Cincin Maut Jilid 29

Mode Malam
Jilid 29

KOMANDAN LI TELAH KEMBALI. Tin Cu hoa dan Liong Tian im segera mengalihkan sorot matanya bersama-sama keluar ruangan, tampak Li Bun yang diiringi Leng Hong-ya dan Kwan Lok khi sedang berjalan mendekat.
Dengan suara keras Li Bun yang segera berseru: "Pemimpin, Leng Hong-ya dan Kwan Toa Sancu telah
datang."

"Oooh... selamat datang, selamat datang." seru Tin Cu hoa dengan cepat "komandan Li, suruh mereka menghidangkan air teh!" Li Bun yang segera bertepuk tangan, dua orang lelaki muncul dari luar membawa air teh dan dipersembahkan dengan hormat.

Leng Hong-ya memandang sekejap ke arah Liong Tian im dengan pandangan dingin, sorot matanya menunjukkan perasaan tercengang, dia tak tahu mengapa anak muda tersebut bisa sampai di situ jauh lebih awal dari mereka, diapun tak tahu mengapa Liong Tian im bisa berkomplot dengan orang-orang Liu sah bun.

Dia melirik sekejap ke arah Tin Cu hoa, kemudian bertanya: "Kau kah pemimpin dari Liu sah bun ini?"
Tin Cu hoa tertawa hambar.

"Leng siansing. kau ada sesuatu petunjuk?"

Leng Hongya mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.

"Haaahh. .haaah.. petunjuk sih tak berani, cuma komandan Li dari perkumpulan kalian berbuat kelewatan terhadap diriku, maka pun Hong-ya hendak menuntut suatu pertanggungan jawab darimu."

"Oh, tentu saja." kata Tin Cu hoa sambil mengulumkan sekulum senyuman dengan paksa, "seandainya kami tak akan membelikan suatu pertanggungan jawab kepadamu, malam ini kami tak akan mengundang kedatangan si Bangsat kemari, Leng sianseng, kami menghormatimu sebagai seorang tokoh persilatan, baik pengetahuan maupun kepandaian semuanya berada di atas kami, apalagi nama besarmu sudah termasyhur didalam dunia persilatan sebagai seorang tokoh yang adil dan bijaksana, siau li berniat mengundang Leng sianseng untuk bertindak sebagai saksi !"

Diam-diam Leng Hong-ya merasa amat terkesiap, pikirnya setelah mendengar perkataan itu:

"Sungguh hebat perempuan ini, hanya menggunakan sepatah kata saja aku sudah terpancing olehnya."

Dia sama sekali tidak menyangka kalau Tin Cu hoa mempunyai selembar bibir yang begitu tajam, hanya dalam sepatah kata saja telah berhasil merebut hati orang, kelihaian dan kelicikan semacam ini pada hakekatnya melebihi pengalaman seorang jago silat kawakan.

Jangan melihat pihak lawan hanya mengucapkan beberapa patah kata saja, namun pukulan yang diberikan terhadap Leng Hong-ya benar-benar besar sekali.

Leng Hong ya merupakan seorang jago kawakan yang termasyhur namanya didalam dunia persilatan, selama ini pihak lawanpun menghormatinya sebagai seorang angkatan tua, nada pembicaraannya sungkan terasa dan bernada  rendah hati, sudah barang tentu dalam keadaan begini dia tak ingin di remehkan sebagai si orang tua yang menganiaya anak kecil, apa-apa kalau sampai ditertawakan oleh sesama umat persilatan.

Sesudah tertawa kering katanya kemudian. "Aaah, mana, mana! Nona terlalu sungkan."
"Tidak Leng sianseng" ucap Tin Cu hoa serius, dengan memberanikan diri siauli sengaja mengundang kehadiran sianseng di sini, kali ini tujuannya tak lain adalah mohon agar sianseng suka menegakkan sedikit kebenaran bagi umat persilatan, aku rasa dengan kedudukan serta nama baik Leng sianseng, tentunya kau tak akan menyia-nyiakan ucapan umat persilatan bukan."

"SoaI ini. ." Leng Hongya menjadi tertegun.

Li Bun yang menyaksikan perubahan situasi itu tentu saja tak akan memberi kesempatan kepada Leng Hong-ya untuk membantah lagi, buru-buru dia maju berapa langkah ke muka dan menghormat dalam-dalam..

"Budi kebaikan Leng sianseng tak akan dilupakan oleh partai kami, aku Li Bun yang atas nama segenap anggota Liu sah bun mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas kebaikkan Leng sianseng.

Sembari berkata dia lantas menjura dalam-dalam, baiknya benar-benar tulus dan bersungguh hati..

Kesabaran serta keramahan untuk menahan diri meminta mereka akan sesuatu yang penting sekali, sesering yang dilakukan oleh Li Bun yang dan Tin Cu hoa sekarang, untuk menghindari bentrokannya dengan Leng Hong-ya, ternyata mereka tak segan-segan untuk merendahkan diri serta meninggikan kedudukan orang.

Berada dalam keadaan seperti ini, terpaksa Leng Hong-ya harus membalas hormat dengan cepat:

"Komandan Li. kau kelewat sungkan !"

Sikap merendah diri kedua belah pihak ini, kontan saja membuat Kwan Lok khi menjadi naik darah dan mendongkolnya setengah mati, dengan cepat dia dapat menemukan kalau keadaan tak beres, sekujur tubuhnya gemetar keras menahan gejolak perasaan hatinya, dari tenggorokannya juga bergema suara deheman yang menyeramkan.

"Cu hoa!" bentaknya kemudian, "tindakan yang kau ambil ini sungguh luar biasa sekali."

Tatkala Tin Cu hoa menyaru sebagai pelacur untuk menyelidiki rahasia bukit Jit gwat san tempo hari, Kwan Lok  khi selalu menggunakan sebutan Cu hoa untuk memanggilnya.

Kalau diharuskan berbicara secara berterus terang, Kwan Lok khi bukannya tidak mempunyai perasaan terhadap Tin Cu hoa, hanya hubungan perasaan tersebut tipis sekali dan mengalami perubahan waktu menjadi tawar dan akhirnya hilang lenyap, oleh karena itu yang masih tersisa dalam hatinya sekarang tinggal kemarahan yang meluap luap serta hawa pembunuhan yang makin menebal.
Paras muka Tin Cu hoa berubah sedingin es, serunya. "Kau anggap nama Cu hoa juga bisa kau sebut dengan
seenaknya sendiri .."

Bukan saja paras mukanya berubah menjadi hijau membesi karena gusar, bahkan Li Bun yang juga menunjukkan amarah yang meluap-luap.
Sesudah tertawa seram, Kwan Lok khi berseru. "Selama orang berada di bawah wuwungan rumah,
siapakah yang berani tak menundukkan kepalanya ? Baiklah, anggap saja orang she Kwan telah dipecundangi olehmu, akan ku panggil kau sebagai pemimpin. Nah, pemimpin besar Tin, sekarang kita harus mulai membicarakan persoalan kita !"

"Baik, orang she Kwan, kau boleh membuka harga !" ujar Tin Cu-hoa dingin.

Melihat perempuan itu sama sekali tidak menyinggung soal tertawannya Kwan Hong, Kwan Lok khi segera mengetahui kalau perempuan berhati keji ini tidak gampang dihadapi, satu ingatan segera melintas dalam benaknya.

"Aku harus berusaha untuk mencari akal dan menjebaknya." demikian dia berpikir.

Sambil tertawa dingin dia lantas berkata.

"Orang bilang: Siapa yang berhutang, dia yang membayar, Pemimpin Tin permusuhan terjadi antara Pun-sancu dengan Liu sah bun dalam peristiwa ini, putraku sama sekali tidak terlibat dan sama sekali tiada sangkut pautnya, sesungguhnya apa maksudmu menahan putraku di sini ?"

"Mudah sekali." jawab Tin Cu hoa dingin. "aku hanya ingin mengundang kedatanganmu kemari . . ."

"Pemimpin Tin, mengapa kau harus mengeluarkan banyak tenaga dan upaya hanya bermaksud demikian" Kwan Lok khi tercengang, asal partai kalian mengirim surat undangan, masa aku Kwan Lok khi tak akan kemari ? Hmm .. hmm .. kau kelewat memandang hina diri lohu !"

"Hmmm !" Tin Cu hoa mendengus dingin dengan suara berat, lalu mencibirkan bibirnya dengan sinis, ditatapnya Kwan Lok khi dengan pandangan menghina, kemudian katanya.

"Kalau kugunakan cara ini, masa kau si rase tua bakal masuk perangkap ? Kwan Toa sancu. aku cukup memahami watakmu, aku percaya kau tak akan melakukan perbuatan yang tak menguntungkan bagimu."

"Aaaah, belum tentu begitu..." kata Kwan Lok khi dengan gemas bercampur benci, "itu mah tergantung bobotnya persoalan yang sedang kuhadapi seperti permusuhan partai kalian dengan Jit gwat san kami yang sudah berkembang seperti air dan api, bila pemimpin Tin berani mengusik ketenangan Jit gwat san kami kendatipun segenap kekuatan kami harus punah pun, pun sancu tidak akan menolak untuk datang menghadapimu !"
Kemudian setelah tertawa licik dia berkata lagi: "Pemimpin besar Tin, apakah kau bersedia untuk
melepaskan putraku lebih dulu ?"

Makhluk tua yang licik, keji dan berakal busuk ini benarbenar seorang manusia tunggal yang sukar dihadapi, otaknya yang encer telah diperas untuk mencari akal guna menghadapi pihak Liu sah bun, namun dia tak berai melakukan rencananya tersebut karena kuatir keselamatan jiwa putranya.

Sekarang, dia belum tahu tentang mati hidupnya Kwan Hong di sana, dia ingin menyelidiki hal tersebut dari mulut lawannya, apa pula kalau dia berhasil mengetahui dimana Kwan Hong disekap. Tin Cu hoa segera tertawa dingin.

"Heeh, heeh, heeh, haruslah bertemu muka?" "Tentu saja." jawab Kwan Lok khi tertegun.

"Yang paling disayang di dunia ini adalah darah daging sendiri, apalagi dia merupakan orang terdekat dari pun sancu, sudah tidak mau putra sendiri lagi?" Tin Cu hoa segera  tertawa tergelak.

"Haah, haah, haah tak nyana kalau kau masih mempunyai perasaan, aku masih mengira Kwan Hong sudah tiada artinya lagi bagimu? Haah haah, haah, Kwan toa sancu kau benar benar ingin mengetahui keadaan putramu itu. ."

"Bagaimara dengan putraku?" seru Kwan Lok Itai dengan gelisah

"Sudah mati!"

Sekilas hawa napsu membunuh segera menghiasi wajah Tin Cu hoa, serunya kembali.

"Sudah kau dengar? Dia telah mati!"

Kata "mati" ibaratnya sebilah pedang tajam yang menembusi hati Kwan Lok khi, kontan saja pandangan mata menjadi gelap, hampir saja dia tak percaya kalau orang orang Liu sah bun berani membunuh putranya.

"Sudah mesti." gumamnya dengan bibir gemetar, "orang  tua ternyata menghantar keberangkatan orang muda lebih dulu, tak nyana kalau Hong ji akan berangkat mendahului aku
!"

Tin Cu hoa tertawa tergelak dihati, terutama setelah menyaksikan kesengsaraan Kwan Lok khi yang menghadapi berita tersebut namun dia merasakan pula kesedihan dan kegusaran yang luar biasa, akhirnya sambil tertawa tergelak serunya:

"Orang she Kwan, kan pun tahu akan penderitaan? Hmm. . bagaimanakah perasaanmu disaat kau membunuhi jago-jago dari Liu sah bun? apakah kaupun memikirkan pula penderitaan orang lain? Kwan Lok khi, tahukah kau ada banyak orang yang saat ini jauh lebih menderita daripada dirimu . .. ?"

Kwan Lok khi tidak tahu kalau Tin Cu hoa bermaksud mempermainkan dirinya, menyaksikan perempuan  itu menegur dirinya habis-habisan, amarahnya segera berkorban kembali dalam dadanya, kemarahan tersebut pada hakekatnya tak terlukiskan dengan kata kata.
Dengan suara menggeledek dia lantas membentak: "Bagaimana matinya ? Apakah kau si perempuan rendah
yang telah membunuhnya . .?"

Waktu itu, yang mencekam di dalam benaknya hanyalah kebencian serta hawa napsu membunuh yang membara, oleh sebab itu wajahnya yang diliputi hawa napsu membunuh itu membuat wajahnya berubah menjadi lebih menyeramkan lagi, seakan akan setan iblis yang siap melalap manusia hidup bulat-bulat.

Dengan penuh Kwan Lok khi menuding ke arah Li Bun yang, kemudian bentaknya keras keras:

"Bukankah kau mengatakan putraku berada dalam keadaan baik-baik? Rupanya kau hanya menggunakan siasat licin untuk membohongi aku? Bagus sekali, sungguh tak kusangka aku Kwan Lok khi bisa jatuh pecundang di tanganmu."

"Hmmm, kau tak lebih hanya manusia rendah buat apa kami memandang tinggi dirimu itu?" jengek Li Bun yang dingin.

"Buat apa? Haa . haaah . . ." Kwan Lok-khi tertawa terbahak bahak, "kau menilai orang terlalu tinggi, mungkin kau tidak mengetahui kerendahan serta kejelekan dari sifat
manusia komandan Li, didalam hal ini kau mengetahui kelewat sedikit!"

"Omong kosong!" bentak Li Bun yang gusar "aku sama sekali tidak sependapat dengan pandanganmu yang picik dan sama sekali tak tahu aturan itu, dengan pandanganmu yang sesat rasanya sukar untuk mendapatkan simpati dari siapa saja."

"Sayang sekali kami tidak mempunyai kegembiraan untuk mendengarkan petuahmu itu" tukas Tin Cu-hoa dingin, "Kwan toa-sancu, lebih baik kita persingkat pembicaraan yang lebih berguna lagi, bagaimana pun juga pertikaian antara kau dengan partai kami, cepat atau lambat toh harus diselesaikan juga !"

Paras muka Kwan Lok khi mengejang sangat keras,  akhirnya apa yang dia takuti berlangsung juga, bukannya dia kuatir pihak Liu sah bun dapat melakukan sesuatu terhadapnya, melainkan dia amat menyedihkan atas kematian dari putranya.

"Sebenarnya putraku mati ditangan siapa?" serunya kemudian dengan suara pedih. "Aku yang membunuhnya !" jawab Tin Cu hoa dingin.

"Kau !" Kwan Lok khi gemetar keras, "perempuan keji berhati buas, asal aku orang she Kwan masih bisa bernapas, aku bersumpah akan mencincang tubuhmu, kau bukannya tak tahu aku orang she Kwan hanya mempunyai seorang anak kesayangan tapi kau telah membunuhnya secara keji! Kau ..
.kau perempuan hina"

Kerendahan watak manusia seringkali akan terlihat disaat seperti ini, Tin Cu hoa berniat memberi penderitaan dan siksaan batin yang amat mendalam bagi Kwan Lok khi, maksudnya agar diapun bisa merasakan betapa menderita dan tersiksanya seseorang yang kematian orang yang paling dikasihi.

Maka sesudah tertawa hambar, ujarnya: "Kau tak usah berkaok kaok di sini, orang she Kwan, hutang darahmu terhadap perguruan Liu sah bun harus kau selesaikan pada hari ini juga, tahukah kau, aku sengaja mengundang kalian berdua datang kemari, maksudnya tak lain adalah untuk menyelesaikan persoalan ini."

Kwan Lok khi mendesis geram.

"Bagaimana pula dengan kematian putraku." Tin Cu-hoa menarik napas panjang-panjang.
"Walau kau tidak bajik, kami tak akan berbuat hal-hal yang tidak pada tempatnya, perguruan Liu sah bun hanya menghendaki kematianmu, kami hanya berusaha untuk menahan putramu saja tanpa menghendaki nyawanya. anggap saja hal ini.?" "Jadi kalau begitu putraku masih hidup?" seru Kwan Lok-khi dengan wajah tercengang.

Tin Cu hoa mendengus sinis.

"Hmm, antara hidup dan mati tidak berbeda jauh, kau tak usah terlampau gembira"

Sementara itu, Liong Tian im tidak ingin mencampuri pertikaian berdarah tersebut maka dia hanya berdiri di sana dengan dingin dan tenang. Ia hanya berada di situ sebagai peninjau untuk memperhatikan pertikaian antara kedua belah pihak tersebut berlangsung.

Kendatipun begitu, setelah menyaksikan kesombongan dan kelicikan Kwan Lok khi, dia toh merasa tak puas juga, sambil mencibirkan bibirnya ia mendengus dingin, betul suaranya amat lirih, tapi beberapa orang itu dapat menangkap dengan jelas sekali.

Kontan saja Kwan Lok khi melototkan matanya bulat-bulat, kemudian menegur:

"Hei, mengapa kau mendengus?" Liong Tian ini menjengek angkuh.

"Dengan perbuatanmu dan Kwan Hong, walaupun harus mati bukan berarti bisa menghilangkan dosa besar yang telah kalian lakukan, pemimpin Tin merupakan seorang pendekar wanita yang bisa membedakan mana budi mana dendam, dia hanya memapas rambut sebagai pengganti kepala, hal tersebut hanya merupakan semacam peringatan saja bagi Kwan Hong, hei orang she Kwan, bila kau mempunyai sedikit liangsim, kau harus bunuh diri di depan orang orang Liu sah bun guna mengurangi dosamu, seandainya kau. ." "Hmmm...!" Kwan Lok khi merasakan hatinya menjadi tenang sekali, ejeknya kemudian dengan suara merendah:

"Saudara Leng, coba kau lihat, bocah keparat ini berani menjagal kaki belakangku!"

"Saudara Kwan memang seorang jagoan yang ternama, masa kau akan membiarkan seorang angkatan muda memandang hina dirimu ? Saudara Kwan, kalau toh putramu baik-baik saja, kita berdua juga seharusnya..."

Kalau didengar dari nada pembicaraannya sudah jelas ia mempunyai maksud yang lebih mendalam.

"Heee... heee... heee... betul, saudara Leng, kau memang telah mengingatkan diriku" seru Kwan Lok khi sambil tertawa seram.

Dalam keadaan seperti ini, dia malah tak ingin ribut lebih jauh dengan Liong Tian im, maka sorot matanya segera dialihkan ke wajah Tin Cu hoa lekat-lekat, kemudian sambil maju selangkah lebar, katanya dengan suara dalam.

"Lepaskan dulu putraku !"

"Tidak sulit bila kau inginkan putramu ku lepas, cuma kau harus memberi suatu jaminan dulu kepadaku"

"Apa jaminannya ?".

Tin Cu toa mendengus dingin lalu berkata dengan suara hambar. "Sederhana sekali aku hanya ingin menotok tiga buah jalan darahmu, setelah itu putramu pasti akan munculkan diri dan bertemu sendiri denganmu ? aku rasa permintaan semacam  ini tak terlalu memberatkan dirimu bukan ?"

"Haahh . . . haaah . . ." Kwan Lok khi tergelak, "pemimpin Tin, usulmu itu memang bagus sekali?, diluar itu peuh dengan orang orangku, bila aku hendak menginjak rata seluruh  tempat ini, bagiku pekerjaan macam ini gampang sekali !"

"Kau tak akan berani berbuat demikian!" kata Tin Cun hoa dengan suara dingin.

Kwan Lok khi dan Leng Hongya saling berpandangan sekejap, kemudian serunya hampir bersamaan.

"Mengapa ?"

Tanpa merasa takut barang sedikitpun juga Tin Cu hoa berkata dingin.

"Apakah kau masih belum melihat kalau keadaan sangat tidak menguntungkan bagimu? Sekarang untuk melindungi dirimu sendiri saja sudah tak mampu, meski orang orangmu pemberani dan tiada tandingannya aku rasa mereka sudah tiada berkesempatan lagi untuk menolongmu. apalagi asal kau berani melakukan suatu gerakan maka putramu akan mengalami nasib tragis lebih dulu!"

Ancaman tersebut sungguh merupakan suatu ancaman yang sangat mengena, bukan saja Leng Hong-ya harus mengagumi akan kelihaian dari perempuan tersebut, bahkan gembong iblis seperti Kwan Lok khi pun diam-diam harus mengagumi juga dia merasa perempuan ini benar-benar merupakan seorang perempuan yang sangat lihay. Untuk beberapa saat lamanya gembong iblis yang pernah menjagoi seluruh rimba hijau ini dibikin serba salah oleh perbuatan lawannya, untuk beberapa saat berbagai ingatan mulai berkecamuk dalam benaknya dia pun berusaha keras untuk mencari akal guna menghadapi situasi yang sangat tidak menguntungkan dirinya itu".

Akhirnya dengan kening berkerut dia berkata: "Sebenarnya apa maumu ?"
Tin Cu hoa tertawa dingin.

"Tujuanku hanya membalas dendam, oleh karena itu aku hanya menghendaki selembar nyawamu !"
Kwan Lok khi segera tertawa seram. "Hee...hee...hee... tampaknya kita hanya bisa
menyelesaikan persoalan ini dengan suatu pertarungan pemimpin Tin, persoalan ini menyangkut masalah kita berdua, pun sancu tidak berharap terlalu banyak orang yang mencampuri urusan ini, aku rasa lebih baik kita berdua saja yang menyelesaikan persoalan ini . . . !"

Selapis rasa sedih dan murung sempat menyelimuti raut wajah Tin Cu hoa, pelan-pelan di melepaskan mantel yang dikenakan olehnya, kemudian di serahkan kepada Li Bun yang sambil berkata.

"Komandan Li, bila aku tidak beruntung dan mati lebih dulu, urusan Liu sah bun kuserahkan semuanya kepadamu."

Li Bun yang segera merasakan sekujur tubuhnya gemetar keras, serunya agak tertahan: "Pemimpin, kau..."

Tin Cu hoa tertawa sedih: "Apa lagi yang perlu disedihkan?" serunya "bukankah yang kita nanti nantikan selama ini adalah saat seperti ini? Komandan Li, dendam kesumat sedalam lautan ini harus di cuci sampai bersih, bila dendam berdarah dari Liu sah bun bisa di selesaikan bukankah hal ini  merupakan suatu kejadian yang sangat menggembirakan. Kau tak usah menguatirkan tentang keselamatan jiwaku, setiap orang yang pernah dilahirkan pasti akan merasakan pula kematian, kejadian semacam ini sudah lumrah dan umum, mengapa kau harus mengurusi segala persoalan yang sama sekali tidak ada gunanya."

Setelah tertawa getir, dia menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya lebih jauh:

"Segala sesuatunya telah berlangsung seperti apa yang  telah kuduga, dalam hidupku tiada sesuatu yang kupikirkan, mungkin nasibku memang sudah ditakdirkan terlalu jelek dan susah, tapi... tapi aku sama sekali tidak memurungkan nasib jelekku ini, oleh sebab itu kau tak pernah kenal denganku, anggap saja aku hanya seorang pengembara yang mati di tepi jalan, tak usah terlalu dianggap sebagai sesuatu yang terlalu besar."

Dengan suara yang datar dan pelan dia utarakan semua isi hatinya, setiap perkataan di utarakan dengan suara yang penuh daya tarik, nadanya dalam dan berat dan semuanya tertanam dalam-dalam dihati Li Bun yang kesepian nya itu membuat Li Bun yang menjadi sangat terharu dan hampir saja mengucurkan air mata. Akan tetapi dia berusaha untuk menahan diri, dia tahu dari kematian Tin Cu hoa ada niatnya dan ada pula tujuannya.

Dia mengorbankan diri demi seluruh perguruan Liu Sah bun, dia tak dapat mencegah kebesaran jiwanya itu, diapun tak dapat mencegah tekadnya untuk berkorban demi kepentingan perguruannya..

Dia harus mewujudkan cita-citanya itu dan membiarkan dia mengorbankan diri.

Dari balik paras muka Tin Cu hoa segera muncul semacam sinar tajam yang penuh wibawa dan tak tercela, semacam keangkeran dan kewibawaan yang dapat membuat orang merasa hormat.

Pelan-pelan dia bergeser maju ke depan, seperti seorang panglima perang yang siap terjun ke dalam suatu arena pertempuran.

Dia telah mempertaruhkan mati hidupnya dalam pertarungan ini, oleh sebab itu ia sama sekali tidak merasa kuatir atau gelisah, dia pun tidak merasa ragu.

Dia memang tahu tugas yang harus diselesaikan olehnya sekarang merupakan suatu tugas yang berat dan susah, dia pun tahu kalau tugas ini merupakan suatu tugas yang tak bisa diselesaikan, tapi harus diselesaikan, inilah pengorbanan dari seorang pendekar sejati seorang martir yang sebenarnya..

Li Bun-yang mencengkeram mantel hijau yang panjang itu erat-erat, seakan akan hendak menggenggam sukmanya kuatkuat, namun apa yang apa yang dipegang tak lebih hanya sebuah mantel belaka, dengan jiwanya masih selisih jauh,  jauh sekali. . Sekujur tubuhnya gemetar keras, dengan susah payah dia menggetarkan bibirnya dan berkata. "Pemimpin. . "

Tin Cu hoa tertawa getir.

"Aku tak tahu apa yang ingin kau katakan." tukasnya, "tapi simpan saja perasaanmu itu dalam dasar hati kecilmu, hati kita berdua telah bersatu, aku pun dapat merasakan suara hatimu itu.

Cinta yang suci dan agung terpancar dari balik ucapannya yang lembut, hati mereka berdua seolah-olah bertautan satu sama lainnya. kobaran api cinta pun mulai bersemi.

Sekarang, Kwan Lok khi baru dapat melihat akan hubungan cinta antara Tin Cu hoa dengan Li Bun yang.

Bagaimana pun juga, Tin Cu hoa merupakan orang yang pernah dicintainya, oleh sebab itu tak heran kalau api cemburunya kontan berkobar setelah menyaksikan adegan tersebut.
Sambil tertawa terbahak bahak serunya keras. "Haaah, haaah, haah, "lonte tak berperasaan, pencari
hiburan tak setia, hmm, hmm. baru berapa hari tak bersua, sungguh tak nyana menemukan gendak baru lagi, . hmmm, hmmmm, pemimpin Tin, tampaknya perasaan cintamu itu tak laku sepeser pun!"

Li Bun yang marah sekali setelah mendengar perkataan itu, teriaknya segera dengan perasaan gusar.

"Aku tidak mengijinkan kau menghinanya dengan cara seperti itu .." "Hmm. . ." Kwan Lok khi amat gusar, "kau ini manusia macam apa? Huuh sewaktu dia masih kutiduri tiap malam, tak tahu kau lagi minum air kencing dimana. Hei, orang she Li, lebih baik jangan tak tahu diri, dia adalah mawar yang penuh berduri, indah dipandangnya sesungguhnya tak enak kalau diajak main di ranjang."

Sebenarnya inilah persoalan yang paling memedihkan hati Tin Cu hoa selama ini, betul dia memang pernah berlagak sebagai pelacur dan pernah pula menjadi gundiknya Kwan Lok khi, tapi semua kejadian tersebut sudah lewat, semuanya  telah mati dimasa lalu.

Sedang hari ini dia seakan akan telah bersih kembali, hari ini dia sudah mencuci bersih semua noda dan aib tersebut, kini badannya tetap suci bersih, karena demi membalas dendam ia telah memendam seluruh kehidupannya ke dalam peran pelacur.

Li Bun-yang yang sedang dilindas asmara, kontan merasa ucapan Kwan Lok-khi yang mengungkap rahasia Tin Cu hoa tersebut bagaikan mengait dirinya sendiri.

Saking gusarnya kontan saja sepasang matanya berubah menjadi merah membara, dengan penuh kegusaran dia menyerbu maju ke depan.

"Orang she Kwan !" bentaknya amat gusar "aku bersumpah akan membunuh mu."

Kecerdasan dan akal budinya seakan akan turut padam bersama diutarakannya ucapan tersebut, amarah yang berkobar kobar membuatnya jadi nekad, ia bersedia mengorbankan selembar jiwanya demi mempertahan kesucian serta cinta kasihnya. Sambil mengayunkan telapak tangannya, sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ke tubuh Kwan Lok khi.

Dengan cekatan Kwan Lok khi melengos ke samping sambil menghindarkan diri dari ancaman tersebut, kemudian serunya sambil tertawa seram:

"Heeh. heeeh heeh, bocah keparat, kau sendiri yang mencari mampus, jangan salahkan Pun sancu akan bertindak keji lagi ?"

Sebagai seorang pentolan dari kaum iblis, sudah barang tentu kepandaian sifat yang dimilikinya jauh melebihi kepandaian dari Li Bun yang, hanya menggerakkan sedikit telapak tangan kanannya, tahu-tahu sebuah pukulan yang maha dahsyat telah dilontarkan ke arah depan.

"Blaaaamm !"

Ketika dua gulung kekuatan saling membentur satu sama lainnya ditengah udara, segera terjadilah suatu ledakan keras ditengah udara

Dengan cepat Li Bun yang dibikin bergetar keras hingga harus mundur sejauh tujuh delapan langkah sempoyongan.

Kini rambut Li Bun yang sudah menjadi kusut dan kacau balau tak karuan, bentaknya lagi dengan gusar:

"Aku akan beradu jiwa denganmu !"

Disaat dia hendak melompat ke depan sambil menyerbu dengan pertaruhkan jiwa inilah, mendadak selembar wajah yang putih dan sedih terlintas di depan matanya, hal ini membuat hatinya kembali tergetar keras.

"Bun yang !" seru Tin Cu hoa dengan wajah memucat, "kembali kau... !"

Jelas ucapan itu berupa suatu perintah, sebuah kekuatan yang tak terbantahkan.

Li Bun yang merasakan hatinya kecut, hampir saja dia hendak menangis tersedu sedu, sambil mundur ke belakang, serunya kemudian.

"Pemimpin, apakah kau rela dihina dan di cemooh oleh bajingan tua ini."

"Biarkan saja, apapun yang hendak dia kata kan sebab apa yang diucapkan merupakan suatu kenyataan" kata Tin Cu hoa hambar, "tiada manusia yang ada di dunia ini bisa melenyapkan suatu kenyataan, buat apa kita mesti meributkan persoalan yang sama sekali tak ada gunanya itu ?"

Ditatapnya Li Bun yang dengan wajah serius, kemudian dengan nada yang mengandung maksud mendalam, katanya lebih jauh:

"Aku melarang mu untuk mengorbankan jiwa dengan percuma, dengarkan ucapan ku ini sebagai perintah, yang mati biar aku seorang saja karena ini sudah cukup, Kau harus meneruskan hidup bagi perguruan Liu sah bun kita, ini merupakan tugasmu dan juga tanggung jawabmu !"

Kemudian dengan sikap yang lebih mantap dia membalikkan badannya, lalu berkata: "Kwan Toa sancu, sekarang kita boleh mulai turun tangan
!"

"Silahkan." kata Kwan Lok khi sambil tertawa seram, "pemimpin Tin, aku harap kau dapat menjaga janjimu serta menepatinya."

"Jangan kuatir" ucap Tin Cu hoa dingin "entah aku hidup atau mati, orang orangku pasti akan melepaskan Kwan Hong, cuma ada satu hal perlu kau ingat, pertarungan ini merupakan pertarungan yang menentukan mati hidup kita, jadi menggunakan senjata tajam apa pun juga boleh !

Kwan Lok khi menyilang telapak tangannya ke depan kemudian menjawab: "Bagus sekali, pun sancu merasa amat puas."

Tin Cu hoa menarik napas panjang-panjang, pelan-pelan  dia mengangkat telapak tangannya ke depan, kemudian tubuhnya ikut bergeser maju ke muka, lalu dengan kecepatan tinggi menerobos masuk ke bagian tengah tubuh Kwan-Lok khi dan membacokkan telapak tangannya ke tubuh lawan.
Dengan wajah tercengang Kwan Lok khi segera berseru: "Aaah, ilmu pukulan Han leng ciang dari perkumpulan Hon
leng pay.."

Sebagai seorang jagoan kenamaan yang berpengalaman luas. cukup dalam sekilas pandangan saja ia dapat mengetahui akan asal usulnya dari perguruan Tin Cu hoa kenyataan tersebut kontan membuat hatinya amat terkesiap, buru-buru dia melompat maju ke muka sambil membalikkan badan dan melancarkan tiga buah serangan berantai. Tin Cu hoa ada maksud untuk membingungkan pihak lawannya sehingga musuh tidak mengetahui berapa banyakkah kepandaian tangguh yang dimilikinya, maka begitu pertarungan berlangsung dia segera menggunakan ilmu pukulan dari Han Leng pay, apa lagi memang berniat untuk beradu jiwa, maka begitu turun tangan maka jurus serangan yang di pergunakan adalah jurus serangan yang ganas dan mematikan.

Tapi Kwan Lok khi merupakan seorang jago lihay yang berilmu tinggi beberapa jurus kemudian Tin Cu hoa sudah dibuat agak tersengkal sengkal napasnya.

Kendati pun demikian, kedua belah pihak sama-sama menggunakan gerakan yang tercepat untuk mendesak lawannya ini membuat para penonton yang berada di sisi arena merasa bahwa pertarungan yang sedang berlangsung ini merupakan sesuatu yang jarang sekali dijumpai dalam dunia persilatan.

Diantara sekian banyak orang yang hadir tentu saja Li Bun yang terhitung paling tegang, sepasang matanya melotot besar-besar dan mengawasi arena tanpa berkedip, sementara jantungnya berdebar keras, peluh sebesar kacang kedelai bercucuran keluar tiada hentinya.

Dengan penuh ketegangan dia bergumam.

"Moga-moga dewi suka melindungi keselamatannya."

Waktu itu, Liong Tian im turut merasakan betapa gawat dan berbahayanya situasi waktu itu, dia maju selangkah ke depan sambil secara diam-diam mempersiapkan senjata patung Kim mo sin jin nya. Dia telah bersiap siaga, apabila Tin Cu hoa menghadapi bahaya maut nanti maka dia akan menyerbu ke depan untuk memberi pertolongan.

Akan tetapi gerak geriknya itu segera terlihat oleh Leng Hong-ya, mencorong sinar tajam dari balik mata Leng Hongya, hawa napsu membunuh pun segera menyelimuti seluruh wajahnya, tanpa terasa dia perdengarkan suara tertawa dingin tiada hentinya.

"Hai, mau apa kau?" tegur Leng Hong-ya dengan suara dingin.

"Kenapa?" jawab Liong Tian im pula ketus, "apakah kau berniat ikut turut turun tangan? Hmm, orang she Leng, tiada orang yang akan berbuat setolol kau, bila kau memang ada minat, pasti akan kuiringi keinginanmu itu!"

"Baik, bila pertarungan diantara mereka berdua telah berakhir, Pun Hong-ya akan menjagal dirimu lebih dulu!" seru Leng Hong-ya sambil tertawa dingin.

"Aduuuh."

Disaat mereka berdua sedang bersilat lidah, mendadak ditengah udara berkumandang suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati.

Mereka berdua sama-sama terperanjat dan mengalihkan kembali perhatiannya ke tengah arena. Tampak Tin Cu hoa muntah darah kental dan terkulai di atas tanah dalam keadaan lemas, napasnya tersengkal sengkal hebat dan terdengar oleh setiap orang dengan jelas.

Sebaliknya Kwan Lok khi memang untuk sementara waktu masih tetap berdiri tegak di tempat semula, namun sekujur tubuhnya gemetar keras, hawa hitam telah naik di wajahnya, bibir yang bergetar keras seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi lama, lama kemudian dia baru sanggup berbisik:

"Kau... kau menggunakan racun. ."

Belum habis dia berkata, mendadak tubuhnya turut roboh terjengkang ke atas tanah.

Li Bun yang meraung keras, sambil menerjang maju ke muka serunya keras-keras.

"Cu hoa. ."

Suara panggilannya begitu mengenaskan dan memilukan hati. ketika bergema ke udara segera mengalun di angkasa yang gelap dan mengalun sampai di tempat kejauhan.

Dari suara panggilan yang mengenaskan tersebut, dari sini bisa diketahui sampai dimanakah cintanya Li Bun-yang terhadap perempuan tersebut.

-ooo0ooo-
PERISTIWA ini sama sekali di luar dugaan siapa pun, setiap orang tak menyangka kalau ke dua orang tokoh yang amat lihay tersebut akhirnya harus bersama sama roboh ke atas tanah. Betul mereka masih bernapas, namun setiap orang dapat melihat kalau ke dua orang itu sudah berada tak jauh dari kematian.

Dengan penuh emosi Li Bun yang menubruk ke atas tubuh Tin Cu hoa, lalu sambil melelehkan air matanya, dia memeluk tubuh perempuan itu kencang-kencang, serunya dengan suara gemetar:

"Cu-hoa . . ."

Tin Cu hoa menghembuskan napasnya dengan napas tersengkal sengkal, menyusul kemudian lagi-lagi dia muntahkan darah segar, cuma persis di atas wajah Li Bun yang.

Seluruh wajah Li Bun yang segera basah oleh darah kental, namun dia tidak mencoba untuk menyekanya, dia pun tidak merasa jijik atau muak, malah sebaliknya menjilati darah yang getir itu dengan lidahnya, seakan akan mencoba untuk menghisap seluruh darah tersebut ke dalam perut.

Pelan-pelan dia membuka matanya dan memandang dengan sayu dan lemah.

"Bun yang, mungkin kita benar-benar akan berpisah untuk selamanya.." dia berbisik sedih.

"Tidak!" Li Bun yang menjerit penuh penderitaan, "kau hanya menderita sedikit luka, aku pasti dapat menyembuhkan luka yang kau derita itu. ."

Mendengar seruan tersebut Tin Cu hoa segera tertawa, tertawa dengan penuh kerawanan dan kepedihan, sehingga mendatangkan suatu perasaan yang menyedihkan hati siapa pun.

Li Bun yang merasakan hatinya berdetak keras, air  matanya jatuh bercucuran dengan deras, dia terbungkam dan tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Dengan wajah riang Tin Cu hoa berkata lagi:

"Kau hanya dapat menyembuhkan luka luar saja tapi tak akan bisa menyembuhkan luka dalam hatiku, Bun yang, tahukah kau bahwa orang hanya boleh berbuat satu kali kesalahan kalau tidak maka sepanjang hidupnya akan hancur mengikuti langkahnya yang salah."

"Tapi kau harus kobarkan kembali semangat mu .. . " seru Li Bun yang gemetar.

"Dengan dasar apakah aku mesti mengobarkan lagi semangatku ?" Tin Cu hoa berbisik sedih, "dengan mengandalkan apakah aku harus membangun kembali diriku .
."

"Demi aku, demi perguruan Liu sah bun, kita semua tak  bisa kehilangan kau, Cu hoa! Kau tak usah menyiksa dirimu lagi, asal kau mempunyai keinginan untuk hidup, aku percaya aku masih mempunyai akal untuk mengobati lukamu itu."

Tin Cu hoa menghela napas panjang dengan penuh penderitaan:
"Aaai, kau pasti menaruh kepercayaan besar kepadaku." "Kau adalah malaikat Liu sah bun, satu-satunya
pengharapan kami, bila kau harus roboh dengan begitu saja, Liu sah bun pasti akan musnah dan berantakan, Cu hoa, tahukah kau akan hal ini?"

Tin Cu hoa merasakan hatinya bergidik, hampir saja dia hendak melompat bangun saking gelisahnya, persoalan ini memang merupakan suatu persoalan yang amat gawat, dia tahu setiap anggota Liu sah bun bersikap baik kepadanya tapi bila dia harus mati dengan begitu saja, para anggota perguruannya yang gagah perkasa itu pasti akan kucar-kacir, lalu siapakah yang akan melanjutkan perjuangan tersebut?
Siapa yang akan menyelesaikannya...

Tak seorang manusia pun yang bisa menggantikan kedudukannya, Li Bun yang, Leng Huan, It Peng.

Walaupun mereka semua merupakan kekuatan inti dari Liu sah bun, namun kehadiran mereka tak dapat merebut hati orang, tidak seperti dia yang bisa mengendalikan setiap anggota.

Dia mulai teringat kembali dengan penderitaan dan perjuangannya sewaktu berusaha membangun kembali atas kekuatan partainya, dia terbayang pula akan musibah yang telah menimpa penatnya itu.

"Bun yang, aku akan menuruti perkataanmu." akhirnya Tin cu hoa berbisik sedih ...

"Sungguh?" kejutan dan girang membuat Li Bun yang berteriak keras, "Cu hoa! Terima kasih banyak kepadamu. Terima-kasih banyak kepadamu."

Mendadak dalam benak Tin Cu hoa terlintas satu ingatan. segulung hawa kehidupan segera muncul kembali di atas wajahnya . Setelah tersengkal berapa saat, dia pun berkata:

"Bun yang, cabut keluar tusuk kondeku dan tusuklah jalan darah Giok kan hiat, Ci bu hiat dan sin kiong hiat ku, masingmasing jalan darah tusuklah sebanyak tiga kali, mula-mula kau harus menyumbat dulu hawa darahku yang bergolak, dengan demikian kemudian lukaku baru bisa dicegah menjalarnya hingga tidak sampai makin memburuk!"

Dengan amat tergesa gesa Li Bun yang mencabut sebatang tusuk konde dari atas kepalanya, kemudian dengan berhati hati sekali dia menusuk jalan darah Giok kan hiat, ci hu hiat dan sia kiong hiat di tubuh perempuan tersebut masingmasing tiga kali.

Tin Cu hoa berseru tertahan sambil memuntahkan segumpal darah kental, namun kesegarannya segera nampak bertambah baik paras mukanya juga tak begitu jelek di pandang seperti tadi.

"Heheehe.." Leng Hong ya mendesis sambil tertawa dingin. "pemimpin Tin, kau telah apakan Kwan Lok khi sehingga dia menjadi terluka sedemikian rupa .."

Begitu menyaksikan Kwan Lok khi terluka dan roboh terjengkang ke atas tanah tadi, dia menjadi sangat terkejut, cepat-cepat dia melompat ke depan sambil melakukan pemeriksaan terhadap keadaan luka dari Kwan Lok khi.

Tampak Kwan Lok khi mengeluarkan buih putih dari mulutnya, mukanya hijau membesi, tidak nampak dimanakah letak mulut lukanya "la sudah terkena tiga batang jarum ekor lebahku, jiwanya sudah tak tertolong lagi." jawab Tin Cu hoa dengan suara sedingin salju..

Sementara itu. Kwan Lok khi sedang mencoba untuk menghimpun tenaganya guna menyembuhkan luka beracun tersebut, namun setelah mendengar nama "jarum ekor lebah" di singgung, dengan perasaan terperalat dia membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar, kemudian tanyanya dengan terkesiap.

"Apa ? Kau memiliki jarum ekor lebah .."

"Untuk menghadapi dirimu aku tak segan-segan melakukan perjalanan jauh menuju ke wilayah Biau guna mencari Giok  bin sio po dan memohon tiga batang jarum ekor lebah yang amat beracun, nampaknya Thian telah menolong diriku, hari ini aku berhasil juga membalas dendam sakit hatiku !"

Saking gusarnya, Kwan Lok khi segera berteriak keras. "Budak rendah benar-benar keji hatimu !"
"Huhh, bagaimana pula dengan dirimu sendiri?" jengek Tin Cu hoa sinis, "kalau dibandingkan dengan kau aku masih ketinggalan jauh sekali !"

Li Bun yang kuatir perempuan itu menjadi bertambah parah lukanya setelah melihat keadaan berangsur membaik tapi selalu banyak berbicara, buru-buru cegahnya.

"Kau jangan banyak berbicara lagi, hati-hati dengan kesehatan tubuhmu!"

Tin Cu hoa tertawa getir: "Lepaskan Kwan Hong, biarkan mereka ayah dan anak bisa berjumpa untuk terakhir kali nya sebelum dia menemui ajalnya."

"Aku rasa, hal ini kurang baik!" kata Li Bun-yang sambil menunjukkan sikap keberatan.

"Turutilah perkataanku, tak bakal salah.." kata Tin Cu hoa tegas.

Li Bun yang merasa setiap perkataannya mengandung ketegasan serta kemantapan yang luar biasa, apalagi dia memang menaruh perasaan hormat dan segan kepadanya, maka tanpa banyak berbicara lagi dia bertepuk tangan tiga kali seraya berkata.

"Bawa Kwan Hong kemari." "Baik"
Dari luar ruangan berkumandang suara sahutan, tak selang beberapa saat kemudian Kwan Hong diiringi dua orang anggota Liu sah bun telah berjalan masuk ke ruang tengah.

Akan tetapi dikala ia menyaksikan Kwan lok khi sudah tergeletak di atas tanah, perasaannya menjadi dingin setengah bagian . "Ayah! pekiknya dengan gemetar.

Kwan Lok khi sendiri menjadi amat senang hatinya setelah menyaksikan putranya muncul kembali ke dalam keadaan sehat walafi'at, pelan-pelan dia menggerakkan tubuhnya dan berkata.

"Nak coba kau lihat yang jelas, apa yang menyebabkan ayahmu terluka hingga seperti keadaan begini." "Siapa yang mencelakaimu?" seru Kwan Hong dengan penuh kebencian.

Dengan jari tangan gemetar, Kwan Lok khi menuding ke arah Tin Cu hoa, sahutnya dengan napas terengah engah:

"Dia, dia yang telah mencelakai diriku, kau harus ingat dengan perempuan rendah ini, bila ada kesempatan maka kau harus membunuh dan mencincang tubuhnya sehingga hancur berkeping keping, nak kau mengerti maksudku ?"

"Ayah aku mengerti, sekarang aku akan balaskan dendam bagimu !" teriak Kwan Hong sambil meraung keras.

Begitu tumbuh ingatan tersebut, sifat buasnya segera  muncul kembali, sementara budi yang pernah dilepaskan Tin Cu hoa terhadap nya juga turut tersapu lenyap entah ke mana

Dengan suatu gerakan cepat tubuhnya menerjang ke
depan, kemudian telapak tangan nya diayunkan ke depan siap menghajar tubuh Tin Cu hoa.

Serentak Liong Tian im menggerakkan senjata patung Kim mo sin jin nya sambil menegur:

"Hei, mau apa kau ?"

Kwan Hong menjadi terperanjat "ketika telah menyaksikan datangnya serentetan cahaya emas yang mengancam tubuhnya, cepat-cepat dia memutar badannya di tengah udara lalu menahan gerak majunya secara paksa sambil melayang turun ke tanah, telapak tangannya disilangkan di depan dada. "Apa hubungannya antara persoalan ini denganmu? Aku harap kau jangan turut mencampurinya" serunya kemudian penuh amarah.

"Kwan Hong!" kembali Liong Tian im berkata dengan suara sedingin salju. "kau jangan lupa, nyawamu ini bisa selamat karena budi kebaikan dari pemimpin Tin, apabila dia tidak menggunakan rambutmu sebagai pengganti batok kepala, saat ini kau sudah mampus beberapa waktu lamanya."

"Aku tak sudi menerima budi kebaikannya itu!" teriak Kwan Hong dengan penuh kegusaran.

Liong Tian im kembali mencibirkan bibirnya dengan sikap yang amat sinis.

"Huuuh, pemimpin Tin sama sekali tidak menghendaki kau menerima budi kebaikannya, tapi kau harus berhati hati, bila kau berani melakukan suatu tindakan yang kelewat batas, aku Liong Tian im lah yang pertama tama akan membunuhmu  lebih dulu!"

Leng Hong-ya sungguh merasa tak tahan menyaksikan keadaan tersebut, ia segera membentak keras:

"Bocah keparat, kau benar-benar kelewat banyak mencampuri urusan orang lain!"

Liong Tian im menjengek sinis:

"Hmm, aku pikir urusan ini pun tiada sangkut pautnya dengan dirimu bukan ?" Sejak terjun ke dunia persilatan hingga kini belum pernah Leng Hong-ya menjumpai seorang angkatan muda yang  begitu berani bersikap angkuh dan tekebur dihadapannya, apa lagi sama sekali tidak memandang sebelah matapun terhadap dirinya.

Dalam keadaan begini dia pun teringat pula akan sikap hina dan memandang rendah dari Liong Tian-lm, sementara ia bersama Jago pedang buta melakukan keonaran di lembah Tee ong kok.

Mencorong sinar tajam dari balik matanya, selapis hawa membunuh yang amat tebal pun segera menyelimuti seluruh wajahnya, dia berseru dengan penuh kebencian:

"Kau si bocah keparat benar-benar keterlaluan, mari, kita bermain main dulu"

Tin Cu hoa tertawa dingin.

"Leng sianseng, aku mengundangmu kemari bermaksud untuk menjadikan kau sebagai saksi" tiba-tiba ia menegur, "aku bukan bermaksud mengundangmu untuk berkelahi dengan temanku ini! apabila kau benar-benar ingin berkelahi, silahkan saja mencari diriku secara langsung . . ."

"Pemimpin Tin, ucapanmu itu sama artinya dengan tidak memberi muka kepada pun Hong-ya" seru Leng Hong-ya sambil tertawa seram, "dalam urusanmu dengan saudara Kwan, aku sama sekali tidak ikut mencampurinya karena aku hendak memberi muka kepadamu, tapi sekarang, persoalan ini merupakan urusan pun Hong-ya sendiri, hal ini boleh dibilang sama sekali tiada sangkut pautnya denganmu!" "Tetapi tempat ini merupakan tempatku, paling tidak seharusnya kau bertanya kepada kami sebagai tuan rumah, bila kau ingin berkelahi benar setelah tiba di luar sana,"

"Tapi bila tanpa persetujuanku ingin berkelahi di sini, hmm!
! jangan salahkan bila aku Tin Cu hoa akan tidak mengenali orang lagi."

Saking gusarnya Leng Hong-ya mencak-mencak macam orang gila, teriaknya kemudian.

"Baiklah, anggap saja aku sudah mengenali dirimu. . ."

Baru saja dia hendak mengumbar hawa amarahnya mendadak tampak olehnya Kwan Lok khi sedang mengirim kerdipan mata kepadanya, sudah jelas kalau dia maksudkan bahwa bertarung dalam keadaan seperti ini sama sekali tidak menguntungkan, sekarang mereka harus berusaha untuk mengundurkan diri dari situ, kemudian baru mencari kesempatan lagi untuk membalas dendam.

Sementara itu, dari luar ruangan sana telah terdengar seseorang berteriak keras:

"Bajingan tua, bila kau mengira dapat menghalangi lo nio untuk masuk lagi, lo nio akan menyerbu ke dalam secara paksa"

"Nenek busuk." terdengar It Peng mengumpat pula, "bila kau berani maju selangkah lagi, aku It Peng yang pertama tama akan menjagal kalian kawanan cucu monyet lebih dulu, agar kalian bisa merasakan sampai dimanakah kelihaian ku."

Kwan Hong yang mendengar suara teriakan dari ibunya  Kiau Ngo nio, dalam hati kecil nya merasa girang sekali, cepat dia mundur ke belakang kemudian siap melarikan diri ke luar ruangan.

"Mau kabur kemana kau?" bentak Li Bun-yang dengan suara menggeledek.

Bersamaan dengan menggemanya suara bentakan itu, segerombol bayangan hitam nampak bermunculan dari luar ruangan, tiba-tiba saja muncul belasan orang jago berbaju hitam yang masing-masing membawa senjata terhunus menghadang jalan perginya.

Dengan perasaan terperanjat Kwan Hong berteriak:
"Liu sah bun, banyak juga jumlah perguruan nya" "Makanya kuanjurkan kepadamu lebih baik kembali saja
dengan menurut." tukas Li Bun-yang dingin "anak murid partai kami yang melakukan penjagaan di sini masih berlapis lapis, biarpun kepandaian silatmu tidak lemah namun jangan harap bisa menyerbu keluar dari sini dalam keadaan hidup !"

"Orang she Li, anggap saja kan memang lebih lihai." seru Kwan Hong sambil tertawa dingin.

Sekalipun dia merasa berat hati untuk mengundurkan diri namun apa boleh buat, terpaksa dia harus mundur teratur dengan langkah pelan-pelan.

Serentetan suara derap kaki manusia bergema memecahkan keheningan, lalu muncul serombongan orang.

Leng Huan yang begitu melangkah masuk ke dalam arena dan menyaksikan pemimpinnya Tin Cu-hoa terkapar di tanah, dengan wajah tertegun segera serunya: "Pemimpin."

Tin Cu hoa tertawa hambar.

"Jangan bersedih hati, aku hanya terluka sedikit" katanya menghibur. "Leng Huan, laporan penting apakah yang hendak kau sampaikan ? Mumpung aku masih bisa mempertahankan diri, cepatlah kau utarakan kepadaku !"

Dengan wajah sedih Leng Huan berkata.

"Pemimpin, Kiau Nio-nio sedang mempersiapkan orang orangnya di luar kuil dengan maksud melancarkan serbuan secara besar besaran, perempuan ini berkata hendak masuk sejenak saja harap pemimpin segera mengambil keputusan !"
Tin Cu hoa berpikir sebentar kemudian sahutnya: "Kalau begitu suruh dia masuk seorang diri, sementara
orang orangnya harus mundur sejauh lima li, kalau tidak beritahu kepadanya kami orang-orang Liu sah-bun akan mempertaruhkan jiwa raga kami untuk membunuh putra dan suaminya lebih dulu !"

"Soal ini .. ." Leng Huan nampak ragu-ragu. Sambil tertawa kembali Tin Cu hoa berkata.
"Apa yang perlu di takuti dengan seorang Kiau Ngo nio?
Bila dia sudah masuk kemari, kebetulan aku memang hendak mencarinya untuk diajak membicarakan tentang pertukaran syarat, Leng Huan, laksanakan saja seperti apa yang kukatakan, segala sesuatunya telah berada dalam perhitunganku.."

Leng Huan mengiakan, diam-diam dia mengundurkan diri dari tempat tersebut.

Untuk sesaat suasana di ruang tengah menjadi hening sepi dan tak kedengaran sedikit suara pun, setiap orang agaknya sudah dapat melihat jelas keadaan situasi yang sedang dihadapi, walaupun orang-orang Jit gwat san melakukan pengepungan dari luar dan kelihatannya menduduki posisi lebih menguntungkan padahal yang benar posisi mereka justru amat jelek, karena setiap kali mereka harus menuruti perkataan dari orang-orang Liu sah bun.

Tak selang beberapa saat kemudian, dengan paras muka dingin seperti es Kiau Ngo nio nampak masuk, namun sebelum memasuki ke dalam, dia membentak lebih dulu:

"Tua bangka celaka, kau berani membiarkan lo nio menikmati angin barat laut dari luar?"

Tapi setelah berada didalam ruangan dan menyaksikan  Kwan Lok khi tergeletak di atas tanah dengan muka memerah, dia nampak sekali terkejut, kemudian dengan perasaan kurang percaya tanyanya.

"Tua bangka celaka mengapa kau?"

"Hujin, aku terluka." seru Kwan Lok khi sambil tertawa getir.

Kiau Ngo nio segera mendengus dingin. "Dasar memang tua bangka celaka, rasain sekarang. Tiada orang yang bakal bersimpati kepadamu, siapa suruh kau  berani mengusik lonte busuk tersebut? Tua bangka celaka, Lonio tak akan ambil perduli atas mati hidupmu yang penting  asal putraku tiada halangan, itu sudah lebih dari cukup!"

Kemudian sambil berpaling ke arah Kwan Hong, dia berkata lagi:
"Nak, kau tidak apa-apa bukan?" Kwan Hong tertawa getir. "Aku tidak apa-apa cuma ayah terkena racun, bila tidak
disembuhkan penyakitnya itu bisa berabe jadinya, ibu. mengapa sih kau harus cekcok sendiri dengan ayah? sekarang bukankah dia telah menyesalinya."

"Hmm !" Kiau Ngo nio mendengus, "itu mah hasil penderitaan yang dia cari sendiri, sekarang harus salahkan siapa? Kalau orang lelaki mah, bisul hilang sakit pun hilang, kali ini kau memaafkan dirinya, lain kali ia akan membuat gara-gara lagi."
Kwan Hong menggelengkan kepalanya berulang kali. "Ibu, dia toh suamimu?" dia berseru dengan nada suara
yang amat memelas.

Kiau Ngo nio amat gusar, "Suami?" bentaknya "dia belum pernah melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai seorang suami, kecuali suka main perempuan apalagi yang bisa dia lakukan ? Manusia tak punya liang sim, aku sih ogah untuk mengurusinya..."

"Enso" dengan kening berkerut Leng Hong ya segera berseru, "saat ini bukan waktunya untuk marah, dewasa ini kita beberapa orang sudah terkurung di sini, bila kau tak mau akur lagi dengan saudara Kwan, aku kuatir keadaannya. ."

"Aduh. ." Kiau Ngo nio menjerit lengking sambil tertawa keras, "Besanku yang baik, memandang di atas wajahmu baiklah ! Aku pun tak berani kelewat keras kepala, sekarang kita boleh berangkat meninggalkan tempat ini, sekembalinya ke rumah nanti, kita harus membicarakan kembali tentang soal pribadi. ."

Pada saat itulah, tiba-tiba Tin Cu hoa berkata dengan suara dingin:

"Kiau Ngo nio, kemari kau !"

"Ah, kau ini memang asal bicara apakah harus berteriak Kiau Ngo-nio sambil melotot besar "kau anggap Kiau Ngo nio juga boleh kau sebut dengan semaunya sendiri ?"

"Hei, tak usah galak-galak." tegur Tin Cun-hoa dengan suara dingin, "sekarang kau masih belum berhak untuk membunuh ku, hei orang she Kiau, suamimu sudah terkena jarum ekor lebahku, benda tersebut merupakan benda beracun yang tiada obatnya, sekarang budi dan dendam antara Liu sah bun dengan diri kalian telah selesai, aku pun telah berhasil membalas dendam."
Paras muka Kiau Ngo nio segera berubah sangat hebat. "Jarum ekor lebah ?" dia berseru, "darimana kau peroleh
benda-benda tersebut?"

Sekarang dia baru merasakan betapa gawatnya persoalan tersebut, dengan gugup dia lari ke depan Kwan Lok khi, kemudian memeriksa kelopak matanya, kemudian dengan paras muka berubah hebat serunya:

"Lok khi, bagaimana rasamu sekarang ?"

"Aku merasa agak pening, tak mampu untuk mengerahkan tenaga lagi. ." sahut Kwan Lok khi dengan wajah yang amat murung dan sedih. Kiau Ngo nio semakin terperanjat lagi, bentaknya keras-keras.

"Itulah gejala racun yang menyerang hati, Lok khi, kita pulang sekarang juga.."

"Heeeeh . . . heeeh. . sekalipun mau pulang, paling tidak harus dirundingkan dulu denganku."

Kiau Ngo nio memandang sekejap ke arahnya dengan sorot mata penuh kebencian, teriaknya sambil menahan geram:

"Kau berani menahan kami?"

"Mengapa tidak?" jawab Tin Cu hoa dengan suara yang amat dingin.
Kemudian setelah tertawa hambar, ujarnya lagi. "Asal kau Kiau Ngo nio bersedia menuruti syarat yang
diminta olehku, berhubung dendam sakit hatiku sudah  terbalas bisa jadi aku bersedia melepaskan sebuah jalan hidup untukmu."

"Kau anggap racun dari jarum ekor lebah benar-benar dapat merenggut selembar jiwanya ?" bentak Kiau Ngo nio penuh kegusaran. "Paling tidak begitulah keadaan saat ini." jawab Tin Cu hoa dengan suara tegas.

Kiau Ngo nio merasakan hatinya hancur lebur tak karuan, akhirnya dia berkata lemah.

"Katakanlah, aku tak punya waktu untuk ribut lagi denganmu!"
*** ***
Note 15 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Membaca cersil dapat menimbulkan efek candu!!!."

(Regards, Admin)

0 Response to "Cincin Maut Jilid 29"

Post a Comment

close