Serial Pendekar Cambuk Naga Eps 02 : Rahasia Sendang Bangkai

Mode Malam
1

BUMI bagai bergemuruh bising. Suara kasak-kusuk menjalar dari mulut ke mulut. Orang-orang yang berada di kedai tak henti-hentinya saling bisik, mereka diliputi perasaan cemas dan tegang. Hampir semua mulut bicara dalam gumam, di sela gerutu, dan dirayapi kegemetaran. Bumi bagaikan berisi berjuta-juta lebah yang menggaung.

Katmi, anak pemilik kedai yang ada di seberang Dalem Kadipaten Nilakencana itu duduk termenung di pojokan. Wajahnya kelihatan murang dan was-was. Ada salah seorang lelaki mendekatinya. Lelaki itu baru saja datang dari mengangkut sayuran memakai gerobak sapi tunggal. Lelaki itu belum mengetahui, mengapa semua orang dalam ketegangan.

"Katmi...." sapanya. "Ada apa sebenarnya kok semua orang kelihatan gelisah begitu? Ada apa sih?"

"Apa kau belum dengar, Kang?" jawab Katmi lirih.

"Tentang apa?"

"Tentang... tentang Dewi Cambuk Naga." Lelaki yang menyampirkan bajunya di pundak dan masih berkeringat itu menggumam sejenak. "Yang ku tahu, Pendekar Cambuk Naga akan menikah dengan Pendekar Pusar Bumi. Kalau aku tidak salah dengar... hari ini, ya? Hari ini perkawinan itu akan berlangsung. Betul?" "Ya. Tapi... Dalem Kadipaten

sekarang sedang geger."

"Lho, geger soal apa itu?" "Pengantin diculik."

Lelaki itu terbelalak kaget. "Pengantin diculik? Maksudmu, Pendekar Cambuk Naga ada yang membawa kabur, begitu?!"

"Bukan pengantin putrinya yang diculik, tapi... justru Pendekar Pusar Bumi yang diculik dan dibawa kabur."

"Edan...!" lelaki itu semakin terkejut dan menegang.

“Benar. Memang edan. Bayangkan saja, perkawinan akan berlangsung hari ini, eh... tadi malam ada penculikan yang amat edan. Umumnya pengantin putri diculik oleh bekas kekasihnya, atau siapa saja lah. Tapi, kali ini justru pengantin pria yang diculik. Padahal Pendekar Pusar Bumi itu bukan laki-laki sembarangan. Ilmu dan kesaktiannya sempat menjadikan tokoh-tokoh persilatan gemetar. Siapa yang tidak mengenal pedang Wisa Kobranya yang mampu memotong benda apapun, termasuk besi? Siapa yang tidak mengenal kegesitan jurus-jurusnya dan keampuhan ilmu Wiwaha Moksa-nya itu? Tapi mengapa pendekar setangguh dia masih ada yang mampu menculiknya? Siapa gerangan orang yang berhasil memperdaya dan membawa lari pendekar tangguh yang memang gagah dan menawan itu?”

Ludiro sangat gelisah. Semalam ia tak sempat mencegah Putri Ayu Sekar Pamikat alias Pendekar Cambuk Naga, yang melesat cepat meloncati pagar bumi Dalem Kadipaten begitu ia mengetahui sesosok bayangan membawa kabur calon suaminya Ludiro ingin menyusul Sekar Pamikat, namun Adipati Reksoguno menahannya.

"Jangan gegabah," kata Adipati Reksoguno mengingatkan Ludiro. "Ingat, orang yang mampu melumpuhkan Lanangseta dan membawanya lari, jelas bukan orang sembarangan, Ludiro. Aku yakin, ada jebakan yang sudah diatur di luar Dalem Kadipaten ini, yang bisa mencelakakan para pengejar."

Tubuh sedikit bungkuk dengan ketuaan seorang bangsawan terlihat menyimpan keprihaT tinan yang pilu pada diri Adipati Reksoguno. Ludiro hanya berani membantah beberapa kali, selebihnya ia tak berani lagi. Karena Adipati Reksoguno mengatakan, "Jika kau tidak memahami kata-kataku, silakan pergi. Dan kau akan gagal menyelamatkan Sekar Pamikat, maupun Pendekar Pusar Bumi itu. Ingat, saranku bergeraklah dengan keberhasilan, jangan bertin-dak dengan kesia-siaan."

Semalaman Ludiro tidak bisa tidur. Ia mondar-mandir di sekitar taman Kadipaten, bahkan berulangkali mengelilingi Dalem Kadipaten, meneliti dan memeriksa apa saja yang ditemuinya. Pikirannya tak jauh dari Nawang Puri.

"Pasti dia yang telah menculik Lanangseta!" gumam Ludiro dalam kegeraman yang meluap-luap.

Siang itu, seorang penghulu datang. Dialah sesepuh Kadipaten Nilakencana yang ditunjuk untuk meresmikan setiap perkawinan warga Kadipaten Nilakencana Tapi agaknya kali ini penghulu Badra tidak mengetahui hilangnya pengantin pria, sehingga ketika Adipati Reksoguno menjelaskannya, ia sangat terkejut.

"Semalaman saya tidur dengan nyenyak sekali sehingga tidak sempat mendengar kabar tersebut. Maafkan saya Kanjeng Adipati," ucapnya dengan suara tua yang serak. Ia hanya mengenakan jubab, abu-abu yang sangat sederhana, duduk di lantai sambil memegangi tasbih warna merah. Dari rona wajahnya ia kelihatan menyesal dan ikut bersedih.

"Badra," kata Adipati Reksoguno yang sudah sama tuanya dengan penghulu Badra, "Kali ini aku mendapat penghinaan dari pihak luar. Aku baru saja mengangkat anak, Sekar Pamikat, lalu ingin mengawinkannya, tapi gagal. Diganggu oleh setan tak tahu sopan!"

Penghulu Badra hanya menunduk, penuh hormat dan rasa segan. Adipati Reksoguno menggeram menahan kemarahan. "Apakah kau  bisa  membantuku,

Badra?"

"Sepantasnya tugas itu Kanjeng limpahkan kepada saya, mengingat saya adalah sesepuh Kadipaten yang pernah menjabat sebagai penasehat Kanjeng sendiri. Tetapi apalah daya saya yang sudah tua renta ini. Mungkin tak ada kesanggupan untuk menang bertanding melawan penculik jahanam itu. Akan tetapi, Kanjeng... izinkan saya memeriksa seluruh Dalem Kadipaten ini, barangkali ada sesuatu yang bisa saya lakukan. "

"Pasti itu jawabanmu. Aku tahu, Badra. Dan aku tak pernah melarangmu untuk berbuat baik di Dalem Kadipaten ini, bukan?"

Penghulu Badra didampingi Ludiro memeriksa setiap sudut Dalem Kadipaten. Matanya yang menyipit karena kelopak matanya sudah keriput membuat Ludiro sangsi, apakah penghulu Badra mampu menangkap benda kecil yang patut dicurigai.

"Di mana kamar pengantin pria?" tanyanya kepada Ludiro.

"Mari, saya tunjukkan. Tapi... kuncinya dibawa oleh pelayan kamar."

Ketika itu pelayan kamar lewat di seberang sana, Ludiro segera memanggilnya penghulu Badra menatap pelayan kamar beberapa saat, kemudian menggeleng samar-samar, seakan mengatakan: "Bukan dia orang yang patut dicurigai."

Pintu kamar pengantin pria dibuka. Keadaan di dalam kamar masih rapi. Tidak ada tanda-tanda bekas pertarungan, tidak ada gelagat yang mencurigakan. Mata sipit penghulu Badra memandang setiap inci ruangan itu. Kasur masih rapi, selimut sutra tebal masih terlipat, meja marmer dan seperangkat tempat minum masih utuh. Lantai bersih, tak ada sebutir debu pun. Ludiro berkata pelan, "Sudah saya periksa berulangkali, tapi tak ada benda apa pun yang patut dicurigai."

Penghulu Badra yang mengkok mangut-manggut. Tangannya masih mempermainkan kalung tasbih dari biji-bijian berwarna merah. Mungkin itu biji atau buah saga. Entahlah, Ludiro tidak mengetah uinya.

Mendadak penghulu Badra menggumam, dan manggut-manggut lebih jelas lagi.

"Aku tahu siapa penculiknya," katanya pelan, tapi sempat membuat Ludiro berkerut dahi.

"Siapa?"

"Seorang perempuan yang berjuluk: Peri Sendang Bangkai."

"Peri Sendang Bangkai?" gumam Ludiro. "Dari mana Ki Badra tahu kalau dia yang membawa lari Lanangseta?"

Penghulu Badra tersenyum tipis, sangat ti-pis. Matanya masih menatap kian kemari, memandang dinding-dinging dan langit-langit atas. Ludiro ikut memandang demikian, namun ia tidak menemukan apa-apa dalam pandangannya.

"Tak ada benda yang kulihat mencurigakan. Apakah Ki Badra menemukannya?"

Penghulu Badra menggeleng. "Lantas, dari mana Ki Badra bisa memastikan bahwa Peri Sendang Bangkai yang menculik pengantin pria?"

"Bau..." katanya pendek, pelan dan seakan acuh tak acuh.

Ludiro mengerutkan dahi lebih dalam. "Bau? Bau bagaimana maksud Ki Badra?"

"Kamar ini berbau. Ada aroma khusus yang menyengat hidungku, yaitu aroma wangi bau kembang Nirmala. Hanya Peri Sendang Bangkai yang mengenakan wewangian kembang Nirmala. Yaaah... masih membekas di kamar ini. Pasti dia telah masuk ke mari dan mengerjakan sesuatu lalu membawa lari pengantin pria."

"Di mana tinggalnya? Maksudku, kira-kira ke mana ia membawa Pendekar Pusar Bumi itu?"

Penghulu Badra melangkah ke luar dari kamar. Ia bicara bagai ditujukan kepada dirinya sendiri.

"Di Sebelah Selatan Kadipaten ini, ada pegunungan yang bernama Gunung Carakan. Di seberang gunung itu ada tanah tinggi yang dinamakan Bukit Badai. Nah, di kaki Bukit Badai itulah terdapat Sendang Bangkai. Penguasa Sendang itu adalah seorang perempuan yang bernama Areswara, bergelar Peri Sendang Bangkai. Dia pula yang menjadi pimpinan parangadis siluman Sendang Bangkai. Ilmunya tidak bisa dianggap Ringan. Hanya bisa dikalahkan dengan... uukh...!"

Tiba-tiba penghulu Badra mengejang, matanya mendelik. Ludiro kaget dan kebingungan. Segera mata Ludiro memandang liar ke sekeliling. Sekelebat bayangan turun dari pohon di pertamanan, meloncat dan menghilang ke luar pagar Dalem Kadipaten.

"Ki Badra..?!" Ludiro mengutamakan keselamatan penghulu Badra. Tetapi orang tua itu hanya berdiri kaku. Matanya mendelik dan mulutnya ternganga. Lama-lama terjadilah suatu ketegangan yang lebih memuncak. Ludiro mundur, dan beberapa pegawai Kadipaten berhenti di tempat. Mereka tak berani mendekati Ki Badra yang kaku, tak bergerak. Tubuh tua itu lama-lama membiru. Asap tipis bagai meresap ke luar dari pori-pori kulitnya. Birunya tubuh menjadi legam. Kini bahkan berubah hitam. Hitam sekali. Lalu, tubuh tua itu rubuh bagai kayu arang.

"Ki Badra..?!" pekik Ludiro dalam kebingungan. Mereka yang menyaksikan hal itu dari jarak beberapa langkah menjadi merinding dan ketakutan. Ludiro sempat berseru.

"Lapor kepada Kanjeng Adipati...! Aku akan mengejar orang yang telah menyerangnya tadi!"

"Jangan! Bahaya! Ini pukulan Inti Petir.! Bisa dilancarkan dari jarak beberapa ratus tombak jauhnya!"

Tapi Ludiro tidak peduli dengan ocehan mereka. Ia melompat ke luar dari pagar Dalem Kadipaten. Matanya jalang dan liar memandang orang yang telah melancarkan pukulan sadis ke tubuh penghulu Badra tadi. Namun ia tak melihat ke mana arah larinya. Hanya saja, i.da beberapa semak yang bergoyang daunnya. Pasti ke arah semak itulah orang tersebut melesat pergi. Tak ada waktu lagi bagi Ludiro untuk berpikir lebih jauh. Ia segera melesat ke arah tersebut dengan berseru, "Tunggu jawabanku, Iblis laknaaat...!!"

Ludiro menerjang semak dedaunan, duri dan ranting kering. Semakin cepat ia berlari, semakin banyak tergores tubuhnya oleh duri semak belukar. Oh, sudah jauh dari Dalem Kadipaten. Tetapi bayangan orang yang dikejarnya hanya terlihat samar-samar jauhnya. Ludiro terus berusaha mengejar orang itu. Matanya masih bisa melihat bahwa orang itu mengenakan kerudung kepala yang langsung menjadi satu dengan jubahnya. Warnanya hitam, mirip pakaian malaikat pencabut nyawa.

"Bangsat itu pasti ada hubungannya dengan penculikan semalam," pikir Ludiro sambil berlari semakin cepat. "Jika tak salah dugaanku, pasti dia anak buah Areswara atau Peri Sendang Bangkai. Pasti dia bertugas menutup mulut penghulu Badra yang hendak membo-corkan rahasia Sendang Bangkai. Kalau begitu... kalau begitu berarti dia tahu bahwa penghulu Badra mengerti betul tentang Sendang Bangkai, dengan lain perkataan, berarti penghulu Badra pernah ada hubungan dengan orang-orang Sendang Bangkai... Jadi, siapa sebenarnya penghulu Badra itu?"

Orang yang dikejar masih terlihat samar-samar. Namun mendadak Ludiro berhenti seketika. Di depannya telah berdiri dua orang perempuan berparas cantik. Keduanya hanya mengenakan penutup dada dari bahan semacam kain bludru dan hiasan rantai-rantai emas. Sementara celananya sendiri hanya berupa celana dalam yang dirajut rapat dengan rumbai-rumbai dari logam kuning emas. Masing-masing perempuan itu bertubuh lencir, sebaya, berambut sebatas punggung yang diikatkan ke belakang. Mereka memegang pedang di tangan masing-masing. Sepasang rantai perak yang menyilang dari penutup dada ke celana melewati pusarnya sungguh membuat mereka tampak sangat seksi dan menggairahkan.

Ludiro masih terbengong melompong saat kedua perempuan itu tersenyum sinis dan melangkah mendekatinya. Buru-buru Ludiro mengambil sikap, memasang kuda-kuda dengan menarik kaki kanannya ke belakang setelah itu perempuan berkata:

"Jangan teruskan perjalananmu!"

Ludiro segera tanggap, bahwa kedua perempuan itu adalah komplotan orang yang telah membunuh penghulu Badra dengan pukulan jarak jauh yang mengerikan itu. Geram dan kemarahan Ludiro semakin bertambah. Ia membentak dengan lantang dan berani:

"Minggat kau, Siluman miskin...!!" Kedua perempuan itu menertawakan Ludiro. "Karena  pakaian kita cuma seperti ini, lantas dia mengatakan kita

Siluman miskin, hii... hi... hi. " Temannya menyahut, "Dia tidak tahu selera birahi...." Orang itu juga tertawa mengikik geli. Ludiro merasa terhina, mukanya menjadi merah.

Dengan gerakan yang gesit, Ludiro langsung menyerang, meluncurkan kaki kanannya dalam satu gerakan melayang ke arah salah seorang perempuan tersebut. Perempuan itu hanya berkelit ke samping, dan tubuh Ludiro lolos, bagai menerjang angin tanpa arti. Perempuan itu menertawakan Ludiro.

"Jangan galak-galak, Bung!"

Nafas Ludiro terengah-engah karena memendam kemarahan. Salah seorang yang tadi tidak diserang berkata kepada Ludiro, "Hei, orang galak dan ganas seperti kamu justru mudah bertekuk lutut di hadapan kami, mengerti?!"

Yang satunya menyahut, "Sebab itu, kalau mau mengalahkan kami, rayulah dengan lembut. Berilah kami seteguk kehahgatan, maka kami yang akan bertekuk lutut di hadapanmu”.

Yang tadi menyahut, "Dan juga yang akan membunuh kamu dengan tanpa ampun sedikit pun. Hi, hi, hiii. "

Ludiro pasang kewaspadaan dan siap siaga, kendati ia pun berkata sinis, "Kalian salah duga. Nafsuku bukan nafsu menggumuli kalian, tapi nafsu membunuh kalian. Tahu?!"

Perempuan yang tadi diserang maju selangkah, ia memeluk pedangnya sendiri dengan kedua kaki berdiri terentang. Senyumnya bagai seringai iblis, dan tatapan matanya itu bagai suatu kekuatan gaib yang mampumelumerkan tulang. Ia berkata dalam nada angkuh:

"Aku tidak melihat kau membawa pedang. Lantas dengan apa kau akan membunuh kami. Dengan pedang tumpulmu yang kau sembunyikan di sela paha itu, hii... hi... hi..."

Ludiro semakin terengah-engah, menyipitkan mata, memandang benci. Tetapi sebelum ia bicara, perempuan yang satunya sudah ikut maju, berjajar dengan temannya. Pedangnya yang panjang dipakai sebagai tongkat, tertuju ke tanah sementara gagangnya ia pakai sebagai tumpuan tangan kanan. Ia berdiri dengan salah satu kaki ditekuk, bagai sedang bergaya memikat di depan Ludiro. Sambil membuka kedua buah pahanya yang mulus, perempuan itu berkata centil:

"Kalau pedang itu yang ingin kau gunakan menusuk kami, ohoii... mana bisa kami melawanmu? Alangkah tololnya menghindari pedang tumpulmu, bukan?" Kini sadarlah Ludiro, ia dipancing untuk marah, namun juga dipancing untuk tergiur. Tidak, Ludiro tidak mau jatuh dalam rayuan maupun meledakkan amarah dari pancingan itu. Ia harus bisa tenang untuk mempelajari gerakan-gerakan yang mungkin akan datang secara tiba-tiba.

Ludiro sengaja bersikap tenang dan membiaskan senyum tawarnya, lalu berkata dengan tolak pinggang.

"Rupanya kalian memang menyukai pedang tumpulku, ya?"

"O, tentu. Tentu...!" jawab mereka nyaris serempak dan sangat bersemangat. "Baiklah. Tapi satu persatu

memakainya, niih...!"

Gerakan kilat yang hampir tak terlihat mata telah terjadi. Tangan Ludiro melemparkan senjata andalannya, berupa Mata Pisau yang beracun. Benda kecil itu melayang cepat ke arah salah seorang perempuan. Perempuan yang merenggangkan kedua kakinya itu terbeliak kaget seraya memegangi lehernya. Mata pisau atau senjata rahasia Ludiro menancap seluruhnyake tenggorokan perempuan tersebut. Sudah tentu perempuan itu hendak memekik, namun suaranya tertahan senjata rahasia Ludiro sehingga hanya dapat menggerok-gerok bagai kambing disembelih. Tubuhnya limbung dan jatuh ketanah, mengejang ngejang.

"Biadaaab...!!" teriak temannya. Orang itu segera menyerang Ludiro dengan kemarahan yang meluap. Pedang diayunkan menebas leher Ludiro dengan suatu gerakan yang lincah sekali.

"Kau harus menebusnya dengan lehermu, jahanam...!"

Ludiro mengelak ke samping, namun dalam keadaan tubuh miring itu ia sempat melancarkan tendangannya. Tendangan kaki kanannya itu membentur perut perempuan tersebut.

Buk...! Yang ditendang menahan nafas hingga terdengar suara:

"Ngeekh...!"

Tapi anehnya, karena tendangan itu justru tubuh Ludiro jadi terpental dan jatuh tak berposisi. Kesempatan itu digunakan musuhnya untuk menusukkan pedang dengan gerakan menukik dari atas,

"Yiaaaaatt...!"

"Jugg...!!" Terdengar suara pedang menembus barang empuk.

Untung bukan tubuh Ludiro yang menjadi sasaran pedang musuh, melainkan sebatang pohon yang membusuk. Dalam kesempatan itu, Ludiro segera melancarkan jurus Tendangan Dewa Mimpi, bergulung sambil menyerang dengan suatu tendangan kaki kanan yang di luar dugaan lawan. Tendangan itu mengenai belahan kedua paha perempuan tersebut, sehingga perempuan itu sempat terpekik antara malu dan terkejut sakit. Tubuh perempuan itu terpental ke belakang, namun tidak jatuh, melainkan kembali berdiri sigap dengan pedang siap diayunkan. Kali ini Ludiro tidak menyerang lagi dengan tendangan sehingga pedang lawannya tak berhasil mengenai kakinya. Ludiro bergegas berdiri, kemudian bersalto ke belakang, sekedar menjaga jarak dengan lawannya.

"Bagaimana...?" ucap Ludiro sambil mengatur nafas.

Perempuan itu memandang penuh kebencian. Ludiro berbalik ganti mengejek perempuan itu:

"Pedang tumpulku belum berfungsi kau sudah kelihatan capek, apalagi kalau sampai kugunakan, he, he, he..."

Tanpa menunggu ejekan berikutnya, perempuan itu berteriak nyaring dan menyerang Ludiro dengan pedang terjulur ke depan. Ludiro tidak mundur setapak pun. Ia memiringkan badan, sehingga pedang lawannya terasa mendesing di samping telinganya. Pada kesempatan itu, Ludiro memegang tangan perempuan itu dengan kuat-kuat.

"Hupp...! Hiaayaa...!"

Satu hentakan suara bersamaan dengan pukulan tangan kiri Ludiro ke tulang rusuk musuhnya. Perempuan itu menyeringai kesakitan. Ludiro belum mau melepaskan pegangan tangannya. Masih kuat ia menggenggam pergelangan tangan yang memegang pedang. Lalu dengan hentakan yang sangat kuat, Ludiro membalikkan badan dan menyodok perut lawannya dengan sikut tangan kiri.

"Aaahkk..!"

Perempuan itu terpekik. Ia segera memindahkan pedangnya ke tangan kiri. Dan ia mulai menusukkan pedangnya ke tubuh Ludiro yang amat dekat itu. Tetapi dengan gerakan bersalto ke belakang, Ludiro dapat menghindari tusukan pedang tersebut. Dua kali Ludiro bersalto ke belakang, sehingga dalam jarak yang cukup itu, ia merendahkan tubuh, berlutut dengan salah satu kaki dan,

"wesss...!" Ia melemparkan senjata rahasianya ke arah perempuan itu.

"Tring...!" Senjata Ludiro dapat ditangkis dengan kibasan pedang musuhnya. Sekali lagi Ludiro melemparkan Mata Pisau beracun

"Wess...!"

"Tring...!" Perempuan itu menangkisnya dengan pedang bersaman dengan gerakan tubuh yang melengkung ke samping dan salah satu kakinya ditekuk. Sebelum Ludiro melancarkan senjata rahasianya lagi, perempuan itu telah lebih dulu melejit ke udara.

"Hiaaaat...!!"

Ia bersalto ke arah Ludiro dengan pedang ditebaskan bertubi-tubi. Ludiro menghindar, namun rambutnya sempat terpotong beberapa bagian oleh pedang itu. Ludiro tergeragap.

"Sekarang saatnya pembalasanku tiba, manusia busuk...!"

Perempuan itu berdiri tegap, pedangnya dikibaskan ke arah depannya berkalikah kendati ia tahu jarak Ludiro tak terjangkau. namun tiba-tiba, pedang itu meluncur sendiri dengan cepat. Berputar bagai tak dapat dilihat gerakannya. Ludiro kelabakan, menghindar ke kiri-kekanan, melompat ke atas, berguling... dan pedang itu masih mengejarnya. Gerakan Ludiro sudah seperti celeng mabok, tak karuan menghindari gerakan pedang yang memburunya. Sampai akhirnya kepala Ludiro terbentur batang pohon.

"Prak...!" Pedang itu meluncur ke arahnya dengan cepat.

"Jubb...!"  Pedang menancap pada batang pohon yang keras. Ludiro lega, namun lengannya berdarah karena tergores pedang setan itu. Ia baru saja hendak melemparkan senjata  rahasianya, tahu-tahu kaki perempuan itu menendang dagunya sekuat tenaga. Ludiro memekik dan terdongak, lalu rebah ke belakang. "Rasakan bagianmu ini,  monyet

jelek...!"

Sekali lagi perempuan itu menendang dengan satu hentakan yang cukup kuat. Tendangan itu bersarang di punggung Ludiro, membuat Ludiro kesakitan, punggungnya bagai patah.

Dalam keadaan kritis itu, ia sempat berkonsentrasi dan segera berguling sambil melancarkan Tendangan Dewa Mimpi. Bergulingnya tubuh Ludiro membuat perempuan itu sedikit kebingungan, namun segera mendelik karena kaki Ludiro menghentakan kemaluannya. Ia buru-buru meloncat ke belakang.

Ludiro tak sempat memburu, karena punggungnya terasa sakit sekali dan dagunya bagai pecah karena tendangan tadi. Ia berusaha berdiri dengan merambat, berpegangan batang pohon. Pada saat itu, pandangan matanya yang berkunang-kunang sempat melihat perempuan itu sempoyongan. Ia berusaha mengangkat temannya yang telah mati dengan leher ditembus senjata rahasia Ludiro. Ia memanggul jenazah temannya dan segera melarikan diri.

"Tunggu...!!" teriak Ludiro yang tak mampu melengking.

Perempuan itu terus melesat, namun sempat meninggalkan suara nyaring.

"Kita akan bertemu lagi, monyet! Aku akan memburumu! Ingat kata-kata ini hanya aku yang berhak membunuhmu!"

"Berhenti kalauu kau memang..." Ludiro tak sanggup bicara lagi. Kepalanya begitu pusing, dan luka di lengannya itu menjadi terasa sangat perih. Ia mencoba mehhat luka di lengannya, ooh... ternyata luka itu cepat sekali menjadi busuk. Bukan darah merah segar lagi yang mengucur, melainkan darah hitam, kental dan berbau busuk.

Ludiro bersandar pada batang pohon, tak mampu berdiri. Nafasnya terengah-engah, badannya terasa sakit. Ia melirik ke batang pohon, ternyata di sana masih ada sebilah pedang yang menancap. Pedang itulah yang menggores lengannya dan menjadi busuk, bahkan... astaga! Sekarang bukan hanya bagian luka saja yang  membusuk,  melainkan di sekeliling luka   pun  menjadi    busuk. Mengoreng bagai borok yang amat ganas. Ludiro  sempat  kebingungan  dan tegang. Jelas pedang itu mempunyai racun yang amat ganas. Bukan hanya membuat luka menjadi  busuk dalam  tempo singkat, melainkan tulang-tulangnya pun terasa patah semua. Ludiro nyaris tak dapat bergerak Ia mencoba dan mencobanya lagi, tapi kakinya benar-benar mati. Bahkan jari-jari   tangannya   tak     dapat disentil-sentilkan, apalagi   dipakai memegang sesuatu. Hanya leher saja yang masih bisa bergerak, dan itu pun lamban

serta dengan susah payah.

Ketika ia mehrik kembali luka di lengannya, matanya tak mampu membelalak lebar melihat borok itu semakin merayap, membesar dan menjijikkan. Oh, apa yang harus ia lakukan dalam keadaan seperti ini. Ia sendirian. Tempat itu sepi. Ia tak mampu menggerakkan bibirnya untuk berseru meminta pertolongan. Sedangkan borok itu...oh, makin lebar dan semakin menjadi busuk. Sekar ang hampir memakan separoh lengannya. Haruskah ia mati di situ diserang borok busuk?

***

2

KEREMANGAN sore mulai membias. Langit warna merah saga. Sejauh itu Ludiro masih bersandar pada sebuah pohon yang menjulang tinggi. Ia bagai menunggu ajal tiba, karena borok itu semakin membusuk di seluruh tangannya. Telapak tangannya sendiri mulai lembek dan sebentar lagi pasti akan membusuk seperti lainnya.

Dalam kesendirian menunggu busuknya semua anggota badan itu, Ludiro tak dapat berbuat apa-apa kecuali meratap dalam hati. Ia tahu, tempat yang begitu liar ini tak akan dilalui oleh siapa pun, kecuali dedemit-dedemit hutan. Ia merasa tidak punya harapan lagi. Jangankan harapan untuk hidup, harapan untuk bisa berteriak pun tidak ada sama sekali. Sekarang yang bisa ia gerakan hanya bola matanya. Tulang leher mulai kaku seperti anggota tubuh lainnya. Bola matanya itu yang sesekali melirik pedang bergagang kuningan yang menancap pada batang pohon di seberangnya. Ia hanya bisa mengumpat dalam hati

"gara-gara pedang itu, tubuhnya menjadi tersiksa menunggu pembusukan yang sempurna. Oh, racun apa gerangan yang membersit dalam lapisan pedang itu sebenarnya?" pikirnya sejak tadi.

Di luar dugaan, Ludiro merasakan ada sesuatu yang menyentuh boroknya. Mulanya ia menganggap hanya semilir angin, namun setelah dirasakan berkali-kali, ia mulai sadar memang ada sesuatu yang menyentuh tangannya yang busuk itu. Ingin rasanya ia berpaling melihat sesuatu yang menyentuh bagian pangkal lengannya, namun ia tak mampu. Lehernya masih kaku dan gerak matanya tak dapat menjangkau untuk memandang ujung pundaknya. Hanya saja, Ludiro tahu, sesuatu yang menyentuh itu adalah tetesan benda cair. Tetesan itu berasal dari atas. Oh, mungkin hujan atau embun.

Ludiro membiarkan benda itu menetes terus, membiarkan lengannya yang busuk menjadi basah sampai beberapa lama. Bahkan Ludiro m-maksakan diri untuk dapat terpejam tidur, walaupun hal itu sangat sukar ia lakukan. Tanpa disadari, ternyata lehernya mulai dapat digerakkan sedikit demi sedikit. Kekakuan berkurang, dan Ludiro dapat memandang benda yang menetes di ujung lengannya itu.

"Oh, darah...?" ia berkata dalam hati. Ia menggumam lirih. Pelan sekali. Untuk mendongak ia masih tak mampu. Sebab itu ia membiarkan darah yang menetes dari atas pohon itu membasahi boroknya terus. Ludiro merasakan ada perubahan pada lukanya yang membusuk. Setiap tetesan darah membuat rasa perihnya berkurang. Dan semakin banyak darah yang mengalir ke bawah, membasahi lengannya, semakin berkurang pula aroma bau busuk yang tadi memualkan perut itu.

Sampai akhirnya, lengan yang membusuk itu telah basah seluruhnya oleh darah segar. Darah yang menetes dari atas pohon tempatnya bersandar. Lalu, suatu perubahan dirasakan kembali, kini leher Ludiro bisa dipakai untuk mendongak Ia memandang ke atas mencari sumber tetesan darah yang cukup aneh itu.

Oh, ternyata ada seseorang di atas sana. Orang itu tersangkut pada sebuah dahan besar dalam keadaan terluka. Ludiro mengernyitkan alis, menyipitkan mata untuk memperjelas penglihatannya. Kian lama kian nyata, orang itu adalah seorang perempuan berkain sutra warna merah muda. Dari perhiasan yang dikenakan, jelas perempuan itu bukan dari keluarga rakyat jelata. Wajahnya tak dapat terlihat, karena tertutup beberapa rimbun daun. Namun kakinya yang lencir indah bagai batang bambu suling itu terlihat mengenakan binggel, gelang kaki berwarna emas. Tipis, tapi sungguh indah dan terlihat nyata dalam keadaan terpadu dengan warna kulitnya yang kuning.

"Eh... bisa bergerak...?!" Ludiro bicara sendiri, merasa aneh ketika tak sadar ia mampu menarik kakinya. Kini perhatiannya kembali pada dirinya sendiri. Oh, ternyata ia sudah mulai bisa bergerak. Rasa ngjlu pada tulangnya hilang. Ia seperti memperoleh kekuatannya yang sejak tadi tak ada pada dirinya. Dan ia memandangi lengannya yang membusuk, ooh...? ternyata lengan itu kembali normal. Luka mengering dan menutup kembali. Kebusukan sirna,kini berganti lumuran darah yang menetes dari atas pohon.

Sengaja Ludiro tidak membersihkan darah itu. Ia bangkit dan mencoba untuk berdiri. Ternyata bisa. Ia berdiri tegak, lalu merenggangkan kaki, memasang kuda-kuda, merendahkan badan sedikit, meloncat-loncat pendek, oh... sungguh ia merasa kembali seperti sedia kala. Ia mengencangkan otot-otot tangan dan kaki, menggerakkan dalam beberapa jurus, dan nyatanya memang betul-betul mampu bergerak dengan mantap.

"Siapa perempuan yang di atas pohon itu?" katanya dalam hati. "Siapa pun dia, namun secara tak langsung ia telah menyelamatkan jiwaku. Darahnya yang telah menetes pada lukaku dan membuat suatu kesembuhan yang sukar dipercaya. Hem, sudah sepatutnya aku mengucapkan terima kasih kepadanya... tapi apakah dia masih hidup?"

Tanpa menunggu pertimbangan lebih pan-ang lagi, Ludiro memanjat pohon itu. Sebenar-nya ia bisa saja menggunakan ilmu peringan tubuh, tapi ia tak ingin melakukan dengan cara begitu. Ia lebih senang dapat menaiki pohon itu dengan susah payah. Terpeleset jatuh pun tak jadi soal, justru itu ia semakin senang, sebab dengan demikian ia telah menolong perempuan itu dengan proses yang cukup sulit, paling tidak dengan suatu pengorbanan waktu dan tenaga. "Syukurlah... ia belum mati..." ucap Ludiro lirih. Ia segera mengangkat tubuh perempuan itu dengan sangat hati-hati. Ia berusaha jangan sampai tubuh itu terjatuh dari atas pohon yang cukup tinggi. Kendati ia sendiri juga besar kemungkinannya untuk tergelincir jatuh, namun yang paling utama baginya adalah menyelamatkan tubuh perempuan itu agar jangan sampai terjatuh dari ketinggian yang dapat membuat batok kepala hancur seketika.

Berhasil diturunkan dari atas pohon, perempuan itu segera dibaringkan di rerumputan yang aman dan tak mengandung duri. Sejenak Ludiro mengagumi wajah cantik perempuan itu yang memiliki sepasang bulu mata lentik dan tahi lalat di samping bibirnya yang mungil. Benar-benar bagai seorang bidadari dalam tidurnya yang lelap. Ludiro berdecak kagum. Dalam hati ia berkata, "Hanya Putri Ayu Sekar Pamikat yang mampu menyaingi kecantikan gadis ini..." Ludiro gelisah memandanginya terlalu lama. Ia tak tahan, sebab itu segera ia membuang rasa kagumnya dan khayalan keindahannya tentang putri tersebut. "Edan...!" pekik Ludiro dengan mata terbelalak. Ia tak mampu berkedip saat memeriksa luka perempuan itu yang tadi meneteskan darah. Ia hampir tak percaya pada penglihatannya sendiri, bahwa luka di ketiak perempuan itu adalah luka karena terkena senjata rahasia. Bentuknya berupa mata pisau yang kecil, tipis dan beracun.

"Ini senjataku...?!" ucapnya sendiri dalam kebingungan. Wajah Ludiro menjadi tegang, matanya memandang sekeliling sebentar, kemudian memperhatikan perempuan itu lagi Benar-benar tak habis pikir bagi Ludiro, bagaimana mungkin ada orang yang mampu menyerang perempuan itu dengan menggunakan senjata rahasia miliknya? Mungkinkah penyerangnya sama persis dengan penyerang gelap yang menewaskan Raden Praja di Lembah Bukit Tanah Iblis, tempo hari itu? (dalam kisah Racun Puri Iblis). Jadi selama ini memang adakah orang yang selalu menjadi penyerang gelap dengan menggunakan senjata rahasia serupa dengan miliknya?

Ludiro geleng-geleng kepala. Ia memeriksa di sekitar luka itu. Oh, memerah, bahkan legam. Ia hapal, itulah racun yang akan menyerang jantung si penderita akibat terkena senjata rahasianya. Jadi, sejauh itukah orang dapat meniru senjata rahasianya, sampai ke kadar racunnya segala?

Kebingungan dan penyesalan dibuangnya jauh-jauh. Yang penting ia harus segera menyelamatkan perempuan muda itu. Ia telah berhutang budi secara tak langsung. Dan memang hanya dialah yang tahu bagaimana mengatasi racun senjata rahasianya itu. Mungkin memang ada seseorang yang tahu, yaitu pemalsu senjata rahasianya. Tetapi orang itu tidak ada. Jadi saat sekarang hanya dialah yang dapat menyelamatkan jiwa perempuan cantik itu.

Ludiro segera menempelkan telapak tangannya ke sekitar ketiak yang terluka Kedua telapak tangan itu menekan bagian tulang rusuk, dan pangkal lengan. Hal ini dilakukan setelah ia memiringkan perempuan tersebut. Lalu dengan suatu konsentrasi yang tinggi, pemusatan hawa murni dalam ilmu Seraptaji, telapak tangan itu mulai bergetar. Semakin lama tubuh perempuan itu semakin jelas bergetar. Kemudian ada asap biru mengepul ke luar dari lobang luka yang masih menyimpan senjata Mata Pisau Beracun itu. Asap biru kian mengepul, lalu tiba-tiba logam tipis kecdl itu meluncur sendiri ke luar dari dalam luka. Darah hitam meleleh dan membasahi gaun sutra berlengan panjang.

"Air..." Ludiro menggumam dengan clingak-clinguk mencari kemungkinan ada air di sekitarnya. Tapi, iatakmenemukan sesuatu yang dapat dipakai untuk minum. Tak ada genangan air, tak ada sungai, tak ada apa pun kecuali kelebatan hutan belukar.

"Aku harus mengambil air untuk dia. Pasti tenggorokannya telah kering karena racun tadi."

Berjalan kehling sekitar situ, tak menemukan sumber air. Akhirnya Ludiro nekad pergi mencari air di tempat lain. Sebelumnya ia telah menulis pesan untuk perempuan itu apabila sewaktu-waktu siuman. Pesan ditulis pada batang pohon, dikerat dengan menggunakan pisau rahasianya. Tulisan itu berbunyi:

JANGAN PERGI. AKU AKAN DATANG DENGAN AIR UNTUK MU.

Gerakan Ludiro yang terburu-buru cukup gesit. Ia melompat bagai seekor bajing di sela semak belukar. Memang kulit lengannya tergores duri, tapi tak pernah dihiraukannya. Yang terpikir dalam benaknya ialah gadis itu. Ya, siapa dia sebenarnya? Ada perlu apa berada di hutan belukar seperti itu? Lantas, bagaimana dengan Sekar Pamikat sendiri? Di mana dia sekarang? Tahukah dia bahwa yang menculik calon suaminya adalah Peri Sendang Bangkai? Ah, cukup rumit juga otak Ludiro saat itu. Tetapi akhirnya ia berhasil menemukan sebuah telaga di dalam hutan itu. Telaga berair keruh, tapi masih lumayan ketimbang air comberan, pikirnya. Dan ia segera mengambil buah berenuk kering, menggunakan buah berenuk untuk mengambil air telaga itu.

Pada saat Ludiro hendak membawa pergi air itu, tiba-tiba langkahnya terhenti. Seorang lelaki brewok berikat kepala batik menghadangnya dengan garang. Lelaki itu bertubuh besar, mirip seorang raksasa. Tingginya mencapai satu setengah tombak kurang sedikit. Ia mengenakan pakaian serba hitam. Kumisnya tebal melintang dengan golok pendek di pinggang. Sebatang akar bahar berukuran sebesar jempol kaki membelit di lengan kanannya. Dadanya yang berbulu itu mengenakan kalung dari kain hitam berbentuk segi empat. Ia memandang Ludiro dengan mata semburat merah, mengerikan. Suaranya begitu berat dan besar ketika ia berkata dalam nada geram, "Kau memasuki wilayahku, setan! Dan

kau telah mengambil barang milikku itu tanpa permisi!"

Ludiro menghela nafas. Belum apa-apa ia sudah merasa sesak napas melihat perawakan lelaki brewok itu.

"Aku membutuhkan air untuk menolong seseorang."

"Tapi kau tidak minta izin kepadaku dulu, setan!" Lelaki brewok itu mendekat. "ini wilayahku. Ini telagaku! Kalau kau mengambil sesuatu dari wilayah telaga ini, kau harus izin dulu kepadaku."

Agaknya orang ini cukup kasar dan ganas. Ludiro berpikir dengan cepat untuk mengatasi kegarangan orang itu.

"Sebenarnya aku ingin meminta izin kepadamu, sobat," Ludiro bicara sambil tersenyum. "Tapi, aku tidak bisa menemukan di mana kamu berada. Jadi, yahh... kuambil saja."

"Kenapa tidak kau sebut saja namaku: Gopo!"

"Aku... aku tidak tahu," Ludiro mengangkat kedua pundaknya seraya menyunggingkan senyum. "Dasar maling!" bentak Gopo yang sempat membuat Ludiro terlonjak kaget. Suaranya bagai mempunyai tenaga hentakan yang cukup kuat. "Karena kemalinganmu itu, kau harus menerima hukuman ini, setan!"

"Wuss...!" Gopo menendang dengan sebelah kaki, bagai seseorang yang tengah menendang bola. Ludiro tak sempat menghindar karena tendangan itu sangat cepat dan di luar dugaan. Ludiro terjengkang ke belakang, nyaris jatuh masuk ke telaga. Lalu dengan cepat Gopo memburu dan melangkahkan kaki, kemudian menghentak dengan mantap.

"Jleegg...!" Gopo bagai sedang menginjak seekor semut. Telapak kakinya yang besar jatuh tepat di samping telinga Ludiro. Tanah bergetar karenanya. Ludiro berguling ke kiri, dan berguling lagi karena kaki Gopo memburu untuk menginjak kepala Ludiro.

Entah berapa gulingan Ludiro menyatu dengan tanah basah di tepian telaga yang mirip sebidang kolam ikan itu.

"Mampus kau, maling cikik! Hihh...! Hiih...!" Gopo kelihatan tak memberi kesempatan kepada Ludiro. Dalam keadaan tegang itu, Ludiro sempat memanfaatkan jurus Tendangan Dewa Mimpinya. Berguling sambil melancarkan tendangan ke arah alat vital musuhnya.

"Heaaat...! Hahh...!"

"Uhh...!"   Gopo   menyeringai kesakitan dan mundur beberapa langkah. Namun sebentar kemudian Gopo telah kembali tegap, bahkan lebih garang lagi. Sedangkan  Ludiro buru-buru  mengambil sikap berdiri dengan kedua kaki renggang sedikit ditekuk. Paling tidak itu sebuah awal untuk meloncat dan   menyerang. Ludiro sempat gemetar melihat lawannya sungguh  tak  berbeda dengan  seorang raksasa. Apalagi tubuh Ludiro pendek, hanya sebatas ulu hati Gopo, hal itu membuat Lidoro bertanya dalam hati: "Mampukah ia mengalahkan manusia raksasa

ini?"

Sebuah pukulan dilancarkan oleh Ludiro ke perut Gopo. Lelaki tinggi besar itu tidak menangkis atau menghindar. Pukulan itu dibiarkan membentur perutnya.

"Buuk...!" Ludiro bagai memukul bedug. Dan pada saat itu, tangan Gopo meraih tangan Ludiro dengan cepat.

"Kena kau, maling!" geramnya dengan mata melotot merah. "Aaahk...!" Ludiro memekik tertahan, pergelangan tangan kanannya terasa sakit karena bagai dicepit dengan besi baja yang amat kuat.

"Uuh... aah...!" Ludiro tak sempat bilang apa-apa.

"Remuk tanganmu, Maling! Remuk sekarang juga! Hihh...!" Genggaman Gopo semakin kuat dan sangattmenyakitkan.

Dalam kesempatan itu, tangan kiri Ludiro menegang, lalu kepalan tinjunya melayang ke pinggang Gopo. Lelaki itu tidak berkelit dan tidak merasa sakit sedikit pun. Tetapi ketika lutut Ludiro menyodok keras alat vitalnya, Gopo menjerit. Tubuhnya terbungkuk ke depan sementara pantatnya mundur ke belakang. Kesempatan itu digunakan Ludiro untuk menghantam kepala Gopo kuat-kuat.

"Rasakan permainanku yang ini, heaaahh...!!"

"Plok...! Plook...!"

Gopo masih memegangi tangan Ludiro. Kali ini ia justru menyerusuk ke leher Ludiro, lalu tangan yang satunya merangkul pinggang Ludiro.

"Haaahh...!!"

Gopo menyentakkan rangkulannya, merapatkan tubuh Ludiro dengan perutnya yang gendut dan keras itu. Ludiro menjadi sukar bernafas, ia bagai digencet di antara dua buah gunung.

"Ngeekk...!" suaranya begitu menyedihkan. Mulut Ludiro cengap-cengap dengan mata mendelik. Ia berusaha meronta, namun hanya kelojotan saja yang bisa dilakukan. Kedua kakinya terangkat dan tangannya kaku.

"Pencuri... harus mati, hiihh...!!" Gopo semakin mengencangkan pelukannya. Kini bahkan dengan kedua tangannya ia menghimpit tubuh Ludiro. Otot-otot tangannya tersumbul dari dalam lapisan kulitnya yang tebal. Begitu kuat jepitan itu, sehingga Ludiro mau minta ampun saja sukar sekali. Mulutnya menganga kuat-kuat, menahan sakit dan mencari pernapasan.

Sambil menggeram Gopo sempat berkata, "Setiap pencuri di wilayahku tak ada yang pernah hidup, tahu?! Hehh...!"

Kalau saja lebih lama sedikit, maka habislah riwayat Ludiro dalam jepitan manusia raksasa itu. Untung ia segera mendengar suara lecutan cambuk.

"Ctar...! ctar..!" Dan pelukan Gopo merenggang seketika. Gopo terlepas, jatuh lemas bagai cucian baju yang belum dijemur. Gopo menjerit kesakitan sambil berusaha meraba punggungnya. Ia berbalik sambil oleng ke kiri dan kanan.

Pendekar Cambuk Naga berdiri dengan sikap menantang tak jauh dari Gopo. Bukan hanya mata Gopo saja yang membelalak lebar, tapi mata Ludiro pun demikian juga. Setelah berhasil menghirup nafas dengan cepat, Ludiro pun berseru:

"Putri...?!"

Ucapan Ludiro tak berlanjut. Gopo lebih dulu berseru dengan geram,

"Setan Betina...!! Berani kau melukai tubuhku, hah?! Rasakan pembalasanku ini, heaaaahh...!!"

Pendekar Cambuk Naga tak mau membuang-buang waktu dan tenaga, ia mengibaskan cambuknya yang terbuat dari serat-serat sutra, namun mempunyai kekuatan yang luar biasa, terlebih jika dialiri tenaga dalamnya.

"Tarr...! Tarr...!"

Dua kali cambuk melecut, keduanya mengenai kaki Gopo. Lelaki itu menjerit keras, dan air telaga pun bergoyang karena getaran suara. Gopo jatuh ke tanah sambil kesakitan. Untung Sekar Pamikat atau Pendekar Cambuk Naga tidak bersungguh-sungguh dalam menyerang Gopo, sehingga kedua kaki lelaki brewok itu tidak putus terpotong seperti kaki Darmala dulu (dalam kisah Racun Puri Iblis). Lelaki itu hanya merasa tulang kakinya seperti remuk dan menjadi lumpuh. Untuk sementara ia memang tak dapat berdiri. Dan Sekar Pamikat sengaja mendekatinya dengan senyum kemenangan. "Aku bisa membunuhmu sekarang juga.

Tapi untuk apa. Kudengar pembicaraan kalian tadi, semua ini hanya kesalah pahaman. Jadi, kumaafkan kau yang telah berani menyakiti pengawalku. "

Kemudian Sekar Pamikat memandang Ludiro yang masih berusaha meluruskan tulang-tulangnya. Sekar Pamikat sempat tertawa masam, dan Ludiro semakin cemberut.

"Gara-gara Putri pergi, saya jadi begini," gerutunya.

"Maaf, aku harus menyelamatkan calon suamiku," Sekar Pamikat mulai murung.

"Lalu, bagaimana? Di mana Pendekar Pusar Bumi sekarang?"

Sekar Pamikat berjalan mencari tempat duduk. Ada batu besar di suatu tempat, tak jauh dari kepala Gopo. Di batu itu ia duduk dalam rona kesedihannya. Ludiro mendekat dan mendesak ingin mengetahui nasib Lanangseta atau Pendekar Pusar Bumi itu. "Apakah Putri Ayu telah berhasil merebut nya kembali dari tangan penculik?"

Sekar Pamikat menggeleng. "Aku gagal. Kehilangan jejak. Tak tahu ke mana aku harus memburunya."

Ludiro menghempaskan nafas sebentar. Katanya pelan,

"Saya tahu di mana Lanang berada." Sekar Pamikat yang lesu menjadi bersemangat. Telinganya bagai tercocok tombak Ia memandang tajam kepada Ludiro

dengan perasaan tak sabar.

"Kemana? Cepat katakan! Katakan, Paman. !"

Ludiro tersenyum tipis, "Akan saya katakan setelah saya menolong seseorang yang telah menyelamatkan nyawa saya. "

Kemudian Ludiro menceritakan tentang penghulu Badra dan pengejarannya terhadap pembunuh penghulu Badra. Bahkan sampai bertarungannya dengan dua perempuan keji yang mengakibatkan luka pada lengannya itu pun diceritakan.

"Dan sekarang saya perlu air untuk gadis yang secara tak langsung telah menyelamatkan saya dari kebusukan itu." Sekar Pamikat menggumam sejenak, memasukkan cambuknya pada tempatnya yang berada di punggung. Lalu ia berdiri, dan berkata,

"Ambil air itu secukupnya, lalu kita pergi ke sana. Ayo, gadis itu pasti sudah menunggumu lama. "

"Hei, bagaimana dengan kakiku. ?!"

seru Gopo sambil menahan sakit. Tapi ia hanya mendapat jawaban dari Sekar:

"Lihat saja, bagaimana nanti. Itu hanya peringatan bagi orang yang sok berkuasa. !"

Ludiro dan Sekar Pamikat segera melesat meninggalkan telaga berair keruh. Mereka menuju ke tempat perempuan yang ditolong Ludiro tadi.

Tetapi, alangkah terkejutnya mereka setelah mengetahui tempat itu telah kosong. Gadis yang terluka tidak ada, dan pedang yang menancap di pohon. oh,

pedang itu masih ada. Hanya gadis itu yang hilang. Ke mana dia? Mampukah ia sadar sendiri tanpa air?

* * * 3

BERULANGKALI Ludiro menggerutu tak jelas. Matanya masih bergerak-gerak nanar mencari di mana perempuan berbaju sutra merah muda yang terkena senjata rahasianya tadi? Sementara Ludiro mencari perempuan cantik itu, Sekar Pamikat meneliti pedang yang menancap pada batang pohon. Sepintas tadi Ludiro telah menceritakan tentang racun pada pedang itu. Dan Sekar Pamikat merasa kagum di dalam hatinya terhadap keampuhan pedang itu.

"Bagaimana, Paman?" Sekar Pamikat mengalihkan perhatiannya sendiri.

"Mungkin sejenis kuntilanak perempuan tadi. Masa bisa hilang sendiri. Ia tak mungkin dapat berjalan sebelum meminum air. Tenggorokannya akan tersekat bisa racun dari senjata saya itu, Putri."

"Tapi betul, bukan kamu yang melukainya, Paman?"

"Sumpah! Saya bertarung dengan dua gadis lain. Saya rasa tidak ada hubungannya dengan kedua gadis genit itu. Tapi... entah siapa yang telah menyerangnya dengan senjata rahasia seperti senjata saya itu. Kurasa ada orang yang memalsukan senjata yang menjadi ciri khas saya, Putri."

Sekar Pamikat ikut melangkah, menyusup di antara semak, mencari tanda-tanda kepergian dan tak berhasil. Ia sempat berseru kepada Ludiro yang berada di tempat lain:

"Paman...!  Ingat pembunuhan terhadap  Raden   Praja? Itu  juga melibatkan  senjata rahasiamu,  dan ternyata pembunuhnya adalah Nawang Puri, bukan?" (dalam kisah Racun Puri Iblis). Ludiro bergegas menghampiri Sekar Pamikat dengan wajah sedikit tegang. "Jangan-jangan... Nawang Puri juga yang melukai perempuan berbaju sutra merah

muda itu, ya?"

Pendekar Gambuk Naga menggeleng. Tapi bukan berarti Nawang Puri memalsukan senjata milikmu. Menurut pengakuan Lanangseta, Nawang Puri hanya memanfaatkan senjatamu yang menancap pada salah seorang musuh kita ketika kita berada di Bukit Tanah Iblis itu Senjata itu diambil kemudian dipakai membunuh Raden Praja."

"Aaah... memang serba kacau!" gerutu Ludiro dengan kesal. Ia kembali mencari perempuan itu, perempuan yang telah terluka ketiaknya dan tak sadarkan diri, yang sekarang menghilang sebelum Ludiro sempat membawakan air untuk menghilangkan busa racun di tenggorokan perempuan tersebut.

Ludiro berdiri di depan tulisan yang dibuatnya sebagai pesan, tuhsan itu masih terbaca jelas dalam ukiran batang poHon. Ketika Sekar Pamikat ikut mendekat lalu membacanya, Ludiro sempat berkata bagai ditujukan pada dirinya sendiri:

"Mungkin perempuan itu tidak bisa membaca tulisan ini. Uhh... dasar perempuan tolol!"

Tiba-tiba ada suara menyahut dari atas pohon lain,

"Aku bisa membacanya...!"

Ludiro dan Sekar Pamikat terkejut mendengar suara perempuan. Segera mereka berpaling, mendongak ke atas pohon di seberang mereka. Ternyata dari rimbunan daun yang lebat merapat itu muncullah seraut wajah can-tik, bertahi lalat di ujung bibir bawah.

"Aneh..." gumam Ludiro. "Dia malah sudah bisa memanjat pohon setinggi itu?!"

Perempuan berbaju sutra warna merah muda, dengan lengan baju yang panjang longgar itu, segera meluncur turun dari atas pohon. Ketika ia meluncur turun, Ludiro merasa sedang menyaksikan seekor kupu-kupu terbang melayang dengan indahnya. Bajunya yang tipis longgar itu bagai kibasan sayap kupu-kupu menghampiri madu bunga melati. Dari posisi turunnya yang begitu lembut menyentuh tanah dan berdiri tegak, Sekar Pamikat mengetahui bahwa perempuan muda dan cantik itu jelas bukan sekedar perempuan bangsawan biasa, namun tentu saja mempunyai ilmu silat yang cukup tinggi. Ilmu peringan tubuhnya cukup sempurna. Hemm... siapa dia sebenarnya?" kata Sekar Pamikat di dalam hati.

"Maaf, aku merepotkanmu," kata perempuan itu kepada Ludiro. Lelaki pendek bertubuh gempal itu masih bungkam.

Setelah Sekar Pamikat menyodorkan sikutnya ke pinggang Ludiro secara diam-diam, Ludiro baru berkata dengan gagap:

"Kau... bagaimana? Maksudku, bagaimana kau bisa sadar dari pingsanmu dan naik ke atas pohon, sedangkan.  "

Perempuan muda itu tersenyum malu. Gayanya cukup manja ketika ia berkata, "Seekor ular telah menggigit lenganku." Ia memperlihatkan lengannya yang berkuht kuning mulus. Di situ memang ada bekas gigitan ular. Lalu ia menyambung kata: "Ular itu kecil dan bisanya tidak terlalu membahayakan. Lalu aku sadarkan diri karena gigitan itu. Kupikir-pikir, rupanya racun ular itu berhasil menawarkan racun senjata rahasiamu yang

melukai ketiakku. "

"Senjata rahasiaku?!"

"Iya!" seraya perempuan itu melongok dengan dengan mata membelalak genit-genit manja.

"Aku tidak merasa menyerangmu!" bantah Ludiro.

"Memang!" Ia merajuk sebentar. Lalu mendekat dan menuding Ludiro dengan menempelkan jari telunjuknya ke dada Ludiro yang terben gong melompong. "Kau memang tidak menyerangku. Tapi senjatamu yang kau lemparkan kepada gadis genit lawanmu itu, telah ditangkisnya dengan pedang. Salah satu senjata ada yang meluncur ke arahku tanpa sempat kuhindari, lalu..." Ia mencemberutkan wajah. "Ia melukaiku. Sakit. Dan. dan

aku tak sadarkan diri."

Ludiro memandang Sekar Pamikat, yang pandang hanya tersenyum geli sambil menutup mulutnya. Ludiro kembali memandang gadis itu yang bergaya manja dan senang cemberut.

"Maaf, tapi itu di luar kesadaranku. Dan tanpa kau sadari juga, kau telah menyelamatkan nyawaku sehingga aku perlu membawamu turun dari atas pohon untuk mengobatimu."

"Apa?   Menyelamatkan  nyawamu?" ketusnya.  "Ah,   aku   tidak   berbuat apa-apa. Aku hanya menonton pertarungan kalian. Lalu aku pingsan, jatuh dari pohon dan dipagut seekor ular. Itu saja." Ludiro menjelaskan secara singkat bagaimana saat dia menderita luka akibat goresan pedang  yang  sampai  sekarang masih menancap di  batang pohon  itu. Perempuan manja   itu   terkejut  saat dikatakan   bahwa    darahnya   telah menyembuhkan racun yang akan membusukkan

badan Ludiro.

"Ah, aku tidak menyediakan darah untuk nyawamu!" katanya dengan ketus. "Aku tidak pernah menyelamatkan kamu, dan kamupun tidak pernah menyelamatkan aku!"

"Ini sungguh-sungguh .terjadi di saat kau tidak sadarkan diri, Nona!"

"Mustahil!" bantahnya dengan bergaya ketus. "Darahku darah Panglima sedangkan darahmu darah rakyat jelata, mana bisa darahku menyatu dengan darahmu."

"Tapi nyatanya tetesan darahmu telah membuat borok di badanku sembuh!" bentak Ludiro.

"Kebetulan saja borokmu sudah bosan di tubuhmu!" balasnya sambil mempermainkan sehelai ilalang. "Atau, karena darahku tercemar oleh racun senjatamu, maka ketika menetes mengenai borokmu, racun senjatamu itu yang menawarkan racun borok dari lukamu."

Ludiro kembali memandang Sekar Pamikat. Dewi Cambuk Naga tampak tenang, senyum tipis membias samar-samar, dan matanya tak lepas memperhatikan gerak-gerik perempuan manja yang suka bicara ketus itu.

"Apakah mungkin begitu, ya?" Ludiro bingung sendiri. "Tapi bagaimanapun juga, aku berterimakasih kepadamu, Nona."

"Ah, nggak perlu!" jawabnya masih ketus. "Kau tidak perlu berterimakasih kepadaku dan akupun tidak perlu berterimakasih padamu. Kita tak pernah saling menolong, kan?!"

Mulut Ludiro ternganga, ingin mengucapkan sesuatu, tapi bingung. Akhirnya Sekar Pamikat menengahi dengan berkata:

"Jangan bodoh, Paman. Ia ahli bicara. Yang dia maksud, jangan lagi ada istilah hutang budi atau balas budi. Semuanya terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang merasa berhutang dan dihutangi. Sudahlah, tak perlu diperpanjang."

Perempuan manja berlagak ketus itu menyahut, "Hanya orang pandai yang bisa memahami bahasaku."

Ia bersandar pada pohon dengan sebelah tangannya. Ia memperhatikan pedang beracun yang masih menancap di pohon itu. Mungkin ia ingin mengatakan sesuatu tentang pedang itu, namun Sekar Pamikat telah lebih dulu berkata:

"Namaku Sekar Pamikat, dan orang yang merasa tertolong oleh darahmu ini bernama Ludiro. Ia pengawalku. Tapi, sebenarnya dari tadi kami berdua masih belum bisa mengerti, siapa namamu dan bagaimana jika kami ingin memanggilmu? Rasa-rasanya enak sekali jika kita bersahabat, bukan?"

Perempuan cantik bertubuh langsung namun tidak kurus itu berpaling memandang Sekar Pamikat. Ia berkata ketus. "Persahabatan? Ya, indah memang kedengarannya. Tapi sebetulnya tidak seindah emas dalam intan. Persahabatan itu kan Cuma suatu istilah Yang penting bukan persahabatannya, namun sentuhan dari hati ke hati yang punya segunung pengertian dan saling mengasihi. Sebab kadangkala persahabatan hanya terjadi pada masa senang, pada masa gembira, berlimpah susu, madu dan emas. Tetapi dalam kegelapan yang amat menderitakan satu pihak, persahabatan itu sudah tidak terdengar lagi. Yang ada hanya kata 'masa-bodo' dan sejenisnya. Jadi, jangan katakan kita akan bersahabat, tapi katakanlah: kita akan saling melihat. Aku melihat hidupmu dan kamu melihat hidupku. Apa yang kau lakukan dalam penglihatanmu itu terserah nuranimu, demikian juga apa yang kulakukan dalam penglihatanku terserah moralku."

Sekar Pamikat tersenyum kendati dalam hatinya mengatakan, "Cerewet juga kau!" Tapi sebenarnya Sekar Pamikat juga mengagumi falsafah yang dianut perempuan itu.

"Baiklah, kita saling melihat. Tapi kami perlu mengetahui namamu. Paling tidak sebagai pemacu daya ingat kami tentang dirimu yang akan kami lihat bersama."

Setelah diam sejenak, melirik Ludiro sebentar, kemudian perempuan itu berkata:

"Namaku...: Andini Putri Panglima kerajaan Sebrang." Lalu ia tersenyum, senyum manis yang mengandung ajakan bersahabat. Sekar Pamikat menyambutnya dan Ludiro ikut menjawab dengan senyum tipis, kaku, karena masih terpukau dan bingung dengan kepribadian Andini

"Boleh aku mengetahui tujuanmu di hutan ini, Andini?" tanya Sekar Pamikat. "Aku sedang dalam perjalanan memburu kekasihku yang diculik perempuan

jalang."

Sekar Pamikat terperanjat sebentar, menatap Andini lekat-lekat. Ada sembilu yang mengiris hati, dan Sekar Pamikat menahan rasa perih yang menyedihkan itu.

"Kau menyindir aku, Andini. "

"O, tidak," jawabnya cepat. "Aku sungguh-sungguh kehilangan kekasihku. Diculik orang. Gila, kan?! Dan aku menemukan jejak di sini. Jejak penculik kekasihku."

"Siapa? Maksudku jejak apa?" tukas Ludiro. "Pedang itu...!" Andini menunjuk pedang yang masih menancap di batang pohon. "Pedang itu sama persis dengan sebilah pedang yang kutemukan di taman keputrenku. Di sana kutemukan pedang milik anggota komplotan penculik kekasihku yang tertinggal dan ternyata setelah sejak tadi kuperhatikan, cocok. Sama persis dengan pedang itu. Jadi, agaknya aku sudah mulai dekat dengan kekasihku."

"Tidak," sanggah Ludiro. "Kita masih jauh dari sarang mereka."

"Darimana kau tahu?!" Sekar Pamikat menyerobot kata.

"Penculik Lanangseta bisa kusimpulkan sama dengan penculik kekasih Andini itu. Menurut keterangan yang saya peroleh dari Penghulu Badra, penculiknya adalah Peri Sendang Bangkai. Penghulu Badra dibunuh juga oleh orang Sendang Bangkai, dan aku mengejar, tapi temannya menghadangku dua orang." Ludiro berpaling kepada Andini, "Yang tadi bertarung melawanku itu..." Andini mengangguk-angguk dan Ludiro melanjutkan percakapannya dengan Sekar Pamikat.

"Jadi kalau kita ingin mengetahui nasib para korban penculikan, sebaiknya kita datang ke Sendang Bangkai. Aku tahu tempat itu dari penghulu Badra."

"Kalau begitu, secepatnya kita bergerak ke sana!" kata Sekar Pamikat tak sabar diri.

"Tunggu," sergah Andini. "Jadi, kau benar-benar senasib denganku, Sekar Pamikat?"

"Ya. Calon suamiku diculik oleh mereka dan aku harus merebutnya kembali!"

"O...? Sebenarnya siapa kamu ini?" “Pendekar Cambuk Naga, putri Patih Sambangbumi dari Kepatihan Anjar Puspa," jawab Ludiro dengan cepat, mewakili Sekar Pamikat Dan ternyata jawaban itu

membuat Andini terperanjat kaget. "Jadi...  kau?  Kau  yang dikenal

dengan Cambuk Naga itu?"

Sekar Pamikat tersenyum tenang. Masih bernada penuh persahabatan, dan bukan nada angkuh membanggakan diri. Dia hanya berkata, "Kau mengenal nama itu juga rupanya?"

"Tentu. Suara lecutan cambuk nagamu sampai terdengar di kerajaan Sebrang." Andini tertawa senang. "Kalau begitu, ayo kita berangkat mencari kekasih kita masing-masing. " Langkah Pendekar Cambuk Naga begitu tegap, tegar dan mengagumkan. Sebagai seorang perempuan cantik, berambut panjang yang sebagian digelung dengan ikat kain emas, dengan baju model jubah berwarna biru muda dari kain halus, ia benar-benar menampakkan sosok kemolekannya. Badannya yang padat, berisi dengan buah dada yang menonjol menggiurkan setiap lelaki, ia menampakkan betul sosok pendekar putri yang tangguh. Pedang Jalak Pati terselip di pinggang berangkin hitam bludru, dan cambuk bergagang hitam nangkring di pundak, sungguh merupakan pemandangan yang cukup mengagumkan bagi seorang putri pendekar.

Sebenarnya kecantikan Sekar Pamikat mempunyai nilai yang sama dengan Andini, putri Panglima Sebrang itu. Hanya saja Andini lebih kelihatan lembut sebagai seorang putri cantik. Baju longgar berwarna merah muda dengan celana potongan pangsi berenda emas di tepiannya, memang menampakkan dia sebagai putri bangsawan, setidaknya sebagai seorang putri ningrat. Kesan keperkasaannya tidak nampak sama sekali, sebab ia sama dengan Ludiro, tanpa membawa senjata yang bisa terlihat mata mari usia. Andini polos, tanpa pedang maupun barang apapun. Tapi Sekar Pamikat yakin, bahwa Andini mempunyai ilmu silat yang cukup tinggi.

Ludiro,    sebagai  pengawal  setia Sekar Pamikat sejak dari kepatihan Anjar Puspa,   selalu berjalan di  belakang mereka. Kini rasanya ia mempunyai dua orang yang  harus  dikawal.  Ia  tetap mengenakan baju   buntung  dan  celana sebatas   tulang keringnya.   Memang  tak terlihat senjata pada dirinya, namun di balik baju buntungnya yang tebal, di sela-sela sabuk kulitnya yang lebar dan tebal itu, terselip beratus-ratus pisau kecil  yang   menjadi andalannya   bila bertempur. Dengan tubuh pendek dan kulit hitam kekar, ia melangkah penuh waspada. "Putri...!" tiba-tiba ia memanggil Sekar Pamikat.  Kedua   perempuan  sama cantiknya itu berhenti, berpaling kepada

Ludiro.

"Saya mendengar suara orang mengaduh," katanya.

Sejenak, Sekar Pamikat menggelengkan kepala, mendengarkan suara yang dimaksud Ludiro. Lalu ia berkata:

"Ya. Aku juga mendengarnya. Rupanya kita tidak jauh dari telaga berairkeruh itu. Dan suara itu... jelas suara Gopo yang masih kesakitan karena cambukan pada kakinya"

Tanpa bicara apapun. lagi, Sekar Pamikat merubah arah. Ia membelok, menuju jalan ke telaga keruh. Kini Ludiro berjalan persis di samping Andini. Sesekali Ludiro melirik rambut Andini yang panjang sebatas pinggang, namun bagian kepalanya ditekuk ke atas, dan diberi jepit dari logam kuningan. Emas. Ya, memang indah, dan sangat menarik kecantikan Andini itu. Tapi Ludiro segera membuang khayalannya untuk yang kedua kali. Kalau saja ia tumbuh sebagai ksatria gagah, seperti Lanangseta, ia akan berani melamar Andini. Sayang, kondisinya tidak seperti khayalannya, sebab itu ia membuang jauh-jauh khayalan itu. Ia hanya berkata kepada Andini, "Sudah berapa lama kekasihmu diculik?"

"Lebih dari setengah purnama. "

Diam-diam Ludiro berpikir, "Setengah purnama? Apa maksudnya? Satu purnama kalau tidak salah... 30 hari. Jadi setengah purnama... 15 hari. Ooh...

sudah lima belas hari?"

"Gantengkah dia?" bisik Ludiro. "Tentu lebih ganteng darimu," jawab

Andini. "Seorang pangerankah dia?"

"Hanya seorang pendekar gagah perkasa. Bertubuh tinggi, berotot tegap, berwajah bersih, halus, hidungnya bangir dan bibirnya bersih, tidak sehitam bibirmu." Ludiro hanya tersenyum kecut. Lalu Andini melanjutkan kata-katanya, sambil berjalan di belakang Sekar Pamikat dalam jarak dekat. Dan pembicaraan itu pun didengar pula oleh Sekar Pamikat, sehingga sesekali ia tersenyum diam-diam jika mendengar Ludiro diejek oleh kata-kata Andini.

"Kekasihku itu, mungkin orang paling tampan di seluruh pelosok bumi."

"Kenapa kau bisa bilang begitu?" "Karena aku belum pernah  melihat

lelaki lain yang lebih tampan dari dia. Dia sangat pandai memainkan jurus pedangnya. Ia selalu mengenakan ikat kepala dari kulit macan tutul untuk mengikat rambutnya yang panjang, lembut bagai benang-benang sutra Cina. Ia selalu menyandang  sebilah  pedang dan. "

Sekar Pamikat berhenti melangkah. Ia mulai ada keganjilan yang mencurigakan dari pembicaraan Andini. Ia bergumam dalam hati: "Ikat kepala kulit macan tutul...? Pedang di punggungnya...? Kok seperti... seperti...?"

"Ada apa berhenti?" tegur Andini. Sekar Pamikat menggeragap. "Ah,

anu... tidak."

"Nah..." Andini menggoda dalam senyum ceria. "Kau pasti terkesima dengan kekasihku, bukan? Kau pasti dapat menghayalkannya betapa gantengnya dia, bukan?"

Andini terus menggoda dengan kelincahan dan kemanjaannya. Sementara itu Sekar Pamikat semakin grogi, dan Ludiro sendiri sempat terbengong, bertanya-tanya dalam hati tentang siapa sebenarnya kekasih Andini itu?

"Apakah... apakah kekasihmu itu berhidung bangir dan bermata tajam?" tanya Sekar Pamikat

"Ya. Ya, betul sekali khayalanmu itu. Dia bermata tajam tapi meneduhkan. Sungguh mata itu begitu teduh bila menatapku dan aku sangat damai jika bersama tatapannya."

"Hemm... siapa..." Sekar Pamikat ragu. Ludiro segera tanggap dengan maksud putri asuhannya itu. Ia yang bertanya kepada Andini:

"Siapa namanya? Boleh kami mengetahuinya?" Andini berkerut dahi. Heran. "Kalian semakin curiga agaknya. Ada apa?" "Kami hanya ingin... hanya ingin tahu namanya saja..." kata Putri Ayu Sekar Pamikat. Ludiro menambahkan untuk menghilang kan kecurigaan Andini, "Ya. Kami ingin tahu namanya, sebab... ciri-ciri pemuda seperti yang kau sebutkan itu, sepertinya pernah kami kenal dan pernah menolong kami. Jika benar dia adalah orang yang kami maksud, berarti kami ada kesempatan untuk membalas budi baiknya. Kami berhutang budi kepada orang yang kau sebutkan ciri-cirinya."

Andini bahkan berhenti melangkah dan diam beberapa saat. Ia terbayang wajah kekasihnya yang menyekap kerinduan di hati. Ia terbayang saat berpelukan di sisi taman dalam keremangan cahaya purnama. Lalu, Ludiro membuyarkan lamunan itu dan bertanya lagi,

"Siapa namanya?"

"Apakah ia berjuluk seorang pendekar juga?" pancing Sekar Pamikat yang mulai berdebar-debar sejak tadi.

”Ya. Dia punya julukan pendekar karena kehebatannya bermain pedang."

"Pendekar siapa?" Ludiro ikut penasaran. Andini menatap Ludiro dan Sekar Pamikat berganti-gantian. Sepertinya ia menyimpan keraguan  dan  keheranan terhadap pertanyaan itu. Tapi akhirnya ia menjawab juga dengan suara lembutnya: "Ia berjuluk Pendekar   Maha

Pedang. "

Secara bersamaan Sekar Pamikat dan Ludiro menghempaskan nafas. Dalam hati Sekar Pamikat berbisik, "Bukan. ! Bukan

dia!"

Tetapi Ludiro masih mendesak pertanyaan ketika mereka melangkah lagi, "Nama aslinya siapa?"

Sekar Pamikat tertarik menguping lagi. Andini menjawab dengan polos:

"Ekayana... Ia anak seorang resi di sebuah pegunungan."

Sepi. Mereka melangkah menuju telaga. Kecamuk di dalam benak mereka tertunda sebentar karena suara orang merintih kesakitan masih terdengar, bahkan kian dekat dan semakin jelas. Kemudian ketika mereka sampai di balik semak belukar, terlihatlah sebuah telaga berair keruh. Dan di salah satu tepiannya, tergeletak seorang lelaki bertubuh besar, kekar dan brewokan. Andini sempat terperanjat mehhat Gopo. Ia berseru, "Itu raksasa...!"

"Bukan," jawab Ludiro. "Dia manusia biasa yang punya kelebihan bertubuh besar. Itu saja!"

Sekar Pamikat mendekati Gopo lebih dulu, setelah itu baru Andini dan Ludiro. Gopo merintih, sampai mengeluarkan air mata. Ia menahan-nahan kakinya yang sama sekali tak dapat digerakkan karena sakitnya. Dan begitu melihat kehadiran Sekar Pamikat, Gopo segera meratap:

"Tolong...! Tolonglah kakiku, aku sudah tak tahan lagi... oh, kasihanilah aku. Aku tidak punya saudara dan keluargaku habis terbantai. Aku sendirian, hanya berdua dengan kakiku ini. Haruskah aku kehilangan kakiku ini. ?"

Kata Sekar Pamikat, "Baik Tapi ingat, jangan sekali-kali berlagak semasa menjadi penguasa! Tidak semua orang bisa kau rendahkan lewat anggapanmu. Mengerti. ?"

"Ya, ya... Mengerti... Aduuuh. "

Sekar Pamikat mengambil cambuknya. Gopo terbelalak kaget ketika diketahui ia  akan  dicambuk  lagi.   "Wahduh...

kira-kira sajalah... Masa kaki sudah hancur mau kau cambuk lagi?! Sadis amat kau.,.! Kejam...!" Gopo menangis ketakutan.

Tapi Sekar Pamikat tidak peduli. Ia tak tahu bahwa Gopo sangat ketakutan jika melihat cambuk sejak saat itu. Trauma. Dan ketika Sekar Pamikat melecutkan cambuknya dua kali dalam hentakan terhenti, Gopo menjerit. Sangat ketakutan. Kakinya mengejang-ngejang sambil kelojotan.

Gopo tak tahu, begitulah cara Sekar Pamikat menyembuhkan kaki yang tercambuk oleh cambuknya. Hanya dengan cambuk itulah kaki tersebut dapat kembali normal. Sebenarnya tidak sakit. Berbunyi: "tarr...!" saja tidak. Tapi karena Gopo sudah terlanjur trauma dengan cambuk, maka sekalipun hanya tersentuh cambuk ia menjadi ketakutan dan menjerit-jerit.

Tetapi tiba-tiba ia berhenti menangis meraung-raung. Ia terbengong sambil masih mewek tanpa suara. Ia menggerak-gerakkan kakinya yang semula sangat sakit dan sukar digerakkan. Ternyata rasa sakit itu. hilang seketika. Kaki itu dapat digerak-gerakkan kembali dengan normal, sepertinya tidak pernah terjadi suatu kecelakaan yang meremukkan tulang-tulangnya. "Aneh. Aneh sekali," pikir Gopo. Lalu ia mulai tersenyum. Ia mencoba berdiri, oh... bisa. Lancar. Biasa-biasa saja.

"Kakiku...? Kakiku sembuh...? Oii... bisa loncat malah..." Gopo kegirangan.

Sementara itu,  Andini berbisik kepada  Ludiro, "Cukup aneh cara penyembuhannya. Tapi kuakui memang hebat si Cambuk Naga itu. Ia dapat menyalurkan tenaga murni lewat lecutan cambuknya dan membuat penyembuhan yang sangat ajaib." Ludiro berbisik,  "Setahuku  dia punya ilmu cukup tinggi. Entah kalau

menurut setahumu. "

Sekar Pamikat tidak banyak bicara, ia berjalan meninggalkan Gopo seraya berkata kepada Ludiro, "Paman. kita

harus segera ke Sendang Bangkai sebelum. "

"Tunggu, tunggu...!" Gopo memotong dengan cepat. "Kalian hendak pergi ke mana tadi? Ke Sendang Bangkai?! Oh, apakah... apakah kalian orang-orang Sendang Bangkai?"

Ludiro yang menjawab, "Kami punya urusan dengan orang-orang Sendang Bangkai. Mungkin juga urusan berdarah!" "O, oh... kalian mau bikin perhitungan dengan orang-orang Sendang Bangkai?! Wah, kebetulan! Jangan tinggalkan aku. Jangan tinggalkan Gopo! Tolonglah, ajak serta aku!"

"Apa urusanmu?" tanya Sekar Pamikat.

"Keluargaku habis terbantai oleh mereka pada saat aku tidak ada di rumah. Mereka yang membuat aku sebatang kara! Aku harus menuntut balas kepada mereka. !"

Setelah dipertimbangkan sejenak, mereka setuju mengajak serta Gopo. Tak ada masalah. yang ada hanya kegelisahan di hati Sekar Pamikat: mengapa ciri-ciri kekasih Andini sama persis dengan kekasihnya yang juga diculik Peri Sendang Bangkai?

* * *

4

SENJA sudah berangsur pudar. Kali ini, sesosok bayangan mulai menembus malam yang muda. Kemudian disusul tiga sosok bayangan lainnya mengikuti dari belakang. Empat sosok itu masih berusaha merayapi hutan gunung Carakan. Mereka adalah Putri Ayu Sekar Pamikat dengan ketiga sahabatnya. Sudah tiga malam mereka merambah bumi, menuju Sendang Bangkai, dan pada malam ini Sekar Pamikat memerintahkan orang-orangnya untuk berhenti. Berhenti untuk ketiga kalinya. Sebetulnya Sekar Pamikat masih ingin melanjutkan perjalanan malam. Ia tak sabar lagi, ingin segera sampai ke Sendang Bangkai. Namun, Andini yang manja berulangkali merengek.

"Kakiku capek... Pegal semua. Uhh...!" Mulanya Sekar Pamikat tidak menghiraukan rengekan gadis manja itu, tapi setelah Andini berhenti dan berkata:

"Jalanlah terus. Aku mau istirahat di sini saja."

"Kau akan tertinggal, Andini," kata Ludiro. "Biar. Aku capek sekali. Aku tak mau memaksakan diri untuk menuruti penderitaan."

"Termasuk tak mau merebut kekasihmu lagi?" ujar Ludiro.

"Uuh...!" Andini hanya mendesah kesal. Sekar Pamikat mengulum senyum. Akhirnya ia sendiri berkata:

"Baiklah, kita beristirahat dulu di sini." Lalu ia memerintahkan Gopo, "Pasang kayu bakar untuk penghangat, Gopo!"

"Baik," jawab Gopo yang tak kelihatan capek, hanya kelihatan kesal hatinya terhadap Andini. Ia mendesis di depan Andini, "Uhh... bocah kolokan!" Andini sendiri tak peduli atas celaan Gopo. Ia hanya melirik sebentar dengan sewot, lalu buang muka, menampakkan kemanjaannya.

Nyala api   unggun   berbinar-binar. Menghangatkan   tubuh,  menghalau  udara dingin pegunungan yang mencekam. Ludiro berada dalam satu kelompok dengan Gopo dan Andini, sementara Dewi Cambuk Naga memisahkan diri. Memandang keremangan petang    sambil   menyelidik suasana sekitar. Lalu ia sengaja duduk bersandar pada batang  kayu    yang    tumbang.  Ia memandang    Andini      yang  tengah tertawa-tawa bersama Gopo  dan  Ludiro sambil menghabiskan panggang ayam hutan. "Cantik. Memang cantik dia," pikir Sekar   Pamikat   menatap    Andini   dari kejauhan.   Benak   dan    hati  saling berkecamuk Kata-kata Andini terngiang dalam  telinganya  saat   gadis bertahi lalat di ujung bibir bawahnya itu menceritakan ciri-ciri kekasihnya. Sekar Pamikat sempat menyimpan kegelisahan beberapa hari ini. Hatinya selalu merasa was-was, dan bertanya-tanya:

"Mungkinkah hanya sebuah persamaan saja? Rambut panjang yang halus bagai serat sutra, itu adalah rambut Lanangseta. Pedang dipunggung dengan ikat kepala dari kulit macan tutul, itu milik Lanangseta. Tinggi, tegap dan wajah halus bersih, itu juga milik Lanangseta. Apakah dia juga yang menjadi kekasih Andini? Ah, tapi mengapa namanya lain? Namanya Ekayana, gelarnya Pendekar Maha Pedang. Bukan bernama Lanangseta dengan gelar Pendekar Pusar Bumi." Sekar Pamikat mendesah. Lalu hatinya bergumam lagi, "Ah, apa sih artinya nama bagi seorang lelaki? Bisa saja ia memalsu seribu nama dalam sehari kalau toh itu memungkinkan ia dapat menggaet sejuta perempuan. Ya, apa jadinya jika ternyata kekasih Andini adalah Lanangseta juga? Apa yang harus kulakukan untuk mereka? Membunuh Andini, atau membunuh Lanangseta? Atau... membunuh diri sendiri? Oh, tidak! Itu tidak mungkin. Juga tidak mungkin sama Lanangseta diculik pada malam pengantin, sedangkan Ekayana diculik lima belas hari lebih dulu. Tak mungkin sama. Tapi... tapi bisa saja Lanangseta lolos dari penculik dan lari ke Kadipaten Nilakencana, lalu bertemu denganku dan... dan... ah!" Sekar Pamikat bagai mengibaskan lamunannya sendiri. Rasa perih di hati akibat lamunannya terasa menjalar di seluruh daging, bahkan sempat membuat tulangnya ngilu. Ia tak mau membayangkan hal itu. Ia takut menghadapinya. Sebab ia tak akan mampu menerima kenyataan, bahwa kekasihnya mendua hati. Ia sungguh tak mampu, dan tak mau.

Lanangseta memang tampan. Gagah. Bukan hal yang mustahil jika banyak gadis mengincarnya. Bukan hal yang aneh jika banyak perempuan yang ingin memilikinya. Lanangseta memang menggairahkan. Senyumnya yang lembut mempunyai daya tarik tersendiri, bahkan mampu membuat perempuan tergugah birahinya jika melihatnya terlalu detil. Tetapi bagaimana dengan kekasih Andini? Apakah dia juga demikian? Apakah dia juga diculik oleh orang yang ingin memihkinya? Jangan-jangan lain korban lain penculiknya.

Tiba-tiba sebatang pisau bergagang kayu cendana melayang. Melesat tepat dari arah rimbunan pohon, dan tertuju pada dada Sekar Pamikat. Reflek Sekar Pamikat cukup kuat. Ia melentik bagai belalang ke samping kanan dengan cepat mencabut pedang Jalak Patinya.

"Sreet. !"

Pisau bergagang kayu cendana menancap di batang pohon, tempat Sekar Pamikat tadi berada. Mata Sekar Pamikat membelalak dan bergerak liar mencari menyerang gelapnya.

"Ada apa...?!" Ludiro bergegas bangkit mengetahui Sekar Pamikat mencabut pedang. Ia segera mendekati putri asuhannya. Ia pun bersiap, memasang kewaspadaan ketika Sekar Pamikat mengatakan:

"Seseorang telah menyerangku," seraya Sekar Pamikat menunjukkan pisau yang menancap di batang pohon.

Ludiro bergegas masuk ke rimbunan belukar. Andini dan Gopo ikut tegang. Mata mereka membelalak, mengawasi sekeliling. Mereka berpencar dan saling berhati-hati.

Lain sekali lagi sebuah pisau bergagang kayu cendana melesat dari kegelapan.

"Awas...!" seru Sekar Pamikat. Kali ini pisau itu meluncur ke arah Gopo. Tubuh besar yang mirip raksasa itu memang sedikit lam ban bergerak. Namun untung hanya merobek baju hitamnya dan pisau itu pun tembus ke semak-semak

"Gila!" bentak Gopo dengan keras. Daun-daun bergoyang. Mereka semakin tegang kecuali Gopo. Mereka mengira di balik getaran daun-daun itu akan muncul sesosok tubuh manusia lain, namun ternyata tidak. Daun itu bergoyang karena tergetar oleh suara Gopo yang keras dan mempunyai suatu hembusan tersendiri.

"Kita pindah saja, yuk...?" rengek Andini seperti anak kecil. Gopo sangat dongkol mendengar rengekan itu. "Di sini tidak aman. Ayolah, kita pindah ke tempat yang aman!"

Dengan geram Gopo berkata, "Tutup mulutmu, Setan cengeng! Pasang kewaspadaan supaya matamu tidak ditancap pisau sialan itu!"

Andini merajuk, sewot. "Kamu kasar sekali, Gopo..."

"Persetan...!"hardik Gopo.

Bertepatan dengan itu, sebatang tombak melesat dari arah kegelapan lain. Melesat cepat, nyaris tak terlihat mata. Tertuju kepada Andini yang tengah cemberut kepada Gopo. Andini di luar dugaan duduk dalam keadaan cemberut. Pada saat ia duduk itulah tombak melayang ke atas kepalanya, dan menancap batang pohon lainnya.

"Oh...! Ada tombak!"

Jengkel sekali hati Gopo melihat kemanjaan Andini, bukannya memandang ke arah sekeliling, berjaga-jaga, tapi malahan mendekati tombak itu dan mengamatinya beberapa saat. Sekar Pamikat sempat berseru.

"Andini... berlindunglah...!"

Tapi Andini bagai tidak mau mendengar anjuran Sekar Pamikat. Ludiro ingin menarik Andini dari tempatnya berdiri, tapi tiba-tiba sebuah pisau melesat lagi menghampiri Ludiro. Hembusan angin terasa bagai meniup tengkuk kepala Ludiro. Secepat kilat Ludiro loncat ke depan lalu bersalto miring, serong ke kanan. Ia berdiri tegap kembali persis di tepian bara api yang masih menyala-nyala itu. Sedangkan pisau itu melesat terus hampir mengenai Sekar Pamikat. Untung dengan cekatan Sekar Pamikat mengibaskan pedangnya. "Trang...!" Pisau itu dibuang dengan tangkisan pedang yang cukup cepat.

Gopo menarik tangan Andini yang masih mengamati tombak yang menancap di pohon, seakan ia masih heran dengan tombak itu. Gopo berkata kasar, "Setan...! Kau cari mampus ya?" "Ada tombak...!" Andini menuding. "Iya. Aku tahu itu tombak. Aku tidak

bilang kalau itu pisang raja! Tapi ini berbahaya. Jangan berdiri saja di sini, berlindunglah! Tolol! Bodoh! Goblok! Bodoh..!"

Pada saat itu desing besi meluncur cepat ke arah mereka. Ludiro sempat berteriak, "Awass...!" Gopo segera berguling ke tanah.

Sebatang tombak itu melesat ke arah Andini. Dengan gerakan yang tak diduga, Andini menghentakkan kaki sehingga meloncat ke atas. Tombak menancap pada pohon, tepat di bawah kaki Andini. Dan dengan gayanya yang menjengkelkan hati Gopo, kaki Andini menapak pada batang tombak itu. Ia berdiri di atas batang tombak dan berseru kepada Gopo.

"Gopo...! Tolong, turunkan aku...!" "Brengsek!" teriak Gopo, dan Andini terjatuh akibat getaran suara Gopo. Ia

meringis, pantatnya sakit.

Sekar Pamikat dan Ludiro tahu, itu hanya permainan Andini saja. Tetapi Gopo tidak mengetahui, bahwa Andini sebenarnya bukan sekedar gadis manja tanpa isi. Buktinya, jika Andini tanpa isi, tak mungkin ia dapat menghindari lemparan tombak yang begitu cepat, dan bahkan bisa berdiri di atas batang tombak yang menancap di pohon itu. Agaknya Gopo belum menyadari hal itu.

Gopo hanya segera berseru kepada Ludiro, "Kita telah dikepung!"

Sekar Pamikat mengangguk sambil berjaga-jaga. Terangnya api unggun membuat silau pemandangan. Mereka tak dapat menembus pandaiigan di balik semak belukar. Namun insting mereka mengatakan, bahwa ada banyak pasang mata yang sedang mengawasi mereka.

"Tutup telinga kalian...!" seru Gopo.

"Apa? Tutup telinga?" Andini bernada membantah. "Memangnya gunung ini akan meletus?"

"Tutup telinga, tolol?"

"Tuh... kamu kasar lagi sih..." Andini bersungut-sungut.

Gemas sekali hati Gopo. Ia ingin menggamparnya. Tapi tiba-tiba, dari rimbunan semak berbagai arah, muncul tubuh-tubuh kekar dan kasar. Wajah-wajah bengis menampakkan diri, mengurung mereka. Sekar Pamikat merapat pada Ludiro, demikian juga Gopo dan Andini. Gadis manja ini sempat berkata polos,

"Iih... banyak orang di sini. " "Diam!" geram Gopo.

Kelompok tak dikenal itu semakin banyak Jumlahnya mencapai puluhan orang. Mereka bergerak membuat suatu lingkaran mengepung Sekar Pamikat dan kawan-kawan. Lingkaran semakin dipersempit dan kian rapat. Rasa-rasanya tak ada celah untuk dapat lolos. Jangankan manusia, lobang jarum pun susah lolos dari lingkaran itu.

Salah seorang dari kelompok bengis itu maju, agaknya dialah pimpinan mereka. Tanpa baju, berikat kepala kulit ular, bercelana dari kain tebal tenunan, mengenakan kalung berlontin tengkorak bayi. Rambutnya panjang tak teratur. Ia memegang tongkat setinggi tubuhnya. Di ujung tongkatnya itu berhias tengkorak manusia dewasa.

Laki-laki yang sedikit gemuk dan buncit perutnya itu terkekeh-kekeh memandang Andini. "Nona manis. "

ucapnya menggoda. Tapi Andini menjawab polos:

"Apa?" Gopo mencolek agar Andini diam. Tapi malahan sebaliknya. Andini bertanya, "Kalian siapa, kok mengepung kami?"

"Aku Sumo Barong, Nona cantik. " "Barong apa?" tanya Andini. Lalu lelaki itu tertawa terbahakbahak kepada teman-temannya.

"Gadis ini cantik, lucu, tapi menggairahkan."

Andini akan bicara lagi, tapi tangannya dicengkeram oleh Gopo dengan gemas, sehingga ia terpekik tertahan. Sumo Barong berkata kepada Andini, "Aku pimpinan begal Gunung Carakan! Kalian telah memasuki wilayah kami, berarti kalian siap kami rampok."

Andini masih menyahut dengan gaya manjanya, "Kami tidak punya barang berharga apa-apa? Kamu mau merampok apa?"

Sumo Barong terkekeh. "Memang kamu tidak membawa barang  yang berharga,.namun tubuhmu... dan tubuh teman perempuanmu yang satu itu..." Sumo Barong ketawa sejenak. "Itu sudah bisa dijadikan barang rampokan kami, tahu?" "Tubuhku sudah ada yang punya. Aku punya kekasih. Aku tak mau tubuhku kau

sentuh. Aku jijik sama kamu, Barong!" "Jijik...?.   Jijik..?   Ha,  ha,

haa..." teman-teman Sumo Barong ikut tertawa. "Jijik itu kelihatannya, Nona manis.  Tapi  jangan  hanya   dilihat, rasakan dulu, baru kau akan ketagihan." Kemudian mereka tertawa lagi.

"Ah, kamu bohong!" ujar Andini polos. Sumo Barong nekad mendekat. Ludiro ingin bertindak, tapi tangan Sekar Pamikat memberi isyarat agar Ludiro diam dulu.

"Jangan sentuh tubuhku..." ujar Andini. Tapi Sumo Barong nekad menyentuh pipi Andini. Sayang, belum sampai tangan Sumo Barong menempel di pipi, rambut Andini yang panjang dan saat itu terkumpul ke depan segera disabetkan ke tangan Sumo Barong seraya Andini berkata,

"Nakal...!"

Di luar dugaan yang lainnya, Sumo Barong menjerit sekuat tenaga. Tangannya yang terkena sabetan rambut Andini itu menjadi biru, kaku dan membengkak dalam tempo singkat. Sumo Barong jingkrak-jingkrak karena kesakitan. Teman-temannya bersiaga, sementara itu Gopo terbengong melihat kejadian itu. Hatinya sedikit gemetar melihat kenyataan, bahwa rambut panjang Andini ternyata mempunyai kekuatan yang cukup dahsyat. Hanya disabetkan dengan ringan, tangan Sumo Barong bisa menjadi separah itu, seakan habis ditimpa pohon besar. Andini sempat tersenyum kepada Gopo. Gopo melengos, merasa terejek. Sedangkan Sekar Pamikat dan Ludiro tetap berjaga-jaga menunggu datangnya serangan.

"Kamu nakal, Barong! Itulah akibatnya kalau anak nakal!" kata Andini polos sekali. Gopo hanya mendengus kesal.

"Jangan diam saja!" bentak Barong kepada anak buahnya. "Serang mereka, bunuh! Tapi perempuannya jangan!"

Sebelum anak buang Sumo Barong bergerak, Gopo sempat berseru kepada kawan-kawannya.

"Tutup telinga kalian!"

Tapi Sekar Pamikat dan yang lainnya tidak menghiraukan kata-kata Gopo. Mungkin karena anak buah Sumo Barong telah lebih dulu menyerang, sehingga mereka sibuk mempertahankan diri. Ludiro meloncat-loncat menghindari kibasan golok dan tombak. Demikian juga Sekar Pamikat, sibuk menangkis serangan lawan dengan pedang Jalak Patinya. Denting bunyi senjata beradu terdengar tak begitu seru, karena hanya Sekar Pamikat saja yang menggunakan senjata untuk menangkis serangan musuh. Sedangkan yang lainnya, meloncat, menghindar, dan begitu seterusnya. Sementara itu, Andini kelihatan tak begitu serius menghadapi mereka. Ia  berlari  ke  sana  ke  mari, menghindari  tangkapan  lawannya.  Gopo sibuk mengadu  lengannya  dengan tombak-tombak besi, sehingga lama-lama tangkisan lengannya terasa sakit juga. "Ini akan melelahkan kita, Putri Sekar..."  kata  Gopo  dalam kesempatan berdekatan dengan Sekar Pamikat. "Tak mungkin  kita harus   membunuh sekian

banyak."

"Heaaat...!" Sekar Pamikat menangkis kilasan pedang yang nyaris membabat kepala Gopo. Ia berkata kepada Gopo sambil menghadapi serangan lawan,

"Apa gagasanmu, Gopo...?"

"Kabur! Kita harus lari menghindari mereka!" bisik Gopo.

"Pertahanan mereka cukup rapat...!" "Tutup semua telinga, kataku! Ikuti sajalah...!"  Gopo merunduk,   lalu melancarkan tendangan  ke  kaki  lawan. Goloknya yang  terselip di pinggang sengaja dibiarkan mendekam di sarungnya. Ia belum  perlu  menggunakan.  Sia-sia saja, pikirnya. Musuh begitu banyak dan

akan melelehkan.

"Aku akan membuat jalan untuk lari, tutup semua telinga!" sekali lagi Gopo bicara pada saat ia berdampingan dengan Ludiro dan Sekar Pamikat. Saat itu, Andini berlari lincah bagai kelinci yang sukar ditangkap.

"Sekarang...!" kata Gopo. Dengan cepat Ludiro dan Sekar Pamikat menutup telinga mereka menggunakan tangan. Mereka tak tahu apa yang akan dilakukan Gopo, tapi yang jelas, pada saat itu Gopo berteriak keras sekali:

"Hooooaaaaaaa...!!!"

Teriakan itu cukup panjang dan keras. Da-undaun bergoyang kencang bagai ada hembusan angin puyuh. Sumo Barong dan kawanannya menjadi kejang, mereka memekik kesakitan. Mereka mencoba menutup telinga, tapi tak berhasil. Dari telinga mereka masing-masing keluar darah segar. Lalu beberapa orang ada yang sudah menggelepar, berjatuhan. Tombak dan pedang banyak yang patah. Dahan pohon pun retak, bahkan ada yang sempat menjatuhi kepala anak buah Sumo Barong. Bumi tempat mereka berpijak menjadi goncang bagai ada gempa mendadak. Sementara itu, nyala api kian mengecil. Dan di suatu tempat, Andini yang tak sempat menutup telinga hanya diam. Berhenti bergerak, berdiri menunduk, bagai sedang memusatkan konsentrasi untuk menanggulangi suara Gopo yang punya kekuatan dahsyat itu.

Sumo Barong roboh menggelepar dan men jerit-jerit. Gopo memperpanjang suaranya. Anak buah Sumo Barong semakin berjatuhan. Pada saat itu, Gopo berseru kepada kawan-kawannya.

"Lekas, lari...!"

Memang, ada jalan untuk lari. Barisan anak buah Sumo Barong tidak serapat tadi. Mereka berjatuhan sambil menggelepar menahan sakit pada telinga mereka. Bahkan ada yang sekarat sebentar, lalu mati. Saat itulah Sekar Pamikat melesat masuk ke semak kegelapan. Diikuti oleh Ludiro dan Gopo. Mendadak Gopo teringat sesuatu, ia kembali lagi dan dengan kasar menyeret Andini untuk kabur.

"Cepat lari...! Tinggalkan tempat ini...!"

"Aku capek. Kakiku lelah berlari-larian...!" Andini memanjakan diri. Gopo jengkel, namun segera menggendong Andini dan ia pun melesat lari menyusul Sekar Pamikat dan Ludiro. Andini yang berada di pundak Gopo masih rewel.

"Pelan-pelan, Gopo! Pinggangku sakit nih...!" Gopo tidak peduli, ia berlari dengan langkah lebar. Hentakan kakinya menggetarkan tiap jengkal tanah yang diinjaknya. Dalam waktu singkat ia berhasil menyusul Ludiro dan Sekar Pamikat.

Malam yang gelap, hutan yang lebat, membuat mereka saling bertabrakan. Ludiro nyaris terinjak Gopo sewaktu ia tersandung agar pohon. Sekar Pamikat selalu berada di depan.

Untuk memberi tanda kawan-kawannya ia selalu berkata, "Cepat... cepat...! Belok ke kiri...! Terus...!" Sementara itu Andini seperti naik kuda binal yang susah diatur. Perutnya terasa mual, dia minta diturunkan. Tapi ketika diturunkan oleh Gopo, ia malah minta beristirahat. "Setan bawel...!" Geram Gopo yang kemudian tanpa peduli omelan Andini ia mengangkat tubuh ramping itu. Ia berlari menyusul Sekar Pamikat. Andini merasa dirontokkan isi perutnya oleh langkah-

langkah Gopo.

"Sekar, berhenti dulu..." Kata Gopo, dan Ludiro pun berhenti lebih dulu, lalu Sekar mengikuti.

"Ada apa?"

"Kalau tak salah, di samping kiri kita ini ada goa. Aku mendengar gema langkah kita..." ujar Gopo seraya ia mendekat arah yang dimaksud.

Gelap sekali. Mereka tak dapat melihat ada lobang dalam jarak tertentu. Tetapi terdengar suara Gopo dari tempat yang gelap berkata, "Benar, ini ada sebuah Goa."

Mereka mendekat. Andini minta dituntun Ludiro.

"Sayang mulut goa ini terlalu kecil," kata Sekar Pamikat setelah merabahya beberapa saat. "Ada batu penghalang yang. menutup goa ini....

Mendadak mereka mendengar derap kaki para pengejar. Obor-obor bergerak di kejauhan mendekati arah mereka. Rupanya anak buah Sumo Barong yang belum sempat mati, menjadi penasaran dan mengadakan pengejaran.

"Mereka mengejar kita, Putri," kata Ludiro tegang.

"Ada obor... Aku akan pinjam obor mereka," kata Andini.

Dengan kasar Gopo meraih baju Andini dan menariknya.

"Jangan bodoh kelewat batas, Andini! Kembali!"

"Ihh...! Robek bajuku, tolol!" teriak Andini. Ada suara di kejauhan, "Itu dia...! Suaranya di sana!" "Dengar, mereka mendengar suaramu," bentak  Ludiro kepada Andini.  Andini hendak membantah, tapi   Sekar Pamikat segera   menutup  mulut  Andini.   Sekar berkata kepada Gopo dengan suara pelan: "Geser batu penutupnya. Kita masuk goa, dan tutup kembali. Kau sanggup,

Gopo?"

"Tentu, Putri Sekar...!" jawab Gopo. Kemudian ia segera mengerahkan tenaganya, mendorong batu itu. Dan ternyata batu itu pun bergerak lamban. Mulut Goa terbuka sedikit.

"Cukup untuk masuk satu persatu," ujar Sekar Pamikat. Kemudian Sekar masuk lebih dulu. Disusul Ludiro, dan Andini. Tapi Andini keluar lagi.

"Ada apa?" bentak Gopo.  "Seram. Dalamnya juga gelap..."

"Masuk!" seraya Gopo mendorong tubuh Andini ke dalam. Ludiro menarik Andini. Sementara itu, Gopo masih tertinggal di luar, tubuhnya sukar masuk karena besarnya. Ia mendorong batu penutup sekali lagi, saat itu anak buah Sumo Barong semakin dekat.

* * * 5

KETEGANGAN mulai mereda sejak Gopo menutup kembali pintu goa tersebut. Batu besar itu telah rapat dengan pintu goa, sehingga setidaknya mereka merasa aman untuk sementara waktu.

"Di sini juga gelap," suara Andini yang manja bergenia. Tapi tak satu pun dari mereka berempat yang menanggapi kata-kata Andini.

"Paman, jangan jauh-jauh dari kita," bisik Sekar Pamikat yang juga terdengar menggema. Mereka saling tak menatap muka. Gelap lebih dari pekat. Gopo sendiri tak tahu kalau Andini sudah bergeser menjadi di depannya, sehingga ketika ia hendak melangkah, Andini menjerit:

"Aaoww...!"

"Sssttt...!" Ludiro mendesis. "Gopo menginjak kakiku!" "Brengsek," gerutu Gopo. "Hanya

tersentuh jempol kakiku saja bilang menginjak!"

"Tapi sakit, tolol!" geram Andini. "Berhentilah menjadi anak ingusan, Andini," kata Sekar Pamikat dengan tenang. "Ada yang perlu kita kerjakan lebih daripada sekedar cekcok dan ribut-ribut."

Andini diam. Mungkin cemberut atau bersungut-sungut, tak jelas. Tak ada yang dapat saling memandang wajah. Namun mendadak Gopo bicara dengan penuh semangat, "Putri Sekar... aku yakin, goa ini cukup dalam dan lebar."

"Darimana kau tahu?" gumam Ludiro. "Gema. Gemanya dapat menjadi ukuran

lebar dan dalamnya goa ini."

Andini menyahut dengan ketus, "Semua goa juga menggema. Kau pikir kami ini orang bodoh."

"Kami memang bukan orang bodoh, selain kamu!" balas Gopo dengan ketus pula.

Lalu terdengar suara Sekar Pamikat yang ternyata sudah berada dalam jarak lebih jauh dari mereka. "Paman Ludiro!" "Sekar..." Gopo  yang  menjawab dengan cemas, sebab ia tahu suara Sekar menjauh, berarti Sekar telah merayap

masuk ke daerah dalam goa.

Kemarilah kalian. Pelan-pelan," kata Sekar Pamikat. "Aku menemukan seberkas sinar di sana. "

Kemudian mereka saling tergesa-gesa menuju ke arah Sekar Pamikat. Ludiro terjatuh, suara tubuhnya berdebam menimbulkan gema. Sekar Pamikat bersuara cemas, "Siapa itu yang jatuh?" Tetapi Andini yang menyahut:

"Aku. Habis tak ada yang menuntunku."

"Gopo, tuntun Andini," perintah Sekar Pamikat.

Gopo menggerutu dan sengaja tak mau menuntun Andini. "Setan bawel! Yang jatuh Ludiro, dia yang mengaku!"

Kemudian mereka sampai di tempat Sekar Pamikat berdiri. Agaknya mereka berdiri di suatu tikungan jalan goa.

"Lihat," Sekar berbisik. "Di sana ada seberkas cahaya sinar. Pasti ada jalan ke sana."

"O, ya. Benar," kata Gopo. "Kurasa di sana ada orang. Tapi, siapakah sebenarnya penghuni goa ini?"

Andini menggumam pendek, kemudian melangkah mendahului mereka. Sekar Pamikat segera menggaet baju Andini dan berkata, "Jangan gegabah. Matilah nanti setelah bertemu dengan kekasihmu yang tampan itu!"

"Aku akan mencari tempat terang. Aku ingin melihat betisku apakah lecet atau tidak. Tadi kurasakan ada benda tajam menggores betisku." "Lepaskan dia, Putri Sekar," ujar Gopo. "Biarlah kalau memang ia ingin mati lebih dulu, silakan saja."

Ludiro bagai menggumam. “Bertindaklah penuh perhitungan.

Siapa tahu di dalam goa ini banyak jebakan."

"Jebakan?" Andini bernada was-was, lalu ia melangkah mundur sampai menyentuh tubuh Gopo. Dengan kasar Gopo sengaja mendorong kepala Andini dengan satu hentakan:

"Bandel!"

"Kurang ajar kau...!" Andini sewot. Ia menampar Gopo. Tapi ia tidak tahu kalau Gopo telah bergeser ke samping, sehingga tamparan tangannya mengenai wajah Ludiro.

"Plok...!"

"Aduh," pekik Ludiro. "Kok yang ditampar aku?!"

"Oh, kau Ludiro? Maaf kukira Gopo..." terdengar pula Gopo terkekeh tertahan menertawakan kesalahan Andini. Agaknya mereka tak tahu kalau Sekar Pemikat sudah berhasil maju ke depan, menjauhi mereka. Suaranya terdengar di

sebelah sana, "Aman. Kemarilah...!"

Setapak  demi setapak  mereka melangkah. Terus menyelusup ke  dalam goa. Sekar Pamikat paling depan, sebab dialah yang mempunyai keyakinan lebih waspada ketimbang yang lain. Dia berani menghadang bahaya jika datang dari depan.

"Perutku lapar lagi," gerutu Andini. Dan tak satu pun yang memberi komentar atas kata-kata itu.

Semakin jauh mereka menyerusuk ke dalam goa, semakin dekat mereka dengan cahaya. Sejauh itu, memang tak  ada halangan apa-apa. Jebakan pun tak ada. Qopo menyimpulkan, goa itu memang masih perawan,   belum   pernah  ada  yang menjamahnya. Tentu saja ia berkesimpulan begitu, sebab ia tidak menemukan sesuatu yang ganjil dan membahayakan. Dinding goa yang lembab, dan lantai yang dingin, membuat pikiran Gopo jadi berjalan serta berkeyakinan, bahwa Goa tersebut pasti mempunyai lobang lain di suatu tempat. Cahaya sinar semakin dekat, sampai akhirnya  mereka  berhenti dalam jarak beberapa langkah lagi sebelum memasuki

lorong bercahaya.

"Sepi," bisik Sekar kepada Ludiro. "Ya. Tapi siapa yang menyalakan obor

di dalam goa ini? Siapa yang ada di dalam cahaya terang itu?"

"Setan, mungkin," bisik Andini. "Ssstt..." Sekar Pamikat mendesis. "Diamlah di sini dulu, biar aku yang menyelidiki ke sana."

Sekar Pamikat melangkah dengan hati-hati, berusaha mengurangi bunyi langkahnya. Semakin dekat semakin jelas apa yang bersinar di lorong itu. Ternyata lorong tersebut dipenuhi dengan tumbuhan lumut. Dinding lorong yang lembab penuh dengan tanaman lumut yang mengeluarkan cahaya. Karena waktu itu belum ada dan belum dikenal istilah fosfor, maka mereka menamakan tanaman itu sebagai ‘lumut bercahaya'.

Mereka datang mendekat setelah Sekar Pamikat memberi perintah. Mereka memandang penuh kekaguman, Tak satupun yang berbicara selama beberapa saat. Mata mereka melebar, memandangi tiap lumut bercahaya dengan kagum. Mereka dapat mehhat kalau lorong itu cukup panjang. Memang sedikit sempit dari mulut goa, namun jelas mempunyai alur yang dalam.

Andini ingin memegang lumut itu, tapi tangan Gopo menepaknya seraya berkata, "Jangan sembrono. Siapa tahu tanaman ini beracun!" "Tapi tidak perlu sekasar itu! Sakit kan?!" Andini cemberut manja sambil mengusap-usap tangannya.

Lorong yang terang menampakkan dinding yang basah dan lantai yang lembab. Sekar Pamikat melangkah setapak demi setapak dengan hatihati dan penuh kewaspadaan, demikian juga Ludiro. Hanya saja Gopo dan Andini agak kurang berwaspada, sehingga pada suatu saat, mereka terpeleset dan jatuh terpelanting. Keduanya sama-sama terpekik, dan Ludiro menggerutu tak jelas.

"Selamat... selamat..." kata Andini." Untung tubuhmu yang sebesar gajah tidak menindihku."

Gopo menggeram, menahan dongkol dikatakan sebesar gajah. Kalau tak memandang Sekar Pamikat, mungkin gadis itu sudah ditamparnya sejak tadi.

"Apakah kita harus melangkah terus?" kata Ludiro entah ditujukan kepada siapa saja Dan kali ini, Gopo yang menyahut.

"Kurasa begitu. Aku yakin ada jalan keluar di ujung lorong ini. Entah tembus ke mana. Tapi pasti ada jalan menuju luar." "Kita kembali saja ke mulut goa yang tadi. Keluar lewat sana," usul Andini. "Kalau ingin terkena sengatan Sumo Barong,   silakan!"  jawab Gopo dengan ketus,   dan lagi-lagi  Andini  cemberut kesal.    Namun  mereka tetap melangkah dengan hati-hati mengikuti tapak kaki Sekar  Pamikat.  Mereka   berusaha  untuk tidak menyentuh tanaman lumut bercahaya itu. Mereka takut terkena racun yang mungkin lebih ganas serta lebih jahat dari racun  yang pernah  membusukkan

daging tubuh Ludiro itu.

Entah berapa lama mereka melangkah menyusuri lorong berdinding lumut terang. Tanah yang mereka pijak sudah tak sebasah tadi. Memang masih lembab, namun tak membuat basah pada kaki. Sementara udara yang ada di sana adalah udara dingin. Dingin yang mencekam tulang belulang mereka. Andini sejak tadi memeluk dirinya sendiri, tangannya terlipat di depan dada. Ia sempat berkata,

"Kalau tahu akan begini, aku pasti membawa jubah penghangat tubuhku." Dan kata-kata itupun tak ada yang menyambutnya.

Agaknya perjalanan mereka sudah cukup jauh. Mata Andini telah sayu, terkantuk-kantuk. Tapi lorong bercahaya itu masih panjang. Entah berapa lama lagi mereka akan menemukan jalan keluar dari goa tersebut.

"Kita beristirahat dulu, sambil memikirkan jalan keluar dari goa ini," usul Ludiro kepada Sekar Pamikat.

Sekar Pamikat menggumam. "Jalan keluar jelas ada di ujung lorong. Tapi seberapa jauh ujung lorong ini, kita tidak tahu. Dan kita sendiri telah masuk ke dalam goa terlalu jauh dari mulutnya yang tadi."

Sekar Pamikat berhenti, kemudian melepas pedang dan sarungnya. Ia duduk di tanah yang sedikit lembab. Lalu yang lainnya mengikuti. Tanpa perduli keadaan kotor dan dingin, mereka beristirahat melepas lelah. Pada saat itu Andini mulai terkantuk-kantuk. Akhirnya dengan tak perduli apa-apa lagi, ia berbaring di tanah dan menggunakan betis Gopo sebagai bantalan. Ia tertidur dengan pulas. Sementara itu, Gopo pun mencari tempat untuk bersandar, yaitu suatu dinding lorong yang tidak ditumbuhi lumut.

"Putri Ayu... silakan tidur beberapa saat. Biar saya yang berjaga-jaga," kata Ludiro dengan penuh kesetiaan. "Tak usah, Paman. Cukup dengan duduk begini saja aku sudah bisa melepaskan lelah," kata Sekar Pamikat. Tapi nyatanya, ia tertidur juga dalam keadaan duduk tegak. Dan Ludiro membiarkan Dewi Cambuk Naga lelap tertidur. Ia berusaha menahan diri dari kantuk, dan tetap berwaspada menjaga kemungkinan kemungkinan yang tak diinginkan.

Cukup lama juga mereka tertidur. Cukup lama juga Gopo mendengkur. Bahkan setelah beberapa saat Gopo mendengkur, ada beberapa lumut yang berjatuhan karena getaran dengkur Gopo.

Ketika Sekar Pamikat terbangun, ia menemukan Ludiro sedang memakan lumut tersebut. Sekar Pamikat terkejut dan sangat cemas.

"Paman? Kau telah memakan tanaman itu?!"

"Ya, Putri Ayu. Saya tak tahan kantuk, lalu saya coba-coba memakan lumut-lumut ini. Ternyata tidak beracun. Dan... yang jelas rasa kantuk saya menjadi hilang sehingga saya dapat berjaga-jaga selama ini."

Sekar Pamikat memandang bengong pada lumut-lumut bercahaya yang sedang dimakan Ludiro.

"Putri mau memakannya?" Sekar Pamikat menggeleng  dengan masih tampak tegang. "Siapa tahu racun tanaman itu bekerja di kemudian hari." Kini Ludiro yang menjadi tegang. Ia buru-buru membuang  beberapa genggam lumut bercahaya yang masih di tangannya. Ia menjadi menyesal. "Benar. Siapa tahu racun itu bekerja di kemudian hari dan...

dan sangat berbahaya...?" pikirnya.

Tapi... benarkah begitu? Ludiro masih terbengong pada saat Andini terbangun dan menggeliat sambil menguap. Tak lama kemudian Gopo ikut terbangun dan menguap. Hembusan nafasnya sempat merontokkan beberapa lumut sehingga Andini ketakutan tersentuh lumut tersebut.

Badan mereka terasa segar. Semangat mereka seakan kembali membara. Ketika Sekar memerintahkan untuk bergerak lagi, mereka bangkit serentak dan berjalan menyusuri lorong itu. Tetapi dalam perjalanan kali ini, Ludiro kelihatan banyak termenung. Kegelisahan mewarnai wajahnya, dan hal itu diketahui oleh Andini.

"Kenapa gelisah. Ludiro?"

"O, tidak..." Ludiro menggeragap. "Tidak apa-apa. Aku hanya..."

"Melamun?" sahut Andini. "Hemm... ya. Melamunkan orang-orang yang akan kita hadapi di Sendang Bangkai nanti."

"Ah, lupakan saja dulu," ujar Andini. "Kita tadi toh sudah mengadakan pemanasan dengan Sumo Barong dan anak buahnya. Dari situ seharusnya kita bisa mempelajari, berapa besar kekuatan kita berempat dan taktik apa yang harus kita gunakan untuk menyerang orang-orang Sendang Bangkai."

"Apa mereka berbahaya sekali?" Gopo ikut angkat bicara.

"Menurut keterangan yang kuperoleh dari Penghulu Badra, memang berbahaya sekali. Buktinya, dua anak buah Peri Sendang Bangkai yang bertarung melawanku itu, cukup berilmu tinggi. Gerakannya gesit, dan pedangnya mengandung racun yang membahayakan. Tentunya, orang-orang Sendang Bangkai juga mempunyai pedang semacam itu."

Sambil melangkah terus, Gopo menggumam. Sekar Pamikat berjalan dengan kebisuan, namun sebenarnya ia menyimak pembicaraan Ludiro tadi. Ada sedikit kekhawatiran pada Sekar Pamikat tentang Ludiro yang telah memakan lumut bercahaya tadi, tapi ia buru-buru mengatakan, "Ah, tak apa," di dalam hatinya. Ia ingin memusatkan perhatian hanya pada Lanangseta.

Mereka berhenti melangkah, karena sekarang lorong itu terbelah menjadi dua arah: ke kiri dan ke kanan. Yang ke kiri dindingnya tidak berlumut dan gelap. Yang ke kanan, dindingnya masih berlumut dan terang. Mereka sedikit bi-ngung untuk menentukan langkah ke mana mereka harus berjalan: ke kiri, atau ke kanan?

"Ke kiri saja," usul Gopo. "Gelap,  ah..."  Andini  bermanja

lagi.

"Lihat, ada cahaya sebesar titik di ujung lorong yang gelap itu. Siapa tahu itu mulut goa, tempat kita bisa keluar dari goa ini," tutur Gopo dengan pelan, sedikit ragu.

"Ya, kita ke kiri saja!" kata Sekar Pamikat sambil meneruskan langkah, yang lain mengikutinya dengan  hati-hati, sebab lorong itu gelap, seperti semula. Makin lama mereka melangkah makin lebarlah titik bercahaya itu. Ternyata memang  benar, itu adalah mulut goa. Ternyata di luar goa hari sudah siang.

Oh, berarti cukup lama mereka berada di dalam goa tadi.

Udara terasa segar setelah mereka berempat berada di luar goa. Tapi.di mana mereka? Tak ada yang tahu. Yang mereka tahu, mereka berada di lereng bukit. Banyak semak belukar yang menghalangi langkah mereka. Mulut goa itu kecil, dan tak akan terlihat dari beberapa langkah, sebab rimbun tanaman liar nyaris menutupnya.

Matahari tepat di ubun-ubun manusia. Panasnya begitu menyengat kulit. Mereka menuruni lereng sejak tadi. Beberapa kali Gopo terpeleset jatuh, juga Andini. Namun mereka tak henti-hentinya berusaha mencari jalan untuk dapat menuruni lereng bukit..Sehingga pada suatu saat, ketika matahari mulai condong, mereka telah mencapai kaki bukit dan tanah datar.

"Lihat, ada genangan air...!" kata Ludiro sambil menunjuk ke suatu arah.

"Ya. Kita harus ke sana, aku ingin minum," ujar Andini dengan bersemangat. Lalu dia berlari lebih dulu. Yang lain terpaksa mengikutinya. Namun tiba-tiba, tiga orang perempuan menghadang langkah Andini. Bukan hanya Andini yang terkejut dan berhenti, melainkan ketika temannya juga ikut berhenti dan mulai menjaga kewaspadaan. Ketiga perempuan itu mengenakan penutup dada serta celana dalam. Itu saja. Masing-masing memegang pedang yang sama bentuknya dengan pedang yang pernah melukai Ludiro sehingga nyaris busuk sekujur tubuhnya itu.

"Mereka orang-orang Sendang Bangkai!" seru Ludiro biar didengar Andini.

Salah seorang dari ketiga perempuan Sendang Bangkai itu menyahut, "Benar. Oh, rupanya kalian mengenali ciri kami, ya? Bagus! Dan tentunya kalian tahu, siapa yang memasuki wilayah kami harus tunduk kepada kami. Yang perempuan boleh menjadi anggota Sendang Bangkai dengan satu syarat, mau mengabdi sepenuh hati. Jika tidak, boleh mati. Sedangkan yang lelaki, harus tunduk juga kepada kami untuk menjadi kaum pejantan kami. Jika tidak, harus disiksa sampai mau. Kematian itu jalan akhir!"

Andini melangkah mundur perlahan-lahan. Tubuhnya menyentuh Gopo, dan ia berpaling kepada lelaki tinggi besar itu. Ia berkata dengan nada manja, "Mereka jahat, Gopo...!"

"Kalau kau takut, minggirlah, biar aku yang menghadapi."

Tapi Ludiro segera mencegah, "Jangan! Pedang mereka cukup berbahaya, Gopo. Kulitmu bisa busuk dalam waktu singkat dengan hanya tergores sedikit saja."

"Biarkan aku dan paman Ludiro yang menghadapi mereka," bisik Sekar Pamikat. Gopo  tak bisa berbuat apa-apa, karena Sekar Pamikat dan Ludiro segera maju menghadang ketiga perempuan genit itu.   Andini   menggeret  Gopo sambil berkata, “Beri kesempatan kepada Ludiro dan Sekar   Pamikat.  Mereka memang berbahaya." Kemudian Gopo dan Andini

berlindung di bawah pohon, sementara Sekar Pamikat dan Ludiro  berdiri

tegar dihadapan ketiga perempuan berpedang itu.

"Kurasa kita tak perlu membuang-buang waktu dan tenaga. Bawalah kami segera menghadap Peri Sendang Bangkai!" kata Sekar Pamikat dengan tegas.

"Oh, kau ingin menghadap pimpinan kami, ya? Hemm... ada urusan apa kalau boleh aku tahu?" tanya salah seorang dari mereka.

"Dia telah menculik calon suamiku Pendekar Pusar Bumi!"

"Calon suamimu? Ih, pendekar ganteng yang muda perkasa itu mau menjadi suamimu. Uhh... omong kosong!" Andini menyahut, "Iya. Kekasihku, Pendekar Maha Pedang, juga diculiknya! Mana, pulangkan kekasihku!"

Gopo menarik tangan Andini. "Diamlah, biar diurus Putri Sekar dan Ludiro...!"

"Kalau itu yang menjadi tujuan kalian, berarti kalian mencari mampus...!" kata salah seorang, lalu ia menyerang Ludiro dan Sekar Pamikat. Tubuhnya melayang dengan ringan, menyodorkan pedangnya ke depan. Psida saat itu Sekar Pamikat melompat ke kiri, dan Ludiro melompat ke kanan. Namun Ludiro sempat melancarkan tendangannya dengan cepat, dan mengenai punggung orang itu. Orang yang terkena tendangan Ludiro hanya oleng sedikit, dan ia kembali sigap. Sementara itu, kedua temannya memekikkan semangat perang sambil masing-masing mengibaskan pedangnya ke arah Sekar Pamikat dan Ludiro.

Sekar Pamikat menangkis serangan musuhnya, tangannya beradu dengan lengan lawan. Begitu kuat dan keras sehingga lawan merasa kesemutan lengannya. Sekar memiringkan badan, lalu kakinya menjangkau leher lawan dengan suatu tendangan kuat. "Digg...!" Ia terhuyung. Namun pedangnya berkelebat cepat, nyaris merobek pinggang Sekar Pamikat. Sekar segera mencabut pedang Jalak Pati.

"Sreet...!" Lalu kedua pedang itu beradu,

"Traang...! Trang...!" Sekar Pamikat melompat ke belakang, karena serangan lawan begitu cepat dan bertuhi-tubi.

Demikian juga dengan Ludiro yang hanya bertangan kosong ia melompat-lompat dan menggunakan jurus Tendangan Dewa. Sekali jurus itu dilancarkan, kedua musuhnya yang menyerang serempak terjungkal, sebab sekali Ludiro merentangkan kedua kakinya sambil melayangj keduanya mengenai kepala dan punggung lawan

Salah satu lawan Ludiro melesat tinggi, bersalto di udara. Pada saat itu, lawan yang bertarung dengan Sekar Pamikat juga melesat tinggi, bersalto di udara. Rupanya mereka berpindah tempat. Lawan Sekar Pamikat ganti menyerang Ludiro dan lawan Ludiro ganti menyerang Sekar Pamikat. Hal itu sempat membuat Sekar maupun Ludiro terkesima bingung. Lalu tiba-tiba pedang mereka terayun cepat. Sekar Pamikat menundukkan kepala sambil menusukkan pedang Jalak Pati ke arah perut lawannya.

"Breet...!" Perut itu bukan tertusuk, melainkan tergores pedang Jalak Pati. Lawan sempat memekik menahan sakit. Darah merembas dari perut yang mulus dan hanya mengenakan celana dalam berlapis benang emas itu. Agaknya musuh Sekar Pamikat masih bertahan.

Ludiro agak keteter dengan serangan ganda dari kedua musuhnya. Ia melemparkansenjata rahasianya satu kali, tapi pedang musuh mampu menghalaunya.

"Tring...!" Senjata pisau kecil itu melesat entah ke mana. Kedua perempuan yang menyerang Ludiro itu sama-sama mempunyai ilmu pedang yang cukup hebat. Gerakannya cepat dan gesit. Beberapa kali Ludiro hendak terpotong lengannya, namun berhasil dielakkan dengan gerakan berguling ke rerumputan. Pada saat berguling itulah, jurus Tendangan Dewa Mimpinya dilancarkan Tendangan itu begitu tepat mengenai bagian kemaluan salah seorang lawannya, sehingga orang itu menyeringai kesakitan. Jurus Tendangan Dewa Mimpi dilancarkan lagi oleh Ludiro sambil berguling ia menendang ke atas, namun kali ini lawannya lebih tahu. Ia menghindar ke samping dan membabat kaki Ludiro dengan pedangnya.

"Beet...!"

Andini sempat berteriak.ketika kaki kanan Ludiro dibabat pedang musuhnya. Namun Andini dan Gopo menjadi tertegun dan tercengang melihat kaki Ludiro masih utuh, tanpa luka sedikit pun. Ludiro sendiri kebingungan melihat kenyataan itu. Ia terpana memandang kakinya yang tak terluka sedikit pun itu. Pada saat ia terpana begitu, salah satu lawannya melambungkan badan dan menebas kepala Ludiro dengan keras.

"Bett...!" Ludiro masih berdiri tegak.

"Bett...! Bett...!"

Ludiro jadi kebingungan. Ia tidak mengeluarkan darah. Kepalanya masih utuh tanpa luka. Bahkan kali ini musuh yang satunya lagi nyata-nyata merobek perut Ludiro dengan pedangnya.

"Seeet...!" Tapi, perut itu tetap utuh, sedikit goresan pun tak ada Ludiro masih terbengong memperhatikan perutnya. Aneh, pikir-nya. Kenapa ia bisa menjadi kebal? Bahkan kini ia diam saja saat kedua musuhnya membabat tubuhnya berulangkali dengan membabi-buta. Tapi, tak ada luka! Malahan salah satu pedang lawan ada yang patah karenanya.

Andini dan Gopo masih tercengang. Namun mereka segera dikejutkan oleh gerakan kedua musuh Ludiro yang tiba-tiba berpindah menyerang Andini dan Gopo. Mereka melayang bersamaan sambil berteriak dan mengacungkan pedang ke arah Andini. Dengan cepat Andini mengambil daun-daun pada tumbuhan semak belukar di sampingnya. Daun-daun itu ditebarkan ke arah musuh, lalu tiba-tiba musuh kedua-duanya menjerit kesakitan. Daun-daun yang berisi tenaga dalam itu telah menembus mereka ke beberapa tempat, sehingga mereka pun rubuh, mengejang. Lalu mati. Andini tersenyum ke pada Gopo yang kaget.

"Hebat...! Ajaib sekali...!" kata Gopo seraya memungut salah satu daun kecil yang tadi ditebarkan. Ia merobek daun itu, dan memang bisa robek. Tapi mengapa kedua perempuan itu tadi hanya sekali gebrak oleh lemparan Andini bisa roboh. Malah pakai mati segala! Aneh. Pikir Gopo yang masih terbengong-bengong memandang mayat itu. "Kok bisa mati, ya?" ujar Andini dengan lagak polosnya. Ia tersenyum lagi, "Berarti aku hebat, bukan?" Gopo tak menjawab sepatah kata pun. Sementara itu ia mengalihkan pandangan kepada Ludiro yang masih kebingungan memeriksa tubuhnya

"Ada yang luka, Ludiro?" Gopo menghampirinya.

"Tidak tuh..." jawab Ludiro terheran-heran. "Kok bisa kebal, ya? Aneh. Sejak kapan aku mempunyai ilmu kebal senjata tajam?"

"Mana aku tahu," jawab Gopo. "Kau yang punya tubuh kebal senjata, mengapa kau tanyakan padaku?"

Ludiro masih seperti orang bloon. Sementara itu, di lain tempat suara pedang beradu masih terdengar: Sekar Pamikat masih asyik melayani musuhnya yang sebenarnya dapat dikalahkan dalam waktu singkat. Namun agaknya Sekar Pamikat tak mau membunuh musuhnya itu. Dengan satu gerakan tangan dan jurus tertentu yang amat tinggi kecepatannya, pedang Jalak Pati berhasil memotong tangan lawannya. Orang itu menjerit, meraung-raung. Tangannya menjadi buntung. Pedangnya terlepas bersama pergelangan tangannya. Jeritan itu amat menyayat, sehingga Sekar Pamikat berhenti menyerang.

"Ampun...! Ampunilah aku...!" orang itu meratap kesakitan. Sekar Pamikat segera menyarungkan pedangnya. Gopo turun tangan. Ia menginjak perut perempuan itu seraya berkata.

"Ke mana jalan menuju tempat pimpinanmu berada, ha?"

"Aku... aku tak tahu..." orang itu sukar bicara karena perutnya tertekan kaki Gopo yang besar.

"Gopo... jangan, kasihan dia tidak bisa bernapas!" seru Andini dengan lugu. Sekar mencegah Andini yang hendak menarik Gopo.

"Biar dia memaksa orang itu menunjukkan tempat kekasih kita disekap," ujar Sekar Pamikat, barulah Andini mengangguk

"Cepat katakan, atau kuinjak perutmu sampai jebol?!" bentak Gopo. Agaknya makin lama orang itu tidak tahan dengan siksaan Gopo. Ia menjawab dengan suara pelan:

"Di... di dasarsendang...! Di sana istana Peri Sendang Bangkai... aaakkh...!" Dan orang itu pun meregang, lalu mati. Gopo menginjaknya sangat kuat. ***

6

Genangan air yang terlihat dari kaki bukit, ternyata adalah sebuah sendang, sejenis telaga, yang berukuran kecil. Berbentuk ling-karan tak beraturan, bergaris tengah kira-kira 200 meter. Airnya cukup bening, menyegarkan. Ada banyak pohon yang merindang di sekeliling sendang itu, tapi berjarak beberapa meter dari tepian sendang.

Melihat kebeningan air sendang, tenggorokan Gopo terasa merongrong, haus. Demikian juga halnya dengan Andini, dan Sekar Pamikat. Hanya Ludiro yang tidak merasa tertarik untuk meminum air sendang itu. Ia tidak haus sama sekali.

"Aku ingin meminumnya. Aku haus...!" Andini sangat girang. Namun ketika ia hendak merunduk mengambil air, Gopo menarik baju Andini seraya berseru:

"Jangan sembrono!"

"Aku haus!" bentak Andini. Tapi aku masih bisa berpikir!"

Andini bersungut-sungut. "Aku sudah bosan berpikir. Otakku sudah sering kupakai berpikir, kalau otakmu kan jarang untuk berpikir, karenanya kau belum bosan berpikir."

"Jadi kau menganggap selama ini aku tidak pernah memakai otak? Iya?! Iya?!" geram Gopo dengan mata melotot. Andini melirik dengan pandangan takut. Waktu Gopo melotot sambil mendekatinya, Andini bergeser mendekati Sekar Pamikat, lalu berlindung di balik Sekar Pamikat. Gopo berhenti, namun masih menggeram:

"Celeng!"

"Kamu juga celeng!" balas Andini dari balik pundak Sekar Pamikat.

"Setan!"

"Kamu juga setan!" balas Andini.

Gopo semakin geram.

Ludiro menyahut, "Sudahlah, sama-sama setan celeng masih saja bertengkar. Uhh... payah kalian itu." Sekar tertawa tertahan. Ludiro cemberut dan bersungut-sungut.

Matahari semakin bergeser ke arah barat. Mereka masih berada di pinggir sendang. Ludiro mengambil air sendang dengan tangannya, lalu mencium air itu, dan membuangnya lagi sambil menyeringai. "Bau bangkai," katanya kepada yang lain. Mereka sempat tersendat kaget. Gopo membuktikan sendiri, mencium air itu seakan ingin diminumnya. Lalu ia pun menyeringai, wajahnya yang brewok dan kasar semakin jelek saja kelihatannya. Ia berkata kepada Sekar Pamikat:

"Iya. Bau bangkai!"

"Berarti inilah yang dimaksud Sendang Bangkai," gumam Sekar Pamikat bicara pada diri sendiri. Gopo sempat muntah, perutnya merasa mual setelah mencium bau air itu. Andini berbisik kepada Sekar.

"Jangan-jangan dia hamil!" "Ssst...!"

"Iya. Kata ibuku, perempuan kalau mau hamil pasti pakai muntah-muntah dulu."

"Tapi Gopo kan bukan perempuan," bisik Sekar Pamikat.

"Ah, apa itu pasti? Aku belum pernah memeriksanya."

Sekar Pamikat sempat mencolek pipi Andini yang manja seraya menahan senyum dikulum. "Sudah, jangan pikirkan, Gopo perempuan atau lelaki, itu urusan dia. Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana caranya masuk ke dasar sendang ini."

"Biar saya saja yang masuk menyelam ke dasar," ujar Ludiro. Sekar Pamikat memandangnya sambil menimbang-nimbang. Andini diam, memandangi permukaan air sendang.

"Bahaya, Paman. Kurasa di dalam sendang mereka sedang menunggu kita."

"Tapi...." tiba-tiba Ludiro teringat sesuatu. "Tapi saya tadi menjadi orang kebal, Putri Ayu. Saya tadi tidak mempan dibacok pedang mereka. Malah ada yang patah salah satu pedangnya."

Gopo menyahut dengan lemas akibat habis muntah banyak:

"Benar. Ludiro kebal senjata. Aneh dan ajaib. Aku sendiri hampir tidak mempercayai kalau dia tak dapat digores sedikit pun dengan pedang beracun mereka itu." Dan tiba-tiba, dengan sangat berani Gopo mencabut goloknya, lalu membacokkan ke punggung Ludiro. Ludiro hanya terkejut dan siap melawan Gopo. Tapi Gopo segera terkekeh, memasukkan goloknya ke sarungnya kembali. "Hanya mencoba kekebalannya," katanya.

Ludiro menggumam kesal, lalu bersungut-sungut. Sekar Pamikat memeriksa punggung Ludiro, dan ternyata memang tak ada luka sedikit pun. Bekas membilur pun tidak. Sekar Pamikat heran, lalu tertawa sendiri. "Sakti juga kau, Paman! Dapat ilmu dari mana?"

"Saya sendiri bingung, Putri. Padahal beberapa hari yang lalu saya hampir membusuk karena tergores pedang orang sendang ini."

Sekar Pamikat menggumam panjang, berpikir beberapa saat, lalu berbisik kepada Ludiro:

"Barangkali akibat kau makan lumut bercahaya di dalam goa tadi."

Ludiro berkerut dahi, Gopo pun ikut berkerut dahi karena mendengar apa kata Sekar Pamikat.

"Lumut itu?"

Sekar Pamikat mengangguk. "Itu kemungkinan saja. Sebab, tanaman itu kan cukup aneh dan ganjil. Dan kau telah memakannya. Kita salah duga, mengira beracun, ternyata malah sebaliknya."

"Brengsek! Kenapa tadi kau tidak bilang padaku?!" kata Gopo yang agaknya menyesal tidak ikut memakan lumut itu. "Hei, Andini...?!" Ludiro terkejut, semua memandang Andini. Gadis manja itu dengan tenang minum air sendang menggunakan cawukan tangannya. Beberapa kali ia meminumnya dengan perasaan lega.

Gopo segera menggeret tangan Andini dari membentak: "Tolol! Rakus! Air itu mengandung racun bangkai! Baunya saja bisa bikin perut mual, masa kau meminumnya."

"Aku haus! Orang haus itu obatnya minum. Kalau orang lapar itu obatnya makan. Kalau orang bodoh itu... kamu!"

Gopo menggeram jengkel dikatakan bodoh.

"Jangan nekad, Andini. Jaga keselamatan dirimu sendiri. Kita tidak bisa mengandalkan siapapun selain mengandalkan diri sendiri. Itu yang utama. Karena keselamatan kita, terletak pada bagaimana kita bisa mengendalikan diri sendiri. Setelah itu, baru ketergantungan kepada orang lain." Sekar menasehati Andini. Tapi kali ini Andini membantah.

"Aku tak tahan haus, Sekar. Aku melihat hanya air itu yang ada di sini. Maka aku meminumnya."

Gopo menyahut, "Tapi air itu bau bangkai, dan pasti. "

"Siapa bilang bau bangkai?!" sahut Andini.

Ketiga temannya tercengang seketika. Terutama Gopo, ia buru-buru mengambil air sendang itu, lalu menciumnya. Dan matanya jadi membelalak lebar memandang Andini. Sekar Pamikat dan Ludiro menatap Gopo dengan tegang. Ludiro bertanya dalam keraguan,

"Bagaimana...?"

"Edan!" geram Gopo. Andini tersenyum genit. Gopo melanjutkan kata-katanya, "Air ini telah berubah menjadi harum, sewangi pandan!"

Sekar Pamikat dan Ludiro memandang tajam pada Andini. Gopo mencoba mencicipi air itu, lalu mendongak, memandang Sekar Pamikat. Ia berseru, "Rasanya seperti manis...! Manis-manis segar. Mirip air perasan buah bangkuang...! Gila!"

Gopo mendekati Andini dengan mata masih membelalak, Andini berlindung di balik punggung Sekar Pamikat. Gopo menggeram bagai sedang marah:

"Kau gila! Kau telah merubah air itu dengan kesaktianmu, ya? Kau tunjukkan sekali lagi padaku bahwa kau punya ilmu tinggi? Kau menghinaku, ha?"

"Biar kau tahu berterimakasih padaku," jawab Andani sambil cemberut manja.

“Ya. Terimakasih!" kata Gopo tegas dengan mata masih melotot dan kepala membungkuk karena tingginya.

"Terima kasih kok melotot begitu!" "Memangnya tak boleh?'' "Aku takut!" rengek Andini.

Gopo berpaling, meninggalkan Andini dan Sekar yang dari tadi memandangnya dengan senyum dikulum. Sambil menjauh Gopo menggerutu, " Jangankan kau, aku sendiri sering takut pada diriku jika kulihat bayangan wajahku ada di air."

Ludiro yang sejak tadi diam saja sambil mengikuti perdebatan Gopo dengan Andini, kali ini segera mengalihkan perhatian. Ia berseru kepada Sekar Pamikat:

"Saya akan menyelam lebih dulu dan menjajaki kekuatan mereka, Putri Ayu." Sekar Pamikat berpikir sejenak, lalu mengangguk dan berkata, "Silakan, Paman. Tapi hati-hati... mereka pasti lebih jago bertarung di kedalaman air." Tiba-tiba terdengar Andini berseru,

"Jangan! Tak perlu begitu!"

Ludiro berkerut dahi lagi memandang Andini. "Jadi...?"

"Kali ini, giliran aku bertindak.

Beri aku waktu beberapa saat. "

Gopo menyahut sambil mendekati Andini, "Hei, mau unjuk kesaktian lagi ya? Mau pamer ilmu, ya?!"

"Gopo. " hanya itu yang keluar dari

mulut Sekar Pamikat, lalu Gopo berpaling memandang   Sekar   Pamikat. Tiba-tiba kegarangannya lumer begitu memandang mata Sekar Pamikat, yang menurutnya begitu bening dan indah itu. Lalu Gopo melangkah mundur perlahan-lahan, membiarkan Andini berdiri di tepi sendang berisi air jernih itu. Gopo sempat berbisik kepada Sekar Pamikat dengan hati-hati:

"Aku penguasa telaga keruh. Aku tahu persis bagaimana cara bertarung di dalam air. Izinkan aku untuk. "

"Beri kesempatan kepada dia," potong Sekar Pamikat. Dan Gopo hanya menghempaskan nafas, bernada kecewa.

"Edan!" seru Ludiro mengagetkan Gopo dan Sekar Pamikat. Mata mereka pun membelalak lagi. Andini kembali pamer ilmu. Air sendang itu menyusut sedikit demi sedikit. Andini masih diam di tepian sendang. Matanya tak berkedip menatap air sendang yang kian menyusut bagai tersedot dari bawah, atau menguap ke udara.

"Bocah sinting...!" gerutu Gopo dengan mata tidak berkedip. "Menggemaskan, menjengkelkan, tapi mengagumkan! Baru sekarang kulihat ada gadis sesinting dia!"

Mereka mulai mendekat ke tepi sendang setelah Sekar Pamikat berjalan lebih dulu. Mereka berjajar ke samping kiri Andini, yang masih seperti bocah lugu, berdiri melihat kemilau air sendang. Dan air itu sekarang semakin dalam, menyusut terus tiada hentinya. Kemudian terdengarlah suara gemuruh. Mereka menggelengkan kepala, menyimak suara apa kiranya yang bergemuruh itu. Lalu mereka serempak sepakat, itu suara riuhnya manusia. Manusia dalam suatu kelompok yang saling kebingungan dan saling kelabakan. Mereka semakin jelas mendengar suara riuh, itu ternyata datang dari dasar sendang.

Mata mereka masih membelalak, antara kagum, heran dan terkesima. Mereka melihat tepian sendang menjadi kering. Benar-benar kering kerontang, bagai lereng sebuah jurang. Dan air sendang itu pun surut semua. Tuntas. Tanpa tertinggal setetes pun air yang ada.

Bukan hanya Gopo dan Ludiro, tetapi Sekar Pamikat sendiri hampir tidak mempercayai penglihatannya. Terlalu khayal, menurut Gopo. Tapi mau tak mau ia harus menerima kenyataan itu. Mereka melihat air sendang yang tuntas, kering. Dan di dasar sendang mereka melihat bangunan semacam istana berlapis kaca. Lapisan kaca itu berbentuk parabola. Bagai sebuah bola kaca yang dipotong menjadi dua bagian, lalu diletakkan menelungkup, menaungi istana di dalamnya. Sementara itu, di sekeliling bola kaca itu banyak manusia yang hilir mudik kebingungan. Mereka pada umumnya perempuan muda berpakaian menutup dada dan celana dalam. Tubuh mereka langsing-langsing, sexy-sexy, dan benar-benar menggairahkan lelaki, terlebih lelaki hidung belang.

"Masyarakat dan peradaban di dasar sendang..." gumam Sekar Pamikat. Ia masih tertegun memandang sesuatu yang di luar khayalannya.

"Suatu kehidupan di dasar sendang, sungguh merupakan pengalaman baru bagi hidup mereka berempat. Antara dasar sendang dengan permukaan sendang tempat mereka berdiri, tidak terlalu dalam. Mereka dapat pergi ke dasar sedang seperti halnya mereka menuruni sebuah lereng jurang. Batu dan tanah keras saling bertonjolan, dapat dipakai sebagai tangga menuju bawah. Hanya saja, agaknya pasukan Sendang Bangkai sendang menghadang kedatangan mereka di bawah sana. Ada yang mencoba memanjat tebing dengan pedang di tangan, ada yang sibuk mempersiapkan peralatan perang, ada yang sibuk  mengatur per-tahanan agar tak seorang pun dapat masuk ke bola kaca itu. "Apa yang  harus.  kita lakukan sekarang?" tanya Ludiro.  "Menyerang,

atau menunggu mereka naik ke atas?" "Untuk sementara kita bisa menunggu

mereka di sini. Nanti setelah. "

"Hei, itu Andini! Sinting!" seru Gopo sambil menuding ke arah Andini yang ternyata telah berada di pertengahan tebing. Ia meloncat dengan gesit berulang kali bagai seekor kupu-kupu terbang. Gerakannya begitu cepat dan mengagumkan. Bahkan dalam satu gerakan, ia dapat merobohkan seorang pembawa pedang yang menyongsongnya. Agaknya saat ini tiba giliran Andini untuk bertindak dengan serius. Ia tak tanggung-tanggung bergerak dan menyerang. Sesekali terdengar seruannya memanggil nama kekasihnya:

"Ekayanaaa..!"

Sekar Pamikat mencabut pedang Jalak Pati.

"Sreet. !"

"Seraaang...!!" teriaknya sambil meloncat dan bersalto ke bawah. Ludiro bergerak serupa, meloncat dan bersalto, tetapi Gopo hanya berlari dengan langkahnya yang menggetarkan seluruh permukaan tebing. Sesekali Gopo hampir terjatuh, karena kemiringan tebing. Namun segera ia menjaga keseimbangan tubuh dan melangkah kembali dengan langkahnya yang lebar-lebar.

Dua orang menghadang Sekar Pamikat. Mereka berseragam sama dan mengguhnakan pedang yang sama Kedua pedang bersamaan menghantam wajah Sekar Pamikat, namun dengan gerakan gesit, Sekar Pamikat melintangkan pedangnya kemuka, dan kedua pedang lawan beradu dengan pedang Jalak Pati.

"Trang...!"

Ludiro mengandalkan kekebalan tubuhnya yang diperoleh secara tak sengaja itu. Ia membiarkan pedang lawan membabat lehernya berulangkali. Tapi pada satu kesempatan ia menggunakan jurus Tendangan Dewa yang amat mematikan itu. Ludiro tak mau membuang-buang waktu dalam menghadapi para keroco-keroco Sendang Bangkai. Ia bergerak cepat, gesit dan menggunakan jurus-jurus andalannya yang dapat langsung mematikan, di antaranya Pukulan Malaikat Mabok, yang sekali menghantam kepala dapat membuat kepala itu hancur tak berbentuk lagi. Hal itu membuat jerit dan teriakan histeris berkumandang ke mana-mana. Para keroco Sendang Bangkai bergeleparan akibat pukulan dan tendangan Ludiro. Sesekali ia membuang senjata rahasianya ke arah orang yang akan membokong Sekar Pamikat.

Di tempat lain, Gopo menendang kian kemari dan menginjak musuh-musuhnya tanpa ampun lagi. Ia tahu, ia harus menghindari goresan pedang lawan. Sebab itu ia bertarung dengan meloncat-loncat bagai orang menginjak puntung rokok.

Sedangkan Sekar Pamikat masih bertahan dengan Jalak Patinya. Memenggal lawan berulangkali kendati ia terpaksa harus menghadapi lima orang sekaligus. Gerakannya yang lincah dalam berjumpalitan di udara membuat lawan kewalahan. Sekali ia menebaskan pedangnya, dua kepala dapat menggelinding sekaligus. Tak ada ampun agaknya bagi mereka. Dengan gerakan merendah Sekar Pamikat mampu menyabetkan pedang ke arah perut-perut lawannya, sehingga mereka terjungkal untuk meregang nyawa, dan mati tak terurus lagi.

Lain halnya dengan Andini yang bagai menari di awang-awang. Gerakannya begitu luwes, indah. Lambaian tangannya yang berlengan   baju  panjang   itu seperti kibasan sayap kupu-kupu yang mematikan. Jangankan terkena pukulan Andini, yang terkena kibasan kain bajunya saja dapat menjerit  dan sekarat akibat   robek lehernya, robek dadanya, pinggangnya, atau apanya saja yang tersentuh kibasan kain Andini. Sehingga  dalam   tempo singkat, ia dapat menjatuhkan  banyak lawan. Dan dalam tempo singkat pula ia mampu  menerobos  barisan    musuh  untuk mendekati istana yang berlapis kaca itu. Mayat orang-orang Sendang Bangkai yang terdiri dari perempuanperempuan seksi itu bergelimpangan di sepanjang tebing. Darah merubah warna tebing yang kecoklat-coklatan    menjadi   merah membara. Tak satu pun yang tersisa dari pasukan di luar istana berlapis kaca.

Kini, mereka berempat berkumpul di depan pintu masuk dinding berkaca itu.

"Gopo...!" kata Sekar Pamikat. "Buka pintu dengan paksa!"

Ada beberapa orang yang memandang tegang, menanti dengan gelisah di dalam dinding kaca. Mereka seperti ikan dalam akuarium. Dan mereka semakin tegang mehhat Gopo mendobrak pintu utama dengan kekuatannya yang maha hebat itu. Sayang dinding kaca hanya bergoyang seluruhnya. Bergetar sedikit, dan pintunya tak dapat pecah. Berulangkali Gopo mencoba, tapi tak pernah berhasil.

Andini diam saja. Duduk seenaknya di suatu permukaan batu yang halus. Matanya mempelajari keadaan di dalam dinding kaca. Sementara itu, Sekar Pamikat menyuruh Gopo menyingkir. Gopo mulanya tidak mau, masih ingin mencoba. Tetapi ketika Cambuk Naga dicabut dari punggung Sekar Pamikat, Gopo mulai m-ndur dengan perasaan ngeri. Sekar Pamikat segera memusatkan pikiran dan tenaga, ia menggunakan jurus simpanannya yang bernama: Naga Pembelah Langit.

Cambuk naga diayunkan dengan cepat, ujungnya menghantam pintu utama. Suara guntur menggetarkan sukma. Suara itu melebih 10 kali guntur menggelegar. Dan sekali cambuk, pintu utama itu retak, lalu pecah berkeping-keping. Segera Ludiro masuk lebih dulu. Menghadang menyerang bersenjata tombak trisula Tombak ditancapkan di dada Ludiro, dan tanpa sedikit tangkisan, tombak itu patah sendiri. Tendangan Dewa meluncur cepat ke rahang orang tersebut, mengakibatkan orang itu menjerit tertahan. Rahang pecah dan mulut berdarah. Sekar Pamikat tidak lagi menggunakan pedang Jalak Pati. Cambuk Naga mulai beraksi, melecut ke sana kemari bagai lidah naga menjilat mangsa. Kepala yang terkena cambuk itu pecah, dan leher maupun tangan yang terkena lecutan cambuk pun menjadi buntung seketika.

Perempuan-perempuan berseragam rompi merah menyerang terus, keluar dari dalam istana. Salah seorang ada yang sempoyongan terkena angin kibasan cambuk naga Orang yang sempoyongan segera dipegang kepalanya oleh Gopo, lalu dipuntirnya kepala itu sehingga terdengar bunyi tulang berderak.

"Ini balasan buat arwah anak istriku, Setan!" Gopo bergerak lebih sacks. Kakinya yang besar menendang tameng lawan, hingga perempuan itu terjatuh, lalu ia meloncat dan kedua kakinya menghentak jatuh di perut orang itu. Jebol!

Andini menyelusup masuk ke dalam istana, setelah terlebih dulu menewaskan lawan-lawannya dengan gerakan tangan bagai kupu-kupu sedang menari. Ia sempat mengambil sebuah tameng yang terjatuh. Tameng itu dilemparkan ke arah beberapa lawannya, dan dengan tameng itu ia berhasil memotong tubuh lawannya dengan sangat mengerikan. Tameng itu dialiri tenaga dalam yang cukup sempurna, sehingga dapat berputar-putar sendiri mencari lawannya.

"Ekayanaaa...!" teriak Andini. Suaranya menggema Dari sebuah koridor muncul serombongan orang perempuan bersenjata tombak dan pedang. Mereka melemparkan senjata itu ke arah Andini. Cukup kelabakan juga Andini meloncat dan berjumpalitan menghindari senjata-senjata itu. Salah satu tombak terpegang oleh tangannya, lalu dengan gerakan melingkar bagai seorang penari balet tombak itu dikem-balikan. Dua tubuh tertusuk, tembus seketika. Andini bergerak ke arah lain, mencari tempat kekasihnya ditawan, sementara tombak yang tadi dilemparkan mencari sasaran sendiri dan berhasil menembus perut beberapa musuhnya, bagai sebuah jarum jahit sedang beraksi.

"Ekayana...?! Di mana kau...?!" teriak Andini dengan semakin garang. Beberapa kamar dan pintu dijebolnya Jika ada orang di dalamnya, langsung diserang dengan serpihan pasir tembok yang dialiri tenaga dalam dan mematikan.

Sampai akhirnya ia tiba di sebuah ruangan yang menyerupai balairung. Lega, luas, berlantai licin bening. Ia berdiri di tengah ruangan tersebut. Tiba-tiba ada sejumlah tombak menjatuhi kepalanya dari atas. Jumlah tombak itu lebih dari lima puluh batang. Namun Andini mampu menahannya dengan   pandangan  mata, sebelum tobak-tombak menyentuh kepala. Sekelompok tombak berhenti di udara Saat itu seorang berpakaian rompi besi menyerang dari belakang Andini. Dengan gesit Andini melompat   ke depan. Penyerang itu sampai di tengah ruangan, tempat Andini tadi berlari. Dan pada saat itu sekelompok tombak itu jatuh dengan cepat, menghunjam kepala dan tubuh penyerang  tersebut. Orang  itu sempat memekik   tertahan,  lalu tak pernah

terdengar dengus nafasnya lagi.

Ludiro muncul di ruangan tersebut. Nafasnya terengah-engah, tubuhnya basah oleh keringat dan percikan darah lawannya. "Kau tidak apa-apa Andini?"

"Sehat-sehat saja," jawab Andini bagai acuh tak acuh.

Kemudian Sekar Pamikat pun tiba di ruangan tersebut. Ia masih menggenggam cambuk naganya dengan mata nanar yang penuh kemarahan. Lantai bergoyang, bergetar. Bagai ada gempa menghampiri mereka. Pada saat itu, muncullah Gopo dengan tangan berlumur darah lawan. Matanya semakin ganas, dan tubuhnya yang besar bagai raksasa itu juga berlumur keringat dan percikan darah lawannya

"Sepi," ucap Gopo. "Aku  telah memeriksa  seluruh  ruangan, tak  ada manusia yang hidup. Yang mati banyak!" "Pasti ada ruangan rahasia untuk menyimpan tawanan mereka," kata Sekar Pamikat. Baru saja ia selesai bicara, tiba-tiba lantai ruangan itu bergerak turun. Mereka terkejut. Gopo hampir saja melompat, tapi Sekar Pamikat segera berseru, "Biarkan saja Mereka membawa

kita ke sarangnya!"

Lantai bergerak makin ke bawah, seperti ada yang menyedotnya Mereka berempat sengaja membiarkan diri mereka dibawa ke bawah. Sampai akhirnya mereka tiba di suatu ruangan luas, penuh dengan perabot terbuat dari emas permata. Agaknya mereka telah ditunggutunggu, dan tim penyambutan itu terdiri dari perempuan-perempuan bertubuh kekar dan berotot. Ada seorang perempuan yang duduk di kursi kencana, mengenakan mahkota dari batu permata. Perempuan itu yang pertama kali menyapa Sekar Pamikat dengan ucapan, "Selamat datang di Sendang Bangkai, orang-orang laknat!"

"Kau yang laknat, Setan!" Gopo emosi, menerjang ke arah perempuan itu" tapi tubuhnya yang tinggi besar bagai raksasa itu terpental kembali dan berdentam di lantai.

Gopo bangkit menyeringai kesakitan. Pinggangnya bagai mau patah rasanya Andini berbisik dengan serius, "Kita telah terkurung. Di depan kita ada pagar pelipis yang tak dapat terhhat oleh mata kepala kita. Pagar itu terbuat dari tenaga dalam yang cukup hebat dan dahsyat. Mungkin kita tak akan mampu menembusnya ke sana"

Tawa perempuan yang duduk di kursi singgasana itu terdengar nyaring. Dari belakang kursi muncul seorang perempuan bertubuh kurus, layu dan terdapat codet bekas luka di sekitar matanya Sekar Pamikat dan Ludiro terperanjat. Mereka sama-sama berseru tak sengaja:

"Nawang Puri...?!"

Tegang wajah mereka, namun tersenyum sinis wajah Nawang Puri. Ia memberi hormat kepada perempuan bermahkota seraya berkata, "Apakah mereka harus kami musnahkah sekarang juga, Peri Cantik Sendang Bangkai?!" Perempuan yang duduk di kursi kencana itu tersenyum, mengusap rambut Nawang Puri dengan lembut. "Jangan sekarang, Manis... mereka masih perlu menyaksikan suatu pemandangan yang menggairahkan. Dan mungkin akan membuat kemarahan mereka mereda lalu mencintai kita. "

"Perempuan itu yang membawa kabur Nawang Puri, ketika di perbatasan Kadipaten Nilakencana dulu," bisik Sekar Pamikat kepada Ludiro. (dalam kisah Racun Puri Iblis).

Ludiro hanya menggumam. Sedangkan Andini diam saja dengan mata berkedip-kedip bagai orang bego. Gopo tak sanggup bergerak lebih nekad, namun otaknya berputar, bagaimana caranya supaya bisa menembus pagar tenaga dalam itu.

Selain dikelilingi prajurit perempuan berbadan kekar dan hanya mengenakan celana dalam dan rompi, tanpa penutup dada, mereka juga dipagari tenaga dalam yang dahsyat. Di depan mereka terdapat dinding berkain gordin dari sutra putih bersih. Waktu Peri Sendang Bangkai memberi isyarat kepada salah seorang anak buahnya, orang itu segera bergerak menyeret gordin putih ke tepian. Maka terlihatlah oleh mereka, bahwa yang ditutup gorden itu bukan berupa dinding, namun berupa kamar panjang berlantai kasur empuk.

Mata mereka terbelalak lebar-lebar. Di kamar panjang itu terdapat manusia-manusia tanpa busana, lelaki dan perempuan. Mereka berjumlah lebih kurang 10 lelaki, dan perempuannya lebih dari 15 orang. Gemetar lutut Sekar Pamikat melihat mereka melakukan perzinahan dengan bebas dan sepertinya tanpa rasa canggung walau ditonton banyak orang.

Mereka, yang berada di kamar panjang itu, bagai mendapat perintah setelah gorden terbuka. Mereka segera melakukan hubungan badan dengan gairah yang menyala-nyala. Sekar Pamikat dan Andini sama gemetarnya menyaksikan hal itu. Mereka berpaling ke belakang, ternyata di bagian belakang mereka juga terdapat pemandangan serupa, hanya saja jumlah lelakinya lebih sedikit dibanding jumlah perempuannya. Debar-debar di dalam dada Sekar Pamikat sama persis dengan debar-debar dalam dada Andini. Terlebih Andini, kelihatan lebih pucat daripada Sekar Pamikat.

Nafas-nafas mereka berpacu, yang di ranjang dengan yang tertawan sama cepatnya. Sementara itu, Peri Cantik Sendang bening tertawa terkikik-kikik bersama Nawang Puri dan para pengawal lainnya. Bahkan ada pengawal yang mendesah-desah sendiri diremat khayalannya.

"Biadab! Hentikan perbuatan itu!" bentak Sekar Pamikat. Peri Cantik dan Nawang Puri semakin tertawa melihat kemarahan Sekar Pamikat.

Ludiro dan Gopo saling berpacu keringat. Basah kuyup tubuh mereka oleh keringat. Mereka tak ingin melihat. Mereka menunduk, sama seperti Andini, namun berkali-kali selalu ada saja yang memekik, bikin kejutan, dan membuat mereka terperangah memandang kembali. Ternyata hanya suatu permainan dari orang-orang ranjang yang maniak.

"Terkutuk kau, Peri Bangkai!" teriak Sekar Pamikat.

Peri Cantik Sendang Bangkai menghentikan tawanya, kini berganti seringai yang menjijikkan. Ia berseru kepada tawanannya:

"Tak seorang pun mau dan bisa menghentikan hal itu! Mereka sedang melakukan pengabdian setia yang luhur, yaitu pembuahan! Mereka memikirkan masa depan, di mana soal keturunan menjadi sarana utama bagi kelanjutan hidup generasi kita. Apa salahnya jika kalian bergabung dengan kami, membentuk suatu generasi atau keturunan yang dapat bertahan hidup di bumi ini."

"Persetan dengan kata-katamu, Iblis!" bentak Sekar Pamikat. "Hentikan hal itu, atau kuobrak-abrik tempat ini menjadi reruntuhan tempat maksiat?!

Nawang Puri tertawa menjijikkan. "Sekar, Sekar.... Apa yang bisa kau andalkan di tempat ini, hah? Apa? Ilmumu hanya sekuku hitam dibandingkan Peri Cantik."

Sekar Pamikat melecutkan cambuk naganya, mencoba menembus pagar tenaga dalam yang melingkari mereka. Namun ia terpental dan nyaris membentur permukaan lantai. Andini menggerakkan tangannya bagai sedang menari, kemudian sebuah tenaga dalam yang dimilikinya dilancarkan ke arah Nawang Puri, tetapi Andini pun bahkan terlempar tinggi dan jatuh di pundak Gopo.

"Brengsek!"  gerutu   Gopo  sambil menghalau kaki Andini yang jatuh di pundaknya:  Andini  tak  mampu  melawan pagar dahsyat yang tak terlihat mata itu. Sementara   itu,    Peri    Cantik berpakaian  hanya  celana  dalam  tipis terbuat dari lempengan emas itu berkata kepada Nawang Puri:

"Sekarang perlu kita tunjukkan bibit unggul kita, Puri. Panggil dia dan kerjakanlah dengan baik. "

"Sendiko, Gusti Peri Cantik. !"

Nawang Puri membungkuk, kemudian bertepuk tangan dua kali. Dan seorang perempuan penjaga sebuah pintu membuka pintu berukir dan berlapis lempengan emas itu.

Dari pintu tersebut keluarlah seorang pemuda gagah, berambut panjang, berikat kepala dari kulit macan tutul, berbadan tegap dan berwajah tampan, mempesona. Pemuda itu datang menghampiri Nawang Puri dengan tanpa mengenakan pakaian selembar pun. Ia berwajah sayu, sorot matanya bagai mengantuk, namun ketegaran badannya masih terlihat jelas dan menggairahkan.

Pada saat itu juga, Sekar Pamikat dan Andini sama-sama menjerit dan berseru:

"Lanangseta. ?!"

"Ekayana. !"

Sekar Pamikat tergagap sejenak. Ia memandang Andini.

"Dia Lanangseta. !"

"Bukan! Dia kekasihku, Ekayana. !" "Ooh...?!" Sekar Pamikat kebingungan. Matanya membelalak dan berair, sama seperti mata Andini. Sementara itu Ludiro dan Gopo sama-sama terbengong melompong, bagai patung yang hanya bisa berkedip-kedip saja.

Peri Cantik Sendang Bangkai tertawa g-rang. Ia berkata, "Pendekar sesakti apapun, tak akan bisa berkutik jika peredaran darah yang menuju pusarnya berhenti. Tali pusar adalah bagian dari kehidupan manusia, dan jika ia ditotok, maka ia mudah dipengaruhi karena tak dapat berbuat apa-apa!"

"Hentikan...! Hentikan dia...!" "Jangan sentuh dia Dia kekasihku!"

seru Andini bersahut-sahutan. Sekar Pamikat melancarkan jurus Naga Pembelah Langit. Namun cambuk itu bagai tak berfungsi lagi. Ia terpental sendiri. Demikian juga Andini, berulangkah ia mengerahkan tenaga dalam simpanannya, namun ia selalu terpental dan terpental lagi. Sementara itu, pemuda gagah yang tampan itu telah mulai meremas dada Nawang Puri. Nawang Puri sendiri hanya tersenyum-senyum saat pakaiannya dilucuti satu persatu sambil menerima dengus ciuman pemuda itu. "Jangaaan...! Jangan lakukaaan...!" teriak Sekar Pamikat •

Andini juga berseru, "Itu kekasihku! Jangan suruh dia berbuat cabul dengan perempuan lain!"

"Paman! Berbuatlah sesuatu!" bentak sekar Pamikat kepada Ludiro. Ludiro menggeragap dan kebingungan. Ia hanya mondar-mandir tak tahu apa yang harus dilakukan. Ia bagai kehilangan akal sehatnya

Permainan cinta Nawang Puri dengan pemuda tampan itu semakin panas. Mereka bergumul di lantai, tidak di ranjang kamar panjang. Mendadak Peri Sendang Bangkai berseru:

"Tahan, Puri...! Tahan sebentar. Agaknya penonton kita ini akan semakin bertekuk lutut jika aku turut serta dalam permainan itu." Kemudian ia berseru kepada salah seorang pengawal yang berjaga di pintu tempat pemuda tadi keluar.

"Bibit unggul untukku, keluarkan...!"

Pengawal membuka pintu, dan seorang pemuda muncul dengan jalan seperti robot. Pemuda itu berambut panjang, mengenakan ikat kepala dari kulit macan tutul, tapi tubuhnya tanpa selembar benang pun. Ia bertubuh tegap, gempal, menggairahkan perempuan yang memandangnya. Ia berwajah bersih, halus, dan bibirnya bagai setetes madu di padang gersang, sangat menggairahkan. Dan pada saat itu pula, Sekar Pamikat dan Andini sama-sama terpekik kaget. Mata mereka terbelalak lebar dengan mulut ternganga. Andini yang lebih dulu berseru:

"Nah, dia..! Dia kekasihku.

Ekayanaaa...!"

"Bukan! Itulah calon suamiku, Lanangseta! Lanaaang...!"

Pemuda yang baru muncul itu mendekati Peri Cantik, dan mulai meraba bagian-bagian yang sensitif. Peri Cantik mengikik kegelian, sedangkan Nawang Puri pun melanjutkan permainannya. Saat itu, Sekar dan Andini sama-sama bingung untuk membedakan yang mana kekasih mereka sebenarnya. Kedua pemuda itu sama tampannya, sama gagahnya dan memiliki ikat kepala yang sama pula Sekar dan Andini benar-benar bingung.

Sekar Pamikat segera menampar Ludiro yang bagai orang linglung itu.

"Plaak...!!"

"Paman! Ingat lumut yang kau makan...!" Ludiro bagai tergugah dari mimpi yang membingungkan. Matanya terbelalak dan giginya menggeletuk. Sementara itu, Andini membentak Gopo yang duduk dengan lemas,

"Gopo...!"

Dengan cepat Gopo yang terengah-engah berkata, "Jangan! Jangan suruh aku bertindak! Sudah 7 tahun lebih aku tak bertemu dengan istriku dan... dan... menjadi gila!" Gopo menangis sendiri. Andini tak mau menghiraukan Gopo lagi.

Tetapi pada saat itu, Ludiro menerobos keluar dari lingkaran tenaga dalam yang tak tampak mata itu. Ternyata tubuhnya tidak mental seperti yang lainnya. Ia berhasil menerobos lingkaran tenaga dalam, tepat pada saat itu kedua pemuda tersebut hendak menindih tubuh Nawang Puri dan Peri Sendang Bangkai. Dengan gesit Ludiro meloncat, melancarkan tendangan dua kali, yang satu mengenai lengan pemuda di atas Nawang Puri, yang satu lagi mengenai kepala pemuda di atas Peri Sendang Bangkai.

Gerakan Ludiro berhasil membuat kedua pemuda itu terpental bagai kapas tertiup angin. Sementara itu, Peri Cantik Sendang bangkai dan Nawang Puri terkesima melihat Ludiro berhasil menembus lingkaran tenaga dalam yang mengurungnya. Ludiro menyempatkan melempar senjata rahasianya ke arah Nawang Puri.

"Juubb...!" Mata pisau beracun menancap di pangkal bahu Nawang Puri. Nawang Puri rubuh ke belakang, menindih Peri Cantik yang sudah tak berbusana sama sekali itu. Para pengawal menyerbu Ludiro, namun Ludiro belum inau melayani mereka. Pedang membabat lehernya, punggungnya dan seluruh tubuhnya berulangkali, tapi tak satu pun yang menggores kulit. Ludiro melihat kedua pemuda itu berdiri seperti mayat hidup. Jaraknya ada satu langkah antara pemuda yang satu dengan pemuda yang lain. Dengan cepat Ludiro berguling ke arah mereka. Posisinya jatuh tepat di antara kedua pemuda itu. Tangannya segera mengembang keduanya, dan dengan masing-masing kedua jarinya Ludiro menotok puser kedua pemuda itu bersamaan. Begitu keras totokan kedua tangan Ludiro sehingga pemuda itu terpekik keduanya, dan segera menyerang Ludiro. Mereka telah sadar, tapi mengira mendapat serangan dari Ludiro. Sebab itu Sekar Pamikat berseru, "Lanaaang...! Aku tertawan!"

Salah seorang dari pemuda itu berpaling. "Sekar...?!"

"Itu Lanang. Lanangseta calon suamiku...!'" teriak Sekar Pamikat kegirangan kepada Andini.

"Ekayanaaa...! Aku di sini, ditawan!"

Pemuda yang satu berpaling dan berseru, Andiniii...!"

Sekarang jelas sudah siapa kekasih mereka. Tapi mereka tak dapat keluar dari kurungan pagar tenaga dalam. Hanya Ludiro yang berhasil keluar, karena tubuhnya ternyata tak mempan senjata apapun, sekalipun berupa tenaga dalam yang dahsyat. Kali ini Ludiro sedang memburu Peri Sendang Bangkai yang mulai ketakutan. Tetapi banyak pengawalnyayang rapat memagari sehingga sukar ditembus Ludiro. Pada saat itu, tak ada jalan lain bagi Ludiro untuk tidak menggunakan senjata rahasianya. Tak ada pilihan lain, kecuali berdesing berulangkali sebuah senjata dari balik ikat pinggangnya.

"Aaakhh...!" Beberapa pekikan histeris terdengar keras. Pengawalpengawal itu rubuh terkena senjata rahasia Ludiro. Tapi Peri Sendang Bangkai segera menyingkir. Ia naik ke atas sebuah tempat seperti silinder kayu, mirip panggung berbentuk lingkaran. Ludiro melancarkan serangannya dengan melemparkan senjata lagi, namun senjata itu molos begitu saja. Kelihatannya mengenai leher Peri Sendang Bangkai, namun sesungguhnya hanya lolos ber gitu saja seperti menembus udara tanpa isi.

Pada saat itu, Lanangseta dan Ekayana bergerak me lawan para pengawal bersenjata pedang.. Keduanya sama-sama telanjang dan berguling menghindari serangan, melayang melancarkan pukulan mautnya. Saat itu, yang beraksi di atas ranjang masih terus beraksi bagai tanpa mengenal lelah. Mereka yang tengah bergumul memburu kenikmatan sepertinya telah terkena suatu pengaruh mutlak yang membuat mereka tak peduli lagi dengan keadaan kacau di sekitarnya.

"Dengar...! Dengar semua...!" seru Peri Sendang Bangkai yang kini seperti dalam bayangan saja. "Kalian tak akan berhasil mengalahkan aku! Senjata kalian akan sia-sia, hanya akan menembus segumpal kabut. Tak ada yang bisa membunuhku, kecuali Penghulu Badra, bekas suamiku itu. Tapi dia sekarang toh sudah mati. hanya dia yang tahu rahasiaku. Dan kalian... tak akan memperoleh keterangan darinya. Sebab itu, jangan menyerang, bergabunglah denganku...!"

Ekayana berseru kepada Andini, "Satukan hawa murni kalian, arahkan ke satu arah dan lingkaran yang mengurung kalian akan sirna..."

"Breet...!" Sebuah pedang pengawal berhasil melukai punggung Ekayana. Sementara itu, Ludiro terus menyerang Peri Sendang Bangkai, namun benar apa katanya, ia bagai menyerang udara kosong. Sosok Peri Sendang Bangkai hanya seperti bayangan belaka. Saat itu, Andini mengerahkan tenaga dalamnya yang dikatakan sebagai jurus Kupu Penabur Racun. Sekar Pamikat mengerahkan jurus Kupu Penabur Racun. Sekar Pamikat mengerahkan jurus Naga Pembelah Langit dengan lecutan cambuknya dan Gopo berteriak kuat-kuat, mengerahkan ilmu Guntur Tertawa. Ketika tenaga inti mereka disatukan, dan akibatnya timbullah suatu ledakan yang maha dahsyat. Mereka berhamburan keluar dari lingkaran tenaga dalam yang mengurung mereka sejak tadi. Pada saat itu, wajah Peri Sendang Bangkai yang bagai dalam bayangan itu kelihatan terkejut cemas. Kemudian Sekar Pamikat melepas cambuknya, memberi isyarat kepada Pendekar Pusar Bumi, dan keduanya mengeraskan tangan dalam posisi setengah berdiri. Mereka berteriak bersamaan:

"Wiwaha Moksa...!!"

Tepat pada waktu itu Andini juga melancarkan pukulan tenaga intinya: Kupu Penabur Racun. Sehingga timbullah ledakan yang lebih dahsyat dari yang pertama. Tiga sinar hijau muda dan merah membara meluncur ke arah Peri Sendang Bangkai. Ledakan itu membuat tempat berdiri Peri Sendang Bangkai hancur seketika, sedangkan bayangan Peri tanpa busana itu lenyap begitu saja. Yang ada hanya tawa yang mengikik panjang dan kata-kata,

"Tunggu pembalasan untuk kalian...! Sekar Pamikat mengambil  cambuk naganya lagi, dan mencambuk ke mana-mana bagai orang kesetanan. Tempat itu jadi hancur tak karuan. Gopo sibuk menginjak dan memuntir leher para pengawal yang terdiri   dari perempuan  semua.  Dengan gemas,  Gopo mematah-matahkan  tulang mereka   sambil berseru, "Istriku... anakku...! Lihat, kupatahkan mereka! Kupatahkan...!    Kurangajar...!

Bangsat...!" "Ekayana...? Kau terluka parah?!" Andini segera mengangkat kepala kekasihnya yang terkulai. Pada saat itu, Ludiro muncul sambil membawa pakaian dan senjata kedua pemuda itu.

"Pilih masing-masing pakaian. Cepat kita tinggalkan tempat ini dan ledakkan semuanya!" teriak Ludiro.

"Ekayana...?!" Lanangseta bagai terkesima dalam duka melihat Ekayana terluka punggungnya. Andini mulai menangis, karena ia melihat punggung itu mulai memborok.

"Hei, di sini ada jalan tembus, sebuah lorong! Mari keluar lewat sini!" seru Ludiro dari suatu tempat.

Orang-orang yang beraksi di atas ranjang masih tidak peduli dengan keadaan sekehling. Mereka seolah tak sadar apa yang sedang terjadi.

Tetapi Gopo segera mengangkat tubuh Ekayana yang mulai melemas dan memborok bagian punggungnya.

"Lekas tinggalkan tempat ini, Lanang..." ajak Sekar Pamikat setelah memeluk calon suaminya sejenak. Lanangseta gelisah.

"Adikku...? Ekayana terluka.

Bagaimana dia?" "Oh, dia adikmu? Adik kembarmu, maksudnya?" Sekar Pamikat menatap Lanangseta.

“Ya. Dia, Ekayana... adik kembarku yang bergelar Pendekar Maha Pedang.  "

"Oooh... pantas... Pantas Andini menceritakan ciri yang sama kukira.  "

"Sekar Putri...!" teriak Gopo yang sudah menggendong Ekayana di mulut pintu keluar. "Lekas keluar. Berembuk nanti saja! Yang penting selamatkan dulu orang ini. !"

"Gopo, hati-hati membawanya. Dia sakit," seru Andini dalam kemanjaan.

"Peduli amat dengan omonganmu, Sapi!" bentak Gopo.

Sekar Pamikat berlari bersama Pendekar Pusar Bumi. Ruangan itu menjadi sepi, tinggal orang-orang yang beraksi di ranjang dengan seenaknya itu. Gopo menggerutu sejenak, "Manusia-manusia terkutuk..!" Lalu, dia berseru sendirian, "Untuk pembalasan sakit hati istri dan anakku, terimalah aji Guntur Pemusnah ini..." Gopo menghentakkan suaranya dengan keras, "Hoaaaa. !!"

"Glegaaar...!" Ruangan itu meledak. Api berkobar ke mana-mana, Gopo segera berlari menyusuri ruangan yang mirip lorong sambil menggendong Ekayana. Di depannya, Sekar Pamikat dan Lanangseta berlari  cepat. Kemudian Ludiro di belakang  mereka,  dan    Andini sebentar-sebentar  berhenti,  berpaling ke belakang dan berkata, "Hati-hati ya, Gopo... itu barang berharga bagiku...!" "Setan cerewet! Lekas lari,  api mengejar di belakang kita!" bentak Gopo

dengan jengkel.

Api terus mengejar membakar seluruh bangunan itu. Mereka semakin mempercepat langkah. Lorong itu tak habis-habisnya, seperti tak berujung. Semakin dalam, semakin tidak rata, melebar sedikit, dan mulai lembab.

"Ini sebuah goa...!" teriak Ludiro sambil berlari.

"Ya. Tapi akankah tembus ke goa lumut bercahaya itu?" kata gopo. "Jika benar, aku akan memakan semua lumut yang ada di sana...!"

"Jangan pikirkan soal lumut, pikirkan soal luka Ekayana itu!" bentak Andini. "Bagaimana dengan lukanya? Dia dapat busuk jika tidak segera diobati...!"

"Andini...!" seru Sekar Pamikat di depan sana. "Kami akan berusaha. Mungkin Paman Ludiro bisa, tapi cari tempat yang baik! Jangan membentak-bentak Gopo...!" Pendekar Pusar Bumi berbisik kepada Pendekar Cambuk Naga, "Siapa dia, Gopo itu? Kekasihmu yang baru?"

"Ah, apa pantas kau cemburu kepada Gopo? Apa mungkin aku bermain serong dengan Gopo, atau dengan lelaki lain?"

Sekar sempat memberi cubitan kecil di sela larinya.

"Habis, siapa dia?"

"Nanti akan kuceritakan. Jangan sambil lari begini, aku takut rinduku akan terjatuh dan tercecer di sepanjang lorong goa ini."

"Apa kau rindu?" "Apa kau tidak?"

Lanangseta, alias Pendekar Pusar Bumi hanya tertawa Pendek. Namun ia menggumam lirih,

"Aku khawatir dengan keselamatan Ekayana. Ia parah. Mungkinkah ia dapat tertolong dari luka-lukanya yang kelihatannya cepat membusuk itu?"

Ya, akan tertolongkah Ekayana?

Dan bagaimana percintaan mereka selanjutnya?

TAMAT
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Serial Pendekar Cambuk Naga Eps 02 : Rahasia Sendang Bangkai"

Post a Comment

close