Serial Suro Bodong Eps 03 : Pedang Kerak Neraka

Mode Malam
1

Suro Bodong melompat kian ke mari menghindari serangan benda kecil mengkilat. Desing benda itu cukup mendirikan bulu roma. Dari ujung batu ke ujung batu yang lain kaki Suro Bodong menjejak dan menapak. Lompatannya sudah mulai tak beraturan ketika serangan gelap itu semakin gencar.

“Bangsaaaat.. ! keluar kau dari persembunyianmu!” teriak Suro Bodong ketika ia berhasil bersembunyi di antara celah bebatuan. Tetapi, tiba-tiba dari arah kirinya melesat sebuah benda yang memantulkan cahaya matahari. Benda itu menjurus ke arah Suro Bodong, sedangkan Suro Bodong tidak punya kesempatan untuk keluar dari celah batu itu.

Ia bermaksud meloloskan diri dari celah sebelah kiri, namun karena badannya yang agak gemuk dan perutnya yang sedikit membuncit berpusar menonjol itu, maka celah itu justru seperti menjepit tubuhnya. Lalu, benda berdesing dari arah kanannya tak sempat dielakkan lagi.

“Aaaaauuuuhhh. .!!” pekik Suro Bodong ketika senjata berbentuk bintang segi empat itu menancap di lengan kanannya. Darah mengucur dari daging lengan yang tertancap senjata bintang empat. Suro Bodong meringis. Batu itu sepertinya menjepit tubuh dari depan dan belakang. Dan yang membuat Suro Bodong semakin panik, ternyata batu itu bergerak merapat. Tubuh Suro Bodong bagai tergencet. Padahal batu itu cukup besar, tak mungkin didorong oleh sepuluh orang depan belakang.

Pasti ada tenaga dalam yang begitu besar dan mampu menggerakkan batu tersebut sehingga merapat. “Huuuugh…. ! Huuuhg!” Suro Bodong mencoba menahan gerakan kedua batu yang merapat.

Tetapi tenaganya seperti sia-sia saja. Kedua batu itu masih terus makin menggencet tubuh Suro Bodong.

“Jahanaaaaaammm. .!! Siapa yang bermaksud membunuhku dengan cara sekeji ini. . !” Suro Bodong berseru dengan suara tertahan. “Uuuuh. Betapa sengsaranya menjadi orang yang benar-benar tergencet.. !” gerutu Suro Bodong sambil berusaha melonggarkan pernafasan. Posisi kakinya terenggang rendah, dan kedua tangannya memegangi batu yang menggencet bagian depan. Batu-batu itu semakin merapat, gerakannya lamban tapi pasti. Suro Bodong sendiri sejak tadi tidak melihat siapa orang yang menyerangnya dengan sembunyi-sembunyi itu. Sedangkan senjata bintang bersudut empat itu telah menancap di lengannya dan saat ini terasa sangat sakit. Tetapi bagaimanapun juga Suro Bodong segan untuk mati tergencet. Sungguh memalukan jika ia mati dalam keadaan tergencet dua batu besar itu.

Secepatnya Suro Bodong meludahi kedua telapak tangannya. Masing-masing telapak tangan diludahi tujuh kali.

“Kuremukkan orang itu jika tertangkap…!” geramnya. Kemudian ia memusatkan pikiran dengan menahan nafas beberapa saat. Tubuhnya sedikit mengempis sehingga cukup ruang untuk menggerakkan tangannya ke depan leher. Mepet dengan dagu. Dengan susah payah Suro Bodong menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Lalu, dengan gerakan lamban namun penuh tenaga kedua telapak tangan Suro Bodong ditempelkan pada batu yang ada di depannya. Ia menghentak dengan teriakan yang tertahan. “Huuuuaaaahhh.. !!”

Pada saat itu terdengar suara ledakan yang cukup menggetarkan tanah. Batu di depan Suro Bodong pecah menjadi beberapa puluh bagian. Diantara pecahan batu itu ada yang menghantam kening Suro Bodong hingga kening itu berdarah. Juga ada yang merobek pipi Suro Bodong, hingga pipi itu pun terluka menganga. Ada lagi pecahan batu yang menghantam tulang di ujung leher bawah, hingga tulang itu terasa patah. Suro Bodong merasa pusing, lalu jatuh lemas tak sadarkan diri.

Bagi Suro Bodong, hal itu lebih baik daripada dia mati tergencet dua batu besar. Memang, ilmu

‘Salam Tempel’ yang digunakan tadi telah mampu membuat batu di depannya itu hancur menjadi beberapa puluh bagian. Dan beberapa batu menghantam wajah Suro sehingga ia menjadi pingsan.

Tetapi, bukankah lebih baik pingsan daripada mati tergencet dua batu besar?

Tetapi ketika ia siuman, ia menjadi kebingungan melihat keadaan dirinya. Ia berada dalam satu ruangan selebar delapan langkah ke depan dan lima langkah ke samping. Ruangan itu kosong. Hanya ada satu bangku panjang dan tikar. Itu pun tikar rombeng. Di tengah ruangan itu terdapat sebuah tiang saka. Pada tiang saka itu tubuh Suro Bodong terikat. Tali melingkar di bagian perut dan kaki yang rapat dengan tiang, sedangkan tangan keduanya terikat dengan rantai ke belakang. Ia seperti memeluk tiang jati dari belakang. Dari perut sampai kaki dililit tali kuat yang membuat ia bisa berdiri dalam keadaan pingsan tadi. Sedangkan sebuah rantai lebih kecil menjerat lehernya, hingga leher Suro mau tak mau harus merapat pada tiang tersebut. Jika ia bergerak maju, maka ia akan tercekik oleh rantai tersebut.

“Bangsat.. !” geramnya setelah menyadari keadaan dirinya. “Siapa yang melakukan begini?! Salah apa aku kepadanya? Dan.. di mana aku sekarang ini?!”

Suro Bodong memandang sekeliling. Kamar itu lega, tapi mempunyai kelembaban yang dingin.

Lantainya hanya dari plestersemen sederhana. Ada yang gompal bagian sudutnya. Tembok kamar bagai terbuat dari batu-batu kali yang hitam dan berbentuk pipih. Di depan Suro Bodong ada pintu kamar yang terbuat dari besi. Kokoh, dan berwarna hitam. Agaknya pintu itu tertutup rapat dansulit dibongkar paksa. Baut dan paku-pakunya menonjol pada setiap tepian pintu.

Suro Bodong mencoba meronta. Oh, ikatan pada tubuhnya sangat kuat dan alot. Otot dikeraskan dan tangan mencoba merenggang, tapi rantai itu tak dapat putus. Gemas dan jengkel sekali Suro Bodong dengan keadaan seperti itu. Ia telah menjadi seorang tawanan. Tapi tawanan bagi siapa? Dan apa salahnya sehingga ia ditawan sebegitu kasarnya?

Mata Suro Bodong terpejam menahan rasa perih pada lengan. Senjata bintang bersudut empat telah dicabut paksa oleh seseorang yang menawannya. Ada bekas luka yang masih ternganga pada lengan, sedikit mendekati pundak. Luka itu telah mengering darahnya. Berarti Suro Bodong sudah lama tak sadarkan diri di dalam kamar itu. Setidaknya ia telah pingsan dalam jangka waktu yang cukup lama.

Suara kunci gemerincing. Pintu kamar itu ada yang hendak membukanya. Mata Suro Bodong

segera membelalak, ingin mengetahui, seperti apa ujud orang yang menawannya. Dan mata itu hanya memandang bagai orang terbengong, karena saat pintu terbuka, ternyata muncul seorang perempuan berwajah manis. Perempuan itu hanya mengenakan kain pembalut tubuh dari batas dada sampai ke betis. Rambutnya meriap tak beraturan. Kulitnya hitam manis, lehernya jenjang, sesuai dengan bentuk tubuhnya yang kurus, namun bukan kerempeng.

Perempuan inikah yang telah menangkapnya dan mengikat Suro Bodong? Perempuan inikah yang melemparkan senjata rahasia dari tempat persembunyiannya? Suro Bodong memperhatikan

dengan mata memancarkan kemarahan yang terpendam. Perempuan itu tak mau memandang Suro

Bodong, setelah sekali ia memandang Suro ketika masuk tadi. Perempuan berkain warna merah, seperti baju jubah yang dikenakan Suro Bodong, hanya membisu dan meletakkan semangkok sayur bening serta secangkir air putih. Ia meletakkan barang-barang itu di bangku panjang.

“Kenapa aku diikat begini?!” geram Suro Bodong. Perempuan itu tidak menjawab. Suro membentak “Kenapa aku diserang dan ditawan seperti ini, hah?!”

Perempuan itu hendak pergi meninggalkaan Suro Bodong tanpa jawaban atau gerak mata apa pun. Suro Bodong merasa disepelekan. Ia semakin berteriak:

“Jahanaaam.. ! Jawab pertanyaanku! Kenapa aku dibuat sengsara seperti ini, hah?! Apa salahku!? Apa…?! Hei, jawab pertanyaanku!!”

Lalu perempuan itu berhenti melangkah, dan berpaling memandang Suro Bodong. Matanya

yang kecil namun mempunyai manik mata yang hitam bening menyipit sedikit, ia pun berkata dengan ketus: “Kau tidakberhak membentak-bentakaku,keparat!”

Suro Bodong melonggarkan nafas, memandang kemanisan wajah perempuan itu. Mulut perempuan tersebut yang memiliki bibir mungil seperti kuncup mawar itu berkata lagi: “Jangan merasa dirimu berkuasa atas diriku! Kalau kau merasa berkuasa dan hebat, coba..

lepaskan dirimu dari ikatan itu! Lepaskan dirimu dan larilah kalau kau bisa! Itu baru kuakui kehebatanmu!”

“Aku bertanya dan kau tidak menjawab. Maka aku membentak, karena kukira kau tuli!” kata Suro Bodong masih dengan kasar.

“Aku tidak tuli!” ketus perempuan itu.

“Tapi mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku yang pertama? Mengapa?!”

“Karena aku tidak ingin bicara kepada siapa pun di sini. Aku enggan mengeluh, menjawab, mengadu dansebagainya!”

Ada kecurigaan yang muncul di hati Suro Bodong. Kata-kata itu seakan mempunyai arti sendiri dan membuat Suro Bodong sedikit mengendorkan ketegangannya. “Mungkin kepadaku kau mau bicara?”

“Tidak kepada siapa pun, termasuk kepadamu, aku tidak mau bicara!” ketus perempuan itu sambil mendekat dan menyipitkan mata pertanda menyimpan dendam.

“Tapi nyatanya kau sudah bicara padakusaat ini, bukan?”

Perempuan itu tertegun sejenak. Ia mengakui, bahwa tanpa disadari bukankah ia telah bicara sejak tadi? Ia segera buang muka, dan berkata lagi:

“Mulai sekarang, kita tak perlu bicara lagi.”

“Boleh asal kau jelaskan mengapa aku terikat dan ditawan seperti ini?!” sahut Suro Bodong secepatnya.

“Aku tidak tahu!“jawab perempuan itu tetap buang muka. “Apakah bukan kau yang melakukannya?!”

“Aku tak pernah mengikat seorang lelaki! Aku bukan golongan perempuan yang membatasi kebebasan lelaki!”

“Jadi. . jadi apa kerjamu di sini?!”

Perempuan itu berpaling dengan sinar kedendaman di matanya, ia berkata sambil menggeram. “Kau ingin tahu?!”

Setelah Suro Bodong menggumam, perempuan itu melanjutkan kata, “Aku menjadi pemuas nafsu mereka!” Ia menelan ludah, menahan kepedihan. “Aku lebih menderita daripada kau, tahu?!”

Perempuan itu hendak keluar, Suro Bodong buru-buru mencegah. “Tunggu…!” Ketika perempuan itu berhenti dan berpaling, Suro Bodong segera berkata:

“Jadi, kau tawanan juga di sini?”

Sorot mata perempuan itu masih memancarkan dendam yang meletup-letup. Ia berkata dengan tandas, bagai menggeram:

“Memang. Tapi lebih buruk aku daripada kau!”

“Tidak ada tawanan yang tidak buruk nasibnya. Semua tawanan pasti buruk nasibnya. Kalau nasibnya tidak buruk dia tidak akan menjadi tawanan, tapi jadi menawan!” Suro Bodong melemparkan senyum tipis. Perempuan itu masih diam menatap dalam bayangan dendam.

“Laluapa maksudmu, heh?” “Mungkin kita bisa bekerja sama untuk lolos dari sini.”

Perempuan berleher jenjang dan berkulit hitam manis itu mendekat seakan bergerak di luar kesadaran. Ia memperhatikan Suro Bodong seperti sedang menyelidik, memandang dari ujung kaki sampai ujung rambut.

“Lolos dari sini? Lari?!” Ia menampakkan kesangsiannya.

Senyum tipis kembali tersembunyi di balik kumis Suro Bodong yang lebat itu. Ia berkata dengan tenang:

“Namaku Suro Bodong. Kau siapa?”

Setelah sekali lagi memandang dari ujung kaki ke ujung rambut, perempuan itu menjawab lirih, ketus: “Sulastri..!”

“Sulastri. .?” ulang Suro pelan sekali, juga sambil memandang dari ujung kaki sampai ujung rambut perempuan itu.

“Kamu termasuk orang sombong!” kata Sulastri dengan menyipitkan matanya. “Sombong? Maksudmu sombong bagaimana?”

“Dalam keadaan terikat begitu kau masih berlagak sanggup melarikan diri. Mana mungkin? Kau sendiri tak bisa lepas dari ikatan itu,bagaimana mau melarikan diri?”

Suro Bodong menghela nafas. Sesak

“Sulastri. . kalau kau mau bekerja sama denganku, kita akan bisa melarikan diri dari sini. Bukakan rantai dan tali pengikatku. Lalu kita lari bersama-sama!”

“Hem.. !” Sulastri mencibir. “Mereka terlalu kuat dan tak mungkin akan bisa kau tembus penjagaannya.”

Suro Bodong ingin bicara, namun terhenti seketika karena kemunculan seorang lelaki dari balik pintu. Lelaki itu berkepala gundul. Polos. Tubuhnya lebih besar dari Suro Bodong. Ia mengenakan celana dari kain tebal warna hitam, tanpa baju. Pergelangan tangannya mengenakan gelang kulit ular warna hitam keputih-putihan. Hidungnya tergolong hidung yang besar, dengan mata belo dan kumis tebal melengkung ke atas pada setiap ujung sisinya. Sungguh menyeramkan wajah itu, terutama bagi seorang perempuan seperti Sulastri.

“Keluar.. !” geram lelaki gundul kepada Sulastri.

Sulastri memandang penuh dendam dan kebencian. Lelaki itu mendelik dengan melontarkan bentakan yang kasar:

“Keluar kau!!” Karena Sulastri jalannya lamban, maka dia segera diseret oleh lelaki gundul. Punggung Sulastri didorong dengan kasar sehingga Sulastri terpelanting membentur dinding. Untung wajahnya tidak beradu dengan di dinding batu.

“Binatang kau, Sargulo!” bentak Sulastri dengan berani.

“Perempuan kotor. .!!” Sargulo menampar wajah Sulastri. Tangan berjari besar itu mengakibatkan bibir Sulastri pecah bagian sudutnya, lalu berdarah. Sulastri memekik dalam tangis, kemudian segera meludahi Sargulo. Ludah menyembur mengenai dagu Sargulo. Semakin marah lelaki gundul itu. Ia segera mengambil cambuk dari pinggangnya. Cambuk sepanjang satu hasta itu hendak dilecutkan, tetapi tiba-tiba Suro Bodong berkata dalam kesinisan:

“Tentu saja kau menang, Sargulo.. Dia perempuan! Tapi jika menghadapi aku, kujamin kau akan malas bernafas!”

Cambuk itu tetap melecut, namun tubuh Sargulo berputar sehingga lecutan cambuk sengaja dikenai tubuh Suro Bodong. Saat itu, Suro Bodong terpekik tertahan, dan Sulastri buru-buru lari keluar dari kamar itu.

“Kau perlu mengenalku lebih dekat, Kambing. .! “ “Taar.. ! Taaaar.. ! Taaarr. .!”

Sargulo mencambuk tiga kali dengan kasar dan dengan sabetan yang kuat. Suro Bodong berkelejotan tiga kali dengan mulut ternganga menahan sakit.

“Itulah aku: Sargulo, yang tidak bisa dibuat mainan dan disepelekan oleh siapa pun!” ujar lelaki gundul seraya menggenggam cambuk hitamnya yang besar.

Mata Suro Bodong sedikit berkunang-kunang. Ia menatap Sargulo dengan menyipit dan

memancarkan dendam. Ia merasa belum pernah bertemu dengan Sargulo. Ia tahu namanya juga dari suara Sulastri tadi. Suro Bodong sangat heran, mengapa ia tahu-tahu berurusan dengan orang yang belum pernah dikenalnya? Ada apa sebenarnya?

“Kau orang perguruan Merak Senggol, bukan?!”

Suro Bodong sedikit berkerut dahi. Suara Sargulo cukup jelas, karena lelaki itu bicara di dekat telinga Suro Bodong. Kata-kata itu cukup aneh, sehingga Suro Bodong membiarkan saja, karena dianggap kata-kata dari orang gila.

Tetapi dengan kasar Sargulo menjambak rambut Suro Bodong dan menariknya ke belakang sedikit miring ke kiri, sehingga Suro Bodong mendongak dengan meringis menahan sakit. “Jawab.. ! Apa tugasmu memata-matai daerah kami, hah?!” Sargulo semakin kasar, semakin keras

menarik rambut Suro Bodong yang panjang dan tidak teratur itu. Ikat kepala berwarna merah darah

hampir terlepas karena sentakan Sargulo yang kasar itu. “Jawab. .! Atas perintah siapa kau mematamatai kami, hah?!” Dengansuara mengggeram, Suro Bodong berkata:

“Aku bukan mata-mata!”

“Bohong.. !” seraya pukulan keras dengan siku yang besar itu menghantam rahang Suro Bodong. Gigi geraham Suro Bodong terasa mau copot rasanya. Ia hanya menyeringai kesakitan.

“Kau pasti orang andalan dariTimur. Iya, kan?!” “Bukan!”

“Bohong.. !” Sargulo menghantam dagu Suro Bodong dengan keras. Dagu itu berdarah karena terkena cincin hitam yang melingkar di tangan kanan Sargulo.

“Berapa orang temanmu yang menyusup ke mari? Jawab!”

“Lebih baik kau pukul saja aku sekali lagi, sebab jawabanku pasti akan kau kira bohong!” kata Suro Bodong yang merasa dongkol sekali karena jawabannya selalu disangkal. Tapi, justru Suro Bodong tidak mendapat tamparan atau pukulan dari Sargulo. Lelaki itu menyeringai memuakkan,

menampakkan giginya yang besar-besar mengerikan

“Setiap mata-mata yang menyusup ke mari, pasti akan mati. Kau adalah contoh mata-mata yang pertama.”

“Dan kau adalah korbanku yang keseribu kali lebih!” Suro Bodong tak mau kalah gertak. Karena gertakannya itu, ia mendapat hadiah ditendang mulutnya oleh kaki besar Sargulo yang berbulu jarang itu. Bibir Suro Bodong retak dan berdarah.

Suro Bodongmenggeram manahansakit. Ia masih berani bicara:

“Pamitlah kepada teman dan kerabatmu, Sargulo. Sebab sebentar lagi kau akan mati dan malas hidup kembali!”

Sargulo tertawa lebar, keras. Suro Bodong semakin muak dengan lagak lelaki berhidung besar itu.

“Kau tak perlu menggertak aku, Babi. Kau tak bisa menghindari kematianmu sendiri. Tetapi jika kau mau mengaku, dan mau bekerja sama dengan kami, kau akan selamat. Sekarang juga akan kusuruh Sulastri membawakan nasi dan ikan ayam yang sangat lezat. Kalau memang kau orang kuat, bisa kuusulkan untuk mengangkat kau sebagai orang pilihan kami.”

“Aku seperti bermimpi mendengar kata-katamu. Kau sendiri apakah yakin kalau aku tidak sedang bermimpi saat ini?”

Suro Bodong memandang tanpa kedip. Sargulo meludah seenaknya, lalu mendekat persis di depan wajah Suro Bodong. “Ini bukan impian, Bangsat! Kau memang patut kami siksa. Tinggal tunggu perintah dari pimpinan, kalau beliau perintahkan aku untuk segera membunuhmu, maka dalam tempo tak kurang dari tiga hitungan, kepalamu akan terpisah dari leher. Kau mati!” kata-kata terakhir ditegaskan. Suro Bodong tidak memberi reaksi takut ataupun gentar. Ia mencoba untuk tenang. Sargulo berkata lagi dengan suara serak, seperti sedang berbisik:

“Kami memang masih membuka kesempatan untuk siapa saja yang mau menjadi pengikut kami!

Kami akan membentuk satu pasukan khusus. Pasukan pengawalan yang terpilih. Karenanya, perintah dari pimpinanagar aku menawarkan lowongan itu kepadamu, sekali punaku bebas menyiksamusesuka hatiku, mengerti?!” Sargulo menjauh, dan katanya lagi:

“Jika kamu mau bergabung menjadi anggota kami, segala kebutuhan hidupmu akan kami jamin.

Kita akan menjadi orang-orang pilihan yang hidupnya harus terjamin, makmur. Dan. . menjadi penguasa setiap wilayah bertambang emas di dunia.”

“Aku jadi mengantuk mendengar dongengmu itu, Kakek!”

Tiba-tiba kaki kiri Sargulo berkelebat menendang mulut Suro Bodong. Sargulo menggeram marah mendengar kata-kata Suro tadi yang bersifat menyepelekan ucapannya.

“Sekali lagi kau menyepelekan kami, kuusulkan kepada pimpinan agar kau dikuliti!” ancam Sargulo, tapi Suro Bodong hanya meludah. Darah yang diludahkan, dan Sargulo tersenyum puas melihatnya.

“Kau betul-betul tangguh,” kata Sargulo. “Kau punya keberanian yang kami butuhkan. Sebab itu, menyerahlah. Jadilah anggota kami. Terimalah kesempatan ini, sebelum aku hilang kesabaran dan berbuat seenak perutku!”

“Sargulo.. kusarankan, carilah tanah yang enak untuk menanam mayatmu nanti.. !” “Plak. .!Plok.. !

Sargulo menampar dengan cepat dan kuat. Kedua pipi Suro Bodong memerah. Sebenarnya hati Suro Bodong mengalami kepanikan. Namun ia masih bisa mengerahkan pikirannya untuk bertindak tenang, menyembunyikan kepanikan itu. Jika sampai kepanikan itu meningkat dan menguasai jiwanya, maka seperti biasanya, ia tidak bisa berbuat apa pun. Ia selalu bingung jika kepanikan mencekam jiwanya mutlak.

“Kau benar-benar mengecilkan kami, hah?!” Sargulo menggeram. “Kau anggap kami ini apa?! Kau anggapakuanak kecil yang tidak bisa memaksamu bertekuk lutut?!”

“Kau siksa aku sampai mati, tak sekali pun kau akan melihat tanda-tanda aku akan tunduk kepadamu!”

“Bangsat kau.. !” bentak Sargulo dengan menendang dada Suro Bodong, sehingga nafas Suro Bodong tersendat sesaat. Tulang rusuknya terasa ngilu. Namun ia tetap berkata: “Siksaanmu seperti nyamuk hinggap di ujung kuku. Kau belum pantas menjadi algojo. Kau harus belajar lagi untuk menjadi El Maut yang siap menyiksa lawan sampai berhasil. Belajarlah lebih sadis lagi denganaku, Sargulo!”

Dengan jengkel, Sargulo segera mencambuk Suro Bodong berulangkali. Kibasan cambuknya

sangat membabi buta. Suro Bodong mengeraskan semua otot, sampai pada otot dan urat yang ada di wajah serta leher. Dengan begitu, tubuhnya menjadi kaku seperti besi yang tak mempan tergores cambuk. Hanya bilur-bilur merah tipis saja yang terlihat di tubuhnya.

Sargulo ngos-ngosan karena gerakan cambuknya diiringi nafsu amarah yang cukup besar.

Sedangkan Suro Bodong juga terengahengah karena menahan nafas beberapa saat, mengeraskan semua otot atau urat dalam tubuhnya. Tetapi ketika Sargulo berhenti mencambuk, Suro Bodong masih bisa tersenyum kendati pun tubuhnya terasa perih semua. Namun tak ada yang terluka.

“Siksaan kelas teri itu, Sargulo. Kubilang tadi, belajarlah menyiksa dari aku, kau akan menjadi penyiksa teladan. Aku dulu pernah mendapat julukan penyiksa tersohor. Namun hal itu kulupakan, dan sekarang aku ingin menjadi orang baik-baik.”

Sargulo menggeram.Dongkol sekali. Matanya memandang bengis kepada tawanannya. Tapi tawanannya masih kelihatan segar dan berani berkata seenaknya:

“Sargulo, ambillah besi dan bakarlah sampai memerah, lalu tusukkan besi itu ke tubuhku berkali-kali. Itu cara menyiksa tingkat dasar. Dan kalau kau lakukan itu kepadaku, maka aku akan tertawa. Sebab itu adalah penemuanku!”

Sargulo menggeram sambil mengepalkan tinjunya. Suro Bodong sengaja bicara lagi:

“Atau, ambil pisau tajam dan beset-besetlah kulitku, lalu cari air jeruk dan siramkan ke tubuhku.

Dan.. sekali lagi aku pasti akan tertawa, karena dulu aku paling menyukai adegan itu. Bahkan pernah temanku kusuruh melukai bagian alat kejantananku lalu kusuruh menyiramnya dengan arak Tiongkok.

Aku menjerit senang, sebab. . sebenarnya aku paling menyukaisiksaan seperti itu.”

Wajah Sargulo berpaling. Rupanya ia bergidik sendiri mendengar penuturan Suro Bodong yang bohong semata itu.

“Ayo cari cara yang lebih menyakitkan.. ! Aku siap menunggu dan akan berterimakasih kepadamu kalau kau bisa menyiksaku dengan sangat sakit. Kalau hanya seperti tadi, yaaah. . keci il. .! “

Suro Bodong mencibirkan bibir. “Hei, ambil pecahan beling dan goreskan pada mataku, lalu ambil jeruk dan peraskan di mataku, nah. . itu siksaan baru yang ingin kurasakan kenikmatannya.. “

Sekali lagi, Sargulo sendiri tak dapat menahan diri. Ia bergidik. Merinding. Merasa ngeri membayangkan hal itu. Suro Bodong mengetahui perasaan Sargulo, sebab itu ia merasa lega, karena ucapannya dapat mempengaruhi jiwa lawan Tiba-tiba Sulastri muncul dan berkata kepada Sargulo, “Hito memanggilmu!”

Sargulo diam, memandang Sulastri. Dan Sulastri muak dipandang lelaki gundul berhidung

besar. Ia pergi. Tapi dengan cepat ia meraih tangan Sulastri. Lalu menyeretnya hingga berada di depan Suro Bodong

“Lepaskan aku.. ! Lepaskan! Aku benci padamu…!” Sulastri meronta-ronta. Suro Bodong terperangah. Hal itu diketahui Sargulo, karenanya Sargulo semakin menggila. Ia menampar mulut Sulastri dengan keras. Mulut itu berdarah. Ia segera memandang Suro Bodong dan berkata:

“Lihat, aku punya permainan baru untukmu, Babi…!!”

Sargulo merampas kain pembalut tubuh Sulastri. Perempuan itu bertahan sambil meronta-ronta dan berteriak-teriak menyedihkan. Sargulo semakin gila. Ia berhasil melepaskan kain pembungkus tubuh Sulastri dengan kasar. Kemudian ia menggeluti tubuh dengan brutal, seperti binatang dilanda birahi.

“Tidak. .! Aku tidak mau. .! Aku masih sakit, Sargulo! Ooooh. . aku masih saki it.. !” Sulastri menangis. Tetapi Sargulo malahan tertawa sambil melepas celananya sendiri. Sargulo menindih tubuh Sulastri yang sudah tanpa penutup ala kadarnya itu. Sulastri meronta. Sargulo mencengkeram rambut Sulastri dan menghentakkan kepala perempuan itu ke lantai. Tentu saja Sulastri menjerit kesakitan.

Tubuhnya yang polos tanpa rahasia lagi itu dibentangkan bagai tikar, dan Sargulo berusaha menjamah kehormatan Sulastri dengan ujung kebanggaan seorang lelaki. Sulastri meronta terus sambil meratap menyedihkan. Mata Suro Bodong terpejam, menjadi panik, namun sesekali mengintip sedikit. Tak tega juga ia membiarkan tubuh Sulastri dipakai ajang kebrutalan nafsu Sargulo yang mempunyai anggota tubuh serba besar itu.

“Hentikan. .!” teriak Suro Bodong. “Hentikan caramu itu, Sargulo.. !” Suro Bodong terengahengah sendiri. Sargulo merasa memperoleh angin kemenangan. Ia tetap menghimpit tubuh Sulastri sambil berkata:

“Apakah kauakan mengakui kemenanganku, Babi. .?!”

Suro Bodong menghela nafas, dan mengangguk. Ia tak tahan melihat perempuan disiksa seperti itu. Namun ia berkata lain, ” Aku tidak tahan.. ! Itu kelemahanku, sebenarnya. Baiklah. Aku akan bergabung denganmu, tapi. . izinkan aku mencicipi gadis itu juga.. setuju?!” 2

SENYUM Sargulo menyerupai seringai iblis. Suro Bodong menahan emosi dan menenangkan

diri. Ia tetap memperlihatkan senyum yang aneh, lebih mirip senyum pemburu nafsu. Sargulo menghentikan semua kegiatannya, tapi tangannya masih menekan dada Sulastri. Sedangkan, Suro Bodong, sejak tadi memperhatikan matanya yang berbinar-binar, jalang. Jakun di lehernya terlihat naik turun, bagaimanapun juga kemarahannya, ia harus bisa berlagak bernafsu melihat tubuh Sulastri. Hal itu tidak diketahui oleh Sulastri, sehingga Sulastri menyangka bahwa Suro Bodong benar-benar serakus Sargulo.

“Kelihatannya memang kau punya selera yang sama denganku,” kata Sargulo seraya berdiri, dan memegangi tangan Sulastri. “Aku tak keberatan dengan gayamu yang sama-sama sejalang aku,” Sargulo tertawa bangga.

“Kalau keadaanmu di sini selalu berpesta perempuan, aku tidak akan menolak menjadi temanmu, Sargulo. Lepaskan aku dan biarkan aku berpesta diatas tubuhnya beberapa saat.”

Sekali lagi Sargulo tertawa lebar. Kemudian tawanya berhenti, berganti keganasan. Ia memandang Sulastri. Sambil meraih pipi Sulastri dan meremasnya dengan tangan kanan sampai mulut Sulastri menyong, ia berkata pelan, tapi tegas dan kasar:

“Ambil lauk di dapur, aku akan berpesta dengan dia di sini. Setelah itu, mandilah yang bersih dan bersiaplah menjadi bahan giliran kami. Mengerti? Hah.. ?!”

“Cuih.. !” Sulastri sempat meludahi wajah Sargulo. Suro Bodong menampakkan kebrutalannya dengan tertawa keras, seakan menyukai adegan tersebut. Sargulo hanya mendorong tubuh Sulastri dengan geram. Perempuan itu segera pergi.

Wajah Suro Bodong yang beringas membuat Sargulo menjadi yakin. Dalam hati Suro Bodong hanya menertawakan kebodohan Sargulo yang tanpa ragu mempercayai kata-katanya. “Perempuan memang bisa membuat sesuatu yang kaku menjadi lunak. Betul, kan?” kata Sargulo

sambil tertawa. Dan Suro Bodong pun tertawa kasar, seakan-akan ia benar-benar orang bengis dalam

hal perempuan.

Rantai yang mengikat tangannya dilepas oleh Sargulo. Kesabaran Suro Bodong sudah tidak bisa ditampung lagi. Dendam Suro Bodong sudah tak bisa diendapkan lagi. Ketika Sargulo hendak melepaskan tali pengikat dari perut ke kaki, ia segera menghantam kepala Sargulo yang gundul.

“Hiaaat. .!!”

“Aaaaahhh.. !!” Sargulo memekik. Tangannya memegangi kepala di mana darah telah mengalir dari lobang telinga.

“Bangsat seperti kau memang tak patut mendapat peluang lebih lama, Sargulo.” Pada saat Sargulo menggeliat kesakitan di depan jangkauan Suro Bodong, sekali lagi Suro Bodong menghantam pelipis Sargulo dengan keras dan dengan tenaga tercurah. Ia bernafsu untuk melepaskan dendam, bersemangat untuk menghancurkan kepala Sargulo.

Sudah tentu Sargulo semakin berteriak dengan suara tertahan. Ia jatuh tersungkur dan Suro Bodong buru-buru melepaskan pengikat lehernya supaya ia lebih leluasa bergerak. Tapi, ternyata pengikat leher itu tidak mudah dibetot begitu saja. Ia mengerahkan tenaganya untuk melakukan hal itu dengan buru-buru.

Pada saat itu, Sargulo bertahan. Darah mengucur dari telinganya. Ia berdiri dan segera menyerang Suro Bodong dengan tendangan yang mantap. Kaki kanan Sargulo melesat menghantam dada Suro Bodong, tetapi Suro Bodong menangkis dengan satu gerakan tangan, membuang kaki yang menendangnya. Ia tak dapat membungkuk, sebab lehernya masih terikat dengan tiang. Ia semakin panik.

Pengikat leher sangat kuat. Gerakan jari dan tangan menjadi menggeragap. Sargulo melampiaskan kemarahannya yang tak tertahan lagi. Pukulannya sengaja dipermainkan di depan mata Suro Bodong dan tiba-tiba menghantam telak di wajah Suro Bodong.

“Kau memang babi yang patut dicincang.. ! Hiaaat. .!”

Sekali lagi Suro Bodong kewalahan menangkis serangan kaki Sargulo karena panik dengan

pengikat lehernya. Dadanya bagai kejatuhan martil raksasa ketika kaki kiri Sargulo menendangnya dua kali dalam kecepatan tinggi. Suro Bodong menyeringai kesakitan. Tangan kanan Sargulo menghantam perut, tetapi kali ini Suro Bodong dapat menangkisnya dengan satu pukulan kuat pada pergelangan tangan Sargulo. Begitu tangan memukul ke bawah, lalu segera melesat ke depan, ke atas, dan kening Sargulo menjadi sasaran telak. Pukulan itu membuat kening Sargulo berdarah. Tubuhnya terpental ke belakang, membentur dinding batu.

“Sargulo.. !” Suro Bodong menyebut nama itu di dalam hati. Kemudian ia bersiul mendendangkan tembang Maskumambang. Itulah ilmu ‘Siulan Celeng’. Getaran suara yang dialiri kekuatan tenaga dalam itu sungguh hebat. Terlihat Sargulo yang hendak berdiri jadi terjatuh lagi. Ia menutup kedua telinganya. Ia menjerit dan berkelejot di lantai.

“Aaaaoooww.. !! Sakiiiittt. .! “

Suro Bodong tetap bersiul sambil berusaha melepaskan pengikat leher. Matanya memandang ke arah Sargulo yang menggeliat kejang dengan mulut ternganga-nganga menahan sakit. Suara siulan semakin melengking, darah keluar dari telinga, hidung, mulut dan mata Sargulo. Kian lama kian berasap tipis, kemudian tubuh itu mengejang tak teratur. Siulan Suro Bodong tambah melengking dan meliuk-liuk. Sargulo semakin mengejang, dan kulit kepalanya mulai mengeluarkan darah, robek di beberapa tempat, dan akhirnya retak dalam keadaan mengerikan. Kemudian Suro Bodong menghentikan siulannya, setelah ia melihat tubuh Sargulo berhenti mengejang, dan tak bergerak lagi dalam keadaan mulut ternganga lebar. Kepala itu retak dan berdarah yang melumuri wajahnya.

“Kau pantas menerima hadiah ‘Siulan Celeng’-ku.. !” geram Suro Bodong. Ia berusaha melepas, pengikat leher dengan kekuatan kedua tangannya. Tetapi ia tak berhasil. Cukup alot dan sulit mengerjakan hal itu. Untung Sulastri segera datang dan terbelalak, nyaris terpekik melihat tubuh Sargulo terkapar bermandikan darah wajahnya. Gundul Sargulo kelihatan retak, dan sangat mengerikan.

“Apa yang telah kau lakukan?” ucap Sulastri dengan gemetar. “Berusaha untuk lolos, seperti kataku tadi.”

Sulastri memandang Suro Bodong dengan mata nanar, penuh ketakutan. “Tolong buka sabuknya, siapa tahuada pisauatau.. “

“Aku juga membawanya,” kata Sulastri. Ia mengeluarkan pisau dapur dari bawah beberapa potong ikan ayam yang baru saja dibawanya ke ruangan itu. Rupanya ia sudah punya rencana sendiri untuk berbuat nekad dengan pisau itu.

Suro Bodong sendiri terkejut waktu melihat Sulastri menyembunyikan pisau dapur yang kecil.

Namun, agaknya Sulastri mulai tanggap terhadap situasi saat itu. Ia dapat memahami rencana Suro Bodong yang sebenarnya. Ia percaya, Suro Bodong bukan orang jahat, seperti yang dilihatnya tadi. Suro Bodong seorang tawanan yang mampu berpura-pura menyerah, mampu berpura-pura memihak lawan, namun sebenarnya mencari peluang untuk menyerang.

“Kau tahu jalan ke luar dari sini, kan?” tanya Suro Bodong sewaktu tubuhnya telah lepas dari semua ikatan. Sulastri hanya mengangguk. Ia kelihatan bimbang.

“Kau hapal jalan menuju tempat yang aman?” Suro menegaskan.

“Ya. Tapi tak ada jalan lain kecuali kau lewat pintu samping. Dari sini belok ke kiri, lalu menyeberangi tempat berlatih bagi mereka, dan belok ke kiri. Di sana ada pintu samping yang hanya dijaga dua orang. Jika kau bisa lewat pintu samping itu, maka kau akan sampai di tepian sungai.

Jangan menyeberang, sebab sungai itu sengaja mereka pakai untuk berkeliling tiap malam. Tapi hatihati juga, sebab sesekali kau akan menjumpai petugas di luar pagar yang berjaga-jaga sekeliling pondok ini. Kalau ada pohon melengkung ke sungai, itulah tanda daerah bebas buaya. Kau bisa menyeberang dan larilah secepat mungkin.”

“Kau sendiri?”

Sulastri kelihatan bersedih. “Aku tak akan mampu. Biarlahaku disini, menunggu saatku mati.” “Bodoh! Kau pikir siapa aku? Kau kira aku tak bisa menjamin nyawamu dalam pelarian nanti? Ayo, ikut!”

Suro Bodong dan Sulastri terbelalak. Di pintu muncul seorang berpakaian serba hitam dengan wajah hanya terlihat bagian matanya saja. Bahkan tangan dan kakinya terbalut kain hitam yang rapat.

Sebilah pedang panjang terselip di pinggang kirinya. “Sargulo.. ?!” panggil orang itu seraya memandang lebar kepada mayat Sargulo. Sulastri bersembunyi di belakang Suro Bodong.

“Jahanam.. kau telah membunuh Sargulo, hah?!” geram orang itu. Sulastri sangat ketakutan, tetapi Suro Bodong tenang-tenang saja.

Sulastri berbisik, “Hati-hati, dia termasuk ninja paling ganas.” “Ninja?!” Suro Bodong merasa aneh dengan istilah itu.

“Mereka menyebut diri mereka: ninja, atau ronin. Mereka berasal dari seberang; negeri Matahari Terbit…“Suro Bodongtaksempat berbicara lagi,karena lelaki yangdisebutninja itusegera menyerangnya dengan pedang panjang. Pedang itu mengibas bagai hendak membelah tubuh Suro Bodong dari kepala sampai ke kaki. Tetapi Suro Bodong segera berguling ke lantai. Tepat ia hendak bangkit, kaki ninja telah mendepak punggungnya hingga Suro terjerembab mencium lantai. Hidung Suro berdarah. Ninja berpakaian hitam itu menyerang bagai tak memberi peluang sedikitpun kepada Suro Bodong.

Pedangnya ditusukkan ke arah leher Suro Bodong yang tengah berdiri dengan salahsatu lututnya.

Tak ada cara lam untuk menghindar kecuali segera berguling ke samping kiri. Lalu dengan gesit ia melompat melalui hentakkan punggung. Ia berdiri dan segera mengibaskan kakinya ke samping belakang. Kaki Suro ditangkis oleh tangan ninja. Hampir saja pedang panjang itu membabat betis Suro Bodong. Untung Suro Bodong segera menarik kakinya untuk menapak lagi, dan bergantian dengan kaki yang satu menyerang dalam tendangan putar. Wajah ninja itu terkena tendangan Suro Bodong. Ia terhuyung ke belakang dengan tangan keduanya terentang karena mau jatuh. Dada yang terbuka memberi peluang bagi kaki Suro untuk menendangnya dengan telak.

‘Jurus Tendangan Ayam Kawin’ beraksi. Kaki kanan Suro Bodong menendang cepat tujuh kali beruntun. Tidak bisa dilihat oleh mata karena kecepatannya. Kemudian kaki kiri juga menendang beruntun tujuh kali dengan cepat, mengenai dada ninja juga. Sekali lagi Suro Bodong melakukan tendangan beruntun tujuh kali, kemudian keduanya melompat dan menendang keras dada orang itu.

Tak ada suara yang keluar dari mulut ninja. Kain hitam yang membungkus kepala menjadi

basah pada bagian mulut. Merah kehitam-hitaman warna cairan itu. Sementara tubuh yang terbungkus kain hitam itu duduk tersandar pada sudut dinding dengan lunglai. Pedang panjangnya terlepas dari genggaman. Mata terpejam layu, dengan sesekali terbeliak dalamsatu gerakan mengejang.

“Ayo, lekas lari darisini. .!”

Sulastri mengibaskan tangannya yang hendak digeret Suro Bodong. “Tidak. Aku tidak mau. .!”

“Sulastri. .?! Ini kesempatan bagi kita untuk meloloskan diri!” bujukSuro Bodong.

“Aku takut.. ” Sulastri sangat cemas dan sesekali memandang ninja yang tak berkutik itu.” Mereka… yang ada di luar, jumlahnya ada lebih dari sepuluh orang. Mereka kuat-kuat, dan…”

“Awas. .!” teriak Suro Bodong seraya menarik tangan Sulastri supaya merunduk. Tetapi gerakannya terlambat. Kilatan senjata rahasia yang melayang cepat itu telah menancap di leher Sulastri.

Senjata itu melesat dari tangan ninja yang ternyata masih dalam sekarat dan berpura-pura mati. Tapi setelah ia melepaskan senjata rahasianya yang berupa bintang bersudut empat, maka gerakan tangannya melemas dan ia menghembuskan nafas panjang. Lalu diam.

“Bangsaaat…!!” geram Suro Bodong. Ia menggeletakkan tubuh Sulastri yang masih sempat tersengalsengal dalam erangan. Ia buru-buru mendekati ninja itu, dan memutar kepalanya sampai terdengar bunyi: “Kraak. .!” Walau sebenarnya ia telah mati setelah melempar senjata ke punggung Sulastri, namun belum puas Suro jika belum memutar tulang lehernya sampai patah seperti itu.

Sedangkan Sulastri sendiri segera menghembuskan nafas terakhir setelah Suro Bodong bermaksud mengangkatnya dan membawanya lari.

Gemas dan dongkol tak tersalurkan. Suro Bodong menggeram-geram sendiri. Hatinya sedih

melihat kematian Sulastri akibat senjata rahasia yang serupa dengan yang pernah merobek lengan Suro itu. Padahal Suro Bodong yakin, jika bersama Sulastri, ia akan tahu lebih cepat tentang situasi yang ada di pondok tempat para ninja itu.

“Perempuan bodoh!” geramnya. “Disuruh bebas malah memilih mati. Hahh. .!” Suro Bodong menepak kepala mayat Sulastri seenaknya di luar kesadaran. Kemudian ia segera bangkit meninggalkan mayat yang sempat menggemaskan hatinya itu. Ia melangkah dengan hati-hati mendekati pintu keluar.

Rupanya ruangan itu terpisah dari ruang induk yang menyerupai asrama. Ruangan itu berada tepat di depan ruang induk. Di depan ruangan penjara itu terdapat tanah lapang dengan satu pohon besar yang rindang daunnya.

Di bangunan induk, ternyata bukan hanya ada kamar-kamar saja, melainkan juga terdapat ruang lebar yang menyerupai pendopo. Suro Bodong mengintainya dari balik pintu beberapa saat. Matanya menyipit, mencoba menembus penglihatan ke arah ruangan yang menyerupai pendopo itu. Ada beberapa orang berpakaian serba hitam di sana. Mereka para ninja bersenjatakan pedang panjang.

Samurai. Sedangkan di beberapa kamar, juga terlihat kesibukan para ninja dengan urusannya masingmasing. Namunada juga lima orang yang sedang melakukan latihan di lapangan depan penjara.

Mereka berlari-lari, berguling, meniti dinding yang terbuat dari balok-balok kayu setinggi lebih dari lima meter.

Menerobos lingkaran kawat berduri. Ada pula yang berlatih gerak-gerak jurus yang masih asing bagi Suro Bodong.

Otak Suro Bodong berputar sejenak. Ia ingat arah yang ditunjukkan Sulastri menuju pintu samping, tetapi ia harus melewati beberapa ninja yang sedang berlatih. Jelas ia akan terlihat sekali pun berlari secepat kilat. Yang dipikirkannya adalah, bagaimana caranya mencapai pintu samping tanpa diketahui para ninja itu. Pintu segera ditutup kembali oleh Suro Bodong. Ia merenung sebentar. Kemudian matanya

menatap mayat ninja yang dipelintir kepalanya. Lalu timbul gagasan untuk menelanjangi mayat ninja tersebut, dan ia akan menyarusebagai ninja agar bisa mencapai pintu keluar lewalsamping.

Wajah para ninja tertutup semua. Hanya mata mereka yang kelihatan. Tampak di ruang lebar yang menyerupai pendopo itu ada seorang ninja berpakaian merah, lain dari ninja-ninja yang ada di situ.

Ninja merah sedang terlibat pembicaraan dengan beberapa ninja hitam. Tak jelas apa yang dibicarakan, tetapi Suro Bodong yang telah mengenakan pakaian ninja itu berjalan dengan tenang seraya memegangi tangkai samurainya. Ia berjalan ke arah pintu samping, sesuai dengan keterangan Sulastri sebelum mati.

Tak ada kesulitan melewati tanah lapang tempat latihan. Pintu samping yang dimaksud Sulastri kelihatan. Dijaga dua orang ninja berpakaian serba kuning. Suro Bodong masih berjalan dengan tenang.

Ia berhenti di depan kedua ninja kuning yang menjaga pintu kecil. Pintu samping. Kedua ninja kuning memperhatikan Suro Bodong. Berdebar hati Suro Bodong ketika itu, takut dicurigai. Untuk menjaga agar tidak menimbulkan kecurigaan, Suro Bodong menepuk pundak salah satu ninja kuning.

“Bagaimana? Aman-aman saja?!”

Tiba-tiba tangan ninja kuning yang ditepuk pundaknya itu menghantam wajah Suro Bodong

dengan pukulan beruntun. Salah satu pukulan bisa ditangkis Suro, tapi satu pukulan berikutnya hanya mampu ditangkis dengan pipi Suro, sehingga ia menggeloyor ke samping hendak jatuh.

“Kita kan saudara.. ? Apa-apaan kau ini?!” seru Suro Bodong dengan berlagak sudah saling mengenal.

Salah seorang ninja kuning yang tadi memukulnya berkata dengan geram, “Tingkatanmu di bawah tingkatan kami! Seenaknya kau memperlakukan kami, hah? Bukannya memberi hormat, malah menepak punggung. Kau pikiraku sama tingkatnya dengan kamu?!”

Ninja yang satu menendang perut Suro Bodong seperti ia menendang perut anjing. “Beri hormat!“Suro Bodongmeringis, berlagak perutnya mules, padahal ia berpikir; bagaimana cara memberi hormat kepada ninja yang tingkatannya lebih tinggi? Ia belum pernah melihatnya. Dengan untung-untuhgan, Suro Bodong segera memberi hormat. Ia berjongkok dengan kaki kiri dan kanan merapat, lalu menyembah dengansedikit menunduk.

“Hei.. ! Hormat cara mana itu? Siapa kau, hah?”

Dalam hati Suro hanya berkata, “Celaka. Salah hormatnya!”

“Kita telah kemasukan mata-mata yang menyamar menjadi anggota!” seru salah seorang ninja kuning. Kemudian, temannya segera menendangSuro Bodongdengansepakan yangcukupkuat.Tetapi menyadari penyamarannya telah ketahuan, Suro Bodong segera menggerakkan kedua tangannya ke depan, menghadang gerakan kaki yang menendang. Ninja yang tadi berseru itu segera mencabut samurainya. Ia memegang samurai dengan kedua tangan, lalu mengibaskan ke depan dengan arah menyamping. Kibasan samurai itu bertujuan untuk merobek perut Suro Bodong. Tetapi, Suro Bodong meloncat mundur. Ninja yang satunya juga segera mencabut samurai dan berteriak, “Hiaaat.. !!” dalam suara yang teredam penutup wajah.

Suro Bodong menghindar ke kiri karena tusukan samurai. Tetapi pinggangnya segera disongsong oleh kaki ninja yang satunya lagi

“Huugh…!” Suro Bodong mengaduh dengan nafas tertahan. Ia menggeloyor dalam posisi bertahan agar tidak jatuh. Salah seorang ninja kuning mengibaskan samurainya dengan tubuh melompat dan menyerang Suro Bodong. Tak ada kesempatan lain untuk menghindar kecuali dengan cara berguling ke tanah. Namun tubuhnya segera disambut oleh tikaman pedang samurai dari ninja yang satunya lagi.

Suro Bodong melejit bagai ulat bulu, dan samurai pun menancap dalam di tanah samping dadanya. Tubuh ninja yang membungkuk itu segera menjadi sasaran tendangan Suro Bpdong yang cukup kuat.

Ninja itu tersentak ke belakang ketika dadanya ditendang Suro Bodong. Tubuh yang tersentak itu membentur pintu samping hingga berderak. Segera Suro Bodong melompat dengan kaki kanan lurus dan menghentak lagi di wajah ninja yang terhentak tadi. Ia semakin lemah setelah mendapat tendangan Suro yang kedua. Temannya segera menyerang Suro Bodong. Kedua tangan yang memegangi gagang samurai itu bergerak cepat ke depan, menusuk. Tetapi tubuh Suro dengan cepat menghindar dalam kelitan. Akibatnya, samurai itu menembus di perut ninja yang membentur pintu itu. Kedua mata ninja yang tertusuk temannya sendiri itu mendelik seraya tangannya hendak memegangi samurai yang menusuknya. Namun ia segera lemas dan melorot bersandar pada pintu.

Kesempatan itu digunakan oleh Suro Bodong untuk memukul rahang ninja yang salah tusuk.

Dua pukulan ganda membuat ninja itu sempoyongan dan rubuh dengan keadaan mengaduh tertahan.

Suro tak mau membuang kesempatan dan waktu, ia segera menendang dagu ninja tersebut dengan keras seperti ia menendang bola. Wajah ninja itu mendongak dalam sentakan kuat, kemudian tubuhnya telentang dengan nafas kelihatan sukar dihela.

Suro Bodong berhasil ke luar melalui pintu samping itu. Ia melirik ke sekeliling, keadaan cukup sepi. Di depannya terlihat sungai membentang dengan airnya yang keruh. Suro ingat kata-kata Sulastri sebelum perempuan itu meninggal, bahwa sungai tersebut jangan dilewati, karena di situ terdapat peternakan buaya yang sengaja menjadi jebakan bagi musuh-musuh para ninja. Suro Bodong segera menyusuri tanggul pendek di sepanjang tepian tembok pagar Pondok ninja. Ia berlari dan berlari terus, ketika di dengar suara ribut di balik tembok, larinya semakin cepat. Suro Bodong dapat memastikan, bahwa para ninja pasti meributkan soal kedua ninja kuning yang roboh berlumur darah di depan pintu samping. Suro juga sadar, bahwa dirinya dalam bahaya. Tingkat kewaspadaannya semakin tinggi.

Bahkan ketika seorang ninja hitam berkelebat melompati pagar tembok dari dalam keluar, Suro Bodong dengan cepat merapatkan tubuh ke dinding tembok tersebut. Gerakan orang yang melompat itu sangat gesit dan lincah. Ketika kakinya menapak ke tanah ia segera berdiri dengan lutut rapat dan agak merendah. Sementara itu, kedua tangannya memegangi gagang samurai yang berdiri tegak di depan dada kanannya. Ia siap menebas apa saja yang melintas di sekitarnya. Suro Bodong tidak langsung menyerang, sebab ninja itu juga tidak bergerak. Hanya kepalanya yang perlahan memutar dengan pandangan matanya yang tajam menyelidik sekeliling. Suro tak dapat melanjutkan pelariannya, karena ninja itu ada di jalan yang akan dilaluinya. Untung tak jauh dari Suro Bodong ada tanaman semak yang rimbun, bahkan daunnya ada yang sebagian menjalar ke tembok. Suro memanfaatkan tanaman itu sebagai tempat persembunyiannya.

Dari arah depan, muncul lagi seorang ninja hitam yang melangkah dengan pelan dan kepalanya bergerak ke sana sini, memeriksa keadaan. Suro ingat kata-kata almarhumah Sulastri, bahwa di luar tembok sering ada satu atau dua ninja yang melakukan penjagaan keliling. Mungkin ninja yang baru muncul itu salah satu petugas penjaga keliling yang selalu mengitari pondok ninja dari luar tembok.

Tetapi agaknya kehadiran penjaga keliling itu menimbulkan kecurigaan dari ninja yang tadi melompati pagar tembok.

Melihat temannya seolah-olah menghadang jalan seraya menyiapkan samurai, ninja yang baru datang itu juga mencabut samurai. Mungkin ia yakin ada bahaya yang mengancam. Tetapi ternyata dugaan ninja yang tadi melompati pagar, temannya itu adalah musuh yang sedang dicari. Karuan saja ia segera melesat dengan gerakan seperti bangau terbang, samurainya menebas leher temannya. Tetapi ditangkis oleh samurai yang diserang. Duel samurai terjadi sesaat, sementara itu Suro Bodong hanya mengintai dari celah dedaunan semak. Mata Suro Bodong menjadi terbelalak sedikit, lalu ia menghempaskan nafas, ketika itu ia melihat sendiri begitu cepat samurai itu berkelebat dan merobek punggung ninja yang diduga sebagai petugas penjaga keliling. Ninja yang tadi melompati pagar tembok meresa lega setelah mengetahui lawannya mati. Ia segera menelentangkan lawannya dan membuka kain penutup wajah. Kemudian ia sendiri terkejut dengan mata membelalak setelah tahu bahwa yang dibunuh baru saja adalah teman sendiri. Kegeraman terpancar dari gerak tangan yang menggenggam kuat. Penyesalan berubah menjadi nyala kemarahan yang membara. Ia segera melesat lari setelah ia menyadari kesalahannya. Ia lari menuju pintu samping di mana beberapa ninja sedang melangkah cepat menghampirinya.

“Aku salah duga.. !“serunya sewaktu melintas di depan persembunyian Suro Bodong.

Pada saat ninja itu telah melintas beberapa saat, Suro Bodong pun keluar dari persembunyian dan lari menjauhi rombongan ninja yang muncul dari pintu samping itu. Salah seorang ada yang berteriak:“Itu…!Itu orangnya.Tubuhnya memangagak gemuk!”

“Kejaaar. .!” seru ninja kuning yang agaknya bukan ninja yang dihajar Suro Bodong tadi.

Ada sekitar tujuh ninja hitam dan satu ninja serba kuning yang berlarian mengejar Suro Bodong.

Bahkan ada yang mengejarnya dengan cara melompat dari dahan pohon satu ke pohon yang lain. Ada pula yang berlari meniti bagian atas tembok pagar pondok dengan gerakan ringan dan cepat.

“Aku harus bisa menjauhi mereka. . !” gumam Suro Bodong sambil melarikan diri. “Belum saatnya aku bertindak! Aku harus tahu, siapa mereka dan mengapa aku dituduhnya sebagai mata-mata. .” Gerakan Suro Bodong begitu cepat, menyerupai hembusan angin badai yang tak mampu ditangkap oleh penglihatan. Ketika ia tiba di sebuah pohon yang melengkung ke sungai, ia segera meniti batang pohon itu, kemudian dengan gerakan ringan ia melesat, melompat seperti seekor garuda melintasi sungai. Ia tiba di seberang sungai dengan selamat. Tetapi ninja-ninja masih mengejarnya dengan cara seperti yang dilakukan Suro Bodong, melompat dari batang pohon yang melengkung ke sungai. Tak ada waktu bagi Suro Bodong untuk berlari, dan berlari terus. Ia masih tahan memperpanjang nafasnya. Ia masih mampu menyelinap dengan cepat dari semak ke semak, dari batang pohon ke cabang lainnya. Semua gerakannya sangat cepat dan tidak menimbulkan getaran pada daun yang dilaluinya. Suro menggunakan jurus melarikan diri yang disertai gerakan peringan tubuh cukup sempurna.

Sudah jauh ia dari pondok para ninja. Sudah tak terdengar gerakan para pengejarnya. Namun Suro Bodong tetap berlari terus. Sampai akhirnya ia menemukan perkampungan pada senja hari. Ia berhenti berlari, dan duduk di sebuah batu besar yang menjadi batas wilayah perkampungan itu. Di situ, renungannya mengembara ke mana-mana dalam upaya menenangkan pernafasannya yang ngosngosan.

Gemerisik rumpun bambu yang ada di belakangnya seperti sedang menaungi tubuh Suro Bodong dan mengipasi pikirannya saat itu.

Suro Bodong sendiri masih belum mengerti, mengapa mereka, para ninja itu menganggap

dirinya sebagai mata-mata suruhan orang? Padahal Suro melintasi daerah cadas gersang itu untuk menuju ke sebuah desa. Desa Tandang Cinde. Sebab ia mendengar dari Saga, anak petani yang ditolongnya (dalam kisah PEDANG URAT PETIR), bahwa Saga pernah mendengar nama Ratna Prawesti yang dibicarakan oleh para pedagang kain tenun dari desa Tandang Cinde itu. Sedangkan tujuan pengembaraan Suro Bodong adalah mencari Ratna Prawesti, kekasihnya yang hilang sejak penyerbuan orang-orang bertopeng di Kabupaten Jangga. Sebagai anak bupati, Ratna Prawesti sudah tentu tumbuh menjadi gadis yang cantik dan mempesona. Tak heran jika Gerombolan Topeng Setan yang membumi hanguskan kabupaten Jangga itu menculik Ratna Prawesti. Namun, itu pun belum tentu, sebab menurut beberapa dugaan orang yang sempat ditemui Suro Bodong, bisa saja Ratna Prawesti melarikan diri dan bersembunyi di suatu tempat untuk menghindari pembantaian yang akan dilakukan Gerombolan Topeng Setan. Hal itu membuat Suro Bodong serba bingung; ke mana ia harus mencari kekasihnya.

Tetapi sedikit berita yang ia peroleh dari Saga membuat Suro Bodong sedikit lega. Setitik harapan bagai membentang di setiap langkahnya. Ia harus pergi ke desa Tandang Cinde, tempat di mana Suro akan bertanya kepada penduduk desa tersebut mengenai Ratna Prawesti. Tetapi, dalam perjalanan menuju desa Tandang Cinde, ia tiba-tiba diserang ketika melewati daerah gersang. Ia nyaris mati dihimpit dua batu besar yang dipakainya bersembunyi. Lalu ia akhirnya pingsan dan ditawan oleh para ninja denganalasan dituduh sebagai mata-mata.

“Bah.. ! Memuakkansekali! Orang lain yang punya urusan, mengapa aku yang menjadi korban?!” gemtu Suro Bodong dengan tanpa menyadari bahwa senja semakin temeram.

“Kepung dia…!!”

Tiba-tiba terdengar seruan seseorang dari arah belakang Suro Bodong. Kemudian, keterkejutan Suro menjadi semakin membengongkan mulutnya ketika tahu-tahu beberapa orang bersenjata tombak, pedang dan lain-lain mengepungnya dengan rapat. Mereka menodongkan senjata masing-masing.

Mereka menampakkan wajah-wajah tak ramah dengan geram kemarahan yang ditahannya dalam hati. Suro Bodong masih terpukau oleh kejadian tersebut. Ia belum bisa bicara kecuali terbengong dan memandang orang-orang yang mengelilinginya dengan pandangan penuh keheranan. Saat itu, seorang lelaki yang lebih terhormat berbadan tinggi, tegap, segera berkata:

“Menyerahlah! Demi keutuhan nyawamu, jangan melawan! Kau harus kami tangkap, hidup maupun mati!”

“Hei, siapa kalian ini? Dan. . dan apa salahku?” Suro bingung. 3

PERGURUAN MerakSenggol terletak di kaki bukit Sendu. Pintu gerbangnya yang bergambar burung merak jantan itu terbuka, dan gambar merak tersebut terbelah menjadi dua bagian. Suro

Bodong menggerutu dalam hati, tetapi sesungguhnya hatinya itu menjadi penasaran: Mengapa ia tahutahu ditawan?Seoranglelakiberbadan kurus,jangkung, duduk disebuahkursi kayu berukirsederhana.

Lelaki berjenggot putih sampai di bawah leher itu memandang Suro Bodong dengan tatapan mata penuh kecurigaan. Mata lelaki tua yang cekung itu kelihatan seperti mata elang yang tajam. Ia mengenakan jubah putih kusam dengan pakaian dalamnya berwarna ungu tua.

Suro Bodong memandang orang-orang yang mengelilingi tempat pertemuan bertiang empat dan berlantai plesteran semen biasa. Gerakan mata Suro Bodong menampakkan kebingungan yang terpendam. Ketika itu, lelaki tua berjubah putih kusam berkata dengan suara yang penuh wibawa:

“Setiap pencuri, tidak akan mampu bersembunyi secara abadi. Sekali pun kau mampu melarikan diri tanpa diketahui siapa pun, namun sesungguhnya rumput mengetahuinya.”

Suro Bodong garuk-garuk kumisnya yang lebat dengan telunjuk. Ia kemudian berkata dalam keadaan tetap berdiri:

“Apakah kau sedang bicara dengan seorang pencuri?”

“Apakah kau tidak merasa menjadi maling?” balas lelaki tua itu dengan suara yang tenang, pelan. Matanya menyipit.

Hati Suro Bodong yang bergemuruh karena dongkol dicoba untuk diredakan. Ia hanya berkata dengan suara pelan, seperti menyepelekan keadaan dan orang-orang di situ.

“Banyak orang yang buruk rupa, yang tampangnya seperti penjahat, yang punya kumis seperti perampok, tapi belum tentu hatinya seburuk wajah.”

Lelaki tua berjubah putih dengan rambut botak bagian tengahnya itu tersenyum sinis. Ada seorang lelaki lain yang berdiri di sampingnya. Lalu ada seorang perempuan cantik berbadan tegap menyandang golok di punggung, berdiri di samping lelaki lain. Kemudian ada beberapa orang yang berjajar mengelilingi tempat tersebut dengan senjata di tangan masing-masing. Sedangkan lelaki yang tadi menangkap Suro itu ada di samping lain dari lelaki tua itu. Suro Bodong memandang hampir semua wajah, satu-persatu, sepertinya sedang mengingat-ingat wajah mereka. Dan Suro Bodong yakin, bahwa ia belum pernah berjumpa dengan satu wajah pun sebelum kejadian tersebut.

“Siapa kaliansebenarnya?” Suro Bodong bertanya setelah garuk-garuk kumis.

Ada senyum sinis yang mekar di bibir beberapa orang, terutama di mulut lelaki tua berjenggot putih. Namun Suro Bodong membiarkan kesinisan itu berkembang sesuka mereka. Dalam hati Suro Bodong berkata, bahwa ia pun mampu tersenyum sesinis mereka, tapienggan memamerkansaat itu.

“Kau hanya pura-pura,” kata lelaki tua. “Tapi biarlah kau puas dengan kepura-puraanmu. Kurasa kau perlu mengetahui dan mendengar sendiri dari mulutku, bahwa akulah yang bernama Resi Padma, ketua Perguruan Merak Senggol ini.. ” Resi Padma diam, memperhatikan reaksi Suro Bodong yang menjadi tawanannya itu sebenarnya menyembunyikan keheranan demi mendengar namanya, maka Resi Padma pun melanjutkan bicara. Ia sendiri, melangkah lebih mendekati Suro Bodong.

“Namamusiapa?”

“Suro Bodong.”. Suro menjawab tegas dengan mata keduanya menatap mata Resi Padma. “Kau benar-benar manusia berani mati, Suro.”

“Dari mana kau tahu?” tanya Suro tanpa gemetar. “Kau pencuri yang nekad dan. . cukup trampil.”

Suro Bodong agak terkejut, walau cepat menyembunyikan perasaan itu sehingga kelihatan tetap tenang. Namun sedikit kedipan mata Suro Bodong telah diketahui Resi Padma, dan ia tahu kalau Suro Bodong kaget ketika itu.

“Kau menuduhku, atau memaksaku untuk terlibat dalam urusanmu, Resi Padma?” tanya Suro Bodong setelah garuk-garuk kumisnya.

“Kau mau mengelak, atau mau berlagak tidak tahu, Suro Bodong?” ResiPadma ganti bertanya.

“Aku memang tidak tahu apa-apa. Bahkan aku tidak tahu mengapa kau dan murid-muridmu menahan aku. Tolong jelaskan sebelumaku marah. Sebentar lagi aku akan marah, tapi kalau belum tahu duduk perkaranya, aku ragu untuk marah.” Suro Bodong sengaja menampakkan keberaniannya bicara seenaknya di depan orang-orang Merak Senggol.

“Kau kami tuduh sebagai pencuri biadab!” geram Resi Padma. “Pencuri? Pencuriapa?”

“Pedang Kerak Neraka. .!” “Pedang… ? Pedang apa?”

“Pedang Kerak Neraka. Itu pusaka kami. Pedang itu milik kami, Perguruan Merak Senggol. Dan kau telah mencurinya dengan satu tujuan danentahatas perintah siapa.”

Kepala Suro Bodong manggut-manggut. “Jelas di sinilah letak kekeliruan ini,” katanya dalam hati.

“Resi Padma. . Kau percaya atau tidak, aku tetap akan mengatakan bahwa aku bukan pencuri yang kau maksud. Bukan! Kurasa kausalah tangkap. Permisi.. !”

Suro Bodong hendak pergi nyelonong begitu saja, namun dengan cepat dan sigap tujuh orang bersenjata tombak dan golok segera merapat di depan Suro Bodong, membuat sebaris pagar penghalang langkah Suro Bodong.

“Kau tidak dapat pergi begitu saja, Suro Bodong. Kau tidak dapat mengelak dari tuduhan ini,” kata seorang lelaki berbadan tinggi, tegap yang tadi menangkapnya dan membawanya ke perguruan tersebut. Suro Bodong membalikkan badan kembali. Memandang lelaki itu sebentar, kemudian menatap ResiPadma yang masih tenang-tenang saja.

“Dia bernama Lohan,” kata Resi Padma, yang dimaksud ialah lelaki berbadan tinggi, tegap yang tadi menangkap Suro di batas desa.

Sekali lagi Suro Bodong melirik Lohan. Lelaki itu usianya masih di bawah Suro Bodong. Ia mengenakan baju hijau dan celana hitam. Potongannya rapi. Pada ikat pinggangnya yang berwarna coklat tua itu terselip sepasang trisula tajam di kanan kiri. Bajunya yang berlengan buntung memperlihatkan bentuk lengan yang kokoh dan berurat kuat.

“Kau tak akan mampu mengalahkan jurus ‘Merak Trisula’nya yang cukup mengerikan itu, Suro Bodong,” tutur Resi Padma. Kemudian ia berjalan mendekati lelaki lain yang tadi berdiri di sampingnya sewaktu ia duduk

“Dan ini adik seperguruannya. Namanya Wangon. .!”

Suro Bodong memandang lelaki yang diperkenalkan dengan nama, Wangon. Tubuhnya agak

pendek dari Lohan. Berikat kepala putih dengan bintik-bintik biru. Ia mengenakan rompi coklat tanah dengan celana sebatas bawah lutut berwarna merah. Merah tua. Sabuknya yang lebar berwarna hitam itu menyelipkan sebuah senjata berupa tombak pendek, panjangnya menyerupai sebilah pedang.

Ujungnya adalah ujung tombak yang tajam dengan tangkai dari kayu mahoni hitam. Lelaki yang bernama Wangon itu mempunyai cambang tebal, namun bukan menjadi brewok. Kumisnya tipis, teratur. Usianya diperkirakan sejajar dengan usia gadis di sampingnya. Agaknya lebih muda dari Lohan. Pandangan matanya cukup tajam dan berbentuk bulat lebar.

Resi Padma tersenyum bangga dan berkata, “Tak seorang pun pernah lolos dari senjatanya yang bernama Nenggolo Kubur. Kurasa kau pun tak akan bisa lolos dariancaman Nenggolo Kubur itu, Suro.”

Tak sedikit pun Suro Bodong memberi komentar. Ia hanya memandang dengan tenang, sesekali garukgaruk kumisnya yang lebat tak terawat itu.

“Nah, yang ini adalah murid tertuaku. .” kata Padma seraya mendekati seorang gadis berbadan tegap dan gempal. “Dia bernama Ajeng Wasti. Murid tertua dari sekian murid yang ada di sini. Aku mendidiknya sejak ia remaja.. !”

“Ajeng Wasti.. ” Suro Bodong bergumam dalam hati. Tangan kirinya bertolak pinggang dengan santai, dan tangan kanannya sesekali garuk-garuk kumisnya dengan jari telunjuk. Matanya memperhatikan Ajeng Wasti dengan teliti. Ia menyukai bentuk bibir Ajeng Wasti yang mungil merekah bak kuncup melati. Ajeng memelihara kuku pada kedua pasang jari tangannya. Tapi bentuk kuku dan jarinya sungguh indah, sesuai dengan kulit tubuhnya yang kuning langsat. Ia mengenakan baju longgar berlengan panjang warna biru. Sedangkan celananya yang sebatas bawah lutut juga longgar berwarna hitam halus. Ia juga mengenakan ikat pinggang dari kain berwarna kuning tua. Ia tampak tegap.

Rambutnya yang sepanjang pundak diikat menjadi satu kucir, sehingga lehernya menampakkan kulit yang mulus tanpa kalung, tanpa cacad sedikit pun. Ia menyandang pedang di punggungnya bergagang putih gading. Matanya yang kecil tapi bukan sipit itu sesekali membuat Suro Bodong menggumam dan mengagumi dalam hati atas kebeningan dan keindahan sepasang mata Ajeng Wasti itu. Ketajaman matanya sempat menimbulkan kesan judes dan galak, namun cukup membuat hati lelaki menyalaknyalak

“Pedang Merak Kencananya sering memburu lawan tanpa ampun. Kurasa kau punakan menjadi buruan pedang itu, jika kau tidak mengembalikan pusaka kami, Suro Bodong.”

Suro tersenyum tipis. “Kalian tak pantas menuduhku segegabah itu. Kau, Padma… Sebagai ketua berpangkat Resi, kau tidak jeli memilih lawan dan menentukan tawanan. Aku bukan orang yang kau cari! Aku tidak pernah tertarik oleh pusaka orang lain yang sudah pasti tidak lebih unggul dari pusakaku sendiri!”

Resi Padma menggerakkan tangannya sebagai isyarat agar murid-muridnya tidak bergerak menyerang Suro Bodong.

“Suro, kami memang tidak melihat saat kau mencuri pusaka Pedang Kerak Neraka dari kamar pusaka itu, tetapi seorang penduduk yang biasa mengarit rumput di sekitar sini melihat kau. Tepatnya melihat sosok orang berpakaian serba hitam sampai di wajahnya, dan menyandang sebilah pedang panjang di pinggang. Aku tahu, itu senjata samurai. Persis seperti yang ada pada dirimu! Jelas, bukan?!”

Suro Bodong kelihatan jelas kaget. Ia baru menyadari bahwa ia pada saat itu masih mengenakan baju ninja yang dipakainya menyamar untuk keluar dari pondok para ninja. Ia juga masih menyelipkan sebuah samurai di pinggangnya. Dengan pakaian serba hitam membungkus tubuhnya. Hanya saja bagian wajah telah dilepas, sehingga semua wajahnya kelihatan. O, ya.. ternyata inilah yang menyebabkan ia dicurigai, bahkan dituduh terang-terangan sebagai pencuri pusaka Pedang Kerak Neraka.

“Brengsek.. ! Gara-gara pakaian ini aku jadi mendapat kesukaran yang memuakkan begini,”

gerutu Suro dalam hati. Tapi betapapun juga, kini legalah hati Suro Bodong, bahwa sebenarnya semua ini hanya kesalahpahaman yang harus segera diluruskan. Ia bahkan tersenyum geli sewaktu membayangkan, betapa bodoh dan akan kecelenya mereka jika mereka tahu, bahwa Suro Bodong adalah manusia biasa yang tak pernah mencuri pusaka dan bukan anggota ninja. Hati Suro pun lega, karena kini ia tahu bahwa pencuri pusaka Pedang Kerak Neraka adalah seorang anggota ninja, dan Suro tahu di mana markas mereka.

Sebab itu, Suro Bodong lalu segera berkata dengan sedikit senyum geli tersungging di bibirnya: “Lucu. .”

“Apanya yang lucu?!” hardik Wangon dengan melangkah maju. Hanya dia yang sejak tadi tampak tak sabar memendam kemarahannya.

“Sabar. .“sergah Suro Bodong. “Ini suatu kekeliruan. Percayalah, ini kesalahpahaman saja. Jangan ada yang menjadi korban karena masalah ini. Akan kujelaskan bahwa.. “ “Terlalu banyak bicara kau, hiaaat.. !!”

Wangon benar-benar tak sabar. Ia menyerbu Suro Bodong dengan melompat dan hendak menerkam Suro. Tetapi Suro Bodong tak mau melukai Wangon. Ia sebenarnya bisa saja

menggerakkan kakinya ke depan atas, dan dada atau leher Wangon akan terkena tendangannya. Tetapi Suro ternyata hanya berkelit ke samping dan membiarkan Wangon menyerusuk ke lantai belakang dengan sedikit senggolan siku Suro. Kemudian ia mendekati Resi Padma dan berbicara dengan tenang. Santai sekali, seakan tidak terjadiapa-apa.

“Resi Padma, coba dengar dulu penjelasanku. .”

“Mengakulah dan kembalikan pedang itu sebelumWangon memukulmu dari belakang. .!” “Ah, dengarlah. Aku bukan. .!”

Kaki Wangon melayang lurus dan hendak menerjang punggung Suro Bodong. Terpaksa Suro Bodong merunduk sedikit dan mengibaskan kaki kanannya ke belakang seraya berkata:

“.. aku bukananak kecil yang tak bisa melawan.. !”

Kaki Suro Bodong menghentak dan mengenai paha Wangon. Wangon limbung, namun sempat

meluncurkan pukulan tangan kirinya ke wajah Suro Bodong hingga Suro terjengkang ke belakang. Suro menggeragap karena mau jatuh. Tiba-tiba kaki Lohan yang berada tak jauh dari Suro menendang pinggang Suro dalam satu teriakan pelampiasan amarah. Hentakannya begitu kuat, membuat Suro mengaduh dan semakin limbung. Ia menggeloyor ke kanan seraya tangannya menggeragap, ingin memegang sesuatu untuk bertahan agar jangan sampai jatuh. Tetapi keadaan itu justru disambut oleh Ajeng Wasti dengan satu pukulan kuat di pelipis Suro Bodong.

“Aaaauuuww. .! ” Suro Bodong berteriak. Pandangan matanya jadi berkunang-kunang. Ketika itu, ia sempat melihat sekelebat sosok Resi Padma duduk di kursinya, seakan membiarkan murid-muridnya bertindak main hakim sendiri.

“Hiaaat. .!!” teriak Wangon dengan melompat dan bersalto satu kali menuju Suro Bodong. Suro sempat mengibaskan kepala untuk mengusir kunang-kunang dalam pandangan matanya. Dan ia segera berguling ke lantai beberapa kali, sehingga seranganWangon tidak mengenai sasaran.

“Kau harus mampus kalau kau tak mau mengaku dan menyerahkan pusaka Pedang Kerak

Neraka. Hiaaat. .!!” teriak Lohan sambil meloncat dengan jurus tendangannya. Tetapi tiba-tiba ia jatuh sendiri sebelum menyentuh Suro Bodong. Kejadian itu sempat membuat Suro Bodong heran. Siapa yang telah memukul Lohan?

Suara Resi Padma terdengar cukup jelas, “Serahkan kepada Wangon. Kau sudah menunaikan tugas dengan baik, Lohan. Kau telah berhasil menangkap pencurinya, kini giliran Wangon yang bertugas memaksa pencuri ini agar mengembalikan pusaka kita! Jangan turut campur urusan Wangon. Kecoa ini pasti mudah dijatuhkan olehWangon.. !” Lohan dan Ajeng Wasti mundur. Tempat menjadi lega, seakan sengaja disediakan untuk suatu pertarungan. Suro Bodong sadar akan bahaya yang tak mudah ditawar untuk berdamai. Maka, ia segera bangkit dan berjaga-jaga menyambut seranganWangon.

Wangon membuka jurus, menggerakkan kedua tangannya ke atas kepala dengan gerakan bagai hendak membanting sesuatu dari punggungnya. Kakinya renggang dan merendah, matanya tak berkedip memandang Suro penuh dendam.

“Hiaaaat. .!!” teriaknya sambil melompat untuk menendang dengan kaki kiri.

Suro merundukkan badan, ternyata kaki kanannya yang dipakai menendang Suro. Tentu saja Suro Bodong kelabakan. Untung dengan cepat tangan Suro berkelebat menangkis tendangan tersebut.

Dan tanpa ragu-ragu lagi ia memukul pinggang belakang Wangon dengan pukulan yang keras. Wangon terdengar mengaduh tertahan.

Ketika kaki Wangon menginjak lantai, kaki kanan Suro Bodong telah bergerak setengah lingkaran dan mengenai punggung Wangon dengan telak. Akibatnya, tubuh Wangon terhempas ke

depan dan nyungsep mencium lantai. Bibirnya ada yang terluka dan berdarah. Wangon tidak peduli. Ia

segera bangkit dengan nafas ngos-ngosan.

“Biadab! Kau pencuri biadab.. ! Kembalikan pusaka itu, atausekarang juga aku membunuhmu?!”

“Hei, kalau membunuh, silakan. Mumpung di depan gurumu. Siapa tahu kau mendapat pujian tujuh turunan!” kata Suro Bodong seenaknya. Ia garuk-garuk kumis sekali, lalu bersiap menghadapi Wangon.Senjata Nenggolo Kubur dicabut. Tangan Wangon menggenggam erat gagang senjata yang panjangnya antara dua jengkal. Ia memainkannya sebentar di depan wajah, mengibas kanan kiri dan memutarnya dengan jari jemari, lalu menggenggamnya lagi seraya melesat menyerang Suro Bodong.

“Mampus kau, Maliiii nng! Hiaat.. !” Suro Bodong memiringkan tubuh ke kiri. Senjata yang mirip tombak pendek itu hampir saja menusuk lehernya. Tangan pemegangnya ditepiskan oleh tangan kanan Suro Bodong. Sekalian tangan kiri Suro menghantam ketiak Wangon, namun tangan kiri Wangon berhasil menangkisnya dengan telapak tangan.

Suro Bodong segera berguling lagi di lantai ketika senjata Nenggolo Kubur itu melesat ke belakang, hampir mengenai kepala Suro Bodong. Pada saat tubuhnya berguling di lantai, kedua kaki Suro menendang cepat bergantian. Tendangan itu berhasil dielakkan dengan cara tubuh Wangon melompat dan bersalto ke depan. Suro Bodong sendiri segera bangkit dengan menghentakkan kedua tangannya ke lantai, tubuhnya melesat di udara tanpa bersalto.

Kakinya menapak di lantai itu dengan sedikit merendah. Dan Wangon memanfaatkan keadaan Suro yang kurang siap itu dengan melancarkan jurus Nenggolo Kuburnya. Ujung senjata yang merupakan mata tombak itu ternyata bisa melesat tanpa rantai atau tali dari tangkainya. Senjata itu seperti peluru yang mampu melesat dengan kecepatan tinggi. Suro Bodong terbelalak melihatnya.

Untung ia segera melompat ke kiri, dan mata tombak yang melayang cepat tanpa pengikat itu menancap pada tiang yang ada di belakang Suro Bodong. Tiang kayu itu ditembusnya seperti jarum menembus batang pisang. Kemudian mata tombak itu bergerak mundur, menerobos lobang pada tiang itu, lalu melesat mundur sampai menempel pada tangkainya seperti semula. Jelas suatu serangan senjata tajam yang digerakkan dengan ilmu khusus yang ada pada Wangon. Itulah kelebihannya senjata Nenggolo Kubur. Menyadarihal itu,Suro Bodongjadi lebih hati-hati.Ia segera mencabutsamuraisekalian dengan sarungnya. Wangon semakin sigap. Ia perlu hati-hati dengan samurai itu. Namun ternyata Suro Bodong bukannya mencabut samurai dari sarungnya, melainkan membuangnya begitu saja, dan ia siap menghadapi serangan Wangon dengan tangan kosong. Rupanya Suro Bodong merasa kurang bebas bergerak jika menyelipkan senjata di pinggangnya, sebab ia membuang samurai tersebut.

“Hiaat. .!!”

Suro melompat dan meluncur ke arah Wangon dengan jurus tendangan samping. Tetapi Wangon segera melancarkan balasan dengan membuat mata tombak itu melesat lagi dari ujung

tangkainya. Saat itu, Suro Bodong meludah dengan cepat sebanyak tujuh kali ke telapak tangannya. Dan ketika senjata itu meluncur ke dadanya, Suro segera menangkap dan menggenggamnya erat-erat.

Tubuh Suro Bodong yang sedikit gemuk itu berdiri dengan tegap seraya tersenyum. Tangannya yang mengepal terangkat ke atas, persis di depan wajahnya. Semua mata yang menyaksikan hal itu sama membelalaknya. Mereka heran dan kagum melihat ujung senjata Nenggolo Kubur mampu digenggam erat oleh Suro Bodong, padahal tak satu orang pun pernah berhasil menghindari senjata itu, apalagi memegangnya seperti menangkap seekor lalat.

“Coba tebak, apa yang kugenggam? Nyamuk atau gajah?!” kata Suro kepada Wangon seraya tersenyum sinis. Wangon kelihatan mengggeragap. Ia segera mengacungkan tangkai senjata itu. Tangan kirinya kaku, semua jarinya terbuka dan berada di depan telinga. Ia menggeram dengan otototot tangan mengeras. Bahkan tangannya gemetar karena tenaganya dipakai untuk menyedot kembali ujung senjata Nenggolo Kubur yang digenggam Suro Bodong. Tetapi Suro Bodong yakin bahwa Wangon tak akan berhasil mengerahkan tenaga dalamnya untuk menyedot ujung senjata Nenggolo.

Suro Bodong seperti tidak menghiraukan erangan Wangon yang sampai mengucurkan keringat. Ia bahkan berbalik, berjalan mendekati Resi Padma, dan berkata:

“Bisa kautebak? Apa yang kugenggam? Semut atau kuda?!”

Resi Padma membentangkan tangannya karena Lohan dan Ajeng Wasti hendak mencabut

senjata masing-masing. Ia tak mau kedua murid kesayangannya itu menyerang Suro Bodong. Resi Padma hanya berkata kepada Suro:

“Aku tahu, kau menahan rasa sakit dalam menggenggamsenjata itu. Telapak tanganmu terbakar dan kau mati-matian menahannya, bukan?”

Suro Bodong hanya tertawa pendek, menggaruk kumisnya satu kali kemudian baru berkata: “Kaupikir ini senjata ampuh, ya?” Suro Bodong menggeleng dengan tersenyum menjengkelkan Resi Padma. Sambungnya lagi,

“Tidak. Senjata ini tidak berarti di tanganku! Kalau aku mau, bisa kuremas sampai hancur jadi serbuk besi. Tapi kalau kau mau mendengar penjelasanku, akan kukembalikan kepada tangkainya. .!”

Wajah-wajah orang perguruan Merak Senggol menjadi tegang. Wangon sendiri masih berbekah bekuh menguras tenaga dalamnya untuk menarik kembali ujung senjatanya. Resi Padma merasa kasihan kepada Wangon. Ia hanya menghela nafas, lalu berkata dengansuara pelan:

“Jelaskanlah. .! Tapiaku tidak menjamin untuk mempercayai penjelasanmu, ya?”

Suro Bodong tertawa agak keras. Ia melemparkan mata tombak ke lantai. “Klinting.. !” Wangon menjadi lega, kemudian tanpa banyak menguras tenaga, mata tombak itu melesat kembali ke tempat, pada ujung tangkainya. Suro Bodong mengibas-ngibaskan tangannya dengan cara menepukkan ke telapak kiri beberapa kali, sepertinya ia sedang menghilangkan debu pada telapak tangannya. Ia sangat santai, melirik Wangon dengan senyum kemenangan. Dan Wangon hanya diam, bagai tak tahu harus berbuat apa.

“Apa penjelasanmu, Suro Bodong?” Suro memandang Resi Padma, “Kalian semua salah duga.

Entah pura-pura salah, atau sengaja cari sasaran. Yang jelas bukan aku yang mencuri pedangmu itu, Resi Padma.”

“Orang yang melihat pencuri itu menyebutkan ciri-ciri yang ada padamu: pakaian serba hitam sampai menutup kepala, menyelipkan pedang panjang, dan.. “

“Dan ini bukan pakaianku!“sahut Suro Bodong. “Itu juga bukan pedangku. Bukan samuraiku.”

Karena Resi Padma sangsi, maka Suro Bodong segera melepaskan ninjanya. Di balik pakaian serba hitam itu, ia masih mengenakan pakaian yang sebenarnya, yaitu celana biru tua dan baju merah.

Keduanya sudah tercabik-cabik akibat cambukan Sargulo sewaktu ia ditawan. Suro kelihatan berlengan luka. Darah kering di sekitar luka menampakkan hal itu terjadi sudah beberapa waktu. Semua mata tertuju pada Suro Bodong yang kini kelihatan berambut panjang tak teratur dan berikat kepala merah darah. Bajunya yang tak pernah dikancingkan itu menampakkan betul pusernya yang bodong keluar. Ia berkata, “Inilahakusebenarnya!”

ResiPadma berdiri. “Kenapa lenganmu itu?”

“Seseorang telah menyerangku. Lalu aku ditawan dan disiksa. Dituduh sebagai mata-mata musuh mereka. Kemudian aku menyamar sebagai ninja dengan pakaian ini. Jika memang pencuri pusakamuadalah orang berpakaian serba hitam maka aku berani memastikan, orang itu adalah ninja!” 4

PERGURUAN Merak Senggol menyadari kekeliruannya selama ini. Suro Bodong dijamu sebagai tamu. Resi Padma yang arif, tak segan-segan meminta maaf berulang kali, bahkan ia berkata kepada Suro: “Aku akanberterimakasihbanyak-banyak,seandainya kaumau membantukami, SuroBodong.”

“Aku malas membantumu, Resi Padma. Karena aku punya urusan sendiri,” jawab Suro Bodong seenaknya, lalu ia garuk-garuk kumisnya yang tebal.

“Bagaimana kalau kami membantu menyelesaikan urusanmu?” cetus Ajeng Wasti yang sejak tadi duduk di samping Resi Padma memperhatikan Suro Bodong.

“Benar,” sahut Lohan. “Kami tidak segan-segan membantumu, jika kami pun kaubantu dalam masalah pencurian Pedang Kerak Neraka ini.”

“Apa di antara kalian ada yang sanggup membantu menyelesaikan urusanku?” Suro Bodong menampakkan kesangsiannya.

Mereka duduk bersila di sebuah kamar. Tak ada murid lain yang ada di situ kecuali Lohan, Wangon dan Ajeng. Pembicaraan tersebut, sudah menjadi pembicaraan penting yang agaknya bersifat rahasia.

“Apa sebenarnya urusanmu itu, Suro. Katakanlah kepada kami. Barangkali kami, orang-orang perguruan Merak Senggol bisa menjadi pihak yang kamu harapkan selama ini.” Resi Padma bicara dengan pelan namun berwibawa. Sesekali mereka saling meneguk secangkir teh manis kental yang dihidangkan di depan mereka masing-masing.

“Aku mencari kekasihku. Namanya Ratna Prawesti. .” ujar Suro Bodong sambil duduk bersila dan merenung. Kini ia bahkan duduk dengan bersandar pada dinding, salah satu kakinya ditekuk sehingga lututnya dekat dengan dagu.

Resi Padma dan ketiga muridnya saling pandang dan menggumamkan nama kekasih Suro.

Kening mereka saling berkerut. Mereka saling bertanya-tanya dalam hati, siapa Ratna Prawesti dan di mana kira-kira mereka pernah mendengar nama tersebut. Suro Bodong melanjutkan bicaranya dengan kedua tangan tertumpang pada lutut kaki yang berdiri itu.

“Rahia Prawesti bertubuh lencir. Cantik. Kulitnya kuning langsat. Matanya bulat bening. Indah sekali. Aku paling suka memperhatikan kebeningan matanya ketimbang harus memandang bulan di waktu malam. Apalagi bibirnya yang semerah delima merekah, ah. . sering kali membuatku sesak nafas dan terengahengah. Dan membuat aku suka mabok darat, adalah jika aku melihat ia tersenyum.” Suro memandang Lohan. “Kau tahu, bagaimana senyuman yang memabokkan dari seorang perempuan?”

Lohan menjawab setelah berfikir sejenak, “Meringis. .!”

“Ah, itu senyum kuntilanak. .!” Suro Bodong bersungut-sungut, dan mereka tersenyum geli. Suro Bodong menegaskan pendapatnya, menuturkan kata seakan membanggakan kecantikan kekasihnya.

“Kalau dia tersenyum, ada lesung pipi di kedua pipinya, itulah yang sering membuat aku mabok tanpa tuak. Seimbang sekali dengan hidungnya yang kecil, bangir dan rasa-rasanya enak untuk digigit ujungnya.”

Lohan dan yang lain sempat tertawa pendek. Geli. Bahkan Resi Padma tersenyum-senyum seraya memperhatikan kesungguhan Suro dalam bercerita.

“Ada ciri-ciri lainnya?” tanya Ajeng Wasti.

“Dia. . dia memakai gelang kaki perak bermata batu merah delima. Itu gelang kaki lambang kebangsawanan keluarganya. Sayang.. semua keluarganya telah menjadi arang. Dibakar habis oleh orang-orang dari Kelompok Topeng Setan. Aku terlambat datang ke rumahnya. Aku tidak menemukan mayat Ratna kalau memang ia ikut terbakar. Tapi, kurasa ia tidak ikut terbakar. Orang-orang Topeng Setan sangat bodoh kalau membakar perempuan secantik dia. .”

Hening tercipta di antara mereka berlima. Resi Padma diam termenung, seperti halnya Suro Bodong yang bagai sedang menerawang, mengingat-ingat keindahan bersama Rama Prawesti.

“Kamiakan membantumu untuk mencari perempuan itu,” kata ResiPadma. “Tetapi, sebelumnya kami minta bantuanjuga kepadamu untuk merebut kembali pedang pusaka kami itu, Suro. Pedang itu. .”

Ucapan Resi Padama itu terhenti. Mereka mendengar suara gaduh di luar kamar. Lohan

diperintahkan ke luar untuk melihat apa gerangan yang membuat kegaduhan itu. Resi Padma meneruskan ucapannya tadi.

“Pedang itu sangat berbahaya jika jatuh di tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Dunia bisa hancur kalau pedang itu dalam kekuasaan Sang Angkaramurka. Karena itu, aku harus berusaha merebut kembali pusaka Pedang Kerak Neraka peninggalan kakek buyut guru kami, ini demi menyelamatkan dunia yang kita huni untuk kerurunan kita di kelak kemudian hari. Dan… aku melihat ada kunci pada dirimu, Suro Bodong. Selain kau mempunyai ilmu yang. . kamiakui cukup tangguh, juga karena kau pernah menjadi tawanan kelompok ninja itu. Paling tidak kamu tahu di mana letak sarang mereka.”

“Ah, malas aku, Resi. Aku segan ikut campur urusanmu. Aku mau istirahat malam di sini, dan besok aku mau pergi mencari Rama Prawestiku.” Suro mendekatkan wajah dan berkata dalam bisikan,

“Aku sudah tak tahan ingin menciumnya dan menggigit bibirnya yang segar itu.. “

Resi Padma tersenyum tipis, tetapi Ajeng dan Wangon tertawa kecil. Pada saat itu, wajah-wajah mereka menjadi tegang, karena Lohan muncul dan membawa seorang murid yang dalam keadaan terluka dadanya, dekat dengan pundak.

“Kenapa dia?!” Ajeng menyambut dan ikut menolong orang yang terluka. Mereka membawanya kepada ResiPadma yang masih duduk dengan tenang di tempatnya sekali pun yang lain berdiri.

“Ia diserang orang berkerudung hitam di pos perbatasan wilayah,” tutur Lohan. Orang itu mengerang lemas. Suro Bodong membelalakkan mata, karena melihat luka di dada atas itu sama dengan luka yang pernah dialami pada lengannya. Bahkan pada luka itu masih tertancap senjata rahasia; bintang bersudutempat, persis dengan senjata yang melukai Suro.

“Entah apa maksud orang yang melukainya, tapi aku tahu pasti bahwa orang itu adalah ninja!

Dulu lenganku ini juga terkena senjata rahasia seperti yang menancap di dada orang ini,” ujar Suro Bodong yang ikut memeriksa.

Resi Padmi manggut-manggut. “Aku juga tahu. Aku tahu persis siapa itu ninja! Aku tahu jelas, bagaimana gerakan mereka. .”

“Senjata ini beracun ganas. Dulu hampir saja aku mati kerena racun kalau saja aku tidak menyalurkan hawa mumi dari dalam lobang lukaku.. ” kata Suro Bodong seraya berusaha mencabut bintang bersudut empat yang menancap pada dada orang itu.

“Bawa dia ke kamarku.. ” perintah Resi Padma, lalu Lohan danWangon menggotong orang yang terluka dan yang sudah pucat pasi, nyaris tak dapat bemafas lagi.

Suro Bodong melangkah ke luar diiringi Ajeng Wasti. Suro mendengar Ajeng bicara, sepertinya ditujukan pada diri sendiri. Waktu itu, Suro Bodong sedang garuk-garuk kumisnya dan memandang langkah kakinya sendiri.

“Sebuah tantangan yang datang tidak tanggung-tanggung. Kurasa sudah saatnya kami bergerak.”

Suro Bodong berhenti dan duduk di sebuah lantai tangga dari ruang yang mirip pendopo itu.

Ajeng berjalan terus. Namun begitu ia mengetahui Suro Bodong duduk, ia pun membalik dan ikut duduk di samping Suro, namun berada pada lantai tangga atasnya. Ruang yang mirip pendopo itu mempunyai lantai bertangga empat baris dari halaman.

“Tolong berikan arah tempat sarang mereka,” pinta Ajeng. “Lalu, apa yang akan kau lakukan?!”

“Biar kami datang sendiri ke sana dan membuat perhitungan dengan para ninja. Aku sanggup membasmi mereka dengan sepuluh anak buah pilihanku.” Ajeng berkata dengan tegas dan penuh semangat.

Suro Bodong garuk-garuk kumis lagi sambil menggumam.

“Mereka tidak seganas singa lapar. Mereka melebihi singa lapar yang sedang sakit gigi. Ganas sekali dan punya berbekalan ilmu yang cukup tinggi.”

“Jangan menganggap remeh keadaanku. Apapun jadinya, Pedang Kerak Neraka harus

diselamatkan dari tangan-tangan iblis berwajah manusia. Aku tak takut mati demi merebut pusaka leluhur perguruan Merak Senggol ini. .!” Suro Bodong memperhatikan kecantikan Ajeng Wasti dalam dadanya menjadi bergemuruh.

Wajah cantik yang cemberut itu semakin menggugah kejantanannya. Tetapi Suro Bodong dapat bertahan diri. Pandangan matanya bertabrakan dengan lirikan mata Ajeng Wasti. Umumnya, orang akan segera menghindari tatapan mata seperti itu, karena ketahuan kalau ia telah mencuri pandang dengan nakal.

Tetapi, Suro Bodong tidak demikian. Suro Bodong tidak buru-buru mengalihkan pandangan matanya, melainkan semakin lekat ia memandang. Semakin berani ia tersenyum kendati senyumannya tidak cukup dijadikan modal rayuan.

“Kenapa memandangku begitu?” ketus Ajeng. “Aku suka melihat matamu.”

“Tapi kenapa sesekali melirik ke dada?”

“Aku suka melihat belahan dadamu di balik baju yang terkuak sedikit. Kalau terbuka semua malah tidak sedap.”

Ajeng marah. Ia hendak menampar wajah Suro Bodong, tapi Suro Bodong dengan tangkas memegang tangan Ajeng Wasti

“Kau buaya!” geram Ajeng.

“Ah, sekali tempo jadi buaya tak apa. Masa selamanya aku harus menjadi kadal?” Suro Bodong tertawa pelan. Ajeng Wasti menarik tangannya dan mendengus kesal.

“Aku pengagum perempuan cantik,” kata Suro. “Tapi sebaliknya, aku dianggap racun bagi wanita cantik. Banyak wanita cantik membenciku. Tapi aku tidak pernah peduli. Kalau aku senang, ia akan kupandang. Kalauaku tak senang, ia akan kutendang. Itu pedoman hidupku.”

Ajeng Wasti pergi, membiarkan Suro Bodong duduk di lantai tangga sendirian. Suro Bodong semakin tertawa kendati tetap pelan.

Suro Bodong malas untuk mengejar atau mengikuti Ajeng. Ia lebih tertarik ngobrol dengan beberapa murid Resi Padma yang masih tergolong murid-murid tanggung. Mereka bergerombol di bawah pohon, mendengarkan beberapa kisah petualangan Suro Bodong yang dituturkan dengan lucu.

Namun, beberapa saat mereka bubar karena Resi keluar bersama Lohan dan Wangon. Mereka tertegun melihat Lohan danWangon menggotong orang yang tadi terluka. Orang itu telah menjadi mayat.

Suro Bodong mendekati Resi Padma yang murung. Resi Padma hanya menghela nafas, kemudian berkata pelan:

“Aku gagal menyelamatkan dia. Racun itu sangat ganas! Cepat sekali kerjanya.” Suro Bodong memperhatikan Lohan dan Wangon yang disambut beberapa murid lainnya. Mereka menampakkan kemurungan dalam duka atas kematian temanseperguruan mereka itu.

“Bodoh kau!” kata Suro Bodong tanpa basa basi lagi. Resi Padma tak mau menyangkal sedikit pun. Suro Bodong bahkan berkata lebih berani lagi, tanpa memikirkan apakah ucapannya menyinggung hati Resi Padma atau tidak.

“Hanya mengobati murid yang terluka seperti itu saja kamu tidak mampu. Sebaiknya jangan jadi guru. Jangan jadi Resi. Memalukan jabatan para Resi lainnya.”

Resi Padma diam. Tangannya saling lipat di dada. Ia memandang dengan haru mayat orang itu yang dibawa ramai-ramai ke belakang bangunan utama.

“Kalau tahu begitu, tadi aku saja yang menanganinya!” gerutu Suro Bodong yang merasa jengkel melihat kenyataan itu. Resi Padma tidak melirik sedikit pun, tapi ia berkata:

“Apa kausanggup menyelamatkan muridku tadi?”

“Kenapa tidak?! Itu pekerjaan ringan. Aku memang bukan dukun bayi yang bertugas menyelamatkan nyawa orang dari kelahiran, tetapiakusering mengobati orang terluka.” “Kenapa tadi tidak langsung kautangani?!”

“Lho, aku kan bukan gurunya. Yang menjadi gurunya kan kamu. Tentu saja aku tidak ingin menghalangi kemauan seorang guru untuk memperlihatkan kasih sayangnya kepada muridnya. Tapi kalau kenyataannya begini, aah.. kau memalukan jabatan para guru Iainnya! Jadi guru itu harus pandai, jangan lebih pandai dari muridnya. Jangan hanya bisa memberi hukuman kepada muridnya, tetapi harus bisa memberi penyelamatan bagi langkah-langkah muridnya. Uhh. .! Payah! Kamu belum pantas jadi guru! Jadi juru kunci sajalah. .!”

“Hei, kenapa kau jadi marah padaku, Suro?!” hardik Resi Padma yang agaknya tak tahan lagi mendengar omelan Suro.

“Itu lebih baik. Kata-kataku itu akan berguna buat kamu, supaya kelemahanmu yang selama ini belum kausadari, menjadi terbuka dan kau bisa segera memperbaiki dirimu! Kalau aku menyanjung kamu terus, kamuakan lelap dalamangan-angan dan lupa pada kelemahan!” 

Ketika malam menjadi makin gelap, Suro Bodong masih asyik bertukar pendapat dengan Resi Padma. Waktu itu Resi Padma telah menugaskan Wangon untuk memanggil Ajeng Wasti. Tetapi beberapa saat kemudian, Wangon datang menghadap.

“Ajeng tidak ada, Guru.” “Ke mana dia?”

“Pergi.” “Pergi ke mana?!” hardik ResiPadma.

“Menurut keterangan para murid lainnya, Ajeng pergi bersama sepuluh orang kita. Konon, mereka hendak menyerang pondok para ninja untuk merebut pusaka kita, Guru.”

“Gawat.. !” Suro Bodong yang tegang. Resi tetap tenang. “Dia perlu disusul, Resi Padma! Dia dan orang-orang pilihannya dalam bahaya. Mereka tak akan mampu melawan para ninja yang mempunyai ilmu yang cukup tinggi serta banyak tipuan yang mampu merenggut nyawa lawan.

Lohan muncul dengan tergesa-gesa. “Rupanya Ajeng telah pergi bersama kesepuluh orang pilihan, Guru. Mereka menyerbu ke pondok para ninja. Aku perlu menyusulnya dan. .!”

“Tidak perlu,” tukas Resi Padma. “Aku percaya, ia akan selamat. Aku membekali dia banyak ilmu sejak ia masih sangat remaja. Aku tahu, ia mampu membantai semua para ninja sekali pun musuhnya itu sebenarnya memang ulet dan sadis. Kejam! Para ninja itu memang dicetak untuk menjadi orang kejam. Pembunuh bayaran yang berdarah dingin!”

Suro Bodong melanjutkan memakan jagung bakar, sebab ia tadi minta dibuatkan jagung bakar oleh kepala pelayan di Perguman Merak Senggol itu. Kini ia sesekali menikmati jagung bakar kesukaannya seraya mendengarkan kata-kata ResiPadma.

“Guru kelihatannya mengenal betul tentang ninja,” ucap Wangon dengan hati-hati. Resi Padma mengangguk. Tangannya asyik membelai-belaijenggot putih yang panjang sampai di bawah leher.

“Guruku seorang paderi Budha,” tutur Resi Padma. “Selain menyebarkan agama, beliau juga mengajarkan ilmu kanuragan. Sebenarnya ia berasal dari Himalaya, sebuah pegunungan dingin yang jauh dari tanah Jawa. Tetapi dalam perjalanan lautnya, kapalnya pecah dan ia terdampar di tanah Jawa ini.. !” “Apa hubungannya dengan para ninja itu?” tanya Wangon. Suro Bodong diam saja, tangannya asyik memetik-metik biji jagung dan melemparkan ke dalam mulutnya. Tetapi ia tak mengalihkan perhatiansedikit pun. Semua kata-kata ResiPadma disimaknya baik-baik.

“Pada umumnya, setiap paderi menguasai ilmu bela diri yang sama. Mereka menyebarkannya dari pegunungan Himalaya, ke gurun Gobi, kemudian ke dataran Cina, lalu ke negeri Matahari Terbit.

Dalam petualangannya itu, guruku mempunyai seorang murid berasal dari Tibet. Pada suatu hari, ketika guru mengangkat aku sebagai murid, orang Tibet itu pergi dengan menumpang kapal dagang milik saudagar Cina. Ia pulang ke negerinya tanpa pamit, sebab ia tidak setuju jika guru mengangkat aku menjadi murid. Dan orang itulah yang telah menguasai ilmu warisan guru. Beberapa puluh tahun kemudian, kami mendengar kabar dari para pelaut Sriwijaya, bahwa orang yang menjadi bekas muridku itu telah mendirikan suatu perguruan sendiri di negeri Matahari Terbit. Mereka menamakan diri sebagai ronin, atau jago samurai yang hidup sebagai pengawal sewaan, pembunuh bayaran,bagi siapa saja yang membayarnya. Guruku menyebutnya : ninja! Ajaran-ajarannya keras. Sudah tidak mengenai belas kasihan sedikit pun. Sudah tentu bekas murid guruku itu mengetahui adanya pusaka Pedang Kerak Neraka. Dan mungkin ia yakin betul bahwa pedang itu ada di tanganku. Karena itu, entah dia sendiri atau muridnya, berusaha keras untuk memperoleh pedang pusaka tersebut. Padahal guruku wanti-wanti, agar Pedang Kerak Neraka itu jangan sampai jatuh di tangan orang lain. Sebab jika disalahgunakan, sangat besar bahaya yang akan timbul dan melanda di seluruh dunia.” “Kalau begitu,“sela Lohan, “Guru juga mempunyai jurus-jurus ninja?”

“Sebagian, dari ilmu yang kuajarkan di Perguruan Merak Senggol ini memang berdasarkan ilmu para paderi. Hanya saja aku telah merubah dan mengembangkannya menjadi satu rangkaian ilmu yang hanya ada di Perguruan Merak Senggol ini,” tutur Resi Padma. “Tapi terlepas dari masalah itu, yang terpenting saat ini adalah memperoleh kembali Pedang Kerak Neraka, supaya tidak menjadi sumber penyakit bagi kehidupan di seluruh jagad raya ini.”

Suro Bodong termenung di bawah siraman cahaya purnama. Kalau memang Pedang Kerak

Nerak itu adalah sangat berbahaya jika disalahgunakan, maka sudah selayaknya ia ikut campur menyelamatkan pedang tersebut. Bukan pedang sebenarnya yang diselamatkan, melainkan

kelanggengan hidup di jagad raya ini yang sebenarnya diselamatkan.

Tetapi apakah benar begitu keadaan pedang tersebut? Apakah semua yang dikatakan Resi Padma bukan sekedar suatu pancingan, agar jiwa Suro tergugah dan mau ikut membantu menemukan kembali pedang pusaka tersebut? Apakah bukan suatu tipuan yang dikatakan Resi Padma itu? Bisa saja Resi Padma berkata demikian, karena ia ingin Suro Bodong ikut terlibat dalam usaha merebut kembali pedang pusaka yang sebenarnya tidak mempunyai keistimewaan sedahsyat apa yang diceritakan Resi Padma.

Sebenarnya Suro Bodong rela berjuang merebut pedang pusaka itu. Tetapi ia hams

mempertimbangkan sedalam mungkin. Jangansampai ia terjebak dan terbelit untuk urusan yang bersifat pribadi. Untuk apa ia memperjuangkan kembalinya Pedang Kerak Neraka, kalau ternyata pedang itu hanya sebagai simbol atau lambang martabat dan kejayaan perguruan Merak Senggol. Dia tidak mau menjadi orang upahan. Dia tidak mau bekerja tanpa arti yang besar bagi keselamatan umat manusia.

Lebih-lebih ia tidak mau membantu golongan yang lemah dengan cara dijebak atau dipengaruhi lewat cerita-cerita bohong, seperti yang dituturkan lelaki berjenggot putih itu.

Pagi harinya, setelah melalui berbagai pertimbangan, Suro Bodong bertekad untuk pergi dari perguruan Merak Senggol. Ia merasa tidak perlu ikut campur urusan perguruan itu. Ia harus segera menuju desa Tandang Cinde untuk mencari Ratna Prawesti kekasihnya.

Tetapi niat itu pun akhirnya tertunda, sebab pada pagi itu, sebelum Suro berpamit kepada Resi Padma, tahu-tahu Ajeng Wasti muncul dalam keadaan pakaian sudah copang camping. Rusak tak karuan. Juga rambutnya yang acak-acakan menandakan ia baru saja menemui malapetaka yang cukup keji. Hanya saja, ia masih bisa bertahan dan segera kembali ke perguruannya.

“Apa yang terjadi Ajeng?!” tanya Resi Padma ketika Ajeng bersimpuh di bawah kaki Resi Padma.

Ia menitikkan air mata, kendati tidak terdengar senggukan tangisnya. Lohan dan Wangon berdiri di samping Ajeng Wasti seraya memperlihatkan kegelisahan amarahnya. Beberapa murid memperhatikan dari halaman, depan ruang yang mirip pendopo itu. Sedangkan Suro Bodong masih berdiri tegak, sedikit jauh dari belakang ResiPadma, namun ia mendengar jelas apa yang dilaporkan Ajeng Wasti.

“Mereka. . mereka menangkapku dan memperkosaku, Guru!” tutur Ajeng Wasti dengan terbata-bata. Wajahnya menunduk dan mencerminkan rasa malu bercampur penyesalan.

“Mereka siapa?!”

“Para ninja itu.. ! Aku telah berhasil menemukan sarang mereka. Kami tertangkap. Sepuluh orang yang menyertaiku dibunuh dalam waktu yang sangat singkat. Mereka benar-benar kejam dan tak kenal ampun. Guru. Aku diseret ke pondok dan diperkosanya secara bergantian…”

Ajeng kali ini terdengar isak tangisnya. Wangon menggeram, sama seperti Lohan, ia

mengepalkan tinjunya kuat-kuat dengan darah bagai mendidih dan nafas terhela berat. Resi Padma sendiri menghempaskan nafas, membuang kemarahan. Ia mencoba untuk bersabar diri dan tetap tenang.

“Kurasa. . kurasa kita tidak ada yang sanggup melawan mereka, Guru. Mereka sangat tangguh dan tak segan-segan membunuh. Banyak ilmu yang menjadikan aku terjebak berulangkali, dan banyak jurus yang mereka mainkan dengan kecepatan melebihi hembusan angin. Terutama jurus samurainya yang tak pernah terlihat oleh mata jika menembus tubuh lawan. Mengerikan sekali, Guru. .!” Ajeng Wasti mencoba menjelaskan apa saja yang sempat dilihatnya. Tetapi Resi Padma semakin menggeletukkan gigi, menahan dendam.

“Aku sendiri yang akan ke sana.. !” geram Resi Padma yang membuat murid-muridnya tercengang.

“Tidak!” bantah Wangon dengan tegas. “Kalau kami semua sudah mati di tangan mereka, boleh Guru pergi menghadapi iblis-iblis keparat itu. Tapi semasa kami masih hidup. Guru kami larang untuk pergi ke sana. Biar kami yang menghadapi mereka, sekalipun harus kehilangan nyawa!”

“Benar, Guru. Biar kami yang membantai mereka!” tukas Lohan, sedangkan Ajeng Wasti berkata:

“Kuminta, pertimbangkan baik-baik jika kita ingin bergerak. Jangan sampai salah langkah dan menjadi bencana bagi kita bersama!”

“Hanya ada satu pertimbangan,” kata Lohan. “Mati, atau merebut pusaka Pedang Kerak Neraka.. !” “Benar!” Wangon menambahkan kata. “Hanya itu yang perlu kita perhitungkan. Pedang atau mati!” “Guru,” kata Lohan. “Izinkan saya berangkat bersama beberapa murid untuk menyerang mereka.” Setelah diam sebentar, ResiPadma pun mengangguk dan berkata tegas:

“Berangkatlah sekarang juga!”

“Aku ikut!” tukas Ajeng Wasti. “Aku ingin ikut membalas sakit hatiku, Guru!” Sekali lagi Padma mengangguk. “Pergilah. Tapi kau harus lebih hati-hati, Ajeng.” “Mari, Ajeng. .! Jangan membuang waktu!” kata Lohan bersemangat. Kemudian Lohan dan Ajeng pergi dari hadapan Resi Padma. Sedangkan Wangon dicegah ketika ia hendak ikut. Resi Padma hanya berkata kepada Wangon:

“Kalau dua prajurit sudah cukup menggempur benteng, mengapa harus mengajukan tiga atau empat prajurit. Bukankah kita di sini juga perlu prajurit, Wangon?!”

Semula Wangon ingin mendesak agar diizinkan berangkat bersama Lohan dan para murid lainnya, tetapi setelah mendapat penjelasan seperti itu, ia menurut. Ia sadar bahwa perguruannya

sendiri tak luput dari incaran para ninja. Mungkin ada sesuatu yang masih perlu diperoleh oleh para

ninja itu.

Pusaka lain, misalnya. Atau. . tempat inisendiri yang akan dijadikan pusat pertahanan mereka.

Suro Bodong termenung di belakang dapur, duduk pada bangku yang terbuat dari kayu yang belum dipotong menjadi papan. Sesekali ia memetik biji jagung bakar sisa semalam, dan mengunyahnya dengan pelan-pelan. Pandangan matanya lurus ke tanah, sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu.

Entah apa yang berkecamuk dalam benaknya, yang jelas ia tergerak kaget sewaktu Resi Padma menegurnya.

“Apa yang kau lamunkan dari tadi, Suro? Mengapa harus duduk di sini?”

Teguran itu memang mengejutkan, tapi tidak membuat Suro Bodong bersikap seperti biasanya.

Ia tetap bagai orang sedang melamun. Duduknya santai, bersandar pada batang pohon yang rindang.

Angin berhembus semilir, melenakan manusia untuk tidur siang. Suro Bodong hanya menggumam pelan sewaktu mendengar teguran Resi Padma yang sejak keberangkatan Lohan dan murid-muridnya itu, ia mengunci diri di dalam kamar. Entah apa yang dilakukannya.

“Kau tidak buru-buru ingin pergi, bukan?” tanya Padma.

“Seharusnya begitu. Tetapi, aku mencium ada suatu keganjilan dalam pencurian Pedang Kerak Neraka itu.” Suro Bodong bicara tanpa memandang Resi Padma. Ia merubah posisi duduknya, dari menekuk satu kaki, kini menjadi melonjorkan keduanya. Badannya semakin merebah bersandar dengan santai. Sesekali mulutnya menganga menerima lemparan biji jagung bakar dari tangan kanannya.

Sesekali ia menggaruk-garuk kumisnya kendati sebenarnya tidak gatal. Dalam keadaan seperti itu, perutnya semakin kelihatan membuncit dan pusernya melotot keluar. Bodong. Ia masih mengenakan baju merah dan celana biru tua yang robek di beberapa bagianakibat cambukan Sargulo dalam tahanan.

ResiPadma berdiri di sampingnya, memandang keadaan sekeliling seraya berkata:

“Aku tahu, kau ragu terhadap Pedang Kerak Neraka itu, bukan?” Suro Bodong tidak menjawab, karena itu ResiPadma melanjutkan bicaranya. “Sebenarnya bukan terletak pada pedang keampuhan yang dahsyat itu tetapi terletak pada sarung pedang itu.”

Sekarang, Suro Bodong menoleh memandang Resi Padma. Tapi ia tidak bertanya apa-apa. Ia diam saja. Sedangkan ResiPadma tanpa diminta sudah menjelaskansendiri maksud kata-katanya itu.

“Sarung pedang itu terbuat dariemas murni. .”

“Jadi emas itulah yang perlu kaurebutkan?! Uh, sialan! Kupikir karena keampuhan pusaka itu yang menjadi. .”

“Tunggu dulu, aku belum selesai bicara,” sambut Resi Padma memotong pembicaraan Suro Bodong yang tadi juga memotong kata-katanya. Suro diam, dan ResiPadma melanjutkan penjelasannya:

“Di antara lapisan emas pada sarung pedang itu, terdapat gulungan kitab yang terbuat dari kulit lontar. Guruku menulis beberapa jurus yang tak boleh digunakan dalam gulungan lontar yang amat tipis tersebut.”

“Jurus apa?!” Suro Bodong semakin tertarik.

“Beberapa tingkatan pada ilmu Pedang Kerak Neraka. Ilmu itu mempunyai tiga tingkatan.

Pertama, ilmu Sabda Titah. Apabila seseorang menguasai ilmu Sabda Titah yang berisi mantra-mantra sakti, maka setiap ucapannya akan menjadi kenyataan. Kalau aku mengatakan kau jadi kambing, maka kau benar-banar jadi kambing!”

“Ah, mana? Nyatanya aku masih jadi orang ganteng begini?” Suro Bodong menyepelekan.

“Itu misalnya. Untung aku tidak mempelajari ilmu Sabda Titah, sehingga kau tetap menjadi orang sejelek ini.”

Suro Bodong bersungut-sungut sebentar. Ia melemparkan biji jagung yang telah dipetiknya dari sebatang jagung bakar, kemudian mengunyahnya sambil bersandar kembali. “Yang kedua?”

“Tingkatan kedua dalam serat kitab itu ialah ilmu yang bernama Asmaragama.” “Ilmu apa itu?!” Seraya Suro Bodong mengunyah jagung.

“Jurus-jurus pernafasan yang mempunyai kehebatan bercinta dengan lawan jenisnya. Orang yang sudah menguasai jurus Asmaragama, ia dapat menundukkan lawan jenisnya dengan satu kali saja hembusan nafas. Lawan jenis akan menurut dan repotnya lagi akan menjadi ketagihan jika sudah bergelut mesra dengan pemilik ilmu tersebut. Lawan jenisnya akan menjadi kurus dan layu, karena setiap saat tak mau berhenti dari pergumulan. Dan itu dapat membuat lawan jenisnya menjadi mati kehabisan darah putih. Seorang ratu pun akan bertekuk lutut jika terkena hembusan nafas pemilik ilmu Asmaragama.”

“Wah, boleh juga itu.. ” ucap Suro Bodong sambil menyeringai. “Tapi, sayang aku sudah punya ilmu sendiri yang lebih hebat dari itu. Hem.. lalu tingkatan yang ketiga apa?” “Tingkatan yang ketiga dalam serat Pedang Kerak Nereka itu adalah: ilmu Galih Racun.” Suro Bodong berkerut dahi. “Ilmu macamapa itu?”

“Jurus-jurus pedang yang setiap gerakannya menebarkan racun berbahaya ke arah musuh. Jurus pedang itu sangat berbahaya. Dengan dikibaskan tanpa menyetuh lawan, tahu-tahu lawan sudah terkena racun ganas pada lobang-lobang kulitnya. Dan racun itu dapat membekukan darah, menghancurkan jantung dan paru-paru. Bahkan jika terkena mata, kedua biji mata dapat busuk dalam waktu singkat.

Gerakan pedang dicabut dari sarungnya pun bisa mengakibatkan tersebarnya racun ke tubuh lawan.

Dan lagi, tidak harus menggunakan pedang bersarung emas itu, melainkan dengan pedang lain pun ilmu Galih Racun dapat disalurkan ke dalamnya. Ketiga ilmu berbahaya itu, sengaja oleh guru dibekukan. Konon, aku hanya boleh mempelajarinya jika manusia-manusia di bumi ini sudah rusak sama sekali moralnya. Jika bumi menjadi negeri berpenghuni iblis semua, jurus itu baru boleh dipergunakan.”

“Dan karena itulah ketiga tingkatan ilmu itu dinamakan, Kerak Neraka, begitu?”

“Ya, kesimpulanmu tepat. Kurasa kau sendiri bisa membayangkan, andai ketiga ilmu tersebut dikuasai oleh orang jahat, apa jadinya hidup di permukaan bumi ini? Kau pasti tahu, apa akibatnya jika ketiga ilmu itu disalahgunakan olehseseorang yang tidak bertanggungjawab?!”

“Hancur! Bumi ini akan hancur! Gunung meletus, lautan bergolak mengerikan, tanah berekah dan lahar panas akan memancar dari dasar bumi. Itulah kiamat!” tegas Suro.

Resi Padma menghempaskan nafas. Ia menyimpan kecemasan sejak kemarin, dan hal itu

diketahui Suro Bodong. Hanya saja Suro Bodong tak mau membicarakan soal kecemasan itu. Setelah mendengar penuturan resi Padma, Suro Bodong hanya berkata dengan nada pelan:

“Kalau memang benarapa katamu, sudahselayaknya aku turut campur dalam hal ini.”

“Akan kubuktikan di depan matamu. Kubuka lapisan emas pada sarung pedang itu, dan kutunjukan kebenarannya.”

Suro manggut-manggut. Garuk-garuk kumis sebentar, lalu berkata tegar: “Demi keselamatan umat manusia, akan kurebut pedang itu. Lalu. . kuserahkan padamu untuk dibakar! Setuju?!”

Setelah diam beberapa lama, Resi Padma mengangguk. Tapi apakah Suro Bodong akan berhasil menghadapi para ninja? 5

AJENG WASTI kembali pada keesokan harinya. Ada goresan luka di lengan dan di betis.

Goresan luka itu tidak seberapa hanya saja masih mengeluarkan darah segar, kendati hanya meleleh ke mana-mana. Tetapi mata kirinya terlihat membiru dan dada kirinya tampak merah bagai habis terpukul oleh telapak tangan lawan.

Ajeng Wasti sempoyongan. Roboh di pintu gerbang dalam keadaan lemas lunglai. Ia segera dibawa oleh beberapa murid ke hadapan Resi Padma.

“Ajeng…?!” pekik Wangon dengan kaget. Darahnya mendidih melihat keadaan Ajeng seperti itu.

Ia segera mengamhil alih tubuh Ajeng dari tangan murid lainnya, kemudian dibaringkan pada sebuah dipan tak berkasur. Resi Padma kelihatan gelisah dan sedih melihat keadaan muridnya seperti itu.

Ketika Suro Bodong muncul, ia hanya diam saja memperhatikan keadaan Ajeng Wasti.

“Ajeng, di mana yang lainnya? Mana Lohan dan teman-teman kita?” tanya Wangon dengan tangan gemetar.

Susah sekali Ajeng bicara, tetapi ia berusaha untuk menjawab pertanyaan itu sebagai bahan laporan. “Lohan.. Lohan. . tewas.. “

“Lohan tewas. .?!” Wangon memekik dengan mata memerah. “Se.. semua.. ma. . mati. .!”

“Gila!“seru Wangon bagai dibakar hidup-hidup.

Resi Padma menghela nafas dalam-dalam, mengokohkan hati sendiri. Ia harus tetap tegar menerima kenyataan itu. la sempat bertanya dengan nada lemah dan gemetar:

“Tak ada yang selamat, Ajeng?”

Ajeng Wasfi, perempuan yang punya paras cantik itu, kini menggeleng sambil menyeringai kesakitan. Ia bicara dengan suara nyaris tidak terdengar:

“Pim. . pimpinan nin.. ja, uuh.. pimpinan ninja, turun tangan. Ka. . kami dibantai. . habis. Dalam. . waktu singkat.. ia membantai.. Lohan dan kawan.. kawan. .”

“Jahanam.. !” geram Wangon bagai ingin meledak dadanya.

“Ak… aku. . aku larii.. setelah. . setelah berhasil membunuh dua.. dua orang.. ohh, Guru. . mereka sangat kuat. Ninja biru, pimpinan mereka. . benar-benar malaikat pencabut.. nyawa. Mengerikan seka.. li. Oh, ak.. aku tak kuat.. !” “Guru, Ajeng perlu dirawat selekasnya. .!” Wangon panik, Resi Padma hanya tertegun dirundung kesedihan yang amat dalam. Semua murid menunduk, menahan gejolak amarah.

“Lekas, Guru.. ! lakukan penyembuhan,” mumpung Ajeng masih bisa bernafas.. ! Lekas, Guru!” Wangon tak sabar dansangatmengkhawatirkan keadaan Ajeng.

Resi Padma maju dengan langkah lunglai. Ia meraba leher Ajeng Wasti. Namun tiba-tiba terdengar suara dari belakangnya:

“Apa kausanggup menyembuhkannya? Nanti jangan-jangan malah mati lagi. .!”

Suro Bodong bicara bagai tidak mengenai perasaan. Dari sekian banyak orang, hanya Suro Bodong yang tidak menampakkan kesedihan sedikit pun. Ia sangat santai. Sesekali garuk-garuk kumisnya, dan menggumam lirih.

“Apa yang akan kau lakukan, Suro Bodong?!” Resi Padma tersinggung dengan kata-kata Suro tadi. Namun ia berusaha tetap tenang, tidak menampakkan kegusarannya. Sedang Suro Bodong kelihatan lebih tenang dan lebih santai menghadapi hal itu. “Tentu saja ia santai-santai saja, sebab dia bukan keluarga Perguruan Merak Senggol,” ujar seorang murid yang berada di belakang kerumunan itu.

Suro Bodong berkata kepada Resi Padma dan Wangon:

“Tinggalkanaku disini.. ! Biar kutangani Ajeng Wasti!”

“Kau sanggup memulihkan keadaan Ajeng Wasti?!” tanya Wangon yang bernada sangsi. Suro menjawab seenaknya:

“Akan kupertimbangkan nanti, apakah dia perlu hidupatau lebih baik mati! Lihat saja nanti.. !” “Kutuntut kau kalau sampai Ajeng mati!” geramWangon

“Pergi semua.. !” hardik Resi Padma seraya ia sendiri pergi dan menutup pintu kamar itu dari luar. Di luar, terjadi perdebatan antara Resi Padma dan Wangon. Beberapa murid mendengarkan perdebatan itu secara tidak terang-terangan. Wangon mengatakan:

“Mengapa guru menyerahkan Ajeng kepada Suro Bodong! Dia belum tentu bisa menyelamatkan dirinya sendiri, apalagi menyelamatkan orang lain.”

“Wangon, sabar dan redakan amarahmu,” tutur ResiPadma dengansuara kesabarannya. “Sudah banyak murid-murid perguruan ini yang mati di sana, bagaimana aku bisa meredakan

kemarahanku, Guru! Belum lagi kita melihat sendiri bagaimana penderitaan Ajeng yang menyedihkan

itu. Huuh. .!” Wangon memukul tiang kayu. Ia gemas dan jengkelsendiri.

“Wangon,” kata Resi Padma pelan. “Kita memang akan menuntut balas kepada para ninja itu, tapi sekarang harus dengan perhitungan yang matang. Benar apa kata Ajeng waktu dia datang dalam belum terluka, kecuali diperkosa. Pada dasarnya, semua rencana harus disusun secara matang dan diperhitungkan, supaya tidak terjadi hal-hal yang lebih parah dari kematian Lohan.”

“Baik! Aku menurut apa kata Guru. Tetapi ingat, aku sendiri yang akan ke sana dan mengobrak-abrik sarang mereka!”

“Itu soal nanti. Kita perlu berunding. Berunding memperhitungkan cara yang lebih tepat. Ingat, para ninja mempunyai kelicikan dan tipuan yang sungguh hebat! Setiap gerakan menghadirkan kejutan dan keheranan yang tak pernah terpikirkan oleh orang lain. Ninja mempunyai cara bertempur sendiri.

Berbeda dengan kita. Kalau kita hati-hati dan penuh perhitungan matang, maka kita tak akan terkecoh oleh tipuan. Kita dapat menghancurkan mereka!”

“Kalau begitu, apa saran guru sekarang. Lekaslah, beri perintah padaku, dan aku akan menjalankan sekarang juga!” Wangon menampakkan ketidaksabarannya. Matanya sejak tadi memandang nanar, seperti harimau menunggu mangsa.

“Aku akan bicarakan dengan Suro Bodong,” kata Resi Padma.

“Alaaaah. . Suro Bodong lagi! Dia kan bukan orang kita. Untuk apa mengandalkan dia?! Dia tidak merasa memiliki perguruan ini, dan tidak mempunyai rasa persaudaraan yang dalam di antara kita. Kenapa harus berunding dengannya?!”

“Tapi dia merasa memiliki bumi ini, sehingga ia merasa bertanggung jawab memelihara isinya,” tutur ResiPadma.

Wangon mengeluh dan gemas sendiri. Ia serba salah rasanya. Ia ingin nekad pergi sendiri, tetapi ke mana arahnya, ia tidak tahu. Ini pun membuat Wangon semakin jengkel. Rasa penasarannya berkobarkobar dan menyulutkan api dendam yang membara.

Suro Bodong keluar dari kamar. Semua mata tertuju kepadanya. Gayanya tetap santai, tenang, tak ada rasa sesal atau kesedihan sedikit pun. Ia garuk-garuk kumis sebentar ketika Wangon dan Resi Padma mendekati.

“Bagaimana? Apa dia bisa tertolong?!” tanya ResiPadma.

“Kenapa tidak?! Lihat saja. .!” Suro Bodong mempersilakan Wangon masuk dan memeriksa Ajeng. Ia menambahkan kata, “Hati-hati. jangan bangunkan dia. Dia sedang tidur.”

Suro Bodong pergi ke dapur, membiarkan Resi Padma dan beberapa murid masuk, memeriksa keadaan Ajeng. Di dapur Suro Bodong mencarisesuatu dalam bakul besar.

“Cariapa, Kang?” tanya kepala pelayan di situ.

“Jagung! Aku kemarin masih menyimpan jagung di sini!” Kepala pelayan tersenyum. Lalu ia membuka tempat makanan dan berkata, “Sudah kubakarkan. Ini lho. .!”

Suro Bodong tersenyum tipis. Hatinya girang. Ia menerima pemberian jagung bakar seraya berkata: “Terima kasih! Kamu ternyata sudah hapal dengan kesukaanku, Pak.”

“Tentu saja, sebab aku juga suka jagung bakar.”

Suro Bodong membelalak, lalu tertawa girang. Ia mulai menggeragoti jagung bakar yang sudah dingin. Tak jadi soal dengan kedinginannya, yang penting jagung bakar bagi Suro. Tanpa jagung bakar, sepertinya ia tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Umumnya orang akan kecanduan tembakau atau madat, tapi Suro Bodong Iain. Ia kecanduan jagung bakar.

Sambil memetik-metik biji jagung, lalu melemparkan ke mulutnya, ia melangkah ke kamar Ajeng dirawat. Wangon kelihatan sedikit tenang sewaktu mendekat Suro Bodong, ia berkata dengan suara pelan, bagai menyesali kata-katanya tadi.

“Terima kasih, Suro. ,! Maafkan kata-kataku tadi.”

“Kata-kata yang mana? Seingatku sejak tadi kau tidak mengajak bicara denganku. Kalau setan, aku memang mendengar kata-katanya, tapi kalau kau. . aku tidak dengar.”

“Kuakui kehebatanmu. Luka Ajeng bisa hilang tanpa bekas, dan memar membiru di matanya, juga memar merah di atas dadanya itu pun lenyap sama sekali. Aku yakin, kau mempunyai ilmu tenaga dalam yang cukup tinggi.”

“O, itu sudah lama! Hanya orang bodoh ya tidak bisa melihat kehebatanku,” Suro sengaja nyombongkan diri di depanWangon.

Wangon manggut-manggut, “Ya, kau memang hebat! Hebat sekali!”

“Dugaanmu meleset,” kata Suro, pada waktu itu Resi Padma mendekat. Suro masih bicara pada Wangon, “Dugaanmu meleset, Wangon.”

“Meleset bagaimana? Aku mengakui, benar benar mengakui kehebatanmu, Suro.”

“Iya, tapi yang kau bayangkan itu meleset jauh. Sebenarnya, aku jauh lebih hebat dari kehebatan yang kau banggakan.”

Wangon terbengong. Suro Bodong melemparkan biji jagung yang dipetik-petik dengan jempol tangannya ke mulut. Kemudian ia meraih tangan Resi Padma dan mengajaknya berjalan. Resi Padma terbengong, menurut saja. Ketika di tempat sepi, di bawah pohon rindang, Suro Bodong berkata dengan wajah bersungguh-sungguh.

“Masalah ini tidak akan tuntas kalau bukan aku yang turun tangan.” “Suro, kau kuanggap tamu di sini.” “Ya. Tapi kau tidak bisa mengerahkan semua muridmu maju menyerbu para ninja itu, bukan?! Kalau itu kau lakukan, kauakan kehilangansemua muridmu!”

“Aku sendiri bingung sebenarnya. Ajeng adalah murid andalanku yang sudah dinobatkan sebagai Pendekar Merak Maut. Tetapi, ternyata ia dipermainkan oleh para ninja. Padahal dia adalah murid tertinggi ilmunya di antara semua muridku. Jika Ajeng saja diperlakukan seperti hewan oleh para ninja, apalagi Wangon, dan murid-murid lainnya? Atau.. mungkinkah aku harus turun tangan lagi? Ah, akusudah tak ingin membunuh dan bertarung lagi, Suro!”

“Aku tak menganjurkan kau turun tangan, Resi Padma. Memang ada baiknya kalau kau turun tangan, dan kita berdua akan menumpas para ninja itu. Tapi. .”

“Aku ikut!” seru Wangon dari arah lain. Ternyata ia tadi mencuri dengar pembicaraan Suro dan Resi Padma, sehingga ia merasa tidak rela jika dirinya tidak diikutsertakan dalam penyerangan ke pondok para ninja.

“Guru, aku akan keluar dari Perguruan Merak Senggol kalau aku tidak kau ajak menyerang mereka! Janganakui lagi aku muridmu!” ancamWangon dengan ucapan yang tegas.

ResiPadma diam beberapa saat lamanya. Suro Bodong tak sabar menunggu keputusan Resi Pad-ma, kemudian ia sendiri yang menentukan:

“Baik. Wangon ikut. Kita bertiga menyerang para ninja! Tapi ada syarat khusus yang harus dilakukan.”

“Syarat apa?!” tanya Wangon, Resi Padma hanya memandang Suro Bodong sebagai ganti pertanyaan serupa dengan Wangon.

“Tutup pintu kamar Ajeng. Pantek dengan kayu-kayu yang kuat. Juga jendela kamar itu, pantek dengan kayu. Usahakan yang rapat dan kokoh sekali. Kemudian suruh semua muridmu memusatkan perhatian ke kamar itu. Jaga dengan ketat, jangan boleh ada yang masuk maupun keluar dari kamar itu!”

“Hei, he. . nanti dulu! Kau punya rencana gila apa sebenarnya, hah?“Wangon curiga. “Lakukan rencana ini kalau kau mau berhasil! Kurung Ajeng serapat dan seketat mungkin!” Resi manggut-manggut. Wangon membantah:

“Guru, jangan lakukan begitu. Apa-apaan sebenarnya?!”

ResiPadma berkata pelan, “Mungkin maksud Suro, agar tak ada seorang pun yang menculik dan membawa lari Ajeng. Sebab, Ajeng telah lari dari pemerkosaan para ninja. Tak aneh ada beberapa ninja yang penasaran, terutama yang belum kebagian nafsu bercinta dengan Ajeng. Betapa pun juga sukarnya, para ninja akan selalu berusaha dengan berbagai cara untuk menuruti keinginannya. Mereka pasti berusaha keras untuk merasakan tubuh Ajeng. Sebab itu, jika pintu dan jendela ditutup rapatrapat dan dijaga ketat, maka mereka tak akan berhasil mengambil Ajeng sebagai pemuas nafsu. Itulah maksud Suro Bodong. Bukankah begitu, Suro.. ?!” Suro Bodong ragu ingin menjawab, namun akhirnya ia mengangguk juga. Bahkan kelihatan bersemangat mengiyakan penjelasan Resi Padma itu.

Resi Padma mengambil tongkatnya sebelum mereka berangkat. Dengan langkah penuh

semangat, mereka bertiga menuju pondok para ninja, tempat Suro Bodong dulu pernah ditawan oleh mereka. Rupanya, waktu itu Suro Bodong disangka mata-mata dari Perguman Merak Senggol, yang datang menyusup untuk merebut Pedang Kerak Neraka. Sekarang Suro tahu, apa sebab mereka menawan dan menuduhnya sebagai mata-mata. Tetapi persoalannya sekarang sudah lain, ia dan Resi Padma didampingi Wangon bergerak maju ke pondok para ninja. Mereka bertekad menghancurkan musuh dengan kekuatan tiga orang itu.

“Hati-hati.. kita sebentar lagi mencapai tepian sungai. Itu sudah wilayah mereka. Tapi, jangan ada yang terjun ke sungai. Di sana mereka beternak buaya lapar! Sengaja sebagai jebakan musuh,” tutur Suro Bodong seraya berlari cepat dalam keadaan sejajar dengan gerakan Resi Padma dan Wangon.

Di luar dugaan, tiba-tiba langkah mereka terhenti, karena seorang berpakaian serba hitam keluar dari dalam tanah, sepertinya muncul dari dasar bumi. Bukan hanya satu orang, ternyata di samping kanan kiri juga muncul manusia dari dasar bumi: para ninja yang siaga menunggu lawan dengan bersembunyi di dalam tanah. Mereka mempunyai cara khusus untuk bisa bertahan di dalam tanah.

Waktu mereka muncul, tanah bagai tersembur dari dasarnya dan mereka langsung berteriak: “Hiaat. .!!” seraya samurai mereka siap di tangan.

“Jangan beri kesempatan sedikit pun pada mereka,” bisik Suro Bodong yang tubuhnya sudah merapat, saling bertolak belakang dengan Wangon dan Resi Padma. Wangon segera mencabut senjata Nenggolo Kubur, sedangkan Resi Padma menggenggam tongkat berkepala burung merak dengan kedua tangan.

Mereka telah dikepung. Empat ninja mulai bergerak berkeliling dengan cepat. Samurai mereka dipegang dengan kedua tangan, dalam posisi berdiri disamping dada.

“Mana senjatamu, Suro. .?” bisik Wangon.

“Tenang. Jangan pikirkan senjataku, tapi pikirkan senjata musuh: bagaimana caranya supaya senjata mereka tidak mencincang lehermu!”

“Hiaat. .!!” Para ninja bergerak mengayunkan samurainya ke arah Suro dan kedua orang perguruan merak Senggol itu. Suro Bodong cepat berguling ke tanah ketika Samurai menebas ke arah-kepala.

Ia menjejakkan kaki ke arah kemaluan seorang ninja. Jejakannya yang keras itu tepat mengenai sasaran.

Ninja itu menjerit sekuat tenaga dan berguling-guling. Sedangkan seorang ninja lagi sedang berusaha menusukan samurainya ke arah Suro Bodong. Segera Suro Bodong meletik dan melayang menghindari tusukan itu. Pada saat samurai ninja menancap di tanah, Suro Bodong mengibaskan kakinya ke tengkuk kepala ninja dengan kuat dan keras. Ninja itu tak sempat berteriak, karena darah segar keluar dari mulutnya. Dan pukulan mematikan segera dilancarkan Suro Bodong ke arah pelipis serta otak belakang musuhnya. Maka, ninja itu pun tergeletak mati. Sedangkan yang terkena tendangan maut pada kemaluannya masih berkelojotan menahan sakit dengan suara tak terdengar lagi. Suro Bodong segera mengambil samurai milik ninja yang telah mati. Ia segera menancapkan samurai itu ke perut ninja yang kelojotan itu hingga samurai menembus ke belakang, menancap pada tanah.

Resi Padma sendiri dengan cepat menangkis serangan samurai ninja dengan menggunakan

tongkatnya. Ia sempat menendang perut ninja dan membuat lawannya sempoyongan ke belakang. Resi Padma tidak memberi kesempatan sedikit pun. Ia segera menotokkan tongkatnya yang penuh aliran tenaga dalam ke dahi lawan. Seketika itu, kepala lawan menjadi retak, dan darah mengucur dari beberapa tempat. Sekali lagi Resi Padma mengibaskan tongkatnya ke kanan. Keras dan kuat sekali, sehingga musuhnya yang telah parah itu terhempas bersama kepala yang remuk total.

Sementara itu, Wangon ternyata sudah istirahat sejak tadi, karena begitu ia ditebas perutnya dengan samurai, ia berhasil melompat ke atas dan bersalto. Pada saat itu ia melepaskan Nenggolo Kuburnya tepat mengenai ubun-ubun sang ninja. Mata tombak yang mampu melesat sendiriseperti anak panah itu kembali ke tempatnya setelah merenggut nyawa lawannya. Wangon bekerja lebih cepat daripada Suro Bodong maupun ResiPadma.

“Cepat kita bergerak ke pondok mereka!” kata Suro Bodong. Lalu mereka melesat bersama-sama dengan menggunakan tenaga peringan tubuh. Ketika tiba di tepi sungai, Suro Bodong membentangkan tangannya, pertanda agar mereka berhenti sejenak.

“Kita lewat sebelah sana, yang ada pohon melengkung itu! Di sana daerah sungai yang bebas buaya! Di sini kita bisa mati dicium buaya.. !”

Baru saja berkata begitu, tahu-tahu dari arah belakang Wangon merayap buaya gemuk dengan gigi yang menyeramkan. Wangon segera menjerit kaget dan melompat tinggi. Saat itu kaki Resi Padma ganti menjadi sasarannya. Tetapi lelaki kurus berjenggot putih itu mampu mengendalikan ketenangannya. Ia melompat ke atas, namun tongkatnya segera disodokkan ke bawah, tepat mengenai kepala buaya. Buaya itu menggelepar dalam keadaan kepalanya pecah. Ekornya mengibas ke depan, tapi Resi Padma segera menyambut dengan tebasan tongkatnya. Ekor buaya itu patah menjadi dua bagian.

ResiPadma berdiri dengan kedua kaki merendah, lalu sekali lagi ia menyalurkan tenaga dalamnya pada tongkat berkepala burung merak kecil lengkap dengan jambulnya. Tongkat itu menyodok kepala buaya lagi, dan kini kepala itu bagai terkena ledakan dahsyat, pecah menjadi berkeping-keping. Suro Bodong mengacungkan ibu jarinya.

“Hebat gerakanmu, Resi! Ayo, kita lekas bergerak. .! Hati-hati kalau-kalau masihada buaya yang mendarat.. !”

Mereka tiba di tepi sungai yang ada pohon lengkungnya. Suro Bodong merentangkan tangan, pertanda meminta kedua temannya berhenti dulu. Mata mereka melirik ke sekitar dengan teliti. Suro Bodong berbisik kepada ResiPadma,

“Di dalamair itu aku yakin ada ninja yang bersembunyi disana. .”

Resi Padma hanya menggumam dan mengangguk, lalu tiba-tiba ia memutar tongkatnya di sela-sela jemarinya. Putaran berhenti seketika, kemudian ujung tongkat dicelupkan ke dalamair.

“Uuuuuaaaaww…! ” Dua kali teriakan lengking membahana. Dua tubuh ninja terlonjak dari dalam air, melayang ke atas dalam keadaan berdarah. Kemudian ia jatuh ke permukaan air tanpa berkutik lagi.

Agaknya sebuah tenaga dalam yang cukup dahsyat telah disalurkan ke tongkat itu oleh Resi Padma dan membuat kedua ninja yang bersembunyi di dalam air bagai terkena strom bertegangan tinggi. “Kita menyebrang..!“Suro memberiaba-aba. Ia melompat ke batangpohon yangmelengkungdi atas sungai. Kemudian Wangon dan Resi Padma mengikutinya. Mereka tiba di tepi sungai, sudah dekat dengan pagar tembok pondok para ninja.

“Kita masuk lewat tembok itu saja.. !” bisik Suro Bodong. “Jika kita melompati tembok itu, maka kita akansampai disamping kamar tahanan tempat ku dulu di tawan!”

“Baik,” jawab Resi Padma. “Aku dan Wangon akan menghadapi para cecunguk, dan kau masuklah ke tengah, cari kamar yang sekiranya dijaga ketat. Di situlah pasti tersimpan Pedang Kerak Neraka!““Awaaas..!” pekikWangon yangsegera mendorongSurodan gurunya.Dua buahsenjata rahasia melesat ke arah mereka. Wangon melayangkan tubuh dengan hentakkan kaki ke tanah, kemudian mengibaskan senjata Nenggolo Kubur dengan cepat sehingga terdengar bunyi, Tri iing.. tiing.. !!

Senjata rahasia itu berhasil dihalau oleh Wangon. Ia segera berguling ke tanah, demikian juga Suro Bodong dan Resi Padma. Lalu sekilas bayangan terlihat oleh Wangon dari atas pohon. Segera ia melancarkan jurus Nenggolo Kuburnya. Ujung senjata yang menyerupai mata tombak itu melesat ke arah lawan dengan cepat.

“Aaaahk.. !!” pekik tertahan terdengar dari atas pohon. Lalu tubuh berpakaian serba hitam pun roboh ke tanah, pada saat itu ujung Nenggolo Kubur kembali ke tempatnya semula. Wangon segera berdiri sigap. Matanya bergerak liar mencari-cari kemungkinan lain. Tapi rasa-rasanya untuk sejenak mereka aman.

“Suro, melompatlah dulu ke dalam tembok itu, akuakan menjaga kemungkinan di luar tembok,” usul Wangon.

“Segera menyusul kalau keadaan di luar sudah aman, ya?” kata Resi Padma kepada Wangon. “Baik, Guru.. !”

Resi Padma baru saja hendak melompat masuk, tiba-tiba seorang ninja datang dari arah

samping. Ia melemparkan senjata rahasianya. Wangon segera menangkis, melindungi gurunya seraya berseru dalam bisik, “Cepat naik, Guru. Susul Suro Bodong. Biar aku yang menghadapi mereka disini.

.!”

ResiPadma melesat ke atas tembok dengan bersalto dua kali. Ternyata bukan satu ninja yang mendekati Wangon tapi dua orang ninja dari arah yang berbeda.

Wangon melompat dan bersalto ke arah ninja yang paling dekat dengannya. Sebuah tebasan samurai berkelebat ke arah pundakriya. Wangon meliukkan tubuh seraya menangkis dengan senjatanya.

Hampir saja pundaknya terbelah oleh tebasan samurai itu. Ketika ia berhasil menahan samurai dengan Nenggolo Kubur, segera ia melancarkan pukulan ke arah wajah ninja itu. Lawan memiringkan badan ke kiri, disambut oleh lutut Wangon dengan keras. Ninja itu menggeliat kesakitan, lalu segera Wangon kibaskan senjatanya yang runcing ke arah dada lawannya. “Sreeet..!” Senjata itu melukai dada ninja.

Lawan masih bertahan dan hendak mengayunkan samurai ke arah wajah Wangon. Tapi dengan gerak merunduk dan menghunjamkan senjata Nenggolo Kubur, ia berhasil menusuk ulu hati lawannya.

“Mampus kau. .! Ini pembalasan untuk Lohan. .!!” teriak Wangon seraya sekali lagi menusuk tubuh itu dengan senjata Nenggolo Kubur.

“Aaaah. .!” Wangon tiba-tiba menjerit, ketika ia melihat kemilau logam melayang ke arahnya, dari ia menghindar ke kiri, tapi terlambat. Senjata rahasia itu menancap di punggungnya, dekat dengan pundak.

Wangon segera melesat ke atas, bersalto beberapa kali untuk menjauhi ninja yang dari arah lain itu. Ia masih mampu berdiri dengan kaki tegap. Segera ia mencabut senjata rahasia berbintang empat itu dari punggungnya.

“Aaaaauuuuh. .!” Wangon memekik karena ia telah berhasil mencabut senjata rahasia yang menancap di punggung. Pada saat itu, lawannya menyerusuk masuk ke depan dengan samurai tertuju ke depan, dipegangi dengan kedua tangan. Ujung samurai itu sudah dekat dengan perut Wangon. Tepat pada saat itu Nenggolo Kubur dikibaskan ke arah kiri. Samurai miring ke samping sekali pun berhasil ditusukkan. Tapi kaki ninja itu segera bertindak, menendang dengan tendangan miring beruntun kearah wajah Wangon. Ia berhasil membuat Wangonjatuh telentang dalam keadaan sakit.

Dengan sigap dan penuh semangat membunuh, ninja itu mengangkat samurainya, hendak

menancapkan ujung samurai ke perut Wangon. Tetapi ketika ia mengangkat kedua tangannya untuk mengayunkan samurai, tiba-tiba ujung Nenggolo Kubur telah melesat lebih dulu dari tangkainya. Mata tombak itu menembus ke leher ninja, melesat tembus, dan kembali lagi melalui leher itu, kemudian melekat di ujung tangkai Nenggolo Kubur.

Sejenak Wangon berdiam diri, menyalurkan tenaga murninya untuk melawan racun akibat

senjata rahasia yang melukai punggungnya. Pada saat itu, ia tak tahu apa yang dilakukan Suro Bodong dan Resi Padma di dalam tembok kokoh itu. Ia tak tahu kalau Resi Padma dan Suro Bodong saling berbisik di samping kamar tahanan:

“Kalau kau punya jurus penghancur, gunakanlah itu. Kita tak akan sanggup menghadapi para ninja sebanyak ini dengansatu persatu!” kata Resi Padma.

“Itu gagasan yang bagus. Ledakkan mereka, ledakkan gedung-gedungnya, supaya sekali serang bukan hanya satu dua ninja yang mati. Ah, aku senang dengan gagasan seperti itu. Pasti bakalan ramai ini, ya. .? Mari.. !”

Suro Bodong meraba pergelangan tangan kirinya dengan cepat. Tahu-tahu ia telah

menggenggam sebilah pedang bercahaya ungu dan indah sekali. Resi Padma tertegun heran beberapa saat. “Itu.. itu senjatamu?” “Ya. Inilah yang namanya Pedang Urat Petir. .! Hei, jangan bengong, itu ada dua orang ninja kuning mendekati kita, kau lawan dia dan aku akan meledakkan beberapa gedung dan bangunan.

Selamat. .!”

Suro Bodong melesat meninggalkan Resi Padma, waktu itu Resi Padma pun segera

menyongsong kedua ninja kuning. Suro Bodong terkejut sejenak begitu mendengar suara dentuman kecil di belakangnya. Oh, Resi Padma sedang menghentakkan tongkatnya ke arah kedua ninja dan menimbulkan ledakan kecil yang membuat tubuh kedua ninja terkapar tanpa nyawa. Suro tersenyum. Ia segera mengacungkan pedangnya ke langit dengan tangan kokohnya. Pedang itu diputar-putarkan sampai tujuh kali, kemudian diacungkan ke arah banguanan utama di mana ada beberapa ninja yang berhamburan menuju suara ledakan dari Resi Padma tadi. Pada saat pedang diatungkan, keluar nyala api seperti kilatan petir berwarna biru bening. Nyala api itu menghantam bangunan tersebut, dan ledakan amat dahsyat terjadi mengguncangkan bumi. Bangunan itu hancur, beberapa ninja melayang tinggi dalam keadaan tak lengkap anggota badannya; ada yang tanpa tangan lagi, ada yang kepalanya hilang, ada pula yang kehilangan kedua kakinya. Itulah kedahsyatan jurus ‘Pedang Lidah Petir’, yang jarang digunakan Suro Bodong.

Suara ledakan terdengar cukup keras juga di sebelah sana. Oh, rupanya Resi Padma

menghancurkan sekawanan ninja kuning yang berlarian di tengah tanah lapang tempat berlatih mereka.

Suro Bodong tak mau kalah hebat, sekali lagi ia menggunakan jurus ‘Pedang Lidah Petir’, dan beberapa bangunan meledak kembali. Menewaskan beberapa penghuninya. Api berkobar dan para ninja menjadi panik. Resi Padma meledakkan para ninja dengan tongkat saktinya yang mampu mengeluarkan nyala api merah membara bagai menyembur dari ujung tongkat itu.

Mayat bergelimpangan. Darah berceceran di mana-mana. Teriakan mereka menjadi teriakan dari dalam neraka. Tak satu pun para ninja yang berhasil mendekati Suro Bodong atau pun Resi Padma.

Bahkan ninja merah, yang kelasnya lebih tinggi, juga tak berhasil melarikan diri dari semburan ujung tongkat Resi Padma. Ledakan demi ledakan saling bersahutan, sehingga bumi terasa samakin oleng ke kanan kiri. Sampai akhirnya, semua bangunan rata dengan tanah, dan para ninja saling bertumpuk tanpa nyawa.

Namun tiba-tiba, muncullah ninja berpakaian serba biru. Ia bukan hanya menyelipkan sebuah samurai di punggungnya, melainkan juga menyelipkan pedang bersarung emas di pinggang kirinya.

Suro Bodong hendak menyerang dengan jurus ‘Pedang Lidah Petir’. Tetapi Resi Padma berseru, “Tunggu!!”

Suro Bodong berpaling ke arah Resi Padma, tahu-tahu ia diserang dengan senjata rahasia yang berdesing cukup tinggi. Dan tanpa disadari ia bersalto tujuh kali di udara. Ia telah menggunakan jurus Luing Ayan-7. Di mana setiap ia bersalto tujuh kali di udara, tanpa menyentuh tanah, maka ia akan berubah menjadi seorang pendekar tampan, berbadan tegap, berotot dan berambut panjang halus. Ia mengenakan ikat kepala dari emas bermata merah, mengenakan rompi kuning emas dan celana kuning emas pula. Ninja biru yang kononadalah ketua ninja di situ menjadi tertegun sejenak.

Keadaan ninja itu dimanfaatkan oleh Suro Bodong yang telah berubah menjadi Panji Bagus untuk menyerangnya. Ia melayang sambil menggerakkan pedangnya lurus ke samping. Namun ketika itu ninja biru mencabut samurainya dan menangkis pedang sinar ungu yang memancarkan sinar indah itu.

Samurai itu tiba-tiba patah sebelum bersentuhan dengan pedang Urat Petir. Hal itu digunakan oleh Panji Bagus untuk menebas lengan ninja biru. Lengan itu berkelit sehingga tebasannya menjadi meleset. Tetapi pukulan tangan kiri Panji Bagus segera mengenai rahang lawannya. Ninja biru bertahan, kini ia menggerakkan kakinya, dan menghentak di pinggang Panji Bagus. Tangan Panji Bagus merapatkan siku, sehingga hanya sikunya yang terkena tendangan lawan. Maka, seketika itu ninja biru melesat ke atas, berdiri di dahan pohon. Panji Bagus menyusulnya. Ia menggunakan ilmu peringan tubuh yang sangat sempurna, sehingga ia mampu berdiri di atas selembar daun. Kemudian dengan cepat ia menebaskan pedangnya dan berhasil merobek punggung ninja biru. Ninja biru bersalto turun ke tanah. Panji Bagus tidak mau memberi kesempatan sedikit pun, ia segera mengejar ke bawah. Belum sampai kakinya menginjak tanah, ia telah berhasil melemparkan Pedang Urat Petir. Pedang itu tepat menancap di jantung ninja biru, sehingga orang itu mengerang pelan, kemudian rubuh ke tanah. Mati.

Bagian yang tertancap pedang Urat Petir mengepulkan asap dan menjadi hangus seketika itu.

Resi Padma tersenyum lega. Ia segera menghampiri Panji Bagus. Pada saat itu, Wangon juga melesat dari luar tembok, kemudian bergabung dengan gurunya.

“Siapa orang ini, Guru?!” tanya Wangon. Ia heran melihat perubahan Suro Bodong yang begitu tampan dan bermata bening, teduh.

Resi Padma menjawab dengan senyum, “Suro Bodong memang bukan orang sembarangan, Wangon.”

“O, ya? Tapi di mana dia sekarang?”

“Di depanmu,” jawab Resi Padma. Wangon terbengong, matanya membelalak lebar tak berkedip memandang Panji Bagus. LaluPanji Bagus tersenyum dengan mengerlingkan mata pada Resi Padma.

“Seharusnya, jangan membuat muridmu menjadi seperti patung kodok begitu, Resi Padma. Lihat, dia bisa tahan tidak kencing seminggu jika melihatku dengan cara begitu. Hei, Wangon.. ! Sudahlah, jangan memandangku begitu! Nanti kau lama-lama jatuh cinta padaku, repot!”

“Suro Bodong. .?!“Wangon mendesah keheranan.

“Dalam keadaan seperti ini, namaku bukan Suro Bodong, tapi: Panji Bagus!”

“Gila. .! Ilmu apa yang kau miliki sebenarnya?” gumam Wangon seraya berputar memandangi Panji Bagus. “Aku bisa berubah ujud tujuh kali. Tergantung berapa kali aku bersalto di udara. Tapi.. sudahlah, lupakan keadaanku ini.. “

Kemudian Panji Bagus mencari tempat lega. Ia melompat ke udara dan bersalto satu kali. Tahu-tahu tubuhnya berubah, bukan menjadi Panji Bagus lagi, melainkan menjadi Suro Bodong yang suka garukgaruk kumis. Pedang Urat Petir masih digenggamnya di tangan kanan. Wangon semakin terkagumkagum, demikian pula Resi Padma, namun Resi Padma bisa menyembunyikan rasa

kagumnya.

“Nah, kalau keadaan begini lebih enak, kan?” kata Suro Bodong, kemudian mencabut sebilah pedang bersarung emas.

“Inikah Pedang Kerak Neraka?!”

“Benar. .!” kata ResiPadma. “Mari kubuktikan kata-kataku kemarin…”

ResiPadma membuka bagian dari sarung pedang emas itu, dan di antara lapisan sarung tersebut memang terdapat sehelai gulungan lontar tipis yang berisikan catatan-catatan tentang ketiga tingkatan ilmu: Sabda Titah dengan mantera-mantera, Asmaragama, dan Galih Racun. Benar. Resi tidak bohong.

“Dan kau tahu siapa pencuri sebenarnya?“tanya Suro.

“Pimpinan ninja tentunya, orang yang mati ini, kan?” jawab Wangon.

“Sekarang, akan kubuka pembalut yang menutupi wajahnya ini, lalu perhatiakansiapa dia.. !”

Ketika Suro Bodong membuka kain yang menutup sekujur tubuh mayat ninja biru, Resi Padma terpekik bersama denganWangon. Matanya membelalak dengan mulut ternganga kaku. “Ajeng..?! Ajeng Wasti. ?!”

“Ya. Ajeng Wasti,” jawab Suro. “Aku sudah lama mencurigai dia, terutama sejak kepergiannya yang pertama. Aku tidak menyebutkan arah pondok ninja ini, tapi ia katanya berhasil sampai si sini dan diperkosa. Padahal murid-murid yang dibawanya itu justru dibantai olehnya sendiri, termasuk Lohan!”

Wangon dan Resi Padma tertegun lemas. Tak ada kata yang terucap. Bisu dan beku. Dan Suro Bodong pun mulai melangkah menyusuri hatinya yang kelabu, mencari kekasihnya: Rama Prawesti.

SELESAI
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Serial Suro Bodong Eps 03 : Pedang Kerak Neraka"

Post a Comment

close