Serial Pendekar Pedang Roh eps 02 : Perawan Rimba Bangkai

Kawasan pantai selatan sedang dilanda badai, Ombak setinggi gunung menghempas dinding tebing curam tak jauh dari muara kali Senowo. Sudah dua hari badai menggila. Sedikitpun tidak ada tanda-tanda akan mereda. Sementara di atas tebing yang sedang dilamun ombak seorang pemuda tampan berambut panjang sebahu berpakaian kulit berwarna kecoklatan terus memandang ke satu jurusan tepat ke arah sebuah teluk penanjung. Sejak tadi perhatian pemuda itu terus tertuju ke sana. Dia melihat ada sebuah gua di ujung ceruk penanjung itu.

"Tidak satupun dari tiga guruku yang memberi tahu dimana adanya orang yang kucari. Tapi menurut yang kudengar dari orang-orang yang kutemui. Iblis hitam kabarnya memang menetap di sekitar kawasan sini. Teluk Penanjung pantai selatan tidak jauh dari muara kali Senowo. Kurasa itulah satu-satunya teluk penanjung yang terdapat di sekitar sini. Hmm, ombak begini besar. Jika aku masuk ke kawasan teluk itu, tentu ombak bakal menelanku dalam keadaan hidup-hidup. Tapi aku sadar tidak mungkin terus berpangku tangan di sini. Iblis Hitam harus segera kutemukan agar aku mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya."

Pikir si pemuda yang bukan lain adalah Saga Merah. Akhirnya pemuda itu bulat dengan keputusannya. Dia lalu berjalan cepat menuju ke arah teluk. Setelah dekat pemuda ini segera menyadari memang ada goa di ujung teluk tersebut. Di antara hempasan ombak yang mengganas Saga Merah dapat melihat sebuah mulut gua tak jauh dari legukan tebing teluk itu.

Si pemuda berpikir bagaimana caranya masuk ke dalam gua di tengah hantaman ombak yang luar biasa besar itu. Bila dia masuk ke teluk bersama datangnya ombak ada kemungkinan tubuhnya terhempas ke tebing teluk tersebut. Sementara bila dia menunggu surutnya ombak, itu akan membutuhkan waktu yang lama. Satu-satunya cara adalah menahan ombak sebelum mencapai mulut teluk.

Sementara pada kesempatan yang sama dia segera bergerak memasuki mulut gua. Rencananya itu jelas tidak mudah dilakukan. Belum lagi Saga Merah dapat memastikan apakah Iblis Hitam berada di dalam gua tersebut ataukah berada di tempat lain.

"Aku tidak perduli apakah Iblis Hitam tinggal di teluk ini ataukah menetap di tempat yang lain. Yang terpenting aku harus memeriksa bagian dalam gua tersebut."

Pikir Saga Merah. Setelah benar-benar yakin dengan keputusannya pemuda itu melesat ke tengah teluk sempit itu. Dengan menggunakan ilmu mengentengkan tubuh yang sudah sempurna dia mengapung selama yang diinginkannya di permukaan teluk tersebut. Kemudian tanpa membuang waktu lagi dia mengerahkan tenaga sakti dipusatkan ke bagian kaki dan tangannya. Dua tangan disilangkan ke depan dada, wajah Saga Merah tegang pertanda dirinya tengah menggunakan sebagian kekuatan yang dia miliki.

Tidak berselang lama, kedua tangan pemuda itu nampak mengepulkan uap tipis sementara dari ujung jemari tangannya hingga ke bagian siku telah pula berubah merah, merah mengerikan. Apa yang dilakukan pemuda itu selanjutnya memang merupakan sesuatu yang sangat sulit untuk dipercaya. Saga Merah tiba-tiba dorongkan kedua tangannya ke depan berlawanan dengan arah datangnya ombak. Hawa panas disertai suara gemuruh menderu, suasana di tengah teluk yang semula redup kini berubah menjadi merah terang.

Kemudian ketika pukulan yang dilepaskan Saga Merah menghantam ke arah sasaran, terdengar suara seperti bongkahan besi membara tersiram air. Asap mengepul, ombak terpecah cerai berai lalu membubung tinggi terlempar ke segenap penjuru arah. Buyarnya hantaman ombak membuat Saga Merah memiliki waktu untuk berlari dan masuk ke mulut gua di ujung teluk. Sementara di mulut teluk ombak susulan kembali datang menerjang.

Saat itu Saga Merah yang berlari di atas permukaan air sudah hampir sampai ke tempat yang ditujunya. Dia juga melihat sebuah mulut gua menganga di depannya sana. Saga Merah merasa lega, namun baru saja dirinya hampir menginjak mulut gua, mendadak dari balik kegelapan di dalam gua itu menderu segulung angin berhawa panas melabrak ke arah dirinya. Saga Merah terkejut. Dia sudah berusaha menghindar sambil hantamkan tangan kirinya memapaki serangan gelap yang datang.  

Namun pemuda ini jadi kaget sendiri begitu mengetahui tangkisan yang dilakukannya justru maiah amblas lenyap tersedot serangan angin yang melabrak ke arahnya. Si pemuda menggeram, dia menghentakkan kaki kanannya. Wuut! Pemuda itu melambung hampir menyentuh langit-langit tebing, selanjutnya dua tangan didorong ke arah tebing. Seet!

Kaki yang bergerak dengan bebas berjumpalitan begitu rupa, sementara dorongan tangan ke arah tebing tersebut membuat dirinya terdorong menjauh dari mulut gua. Pemuda ini terus menggerakkan kakinya hingga kemudian sampai di tepi teluk.

"Aneh! siapa dan ada apa di dalam gua itu. Aku tidak dapat melihat siapa yang berada di dalam."  

Pikirnya dengan tatapan masih tertuju ke arah mulut gua. Selagi pemuda ini tengah menduga-duga apa gerangen yang telah menyerangnya dari dalam gua itu, tiba-tiba Saga Merah melihat ada sebuah benda berwarna putih menyilaukan melesat keluar dari dalam gua tersebut. Ketika benda memasuki teluk, benda tersebut terus meluncur ke mulut teluk lalu memupus habis gulungan ombak yang siap menghantam teluk itu.

Saga Merah terkesima melihat kejadian ini. Namun dia tambah kaget ketika melihat terjadi pergolakan hebat di sana-sini, setelah itu hanya dalam hitungan tarikan nafas saja terjadi pula ledakan keras secara beruntun. Kawasan di teluk penanjung terguncang. Saga Merah mengerahkan tenaga saktinya di bagian kaki untuk menjaga agar dirinya tidak terlempar. Dengan cepat dia memperhatikan suasana disekelilingnya.

Dia melihat kepulan asap putih tebal menutup seluruh kawasan teluk penanjung. Sang pendekar tidak tahu dari mana asap itu muncul. Selagi dirinya bertanya-tanya dari arah gua tidak jauh dari lekukkan tebing batu karang tiba-tiba dia mendengar suara tawa mengguntur. Pemuda ini merasa liang telinganya seperti mau meledak sementara kepala laksana mau pecah. Dengan cepat dia menutup indera pendengarannya, tak urung pemuda ini kaget juga ketika menyadari bahwa pengaruh suara tawa itu masih dirasakannya.

"Gila! Aku belum pernah mendengar tawa sehebat ini, Tawa itu sanggup menjatuhkan burung-burung yang terbang di atas sana. Dan daun-daun hijau sanggup dibuatnya rontok. Siapa dia"

Pikir Saga Merah. Diam diam dia meandang ke arah gua yang terdapat di bagian dalam teluk. Saat itu asap tebal yang menyelimuti kawasan teluk penanjung mulai sirna dan Saga Merah tidak melihat ada orang muncul di depan pintu gua tersebut. Selagi pemuda itu bertanya-tanya dalam hati, mendadak suara tawa yang didengarnya lenyap kemudian sayup-sayup seakan dari perut bumi dia mendengar suara orang berkata,

"Tidak ada hujan tidak ada angin, Seorang bocah ingusan tiba-tiba muncul di teluk penanjung. Sungguh aku tidak mengerti mengapa dia berlaku tolol dengan datang ke tempat ini?"

Saga Merah tidak tahu siapa yang bicara. Dia juga tak dapat memastikan apakah yang bicara Iblis Hitam. Namun dia segera berlutut dan menjura ke arah mulut gua. Dari dalam gua terdengar tawa mengekeh, namun suara yang terdengar tidak lagi sehebat tadi.

"Bocah gila. Kepada siapa dan untuk siapa dirimu menghormat? Apakah pada dedemit penghuni teluk ataukah pada kaluak yang gentayangan di sekitar teluk?" Kata suara itu ketus.

Saga Merah sempat bingung mendengar pertanyaan itu. Tapi dengan cepat dia berkata. "Aku datang mencari seseorang bergelar Iblis Hitam. Penghormatanku tentu ditujukan pada orang yang kucari."

"Ha ha ha ha. Iblis Hitam? Hanya sebangsanya dedemit saja mengapa dihormati. Bukankah iblis musuh yang harus dienyahkan, mengapa kau malah menghormat kepadanya? Dasar gila! Barangkali otakmu memang tidak waras, mungkin juga otakmu miring hingga membuat jalan pikiranmu tidak lempang. Ketololan mengapa dipelihara?"

Kata suara dari dalam gua. Saga Merah hanya tersenyum mendengar ucapan orang walaupun telinganya sempat berubah merah. Dia tidak begitu menanggapi. Sebaliknya pemuda itu bertanya.  

"Memangnya dirimu siapa? Apakah kau mengenal Iblis Hitam?"

"Hmm, perlu apa aku mengenal segala macam iblis? Lebih baik kau angkat kaki dari sini sebelum aku berubah pikiran dan menjatuhkan tangan keji kepadamu."

"Aku tidak takut segala bentuk ancaman. Aku datang untuk menemui Iblis Hitam. Aku tidak mungkin pergi sebelum bertemu dengannya." Ujar Saga Merah tegas.

 "Bocah tolol tidak tahu penyakit. Perlu kiranya kau ketahui dengan datang ke sini saja kau sudah membuat sebuah kesalahan. Memangnya kau mengenal Iblis Hitam?"

Tanya orang itu. Saga Merah terdiam. Tentu saja dia tidak mengenal Iblis Hitam, gurunya bahkan tidak pernah mengatakan siapa Iblis Hitam. Apakah dia seorang tokoh yang keji ataukah seorang pembunuh berdarah dingin. Kakek Sun hanya mengatakan bahwa Iblis Hitam memiliki tanda khusus yaitu mulai dari atas hidung ke atas wajahnya berwarna merah. Selebihnya saga Merah tidak tahu.  

"Kau diam, mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku?"  

"Aku belum pernah bertemu dengan Iblis Hitam. Aku hanya mengetahui ciri-cirinya saja."

"Oh, jadi kau mengenal tanda khusus manusia satu itu? Ha ha ha. Apa tandanya?"

"Ee...wajahnya dari hidung ke atas berwarna merah." Jawab pemuda itu.

"Ha ha ha. Apakah dia tidak punya tanda yang lain di bagian tubuhnya? Apakah warna merah hanya ada di wajah, bagaimana kalau bokongnya juga berwarna merah?" Kata suara itu.

"Aku tidak tahu. Kalau kau mengenalnya harap memberi tahu. Atau barangkali kau sendiri orangnya yang bergelar Iblis Hitam."

 Kata Saga Merah. Terdengar suara menggerung. Kemudian dari dalam gua terdengar suara bentakan. 
"Kau telah berlaku kurang ajar. Sekarang terimalah akibatnya!"

Belum lagi suara itu lenyap dari dalam mulut gua Saga Merah melihat puluhan benda berwarna putih berbentuk bulat lonjong melesat keluar dengan kecepatan yang sangat sulit diikuti kasad mata. Semua benda itu menyerang ke arah Saga Merah mengincar bagian kepala, dada, perut, kaki dan juga tangannya.

Melihat serangan datang secepat itu, Saga Merah segera menggeser kakinya ke samping kiri, lalu tangannya diangkat tinggi di atas kepala selanjutnya tangan itu diputar sedemikian rupa, lalu segera dihantamkan ke depan dengan gerakan yang cepat dan terarah.

Wuut! Wuut! Tes! Tes! Tess!

Belasan benda itu yang siap menyerang dirinya berpelantingan jatuh. Sebagian terpental ke teluk sebagian hancur dan yang lainnya jatuh bergeletakan di sekitar pemuda itu. Ketika dia memperhatikan benda-benda yang dipergunakan untuk menyerangnya, Saga Merah sempat terkejut. Benda-benda itu ternyata adalah tengkorak kepala manusia.

"Dia ternyata hanya mahkluk yang amat keji!" desisnya tanpa sadar.

"Ha ha ha. Yang mati tidak terhitung sudah. Aku memanfaatkan tengkorak sebagai bantal tidur. Sekarang aku inginkan yang baru. Kau ingin bertemu dengan Iblis Hitam, semoga kau dapat menemuinya di Kambung."

"Kambung adalah gejolak api yang menyala-nyala, apa sebenarnya yang kau inginkan?" Tanya Saga Merah kaget.

"Aku hanya butuh tengkorak kepalamu, aku tidak butuh nyawamu. Karena itu kau harus menyerahkannya padaku!" Kata orang dari gua lantang.

"Ah ternyata aku bertemu dengan orang gila. Kau inginkan kepalaku, mengapa kau tidak mengambilnya sendiri?"

Kata Saga Merah tidak lagi dapat menahan diri.

"Kau menantangku, huuh....."

Hardik orang dalam gua. Saga Merah tersenyum dingin. Dengan tenang dia menyahut. "Kau kuanggap menghambat keinginanku untuk menemui Iblis Hitam. Aku pun tidak punya waktu untuk melayani segala omong kosongmu itu."  

"Bocah ingusan kurang ajar. Kau menganggap diriku seorang pembual! Rasakan pukulanku!" Teriak orang dari dalam gua.

Saat itu juga Saga Merah melihat satu bayangan sekujur tubuhnya berwarna putih seperti mayat terlilit serpihan kain berkelebat dari dalam gua. Seiring dengan itu sosok serba putih yang sekujur tubuhnya dililit gulungan kain putih hantamkan tangannya ke arah Saga Merah, Serangan yang dilakukan sosok dari dalam gua ini terbilang sangat luar biasa karena pada saat dirinya menyeberangi teluk untuk mencapai tebing dimana sang pendekar berada dia sanggup melepaskan pukulan jarak jauhnya.

Saga Merah tidak merasakan ada hawa panas atau hawa dingin menyambar tubuhnya, tapi anehnya tiba-tiba dia merasa sekujur tubuhnya seperti dihantam ribuan batang jarum terbakar. Pemuda ini mendengus. Dia menggerakkan tangannya ke sekujur tubuh. Angin menderu dari kedua telapak tangannya. Rasa sakit yang menusuk di sekujur tubuh hilang seketika. Kemudian dia menghantam ke depan menyambut serangan lawan.

Segulung angin menderu, hawa panas melanda. Tapi sosok yang sekujur tubuhnya dililit kain putih dengan mudah berkelit, lalu mengumbar tawa kemudian bergerak dengan aneh dan tahu-tahu telah berada di bagian belakang Saga Merah. Laksana kilat dia memutar tubuh, tapi saat itu dia melihat sepasang tangan lawan berkelebat membabat leher dan dada pemuda itu. Si pemuda jatuhkan diri, bergulingan hindari sambaran ganas tangan lawannya.

Sekali lagi Saga Merah mendengar suara tawa terkekeh. Lawan lenyap dan sekonyong-konyong lawan datang dari samping sebelah kiri. Kemudian kaki kanannya berkelebat menghantam rusuk pemuda itu. Secepat apapun pemuda ini menghindar, tapi serangan lawan ternyata datangnya secepat kilat menyambar.       Tidak ayal lagi tendangan itu kini menghantam bahunya.

Tapi Saga Merah dengan cerdiknya masih sempat susupkan tangan kiri ke perut lawan. Empat ujung jari menyambar lilitan kain yang menutupi bagian perut. Breet! "Aih....!"

Orang itu keluarkan seruan kaget. Dia melompat mundur, sepasang matanya yang mengintip dibalik lilitan kain terbelalak tidak percaya. Saga Merah hentakkan kaki, gerakan punggung dan kedua tangannya. Pemuda itu melesat ke atas, lalu berputar begitu rupa, lalu meluncur ke bawah dan jejakkan kaki sedemikian rupa dengan indahnya.

"Kau telah merobek penutup tubuhku. Kau benar-benar mencari mati"

Geram sosok berpakaian seperti mayat itu sengit. Sang pendekar tertawa dingin.

"Aku akan merobek seluruh tubuhmu hingga aku bisa memastikan siapa dirimu sebenarnya. Apakah kau ini manusia sungguhan atau sebangsa dedemit gentayangan.." jawab Saga Merah.

"Mulutmu besar sekali. Ingin kulihat apakah kepandaianmu sehebat bicaramu!" Kata lawannya.  

Kecepatan lawan melakukan serangan sungguh sangat sulit diikuti kasad mata. Saga Merah hanya merasakan ada angin menyambar tubuhnya. Setelah itu murid dari tiga tokoh sakti yang berdiam di puncak Merapi ini terpental. Kerasnya serangan membuat pemuda ini terjengkang dengan punggung terlebih dulu menyentuh tanah. Hebatnya meski dadanya serasa remuk dan perut seperti hancur akibat serangan sosok yang menutupi diri layaknya mayat yang diawetkan itu, Saga Merah sudah bangkit dengan cepat.

Dua tangan kemudian dihantamkan ke arah langit, setelah itu tangan diputar lalu digerakkan ke samping kanan dan ke kiri, selanjutnya tangan tersebut digerakkan ke tanah. Sesaat setelah itu dia menggeser kakinya dengan lincah.

Wuut! Plash!

Saga Merah bergerak cepat, setiap gerakan yang dilakukannya sulit ditebak oleh lawan. Tubuhnya bahkan sekarang telah berubah. Saga Merah tiba-tiba menjelma menjadi sosok berupa bayangan yang arah dan gerakan serangannya sulit untuk diduga. Mula-mula lawannya terkejut melihat serangan dan jurus maut yang dipergunakan oleh pemuda itu. Tetapi sambil menghindar dan mengumbar tawa lawannya berkata.

"Aku menyerang tanpa menyentuh, kubunuh lawanku tanpa melukai, Dan hari ini aku melihat seorang pemuda tidak dikenal menggunakan jurus 'Tanpa Arah Tanpa Bentuk-Tanpa Bayangan', aku sudah lama tidak melihat jurus langka ini. Yang kutahu, hanya Sabai Baba yang memiliki jurus sehebat ini. Sekarang yang menjadi pertanyaanku adalah, apa hubunganmu dengan ahli sihir itu?"  

Saga Merah tidak menjawab. Dia sempat kaget melihat lawan mengenal jurus yang dipergunakannya. Namun dia juga ingin menjajal sampai dimana kehebatan yang dimiliki lawannya Sheet! Empat jari tangan Saga Merah berkelebat membeset lembaran kain yang melilit bagian dada. Kemudian tangan kiri kembali menyambar, kali ini terarah ke bagian wajah. Jika penutup wajah dapat dicabiknya, sang pendekar berpikir tentu dapat melihat wajah orang tersebut.

Dengan melihat ciri wajah dia dapat mengenali siapa lawan yang sebenarnya. Namun keinginan itu ternyata tidak mudah untuk diujudkan. Lawan tiba-tiba berkelit, wajah dipalingkan ke kiri sedangkan tangan segera menghantam dibarengi dengan tendangan kaki. Si pemuda melompat ke belakang, tapi dia hanya sempat menyelamatkan diri dari serangan tangan. Kaki lawan masih sempat menyambar dan menendang perutnya.

Tendangan yang kelihatan biasa saja namun di luar dugaan tenaga yang terkandung dalam tendangan membuat sang pendekar terjajar. Pemuda ini segera menggerakkan tubuhnya, tangan menghantam ke segenap penjuru. Lalu tiba-tiba dia melesat ke depan, lawan menyambutinya dengan serangkaian pukulan beruntun. Pukulan itu mengeluarkan suara angin menderu disertai hawa dingin yang membuat tubuh Saga Merah menggigil.

Tapi itu tidak berlangsung lama, setelah mengerahkan tenaga sakti ke sekujur tubuh, Saga menarik balik serangannya. Setelah itu sekonyong-konyong dia melambung ke udara. Dari atas dia lepaskan dua pukulan berturut-turut. Angin menderu, hawa panas membakar memberangus kawasan teluk penanjung. Sosok berpakaian mayat kaget namun dia segera mengambil tindakan. Tubuhnya berputar. Sebelum dua pukulan yang dilepaskan Saga Merah menyentuh tubuhnya, sosoknya lenyap. Dalam kesempatan itu terdengar suara tawa dan orang berkata.

"Pukulan Halilintar. Guru Sun ternyata telah mewariskan pukulan itu kepadamu. Tapi mengapa tidak kulihat pukulan Kajakala, manapula pukulan Bayatela yang tersohor sampai ke Tiongkok itu?"

Bumm! Glaar!

Belum lagi gema suara orang berpakaian mayat lenyap, pukulan yang dilepaskan Saga Merah menghantam tempat dimana sosok tadi berdiri. Tebing runtuh, kawasan teluk penanjung terguncang hebat bagai dilanda gempa bumi. Api membakar menjilat apa saja. Sementara debu dan asap mengepul, membubung tinggi ke udara.

"Hem, boleh juga. Kau sudah memperkenalkan siapa dirimu. Bekal yang kau tunjukkan padaku secara tidak langsung telah menunjukkan jati dirimu yang sesungguhnya. Tapi aku tidak mau tertipu. Sekarang kau lihatlah kemari!"

Seketika Saga Merah menatap kesatu jurusan dimana suara tadi berasal. Dia melihat di antara kepulan sisa asap dan debu berdiri tegak sosok itu. Si pemuda terkesiap. Sosok berpakaian mayat tersebut ternyata berdiri mengapung diketinggian sementara jari telunjuknya diacungkan ke arah dirinya. Saga Merah mula-mula tidak tahu apa yang hendak dilakukan oleh orang itu, namun tiba-tiba dia melihat seperti ada belasan batang jarum berkilauan keluar dari telunjuk lawannya.

Karena pemuda ini telah mendapat gemblengan luar dalam apalagi gurunya Sabai Baba telah menurunkan berbagai jenis kepandaian sihir tingkat tinggi. Si pemuda segera menyadari bahwa yang dilihatnya adalah tipuan. Tanpa bicara bibirnya berkemak-kemik. Kilauan batang jarum lenyap dari pandangannya. Namun detik itu dia merasa sakit yang luar biasa pada bagian ulu hatinya.

"Kurang ajar! Siapa dia? Bagaimana sanggup melancarkan serangan dalam jarak sejauh itu." Gerutu Saga Merah dalam hati.

Diam-diam dia salurkan tenaga saktinya ke bagian dada. Hawa panas yang bersumber dari pusatnya secara langsung membuyarkan serangan dingin yang dilancarkan dari jarak jauh oleh si pakaian mayat. Sosok yang mengapung di atas ketinggian di atas sana tergetar. Dia menyeringai lalu meningkatkan serangannya ke jurusan lain di tubuh Saga Merah.

Namun sebelum niatnya itu terlaksana, si pemuda secara tidak terduga melancarkan serangan balasan. Tangan kanannya digerakkan ke arah wajah lawan. Sesungguhnya yang dilakukannya adalah sesuatu yang sulit dipercaya. Bahkan lawan tidak pernah menyangka sedikit pun. Dan secara tiba-tiba... Sret! Raak! Raak!

Sosok berpakaian seperti mayat terperangah sambil mendekap wajahnya. Dia semakin kaget ketika mendapati lembaran kain yang menutupi wajah ternyata robek besar sehingga terlihatlah wajah yang aslinya.

"Luar biasa, bocah ini ternyata sanggup merobek pelindung wajahku melalui serangan jarak jauh. Hebatnya tenaga dalamnya sanggup merobek tanpa melukai."

Batinnya dalam hati. Dia sekonyong-konyong balikkan badan. Saga Merah tersenyum, melihat gelagat lawan siap hendak meninggalkan dirinya dia berteriak.

"Sekilas aku sudah melihat wajahmu. Kau adalah orang yang menurut guruku harus kutemui. Sekarang kau hendak kemana? Aku sudah melihat dirimu, aku sudah melihat wajahmu, kau tidak mungkin bisa menipu aku. Wajahmu dari bagian hidung ke atas berwarna merah. Di dunia Ini hanya Iblis Hitam memiliki ciri ciri sepertimu."

Sosok yang sudah memutar langkah itu urungkan niat. Namun dia juga tidak lagi berbalik menghadap ke arah Saga Merah. Malah kemudian dia berkata.

"Bagaimana kau yakin bahwa yang kau cari adalah diriku?"

Pertanyaan itu membuat Saga Merah sempat merasa ragu, namun cepat-cepat dia menepis keraguannya dan segera berkata.

"Aku tidak mungkin salah melihat. Ciri wajahmu mirip dengan petunjuk yang diberikan oleh para guruku. Kuharap kau tidak mempersulit diriku. Kau menyimpan sesuatu yang kau ketahui, sesuatu yang kemungkinan besar harus kau jelaskan padaku."

"Siapa nama gurumu?"

"Guruku adalah Sabai Baba, kakek Sun dan Dewa Tujuh Bumi." Ujar Saga Merah.

Orang di depan sana keluarkan suara berdengus. "Hmm, kau menganggap aku mengetahui banyak hal. Padahal sudah belasan tahun aku mendekam di dalam gua di ujung teluk penanjung. Aku ingin merasakan mati sebelum mati."

Melihat cara bicara orang, Saga Merah semakin yakin bahwa orang yang ditemuinya itu memang orang yang dia cari. Itu sebabnya dia segera rangkapkan kedua tangannya dan menjura hormat.

"Eh apa yang kau lakukan? Kau menyangka diriku Iblis Hitam?" Hardik laki-laki itu.

Sekonyong-konyong dia membuat gerakan. Sekujur tubuhnya meregang dan tiba-tiba seluruh lembaran kain yang membungkus tubuhnya hancur tercabik-cabik. Begitu seluruh penutup yang membalut tubuhnya terberai-berai, terlihat satu sosok berkulit hitam legam ditumbuhi bulu-bulu lebat dan hanya terbungkus selembar celana berwarna gelap. Selain itu dengan jelas Saga Merah melihat sebagian wajah si kakek mulai dari hidung ke atas berwarna merah seperti darah.

"Kau bocah keras kepala. Kau tidak ingin pergi, aku tidak mau memaksa. Tapi ada baiknya kau lihat keadaan yang sesungguhnya. Boleh jadi kau telah bertemu dengan orang yang salah, boleh jadi kau telah tertipu oleh penglihatanmu sendiri. Sekarang untuk lebih jelasnya, kau ikuti aku...."

Kakek tinggi berkulit hitam legam itu kemudian berkelebat ke satu arah. Sebentar saja sosoknya lenyap dari padangan Saga Merah. Tidak ingin kehilangan jejak, pemuda ini segera melakukan pengejaran. Tempat tinggal kakek tinggi berkulit hitam itu tidak jauh dari teluk penanjung. Di dalam sebuah bangunan yang bagian atasnya tertutup tumbuhan merambat, terdapat puluhan peti mati berwarna hitam.

Ketika Saga Merah sampai di dalam ruangan tersebut. Dia melihat peti mati berjejer memenuhi seisi ruangan. Anehnya si pemuda tidak melihat kakek itu. Dia berpikir mungkinkah orang tua yang sekujur tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu hitam itu sengaja hendak mengerjainya. Saga Merah tidak perduli, dengan sikap waspada dia bermaksud untuk memeriksa seluruh ruangan. Namun pada saat itu tiba-tiba saja dia mendengar suara si kakek.

"Kau ingin bertemu dengan Iblis Hitam. Sekarang cobalah kau lihat, Iblis Hitam mana yang ingin kau temui."

Belum lagi suara itu lenyap, tiba-tiba terdengar suara berderak. Kemudian Saga Merah melihat seluruh penutup peti mati berderak, terbuka lalu melayang, melesat meninggalkan petinya kemudian bertumpuk di satu sudut seolah ada tangan-tangan yang tidak terlihat yang telah menyusunnya begitu rupa.

"Sungguh sebuah pertunjukan yang sangat menarik. Namun apa yang tersimpan di dalam peti mati itu?"

Pikir Saga. Dia lalu layangkan pandangan matanya ke arah semua peti yang terbuka. Namun karena jarak antara dirinya dengan peti mati cukup jauh, dia tidak dapat melihat isinya. Dengan tidak sabar pemuda Ini segera menghampiri. Kini setelah dekat dia melihat bahwa di dalam setiap peti terbaring sosok tubuh yang sama. Sosok kakek bertubuh hitam yang sebagian wajahnya berwarna merah darah. 
"Gila. Apa yang terjadi? Mengapa iblis Hitam berubah menjadi sebanyak ini."

Yang dilihat pemuda itu memang sebuah kenyataan yang mengejutkan. Tapi dia tidak percaya bahwa Iblis Hitam ada sebanyak peti yang terdapat di ruangan itu.

"Kemungkinan ini adalah sihir. Beliau pasti mencoba menguji diriku."

Saga memperhatikan beberapa peti yang terdapat di depannya. Dia membaca mantra-mantra yang sudah dihapalnya. Setelah itu tangannya digerakkan ke seluruh peti mati yang terdapat disitu Blep! Blep! Blep!

Terdengar suara letupan kecil disertai mengepulnya asap tebal dan bau hangusnya daging terbakar. Beberapa sosok si kakek yang memenuhi peti-peti yang terdapat d dalam ruangan yang luas itu mendadak raib. Sekarang Saga Merah benar-benar yakin bahwa Iblis Hitam juga telah menggunakan ilmu sihir untuk menimbulkan keraguan dihatinya.

"Orang tua. Jangan terus bergurau, aku sudah mengatakan. Iblis Hita tidak mungkin punya kembaran. Bukannya aku menyombongkan diri, terus terang segala bentuk tipuan sihir tidak berlaku bagiku." Ujar pemuda Itu

"Ha ha ha! Kau cukup pintar. Para gurumu ternyata tidak keliru dalam memilih murid. Pendirianmu sangat kuat untuk bisa digoyahkan. Sekarang kau menghadaplah kemari" Ujar si kakek. Karena suara itu berasal dari sebelah kanannya.

Saga Merah segera membalikkan badan dan menghadap ke arah suara itu. Dia terkesima begitu melihat bahwa kakek bertubuh legam itu ternyata telah duduk bersila di atas peti yang ditelungkupkan. Kakek itu duduk dengan mata terpejam.

"Orang tua. Pada akhirnya kau mau mengakui siapa dirimu yang sesungguhnya. Aku Saga Merah dari puncak Merapi menghaturkan hormat kepadamu?" Ujar pemuda itu. Dia mengepalkan tangannya dan meletakkannya di depan dada.

"Ha ha ha! Hidup merupakan anugerah terburuk bagiku. Tak usah menggunakan segala peradatan karena aku tidak gila hormat dan gila kemuliaan. Sekarang mendekatlah kemari, katakan apa yang ingin kau ketahui. Apakah guru-gurumu ada menitipkan pesan yang amat penting untukku?" Tanya lblis Hitam.

Saga Merah segera mendekati Iblis Hitam. Dia lalu duduk bersila di depan peti mati yang diduduki oleh orang tua itu. Tidak berselang lama, pemuda itu menjawab.

"Guruku tidak menitipkan pesan khusus untukmu. Mereka hanya mengatakan, begitu aku meninggalkan puncak Merapi aku harus menjumpaimu. Katanya hanya engkau yang dapat memberikan penjelasan padaku tentang semua kejadian yang tengah berlangsung di rimba persilatan saat ini."

Ujar Saga Merah. Iblis Hitam menggelengkan kepala.

"Puah.....gurunu mengira aku tahu banyak perkembangan yang berlangsung saat ini. Aku bukan dedemit yang sering gentayangan di rimba persilatan hingga aku mengetahui semua masalah yang sedang melanda dunia." Kata orang tua itu sambil semburkan ludahnya.

"Hmm, para guru tentunya lebih mengenal siapa dirimu. Aku hanya menjalankan perintah mereka tidak kurang dan tidak lebih." Ujar Saga Merah.

Jawaban yang diberikan pemuda ini membuat Iblis Hitam terdiam, Saga tidak tahu. Tetapi melihat wajahnya yang kusut sadarlah pemuda itu bahwa memang ada satu beban berat yang mengganjal perasaannya. Saga menunggu, sampai akhirnya dia melihat Iblis Hitam menghela nafas berat, seiring dengan itu beliau, berkata dengan nada yang tidak bersemangat.

"Aku sungguh tidak berminat membicarakan masalah ini. Dan sesungguhnya aku sudah tidak perduli dengan apa yang terjadi di rimba persilatan."

"Nada suaramu seperti memberi kesan bahwa dirimu sangat putus asa. Ataukah sesungguhnya kau pernah mengalami sesuatu yang membuat perasaanmu terguncang?"

Tanya sang pendekar. Iblis Hitam tersenyum sinis.

"Apakah gurumu pernah bercerita tentang diriku dan seperti apa manusia yang bergelar iblis Hitam ini?"

Tanya si kakek. Pertanyaan orang tua itu segera dijawab dengan gelengan kepala.

"Kau tentu tidak tahu siapa aku, kau juga tidak tahu bagaimana masa laluku, Kau tidak pernah mendengar hitam putihnya perjalanan hidupku. Aku menganggap ketiga gurumu adalah orang-orang bijaksana yang pandai menyimpan kejahatan orang lain. Karena itu aku tidak mau membuang waktumu. Aku tahu apa saja yang kuberitahukan padamu kurasa itu merupakan sebuah petunjuk penting yang nantinya kuanggap berguna bagimu. Sekarang kau perhatikan baik-baik. Barangkali apa yang kuperlihatkan padamu ini ada gunanya."

Si pemuda memandang lurus ke depan. Iblis Hitam tiba tiba memukul peti mati yang didudukinya. Dari balik peti mati tiba-tiba melesat sebuah batu bundar sebesar kelapa berwarna bening tembus pandang dan agar kebiruan. Benda itu melayang di udara, berputar-putar disertai dengan desiran angin dingin yang membuat suasana di dalam ruangan itu bertambah dingin luar biasa.

Saga Merah tidak tahu apa nama batu bundar Itu, dia juga tidak tahu apa yang hendak diperbuat Iblis Hitam terhadap benda tersebut. Dia tidak berani bertanya. Satu satunya yang dia lakukan adalah memandangi setiap gerakan serta semua kemungkinan. Selanjutnya Saga Merah melihat, Iblis Hitam mengacungkan jari telunjuknya ke arah batu itu. Kemudian si kakek bicara sendiri.

"Namanya Gerbang Rahasia Alam. Ini adalah bola batu mustika yang menyimpan semua bentuk kejadian yang pernah ataupun belum terjadi. Sekarang aku akan memberinya tenaga tambahan agar dia bisa memperlihatkan tentang sesuatu yang diketahuinya."

"Aku tidak tahu maksudmu orang tua." Ujar Saga Merah terus terang.

"Kau tidak perlu memandang padaku. Kau lihatlah bola batu ini. Perubahan apapun yang kau lihat pada permukaannya, kau harus bisa menafsirkannya sendiri."

Habis berkata begitu, Iblis Hitam kemudian menyentuh bagian bawah bola batu tersebut. Ketika ujung jari menyentuh bola, yang terjadi di seluruh permukaan bola batu muncul cahaya berpedar pedar. Kemudian di permukaan bola batu muncul beragam pemandangan yang selalu berubah dari waktu ke waktu.

Bagi Saga Merah yang dilihatnya ini adalah sesuatu yang sangat langka, menakjubkan juga baru pertama kali ini dilihatnya. Dia berdecak kagum sementara otaknya terus mengingat setiap pemandangan apa saja yang muncul di permukaan bola batu mustika itu. Sampai akhirnya cahaya warna warni yag memancar dari bola batu mustika itu meredup, hilang hingga musnah tidak tersisa.  

Kini yang terlihat hanya bola batu yang bundar, bening namun menyimpan rebawa aneh. Iblis Hitam mengetuk peti mati yang didudukinya tiga kali. Tiba-tiba ada angin menderu menyedot bola batu itu ke arah bawah. Iblis Hitam terguncang keras. Lalu bola batu ikut tersedot, ke bawah lalu amblas lenyap hilang raib dari pandangan mata.

Sesungguhnya jauh di lubuk hati Saga Merah sempat bertanya-tanya. Dia melihat tidak ada lubang di permukaan peti mati yang diduduki oleh si kakek. Anehnya bagaimana bola batu dapat keluar masuk ke dalam peti dengan bebasnya. Saga nampaknya tidak punya waktu mencari jawaban dari pertanyaan sendiri karena saat itu Iblis Hitam tiba-tiba ajukan pertanyaan.

"Jelaskan apa yang telah kau lihat dari awal hingga akhir."

Si pemuda tidak segera menjawab. Semua yang dia lihat masih belum jelas secara keseluruhan, namun dia sendiri kiranya sudah punya gambaran. Dengan hati-hati dia berkata.

"Aku melihat sisi buruk, aku juga melihat sebuah peti mati. Peti itu diduduki oleh seorang laki-laki berambut aneh" ujar Saga Merah. Iblis Hitam segera memotong,

"Peti yang kau lihat bukan salah satu peti yang berada disini. Peti itu bernama Peti Mati Kalawa. Penunggu peti yang terkubur di tepi kali Senowo itu seorang pertapa, namanya Kaliwangga sahabat gusti Prabu Kesa penguasa kerajaan Purwa Dipa. Kemudian apa lagi yang kau lihat di bola batu mustika itu?"

"Aku melihat seorang laki-laki tinggi, wajah dan bentuk tubuhnya seperti batu yang dipahat. Kemudan aku juga melihat seorang perempuan cantik berpakaian kuning "

"Laki-laki yang kau lihat bergelar Manusia Batu. Kehadirannya di kali Senowo adalah untuk merampas isi peti yang dia sangkakan berisi pedang mustika bernama Cacat Jiwa. Sedangkan perempuan berpakaian mewah itu adalah selir ketiga prabu Kesa. Selir balelo yang berbuat selingkuh dengan seorang pengawal istana."

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

"Sebuah pertanyaan yang bagus. Pertama kita harus mengesampingkan soal Pedang Cacat Jiwa. Ketahuilah, sebenarnya saat ini dunia persilatan sedang dilanda sebuah musibah. Akhir-akhir ini banyak orang mati terbunuh. Mereka yang tewas rata-rata kehilangan darah dan jantungnya."

"Darah dan jantung?" Desis pemuda itu kaget. "Siapa yang melakukan pembunuhan keji itu?"  

"Beberapa saksi mata mengatakan pembunuhnya adalah seorang laki-laki muda bernama Jabatala. Jabatala seperti yang kukatakan adalah kekasih gelap Banowati yaitu selir ketiga kerajaan."

"Lalu untuk apa darah dan jantung itu bagi Jabatala?" Ujar Saga Merah. Iblis Hitam menarik nafas pendek lalu menghembuskannya dengan perlahan.

"Aku telah melakukan bemacam-macam cara untuk mengetahui rahasia ini. sampai sekarang aku belum bisa menemukan jawabannya. Jabatala mengambil darah dan jantung bukan untuk dirinya sendiri. Dia pasti mempersembahkannya untuk seseorang. Dugaanku ini juga tidak dapat dijadikan pegangan. Jabatala kemungkinan merahasiakan sesuatu. Untuk siapa darah dan jantung dipersembahkan hanya dia yang tahu. Sekarang pembunuhan masih terus berlangsung, namun menurutku semua peristiwa yang terjadi ini masih erat kaitannya dengan Peti Mati Kalawa. Ada satu rahasia besar tersimpan dalam peti itu."

"Sekarang peti itu berada dimana?"

Tanya Saga Merah Ingin kepastian. Iblis Hitam pejamkan matanya. Sepasang mata yag terpejam itu bergerak-gerak, namun tidak lama terbuka kembali. Dengan nada menyesal dia berucap.

"Peti Mati Kalawa masih tertinggal di hulu kali Senowo. Sebentar tadi aku melihatnya dalam keadaan kosong. Tapi beberapa purnama yang lalu seperti yang kulihat melalui indera ke enam telah terjadi peristiwa besar dalam peti mati itu. Aku melihat sesuatu yang sangat menakutkan berkembang dan hidup di sana."

"Siapa pemilik peti mati itu sebenarnya."

"Pemiliknya tidak jelas. Peti Mati Kalawa berusia ratusan tahun, peti itu juga memiliki roh. Itu berarti petinya hidup. Belakangan sekitar seratus tahun yang lalu, semua barang yang dianggap keramat disimpan di kerajaan. Jadi kupikir hanya Prabu Kesa dan pertapa sahabatnya itu saja yang tahu apa yang tersimpan dalam peti mati Kalawa dan mengapa peti mati itu sempat dikubur selama lebih dari tiga purnama."

"Hmm, itu berarti aku harus pergi ke istana Purwa Dipa. Padahal untuk mencapai istana itu memakan waktu beberapa pekan."

Ujar Saga Merah. Dia juga berpikir tentu sekarang mencari tahu apa rahasia peti bukan menjadi tujuan utama. Hal penting yang perlu kiranya untuk dilakukan adalah menyingkap kasus pembunuhan yang menyangkut masalah lenyapnya darah dan jantung korbannya. Iblis Hitam seakan dapat membaca apa yang dipikirkan pemuda itu. Dengan wajah muram namun sambil tersenyum dia berucap.

 "Kurasa kau memang tidak perlu membuang waktu datang ke Istana Purwa Dipa. Gusti Prabu sendiri sekarang tidak ada di istana. Dia sedang melakukan pengembaraan. Kurasa kepergiannya menyangkut perkembangan yang tidak diharapkan. Aku tidak tahu apakah ini ada hubungannya dengan Jabatala. Menurutku kejadian yang tidak terduga menyangkut hilangnya isi peti itulah yang membuatnya meninggalkan istana. Andai saja kau dapat bertemu dengan Gusti Prabu, tentu kau dapat bertanya langsung tentang musibah yang menimpa dirinya."

"Aku mulai mengerti. Benda apa saja yang tersimpan dalam Peti Mati Kalawa. Kurasa itu adalah awal dari malapetaka ini."

"Apa maksudmu?" Tanya Iblis Hitam.

"Hmm, ketika aku mencarimu di sini. Dalam perjalanan aku ada menyerap kabar tentang musibah yang terjadi di sebuah belantara tidak jauh dari Bengawan Solo. Kabarnya banyak pendekar berkepandaian tinggi baik laki-laki maupun perempuan hilang lenyap di hutan itu. Ada yang mengatakan rimba yang berada di kawasan Bengawan Solo itu dikuasai oleh mahkluk jahat memakan manusia."

"Mendengar keterangan itu aku curiga jangan-jangan ini ada hubungannya dengan Peti Mati Kalawa atau masih ada kaitan yang erat dengan Jabatala. Andai saja kau bisa menyelidiki masalah ini. Kelak bila kita bertemu lagi, aku pasti akan memberikan sesuatu yang belum pernah kau miliki. Aku sendiri telah mengatakan segala yang kuketahui padamu. Waktuku sangat sempit. Kupikir lebih baik kau tinggalkan tempat ini secepatnya. Pergilah ke utara. Kau pasti bisa menemukan beberapa petunjuk penting di sana."

"Tapi orang tua...."

Belum sempat Saga Merah menyelesaikan ucapannya. Sosok Iblis Hitam yang duduk mencangkung di atas peti mati bagaikan asap tiba-tiba hilang lenyap. Si pemuda sempat terkejut. Dia memanggil manggil Iblis Hitam. Sia-sia saja dia berteriak. Sedikitpun dia tidak mendengar suara Iblis Hitam. Pemuda ini hanya dapat gelengkan kepala dan tinggalkan ruangan itu.

***

Raden Renggo Sabalangit duduk diam di atas tahta singgasananya. Laki-laki muda berpakaian gemerlap terbuat dari emas duduk termenung menatap panggung yang kosong. Di atas panggung yang biasa dipergunakan sebagai tempat pergelaran tari itu memang terdapat seperangkat gamelan dan gendang. Tetapi tidak satupun dari para penghibur keraton hadir memberikan suguhan tari di sana.

Sejenak laki-laki itu menatap ke arah seperangkat musik yang tersusun dalam keadaan berjejer rapi di atas panggung batu pualam biru. Tetapi sebentar saja laki-laki berusia tiga puluh tahun itu merasa muak. Dia lalu mengalihkan perhatiannya ke sekeliling singgasana. Si raden melihat dua ekor harimau yang selalu menjaga dirinya masih berada di sebelah kiri dan kanan tahta.

Di depan pintu sang raden juga melihat beberapa mahkluk aneh berujud sosok kelelawar tetap berada di tempatnya. Di bagian lain beberapa ekor musang sedang mondar-mandir melakukan tugasnya. Di keraton Pedang Kalang sekali pun tidak pernah terlihat adanya manusia. Terkecuali Raden Renggo, selebihnya penghuni keraton terdiri dari beragam jenis binatang.

Tapi binatang yang menjadi pembantu Raden Renggo bukan binatang yang sesungguhnya, melainkan mahluk lelembut yang memiliki kesaktian tinggi. Semua mahluk itu tunduk dan patuh di bawah perintah sang raden. Walau kekuasaan Raden Renggo tidak seluas dan sehebat Prabu Kesa. Namun di dunia gaib, Raden Renggo merupakan penguasa yang sangat disegani.

Dia dianggap raja, setiap perintahnya berlaku bagi mahluk lelembut seperti demit, jembalang, dan hantu playangan. Sungguhpun laki-laki muda ini merupakan raja di dunia lain, tapi sang raden merasa kekuasaannya belum sehebat Prabu Kesa. Walau patut diakui Prabu Kesa hanya punya kekuasaan besar di dunia kehidupan manusia.

Setiap saat Raden Renggo Sabalangit selalu berpikir bagaimana caranya dia dapat menjadi penguasa di dua dunia yaitu dunia manusia dan dunia lelembut. Untuk menjadi penguasa di dunia lelembut baginya tidak ada masalah. Namun untuk menjadi raja di dunia manusia, satu satunya cara adalah dengan menyingkirkan Prabu Kesa.

Tetapi Raden Renggo Sabalangit menyadari. Prabu Kesa juga bukan raja biasa. Sang Prabu memiliki ilmu kesaktian yang amat tinggi. Raja yang satu ini dapat melihat perkembangan yang terjadi. Dia bisa berada dimana saja tanpa dikenali oleh orang lain. Beruntunglah Raden Renggo memiliki seorang maha patih yang selalu mendukung setiap rencananya.

Sang Maha Patih selain memiliki kesaktian mandraguna juga bukan manusia, melainkan sejenis siluman terkutuk yang sangat licik luar biasa. Di samping dikenal kelicikannya dia juga amat cerdik. Kini Raden Renggo bangkit berdiri. Dia lalu keluar dari ruangan besar menuju ke sebuah taman. Angin menyergap tubuhnya begitu si raden sampai di depan pintu batu.

Dia lalu duduk di bangku taman yang terbuat dari batu. Tempat yang disebut taman, sesungguhnya sangat mirip dengan sebuah pamakaman yag ditumbuhi pohon-pohon besar menjulang ke langit. Sementara di beberapa tempat tengkorak manusia tersusun rapi. Kemudian di empat sudut taman terdapat kerangka memutih dari mahluk langka di jaman batu.

Sementara di tengah taman terdapat sebuah pondok yang mulai dari atap, dinding mapun lantainya terbuat dari rajutan tulang belulang manusia. Di taman yang selalu menampilkan kesan angker inilah Raden Renggo selalu menghabiskan waktu memikirkan setiap rencananya. Anehnya malam ini entah mengapa Raden Renggo jadi tidak tenang.

Sambil menghembuskan nafas dia memandang ke langit. Si raden tersenyum, dia berpikir andai malam ini dia mengundang para penari. Sedikit banyak hatinya bisa terhibur. Di saat seperti itu si raden biasanya akan meminta para pengawal dan para petinggi berubah menjadi manusia. Dan mereka yang tadinya berujud binatang bila telah menjelma menjadi manusia biasanya akan ikut berpesta pora.

"Raden....."

Raden Renggo tiba-tiba dikejutkan oleh suara orang yang memanggil. Pemuda bermahkota emas yang diatasnya terdapat hiasan sebuah gerbang berwarna hitam itu menoleh. Dia menarik nafas, perhatiannya kembali tertuju ke langit. Dia tidak terkejut ketika melihat satu sosok mahluk besar berkepala panjang bergigi panjang dan tajam mirip gergaji dan bertubuh seperti buaya berdiri di belakangnya.

"Maha Patih Kalabang Lawa, tampilkan ujudnya seperti diriku," Kata Raden Renggo tegas.

"Baiklah Raden."

Mahluk berleher panjang seperti mahluk purba tersebut anggukkan kepalanya beberapa kali. Setelah itu mahluk besar ini memancarkan cahaya. Cahaya yang semakin lama makin bertambah terang hingga menutupi sekujur tubuhnya. Ketika cahaya lenyap, mahluk tadi juga lenyap. Di tempat itu kini berdiri seorang laki-laki tua berpakaian serba hijau berwajah lonjong pucat seperti mayat. Dan laki-laki ini tidak lain adalah Kalabang Lawa, sang Maha Patih yang selalu setia pada raden Renggo Sabalangit

"Maha Patih, kau sudah mengetahui kebiasaanku..." ujar Raden Renggo penuh teguran.

Maha Patih tentu sangat memahami kebiasaan junjungannya, Setiap kali Raden Renggo berada di taman itu, tentu dirinya tidak mau diganggu. Kalabang Lawa jatuhkan diri berlutut di belakang Raden Renggo. Sambil tetap membungkukkan badan dia berucap,

"Maafkan hamba Raden. Hamba tahu Raden tidak ingin diganggu."

"Lalu mengapa kau melanggar pantangan?" Kata Raden Renggo. Dari nada suaranya maha patih menyadari junjungannya tidak senang.

"Raden seperti yang kukatakan. Hamba mohon maaf hamba terpaksa mengganggu raden karena seseorang di pintu gerbang memaksa ingin bertemu." Ujar Kelabang Lawa. Kening Raden Renggo Sabalangit berkerut dalam. Perlahan dia menoleh.

"Seseorang memaksa ingin bertemu. Siapa orang yang tidak tahu diri itu?" Tanya si raden.

Maha Patih Kalabang Lawa terdiam. Baginya menjaga pintu gerbang adalah tugas dari pengawal keraton. Dirinya hanya mengerjakan urusan penting menyangkut ambisi dan keinginan Raden Renggo. Tetapi beberapa pengawal yang memiliki kepandaian tinggi yang bertugas di sana secara mengejutkan tewas mengerikan. Tubuh mereka sebagian hancur hingga tak dapat dikenali, sementara sisanya hanya tinggal berupa debu yang teronggok sesuai dengan bentuk aslinya.

"Raden, hamba sebenarnya malu untuk melaporkan kejadian ini pada Raden, namun hamba pikir ada baiknya raden mengetahuinya. Oh ya raden. Sesungguhnya tamu yang memaksa ingin bertemu dengan raden itu adalah seorang gadis. Penampilannya seperti seorang penari."

"Hanya seorang penari? Huh, kukira dia orang penting utusan dewa perang. Mengapa tidak patih katakan bahwa saat ini aku tidak butuh penari? Aku tidak butuh hiburan yang kuinginkan adalah seorang pembangkang penting dari istana Purwa Dipa yang siap berkhianat dan menjadi sekutu bagi kita."

"Raden, hamba kira gadis itu bukan hanya sekedar penari. Walau hamba akui dia sangat pandai menari, namun dibalik gerak-geriknya yang lemah lembut sesungguhnya dia adalah seorang gadis yang memiliki ilmu sangat tinggi" ujar Maha Patih Kalabang Lawa.

Kening Raden Renggo Sabalangit berkerut dalam. Selama ini seorang penari secantik apapun wajahnya tetap merupakan pemberi hiburan terbaik. Biasanya jika Raden Renggo berkenan, nasibnya bakal berakhir dalam pelukan sang raden. Jadi adalah mengherankan bila seseorang yang mengaku sebagai seorang penari ternyata memiliki ilmu yang sangat tinggi. Raden Renggo terusik, jauh di lubuk hatinya dia juga merasa penasaran.

"Apa yang dapat membuktikan bahwa dirinya manusia berilmu?"

"Ra-ra-den....Penjaga Gerbang dibuatnya tidak berdaya. Dua penjaga tubuhnya tercerai berai, dua lainnya hancur lebur menjadi debu. Ketika hamba menemuinya. Tetapi matanya memandang ke arah hamba dengan sinis sekali. Dia mengancam akan membunuh seluruh penghuni keraton jika raden tidak segera menemuinya."

Raden Renggo tersentak kaget mendengar apa yang telah diperbuat oleh tamu yang tidak diundang itu. Namun di sisi lain dirinya juga menjadi marah mendengar ancaman orang. Serta merta sang raden bangkit berdiri. Dengan tinju terkepal dia menggeram.

"Manusia berani bicara sombong di wilayahku? Keparat dari mana?"

"Hamba tidak tahu Gusti. Menurut pengakuannya dia berasal dari rimba tak bernama di tepi Bengawan Solo." Jawab Maha Patih Kelabang Lawa.

Raden Renggo membisu, wajahnya yang dingin bertambah dingin, Dia berusaha mengingat. Malang melintang di rimba persilatan, dari ujung barat hingga ujung timur tanah Dipa dirinya mengenal banyak daerah, tempat yang angker juga para tokoh yang memiliki bermacam jenis kesaktian. Dan dia ingat, di tepi Bengawan Solo memang ada sebuah hutan angker yang dikenal dengan sebutan Rimba Tak Bernama. Ini berarti pengakuan gadis penari tersebut bisa dipercaya. Raden Renggo manggut-manggut sendiri. Dia lalu berpaling pada patihnya.

"Tak ada angin tak ada hujan, aku dikejutkan di malam buta oleh perempuan jalang mengaku sebagai penari. Ingin kulihat bagaimana tampangnya dan apakah layak dirinya bertemu denganku. Jika ternyata dia tidak membawa kabar penting yang memberi keuntungan padaku, paman patih! Tahukah paman apa yang harus kau lakukan?"

Tanya Raden Renggo sinis. Maha Patih Kelabang Lawa tidak perlu menjawab. Dia tentu saja mengetahui apa yang harus dilakukan. Tanpa ragu maha patih menganggukkan kepala hingga membuat senyum sinis Raden Renggo semakin melebar. kemudian tanpa bicara lagi Raden Renggo memberi isyarat pada patihnya untuk mengikuti. Seperti hantu gentayangan keduanya lenyap tidak meninggalkan bekas.

Suasana di depan gerbang keraton terasa sunyi mencekam. Kepulan asap berbau daging terbakar berbaur dengan tebaran kabut yang selalu menyelimuti kawasan keraton. Raden Renggo yang kemudian muncul di depan gerbang bersama patihnya tidak melihat gadis cantik seperti yang dilaporkan Patih Kelabang Lawa.

"Kasat mataku tidak melihat apa-apa, sedangkan mata gaibku melihat adanya satu getaran yang sangat kuat."

Gumam Raden Renggo yang sanggup menggunakan dua penglihatan sekaligus, yaitu penglihatan biasa dan penglihatan di balik yang tidak terlihat mata biasa. Kemampuan yang dimiliki Raden Renggo ini tentu bukan didapat dari belajar, melainkan sebuah bakat yang dibawanya sejak lahir. Inilah yang membuat Raden Renggo sangat berbeda dengan manusia pada umumnya

"Raden, apakah bermaksud mengatakan gadis itu bukan penari?"

Tanya Maha Patih Kelabang Lawa dengan suara perlahan. Seringai pemuda itu kembali bermain di mulut.

"Dia tidak hanya bukan seorang penari. Kau tahu paman patih, para pengawal di sini hampir sepuluh tahun berlatih imu olah kanuragan. Mereka bukan manusia, mereka adalah mahluk halus. Dengan kenyataan seperti yang kukatakan itu, tidak sembarang orang dapat mengalahkan mereka, apalagi sampai membunuhnya. Si pembunuh tentu mengetahui di mana titik kelemahan para pengawal kita. Sekarang kita cari dia."

Ujar Raden Renggo penasaran. Patih Kelabang Lawa tidak menyahut, dia segera memeriksa seluruh bagian halaman keraton. Di sana patih ini kembali dikejutkan oleh tewasnya para penjaga lapis kedua. Mayat mereka berserakan, kepalanya remuk tapi tidak terlihat setetes darahpun yang tercecer di sekitar luka.

"Raden...!"

Seru maha patih dengan suaru seperti tercekik. Raden Renggo yang menunggu di pintu gerbang menyadari pasti ada sesuatu yang dilihat patihnya, sesuatu yang mengejutkan dan belum pernah dilihatnya.       Maha Patih bukanlah orang sembarangan. Ilmunya sangat tinggi. Jarang sekali lawan sanggup menghadapi sang patih dalam waktu lima jurus.

Raden Renggo penasaran. Dia membalikkan badan dan bermaksud menyusul sang patih. Namun belum sempat si Raden mengayunkan langkahnya tiba-tiba di kesunyian malam itu dia dikejutkan dengan suara ringkik kuda dan suara derit roda pedati yang seolah penuh sesak oleh muatan.

"Kuda meringkik di kesunyian malam? Aku amat benci binatang itu. Di keraton aku tidak memelihara kuda. Lalu suara itu suara kuda milik siapa?"

Membatin si raden dalam hati. Belum sempat pemuda ini melihat dari arah mana suara ringkik kuda berasal tiba-tiba memancarlah cahaya yang sangat terang benderang. Ketika si raden berpaling ke arah datangnya cahaya. Dia melihat tiga ekor kuda berbulu hitam bermata merah. Di belakang kuda terdapat sebuah gerobak besar tertutup kulit lebar berwarna hitam.

Melihat bagian atas gerobak yang menyembul, Raden Renggo menyadari tentulah gerobak itu penuh dengan muatan. Namun si raden tidak dapat melihat apa isi gerobak yang ditarik dengan tiga kuda itu. Selain kuda dan gerobaknya dia tidak melihat kusir yang mengendalikannya.

"Sesuatu yang kubenci berada di depan gerbang keratonku. Siapa pun yang telah membawa kuda dan gerobaknya kemari, itu sama artinya dia sudah bosan melihat hijaunya gunung dan sejuknya udara pagi. Aku adalah penguasa di dua dunia, membawa sesuatu yang kubenci dihadapanku sama artinya dengan mencari mampus.." kata pemuda itu.

Belum lagi gema suaranya lenyap, tiba-tiba dia mendengar suara gemerincing dan bunyi tetabuhan. Dia juga mendengar suara gamelan kayu. Tidak berselang lama dari belakang gerobak muncul seorang gadis berpakaian penari. Gadis itu bukan saja cantik, melainkan juga berkulit putih mulus bertubuh indah. Tubuh semampai itu terbalut beberapa lembar kain tipis bersulam emas.

Di kepalanya bertengger hiasan mirip mahkota. Dia melenggang lenggok dengan lemah gemulai. Melihat caranya menari, jelas dirinya benar-benar seorang penari sejati. Untuk sementara lenyaplah kemarahan di hati Raden Renggo. Dia terpesona oleh gerak dan irama tarian yang disuguhkan oleh gadis jelita itu.

Sampai kemudian muncul Patih Kelabang Lawa. Patih itu rupanya kembali ke gerbang beberapa saat setelah Raden Renggo tidak memenuhi panggilannya. Melihat ada kuda, gerobak dan gadis yang menari, maha patih segera berbisik.

"Raden, itu gadis penari yang hamba katakan. Dia pembunuh pengawal keraton, dia juga telah melakukan pembunuhan di dalam. Dia sangat pandai raden, kita harus berhati-hati. Hamba kira dia bukan hanya bisa menari, gadis itu pasti juga seorang pembunuh."

Maha Patih Kelabang Lawa memberi ingat. Peringatan itu seakan menyadarkan si raden dari lamunannya. Kini dia melangkah maju, kemudian membentak dengan suara garang.

"Berhenti! Aku tidak sedang mengadakan gelar tarian. para penari di keratonku bahkan kusuruh minggat untuk sementara waktu. Siapa dirimu dan mengapa kau datang kemari cepat katakan?!"

Gadis jelita itu hentikan gerakan tubuhnya yang lemah gemulai. Ketika ia mengangkat tangannya maka suara irama musik yang mengiringi tiba-tiba berhenti. Si gadis berdiri tegak, matanya yang tajam memandang lurus ke arah si raden dan patihnya. Dia lalu tersenyum, namun senyum itu kemudian berubah menjadi tawa nyaring bergema.

"Hi hi hi. Jauh-jauh aku datang kemari adalah untuk memberi hiburan khusus untukmu raden. Aku berkenan menari tanpa harus diberi upah. Mengapa tiba-tiba saja kau memintaku berhenti menari?"

Kata si gadis tanpa menghiraukan pertanyaan si raden. Pemuda itu menahan kejengkelannya karena pertanyaannya diacuhkan orang belum sempat dia bicara Patih Kelabang Lawa berkata.

"Kau datang bukan bermaksud menghibur Raden Renggo Sabalangit, kau datang Justru menebar maut. Kau telah membunuh beberapa pengawal di sini, kau juga telah membunuh pengawal di dalam keraton!"

Untuk kedua kalinya si gadis cantik tertawa mengikik. Dia menatap patih itu sambil berkata dalam hati,

"Dimataku ilmunya sangat lumayan. Tapi aku tidak membutuhkan orang setua dirinya. Seperti yang dikatakan patih itu pemuda ini tentulah Raden Renggo. Dari sini segalanya harus kumulai"

Sigadis hentikan tawanya, Dia lalu berkata.

"Aku membunuh karena para pengawal itu mau berbuat kurang ajar padaku. Aku hanya membela diri, lalu apakah aku diangap bersalah." Kata si gadis.

Yang dikatakannya tentu hanya dusta belaka. Tapi Raden Renggo mempercayainya karena dia tahu para pengawal di keraton itu rata-rata tidak pernah diijinkan punya pasangan hidup. Mereka sangat buas dan haus akan perempuan. Maha Patih Kelabang Lawa sebenarnya tidak sependapat dengan Raden Renggo yang terkesan membenarkan pengakuan gadis itu.

Biarpun dia menyadari para pengawal keraton adalah orang-orang liar yang pantang melihat perempuan cantik, namun dengan mata kepala sendiri dia melihat para pengawal tidak berbuat kurang sopan apalagi berlaku kurang ajar pada gadis itu. Merasa tidak puas, melalui ilmu menyusupkan suara dia berkata ditujukan pada Raden Renggo.

"Raden.. gadis ini seorang pendusta. Dia membunuh bukan karena kesalahan pengawal. Dia melakukannya karena ingin pamer kesaktian kepada kita. Raden....sikapnya itu merupakan pertanda bahwa gadis keparat ini tidak pernah memandang sebelah mata kepada raden?!"

"Aku sudah tahu, paman patih. Dia datang bukan membawa maksud baik. Kedatangannya kemari tentu membawa satu tujuan busuk. Engkau diam saja di situ paman. Aku akan mencari tahu apa yang diinginkannya."

Jawab Raden Renggo melalui cara yang sama pula. Pemuda itu lalu menoleh, perhatiannya kini tertuju ke arah si gadis.

"Aku tidak pernah bertanya atau mengulangi pertanyaanku sampai ke tiga kalinya. Sekarang katakan siapa namamu?." kata pemuda itu tegas.

Gadis berpakaian gemerlap itu tersenyum. Melihat Raden Renggo nampak serius si gadis segera menjawab.

"Namaku Durga, raden. Nama yang sebenarnya adalah Durgandini. Aku datang kemari dengan membawa satu tujuan...."

Kening pemuda itu berkerut. Gadis ini jelas bukan gadis biasa, dia memiliki kesaktian. Dia bahkan dengan mudah dapat membunuh para pengawalnya yang rata-rata berkepandaian tinggi dan berasal dari siluman. Patih Kelabang Lawa boleh jadi benar, bahwa dirinya harus berhati-hati menghadapi gadis ini.

"Aku tidak punya waktu untuk bicara denganmu, kalau kau punya tujuan atau mungkin sesuatu yang ingin kau sampaikan, lekas katakan!"

Sesungging senyum menggoda yang mampu meluluhkan ketabahan laki-laki menghias bibir Durgandini. Dia terlihat tenang sekali meskipun orang sudah tidak sabar menunggu ada apa yang ingin dikatakannya.

"Raden saya rasa tertarik dengan kabar yang saya bawa ini karena menyangkut seseorang yang selama ini raden anggap sebagai penghambat dari cita-cita raden." Ujar si gadis. Setelah membasahi bibirnya Durgadini kembali melanjutkan.

"Begini raden, diriku ini sesungguhnya hanya manusia biasa yang tinggal di sebuah desa di tepi Bengawan Solo. Selama ini kami hidup tenteram, tapi ketenteraman kami terusik dengan kehadiran Gusti Prabu Kesa."

"Prabu Kesa raja dari kerajaan Purwa Dipa?" Desis Raden Renggo. "Bagaimana mungkin prabu bisa sampai ke desamu sedangkan kerajaan Purwa Dipa ada di barat dan kau ada bagian tengah?"

Durgandini unjukkan wajah duka yang mendalam, matanya menerawang. Dan mata itu kini berlinangan. Raden Renggo tidak tahu apa yang menimpa Durgandini, namun melihat kesedihannya tentu dia sedang mengalam kejadian yang tidak menyenangkan.

"Raden...... Gusti adalah harapanku satu-satunya. Patut saya akui, Gusti Prabu Kesa tidak datang ke desa kami secara sengaja, mulanya beliau berburu di kawasan Hutan Tanpa Nama. Binatang yang diburunya masuk ke desa kami. Di desa itu dia bertemu denganku, aku tidak menyangka dia tertarik dengan kecantikanku. Dengan terus terang beliau memintaku menjadi selirnya...." Sampai di sini Durgandini terdiam.

"Lalu apa jawabanmu, tentu kau menerimanya bukan?" Tanya Patih Kelabang Lawa.

Durgadini menggeleng lemah. "Tidak. Aku tidak tertarik menjadi selir gusti prabu karena selain sudah tua dia juga punya banyak selir. Tapi gusti prabu tidak mau tahu, katanya kalau saya menolak dia akan membunuh seluruh penduduk desa. Bahkan sebagian sudah dibunuhnya dan digantung di setiap sudut penjuru hutan. Aku meminta waktu untuk berpikir tentang lamarannya. Yang saya lakukan itu sesungguhnya hanya untuk mengulur waktu. Tapi waktunya semakin menipis. Nanti malam beliau datang menagih janji. Jawabanku menjadi jaminan panjang pendeknya umur penduduk desa." Ujar si gadis cemas.

Raden Renggo tersenyum, gadis ini nampaknya bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Kalau benar Prabu Kesa bakal datang ke Bengawan Solo malam ini, tentu baginya merupakan kesempatan untuk melakukan penyergapan. Lain halnya dengan Patih Kelabang Lawa yang pencuriga. Dia masih belum percaya bahwa Prabu Kesa mau melakukan tindakan brutal hanya demi seorang gadis. Prabu Kesa adalah raja yang bijaksana yang mencintai rakyatnya. Tapi patih tidak berani protes, dia hanya menunggu apa yang dikatakan junjungannya. Di luar dugaan Raden Renggo bertanya.

 "Apakah malam nanti Prabu Kesa datang ke desamu dengan membawa pasukan?"

"Saya kira tidak, Prabu Kesa senang melakukan perjalanan seorang diri. Dia juga pasti datang sendiri"

"Mengapa kau berpikir aku mau membantu mengatasi kesulitanmu?"

Kata pemuda itu sinis. Justru pertanyan itu membuat Durgandini tertawa tergelak-gelak.

"Mengapa? Justru karena saya tahu raden punya kepentingan untuk memperluas pengaruh memperluas kekuasaan. Saya kira selama Prabu Kesa berkuasa atas kerajaan Purba Dipa, raden tidak mungkin dapat mewujudkan impian raden itu. Ini adalah kesempatan terbaik bagi raden. Saya yakin kalau malam ini raden muncul di sana, besar kemungkinan raden dapat membunuh Prabu Kesa. Raden bisa mengerahkan seluruh prajurit serta orang-orang berkepandaian tinggi di keraton."

"Hmm, jika kubunuh Prabu Kesa artinya kau terbebas dari keinginannya, sedangkan aku sendiri kemungkinan dapat segera merebut tahta kerajaan Purwa Dipa dan menjalankan pemerintahan baru di sana."

"Tepat, memang seperti itu gambaran yang terlintas dalam pikiran saya, raden." Jawab Durgandini  

"Baiklah, aku hanya akan berangkat bila patihku ikut memberi dukungan. Katakan apa pendapatmu paman patih?"

Tanya Raden Renggo sambil memandang ke arah Patih Kelabang Lawa. Maha Patih Kelabang Lawa yang cerdik diam-diam berkata.

"Dia datang membawa gerobak yang ditarik kuda. Di dalam gerobak itu entah apa isinya. Untuk apa dia membawa kuda? Aku curiga pada isi gerobak itu. Kurasa yang terbaik adalah ikut mengiringi raden, tapi aku tidak mau pergi bersama-sama, aku harus melakukan penyelidikan."

Ujar Kelabang Lawa. Diam-diam dia memberi isyarat pada junjungannya. Karena sudah terbiasa menerima isyarat penting seperti itu, Raden Renggo Sabalangit tentu segera memahami makna lirikan maha patihnya.         Dia tersenyum, kemudiah sang patih berucap ditujukan pada Durgandini.

"Kurasa untuk menjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan, ada baiknya aku berangkat dengan para pengawal terpilih, sementara paman patih biar berada di keraton. Keraton ini tidak mungkin kosong, dan cara yang terbaik adalah meninggalkan patih."

Keputusan itu sesungguhnya membuat si gadis jelita cukup kecewa, namun dia tidak ingin memaksa. Sekali lagi dia berkata.

"Raden yakin bisa mengatasi Prabu Kesa seorang diri?"

Raden Renggo tersenyum rawan. "Kau tidak perlu meremehkan kekuatanku. Aku tahu apa yang kulakukan"

"Maafkan saya, raden. Saya harap raden tidak tersinggung" Ujar Durgandini sambil julurkan lidah dan basahi bibirnya.

"Tidak mengapa. Sekarang sebaiknya kita berangkat."

"Hamba akan mempersiapkan pasukan kecil. Apakah gusti butuh kendaraan?" Tanya patih Kelabang Lawa.

"Ha ha ha. Selama ada angin, aku cukup menggunakan sarana itu." Jawab raden Renggo.

"Sekarang lebih baik kau kembali ke kudamu. Kita sudah bisa memulai perjalanan sekarang."  

"Baiklah raden. Bagi saya apa saja yang raden katakan merupakan sebuah perintah. Saya berangkat duluan, saya harap raden dan pasukan segera menyusul." Ujar Durgandini.

Gadis itu lalu membalikkan badan, dengan langkah gemulai dia menghampiri kuda penarik gerobak yang sarat oleh muatan. Tidak lama Durgandini memacu kereta kudanya meninggalkan halaman gerbang keraton. Sepeninggalan Durgandini, Raden Renggo dan patih Kelabang Lawa saling pandang. Sang patih segera menumpahkan ganjalan hatinya.

"Saya tidak percaya pada gadis yang pintar menari itu. Wajah cantik, mulut manis, tatapan mata mengundang. Tapi dibalik tatapan mata itu tersimpan maksud-maksud yang sangat keji."

"Selama ini kau tidak pernah meleset dalam memperkirakan sesuatu. Aturlah segalanya hingga terlihat wajar-wajar saja, aku akan berangkat dengan selusin pasukan."

"Mereka sudah menunggu raden." Ujar sang patih, Raden Renggo menoleh ke halaman keraton. DI sana telah menunggu pasukannya dengan bersenjata lengkap. Mereka hadir tidak dalam ujud binatang melainkan dalam rupa manusia berwajah keras seutuhnya.

"Aku berangkat paman!" Ujar pemuda itu.

Dia lalu rangkapkan kedua tangannya di depan dada. Tidak berselang lama mulutnya nampak berkomat-kamit. Raden Renggo bergetar hebat, setelah itu angin menderu seolah keluar dari sekujur tubuhnya. Para pengawal berlari mengelilingi sang raden. Lalu satu sapuan angin yang sangat keras membuat tubuh mereka terangkat dari permukaan tanah dan melayang mengikuti ke arah lenyapnya Durgandini. Kini yang tertinggal hanya maha patih Kelabang Lawa.

"Aku akan menggunakan kebiasaan lama untuk mencari tahu gerobak yang dibawa oleh Durgandini." Ujar laki-laki tua itu. Dia lalu mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ketika kaki kirinya dihentakkan ke tanah. Sosok sang patih lenyap tidak meninggalkan bekas. Halaman gerbang keraton kini kembali sunyi.

***

Manusia bertubuh ular itu hanya bisa geleng kepala ketika lawan yang sudah terluka parah ternyata dapat meloloskan diri dari serangan dirinya dan dua kawannya yang lain. Kini setelah tubuhnya terluka dengan guncangan hebat akibat pukulan ganas Jabatala, kakek yang dari bagian leher hingga kepala ini berujud manusia segera melipat tubuhnya yang panjang besar berwarna kehitaman.

Tubuh itu melingkar seperti gulungan tali raksasa yang dionggokkan. Sementara pada kesempatan itu Kaliwangga yaitu pertapa berambut putih sebelah nampaknya juga menderita cidera cukup parah. Baju putihnya robek di beberapa bagian, dibalik baju yang robek terdapat luka menghitam. Keadaan sahabatnya yang bernama Gagak Banjaran ini juga tidak lebih baik dari apa yang dialaminya. Gagak Banjaran menderita luka di bagian perut.

Serangan lima jari tangan Jabatala meninggalkan luka serta rasa sakit yang sangat luar biasa. Namun sebagai orang yang memiliki pengalaman luas serta ilmu sangat tinggi. Baik Gagak Banjaran, Kaliwangga maupun manusia bertubuh ular yang bernama Aryu Jeda ini segera mengambil keputusan untuk menyembuhkan diri secepatnya.

Gagak Banjaran dan Kaliwangga melipat kedua kakinya, Mereka duduk bersila, sedangkan kedua tangan dirangkapkan di depan dada. Tidak lama ketiganya segera mengerahkan tenaga dalam dan menyalurkannya ke bagian luka yang terdapat di tubuh masing-masing. Cukup lama mereka berusaha menyembuhkan luka dalam yang mereka alami. Sampai akhirnya Kaliwangga terbatuk dan muntahkan darah kental agak kehitaman.

Setelah itu Gagak Banjaran juga megalami kejadian yang sama. Sedangkan Aryu Jeda lain lagi. Ketika kakek angker berwajah menyeramkan itu berusaha menyembuhkan luka-lukanya, seluruh tubuhnya yang berujud sosok ular bergetar. Mulutnya berdesis tajam, selain itu dari atas ubun ubunnya mengepul asap tipis menyerupai kabut berwarna putih dan menebarkan bau amis luar biasa. Selanjutnya guncangan mulai melemah. Aryu Jeda menarik nafas lega dan menoleh ke arah kawan-awannya.

"Bagaimana keadaanmu Gagak Banjaran?" Tanya Aryu Jeda dengan suara yang serak.

Gagak Banjaran membuka mata, wajah masih pucat walaupun dia berhasil menyembuhkan luka di tubuhnya. Selain itu mata Gagak Banjaran tidak mampu menyembunyikan kemarahan terhadap Jabatala.

 "Pemuda itu sungguh aku tidak menyangka bahwa di dalam hatinya menyimpan maksud-maksud yang keji. Dan aku lebih tidak menyangka kalau ilmu kesaktian yang dia miliki ternyata amat tinggi. Mulanya dia menyaru sebagai orang tolol yang tingkat kepandaiannya hanya setingkat prajurit. Tapi tidak didangka...."

Gagak Banjaran tidak melanjutkan ucapannya. Hanya tangannya yang terkepal. Sementara Kaliwangga yang juga sudah membuka mata tersenyum getir.

"Segala yang telah berlalu tidak perlu disesali. Yang harus kita cari tahu kemana larinya Jabatala..." Ujar Kaliwangga tegas.

"Yang terpenting pertama kita dapat menyembuhkan Luka-luka yang kita alami." Ujar Aryu Jeda. Dia kemudian melanjutkan. "Menurutku, pemuda yang telah menciderai kita Itu sesungguhnya juga menderita luka yang sangat parah. Malah salah satu pukulanku adalah pukulan maut yang sering ku manfaatkan untuk membunuh orang-orang yang menghendaki kematiannya. Aku yakin, jika tidak ada yang menolong dalam waktu selambatnya dua hari di muka dia akan menemui ajal."

"Hmm, tunggu. Penjelasanmu mengingatkan diriku bahwa kau telah menggunakan ajian Pemutus Jiwa untuk menjatuhkan Jabatala."

Potong Gagak Banjaran yang segera dijawab oleh Aryu Jeda dengan anggukkan kepala. "Sungguh mengherankan, seharusnya Jabatala tidak sanggup meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup. ilmu pukulan yang kau lepaskan itu kupikir merupakan salah satu ilmu langka mematikan yang pernah ada di muka bumi ini. Sungguh aku tidak mengira dia dapat bertahan hidup dan yang lebih aneh lagi dia malah berhasil lolos."

"Kukira persoalan itu tidak perlu kita bicarakan." Gumam Kaliwangga sambil memandang ke arah Gagak Banjaran dan Aryu Jeda silih berganti. "Yang menjadi persoalan sekarang adalah untuk siapa Jabatala melakukan segala kejahatan yang dilakukannya. Di samping itu jika dia memang membunuh lalu mengambil darah dan jantung korbannya. Kukira darah dan jantung itu bukan untuk yang lain."  

"Ini yang tidak kumengerti." Kata Gagak Banjaran sambil mengusap wajahnya yang tegang. Dia lalu berpikir tidak berselang lama di berucap.

"Seperti yang pernah kukatakan padamu, sahabatku. Pada malam terkutuk itu, selirku mengalami pendarahan. Pendarahan hebat yang kukira belum pernah terjadi pada selir-selirku yang lain," Kaliwangga menganguk tanda dirinya ingat semua yang pernah dikatakan oleh Gagak Banjaran.  

"Anda mengatakan, anda menemukan sesuatu di atas tempat tidur selir ke tiga, Benda itu terdapat di antara genangan darah yang keluar dari rahimnya."

"Hmm, kalian berdua merahasiakan sesuatu dariku. Mengapa engkau tidak berterus terang dari awal saudara Gagak." Kata Aryu Jeda memberi teguran.

"Sejak kejadian itu sampai sekarang aku masih bingung. Aku tidak tahu bahwa benda yang kutemukan d atas tempat tidur selirku ternyata merupakan benda hidup." Sahut Gagak Banjaran kalut. 
"Aku melihat kau menguburkannya di dalam Peti Mati Kalawa." Kata Aryu Jeda. "Ya, kuketahui Peti Mati Kalawa adalah sebaik-baiknya tempat untuk mengubur benda yang kuanggap asing."

"Seharusnya kau mengetahui benda itu hidup. Dia bukan hanya benda, melainkan bakal calon mahluk yang bernyawa. Terbukti setelah tiga purnama apa yang terlahir dari rahim membatu itu kemudian menghilang..."

Gagak Banjaran berpikir tertunduk diam, dia menyadari Aryu Jeda memiliki sesuatu yang dapat terlihat melalui batinnya. Mata hati Aryu Jeda sangat tajam. Gagak Banjaran berpikir alangkah baiknya jika bertanya tentang misteri yang berkembang setelah Peti Mati Kalawa dikuburkan. Dengan suara perlahan dia lalu berkata.

"Sahabatku, katakan padaku apakah benda bulat seperti telur yang keras itu benar-benar keluar dari rahim selir ketiga?"

Leher panjang Aryu Jeda yang bersambung dengan badannya yang berujud ular terangkat naik. Kepalanya bergoyang-goyang. Sepasang mata si kakek maut yang tadinya berwarna putih kelabu secara perlahan berangsur merah. Ini merupakan pertanda Aryu Jeda mulai memanfaatkan penglihatan batin yang dimilikinya untuk meneropong sesuatu yang kemungkinan pernah dialami oleh selir ketiga.

Baik Gagak Banjaran maupun Kaliwangga tiba tiba saja melihat dari kepala hingga sekujur tubuh Aryu Jeda tiba-tiba saja bergetar dengan hebatnya. Kaliwangga yang tidak mengetahui apa yang terjadi nampak tenang-tenang saja. Lain halnya dengan Gagak Banjaran yang sudah mengenal Aryu Jeda dengan baik. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres dialami oleh sahabatnya itu.

"Tidak biasanya dia mengalami hal seperti ini. Kupikir penglihatan batinnya mengalami kendala." Ujar laki-laki berpenampilan gagah itu gelisah.

"Apa maksudmu?" Tanya Kaliwangga.

"Kita tunggu saja, kurasa dia mengalami kendala." Apa yang dikhawatirkan Gagak Banjaran ternyata memang terbukti. Aryu Jeda tiba-tiba keluarkan suara menggerung dan desis panjang.  

"Sahabat..penglihatan seperti menembus seekor keledai yang bersembunyi di dalam gumpalan batu. Ini sebuah kendala besar, ini juga merupakan sebuah malapetaka bukan hanya bagimu, tapi juga bagi semua orang berkepandaian yag tidak sejalan."

"Aku tidak mengerti apa maksudmmu? Jadi apakah benar benda itu keluar dari rahim selir ketiga?" Tanya Gagak Banjaran cemas. Aryu Jeda menganggukkan kepala.

"Yang terjadi lebih dari yang kau perhitungkan, sahabatku. Banowati secara nyata telah melahirkan calon bayi. Calon bayi itu terbungkus dalam selaput yang keras dalam bentuk seperti telur. Celakanya begitu kau pendam dia di dalam Peti Mati Kalawa, calon jabang bayi bukannya mati, melainkan terus bertumbuh dan berkembang.

Pertumbuhannya berlangsung dalam proses gaib namun menyalahi aturan. Sampai satu pekan setelah kau masukkan dia di dalam peti itu, dia terlahir. Ini sebuah perkembangan yang cepat dan mengagumkan. Jadi selama tiga purnama kau memendamnya, dalam kehidupannya itu hampir sama dengan delapan belas tahun....."

"Apa..?!" Gagak Banjaran tersentak kaget, Kaliwangga justru lebih terperangah.

 "Bagaimana itu bisa terjadi?"

"Aku sudah mengatakan proses yang berlangsung menyalahi aturan."

"Apakah anak itu hasil penyelewengan selir dengan Jabatala?" Tanya Kaliwangga tidak sabar. "Nampaknya begitu, aku tidak bisa memastikan. Aku berpendapat anak itu bukan anak Gusti Prabu."  

"Sekarang dimana dia?" Tanya Gagak Banjaran. "Sulit untuk ditelusuri. Penglihatan gaibku tidak mampu menembus kabut gaib yang melindunginya."

"Baiklah, kalau begitu katakan apakah dia laki-laki ataukah perempuan?"

Desak Gagak Banjaran. Bagaimana pun Gagak Banjaran merasa bertanggungjawab atas semua peristiwa yang terjadi. Dia masih belum tahu bahwa bocah Itu dalam waktu tiga purnama telah berubah menjadi dewasa. Dia berharap Aryu Jeda dapat memberikan gambaran tentang semua keterangan yang dibutuhkannya.Tetapi jawaban yang diberikan Aryu Jeda kemudian justru di luar dugaan.

"Aku bahkan tidak dapat melihat bagaimana rupanya, jika mata batinku tidak kuasa melihat wajahnya, bagaimana bentuk wajahnya, mana mungkin aku bisa menentukan apakah bocah itu laki atau perempuan."

"Celaka. Kita harus mencari bocah itu, kurasa Jabatala yang tahu tentang bocah itu. Itu sebabnya dia mengumpulkan darah dan jantung. Dia membunuh untuk ambil darah dan jantung." Kata Kaliwangga.

"Ah, kau terlalu berlebihan Kaliwangga. Jika benar Jabatala adalah ayah dari bocah itu, mana mungkin ada bocah yang makan darah dan jantung. Terkecuali bocah itu adalah anak mahluk buas." Bantah Gagak Banjaran.

"Kita tidak bisa meremehkan pendapat Kaliwangga. Sampai saat ini kita sendiri masih belum tahu apakah benar Jabatala melakukan semua itu bukan untuk dirinya sendiri mengingat siapa sesungguhnya Jabatala kita tidak tahu," ujar Aryu Jeda.

"Benar juga, aku sendiri tidak pernah tahu asal usulnya. Lalu apa yang akan kita lakukan?" Tanya Gagak Banjaran. Kaliwangga terdiam. Hanya Aryu Jeda yang terus berpikir sambil mencoba menggunakan indera penglihatan gaibnya. Pada saat itu setelah agak lama terdiam dia berkata.  

"Rasanya kita harus berpisah, kau dan sahabatmu Kaliwangga sebaiknya pergi ke tepi Bengawan Solo. Di daerah itu ada sebuah kawasan hutan yang nampaknya menjadi sebuah tempat pembantaian juga penyusunan sebuah kekuatan. Aku melihat mayat-mayat bergelantungan. Kurasa dari sana segalanya dapat dimulai."

"Aryu Jeda, apakah kejadian di tepi Bengawan Solo itu ada hubungannya dengan bocah itu?" Desak Gagak Banjaran. Aryu Jeda tersenyum.

"Aku sudah mengatakan, aku tidak bisa menelurusi jejak tentang bocah itu. Dia seperti jembalang yang lenyap di telan bumi. Bagiku ini adalah sebuah kenyataan yang mengerikan. Tidak mustahil bosah itu sesungguhnya berada di sekitar kita."

"Sangat disayangkan kita tidak bisa mendapatkan penjelasan pasti dari Aryu Jeda. Tapi menurutku ada baiknya bila kita segera ke Bengawan Solo seperti yang dikatakan oleh sahabat kita." Ujar Kaliwangga sambil melirik ke arah Gagak Banjaran. Laki-laki itu terlihat ragu sejenak, tapi Aryu Jeda segera mendesak.

"Lakukanlah nasehatku ini, sementara aku akan menelusuri jejak Jabatala yang melarikan diri dari kita."

"Kau yakin tidak ingin pergi bersama-sama?" Tanya Gagak Banjaran ingin memastikan.

 "Tidak. Aku punya cara tersendiri untuk membantu dirimu menyelesaikan masalah yang kau hadapi. Bagiku Ini bukan persoalan mudah, di antara kita kemungkinan akan ada yang menjadi korban. Mungkin akan ada yang mati. Tapi kita tidak punya pilihan lain.Kita harus menghentikan bocah itu. Siapapun dirinya betapa pun dia amat berbahaya." Ujar Aryu Jeda dengan mata menerawang kosong.  

Mendengar ucapan sahabatnya itu, Gagak Banjaran merasa tidak enak hati. Dia menyadari dirinya secara tidak langsung menjadi sumber persoalan yang sedang mereka hadapi, walaupun kejadian tersebut benar-benar di luar kehendaknya. Dia tidak menginginkan satupun dari sahabatnya ada yang menjadi korban apalagi sampai tewas. Karena itu dia berkata.

"Persoalan ini menjadi tanggunganku. Aku tidak ingin kau maupun sahabatku Kaliwangga celaka. Karena itu sebaiknya kalian tak usah ikut membantu."

"Mana bisa begitu." Potong Kaliwangga cepat. "Aku adalah sahabatmu dalam keadaan susah dan senang. Kalau seandainya aku mati, kematian itu bukan sesuatu yang kusesali."

"Aku juga begitu. Bagiku mana ada seorang sahabat yang tega membiarkan sahabatnya menghadapi segala kesulitannya seorang diri. Sudahlah, jangan pikirkan soal hidup dan mati. Sekarang lebih baik kalian berangkat." Saran Aryu Jeda.

Gagak Banjaran sebenarnya merasa lega mendengar ucapan Aryu Jeda. Akhirnya walau di dalam hati masih ada sedikit ganjalan, dan segera naik ke atas kudanya. Sebentar saja Gagak Banjaran dan Kaliwangga telah pergi meninggalkan Aryu Jeda. Seperginya kedua sahabat, Aryu Jeda dongakkan kepala memandang ke langit. Mata laki-laki itu berkaca-kaca. Bibirnya tersenyum, namun sesungguhnya dihatinya terbersit rasa sedih.

"Bencana datang bersama munculnya kebaikan. Semoga kini dia sudah turun dari puncak Merapi. Kukira hanya dia yang bisa mengatasi persoalan besar ini. Aku tidak tahu dia berada dimana, namun hatiku yakin kini pemuda itu sudah berada di rimba persilatan." Gumam Aryu Jeda. Laki-laki tua itu tiba-tiba meluruskan tubuhnya yang bergelung melingkar selanjutnya tubuh yang besar itu sirna dari pandangan mata.

***

Seorang laki-laki tinggi bertubuh besar bertelanjang dada melangkah lebar menuju sebuah bukit datar yang terdapat tidak jauh di depannya. Setiap gerakan terasa kaku, sementara langkah kakinya menimbulkan getaran serta suara gemuruh seperti gempa. sampainya di puncak bukit, laki-laki yang wajah dan sekujur tubuhnya itu seperti diukir mendadak hentikan langkah. Sepasang mata yang cekung menjorok ke dalam rongga memandang liar ke segenap penjuru. Dia menggeleng. Dengan suara serak dia berkata seorang diri.

"Mula-mula aku melihat tebaran kabut dan cahaya keluar dari peti mati itu. Sayang aku baru melihat setelah cahaya jauh dariku. Aku jadi ragu apakah cahaya yang kulihat merupakan penjelmaan dari senjata mustika yang kucari. Aku tidak pernah tahu bagaimana ujud Pedang Cacat Jiwa yang sebenarnya. Mungkinkah pedang itu dapat berubah ubah ujud ataukah berubah menjadi cahaya seperti yang kulihat? Sekarang aku jadi ragu tentang kebenaran kabar munculnya senjata itu. Jika memang demikian adanya, aku merasa menyesal jauh-jauh meninggalkan Rimba Batu."

Laki-laki yang bentuk tubuhnya seperti batu dipahat ini merasa tidak ada gunanya lagi melakukan pencarian. Dia merasa kembali ke Rimba Batu tempat asal usulnya Jauh lebih baik walau harus dengan membawa sedikit rasa kecewa. Tapi di sisi lain, sebenarnya dia sangat penasaran tentang pedang yang diburunya. Seperti telah diketahui, laki-laki yang mempunyai bentuk tubuh aneh ini mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa, tubuhnya keras membatu.

Dia rela meninggalkan Rimba Batu demi untuk mendapatkan Pedang Cacat Jiwa yang kabarnya dikuburkan di dalam peti mati tak jauh dari kali Senowo. Peti mati itu ditunggui oleh seorang pertapa bernama Kaliwangga. Kehebatan Pedang Cacat Jiwa yang raib dari rimba persilatan sejak ratusan tahun yang lalu itu menarik perhatian manusia batu bahkan tokoh rimba persilatan yang lainnya. Dia lalu datang ke kali Senowo, bertemu dengan Kaliwangga hingga terjadi perkelahian hebat.

Setelah dapat mengalahkan Kaliwangga, dengan leluasa dia mengambil peti mati Kalawa dari dalam liang lahat. Seperti telah diceritakan sebelumnya ketika peti mati dibuka, Manusia Batu hanya menemukan cangkang batu berbentuk bulat lonjong yang sudah terbelah menjadi empat bagian.  

Pedang yang dicari tidak ditemukan justru Manusa Batu menemukan banyak keganjilan pada peti mati tersebut. Manusia Batu tidak tahu apa yang terjadi, namun dia kemudian memutuskan untuk mengikuti jejak cahaya yang telah meninggalkan peti mati. Yang dilakukan oleh Manusia Batu telah berlangsung selama beberapa hari lalu, kini Manusia Batu kehilangan jejak cahaya yang dikuntitnya.  

"Jauh kutinggalkan kampung halaman. Aku tidak tahu apakah senjata itu bisa kubawa pulang ke negeriku. Bagaimana mungkin aku bisa membawanya pulang kalau senjatanya saja tidak kutemukan?" Kata Manusia Batu geram bercampur kecewa.

Dia lalu terdiam dan berpikir tentu sulit bagi dirinya dalam usaha mencari jejak tentang Pedang Cacat Jiwa karena di tanah Jawa Dipa ini dia tidak memiliki banyak kenalan. Lain halnya dengan di negeri Batu. Di sana dirinya adalah seorang tokoh penting yang sangat disegani. Dia mempunyai banyak pengikut, dia juga punya pengaruh dan kekuasaan.

"Hmm, Rimba Batu telah jauh kutinggalkan. Aku tidak mungkin kembali sebelum segala sesuatu menjadi jelas bagiku." Gumam Manusia Batu yang rupanya telah memutuskan untuk menyelidiki keberadaan Pedang Cacat Jiwa secara tuntas.

Kini Manusia Batu bersiap-siap untuk meninggalkan bukit. Tetapi baru saja dia hendak melangkah pergi tibatiba dia melihat kepulan asap muncul tidak jauh dari puncak bukit. Manusia Batu memandang ke arah kepulan asap tersebut dengan pandangan heran. Keningnya berkerut bagitu melihat ada sesuatu yang seolah terlempar dari balik rerumputan di tengah kepulan asap yang pekat dan berwarna kebiru-biruan.

"Aku melihat ada tangan menggapai di balik kepulan asap itu. Biar kuperiksa dulu apakah yang kulihat benarbenar manusia atau hanya seekor babi hutan yang keluar dari sarangnya." Kata Manusia Batu.

Hanya dengan beberapa kali ayunan langkah saja Manusia Batu telah berada di depan kepulan asap itu. Hidungnya yang besar dan mencuat tinggi mengendus-endus. Dia mencium bau amis darah. Dia juga mendengar suara rintih dan erang kesakitan. Manusia Batu mengatubkan mulut, kedua pipinya menggembung. Dia lalu melakukan tiupan ke arah kepulan asap yang bergelung-gelung di udara.  

"Puuuuh...!"

Angin menderu dari mulut Manusia Batu, kepulan asap tebal lenyap. Rumput-rumput berterbangan. Begitu asap tebal yang menutupi pandangan lenyap, Manusia Batu terperangah. Dia melihat sesosok tubuh, sosok seorang laki-laki muda dengan sekujur tubuh dipenuhi luka dan darah. Laki-laki itu mengerang, matanya yang sayu memandang dengan terkejut ke arah Manusia Batu.

"Kau siapa? Bagaimana bisa muncul di tempat ini!" Kata Manusia Batu dengan nada bertanya.

Laki-laki muda yang dalam keadaan terluka parah itu mengerang. Dia hendak menjawab, namun hanya suara erangan yang terdengar. Tetapi nampaknya dia harus memaksakan diri untuk bicara karena dia melihat dari tatapan matanya laki-laki yang penampilannya seperti batu yang terpahat bukan manusia yang bisa diajak bicara.

"Ak.....ku, aku Jabatala. Saat ini aku sedang terluka." Ujar si pemuda yang ternyata memang Jabatala. Manusia Batu sunggingkan seringai mengejek.

"Aku tahu kau sudah mau mampus. Kurasa hanya dengan menginjak lehermu, nyawamu segera merat meninggalkan dunia ini. Apa perduliku? Kau terluka parah, keadaan dirimu yang di luar dengan yang di dalam kukira sama saja," Dengus Manusia Batu sinis.

"Ya-ya, aku tahu." Kata Jabatala. Dalam keadaan seperti itu otaknya yang cerdik segera merencanakan muslihat. Sebelumnya dia sudah mengetahui tentang kehadiran manusia yang satu ini. Walaupun dirinya tidak pernah bertemu muka, namun dia sudah mendapat petunjuk tentang dirinya, juga tentang ciri-cirinya. Hanya nama saja yang tidak dikenal Jabatala.

"Hmm, kau mengakui keadaan dirimu saat ini. Lalu mengapa kau sampai terkapar di tempat ini?" Tanya Manusia Batu curiga. Jabatala berusaha bangkit.

Dengan bersusah payah akhirnya dia duduk juga. Sejenak dia berusaha mengatur nafasnya yang memburu, sementara di dalam hati dia berkata.

"Manusia satu ini memiliki tenaga luar dan dalam sangat besar sekali. Jika aku tidak terluka, kemungkinan aku bisa mengambil darah dan jantungnya.Tetapi kini aku tidak berdaya, aku justru membutuhkan uluran tangannya untuk mengobati luka dalam yang aku derita. Dengan menipunya kupikir aku bisa memanfaatkan tenaga dan bantuannya."

"Kau diam membisu, padahal aku tidak punya waktu untuk berlama-lama di tempat ini."

Bentak Manusia Batu. Dia lalu angkat kaki kanannya tinggi-tinggi. Jabatala terkejut, namun dalam hatinya ada rasa takut. Dia berpikir apakah Manusia Batu hendak menginjak dadanya? Sementara itu tanpa disangka-sangka Manusia Batu berkata.

 "Aku tidak pernah menolong orang seumur hidupku. Tapi melihat penderitaanmu, rasanya aku punya secuil perasaan iba. Aku akan membantumu mempercepat proses kematianmu!"

Kaki kanan yang sudah diangkat itu kini digerakkan hingga sejajar dengan dada. Jabatala berteriak.  

"Jangan lakukan!" Manusia Batu urungkan niatnya,

"Kau sudah sekarat, keadaanmu sudah sangat payah. Mati lebih cepat justru akan mengurangi penderitaanmu!" Kata Manusia Batu disertai tawa tidak beraturan.

"Manusia Batu, kalau kau mempercepat kematianku, yang rugi bukan diriku, melainkan dirimu sendiri. Jauhjauh kau meninggalkan Rimba Batu kampung halamanmu apakah kau ingin pulang dengan tangan kosong?" Kata Jabatala.

Manusia Batu belalakkan matanya, perlahan kaki kanan yang telah siap dihentakkan ke dada Jabatala diturunkan. Dia membungkuk, lalu tangannya yang kokoh kekar sekuat batu cadas berkelebat menyambar. Sekali sentak Jabatala yang besar dan kekar itu telah terangkat tinggi. Walau kedua ujung kakinya masih menginjak tanah, namun Jabatala merasakan lehernya yang dicekal teresa sakit seperti mau patah.

"Kau mengenal diriku, kau bahkan mengenal asal usulku, Selama aku berada di sini baru kau seorang yang mengetahui asal usulku." Kata Manusia Batu curiga.

Meski penderitaan yang dirasakan Jabatala sangat hebat luar biasa, namun pemuda itu masih sanggup sunggingkan senyum.

 "Aku mengenalmu Manusia Batu aku juga sedikit mengetahui apa yang menjadi tujuanmu datang ke tanah Jawa ini!" Sahut Jabatala.

 "Heh, katakan apa yang menjadi tujuanku?" Dengus Manusia Batu sambil memperkeras cekalannya.  

"Kau mencari Pedang Cacat Jiwa. Bukanlah itu yang kau inginkan?" Kata Jabatala disertai senyum sinis. Manusia Batu untuk yang kesekian kalinya dibuat terkesima. Ditatapnya pemuda itu dengan sorot mata tidak percaya.

"Kau masih begini muda, yang membuatku heran mengapa pandanganmu begitu awas hingga bisa mengetahui apa yang menjadi tujuan orang."

"Bukan pandangan mataku yang awas, sebenarnya aku melihatmu berada di tepi kali Senowo. Kau mengambil peti mati Kalawa. Tapi kemudian kau mengetahui peti mati itu telah kosong." Ujar Jabatala. Percaya dengan ucapan orang, Manusia Batu melepaskan cekalannya hingga membuat Jabatala merosot ke bawah dan jatuh terhenyak.

"Siapa dirimu aku tidak perduli. Kau tahu dimana pedang itu?" Tanya Manusia Batu tidak sabar.  

"Tentu saja. Pedang itu berada di tangan orang-orang yang hampir membunuhku!" Ujar Jabatala. Dan tentu saja semua yang dikatakannya ini hanya dusta semata, karena yang menimpa Jabatala bukan berpangkal dari sebuah pedang melainkan akibat dari perbuatannya sendiri.

"Memangnya siapa yang telah melukaimu?" Tanya Manusia Batu. Pertanyan seperti ini adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu Jabatala sejak tadi. Kesempatan ini tidak disia-siakan, dia segera berkata, "Yang melukai aku adalah orang yang menghendaki pedang itu."

"Kurang ajar, katakan siapa orangnya?" Hardik Manusia Batu kesal.

"Mereka ada bertiga, yang satu bernama Gagak Banjaran, satunya lagi adalah seorang kakek bertubuh ular. Dia berasal dari lembah Kematian. Namanya Aryu Jeda, dikenal sebagai Manusia Ular.." jelas Jabatala. Penjelasan itu membuat kening Manusia Batu berkerut dalam.

"Pernah rasanya aku mendengar namanya. Aryu Jeda kalau tidak salah adalah orang yang mengabulkan permintaan mereka yang sudah bosan hidup." Gumam Manusia Batu. "Ya, memang tepat seperti yang kau katakan." Jawab Jabatala. "Persetan, aku tidak perduli walaupun Aryu Jeda adalah orang yang sanggup membunuh para dewa. Sekarang katakan padaku, siapa orang yang satunya lagl."

"Namanya? Kukira kau pasti mengenalnya. Dia adalah Kaliwangga!" Jawab Jabatala.

Jawaban ini tentu membuat Manusia Batu terperangah. Dia sadar betul bahwa Kaliwangga waktu itu dibantingnya hingga amblas ke tanah Dia tidak bangun-bangun lagi.

"Kukira dia sudah mampus karena aku membantingnya dengan sangat keras. Tidak tahunya dia masih hidup bahkan sanggup membuatmu jadi pecundang. Sungguh menyedihkan.." kata Manusia Batu disertai senyum mengejek.

"Kupikir Aryu Jeda dan Kaliwangga tidak begitu hebat Yang membahayakan adalah Gagak Banjaran. Malah pedang itu kini berada di tangannya." Ujar Jabatala.

Untuk kesekian kalinya Jabatala berdusta, karena sesungguhnya tidak satupun dari ketiga orang itu menguasai Pedang Cacat Jiwa

"Hmm, kalau begitu aku harus ikut bersamaku.Kita bersama-sama akan mencari Gagak Banjaran dan dua orang sahabatnya itu." Ujar Manusia Batu yang termakan oleh dusta Jabatala.

Si pemuda menyeringai. Baginya ini adalah kesempatan untuk menuntun Manusia Batu menuju ke tempat yang dia Inginkan. Dia yakin orang yang dipujanya telah menunggu kedatangannya. Darah dan jantung Manusia Batu tentu mempunyai kekuatan yang besar.

Kekuatan yang nantinya bakal dimanfaatkan untuk mencapai tujuan. Jabatala belum merasa puas, dia harus menyerap tenaga sakti yang dimiliki Manusia batu sehingga luka-luka di bagian dalam yang dia alami dapat segera disembuhkan. Sambil meringis kesakitan, Jabataia berkata.

"Bagiku tidak keberatan menunjukkan dimana tiga orang itu berada. Tapi kau tahu sendiri, saat ini diriku sedang terluka parah. Mana mungkin aku bisa mengantarmu menuju ke tempat persembunyian Gagak Banjaran dan kawannya. Terkecuali kau mau bermurah hati membantu menyembuhkan luka dalamku."

Manusia Batu menggerung. Sebenarnya dia merasa enggan menolong Jabatala. Malah tindakan yang sering dilakukan adalah membunuh orang yang sudah tidak berdaya. Tetapi sekarang dia sedang membutuhkan Jabatala. Bagaimana pun juga Jabatala satu-satunya orang yang dapat mengantarkan dirinya menuju ke tempat persembunyian Gagak Banjaran. Setelah sempat berpikir cukup lama. Manusia Batu akhirnya menyetujui permintaan Jabatala.

"Baiklah, kukira aku harus mengeluarkan darah membeku yang bersarang di bagian dada dan perutmu." Ujar Manusia Batu. Dia lalu berjongkok di belakang Jabatala. Pada kesempatan itu Jabatala masih juga memuji.

"Pandangan matamu ternyata sangat awas sekali. Aku memang terluka dalam akibat pukulan mereka."

"Apakah kau bermaksud ingin memiliki Pedang Cacat Jiwa yang kesohor itu?" Tanya Manusia Batu agak curiga.

"Oh tidak. Aku justru hanya mencoba memperingatkan mereka bahwa pedang itu bukan milik mereka. Kupikir pedang itu tidak cocok berada di tangan mereka, tapi setelah bertemu denganmu dan melihat dirimu aku malah yakin Pedang Cacat Jiwa berjodoh denganmu." Sanjungan ini sesungguhnya kebalikan dari apa yang dipikirkan Jabataia.

 "Kukira yang kau katakan sangat tepat sekali. Pedang itu hanya pantas berada di tanganku. Jadi kita tak usah membuang waktu. Sekarang aku akan membantumu menyembuhkan luka yang kau alami." Ujar Manusia Batu.

Kemudian tanpa merasa curiga sedikitpun Manusia Batu segera menempelkan telapak tangan kanannya ke punggung Jabatala. Sebentar saja tangan dan tubuh Manusia Batu bergetar. Jabatala merasakan ada hawa hangat yang menyerap ke seluruh punggung dan tubuhnya. Hawa hangat itu makin lama menyebar ke sekujur luka. Jabatala muntahkan darah segar agak kehitaman.

Proses terus berlangsung, Jabatala sesungguhnya telah mendapatkan kekuatannya kembali, namun dia masih terus merintih. Ini adalah sebuah muslihat. Karena sesungguhnya dengan cara yang amat halus Jabatala diam-diam menyedot sebagian kekuatan yang dimiliki oleh Manusia Batu. Hebatnya Manusia Batu sendiri tidak merasakan bahkan tidak menyadari bahwa sebagian kekuatannya kini berpindah pada Jabatala. Manusia Batu menarik tangannya. Dia lalu bertanya,

"Bagaimana keadaanmu?"

"Oh, berkat pertolonganmu, kini luka-lukaku mulai membaik." Jawab Jabatala. Manusia Batu tersenyum kaku. Dia segera ingat dengan tujuan utamanya. Manusia Batu menoleh, lalu bertanya.  

"Kau sudah sembuh. Pertolongan sudah kuberikan. Sekarang apakah kau sudah siap mengantarku ke tempat tujuan?" Jabatala merasa tidak ada pentingnya mengulur waktu. Dia bangkit berdiri. Kemudian dengan sikap seperti orang yang tidak memiliki kesaktian, Jabatala berkata,

"Aku siap mengantarmu. Tapi kuharap jalannya jangan terlalu cepat karena aku tidak mungkin bisa mengimbangi langkahmu."

"Hmm, kau manusia lemah. Tapi tidak mengapa, kalau kau tidak bisa berjalan seperti caraku, juga tidak mengapa bila nanti aku akan menentengmu. Ha ha ha.."

Jabatala tersenyum. Tanpa bicara lagi dia segera mengikuti Manusia Batu yang telah berada di depannya.

***

Iringan kuda penarik gerobak yang sesak dengan muatan kini melewati sebuah tikungan. Diapit oleh dua tebing curam, tikungan jalan itu terkesan angker. Sejauh itu gadis berpakaian penari dengan warna gemerlap yang bertindak sebagai sais penarik gerombak nampak tenang-tanang saja. Setelah melewati tikungan jalan, terlihatlah sebuah kawasan hutan luas yang tidak pernah dijamah oleh manusia. Itulah Hutan Tanpa Nama sebuah kawasan sunyi yang kabarnya hanya dihuni oleh sebangsa kaluak atau iblis dan keluarga kajing alias setan.

Si gadis jelita menarik kekang kudanya. Tiga ekor kuda berbulu hitam bermata merah seperti darah serentak keluarkan suara ringkikan panjang. Kuda itu berhenti. Gadis cantik berpakaian gemerlap bersulam emas memandang lurus ke depan. Entah apa yang difikirkannya, namun kemudian sambil tersenyum dia menoleh ke belakang. Di balik tikungan dia mendengar suara bergemuruh. Suara itu ke belakang.

Di balik tikungan dia mendengar suara bergemuruh. Suara itu pasti adalah suara Raden Renggo Sabaiangit dan belasan perajurit yang menyertainya. Seperti diketahui, Raden Renggo menggunakan kekuatan angin dalam melakukan perjalanannya sehingga tubuhnya melayang dengan cepat bersama prajurit pilihan yang mengikutinya. Walaupun Raden Renggo punya kemampuan sehebat itu, namun tidak membuat takut gadis cantik ini.

Dalam hati dia bahkan berkata. "Sebentar lagi kalian semua akan mengalami nasib mengenaskan.. Aku mulai memasuki kawasan Hutan Tanpa Nama yang telah kuubah namanya menjadi Rimba Bangkai sejak beberapa pekan lalu. Hmm, ini adalah kesempatanku untuk memulai sebuah rencana besar itu. Aku butuh seribu kekuatan untuk menguasai dunia. Dan kekuatan itu hanya bisa kudapatkan dari orang-orang sakti yang kuambil darah dan jantungnya."

Selagi si gadis memikirkan tentang segala rencananya. Raden Renggo dan pasukannya telah sampai di samping gerobak. Pemuda bermahkota berhiaskan pintu berwarna hitam tiba-tiba bertanya.  

"Mengapa berhenti Durgandini?" Si gadis pura-pura kaget dan unjukkan wajah takut. Dia memandang ke arah laki-laki muda itu sejenak, lalu berpaling ke jurusan hutan lalu menunjuk ke arah pepohonan di sebelah kanan jalan.

"Raden, maafkan saya. Apakah Raden tidak melihat benda apa yang bergelantungan di cabang pohon itu?"       Kata gadis itu. Raden Renggo dan perajuritnya memandang ke arah yang ditunjuk Durgandini. Mereka tercengang. Walau hari mulai beranjak gelap, baik para perajurit maupun Raden Renggo sendiri dapat melihat bahwa yang bergelantungan di cabang pohon yang terdapat di sepanjang jalan itu adalah mayat-mayat yang tewas dengan luka mengerikan.

"Aneh, siapa yang melakukan pembantaian ini?" Tanya Raden Renggo. Durgandini gelengkan kepala.

"Saya tidak tahu raden, keadaan ini membuat saya takut. Sebelum Prabu Kesa muncul di hutan ini dan datang memasuki desaku, belum pernah ada kejadian mengerikan seperti ini." Ujar Durgandini dengan suara bergetar.

Kening si raden berkerut dalam. Sejauh ini dia masih mempercayai pengakuan Durgandini. Walau begitu dia tetap memberi isyarat pada salah satu pengawainya untuk melakukan pemeriksaan terhadap mayat-mayat yang bergelantungan itu. Tidak lama pengawal bertubuh tegap Itu kembali.  

"Raden, tidak satupun dari mereka yang hidup. Mereka kelihatannya bukan orang sembarangan. Mayat-mayat itu sebagian telah membusuk, sebagian lagi nampaknya belum lama tergantung di sana. Mungkin baru sekitar tiga hari lalu."

"Tiga hari...nampaknya ini kabar yang cukup menarik.Tidak mungkin gadis ini sanggup membunuh dan menggantung orang-orang berkepandalan tinggi. Apalagi jumlahnya sudah tidak terhitung." Batin pemuda itu dalam hati.

"Raden, sebentar lagi malam tiba tempat ini akan di kabut kegelapan. Kita harus segera berlalu. Desaku tidak jauh lagi dari sini. Setelah melewati jalan di tengah hutan, kita segera sampai di tepi Bengawan Solo. Aku sendiri tidak berani berlama-lama di sini, tempatnya terasa menyeramkan, membuat merinding sekujur tubuhku."

"Hmm, apakah ini semua hasil perbuatan Prabu Kesa?" Kata Raden Renggo penasaran.

"Saya tidak tahu Raden. Seluruh kawasan hutan ini sejak Prabu Kesa hadir mulai dipenuhi dengan mayat. Bangkai membusuk bertebaran memenuhi seluruh penjuru kawasan hutan. Segalanya jadi serba mengerikan. Saya sendiri jika tidak bersama raden dan para perajurit yang gagah mana berani lewat di hutan ini menjelang malam."

"Baiklah, kau tetap memimpin di depan. Kami akan mengikuti di belakangmu." Ujar Raden Renggo. Durgandini mengangguk setuju. Kekang kuda kembali disentakkan, kuda penarik gerobak bergerak menapaki jalan setapak yang mulai diliputi kegelapan. Pada saat itu Raden Renggo berfikir.  

"Mengapa Maha Patih Kelabang Lawa masih belum menunjukkan tanda-tanda kehadirannya. Ataukan sang patih diam-diam telah hadir menyelinap ke dalam gerobak untuk menyelidiki apa isinya."

Raden Renggo menggeleng sambil hembuskan nafas dalam-dalam. Dia lalu melanjutkan perjalanan mengikuti Durgandini yang telah berada cukup jauh di depan. Belum lama si raden dan para pengawal melangkah dengan berjalan biasa, di depannya muncul seorang laki-laki berwajah pucat berpakaian serba hijau. Laki-laki berwajah lonjong itu datang dari arah berlawanan dan dia bukan lain adalah orang yang ditunggu sang raden.

"Paman Patih." Seru Raden Renggo girang. "Hamba Raden."

"Kau dari mana saja paman patih?" Tanya Raden Renggo penuh teguran. Laki-laki tua yang sangat setia pada junjungannya itu menjura hormat.

"Maafkan hamba raden, hamba baru saja keluar dari dalam gerobak. Hamba telah mengetahui isi peti seluruhnya. Yang hamba lihat benar-benar di luar dugaan kita semua raden." Ujar Patih Kelabang Lawa kecut dan gelisah. Kegelisahan si patih membuat Raden Renggo tidak tenang.

"Durgandini apakah melihatmu?"

"Hamba kira tidak Raden. Hamba mengunakan ajian pelenyap diri. Sebangsa dedemit sekalipun hamba kira tidak bakal bisa melihat hamba dalam keadaan seperti itu." Jawab sang patih dengan yakin. Raden Renggo percaya sepenuhnya dengan apa yang dikatakan patihnya. Kelabang Lawa adalah orang yang sangat berbakti, mana mungkin dia berdusta.

 "Apa yang kau lihat paman?"  

"Ampun gusti, di dalam gerobak itu justru hamba menemukan tumpukan mayat yang telah meninggal sekitar dua hari yang lalu. Mereka tewas dengan dada berlubang."

Jawab Kelabang Lawa, jawaban ini adalah sebuah hal yang tidak pernah disangka-sangka. Raden Renggo terkejut. Sejenak lamanya dia terpana.

"Dia datang membawa segerobak mayat, sungguh mengherankan. Mayat itu apakah sengaja dibawa ataukah seseorang sengaja menukar gerobak dalam perjalanan." Gumam si raden.

"Untuk membuktikan kita harus menghadang gadis itu. Kita bongkar isi gerobak lalu kita dengar apa jawaban Durgandini"

Tegas Patih Kelabang Lawa yang sudah lama memang menaruh curiga pada gadis itu. Raden Renggo Sabalangit menyetujui usul itu. Dia menganggukkan kepala, sekali berkelebat tubuhnya lenyap. Patih Kelabang Lawa mengikutinya.

"Durgandini berhenti!" Teriak Raden Renggo yang tahu-tahu telah menghadang di tengah jalan yag hendak dilewati gadis itu. Tiga kuda meringkik keras. Sementara Durgandini nampak terheran-heran.  

"Ada apa raden?" Tanya gadis itu.

"Aku mencium bau busuk dari gerobak kudamu. Aku curiga jangan-jangan seseorang sengaja menaruh mayat dalam gerobakmu." Ujar raden muda itu berterus terang.

"Paman patih, coba periksa gerobaknya, buka penutup di atas gerobak" pinta pemuda itu pada sang patih yang juga telah berdiri di samping gerobak. Tanpa menunggu patih segera lakukan pemeriksaan. Penutup gerobak dibuka. Raden Renggo datang mendekat untuk memastikan apa yang terjadi.Tetapi baik sang patih terlebih-lebih Raden Renggo akhirnya dibuat terkesima.

"Sesuatu telah terjadi, tapi mengapa berlangsung secepat ini!"

Desis Kelabang Lawa lirih. Mereka saling berpandangan, setiap mata menyembunyikan rasa tidak percaya.       Jika pertama tadi patih melihat isi gerobak terdiri dari tumpukan mayat yang telah membusuk. Sebaliknya yang mereka lihat sekarang d dalam gerobak ternyata berisi perangkat gamelan dan tetabuhan.

"Ada apa Raden." Tanya Durgandini.

"Penciuman raden mungkin keliru setahu saya gerobak berisi alat musik. Bau busuk itu tentu berasal dari tebaran bau bangkai yang terdapat di seluruh hutan ini." ujar si gadis. Dalam hati dia berkata.  

"Patih itu mengira aku tidak melihat kehadirannya. Dia menyangka aku tidak mengetahui dirinya menyelinap ke dalam gerobak melakukan pemeriksaan. Tua bangka Itu kalau tidak segera kubereskan bisa berbahaya. Beruntung aku segera merubah isi peti menjadi sesuatu yang enak untuk dilihat."

"Eh tidak. Kau mungkin benar. Bau busuk ini berasal dari hutan di sekitar sini. Teruskan perjalanan.." Ujar Raden Renggo dengan hati diliputi keheranan.

Durgandini tersenyum. Kendali kuda disentakkan untuk yang kesekian kalinya. Kuda itu bergerak, namun kini dalam keadaan berlari. Patih Kelabang Lawa dan Raden Renggo saling pandang. Sang patih kemudian berkata.

"Yang terjadi rasanya sulit dimengerti. Hamba tidak salah melihat gusti, yang hamba saksikan tadi benar-benar tumpukan mayat."

Raden Renggo maklum ucapan patihnya tentu bukan dengan maksud untuk membela diri. Dia bersungguh sungguh dan raden tahu Patih Kelabang Lawa sepanjang pengabdiannya tidak pernah berdusta. Yang menjadi pertanyaan sekarang. Bagaimana mungkin isi gerobak bisa berubah? Siapa yang telah merubahnya? Durgandinikah? Raden Renggo Sabalangit tidak mau gegabah. Pemuda itu lalu berkata dengan suara lirih namun berisi peringatan.

"Terlalu banyak keanehan yang kita lihat. Kita harus waspada. Aku tidak tahu dari mana semua keganjilan ini terjadi. Gadis itu bukan seorang penyihir, walau mengerti ilmu silat kuanggap kelihatannya itu masih di bawah kita."

"Gusti, kita tidak tahu niat yang terkandung di dalam hatinya. Sekarang ini kita sudah hampir sampai di tepi Bengawan Solo. Namun anehnya kita seperti terus berputar-putar di sekitar hutan ini."

Kata sang patih. Raden Renggo seolah baru menyadarinya. Dia menoleh, lalu memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Dia terkejut, namun segera memberi perintah

"Cepat ikuti gadis itu!"

Patih Kelabang Lawa tidak menjawab, dia segera mengajak para prajurit untuk mengejar Durgandini, sementara Raden Renggo sendiri segera menyusulnya. Belum lagi Durgandini tersusul oleh mereka. Tiba tiba dari arah depan sana terdengar suara gemuruh, Patih Kelabang Lawa dan pengawal yang mengikutinya tersentak, langkah mereka terhenti, Memandang ke langit. Suasana yang gelap makin bertambah gelap, sementara belum hilang kejut dihati mereka hantaman angin sekuat badai melabrak mereka.

Para pengawal yang terdiri dari mahluk halus keluarkan suara menggerung. Tubuh mereka berubah-ubah antara manusia dan macan. Ini terjadi karena mereka dibuat kaget oleh serbuan angin yang datang dengan tidak terduga. Sementara Patih Kelabang Lawa sendiri yang memiliki ilmu sangat tinggi tidak mengalami perubahan ke bentuk asal. Malah setelah kejut dihatinya lenyap Kelabang Lawa tiba-tiba hentakkan kakinya ke tanah hingga kedua kaki itu terpendam dan menjadi kuat seperti batang pohon.

"Aku tidak menghendaki kejadian seperti ini. Kalau topan ini bukan angin biasa, berarti dia akan sirna oleh pukulanku!" geram sang patih.

Dia lalu mengangkat tangannya hingga melewati bagian kepala. Kedua telapak tangan kemudian dirangkapkan. Tangan dan sekujur tubuhnya kemudian bergetar dari ujung jarinya mengepul asap tipis berwarna putih kemerahan. Tidak lama setelah itu dia lalu menghantam ke delapan penjuru arah. Delapan cahaya melesat bagai perisai baja yang kokoh. Sekujur tubuh Kelabang Lawa tambah bergetar ketika pukulan yang dia lepaskan membentur badai yang menerjang ke arah mereka.

Beberapa saat lamanya dia dapat bertahan bahkan membuyarkan serangan topan yang melabrak dirinya dan para perajurit. Namun apa yang Patih Lawa lakukan hanya bertahan sebentar. Setelah itu ada sesuatu yang berubah yaitu datangnya serangan angin di luar dugaan disertai munculnya hawa panas. Semakin lama semakin bertambah panas hingga membuat suasana di sekitarnya seolah dilanda lautan api.

Lusinan perajurit yang berada di belakang Kelabang Lawa berusaha bertahan dari serangan aneh yang mereka alami. Di antara mereka ada yang memutar senjatanya hingga membentuk perisai diri, Ada pula yang mengerahkan tenaga dalam kesekujur. Dalam kesempatan itu Raden Renggo tiba-tiba muncul di samping patihnya. Dengan terheran-heran dia bertanya.

"Apa yang sedang terjadi paman patih?"

"Entahlah Gusti. Cuaca mendadak berubah, dan badai topan menyerang kawasan hutan ini. Serangan badai disertai serangan hawa panas yang sangat mematikan." kata Patih Kelabang Lawa sambil melipat gandakan tenaga dalamnya dan kembali menghantam ke delapan penjuru

"Heran! Gunung Merapi jauh dari sini. Awan panas hanya dikeluarkan oleh gunung itu.." gumam Raden Renggo.

Sementara itu serangan badai makin menggila, pepohonan bertumbangan, mayat-mayat yang tergantung di pohon juga ikut berpelantingan. Patih Kelabang Lawa nampaknya mencium adanya gelagat yang tidak baik. Dia lalu berteriak memberi peringatan.

"Gusti, yang terjadi nampaknya bukan bencana alam biasa, lebih baik batalkan niat Gusti ke kampung halaman Durgandini. Gadis itu kemungkinan sudah tewas. Gusti kembali ke keraton dan saya akan melindungi gusti dari sini."

Ujar orang tua itu yang nampak berusaha keras melindungi orang-orang di belakangnya dari serangan badai topan yang aneh. Raden Renggo bukan penakut, dia justru merupakan orang yang selalu ingin tahu juga memiliki keberanian yang besar. Kejadian itu bukan hanya menimbulkan tanda tanya, tapi juga merasa ingin tahu. Dengan cepat dia menjawab.

"Paman tidak usah takut. Kalau badai gila ini bukan kejadian alam biasa, tentu ada penyebabnya. Apakah Prabu Kesa yang menjadi penyebabnya ataukah.."

Raden Renggo tidak melanjutkan ucapannya. Sebaliknya dia melesat ke udara kemudian dengan kekuatan tinggi dia terus bergerak ke arah datangnya angin itu. Patih Kelabang Lawa sesungguhnya hendak menyusul Raden Renggo demi untuk menjaga sesuatu yang tidak diinginkan. Namun pada waktu bersamaan tiba-tiba keadaan berubah. Hawa panas yang datang menyerang bersama hembusan angin kini berubah berganti dengan hawa dingin bukan kepalang. Patih terkesima, tubuhnya pucat pasi

"Tidak mungkin! Kalau semua ini akibat bencana alam, mustahil semua dapat mengalami perubahan secepat ini.. " desis laki-laki tua itu. Selagi sang patih dibuat terkesima, dia mendengar suara pekik di belakangnya.

"Gusti patih..." teriak salah seorang perajurit di barisan belakang. Kelabang Lawa tidak membuang waktu, dia telah melihat pepohonan dan daun serta benda yang terdapat di sekitarnya telah berubah memutih, semua membeku menjadi es.

Begitu juga dengan hembusan angin yang menerpa dirinya. Dia melihat uap yang memutih sementara hawa dingin sudah tidak tertahankan lagi. Orang tua itu menoleh, dia kaget ketika melihat seluruh prajurit yang bertahan di belakangnya ternyata mengalami sesuatu yang tidak disangka-sangka. Mereka semua berubah membeku, tubuh mereka menjadi keras laksana patung es. Kelabang Lawa masih tidak bisa menerima kenyataan yang mengejutkan ini.

Dia segera datang menghampiri, selanjutnya dia melakukan pemeriksaan. Selusin perajurit tewas dalam keadaan membeku. Kelabang Lawa menggerung nampaknya dia belum bisa menerima kenyataan yang dialami oleh anak buahnya. Diapun lalu menempelkan telapak tangannya ke bagian dada salah seorang perajurit yang diselimuti es itu. Selanjutnya hawa panas di salurkan ke telapak tangannya.

Tubuh pengawal yang telah membeku itu bergetar sebagian es meleleh. Ketika dirinya dapat menyentuh permukaan dada pengawal itu, tiba-tiba dia merasakan adanya satu sengatan hawa dingin yang luar biasa. Laki laki itu terpelanting. Dia menggelengkan kepala. Seketika bangkit berdiri. Sambil mengibaskan tangannya yang terasa sakit dia memandang ke arah barisan pengawal yang telah berubah menjadi patung es. Pada kesempatan itu Kelabang Lawa berkata,

"Sangat jelas sekali memang ada yang melakukan penyerangan dari jarak jauh, ini bukan bencana alam biasa. Seseorang siapapun dirinya jelas ingin mencelakakan kami semua di rimba ini. Apakah mungkin seperti yang dikatakan Durgandini, bahwa Prabu Kesa telah berada di sekitar sini, lalu menunggu kami datang kemudian melakukan penyerangan."

Kelabang Lawa terus berpikir. Orang tua ini kemudian jadi ingat, bahwa kepergian Durgandini ke keraton Padang Kalang jelas di luar sepengetahuan Prabu Kesa. Dia datang secara diam-diam dalam upayanya mencari bala bantuan untuk menolak lamaran sang prabu. Tapi apakah benar sang prabu yang sudah tidak muda itu berniat menjadikan Durgandini sebagai selirnya. Tidakkah yang dikatakan Durgandini terlalu mengada-ada. Bagaimana jika Durgandini sendiri yang punya kepentingan dengan mereka?

Kelabang Lawa ingat dengan tumpukan mayat di dalam gerobak kuda. Semula jelas-jelas dia melihat di gerobak itu terdapat puluhan mayat yang terbunuh secara mengerikan. Tetapi ketika dia dan Raden Renggo memeriksa gerobak tersebut, ternyata isinya telah berubah. Kelabang Lawa menepuk keningnya sendiri. Dia kini memahami bahwa segalanya sebenarnya telah diatur oleh gadis itu.

Jadi bukan Prabu Kesa. Gadis itu jelas merencanakan sesuatu terhadap Raden Renggo, sesuatu yang kemungkinan amat kotor dan keji. Kelabang Lawa memang tidak mengetahui niat yang tersembunyi dihati si gadis, namun dia merasa perlu untuk memberi peringatan Raden Renggo.

"Raden harus diberi kabar. Aku yakin Prabu Kesa tidak datang ke desanya. Bencana ini dan semua yang terjadi di kawasan hutan ini pastilah dia yang menjadi penyebabnya"

Berfikir hingga sejauh itu Patih Kelabang Lawa lalu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Dengan menggunakan segenap kemampuan yang dia miliki sang patih mencoba menerjang badai dingin yang sanggup membuat dirinya membeku. Ketika Kelabang Lawa sanggup membebaskan diri dari serangan badai yang melanda, orang tua ini terus berlari ke arah lenyapnya Raden Renggo. Di suatu tempat dia berhenti, Kelabang Lawa memperhatikan keadaan di sekitarnya.

Dia melihat kawasan hutan yang porak poranda, orang tua ini juga menyaksikan gerobak yang hancur serta mayat-mayat bergelimpangan. Mayat-mayat itu pasti berasal dari dalam gerobak. Anehnya sang patih tidak menemukan Raden Renggo dan Durgandini.

"Kemana gadis itu? Kemana Raden Renggo, apa yang terjadi pada Gustiku itu. Perasaanku tidak enak. Aku khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada raden." Gumam sang patih cemas.

Dia menatap ke depan. Sang patih melihat ada sebuah jalan, satu-satunya jalan yang dia perkirakan menghubungkan ke sebuah desa di tepi Bengawan Solo. Tanpa pikir panjang ke arah jalan itulah Kelabang Lawa melakukan pengejaran.

***

Jabatala berlari seperti dikejar kejar demit. Tempat yang hendak ditujunya sudah jelas, yaitu kawasan hutan yang bersebelahan dengan Bengawan Solo. Di tempat itu dia akan bertemu dengan orang terkasih, di sana pula dia akan membicarakan tentang urusannya dengan Manusia Batu. Sejauh ini Manusia Batu masih percaya dengan penjelasannya. Padahal semua yang dia katakan adalah sebuah pendustaan.

Dan Manusia Batu tidak bakal pernah mendapatkan apa yang diinginkannya, karena Pedang Cacat Jiwa sendiri sesungguhnya tidak diketahui dimana rimbanya. Jabatala berpikir, Manusia Batu bukan tokoh sembarangan. Selain tubuhnya seatos batu karang, dia juga memiliki ilmu yang sangat tinggi. Kelak bila telah sampai di hutan Tanpa Nama yang kini telah berubah menjadi sebuah rimba yang dipenuhi bangkai, Manusia Batu kemungkinan dapat dimanfaatkan.

Jabatala akan membujuk agar Manusia Batu berada dipihaknya. Kalau Manusia Batu membangkang, bagaimana pun tidak akan sulit untuk membereskannya. Manusia Batu tidak sehebat pada awal kedatangannya karena ketika membantu Jabatala, pemuda itu secara licik menguras habis tenaga dalam yang dia miliki secara diam-diam.

Laki-laki yang wajahnya seperti patung pahatan itu kemungkinan tidak menyadari apa yang telah dilakukan Jabatala. Dia tidak mungkin sanggup melawan Jabatala, apalagi di Rimba Bangkai nantinya akan ada yang membantu yaitu seorang yang memiliki ilmu luar biasa tinggi, bahkan dengan ilmunya itu dia sanggup mengalahkan dewa.

Kini Manusia Batu terus mengikuti tidak jauh di belakangnya. Setiap hentakan kakinya selalu menimbulkan suara berdebum serta getaran yang sangat hebat sekali. Jabatala yang berlari di bagian depan diam-diam tersenyum. Tidak sampai sepenanakan nasi, dia yakin dirinya telah sampai di tepi Bengawan Solo. Tetapi semua lamunannya buyar seketika. Dia merasa seperti ada yang ganjil. Jabatala menghentikan langkahnya. Dia lalu menoleh ke belakang. Kening pemuda ini berkerut ketika melihat di belakang sana ternyata Manusia Batu menghentikan langkahnya.

"Ada apa? Kau letih? Tak usah khawatir, tempat persembunyian Gagak Banjaran tidak jauh lagi dari tempat ini. Mari kita lanjutkan perjalanan kita." Ujar Jabatala disertai seringai dingin.

Manusia Batu tidak menanggapi, dia juga tidak bergeming dari tempatnya. Malah kemudian dia melambaikan tangan memberi isyarat pada Jabatala agar pemuda itu datang padanya.

"Hhh, apa lagi yang dia mau. Jangan-jangan dia sudah mencium semua muslihatku," Pikir Jabatala. Walau agak jengkel, dengan terpaksa Jabatala berbalik ke belakang. Dihampirinya Manusia Batu yang terus memperhatikan permukaan tanah.

"Kau mendengar sesuatu?" Tanya Manusia Batu tegang

"Mendengar apa?" Tanya Jabatala yang memang tidak mendengar apa-apa.

"Aku mendengar ada yang bergerak di bawah tanah ini. Sesuatu yang bergeser mengikuti kita." Kata Manusia Batu.

"Ah, kau ini sudah gila rupanya. Yang bergetar itu adalah tanah yang kau injak, gerakan kakimu bukan saja menimbulkan suara bergemuruh tapi juga getaran pada permukaan tanah. Sudahlah, kita tidak perlu membuang buang waktu seperti ini. Rimba Bangkai letaknya sudah tidak jauh lagi dari sini.."

"Apa maksudmu, kau mengatakan mau menuju ke Bengawan Solo, kau mengaku ada sebuah belantara bernama Rimba Tanpa Nama, mengapa sekarang kau berubah pikiran dan hendak menuju ke Rimba Bangkai?"

Tanya Manusia Batu curiga. Jabatala tertawa mendengar ucapan Manusia Batu yang terkesan curiga itu. Sambil menghentikan tawanya, Jabatala berkata.

"Kau ini terlalu curiga. Kita memang hendak menuju ke sebuah kawasan tidak jauh dari Bengawan Solo, tempat itu namanya Hutan Tanpa Nama, tapi karena kawasan itu telah berubah keadaannya dan dipenuhi bangkai manusia, maka belakangan orang mengenalnya dengan nama Rimba Bangkai."

"Ah, siapa yang membuang bangkai di tempat itu?" Tanya Manusia Batu.

"Tidak ada yang tahu, kupikir Gagak Banjaran dengan tujuan untuk menakut-nakuti orang hingga tidak ada yang berani datang ke tempat Itu. Tapi apa perduliku, kau mengaku hendak memiliki Pedang Cacat Jiwa. Kalau kau tidak ingin kehilangan kesempatan, sekarang juga kita lanjutkan perjalanan kita."

Kata Jabatala tidak sabar. Manusia Batu siap hendak mengikuti Jabatala. Tetapi lagilagi dia mendengar seperti ada sesuatu yang panjang bergeser di bawahnya.

"Hmm, pendengaranku ternyata tidak salah. Kita diikuti oleh sesuatu. Aku akan mencari tahu apa yang merayap di bawah sana, kau lihatlah! Pentang matamu lebar-lebar" kata Manusia Batu.

"Kau Ini benar-benar aneh...." Ujar Jabatala.

Namun dia tidak meneruskan ucapannya begitu ingat sesuatu. Dia memandang ke permukaan tanah. Sementara itu Manusia Betu mulai menghimpun tenaga dalamnya. Dua tangan kemudian didorong, lalu dihantamkan ke permukaan tanah barbatu. Sinar merah disertai munculnya hawa panas keluar dari telapak tangan Manusia Batu. Kemudian sinar merah itu membelah menjadi lima bagian, lalu menyebar dan menghantam sasaran yang dituju Wuutt! Wuut! Buuum!

Terdengar dentuman menggelegar, tanah terbongkar meninggalkan lubang menganga di lima titik yang menjadi sasaran, debu dan pasir muncrat di udara. Keadaan di sekeliling mereka gelap gulita. Manusia Batu menarik nafas, mulutnya terkatub, kedua pipi menggembung. Dia lalu meniup, angin menderu, debu dan pasir luruh. Suasana di sekitarnya menjadi terang seperti sediakala.

"Tidak ada apa-apa." Kata Jabatala begitu dirinya tidak malihat sesuatu pun yang muncul setelah ledakan terjadi. "Lihat.." kata Manusia Batu sambil menunjuk ke satu tempat tidak jauh dari lima lubang yang ditimbulkannya akibat pukulannya tadi. Jabatala segera menoleh, dia menatap ke arah yang ditunjuk Manusia Batu.

Kening pemuda ini berkerut ketika melihat permukaan tanah di depannya bergelombang hebat. Selain itu dia juga mendengar suara desis panjang yang merasa memekakkan telinga. Tidak lama setelah pergolakkan hebat yang terjadi di dalam. Tanah seluas empat tombak itu terkuak lebar, kemudian seperti anak penah yang diluncurkan dari dalam tanah, sesuatu yang besar dan panjang berwarna kehitaman melesat ke udara.

Sosok yang keluar itu ternyata berujud seekor ular dengan leher dan kepala dalam ujud seorang kakek berwajah angker berambut panjang riap-riapan. Manusia berkepala ular tesebut melakukan gerakan indah dengan gerakan berputar dan melingkar-lingkar di udara. Tidak lama dia berjungkir balik kepala di bawah ekor di atas.

Begitu bagian perutnya menyentuh tanah kepala ditegakkan sedangkan ekor melesat menghantam ke arah Mapusia Batu dan Jabatala. Setelah mengenali Jabatala keluarkan seruan kaget dia melompat ke belakang berusaha selamatkan dadanya dari sabetan ekor ular itu yang dia ketahui amat berbahaya. Sementara Manusia Batu hanya tegak di tempatnya. Laki-laki ini tidak mengenal rasa takut, malah ketika melihat ujung ekor siap melabrak perutnya dan menjebol isi perut, Manusia Batu hanya keluarkan suara berdengus.

Tangan kirinya berkelebat menyambar ekor si manusia ular, sedangkan tangan kanan siap menangkap bagian atas ekor lawan. Manusia ular terkejut, dia menarik tubuhnya, menggeser bagian perut yang menyentuh tanah lebih ke samping. Kemudian dengan gerakannya itu membuat ekor melesat ke atas dan menghantam dagu Manusia Batu. Jdar!

Hantaman ekor yang mengenai dagu Manusia Batu hanya membuat kepalanya tergetar. Padahal dagu itu seharusnya hancur terkena hantaman ekor mengingat ekor manusia ular kerasnya melebihi besi. Menusia ular terkesima, tubuhnya bergulung-gulung menjauh dari jangkuan kedua lawannya. Ketika jarak di antara mereka terpaut sekitar enam tombak manusia bertubuh ular hentikan gerakannya lalu mengangkat kepala tinggi-tinggi

"Manusia Batu, itulah kunyuknya yang telah membuatku cidera. Hati-hati, dia amat berbahaya." Kata Jabatala mengingatkan. Di dalam hati Jabatala yang punya dendam tersendiri pada manusia ular itu berkata. "Aku sudah pulih, tenaga dalam yang kumiliki juga berlipat ganda karena aku telah mencuri sebagian tenaga dalam yang dimiliki Manusia Batu, Sekarang sudah saatnya untuk membalas."

"Siapa namanya?" Tanya Manusia Batu pada Jabatala

"Namanya Aryu Jeda. Dia adalah sahabat Gagak Banjaran orang yang menyimpan Pedang Cacat Jiwa." Jawab Jabatala memanasi.

Yang dikatakannya ini hanya tipu muslihat. Manusia Batu manggut-manggut. Dia melangkah mendekati Aryu Jeda tanpa menoleh-noleh lagi.

"Manusia bertubuh ular. Aku tidak tahu siapa dirimu, tapi kawanku mengatakan bahwa benda yang kucari kebetulan ada pada temanmu. Pedang itu sangat kubutuhkan di tempat asalku Rimba Batu. Kalau kau mau meminta kawanmu Gagak Banjaran menyerahkan pedang itu padaku secepatnya. Aku bisa mempertimbangkan untuk mengampuni jiwa busukmu dan juga temanmu."

Kata Manusia Batu tegas. "Temanmu yang bernama Jabatala itu adalah seorang buronan kerajaan yang seharusnya sudah menjalani hukuman gantung. Dia seorang penipu, ketahuilah ketika dia bentrok dengan aku dan kawan-kawanku, sesungguhnya perkelahian itu terjadi karena dia berusaha melawan ketika hendak kami tangkap.

"Kau kena dibodohi, aku berani menjamin baik diriku maupun dua kawanku itu sama sekali tidak mengetahui apa lagi menyimpan Pedang Cacat Jiwa yang kau cari. Sepanjang pengetahuanku, pedang itu lenyap sejak enam atau tujuh ratus tahun yang lalu. Tidak ada yang tahu pedang mustika itu kini berada dimana. Jadi sangat jelas bahwa pemuda itu berusaha menipumu...." ujar Aryu Jeda yang diam-diam terkejut tidak menyangka salah satu dedengkot dari Bimba Batu itu ternyata muncul di tanah Jawa.

Melihat gelagat yang tidak baik ini, demi untuk mencapai apa yang menjadi tujuannya Jabatala segera berkata.

"Kau tak usah mempercayai mulutnya yang sangat berbisa. Apa untungnya aku menipu dirimu Manusia Batu. Kutegaskan kepadamu sesungguhnya dialah yang berdusta." Aryu Jeda dongakkan kepala, dia tertawa tapi tawanya pendek saja.

"Kau jangan sampai termakan ucapannya Pedang itu ada di tangan Gagak Banjaran, bila karena ucapannya kau menjadi ragu apalagi sampai membatalkan niatmu, kuanggap kau telah melakukan sebuah ketololan besar."

Manusia Batu sesaat sempat dilanda kebingungan, namun laki-laki yang tubuhnya seatos batu itu kemudian ternyata lebih percaya dengan apa yang dikatakan oleh Jabatala.

"Kau seorang pendusta. Keadaan tubuhmu yang berujud ular adalah pertanda bahwa kau manusia yang tidak bisa dipercaya. Jadi, sekarang kau harus mengatakan padaku, dimana temanmu itu?!"  

Desak Manusia Batu tidak sabar. Jabatala tersenyum melihat hal ini. Dengan adanya Manusia Batu dipihaknya membunuh Aryu Jeda adalah sesuatu yang harus dilakukan agar semua rahasia yang menyangkut jati dirinya tidak teruangkap dan diketahui oleh Manusia Batu.

Namun kini diam-diam Jabatala juga menyesali mengapa dia memindahkan tenaga sakti Manusia Batu ke tubuhnya, padahal tidak perlu mengotori tangannya. Sementara pada saat yang sama, Aryu Jeda berkata dengan nada menyayangkan.

"Kau manusla keras hati, keras pendirian keras kepala. Pantas saja kau dijuluki Manusia Batu. Kau tidak tahu dengan siapa dirimu bersahabat. Padahal sesungguhnya Jabatala adalah manusia culas yang menyembunyikan berbagai macam kejahatan. Salah satu kejahatan yang dilakukannya adalah membunuh orang untuk diambil jantung dan darahnya. Darah dan jantung itu aku yakin bukan untuk dirinya sendiri.

"Darah itu pasti diberikan pada seorang yang kemungkinan baru keluar dari peti mati Kalawa. Seseorang yang kumaksudkan itu kemungkinan adalah anaknya yang terlahir dari hubungan gelap dengan selir ketiga. Manusia Batu...aku melihat dipinggangmu ada cangkang batu, kau pasti masih ingat, waktu itu kau mengambil peti mati Kalawa dari dalam liang lahat yang ditunggu oleh Kaliwangga. Cangkang yang kau bawa-bawa itu kau yakin berasal dari dalam peti. Kau mencari senjata itu bukan? Tapi kau tidak menemukannya?"

"Hah...bagaimana kau bisa mengetahuinya.?!" Tanya Manusia Batu kaget.

Aryu Jeda tersenyum, dia melirik ke arah Jabatala yang gelisah. Saat itu Jabatala berkata.

"Kalau aku tidak menyerangnya, dia bisa bicara banyak dan membeberkan semua rahasia yang aku sembunyikan. Aku harus mengambil tindakan sebelum Manusia Batu berubah pikiran."

Dalam kesempatan yang sama Aryu Jeda berkata. "Manusia Batu, aku bisa melihat sesuatu yang tak sanggup kau lihat karena aku punya jendela jiwa. Ketahuilah, benda yang kau buru tidak tersimpan dalam peti mati itu? Kau tidak perlu memikirkannya, Manusia Batu. Aku menaruh dugaan kuat, peti yang dikubur itu sesungguhnya menyimpan anaknya yang sedang dalam proses. Proses dari calon jabang bayi menjadi anak manusia sesaat."

"Aryu Jeda, mulutmu lancang sekali!" Jabatala dengan suara menggerung. Dia lalu berpaling pada Manusia Batu, pada laki-laki itu Jabatala berteriak.

"Manusia Batu. Kalau kau termakan ucapannya, berarti kau kehilangan kesempatan besar. Dia seorang pembohong, dia pendusta. Dan dia harus dibunuh!" Berkata begitu Jabatala melompat ke arah Aryu Jeda.

Kini pemuda yang telah pulih dari lukaluka yang dideritanya itu melancarkan pukulan jarak jauh dua kali berturut-turut. Aryu Jeda tidak melihat sesuatu keluar dari telapak tangan Jabatala. Namun sekonyong-konyong dia merasakan ada yang menghantam kepala dan bagian tubuhnya. Aryu Jeda menggerung, dia mendorongkan kedua tangannya ke depan. Manusia ular yang hanya memiliki dua tangan namun tidak memiliki kaki itu merasa seperti menghantam tembok batu. Tetapi dia segera mengetahui apa yang dilakukannya.

"Aku tidak menyangka lukanya pulih secepat itu, padahal seharusnya dia tewas akibat pukulan Pemutus Jiwa yang dilakukan dua hari yang lalu," batin Aryu Jeda. Sambil berkata begitu, tiba tiba Aryu Jeda menggerakkan bagian tubuhnya yang lain. Dimulai dari bagian leher, dada dan perut sekujur tubuhnya bergetar hebat. Seiring dengan terjadinya getaran itu sekonyong konyong tubuhnya yang panjang dan besar itu melenting dan bergerak melayang di udara.

Di atas ketinggian dia berputar, lalu ekornya yang melayang-layang itu melibas ke arah Jabatala. Secepat apapun Jabatala berusaha menangkis serangan Aryu Jeda, namun tubuhnya terbanting akibat sabetan ekor Aryu Jeda. Pemuda itu menggeram. Dia bangkit dan siap melakukan serangan balasan, namun pada waktu itu Manusia Batu sudah bergerak mendahului. Saat itu dia berteriak ditujukan pada Jabatala.

"Kau mundurlah,kau sudah pernah merasakan kehebatannya. Sekarang sudah waktunya bagiku menjajal kehebatannya. Kau harus melihat betapa hebatnya diriku. Kau sudah mengambil tenaga saktiku, kau mengira aku tidak mengetahuinya, tapi aku bisa memaafkan mengingat aku masih memandangmu sebagai seorang teman."

Jabatala kaget bukan main. Sama sekali dia tidak menyangka Manusia Batu mengetahui apa yang dilakukannya. Kini dia merasa malu sendiri, tapi semua perasaan itu sebentar saja telah hilang dari benaknya. Kemudian dia malah berteriak memanas-manasi.

"Kau manusia hebat, bila kuambil tenaga saktimu sedikit saja, kurasa dengan cepat tenagamu pulih kembali. Sekarang mengapa kau sibuk membicarakan urusan yang sepele. Bukankah ini adalah kesempatan untuk melenyapkan salah seorang dari tiga pencuri pedang yang sedang kau buru?"

"Hmm, kau benar. Tenaga yang kau ambil pun sudah pulih, tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Aku memberimu maaf dan kufikir aku memang sudah harus melupakan soal urusanku yang kecil itu denganmu." Ujar Manusia Batu.

Celaka bagi Aryu Jeda, keuntungan buat Jabatala. Keputusan Manusia Batu yang melupakan kesalahan Jabatala dianggap sebagai kegagalan Aryu Jeda dalam menempatkan persoalan pada kebenaran yang sesungguhnya. Tapi Aryu Jeda sendiri merasa tidak ada gunanya bicara dengan Manusia Batu. Sesuai dengan julukannya Manusia Batu bukan hanya keras kepala, tapi juga adalah orang yang sulit diajak untuk melihat kebenaran. Kini dia tidak punya pilihan lain, Aryu Jeda sudah mengetahui kehebatan Jabatala.

Dia ingat waktu Itu dia bertiga yaitu Gagak Banjaran, Kaliwangga dan dirinya terpaksa mengeroyok pemuda itu. Kalau seorang diri kemungkinan besar Aryu Jeda kewalahan dalam menghadapi Jabatala. Apalagi kini disisinya ada Manusia Batu. Manusia satu Itu jelas berada dipihak Jabatala. Dia belum mengetahui seberapa hebat kesaktian yang dimiliki oleh Manusia Batu, namun mengingat Manusa Batu bisa menyembuhkan Jabatala yang terkena ajian pukulan Pemutus Jiwa.

Ini bisa diartikan, orang yang bisa menghindarkan seseorang yang telah berada di ambang kematian menjadi selamat. Orang tersebut siapapun dirinya pasti memiliki ilmu yang sangat luar biasa tingginya.

"Takdirku dapat terjadi hanya bila Dewa Kematian memang menghendaki kematianku. Aku sudah lama tidak melakukan tapa brata, hingga aku tidak bisa naik ke kayangan menemui Dewa Kematian. Mungkin sang dewa sudah menetapkan garis kematianku terjadi di tempat ini. Tidak mengapa. Selama ini aku mengabulkan permintaan orang-orang yang sudah bosan hidup. Namun untuk diriku, aku tidak bakal pernah menyerahkan jiwa dan ragaku pada manusia-manusia culas seperti mereka."  

Kata Aryu Jeda dalam hati. Dan semua yang telah diputuskannya dengan bulat, menjadikan dirinya tidak ingin lagi memandang tinggi rendah ilmu lawan. Lenyaplah semua perasaan cemas yang sempat mengusik kalbunya.

"Ketakutanku hanya kuperuntukkan pada Hyang Tunggal, ya hidupku yang telah ratusan tahun setiap waktu aku berusaha menebus kasalahan agar tidak terjadi dosa yang baru. Itu berarti mati dan hidupku tidak berada di tangan mereka."

"Aryu Jeda, apalagi yang kau pikirkan. Apakah kau sudah siap untuk mati ataukah telah berubah pikiran dan segera mangatakan dimana sahabatmu Gagak Banjaran menyembunyikan Pedang Cacat Jiwa?"

Teriak Jabatala yang tidak sabar melihat Aryu Jeda sempat terdiam dalam kebisuan. Aryu Jeda tersenyum sinis, dia menatap Jabatala dengan tatapan dingin menusuk.

"Kau yang membuat kabar bohong itu. Bagaimana mungkin aku bisa memberikan penjelasan tentang sesuatu yang sesungguhnya tidak pernah kau ketahui.?" Ujar Aryu Jeda.

Manusia Batu sudah tidak dapat menutupi kemarahannya. "Dari tadi aku hanya mendengar ocehan yang tidak berguna. Sekarang aku ingin melihat apakah di balik ucapannya itu aku punya sesuatu yang biasa membuat dirimu selamat dari kamatian!"

Kata Manusia Batu. Hampir bersamaan dengan ucapan itu Manusia Batu dengan gerakan cepat melesat ke arah Aryu Jeda. Dua tangannya yang terkepal melayang menghantam kepala dan badan orang tua itu. Angin menderu, hawa pukulan menimbulkan desis mengerikan disertai hawa dingin yang amat luar biasa.

Aryu Jeda sempat terbelalak, tubuhnya terguncang, wajahnya yang terkena terpaan hawa pukulan seperti ditindih batu es membuat darah yang mengalir di kepalanya serasa membeku.

"Ajian Palupuh Es! Dari mana kunyuk jahanam ini bisa mendapatkan ajian sehebat Itu? Bukankah ajian itu hanya dimiliki oleh para Prana Sadra. Gila!.aku tidak ingin celaka, aku harus mengembalikan asal ilmu ini. Tapi aku tidak yakin karena tingkatan Pengasal Segara ilmu yang kumiliki masih belum sempurna." Ujar Aryu Jeda.

Untuk sesaat Aryu Jeda terombang-ambing dalam kebimbangan. Tapi untuk selamat dari ilmu Pelupuh es yang menyerang dirinya, Aryu Jeda tidak punya banyak waktu. Dia harus mengambil keputusan secepatnya. Kalau tidak, dimulai dari bagian tubuh sebelah atas, sebentar lagi dirinya akan hancur lebur menjadi lejehan seperti lahar dingin. Sesst!

Dengan gerakan melayang dibarengi getaran di sekujur tubuhnya akibat serangan hawa dingin yang ditimbulkan oleh ilmu lawannya, Aryu Jeda menggeser posisinya ke samping. Kemudian dua tangannya bergerak cepat, berputar sedemikian rupa, menghantam ke atas, ke depan dan ke samping. Tangan itu lalu disatukan dan ditempelkan di atas ubun-ubun.

Sejenak kemudian bibir si kekek yang terlindung kumis berkomat-kamit, terdengar suara racauan yang mula-mula hanya samar namun kemudian mulai bertambah jelas dan semakin jelas.

"Bermula dari tiada, kemudian menjadi ada, lalu kembali ke tiada. Segala yang hidup asalnya dari yang mati, segala ilmu asalnya juga dari tiada. Yang ada tidak pernah kekal, yang tiada adalah kekekalan yang berkuasa di antara langit dan bumi. Kehebatan kembali ke asalnya, kekuatan kembali keasalnya. Segala yang kembali ke asal tiada artinya"

Setelah berkata begitu Aryu Jeda hantamkan kedua tangannya ke depan. Jabatala tersentak kaget tidak menyangka Aryu Jeda mempunyai ilmu yang dapat mengembalikan segala kekuatan kembali ke asalnya. Sebaliknya Manusia Batu jengkel beberapa kali. Hempasan tubuhnya yang besar dan berat menimbulkan suara berdebum.

"Keparat! Kau punya ajian Pengasal Segara ilmu, tapi aku merasakan ajianmu itu belum sempurna. Dari mana kau belajar? Ha ha ha! Kau jangan bangga dulu. Ilmu yang kau miliki masih mentah hingga tak mampu melumpuhkan seluruh kesaktian yang kumiliki. Sekarang rasakan pukulanku!"  

Teriak Manusia Batu. Aryu Jeda tidak tahu kapan lawannya bergerak, tahutahu Manusia Batu telah berada di depannya. Sementara itu Jabatala juga rupanya tidak tinggal diam. Dia yang sangat mendendam pada kakek bertubuh ular ini hentakkan kakinya. Selagi tubuhnya melayang dia berteriak 
"Manusia Batu, aku tahu kelemahan yang menjadi pengantar kematiannya. Kau hantam tubuhnya bagian atas, sedangkan aku akan menghajar bagian ekornya!"

Teriakan itu sekaligus menyadarkan Aryu Jeda pada bahaya yang mengancam dirinya. Dia tidak tahu bagaimana Jabatala bisa mengetahui titik kelemahan dirinya. Yang jelas jika dia tidak segera menghindar, Jiwanya tak bakal selamat. Seperti kilat menyambar Aryu Jeda menarik kepalanya ke belakang untuk menghindari pukulan menggeledek yang dilepaskan oleh manusia Batu.

Dia lolos, namun ketika hendak menggeser ekornya, Jabatala ternyata bertindak jauh lebih cepat dari yang dilakukannya. Satu pukulan menghantam ujung ekor membuat bagian ekor yang sekeras batu itu hancur, sementara Manusia Batu begitu dua pukulannya luput, kini menghadiahkan tendangan keras yang menghantam bagian perut kakek itu.

Walaupun pada waktu bersamaan Aryu Jeda juga sempat menyerangkan sebuah pukulan yang menghantam wajah Manusia Batu. Namun pukulannya tidak ubahnya seperti membentur tembok baja saja.       Manusia Batu tergetar hebat kepalanya bergoyang ke kiri dan kanan. Aryu Jeda menjerit keras, kepalanya terhempas lebih dulu, sedangkan tubuhnya yang panjang dan besar sempat terguling-guling bagai batang pohon yang menggelinding ke lereng bukit.

Aryu Jeda jelas terluka parah. Jabatala tertawa mengekeh melihat kejatuhan lawannya. Manusia Batu sudah tidak sabar untuk menghabisi lawannya. Pada saat itu, Jabatala berkata.

"Sudah waktunya dia disingkirkan. Mari bersama-sama kita habisi dia, Manusia Batu!"

Belum lagi gema suaranya lenyap di udara. Jabatala dengan bernafsu sekali langsung melesat ke arah Aryu Jeda. Manusia batu juga seperti dedemit yang kerasukan. Dia dan Jabatala nampak saling bersirebut melepaskan pukulan paling keji yang pernah mereka miliki guna untuk menghabisi lawan. Aryu Jeda nampaknya sudah tidak punya kesempatan untuk menyelamatkan diri.

Dalam keadaan terluka sedemikian rupa, bisa saja dia menghindar dengan menggunakan sisa tenaganya, namun tubuhnya terlalu panjang dan besar sehingga sangat mudah menjadi sasaran serangan lawannya. Tidak ada pilihan lain Aryu Jeda pun melindungi diri dengan sisa tenaga yang dimilikinya

"Mampuslah kau, manusia ular!" Teriak Jabatala. "Semoga dapat mati dengan mata terpejam!" Kata Manusia Batu dingin.

Dua tokoh berkepandalan tinggi yang sama sesatnya sama melepaskan pukulan dalam waktu berbarengan.       Akibatnya sangat mengerikan, begitu kedua tangannya mereka hantamkan ke arah aryu Jeda. Saat itu juga dari tangan Manusia Batu melesat cahaya merah terang yang menebarkan hawa dingin mengerikan. Sementara pada waktu yang sama dari tangan Jabatala menderu segulung cahaya yang menebarkan hawa panas menghanguskan.

Jika kedua pukulan yang dilepaskan oleh kedua manusia sesat itu sampai mengenai sasaran, akibatnya pasti mengerikan sekali. Tubuh Aryu Jeda bisa hancur berkeping-keping di bagian atas menjadi serpihan membeku, sedangkan tubuh di bagian bawah hangus menghitam dan menjadi arang. Tetapi pada saat-saat yang paling menegangkan dalam hidup Aryu Jeda pada kesempatan itu tiba-tiba terdengar suara teriakan keras menggelegar.

"Ketamakan menutupi nurani. Hanya manusia manusia keji saja yang tega membunuh lawan yang sudah tidak berdaya!"

Baik Manusia Batu dan Jabatala menoleh ke arah datangnya suara, mereka melihat satu bayangan serba cokelat berkelebat ke Aryu Jeda. Kemudian secepat kilat tangannya berkelebat. Entah apa yang dilakukannya. Tahu tahu terjadi sebuah ledakan keras menggelegar yang membuat Manusia Batu jatuh terduduk sementara Jabatala terlempar sampai tiga tombak.

Manusia Batu terkejut setengah mati. Dia tidak menyangka pukulannya yang mematikan dapat ditangkis oleh seseorang yang muncul menolong Aryu Jeda. Jabatala justru menjadi berang, kegagalannya membunuh lawan yang sudah terluka parah baginya menimbulkan kemarahan tersendiri.

Sementara Aryu Jeda yang selamat segera menatap ke depannya. Dia melihat seorang pemuda tampan tertubuh kekar berpakaian dari kulit berwarna kecoklatan berdiri tegak dihadapannya. Anehnya saat melihat wajah pemuda yang menolongnya itu, hatinya bergetar. Si kakek merasa heran, namun dengan cepat dia melakukan sesuatu. Aryu Jeda yang sudah terluka parah ini segera pejamkan mata dan menggunakan Jendela Jiwa untuk memastikan siapa adanya pemuda ini. Ketika dia melihat asal usul pemuda itu, legalah Aryu Jeda dibuatnya.

"Kejahatan datang, kebaikan tiba. Hanya dia satusatunya orang yang sanggup menghapus angkara murka. Dia sang penyelamat, dia yang bakal menjadi legenda." Kata Aryu Jeda dalam hati. Sementara itu si pemuda yang adalah Saga Merah adaya segera datang menghampiri.

"Engkau tidak apa-apa kek?"

"Anak muda, jangan hiraukan kau. Aku sudah melihat kau turun gunung sebelum kau datang kemari. Aku mengetahui siapa dirimu. Saat ini aku terluka parah. Tapi tidak mengapa, justru kau harus menyingkirkan dua manusia keji yang berdiri di belakangmu itu. Yang bergelar Manusia Batu ilmunya sangat tinggi. Tapi kau harus berhatlhati pada pemuda yang bernama Jabatala itu. Dia manusia keji, selama ini dia menjadi buruan kerajaan akibat perbuatan serongnya dengan selir ketiga.

"Aku hanya bisa mengatakan sesuai dengan penglihatan di balik kasat mataku, dari hubungan gelap Itu terlahirlah anak jahanam. Anak jahanam yang pernah di pendam dalam peti mati Kalawa. Anak yang menurutku memakan jantung dan darah manusia. Kalau bisa kau harus mengorek keterangan darinya. Dia menyimpan sebuah rahasia besar yang harus kau bongkar agar dunia persilatan menjadi tenteram" Kata Aryu Jeda dengan nafas megap-megap.

Walaupun tidak dapat memahami penjelasan si kakek secara keseluruhannya tapi setidaknya murid dari tiga dedengkot di puncak Merapi itu memahami apa yang diinginkan oleh Aryu Jeda. Saga Merah baru saja hendak ajukan pertanyaan, namun pada waktu itu dia mendengar suara bentakan di belakangnya.

"Rambut gondrong berbaju cokelat siapa kau sebenarnya? Mengapa kau mencampuri urusan kami. Apa perlunya kau membantu Aryu Jeda? Apakah kau ingin mati juga?"

Perlahan Saga Merah memutar tubuh, kini dia menghadap ke arah Manusia Batu dan Jabatala. Dia juga mengetahui bahwa yang baru saja bicara adalah pemuda berambut panjang yang bernama Jabatala.

"Siapa diriku tidaklah penting." Ujar Saga Merah.

"Puah, lagakmu sombong amat. Apakah kau tidak tahu dirimu bakal menemui ajal di tempat ini? Kalau kau mati, bagaimana kami menulis nama di batu nisanmu jika tidak kami ketahui siapa namamu?" Kata Jabatala sinis.

Sejauh itu Manusia Batu hanya diam saja, hanya matanya memandang tajam penuh benci pada Saga Merah.

"Rupanya kau dewa kematian kesasar yang datang dari neraka Kambung! Tapi biarlah, jika kau sudah menetapkan kematianku di sini. Perlu kuberi tahu namaku Saga Merah."  

"Saga Merah?" Desis Jabatala sambil mengingat-ingat. "Rasanya aku baru sekali ini mendengar namamu?"

"Itu bukan nama, itu hanya sekedar julukan." Ujar si pemuda.

"Kalau begitu siapa namamu?" Tanya Manusia Batu

"Hmm, cukup kau mengetahui bahwa diriku Saga Merah." Ujar Saga Merah hingga membuat panas hati Manusia Batu yang merasa dirinya hanya dipandang sebelah mata.

"Ternyata bocah bau kencur ini sangat sombong sekali," Geram Manusia Batu sengit. Jabatala menyeringai.

"Dia bukanlah siapa-siapa. Pemuda itu telah berani mengambil resiko dengan mencampuri urusan kita, ini sama artinya bahwa dia harus kita bunuh bersama orang yang dibelanya!"

Kata Jabatala ketus. Manusia Batu mengangguk setuju. Sementara pada kesempatan itu Saga Merah berkata dengan tegas,      

"Ketahuiah bukan aku membela kakek yang bernama Aryu Jeda itu. Yang kulakukan semata-mata karena aku sudah mendengar apa yang kalian perdebatkan. Jadi jangan berkecil hati jika aku tidak berada di pihak seorang penipu sepertimu Jabatala.."

"Eh, kau mengetahui namaku?" Desis pemuda itu kaget.

"Ha ha ha. Aku sudah mengatakan, diriku sudah berada di tempat Ini sejak kalian muncul."

Jabalala kembali hendak bicara, namun Manusla Batu membentak dengan suara keras menggeledek.

"Perlu apa lagi bicara berpanjang lebar dengan cecunguk seperti dirinya. Biar aku yang membunuhnya!"

Dan Manusia Batu melakukan serangan dengan satu tendangan menggeledek. Tendangan keras disertai dengan sambaran angin ganas menerpa diri pemuda itu. Saga Merah keluarkan suara mendengus. Seperti angin dia menghindar, tendangan Manusia Batu luput dari sasaran, sebaliknya Manusia Batu yang memiliki tubuh berat hingga ratusan kali tidak dapat menghentikan laju kakinya Braak!

Sebatang pohon besar yang tadinya berada di belakang Saga Merah berderak lalu hancur dan tumbang. Dengan gerakan kaku Manusia Batu berbalik ke samping, dia melihat Saga Merah telah melompat tinggi, lalu meluncur ke arahnya dengan cepat sambil melakukan serangan ganas dengan menggunakan jurus Naga Membelah Lautan.

Sedapat mungkin Manusia Batu berusaha membaca gerakan lawannya sambil melakukan tangkisan lalu segera melancarkan serangan balik. Tetapi serangan yang dilakukan Manusia Batu ternyata selalu mengenai tempat kosong, sebaliknya serangan yang dilakukan Saga Merah tak dapat dia hindari sehingga beberapa kali tubuhnya terkena pukulan dan tendangan.

Sakit akibat pukulan lawan memang tidak seberapa karena tubuhnya keras bagaikan batu karang, tapi dia merasa malu menjadi bulan-bulanan pemuda yang dianggapnya masih bau kencur itu. Dia menggeram, dua tangan diadu satu satu sama lain. Begitu telapak tangan yang kiri membentur tangan kanan, serta merta mencuatlah lidah api yang segera melesat menyambar ke arah Saga Merah.  

Melihat ini maklumlah pemuda itu bahwa lawannya mulai menggunakan salah satu ilmu saktinya. Di lain pihak, Jabatala yang masih berdiri mengawasi merasa yakin Saga Merah tidak mungkin selamat dari jilatan lidah api yang bergulung bagai ular raksasa itu. Tetapi di luar dugaan semua orang, Saga Merah yang pernah digembleng di bawah hujan petir itu malah berdiri dan menyambut serangan lidah api itu dengan telapak tangan terbuka.

Lidah api berputar membungkus tubuh si pemuda. Jabatala tertawa lebar. Dia tidak menyadari bahwa sesaat kemudian ujung lidah api itu tersedot oleh telapak tangan Saga Merah. Dalam waktu sekejab lidah api amblas ke dalam telapak tangan Saga Merah. Membuat telapak tangan itu mulai ujung jari hingga ke siku berubah merah membara. Akibatnya tidak sampai di situ saja. Manusia Batu sendiri kemudian terhuyung, tubuhnya terseret ke arah pemuda yang menjadi lawannya.

"Telah kusatukan api yang kau kirim kepadaku, Sekarang apimu kukembalikan berikut bunganya!" Kata Saga Merah.

Selagi Manusia Batu terhuyung. Saga Merah hantamkan tangannya ke arah laki-laki itu. Zsst! Wuuuests! Glaar!

Cahaya merah dengan panas tiga kali lipat dari asalnya menghantam Manusia Batu. Laki-laki itu menggerung, tubuhnya laksana mau meledak dan terbakar di sana sini. Manusia Batu bergulingan di atas tanah untuk memadamkan api yang membakar pakaiannya. Sementara itu Saga Merah segera berpaling ke arah Jabatala, dia yang sudah menahan kegeraman sejak tadi berkata.

"Sejak tadi kau tertawa tawa. Aku akan memberimu gula-gula petir, semoga kau senang menerimanya!" Jabatala masih belum menyadari apa maksud ucapan Saga Merah, tahu-tahu lawannya telah melepaskan pukulan Halilintar dua kali berturut-turut. Didahului oleh sambaran kilat yang sangat menyilaukan mata, kemudian berturut-turut dari telapak tangan Saga Merah melesat cahaya biru mengerikan berhawa panas yang sanggup membuat hangus setiap benda yang dilabraknya.

Jabatala menggerung dan keluarkan suara makian, dia menghindar sambil menangkis dengan mendorong tangan kirinya. Sedangkan tangan kanan dipergunakan untuk melindungi diri. Lolos dari sambaran sinar biru pertama dan kedua, diluar dugaan sinar biru datang susul menyusul menyerang dirinya. Jabatala bukan pemuda lemah. Dia bahkan sempat mencuri tenaga sakti Manusia Batu ketika laki-laki itu mengobatinya.

Namun semua tenaga seakan terkuras tidak cukup untuk menghadapi pukulan Halilintar yang datang sambung menyambung itu. Akibatnya Jabatala terlempar jauh, dia jatuh terguling-guling, lalu berhenti dan muntahkan darah. Sebagian pakaiannya hangus, beberapa anggota tubuhnya nampak melepuh hitam. Megap-megap dia bangkit berdiri, lalu mencoba membalas dengan satu pukulan yang keji. Angin menderu, hawa dingin menebar bau amisnya darah.

Saga Merah yang siap menghampiri Manusia Batu urungkan niatnya, dia berbalik. Melihat bahaya yang mengancam, dua tangannya segera disilangkan, namun Saga Merah kalah cepat. Serangan angin sekuat badai yang dilancarkan Jabatala membuat tubuhnya tersapu dan terpelanting sejauh lima tombak. Saga Merah merasa dadanya sesak akibat hantaman angin dan serangan bau amis itu, perut mual seperti diaduk-aduk.

Dia bangkit, namun sebelum tegak sepenuhnya dia melihat Jabatala melesat ke arahnya. Si pemuda melompat ke samping, tetapi bahu kirinya masih kena disambar kaki lawannya. Dia terhuyung, bahunya sakit luar biasa. Sementara itu di belakang sana Jabatala berbalik, kini dia melancarkan tendangan menggeledek dibarengi dengan pukulan yang tertuju ke bagian kepala.

Saga Merah tidak ingin celaka, dia menggunakan jurus warisan Sabai Baba. Jurus itu dikenal dengan nama jurus Tanpa Arah-Tanpa Bentuk-Tanpa Bayangan. Sekonyong-konyong Jabatala menyadari yang menjadi sasaran serangannya mendadak raib. Tendangan dan pukulannya mengenai tempat kosong. Ia terkesima. Belum hilang kagetnya, dari arah belakang menderu hawa dingin yang amat luar biasa.

Laksana kilat Jabatala memutar tubuhnya. Dia melihat lawan rupanya menghantamkan satu pukulan ke arahnya. Pukulan berhawa dingin menggidikkan yang terus mengejarnya kemanapun Jabatala menghindar.       Tanpa diketahui lawan Saga Merah rupanya melepaskan pukulan Prahata. Pukulan itu sifatnya mengejar panas lawannya. Tidaklah mengherankan betapapun Jabatala berusaha menghindar pukulan itu dengan telak menghantam tubuhnya. Jabatala terjengkang, disekujur tubuhnya meneteskan darah. Melihat ini Manusia Batu menggerung. Dia menghampiri Jabatala.

"Dia akan mendapatkan balasan setimpal dari titisanku! Dia tidak akan lolos.." Kata Jabatala dengan suara terputus-putus. Laki-laki itu kemudian terkulai. Manusia Batu menggeram. "Aku akan membalas kan kematianmu, kawanku!"

Kata Manusia Batu. Dia tinggalkan Jabatala lalu menghampiri Saga Merah dengan tatap ingin membunuh Saga Merah tersenyum dingin.

"Lebih baik kau angkat kaki dari hadapanku. Aku tahu ilmumu lebih tinggi dari pemuda itu, tapi kau tidak mungkin menghadapi aku seorang diri."

Pipi Manusia Batu menggembung, gerahamnya bergemeletukan. Jari-jarinya yang terkepal mengeluarkan suara berkereketan.

"Kau manusia sombong! Tahu apa kau tentang diriku?!" Teriak Manusia Batu.

Laki-laki itu bergerak cepat. Dengan satu lompatan Saga Merah kena dicekalnya. Pemuda itu diputar. Lalu dengan sekuat tenaga dibantingnya ke tanah. Tapi dengan gerakan yang gesit Saga Merah melambungkan diri ke atas. Seperti karet bantingan yang keras tidak membuat tubuhnya remuk. Dia meluncur ke bawah. Baru saja jejakkan kaki. Manusia Batu hantamkan tinjunya ke kaki Saga Merah. Blaam!

Pukulan luput, tanah berlubang besar akibat tinju Manusia Batu. Laki-laki bertubuh keras ini bangkit lagi, dia menoleh. Dia melihat lawan berada di sampingnya. Wuus! Sikunya berkelebat mengincar dagu lawannya. Saga Merah dapat membayangkan bila dagunya kena dihantam siku lawan pasti bakal remuk. Dia segera mengambil tindakan. Tangannya bergerak. Siku itu kena ditangkapnya. Kemudian terjadilah dorong mendorong.

Dalam hal tenaga kasar, tentu saja Saga Merah berada jauh di bawah Manusia Batu. Dia terdorong, kedua kakinya terseret. Tapi selintas akal terbersit dalam benaknya. Dia menyalurkan tenaga halilintar ke telapak tangan, tenaga itu kemudian dialirkan ke siku lawan. Tubuh lawan kemudian gemetaran seperti dialiri petir.       Pada saat itu Manusia Batu diam-diam kaget mendadak dia ingin kencing. Dia tidak dapat menahan keinginan itu.

"Apa yang dilakukan kunyuk ini, mengapa tiba-tiba aku ingin kencing?" Batinnya dalam hati. Sejurus kemudian Manusia Batu tak dapat menahan kencingnya. Saga Merah tertawa tergelak.

"Kencingmu banyak sekali. Apakah ini pertanda kau takut menghadapi aku?" Kata pemuda itu.

Dia lalu melompat ke atas, selanjutnya berjumpalitan begitu rupa, di lain kesempatan tangan kanannya telah menempel di bagian ubun-ubun lawannya. Lagi-lagi dia mengalirkan tenaga sakti bermuatan petir ke kepala Manusia Batu. Satu kelebihan yang dimiliki Saga merah, ketika dia salurkan tenaga sakti, dia menyertakan perasaan senang, gembira, suka cita dan yang terakhir adalah perasaan takut yang tidak terhingga.

Dan ini terjadi pada Manusia Batu. Laki-laki itu mula-mula tersenyum, lalu tertawa cengengekan, tapi seperti melihat mahluk yang amat ditakutinya. Ketika melihat lawan menjejakkan kaki di depannya. Dia seperti melihat mahluk mengerikan yang siap meremukkan sekujur tubuhnya. Mahluk itu bermuka buruk luar blasa, mulutnya lebar sekali, giginya panjang dan tajam.

Ketika Saga Merah mendekatinya sambil menguap lebar-lebar, dua matanya terbelalak lebar dimata Manusia Batu mahluk yang dilihatnya seperti hendak menerkam. Untuk pertama kali dalam hidupnya Manusia Batu ketakutan setengah mati. Tanpa pikir panjang seperti orang yang telah kehilangan kewarasannya.

Manusia Batu memutar tubuh lalu berlari menghambur ke arah semak belukar. Manusia Batu menghilang dari pandangan mata. Saga Merah menghampiri Aryu Jeda. Sebelum pemuda itu sempat melakukan sesuatu untuk menolong si kakek. Aryu Jeda malah bertanya.

 "Kau melepaskannya?"

"Aku hanya tidak ingin membunuhnya. Dia tidak cukup pantas untuk mati. Maka aku menghadirkan rasa takut dengan menyalurkan tenaga halilintar ke tubuhnya."

"Bukan hanya tenaga halilintar yang mampu menghadirkan berbagai ilusi dalam diri Manusia Batu. Kurasa kau memiliki ilmu sihir. Kau memanfaatkan ilmu itu untuk mengusirnya?" Ujar Aryu Jeda.  

"Aku memilikinya untuk kebaikan. Tapi dalam kaitannya dengan Manusia Batu, aku murni menggunakan tenaga Halilintar. Ketika aku menyalurkan tenaga itu ke tubuhnya, kusertakan beragam perasaan yang diakhiri dengan perasaan takut yang luar biasa."

"Sungguh, ternyata kau manusia yang terplih. Aku merasa kagum pada tiga gurumu yang telah mendidikmu menjadi seperti ini." Desis Aryu Jeda polos. "Eh, bagaimana kau bisa mengetahui tentang itu."

"Ah, sejauh ini yang tahu tentang mereka hanya aku. Setelah aku orang lain tidak perlu tahu. Kalau pun mereka mencari tahu tentang puncak Merapi dan tiga tokoh ternama yang mereka katakan hanya berupa legenda. Biarlah mereka hanya mengenal seorang murid bernama Petir Kumala."

Lagi-lagi Saga Merah dibuat kaget. Dia tak menyangka Aryu Jeda mengetahui banyak hal tentang puncak Merapi dan penghuninya. Ini sungguh luar blasa. Si kakek terbatuk-batuk, Saga Merah tersadar. Dia menoleh. Pemuda ini melihat ada darah mengalir dari kedua sudut bibir kakek itu.

"Aku akan menolongmu! Kau terluka parah di dalam!" seru Saga Merah kaget. Tapi Aryu Jeda menggeleng sambil menggoyang-goyangkan tangan kanannya.

"Tidak usah. Jangan hiraukan aku. Apapun yang terjadi dengan diriku kini pasti ada kaitannya dengan apa yang kulakukan dimasa lalu. Kematian selalu berhubungan dengan kehidupan, dunia berhubungan erat dengan akherat. Mungkin aku akan mati, mungkin juga masih bisa hidup....."

"Ucapanmu justru membuatku cemas." Kata Saga. Si kakek tersenyum. "Aku akan pulang ke Lembah Kramat. Sementara kau sendiri harus segera pergi ke Rimba Bangkai..!"

"Rimba Bangkai? Dimana tempat itu?"

"Rimba Bangkai dulunya adalah rimba Tanpa Nama, tempatnya terletak tidak jauh dari Bengawan Solo. Aku tidak dapat menyertaimu karena keadaanku yang seperti ini."

"Apa yang terjadi di tempat itu?" Tanya Saga Merah tidak mengerti.

"Kau akan tahu sendiri. Seorang pendekar tidak perlu bertanya, dia justru lebih banyak berbuat, kau harus berhati-hati, hanya itu pesanku!" Kata Aryu Jeda.

"Tapi orang tua..."

Saga Merah tidak sempat melanjutkan ucapannya. Saat itu dia melihat sebuah keanehan. Aryu Jeda yang terluka di bagian ekor dan badan tiba-tiba berubah menjadi cahaya. Dimulai dari bagian kepala yang lenyap terlebih dulu, bagian tubuh yang lainnya segera menyusul. Hanya dalam waktu sekejab, kakek itu raib, hilang dari hadapan Saga Merah.

Pemuda itu terdiam, dia merasa kagum dengan kehebatan yang dimiliki manusia ular. Meski tubuhnya terluka, dia masih sanggup menggunakan ajiannya untuk membawa dirinya pergi.

"Aku hanya berdoa semoga kau selamat, orang tua!" Kata Saga Merah dalam hati. Sang pendekar kemudian bangkit, kemudian tubuhnya melesat tinggalkan tempat itu.  

***

Hanya kegelapan kabut tebal yang menyelimuti pandangan mata. Sejak serangan badai aneh yang menghantam jalan yang mereka lewati. Saat itu Raden Renggo berusaha mencari tahu kejadian apa sebenarnya yang sedang berlangsung. Dia juga ingin tahu apa yang terjadi dengan Durgandini. Tanpa menunggu lebih lama dia segera menggunakan kekuatannya. Raden Renggo berlari melawan badai. Kuatnya hempasan angin membuat tubuhnya sempat terguling.

Namun kemudian dia bangkit lagi, hanya kemauan yang kuat didukung rasa ingin tahu yang besar sang raden kembali meneruskan niatnya, Sayangnya semakin besar kemauan Raden Renggo untuk melihat kenyataan yang tersembunyi, semakin besar pula serangan badai itu. Puluhan batang kayu tercerabut hingga ke akar-akarnya.

Beberapa di antaranya melesat ke arah pemuda itu. Sambil terus berlari, Raden Renggo menyingkirkan terjangan kayu-kayu dengan pukulan jarak jauhnya hingga kayupun hancur dan suasana menjadi tambah riuh hingar-bingar. Pada akhirnya rintangan yang ditimbulkan oleh kayukayu itu berkurang namun belum lagi si raden dapat menarik nafas lega, pada saat itu tiba-tiba muncul kabut di manamana, kabut yang menebar dengan cepat dan seakan datang dari segenap penjuru.

Anehnya kabut itu menebarkan bau amis dan bau busuk yang sangat menyengat. Raden Renggo terkesima, dia merasa ada sesuatu yang dirasakannya tidak wajar. Namun ketika dia menyadari segera menutup jalan nafasnya. Pada saat itu pula dia merasa kepalanya menjadi pusing, pandangan mata mengabur.Tubuhnya yang mengambang di atas ketinggian dalam keadaan berlari mulai kehilangan keseimbangan.

Pada saat seperti itulah dia melihat sembilan bayangan. Bayangan aneh yang kemudian menyerang dirinya dari segala penjuru. Dalam keadaan tersadar dan bersiaga penuh, tentu Raden Renggo akan mudah menghindari serangan ganas tersebut walaupun serangan datangnya dari berbagai arah. Tetapi dirinya saat itu terlalu banyak menghirup kabut berbau amis itu. Karuan saja meskipun dia berusaha melawan, namun pukulan maupun tangkisan yang dilakukannya tidak sesuai dengan yang diharapkannya.

Akhirnya dia merasa ada tiga totokan mendarat di beberapa bagian terpenting di tubuhnya. Raden Renggo merasakan tubuhnya kaku sulit digerakkan, dia berusaha membebaskan totokan ditubuhnya, namun satu totokan lagi mendarat dipangkal leher hingga membuatnya terjatuh dan tidak sadarkan diri. Rasanya hanya itu yang sanggup diingat oleh Raden Renggo. Apa yang menimpa dirinya seteieah itu dia tidak tahu.

Kini setelah entah berapa lama begitu tersadar Raden Renggo membuka matanya. Mula-mula dia mendapati dirinya terkapar di sebuah ruangan. Ruangan yang seluruhnya terbuat dari kayu sebesar paha. Dia juga melihat pintu yang terdiri dari balok balok kayu. Hanya kesunyian yang dirasakannya tanpa terlihat adanya penjaga. Dalam kesunyian itu dia mengendus bau amis. Bau ini mengingatkannya pada kejadian yang membuatnya kehilangan keseimbangan.

"Siapa yang membawaku kemari, siapa pula yang menyerangku. Aku melihat sembilan bayangan serba putih, sepertinya mereka perempuan. Kupikir bukan Durgandini karena gadis itu berpakaian kuning gemerlap dan memakai mahkota" terlentang cukup lama dia terdiam.

Dia kemudian menggerakkan tubuh. Kening berkerut begitu dia menyadari kedua tangannya dalam keadaan terbelenggu ke belakang. Di samping itu tiga totokan di tubuhnya juga belum hilang.

"Aku tidak pernah mendapat perlakuan memalukan seperti ini. Siapa saja yang berbuat seperti ini padaku dia akan menerima balasan yang menyakitkan. Bila dirinya laki-laki aku bakal meremukkan batok kepalanya, seandainya perempuan aku akan menodainya pulang pergi, baru kemudian kubunuh!"

Geram Raden Renggo. Kemudian dia berusaha menenangkan diri, perlahan dia mengatur nafas setelah itu sang raden mulai menghimpun tenaga dalamnya. Tetapi diam-diam dia kaget ketika mendapati tenaga dalamnya seolah lenyap hilang entah kemana.

"Kurang ajar. Pengaruh racun yang terkandung dalam kabut yang kuhirup itu ternyata masih berpengaruh bagiku.. Tapi aku harus mencobanya lagi. Aku akan melenyapkan pengaruh racun," setelah itu Raden Renggo tidak melanjutkan ucapan.

Sebaliknya dia segera mengosongkan pikiran dan memusatkan perhatian pada hati. Des! Des! Dari sekujur tubuh pemuda berpakaian mewah itu mengepul asap tipis kebiru-biruan. Pengaruh racun lenyap. dan kini tanpa menunggu dia segera kerahkan tenaga ke bagian tubuh yang tertotok. Dess! Tiga kali totokan itu berhasil dimusnahkan.

Sekarang yang harus dilakukan adalah melepaskan rantai yang membelenggu tangannya. Sayang sebelum belenggu dapat dilepaskan, pada saat itu dia mendengar suara langkah kaki mendekati ruangan tempat dirinya dikurung. Seketika si raden menoleh ke arah pintu yang terkunci, Di depan pintu yang masih tertutup muncul seseorang. Orang itu berpakaian penari, wajahnya cantik, tubuhnya menebarkan bau harum semerbak mengundang gairah bagi laki-laki yang melihatnya.  

"Durgandini...?" Desis Raden Renggo kaget. Dari balik celah balok kayu kayu pintu gadis yang dikenalnya tersenyum. Senyumannya menawan tanpa memperlihatkan rasa bersalah sedikitpun.  

"Raden ternyata kau sudah sadar, kaupun masih belum pikun akibat pengaruh kabut Asmara Durga.." kata gadis itu.

"Kau bukankah kau yang telah membuat semua kekacawan ini?" Tanya Raden Renggo ketus, geram juga penasaran. Lagi-lagi si gadis tersenyum. Setelah membasahi bibirnya dengan lidah, dia berucap.  

"Tidak usah sembarang menuduh. Kau tidak tahu apa-apa. Bisa saja yang memasang perangkap adalah Prabu Kesa. Kalau aku penyebab kekacauan mana mungkin ilmuku sehebat itu."

"Kalau begitu mengapa kau tidak membebaskan aku. Bukankah Prabu Kesa yang mengurungku di sini?" Kata si raden.

Yang dikatakan itu hanya pancingan karena dia ingin mengetahui bagaimana reaksi Durgandini. Diluar dagaan Durgandini tertawa.

"Hi hi hi. Aku senang mendengar ketololanmu raden. Kau penuh ambisi, kau penuh keinginan, sayang semuanya itu tidak didukung dengan kecerdikan otak. Kau tidak punya pilihan, sebagai orang yang memiliki pengaruh di dunia lelembut aku memintamu untuk mengumpulkan segenap kekuatan yang berasal dari dunia gaib. Kekuatan itu harus kau himpun di sini, kau juga harus meninggalkan keratonmu. Kita membangun sebuah istana di sini dengan bantuan mahluk lelembut, tentu sebuah Istana megah dapat didirikan dalam waktu satu malam."

Raden Renggo Sabalangit tercengang. Dia tidak menyangka gadis itu telah menipunya mentah-mentah. Semula ketika datang ke keraton dia mengaku keselamatannya terancam karena Prabu Kesa hendak menjadikannya seorang selir. Dia datang ingin minta bantuan. Tidak tahunya semua ucapannya itu hanyalah muslihat untuk menjebak dirinya.

"Durgandini siapa dirimu yang sebenarnya?"

"Hi hi hi. Aku? kau ingin mengatahui siapa diriku? Tidak lama lagi kau pasti bakal mengetahuinya."  

Kata gadis itu sambil mengumbar tawanya. Mendidih darah raden Renggo, penipuan yang terjadi atas dirinya adalah sesuatu yang sangat memalukan.

"Jadi tentang Prabu Kesa sebenarnya kau hanya mengada-ada. Penguasa kerajaan Purwa Dipa itu sesungguhnya tidak pernah datang kemari bukan?" Kata Raden Renggo berapi-api. Durgandini menggelengkan kepala.

"Tidak Raden. Prabu Kesa tidak pernah datang kemari. Dia juga tidak pernah punya keinginan untuk menjadikan diriku sebagai selirnya. Tapi dia jelas merupakan musuhku yang nyata, musuh yang harus disingkirkan. Aku ingin menjalin kerjasama denganmu. Kalau kau berpihak kepadaku, aku yakin istana Purwa dapat kita ratakan dengan tanah."

Raden Renggo tertawa dingin. "Kau pikir dirimu siapa? Orang sepertiku tidak mungkin berada di bawah perintah. Kau jangan bermimpi. Justru kaulah yang bakal menyesal seumur hidupmu karena berani membohongi aku." Geram laki-laki itu.

"Oh bagaimana sikapku, apakah aku harus takut mendengar ancamanmu. Kau tidak mau bekerja sama, aku tidak memaksa, tapi nasibmu bakal sama seperti mayat mayat yang tergantung di rimba bangkai atau nasibmu bahkan lebih buruk dari mayat yang ditemukan patihmu dalam gerobak kudaku!"

Kata Durgandini tidak mau kalah. Diam-diam Raden Renggo terkejut setengah mati. Sama sekali dia tidak menyangka bahwa mayat-mayat yang memenuhi rimba Tanpa Nama itu ternyata merupakan korban dari Durgandini. Tapi untuk apa dia membunuhnya? Durgandini seakan mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh raden Renggo. Dengan tenang dia berucap.

"Raden. Setiap orang yang melawan kehendakku, maka dia akan mati. Kusayangkan kematiannya tidak akan mudah. Orang itu bakal mengalami penderitaan mengerikan. Demikian juga dengan dirimu. Kau manusia yang punya kebebasan, kau memiliki kesaktian. Dan itu akan membuatku bangga bila telah mengambil bagian terpenting dari tubuhmu."

Raden Renggo tidak tahu maksud ucapan Durgandini. Dia lalu ingat dengan mayat yang dilihatnya tergantung di pohon-pohon. Mayat itu semuanya dalam keadaan kering kehilangan darah. Dadanya dijebol, dada itu menganga dan kemungkinan besar kehilangan jantungnya. Semula dia berpikir Prabu Kesa yang telah melakukannya. Tidak disangka-snagka ternyata gadis ini pelakunya.

"Apa yang akan kau lakukan gadis gila?" Hardik Raden Renggo.

Saat itu diam-diam dia berusaha memutuskan belenggu yang mengikat tangannya. Tetapi walau telah mengerahkan tenaga dalam, rantai yang terbuat dari akar tumbuhan merambat yang telah dibekukan itu sulit untuk diputuskan. Sementara Durgandini kini telah membuka pintu kerangkeng yang dipergunakan untuk mengurung si raden. Gadis itu berdiri berkacak pinggang tidak jauh dari hadapan Raden Renggo.

"Waktuku tidak bakal kubuang dengan percuma. Sekarang aku ingin memanfaatkan tubuhmu. Mula-mula akan kulubangi ubun-ubunmu.Setelah itu darahmu bakal kusedot." Ucapan si gadis terhenti karena mendadak terdengar suara.

"Perempuan keji! Berani kau menyentuhnya, jiwamu tidak bakal kuampuni!" Kata satu suara.

Ucapan itu disusul dengan terdengarnya suara berderak. Dinding dan pintu di bagian depan jebol. Durgandini terkejut. Dia balikkan badan. Di depan sana dia melihat seorang laki-laki tua berpakaian serba hijau. Melihat kehadiran laki-laki itu dia tersenyum.

"Ternyata kau Patih Kelabang Lawa. Kau tidak mati diamuk badai ciptaanku? Hi hi hi. Tapi kau tidak perlu khawatir. Ku lihat wajahmu yang pucat, kau pasti telah menghirup kabut Asmara Durga." Kata gadis itu.

"Kau gadis keji jahanam, sejak semula aku sudah menduga. Sesungguhnya kau seorang pendusta besar" maki Patih Kelabang Lawa.

"Paman patih, tenyata yang kau katakan benar. Syukurlah kau berhasil menyusulku kemari." Ujar Raden Renggo merasa lega.

Bagaimana Maha Patih ini bisa menyusul dan menemukan tempat kediaman Durgandini. Seperti telah diketahui, begitu lolos dari sergapan badai dia melihat sebuah jalan. Jalan itu kemudian dia telusuri. Akhirnya dia menemukan sebuah dusun. Tempat itu memang tidak jauh dari Bengawan Solo. Patih Kalabang Lawa kemudian memeriksa setiap rumah yang ditemuinya. Di dalam rumah dia menemukan mayat-mayat bergelimpangan.

Mayat mayat itu seluruhnya hampir membusuk. Karena rata-rata mengalami luka yang sama, yaitu sebuah lubang di bagian dada. Jadi desa itu telah berubah menjadi sebuah dusun kematian yang dipenuhi oleh mayat-mayat mengenaskan. Dari sini semakin kuat dugaan sang patih bahwa Durgandini punya kaitan yang erat dengan kematian mereka.

Patih kelabang Lawa tambah khawatir atas keselamatan pangerannya. Dia melakukan penyisiran. Akhirnya dia menemukan sebuah bangunan sederhana tidak jauh dari ujung desa. Dan kebetulan dia mendengar suara Durgandini. Tanpa menunggu dia mendobrak.

"Bagaimana keadaan Gusti." Tanya Patih Kelabang Lawa begitu melihat junjungannya terkapar tidak berdaya.

"Keadaanku? Gadis jahanam ini rupanya bisa membuat dirinya menjadi banyak. Dia menotokku selagi diriku menghirup kabut beracun. Totokan itu kini telah kumusnahkan, tapi tanganku masih terbelenggu." Keluh Raden Renggo.

"Jangan khawatir raden, aku akan membebaskan Raden!" Ujar sang patih. Dengan langkah lebar dia melangkah menuju ke tengah ruangan. Tapi dengan tidak terduga, Durgandini kibaskan tangannya. Angin sedahsyat topan menderu melabrak sang patih, membuat tubuhnya terpelanting sementara bangunan porak poranda dan beterbangan ke segenap penjuru.

Bukan hanya patih yang memiliki kesaktian tinggi itu saja yang dibuat kaget. Raden Renggo sendiri terbelalak matanya melihat tindakan yang dilakukan oleh Durgandini. Mereka tidak menyangka, Durgandini ternyata memilik kesaktian di luar yang mereka duga. Gadis itu berkacak pinggang, matanya nyalang memandang ke arah sang patih dan Raden Renggo silih berganti. Wajahnya yang cantik jelita nampak mengelam, hilang sudah semua kelembutan yang ditampilkannya selama ini.  

"Kalian adalah orang tidak tahu diri. Diberi hidup malah minta mati. Kau selalu anggap dengan kekuatan raden Renggo, kau ingin melihat kesaktianku yang sesungguhnya? Kau pentang matamu lebar-lebar, pertama patihmu yang akan kujadikan korban!"

Teriak gadis itu. Dan si gadis tidak bergerak kemana-mana, dia cukup berdirl di tempatnya. Hanya tangannya yang bergerak, melayang di udara seperti menampar. Akibatnya sungguh luar biasa. Patih Kelabang Lawa merasakan seperti ada sesuatu yang tidak terlihat membentur keras kepalanya. Orang tua itu tidak akan menjerit bila hanya ditampar seribu tangan orang biasa. Tapi yang terjadi ini sungguh mengerikan. Walau dia sudah menghindar sambil menangkis, tapi yang dilakukannya tidak punya arti.

"Gadis terkutuk. Tanpa menyentuh dia sanggup membuat kepalaku seperti mau remuk. Aku akan menyerangnya!"

Batin laki-laki tua geram. Sang Patih kemudian melesat ke arah Durgandini. Si gadis menyambutnya dengan tawa dingin. Sementara itu selagi bergerak di atas ketinggian, Patih Kelabang Lawa mengawali serangannya dengan pukulan tangan kosong. Pukulan yang dilepaskannya juga tidak kepalang tanggung. Dia menghantam lawan dengan pukulan ajian Peluruh Raga.

Akibat yang ditimbulkan oleh pukulan itu sungguh mengerikan. Yang menjadi sasaran tubuhnya akan tercerai berai dari ujung kaki hingga batok kepala. Sepuluh sinar kehitaman berkiblat, di sepuluh titik tubuh Durgandini. Tetapi si gadis hanya melambaikan tangannya. Serangan Patih Kelabang Lawa musnah tidak berbekas.

Ketika Durgandini menggerakkan tangannya secara berputar, tubuh Patih Kelabang Lawa ikut berputar. Si kakek berusaha bertahan dari serangan lawan yang dirasakan aneh sekali. Sayang benar dirinya telah menggunakan tenaga sakti sambil melepaskan pukulan dan tendangan menggeledek. Lawan tidak terpengaruh.

Sebaliknya ketika Durgandini menggerakkan tangan kirinya dari depan ke belakang sang patih tersedot ke arahnya. Selanjutnya sesuatu yang tidak disangka dan dengan gerakan luar biasa cepatnya Durgandini mengambil tindakan yang terbilang keji. Ketika lawan berada dalam jangkauan tangannya. Jari-jari tangan si gadis berkelebat. Patih Kelabang Lawa yang berusaha menyelamatkan diri menjerit.

Tubuhnya melenting tinggi, darah mengucur. Durgandini membuka mulutnya lebar-lebar. Darah yang seharusnya jatuh ke tanah kini tersedot masuk ke mulut gadis itu. Sementara tangan kanannya tampak menggenggam sesuatu yang berlumuran darah. Raden Renggo terkesima. Dia tidak percaya dengan yang dilihatnya. Dia menyadari Patih Kelabang Lawa terluka parah. Tapi bagaimana gadis itu dapat melakukannya, melukai sang patih yang memiliki ilmu tinggi.

Ketika sang patih berada dalam jangkauan gadis itu. Dia langsung menghantam remuk kepala Kelabang Lawa, sementara itu tangan kirinya menjebol jantung. Begitu dada dijebol, jantungnya dirogoh. Tidak mengherankan bila tangan Durgandini berlumur darah dan memegang jantung Patih Kelabang Lawa.

"Patihmu telah kehilangan darah dan nyawanya, Raden. Kau lihatlah ini!" Ujar Durgandini.

Dia lalu membuka mulutnya lagi. Kemudian sebuah benda berwarna merah yang masih berdenyut dimasukkan ke mulutnya. Benda yang ternyata jantung itu amblas lenyap. Raden Renggo keluarkan suara seperti orang yang mau muntah. Sementara itu Patih Kelabang Lawa sendiri sudah jatuh terkapar dalam keadaan tidak bernyawa.

Mula-mula Raden Renggo merasa ngeri melihat kekejaman yang dilakukan Durgandini. Tapi demi melihat nasib patihnya yang mengenaskan, kini kemarahan laki-laki itu justru tidak tertahankan lagi.  

"Perempuan terkutuk, ternyata kau bukan manusia. Kau kaluak, iblis berhati keji. Kekejamanmu melebihi binatang buas!"

Maki Raden Renggo sengit. Durgandini mengumbar tawa dingin.

"Aku telah melakukan hal yang sama sebanyak hitungan yang tidak terhingga. Itu sebabnya hutan di sekitar sini dipenuhi oleh mayat mayat hasil korbanku. Tetapi biasanya darah dan jantung orang yang memiliki kesaktian justru akan membuat kekuatanku menjadi bertambah. Kekuatanku semakin tidak tertandingi bila aku memakan darah dan jantungmu. Nah, kau masih punya pilihan. Jika mau bergabung berarti kau bakal panjang umur, siapa tahu kita bekerja sama. Kita bakal menjadi pasangan yang hebat."

"Aku tidak sudi."

Teriak Raden Renggo. Sertamerta dia menyentakkan belenggu di tangannya. Dalam kemarahan yang sudah tidak terbendung lagi ditambah pengerahan tenaga dalam penuh dia mampu membebaskan belenggu ditangannya. Tapi Durgandini yang sadar gelagat tidak menguntungkan dan menyadari betapa tinggi ilmu Raden Renggo tidak mau mengambil resiko.

Dia segera berkelebat. Tangannya yang berkuku panjang setajam pedang berkelebat ke arah perut Raden Renggo, si raden tidak menyangka bakal mendapat serangan kilat. Dia berkelit menyelamatkan perutnya dari sambaran kuku lawan. Perutnya selamat, namun salah satu kakinya terbabat putus akibat serangan itu. Pada waktu bersamaan Raden Renggo berhasil menyarangkan satu pukulan ke dada Durgandini.

Gadis itu terlempar. Sakit yang dia rasakan memang luar biasa, namun yang lebih memalukan lawan memukul dadanya. Dia bangkit sambil menyeringai. Matanya memandang mendelik penuh kebencian.

"Kau akan membayar mahal akibat perbuatanmu." geram Durgandini.

Raden Renggo tidak menjawab. Dia yang sudah kehilangan salah satu kakinya sibuk menotok jalan darah di bagian pangkal kaki. Durgandini tambah gusar. Dia menyalurkan tenaga dalam ke tangan kanan dan kiri. Dua tangan itu kemudian berubah menjadi biru kehijauan. Durgandini nampaknya sudah siap membunuh Raden Renggo dengan serangan keji.

Namun sebelum niatnya terlaksana. Tiba-tiba dia mendengar suara desir angin di belakangnya. Si gadis yang memiliki pendengaran sangat tajam segera memutar badan. Begitu dia berbalik dia mendengar bentakan.

"Kita telah mendengar semua yang dia katakan. Sungguh aku tidak menyangka, hanya dalam waktu tiga purnama dia sudah menjadi gadis dewasa."  

"Sahabatku! Malapetaka itu ada di depan kita, kita telah tertipu. Dia pasti putri selir ketiga hasil hubungan gelap dengan Jabatala."

Ujar suara lainnya. Durgandini tertegun, matanya memandang mendelik ke arah dua laki-laki tua yang berdiri tak jauh di depannya. Laki-laki yang berada paling depan berpakaian serba putih, rambutnya juga memutih sebagian. Tubuhnya tinggi. Sementara yang satunya lagi berpakaian kuning di bagian dalam sedangkan pakaian luarnya juga berwarna putih.

Secara naluri walaupun saat itu Durgandini merupakan calon bayi yang terbungkus rahim membatu. Dia menyadari siapa kedua laki-laki itu. Ini karena Durgandini bukan manusia yang lumrah. Tubuhnya yang cantik memang terdiri dari kulit dan daging tapi jiwanya berisi kejahatan dalam seribu kegelapan.

"Kalian berdua, rasanya aku mengenal kalian. Harusnya aku merahasiakan siapa diriku, tapi begitu melihat kalian berdua. Aku jadi tidak bisa menyimpan segala ganjalan dihati."

Kata gadis itu ketus. Dua laki-laki yang adalah Gagak Banjaran dan Kaliwangga saling melempar pandang. Kemudian Kaliwangga melangkah maju dan berkata.

"Kami telah mencarimu kemana-mana. Tidak tahunya kau berada di hutan ini menebar maut dan membuat malapetaka."

"Apa urusanmu?" Dengus Durgandini.

"Ah, kau lupa siapa dirimu. Bukankah kau mengenal ayahmu yang bernama Jabatala. Bukankah dia yang selama ini mencarikan jantung dan darah untukmu?" Ujar Kaliwangga.

"Oh, kau rupanya tahu Jabatala adalah ayahku, apakah kalian tahu bahwa ibuku bernama Banowati telah mempersembahkan darah dan jantungnya juga untuk diriku?" Kata Durgandini.

Baik Kaliwangga dan Gagak Banjaran diam-diam terkejut mendengar Durgandini.

"Kalian jangan salah pengertian, yang membunuh selir ketiga adalah ayahku. Aku hanya tinggal menikmati darah dan jantungnya saja." Kata Durgandini sambil tertawa, Walau merasa prihatin atas nasib yang dialami oleh selir ketiga, Namun mereka menyadari selir ketiga memang pantas mendapatkan hukuman seperti itu atas penyelewengan yang dilakukannya.

"Aku tidak perduli dengan selir ketiga. Yang jelas tindakanmu yang keji itu harus dihentikan!" Kata Gagak Banjaran.

"Hi hi hi. Aku tahu siapa dirimu, kau sesungguhnya adalah orang yang paling bertanggung jawab atas semua kesalahan. Kau tidak perlu menyamar Gusti Prabu Kesa" Kata Durgandini.

"Raden Renggo, inilah orangnya yang kau cari, bukankah kau ingin membunuhnya?" Kata gadis itu. Dia lalu menoleh ke arah orang yang diajaknya bicara, Tapi dia terkesima ketika mengetahui Raden Renggo telah lenyap. Saat itu sayup-sayup dia mendengar suara si raden di kejauhan. "Ingat perbuatanmu hari ini. Kelak aku akan membalas berikut bunganya."

Durgandini tersenyum sinis "Kau bingung Durgandini? Orang yang telah kau lukai mana mungkin dapat kau ajak bersekutu." Kata Kaliwangga, orang tua itu sunggingkan senyum mengejek.

"Kau tidak tahu apa-apa wahai pertapa tengik. Kau mengira aku tidak ingat kau menjagai peti mati tempat diriku dipendam selama tiga purnama. Kalian berharap dapat melenyapkan diriku, tapi diluar yang kalian kira aku justru terus tumbuh dan berkembang."

"Itu sebuah kesalahan. Seharusnya aku menghancurkanmu begitu dirimu masih berupa ujud yang belum jelas. Aku tidak tahu yang kutemukan dalam genangan darah ternyata adalah rahim, dimana didalamnya terdapat calon bayi. Tapi adalah mengherankan bagiku, bagaimana dirimu dapat hidup?" Ujar Gagak Banjaran yang sesungguhnya adalah Prabu Kesa.

"Oh, aku lupa mengatakan bahwa aku bukan manusia sepertimu. Proses hidupku berlangsung cepat. Satu purnama bagiku sama dengan enam tahun. Dalam tiga purnama aku telah menjadi delapan belas tahun. Usiaku dapat mencapai ribuan tahun, aku dapat awet muda selamanya. Sementara sekarang kekuatanku sudah mendekati tingkat sempurna, itu karena aku memakan darah dan jantung manusia. Nah yang menjadi persoalan sekarang adalah bagi kalian tidak ada jalan meloloskan diri"

"Ini suatu kebetulan. Aku bukan manusia pengecut yang takut mati. Sehebat apa dirimu aku pasti akan menangkapmu." Ujar Gagak Banjaran alias Prabu Kesa berwibawa.

Durgandini dongakkan kepala, kemudian dia tertawa tergelak-gelak. Setelah puas tertawa dengan wajah bengis dia berkata.

"Kau tak bakal bisa melakukannya. Salah salah kau bakal mati di tanganku dan memang, sudah sepantasnya kalian mati karena kalian secara tidak langsung sangat membenciku. Sekarang siapa yang ingin mampus duluan!?" Tanya gadis itu.

"Gagak Banjaran, penyamaran tidak ada gunanya. Untuk yang terakhir kalinya aku memanggilmu Gusti Prabu..."

"Hei, kau jangan bicara begitu. Apa maksudmu terakhir kalinya?" Kata Prabu Kesa cemas.

"Aku melihat sesuatu yang tidak bisa dihindari. Kelak aku akan menitis pada seorang bocah yang terlahir dengan tanda di dada. Bila Gusti panjang umur dan bertemu dengan bocah dengan tanda yang hamba maksudkan. Gusti harus menjadi kacungnya selama seratus hari. Apapun yang dilakukan si bocah, Gusti tidak boleh mengeluh atau memarahinya. Bila bocah itu terlahir sesuai dengan ciri-ciri yang kusebutkan.

"Ketahuilah bahwa saat itu dunia ini dilanda kekacauan. Kelak akan terjadi peperangan besar selama sepuluh tahun, banjir selama tiga tahun, kelaparan selama lima tahun. Kesengsaraan lima tahun, barulah setelah itu kehidupan menjadi aman dan sentosa. Itulah gambaran yang kudapat dari pertapaanku Gusti. Hanya itu dan kini sudah saatnya kuhadapi dia." Ujar Kaliwangga dengan suara lirih dan hanya dapat didengar oleh Prabu Kesa.

Sang Prabu merasa terenyuh. Dia tidak menyangka Kaliwangga bakal bicara seperti itu. Dia ingin melarang sahabatnya bertempur dengan Durgandini. Tapi dia mana mungkin bisa mencegah kehendak takdir. Tapi dia ragu, apakah mungkin Durgandini yang masih muda belia sanggup mengalahkan Kaliwangga yang sudah berpengalaman dan berilmu tinggi. Sebelum Prabu Kesa sempat memberi tanggapan apa apa atas pertanyaan saling pandang.

"Apakah kalian takut mati? Kalau takut sebaiknya berlututlah di bawah kakiku.Kemudian akui bahwa kalian takluk kepadaku!"

"Kelihatannya indah sekali. Kami yang sudah tua bangka harus berlutut di telapak kaki gadis ingusan sepertimu. Hmm, aku Kaliwangga mewakilinya untuk memberikan pelajaran bagimu!" Ujar orang tua itu.

"Dengan menggunakan apa kau hendak melawanku?" Tanya Durgandini terkesan menganggap remeh lawannya. Kaliwangga tidak menjawab, sebaliknya malah kepalkan tinjunya.

"Hik hik hik! Banyak orang berkepandaian tinggi bahkan mengunakan senjata hebat, tidak satupun dari mereka yang dapat lolos dari kematiannya. Aku sama sekali tidak mengecilkan arti dirimu, pertapa. Tapi aku berani bertaruh kau bakal terkapar dalam beberapa gebrakan saja."

Kata-kata Durgandini sama sekali tidak berpengaruh bagi Kaliwangga. Lain halnya dengan Prabu Kesa. Penguasa kerajaan Purwa Dipa yang sering mengembara seorang diri itu merasa geram sekali.

"Kau tidak layak menerima penghinaan seperti itu, sahabat Kaliwangga. Mulutnya sangat beracun...." Geram sang prabu.

Sebagai seorang pertapa, sudah barang tentu Kaliwangga tidak mudah terbawa emosi. Satu yang harus dipikirkannya adalah bagaimana caranya meringkus gadis itu. Selagi Kaliwangga berpikir, ketika itu Durgandini kiranya mengambil kesempatan. Cepat sekali tubuhnya berkelebat ke atas pepohonan. Tangan bergerak cepat, walau tindakannya tanpa menyentuh namun ratusan lembar daun berhasil diraihnya.

Durgandini lalu menggerakkan daun-daun itu dengan tenaga dalam ke arah Kaliwangga. Hebat luar biasa. Daun yang sangat ringan itu kini bagaikan lembaran mata pisau bergerak cepat, menderu menghantam Kaliwangga dari segala penjuru arah. Di bawah sana si kakek sempat terkesima, namun dia menyadari apa yang harus dilakukannya. Tanpa menunggu orang tua ini bergerak dengan lincah hindari hunjaman daun yang oleh Durgandini dirubahnya sedemikian rupa sehingga menjadi senjata yang sangat berbahaya.

"Selamatkan dirimu, Kaliwangga!"

Kata Prabu Kesa memperingatkan. Kaliwangga tidak menjawab. Dia yang telah menyalurkan tenaga dalamnya ke bagian tangan dan kaki segera menghantam ke arah dedaunan yang melesat ke arahnya secara bertubi-tubi. Daun yang dipergunakan untuk menyerang oleh lawannya dibuat rontok, sisanya terus melayang dan menggores tubuh Kaliwangga sehingga pakaiannya robek di beberapa bagian akibat sambaran daun itu, Melihat kenyataan ini baik Kaliwangga maupun Prabu Kesa mulai menyadari betapa sangat tingginya tingkat tenaga dalam yang dimiliki Durgandini.

Tapi Kaliwangga tidak perduli. Kini dia membalas serangan Durgandini dengan pukulan dan tendangan yang sangat berbahaya. Durgandini tidak menyangka Kaliwangga ternyata cukup tangguh, jurus-jurus yang dipergunakan oleh orang tua itupun walau terkesan sederhana namun tidak mudah untuk dipatahkan.       Malah dua kali tendangan dan pukulan si kakek mendarat ditubuhnya. Gadis cantik namun berhati iblis ini sempat terhuyung.

Dia lalu memutar tubuhnya. Pada saat itu satu jotosan mendarat di pipi membuat pipi si gadis berubah kemerah-merahan. Durgandini menjadi marah, dia yang memang tidak punya kesabaran tidak menunggu lebih lama. Kini gadis itu mulai mengerahkan ilmu andalannya yang memiliki banyak keanehan itu. Mula-mula si gadis menggeram, selanjutnya dia hantamkan kedua telapak tangannya ke arah tanah. Tempat disekelilingnya bergetar. Durgandini bangkit. Sekujur tubuhnya juga ikut bergetar, wajahnya berubah aneh sedangkan matanya juga tampak berputar liar.

"Kau..aku berkuasa di rimba bangkai! Siapapun yang berani menentangku. Maka baginya telah kujanjikan kematian yang paling mengerikan! Orang tua, kau berada dalam kekuasaanku. Sekarang bergeraklah kemari!"

Teriak gadis itu. Kaliwangga terkejut sekali begitu menyadari tubuhnya seperti dibetot ke arah lawannya. Sekuat apapun dirinya berusaha menolak keinginan lawan tetap saja tubuhnya terseret.  

"Gerakanmu terlalu lambat. kukatakan cepat mendekat, melayanglah seperti burung. Kemarilah ...kemari... serahkan nyawamu, serahkan jantungmu..."

Kata gadis itu. Suaranya sangat berpengaruh, menggetarkan segenap jiwa dan perasaan. Dalam keadaan seperti itu Kaliwangga segera mengosongkan pikiran. Dia menyadari selain menggunakan ilmu kesaktian yang tinggi, lawannya juga menggunakan sejenis ilmu sihir. Ketika Kaliwangga dapat menguasai diri kembali.

Dia melihat lawan sangat terkejut sekali. Mempergunakan kesempatan ini Kaliwangga melakukan serangan cepat yang mematikan ke bagian kepala dan perut Durgandini. Kaliwangga bergerak seperti bayangan. Angin menderu, hawa dingin menyerbu ke arah Durgandini.Walau gadis itu telah berusaha menghindar, namun gerakan lawannya ternyata jauh lebih cepat dari dirinya.

Buuuk! Traak!

Pukulan itu berhasil mengenai sasaran. Malah Kaliwangga melihat kepala lawannya dapat dibuat remuk. Dia sama sekali tidak mengetahui bahwa yang dia lihat semata-mata hanya sebuah pemandangan yang berbeda dari kenyataan. Hanya orang yang berada di luar perkelahian itu saja yang melihat kenyataan yang sebenarnya. Prabu Kesa melihat kenyataan itu, dia menyaksikan betapa Durgandini sengaja menunggu kedatangan serangan itu.

Ketika Kaliwangga berada dalam jangkauannya, dia berkelit. Lalu dengan cepat melakukan tindakan yang tidak pernah terduga. Tangannya berkelebat. Satu terarah ke dada satu lagi tertuju ke bagian tenggorokan. Anehnya kemudian Kaliwangga seakan-akan baru tersadar begitu dirinya mendengar suara teriakan Prabu Kesa,

"Kaliwangga, awas di depanmu!"

Laki-laki itu berusaha mengelak dengan membuang tubuhnya ke samping, namun tindakan itu kalah cepat.       Kaliwangga menjerit sambil mendekap tenggorokannya yang menganga lebar. Saat itu dia masih sempat melihat jari tangan kanan Durgandini berlumur darah. Sebelum Kaliwangga tersungkur, Prabu Kesa berteriak keras melihat bencana yang menimpa sahabatnya itu.

Ketika Durgandini membalikkan badan memandang ke arah Prabu Kesa, ternyata sang prabu bukannya bergerak menghampiri Kaliwangga yang sudah jatuh tersungkur melainkan melesat ke arahnya sambil melepaskan satu tendangan menggeledek dan tusukkan senjatanya yang berupa sebilah tombak bermata tiga.

Sehebat apapun Durgandini, namun yang menyerangnya adalah orang yang mempunyai kesaktian dan tingkat kepandaian tinggi. Apalagi sang prabu telah terlebih dahulu menyerang sebelum lawan melihatnya. Tidak dapat dihindari lagi, walau si gadis berusaha berkelit bahkan balas menghantam, dia hanya dapat menghindari tendangan Prabu Kesa.

Sementara tusukan tombak dengan telak menembus perutnya hingga ke punggung. Durgandini meronta. Prabu Kesa terus mendorongkan tombaknya.

"Ini balasan yang kuanggap belum setimpal dibandingkan dengan kejahatan yang kau lakukan." Geram orang tua itu. Durgandini menyeringai.

"Kau tidak pernah bisa membunuhku!"

Kata gadis itu. Sekonyong-konyong si gadis berhasil membetot lepas tombak yang menancap diperutnya. Pada waktu bersamaan tinjunya melesat menghantam ke bagian dada sang prabu. Pukulan yang sangat keras luar biasa itu sama sekali tidak diduga oleh sang prabu. Tak dapat dihindari lagi orang tua ini terjungkal.

Dia merasa dadanya seperti mau meledak. Ketika sang prabu memandang ke arah dada, dia melihat pakaiannya hangus, di balik pakaian kulitnya juga menghitam. Asap mengepul menebar bau kulit terbakar, Prabu Kesa berusaha bangkit, dadanya semakin berdenyut.

"Gadis ini ternyata memiliki pukulan yang keji". pikir sang prabu. Dengan terhuyung dia melihat ke depan. Sang prabu tambah kaget ketika melihat Durgandini yang terluka parah akibat tusukan tombak saktinya ternyata malah tersenyum mengerikan. Hebatnya luka itu kini tidak meninggalkan bekas. Entah ilmu kesaktian apa yang dimiliki oleh gadis itu. Segala yang terjadi rasanya sulit untuk dipercaya.

"Ha ha ha! Kau heran tua bangka? Kau pasti sempat berpikir bahwa tusukan tombakmu pasti bisa membuatku celaka. Kau tak perlu bingung memikirkan segala keanehan ini prabu. Aku mempunyai kekuatan tubuh yang berbeda dengan manusia lumrah. Luka separah apapun yang kualami hanya dalam waktu yang singkat segera menutup kembali.

"Mengapa begitu, aku telah memakan ratusan jantung dan darah manusia. Orang sepertimu tidak mungkin punya keistimewaan seperti itu. Dan kau telah terkena pukulan Karang Reksa. Itu berarti jika kau terus memaksakan diri menghadapiku, tubuhmu bakal mengalami perubahan. Mula-mula kepala dan tanganmu yang mengeras, setelah itu sekujur tubuhmu bakal berubah seperti patung. Hi hi hi."

Prabu Kesa terdiam, dia menyadari sesungguhnya dirinya memiliki kesaktian yang sangat tinggi. Sayang dia belum sempat menggunakan seluruh kemampuan yang dia miliki, lawan dengan tidak terduga menciderainya begitu rupa. Yang terjadi pada dirinya adalah hal yang tidak pernah disangka-sangka. Hal ini karena dia yakin Durgandini pasti tewas akibat tusukan tombak mautnya.

Tapi dia sendiri tidak yakin, apakah yang dikatakan si gadis memang kenyataan atau hanya berupa gertakan saja. Prabu Kesa menggerakkan kakinya ke depan. Dia terkejut, sekujur tubuhnya bergetar dan seperti mau meledak. Sementara dadanya berubah panas dan berdenyut. Melihat ini Durgandini tertawa.

"Seperti yang kukatakan kau bakal menjadi patung hidup yang membatu. Kau kehilangan tahta, kerajaanmu akan kupindahkan ke rimba Bangkai ini. Aku bakal berkuasa. Bagaimana perasaanmu....!"

"Kau gadis keji jahanam. Aku akan membuat perhitungan denganmu!" Geram Prabu Kesa alias Gagak Banjaran.

"Kau tidak mungkin sanggup membebaskan diri dari pengaruh pukulanku, kau tidak bisa berbuat apa-apa."

"Dia tidak bisa, tapi aku bisa melakukannya. Pengaruh pukulanmu akan kumusnahkan. Dan kau bakal menyadari bahwa di atas langit masih ada langit...."

Durgandini tersentak, dia tidak tahu dari mana suara itu datang dan siapa yang bicara. Selagi si gadis mencari cari siapa gerangan yang baru saja bicara. Serta merta dari balik pepohonan yang lebat melesat satu bayangan serba coklat ke arah mereka. Hanya sekejab sosok bayangan itu telah jejakkan kakinya di samping Prabu Kesa.

"Kau siapa?" tanya sang prabu sambil menatap ke arah pemuda berambut gondrong itu.

"Saya sudah mendengar semuanya Prabu. Saya Saga Merah. Gusti tidak mengenal saya. Bagi saya itu tidak penting, saya sendiri memang sedang mencari-carinya."

Ujar si pemuda yang memang Saga Merah adanya. Prabu Kesa manggut-manggut, walau tidak mengenal pemuda itu dia yakin Saga Merah kemungkinan mau menolongnya. Karena itu dia segera berkata.

"Siapapun dirimu kuharap kau berhati-hati. Dia amat berbahaya." Saga Merah tersenyum.

"Saya tahu apa yang saya lakukan!"

Ujar pemuda itu. Sementara itu Durgandini sendiri memandang heran melihat kehadiran pemuda itu. Dia menatap Saga Merah, dia melihat wajah yang tampan itu. Diam-diam Durgandini membatin.  

"Wajah tampan rambut gondrong. Dia bahkan lebih tampan bila dibandingkan dengan Raden Renggo. Hmm, andai saja aku dapat menariknya hingga berpihak padaku, aku pasti bakal menjadikan dirinya pengantin yang paling kusayangi."

Durgandini tersenyum, dia lalu berkata, "Pemuda tampan, siapa dirimu kau sudah mengatakannya pada orang tua itu. Aku ingin tahu apa tujuanmu!"

"Tujuanku? Apakah kau lupa dengan dosa-dosa yang telah kau perbuat? Seluruh rimba Tanpa Nama telah kau ubah menjadi Rimba Bangkai. Bukankah semua itu hasil perbuatanmu?" Tanya Saga Merah dingin. Durgandini tersenyum, sedikitpun dirinya tidak menunjukkan rasa bersalah.

"Aku tidak tahu apa maksudmu, orang-orang itu sama seperti Prabu Kesa datang ke tempat ini ingin mengantarkan nyawa. Aku Perawan Rimba Bangkai begitu mereka menjuluki diriku hanya melakukan sesuatu yang memang seharusnya aku lakukan. Mengapa kau hendak ikut campur? Bukankah lebih baik kau bergabung denganku, aku jelita kau tampan. Jika kita menjadi suami istri, tentu keturunan kita memiliki rupa yang bagus." Ujar gadis itu.

"Sayang sekali aku tidak tertarik dengan tawaranmu. Justru aku datang kemari untuk menghentikan perbuatanmu!" Tegas Saga Merah.

"Aku sangat menyayangkannya. Padahal aku sudah merasa tertarik padamu begitu melihatmu tadi. Kita ternyata di jalan yang berbeda, untuk kau ketahui, siapa saja yang berani menentang keinginanku. Baginya tidak ada lagi jalan terkecuali mati!"

"Hmm, ancamanmu terdengar sangat mengerikan!" Kata Saga Merah disertai senyum sinis.

"Aku bukannya mengancam, kau lihatlah buktinya!"

Durgandini menutup ucapannya dengan satu gerakan kilat. Mula-mula gadis ini memang ingin menjajal kehebatan lawannya. Tidaklah mengherankan secara diam-diam dia menyalurkan tenaga dalam ke bagian tangan. Durgandini melesat ke arah lawan, selagi tubuhnya bergerak dengan kecepatan tinggi, dua tangannya melesat ke dada pemuda itu secara bersamaan.

Dari sambaran angin akibat serangan itu Saga Merah dapat merasakan betapa serangan itu sangat berbahaya, ganas dan mengandung racun. Tapi bagi pemuda itu yang juga pernah direndam di dalam kawah beracun tidak mau mengambil resiko. Serta merta dia menyambut serangan itu. Benturan keras terjadi, dua tangan saling melekat satu sama lain.

Terjadilah saling dorong. Saga Merah sedikit pun tidak menduga bahwa tenaga dalam yang dimiliki gadis belia itu ternyata tidak berada di bawahnya. Sebaliknya Durgandini juga terperangah. Semula dia menyangka pemuda ini pasti dapat dipukulnya hingga terluka. Tapi kenyataan yang dia rasakan sungguh mengejutkan. Pemuda itu tidak bergeming. Durgandini penasaran.

Dia menghimpun tenaga dalamnya, setelah itu dengan satu sentakan dia salurkan tenaga itu ke tangan. Pada waktu yang sama tak terduga lawan juga melakukan hal yang sama. Akibatnya sungguh mengerikan.       Pengerahan tenaga dalam yang dilepaskan secara mendadak itu membuat keduanya sama terpental sejauh tujuh tombak. Durgandini menggerung.

Kedua tangannya serasa remuk, dadanya berdenyut dan ini belum pernah terjadi pada dirinya selama menghadapi lawan sehebat apa pun. Dia merayap, lalu bangkit dengan terbungkuk-bungkuk. Di depan sana, Saga Merah merasa tangannya kesemutan, dadanya bergetar dan sempat menyesak. Namun dia segera bangkit, mengatur nafas sebentar hingga jalan darahnya menjadi normal kembali.  

"Tidak kusangka ilmumu tinggi, dan tanpa kusangka tenaga dalammu juga sangat hebat. Tapi aku seorang puteri kegelapan, aku perawan Rimba Bangkai yang tiada tanding. Lihat serangan.!"

Teriak Durgandini. Gadis itu tiba-tiba memutar tubuhnya. Wuus! Dalam waktu sekedipan mata gadis itu raib, tapi kemudian muncul di samping pemuda itu. Saga Merah segera menghantam sebelum tendangan Durgandini menghantam wajahnya. Plak! Benturan keras terjadi antara tangan dan kaki.  

Pemuda itu terhuyung. Durgandini tertawa, dengan lututnya dia yang masih mengapung di atas ketinggian menghantam rusuk sang pendekar. Pemuda ini jatuh terguling-guling, Durgandini terus mengejar. Dia tidak hanya melepaskan tendangan saja, tapi kini menghujani lawannya dengan pukulan mematikan yang mengandung hawa panas dan dingin.

Hanya berkat jurus Tanpa Arah-Tanpa Bentuk-Tanpa Bayangan serangan ganas yang dilakukan gadis jelita itu selalu luput dan mengenai tempat kosong. Durgandini penasaran. Dia berbalik, tangan kirinya meluncur ke bawah siap menghantam dada. Tapi lawan dengan gerakan aneh segera berjungkir balik. Begitu berdiri dia mendorong tangan kirinya. Durgandini terkesiap. Dia terpaksa batalkan serangan.

Lalu dengan tangan kanan dia menangkis pukulan Saga Merah. Terjadi ledakan berdentum saat dua pukulan jarak jauh saling bentur di udara. Debu mengepul, asap tebal menghitam disertai bau busuk. Dalam keadaan seperti itu, Durgandini tiba-tiba melompat ke arah lawan, setelah itu dua tinjunya menderu, hawa panas menebar.

"Pukulan Karang Reksa!"

Desis sang pendekar. Sadar pukulan itu amat berbahaya, Saga Merah tidak mau bersikap sungkan. Seketika dia melepaskan pukulan Kajakala. Ilmu warisan kakek Sun ini bermuatan angin es. Siapapun yang menjadi korbannya sekujur tubuhnya bakal membeku. Pukulan ini sesungguhnya sangat jarang dipergunakan, namun mengingat lawan sangat berbahaya Saga Merah terpaksa menggunakannya.

Untuk yang kesekian kalinya kembali terjadi ledakan menggelegar. Baik Durgandini maupun Saga Merah sama terpelanting dan terkapar. Keduanya sama menderita cidera. Prabu Kesa mengkhawatirkan keselamatan pemuda apalagi ketika dirinya melihat ada darah mengalir dari mulut pemuda itu.

Tapi Durgandini juga menderita cidera di dalam, terbukti dari hidung dan mulutnya meneteskan darah segar. Gadis itu segera bangkit, dia menggigit bibir, kini hanya kebencian yang tersisa dalam dirinya.

 "Aku harus menggunakan ilmuku yang lain. Dengan kekuatan sihir kurasa dengan mudah dia dapat kulumpuhkan!"

Batinnya dalam hati. Mulailah Durgandini menyilangkan dua tangan didada, seiring dengan itu mulutnya berkomat-kamit. Saga Merah duduk bersimpuh, sambil mengobati luka dalamnya dia pun mulai membaca mantra-mantra warisan Sabai Baba salah satu warisan gurunya yang juga telah mewariskan ilmu sihir kepadanya. Pada saat itu tangan Durgandini perlahan bergerak ke atas kepala. Setelah itu dia berteriak.

"Mendekatkah kau kemari sayangku! Serahkan jantungmu karena jantungmu tidak berguna!"

Setiap kata yang terucap tentu saja mengandung kekuatan sekaligus gerakan gaib yang dapat mempengaruhi siapa saja. Namun yang terjadi pada Saga Merah justru sebaliknya. Dia sama sekali tak terpengaruh, dia tetap diam di tempat duduknya. Malah kemudian dia berkata,

"Sihirmu boleh juga, tapi kau yang harus mendengar panggilanku. Mendekatlah kau kemari, bukankah kau mengaku suka padaku. Kalau benar suka datanglah, duduk dipangkuanku, aku ingin sekali memelukmu!"

Durgandini diam-diam terkesima, ucapan Saga Merah sangat berpengaruh, dia berusaha melawannya. Tapi kakinya seolah tidak dapat ditahan. Kaki itu hendak bergerak, dia juga punya rasa keinginan untuk duduk dalam pangkuan Saga Merah.

"Hiaa..."

Durgandini menggelengkan kepala keras-keras. Dia melipat gandakan kekuatan sihirnya. Dua kekuatan berinti kekuatan gaib saling tarik-menarik dan saling mempengaruhi, membuat tubuh mereka bergetar hebat. Wajah dan sekujur tubuh sang pendekar kini mulai berubah memerah. Ini adalah salah satu pertanda Saga Merah sedang menghadapi ancaman yang serius.

Pada puncak mengadu kekuatan sihir itu terjadi sebuah letupan yang menebarkan bau amis. Durgandini terhuyung dada dan kepalanya seperti hendak meledak. Di lain pihak sang pendekar juga mengalami guncangan di dalam. Dia menyadari Durgandini bukan lawan sembarangan. Karena itu tidaklah mengherankan sambil menggunakan ilmu sihirnya, Saga Merah menghantam lawan selagi lengah dengan pukulan Roh Sang Suci.

Angin sedingin es melesat dari telapak tangan Saga Merah, menyambar Durgandini dan terus menggulungnya. Durgandini beruntung segera melindungi diri dengan tenaga inti murni yang berpusat dipusarnya. Pukulan itu tentu akan menghancurkan jaringan otak dan mengacaukan pikiran.

Dalam keadaan terguling-guling, gadis itu lalu memutar tangannya. Dia lolos dari pukulan Roh Suci, penuh kemarahan tanpa menghiraukan kesakitan di sekujur tubuhnya dia melompat tinggi, lalu menghantam dengan ajian Pemasung Jiwa. Yang dilepaskan si gadis adalah sebuah ilmu langka.

Ajian Pemasung Jiwa bila sampai mengenai pemuda itu dapat menjadikannya lumpuh cacat seumur hidup tanpa dapat disembuhkan. Sang Pendekar yang sadar lawan memiliki beragam jenis ilmu kesaktian nampaknya telah berpikir lebih jauh tentang apa yang harus dia lakukan. Saat itu dia yang sudah menempelkan tangan kanannya ke dada segera berseru.

"Wahai pedang berjiwa, pedang yang memiliki roh. Aku membutuhkan kehadiranmu sekarang juga..."

Secepat kilat menyambar, dari tubuh Saga Merah memancarkan cahaya merah menyilaukan. Cahaya itu kemudian membentuk sebilah pedang yang sangat aneh bentuknya. Pedang itu seperti cristal, mula-mula berbentuk bayangan. Bayangan pedang itu kemudian menembus keluar seolah menjebol tubuh sang pendekar. Pedang yang keluar dari tubuhnya tidak menimbulkan rasa apa-apa terkecuali perasaan sejuk.

Hanya dalam waktu singkat, pedang telah berada dalam genggaman sang pendekar. Saga Merah menggerakkan tangannya, pedang berkiblat disertai cahaya menyilaukan. Tanpa ampun pukulan Durgandini menghantam pedang. Tetapi ajian yang dilepaskan si gadis berbalik, menghantam Durgandini. Si gadis jelita menjerit. Dia terluka parah akibat serangannya sendiri. Selagi Saga Merah bangkit berdiri.

Durgandin kibaskan tangannya ke tanah. Mengepullah asap tebal menutupi pandangan. Ketika asap lenyap, si gadis jelita telah raib dari hadapan Saga Merah. Saga Merah kembali menempelkan tangannya ke dada. Pedang Roh lenyap menjadi cahaya, cahaya merah yang kemudian seolah amblas menyatu dengan tubuhnya. Pada saat itu sayup-sayup dia mendengar si gadis yang seakan datang dari delapan penjuru.

"Aku ingat dengan kejadian hari ini. Kelak kau akan merasakan pembalasanku. Aku akan datang untuk membunuhmu dalam ujud yang tidak disangka-sangka."

Kemudian suara itu lenyap. Saga Merah menyeringai, dia menoleh. Dilihatnya Prabu Kesa masih berdiri ditempatnya. Wajah orang tua itu nampak pucat kesakitan namun penuh khawatir atas keselamatan sang pendekar

"Gusti...aku tidak apa-apa. Sekarang aku akan membebaskanmu dari pengaruh pukulan Karang Reksa." ujar pemuda itu. Prabu Kesa mengangguk, diam-diam dia merasa kagum melihat kelihaian pemuda itu. Selagi dia berpikir tentang Saga Merah, justru pemuda itu menghantam punggungnya.  

Sang pendekar terus menempelkan tangannya. Sang Prabu meraung ketika merasakan sekujur tubunya seperti diaduk-aduk. Kabut berbau busuk menebar meninggalkan sang prabu. Tidak sampai sepenanakan nasi, Prabu Kesa merasa tubuhnya kembali normal. Perlahan sang pendekar menarik tangannya kembali. Saat itu dia berkata.

"Bersyukurlah pada Hyang Tunggal atas kesembuhanmu Gusti."

"Aku bersyukur pada Hyang Tunggal dan berterima kasih padamu, Datanglah ke istanaku. Aku mengundangmu, di sana aku memiliki dua orang puteri, mereka pasti akan senang dengan kehadiranmu!"

Kata sang prabu tulus. Saga Merah tersenyum.

"Saya bukan siapa-siapa, undangan gusti sangat berarti. Sayang untuk saat ini saya tidak dapat memenuhi undangan itu, tidak tahu kalau lain kali. Saya harus pergi Gusti...." Ujar Saga Merah. Sang pendekar melihat wajah Prabu Kesa sedikit kecewa. Dengan suara layaknya bukan seorang raja dia berucap. "Aku tidak memaksa. Kapan saja pintu istanaku terbuka untukmu."

"Terimakasih. Semoga Gusti dapat kembali ke istana dengan selamat." Ujar pemuda itu. Sang pendekar memutar badan, dia lalu melangkah pergi. Dalam hati dia berpikir seperti apakah dua puteri yang hendak diperkenalkan padanya itu. Dibelakangnya Prabu Kesa justru merasa telah berhutang nyawa pada Saga Merah. Dia berharap suatu hari pendekar muda itu datang ke istananya. 

S E L E S A I