coba

Senja Jatuh di Pajajaran Jilid 20

Mode Malam
Jilid 20  

Tidak membuang waktu Ginggi segera meninggalkan tempat itu dan memburu taman belakang. Namun di sana pun suasana sepi. Pemuda itu terus berkeliling taman kalau-kalau Suji Angkara memang berada di taman. Tapi hingga ke tepi benteng ujung paling belakang, tak ditemukan pemuda itu, kecuali sebuah pintu kayu di sudut benteng. Pintu kayu itu seperti jalan darurat untuk menuju luar benteng. Ginggi memeriksanya dan ternyata pintu itu tidak terkunci, sepertinya baru saja ditinggalkan orang.

Ginggi termenung dan segera saja timbul perkiraan-perkiraan buruk. Tidakkah Suji Angkara meninggalkan puri secara diam-diam lewat pintu darurat ini? Pergi ke mana?

Darah Ginggi serasa berdesir. Ya, barangkali Suji Angkara sudah keluar puri lewat pintu belakang dan … menuju puri Yogascitra!

Ini hanya perkiraan saja. Tapi kendati begitu, Ginggi harus cepat-cepat berjaga-jaga kalaukalau perkiraannya benar.

Itulah sebabnya dia segera meninggalkan puri Suji Angkara, sengaja lewat pintu darurat itu.

Ginggi berjalan menyusuri tepian benteng. Benteng itu amat panjang dan berakhir di ujung persimpangan lorong. Lorong itu kelak akan berakhir di sebuah jalan simpangan lagi. Ke kiri akan menuju jalan utama berbalay batu, dan ke kanan akan menuju … puri Yogascitra!

Kecurigaan semakin menebal. Kalau benar Suji Angkara keluar lewat pintu darurat, dia pun pasti akan tiba di sini. Lantas kalau sudah tiba di sini mau ke mana? Jalan besar berbalay kelak akan menuju jalan durian, terus keTajur Agung atau bisa juga ke tepi Sungai Cihaliwung, baik menuju leuwi Kamala Wijaya atau pun ke Pulo Parakan Baranangsiang, yaitu sebuah delta kecil di tengah Sungai Cihaliwung di mana di sana terdapat pesanggrahan tempat kaum bangsawan dan kerabat Raja bercengkrama.

Ginggi mengerutkan dahi tanda berpikir, dia tengah menebak-nebak, ke arah mana kira-kira Suji Angkara menuju. Bila menuju kiri, amat mustahil pemuda itu pergi ke Tajur Agung malam-malam. Kalau pergi ke kanan pasti ke puri Yogascitra. Dan inilah yang dikhawatirkan Ginggi. Maka untuk membuktikan bahwa kekhawatirannya tak beralasan, pemuda itu segera meloncat pergi ke arah kanan menuju puri Yogascitra.

Ginggi berlari cepat, secepat anak panah dilepas dari busurnya. Dia berlari cepat dari samping karena terbiasa latihan lari cepat mendaki Puncak Cakrabuana, juga karena terdorong rasa khawatirnya.

Apa yang dia khawatirkan? Khawatir karena Suji Angkara berencana membunuh Pangeran Yogascitra, ataukah khawatir pemuda jahat itu akan menculik Nyimas Banyak Inten? Duaduanya, aku hatinya.

Ginggi berlari cepat dan tidak terlalu lama dia sudah tiba di tepi benteng puri Yogascitra. Untuk mempersingkat waktu, Ginggi tidak masuk lewat gerbang, tapi meloncat naik ke atas benteng dan sebentar kemudian sudah meloncat turun masuk di dalam kompleks puri.

Ginggi tidak menuju ke mana-mana, sebab tujuan utamanya adalah puri di mana Nyimas Banyak Inten berada.

Dan hati pemuda itu berdebar keras ketika didengarnya banyak orang berteriak-teriak di sekitar puri. Ginggi datang ke tempat itu dengan cepat dan didapatnya di sana banyak prajurit serta jagabaya. Ketika mereka melihat ada orang datang sambil berlari, beberapa jagabaya sambil berteriak-teriak menyuruh Ginggi berhenti.

"Siapa kau?"

"Pasti dia penjahatnya!" "Serbuuuu! Tangkap!!!"
Dalam suasana kacau dan sedikit gelap karena hanya beberapa obor yang dibawa jagabaya, kemarahan prajurit mudah tersulut sehingga semuanya menghambur karena terpengaruh suara dan teriakan orang yang memberi aba-aba.

Semua prajurit dan jagabaya mengepung dan menyerang Ginggi dengan berbagai senjata di tangan. Ada juga yang melepas anak-anak panah, namun semuanya bisa ditepis bahkan beberapa buah bisa ditangkapnya. Serangan dari belasan bahkan puluhan prajurit bersenjata pedang dan tombak hanya dihindarkan dan dikelitkan saja. Dan bila ada tombak yang terlanjur menyodok tubuhnya, terpaksa dia tangkap dan tarik ke depan sehingga pemegangnya terjerembab.

Sementara para pengepung semakin banyak juga. Dan di antara yang datang, terdapat juga Banyak Angga dan Purbajaya. Dari belakang mereka seorang tua setengah baya juga nampak berlari mendatangi tempat itu, dialah Pangeran Yogascitra.

"Ada apa ini?" teriak Banyak Angga dan pertempuran segera berhenti. Namun ketika pemuda itu melihat siapa yang dikeroyok, wajahnya nampak terkejut, demikian pun Purbajaya.

"Hei … bukankah engkau badega puri Bagus seta? Mengapa mengacau tempat ini?" tanya Banyak Angga.

"Dia penjahat, pasti menculik Nyimas Banyak Inten!" teriak seorang jagabaya menudingkan ujung pedangnya ke arah hidung Ginggi.

"Apa? Nyimas Banyak Inten ada yang menculik?" teriakan kaget ini berbareng diucapkan oleh ketiga orang pemuda yaitu Banyak Angga, Purbajaya dan Ginggi sendiri.

"Celaka!" teriak lagi Ginggi sambil menatap Purbajaya.

"Ginggi, kau pasti tahu siapa yang melakukan penculikan ini!" kata Purbajaya menatap Ginggi dengan wajah khawatir sekali.

"Aku sudah bisa menduganya. Mari ikut aku!" teriak Ginggi. Namun ketika pemuda itu hendak meninggalkan tempat itu, beberapa senjata pedang menyabet tubuhnya dari segala arah. Pemuda itu menggerak-gerakkan sepasang tangannya dan seluruh senjata beterbangan ke segala arah. Beberapa di antaranya menancap hampir setengahnya di batang-batang pohon dan para pemiliknya menjerit kesakitan sambil memegangi pergelangan tangannya masingmasing. "Purbajaya, mari kejar dia!" teriak Ginggi meloncat dari lingkaran kepungan. Purbajaya mengejar Ginggi, begitu pun Banyak Angga. Bahkan belasan prajurit ikut pula berlari mengejar ke mana arah Ginggi pergi.

Ginggi berlari amat cepat dan sangat menyulitkan yang mengikutinya. Beberapa kali dia mencoba menunggu mereka. Sesudah jaraknya tak begitu jauh lagi, baru Ginggi berlari kembali.

Ginggi sebetulnya tidak tahu ke mana harus mencari penculik gadis itu. Tapi karena dia sudah menduga yang menculik adalah Suji Angkara, dia berspekulasi mengejar ke suatu tempat.

Ginggi ingat kejadianmarak setahun lalu. Dengan amat mesranya Suji Angkara selalu mencoba berdekatan dengan Nyimas Banyak Inten ketika mereka memasak ikan. Dan tempat indah yang membawa kenangan itu tak lain adalah Pulo Parakan Baranangsiang, yaitu delta kecil atau gugusan tanah di tengah aliran Sungai Cihaliwung.

Gugusan tanah itu bila siang hari amat permai dan indah dipandang mata karena keindahannya tak terkira. Tapi kalau malam hari, pulo (pulau) itu merupakan tempat terasing yang akan sunyi-sepi jauh dari perhatian orang. Kalau Suji Angkara membawa Nyimas Banyak Inten ke sana, dan melakukan hal tak senonoh, tak akan ada orang yang mengetahuinya.

Karena perkiraan-perkiraan inilah maka Ginggi mencoba menuju ke tempat itu.

Untuk kesekian kalinya Ginggi menunggu orang-orang yang mengikutinya. Karena mereka terasa lamban sedangkan Ginggi merasa perlu mengejar waktu, maka dia berteriak agar mereka menyusul saja.

"Aku akan menuju Pulo Parakan Baranangsiang, sebab penculik pasti lari ke sana! Susul aku ke tempat itu!" teriak Ginggi sambil kembali berlari cepat.

Ginggi berlari menuju ke arah timur. Dia menyebrangi dulu saluran Cipakancilan, terus bergerak ke arah timur menuju tepi Sungai Cihaliwung. Menyusuri tepian Cihaliwung ke arah utara dan tiba di Leuwi Kamala Wijaya atau dikenal pula sebagai Leuwi Sipatahunan.

Di sana suasana terasa sepi tanda tak ada orang di sekitar tepi leuwi (lubuk).

Ginggi segera melanjutkan perjalanannya menyusuri tepi sungai ke arah utara. Hanya sepemakan sirih saja dia tiba di tepi sungai. Dia lihat ke arah sebrang ke arah timur. Gugusan delta demikian kelam dan hanya berupa bayangan hitam. Tapi di tepi gugusan ada perahu tertambat. Ginggi berdebar hatinya. Perahu tertambat di sebrang hanya menandakan bahwa ada orang menyebrang ke gugusan pulau kecil di tengah sungai itu. Dugaannya cepat mengarah ke arah kecurigaannya semula. Suji Angkara sudah berada di sana!

Ginggi berkeliling tepi mencari perahu. Di situ hanya ada satu perahu. Kalau dia gunakan, maka tak ada perahu lain untuk mengangkut rombongan yang datang belakangan. Alhasil pemuda itu harus menyebrangi sungai dengan cara lain. Ginggi beruntung diberi ilmunapak sancang . Itulah ilmu untuk berjalan di atas permukaan air. Kata Ki Rangga Guna yang memberikan ilmu aneh itu,napak sancang adalah ilmu meringankan tubuh. Tapi berjalan di atas air tidak melulu mengandalkan ilmu meringankan tubuh saja, melainkan juga harus bisa berlari cepat sambil telapak kaki sejajar dengan permukaan air. Kalau tak bisa begitu, seringan apa pun tubuh, tetap saja akan tercebur ke dalam air.

"Ibaratkanlah sepotong papan yang permukaannya rata. Bila bagian rata kita lemparkan sejajar dengan permukaan air, maka papan akan meloncat-loncat di atas permukaan air seperti hampir-hampir tak menyentuh air. Bisa terjadi begitu, karena saking cepatnya papan kayu itu bergerak. Tapi kalau papan itu diam, benda itu akan sedikit tenggelam. Kalau bebannya lebih berat, maka akan tenggelam sama sekali," kata Ki Rangga Guna di tepi Sungai Citarum hampir setahun lalu.

Sekarang Ginggi akan melakukan napak sancang, bukan sekadar latihan, tapi benar-benar dilakukan untuk satu keperluan dan tak boleh gagal.

Ginggi menahan napas dalam-dalam, mencoba menghilangkan berat kakinya. Dia meloncat cepat tapi loncatannya hampir sejajar dengan permukaan air. Dia gerakkan sepasang kakinya secepat mungkin. Dia "injak" permukaan air tapi hanya sejenak untuk kemudian telapak kaki dia angkat untuk melangkah cepat. Begitu seterusnya berulang-ulang. Terdengar plakplokplakplok suara telapak kaki yang menginjak permukaan air, halus seperti kecipat gerakan ikan.

Ginggi tiba di tepi gugusan pulau dengan selamat!

Ginggi perlu sembunyi dulu di rimbunan semak untuk meneliti keadaan. Suasana pesanggrahan begitu sunyi dan gelap. Namun suasana sunyi ini amat mencurigakan dirinya. Maka dengan berindap-indap Ginggi mencoba mendekati bangunan pesanggrahan yang beratap ijuk dan terbuat dari kayu-kayu jati hitam. Semakin dekat Ginggi ke arah bangunan itu, semakin berdebar hatinya. Bagaimana tak begitu, sebab sayup-sayup dia mendengar keluhan-keluhan kecil. Dan jelas keluhan itu keluar dari mulut seorang wanita.

Berdesir darah di urat-urat tubuh Ginggi. Apalagi ketika dia meloncat ke dalam pesanggrahan, tubuh Ginggi menggigil karena menahan rasa marah. Betapa tak begitu, tubuh Nyimas Banyak Inten tergolek di lantai dengan pakaian hampir terbuka seluruhnya. Sedangkan di atas tubuh gadis itu Suji Angkara berusaha menghimpitnya.

Panas hati Ginggi melihat adegan ini. Dadanya pun serasa akan meledak.

Didorong oleh kemarahan memuncak, Ginggi menerjang dari arah depan. Terjangannya secepat harimau yang hendak menerkam mangsa.

Gerakan terkaman Ginggi rupanya diketahui dengan persis oleh Suji Angkara. Nampak rasa terkejut pemuda itu, sehingga secara serentak dia berdiri.

Tapi gerakan Ginggi demikian cepatnya. Sebelum Suji Angkara meloncat untuk berkelit, tubuh Ginggi sudah melayang dan tiba di hadapannya.

Dukk !!!

Suji Angkara berteriak ngeri ketika tubuhnya terlontar ke belakang dan punggungnya menabrak tiang kayu. Saking kerasnya tubuh itu menubruk kayu, sampai terpental kembali ke depan, dan jatuh tersuruk mencium lantai. Tertatih-tatih pemuda itu mencoba bangkit sambil tangan kanannya memegangi jidatnya yang berusaha dipukul Ginggi.

"Kau, siapa kau …?" "Aku Ginggi!"
"Kau … Si Duruwiksa?"

"Ya, bagimu aku Duruwiksa, aku jin, aku setan dan aku iblis pembunuh bagi tubuh dan otak manusia yang selalu dipenuhi kebejatan!" desis Ginggi sambil giginya berkerot saking marahnya.

Suji Angkara berdiri tapi terhuyung. Dia mencoba mundur beberapa tindak. Ketika Ginggi mendekat, tangannya digoyang-goyang seperti melarang Ginggi mendekat.

"Kau … kau memukul jidatku?" tanyanya gugup dan kembali memegangi jidatnya.

"Ya … sudah keempat kali ini aku menjotos jidatmu. Kau pasti ingat betul, di mana dan ketika kau sedang apa aku jotos jidatmu!" kata Ginggi mengingatkan.

Suji Angkara nampak terkejut sekali. Dia melangkah mundur, terhuyung dan tubuhnya menggigil seperti kedinginan.

"Jangan bunuh aku … jangan bunuh aku. Masa-masa lalu aku berdosa. Tapi beri aku kesempatan. Hidupku sengsara. Aku inginkan kedamaian. Dan semuanya ada pada kekasihku…Nyimas Banyak Inten …Oh!" Suji Angkara terjatuh karena kakinya tersandung.

Suji Angkara mengeluh ketika Ginggi melangkah beberapa tindak lagi.

"Jangan bunuh dia!" ada teriakan kecil setengah mengeluh dari belakangnya. Ginggi terkesiap. Nyimas Banyak Inten yang barusan melarangnya. Betul-betulkah gadis itu melarangnya?

"Nyimas …?" gumam Ginggi sambil menoleh ke belakang. Dia tak percaya gadis itu bilang begitu. Tapi gadis itu memang memohon kepadanya. Nyimas Banyak Inten segera membenahi pakaiannya yang awut-awutan dan duduk bersimpuh di bawah kakinya. Kaki Ginggi.

Gadis itu menangis sesenggukan sambil mencoba memeluk kaki Ginggi.

"Jangan bunuh dia …Jangan bunuh dia…!" keluh gadis itu di antara sela-sela tangisnya. Serasa sesak dada Ginggi melihat kenyataan ini. Serasa sesak dadanya ketika sepasang tangan gadis itu memeluk kakinya untuk memohon ampun. Nyimas Banyak Inten mohon pengampunan bagi Suji Angkara pemuda laknat itu? Ginggi menggigil tubuhnya melihat kenyataan ini.

"Mari Nyimas kita pergi. Kita pergi jauh entah ke mana. Kita tinggalkan tempat ini!" kata Suji Angkara masih terhuyung lemah. Ketika hendak berdiri tegak, dia jatuh lagi dan segere dipapah Nyimas Banyak Inten. Sungguh meremukkan hati Ginggi yang menyaksikannya.

Tapi sementara itu dari tepi sungai berlarian banyak orang dengan obor di tangan. Suasana gugusan pulau mendadak menjadi terang benderang. Semuanya mendatangi pesanggrahan.

"Itu dia penjahat Suji Angkara!" teriak Purbajaya. Serentak belasan prajurit mengepung tempat itu.

Dan Suji Angkara menjadi sasaran penyerbuan pasukan bersenjata lengkap.

Suji meloncat keluar tapi sambil jatuh terhuyung. Sementara itu pihak penyerbu dengan beringas mencecarnya dengan berbagai senjata tajam. Pemuda itu berkelit dan bergulingan kesana-kemari. Beberapa serangan senjata tajam bisa dia hindari, tapi beberapa lainnya mengenai tubuhnya secara bertubi-tubi. Pemuda itu mengeluh setiap kali ada tusukan pedang yang melukai tubuhnya. Yang membikin hati Ginggi kian memelas, ketika setiap Suji Angkara mengeluh setiap itu pula terdengar jerit dan tangis Nyimas Banyak Inten. Suara tangisan baru berhenti ketika gadis itu pingsan sambil sepasang tangannya kembali masih memeluki kaki Ginggi yang berdiri kaku di sana.

Rundingan di Puri Yogascitra

Ginggi pulang dari Pulo Parakan Baranangsiang bersama rombongan yang dipimpin Purbajaya dan Banyak Angga. Rombongan itu mengusung dua tubuh. Satu tubuh Nyimas Banyak Inten yang pingsan karena sedih dan kedua adalah tubuh Suji Angkara yang sudah tak bernyawa karena cecaran pedang para prajurit.

Di tengah jalan Purbajaya baru membeberkan siapa Suji Angkara dan apa saja tindakantindakannya selama ini.

Secara rinci pemuda itu membeberkan keburukan-keburukan Suji Angkara dari sejak peristiwa di Tanjungpura hingga peristiwa hari ini.

"Perusuh yang mengacau puri kita beberapa waktu lalu adalah Suji Angkara. Tapi celakanya kita semua tak menduga bahkan menganggap pemuda itu sebagai pahlawan," kata Purbajaya.

"Sayang kita baru tahu kejahatannya sesudah terlambat," gumam Banyak Angga.

"Sebetulnya Ginggi tahu sejak awal …" jawab Purbajaya. Banyak Angga menoleh pada Ginggi, tapi Ginggi diam saja.

Setibanya di puri Yogascitra, Ginggi disambut secara terhormat.

"Sebetulnya sudah jauh hari aku ragu, seorang badega sepertimu tindak-tanduknya lain," ujar Pangeran Yogascitra.

"Saya tidak biasa memperlihatkan diri, Juragan …" kata Ginggi menyembah hormat. Pangeran Yogascitra mengangkat bahu Ginggi agar tak memberi hormat berlebihan. "Tinggallah di sini. Engkau kuangkat sebagai ksatria di puri Yogascitra …" kata Pangeran Yogascitra. Ginggi hanya menunduk lesu, tidak tergambar kegembiraan barang sedikit pun.

Tapi wajah muram Ginggi tidak terperhatikan semua orang, sebab semuanya tengah dipenuhi rasa syukur bahwa nasib Nyimas Banyak Inten lolos dari aib yang menghinakan.

Keesokan harinya Pakuan geger sebab Pangeran Yogascitra melaporkan kejadian semalam pada Raja. Ki Bagus Seta dipanggil ke istana untuk diminta penjelasan mengenai tindaktanduk putranya yang dianggapnya merendahkan derajat kaum bangsawan.

"Tapi Ki Bagus Seta berkelit dari tanggungjawabnya. Dia mengatakan tindakan anak tirinya tak ada kaitannya dengan dirinya dan dia tak tahu menahu tentang semua ini," kata Banyak Angga yang ikut menghadiri pemanggilan Ki Bagus Seta di paseban istana.

Ginggi menilai, kemungkinan pandangan Raja terhadap Ki Bagus Seta akan mulai berubah sesudah kejadian yang menyangkut putranya ini. Dan bila benar begitu, kedudukannya akan semakin terdesak, paling tidak pengaruh-pengaruhnya yang selama ini demikian besar di kalangan istana.

Dan tidak berlebihan kalau akhir-akhir ini Raja mulai menaruh kepercayaan terhadap Pangeran Yogascitra. Menurut beberapa kalangan yang berada di puri Yogascitra, bangsawan ini punya kekerabatan yang erat dengan Raja terdahulu yaitu Sang Prabu Dewatabuwana atau lebih dikenal lagi dengan julukan Prabu Ratu Dewata, yaitu ayahanda Prabu Ratu sakti Sang Mangabatan yang berkuasa sekarang. Pangeran Yogascitra adalah pengabdi setia dan pejabatpuhawang (akhli kelautan) yang baik, seperti ayahandanya yang menjadi pejabat yang sama sejak kepemimpinan Sang Ratu Jaya Dewata, atau Sri Baduga Maharaja dan lebih populer lagi dengan julukan Prabu Siliwangi (1482-1521 Masehi).

Puhawangadalah petugas yang akhli dalam ilmu teluk dan kelautan. Dan semasa kepemimpinan Sri Baduga Maharaja, pejabat puhawang amat berperan sehingga Pajajaran jaya di lautan dan menguasai banyak pelabuhan laut dan muara.

Sekarang sesudah Pajajaran didesak mundur ke pedalaman oleh kekuatan negara agama baru, peranan puhawang sepertinya kurang berarti sebab negri pedalaman ini sudah tak memiliki kekuatan di pesisir. Kendati begitu Prabu Ratu Sakti Sang Mangabatan tetap mempertahankan lembaga puhawang, sebab Raja yang penuh ambisi ini tetap bercita-cita mengembalikan kejayaan Pajajaran seperti zaman kakek-buyutnya, yaitu Sri Baduga Maharaja.

Tapi belakangan terbetik keputusan bahwa Sang Prabu akan menghapus lembaga puhawang dan berniat mengangkat Pangeran Yogascitra sebagai penasihat, hanya membuktikan bahwa Raja sudah mulai putus asa dalam mempertahankan cita-citanya menguasai wilayah pesisir dan lautan. Diangkatnya seorang penasihat juga memperlihatkan bahwa Raja sudah mulai bimbang dalam menentukan berbagai keputusan. Hari-hari sebelumnya, tidak terpikirkan bagi Raja untuk memilih seorang penasihat khusus, sebab selama ini para pembantu dekatnya saja yang selama ini dia gunakan sebagai masukan dalam mencari gagasan mengendalikan kerajaan.

Namun sesudah ada beberapa kegagalan dalam cara memimpin, sepertinya Raja mulai berpikir bahwa tak semua masukan yang diberikan para pembantu dekatnya benar-benar bermanfaat bagi dirinya. Itulah sebabnya, Raja memikirkan satu orang penasihat dan merencanakan memilih Pangeran Yogascitra sebagai pejabat paling senior dan yang kesetiaannya tak diragukan lagi.

***

Pada suatu hari di paseban puri Yogascitra diadakan pertemuan. Hari itu ke puri datang Purohita Ragasuci. Seperti yang sudah Ginggi ketahui, hubungan Purohita dengan Pangeran Yogascitra demikian eratnya bagaikan kakak dengan adik.

Ini seperti sebuah pertemuan amat penting, sebab para pejabat lain pun, kecuali Bangsawan Soka, Bangsawan Bagus Seta dan Ki Banaspati, sama-sama hadir dalam pertemuan itu.
Ginggi diberitahu oleh Banyak Angga bahwa dirinya pun diundang hadir.

Sudah barang tentu pemuda itu heran dibuatnya, mengapa ada sebuah pertemuan penting mesti dihadiri olehnya pula?

"Kau jangan selalu merendahkan diri, Ginggi," kata Banyak Angga, "Kedudukanmu di puri ini bukan badega, melainkan seorang calon ksatria. Kepandaianmu sudah tak diragukan dan kau pantas menjadi ksatria puri Yogascitra," kata pemuda tampan itu sungguh-sungguh.

"Pantaskah saya diangkat ksatria padahal saya seorang badega puri Bangsawan Bagus Seta?" tanya Ginggi mengerutkan dahi.

"Engkau bukan badega sesungguhnya, sebab menurut keterangan Purbajaya, engkau tinggal di sana karena melakukan penyelidikan semata. Dan karena ini pula kami sepakat untuk mengangkatmu sebagai ksatria, karena kami tahu persis, engkau bukanlah benar-benar orang puri Bagus Seta," kata lagi Banyak Angga. "Tapi selama dua hari kau berada di sini, wajahmu nampak murung, ada apakah sebenarnya, Ginggi?" tanya pemuda itu menatap wajahnya.

Mendengar pertanyaan seperti itu, Ginggi hanya tersenyum tipis.

"Malah saya yang merasa heran, sebab wajahmulah yang nampak murung, Raden …" Ginggi balik menatap dan menghindari pertanyaan pemuda itu dengan balik bertanya.

Giliran Banyak Angga yang tersenyum tipis, bahkan terlihat pahit.

"Aku tak bisa berbohong padamu sebab kaulah paling tahu apa penyebabnya …" gumam pemuda itu datar.

"Nyimas Layang Kingkinkah?" tanya Ginggi.

Banyak Angga tidak mengiyakan, namun pandangannya menerawang jauh, hampa dan lesu. Ginggi menghela napas karenanya.

"Aku sebenarnya pasrah dengan keadaan. Melawan keinginan Raja berarti mencari kesulitan hidup. Hanya yang aku ingin tahu, bagaimana perasaan Dinda Kingkin menghadapi masalah ini …" gumam pemuda itu.

Hanya bergumam saja. Tapi Ginggi merasa bahwa Banyak Angga memerlukan sebuah penjelasan darinya. "Surat yang aku kirimkan padanya tak pernah dia jawab. Barangkali engkau tahu penyebabnya?" tanya pemuda itu menoleh.

Ginggi kembali menghela napas. Banyak yang dia ketahui sebenarnya, tapi bagaimana cara menjelaskannya?

"Ketika surat datang darimu, Nyimas Layang Kingkin sudah berniat membalasnya…" kata Ginggi menghibur. Tapi berita yang disampaikannya sebenarnya memang begitu. Ketika menerima surat yang diserahkan Ginggi, gadis itu sudah akan memberikan jawaban, hanya entah mengapa dibatalkan.

"Ya … pasti Dinda Kingkin akan menulis balasan. Tapi dia tak memiliki kesempatan sebab kalau ayahandanya tahu, dia pasti ditegur. Memang amat berbahaya bagi calon istri Raja diketahui masih suka berkirim surat dengan lelaki lain," kata Banyak Angga. Ginggi tak mengiyakan tapi juga tak membantahnya.

"Kasihan dia. Nyimas tak bisa melawan keinginan Raja…" keluh pemuda itu.

Ginggi menunduk, sebab sebetulnya Banyak Anggalah yang mesti dikasihani. Tapi Ginggi tak berniat membeberkan perasaan hati gadis itu yang sebenar-benarnya. Kalau disampaikan, khawatir pemuda itu sakit hati dan mengurangi penghargaan akan cintanya. Biarkanlah orang memiliki kenangan tentang cinta dan bukan kebencian.

Ginggi tak mau mengatakan bahwa Nyimas Layang Kingkin sepertinya lebih menghargai ambisi ketimbang rasa cinta. Kalau hal ini disampaikan pada Banyak Angga hanya akan membuat hati pemuda itu hancur luluh.

Begitu pun yang Ginggi usahakan pada Purbajaya. Ginggi memberi pesan agar sifat-sifat jahat Suji Angkara jangan disampaikan secara utuh terhadap Nyimas Banyak Inten. Ginggi menilai, gadis itu sebenarnya terperangkap cintanya Suji Angkara. Pemuda itu tampan, licin dan pandai merayu. Gadis polos dan jujur seperti Nyimas Banyak Inten akan mudah percaya.
Barangkali cintanya pada Suji Angkara adalah yang pertama. Ginggi tak tega menghinakan perasaan gadis itu bila harus membeberkan rahasia pemuda yang dianggapnya "pahlawan" itu.

"Nyimas Banyak Inten mungkin merasa hancur melihat Suji Angkara tewas di hadapannya. Mungkin dia menganggap, kesalahan pemuda itu hanya melakukan kenekadan menculik dirinya. Tapi kalau kita katakan hal sebenarnya tentang pemuda itu, maka akan lebih hancur lagi hatinya," kata Ginggi pada Purbajaya waktu itu.

"Sebetulnya aku tak setuju pendapatmu," kata Purbajaya, "Seharusnya semua keburukan Suji Angkara disampaikan saja. Tapi aku ingin hargai usaha-usahamu dalam menyelamatkan gadis itu, maka aku turuti keinginanmu," tutur Purbajaya tersenyum tipis.

Ginggi juga tersenyum karena dia tahu, Purbajaya tak puas dengan keinginan dirinya.

"Saya tak rela Nyimas Banyak Inten memendam kebencian. Masih mendingan kecewa karena cinta ketimbang kebencian karena hal yang sama," kata Ginggi menyebutkan alasannya. Purbajaya merenung sejenak, kemudian bergumam pendek, "Kalau hal itu dianggap lebih baik, ya, terserah kau…"

***

Dalam pertemuan di paseban puri Yogascitra, Ginggi duduk sejajar dengan para ksatria lainnya. Sebetulnya pemuda itu merasa tak enak hati, duduk sama tinggi dengan sesama ksatria Pakuan. Tapi Pangeran Yogascitra memaksanya agar dia duduk di deretan para pemuda gagah itu.

Banyak orang memang di paseban itu. Semuanya para bangsawan dan pejabat penting semata, Sepertinya seluruh bangsawan Pakuan berkumpul di sini.

Ginggi pernah mendapatkan penjelasan dari Purbajaya, para bangsawan dan pejabat sebanyak ini biasanya hanya berkumpul di paseban istana kerajaan bila menghadapi urusan-urusan maha-penting.

Jadi bila kini mereka berkumpul, hanya menandakan bahwa pertemuan ini benar-benar akan membahas sesuatu yang amat penting. Tapi mengapa pertemuan tidak dilakukan di balai penghadapan Raja saja? Adakah pertemuan para pejabat ini tak ingin diketahui Raja?

Sebagai tuan rumah, Pangeran Yogascitra duduk di depan di sebuah kursi jati berukir indah. Di sampingnya adaPurohita Ragasuci, sama-sama duduk di sebuah kursi berukir. Ada belasan pejabat dan bangsawan duduk di deretan sebelah kanan, sedangkan di sebelah kiri kaum muda terdiri dari para ksatria, termasuk Ginggi.

Pangeran Yogascitra membuka acara dengan membeberkan beberapa maksud. Salah satu hal yang dikemukakan Pangeran itu adalah sesuatu yang amat mengejutkan Ginggi.

"Puri Yogascitra akan mengangkat seorang pemuda bernama Ginggi untuk kami jadikan ksatria," kata Pangeran Yogascitra. Semua hadirin menoleh pada Ginggi sehingga membuat pemuda itu malu karena jadi pusat perhatian semua orang.

Pangeran Yogascitra menerangkan bahwa merasa perlu memberikan penghargaan dengan mengangkat Ginggi sebagai ksatria karena jasa, tindak-tanduk dan kepandaiannya sesuai untuk tingkat derajat sebagai ksatria. Pangeran itu membeberkan kepahlawanan Ginggi yang berhasil membongkar kejahatan Suji Angkara.

"Dengan usaha-usaha yang dilakukan Ginggi, martabat dan nama baik para bangsawan Pakuan dapat terselamatkan. Bayangkanlah selama ini kita menaruh hormat kepada Suji Angkara. Padahal kelakuan sebenarnya dari pemuda itu, jauh dari tindak-tanduk seorang bangsawan. Kalau Ginggi tidak membongkarnya, barangkali selama itu pula kita terlena dibuatnya," kata Pangeran Yogascitra.

"Kami akan mencari hari baik untuk menyelenggarakan upacarangawastu ( pelantikan) pemuda Ginggi. Kami ingin melantiknya di kuil utama, dihadiri para wiku istana dan pelantikan dilakukan olehPurohita Ragasuci. Ginggi, kau berikan hormat pada Purohita agar secepatnya mencari hari baik untuk upacara pelantikanmu," kata Pangeran Yogascitra menoleh pada Ginggi. Dengan tersipu dan serba-salah, Ginggi menyembah takzim ke arahPurohita Ragasuci yang dengan sorot penuh wibawa menatap dirinya.

Selanjutnya Pangeran Yogascitra melanjutkan pembicaraan ke hal-hal lainnya. Menurutnya, para bangsawan dan pejabat istana tengah dihadapkan pada beberapa masalah. Masalah ini sedikitnya telah membuat gejolak-gejolak yang bila tak segera diselesaikan dikhawatirkan akan membahayakan sendi-sendi kekuatan negara.

"Bagi yang akan bicara perihal penyebab gejolak, silakan, kami memberi waktu," kata Pangeran Yogascitra.

Seorang pejabat berpakaian bedahan lima beludru hitam dengan ornamen indah warna kuning emas memberi tanda ingin bicara.

"Silakan Pangeran Sutaarga berbicara," kata Pangeran Yogascitra memberi izin.

Pangeran yang bernama Sutaarga ini membeberkan beberapa situasi yang dianggapnya bisa membahayakan keberadaan negara. Situasi yang paling rawan yang tengah di hadapi Pakuan adalah semakin banyaknya negara-negara kecil yang dulu ada di bawah Pakuan sekarang berani memalingkan muka. Sudah tak bisa dipungkiri lagi kalau negara-negara kecil di wilayah timur melepaskan diri dari kekuasaan Pajajaran karena merasa lebih dekat kepada pengaruh Cirebon. Tapi kata pangeran ini, banyak juga negara-negara kecil yang melepaskan diri bukan karena pengaruh kekuatan negara lain, tapi karena ketidaksetujuan dengan kebijaksanaan Pakuan.

"Dengan demikian kita mendapatkan kenyataan bahwa banyak negara kecil memisahkan diri bukan saja karena pengaruhnya telah direbut kekuasaan negara baru, melainkan karena tidak setuju dengan kebijaksanaan Pakuan. Ini perlu menjadi perhatian dari semua pejabat agar kita sama-sama mengajukan masalah ini pada Sang Prabu," kata Pangeran Sutaarga.

Selesai bangsawan ini mengemukakan pendapatnya, muncul lagi pendapat lain.

"Silakan Pangeran Jayaperbangsa mengemukakan pendapatnya," kata Pangeran Yogascitra melirik pada bangsawan berpakaian gagah dengan bendo corak batikhihinggulan ornamen emas.

"Maafkan bila ucapan sayaa menyinggung perasaan semua orang, termasuk juga perasaan Pangeran Yogascitra," kata bangsawan berwajah putih dengan kumis tipis indah ini.

Sebelum melanjutkan pembicaraannya, dia melirik ke segala arah dan terakhir pandangannya hinggap ke mata Pangeran Yogscitra.

"Silakan berbicara apa adanya. Hal-hal menyakitkan tak selamanya membahayakan. Obat yang terasa pahit pun sebenarnya menyehatkan," kata Pangeran Yogascitra dengan sedikit senyum.

Pangeran Jaya Perbangsa mengangguk hormat tanda setuju dengan ucapn tuan rumah.

"Kemelut-kemelut di Pajajaran ini sebetulnya tidak terlepas dari sikap kebijaksanaan Sang Prabu yang saya anggap kurang berkenan di banyak hati dan perasaan," katanya. "Sang Prabu mudah terombang-ambing oleh pengaruh-pengaruh yang datang dari luar dirinya. Tidak mengapa bila pengaruh yang datang dari luar adalah hal-hal baik dan bermanfaat bagi kemajuan dan kebesaran negara. Tapi bila pengaruh itu hanya membuat kemelut berkepanjangan, maka ini adalah sebuah kehancuran!" kata bangsawan ini. "Saya ingin mengajak saudara sekalian untuk memikirkan, bagaimana caranya agar Sang Prabu tidak tergelincir ke jurang kekeliruan," kata bangsawan ini dengan suara berapi-api.

Mendengar pendapat Pangeran Jaya Perbangsa, semua hadirin saling pandang, sesudah itu akhirnya semua menatap ke arah Pangeran Yogascitra. Bangsawan ini tidak segera tampil untuk berbicara, melainkan menoleh padaPurohita Ragasuci.

SangPurohita yang berwajah sabar dan penuh wibawa ini segera berdehem, sebagai tanda bahwa dirinya akan mengemukakan pendapat.

"Semua yang barusan dikemukakan sebetulnya sudah jadi pembicaraan kita semua," kataPurohita . "Sang Prabu, apa pun beliau kemampuannya, sebenarnya hanyalah manusia biasa yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan beliau adalah semangat dan citacitanya yang begitu tinggi dalam upaya mengembalikan kejayaan Pajajaran ke puncak kejayaan seperti zamannya Sri Baduga Maharaja. Namun kekurangannya, beliau terlalu percaya kepada gagasan-gagasan yang datang dari orang-orang yang ingin berusaha dekat dengannya. Dalam memimpin negara, Raja hanyalah dibutuhkan titahnya, sebab itu yang menjadi komando utama. Tapi titah itu harus datang setelah mendapatkan berbagai saran dan masukan dari para pembantu dekatnya. Raja akan mengeluarkan titah yang bijaksana kalau dia mendapatkan saran atau masukan dari para pembantunya dengan gagasan-gagasan yang bijaksana. Tapi titah Raja juga bisa jadi malapetaka kalau terlahir dari kebijaksanaan yang salah. Itulah sebabnya dalam memimpin negara, dibutuhkan para pembantu yang selain cakap juga jujur dalam menyodorkan saran dan gagasan. Apakah kita memiliki Raja yang baik atau sebaliknya, itu semua juga berpulang pada kita semua selaku pembantunya. Bila kita menginginkan Raja berlaku adil, bijaksana dan jujur, mari kita bantu Sang Prabu dengan jalan pikiran kita yang bijaksana dan penuh kejujuran pula," kataPurohita Ragasuci.

"Selama ini kami berusaha membantu Raja agar memiliki kebijaksanaan yang adil dan jujur. Tapi di Pakuan banyak sekali pejabat yang mencoba mendekati Sang Prabu, mencoba memberi pengaruh yang semua didasarkan demi kepentingan pribadi mereka semata," sanggah seorang bangsawan lainnya.

"Banyak pejabat yang paling berambisi mencari kedudukan bahkan yang paling bersemangat mendekati Sang Prabu. Sehingga akibatnya, pejabat yang benar-benar ingin membela negara tapi tak mau menjilat, sedikit demi sedikit tersisih oleh mereka," kata yang lain.

"Saya selakuPurohita selalu berdoa dan berusaha selalu memberi nasihat pada Sang Prabu bahwa tak selamanya orang yang selalu ingin dekat dengan Raja adalah orang-orang yang ingin membantunya. Dan nampaknya Sang Prabu sudah mulai mendengar saran saya. Sebagai bukti, beliau mau mengangkat Pangeran Yogascitra sebagai penasihatnya. Pangeran Yogascitra adalah pejabat setia sejak zaman Sang Prabu Ratu Dewata, namun tak pernah berusaha menjilat Raja untuk mendapatkan pujian atau kenaikan pangkat. Saya anjurkan pada Sang Prabu agar sudi memperhatikan dan mempercayaai pembantu yang selalu setia tapi tanpa memiliki pamrih kepentingan pribadi, dan nampaknya beliau mulai mengerti," kataPurohita Ragasuci panjang-lebar. "Tapi Purohita, bagaimana halnya dengan rencana-rencana Sang Prabu dalam merencanakan perkawinannya dengan putri Bangsawan Bagus Seta?" tanya seseorang. Dan pertanyaan ini seolah-olah mengingatkan yang lainnya untuk bertanya hal yang serupa.

"Adalah pantang bagi Raja-raja Pajajaran mengawini perempuan larangan. Nyimas Layang Kingkin yang saya ketahui sudah bertunangan dengan Raden Banyak Angga. Mengapa sekarang hendak dipersunting Raja?"

"Ya, Sang Prabu telah melanggar aturan moral. Kalau hal ini berlangsung, hanya akan menjadi aib bagi Pajajaran!" kata lagi yang lainnya.

"Turunkan Raja!" kata Pangeran Jayaperbangsa keras.

Pertemuan ini hampir jadi hiruk-pikuk karena adanya silang pendapat. Bukan terjadi pro dan kontra menilai tindakan dan perbuatan Sang Prabu, melainkan terdapat perbedaan dalam menimbang keputusan. Para bangsawan muda cenderung ingin melakukan tindakan tegas dengan mengganti Raja, sedangkan bangsawan tua lebih memilih cara-cara bijaksana.

Pangeran Yogascitra berujar, bahwa pendapatPurohita Ragasuci benar, kebijaksanaan Raja banyak dipengaruhi oleh saran dan gagasan para pembantu dekatnya. Kalau para pembanru Raja di istana sanggup berbuat jujur dan mendorong Raja dalam memberikan titah dan keputusan demi kepentingan negara dan rakyat, maka Raja pun akan terpengaruh baik.

"Berupaya mengganti Raja sama dengan pemberontakan. Adalah pantang bagi bangsawan tulen melakukan pemberontakan, sebab itu adalah perbuatan pengkhianatan yang amat hina!" kata Pangeran Yogascitra.

"Tapi pengabdian saya selama ini bukan kepada Raja, melainkan kepada Pajajaran. Kalau saya tak setuju dengan cara kepemimpinan Raja yang satu bukan berarti berkhianat terhadap bangsa dan negara!" cetus bangsawan muda lainnya.

"Kita juga sama. Saya pun hanya mengabdi kepada Pajajaran. Tapi Raja adalah pilihanHyang (Yang Maha Kuasa). Hanya keputusanHyang yang sanggup menurunkan atau mengangkat Raja. Kendati kita berusaha menyingkirkan Raja, kalauHiyang tak berkenan maka kedudukan Raja akan selalu kuat," kataPurohita Ragasuci. "Saya sebagi pendeta istana tidak menganjurkan kalian menggeserkan kedudukan Raja. Kita semua tahu, kemelut berkepanjangan ini, di samping kita ditekan oleh kekuatan negara baru, juga karena kelemahan Raja dalam memilih keputusan. Raja sedang sakit. Dan yang sakit bukan dijauhkan, melainkan disembuhkan. Para bangsawan yang benar-benar setia tanpa pamrih pribadilah yang akan menjadi pengobat orang sakit," kata orang tua bijaksana ini.

Para bangsawan muda agak sedikit reda mendapatkan pandangan dariPurohita . Tapi sesudah itu hampir semua hadirin mendesak agar secepat mungkin berupaya "mengobati" sakitnya Sang Prabu. Butir-butir pendapat yang paling keras yang dituntut oleh para bangsawan muda beserta para ksatria Pakuan dalam upaya mengubah keadaan adalah pertama membendung pengaruh para pejabat yang terlalu banyak berpikir untuk kepentingan pribadi dan yang kedua mencegah Raja melakukan tindakan yang bisa dikategorikan sebagai melanggar aturan moral.

"Kita semua harus sama-sama berusaha mencegah perkawinan Sang Prabu denganwanita larangan . Nyimas Layang Kingkin termasuk wanita larangan dan ditabukan bagi Raja untuk mengawininya, sebab putri KI Bagus Seta itu sedianya sudah dipertunangkan dengan Raden Banyak Angga," kata Pangeran Jaya Perbangsa.

"Purohitabersama Pangeran Yogascitra sebagai calon penasihat Raja harus segera menghadap Raja untuk mengemukakan hasil pertemuan ini," kata yang lainnya.

Mendengar usulan ini, Pangeran Yogascitra menunduk dan menghela napas. "Sungguh berat, terutama mengenai urusan perjodohan, sebab sedikitnya akan melibatkan keluarga kami. Bila Sang Prabu salah tanggap, bisa diartikan usulan ini sebagai perjuangan pribadi fihak keluarga kami dalam upaya mempertahankan hak, sebab memang benar, pertunangan itu, kami masih memiliki hak, kami tak pernah memutuskan, sebab fihak Bagus Seta yang secara sefihak memutuskan pertunangan …" kata Pangeran Yogascitra sedikit mengeluh.

Ginggi melirik dengan sudut matanya, nampak Banyak Angga tertunduk dengan wajah muram.

"Kita semua berbicara atas nama kepentingan Pajajaran," Pangeran Sutaarga bicara.

"Ya … saya mengerti dan akan saya coba kerjakan," sahut Pangeran Yogascitra pendek tapi membuat semua orang lega.

Dan akhirnya pertemuan pun selesailah. Ginggi bisa melihat adanya rasa puas pada semua orang, terutama setelah mendapatkan kenyataan bahwa Pangeran Yogascitra dan Purohita Ragasuci bersedia menjadi juru bicara mereka dalam mengajukan hasil pertemuan ini pada Raja.

Sakit Hati Ki Bagus Seta

Malam itu, malam ketiga bagi Ginggi tinggal di puri Yogascitra. Selama itu pikirannya bergalau kacau. Apa sebenarnya tujuannya tinggal di sini, dia sendiri pun tak tahu. Bila dia masih memikirkan "tugas" yang dibebankan Ki Banaspati dan Ki Bagus Seta, sepertinya dia bisa mentaati mereka, yaitu berhasil mengenyahkan Suji Angkara kendati bukan dia yang bunuh. Sepertinya Ginggi pun bisa menyusup ke puri Yogascitra bagaikan apa yang diharap Ki Banaspati. Padahal dia bisa masuk bahkan tiba-tiba dianggap pahlawan oleh keluarga Yogascitra, segalanya hanya serba kebetulan saja. Ginggi dianggap berharga dan memiliki jasa oleh keluarga itu karena dianggap telah berhasil menjauhkan aib yang hampir menimpa Nyimas Banyak Inten. Padahal dia mengagalkan niat jahat Suji Angkara lebih condong membela kepentingan dirinya sendiri ketimbang untuk kepentingan keluarga Pangeran Yogascitra.

Barangkali pengalaman pahit kembali menimpa dirinya dalam urusan cinta-kasih. Dulu Ginggi merasa mencintai Nyi Santimi. Tapi kenyataan membuktikan, gadis dari Desa Cae itu telah ditunangkan pada orang lain. Dan Ginggi berlaku nekad. Hanya karena cintanya ingin terpuaskan, dia berani mati melakukan perbuatan buruk, bercinta dengan Nyi Santimi secara gelap.

Sekarang rasa cintanya beralih kepada seorang putri bangsawan. Dan gilanya lagi, tak tanggung-tanggung mesti bersaing dengan orang-orang yang kedudukan serta derajatnya lebih tinggi. Siapa yang tak berani mati bersaing memperebutkan cinta dengan seorang raja?
Beranikah dia melawan raja? Jangankan harus berhadapan dengan orang yang derajatnya demikian tinggi, sekadar melawan cintanya Suji Angkara saja, dia sudah tak mampu. Kalau belakangan Suji Angkara bisa dia kalahkan, itu bukan dengan cintanya, melainkan karena dicabut secara paksa. Secara tak langsung Ginggi telah memisahkan cinta mereka, ya cinta antara Nyimas Banyak Inten dengan Suji Angkara! Boleh saja Ginggi bilang bahwa Suji Angkara orang jahat, manusia cabul, pengkhianat licik dan lain sebagainya. Tapi urusan cinta tak pernah dipertalikan dengan keburukan atau pun kebaikan. Asalkan kedua belah fihak saling merasakan cocok, maka cinta akan berlaku.

Nyi Santimi begitu mencintainya, sehingga bersamanya mau saja melakukan sebagaimana layaknya suami-istri. Nyi Santimi tak pernah menilai, apakah Ginggi laki-laki baik atau sebaliknya. Kalu dia seorang laki-laki baik, mengapa serampangan mengajak hubungan badan. Kalau Nyi Santimi berpikiran jernih, bisa saja dia menilai Ginggi lelaki cabul dan hidung belang, sebab seorang lelaki yang mudah mengajak kencan begitu saja, tak mungkin hanya melakukan pada satu wanita. Tapi karena Nyi Santimi telah dibutakan oleh cinta, dia tak punya waktu menilai Ginggi. Apa yang dilakukan pemuda itu serasa wajar-wajar saja bagi seorang gadis yang lagi dimabuk asmara.

Begitu pun rupanya yang dirasakan Nyimas Banyak Inten. Dia tidak pernah menilai keberadaan Suji Angkara. Yang dilihatnya, dia adalah pemuda tampan, ramah dan baik budi. Sebab memang begitu yang ditampilkan pemuda itu padanya. Perasaan cintanya bersemi, apalagi sesudah pemuda itu jadi "pahlawan" mengusir penjahat yang hendak memperkosa dirinya. Rasa cinta gadis itu karena "pembelaan" Suji Angkara semakin menggebu. Nyimas Banyak Inten bahkan tak melihat satu hal ganjil ketika Suji Angkara coba melarikannya.
Mungkin gadis itu berpikir, karena cinta pemuda itu begitu menggebu terhadap dirinya, sehingga dia nekad membawa gadis itu secara diam-diam setelah tahu gadis itu akan dipersunting Raja. Ya, itu wajar-wajar saja. Suji Angkara berjuang mendapatkan cintanya kendati menantang bahaya dan Nyimas Banyak Inten menyambut serta menghargai kebesaran cinta pemuda itu.

Inilah yang menyakitkan Ginggi. Pahit sekali rasanya. Dia serasa berjuang menolong gadis itu dari peristiwa aib, tapi si gadis merasa dijauhkan cintanya.

Itulah sebabnya, tiga hari tinggal di puri Yogascitra, kendati dia dipuji dan dihormat oleh seisi puri, tidak sedikit pun merasa bangga. Hatinya serasa beku, atau juga sakit, apalagi setelah kejadian di Pulo Parakan Baranangsiang tiga malam lalu, Nyimas Banyak Inten tidak pernah keluar dari purinya. Hanya para dayang saja yang mengabarkan bahwa gadis bangsawan itu tengah menderita sakit.

51. Sakit Hati Ki Bagus Seta

Malam itu, malam ketiga bagi Ginggi tinggal di puri Yogascitra. Selama itu pikirannya bergalau kacau. Apa sebenarnya tujuannya tinggal di sini, dia sendiri pun tak tahu. Bila dia masih memikirkan "tugas" yang dibebankan Ki Banaspati dan Ki Bagus Seta, sepertinya dia bisa mentaati mereka, yaitu berhasil mengenyahkan Suji Angkara kendati bukan dia yang bunuh. Sepertinya Ginggi pun bisa menyusup ke puri Yogascitra bagaikan apa yang diharap Ki Banaspati. Padahal dia bisa masuk bahkan tiba-tiba dianggap pahlawan oleh keluarga Yogascitra, segalanya hanya serba kebetulan saja. Ginggi dianggap berharga dan memiliki jasa oleh keluarga itu karena dianggap telah berhasil menjauhkan aib yang hampir menimpa Nyimas Banyak Inten. Padahal dia mengagalkan niat jahat Suji Angkara lebih condong membela kepentingan dirinya sendiri ketimbang untuk kepentingan keluarga Pangeran Yogascitra.

Barangkali pengalaman pahit kembali menimpa dirinya dalam urusan cinta-kasih. Dulu Ginggi merasa mencintai Nyi Santimi. Tapi kenyataan membuktikan, gadis dari Desa Cae itu telah ditunangkan pada orang lain. Dan Ginggi berlaku nekad. Hanya karena cintanya ingin terpuaskan, dia berani mati melakukan perbuatan buruk, bercinta dengan Nyi Santimi secara gelap.

Sekarang rasa cintanya beralih kepada seorang putri bangsawan. Dan gilanya lagi, tak tanggung-tanggung mesti bersaing dengan orang-orang yang kedudukan serta derajatnya lebih tinggi. Siapa yang tak berani mati bersaing memperebutkan cinta dengan seorang raja?
Beranikah dia melawan raja? Jangankan harus berhadapan dengan orang yang derajatnya demikian tinggi, sekadar melawan cintanya Suji Angkara saja, dia sudah tak mampu. Kalau belakangan Suji Angkara bisa dia kalahkan, itu bukan dengan cintanya, melainkan karena dicabut secara paksa. Secara tak langsung Ginggi telah memisahkan cinta mereka, ya cinta antara Nyimas Banyak Inten dengan Suji Angkara! Boleh saja Ginggi bilang bahwa Suji Angkara orang jahat, manusia cabul, pengkhianat licik dan lain sebagainya. Tapi urusan cinta tak pernah dipertalikan dengan keburukan atau pun kebaikan. Asalkan kedua belah fihak saling merasakan cocok, maka cinta akan berlaku.

Nyi Santimi begitu mencintainya, sehingga bersamanya mau saja melakukan sebagaimana layaknya suami-istri. Nyi Santimi tak pernah menilai, apakah Ginggi laki-laki baik atau sebaliknya. Kalu dia seorang laki-laki baik, mengapa serampangan mengajak hubungan badan. Kalau Nyi Santimi berpikiran jernih, bisa saja dia menilai Ginggi lelaki cabul dan hidung belang, sebab seorang lelaki yang mudah mengajak kencan begitu saja, tak mungkin hanya melakukan pada satu wanita. Tapi karena Nyi Santimi telah dibutakan oleh cinta, dia tak punya waktu menilai Ginggi. Apa yang dilakukan pemuda itu serasa wajar-wajar saja bagi seorang gadis yang lagi dimabuk asmara.

Begitu pun rupanya yang dirasakan Nyimas Banyak Inten. Dia tidak pernah menilai keberadaan Suji Angkara. Yang dilihatnya, dia adalah pemuda tampan, ramah dan baik budi. Sebab memang begitu yang ditampilkan pemuda itu padanya. Perasaan cintanya bersemi, apalagi sesudah pemuda itu jadi "pahlawan" mengusir penjahat yang hendak memperkosa dirinya. Rasa cinta gadis itu karena "pembelaan" Suji Angkara semakin menggebu. Nyimas Banyak Inten bahkan tak melihat satu hal ganjil ketika Suji Angkara coba melarikannya.
Mungkin gadis itu berpikir, karena cinta pemuda itu begitu menggebu terhadap dirinya, sehingga dia nekad membawa gadis itu secara diam-diam setelah tahu gadis itu akan dipersunting Raja. Ya, itu wajar-wajar saja. Suji Angkara berjuang mendapatkan cintanya kendati menantang bahaya dan Nyimas Banyak Inten menyambut serta menghargai kebesaran cinta pemuda itu.

Inilah yang menyakitkan Ginggi. Pahit sekali rasanya. Dia serasa berjuang menolong gadis itu dari peristiwa aib, tapi si gadis merasa dijauhkan cintanya.

Itulah sebabnya, tiga hari tinggal di puri Yogascitra, kendati dia dipuji dan dihormat oleh seisi puri, tidak sedikit pun merasa bangga. Hatinya serasa beku, atau juga sakit, apalagi setelah kejadian di Pulo Parakan Baranangsiang tiga malam lalu, Nyimas Banyak Inten tidak pernah keluar dari purinya. Hanya para dayang saja yang mengabarkan bahwa gadis bangsawan itu tengah menderita sakit. ***

Malam itu Ginggi tidur di sebuah bangunan terpisah. Bukan lagi sebuah gudang seperti di puri Bagus Seta, atau sebuah kamar sempit di sudut istal kuda ketika berada di puri Suji Angkara, melainkan tinggal di sebuah bangunan yang cukup indah dan nyaman. Banyak bunga dipasang di sudut kamar tidurnya dan menyebarkan bau semerbak. Di sudut dekat pembaringan, selain dipasang penerangan dari lampu minyak kelapa, juga ada tempat menyimpan buah-buahan. Banyak jenis buah-buahan di sana, dari mulai buah rambutan hingga mangga, dari buah dukuh hingga sarikaya. Ginggi tinggal mengambilnya saja bila mau.

Seharusnya Ginggi berbahagia, sebab orang lain akan amat mendambakan kedudukan seperti ini. Menjadi ksatria yang bekerja di sebuah puri, siapa tak mau? Sekali pun kelak pekerjaannya adalah dalam bidang keamanan, tapi dia berada beberapa tingkat di atas jagabaya, atau masih lebih atas lagi dari sekadar prajurit. Kalau bekerja dalam bidang kemiliteran, maka dia akan jadi perwira. Kalau kesetiaan terhadap Raja sudah diperlihatkan, maka akan sangat mudah diangkat ke dalam seribu pasukaan pengawal raja, sebuah pasukan elit yang sejak zaman Sri Baduga Maharaja, bahkan sejak zaman Prabu Wangi yang gugur di Bubat semasa Kerajaan Sunda hampir 200 tahun silam dipertahankan keberadaannya.

Kepandaian tinggi Ginggi sudah punya, tinggal melengkapinya dengan ilmu strategi kemiliteran saja untuk bisa memasuki jabatan perwira kerajaan.

Ginggi tinggal menunggu hari baik saja, kapan dia akan dilantik di kuil agung sebagai ksatria. Barangkali kelak dia akan bergelar bangsawan juga dan orang akan menyapanya sebagai raden atau juragan, sebuah gelar kebanggaan bagi orang-orang Pakuan.

Tapi aneh sekali, Ginggi tak merasakan satu kebanggaan. Pangkat dan jabatan seperti tak membuatnya bergairah. Dia malah sedih dengan segalanya. Untuk apa semua ini? Lalu, apa pula sebenarnya tujuan hidupnya?

Ginggi jadi teringat lagi pada Ki Darma. Ginggi mengingat-ingat lagi omongan Ki Darma. Sudah benarkah dia kini bila dipertalikan dengan amanat Ki Darma?

"Kau belalah rakyat dari kesengsaraannya," kata-kata Ki Darma ini selalu terngiang-ngiang di telinganya. Mudah diucapkan sulit dikerjakan. Ki Banaspati benar, membela rakyat jangan berupa satuan-satuan kecil sebab tak mungkin berarti. Tapi buatlah sebuah gerakan yang bisa mengakibatkan perubahan tatanan. Seperti apa gerakan itu? Seperti yang kini dikerjakan oleh Ki Banaspatikah?

Ginggi menggelengkan kepala. Dia tak pernah faham apa yang dikerjakan Ki Banaspati. Dalam melaksanakan perjuangannya, murid Ki Darma ini selalu menggunakan berbagai cara, termasuk pula mengorbankan rakyat sendiri yang sebetulnya tengah dibelanya seperti penafsirannya.

Malam itu Ginggi tidur di sebuah bangunan terpisah. Bukan lagi sebuah gudang seperti di puri Bagus Seta, atau sebuah kamar sempit di sudut istal kuda ketika berada di puri Suji Angkara, melainkan tinggal di sebuah bangunan yang cukup indah dan nyaman. Banyak bunga dipasang di sudut kamar tidurnya dan menyebarkan bau semerbak. Di sudut dekat pembaringan, selain dipasang penerangan dari lampu minyak kelapa, juga ada tempat menyimpan buah-buahan. Banyak jenis buah-buahan di sana, dari mulai buah rambutan hingga mangga, dari buah dukuh hingga sarikaya. Ginggi tinggal mengambilnya saja bila mau.

Seharusnya Ginggi berbahagia, sebab orang lain akan amat mendambakan kedudukan seperti ini. Menjadi ksatria yang bekerja di sebuah puri, siapa tak mau? Sekali pun kelak pekerjaannya adalah dalam bidang keamanan, tapi dia berada beberapa tingkat di atas jagabaya, atau masih lebih atas lagi dari sekadar prajurit. Kalau bekerja dalam bidang kemiliteran, maka dia akan jadi perwira. Kalau kesetiaan terhadap Raja sudah diperlihatkan, maka akan sangat mudah diangkat ke dalam seribu pasukaan pengawal raja, sebuah pasukan elit yang sejak zaman Sri Baduga Maharaja, bahkan sejak zaman Prabu Wangi yang gugur di Bubat semasa Kerajaan Sunda hampir 200 tahun silam dipertahankan keberadaannya.

Kepandaian tinggi Ginggi sudah punya, tinggal melengkapinya dengan ilmu strategi kemiliteran saja untuk bisa memasuki jabatan perwira kerajaan.

Ginggi tinggal menunggu hari baik saja, kapan dia akan dilantik di kuil agung sebagai ksatria. Barangkali kelak dia akan bergelar bangsawan juga dan orang akan menyapanya sebagai raden atau juragan, sebuah gelar kebanggaan bagi orang-orang Pakuan.

Tapi aneh sekali, Ginggi tak merasakan satu kebanggaan. Pangkat dan jabatan seperti tak membuatnya bergairah. Dia malah sedih dengan segalanya. Untuk apa semua ini? Lalu, apa pula sebenarnya tujuan hidupnya?

Ginggi jadi teringat lagi pada Ki Darma. Ginggi mengingat-ingat lagi omongan Ki Darma. Sudah benarkah dia kini bila dipertalikan dengan amanat Ki Darma?

"Kau belalah rakyat dari kesengsaraannya," kata-kata Ki Darma ini selalu terngiang-ngiang di telinganya. Mudah diucapkan sulit dikerjakan. Ki Banaspati benar, membela rakyat jangan berupa satuan-satuan kecil sebab tak mungkin berarti. Tapi buatlah sebuah gerakan yang bisa mengakibatkan perubahan tatanan. Seperti apa gerakan itu? Seperti yang kini dikerjakan oleh Ki Banaspatikah?

Ginggi menggelengkan kepala. Dia tak pernah faham apa yang dikerjakan Ki Banaspati. Dalam melaksanakan perjuangannya, murid Ki Darma ini selalu menggunakan berbagai cara, termasuk pula mengorbankan rakyat sendiri yang sebetulnya tengah dibelanya seperti penafsirannya.

Berupaya membentuk pasukan gelap yang tugasnya di antaranya menjegal dan merampok iring-iringan seba (pajak) adalah sesuatu yang Ginggi anggap ganjil. Begitu pun tindakan Ki Bagus Seta yang dalam melaksanakan amanat Ki Darma dia menyelundup menjadi pejabat di Pakuan tapi melakukan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang ganjil bila dihubungkan dengan amat Ki Darma. Ki Darma mengeluh akan kebijaksanaan Raja yang memberati rakyat dengan pajak tinggi. Tapi belakangan Ginggi mendapatkan kenyataan, sebenarnya kebijaksanaan pajak tinggi yang menjadi titah Raja bermula dari gagasan Ki Bagus Seta sebagai pejabatmuhara . Memang Ki Bagus Seta ada menerangkan, bahwa itu merupakan taktik agar dirinya dipercaya bekerja di Pakuan. Katanya untuk menanamkan pengaruh, pertama kali harus berusaha menanamkan kepercayaan terhadap Raja. Raja yang berambisi mengembalikan kejayaan negara seperti masa silam, membutuhkan banyak dana. Dana harus diambil dari dalam negri sebab dari luar seperti perdagangan antar pulau sudah tak mungkin dilakukan sesudah semua pelabuhan milik Pajajaran direbut Banten dan Cirebon.

"Raja yang sudah punya dasar keperluan seperti itu, kalau disodori gagasan yang sejalan dengan jalan pikirannya, maka akan segera menyambut baik dan kita akan dipercaya sebagai pembantu yang tahu memikirkan kebutuhan. Itulah cara untuk menanamkan pengaruh," kata Ki Bagus Seta. Katanya bila pengaruh sudah mulai kokoh menguasai sendi kehidupan di pemerintahan, maka selanjutnya akan sangat mudah untuk menyusun tatanan baru. "Pada saat itulah sebenarnya perjuangan sebenarnya kita lakukan. Kita rombak negara, campakkan yang buruk dan yang tak cocok lalu kita tegakkan sendi-sendi yang terbaik yang bisa membuat rakyat sejahtera!" kata Ki Bagus Seta ketika itu.

Sudah benarkah gaya perjuangan yang dilakukan Ki Bagus Seta dan kelompoknya? Entahlah. Yang jelas, dalam upaya menjaga nama baik negara juga banyak dikemukakan oleh fihak lain dengan cara yang berbeda.Purohita Ragasuci dan Pangeran Yogascitra pun sebenarnya merasakan bahwa tatanan negara sedang tak sehat dan perlu perbaikan. Tapi cara memperbaiki keadaan yang mereka inginkan tidak melalui cara-cara perombakan. Mereka bilang tak perlu merombak, apalagi merusak.

"Raja belum melakukan tapa di nagara dengan baik. Seorang Raja harusteuas peureup leuleus usap (tegas tapi punya rasa kasih sayang). Ini belum sempurna dilaksanakan oleh Raja. Raja harusteuas peureup (tegas) saja sehingga akibatnya hanya menyakiti orang yang ditegasi saja. Raja juga mudah tergoda kehidupan lahiriah. Menyenangi kekayaan dan mudah jatuh cinta pada wanita cantik. Ini sebetulnya kurang sehat bagi kehidupan bernegara. Raja sedang menderita sakit dan harus segera disembuhkan agar bisa kembali memimpin dengan baik," kata lagiPurohita Ragasuci. Ucapan-ucapan ini hanya menegaskan pada semua orang bahwa dalam mengembalikan keberadaan negara yang dibanggakan rakyat beserta seluruh isinya, tidak perlu diadakan perombakan, tidak perlu menggusur Raja dan tidak perlu melakukan pemberontakan.

"Pemberontakan adalah perbuatan hina bagi orang-orang Pajajaran!" kata Pangeran Yogascitra ketika pertemuan di purinya hari kemarin.

Jelas banyak perbedaan dalam mempertahankan keberadaan negara. Ginggi mau ikut ke mana, dia sendiri pun tak tahu. Itulah sebabnya, baik ketika berada di puri Ki Bagus Seta mau pun kini sesudah berada di puri Yogascitra, Ginggi merasa tidak betah, sebab semua percakapan dan cara berpikir mereka tentang kehidupan bernegara, pemuda ini tidak faham sama sekali.

Terlalu banyak yang dipikirkannya, sampai-sampai Ginggi tak bisa tidur padahal kantuk sudah amat hebat menyerangnya.

Ketika dia hampir memejamkan mata karena rasa pedih pada kelopaknya, pemuda itu malah mendengar suara berkeresekan yang amat mencurigakan dirinya. Itu bukan suara kaki kucing atau kelepak sayap burung malam, tapi seperti benda yang lebih berat hingga di atas atap sirap. Ginggi semakin menajamkan telinganya menggunakan ilmu dengarHiliwir Sumping . Bunyi keresekan itu semakin meyakinkan dirinya bahwa itu langkah kaki seseorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Siapakah dia? Untuk meyakinkannya, Ginggi segera meniup pelita sehingga ruangan menjadi gelap. Rupanya orang yang berjalan di atas atap pun merasakan bahwa lampu tiba-tiba gelap, sehingga Ginggi segera mendengar ada gerakan angin yang menandakan orang itu meloncat turun dari atas atap.

Ginggi tak membuang waktu, segera membuka jendela dan loncat lewat lubang jendela. Bulan sudah bersinar kurang dari setengahnya tapi cukup terang untuk melihat gerakan orang yang melarikan diri dari tempat itu. Ginggi segera mengejarnya. Ternyata orang misterius itu berlari menuju tepi benteng. Ginggi pun terus membuntutinya. Ketika bayangan itu meloncati benteng, Ginggi pun segera meloncat mengejar. Kini terjadi kejar-mengejar di antara keduanya.

Ginggi belum tahu, siapa bayangan misterius itu. Hanya yang membikin pemuda itu heran, bayangan itu seperti membimbingnya ke suatu tempat.

Ginggi terus mengikutinya. Bayangan itu telah menyebrangi Sungai Cipakancilan. Berlari cepat lagi menuju arah timur. Dan nampaknya orang itu membawanya ke tepi Sungai Cihaliwung. Sesudah tiba di tepiannya, dia berlari menyusuri sungai, menuju arah utara. Dia melewati Leuwi Kamala Wijaya, masih terus ke utara. Tibalah di tempat tambatan perahu yang menyambungkan tepian itu dengan gugusan delta Pulo Parakan Baranangsiang.
Bayangan itu tidak menaiki perahu, melainkan meloncat ke permukaan sungai dan berlari menggunakan ilmuNapak Sancang , yaitu ilmu meringankan tubuh untuk berlari cepat di atas permukaan air.

Ginggi berhenti sejenak di tepi sungai, pertama merasa heran mengapa orang misterius itu membawanya ke tempat itu. Yang kedua, dia juga heran, sebab sejak tadi sebenarnya ada orang lain berlari di belakangnya. Siapa pula orang di belakangnya, pemuda itu pun sama tak mengenalinya. Namun yang jelas, orang yang di belakang memang berupaya mengejar dirinya. Adakah hubungan orang yang dikejarnya dengan orang yang kini berada di belakangnya?

"Biar aku buktikan nanti …" gumamnya seorang diri.

Sesudah berpikir begitu, Ginggi segera melompat ke tengah sungai dan berlariNapak Sancang menuju gugusan delta Pulo Parakan Baranangsiang.

Ginggi mendarat di gugusan delta tengah Sungai Cihaliwung dan segera mendapatkan seorang lelaki berdiri bertolak pinggang sambil sepasang kaki terpentang lebar. Laki-laki itu memang sengaja menantinya di depanpesanggrahan .

"Ki Bagus Seta?" tanya Ginggi heran. Sebagai jawabannya, Ki Bagus Seta mendengus. "Ada apa malam-malam mengajakku ke sini?" tanya Ginggi lagi.
"Aku ingin melihat di mana tempat anakku dibunuh …" gumam Ki Bagus Seta dengan suara dingin. Kain penutup pinggangnya nampak berkibar-kibar karena tertiup angin malam.

"Bukan aku yang bunuh …" kata Ginggi sedikit terkesiap dengan ucapan Ki Bagus Seta. "Ya aku tahu. Orang-orang puri Yogascitra yang melakukannya. Tapi mereka tak berarti apaapa bagiku. Kalau aku mau, malam ini juga bisa kubantai semuanya sampai habis. Yang aku perlukan hanya engkau," kata Ki Bagus Seta lagi dengan suara berdesis.

"Aku tak membunuh putramu …" kata Ginggi mundur setindak.

"Tapi kau yang memberi peluang sehingga memudahkan orang-orang Yogascitra membantai anakku. Kau lumpuhkan anakku sehingga tak berdaya dan menjadi bulan-bulanan mereka.
Kalau kau tak memukul Suji Angkara, setidaknya anakku masih bisa melawan atau bahkan menyelamatkan diri," kata lagi Ki Bagus Seta.

Serasa lumpuh sendi-sendi tulang Ginggi disudutkan seperti ini. Kalau dipikir, memang benar, Suji Angkara begitu saja dibantai oleh para prajurit dengan amat mudahnya karena sudah terlebih dahulu dibuat lumpuh olehnya dan tak sanggup mengadakan perlawanan lagi. Dengan kata lain, yang membunuh pemuda itu sebetulnya dirinyalah.

Ki Bagus Seta mungkin benar tak begitu suka pada anak tirinya karena selalu bercuriga pada kegiatannya. Tapi sebagai orang tua, tentu dia merasa sakit hati melihat anak tirinya mati secara mengenaskan. Ginggi memang melihat jasad Suji Angkara. Dia mati dengan tubuh hampir hancur karena banyak tusukan benda tajam bersarang.

Ginggi hanya menunduk, sebab dia ikut merasakan kehancuran hati seorang ayah ditinggal mati anaknya, kendati sekadar anak tiri. Ya, mengapa tidak begitu, sebab Suji Angkara pernah menjadi tangan kanannya dalam mengawasi kegiatan pengiriman seba di wilayah timur.

"Harus kau akui, engkaulah pembunuh anakku!" kata lagi Ki Bagus Seta. "Bisa dikatakan, memang begitu …" gumam Ginggi masih menunduk.
"Bagus kalau kau sudah akui!" bentak Ki Bagus Seta sambil menghambur ke depan dengan gerakan cepat sekali.

Barangkali benar Ginggi mengaku ikut terlibat dalam pembunuhan. Tapi untuk disalahkan begitu saja dia tak terima. Apalagi sekarang harus mandah menerima hukuman.

Maka ketika Ki Bagus Seta menghambur melancarkan pukulan deras, Ginggi segera menghindar ke samping sehingga pukulan Ki Bagus Seta mengenai tempat kosong.

Ginggi sudah pernah berhadapan dengan Ki Bagus Seta di ruangan paseban purinya. Dalam pertandingan di paseban keduanya saling melancarkan angin pukulan dan kedua-duanya terlontar menabrak dinding di belakangnya. Ginggi tak tahu, sejauh mana kekuatan tenaga dalam yang dimiliki Ki Bagus Seta. Apakah pukulan yang dilontarkan Ki Bagus Seta waktu itu dilakukan sepenuhnya atau tidak. Ginggi sendiri waktu itu hanya hanya melontarkan tigaperempat bagian saja sebab berkhawatir pukulan itu mencelakakan baik pada dirinya mau pun pada lawan.

Barangkali sekarang akan diketahui, siapa dari kedua murid Ki Darma yang memiliki angin pukulan paling baik. Dan adu tenaga dalam nampaknya akan segera dilakukan, sebab Ki Bagus Seta segera mendoyongkan tubuhnya ke depan seperti kodok hendak meloncat. Hanya bedanya, sepasang tangannya dibuka lebar dan siap sedia mendorong ke depan.

0 Response to "Senja Jatuh di Pajajaran Jilid 20"

Post a Comment