diriku"

Suma Ing gantikan tertawa dingin.

"Hmmh kalau engkau tak mau menerima hal itu dalam hatimu juga tak apalah, tapi ada satu persoalan yang bagaimanapun juga harus kuperingatkan padamu maupercaya atau tidak terserah pada pendirianmu sendiri."

Kakek ombak menggulung tertawa seram,

"Bajingan cilik kematianmu sudah berada diambang pintu permainan setan apa lagi yang sedang kau persiapkan?" "Kakak Seperguruanmu hendak mengangkangi payung mustika itu buat dirinya Sendiri, apakah engkau tak dapat melihatnya sendiri?"

sekujur badan Kakek ombak menggulung bergetar keras. "omong kosong" teriaknya. "suhengku bukan manusia

yang rendah moral seperti apa yang kau bayangkan. ia tak nanti akan mengincar permainan kanak2 seperti itu. hey manusia yang tak tahu diri janganlah menuduh orang dengan kata2 yang tidak senonoh."

"Aku bukan sedang menuduh atau menfitnah orang dengan kata2 yang tidak senonoh, engkau tahu bukan kalau tenaga dalam yang dimiliki Lam-kong Pak belakangan ini telah peroleh kemajuan yang sangat pesat..? Jangan dibilang engkau. sekalipun suhengmu yang hebat dan berkepandaian tinggipun belum tentu bisa menangkan dirinya. kalau tidak percaya coba saja akibatnya sendiri."

Dengan perasaan setengah percaya setengah tidak Kakek ombak menggulung berpaling keruang dalam. ia lihat Lam- kong Pak telah melangsungkan pertarungan amat seru melawan Bintang yang bertaburan

diangkasa Liok Hoa Seng, berhubung angin pukulan yang dipergunakan dua orang itu sama2 merupakan pukulan berhawa lunak maka sekalipun dibeberapa puluh gebrakan sudah berjalan namun tak terdengar sidikit suara pun.

Paras muka Kakek ombak menggulung berubah hebat meskipun ia dapat merasakan kalau Lam-kong Pak berada diposisi bawah angin. namun jago tua itupun sadar tak mungkin bagi kakak seperguruannya itu untuk menangkan pertarungan dalam tiga lima puluh jurus belaka.

Dengan suara rendah Suma Ing segera berbisik: "Sudah kau lihat? sekalipun suhengmu dapat menangKan dirinya tetapi kesemuanya itu sudah cukup membuKtikan kalau tenaga dalam yang mereka miliki berada dalam keadaan seimbang, selisih pun tidak terlalu jauh, bila engkau ingin merajai dunia persilatan maka satu2nya jalan adalah mendapatkan payung sengkala itu lebih dahulu."

Meskipun Kakek ombak mengguluag licik, namun ucapan dari Suma Ing masuk diakal juga hingga menggerakkan hatinya. tanpa sadar ia segera berpikir^

"Betul juga perkataanmu seandainya aku bisa mendapatkan payung Sengkala tentu saja kedudukanku akan naik beberapa tingkat lebih tinggi, sebaliknya kalau gagal untuk memperolehnya maka kedudukanku dalam dunia persilatan paling tinggi juga termasuk kelas dua atau tiga belaka mungkin untuk bereskan Lam-kong Pak seorangpun tak mampu wah, kalau sampai begitu. "

Ketika dilihatnya kakek tua itu mulai tertarik oleh hasutannya dengan suara tegak Suma Ing berbisiK kembali:

"Andaikata engkau percaya kepadaku marilah sekali lagi kita bekerja sama, kita ber-sama2 masuk keruang tengah aku akan beri perlindungan padamu, sedang kan engkau yang maju untuk merebut payung mustika itu."

Kasak kusuk yang sangat mengena dihati ini seketika menggoncangkan iman kakek ombak menggulung tapi diluaran ia tetap tertawa dingin sambil berkata:

"Huuh", aku tak percaya kalau engkau berniat baik, masa engkau bisa berbaik hati budi?"

"Aku bukannya berbaik kepadamu tanpa maksud, terus terang saja kukatakan seandainya kau berhasil dapatkan payung sengkala tersebut, maka aku hanya berharap agar engkau bersedia mewariskan segenap kepandaian Kun-tun ceng-ki kepadaku, pemberian tersebut sudah lebih dari cukup bagiku dan akupun hanya punya satu permintaan ini saja"

Sepasang biji mata kakek ombak menggulung yang sipit berputar kesana kemari mencari akal untuk menyelesaikan persoalan tersebut. tentu saja ia berharap agar payung sengkala bisa terjatuh ketangannya, tapi diapun kuatir seandainya apa yang direncanakan mengalami kegagalan, sudah pasti kakak seperguruannya tak akan lepaskan dirinya dengan begitu saja,

Sekalinya kalau ia tidak mau dengarkan perkataan dari Suma ing, itu berarti tiada harapan lagi baginya untuk menjagoi kolong langit tanpa tandingan.

Suma ing tahu bahwa lawannya sudah tertarik sekali dengan usulnya, agar lebih meyakinkan ia berkata lagi:

"Agar sukses besar. engkau harus cepat ambil keputusan yang tegas... coba lihatlah, pertarungan mereka berdua sudah hampir mencapai pada akhirnya."

Kakek ombak menggulung segera alihkan sorot matanya ketengah gelanggang, ia lihat Lam-kong Pak sudah dipaksa mundur sejauh tujuh delapan langkah dari tempat semula, keadaannya keteter dan tak sanggup mempertahankan diri, ia tahu kalau mau turun tangan inilah kesempatan yang paling baik.

Maka dengan cepat ia ambil keputusan bisiknya dengan suara lirih:

"Baiklah aku setuju dengan usulmu itu tapi aku nasehatkan lebih dahulu, janganlah punya pikiran atau ingatan jelek terhadapku, sebab berhasil atau gagal toh kami tetap adalah sesama saudara seperguruan orang yang bakal mendapat bencana bukan aku melainkan dirimu sendiri "

"Tentu saja tentu saja akupun tahu akan hal itu, cepatlah terjang kedepan dan serang dari arah samping kiri kalau aku sudah menyerang dari sisi kanannya cepatlah rampas payung mustika itu, asal kita mau bekerja sama tanggung tak bakal meleset."

Dua orang itu segera bersembunyi ditengah ruang besar, sementara itu Lam-kong Pak sudah tak sanggup mempertahankan diri sebab hawa pukulan Sam-seng-ki yang dimiliki oleh Bintang yang bertaburan diangkasa terlalu dahsyat, sekalipun di-hari2 belakangan ini secara beruntun ia telah mendapat pelbagai penemuan. tapi berhubung tenaga sakti yang dihasilkan Tok si- lip serta buah besar masih belum meresap kedalam urat nadinya, maka dengan sendirinya hawa murni yang dimilikipun belum mendapat kemajuan apa2.

Suatu ketika Suma ing memberi tanda kepada kakek ombak menggulung untuk maju kedepan, kakek tua tersebut keraskan hati dan meloncat kedepan bersembunyi dibelakang meja sembahyangan. sementara Suma ing sudah langsung menerjang kearah Bintang yang bertaburan diangkasa.

Liok Hoa Seng jago sakti yang berjuluk bintang bertaburan diangkasa bukan seorang manusia bodoh, dari desiran angin tajam yang menyambar lewat dibelakang punggungnya. ia tahu ada orang sedang menyergap dirinya.

Suma ing sendiripun bukan seorang tolol. kalau tidak memiliki rencana yang masak dan meyakinkan, diapun tak akan bertindak secara gegabah, setelag melepaskan satu pukulan    maka    gerak    tubuhnya    sengaja  diperlambat. sementara pada waktu yang bersamaan kakek ombak menggulung telah menyerang dari samping kiri.

Menanti kakek tua itu sudah menyerang. Suma ing tarik kembali serangannya sambil berpeluk tangan, sementara Bintang yang bertaburan dilangit ketika merasakan munculnya angin pukulan dari samping kiri. ia segera miring kesamping sambil melepaskan pula satu pukulan untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Kelelawar Hijau Jilid 19"

Post a Comment

close