coba

Serial Suro Bodong Eps 12 : Geger Pusaka Matsuri

Mode Malam
l

Suara itu menga ku da ri Le mbah Ma tsuri. Be rgema da n cukup merindingkan bulu roma. Arya Somar, pimpinan pasuka n berkuda dari Ke sulta nan Praja, te rpa ksa  membelalakkan  ma ta  da n memanda ng liar ke sekelilingnya. Tak a da manusia seujung rambut pun ya ng a da di situ. Te ta pi, suda h dua kali Arya Somar merasa dihanta m da da nya hingga te rasa pe rih. Ba hkan yang te rakhir, Arya Somar merasa dite nda ng da gunya hingga bibirnya yang te bal itu berda rah. Se da ngkan sua ra seorang perempua n masih te rde nga r sesekali. Na da sua ra itu se pe rti milik seorang pe rempua n ya ng punya kharisma tinggi.

"Kalau kau tidak mau bicara, maka kau akan mati!"

Nafas Arya Soma r te renga h-e nga h da lam ke te ganga n. Ia memang ce pa t menjadi te gang jika mengalami sedikit keanehan yang membingungkan. Te ta pi, seringkali ia mampu menutup ke te ganga n itu dengan kepura-puraa nnya dalam bersikap te nang. Hanya saja , kali ini, ia berha da pa n denga n lawa n yang tak dike ta hui bagaimana ujudnya . Ia hanya mendenga r nama lembah Ma tsuri, da n menda pa t bebera pa kali serangan yang ta k mampu dita ngkis a ta u dielakka n. Arya Somar mencoba mende likkan ma ta nya  untuk melihat darimana arah da ta ngnya seranga n itu. Te ta pi, ia  tak pe rnah mampu menge ta hui data ngnya serangan lawa n. Tahu-ta hu punggungnya bagai dihanta m pa lu goda m yang bera t, dan Arya Somar berguling-guling sambil memekik kesakita n. Se buah te nda nga n ya ng tak diketahui pe miliknya itu te lah membua t Arya Somar te rguling bebera pa kali. La lu, sebua h sua ra pe rempua n te rde nga r lagi denga n nada pe nuhwibawa :

"Janga n menunggu kami tak saba r lagi. Le kas ka taka n, kau kah yang bernama Suro Bodong? Atau mungkin orang lain yang bernama itu? Jika orang lain, yang mana dia Suro Bodong? Orang yang mana?! Ayo, ka ta kan sekarang juga !"

Arya Somar te rpa ksa bicara de ngan sua ra  te rtaha n, karena  te nda ngan di punggungnya  ba ga i te lah meremukkan tulang di bagian belakang tubuhnya itu.

"Suro Bodong bukanaku! Aku Arya Somar!"

"Jadi, di mana dan yang mana Suro Bodong itu?" sua ra te rsebut semakin, bersifat mendesa k, da n Arya Somar masih te gang. Ia mengenda likan pe rna fasa nnya untuk mengurangi rasa sakit yang dide rita.

"Suro Bodong tida k a da di sini..." ka ta nya . "Suro Bodong se da ng pe rgi!"

"Kau bohong, Arya Soma r. Dan, aku paling benci de nga n orang yang coba-coba membohongiku.

Hiiat...!"

"Aaa oow...!"

Arya Somar menge rang pa njang dengan ke pa la mendongak ke a tas, mulut te rnganga menyeruka n erangan kesakita n itu. Se kali lagi, tahu-ta hu ia se perti dite nda ng de nga n kaki yang kekar. Da da nya bagai hendak jebol, da n na fa snya se perti tinggal se ujung kuku lagi.

"Aku tahu, Suro Bodong berba da n besar da n berkumis teba l. Pasti kaulah ya ng bernama Suro Bodong! Kaulah orangnya , buka n?! Ka u mempunyai tubuh yang sama de nga n ciri-ciri yang kukataka n tadi. Ha nya saja, mungkin kau menghilangkan kumismu belum lama ini. Te ta pi, aku... Ira Le mbayung, tidak mungkin bisa kau kelabuhi denga n pe nampilanmu!"

"Aaa hh...!" Arya Somar yang lemas jadi te rpe nta l sendiri sampa i  kepa lanya membentur  pohon kecil  yang a da di sudut taman. Malam yang gela p, sekali pun ada semburat sinar yang membias da ri lampu penerangan tama n, te ta pi te ta p saja membua t lawan yang mengaku bernama Ira Le mbayung itu mampu menenda ng denga n te pa t. Ba hkan kali ini sebuah pukula n ya ng ta k dike ta hui asalnya te lah berhasil membua t hidung Arya Somar berda rah. Ke mudian, sudut matanya pun merah karena pukula n yang berikutnya .

Malam yang sepi itu, se pertinya te lah dibalut baja , hingga sua ra Arya Somar yang bebera pa kali terpekik sakit tida k da pa t membangunkan pe nghuni Dale m Kesultana n da n sekita rnya . Me nye sal sekali Arya Somar kelua r da ri kamarnya untuk menengok ke kanda ng kuda , sebab suda h bebera pa kali ia mende ngar sua ra kuda meringkik gelisah. Ka lau saja ia tida k kelua r da ri kamarnya, mungkin ia tida k akan menda pa t serangan aneh yang suka r dielakkan da n suka r ditangkis. Ujud penyerang itu benarbenar tidak da pa t dilihat oleh ma ta nya , sekali pun ia suda h berusa ha membuka mata lebar-lebar.

"Aaa oow...!"

Arya Somar mengerang lagi karena ia bagai menda pa t pukulan te lak di pe lipisnya, hingga menimbulkan memar yang ama t menya kitka n. Arya Somar terhuyung sebenta r, kemudian jatuh lagi untuk yang kesekian kalinya.

"Cukup...! Kurasa dia memang buka n Suro Bodong." "Sebaiknya kita ge le da h saja te mpa t ini."

"Tapiaku masih ya kin kala u orang inilah yang bernama Suro Bodong." "Bukan. Tentu bukan dia, Ira Le mbayung."

Arya Somar menangkap sua ra pe rempua n yang dipe rkirakan lebih da ri tiga orang. Ia baru sa da r bahwa sebenarnya ia dikerumuni bebera pa pe rempua n. Hanya saja pa nda ngan ma ta nya ta k mampu menembus sua tu dunia lain. Alam di mana pe rempua n-pe rempua n itu bera da , se pe rtinya dilapis kaca berkabut da n sukar dijama h. Arya Somar tak mampu berpikir lagi lebih baik. Ke pa lanya pusing. Panda nga n ma ta nya jadi semakin kabur. Bebera pa pukula n da n te nda ngan membua t na fa snya sesak da n pengliha ta nnya suram.

Ia dite muka n oleh pe tugas pe rawa t kuda pa da keesokan harinya da lam kea daa n pingsan. Bebera pa anak bua hnya se ge ra merawat Arya Somar yang bertubuh kekar kenda ti tak sekekar Suro Bodong. Rasa kagetnya semakin menghenta k jantung, karena ketika ia siuman, ia mendenga r suara ributribut yang ke de nga rannya cukup kaca u.

"Sia pa yang menye rangmu?" tanya Ginan Sukma, orang yang menjadi wakil pimpinan pa suka n berkuda.

Dengansuara masih melemas, Arya Somar menjawab lirih:

"Perempua n yang bernama... Ira... Ira Le mbayung..." "Kau ta hu ciri-cirinya ?"

Arya Somar menggeleng. La lu, ka ta nya lagi:

"Ada lebih da ri tiga orang yang menyerangku, te ta pi semua pe rempua n itu tidak bisa kusentuh." "Kena pa?"

"Mereka tida k keliha ta n. Se pe rti siluman di balik kaca."

Semua yang menge rumuni Arya Somar menjadi te gang. Mereka saling panda ng. Mulut mereka seakan ragu untuk melonta rkan ka ta a pa pun.

Arya Somar diha da pkan ke pa da Sultan Jurujagad yang kali ini berwajah lesu. Murung tak

terbendung. Na mun de mikian, Sultan Juruja ga d masih sempa t bertahan untuk menjaga kewibawaan da n kesaba rannya . Ada bebera pa hal ya ng ditanya kan ke pa da Arya Somar, da n sama halnya de ngan yang lain, Sultan itu pun terte gun ketika Arya Somar menjelaskan bahwa bebera pa pe rempua n yang menyerangnya ta di malam sulit dilihat oleh mata.

"Mereka se pe rtisiluman, Ka njeng."

"Tak a da ciri-ciri ya ng bisa kau inga t?" tanya Patih Danupa ksi. "Tidak a da , kecua li nama Ira Le mbayung dan nama te mpa t: Lemba h Ma tsuri."

"Lembah Ma tsuri...?!" Eyang Penembahan Purbadipa menggumam begitu mendenga r nama tempa t ya ng disebutkan Arya Soma r. Se mua mata se ge ra te rtuju Eyang Penembahan.

Arya Somar sempa t menyela ka ta : "Me reka mencari Suro Bodong. Ba hkan aku disangkanya Suro

Bodong," Arya berpa ling ke pa da Ginan Sukma ya ng bersila di sampingya. Se menta ra itu, tujuh ana k buah Arya Soma r ikut hadir pula da lam pase ban itu.

"Eyang tahu nama itu?" tanya Sultan Jurujagad de nga n le su, dan hal ini membingungkan Arya Somar: menga pa Sulta n sampa iselesu itu? Adaka h hal lain yang berkaita n denga n dirinya?

Eyang Pane mbaha n, seba ga i juru naseha t Sultan, dan sesepuh Ke sulta nan Praja itu, kali ini bicara se pe rti se dang menggumam. Ia berdirisambil membelai-belai jenggot putihnya ya ng pa njang.

"Nama itu cukup ane h. Hemm... Le mbah Ma tsuri. Se pe rtinya cukup asing bagi pe nde nga ranku. Tapi, aku yakin... Suro Bodong mampu mencari nama pere mpua n te rsebut, dan mampu menemukan di mana le ta k Le mbah Ma tsuri."

"Di mana Suro Bodong?" ta nya Sulta n Juruja gad ke pa da putrinya ya ng menjadi istri Suro Bodong.

"Sudah tiga hari ia tidak pulang, Rama. Tapi, menurut janjinya , ia aka n pulang sore ini da ri

Bente ng Ba tu." Se nda ng Wangi berkata de nga n nada bicara seaka n ikut larut da lam ke ge lisahan.

Arya Somar masih belum bisa menge rti, menga pa orang-orang menjadi cemas dan gelisah semua. Ba hkan Sulta n Juruja gad keliha ta n menye mbunyikan kesedihan di balik ke te nanga nnya itu. Ada a pa sebenarnya?

"Kalau Suro da ta ng, suruh dia se lekasnya pergi ke Le mbah Ma tsuri itu," kata Sultan. Arya Soma r mohon izin untuk bicara, lalu ia diizinka n bicara ke pa da Sulta nnya .

"Menga pa Suro Bodong harus pe rgi ke Lemba h Ma tsuri, Ka njeng? Buka nkah pe rempua nperempua n ya ng menga nia ya saya sudah pe rgi ke asa lnya semua ?"

"Ya. Ta pi pusa ka Tombak Ja ta yu dicuri oleh mereka!"

Terbelalak seketika ma ta Arya Somar de mi mendenga r ka ta -ka ta Sulta nnya .

"Jadi, pe rempua n-pe rempua n itu mencuri tombak kita ?!" Arya Somar bicara ke pa da Patih Danupaksi.

"Begitulah kea daa nnya, Somar. P usa ka itu dicuri oleh mereka, da n harus se ge ra kita rebut kembali. Kurasa , hanya Suro Bodong ya ng mampu melakuka n hal itu."

Arya Somar memandang Patih Danupaksi de nga n wajah te ga ng dan mulut luka yang terbengong.

Hilangnya tombak pusa ka, membua t semua orang melayangkan pikirannya ke Le mbah Ma tsuri. Tombak itu a da lah pusa ka kejayaa n Sultan Juruja ga d, di mana ne ge ri akan menjadi te ta p kua t, ta k mampu diserang a ta u dihancurkan lawa n jika Tombak Ja ta yu masih bera da di Dale m Ka dipa te n. Ka rena itu, pusaka Sa ng Sultan itu harus direbut kembali de mi menjaga keja yaa n Kesulta nan Praja . Tapi, di mana Le mbah Ma tsuri itu? Suro Bodong sendiri bingung.

"Kalau tombak pusa ka itu sampa i jatuh ke ta nga n golongan sesat, maka hancurlah se luruh ta nah Jawa ini. Bisa tengge lam ke dasa r bumi karena penya lahgunaa n Tombak Jata yu."

Sultan Jurujagad berbicara di de pa n Suro Bodong, pa da waktu Suro Bodong suda h tiba kembali

dari ke pe rgiannya . Tubuhnya yang besar, ta pi bukan gemuk da n buka n ge ndut itu, disanda rkan pa da sebuah tiang berukir inda h. Ia berdiri sambil bersanda r ketika mendengar ke te rangan dari Sulta n, yang juga seba ga i mertua nya itu. Sikap te nang da n seenaknya, alias cuek, se lalu menye rtai pe nampilannya walau ia berha da pa n de ngan kepa la pe merinta han di Ke sulta nan Praja itu. Dan Sulta n Juruja gad serta pejabat lainnya tida k pe rnah  mempe rdulikan sikap  Suro  Bodong  yang selalu  ta mpil  da lam  paka ian ce lana biru, baju merah panja ng ya ng ta k perna h dikancingkan, sehingga perutnya keliha ta n sedikit menonjol bersama puse rnya . Ketika ia mende ngar tombak pusaka Kesulta nan, yang merupaka n tombak keramat le luhur istrinya itu dicuri orang, Suro Bodong sempa t te rpera njat sesaa t. Ke mudian se ge ra kembali bersikap tenang, sebab ia tida k menyukai kegugupan, sekali pun sebenarnya ia sering pula terjebak da lam kegugupan, namun ia se lalu berusaha untuk menguasa i diri.

Sultan Juruja gad berkata de nga n na da dukanya :

"Tuga smu a da lah merebut kembali tombak pusa ka Ja ta yu, Suro. Pergilah ke Matsuri da n rebut kembali tombak keja yaa n kita ."

Sambil sesekali ga ruk-garuk kumisnya yang tebal, Suro Bodong akhirnya te rsenyum sendiri da n

berka ta :

"Tuga sku ini sebagai Se nopa ti pe rang, a ta u seba ga i mandor jalan?!"

Eyang Panembahan, Patih Danupa ksi, Demang Sabra ngdalu, Sendang Wa ngi dan bebera pa orang lainnya sempa t te rtawa lirih sewaktu mende ngar ka ta -ka ta Suro Bodong. Sulta n sendiri sempa t tersenyum tipis disela duka nya. Suro Bodong melanjutka n kata: 

"Dari dulu kok kerjaku hanya pe rgi-pe rgi te rus. Barusaja da ta ng suda h harus pergi lagi."

Banya k juga ke pa la yang manggut-manggut membenarkan uca pa n Suro Bodong. Te ta pi, Eyang Panembahansegera berka ta da lam sifa t menghibur Suro Bodong:

"Ini menya ngkut soal jatuh bangunnya kejayaa n Kesulta nan kita, Suro. Me mang, seharusnya kau beristiraha t dulu, paling tidak melepa s kerindua n de nga n istrimu. Te ta pi, tugas ne ga ra te lah mendesa k, bahka n menuntutmu untuk se ge ra menunaikan tugas; merebut tombak pusaka di Ma tsuri. Rasa-rasa nya, orang secerdas kamu bisa memaklumi kea daa n sepe rti ini, kan?"

Suro Bodong hanya melirik istrinya.

Senda ng Wa ngi menge dipkan ma ta da n berka ta pe lan:

"Pergilah, Kangmas. Aku memaklumi kea daanmu. Aku yakin, se te lah tugas ini se lesai, kita bisa berlibur ke Puri Khayanga n untuk mele pa s rindu..."

"Rinduku suda h le pa s sendiri begitu melihat kau da lam kea daa n sehat-sehat  saja,  Sendang Wa ngi."

Penga bdian Suro kepa da pe merintahan mertua nya memang cukup besar. Ia merasa tida k punya ne ge ri, tidak punya te mpa t berte duh selain Ke sulta nan Praja itu.  Karenanya ,  Suro  merasa  pe rlu menua ngkan se ga la pe nga bdian da n pembe laa nnya ke pa da Kesulta nan Praja, pa ling tida k de mi kebahagiaa n istrinya. Tombak pusa ka Ja ta yu bukan harus direbut de mi keja yaa n da n keda maian Kesulta nan Praja saja , melainka n juga harus segera diselama tkan da ri tanga n orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Apabila tombak pusa ka itu disalah gunakan, maka Tanah Jawa ini da pa t hancur karena sewenang-we nang salah satu oknum ya ng menggunaka n kesaktian tombak pusaka te rsebut.

Menurut ke te ranga n, tombak Ja ta yu da pa t berubah bentuk a pa saja sesua i de nga n uca pa n orang yang memegangnya . Tombak  Ja ta yu  da pa t  mela ya ng,  te rbang  sendiri mencari nama  mangsanya yang disebutkan oleh peme gangnya. Juga tombak itu da pa t menikam lawan seribu orang jumlahnya da lam satu kali lempa ran. Banya k lagi kesaktian da ri tombak Ja ta yu itu yang dijelaska n oleh  Sultan Juruja ga d da n Eyang Panembahan kepa da Suro Bodong, sebelum tugas ne ga ra itu dikerjaka n oleh Suro.

"Lalu di mana le taknya Le mbah Ma tsuri itu?" ta nya Suro ke pa da Eyang Panembahan.

"Tempa t itu sulit dilacak. Ba hkan indra ketujuhku pun ta k mampu menembus tempa t itu. Agaknya Ma tsuri terle ta k di sua tu te mpa t yang sanga t raha sia. Dan orang-orang Matsuri juga buka n orang-orang murahan. Tentunya mereka punya sesua tu yang perlu kau pe rhitungkan sebelumnya ."

Ke pa la Suro Bodong manggut-manggut. Kemudian ia garuk-garuk kumisnya yang tebal sambil menikmati jagung baka r kesukaa nnya .

"Bawa lah pasuka n berkuda untuk ke pe rlua n di pe rjalanan," ka ta Sulta n Jurujaga d. "Arya Somar pernah berta rung de ngan pe rempuan Ma tsuri, tapi dia babak belur." Eyang Panembahan menamba hkan ka ta , "Arya Somar ta hu, bagaimana ta nda -tandanya jika perempua n Matsuri itu sudah bera da di sekeliling kita. Mereka memang tidak bisa disentuh, tapi bara ngkali denga n satu cara yang a da pa da mu, kau bisa menye ntuh da n melihatnya, Suro."

Se te lah bebera pa saa t mereka berembuk, akhirnya Suro menye tujui usulan untuk membawa pasuka n berkuda . Seba b te mpa t ya ng dinamakan Le mbah Ma tsuri itu, mungkin cukup jauh da ri Kesulta nan Praja, sehingga pe rlu dite mpuh denga n menggunaka n kenda raa n berkuda .

Orang-orang ya ng siap mengikuti  Suro  Bodong a da lah anak bua h  Arya  Soma r sendiri. Mereka a da enam orang pilihan yang suda h cukup berpenga laman da lam hal melaca k lawa n da n menembus perang. Me reka a da lah: Ginan Sukma, ahli pena kluk racun.  Ba de ri  Darus,  pe manah  unggulan. Emanda nu, ahli dibida ng senjata rahasia. Arya Somar, ahli stra te gi pe rang berkuda . Dodot Pamasar, penjinak jebakan se ga la jenis. Pambudi Tulus, menguasa i se ga la macam bahasa hewan.

Gende rang berta lu serempa k mengiringi 7 pe ndeka r berkuda ya ng kelua r melalui pintu ge rbang Kesulta nan. Sultan Praja da n beberapa punggawa ne ge ri mele pas ke pe rgian tujuh pe ndeka r yang masing-masing mempunyai ilmu pe dang dan te naga da lam cukup tinggi, te rlebih pa da diri Suro Bodong, sebagai pemimpin da ri 7 pende kar ya ng siap merebut tombak pusaka di Le mbah Ma tsuri. Lambaian ta nga n massa , merupaka n uca pa n se lama t jalan bagi 7 pe ndeka r, seolah rakya t pun turut mengucapkan selamat berte mpur di Ma tsuri bagi mereka.

Derap kaki kuda menge pulkan debu jalana n. Sua ranya berge muruh bagai gunung berapi

bergolak. Me reka menuju ke arah Se la ta n, mencari ke te rangan dari sia pa saja da n a pa saja tentang di mana le ta k Le mbah Ma tsuri. Namun sampa i se te ngah hari ini, mereka belum menemukan tanda -tanda yang da pa t membawa mereka ke Le mbah Ma tsuri.

Menjelang sore, kuda -kuda itu terpaksa berhenti karena ta nga n kanan Suro Bodong terangka t ke a ta s, ta nda semua harus berhenti. Ma ta mereka mena ta p dua orang yang te ngah berta rung di lembah bukit ya ng tandus. Me reka a da lahseorang le laki tua denga n pere mpua n berpa kaianserba kuning.

"Barangkali pe rempua n itu salah satu da ri orang Ma tsuri," ujar Ginan Sukma.

"Kalau begitu, mari kita serang dia," ka ta Dodot Pamasa r de nga n geraka n henda k menarik ta li kekang kuda . Te ta pi, Suro Bodong se ge ra berpa ling ke arah Dodot da n berka ta de ngan te gas:

"Janga n ge gaba h! Perempua n itu bukan orang Ma tsuri."

"Dari mana kau bisa ta hu?" se la Emanda nu.

"Aku kenal pe rempuan itu. Dan... justru aku harus membantunya. Dia a da lah Dewi Gading.

Perempua n itu pe rnah menolong nyawa ku da ri ancaman maut orang-orang kerajaa n Lesa nmitra."

"Se pe rtinya aku pe rnah mendenga r namanya : Dewi Gading." Pambudi Tulus mengguma m dan mengingat-ingat. Suro menjelaska n:

"Dewi Gading da n aku perna h sama-sama melawa n orang-orang Lesanmitra, yaitu merubuhkan

Ra den Puge r da n Dandung Wungu. Dia yang menyembunyikanaku di Le reng Se wu da n..."

"Dan yang menjadikan kenangan inda h bagi kalian berdua, begitu, kan?" Ba de ri menyahut denga n tawa . Suro Bodong hanya te rsenyum tipis.

Mereka masih bera da di punggung kuda. Ma ta mereka masih memanda ng pe rta rungan anta ra

Dewi Gading denga n seorang le laki tua berjuba h putih. Suro Bodong menggumam da lam hati, masa indah bersama Dewi Gading terkenang dan  menggoda  benaknya.  (dalam  kisah:  RACUN  MADU MAY AT). La lu, Suro Bodong turun da ri kuda nya se te lah Arya Somar berka ta :

"Mungkin kita bisa berta nya ke pa da Dewi Gading te nta ng Le mbah Ma tsuri "

Lelaki tua berjubah putih itu mengibaskan tongka tnya yang berbentuk ke pa la na ga .  Dewi Gading yang berambut ikal itu se ge ra merenda hkan ba da n da n memukul perut lawa nnya. Te ta pi, gerakan tongkat begitu ce pa t menghantam ta ngan Dewi Gading, sehingga pe rempuan bertubuh menggairahkan itu menye ringai kesakita n. Tanga nnya dide kap oleh tanga n satunya, karena tulang tangan itu ba ga ikan pa ta h te rkena pukula n tongka t lawan. Kesempa tan te rsebut digunakan oleh le laki berjuba h putih untuk menghantam ke pa la Dewi Gading. Tongkatnya melesat de nga n ce pa t. Dan... sebuah batu sebesar genggama n telah lebih bulu menghanta m tongkat itu, menahan geraka n agar tida k sampa i menge nai ke pa la Dewi Gading. Denga n ce pa t lelaki berjubah putih mendelik ke arah Suro Bodong yang terlihat melempa rkan batu pe nahan tongkat itu.

"Bangsa t! Apa urusanmu ikut campur urusa n ini, hah?!"

Suro Bodong tida k bermaksud menye rang juba h putih. Ia berjalan mende kat de nga n langkahlangkah santa i dan seulas senyum di bibir ke pa da Dewi Gading. Perempua n berambut se pa njang bahu itu berseru ka ge t:

"Suro...?!" Ia kegiranga n.

Te ta pi, le laki berjubah putih itu se ge ra menye rang Suro Bodong de nga n satu loncatan ce pa t. "Hiaaaa t...!!"

Di luar dugaa n, Emanda nu melempa rkan senja ta rahasia nya da ri punggung kuda berupa sebentuk binta ng bersudut de la pa n. Zing... ziing... zing...! Tiga kali Emanda nu mengirimkan senja ta rahasia nya , karena ia khawatir kalau Suro Bodong sampa i diserang dalam kea daan tida k sia p. Dua senja ta memang bisa ditangkis denga n kibasa n tongkat, te ta pi satu senjata yang te rakhir te pa t menancap mengenai leher lelaki berjubah putih.

"Aaaaa khh...!!"

Suro Bodong ka ge t sekali melihat le laki itu rubuh de nga n senja ta rahasia te rtanca p di leher.  Ia se ge ra berpa ling ke pa da Emanda nu, ma ta nya memanda ng garang, sementa ra Emanda nu yang tersenyum puas karena bisa menggagalka n seranganjubah putih ke pa da Suro, tiba-tiba senyumannya itu pun pudar, berga nti rasa was-was yang menggelisahkan.

"Ceroboh...!!" benta k Suro Bodong. "Ke na pa kau bertinda k tanpa pe rsetujua nku, hah? Lihat...!

Dia mati karena senjatamu, se da ngkan kita tida k punya urusana pa -a pa de nga nnya ! Goblok...!!" "Dia mau menye rangmu, Suro, da n kau kelihatannya tidak sia p, maka "

"Aku lebih siap da ripa da kau, Emanda nu! Ba hkan ota kku pun suda h siap mempe rhitungkan

tindakan yang harus kulakuka n. Tapi, buka n de nga n cara harus membunuhnya begini. Goblok tujuh turunan kau!!"

"Suro Bodong !" Dewi Gading berlari menghampirinya, dan Suro Bodong se ge ra menyusutkan

kemarahannya .

"Syukurlah kau se ge ra da tang, Suro." "Sia pa le laki berjuba h putih ini?!"

"Dia bermaksud ingin memaksaku a ga r dibawa ke Pondok Le reng Se wu. Ia mengincar bebera pa pusaka mendiang guruku."

Suro Bodong menggumam pe ndek, kemudian mena ta p Dewi Gading. Seba ris inga tan inda h kembali menggoda benaknya . Inga ta n inda h itu a da lah saa t-saa t Suro Bodong yang berujud menjadi Tole, anak kecil, yang sempa t menikmati masa khayalannya di da lam Kamar Madu Ma ya t bersama Dewi Gading. Namun, demi tugasnya merebut tombak pusa ka, Suro Bodong se ge ra membua ng inga tan itu, yang da pa t menjadi racun bagi pe rjalanannya.

"Dewi Gading... aku punya masala h lain yang berbe da de nga n masalahmu. Aku ingin minta bantuan ka u."

"Masa lah a pa? Perkawina n?"

Suro Bodong menggeleng, sekali pun Dewi Gading te rsenyum nakal. "Kau perna h mende nga r Lemba h Ma tsuri?!"

"Matsuri ?!" Dewi Gading berkerut da hi dan sedikit memiringkan ke pa la saa t memanda ng Suro

Bodong.

"Kau perna h mende nga r nama itu te ntunya," ka ta Suro. Dewi Gading manggut-ma nggut dalam renunga nnya . "Kau ingin ke sana, Suro?"

"Ya. Ta pi aku tida k tahu di mana te mpa tnya ." "Aku juga tidak ta hu tempa tnya. Te ta pi, kau bisa mencari seorang le laki tua yang tinggal di gunung Sembur. Na manya : Empu "

"Empu Se gah ?!" sahut Suro Bodong.

"O, kau te lah mengenalnya?"

Suro mengangguk. "Dia perna h menolongku ketika aku menye rang Ista na Awan," jawab Suro (dalam kisah: TUMBAL MAHKOTA RATU).

"O, kalau begitu, kau bisa langsung berta nya ke pa da nya te ntang le tak Lemba h Ma tsuri. Tapi...

agaknya kau harus hati-hati ke sana ." "Kena pa?"

"Menurut kabar yang pernah kudenga r, Lembah Ma tsuri adala h sebua h pe rguruan yang

mempunyai banyak orang berilmu tinggi. Orang-orang Ma tsuri sukar dijamah, kecua li denga n cara tersendiri yang te ntu saja mahal tebusa nnya."

"Kalau begitu, kami akan ke gunung Se mbur sekarang juga ," ka ta Suro Bodong. Denga n ma ta memanda ng ke langit, melihat alam mulai redup.

"Kau aka n kemala man, Suro. Seba iknya singgah dulu ke Pondok Lere ng Sewu."

Suro Bodong menghela na fa s. Ada kebimbanga n ya ng se da ng dipe rtimbangkan, walauakhirnya ia berkata:

"Aku bersama enam anak bua hku. Mereka tak mungkin kutinggalkan. Juga tak mungkin harus

singgah ke Le reng Sewu, te mpa tmu. Bara ngkali se lesai aca ra ini aku bisa singgah sebenta r ke Pondokmu."

Dewi Gading juga menghela nafas, da n berka ta , "Ka lau begitu, se lama t jalan ! Aku akan berdoa

untuk keselama ta nmu, supa ya kau bisa benar-benar singgah ke Pondok Lere ng Sewu. Aku aka n menunggu di sana, Suro !"

Se te lah ta nga n Suro Bodong menjamah pipi Dewi Gading, Ba de ri te rde nga r batuk-batuk kecil

dan mende hem bebera pa kali, sua tu sindiran ya ng patut dite rtawa kan dala m senyum. La lu, pe rempua n berpa kaianserba kuning itu se ge ra melesat meninggalkan rombongan tujuh pe ndeka r Kesulta nan Praja.

Suro Bodong memandangi bebera pa saa t ke pe rgian Dewi Gading, kemudian se ge ra  naik ke a tas punggung kuda. Ia bicara ke pa da te man-te mannya:

"Kita ke gunung Sembur, menemui Empu Se ga h, kenalanku. Menurut pe rempuan itu, Empu Segah da pa t menunjukkan di mana le tak Lemba h Ma tsuri."

"Lebih baik sece pa tnya kita ke sana ," ujar Pambudi.

Dan kuda mereka pun te rpacu de nga n ce pa t bagai berlomba denga n malam.

Sebelum memasuki hutan di bawah kaki gunung Sembur, kea daa n bumi suda h semakin meremang. Arya Somar mengusulkan agar janga n meneruska n perja lana n diwaktu mala m. Se pa ruh lebih mereka menyetujui untuk bermalam di kaki gunung, dite pian huta n. Ma ka, mau tidak mau Suro Bodong berhenti memacu kuda mereka.

"Esok pa gi kita menerobos masuk ke huta n, da n berhenti di suatu te mpa t yang layak jadi perlindungan. Se menta ra aku dan Arya Somar naik ke pondok Empu Se gah," kata Suro di de pa n api unggun.

"Aku juga ikut naik!" ka ta Ginan Sukma. "Mungkin a da  bebera pa hal yang bisa  kuke tahui makna nya."

"Baiklah !" ka ta Suro. "Jadi, empa t orang menunggu di bawah, sambil menjaga kuda -kuda kita ."

Te ta pi, sua tu kejadian yang sangat di luar dugaa n te lah mengejutka n mereka. Ke tika faja r menyingsing, dan mereka terbangun, maka ricuhla h mereka kare na salah seorang dari mereka  tida k dike te mukan raganya .

Emanda nu, ahli dibida ng senja ta rahasia , te lah hilang ta npa jejak yang pasti. Pakaian da n persenja taa n Emandanu dite mukan oleh Arya Soma r. Te ta pi raga Emanda nu tidak ditemukan sekali pun suda h dicari ke mana-mana. "Janga n sentuh paka ian itu!" te riak Suro Bodong da ri te mpa t sedikit jauh. Se mua masih mencoba memeriksa kea daa n sekeliling. Mengge le da h hutan. Te ta pi raga Emanda nu tidak ditemukan oleh sia pa pun.

"Kurasa a da satu kekua ta n ya ng mampu menga mbil raga Emandanu," uja r Pambudi Tulus. "Lihat saja posisi pa kaian da n senja ta Emanda nu, seolah-olah masih da lam posisi te lenta ng dalam tidurnya. Ini berarti a da kekua ta n yang mampu memusna hkan a ta u menga mbil lolos tubuh Emanda nu dalam kea daa n ta npa paka ian."

Ba de ri Darus menggeram de nga n waja hnya yang berkumis menampa kkan kemara hannya. Sementara itu, Suro Bodong memanjat pohon dan menye lidiki huta n te rsebut. Te ta pi, te ta p saja ta k a da tanda -tanda yang da pa t dijadikan pe tunjuk, ke mana perginya Emandanu.

"Aku harus se ge ra naik, menemui Empu Se ga h. Kurasa Empu Se gah da pa t membantu kesulita n kita," ka ta Suro Bodong.

"Sebaiknya kita naik bersama-sama ," ka ta ' Ginan Sukma.

"Janga n," Arya Somar mence ga h. "Kita mencari da n menye lidiki te mpa t ini se teliti mungkin, sementara Suro Bodong biarkan naik menemui Empu Se gah."

Kemudian, hal itu disepa kati bersama, dan Suro Bodong melesat da lam satu lompa tan,

meninggalkan te man-te mannya. Gerakan Suro Bodong sepe rti kelinci dikejar harimau, begitu ce pa t sehingga mirip sebatang ahak pa nah dilempa rkan. Ia harus se ge ra menemui Empu Se gah, sebab ia yakin bahwa Empu Se ga h aka n da pa t menolongnya da lam hal menemuka n Emanda nu kembali. Paling tida k melalui Empu Se ga h, Suro da pa t menge ta hui arah ke pergia n ra ga Emanda nu, a ta u pe nye bab hilangnya Emanda nu.

"Empu Se gah...! Aku da ta ng! Aku Suro Bodong...!!" te riak Suro ke tika memasuki  halaman pondok yang te rbua t da ri kayu-kayu berjajar itu. Kea daa n sepi a da lah wajar, kare na memang demikianlah kea daa n sehari-hari di rumah Empu Segah. Suro pe rnah merasaka n kesepian di rumah itu ketika ia diselama tkan oleh Empu Se gah da ri ancama n racun Ja rum Ma laikat milik La ras Peri, (da lam kisah : TUMBAL MAHKOTA RATU).

"Empu Se gaaa h...!!" te riak Suro Bodong se tela h tak menda pa t jawaba n. Ia nekad memasuki pondok itu, da n ma ta nya menjadi te rbelalak ketika melihat Empu Se gah te lah te rbujur menjadi mayat berbau busuk.

Hampir Saja Suro Bodong ka ge t da lam henta kan rasa munta h ketika ia melihat bangka i manusia denga n ke pa la ya ng te rpisah da ri lehernya. Empu Se ga h suda h tidak lagi berujud seorang le laki tua yang bersimpa ti ke pa da Suro Bodong. Waja h pa da ke pa la itu hancur, da n ba da nnya pun telah mulai berbelatung di bebera pa te mpa t.

Suro Bodong tak ta han, anta ra sedih da n ingin muntah. Se gera ia melompa t ke lua r da lam satu teriaka n histe ris ya ng menjadikan tanda pe lampiasa n rasa sedih da n kemara han. Le mas tubuh Suro Bodong melihat mayat Empu Se ga h. Sia pa yang te lah melakuka nnya ? Sia pa yang membunuhnya? Suro nyaris ta k da pa t berpikira pa -a pa kecua li te rkulai lemas di bawa h pohon.


Sosok bayanga n yang te rlihat di balik semak, di samping rumah mendiang Empu Se ga h itu sangat mencuriga kan. Suro Bodong yang se da ng jengkel a tas kematian Empu Sega h se ge ra melompa t denga n kedua ta nga n menggenggam se tenga h te rentang. Kemudian kakinya menenda ng salah satu pohonseukuran pa hanya ya ng de kat de ngan semak da n sosok manusia itu.

"Hiaaa t...!" "Kraak...! Bruuk...!"

Pohon itu tumbang seketika. Pa ta h pa da bagian yang te pa t te rkena tenda nga n kaki kanan Suro

Bodong. Pohon itu senga ja dite nda ng a ga r rubuh menimpa sosok manusia yang a da di balik rimbunan semak itu.

Bagai burung yang menge paskan sa ya pnya de ngan ga ga h, seorang berjuba h biru melesat da ri semak belukar, mela ya ng di uda ra dan bersalto bebera pa kali ke arah Suro Bodong. Kibasa n jubahnya sempa t menge nai pundak Suro Bodong. Kibasa n kain juba h biru itu se pe rti kibasa n pohon roboh yang membuat Suro Bodong te rpe lanting ke samping, nya ris jatuh ke le reng gunung.

Wow...?! Alangkah hebatnya. Kibasa n juba h itu mampu membua t tubuh Suro yang besar jadi sempoyonga n, a pa lagi pukulan da n tenda ngannya. Suro yakin, le laki botak berjubah biru itu pasti mempunyai ilmu silat yang tida k ta nggung-tanggung keheba ta nnya .

Lelaki bota k plontos berjubah biru itu hanya meme ga ngi sebua h kalung menye rupa i tasbih. Manik-manik kalung itu tidak sepe rti manik-manik kalung biasa nya . Ia mempunyai manik-manik kalung yang besar, kira-kira seukuran bola bekel. Wa rnanya hitam kecoklat-coklatan, da n agaknya terbua t da ri jenis batua n langka.

"Kau tak aka n mampu menye ntuhku, ana k muda ..." kata le laki tua yang beralis te bal da n berwarna putih. Ia memanda ng Suro Bodong de ngan ringa n. Wa jahnya yang ta npa kumis da n jenggot sedikit pun itu membua t Suro Bodong sedikit heran; menga pa hanya a da alis ma ta yang tumbuh pa da bagian kepa lanya. Menga pa tidak a da rambut lain yang umumnya di ke pa la manusia setua le laki berjuba h biru itu?

"Hiaaa t...!"ia membua ng pikiran itu. Ia yakin, le laki berjuba h biru itulah yang membunuh Empu Segah. Se bab itu, Suro Bodong tak mau memberi kesempa tan kepa da orang bota k plontos itu untuk melanca rkan seranga n ke arahnya, te tapi Suro lah yang menyerangnya lebih dulu.  Pukulan  ta nga n kana nnya menjurus ke waja h le laki bota k.

"Plak... plak...!"

Dua pukulan Suro Bodong dalam jarak deka t da pa t ditangkis oleh le laki berjubah biru. Suro Bodong  menggerakka n  kakinya  menekuk  di  de pan pe rutnya,  lalu  menghenta k  lurus  ke  de pa n, sasa rannya da da lawa nnya. Te ta pi, de nga n muda h kaki Suro Bodong itu da pa t dielakkan de nga n cara memiringkan ba da n ke samping dala m kea daa n melengkung ke belakang. Seba liknya, kaki kanan le laki berjuba h biru menghentak ke samping, dan sasarannya adala h pe rut Suro Bodong yang ta k perna h tertutup baju itu.

"Huuuugh...!" Ma ta Suro Bodong sempa t mendelik, karena pe rutnya ba ga i te rseruduk banteng

janta n yang se da ng mengamuk. Sukar sekali Suro ingin bernafas. Buru-buru ia mengua sai keseimbanga n na fasnya sambil berdiri sedikit membungkuk. Lelaki botak itu tidak melanjutkan seranga nnya . Ia ba ga i menunggu kesanggupa n Suro untuk bernafas kembali.

"Percuma saja kau melawa nku, anak muda . Ka u akan mati dalam usia se pe rtiga da ri umurku..." ka ta lelaki bota k. Tanga nnya memainkan kalung bermanik-manik besar. Suro Bodong melirik de nga n geram, pe nuh kemarahan yang menggemaska n.

"Kakek sombong...! Pembunuh keji! Terimalah jurus-jurusku kali ini, hiaaa t...!!"

Suro Bodong bergerak dengan ce pa t, bagai lompa tan srigala la pa r menerkam pisang goreng. Kedua tanga nnya melesat terarah ke wajah lawa n, kakinya lurus ke de pa n. Na mun, sebelum sempa t ditangkis, Suro Bodong segera berkelit ke samping, langsung berguling di tanah. Tiba-tiba ia menghentakka n ta ngan untuk membuat tubuhnya berdiri. La lu, denga n kece pa ta n yang ta k da pa t dilihat oleh mata manusia, kaki kanan Suro Bodong menenda ng ke arah belaka ng.

"Hiaaa t...!"

"Uuh...!"

Punggung kakek beralis te bal itu te rsenta k, karena menjadi sasa ran te nda nga n te rsebut. Ia ingin berbalik mengibaska n kalungnya ke arah Suro Bodong, namun jurus te nda nga n Ayam Kawin se ge ra dilancarkan oleh Suro Bodong. Jurus te nda ngan itu tidak sempa t ditangkis atau dielakkan oleh lawa n karena kecepa tannya. Ka ki kanan Suro menenda ng de ngan cepa t, tujuh kali beruntun, kemudian disusul denga n te nda ngan kaki kiri ya ng begitu cepa t, juga tujuh kali beruntun. Ba ru se te lah lawa n menjadi gelaga pa n, sebua h pukulan keras menghantam pipi orang itu tanpa ampun lagi. Tubuh yang dihanta m ternya ta suka r untuk dijatuhkan. Tubuh tua berjuba h biru itu masih saja berdiri da lam posisi kaki merenggang da n sedikit merenda h ke bawa h.

"Gila...?!" Suro Bodong terheran-heran melihat ke tangguha n berdiri le laki tua itu. Dua kali jurus tenda nga n Ayam Kawin yang biasa nya membua t lawan tunggang langgang serta jungkir balik, kali ini ba ga i tidak sanggup menggoyahkan tubuh le laki berjubah biru itu. Bahka n pukulan Suro ya ng keras juga tidak mampu mengusik kesiga pa n berdirinya.

Suro Bodong se ge ra membuka jurus P ukula n Babi Buta.  Se te lah kedua  tanga nnya  te rangkat ke a ta s de ngan kaku, dan di ta rik ke sisi da da denga n berotot kencang, maka P ukula n Babi Buta pun se ge ra dilancarkan. Tujuh kali da lam kea daan beruntun kedua ta ngan itu saling bergantian memukul  de nga n ce pa t. Da da lelaki berjuba h biru menjadi sasaran te lak. Te ta pi, yang dipukul hanya diam saja , seaka n membuka da da , memberi kesempa ta n Suro untuk memukul sepuas hati. Dan hal itu dilakuka n Suro bebera pa kali.

Kalau biasa nya, P ukula n Ba bi Buta da pa t membua t lawan terjengkang jauh da n munta h darah. Pukulan itu begitu ce pa t, beruntun sampa i tujuh kali bergantian, sukar dita ngkis a ta u dielakkan. Te ta pi, kali ini a ga knya Suro Bodong menghadapi lawan yang alot. Cukup tangguh. Lelaki tua berjubah biru itu menyunggingkan senyum tipis ketika Suro Bodong terbengong denga n na fa s te renga h-e ngah.

"Ini te mbok baja ! Buka n manusia ..." gerutu Suro ya ng merasa te rheran-heran melihat le laki tua itu hanya te rsenyum se te lah menerima P ukula n Ba bi Buta. Ia te tap berdiri te ga k, kedua kaki sedikit merenggang da n kedua ta nga n lurus ke bawa h di samping kanan kiri.

"Bruuk...!"

Lelaki berjubah biru itu tiba-tiba jatuh, rubuh. Dan, ma ta Suro Bodong pun melotot kian lebar.

Kemudian hatinya ta k da pa t menahan ge li melihat kenya taan di de pa nnya.

Jubah biru te rnya ta sejak ta di  berta han  diri  untuk  te ta p  te ga k.  Ia  ingin  menampa kkan kekua ta nnya menahan pukula n Suro Bodong denga n senyum tipis dan te nang. Berdiri bagai tugu yang gagah serta kokoh. Tapi, nya ta nya ia pun kini rubuh. Ternya ta ia tak sanggup berta han lebih lama lagi. Ia terpa ksa mele pas rasa malu untuk se ge ra rubuh karena pukula n da n te nda ngan Suro Bodong ta di.

Suro Bodong te rkekeh-kekeh pela n. Ia berjongkok untuk memeriksa kea daan le laki tua itu. Ia sedikit mengkhawa tirkan kalau lelaki itu mati tanpa dike ta hui sia pa namanya da n da ri mana asa lnya. Suro ingin berta nya te nta ng menga pa lelaki tua itu membunuh Empu Se gah. Apa alasa nnya ?

Te ta pi, pa da saa t Suro Bodong merundukka n ba da n untuk berjongkok dan melongo, tahu-ta hu kaki kanan le laki berjubah biru itu menenda ng keras ke a tas.

"Huughh...!!"

Suro Bodong terpenta l. Mela ya ng ba ga i seonggok sampa h dibua ng ke uda ra. Se dangka n le laki berjuba h biru itu te lah meletikkan bada n, lalu tubuhnya kembali berdiri denga n siga p. Posisi kakinya merenggang dengan salah satu kaki ditekuk renda h. Tubuhnya sedikit miring, seakan ia se dang mengambil ancang-ancang untuk menye rang. Kedua tanga nnya mengeras. Yang kiri di de pa n da da, yang kana n meme ga ngi kalung da lam posisi te rulur ke alas ke pa la. Ka lung itu pun diputar-putarnya denga n santa i. Tubuh Suro masih meringkuk di tana h. Ia menge rang te rtaha n karena pe rutnya te rasa sangat sakit. Sea kan se isi pe rutnya ingin te rtua ng kelua r lewat mulut da n dubur. Suro Bodong meringis da n menggeliat bebera pa saa t. Ka lau saja le laki berjubah  biru  itu mau menye rangnya, pasti Suro Bodong da pa t mengalami luka yang lebih pa rah lagi. Namun, te nya ta le laki itu justru menunggu Suro Bodong bangkit de nga n te ga p, untuk, kemudia n aka n diserang lagi.

Suro berjua ng menahan sakit. Ia berusa ha untuk berdiri, walaupun pa da kenya taa nnya ia hanya mampu berdiri de ngan kedua lutut-nya denga n sempoyonga n. Maka, le laki berjuba h pun mulai mengendorka n ke te ga nga n ta nga nnya yang siap menye rang itu. Ia te rsenyum tipis da n memandang Suro de nga n ma ta nya ya ng ciut.

"Janga n sangka da pa t mudah merobohkan aku, anak muda. Mungkin kau memang bisa membanta i adikku, Empu Se gah itu, denga n sekali gebrak, ta pi aku... kakak Se ga h, a da lah orang yang belum perna h jatuh dikalahkan lawa n."

Suro Bodong memanda ng le laki berjubah biru de nga n sedikit sorot ma ta te rcengang. Ka ta -ka ta orang tua itu mulai membelai kemarahan Suro Bodong, mere da kan kebencian da n ke dongkola n di hati Suro Bodong.

"Sia pa kau sebenarnya, Ka kek alot?!" ka ta Suro Bodong de nga n sua ra ba ga i menaha n eranga n kesakita n. Ia masih memegangi perut de ngan menyeringai samar-samar. Ma ta nya mena ta p taja m-taja m pa da lelaki berjuba h biru ya ng berdiri di de pa nnya de nga n ke te guhan.

"Aku Bayanpa ti," jawab le laki berjuba h biru. "Orang memanggilku: Be ga wan Ba yanpati. Aku kaka k Empu Se ga h ya ng kau bunuh de nga n keji itu. Sudah sewajarnya kalau aku menuntut balas a tas kematian adikku itu, bukan?"

Dengan masih meme ga ngi pe rut, Suro Bodong memaksaka n diri untuk berdiri.

"Be ga wan Ba yanpa ti..." ka ta nya sambil te rbatuk sejenak. "Ka lau begitu kita salah angga pa n." "Salahangga pa n itu menurutmu, ta pi menurutku tidak!"

"Perca ya lah. Aku menye rangmu tadi, kare na aku menyangka kau a da lah pe mbunuh Empu Segah, maka aku marah dan ingin melampiaskan kemarahanku."

Be ga wan Ba yanpa ti masih mempe rmainkan kalung di samping pe rutnya . Ia mendeka ti Suro Bodong sambil memanda ng pe nuhselidik. Bebe ra pa saa t kemudian, ia pun berka ta :

"Jadi, kau mengira aku ya ng membunuh Se gah?"

"Ya. Dan aku marah sekali karenanya . Se bab Empu Segah pernah menolongku. Ka mi punya hubungan baik. Akrab de nga n masa lah kita. Justru aku ke sini juga ingin meminta tolong ke pa da Empu Segah sahaba tku... ta pi te rnya ta , dia sudah menjadi bangkai!" Suro mengucapkan ka ta  te rakhir itu denga n nada pe nuh kesedihan dan pe nyesa lan.

Di bawa h pohon, a da batu memanjang. Dulu Suro sering menggunaka n batu itu untuk duduk bersama Empu Segah. Namun sekarang, ia duduk bersama kaka k Empu Se ga h, yaitu Be gawa n  Bayanpa ti.

"Sekali waktu aku pe rnah mendenga r namamu, Suro Bodong. Se ga h yang menceritaka n pa da ku tenta ng kamu. Ia juga menceritaka n kele gaa nnya da pa t membantumu memusna hkan Ista na Awan (dalam kisah : TUMBAL MAHKOTA R ATU). Dan... kalau kutahu nama mu Suro Bodong, mungkin aku tidak aka n menyerangmu. Ah... sudahla h pe rluapa kita bicaraka n lagi hal itu. Aku lebih te rtarik denga n a pa ya ng kaucerita kan, ya itu mengenai pe rjalananmu ke Le mbah Ma tsuri."

"Ya. Ada pe rsoalan pe nting di sana yang harus kuse lesaikan denga n te man-te manku."

"Dengan te man-te manmu? Ma ksudmu, kau tida k da tang sendirian?!" Be ga wan Ba yanpati bersungut-sungut dan memanda ng ke sekeliling.

"Di bawa h sana ," Suro menuding ke le reng gunung. "Ada enam orang temanku yang menungguku. Tapi... yang satu hilang muspra . Ba ju dan pa kaiannya, senja ta -senja ta nya,  a da semua, te ta pi ra ga nya hilang tak ta hu arah." Be ga wan Ba ya npa ti yang beralis tebal ta pi putih itu berkerut da hi. Kemudian, ia manggutmanggut, enta ha pa maksudnya. Suro melanjutkan ka ta -ka ta nya :

"Aku da ta ng ke pondok Empu Se gah hanya untuk berta nya: di mana le tak Lemba h Ma tsuri sebenarnya. Tapisayang... beliau tela h tia da . Pa daha l aku berhara p, beliau ta hu pe rsis Le mbah Ma tsuri."

Suro Bodong duduk denga n kedua sikunya bera da di a tas kedua lutut dan paha nya. Ba da nnya membungkuk ke de pa n, namun matanya memanda ng lurus ke bawa h, seaka n ia se da ng merenungkan kesiala nnya.

Be ga wan Ba yanpa ti berdiri, melangkah ke de pa n membelaka ngi Suro Bodong. Ke mudian berbalik se te lah bungkam sesaa t, lalu berka ta de ngan sua ra tua nya ya ng khas:

"Tidak semua orang bisa menca pa i Le mbah Ma tsuri."

Kata -ka tanya diam sampa i di situ. Ia memanda ng Suro Bodong, da n hal itu membua t Suro Bodong menjadi te rtarik. Suro menga ngkat wajah, memanda ng Be gawa n Ba ya npa ti.

"Se ga h da naku pe rnah mencoba ke sana , tapi ga ga l."

Suro Bodong masih terbungkam bebera pa saa t. Se pe rtinya a da keraguan di da lam hatinya. Kemudian Be ga wan Ba ya npa ti melanjutkan kata -ka tanya ta npa memandang Suro,  melainkan memanda ng pe pohonan yang a da di samping kirinya .

"Tempa t itu se pe rti da lam impian, atau se perti di ujung kha ya lan. Indah. Me mang inda h te mpa t itu. Banyak kesejukan di Le mbah Matsuri. Ba nyak kecantikan di sana , te tapi tida k semua orang bisa menggapainya."

Se te lah merenung sesaa t, Suro pun berta nya :

"Di mana? Menga pa tidak bisa diga pa isemua orang?"

Ke pa la le laki tua itu berpa ling memandang Suro. Diam bebera pa lama. Ke mudian ia berjalan mende kati Suro, berhenti te pa t di de pa n Suro Bodong, sehingga Suro Bodong te rpaksa mene ga kkan posisi duduknya sambil memanda ng ke a ta s. Ke waja h Be gawa n Baya npa ti yang ta mpa k bersungguhsungguh itu.

"Kau harus menuju ke Ba rat," ujar Bega wan.

"Ke Ba rat? Apa kaha da kehidupa naneh di Ba rat sana?"

"Banya k kehidupa n aneh di sana . Sala h satu dianta ranya kehidupa n di da lam Lemba h Ma tsuri."

Suro Bodong menggumam. Ia meruba h sikap duduknya. Kini salah satu kakinya menumpa ng di salah satu paha nya. Ia berta nya de nga n ta npa memandang Be gawa n Ba ya npati:

"Apakah banyak pe nghalangnya? Apakah untuk  menuju  Le mbah  Ma tsuri  harus  melalui berba ga i rintanga n?"

"Ya," jawab Be gawa n te gas. "Le ta knya sendiri pun suka r dica pa i, dan tida k setiap waktu kau bisa menuju ke sana."

"Maksudnya ?" Suro berkerut da hi, mena ta p te nang.

"Ada waktu khusus untuk da ta ng, bahkan untuk melihat Le mbah Ma tsuri itu kita membutuhkan kesaba ran. Menunggu sampa i saa t Lembah Ma tsuri ta mpa k oleh pe ngliha ta n kita. Jadi, a da waktu khusus bagi Ma tsuri untuk buka da n untuk tutupnya pun punya waktu te rsendiri."

Kumis yang te bal itu diga ruk-garuknya lagi. Suro Bodong masih berkerut da hi pe rta nda ia dalamera kebingungan yang menggelisahkan.

"Tolong berikan ke te ranga n ya ng lebih lengkap, Be gawa n."

"Tekadmu cukup besar," Be gawa n Ba yanpati te rsenyum sinis, tapi sebenarnya bukan senyum kebenciana ta u pe nghinaa n.

"Aku memang harus ke sana. Ini tugas dari Sultanku. Tapi, aku tida k ta hu, di mana le ta k

Lembah Ma tsuri ya ng sebenarnya."

"Le taknya a da diantara lengkung pe langi."

Ke pa la Suro Bodong miring-miring dengan dahi berkerut makin taja m. Kumisnya digaruk lagi, karena benaknya bingung mengartikan ka ta -ka ta tadi. "Le taknya di anta ra lengkung pe langi? Ma ksudnya, bagaimana itu?"

"Kau hanya bisa melihat Lemba h Ma tsuri bersama kehidupa n masya raka tnya, jika kau melihat pelangi membias di langit Barat. Di te pi laut, kau aka n da pa t melihat Le mbah Ma tsuri de nga n je las pa da saa t sang Pelangi menampakka n diri. Lembah Ma tsuri itu sesungguhnya sua tu kehidupa n di lengkung pelangi senja."

"Aku se perti mende ngarsebua h donge ng..."

"Yang menjadi kenya taan," sahut Be gawa n Ba yanpa ti. Suro hanya diam, te rmenung da lam kebimbangan. Be gawa n melanjutkan ka ta :

"Pergilah ke arah Bara t, carilah pa nta i da n tunggulah di sana sampai te rbit bias pe langi senja. Lalu perha tikan di anta ra lengkung pe langi itu, maka kau akan melihat sua tu kehidupan di a tas lengkung pe langi. Itulah kehidupan Le mbah Ma tsuri de nga n pe rempua n-pe rempua n cantiknya yang sukar kau jamah, kecua li denga nsyarat ya ng cukup besar."

"Apa syaratnya ?" "Kesungguhan!"

Memang, hati Suro Bodong sepe rtinya merasa se dang ditipu oleh sebaris cerita Be gawa n Bayanpa ti. Na mun, kemudian ia se ge ra berta nya da lam hati: untuk a pa Be ga wan Ba yanpa ti menyebar dongeng bohong se perti itu? Bukankah sikapnya sendiri suda h menampa kkan bahwa ia se ga n berbicara tenta ng Ma tsuri? Bukankah ia te lah menampakka n kekecewaannya karena gagal da tang ke Le mbah Matsuri bersama Empu Se ga h. Dan. Pantasla h kalau Dewi Gading menga ta kan, bahwa Empu Se ga h pernah mencoba untuk da ta ng ke sana.

"Baiklah. Terima kasih a tas ke te ranga nmu, Be gawa n. Aku te ta p aka n mencobanya untuk da tang ke Le mbah Ma tsuri," ka ta Suro Bodong sambil berdiri da ri duduknya."

"Hati-hati de nga n pere mpua n Ma tsuri." "Kena pa?"

"Dia bisa menjeratmu denga n muda h, ta pi kau belum te ntu berhasil menjeratnya . Mungkin menyentuhnya pun sukar."

"Apa saranmu?" Suro Bodong berhenti melangkah se te lah ia te rmenung bebera pa saa t da n ingin se ge ra pe rgi.

"Kesungguhan da pa t membua tmu sampa i ke sana. Danjangan melupaka n bisikan hati nuranimu sendiri, sebab bisikan hati nuranimu sendiri itulah yang aka n banya k membantu kesungguhanmu. Buka semua indramu jika ke sana, supa ya kau tida k muda h jatuh da lam ge nggaman pere mpua n Ma tsuri."

Suro Bodong manggut-manggut dalam kea daa n menerawang. Ke mudian ia mengucapkan ka ta 'se lamat tinggal' ke pa da Bega wan Ba yanpa ti, lalu melangkah menuruni lereng gunung.

"Suro...!" seru Be gawa n. "Temanmu ya ng hilang ituakan kau te mukan lagi da lam waktu deka t."

Suro berhenti melangkah, memanda ng ragu. "Dari mana kau ta hu, Be gawa n?"

"Pasti anak bua hku. Muridku ya ng bertindak ge gabah, karena mereka juga kuke rahkan untuk mencari pe mbunuh adikku. Akan kusuruh ia menge mbalikan te manmu itu. Maa f, kami sala h comot...!" Be ga wan itu sempat menye rukansua ra kekeh tawa nya yang megge likan.

Suro Bodong melambai seraya berka ta, "Mudah-muda han kau pun aka n berhasil menemuka n pembunuh Empu Se ga h!".

"Saling berdoa lah untuk persahaba tan baru ini, Suro!" Be gawa n Ba yanpa ti pun melambaikan

tangan.

Langkah Suro  Bodong masih keliha ta n te ga p. Rasa  mual di pe rut masih   te rasa sedikit. Sa mar-

samar. Te ta pi, di dalam hati Suro te lah te rsimpa n kele gaa n. Ia te lah memperoleh ke te ranga n tentang Matsuri, juga te lah mempunyai hara pan kembalinya Emanda nu yang salah comot. Tentu saja ilmu yang digunakan murid Be gawa n Ba ya npa ti buka n ilmu kelas kambing. Mungkin ilmu kelas macan. Ilmu tinggi,   sampa i-sampa i  bisa  menculik  Emandanu  da lam kea daa n raga saja,  ta npa mengikutsertaka n bara ng-barang dan paka iannya . Wow... sungguh hebat ilmu itu. Sa ya ng, Be gawa n tidak menjelaskan ilmu a pa ya ng digunaka n itu. Ka lau a da kesempa ta n da n waktu lua ng, Suro mau belajar te nta ng ilmu semaca m itu ke pa da Be gawa n Ba ya npa ti. 

"Wess...!"

Tiba-tiba sebatang dahan seukuran tiga jengkal mela ya ng ke arah Suro Bodong. Suro yang mempunyai ke pekaa n pa da saa t itu se ge ra melengkungkan ba da n kebelakang, da n da han tiga jengkal itu melesat di de pa n hidungnya. Ha mpirsaja merobek kulit wajahnya kalau Suro tidak ce pa t menghinda r.

Maka, de nga n siga p, Suro Bodong langsung berhenti de nga n merenggangkan kaki, sedikit merenda h, ba da nnya sedikit membungkuk de nga n tanga n ke samping, siap menangkis atau mengha da pi seranga n berikutnya. Ternya ta , kesiga pa nnya itu cukup ta jam. Se ba ta ng da han lain di lempa rkan da ri arah semula, da n Suro Bodong memukul da han itu de nga n satu kali hantama n. Pecahlah daha n te rsebut.

"Kelua r ka u, Ba ngsa t...!"

Suro berte riak ke ara h rimbunan semak di bawa n pohon, te mpa t da ta ngnya lempara n ta di.

Kemudian da ri arah semak belukar itu te rde nga rlah sua ra: "Aku malu untuk ke lua r...!"

Suro Bodong menge rnyitkan alis. Ia menge nal sua ra itu. Dengan hati-hati ia mende kati

rimbunan semak. Ma tanya bergerak-ge rak liar, ta nga nnya siap menangkis atau menyerang jika kea daa n memaksa.

"Kelua r kau!" hardiknya se te lah bera da di seberang semak. Ke mudian seseorang menongolkan ke pa lanya da n cengar cengir di de pa n Suro, hampir saja Suro menghanta m waja h orang ya ng baru nongol da ri rimbunnansemak itu.

"Untuk a pa kau sembunyi di sini da n menyerangku, Ema nda nu?"

"Aku malu..." Emanda nu masih menye ringai. "Aku te lanjang bulat tanpa paka ian."

Nafas Suro Bodong te rhempas kesal. Ia melihat tanama n berda un lebar sejenis ta las. Ke mudian Suro berka ta ke pa da Emandanu yang sempa t ge ger dikaba rkan hilang ta npa raga itu.

"Ambil da un itu seba ga i penutup, da nsegera bergabung de ngan te man-te man di bawah sana!"

"Baik, Se nopa ti Agung..." kata Emanda nu berkelaka r.

Suro Bodong menggumam lirih saa t Emandanu menge nakan paka ian da rurat da ri se lembar daun lebar. Dalam hati ia mengakui kesungguhan Be gawa n Ba ya npa ti, bahwa Emanda nu aka n se ge ra dikembalikan da ri ta nga n anak buahnya ya ng sala h comot itu. Nya ta nya , Emandanu bahkan kini te nga h berjalan se iring de ngan Suro Bodong menuruni le reng gunung.

Tak sempa t Suro Bodong mencerita kan kisah pe rta runga nnya de nga n Be ga wan Baya npati, sebab teman-te mannya suda h dihinggapi rasa gembira akiba t kembalinya Emandanu dan ke te ranga n tentang Lembah Ma tsuri. Na mun, menda da k Emanda nu kebingungan da n gaduhsendiri. Ia garuk-ga ruk sekujur tubuhnya, te ruta ma pa da bagian yang ditutupi dengan da un lebar itu. Ginan Sukma berta nya, "Ke na pa ka u...?"

"Daun ini ga ta lsekali di kulit, hhuuuh...! Cela ka!"

Arya Somar menyahut, "Suda hlah... garuk-ga ruknya nanti saja di Le mbah Ma tsuri. Seka rang kita berangkat ke Ba rat...!" 

3

Tujuh sosok kesatria  penungga ng kuda,  masing-masing menyandang pe da ng di  punggung.  Pe da ng keprajurita n. Ha nya Suro Bodong yang kelihatan tidak membawa senjata a pa pun pa da tubuhnya. Ba deri Darus, se lain pe da ng di punggung, ia juga membawa busur dan bebera pa anak pa nah dalam te mpa t khusus di punggung, menyilang denga n pe da ngnya. Demikian juga  Emandanu,  selain pe da ng di punggung, ia juga menye lipkan bebera pa macam senja ta rahasia di balik bajunya yang berwarna hijau te bal, dan ikat ke pa lanya yang terbua t dari kulit berua ng itu. Dodot Pamasa r, selain mempunyai senja ta sebua h pe da ng, juga menyelipka n pisau dua bua h di kedua betis sampingnya. Pambudi Tulus, selain pe da ng juga sebua h cambuk membelit di pinggangnya bagaikan ikat pinggang dari tali kenyal. Se da ngkan Ginan Sukma da n Arya Somar masing-masing bersenjata pe da ng saja , namun pa da Ginan Sukma ia mampu menebarkan racun lewat sabe ta n pe da ngnya, dan Arya Somar mampu menyalurkan  tenaga  da lam  berupa  suara  yang  memekakka n   te linga   dengan  cara   mengibaskan  pe da ngnya.

Sementara itu, Suro Bodong melenggang. Be ra da di barisan pa ling de pan. Tak te rlihat senja ta sekecil jarumpun pa da dirinya. Orang akan menyangka, ia a da lah prajurit ta npa senja ta . Na mun, sebenarnya justru Sure Bodongla h yang mempunya i senja ta pe rlu dipe rhitungkan. Se bua h pusa ka yang bernama Pe da ng Urat Petir, terselip di anta ra kulit dan daging lengan kirinya. Jika pusaka itu te lah dicabut, tak perna hada lawa n ya ng mampu menandinginya.

Tiga hari pe rjalanan mereka, sampa ilah pa da sebuah pesisir yang masih termasuk wila ya h pesisir Se la ta n. Suro Bodong memutuskan untuk melanjutkan pe rjala nan de nga n menyusuri panta i. Dengan melanjutkan pe rjala nan pa nta i, maka te mpa t ya ng dimaksud oleh Be gawa n Ba yanpa ti suatu saa t akan ditemukan juga, di mana da ri panta i te rsebut mereka da pa t melihat Le mbah Ma tsuri ya ng konon di anta ra lengkung pe langi.

"Kita harus mempe rtaja m hati nurani. Itu menurut pesa n Be ga wan Ba yanpa ti," uja r Suro Bodong dalam kesempa ta n mereka beristirahat.

"Itu berarti kita harus melatih ke pe kaan indra keenam," kata Arya Somar menimpa li. Mereka

membentuk satu lingkaran mengelilingi api ya ng dipa kai membakar ikan hasil tangka pa n di laut. "Apa yang harus kita lakuka n jika begitu?" Ba de ri bertanya sambil menikmati ikan bakarnya. Suro Bodong pun menjawab ta npa memanda ng Ba de ri:

"Latihan pe rna fasa n da n pe musa ta n pikira n."

"Kau bisa melatih kami, te ntunya," ka ta Pambudi Tulus.

"Aku aka n mencoba, sebab suda h lama aku tida k berlatih pe rna fasa n dala m satu pikiran."

"Sebaiknya , waktu beristirahat janga n te rlalu banya k disia-siaka n," timpa l Ginan Sukma yang bertubuh pe nde k. Lebih pe ndek da ri Arya Somar, namun keliha ta n lebih berotot da ri yang lainnya.

Ketika mereka te lah mele pas le lah untuk bebera pa saa t, maka Suro Bodong pun memandu teman-te mannya untuk berlatih pe nguasaa n na fa s dan pe musa ta n pikiran. Mereka berdiri denga n kedua kaki te rbuka, renggang. Tubuh mereka merenda h serenda h-renda hnya, te ta pi te la pak kaki te ta p sejaja r denga n ta nah.

"Renta ngkan ta nga n, lalu hirupla h uda ra sebanyak-ba nya knya melalui hidung. Dalam menghirup, tarik kedua ta nga nmu untuk menyatu di de pa n da da da lam kea daan lemas. Tahan nafas sampa i lama di rongga pe rut, lebih de kat denga n bagian pusa rmu. Tahan na fas di situ, baru lepa skan perlaha n-laha n de ngan ge rakan kedua ta ngan te rbuka ke de pa n da n kembali menyamping," tutur Suro Bodong memandu te man-te manya .

Hal itu dilakuka n oleh mereka berulang-ulang. Bahkan Suro Bodong juga melatihkan bebera pa gerakan pe rnafasa n ya ng cukup aneh bagi keenam prajurit anda lan itu. Suro Bodong menga jarkan gerakan ta npa na fas yang cukup lemah. Lamban dalam gerak, namun taja m dalam pemusa ta n pikiran. Mereka bagai se da ng membawaka n sebua h ta rian ge mulai secara bersamaa n. Otot-otot mereka mengendur, ma ta mereka berge rak searah geraka n raut muka. He nta kan-he ntaka n kecil dilakuka n ba ga i tanpa te na ga , namun justru de ngus na fas ya ng terkenda li itu mampu menghasilka n satu te naga maha dahsya t.  Itulah  yang  dinamaka n  jurus  pukulan Bida da ri Pagi, yang pe rnah dipela jari Suro  da ri Eyang Panembahan, da n perna h juga dipela jari secara diam-dia m oleh pe rempuan anak seorang Adipati yang bernama P uji Wa rda ni, (dalam kisah: DENDAM PEREMPUAN SEPI).

Malam hari, puncak purnama mengintip di balik me ga. Sinar kepuca ta n ba ga i pe rak merona memancar ke pe rmukaa n pa nta i. Hal ini membua t sua tu kebetulan bagi mereka untuk bermalam ta npa api unggun. Hawa dingin tida k begitu meresap. Justru pa nas badan makin mendidih, karena Suro melatih te man-te mannya sampa i malam menguasa i bumi.

Pa da hari berikutnya, latihan di te pi pa ntai berikutnya juga , malam ya ng se lanjutnya pula... mereka berhasil menguasa i bahasa naluri. Geming hati da lam beruca p kata sempa t di de ngar oleh te linga hati yang lainnya.

"Apa kau mendenga raku bicara?' ka ta Suro Bodong da lam hati. Ginah Sukma da n Dodot Pamasa r menjawa b sama:

"Ya. Aku mendenga r ka ta hatimu."

Se da ngkan ya ng lain hanya menggunakan ke pa la sambil memanda ng Suro Bodong. Arya Somar berbisik da lam hati ke pa da Suro Bodong.

"Aku je las mende nga r sua ramu, enta h kalau te man-te man yang lain." Hati Ba de ri Darus menjawab, "Aku juga mende nga r!"

Suro berka ta da lam hati, "Ka lau begitu, mari kita bicara te ntang seorang janda yang kesepian..." ternya ta ka ta -ka ta itu di de nga r oleh hati mereka, te rbukti mereka jadi te rtawa serempa k da lam sua tu kebanggaa n yang te rse lip. Me reka ta k ta hu bahwa Suro Bodong banya k membantu da lam pe laja ran ilmu Serap Hati itu. Tanpa bantua n khusus dari tena ga dalam Suro Bodong, musta hil mereka da pa t menguasa i ilmu Se rap Hati da lam waktu latihan sesingkat itu.

"Aku mende ngar sua ra kegaduhan," uja r Arya Somar da lam hati. Se mua jadi memasa ng te linga, mende ngarkan sua ra gaduh dikejauhan.

"Ya. Se pe rtinya sua ra orang-orang da lam ke pa nikan," kata Ba de ri Darus da lam hati.

Pambudi Tulus memejamkan ma ta , lalu mulutnya berkata:

"Se pe rtisua ra rumah kebaka ran!"

Pambudi Tulus yang semakin tinggi ilmu pende ngarannya itu memastika n a da nya ruma h terbaka r di bagian Ba rat mereka. La lu, Suro Bodong memberi komando agar mereka se ge ra menuju ke sana.

"Pasti a da pe rkampunga n nela ya n ya n se dang terbakar," ka ta Suro Bodong.

Arya Somar memacu kuda nya lebih dulu. Ke mudian, disusul Ba de ri Darus dan Ginan Sukma, lalu Dodot Pamasa r da n Pambudi Tulus, Emandanu di belaka ng mereka, bahkan kini menge jar Arya Somar hingga berjaja r. Se da ngkan Suro Bodong bera da paling belaka ng da ri mereka.

Nyala api te rlihat berkobar. Me reka semakin mempe rce pa t de rap kaki kuda . Ma kin de kat makin terlihat je las pe rkampunga n ya ng terbakar, pe nduduk ya ng kalang kabut da lam je rita n kepa nikan da n... oh, rupa nya mereka bukan hanya pa nik karena api, melainkan juga panik karena ke takutan.

Arya Somar mengangkat ta ngan kanannya ta nda semua te mannya harus mengurangi kece pa ta n kuda, da n berhenti sejenak. Arya Somar berka ta ke pa da Ba de ri Darus yang sudah bera da di samping kana nnya:

"Ada pe nga cau di sini!"

"Ya, aku melihat orang-orang berba da n besarse da ng mengeja r-ngejar para pe rempua n...!"

"Hei, lihat itu...!" seru Ema nda nu. "Gila! Me reka melakukan pe merkosaan di depa n umum da n terang-teranga n?!"

"Kau ingin nimbrung?!" gumam Ginan Sukma.

"Benar-benar orang bertubuh kekar dan hitam itu tak lebih dari bina ta ng-binatang buas...!" geram Emanda nu.

"Apa yang harus kita lakuka n?"

"Mana Suro Bodong? Masih di belakang?!" Arya Somar bimbang menentukan sika p. Tapi akhirnya ia mengambil inisiatip,

"Serbuuuu...!!" te riaknya sambil mengibaskan tanga n.

Suatu kerusuhan dilakuka n oleh orang-ora ng bertubuh kekar, besar bagai raksasa manusia. Kulit mereka hita m dan hanya menge naka n cawa t kulit denga n topi berbentuk ta nduk. Waja h-waja h mereka bengis-bengis, kasar da n menakutka n. Tinggi tubuh mereka pa da  umumnya lebih da ri dua me te r. Bahkan salah seorang da ri mereka te rlihat se da ng menikmati biji ma ta manusia ya ng digerogot begitu saja. Me reka benar-benar liar da n sanga t ga nas.

Ginan Sukma  ya ng  kecil se ge ra  memacu kudanya  ke  arah salah seorang  dari  mereka  yang  se da ng menyeret seorang perempua n ke te pi laut. Be rsama kuda nya itu, Ginan Sukma menabra k orang bertopi tanduk. Kuda melompa ti, dan kaki belakang kuda menye pak punggung le laki hitam de nga n keras. Pa da saa t itu Ginan Sukma se ge ra mencabut pe da ngnya dan menebaska n de ngan ce pa t ke arah pilipis lawan kekarnya .

"Aaa www...!!"

Lelaki itu menjerit menge rikan ketika pe lipisnya somplak dibaba t pe da ng Ginan Sukma.

Sementara itu, Pambudi Tulus juga menge nda likan kudanya de ngan gerakan khusus. Kuda itu mampu melompa ti dua orang besar ya ng henda k membaba t punggung Arya Somar dari belaka ng. Kedua kaki de pa n kuda itu da pa t dikenda likan oleh Pambudi Tulus, sehingga kaki kuda itu mampu menenda ng dua arah sekali gus. Salah satu orang besar te rluka ke pa lanya, pecah pa da bagian te ngkuk ke pa la , se dangkan yang satu hanya te rhuyung-huyung ke de pa n. Te ta pi denga n siga p, Arya Somar menyodokkan pe da ngnya ke arah belakang dan te pa t menge nai lawa nnya .

"Aaa www...!!"

Jerita n itu amat mendirikan bulu kuduk sia pa saja yang mendenga rnya . Arya Somar se ge ra melompa t ke udara, da n bersalto sambil mengibaska n peda ngnya pa da saa t seseorang se da ng meluncur dalam satu lompa ta n ke arah belakang Pambudi Tulus. Kibasa n pe da ng Arya Somar berhasil membelah ke pa la lawa n, hingga orang itu roboh te pa t menge nai pa nta t kuda  ya ng  ditunggangi  Pambudi Tulus. Se te lah menengok sebenta r, Pambudi Tulus melajuka n kuda ke arah lain, di mana Ba de ri da n Dodot Pamasa r kewalahan diserga p tiga orang besar. Me reka memainkan keahlia n pe dangnya , namun setiap tebasa n peda ng lawa n ya ng besar itu mampu membua t tubuh Ba de ri da n Dodot te rpe lanting.

"Tar...!" Ca mbuk Pambudi Tulus bicara. Seka li lecut, merobek leher sala h seorang lawa n yang mengeroyok Ba de ri da n Dodot. Dua orang yang masih mengha da pi Ba de ri da n Dodot Pamasa r itu menjadi semakin berang.

"Haaaa hhh...!!"

Mereka berte riak dan melompa t, hingga sala h satu kaki mereka menjejak da gu Ba de ri, sementa ra Dodot Pamasa r pun te rpe lanting jatuh akiba t te nda nga n salah seorang lagj. Pe da ng besar berujung segitiga itu te lah siap dihunjamkan ke te nggorokan Dodot Pamasa r. Te ta pi, Emandanu se ge ra mengibaskan ta nga n kanannya dua kali.

"Ziiing..,! Ziiing...!"

Dua senja ta rahasia berbentuk segitiga melesat da ri kibasan tanga n Emanda nu. Ke dua nya te pa t menancap di kening orang yang henda k menikam Dodot Pamasa r, se da ngkan ya ng satu lagi menancap pa da da danya de nga n terbenam se luruhya . Orang itu mendelik, masih berdiri de ngan mulut te rnganga tak mampu berte riak. Dodot Pamasa r menenda ng ulu hati orang itu de ngan te nda nga n da ri bawa h ke  a ta s. Tenda nga n itu cukup kua t, namun tida k sampa i membua t lawannya te rpelanting ja uh. Ha nya dua langkah da ri te mpa tnya berdiri, lawa n itu sempoyonga n da n rubuh.

Se da ngkan lawa n yang se da ng menghaja r Ba de ri Darus itu tiba-tiba ikut memekik keras. Posisi

berdirinya jadi melengkung ke depa n, karena da ri belaka ng sebua h pe da ng Arya Somar menikamnya denga n manta p da n ta npa ampun lagi. Pa da saa t itu, Ba de ri Darus memukul alat vital lawa nnya de nga n keras hingga lawa nnya te rlonjak ke atas. Lalu, ia pun rubuh de ngan menggela pa r-gelepa r bagai sapi disembelih.

"Aaa hk...! Aku kenaa, uuh...!"

Emanda nu memekik keras. Se ba ta ng tombak berga gang pe ndek de nga n ujung se pe rti alat pemburu ikan itu menanca p di pinggang kirinya . Ia pun rubuh dari a tas punggung kuda.

"Emandanu kenaa ...!!" te riak Pambudi Tulus. Se ga ra ia menyambar te mannya itu da n turun

untuk menolongnya. Te ta pi sebua h te nda nga n kasa r membua t tubuh Pambudi Tulus te rpe nta l menghanta m pe rut kuda .

Sebuah pe dang berujung segitiga mengibas, Pambudi Tulus hanya sempa t menggeliat, da n punggungnya te rpa ksa te rgores pe da ng itu ta npa ampun lagi.

"Deri... hantam de ngan pana hmu. Aku te rluka ...!" ka ta Pambudi Tulus da lam hati ketika ia merasa tak mampu lagi menghinda ri pe dang lawannya.

"Juub...!"

"Aaa khh...!" Orang besar yang henda k m-nikamkan pe da ngnya de nga n kedua ta ngan terangkat ke a tas, siap menghunjam ke tubuh Pambudi, se ge ra te rje ngkang kaku. Le hernya ditembus anak pa nah Ba de ri Darus. Kerongkongannya ba ga i ge debong pisang yang  denga n empuk  sekali  ditusuk  pa nah Ba de ri hingga tembus ke belaka ng. Pambudi Tulus berusa ha sekua t tena ga untuk menggelinding ke samping. Tepa t pa da saa t itu lawa nnya  rubuh ke  de pa n,  menjatuhi bekas  te mpa t Pambudi  te rkulai. Pe da ng yang sudah terlanjur diangka t oleh kedua tanga n itu menancap di ta nah da n melesat hampir se pa roh pa njangnya. Andai Pambudi tidak menge rahkan te na ga untuk berguling ke samping, maka je las tubuhnya ya ng akan kejatuhan ujung pe da ng itu.

"Hoo... hooooh... hoaa h... hoaa h...!!"

Suara itu berge ma, da ta ng dari pe rairan laut. Caha ya rembulan menampakka n bayanga n manusia -manusia bertubuh besar da n tinggi berda ta nga n ke pantai. Me reka henda k membantu te mantemannya yang se da ng berte mpur di pa nta i. Me reka berlari menyibak-ka n riak ombak, senja ta te rhunus dan digenggam di tangan masing-ma sing. Dua orang teman mereka masih hidup di panta i da n se dang dihaja r oleh Ginan Sukma serta Arya Somar. Dodot Pamasa r kelaba kan ketika melihat orang-orang bertopi tanduk itu berdata nga n da riarah laut de nga n jumlah lebih da ri 25 orang.

Dodot Pamasa r se ge ra melempa rkan pisaunya ya ng sejak ta di te rse lip di betis. "Wess...!" Pisau

itu tak lebih da ri sejengkal pa njangnya, da n dilempa rkan da lam geraka n se te ngah berputa r. Pisau itu mela ya ng  melewati  ke pa la  Ginan  Sukma  da n  merobek  leher  lawan  yang  henda k   menikamkan   pe da ngnya ke tubuh Ginan Sukma. Pisau itu ba ga i lewat begitu saja da n kembali ke arah DodotPamasar. Dengan melejitkan tubuh, Dodot Pamasa r menangkap pisau te rsebut. La lu melempa rkan lagi da lam gerakan se te ngah lingkara n. Se menta ra itu, lawan Ginan Sukma meme ga ngi lehernya sambil mende lik, dan Ginan memanfaa tkan untuk merobek pe rut lawa nnya hingga berhamburan isi pe rut orang besar itu.

Sementara Ginan melompa t menjauhi lawa nnya yang sekarat, Arya Somar melompa t menghindari teba san pe da ng lawannya. Kakinya te rangkat satu dan menjejak te pa t di wajah, hingga orang itu tersenta k ke belakang. Pa da waktu ia te rsenta k, sebua h benda meleset menggores ma ta nya. Pisau Dodot Pamasa r berhasil melayang denga n arah puta r da n meluka i ma ta lawan Arya Somar. Pisau itu se pe rti tadi, membelok arah da n kembali ke ta nga n Dodot Pamasa r. Se da ngkan Arya Soma r se ge ra menikamkan pe da ngnya ke arah te nggorokan lawan, hingga lawan tak mampu berte riak kesakitan, melainka n rubuh da n menggelepa r-gele pa r sesaa t, untuk kemudian enggan berna fas lagi.

"Munduur...!!" te riak Arya Somar se te lah menge ta hui orang-orang kekar itu te lah berhamburan menjejakka n kaki di pa sir pa nta i. Sua ra mereka se perti gaung sejuta lebah, a ta u ba ga i ge ma gorila seribu berseru.

"Celaka ...! Se mua orangnya Gupolo turun da ri ka pa l...!" te riak salah seorang pe nduduk sambil lari tunggang langgang. Orang itu menabrak pe rut Suro Bodong yang berdiri menyaksika n pe rta runga n sejak tadi de nga n ga ruk-garuk kumis.

"Ampunn... ampun, jangan bunuh saya Ra de n Gupolo...!" pe nduduk itu ke ta kuta n da n menyembah-nye mbah Suro Bodong.

"Hei, jangan nga ca u...! Aku bukan Gupolo! Aku Suro Bodong! Enak saja meruba h nama orang

sembarangan...!" ge rutu Suro Bodong. La lu, ia ikut jongkok di de pan le laki kurus yang ke takutan  itu. "Ada a pa sebenarnya ? Di mana asal mereka? Sia pa pemimpinnya? Me nga pa. "

"Aduuh... jangan banyak-ba nyak tuan memberi pe rta nyaa n. Sa ya kebingungan " kata orang itu

denga n nafas ngos-ngosan.

"Sia pa Gupolo itu?" Suro se dikit menenangkan ka ta.

"Se ta n laut! Dia penja ga da ri seberang yang doyan maka n da ging manusia ...! Dia da n rombongannya a da lah pe mbaja k nyawa manusia...! oh, saya takut. Me reka da ta ng. Mereka turun da ri ka pal...! Permisi, Den !" orang itu buru-buru berlari ke ta kuta n ke arah ke ge la pa n semak. Seme nta ra itu,

Suro Bodong berdiri memanda ng ke da ta nga n orang-orang Gupolo yang ganas-ga nas itu. Sambil ga ruk-garuk kumisnya dari kegelapan, Suro Bodong berkata da lam hati:

"Mundur semua, atur jarak. Ma sing-masing lima langkah da ri jarak yang lain. Biarkan mereka berpe ncar. Kare na itu, jika mereka da ta ng mende ka t, berlarilah menyebar."

Kata -ka ta itu je las ditujuka n kepa da Arya Somar da n yang lainnya . Agaknya ilmu Se rap Ha ti yang dilatihkan bebera pa waktu ini sa-ngat berguna untuk memberi komando secara diam-diam. Dan Arya Somar pun mengikuti pe rinta h Suro Bodong. Mereka berjajar dalam jarak lima langkah da ri masing-masingnya . Ha nya Pambudi Tulus ya ng tak mampu berge rak mengatur jarak. Na mun, ia masih bisa berdiri denga n lutut sambil meme ga ngi cambuknya . Darah se ga r mengucur da ri punggung kirinya, dan kekua ta n Pambudi Tulus mulai rapuh. Seme nta ra, Emandanu diam ta k berkutik denga n lembing kana nnya dihunjam tombak pende k berujung bengkok. 

Pambudi Tulus melecutkan cambuknya ke uda ra tiga kali. Lima orang Gupolo menerjangnya, namun te rhenti ketika Pambudi Tulus mengibaska n cambuknya berulang-ula ng, bagai mema ga ri tubuhnya dari seranga n lawa n yang ganas. Nyala api memercik-mercik da ri ujung cambuk, dan orangorang Gupolo kebingungan untuk menye rang, akhirnya mereka beraliharah menyerang Ba de ri Darus.

Sementara itu, Ba de ri Darus sibuk mele paska n bebera pa anak pa nahnya. Namun, ia te rpa ksa berhenti memanah, karena da ri arah samping da tang seranga n da ri lawa n ya ng bersenja ta ranta i bola berduri. "Heaaaa h...!!"

"W uss...!" Rantai bola berduri berkelebat di a tas ke pa la Ba deri Darus. Se ge ra, pe da ng Ba de ri bekerja de ngan ta ngkas. Menebas ke de pa n sambil maju menyerang. Busur panahnya dipa kai untuk menangkis, se da ng pe dang digunakan untuk menikam dan merobek lawan yang terdeka t. Tapi, da danya pun tak luput da ri ujung pe da ng lawa n. Ba de ri Darus menjerit ketika ujung pe dang lawan mampu merobek da da nya , hingga rompi merah ya ng dikenaka n robek sebagian. Ia se ge ra melentikkan ba da n, mela ya ng da n bersalto ke salah satuatap rumah pe nduduk yang belum di bakar Gupolo.

Arya Somar da n Ginan Sukma mulai te rte te r diserang banyak lawa n. Ginan melompa t ke salah satu pohon da n mengibaska n pe da ngnya ke arah lawa n. Pe dang itu menge lua rkan serbuk bercahaya. Berkelip-kelipwarna merah, da n menye bar ke arah lawannya.

"Aaa oohh...! Haaaa hhh...!!"

Mereka berte riak histe ris. Racun pe da ng Ginan Sukma menempe l pa da kulit tubuh mereka, da n akibatnya kulit tubuh mereka mulai menge lupas, lalu berkerut-kerut. Daging mereka hangus sedikit demi sedikit. Ba hkan a da yang berlari ke pa nta i lalu menceburkan diri ke laut. Namun, cara itu te rnyata malah semakin para h. Ba ga i batu kapur yang direnda m da lam air. Me ndidih seketika tubuh lawa n yang mencebur ke air laut.

"Aaa h...!" Ginan Sukma memekik. Be tisnya nyaris te rpotong oleh senjata ya ng mirip piring berte pian ta jam itu. Se nja ta te rsebut dilempa rkan oleh salah seorang lawan da ri bawa h, Ginan Sukma terlambat melompa t. Be tisnya robek. Cukup da lam. Ginan Sukma menyeringai kesakita n sambil bersalto dari daha n pohon yang satu ke da han pohon yang lain. Ia sempa t melihat Dodot Pama sar dikeroyok tujuh orang. Akhirnya Ginan kembali melompa t dengan menaha n sakit pa da betisnya . Lompa tan itu berupa ge rakan salto bebera pa kali denga n pe dang dikibaskan ke arah orang-orang yang menge royok Dodot Pamasa r. Tiga orang melengking kare na te rgores punggung dan bagian ke pa lanya oleh pe dang Ginan. Ke mudian kaki Ginan yang tidak  terluka  menenda ng bagai  kaki  belakang.  Te pa t  menge nai te linga lawa n hingga orang itu menjerit kesakita n. Dodot Pama sar pun segera meloloskan diri da ri keroyokan mereka, da n melejitka n tubuh ke a tas, te pa t berada di a ta p sebua h rumah yang dipaka i berdiri Ba de ri Darus.

"Mereka benar-benar iblis ya ng ganas!", ka ta Dodot.

"Kita harus lebih ga nas lagi!!" Ba deri membidikkan anak pa nahnya ya ng berujung merah. Ke tika anak pa nah itu melesat da n menancap pa da sebua h pohon yang ta k ja uh da ri sekelompok lawan yang menyerang Ginan, pa nah itu mele da k. Lima orang lawa n yang pa ling dekat denga n pohon te rpe nta l dalam kea daa nanggauta tubuhnya pe cah ke mana -mana .

"Mundur semua ...!" Ada sua ra yang di dengar oleh Arya Somar. Maka se ge ra Arya Somar mencari kesempa ta n untuk meloloskan diri dari kepungan lawa n. Suara itu je las sua ra Suro Bodong. Dan Arya Somar ta k bisa membanta h sebab ia benar-benar da lam kea daa n te rpe pe t. Ia melejit ke a tas, ta pi ia disambut oleh pukulan jara k jauh da ri salah seorang yang berdiri tak jauh da ri panta i. P ukula n itu berupa sinar kuning bening melesat da n menghanta m da han pohon. Ka lau saja Arya Soma r tida k se ge ra bersalto ke belakang da n se ge ra berguling ke samping, maka tubuhnya itulah yang akan meleda k dihanta m pukulan jarak jauh. Bumi berguncang saa t ledaka n itu terde nga r. Ba hkan air laut ba ga i mengamuk. Ombaknya bergulung-gulung dari panta i menuju ke te nga h laut. Debur ombak ba ga i irama le daka n gunung yang menggema.

Orang-orang Gupolo pun mundur semua begitu mende nga r le daka n ya ng mengguncangkan bumi. Pambudi Tulus te rpe nta l jatuh karena tanah tempa tnya berdiri de nga n lutut ba ga i diguncangkan dari bawa h.

Orang-orang Gupolo mundur ke pa nta i, sementa ra itu, seorang berbadan kekar dan te ga p, namun berkulit sawo ma ta ng, lebih bersih da ri yang lainnya , melangkah ke de pa n. Ia menge naka n topi berbentuk cula ba dak.  Ba gian  te linga  te rtutup topi, namun rambutnya  ya ng pa njang sepundak  te rurai le pas pa da bagian bawa hnya . Ia menge naka n ce lana ke ta t seba tas betis berwarna hijau da lam bentuk sisik ular da ri benang kuning. Gelang kulit beruang melilit di pe rge langa n ta nga n kanan kirinya .

Suro Bodong suda h menebak, orang itu pasti yang bernama Gupolo. Pukula n jarak jauhnya sungguh hebat, mampu mengguncangkan bumi da n membua t lauta n menga muk. Pohon yang te rkena pukulannya itu bukan hancur, tapi hilang musnah ta npa bekas sedikit pun. Suro Bodong merasa suda h saa tnya untuk maju ke de pa n, berha da pa n de ngan Gupolo.

"Kau ya ng bernama Gupolo?!" seru Suro Bodong de nga n tena ng.

"Benar...! Aku ta k pe rduli sia pa kalian, ta pi kuminta cukup kali ini kalian mengganggu kami. Jangan pa ncing kemarahan kami di lain tempa t. Sekarang, kalian kua mpuni!" Gupolo memberi aba -a ba ke pa da anak bua hnya agar naik ke ka pa l, sementa ra Suro Bodong malah te rbengong-bengong kebngungan. Ia merasa tida k minta ampun! 

4

Ginan Sukma bersungut-sungut ketika Suro Bodong melarangnya untuk menge jar orang-orang Gupolo.

"Mereka meremehkan kita ! Mereka mengira kita ta kut da n minta ampun kepa da mereka!

Pa da hal kita masih sanggup berta rung melawa n congor mereka, kan?!"

Suro Bodong bicara de nga n te nang, "Yang penting mereka te lah pergi. Korban tak berta mbah banyak. Hanya tiga orang pe nduduk yang menjadi korban."

"Tapi mereka mengampuni kita , itu berarti kita dianggap ta kut kepa da mereka...!" banta h Ginan

Sukma.

"Itu cara Gupolo untuk mundur. Biarkan saja," ka ta Suro Bodong sambil mengobati luka di da da

Ba de ri Darus. "Gupolo memang orang hebat. Te ta pi, ia  khawa tir  kalau  kehebatannya  mampu  kita kala hkan. Ma ka, sebelum mereka tahu di mana kelemahan kita , mereka menjalanka n cara se perti ta di. Berla ga k mengampuni dan pe rgi. Pa da hal tujua nnya hanya untuk melarikan diri da ri kita . Lihat saja, bera pa anak bua hnya yang mati oleh ta ngan kalian? Ba nyak juga, kan? Gupolo te lah mempe rhitungkan, kala u pe rta rungan dite ruska n, ia aka n kehilanga n banyak anak buah. Mungkin kalau dia sendiri yang maju mengha da piaku, bisa-bisa ia akan kehilanga n nya wanya sendiri."

"Tapi, bagaimana de nga n Ema nda nu? Ia mati!" ka ta Ba de ri.

"Tidak.  Ia  belum  mati.  Lukanya  terlalu  pa rah,  sehingga  butuh  waktu  untuk   memulihkan kea daa nnya. Aku te lah memeriksa da n mengobatinya . Ia masih hidup, hanya saja... pa rah. Ia harus beristiraha t lama, karena empe dunya te rgores senja ta itu," ka ta Suro Bodong de nga n te nang.

Kedua tanga n Suro Bodong diluda hi tujuh kali, kemudian digosokkan tujuh kali pula, da n ditempe lkan pa da luka itu. Tela pa k tanga n merayap da lam teka nan keras sehingga Ba deri Darus menyeringai kesakita n. Namun, ketika te la pak ta ngan itu bergese r te rus melewati luka , te rnya ta luka itu suda h ta k a da lagi. Da da Ba de ri Darus mulus ta npa sedikit pun bekas luka.

Itulah kehebatan Suro Bodong da lam mengobati seseorang. Bukan hanya Arya Somar, Ginan da n yang lainnya ya ng te rbengong terheran-heran, melainkan ke pa la desa nelayan itu pun ikut menyaksika n cara pengoba ta n Suro yang unik da n mengagumkan itu. Dan bukan luka di da da Ba de ri saja yang bisa disembuhkan denga n cara begitu, melainkan semua luka te mannya kembali se pe rti biasa. Diluda hi tangannya, da n se tela h te la pa k tanga n saling gosok, maka te la pak tanga n itu ba ga i menya pu luka. Luka pun hilang ta npa bekas, rasa nye ri berangsur-a ngsur puda r.

"Menga pa Emanda nu tida k kau sembuhkan denga n cara se pe rti ini juga?" ka ta Ginan Sukma.

"Aku tidak sanggup meraba Emanda nu, Tolol! Geli! Me raba wajahnya saja geli a pa lagi meraba Emanda nu..." jawab Suro Bodong sambil berkelakar. Mau tak mau yang lain te rpa ksa menyunggingkan senyum pa hit. 

tahu." Ki Lurah Mangunresa kebingungan ketika dita nya te nta ng Le mbah Ma tsuri.

"Saya  malah baru  mende ngar nama  Ma tsuri sekarang ini," katanya.  "Ka lau  pulau Pocong saya

"Pulau Pocong?!" Suro Bodong berkerut da hi. "Sa ya tida k butuh pocongan mayat, Ki Lurah. Sa ya butuh pe rempuan-pere mpua n Ma tsuri."

"Pulau Pocong itu a pa ?" timpa l Dodot Pamasa r.

"Pulau Pocong itu... pulau yang sekarang, menurut kaba r pa ra nela ya n, pulau itu menjadi te mpa t bermukimnya orang-orang Gupolo. Pembaja k-pe mbajak yang ha us da rah da n doya n da ging manusia itu belakanga n ini kaba rnya menduduki Pulau Pocong. Bentuknya memang mirip pocongan mayat, jadi kita sebut pulau Pocong."

Semua mata te rtuju pa da Ki Mangunresa. Me reka manggut-manggut sambil memba ya ngkan keganasa n orang-orang Gupolo ya ng bertubuh tinggi besar, se perti raksasa .

"Apakah mereka sering ke mari, Ki Lura h?" tanya Arya Somar.

"Baru sekali ini," jawab Ki Lurah Mangunresa. "Ka mi sendiri tida k menduga kalau keganasa n orang-orangnya Gupolo aka n menyebar sampa i ke desa Srondol ini. Seba b, pulau Pocong te rle tak jauh dari sini. Den "

Suro Bodong manggut-ma nggut. Ia garuk-ga ruk kumis sebentar. La lu seorang pe rempua n muda membawa kan jagung baka r kesukaan Suro Bodong. Namun, Arya Somar da n yang lainnya pun menyanta p pula jagung bakar itu.

"Yang penting, mereka pa sti tida k akan ke mari lagi," ujar Suro Bodong ke pa da Ki Lurah Mangunresa. Ke pa da te man-te mannya , Suro Bodong berkata:

"Kita lanjutkan pe rjalanan kita, mencari Le mbah Ma tsuri. Ba ga imana? Se tuju?"

"Setuju!" jawa b yang lain.

"Gin ? Ba ga imana, setuju?" Suro bertanya pa da Ginan yang sejak ta di te rnya ta a da main de nga n

perempua n muda pe mbawa jagung baka r. Ia te rbengong ke tika dita nya Suro, "Se tujua pa tida k?!" "Apanya?"

Suro Bodong menggeram jengkel. Dodot Pamasa r berka ta:

"Makanya kalau melihat pe rempuan mata nya jangan ce pa t-ce pa t berubah jadi hijau! Perempua n cantik sedikit mau dilalap saja !"

"Perempua n cantik, itu benar. Tapi kalau soal mau dilalap ah, itu juga benar."

Arya Somar ge ram dan henda k menghanta mnya de nga n siku. "Janga n bercanda !"

"Aku tidak bercanda. Aku ka ta kan bahwa pe rempua n itu ta di memang cantik! Nya ta !"

"Itu anak saya. Den " sahut Ki Lurah Mangunresa denga n menghormat da n merenda hkan diri.

"Ooo... anak Ki Lurah? Maa f,  sa ya  bicara  dengan te rang-teranga n tadi. Maa f, Ki Lurah " Ginan

tersipu malu. Na mun, dasa r ma ta keranjang, te ta p saja melirik-lirik mencari ana k Ki Lurah yang menghilang di balik pe nye kat kamar.

Tak a da waktu untuk beristirahat di desa Srondol. Mereka melanjutka n pe rjalanan ke arah Ba rat

se te lah menitipka n Emandanu kepa da kelua rga Ki Lurah Mangunresa.

"Saya aka n rawa t Ra de n Emanda nu ini sebaik mungkin. Den Suro," ka ta Ki Lurah Mangunresa ketika Suro Bodong menitipkan Emanda nu yang pe rlu pe rawa ta n bebera pa waktu.

Dan mereka pun mulai maju, memacu kuda menyusuri pa nta i, mencari te mpa t yang dikataka n

Be ga wan Ba yanpa ti. Bebe ra pa saa t kemudian, timbul pe rkiraan lain di da da Dodot Pamasa r: "Janga n-janga n Be gawa n Ba ya npa ti membohongi kita ."

"Tidak mungkin. Dia ta husia pa aku," ka ta Suro. "Dan kau mempe rcayainya ?"

"Ya. Aku memperca ya inya!" "Menga pa kau tida k curiga ?!" "Karena anta ra aku dan dia a da hubungan saudara yang ta k perlu kubebe rkan di sini. Terlalu panjang cerita nya." (lihat kisah: TUMBAL MAHKOTA RATU).

Kaki kuda bagai tak kenal le lah, melaju da n berpa cu se irama debur qmbak di panta i. Sa mpa i menjelang senja, mereka masih memacu kuda menuju Ba rat. Na mun, tiba-tiba Arya Soma r berseru:

"Hei, berhenti! Kita berhenti dulu! Kita salah arah!"

Tali kekang kuda ditarik. Me reka mulai berhenti dan berkumpul sambil te tap duduk di punggung kuda.

"Dari mana kau ta hu kalau kita salaharah?!" ta nya Ginan Sukma.

"Liha t, ma ta hari te nggelam di cakrawa la . Ka lau dia muncul, pasti da ri Timur. Ka lau dia tenggelam, pasti te nggelam di Ba ra t. Dan sekarang lihatlah... matahari mau tengge lam. Ia bera da di ba tas cakrawa la , anta ra  langit dengan laut yang a da di sisi kiri kita itu. Be rarti arah Bara t a da di sana ..." Arya Somar menuding ke arah mataha ri ya ng memerah di te ngah lauta n.

Hal itu membua t semua te rbungkam dan memanda ng dalam keragua n. Te ta pi, Pambudi Tulus sempa t menggumam:

"Kalau begitu kita harus menyeberangi lauta n. Ka rena di sanala h arah Ba rat sebenarnya."

"Kita beristirahat saja dulu, sambil mencari jalan te rbaik," usul Dodot Pama sar. La lu, Ba de ri menyetujui, da n ya ng lain pun setuju de nga n usul Dodot Pamasa r.

Suro Bodong mengambil bekal da ri kantong pe lana kuda . Ja gung bakar. la memetik-metik biji

jagung bakar sambil berdiri memandang matahari senja. Ia sempa t menginga t-ingat ka ta -ka ta Be gawa n Bayanpa ti te nta ng arah Ba rat yang harus dituju. Rasa-rasa nya, tak mungkin Be gawa n Ba yanpa ti menipunya.

"Atau, kita bermalam saja di sini sambil menunggu ga ga san lebih lanjut," usul Pambudi Tulus. "Bisa juga," ka ta Arya Somar. "Kurasa , kalau kita harus menye berangi lauta n, kuda -kuda ini ta k

mungkin bisa diajak berenang ke sana."

"Dan lagi, belum te ntu Le mbah Ma tsuri memang a da di sana," timpa l Ba de ri Darus yang berkumis tipis da n bertubuh kurus.

"Ssst...! Ada bina ta ng yang berge rak-gerak di balik rimbunan pohon itu," bisik Dodot Pamasa r. "Kita sikat saja untuk santa pa n nanti mala m," bisik Ginan Sukma. Pambudi Tulus menya hut: "Janga n! Itu seekor kelinci huta n. Aku bisa bicara de nga nnya."

"Kalau begitu tanya kan pa da kelinci huta n, di mana arah Lemba h Ma tsuri," Suro Bodong jadi terta rik de ngan kelinci huta n itu. Ia ta hu, Pambudi Tulus da pa t menguasa i bahasa bina ta ng de nga n ilmunya.

Maka dia dan yang lainnya membiarka n Pambudi Tulus bergerak mendeka ti rimbunan pohon peredu. Ia menge nda p-e nda p de ngan hati-hati, lalu berjongkok di de pa n ge rumbulan de da unan. Tangannya te rulur da ri rimbunan pohon itu.

Pambudi Tulus mengusa p-usap de ngan lembut. Seaka n ia se dang bicara de nga n hewan sebesar betis pe rawa n itu. Be bera pa saa t kemudian, ia pun berdiri, kelinci itu dile paska n, berlari masuk ke hutan. Pambudi Tulus mende kati te man-te mannya yang kini mereka tinggal berenam.

"Astaga... benarjuga a pa ka ta kelinci itu," ujar Pambudi Tulus. "Benar, ba ga imana?" desak Ginan Sukma .

"Kelinci bilang sebenta r lagi akan a da pe langi. Dan te rnya ta... benar juga ka ta -ka ta nya . Lihatlah ke arah ma ta hari te rbenam itu...!"

Mereka yang semula mengha da p ke huta n, kini sama-sama berpa ling mengha da p ke mata hari terbenam. Ma ta mereka te rpera ngah. Tubuh mereka berdiam kaku. Suro Bodong berhenti mengunyah jagung bakar.

Wa rna -wa rna pela ngi te rlihat membias samar-sa mar. Le ta knya bukan di arah Ba rat, melainkan di sebelah Utara, yaitu pa da arah yang mereka tuju semula. Panta i itu membujur da ri Sela ta n ke Utara. Kalau mereka mene-ruskan pe rjalana n, maka mereka akan tiba di Utara. Dan di sanalah, di langit Utara itu terlihat lengkung pela ngi yang kian lama kian jelas.

"Lengkung pelangi te lah te rlihat je las..." gumam Ba de ri ta k  dilanjutkan,  karena  mulutnya terpe ranga h lagi ketika samar-sa mar ia melihat sesua tu di anta ra lengkung pelangi itu. Ba hkan semua ma ta pun ta k mau berke dip memanda ng sebentuk pe pohona n, rumah da n kesibuka n orang yang tergamba r di a tas lengkungan pe langi. Makin lama, suasa na kehidupan dia ta s lengkunga n semakin jelas. Ada anak kecil menggiring kambing. Ada bebera pa pe rempua n menapih beras. Ada bebera pa orang menimba di sumur. Dan semua itu te rjadi diatas lengkung pe langi.

Lama sekali keenam kesatria da ri  Kesulta nan Praja  itu  te rbengong-bengong  melihat kea daa n se pe rti itu. Mereka ingin tida k perca ya , namun se te lah mengedipka n ma ta berulangkali, mereka dipa ksa untuk pe rcaya melihat sua tu keaja iban di a tas lengkung pe langi.

"Kita diha da pka n oleh sua tu kenya taa n, Suro. Dan kita tak ta hu a pa ya ng harus kita lakukan jika

begini."

"Memang begitu kea daa nnya , Ginan. Ada kalanya manusia tidak bisa berbua t banyak, jika

diha da pkan oleh sua tu kenya taa n ya ng semula disangsika n," ka ta Suro Bodong.

"Apakah kita harus membua t tangga untuk menca pa i tempa t itu?" ta nya Dodot Pamasa r. Te ta pi, Arya Somar ya ng menjawa b de ngan te nang, se pe rti bicara pa da dirisendiri:

"Suatu hal yang tidak masuk aka l a da lah membua t jalan menuju ke langit, sekalipun

menggunakan tangga pa njang."

Mereka sama-sama terbungkam, sekalipun sama-sama mempe rhatikan kehidupa n di Lembah Matsuri yang terlihat di lengkung pe langi. Ke heranan yang terlihat menjadi sua tu kebingungan yang memusingkan otak. Suro Bodong te rmangu-mangu mencari cara untuk sampa i ke Le mbah Ma tsuri.

"Ini sua tu tanta nga n," ka ta nya da lam guma m, enta h ditujukan ke pa da sia pa . "Tanta nga n bagi ilmu kita untuk mencapai ke te mpa t yang sanga t ajaib itu."

"Ilmu a pa kira-kira ya ng harus kita paka i untuk ke sana?"ta nya Ba de ri Darus.

Suro Bodong garuk-ga ruk kumisnya , sepertinya ia se da ng bingung tujuh keliling mengha da pi perta nyaa n Ba de ri. Memang ia sendiri se dang kebingungan; ilmu a pa ya ng harus dipaka i untuk meniti pelangi? Ah, mana a da se pa njang sejarah manusia, pela ngi bisa mempunyai ta ngga untuk dilewati? Terlalu kha ya l untuk da pa t menca pa i ke ujung pelangi sekalipun. Apalagi harus sampa i ke ba tas lengkung pelangi yang kira-kira bera da se pe rtiga da ri pa njang lengkungnya, wah... biar bota k ke pa la Suro yang berambut pa njang itu juga tidak aka n menemuka n jalan menuju ke sana.

"Kesungguhan...!" Suro tiba-tiba menggumam sendiri da lam renungannya . Ia te ringa t ka ta -ka ta

Be ga wan Ba ya npa ti, bahwa untuk menca pa i Le mbah Ma tsuri, yang dibutuhkan a da lah kesungguhan. Kesungguhan se perti a pa ? Yah... kesungguha n mencari cara untuk sampa i ke sana . Apa kah bisa a da cara ke sana sekali pun kita suda h menguras semua kesungguhan? Apakah a da ilmu yang menuju ke sana, walau kita te lah memusa tkan pe rhatian?

"Ada...!" tiba-tiba Arya Somar berka ta jelas, seakan ia mende ngar a pa kata hati Suro Bodong. Maka, tak pe rlu di komando, semua orang berpa ling memanda ng Arya Somar. Sedangkan, Arya Somar sendiri senga ja memperlihatkan senyum tipis,  seba ga i  senyum  kele gaa n  atas  ga gasa n  yang ditemuka nnya baru bebera pa de tik tadi.

"Ada jalan menuju ke sana: ke Lemba h Ma tsuri!" jelasnya ke pa da yang lain. "Kau mengigau, Somar," ka ta Suro Bodong.

"Justru orang mengigau ka da ng-ka da ng ia punya kejujuran yang benar," kilah Arya Soma r. Pambudi Tulus mende ka t, da n berbisik, "Ba ga imana caranya?"

Arya Somar te rsenyum tipis sambil mempe rhatikan suasa na lembah Ma tsuri di lengkung pelangi. Ke mudian de ngan ta npa berpaling ke pa da rekan-rekannya , ia berka ta:

"Kalau Le mbah Ma tsuri yang kita lihat itu lama-lama aka n hilang, maka aku tahu jalan menuju ke sana." "Aku kurang je las de nga n maksudmu," kata Suro pe lan.

"Kita tunggu saja sampa i bebera pa saa t, a pa kah Le mbah Ma tsuri ya ng a da di sana itu te ta p, a ta u hilang?"

Mulut mereka tak a da yang bersua ra sekalipun ternga nga memanda ng Le mbah Ma tsuri. Suro

Bodong berjalan monda r mandir da lam ke ge lisahan, sambil sesekali memetik-metik jagung baka r da n memakannya . Juga, sesekali ia menggaruk kumisnya ya ng te bal itu. Langka hnya yang monda r mandir itu se laras denga n gerak pikirannya anta ra mencari pe nge rtian yang dimaksud Arya Somar, da n mencari jalannya sendiri untuk menuju ke sana.

Te ta pi, sampa i ma ta hari kian te nggelam, Suro Bodong belum bisa menemuka n a pa -a pa da lam otaknya, kecua li hanya menemukan se ge nggam kebingungan. Hanya saja, tiba-tiba Dodot  Pamasa r terde nga r berka ta ke pa da sia pa saja:

"Kelihatannya semakin puda r."

"Karena hariakan ge lap, maka Le mbah Ma tsuri tida k keliha ta n," sahut Ba de ri Darus.

"Kalau begitu, Le mbah Ma tsuri hanya akan muncul bila a da ma ta hari," Pambudi Tulus menyambung ka ta .

Ginan berseru, "He i... semakin puda r! Be tul, pema nda ngan di atas pela ngi itu semakin

membayang dan... da n kurasa sebenta r lagi aka n hilang!"

"Naa h..." Arya Somar berseru kegiranga n. "Be nar a pa dugaa nku. Pemanda nga n di Lembah Matsuri pa stiakan puda r."

"Bicaralah dulu yang jelas, baru bersorak! Ja ngan bicara sambil bersorak, otakku semakin kusut!"

ka ta Suro Bodong yang suda h berhenti da ri monda r mandirnya .

"Somar, pe mandanga n itu kini makin tipis. Tida k sejelas ta di. Jadi a pa kesimpulanmu, hah?" tanya Ginan Sukma. Arya Somar berka ta de nga n waja h ceria.

"Tipua n ma ta , ba ga imana?" desak Ba de ri. "Se benarnya Le mbah Malsuri tida k bera da di lengkung

pelangi," kata Arya Somar. "Lemba h Ma tsuri bukan ne ge ri a ta u te mpa t ya ng ajaib. Hanya secara kebetulansaja le ta knya memungkinkan untuk te rlihat di a tas lengkung pe langi."

Karena Suro Bodong masih bingung, ia jadi jengkel, da n berka ta ke pa da Arya Somar: "Ngomonglah yang enak di denga r! Janga n se pe rti penjual jamu ge ndong!"

"Begini maksudku...." Me reka menge rumuni Arya Somar, dan masing-ma sing siap menjadi pendenga r, ya ng baik. Arya Somar menjelaska n:

."Le mbah Ma tsuriada di sua tu te mpa t, di bumi ini. Enta h di mana, yang je las bukan di lengkung pelangi. Pelangi a da di langit, da n Lemba h Ma tsuri bukan di langit

"Nyatanya ya ng kita saksika n bersama Le mbah Ma tsuri a da di langit, di a ta s lengkunga n pelangi," banta h Ginan.

"Itu hanya tipua n. Dalam kea daa n te rte ntu, pe langi akan muncul di langit. Konon, itu akiba t a da hujan di sua tu te mpa t. Sinar ma ta hari menembus butiran huja n. Sinar itu beru bah menjadi aneka warna karena menembus butiran hujan. Maka, jadilah pe langi. Itu menurut pe nje lasa n dari seorang Resi yang pernah da ta ng dari Sriwija ya . Aku sempa t mendenga rkan aja ran-a jaran da rinya ke tika aku belum menjadi prajurit Ke sulta nan Praja .

"Aku juga pe rnah mende ngar ke te ranga n sepe rti itu da ri Eyang Panembahan Purbadipa ," cele tuk Dodot Pama sar.

"Lalu, a pa hubunga nnya de nga n Le mbah Ma tsuri?" desa k Ginan lagi. Suro garuk-ga ruk kumis

sambil menyimak ke te ranga n da ri Arya Somar.

"Menurut dugaa nku, lapisan udara di sekeliling kita ini dalam kea daa n pa nas a ta u kelembaba n terte ntu da pat berubah menjadi cermin. Ce rmin itu memantulkan sua tu kehidupan di dasa r bumi, maksudku kehidupa n di sua tu te mpa t. Misalnya kehidupa n di sekita r kita ini, mungkin pa da sua tu saa t, a ta u pa da kea daa n te rtentu, kita bisa terlihat oleh orang di daera h lain. Kita seolah-olah se da ng berdiri di langit. Pa da hal uda ra di langit yang berubah menjadi cermin itulah yang memantulkan sosok kehidupa n kita berenam ini."

Arya Somar diam sebenta r, mencoba menunggu ka ta -kata da ri temannya, tapi yang lain hanya bungkam da n te rmenung. Dahi-dahi mereka berkerut mencerna ke tera ngan Somar. Ke mudian, Arya Somar melanjutkan lagi:

"Hal kecil yang pernah kita te mui da n sering, ialah ba ya ngan air di tenga h pe rjalana n. Ka da ngka dang kita se pe rti melihat genanga n air di te ngah jalan pa da saa t panas te rik matahari menghajar kita. Begitu kita deka ti, ba ya ngan air itu tidak a da . Hilang. Na h, itu menanda kan a da nya percobaa n pa da udara a ta u hawa di dae rah itu. Se perti pe ruba han cermin. Bisa memantulkan te mpa t lain ya ng bisa dijangkau oleh cermin itu. Je las...?!"

Semua te rbungkam. Bengong tapi berpikir. La lu, Ba de ri Darus berkata:

"Dulu, kake kku punya cerita turun-temurun tentang seorang Pange ran yang menunggang kuda keliling jagad untuk mencari kekasihnya . Konon, sang Pangeran sering te rlihat berga nti-ganti bentuk da n rupa, menunggang kuda sampa i ke langit. Mencari kekasihnya , ka ta nya . Mungkin se perti itulah kenyataa n ya ng dilihat angka ta n kakek buyutku, sampa i te rjadilan Ce rita Sa ng Pange ran da n kekasihnya. Mungkin pantulan udara yang berubah menjadi cermin itulah ya ng dilihat oleh orang za man dulu. Dan... kebetulan yang mereka lihat di langit a da lah seorang lelaki menunggang kuda di sua tu te mpa t, yang te mpa t itu sendiri da pa t te rpa ntul melalui cermin uda ra."

"Nah... begitulah asa l cerita le luhur kita ," sahut Arya Somar. "Ja di, ya ng pe nting bagi kita a da lah mencari, di mana dae rah ya ng bisa te rpa ntul lewat cermin? Di mana wilayah yang da pa t dilihat melalui cermin uda ra itu? Yang je las, menurut duga anku buka n bera da di daera h Bara t, sebab ma ta hari sendiri waktu itu, bahkansekarang ini a da di Ba rat "

Semua memanda ng ma ta hari ya ng kian te ngge lam. Dodot Pamasa r sempa t berseru, "Lihat...

pemandanga n itu kian tipis. Se pe rtinya turun ke kaki pe langi."

"Benar...! Bena r dia turun ke kaki pe langi. Ja di, di sanalah di arah Uta ra itulah te mpa t Le mbah

Matsuri!" kata Ba de ri Darus de nga n penuh semangat dan ke yakina n.

"Kita bergerak ke Uta ra! Ayo !" Suro melompa t ke punggung kuda, diikuti oleh mereka de nga n

semanga t.

Mereka bagai berhasil menemukan sua tu teka-teki yang teramat rumit. Be gitu terpeca hkan, a da rasa gembira dan lega di hati mereka. La lu, semanga t dan kesungguha n mereka mencari Le mbah Matsuri begitu berkobar di da lam da da. Kuda dipa cu menembus malam. Me reka takpe rduli dingin mencekam. Mereka te rus menyusuri pa nta i, melaca k dae rah de mi dae rah yang disinggahi. Tanpa te rasa, mereka te lah melakuka n pe rjalanan panta i se lama lima hari, te rhitung sejak ditemuka nnya teori uda ra berubah menjadi cermin.

Seorang nela ya n da ri desa lain menga ta kan ketika mereka bertanya tentang Le mbah Ma tsuri: "Perjalanan ke sana memaka n waktu dua hari de nga n menge nda rai kuda. Denga n jala n kaki,

bisa lima hari baru sampa i ke Le mbah Ma tsuri. Dan... pa da hari ke lima orang akan mati memasuki wilayah Le mbah Ma tsuri."

"Kena pa?"

"Perempua n Ma tsuri ga nas-ga nas."

Sekalipun mende ngar berita menyeramkan se perti itu, namun semangat mereka semakin berkobar. Pambudi Tulus, mulanya hampir pa ta h semanga t. Na mun, begitu mendenga r ke te ranga n seorang nela ya n, maka semanga tnya berkobar lagi.

Apa ka ta nela ya n itu memang benar. Pada hari kedua sejak ia bertanya ke pa da nelayan, ba tas Lembah Ma tsuri te rlihat, yaitu sebua h pe rbukita n ya ng memanjang, da ri da rat menuju pa nta i. Itulah ciriciri wila ya h Lemba h Ma tsuri ya ng dika ta kan oleh seorang nelayan dua hari ya ng lalu.

Senyum dan kebanggaa n mereka saling bermekaran. Ginan Sukma sempa t berte riak ketika kudanya sampa i ke puncak pe rbukita n da nsiap menuruni le reng bukit ta ndus itu. "Kita berhasil...!!" te riak Ginan Sukma.

Di sekitar perbukita n itu memang tandus. Tak a da tana man. Mungkin te rpe nga ruh karang laut. Te ta pi di ke da laman sana, ja uh di bawa h kaki perbukita n yang pa njang itu, te rlihat serumpun kehija ua n daun menggerombol da n menjalar te rus ke da lam. Hutan. Ya, a da huta n, ta pi bukan hutan ya ng ganas. Suro Bodong menunjuk ke arah huta n itu, lalu mereka pun meyerbu masuk ke hutan te rsebut. Sa mpa i akhirnya ia menemuka n sebua h sunga i kecil berair bening.

"Susuri sungai ini, pa sli ada kehidupan di sana ! Di hulu sungai ini! Ayo...!" ka ta Suro de nga n gagahnya .

Kuda berpa cu melaju mengikuti te pian sunga i, menyongsong arus sungai kecil itu. Enam kesatria da ri Kesulta nan Praja berwaja h ceria merasa bangga, a pa yang dicarinya suda h mereka te mukan. Lembah Ma tsuri.

Sungai itu kian melebar. Se makin da lam semakin melebar, da n mereka tida k menya da ri, bahwa mereka te lah masuk wilayah te rlarang bagi mereka berenam. Me reka tak sa da r kalauada sepa sang ma ta yang mengikuti gerakan mereka da ri balik  pe rsembunyiannya .  Se hingga,  pa da  sua tu kesempa ta n lain mereka dikejutkan oleh pekika n Dodot Pamasa r yang mengerang sambil meringis kesakitan, karena sebuah pisau menancap di lenga nnya. Ia te rjatuh da ri punggung kuda, da n hal itu membua t ya ng lain menjadi te gang. Panik.

"Menye bar...! Se mua menye bar...! Periksa a tas pohon dan setiap semak-sema k...!" pe rinta h Suro

Bodong sambil melompa t turun dari punggung kuda. Ba de ri da n Ginan juga melompa t da ri punggung kuda. Pambudi Tulus se ge ra menolong Dodot Pamasa r se tela h ia melompa t turun da ri punggung kuda. Ia keliha ta n cemas se te lah menge tahui lengan kiri Dodot Pama sar menjadi biru legam.

"Ginan...! Racun te lah meresap da lam tubuh Dodot!" te riak Pambudi Tulus. Ma ka, Ginan Sukma se ge ra berlari mende kati tubuh Dodot Pamasa r ya ng terka pa r di rerumputan. Ma ta Ginan jadi te rbelala k melihat lenga n kiri Dodot Pamasa r menjadi biru legamseluruhnya .

"Gawat! Ini racun ganas yang terbua t dari bisa ular! Ular Sa nca We lang!" ka ta Ginan seba ga i seorang yang ahli di bida ng racun-me racun.

Sementara yang lain sibuk mencari pe nye rang gelap, Ginan da n Pambudi sibuk menolong Dodot Pamasa r. Ka ta Ginan ke pa da Pambudi Tulus:

"Ikat kua t-kua t pa ngkal lenga nnya! Leka s...!"

Pambudi Tulus mele pas ikat kepa lanya ya ng terbua t da ri kain warna biru. Ke mudian mengikat pangkal lenga n Dodot denga n kain itu kuat-kua t. Se menta ra, Ginan Sukma mencabut pisau beracun ukuran satu jengkal. Ia mengamati pisau itu sebenta r, lalu menanca pka n pisau pa da ta nah. Terlihat ta nah itu berubah warna, da ri merah lempung menjadi kehita m-hita man. Maka , de nga n te rgesa-ge sa Ginan Sukma berka ta :

"Ambil tanah, balurka n ke sekujur lenga n da n da da. Janga n lupa lehernya juga harus ditutup denga n ta nah...!"

Pambudi Tulus mengikuti saran Ginan Sukma sekalipun ia berta nya , "Me nga pa de nga n cara begini?"

"Tanah ini ternya ta mampu menye dot racun! Lihat pisau yang tadi menancap di lenga n Dodot, sekarang kuta nca pka n ke tana h, da n ta nah disekelilingnya menjadi hitamka n"

"Itu berarti tanah ini te lah menghisap racun pa da pisau itu. Ma ka, tubuh Dodot pun harus dilumuri ta nah hingga te rtutup semua, te ruta ma pa da bagian luka da n sekita rnya."

Dodot Pama sar menge rang de nga n nafas berat. Ke ringa tnya bercucuran. Ia ta k mampu berge rak, menjadi kaku sekujur tubuhnya . Arya Somar berteriak:

"Mampus kau, Ba ngsa t...! Hiaaa t...!!" Suaranya bagai menggugah te man-te man lainnya , te rmasuk Suro Bodong. Se mua nya bergerak ke arah Arya Somar, kecua li Ginan. Pambudi sendiri diizinka n Ginan untuk ikut menangka p pe nye rang gelap yang suda h berhasil ditemukan Arya Somar. Denga n cambuknya, Pambudi se ge ra menye rang seorang le laki berbaju kuning tua da n bercelana coklat ta nah yang hendak berlari melintasi de pa nnya. Ca mbuk itu membua t lelaki yang menyanda ng trisula di pinggangnya segera melompa t bersalto di udara. Cambukan pe rta ma meleset. Ca mbuka n kedua, le laki itu berguling ke ta nah. Ca mbuka n ketiga meleset juga . Dan cambuka n keempa t... barulah benar-be nar melesetjauh.

Dipe rkiraka n, lelaki berbaju kuning itu berusia di a tas 40 ta hun. Bertubuh se da ng de ngan kumis tipis da n rambut pende k namun diikat de nga n ta li da ri bahan serai sutra. Geraka nnya cukup gesit, lincah. Ba de ri dan Arya Somar sempa t te rkena tendanga nnya ketika henda k menangka p le laki berbaju kuning itu. Ba deri da n Arya mulanya mengejar da ri belakang lelaki itu. Na mun, di lua r dugaa n, le laki itu justru melompa t ke de pa n dan bersalto ke belaka ng. Ke dua kakinya menghenta k da lam geraka n merenggang. Tak da pa t dielakkan lagi, masing-masing kakinya itu menge nai mulut Arya Somar yang bibirnya te bal dan Ba de ri te rkena pipinya yang kiri. Ha mpir saja Ba de ri da n Arya Somar te rpe lanting saling berta brakan.

Laki-laki berbaju kuning itu de nga n lincah melompa t ke a tas pohon, da n tahu-ta hu kakinya suda h bera da disalah satu da han pohon.

"Janga n lari ka u, Ba ngsa t!" te riak Ba de ri.

"Kalian memasuki wilayah kami! Tak seorang pun boleh masuk dae rah Le mbah Ma tsuri ta npa izin dan pe rundingan te rlebih dulu!" te riak le laki berbr;u kuning da ri atas pohon. Ke mudian, ia mengibaskan tanga nnya ke arah Ba de ri da n Somar. Me lesatlah pisau kecil dua arah, yang satu ke arah Ba de ri, yang satu lagi ke arah Soma r. Na mun Ba de ri mampu menangkisnya denga n busur pa nahnya, dan Arya Somar bersalto ke belaka ng menghinda ri lempa ran pisau te rsebut.

Pambudi Tulus mencambuk ke a tas, lelaki berbaju kuning hanya mengangkat salah satu kakinya untuk menghindari ujung cambuk. Se da ngkan Ba de ri siap dengan anak pa nah dan busur yang te lah direnta ngkan. Lela ki itu mencabut trisulanya yang berujung taja m dan pipih se pe rti ujung pisa u.

Ia merasa heran, karena Ba de ri tidak jadi meluncurka n anak pa nahnya , kecua li  hanya memanda ng. Demikian Pambudi ya ng henda k melecutkan cambuknya, tiba-tiba berhenti, ta k jadi melecut cambuk. Pa da hal le laki itu suda h siap menangkis se ga la serangan, te ta pi mengapa musuhmusuhnya ta k jadi menyerang.

"Turunsaja, kita berunding...!"

Lelaki itu terkejut mende ngar sua ra orang yang bera da di da han sampingnya. Ia berpa ling, da n membelalakka n ma ta . Suro Bodong te lah berdiri di sana , te pa t dala m satu jangka ua n denga nnya . Suro Bodong menyeringai sinis, menggaruk kumisnya sejenak, da n berkata de nga n sikap te nang.

"Aku ingin berembuk denga nmu."

"Hiaaa t...!!" Le laki itumenusukka n trisulanya .

"Bandel...!" Suro Bodong mene pa k ta ngan  le laki itu,  kemudian ta nga n kirinya  menghentak ke de pa n. Tela pak ta nga n kiri itu mengena i da da  le laki  berbaju kuning.  Ma ka,  hilangla h keseimbanga n le laki itu, karena henta kan te la pa k ta ngan Suro Bodong cukup keras. Dan ia pun te rjatuh ke ta nah. Ba de ri serta Arya Somar se ge ra menga cungkan senja ta ke leher da n perut le laki itu, hingga le laki itu pun terta wan oleh mereka. Ia ta k berani bergerak sedikit pun. 

5

Ki Pra doto, nama le laki berbaju kuning. Jaba ta nnya seba ga i penja ga pintu masuk P uri Le mbah Matsuri. Ia berhasil ditawa n oleh anak bua h Suro Bodong. La lu, dipaksa menunjukkan di mana tombak pusaka Ja tayu milik Sulta n Jurujagad itu disembunyikan. Ki Pra doto menga ku  tidak  tahu  menahu tenta ng tombak pusaka te rsebut, namun de mi menja ga keselama ta n hidupnya, ia bersedia menganta r mereka sampa i ke Puri Le mbah Ma tsuri.

"Sia pa penguasa Ma tsuri?" tanya Arya Somar. Ki Pradoto ya ng merasa tidak akan bisa melawa n mereka se ge ra berka ta de nga n se dikit ge me ta r:

"Penguasa Ma tsuri, a da lah Resi Ma hermandika!"

"Ha da pkan kami ke pa da Resi Ma hermandika . Ka mi ingin bicara baik-baik. Tapi, kala u kea daa n memaksa, kami aka n bicara tidak baik-baik. Mungkin kaki, tanga n a ta u pe dang kami ya ng bicara!" gertak Arya Somar.

Dodot Pama sar te rta tih-tatih denga n lemas. Racun ya ng mengganas di tubuhnya tela h berhasil dikelua rkan oleh Ginan melalui lumpur ta nah merah itu. Darah sudah ta warakan racun ya ng berbahaya. Kini tinggal lemasnya saja. Na mun de mikian, Dodot Pamasa r menolak ketika Pambudi Tulus henda k membantunya berjala n.

"Sebenta r lagi kekua ta nku akan pulih. Tenanglah saja!" ka ta Dodot kepa da Pambudi Tulus. Kemudian,  mereka  melangkah  mengikuti  langkah   kaki  Ki  Pra doto.  Ba deri   masih   menodongka n pe da ngnya, sementa ra Ginan, da n Suro Bodong menuntun kuda  mereka. Dodot menolak untuk naik di a ta s kuda. Ia tidak ingin te rlihat lemah dianta ra te man-te mannya.

Puri Le mbah Ma tsuri, sesungguhnya sebuah ista na me ga h di le reng pe rbukita n. Ja uh da ri pintu gerbangnya, terda pa t pintu gerbang utama yang berupa gapura batu berbentuk candi. Dua orang penjaga ga pura itu a dala h dua orang perempua n cantik yang bibirnya sanga t menggiurkan Ginan Sukma. Ba hkan yang lainnya pun ikut berdeca k mengagumi kecantika n prajurit wanita ya ng memandang curiga ke pa da Ki Pradoto. Arya Somar menga ncam de nga n peda ng te rsembunyi di balik punggung Ki Pradoto. Me reka te rsenyum-senyum ramah, sedikit berna da menggoda, da n te rlihat bagai te man baik Ki Pra doto.

"Maa f, kuda dilarang masuk ke halaman Puri," uja r penja ga gapura. "Silahkan dita mbatkan di ujung sana ."

Pambudi, Ginan da n Suro Bodong menambatkan kuda -kuda mereka di te mpa t ya ng suda h disediakan. Ke mudian mereka memasuki halaman Puri, melewati ge rbang utama ya ng berbentuk belahan candi itu.

Dodot Pama sar merasa menga lami kese ga ran. Ke lesua n tubuhnya itu menjadi bergas, waras. Matanya memanda ng sekeliling, di mana banyak pe rempuan cantik berlalu lalang, sesua i de nga n kesibukannya masing-masing. Dodot Pamasa r berbisik ke pa da Arya Soma r, da n Arya Somar pun se ge ra menyingkir. Dodot Pamasar yang menggande ng Ki Pra doto de ngan pisau kecil te rse lip di ketiak Ki Pradoto. Denga n begitu, maka penja ga pintu ge rbang Puri, yaitu pintu kedua itu, tida k mencuriga i permusuha n a pa pun. Mereka mengira Ki Pradoto se da ng menganta r ta mu baik-baik. Dan sekali lagi, Ginan Sukma nya ris te rtinggal karena bergurau sebenta r de nga n dua pe njaga pe rempua n yang cantikcantik itu. Suro Bodong jadi kesal, se ge ra menarik baju Ginan Sukma da n berkata da lam bisik yang menggeram: "Lupaka n dulu soal pe rempua n. Se lesaikan tugas, baru mengurus pe rempua n. Ka u pikir aku juga tidak ge lisah melihat kecantikannya ?"

"Benar-benar hebat. Perempua n di sini banya k, dan wajah mereka mempunya i nilai kecantika n yang berbe da ," bisik Ginansambil melangkah.

"Ssst... janga n bilang orang rumah, ya...? Aku juga naksir tinggal di sini!" bisik Suro Bodong berlagak serius. Ginan Sukma hanya te rsenyum geli, tapi ia juga te ta p memasa ng kewaspa daa n.

Resi Mahe rmandika te rnya ta seorang yang ramah da n menyukai senyum. Ia menerima Suro Bodong dan kawan-ka wannya de nga n baik, ta npa menunjukka n sikap pe rmusuhan. Te ta pi, sayang sekali, Ginan Sukma mengambil sikap ya ng ge ga bah. Ia se ge ra meloncat da n menye rang Resi Mahermandika begitu le laki tua itu mempe rkenalkan diri seba ga i pe nguasa Ma tsuri.

Resi Mahermandika menangkis te nda ngan Ginan Sukma de ngan wajah memerah, ka ge t da n

marah.

"Kau pimpinan pencuri itu, hah?! Hiaaa t...!" Ke mbali Ginan Sukma menye rang Resi

Mahermandika de nga n pukulan ganda nya . Tanpa berpikir pa njang, Resi Ma hermandika meliuk-liukkan ba dannya da n sekali ia mengibaskan  ta ngannya  ya ng  terselubung  jubah  putih  itu,  Ginan  Sukma terpe nta l da n jatuh te rguling-guling di lanta i berubin marmer itu.

"Kalau kalian sengaja mencari pe rmusuha n di sini, bukan aku lawa n kalia n, te ta pi anak-a nakku itu...!" Resi Mahermandika menuding ke sua tu tempa t, di mana di sana terda pa t sebua h kama r berkaca tebal. Di da lam ruanga n berdinding kaca putih bening itu, terlihat oleh Suro da n kawan-ka wannya enam perempua n cantik se dang melakuka n semadi di a tas sebua h pa pa n berduri. Me reka duduk di ujungujung duri denga n te nang, ta npa ta kut aka n te rtusuk duri taja m.

Suro Bodong bingung untuk memejamkan ma ta , seaka n ia  lupa  bagaimana  caranya mengedipka n ma ta . Keena m pe rempua n itu can-tik-ca ntik semua. Wa jah da n potonga n tubuh mereka sungguh menga gumkan. Apalagi mereka saa t ini bersemedi da lam pa kaia n serba putih, seaka n mereka itu bunga-bunga melati dibenta nga n salju kutub. Se gar da n memikat hati.

Resi Ma hermandika sedikit membusungka n da da ketika ia menya da ri bahwa keenam tamunya yang bermaksud menye rang itu, te rkesima melihat kecantikan enam putrinya . Ia masih menampa kkan rasa kecewa a ta s perla kua n Ginan Sukma yang tadi ta hu-ta hu menyerangnya. Ia sempa t berkata ke pa da Suro Bodong:

"Kalau kalian ingin melawanku, lawa n dulu anak-a nakku. Belum tentu kalian bisa memenangkan pe rta rungan kalia n. Be lum lagi keempa t putriku yang se da ng pe rgi. Kalau mereka tahu kau menye rangku, mereka berempa t ta k akan mau menga mpuni kaliansemua , ta hu?!"

"Bolehaku mencoba salahsatu?" ka ta Arya Soma r denga n hati-hati.

"Silahkan, ta pi mati ta nggung sendiri! Kau ingin berta rung de nga n ya ng mana?!" "Yang di sudut sana...!"

"O, itu anakku ya ng bernama Ira Le mbayung...!"

Arya Somar te rkejut. Ia inga t, waktu pertama kali ia diserang oleh orang-ora ng Ma tsuri, Ira Lembayung itulah nama ya ng sempa t di de ngarnya ketika itu, namun ma ta Somar tidak sempa t melihat beta pa cantiknya mereka.

"Aku ingin melawa n yang itu," ka ta Ba de ri Darus de nga n berani.

"Baik. Dia anakku yang bernama Susinda Murti. Silahkan pe rgi ke arena di samping Puri ini.

Tunggulah di sana, di tempa t pe rta runga n ya ng kamisediakan!" Ginan Sukma berbisik da lam hati ke pa da Suro Bodong:

""Kita harus melawan satu lawa n satu, Suro. Kalau de ngan cara keroyokan, kita tak aka n

berhasil."

"Aku setuju," jawab Pambudi Tulus ya ng rupa nya juga mende nga r sua ra hati Ginan Sukma . Suro sendiri menga nggukkan ke pa la. Ke mudian ia mende nga r DodotPamasa r berka ta:

"Aku ingin bertarung de ngansalah satu ana kmu, Resi. Pilihlah yang mana saja !" "Baik. Be rta runglah de nga n putriku ya ng kecil manis itu: Susa ndita Asmoro. Biar kecil ta pi belum tentu kau mampu mengala hkannya," uja r Resi Ma hermandika.

"Kalau kau ingin bertarung de ngan yang mana," kata Ginan Sukma.

"Berangka tlah ke arena samping, kauakan berhada pan de nga n Nitaningtyas, putri manjaku. Dan ka u, Pak kumis...?" Resi Mahermandika berta nya ke pa da Suro Bodong. "Apaka h kau ingin melawa n putriku yang nomor sepuluh itu?"

Suro Bodong garuk-ga ruk kumis de nga n santa i. Ia bicara de ngansikap tena ng se tela h mende kati Resi Mahe rmandika:

"Aku tidak berani. Aku ta kut "

"Agaknya kau pa ling pe nakut da ri te man-te manmu, ya?"

"Mungkin," jawab Suro seenaknya. "Aku ta kut kalau aku sampa i meluka i putrimu itu. Aku tida k berani menya kitinya ," bisik Suro yang membua t  Resi  Mahermandika  te rcengang  sedikit,  kemudian se ge ra  menyunggingkan senyum sinisnya .

"Dewi La ut, putriku itu, tidak mungkin akan da pa t kau sentuh. Ta pi, besar kemungkinan ia aka n memenggalmu!"

"Wow...?!" Suro  Bodong melirik  dalam senyum meremehkan.  "Me narik sekali ke de nga rannya.

Sudah lama belum a da orang yang mau memenggal ke pa laku. Ka lau begitu, baiklah akuakan melawa n

putrimu itu, Resi Mahe rmandika " Suro senga ja te rsenyum untuk menunjukka n ke te nanga nnya .

"Pergilah ke arena samping, Dewi La ut aka n menemuimu di sana "

"Dewi..." gumam Suro Bodong seraya melangkah pe rgi. Ia masih sempa t berseru kepa da Resi Mahermandika, "Dewi sebua h nama yang cantik se pe rti orangnya. Hei, terus te rang, aku bangga kalau mati di ta ngan pe rempuan cantik!"

Resi Ma hermandika hanya te rsenyum sinis, da n mena ta p ke pe rgian tamunya ya ng aneh-ane h itu. Datang-da tang bukannya mempe rkenalkan diri, ta pi malaha n menyerang, bahkan ge tol disuruh bertarung. Hemm... da ri  mana  mereka?  Resi  belum  menge ta hui  asal-usul  mereka.  Te ta pi,  da ri perta runga nnya nanti, Resi Ma hermanakan menge ta hui sia pa mereka sebenarnya.

Suro dan yang lainnya berjaja r di tengah arena yang agaknya senga ja dibangun untuk aca ra khusus, pertemua n, a ta u latihan ilmu kanuragan. Arena itu tanpa a ta p, da n mempunya i tempa t duduk melingkar se perti la ya knya sebua h sta dion. Le ta knya di bawa h bangunan Puri yang menyerupa i ista na itu. Lewa t sebua h balkon mode l kelopa k bunga , Resi Mahermandika berdiri memanda ng ke arah keenam tamunya.

Suro berdiri denga n te nang, se perti yang lainnya . Me reka berjaja r cukup ja uh dari satu orang ke yang satunya. Me reka menggerak-ge rakkan ta ngan, kaki dan angga uta tubuh seaka n se dang melemaska n pe rsendian untuk bertanding. Sa mpa i bebera pa lama mereka menunggu, namun lawa n mereka belumjuga muncul.

Resi Mahe rmandika berseru da ri balkon ista na:

"Hei, menga pa kalian diam saja?! Musuh-musuh kalian suda h a da di depa n kalian masingmasing sejak tadi. Me nga pa tida k se ge ra menyerang, hah?!"

Maka, Suro dan te man-te mannya pun jadi te rkejut seketika. Musuh suda h di de pa n mereka sejak tadi, namun mereka tida k melihat sia pa -sia pa di sana . Me reka tida k melihat pe rempuan-pe rempua n calon lawa nnya, kecuali hanya uda ra kosong da n rerumputan menghijau. Suro Bodong se ge ra te ringat penga laman Somar te nta ng pukulan-pukulan tak terlihat. Maka , hatinya se ge ra berka ta ke pa da yang lain:

"Pejamkan mata da lam melawan mereka. Ikuti naluri da n ka ta hati. P usa tkan pikiran pa da ge rak, hembusa n angin dan pe nciuman. Perempuan-pe rempua n itu pasti berbau wangi. Aku mencium aroma wangi di sini "

Suara itu di de nga r oleh hati nurani mereka. Ma lahan Dodot Pamasa r berka ta : "Aku juga mencium bau wangi yang menggairahkan." Hati  Pambudi  Tulus  menga taka n,  "Pasti  pe rempua n  yang  akan  kita  ha da pi  se dang mempe rhatikan kita da ri segala sisi. Cuma sa ya ng, aku tidak tahu sia pa nama pe rempuan yang menjadi lawa nku "

"Hei, hei Pambudi," hati Ginan berka ta , "Aku mendenga r seseorang bicara denga n pe rempua n

yang menjadi lawa nmu. Ia memanggil pe rempuan itu: Anjanglisi "

"Huug !" tiba-tiba Arya Somar te rpe lanting jatuh. Ia bagai te rkena seranga n da ri lawan berupa

pukulan kua t. Ba de ri melirik, ta k a da  manusia lain kecua li mereka berenam. Te ta pi, menga pa Arya Somar te rjengkang ke belaka ng? Wa n, benar-benar kali ini mereka berha da pa n denga n lawan yang tida k keliha ta n.

Ba de ri Darus se ge ra memejamkan mata, memusatkan pikiran da n menge nda likan hati nuraninya. Hembusa n angin da ta ng dari arah samping. Pasti sebua h seranga n, enta h berupa te nda nga n a ta u pukula n, yang je las, Ba de risegera menangkisnya de ngan ma ta te rpeja m.

"Plak !" Terasa ta ngkisannya te pa t mengenai lengan ya ng lembut. Lenga n Susinda Murti. Ba de ri

salto ke belaka ng menja ga jarak de ngan ma ta masih te rpeja m. Demikian juga Ginan dan yang lainnya. Mereka berge rak, memainkan jurus dengan ma ta te rpe jam, merasa kan gerakan naluri dan hembusa n angin. Dodot Pamasa r melompa t ke samping, waktu itu ia merasa desa u angin menyerang di bagian perutnya . Ke tika ia melompa t, kakinya menjejak ke bawah, da n ia se pe rti menenda ng kepa la manusia berambut pa njang.

Sementara itu, ilmu Se rap Ha ti Suro Bodong lebih tinggi dari yang lainnya , sehingga dialah yang da pa t bermain denga n lincah, berta han da n menyerang lawa nnya : Dewi La ut. Pukulan Dewi La ut begitu ce pa t, dan Suro Bodong hampirsaja ke te te r menangkisnya da lam kea daa n ma ta te rpeja m.

"Haa p !" Suro Bodong bagai menangka p kaki lawa nnya .

"Aauw !"

Terde nga r sua ra seseorang menjerit ka ge t ketika Suro Bodong merayapkan kaki yang dipegang makin ke atas. Saa t itu te rdenga r pula te riaka n Resi Ma hermandika da ri a tas:

"Kuminta kalian bertarung secara kesatria, jangan meme ga ng bagian-ba gian menjadi

kehormatan wanita !"

Suro Bodong dan Ginan te rtawa, menge rti maksud Resi Mahermandika. Kemudian, ta k sengaja Suro Bodong mengibaskan ta ngannya ke samping, karena ia bermaksud menangkis pukulan Dewi La ut. Te ta pi, te rnya ta kedua jarinya menye ntuh bagian terte ntu de ngan kua t dan membua t sesua tu yang tak senga ja itu menjadi bahananda lan Suro Bodong. Ia te lah menotok pe re da ran da rah Dewi La ut di bagian punggung. Dan totokan itu membua t Dewi La ut menampakka n ujudnya da lam posisi kaku, se te nga h meliuk ke belaka ng, da da nya maju ke de pa n. Suro Bodong terpe rangah waktu membuka ma ta nya, ia memanda ng musuhnya de nga n girang hati.

"Aku berhasil membua tnya ta mpa k...! Wwow ! Cantik sekali," teriak Suro Bodong kegirangan.

Tapi, kemudian ia segera memejamkan ma ta, karena ia merasa kan desiran angin da ta ng dari belakangnya. Sebua h seranga n te rarah pa da nya. Enta h sia pa ya ng menyerang. Namun da lam kea daa n terte ntu, ia denga n ce pa t menggerakka n jurus Totok Ba nga unya. Jurus itu juga menge nai sasaran. Dan sebentuk sosok pe rempua n cantik te rlihat oleh ma ta te lanjang. Rupa nya pere mpua n cantik itu a da lah lawa n Arya Somar yang bernama Ira Le mbayung. Perempua n itu diam te rpa ku karena totokan da lam kea daa n kedua ta nga nnya te rangkat ke a tas.

Untuk se lanjutnya, Suro Bodong bergerak ce pa t. Me lompa t ke samping de ngan ma ta te rpe jam,

dan berhasil menotok pe rempua n lain. Namun ia juga sempa t jatuh tersungkur karena sebua h te nda nga n lawa n ya ng belum sempa t menampakkan diri.

Suro se ge ra berguling ke ta nah. Me ngibaskan jurus Totok Banga unya , da n berhasil mengenai tubuh Susandita. DodotPamasa r berte riak:

"Naa h ini dia ujud Susa ndita musuhku!" Dengan ge rakan ce pa t, akhirnya semua pe rempua n berhasil te rkena jurus Totok Ba nga u Suro Bodong. Semua yang tidak tampak, kini menjadi ta mpa k jelas. Mewujudka n bentuk tubuh dan kecantikannya yang menga gumkan enam pende kar da ri Praja itu.

"Resi Mahermandika ...!" te riak Suro Bodong dengan bangga. "Ka u te lah kala h! Aku bisa membunuh semua anakmu ini. Teta pi, sekarang sebaiknya kita berda mai saja ! Se rahkan tombak pusa ka Jatayu, milik junjunga n kami yang dicuri oleh anak-a nakmu yang naka l ini! Jika kau tidak mau menyerahkan tombak pusaka Ja tayu, maka keenamanakmu iniakan kubunuh...!"

Tak di duga -duga, Resi Ma hermandika berka ta :

"Bunuhlah...! Bunuhlah mereka! Dan tombak Ja ta yu te ta p akan menjadi milik kami!"

Dalam gerutunya Suro Bodong berkata sambil garuk-garuk kumis, "Wa h... ce laka...! Membunuhnya memang gampang. Tapi hati ini yang tidak te ga untuk melukainya . Perempuan cantikcantik disuruh membunuh, mendingan dibawa pulang seba ga i istri simpa nan...!"

Suro Bodong tidak pe rduli semua te mannya menggoda da n te rsenyum-senyum di depa n perempua n-pe rempua n cantik ya ng mematung akibat jurus Totok Ba nga u. Suro se ge ra membebaskan penga ruh totoka nnya pa da diri Dewi La ut, sehingga pe rempua n itu da pa t bergerak da n bicara se pe rti wajarnya manusia .

"Kena pa kau tidak membunuhku?!" ketus Dewi La ut yang sua ranya sedikit  serak menggairahkan birahi itu.

"Aku ingin membunuhmu, ta pi tidak sekarang."

"Hiaaaa t...!" Dewi La ut menenda ng Suro Bodong. Namun, de ngan ta ngkas Suro Bodong menangkis te nda nga n itu denga n kibasa n samping tangan kanannya , lalu tanga n kirinya se ge ra menangkap tanga n Dewi Laut yang hendak memukul ke arah te linga Suro. Ka ki Suro Bodong menyengkat kaki Dewi, da n Dewi pun jatuh te rguling. Suro menyusulnya denga n menggulingkan tubuh dan menjerat kaki Dewi denga n melilitkan kedua kakinya. Dengan ge rakan ce pa t, Suro Bodong berhasil mengunci ta nga n Dewi La ut hingga wajah mereka saling berhada pan.

"Aku hanya mencari tombak Ja tayu. Se rahkan tombak pusa ka itu, maka kau dan sauda ramu itu

akan kubebaskan!"

"Tidak mungkin. Tombak itu harus kami gunakan untuk membunuh Gupolo, lawa n kami. Tanpa tombak itu, Gupolo tidak bisa mati oleh senja ta a pa pun."

Suro Bodong diam. Memanda ng waja h Dewi yang cantik, bermata bulat dan berhidung

mancung. Bibirnya ranum, tidak te rlalu mungil, namun tida k juga te bal. Tipis, ta pi menarik. Deburan kuat te rjadi di da lam da da Suro.

"Kena pa Gupolo harus dibunuh de ngan tombak itu?" Suro berka ta pela n.

"Karena menurut pe tunjuk da ri Hyang Widi, hanya a da satu pusa ka yang bisa untuk membunuh Gupolo, ya itu sebua h pusa ka ya ng a da di Ke sulta nan Praja, da n ya ng a da pa da diri Suro Bodong, Pendeka r Tujuh Ke liling "

"Brengsek !" Suro menggeram da n mele paskan Dewi tiba-tiba. Dewi tidak se ge ra lari, melainkan

justru memanda ng heran ke pa da Suro Bodong ya ng menjadi jengkel sendiri itu.

"Kau ta hu sia pa aku?" Suro Bodong bertanya de nga n keras,  da n  membua t  semua  ma ta  mempe rhatikannya. Dewi hanya mengge leng. La lu, Suro Bodong melanjutkan ka ta -ka ta nya  de nga n sua ra keras pula:

"Aku Suro Bodong! Aku...! Dan kalian telah salah ambil! Tombak itu a da lah pusaka milik Sultanku! Bukan milikku!"

Resi Mahe rmandika berlari-lari menuruni ta ngga. Ia se ge ra menemui Suro Bodong de nga n waja h

tegang. Suro Bodong masih melanjutkan ka ta -ka ta nya ke pa da Dewi Laut:

"Aku yang bernama Suro Bodong, Dewi...! Dan... da n kau te lah mencari penyakit, mencuri tombak pusa ka milik Sultan Juruja ga d! Seha rusnya kau mencuri pusa kaku!" "Aku tidak ta hu se pe rti a pa tombak pusaka mu!" ka ta Dewi. "Aku hanya mende ngar kabar, bahwa di Kesulta nan Praja a da pusa ka yang bernama tombak Ja tayu!"

"Tapi pusaka ku buka n tombak! Buka n! Kau ingin melihatnya? Seka rang...?!" Resi Mahe rmandika buru-buru mence ga h, "Ja nga n... jangan! Ja ngan di sini...!"

Arya Somar menertawa kan kegugupan Resi Ma hermandika . Resi itu jadi ta mbah gugup. Ia berka ta ke pa da Dewi,

"Galih Padma da n Kidung Rati te lah kembali. Se da ngkan kedua kakakmu... mati di tanga n Gupolo."

Dewi La ut memekik, "Harmi da n Wa sti...?! Ooh..." Dewi limbung dan jatuh terkulai mendenga r kedua kaka knya: He rmi da n Westi mati di ta nga n Gupolo. Untung saja Suro Bodong se ge ra menyahut tubuh pe rempuan berma ta bening itu, hingga tubuh yang hanga t itu jatuh da lam peluka n Suro Bodong.

"Somar... bebaska n anak-a nak Resi Mahe rmandika dari penga ruh totoka n. Kea daa n menjadi kaca u, je rit da n ta ngis mengharu. Se bagian da ri mereka melesat meninggalkan a rena.

Dodot Pamasa r ikut melesat menda mpingi Susandita ya ng marah a tas kematian kedua

kaka knya . Juga, Ginan ikut melompa t ketika Nitaningtya s berte riak: "Kubunuh kau, Gupolo...!!"

Ginan ta k te ga jika harus membiarkan pere mpua n ya ng menjadi pasa nga n berta rungnya pe rgi melawa n Gupolo sendirian. Ginan tela h ta hu masala h sebenarnya ; sua tu kesalah pa haman, a ta u tindaka n gegaba h ya ng tidak bermaksud jahat da ri orang-orang Le mbah Ma tsuri. Me reka melakuka n pe ncurian tombak Ja ta yu, karena salah mengartikan pe tunjuk Hyang Widi. Mereka memerlukan tombak a ta u pusaka itu, karena Gupolo suka r dibunuh. Tanpa mende nga r cerita yang sebenarnya, Ginan da n lainnya ce pa t menge rti, bahwa Gupolo pe rnah mengamuk di Le mbah Ma tsuri, a ta u setida knya mereka ikut prihatin atas kekejaman Gupolo ya ng menewaskan banya k manusia ta k berdosa. Tujuannya baik, ta pi mereka salah langkah.

Sebab itu, Suro Bodong pun memberi perinta h ke pa da tema n-temannya: "Ce ga t Gupolo, bunah mereka semua ...!"

Ke da ta ngan Gupolo te rnya ta merupa kan ke da ta ngan kedua se te lah bebera pa waktu yang lalu orang-orang Gupolo meminta cukup banya k korban da ri  Ma tsuri.  Resi  Mahermandika  menjelaskan  ke pa da Suro Bodong:

"Semua orang kami menjadi incaran Gupolo. Me reka tingggal di pulau Pocong yang te rde kat denga n kami. Dan... kekejaman mereka sudah pe rnah kami rasaka n, jadi kami memerluka n pusa ka da ri Kesula ta nan Praja."

"Orang Matsuri cukup hebat, bukan? Anak-a nakmu ini bisa berta rung tanpa menampa kkan jasadnya ."

"Tapi Gupolo tida k bisa mati, se lain dengan pusaka dari dae rah Praja ..." sahut Dewi La ut yang mulaisiuman.

"Kami membutuhkan bantua nmu, Suro Bodong. Ka lau benar, kau Suro Bodong, maka kaulah yang da pa t membunuh Gupolo, tokohsakti da riseberang itu."

Suro Bodong diam. Be rdiri di de pa n pintu ista na bersama Resi Ma hermandika da n Dewi La ut. Karena Suro Bodong tidak memberikan jawaba n pasti, Dewi La ut masuk, da n ta k lama kemudian kelua r sambil membawa tombak pusa ka Ja ta yu. Ke mudian ia pergi menyongsong Gupolo ta npa menghira uka n panggilan Suro Bodong. Wa jah Resi Ma hermandika begitu cemas,ia serba bingung. Suro pa ham akan hal itu, maka ia pun se ge ra melesat menyusul Dewi.

Orang-orang Gupolo yang berkulit hita m dan bertubuh kekar de ngan  otot-otot dilengan  da n da da saling bertonjolan itu semakin mengganas. Na mun, Arya Somar da n te man-te mannya mampu menandingi kekua ta n mereka. Anak-a nak Resi Mahermandika juga berhasil membunuh bebera pa orangnya Gupolo. Bahkan ketika mereka bertarung di luar gerbang utama yang merupaka n gerpang perta ma itu, tiba-tiba bebera pa orangnya Gupolo memekik kesakitan lalu rubuh. "Ziing... zingg... ziiing..." "Aaa oow...!!"

Bebera pa orang berte riak, ketika itu Ginan Sukma nyaris menjadi santa pa n pe da ng pe mbokong. Juga, le laki bertopi ta nduk kerbau itu, menggelia tka n tubuhnya sehabis dite nda ng Susandita. Te pa t di ubun-ubunnya te rta ncapsebuah senja ta rahasia binta ng bersudut de la pa n.

Dodot Pamasa r yang se lalu mendampingi Susandita menjadi te rbengong. Ia se ge ra berpa ling ke arah da ta ngnya senja ta rahasia itu. Dan ternya ta , Emanda nu sudah berdiri di a tas sebua h te mbok yang menjadi ba tas halama n Puri Le mbah Ma tsuri.

"Kau...?!" te riak DodotPamasar kepa da Emanda nu.

Emanda nu te rsenyum, "Ka get...?! Ah, te ntu. Ka u memang orang yang ga mpa ng ka ge t. Dot!" "Ba ga imana kau bisa menca pa i ke sini?!"

"Seorang pe mburu kijang memberitahuka n pa daku tempa t ini. Ternya ta le ta knya di sebelah

Utara de sa Srondol. Tak begitu jauh da ri desa te mpa tku dirawa t...! He i, awas...!"

"Hiaa t...!" Dodot Pamasa r melompa t ketika seorang berkulit hita m hendak menebas punggung Susandita. Tendanga n Dodot mengenai te ngkuk ke pa la orang itu. Ke tika orang itu limbung, sebuah sinar merah kelua r da ri siku Susandita . Sinar itu menembus da da orang hitam bertopi tanduk, lalu tubuh tersebut te rbakar seluruhnya. Ia menjerit-jerit, dan yang lain pun ikut te rbaka r, karena ana k-a nak Resi Mahermandika menge lua rkan ilmu Brama Yudha, yaitu seberkas sinar yang kelua r dari siku masingmasing.

Ginan Sukma berguling ketika ia menebaskan pe dangnya ke uda ra. Peda ng itu mengena i

pe da ng lawa n ya ng hendak merobek da da Nitaningtyas. Dalam kea daa n sepe rti itu, Nitaningtyas melanca rkan ilmu Brama Yudhanya . Sinar merah menghunjam da da orang tersebut hingga orang itu terbaka r ta npa ampun lagi.

Pambudi Tulus pun mencoba menandingi lawan yang menghaja r Anjanglisi. Ia menggunaka n cambuk, melecut tubuh lawa n ya ng kekar itu. Te ta pi pa da satu kesempa ta n, cambuk te rsebut berhasil dipe ga ng dan mereka pun saling tarik-menarik denga n kua t. Se mentara itu, ta ngan lawa n yang satu memegangi peda ng. Tanga n itu sibuk membabat Anjanglisi yang berjumpa lita n di uda ra.

"Wess...! Jub...!"

Panah Ba de ri mengenai orang yang memegangi cambuk Pambudi Tulus. Panah itu menembus bagian punggung sampa i ke da da . Kemudia n, teman orang itu mengamuk melihat kematian rekannya. Ia melompa t da n melayangkan pe dangnya ke arah Anjanglisi. Pedang itu lurus ke punggung Anjanglisi, namun tiba-tiba: "Trang, trang...!" Dua kali senja ta raha sia Emanda nu menghanta m peda ng te rsebut, sehingga arah pe da ng menjadi melese t, bahkan menancap di tubuh teman pe miliknya. Se da ngkan, Anjanglisi se ge ra menggerakkan kedua ta nga nnya, te rangkat ke a ta s, menekuk ke belakang, da n da ri sikunya kelua r sinar merah ya ng menembus pe rut serta leher lawa n ya ng ta di melempa rkan pe da ng. Tak ayal lagi, orang itu pun te rbakarseketika da n berte riak berguling-guling.

Seseorang berhasil lolos henda k melompa t ke da lam halaman Puri Ma tsuri. Te ta pi pana h Ba de ri lebih dulu melesat da n menge nai pingga ng orang itu, hingga jatuhlah ia . Juga, seseorang ya ng se dang mengeroyok Susinda Murti dengan dua  pe da ng besar  itu, se ge ra  melengking dan kejengkang se te lah Ba de ri memanahnya te pa t di leher, yang satu mengena i matanya . Susinda Murti se ge ra mengakhiri nyawa orang yang terkena pa nah mata nya de ngan mengambil pe da ng lawa n, lalu menebaska n ke leher memakai kedua tanga n. Dan ke pa la itu pun copot seketika, menggelinding mirip bola. Se dangkan, pa da saa t itu, Ba de ri tida k sa da r kalau seseorang merunduknya da ri belakang siap de nga n pe da ngnya. Namun begitu pe dang terangkat, orang itu mengejang sambil berte riak menga ge tkan. Ba de ri melihat kilatan senja ta rahasia Emandanu yang melesat da n menge nai da da orang itu. Ia menga cungkan jempol ke pa da Emandanu, da n Emanda nu hanya te rsenyum sambil beralih panda ng ke pe rtarunga n seru yang terjadi di de pa n ge rbang Puri Ma tsuri itu. "Mundurrr...! Mundur semua ...!!" geriak Gupolo yang membua t semua anak bua hnya menepi, lalu ia sendiri maju ke te nga h are na pe rte mpuran itu. Ba de ri tak mau menyia-nyiaka n waktu, ia se ge ra memanah Gupolo da n Emanda nu se ge ra mengirim leher Gupolo, da n senja ta beracun menge nai da da Gupolo. Te ta pi tanpa da rah se dikit pun, Gupolo mencabut pa nah da n senja ta rahasia  Emanda nu.  la terta wa ketika melihat Arya Somar da n yang lainnya te rbengong melihat tubuhnya tak mampu dibunuh oleh kedua senja ta itu.

Ginan Sukma maju de ngan lompa tan bersalto. Be gitu tiba  di de pa n Gupolo,  ia  mengibaskan  pe da ngnya ta npa menye ntuh kulit tubuh Gupolo. Pe dang itu menaburkan racun berkerlip-kerlip. Namun tubuh Gupolo te ta p utuh, tida k menjadi hangus sepe rti yang lainnya bila te rkena racun pe dang Ginan.

"Sia pa lagi yang masih mau membande l, hiaa t...!!" Tiba-tiba Gupolo memukul Ginan denga n hentaka n kedua ta nga nnya ke de pa n. Ginan sempa t menangkis, namun ia te rpe nta l juga karenanya. Tulang lengannya te rasa linu semua.

Dodot Pama sar hendak maju bersama Arya Somar, te ta pi Dewi La ut se ge ra berseru:

"Aku yang mengha da pi Gupolo...!" Dewi maju ke te nga h arena berha da pa n de ngan Gupolo.

Yang lain mundur, sebab Dewi meme ga ng tombak pusa ka Ja ta yu.

"Sebaiknya melawanku diranjang saja , anak manis! Kau tida k aka n kami makan de nga n laha p, karena da gingmu sangat sa ya ng jika dilahapnya de nga n mulut, he, he, he...!"

"Kau bebas berkoar, Gupolo, karena sebenta r lagi aja lmuakan tiba. Liha t, a pa ya ng kupe ga ng ini,

hah?"

"O, seba ta ng pa lang pintu, buka n? Ah, bua t a pa pala ng pintu se pe rti itu?" Gupolo te rsenyum

sinis penuh hinaa n.

Dewi La ut ta k saba r, ia se ge ra menye rang de nga n sebua h tendanga n kaki kanannya .

Gupolo menge lak ke kanan seraya te rtawa -tawa. La lu, Dewi mengibaskan tombak ke arah waja h Gupolo. "Wess...!" Ujung tombak yang taja m tida k berhasil menggores waja h Gupolo, karena ke pa la Gupolo meliuk ke belaka ng. Pa da saa t itu, Dewi La ut se ge ra menghunjamkan tombak Kiai Ja ta yu ke perut Gupolo. "Bless...!"

"Hiaaaa t...!!" Dewi mendorongnya te rus sampa i te mbus. Tapi Gupolo malah te rsenyum, lalu menerta waka n tombak itu.

Dewi mencabut tombak itu. Gupolo te ta p te nang. Tak a da bekas luka tusukan tombak di

perutnya . La lu, Gupolo se ge ra  melancarkan pukulan te naga da lamnya . Dari te la pak tanga n  bagian bawa h kelua r nyala api yang melesat ke arah Dewi Laut. Suro Bodong se ge ra menerjang Dewi Laut hingga berguling-guling. Sinar merah itu menghanta m ga pura batu.

"Duaaa rr...!!" Le da kan te rjadi begitu hebat, mengguncangkan ta nah di sekitar, da n mengakibatkan salah satu ga pura bentuk candi itu hilang begitu saja tanpa bekas. Suro Bodong se ge ra bangkit, namun ia buru-buru mengangka t tubuh Dewi La ut, karena Gupolo menghantamnya de nga n sinar merah da ri tanga nnya. Kece pa ta n lompa t Suro Bodong tak da pa t diikuti ma ta biasa, yang je las ia berhasil membawa lari tubuh Dewi berte ta pa n denga n meluncurnya sinar merah itu. Dan yang menjadi sasa ran a da lah gapura yang tinggalsebelah itu.

"Blaa r...!" Gapura itu pun hilang juga tanpa bekas dan mencengangkan se tia p orang.

Suro Bodong se ge ra meraba tanga n kirinya . "Sreet...!" Ia bagai menghentakka n ta ngan kanan dari rabaa n ta ngan kiri, da n tahu-ta hu ia telah menggenggam sebilah pedang yang memancarkan sinar ungu bening. Se mua ma ta te rpa na, mulut ternganga melihat pe da ng Suro Bodong yang ba ga i te rsimpa n di lengan kirinya . Pe da ng Urat Petir mulai beraksi. Ke tika itu, Gupolo menghanta mkan kembali pukulan jarak ja uhnya de ngan memancarkan sinar kuning da ri te la pak ta nga n. Te ta pi, Suro Bodong mengangkat pe da ngnya, menyilang di a ta s ke pa la , da n sinar itu mengha nta m Pe da ng Urat Petir. Maka, meleda klah pe rte mua n dua tenaga te rsebut. Gupolo te rpenta l bebera pa langkah, bunyi petir menyambar-nyambar diangkasa . La ngit menjadi merah ba ga i te rbaka r, da n bumi pun berguncang. Lalu, ketika Gupolo berdiri lagi, Suro Bodong bersalto ke arahnya. Seca ra otomatis, ia berarti tenga h menggunakan jurus Luing Ayan-7, karena ia bersalto tujuh kali di uda ra. Dan hal itu membua t diri Suro Bodong beruba h ujud menjadi seorang pe ndeka r tampa n berpaka ian serba kuning emas. Wa jahnya begitu lembut, gerak ma ta nya mengagumkan, da n rambutnya yang panjang terurai rapi  itu  diikat denga n ta li emas. Ia begitu te ga p, berotot dan mengagumkan anak-a nak Resi Ma hermandika. Pe dang Ural Petir ya ng memanca rkan cahaya ungu bening itu bagai menambah ke te ga ran pena mpilan Suro Bodong yang suda h berubah menjadi Panji Ba gus.

"Gupolo...! Kau boleh bangga karena tidak sanggup dimusnahkan oleh senja ta a pa pun, tapi cobalah jurus Tarian Karangku ini. Hiaaa t...!" Suro Bodong yang sudah beruba h pe ndeka r ta mpa n itu menggenggam de nga n  kedua  ta nga n  pe da ngnya ,  bagai  benar-benar  mera pa t  de nga n  pinggang kana nnya. La lu, ia berge rak berputa r tujuh kali mengelilingi Gupolo. Se te lah tujuh  kali berkeliling denga n ge raka n ce pa t se pe rti pe da ngnya ke arah a tas, melesat ke kiri. "Wess...!"

Maka, te rpa ncarlah caha ya kemila ua n ya ng menyilaukan. Gupolo bermandika n caha ya kemilau. Terang sekali hingga bebera pa orang yang memanda ngnya menyipitkan ma ta a ta u menahan cemerlangnya cahaya de ngan tangan diangkat ke atas ma ta . Mereka sama -sa ma menggumam da lam keheranan.

Bebera pa saa t, caha ya itu tiba-tiba pa dam. Dan mulut mereka serempa k berseru: "Wooow...?!!"

Tubuh Gupolo te lah menjadi pa tung batu berwarna hita m dalam kea daa n menga ngkat salah satu tanga nnya da n mulutnya te rnga nga. Se mua orang bingung, semua orang  bagai  ingin  tida k mempe rca ya i pe ngliha ta nnya. Tapi semua orang akhimya meraba pa tung Gupolo yang tinggi besar itu, dan mereka mulai pe rca ya bahwa Gupolo te lah menjadi pa tung. Se mua anak bua h Gupolo berlutut  di de pa n pa tung itu dengan menampakka n tangis dan kesedihan a tas pe taka yang menimpa pimpinan mereka itu.

Suro Bodong da lam sosok Panji Ba gus menjauh da ri kerumunan orang pa da pa tung. Saa t itu,

Dewi memberanikan diri mende kati Suro Bodong da n berka ta de nga n lembut: "Terima kasih a tas bantua nmu..."

Suara Dewi yang serak-serak menggairahkan itu sempa t membua t Suro kelu sesaa t, ta k bisa bicara a pa -a pa. Na mun, kemudian ia pun berusaha untuk berka ta :

"Pe dang inilah yang harusnya kau curi. Bukan tombak Kiai Ja tayu "

"Aku minta  maa f, da n... da n "

"Dan sekarang curilah pe dang ini bersama pemiliknya. "

Dewi te rsenyum mesra. Ginan dan yang lainnya te rpe ranjat melihat Suro Bodong berhasil memeluk Dewi, lalu mereka hampir serempa k berseru:

"Huuuuh !!" Suro te rsenyum geli.

SELESAI

0 Response to "Serial Suro Bodong Eps 12 : Geger Pusaka Matsuri"

Post a Comment