coba

Senja Jatuh di Pajajaran Jilid 22

Mode Malam
Jilid 22  

Mendengar pertanyaan ini, nampak wajah Pangeran Yogascitra kelabu. Dia menghela napas beberapa kali sebelum melontarkan jawaban.

"Penghargaan Sang Prabu terhadap adikmu menjadi berkurang karena peristiwa Suji Angkara. Sang Prabu bahkan menyuruh agar adikmu dimasukkan kemandalasaja…" gumam pangeran tua itu.

"Apa? Dimasukkan ke mandala?" Pertanyaan ini berbareng dilontarkan oleh Banyak Angga dan Purbajaya. Wajah Purbajaya bahkan terlihat amat pucat dan bibirnya bergetar.

"Apakah mandala itu?" tanya Ginggi heran.

"Mandala adalah semacam puri para wiku wanita. Setiap gadis yang gagal dalam perkawinan atau kehidupan lahiriah selalu memasuki mandala untuk belajar ilmu batin. Para wanita bangsawan yang ditinggal mati suaminya pun biasanya masuk kemandala …" kata Banyak Angga dengan wajah murung.

"Apakah Nyimas Banyak Inten digolongkan wanita yang gagal dalam kehidupan cinta?" tanya Ginggi. Tak ada yang menjawab, sehingga suasana amat sunyi.

"Barangkali bagi Sang Prabu lebih terhormat melihat gadis yang dicintanya memasukimandala ketimbang hidup di luar atau bahkan menjadi selirnya tapi sudah memiliki cacat. Gadis yang dilarikan lelaki lain secara paksa dianggap kehormatannya sudah cacat, apalagi gadis itu tadinya sudah dipilih Raja…" gumam Pangeran Yogascitra seperti bicara pada dirinya sendiri.

"Pamanda Yogascitra, jangan biarkan Dinda Banyak Inten meninggalkan kehidupan duniawiyah. Dia masih muda. Dia masih penuh harapan dan cita-cita!" kata Purbajaya menggebu.

"Banyak Inten masukmandala adalah harapan Raja. Tapi harapan Raja adalah perintah juga. Aku tak berani menentang titahnya, apalagi amat berkaitan erat dengan kepentingan dan kehormatannya…" gumam Pangeran Yogascitra dengan nada sendu sehingga kemurungan wajahnya menambah ketuaannya.

"Kalau Pamanda tak berani menentang Raja, untuk urusan ini saya berani ke depan," kata Purbajaya tegas.

Pangeran Yogascitra menatap pemuda itu dengan penuh selidik.

"Mengapa kau begitu mati-matian membela anakku?" tanyanya. Tapi yang ditanya malah menunduk membuat hati Ginggi sedikit berdebar karena penuh dugaan.

"Sudahlah…Urusan paling besar yang harus kita hadapi adalah sandi rahasia itu. Ginggi, benarkah isi surat itu maksudnya demikian?" tanya pangeran itu menoleh pada Ginggi.

"Sudah saya katakan tadi, itu hanya dugaan belaka," jawab Ginggi, "Ribuan pipit terbang dari timur. Itulah pasukan yang kelak akan datang dari arah timur, entah siapa.Ketika senja jatuh di barat , maksudnya pasukan itu akan tiba di wilayah barat dan saya artikan sebagai Pakuan, di senja hari. Tiga hari sebelumKuwerabakti , saya tafsirkan pasukan akan mulai bergerak dari timur tiga hari sebelum upacaraKuwerabakti . Baris terakhir, pagi hari diTelaga Rena MahaWijaya , saya artikan bahwa saat penyerbuan akan dilakukan di pagi hari, mungkin titik penyerbuan ke telaga itu. Apakah dugaan saya ini benar atau salah, saya sendiri pun tak dapat memastikannya!" kata Ginggi panjang-lebar.

Namun mendengar penjelasan ini, semua orang mendadak pucat wajahnya.

"Bisa jadi dugaanmu benar anak muda," gumam Pangeran Yogascitra, "Pagi hari pada hari pertama upacaraKuwerabakti adalah mandi suci Sang Prabu beserta seluruh pejabat istana di Telaga Rena Maha Wijaya. Kemungkinan penyerbuan dilakukan di saat semua penghuni istana meninggalkankadaton(keraton) dan berada di tempat terbuka tanpa perlindungan…" kata Pangeran Yogascitra. Ginggi pun ingat, telaga di Bukit Badigul Rancamaya itu berada di wilayahjawi khita (benteng luar istana). Kalau seluruh penghuni istana sedang berada di sana, maka penyerbuan itu akan sangat membahayakan keselamatan Raja. "Kalau begitu, kita harus segera mengambil tindakan," kata Pangeran Yogascitra.

"Nanti dulu Ayahanda. Kita harus selidiki kebenarannya," kata Banyak Angga sambil kemudian menoleh ka arah Ginggi. "Ginggi sebetulnya engkau ada di fihak manakah? Di lain fihak diutus Ki Banaspati tapi di lain fihak pula beritahu kami mengenai rencana mereka," kata Banyak Angga lagi.

Pangeran Yogascitra pun rupanya terpengaruh oleh ucapan pemuda itu, buktinya dia menatap tajam Ginggi.

"Kau berada di fihak mana, anak muda?" tanyanya.

"Saya tak berada di fihak mana pun. Semua peristiwa ini tak ada kepentingannya dengan saya. Tapi kalau saya sekarang beberkan rencana Ki Banaspati atau siapa saja, saya sebenarnya hanya tak ingin terjadi banyak korban. Kalau benar ada rencana penyerbuan besar-besaran ke Pakuan, akan jatuh korban sia-sia. Saya tak ingin melihat perang sebab akan menyengsarakan banyak orang…" kata Ginggi mantap.

Pangeran Yogascitra merenung namun akhirnya mengangguk-angguk. "Pendapatmu benar belaka, anak muda. Perang tak boleh terjadi, apalagi dilakukan sesama orang Pajajaran…" kata pangeran itu.

"Lalu bagaimana tindakan kita, Ayahanda?" tanya Banyak Angga.

Pangeran Yogascitra berpikir sejenak. Dia menerawang ke langit-langit, lalu menatap Ginggi.

"Kau lanjutkan dulu perintah Ki Banaspati. Serahkan kotak surat pada Pangeran Jaya Perbangsa. Aku ingin teliti, apakah benar dia terlibat pemberontakan?" Pangeran Yogascitra melirik pada putranya, "Kau dan Purbajaya kawal anak muda ini. Datanglah malam ini juga ke puri Jaya Perbangsa. Selagi anak muda itu menyerahkan surat, kau sembunyi di luar, dan kau Ginggi, aku ingin tahu sejauh mana kau ingin bantu aku, maksudku, sejauh mana kau ingin menghindari pertumpahan darah seperti yang aku juga pikirkan. Kalau jalan pikiranmu sama denganku, kau tentu mau membantu," kata pangeran itu menoleh pada Ginggi.

"Saya siap membantu, Pangeran…" ucap Ginggi mengangguk.

Jagabaya dipanggil dan pintu jeruji dibuka. Ginggi berdiri dan melangkah keluar dari pintu tahanan. Dadanya masih terasa sakit karena luka dan tubuhnya pun lemah-lunglai.

"Tubuhmu terserang racun. Tapi itu menolong kecurigaan kami akan keterlibatanmu, Ginggi," kata Purbajaya di tengah jalan menuju puri Jaya Perbangsa.

"Benar kecurigaan kami berkurang. Kotak itu dipasangi senjata rahasia agar orang yang tak tahu dan berniat membukanya akan mati kena racun. Ini hanya menandakan kau memang tidak terlibat. Tapi aku sendiri masih bingung dengan sikapmu. Sepertinya kau tengah bimbang kau mesti berpihak ke mana," kata Banyak Angga.

"Dulu saya bimbang, tapi setelah saya teliti kesana-kemari, saya sudah bisa ambil keputusan,’ jawab Ginggi. "Apa keputusanmu?"

"Saya tidak akan ikut kemana-mana," jawab Ginggi. "Termasuk membela negara?"
"Ini bukan pertentangan antara negara dan pemberontak, melainkan pertentangan orang-orang yang ingin menguasai negara," jawab Ginggi.

"Mungkin begitu, tapi apa pun yang terjadi, negara tetap dalam bahaya dan semua orang harus mau mempertahankan negara," kata Banyak Angga.

"Pendapatmu sama dengan saya. Maka untuk itulah saya pun berusaha mencegah terjadinya pertumpahan darah," kata Ginggi.

Tiba di depan benteng puri, Banyak Angga dan Purbajaya memisahkan diri. Mereka naik ke benteng lewat jalan samping dan menghindari pertemuan dengan para jagabaya puri tersebut. Sedangkan Ginggi masuk puri secara baik-baik.

"Tapi Juragan Jaya Perbangsa sedang tak ada, Raden…" kata penjaga. "Beliau sedang ke mana?" tanya Ginggi agak kecewa.
"Juragan dipanggil Sang Prabu malam ini juga. Rupanya ada sesuatu kepentingan mendadak," ujar jagabaya. "Begitu pentingkah kehadiranmu malam ini, Raden?" tanyanya kemudian.
Ginggi tak menjawab, sebab hatinya tengah berpikir-pikir tentang maksud pertemuan pangeran itu dengan Sang Prabu.

Namun ketika dia sedang termangu, dari jauh ada bunyi suara ketoplak kaki kuda. Ginggi menoleh ke belakang. Yang datang ternyata Pangeran Jaya Perbangsa, berjalan lambat-lambat dan dikawal empat orang prajurit bersenjata dengan obor di tangan masing-masing.

"Siapa itu?" tegur bangsawan muda berkumis tipis ini. "Oh, aku kenal kau. Bukankah engkau calon ksatria dari puri Yogascitra, bukan?" kata pangeran itu dengan nada sedikit mengejek yang Ginggi tak tahu apa maksudnya.

"Ada yang akan saya sampaikan. Dan ini sangat penting. Bolehkah saya masuk?" kata Ginggi.

Pangeran Jaya Perbangsa menatap sejenak, namun kemudian mengangguk kendati penuh hatihati.

Ginggi diterima di sebuah kamar tertutup. Ketika dia baru saja duduk bersila, di atas sirap terdengar sedikit gerakan. Pelahan saja tapi Ginggi tahu ada dua benda berat bertengger di sana. Ginggi khawatir akan kecerobohan dua orang temannya itu. Bagi penilaian Ginggi, gerakan mereka masih kasar. Kalau Pangeran Jaya Perbangsa memiliki kepandaian tinggi, mereka pasti mudah diketahui.

"Ada keperluan apakah Pangeran tua yang setia itu mengutusmu, hei ksatria!" kata Pangeran Jaya Perbangsa masih dengan nada sedikit mengejek. Namun bagi Ginggi sepertinya orang ini memperlihatkan dirinya bahwa dia tak senang terhadap Pangeran Yogascitra. Dan ini sedikit lebih meyakinkan dirinya pula bahwa bangsawan muda yang gagah ini punya hubungan dengan Ki Banaspati.

"Saya datang ke sini bukan atas suruhan Pangeran Yogascitra," kata Ginggi pendek. Namun begitu mendengar penjelasan ini, pangeran muda itu membelalakkan kedua belah matanya.

"Kau…siapa engkau sebenarnya?" tanyanya sedikit heran.

"Namaku Ginggi!" kata lagi pemuda itu pendek tapi matanya tajam menatap Pangeran Jaya Perbangsa.

"Maksudku, bukankah engkau orang dari puri Yogascitra?" tanya lagi bangsawan itu.

"Segalanya bisa terjadi, Pangeran. Bukankah Pangeran Yogascitra pun sampai saat ini selalu menganggap Pangeran Jaya Perbangsa sahabat baiknya?" kata Ginggi sedikit menyindir sehingga membuat wajah pangeran muda itu sedikit memerah.

"Ya, segalanya bisa terjadi dalam meniti perjuangan. Kau diutus oleh siapakah dan dalam urusan apakah?" tanya lagi Pangeran Jaya Perbangsa.

"Ini!" Ginggi langsung menyerahkan kotak surat yang engselnya sudah kembali terkunci. Pangeran Jaya Perbangsa menerima kotak surat itu. Dan dia terkejut menerimanaya.

"Kau utusan Ki Banaspati, anak muda?" tanyanya. Tapi Ginggi hanya mengangguk pelan.
"Perlu dibuka hari ini juga?" "Terserah Pangeran…" kata Ginggi.
Bangsawan itu berjingkat dulu dan membuka sebuah lemari kayu berukir indah. Dari dalam lemari dia keluarkan semacam baju zirah, yaitu pakaian terbuat dari logam menyerupai sisiksisik ikan. Ginggi terkejut sekali. Bila begitu rahasia dirinya akan terbongkar.

Dengan sedikit berdebar, Ginggi menyaksikan pangeran itu mencoba membuka engsel dengan amat hati-hati. Wajahnya sedikit dijauhkan sepertinya tengah bersiap menjaga kemungkinan. Namun ketika engsel terbuka dan kepala pangeran itu sigap menghindar dengan cara miringkan wajah ke samping, tidak terjadi sesuatu.

Pangeran Jaya Perbangsa menatap penuh selidik pada Ginggi.

"Ada apakah, Pangeran?" tanya Ginggi ingin segera tahu pikiran apa yang terkandung di benak bangsawan ini.

"Ada dua kumungkinan kotak ini memberi tahu padaku. Pertama, kau membohongiku dan kedua kau berkhianat!" kata Pangeran Jaya Perbangsa pendek.

"Mengapa begitu?" "Ki Banaspati setiap mengirim surat dalam kotak tertutup, selalu dipasangi jebakan. Orang yang sembrono membuka kotak surat akan mati seketika karena serangan senjata rahasia. Sekarang kotak sudah tanpa jebakan. Artinya kotak sudah ada yang buka !" kata Pangeran Jaya Perbangsa.

"Saya yang membuka!" gumam Ginggi pendek.

"Kalau begitu kau harus mati! Kau pengkhianat!" seru bangsawan muda pemarah itu sambil melancarkan pukulan dengan tangan kanan terkepal. Pukulan itu lurus ke depan mengarah jidat Ginggi. Namun dalam pandangan pemuda itu, gerakannya terlihat lamban dan mudah diikuti mata, sehingga dengan entengnya Ginggi menangkap pergelangan tangan bangsawan itu dengan tangan kirinya.

Pangeran Jaya Perbangsa kembali melayangkan pukulan dengan tangan kiri dan ditepis dengan baik oleh tangan kanan Ginggi. Nampak bangsawan itu meringis karena tangkisan Ginggi.

"Aku tangan kanan Ki Banaspati, sudah barang tentu harus tahu segala gerakan yang ada!" kata Ginggi masih memegang pergelangan tangan bangsawan itu sehingga dia kian meringis saja.

"Tapi kau melanggar perintah Ki Banaspati!" kata Pangeran Jaya Perbangsa mencoba melepaskan tangannya tapi tetap tak kuasa.

"Tak ada yang kulanggar. Surat itu sudah sampai di sini seperti apa yang diinginkan Ki Banaspati,’ kata Ginggi.

"Ya, tapi kau membukanya!"

"Ki Banaspati tak melarangku untuk membukanya, sebab kalau aku tak punya kepandaian, biar disuruh buka pun aku tak akan mampu membacanya karena keburu mati!" kata Ginggi sambil merasakan sakitnya di dada yang terasa berdenyut-denyut. Hatinya sedikit malu ketika bicara begitu, sebab kalau tak segera diobati penghuni puri Yogascitra barangkali nyawanya sudah melayang karena racun dalam jebakan kotak surat itu.

Tapi mendengar ucapan Ginggi, Pangeran Jaya Perbangsa sepertinya memaklumi. Buktinya dia tak bertahan lagi memaksakan pendapatnya. Ginggi pun segera melepaskan pegangan tangannya.

"Saya ingin bertanya, bagaimana persiapan di sini dalam menyambut hari penting itu," tanya Ginggi sesudah Pangeran Jaya Perbangsa membaca dan mengartikan makna sandi surat itu.

Bangsawan itu menatap Ginggi sejenak. Tapi karena Ginggi balik menatap tajam, dia mau juga bicara.

"Semua sudah aku kerjakan sesuai perintah Ki Banaspati, Pakuan harus dikosongkan dari kekuatan perwira…"

Berdebar hati Ginggi mendengarnya. "Itu akan disampaikan pada Ki Banaspati. Tapi coba jelaskan keadaan di Pakuan secara utuh sehingga saya bisa melaporkannya dengan sempurna kepada Ki Banaspati," kata Ginggi.

Seperti seorang bawahan lapor pada atasan, Pangeran Jaya Perbangsa menerangkan persiapan yang dilakukannya di Pakuan. Kata bangsawan ini, semua orang sudah siap menunggu komando. Jadi, bila saatnya tiba, mereka akan membantu bergerak dari dalam.

"Secara kebetulan sekali malam ini aku dipanggil menghadap Sang Prabu. Dalam uraiannya dia ingin minta pendapat pada Pangeran Yogascitra perihal 15 pewira kerajaan yang menuju Puncak Cakrabuana lebih dari dua tahun silam. Ini karena ada pertanyaan dari perwira lainnya, mengapa nasib 15 perwira yang diutus mengejar buronan Ki Darma Tunggara tidak pernah diperhatikan. Kelimabelas perwira itu hingga kini belum kembali dan tak ada khabar beritanya. Beberapa perwira tua ingin tahu, apakah kelimabelas orang rekannya berhasil menangkap Ki Darma atau tidak. Kalau berhasil, mengapa tak pernah pulang dan kalau gagal, apakah mereka tewas atau bagaimana?"

"Teruskan…" kata Ginggi dengan nada suara diusahakan biasa, padahal dadanya bergetar hebat.

"Aku katakan, tak perlu minta pertimbangan Pangeran Yogascitra sebab bangsawan tua itu kalau berpikir terlalu bertele-tele dan rasa hati-hatinya terlalu berlebihan. Jangan biarkan para perwira kerajaan goncang. Limabelas perwira yang hilang harus dicari. Aku sarankan agar dikirim lagi pasukan kecil terdiri dari perwira tangguh. Mereka harus ditugaskan mencari dan menyelidiki perihal raibnya rekan-rekan mereka. Aku beri susunan dan daftar para perwira yang bisa dipercaya melakukan tugas ini. Hahaha ! Sepuluh perwira tangguh siap diberangkatkan besok subuh !" Pangeran Jaya Perbangsa tertawa terbahak-bahak.

"Mengapa mereka harus pergi sekarang juga?" tanya Ginggi.

"Itulah taktik mengundang harimau keluar sarang, sehingga dengan amannya kita bisa memasuki sarang mereka!" kata Pangeran Jaya Perbangsa bangga dengan jalan pikirannya. "Para perwira yang aku tawarkan pada Sang Prabu adalah perwira-perwira setia pada Raja yang sulit diajak kerja sama. Jadi, biarkan mereka jauh dari Pakuan di saat dayo ini diserbu pasukan dari timur!" kata bangsawan ini.

"Tapi sepuluh perwira itu kemungkinan ketemu di jalan dengan pasukan dari timur!" kata Ginggi.

"Hahaha! Biarkan saja. Mereka akan berpapasan dan dibantai pasukan. Kekuatan perwira Pakuan akan utuh bila digabung sebab semuanya mahir ilmu pertempuran. Tapi bila dipecahpecah seperti itu, perlawanan mereka tak ada artinya! Hahaha!" Pangeran Jaya Perbangsa nampak gembira sekali.

"Jalan pikiran Pangeran amat cerdik. Tak percuma Ki Banaspati menugaskanmu di Pakuan. Tapi, apakah para pembantu Ki Banaspati lainnya sama cerdiknya dengan engkau, Pangeran?" tanya Ginggi lagi.

"Hahaha! Semua bisa dipercaya!" "Saya pun harus mengenali mereka, sebab dalam hari penting saya ada di Pakuan, jangan biarkan saya keliru memilih lawan!" kata Ginggi lagi.

"Nanti kau pun akan tahu…" kata Pangeran Jaya Perbangsa masih tersenyum. Ginggi sebetulnya penasaran ingin mengorek keterangan lagi. Tapi kalau terlalu mendesak, dikhawatirkan pangeran itu akan curiga.

"Kalau begitu baiklah. Saya mohon diri sebab tidak baik kalau terlalu lama di sini…" gumam Ginggi sambil mohon diri hendak meninggalkan ruangan iu.

Ginggi berjalan keluar puri, mohon diri untuk pulang kepada para jagabaya yang menjaga gerbang. Tapi tiba di sebuah jalan berbalay, sudah ada dua orang menunggu. Mereka adalah Banyak Angga dan Purbajaya.

"Keparat Jaya Perbangsa…" desis Banyak Angga.

"Ya…begitulah seperti yang kalian dengar tadi," gumam Ginggi. "Setelah ini, kita bagaimana?" tanyanya kemudian.

"Kita lapor pada Ayahanda!" ajak Banyak Angga. Semua setuju untuk kembali ke puri Yogascitra.

Demi mendengar laporan ini, Pangeran Yogascitra nampak pucat wajahnya.

"Tidak sangka Jaya Perbangsa yang selama ini baik padaku bertindak sehina ini…" gumamnya memendam kesedihan.

"Tapi bukankah hampir semua orang sekarang bertindak begitu?" tanya Ginggi. Turun naik dada pangeran tua itu ketika Ginggi berkata begitu.

"Kita boleh mengeluarkanpanca-Parisuda (kritik dan teguran) seperti apa yang tersirat dalam KitabSanghyang Siksakandang Karesian , tapi tak dibenarkan melakukan pemberontakan!" kata Pangeran Yogascitra tegas.

"Tapi Ki Darma Tunggara yang melakukan kritik tetap dianggap memberontak. Sehingga pada akhirnya, apakah itu terang-terangan kepada Raja atau hanya sekadar melontarkanpancaparisuda , kalau membuat Raja marah, tetap akan dituding pengkhianat dan pemberontak.
Maaf Pangeran, dalam pertemuan beberapa hari lalu di puri ini, Pangeran bersedia melakukan upaya perbaikan di istana. Itu artinya, Pangeran akan secara langsung berhadapan dengan Sang Prabu. Pangeran akan mengoreksi tindakan Raja. Kalau sudah begitu apa bedanya dengan semua orang, dengan tindakan Ki Darma juga misalnya? Bukankah pada akhirnya Pangeran juga sama-sama memberontak dalam pandangan Sang Prabu?" Tanya Ginggi menggebu.

"Aku tidak akan memberontak!"

"Tapi Ki Darma tetap dituduh memberontak!" "Aku tak menuduh Ki Darma memberontak!" "Mengapa sampai sekarang dia tetap dikejar? Mengapa semua prepantun mengolok-olok dan mengejeknya? Mengapa?" tanya Ginggi lagi kian menggebu.

"Ginggi! Ada apa secara tiba-tiba kau seperti membela Ki Darma?" teriak Pangeran Yogascitra.

"Karena saya murid Ki Darma!" Ginggi balik berteriak. Terhenyak semua orang mendengar pengakuan ini. Pangeran Yogascitra bahkan tak terasa mundur setindak.

"Ya, saya murid Ki Darma!" kata Ginggi lagi."Barangkali saya akan ditangkap, sebab kata orang, setiap yang memiliki hubungan dengan Ki Darma akan disamakan kedudukannya sebagai pemberontak juga. Boleh tangkap saya. Tapi sebelumnya akan saya buktikan bahwa saya tidak melakukan pemberontakan, sama seperti apa yang dilakukan Ki Darma belasan tahun silam. Dan Bahkan sama dengan tindakan Pangeran Yogascitra yang melakukanpancaparisuda tapi bukan melawan Raja" kata Ginggi lagi menatap tajam.

Pangeran Yogascitra termenung mendengar kata-kata pemuda itu, demikian pun yang lainnya.

"Aku sudah katakan tadi, tidak pernah menuduh Ki Darma sebagai pemberontak. Tapi harap kau tahu, Sang Prabu Ratu Sakti banyak dikelilingi para pembantunya dan gagasan serta jalan pikirannya bermacam-macam. Kalau ada orang yang merasa tak senang dengan tindak-tanduk Ki Darma, maka rasa tak senangnya itu dipengaruhkannya pada Sang Prabu agar beliau membuat keputusan-keputusan tertentu," gumam Pangeran Yogascitra dengan nada pemuh sesal.

Ginggi hanya terlihat mematung dengan napas sedikit ditahan-tahannya.

"Kau tanyalah anakku, bagaimana sikapnya terhadap Ki Darma. Dia tak mengenal orang tua gagah itu secara pribadi, sebab Banyak Angga masih terlalu kecil saat itu. Tapi anakku sudah punya pandangan tersendiri pada Ki Darma," kata Pangeran Yogascitra sambil menoleh pada Banyak Angga yang duduk bersila dengan wajah muram.

"Sekarang ini dunia terbalik. Orang yang menyayangi dengan memberinya kritik dikesampingkan dan dibenci, tapi yang menjilat dan mencari muka dihargai. Saya mempelajari kehidupan Ki Darma sejak mulai beliau sebagai anggota Seribu Pengawal Raja sampai menjadi buronan yang harus dikejar. Tak ada arang tercoreng di wajahnya, sebab apa yang beliau lakukan, semuanya demi nama baik bangsa dan negara. Hanya karena sikap penguasa yang tak senang padanya saja yang menyebabkan dia dicap sebagai pemberontak," kata Banyak Angga sungguh-sungguh.

"Ki Darma seorang gagah. Dia patriotik sejati. Tapi kedudukan kami lemah sehingga sulit mempengaruhi Raja untuk tidak membencinya…" Purbajaya ikut bicara.

Ginggi sangat terharu dengan sikap-sikap mereka ini. Setidaknya Ginggi tahu, tidak semua orang menuduh buruk terhadap Ki Darma.

"Terima kasih bahwa di puri ini saya mendapatkan kebahagiaan," kata Ginggi dengan nada bergetar. "Percayalah pada saya, bahwa saya juga sependapat dengan orang yang ada di sini. Saya benci kekerasan dan saya tak menghendaki adanya pemberontakan," katanya lagi. "Baik, kami semua percaya padamu. Karena kau lebih banyak tahu dari pada kami perihal rencana pemberontakan, maka sebaiknya kau bantu kami memecahkan cara dalam mencegah pemberontakan ini," kata Pangeran Yogascitra.

Ginggi tak menjawab. Tapi karena Pangeran Yogascitra mulai duduk kembali sambil bersila, Ginggi pun ikut bersila.

"Didayo (ibukota) ini saya melihat sudah banyak perbedaan pendapat. Di luar Pakuan lebih parah dari itu, sebab banyak orang tak menyukai Raja," kata Ginggi, "Saya tidak akan berpihak ke mana pun sebab mana benar mana salah, semuanya sudah bergalau menjadi satu. Tapi satu hal yang akan saya kerjakan di sini, saya akan coba menggagalkan perumpahan darah. Saya tak ingin beda pendapat di antara orang-orang yang mementingkan kedudukan mengikut sertakan rakyat dan rakyat menjadi korban kepentingan mereka," kata Ginggi lagi menatap Pangeran Yogascitra.

"Pendapatmu aku hargai, anak muda," sambut bangsawan itu. "Namun bagaimana caranya agar pertempuran tidak terjadi?" tanyanya kemudian.

Baik Banyak Angga mau pun Purbajaya sama-sama menatap padanya.

Ginggi mengerutkan dahi sebab dia pun masih bingung bagaimana caranya mencegah pertempuran.

"Menahan perjalanan mereka sudah tak mungkin sebab hari ini hampir setengah perjalanan mereka lakukan," gumam Ginggi. "Lebih baik biarkan saja mereka memasuki Pakuan," lanjutnya.

Semua orang menatap dirinya.

"Tapi kekuatan Pakuan harus tetap utuh. Untuk itu harus ada yang segera menghubungi Raja agar membatalkan pengiriman sepuluh perwira menuju timur. Perkiraan Pangeran Jaya Perbangsa harus kita kuatirkan. Dia yang melahirkan gagasan agar sepuluh perwira andalan meninggalkan Pakuan. Pertama disengaja agar tidak bisa menjaga Pakuan dan keduanya diharapkan sepuluh perwira berpapasan dengan pasukan penyerbu untuk kemudian dibantai," kata Ginggi merenung lagi. "Adakah yang sanggup menghadap Raja?" tanyanya.

"Kapan kesepuluh perwira akan berangkat tugas?" tanya Pangeran Yogascitra. "Saya dengar subuh hari ini mereka akan berangkat," kata Banyak Angga. "Ya, benar…subuh ini!" sambung Ginggi.
"Kita tak bisa begitu saja mencegat para perwira agar tak jadi berangkat. Segalanya harus berdasarkan titah Raja. Sedangkan kapan kita bisa menghadap Raja, rasanya tak ada waktu lagi," Pangeran Yogascitra mengerutkan dahi.

"Bagaimana kalau tak melalui Raja. Kita langsung menghubungi para perwira saja dan kita katakan perihal bahaya penyerbuan ini," Banyak Angga mengajukan usul. "Hati-hati. Jangan-jangan ini malah lebih berbahaya. Kau mungkin dengar ucapan Pangeran Jaya Perbangsa tadi, bahwa di Pakuan sudah banyak kaki-tangan Ki Banaspati. Tapi, siapa saja mereka, kita tidak diberi tahu. Kalau kita salah menghubungi, malah kita seolah menyerahkan nyawa pada mereka," kata Ginggi mengingatkan. Purbajaya membenarkan ucapan Ginggi ini.

"Jadi bagaimana baiknya?" tanya Banyak Angga bingung.

"Lebih baik kita cegat saja kesepuluh perwira yang sedianya akan melakukan perjalanan ke timur. Kita khabarkan mara-bahaya yang tengah mengancam Pakuan. Saya yakin, mereka mau percaya dan mengurungkan perjalanan. Tapi yang harus menghubungi mereka haruslah Pangeran sendiri," kata Ginggi.

Pangeran Yogascitra setuju, sebab mungkin para perwira hanya percaya padanya saja.

"Kalau begitu aku harus siap-siap menghubungi mereka," tutur Pangeran Yogascitra sungguhsungguh, "Tapi semua pun harus membagi tugas," lanjutnya.

"Saya akan membayangi Pangeran Jaya Perbangsa," kata Banyak Angga. Ginggi menatapnya, khawatir pemuda itu bertindak sembrono.

"Saya hanya akan kembali pada Ki Banaspati untuk menyelidik gerakannya," tutur Ginggi.

"Akan saya pikirkan apa yang mau saya kerjakan. Saya ingin tahu siapa kaki-tangan Ki Banaspati di Pakuan ini," gumam Purbajaya.

Purbajaya, dari Kelompok Mana?

Percakapan berhenti sampai di situ sebab Pangeran Yogascitra harus sudah bersiap-siap keluar puri.

Hari belumlah subuh, tapi pangeran tua ini perlu berkemas mempersiapkan sesuatu. Sedangkan Ginggi segera mohon diri sebab kantuk sudah demikian menyerangnya, apalagi tubuhnya masih terasa lemah karena luka-luka di tubuhnya.

Namun ketika pemuda itu tiba di bangunan di mana dia menginap, darahnya berdesir cepat manakala di sudut ruangan ada satu tubuh membayang.

"Ki Banaspati?" gumam Ginggi setengah berdesis saking kagetnya.

Ginggi menahan napas dan mencoba bersiap memusatkan tenaga menjaga kalau-kalau Ki Banaspati melakukan penyerangan. Namun apa yang dikhawatirkan ternyata tak terjadi. Ki Banaspati malah mendekatinya.

"Tiga hari yang akan datang waktu yang baik untuk melakukan tugasmu," kata Ki Banaspati. "Tugasku yang mana?" tanya Ginggi berdebar.
"Membunuh Raja!" "Membunuh Raja?"

"Ya! Sang Prabu akan mandi suci tepat di pagi hari, di Telaga Rena Maha Wijaya. Orang lainnya yang sama-sama harus kau bunuh juga ada di telaga."

"Pangeran Yogascitra?" "Benar!"
"Akan begitu banyak pengawal di sana. Aku pasti kesulian melakukan tugas itu!" kata Ginggi.

"Hm! Kau meremehkan gerakaanku. Ketahuilah, lebih dari setengah pengawal Raja adalah anak buah Ki Bagus Seta tapi kini sudah berada di bawah komandoku," kata Ki Banaspati pasti.

Ginggi terkejut mendengarnya. "Ki Bagus Seta bagaimana?"
"Dia sudah tak bisa diharapkan. Ki Bagus Seta sakit parah!" jawab Ki Banaspati pendek. Ginggi mengerutkan dahi.
"Dia sudah jadi orang yang tak berguna. Tinggal kita berdua yang masih bisa melaksanakan amanat Ki Guru," desis Ki Banaspati. "Camkan itu," sambungnya.

"Tapi apakah pelaksanaan tugasku masih berada di bawah ancamanmu?" tanya Ginggi menatap tajam.

"Ya, sebab nyawamu dan nyawa Ki Rangga Guna masih amat bergantung pada sejauh mana kesetiaanmu pada perjuangan ini!" jawab Ki Banaspati tegas.

"Ingat, tiga hari lagi, pagi-pagi di Telaga Rena Maha Wijaya!" desisnya lagi.

Dan Ki Banaspati segera berlalu. Dia meloncat dari jendela, menghilang di kegelapan. Tinggallah Ginggi sendirian, merenung jauh dengan pikiran gundah.
Kekuatan Ki Banaspati ternyata sudah benar-benar sempurna. Dia sudah memiliki jaringan di mana-mana, termasuk di sekitar pengawal Raja sendiri.

Ginggi harus semakin berhati-hati tinggal di Pakuan ini. Ada dua kekuatan besar akan saling beradu. Satu kekuatan pendukung Raja dan satunya lagi yang akan menggulingkan Raja.
Kedudukan Ginggi seolah ada di tengah dan sedang diperebutkan. Bila salah satu kekuatan tahu dia memilih salah satunya, maka kedudukan Ginggi akan berbahaya.

Pangeran Yogascitra kendati ada rasa kecewa terhadap kebijaksanaan Raja namun tak berniat menggulingkannya. Dan Ini Ginggi masukkan sebagai kelompok pendukung Raja. Namun yang lebih berbahaya adalah kelompok Ki Banaspati. Mereka jelas-jelas niatnya memberontak dan akan merebut kekuasaan. Gerakan ini membahayakan keselamatan rakyat, juga dirinya sendiri, sebab kini Ginggi berada di bawah ancaman mereka. Ki Banaspati kerapkali melakukan penekanan, kalau Ginggi tak mau membantunya, maka selain Ki Rangga Guna akan dibunuh, juga dirinya akan diumumkan sebagai pengikut Ki Darma yang pada akhirnya akan ikut dikejar-kejar juga.

Tapi untuk yang kesekian kalinya Ginggi pun jadi ingat ucapan Ki Banaspati. Bahwa untuk mencapai kepentingan yang lebih besar, nyawa satu orang apalah artinya. Kalau Ginggi harus ikut pendapat ini, Ginggi pun perlu mengorbankan satu orang yaitu Ki Rangga Guna. Tegakah dia membiarkan orang tua itu dibunuh pasukan Sunda Sembawa? Kemudian kalau bertahan menyelamatkan nyawa Ki Rangga Guna, beranikah mengorbankan orang banyak dalam kancah peperangan besar?

Ginggi pusing memikirkannya. Pertimbangan seperti ini sebetulnya tidak diketahui oleh Ki Darma. Kata Ki Darma, terlalu banyak memikirkan untung-rugi pada akhirnya hanya akan melahirkan kerugian saja. Hanya karena tak mau membunuh harimau, maka pada akhirnya Ginggi menjadi mangsa harimau itu sendiri.

"Untuk mencapai satu tujuan yang lebih penting, engkau harus bisa mengeraskan hati untuk membuat satu putusan!" kata Ki Darma ketika di Puncak Cakrabuana.

"Ya, aku memang lemah! Aku berjiwa lemah!" gumamnya seorang diri. Sampai kokok ayam bersahutan, Ginggi masih gundah-gulana, sehingga pada saat matahari hampir muncul saja dia bisa tidur.

Ginggi bangun sesudah matahari agak tinggi. Itu pun karena Purbajaya datang memanggilnya. "Ada hal yang penting, Raden?" tanya Ginggi mengucak kedua matanya karena masih pedih. "Ya, ada sesuatu yang amat penting menyangkut dirimu," kata Purbajaya.
Ginggi memandang pemuda itu penuh perhatian.

"Kau mandilah dulu!" kata lagi Purbajaya. Ginggi segera pergi membersihkan badan sehingga kesegarannya kembali pulih.

Muncul lagi ke ruangan di mana Purbajaya berada dengan menggunakan pakaiansantana , yaitu baju kurung warna biru tua terbuat dari kain halus buatan negri Cina. Ornamen warna emas melingkari kain di pergelangan tangannya. Ginggi pun mengenakan ikat kepala dari kain batikhihinggulan .

Dia sekarang sudah mengerti cara berpakaian, bagaimana etika di Pakuan ini, dia harus atur. "Bagaimana, Raden?" tanyanya ketika sudah berada di hadapan Purbajaya.
"Engkau dipanggil menghadap ke balai penghadapan Raja," kata Purbajaya.

"Maksudmu, aku dipanggil Sang Prabu?" tanya Ginggi heran. Pemuda di hadapannya mengangguk. "Ada keperluan apakah?"

"Mungkin berkaitan dengan pengetahuanmu perihal gerakan pasukan dari timur," jawab Purbajaya.

Ginggi nerenung dalam.

"Sepuluh perwira yang akan berangkat ke Puncak Cakrabuana berhasil dibatalkan. Tapi Raja perlu mendapatkan keterangan lebih seksama. Itulah sebabnya kau dipanggil menghadap," kata pemuda itu dengan nada datar saja.

"Sekarang?" "Sekarang…"
"Mari," kata Ginggi. "Tapi sebelumnya, ada sesuatu yang akan aku tanya padamu, Raden, kalau-kalau engkau mengetahuinya…" kata Ginggi menunggu.

"Soal apa?" Purbajaya menoleh.

"Sejauh mana kebencian orang-orang Pakuan terhadap Ki Darma?" tanya Ginggi.

"Tidak semua orang membenci Ki Darma. Sebagian besar anggota Seribu Pengawal Raja bahkan tidak merasakan bahwa Ki Darma memiliki kesalahan. Sekurang-kurangnya itu yang aku dengar di kalangan para perwira. Tapi Sang Prabu kurang gemar menerima kritik. Dia terlanjur dinina-bobokan oleh pembantu-pembantunya yang penjilat. Karena hasutan-hasutan merekalah maka Raja memutuskan Ki Darma harus diperlakukan sebagai pengkhianat, sehingga diburu dan dikejar," kata Purbajaya.

"Betulkah sekitar dua tahun lalu ada pengejaran ke Puncak Cakrabuana?"

"Betul. Itu karena ada khabar yang sampai ke telinga Sang Prabu bahwa Ki Darma bersembunyi di sana. Raja semakin yakin bahwa Ki Darma berlaku sebagai pengkhianat setelah dia berada di Cakrabuana," kata Purbajaya.

"Mengapa begitu?" tanya Ginggi heran.

"Raja tahu, di Cakrabuana tersimpan sebuah tombak pusaka bernama Cuntang Barang."

Ginggi mengernyitkan dahinya, "Saya tak mengerti. Cobalah terangkan lebih rinci," pinta Ginggi. Dan kemudian Purbajaya menerangkan, bahwa dulu puluhan taun silam seorang bangsawan dari Karatuan Talaga bernama Pangeran Aria Saringsingan memiliki benda pusaka sebuah tombak dan diberi nama Cuntang Barang. Tapi pada tahun 1530 Karatuaan Talaga diserbu Cirebon, sehingga takluk dan mentaati keinginan pihak penyerbu agar beralih agama. Banyak pusaka Karatuan Talaga diboyong ke Cirebon, tapi beberapa di antaranya berhasil dilarikan para perwira yang tidak mau takluk pada agama baru. Salah seorang perwira Karatuan Talaga yaitu Dita Jayarasa berhasil membawa kabur tombak Cuntang Barang yang khabarnya disembunyikan di Puncak Cakrabuana. Semua orang pernah mencarinya, termasuk Pasukan Cirebon, tapi tidak siapa pun bisa menemukannya. Baik Perwira Dita Jayarasa mau pun tombak pusaka, sepertinya hilang ditelan bumi.

"Semua pihak merasa perlu memiliki benda pusaka itu. Cirebon memerlukanya sebagai tanda Talaga resmi berada di bawah kekuasaannya. Dan Pakuan malah merasa bahwa itu barang milik Pakuan sebagai simbol pemeluk agama lama," kata Purbajaya.

Sang Prabu memaksakan diri mengirimkan limabelas perwira kerajaan karena menganggap Ki Darma bersembunyi di sana dengan maksud akan mencari benda pusaka itu. Namun sampai dua tahun tugas mencari Ki Darma dan benda pusaka tombak Cuntang Barang tidak berhasil dituntaskan.

"Jangankan menangkap Ki Darma atau membawa benda pusaka, bahkan kelimabelas perwira itu pun hingga kini tidak diketahui nasibnya," ujar Purbajaya.

Selama Purbajaya berkata-kata, ingatan Ginggi malah melayang ke belakang. Sepuluh tahun lebih bersama Ki Darma, tidak sepatah-kata pun orang tua itu berbicara soal benda pusaka. Tidak pula berusaha mencarinya. Ginggi yakin, Ki Darma tidak begitu tertarik kepada berbagai benda pusaka.

"Kekuatan bukan pada benda pusaka, melainkan pada diri manusia itu sendiri," kata Ki Darma ketika di Puncak Cakrabuana. Hal ini dikemukakannya di sela-sela latihan bela diri. Kata Ki Darma, kita berkelahi tak perlu menggunakan senjata sebab tangan dan kaki kita sudah merupakan senjata paling hebat bila kita tahu menggunakannya.

"Lihatlah, begitu gagah terjangan sang harimau, begitu cepatnya gerakan ular mematuk. Mereka hebat, mereka berbahaya, padahal tidak dibantu benda pusaka," kata Ki Darma ketika itu.

"Ki Darma tidak butuh benda pusaka," gumam Ginggi.

"Pangeran Yogascitra pun pernah mengatakan demikian, dalam sepak terjangnya melawan musuh, Ki Darma tak pernah menggunakan senjata apa pun. Jadi beliau pun tak percaya Ki Darma pergi ke Puncak Cakrabuana hanya karena butuh benda pusaka. Pangeran menduga, kalau pun Ki Darma datang ke Cakrabuana karena urusan benda pusaka, bukan ingin memilikinya, melainkan akan menjaganya. Kata Pangeran Yogascitra, kendati Ki Darma tak senang menggunakan senjata, tapi dia amat menghormati kepada simbol-simbol kenegaraan. Maka Ki Darma pun pasti hormat pada barang yang bernama pusaka," kata Purbajaya.

"Ya…sayang mengabdi kepada Raja yang buruk, sehingga benda pusaka seperti tak ada harganya…" gumam Purbajaya lagi.

Ginggi melirik pada pemuda itu, namun Purbajaya tidak melihatnya.

"Mari…" ajak Ginggi sambil bangun berdiri. Purbajaya pun ikut berdiri sambil membenahi ikatan kainnya yang kurang mengikat ketat pinggangnya.

Sambil memperbaiki ikat pinggang kain warna hitamnya, pemuda itu menatap tajam Ginggi sambil bergumam,"Kalau kau mampu, di balai penghadapan Raja inilah kau laksanakan tugasmu itu!" "Tugas apa?" tanya Ginggi heran. "Membunuh Raja!"
Darah di urat-urat nadi Ginggi berdesir cepat. Bulu kuduknya pun mendadak berdiri. Benarkah Purbajaya yang barusan bicara?

"Raden…" desis Ginggi dengan mata setengah membelalak.

"Aku dengar percakapanmu dengan Ki Banaspati tadi malam," kata Purbajaya menatap tajam Ginggi.

"Kau dengar percakapan kami?"

"Ya…tapi jangan takut!" kata Purbajaya lagi, masih menatap tajam Ginggi.

"Engkau juga bersekutu dengan Ki Banaspati?" tanya Ginggi kemudian. Tapi Purbajaya menggelengkan kepalanya.

Ginggi tambah heran.

"Bila begitu, mengapa engkau tak tangkap aku, sebab seharusnya kau akan menuduhku berkomplot dengan Ki Banaspati," kata Ginggi. Tapi Purbajaya hanya tersenyum tipis.

"Tak ada kepentingannya aku menangkapmu sebab aku bukan orang pemerintah," jawab lagi pemuda itu, sehingga untuk kesekian kalinya Ginggi merasa heran.

"Hampir dua tahun ini engkau mengabdi pada Pangeran Yogascitra. Bahkan engkau pun sudah bisa keluar-masukkadaton (istana) karena kerapkali Sang Prabu mmbutuhkanmu, Raden…"

Untuk kesekian kalinya Purbajaya mengelengkan kepala

"Gerakan kita di Pakuan sebetulnya sama, yaitu menyelundup untuk menyingkirkan Raja, kendati motifnya mungkin berlainan," kata pemuda itu. Ginggi masih menatapnya.

"Tapi tak apa. Yang penting perjuangan kita sekarang sama. Maka untuk sementara kita berdua bisa bahu-membahu di Pakuan ini," kata lagi Purbajaya,"Kau dipanggil Raja dan ini kesempatan paling baik. Kalau kau melakukan tindakan membunuh Raja tidak akan begitu sulit sebab hampir separuh pengawal yang bertugas hari ini kesetiaannya sudah berpaling," ungkap pemuda itu, "Jadi kalau kau lakukan tugas Ki Banaspati hari ini, setengah dari pengawal Raja tidak akan menghambatmu kalau pun tidak kusebut mereka malah membantumu…" kata Purbajaya lagi.

Termenung Ginggi mendengar penjelasan Purbajaya ini.

"Ketidaksenangan para pejabat Pakuan kini hampir-hampir meningkat menjadi kebencian karena kekeliruan Raja. Dia tetap bertahan dengan keinginan pribadinya, yaitu akan mengawini Nyimas Layang Kingkin, yang padahal semua orang sudah menganggapnya sebagai wanita larangan," kata Purbajaya.

"Bukankah Raja sudah tak begitu percaya pada Ki Bagus Seta?" tanya Ginggi.

"Bagi Raja, tak ada hubungannya antara cinta dan politik. Barangkali Raja tak percaya pada Ki Bagus Seta sebagai pejabat, tapi tidak sebagai mertua. Apalagi Ki Bagus Seta sebenarnya pandai dan memikat dalam kata-kata. Raja juga semakin mengukuhkan cita-citanya dalam mempersunting Nyimas Layang Kingkin setelah merasa gagal mendapatkan gadis yang dicintanya, yaitu Nyimas Banyak Inten," kata Purbajaya. Dan ketika mengucapkan nama gadis ini, wajahnya nampak kecut dan pahit.

Ginggi masih termangu-mangu setelah menyimak apa-apa yang dikatakan pemuda itu. Dia akan berkata sesuatu, tapi sepertinya Purbajaya tahu apa yang ada di benak Ginggi. Dia memberi tanda agar Ginggi tak berkata apa pun.

"Jangan dulu tanya siapa aku sebenarnya…" kata pemuda itu. Ginggi hanya menghela napas. "Mari…" ajak Purbajaya, jalan di muka, Ginggi ikut di belakangnya.
***

Selama hampir setahun berada di Pakuan, baru kali inilah Ginggi akan berkunjung ke pusat pemerintahan. Pemuda itu akan diterima Sang Prabu di Paseban Agung atau Balai Penghadapan Raja. Itu adalah sebuah bangunan bangsal yang cukup besar dan megah.
Atapnya terbuat dari kayu sirap hitam mengkilap. Lantainya juga terbuat dari papan-papan kayu jati buatan Borneo, hitam kecoklat-coklatan dan amat halus serta mengkilap juga. Di beberapa bagian sudut, atap itu ditopang tiang-tiang kayu jati gelondongan membentuk pilar berukir indah dan halus buatannya.

Pilar-pilar kayu jati sebagai pengusung atap sepertinya menguasai bangunan-bangunan megah di Kadaton Pakuan ini.

Ginggi pernah mendengar bahwa Raja beserta kerabat dekatnya dan termasuk juga permesuri, para selir dan putra-putrinya, tinggal di kadaton megah bernamaSri Bima Punta Narayana Madura Suradipati , dibangun oleh Sang Prabu Tarusbawa raja Keraajaan Sunda yang pertama (670-723 Masehi) lebih dari 800 tahun lalu. Istana ini terdiri dari bangunan megah besar berjajar sebanyak lima buah. Semuanya menghadap ke sebuah halaman luas yang ditumbuhi pohon beringin berjumlah tujuh buah. Semua bangunan istana itu atap-atapnya disangga 300 pilar kayu palem indah. Pilar-pilar paling indah digunakan untuk menyangga atap bangunan istana paling besar dan paling megah. Pilar-pilar palem yang menyangganya terbuat dari kayu gelondongan sebesar tong anggur.

Kata Purbajaya, Sang Prabu bersemayam di istana bangunan paling besar ini yang diberi nama Istana Suradipati. Tidak sembarangan orang bisa diterima di bangunan megah itu. Ginggi yang masuk ke kompleks ini dikawal empat orang prajurit dilengkapi senjata tombak di tangan kanan dan perisai baja di tangan kiri, hanya diantar ke bangunan paseban yang letaknya bersebrangan dengan istana berjajar lima itu. Ginggi dan Purbajaya dipersilakan duduk di ruangan terbuka Paseban Agung, menghadap ke sebelah timur di mana terdapat kursi kayu berukir indah yang masih kosong penghuni.

0 Response to "Senja Jatuh di Pajajaran Jilid 22"

Post a Comment