Cincin Maut Jilid 10

Mode Malam
Jilid 10
TATKALA dia menyaksikan sorot mata Leng Ning-ciu yang penuh dengan perasaan benci itu, hatinya menjadi lembek, setelah menghela napas panjang ujarnya !

"Aku tak ingin menyulitkan dirimu, aku hanya berharap kau sudi menyerahkan obat penawar kepadaku."

"Kalau kau memaksaku disertai dengan ancaman, sampai matipun aku tak akan menyerahkan obat penawar itu kepadamu." jerit Leng Ning ciu. Liong Tian im tertawa getir, baru saja dia hendak menerangkan alasannya mengapa dia sampai berbuat demikian, mendadak senyumnya membeku, sepasang tangannya digetarkan dan dia segera melayang sejauh enam depa dari tempat semula.

Rupanya dari dalam lengan Leng Ning ciu telah menerobos keluar dua ekor ular kecil, kedua ular tersebut meluncur keluar bagaikan dua batang anak parah dan langsung memagut ke arah urat nadi pada pergelangan tangannya, Karena cekalannya dilepaskan oleh Lian Tian Im secara tiba tiba, Leng Nina-ciu menjadi kehilangan keseimbangan badannya, hampir saja dia tak sanggup berdiri tegak, setelah mundur beberapa langkah untung saja ia tak sampai terjatuh ke tanah.

Tapi setelah melihat keadaan Liong Tian Im yang mengenakan, sambil bertepuk tangan dari tertawa soraknya:

"Tay gin, Siau gin. cepat gigit dia sampai mati! "

Liong Tian Im merendahkan tubuhnya ke bawah sambil mendengus. sepasang telapak tangannya segera berputar membentuk setengah lingkaran busur, kemudian dengan membawa deruan angin tajam langsung membabat kebawah.

Ke dua ekor ular perak itu berteriak keras, bukan mundur tiba tiba mereka malah maju ke depan kemudian bersama sama memagut puog gung tangan Liong Tian Im.

Dengan kegirangan Leng Ning ciu berteriak:

"Kali ini kau bisa mengancam orang lagi dengan kekerasan bila sampai terpagut oleh Toa-gin dan Siao gin, niscaya nyawamu akan melayang . . ." Paras muka Liong Tian im dingin bagaikan salju. dia berseru dengan suara dalam:

"Belum pernah kujumpai perempuan yang berbau kejam seperti kau, akupun tak pernah menyangka kalau perempuan secantik kau ternyata mempunyai hati yang jelek dan sebusuk kau."

Begitu ucapan tersebut habis diucapkan, sepasang telapak tangannya segera ditepuk menjadi satu.

"Plaaak !" ketika punggung tangan saling bertemu dengan punggung tangan, kedua ekor ular kecil berwarna perak itu tahu tahu sudah tergencet sehingga kepalanya hancur berantankan.

"Nab, sekarang kukembalikan kepadamu !" bentak Liong Tian im,

Sepasaag pergelangan tangannya dilontarkan kedepan, kedua ekor bangkai ular ini segera meluncur kedepan dengan kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya.

Leng Ning ciu tidak menduga kalau Liong Tian Im sama sekali tidak ambil perduli terhadap pagutan beracun dari ular kecilnya, ketika dia menyaksikan kedua ekor ular itu terhajar sampai hancur, saking kagetnya dia sampai tak mampu untuk bernapas lagi.

Tubuh Liong Tian-im menerjang ke muka berbareng dengan meluncurnya kedua bangkai ujar itu ke depan, belum lagi Leng Ning ciu berhasil menghindarkan diri dari lemparan
bangkai ular tersebut, tahu tahu ikat pinggangnya sudah kena dicengkeram. Leng Ning ciu segera menjerit lengking, telapak tangannya segera diayunkan menghantam batok kepala lawan.

Liong Tian ini mendengus dingin, ibu jari tangan kanannya segera menekan ke bawah mencengkeram jaIan darah Tay meh hiatnya.

Seketika itu juga Leng Ning ciu merasakan seluruh tubuhnya menjadi menjadi kaku, tangannya yang menabok kebawah pun hanya menyerempet pipi pemuda itu lalu terkulai lemah.

"Sekarang aku tak akan bersnngkan-sungkan lagi dengan dirimu, tampaknya terbadap manu sia yang tak tabu aturan seperti kau, akupun tak usah banyak adat lagi."

"Mau apa kau ?" seru Leng Ning ciu dengan mata terbelalak lebar.

"Jika kau enggan menyerahkan obat penawar itu kepadaku, terpasa aku harus turun tangan sendiri untuk mengambilnya."

" Apa ?" Leng Ning Ciu menjerit kaget, "kau," kau hendak .
.. "

Liong Tian-im tidak sungkan-sungkan lagi dia segera menguarkan tangannya dan merogoh kedalam sakunya untuk mengambil obat penawar racun itu.

Leng Ning ciu merasakan seluruh badannya menjadi amat lemas dan sukar untuk bergerak ketika dia menyaksikan Liong Tian im dengan begitu berani merogoh kedalam sakunya, marah padam selembar wajahnya karena jengah dia segera berteriak keras: "Kau . . . . kau manusia liar, kau tak boleh berbuat demikian . . . aduh !"

Rupanya tangan Liong Tian im yang sedang merogoh kedalam sakunya untuk mencari obat penawar itu tanpa sengaja telah menyentuh puting susu pada payudaranya, kontan saja sekujur tubuh gadis itu gemetar keras dan air matanya jatuh bercucuran.

"Kau berani mempermainkan aku, tunggu sampai ayahku datang, aku akan menyuruhnya membunuhmu." dia berpekik sambil menangis tersedu sedu.

Liong Tian im merasakan perasaannya tak karuan, agak tergagap dia berseru :

"Maaf, aku sama sekali tidak bermaksud sengaja."

"Kau . . . kau . . . aku amat membencimu !" seru Leng Ning ciu sambil menggigit bibir, "aku hendak membunuhmu dengan tanganku sendiri, hendak kudahar dagingmu dan menguliti tubuhmu." katanya karena gemasnya.

Liong Tian im menghembuskan napas dingin, perasaan menyesal yang semula menyelimuti hatinya kontan menjadi tawar kembali sesudah mendengus dingin katanya:

"Aku tak akan banyak berbicara lagi denganmu, aku hendak pergi !"

"Kalau kau punya nyali jangan pergi, tunggu sampai ayahku datang." "Aku pasti akan merasakan kelihayan dari Leng Hongya tapi bukan sekarang" sahut Liong Tian im dingin,"kini aku tak sempat lagi tunggu saja tanggal mainnya"

Mendengar perkataan itu, Leng Ning ciu segera berpikir: "Apa yang terjadi pada malam ini? mengapa ayah belum juga datang? sedang paman berdua pun belum juga kunjung tiba kemari . aaai.tampaknya aku harus merasakan siksaan dan hinaan dan binatang ini!"

Liong Tian Im segera menepuk belakang pinggang Leng Ning ciu sehingga jalan darahnya tertotok, kemudian katanya dingin:

"Bila ayahmu datang, katakan kalau putra Poh-mia giam lo Liong Siau thian telah berkunjung kemari dua hari kemudian aku bersama si jago pedang buta Bok Ci pasti akan datang lagi kemari."

Air mata telah jatuh bercuran membasahi seluruh wajah Leng Ning ciu, serunya dengan suara gemetar:

"Liong Tian im kau. . . kau manusia berhati srigala, kau . babi busuk, kau pandainya cuma mempermainkan kaum wanita apa terhitung enghiong macan apakah dirimu itu?"

Dengan pandangan yang dingin Liong Tian im memandang sekejap wajahnya kemudian sikap yang ketus dia berseru:

"Hati paling keji didunia ini adalah hati perempuan bahkan Bok toako saja kau celakai kenapa aku harus bersikap sungkan kepadamu.?" Mendadak di tengah udira berkumandang suara ledakan keras yang memotong pembicaraan Liong Tian im, dengan cepat dia berpaling tampaknya sekilas cahaya api berwarna kuning dengan membawa suara suitan aneh meluncur ketengah udara dan memancar ke empat penjuru.

"Haahh?" Liong Tian im segera berseru keheranan setelah memasang telinga sebentar

Dia mendengar suara manusia yang hiruk pikuk berkumandang dari arah sebelah kiri, malah suaranya bercampur aduk dengan suara benturan senjata, kacau sekali suasananya, "Apa yang telah kau dengar" Leng Ning ciu bertanya dengan wajah tersenyum.

"Hmm, ada orang telah menyerbu kedalam lembah Tee ong kok apakah tidak kau lihat disana telah terjadi kebakaran?"

Dengan wajah berubah hebat Leng Ning ciu segera berseru:

"Apakah kau yang membawa mereka masuk kemari? "

Belum sempat Liong Tian im menjawab, dia sudah membungkukkan punggungnya, mengayunkan lengan dan menyentil jari tangannya.

selapis kabut tipis segera memancar keempat penjuru, lalu muncullah titik cahaya tajam memercik kemana mana, segumpal jarum kecil yang lembut seperti bulu kerbau telah menyambar kedepan.

Liong Tian im membentak keras tangan kanannya segera dikebaskan kemuka untuk melindungi wajah, sementara jubahnya mendadak melembung besar seperti balon.

"Criiit cri!lt, criit. . !" diatas jubahnya tahu tahu sudah menancap penuh dengan jarum kecil yang berkilauan kemudian menyusul tangannya menyambar kedepan, dia telah mencengkeram empat batang senjata rahasia beracun yang meluncur datang dari punggung lawan.

Liong Tian im menarik napas dalam dalam, ketika dia berpaling ke samping, tampaklah rumput hijau yang berada disekitar tempat itu telah berubah menjadi kuning kehitam hitaman akibat terkena racun itu, bentuknya seperti hangus akibat kebakaran.

Kemudian dengaa sorot mata yang tajam dia mengalihkan kembali sorot matanya menatap wajah Leng Ning ciu lekatlekat.

Secara lamat lamat Leng Nng ciu menyaksikan selapis cahaya emas memancar ke luar dari wajah Liong Tian im, sorot matanya seperti dua batang pedang yang menusuk hatinya, membuat dia merasa sakit hati.

"Kau. . . mengapa kau tidak takut racun?" serunya terperanjat.

"Racun yang berada dikolong langit mungkin tiada yang sanggup untuk melukai diriku?"

Mendadak suara tertawa yang parau dan toa segera menukas pembicaraan tersebut, mendadak Liong Tian im mendongakkan kepalanya, nampak seorang kakek berjubah merah bertopi lebar dan bertubuh nampak seram berdiri dibalik hutan sana.
Dengan suara dingin liong Tian im segera berkata: "Kau sudah setengah jam lamanya datang kemari,
mengapa hingga sekarang baru munculkan diri? Eim masih ada dua orang yang lain mengapa tidak sekalian munculkan diri?"

Ketika Leng Ning ciu melihat kemuncuIan orang itu, dia segera berteriak keras:

"Susiok, cepat datang menolongku!"

Kakek berjubah merah itu tertawa dingin: "Heeh, besar  amat ryalimu, ternyata berani menyandera puteri dr ri Lembah Tee ong kck dan murid Lei san popo, begitu masih   mendingan, sekarang berani jjga berbicara sesumbar dengan mengatakan tidak takut dengan racun yang ada didalam dunia luas ini. Hmm..! Si raja akhirat perenggut nyawa Liong Siau thian pun pun belum tentu berani berbicara sesuai b:?r b ia bertemu dengan lohu dua puluh tahun berselang, sungguh tak nyana kau sibocah ka. . ."

"Sudah habis belum ocehanmu itu?" tukas Liong Tian dingin, "hmm sahabat yang berada dibalik hutan, mengapa tidak segera munculkan diri? Apakah perlu diundang keluar"

Dari dalam hutan segera berkumandang suara nyaring yang memekikan telinga, kemudian tampak dua sosok bayangan manusia bagaikan dua ekor burung raksasa melayang turun dihadapan Liong Tian im.

Orang yang berada disebelab kanan itu adalah seorang kakek kurus kering yang tingginya tujuh depa dan kurus kering seperti bambu, bajunya berwarna hitam dan membawa payung, potongannya seperti setan gantung dalam dongeng.

Sebaliknya yang lain adalah seorang berperawakan pendek dan gemuk, tubuh bagian bawahnya penuh dengan daging. 

Dia mengenakan pakaian berwarna kuning berwajah penuh daging sehingga mata dan hidungnya menjadi satu, sekilas pandangan dia mirip sekali dengan bulatan daging yang berwarna kuning.

Liong Tian im segera tertawa sinis, ujarnya.

"Aku masih mengira manusia dari mana, rupanya kau si makhluk aneh yang tak mirip manusia."

"Anjing cilik !" si kurus seperti setan jantung itu berseru dingin, "jika kau pingin mampus, memang paling tepat jika datang mencari ku si Hsar bu siang (setan gantung hidup), hayo majulah !"

"Jadi kalianlah manusia-manusia yang membuat keonaran didalam lembah Tee ong kok?" seru Liong Tian im dengan sorot mata berkilat.

Manusia aneh berbentuk bulatan bola daging itu tertawa seram.

"Bocah keparat, kematianmu sudah tak jauh lagi, terus terang kukatakan kepadamu malam ini Ih lwe sip ok (sepuluh manusia bengis dari kolong langit) dibawah pimpinan kami Ban shia pay telah menyerbu kemari. . ."

Tergerak hati Liong Tian-im setelah mendengar perkataan itu, segera tegurnya:

"Apakah kalian datang karena soal Genta emas pelenyap irama ?" Ketiga orang itu nampak agak tertegun lalu saling berpandangan sekejap, setelah itu bentaknya keras-keras:

"Bocah keparat, darimana kau bisa tahu ?"

Padahal Liong Tian im belum pernah mendengar nama Ih  lwe sin ok serta Ban shia ci cun, tapi dia tahu Ban shia ci cun bisa menyebut dirinya sebagai benggolan dari kaum sesat, apalagi berani menyerbu ke dalam lembah Tee ong kok, sudah dapat dipastikan dia mempunyai kemampuan yang amat lihay.

Diam diam segera pikirnya:

"Walaupun aku tidak tahu dimanakah genta emas pelenyap irama berada, tapi kalau di tinjau dari kedatangan Ban shia ci cun dengan maksud untuk menanyakan masalah genta emas pelenyap irama dari mulut Leng Hongya, hal ini membuktikan kalau Leng Hong ya mengetahui letak dari genta emas tersebut, bila sekarang kuburkan ke sepuluh manusia bengis ini memporak porandakan lembah Tee ong kok, maka hal ini pasti akan mendatangkan kesulitan bagiku ctOi-m Uihhe nfTcTutr'n genta emas tersebut di kemudian hari"

Begitu ingatan tersebut menyeIinap lewat di dalam benaknya, dengan cepat si anak muda itu mengambil keputusan.

Leng Ning ciu membelalakkan sepasang matanya lebarlebar, kemudian berseru:

"Susiok, sebenarnya kalian hendak memberi kesulitan buat ayahku ataukah datang untuk membantu kami ?"

Kakek berjubah merah itu segera tertawa licik. "Hmm, susiok pasti membantumu untuk membunuh keparat tersebut." sahutnya.

Liong Tian Im menggelengkan kepalanya berulang kali, sambil menghela napas pikirnya:

"Ada kalanya dia seperti mengerti urusan, tapi ada kalanya justru seperti anak kecil yang tak tahu apa apa, aai ! Buat apa kucampuri urusannya ? Lebih baik segera ku bunuh ke tiga orang keparat ini lalu pergi mencari Bok toako, setelah itu bersamanya datang lagi kemari, waktu itu perduli dia adalah Ban shia ci cun atau bukan, aku tak usah merasa kuatir" Setelah berpikir demikian, sambil tertawa katanya:

"Kalian tiga orang tua bangka, dengarkan baik baik, aku Liong Tian im berasal dari Hoo-Iok, setibanya di Raja akhirat nanti jangan salah mencatatkan namamu !"

"Bocah keparat. kaupun harus ingat baik-baik" kata kakek berbaju merah itu dengan suara dalam. "Lohu adalah Jan iok kek (manusia pemakan racun) Ki Shia, sedang dia adalah Hoat bu siang (setan gantung hidup) Lau Tim dan Seng thian cui (palu pemberat langit) Huan Yu yu . . ."

"Ooooh . . . benar-benar nama yang indah" jengek Liong Tian im sambil tertawa dingin "si palu pemberat langit Huan Yu yu, mungkin suniomu yang memberikan nama tersebut untukmu ?"

Si Palu pemberat langit Huan Yu yu berteriak marah, sepasang tangannya segera dihentakkan keras keras, seguIung angin pukulan yang bersidan dafcpyai dengan cepat cnen." guh""pp Ve c-f p?n. rrei yufo 1 fcenirdia^ tubuhnya

menggelinding ke depan mei!et j^ng s-. anak muda itu. "Hmm, persis seperti bola c5-v in^ yang berguling ditanah, tak berbeda sedikitpun dengan babi guling yang sedang bermain dipecomberan. . . "

Sambil tertawa dingin Liong Tian im menjejakkan kakinya ke tanah dan melompat keudara, lalu tubuhnya berputar sambil melancarkan tendangan, segulung angin tajam yang maha dahsyat dengan cepat menerobos masuk ke dalam dan menghajar di atas pinggang Huan Yu yu.

"Aduuh . ."

Sambii menjerit keras Huan Yu-yu mencelat sejauh tujuh depa setelah berjumpalitan diudara, dia segera meluncur kebawah dan berdiri tegak dibumi.

Dengan membelalakkan matanya yang sipit seperti mata tikus lebar-Iebar, dia memandang Liong Tian im dengan termangu, tak terlukiskan rasa kaget dan tercengang yang mencekam perasaannya.

StJf1 np"-:an si ja-o pemakan racun Ki Shis segera tertawa dingin.

"Bocah keparat, tak nyana kau punya kepandaian juga, l.")iu ak:ui turuti kau merasakan kc1ii":.yjii d. !i li.r,u beracun perguruan beracun kami . . ."

"Kalau begitu, lebih baik kuambilkan dulu jarum jarum beracun ini kepadaku !"

Begitu selesai berkata, bajunya segera di getarkan keras keras, jarum jarum lembut yang menancap disitu segera memancar kembali ke tubuh lawan. Ki Shia tertawa seram, sepasang telapak tangannya diayunkan ke muka melancarkan dua buah pukulan dahsyat dan menghajar rontok semua jarum kecil yang meluncur tiba itu.

Kemudian sambil mengayunkan tangan kanannya, dia mengeluarkan dua buah botol putih diri sakunya, lalu berkata:

"Didalam kedua buah botol ini terdapat racun yang sama, racun ini dibuat dari dua puluh enam macam racun tumbuh tumbuhan dan lima macam racun binatang, selain itu juga dicampur dengan air racun yang dihasilkan dari gua Yuleng tong, karena kudengar kau tak takut dengan pelbagai macam racun, maka ingin sekali kutantang dirimu untuk bersamasama menikmati "sajian racun bunga merah itu"

Sesudah berhenti sejenak, dengan suara yang menyeramkan dia melanjutkan:

"Racun bunga merah ini begitu menyentuh darah segera akan menyumbat pernapasan, menyentuh benda akan hancur, tapi kenikmatannya justru melebihi arak Mao tay dari Kui Ciu, beranikah kau bertaruh denganku ?"
Liong Tiam-im berpikir sejenak, kemudian sahutnya: "Seandainya aku tidak sampai mati oleh cairan racun
tersebut, apa pula yang hendak kau lakukan ?"

"Lohu akan segera bertepuk pantat sambil angkat kaki!" Tiba tiba Leng Ning ciu berteriak keras: "Kau jangan beradu racun dengan susiokku, jangan kau telan cairan racun bunga merah itu, Kau akan segera mati . .
."

Seklias sinar buas memancar keluar dari bal ik mata Ki Shia, katanya capat sambil tertawa:

"Hiantitli, kau tak usah kuatir susiok hanya akan mengajaknya bermain main saja, dia tak akan mati !"

"Terima kasih atas perhatian nona," kata Liong Tian-im
pula sambil mencibir bibir, "aku memang seharusnya mati, bila sampai mati oleh racun bunga merah, bukankah nona akan merasa gembira""

"Tidak" Leng Ning-ciu menggelengkan kepalanya berulang kali, "aku hendak membunuhmu dengan tanganku sendiri, kau tak boleh beradu kepandaian memakan racun dengan susiok, aku lihat ilmu silatmu terlalu iihay, oleh karena itu . ."

Ki Sia segera tertawa tergelak.
"Bocah cilik, buat apa kau mencampuri urusanku. . . ?" Kemudian sambil menyodorkan botol itu ke hadapan Liong
Tian-im, katanya lagi:

"Saudara Liong, kau hendak milih yang mana?" Diam diam Liong Tian-im berpikir:
"Suhu pernah bilang bahwa ilmu silat perguruannya tidak takut dengan segala macam racun, tebang ilmu Jian hun Hiat ci yang ku latih pun merupakan himpunan sari racun dari kabut beracun yang ada dalam lembah kematian cuma entah aku sanggup untuk menelan cairan racun bunga merah yang terdiri dari himpunan pelbagai racun ini atau tidak?"

Ki Shia ia adalah seorang manusia licik, dari sikap Liong  Tian im, dia segera mengetahui kalau sianak muda itu sedang ragu maka sambil tertawa seram katanya:

"Jika kau tak berani menelan racun bunga merah ini, silahkan mundur saja dari lembah Tee ong kok ini. . ."

Liong Tian Im segera mendengus dingin.

"Hmm kau tak usah menyuruh aku minum racun tersebut dengan cara memanasi hatiku, percuma, aku tidak doyan dengan cara seperti itu!"

Kemudian sambil menerima angsuran botol porselen itu katanya:

"Baik, akan kubuktikan kepadamu"

Ki Shia membuka penutup botol itu, kemudian menuangkan isinya kedalam mulut.

Liong Tian im tak mau kalah, dia menghimpun tenaga dalamnya kedalam pusar, kemudian menuang racun itu kedalam mulutnya pula.

Bau harum semerbak masih tersisa dimulut bahkan terasa pula sedikit memabukkan. sambil menghembuskan napas panjang, dengan cepat dia salurkan racun bunga merah itu ke-dalam jalan darah Leng tay hiatnya. . .

Sambil menjilati sisi bibirnya, Ki Shia segera berkata sambil tertawa: "Bagaimana dengan rasanya ? Sedap bukan?"

"Hanya sayang bocah keparat ini sudah tak bisa hidup selama setengah jam lagi." sambung si Setan gantung hidup Lau Tim dengan suara yang agak dalam.

Liong Tian im berkata dingin:

"Sekarang aku telah minum racun ang hoa-kalian, nah sekarang kalian pun boleh pergi!"

Sementara itu paras muka Leng Ning ciu telah berubah menjadi hijau membesi, segera teriaknya:

"Kau . . . Cepat kau lari ke lembah belakang sana, lewati
dua bukit dan pergilah ke lembah Yok ong kok, di saa terdapat mutiara penolak racun, kau bilang saja kalau Leng Ning ciu yang menyuruhmu kesana, niscaya dia akan meminjamkan mutiara penolak racun itu kepadamu."

Liong Tian im tidak mengetahui apa sebabnya Leng Ning
Cu bisa menaruh perasaan kuatir terhadapnya, dengan kening berkerut serunya:

"Terima kasih banyak atas perhatian nona, aku tak bikal mampus karena racun itu"

Ketika sinar matanya membentur dengan sorot matanya yang penuh perasaan kuatir, mendadak hatinya bergetar keras, ia jadi teringat pula dengat sorot mata Hong Tin tin tempo hari.

Setelah termenung sebentar, dia berpikir lebih jauh: "Kalau toh dia begitu menaruh perhatian kepadamu, mengapa pula bersikap demikian kepadaku? Apakah aku tak bisa membedakan antara cinta dan benci ?"

Semetara dia masih termenung, si Manusia pemakan racun Ki Shia telah tertawa terbahak bahak sambil berkata:

"Haaahhh... haahhh.. kau anggap masih bisa pergi meninggalkan lembah Tee ong kok ini dalam keadaan selamat? Bocah keparat, kendatipun kau bisa menahan sari racun itu dengan tenaga dalammu, jangan harap kau bisu hidup melewati setengah jam lagi!"

Selapis hawa dingin yang menggidikkan hati dengan cepat menyelimuti seluruh wajah Liong Tian im dia segera berkata:

"Ki Shia, kau hendak mengingkari janji bukan?"

Ki Shia tertawa seram, sepasang tangannya segera digetarkan keras keras sambil serunya:

"Akan kusuruh kau rasakan lihaynya Yu hun lui (gurdi perenggut nyawa) dari perguruan beracun

Ditengah jeritan kaget dari Leng Ning cu tampak dua titik cahaya ke emas emasan meluncur kedepan disertai dengan suara desingan angin tajam.

Suara gelak tertawa yang amat nyaring segera berkumandang dari mulut Liong Tian im, dia melejit ke udara lalu menyingkir. Si Setan gantung hidup Liu tim segera menggerakkan payung bajanya dengan jurus Bu siang sian bong atau setan gantung menampakkan diri dan menyapu dengan gerakan melintang.

Di tengah hembusan angin dingin yang menderu deru terselip suata jeritan setan yang menggidikkan hati.

Si Palu pemberat langit Hian Yu yu tidak tinggal diam, dia berguling dari samping kiri sambil menyerbu kearena, sepasang palu raksasa bersudut delapannya disodok keluar, dengan membentuk posisi segitiga, bersama Ki Shia dan Liu Tim bersama sama mencegat tubuh Liong Tian im.

Dengan cepat Liong Tian im mengembangkan telapak tangan dan kakinya sambil melancarkan enam buah pukulan dan seputuh buah tendangan untuk menghadapi kerubutan tiga orang jago itu.

Ketiga sosok bayangan manusia itu segera memencarkan diri tapi dengan cepatnya mengumpul pula.

Liong Tian-im membentak gusar, sambil melejit empat kaki ke tengah udara, ia mengeluarkan buntalannya sambil berseru:

"Tampaknya hari ini aku harus melakukan pembunuhan secara besar besaran.."

Cahaya emas berkelebat lewat, nc!e'sn rer i:uiar lalu meluncur ke bawah, tahu tahu senjata patung Kim-no sin jin dengan disertai kekuatan dahsyat telah membabat tiba bagaikan tJt'rm air hujan. Begitu cahaya iblis menampakkan diri, ke tua Daran j,urdi perenggut nyawa itu segera terhajar sampai remuk.

"Aaah, patung sakti Kim-mo sin jin !" dengan perasaan terkesiap si setan gantung hidup Liau Tim menjerit keras.

Payung bajanya buru buru dikembangkan, tapi ketika terhajar oleh patung iblis Kim mo sin jin tersebut, kontan saja payung itu melengkung dan hampir saja patah menjadi dua bagian.

Paras muka Liu Tim berubah hijau membesi, buru-buru dia menekan tombol rahasia yang diatas payung iiu, dan tubuhnya pun lalu mencelat terpental sejauh delapan depa dari tempat semula sementara tulang tulang payungnya seperti anak  panah bertebaran kedepan.

Mimpipun Liong Tian im tidak menyangka kalau sementara Lau Tim melarikan diri itu masih sempat untuk melukai orang, sambil membentak gusar, patung Kim mo sin jin nya di sapu kedepan.

Selapis cahaya emas dengan cepat menyapu habis tulang tulang payung yang mengancam tiba.

"Mau kemana kau?" bentaknya dingin.

Desisan aneh mendesis diangkasa, tahu tahu cincin maut Kim mo ci huan telah melesat kedepan dan menghajar tenggorokan Lau Tim.

"TinggaIkan juga selembar nyawamu" sipalu pemberat langit Huan Yu yu turut membentak. Ketika Liong Tian in merasakan datangnya desingan angin tajam dari arah belakang, dia segera melirik kesamping, dilihatnya Ki Shia sedang melejit kesamping sedangkan Huan Yu yu sambil mengangkat sepasang palunya sedang menubruk tiba.

Dia mendengus dingin, ujung kakinya cepat menjejak keras badannya berputar kencang, patung emas Kim mo sin jin dengan jurus Mo ci iim seng (tertawa iblis munculnya dihati) se ^e'B tiieny tf u keIuar

"Criing, criing . . !" dua kali dentingan nyaring menggema  di angkasa, sepasang palu raksasa bersegi delapan itu segera terhajar remuk dan berserakan dimana mana.

Liong Tian im segera menyodokkan patung sakti Kin mo sin jin nya ke depan dengan sepasang tangannya dirangkap menjadi satu, bagaikan sebilah pedang saja langsung menembusi dada Huan Yu yu.

Suatu jeritan ngeri yang menyayatkan hati segera berkumandang memecahkan keheningan.

Percikan darah segar mancur keempat penjuru, sementara mayat itu terbawa oleh senjata patung Kim mo sin jin dan terkapar sejauh lima kaki dari tempat semula.

Belum habis jeritan ngeri itu menggema di angkasa Liong Tian im telah membentak lagi:

"Mau kabur ke mana kau ?"

Jari tangannya segera menyodok ke depan menghajar tubuh Ki Shia yang sedang mendekati Leng Ning Ciu. Di bawah sinar rembulan tampaklah selapis cahaya merah memancar keluar dari ujung jari tangannya, cahaya merah itu membara bagaikan api yang sedang berkobar.

Mendengar jeritan yang memekikkan telinga itu dengan wajah tercengang Ki Shia berpaling tapi begitu melihat ilmu jari berdarah jian hun hiat ci dari Liong Tian im yang mengerikan itu, paras mukanya segera berubah hebat.

Serta merta dia menjatuhkan diri menggelinding kesamping, tapi lantaran kelewat kaget dan gugup, dia kesandung batu dan jatuh tertelungkup.

Dengan perasaan terperanjat, Leng Ning ciu telah  belalakkan pula matanya lebar Iebar, melihat keganasan Liong Tian im dalam melancarkan serangan yang mengerikan itu, saking ngerinya hampir saja ia dibuat tertegun.

Tatkala Ki Shia menggelinding ke sisi tubuhnya gadis itu baru menjerit kaget dan tersadar kembali dari lamunannya, dia mengucak matanya berulang kali.

Cahaya merah yang memancar keluar dari ujung jari Liong Tian im ini tahu-tahu sudah berada enam depa dari sasaran.

Dengan perasaan terperanjat, gadis itu segera menjerit lengking:

"Kau, . Liong Tian Jm, ampunilah susiokku:"

Liong Tian im dengan tangan kiri meng genggam patung st.k!i Kim mo-sin-jin, tangan kanan menyiapkan totokan maut, ia mengawasi wajah Ki Shia dengan sorot mata mengerikan. Seandainya sorot mata itu bisa membunuh orang, maka sedari tadi ia sudah roboh terkapar.

Akan tetapi Ki Shia masih tak berani menatap pandang  sorot mata Liong Ttan im yang mengerikan, dia tahu akan kelihaian ilmujarj Jian hun hiat ci tersebut, dia pun tahu asal Liong Tian im menyodokkan ujung jarinya ke depan, maka sudah pasti dia tak akan berkekuatan lagi untuk membendung serangan tersebut.

Ketika Jizn-hun kim-mo munculkan diri di dalam dunia persilatan dulu, dengan ilmu jari Jian-hun hiat ci nya dia pernah membinasakan dua puluhan orang jago lihay golongan hitam biku Tay ku san.

Waktu itu ketua perguruan Tok oua bagian utara maupun selatan kebetulan sedang berkumpul di Im lam, diujung jari ilmu Jian-hun hiat ci inilah akhirnya kedua orang ketua perguruan itu kena diluka.

Dengan pelbagai obat penawar mereka telah mencoba untuk mengobati luka tersebut. tapi usaha mereka tak pernah berhasil sehingga akhirnya mereka harus menderita cacad dulu sebelum mati.

Peristiwa lama yang menggidikkan hati ini cukup menggetarkan sukma setiap anggota perguruan Tok bun dan orang orang Tok bun pun menganggap peristiwa itu sebagai aib yang paling besar.

Hingga detik ini pnn mereka masih belum berhasil menemukan sesuatu carapun untuk menanggulangi akibat keracunan ilmu jari Jian hun hiat ci tersebut. Maka dari itu semua anggota Tok bun tak berani sembarangan bergerak mereka kuatir kena dicelakai lagi oleh ilmu tersebut.

Setelah akhirnya merasa mendengar kabar tentang terbunuhnya Jian-bun-kim mo di tangan Hud bun sam seng yang bekerja sama dengan jago jago lima perguruan besar, orang orang dari anggota Tok buo baru berani muncul kembali di dalam dunia persilatan.

Karenanya, sewaktu Ki Shia belum menyaksikan Liong Tian im menggunakan senjata patung Kim mo sin jin nya tadi, ia cuma menganggap pemuda itu sebagai jagoan muda saja.

Menanti anak muda itu berhasil membunuh Hoat bu siang dan si Palu pemberat langit dengan senjatanya dia baru menyadari akan kedahsyatan dan keseraman pemuda itu.

Selama ini Kim mo bun hanya mewariskankan ilmunya kepada satu orang saja, maka perguruan iblis emas jarang muncul dalam dunia persilatan itulah sebabnya ilmu silat mereka selalu dianggap amat misterius.

Sebaliknya kepandaian dari Tok bun mengutamakan soal penggunaan racun, tapi nyatanya racun yang piling dahsyat dari perguruannya tidak menghasilkan reaksi apa apa bagi ahli waris dari iblis emas tersebut, kenyataan demi kenyataan yang dihadapi Ki Shia akhirnya membuatnya ngeri.

oo O oo

Diam diam ia lantas berpikir : "Seandainya aku tahu kalau  dia adalah ahli waris dari perguruan Kim mo bun, aku pasti tak akan begini tak tahu diri dengan menantangnya untuk bertarung kali ini bisa berabe aku, mereka yang berada di depan lembah telah berjumpa dengan Leng Hongya, entah bagaimanakah hasil pertarungan itu ? Tapi yang pasti mereka tak akan sampai kemari."

Sementara dia masih termenung, Liong Tian im telah berkata dengan suara dalam:

"Ki Shia ! Selama hidup kau selalu menggunakan racun, malam ini aku akan menyuruh kau merasakan kelihayan dari racun ilmu jari Jian hun hiat ci ku ini."

Selama hidup belum pernah Leng Ning-ciu menjumpai seseorang dengan wajah sebuas ini, agaknya dia pun sedikit tidak percaya kalau Liong Tian im yang berada dihadapannya sekarang adalah si tosu kecil yang pernah dijumpainya setengah bulan berselang dibawah bukit Lau san.

Dengan mata kepala sendiri dia pernah melihat kekejian dari Liong Tian im, oleh karena itu dia pun tahu seandainya pemudanya itu sudah berniat membunuh susioknya, tak mungkin Ki Shia bisa lolos dalam keadaan hidup.

Walaupun gadis iiu merasakan separuh bagian tubuh bagian bawahnya tak mampu berkutik, tapi tubuh bagian atasnya dapat bergerak bebas, entah dari mana datangnya keberanian mendadak dia menarik tangan Ki Shia sambil berseru:

"Liong Tian im, berhenti kau!"

Suaranya kecil dan melengking, ketika menusuk dalam pendengaran Liong Tian im segera membuat anak muda im tertegun, pelan pelan dia menghentikan langkah tubuhnya. Setelah memandang gadis itu sekejap ujarnya dengan suara dalam:

"Mengapa kau melindungi keselamatan jiwanya?"

"Kau telah membunuh dua orang, belum cukupkah itu?" kata Leng Ning-ciu setelah berhasiI menenangkan hatinya.
Liong Tian im mendengus dalam dalam katanya seram: "Hingga sekarang kau masih belum mengerti mana pihak
sebagai musuh atau teman, hmmm. apakah kau belum jelas mendengar bhwa sepuluh manusia bengis dari kolong langit dibawah pimpinan Ban shia-ci cun telah menyerbu kedalam lembah Tee ong kok ? Aku rasa mereka pasti sudah bertarung di lembah sebelah depan sekarang, mengapa kau masih berusaha untuk melindunginya ?"

Dengan perasaan terkejut bercampur ragu Leng Ning ciu memandang sekejap ke arah Liong Tian im, kemudian pikirnya,

"Tak beres kalau sampai sekarang belum nampak seorang manusia pun yang datang kemari, mungkin ayah menganggap belakang lembah melupakan tebing curam yang tak bisa dilalui, maka dia baru tidak mengirim orang ke mari . . .

Maka dengan perasaan setengah tidak percaya, ia berpaling sambil menanya.

"Susiok, sungguhkah apa yang dia katakan itu?" Ki Shia tertawa licik. "Ciu ji, masa kau mempercayai perkataannya? Apakah susiok bakal membohongi dirimu?"

Pelan pelan Liong Tian im mengalihkan sorot matanya ke tempat kejauhan sana, lalu berkata dengan suara dingin.

"Kebakaran yang terjadi ditempat sana tentunya letak
pusat keramaian dari lempah Tee ong kok bukan? Nona, coba gunakan matamu untuk melihat sendiri !"

Ketika Leng Ning ciu berpaling, benar juga dia saksikan di lembah sebelah depan sana api sedang menjilat jilat dengan hebatnya, seluruh angkasa yang diliputi kegelapan kini menjadi merah membara,

Sambil menjerit kaget segera serunya.

"Oooh, lembah depan telah terjadi kebakaran cepat lepaskan aku, cepat lepaskan aku!"

Liong Tian im menarik napas panjang panjang, kemudian menjawab :

"Biar kubunuh bajingan keparat yang tak tahu malu itu lebih dulu kemudian baru membebaskan jalan darahmu."

Ki Shia yang memandang kebakaran ditempat kejauhan sana juga sedang berpikir:

"Tampaknya si dewa api Biau Seng telah melaksanakan rencana dengan melakukan pembakaran, Ban shia ci cun Huan Lo sian jin mungkin juga telah berhasil dengan rencannya, asal aku dapat mengulur waktu lebih lama lagi, niscaya aku akan memperoleh pertolongan.

Berpikir demikian, dia lantas mendehem pelan kemudian tertawa terbahak bahak.

"Haaah . . . haahhh . . haaahh . . . Liong tayhiap, sekarang memang sudah terbukti kalau kau tidak takut pelbagai macam racun, aku akan memegang janji dengan mengundurkan diri dari lembah Tee ong kok ini. . ."

"Hmm, kau anggap persoalan akan bisa diselesaikan segampang itu?" jengek Liong Tian-im sinis, "apakah kau tidak merasa jalan pemikiranmu itu kelewat kekanak kanakan. Ki Shia, lebih baik cepat cepat bunuh diri saja."

Paras muka Ki Shia berubah hebat, dia memandang sekejap ujung jari tangan Liong Tian im yang memancarkan cahaya kemerah merahan itu, mendadak dengan suata kecepatan luar biasa dia mencengkeram tubuh Leng Ning ciu yang berada didepannya.

Leng Ning ciu yang secara tiba tiba dicengkeram tubuhnya menjadi terperanjat sekali, segera teriaknya kaget:

"Kau . . susiok kau . . . mau apa kau ?" Ki Shia tertawa seram.

"Heeh . . heeh . . heeh . .. Hiantit li, maaf, pamanmu masih mempuanyai urusan penting yang harus diselesaikan dan tak bisa ribut terus dengan bocah keparat ini, terpaksa aku harus meminjam dirimu sebentar. ."

Kemudian sambil mencengkeram jalan darah cian keng hiat di atas bahu Leng Ning ciu katanya lebih jauh: "Orang she Liong, jika kau berani maju selangkah lagi, jangan salahkan aku jikalau aku membunuhnya."

Tampaknya Liong Tian Im sama sekali tak menyangka kalau Ki Shia secara tiba tiba akan melakukan tindakan pengecut seperti itu, dalam tertegunnya dengan cepat dia menguasai diri, lalu sambil maju selangkah katanya:

"Ki Shia kau toh tahu dia adalah puteri tunggal dari Leng Hongya, murid Lei San popo, apa sangkut pautnya dengan diriku? Bila kau hendak membunuhnya bunuh saja, aku toh tetap akan menghukum mati dirimu juga. . ."

Ki Shia segera tertawa licik.

"Orang she Liong, kalau bicara jangan begitu sok. heheh ... kau anggap aku tak mempunyai perhitunganku sendiri?
Apakah aku tak tahu kalau kau menaruh perasaan cinta terhadap keponakan perempuanku ini? Biia aku benar benar membunuhnya sudah pasti kau akan sangat menderita."

Sekujur badan Leng Ning ciu tidak mampu berkutik ketika itu, tetapi dia masih mencoba untuk meronta sambil berteriak:

"Ki susiok, mengapa kau bertindak begitu pengecut dan tak tahu malu? Kau. . jika kau tidak segera lepas tangan, bila guruku sampai datang . ."

Dengan cepat Ki Shia menotok jalan darah bisu gadis itu, Kemudian serunya tersenyum:

"Hiantit li, maaf aku terpaksa harus menyiksa dirimu!"

Mendadak Liong Tian Im tertawa seram, kemudian ujarnya dengan suara menyeramkan: "Ki Shia apakah kau menganggap aku tidak sanggup membinasakan dirimu?"

Ki Shia tertegun, belum sempat dia berpikir sesuatu tampak olehnya Liong Tian im telah mengangkat patung emas Kim mo sin jin nya tinggi tinggi keangkasa lalu membacok ke bawah, cahaya tajam yang menyilaukan mata serta deruan angin tajam yang menyayat badan membuat orang itu mundur selangkah dengan ketakutan.

Tapi sambil menggigit bibir, dia segera menyeret badan Leng Ning ciu dan memapakkan datangnya patung Kim mo sin jin tersebut.

Diantara kilauan cahaya emas yang membelah angkasa, Liong Tiian im sempat menyaksikan raut wajah Leng Ning ciu yang diliputi perasaan kaget bercampur terkesiap, ia menjadi terkesiap. mendadak tubuhnya menerjang maju kedepan, lalu setelah memutar setengah lingkaran busur, dia menyerang Ki Shia diri samping kanan.

Ki Shia tak ambil diam, dia turut bergeser dengan menggunakan tubuh Leng Ning ciu sebagai tamengnya.

Liong Tian im berpekik nyaring, pergelangan tangan kanannya merendah, lalu tangan kirinya menyambut patung emas Kim mo sin-jin tersebut sambil di ayunkan ke depan, lalu tiga jalur cahaya hitam memancar keluar dari ujung jari tersebut, setelah melesat ketengah udara, dengan melalui tiga sudut arah yang beda bersama sama meluncur ketubuh Ki Shia.

Tiga biji cincin maut dengan membawa suara desingan yang sangat aneh menembusi angkasa dan menyambar kedepan. Belum sempat Ki Shia mempertimbangkan cara bagaimana untuk menghindarkan diri, tahu tahu tubuhnya sudah terhajar oleh cincin maut tersebut . . "Aduh ! . . ."

Telapak tangannya yang sudah disiapkan di tengah udara dan bersiap siaga melancarkan pukulan itu mendadak terkulai lemas, lalu sekujur badannya mengejang keras dan tubuh Leng Ning ciu yang dijadikan sandera segera terguling ketanah.

Sepasang matanya terbelalak besar bagaikan gundu IaIu sambil menuding ke arah Liong Tian im serunya gemetar:

"Kau. . kau sungguh keji . iblis tmet. . ."

Darah segar muncrat keluar dari ujung bibirnya, cakarnya yang hitam pekat mencakar kesana kemari di tengah udara, tapi akhirnya dengan lemas ia terkapar ke atas tanah. .

Liong Tian im segera menancapkan senjata patung Kim mo sin jin nya keatas tanah, lalu mengayunkan kakinya menendang mayat Ki Shia sehingga mencelat sejauh empat kaki lebih dan terjatuh ke balik pepohonan di tempat kegelapan sana.

Setelah menghembuskan napas panjang, dia baru membangunkan tubuh Leng Ning ciu dan membebaskan ke empat buah jalan darahnya yang tertotok.

Sambil menjerit kaget Leng Ning ciu segera melompat bangun dan menubruk kedalam pelukan Liong Tian im. Perasaan iba kasihan dan sayang bercampur aduk dalam benak Liong Tian im, dia mendongakkan kepalanya memandang bintang yang bertaburan diangkasa lalu menghembuskan napas panjang.

Leng Ning ciu yang berbaring dalam pelukannya mendadak bertanya:

"Mengapa kau. . . kau menghela napas?"

"Aku sedang menghela napas atas kehidupan manusia yang tak menentu serta nasib yang jelek"

Waktu itu Leng Ning cu seakan-akan benci kepada pemuda itu tadi, sewaktu mendengar perkataan Liong Tian im yang aneh itu, dia segera mendongakkan kepalanya dengan perasaan tercengang, kemudian katanya:

"Kenapa nasib amat jelek? Aku tidak habis mengerti!"

Memandang cahaya merah yang menyelimuti seluruh angkasa, dari balik sorot mata Liong Tian im terpancar keluar selapis perasaan kabur yang tak menentu, akhirnya dengan sedih dia berkata :

"Manusia hidup karena memuaskan nafsu sendiri, seringkali nyawa sendiri dipertaruhkan dengan nasib, akan tetapi setelah ajal menjelang tiba, ia baru merasa berat hati untuk meninggalkannya. . ."

Leng Ning ciu berpikir sejenak, lalu berkata:

"Tentu saja kehidupanmu adalah sesuatu yang berharga, siapa yang rela pergi mati ?" "Kenapa ?"

"Karena. . ." Leng Ning ciu merasa heran mengapa Liong Tian im mengajukan persoalan yang begitu aneh, maka setelah termenung sebentar sahutnya, "manusia hanya mempunyai selembar nyawa, dan kehidupan manusiapun hanya satu kali, apa yang telah hilang tak mungkin bisa didapatkan lagi, oleh karena itu manusia menyayangi kehidupan sendiri."

"Kalau memang demikian, mengapa kau menyergap Bok toako dan ingin membunuhnya?" tanya pemuda itu mendadak sambil mendorong tubuh si nona tersebut.

Merah padam selembar wajah Leng Ning ciu setelah mendengar pertanyaan itu, ia menjadi tergagap:

"Aku . . ."

Dia sendiripun tidak habis mengerti apa sebabnya dia melancarkan sergapan terhadap si jago pedang buta tadi, tapi setelah matanya berkilat dia berkata lagi:

"Aku. . . aku hendak pergi ke lembah depan untuk menengok ayah!"

Paras muka Liong Tian im juga telah pulih kembali didalam ketenangan dan kehambaran semula, ujarnya dengan suara dalam:

"Kau boleh pergi, tapi aku memerlukan obat penawar racun buat Bok toako ku!"

Mendadak sekilas cahaya aneh memancar keluar dari balik mata Leng Ning ciu yang jeli, kemudian katanya: "Hei, bersediakah kau membantu ayahku memukul mundur orang orang jahat itu? dan akulah yang akan pergi mencari si jago pedang buta untukmu."

Liong Tian-im ragu-ragu sejenak, kemudian katanya: "Ayahmu berilmu silat amat lihay, apalagi diapun merupakan ahli waris dari pedang bumi, aku rasa dia tak mungkin akan di celakai oleh Ban shia ci cun."

Akan tetapi setelah diIihatnya sorot mata penuh permohonan dari gadis tersebut, sambil menghela napas panjang katanya lebih jauh :

"Baiklah, aku akan pergi membantu ayahmu cuma kamu harus mencari Bok Toako sampai ketemu, nih, obat penawar untukmu."

"Kalau begitu kuucapkan banyak terma kasih atas kesedianmu." kata Leng Ning ciu dengan girang.

Tapi paras mukanya segera menjadi merah kembali ketika dia terbayang kembali bagai mana si anak muda itu merogoh ke dalam sakunya untuk mencari obat penawar tadi.

Setelah memandang sekejap dengan penuh rasa cinta, mendadak dia melompat kesamping pemuda itu dan mencium pipinya sekecup, setelah sambil membalikkan badan dia lari masuk kedalam hutan.

Untuk beberapa saat lamanya Liong Tian-im berdiri termangu mangu disitu sementara sorot matanya ditujukan kebalik kegelapan dengan kering berkerut, akhirnya ia bergumam: "Aaaai, sebenarnya kau adalah seorang gadis macam apa
?"

Sambil mengangkat bahu dia mencabut patung Kin mo sin jin nya dan melejit hingga lima kaki, kemudian dengan kecepatan tinggi meluncur kearah mana kebakaran itu berasal.

Dibawah sinar bintang yang redup, dalam waktu singkat Liong Tian im telah melalui dua buah jembatan kayu dan sebuah hutan kecil Dengan sorot mata yang tajam, sekarang dia dapat melihat sebuah jalanan kecil beralaskan batu hitam membentang masuk ke dalam sebuah hutan di depan sana.

Baru saja Liong Tian im melangkah di atas jalanan tersebut, mendadak dia berhenti sambil berseru tertahan, lalu dengan wajah serius pikirnya diam diam.

"Tadi masih kedengaran suara pertarungan mengapa sekarang malah tak kedengaran sedikit suara pun ? jangan jangan ke sepuluh manusia bengis itu telah mengundurkan diri dari lembah Tee ong kok ?"

Setelah ragu ragu sebentar, akhirnya dia melanjutkan kembali perjalanannya ke depan.

Rembulan yang redu tertutup oleh dedaunan yang Iebar, dalam kegelapan Liong Tian-im bergerak terus ke depan dengan kecepatan luar biasa . .. .

Sambil berlarian, dia pun berpikir.

"Peristiwa ini benar benar merupakan suatu peristiwa yang Iuar biasa, aku tidak menyangka kalau air liur dari kerang pun bisa berkhasiat begini dahsyat, bahkan bisa menyembuhkan luka ku " Belum habis dia berpikir, mendadak dari tengah hutan sana terdengar suara rintihan pelan, suara ini bagaikan suara helaan napas yang lirih dan menyeramkan.

Liong Tian-im segera menghentikan Iangkahnya, kemudian menegur dengan suara dalam:

"Siapa disitu ?"

Ditengah keheringan malam yang mencekam sekeliling tempat itu, kecuali hembusan angin malam, sama sekali tak kedengaran suara yang Iain.

"Hmm!" Liong Tian-im mendengus dingin, kemudian sambil mempersiapkan cincin mautnya ia berpikir lagi:

"Bila ada orang berani berlagak menjadi setan untuk mempermainkan diriku, maka pada malam ini aku pasti akan .
. . ."

Sorot matanya memancar cahaya tajam dibalik kegelapan, kemudian sambil membentak keras tubuhnya bagaikan sebatang anak panah yang terlepas dari busurnya meleset kedalam hutan.

"Ciiliti . . ."

Mendadak terdengar suara desiran aneh berkumandang tiba, kemudian dari belakang sebatang pohon meleset keluar seekor ular kecil yang, panjang sekali menyongsong datangnya Liong Tian im. Gerakan ular tersebut dalam bergerak cepat bagaikan kilat ke hadapan Liong Tian im sedang bergerak memapaki kedatangannya, tampaknya pemuda itu segera akan terpagut oleh ular itu.

Mendadak di tengah kegalapan muncul setitik cahaya merah, dalam sinar yang terarah itulah Liong Tian im telah mengeluarkan ilmu jari berdarah Jian hun hiat ci dari perguruan Kim mo bun yang sangat lihai itu.

"Koak...!" pekikan aneh menggema dan darah memercik ke mana mana, ular kecil itu tahu tahu sudah terhajar oleh totokan jari itu sehingga terkulai ke bawah...

Liong Tian im segera mengayunkan tangan kirinya dan mencengkram ular kecil tersebut meminjam cahaya yang redup, tampaklah ular kecil itu bersisik tebal dengan bentuk yang amat aneh.

Dengan perasaan terkesiap, diam diam ia berpikir.

"Tak nyana kalau dikolong langit masih terdapat ular yang bisa terbang, betul betul menggidikkan hati, seandainya aku tidak segera menghadapi dengan ilmu Jian hun hiat ci entah bagaimana caranya untuk menghadapi ancaman tersebut.

Mendadak dari balik semak belukar terdengar suara seseorang yang sedang bernapas dengan terengah engah.

"Siapakah kau?" bentak Liong Tian im dengan kening berkerut . "Aaah. . . aku. . ."

Dari balik sebatang pohon muncul sesosok bayangan hitam dengan sempoyongan, setelah maju beberapa langkah, katanya dengan suara gemetar: "Aku . Gin Leng cu ku..."

Liong Tiao im menyaksikan rambut orang itu terurai kusut, tubuhnya penuh dengan noda darah, sepasang tangannya mencakar ditengah udara seakan akan hendak mencari sesuatu pada...

Tapi setelah maju dua langkah, orang itu terjungkal ke atas tanah dan tak bisa berkutik.

"Siapakah kau?" kembali Liong Tian im bertanya dengan sepasang mata berkilat tajam.

Orang itu mendesis lalu mendongakkan kepalanya dengan perasaan kaget.

Tatkala dia menyaksikan Liong Tian im mencengkeram bangkai ular kecil pada tangan kirinya, sekujur tubuhnya segera bergetar keras, segera dia menjerit seperti isak tangis setan:

"Oooh. .Gin Leng cu ku . . ."

Dengan cepat dia merampas bangkai ular itu dan memeluknya dengan penuh kasih sayang, setelah menangis tersedu berapa saat, akhirnya sambil membelai bangkai ular tadi, ia menengadah dengan wajah tertegun.

Untuk sesaat lamanya Liong Tian im dibuat terkejut oleh serangkaian gerak gerik si manusia aneh penuh luka yang sangat aneh itu, ditatapnya orang itu dengan pesona.

Orang itupun mengawasi wajah Liong Tian im lekat lekat, kemudian dengan suara gemetar serunya: "Kau .. . kau mempunyai hubungan apa dengan perguruan Kim mo bun .. ?"

Terkejut juga Liong Tian im menghadapi pertanyaan tersebut, dengan cepat dia berpikir:

"Sekujur badan orang ini penuh dengan luka, tapi dia masih bisa mengenali siapakah aku, tampaknya orang berhasil melukainya adalah seorang yang amat luar biasa . . ." Berpikir demikian, segera sahutnya dalam: "Aku adalah Hiat ci kim mo (lblis emas berjari darah) Liong Tian im !"

Kemudian setelah berhenti sejenak, tanyanya kembali : "Apakah kau terluka oleh Leng Hongya?"
Orang itu agak tertegun, lalu manggut-manggut:

"Ooooh, rupanya kau adalah anak murid dari Jian hun kim mo (lblis emas bersukma-cacad) Lenghou Hay "

Satu ingatan segera melintas dalam benak Liong Tian im, ujarnya kemudian:

"Kau siapa? Berada dalam urutan keberapakah kau dalam sepuluh manusia paling bengis dalam jagad?"

Orang aneh itu tertawa kering.

"Heh... heeh.. Iohu adalah Coa jin (Manusia ular) Ang Thong, berada pada urutan pertama dari sepuluh manusia paling bengis!"

Sesudah menghembuskan napas panjang dia masukkan bangkai ular itu ke dalam mulutnya dan mengunyah penuh kenikmatan, setelah itu menelannya mentah mentah, seperti lagi menikmati suatu hidangan yang amat lezat saja.

Liong Tian-im hanya merasakan perutnya menjadi mual sekali, ia betul betul dibikin terperanjat oleh tingkah lakunya yang sangat aneh itu.

Satu ingatan dengan cepat melintas didalam benaknya, kemudian berpikir Iebih jauh:

"Tampaknya ular terbang yang berdaging lebih ini merupakan binatang peliharaannya, tapi sekarang mengapa dia menelannya mentah-mentah? Bukankah tadi dia lagi menangisi ular tersebut?"

"Ehmm. . ." Manusia ular Ang Thong meraba perut sendiri sambil mendehem, "Gin Leng cu milik lohu itu merupakan salah satu diantara tiga mahluk paling beracun didunia ini, seandainya bukan berjumpa dengan ilmu jari berdarah dari Kim mo bun, tak nanti ular itu bisa terbunuh, tapi dengan begitu malah lohu bisa hidup lagi, oleh karena itu aku harus mengucapkan banyak terima kasih kepadamu. . ."

Untuk sesaat lamanya Liong Tian im menjadi tertegun, dia tak menyangka kalau Ang Thong bakal berkata demikian kepadanya, dia lebih tak menyangka kalau dia akan dianggap sebatai tuan penolong oleh manusia aneh tersebut.

Dia pun tidak habis mengerti apa sebabnya Ang Thong bisa mengetahui begitu jelas tentang segala sesuatu mengenai perguruan Kim mo bun, tak heran kalau dia malah dibuat terperanjat oleh tingkah laku lawannya yang sangat aneh itu. Karena tak tahu apa yang mesti dilakukan terpaksa dia bersiap sedia sambil menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan

Manusia ular Aog Thong duduk dibalik semak belukar sambil menengadah memperhatikan wajah Liong Tian im kemudian setelah menarik napas dalam dalam dia tertawa sangat ramah katanya.

"Lohu tahu kalau kedatanganmu mencari Leng Yok-peng adalah dikarenakan peta bumi yang menunjukan tempat penyimpanan genta emas, sebenarnya lohu ingin memberitahukan hal ini kepadamu sebagai ucapan terima kasih ku atas pertolonganmu tapi sekarang aku berubah ingatan . . ."

Liong Tian im merasa terkejut bercampur keheranan, ternyata Leng Hongya benar benar mengetahui kebar berita tentang Genta emas pelenyap irama tersebut tapi yang paling mengejutkan hatinya adalah perkataan dari simanusia ular Ang Thong yang berulang kali mengatakan hendak membalas budi karena menolong jiwanya.

Dengan nada keheranan dia lantas bertanya:

"Budi kebaikan apakah yang telah kuberikan kepadamu ?" Kemudian setelah berhenti sejenak sambungnya lebih jauh.

"Aku tidak pernah melepaskan budi kebaikan kepadamu, kalau dibilang yang sebenarnya maka sepantasnya jika aku mempunyai ikatan dendam denganmu. . ."

"Mengapa?" tanya manusia ular Ang Thong sambil melototkan matanya bulat-bulat. Karena aku telah membunuh ular Gin-leng cu mu yang bisa terbang itu. ."

Ang Thong berpikir sejenak lalu menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya:

"Aku datang ke lembah Tee ong kok ini bersana Ban-shia ci cun (Rasul dari selaksa kaum sesat) Toan bok si tua bangka, pada mulanya kami anggap Leng Hongnya sama sekali tidak bersiap sedia, siapa sangka ke dua orang hidung kerbau pun datang pula kemari. . ."

Sesudah berhenti sejenak, dia melanjutkan:

"Mereka adalah Im Tiong cu dan It OJ cu dari empat dewa kaum agama To, mengerti bukan kau akan kedua orang hidung kerbau tersebut?"

Ketika dilihatnya Liong Tian Im mangggut manggut, sambungnya lebih lanjut:

"Tatkala si tua bangka Toan bok dan beberapa orang saudaraku yang keparat menyaksikan keadaan tidak beres, mereka bersiap siap hendak merat dari sini, lagi aku enggan kabur dengan begitu saja. . ."

Setelah mendehem beberapa kali, dia melanjutkan: "Kau pasti pernah mendengar bukan, setelah dua kali sepuluh manusia bengis dipaksa mengasingkan diri dari keramaian dunia persilatan, selama tujuh puluh tahun belakangan ini jumlah kami tinggal tujuh orang saja, tapi nama besar kami dimasa lalu masih ada, tentu saja kami tak sudi dibikin lari ketakutan oleh kehadiran kedua orang hidung kerbau tersebut." "Siapa sangka Leng Yok peng si keparat itu ternyata adalah putra dari Tee kiam (si pedang bumi) salah satu dari Thian tee ji kiam yang termashyur dimasa lalu, ilmu pedangnya benarbenar telah mencapai puncak kesempurnaannya. ehmm, hawa pedang yang terpancar ke luar dari pedangnya itu sungguh mengerikan hati, itulah sebabnya kami pun menderita kekalahan."

Setelah menghela napas panjang, katanya:

"Lohu memelihara seekor ular terbang yakni Gin leng cu, sebenarnya kuingin menggunakan binatang itu untuk menjaga serangan lawan yang datangnya tak terduga, menanti aku harus mencari sarang ular guna menangkap berapa ekor buat mengisi perut, ternyata tak seekor ularpun berhasil kutemukan disekitar tempat ini, seandainya kau tidak membunuh Gin leog cu, mungkin pada malam ini lohu bakal mati, ituIah sebabnya bukan saja lohu tidak marah karena kau telah membunuh Gin leng cu, bahkan aku merasa berterima kaaih dan berhutang budi kepadamu."

Dengan perasaan terkejut Liong Tian lm segera berpikir:

"Terhadap manusia buas yang sama sekali tidak berhawa manusia ini buat apa aku mesti ribut terus dengannya ? Tapi kalau dilihat dari kepandaian silat yaog dimilikinya, kemungkinan besar seperti juga Leng Ning ciu, dia berasal dari perguruan beracun sekarang tujuanku adalah mencari Leng Yok peag untuk mencari tahu sebab kematian orang tuaku dimasa lalu, lebih baik tak usah banyak ribut lagi dengannya..."

Sementara dia masih termenung, Manusia ular Ang Thong telah berkata Iagi: "Walaupun nama busuk aku si Manusia ular Ang Thong dalam dunia persilatan cukup termashur, namun aku selamanya bisa membedakan antara budi dan dendam, malam ini aku sudah kau selamatkan, budi ini pasti akan kubalas . . ."

Lalu sambil memukul paha sendiri, terusnya: "Sungguh  tidak kusangka ternyata Leng Yok peng adalah Ban kiam ci cun, (Rasul dari selaksa pedang) yang misterius itu, tak heran kalau aku pun kena dilukai oleh hawa pedangnya."

Liong Tian im sendiri pun tidak tahu siapa gerangan Rasul dari selaksa pedang tersebut, tapi dapat menduga maksud dari perkataan Ang Thong tersebut, dan dia pun percaya kemungkinan besar Leng Hongya membawakan dua peran yang misterius.

Diam diam dia lantas berpikir:

"Entah bagaimana dengan ilmu pedang yang dimiliki Bok Toako? Apakah dia sanggup menandingi kelihayan dari Leng Hong ya ?"

Manusia ular Ang Thong sama sekali tidak menyadari kalau Liong Tian-im sedang terbuai oleh persoalan pribadinya sehingga tak sepatah katanya yang terdengar oleh pemuda itu, seakan akan sedang memikirkan suatu persoalan, tiada hentinya dia mengawasi wajah Liong Tian im lekat Iekat . . .
Sesudah termenung beberapa saat, kembali dia berkata : "Sebenarnya dalam penyerbuan kami sepuluh manusia
bengis dipimpin oleh Rasul selaksa sesat kali ini, kami mempunyai keyakinan untuk berhasil menyergap lembah Tee ong kok siapa sangka Leng Hong ya hebat sekali, ternyata dia tidak jeri terhadap kami. . ." Saat itulah Liong Tian im baru sadar dari lamunannya, dengan nada tercengang dia lantas bertanya:

"Dengan kemampuan dari sepuluh manusia bengis dari jagat pun masih belum mampu untuk menandingi kelihayan Leng Hong ya?apakah begitu tampaknya Leng Hong ya benar benar telah berhasil memperoleh inti sari dari ilmu pedang si iblis bumi hingga pedang dan tubuhnya dapat melebur menjadi satu . .. "

"Ooohh. . ." Manusia ular Ang Thong menengadah dengan gemas, "Walaupun Leng Hongya telah berhasil mendapatkan rahasia inti sari dari ilmu pedangnya, tapi bila kami sepuluh manusia bengis sampai mengeluarkan pula ilmu rahasia kami, hmm .. . sekalipun dia mempunyai kepandaian yang bagaimanapun hebatnya toh akan keok juga. . . oya. lm Tiongcu dan It Oh cu dari To koh su-sian ternyata membantu pihak Leng Hongya kali ini, dendam kesumat pasti akan kubalas dikemudian hari."
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Cincin Maut Jilid 10"

Post a Comment

close