Serial Pendekar Pedang Roh eps 07 : Dosa Anak Terbuang

Pendekar Pedang Roh Saga Merah membuka matanya yang terpejam. Pemuda berpakaian kulit warna cokelat dan berambut gondrong ini kemudian memperhatikan keadaan disekelilingnya. Tiada pohon dan rerumputan. Suasana sunyi terasa mencekam sekali. Dia mencoba mengingat di mana saat itu berada. Ternyata dia tidak mengingat apaapa, bahkan apa yang terjadi dengannya sebelum berada di tempat itu juga dia tidak tahu.

Dia pun kemudian mencoba bangkit, sekujur tubuh terasa lemah. Saga tidak sanggup berdiri terkecuali duduk saja. Sekali lagi pemuda Ini memperhatikan keadaan disekitarnya. Dia melihat cahaya di atas sana, cahaya itu datang dari sebuah tempat yang jauh dalam Jarak Jutaan tombak. Ketika pemuda ini memandang ke sekelilingnya. Dia melihat sebuah padang yang luas tiada batas. Suasana di sekitar tempat itu dalam keadaan gelap temaram. Walau demikian mata sang pendekar dapat melihat segalanya dengan terang. 

Dia mencoba mengingat-ingat, namun sampai kepalanya sakit berdenyut tidak satu pun peristiwa yang dapat diingatnya. Pemuda ini bingung, setelah mengumpulkan tenaga dan segenap kekuatan akhirnya dia bangkit dan berjalan tanpa tahu arah dan tujuan. 

"Tidak ada rumah, tidak kulihat seorang pun, seakan tidak ada kehidupan di sini. Aku sekarang ada di mana dan apa yang terjadi dengan diriku!" 

Batin pemuda itu. Dia lalu meraba tangannya, Saga terkejut. Sentuhan jari pada lengannya tidak menimbulkan rasa. Pemuda ini penasaran, dia mencubit pipinya. Pemuda ini lebih kaget lagi. Bagian pipi yang dicubitnya tiada rasa sakit sedikit pun. 

"Sudah matikah aku? Apa yang terjadi? Bagiku ini sangat membingungkan. Aku tidak sanggup mengingat apa-apa, ingatanku seakan mati dan otakku seolah kehilangan fungsinya," 

Pikir pemuda itu cemas. Kini dalam keadaan bingung dia terus berjalan. Kemana saja melangkah tidak seorang pun yang ditemuinya. 

"Apakah aku telah berpindah ke alam lain. Ataukah aku sedang bermimpi?"

Batinnya lagi. Pemuda itu hentikan langkah. Selanjutnya dia memutuskan untuk menjernihkan pikirannya. Saga segera duduk bersila sambil memejamkan mata. Perlahan dia menarik nafas dan menghembuskannya. Setelah berada dalam posisi samadi sekian lama, pikirannya menjadi kosong. Setelah itu muncul sekilas bayangan seorang kakek berbadan pendek kurus bermata belok, kakek Itu berambut putih dan berpakaian serba hijau. Si kakek muncul tanpa bicara, namun mulutnya yang terlindung kumis mengurai senyum.

"Guruku Dewa Tujuh Bumi, engkaukah itu?!" 

Desis Saga Merah kaget. Seketika bayangan itu lenyap. Saga yakin yang muncul hadir dalam benaknya memang Dewa Tujuh Bumi. Tapi mengapa tiba-tiba menghilang. Dia merasa tidak puas, namun untuk yang kedua kalinya dia mengosongkan pikiran. Tidak berselang lama, tiba-tiba muncul seorang kakek lain berhidung mancung. Wajah dihiasi jambang dan jenggot lebat. Orang ini bersorban merah dan berpakaian serba merah. Kakek satu ini memandangnya dengan tatapan tajam menusuk, kemudian bibirnya bergerak. 

"Belajar tanpa guru bisa tersesat, berjalan tanpa mengenal arah bisa celaka. Tapi kau orang yang memiliki guru, para gurumu bisa dibaratkan sebuah jalan yang memiliki tujuan, lalu mengapa harus cemas?" Ujar orang tua itu. 

"Sabai Baba guruku...." 

Ucapan Saga terputus. Sosok bayangan sang guru yang berasal dari pegunungan Himalaya ini mendadak raib. Sang pendekar jadi gelisah, namun dia berusaha menenangkan diri. Sampai akhirnya samar-samar dia melihat kehadiran sosok yang lain. Sosok seorang laki-laki tua berambut putih bermata sipit berpakaian biru panjang menjela hingga hampir menyentuh mata kaki. Dia adalah guru Sun yang biasa disapa Kakek Sun. 

Orang tua itu adalah salah satu dari tiga gurunya yang saat ini berdiam di puncak Merapi. Sang pendekar merasa tenang. Namun dia ingin bertanya tentang keberadaannya saat itu, Sebelum dia sempat mengajukan pertanyaan, saat itu si kakek yang berasal dari daratan Tiongkok ini berkata. 

"Tidak perlu banyak bertanya. Berjalanlah terus ke depan, di sana ada pohon kehidupan. Orang-orang yang hidup dibumi, namanya tercantum pada setiap lembar daun. Selama daun Itu masih menghijau, maka orang yang namanya tercantum dalam setiap helai daun itu tetap hidup. Kematian akan menjemputnya bila daun itu layu dan gugur. Kau pun tidak perlu resah karena kau punya pendamping. Pendampingmu bukan hanya sekedar senjata biasa. Walau berupa pedang namun dia memiliki roh. Kau bisa memanggilnya. Sebagai guru, kami telah memberi tahu caranya."

"Tapi...." 

Baru saja Saga hendak bicara sosok bayangan kakek Sun mendadak raib, hilang dari pandangan mata. Pemuda itu kembali dibuat terkesima. Dengan membuka mata pendekar Pedang Roh tidak melihat siapa-siapa. Tapi dia Ingat bahwa ketiga gurunya sempat hadir saat dirinya memusatkan pikiran. 

"Guru menganjurkan agar aku memanggil pendampingku. Apakah benar-benar Pedang Roh yang beliau maksudkan?" 

Batin pemuda itu. Karena yakin bahwa yang hadir memang guru-gurunya maka pemuda ini segera mengangkat tangan dan menempelkannya di depan dada. Dia kemudian membaca lapal yang biasa dipergunakan untuk mengeluarkan senjatanya. Tidak berselang lama dia mendengar suara menderu dan kilatan cahaya merah muncul dari dalam dirinya sendiri. 

Wuuus! Kilatan cahaya lalu bergerak menjauh tidak sampai satu tombak. Setelah itu cahaya berputar-putar mengelilingi pemuda ini. Saga Merah merasa ada hawa kesejukan yang luar biasa. Namun berputarnya cahaya tidak berlangsung lama. Sekejab kemudian cahaya berhenti lalu bergerak-gerak membentuk satu sosok diri. Semua yang terjadi memang tidak berlangsung lama. Dalam waktu sekejab di depan pemuda itu berdiri seorang laki-laki tua berambut panjang, beralis tebal dan berjanggut panjang. 

Kakek ini memakai pakaian serba putih, sedangkan sepasang matanya sipit sekali hingga hanya berupa garis kecil. Mula-mula Saga menduga yang muncul adalah gurunya. Tetapi setelah diperhatikan lebih seksama dia menyadari orang yang hadir dan berasal dari jelmaan cahaya itu jelas memiliki wajah dan bentuk tubuh berbeda.

"Siapa kau?" 

Tanya pemuda Ini penuh rasa Ingin tahu. Kakek tua itu tersenyum. Dengan mulut tetap mengurai senyum, orang tua ini berkata. 

"Pada suatu saat kelak, di mana yang akan datang akan terlahir ksatria-ksatria pemberani bernama Musashi. Ksatria itu terlahir di sebuah negeri bermusim, sedangkan diriku seorang Musas. Diriku diciptakan oleh Sang Ada. Hanya aku datang lebih awal dari waktu yang telah ditentukan. Kedudukanku di bawah para guru, keberadaanku di atas benda-benda yang memiliki kesaktian"  

"Hmm, apakah kau bagian dari senjata yang kumiliki?" Tanya pemuda itu merasa tidak puas. 

"Kau telah melihat dari mana diriku keluar, kau telah menyaksikan dengan matamu dari apa aku menjelma. Yang kukatakan ini cukup menjadi jawaban. Sekarang yang terpenting adalah mematuhi apa yang telah dikatakan oleh gurumu. Berjalan ke depan tanpa harus bertanya apakah kau akan bertemu dengan seseorang atau tidak." 

Saga Merah terdiam. Dia berpikir sejenak, sampai akhirnya dia memutuskan untuk memenuhi ajakan sang Musas. Tanpa bicara apa-apa, namun sambil tetap mengawasi gerak-gerik orang tua itu dia berjalan lurus ke arah depan. Tidak berselang lama dia melihat ada cahaya seterang matahari memancar dari depan Sana.

"Aku melhat cahaya. Cahaya itu sebelumnya tidak pernah kulihat .Apakah mungkin Musas mengetahui apa yang ada di balik cahaya tersebut? Aku Ingin bertanya. Tapi aku merasa malu."

Sang pendekar memutuskan untuk tidak bertanya pada kakek yang berjalan di depannya. "Lihatlah cahaya terang itu wahai temanku!" Kata Musas. 

"Cahaya terang dan pohon menjulang namun teduh sekali. Ini mengingatkan diriku pada sesuatu."

"Hmm, begitu? Kupikir yang ada di depan kita ini adalah pohon kehidupan." Kata Musas dengan hati-hati. 

"Apa maksudnya?"

"Kau sudah mendengar sebelum bertanya. Apakah kau lupa bahwa semua manusia yang terlahir ke dunia ini berapapun jumlahnya mereka tercantum dalam setiap lembar daun di pohon itu. Masing-masing daun tertulis nama seseorang. Bukan hanya nama, tapi juga soal rejekinya, umur, jodoh dan semua yang terkait dengan orang itu. Bila daun di pohon kehidupan itu gugur maka orang yang namanya tercantum dalam pohon itu akan gugur atau mati. Pohon kehidupan ini akan terus hidup selama dunia terkembang. Kalau pohon kehidupan mati, maka di dunia tidak ada kehidupan lagi."

Saga Merah berdecak kagum mendengar penjelasan itu. Dia lalu bertanya. 

"Apakah pohon ini ada yang menjaga?"

"Tentu saja. Pohon kehidupan dijaga ketat oleh mahluk-mahluk suci atas kehendak sang Hyang Tunggal. Mahluk-mahluk itu tidak pernah tidur. Dia tidak butuh makan dan minum karena tidak punya keinginan. Tapi mereka hidup. Mereka memiliki kepatuhan yang sangat tinggi, hidup mereka khusus dipersembahkan pada Sang Maha Pencipta."

"Aku tidak tahu mengapa aku sampai kemari?" Ujar pemuda itu. 

"Kau seorang pendekar. Sebagai orang yang diharapkan oleh para gurumu untuk menegakkan kebenaran. Kau tidak diizinkan membunuh dengan sewenang-wenang. Karena apa saja yang kau lakukan dalam hidupmu, baik buruk-jahat salah. Cepat atau lambat kau pasti akan mendapatkan hasilnya."

"Aku sudah mengetahui tentang hal Itu. Betapapun aku harus membunuh musuh-musuhku. Terkecuali mereka yang mau kembali ke jalan yang benar," ujar sang pendekar. Musas manggut-manggut. 

"Perbedaan benar dan salah dapat dilihat, namun ada kalanya memberi maaf kepada orang jahat di saat kita mampu berbuat banyak pada orang tersebut jauh lebih baik. Otak sebagai alat untuk menimbang. Hati bisa menjadi singgasana yang baik bagi kejahatan maupun kebalikan. Aku melihat apa yang tidak kau lihat, aku mendengar apa yang tidak kau dengar. Dan yang kudengar baru saja tadi kau mendapatkan sebuah rahmat karena datang ke tampat ini. Sekarang kau lihatlah pohon itu. Kau lihatlah daun-daunnya yang sebesar telapak tangan." Ujar Musas. 

"Aku telah melihatnya begitu banyak nama tertera di setiap lembar daun yang kulihat. Coba kau lihat lagi, apakah di antara sekian juta daun yang kau lihat di antaranya ada tertera namamu?" 

Kata sang Musas. Saga mengamati lembar demi lembar daun yang menempel pada setiap dahan pohon kehidupan. Dia lalu melihat namanya tertera pada lembaran daun yang menghijau dan memancarkan aneh gemerlap seperti kerlip bintang. 

"Aku sudah melihatnya. Tapi aku tidak dapat melihat seberapa lama umurku." Kata pemuda itu. Musas tersenyum. 

"Usiamu juga tertera di situ, tapi Hyang Tunggal membatasi penglihatanmu hingga hidup menjadi sesuatu yang menarik. Semua dilakukan untuk kepentingan dirimu sendiri. Nah sekarang kau berbaliklah ke belakang!" Kata Musas. 

Walau bingung dan tidak tahu apa yang diinginkan Musas, namun Saga mematuhi juga perintah Musas. Dia berbalik ke belakang. Tidak lama si kakek tiba-tiba berkata, 

"Wahai para penjaga pohon kehidupan yang mulia. Dia telah datang kemari, sesuai dengan kehendak sang takdir. Dia juga telah melihatmu. Demi kebaikannya sendiri dan demi kemuliaan Hyang Tunggal. Berikanlah sesuatu padanya berupa anugerah apa saja yang bisa membawanya menuju ke arah keselamatan diri." 

Tidak lama setelah berkata begitu, Musas menunggu. Selanjutnya dari lembar daun di mana nama Saga Merah tertera di sana melesat satu larik cahaya yang segera menerpa otak belakang pemuda itu dan langsung menjalar di seluruh tubuhnya. Saga Merah tidak merasakan apa-apa terkecuali rasa sejuk yang sangat luar biasa. Hanya saja sekujur tubuhnya bergetar ketika sel-sel otaknya seperti mendapatkan aliran kilat berkekuatan halus. 

"Apa yang terjadi denganku?" Tanya pemuda Itu. 

"Bukan apa-apa. Dalam dirimu kini telah hadir sebuah penangkal yang bisa membuatmu luput dari serangan-serangan gelap orang yang membenci dirimu"  

"Hmm, begitu. Kalau demikian aku harus berterima kasih pada anugerah yang diberikan oleh pohon kehidupan, penjaganya juga pada Hyang Tunggal." Ujar Saga Merah. 

Dia lalu rangkapkan kedua tangan, selanjutnya dia menjura ke arah pohon tersebut. Pendekar Pedang Roh kemudian bangkit berdiri. Tetapi betapa kagetnya dia karena begitu dirinya tegak pohon besar berdaun rindang dengan cecabang menjulai ke seluruh penjuru arah mendadak raib tidak meninggalkan bekas. Sebaliknya ketika pemuda ini memperhatikan keadaan di sekelilingnya, Justru dia melihat ada perkampungan sunyi di sebuah daerah yang tandus. Sang pendekar menoleh, memandang orang yang berdiri di sampingnya. 

"Orang tua, mengapa semua bisa berubah?" Tanya Saga Merah heran tidak mengerti. 

Si kakek tersenyum. "Yang terjadi adalah sebuah proses alami biasa. Perjalanan angan-angan dan pikiran tidak bisa disamakan dengan perjalanan raga. Perjalanan angan-angan jauh lebih cepat dari perjalanan raga. Angan-angan sesungguhnya bebas bergerak tanpa batas. Sedangkan raga tidak" 

Sang pendekar berpikir yang dikatakan Musas memang ada benarnya. Dia hendak bertanya tentang sesuatu, namun niatnya segera diurungkan karena mendadak dia mendengar suara orang bicara. Saga Merah memasang telinga dan memusatkan perhatian. 

"Apakah kau mendengar sesuatu?"

"Ya. Ada dua orang sedang bercakap-cakap. Yang satu suara laki-laki sedangkan satunya lagi suara perempuan," Jawab Musas.

"Benar. Dari manakah asal suara itu?"

"Tentu saja dari rumah yang terdapat di ujung dusun ini. Kau harus melihat dan mendengarnya!" ujar Musas. 

"Orang tua. Bukankah tidak baik mencuri dengar pembicaraan orang lain?" Kata Saga mengingatkan. 

Orang tua itu tersenyum. "Kau tidak usah berpikir begitu. Yang kau lihat dan kau dengar hari ini ada kaitannya dengan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Mari kau ikuti aku!" 

Perintah Musas. Ajakan Musas sebenarnya ingin ditolak oleh Saga Merah, tapi dia sendiri entah mengapa merasa pembicaraan yang didengarnya sayup-sayup Itu cukup menarik. Dan mungkin ini ada hubungannya dengan urusan cinta. Karena terdorong oleh rasa ingin tahu juga Saga Merah akhirnya menyusul si kakek yang telah berjalan mendahuluinya. 

"Karena kita telah sampai di halaman samping pondok sederhana ini. Kita harus masuk ke dalam" Ujar Musas hingga membuat Saga terhenyak. 

"Pintu depan agaknya terkunci. Dari mana kita masuk? Bagaimana bila sampai ketahuan kita bisa celaka," Jawab pemuda itu khawatir.

Si kakek tersenyum. "Apa yang kau takutkan. Yang hadir kau takutkan. Yang hadir di sini hanyalah badan halusnya saja, Diriku dan dirimu sama saja."

"Apa?" Saga Merah mendelik saking kagetnya. 

"Badan halus, jadi ragaku ada di mana? "

"Ragamu tertinggal di suatu tempat dan dalam keadaan keracunan," Ujar Musas. 

Hingga membuat Saga kembali dibuat kaget. 

"Bagaimana kalau ragaku di makan binatang buas, aku akan menetap diraga siapa?" 

Tanya pemuda itu cemas sekali. Lagi-lagi si kakek tersenyum. 

"Mungkin kau bisa menempel di pohon menjadi hantu penasaran"

"Orang tua.... kau.... kau jangan bercanda....?!"

"Kau tidak perlu cemas. Saat ini ada dua perempuan yang sedang berusaha keras menguras racun di tubuh kasarmu. Yang satu setengah tua yang satunya lagi seorang puteri cantik jelita. Kurasa dia jatuh cinta padamu saat pertama kali melihatmu. Kau harus bersyukur dia diam-diam menyayangimu."

"Oh kedengarannya menyenangkan. Aku harus kembali ke sana, aku harus masuk kembali ke dalam ragaku agar mereka tidak mengkhawatirkan keselamatanku." 

Saga lalu berbalik dan siap melangkah pergi. Tapi Musas mencegahnya.

"Kau tidak boleh pergi begitu saja. Kurasa Ini sebuah kisah yang tidak boleh kau lewatkan."

"Tapi....!"

Musas tidak menunggu sampai Saga Merah menyelesaikan ucapannya. Dia segera menarik tangan pemuda itu dan membawanya menembus dinding. 

Plaassh! 

"Astaga! Bagaimana ini bisa terjadi. Kita bisa menembus dinding itu?" Desis Saga kaget. 

"Tanpa raga dirimu seperti angin. Kau bisa menembus apa saja. Sekarang kau lihat ke depan itu." 

Saga Merah memandang ke arah yang ditunjuk Musas. Untuk yang ke sekian kalinya dia tak dapat menyembunyikan rasa kejutnya. Di depan sana di ruangan yang sama sang pendekar melihat dua anak manusia. Satu pemuda tampan dan satunya lagi seorang gadis berambut panjang. Gadis itu memiliki wajah yang cantik sekali.

"Orang tua, kau ini bagaimana? Mereka pasti melihat kita?" Kata pemuda itu dan siap untuk bersembunyi. 

"Kau tidak perlu takut, mereka tidak melihat kita."

"Ssst, kau jangan bicara keras-keras, mereka nanti mendengar suara kita!" 

Kata pemuda itu sambil menempelkan telunjuknya di bibir. Si kakek nyaris tertawa melihat Saga menempelkan Jari telunjuknya di bibir. 

"Kau ini bodoh sekali. Keadaan kita sama seperti mahluk halus yang lainnya. Jika mereka tidak bisa melihat, berarti mereka juga tidak bisa mendengar apa saja yang kita bicarakan. Artinya kita dapat melihat dan mendengar pembicaraan mereka dan mereka tak dapat melakukan hal yang sama."

Penjelasan ini setidaknya membuat Saga Merah merasa lega. 

"Syukurlah! Tapi mengapa gadis itu menangis? Apa yang terjadi padanya?" Tanya pemuda itu. 

"Aku tidak tahu. Seperti yang kukatakan ini pasti menyangkut urusan cinta," ujar si kakek. 

Saga Merah manggut-manggut. Kalau hanya urusan cinta, apanya yang menarik. Tetapi mungkin yang dikatakan Musas ada benarnya, mereka memang harus mendengar apa yang mereka bicarakan juga apa yang terjadi pada mereka.

***

Gadis itu duduk terdiam di atas sebuah kursi bundar. Perhatiannya sejak tadi tertuju ke arah jendela. DI luar jendela terlihat sebuah pemandangan indah berupa bukit-bukit menghijau yang ditumbuhi dengan berbagai jenis bunga yang menebarkan aroma semerbak. 

"Adik...." 

Pemuda tampan berambut panjang namun digelung ke belakang itu pada akhirnya membuka mulut. Dia melangkah mendekat, lalu disentuhnya bahu sang dara yang tidak terlindung pakaian dan berkulit kuning langsat itu. Si gadis menengadahkan wajah, bola matanya yang bundar menatap lurus ke arah wajah tampan yang berada beberapa jengkal di atas kepalanya. 

"Ada apa kakang? Sejak tadi wajahmu muram, apakah yang telah terjadi pada diriku ini terlalu merisaukan hatimu? Tidakkah kau seharusnya gembira?" 

Kata dara ayu itu dengan wajah sendu. Si pemuda yang memiliki gelar Kincir Emas dan bernama asli Matae Mata ini memaksakan diri untuk tersenyum. Walau demikian tetap saja dia tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya. 

"Aku tahu di antara kita ada ikatan batin yang sangat kuat, adik Butara Dewi. Ikatan batin itu terjalin dalam sebuah cinta. Tetapi kau sendiri mengetahui setinggi apa kau menyayangiku dan sedalam apapun cintamu terhadapku. Di depan kita menghadang sebuah tembok tinggi yang sulit ditembus. Kau mengetahui Butara, ayahmu pasti menentang hubungan kita. Apalagi bila sampai tahu kau sekarang dalam keadaan mengandung."

"Tapi kakang, semua yang terjadi pada diriku walau aku pernah mengharapkannya namun di luar kemampuanku. Aku tidak pernah merasa berhubungan badan dengan siapapun. Malah kita sendiri tidak pernah berbuat sesuatu di luar batas kepatutan. Yang aku tahu, akhir-akhir ini aku memang sering mandi di Kali Hurip Timbul Nyawa. Aku mandi di daerah muara dan kakang sendiri mandi di bagian hulu"

"Astaga? Apakah kau tidak tahu, bahwa sungai itu merupakan sungai yang memiliki anugerah gaib, Kau sendiri kapan mandi di sana?"

"Setiap sore menjelang matahari terbenam. Aku sering berendam di Kali Hurip Timbul Nyawa dalam waktu yang lama. Terkadang di saat membersihkan diri aku sering membayangkan dirimu. Kita berdua di tempat itu, kemudian kita bermesraan dan melakukan hubungan badan."

"Oh celaka! Apakah kau tidak tahu sungai itu bisa menghubungkan jiwa dan raga seseorang yang saling mencinta, tidak perduli betapa jauh jaraknya asalkan orang itu berada di sungai yang sama. Mereka yang saling merindukan bisa menyatu badan. Tetapi jangan lupakan satu peran yang lain. Di dalam Kali Hurip Timbul Nyawa juga hidup mahluk lain yang bernama Kebencian. Mahluk ini sering mengambil keuntungan dari apa saja yang dilakukan oleh manusia. Mahluk itu sama seperti laki-laki yang mudah tertarik pada kaum wanita" ujar Matae Mata. 

Si gadis merasakan perutnya bergelung mual. Dengan mata mendelik dan nafas megap-megap dia bertanya. 

"Kakang aku tidak perduli dengan rintangan apapun yang bakal kita hadapi. Yang jelas pada waktu yang sama kita berada di sungai yang sama. Bedanya kau di hulu dan aku di muara. Air selalu mengalir dari hulu ke muara. Pertanyaanku adalah, apakah kau pernah merasakan ada puncak indah dalam bercinta?" Tanya gadis itu. 

"Ya, tentu saja. Air kali itu telah menjadi penghubung dari pencapaian hasrat dari keinginan kita. Walau hanya melalui air, sesungguhnya kita telah melakukan pelanggaran berat. Secara tidak langsung kita melakukan hubungan badan sebelum waktunya."

"Kali Hurip Timbul Nyawa. Oh Hyang Tunggal maafkan kekeliruan kami."

"Jad.... Jadi mualmu karena kau sedang berbadan dua," 

Kata Matae Mata dengan wajah penuh penyesalan namun mata berbinar karena dia yakin mereka dikaruniai seorang anak. 

"Ini karunia," 

Ujar Matae Mata sambil memeluk Butara Dewi. Tapi kemudian dia melepaskan pelukannya. 

"Karunia bisa berubah menjadi malapetaka di kemudian hari bila mahluk Kebencian yang menghuni Kali Hurip ikut berperan dalam hubungan jarak jauh yang terjadi di antara kita," Gumam Matae Mata cemas.

"Mahluk Kebencian. Aku baru mendengar tentang mahluk itu darimu. Aku tidak mengerti apakah mahluk kebencian laki-laki?"

"Mahluk kebencian memiliki anggota kelamin ganda, kedua kelaminnya sama-sama berfungsi. Jadi dia bukan banci. Pada saat dirinya ikut melampiaskan hasratnya. Yang sering terjadi dia menggunakan kelamin laki-laki" ujar Matae Mata yang memiliki gelar Kincir Emas Ini dengan mata menerawang. 

Butara Dewi tiba-tiba terdiam, namun air matanya mengalir membasahi pipinya yang putih kemerahan. Matae Mata menatapnya dengan heran. Dia bersimpuh di depan gadis yang dicintainya Itu. 

"Kalau anak kita terlahir nanti, apakah anak kita tidak menyerupai salah satu di antara kita? Kakang aku takut sekali." 

Matae Mata memeluk gadis itu, dia membelai punggungnya. Kemudian dengan suara lirih dia berkata. 

"Dia akan menyerupai salah satu di antara kita. Tapi tanda-tanda Mahluk Kebencian ikut mengambil keuntungan dalam hubungan yang terjadi antara kita dapat dibuktikan dengan sifat-sifat anak itu. Kau tidak perlu takut. Soal kehamilan aku pasti akan bertanggung jawab. Yang merisaukan aku adalah orang tuamu. Ayahmu kau tahu sendiri sejak dulu tidak menginginkan hubungan ini, dia menentangnya karena ayahku Bajawane Loh Jopeng adalah musuh bebuyutannya. Ayahku selalu dipandang rendah oleh ayahmu Kaliwunggul Tetak Jara," Ujar pemuda itu sedih. 

Si gadis merasa terenyuh, dia menoleh sambil melepaskan pelukan pemuda yang amat dikasihinya. Kemudian jari-jari tangannya mengusapi wajah orang yang dikasihinya. 

"Kakang, aku tahu ayah memendam segunung rasa benci pada keluargamu. Aku tidak pernah menyalahkan pertemuan kita, aku tidak Juga pernah menyesali hubungan cinta kita," Ujar Butara Dewi dengan mata menerawang. 

Kemudian dia melanjutkan. "Ketika mengetahui hubungan cinta yang terjalin di antara kita, ayahku marah besar. Dia bahkan mengancam akan membunuhku jika aku tidak memutuskan hubungan kita. Sekarang aku yakin jika beliau mengetahui aku telah berbadan dua seperti ini aku tahu dia pasti bakal memenggal kepalaku."

"Sekarang ayahmu sedang mencari kita. Kita harus menyingkir Jauh untuk menyelamatkan diri dan bayi kita. Kita tidak bisa tinggal di tempat ini lebih lama. Aku tidak takut mati, yang kukhawatirkan saat Ini adalah keselamatanmu. DI samping itu, aku juga ikut mengkhawatirkan campur tangan Mahluk Kebencian dalam hubungan badan jarak jauh yang terjadi di antara kita."

"Mengapa kakang mengkhawatirkan sesuatu yang tidak jelas?" kata Butara Dewi. 

Matae Mata tersenyum, wajahnya membayangkan khawatirnya yang mendalam. 

"Kau tidak tahu adik, bahwa mahluk Kebencian itu memang ada. Dia tinggal di Kali Hurip Timbul Nyawa. Mahluk itu selalu berselera pada wanita yang mandi di sungai. Kita belum tahu bagaimana hasilnya, campur tangan mahluk Kebencian tidak pernah kita lihat karena dia bisa menghilang. Seandainya mahluk Kebencian mengambil kesempatan saat kita melakukan hubungan itu. Kemungkinan besar anak yang akan terlahir nanti tidak perduli laki-laki atau perempuan, maka hanya ujudnya saja yang seperti kita namun sifat dan jalan pikirannya bakal sama seperti sifat mahluk Kebencian."

"Bagaimanakah sifat mahluk Kebencian itu?" 

Tanya Butara Dewi dengan perasaan tidak tenang. Matae Mata menelan ludah membasahi tenggorokannya yang mendadak kering. Dengan berhati-hati dia berkata, 

"Almarhum ayahku Bajawane Loh Jopeng tahu banyak tentang mahluk Kebencian. Menurut ayah mahluk Kebencian adalah mahluk yang dilahirkan tidak sempurna. Mahluk itu tidak punya rasa belas kasih, dia orang yang sangat iri, dia menyimpan kedengkian. Dia juga sangat sombong, angkuh, takabur bahkan tidak mengakui kebesaran Sang Hyang Tunggal."

"Di dalam dirinya tidak ada cinta kasih, yang ada hanya kebencian. Dia mahluk sakti yang belajar dari alam di sekitarnya. Dia tidak memiliki guru, karena guru yang sesungguhnya bagi Kebencian adalah kesombongan dan sifat Ingin menang sendiri. Kekasihku, aku hanya bisa berpesan padamu, seandainya aku tidak panjang umur. Aku hanya bisa memberitahukan padamu beberapa hal."

"Yang pertama jika calon bayi dalam kandunganmu benar-benar murni anak kita, maka sampai menjelang kelahirannya kau tidak akan mendapatkan kesulitan. Tetapi jika mahluk Kebencian ikut berperan pada saat kita melakukan hubungan cinta kita, maka bayi dalam rahimmu selalu berulah. Bayi dalam kandungan itu akan melakukan tindakan tindakan yang bakal membuatmu susah."  

"Cukup kakang, jangan lagi kau berkata seperti itu," Potong Butara Dewi dengan suara keras. 

"Biarlah aku hidup lebih lama dengan bayi yang ada dalam kandunganku ini. Aku tidak rela jika kau harus mati di tangan ayahku. Lagi pula kau memiliki ilmu yang sangat tinggi, mustahil ayahku sanggup mengalahkan dirimu!" Ujar gadis itu sambil menangis tersedu-sedu. 

Matae-mata terdiam, dia merasa tidak mungkin dirinya menceritakan tentang sebuah perjalanan singkat menuju Pohon Kehidupan. Ketika sampai di tempat paling rahasia baik di bumi maupun di langit itu. Matae mata melihat daun bertuliskan namanya. Daun itu nampak mulai layu, dia juga melihat takdirnya serta jalan kematiannya. Sesuai takdir dia tewas di tangan bakal calon mertuanya yaitu Kaliunggul Tetak Jara. Yang dilihatnya adalah kenyataan, yang dia saksikan adalah jalan hidup yang jelas ada hubungannya dengan takdir. 

Daun di Pohon Kehidupan di mana namanya tertulis di sana telah layu, hanya kapan gugurnya Matae Mata tidak tahu. Kemudian Pohon Kehidupan menghilang dari hadapannya. Dan yang terjadi berlangsung secara gaib. Matae Mata kembali pulang dengan jalan yang hanya bisa ditempuh dengan sukma. 

Ya, Matae Mata meninggalkan raganya di suatu tempat yaitu di rumah yang saat itu mereka tempati. Haruskah dia menceritakan perjalanan rahasia itu pada kekasihnya. Tidak mungkin! Butara Dewi bisa jadi ketakutan karena penjelasannya. Dia harus mengambil jalan tengah yang bisa membuat kekasihnya tenang.       Matae Mata kemudian berkata. 

"Sudahlah, lupakan tentang ucapanku tadi. Sekarang kita harus berpikir tentang calon bayi yang kau kandung itu. Menurutku kita harus menemui orang tuamu secepatnya guna meminta restu. Bila ayahmu merestui hubungan kita, berarti kita bisa kawin secara sah," Ujar si pemuda. 

Butara Dewi dengan tegas menggeleng sebagai tanda tidak setuju. 

"Itu tidak mungkin kakang! Kau sudah mengetahui bagaimana sikap ayahku sejak dulu. Dia bisa murka dan membunuh kita berdua." 

Apa yang dikatakan kekasihnya memang sebuah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Kaliunggul Tetak Jara bakal membunuhnya? Matae Mata manggut-manggut.  Dia harus mencari akal dan mencari cara agar mereka dapat terus hidup bersama. Tapi bayangan tentang Pohon Kehidupan kembali hadir di pelupuk matanya. Pemuda ini tersentak, dia tak dapat membayangkan bagaimana kematian datang menjemputnya. Dia belum siap mati, dia belum siap berpisah antara raga dan nyawanya. Sekilas dia mendapatkan akal, dengan mata berbinar Matae Mata berkata. 

"Aku sudah mendapatkan Jalan, sekarang juga kita pergi dari sini." 

Si gadis menyambutnya dengan mata berbinar-binar. 

"Benarkah kakang, kau akan membawaku pergi jauh!?" 

Gumam Butara Dewi dengan mata berbinar. Matae Mata menganggukan kepala. 

"Aku menyembunyikan dua ekor kuda di samping lembah. Kita bisa melakukan perjalanan dengan berkuda," Ujar pemuda itu.

Tanpa menunggu lebih lama. Butara Dewi bangkit dari tempat duduknya. Mereka kemudian keluar dari rumah itu, Matae Mata memimpin di depan. Dia membuka pintu. Namun di luar dugaan begitu pintu terkuak sebatang tombak meluncur dari arah semak semak yang terdapat di depan pondok itu. Seketika itu juga tanpa sempat menghindar, dada Matae Mata tertembus mata tombak hingga ke punggungnya. Matae Mata mengeluh kesakitan, sedangkan Batara Dewi menjerit kaget. 

"Ha... ha... ha! Aku sudah mendengar semuanya. Kau bukan saja anak yang tidak diuntung, tapi kau juga anak yang tidak punya harga diri dan rasa malu. Kau telah mencorengkan arang di mukaku, maka sekarangpun kau juga harus mati!" 

Kata satu suara yang disertai munculnya sesosok tubuh laki-laki setengah baya berpakaian merah berwajah angker. DI tangan kiri laki-laki Itu tergenggam sebuah tombak yang lain. Melihat kehadiran laki-laki itu Butara Dewi kaget bukan main. 

"Ayaaah...." 

Desis Butara Dewi begitu mengenali laki-laki itu. 

"Aku bukan ayahmu karena aku tidak punya anak serendah dirimu. Sekarang juga kau harus mampus!" 

Teriak si laki-laki yang bukan lain adalah Kaliunggul Tetak Jara berang. Dia tidak membuang waktu. Tombak di tangan kiri segera diputar lalu ditusukkan ke arah gadis itu. Namun Matae Mata yang bertahan dengan bersandar pada pintu segera angsurkan badan menghalangi serangan tombak sambil berteriak ditujukan pada kekasihnya. 

"Adik, jangan hiraukan diriku. Selamatkan dirimu segera. Jalan lewat pintu belakang. Biarkan aku yang menahan ayahmu!" 

Butara Dewi sempat kebingungan. Dia tidak mungkin tega membiarkan pemuda yang dia cintai menemui ajal, Namun dia juga menyadari ayahnya jelas-jelas bakal membunuhnya. 

"Cepat patuhi perintahku!" 

Teriak pemuda itu cemas. Tidak ada pilihan lain. Butara Dewi sambil menangis terisak dan langkah tergesa-gesa segera melakukan perintah laki-laki yang dicintainya. Melihat ini Kaliunggul Tetak Jara tambah berang. Dia hendak mengejar, namun ujung tombaknya di pegang oleh pemuda itu. 

"Bangsat kurang ajar. Mampuslah kau!" 

Teriak laki-laki setengah baya itu kalap. Dia gagal menarik tombaknya, maka sekuat tenaga tombak itu ditusukkannya ke depan dengan mendorong gagang tombak yang dipegangnya sekuat tenaga. Matae Mata yang sudah terluka parah tidak sanggup bertahan. Mata tombak yang kedua Ini akhirnya menjebol perutnya. Pemuda itu berkata dengan nafas megap-megap dan tubuh melorot ke tanah. 

"Aku mencintainya. Kematian ini tidak bisa memutuskan tali kasih di antara kami."

"Ha... ha... ha! Dulu aku tidak dapat membunuh ayahmu. Sekarang dengan membunuh dirimupun aku sudah puas. Bawalah cintamu ke kambung, kau tahu kambung? Kambung adalah neraka yang akan memanggang rohmu!" 

Dengus Kaliunggul berang. Dia lalu mencabut tombak secara berbarengan. Darah muncrat membasahi wajah orang tua ini. Selanjutnya dengan beringas dia mengejar ke arah lenyapnya Butara Dewi dengan meninggalkan jasad Matae Mata yang sudah tidak bernyawa. Tetapi ketika dirinya sampai di tepi lembah, dia tidak melihat anaknya. Di sana dia menemukan seekor kuda. Dia sudah mendengar semua pembicaraan yang terjadi antara sang anak dan Matae Mata. Berarti Butara Dewi melarikan diri dengan menggunakan salah satu dari kuda itu. 

Kaliunggul Tetak Jara tidak tahu kemana dirinya hendak mengejar. Tapi dia berpikir Butara Dewi harus dia temukan. Itu sebabnya tanpa membuang waktu dia segera melakukan pengejaran. Sementara itu semua yang terjadi di dalam pondok besar tersebut sudah barang tentu disaksikan oleh Musas si kakek yang berasal dari roh pedang yang merupakan senjata Saga Merah dan Saga sendiri. 

"Kita hanya berdiam diri tanpa berbuat sesuatu!" 

Kata pemuda itu yang berdiri tegak di tengah ruangan. Si kakek bermata sipit beralis putih ini tersenyum. 

"Pertolongan apa yang bisa kau lakukan? Kau dan aku sama-sama roh sedangkan ragamu ada di tempat lain."

"Tapi aku berpikir bahwa....!."

"Tidak! Kau hanya bisa berpikir bila rohmu berada dalam ragamu. Mengapa? Karena berpikir harus menggunakan otak, sedangkan otak tersimpan dalam raga yaitu kepala. Yang bisa kau perbuat hanyalah dengan menggunakan batinmu. Jadi dalam keadaan seperti ini kau sesungguhnya dalam kondisi yang agak lemah. Kau tidak bisa menggunakan pikiranmu. Kau tidak bisa mengingat kejadian di sini, karena ingatan adalah pikiran. Apa yang terjadi di tempat ini dan semua yang kau lihat hanya dapat kau simpan dalam batin, dalam perasaan karena perasaan adalah bagian dari batin."  

"Baiklah. Kalau begitu apa gunanya aku berada di sini?" Tanya Saga Merah 

"Aku yakin ini sebuah anugerah. Kau dijinkan melihat sesuatu yang akan terjadi dalam hidupmu di masa yang akan datang atas izin Sang Hyang Tunggal."

"Apakah ada hubungannya dengan bayi yang dikandung oleh gadis itu?" Kata pemuda itu tidak mengerti. 

"Ya"

"Apa yang terjadi selanjutnya?"

"Kalau kau ingin tahu, mari ikuti aku," Ujar Musas 

"Kemana?"

"Ke tempat dimana gadis itu bersembunyi," Ujar si kakek. 

Tanpa bicara lagi walau hatinya dipenuhi tanya Saga Merah segera mengikuti orang tua ini. Mereka melakukan sebuah perjalanan cukup panjang dan jauh namun berlangsung singkat. Tanpa terasa mereka sampai di tempat yang dituju. Sebuah kaki jurang menghadang di depan mereka. 

"Bukankah itu adalah Butara Dewi?" Tanya Saga Merah. 

"Memang dia. Kita melihat dia dan dia tidak melihat kita."

"Mengapa perutnya sudah sebesar itu?" Si kakek tersenyum. 

"Perjalanan waktu di sini berlangsung singkat. Hamilnya itu menurut perhitungan dunia sudah berlangsung tujuh bulan," Ujar kakek itu dengan mulut tetap mengurai senyum. 

"Astaga! Ini adalah sesuatu yang sulit dipercaya," Gumam Saga 

"Sama seperti keberadaan kehidupan serta alam gaib, banyak orang yang tidak mempercayai padahal kehidupan itu ada." 

Sang pendekar mengangguk setuju. Dia memandang ke depan. Dia melihat gadis yang sedang hamil tujuh bulan itu mengerang, meronta-ronta sambil memegangi perutnya yang sakit seperti ditusuk-tusuk.  
"Astaga! Apa yang akan terjadi?" Desis pemuda itu.

"Nampaknya dia mau melahirkan. Kita tidak bisa menolong dan tidak bisa membantunya karena kau tak berada dalam jasad kasarmu!" 

Saga menggigit bibir. Dia sendiri belum mengetahui siapa orang tuanya. Namun melihat penderitaan gadis itu membuat Saga teringat pada ayah dan ibunya. Sementara Saga dan Musas diam memperhatikan dari jarak yang tidak jauh. Butara Dewi si gadis malang mengerang sambil berkata. 

"Kakang.... anak kita ini nakal Sekali. Sejak empat bulan dalam kandungan dia terus menendang dan memukulku. Kakang.... bayi ini mungkin bayi yang mewarisi sifat mahluk Kebencian. Kakang mengapa aku tidak tahu bahwa ketika kita melakukan hubungan cinta mahluk Kebencian ikut pula bercinta dengan diriku. Berarti bukan hanya kau dan aku saja yang menikmati hubungan itu, lebih menjijikkan mahluk itu diam-diam ikut berperan." 

Baru saja Butara Dewi berkata demikian, tiba-tiba terlihat lintasan kilat dan suara menggaung. 

"Anakku, anakku! Sudah waktunya kau keluar dari perut ibumu. Aku adalah Kebencian, aku berteman dengan Kematian. Kau tidak perlu takut anakku. Walau ujudmu ujud manusia, namun sifatmu segalanya adalah sifat yang kuturunkan padamu. Kau akan menjadi raja dari segala angkara murka. Sekarang kau jebollah perut Ibumu itu!" 

Butara Dewi kaget bukan main mendengar suara gaung serta perintah-perintah yang diberikannya. Sampai kemudian dia mengerang sekaligus menjerit setinggi langit. Rasa sakit diperutnya makin menghebat, sementara permukaan perut itu bergolak.

"Tidak....! Aduh sakitnya....anak terkutuk! Anak jahanam, kau anak yang tidak kukehendaki karena kau Jelmaan dari dua pribadi yang berbeda. Pribadi yang baik serta ragamu adalah pribadi kekasihku Matae Mata. Sedangkan pribadi dan sifat terkutukmu berasal dari mahluk Kebencian. Aku tidak mengakuimu sebagai anak, kau adalah bocah terbuang karena kakekmu Kaliunggul Tetak Jara juga tidak menghendakimu. Wuagkh....akgh....!" 

Jeritan Butara Dewi terputus seketika bersamaan dengan jebolnya bagian perut searah dengan rahim. Kemudian terdengar suara tangis disertai munculnya satu kepala berikut badan yang berlumuran darah. Dari dalam perut yang robek besar merangkak sosok bayi lengkap dengan tali pusat. Bayi itu menangis hanya sekejab. Ketika kilatan kilatan cahaya membelainya dia langsung terdiam dan tersenyum sinis. Dia bayi laki-laki. Terlahir dalam usia kandungan sekitar tujuh bulan. 

"Anakku.... kau tidak perlu takut. Aku adalah salah satu dari ayahmu yang memiliki peran besar dalam hadirnya dirimu. Ayahmu yang berasal dari manusia adalah Matae Mata. Kau harus melupakan nama itu. Aku bersama pamanmu. Dia bernama mahluk Kematian. Kau akan dididik olehnya. Kau akan ditempatkan di Gerbang Kematian rumah tempat tinggal pamanmu. Tempat itu tak jauh dari Lembah Batas Dunia. Gerbang Kematian ada di kawasan hutan Kabut. Sekarang sambutlah pamanmu ini, dia akan membawamu keluar dari sini," 

Kata gaung suara itu. Tidak berselang lama ada cahaya hitam pekat menyambar ke arah bayi itu. Sang bayi lenyap. cahaya hitam lenyap, kil­atan-kilatan cahaya yang menandakan kehadiran mahluk Kebencian juga raib. Yang tertinggal hanya mayat Butara Dewi si ibu malang yang perutnya robek dan sudah tidak bernyawa. Saga Merah dan Musas saling pandang. Wajah pemuda itu membayangkan perasaan ngeri yang luar biasa. Semua yang mereka lihat adalah sesuatu yang berada di luar dugaan. 

"Apa yang akan terjadi orang tua?" Tanya si pemuda berusaha menguasai diri. 

"Bagaimana ujudnya setelah dewasa tidak ada yang tahu. Dengan jelas tadi kau mendengarnya sendiri, Butara Dewi mengatakan anaknya adalah Anak Terbuang. Siapa namanya tak ada yang tahu. Yang terpenting kau harus berhati-hati. Bila dalam kehidupan nyata nanti kau bertemu dengan seorang bocah dengan gelar Si Anak Terbuang dan bocah itu berasal dari Gerbang Kematian. Dia adalah musuh yang harus kau perhitungkan. Setelah dewasa nanti dia juga bakal menjadi musuhmu yang paling berbahaya."

"Aku tidak tahu, aku hanya akan menyimpan Semua yang kulihat ini di dalam batin."

"Ya, hanya itu cara satu-satunya karena saat sekarang dalam ujudmu seperti ini kau tidak bisa menggunakan pikiranmu. Sekarang kau pulanglah, aku yakin berkat perjuangan dua wanita itu, ragamu tidak lagi mengalami­ keracunan," Ujar Musas. 

"Bagaimana dengan dirimu?" Tanya pemuda itu. 

"Lakukan sikap seperti saat kau hendak menyatukan Pedang Roh dengan dirimu!" ujar si kakek. 

Saga Merah segera meletakkan salah satu tangannya di depan dada. Sosok Musas yang berasal dari roh pedang kemudian memudar berubah menjadi cahaya merah. Cahaya itu selanjutnya menyatu dalam diri Saga Merah. 

"Aku harus berjalan, terus berjalan meninggalkan alam ini menuju kehidupan dunia," Batin sang pendekar. Dia lalu berjalan tanpa menoleh-noleh lagi.

***

Di suatu tempat di luar batas hutan kabut dan jauh dari Lembah Batas Dunia. Dewi Kabut justru sedang berusaha keras memusnahkan racun jahat yang mendekam di tubuh Saga Merah. Sementara itu sang gadis jelita bermahkota emas dan mengenakan pakaian terbuat dari jalinan daun dengan setia menunggui Saga Merah. 

Sebagai seorang puteri pengalamannya dalam soal racun tentu sangat minim sekali. Sedangkan sebagai seorang gadis, pengetahuannya tentang ilmu silat dan tenaga sakti tentu sangat terbatas. Segala keterbatasan yang ada pada dirinya itulah yang disesalinya kini. 

"Mengapa aku tidak belajar ilmu kesaktian serta jurus-jurus sakti? Mengapa aku tidak belajar tentang ilmu pengobatan dan juga tentang cara memunahkan racun. Andai saja dulu aku mau mempelajarinya, setidaknya sekarang aku bisa menyelamatkan Saga dari pengaruh racun yang disemburkan Nyuk Antan Alu." 

Seperti telah sama diketahui dalam episode sebelumnya. Saga Merah terkena semburan racun yang dikeluarkan oleh musuhnya melalui hembusan nafas. Racun itu sendiri termasuk jenis racun yang langka karena berasal dari sebuah tempat yang bernama negeri Angin. Mendapat serangan dengan jenis racun yang berbeda, Saga yang biasanya tahan terhadap serangan beracun akhirnya tidak sadarkan diri. 

Kini Puteri Padara yang diam-diam menaruh hati pada Saga Merah sejak melihatnya pertama kali tidak tahu lagi hendak berbuat apa. Pada saat itu Dewi Kabut telah beberapa kali memarahinya. Sang Dewi juga menyesalkan kebodohannya yang ternyata tidak tahu soal apapun yang berhubungan dengan obat penawar. Dewi Kabut memang telah berusaha keras menolong Saga. Saat itu dia duduk bersila dengan mata terpejam di samping Pendekar Pedang Roh. 

Sedangkan kedua tangannya menempel di bagian dada dan perut Saga Merah. Tenaga dalam telah disalurkan ke sekujur tubuh pemuda itu. Beberapa kali tubuh perempuan berusia setengah baya itu tergetar ketika hawa dingin sekonyong-konyong berbalik menyerang dirinya. 

"Ini tidak mungkin! Sekujur tubuh pemuda gondrong ini sesungguhnya telah dingin seluruhnya. Hawa dingin terjadi bukan saja akibat serangan racun. Aku hampir dapat melenyapkan pengaruh racun yang menjalar di sekujur tubuhnya setelah aku mengerahkan segala macam cara. Tapi yang kurasakan kali ini sangat lain...." desis Dewi Kabut. 

"Lain bagaimana Nisanak?" 

Tanya Puteri Padara dengan perasaan cemas juga sangat khawatir Sekali. Dewi Kabut tetap memejamkan matanya. Dua tangan tetap pula menempel di dada dan perut Saga Merah. Kemudian dengan muka sedikit merengut dia menjawab. 

"Kau seorang puteri tapi bodoh, kau berwajah jelita tapi tak punya kebecusan apa-apa. Yang kumaksudkan adalah dingin tubuh pemuda ini rasanya sama dengan dingin tubuh orang yang telah mati!" ujar Dewi Kabut. 

Puteri Padara tersentak kaget. Dia menatap tajam wajah orang yang duduk di depannya itu. Wajah Dewi Kabut nampak bersungguh-sungguh pertanda yang dikatakannya bukan hal yang main-main. Hal inilah yang membuat Puteri Padara merasa bersedih. Kemudian disentuhnya ujung kaki Saga. Kaki itu terasa dingin laksana es. Puteri Padara menahan nafas, dalam hatinya dia berkata. 

"Hyang Tunggal yang maha berkuasa atas hidup dan kematian seseorang. Aku ingin kau jangan mengambil nyawanya karena dirikulah dia mengalami nasib seperti ini. Hyang Tunggal, aku tidak ingin Engkau mengambil nyawanya. Kalaupun terpaksa aku rela menggantikan tempatnya. Maka Kau ambillah nyawaku karena aku tidak rela melihatnya beku dalam kematian!" 

Sambil berkata begitu tanpa disadari oleh puteri cantik jelita ini air matanya kembali bergulir membasahi pipi. Dalam kesempatan itu Dewi Kabut wanita berambut panjang ini telah membuka matanya. Sang Dewi juga membuka dua tangannya yang sejak tadi menempel di bagian dada dan perut pemuda itu, Kemudian tanpa menghiraukan gadis itu dia memandangi kedua telapak tangannya. 

Telapak tangan wanita ini sekarang telah berubah berwarna kuning kehijawan yang merupakan sebuah pertarda bahwa seluruh racun yang mendekam di tubuh pemuda itu kini telah berhasil disedotnya keluar. 

"Aku harus mengenyahkan racun jahanam ini dari telapak tanganku!" 

Kata Dewi Kabut seolah ditujukan pada diri sendiri. Diam-diam dia salurkan hawa saktinya ke bagian telapak tangan. Di luar dugaan racun yang berada di telapak tangannya memperlihatkan reaksi penolakan. 

"Hups! Kakek jahanam Nyuk Antan Alu itu ternyata tidak hanya mempunyai ilmu sihir tingkat tinggi Racun yang dipergunakannya untuk menyerang pemuda ini ternyata juga amat kuat dan jahat. Saga beruntung dia mempunyai daya tahan yang sangat hebat. Jika tubuhnya tidak sekuat ini, aku dapat pastikan tubuhnya pasti meleleh."

"Nisanak, jika pengaruh racun lenyap. Mengapa dia belum sadar juga?" 

Tanya Puteri Padara. Dewi Kabut tidak menjawab, sebaliknya dia hanya mendengus. Saat itu Sang Dewi sedang berkonsentrasi melenyapkan racun yang melekat di telapak tangannya. Dia menyadari jika usahanya gagal dalam waktu dua atau tiga hari ke depan telapak tangannya itu pasti segera membusuk. Kini dengan tubuh basah bersimbah keringat. Dewi Kabut terus menguras segenap kemampuan yang dia miliki. Sampai akhirnya mulut Sang Dewi nampak menggembung. Sejenak setelah itu dia meniup. 

Phuuh, .. Wuuus! 

Seperti air panas yang menguap, racun itu terbang lenyap disertai bau amis menyengat. Dewi Kabut menarik nafas lega, pada saat itu dia menyempatkan diri untuk melihat pemuda di depannya. Saga Merah masih terkapar, tapi wajahnya tidak lagi berwarna kuning kehijauan, melainkan telah berubah ke warna aslinya. 

"Racun telah hilang dari tubuhnya, sekujur badan terasa hangat. Mengapa dia tidak bergerak, harusnya dia sudah siuman," Kata Dewi Kabut. 

Perempuan setengah baya ini lalu memejamkan matanya. Dia mencoba mendapatkan sambung rasa melalui jalan gaib. 

"Hmm, sungguh keterlaluan!" Kata Dewi Kabut menggerutu. 

"Orang bersusah payah menyelamatkannya dari serangan racun. Tapi rohnya justru gentayangan pergi tanpa pamit. Pemuda kurang ajar. Cepat kembali ke ragamu atau kau benar-benar menginginkan ragamu dimasuki oleh roh kunyuk kudisan!" 

Damprat Dewi Kabut. Puteri Padara sudah barang tentu tak mengerti apa yang dibicarakan Dewi Kabut. Dia juga tidak tahu siapa yang dimarahi oleh Sang Dewi. Dia hanya melihat Dewi Kabut bergetar keras, wajahnya merah padam menahan geram. 

Dan memang sesungguhnya ketika itu kontak batin Dewi Kabut yang memiliki ilmu tinggi ini melihat sosok bayangan Saga Merah, sosok yang hadir dalam keadaan transparan itu nampak kelelahan dan dia sepertinya baru datang dari sebuah tempat yang jauh. Kemudian apa yang dikatakan oleh Sang Dewi seperti mendapat sambutan, sosok Saga Merah dengan tergopoh-gopoh datang menghampiri jasadnya. 

"Tunggu apa lagi?" 

Kata Dewi Kabut. Badan halus Pendekar Pedang Roh ini terkesiap, namun dia lalu memasuki jasadnya. Pernyataan diri itu dimulai dari bagian kepala persis di ubun-ubun. Ketika badan halus memasuki tubuh kasarnya. Maka saat itu pula kehidupan yang lengkap melahirkan kesadaran bagi pendekar muda ini. Kaki dan tangannya bergerak gerak. Kemudian dia mengeluh. 

"Uuhk.... dimana aku? Batinku terasa lelah sekali!" 

Puteri Padara menarik nafas lega, ketika Saga Merah menoleh dan memandang ke arahnya. Nampak jelas bahwa pemuda itu seperti orang yang bingung. Mula-mula Saga melihat segala sesuatu yang di sekelilingnya dengan samar. Tapi kemudian segalanya mulai berubah jelas. Dia melihat gadis cantik itu, gadis yang pernah ditolongnya. Namun saat dia berpaling ke sebelah kirinya, sang pendekar menjadi heran karena dia merasa tidak mengenali Dewi Kabut. Dewi Kabut sendiri ketika itu sedang dalam keadaan memejamkan matanya. 

"Apa yang terjadi?" 

Tanya pemuda ini sambil berusaha mengingat-Ingat. 

"Kau keracunan, Nisanak ini yang telah menyelamatkan dirimu dari pengaruh racun jahat akibat serangan Nyuk Antan Alu! Kau ingat...." kata Puteri Padara riang. 

Kening Saga Merah berkerut dalam, matanya berputar-putar, dia mencoba mengingat segala sesuatu yang pernah terjadi. Akhirnya pemuda ini tersenyum. Dia yang terbaring segera duduk, pada waktu itu Dewi Kabut telah membuka matanya. Saga segera berbalik menghadap ke arah Dewi Kabut sambil mengepalkan kedua tangannya sekaligus bungkukkan badan. 

"Terima kasih kau telah menolong diriku, aku berhutang nyawa padamu!" Ujar pemuda itu tulus. 

Di luar dugaan perempuan setengah baya itu tersenyum sinis, dia memandang Saga Merah dengan tatapan matanya yang kosong memendam ganjalan di hati. 

"Aku bukan orang yang pantas kau beri ucapan terima kasih. Yang kulakukan semata-mata hanya untuk mengurangi beban berat yang sedang kutanggungkan!" Ucap Dewi Kabut. 

Kata-kata ini yang membuat Saga menjadi heran. Puteri Padara sendiri juga merasa di balik ucapan perempuan setengah baya itu seperti ada beban berat yang ditanggungkannya. Seperti diketahui sejak awal hingga sekarang dia belum mengetahui siapa nama perempuan yang telah menolong Saga.

Ini disebabkan begitu mereka keluar meninggalkan Lembah Batas Dunia sampai kini Dewi Kabut sibuk memberikan pertolongan dalam upaya menyelamatkan sang pendekar dari serangan racun ganas itu. Selagi Puteri Padara tenggelam dalam pikirannya sendiri, pada waktu itu Saga Merah tiba-tiba ajukan pertanyaan. 

"Apakah maksud ucapanmu ini dan siapakah dirimu ini yang sesungguhnya?" 

Dewi Kabut menyeringai, wajahnya nampak pias sedangkan matanya yang kosong menerawang memandang ke arah kejauhan. Dia menarik nafas pendek lalu menghembuskannya dengan perlahan. Setelah itu dia berkata, 

"Aku adalah orang yang tidak lagi menghendaki hidup di dunia ini." 

Pernyataan itu sudah barang tentu mengejutkan Saga dan Puteri Padara. 

"Maksudmu kau sudah bosan hidup?" Tanya Puteri Padara. 

"Ya, karena aku telah salah memilih jalan dan menetapkan tujuan sehingga aku terlempar dalam sebuah jurang yang tidak kuinginkan. Di samping itu aku juga sedang menghadapi fitnah keji yang dilakukan oleh seseorang"  

"Fitnah apa maksudmu?" Tanya Saga Merah tidak mengerti. 

"Seseorang memfitnah aku, dia melakukan sebuah kejahatan atas namaku. Dia membunuh juga atas namaku, sehingga aku merasa dirugikan!" Kata Dewi Kabut. 

"Siapa namamu?" Tanya Saga tidak sabar. 

"Kau tidak perlu mengetahui siapa namaku, tapi kupikir kau pernah mendengar julukanku."

"Kau punya julukan? Saat ini kulihat kau sangat tertekan sekali. Apakah aku boleh mengetahui siapa julukanmu?"

"Anak muda, kau begitu penasaran. Kau barangkali pernah mendengar seseorang bergelar Dewl Kabut! Orang itu bukan lain adalah diriku!" 

Kata perempuan setengah baya ini berterus terang. Puteri Padara yang sebelumnya pernah mendengar perihal Dewi Kabut yang bisa memberikan kutukan pada seseorang dari Bukara alias Lelanang Sejati terperangah. Saga Merah sebelumnya telah tahu banyak tentang Dewi Kabut dari Tupu Lanjar sempat terlonjak kaget. Pemuda ini beringsut mundur, tatap matanya membayangkan rasa curiga. Melihat ini Dewi Kabut tersenyum sinis, dia sama sekali tidak merasa tersinggung atas sikap yang ditunjukkan oleh pemuda itu. 

"Anak muda, kau memandangku seperti orang yang melihat mahluk menakutkan. Aku yakin kau telah mendengar banyak tentang diriku. Dan yang kau dengar tentu tentang keburukan?" Ujar Dewi Kabut. 

Saga Merah hendak menjawab, namun dia berpikir mungkinkah Dewi Kabut seburuk yang didengarnya selama ini. Seandainya dia manusia jahat, mustahil dia rela bertaruh nyawa menyelamatkan dirinya yang keracunan, padahal di antara mereka tidak saling mengenal. 

"Dewi Kabut, benarkah kau bisa menjatuhkan kutukan atas diri seseorang?" 

Tanya Saga Merah menyelidik. Sepasang alis mata Dewi Kabut terangkat naik, rasa heran tak dapat disembunyikannya lagi. 

"Mengutuk seseorang? Hi hi hi. Diriku ini bukan Dewa dan juga bukan manusia suci. Bagaimana orang seperti aku bisa menjatuhkan kutukan atas diri orang lain sedangkan mengutuk diri sendiri saja aku tidak sanggup?" Kata perempuan itu. 

"Apakah kau pernah melakukan pembunuhan secara keji di Lembah Dieng!"

Tanya pemuda itu lagi. Dewi Kabut tertawa terbahak-bahak. Tidak lama setelah tawanya terhenti dengan tegas dia berkata. 

"Kau dengar, aku tidak pernah membunuh seekor cacing sekalipun dalam belasan tahun belakangan ini. Aku tidak membunuh siapa-siapa. Aku sedang melakukan penyelidikan terhadap orang yang selama ini menggunakan namaku untuk melakukan kejahatannya. Aku telah berusaha keras membongkar misteri yang tersimpan di balik pembunuhan ataupun kutukan yang menggunakan namaku. Sayangnya sampai sejauh ini aku belum bisa mengetahui siapa orangnya."  

"Mungkin kau memiliki musuh?" Ujar Puteri Padara. 

"Musuh satu-satunya dalam hidupku datang dari diriku sendiri. Sedang di luar diriku seingatku tidak ada," Jawab Dewi Kabut polos. 

"Lalu bagaimana kau bisa sampai ke lembah itu bibi?" Ujar Puteri Padara. 

Mendengar puteri cantik itu memanggilnya bibi, sebenarnya Dewi Kabut ingin tertawa. Mulut ingin tertawa, namun jauh di lubuk hatinya dia ingin menangis. Walau demikian dengan mengesampingkan perasaannya sendiri dia menjawab, 

"Aku ingin bertemu dengan Pemanah Bintang yang kuanggap mengetahui banyak hal. Aku ingin bertanya siapa yang telah memfitnah diriku hingga namaku tercoreng di dunia persilatan."

Jawaban Dewi Kabut masuk akal juga, kemungkinan besar dia bukan orang yang telah melakukan pembunuhan terhadap kaum laki-laki di Lembah Dieng juga melakukan berbagai ancaman terhadap orang-orang di rimba persilatan. Jika Dewi Kabut manusia berhati keji, seharusnya dia tidak menolong Saga Merah yang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan dirinya. 

"Bibi Dewi," ujar Saga Merah. 

"Kalau boleh aku memanggilmu bibi. Setelah melihat apa yang kau lakukan terhadap diriku, dan setelah melihat bagaimana matamu memandang kami. Aku yakin kau tidak bersalah. Seandainya benar bukan kau yang melakukan serangkaian pembunuhan selama ini. Aku berjanji akan membantumu dalam upaya menangkap siapa orang yang telah memfitnah itu. Tapi aku tidak bisa membantu sesegera mungkin karena saat ini aku terpaksa kembali ke Lembah Batas Dunia untuk meringkus dua manusia dari Negeri Angin itu," Ujar Saga Merah. 

"Hmm, penyihir itu ilmunya boleh juga. Sedangkan temannya yang bernama Sabarantu kurasa kakinya yang kau patahkan tidak dapat pulih seperti yang dia harapkan. Aku melihat perkelahianmu dengan mereka, kau sebenarnya tidak kalah, kau hanya lengah. Tapi kau tidak perlu takut. Segala jenis racun yang dibawa Nyuk Antan Alu dari Negeri Angin tidak bakal dapat menciderai dirimu lagi karena aku telah memberimu buah Mahkota Dewa. Buah Itu kumasukkan dalam tubuhmu di saat kau tidak sadarkan diri"

"Aku berterima kasih kepadamu Dewi," Ujar Saga Merah bersungguh-sungguh. 

"Hi hi hi. Tadi kau memanggilku bibi, sekarang hanya Dewi saja," Ejek perempuan setengah baya itu. Dia kemudian bangkit berdiri.

"Lupakan kata-kataku, Jangan ingat budi pertolonganku. Kau dalam keadaan baik-baik saja saat ini. Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Sekarang aku harus pergi!"

"Bibi tunggu....!" Kata Saga dan Puteri Padara hampir bersamaan. 

"Masih banyak yang harus kukerjakan. Aku berharap kita dapat bertemu lagi dalam suasana yang lebih baik. Selamat tinggal!" Kata Dewi Kabut sambil berkelebat tinggalkan tempat itu. 


"Dia baik sekalil. Aku tidak yakin dia manusia keji yang telah melakukan pembunuhan selama ini," Ujar Puteri Padara. 

"Kau benar," Sahut Saga Merah. Dia menatap wajah cantik Itu. Hati pemuda itu bergetar. Sedangkan wajah sang puteri nampak memerah. Buru-buru dia palingkan wajahnya ke jurusan lain. 

"Mengapa perasaanku jadi seperti ini?" Membatin Puteri Padara dalam hati. 

"Aku berterima kasih atas bantuanmu, kau baik sekali!" Kata pemuda itu tiba-tiba.

"Ah, sesungguhnya aku berhutang nyawa dan kehormatan kepadamu!" Kata Puteri Padara. 

"Sebaliknya aku tidak berbuat apa-apa atas keselamatanmu. Dewi Kabutlah yang telah menolongmu," Ujar gadis itu tersipu. 

Saga Merah terdiam, hanya kepalanya mengangguk-angguk. Sedangkan sang puteri tidak tahu harus bicara apa. Dia merasakan lidahnya kelu, hati gelisah dan jantung berdebar tidak teratur. Perasaan apa pun yang dia rasakan saat ini. Yang jelas ini baru pertama kalinya terjadi di dalam hidupnya.

***

Mayat Sandi Laya seharusnya berada di Lembah Batas Dunia. Sungguh mengherankan bila kini kepalanya ditemukan di hutan. Siapa yang memenggal kepala dan membawa kepala Sandi Laya ke tempat itu? Pemanah Bintang yakin sekali orang yang memanggilnya itu yang telah memenggal kepala sahabat yang telah di anggap sebagai saudaranya sendiri. Tapi siapa sebenarnya orang tersebut? Pemanah Bintang tidak menemukan jawaban. 

Kini dia memasang mata, memperhatikan ke segenap penjuru sudut hutan. Namun aneh, dia tidak melihat adanya gerakan merncurigakan atau tanda-tanda kehadiran orang lain di tempat itu. Akhirnya dia hanya berdiri diam sambil menunggu. Perhatiannya itu ternyata tidak berlangsung lama. Sayup-sayup dia mendengar suara helaan nafas di kejauhan. Selanjutnya dia mendengar ada orang berkata. 

"Pemanah Bintang! Aku mengenal dirimu, tapi kau tidak mengenal diriku. Pengetahuanmu terbatas, sebaliknya pengetahuanku sangat luas. Oh ya, kudengar kau adalah calon penyambung lidah para dewa, penyampai kebenaran dan tidak pernah mengotori tanganmu dengan darah dan nyawa. Sebab menyakiti orang adalah sebuah kesalahan, sedangkan menghilangkan nyawa orang lain adalah termasuk perbuatan dosa besar." 

Pemanah Bintang yang telah melakukan pelanggaran yang telah ditetapkan oleh para Dewa katubkan mulutnya, sedangkan tangannya yang terkepal mengeluarkan suara bergemeletukan. 

"Aku sudah mengembalikan semua amanat yang ditetapkan padaku pada pemiliknya. Bagiku salah dan benar adalah sebuah batas semu, kedua kata yang kusebutkan Itu hanya mempunyai dinding pemisah yang amat tipis," Ujar Pemanah Bintang dingin. 

"Ha ha ha! Jadi kau telah melanggar segala aturan itu? Hmm, aku menaruh dugaan besar bahwa dirimu tidak sanggup menanggung cobaan berat yang terjadi pada kerabatmu."

"Apa saja yang kualami dalam hidupku, buat apa kau ikut campur. Siapapun dirimu aku tidak perduli. Kuharap kau jangan mencampuri urusanku!" 

Kata pemuda berwajah tampan itu tegas. Untuk yang kesekian kalinya Pemanah Bintang kembali mendengar suara gelak tawa. Tapi dia tidak terpancing karena jauh di lubuk hatinya dia masih memiliki kesabaran yang luar biasa. 

"Pemanah Bintang, setelah apa yang kuperbuat terhadap mayat saudaramu Sandi Laya, apakah kau merasa yang kulakukan itu bagimu bukan sebuah penghinaan?"

"Terserah kau mau beranggapan apa. Perlu kau ketahui, sebaiknya kau berterus terang siapa dirimu? Jika kau masih punya hubungan dengan Nyuk Antan Alu atau mahluk jahanam berkaki dan bertangan cakar yang bernama Sabarantu bergelar Penyesat Dari Selatan. Maka ketahuilah, kau tidak kubiarkan lolos begitu saja...."

"Wuah.... ha ha ha.... apakah ada yang salah? Sabarantu mungkin telah melakukan kesalahan besar sehingga kau begitu benci kepadanya?!" Ejek suara itu 

"Yang kau katakan tidak ada kaitannya dengan jawaban yang kuinginkan. Sebaliknya kau berterus terang karena aku tidak punya waktu untuk melayani segala omong kosongmu!" kata Pemanah Bintang tidak dapat lagi menahan kesabarannya. 

"Hmm, begitu. Mendengar kata-katamu, rasanya kau seperti orang penting sekali. Tapi baiklah, tidak mengapa. Sekarang kau dengar baik-baik. Aku sama sekali tidak punya hubungan atau kaitan apa-apa dengan Sabarantu maupun Nyuk Antan Alu. Aku bukan orang yang suka memiliki banyak teman. Aku lebih suka menyendiri karena tidak ada yang kukhawatirkan."

"Aku tidak perduli kau penyendiri atau mempunyai banyak sahabat. Yang membuatku tidak mengerti mengapa kau lakukan semua kekejian ini pada saudaraku?" Kata Pemanah Bintang.

"Ha ha ha! Puah! Aku bukan orang yang suka bercanda, namun untukmu bagiku merupakan sebuah pengecualian. Kau dengar baik-baik. Sejak diriku terlahir ke dunia, aku sangat haus dengan darah dan nyawa. Saudaramu itu sudah tidak berguna, demikian juga dengan mayat-mayat kerabatmu ini. Kau lihatlah!" 

Kata orang itu. Pemanah Bintang terkejut ketika mendengar suara menderu datang dari arah depannya. Sekejab kemudian dia melihat beberapa mayat tanpa kepala melesat terbang dan menghantam ke arahnya. Kalau pemuda ini tidak segera menghindar selamatkan diri, dapat dipastikan mayat-mayat itu pasti menghantamnya. Pemuda ini lolos dari serangan mayat tanpa kepala. Di belakangnya beberapa mayat jatuh bertumpuk satu dengan yang lain setelah menghantam pohon. 

Pemanah Bintang memperhatikan mayat-mayat tersebut. Walau tidak berkepala namun dia mengenali pakaian khas orang-orang yang berdiam di Lembah Batas Dunia. Sebelumnya dia sudah mengetahui mereka telah mati di tangan Sabarantu. Namun melihat mayat mayat itu dipermainkan orang Pemanah Bintang jadi gusar juga.

"Hebat luar biasa. Terkadang perbuatan rendah tidak hanya dilakukan oleh orang hidup dengan manusia hidup lainnya, lebih menyedihkan lagi orang yang sudah mati pun harus mengalaminya," Ujar pemuda itu. 

"Ha ha ha! Sesungguhnya dirimu yang sangat menyedihkan di mataku, Pemanah Bintang. Bagaimana aku tidak berkata demiklan? Kau memiliki nama besar yang dikenal di seluruh penjuru. Tidak tahunya di balik nama besar itu kau tidak punya kemampuan apa-apa untuk membela kerabatmu. Apakah ini tidak memalukan?"

Pemanah Bintang tersenyum rawan, sejak tadi dia sudah berusaha mencari tahu dari arah mana persisnya datang suara yang didengarnya itu. Kini dia telah mengetahuinya. 

"Aku harus menggunakan kecepatan gerak untuk memotong langkahnya sehingga dia tidak mungkin dapat pergi kemana-mana," Batin pemuda itu. 

Kemudian tanpa bicara apa-apa lagi, pemuda ini segera menghimpun tenaga dan disalurkannya ke sekujur tubuh. Setelah itu dengan kekuatan penuh Pemanah Bintang mengayunkan langkahnya. Wuut! Wuut! Wuut! 

Satu gerakan cepat dilakukan Pemanah Bintang. Seperti kilat menyambar pemuda Ini melesat. Sekejab dia telah berpindah dari satu tempat ke termpat lainnya. Dalam kesempatan itu dia melihat sosok tubuh pendek berpakaian hitam melesat menghindari sergapannya. Melihat pada besarnya ukuran badan orang tersebut, rasanya mustahil orang yang dikejarnya seorang bocah, apalagi mengingat suara orang yang dia kejar ketika bicara adalah suara orang dewasa. 

"Kau hendak lari kemana?" 

Hardik Pemanah Bintang geram. Lalu dia melepaskan sebuah pukulan dengan menghantamkan kedua tangannya ke depan. Buum! Satu ledakan bergema merobek kesunyian. Dalam pandangan pemuda itu pukulan yang dilepaskannya benar-benar mengenai sasaran yang tepat. Namun yang menjadi kenyataan ternyata tidak seperti yang diharapkan. Jauh di balik ledakan terdengar suara tawa ttergelak-gelak 

"Hanya ilmu pukulan butut, aku punya sepuluh kali lipat yang lebih baik dari itu," 

Kata orang itu. Kemudian sekonyong-konyong terdengar suara menggemuruh dan hawa panas yang sangat luar biasa. Ketika pemuda ini memandang ke depan. Dia melihat gumpalan bola api raksasa meluncur deras ke arahnya disertai menebarnya hawa panas yang sangat luar biasa sekali. Pemanah Bintang tidak tinggal diam, sedikitpun dia tidak menjadi panik melihat serangan ini. Satu yang membuatnya terheran-heran. Bagaimana mungkin orang yang dikejarnya mempunyai ilmu pukulan sehebat itu? 

Dengan gerakan berjumpalitan ke samping. Pemanah Bintang sanggup meloloskan diri dari serangan itu. Tak jauh di sampingnya bola api raksasa menghantam gundukan batu yang menonjol di permukaan tanah. Api bergulung membakar semak belukar di sekitarnya. Pemanah Bintang leletkan lidah basahi bibir. Dia memandang ke arah depan. Pemuda Ini terkesiap ketika melihat seorang bocah berpakaian serba hitam berumur sekitar sembilan tahun berdiri tegak sambil bertolak pinggang. 

"Tidak mungkin! Mustahil yang kuhadapi adalah bocah Ingusan sekecil ini?" Batin pemuda itu dalam hati. 

"Kau terkejut Pemanah Bintang?" 

Kata bocah itu dengan pandangan dingin dan senyum mengejek. 

"Ha ha ha! Mula-mula aku kaget. Tapi kemudian aku jadi berpikir bahwa segala sesuatu di dunia ini mungkin saja terjadi. Dunia penuh dengan segala kemungkinan. Yang membuat aku tidak mengerti, mengapa kau membuat keonaran seperti ini?"

"Hi hi hi. Kau dengar suaraku, suaraku kecil khas suara seorang bocah. Bagaimana kau bisa menuduh aku membuat onar?" Tanya bocah itu sinis. 

"Segalanya telah menjadi jelas. Kau punya kemampuan merubah-rubah suara. Itu artinya suaramu bisa kau rubah menjadi suara siapa saja!" 

Ujar Pemanah Bintang. Dugaan Pemanah Bintang tidak ditampik oleh bocah itu. Tapi sambil tersenyum dia lalu berkata. 

"Aku ini hanya seorang bocah. Aku kemungkinan hanya dijadikan kambing hitam oleh seseorang yang menyimpan dendam kesumat terhadapmu?!" 

Kening pemuda itu berkerut. Dia berusaha untuk menggunakan akal sehat dan tidak bertindak memperturutkan hawa nafsu. Siapa tahu apa yang dikatakan bocah itu benar. Dia lalu teringat sesuatu, kemudian dengan hati masih penasaran segera ajukan pertanyaan. 

"Aku merasa tidak bermusuhan dengan siapapun. Alangkah aneh jika kau mengatakan ada orang menyimpan dendam kesumat terhadapku?" 

Sesungging senyum kembali bermain di mulut bocah itu. 

"Aku tahu kau tidak bermusuhan dengan siapa saja, aku tahu kau tidak menyimpan dendam pada siapapun. Namun kau juga harus ingat, walau kita tidak menaruh dendam, tidak memiliki benci dan tidak menaruh permusuhan. Dalam hidup manusia selalu saja ada yang tidak suka pada kita. Mungkin orang iri melihat kehebatan kita, mungkin orang dengki melihat kemashuran kita, tidak tertutup kemungkinan ada yang tidak suka melihat kejayaan kita," ujar si bocah layaknya seperti orang tua yang berusaha menasehati anaknya.

Yang dikatakan oleh si­ bocah bagi Pemanah Bintang cukup masuk akal. Kemudian dia berusaha mencari tahu siapa saja orang yang menginginkan senjata-senjata yang dia miliki. Dua dari senjata sakti telah dikembalikannya ke langit, sehingga Pemanah Bintang hanya memiliki sebuah anak panah sakti yang bernama Sirna Raga. Sebelumnya Sabarantu yang memiliki julukan Penyesat Dari Selatan dan Nyuk Antan Alu kakek penyihir dari Negeri Angin menginginkan senjata senjata yang dimiliki oleh pemuda ini. 

Namun sejak Pemanah Bintang berhasil melolos kan diri dari Lembah Batas Dunia, dia tidak melihat tanda-tanda mereka melakukan pengejaran. Dalam kebimbangan karena tidak dapat memecahkan teka-teki yang muncul dalam benaknya sendiri, Pemanah Bintang lalu memandang ke depan. Pemuda Ini terkejut bukan main ketika mendapati bocah yang ditemuinya tadi ternyata telah lenyap. Bocah itu seakan raib ditelan bumi. 

Pemanah Bintang tambah kaget lagi ketika melihat di depan sana berdiri sesosok tubuh bertelanjang dada berwajah angker penuh kebencian. Sosok yang satu ini usianya sekitar empat puluh tahun, tubuh telanjangnya senantiasa basah dan berlendir. Seolah datang dari sebuah telaga yang dipenuhi lendir. 

"Siapa dia? Kemana perginya bocah itu?" 

Kata Pemanah Bintang tanpa sadar. Dia kembali memandang ke depan. Dilihatnya orang di depan sana tersenyum penuh rasa benci. 

"Kau siapa?" Tanya pemuda itu penasaran. 

"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Kukira ajalmu sudah hampir tiba. Kau tidak akan selamat jika kau tidak segera menyingkir dari kehidupan seseorang," kata laki-laki itu mengancam.

"Seseorang siapa?"

"Tidak perlu kusebutkan. Orang itu sangat senang dengan darah dan dia begitu tergila-gila dengan nyawa,"       Kata orang itu dingin. 

"Aku tidak takut dengan apa saja yang bakal terjadi," Geram Pemanah Bintang ketus. 

"Kau perhatikan diriku. Lihat kemari!" 

Ujar laki Iaki itu. Pemanah Bintang segera menuruti. Kening pemuda ini berkerut, wajahnya berubah. Dia bahkan mengusap matanya saking tidak percayanya. Tadi dengan jelas dia melihat laki-laki itu, tapi mengapa laki-laki yang dilihat dan sempat bicara dengannya berubah. Wajah laki-laki itu berubah menjadi wajah seorang perempuan cantik namun bengis. Dan wajah serta tatapan matanya juga memancarkan kebencian. 

"Siapa dia!" 

Batin Pemanah Bintang. Dia belum pernah bertemu dengan orang seperti ini. Dia lalu ingin ajukan pertanyaan, namun ketika Pemanah Bintang memandang ke depan untuk yang sekian kalinya. Laki-lakd itu raib. 

"Gila... apa yang terjadi. Kemana lenyapnya dia? Apakah dia sejenis hantu?" 

Batin Pemanah Bintang heran, bingung, dan tidak mengerti. Dia tidak tahu siapa yang dia hadapi. Dan juga tidak tahu siapa bocah itu, apakah mungkin si bocah dapat berubah-ubah. Ataukah laki-laki tadi dapat berubah menjadi seorang bocah dan perempuan cantik berwajah bengis?  

***

Laki-laki yang wajahnya ditumbuhi bulu-bulu halus dan lebat layaknya bulu anak burung yang baru menetas itu melangkah lebar mendekati bangunan sederhana yang terdapat di depannya. Manusia setengah mahluk yang memiliki kaki dan tangan berbentuk cakar Ini kemudian membuka pintu yang tertutup rapat. Pintu kemudian didorongnya. Ketika pintu terbuka lebar, justru mulutnya yang hampir terbuka ini jadi melongo. 

Rasa kaget dan keheranan memenuhi benaknya. Dia lalu melangkah lebih ke dalam dengan langkah tergesa-gesa. Sepasang matanya yang tajam dan selalu memancarkan sinar aneh memandang jelalatan ke segenap penjuru ruangan. Empat jari tangan yang berbentuk cakar terkepal. Dia lalu menggeram. 

"Tidak mungkin pergi, dia dalam keadaan menderita keracunan hebat. Lalu apa yang sebenarnya telah terjadi?" 

Batin si kakek. Dia memutar otak dan berpikir. Pada saat itu dia melihat jendela bagian belakang agak terbuka. Kesanalah kakek yang memiliki gelar Sang Penyesat Dari Selatan tujukan langkah. Jendela kemudian dihantamnya hingga hancur. Segalanya kini semakin bertambah jelas. Dia yakin seseorang telah menyelamatkan pemuda itu. Dan pasti telah menjadikan Jendela sebagai jalan untuk meloloskan diri. 

"Keparat! Pemuda itu telah dilarikan oleh seseorang! Menyesal sekali mengapa aku tidak membunuhnya waktu itu? Semua ini kesalahan penyihir gila Itu? Dia terlalu yakin dengan kehebatan racunnya. Andai saja Nyuk Antan Alu mau sedikit mendengar apa yang kukatakan, tentu akibatnya tidak seperti Ini!" 

Si kekek yang bernama Sabarantu ini memandang keluar jendela dalan waktu yang cukup lama. Dia melihat pohon-pohon yang hijau, bukit-bukit yang memantulkan cahaya warna warni karena banyaknya bebatuan berharga yang terdapat di sekeliling Lembah Batas Dunia. 

"Alam telah menyediakan segalanya di sini. Sebagian perbendaharaan harta dunia terkubur di tempat ini. Seandainya aku Ingin membangun sebuah kerajaan megahpun, pasti niat seperti itu mudah terlaksana. Kakiku yang dipatahkan oleh Saga Merah memang telah berhasil disembuhkan oleh Nyuk Antan Alu. Namun dendamku pada pemuda itu sudah terlanjur berkarat. Selama dirinya masih hidup, jiwaku tidak bakal tenteram Jika aku belum bisa membunuhnya!" 

Setelah berkata demikian, Sabarantu berpikir sejenak. Bagaimana pun dia harus melaporkan hilangnya pemuda yang menjadi tawanan mereka pada Nyuk Antan Alu. Si kakek lalu berniat hendak tinggalkan ruangan guna melaporkan semua kejadian yang dilihatnya pada sekutu utamanya. Tetapi niatnya itu dia urungkan. Sabarantu seakan baru menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Sesuatu yang terus mengawasinya. 

Orang tua ini lalu memandang keluar jendela untuk yang kesekian kali. Sabarantu terperanjat. Dia melihat di atas sebongkah batu ada sesosok tubuh duduk di sana. Orang itu berambut putih, tubuh kurus kering tidak ubahnya tengkorak hidup. Dia berpakaian putih bercelana panjang besar kedodoran.

"Sejak kapan dia berada di situ, mengapa aku tidak melihatnya?" 

Kata Sabarantu heran. Dia menatap ke arah kakek di atas batu, merasa diperhatikan kakek berbadan kurus kering itu berlagak acuh dan meludah ke tanah. Dengan lagak seenaknya, dia lalu berkata yang seakan ditujukan pada dirinya sendiri. 

"Dunia Jijik melihatku, aku juga jijik melihat dunia. Bertahun tahun mencari jalan pulang ke negeri asal. Justru langkahku malah kesasar ke dunia yang hilang. Dunia ini memang aneh, ataukah mahluk-mahluk penghuni dunia yang aneh. Berpekan-pekan aku tidak bertemu manusia, hingga membuatku lupa bagaimana caranya tertawa. Tapi.... hari ini agaknya aku sedikit beruntung Aku bertemu dengan ayam, tapi mengapa tubuhnya seperti manusia."

"Perduli apa? Perutku lapar sekali. Harusnya hari ini aku bisa makan besar dengan memanggang ayam, tapi apa enaknya cuma makan cakar ayam. Kakinya cakar ayam, tangannya juga. Ah, kalau kumakan kaki dan tangannya. Dia pasti bakal menjadi orang paling merana sedunia. Ha ha ha. Wahai mahluk aneh, siapakah dirimu gerangan. Apakah kau keturunan mahluk berkaki dua ataukah keturunan manusia?" 

Kata orang tua itu diiringi tawa tergelak-gelak. Sabarantu mulanya tidak menghiraukan kehadiran orang tua di atas batu tersebut. Tapi kemudian dia berpikir, bukan mustahil si kakek berbadan kurus kerempeng itu mengetahui kemana perginya Saga Merah. Apakah benar pemuda itu dilarikan oleh orang lain seperti yang dia duga. Ataukah Saga Merah melarikan diri? Tanpa banyak pikir laki Sang Penyesat Dari Selatan ini segera bergerak ke arah kakek di atas batu. 

Sekejab saja dia berada di depan orang tua Itu. Anehnya walau Sabarantu sengaja menggunakan ilmu kecepatan gerak saat dirinya mendatangi, Kakek kurus di atas batu sama sekali tidak memperlihatkan tanda tanda terkejut. Dia tetap tenang, sementara mulutnya terus mengumbar tawa. Sadar orang tidak memandang sebelah mata terhadapnya, Sabarantu segera berkata dengan nada membentak. 

"Orang tua, sudah berapa lama kau duduk di situ?" 

Si kakek kurus unjukkan wajah kaget, seketika tawanya terhenti. Dia memandang ke kanan dan ke kiri, setelah itu dia menoleh ke belakang. 

"Eeh, apakah kau bicara padaku?" Tanya si kakek masih dengan wajah terkejut. 

"Bangsat cacing kurus, kalau bukan denganmu lalu aku bicara pada siapa?" 

Hardik Sabarantu jengkel. Si kakek senyum-senyum, kemudian dia manggut manggut. 

"Oh begitu. Kau tidak usah gusar seperti itu. Aku kira kau sedang bicara dengan angin atau mungkin juga kau bicara dengan hantu. Lalu apa perduliku. Ha ha ha!" 

Untuk sekian kalinya si kurus mengumbar tawa. 

"Hidup ini sebagian harus disi dengan kegembiraan biar tidak ada lagi duka dan air mata di dunia ini. Coba kau bayangkan sahabatku berapa banyak orang yang sengsara, berapa banyak orang yang menderita. Dan betapa hidup kehilangan harapan bagi orang yang tertindas dan tersia-sia. Sayang mereka tidak tahu bahwa tawa merupakan obat mujarab untuk melenyapkan penyakit duka."

"Tua bangka sinting, kau sama sekali tidak menjawab pertanyaanku? Apakah kau sudah bosan hidup?" Geram Sabarantu. 

Kening si kakek kurus berkerut, wajahnya sempat cemberut mendengar ucapan Sabarantu, namun wajah Itu kemudian berubah ceria lagi. Si kakek unjukkan wajah cemberut lagi. 

"Ternyata aku salah dalam menilaimu. Kau tidak bisa dijadikan sahabat. Kau bertanya padaku soal bosan hidup? Mungkin kiranya patut kau ketahui bahwa diriku ini adalah salah satu orang yang tidak pernah bosan menjalani hidup."

"Lalu apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Sabarantu. 

"Pertanyaanmu itu sungguh mengherankan bagiku. Aku sendiri datang bukan atas keinginanku. Dulu sekali aku pernah mendengar tentang Lembah ini. Lembah Batas Dunia menurutku adalah sebuah nama yang sangat menarik. Kudengar di tempat ini tinggal menetap seorang calon wakil dewa. Maka akupun datang kemari, namun setelah aku berada di sini. Orang yang kucari sudah tidak berada lagi di tempat ini."

"Bagaimana kau tahu?" 

Tanya kakek berkaki cakar dengan sorot mata curiga. Orang di atas batu tidak segera menjawab. Sebaliknya malah tertawa mengikik. Sabarantu menunggu sampai tawa orang tua kurus di batu terhenti. Dengan mata jelalatan kakek itu menjawab. 

"Seharusnya kaulah yang paling tahu tentang segala hal yang terjadi di sini. Aku bukan seorang peramal, namun naluriku mengatakan telah terjadi sesuatu sebelumnya di tempat ini. Kemudian orang yang kucari telah lama pergi tinggalkan tanah kelahirannya sendiri. Dan kau?! Melihat sinar matamu aku dapat menduga bahwa dirimu adalah orang yang memiliki keinginan selangit tembus."

"Keinginan itu bukanlah cita-cita, namun keserakahan yang dilandasi oleh nafsu angkara murka. Kau dan temanmu....ya, kukira kau memang punya seorang teman. Penyihir itu kalau tidak salah datang dari Negeri Angin. Kau dan dia sama saja, mungkin satu yang tidak pernah kau bayangkan. Walau kau punya rencana untuk memuslihati dirinya, di luar yang kau bayangkan kelak dia juga pasti akan membunuhmu!" 

Sabarantu diam-diam terkejut tidak menyangka kakek di atas batu dapat mengetahui apa yang ada benaknya. Tapi penjelasan tentang dalam pengkhianatan yang dilakukan Nyuk Antan Alu cukup meresahkannya.

"Mungkinkah Nyuk Antan Alu berpikir seperti apa yang kupikirkan? Siapa kakek Ini? Bicaranya terus terang, tapi apakah mungkin dia dengan sengaja mengadu domba hubungan kami?" 

Selagi Sabarantu tenggelam dalam pikirannya yang kusut, di tengah keraguan itu tiba-tiba kakek di atas batu berkata, 

"Sejak tadi aku belum memperkenalkan nama. Ketahuilah, diriku yang tampan ini dikenal dengan nama Ki Walang Buana. Dan kau sendiri tidak perlu memperkenalkan karena aku sudah tahu siapa namamu. Namamu jelek sekali, hanya gelarmu menyeramkan," 

Ujar si kakek yang ternyata memiliki nama aneh Ki Walang Buana. Sabarantu diam sambil mengatupkan bibirnya. Kegeraman yang dirasakan sudah sangat memuncak. Sekarang semakin jelas, orang tua di atas batu tidak menghargainya sama sekali. Dia melangkah maju siap menghantam orang tua itu dengan cakarnya. Tetapi Ki Walang Buana sekonyong-konyong mengangkat tangan memberi isyarat. 

"Tunggu dulu. Membuat urusan denganku adalah perkara yang mudah. Namun hendaknya kau berpikir bahwa menghajarku dengan pukulan bukan satu-satunya jalan yang baik. Bisa saja pukulanmu melenceng dan tidak tepat sasaran. Kalau sudah begitu siapa yang malu?"

"Kakek kurang ajar. Sejak tadi kau merendahkan diriku. Apakah kau mengira aku tidak bisa mencabik tubuhmu yang setipis daun Itu?" Geram Sabarantu. 

"Aku sering mengatakan bahwa kemarahan tidak menyelesaikan masalah, Hal terbaik seharusnya yang kau lakukan adalah membiarkan hati panas, namun akan dirimu, yang sangat kepala tetap dingin. Kepadamu kusampaikan satu perkara yang kukira amat penting!" ujar KI Walang Buana. 

"Cepatlah kau bicara sebelum kesabaranku habis!" Hardik Sabarantu gusar. 

"Hmm, sebenarnya aku tidak Ingin berselisih denganmu Sabarantu. Sebagai pertanda dari semua yang kukatakan ini. Aku akan sampaikan padamu sebuah perkara yang penting, Ketahuilah, ketika kau datang ingin melihat tawananmu di sini, Nyuk Antan Alu diam-diam mengatur sebuah rencana untuk memanggil sekutunya yang dari Negeri Angin. Dia merasa Lembah Batas Dunia adalah tempat yang sesuai untuk membangun sebuah kekuatan."

Belum selesai Ki Walang Buana bicara, Sabarantu tiba-tiba memotong, 

"Tunggu. Nyuk Antan Alu tidak mungkin berbuat seperti itu, Memanggil bala bantuan dari Negeri Angin kukira tindakan gegabah mengingat Nyuk Antan punya anak piaraan. Hik hik hik."

"Anak piaraan yang kau maksudkan Itu pastilah Si Pembunuh Tanpa Darah yang bernama Gorga Raga," ujar Ki Walang Buana. 

Kakek ini tersenyum, dan senyum itu terkesan sinis di mata Sabarantu. 

"Sabarantu, aku ini seorang pengembara sejati. Aku telah pergi ke berbagai sudut dunia, aku malang melintang di tujuh penjuru Angin. Aku juga pernah datang ke Negeri Angin secara sembunyi-sembunyi. Saat ini Gorga Raga telah kembali ke ujud semula. Dia hanyalah seekor kadal yang tolol."

"Nyuk Antan telah menyihirnya menjadi manusia terkuat tanpa tanding. Tapi dia melupakan satu hal. Kadal bisa menjadi kuat tanpa tanding, namun dia tidak memiliki kecerdasan. Setelah melihat bahwa di rimba persilatan di luar negerinya ada banyak orang yang mempunyai kesaktian tinggi. Dia berpikir tak mungkin bisa mengandalkan kadal."

"Tapi waktu itu Nyuk Antan Alu tidak bicara begitu. Yang dikatakannya padaku Gorga Raga adalah manusia terpilih yang bisa diandalkan," Sergah Sabarantu mulai dilanda kebimbangan. 

"Ha ha ha. dimaksudkannya di antara sekian banyak binatang yang bisa dijadikan pilihan, ternyata pilihannya jatuh pada kadal. Kukira tolol juga penyihir sahabatmu itu. Eeh, tidak, dia bukan tolol, sebaliknya cukup cerdik dan punya banyak muslihat," Ujar Ki Walang Buana. 

Kalaulah tidak terpancing oleh semua yang dikatakan Ki Walang Buana. Tentu ucapan si kakek yang terkesan memandang remeh itu bisa berakibat kematian bagi Ki Walang Buana. Beruntung kemarahan Sabarantu mereda dan kini berubah menjadi rasa ingin tahu yang besar. Dia berniat untuk membuktikan kebenaran ucapan Ki Walang Buana. Tapi sebelum itu dia merasa perlu untuk lebih meyakinkan diri sendiri. 

"Apakah kau bisa menjamin tentang kebenaran ucapanmu?" Kata Sabarantu. 

"Hoo-hoo....sejak dulu ucapanku jarang ada yang keliru karena aku hanya berani bicara berdasarkan kenyataan yang kulihat. Kalau tidak percaya kau boleh membuktikannya sendiri."

"Bagaimana jika ternyata kau membohongiku?" 

Tanya Sabarantu lagi. Nampaknya sebagian keraguan dalam dirinya mulai terkikis. Melihat ini Ki Walang Buana berubah serius walau mulutnya tetap mengurai senyum, 

"Yang kumiliki di dunia ini hanya selembar nyawa dan selembar badan. Memang susah untuk meyakinkan seseorang, apalagi orang itu baru saling kenal. Begini saja. Kalau ternyata semua yang kukatakan ini tidak benar, Kau boleh mencariku di Karang Pocong. Karang Pacong terletak di sebuah kawasan teluk penanjung tidak jauh dari pantai utara."

"Apakah kau selalu ada di sana?" Tanya Sabarantu. 

"Mahluk tolol, siapa bisa menjamin aku berada di sana, Karang Pocong itu kan kuburan mbahku. Siapa sudi menetap di kuburan terkecuali golongan mahluk halus," Batin KI Walang Buana sambil tertawa dalam hati. Walau begitu dia tetap menjawab. 

"Ya, tentu. Setelah dari sini aku pergi ke sana. Aku punya istana dan taman kecil di tempat itu. 

"Kalau begitu dirimu sebenarnya seorang raja?" Kata Sabarantu. 

"Oh bukan, aku hanya punya hubungan keluarga jarak jauh dengan raja Karang Pocong. Raja Karang Pocong sendiri telah lama mati, Jadi tidak ada salahnya aku menjadikan Istananya sebagai tempat tidur, makan dan buang hajat"

"Gila. Istana yang bagus hanya kau jadikan sebagai tempat buang hajat? Kalau saja aku jadi dirimu. Tapi ehm itu tidak penting. Walau kau telah memberikan banyak keterangan padaku. Sampai saat Ini aku belum bisa mempercayai dirimu sepenuhnya."

"Sekarang jawablah satu pertanyaan lagi dengan sejujur-jujurnya. Kau tetap tidak kehilangan hak untuk tidak mempercayai seluruh penjelasanku. Sekarang kalau kau punya pertanyaan sebaiknya katakan saja!" Ujar KI Walang Buana. 

"Apakah kau mengetahui kemana perginya seorang pemuda berpakaian kulit yang kusekap dalam rumah Itu?" 

Tanya Sabarantu sambil menunjuk ke arah sebuah bangunan yang berada di belakangnya. 

"Oh, sayang sekali. Aku sampai di sini begitu kau membuka pintu depan rumah Itu. Ketika aku sampai, Jendela di belakang sana juga sudah terbuka."

"Kau tidak, berdusta?" 

Tanya Sabarantu, seraya menatap kakek di depannya lekat-lekat. Ki Walang Buana menggeleng. 

"Justru karena kejujurankku tubuhku jadi kurus kering begini. Aku benar-benar tidak melihat pemuda dengan ciri-ciri seperti yang kau sebutkan. Aku tidak berharap kau mempercayaiku, tapi memang demikianlah kenyataan yang sebenarnya."

Setelah berpikir sejenak, Sabarantu berkata. "Mmm, baiklah. Kau tidak tahu tidak mengapa. Sekarang aku harus pergi dulu," Ujar Sabarantu, 

"Aku berjanji tidak akan mengganggumu, namun jika di kemudian hari semua yang kudengar dari mulutmu hanya kedustaan belaka. Aku bersumpah bakal mencarimu dan mencabik-cabik tubuhmu hingga menjadi serpihan yang sangat halus," Ujar Sabarantu. 

Ki Walang Buana sempat bergidik ngeri. Dia menyadari tangan Sabarantu yang berbentuk aneh seperti cakar elang itu pasti amat kuat sekali. Jangankan tulang yang hanya terbalut daging, bongkahan batu sebesar bukit sekalipun pasti hancur bila terkena hantaman cakar itu. Tapi demi meyakinkan orang Ki Walang Buana manggut-manggut tanda setuju. Dengan tegas dia berkata. 

"Aku mendengar ancamanmu, aku terima akibatnya," Kata orang tua itu. 

Sabarantu tersenyum penuh kemenangan. Tanpa menoleh lagi Penyesat Dari Selatan ini berkelebat tinggalkan Ki Walang Buana. Sepeninggalnya kakek bermuka seram, Ki Walang Buana bangkit berdiri. Tubuhnya yang kurus dan tipis menggeliat dan tergontai-gontai di tiup angin. Dia menatap ke satu jurusan ke arah lenyapnya Sabarantu. Pada saat sendiri seperti itu dengan mulut mengurai senyum dia berkata. 

"Barang siapa pernah menipu, suatu saat dia akan ditipu orang. Bila pernah berbohong, kelak pasti dibohongi orang. Manusia hanya pantas disebut manusia bila dia menggunakan hati dan pikiran. Setiap orang hanya bisa mengaku sebagai manusia, bila tindakannya tidak mengikuti tindakan binatang. Hidup berabad-abad dalam suka dalam duka. tapi aku tetap bisa tertawa. Tapi dunia ini semakin kotor oleh kekejaman manusia."

"Kalaupun ada daerah yang aman penuh kedamaian, disinilah tempatnya. Tapi Lembah Batas Dunia hanya tinggal sebuah masa lalu. Sekarang yang damai menjadi tidak tenteram, aku melihat darah di sini. Aku juga melihat darah di mana-mana. Tapi aku harus tetap dengan rencanaku. Aku akan mencarinya....siapa tahu masih ada orang yang bisa kuajak untuk tertawa bersama- sama. Ha ha ha...." 

Habis berkata demikian Ki Walang Buana kembangkan kedua tangannya. Seketika baju dan celananya yang gombrang kedodoran berkibar-kibar ditiup angin. Ketika orang tua ini hentakkan kedua kakinya, maka tubuhnya melesat tinggi ke udara. Selanjutnya, seperti burung yang mengepakkan sayap, Ki Walang Buana mengibaskan kedua tangannya secara terus menerus, Orang tua ini melayang terbang dalam ketinggian. Sambil terus melayang menjauhi lembah. Ki Walang Buana mengumbar tawa seperti orang gila.

***

Dalam satu ruangan luas yang telah ditinggalkan oleh pemiliknya, kakek bermuka rata yang selalu mengenakan jubah perang dan menutupi wajahnya dengan topi bundar berbentuk paruh burung berdiri tegak tidak bergeming. Dari mulutnya yang terlindung topi perang terdengar suara nyanyian aneh yang membuat merinding kuduk orang yang mendengarnya. Tak jauh di depannya sebuah proses sedang terjadi. 

Sesosok tubuh tinggi besar yang dalam keadaan terbaring di atas lantai ruangan yang dingin nampak diselimuti cahaya hitam kehijauan. Sosok yang diselimuti cahaya itu nampak melejang-lejang. Tubuh yang perkasa secara cepat mengalami penyusutan. Seiring dengan Itu, kepala yang ditumbuhi rambut berubah mengecil, tangan yang kokoh kekar juga ikut mengecil. Demikian juga dengan bagian tubuh dan kakinya. Di balik topi yang berbentuk paruh, si kakek menyeringai. 

"Kau harus kembali ke Negeri Angin, Gorga Raga. Semua niatku untuk menggunakan dirimu menjadi batal demi melihat perkembangan keadaan yang tidak menguntungkan. Sebagai gantinya aku harus memanggil orang-orang sesat dari Negeri Angin untuk membuat sebuah persekutuan besar dan rencana baru demi tercapainya semua kekuasaan," Kata kakek itu. 

Dia kemudian mengayunkan tongkat hitam di tangannya. Tongkat itu selanjutnya diputar-putar ke udara. Terdengar suara desing yang disertai dengan suara menderu. Dengan kekuatan yang dia miliki, ayunan tongkat yang diputar di depan wajah kini membentuk sebuah lobang udara besar yang dikelilingi cahaya. Lubang yang tercipta akibat putaran tongkat mirip terowongan, namun di samping suara deru yang terus terdengar, terowongan yang tercipta akibat putaran tongkat itu mempunyai daya sedot yang luar biasa.

"Jalan menuju ke Negeri Angin telah kubuka dengan mantra sihirku. Sekarang kau masuklah kemari, Gorga Raga," ujar si kakek yang bukan lain adalah Nyuk Antan Alu. 

Kata-kata yang diucapkan kakek ini ternyata berpengaruh sekali. Gorga raga yang kini telah kembali dalam ujud sesungguhnya yaitu seekor kadal berwarna hitam sebesar lengan tangan orang dewasa segera tersedot ke arah lubang cahaya yang diciptakan oleh kakek itu. Wuus! Sekejab saja sosok kadal itu lenyap setelah tersedot masuk ke dalam terowongan ciptaan si kakek. Selanjutnya Nyuk Antan Alu memutar tongkat di tangan secara berlawanan. 

Terowongan yang tercipta masih tidak berubah, namun kini arah angin Ikut berubah. Jika pertama angin dalam ruangan termasuk kadal besar tersedot ke dalam terowongan. Sebaliknya kini dari dalam terowongan angin kencang berhembus keluar menghempas apa saja yang terdapat di sekitar ruangan itu. Kemudian sayup-sayup terdengar suara caci maki, suara itu sayup sayup seakan datang dari sebuah perjalanan yang jauh. Wajah di balik topi batu berbentuk paruh burung lagi-lagi menyeringai 

"Bagus sobat-sobatku. Aku mengenali suara kalian. Aku minta maaf karena telah memanggil kalian dari Negeri Angin untuk bergabung bersamaku di dunia yang baru," Kata kakek itu. 

"Kare kara, siapa yang menyeretku kemari. Mabokku belum juga tuntas mengapa tiba-tiba aku diseret secara paksa," 

Kata satu suara. Terdengarnya suara itu disusul oleh menggelindingnya sesosok tubuh. Kemudian orang ini terhempas ke lantai ruangan. Sebuah proses ternyata tidak terhenti sampai di sini saja. Sekejab kemudian terdengar suara makian yang lain di tengah suara deru dan pusaran angin kencang yang keluar dari terowongan itu. 

"Kuampret.. mimpi buruk apa yang menimpaku. Kunyuk kurang ajar, aku lagi tanggung mengapa dipaksa kemari?" 

Belum lagi hilang gaung suara dampratan. Dari terowongan waktu yang diciptakan berkat kekuatan sihir Nyuk Antan Alu melesat satu sosok tubuh dalam keadaan telanjang. Melihat siapa yang datang Nyuk Antan Alu segera berkata. 

"Tamuku yang pertama adalah Iblis Pemabuk Tujuh Turunan. Terhadap tamuku itu aku sudah menyediakan apa yang menjadi kesukaannya. Tamu kedua tak kusangka ternyata adalah Hidung Belang Pemetik Bunga. Aku tahu tanggung yang kau maksudkan tentunya ketika kuundang kemari kau pasti sedang bercinta dengan seorang gadis yang menjadi korbanmu. Kau tidak usah gusar, soal kesukaanmu pada gadis-gadis yang masih sendiri di tempat ini juga tidak kalah banyaknya. Mereka cantik-cantik. Setiap saat setelah urusan selesai kau bisa mengambil mereka." 

Laki-laki tua berusia lanjut namun memiliki wajah tampan dan tetap awet muda ini tidak menjawab. Sambil mendengus dia menyambar selembar pakaian yang tergeletak di sudut ruangan. Sementara laki-laki satunya lagi yang memiliki tubuh lebih besar dan lebih tinggi yang dijuluki Iblis Pemabuk Tujuh Turunan setelah terhempas dari terowongan tetap terkapar di lantai namun terus mengumbar tawa. Di terowongan sebuah proses terus berlangsung. 

Tidak lama kemudian setelah kemunculan kedua orang tadi, selanjutnya muncul pula seorang laki-laki lain.       Laki-laki itu bertubuh jangkung. Dia sama seperti yang lain, memiliki tangan dan kaki masing-masing dua buah. Yang membedakan dirinya dengan yang lain. Laki-laki satu ini memiliki batang leher bercabang dua. Selain itu dia juga memiliki dua buah kepala. Kepalanya yang satu sama dengan kepala manusia pada umumnya, namun kepala yang satunya lagi berbentuk lonjong besar dengan hidung besar berlubang satu. 

Sementara matanya tunggal dan mulut lancip seperti mulut ular. Ketika terhenyak di ruangan itu, laki-laki yang bernama Danyang Katangga dan memiliki gelar Halimun Berkepala Dua ini hanya diam sambil memandang sekeliling ruangan. Sementara setelah kehadiran Danyang Katongga muncul pula seorang laki-laki lain berpakaian gemerlap. Laki-laki ini memegang sebuah golok besar. Golok itu sebening kaca, berkilawan memancarkan cahaya. 

Nyuk Antan Alu menyeringai puas melihat kehadiran ke empat laki-laki tersebut. Sejurus kemudian mulutnya berkomat-kamit. Gerakan tangan yang memutar tongkat segera dihentikan. Seiring dengan berhentinya tongkat, maka terowongan cahaya yang memancarkan suara gemuruh secara lambat namun pasti langsung menyusut, mengecil sampai akhirnya lenyap sama sekali. Empat laki-laki yang baru didatangkan dari Negeri Angin dan merupakan tokoh-tokoh tingkat atas di negeri asalnya serentak memandang ke arah Nyuk Antan Alu. Mereka kemudian sama unjukkan wajah kaget 

"Sargo....!" seru salah seorang diantaranya.

"Panglima perang Bayabala?!" 

Desis tiga laki-laki lainnya sambil berlompatan berdiri dan siap menyerang. Nyuk Antan Alu angkat tangannya memberi isyarat bahwaa dirinya bukan Sargo, panglima perang Negeri Angin yang telah lama mengincar mereka. Penyihir ini kemudian bahkan membuka topi milik panglima Bayabala yang telah dicurinya jauh sebelum penyihir Ini melarikan diri dari Negeri Angin. Selelah pelindung wajah dibuka, mereka merasa lega begitu melihat seraut wajah yang sangat dikenalnya. Wajah seorang kakek berwajah rata dan hanya mempunyai sebelah mata Nyuk Antan Alu. 

"Ha ha ha! Tidak disangka pencuri pakaian perang Bayabala ternyata berada di sini." Yang bicara adalah iblis Pemabuk Tujuh Turunan. 

"Bayabala sampai saat ini sibuk mencari-cari dirimu. "Beliau bahkan mengerahkan pasukan rahasianya untuk melacak jejakmu. Mereka mengo-brak-abrik tempat tinggaimu. Para pengikutmu dibunuh, bahkan hewan piaraanmu juga tidak ada yang dibiarkan hidup, " kata laki-laki itu dengan kepala termiring-miring dan mengeluarkan suara seperti orang yang kekenyangan. 

Nyuk Antan Alu tertawa mengekeh. "Sampai botak ubanan, Bayabala tidak bakal menemukan diriku. Dia pasti marah sekali karena pakaian saktinya kucuri.Hik hik hik."

"Marahnya luar biasa, sampai-sampai Puteri Embun tidak dihiraukannya," ujar laki-laki bersenjata golok berpakaian putih gemerlap. 

"Aku tidak perduli, Harusnya Puteri Embun kujadikan tawananku sehingga lengkaplah penderitaan panglima itu. Tapi aku terburu-buru ketika meninggalkan Negeri Angin, Sehingga semua rencanaku tidak terlaksana seluruhnya."

"Kau tidak usah berkecil hati" kata kakek tampan bergelar Hidung Belang Pemetik Bunga. 

"Kita ini adalah orang-orang satu golongan. Sampai sekarang kita menjadi buruan kerajaan. Namun bila kita pandai bermuslihat bukan mustahil suatu saat keadaan akan berbalik dan kita akan memburu panglima itu!"

"Sobatku Hidung Belang, aku telah lama menginginkan hal itu menjadi sebuah kenyataan. Tapi keinginan itu tidak mungkin terwujud jika orang-orang seperti kita tidak bersatu," Ujar Nyuk Antan Alu sambil menunjukkan rasa prihatin. 

"Hmm, jadi untuk semua alasan itu kau memanggil kami secara paksa agar datang kemari?"

Kata Danyang Katongga yang dikenal dengan julukan Halimun Berkepala Dua.

 "Ya, itu adalah sebagian dari rencanaku," Ujar Nyuk Antan Alu mantap. 

Danyang Katongga diam membisu, namun wajahnya menunjukkan perasaan tidak puas. Untuk diketahui baik Nyuk Antan Alu maupun empat orang yang didatangkannya dari Negeri Angin adalah para tokoh sesat yang telah melakukan berbagai kejahatan. Mereka menjadi buruan kerajaan dan menjadi incaran Sargo atau panglima perang di negeri itu. Kejahatan Nyuk Antan Alu misalnya. Dia tidak hanya sekedar mencuri jubah sakti yang biasa dipakai panglima perang Bayabala di medan tempur. 

Nyuk Antan Alu dengan ilmu sihirnya telah membunuh para pembesar dan petinggi kerajaan dengan cara menyantetnya. Selain itu dia juga sering mencuri benda-benda pusaka kerajaan. Sedangkan Iblis Pemabuk kejahatan yang dilakukan secara langsung pada kerajaan memang tidak ada. Hanya saja tokoh sesat satu ini sering membantu teman-temannya dalam melakukan berbagai macam kejahatan. 

Satu-satunya perbuatan iblis Pemabuk yang menghebohkan adalah kakek ini pernah masuk ke kolam mandi para puteri lalu kencing dan buang hajat di situ. Lain halnya dengan Hidung Belang Pemetik Bunga. Kejahatan kakek tampan ini boleh dikata selangit tembus sedalam lautan. Dia telah menodai ratusan gadis cantik, meniduri puluhan selir raja, membuat hamil para janda dan membuat para korbannya menjadi gila. 

Kerajaan telah menetapkan hukuman mati terhadapnya, pernah tertangkap namun berhasil meloloskan diri dari penjara. Hidung Belang Pemetik Bunga memiliki ilmu sakti yang tinggi. Sementara kekuatannya dalam menahlukkan hati calon korbannya terletak pada matanya. Gadis manapun bila pernah menatap matanya, maka dia akan Jatuh cinta dan tergila-gila pada iblis satu ini. Bila hal ini terjadi, maka si kakek dengan leluasa dapat mempermainkan gadis itu. 

Setelah Hidung Belang Pemetik Bunga merasa puas dan bosan maka dia segera meninggalkan korbannya. Konon semakin banyak gadis perawan yang berhasil ditidurinya justru membuat dirinya menjadi lebih muda lagi. Berbeda dengan Danyang Katongga, tokoh sesat yang memiliki kepala ganda ini memiliki kecerdasan luar biasa. Di samping itu ilmu kesaktiannya juga sangat tinggi. Salah satu dari kepala Katongga atau Halimun Berkepala Dua ini mempunyai kelebihan pula. 

Kepalanya yang berhidung tunggal kerasnya seperti baja. Lubang hidungnya yang tunggal dapat menyemburkan bisa, mulutnya yang runcing seperti mulut ular dapat memanjang. Bila mulut itu menyentuh tubuh lawan, maka korbannya tewas seketika dalam keadaan keracunan. Sementara orang ke empat juga bukan tokoh sembarangan. Laki-laki satu ini adalah seorang pembunuh sejati. 

Kehebatannya bukan hanya terletak dalam kecepatan gerak atau kemahiran dalam mempermainkan golok, tapi juga terletak pada kilauan pakaiannya yang memantulkan cahaya. Pakaian itu bisa menjadi petaka bagi lawan, dan malapetaka semakin besar oleh kilauan Golok Intan dan ketajamannya yang luar biasa. Sejak malang melintang di rimba persilatan Pembunuh Bergolok Intan telah menghabisi jiwa ribuan perajurit dan tokoh-tokoh yang menjadi lawannya. 

Dan memang sepanjang hidupnya dihabiskan untuk membunuh. Kecepatan dalam menggunakan senjata membuat jerih lawan-lawannya. Tidak mengherankan selain ditakuti, dia juga salah satu dari buruan kerajaan. Kini setelah Danyang Katongga, Pembunuh Bergolok Intan membuka mulut mengajukan pendapatnya.

"Menurutku. Soal panglima Bayabala bisa dibicarakan nanti. Sekarang aku ingin tahu saat ini kita sedang berada di mana? Apakah kita berada di ujung jurang kematian, ataukah kita ada ditempat yang nyaman. Aku mau Nyuk Antan Alu yang menjawab, jangan berbelit-belit dan tak usah menggunakan tipu muslihat,"       Ujar Pembunuh Bergolok Intan sambil menatap tajam ke arah penyihir Itu. 

Nyuk Antan Alu sadar benar bahwa Pembunuh Bergolok Intan adalah orang paling tidak suka didustai walau sebenarnya laki-laki berkumis tebal ini bukanlah dari golongan putih. Dia harus bisa bicara jujur jika Ingin mengambil hati Pembunuh Bergolok Intan. Sementara berbeda dengan Dayang Katongga, kakek berkepala dua ini tidak pernah perduli terhadap kejujuran seseorang. Mungkin tabiat ini ada hubungannya dengan sikapnya yang juga tidak pernah berlaku jujur pada siapa saja termasuk Juga pada kawan-kawannya. 

"Sobatku Pembunuh Bergolok Intan, seperti yang kalian duga, saat ini kita memang berada Jauh di luar Negeri Angin. Sekarang kita tepatnya berada di tanah Dwipa. Tempat ini bernama Lembah Batas Dunia. Aku tahu sedikit tentang daerah ini. Sebelum kalian datang, daerah ini merupakan daerah termakmur. Banyak orang mengatakan inilah JALANE, yaitu sebuah surga bagi para penghuninya. Di tempat Ini segala macam yang kita butuhkan tersedia. Makanan, buah-buahan, batu-batu berharga, emas dan intan."

"Aku melihat bangunan di atas sana. Kalau demikian tempat ini tadinya berpenghuni?" Ujar Pembunuh Bergolok Intan. 

"Asyik, aku pasti tidak bakal susah mendapatkan gadis perawan yang sesuai dengan seleraku. Ingin sekali aku segera melihat-lihat keadaan di luar sana," Ujar Hidung Belang Pemetik Bunga sambil julurkan lidah basahi bibir. 

"Sobat Hidung Belang. Semua penduduk yang tinggal di daerah ini telah terbantai oleh sahabatku Sabarantu. Satu-satunya orang yang meloloskan diri hanya seorang pemuda tak bernama bergelar Pemanah Bintang. Pemuda itu semula diramalkan oleh banyak orang bakal menjadi salah seorang para suci yang akan menjadi penyampai kebenaran. Para dewa merestuinya. Tapi sejak kerabat dan seorang sahabatnya tewas di tangan Sabarantu. Nampaknya dia tidak bisa menerima kenyataan yang terjadi. Kemudian semua pantangan yang seharusnya tidak dilanggar jadi terabaikan. Dia terseret dalam arus kemarahan. Dia ingin membalas dendam."

"Mengapa kau tidak membunuhnya?" 

Tanya Iblis Pemabuk Tujuh Turunan sambil tertawa dan memegangi keningnya yang berdenyut sakit. 

"Ya, harusnya kau juga merampas senjata sakti yang dia miliki. Sebab yang kudengar dia memiliki tiga anak panah," Ujar Danyang Katongga pula. 

"Dia berhasil melarikan diri. Dia bukan pemuda sembarangan. Lagi pula buat apa memikirkannya lagi? Tempat tinggalnya dipenuhi dengan harta terpendam yang tidak ternilai harganya telah kukuasai. Kupikir ini sama artinya kita dapat memulai segala sesuatunya dari sini. Kita akan membangun istana di Negeri Angin. Untuk tujuan itulah aku mengundang kalian datang ke tempat ini," Ujar sang penyihir. 

Laki-laki tua itu lalu menceritakan semua niat serta rencana yang telah tersusun dalam benaknya secara terperinci. Pada akhirnya para sahabat saling berpandangan. Pembunuh Bergolok Intan kemudian berkata. 

"Aku tidak gila dengan jabatan-jabatan menarik yang kau tawarkan Nyanyuk. Bagiku bisa menjelajah negeri ini dan dapat membasmi tokoh-tokoh di daerah ini yang kuanggap memiliki kekuatan sebanding sudah merupakan kepuasan tersendiri. Tapi ingat Nyuk, segala sesuatunya tidak bisa kau putuskan sendiri. Keputusan apa saja yang kau tetapkan harus berdasarkan persetujuan kami. Dan tentang pemuda yang memiliki gelar Pendekar Pedang Roh itu tidak usah khawatir. Aku pasti akan menangkapnya untukmu."

"Kalau demikian legalah perasaanku. Aku sendiri sebelumnya telah berhasil membuat pemuda itu tidak sadarkan diri. Aku menawannya di salah satu rumah yang terdapat di lembah ini. Belakangan aku menyadari pemuda itu nampaknya telah dilarikan oleh seseorang. Aku tidak yakin apakah orang yang melarikan pendekar muda itu adalah temannya. Sebab yang kutahu dia datang di lembah ini seorang diri" 

Kata Nyuk Antan Alu. Di luar sepengetahuannya, Sabarantu yang sejak tadi mendekam di salah satu sudut ruangan dan mengawasi setiap perkembangan yang terjadi menggeram marah.

"Nyuk Antan Alu, kau benar-benar manusia terkutuk yang tak dapat dipercaya. Kau ternyata sudah mengetahui lebih dulu bahwa pemuda itu dilarikan sescorang. Yang tidak kumengerti mengapa kau justru meminta aku untuk memeriksa keadaannya. Jika demikian kenyataannya, benar seperti yang dikatakan oleh Ki Walang Buana, bahwa dia diam-diam mempunyai rencana sendiri di luar rencana yang kita bicarakan bersama. Aku menyesal mengapa aku percaya begitu saja kepadamu, padahal dirimu tidak berbeda dengan ular berkepala dua." 

Kakek ini kemudian bangkit berdiri. Dia merasa tidak ada gunanya lagi berlama-lama di tempat itu. Nyuk Antan Alu dengan sengaja meninggalkan dirinya. Inilah yang membuat Sabarantu menjadi sangat marah. Sabarantu memutar tubuh dan siap menyelinap pergi. Namun karena rasa kecewa dirinya justru bertindak ceroboh. Tanpa sengaja kakinya menyentuh salah satu Jambangan bunga yang terdapat di sudut ruangan yang gelap Itu. Jatuhnya tempat bunga dari batu menimbulkan suara gaduh. Orang-orang di dalam ruangan serentak menoleh ke arah itu. Salah satu diantaranya berseru, 

"Nyuk, ternyata ada penyusup yang mendengarkan pembicaraan kita sejak tadi," Ujar Iblis Pemabuk. 

"Biar kulihat siapa kunyuknya yang bersembunyi di balik kegelapan Itu!" Kata Danyang Katongga. 

Kemudian salah satu kepala dari Danyang Katongga yang berbentuk lonjong sekeras besi sekonyong-konyong terjulur memanjang lalu melesat ke sudut yang gelap. Sekali kepala Itu membentur ke arah sasaran, yang terkena benturannya pasti bakal celaka. Tetapi selagi kepala itu melesat, bergerak ke arah yang gelap, Dari balik kegelapan melesat satu bayangan ke arah mereka yang sedang berkumpul di tengah ruangan. Serangan Danyang Katongga luput. Di tengah ruangan berdiri tegak seorang laki-laki yang sangat dikenal oleh Nyuk Antan Alu

"Inikah orangnya yang ikut mencuri dengar pembicaran kita? Biar kupatahkan batang lehernya," 

Kata Hidung Belang Pemetik Bunga. Orang tua itu segera berdiri dan siap menyerang, namun Nyuk Antan Alu segera mencegah. 

"Tahan! Dia bukan musuh, justru inilah orangnya yang bernama Sabarantu!" Ujar kakek itu. Danyang Katongga, Iblis Pemabuk, Pembunuh Bergolok Intan dan Hidung Belang Pemetik Bunga sama melengak kaget. Mereka memandang ke arah Sabarantu. 

"Kalau sahabatmu mengapa tindak tanduknya seperti pencuri?" Tanya Danyang Katongga. 

"Ya! Kalau temanmu mengapa pandangan matanya penuh curiga?" 

Kata Pembunuh Bergolok Intan pula. Sang penyihlir tentu tidak bisa menjawab karena Sabarantu tidak pernah bersikap seperti itu. Lalu apa yang terjadi dengan sekutunya saat Itu?

***

Setelah Hantu Tinggi Tanpa Muka tewas di Gerbang Kematian di tangan seorang bocah yang bergelar Si Anak Terbuang. Demit Angin yang bertubuh bening tembus pandang ini tidak tahu lagi apa yang seharusnya dia lakukan. Kini setelah jauh meninggalkan hutan berkabut Demit Angin merasa perlu untuk memikirkan rencana selanjutnya. Di bawah pohon tidak jauh dari sebuah telaga yang sunyi Demit Angin hentikan langkah.. 

Dia lalu duduk di bawah pohon itu. Tatap matanya melayang memandang ke arah telaga. Pada saat itu dirinya ingat telah melakukan sebuah kesalahan. Dan kesalahan buruk yang telah dilakukannya adalah lari dari pertempuran, meninggalkan Hantu Tinggi sahabatnya menghadapi bahaya seorang diri, Dengan penuh penyesalan Demit Angin berkata 

"Aku bukan seorang pengecut. Tapi bila kupikir lebih jauh, menyelamatkan rencana kita jauh lebih penting dari pada berlaku tolol menghadapi kematian bersama-sama. Hantu Tinggi, maafkan aku. Kita sudah terlanjur melangkah jauh. Rencana telah kita susun sebelum kita masuk dalam perangkap, tersesat di Gerbang Kematian dan bertemu dengan bocah terkutuk itu. Segala sesuatu akulah yang memulainya."

"Aku berpikir dengan menggunakan nama Dewi Kabut semua keinginan kita untuk mendapatkan tiga panah sakti di tangan Pemanah Bintang bakal berjalan mulus. Tapi apa mau dikata, perjalanan menembus Lembah Batas Dunia sulitnya bukan main. Mengapa harus ada rimba Kabut yang membuat kita tersesat ke Gerbang Kematian. Harusnya kita tidak bertemu dengan bocah keparat itu. Maafkan aku Hantu Tinggi, jangan kau sesali diriku karena bagaimana pun aku belum siap mati." 

"Kita memang bersahabat, namun tidak harus mati bersama-sama. Biarlah aku akan mencari cara cara untuk membalaskan dendam kematianmu terhadap bocah itu." 

Demit Angin selanjutnya diam membisu. Sekarang dia menjadi ragu, apakah akan terus memburu tiga senjata yang berada di tangan Pemanah Bintang. Dia tidak tahu kejadian apa saja yang telah terjadi di lembah. Dia merasa bahwa Pemanah Bintang masih berada di Lembah Batas Dunia dan ketiga senjata itu pasti masih berada di tangannya. Selagi Demit Angin berpikir tentang segala rencana yang akan dilakukannya. 

Pada saat itu tiba- tiba terdengar suara gemerisik di belakangnya. Demit Angin terkejut. Seketika dia menoleh dan palingkan kepala ke belakang. Orang tua ini melompat berdiri sekaligus balikkan badan ketika melihat di belakang sana berdiri tegak seorang perempuan setengah baya berwajah cantik. Demit Angin kaget bukan karena kehadiran perempuan itu. Dia terkejut karena mengenal siapa adanya perempuan di depannya.

"Kau..?!" 

Desis Demit Angin kaget. Perempuan Itu tersenyum, di mata Demit Angin senyum itu tidak ubahnya dengan sebuah seringai yang menakutkan. 

"Ya, aku Demit Angin. Apakah kau sudah lupa padaku?" tanya perempuan itu yang bukan lain adalah Dewi Kabut. 

Demit Angin menggeleng keras, kehadiran Dewi Kabut yang tiba-tiba membuat hatinya gelisah. Demit Angin juga gugup sekali. 

"Dewi Kabut, tentu saja aku tidak lupa padamu. Sudah lama sekali aku ingin bertemu denganmu. Tapi kau entah dimana," Ujar Demit Angin. 

"Hmm, begitu? Kudengar suaramu gemetar wajahmu yang bening itu nampak lebih pucat dari biasanya. Apakah kau sedang sakit Demit Angin?" 

Tanya Dewi Kabut tenang namun tatap matanya penuh curiga.

"Aku....aku memang sedang tidak enak badan. Tubuhku seharusnya dingin, tapi entah mengapa justru terasa panas. Kau hendak kemana Dewi?" Tanya Demit Angin. 

Dalam hati dia berharap Dewi Kabut segera berlalu dari hadapannya. Di luar dugaan Dewi Kabut tersenyum. 

"Pertanyaanmu itu terasa aneh, Demit Angin. Seharusnya aku yang bertanya mengapa kau sampai berada di sini, di tepi telaga seorang diri duduk termenung dalam kegelisahan," 

Sindir Dewi Kabut. Walau Demit Angin berusaha menutupi kegelisahannya dan bersikap setenang mungkin. Tetap saja dia tak mampu menyembunyikan kegelisahannya itu. 

"Entahlah, akhir-akhir Ini aku tidak kerasan tinggal di Karang Longko...."

"Kau gelisah. Bukankah kau dulu pernah mengatakan Karang Longko adalah tempat tinggal terakhirmu yang paling nyaman?" 

Tanya Dewi Kabut. Demit Angin memaki dalam hati karena tidak menyangka Dewi Kabut ingat dengan semua yang pernah di katakannya dulu. 

 "Dulu memang begitu, tapi sekarang tidak lagi"

"Jalan pikiranmu sekarang berubah-ubah, adakah orang yang mempengaruhimu?"

"Oh tidak" Jawab Demit Angin 

 "Apakah kau punya sahabat?"

"Aku tidak punya siapa-siapa. Dulu aku berteman dengan dirimu, kau tahu itu. Tapi sejak kau pergi, aku tidak pernah menjalin persahabatan dengan siapapun."

"Begitukah....?" Dewi Kabut tersenyum sinis. 

"Mengapa kau memandangku seperti itu?" Tanya Demit Angin. 

Dewi Kabut tersenyum untuk yang kesekian kalinya. Dengan tenang dan nada tanpa curiga dia berkata. 

"Demit Angin, dalam diriku terlalu banyak masalah dan penyesalan. Aku menyesal mengapa belajar ilmu aneh dan langka. Kau paling mengetahui keadaan diriku yang sebenarnya. Di samping dirimu, tentu saudaraku Pendekar Kelelawar Juga tahu keadaanku. Sepanjang hidupku aku tenggelam dalam penyesalan yang mendalam. Aku tidak punya waktu untuk memikirkan dunia persilatan. Orang sepertiku apakah mungkin melakukan pembunuhan, membantai kaum laki-laki di Lembah Dieng dan mengatur kehidupan orang lain sesuai dengan keinginanku?"  

"Tentu tidak mungkin," Kata Demit Angin. 

"Kalau tidak mungkin, mengapa diriku tersohor telah melakukan berbagai macam kejahatan. Aku telah bertemu dengan salah satu sesepuh Lembah Dieng, Hening Anyali namanya. Dia telah melemparkan fitnah, tuduhan keji terhadapku. Aku tidak senang, aku merasa seseorang telah dengan sengaja mencemarkan nama baikku demi sebuah tuduhan yang tidak kuketahui."

"Aku merasa prihatin mendengarnya, tapi aku tidak tahu siapa yang telah merusak nama baikmu itu Dewi. Seandainya saja aku tahu, orang itu pasti telah kubunuh," Kata Demit Angin enteng. 

"Demit Angin, perhatianmu cukup besar. Aku Sendiri telah melakukan penyelidikan dalam waktu yang panjang, melelahkan dan cukup lama. Sampai kemudian aku bertemu denganmu di sini."  

"Bagaimana hasil penyelidikanmu itu?" 

Tanya Demit Angin harap-harap cemas. Dewi Kabut tersenyum. 

"Hasil penyelidikanku cukup panjang dan melelahkan hasilnya juga sungguh mengejutkan. Dengan pasti aku mengetahui bahwa orang yang telah merusak nama baikku itu sekarang berdiri tegak di hadapanku!"

"Dewi Kabut, kau jangan mengada-ada. Aku sama sekali tidak mencemarkan nama baikmu! Aku bersumpah atas nama langit dan bumi!" Kata Demit Angin. 

"Hi hi hi. Sesuai dengan namamu, kau punya pendirian tidak tetap Demit Angin. Kau juga seorang pendusta, kau mengaku tidak mempunyai sahabat. Padahal kau telah menjalin persahabatan cukup lama dengan Hantu Tinggi Tanpa Muka. Kalian bahkan telah berusaha datang ke Lembah Batas Dunia, sayang kalian justru tersesat ke Gerbang Kematian. Kaulah yang telah mencemarkan nama baikku. Kau mengaku sebagai diriku, kau membunuh orang-orang yang tidak berdosa atas namaku"

"Dewi..mungkin yang kau dengar hanya kabar dusta belaka," Kata Demit Angin gugup. 

"Kaulah yang berdusta. Kau telah menipuku dengan kata-kata kejimu yang tidak dapat dipertanggung jawabkan sedikitpun," kata Dewi Kabut berapi-api. 

Demit Angin menggeleng keras. "Aku tidak melakukan seperti yang kau tuduhkan!" Bantah laki-laki itu. 

"Benarkah? Aku tidak sembarang bicara karena aku punya saksi yang terus mengikuti perjalananmu!" 

Kata Dewi Kabut tanpa ragu. Dia lalu menoleh ke sebelah kiri. Selanjutnya Dewi Kabut berseru.

"Pendekar Kelelawar. Aku percaya dengan kejujuranmu. Sekarang kau keluarlah dari tempat persembunyianmu....!" 

Dari balik semak belukar muncul seorang laki-laki berjubah hitam berusia sekitar empat puluh delapan tahun. Laki-laki itu memakai ikat kepala berwarna hitam. 

"Pendekar Kelelawar?!" Seru Demit Angin. 

"Bukankah kau seharusnya berada di gua Lawa?" Ujar Demit Angin. 

"Ya, aku menetap di sana. Tapi sejak nasib malang menimpa saudara seperguruanku ini. Aku tidak tenang, aku kemudan mencari tahu perkembangan hidupnya. Lalu kudengar dia menyebar darah dan merenggut nyawa orang yang tidak bersalah. Aku meragukan kebenaran kabar itu hingga aku menyelidikinya. Aku juga tahu kau pernah menetap di Gua Lawa tempat tinggalku. Aku mengetahui kau bersekutu dengan Hantu Tinggi untuk mendapatkan panah sakti milik Pemanah Bintang."

"Ketika kau dan Hantu Tinggi tersesat di Hutan Kabut, aku juga tahu. Aku melihat kalian sampai di gerbang Kematian. Nasib kalian tidak beruntung, Si Anak Terbuang ternyata membuat dirimu jerih. Hantu Tinggi tidak selamat, kau yang pengecut melarikan diri ke sini. Aku terus mengikutimu, dalam perjalanan aku bertemu dengan Dewi Kabut. Aku telah mengatakan segala yang kuketahui padanya. Dan sungguh aku tidak pernah berdusta terhadap apa yang kudengar dan kulihat."  

"Bagaimana? Apakah kau masih mau mungkir?" Tanya Dewi Kabut. 

Di luar dugaan Demit Angin malah tertawa. Puas dirinya tertawa dengan suara dingin dia berkata. 

"Dewi Kabut.... kau memang manusia yang malang. Sekarang perlu apa lagi aku menutupi kejadian yang sebenarnya. Aku memang menggunakan namamu untuk setiap aksiku."

"Apa tujuanmu?" Tanya Dewi Kabut geram 

"Tujuanku sudah jelas. Aku Ingin mengalihkan para tokoh rimba persilatan dari panah sakti yang menjadi Incaranku," Jawab Demit Angin. 

"Tujuanmu tidak tercapai. Pemanah Bintang pergi dari lembah itu," Ujar Dewi Kabut. 

Demit Angin sempat kaget mendengar penjelasan Dewi Kabut. Tapi apa artinya semua itu karena kini rahasianya telah terbongkar? 

"Demit Angin, setelah semua rahasia terbuka, sekarang kematian yang bagaimanakah yang kau inginkan?" 

Tanya Dewi Kabut membuat Demit Angin tersentak dari lamunannya.

"Aku yakin kalian tidak ingin melihat kematianku. Kalian adalah orang-orang berjiwa gagah berhati besar. Tidak mungkin tega membunuhku!" Ujar Demit Angin yakin. 

"Begitukah? Mungkin Dewi Kabut tidak tega membunuhmu, Demit Angin. Lain halnya dengan diriku!" berkata begitu Pendekar Kelelawar tiba-tiba kibaskan tangannya kanan kiri berbarengan. 

Jubahnya yang panjang menjela seperti sayap terkembang. Pendekar itu melesat deras ke arah Demit Angin membuat orang tua bertubuh bening itu terkesima. Namun dengan cepat membanting diri ke samping. lalu bergulingan menjauh menghindar dari hantaman tangan kiri dan terjangan kaki Pendekar Kelelawar. Demit Angin selamat dari serangan lawan, namun dengan tidak disangka-sangka Dewi Kabut melepaskan pukulan tangan kosong ke arahnya tiga kali berturut-turut.

Angin bergulung, hawa panas menerjang. Demit Angin dalam posisi tidak menguntungkan mendorong ke dua tangannya menangkis serangan itu. Dua pukulan yang dilepaskan Dewi Kabut berhasil ditangkisnya. Namun pukulan ketiga menyambar kakinya. Demit Angin meraung, kakinya yang gampang mencair segera lumer seketika terkena pukulan itu. Tapi cairan yang lumer segera membentuk kaki kembali. Demit Angin bangkit berdiri.

"Manusia-manusia pengecut! Tidak selayaknya kalian mengeroyok diriku!" Maki Demit Angin. 

"Oh begitu!" Gumam Dewi Kabut sinis. Perempuan itu kemudian berkata ditujukan pada Pendekar Kelelawar. 

"Lebih baik kau melihat apa yang kulakukan. Antara aku dan dia ada persoalan yang harus diselesaikan. Aku tidak ingin disebut sebagai pengecut. Kau menyingkirlah, biar aku akan menjajal sampai di mana kehebatan yang dimilikinya hingga membuat lupa pada tali persahabatan yang pernah terjadi di antara kami!"

"Hmm, kalau kau sudah berkata begitu, aku tidak bakal menghalangi," Jawab Pendekar Kelelawar. 

Laki-laki itu membuat gerakan aneh. Tubuhnya lalu berputar. Angin menderu, dalam waktu singkat dia telah berdiri tegak di luar tempat terjadinya perkelahian. Setelah Pendekar Kelelawar menyingkir. Dewi Kabut kembali berkata.

"Nah sekarang hanya tinggal dirimu dan diriku. Aku memberi kesempatan padamu untuk menyerangku, Lakukanlah...!" 

Demit Angin kemudian melipat kedua tangannya di depan dada. Kesempatan ini tidak disia-siakan olehnya. Diam-diam Demit Angin menghimpun tenaga dalamnya ke bagian tangan. Mulut laki-laki terkatub rapat, karena Demit Angin sengaja menahan nafas maka tubuhnya yang dapat berubah membesar dan mengecil sesuai yang dia inginkan menggelembung seperti balon karet. Pendekar Kelelawar menyadari, dalam keadaan seperti itu Demit Angin tentunya tengah mengerahkan kekuatan yang dimilikinya. Pendekar Kelelawar merasa tidak perlu memperingatkan Dewi Kabut kerena dia yakin Sang Dewi tentu tahu apa yang harus dilakukannya.

"Huuup! Yeaaah..." 

Demit Angin keluarkan suara tertahan. Berbarengan dengan teriakannya itu, Demit Angin meluncur ke arah Dewi Kabut. Dua pukulan jarak jauh dilepaskannya. Sementara sosok Demit Angin terus melesat, sebelum lawan berada dalam jangkauan dua pukulan tadi menghantam Dewi Kabut. Pukulan itu jelas menghantam dada dan kepala Dewi Kabut. Tapi apa yang terjadi? Dewi Kabut mendadak raib dari hadapan Demit Angin. Tubuhnya seakan lenyap di telan bumi. 

Pukulan Demit Angin hanya menghantam tempat kosong ke belakang tempat Dewi Kabut berdiri tadi. Suara ledakan keras disertai kepulan asap berhawa dingin. Demit Angin menggeram, dia memandang ke arah sekelilingnya dengan mata jelalatan. Dia tidak melihat musuhnya, justru Demit Angin melihat ada hamparan kabut menutupi pandangannya. Dia menjadi maklum, hamparan kabut itu pasti pengaruh ilmu yang dimiliki oleh Sang Dewi. 

Tidak Ingin celaka mendapat serangan gelap Dewi Kabut, Demit Angin memutar tubuh sambil menghantam segenap sudut penjuru dengan pukulan-pukulan yang mematikan. Pendekar Kelelawar terpaksa melompat ke tempat yarng aman. Sayang pukulan-pukulan yang dilepaskan Demit Angin tidak mengenai sasaran yang dia harapkan. 

Sebelum dirinya mengetahui di mana posisi Dewi Kabut saat itu. Dari arah belakang ada hawa dingin menyambar. Lalu sebelum Demit Angin sempat memutar tubuh. Sebuah pukulan keras menghantam tubuhnya. Dhaaak! 

"Hillk, huaagkh....!"

Demit Angin terjungkal, jeritannya terputus. Dari mulutnya menyembur cairan berwarna putih kemerahan.       Demit Angin terluka di dalam. Namun dalam keadaan terluka sedemikian rupa hanya dengan menghirup udara sebanyak-banyaknya luka dalamnya berangsur-angsur dapat disembuhkan. Demit Angin balikkan badan. Sambil tertawa tergelak-gelak dia bangkit. Dilihatnya Dewi Kabut berdiri di depannya. 

Dia tidak bicara apa-apa, mata Sang Dewi memandang lurus ke arahnya. Sementara wajah itu berubah merah seperti bara api. Andai saja Demit Angin tahu, bahwa Dewi Kabut saat itu tengah menggunakan Ilmu pamungkasnya, tentu dia tidak mungkin gegabah mengambil tindakan dengan menyerangnya. Tapi Demit Angin hanya tahu, bahwa dirinya harus pandai menggunakan setiap kesempatan yang dia miliki. 

Melihat Dewi Kabut diam tidak bergerak. Demit Angin langsung mengambil tindakan dengan menyerang lawannya. Ketika Demit Angin bergerak maju, Dewi Kabut menggeser langkahnya satu tindak ke kanan. Seiring dengan gerakan kaki, tangannya diputar ke depan dua kali berturut-turut. 

Ketika gerakan tangan berhenti berputar dan segera ditarik ke belakang. Seketika terlihat ada cahaya dan angin bergulung-gulung membentuk sebuah lubang menganga yang bersambung dengan pusar Dewi Kabut. Seperti corong raksasa, pusaran angin itu menyedot Demit Angin yang bergerak ke arah Dewi Kabut. 

"Dalam waktu sekejab, ilmu kesaktian apakah yang dipergunakannya ini? Mengapa diriku terus terbetot ke dalam lingkaran corong itu tanpa terkendali?" Pikir Demit Angin. 

Kini gerakan menyerang berubah menjadi gerakan menyelamatkan diri. Demit Angin menghantam ke arah perut Dewi Kabut secara bertubi-tubi. Tapi pukulan bertenaga dalam tinggi yang dilepaskannya seolah tidak mempunyai pengaruh sama sekali. Pukulan itu amblas tersedot masuk dalam lingkaran corong maut yang tercipta akibat ilmu yang dikerahkan oleh Dewi Kabut. 

"Aku tidak ingin celaka! Aku harus berjuang menyelamatkan diri!" 

Geram Demit Angin. Dia lalu kerahkan tenaga dalamnya, tenaga lalu disalurknn ke bagian tangan dan kakinya. Selanjutnya dia berusaha menghindar dari pengaruh daya sedot yang ditimbulkan lawannya. Sayang, di luar dugaan, semakin banyak Demit Angin membuat gerakan. Justru pengaruh daya hisap yang ditimbulkan corong maut itu semakin bertambah besar. Demit Angin gagal menyelamatkan diri. 

Tubuhnya terus tertarik ke arah Dewi Kabut dalam keadaan berputar-putar. Ketika Demit Angin berada semakin dekat dengan Dewi Kabut. Tangan perempuan itu sekonyong-konyong bergerak menghantam ke arah kepala. Praak! Kepala Demit Angin yang serapuh agar-agar itu hancur berkeping-keping. Dewi Kabut menarik dan menghembuskan nafas dalam-dalam, Akibatnya tubuh Demit Angin terpental. 

Pusaran Angin berbentuk corong lenyap. Dewi Kabut menarik nafas lega sambil memandangi tubuh Demit Angin yang melumer seperti sebatang lilin yang melelah akibat panas yang tinggi. Demi melihat Demit Angin tidak berkutik lagi, Pendekar Kelelawar datang menghampiri. Dia tidak berani bicara apa-apa, Dewi Kabut menyadari apa yang seharusnya dia katakan. Dengan pandangan menerawang dia berkata. 

"Kau tidak usah mengkhawatirkan diriku lagi. Saat ini aku sudah mulai bisa belajar menerima kenyataan. Aku tidak akan berputus asa meratapi nasib, aku tidak akan menangis menyesali diri, yang terjadi pada diriku semuanya kuanggap sebagai kenyataan hidup saudaraku."  

"Aku mengerti. Aku bersyukur kau bisa menerima kenyataan. Kalau bukan karena ilmu pemusnah. Kau tidak bakal menjadi seperti ini. Tapi walau akibat pengamalan ilmu itu telah merubah statusmu dari laki-laki menjadi perempuan, kenyataan membuktikan ilmu Pemusnah yang kau miliki ternyata merupakan ilmu langka yang tiada bandingnya."

"Demit Angin bukan mahluk lemah. ilmunya sangat tinggi, tapi ketika menghadapi ilmu kesaktianmu ternyata dia seperti misteri yang telah meresahkan dirimu lahir batin dapat dipecahkan jawaban telah kau dapatkan. Sedangkan soal statusmu, kukira hanya aku dan kau saja yang tahu. Biarlah semua ini menjadi rahasia bagi kita berdua."

"Pendekar Kelelawar, aku berterima kasih kepadamu. Kau baik sekali sejak dulu sampai sekarang."  

"Jangan kau sebut-sebut soal kebaikan. Sesama saudara bukankah wajib saling bantu?" Ujar Pendekar Kelelawar mengingatkan. 

"Ya, kau benar sekali. Oh, ya, apakah kau berniat kembali ke bukit Kemukus?" tanya Dewi Kabut. 

Pendekar Kelelawar berpikir sejenak, namun kemudian menggelengkan kepala. 

"Bagaimana-dengan dirimu?" Pendekar Kelelawar balik bertanya 

"Sebenarnya aku ingin mengasingkan diri. Tapi belakangan setelah aku sampai ke Lembah Batas Dunia banyak sekali persoalan yang terjadi di sana. Persoalan itu muncul dengan kehadiran orang-orang dari Negeri Angin. Mereka para pelarian yang terdiri dari orang-orang berhati kejam."

"Apa yang telah terjadi di Lembah itu?" tanya Pendekar Kelelawar menaruh perhatian. 

"Seorang penyihir jahat bernama Nyuk Antan Alu bersama seorang laki-laki aneh menguasai lembah itu. Pemanah Bintang pergi entah kemana. Penduduk lembah terbantai tidak ada yang tersisa. Aku melihat seorang pendekar yang berusaha mengusir orang-orang itu dari lembah, namun dia justru menderita keracunan hebat."

"Bukankah kau punya ilmu yang dapat memunahkan segala jenis racun?" Ujar pendekar itu 

"Memang. Aku telah menolongnya. Tapi pendekar muda itu tak mungkin di biarkan kembali ke lembah seorang diri. Kita harus melakukan sesuatu untuk mengusir para pendatang asing itu."

"Aku setuju saja Dewi. Namun tidak kalah pentingnya. Saat itu dunia persilatan juga terancam oleh kehadiran seorang bocah sakti luar biasa. Bocah itu selalu haus darah."

"Oh, si Anak Terbuangkah yang kau maksudkan?" Ujar Dewi Kabut. 

Pendekar Kelelawar menganggukkan kepala. 

"Aku sudah melihat kehebatannya dengan mata kepala sendiri. Dia memiliki kesaktian di luar kewajaran. Dia benar-benar pernah diasuh oleh mahluk Kematian"

"Jadi mahluk Kematian itu apakah benar-benar ada?" Kata Dewi Kabut kurang begitu yakin. 

"Mahluk Kematian memang ada. Dia bahkan bersekutu dengan Mahluk Kebencian." Dewi Kabut diam sejenak. Dia lalu berkata. "Menurutmu apa yang harus kulakukan?"

"Begini saja. Lebih baik kita bersama-sama pergi ke lembah itu. Soal Si Anak Terbuang kita kesampingkan dulu. Kita harus membantu Pendekar Pedang Roh..."

"Pendekar Pedang Roh?" Desis Pendekar Kelelawar.

"Ya, Saga Merah memiliki Gelar Pendekar Pedang Roh."

"Pedang Roh. Jika Saga Merah memiliki Pedang Roh, berarti dia telah dianugerahi karunia yang besar. Pedang Roh dulu, ratusan tahun yang lalu pernah membuat geger rimba persilatan. Itu adalah senjata yang hebat, sukar dicari tandingannya. Jika pemuda itu memiliki Pedang Roh, kita tidak perlu meragukan kejujurannya. Kita harus membantu Saga secepatnya," Ujar Pendekar Kelelawar tanpa ragu.  
"Kalau kau sudah berkata begitu, baiklah. Mari kita berangkat!" Ujar Dewi Kabut. 

Tanpa bicara Pendekar Kelelawar segera mengikuti Dewi Kabut yang telah bergerak mendahuluinya. Setelah kedua orang itu pergi, kawasan di sekitar telaga dicekam kesunyian kembali.  

***

Bara api yang memberi kehangatan sepanjang malam tadi telah lama padam. Matahari muncul di balik hijaunya belantara lebat. Di balik bebatuan yang hanya dilapisi daun, Puteri Padara menggeliat bangkit. Dilayangkan pandangan matanya ke sebelah kanan. Sang puteri tidak melihat Saga Merah ada di sana. Dia memandang ke arah sungai kecil berair jernih. Gadis jelita bermahkota emas yang selalu membalut tubuhnya dengan jalinan daun mendengar suara kecipak. Suara itu pasti suara air yang menghempas sesuatu. 

"Saga Merah ada di sungai itu, mungkin dia sedang mandi tapi tidak tertutup kemungkinan dia sedang mencari ikan " 

Puteri cantik itu tidak ingin mengganggu. Malam tadi dia telah memikirkan sebuah rencana dan akan pergi meninggalkan pemuda itu. Sang puteri tidak mungkin terus mengikuti Saga Merah, karena kehadirannya hanya akan menjadi beban bagi pemuda Itu mengingat dirinya tidak menguasai Ilmu olah kanuragan. Walau di dalam hatinya ingin selalu berdekatan dengan Saga, walau berat rasanya untuk meninggalkan Saga, namun Puteri Padara menyadari hidup di rimba persilatan yang penuh kekerasan ini harus memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan. 

Untuk itu Puteri Padara telah menetapkan satu keputusan bahwa dia harus menggembleng diri dengan berbagai ilmu yang kelak dapat dijadikan untuk menjaga diri dan menolong orang lain. Dia sudah tahu kemana harus pergi. Dia akan berguru dengan seseorang yang sangat dikenalnya. Itu rasanya sebuah keputusan yang mantap. Tapi dengan keputusannya itu sama artinya dia harus meninggalkan Saga Merah. Apakah dia sanggup berpisah dengan pemuda yang mulai dikaguminya ini. Untuk kebaikannya dan demi kebaikanku sendiri.

"Benar aku tidak ingin kehilangan dia. Tapi jika aku tetap menjadi gadis yang lemah, Saga tidak mungkin tertarik padaku. Hanya dengan memiliki kepandaian silat dan ilmu yang tinggi kedudukan kami sebanding. Seumur hidup aku tidak pernah merasakan perasaan yang seperti ini," kata Puteri Padara. 

Sejenak dia terdiam dan terombang-ambing dalam kebimbangan. Sampai kemudian keputusan yang telah ditetapkannya datang kembali. Dia melirik ke arah batu. Kemudian dengan menggunakan serpihan batu dia menulis sebuah pesan pada permukaan dinding batu itu. Setelah semua yang ingin disampaikannya tertuang pada batu Itu sepenuhnya, Puteri Padara bangkit berdiri. Dia memandang ke arah sungai itu, dia melihat kepala Saga Merah tersembul di antara rerumputan yang tumbuh di pinggiran sungai. 

Gadis Ini menahan nafas, terasa berat rasanya untuk berpisah. Ini karena di dalam hatinya ada rasa tidak Ingin kehilangan. Namun dia harus pergi. Dengan mata berkaca-kaca, Puteri Padara beranjak pergi tanpa pamitan lagi. Tidak berapa lama setelah sang puteri berlalu Saga Merah muncul dari sungai dengan membawa beberapa ekor ikan besar. Dengan wajah berseri si pemuda meletakkan ikan yang telah dibersihkannya di atas daun talas tak jauh dari api unggun yang telah padam. 

"Aku akan membuat api. Sebentar lagi setelah Puteri terjaga, ikan-ikan hasil tangkapanku sudah siap untuk disantap," 

Kata pemuda itu seorang diri. Kayu bakar dikumpulkan, api dinyalakan. Setelah api berkobar Saga Merah segera menghampiri bebatuan tempat dimana Puteri Padara tertidur lelap. 

 "Puteri Padara, apakah kau sudah bangun?" Tanya pemuda itu. 

Tidak ada jawaban, hanya kesunyian yang dirasakan Saga Merah. Pemuda itu merasa heran juga penasaran. Dia lalu menghampiri tompat di mana sang puteri berada. Ketika melihat tempat yang dijadikan ketiduran Puteri Padara kosong. Saga Merah tambah heran.

"Kemana perginya gadis itu?" 

Batin Saga Merah. Dia lalu memperhatikan tempat di sekelilingnya. Sang puteri tidak dilihatnya juga. Akhirnya Saga meneliti celah batu yang besarnya dua kali ukuran manusin normal. Ketika Saga menemukan tulisan pada dinding batu itu keningnya berkerut. 

"Ada pesan yang ditinggal, apakah dia yang telah membuatnya?" 

Kata pemuda itu lagi. Diperhatikannya deret tulisan yang terdiri dari beberapa baris itu. Saga Merah lalu membacanya. 

"Aku terpaksa pergi tanpa pamit. Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya. Yang pasti aku berterima kasih padamu atas segala budi pertolongan yang telah kau berikan terhadapku. Aku tidak bisa membalas semua kebalkanmu Itu. Biarlah Hyang Tunggal yang membalasnya. Aku tidak bisa menerangkan alasan kepergianku. Aku hanya Ingin mencari sesuatu yang lebih berarti dalam hidupku. Mungkin suatu saat kita dapat bertemu lagi, aku berharap demikian."

"Terkecuali kau tidak menghendaki pertemuan yang kedua. Sesungguhnya Pertemuan di antara kita telah melahirkan sebuah kesan mendalam bagiku tapi aku malu untuk mengungkapkannya. Kupikir sudahlah, kehadiranku bagimu kukira hanya menjadi sebuah beban. Karena Itu aku memutuskan untuk tidak mengganggumu lagi. Aku hanya bisa berharap kau hati-hati dalam menghadapi musuh-musuhmu...Tertanda Puteri Padara" 

Saga Merah menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Dia begitu resah. Rasanya belum pernah dia merasakan hal yang seperti ini. Kepergian Puteri Padara yang tanpa pamit membuat dirinya merasa kehilangan. 

"Apa sebenarnya yang dia rencanakan, mengapa dia tidak mau bicara padaku tentang kepargiannya? Apakah mungkin ada kata kataku yang kurang berkenan dihatinya?" 

Kata pemuda itu seorang diri. Ingin rasanya dia menyusul karena Saga yakin Puteri Padara tentu belum jauh, namun dia tidak tahu ke arah mana puteri Itu pergi. Akhirnya Pendekar Pedang Roh ini keluar dari celah batu. Sekarang dia telah berada di depan api unggun yang telah siap untuk membakar ikan hasil tangkapannya. Tapi Saga Merah kurang begitu bergairah untuk memanggang ikan-ikan itu. Lagi pula ikannya terlalu banyak, mustahil dia dapat menghabiskannya seorang diri. 

"Tidak ada keindahan yang abadi, tidak ada kebahagiaan yang berlangsung selamanya. Mungkin saja Puteri Padara sengaja menjauh dari diriku. Ya, dia seorang puteri jelita. Dibandingkan diriku hanya manusia biasa. Perbedaan antara diriku dan dirinya tidak ubahnya seperti langit dengan bumi. Dia langitnya dan aku buminya. Mana mungkin aku bisa menjalin hubungan dengan orang seperti dia walaupun hubungan itu hanya sekedar sahabat. Kupikir kesan yang dimaksudkannya hanyalah untuk menghibur diriku. Uuh, mengapa pikiranku Jadi melantur begini?" 

Saga Merah menepuk keningnya tiga kali. Pemuda itu sempat tenggelam dalam lamunannya. Sampai kemudian dia mendengar suara tawa aneh seperti suara ringkik kuda. Berbarengan dengan terdengarnya suara tawa itu terdengar pula ada orang berkata. 

"Terlalu asyik dalam lamunan. Ikan dalam panggangannya gosong menjadi arang. Mula- mula bau ikan yang gurih menarik perhatianku, membuat perut ini merasa keroncongan terbit rasa laparku, menetes air liurku. Setelah kuendus-endus ternyata kutemukan sumbernya di sini. Ala emak, Ikannya besar-besar sekali. Ikan sebesar Itu mana habis dimakan sendiri. Dari pada terbuang percuma, kalau satu saja diberikan padaku, aku pasti akan sangat berterima kasih sekali. Ha ha ha," 

Kata suara itu. Saga belum tahu siapa yang datang. Tiba-tiba ada sesuatu yang menyambar. Pemuda Itu terbelalak karena dua dari tiga ekor ikan yang dipanggangnya lenyap. Satu disisakan untuknya, tapi itupun yang sudah hangus dan tidak enak dimakan. Wajah pemuda Itu tampak tegang. Matanya jelalatan memandang kesekeliling. Dia tidak marah. Ikan panggangnya diambil, yang membuatnya gusar dia hanya ditinggali ikan yang hangus sementara yang datang mengambil tidak minta izin padanya. 

Tidak ada orang yang dilihatnya. Mana mungkin ikan yang telah matang dapat terbang lenyap sendiri. Dicari di bawah tidak ada, lalu kemana perginya si pencuri ikan itu. Selagi Saga Merah berpikir. Selagi dirinya dibuat penasaran, pada saat itu dia mendengar ada orang bersendawa. 

"Uuh mantap nya. Kenyang sekali perutku. Ikannya enak dan gurih, eeh mengapa kau malah melamun begitu. Ikan yang kusisakan untukmu apakah kau tidak mau mencicipinya? Dari pada tidak ada, yang gosong juga kukira enak sekali." 

Jelas suara itu datangnya dari atas pohon-pohon. Saga Merah memandang ke arah pohon di tempat mana suara Itu berasal. Benar saja di atas sebatang pohon bercabang tiga. Saga Merah melihat seorang laki-laki berambut putih seperti kapas berbaju putih kedodoran dan bercelana komprang belang-belang duduk setengah rebah menikmati ikan milik Saga. Orang Itu sudah cukup tua, tubuhnya kurus kering dan tipis sekali. 

"Orang tua, tubuh kurus seperti orang yang sudah sepuluh tahun tidak makan. Harusnya sudah kuhajar pencuri satu itu, namun melihat keadaan tubuhnya aku jadi tidak tega. Tapi siapakah dila...?" Batin pemuda itu 

"Heergh.... anak muda, kau baik sekali. Aku senang kau telah memberiku dua ikan panggang yang gemuk untuk orang sekurus diriku. Kau baik semoga kalau mati bisa masuk nirwana. Ha ha ha!" 

Kata orang di atas pohon sambil tertawa riang. 

"Kau hanya pencuri, aku merasa tidak memberikan ikan itu padamu. Seperti maling yang lain, kau juga pencuri yang tidak tahu diri. Makanmu banyak sekali, tapi tubuhmu kurus kering hanya tinggal pembalut tulang. Cepat kau berlalu dari hadapanku, kalau tidak aku akan menghajarmu atas pencurian yang telah kau lakukan," 

Tegas Saga Merah. Kakek di atas pohon goyangkan tubuhnya, tidak terduga gerakannya Itu membuat dirinya melayang jatuh jungkir balik tak karuan hingga membuat Saga Merah sempat terkejut. Namun sekitar sejengkal lagi kepala si kakek hampir membentur tanah, kakinya yang berada di atas diayunkan sedemiklan rupa, lalu... Wuut! Kaki yang menjuntai terlindung celana gombrang itu menyentuh tanah. Kepala disentakkan ke atas hingga membuat si kakek dapat berdiri tegak seketika itu Juga. 

"Hampir saja remuk kepalaku gara-gara ikan curian!" celetuk si kakek sambil mengurai senyum. 

"Hanya kepandaian picisan sudah berani pamer dihadapanku. Kau mengira itu lucu? Kau mentertawai dirimu sendiri, apakah kau melihat ada yang aneh hingga sejak tadi kau terus mengumbar tawa seperti orang gila ?" Kata Saga Merah ketus. 

"Ha ha ha! Perduli amat dengan dunia. Biarlah seribu orang mengurai air mata memperdengarkan tangis haru, namun aku tetap tertawa. Itulah kebahagiaan yang dapat kunikmati selagi hidup."

"Tepat seperti dugaanku, ternyata kau memang orang yang mempunyai kelainan otak alias sinting. Aku tidak punya waktu bergurau denganmu orang tua," ujar pemuda Itu. 

Si kakek mengambil selembar daun. Daun selebar dua jari Itu dikipas-kipaskan ke wajahnya. Dengan tenang dia berkata. 

"Kau tidak punya waktu bergurau dengan diriku? Aneh, sebenarnya kau manusia aneh. Mengaku tidak punya waktu tapi kau punya banyak kesempatan untuk melamunkan seorang gadis jelita berpakaian daun, Ha ha ha! Ini rasanya aneh, tapi orang buta sekalipun patut mengakui dia sangat cantik. Apa kata orang kalau dunia ini sudah tidak ada perempuan? Tidak ada perempuan bukan berarti tidak ada cinta. Eeh....eeh... bicaraku kukira sudah melenceng jauh."

"Ketika melihat wajahmu seharusnya kukatakan bahwa kau pernah melakukan sebuah perjalanan yang Jauh. Sukmamu telah berkelana sampai ke sebuah dunia. Kau pernah datang dan melihat pohon Kehidupan. Hebat luar biasa, tua bangka sepertiku sudah lama Ingin datang ke sana untuk melihat berapa lama lagi usiaku. Sayang kesempatannya tidak pernah kudapatkan. Anak muda, di antara kita tidak ada silang sengketa. Satu-satunya kesalahanku adalah mencuri Ikan milikmu. Tapi aku yakin kau mau memaafkannya....!"

"Bagaimana kau bisa yakin bahwa aku memaafkan dirimu?"

Tanya pemuda itu ketus. Jauh di lubuk hati, Saga Merah sebenarnya cukup dibuat kaget. Dia tidak menyangka kakek kurus itu mengetahui sebuah rahasia yang sepertinya hanya terjadi di dalam mimpi 

"Kau orang baik anak muda," Jawab si kakek. 

"Orang baik, bukan berarti aku tidak punya marah. Huh! Kau tadi bicara segala soal pohon Kehidupan? Padahal aku tidak tahu apa yang kau maksudkan?!" 

Bantah Saga sambil memandang ke arah kakek berambut putih itu. Saga melihat tidak ada keraguan di wajah si kakek dan tatap matanya begitu polos, bening seperti mata seorang bocah yang tidak mempunyai dosa. 

"Kau tidak layak berdusta, kau tidak patut menutupi-nutupi semua yang pernah kau alami. Aku bicara seperti ini bukan dengan maksud yang buruk. Aku tidak tahu apa yang telah terjadi, tapi perjalanan menuju ke Pohon Kehidupan butuh pendamping. Sesuatu yang menyatu dengan dirimu yang telah mendampingimu. Sesuatu itu apa, aku tidak tahu. Mungkin kesaktian, mungkin juga roh suci yang mengantarmu ke sana. Lalu untuk apa kau bertanya?"

"Katakan bahwa yang kukatakan Ini benar adanya?" Kata si kakek 

"Bisa benar bisa juga salah," Kata Saga Merah. 

"Aku yakin yang pertama itu Jawabannya. Sekarang aku benar-benar tahu bahwa dirimu adalah orang yang telah diberi anugerah Itu. Tapi untuk ke depan kau bakal menghadapi tantangan yang berat."

"Apa maksudmu, siapa dirimu ini?" 

Tanya Saga Merah. Diam-diam dia terperanjat mendengar ucapan kakek itu. Dia tidak habis mengerti bagaimana mungkin orang tua yang baru dilihatnya dapat mengetahui apa yang telah terjadi tentang dirinya. 

"Aku ini hanya orang tua bodoh yang bisanya cuma tertawa. Namaku Walang Buana. Orang-orang yang mengenalku biasa memanggilku KI Walang Buana. Dari mana asal usulku, tentu saja dari perut ibuku, Kau sendiri kukira sudah mengetahui apa yang bakal terjadi ke depan. Kau sudah melihat kelahiran seorang diraja angkara murka yang memiliki kesaktian luar biasa," Ujar si kakek tanpa tawa. 

Saat itu mimik wajahnya nampak bersungguh-sungguh. 

"Yang kulihat dan juga yang kualami rasanya seperti dalam mimpi. Bagaimana aku bisa mengatakan sukmaku telah melakukan sebuah perjalanan?" 

Ujar Saga, Setelah merasa yakin bahwa si kakek adalah manusia baik-baik akhirnya Saga Merah berani juga berterus terang. 

"Yang kau alami bukan mimpi, Itu adalah sebuah perjalanan singkat. Yang kau lihat adalah kabar, tapi itu adalah kabar buruk bagi rimba persilatan," Ujar si kakek. 

Saga yakin si kakek tentu tidak main-main dengan ucapannya. Yang membuatnya tidak mengerti mengapa kakek Itu mengetahui banyak hal? 

"Orang tua, aku telah melihat kelahirannya. Aku Juga sudah tahu siapa bapak dan Ibunya. Aku Juga telah mengetahui apa yang menjadi pencetus kejahatannya," Ujar Saga Merah, tanpa sadar dia telah mengatakan sebagian dari perjalanan yang dilakukannya.

"Yang kau lihat adalah kenyataan. Dia telah terlahir saat ini. Dia besar atas pengaruh Mahluk Kebencian. Dia berada dalam didikan Mahluk Kematian. Ketahuilah Jika seseorang berada dalam asuhan Mahluk Kematian, maka orang Itu tidak akan pernah mengalami kematian terkecuali atas kehendak Mahluk Kematian Itu sendiri."

"Astaga! Orang tua, yang kau katakan sama persis dengan yang kulihat. Bagaimana kau bisa menjelajah alam gaib dan mengetahui banyak hal yang baru akan terjadi di dunia?" Desis Saga Merah kaget namun bercampur kagum. 

"Ha ha ha! Bocah lucu, pemuda aneh? Bertemu denganmu baru pagi ini, tapi aku merasa kita sudah bertemu selama setahun," Ujar Ki Walang Buana. 

Orang tua Itu menggigit bibir, sesaat dia berpikir, namun kemudian dia berkata tanpa keraguan. 

"Anak muda ada satu rahasia yang tidak pernah kukatakan pada orang lain tentang diriku. Sejak terlahir aku diberi bekal selembar nyawa dan selembar badan. Selain dua hal yang kusebutkan, aku dianugerahi pikiran dan nafsu. Pikiran bagiku adalah kemuliaan dan nafsu bagiku adalah malapetaka. Untuk berpikir baik, aku cukup makan seperti yang kau makan, namun untuk mencegah kejahatan yang dilakukan oleh nafsu, aku harus puasa."

"Puasa bagiku menjadi benteng untuk mengekang segala kejahatan. Aku habiskan lebih setengah dari umurku untuk berpuasa. Tidak ada ilmu yang kuamalkan, aku belajar dari gerak gerik alam serta gelagat yang diperlihatkan manusia. Tapi semua itu belumlah cukup, aku tetap tidak sempurna karena aku melupakan satu hal, aku lupa berbakti pada keramat hidup," ujar si kakek dengan wajah muram dan sadih. 

Saga tidak habis mengerti mengapa orang tua periang seperti Ki Walang Buana bisa bersedih hati. 

"Keramat Hidup manusia ada pada diri ibunya. Dan tentu saja ibu yang baik dan penuh kasih sayang. Ibu adalah Sangkaning Ana, Sangkaning Ana berarti asalnya ada. Tetapi setiap manusia yang terlahir ke dunia tidak sendiri. Dia punya empat saudara yang gaib. Saudara yang empat akan membantu kita bila kita selalu mengingatnya. Kita tidak cukup sekedar mengingat."

"Kita juga harus berpuasa pada hari kelahiran kita yang datang setiap satu purnama sekali. Dengan begitu mudah-mudahan, kita bakal mendapat kabar gaib yang disampaikan oleh ke empat saudara kita seandainya kita memang membutuhkannya. Selebihnya pelajaran bersumber dari diri sendiri," 

Kata si kakek dengan Jelas. Saga Merah manggut-manggut. Dia merasa kagum mendengar penjelasan yang diberikan oleh Ki Walang Buana. Saga pun kemudian bertanya. 

"Jadi kau mengetahui tentang bocah Itu dari pengalaman batinmu sendiri?"

"Begitulah, tapi aku juga dibantu oleh empat saudaraku yang tidak terlihat itu."

"Si Anak Terbuang telah terlahir, apa sebenarnya yang ingin dilakukannya?" Tanya Saga lagi. 

"Menyingkirkan orang-orang sepertimu, mencari pengikut sebanyak-banyaknya menuju jalan gelap yang dipandang menyenangkan sesuai keinginan nafsu yang rendah."

"Saat ini dia ada di mana?" 

Ki Walang Buana pejamkan matanya. Mulut komat- kamit, kepala manggut-manggut seolah dia sedang bicara dengan beberapa orang, selanjutnya mata si kakek terbuka kembali. Saat itu beliau berkata. 

"Dia sedang dalam perjalanan. Arahnya belum bisa Kutebak, mungkin ke Lembah Batas Dunia mungkin Juga sedang dalam perjalanan mencari orang seperti dirimu."

"Astaga? Kau juga tahu tentang lembah itu?" Sentak Saga Merah. Penjelasan Ki Walang Buana merupakan hal baru yang tidak pernah diduga pemuda ini sebelumnya. 

"Aku baru saja meninggalkan Lembah Batas Dunia. Ada apa? Kau kelihatannya terkejut? Bukankah kau hampir celaka di lembah itu? Siapa yang mencelakaimu? Nyuk Antan Alu? Pasti dia. Dialah yang membuatmu mendapat musibah. Tapi musibah itu telah membawa hikmah kepadamu. Karena racun itu kau bisa pergi melihat Pohon Kehidupan."

"Kenyataannya memang demikian orang tua. Tapi Nyuk Antan Alu bermaksud menguasai lembah dan mungkin untuk jangka waktu panjang dia akan membangun kekuatan di sana." 

Ki Walang Buana melihat kecemasan terbersit di wajah pemuda itu. Dia tersenyum. 

"Kau tak usah takut. Aku tahu Nyuk Antan Alu adalah manusia yang punya keinginan tinggi. Aku sendiri telah bertemu dengan Sabarantu. Tentunya kau mengenal Sabarantu?" 

Ditanya seperti itu wajah Saga Merah sempat berubah tegang. 

"Aku sudah hampir membunuhnya," Geram pemuda itu. 

"Kau baru hampir membunuhnya. Sedangkan aku sudah mempengaruhinya. Nampaknya dia terpancing dan percaya dengan ucapanku," Ujar Ki Walang Buana. 

"Kau punya sesuatu, kau punya rahasia hingga dapat mempengaruhi jalan pikiran orang," 

Kata pemuda itu curiga. Si kakek menyeringai, kepalanya mengangguk berulang kali. 

"Yang sebenarnya tidak seperti itu. Yang betul adalah, aku memang punya kelebihan lain. Ini sudah ada sejak lama. Begini, setiap aku membayangkan sesuatu. Bila sesuatu itu kubayangkan secara terus menerus, maka kejadiannya seperti yang aku inginkan. Misalkan seseorang berselisih paham dengan temannya, aku cukup membayangkannya saja. Walau sebelumnya mereka bersahabat baik, sesuai dengan keinginanku mereka pasti berselisih bahkan kalau aku mau mereka bisa kubuat supaya bertempur sampai mati. Ha ha ha....!"

"Ilmu itu sangat berbahaya," Kata Saga Merah khawatir. 

"Kau tidak perlu cemas, aku tidak akan sembarangan menggunakannya. Ilmu seperti itu hanya kugunakan untuk orang-orang yang sudah tidak dapat diharapkan kebaikannya."

"Bagus. Aku setuju."

"Sekarang apa rencanamu?" 

Ditanya seperti itu Saga Merah tidak segera menjawab. Sebaliknya dia diam dan berpikir. Dia lalu ingat dengan Pemanah Bintang. Dia khawatir terhadap keselamatan pemuda itu. Ketika Saga membicarakan tentang Pemanah Bintang pada Ki Walang Buana. Kakek itu tersenyum, seketika matanya terpejam. Seperti yang dilihat Saga pertama kali mulut si kakek berkomat-kamit dia seperti bicara dengan seseorang yang tidak terlihat, kemudian kepalanya mengangguk beberapa kali. 

"Pemanah Bintang," Gumam Ki Walang Buana setelah membuka matanya kembali. 

"Pemuda itu dalam keadaan baik saja. Dia baru mengalami cobaan berat. Dewa meninggalkannya. Dia sendiri mengembalikan dua senjata pusaka ke istana langit. Satu satunya anak panah sakti yang ada padanya hanya anak panah Sirna Raga."

"Senjata itu adalah senjata pemusnah. Jika demikian keadaannya berarti Pemanah Bintang bermaksud menuntut balas atas kematian para kerabatnya," 

Kata Saga Merah cemas. Dalam hati dia menyesalkan mengapa Pemanah Bintang mengambil keputusan sesuai dengan kemarahan hatinya. Mengapa dia tidak pergi jauh dari orang-orang yang mengincarnya hingga niatnya untuk menjadi seorang manusia suci bisa terkabul. 

"Manusia hanya bisa merubah nasib, tapi dia tidak kuasa merubah takdir. Pemanah Bintang perlu ditolong, tapi kehadiran Si Anak Terbuang juga tidak bisa diabaikan. Aku ingin membantu, tapi orang sepertiku bisa apa."

"Penjelasanmu sudah sangat berarti bagiku orang tua."

"Apakah itu artinya kau bisa memaafkan aku karena telah mengambil ikan milikmu? Ha ha ha."

"Tidak mengapa orang tua, Tadi kita belum saling kenal. Sekarang setelah tahu siapa kau, aku tidak keberatan meskipun kau mengambil ikan yang sudah akan masuk dalam perutku," Ujar pemuda itu tanpa senyum. 

Ki Walang Buana tertawa mengekeh. Dia memberi isyarat pada Saga untuk mengikutinya. Walau tidak tahu apa yang hendak dilakukan orang tua itu, namun Saga terus mengikutinya.

***

Sementara itu di Lembah Batas Dunia, dalam sebuah ruangan dimana para sahabat Nyuk Antan Alu berkumpul. Sabarantu Sang Penyesat dari Selatan ini mulai berpikir bahwa mengungkap kebencian hati dari kenyataan yang sebenarnya kemungkinan besar hanya bakal menyulitkan dirinya sendiri. Dia menyadari jika memperturutkan kata hati rasa nya ingin sekali Sabarantu melabrak Nyuk Antan Alu seketika itu juga, namun dengan kehadiran empat tokoh yang didatangkan dari Negeri Angin. 

Walau Sabarantu belum tahu tingkat kepandaian mereka, kehadiran orang-orang itu tidak menguntungkan dirinya. Kini setelah melihat kenyataan yang tidak dikehendakinya Itu. Sedapat mungkin Sabarantu memendam kemarahannya sendiri. Maka ketika kemarahan itu berangsur mereda. Sikap orang tua itu berubah seperti semula. 

"Sabarantu, apa yang terjadi? Seperti yang dikatakan oleh teman-temanku. Kau datang dengan wajah tegang, kau sepertinya menyimpan kemarahan besar serta rasa tidak senang" 

Tegur Nyuk Antan Alu curiga. Sabarantu sunggingkan seringai sinis. 

"Nyuk Antan Alu manusia jahanam. Jangan kau mengira aku tidak mengetahui semua muslihatmu. Aku tahu kau hendak menyingkirkan diriku. Buktinya kau mendatangkan orang-orang terkutuk ini dari negerimu. Tidak mengapa saat ini aku mengalah, tapi ingat begitu ada kesempatan, aku pasti bakal menghabisimu" 

Batin Sabarantu. Hati Berkata begitu, namun mulutnya berkata lain. 

"Nyuk Antan. Benar hatiku sedang gusar. Saat ini aku sedang marah. Tapi kemarahanku tidak ada kaitannya dengan dirimu."

"Jadi kemarahanmu pada siapa?"

"Nyuk Antan, seperti yang tidak kita harapkan, Saga Merah telah diselamatkan oleh seseorang. Ketika aku memeriksa tempat dimana kita menawannya. Aku melihat ruangan itu kosong. Pemuda itu lenyap. Padahal kalau saja sebelumnya kau mengijinkan aku untuk membunuhnya, kemungkinan besar pemuda itu tidak bakal lolos," 

Kata Sabarantu bersungut-sungut. Nyuk Antan Alu menghembuskan nafas pendek. Dia lalu tersenyum. 

"Aku telah menduga pemuda itu bakal lolos. Aku telah mengetahuinya namun aku kurang yakin sehingga aku menyuruhmu untuk melihatnya. Ternyata penglihatan gaibku tidak meleset. Walau ada yang meloloskannya, tapi aku yakin dia tak bakal bisa menghindar dari kematian. Kau harus percaya dengan hal yang satu ini karena racunku sukar dicari obatnya."

"Kalau kau sudah berkata begitu, akupun merasa lega, Nyanyuk. Hanya saja....!" 

Sabarantu tidak melanjutkan ucapannya. Dia terdiam, namun pandangannya tertuju ke arah keempat tamu Nyuk Antan Alu. Sabarantu memperhatikan mereka satu persatu. 

"Hanya saja mengapa? Kulihat tatap matamu, kau memandang teman-temanku dengan penuh kecurigaan,"       Ujar Nyuk Antan. 

"Tidak Nyanyuk. Aku hanya tidak mengerti bagaimana mereka bisa hadir di sini. Siapakah mereka Nyanyuk?" Tanya Sabarantu. Dalam hati kakek ini menggeram.

"Inilah orang-orang yang berhasil kau himpun. Kau mencoba membangun kekuatan dengan menghadirkan mereka. Aku sudah melihat bagaimana caranya kau mendatangkan mereka. Aku bertanya hanya sekedar ingin menguji kejujuranmu." 

Yang ditanya tertawa mengekeh, dengan bangga dia menjawab. 

"Menghadirkan mereka kemari bagiku bukan perkara yang sulit. Mereka ini adalah orang orang sakti cabang atas. Mereka bukan orang sembarangan. Karena mereka memiliki keahlian khusus, itu sebabnya aku merasa perlu untuk memanggil mereka. Seperti yang kukatakan padamu, kita akan membangun kekuatan di sini. Di lembah ini segala yang kita butuhkan untuk menuju ke sebuah masa depan telah tersedia. Yang kita butuhkan hanya kebersamaan, kau tidak perlu takut Sabarantu. Kau tetap mempunyai kedudukan yang sejajar dengan diriku maupun diri mereka"

"Begitukah Nyanyuk? Kau ternyata orang yang bijaksana, aku gembira mendengar penjelasanmu. Selanjutnya apa Nyanyuk?" 

Tanya Sabarantu. Dalam hatinya untuk yang kesekian kali Sabarantu kembali memaki, 

"Aku muak melihatmu Nyanyuk. Aku ingin segera berlalu dari ruangan ini. Setelah berada di luar tentu aku akan berjalan sesuai dengan keinginanku."

"Rencanaku selanjutnya? Ha ha ha. Segala rencana telah tersusun rapi dalam benakku. Saat ini yang ingin aku lakukan adalah melakukan sebuah acara kecil untuk para sahabat yang datang dari Jauh. Kau boleh bergabung....!" Ujar Nyuk Antan ditujukan pada Sabarantu. Tapi kakek itu menggeleng. 

"Tidak Nyanyuk, kau tahu aku tidak suka pesta pora. Biarlah aku berada di luar untuk berjaga-jaga dari tamu yang tidak diundang. Bagiku melindungi lembah sangat penting. Sebab kaupun mengetahui Pemanah Bintang masih berkeliaran di luar sana. Bukan hanya Pemanah Bintang, yang lainnya juga menunggu kesempatan. Jadi kuharap kau mau memakluminya Nyanyuk!" Kata Sabarantu. 

"Ha ha ha! Kau benar-benar sahabatku yang paling mengerti dan tidak banyak tingkah. Tidak ada yang patut kumaafkan, kau boleh berjaga di luar sana. Jangan lupa kabarkan kepadaku bila kau melihat hal hal yang kau anggap mencurigakan."

"Nyanyuk Jangan khawatir. Setiap perkembangan yang terjadi pasti akan kulaporkan padamu!" Ujar Sabarantu. 

"Sekarang aku mohon pamit, Nyuk!" 

Laki laki itu membungkukkan badan, begitu kedua tangannya dirangkapkan di depan dada, maka Dess! terdengar suara letupan kecil. Asap mengepul menutupi pandangan. Ketika asap lenyap, Sabarantu menghilang dari hadapan Nyuk Antan Alu. 

"Huagk....kak-kak-kak....! Tua bangka berbulu burung yang angkuh. Hanya ilmu kepandaian picisan dipamerkan di depanku. Ha ha ha...!" dengus Iblis Pemabuk Tujuh Turunan sambil meludah. 

Nyuk Antan Alu menatap ke arah iblis Pemabuk. Bibirnya menyunggingkan seringai. 

"Tak usah tersinggung Iblis Pemabuk. Segala apa yang kujanjikan kepadanya, tentu sangat berbeda dengan janjiku pada kalian yang hadir di sini. Aku hanya memanfaatkan tenaganya saja, begitu cita-cita tercapai dan harapanku terpenuhi. Kalian punya tugas untuk menyingkirkannya. Sekarang lebih baik kau menuju ke ruangan yang terdapat di sebelah kirimu," Ujar Nyuk Antan Alu. 

Seraya menunjuk ke arah ruangan yang dimaksudkannya. Begitu penyihir ini menuding ke arah dinding di sebelah Iblis Pemabuk. Seketika itu juga dinding bergeser. Di balik dinding yang terbuka, Iblis Pemabuk melihat puluhan bumbung tuak tersusun rapi di atas sebuah meja batu bundar berukuran besar sekali. Melihat tumpukan bumbung yang berderet rapi itu, Iblis Pemabuk julurkan lidah basahi bibir. 

"Luar biasa Nyuk Antan. Tuak-tuak yang kau sediakan adalah bagian terbesar dari pestaku. Kau sangat pengertian sekali," ujar Iblis Pemabuk sambil tertawa tergelak gelak. 

Dengan terhuyung-huyung Iblis Pemabuk menghampiri ruangan. Sekejab dia telah mengambil dua bumbung penuh berisi tuak yang harum, kemudian meneguk isi kedua bumbung itu sekaligus. 

"Huah ha ha ha! Gluk-gluk-gluk! Hmm, sedap betul!" ujar Iblis Pemabuk sambil menyeka mulutnya yang berselemotan buih tuak. 

Melihat ini Hidung Belang Pemetik Bunga unjukkan wajah cemberut. 

"Nyanyuk apakah pesta hanya berlaku bagi Iblis Pemabuk. Sedangkan kami di sini kau biarkan menonton? Huh, sungguh kau telah bertindak tidak adil" Dengus kakek tampan itu. 

Nyuk Antan Alu tersenyum mendengar keluhan Hidung Belang Pemetik Bunga. Dia lalu berkata. 

"Aku tahu kau hanya berselera pada gadis perawan. Nah di ruangan sebelah kananmu sedikitnya aku menyediakan tiga perawan liar yang belum pernah disentuh." 

Mata kakek tampan itu berbinar. "Hah, tiga perawan sekaligus dihadiahkan untukku? Aku suka dengan perlawanan, aku sudah muak melihat gadis perawan yang bisanya hanya menangis dan katakutan ketika kuajak bercinta. Mana gadis-gadis itu Nyanyuk, aku sudah tidak sabar!" 

Kata Hidung Belang Pemetik Bunga. Nyuk Antan Alu melihat ke arah dinding sebelah kanan. Dengan telunjuknya dia menunjuk ke arah dinding itu, Dinding terbuka, di balik dinding terdapat sebuah kerangkeng kayu. Di dalam kerangkeng mendekam tiga gadis cantik berwajah beringas dan buas seperti harimau. Melihat ini Hidung Belang Pemetik Bunga tersenyum. 

"Gadis-gadis yang liar, kalian nampak bersemangat sekali. Ha ha ha! Kalian harus bersabar, pangeranmu ini tahu caranya membuat kalian bersenang-senang," 

Laki-laki itu kemudian masuk, ke dalam ruangan. Dengan penuh semangat pintu kemudian ditutupnya. Begitu pintu tertutup, Nyuk Antan dan yang lainnya mendengar suara bergedebukan seperti suara orang yang terlibat perkelahian sengit. Orang-orang yang mendengarnya hanya tertawa.

"Semoga kesenangan yang didapat Hidung Belang, bukan perlawanan yang membuatnya babak belur," Dengus Danyang Katongga sinis. 

Pembunuh Bergolok Intan tidak bicara, dia hanya menimang-nimang goloknya dengan sikap acuh. Di dalam memang sempat terjadi perkelahian sengit. Tiga gadis perawan itu bagaikan harimau betina yang kelaparan. Tetapi ketika bibir Hidung Belang yang dapat terjulur panjang seperti karet mengecup kening dan leher mereka. Yang terjadi kemudian hanya kepasrahan disertai penyerahan diri seutuhnya dibarengi suara erangan para gadis itu. Erangan penuh gejolak dan nafsu. 

"Ha ha ha! Dua sahabat telah memulai pesta. Kini hanya tinggal kalian berdua?" 

Ujar Nyuk Antan Alu sambil memandang ke arah Pembunuh Bergolok Intan dan Danyang Katongga silih berganti. 

"Saat Ini tidak ada yang kuinginkan Nyanyuk" Ujar Danyang Katongga.

"Aku hanya ingin berpikir, aku butuh tempat untuk beristirahat. Kalau kau punya kamar yang layak untukku. Tentu aku sangat berterima kasih"

"Ho ho ho. Keinginanmu adalah keinginan yang lumrah. Sebuah kamar yang telah kuubah seperti tampat tidur raja telah kusediakan. Kau lihatlah, di depan sana ada sebuah jalan. Bila kau ikuti jalan itu, di ujung jalan kau akan melihat sebuah pintu. Bukalah pintunya dan kau akan menemukan sebuah ruangan yang nyaman untukmu."

"Hmm, aku harus pergi sekarang." 

Danyang Katongga lalu bangkit. Selanjutnya dia meninggalkan ruangan. Kini hanya tinggal Nyuk Antan Alu dan Pembunuh Bergolok intan saja yang ada di ruangan tersebut. 

"Apa yang kau inginkan?" Tanya Nyuk Antan. 

Yang ditanya bangkit, lalu menyelipkan Golok Intannya di balik pinggang 

"Aku butuh udara yang segar. Suasana di dalam ruangan ini terasa pengab dan memuakkan. Sejauh ini aku hanya punya keinginan untuk membunuh! Apakah perlu kakek berkaki ayam itu kuhabisi sekarang?" 

Kata Pembunuh Bergolok Intan dingin. Ucapan laki-laki itu membuat Nyuk Antan Alu menjadi jengkel. 

"Pembunuh Bergolok Intan. Aku tahu yang bisa kau lakukan hanya membunuh dan berak saja. Tapi hendaknya kau tahu aturanku. Saat ini Sabarantu sangat kita butuhkan. Kalau kau habisi dia sekarang, berarti kita kehilangan satu tameng hidup. Kau harus bisa menahan keinginanmu. Kau boleh keluar, tapi kau tak boleh mengusik atau menyentuhnya. Kau paham?!" 

Pembunuh Bergolok Intan tersenyum. "Kalau tidak boleh, biar aku keluar aku ingin memperhebat jurus-jurus golokku."

"Aku tidak menghalangi. Silahkan kalau ingin mencari udara segar!" Ujar Nyuk Antan Alu. 

Pembunuh Bergolok Intan mendengus. Dia balikkan badan menuju ke arah pintu yang menghubungkan ke arah lembah yang luas. Seperginya pembunuh berdarah dingin itu Nyuk Antan tersenyum. Dia berpikir orang-orang yang dia butuhkan telah hadir. Keempatnya bukan manusia sembarangan. Mereka dapat diandalkan. Dan tidak ada lagi yang ditakutinya karena saat itu dia punya rahasia yang tidak pernah diketahui oleh siapapun juga. 

Nyuk Antan Alu tinggalkan ruangan itu. Dia lalu menuju ke sebuah ruangan lain. Ruangan yang dipenuhi uap panas, menebarkan seribu macam wangi kembang. Dan di dalam ruangan itu ada sebuah tungku batu, di atas tungku terdapat sebuah kancah besar yang juga terbuat dari batu besi hitam. Di atas kancah terdapat air yang menggelegak. Si kakek memandang ke arah kancah berisi ramuan seribu bunga seribu khasiat. Untuk kesekian kalinya senyum Nyuk Antan kembali terkembang. 

"Kekuatanku yang tertinggi ada di dalam kancah itu. Sebuah proses sedang berlangsung. Aku telah mengetuk pintu kegelapan. Semua telah disetujui oleh raja diraja kegelapan. Tapi ada yang lolos diluar kehendak dan kini berubah menjadi liar. Semoga yang lolos tidak datang ke sini," 

Kata kakek itu. Si orang tua lalu rangkapkan kedua tangannya. Dia memandang ke arah kancah besi batu hitam yang bergolak menggelegak. Mulut berkomat-kamit. Ada desis dan kata-kata yang terdengar dengan jelas. 

"Di antara yang ada, kau yang paling terkasih dan kukasihi. Bagaimana keadaanmu wahai Lelebut?"

Kata-kata itu jelas berupa sebuah pertanyaan. Dan mustahil rasanya Nyuk Antan Alu bertanya pada kancah berisi air ramuan Seribu Bunga Seribu Khasiat. Ada yang diajaknya bicara. Dan memang tidak lama seiring dengan membubungnya air ramuan yang menggelegak. Sayup-sayup seperti datang dari dasar kancah raksasa itu terdengar suara. 

"Keadaanku kini tidak ubahnya seperti bayi Nyanyuk. Aku sedang dalam proses menuju kesempurnaan. Bila diriku telah sempurna, maka aku bisa berubah menjadi apa saja yang kukehendaki."

"Kau bisa merubah menjadi seribu nama?" Tanya Nyuk Antan dengan wajah berseri-seri. 

"Benar Nyanyuk. Bukan hanya seribu nama dapat kugunakan, aku juga bisa berubah menjadi seribu wajah. Akulah orang yang terhebat Nyanyuk. Tidak ada kehebatan yang bisa menandingi kehebatanku. Aku sepuluh kali lebih hebat dari Gorga Raga."

"Berapa usiamu?" Tanya Nyuk Antan Alu sambil mengangguk puas. 

"Aku telah hidup di pintu Kegelapan lebih dari dua ratus tahun. Pilihanmu yang jatuh kepadaku merupakan karunia bagiku. Aku tidak mengenal kata mati, kematianku hanya terjadi bila dunia Ini bertabrakan dengan benda-benda lain yang terdapat di jagad raya."

"Adakah yang kau takuti?" Tanya Nyuk Antan Alu ingin tahu 

"Sampai saat ini tidak ada."

"Berapa lama lagi aku harus menunggu hingga dirimu menjedi sempurna?" Tanya kakek itu. 

Hanya suara gemuruh air mendidih yang terdengar. Suara yang datang dari dasar kancah lenyap, namun itu tidak berlangsung lama. Kemudian terdengar Jawaban yang melegakan bagi Nyuk Antan Alu. 

"Tidak lama lagi Nyuk Antan. Aku hanya butuh waktu satu malam, setelah Itu aku akan meninggalkan kancah Ini bergabung denganmu."

"Kepada siapa kau patuh?"

"Aku hanya patuh kepada orang yang telah mengetuk pintu Kegelapan dan membebaskan aku dari sana."

"Ya, tapi siapa orang itu?"

"Bukankah dirimu, Nyanyuk?" Penyihir itu tersenyum, wajahnya yang rata berseri-seri. "Bagus! Bagus sekali."

"Kau jangan gembira dulu Nyanyuk. Dalam proses yang berlangsung malam ini aku butuh kehadiranmu. Aku tidak ingin ada orang yang mengusik ketentramanku sebab aku tahu para sahabatmu yang kau datangkan dari Negeri Angin adalah orang-orang liar yang terkadang tidak terkendali."

"Kau takut pada mereka?"

"Takut?! Bukankah aku mengatakan tidak ada yang kutakuti. Aku hanya tidak Ingin diganggu. Aku ingin kesempurnaan abadi. Kalau kau tidak ada di sini. Dan jika salah satu dari mereka masuk ke ruangan Ini, aku pasti bakal membunuhnya. Adakah kau faham Nyanyuk?"

"Aku memahaminya. Biarlah aku menjagamu di sini mulai dari sekarang!" ujar Nyuk Antan Alu.

"Aku merasa lega mendengarnya. Sekarang aku ingin istirahat dulu Nyanyuk." Ujar suara itu.

"Kau yang paling dekat denganku. Aku pasti tidak akan membiarkanmu sendirian di sini," Ujar Nyuk Antan Alu. Suara penyihir itu lenyap. Suasana dalam ruangan sunyi, hanya gelegak air mendidih saja yang terdengar

***

Perkembangan situasi yang terjadi belakangan bagi Dewi Kabut dianggap sebagai perkembangan yang tidak menguntungkan. Rimba persilatan dilanda awan kelabu dengan kehadiran Penyihir dari Negeri Angin itu. Sepanjang perjalanan bersama Pendekar Kelelawar, berulangkali dia berpesan agar seandainya salah satu di antara mereka mengalami sesuatu yang tidak diinginkan, maka yang masih hidup harus membantu Saga Merah dalam menghadapi ambisi serakah Nyuk Antan Alu. 

"Bicaramu membuat aku khawatir Dewi. Aku tidak Ingin kau bicara seperti itu lagi. Kematian adalah sebuah takdir yang tidak dapat ditolak oleh siapa saja. Sementara dari nada bicaramu, seolah mengesankan bahwa ajalmu sudah sangat dekat."

"Aku memang merasakan ajalku sudah semakin dekat," Ujar Dewi Kabut. Saat itu mereka berjalan di tepi hutan belantara. 

"Kau terlalu hanyut dalam perasaan, kau nampaknya belum terlepas dari rasa putus asa. Mengapa kau menyesali apa yang telah terjadi?" 

Tanya Pendekar Kelelawar. Dewi Kabut tidak menjawab. Namun tiba-tiba dia menghentikan langkahnya. Kedua alis matanya berkerut. Dia mendengar sesuatu, namun ketika dia melirik ke arah Pendekar Kelelawar laki-laki berjubah hitam itu nampak tenang-tenang saja. 

"Kau mendengar sesuatu?"

"Aku mendengar suara gemuruh aneh, suaranya seperti peti mati yang diseret, aku tidak pernah mendengar suara seaneh ini sebelumnya," Ujar Dewi Kabut.

Pendekar Kelelawar tersenyum, dia sendiri tidak mendengar suara apa-apa. Mungkin Dewi Kabut terlalu tenggelam dalam bayang-bayang masa lalunya. 

"Dewi, berhentilah mengada-ada," Kata pendekar itu. 

Mata sang Dewi mendelik. Dalam keadaan mendelik, Pendekar Kelelawar seolah melihat wajah asli sang Dewi. Wajah seorang laki-laki gagah bernama Manggala Sukma. Pendekar Kelelawar tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Dia mengusap matanya. 

"Kau melihat apa?"

"Maaf, tadi baru saja aku melihat dirimu yang asli."

"Apa kataku, bukankah itu sebuah pertanda bahwa ajalku benar-benar sudah sangat dekat sekali?"  

"Kau tidak perlu berkata begitu. Akibat pengamalan ilmu Pemusnah memang telah membuat dirimu yang laki-laki menjadi perempuan. Tapi semua perubahan yang terjadi padamu tidak perlu kiranya untuk disesali. Kau harus rela menerima kenyataan. Kau kehilangan jati dirimu, namun kau tidak pernah kehilangan pribadimu," Ujar Pendekar Kelelawar tegas. 

Dewi Kabut tersenyum. Dia kemudian terbatuk batuk, setelah itu dengan mata menerawang dia berkata.  
"Pendekar Kelelawar. Kau tidak mengetahui apa yang kurasakan, kau juga tidak tahu bagaimana perasaanku yang terakhir ini. Sudah lama aku melupakan diriku, sudah lama aku melupakan kenyataan pahit ini. Karena ilmu itu aku kehilangan jati diri, karena ilmu itu pula diriku yang laki-laki berubah jadi perempuan. Tapi bukan Itu yang kupersoalkan sebab penyesalan bagiku telah berlalu. Saat ini kita bertemu bagiku ini adalah kesempatan yang baik. Sayang kau tidak mengetahui seperti halnya aku mengetahui sesuatu. Aku merasa seseorang bakal datang kemari," Ujar Dewi Kabut. 

"Cukup....!" 

Pendekar Kelelawar menyela. Akhirnya dia kehilangan kesabarannya juga. Dia menduga bahwa mungkin guncangan berat dalam diri Dewi Kabut selama bertahun-tahun hingga sekarang belum Juga berlalu, Itu sebabnya segala yang di katakannya makin melantur. Padahal andai saja Pendekar Kelelawar tahu, apa yang dikatakan Dewi Kabut bukan karena akibat kekacauan pikirannya. Yang dikatakannya oleh Dewi Kabut adalah sesuatu yang benar karena sejak menguasai ilmu Pemusnah dia dapat memantau situasi di sekitarnya sejauh ribuan tombak. 

Kekhawatiran Dewi Kabut tidak berselang lama benar-benar terbukti. Entah dari mana datangnya, seperti setan gentayangan. Di tempat itu tiba muncul seorang bocah berpakaian hitam pekat berambut lurus bermata liar seperti mata serigala. Melihat kehadiran bocah itu, Dewi Kabut segera berkata pada Pendekar Kelelawar dengan suara berbisik. 

"Apa kataku. Firasatku ternyata tidak meleset. Bocah ini....!"

"Dia hanya seorang bocah. Mana mungkn bocah seumur dia dapat membuatmu celaka!" 

Potong Pendekar Kejelawar tegas. Di depan mereka bocah berpakaian hitam tersenyum. Dia lalu dongakkan kepala. Tidak terduga bocah itu tertawa tergelak-gelak. Pendekar Kelelawar dibuat kaget bukan kepalang. Dia tidak menyangka tawa bocah itu mengandung tenaga dalam tinggi. Gendang-gendang telinganya bahkan bisa jebol andai saja dia tidak segera menutup indera pendengarannya dengan pengerahan tenaga dalam. 

Lain halnya dengan Dewi Kabut. Melihat kehadiran bocah itu dia segera menyadari si bocah tentulah bukan manusia sembarangan. Itu sebabnya sejak kehadirannya Dewi telah bersiaga dari segala kemungkinan yang tidak diinginkan. 

"Astaga! Siapa sesungguhnya bocah ini, usianya kutaksir baru sembilan tahun, tapi mengapa dia memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi sekali?" Batin Pendekar Kelelawar kaget.

"Dua manusia, yang satu berjubah hitam satunya lagi seorang laki-laki juga. Tapi karena salah mengamalkan ilmu tubuhmu berubah menjadi perempuan. Oh kasihan! Nasibmu sungguh tragis, aku melihat sisa-sisa guncangan batin yang begitu besar daiam dirimu. Perubahan yang terjadi padamu nampaknya menjadi ganjalan seumur hidup. Siapa namamu, Manggala Sukma ataukah Dewi Kabut?!"

Tanya bocah itu tanpa menggunakan peradatan sedikitpun. Bukan hanya Pendekar Kelelawar saja yang terkejut, Dewi Kabut sendiri diam-diam dibuat kaget. Tidak seperti yang telah dia duga, pengetahuan si bocah tentang seseorang ternyata sangat luas sekali. Padahal sebelum Itu diantara mereka tidak saling mengenal dan tidak pernah pula bertemu. 

"Selain Pendekar Kelelawar, tidak ada yang tahu siapa diriku yang sebenarnya. Mengapa bocah ini tahu banyak tentang diriku, tentang masa lalu juga tentang perubahan yang terjadi pada tubuhku?" 

Batin Dewi Kabut. Dia lalu memandang ke depan, Tawa si bocah telah terhenti. Namun kemudian layaknya orang yang mempunyai pengalaman luas dia berkata. 

"Orang-orang yang malang. Hidup di dunia yang jalang. Merana badan menunggu hendak berpulang. Dunia yang luas menjadi sempit, ketika hati gundah dan pikiran menjadi kusut. Dari tiada menjadi ada, orang-orang yang terlena kehilangan waktu kehilangan jalan. Aku adalah Si Anak Terbuang, pelenyap penderitaan dan kesengsaraan hidup, Siapa saja yang hidup dalam kesesatan, maka kubiarkan dirinya berumur panjang."

"Penentangku adalah mereka yang mengaku dirinya hidup menapaki jalan yang lurus. Jalan Itu dikehendaki bagi setiap orang yang ingin menemukan Jalan untuk kembali ke tiada. Itu adalah salah satu dari sekian persoalan yang kubenci. Karena diriku berteman dalam kegelapan yang abadi. Orang orang yang malang, diriku adalah bagian dari kebencian. Aku ingin menabur darah kalian dibumi yang tandus dan kering dari kasih sayang. Agar aroma busuk menebar di seluruh jagad, agar setiap orang yang berdamai jadi berselisih, juga supaya rasa kasih berubah menjadi benci..." 

Dewi Kabut dan Pendekar Kelelawar saling pandang. Mereka berdua belum mengetahui secara pasti siapa bocah itu sebenarnya. Namun dari kata-kata yang diucapkannya nampaknya mereka sudah dapat menduga manusia seperti apa bocah ini. Pendekar Kelelawar melangkah maju bersikap melindungi Dewi Kabut. Dia tidak ingin firasat saudara seperguruannya itu menjadi sebuah kenyataan. Karena dia tidak ingin kehilangan saudara seperguruannya itu. Dengan cara baik-baik Pendekar itu berkata,

"Wahai bocah, siapakah dirimu. Apakah kau punya nama?" 

Pertanyaan Itu dijawab dengan seringai kejam. Si bocah kemudian berkata, 

"Orang berjubah, apakah kau tuli tidak mendengarkan senandung yang kulantunkan? Aku sudah mengatakan diriku adalah Anak Terbuang, soal siapa namaku kurasa itu tidak perlu"

"Apa yang kau cari dan dirimu hendak kemana?" 

Tanya Dewi Kabut pula. Mata si bocah yang berkilat tajam memandang ke arah Dewi Kabut. Dia tersenyum, namun senyum itu jelas berbau kematian. 

"Pertanyaanmu sangat bagus sekali wahai laki-laki malang."

"Aneh, bagaimana kau bisa mengetahui keadaan diriku yang sebenarnya?"

"Hah itu adalah pertanyaan yang tolol! " Kata bocah Itu sinis.

"Tidak sulit bagiku mengetahui nama-nama orang yang harus kukorbankan atas nama kebencian. Karena aku adalah kematian bagi mereka."

"Kau hendak membunuh kami?" Kata Pendekar Kelelawar. 

"Ya, setiap orang yang mengaku dirinya manusia jujur dan hidup menapaki kebenaran, Tidak perduli siapa dirinya dan setinggi apa ilmu yang dimilikinya pasti bakal berhadapan denganku."

"Luar biasa, usiamu baru seumur jagung. Tapi tindakan dan niatmu melebihi kejahatan kaluak. Padahal Iblis sekalipun masih punya perhitungan dalam melakukan keinginannya," 

Gumam Pendekar Kelelawar. Mendengar ucapan laki-laki itu, wajah si bocah yang dingin semakin bertambah dingin. 

"Iblis sebangsa Kaluak, tapi kaluak tidak mempunyai kebencian sehebat diriku. Aku manusia yang tidak dianugerahi rasa cinta dan kasih. Setiap tindakanku tergantung pada kebencianku. Akal pikiran serta budi pekerti tidak berlaku bagi diriku."

"Pantas saja, caramu bicara dan caramu mengambil keputusan tidak jauh dari binatang buas. Bahkan tindakanmu lebih rendah dari binatang!" 

Geram Dewi Kabut. Si bocah tertawa tergelak-gelak, dia kemudian dongakkan kepala dan mulai bersenandung. Senandungnya membuat merinding tengkuk setiap orang yang mendengarnya. 

"Kesesatan adalah jalan yang penuh nikmat. Kebahagiaan abadi selalu ditinggalkan orang. Dunia membuat manusia terlena, keindahanya menjadi tujuan. Penderitaan selalu berujung dengan rasa putus asa. Kesenangan membuat orang terlupa. Ketika kebahagiaan muncul dalam diri. kebencian terlelap dalam tidur panjang. Aku terjaga ketika amarah muncul dan darah mulai mendidih. 

"Dua anak manusia. Jangan diri merasa bersih, karena debu-debu dosa itu sangat halus tak mudah terlihat. Katakan padaku kalian akan tunduk dan patuh kepadaku. Menjadikan diriku sesembahan dan raja di atas diri kalian. Seandainya kalian mengatakan kepatuhan padaku dan rela menjadi pengikutku. Aku menjamin tidak sehelai rambut kalian pun yang kusakiti" 

Bergetar tubuh Pendekar Kelelawar mendengar ucapan bocah itu. Wajah Dewi Kabut sendiri saat itu telah berubah merah kelam. Dewi Kabut adalah orang yang tidak suka mengumbar kemarahan. Tapi mendengar ucapan Bocah Terbuang dia merasa harga dirinya sebagai orang tua telah diinjak-injak oleh seorang bocah Ingusan. 

"Kata-katamu sebagian memang benar, namun Sebagian lagi sebusuk bangkai. Kau mengharap kami harus tunduk bertekuk lutut di bawah perintahmu?" Dengus Pendekar Kelelawar. 

"Ya, karena Itu adalah kemungkinan yang paling baik.Terkecuali bila kalian menghendaki kejadian yang paling menyedihkan. Kukira kejadian yang paling menakutkan adalah mati sebelum waktunya," Ujar Bocah Terbuang. 

"Kau menganggap kematian adalah sesuatu yang menakutkan? Dugaan itu sangat keliru wahai bocah. Tidak ada sesuatu yang membuat kami takut selain ketakutan kami dalam melakukan tindakan-tindakan yang jahat dan menyakiti hati orang-orang yang lemah," Kata Dewi Kabut ketus. 

"Oh, kata-katamu sangat indah sekali kedengarannya. Jadi Itulah keputusanmu?" Tanya Si Anak Terbuang dengan senyum bermain di mulut. 

"Itu sudah menjadi keputusan kami!" Sahut Pendekar Kelelawar 

"Jika demikian sekarang aku punya satu pertanyaan"  

"Apa pertanyaanmu bocah celaka!" 

Hardik Dewi Kabut. SI Anak Terbuang melangkah maju. 

"Pertanyaanku adalah siapa di antara kalian yang ingin mati lebih dulu?" 

Pendekar Kelelawar seketika menoleh, dia memberi isyarat pada Dewi Kabut untuk meninggalkan termpat itu. Di luar dugaan Dewi Kabut ternyata menggelengkan kepala dengan tegas. Penolakan Dewi Kabut membuat Pendekar Kelelawar menjadi resah. Di satu sisi dia tidak ingin terjadi sesuatu pada saudaranya itu. Dia juga ingin menghadapi bocah itu seorang diri. Dengan ilmu mengirimkan suara dia berkata. 

"Kau jangan berlaku bodoh menuruti keinginan hatimu yang membuta. Sebagai saudara seperguruan aku tidak ingin kehilangan dirimu. Lekas kau angkat kaki dan cari Pendekar Pedang Roh. Kabarkan padanya tentang bocah itu."

"Tidak! Aku tidak mungkin membiarkanmu menghadapi bahaya seorang diri, saudaraku. Bocah itu bukan bocah yang lumrah. Kesaktian yang dia miliki kukira bahkan jauh di atas kita. Kalau kau tidak percaya kau boleh menjajal kehebatannya."

"Baiklah! Jangan salahkan aku, karena aku telah memberimu peringatan," Kata Pendekar Kelelawar.

Si Anak Terbuang ternyata tidak sabar menunggu Jawaban yang dia Inginkan. 

"Kalian berdua ternyata sama takut mati? Sayang kesabaranku telah habis. Kini kalian harus menanggung akibatnya!" 

Selesai berkata begitu. SI Anak Terbuang keluarkan pekikan nyaring. Dia melompat tiga langkah ke depan sambil mendorong kedua tangannya ke arah Dewi Kabut dan Pendekar Kelelawar. Seketika itu juga keduanya merasakan ada hawa dingin setinggi gunung melabrak tubuh mereka, menindih sedemikian rupa hingga membuat keduanya merasa sulit bernafas. Pendekar Kelelawar dan Dewi Kabut segera menghantam ke depan berusaha membuyarkan serangan itu.

Sambil menghantam keduanya sama molompat masing-masing ke sebelah kiri dan kanan. Terdengar ledakan menggelegar. Asap tebal dan dedaunan berterbangan di udara. Keduanya sama memandang ke depan. Mereka melihat si bocah tetap berdiri tegak dengan mulut mengurai senyum. 

Dari benturan tenaga dalam yang terjadi tadi. Mereka menjadi maklum betapa kesaktian yang dimiliki bocah Itu tidak berada di bawah mereka. Pendekar Kelalawar tidak ambil perduli. Dia melompat ke depan hingga kini berhadapan langsung dengan bocah Itu. DI belakangnya Dewi Kabut memberi peringatan. 

"Bocah Ini nampaknya sangat cepat gerakannya Kau harus berhati-hati!" 

Tanpa mengabaikan peringatan Dewi Kabut, pendekar Itu berteriak. 

"Bocah tengik bocah keparat bocah terkutuk terlaknat! Aku telah siap, apa yang hendak kau lakukan?!"

"Membunuhmu bagiku adalah bagian dari kesenangan hidup. Mengambil nyawamu adalah sebuah tujuan. Aku Ingin melihat Jagad raya ini dipenuhi oleh roh-roh yang tidak memiliki badan, Ha ha ha!"

"Kalau begitu lebih baik kau yang mampus duluan!" 

Teriak Pendekar Kelelawar penuh rasa jengkel. Sekonyong-konyong dia menggeser kaki kiri, tubuhnya lalu diputar. Kemudian dia melesat dengan tangan kiri dia mencengkeram rambut lawan, sedangkan tangan kanan dipergunakan untuk menghantam dada bocah itu. Serangan kilat itu berlangsung cepat luar biasa, sambaran angin yang ditimbulkannya sudah memerihkan kulit menyakitkan mata. Laki-laki itu sengaja menggunakan jurus Kelelawar Menyambar Dalam Gelap. 

Si Anak Terbuang tertawa melihat serangan itu. Dia berkelit hindari jambakan. Ketika cengkeraman tangan berhasil dihindari, tidak urung pukulan tangan kiri lawannya tak berhasil dicegah. Dess! Benturan keras melabrak dadanya, membuat bocah itu terjungkal dan nyaris tidak dapat bernafas. Namun kemudian dia bangkit hingga membuat Pendekar Kelelawar terkejut. Seharusnya bocah Itu tewas akibat hantaman pukulan yang mematikan. Di luar yang diharapkan, jangankan tewas, terlukapun tidak. 

"Ternyata cukup mudah untuk membuatnya terjungkal!" Kata sang pendekar sambil tertawa. 

"Jangan gegabah, gunakan seranganmu yang paling mematikan!" 

Kata Dewi Kabut melalui ilmu mengirimkan suara. Di depan sana Si Anak Terbuang menggeram. Dua tangannya dikepal, lalu diputar dan selanjutnya kaki dihentakkan. Tubuhnya melesat. Dalam sekedipan mata sosok bocah itu lenyap dari pandangan mata lawannya. Bahkan Dewi Kabut yang menyaksikan perkelahian itu dibuat bingung melihat kecepatan gerak bocah Itu. Pendekar Kelelawar sadar lawan telah berada begitu dekat dengannya. Ini dibuktikan dengan adanya sambaran angin yang berputar-putar mengelilinginya. 

Tidak ingin celaka. Laki-laki itu melompat ke udara, lalu di atas ketinggian dia melepaskan pukulan sakti ke delapan penjuru arah. Hawa panas terasa memanggang tempat itu. Cahaya biru bertebaran menyilaukan mata. Kemudian terdengar suara makian, disertai letupan-letupan hebat ketika bocah itu menangkis serangan tangan kosong yang dilepaskan lawannya. Blap! Blap! 

"Herkh..!" 

Pendekar Kelelawar dan lawannya sama terjatuh. Bocah itu terhenyak dengan posisi menelungkup namun lutut menyentuh tanah. Di depannya Pendekar Kelelawar meskipun dapat menjejakkan kedua kakinya. Namun langkahnya sempat limbung dan dadanya terasa sesak luar biasa. Bagi Si Anak Terbuang apa yang dilakukannya baru sebuah permulaan. Dan dia sangat pandai melihat gelagat. 

Melihat lawan sedang mengatur nafas dan mencoba kerahkan tenaga dalamnya. Pada saat Itu dia lakukan gerakan berjibaku di atas tanah. Setelah lawan berada dalam jangkauannya, kaki kiri menghantam, sedangkan tangan kanan bergerak membetot bahu Pendekar Kelelawar. Tendangan kaki berhasil dihindari oleh orang tua itu karena dia cepat berkelit dan menghindar. Namun serangan tangan datangnya lebih cepat. 

Empat jari tangan menghujam di pangkal lengan. Pendekar Kelelawar mengibaskan tangannya yang dicengkeram kuku-kuku jari bocah Itu. Reett! Breet! Akibatnya sungguh mengerikan. Lengan jubah orang tua ini robek, cengkeraman kuku tembus dari kulit hingga ke bagian daging. 

Kibasan yang dilakukan orang tua itu menimbulkan empat luka memanjang walaupun si bocah yang hendak membetot putus tangannya dapat dibuatnya terpental dan menghantam pohon besar. Si bocah yang seharusnya tewas akibat membentur pohon malah tertawa mengekeh, sementara Pendekar Kelelawar terluka parah mulai dari pangkal lengan hingga ke ujung jari. 

"Bocah ini seperti yang dikatakan Dewi Kabut ternyata sangat berbahaya. Aku akan memanggil bala bantuan!" 

Batin orang tua ini. Tiba-tiba sambil melangkah mundur dia keluarkan suara lengkingan panjang. Si bocah yang tidak mengetahui apa yang dilakukan lawan hanya tertawa. Hanya Dewi Kabut yang mengerti apa yang akan terjadi. Benar saja, hanya dalam waktu singkat langit yang terang berubah menjadi gelap gulita. Di atas sana melayang ribuan mahluk hitam disertai dengan terdengarnya suara mencericit. 

"Astaga! Orang tua ini ternyata memanggil bala bantuan yang terdiri dari ribuan perajurit kelelawar!" 

Batin Si Anak Terbuang. Sesaat bocah ini sempat tertegun. Namun di lain kesempatan dia memutar otak dan segera mengambil tindakan. Dia melindungi diri dengan hawa sakti yang keji dan bengis. Tubuhnya yang bergetar segera meneteskan keringat bercampur minyak. Ketika ribuan kelelawar menyerang dirinya.       Dia menghantam sebagian mahluk-mahluk yang liar dan beringas itu dengan pukulan sakti. 

Ketika pukulan menghantam udara. Seperti gelombang air laut, pukulan itu terus bergerak ke atas, melambung tinggi ke udara, merontokkan mahluk-mahluk itu. Namun sebagian yang lolos langsung menyergap dirinya. Si bocah tenggelam lenyap dalam kerubutan kawanan kelelawar maut itu. Namun ketika mahluk-mahluk itu hinggap dan menghujamkan taring-taringnya ke sekujur tubuh si bocah. Yang terjadi adalah sebuah tragedi mengerikan di luar perhitungan Pendekar Kelelawar.

Keluarnya keringat bercampur lendir seperti minyak membuat ribuan mahluk itu gagal menghujamkan taringnya. Sebaliknya panas dan tubuh mereka tersedot dan berpindah ke tubuh bocah itu. Satu demi satu mahluk-mahluk itu berjatuhan, mati dalam keadaan kering.

"Huaah....!" 

Si Anak Terbuang lakukan gerakan menggeliat seperti orang yang baru terbangun dari tidur. Ratusan kelelawar berpentalan. Si bocah tertawa di saat lawannya dibuat terbelalak eleh kenyataan yang dilihatnya. Ribuan kelelawar mati seketika, padahal mereka adalah mahluk-mahluk yang dididik untuk menyerang oleh majikannya. Selagi Pendekar Kelelawar kaget melihat kenyataan yang dilihatnya. Si bocah berteriak. 

"Telah kutetapkan kematianmu. Aku berterima kasih mahluk piaraanmu telah menyumbangkan tenaga yang sangat besar padaku!" 

Wuus! Si bocah bergerak. Mata sejeli apapun tidak dapat melihat kecepatannya dalam bergerak. Merasakan sambaran angin di depannya, Pendekar Kelelawar segera bertindak melindungi diri sambil melakukan serangan balik. Tangan kiri diputar hingga terbentuklah perisai yang sangat kokoh, sedangkan tangan kanan dipergunakan untuk menyerang. Sayangnya walau orang tua ini telah terlindung cahaya dan angin yang dibuatnya sendiri. Serangan si bocah yang bertubi tubi dan selalu berubah akhirnya menjebol pertahanan pendekar tangguh ini. 

Mula-mula leher sebelah kirinya terbabat kukukuku jari bocah itu. Kemudian satu pukulan mendarat di dada Pendekar Kelelawar. Setelah itu sebuah tendangan mematikan menghantam perutnya. Pendekar Kelelawar jatuh berdebum. Darah menyembur dari mulutnya. Sementara jubah hitamnya Juga telah dipenuhi darah. Melihat ini Dewi Kabut kaget juga gusar bukan main! Setengah berlari dia hampiri saudara seperguruannya itu. 

"Saudaraku..." 

Desis Dewi Kabut. Suaranya tersendat karena tidak kuasa melihat keadaan Pendekar Kelelawar yang menyedihkan. 

"Pergilah selagi ada kesempatan! Kau punya ilmu menghilang!" 

Kata Pendekar Kelelawar. Setelah berkata begitu nafasnya terputus dan tubuhnya terkulai. 

"Saudaraku! Aku bukan pengecut. Aku telah memberi isyarat padamu. Isyarat itu seolah ditujukan padaku, padahal sesungguhnya! Aku melihat bayangan bahwa kau sesungguhnya bakal mendahuluiku. Aku tidak berani berterus terang karena tidak ingin melihatmu bersedih hati," Ujar Dewi Kabut. 

Dia kemudian bangkit berdiri, lalu memandang ke arah Si Anak Terbuang dengan sorot mata liar penuh dendam. 

"Nasib yang kau alami tidak lebih dari apa yang terjadi pada saudaramu! Kau bakal mati di tanganku!" kata si bocah berapi-api dan terkesan haus darah.

"Aku telah melihat ketangguhanmu! Jika tidak hari ini di lain waktu kau bakal membayar hutang nyawa saudaraku!" Kata Dewi Kabut. 

"Mulutmu terlalu besar! Aku ingin menjajal kehebatanmu!" Kata si bocah. 

Sepuluh jari direntangkan, kaki kanan membentuk kuda-kuda. Dari sepuluh jarinya mencuat sinar hitam pekat menggidikkan menghantam sepuluh titik mematikan di tubuh Dewi Kabut. Dewi Kabut telah memperhitungkan segala sesuatunya. Sebelum sepuluh sinar hitam menyambar hangus sepuluh bagian di tubuhnya. 

Dengan gerakan enteng dia melayang. Sebentar saja dia telah berada di belakang bocah itu. Si Anak Terbuang terkejut, dia membalikkan badan, sebelum sempat mengambil tindakan satu pukulan menghantam perutnya. Bocah ini terjatuh, Dewi Kabut mengejar, lalu menginjakkan kakinya ke dada si bocah. 

Lawannya menggeram, tangan kanan kiri membabat ke arah kaki Dewi Kabut yang menginjak dadanya. Inipun sudah diperhitungkan Dewi Kabut. Dia segera menarik kaki dan melompat mundur ke belakang. Bocah itu bangkit dengan perasaan tidak puas juga penasaran. Dia berteriak, suaranya melengking. Pengaruh teriakan si bocah membuat Dewi Kabut terhuyung sedang kedua telinganya meneteskan darah. Melihat Ini si bocah bergerak cepat. Lima pukulan dilepaskan berturut-turut. 

Dewi Kabut dengan segala kelincahannya berkelit lalu balas menghantam dengan pukulan pula. Kemudian dia mengusap pusarnya tiga kali berturut-turut. Nampaknya Dewi Kabut tengah menggunakan ilmu Pemusnah untuk membunuh bocah itu. Tidak ada lagi yang harus diperhitungkan. Pertimbangan bahwa lawannya adalah seorang bocah disingkirkan jauh-jauh dari hatinya. Yang dia tahu dirinya berhadapan dengan iblis. Sementara si bocah siap menyerang. 

Dewi Kabut secara terus menerus mengerahkan tenaga ke bagian pusarnya. Pusaran cahaya dan angin keluar dari perut Dewi Kabut. Pusarnya berbentuk corong itu semakin lama semakin membesar dan menyedot ke arah lawannya. Si Anak Terbuang yang sebelumnya siap-siap menyerang lawan dengan pukulan beruntun kini dibuat kaget. Dia berusaha menghindar dari sergapan pusaran angin yang menarik dirinya. Tapi pusaran corong angin Itu terus mengejar kemanapun dirinya menghindar. 

"Bangsat! aku belum pernah menghadapi ilmu seaneh ini. Mengapa Mahluk Kematian tidak memberiku semua rahasia ilmu yang ada di muka bumi ini. Keparat! Biar kujajal dengan pukulan! Setelah itu aku harus menemui Mahluk Kematian!" 

Geram si bocah. Bocah ini kemudian berguling-guling mendekati Dewi Kabut. Pusaran corong angin yang keluar dari perut Dewi Kabut mengikuti gerakannya. 

"Bangsat terkutuk!" Teriak si bocah. 

Dia lalu melepaskan pukulan ke arah kaki Dewi Kabut. Dalam keadaan berkonsentrasi di tengah mengerahkan kesaktiannya. Dewi Kabut masih berusaha menghindar dengan melompat ke atas. Akibatnya pukulan itu membuat hangus ujung jari kakinya sementara pusaran corong angin sempat menyambar tangan si bocah. 

Si Anak Terbuang merasakan sakit yang luar biasa. Tangannya tersedot dan menggelembung seperti mau pecah. Sementara darahnya tersedot oleh daya tarik ilmu Pemusnah yang dikerahkan Dewi Kabut. Dalam keadaan marah luar biasa, si bocah yang tidak mengenal rasa takut berusaha menarik tangannya dengan kekuatan penuh. Wuuut! Tangan berhasil ditarik lepas.

Dan sesungguhnya dirinya belum kalah. Dewi Kabut merasa demikian. Namun bocah ini ternyata penuh muslihat. Tanpa membuang waktu, pada waktu lawan jejakkan kakinya ke tanah. Bocah ini melakukan beberapa kali lompatan. Dalam waktu sekejab dia menghilang dari pandangan mata. Dewi Kabut menggeram. Dia hendak mengejar, namun segera menyadari bahwa jari-jari kaki kanannya terasa sakit sekali. Perempuan itu memandang ke arah kaki, 

"Keparat! Bocah itu bukan saja mempunyai kesaktian tinggi sekali, tapi dia juga sangat cerdik. Kakiku hampir dibuatnya hangus. Saat Ini aku belum berhasil membunuhnya. Tapi aku akan mencarinya. Biarlah, untuk sementara aku harus menyembuhkan luka kakiku dulu. Setelah itu kuurus pemakaman saudaraku Pendekar Kelelawar. Hmm, betapa memalukan diriku ini. Menyingkirkan seorang bocah saja aku tidak sanggup!" 

Kata Dewi Kabut sedih. Dia kemudian hampiri mayat Pendekar Kelelawar. Dia ingin bersimpuh di depan tubuh yang tidak bernyawa itu. Namun hatinya bimbang. Dia takut bocah itu kembali lagi lalu menyerangnya dari belakang. Lalu apa yang harus dilakukannya? Berdiam diri sambil bersikap waspada dari segala kemungkinan dan membiarkan jasad saudara seperguruannya dingin membeku? Padahal dia merasa saat itu seperti ada yang mengawasi gerak geriknya? 

TAMAT