Cincin Maut Jilid 33

Mode Malam
Jilid 33
LIONG TIAN IM mendengus dingin.
"Hmm! Tak pernah ada orang yang sering melakukan kejahatan memperoleh akhir yang baik, Thian selalu adil terhadap umatnya! Tak sedikit kejahatan yang pernah kau lakukan selama ini hampir setiap orang teringat akan hal ini, mereka akan menunggu sampai saat datangnya ajalmu, kemudian menuntut pertanggungan jawab darimu."

Rasa ngeri dan takut yang timbul dari hati kecil Ciang Gwan membuat semua kejernihan otaknya menjadi membeku, dia merasa seakan-akan muncul banyak bayangan manusia yang bergerak disekeliling tubuhnya, malah banyak diantara mereka yang menggerakkan cakarnya untuk mencakar-cakar badannya.

Ciang Gwan semakin ketakutan, teriaknya dengan keras: "Siapa yang berani mengusikku"
Senjatanya digetarkan sehingga menimbuIkan percikan tajam sesudah membentuk setengah lingkaran busur diudara, dia menghadap kearah Liong Tian ini sambil bersiap-siap, namun tak selangkah pun berani maju.

"Apa lagi yang hendak kau nantikan?" jengek Liong Tian im kemudian dingin.
Bentakan yang berat dan dingin itu membuat kesadaran Ciang Gwan semakin hilang, dia menggerakan pedangnya sambil melancarkan serangan kedepan.
Sayang sekali tangannya itu sudah tidak mau menuruti perintahnya lagi, pedang yang bergetar ditengah udara tahutahu berubah menjadi segumpal cahaya dingin yang menyambar kesamping kiri.

Liong Tian im mendengus dingin, telapak tangannya segera dibacokkan ke depan meluncurkan sebuah pukulan dahsyat yang memaksa pedang tersebut tiba tiba berubah sasaran dan berbalik menusuk badan sendiri.

"Aduuhh..."
Ciang Gwan menjerit kesakitan, dengan cepat
kesadarannya pulih kembali, sambil menahan rasa sakit akibat luka tusukan teriaknya dengan pedih...
"Kau... kau pandai ilmu hipnotis!"
Dengan ketakutan dia melarikan diri dari situ, langkahnya sempoyongan, sementara darah kental mengucur keluar membasahi permukaan tanah, tetesan demi tetes memanjang kedepan.
"Bila pikiran seseorang sedang terhimpun dalam satu titik, seringkali akan timbul banyak bayangan semua yang membuat dirinya menjadi bingung dan seperti tak sadar diri.
Ucapan dari Liong Tian im tadi telah terpatri dalam-dalam dihati kecil Ciang Gwan yang membuatnya mengira kalau dirinya sudah berada diambang pintu kematian maka tanpa disadari dia seperti melihat bayangan wajah dari para korbannya.

Itulah sebabnya sesudah dia sadar kembali Ciang Gwan lantas menganggap Liong Tian im dapat ilmu sihir dan hampir saja terpengaruh oleh ilmu hitam tersebut.
Sambil menahan sakit Ciang Gwan berlarian belasan langkah lebih dari tempat semula dan saat itulah dari hadapannya muncul belasan sosok bayangan manusia.
Sungguh cepat gerakan tubuh dari orang-orang itu, dalam waktu singkat mereka telah sampai disana.
Dalam sekilas pandangan saja Ciang Gwan telah melihat kalau pemilik Say cu ho telah datang kesana, maka dengan semangat yang menyala-nyala dia berteriak:
"Hoo kun, siaute telah dipecundangi orang"
Sebagai pemimpin dari rombongan tersebut adalah seorang kakek bermuka peyot yang memelihara jenggot hitam, dengan sorot mata nya yang dingin dan tanpa perasaan dia memandang sekejap ke arah
Liong Tian im, kemudian katanya:

"Diakah si Iblis emas jari darah yang diperintahkan Sancu untuk di bekuk ?"
"Benar, bocah keparat itulah orangnya..." sahut Ciang Gwan gemetar. "Heeh... heeh... heeh..."
Tiba-tiba saja kakek berwajah seram dan buas itu memperdengarkan suara tertawa panjangnya yang aneh dan cukup menggetarkan hati orang.
"Sudah berapa hari aku Hoo sau kun menanti disini, tak nyana baru sekarang keparat ini muncul disini, heh heh heh, Kwan sancu telah berpesan, barang siapa mampu untuk menangkap keparat ini, dia berhak untuk memperoleh suatu hadiah serangkaian ilmu silat aliran Mo tiong, tampaknya hadiah besar tersebut bakal terjatuh ke tanganku !"

Li Ho kong segera maju ke muka sambil berseru: "Suhu, keparat inilah yang menghajarku barusan."
ooooOOoooo

Hoo Say kun memandang sekejap ke arah lelaki bodoh itu, kemudian menyahut:
"Tidak apa-apa, bila bocah keparat itu sudah berhasil kubekuk, kau bisa balas menghantamnya. Cuma mesti berhati hati, jangan sampai kau hajar sampai mati."
Dia berpaling dan memperhatikan sekejap anak buah disekelilingnya, tampak mereka sudah mengurung sekellling sungai tersebut menjadi setengah lingkaran busur, setiap orang menggenggam gagang pedangnya kencang-kencang dan menanti perintahnya dengan tenang.

Menyaksikan hal itu Ho say kun yang perot mulutnya segera tertawa mengejek.
"Saudara, sudah kau lihat? Orang-orang itu sudah siap mengiringmu, asal kau bersedia mengikuti lohu pulang dan tak melakukan perlawanan, aku Ho say kun jamin kami takkan menimbulkan cedera apa pun, tapi jika kau ingin melakukan perlawanan, heeehh... heeeh... heeeh... mungkin sungai ini akan menjadi tempat kuburmu untuk selamanya..."
Liong Tian im tidak menyangka kalau Ho say kun begitu sombong dan sama sekali tidak memandang sebelah matapun terhadap dirinya, saking mendongkolnya dia lantas mendongak kan kepalanya tertawa seram.

"Haaaah... haah... haah... tahukah kau, untuk mewujudkan keinginanmu itu, kau bakal berkorban sangat besar ?"
"Mengapa ?" Hoo say kun tertegun. "apa maksudmu berkata demikian . ."
Liong Tian im berkerat kening, segulung hawa  pembunuhan yang menggidikkan hati muncul dari wajahnya, pelan-pelan dia alihkan sorot matanya ke wajah Hoo say kun, kemudian ujarnya.

"Kau dan anak buahmu tak seorangpun bisa lolos dari cengkeramanku Toa Hocu, siapa suruh kau menjajah sawah ladang orang dihari-hari biasa ? Hari ini kau akan menerima pembalasan!"

Heeeh... heeeh..." Ho say kan tertawa dingin, "saudaraku yang baik kau memang tidak tolol, berdasarkan ketenanganmu serta jiwamu yang pantang menyerah, semestinya aku Ho say kun pantas untuk mengikat tali persahabatan denganmu, kau harus tahu orang yang pantas menerima pujianku hanya berapa orang saja, sebab orang yang benar-benar berkepandaian didunia ini kelewat sedikit terutama sekai kau bukan berasal satu aliran dengan lohu."
Dengan cepat Liong Tian im mengulapkat tangannya.. "Cukup!" dia berseru, "Toq hoocu, aku orang she Liong
tidak punya keperluan untuk berkata banyak denganmu. lebih baik rayuanmu kau gunakan untuk mengumpak Kwan Lok khi saja, bisa jadi dalam girangnya dia akan mewariskan berapa macam kepandaian kepadamu, sedang aku bukan saja kau tak akan peroleh apa-apa, malahan bisa jadi aku akan merenggut beberapa lembar nyawa orang-orangmu."
Hoo say kun tertegun lalu berkaok-kaok dengan mendongkol.
"Kuberi muka untukmu, kau tak mau, benar-benar manusia yang tak tahu diri.."
Liong Tian im mendengus dingin.
"Huuh, dengan watakmu yang pengecut dan suka menjilat pantat, masih belum pantas untuk mengadakan hubungan denganku, Toa hocu, aku lihat leaih baik kau simpan saja kepandaian mengumpakmu itu, daripada hanya bikin malu dirinya saja. .
Paras muka Ho say kun berubah hebat, serunya kemudian. "Saudaraku yang baik, aku adalah seorang yang gemar
membuat banyolan, bila kau masih bisa diajak berbicara, mungkin aku masih menganggapmu sebagai seorang manusia, tapi bila kau ingin main kekerasan. Hmmm perasaan waktu itu pasti tak akan sedap, bila kau tak percaya silahkan saja dibuktikan sendiri"

Sembari membalikkan badan dia lantas berteriak keras: "Tan Lo su !"
"Siap !"
Dari suara belasan jago lihay itu muncul dengan langkah lebar seorang lelaki setengah umur berbaju serba putih, orang itu bermata segitiga, bermulut tikus dan tampangnya amat tak sedap dilihat.

Sembari menjura kepada Ho say kun, dia bertanya:
"Hoo kun, ada perintah apa yang hendak kau sampaikan.."
Sepanjang hidupnya Ho say kun paling suka menjaga gengsi, entah dalam menghadapi persoalan apa saja, dia paling senang kalau diumpak orang dengan kata-kata yang sedap didengar dan sikap hormat.
Maka menyaksikan sikap munduk-munduk dari Tio Lo su, dia segera berseru:
"Aku minta kepadamu untuk memenggal batok kepala  bocah keparat ini, bila kau tidak mampu untuk melakukannya heeh... heeh... kau tak usah datang menjumpai diriku lagi."
"Soal ini mah tak perlu Hoo cu risaukan, serahkan saja kepadaku.."
Sambil tertawa seram Tan Lo su membalikkan badannya sambil meloloskan pedang, sekilas cahaya tajam segera memancar keempat penjuru ketika digetarkan di udara, suara mendengung nyaring memecahkan keheningan.

Sesudah tertawa dingin dia berseru:
"Saudara, sudah kau dengar perkataan dari Ho cu barusan
? Aku Tan Lo su mendapat perintah untuk melaksanakan
tugas ini, apabila kau tahu diri, berilah sedikit keleluasaan bagi aku Tan Lo su untuk melaksanakannya, kalau tidak. heeh heeeh, heeh, terpaksa aku Tan Losu harus turun tangan sendiri.

Liong Tian im yang mendengar perkataan tersebut menjadi naik pitam, segera teriaknya:
"Tan Lo su, kau memandang aku Liong Tian im terlalu rendah, apabila saat ini juga kau menggelinding pergi dari tepi sungai Say co ho ini, kujamin kau masih bisa hidup selama beberapa tahun lagi, tapi bila kau bersikeras hendak menampilkan diri, aku yakin kau tak bisa melihat lagi macam apakah hari esok!"

"Heeeeeh... heeeeeeh... heeeeeh... lebih baik kau jangan menggunakan cara macam begitu untuk menggertakku, aku Tan lo su bukan cuma sehari dua hari saja berkecimpung di dalam dunia persilatan, manusia macam apa saja sudah pernah kujumpai, terus terang saja manusia macam kau  sudah sering kujumpai, selain pandai berbicara biasanya tidak berkepandaian apa-apa. Saudaraku, mungkin perkataan dari aku Tan Losu kelewat merendahkan derajatmu, cuma kau pun tak usah terlalu sungkan-sungkan lagi kepadaku, bukankah begitu ?"

Liong Tian im menarik napas panjang-panjang. "Bila kau tidak percaya silahkan saja mencoba."
Ditatapnya wajah Tan Losu dengan pandangan dingin, begitu dingin sorot mata tersebut gampang membuat hati orang bergidik.
Tan Losu bukan orang bodoh, dari perubahan sikap lawannnya, dengan cepat ia terkesiap, diam diam ia meningkatkan kewaspadaannya.
Sambil menggetarkan pedangnya Tan Losu segera berseru: "Aku memang ingin minta petunjukmu..."
Sekalipun dimulut dia berbicara dengan ringan, padahal dihati kecilnya mengeluh, pedangnya segera digetarkan keraskeras, sekilas cahaya tajam pelan-pelan memancar ke angkasa kemudian dengan suatu gerakan kilat ujung senjatanya menuding ke tubuh Liong Tian im.

Dengan wajah serius Liong Tian im tertawa, serunya:
Tan Losu, aku lihat pedangmu seperti agak berbeda dengan senjata orang lain..."
Ketika ia memjumpai pedang Tan Losu jauh lebih tebal daripada pedang biasa, hati nya agak tertegun, maka diperhatikannya senjata tersebut dengan lebih seksama.
Ternyata pedang tebal itu merupakan sebilah pedang yang belum pernah di jumpai sebelumnya, setengah harian sudah ia memperhatikan pedang itu dan mencoba untuk menebak apa sebabnya pedang tersebut sedemikian tebal, mungkinkah Tan Losu memiliki kekuatan permainan pergelangan tangannya jauh lebih besar dari pada orang lain sehingga dia lebih cocok untuk menggunakan senjata macam begitu.
Diam-diam Tan Losu mendengus, katanya kemudian sambil tertawa:
"Inilah pedang nyawaku yang dibuat secara khusus, hatihatilah kau untuk menghadapinya."
Mendadak ia membentak keras, tubuhnya melejit ke udara pedangnya yang tebal segera menciptakan serangkaian cahaya tajam yang langsung membacok ke tubuh Liong Tian im.

Serta merta Liong Tian im merendahkan tubuhnya serta meloloskan diri dari bawah ujung pedang lawan yang tajam, kemudian sembari membalikkan badan Liong Tian im lepaskan sebuah pukulan dahsyat yang secara jitu diarahkan ke dada Tan Losu.

"Aduuuh..." jerit kesakitan yang rendah dan berat bergema menyusul angin pukulannya itu.
Deengan sempoyongan Tan Losu mundur sejauh tujuh delapan langkah lebih, kemudian muntahkan darah segar, tapi sebentar kemudian ia sudah persiapkan pedangnya lagi sambil menyerbu kedepan.

Sambil tertawa dingin Liong Tian im segera berseru. "Tampaknya kau sudah bosan hidup?"
"Aku akan beradu jiwa denganmu!" teriak Tan Losu dengan perasaan benci.
Berada dalam keadaan terluka, ternyata dia sama sekali tidak memperdulikan mati hidup sendiri, pedangnya yang tebal kembali berkelebat ditengah udara...
"BIuuuuukkk..." tiba-tiba saja berkumandang suara letupan nyaring. Sementara Liong Tian im masih tercengang, tiba-tiba saja dari ujung pedang tersebut menyembur keluar segumpal asap kuning yang sangat tebal.
Dia menjadi tertegun, segera sadarlah pemuda itu kalau dibalik kabut kuning tadi sesungguhnya mengandung racun yang sangat jahat, serta merta dia melejit ke udara dan menghindar ke arah samping.

Segulung bau harum yang sangat aneh dengan cepat menerobos masuk lewat lubang hidungnya, Liong Tian im segera merasakan sekujur badannya gemetar keras, lalu kepalanya pusing dan pandangan matanya berkunangkunang.
"Kau manusia bedebah..." teriaknya penuh amarah. Dengan noda darah masih mengotori ujung bibirnya, Tan
Losu tertawa terbahak-bahak.
"Haah... haaah... haaahh... bifa, aku fan Losu tak mampu untuk membekukmu, peercuma saja aku berada disini..."
Saking gembiranya dia segera tertawa terbahak-bahak, rupanya dia lupa kalau tubuhnya sedang menderita luka dilain yang cukup parah tak ampun lagi gerakannya membuat luka tersebut bertambah parah dan ia muntahkan darah segar lagi.

"Hnmm... aku akan morcabut nyawamu." tiba tiba Liong Tian im berteriak keras.
Waktu itu kepalanya sudah terasa amat pening, kesadarannya pun lambat laun memundar, sesaat sebelum tubuhnya roboh ketanah, dengan menghimpun segenap kekuatan yang dimiliki dia hantam tubuh Tan Losu.

"Aduuuhh..."
Jeritan ngeri yang memilukan hati segera bergema memecahkan keheningan, tubuh Tan Losu bergulingan beberapa kali diatas tanah, kemudian mengejang keras dan tewas seketika.
Menyaksikan adegan tersebut, Ho Say Kun berkata sambil tertawa seram.
"Haaahh, haaahh... meskipun aku kehilangan seorang Tan Losu, namun berhasil membekuk seorang Liong Tian im, kalau dihitung aku masih termasuk untung, heeeh, heeeh... tidak besar kerugianku kali ini."

Sementara itu, Liong Tian im sendiri pun sudah tak sanggup menahan diri setelah berhasil menghajar Tan Losu, tubuhnya segera terpelanting dan roboh tak sadarkan diri diatas tanah.

Li Hoo kong segera tertawa terkekeh-kekeh. "Suhu, serahkan saja bocah keparat itu pada ku."
"Jangan!" Ho say kun menggeleng, "malam ini juga akan kukirim dia kebukit Jit gwat san secara rahasia, akan kuserahkan kepada Kwan Toa sancu, kali ini Kwan sancu tentu akan sangat gembira pada aku Ho say kun."

"Jadi kau tak akan membunuhnya?" seru Li Hoo kong agak tertegun.
Dengan kening berkerut Ho say kun segera berkata: "Kwan sancu telah menurunkan perintah, paling baik kalau bisa membekuknya hidup-hidup, kali ini, seandainya di ujung pedang Tan Losu tiada obat bubuk pemabuknya, tidak gampang kita bisa-membekuk bocah keparat ini dengan begitu mudah, hee, heeh, sayang sekali Tan Losu bernasib buruk dan tak dapat merasakan kegembiraan ini."

Baru saja dia akan memerintahkan anak buahnya untuk membangunkan Liong Tian im, mendadak telinganya menangkap suara derap kaki kuda yang bergema makin mendekat. Suara tersebut membuatnya agak tertegun, kemudian segera pikirnya dihati:
"Aneh, dalam keadaan seperti ini, siapa yg berani melewati jalanan di Say cu ho ini?"
Ranting-ranting pohon liu bergoyang terhembus angin, dari balik rimbunnya pepohonan pelan-pelan muncul seorang gadis berbaju merah yang menunggang kuda.
Gadis itu amat cantik dan anggun, alis matanya yang lentik dengan biji mata yang jeli memancarkan bau harum perawan yang merangsang hati pria.
Hampir semua jago yang berada disitu sama-sama dibikin tertegun dan terperana oleh kecantikan gadis itu, tanpa terasa semua orang mengalihkan sorot matanya ke wajah si nona tersebut.

Namun gadis itu seperti tidak merasa, kudanya dijalankan pelan-pelan menelusuri tepi sungai.
Tanpa terasa Ho say kun menelan air liur, pikirnya: "Neneknya, darimana munculnya seorang gadis cantik
macam begini ? Sampai setua ini belum pernah aku Ho say kun menjumpai seorang gadis yang begini cantik, heeeh, heeeh, tampaknya aku lagi bernasib mujur hari ini, pasti akan kunikmati kehangatan tubuhnya malam nanti."

Berpikir sampai disitu, sambil tertawa terkekeh-kekeh dia menegur:
"Nona..."
Waktu itu si nona sedang mengalihkan pandangan matanya ke arah sungai, dia berpaling setelah mendengar suara teguran itu, sorot matanya yang dingin pelan-pelan di alihkan sekejap ke wajah Ho say kun, kemudian mengulum senyuman yang sinis.

"Mau ke mana nona?" kembali Ho say kun menegur. "Mau apa kau tanya soal ini ?" jawaban si nona dingin lagi ketus.
Walaupun ketus namun amat merdu dan memukau hati siapa saja apalagi wajahnya yang sedang cemberut pada hakekatnya menambah kecantikan gadis itu saja.
Ho say kun jadi tergagap, lalu serunya, "Selama ini Say cu hoo terlarang bagi orang awam, mengapa nona menelusuri sungai kami? Apakah kau hendak mengunjungi benteng Say cu poo ? Kalau benar. hee... heeh... aku adalah..."

"Aku tak punya waktu untuk mendengar obrolanmu." tukas nona itu dingin.
Baru saja dia akan meneruskan perjalanannya, mendadak sorot matanya terbentur dengan tubuh Liong Tian im yang tergeletak tak sadar diatas tanah.
Waktu itu Liong Tian im terkapar dengan wajah menghadap ke bawah sehingga sukar untuk melihat jelas siapakah dia.
Sambil berkerut kening, nona itu tertawa hambar lalu tegurnya:
"Siapakah dia ?"
Dibalik senyuman hambarnya terpancar suatu kekuatan yang membuat orang tak mampu membangkang, bahkan semua orang merasa tak tega untuk tidak menjawab pertanyaannya ini.

Li Ho kong segera tampil ke depan lalu serunya tergagap: "Dia adalah..."
Ho say kun mengulapkan tanganya mencegah Li Ho Kong melanjutkan kata-katanya kemudian dia berseru:
"Nona, kalau dibilang sesungguhnya orang ini mempunyai nama besar, cuma saja meski kenamaan toh akhirnya terjengkang juga ditanganku, heeeh... heeeeh... di dalam pandanganku dia belum terhitung seberapa"
"Oooh, kalau begitu kau lebih termashur darinya ?"
"Aah mana mana..." Ho say kun tertawa bangga "lohu Ho say kun..."
Dengan cepat gadis itu menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menukas: "Belum pernah kudengar !"
Merah padam selembar wajah Ho say kun karena jengah, perasaan malu dan terhina ini membuatnya naik darah namun dia merasa sungkan untuk mengumbar amarahnya di hadapan seorang gadis cantik rupawan semacam ini, karena itu setelah tertawa tersipu-sipu dia berkata secepatnya:

"Kau bukan orang persiiatan, tentu saja tidak mengenal siapakah lohu..."
"Heeeeh, heeeh, heeeh, tampaknya kau seperti amat bangga dengan kemampuanmu."
Tentu saja, tentu saja," Ho say kun tertawa dingin, "si lblis emas jari darah yang begitu termashur namanya dalam dunia persilatan pun bukan tandinganku, coba bayangkan sendiri, Mengapa aku tidak merasa bangga dengan kemampuan ku ini? Haaah, haaah, haaah,"

"lblis emas berjari darah," paras muka gadis itu berubah sangat hebat, "dia adalah Liong Tian im.."
Dengan suatu gerakan yang sangat enteng dan gesit nona itu melayang turun dari atas punggung kudanya, begitu indah dan lembut gerak geriknya, ibarat bidadari yang turun dari khayangan, membuat semua orang sama-sama menjerit kaget.

Ho Say kun menjadi tertegun, serunya tanpa terasa: "Kau kenal dengannya . . ?" Sebagai seorang jago kawakan, persoalan apa saja yang terjatuh ke dalam pandangannya, perasaannya yang tajam dapat segera membedakan apakah masalahnya serius atau kah tidak.

Sejak nona itu melayang turun ke atas tanah dari atas kudanya, dia sudah melihat kalau antara si nona dengan Liong Tian im bisa jadi terjalin suatu hubungan yang luar biasa,  kalau tidak mustahil gadis itu akan melompat turun dari kudanya demi seorang lelaki lain bahkan memperdengarkan jeritan kaget yang penuh dengan perasaan gelisah.

"Aku akan meminta orang she Liong ini..." kata si nona kemudian dengan suara yang dingin.
"Heeeh... heeeh... heeeh..." Ho say Kun tertswa seram, "nona, orang ini merupakan orang yang sangat dibutuhkan oleh Kwan Toa sancu dari Jit gwat san, bukan lohu enggan menyerahkan kepadamu, tapi... heeeh... heeeh... terus terang saja kami tak bisa memutuskan sendiri..."

"Aaaah, Kwan Lok khi itu manusia macam apa ?" jengek si nona dengan suara dingin, "kau anggap dia berani minta kembali orang itu dari tanganku ? Beritahu kepadanya, Bu  Siau huan dari Cing shia san yang telah membawanya pergi !"

"Apa ? Kau berasal dari Cing shia san?" Ho say kun berseru kaget.
"Betul !" Bu Siau huan menjawab dingin, "tempat macam apakah Cing shia san tersebut aku percaya kau pasti punya perhitungan sendiri, apabila Kwan Lok khi menghendaki kembali orang tersebut, suruh saja dia minta kembali orangnya dibukit Cing shia san .."

Pada hakekatnya gadis ini tidak memandang sebelah matapun terhadap Ho say kun, sembari berkata pelan-pelan dia berjalan mendekati Liong Tian im. Paras muka Ho say kun berubah hebat, serunya tanpa terasa: "Kau..."
Di dalam cemasnya sebuah totokan kilat dilancarkan ke arah iga bawahan Bu Siau huan.
Perubahan yang dilakukan sangat mendadak dan sama sekali diluar dugaan siapa pun ini benar-benar merupakan suatu ancaman yang amat berbahaya.
"Hmmmm. . !"
Baru saja dengusan dingin itu berkumandang, tiba-tiba saja tubuh Bu Siau huan telah berputar dan menerobos dari bawah angin jari serangan musuh.
Kemudian dengan wajah sedingin es, tegurnya "Pingin mampus rupanya kau?"
Ho say kun tertawa terkekeh-kekeh.
"Heeeeh, heeeeh, heeeh... rupanya nona pun masih mempunyai kepandaian hebat..."
Bu Siau huan tahu kalau bajingan tua yang sedang dihadapinya ini bukan manusia sembarangan, saking gusarnya dia lantas membentak nyaring, telapak tangannya yang putih bersih langsung diayunkan ke depan dan melancarkan empat buah serangan sekaligus ke tubuh Ho say kun.

Sesungguhnya Ho say kun bukan manusia sembarangan, ia dapat memperoleh perhatian khusus dari Kwan Lok khi, tentu saja kemampuannya bisa diandalkan.
Begitu menyaksikan kelihayan dari serangan nona tersebut, hatinya menjadi tercekat, sekujur badannya gemetar keras, segera pikirnya didalam hati:
"Ternyata dia mendapat warisan langsung dari ilmu silat Cing shia san." Sekarang dia betul-betul kuatir apabila Liong Tian im sampai ditolong oleh gadis tersebut, buru-
buru serunya: "Angin puyuh amat kencang, bawa domba menuju pasar."

Begitu Li Ho kong mendengar gurunya mengucapkan katakata sandi, buru-buru dia menyambar tubuh Liong Tian im dan membalikkan badan dan kabur dari situ.
Meski orang ini bodoh seperti kerbau dungu, ternyata larinya seperti sehembus angin, dalam waktu singkat bayangan tubuhya sudah lenyap dari pandangan."
Bu Siau hoan tidak menyangka kalau Ho say kun begitu lihay. ternyata dia mengirimkan Liong Tian im untuk meninggalkan tempat kejadian lebih dulu.
Dalam gugupnya buru-buru dia mengayunkan telapak tangannya melancarkan serangan makin dahsyat, kali ini dia tidak mengenal belas kasihan lagi, bentaknya nyaring:
"Bila kau tidak menyerahkan kembali pemuda tersebut kepadaku, segera kucabut selembar jiwamu."
Ho say kun mendengus dingin, "Jangan mimpi kau bisa melaksanakan hal tersebut, bila merasa punya kepandaian. pergi dan tuntutlah sendiri kebukit Jitgwat san!"
Bu Siau huan segera menghimpun segenap kemampuan yang dimilikinya untuk menyerang makin gencar, seketika itu juga Ho say kun kena terdesak sehingga mundur berulang kali.

Tak terlukiskan rasa kaget Ho say kun setelah menyaksikan gadis tersebut makin kalap dan menyerang semakin ganas, satu ingatan lain cepat melintas di dalam benaknya.
"Sekarang orang she Liong sudah di bawa pergi, buat apa aku mesti ribut lagi dengannya" Begitu mengambil keputusan dia membalikkan badan sambil membentak:
"Rasakan pukulanku ini..."
Dia segera mengayunkan telapak tangannya melepaskan sebuah pukulan tipuan, sementara tubuhnya melompat keluar dari arena.
Dengan membawa serta segenap anak buahnya, dia kabur menelusuri sungai itu. Tidak selang berapa waktu kemudian bayangan tubuh dari orang-orang itu sudah lenyap dari pandangan mata.

Gemetar keras seluruh badan Bu Siau huan, segera sumpahnya dengan hati mendongkol.
"Aku bersumpah akan menolongnya sehingga ia terlepas diri cengkeraman manusia-manusia durjana tersebut.
Air sungai mengalir deras dan menimbulkan suara gemericik yang sangat gaduh.
Beberapa lembar daun kering teromban ambing diatas gelombang sungai dan mengalir terbawa arus, entah mengalir sampai kemana.
Sekitar Say cu ho suasana amat lengang dan sepi, kecuali mayat yang tergeletak di tanah, tidak sesuatupun yang mengusik keheningan senja.
Ditengah hembusan angin malam yang sejuk dan hangat, terasa suasana begitu hening dan mengenaskan.
Memandang sungai yang berliku-liku di depan mata, Bu  Siau huan merasakan hatinya tak karuan, dari tempat jauh dia segera menyusul sampai kemari, meski dia telah bersua dengan Liong Tian im, namun mereka harus berpisah kembali.

Mereka terpaksa harus berpisah karena Liong Tian im telah dilarikan oleh Ho say kun. Sekarang dia merasa amat sedih, sedih atas ketidak becusan sendiri, karena waktu itu dia tak berhasil menyelamatkan Liong Tian im dari cengkeraman musuh...
Liong Tian im mempunyai musuh yang tersebar dimanamana, kali ini, setelah dia kena dibekuk oleh Ho say kun, apakah masih bisa hidup lebih jauh atau tidak, hal ini jelas merupakan sesuatu masalah yang sukar untuk di duga.

Gadis yang romantis ini diam-diam menguatirkan keselamatan dan Liong Tian im, hatinya sedih sekali sehingga tanpa terasa titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.
Sekarang dia duduk seorang diri diatas batu besar di tepi sungai, duduk termenung sembari memandang air sungai yang mengalir deras.
"Aaaai... dia menghela napas panjang, pikirnya. "mengapa aku begitu bodoh, waktu itu mengapa aku tidak berusaha untuk menyelamatkan nya lebih dahulu."
Semenjak masih ada dibukit Cing shia san, dia telah menyerahkan cinta kasihnya kepada Liong Tian im, sejak berpisah siang malam hampir boleh dibilang dia selalu rindu kepada nya memikirkan tentang dia.

Apalagi jika malam yang sepi telah tiba, disaat semua orang sudah terlelap tidur, dia akan terbayang kembali bayangan tubuhnya seorang diri.
Segala suatu dari gerak-geriknya, tingkah lakunya seakanakan terbayang semua dihadapannya, dia tahu kalau ia telah jatuh hati kepada pemuda tersebut entah bagaimanapun akhirnya, dia akan menyusul pemuda itu, mengejar getirnya cinta.

Meski dia baru tumbuh menjadi dewasa, namun ia mempunyai suatu impian yang indah, pula terlalu berharap bisa menjamin cinta kasih yang mendalam dengan pemuda itu. Sekarang, segala sesuatu sudah hampir di temukan, namun nasib telah memisahkan mereka yang hampir bersua kembali itu tanpa perasaan, mereka harus berpisah karena pemula itu telah ditangkap oleh anggota Jit gwat san.

Aku harus mencari akal untuk menyelamatkan dia sekalipun aku sendiri sampai jatuh ke tangan Ho say kun, aku harus menolong dia dari cengkeraman maut.
Dia pun teringat bagaimana dirinya mengikuti si kakek penunggang keledai Li Ji koay belajar silat hingga kini kepandaiannya telah memperoleh kemajuan yang amat pesat namun nyatanya dia tak berhasil menyelamatkan Liong Tian im dari cengkeramam lawan, dapat dibayangkan betapa sedihnya hati si nona tersebut.

Setiap kali dia menghadapi kesulitan yang sulit diselesaikan seorang diri, tanpa terasa ia teringat kembali akan Cing-shia sancu beserta orang tuanya.
Sambil tertawa rawan dia berpikir: "Andaikata Cing-shia san ada seorang saja yang hadir disini, aku tak usah hidup sebatang kara, entah bagaimana keadaan bukit Cing shia sepeninggalku."

oooOooo

Dengan kening berkerut kencang dan hati yang mendongkol kembali dia berpikir:
"Bila aku berhasil menemukan tempat persembunyiannya Ho say kun tanpa berhasil membunuhnya, ini baru aneh namanya."
Memandang keadaan cuaca petang sudah lewat dan malam semakin menjelang tiba, dia tahu mencari Ho say kun dalam keadaan demikian hanya akan meningkatkan kewaspadaan mereka tanpa akan mendatangkan hasil apa-apa. Tapi kalau dia harus duduk seorang diri disitu sambil menunggu berlalunya sang waktu, diapun merasa waktu berlalu kelewat lambat sedemikian lambatnya sehingga membuat hati orang cemas seperti hampir gila rasanya...

Dalam waktu singkat kabut tebal telah menyelimuti angkasa, di hadapan matanya seakan-akan melintas kembali adegan dimana dia bersama Liong Tian im ketika masih berada di bukit Cing shia san, ketika mereka saling bermesraan...

Dia tertawa sedih, lalu berguman "Berhasilkah aku untuk memperolehnya ?"
"Entah sudah berapa kali ingatan tersebut memenuhi benaknya, tapi jawabannya sukar diperoleh, dia tahu Liong Tian im bukan cuma mempunyai seorang teman perempuan saja, seingatnya Leng Ning ciu pun diam-diam mencintai Liong Tian im menaruh pula perasaan cinta kepadanya...

Dalam waktu singkat, pelbagai pikiran yang sangat kalut muncul didalam benaknya, membuat gadis cantik yang berhati suci ini merasa ketakutan dan bimbang
Dia merasa terombang ambing dibalik kabut cinta yang sangat tebal, membuatnya tak mampu menyaksikan segala apapun.
"Haai !" Dia menghela napas sedih. "seandainya langit dan bumi tak berperasaan, ranting dan bunga ditepi sungai tentu ikut bersedih hati, karena ketulusan cinta gadis itu sangat mengharukan hati orang.

Terdengar dia bergumam seorang diri.
"Liong Tan im wahai Liong Tian im, bila aku tak berhasil mendapatkan dirimu, lebih baik aku mati saja dihadapanmu, agar darahku menodai tubuhmu, agar cintaku selalu bersatu dalam hatimu, sebab seluruh kebahagiaan hidupku sudah kutitipkan diatas tubuhmu. Im, bila kau tahu kalau aku sedang menangis dan bersedih hanya karena dirimu, kau tentunya tak akan menyalahkan aku karena tidak berusaha menolongmu bukan?"
Dia benar-benar melelehkan air mata cinta, seperti untaian mutiara yang putus tali, butiran air mata menetes membasahi pipinya.
Dia merasa pipinya menjadi basah dan dingin, namun dia  tak menyekanya, dia rela air mata cinta murninya selalu melekat diatas wajahnya sebagai lambang dari ketulusan cinta kasihnya.

Hembusan angin lembut bagaikan seorang gadis lembut yang mencium pipinya dengan mesrah, mengibarkan rambutnya yang hitam dan menutupi pandangan matanya.
Dia menggeleng sambil tertawa getir, kemudian mengguman:
"Hatiku sekacau rambutku yang terhembus angin sekarang, sedemikian kalutnya sampai aku tak tahu apa yang mesti kulakukan Aku harus menolongnya. tapi dapatkan kutolong dirinya??

Dengan perasaan apa boleh buat ia mengangkat kepalanya memandang ke sekitarnya itu hanya tinggal beberapa kuntum awan yang tenang bergerak.
Dia pernah bermimpi menaiki awan dan terbang diangkasa, mengitari seantero jagad.
Ditengah hembusan angin yang lembut mendadak dia menangkap suara langkah yang lembut, suara langkah tersebut sedemikian lirihnya sehingga seakan-akan tiada, namun dia masih dapat merasakannya, pelan-pelan dia menggerakkan badannya sambil mengalihkan sorot matanya ke arah belakang.

Dibelakamg tubuhnya terbentang semak belukar yang lebat, dari balik semak belukar itulah dia merasa seperti ada bayangan manusia sedang bergerak, seperti mereka sedang menyembunyikan diri ditempat tersebut.
Mendadak dia melompat ke samping semak belukar itu, lalu membentak nyaring:
"Siapa?"
Agaknya orang yang bersembunyi dibalik semak belukar itu merasa ketakutan sekali, sampai-sampai untuk bernapas pun tak berani, bahkan badannya seperti lagi gemetar karena rerumputan yang lebat itu bergetar pula tiada hentinya.

Dia tertawa dingin, lalu menegur dengan suara sedingin salju.
"Bila kau tidak menampakkan diri Iagi, jangan salahkan kalau aku akan segera turun tangan..."
Orang itu seperti merasa ketakutan sekali. Sesudah hening sejenak, baru terdengar seseorang berseru dengan gemetar.
"Nona jangan turun tangan, lain kali aku tidak berani lagi."
Bu Siau huan tertegun, diluar dugaannya orang yang menguntil serta mengintainya secara diam-diam itu tak lain adalah seorang lelaki bernyali seperti tikus.
Ditatapnya bayangan manusia dibalik semak belukar itu lekat-lekat, kemudian bentaknya. "Ayo keluar !"
Semak belukar bergetar dan pelan-pelan menongol keluar selembar wajah polos yang kecil dan pucat pasi seperti mayat.
Yang muncul ternyata seorang bocah, sekali lagi Bu Siau huan dibuat tertegun.
"Mengapa kau bersembunyi setelah melihatku ?" dia lantas menegur dengan suara lembut.
Setelah tahu kalau pihak lawan hanya seorang nona berusia tujuh delapan belas tahunan, bocah itu menjadi lebih berani, dengan sepasang matanya yang bulat besar dia memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, lalu tanyanya lirih.
"Mereka sudah pergi ?"
"Siapa ? Siapa mereka ?" kembali Bu Siau huan dibikin tertegun oleh pertanyaan itu.
"Orang-orang jahat itu, mereka betul-betul tak tahu malu. beberapa orang mengerubuti satu orang !"
"Jadi kau telah menyaksikan semua kejadian itu ?" Bu Siau huan keheranan.
Bocah itu segera membuat muka setan, lalu berkata: "Setelah aku dan cici ditolongnya, diam-diam aku balik
kemari lagi, aku ingin tahu bagaimanakah keadaan orang itu. Tak nyana aku telah melihat kejadian tersebut."
Bu Siau huan segera menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Ai, dasar anak nakal, besar amat nyalimu"
Bocah itu memandang sekejap mayat Tan Losu yang tergeletak ditanah, lalu berkata: "Dia sudah nanti !"
"Huuus, jangan sembarangan bicara, masa dia bakal mati?" bentak Bu Siau huan. "orang yang menolongmu itu sudah ditangkap mereka aku sedang mencari akal untuk menyelamatkan dia."

"Sudah ditangkap!"
Bocah itu kelihatan sedih, air matanya mengembang di kelopak matanya, saking geIisahnya dia berteriak keras "ah.." sambil membalikkan tubuh dia lari meninggalkan tempat itu dengan gugup.

"Aku akan mencari orang untuk menolongnya." Bu Siau huan tertegun, segera ditangkapnya lengan bocah itu sambil berseru.
"Siapa yang kau cari?"
Dengan membelalakkan matanya lebar-lebar bocah itu berseru:
"sewaktu pulang tadi, kulihat ada seseorang yang setengah buta melompati sungai dengan amat mudahnya, aku tahu orang semacam ini pasti mempunyai kepandaian, akan kumohon bantuannya untuk menolong dia.

Ucapan bocah yang berhati tulus ini sangat mengharukan Bu Siau huan, setelah tertawa getir katanya.
"Masa orang bersedia membantumu? Bocah kau tak usah berpikiran tolol.."
Bocah itu tertegun.
"Sekarang orang itu sedang minum air dirumahku, aku yakin dia pasti bersedia membantu sebab ketika kuberi tahukan kepadanya kalau Say cu ho adalah rumah kami yang dirampas orang-orang jahat itu, dengan aman dia membacok sebuah batu cadas dengan pedang kayu dan batu itu segera hancur.

"Pedang kayu?" Bu Siau huan bergumam "mungkinkah dia adalah si jago pedang buta Bok Ci."
Dalam girangnya dia lantas berseru:
"Siapa namamu? Bawa aku menjumpai orang tersebut !" "Aku bernama Siau peng, ikutilah aku!" kata si bocah
sambil tertawa lebar.
Dengan cepat bocah itu lari ke depan, Bu Siau-huan mengejar dari belakang sambil menuntun kudanya.
Berapa saat kemudian, disebelah kiri sungai muncul sebidang tanah persawahan yang amat luas, bangunan rumah gubuk dengan tiang bambu dan jalan lumpur membentang didepan mata, suatu pemandangan desa yang sangat unik.
Siau peng menuju ke depan rumah gubuk tadi dan berhenti, kemudian pelan-pelan ia mendorong pintu sambil melongok ke dalam.
Suara teguran menggema dari dalam ruangan, Siau peng menengok sekejap ke dalam kemudian berkata:
"Aku yang datang, ayah..."
Dalam ruangan terlihat seorang petani setengah tua  sedang menemani jago pedang buta Bok Ci berbincangbincang, belum sampai Bu Siau huan menampakkan diri, Jago pedang buta Bok Ci sudah bangkit sambil menegur:

"Nona Bu, mengapa kaupun bisa sampai di sini ?" Sepasang mata Bu Siau huan segera berkaca-kaca. "Bok toako, Liong, dia . . ."
"Apa? Liong-te ketimpa bencana ?" Jago pedang buta Bok Ci nampak tertegun.
Bu Siau-huan segera manggut-manggut agak gemetar: "Dia sudah ditawan oleh Ho say kun, konon akan dikirim ke
bukit Jit gwat san,"
Sementara itu, sang petani tua sedang mempersilahkan Bu Siau huan duduk, namun ketika mendengar nama Ho say kun disinggung, dia lantas menjerit tertahan, sambil mundur dua langkah serunya.

"Waah, orang itu tidak gampang untuk di hadapi." Jago pedang buta Bok Ci tertawa getir.
"Empek tua !" dia berkata, "kau tak usah takut, orangorang bangsa begitu sudah sepantasnya cepat-cepat dilenyapkan." Petani tua itu hanya menggelengkan kepalanya berulang kali sambil beranjak pergi.
Dalam pada itu Bu Siau huan tampak jauh lebih tenang setelah berjumpa dengan jago pedang buta Bok Ci ditempat itu, dia tidak merasa putus asa lagi seperti tadi, buru-buru katanya:

"Bok toako, sekarang juga kita harus berangkat."
"Akan kutanyakan dulu kepada Siau peng tentang daerah dan keadaan disekitar tempat ini." kata jago padang buta Bok Ci dengan wajah serius.
Kemudian sambil membelai kepala Siau peng dia berkata lebih lanjut:
"Adik kecil, tahukah kau di mana Ho say kun berdiam ?" Bocah itu berpikir sebentar, lalu sahutnya. "Di dasar sungai
!"
"Apa?"
Jago pedang buta Bok Ci dan Siau huan sama-sama
terkejut, hampir saja mereka tak percaya kalau Ho say kun bisa tinggal didasar sungai, sehingga tanpa terasa hampir bersamaan waktunya mereka berdua bertanya berbareng.

"Tinggal di dasar sungai ?"
Dengan wajah serius Siau peng berkata: "Tempo hari, sewaktu aku diam-diam mencuri bermain kesana, kulihat di dekat pintu air sungai Say cu hoo terdapat sebuah pintu rahasia, dari tempat itulah mereka menerobos masuk ke dalam."

Untuk beberapa saat lamanya jago pedang buta terbungkam dalam seribu bahasa, sementara itu otaknya berputar kencang memikirkan persoalan-persoalan tersebut. Dia sedang memikirkan apa sebabnya Ho-say kun sampai mendirikan tempat yang begitu rahasia di dasar sungai.
Sebagai seorang tokoh persilatan yang sangat berpengalaman andaikata Ho say kun benar-benar membangun tempat tinggalnya di dasar sungai, maka untuk memasuki tempat tersebut dan menolong orang, mungkin bukan suatu pekerjaan yang gampang.

Mendadak petani tua itu lari masuk dengan tergopohgopoh, paras mukanya berubah hebat dengan napas tersengkal-sengkal katanya agak gemetar:
"Aduh celaka, mereka mengirim orang datang kemari..." "Itu malah kebetulan" seru jago pedang buu Bok Ci sambil
tertawa dingin, "aku memang berniat mencari mereka untuk ditanya."
"Lebih baik kalian berdua cepat-cepat tinggalkan tempat ini" seru petani tua itu lagi dengan suara gemetar, "bila jejak kalian sampai ketahuan disini, aku si petani tua sekeluarga pasti akan ditumpas habis oleh mereka."

Jago pedang buta Bok Ci berpikir sebentar, kemudian ujarnya pelan: "Mereka toh tidak kenal dengan diriku!"
"Tapi mereka kenal dengan nona ini." seru petani tua itu dengan cemas.
Bu Siau huan segera menggelengkan kepalanya sambil tertawa, katanya kemudian:
"Tidak mengapa, biar aku bersembunyi sebentar." Bersama Siau peng dia menuju ke dalam ruangan,
sementara itu dari luar pintu terdengar suara pekikan burung elang dan pintu rumah yang di ketuk orang.
Setelah itu kedengaran seorang lelaki berteriak dengan suara yang berat dan kasar. "Hei tua bangka, buka pintu, toaya ada urusan hendak bertanya kepadamu."
Gemetar keras seluruh badan petani tua itu, saking  takutnya dia sampai memandang sekejap kearah jago pedang buta Bok ci.
Jago pedang buta Bok Ci segera memberi isyarat agar membukakan pintu untuk mereka.
Dengan sekujur badan gemetar keras, petani itu lari membukakan pintu sambil berseru.
"Aku sudah datang, aku sudah datang !"
Pelan-pelan pintu dibuka dan dua orang lelaki kekar yang bercambang telah melangkah masuk ke dalam, mereka mendengus dingin dan masuk dengan sombong, seolah-olah mereka tak memandang sebelah matapun terhadap tuan rumah.

Sebaliknya petani tua itu membalikkan badannya dan berkata sambil tertawa:
"Lok ya, Gi ya !"
Orang she Lok, yang berada di sebelah kiri mendengus, diliriknya Jago pedang buta Bok Ci sekejap dengan pandangan hambar, kemudian sambil menuding hidung petani tua itu, bentaknya keras-keras.

"Kau si telur busuk tua sebenarnya bagaimana caramu mendidik anak ? Bukankah Ho cu kami pernah memperingatkan agar jangan pergi ke tepi sungai lagi, tapi hari ini kedua orang putra putrimu telah berkunjung kesana"

"Keterlaluan... keterlaIuan... lohan pasti akan menghajar mereka habis-habisan." buru-buru petani tua itu berkata lagi.
Orang she Lok itu tertawa dingin. "Enak benar kau si telur busuk kalau bicara, kau anggap setelah berkata begitu maka urusan jadi beres? Hm hari ini kami mendapat perintah dari Hocu untuk membekuk sepasang anak jadahmu itu untuk dijatuhi hukuman."

"Apa? Pergi menemui Raja akhirat berutangan." petani tua itu ketakutan setengah mati sehingga sekujur badannya gemetar amat keras.
Orang she Lok itu segera melotot besar, katanya lagi:
"lni masih cukup sungkan bagimu, coba kalau memruti adat locu, sekali bacok sampai mampus bereslah, Hocu tahu kalau kau tidak tega, maka diperintahkan agar mereka diserahkan kepada Raja akherat saja."

"Jangan !" saking takutnya petani tua itu sampai menjatuhkan diri berlutut, suaranya gemetar keras, "tuan Lok berbuatlah baik, kumohon kepada kalian sudilah kalian mengampuni kedua orang anak itu, mereka tidak bersalah bila kalian membawanya untuk diserahkan "Sim ji giam lo" hal ini sama artinya dengan menghancurkan kehidupan mereka."

"Hmm!" orang she Gi itu mendengus dingin, "mengampuni mereka? Hm Kau tak usah bermimpi disiang hari bolong, kita toh sudah memperingatkan lebih dulu, bila kau bersedia menyerahkan mereka keadaan masih mendingan, kalau tidak jangan salahkan jika toaya akan turun tangan sendiri."

"Oooh tuan!" rengek petani tua itu dengan sedih, "lepaskan kami untuk kali ini saja."
"Plook!" orang she Lok itu segera menggetarkan telapak tangannya dan membacok petani tua itu keras-keras.
Termakan oleh bacokan yang sangat keras itu, petani tua itu mundur sejauh tujuh delapan langkah dengan sempoyongan, saking gusarnya dia membalikan badan lalu beranjak pergi. "Mau pergi kemana kau?" teriak orang she Lok itu sambil mencengkeram punggung sipetani tua "bila kau berani melarikan diri, locu segera akan merenggut nyawamu."
Petani tua itu gusar sekali, sambil berpaling jeritnya dengan penuh amarah:
"Wilayah kami sudah kau rampas, sekarang kaupun hendak mengincar anak kami, apa arti hidup bagi kami? Daripada hidup sengsara lebih baik mati saja, biarlah kami sekeluarga mati bersama-sama."

"Hmm, sekalipun kau ingin mati pun tak akan semudah itu." jengek orang she Lok itu dengan tertawa seram.
Jago pedang buta Bok Ci benar-benar merasa tidak leluasa untuk membiarkan keadaan tersebut berlangsung terus, dengan cepat dia maju selangkah kedepan, pedang kayunya di putar kencang dan segera dihantamkan keatas lengan orang she Lok tersebut.

"Sobat. lebih baik bersikaplah lebih sungkan!" dia memperingatkan.
"Siapakah kau? Tahukah kau apa akibatnya jika mencampuri urusan orang lain?" sambil berpaling orang she Loi itu membentak penuh kegusaran.
"Haaah... haaah... haah..." Jago pedang buta Bok Ci mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, pelanpelan dia mengeluarkan pedang kayu hitamnya, kemudian sesudah digetarkan keras dia bertanya:

"Kau kenal dengan benda ini?"
"Tidak kenal!" jawab orang she Lok itu tertegun.
Mendadak dia seperti teringat akan sesuatu, dipandangnya sekejap wajah si Jago pedang buta Bok Ci dengan seksama, kemudian menggelengkan kepalanya berulang kali, seakanakan dia tidak percaya kalau orang yang berada dihadapannya sekarang adalah manusia lihay seperti apa yang dikabarkan orang.
Jago pedang buta Bok Ci tertawa hambar, ujarnya: "Masa Thiat sim bok kiam ini tidak dikenal, percuma aku
berkecimpungan dalam dunia persilatan, sobat lebih baik pulang dulu dan tanyalah kepada majikanmu, maka dia akan memberitahukan kepadamu siapakah aku ini!"

"Siapa? Aku ingin menemuinya !"
Dari luar pintu berkumandang suara tertawa yang berat
dan dalam kemudian tampak seorang pemuda yang menyoren pedang berjalan masuk dengan wajah sedingin es.
Pemuda itu mengenakan jubah panjang berwarna biru, sepasang alis matanya tebal dan melenting, sorot mata bengis dan buas mencorong keluar dari balik matanya, sementara ujung bibirnya agak mencibir sehingga membuat siapa pun akan mengetahui kalau pemuda ini bukan seorang manis baikbaik.

Menyaksikan kemunculan anak muda tersebut, orang she Lok dan orang she Gi itu seolah-olah melihat datangnya bintang penolong saja, serentak serunya dengan hormat.
"Majikan muda!"
"Mana Hoa koh?" tegur pemuda itu dingin. "toaya sedang menunggu kalian membawanya pulang, sungguh tak nyana kalian malah membikin malu orang saja disini. Hmm, sekembalinya nanti, aku pasti akan memberi pelajaran kepadamu dengan sebaik-baiknya."

Dua orang itu menjadi ketakutan setengah mati sehingga badannya gemetar keras, jangan lagi membantah, melepaskan kentut busukpun tak berani. Petani tua itu makin ketakutan lagi setelah menyaksikan munculnya malaikat buas itu, dia merasa sukmanya seakanakan sudah melayang meninggalkan raganya.
Diam-diam ia menarik ujung baju jago pedang buta, lalu bisiknya lirih:
"Keparat ini adalah putra Ho say kun yang bernama Ho   Hay, dia tertarik dengan putriku Hoa koh dan memaksa hendak mengawininya, kau mesti bersikap lebih berhati-hati."
Sementara itu Ho Hay sudah melotot sekejap ke arah Jago pedang buta Bok Ci, kemudian katanya:
"Siapakah kau ? Sombong amat kau, hmm, gayanya seperti melebihi seorang toaya saja!"
"Kedatanganmu memang sangat kebetulan" ucap jago pedang buta Bok Ci dengan suara dingin, "aku memang akan mergajakmu membicarakan suatu transaksi perdagangan, siaute she Bok, karena sepasang mataku kurang baik, maka orang menyebutku sebagai jago pedang buta."

"Jago pedang buta !"
Tiga patah kata tersebut seperti guntur yang membelah bumi ditengah hari bolong, kontan saja membuat dua orang lelaki tadi menjerit keras karena ketakutan dan melarikan diri terbirit-birit keluar ruangan.

"Aduh mak !" jeritnya keras-keras.
Bayangan pedang berkelebat lewat, seketika jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang memecahkan keheningan, tahu-tahu tubuh orang she Ci itu sudah berpisah dengan batok kepalanya, tak ampun selembar jiwanya melayang meninggalkan raganya.

Pelan-pelan Jago pedang buta Bok Ci menarik kembali pedangnya seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu apapun, dia berpaling ke arah Ho Hay dan orang she Lok itu kemudian tertawa hambar.
Setelah menghembuskan napas panjang, dia berkata: "Barargsiapa mencoba untuk melarikan diri inilah
akibatnya."
Meskipun Ho Hay sangat jeri terhadap kelihayan ilmu silat lawannya, tentu saja dia tak akan menunjukkan sikap pengecut macam orang she Lok yang bersembunyi dibalik pintu sambil gemetar, bahkan memandang ke arah, Ho Hay dengan ketakutan, seakan-akan dia berharap majikannya bisa menghadapi situasi macam itu.

Dengan cepat Ho Hay berhasil menenangkan hatinya, dia segera berkata.
"Menghadapi seorang bawahan dengan cara begini, tidakkah kau merasa bahwa perbuatanmu itu terlampau kejam."
"Kejam?" tiba-tiba jago pedang buta Bok Ci mendongakkan kepalanya lalu tertawa terbahak-bahak,
"kau tidak merasa kalau perkataanmu itu kelewat kekanakkanakan ?"
Baru pertama kali ini dia mendengar kata-2 itu muncul dari mulut seseorang yang kejam, oleh sebab itu dia merasa geli bercampur muak, dipandangnya pemuda buas tersebut dengan pandangan sinis dan mengejek, mukanya penuh dengan nada sinis.

Dengan tubuh gemetar keras Ho Hay menatap musuhnya lagi. kemudian berbisik:
"Jadi... jadi kau bersikeras hendak menahan diriku ?" "Tentu saja... tentu saja..." jawab jago pedang buta Bok Ci
dengan amat tegas, "sebelum bapakmu melepaskan Liong Tian im, akupun tak akan melepaskan dirimu, terus terang saja, aku hendak menahanmu disini, kemudian akan mengajak bapakmu untuk membicarakan transaksi perdagangan."
*** ***
Note 19 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Cersil Hari ini akan diupload pukul 20.00 WIB."

(Regards, Admin)

0 Response to "Cincin Maut Jilid 33"

Post a Comment

close