Cincin Maut Jilid 06

Mode Malam
Jilid 06
WALAUPUN DENGAN SATU LAWAN dua Liong Tian im berhasil mempertahankan posisinya dalam keadaan seimbang, tapi dengan turut sertanya Ciang Tiong ci untuk melangsungkan pertarungan adu jiwa, kontan saja situasi dalam arena berubah hebat.

Setelah melepaskan dua buah pukulan dahsyat, serunya sambil tertawa seram:

"Dendam sakit hati pada hari ini, suatu ketika aku Liong Tian im pasti akan menagihnya kembali."

Begitu selesai berkata, dia benar-benar melejit ke udara lalu melarikan diri menuju ke balik batu cadas diarah sebelah utara.

Dengan suara geram Ciang Tiong-ci segera membentak keras dari belakang:
"Jangan biarkan bocah keparat ini melarikan diri!" Ditengah mengalunnya teriakan tersebut di tengah udara,
tiga orang itupun turut melejit sambil menyusul ke arah utara.

Sambil menahan diri karena emosi, Liong Tian-im berlarian kencang menelusuri batuan cadas disekitar tempat itu, perasaan hatinya waktu ini benar benar sukar dilukiskan dengan kata kata, pikirnya:

"Bila lukaku dapbt sembuh kembali, ketiga orang bocah keparat itu pasti akan kubunuh . " Setelah berlarian sekian lama, mendadak hawa darah didalam dadanya mulai bergoncang keras dan naik turun tidak menentu, dia segera berpaling dan memandang sekejap ke tiga orang yang masih mengejar terus tiada hentinya itu, kemudian pikirnya:

"Aaai .. , mereka mengejar terus tiada hentinya, kalau begini terus, tak mungkin aku berkesempatan lagi untuk melarikan diri."

Bagaikan sambaran petir dia berlarian menuruni bukit itu, sekarang di depan matanya terbentang sebuah lembah berbentuk buli buli dengan sebuah padang rumput nan hijau.

Liong Tian-im berpikir:

"Asal aku dapat kabur ke lembah itu, niscaya aku bisa meminjam keadaan medan disitu uutuk menghindarkan diri dari pengejaran mereka."

Ia menarik napas panjang panjang, dengan menelusuri pepohonan disepanjang bukit, dia berlarian kencang menuju kedalam lembah berbentuk buli-buli itu.

Mendadak, sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, dari dalam lembah berbentuk buli buli itu melompat keluar seseorang dan menghadang jalan perginya.

Liong Tian im segera menghentikan gerakan tubuhnya, ia saksikan orang itu berkilat pada seluruh badannya, entah jubah terbuat dari bahan apakah yang di kenakan olehnya, sebuah tusuk konde emas tampak diatas kepalanya, sedang rambut yang panjang terurai kebawab sepanjang punggung . . Dengan cepat Liong Tian-im mengamati pula paras muka orang itu, ternyata sepasang matanya telah cekung ke dalam, sementara sebuah codet yang memanjang membekas diatas wajahnya, jelas dia adalah seorang yang buta.

Begitu menghadang jalan perginya, si buta itu segera menegur:

"Saudara, mengapa kau melarikan diri?"

Lione Tian-im tersengkal sengkal menahan napasnya yang memburu, lalu balik bertanya: "Siapa pula kau?"

"Aku adalah Mang -kiam-kek (jago pedang buta) Bok Ci!" Kemudian pelan pelan ia menambahkan:
"Apakah tempat ini adalah lembah Yok ong kok." "Ya, betul, tempat ini memang lembah Yok ong kok"
Kemudian setelah memandang sekejap ke belakang dia melanjutkan:

"Dapatkah saudara menyingkir sedikit agar aku bisa keluar dari lembab ini?"

Jago pedang buta Bok Ci mendongakkan kepalanya ke atas, kemudian ujarnya lagi:

"Apakah kau sedang dikejar kejar orang maka sekarang hendak kabur ke dalam lembah Yok-ong kok untuk mencari bantuan ?" Diam diam Liong Tian-im merasa terkejut juga oleh ketajaman perasaan orang ini, katanya pula dengan cepat:

"Apakah kau datang karena persoalan ini ?" Jago pedang buta Bok Ci manggut-manggut, katanya kemudian :

"Sekarang, bersembunyilah dibelakang tubuhku"

"Aku tak pernah menerima bantuan dan perlindungan dari orang lain..."

Sementara itu, Pay Hay tiong telah berkelebat mendekat sambil berteriak keras.

"Orang she Liong tinggalkan batok kepalamu"

Jago pedang buta Bok Bi segera bergeser ke depan dan menghadang dimuka Liong Tian im, kemudian katanya lagi:

"Sekarang kau boleh keluar dari lembah ini biar aku yang menahan mereka sebentar."

Begitu pedang Pay Hay-tiong membacok datang, mendadak si Jago pedang buta Bok Ci meluruskan tangannya sambil membacok keluar dengan ujung telapak tangannya, dengan membentuk satu gerakan lengkungan busur dia menghadang datangnya ancaman dari Pay Hay tiong tersebut.

Didalam waktu singkat Pay Hay tiong telah melancarkan dua belas kali getaran pedangnya sehingga menimbulkan suara dengungan yang amat memekikkan telinga.

"Triiing" cahaya pedang segera berkelebat di tengah udara dan terjatuh kembali dibalik hamburan pasir dan debu. Pedang yang bergetar tersebut segera memancarkan berjalur jalur cahaya tajam yang berkilauan membuat semua orang merasa silau matanya dan tak mampu membuka matanya kembali.

"Aaah, kau . . ." dengan perasaan terkesiap Pay Hay tiong mundur dua langkah ke belakang.

Akan tetapi setelah berhasil melihat jelas paras muka orang itu, saking terperanjatnya dia sampai tak mampu mengucapkan sepatah katapun, karera hampir saja dia tidak percaya kalau seseorang yang matanya telah buta ternyata memiliki tenaga dalam yang demikian sempurnanya.

Terutama sekali bekas bacokan yang memanjang diatas wajahnya, benar besar merupakan suatu ciri yang amat menyolok.

Dengan suara dingin si Jago pedang buta Bok Ci membentak nyaring:

"Sekarang, enyah kalian dari sini, jangan harap kalian bisa menembusi lembah ini sela ma aku masih berada disini."

Pak Hay-tiong sama sekali tidak menyangka kalau seorang butapun begitu tak tahu aturan, dan tak percaya kalau si buta ini sanggup menghalangi perjalanannya, maka diam diam dia lantas berpikir:

"Sekalipun tenaga dalam yang dimiliki si buta ini lebih
hebat daripada diriku pun jangan harap bisa melihat aku, asal aku dapat mengajaknya bermain petak, itu sudah pasti dia tak akan mampu berbuat banyak terhadap diriku .. ." Berpikir sampai disitu, dia lantas tertawa terbahak bahak, lalu serunya dengan lantang.

Hei, si buta sialan, apakah kau sudah bosan hidup lagi?"

Paras muka si Jago pedang buta Bok Ci sama sekali tidak terlintas perasaan apa apa, pelan pelan sahutnya.

"Sudah dua belas tahun lamanya mataku menjadi buta, tapi selama ini belum pernah ada orang yang berani memakiku sebagai si buta, Hmmm, kau si bocah keparat berani berbicara sombong dan kurangajar. . aku si jago pedang buta harus memberi sedikit pelajaran kepadamu."

Sambil tertawa dingin dia segera maju selangkah ke depan dengan tindakan lebar, kemudian telapak tangannya didorong ke muka menghantam ke atas dada Pay Hay tiong.

Jurus serangan ini dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, kedahsyatannya pun mengerikan.

Pay Hay tiong segera melompat ke depan sambil membentak nyaring:

"Kau anggap aku memang jeri kepadamu ., "

Sengaja dia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya sedemikian rupa sehingga tidak mengeluarkan sedikit suara pun, dalam anggapannya dengan keadaan tanpa suara maka si jago pedang buta Bok Ci niscaya tak akan sanggup untuk mengejar dirinya, rasa takut yang semula mencekam perasaannya pun kini jauh lebih berkurang.

Siapa tahu, si jago pedang buta Bok Ci segera tertawa dingin, serunya dengan gusar: "Kurangajar, kau hendak mempermainkan aku si orang buta."

Secepat kilat dia menubruk ke depan dan secara kebetulan menghadang jalan pergi Pay Hay-tiong, dengan terkesiap buru buru Pay Hay tiong mundur ke belakang kemudian lari.

Si jago pedang buta Bok Ci kembali berpaling ke arah Liong Tian-im, kemudian katanya.

"Cepatlah pergi, apa lagi yang kau nantikan di sini ?"

Dengan cepat Liong Tian-im menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya:

"Aku tak dapat membiarkan kau berada di sini seorangdiri untuk melawan musuh, lagi pula . . ."

"Aaah, lebih baik kau tak usah banyak bicara." bentak jago pedang buta Bok Ci dengan gusar, "kalau tak mau pergi lagi, jangan salah kan kalau aku tak akan mengurusimu lagi"

Diam-diam Liong Tian-im menghela napas panjang, dengan agak sulit dia mengiakan lalu dengan langkah besar berjalan keluar dari lembah tersebut, makin lama bayangan tubuhnya semakin jauh dan akhirnya lenyap dari pandangan.

Betapa gelisah, Pay Hay tiong menyaksikan Liong Tian-im melarikan diri, secepat kilat tubuhnya menerjang lewat dari atas kepada jago pedang buta sambil membentak keras:

"Saudara Ciang, saudara Lee, bajingan itu hendak melarikan diri..." "Menggelinding balik!" bentak jago pedang buta Bok Ci dengan sangat gusar.

Dengan sebuah pukulan yang amat dahsyat dia paksa Pay Hay tiong untuk melayang turun dari atas tanah.

Terpengaruh oleh gerakan tersebut, tubuh Pay Hay tiong segera menerjang ke muka, Dengan cepat dia maju selangkah sikutnya di sodok sejajar dengan dada dan menghajar jalan darah Ki tong hiat dibawah iga Pay Hay-tiong.

Menghadapi ancaman tersebut, Pay Hay tiong berseru tertahan lalu melompat mundur sejauh tujuh depa.

Dengan perasaan terperanjat Ciang Tiong-ci berseru keras . "Hei, sebenarnya siapakah kau? Datang dari mana?"
"Aku jago pedang buta Bok Ci!" jawab orang itu dingin. Kemudian setelah berpekik panjang lanjutnya:
"Aku datang dari bukit Toa pousat nia..."

Ooo0ooo

DITENGAH lari yang kencang tanpa tujuan, tampak batuan yang aneh serta tebing yang curam makin lama tertinggal semakin jauh...suara teriakan dan bentakan bentakan pun makin jauh . . .

Sekujur badan Liong Tian im basah kuyup oleh keringat, segenap perhatian dan ingatannya tertuju bagaimana caranya melarikan diri dari situ ? Terhadap Hong Tin tin dia memang menaruh satu ingatan yang luar biasa, tapi sepanjang usahanya untuk melarikan diri, ia justru merasa keheranan, sebab sedikitpun tidak  memikirkan dia.

Mendadak tubuhnya melayang kebawah, sepanjang pandangan yang nampak hanya kabut putih yang tebal menyelimuti lembah bukit, pepohonan nan hijau muncul dari balik kabut yang tebal ibarat lampu lampu hijau dibalik kegelapan . . .

Baru saja badannya menyelinap masak ke balik kabut, hawa lembab yang dingin terasa mebepa hidung, tubuhnya terasa tak enak, dadanya sesak dan tanpa terasa dia bersin beberapa kali.

Kabut putih yang tebal menyelimuti angkasa, ia ragu sejenak. telinganya tidak mendengar lagi suara orang orang yang mengejarnya.

Begitu ketegangannya mulai mengendor, kesadarannya pun pulih kembali seperti sedia kala, sekarang dia baru
teringat kalau dia sedang berlarian dalam kebingungan segera pikirnya:

"Sungguh menggelikan, mengapa aku berlari tanpa tujuan
?"

Setelah berpikir sebentar, wajah Hong Tin tin yang tersungging senyuman kembali melintas di dalam benaknya.

Dari balik kabut yang tebal, dia seakan-akan menyaksikan kembali wajahnya yang cantik dengan sepasang matanya yang membetot sukma. Lirikannya yang penuh duka serta ucapannya yang penuh kelembutan segera melintas kembali didalam benaknya.

"Aaah, tidak benar !" diam diam dia berpekik, pikirnya lebih jauh, "mengapa belum pernah kujumpai ada orang lain yang memandang seperti ini kepadaku, jangan-jangan . . ."

Serentetan pertanyaan yang penuh kecurigaan serasa berkecamuk dalam benaknya rapi ia tak habis mengerti kenapa Hong Tin tin bersikap begitu kepadanya, dia tak tahu kalau itulah yang dinamakan cinta, dia hanya merasakan sesuatu yang aneh.

Karena sejak kecil dia dibesarkan dalam suatu keluarga yang memedihkan, disana tiada kehangatan, tiada kasih sayang, yang ada hanya kejadian tragis.

Dia belum pernah merasakan hangatnya cinta, maka  diapun tidak memahami hangatnya cinta, dalam anggapannya cinta hanyalah sesuatu perasaan yang aneh.

Setelah berpikir setengah harian lamanya, ia masih belum juga mengerti apa artinya kehangatan cinta tersebut.

Sambil memandang awan putih yang menyelimuti angkasa, ia angkat bahunya lalu bergumam:

"Sungguh aneh, aku menganggap diriku adalah jago lihay nomor satu didunia, tapi sekarang justru aku melarikan diri terbirit birit dihadapan tiga orang pemuda biasa, dan ini kulakukan hanya dikarenakan menuruti perkataan gadis itu yang mengatakan: kiri ke utara heran, mengapa aku begitu menuruti perkataannya . ."

Sesudah tertawa getir, dia berpikir lebih jauh : "Kalau orang persilatan tahu jika Hiat ci-kim mo mengandalkan perlindungan seorang buta meloloskan diri, hm, siapa yang akan percaya dengan itu ?"

"Haah . . haah . haah . . siapa yang percaya kalau aku Hiat ci kim mo adalah orang yang membunuh empat puluhan  orang pendeta lihay di bukit Tay san."

Mendadak tampak kabut menggulung dan menyambar ke tepian, lalu terasa segulung angin pukulan menekan dari atas kepala sementara suara bentrokan senjata tajam makin lama bergema semakin mendekat

Liong Tian im mendengus dingin, dengan cepat tubuhnya berputar kencang, tangan kirinya memegang patung kim mo sin jin, lalu dengan jurus Seng seh boan thian (pasir terbang memenuhi angkasa) tubuhnya melejit ke udara diantara deruan angin yang menderu, tampak kabut memisah ke empat penjuru.

Cahaya emas berkilauan berkelebat memancarkan sinar yang menyilaukan mata.

"Criing" terdengar dentingan nyaring, lalu tampak ada sejata yang patah menjadi dua dan mencelat kesamping.

Diantara kabut putih yang membuyar Liong Tian im dapat menyaksikan kalau orang yang kena didesak mundur oleh patung emasnya adalah Ciang Tiong ci.

Sambil mendengus dingin, ia segera berseru:

"Kau benar benar datang untuk menghantar kematian?" Sambil berkata, sorot matanya memancarkan cahaya tajam. r" wi pc lur.uhau mtcyt'i ,u t

?t)gt8S9, sambil melejit keatas, patung emas ditangannya diputar mengikuti satu lingkaran bujur, lalu dihantamkan keras keras keatas.

Sepasang tangan emas Kim mo sin jin yang berbentuk lurus keatas itu dengan cepat menerabas angin pukulan lawan, diantara berkilaunya cahaya emas segera menghajar telapak tangan Ciang Tiong ci.

"Aduuh..." terdengar dengus kesakitan menggema memecahkan keheningan, telapak tangan kanan Liong Tian im telah membantu dan melepaskan sebuah bacokan Iagi.

Angin puyuh menderu-deru, awan putih menyebar ke empat penjuru, terdengar CiangTiong ci menjerit kesakitan, tubuhnya mencelat sejauh beberapa kaki dan terjatuh kedalam lembah bukit, jeritan ngeri itu memanjang dan mengalun ke empat penjuru, lalu tampak darah memancar lewat dari atas kepala dan membasahi seluruh kepala Liong Tian im.

Mendengar suara jaritan ngeri yang memilukan hati dibalik jurang sana, Liong Tian im baru merasa terperanjat pikirnya:

"Untung saja aku berhenti setelah tiba disini, kalau tidak, di tengah kabut yang begini tebal, bukankah sedari tadi aku sudah tercebur kedalam jurang dan mati?"

Diam diam ia mengucurkan peluh dingin karena ngeri, tapi begitu ingatan tersebut melintas lewat, hawa pembunuhan yang menyelimuti wajahnya kembali menebal. Setelah tertawa dingin, serunya:

"Hari ini aku akan melakukan pembunuhan secara besar besaran siapa suruh kalian mengikuti diriku terus menerus?"

Lee, Tang yang tidak menyangka kalau tenaga dalam yang dimiliki Liong Tian im bisa pulih secepat itu, seketika itu juga muncul perasaan ngeri didalam hatinya.

Tanpa terasa dia mundur beberapa langkah dengan ketakutan, lalu serunya gemetar:

"Si...siapakah kau?"

Dalam ingatannya, belum pernah ada seorang manusia pun diantara yang pernah di-jumpainya memiliki sorot mata yang dingin, seram dan menakutkan seperti itu.

Seakan akan tercekam oleh pengaruh iblis yang menakutkan, kontan saja ia menjadi bergemetaran saking takutnya.
Liong Tian im tertawa dingin, pelan pelan ujarnya: "Pernahkah kau mendengar tentang Hiat-ci-kim mo (iblis
emas berjari darah)?"

"Hiat ci kim mo ? Hiat ci kim mo ?" dengan sorot mata gugup Lee Tang yang memperhatikan sekejap senjata patung Kim mo sin jin yang benda ditangan lawan, lalu ujarnya dengan suara gemetar: "Semenjak kapan dalam dunia persilatan telah muncul seorang manusia yang bernama Hiat ci kim mo ?"

"Hrnm. tiada manusia didunia ini yang ticak mengetahui tentang Hiat ci kim mo!"

Kemudian dengan wajah berubah, lanjutnya "Kalau begitu, kau lebih lebih tak dapat di biarkan hidup lebih jauh . . .

Serentetan cahaya mata yang menggidikkan hati terpancar keluar dan balik matanya, hal mana membuat Lee Tang yang merasa semakin ketakutan.

Seakan akan dia berubah menjadi seorang siau jin sedang berhadapan dengan maIaikat iblis, bahkan kesadaran serta akal budinya pun turut terpengaruh.

"Andaikata aku membiarkan kau hidup terus, sudah pasti Hong Tin tin tak bersenang hati"

Begitu menyinggung soal Hong Tin tin, dalam benak Lee Tang yang segera terlintas seraut wajah cantik yang menawan hati.

Gara gara perempuan cantik itulah ia rela tinggal didalam lembah Yok ong kok, rela hidup menderita dan menerima perintah orang lain.

Dorongan api cinta didalam dadanya membuat bersemangat kembali, ingatan untuk melanjutkan hidup segera muncul, dengan suara keras segera bentaknya :

"Kau jangan kelewat memaksa orang" "Aku tak memaksa apa apa kepadamu !" Baru selesai dia berkata Pay Hay tiong telah melompat datang sambil membentak keras.

Berkilat sepasang mata Liong Tian im, dia telah menyaksikan si jago pedang buta turut melayang datang mengikuti dibelakang tubuh Pay Hay-tiong.

Terdengar Pay Hay-tiong berseru sambil tertawa dingin. "Hari ini kau hendak melarikan diri lagi ke mana ?"
"Aku hendak membunuh kalian semua !"

Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lebih jauh sambil tertawa dingin.

"Bila kau merasa tidak puas, maka pertama tama yang bakal mampus lebih dulu adalah kau!"

Perkaiain itu diucapkan dengan begitu tegas dan meyakinkan,sekalipun tujuan Pay Hay-tiong adalah untuk memancing Liong Tian-im turun tangan, saat ini toh dia dibikin terkesiap juga oleh ucapan Iawan yang dingin bagaikan es itu, saking takutnya dia sampai mundur beberapa langkah ke belakang.

Jago pedang buta segera menyusul datang, sambil mengayunkan sebatang ranting pohon liu yang ramping bentaknya keras keras,

"Bocah keparat, kau berani mempermainkan aku si buta ?"

Tampak si jago pedang buta membalikkan pergelangan tangannya, ranting pohon liu berputar membentuk satu bayangan busur yang menyilaukan mata dan langsung membacok ke atas punggung Pay Hay-tiong.

Jangan dilihat benda tersebut hanya sebuah ranting pohon liu yang tipis, ternyata benda tersebut bagaikan sebilah pedang tajam saja menyambar ke muka secepat kilat.

"Aduuuh . .. !" terdengar Pay Hay-tiong menjerit kesakitan, tubuhnya gemetar keras, lalu roboh terjengkang ke atas tanah.

Lee Tang yang merasa amat terperanjat segera jeritnya: "Saudara Pay, jangan kaget, aku segera datang !"
Ia menerjang datang sambil merentangkan tangannya, kemudian dengan gencarnya menyergap tubuh si jago pedang buta Bok Ci.

Liong Tian-im segera menggeserkan tubuhnya sambil menghadang dimuka orang itu, kemudian bentaknya keraskeras:

"Lee Tang yang, serahkan selembar jiwamu!"

Ditengah bentakan mendadak tangannya dibalik sambil melepaskan pukulan dahsyat ke depan, seketika itu juga tubuh Lee Tang yang tercebur kedalam jurang.

Dua kali jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan keheningan, Pay Hay Tiong pun telah dibunuh oleh si pedang buta.

"Terima kasih banyak atas pertolonganmu" Liong Tian im segera menjura. "Tak usah banyak beradat, aku masih ada urusan yang harus diselesaikan mau berbicara nanti saja" sahut si jago pedang buta sambil mengulapkan tangannya.

Begitu selesai berkata, si jago pedang buta Bok Ci segera membalikkan badan dan berlalu dari situ, dari balik kabut terdengar suara nyanyiannya yang lantang.

"Dibawah bukit Hung'fcong, suara penuh dendam.

Hujan rintik memenuhi angkasa, tiga kali berputar di kota, Nyanyian belum hilang. harus berpisah di pintu kota,
Rasa cinta membara, dua titik air mata, Cinta kasih bagaikan seribu lapis besi kapan kita bersua lagi?
Dulu penuh kemurungan kini tinggal kenangan,

Suara nyanyian tersebut makin lama semakin jauh sebelum akhirnya lenyap dari pendengaran.

Liong Tian im berdiri termangu-mangu dibalik kabut sambil termenung keheranan pikirnya.

"Aiai, orang ini benar benar seorang yang aneh"

Hawa dingin yang terhisap kedalam dadanya membuat urat syarafnya terasa mengejang keras, darah yang mengalir  dalam tubuhnya seakan akan membeku semua, sedikit tenaga pun tak dimiliki lagi. Ia menjadi amat terkejut, buru-buru patung kim mo sin jinnya dimasukkan kembali dalam buntalan, lalu duduk bersila sambil mengerahkan tenaga dalamnya untuk bersemedi.

Tenaga dalam yang mulai muncul kembali sebelah sembuh dari lukanya tadi telah digunakan untuk menghantam Ciang Tiong ci dan Lee Tang yang hingga tercebur kedalam jurang.

Sekarang, semua kekuatan dalam tubuhnya telah punah, semangatnya menjadi loyo kembali.

Akibat dari pengerahan tenaga yang melampaui batas ini mengakibatkan luka yang semula diderita cukup parah itu kini semakin bertambah parah lagi.

Begitu semedinya dimulai, Liong Tian Im merasakan hawa darah dalam tubuhnya merasa menyebar kemana-mana, bukan saja tak sanggup dihimpun kembali, bahkan seakan akan menunjukkan gejala hendak membuyar ke mana mana.

Tenaga dalam yang dilatihnya selama dua belas tahun sekarang sudah hilang delapan sembilan bagian, yang tersisapun tinggal suatu jumlah yang tak seberapa.

Dia mendongakkan kepalanya sambil menyeka peluh yang membasahi kepalanya lalu memandang kearah kabut yang menyelimuti sekeliling tempat itu dengan termangu, akhirnya dia tertawa getir.

"Aaai .. ." dia menghela napas panlang, "aku tidak seharusnya keras kepala, mengapa aku harus mempertaruhkan segenap tenaga dalamku urtuk menghimpun sisa kekuatan yang ada guna bertarung ?"

Pelan pelan dia bangun sendiri kemudian berpikir kembali: "seandainya aku tidak sabaran, mana mungkin keadaanku akan berubah seperti sekarang ini? Kini, walaupun aku berhasil membinasakan mereka, tapi aku sendiri . . ."

Dengan penuh penderitaan dia menggelengkan kepalanya berulang kali, kemudian melanjutkan perjalanannya kedepan tanpa tujuan.

Kabut pulih yang lembut bagai membelai pipinya dan menghibur hatinya, tetapi Liong Tian im masih berjalan terus kedepan tanpa tujuan. Setelah menembusi hutan yang jarang, dia berjalan terus menuju ke arah utara.

Sekarang satu satunya harapan yang masih tersisa dalam hatinya adalah berjalan menuju ke arah utara seperti apa yang dipesankan Hong Tin-tin, dia mengira kemungkinan besar  gadis itu akan menunggunya di sana.

"Mungkin dia akan mencuri obat mestika itu untukku." diam-diam dia berpikir "kalau sampai demikian, maka aku mempunyai harapan untuk memulihkan kembali tenaga dalamku, kalau tidak maka aku akan kehilangan segenap kepandaian silat yang kumiliki dan menjadi manusia biasa."

Bagi seorang yang belajar silat, maka ilmu silat biasanya dianggap jauh lebih berharga daripada nyawa sendiri mereka lebih suka mati daripada kehilangan ilmu silat dan menjadi seorang manusia biasa.

Sebab bila seseorang dari seorang yang luar biasa berubah menjadi seorang biasa, maka hal mana merupakan suatu siksaan batin yang tak akan dapat ditahan oleh siapapun, penderitaan tersebut boleh dibilang akan menusuk perasaannya setiap saat, membuatnya setiap waktu harus melawan siksaan dan penderitaan. Berpikir sampai disitu, tanpa terasa Liong Tian Im menghela napas panjang, pikirnya:

"Sungguh tak kusangka aku Liong Tiarj-im hanya seperti bintang malam, baru saja bersinar ditengah kegelapan, dalam waktu singkat harus berlalu kembali."

Dengan sempoyongan dia maju beberapa langkah dan berjalan keluar dari wilayah yang diliputi kabut putih tersebut, kini dia sudah tiba di atas sebuah tebing yang penuh dengan batuan, rumput dan pohon siong tua.

Saat itu matahari hampir tenggelam pandangan yang terbentang didepan mata tampak begitu menarik hati, sedemikian menariknya sampai membuatnya berat hati untuk maju ke depan.

"Huuh!" dia menghembuskan napas panjang sambil bergumam. "sungguh tak kusangka di sini terdapat pemandangan alam yang begitu indah mempesonakan."

Sudah dua belas tahun lamanya dia hidup di bukit Lausan, sepanjang hari harus tinggal di dalam kuil untuk membantu mengambil air, memotong kayu serta pekerjaan kasar lainnya.

Sekalipun dia telah diterima oleh koancu kuil itu menjadi muridnya, tapi tak seorang anggota kuil pun yang mengetahui akan hal ini karena dia pun tak pernah mendapat pelayan secara baik.

Sekalipun pemandangan alam di bukit Lau-san juga indah, tapi dia tak berkesempatan untuk menikmatinya. Sedang kini, dia sudah menderita luka parah, saat dengan kematiannya juga tak jauh, dalam suasana seperti inilah dia dapat menikmati keindahan alam yang terbentang di depan mata. Berdiri kaku di tengah bukit yang berbatu, dengan termangu mangu dia memandang awan putih dikejauhan sana.
Lama kemudian, Liong Tian im baru berpikir: "Cahaya rembulan diwaktu malam, cahaya bintang
menjelang fajar, suasana ditengah keremangan, semuanya merupakan sesuatu yang indah dinikmati, tapi mengapa baru sekarang aku dapat merasakannya?"

Lama sekali dia memandang pemandangan alam disekitar tempat itu dengan termangu, lama, lama kemudian dia baru menarik kembali pandangan matanya sambil berpikir:

"Aneh, kenapa dari semua unsur alam yang kulihat sekarang, aku seakan akan memahami sesuatu teori yang berhubungan dengan ilmu silat? Ah. aku semakin bimbang rasanya."

Sesudah berpikir sejenak, sambil tertawa getir dia menggelengkan kepalanya berulang kaii, katanya lagi sambil hela napas:

"Kenapa aku harus memikirkan yang bukan-bukan? Bila aku tak bisa mendapatkan pil po mia wan, toh aku bakal mati juga.." Dipandangnya pemandangan indah disekitar tempat itu sekejap, kemudian gumamnya:

"Andaikata aku bisa mati di tempat yang berpemandangan bsaini indah, apa lagi yang harus kurisaukan "

Tapi dengan cepat dia berkerut kening, pikirnya lebih jauh: "Cuma dalam dunia persilatan tak akan bisa dijumpai lagi ilmu sakti iblis emas?"

Teringat sampai disitu, peluh dingin segera jatuh bercucuran pikirnya lebih jauh:

"Aku masih menanggung dendam kesumat dari orang tuaku, perintah suhuku, masa depan perguruanku serta harapan dari umat persilatan, mengapa aku begitu pasrah pada nasib, membiarkan malaikat elmaut mencengkeram jiwa itu dan tidak berusaha untuk melawan....

Berpikir sampai disitu, dia segera menampar wajah sendiri keras-keras, makinya:

Liong Tian-im... wahai Liong Tian-im ! Usiamu baru tak seberapa sudah bersiap siap mencari tempat untuk mengubur mayatmu, Apakah kau sudah melupakan dendam berdarahmu. Apakah kau sudah melupakan tanggung jawabmu sebagai seorang manusia?"

"Bagus !"

Suatu pujian yang bersuara rendah dan berat berceraa dari beIakang tubuhnya, membuat Liong Tian im merasa amat terperanjat.

Serta merta dia membalikkan badan sambil menyelinap ke balik pohon siong, tangan kanannya diangkat tinggi tinggi, seandainya pendatang itu bermaksud jahat, maka dia bersiap sedia akan bertarung dengan mempertaruhkan jiwanya, bilamana perlu dia akan beradu jiwa dengan mengandalkan cincin iblis emas. Ketika sorot matanya dialihkan ke arah si orang itu, tampak olehnya seorang pemuda berjubah panjang, berambut disanggul tinggi dan menggembol pedang kayu sedang berdiri diatas batu besar.

"Jago pedang buta Bok Ci!" diam diam ia menghembuskan napas lega, "rupanya kau !"

Jago pedang buta Bok Ci tertawa hambar "Yaa, benar ! Memang siaute"

"Apakah saudara membutuhkan bartuau siaute."

Jago pedang buta Bok Ci menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya :

"Aku merasa berterima kasih sekali atas kehangatan serta kesediaan saudara. aku rasa mungkin saudara tak akan bisa membantu diriku?"

Liong Tian-im menjadi tertegun:

"Apa maksudmu ?"

"Kao sudah menderita luka parah, tapi masih memiliki semangat besar yang begini mengagumkan, hal ini betul betul sesuatu yang luar biasa, kau harus berani berduel melawan malaikat elmaut, merebut kembali sisa hidupmu."

"Kau sudah tahu kalau aku . . . ." dengan kening berkerut Liong Tian im menghentikan kata-katanya.

Jago pedang buta tidak menggubris ucapan dari Liong Tian-im, kembali ia berkata lebih jauh: "Orang yang paling kukagumi adalah seorang yang tak pernah berubah pendirian sekalipun malaikat elmaut sudah berada didepan mata, sebab hanya manusia semacam ini yang bisa diserahi tanggung jawab besar."

Liong Tian im segera melompat keluar dari balik pohon, kemudian tegurnya:

"Kau sudah datang cukup lama ?" "Tidak, aku baru saja tiba disini"
Dia segera melejit ke udara, melewati batuan cadas dan berjalan menuju kehadapan Liong Tian-im.

Diam diam Liong Tian lm merasa terkejut juga oleh kelihayan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Bok Ci, katanya kemudian dengan suara dalam dan berat.

"Harap saudara bersedia menerima sebuah penghormatanku sebagai rasa terima kasihku atas pertolonganmu !"

Jago pedang buta Bok Ci segera menggerak-gerakkan matanya yang kolong dan cekung ke dalam itu, kemudian berkata:

"Pada mulanya aku mengira seorang lelaki gagah berjiwa ksatria seperti kau tak terlalu banyak adat, siapa tahu kau toh seperti juga yang lain, sungguh membuat aku amat kecewa"

Liong Tian-im tertegun, kemudian ujarnya jdengan wajah bersungguh sungguh : "Selama hidup aku belum pernah berhutang budi kepada orang lain, hanya orang lain berhutang darah kepadaku, oleh sebab itu aku tak ingin menerima budi kebaikan orang dengan begitu saja, kalau toh kau enggan menerima ucapan terima kasihku, kalau begitu dimasa akan datang, aku pasti akan berusaha dengan sepenuh tenaga untuk membalas budi ke baikan itu !"

Ucapannya yang tegas dan mantap membuat sekulum senyuman segera tersungging di ujung bibir jago pedang buta Bok Ci. dia menganggukkan kepalanya.

"lelaki sejati. benar becar lelaki sejati !" ia lantas mengulapkan tangannya berulang kali. kemudian katanya lagi:

"Mari duduk, kita duduk sambil berbincang-bincang."

Pelan-pelan dia duduk diatas batu besar mengebaskan ujung bajunya dan berkata lagi:

"Sudah banyak perjalanan yang telah kutempuh, banyak jago muda pula yang kujumpai dalam dunia persilatan."

Berbicara sampai disitu dia berhenti sebentar, kemudian menjelaskan lebih lanjut:

"Yang kumaksudkan dalam perkataan  tadi adalah kurasakan kemampuan mereka, bukan mengatakan aku dapat melihat bentuk wajah mereka, karena aku adalah seorang buta, aku hanya menghadapi orang lain dengan perasaan bukan menilai dengan pandangan."

Liong Tian-im menurut dan segera dudnk sahutnya sambil manggut manggut: "Aku memahami maksud hatimu !"

Saat itu dia merasa bahwa jago buta yang memiliki ilmu pedang sangat bagus ini memiliki suatu kewibawaan yaag bisa membuat hatinya kagum.

Sikapnya yang tenang dan mantap persis seperti sikap yang sering dijumpai pada gurunya, dia merasa jago buta ini memiliki semacam kewibawaan yang luar biasa, kecerdasan seorang cendekiawan, kewibawaan seorang tokoh persilatan

Terdengar jago pedang buta Bok Ci melanjutkan kembali kata katanya:

"Oleh karena itu aka rasa dunia persilatan dimasa depan akan menjadi milikmu, walaupun ilmu silatmu sekarang masih tak becus, tapi aku percaya dikemudian hari kau akan menjadi satu satunya musuhku didalam usaha meraih kedudukan  paling top dikolong langit."

Liong Tian im melototkan sepasang matanya besar-besar, diawasinya wajah Bok Ci yang tampan tapi dingin itu lekat lekat, suatu perasaan yang sangat aneh tiba tiba saja muncul di dalam hatinya . ..

Disatu pihak dia merasa bangga karena si Jago pedang buta telah menganggap dirinya sebagai satu satunya namun didalam usaha memperebutkan kursi terutama didalam dunia persilatan.

Di pihak lain diapun merasa terkejut akan ambisi si jago pedang buta Bok Ci yang begitu besar. Sebab dengan kedudukannya sebagai seorang buta ternyata dia ingin menjadi seorang jagoan yang paling lihay dikolong langit. Liong Tian im mambungkam tak berbicara.

Dengan nada serius, si Jago pedang buta Bok Ci kembali berkata:

"Apakah kau sedang mentertawakan cita-citaku yang kau anggap muluk karena aku ingin menjadi manusia nomor wahid dikolong langit? Bila kau beranggapan demikian, maka anggapanmu itu keliru besar."
Liong Tiam im menggelengkan kepalanya berulang kali. "Aku hanya beranggapan bahwa pandangan mu keliru
besar, kau tak seharusnya menganggap aku sebagai satusatunya Iawanmu karena. . ."

Dia menghela napas, lanjutnya:

"Karena aku sudah menderita luka dalam yang sangat parah, aku sudah tak sanggup lagi untuk menandingi kemampuanmu."

"Justru karena itulah aku akan menolong dirimu, skuasan menggunakan segenap kemampuan dan tenaga yang kumuliki untuk menolongmu. Di dalam waktu waktu terakhir ini, tak akan ada orang yang bisa mencelakai dirimu lagi."
"Kenapa?" sekali lagi Liong Tian im tertegun. "Haaah...haah...." Sijago pedang buta Bok-Ci tertawa
tergelak, "kenapa?.Karena kau adalah satu satunya lawanku." Setelah berhenti sebentar. dengan suara dalam terusnya: "Bila seorang jago silat tidak pernah menjumpai tandingan sekalipun dia berhasil meraih kedudukan nomor satu didunia, tapi apa pula artinya..?"

Teori yang dikemukakan olehnya membuat Liong Tian im menjadi ke in txigan, ia berpikir sebentar, tapi tidak berhasil menemukan jawaban yang tepat.

Jago pedang buta Bok Ci mendongakkan kepala memandang angkasa, kemudian katanya lagi:

"Dulu suhuku justru setiap hari merasa murung dan tak senang karena ia tak berhasil menemukan tandingan, siapa tahu pada akhirnya ia malah kena disergap oleh manusia bangsat."

Liong Tian im merasa amat terkejut, pikirnya:

"Ehmm siapakah gurunya? Ternyata ia menjadi jago nomor wahid dikolong langit dan tiada tandingannya. Sayang suhuku kena pula dicelakai tiga orang tua dari Hud bun, kalau tidak...

Dia menghembuskan napas panjang, baru saja akan menanyakan asal usul perguruan dari jago pedang buta Bok Ci, mendadak ia saksikan Bok Ci miringkan kepalanya sambil membentak dengan suara dalam:

"Kalian belum juga keluar dari tempat persembunyian? apakah hendak menunggu sampai aku yang mengundang kalian turun?"

Tiga sosok bayangan manusia melompat ke luar dari dalam hutan. Orang pertama adalah seorang kakek yang segera menegur sambil tertawa dingin: "Liong Tian-im, kau hendak melarikan diri kemana lagi?"

Mendengar perkataan itu, Liong Tian-im segera melompat bangun seraya menjawab:

"Hong Yok-su, serahkan pil Po-mia wan tersebut kepadaku!"
Hong Yok-su nampak sangat gusar, kembali Iia berseru: "Kau telah menyembunyikan putriku dimana? berani benar
berlagak sok ditempat ini. .."

Dengan gusar dia melotot besar besar, kemudian sambil menengok ke kiri dan ke kanan sambil serunya: "lnilah orang yang kukatakan kepada kalian tadi, caal kc)itri" cepat membekuk dirinya, lohu akan segera berikan pil Tii CUP wan kepada kalian untuk dibawa pulang ke perkampungan keluarga Tong !"

"Soal ini ..." tiba tiba lelaki berbaju hijau yang ada disebelah kiri berseru agak ragu-ragu.

Pelan pelan sijago pedang buta Bok Ci membalikkan badan, kemudian berkata:

"Siapakah yang menjadi anak murid perkampungan keluarga Tong?"

Dengan wajah hijau membesi lelaki berbaju hijau itu segera menjawab:

"Aku Tong Ko. murid angkatan kesembilan belas dari keluarga Tong, menjumpai Bok tay hiap" "Siapa yang lain ? Kau adalah murid dari mana ?"

Lelaki bercambang yang ada disebelah kanan kelihatan agak gemetar setelah mendengar jago pedang pedang buta menegurnya, buru buru jawabnya:

"Aku adalah Toucu angkatan ketiga dari perkumpulan Thi juan pang, Cho pit to (golok lengan kiri) Lau Peng ha."

"Hm. apakah taHaa te^an g or-inia1c8oleh Hong Yok su untuk pangcu kalian?"

"Benar" sahut Liu Peng faac cepat, Sedang Tong Ko segera menjawab: "SJUa guruku selang mengidap parah, maka..."

Jago pedang buta Bok ci segera menuding arah Liong Tian im sambil berkata: "Tahukah kalian siapakah orang ini? Hmm ! kalian berani mengusiknya, maka aku segera mencari pangcu kalian untuk membuat perhitungan."

Tong Ko dan Lau Peng nan saling berpandangan sekejap, akhirnya dengan hormat dia berkata:
"Hamba tak berani mengusik Liong sauhiap." "Kalau begitu kalian pergilah dari sini!" perintah jago
pedang buta sambil mengulapkan tangannya.

Hong Yok su yang menyaksikan kejadian menjadi tertegun, cepat cepat serunya, "Hei, sebenarnya kalian membutuhkan pil itu atau tidak ?"

Jago pedang buta Bok Ci mengayunkan tangan kanan segera diayunkan kedepan, tampak sebatang pohon siong sebesar dua rangkulan orang dewasa telah terpapas kutung menjadi tiga bagian dan roboh di atas tanah.

Pelan-pelan dia masuki kembali pedangnya kedalam sarung sembari berkata:

"Barang siapa berani mengusik Liong Tian im, pohon inilah contoh yang paling baik"

Dalam perjalanannya menuju ke Tionggoan tempo hari, dengan mengandalkan sebilah pedang kayunya dia telah menghadapi ketua perguruan keluarga Tong yaitu " Sip jiu fO ru (penjagal bertangan sepuluh) Tong Hua dan mengkocarkacirkan anak murid seluruh perguruannya, bukan saja berhasil menyerbu ke dalam ruangan tengah, bahkan memaksa Tong Hua menyerah kalah setelah ketujuh puluh dua macam senjata rahasianya tidak mendatangkan hasil.

Ketika berada di wilayah Lok sui. dengan pedang kayunya pula Bok Ci berhasil mem teao perkumpulan thi joan pil serta menghancurkan ke tiga belas cabangnya.

Konon karena itu Tong Ko serta Liu Peng menjadi keder dan ketakutan setengah mati membayangkan kelihayan dari Bok Ci tentu saja mereka melarikan diri terbirit-birit.

Hong Yok su berdiri termangu-mangu di tempat semula setelah menyaksikan kutungan batang pohon yang berserakan diatas tanah mulutnya bergetar seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya sambil membalikkan badan berlalu dari sana.

Sepeninggal Hong Yok-su, Liong Tian-im baru berkata dengan suara kagum: "Bok heng, ilmu pedangmu benar benar lihay sekali" Bok ci tertawa getir.
"Mari kita mencari tempat untuk berbincang sang,,,.JbUa malam telah tiba nanti aku akan mencarikan obat bagimu!"

Mereka melanjutkan perjalanannya, tak lama kemudian bayangan tubuh mereka berdua pun lenyap dibalik kegelapan.

Senja telah menjelang tiba, suasana mulai remang-remang.
..

Liong Tian-im dan jago pedang buta Bok bersama sama menerobos masuk ke dalam sebuah gua besar, mereka berdua duduk saling berhadapan tanpa mengeluarkan sedikit suarapun.

Sete!ah termenung lama sekali, akhirnya Liong Tian im tak sanggup menahan diri, segera bertanya:

"Saudara Bok, kau berasal dari mana?" "Aku datang dari tebing Toa pousat nia."
"Tebing Toa pousat nia?" gumam Liong Tian im, "dimanakah letak tempat itu?"

"Toa pousat nia terletak didaratan tin| Sinkiang, suatu tempat yang gersang dan tiada tetumbuhan"

"Lantas, mengapa kau datang kemari?"

"Aku mempunyai seorang adik perempuan yang sedang mengidap penyakit aneh, penyakit itu baru bisa disembuhkan bila memakan obat yang ramuannya terdiri dari teratai salju yang di hadikan dibukit Toa-soat san dengan buah Pek-loko.

Seluruh daratan sudah kujelajahi tapi tiada tempat yang menghasilkan Pek-lo ko tersebut, kemudian aku dengar Hong Yok su menanam buah Pek-lo ko di dalam lembah Yok ongkok nya, maka . ."

"Untung saja kau datang kemari, kalau tidak luka yang ku derita hari ini entah sampai kapan baru bisa disembuhkan ?" ujar Liong Tian im kemudian.

"Malam ini aku masih akan kembali ke lembah Yok-ong-kok untuk mencuri buah Pek lo ko tersebut."

"Tapi bagaimana pula caramu untuk membedakan mana yang dinamakan buah Pek-lo to dan mana bukan ?"

Jago pedang buta Bok Ci segera tertawa.

"Semua pohon dan tumbuh tumbuhan ysng ada di dunia ini tentu menyiarkan sejenis bau bauan yang khas, Pek lo ko merupakan sejenis tumbuhan yang berbentuk khas, boleh dibilang termasuk salah satu diantara sepuluh macam buahbuahan mestika di dunia ini. karenanya bila buah itu mulai masak maka akau terendus semacam bau yang khas sekali."

Setelah berhenti sejenak lanjutnya:

"Bau harum itu seperti bau khas buah durian yang banyak dihasilkan di kepulauan Katulistiwa jauh nun diselatan, kata orang seperti bau kotoran anjing." "Aaah, seperti tai anjing ? Haah, haaah, haaah, masa di dunia terdapat buah buahan yang baunya seperti tai anjing ? Hopo tumon ? Haaaah, haaah, haaah."

Liong Tian im tak sanggup mengendalikan rasa gelinya lagi, ia tertawa terpingkal pingkal.

"Jangan kau anggap buah itu lucu dan menggelikan, sekalipun bentuknya jelek, baunya kurang sedap, tapi buahnya justeru lezat dan enak rasanya. Begitu pula dengan manusia, jangan menilai seseorang hanya memandang wajah dan gerak geriknya, yang bagus belum tentu bagus, yang jelek belum tentu jelek.

Misalnya buah durian, buah itu memang bau tapi lesat, bahkan baunya tak akan hilang dalam tiga hari, malah orangorang di kepulauan selatan menganggapnya sebagai buah mestika."

Ucapannya begitu serius dan bersungguh-sungguh, membuat Liong Tian im tak berani membantah karena dalam kenyataan memang banyak kejadian dalam kehidupan manusia yang begitu keadaannya.

Ada banyak orang yang menitik beratkan pada soal luarnya tanpa mendalami yang benar, padahal yang kelihatan indah belum tentu indah, demikian pula sebaliknya.
Dengan penuh rasa menyesal Liong Tian im berpikir: "Sungguh tak kusangka dia seorang yang buta bukan cuma
pandai dalam ilmu pedang, bahkan pandai pula dalam falsafal hidup mau pun ilmu obat-obatan, sungguh dia merupakan seseorang yang biata." Terdengar si jago pedang buta Bok Ci menghela napas panjang, kemudian berkata lebih jauh:

"Walaupun aku bisa berkata demikian, tapi kebanyakan orang di dunia ini lebih banyak menitik beratkan pada soal lahiriah, siapa pula yang bisa memahami penderitaan dari seorang buta?"

Liong Tian im tak tahu apa sebabnya secara tiba tiba si jago pedang buta Bok Ci mengucapkan kata seperti itu, dengan nada menghibur segera serunya:

"Seperti keberhasilan yang kau capai kini, aku rasa tidak berapa banyak orang yang dapat mencapainya."

OOCOOO

"Saudara Im! Tahukah kau, untuk berhasil mencapai keberhasilan seperti saat ini, berapa banyak penderitaan dan kesusahan yang telah kualami.?" kata Bok Ci.

Liong Tian im menjadi teringat pula dengan penderitaan serta siksaan yang pernah dialaminya semasa masih muda dulu, tanpa terasa timbul perasaan simpatiknya terhadap Bok Ci, setelah menghela napas panjang, katanya:

"Hanya emas yang dihasilkan dari semburan api bara merupakan emas murni, berapa orangkah didunia ini yang berhasil mencapai sukses nya setelah mengalami suatu perjalanan yang penuh dengan penderitaan ?"

Jago pedang buta Bok Ci termenung sebentar, tiba tiba katanya: "Saudara Im, bagaimana seandainya kita mengikat diri menjadi saudara . . .?"

Menyaksikan wajah yang penuh pengharapan dari Bok Ci kontan saja Liong Tian-im merasakan darah panas didalam dadanya bergolak keras.

Dengan cepat dia mengangguk:

"Baik !" sahutnya, "mari kita mengikat diri menjadi saudara."
Dengan penuh kegembiraan Bok Ci berkata: "Usiamu jauh lebih kecil daripada usiaku, sudah
sepantasnya kalau kusebut dirimu sebagai lote. . ."

Belum habis dia berkata, paras mukanya telah berubah hebat, tiba-tiba dia menekan bahu Liong Tian im sambil bisiknya:

"Ststt ... jangan berbicara dulu, ada yang datang !" Liong Tian im merasa amat terperanjat segera pikirnya:
"Sangat tajam daya pendengarannya, sewaktu aku berada di bukit Lau san dulu, telah kupelajari ilmu Thian hi tee lng (melihat langit mendengar bumi) namun nyatanya aku belum sempat mendengar apa apa, sedangkan dia..."
Terdengar Bok Ci berkata lagi dengan suara lirih: "Sekarang Iukamn belum sembuh, andaikata terjadi suatu
peristiwa, biarlah aku yang munculkan diri ..." Seolah hawa pembunuhan telah menyelimuti seluruh benaknya, kemudian katanya lebih jauh:

"Bilamana orang itu bermaksud melakukan sesuatu tindakan yang merugikan dirimu, hari ini aku akan melangsungkan suatu pembunuhan secara besar-besaran .!"

Llong Tian im pernah menyaksikan Bok Ci dengan mengandalkan sebatang ranting pohon Iiu sebagai pedang untuk mengalahkan Hok Yok su dan Lee Tang-yang, dia tahu sekalipun Bok Ci bermata buta, namun kesempurnaannya di dalam permainan pedang sudah berhasil mencapai suatu tingkatan yang luar biasa sekali.

Menurut dugaannya, jagoan pedang yang ada dikolong langit jarang sekali ada yang menggunakan batang ranting pohon Liu sebagai pedang dan nyatanya masih sanggup memainkan serangkaian ilmu pedang tingkat tinggi.

Dengan perasaan terharu dia segera menggenggam tangan Bok Ci seraya berkata:
"Segala sesuatunya terserah kepada keputusan kakak !" "Sebentar aku akan pergi ke lembah Yok-ong kok untuk
memetik beberapa macam obat untukmu, besok kau boleh minumnya bersama air embun pagi, saat itulah penyakitmu pasti akan sembuh"

Pada saat itu!ah, dari arah tanah perbukitan sana kedengaran ada seseorang sedang berteriak teriak memanggil namanya.

"Tian im. . . Tian im. . ." "Eeeh siapa yang sedang memanggilmu'" tanya Bok Ci dengan wajah keheranan.

Liong Tian im sendiripun berpikir dengan keheranan: "Setelah berada disini siapa yang sedang memanggilku?"

Sementara itu Bok Ci telah mendengarkan sebentar dengan seksama kemudian katanya lagi:

"Tampaknya ada seorang perempuan sedang memanggilmanggil namamu. . ."

"Seorang perempuan?" tiba tiba Liong Tian Im seperti menyadari akan sesuatu, segera serunya lagi, "aaah, janganjangan dia adalah Hong Tin tin?"

"Apakah dia putri tunggal Hong Yok su?" tanya si jago pedang buta Bok Ci, setelah tertawa lanjutnya, "adik Im, nampaknya kau memang seorang yang hokki"

Liong Tian im termenung sambil membungkam beberapa saat lamanya, kemudian dia baru berkata:

"Aku tak ingin berjumpa dengan dia !"

"Lote, jangan kelewat jual mahal" ujar si jago pedang buta Bok Ci sambil tertawa, "cintamu tumbuh dari sanubari yang suci, cinta hanya bisa terbentuk bila masing masing pihak ada jodoh dan dapat bersatu padu, andaikata kau melepaskannya, mungkin dikemudian hari kau akan merasa menyesal sepanjang masa..."

"Aku sama sekali tidak menaruh perasaan apa apa kepadanya . . . ." Dia menarik napas panjang-panjang dan berusaha untuk menghapus bayangan tubuh Hong Tin tin dari benaknya, lalu bergumam lebih lanjut:

"Setelah lukaku sembuh nanti, masih ada banyak pekerjaan yang harus segera kuselesaikan"

Bok Ci termenung beberapa saat lamanya, kemudian berkata lagi:

"Aku tak bisa melarang ataupun mencampuri urusanmu dalam bercinta. tapi. . . adik Im, aku perlu menasehati dirimu untuk menghargai cinta kasih sendiri, ketahuilah waktu yang sudah lewat tak pernah akan kemoali lagi"

Sementara itu suara panggilan tadi makin lama kedengaran semakin bertambah dekat.

Terdengar Bok Ci berkata lagi:

"Biarlah aku memanggilnya kemari, daripada dia manggil manggil diatas dengan nada putus asa.."

"Jangan!" cegah Liong Tian im sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, "aku tak boleh terlibat soal cinta, karena aku seperti awan diangkasa, tiada suatu tempat yang bisa berpijak, aku tahu bahwa aku akan terlibat bahaya didalam dunia persilatan, aku akan selalu terjerumus dalam percikan darah."

Dia memegang ujung baju Bok Ci kencang kencang, kemudian menambahkan lagi:

"Karena aku tahu, kehidupanku selama ini hanya akan terlibat terus didalam budi dan dendam .." Bok Ci membelalakkan sepasang matanya yang kosong, lalu menepuk bahu Liong Tian im dengan lembut, bisiknya:

"Lote, aku sudah memahami perasaanmu sekarang!"

Untuk sesaat suasana didalam gua itu berubah kembali dalam keheningan dan kesepian yang terdengar hanyalah suara panggilan dari gua yang makin lama semakin dekat.

Hong Tin tin agaknya yang penuh kesedihan sedang memanggil nama Liong Tian Im, dia berulang ulang menuju depan dari mulut gua, sementara sepasang matanya mengawasi kesana kemari dengan penuh perasaan bingung.

Liong Tian im mengintip dari balik celah -celah tumbuhan rotan yang lekat, dia dapat menyaksikan rambutnya yang panjang berkibar terhembus angin, diajari dapat menyaksikan potongan badannya yang lembut, ramping dan menarik.

Hong Tin tin telah menundukkan kepalanya waktu itu, namun dia masih saja bergumam:

"Tian im... Tian im "

Lama kelamaan Bok Ci merasa tak tega juga sambil menghela napas segera bisiknya: "Coba lihatlah, betapa kasihannya gadis itu."

Liong Tian im memandang rambutnya yang terhembus angin itu dengan termangu, kemudian gumamnya.

"Aku tak dapat mencintainya, aku adalah seorang lelaki yang tidak berperasaan "

Mendadak Bok Ci berpaling kemudian menukas. "Hei, mengapa kau berkata demikian? Tiada manusia yang tidak berperasaan apalagi manusia memang satu satunya makhluk didunia ini yang paling kaya akan perasaan, mengapa kau mengatakan begitu?"

Setelah berhenti sebentar, dia berkata lebih jauh: "Adik Im, kau tak boleh berkata begitu"

Dengan termangu-mangu Liong Tian im memperhatikan raut wajah Bok Ci yang kurus kering, dia pun tak mengucapkan sepatah katapuh, sedang dalam hatinya diam diam ia berpikir:

"Aaai, kau mana tahu kalau kami perguruan Kim mo bun adalah suatu perguruan dengan musuh besar yang tersebar dimana mana? Seandainya aku sampai terlibat dalam kancah perasaan cinta, maka selama hidup Kim mo bun tak akan bisa muncul kembali dalam dunia-persilatan dan kehidupanku pun tak akan bisa berlangsung lebih jauh. . ."

Suara panggilan dari Hong Tin tin itu akhirnya mengikuti bayangan tubuhnya yang sempoyongan makin lama semakin menjauh sehingga akhirnya tak kedengaran lagi.

Bok Ci menghela napas panjang, pelan-pelan ia bangkit berdiri, lalu berkata:

"Tian im, kau tinggallah didalam gua ini, aku akan pergi mengambil obat, sebentar akan ku obati lukamu"

"Sejak kecil siaute sudah hidup dalam penderitaan, tiada orang yang menaruh perhatian sehangat ini, tapi kali ini saudara Bok Ci telah menolong diriku." Belum habis dia berkata si Jago pedang buta Bok Ci telah menukas dengan suara dalam:

"Yang penting dalam kehidupan manusia adakah memperoleh seorang teman setia yang dapat dipercaya, asal orang ini bisa kau temukan maka sepanjang masa kau tak akan merasa kecewa, Asal kau bersedia menganggap diriku sebagai toakomu bukan sebagai orang lain, aku.,."

"Toako, mengapa kau..."

Jago pedang buta Bok Ci tersenyum:

"Dulu akupun bukan seorang yang buta, seandainya bukan gara gara soal cinta, bagaimana mungkin aku bisa mengorek keluar sepasang mataku sendiri. .?"

Setelah menghela napas panjang, lanjutnya:

"PersoaIan ini akan kau ketahui dikemudian hari, sekarang rasanya aku tak perlu untuk memberitahukan kepadamu lagi!"

Dari mimik wajah Bok Ci yang penuh penderitaan, Liong Tian im tahu kalau dibalik semuanya itu pasti terselip suatu kejadian masa lampau yang penuh penderitaan dan fcei han.

Terdengar Bok Ci berkata lagi: "Adik Im, bila lukamu telah sembuh nanti kita berangkat ke Lok sui untuk menjemput adikku, waktu itu kita bertiga boleh saja melakukan perjalanan bersama menelusuri dunia persilatan sekalian membalaskan dendam sakit hatimu..."

"Terima kasih toako..." "Diantara saudara sendiri, buat apakah kau mesti mengucapkan banyak terima kasih?." tukas Bok Ci sambil mengulapkan tanganya,

Dengan langkah lebar dia berjalan keluar dari gua itu, menyingkirkan tumbuhan rotan dan menembusi kabut yang tebal lenyap dikejauhan.

Liong Tian im duduk termangu sambil mengawasi ranting yang bergerak terhembus bayu dia tak menyangka akan bertemu dengan seorang teman seperti Bok Ci yang bersedia membantunya dengan penuh tenaga.

Dengan suara lirih segera gumamnya:

"Hubungan antara manusia memang seharusnya terdapat kasih dan kesetiaan bukanlah kekosongan dan kebusukan yang sering kubayangkan."

Lama kemudian Liong Tian im baru menghela napas panjang, duduk bersila dan pelan pelan mengerahkan tenaga dalamnya untuk di salurkan mengelilingi seluruh badan.

Entah berapa lama sudah lewat akhirnya, dia berhasil meronta bangun dari suatu perjalanan yang penuh dengan penderitaan suasana diluar gua itu gelap gulita.

Dia menyeka keringat yang membasahi jidatnya kemudian berpikir:

"Tak kusangka luka yang kuderita sudah begini parahnya hampir saja nadi penting Tak BftJi ku turut terluka ..."
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Cincin Maut Jilid 06"

Post a Comment

close