Tapak-tapak Jejak Gajahmada Jilid 12

Mode Malam
 “Pasang telinga kalian lebar-lebar, aku murid tunggal Kera Sakti seribu bayangan. Orang-orang memanggilku sebagai Kera sakti berdarah dingin. Dan aku memang biasa membunuh orang tanpa berkedip. Mulai saat ini akulah penguasa diatas bukit Cemara ini. Pergilah kalian sebelum pikiranku berubah”, berkata Putu Risang dengan wajah penuh wibawa meski didalam hatinya tertawa kecil dengan asal menyebut julukan yang mungkin dapat menggetarkan kedua begundal didepannya itu

Ternyata sesumbar Putu Risang membawa hasil, terlihat kedua orang itu dengan penuh rasa takut segera meninggalkan Putu Risang.

Terlihat Putu Risang masih menyunggingkan senyumnya manakala telah melihat kedua orang itu sudah pergi jauh menghilang di balik sebuah jalan yang menurun.

Dan Putu Risang sudah berada diatas punggung kudanya tengah bersiap untuk melanjutkan perjalanannya.

Namun tiba-tiba saja telinganya telah mendengar suara tertawa terdengar dari berbagai penjuru mata angin. Tersadar Putu Risang bahwa pemilik suara itu pastilah orang yang berilmu sangat tinggi.

Putu Risang telah melompat dari atas kudanya berusaha mencari sumber suara itu, tapi tidak juga didapati dari mana sumber suara itu berasal.

Dan suara tawa itu tiba-tiba saja berhenti.

Dan Putu Risang telah bersiaga penuh, penuh kewaspadaan menanti apa yang akan terjadi.

Mata dan pendengaran Putu Risang yang cukup tajam telah melihat sebuah sosok tubuh keluar dari sebuah gundukan batu besar tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dan Putu Risang telah melihat seutuhnya sosok tubuh itu, hanya seorang yang sudah sangat tua memakai baju serba hitam dengan rambut sudah dipenuhi warna putih, juga kumis dan jenggotnya yang terlihat sudah menyatu, semuanya juga berwarna putih.

“Selamanya aku si Kera Sakti Tanpa Bayangan tidak pernah punya murid, namun hari ini ada seorang bocah tengik mengaku murid tunggalku”, berkata orang tua itu sambil berjalan mendekati Putu Risang.

Bukan main terkejutnya Putu Risang bahwa tanpa sengaja telah menyebut sebuah nama, dan ternyata orang yang disebut namanya itu memang ada.

Percaya atau tidak percaya orang tua itu memang telah menyebut nama julukannya sendiri. Nama yang diucapkan oleh Putu Risang secara sembarangan untuk membuat takut kedua begundal tadi.

“Maafkan aku, tadi aku hanya asal mengucap. Dan ternyata nama itu memang ada”, berkata Putu Risang dengan kedua tangannya merangkap di depan dada sebagai tanda permintaan maaf juga sebagai penghormatan.

“Sengaja atau tidak sengaja kamu harus mempertanggung jawabkannya”, berkata orang tua itu dengan pandangan mata yang terlihat begitu tajam kearah Putu Risang.

Dan cahaya kilat mata itu seperti terasa menusuk dan menekan dada Putu Risang.

“Lepaskan cambukmu, aku ingin tahu sejauh mana kamu dapat memainkannya”, berkata orang itu masih dengan sorot mata yang begitu tajam.

Dan Putu Risang seperti tersihir, telah melepas cambuknya dari ikatan pinggangnya.

Terlihat orang tua itu telah berdiri dengan posisi tubuh begitu rendah, benar-benar mirip seekor kera jantan yang ganas bersiap menerkam mangsanya.

“Tunjukkan kemampuan puncakmu”, berkata orang tua itu sambil melesat melenting mendekati Putu Risang dengan kedua tangan langsung tertuju arah kepala Putu Risang.

Melihat serangan yang cepat itu Putu Risang sadar bahwa lawannya itu bukan orang sembarangan. Maka dengan mengerahkan kecepatannya bergerak, segera Putu Risang bergesar jauh menghindari serangan itu dan langsung menyerang balik dengan sebuah sabetan cambuk kearah kaki orang tua itu membentuk setengah lingkaran.

“Hebat..!!”, berkata orang tua itu sambil melompat keatas menghindari ujung cambuk Putu Risang.

Bukan main kagetnya Putu Risang bahwa orang tua itu tidak hanya melejit menghindari cambuknya, namun dengan gerakan yang seperti terbang sudah melesat begitu cepatnya mendekati dirinya dengan dua tangan mengancam akan mencengkeram paha kanannya.

Untungnya Putu Risang adalah murid terkasih dari Mahesa Amping juga Empu Dangka yang telah membentuknya sebagai pemuda yang tangguh, penuh percaya pada dirinya sendiri dan tidak mudah menyerah. Namun menghadapi orang tua itu telah membuat perasaan Putu Risang seperti teguncang, untuk pertama kalinya mendapat seorang lawan dengan jurus yang aneh dan dapat bergerak begitu cepat, juga tidak dapat dibaca dan tak terduga. Kembali Putu Risang harus secepatnya bergerak bergeser jauh menghindari terkaman kedua  tangan orang tua itu. Dan dengan cambuk di tangan Putu Risang segera membuat serangan balik.

Sebuah lecutan sendal pancing yang cepat telah mengarah kepada orang tua itu, kali ini Putu Risang memang telah melepaskan seluruh kemampuan dan kecepatannya dengan berpikir bahwa orang tua itu bukan orang sembarangan, sedikit lengah akan berdampak celakai dirinya.

Kembali orang tua itu memperlihatkan kelincahannya mengelak serangan cambuk Putu Risang hanya dengan bergeser sedikit langsung maju mendekat, dan serangan dari oran tua itu berasal dari sebuah kakinya yang meluncur mengancam pinggang Putu Risang.

“Bagus, tunjukkan seluruh kemampuanmu!!”, berkata orang tua itu dengan suara membentak.

Dan dengan segala kemampuanya Putu Risang dapat menghindari tendangan keras itu.

Demikianlah, serang dan balas menyerang masih saja terus berlangsung. Putu Risang yang bersenjata cambuk berusaha mengambil jarak serang, sementara orang tua itu yang bertangan kosong selalu berusaha mendekat.

Dan tidak tersadar Putu Risang telah mengerahkan segenap kemampuan puncaknya, berusaha mengimbangi serangan yang begitu tangguh dari orang tua yang bertangan kosong itu, namun serangannya benar-benar sangat berbahaya.

Orang tua itu ternyata sangat tangguh dihadapan Putu Risang, tidak sedikit pun terlihat menurun kekuatan dan kemampuannya, bahkan semakin lama serangan orang tua itu semakin dahsyat menekan pertahanan Putu Risang.

Dan Putu Risang benar-benar merasakan sebuah tekanan serangan yang datangnya seperti ombak bergulung-gulung tidak pernah berhenti menguras habis seluruh kekuatannya. Terlihat peluh sudah membasahi wajah dan tubuhnya. Sementara itu lawannya masih seperti sediakala, tidak berpeluh sama sekali seperti belum berbuat apa-apa. Dan ternyata orang tua itu masih terus meningkatkan tataran ilmunya satu tingkat dari sebelumnya.

Luar biasa, Putu Risang semakin terkuras habis kekuatan dan kemampuannya.

Akhirnya dalam sebuah gebrakan, Putu Risang sepertinya sudah tidak punya kekuatan lagi manakala sebuah tangan yang kuat telah memegang ujung cambuknya. Sebuah tangan orang tua itu seperti sebuah besi kuat menjepit ujung cambuk Putu Risang.

Achh…..!!!!

Terdengar suara tertahan dari bibir Putu Risang manakala orang tua itu hanya dengan sebuah hentakan telah berhasil membuat Putu Risang melepaskan cambuk dari tangannya.

Dan cambuk itu kini telah berpindah tangan.

“Sebuah cambuk yang bagus”, berkata orang tua itu sambil mengamati cambuk Putu Risang yang kini telah berpindah tangan.

“Katakan sejujurnya, apa hubunganmu dengan Empu Dangka”, berkata orang tua itu sambil memandang Putu Risang dengan tatapan yang tajam.

“Beliau adalah guru kami”, berkata Putu Risang seperti tersihir langsung berkata sejujurnya.

“Sudah kuduga, ternyata hari ini aku masih bisa bermainmain lagi dengan jurus ilmu cambuknya”, berkata orang tua itu sambil melempar cambuk ke arah Putu Risang.

“Orang tua mengenal guruku?”, berkata Putu Risang sambil menangkap kembali cambuknya.

“Gurumu adalah sahabatku, tapi masih punya hutang satu pukulan kepadaku”, berkata orang tua itu tidak lagi menampakkan kilatan cahaya matanya. Garis wajahnya sepertinya telah membias penuh rasa murung dan kegelisahan.

“Guruku punya satu hutang pukulan, aku belum mengerti”, berkata Putu Risang penuh ketidak tahuan meminta orang tua itu menjelaskan maksud perkataannya.

Terlihat orang tua itu membuka sedikit pakaian yang menghalangi dadanya.

“Gurumu telah meninggalkan luka yang cukup dalam di dadaku ini”, berkata orang tua itu sambil memperlihatkan dada kanannya yang terlihat segaris bekas luka, tidak terlalu panjang hanya segaris telunjuk orang dewasa.

“Empu Dangka melukaimu?”, berkata Putu Risang setelah melihat bekas luka di dada orang tua itu.

“Bukan hanya melukai, tapi telah merubah semua jalan hidupku”, berkata orang tua itu.

“Merubah jalan hidupmu?”, bertanya Putu Risang yang menjadi semakin penasaran ingin mengetahui cerita orang tua itu dan hubungannya dengan Empu Dangka.

“Pertanyaanmu memancing aku untuk bercerita, simpan saja pertanyaanmu untuk gurumu, beliau pasti akan bercerita tentang aku dan tidak akan lupa tentang diriku”, berkata orang tua itu kepada Putu Risang yang tidak dapat memaksa orang tua itu bercerita lebih jauh lagi tentang dirinya.

Dan orang tua itu telah berjalan meninggalkan Putu Risang seorang diri.

“Orang tua yang aneh”, berkata Putu Risang sambil memandang langkah orang tua itu yang berjalan semakin menjauh menghilang di sebuah jalan menurun.

Dan Putu Risang seperti baru tersadar, bahwa dirinya masih mempunyai sebuah tugas.

Putu Risang terlihat telah melompat diatas punggung kudanya, dibiarkannya langkah kuda berjalan sesukanya, sementara di benaknya masih terpikir tentang orang tua yang baru saja dijumpainya itu. Putu Risang seperti seekor elang muda yang mulai terbang sedikit  jauh keluar dari sarangnya. Ternyata di alam luas begitu banyaknya orang yang memiliki kepandaian yang jauh melampaui dirinya.

“Ternyata kepandaian diriku hanya sekelas sedikit melebihi seorang begundal pasar”, berkata Putu Risang sambil tersenyum mengingat kembali dua orang begundal tadi yang hendak membawa kabur kudanya.

“Aku harus terus menempa diri”, berkata kembali Putu Risang dalam hati menguatkan hati dan pikirannya untuk selalu menempa dirinya.

Sementara itu matahari dihadapan Putu Risang sudah hampir menukik ke barat, seekor elang jantan terlihat terbang melintas diatas kepalanya mungkin tengah mencari jalan pulang menemui pasangan betinanya yang tengah mengerami telur-telur mereka di sarangnya. “Hutan galam”, berkata Putu Risang dalam hati ketika dihadapannya menghadang sebuah rawa cukup luas yang dipenuhi banyak tumbuhan kayu pohon galam.

Dan kaki –kaki kuda Putu Risang telah terjun berjalan diatas tanah rawa yang berair dangkal, hanya sebatas lutut orang dewasa.

“Semasa mudanya tuanku Raden Wijaya benar-benar seorang pengembara sejati, begitu rinci menunjukkan kepadaku jalan menuju Kotaraja Kediri”, berkata Putu Risang yang merasakan petunjuk dan arahan Raden Wijaya begitu rinci sehingga dirinya tidak merasa sulit menyusuri jalan menuju Kotaraja Kediri untuk pertama kalinya ini, seorang diri !!!.

Benar, seorang diri Putu Risang untuk pertama kalinya  ke sebuah tempat yang belum pernah didatanginya, meski dalam sebuah mimpi sekalipun.

“Berjalanlah kamu kearah tenggelam matahari”, perkataan ini begitu sangat dihafalnya, itulah salah satu petunjuk arah yang disampaikan oleh Raden Wijaya kepada Putu Risang.

Sementara itu matahari sudah mulai bersembunyi rebah di balik gerumbul sebuah hutan di seberang hamparan padang ilalang.

“Padang ilalang”, berkata Putu Risang dalam hati menatap sebuah padang ilalang yang cukup luas ketika langkah kaki kudanya mulai menapaki tanah kering meninggalkan tanah rawa.

“Aku akan bermalam di tepi hutan itu”, berkata kembali Putu Risang dalam hati sambil memandang kearah cakrawala langit biru yang sudah mulai meredup.

Demikianlah, ketika Putu Risang telah melewati padang ilalang yang cukup luas akhirnya telah berada di tepi sebuah hutan.

Terlihat Putu Risang mencari sebuah tempat yang baik untuk dirinya bermalam.

Dan Putu Risang mendapatkan sebuah tempat yang baik, sebuah tanah rata dibawah sebuah pohon besar yang cukup rimbun menghalangi dirinya dari terpaan angin malam yang dingin.

Hari memang masih jauh menjelang malam.

Terlihat Putu Risang tengah duduk sempurna, melakoni sebuah laku rahasia, sebuah cara olah pernapasan untuk memupuk kembali tenaga cadangan. Melepas segala alam pikirannya tertuju hanya pada satu rasa, satu jiwa dalam penyatuan abadi.

Dan Putu Risang memang telah menikmati lakunya.

Perlahan terlihat Putu Risang membuka kelopak matanya, menarik nafas panjang.

Dan Putu Risang perlahan berdiri dengan sikap siap berlatih melepaskan beberapa gerakan perlahan dan semakin lama gerakan itu semakin cepat.

Dibawah gelap malam di pinggir sebuah hutan yang sepi Putu Risang terus berlatih, ternyata semangatnya telah tumbuh semakin kuat untuk dapat mencapai tataran yang lebih tinggi terutama ketika dirinya dibenturkan oleh kenyataan pahit bahwa ilmu kepandaiannya masih jauh dari sempurna.

Hingga ketika sang malam menjadi begitu pekat bersama semilir angin yang cukup dingin, barulah Putu Risang menghentikan latihannya.

Dan Putu Risang sudah mulai dapat mengukur sejauh mana kekuatan dirinya, kecepatannya bergerak dan kekuatannya mengungkapkan hawa dingin dan hawa panas yang dapat dilontarkannya.

Tarrr !!!!

Putu Risang melecutkan cambuknya kearah sebuah batu sebesar kepala kerbau dengan sebuah kekuatan tenaga cadangan yang penuh.

Terlihat batu itu langsung menjadi pecah tiga.

“Aku memang harus terus berlatih”, berkata Putu Risang sambil menatap pecahan batu dihadapannya.

“Aku pernah melihat Tuanku Senapati Mahesa Amping menghancurkan sebuah batu menjadi abu yang beterbangan”, berkata Putu Risang dalam hati mengukur sendiri sejauh mana tataran ilmunya harus ditingkatkannya.

Demikianlah didalam perjalanannya Putu Risang selalu menyempatkan dirinya untuk terus berlatih. Perlahan tapi pasti dengan dasar semangat, sedikit demi sedikit beberapa rahasia-rahasia yang selama ini terhijab semakin terbuka. Putu Risang mulai menemukan sebuah jalur khusus yang lebih terang dan tanggas bagaimana menyerap dan memupuk kekuatan dan kemampuan tenaga cadangan yang ada didalam dirinya. Dengan dasar itu pula Putu Risang dapat melepaskan kekuatan yang berlipat ganda dari sebelumnya, juga dalam hal meningkatkan kecepatannya bergerak.

“Guru sejati”, berkata Putu Risang penuh kegembiraan manakala menemukan sebuah cara dan kemudahan baru.

Tarr…!!!!

Terlihat sebuah batu hancur dalam banyak pecahan kecil tak berbentuk. Dan terlihat Putu Risang tengah berdiri tegap sambil memegang ujung cambuknya.

“Masih banyak waktu untukku meningkatkan tataran kemampuanku”, berkata Putu Risang sambil memandang pecahan batu dihadapannya.

Dan tidak terasa Putu Risang sudah menempuh perjalanan yang cukup jauh meninggalkan Bumi Majapahit.

Hari itu matahari bulat sudah mulai surut mendekati arah barat cakrawala langit biru. Dan Putu Risang sudah berada di sebuah Padukuhan yang berada tidak jauh dari Kotaraja Kediri. Hanya sejarak satu malam perjalanan.

“Teruslah kamu menyusuri jalan di jalur ini, inilah jalan kearah menuju Kotaraja”, berkata seorang penduduk kepada Putu Risang memberikan arah menuju Kotaraja Kediri.

Dan Putu Risang memang tidak bermalam di Padukuhan itu, tapi terus berjalan keluar dari Padukuhan itu menyusuri jalan searah menuju Kotaraja Kediri.

Dan seperti biasa, sebagaimana hari-hari sebelumnya. Putu Risang selalu mencari tempat untuknya berlatih.

Putu Risang mendapatkan sebuah hutan kecil yang sepi. Sebuah tempat untuk Putu Risang beristirahat dan berlatih jauh mendekati sepertiga malam.

Dan sang bulan terlihat mengintip di sebuah dahan dan ranting, menyaksikan seorang pemuda yang tengah menempa dirinya. Gerakan pemuda itu seperti bayangan malam mirip seperti penari. Namun semakin lama menjadi semakin begitu cepat sukar sekali pandangan mata biasa untuk menangkap gerakan itu.

Tarrrr…!!!!! Terdengar sebuah ledakan memecah udara malam.

Terlihat Putu Risang berdiri tegap sedikit merenggang sambil memegang sebuah cambuk pendek yang dibiarkannya jatuh menjurai menyentuh tanah.

Putu Risang merasakan suara cambuknya sudah jauh lebih keras bertenaga.

Sementara itu langit malam diatas hutan itu sudah semakin berwarna merah, tidak terasa bahwa Putu Risang telah menggunakan hampir separuh malamnya untuk berlatih.

Dan Putu Risang terlihat berjalan ke arah sebuah batang pohon yang cukup besar. Putu Risang pun langsung duduk bersandar melepas segala kepenatannya.

Tidak begitu lama, akhirnya Putu Risang terlihat sudah terlelap tertidur dengan suara nafas yang terdengar perlahan.

Perlahan warna langit malam telah berganti kemerahan. Perlahan pula di ujung timur cakrawala pijar cahaya matahari pagi menyembul memancarkan warna kuning terang semakin melebar.

Bersama itu pula terdengar beberapa suara ayam hutan jantan sayup dikejauhan. Satu dua burung kecil terlihat melesat diatas langit hutan yang sudah semakin terang pagi.

Dan Putu Risang sudah terlihat terbangun dari tidurnya mencoba menghirup udara pagi di hutan itu yang begitu menyegarkan.

Segera Putu Risang berjalan kearah kudanya yang diikat di sebuah pohon kayu tidak jauh dari tempatnya beristirahat. “Kotaraja Kediri tidak jauh lagi”, berkata Putu Risang sambil mengusap leher kudanya membiarkan langkah kuda berjalan sekehendaknya menyusuri jalan tanah yang cukup keras.

Nampaknya jalan itu sudah begitu sering dilalui orang.

Ditengah perjalanan Putu Risang kadang menemui beberapa pedagang dengan gerobak kudanya kearah berlawanan.

“Mari kita berpacu”, berkata Putu Risang sambil menyentakkan kakinya diatas perut kudanya.

Terlihat kuda Putu Risang sudah berlari seperti terbang membelah angin. Udara pagi yang masih segar menambah semangat dan gairah didalam diri pemuda ini.

Dan kuda Putu Risang sudah semakin jauh berlari menyusuri jalan menuju Kotaraja Kediri.

Sementara itu mentari terus bergeser merubah bayangbayang bumi. Siapa gerangan yang mampu menahan gerak sang surya yang terus merayap di lengkung cakrawala langit terang ?, hanya segerombol awan putih kapas yang kadang memayungi para anak gembala dari terik matahari.

Perlahan matahari bisu telah jemu turun merayapi tepi ujung barat cakrawala. Perlahan cahaya matahari pun semakin meredup mengukir warna Sandikala.

Dan hari telah jatuh di akhir senja ketika kuda Putu Risang terlihat tengah memasuki pintu gerbang ujung timur batas kota Kediri.

“Aku harus mencari tempat untuk bermalam”, berkata Putu Risang ketika langkah kudanya sudah memasuki jalan Kotaraja yang sudah terlihat hampir lengang. Putu Risang melihat beberapa bangunan rumah yang cukup besar dengan pilar penyangga berukir halus dari bahan kayu yang bagus dan kuat. Beberapa rumah megah itu berdiri dikiri kanan jalan Kotaraja Kediri.

Hanya satu dua orang yang masih terlihat berjalan.

Akhirnya ketika bertanya kepada seseorang yang tengah menurunkan gerabah di sebuah tempat, orang itu mengantar Putu Risang ke rumah sepupunya.

“Mabujang itu masih sepupuku, biasa menerima sewa untuk penitipan kuda, dan mereka yang hanya dua tiga hari di Kotaraja ini”, berkata orang itu kepada Putu Risang.

Rumah sepupu orang itu yang dipanggilnya bernama Mabujang itu memang bukan di pinggir jalan Kotaraja. Terlihat mereka masuk ke sebuah jalan setapak.

“Perkenalkan sepupuku ini”, berkata orang itu ketika sampai di sebuah rumah dan telah menemui seseorang yang bernama Mabujang.

Kepada Mabujang, orang itu menyampaikan maksud dan keperluan Putu Risang.

“Orang muda ini perlu tempat tinggal”, berkata orang itu kepada Mabujang.

Demikianlah, malam itu Putu Risang telah mendapat tempat untuk bermalam bagi dirinya dan kudanya di Kotaraja Kediri.

Dan malam itu Putu Risang tidak berlatih sebagaimana malam sebelumnya. Namun disempatkan dirinya berlatih olah laku sebelum berbaring tidur.

Sementara itu langit malam di Kotaraja Kediri bulan belum bulat sempurna. Udara malam cukup dingin membuat siapapun di malam itu memilih berdiam diri di kamar mengunci rapat-rapat rumah mereka.

Malam itu Putu Risang dapat beristirahat sangat cukup, meski hanya tidur ayam sepanjang malam. Seperti itulah para ksatria pengembara yang selalu terjaga dimanapun berada. Pendengarannya selalu waspada meski mata sudah terpejam. Demikianlah para ksatria menjaga dirinya, di tengah hutan sepi atau di Kotaraja yang ramai.

Namun malam itu tidak ada sesuatu yang terjadi hingga sampai datang pergantian pagi.

Dan pagi itu kotaraja Kediri masih diselimuti kabut, sebuah tanda bahwa Kotaraja Kediri sepanjang hari itu akan menjadi begitu cerah.

“Silahkan dinikmati minuman hangatnya”, berkata Mabujang kepada Putu Risang di awal pagi itu diatas sebuah Bale-bale bambu.

“Terima kasih”, berkata Putu Risang kepada Mabujang sambil mengangkat mangkuk minumam hangatnya.

Dari Mabujang, banyak sekali keterangan yang didapat oleh Putu Risang tentang beberapa hal suasana dan keadaan Kotaraja Kediri.

“Ki Prasojo adalah seniman perak yang sangat terkenal di Kotaraja Kediri, konon banyak para saudagar yang sengaja datang kemari hanya untuk menunggu sebuah karyanya”, berkata Mabujang ketika ditanya tentang kerajinan perak di Kotaraja ini yang konon pada saat itu sudah sangat dikenal sebagai pusat pengrajin perak.

“Para putri raja pasti sering mendatangi tempatnya”, berkata Putu Risang.

“Kamu benar, aku sering melihat kereta kencana istana sering datang ke rumah seniman itu”, berkata Mabujang menambahkan.

Demikianlah, hari itu Putu Risang telah berniat mendatangi rumah ki Prasojo, seniman perak itu. Tidak susah memang mencari rumah Ki Prasojo. Dengan sedikit petunjuk dari Mabujang, akhirnya Putu Risang sudah dapat menemui rumahnya yang berada di ujung pasar Kotaraja Kediri.

“Ada yang dapat kubantu wahai anak muda”, berkata Ki Prasojo ketika menerima kedatangan Putu Risang di rumahnya.

“Ada sedikit keperluan, mudah-mudahan Ki Prasojo dapat membantu”, berkata Putu Risang dengan penuh senyum menanggapi penerimaan Ki Prasojo yang cukup ramah itu.

“Mudah-mudahan aku dapat membantumu wahai anak muda”, berkata Ki Prasojo masih dengan sikap keramahannya.

Terlihat Putu Risang mengeluarkan sebuah kotak kecil berukir dari balik pakaiannya.

Bukan main terperanjatnya Ki Prasojo setelah melihat sebuah batu liontin dari dalam kotak kecil itu.

Putu Risang memberikan batu liontin itu kepada Ki Prasojo, dan memberi kesempatan Ki Prasojo melihat lebih jelas lagi.

“Aku mengenal sekali benda ini, dan tidak akan salah mengenal. Karena aku ikut membantu ayahku mengukir hiasan naga diatas batu ini ketika kami masih tinggal bersama di Kotaraja Singasari”, berkata Ki Prasojo sambil memandang kearah Putu Risang dengan wajah penuh keheranan menduga-duga siapakah gerangan anak muda dihadapannya itu. Terlihat Putu Risang menerima kembali liontin batu itu. Diam-diam memperhatikan bayangan seekor naga ada didalam batu itu. Ditambah hiasan perak yang berukir seekor naga melingkari batu itu seperti menambah keindahannya. Itulah benda yang dititipkan oleh Raden Wijaya ketika akan berangkat dari Bumi Majapahit menuju Kotaraja Kediri.

“Benda ini yang kutahu dipesan langsung oleh Pangeran Kertaraja saat itu sebelum dirinya menggantikan Ayahandanya Maharaja Singasari”, berkata Ki Prasojo tidak dapat menahan rasa penasarannya seperti ingin sedikit penjelasan dari anak muda dihadapannya itu mengapa benda itu berada ditangannya.

“Ceritanya panjang”, berkata Putu Risang penuh senyum kepada Ki Prasojo yang dapat dibaca jalan pikirannya ingin mengetahui bagaimana benda itu sampai berada di tangannya.

“Aku perlu sedikit bantuan dari Ki Prasojo, benda ini akan kuserahkan kepada Sri Ratu Turuk Bali sang permaisuri”, berkata Putu Risang dengan suara datar sambil melihat raut wajah Ki Prasojo

“Mengapa tidak langsung saja kamu berikan di istananya”, bertanya Ki Prasojo.

“Aku hanya orang biasa, bagaimana mungkin dapat diterima di istana”, berkata Putu Risang memberikan alasan.

Terlihat Ki Prasojo manggut-manggut sebagai tanda dapat menerima alasan Putu Risang.

“Dua hari lagi Sang Permaisuri akan datang ke rumahku, ada pesanannya yang sudah siap diambil”, berkata Ki Prasojo mencoba mencari jalan keluar. “Terima kasih, dua hari lagi aku akan datang kemari untuk menyerahkannya langsung kepada Sang Permaisuri”, berkata Putu Risang penuh kegembiraan bahwa tugasnya tidak begitu banyak kesulitan, terutama jalan untuk menemui sang permaisuri secara langsung tanpa banyak diketahui orang lain.

Demikianlah, Putu Risang telah pamit diri kepada Ki Prasojo untuk datang kembali dua hari lagi.

Dua hari itu Putu Risang tinggal di rumah Mabujang. Hari-hari tidak banyak yang dilakukannya di Kotaraja Kediri itu. Hanya sekedar menghilangkan kebosanannya kadang dirinya berjalan di sekitar pasar atau berkeliling jalan Kotaraja.

Untuk sekedar menggembirakan hati Mabujang, selalu dirinya membawa buah tangan. Dan ternyata Mabujang sangat menyukai kehadiran anak muda ini terutama memang karena Putu Risang tidak pelit dibandingkan para tamunya yang pernah tinggal di rumahnya.

Namun perhitungan Putu Risang tentang tugasnya menyampaikan pesan Raden Wijaya ternyata tidak semudah yang dikira.

Hal ini bermula dari perkataan Ki Prasojo kepada anak menantunya seorang prajurit perwira Kediri.

“Kemarin ada seorang anak muda membawa sebuah batu naga yang indah, aku tidak habis pikir mengapa benda berharga itu akan diserahkan langsung olehnya kepada Sang Permaisuri”, berkata Ki Prasojo kepada anak menantunya.

Ternyata anak menantunya itu adalah seorang perwira petugas sandi yang segera dapat menangkap ada sesuatu dibalik semua itu. “Jangan-jangan pemuda itu petugas sandi para  penguasa Tumapel”, berkata anak menantunya itu dengan penuh kecurigaan dan masih tersimpan sebuah kebencian dan dendam kepada orang-orang Tumapel, sebuah sebutan lain orang Kediri untuk kerajaan masa lalu Singasari.

Ki Prasojo dalam hati menyesal telah mengatakan tentang anak muda yang datang kepadanya. Ki Prasojo sebagai orang asli Tumapel sendiri telah melupakan permusuhan itu dimana dirinya menjadi salah  satu korban akibat peperangan itu beberapa tahun yang lalu dimana rumahnya telah menjadi korban penjarahan para prajurit Kediri yang berhasil memporak-porandakan Kotaraja Singasari. Dengan mata kepalanya sendiri telah melihat ayahnya tewas pada hari itu.

Dan akhirnya hari yang ditunggu oleh Putu Risang  datang jua!!!

Hari itu matahari pagi sudah mulai naik merayapi cakrawala diatas Kotaraja Kediri.

Sebuah kereta kencana yang ditarik oleh empat ekor kuda terlihat berhenti di muka rumah Ki Prasojo.

Terlihat seorang wanita bergaun sutera begitu elok turun dari kereta kencana.

“Pesanan Tuanku Permaisuri Ratu sudah kami siapkan”, berkata Ki Prasojo kepada wanita itu yang ternyata adalah Ratu Turuk Bali.

Sebagai seorang yang sama-sama berasal dari Tumapel, hubungan antara Ki Prasojo dan Ratu Turuk Bali memang menjadi begitu akrab. Hubungan antara seniman perak dan pelanggan setianya itu sudah berlangsung cukup lama. “Cincin ini akan kuberikan untuk menantu putriku”, berkata Sang Ratu sambil melihat dan mengamati barang pesanannya.

“Maafkan hamba tuanku Ratu, kemarin ada seorang pemuda membawa sebuah batu naga. Katanya dia sendiri akan datang hari ini untuk menyerahkan benda itu kepada tuanku Ratu”, berkata Ki Prasojo kepada ratu Turuk Bali.

“Batu Naga?”, bertanya Ratu Turuk Bali langsung mengingat kembali sebuah batu liontin berhias ukiran naga, sementara batu itu sendiri berisi gambar bayangan seekor naga didalamnya.

“Benar, batu itulah yang dibawa pemuda itu”, berkata Ki Prasojo ketika mendengar penuturan dan ciri-ciri batu itu dari mulut Ratu Turuk Bali.

“Apakah aku harus menunggu?”, berkata Ratu Turuk Bali sambil melihat ke sekeliling bahwa pemuda itu belum ada.

Ki Prasojo tidak berani langsung menjawab, karena belum tahu betul kapan pemuda itu akan datang. Hanya yang dia tahu pemuda itu telah berjanji untuk datang hari ini ke rumahnya.

Ternyata Ki Prasojo memang tidak perlu berkata apapun. Karena pemuda yang ditunggunya sudah terlihat masuk ke rumahnya.

“Inilah pemuda yang akan menyerahkan benda itu”, berkata Ki Prasojo memperkenalkan Putu Risang kepada Ratu Turuk Bali.

“Ampun tuanku Ratu, hamba adalah utusan tuanku Raden Wijaya datang menghadap untuk menyerahkan benda ini”, berkata Putu Risang dengan sikap penuh kehormatan.

“Adakah sebuah pesan yang akan disampaikan oleh keponakanku itu?”, bertanya Ratu Turuk Bali yang langsung dapat menerka pasti ada sesuatu berita yang sangat begitu penting sehingga harus mengutus seorang bertemu langsung kepadanya.

Terlihat wajah Putu Risang menjadi sedikit ragu-ragu karena masih ada Ki Prasojo didekat mereka.

“Katakanlah apa pesannya, Ki Prasojo adalah orang kita sendiri dari Tumapel dan aku yakin dapat merahasiakannya”, berkata Ratu Turuk Bali yang dapat membaca keraguan di wajah Putu Risang.

“Ampun tuanku Ratu, biarlah hamba masuk kedalam sebentar”, berkata Ki Prasojo yang merasa sungkan mendengar pesan rahasia, apalagi bila mengingat perkataan kepada anak menantunya tentang pemuda ini.

“Terima kasih Ki Prasojo”, berkata Ratu Turuk Bali kepada Ki Prasojo dan mengerti keberatannya mendengar sebuah pesan rahasia.

“Ampunkan hamba, Tuanku Raden Wijaya hanya berpesan bahwa Tuanku Ratu diharapkan sudah pergi menjauhi Kotaraja Kediri sebelum datangnya bulan purnama kedua”, berkata Putu Risang kepada Ratu Turuk Bali ketika Ki Prasojo sudah masuk kedalam.

“Siapa namamu?”, bertanya Ratu Turuk Bali ketika Putu Risang bermaksud untuk pamit diri.

“Nama hamba Putu Risang”, berkata Putu Risang sambil merangkapkan kedua tangannya sebagai penghormatan akhir sekaligus permohonan pamit dirinya.

Terlihat Ratu Turuk Bali tengah memandang Batu berukir naga perak itu, dan pikirannya pun terbayang jauh dimasa indah ketika masih bersama keluarga di Kotaraja Singasari.

Batu Naga perak itu telah mengingatkannya kembali kepada adiknya tercinta sang Maharaja Singasari, Kertaraja yang tidak mungkin dapat ditemui lagi. Sudah abadi di alam Kharmaphala.

Jiwa Ratu Turuk Bali pun seperti terlempar jauh terjatuh di sebuah waktu yang begitu menyita hati dan perasaannya, di sebuah waktu dimana dirinya seperti direntangkan oleh dua pilihan, memilih keluarga atau pengabdian sucinya kepada sang suami tercinta.

Kepedihan perasaan ratu Turuk Bali membuat dirinya terlempar kembali di alam nyata hari itu, mengingat dan memecahkan sebuah pesan rahasia dari Raden Wijaya yang baru diterimanya lewat seorang utusan, seorang pemuda yang mengaku bernama Putu Risang.

“Mungkinkah sebuah isyarat bahwa Raden Wijaya akan datang ke Kotaraja Kediri bersama bala pasukannya?. Sampai kapan pergolakan keluarga ini berakhir?”, berkata Ratu Turuk Bali kepada dirinya sendiri seperti kembali diombang-ambingkan oleh dua perasaan dan dua pilihan yang sangat menyakitkan. Antara pengabdian suci kepada suami dan kecintaannya pada keluarga, keluarga Tumapel yang telah membesarkannya dengan cinta kasih dan ketulusan hati.

“Ampun tuanku ratu, apakah anak muda itu sudah pergi?”, bertanya Ki Prasojo kepada ratu Turuk Bali.

Pertanyaan dari Ki Prasojo telah menyadarkan dirinya dari suasana perasannya yang seperti masuk dalam putaran kebimbangan hati.

Dan Ratu Turuk Bali tidak langsung menjawab pertanyaan Ki Prasojo, terlihat mencoba menarik nafas panjang sekedar melepas rasa kegundahan hatinya.

“Anak muda itu telah pergi”, berkata Ratu Turuk Bali kepada Ki Prasojo setelah mampu menyeimbangkan perasaan hatinya.

Terlihat Ki Prasojo menarik nafas panjang penuh kekhawatiran. Tapi Ratu Turuk Bali tidak dapat membaca apa yang dipikirkan oleh Ki Prasojo.

Ternyata kekhawatiran Ki Prasojo terbukti.

Terlihat Putu Risang telah keluar dari rumah kediaman Ki Prasojo seniman perak itu. Sementara itu Putu Risang tidak menyadari ada beberapa pasang mata tengah mengawasinya.

Antara Rumah Ki Prasojo dengan kediaman Mabujang memang tidak begitu jauh, namun Putu Risang masih juga tidak menyadari bahwa ada beberapa orang yang tengah menguntitnya sampai di kediaman Mabujang.

“Sore ini aku akan berangkat meninggalkan Kotaraja”, berkata Putu Risang kepada Mabujang sambil bercerita bahwa urusannya di Kotaraja Kediri ini sudah selesai.

Demikianlah, ketika menjelang sore harinya terlihat Putu Risang tengah berkemas untuk melakukan perjalanannya kembali, pulang ke Bumi Majapahit.

Semilir angin sejuk telah membelai daun pepohonan di ujung timur gerbang batas Kota Kediri. Gerumbul awan putih berarak melintasi cahaya matahari membuat wajah bumi sore menjadi redup teduh.

Terlihat seorang pemuda diatas punggung kudanya tengah melintasi gerbang timur batas Kota Kediri. Dialah Putu Risang yang telah menyelesaikan tugasnya menyampaikan sebuah pesan rahasia Raden Wijaya kepada Ratu Turuk Bali.

Jalan tanah keras yang sering dilalui oleh para saudagar di sore itu nampaknya telah begitu sepi. Putu Risang masih belum juga menemui dan bersisipan dengan para pedagang yang biasanya datang dan pergi melewati jalan itu.

“Pada waktu datang melewati jalan ini aku banyak menemui para saudagar berjalan dengan gerobak kudanya”, berkata Putu Risang dalam hati merasa ada sebuah kejanggalan.

Ternyata Putu Risang tengah mempelajari ketajaman panggraitanya. Mencoba memahami perasaan yang tibatiba saja muncul dipadu satukan dengan keadaan kasat mata lahiriahnya.

Dan panggraita Putu Risang ternyata mulai terbukti,

Diawali dengan suara derap kuda di belakangnya semakin lama semakin mendekat.

“Berhenti !!”, terdengar suara bentakan.

Putu Risang merasa bahwa suara itu memang ditujukan kepadanya karena tidak ada seorang pun di jalan itu selain dirinya.

Terlihat Putu Risang membalikkan arah kudanya menghadap asal suara bentakan yang memintanya berhenti.

Putu Risang melihat di hadapannya sekitar lima belas prajurit Kediri.

“Kembalilah ke Kotaraja, kamu harus kami periksa”, berkata salah seorang dari mereka yang nampaknya menjadi pimpinan dari pasukan itu.

“Apakah hamba telah melakukan sebuah kesalahan ?”, bertanya Putu Risang dengan suara datar.

“Tidak perlu banyak tanya, ikutlah dengan kami ke Kotaraja”, Berkata pemimpin itu dengan wajah beringas menakutkan.

“Bagaimana bila aku tidak mau”, berkata Putu Risang masih dengan suara datar tidak merasa takut sedikit pun.

“Kami akan mengikatmu, bahkan mungkin akan menyeretmu sampai kembali ke Kotaraja”, berkata pemimpin itu dengan suara mengancam.

“Aku ingin tahu apakah prajurit Kediri dapat menyeretku”, berkata Putu Risang sambil menyentak tali kendali kudanya berputar dan dengan sebuah hentakan kakinya sang kuda tahu betul apa yang diinginkan majikannya itu.

Lari kencang !!!

Dan kuda Putu Risang sudah terbang berlari.

Semua itu berlangsung dengan cepatnya di luar dugaan para prajurit Kediri itu.

“Kejar !!”, berteriak sang pemimpim kepada para prajurit memberi perintah.

Maka terjadilah kejar-kejaran antara Putu Risang di depan dengan para prajurit Kediri.

Dan tanah keras itu seperti bergemuruh oleh tapak-tapak kaki kuda yang tengah saling memacu. Debu mengepul di belakang kaki-kaki kuda mereka.

Matahari yang mulai terbenam dan warna bumi yang sudah mulai muram membuat suasana adu pacu di jalan keras itu begitu mendebarkan.

Terlihat kuda Putu Risang masih tetap di depan tidak tertandingi. Wajah anak muda itu begitu penuh semangat tidak merasa takut sama sekali bahkan terlihat begitu menikmati permainan adu pacu itu bersama para prajurit Kediri di belakangnya.

Namun tiba-tiba saja Putu Risang menarik kekang tali kendali kudanya.

Seketika itu juga kudanya berhenti dengan cara kedua kaki di depan terangkat tinggi.

Permainan apa yang ingin dilakukan oleh anak muda itu

???

Perlakuan Putu Risang yang menghentikan kudanya secara mendadak memang tidak diperhitungkan oleh para prajurit di belakangnya.

Sialnya dua kuda prajurit Kediri nyaris menabrak kuda Putu Risang. Namun sebelum dua kuda itu menabraknya, Putu Risang telah  melepaskan cambuknya dengan lecutan sendal pancingnya.

Tar !!

Tarr !!

Terdengar dua kali suara lecutan berselang tipis seperti tidak ada jarak waktu diantaranya.

Rupanya dua kali suara lecutan cambuk Putu Risang telah memakan dua orang korban, dua orang prajurit Kediri langsung jatuh terlempar dari kudanya merasa terhantam di bagian dadanya dan langsung rebah di tanah tidak bergerak, pingsan !!

Dan Putu Risang kembali menghentakkan kakinya di perut kudanya berlari kembali.

“Kejar !!!”, kembali terdengar suara pemimpin prajurit lebih keras penuh kemarahan. Dan kembali suasana adu pacu kuda terjadi lagi. Kuda Putu Risang melesat begitu cepat dikejar oleh para prajurit berkuda di belakangnya. Debu terlihat mengepul di belakang kaki-kaki kuda, kejar-kejaran itu masih terus berlangsung.

Rambut dan pakaian atas Putu Risang terlihat berkibar ditiup angin bersama derap langkah kaki kuda yang berlari begitu kencang. Putu Risang nyaris tidak dapat terkejar, masih tetap berada terdepan diantara para prajurit Kediri yang seperti berlomba terus mengejarnya.

Tiba-tiba saja Putu Risang melorot turun ke bawah perut kudanya dengan sebelah tangan bergantung dengan tali pelana. Dan dibiarkannya kuda para prajurit Kediri dapat mengejar menyusulnya.

Kejutan apa lagi yang ingin ditunjukkan oleh pemuda berani ini???.

Ternyata cara gila Putu Risang benar-benar mengejutkan para prajurit Kediri, sebuah tangan Putu Risang sambil memegang cambuk telah menjerat kaki seekor kuda prajurit Kediri di dekatnya. Akibatnya kuda itu tergelincir jatuh bersama penumpangnya.

Dan tiga ekor kuda mengalami nasib yang sama, berikut dengan tiga orang prajurit Kediri jatuh terlempar diatas tanah keras dengan cidera patah tulang, yang paling ringan hanya sedikit terkilir pada pergelangan kakinya. Naas salah satu dari mereka bahkan telah jatuh membentur sebuah batu keras, untungnya batu itu menghantam tulang rusuknya. Masih untung bukan kepalanya. Bayangkan !!!.

Dan Putu Risang terlihat sudah duduk kembali diatas punggung kudanya. Membiarkan sisa prajurit Kediri mengepungnya dengan pedang panjang di tangan mereka.

“Serangggg..!!!!”, terdengar suara pemimpin mereka seperti menggunung penuh kemurkaan.

Namun cambuk Putu Risang telah bergerak lebih cepat lagi.

Sebuah gerak melingkar cambuk itu telah menyabet pinggang seorang prajurit Kediri, langsung jatuh dari kudanya merintih kesakitan melihat kulit dagingnya terkelupas meneteskan banyak darah.

Gerakan kedua, sebuah gerak cambuk Putu Risang terlihat membelah langit dari atas ke bawah menyentuh sisi samping seorang prajurit yang tidak sempat menghindar langsung merasakan sakit yang sangat seperti tersengat batang rotan yang menghantamnya begitu keras. Langsung seketika prajurit itu menjerit kesakitan berjumpalitan lepas dari punggung kudanya. Terlihat prajurit itu rebah di tanah kotor sambil meringis masih menahan rasa sakitnya.

Gerakan Putu Risang yang ketiga benar-benar tidak kalah cemerlangnya, kali ini yang menjadi korban adalah seorang prajurit yang berada tepat di belakang Putu Risang.

Ternyata cambuk Putu Risang tidak langsung menyambar ke tubuh Prajurit itu, melainkan hanya menggetarkannya tepat di daun telinga kuda prajurit itu.

Akibatnya memang tidak terpikirkan oleh siapapun, sebab tiba-tiba saja kuda itu meringkik kaget kesakitan kerena merasakan gendang telinganya seperti berdengung keras. Dan kuda itu telah seperti menjadi kuda gila berdiri diatas kedua kakinya. Dan prajurit penunggangnya langsung terlempar tidak dapat mengendalikannya lagi.

“Cincang pemuda gila ini”, berkata pemimpin prajurit Kediri itu dengan darah sudah sampai keatas kepala begitu geramnya melihat satu persatu anak buahnya jatuh menjadi korban.

Dan jumlah prajurit Kediri itu sudah dapat dihitung dengan jari, tersisa enam orang saja.

Terlihat Putu Risang memutar perlahan kudanya hampir separuh lingkaran untuk melihat dan mewaspadai serangan yang mungkin datang secara tiba-tiba.

“Tidak leluasa bertempur seorang diri diatas kuda”, berkata Putu Risang dalam hati langsung menerobos sebuah jalan yang terbuka keluar dari kepungan para prajurit berkuda.

“Mari kita bertempur diatas tanah keras”, berkata Putu Risang yang sudah melompat dari punggung kudanya.

Melihat itu enam orang prajurit itu sudah langsung ikut melompat dari punggungnya. Dan dengan pedang panjang telanjang mereka langsung mengurung Putu Risang.

Tanpa perintah apapun dari pimpinan mereka, para prajurit itu sudah langsung menyerang Putu Risang.

Dan ternyata Putu Risang bukan pemuda biasa, dirinya sudah lama digembleng oleh dua orang sakti, Mahesa Amping dan Empu Dangka. Bukan main geramnya ke enam prajurit itu yang merasa penasaran bahwa pemuda itu begitu alot sukar sekali ditundukkan.

Putu Risang memang tidak langsung balas menyerang, tapi hanya mengandalkan kecepatannya bergerak melompat dan berhindar dari kepungan dan serangan para prajurit. Apa yang ada dalam pikiran Putu Risang ??

Ternyata serangan para prajurit Kediri itu dianggapnya sebagai teman berlatih.

Sebuah pikiran yang sangat nakal dari seorang Putu Risang. Padahal pedang tajam telanjang yang berseliweran di sekitar tubuhnya sebuah hal yang sangat berbahaya.

Kenakalan Putu Risang semakin menjadi-jadi manakala ujung cambuknya titis menyambar kulit pergelangan tangan pemimpin prajurit itu yang terlihat paling bernafsu untuk segera meringkus Putu Risang.

Pemimpin prajurit itu merasakan pergelangan tangannya sakit luar biasa seperti disengat kumbang api, dan tanpa disadarinya pedang yang tengah diayunkan kekepala Putu Risang terlepas begitu saja.

Belum lagi pedang pemimpin prajurit itu jatuh ke tanah, dengan cepat ujung cambuk Putu Risang telah melibat dan menariknya.

Dalam hitungan beberapa kedipan mata, pedang itu telah berpindah tangan, berada digenggaman tangan Putu Risang.

Bukan main terperanjatnya hati pemimpin prajurit itu.

Namun belum habis rasa terperanjatnya itu, pedang ditangan Putu Risang terlihat sudah mengancam kulit leher pemimpin prajurit itu.

“Perintahkan kepada semua anak buahmu untuk melempar senjata mereka”, berkata Putu Risang dengan sebuah kata yang keras mengancam.

“Lemparkan senjata kalian”, berkata pemimpin prajurit itu langsung memerintah kepada semua anak buahnya dengan peluh sebesar jagung terlihat menetes penuh rasa takut yang sangat.

—–oSPo—–
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Tapak-tapak Jejak Gajahmada Jilid 12"

Post a Comment

close