Cincin Maut Jilid 27

Mode Malam
Jilid 27

OLEH SEBAB ITU SETELAH berpikir sebentar, dia lantas mendesak kepada Leng Hongya untuk mengajak Leng Ningciu pulang ke rumah, asal sudah diajak pulang, tak bisa diragukan lagi, Leng Hongya pasti akan menantikan lamarannya.

Dan saat itulah . . . tak bisa lari lagi, si nona yang kecil mungil putih dan montok itu pasti akan berbaring didalam pelukannya dalam keadaan telanjang bulat.

Dan kemudian . . .

Dasar cabul, belum lagi menjadi kenyataan dia sudah membayangkan sampah jauh ke depan sana.

Leng Hongya segera manggut manggut, katanya kemudian. "Nlng-ciu, apa yang diucapkan Kwan Hong memang benar, kita memang harus pulang lebih dahulu !"

Entah sudah pikun, entah memang bodoh tua bangka macam kerbau ini seakan akan tidak memahami perasaan sedih dari putrinya saja, dia malah mendesak anak gadisnya agar segera pulang.

Leng Ning ciu bukan saja tidak berniat untuk pergi, suara tangisannya malah semakin menjadi-jadi, dia seperti sedang melampiaskan semua rasa sedihnya melalui isak tangis tersebut

Kwan Hong menjadi gelisah setengah mati, sampai menggaruk garuk kepalanya macam monyet kepanasan, tentu saja tak mungkin baginya untuk menyeret gadis itu pulang ke rumah.

Akhirnya Lang Ning ciu tidak menangis, pelan pelan dia mendongakkan kepalanya dan menyeka air matanya dengan tangan yang halus setelah itu ujarnya:

"Aku tak akan pulang selama-lamanya."

"Mengapa ?" jerit Leng Hongya dan Kwan Hong bersama.

Kedua orang ini merasa terkejut sekali bahkan sama sekali tidak menduga kalau gadis itu bakal nekad.

Kemudian hampir bersamaan waktunya pula mereka membentak:

"Kau tak akan pulang ?" Ucapan tersebut benar benar merupakan tembakan yang mematikan, ancaman untuk tidak pulang selama lamanya, ini bukan saja membuat perasaan Leng Hongya bergidik, bahkan Kwan Hong pun merasakan hatinya menjadi dingin separuh, dengan membelalakkan mata mereka yang memerah seperti mau menangis, mereka awasi wajah Leng Ning ciu Iekat lekat.
Leng Ning ciu yang sedih dan sayu kembali berkata tegas. "Aku tak akan pulang lagi ke rumah, tiada orang yang bisa
menghalangi keputusanku ini lagi !"

"Kau benar benar sudah tidak maui ayahmu lagi?" seru Leng Hongya cepat ..

Leng Ning cu menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Bukannya aku tak maui ayah Iagi, tapi kau orang tualah yang sudah tidak maui putrimu, mengapa kau tidak pikirkan, putrimu sudah dewasa, sedang soal perkawinan merupakan masalah besar, paling tidak kau harus memberi kesempatan kepadaku untuk menentukan pilihan, bila kau ingin menjodohkan putrimu dengan badut dari Jit gwat san ini, lebih baik putrimu mati saja."

Saking gusarnya Leng Hongya segera mengayunkan telapak tangannya keudara, bentaknya.

Sekalipun tak mau juga harus mau, semua persoalan yang sudah diputuskan oleh Leng Hongya selamanya tak pernah akan dirubah, sekarang kau harus ikut aku pulang, kalau tidak aku akan turun tangan sendiri untuk menyeretmu."

"Ayah. . " pekik Leng Ning-ciu sedih. Kwan Hong melirik sekejap ke arah Liong Tian im, tiba tiba serunya dengan lantang:

"Gak-hu, Ning ciu bisa begitu berani menentangmu karena dalam hatinya masih ada setitik harapan, asal kita bisa melenyapkan setitik harapannya itu untuk selamanya, sudah pasti Leng Ning ciu akan berubah pikiran !"

Mula mula Leng Hongya tertegun, kemudian dengan cepat dia dapat memahami maksud hatinya, mencorong sinar buas dari balik matanya, sementara hawa pembunuhan menyelimuti seluruh wajahnya.

Ia tertawa seram dan berseru:

"Heeehh . . heeh .. heeh .. . betul, tepat sekali ucapanmu ini, masih untung kau telah memperingatkan aku!"

Hari ini, Liong Tian im bisa menampilkan sikap yang luar biasa sabarnya karena dia enggan terlibat di dalam pertikaian soai cinta yang amat kalut itu.

Siapa tahu Kwan Hong memojokkan posisinya, hal ini membuat amarahnya betul betul meledak.

Dengan suara dingin dia segera menegur:

"Kwan Hong, kesabaran seseorang itu ada batasnya, aku tidak mengharapkan kau melarut larutkan persoalan ini, jika kau berani berbicara sembarangan yang tidak penah lagi, jangan salahkan bila aku tak akan bersikap sungkan surgkan kepadamu."

"Hmm. ." Kwan Hong melotot besar, lalu bentaknya keras keras: "Mau apa kau?"

"Aku akau merobek mulutmu sampai hancur, lalu  mengambil sepoci air kencing dan ku tuang kedalam mulutmu hmm, ketahuilah aku bukan cuma gertak sambal belaka, apa yang kukatakan bisa kulakukan, nah. . bayangkan sendiri bagaimana akibatnya nanti, aku percaya kau pasti mengetahui jelas daripada aku!" Kwan Hong mendengus pula.

"Maknya, kau tak usah mengibul didepanku, aku orang she Kwan bukan seorang yang blo'on."

"Benarkah begitu?" jengek Liong Tian im sinis, "ingin kusaksikan apa benar kau tidak blo'on!"

Menyusul paras mukanya menjadi dingin, tubuhnya turut melompat maju ke depan, pelan pelan telapak tangan kanannya diayunkan ke depan, serentetan cahaya dingin yang menyilaukan mata segera muntah keluar melalui telapak tangannya.
Dii melirik sekejap dengan sinis, kemudian katanya: "Silahkan, aku sudah menunggu dirimu untuk melancarkan
serangan lebih dahulu!"

"Hmm. . !" Kwan Hong bukan anak bodoh, melihat pihak lawan menantangnya untuk berduel, dia tahu kalau pertarungan tak bisa di hindari lagi.

Maka serunya kemudian sambil tertawa seram:

"Baik! Aku memang berniat untuk mencoba kekuatanmu!" Selesai berkata, pemuda yang licik dan berbahaya ini segera melompat pula ke tengah arena, telapak tangan kanannya diputar membentuk satu lingkaran, kemudian segulung angin pukulan yang maha dahsyat dilontarkan ke depan.

"Weeess. ." segulung desingan angin pukulan yang sangat dahsyat, secepat sambaran petir dilontarkan ke muka.

Liong Tian im menyongsong datangnya ancaman tersebut dengan telapak tangan kanannya, dia berseru sambil tertawa tergelak:

"Haaah . . haah . . haaah . . bagus sekali, kau memang tidak termasuk seseorang yang tidak berkemampuan apa apa
. l"

"Blaaammmm . . !"

Diiringi suatu benturan keras yang memekikkan telinga, dua gulung angin pukulan yang tajam seperti pisau telah saling membentur satu sama lainnya, disusul kemudian berkumandang suara dengungan keras di tengah angkasa sampai lama kemudian suara dengungan mana baru membuyar kembali.

"Aduuuhh . . !"

Keluhan panjang bergema pula menyusul suara dengungan yang amat nyaring tadi.

Paras muka Kwan Hong pucat piat seperti mayat, peluh dingin jatuh bercucuran membasahi jidatnya, dia mengerang kesakitan dan tubuhnya beruntun mundur sejauh tujuh delepan langkah. Darah bercampur air menyembur keluar dari mulutnya dan membasahi ujung bibirnya, dia memandang musuhnya dengan tercengang, hampir saja tidak dipercayai olehnya kalau pihak lawan mampu melukai dirinya cukup didalam satu gebrakan saja.

"Bagaimana ?" ejek Liong Tian-im kemudian sambil tertawa dingin, "saudara Kwan, kita masih mempunyai kesempatan dua jurus untuk mencoba lagi"

"Apa maksud perkataanmu itu ?" seru Kwan Hong dengan suara agak gemetar:

Liong Tian im mendengus sinis.

"Kau hanya akan mampu untuk menerima dua buah pukulanku lagi, saudara Kwan, rasanya dari seranganku ini tentu sudah kau cicipi bukan ? Panas, linu dan memang cocok sekali bagimu . ."

"Aku tidtk percaya?" seru Kwan Hong sambil menahan rasa geramnya yang menjadi jadi.

Sementara itu, Leng Hongya juga telah menemukan  keadaan yang kurang beres dalam pertarungan tersebut, dia tidak menyangka kalau tenaga dalam dari Liong Tian im sudah mencapai tingkatan sehebat ini, tapi lebih tak menyangka Iagi, andaikata Liong Tian im menambahi dengan sebuah pukulan lagi, maka Kwan Hong akan menemui ajalnya secara mengenaskan.

Buru buru dia melompat maju ke muka kemudian berseru: "Kwan Hong, harap kau mundur dari sini" Sekali lagi Kwan Hong muntah darah segar, kemudian dia baru berseru agak gemetar "Empek Leng . . Gak hu .. ."

"Haaaah . . haaah . . . . haaah Mendadak dari luar rumah penginapan berkumandang suara gelak tertawa seseorang yang sangat nyaring, disusul kemudian muncul sepasukan mabusia berbaju hitam yang menyerbu ke dalam rumah penginapan tersebut.

Kemunculan dari rombongan manusia berbaju hitam itu terlalu mendadak dan amat mengejutkan hati orang.

Paras muka Kwan Hong berubah hebat, terlintas rasa takut dan ngeri dalam hati kecilnya.

Leng Hongya sendiri pun agak tertegun, sesudah mengawasi rombongan manusia berbaju hitam itu berapa saat, dia baru sampai menegur dengan suara dingin.

"Kalian berasal dari partai mana ?"

Kemudian sambil memandang sekejap ke arah lelaki kekar yang berada dipaling depan tanyanya lagi: "Dan siapa pula kau ?"

Sebagai pimpinan dari rombongan tersebut adalah seorang lelaki berjenggot hitam yang beralis mata tebal, dia segera tertawa terbahak bahak.

"Haaah . haaah. . haaah, . aku adalah komandan pasukan dari perguruan Liu sah bun Li Bun yang! Hari ini, kami memperoleh perintah dari pemimpin Tin kami untuk menyambut kedatangan Kwan-ya ini dengan hormat agar ia sudi berkunjung sebentar ke markas besar perguruan Liu sah bun kami.

Kata "Liu sah bun" tersebut segera mengagetkan perasaan Leng Hongya, dia tak mengira kalau perkumpulan Liu sah bun yang sudah lama punah dari dunia persilatan, sekarang bisa muncul kembali dalam dunia dengan kekuatan baru.

Dia lantas melirik sekejap ke arah Li Bun yang, kemudian tegurnya lagi:

"Siapakah pemimpin kalian?"

"Kau boleh bertanya kepada Kwan ya, aku rasa dia akan jauh lebih jelas. . ." sahut Li Bun yang dingin.

Ucapannya yang angkuh dan sikapnya yang dingin dan hambar, pada hakekatnya tidak memandang sebelah matapun terhadap jagoan tersebut.

Leng Hongya segera berkerut kening sesudah menyaksikan kesemuanya itu, serunya:

"Tampaknya kau sangat tidak bersahabat, mungkin kau tidak mengetahui siapakah aku?"

Kembali Li Bun yang tertawa ter-bahak-bahak.

"Haah haaah. . haah, andakata kau bukan pemilik lembah Tee ong kok yang termashur itu, akupun tak akan bersikap sedemikian sungkannya, Leng Hongya, aku Li Bun-yang telah bersapa tutur lebih dulu, jadi andaikata nanti akan menyalahi dirimu, kau tak bisa mengatakan kalau kami semua tidak mengerti akan sopan santun!"

"Oooh . kalau begitu kau tidak memandang sebelah mata pun terhadap diriku?" seru Leng-Hongya dengan geramnya.

Paras muka Li Bun yang amat dingin seperti es.

"Paling tidak aku masih menganggap kau sebagai seorang tokoh dunia persilatan, padahal persoalan ini sama sekali tiada sangkut pautnya dengan dirimu, cuma saja lantaran Kwan-ya datang bersamamu, sedangkan kamipun ada urusan hendak mengundang Kwan-ya untuk menjumpai pemimpin kami, oleh sebab itu dalam tata sopan santun, aku harus bertegur sapa dulu denganmu, sedang mengenai persoalan selanjutnya hanyalah urusan pribadi dari kami orang orang Liu san bun, semogi saja saudara tidak mencari gara gara lagi dengan kami."

Orang she Li ini memang hebat sekali, terutama bibirnya yang pandai mencari posisi hanya melihat dari keberanian orang ini saja rasanya sudah cukup untuk membuat semua orang kagum.

Leng Hongya sendiri pun sama sekali tidak menyangka kalau didalam dunia persilatan masih terdapat orang yang tak memandang sebelah matapun terhadap dirinya, saking gusar segera mendongakkan kepala dan tertawa terbahak.

"Haah, haaah, haaah, Komandan Li, sikapmu ini benar  benar membuat aku merasa sangat terharu, heeeh, heeeh, heeeh, aku Leng Hongya selain merasa kagum kepadamu, bahkan aku pun telah bersiap sedia untuk menjalin hubungan denganmu. ." Mencorong sinar dingin dari balik matanya, segulung hawa pembunuhan segera menghiasi pula raut wajahnya, sambil tertawa dingin dia berseru:

"Komandan Li, dapatkah sebelum urusan ini berlangsung, kau bermain dulu dengan aku orang she Leng?

"Boleh saja" jawab Li Bun yang, "asalkan urusanku telah selesai kulakukan, apa pun yang Leng sianseng inginkan, kami semua pasti akan menyambut keinginan tersebut dengan penuh kegembiraan. ."

Leng Hongya mendengus.

"Hmm, bagus sekali, komandan Li dari perguruan Liu sah bun memang tidak malu disebut seorang jagoan hebat. ."

Li Bun-yang hanya memandang lawannya sambil terbawa hambar, setelah melirik sekejap ke arah Kwan Hong, dia lantas berseru: "Kwan ya, mari kita segera berangkat !"

"Ke mana ?" Kwan Hong tertegun.

"Aku yakin kau pasti lebih jelas daripadaku" sahut Li Bun yang dengan suara dingin "apakah kami harus menerangkan dengan lebih jelas lagi kepadamu Kwan ya, kau toh bisa melihat dengan jelas sekarang aku orang she Li masih mengundang kepergianmu secara hormat, sebentar, apabila keadaan jadi berubah, mungkin kami akan gunakan kekerasan untuk menggusur dirimu. sampai begitu . . heeh .. heeh ... sudah pasti semua orang akan merasa tak enak . . ."

Paras muka Kwan Hong berubah hebat, saking gusarnya dia segera tertawa geram. "Heeh . . . heeh . . . heeh . . . kalau begitu mari kita buktikan bersama, saudara Li, siaute sekarang berada di sini, apabila kau mempunyai kepandaian yang hebat silahkan saja diperlihatkan kepada diriku, ingin kulihat apakah kalian memang mampu untuk berbuat sesuatu terhadap aku orang she Kwan !"

Keiika Li Bun yang menyaksikan sikap dari Kwan Hong berubah menjadi keras kepala dan ketus, seoIah olah tidak memandang sebelah mata pun terhadap orang-orang Liu sah bun, dia segera mencibirkan bibirnya dan tertawa dingin.

"Kwan ya" dia berseru dengan ketus, "lebih baik janganlah mengadu batu dengan tahu, mencari penyakit buat diri sendiri."

Dia lantas mengulapkan tangannya, tampak bayangan manusia berkelebat lewat tampak dua orang lelaki berbaju hitam yang menggembol golok maju kedepan dengan langkah lebar.

Kemudian satu dari kiri yang lain dari kanan menjepit Kwan Hong ditengah tengah.

Terdengar salah seorang diantaranya berkata dengan suara sedingin salju.

"Kwan ya, kami mendapat perintah untuk melaksanakan tugas. aku percaya kau adalah seorang yang pintar, janganlah memberi kesulitan yang terlalu besar untuk kami orang orang bawahan, sebab hal ini bisa mengakibatkan ketidak tenangan bagi semua orang !"

Kwan Hong tidak menyangka kalau orang orang dari Liu  sah bun mempunyai keberanian sedemikian besarnya, bahkan tanpa rasa takut barang sedikit pun juga hendak menghadapi dirinya.

Sejak kecil ia dibesarkan dalam lingkungan Jit gwat-san yang setiap hari hanya memberi perintah kepada orang lain, siapa sangka kalau hari ini dia sendiri akan dibekuk dan diperintah orang.

Saking gusar bercampur mendongkolnya hampir saja dia muntahkan darah segar.

Ditatapnya sekejap kedua orang lelaki tersebut, kemudian serunya sambil tertawa seram:

"Maknya, kalian pada hakekatnya sedang mencari mampus
...

Dengan memgerahkan sisa kekuatan yang dimiliki dalam tubuhnya, mendadak saja dia mengayunkan tangannya dengan kecepatan luar biasa menghajar dua orang lelaki yang hendak menggusur pergi dirinya itu, selain geram serangan itupun cepat sekali.

"Aduuh..."

Ke dua orang lelaki berbaju hitam itu tak lebih hanya merupakan dua orang pengiring Ll Bun yang saja, berbicara soal tenaga dalam tentu saja mereka masih selisih amat jauh..

Ketika menyaksikan datangnya selapis bayangan telapak tangan yang menyambar datang secepat kilat mereka tak mampu untuk berkelit lagi, diiringi jeritan ngeri yang menyayatkan hati, tiba tiba saja tubuh mereka menggelinding diatas tanah, berkelejetan sebentar dan akhirnya tidak berkutik lagi.

Dari mulut mereka muntahkan darah segar, sepasang matanya melotot ke luar dan kematiannya mengerikan sekali..

"Hmmm . .!" Li Bun yang mengerang penuh amarah mendadak dia menerjang maju ke depan telapak tangan kanannya berputar membentuk satu lingkaran busur, lalu telapak tangannya ditempelkan diatas jalan darah penting diatas punggung Kwan Hong, serunya kemudian dengan suara dingin seperti es:

"Kwan ya, kuanjurkan kepadamu agar sedikit tahu diri."

Berhubung Kwan Hong sudah menderita luka dalam yang cukup parah, baru saja harus membunuh dua orang lelaki itu dengan mengerahkan sisa kekuatan yang dimilikinya, mendadak saja dia merasakan seluruh kekuatan dalam tubuhnya membeku keras jantungnya berdebar keras dan darah dalam tubuhnya seakan akan bergolak kencang.

Maka sewaktu Li Bun yang menyerbu kedepan sambil menempelkan telapak tangannya diatas punggungnya, pada hakekatnya dia tak berkemampuan lagi untuk membalikkan badan, terpaksa dia membiarkan lawannya berbuat sekehendak hatinya, sia sia saja dia berkepandaian sangat lihay, sebab segenap kepandaiannya itu tak mampu dipergunakan lagi.

Hati kecilnya benar-benar merasa sedih sekali, sembari berpaling ujarnya kemudian dengan ketus.

"Anggap saja kau yang ungguI, sekarang kita boleh berangkat meninggalkan tempat ini!" Li Bun yang tertawa terbahak bahak.

"Haaahh haaah, haah... Kwan ya memang seorang yang pintar, aku Li Bun yang telah berbuat kurang sopan terhadapmu."

Kwan Hong tidak berbicara lagi, dia berjalan menuju kedepan pintu rumah penginapan itu dengan langkah lebar.

Ketika melalui dihadapan Leng Ning ciu, dia agak berhenti sebentar, bibirnya bergetar seperti hendak mengucapkan sesuatu namun tak sepatah katapun yang sempat diutarakan keluar.

Mencorong sinar buas dari balik matanya ketika Kwan Hong berpaling ke wajah Liong Tian im, sambil menahan rasa dendam yang makin menjadi ia berseru.

"Atas pemberianmu hari ini, asal aku Kwan Hong masih hidup didunia ini, suatu ketika kebaikanmu tersebut pasti akan kubayar .. ."

"Aku pasti akan menanti kedatanganmu." jawab Liong Tianim hambar.

Sikapnya yang sombong dan menghina tersebut hampir saja membuat Kwan Hong muntah darah, seandainya dia masih memiliki sisa tenaga, sudah pasti Liong Tian im akan dikejarnya dan diajak berkelahi lagi.

Apa mau dikata kekuatan yang dimilikinya sekarang sudah sedemikian lemahnya sehingga untuk mempertahankan diri saja sukarnya bukan kepalang. Terpaksa Kwan Hong harus menelan rasa mendongkolnya itu ke dalam perut, kemudian setelan mendengus, beranjak pergi dari sana dengan langkah lebar.

"Berhenti !"

Bentakan yang dingin dan kaku seperti es itu berasal dari mulut Leng Hongya.

Li Bun yang maupun Kwan Hong segera berhenti dengan perasaan tertegun dan tidak habis mengerti, entah mengapa Leng Hongya mencegah kepergian mereka?

"Leng sianseng, apakah kau masih ada sesuatu urusan yang hendak disampaikan kepada kami?" seru Li Bun yang dengan suara sedingin es.

"Lepakan Kwan Hong" perintah Leng Hong ya dengan suara sedingin salju, "kalau tidak maka tiada seorangpun diantara anak buahmu yang bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup, Li Bun yang. Aku yakin kau pasti mengetahui bukan bagaimanakah cara kerja ku, dapat atau tidak kubuktikan dihadapanmu dengan cepatnya hasil tersebut akan diketahui."

Li Bun yang merasakan hatinya tercekat, diam diam ia bergidik juga menyaksikan kegarangan orang.

Sekarang situasinya sudah menjadi jelas sekali, apabila orang orang Liu sah bun merggusur pergi Kwan Hong dari situ sudah pasti Leng Hongya akan turun tangan menghalangi niat mereka tersebut ..

Dengan cepat dia memutar otak, kemudian katanya dingin: "Leng sianseng, soal ini tak usah kau campuri, semoga saja diantara kita dua keluarga jangan sampai bentrok karena masalah ini detik ini antara Liu-sah-bun dengan Tee ong kok masih belum membutuhkan bentrokan secara kekerasan !"

Dia menghembuskan napas panjang, kemudian melanjutkan.

"Apabila Leng sianseng bersedia untuk melepaskan persoalan ini, dikemudian hari kami orang orang Liu sah bun pasti akan membalas budi kebaikan ini, lagipula urusan dari Kwan ya ini sama sekali tak ada hubungannya dengan Tee ong kok kalian !"

Leng Hongya tertawa dingin.

"Heeehh . . . heeehh. . . heeehh . . darimana kau tahu  kalau tak ada sangkut pautnya? Komandan Li, Kwan Hong datang bersamaku, aku berhak melindungi keselamatan jiwanya, apabila kalian hendak menggusur pergi orang tersebut, paling tidak kalian baru boleh turun jangan apabila lohu telah mengirimnya kembali ke bukit Jit gwat san, selama berada di hadapanku, aku melarang kalian untuk bertindak sewenang wenang !"

Li Bun yang segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Leng sianseng memang pandai sekali bergurau, apa gunanya kau mesti bermusuhan dengan kami orang orang rendahan ? Setahu ku antara Kwan ya dengan keluarga Leng sama sekali tidak terikat oleh hubungan apa pun, apa gunanya Leng sianseng mesti bersusah payah untuk mencari kesulitan dan kerepotan bagi diri sendiri ?"

Leng Hongya adalah seorang tokoh dunia persilatan yang selalu menganggap rendah orang lain, sudah barang tentu dia pun tak akan memikirkan Li Bun-yang yang sama sekali tidak bernama ini dalam hati kecilnya.

Walaupun sekarang dia sedang marah sekali, akan tetapi dia tak ingin kehilangan martabatnya sebagai seorang tokoh silat yang berpengaruh dalam dunia persilatan.
Dengan wajah sedingin es, katanya kemudian. "Bagaimana? Apakah komandan Li tidak sudi memberi
muka kepada aku orang she Leng?"

"Tidak berani!" jawab Li Bun yang dengan sungkan, permintaan dari Leng sianseng tak berani kami bangkang, hanya saja persoalan ini merupakan perintah dari pemimpin kami, sebagai anak buah, kami wajib untuk melaksanakannya dengan sebaik baiknya, kendati pun tubuh kami harus hancur lebur, kami tak berani memenuhi keinginan dari Leng sianseng tersebut."

Leng hongya seperti merasa tertegun olen jawaban tersebut, dia tidak menyangka kalau orang orang dari Liu sah bun tidak sudi memberi muka kepadanya.

Seluruh tubuhnya bergetar keras saking marahnya, dengan suara dalam ia lantas membentak.

"Kalau begitu kau hendak memaksa untuk bertarung melawan lohu. . ?" "Harap Leng sianseng jangan marah, hamba mempunyai sedikit balas jasa untukmu" kata Li Bun yang kemudian serius.

Dia lantas bertepuk tangan tiga kali. "Plok, plok plokk!" suara tepukan terasa bergema sampai ditempat kejauhan sana.

Tak lama kemudian terdengar suara derap langkah yang ramai berkumandang dari luar pintu rumah, lalu muncul dua belas orang lelaki berdada bidang yang membawa sebilah senjata tajam, mereka langsung berjalan menuju kehadapan Leng Hongya.

"Apa apaan ini?" Leng Hongya segera menegur dengan wajah agak tertegun .

Dengan wajah serius Li Bun yang berseru:

"Perguruan Liu sah bun kami bisa muncul lembah didalam dunia persilatan karena kesemuanya itu tergantung pada semangat serta persatuan yang baik, Leng sianseng adalah seorang tokoh silat yang disegani setiap orang, kami tahu kalau kepandaian kami tak akan mampu untuk menandingi keIihayanmu, maka untuk membalas budi atas kesediaan Leng sianseng memberi muka kepada kami, kami pun bermaksud membayar budi kebaikan sianseng dengan darah !"

"Bagaimana caranya membalas budi ini ?" Leng Hongya tidak habis mengerti "apakab kau suruh aku bertarung melawan orang orang itu ?"

Paras muka Li Bun yang makin lama semakin berubah amat serius, katanya dengan bersungguh sungguh: "Tidak usah, kami semua tahu kalau bukan tandingan dari Leng sianseng, maka kedua belas orang ini bersedia mengorbankan jiwa mereka untuk ditukar dengan selembar jiwa Kwan ya, semoga Leng sianseng sudi melepaskan tangan"

"Hmmm .. tidak bisa, kecuali kalau orang orang itu sudah mati semua ?" seru Leng Hongya sambil mendengus dingin.

Sementara itu ke dua belas orang lelaki bertelanjang dada tadi sudah membuat barisan di depan Leng Hongya, sambil mengayunkan senjata mereka tinggi-tinggi, serunya hampir bersamaan waktunya:

"Pemimpin kami telah berbuat kesalahan terhadap sianseng dan tak bisa membalas itu, hamba sekalian rela menggunakan darah kami untuk membalas budi kebaikan sianseng."

Percikan darah segar segera memancar ke mana mana, senjata tajam tersebut berkelebat lewat hampir bersamaan waktunya dan roboh binasalah ke dua belas orang anggota setia Liu san bun melakukan bunuh diri.

Darah segar segera menggenangi seluruh lantai, mayat bergelimpangan dimana mana, bukan saja semua penghuni rumah penginapan itu pada kabur terbirit birit, bahkan sipemilik penginapan pun melarikan diri pula dengan ketakutan.

Leng Hongya tertegun, dia sama sekali tidak menyangka kalau orang orang Liu sah bun biia bertindak senekad ini, tercekat juga hatinya selain muncul perasaan terharu dalam hati kecilnya. Sekalipun orang orang itu bukan mati ditangannya, namun secara tidak langsung mereki semua justru musuh di tangannya .

Memandang mayat mayat yang bergelimpangan dalam keadaan mengerikan itu, untuk sesaat lamanya dia menjadi terbungkam dalam seribu bahasa dan hanya berdiri termangu mangu disitu seperti orang bodoh.

"Ayah" Leng Ning ciu segera berseru dengan suara yang mengenaskan. "inilah harga dari kekerasan hatimu, apa artinya selembar nyawa Kwan Hong dibandingkan dengan belasan nyawa yang begitu gagah perkasa? Ayah, tidakkah kau merasa sedih? Diantara kita dengan orang orang Liu sah bun sama sekali tak terikat dendam sakit hati, mengapa kau biarkan begitu banyak nyawa menjadi korban ?"
Leng Hongya menggelengkan kepalanya berulang kali ... "Nak, ayah tidak bermaksud mendesak mereka untuk
berbuat demikian" bisiknya.

"Siapa pun tak akan melupakan pelajaran berdarah ini," kata Leng Ning ciu, lagi dengan sedih, "baik orang orang Liu sah bun maupun kita, peristiwa semacam ini tak pernah akan mereka lupakan, kendatipun pihak Liu sah bun tak akan menuntut apa apa kepada ayah, tapi hati kecil mereka pasti akan menyalahkan ayah yang sama sekali tidak berperasaan itu."

Dalam pada itu, Li Bun yang sudah memberi hormat
kepada kedua belas orang anak buahnya yang gagah perkasa itu, titik air mata tampak jatuh berlinang membasahi wajahnya..
Setelah menghela napas panjang, bisiknya. "Beristirahatlah dengan tenang dikerajaan langit, kami
orang orang Liu sah bun yang masih hidup tak akan membiarkan darah kalian mengalir dengan sia sia, asal kami dapat membunuh Kwan Lok khi, maka mengorbankan darah kalian sudah akan memperoleh harga yang sepantasnya !"

Dengan sedih dia memandang sekejap ke arah Leng Hongya kemudian mengucapkan m tanya dengan mulut membungkam.

Kawanan jago yang dibawanya segera maju dan menggusur Kwan Hong siap meninggalkan tempat itu, tak seorangpun diantara mereka yang bersuara.

Paras muka Kwan Hong pucat pias seperi mayat, tiba-tiba ia berkata dengan suara gemetar:

"Gak hu, harap kau sudi meaberitabuks kepada ayahku, suruhlah ia cepat datang menyelamatkan jiwaku."

Sekujur badan Leng Hongya gemetar keras apabila Kwan Hong sampai dibiarkan terbawa pergi oleh orang orang Liu sah bun, berarti jangan harap dia bisa menancapkan kaki dalam dunia persilatan terhadap Kwan Lok khi sendiripun ia tak mampu memberikan pertanggungan jawabnya.

Bagaimanapun juga, saat ini dia sudah menganggap Kwan Hong sebagai menantu sendiri, bagi seorang mertua, apakah dia harus membiarkan menantunya pergi menyerempet bahaya. Tapi pelajaran berdarah baru saja berlangsung didepan matanya, apabila dia sampai turut campur dalam masalah ini sudah pasti antara dia dengan pihak Liu sah bun akan terjalin suatu ikatan permusuhan yang tak pernah akan berakhir.

Dia ragu ragu sejenak, kemudian berseru "Komandan Li !"

Bukan saja nada suaranya sudah tidak mengandung nada permusuhan lagi, sikap mau pun tindak tanduknya juga jauh lebih lembut.

Li Bun yang segera menghentikan langkah kakinya yang sedang beranjak pergi dari situ, kemudian berpaling dan memandang kearahnya dengan wajah tertegun.

"Leng sianseng, masih ada urusan apalagi?" tanyanya kemudian dengan suara pelan.

"Aku ingin mengajakmu berbincang bincang!" ujar Leng Hongya dengan nada serba salah.

"Asal kita mengesampingkan masalah yang sedang kita hadapi sekarang, Leng sianseng kita masih merupakan teman baik, persoalan apa pun bisa dirundingkan."

Sekarang, Leng Hongya baru merasa kalau Li Bun yang dari Liu sah bun ini bukan seorang manusia yang gampang dihadapi, belum lagi dia bersuara, orang itu sudah mengikatnya lebih dulu dengan perkataan.

Terkesiap hati Leng Hongya menghadapi keadaaan seperti ini, satu ingatan dengan cepat melintas didalam benaknya:

"Sejak perguruan Liu sah-bun tertumpas, dalam dunia persilatan tak pernah terdengar ada manusia yang bernama Li Bun yang, tapi kalau ditinjau dari segala penampilan gerakgeriknya pada saat ini, sudah bisa dipastikan kalau dia adalah seorang jago kawakan, heran mengapa aku belum pernah mendengar namanya ?"

Kemudian setelah tertawa licik ujarnya:

"Komandan Li, Kwan Hong adalah menantuku, apabila kalian membawanya pergi, maka pun Hongya jadi tak dapat memberikan pertanggungan jawabnya terhadap keluarga Kwan, mari kita mencari suatu penyelesaian jalan tengahnya saja, harap komandan Li meninggal dia orang tersebut disini, di kemudian hari, lohu akan pergi mengunjungi pemimpin partai kalian sambil minta maaf !"

Paras muka Li Bun-yang berubah hebat sesudah mendengar perkataan tersebut, ia menjadi tertegun.
"Leng sianseng, kau bukan lagi bergurau bukan ?" "Komandan Li" ujar Leng Hongya lagi dengan wajah serius,
pun Hongya tahu kalau permintaanku ini kelewat tak tahu sopan, kau sendiripun merupakan jago yang berkecimpungan dalam dunia persilatan, kau tahu pula bahwa kami orang  orang persilatan mempunyai watak aneh yang tak mau tunduk kepada perkataan orang, tapi setiap persoalan bisa di selesaikan dengan pembicaraan Asal Komandan Li bersedia memberi muka kepada pun Hong-ya, sudah pasti pun Hong ya pun tak akan membiarkan komandan Li pulang tangan kosong?, entah bagaimanakah menurut pendapatmu ?"

Ucapannya ini segera membangkitkan amarah bagi kawanan jago lainnya dari Liu sah bun, mereka tak segan segannya mengorbankan dua belas orang jago mereka yang baik, tujuannya tak lain agar Leng Hongya tidak mencampuri urusan ini.

Siapa tahu, bukan saja Leng Hongya tidak menggubris kematian dari kedua belas orang tersebut bahkan bersikeras hendak menahan Kwan Hong disana, kejadian seperti ini benar boleh dibilang membuat orang merasa tidak tahan.

"Hm !" seorang lelaki kekar melompat maju sambil mendengus dingin "komandan, apakah kita harus bersabar terus ?"

Li Bun yang mengulapkan tangannya menitahkan kepada lelaki itu agar mengundurkan diri, kemudian sambil menghela napas panjang katanya dengan wajah bersungguh sungguh:

"Leng sianseng, maaf kalau aku harus meminjam ucapan  dan putrimu tadi untuk menyampaikan sepatah kata kepadamu, pelajaran ini merupakan pelajaran berdarah baik pihak kau maupun pihakku tak pernah akan melupakan pelajaran hari ini, Kami tak segan mengorbankan jiwa saudara saudara kami, hal ini disebabkan Leng sianseng adalah  seorang manusia yang luar biasa, dendam Liu sah bun hanya terhadap orang orang Jit gwat san belaka, asal dendam kesumat ini bisa dituntu balas, sekalipun segenap anggota Liu sah bun bakal tumpas sampai habispun kami tidak merasa sayang, Akan tetapi kami tidak berharap sianseng mencampuri urusan ini, hal ini dikarenakan kamipun tidak ingin  bermusuhan dengan pihak Tee ong kok, sebab kami tidak mempunyai kepentingan untuk mengikat tali permusuhan  lagi." "Leng sianseng, kau adalah seorang yang pintar, aku yakin kau bisa memahami ucapan kami yang benar benar muncul dari hni sanubari yang jujur."

Leng Hongya menjadi turut berubah wajah.

"Benar." katanya kemudian, "Akupun cukup mengetahui akan kesulitan kalian tapi mengapa kalian tidak berpikir kembali untuk memikirkan juga tentang posisiku sekarang, kau suruh aku mempertanggung jawabkan diri dengan cara apa terhadap umat persilatan ?"

Li Bun-yang sama sekali tidak bermaksud untuk mengendorkan desakannya, dia mendesak lebih jauh:

"Apakah kedua belas lembar nyawa tadi belum cukup untuk ditukar dengan pemberian muka dari sianseng ?"

Sekujur batin Leng Hongya gemetar keras. "Tentang soal ini . . ."
Sementara itu, Lioog Tian im yang berada disisi arena sudah tak mampu umuk mengendalikan diri lagi, dengan amarah yang menyelimuti seluruh wajahnya dia melotot sekejap ke arah Leng Hongya, kemudian serunya cepat.

"Kau benar benar seorang manusia yang tak tahu perasaan."

"Mau apa kau ?" bentak Leng Hoogya sambil melepaskan sebuah pukulan dengan gusar.

Liong Tian im melejit ke samping untuk menghindarkan  diri, kemudian sambil mempersiapkan kepalannya dia berseru: "Aku bilang kau bukan manusia, dengan begitu rendah hati Komandan Li minta pengertianmu, hal ini dikarenakan dia tak ingin menyalahimu, boleh dibilang ia sudah cukup besar memberi muka kepadamu, sungguh tak nyana mukamu lebih besar daripada kentut, bahkan masih meminta minta lagi secara tak tahu malu !"

Pemuda ini seperti merasakan suatu kemangkelan yang mendesak dalam dadanya, membuat dia merasa tak enak untuk membungkam dian belaka, maka setelah melontarkan kata kata tersebut, seketika itu juga dia merasakan hatinya jauh lebih lega.

Dengan wajah yang keren dan serius dia mengulapkan tangannya kepada Li Bu yang sembari berkata.

"Komandan Li, silahkan pergi. biar aku yang menangani persoalan ditempat ini!"

"Budi kebaikan dari saudara Liong akan kami ingat selalu didalam hati, orang orang Iiu sah bun tak akan pernah melupakannya" seru Li Bun yang cepat dengan wajah serius.

Agaknya pada waktu itu dia sedang terburu buru, begitu selesai berkata, dia lantas mengulapkan tangannya dan mengajak orang orang itu berlalu dari sana.

Leng Hongya ada maksud untuk menghalangi kepergian mereka, akan tetapi dia saksikan Liong Tian im sambil menggenggam senjata patung Kim mo sin jin nya telah menghadang dihadapannya.

Kesemuanya ini menimbulkan amarah yang meluap-luap dalam hati kecilnya dengan wajah memerah, dia segera membentak: "Apa? Kau berani bermusuhan dengan diriku?"

"Huuuh, tindakan bodoh tak berotak seperti apa yang kau lakukan barusan, betul betul membuat orang merasa gemas dan mengutuknya..." jengek Liong Tian im dingin.

Dengan penuh amarah Leng Hongya mengayunkan telapak tangannya dan secara beruntun melancarkan tiga buah pukulan berantai yang memaksa Liong Tian im harus mundur, dengan cepat dia memutarkan senjata patung Kim mo sin jinnya uatuk melakukan perlindungan diri.

"Hmm, mari kita bertarung diluar saja!" tantang pemuda itu kemudian dengan sinis.

Mencorong sinar tajam yang menggidikkan hati dari balik mata Leng Hongya, bentaknya keras keras:

"Apabila aku tak berhasil menyusul Kwan Hong maka kau sibocah keparat yang akan menggantikan selembar jiwanya !"

Baru saja dia akan menyusul ke luar pintu mendadak Leng Ning ciu menghalangi jalan pergi Leng Hongya sambil berseru:

"Ooooh ayah, apakah Kwan Hong jauh lebih penting daripada putri kandungmu sendiri?"

"Kau tidak tahu." kata Leng Hongya dengan sedih, "bila hal ini dibiarkan berlangsung maka dikemudian hari ayah akan malu bertemu dengan kawan kawan persilatan."

Kemudian sambil tertawa dingin dia berseru.

"Aku harus mengejarnya dan membacok mampus Li Bun yang, aku tahu bahwa dia bermaksud menggunakan siasat Ku bak ki (siasat menyiksa diri) untuk membuat hatiku iba, membuat hatiku lemah sehingga tak tega untuk turut tangan, hmmm . . . Orang orang dari Liu sah bun memang pantas dibunuh semua."

"Hmmm . . ," tiba tiba dari arah depan ruangan berkumandang suara dengusan dingin, lail nampak sesosok bayangan manusia berkelebat masuk kedalam ruangan.

Ternyata orang itu adalah Kwan Lok khi.

Begitu masuk kedalam ruangan, dan bertemu dengan Leng Hongya, dia lantas berseru keras.

"Saudara Leng !"

Paras muka Leng Hongya amat kalut, ujarnya sedih: "Saudara Kwan, kedatanganmu memang tepat sekali." "Mana putraku ?" tanya Kwan Lok khi lagi.
Leng Hongya mengggelengkan kepalanya berulang kali serunya:

"Dia telah dibawa pergi oleh orang orang Liu sah bun, saudara Kwan, aku tak tahu bagaimana harus memberi penjelasan kepadamu tentang persoalan ini, orang orang Liu sah bun telah menggunakan siasat penyiksa diri untuk memojokkan posisiku, sehingga aku tak berdaya untuk menghalangi niat mereka . ."

Kwan Lok-khi tertawa seram. "Aaah, hal ini mana bisa menyalahkan saudara Leng,  setelah memperoleh laporan dari anak buahku, buru buru aku menyusul kemari sayang sekali telah terlambat selangkah, untung saja disekeliling tempat ini penuh dengan orang orangku tidak sulit bagi kami untuk mencari tahu tempat tinggal orang-orang Liu sah bun tersebut, sedangkan  mengenai keselamatan jiwa putraku itu, heeeeh, heeeeh, aku percaya kalau orang orang Liu sah bun tak berani berbuat apa apa terhadapnya. Heeeeeeh, heeeh, saudara Leng, bagaimana menurut pendapatmu?"

Kemudian setelah melirik sekejap ke arah Liong Tian im, katanya lagi sambil tertawa.

"Orang she Liong, nyalimu benar benar amat besar, sampai menantu ku pun berani kau gaet pergi Hmmm.. aku lihat mungkin kau menganggap dirimu sudah mempunyai delapan kepala sembilan lengan, heeeh heeeeh, betul betul bedebah yang ingin mencari mampus.

"Kau jangan memfitnah orang secara sembarangan." bentak Liong Tian im dengan suara dingin.

Kwan Lok khi kembali tertawa dingin.

"Orang she Liong, apabila putraku tidak keburu ditawan oleh orang orang Liu sah bun, sekarang juga aku akan memberi pelajaran yang setimpal untukmu. . ."

Kemudian setelah melirik sekejap ke arah Leng Ning ciu, katanya lebih jauh:

"Leng Ning ciu, apakah bocah keparat itu telah menyiksamu atau memberi penderitaan kepadamu?" "Aku tidak mengerti apa yang sedang kau maksudkan." tukas Leng Ning ciu dingin.

Kembali Kwan Lok khi tertawa seram.

"Heeeeeh, heeeh, heeeh, maksudku, apakah kau sudah digerayangi atau dinodai oleh keparat tersebut, apabila menantu dari keluarga Kwan kami sampai dinodai orang heeh heeeh, lohu pasti akan mencabut nyawa anjing si bocah keparat tersebut!"

Paras muka Leng Ning ciu berubah hebat, dengan wajah hijau membesi dia berseru.

"Aku sama sekali tidak berniat untuk kawin dengan keluarga Kwan kalian, empek Kwan, kau tahu kalau putramu banyak akal muslihatnya, lebih baik biarkan saja dia memilih gadis lain."

"Hei, apa maksudmu berkata demikian?" Kwan Lok khi berseru dengan wajah tertegun "ayahmu telah menyetujui untuk menjodohkan kau dengan keluarga Kwan kami, kedua belah pihak pun sudah mengikat tali perkawian tersebut, apalagi Hong ji sangat mencintaimu, dia telah bertekad untuk mengawinimu bagaimana pun juga!"

Leng Hongya tahu kalau putrinya tak nanti akan menyetujui perkawinan tersebut dalam keadaan demikian, dia memang ada maksud untuk membuat Liong Tian im dan Leng Nio ciu mematikan niat mereka, maka ujarnya kemudian sambil tersenyum:

"Saudara Kwan aku harap setelah menolong Kwan Hong dari bahaya, kita bisa segera mengawinkan kedua orang bocah itu saat ten bat. lembah Teo ong kok dan Jit gwat san akan menjadi serumah haaahh . haahh.."

Kemudian setelah melotot sekejap kearah Liong Tian im dengan penuh kebencian katanya dengan dingin:

"Sekarang kau sudah boleh pergi, selanjutnya harap jangan kau mengusik putriku lagi . ."

Liong Tian im mendengus dingin, wajahnya menunjukkan sikap amat sinis dan menghina, setelan melirik sekejap ke arah Leng Ning ciu dia mengankat senjata patung Kim mo sin jin nya dan lantas beranjak keluar dari situ."

"Tian im .."

Leng Ning Ciu merasakan hatinya seolah olah di hantam dengan martiI besar, hatinya berdenyut keras dan sekujur tubuhnya gemetar, air mata jatuh berlinang membasahi  pipinya yang putih, rambutnya yang kusut terurai, kalut di tiup angin.

Dengan penuh penderitaan dia berseru: "Tian im, bawalah aku pergi !"

Leng Tian im yang merasakan penderitaan dan siksaan hati yang dialami gadis tersebut tiba tiba saja merasakan kepedihan yang besar senada dalam hatinya, dengan ceptt dia menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Ning ciu, kau tak dapat pergi bersamaku." katanya sedih, "aku bukan seorang yang ber.harga bagimu, kaupun tidak berharga untuk berbuat demikian, hal ini sudah merupakan nasib kita, siapapun tak dapat merubah kenyataan ini !" "Tidak !" seru Leng Ning ciu gemetar, "Tian im, kau harus tahu selama berada bersama orang yang dicintai, biar hanya sehari atau dua hari, hal itu merupakan suatu kebahagian bagiku, jauh lebih berharga raganya daripada harus tinggal sepanjang hidup dengan orang yang tidak dicintai, aku lebih suka berdiam satu dua hari denganmu, aku lebih suka hidup menderita bersama orang yang kukasihi Tian im, kau harus memberi sedikit waktu bagiku."

Dengan cepat Liong Tian im menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak, aku tidak bisa Ning ciu, kau harus tahu akan keadaanku sekarang, jangan topi kalau ayahmu telah menjodohkan kau dengan Kwan, sekarang, kau sudah merupakan anggota keluarga Kwan !"

"Hmmm, Kwan Hong itu manusia macam apa, Aku tak nanti akan mencintainya walau hanya sedetikpun" dengus Leng Ning ciu dengan sinis, "Tian im, harap kau mempercayai
diriku, dalam hatiku hanya ada kau seorang siapapun tak nanti akan merebut hatiku dari tanganmu, semuanya ini kuucapkan sejujurnya harap kau percaya !"

Sambil menutupi wajahnya dia menangis tersedu sedu, batinnya yang kosong dan sedih hampir saja membuat dia tidak memiliki keberanian untuk hidup lebih jauh, kenyataan yang keji telah menghancur lumatfkan impian indahnya.

Sekarang, pangeran yang dia idamkan telah berubah menjadi seorang iblis yang berwajah keji, maka dia bersedih hati, merasa sedih untuk nasih sendiri yang jelek, juga sedih karena mempunyai seorang ayah yang tak tahu perasaan. Liong Tian im tertawa getir.

"Aku tahu bagaimanakah perasaanmu, aku sudah tahu..."

Kwan Lok khi merasa tak senang hati menyaksikan  sepasang muda mudi ini saling bermesraan dan saling mengutarakan perasaannya dihadapan mereka berdua, sambil melotot besar penuh amarah, dia berteriak keras-keras:

"Saudara Leng, apa yang telah terjadi ?" Leng Hongya tertawa rikuh.
"Putriku tak tahu diri, ternyata dia telah jatuh hati terhadap seorang pemuda rudin yang ingusan, harap seudara Kwan jangan salah sangka, diantara mereka kecuali hanya terjalin oleh setitik hubungan sesungguhnya tiadi hubungan lain !"

"Heeeh heeeh heeh .. hal ini mana boleh jadi?" seru Kwan Lok khi sambil tertawa seram. "Saudara Leng, Ning ciu adalah seorang gadis perawan, mana boleh melakukan perbuatan semacam ini ? Apabila sampai diketahui orang lain, bukankah mereka akan menertawakan kita sampai giginya pada copot semua."

"Soal ini..." paras muka Leng Hongya menjadi berubah amat dingin, "aku akan mengusir keparat ini lebih dulu!"

Dia melompat maju ke muka, lalu berseru sambil membentak marah:

"Orang she Liong, kau harus segera enyah dan sini!"

Liong Tian im melirik sekejap ke arahnya dengan marah kemudian menjawab: "Tempat ini bukan lembah Tee ong kok, kau tidak berhak untuk mengusirku dari sini, bila kau berbicara dengan cara yang baik, mungkin saja aku akan pergi dengan sendirinya, tapi jika kau ingin berlagak di hadapanku? Harap maaf, terpaksa aku akan mencoba sampai di manakah kemampuan yang kau miliki".

Leng Hongya mendesis marah, lalu melancarkan pukulan sambil berseru:

"Bocah keparat aku akan menghabisi nyawa anjingmu."

Mendadak Leng Ning Ciu menerjang ke muka tanpa memperdulikan mati hidup sendiri serunya sambil menangis terisak:

"Ayah, kalau kau hendak membunuhnya, lebih baik bunuhlah putrimu lebih dulu !"

Buru buru Leng Hongya menarik kembali serangannya dan membuyarkan angin serangannya secara paksa, dia tidak menyangka kalau putrinya sama sekali tidak memperdulikan nama baiknya.

Berada dalam keadaan begini, dia lantas mendongakkan kepalanya dan tertawa seram, sedemikian marahnya Leng Hongya sampai rambutnya pada berdiri kaku macam landak.

"Bagus, bagus sekali .. . . aku Leng Hongya memang telah memelihara seorang putri yang sangat baik !"
Kwan Lok khi menanggapi dari sisinya dengan suara dingin: "Saudara Leng tak usah marah marah, serahkan saja bocah
keparat ini, agar aku saja yang menyelesaikannya . ." Leng Ning ciu yang mendengar ucapan tersebut menjadi terperanjat segera jeritnya ngeri.

"Tian im, cepat pergi, mereka akan membunuhmu. . ."

Waktu itu Kwan Lok khi telah bertarung melawan Liong Tian im. mereka berdua sama sama turun tangan dengan penuh kegusaran, tak heran kalau jurus serangan yang digunakan hampir semuanya merupakan jurus pembunuh yang mengerikan.

Leng Ning ciu benar benar merasakan hatinya hancur, dia berpaling ke arah Leng Hong ya, lalu katanya:

"Ayah, apabila kau tidak melepaskan Liong Tian im, hari ini ananda tak akan pulang".

Ancaman tersebut ternyata cukup manjur, Leng Hong ya segera menghela napas panjang.

"Aaai, saudara Kwan yang penting buat kita sekarang adalah menyelamatkan putramu, sedangkan soal bocah keparat ini, belum terlambat rasanya untuk diselesaikan dikemudian hari!"

Kwan Lok khi merasakan hatinya terkesiap, buru buru dia menarik kembali serangannya sambil melompat mundur kebelakang, serunya kemudian:

"Hm, terlalu keenakan untuk bocah keparat ini."

Liong Tiam im juga tidak banyak membuang waktu lagi, dia segera berkelebat menggerakkan tubuh sambil berseru. "Sampai jumpa lagi lain kesempatan, bila kalian berjumpa lagi denganku dikemudian hari, akupun tidak akan bersikap begini sungkan terhadap kalian berdua !"

Tubuhnya seperti digulung asap ringan yang menyelinap lewat, dalam waktu singkat ia sudah berada berapa kaki jauhnya dari posisi semula kemudian lenyap dari pandangan mata.

Malam yang gelap telah menyelimuti angkasa, disekeliling sebuah hutan.

Ditengah sebuah tanah berumput yang Iuas, berdiri sebuah kuil yang sudah bobrok, dalam kegelapan malam, kuil itu berada dalam keheningan yang luar biasa seperti sebuah kota mati.

Tiada cahaya lentera yang memancar keluar dari balik bangunan tersebut, dinding yang rubuh dan atap yang hancur menunjukkan kalau kuil tersebut sudah lama berada dalam keadaan terbengkelai tanpa penghuni.

Didalam kegetapan yang hening inilah, tiba tiba muncul sepasukan manusia yana bergerak cepat mendekati bangunan kuil itu, rombongan manusia misterius ini bagaikan sukma gentayangan saja, bergerak kedepan tanpa menimbulkan sedikit suarapun.

Ditengah keheningan, akhirnya terdengar seseorang berkata dengan suara parau karena tua.

"Pemimpin, cukup memuaskankah tempat ini?" "Ehmm !" gidis berbaju serba putih yang berjalan paling muka mengiakan pelan, setelah memandang sekejap ke sekeliling tempat itu.

"Bagus sekali." katanya lebih jauh dengan suara hambar. "Leng huan, kirimlah orang untuk memasang lentera !"

Pemuda yang dipanggil Leng huan mengiakan dengan hormat dan melompat kedepan.

Sementara pemimpin rombongan didampingi seorang lelaki berbaju hitam meneruskan langkahnya menuju kedepan situ.

Kuil yang sepi dan gelap akhirnya diterangi empat buah cahaya lentera, sinar yang redup menyorot keluar dari balik bangunan itu membuat keadaan kuil tersebut lebih bersuasana hidup"

Gadis pemimpin itu berjalan masuk ke da larn kuil diiringi sejumlah pasukan besar.

Setiap kali dia melangkah maju selangkah, orang orang yang berada dibelakangnya juga ikut melangkah setindak, orang orang tersebut membungkam semua dalam seribu bahasa.

Leng huan yang telah menunggu dalam ruang kuil segera berkata dengan hormat:

"Pemimpin, silahkan naik ke tempat duduk utama !"

Ditengah ruangan telah disiapkan sebuah kursi, gadis tersebut mengulapkan tangannya dan duduk, sementara anak buahnya segera duduk dilantai. ooOoooo oooOooo

"Leng Huan, sampai kapan mereka baru akan tiba disini ?" tanya gadis itu lagi.

"Menurut laporan dari Li Sam, komandan Li telah berhasil menawan Kwan Hong dan sedang berangkat kemari, aku pikir dengan cepat mereka akan sampai disini." sahut Leng Huan dengan hormat.

"Ehmm, aku sudah tahu." kata gadis itu sambil mengulapkan tangannya dengan cepat, "sekarang, kau segera kirim orang untuk menyambut komandan Li, perketat penjagaan disekeliling tempat ini, apabila dugaanku tidak salah, telur busuk tua dari Jit gwat san mungkin akan segera menyusul kemari.

Mencorong sinar buas dari sepasang mata Leng Huan setelah mendengar ucapan itu, serunya:

"Kalau tidak datang masih mendingan, bila berani kemari, kami akan beradu jiwa dengannya."

"Berapa besar sih kepandaian yang kau miliki? Berani benar mengucapkan kata kata sesumbar?" tegur gadis itu ketus, "Kwan Lok khi bukan orang blo'on, dia banyak tipu muslihatnya dan merupakan seorang manusia yang berbahaya, kalau dia sampai datang, banyak kesulitan yang bakal kita hadapi!"
"Hamba tahu..." buru buru Leng Hian memberi hormat. "lngat" kata gadis itu lagi " sebelum memperoleh
perintahku, siapapun tak boleh masuk kemari, Kau tak tahu bukan bahwa tugas dan tanggung jawab kita pada malam ini sangat berat, apabila bertindak salah, maka semua rencana besar dari Lu sah bun akan hancur berantakan, nah pergilah dan sambut kedatangan komandan Li."

Leng Huan mundur selangkah lau menyahut. "Baik, pemimpin!"

Dia memilih beberapa orang lelika kekar diantara para jago yang hadir disitu, kemudian bergerak menuju keluar dengan kecepatan luar biasa, didalam waktu singkat, bayangan tubuh mereka sudah lenyap dibalik kegelapan.

Gadis itu memandang sekeiap ke arah kawanan jago yang sedang duduk bersila dilantai, kemudian terlintas perasaan murung dan sedih diatas wajahnya setelah membela napas berat dengan sedih dia menggelengkan kepalanya berulang kali !

"Pemimpin !"

Pelan pelan berdiri seorang kakek berambut putih diri antara kawanan manusia tersebut, lalu tanyanya dengan hormat.

"Pemimpin, persoalan apakah yang membuat mu merasa murung dan sedih.

Dengan wajah serius gadis itu menjawab.

"lt Beng, apakah kau tidak merasa bahwa keadaan sedikit tak beres ? Menurut rencana komandan Li seharusnya sudah sampai disini, sekarang sudah begini malam, namun tiada kabar berita sama sekali tentang diri mereka, siapa tahu kalau telah terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan?" It Peng dengan cepat menggeleng. "Pemimpin tak usah terlalu cemas Komandandan Li adalah saorang yang cekatan dan pandai bekerja, kepandaian silat yang dimiliki pun cukup untuk menghadapi keadaan, menurut hamba tak mungkin mereka menjumpai hal-hal yang tak diinginkan !"

Gadis itu menghela napas panjang.

"Aaai ... bagaimanapun juga, dalam menghadapi setiap persoalan kita harus berpikir dahulu kebagian yang terjelek, kau tidak mengetahui akan kelihayan orang orang Jit gwat san, maka kau bisa berkata demikian, Apabila Kwan Lok khi mengetahui bahwa putranya ditawan orang, sudah pasti dia akan menyusul kemari, siapa tahu kalau komandan Li sekalian telah berjumpa dengan mereka. . ."

"Soal ini. . ." It Peng menjadi tertegun dan tak mampu melanjutkan kata katanya.

Gadis itu membenahi rambutnya yang kusut, kemudian berkata lebih jauh:

"Aku kuatir usaha kita kali ini akan si sia belaka, apabila rencana kita menemui kegagalan maka kemungkinan besar usaha kita orang orang Liu sah bun untuk melakukan pembalasan dendam tidak akan berhasil di capai dengan mudah!"

Setelah menghela napas sedih, dia tidak berbicara lagi, untuk sesaat suasana dalam kuil menjadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suara pun.

Semua orang menunggu dengan tenang, menunggu datangnya berita yang menyatakan kalau komandan Li telah kembali. Namun hingga kini jejak komandan Li masih merupakan sebuah teka teki besar yang tak terjawab.

"Toook. . toook. . tokk. . took. ."

Suara derap kaki kuda yang ramai bergema secara tiba tiba memecahkan keheningan malam, para jago yang berada dalam ruang kuil itu merasakan semangatnya berkobar kembali menyusul suara derap kaki kuda tersebut, dengan cepat mereka memusatkan perhatian nya untuk mecdengarkan.

Gadis itu nampak berseri, gumamnya kemudian dengan wajah gembira:

"Aaah, mereka yang datang, komandan Li yang datang !"

Mendadak ditengah keheningan malam yang sunyi berkumandang suara bentakan nyaring.

"Siapa ?"

"Saudara Leng, masa aku Li Bun yang saja tidak kau kenali?" seseorang menyahut dengan suara nyaring.

"Komandan Li, kau telah kembali, cepat masuk, cepat masuk . !"

Kemudian dengan perasaan gelisah dan terburu nafsu serunya lebih jauh.
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Cincin Maut Jilid 27"

Post a Comment

close