Senja Jatuh di Pajajaran Jilid 11

Mode Malam


Jilid 11  

"Ki Darma seorang perwira kerajaan?" tanya Ginggi mengerutkan dahi. "Ya, tidakkah dia mengatakannya padamu?"
Ginggi menggelengkan kepala. Kata pemuda ini, bahwa Ki Darma bukan orang sembarangan, hanya didapatnya melalui cerita pantun. Itu pun menyangkut hal-hal buruk.

"Selama bersamaku, tidak secuil pun dia mengatakan siapa sebenarnya dia. Yang aku tahu, dia hanyalah seorang tua yang cepat marah tapi terkesan juga sebagai orang yang kecewa terhadap sesuatu. Dia kerap kali mengeluh terhadap situasi negara dan aku disuruhnya ikut memikirkan hal itu. Aku disuruh mencari keempat muridnya agar aku bisa bergabung dan minta nasihat apa-apa yang harus aku kerjakan. Tapi kenyataannya …" Ginggi menghentikan perkataannya sebab dia teringat peristiwa tadi malam.

Ki Rangga Guna terlihat wajahnya kuyu dan nampak memendam kesedihan amat dalam. Barangkali dia terpukul oleh peristiwa tadi malam. Saudara kembarnya terkurung oleh reruntuhan gua. Mungkin Ki Rangga Wisesa tela mati karena reruntuhan itu.

"Ki Guru dulu benar seorang perwira kerajaan yang tangguh. Namanya dikenal sebagai Ki Darma Tunggara. Pandai menguasai ilmu pertempuran. Dia seorang akhli siasat perang.
Duabelas ilmu siasat perang yaitumakara-bihwa, lisang-bihwa, cakra-bihwa, suci-muka, bajra-panjara, asu-maliput, merak-simpir, gagak-sangkur, luwak-maturun, kidang-sumeka,
babah-buhaya danngaliga-manik, dia kuasai dengan sempurna. Semua orang memerlukannya. Tapi Ki Darma dikenal memiliki satu penyakit menurut anggapan para bangsawan. Ki Darma selalu bicara apa adanya. Kalau baik dibilang baik dan kalau jelek dibilang jelek. Terhadap kaum bangsawan dan raja, Ki Guru Darma kerap kali melontarkan kritik. Beberapa orang menganggap kritik Ki Guru Darma itu sebagaipanca-parisuda (lima obat penawar), yaitu sebagai alat untuk menghilangkan segala kekurangan yang melekat di tubuh seseorang. Tapi kebanyakan lainnya beranggapan bahwa bila kritik itu dilontarkan terhadap raja maka itu berarti penghinaan. Kata orang, sejak zamannya Sang Prabu Surawisesa, Ki Guru suka mengeritik. Kepada Sang Prabu Surawisesa, dikatakannya sebagai pipit mencari padi. Pipit tak akan berhenti mematuk sebelum padi di huma habis dipatuknya. Itu dimaksudkan sebagai tudingan kepada sang Prabu Surawisesa yang gemar berperang. Sebelum musuh dibabat habis tak nanti perang diselesaikan. Ketika pemerintahan beralih kepada Sang Prabu Ratu Dewata, dikatakannya sebagai zaman wiku tertidur di tengah ribuan cicit suara tikus kelaparan. Bila sang wiku tengah bertapa, bisa saja mengacuhkan situasi sekeliling karena pikiran terpusat dalam tapa. Tapi yang ini, hanya berupa tindakan diamnya seorang wiku karena lagi tidur.
Ribuan tikus mencicit karena lapar adalah bahaya, sebab bisa-bisa mengeroyok dan memakan orang yang lagi tidur. Begitulah memang ketika Pakuan diperintah Sang Prabu Ratu Dewata. Di saat Pakuan dikelilingi musuh-musuh, Sang Ratu Dewata malah lebih menitikberatkan mengurus kehidupan agama dan keyakinan. Sang Ratu Dewata kerap kali mengurung diri di kuil karena melakukan tapabrata. Padahal menurut Ki Guru Drama, tapanya seorang raja adalah berjuang mengurus negri …" kata Ki Rangga Guna menceritakan kisah Ki Darma.

Ginggi hanya termangu-mangu, duduk di samping Ki Rangga Guna.

"Ki Guru Darma selama jadi perwira hampir-hampir dianggap duri dalam daging. Banyak kalangan bangsawan tak menyukainya karena Ki Darma blakblakan mengoreksi mereka yang keliru. Bahkan kepada pejabat yang kerjanya mempermainkan kekayaan negara, Ki Guru selalu membencinya. Itulah sebabnya, walau pun tenaga Ki Guru terus dimanfaatkan, tapi kedudukannya tak pernah beranjak naik. Tak pernah ada orang mengusulkan agar dia menjadimangkubumi misalnya. Padahal Ki Darma sudah lebih dari cukup untuk memegang jabatan seperti itu. Atau kalau benar Ki Guru Darma tetap diperlukan di keprajuritan, mengapa selama ini tak pernah dipercaya sebagai kepala perwira, padahal Ki Guru Darmalah yang paling tua dan paling luas pengalamannya. Beruntung sekali Ki Guru Darma tidak penuh ambisi. Menurutnya, puluhan tahun menjadi bagian dari seribu perwira pengawal raja, puluhan kali pula terlibat pertempuran besar, tidak secuil pun mengharap jasa. Ki Guru katakan, dia bukan mengabdi kepada pangkat atau pun harta, tidak pula mengabdi kepada seorang raja. Kalau pun benar disebut mengabdi, maka dia mengabdi kepada kerajaan, kepada Pajajaran," kata lagi Ki Rangga Guna. "Aku mengerti, mengapa Ki Darma tak disukai di pemerintahan. Itu karena dia memberi kasih sayang terhadap negri tidak melulu karena pujian atau jilatan kata-kata muluk. Namun hal-hal seperti itu tidak membuat terusir pergi dari jajaran seribu perwira pengawal raja. Hanya saja mengapa Ki Rangga Wisesa mengabarkan Ki Darma diburu dan dikejar oleh perwira kerajaan bahkan oleh pasukan Cirebon dan masing-masing menganggap Ki Darma sebagai musuh besarnya?" tanya Ginggi heran.

Ditanya seperti itu, kembali Ki Ranga Guna menghela nafas. Dia menunduk sejenak dan memijit-mijit jidatnya.

"Yah, akhirnya memang Ki Guru Darma dimusuhi oleh dua kekuatan besar. Sudah jelas bila Pasukan Banten, Cirebon bahkan Demak menganggap Ki Guru sebagai musuh besar, sebab beberapa kali penyerangan mereka ke Pakuan bisa ditepis. Dan itu kesemuanya karena taktik dan siasat perang yang dibangun Ki Guru," kata Ki Rangga Guna.

"Tapi, mengapa akhirnya Ki Darma dimusuhi oleh satu kekuatan besar lainnya yang padahal telah dengan susah payah dia bela dan dia pertahankan? Mengapa Ki Darma yang begitu berjasa malah dikejar-kejar?" Ginggi penasaran dan memotong ucapan Ki Rangga Guna secara tak sabar.

"Yah, itulah. Ki Guru Darma akhirnya menjadi korban pendiriannya sendiri …" gumam Ki Rangga Guna.

Ginggi ingin mendapatkan penerangan lebih jelas. Untuk itu dia meminta Ki Rangga Guna membeberkan kembali dengan sejelas-jelasnya. Ki Rangga Guna akhirnya meriwayatkan perihal apa sebabnya Ki Darma menjadi buronan.

Ki Darma Tunggara sejak muda belia telah mengabdikan ke Pakuan sebagai prajurit. Jadi sudah barang tentu pembelaan dirinya terhadap negara melalui upaya menjaga keberadaan negara dari gangguan musuh. Yang dimaksud bekerja untuk negara bagi Ki Darma adalah mempetaruhkan badan dan nyawa dalam setiap peperangan. Namun kendati begitu, Ki Darma bukanlah perwira yang gila perang. Kejayaan negri menurut Ki Darma adalah bagaikan harimau. Sifat harimau menurut Ki Darma tidak serakah. Dia hanya makan selagi lapar. Kalau tak lapar dia tak makan dan tak membunuh mangsa. Harimau pantang berkelahi. Dia akan selalu menghindari lawan. Tapi kalau harimau diganggu, maka dia pantang untuk menyerah.

Ki Darma selama jadi perwira sudah kenyang berdiri di medan pertempuran. Ketika masih prajurit, di bawah kepemimpinan sang Prabu Sri Baduga, Ki Darma ikut pertempuranpertempuran kecil melawan Cirebon. Ketika Pakuan dipimpin Sang Prabu Surawisesa, Ki Darma bahkan lebih matang lagi meraup pengalaman bertempur. Selama Sang Prabu Surawisesa memerintah hampir empatbelas tahun lamanya, terjadi limabelas kali pertempuran besar melawan Banten dan Cirebon. Ki Darma di sini mulai lelah bertempur dan berani mengeritik raja. Menurut Ki Darma, sebaiknya kita bertempur ketika kita diserang saja.
Lengkapnya pasukan dan utuhnya sikap-sikap pemberani menurut Ki Darma lebih baik digunakan untuk membela diri belaka. Tapi menurut kebanyakan perwira dan juga raja, kebesaran negri juga tercipta bila sanggup menepiskan berbagai kendala. Menurut raja, ketika Pajajaran belum diserang oleh Banten dan Cirebon, negara ini kuat di lautan. Ketika pelabuhan Kalapa (Sunda Kelapa) belum direbut Banten dan Cirebon, Pajajaran melakukan komunikasi dagang dengan bangsa asing melalui Kalapa. Namun sesudah pelabuhan besar itu dikuasai Banten dan Cirebon, tertutuplah hubungan ekonomi dengan negara-negara seberang lautan. Hal ini amat berpengaruh terhadap perekonomian dalam negri.

Itulah sebabnya, Pasukan Pajajaran beberapa kali sempat mencoba merebut Pelabuhan Kalapa. Namun sejauh itu tak pernah berhasil," tutur Ki Rangga Guna.

Menurut Ki Rangga Guna, Ki Darma memang selalu melontarkan kritik. Tapi kendati begitu, dia tetap berlaku sebagai prajurit sejati yang taat kepada perintah. Ki Darma selalu berupaya melumpuhkan kekuatan musuh dengan cara membentuk pasukan kecil yang diambil dari perwira-perwira pilihan. Mereka secara rahasia kerap kali mengganggu pusat-pusat kekuatan musuh.

Ketika pemerintahan berpindah dari Sang Prbu Surawisesa kepada Sang Prabu Ratu Dewata, sikap raja ini amat kebalikan dengan yang lama. Bila Sang Prabu Surawisesa bisa dikatakan gemar berperang, adalah Sang Prabu Ratu Dewata yang memiliki kegemaran mengurung diri di kuil bersama wiku-wiku istana. Melihat kenyataan ini, Ki Darma pun tetap tak puas dan tetap melakukan kritik. Dikatakannya, Raja selalu lemah memimpin negara, padahal bahaya serbuan musuh tetap mengancam. Dan terbukti ada penyerbuan besar-besaran ke pusat pemerintah, dilakukan oleh pasukan Banten. Perang besar terjadi di alun-alun benteng luar. Hanya karena kegagahan seribu perwira pengawal raja saja istana tak berhasil ditembus.
Istana raja,Kedaton Sri Bima Untarayana MaduraSuradipati selamat dari serangan musuh tapi ratusan perwira pilihan menjadi tumbal negara.

Ki Darma Tunggara yang lolos dari maut, tidak mendapatkan penghargaan yang layak atas jerih payahnya mempertahankan istana. Dia malah dicurigai oleh kalangan pejabat sebagai penghianat.

"Mengapa dituduh penghianat?" tanya Ginggi heran.

"Itulah karena kepandaian Ki Guru Darma meramal kejadian yang bakal berlangsung," kata Ki Rangga Guna.

Mulanya pejabat istana ragu akan kepandaian Ki Darma ini. Ketika naluri Ki Darma mengatakan bakal adanya bahaya, hampir semua orang tak percaya. Beberapa pejabat mengatakan, Ki Darma hanya mengada-ada sebab benaknya selalu dirasuki hawa peperangan. Sebagian lagi mengatakan mustahil ada penyerangan musuh ke pedalaman.

Selama berpuluh-puluh tahun, musuh memang tak pernah melakukan penyerbuan langsung ke pusat istana. Pasukan Pakuan memang kerap kali gagal melakukan serangan ke pesisir utara karena pasukan musuh di pantai memiliki senjata api bernama meriam. Namun juga sebaliknya, pasukan musuh tak berani mengejar sampai ke pedalaman sebab Pasukan Pakuan lebih berpengalaman melakukan pertempuran di wilayahnya sendiri.

Namun hari itu kenyataan membuktikan lain. Pasukan Banten ternyata berani menyerbu langsung ke pusat pemerintahan dan hampir-hampir berhasil merebut pusat pemerintahan Pakuan itu.

Ki Darma tetap tak dipercaya memiliki naluri untuk meramal kejadian yang besifat marabahaya. Dia dituduh sebagai perwira yang gila perang dan kesal melihat raja yang kerjanya mengurung diri di tempat suci. Maka saking inginnya dipercaya bahwa negara selalu ada dalam bahaya perang, Ki Darma dituduh sengaja "mengundang" musuh agar segera terjadi pertempuran.

"Tentu saja ini amat kebalikan dengan kejadian sebelumnya. Kalau di zaman Sang Prabu Surawisesa Ki Darma dituding menolak perang, maka ketika di zaman Sang Prabu Ratu Dewata, malah dituduh perwira yang gila perang!" kata Ki Rangga Guna.

"Benar-benar keliru …" gumam Ginggi kesal.

"Tiga tahun sebelum Sang Prabu Ratu Dewata diganti oleh putranya Sang Ratu Sakti, Ki Darma mengundurkan diri dari semua kegiatan di Pakuan. Dia melakukan pengembaraan ke mana saja dan ketika itulah Ki Darma mengambil murid sampai empat orang, kendati antara yang satu dengan yang lainnya memiliki masa yang berbeda. Satu dengan lainnya tak pernah saling kenal, kecuali aku dan adikku saja," kata Ki Rangga Guna. "Dua murid terdahulu sudah berpisah dengan Ki Darma lima tahun ketika aku dan adikku Rangga Wisesa diambil murid oleh Ki Guru," tuturnya.

"Dan sesudah Ki Darma melepas kalian tiga atau empat tahun baru Ki Darma membawaku ke Puncak Cakrabuana," kata Ginggi menjelaskan.

Ki Rangga Guna melengkapi ceritanya. Ternyata katanya, sesudah Ki Darma melepaskan masalah kenegaraan, urusan bukan bertambah ringan. Marabahaya bahkan datang lebih mengancam. Ketika masih berada di istana, bahaya seberat apa pun masih bisa ditanggulangi bersama para perwira lain. Tapi sesudah Ki Darma menjadi orang "sipil", sudah tak ada lagi kawalan kekuatan lain di luar dirinya. Pasukan musuh tahu betul, Ki Darma perwira tangguh yang banyak merugikan musuh karena siasat perangnya. Sekarang sesudah Ki Darma tak memiliki pasukan, fihak musuh seperti berupaya untuk membalas dendam. Ki Darma dikejarkejar tentara musuh bila pengembaraannya tiba di wilayah utara. Semua perwira musuh bahkan seperti berlomba untuk menangkapnya.

"Aku sendiri mengalaminya. Ketika tengah bersama Ki Guru melakukan perjalanan di wilayah Caringin, kami dikepung Pasukan Cirebon. Ki Darma banyak melakukan pembunuhan terhadap prajurit musuh. Hanya anehnya, fihak Cirebon seperti tak berniat mengambil nyawa Ki Guru. Sepertinya mereka hanya ingin menangkap saja. Kalau tujuan mereka mengepung Ki Darma untuk membunuhnya, hari itu tak mungkin kami berdua bisa lolos dari kepungan …" kata Ki Rangga Guna bicara dengan nada heran.

"Tidakkah mereka akan memanfaatkan tenaga Ki Darma? Bukankah Ki Darma dikenal musuh sebagai akhli siasat perang?" tanya Ginggi. Ki Rangga Guna termenung sebentar tapi kemudian mengangguk-angguk."Bisa juga begitu …" ucapnya pelan.

"Jika begitu, barangkali Ki Darma tidak dianggap musuh besar bagi Pasukan Cirebon!" kata Ginggi. Ki Rangga Guna terdiam.

"Entahlah, aku tak bisa meraba-raba maksud sebenarnya dari fihak musuh. Yang jelas, setiap kami bertemu dengan fihak musuh, selama itu pula kami dikejar dan dikepung. Aku dan Ki Guru dalam upaya membuka kepungan terpaksa harus melakukan pembunuhan. Nah, kalau ternyata kami ternyata selalu membunuh, apakah mereka tetap akan menarik Ki Guru sebagai sekutunya?" tanya Ki Rangga Guna. Ginggi tak bisa memberikan komentarnya. "Yang jelas, hidup Ki Darma semakin sulit sesudah dia berhenti dan mengundurkan diri dari istana. Pihak yang ditinggalkan seperti merasa tak senang, bahkan lebih dari itu mereka seperti merasa dikhianati."

"Puncak marabahaya bagi Ki Guru Darma ketika pucuk pemerintahan di Pakuan dipegang oleh Sang Prabu Ratu Sakti yang kini memerintah. Sang Prabu Ratu Sakti bahkan lebih keras dari raja-raja sebelumnya. Pakuan langsung mengumumkan bahwa Ki Guru Darma itu seorang penghianat yang berbahaya bagi negara. Barang siapa menemukannya mati atau hidup akan diberi hadiah," kata Ki Rangga Guna.

Melihat bahaya seperti ini, Ki Guru Darma menyuruh kami berpencar saja dan jangan sekalikali mengaku sebagai murid Ki Darma. Ki Guru Darma nampak agak kecewa dengan kepemimpinan raja yang sekarang. Bukan karena Sang Prabu Ratu Sakti berniat akan membunuhnya, tapi yang mengecewakan Ki Guru, karena raja yang sekarang bertindak keras terhadap rakyat. Barangsiapa ketahuan tak mentaati kebijaksanaannya, mereka akan ditindak. Itulah sebabnya, di beberapa daerah timbul pemberontakan.," kata Ki Rangga Guna.

Ginggi menunduk mendengar ucapan Ki Rangga Guna. "Aku memang bukan muidnya, Paman …" gumam Ginggi. Ki Rangga Guna pun menghela nafas.
"Entah apa sebabnya Ki Guru Darma tidak mengangkat atau mengakuimu sebagai muridnya yang syah. Tapi apa pun yang terjadi, kenyataannya Ki Guru memberikan berbagai ilmu kepandaian kepadamu. Berarti kau harus mengakuinya sebagai guru, anak muda," kata Ki Rangga Guna.

Ginggi mengangguk tanda setuju.

"Barangkali hatiku pun sudah mengakuinya, Paman. Kalau tak begitu tak nanti aku mau melaksanakan amanatnya," kata Ginggi.

Ki Rangga Guna menoleh.

"Aku harus mencari keempat muridnya dan aku harus mengikuti petunjuk para muridnya dalam upaya membela rakyat Pajajaran dari tekanan raja," kata Ginggi menatap Ki Rangga Guna. Yang ditatap hanya termenung lesu.

"Sekarang aku sudah bertemu denganmu. Mungkin kau tahu, apa yang harus aku lakukan seperti kehendak Guru," kata Ginggi.

Ki Rangga Guna masih nampak diam, sehingga Ginggi perlu berkata sekali lagi.

"Entahlah anak muda. Aku sendiri pun bingung memikirkannya," kata Ki Rangga Guna pada akhirnya, sehingga membuat heran Ginggi.

Ki Rangga Guna bangun dari duduknya. Dia berdiri berpangku tangan. Matanya memandang ke pedataran di bawah bukit. Pedataran itu amat luas. Beberapa terdiri dari rawa-rawa, beberapa bagian lagi hanya berupa semak dan tumbuhan perdu. Ada sekelompok burung bangau terbang di atas rawa. Sesekali mereka menukik menusuk permukaan air rawa dan terbang lagi sesudah paruhnya mengapit ikan kecil.

Senja Jatuh Di Pajajaran

"Sebelum aku dilepas, Ki Guru memang memberikan amanat serupa. Tapi kau lihatlah, bagaimana kesanmu melihat adikku Ki Rangga Wisesa? Membuatku malu saja," gumamnya sedih. Dia pandang lagi bongkahan-bongkahan reruntuhan gua kapur. Ki Rangga Wisesa ada di sana, mungkin terkubur untuk selama-lamanya.

"Aku juga amat menyesalkan kejadian ini, Paman. Tapi, mengapa hal ini bisa sampai terjadi?" tanya Ginggi.

"Adik kembarku tersiksa oleh perasaan iri dan sakit hati. Kami berdua dulu adalah rakyat Kerajaan Talaga. Ketika telaga diperangi Cirebon, keluargaku termasuk orang Talaga yang menolak masuk keyakinan baru. Maka terjadi peperangan dan kami ada di pihak yang kalah. Kami dua saudara kembar melarikan diri dan akhirnya diambil murid oleh Ki Guru Darma. Namun selama Ki Guru memberi pelajaran, dia mendapatkan perbedaan sikap pada kami berdua. Entah perangai apa yang terdapat pada adikku. Yang jelas, Ki Guru nampaknya lebih mempercayaiku ketimbang adikku. Bila ada sesuatu yang harus dirundingkan, maka Ki Guru merundingkannya denganku. Bila Ki Guru memerintahkan sesuatu yang dianggap penting, maka hanya akulah yang ditugaskan. Dan secara diam-diam, Ki Guru memberikan ilmu yang tak diberikan kepada adikku. Aku heran dan tak enak dengan perlakuan ini. Maka aku tanyakan kepada Ki Guru, tapi dia hanya berkata bahwa kelak pun aku akan tahu. Secara diam-diam, ilmu yang didapat dari Ki Guru aku sampaikan dan latihkan kepadaa adikku. Tapi adikku bukannya berterima kasih, tapi malah memendam kemarahan. Sampai pada suatu saat kami berpisah, rasa sakit adikku tak terobati lagi," kata Ki Rangga Guna.

"Dan rasa sakit hati ini dia lampiaskan dengan melakukan serangkaian kejahatan. Mencuri mayat bayi dan memperkosa wanita," kata Ginggi.

Ki Rangga Guna menundukkan muka.

"Barangkali mencuri mayat bayi dan memperkosa gadis bukan maksudnya berbuat kejahatan," kata Ki Rangga Guna. Ginggi mengerutkan dahi.

"Ya, itu pengakuan adikku. Dia melakukan itu karena keperluan tertentu. Kerapkali dia memperkosa gadis, bukan karena dia gila perempuan, tapi karena ingin menyempurnakan ilmu sihir yang tengah dia pelajari. Begitu pun halnya dengan pencurian mayat bayi. Semua dilakukan bagi penyempurnaan ilmu sesatnya itu," kata Ki Rangga Guna. "Kesalahannya memang terletak padaku dan Ki Guru. Kami telah membuat dia sakit hati. Dan agar dia memiliki kepandaian yang sekiranya bisa mengalahkan aku, dia kerjakan cara apa saja, termasuk mempelajari ilmu sesat," ungkapnya.

"Ya, Ki Rangga Wisesa ingin membalas dendam padamu, Paman. Terbukti, selama ini dia pergunakan namamu dalam melakukan kejahatannya sehingga semua orang mengejarmu," kata Ginggi.

Ki Rangga Guna mengangguk-angguk mengiyakan. "Tapi kalau benar engkau tak bersalah, mengapa setiap kau dikejar dan dikeroyok kau tak pernah menerangkan hal yang sebenarnya?"

"Percuma, sebab persamaan wajah kami menyulitkan sanggahanku. Semua orang tak mau percaya bila aku memungkirinya. Maka tak ada jalan lain selain aku menangkap adikku sendiri. Sekarang adikku sudah mati dan tak akan berbuat kejahatan lagi. Tapi kedudukanku tetap tak berubah, namaku tetap jelek. Dengan kematian adikku, aku semakin tak mungkin membuktikan bahwa diriku tak bersalah," kata Ki Rangga Guna.

"Aku menyesal dengan kematian adikku. Seharusnya dia tak perlu mati. Orang berlaku jahat bukan karena badannya, tapi karena pikirannya yang sedang sakit. Jadi untuk memberantas kejahatan, sebetulnya bukan membunuh orangnya tapi mengobati jiwanya itu," kata Ki Rangga Guna mengeluh.

"Engkau tidak membunuh saudaramu, Paman!" kata Ginggi menghibur. Tapi Ki Rangga Guna tetap sedih dengan peristiwa ini.

Menjelang siang hari perut Ginggi terasa lapar. Meniru burung bangau, kedua orang itu mencoba mencari ikan di rawa-rawa. Tidak begitu sulit, sebab dengan kepandaian mereka, ikan-ikan di rawa serasa begitu mudahnya ditangkap.

Di tepi bukit mereka membakar ikan gabus atau bogo. Makan tanpa banyak bicara karena Ki Rangga Guna nampaknya masih diliputi kesedihan oleh kematian saudara kembarnya.

Sesudah rasa lapar di perutnya menghilang, Ginggi kembali bertanya perihal rencana selanjutnya. Terutama yang erat kaitannya dengan tugas yang dibebankan Ki Darma. Namun untuk yang kesekian kalinya Ki Rangga Guna hanya mengeluh.

"Berpayah-payah aku mencari murid-murid Ki Darma, sudah tiga orang aku temukan. Tapi nyatanya tak seorang pun yang membuatku percaya," kata Ginggi pada akhirnya. Ki Rangga Guna menatap Ginggi dengan penuh perhatian.

"Siapa yang kau temukan selain kami bedua, anak muda?" tanya Ki Rangga Guna penuh minat.

"Aku temukan juga Ki Banaspati …"

"Ki Banaspati? Itulah murid pertama ki Guru. Tolong pertemukan aku, sebab selama ini aku belum pernah bersua!" kata Ki Rangga Guna.

Giliran pemuda ini yang kini menunduk lesu.

"Kau seperti tak berselera memperbincangkan Ki Banaspati, anak muda," kata Ki Rangga Guna penuh selidik.

"Ya, kau akan mudah menemukan Ki Banaspati, Paman. Dia orang berpengaruh. Paling tidak di wilayah Kandagalante Sagaraherang," kata Ginggi sambil termangu-mangu. Ki Rangga Guna terus mengamatinya.

"Dia jadi orang berpengaruh?" tanya Ki Rangga Guna penuh perhatian. "Betul," ujar Ginggi. "Tapi aku heran, mengapa Paman belum pernah bertemu, atau pun mendengar perihalnya? Kalau aku pernah tak tahu, itu wajar, sebab sejak kecil aku hanya bersama Ki Darma di puncak gunung yang sunyi. Tapi kau lain lagi. Kau tak pernah hidup menyepi dan pekerjaanmu tentu berkelana," kata Ginggi.

Ki Rangga Guna menangguk-angguk. "Benar, selama ini aku berkelana, tapi aku pergi jauh dari Pajajaran. Biar nanti aku ceritakan perihalku. Sekarang lebih baik kau terangkan Ki Banaspati," kata Ki Rangga Guna mendesak.

Hampir Putus Asa

Denganperasaan enggan, terpaksa pemuda itu menerangkan perihal Ki Banaspati, termasuk penilaian dirinya terhadap orang itu. Dengan panjang-lebar Ginggi menerangkan betapa Ki Banaspati telah jadi orang terpandang. Di Pakuan sebagai pembantu utama muhara(petugas penarik pajak negara). Juga di wilayah Kandagalante Sagaraherang, menjadi semacam penasihat Kandagalante itu. Dikatakannya pula, betapa sebetulnya dia merasa curiga akan tindak-tanduk Ki Banaspati sebab seperti menyembunyikan suatu misteri.

"Ki Banaspati mengatakan bahwa selama ini dia tetap setia kepada amanat Ki Darma dalam perjuangan membela rakyat. Tapi aku pikir, cita-citanya terlalu jauh. Yang dimaksud perjuangan demi kepentingan rakyat olehnya adalah berupaya membentuk satu kekuatan untuk menjatuhkan raja dan kemudian kelak akan digantikan olehnya!" kata Ginggi.

Mendengar penjelasan ini, Ki Rangga Guna termenung. Beberapa kali alisnya nampak berkerut. Beberapa kali pula nampak matanya kian menyipit. Dan sambil berpangku tangan, sesekali dia berjalan ke kiri, sesekali berjalan juga ke kanan.

"Ini pemberontakan namanya!" gumamnya agak keras. "Pemberontakan?"
"Ya, melawan pemerintahan yang sah adalah pemberontakan namanya. Orang yang memberontak selalu mempunyai nama buruk," kata Ki Rangga Guna.

"Sekali pun bertujuan membela rakyat, Paman?" tanya Ginggi. Ditanya demikian, Ki Rangga Guna termenung.
"Entahlah, mungkin benar ia berjuang demi rakyat," kata Ki Rangga Guna. "Tapi tak kurang yang berdalih demi kepentingan rakyat, padahal rakyat sebenarnya hanya dianggap modal untuk melicinkan cita-cita pribadinya," kata Ki Rangga Guna lagi.

"Aku mengkhawatirkan, itu yang menjadi tujuan sebenarnya dari Ki Banaspati. Dia bermain api. Mencoba membujuk dan mempengaruhi Kandagalante Sunda Sembawa agar berambisi merebut tahta, tapi yang sebenarnya Ki Sunda Sembawa dikendalikan untuk kepentingan Ki Banaspati itu sendiri," kata Ginggi memperkirakan siasat Ki Banaspati.

"Benar-benar berbahaya bila begitu!" Ki Rangga Guna berseru saking terkejutnya mendengar penjelasan itu. "Ya, dan ini mengecewakan. Semuanya, semuanya …" gumam Ginggi dengan nada keluhan. Mereka terdiam sejenak, sepertinya tengah asyik dengan lamunannya masing-masing.
Namun kemudian, terdengar kekeh Ki Rangga Guna. Suara tawa penuh kepahitan. Mendengar tawa ini, Ginggi berjingkat dan berdiri.
"Aku mau pulang ke Puncak Cakrabuana … " kata pemuda itu pendek. Ki Rangga Guna menatap pemuda itu dengan pandangan kosong. "Bagaimana dengan amanat Ki Guru?" tanyanya.
"Ya, aku ingat betul. Jangan kembali sebelum tugas selesai," jawab Ginggi teringat kembali pesan Ki Darma.

"Ya, itu juga yang dikatakan Ki Guru padaku. Sekarang aku tak mau pulang …"

"Ya, mungkin tak bisa pulang karena engkau tak mau melaksanakan perintah gurumu!" kata Ginggi ketus dan akan segera beranjak pergi.

"Lantas kau sendiri pulang untuk apa, anak muda?" tanya Ki Rangga Guna.

"Sekarang ada yang lebih kupikirkan ketimbang urusan besar yang aku sendiri tak sanggup mengerjakannya. Berita yang disampaikan Ki Rangga Wisesa amat merisaukan diriku. Malam kedua belas perjalanan bulan keenam … Aku ingat kembali. Sehari sebelumnya Ki Darma memerintahkan aku supaya pergi. Kalau benar malam kedua belas itu hari penyerbuan Cirebon dan Pakuan ke Puncak Cakrabuana, aku berdosa kepada Ki Darma. Dia kubiarkan menghadapi marabahaya sendirian, sedang aku … sedang aku …" pemuda itu tak melanjutkan omongannya.

"Kau tak berdosa. Bahkan Ki Darma sendiri yang akan merasa berdosa bila membiarkan kau terlibat bentrokan di puncak. Dia mengorbankan engkau yang belum tahu permasalahan sebenarnya," kata Ki Rangga Guna dengan nada sedih.

"Bukan itu yang kupikirkan!" teriak Ginggi benci kepada jalan pikirannya sendiri. Ya, dia membenci dirinya sendiri. Ketika Ki Darma tengah menghadapi marabahaya, bukankah dia sedang asyik masyuk bersama Nyi Santimi di bukit kecil Desa Cae? Terbayang ketika itu, Ki Darma di Puncak Cakrabuana tengah bergumul mempertahankan nyawa, sedangkan dia bergumul mempermainkan berahi. Aku berdosa, kutuknya dalam hati sambil menggetok ubun-ubunnya sendiri.

"Ki Guru tahu, mana kepentingan yang harus dia jaga. Membiarkan engkau terlibat urusan di puncak, berarti memutuskan perjuangan dan cita-citanya membela Pajajaran. Sebab kalau kau ikut menjadi korban di Puncak Cakrabuana bersamanya, putus pulalah cita-citanya!" kata Ki Rangga Guna meyakinkan, tapi tetap saja dengan suara yang terdengar pilu. "Apa bedanya dengan sekarang. Tokh biar pun aku selamat, tetap saja tak bisa melaksanakan amanatnya. Orang-orang yang sengaja aku hubungi seperti apa kata perintah Ki Darma, tidak satu pun yang membuatku lega. Barangkali Ki Darma pun akan kecewa bila dia masih hidup!" teriak Ginggi kesal.

"Plak!" Ki Rangga Guna melayangkan telapak tangannya menempeleng Ginggi. Pemuda itu langsung terjajar dan menimpa bongahan-bongkahan batu kapur. Tidak menderita luka, tapi Ginggi terkejut setengah mati sebab dia tak menyangka sama sekali bahwa Ki Rangga Guna akan menyerang secara tiba-tiba.

"Ayo, bunuhlah aku Paman! Kepandaianmu jauh lebih tinggi ketimbang aku. Tapi aku tak malu mati kendati belum menunaikan tugas. Beda sekali dengan kau Paman, hidup dengan memiliki kepandaian tapi tak pernah memanfaatkan kepandaian itu sendiri untuk membalas kebaikan gurumu!" teriak Ginggi marah dan kesal.

"Kau manusia tolol tapi sombong!" kini Ki Rangga Guna balas membentak. Dia menghambur ke arah Ginggi dan pemuda itu meramkan mata, sepertinya pasrah untuk mati hari itu.

Tapi Ki Rangga Guna tak melancarkan pukulan, kecuali meraih pakaian pemuda itu di bagian dada dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

"Ocehan-ocehanmu serasa menghina dan merendahkan aku, anak dungu! Sangkamu, kau ini apa? Apa saja yang kau lakukan sejak turun gunung selain mencari-cari kami? Dan apakah kau tahu, apa sebenarnya yang aku lakukan selama belasan tahun mengembara? Dengarlah anak picik! Belasan tahun aku melaksanakan perintah Ki Guru. Belasan tahun aku dikejar dan diburu oleh siapa saja karena aku murid Ki Darma. Aku juga dituding pengkhianat! Semua yang ada hubungan dengan Ki Darma sama diperlakukan sebagai pengkhianat! Kau dengar itu, hai manusia tak punya guna!" teriak Ki Rangga Guna menunjuk-nunjuk hidung pemuda itu dengan tangan kanan, dan tangan kirinya masih mencengkram pakaian Ginggi.

"Pekerjaan yang engkau laksanakan tak seberapa, demikian juga penderitaanmu. Tapi kau berani mengeluh bahkan menyesali tindakan orang lain, seolah-olah tindakanmu bagus dan berarti bagi Ki Guru. Kau sesali pula tindakan Ki Banaspati. Padahal sejelek apa pun dia bekerja, tokh dia sudah melakukan sesuatu untuk berupaya mengubah keadaan di Pajajaran. Huh, dasar bocah cengeng!" teriak Ki Rangga Guna geram.

Tubuh pemuda itu dia lontarkan dan untuk yang kedua kalinya menimpa bongkahan batu kapur.

Ginggi menjerit dan melolong-lolong. Bukan rasa sakit di punggung karena dua kali menimpa bongkahan batu kapur. Tapi rasa sakit yang ada di hatinya. Benarkah dia manusia tak ada guna dan kerjanya menuding keburukan orang lain saja?

Ginggi menjambak-jambak rambutnya untuk mengimbangi rasa sakit di hatinya.

"Ya, betul Paman. Aku manusia tiada guna. Aku tak punya harga diri! Aku tak punya rasa malu! Oh, aku harus mati karena ini!" teriaknya sambil mengangkat sebongkah batu untuk kemudian ditimpakan ke kepalanya. Ki Rangga Guna sudah menggerakkan sepasang tangannya dan mendorong benda berat itu jauh-jauh.

"Hm, enak saja bunuh diri. Bila kau bunuh diri, kau adalah orang licik dan pengecut. Merasa diri tak ada harganya tapi bukan berusaha mendapatkan harga diri itu, melainkan akan lari dari tanggung jawab!" omel Ki Rangga Guna kesal.

"Aku bodoh! Aku tak punya kemampuan. Bagaimana mungkin bisa melakukan sesuatu yang berarti?" tanya Ginggi mengeluh.

"Kalau kau sudah punya pertanyaan seperti itu, maka sebetulnya sudah didapat jawabannya. Agar kau mampu melakukan sesuatu, maka belajarlah untuk mampu melakukan sesuatu.
Banyak cara untuk meraihnya yaitu dengan memiliki kemauan untuk belajar. Ingin pandai berenang, belajarlah pada itik. Ingin pandai terbang, belajarlah pada burung. Asal kau sanggup memilih guru yang tepat dan sanggup belajar dengan keras, tak ada sesuatu yang tak bisa kau kerjakan, termasuk melaksanakan amanat dan perintah Ki Guru Darma!" kata Ki Rangga Guna.

Ginggi menunduk lesu mendengar perkataan Ki Rangga Guna ini. Dan Ki Rangga Guna terus berkata-kata sambil berdiri membelakangi dan berpangku tangan.

"Jangan menganggap aku juga tak sedih dengan berbagai peristiwa yang terjadi di sekeliling ini. Kau lihat adikku, dia begitu jahatnya, begitu memalukannya. Dia orang putus asa. Ada rasa sakit hati terhadpa perlakuan di sekelilingnya. Dia sakit hati terhadap guru. Dia pun sakit hati terhadap situasi negara. Akhirnya frustrasi dan mengacuhkan etika hidup. Kalau kita ikut tenggelam terbawa hanyut pengaruh-pengaruh yang mengungkungi hidup, maka kita pun tak ada beda dengan yang lain. Sama tak ada guna dan sama memalukan. Padahal Ki Guru Darma sudah memberikan amanatnya yang kesemuanya harus kita junjung tinggi," kata Ki Rangga Guna.

Ginggi menunduk lama sekali. Namun pada akhirnya dia mengangguk-angguk tanda mengerti akan ucapan Ki Rangga Guna.

"Mafkan kedunguanku, Paman …" kata Ginggi pada akhirnya.

"Nah, bagus bila begitu. Meminta maaf berarti akan berusaha memperbaiki sesuatu yang keliru. Aku senang mendengarnya anak muda," kata Ki Rangga Guna pada pemuda itu.

"Sekarang, apa yang harus aku lakukan dalam memenuhi amanat Ki Darma?" tanya Ginggi membenahi pakaian yang awut-awutan dan mulai duduk dengan benar.

Kembali Ki Rangga Guna menghela nafas, sesuatu yang sebetulnya Ginggi tak senang dan yang telah membuatnya tadi uring-uringan.

Dan perasaan pemuda ini sebetulnya terasa benar oleh Ki Rangga Guna.

"Setiap kau tanya itu aku mengeluh. Tapi bukan berarti aku ingin menghindar dari pertanyaan itu, anak muda," kata Ki Rangga Guna. Ginggi mengarahkan matanya ke tempat lain setelah merasa isi hatinya teraba oleh Ki Rangga Guna.

"Begitu beratnya amanat Ki Guru itu," kata Ki Rangga Guna. Dikatakannya, dulu tugas yang diberikan Ki Darma terhadapnya, juga terhadap ketiga muridnya lebih terarah dan jelas.
Semuanya harus memperhatikan nasib rakyat dari tekanan Sang Prabu Ratu Sakti. Sang Prabu Ratu Sakti ini selalu bertindak keras. Mudah menghukum siapa saja yang dianggapnya bersalah. Dan karena negara butuh biaya besar untuk mengembalikan kekuatannya seperti masa-masa silam, Sang Prabu terpaksa menarik pajak tinggi kepada rakyat. Akibatnya hidup rakyat cukup menderita. Kendati hasil ladang melimpah, hasil sungai pun tak pernah surut, tapi rakyat tak pernah kaya sebab hasil pekerjaannya banyak disedot untuk kepentingan negara. Celakanya, tak semua harta rakyat masuk ke lumbung negara dan digunakan untuk kepentingan negara. Tapi akibat kebijaksaan raja dalam menarik pajak, banyak pejabat berbuat serong, mendompleng kepada kebiasaan raja.

"Semakin jauh dari pusat kekuasaan, penyelewengan semakin tak terkontrol. Bila di wilayahwulayah yang dekat ke pusat pemerintahan, rakyat disedot untuk membantu menegakkan kembali kebesaran negara, maka di wilayah yang jauh dari pusat, rakyat disedot untuk kepentingan pejabat yang memperkaya diri sendiri," kata Ki Rangga Guna.

Bersama adik kembarnya, Ki Rangga Wisesa, tahun-tahun pertama dilepas Ki Guru Darma, langsung terjun melaksanakan amanat guru. Kedua orng itu selalu berusaha mengacaukan petugas seba. Mereka sering merebut barang-barang yang sudah dikumpulkan petugas, untuk kemudian di berikan kepada rakyat lagi. Malah kedua orang kembar itu tak segan-segan melakukan pencurian kepada harta milik pejabat yang diduga kekayaan pribadinya diambil dari kerja tak benar. Kesemuanya dikembalikan kepada rakyat.

Tapi tindakan ini terlalu kasar dan terlalu berani. Ini adalah pekerjaan yang penuh risiko, sebab bila terpergok, mereka diburu dan dikejar.

"Kami akhirnya menyesal sendiri berbuat seperti itu. Sesudah kami diketahui bahwa kami berdua murid-murid Ki Darma, Pasukan Pakuan memburu kami sebagai pemberontak dan penjahat. Ki Darma juga semakin populer di Pakuan sebagai penjahat dan perampok yang memerintahkan murid-muridnya berbuat kejahatan kepada negara," kata Ki Rangga Guna.

Menurutnya, sesudah dikejar dan diburu serta dituduh pemberontak dan penjahat, hidup keduanya menjadi tak tenang lagi, sebab akhirnya rakyat pun ikut membenci dan memusuhinya juga.

Situasi semakin menghimpit mereka. Dan di saat itulah hubungan saudara kembar menjadi pecah.

"Adikku mulai lelah dengan pekerjaannya sebab katanya tak pernah menguntungkan dirinya. Yang lebih parah dari itu, adikku menjadi benci terhadap Ki Guru. Hanya karena keinginan Ki Guru katanya yang menyebabkan hidupnya terombang-ambing dan selalu menghindar dari perburuan Pasukan Pakuan," kata Ki Rangga Guna. "Akhirnya kami bertengkar. Satu menyalahkan Ki Guru, satunya membela Ki Guru. Kataku, perintah Ki Guru tak salah. Yang salah, kitalah sebagai pelaksana, mengapa memilih siasat kasar dan terlalu berani seperti itu. Adikku marah besar padaku. Katanya, aku membela guru, wajar karena disayang. Tapi dia menyalahkan guru juga wajar karena tak diperhatikan. Akhirnya kami pilih jalan sendirisendiri," kata Ki Rangga Guna.

"Tapi benar kebijaksanaan Ki Guru," ujarnya,"Mengapa dia tak memberikan perhatian yang sama kepada saudara kembarku, karena Ki Rangga Wisesa memiliki kelemahan batin. Iri, benci dan selalu menyalahkan tindakan orang lain, merupakan sisi lain dari kelemahan adikku. Tapi sisi lainnya, kelemahan itu adalah sesuatu yang amat berbahaya. Dia punya sikap tak acuh akan penilaian orang lain terhadap dirinya. Asalkan dia senang melakukannya, kendati orang lain menganggapnya salah, maka dia lakukan seenak perutnya sendiri. Kau sudah tahu bukan, betapa selama ini dia melakukan kejahatan dan menimpakan kelakuannya padaku, sehingga akhirnya akulah yang dikejar-kejar," kata Ki Rangga Guna.

Ginggi terkesiap sendiri mendengar kalimat-kalimat akhir dari Ki Rangga Guna ini. Katanya adik kembarnya punya kelemahan yang amat membahayakan, bahwa selalu bersikap tak acuh terhadap penilaian umum. Kendati orang lain menganggapnya salah, bila dia senang melakukannya, maka dia lakukannya pula. Ini mengingatkan kepada sikap hidupnya tempo hari. Bukankah dia pun pernah berprinsip seperti itu, tak acuh terhadap penilain orang lain?
Ginggi bergidik kalau berkhayal, bagaimana kalau dia melakukan tindakan berbahaya dan merugikan orang lain hanya karena tak menggubris penilaian umum?

"Sesudah aku berpisah dengan saudara kembarku, maka segala sesuatu yang akan aku lakukan mengandalkan jalan pikiran dan gagasan sendiri saja," kata Ki Rangga Guna melanjutkan perkataannya.

Menurutnya, pemerintah Pakuan membuat kebijaksanaan menghimpun kekayaan rakyat untuk mengembalikan kejayaan negara karena negara ada dalam keadaan genting. Dulu kekayaan negara lebih dititikberatkan kepada hasil perdagangan antar bangsa melalui Pelabuhan Kalapa dan wilayah pantai-pantai lainnya. Tapi sekarang sesudah wilayah utara dikuasai Banten dan Cirebon, Pakuan sudah tak bisa melakukan hubungan dagang lagi dengan negri seberang.

"Maka aku pikir, penyebab dari kesemuanya adalah negara-negara yang telah menggempur dan merebut wilayah-wilayah penting tersebut. Merekalah yang aku anggap salah. Maka kesanalah perhatianku sekarang," kata Ki Rangga Guna lagi.

Dan karena tinggal di wilayah Pajajaran dia selalu dikejar dan diburu, maka Ki Rangga Guna segera pergi ke wilayah utara. Kerap kali dia menyusup ke wilayah musuh. Dengan mengambil risiko tinggi Ki Rangga Guna menyerang pusat-pusat pertahanan Banten dan Cirebon.

Para perwira Pajajaran adalah orang-orang tangguh dalam perkelahian. Ilmu mereka tinggitinggi. Tapi bila harus menyerbu ke utara, mereka tak sanggup. Pasukan Banten dan Cirebon di wilayah itu berhasil merebut berbagai senjata api yang dulu dikuasai teman dagang Pakuan, yaitu bangsabangsa sebrang lautan. Ada beberapa senjata api bernama meriam, dan orang Pakuan takut menghadapinya," kata Ki Rangga Guna.

"Meriam?" Ginggi bergumam, heran mendengar benda tersebut. Ki Rangga Guna menyebutnya sebagai senjata api. Tapi bagaimana rupanya dan sejauh mana kedahsyatannya, Ginggi tak bisa membayangkan. "Meriam benar-benar dahsyat. Dia terbuat dari besi baja, bermoncong serta bulat hampir sebesar batang kelapa. Kalau disulut api, moncong meriam yang sudah diisi peluru akan melontarkan peluru tersebut yang kelak berubah menjadi bola api amat besar. Para perwira Pakuan sepandai apa pun berkelahi, tidak akan sanggup mempergunakan kepandaiannya sebab keburu dihadang lontaran peluru. Peluru bola api itu terlontar ratusan bahkan ribuan depa jauhnya. Bisa kau bayangkan anak muda, sebelum para perwira dan prajurut Pakuan berhadapan dengan musuh, mereka sudah dihantam bola-bola api. Banyak yang mati atau luka-luka berat karena bola api sanggup meledak dan mengoyak-ngoyak tubuh orang yang diserang. Satu terjangan bola api sanggup membunuh puluhan bahkan ratusan penyerang. Orang Pakuan kewalahan menghadapinya, anak muda," kata Ki Rangga Guna.

Ginggi melongo dan terkadang meleletkan lidah saking herannya mendengar kisah kehebatan senjata terbuat dari gelondongan besi baja itu.

"Benda aneh itu benar-benar sakti sekaligus mengerikan dan kejam, Paman …" kata Ginggi masih diliputi keheranan.

"Tapi aku berusaha melumpuhkan senjata-senjata itu," kata Ki Rangga Guna, "Dan aku bertekad begitu. Secara diam-diam aku menyelundup ke Pelabuhan Kalapa. Aku mencoba naik ke kapal milik Pasukan Banten atau Cirebon. Aku coba jatuhkan benda jahat itu ke laut. Kalau senjata itu berada di benteng pelabuhan, maka aku coba rusakkan dengan cara lain," kata Ki Rangga Guna.

Ginggi puas mendegarnya. Seolah-olah benar musuh akan segera lemah karena sejumlah meriam dilumpuhkan Ki Rangga Guna.

"Aku berhasil melumpuhkan senjata berat itu. Tapi ternyata masih lebih banyak lagi benda yang sama dikawal dan dilindungi keamanannya. Bila aku harus merusak benda itu, maka sebelumnya aku harus melakukan perkelahian terbuka dengan fihak musuh. Dan sesudah satu dua senjata ganas itu aku lumpuhkan, mereka menjadi tahu bahwa aku mengarahkan penyerbuan untuk melumpuhkan meriam. Akibatnya, penjagaan mereka terhadap benda berbahaya itu semakin ditingkatkan, sehingga aku tak mungkin lagi mengganggunya. Sampai pada suatu saat, aku masuk ke dalam perangkap mereka. Aku dikepung untuk ditangkap hidup-hidup atau dibunuh sekalian. Beruntung aku bisa lolos dari kepungan dengan jalan menerjunkan diri ke tengah laut. Selama bertahun-tahun aku hanya bersembunyi di pulaupulau kosong jauh di seberang Pelabuhan Kalapa. Aku bahkan terputus dari dunia luar dan tak tahu perkembangan Pajajaran selanjutnya. Sampai pada suatu saat aku bisa mendarat kembali ke pulau besar ini. Aku tadinya akan berusaha mencari dua murid Ki Guru Darma yaitu Ki Banaspati dan Ki Bagus Seta yang tak pernah aku kenali baik wajah atau pun pekerjaanya.
Baru hari ini saja melalui kau aku bisa tahu Ki Banaspati. Selama ini terpaksa aku harus main sembunyi karena aku tetap dikejar dan diburu, apalagi ketika aku diributkan tukang perkosa gadis," kata Ki Rangga Guna setengah mengeluh.

Ginggi menarik nafas berat mendengar kisah Ki Rangga Guna. Pantas saja dia marah besar ketika Ginggi merasa kecewa terhadapnya, sebab menurut hematnya, Ki Rangga Guna sudah benar-benar melaksanakan tugas yang dibebankan Ki Darma dengan berat dan penuh penderitaan.

"Maafkan aku kalau begitu, Paman …" kata Ginggi menunduk malu. "Sudahlah, sebab hanya karena kita menyadari berbuat salahlah kita jadi tahu mana yang benar," kata Ki Rangga Guna sambil mengajak pemuda itu meninggalkan perbukitan kapur.

Kedua orang itu turun berkelok-kelok menuruni bukit. Sebelumnya Ki Rangga Guna lama menatap ke arah bongkahan-bongkahan batu kapur yang menimbun menutup lubang gua.

"Kasihan saudara kembarku … SemogaHyang mengampuni dosamu," gumam Ki Rangga Guna. Dia mengucapkan doa sebelum benar-benar pergi meninggalkan tempat itu.

"Aku akan kembali ke Puncak Cakrabuana untuk melihat nasib Ki Darma. Engkau akan ke mana, Paman?" kata Ginggi ketika sudah sampai di sebuah dataran rendah.

"Engkau jangan mudah digoncang kesedihan anak muda. Kesedihan berlebihan hanya akan membuat tumpul pikiran saja," kata Ki Rangga Guna.

"Tapi aku selalu ingat Ki Darma, aku khawatir akan nasibnya," kata Ginggi.

"Aku muridnya, aku juga sama khawatir akan nasib Ki Guru. Tapi bila kita pulang ke Cakrabuana, hanya akan mengulur-ngulur perintah guru saja, dan dia akan marah sekali," kata Ki Rangga Guna. "Peristiwa penyerbuan ke Puncak Cakrabuana bila benar dilakukan, itu terjadi hampir lima bulan lalu. Kita tak akan bisa mengubah atau mempengaruhi kejadian yang sudah berlangsung. Bila Ki Guru tewas dalam penyerbuan itu, kita tak bisa menolongnya. Ki Guru orang yang tak senang diperhatikan secara berlebih. Mati untuk sesuatu kepentingan yang lebih besar, buatnya bukan soal. Itulah sebabnya Ki Guru memaksamu meninggalkan puncak. Ki Guru merasa lebih penting menyuruhmu pergi bergabung dengan kami ketimbang menahanmu tinggal di puncak hanya sekadar membantunya menyelamatkan diri dari serbuan musuh. Engkau harus selamat sebab diharapkan bisa melanjutkan perjuangannya, anak muda," kata Ki Rangga Guna menyeka keringat yang membasahi seluruh wajahnya.

Ginggi menunduk dan mengatupkan kedua matanya. Hatinya pedih sekali bila ternyata benar Ki Darma tewas dalam peristiwa penyerbuan ke puncak.

"Aku berdosa … aku berdosa …" keluhnya, sebab setiap kali teringat kematian Ki Darma, selalu juga terbayang perbuatan mesumnya dengan Nyi Santimi. Peristiwa mesum itu mungkin hampir bersamaan waktunya dengan hari-hari penyerbuan orang-orang Pakuan atau juga orang-orang Cirebon ke Puncak Cakrabuana.

"Sudahlah!" teriak Ki Rangga Guna kesal melihat kecengengan Ginggi. "Ki Guru menyuruhmu turun untuk menemui kami dan minta petunjuk perihal tugas-tugas selanjutnya. Sekarang kau sudah bisa bertemu denganku. Mari kita atur dan bagi tugas dalam melaksanakan perintah Ki Guru," lanjutnya.

Ginggi segera menepis pikiran-pikiran sedihnya. Dia mengangguk keras berdiri menghadap ke arah Ki Rangga Guna.

"Aku siap menerima perintahmu, Paman!" katanya.

"Bagus!" kata Ki Rangga Guna gembira. Dan lelaki setengah baya itu mulai mengatur-atur tugas. "Engkau harus melanjutkan perjalanan menuju Pakuan," kata Ki Rangga Guna. "Dan aku akan menuju Sagaraherang," lanjutnya lagi.

Ki Rangga Guna mengatakan, ke Pakuan amat penting, sebab harus meneliti pusat perkembangan pemerintahan ini.

"Aku akan sulit menembus Pakuan, sebab semua perwira kerajaan sudah diperintahkan menangkapku hidup atau pun mati. Hanya engkau seorang murid Ki Guru Darma yang belum mereka kenal. Tapi hati-hati, di sana kau jangan sekali-kali membuka diri. Jangan sampai dirimu diketahui orang lain punya hubungan dengan Ki Guru Darma," kata Ki Rangga Guna. Ginggi mengangguk-angguk.

"Aku sendiri akan menyelidiki kegiatan Ki Banaspati. Aku juga harus tahu, apa yang sebenarnya dia lakukan. Apakah benar kegiatannya untuk kepentingan rakyat ataukah hanya sekadar memenuhi ambisi pribadinya belaka …" kata Ki Rangga Guna.

"Bagaimana cara mengetahuinya, Paman?" tanya Ginggi. Dan Ki Rangga Guna merenung dalam.

"Sulit menebak isi hati orang, sesulit mencari ujung langit," kata Ki Rangga Guna tersenyum dengan bibir terkatup rapat. "Yang berjuang ingin merebut kekuasaan dia mengusung alasan demi rakyat. Begitu pun yang tengah berkuasa, dia memimpin negara demi rakyat. Sang Prabu Sakti bersikap keras terhadap rakyat tetap dengan alasan demi rakyat jua. Dia inginkan rakyat yang taat kepada raja. Mentaati keinginan raja berarti mentaati keinginan negara. Bila semua rakyat setia terhadap negara, maka negara itu akan menjadi besar dan kuat. Kebesaran sebuah negara dan kekuatan sebuah negara akhirnya akan sanggup melindungi kepentingan rakyat. Jadi semuanya akan terpulang kepada rakyat jua…" kata Ki Rangga Guna.

"Bila begitu pentingkah ada pemberontakan?" tanya Ginggi.

"Aku tidak bicara soal pemberontakan, anak muda. Tidak juga Ki Guru Darma. Ki Darma pergi dari istana karena dia tak setuju dengan kebijakan Raja. Ki Darma menganggap Raja keliru dalam memimpin. Tapi tidak berarti Ki Darma menginginkan ada pergantian raja.Hyang sudah mengatur segalanya, termasuk memilih seorang raja untuk memimpin negara. KalauHyang sudah memilih begitu, ada bahaya apa pun mengancam raja tapi karena sudah dipilihnya, raja akan tetap selamat. HanyaHyang yang tahu, saat kapan raja akan turun tahta dan bagaimana caranya raja akan tergantikan dengan yang baru," kata Ki Rangga Guna lagi. "Oleh sebab itu Ki Guru Darma tak bicara tentang pemberontakan. Dia tak pernah melawan raja dan negara. Setiap titah raja dia laksanakan dengan sebaiknya, negara pun selalu dia bela dengan taruhan nyawa. Tapi Ki Guru Darma tahu, raja sedang sakit. Dan orang sakit bukan untuk dienyahkan tapi harus diobati. Itulah sebabnya Ki Guru Darma selalu melontarkan kritik. Yang namanya obat memang tidak enak, tapi menyehatkan. Seharusnya kritik itu diibaratkan air bersih untuk mandi di saat kita sedang dekil. Kritik itu harus diibaratkan kita sedang lapar diberi nasi. Kritik sebenarnya ibaratgalah cedek tinugelan teka (galah sodok dipotong runcing). Galah sodok adalah semacam seligi atau bambu runcing.
Makin pendek makin baik, karena kemungkinan patah makin berkurang. Artinya, kritik dapat memperkokoh, mempertajam kemandirian seseorang. Begitu orang tua zaman Pajajaran dulu berbicara tentang pentingnya kritik. Tapi, ya barangkali orang zaman sekarang tak gemar menelan kritik, atau bisa juga karena orang zaman sekarang tak luwes melontarkan kritik sehingga datangnya amat menyakitkan. Kritik Ki Guru Darma, daripada diterima, malah orang yang melontarkan kritik itu sendiri dianggap melawan raja dan dianggap pemberontak," kata Ki Rangga Guna menghela nafas.

Ginggi juga ikut menghela nafas dalam-dalam. Dia prihatin oleh nasib buruk yang menimpa Ki Darma. Menurutnya, Ki Darma orang yang begitu cinta terhadap negara dan pengabdi setia terhadap Raja. Namun rasa cinta dan pengabdian Ki Darma kurang diterima dengan baik oleh pemerintah.

Berbagi Tugas

Ginggi dan Ki Rangga Guna akhirnya membagi tugas. Ginggi harus pergi menuju Pakuan sebab akan banyak yang harus diselidiki di sana. Sedangkan Ki Rangga Guna akan menyelidiki tindak-tanduk Ki Banaspati di Sagaraherang.

"Untuk sementara, lupakanlah nasib Ki Guru Darma. Kita harus berdoa untuk keselamatannya. Tapi bila Ki Guru ternyata sudah tiada, kita pun harus berdoa agar dirinya diterima di sisiNya," kata Ki Rangga Guna.

Ginggi mengangguk, kendati dia tak tahu bagaimana caranya melakukan doa.

Ketika disampaikannya bahwa dia tak bisa berdoa dengan cara apa pun, Ki Rangga Guna hanya tersenyum pahit.

"Dahulu Ki Guru Darma seorang pengikut agama lama yang setia. Tapi hidupnya goncang dengan kehadiran agama baru, yang oleh fihak-fihak tertentu kehadiran agama baru tersebut dilibatkan dalam urusan politik. Entahlah, mengapa akhirnya dia tak memberi pengajaran agama padamu, anak muda," kata Ki Rangga Guna.

"Perlu benarkah seseorang memeluk sebuah agama?" tanya Ginggi.

"Manusia itu mahkluk lemah. Kalau dia merasa sombong hanya karena dirinya lebih pandai dari makhluk lainnya, sebetulnya masih ada yang jauh lebih pintar darinya. Manusia hanya bisa membunuh sesamanya dan tak mampu berbuat kebalikannya, yaitu menghidupkan yang mati. Manusia hanya pandai merusak alam tapi tak sanggup menciptakan alam. Padahal alam terbentuk karena ada yang mencipta. Manusia bisa hidup pun karena ada yang menghidupkan. Dan manusia harus sadar, di atas dirinya ada sesuatu kekuatan yang menguasai hidupnya.
Dialah yang harus kita sembah. Agama yang ada di dunia selain menyuruh kita berbuat kebajikan terhadap alam dan seisinya, juga harus berbuat hormat kepada Sang Pencipta. Itulah pentingnya kita beragama, anak muda!" kata Ki Rangga Guna menerangkan panjang lebar.

"Agama apa yang terbaik buatku?" tanya Ginggi penasaran. Kembali Ki Rangga Guna tersenyum pahit. Namun kemudian dia menoleh dan memandang pemuda itu.

"Barangkali tidak keliru Ki Guru Darma tidak memberikan ajaran agama padamu," ujar Ki Rangga Guna.

"Bila Ki Guru mengajarkan agama padamu, berarti dia akan mengajari agama yang diyakininya. Artinya, Ki Guru memaksakan kehendak agar kau memilih keyakinan yang telah diyakininya selama ini. Barangkali Ki Guru Darma tidak mau begitu. Dia akan membiarkan kau melakukan pencarian terhadap satu keyakinan. Tidak diberi oleh orang lain, tidak pula dipaksa oleh kehendak orang lain. Kalau pun sekarang kau membutuhkan agama, tentu Ki Guru Darma hanya mengharapkan agama yang kau dapatkan adalah agama yang benar-benar kau yakini sendiri kebenarannya. Barusan kau tanya padaku, agama apa yang kau anggap baik buatmu. Jawabannya bukan harus keluar dari mulut orang lain, namun dari keyakinan hatimu sendiri. Sekarang ada banyak agama terdapat di bumi Pajajaran ini. Alangkah bijaksananya bila semua orang memberi kebebasan kepada semua orang dalam memilih keyakinan beragama seperti yang diucapkan Sang Prabu Sri Baduga Maharaja semasa memimpin Pajajaran mencapai puncak keemasannya," kata Ki Rangga Guna.

Ginggi menatap tajam Ki Rangga Guna.

"Sri Baduga Maharaja dulu tetap setia dengan keyakinan lama. Sebab menurutnya, tidak mudah orang berpindah agama dan keyakinan. Namun kendati begitu, beliau tak memaksakan kehendak agar semua rakyat ikut-ikutan bertahan dengan keyakinan yang dimiliki Raja.

Sri Baduga Maharaja tidak melarang rakyat memilih agama. Yang beliau tidak suka adalah orang yang suka memilih-milih agama. Dari agama yang satu ke agama yang lain, begitu seterusnya. Dan semua Raja Pajajaran, dari mulai Sri Baduga Maharaja, sampai yang tengah memerintah sekarang, tetap setia terhadap kebijakan kebebasan berkeyakinan. Kendati negara berpegang kepada keyakinan lama, tapi Raja memberikan kemerdekaan kepada seluruh rakyatnya untuk memilih keyakinannya masing-masing," kata Ki Rangga Guna. "Aku hingga kini setia kepada keyakinan lama tanpa ada orang yang memaksanya. Sekarang, aku pun tak berkehendak memaksakan keyakinanku pada orang lain. Aku bersyukur kau merasa perlunya kehadiran agama di hatimu. Soal keyakinan apa yang akan engkau pegang, jangan minta pendapat orang lain, tapi carilah olehmu sendiri. Pilihlah sebuah agama yang kau yakini bisa membawa keselamatan bagi dirimu sendiri tapi sambil tidak merugikan keyakinan orang lain. Pilihlah sebuah agama yang membawa kebenaran pada dirimu sendiri tapi sambil tidak menjelek-jelekan keberadaan keyakinan agama lain. Kau harus bisa memilih agama yang secara sempurna bisa menjaga martabatmu, dan bisa menyelamatkan dirimu baik di dunia mau pun keselamatan kelak di alam lain. Jangan tergesa-gesa memilihnya tapi juga jangan berlarut-larut mengulur waktu," kata Ki Rangga Guna lagi dengan panjang lebar.

"Aku tidak akan mengajarkan agama yang aku anut. Tapi sedikit kepandaian yang bersifat lahiriah, akan aku berikan seluruhnya padamu," kata Ki Rangga Guna.

"Maksud Paman, aku akan kau ajari ilmu berkelahi?’ tanya Ginggi. Ki Rangga Guna menganggukkan kepalanya.

"Aku … sebetulnya tak gemar berkelahi, Paman," kata Ginggi menundukkan kepala.

"Menguasai ilmu berkelahi bukan maksudnya harus gemar berkelahi. Bahkan aku sebetulnya benci kepada orang yang senang memamerkan kepandaiannya," tukas Ki Rangga Guna. "Ilmu berkelahi hanyalah sebagai alat perlindungan. Seperti sebuah topi, kau pakai bila hari panas atau hujan. Atau seperti sejumput makanan bila kau lapar," kata Ki Rangga Guna.

"Tapi ilmu berkelahi kebanyakan menampilkan gerakan yang tujuannya untuk membunuh saja, Paman," tukas Ginggi. Ki Rangga Guna tersenyum."Semuanya terpulang kepada kita sebagai pemakainya, anak muda. Bila kau punya pisau, apakah akan dipergunakan untuk mengupas buah-buahan ataukah akan kau pergunakan untuk melukai dan membunuh orang? Ada orang yang tega membunuh sesamanya dengan sebuahbeliung (kapak), padahal benda itu dibuat untuk mengambil kayu bakar di hutan. Seekor ular memiliki bisa yang amat mematikan. Tapi tidak setiap hari dia membunuh. Kalau dia tak diganggu, tak pernah ular mengganggu. Bahkan kadang-kadang, ular hanya pergi meloloskan diri setiap diganggu, kendati kalau mau, ular bisa menyerang dan membunuh," kata Ki Rangga Guna. Ginggi merenung mendengar penjelasan ini. Namun akhirnya dia mengangguk-angguk penuh pengertian.

"Baiklah, aku terima pemberianmu, Paman …" kata Ginggi akhirnya. Ki Rangga Guna terkekeh-kekeh mendengar ucapan Ginggi sehingga membuat pemuda itu heran sendiri.

"Mengapa Paman tertawa mendengar kesanggupanku?" tanyanya. Kembali Ki Rangga Guna tertawa, bahkan sedikit terbahak-bahak, membuat pemuda itu semakin tak mengerti.

"Kau ini orang jujur, sekaligus juga kurang ajar!" kata Ki Rangga Guna."Orang lain menyembah-nyembah minta aku menjadi gurunya, di sini, malah kau jual mahal sehingga kau yang mengajukan syarat apakah boleh atau tidaknya aku melatihmu!" kata Ki Rangga Guna lagi.

Ginggi tersipu-sipu mendengarnya. Benar sekali, aku kurang ajar, katanya dalam hatinya.

Dan sambil melakukan perjalanan bersama, Ginggi mendapatan tambahan ilmu yang sangat berarti.

Ginggi kini mulai sadar akan kekeliruan dirinya. Hanya karena dia tak gemar berkelahi maka dia menolak latihan-latihan keras seperti apa perintah Ki Darma. Kalau Ki Darma turun gunung, Ginggi sering bohong seolah-olah berlatih dengan keras selama Ki Darma tidak ada. Sekarang ulah bohongnya terbukti hanya merugikan dirinya sendiri saja. Ketika melawan Ki Rangga Wisesa hampir-hampir saja nyawanya melayang. Kepandaiannya tak berarti apa-apa dalam menghadapi ilmu-ilmu Ki Rangga Wisesa yang ganas dan aneh itu. Dan kepandaiannya semakin tak berarti saja bila dibandingkan dengan Ki Rangga Guna. Menghadapi Ki Rangga Guna, ternyata Ki Rangga Wisesa bukan tandingannya. Walau pun ketika itu Ki Rangga Guna tidak membalas serangan saudara kembarnya, tapi nampak nyata Ki Rangga Wisesa kewalahan dan putus asa karena setiap usahanya dalam menyerang Ki Rangga Guna, tak pernah berhasil.

Bila begitu, ternyata murid-murid Ki Darma rata-rata berkepandaian amat tinggi.

"Semua sebetulnya diberi sama, kecuali beberapa yang beda. Itu karena disesuaikan dengan sifat dan jiwa masing-masing murid. Saudara kembarku merasa iri sebab ada satu-dua jurus yang Ki Guru berikan padaku tidak diberikan padanya. Ada ilmu-ilmu ganas dari Ki Guru hanya diberikan padaku, itu karena Ki Guru kenal betul sifatku. Kata Guru, ilmu ganas jangan diberikan kepada orang yang memiliki jiwa pemarah. Adikku tak diberi sebab dia memang kurang pandai mengendalikan perasaan jiwanya. Mungkin aku yang dianggap cocok menerima ilmu-ilmu yang sebetulnya amat berbahaya itu. Aku pun sudah lihat gerakanmu.
Kau dipercaya memegang ilmu ganas sebab barangkali Ki Guru percaya kau bisa membawanya," kata Ki Rangga Guna. "Tapi aku tak sepandai kau, Paman…" potong Ginggi.

"Tak ada murid yang diberi satu ilmu bisa memilikinya dengan kesempurnaan yang sama satu sama lainnya. Itu semua terpulang kepada kepandaian si murid itu sendiri. Kau kan pernah bilang, tak begitu kerasan dengan segala macam ilmu kekerasan. Jiwamu sudah menolaknya dari dalam. Tentu mempengaruhi kesempurnaan. Sebaliknya aku begitu mengharapkan memiliki ilmu-ilmu tinggi, sebab aku terkenang masa silam di Talaga. Kalau orang tuaku memiliki ilmu bela diri, tak nanti dia tewas dalam penyerbuan tentara Cirebon. Orang yang memiliki kepandaian sedikitnya bisa melawan sebelum kalah. Aku selalu bersemangat dalam latihan. Ketika berpisah dengan Ki Guru, aku tetap mencari dan menambah ilmu. Orangorang lain di negri sebrang lautan, seperti dari Negri Tulangbawang, Palembang, Malangkebo (Minangkabau) atau Parayaman(Pariaman), atau bahkan orang Cina, Campa, Keling, Parasi, dan Siem, semuanya memiliki ilmu kepandaian dengan ciri kekuatan masing-masing yang berbeda. Aku banyak berhubungan dengan mereka dan saling tukar-menukar ilmu. Ilmu-ilmu gabungan itu, aku gabungkan dan aku latih bertahun-tahun, keras dan penuh godaan. Namun hasilnya membanggakan. Puluhan mungkin ratusan kali aku dihadang dan menyerbu musuh, sampai saat ini aku masih diberi usia panjang. Itu di antaranya karena ilmu berkelahi yang aku miliki," kata Ki Rangga Guna.

Karena selama di perjalanan harus berlatih, akibatnya sebelum melaksanakan tugas masingmasing, maka dua atau tiga bulan mereka habiskan waktu untuk urusan latih-melatih.

Dan sampai pada suatu saat, mereka harus berpisah karena sama-sama teringat kembali kepada tugas yang harus mereka kerjakan.

"Kita sebenarnya telah kembali ke selatan, padahal Pakuan letaknya di sebelah barat, agak ke utara," kata Ki Rangga Guna ketika memberi tahu arah mana jalan yang harus ditempuh untuk menuju Pakuan.

"Untuk kembali ke arah jalan pedati, seharusnya kau mesti kembali ke utara, yaitu memasuki lagi wilayah Tanjungpura. Itu perjalanan amat jauh. ada jalan terdekat menuju Warunggede," kata Ki Rangga Guna.

"Warunggede?"

"Warunggede juga merupakan wilayah yang dipimpin oleh seorang Kandagalante. Mengapa harus menuju ke sana, sebab jalan pedati melewati wilayah tersebut."

Kata Ki Rangga Guna, dari Talaga di arah timur sampai Pakuan jauh di barat sebetulnya dihubungkan oleh sebuah jalan utama dan bisa dilalui kereta atau roda pedati, melalui Wado, Sumedanglarang, Sagaraherang, Purwakarta, Cikao, Karawang, Tanjungpura, Warunggede, Cibarusa, Cileungsi dan berakhir di Pakuan. Dari Kerajaan Talaga jalan pedati berlanjut ke selatan, yaitu menuju Kawali dan berakhir di pusat Kerajaan Pajajaran Lama yaitu Galuh.
Kata Ki Rangga Guna. "Bila kau sudah tiba di Warunggede, kau bisa menuju Pakuan menyusuri jalan pedati yang enak dilalui. Tapi di beberapa wilayah harus berhati-hati. Antara Karawang-Tanjungpura-Warunggede, jalan pedati bersinggungan dengan wilayah utara yang sudah dikuasai Pasukan Cirebon. Asalkan engkau tidak terlalu banyak bicara soal Pakuan, tidak terjadi bentrokan dengan pasukan musuh," ungkap Ki Rangga Guna. Ginggi mengangguk-angguk tanda mengerti. "Nah, sudah kubekali kau berbagai pengetahuan. Sekarang tiba saatnya kita melaksanakan tugas masing-masing," kata Ki Rangga Guna.

"Kita akan segera berpisah, Paman?" tanya Ginggi. Ki Rangga Guna hanya mengangguk kecil.

"Kalau ada umur ada jodoh, kita pasti bertemu lagi. Tapi kalauHyang tak mempertemukan kita lagi, tak perlu disesalkan benar. Kita sebelumnya pun tak pernah kenal dan tak pernah bertemu, bukan?" kata Ki Rangga Guna. Ginggi hanya menghela nafas mendengar ucapan Ki Rangga Guna ini.

"Baiklah kita berpisah di sini, Paman. Semoga nasib kita baik dan di suatu waktu kita bisa bertemu lagi," kata Ginggi mengeraskan perasaan. Dia harus belajar berani melakukan sesuatu. Di antaranya harus berani melakukan perpisahan. Beberapa kali terjadi, pemuda itu susah menepis perpisahan. Berpisah dengan Ki Darma, berpisah dengan Nyi Santimi, berpisah dengan gadis anak pemilik warung di Tanjungpura, dan kini berpisah dengan Ki Rangga Guna.

Semua terasa berat bila Ginggi tak berani mengeraskan hati dan perasaan. Pemuda itu berdiri mematung ketika Ki Rangga Guna duluan meninggalkannya.
Matahari sudah condong ke barat. Dan karena Ki Rangga Guna berjalan menuju timur, maka punggungnya tersorot sinar lembayung. Bayangan tubuhnya jatuh menimpa tanah di hadapannya dan langkah Ki Rangga Guna seperti bermain dengan bayangannya sendiri.

Sampai hilang di kelokan jalan setapak, sampai keadan benar-benar sepi, baru kemudian pemuda itu berani melangkah. Pelan tak bergairah.

Menuju Kota Pakuan

Untuk kembali ke jalan pedati, Ginggi tak perlu kembali ke utara menuju Tanjungpura, tapi memotong jalan agak ke barat, untuk kemudian belok ke kanan agak ke utara lagi. Benar seperti apa kata Ki Rangga Guna, jalan memotong menuju Warunggede tidak begitu jauh tapi harus lewat jalan setapak membelah hutan jati. Sehari penuh dia menerobos hutan tanpa bertemu manusia seorang jua pun. Ginggi di tengah perjalanan hanya bertemu binatang hutan yang tak begitu membahayakan.

Sampai tiba di wilayah Kandagalante Warunggede, pemuda itu tidak mendapatkan rintangan berarti. Begitu pun ketika perjalanan dilanjutkan menyusuri jalan pedati ke arah barat. Ginggi sering bertemu lewat dengan para pejalan kaki, atau pun rombongan pedati dengan isi penuh hasil bumi, tapi satu sama lain tidak saling mengganggu. Ginggi harus menyebrangi sebuah sungai yang amat lebar tapi berair tenang, jauh sebelum tiba di Kandagalante Warunggede, kata seorang kakek pemilik rakit penyebrangan, sungai besar itu bernama Citarum.

Ginggi teringat ucapan Ki Rangga Guna, bahwa Pakuan mutlak hanya berkuasa di batas sungai ini sampai ke barat. Namun kendati begitu, wilayah utara tetap dikuasai pasukan Banten atau Cirebon. Dengan kata lain, kekuasaan mutlak yang dipegang Pakuan sebenarnya wilayah tengah dan selatan mulai batas Sungai Citarum ke arah barat. Wilayah-wilayah yang ada di sebelah timur Citarum merupakan wilayah-wilayah "transisi" karena pertentangan politik dengan Cirebon. Beberapa wilayah timur ada beberapa yang bertahan dan setia kepada Pakuan tapi kebanyakan sudah mulai bimbang. Dan semakin jauh menuju timur, semakin jauh dari pusat pemerintahan, rasa setia terhadap Pakuan pun semakin menipis. Beberapa kerajaan kecil yang dulu ada di bawah kekuasaan Pakuan seperti Sumedanglarang, Sindangkasih, Talaga, atau bahkan Cirebon Girang, semenjak masuk pengaruh Cirebon, praktis berkiblat ke Cirebon, kendati secara militer, negara-negara tersebut tak pernah memusuhi Pakuan dan apalagi membantu Cirebon ikut menyerbu ke barat. Hal ini bisa terjadi barangkali karena apa pun yang terjadi, Pakuan beserta Pajajaran masih tetap disegani. Bahwa dulu puluhan atau ratusan silam Pakuan Pajajaran berupa sebuah negara besar dengan segala macam kewibawaannya, sampai hari itu pun masih dihormati para penghuni negara-negara kecil itu. Apalagi bila diingatkan dengan hubungan silsilah, bahwa yang menjadi pucuk pimpinan di negara-negara kecil itu hampir semua punya pertalian kerabat dengan raja-raja Pajajaran.
Kalaupun seolah-olah terjadai "putus" hubungan, semuanya terjadi karena politik juga.

Cirebon yang dibantu kerajaan besar di wilayah timur bernama Demak melebarkan sayap kekuasaan dengan cara menyebarkan keyakinan baru. Cirebon yang kuat karena bantuan Demak lebih leluasa menyebarkan pengaruh ke pusat kerajaan kecil di wilayah timur, sebab mereka lebih dekat. Sebaliknya pengaruh Pakuan terasa lebih kecil karena letaknya yang jauh di barat. Maka bagi negara-negara kecil di timur, siapa yang lebih kuat memberikan pengaruh, dialah yang akan berkuasa.

Tentu saja ini kerugian buat Pakuan. Kalau ingin mengembalikan kebesaran Pajajaran seperti masa-masa lalu, maka raja yang sekarang harus berupaya "mengambil" lagi semua negara kecil di timur yang ratusan atau puluhan tahun lalu masih berada di bawah pengaruhnya.

Oleh sebab itu Ginggi di lain fihak merasa kagum terhadap peranan Ki Banaspati. Entah secara bagaimana awalnya, yang jelas orang ini telah menjadi kepercayaan darimuhara (pejabat penarik pajak negara) untuk menjangkau pajak-pajak di wilayah timur Sungai Citarum. Mencoba mengumpulkan seba dari wilayah timur artinya harus berupaya mengembalikan pengaruh Pajajaran ke negri-negri kecil yang kini sudah berada di bawah pengaruh Cirebon. Kalau Ki Banaspati mampu melakukannya, maka orang ini benar-benar hebat. Dia akan menjadi orang yang benar-benar dihargai dan diperlukan di Pakuan.
Diperlukan di Pakuan? Kalau benar demikian, tepatkah kini dia menghimpun kekuatan untuk merebut kekuasaan di Pakuan? Apakah memang begitu seharusnya, orang yang diperlukan Pakuan harus menjadi pengendali utama di Pakuan itu sendiri?

Ginggi teringat kembali ucapan Ki Darma yang disampaikan melalui Ki Rangga Guna. Bahwa Ki Darma memang tak puas dengan cara Raja sekarang memerintah. Tapi Ki Darma tak pernah bermaksud mengenyahkan Raja dengan menggantinya. Yang Ki Darma katakan, Raja sedang sakit dengan berbuat keliru. Orang sakit harus diobati dan bukan dienyahkan.

Dengan lebih jelasnya harus disebutkan, bahwa Ki Darma sebetulnya tidak memerintahkan para muridnya untuk melakukan pemberontakan dan apalagi merebut kekuasaan. Sedangkan Ki Banaspati diketahui Ginggi tengah berupaya menyusun kekuatan militer yang kelak akan digunakan menyerang Pakuan. Tidakkah ini berlebihan dan melenceng dari keinginan Ki Darma?

Beruntung sekali Ginggi bertemu dengan salah seorang murid Ki Darma dan yang kebetulan tidak mengecewakan dirinya. Melihat sikap dan pendirian Ki Rangga Guna, Ginggi yakin, jalan pikiran orang itu masih wajar dan berjalan tepat di atas perintah Ki Darma.

Sekarang Ginggi tidak sendirian dalam mengemban perintah gurunya. Dan masih ada satu harapan lagi. Satu orang lagi murid Ki Darma belum diketemukan. Ginggi berharap, murid kedua Ki Darma ini masih hidup dan tetap ingat amanat gurunya. Bila benar demikian, perasaan pemuda itu semakin lega.

Sekarang, walau pun kembali sunyi karena harus berjalan sendirian lagi, tapi dada pemuda itu terasa lapang. Dia memang harus menuju barat. Banyak tugas yang harus diselesaikannya di sana. Pertama ingin menyelidiki sejauh mana peranan Ki Banaspati di Pakuan. Kedua, Ginggi harus melacak Suji Angkara yang misterius dan yang dipastikan juga menuju Pakuan, bahkan mungkin sudah berada di sana. Ginggi harus sanggup membongkar kemisteriusan pemuda itu. Siapaa dia sebenarnya. Dan benarkah kecurigaan dirinya terhadap pemuda itu beralasan?

Ginggi bercuriga, setiap Suji Angkara memasuki satu wilayah, hampir selalu ada gadis bunuh diri karena pemerkosaan. Ki Rangga Wisesa memang melakukan hal yang sama. Tapi korbankorban yang lain, jelas perbuatan orang lain di luar Ki Rangga Wisesa. Dan Ginggi mencurigai Suji Angkara. Bila tudingan ini tidak benar, Ginggi akan merasa berdosa. Tapi bila ternyata benar, maka Ginggi akan mengeraskan tekad untuk membuat perhitungan. Dan ingat akan masalah ini, Ginggi menjadi bimbang.

Ginggi amat heran bila harus memikirkan Suji Angkara bisa melakukan tindakan tercela macam ini. Pemuda itu nampaknya kaya raya, ditampilkan melalui caranya memilih pakaian mahal dan mewah. Suji Angkara juga dikenal di Desa Cae sebagai anak seorang kuwu, gemar berniaga dengan bangsa asing dan berwajah tampan.

Kesemua bukti ini sebetulnya sudah bisa dijadikan sebagai modal untuk memikat gadis-gadis cantik. Mengapa pula pemuda pesolek itu harus melakukan tindakan kasar, memperkosa wanita? Ginggi bingung memikirkannya. Biarlah, akan aku kuak tabir ini dengan penyelidikan seksama. Kalau Suji Angkara gemar berbuat jahat, tidak ada bangkai busuk yang tak tercium kendati disembunyikan di tempat tertutup, pikirnya.
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Senja Jatuh di Pajajaran Jilid 11"

Post a Comment

close