Cincin Maut Jilid 22

Mode Malam
Jilid 22

"MAAF NONA, aku tidak tahu kalau kau adalah seorang nona."

Gadis dusun itu mendengus, hawa amarah yang semula menghiasi wajah mereka pun jauh lebih mereda, dia membereskan rambutnya dari depan wajah, lalu menegur dengan suara dingin:

"Kalian datang kemari hendak mencari siapa ?"

"Tolong tanya, apakah di tempat ini terdapat suatu tempat yang bernama pantai naga hijau . . ."

"Ooooh" jadi kalian sedang mencari Pantai naga hijau ?" seru gadis dusun itu sambil membelalakkan matanya, "sungguh kebetulan sekali seandainya bukan bertemu aku, selama hidup jangan harap kalian bisa menemukan tempat  itu. Orang orang yang berada disekitar tempat ini hanya mengetahui di sini terdapat sebuah tempat yang bernama Toh bun lok (jalan pencabut nyawa) tapi tidak tahu kalau ada  suatu tempat yang bernama Ceng liong..."

"Jalan pencabut nyawa?" seru Bok Ci keheranan. "kalau memang asalnya bernama jalan pencabut nyawa, mengapa bisa dirubah menjadi pantai naga hijau?"

Gadis dusun itu tertawa hambar Toh hun lok atau Ceng liong tham sebetulnya merupakan satu tempat yang sama, berhubung selama beberapa tahun ini seringkali ada yang mati ditempat itu, maka orang orang menganggap Cing liong tham sebagai tempat pencabut nyawa, jarang yang berani berjalan menelusuri pantai Iagi, itulah sebabnya orang pun menyebutnya sebagai jalan pencabut nyawa artinya kalau lewat disitu maka tak ada harapan untuk kembali lagi."

"Masa didunia ini terdapat tempat macam begini?" kata Liong Tian im sambil tertawa dingin.

"Hmm kalau tidak percaya silahkan dibuktikan sendiri, kau akan segera tahu kalau perkataanku tidak bohong."

Ketika Bok Ci menyaksikan giadis dusun itu marah, buru buru dia berseru:

"Nona tolong tanya, bila ingin pergi ke Cing liong tham, kita harus melalui jalan mana? Berhubung kami mempunyai kenalan disitu, maka kita hendak berkunjung kesana,.."

"Ooh, kalian hendak mencari siapa?" tanya gadis itu, "aku kenal hampir dengan semua orang yang berada disini." Jago padang buta Bok Ci tertegun, dia tak menyangka  kalau gadis dusun itu bakal mengajukan pertanyaan tersebut, seperti yang diketahui dia datang kesitu untuk memenuhi janjinya dengan Ci seng toa hwesio dan Yu leng kui li, sudah barang tentu dia merasa kurang leluasa untuk mengatakal hal yang sebenarnya kepada seorang gadis dusun, setelah termenung beberapa saat diapun berpikir:

"Tujuanku adalah untuk meneruskan perjalanan buat apa harus kuberitahukan hal yang sebenarnya kepada gadis dusun ini? Lebih baik kusebutkan saja asal nama anak membohonginya."

Maka sambil tertawa dia berkata: "Sahabat tua yang hendak kucari itu she Hong bernama hoo..."

"Oooh, kau mencari pamanku" seru gadis dusun itu cepat, "sungguh tak kusangka kalian adalah sahabat pamanku, dia sudah banyak tahun tak pernah keluar rumah. mari kuantar kalian kesitu..."

Jago pedang buta Bak Ci semakin tertegun lagi, dia tidak menduga kalau nama yang disebutkan secara sembarangan itu bisa secara kebetulan merupakan nama paman sinona, untuk beberapa saat lamanya dia menjadi termangu mangu dan tak tahu apa yang harus dilakukannya.

Tapi diapun tidak percaya kalau didunia ini benar benar terdapat kejadian yang begitu kebetulan.

Sewaktu dilihatnya gedis itu sudah membalikkan badan dan berlalu, tanpa terasa dia melemparkan sekulum senyuman getir ke arah Liong Tian im merasa geli sekali, dengan perasaan apa boleh mereka berdua segera mengangkat bahu. Sementara itu sigadis dusun itu berjalan di lepas sambil tertawa dingin, ia menelusuri pantai pesisir dan masuk kedalam sebuah hutan yang lebat.

Tak selang beberapa saat kemudian terbentanglah sebuah sungai dengan ombak yang deras, dipantai seberang sana terbentanglah pantai dengan pasir ke emas-emasan, sebuah sampan kecil parkir di tepi sungai, gadis dusun itu segera menggape kearah sampan tersebut sambil bersemi "Thio Han, dia mau menyebrangi sungai!"

"Oooh, kau ada Umi? Baik, aku akan membantumu untuk menyeberangkan mereka..." jawab situkang perahu sambil tertawa.

0U Iimti mendayung sampan, ia berjalan mendekat.

Gadis dusun itu segera melompat naik keatas perahu, sedangkan Liong Tian Im dan Bok C memandang sekejap kuda tunggangannya dengan kening berkerut.

"Ayo naiklah!" seru gadis dusun itu sambil memberi tanda, tambat saja kuda itu disitu, tak usah kuatir, ditempat ini tak ada orang yang bakal mencuri kuda tersebut.

Terpaksa jago pedang buta Bok Ci dan Liong Tian im melompat turun dari kudanya lalu menambat kuda tersebut di tepi pantai, setelah itu mereka baru melompat naik ke atas perahu.

Dengan cepat perahu didayung menembusi ombak bergerak menuju ke pantai seberang, Bok Ci dan Liong Tian im yang berdiri diujung geladak merasa amat nyaman sekali apalagi terhembus angin yang silir semilir. Mendadak perahu itu bergoncang keras, sambil tertawa situkang perahu itu menegur:

"Kek koan berdua, bagaimana kalau duduk dulu dalam ruangan perahu. . ."

Bok Ci tertegun, lalu menggeleng.

"Tidak usah. . ."

Mendadak terdengar gadis dusun itu menjerit lengking, rupanya keranjang berisi pakaian miliknya tercebur ke dalam sungai.

Dengan gelisah sekali gadis itu menggoyangkan tangannya berulang kali,sambil berseru:

"Aduuh. . pakaianku tercebur kedalam sungai. . ."

Dengan suatu lompatan cepat Bok Ci melompat ke sisi tubuh gadis laut itu, kemudian berkata:

"Nona kau harus berhati hati, sudahlah, biarkan saja pakaian itu. . ."

Gadis dusun itu menggelengkan kepalanya berulang bnli, mendadak dari balik bajunya dia mengeluarkan jari tangannya kemudian tanpa menimbulkan sedikit suara pun menyodok ke tubuh Bok Ci.

Jago pedang buta Bok Ci sama sekali tidak menduga sampai disitu, menanti dia merasakan datangnya sambaran angin serangan yang kuat itu, keadaan sudah terlambat sambil berseru tertahan, tak ampun lagi tubuhnya segera tercebur ke dalam sungai.

"Pluuung. . ."

Bunga air memercik ke empat peniuru, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.

Liong Tian im sangat terkejut, dia tak menyangka kalau kakak angkatnya bakal tercebur ke sungai.

Dengan perasaan gelisah bercampur cemas, buru buru teriaknya.

"Toako toako..."

Berhubung jaraknya terlampau jauh, dia tak sempat melihat jelas apa yang terjadi dengan toakonya Bok Ci sehingga tercebur kedalam sungai dalam gelisah dan
gusarnya, ia lantas mencengkeram si tukang perahu itu sambil membentak:

"Cepat kau tolong dia!"

Tukang perahu itu merendah kebawah, lalu menjawab dengan suara sedingin es:

"Sungai ini termashur sebagai sungai pencabut nyawa,  meski aku pandai ilmu dalam air, namun tak akan berani turun kebawah, toako mu itu tiada harapan lagi untuk hidup, lebih baik urungkan saja niatmu itu."

Saking gusarnya, Liong Tian-im mencengkeram tubuh lelaki itu dan melemparkannya ke dalam sungai, kemudian bentaknya: "Ayo turun, kaupun turut turun kebawah sana"

Kini, dia dikuasai rasa gusar bercampur gelisah, pada hakekatnya dia lupa kalau Bok Ci memiliki tenaga dalam yang amat sempurna sekalipun tak pandai berenang diapun tak bakal mati karena tenggelam didalam sungai.

Sementara itu si gadis dusun tersebut hanya mengawasi semua jalannya peristiwa dengan pandang sinis, tiba-tiba ia berkata dengan suara dingin.

"Gelisahpun tak ada gunanya, lebih baik tunggulah sampai bertemu dengan pamanku baru mengusahakan pencarian atas jenasah toakomu itu, apa yang diucapkan si tukang perahu itu betul, sungai ini mengalir sangat deras, tiada orang yang bisa melawan kekuatan tersebut."

Liong Tian im berpaling dan memandang sekejap kearah permukaan sungai, memang betul baik bayangan tubuh dari Bok Ci maupun bayangan tubuh dari si tukang perahu itu sudah lenyap tak berbekas, sekalipun hendak dicari pun sulit rasanya, apa lagi diapun tak pandai ilmu dalam air, apa yang bisa dilakukan oleh nya ?

Sementara itu perahu kecil itu masih berputar diatas air sungai, cepat cepat gadis dusun itu memegang kemudi dan mendayung perahu tersebut menuju kepantai seberang.

Kembali gadis dusun itu berkata dingin.

"Pamanku berdiam didepan sana, mari ikut aku menjumpai dia."

Sekali Liong Tian im menengok sekejap ke arah pantai sungai, suasana disitu sangat hening sementara tulang manusia berserakan dimana mana, keadaannya mengerikan sekali.

Dengan perasaan tercekat dia lantas berpikir.

"Besar amat nyali gadis ini, mengapa dia bisa berdiam ditempat yang begini menyeramkan ? Masa dia tidak takut menghadapi pemandangan yang begini menyeramkan . . ."

Mendadak timbul kecurigaan didalam hatinya, dia heran, mengapa gadis itu tak mencuci pakaian ditepi sungai yang dekat rumahnya, sebaliknya justeru menyeberangi sungai dulu dan mencuci pakaian ditepi jalan raya ?

Setelah dipikirkan bolak balik, dia merasa gadis ini makin lama semakin mencurigakan keadaannya.

Melangkah diatas pantai berpasir yang lembut, perasaan hatinya makin lama semakin bertambah berat, sesudah menembusi sebuah hutan, didepan situ tampak sebuah rumah gubuk, dua orang lelaki berbaju hitam berdiri kekar disisi pintu rumah gubuk tersebut.

Sambil menuding kedepan gadis dusun itu berseru: "Nah, masuklah kedalam !"
Liong Tian im tertegun, mendadak ia merasa nada pembicaraan orang sangat tidak bersahabat ia lantas teringat lagi kalau tiada suara itu adalah suara dari Yu leng kui li, kontan saja hatinya tercekat bercampur tegang.

Setelah tertawa dingin serunya:

"Hmm, sungguh hebat sekali ilmu penyaruanmu." "Kalau sekarang baru tahu, itu namanya terlambat sekali,,." kata gadis dusun itu dingin "Seaudainya aku tidak menceburkan Bok Ci ke dalam sungai mungkin kau akan mengetahui rahasia penyamaranku semenjak tadi, kini rahasia kami sudah ketahuan kaupun tak usah bersikap sungkan sungkan lagi, pamanku berada didalam rumah sana masuk saja dan temui dia urutan kita selesaikan secepatnya?"

"Kalau begitu kau yang mendorong toakoku kedalam sungai?" tegur Liong Tian im dengan wajah sedingin es.

"Hmm, sepasang matamu toh belum buta, masa tak dapat kau lihat akan hal itu." ucap Yu leng kui li dingin.

Hawa amarah yang membara tiba-tiba saja menyelinap keluar dari dalam hati Liong Tian im, dengan kening berkerut, sorot mata setajam sembilu segera memancar keluar dari balik matanya. hawa pembunuhan yeng tebal pun ikut menyelimuti seluruh wajahnya, setelah mendengus dingin, serunya:

"Nona, kau benar benar seorang perempuan yang berhati kejam seperti ular berbisa."

Yu leng kui li tertegun, rupanya dia tak tahu apa sebabnya Liong Tian im mengumpatnya dengan kata kata tersebut, setelah tertegun sesaat lamanya, tanyanya dengan nada tak habis mengerti :

"Apa maksudmu berkata demikian ?" Dengan hawa pembunuhan menyelimuti seluruh wajahnya, Liong Tian im berkata: "Seorang perempuan jika hatinya sudah jahat maka jahatnya akan melebihi kaum pria, yang disebut orang sebagai hati paling kejam adalah hati perempuan, mungkin dalam hal inilah yang mereka maksudkan. Toakoku tak punya dendam sakit hati apa apa denganmu, mengapa kau bersikap begim kejam kepadanya . ."

"Tutup mulutmu. .. " tiba tiba Yu leng kui li membentak penuh kemarahan. "kau tahu apa? Liong Tian im, kau hanya tahu aku mencelakainya, dan perbuatanku ini merupakan perbuatan yang tak layak, tapi tahukah kau bahwa dia telah membabat mati ibuku tanpa perasaan ? Bahkan akupun hampir saja mati dengan membawa dendam, coba kalau ayah angkatku Kwan Lok khi tidak menyelamatkan jiwaku mungkin sekarang kesempatan untuk membalas dendam pun tidak kumiliki !"

Ucapah mana segera membuat Liong Tian im menjadi tertegun, katanya kemudian:

"Jadi toako pernah membunuh ibumu ?"

Air mata telah jatuh bercucuran membasahi seluruh wajah Yu leng kui li ujarnya pedih:

"Peristiwa ini telah berlangsung beberapa tahun berselang, karena suatu kesalahan paham ibuku telah salah memasuki daerah terlarang dari si pedang langit, dimana ia bertarung melawan jago pedang buta, dalam pertempuran itulah ibuku dibacok olehnya sampai tubuhnya terbelah menjadi dua bagian."

Dengan cepat Liong Tian im menggelengkan kepalanya berulang kali, serunya cepat: "Tidak mungkin, toako ku tidak mungkin membunuh ibumu kalau hanya disebabkan persoalan sekecil ini, dibaIik kesemuanya itu sudah pasti terdapat alasan lain, mungkin kau sendiripun tidak mengetahui akan alasan tersebut."

Yu leng kui li tertawa dingin ,

"Heehh . . . heeh. . . kau tak usah membantu membelai dia tujuanku adalah hendak membunuhnya, sekarang dia sudah tercebur ke dalam sungai dia tak akan mampu melawan derasnya arus dan gelombang disana, akhirnya dendam sakit hatiku berhasil juga "kutuntut balas, dan sekarang masih ada kau, aku tak bakal melepaskan setiap orang yang mempunyai hubungan dengannya dengan begitu saja."

"Hehh . . heeh . . . mendadak dari dalam rumah gubuk itu muncul suara deheman rendah, seorang kakek berambut putih dengan sepasang kaki yang cacad telah berjalan keluar di payang dua orang lelaki kekar, sorot mata kakek itu dingin tanpa perasaan barang sedikit-pun jua setelah tertawa seram tiba tiba ia menegur:

"Siaubo sudah kau bereskan manusia yang bersama Bok Ci itu?"

"Ayah!" seru Yu leng kui li sambil menyeka air matanya, "akhirnya aku berhasil juga membalaskan dendam bagi kematian ibu, kini Bok Ci sudah dibereskan oleh ombak sungai, yang masih tertinggal kini hanya Liong Tian im seorang. . ."

"Heeeh. . heeh, . heeh. . bagus, bagus sekali nak, ayah angkatmu Kwan lo enghiong memang seorang jagoan lihay, dia bisa tertarik kepadamu karena kau cerdik, kini dendam sakit hati ibumu sudah terbalas, sedang bocah keparat inipun terhitung musuh besar ayah angkatmu, bagaimana kau hendak menghukumnya, terserah pada keputusanmu sendiri.
."

Mencorong sinar buas dari balik mata Yu-leng kui li, katanya:

"Aku hendak memunahkan dia dari muka bumi, tempat yang sangat rahasia letaknya ini tak boleh sampai mereka bocorkan keluar, . bisa berbahaya untuk kita semua.."

Tak terlukiskan rasa gusar Liong Tian-im setelah menyaksikan kekejaman serta kebusukan hati ayah anak berdua itu, sekujur tubuhnya sampai gemetar keras karena menahan amarah, dia berpaling memandang sekejap ke sungai yang terpentang dibelakangnya kemudian gumamnya:

"Toako, siaute akan membalaskan dendam untukmu, legakan hatimu, aku dapat menyelesaikan keinginanmu dan menolong ayahmu di bukit Jit-gwat san."

Dari antara biji mata yang dalam bagaikan samudera, mendadak terlintas cahaya air mata dalam kelopak matanya, pikirnya yang kosong seolah olah dibayangi kembali oleh  wajah Bok Ci yang memelas, hatinya segera merasa kecut dan hawa pembunuhan cepat menyelimuti wajahnya sekuluman dingin pun menghiasi ujung bibirnya.

"Kau. .. " Yu leag kui li berseru tertahan dengan perasaan terkesiap:

"Aku hendak membalaskan dendam untuk toako." bentak Liong Tian im gusar. "Hn, kau benar benar ibaratnya orang buta menggendong anak," seru si kaket berambut putih itu dengan gusar, "kematian sudah berada di depan pintu, tapi mulutmu masih tajam"

Ketika tangannya diayunkan kedepan, sebuah pukulan yang maha dahsyat secepat kilat meluncur kemuka dan menyambar tubuh lawannya dengan ganas.

Liong Tian im terkesiap, cepat cepat dia bergeser ke samping lalu mengayunkan tangannya untuk menyongsong datangnya ancaman itu.

"Blaaaaam !"

Liong Tian im tidak mengira kalau musuh mempunyai kemampuan yang begitu hebat, dalam bentrokan tersebut, ternyata ia kena digetarkan oleh kekuatan lawan sehingga badannya bergoncang keras sekali.

Berada dalam keadaan demikian, dia segera meraung keras, kemudian secepat kilat melepaskan tiga buah pukulan berantai, walaupun sepasang kakinya sudah cacad, tetapi gerak serangannya yang dimiliki kakek berambut putih itu tidak berbeda jauh dengan jeritan serangan dari seorang jagoan lihay.

Dengan suatu gerakan yang aneh sekali, dia berhasil menghindarkan diri dari ketiga buah serangan lawan yang berat, lalu sambil tertawa geram dia sempat melancarkan kembali sebuah serangan belasan. Liong Tian im mengetahui kalau tenaga dalam yang dimiliki lawan tak berada dibawah kemampuan sendiri, dia tak berani menyambut datangnya serangan tersebut dengan kekerasan.

Tubuhnya segera bergeser kesamping dengan cekatan, lalu senjata Kim mo sin jin di cabut keluar dan dipersiapkan ditangan, sorat mata yang tajam mengawasi musuhnya tanpa berkedip!

Mencorong sinar tajam dari balik matanya kakek berambut putih itu serunya tiba-tiba:

"Jadi kaulah pemiliknya dari senjata patung Kim mosin jin tersebut?"

"Betul." jawab Liong Tian im dengan suara dingin, "bila patung emas muncul dunia akan tercekam ketakutan, tentu kau sudah mengetahui akan kehebatannya bukan?"

Baru selesai dia berkata, mendadak dari arah tepi sungai sana berkumandang suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati, kemudian tampak seseorang sedang kabur mendekat sambil lari pontang panting, dibelakangnya mengikuti seseorang dengan senjata terhunus, ternyata orang itu tak lain adalah jago pedang buta Bok Ci.

Mendadak Jago pedang buta Bok Ci melompat ke depan, padang kayunya kemudian menciptakan selapis cahaya tajam, kemudian ditusuknya orang yang sedang kabur pontang panting itu.

"Buuuuu !"

Jeritan ngeri orang memilukan hati kembali berkumandang memecahkan keheningan, orang itu tertusuk telak oteh sambaran pedang lawan dan tergeletak ditanah dengan tubuh terpisah menjadi dua bagian.

Liong Tian im menjadi amat terharu sekali, segera teriaknya dengan suara tertahan:

"Toako, kau belum mati ?"

Jago pedang buta Bok Ci menghembuskan napas panjang, kemudian melompat mendekat, katanya cepat:

"Kalau cuma air mah masih belum bisa menyusahkan toako."

Begitu dilihat Yu ling kui li berada disitu, hawa amarah yang terpendam dadanya kontan saja meledak keluar dengan tak terbendung lagi, serunya:

"Sungguh tak kusangka, kau adalah seorang jagoan dunia persilatan yang sangat lihay."

"Hmm, untung saja lolos dari kematian diujung jari tanganku sekarang berani betul bicara besar . . ." dengus Yu leng kui li dengan suara dingin.

Jago pedang buta Bek Ci menarik napas dalam-dalam, kemudian katanya lebih jauh:

"Dimana Ci seng si hwesio gundul itu? Mengapa dia belum jago menampakkan diri ?"

"Heehhmm . . . kakek berambut putih itu mendesis rendah, "rupanya kaulah jago pedang buta yang telah membunuh istriku." "Siapakah kau ?" tanya jago pedang buta Bok Ci dengan wajah tertegun.

Kakek berambut putih itu tertawa seram, "Heehh . heehh .
. heehh . . .lohu adalah Kim Tin ka, mungkin kau sudah pernah mendengar nama lohu bukan ?"

"Oooh. . ." Jago pedang buta Bok Ci hanya mendesah dengan suara dalam, kemudian berkata dengan suara dingin:

"Bukan aku sengaja membela diri, tapi berbicara  sebenarnya saja, siapa yang suruh kalian berdua menggunakan obat racun yang keji untuk mencelakai ayahku? Yaa, hingga kini persoalan mana belum mendapatkan penyelesaian dengan cara baik baik, kini kita menyelesaikannya secara tuntas."

"Betul !" seru Kim Tin ka sambil tertawa seram, karena keteledoran isteriku, ia mati karena bacokan pedangmu, dalam hal ini hanya bisa dikalahkan karena kepandaian silatnya kurang tinggi, tapi sepasang kaki lohu ini harus kutuntut kembali dari si Pedang langit telur busuk tua itu telah mengutungi sepasang kakiku, dia anggap dengan perbuatan  itu urusan dapat diselesaikan hanya dengan begitu saja?"

Secara keji dan menyeramkan dia tertawa tergelak, tangannya segera diulapkan memberi kode, Ci seng hwesio bersama tiga orang lelaki berbaju hitam segera berlompatan keluar dari balik hutan belukar, sementara salah seorang diantara lelaki berbaju hitam itu telah menyerahkan sebilah pedang pada majikannya.

Kim Tin ka segera mencabut keluar pedangnya lalu berseru: "Hari ini, aku orang she Kim hendak mencoba sampai dimanakah kelihayan ilmu pedang Thian yang kiam hoat (ilmu pedang ujung langit) dari keluarga kalian, akan kucoba buktikan atas dasar apakah Thian yang kiam hoat ingin menjagoi persilatan."

"Atas dosa dosa yang telah kau lakukan, kematian adalan jalan yang cocok untukmu, kali ini aku tak akan berbelas kasihan lagi terhadap manusia macam kau!" kata jago pedang buta sambil mengangkat pedang kayunya dengan wajah  serius lalu sambil maju kemuka menciptakan selapis bayangan pedang yang menyilaukan mata, dia langsung menusuk kedada lawan dengan kecepatan luar biasa.

Walaupun Kim Tin ka sedang duduk diatas lantai, ternyata gerak geriknya lincah sekali tubuhnya melambung keudara, kemudian pedangnya digetarkan menciptakan serentetan cahaya bintang yang menggidikan hati.

Kini, kedua belah pihak sama sama menggerakkan tubuhnya dengan kecepatan luar biasa, mereka saling mendesak saling menekan dalam waktu singkat bayangan pedang tampak berlapis lapis, untuk sementara waktu sulit untuk membedakan mana tubuh kawan mana tubuh lawan.

"Aduuuh..."

Berhubung sepasang kaki Kim Tin ka sudah cacad, akhirnya dia tak mampu menghindarkan diri dari sebuah serangan kilat dari jago pedang buta Bok Ci yang menyerang dengan jurus Mong mong thiau yang (ujung Jangil aankosong)

Sebuah bacokan telak menghantam diatas perut lawan, Kim Tin ka mengeluh lalu roboh terjengkang ke atas tanah. 

Dengan perasaan bergetar keras, Yu leng kui li segera menjerit lengking:

"Ayah. ."

Ketika dia menubruk ke tubuh Kim Tin ka, dan tangannya penuh percikan darah, rasa sedih yang terpendam dalam hatinya tak terbendung lagi, perempuan itu menubruk keatas tubuh ayahnya dan menangis tersedu sedu.

Isak tangis yang memilukan hati itu terhembus angin dan tersebar sampai dikejauhan sana.

Betapa gusarnya Ci seng hwesio menyaksikan jago pedang buta Bok Ci telah membunuh Kim Tin ka, sambil membentak nyaring, dia memimpin tiga orang anak buahnya menerjang bersama ke muka.

"Bocah keparat, aku akan beradu jiwa denganmu. ." jeritnya penuh kegusaran.

Dia memutar senjata toya kepala naganya dan secara beruntun melancarkan tiga buah serangan dshsyat, ketiga jurus serangan itu semuanya dilepaskan dengan kekuatan yang luar biasa, bahkan secara lamat lamat terdengar suara desingan angin dan guntur yang menggidikkan hati.

Jago pedang buta Bok Ci tak berani memandang enteng serangan musuh yang nekad itu, pedangnya segera diputar menciptakan sebuah gerakan busur yang amat besar, kemudian membabat pergelangan tangan lawan. Sementara Ci seng hwesio baru bergerak melancarkan serangan, tiga orang lelaki itu pui mengayunkan pedangnya sambil melakukan terjangan.

Liong Tian im tidak ambil diam saja, dia segera memutar senjata patung Kim mo sin jin nya sambil membentak  keras:

"Sobat, mari kita bermain main disini saja," Dia taho, ketiga orang lelaki berbaju hitam itu bukan jago sembarangan sambil melompat kemuka, senjata patung Kim mo sia jin nya segera diputar untuk menghadang jelas pergi ketiga lelaki tersebut.

Menjumpai hadangan tersebut ketiga orang lelaki itu mendengus rendah, lalu tiga bilah pedangnya berputar kencang melepaskan serangkaian serangan dahsyat.

Liong Tian ini tertawa dingin, ejeknya.

"Heeeh. heeeh, heeeh, sobat, lebih baik ku hantar kau untuk pulang dulu ke rumah nenek moyangmu."

Pergelangan tangannya digetarkan, senjata patung Kim mo sin jin itu dengan berubah menjadi serentetan cahaya emas langsung menyergap tubuh salah seorang lelaki berbaju hitam itu. Tindakan mana bukan saja dilancarkan sangat tiba tiba, bahkan sama sekali diluar dugaan, membuat orang itu tak sempat lagi untuk menghindarkan diri.

"Aduuuuh !" suatu jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema memecah keheningan.

Batok kepala lelaki itu segera terhajar sampai hancur berantakan, tubuhnya segera tergeletak dan mampus diatas genangan darah kental. Dua orang lelaki sisanya menjadi keder sendiri setelah menyaksikan peristiwa tersebut.

Seakan sukma mereka sudah melayang meninggalkan raganya, masing masing orang segera mundur selangkah kebelakang.
Sambil tertawa dingin Liong Tian im segera mengejek: "Sahabat karib kalian berdua sudah berangkat kealam
baka, apalagi yang kalian nantikan sekarang ?"

Dengan mengerahkan tenaga dalamnya yang amat sempurna, dia lepaskan lertmeran serangan dahsyat, sekilas cahaya emas yang menyilaukan mata dengan cepat menyambar ke muka.

Dua orang lelaki tersebut hanya merasakan pandangan matanya menjadi amat silau hingga sukar untuk dibuka kembali, tak terlukiskan rasa ngeri mereka menghadapi ancaman tersebut.

Mendadak terdengar salah seorang diantara mereka menjerit keras:

"Lebih baik kita kabur saja . . "

Siapa tahu belum sempat tubuh mereka berdua sempat melompat bangun, sekilas cahaya keemas-emasan dengan membawa segulung tenaga tekanan yang maha dahsyat telah menekan datang.

Dua orang itu segera merasakan tubuhnya bergetar keras, lalu tak sempit uaeadssan lebih jauh, mereka berdua memuntahkan darah tegar dan tergeletak mati. "Aduuuh "

Baru saja Liong Tian im berhasil membinasakan tiga orang jago lihay, mendadak dia mendengar lagi suara jeritan ngeri yang alami lukai hati, ketika dia berpaling tampak Ci seng hweesio sedang roboh ketanah sambil memegangi perut sendiri, sepasang matanya melotot amat besar, wajahnya pun diliputi oleh rasa ngeri dan takut yang luar biasa.

Sebaliknya jago pedang buta Bok Ci hanya berdiri kaku ditempat sambil mengawasi pedang kayu sendiri dia seperti merasa agak menyesal, sementara mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Sebaliknya Yu leng kui li bersikap seolah olah tidak melihat apa yang terjadi dihadapannya, seorang diri dia mendekam diatas tubuh Kim Tin ka sambil menangis tersedu-sedu.

Liong Tian im yang menjumpai kejadian mana hanya bisa menghela napas panjang, didekatinya Bok Ci lalu berbisik:

"Toako, mari kita pergi. ."
Bok Ci segera menggelengkan kepalanya berulang kali. "Aku pikir, apa yang telah kita lakukan sekarang tampaknya
sedikit agak keterlaluan."

Dengan mata kepala sendiri dia menyaksikan kesengsaraan orang menjelang saat kematiannya, tiba tiba saja timbul perasaan iba dan kasihan dari dalam hati kecilnya, padahal dulu dia sama sekali tidak mempunyai perasaai demikian, hal ini dikarenakan dia tak pernah menyaksikan sendiri penderitaan seseorang menjelang saat ajalnya tiba. Disinilah terletak perbedaan antara orang buta dengan orang yang dapat melihat, dengan sedih Bok Ci menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas panjang, pelan pelan dia berjalan menuju kedepan sana.

"Berhenti. ."

Mendadak Yu leng kui li membalikkan tubuhnya sambil membentak penuh amarah dan perasaan dendam.

"Setelah membunuh begini banyak orang, apakah kau ingin pergi dengan begitu saja."

"Mau apa kau sekarang?" tanya Liong Tian-Im sambil tertawa dingin.

"Siapa membunuh orang dia berhutang uang, Siapa berhutang barang dia harus bayar dengan jiwa, kalian telah membunuh ibuku, membunuh ayahku dendam kesumat ini lebih dalam daripada samudra. sebelum memberi keadilan apakah kalian hendak pergi dengan begitu saja."

Setelah menyeka air matanya dengan ujung pakaian, wajahnya yang dingin kaku itu segera dilapisi hawa membeku yang menggidikkan hati, dari balik biji matanya yang jeli terpancar keluar api dendam yang menyala nyala.

Sekali Iagi Jago pedang buta Bok Ci menghela napas panjang "Nona, kuburlah ayahmu baik baik, aku memang berbuat tidak benar, maka kau jangan mengejar terus diriku, anggap stl persoalan kita selesai sampai disini."

"Haaah, haaah haaah." mendadak Yu leng kui li tertawa terbahak bahak dengan sedihnya "sudah membunuh orang masih ingin urusannya dihapus, sungguh merupakan suatu kejadian yang lucu, bila aku telah membunuh ayah ibumu, dapatkah kau menyelesaikan masalah dengan begitu saja ?"

Ditatapnya jago pedang buta Bok Ci dengan penuh perasaan dendam, lalu katanya:

"Bok Ci aku benar benar tidak habis mengerti mengapa ayahku yang cacad pun tidak kau lepaskan, sebenarnya dendam sakit hati sampai sedalam apakan yang terikat antara dirimu dengannya ?"

"Aku sendiripun tak tahu karena apa." jawab Bok Ci sedih, "ketika aku berjumpa dengan ayahmu, tiba tiba saja timbul niatku untuk membunuhnya, mungkin hal ini ada hubungannya dengan usaha ayahmu hendak mencelakai ayahku dimasa lalu."

Setelah menyodorkan pedang kayunya kedepan ia berkata lagi:

"Nona, bila kau ingin membalas dendam padaku, silahkan saja kau pergunakan pedangnya ini untuk membunuhku aku tidak akan mendendam dirimu sebab memang sudah terlampau banyak hutangku kepadamu."

"Cuh." Yu leng kui li meludah dengan sinis, "sekaraog percuma saja kau mengucapkan kata kata semacam ltu, Bok Ci dengan cara apa membunuh ayahku, dengan cara itu pula aku akan membunuhmu, hanya dalam suatu pertarungan  yang adil baru bisa melenyapkan rasa dendam yang membara dalam hatiku."

Bok Ci menggelengkan kepalanya berulang kali katanya kemudian sambil menghela napas. "Baiklah aku menantikan kedatanganmu."

Mendadak saja dia merasakan dirinya jauh lebih tua,  seakan akan dia membutuhkan tenaga yang lebih besar untuk menggerakkan langkahnya menuju ketepi sungai, terhadap isak tangis dan sumpah serapah yang muncul dibelakang
tubuhnya, ia tak bersedia mendengarkan lebih jauh, dia hanya memandang ombak yang menggulung dihadapannya, dia ingin tahu apakah sungai dengan arus yang deras itu dapat membersihkan noda darah ditangannya....

oocOooo

SENJA TELAH TIBA, beberapa sisa-sisa cahaya matahari masih sempat menongolkan diri dari bajik bukit Jit gwu san yang berlapis lapis, angin lembut berhembus semilir menyebarkan bau bunga yang semerbak, dia memberikan suatu perasaan mabuk bagi siapapun yang merasakannya ....

Diatas punggung bukit Jit gwat san berdiri sebuah bangunan rumah yang di bangun menetap punggung bukit, sebuah jalan kecil terbentuk didepannya terlapis daun daun kering yang mulai berguguran, beberapa orang lelaki berbaju hitam sedang berjalan menelusuri jalanan kecil tersebut .. ..

"Traaaang. . . ." Bunyi genta yang nyaring berkumandarg dari balik bukit, menggetarkan angkasa merontokkan dedaunan, suara yang mengalun hingga menggema sampai ditempat yang jauh. Pada saat itulah, dari balik bangunan rumah yang besar itu muncul dua belas orang lelaki berbaju hitam, mereka dipimpin oleh Hu Tojin.

"Dengan sorot mata yamg dingin Hu To jin memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu berkata:

"Dalam kegelapan malam, kalian harus bersikap lebih berhati hati, bila menemukan suatu gerakan yang mencurigakan, segera laporkan kepada Sancu, selama beberapa hari ini situasi kita amat ketat dan tegang, konon putra si Pedang langit telah sampai disini . "

Sambil berjalan dia memberi peringatan dan berpesan kepada beberapa orang lelaki itu, langkah kaki yang berat menimbulkan suara pelan pelan menelusuri hutan lebat yang siap itu.

Sementara ketika menelusuri hutan yang lebat, makin lama semakin menjauh. . .

Ternyata peronda peronda itu tak seorang pun yang mengetahui bahwa jejak mereka di ikuti orang.

Tak lama setelah rombongan peronda itu menjauh, dari kiri dan kanan pohon siong melompat keluar dua orang manusia, masing-masing memberi tanda kemudian menguntit rombongan peronda tersebut dari tempat kejauhan.

Terdengar Bok Ci berbisik lirih:

"Sungguh berbahaya, hampir saja ketahuan mereka..." "Toako" bisik Liong Tan im dengan suara rendah, "penjagaan ditempat ini sangat ketat, aku lihat sulit juga untuk menemukan tempat tersebut."

Dia melompat kesamping jago pedang buta Bok Ci dengan gesit kejadian menantikan pendapat dari saudaranya ini.

"Heran" demikian Bok Ci berkata setelah termenung sebentar "apa sebabnya Ho to jin membawa para lelaki itu masuk kedalam !" tapi Mungkinkah dalam hutan tersebut terdapat suatu tempat yang btfoatfa utitofc yang keamanannya.

Baru selesai dia berkata, mendadak dari arah belakang terdengar suara langkah kaki manusia, dengan perasaan tercekat kedua orang itu segera menyelinap kesamping dan menyembunyikan diri dibelakang dua batang pohon besar kemudian dengan ke empat buah matanya yang tajam bagaikan sembilu mereka mengawasi ujung hutan tersebut lekat lekat.

Tampak dua sosok bayangan manusia yang bergerak mendekat, begitu mengetahui siapa yang datang Liong Tian im dan Bok Ci sama sama merasa terkesiap, hampir saja dia tak percaya apa yang sedang dilihatnya . . ..

Ternyata kedua orang itu adalah Leng Ning ciu serta Kwan Hong.

"Masa dia ? Kalau benar, mengapa dia bisa berada sama Kwan Hong . . ." hampir pada saat yang bersamaan itu berpikir. Paras muka Leng Ning ciu dingin asa seperti tiada perasaan, seolah olah mereka tidak bersama, sementara wajahnya yang dingin tidak menunjukkan sikap apapun.

Sebaliknya Kwan Hong mengikuti dibelakang tubuhnya dengan ketat, tingkah lakunya sangat memuakkan.

Kwan Hong menarik napas panjang panjang kemudian berkata :
"Ning ciu, mengapa kau bersikeras hendak ke sana ?" "Aku hendak melihat, apa benar si Pedang langit ditempat
ini ?" jawab Leng Ning-ciu oooOooo oooOooo
Kwan Hong segera tertawa dingin, katanya kemudian:

"Ning ciu masa kau tidak percaya dengan perkataanku ? Ayahku termasyhur karena pandai menyusun rencana dan mengatur perangkap, kendatipun si pedang langit mempunyai tiga kepala enam lengan pun jangan harap bisa lolos dari cengkeraman ayahku. Kalau si Pedang langit dan keluar Bok dan Cing shia san sudah disingkirkan maka ayahku akan menjagoi seluruh dunia, sedang ayahmupun bisa menjadi seorang jagoan yang tiada tandingannya di kolong langit."

"Hmm, tampaknya kau merasa amat bangga . . ." Leng Ning ciu mendengus dengan sinis.

Kembali Kwan Hong tertawa terbahak bahak.

"Haahh . . haahh . . .haahh . . tentu saja, siapa yang tidak merasakan bangga kalau mempunyai ayah seperti ini, sekarang semua partai persilatan yang ada didunia ini telah tunduk dan takluk semua kepada kami, setiap umat persilatan akan merasa kagum dan memuji bila membicarakan soal kami ayah dan anak, sampai waktunya . . . haah haahh . . aku pun bisa mempersunting seorang isteri cantik seperti kau, mengapa aku tak boleh merasa bangga"

Liong Tian im maupun Bok Ci yang mendengar perkataan itu sama sama menjadi terperanjat, tampaknya mereka tidak menyangka kalau Leng Ning ciu bakal kawin dengan Kwan Hong dari bukit Jit gwat san. Lioog Tian im segera merasakan hatinya jadi kecut, suatu perasaan sedih yang tak terungkapkan dengan kata kata segera menyelimuti seluruh wajahnya.
Diam-diam dia menghela napas panjang, ia berpikir: "Akhirnya kau berhasil juga mendapatkan pasangan, aku
mendoakan moga-moga saja kau bahagia."

Sementara itu, Leng Ning ciu telah menghentikan tubuhnya tiada senyuman yang menghiasi mukanya, tubuhnya seakan akan mendapatkan suatu pukulan martil yang amat keras membuat sekujur badannya bergetar keras :

"Mengapa kau mengucapkan perkataan itu?" pekiknya penuh penderitaan.

"Apa salahnya ?" sahut Kwan Hong sambil melangkah ke depan dan memeluk, pinggangnya "ayahku telah membicarakan perkawinan ini dengan ayahmu, bahkan ayahmu sudah setuju dengan perkawinan ini, itulah sebabnya kau dikirim ke bukit Jit gwat san ini dengan harapan kita berdua bisa berhubungan lebih akrab dan semakin memahami watak masing masing." Dengan cepat Leng Ning ciu mengebaskan tangannya yang hendak merangkul, kemudian mendengur ketus:

"Lebih baik jangan bertindak sembarangan." Kwan Hong tertawa terkekeh kekeh, "kita berdua sudah hampir kawin, mengapa masing masing pihak mesti saling menjaga jarak begitu jauh ?"

"Aku bukan perempuan rendah yang suka kau rayu, ketahuilah jika kau berani bersikap kurang ajar lagi, jangan salahkan kalau aku akan bertindak tidak sungkan sungkan lagi kepadamu, Hm, jangan kau anggap dirimu itu hebat, aku  sama sekali tidak memandang sebelah matapun terhadap dirimu !"

Ucapan tersebut mungkin kelewat kasar, ternyata Kwan Hong dibikin tertegun untuk beberapa saat lamanya dan gelagapan tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Rasa tertegun, marah, malu dan gemas bercampur aduk menjadi satu dalam benaknya, ia menjadi seperti kalap dan ingin melampiaskan semua perasaannya itu.

Lama kemudian, dia baru menegur dengan marah. "Apa maksudmu ?"

Leng Ning ciu menyahut dingin:

"Aku masih tetap dengan ucapanku semula sebelum kawin, jangan harap kau bisa memperoleh keuntungan apa-apa, lagi pula perkawinan ini akan berhasil atau tidak masih merupakan tanda tanya besar, lebih baik diputuskan setelah menjadi kenyataan nanti." "Hehmm," Kwan hong tertawa rendah, "soal itu mah gampang sekali, setelah kembali nanti aku akan suruh ayah mengirim barang pinangan kepada ayahmu lalu hari perkawinan di tentukan, bukankah urusan akan beres? Aku percaya ayahmu pasti akan senang sekali menjadi besan diri keluarga Kwan kami."

"Hmm, jika ayahku yang suka biarkan saja ayahku yang kawin denganmu," jengek Leng Ning ciu sinis.

Kwan Hong menjadi sangat gelisah. "Masa kau tidak mau." serunya.

"Yaa aku memang tidak mau." Leng Ning ciu menjawab dengan perasaan yang menderita.

"Ini..." Kwan Hong menjadi termangu mangu untuk beberapa saat lamanya, selang sejenak kemudian dia baru melanjutkan:

"Ning ciu, kau pandai sekali bergurau, masa aku kau bikin sampai kebingungan setengah mati, lebih baik persoalan ini kita bicarakan secara pelan pelan saja. dikemudian hari kau dapat mengabulkan permintaanku ini . . ."

Kemudian sambil tertawa terbahak bahak, bersama Leng Ning ciu meneruskan kembali perjalanannya memasuki hutan.

Menyaksikan bayangan punggung mereka lenyap dibalik kegelapan, tiba tiba saja Liong Tian im merasakan kemasgulannya dan kemurungannya yang amat sangat. Dia melompat keluar dari tempat persembunyiannya, kemudian bergumam seorang diri:

"Mengapa? dia tak mencintai Kwan Hong.."

"Adik Liong, tidak usah dipikirkan lagi" ujar Bok Ci sambil menepuk bahunya, "kita harus segera menyusul mereka dengan cepat.."

Kedua orang itu melejit ke udara dan meluncur kedalam hutan dengan kecepatan tinggi, setelah menembusi hutan lebat itu, dari depan situ muncul sebuah air terjun yang muntahkan airnya dengan sangat deras.

Leng Ning ciu dan Kwan Hong nampak berdiri atas batu cadas sambil memperhatikan lembah yang terbentang dihadapannya.

Bok Ci dan Liong Tian im segera mengitari dan batu batu dan melongok pula kearah lembah, ternyata diatas dinding tebing yang curam terlibat sebuah gua besar, sebuah batu cadas menyumbat didepan mulut gua itu.

Enam orang lelaki berbaju hitam sedang berjaga jaga didepan gua dan melakukan penjagaan secara ketat.

Ditengah hembusan angin malam, terdengar Kwan Hong sedang berkata:

"Sipedang langit disekap didalam gua itu." Leng Ning ciu segera mendengus dingin.

"Hmm, pedang langit adalah seorang yang berilmu tinggi. masa ia dapat disekap dengan sebuah batu cadas saja." Kwan Hong segera tertawa terkekeh kekeh, "kau belum mengetahui akan kelihayan dari Ifajiatan rahasia yang berada disini, tentu saja tidak kau ketahui sampai dimanakah kehebatannya, batu cadas itu beratnya selaksa kati dan menyumbat persis dimulut gua tentu saja jangan harap orang dapat menggeserkan batuan tersebut kecuali dia menggerakkan pat kwi berada diluar itu serentak delapan kali kesepian kiri. kalau tidak..."

Dia menutup mulut dengan cepat, kemudian dengan penuh kecurigaan memandang sekejap ke sekeliling tempat itu.
Berapa saat kemudian ia baru berkata dengan suara pelan. "Hal ini merupakan rahasia paling besar ditempat ini,
bahkan Hu to jin dan Pek li Kit-ka tidak tahu .."

"Kalau toh ditempat ini terdapat banyak tempat rahasia, mengapa kalian menaruh begitu banyak orang melakukan penjagaan disini.

Dengan bangga Kwan Hong berkata.

"Dinding tersebut letaknya tinggi dan pula berada ditengah tengah bukit Jit gwat san, asal ada orang berdiri disitu, maka gerak gerik yang berada diempat arah delapan penjuru dapat terlihat dengan sangat jelas, jadi andaikata terjadi sesuatu peristiwa dibukit ini, tempat tersebut merupakan tempat yang paIing baik untuk melakukan pengintaian.

Tampaknya Leng Ning ciu sama sekali tidak menaruh minat yang besar terhadap tempat itu, dia tertawa hambar kemudian membalikkan badan dan berjalan kembali melalui jalanan semula. Kwan Hong tertawa terbahak bahak, dalam waktu singkat bayangan tubuh kedua orang itu sudah lenyap dari pandangan mata.

Bok Ci menengok sekejap kearah belakang kemudian berbisik:

"Adik Liong, kita harus berusaha naik ketengah dinding bukit itu untuk menolong ayahku."

Liong Tian im mengangguk.

"Yaa, mari kita menerjang keatas dan menghabisi nyawa ke enam orang itu.,."

"Jangan." seru Bok Ci dengan wajah serius "tempat itu  tinggi sekali letaknya dan tak mudah untuk diserang, blia jejak kita berdua sampai ketahuan maka mereka paati akan menyiarkan peristiwa ini kepada Kwan Lok khi berdua."

Setelah termenung sebentar dia melanjutkan: "Kita harus menggunakan akal untuk membasmi mereka semua."

Dengan mengitari pepohonan yang lebat di sekitar sana,  dia bersama Liong Tian im bergerak menuju kedalam lembah, sebelum mencapai bawah dinding batu cadas dengan cepat mereka berdua menyembunyikan diri dibalik batu besar.

"Sebentar, aku akan memancing kemunculan mereka dan kau harus membunuh mereka dengan mempergunekan cara yang tercepat, paling baik lagi kalau menyerang tanpa memperlihatkan jejak sendiri." Karena hari sudah malam, langit sudah diliputi kegelapan yang mencekam, dia tahu kalau pihak lawan tidak mudah menyaksikan wajah sendiri dengan cepat.

Maka dia lantas menampakkan diri dari belakang batu menggapai kearah dua orang lelaki berbaju hitam yang sedang melakukan perondaan itu.

Benar juga dua orang lelaki itu memang tidak melihat jelas wajah lawannya, melihat ada orang menegor ke arah mereka disangkanya orang sendiri yang memanggil, salah seorang diantaranya segera bertanya:

"Sau sancu kah disitu ?".

Bok Ci dengan mainkan suara diri Kwan-Hong segera menjawab:

"Aku ada urusan penting yang hendak disampaikan kepada kalian berdua.

Dua orang lelaki berbaju hitam itu sama sekali tidak curiga, dengan cepat mereka melayang turun kebawah dan menghampiri Bok Ci.

Menanti mereka menyadari bahwa orang yang berada dihadapannya sama sekali tak dikenal, desingan angin tajam telah menyambar datang dari belakang tubuh mereka.

Dengan perasaan terkesiap kedua orang itu mencoba untuk berkelit ke samping, sayang terlambat, diiringi dengusan tertahan, jalan darah kematian mereka telah tertotok secara telak. Dengan cepat Liong Tian im menyeret jenasah mereka berdua ke belakang batu cadas, kemudian bisiknya:

"Toako, cepat tukar pakaian mereka..."

"Aahaa, . benar benar sebuah akal yang bagus." seru Bok Ci hampir saja tertawa geli.

Dengan suatu gerakan cepat ke dua orang itu melepaskan pakaian hitan dari tubuh ke dua sosok jenasah tersebut dan dikenakan tubuh sendiri, kemudian mengenakan pula topi berbulu hitamnya rendah-rendah sehingga hampir menutupi wajah sendiri.

Kemudian Bok Ci memberi tanda kepada Liong Tian im dan bersama sama melompat naik ke atas dinding bukit.

Empat orang lelaki yang sedang melakukan perondaan itu segera mengendorkan kewaspadaannya begitu melihat rekannya telah balik kembali dengan selamat.

Dua orang diantara mereka segera berjalan mendekati Bok Ci dan Liong Tian im, kemudian tanyanya berbareng:

"Ular hijau, bebek darat, ada urusan apa Sau sancu mengundang kalian berdua. . ."

"Tidak ada apa apa, . " sahut Bok Ci dengan suara dalam.

Hampir pada saat yang bersamaan Liong Tian im turun tangan dengan kecepatan luar biasa, jari tangannya langsung melepaskan totokan kilat ke tubuh ke dua orang lelaki tersebut. Baru saja ke dua orang itu tertegun tahu-tahu tubuhnya sudah berdiri kaku ditempat.

Kebetulan To ho Jin sedang berjalan keluar dari balik jalan kecil dibelakang tebing, dengan sorot mata yang penuh amarah dia menengok ke arah mereka sambil menegur:

"Nomor tiga. nomor empat, siapa yang menyuruh kalian berdiri disitu. . ." . Meski kedua orang lelaki itu dapat mendengar pertanyaan itu dengan jelas, tapi berhubung jalan darahnya tertotok, maka mereka tak mampu menjawab pertanyaan tersebut.

To hu Jin menjadi curiga, mendadak dia menengok kearah Bok Ci dan Liong Tian Im kemudian hardiknya:

"Siapakah kalian berdua?"

Mengetahui kalau rahasia penyaruannya terbongkar, Bok Cl segera membentak dengan suara rendah:

"Adik Liong, cepat habisi dua orang yang lain, serahkan saja tua bangka itu kepadaku."

Dengan suatu gerakan yang cepat sekali dia meloloskan pedang kayunya, kemudian melepaskan empat buah serangan berantai ke tubuh To hu Jin. Didalam keempat buah serangan itu, semuanya terselip inti sari dari ilmu pedang yang lihay, sedemikian cepatnya ancaman mana menyambar, memaksa To hu jin terdesak hebat dan harus mundur sejauh tujuh langkah.

Dengan suara keras To hu Jin berteriak: "Siapa kau? Cepat lepaskan tanda bahaya..." Begitu perintah membunyikan tanda bahaya diturunkan, dua orang itu meloncat cepat menuju kearah sebuah genta besar disisi tebing.

Tentu saja Liong Tian im tidak membiarkan musuhnya berbuat demikian, dengan suatu lompatan cepat dia menyusul ke depan dan menghadang jalan pergi kedua orang itu  dengan senjata patung Kim mo sin jin disilangkan didepan dada.

"Bila tahu diri, cepat lepaskan senjata kalian, kemudian berdiri disitu dengan tenang, jangan mencoba coba untuk bergerak semaunya sendiri."

Rupanya kedua orang jago lihay dari Jit gwat san ini merupakan jago jago yang sudah lama mendapatkan pendidikan setelah mengetahui kalau Liong Tian ini hanya seorang pemuda ingusan, timbullah sikap memandang rendah musuh didalam hati kecilnya, serentak mereka melooskan pedangnya dan menerjang kemuka.

Terdengar lelaki yang berada disebelah kiri itu membentak dengan penuh amarah.

"Bocah keparat, darimana kau berasal ? berani besar membuat gara gara di bukit Jit gwat san. . ."

Dengan tak tahu diri mereka menerjang ke depan, kemudian melepaskan bacokan ke tubuh Liong Tian im.

Sebaliknya Liong Tian im bermaksud untuk menyelesaikan pertempuran itu secepat mungkin, senjata patung Kim mo sin jin nya segera diputar kencang hingga memancarkan serentetan cahaya berkilauan berwarna emas, sementara kedua orang lelaki itu masih terkejut, patung Kim mo sin jin itu bagaikan seekor ular emas telah mengguIung ke atas  tubuh kedua orang itu, selain cepat ganas, dibalik kesemuanya itu terkandung pula suatu kekuatan yang luar biasa.

"Aduuuh . ." dua orang lelaki itu menjerit ngeri, batok kepala mereka segera retak dan terbelah menjadi dua, tapi salah seorang diantaranya tidak manda terbunuh begitu saja mendadak dia melemparkan pedangnya untuk menyambit tubuh Liong Tion im.

Dengat amat cekatan Liong Tian im berkelit ke samping, diiring desingan angin tajam pedang itu segera meluncur ke depan secara lurus dan menghantam diatas genta tersebut.

"Traaang . ."

Bunyi genta yang amat nyaring menggema memenuhi seluruh angkasa dan menggoncangkan semua lembah.

Liong Tian im tertegun, dia segera membalikkan tubuh dan menerkam pula kearah To hu Jin.

Dalam pada itu, To hu ji telah bermandikan keringat dingin oleh desakan jago pedang buta yang bertubi tubi, ia sudah menderita tujuh delapan buah luka diseluruh tubuhnya.

Tak terlukiskan rasa kagetnya setelah mengetahui Liong Tian im mengejar pula, kontan dengan sukma serasa melayang meninggalkan raganya dia membalikkan badan dan malai ke da^ar dingin.

"Kau ingin kabur ?" seru Liong Tian im sambil melepaskan sebuah pukulan ke depan. Waktu itu, Tohu Jin sedang melompat turun ke bawah, ketika merasakan datangnya pukulan yang amat dahsyat mengancam tubuhnya, dengan ketakutan dia mundur tiga langkah, kemudian sambil melepaskan beberapa pukulan, bentaknya dengan gusar:

"Kalian berdua ingin menghadapi aku seorang? Betul betul bedebah yang tak tahu malu.. ."

Menggunakan kesempatan itu, jago pedang buta Bok Ci melepaskan sebuah bacokan ke depan serunya:

"Saudara, silahkan turun !" "Plaaaaak !"
Hantaman pedang membuat To hu Jin sempoyongan dan muntahkan darah segar, sebuah garis panjang luka yang dalam membekas di atas punggungnya yang lebar.

Cepat cepat dia menjatuhkan diri menggelinding diatas tanah, lalu sambil melancarkan serangan balasan, teriaknya:

"Aku akan beradu jiwa dengan kalian !"

Sebetulnya Liong Tian im ingin maju sambil menambahi dengan sebuah pukulan lagi, mendadak dari arah belakang terdengar seseorang memb?ntak deigan suara dalam:

"Saudara To hu, kenapa kau?" Sesosok tubuh manusia bagaikan sekuntum bunga kapas melayang turun dari atas dinding tebing dan bergerak mendekat.

Dengan sorot mata berapi-api karena dendam Liong Tian im segera berseru:

"Pek li Kit, lagi lagi kau.." Pek li Kit tertegun, kemudian ujarnya: "Bocah keparat, kau berani menyerbu ke-dalam bukit Jit gwat san kami."

Tapi hatinya segera tercekat sesudah dilihatnya To hu Jm tergeletak tak berkutik ditanah, rasa gusar bercampur sedih muncul diatas wajahnya, sambil meraung gusar teriaknya:

"Kau berani membunuh Utusan dari Sancu?"

"Apa artinya membunuh seorang manusia semacam dia?" jengek Liong Tian im sinis.

"Hmm...", dari kejauhan tiba tiba berkumandang suara geraman dari seorang.

Paras muka jago pedang buta Bok Ci berubah hebat, dia segera melompat keatas langit-langit gua dan mendekati letak pat kwa besar diatas dinding tersebut, Pek li Kit segera melepaskan sebuah pukulan kedepan sambil membentak keras:

"Tampaknya kau kepingin mampus..." Jago pedang buta Bok Ci tertawa dingin. "Yang pingin mampus adalah kau sendiri." Dia melejit ke samping menghindarkan diri dari sergapan yang datang dari belakang, kemudian sambil berpaling serunya :

"Adik Liong, kuserahkan orang ini padamu."

"Bagus sekali! . . " jawab Liong Tian im sambil tertawa nyaring.

Sambil menghimpun tenaganya dia mengeluarkan sebuah jurus maut yang mengerikan sekali, senjata patung Kim mo sin jinnya diayunkan kemuka memaksa Pek li Kit harus mundur sejauh beberapa langkah.

Sambil tertawa dingin Pek li Kit segera mengayunkan telapak tangannya melepaskan sebuah pukulan, "Tahan!"

Mendadak dari tengah udara berkumandang suara bentakan yang menggeledek dan menggetarkan seluruh lembah tersebut.

Pek li Kit tak berani membangkang, dengan cepat dia menyelinap mundur kebelakang.

Jago pedang buta Bok Ci sedikitpun tidak ambil perduli, dengan suatu gerakan yang cepat sekali dia mematar Pat kwa besar itu delapan kali ke kiri.

"Kraaakkk. . kraaakk, . " diiringi bunyi getaran yang sangat nyaring batu besar dimuka gua tersebut segera bergeser pula ke sisi kiri.

Gua tersebut gelap gulita tak nampak setitik cahaya pun, bau busuk berhembus keluar dari balik gua tadi, sesudah tertegun beberapa saat, jago pedang buta Bok Ci segera berteriak keras:

"Ayah. . ."

"Ayahmu sudah mati. . " seseorang mendengus dingin dari belakang tubuhnya.

Dengan suatu gerakan cepat Bok Ci membalikkan  tubuhnya, dijumpainya Kwan Lok khi pasi Jit gwat san dengan pandangan tak berperassan sedang menatap ke arahnya.

"loitai si ia harinya tefte^iap, segulung hawa dingin dengan cepat menyusup kedalam tubuhnya.

"Siapa yang bilang begitu?" dia lantas menanya dengan suara agak gemetar.

"Gua mati hidup ku ini penuh dengan alat rahasia, siapa berani masuk maka tiadi harapan lagi baginya untuk keluar dalam keadaan hidup, sudah hampir sebulan lamanya ayahnu disekap disitu, masa dia masih hidup sampai kini. ."

"Bila ayahku mati, maka orang pertama yang akan kupenggal kepalanya adalah kau " seru Bok Ci dengan gusar.
Kwak Lok khi segera tertawa terbahak bahak. "Haaaahhhh, haaaaaahh, haaaaah Bok Ci, kalau makan
nasi boleh kau lakukan setiap saat, kaIau ingin berbicara lebih baik pikir dulu, sejak memasuki bukit Jit gwat san ini, sama artinya dengan sudah kehilangan separuh nyawamu, yang tersisa sekarang tak lebih hanya separuh nyawa lagi, itu pun tergatung aku sedang gembira atau tidak untuk melepaskan dirimu " "Bagus sekali." seru Bok Ci sambil tertawa dingin,"kita buktikan saja nanti siapa yang menginginkan nyawa siapa . .. "

"Buat apa kau mesti gelisah ?" jengek Kwan Lok khi lagi dingin, "setelah berada di bukit Jit gwat san, tentu saja aku tak akan membiarkan kau pulang dengan tangan hampa . . ."

Mencorong sinar tajam dari balik matang kemudian bertanya lagi.

"Dari mana kau bisa tahu kalau kunci rahasia untuk membuka gua mati hidup ini terletak pada pada Pat kwa besar disisi gelang gua ? Aku tidak percaya kalau kau sendiri  sanggup untuk menemukan kunci rahasia tersebut . . ."

Sebagai orang yang banyak curiga sejak megetahui gua rahasianya berada dalam keadaan terbuka, dia sudah tahu kalau ada orang telah membocorkan rahasia Jit gwat san nya, oleh karena itu dia tidak terburu buru untuk menghukum Liong Tian im dan Bok Ci melainkan menyelidiki lebih dulu siapa yang telah membocorkan rahasia tersebut.

"Tentu saja ada orang yang telah memberitahukan rahasia itu kepadaku. . ." jawab Bok Ci dingin.

Kwan Lok khi berpaling dan memandang sekejap ke arah kawanan jagoan yaag berdiri dibelakangnya, sorot matanya beralih dari wajah kewajah, kemudian sambil mendengus dingin tanyanya:

"Siapa ?"

Bok Ci sengaja merenung sebentar, kemudian baru menyahut: "Putramu sendiri !" "Putraku sendiri !" Kwan Lok khi kelihatan makin tercengang dan keheranan, kemudian dengan hawa pembunuhan menyelimuti seluruh wajahnya, dia berkata kepada Pek li Kit:

"Bawa kemari Sau sancu!"

Dengan cepat Pek li Kit mengiakan dan mengundurkan diri dari tempat itu.

Tak selang berapa saat kemudian, dia telah muncul kembali bersama Kwan Hong.

Dengan wajah bingung dan nada gemetar, Kwan Hong segera berseru lirih:

"Ayah..."

"Mulai sekarang kau tak usah memanggilku lagi, akupan tak akan mengakui dirimu sebagai anakku, aku tak sudi mempunyai seorang anak yang begitu tak becus seperti kau..."
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Cincin Maut Jilid 22"

Post a Comment

close