Senja Jatuh di Pajajaran Jilid 08

Mode Malam
Jilid 08   

Sekarang pikiran pemuda itu beralih kembali kepada keberadaan Ki Banaspati. Orang ini keras kepala dan tinggi hati dan perintahnya musti selalu ditaati. Selama Ginggi tinggal di pusat pemerintahan Sagaraherang ini, dia melihat orang-orang patuh terhadap Ki Banaspati. Mereka sepertinya tak pernah punya rasa sakit hati atau sebangsanya. Yang ada bahkan sebaliknya. Banyak anak buah pasukan atau petugas jagabaya tinggal di Sagaraherang dengan suka cita. Semakin dekat hubungan orang-orang dengan Ki Banaspati atau Kandagalante Sunda Sembawa, semakin nampak orang-orang itu ceria.

Di kompleks pusat pemerintahan Kandagalante ini, hampir setiap malam ada semacam kegembiraan. Di kedai-kedai tuak, jagabaya yang tidak sedang bertugas kerjanya mencari hiburan. Kalau tak minum tuak sampai mabuk, mereka menggelar judi, atau bercanda dengan perempuan-perempuan yang berada di sana. Setiap malam, selalu saja ada tawa ceria dari kaum perempuan dengan mulut terbuka lebar, suara genit dan tindak-tanduk mengundang birahi.

Di wilayah Kandagalante Sunda Sembawa ini, sepertinya semua orang punya kesenangan yang sama. Hiburan malam yang sering ditampilkan adalah minuman tuak, judi dan main perempuan. Ki Banaspati istrinya lebih dari satu. Begitu juga Kandagalante Sunda Sembawa. Dan, kebanyakan dari orang-orang Sagaraherang ini juga memilih peranan sebagai suami yang punya istri lebih dari satu.

Orang-orang yang tinggal di pusat pemerintahan Kandagalante ini sanggup menampilkan sebagai orang yang memiliki kesenangan sempurna. Tak terjadi kejahatan di sana. Yang kalah judi, pulang ke rumah dengan tubuh gontai karena terlalu banyak tuak dan jauh dari perasaan putus asa atau dendam. Sebaliknya yang menang judi bisa bergembira dengan buih di mulut karena tuak juga. Dia pulang ke rumah sambil gontai dan bersenandung tanpa khawatir harta hasil judinya dirampas orang di tengah jalan.

Orang-orang yang tinggal di seputar pusat pemerintahan Kandagalante ini semuanya mengabdi kepada Ki Sunda Sembawa dan Ki Banaspati. Semua menjadi jagabaya atau punggawa. Bertugas hanya menjaga keamanan wilayah Sagaraherang atau mengawal perjalanan seba yang banyak dikirim dari desa-desa seputarnya.

Sagaraherang, yaitu daerah kandagalante ini memang sanggup menampilkan kehidupan rakyat yang makmur, jauh dari gambaran rakyat tertindak karena kekeliruan raja. Ini memang sungguh ajaib. Bagaimana mungkin di tengah-tengah suasana penderitaan banyak orang, masyarakat Sagaraherang bisa menampilkan sosok sejahtera?

"Ini berkat kepemimpinan Kandagalante Sunda Sembawa yang dibimbing Ki Banaspati," tutur seorang punggawa setia. Menurutnya, kendati pemimpin mereka keras wataknya, namun tahu akan keperluan orang. Baik Ki Banaspati maupun Ki Sunda Sembawa sehari-harinya melakukan kehidupan royal. Mereka selalu makan makanan enak dan senang macam-macam hiburan. Dan hal yang sama juga diberikan ke semua orang. Artinya, kalau para pemimpinnya mampu mendapatkan kegembiraan, maka para anak buahnya pun mesti bisa mendapatkannya. 

"Dari hasil mengabdi kepada kedua pemimpin ini, selain kami mendapatkan jatah hasil bumi juga kami mendapatkan penghargaan bulanan berupa uang logam," kata para jagabaya.

Belakangan Ginggi baru menyadari, bahwa benda-benda kepingan logam yang dia simpan di buntalan kain hasil pemberian Kuwu Wado adalah logam bernama uang. Benda itu bisa ditukarkan dengan barang-barang keperluan di kedai atau di pasar, dari mulai tuak hingga beras, dari mulai ikat kepala hingga baju dan terumpah. Bagaimana cara menakar dan membandingkannya, Ginggi tak tahu. Barang apa saja yang bisa ditukarkan dengan uang logam yang dimiliki Ginggi, pemuda itu pun sendiri tidak pernah tahu sebab tidak pernah menggunakannya. Selama sebulan hidup di Sagaraherang, makan dan pakaian sudah disediakan oleh Kandagalante Sunda Sembawa atas perintah Ki Banaspati. Yang pemuda itu tahu, bahwa uang logam yang dipunyainya berasal dari negri Campa, seperti apa kata pemberinya, yaitu Ki Kuwu Wado.

Barangkali inilah kiat-kiat tokoh Sagaraherang. Agar kewibawaannya tetap diakui, harus mampu memperhatikan kesenangan dan keperluan hidup para pendukungnya. Dan barangkali kiat Sang Ratu Sakti pun tak beda dengan itu. Bahwa untuk mempertahankan keberadaannya, dia harus bisa menyenangkan para pembantu dekatnya. Bahwa raja itu tidak berhasil mensejahterakan rakyat banyak, itu hanya perkara lain.

Ketika Ginggi mengobrol dengan beberapa jagabaya itulah dia mendapat kabar dai seorang jagabaya lain bahwa dirinya dipanggil Kandagalante Sunda Sembawa.

Sudah hampir dua minggu sebetulnya Ki Banaspati meninggalkan Sagaraherang. Kata orangorang terdekatnya, kerap kali Ki Banaspati memang pergi. Semua kepergiannya karena tugastugas semata sebagai utusanmuhara , yaitu menguruskan pajak-pajak. Bahkan menurut mereka, Sagaraherang ini sebenarnya hanya kampung halamannya saja, sedangkan tempatnya "berkantor" adalah Pakuan.

"Barangkali Ki Banaspati selama dua minggu ini sedang berada di Pakuan. Biasanya berselang dua tiga bulan beliau baru kembali ke Sagalaherang," kata orang-orang terdekatnya.

Katanya perlu perjalanan empat hari dari Sagaraherang ke Pakuan.

Kandagalante Sunda Sembawa nampak sudah menunggu di bale gede, duduk bersila sambil makan sirih.

Seperti biasa, Kandagalante Sunda Sembawa berpakaian rapih, mewah dan gagah bila tengah berada di bale gede. Dia memakai bendo citak kain batik dengan ornamen emas murni di depannya. Bajunya bedahan sisi dengan enam kancing logam mengkilap di sisinya. Dia juga berkain batik corakturuk ata disamping memakai celana komprang beludru hitam dengan hiasan ornamen emas pula.

"Kau masuklah Ginggi!" kata Kandagalante memerintah.

Ginggi menanggalkan terompahnya, berjalan dengan menggunakan sepasang lutut, bersila dan menyembah takzim.

"Adakah suatu keperluan yang membuat hamba dipanggil ke sini, Juragan?" tanya Ginggi sudah bisa berbasa-basi bicara halus.

Kandagalante manggut-manggut, bergembira melihat pemuda itu sudah mulai punya peradaban seperti layaknya masyarakat umum.

"Sudah kulihat penampilanmu selama ini dan membuat hatiku senang," kata Sunda Sembawa. "Hamba juga gembira mendengar Juragan selalu memperhatikan hamba,’ kata Ginggi lagi, kembali menyembah takzim.

"Memang selama ini aku perhatikan kau. Ternyata kau orang baik. Tidak pernah berbuat keributan, padahal aku dengar kau sering digoda orang. Kau juga tidak pernah memperlihatkan kepandaianmu kepada sembarangan orang, padahal menurut Ki Banaspati kepandaianmu tidak terlalu jauh di bawah Ki Banaspati. Ini hanya menandakan bahwa kau bukan orang sombong, kendati orang yang tak berani sombong bisa juga pengecut," tutur Kandagalante Sunda Sembawa sambil masih tetap mengunyah sirih.

Sejenak Ginggi menatap tajam Sunda Sembawa. Namun kemudian dia ingat bahwa tak baik menatap pejabat dengan kepala tegak dan mata tajam menyorot.

Kembali Ginggi menundukkan muka dan mata menatap lantai kayu.

"Aku katakan begitu, sebab orang yang tidak sombong kendati punya kepandaian hanya memiliki arti takut menghadapi segala macam tantangan. Kepandaian tanpa diperlihatkan dengan kesombongan juga hanya menandakan orang itu menjauhkan diri dari ambisi dan keinginan untuk maju. Padahal sekarang ini di dunia banyak tantangan hidup. Hanya yang berani memperlihatkan kepandaian dia akan dihargai dan ditakuti. Sedangkan bagi yang selalu menyembunyikannya, sepandai apa pun dia, akan tetap dicemooh dan direndahkan orang," kata Ki Sunda Sembawa lagi.

Percakapan berhenti karena ada seorang wanita beringsut menyodorkan penganan. Wanita itu berpakaian sederhana saja. Mungkin hanya sekadar petugas dapur. Namun Ginggi melihat wanita itu berparas cukup cantik. Kandagalante ini pandai memilih wanita cantik. Kendati hanya untuk pembantu di dapur, dia pilihkan berparas cantik juga, pikir Ginggi.

"Hampir sebulan kau bekerja di sini, belum ada jenis pekerjaan yang sesuai dengan kemampuanmu. Oleh jagabaya kau disuruh membelah kayu, padahal kemampuanmu lebih dari itu. Aku juga lihat kau disuruh mencuci pakaian di kali, atau mengambil air dengan pikulan, padahal kau bukan pekerja kasar," kata Sunda Sembawa.

"Hamba tak pernah memilih-milih pekerjaan, Juragan. Asal jenis pekerjaan itu bermanfaat, akan selalu hamba kerjakan," kata Ginggi.

Sunda Sembawa mengangguk-angguk.

"Bagus kalau begitu," kata Sunda Sembawa tersenyum.

"Ki Banaspati dalam dua minggu ini sedang bertugas di Pakuan. pertama dia menguruskan perkara pajak dan kedua tentang penyelidikan. Kau disuruh ke Pakuan untuk membantunya. Ini surat darinya untukmu!" Ki Sunda menyodorkan seikat daun nipah yang diisi tulisanpalawa .

Dengan hati-hati Ginggi menerima lembaran nipah yang diikat benang kapas itu. Ditatapnya lama-lama. Dan benaknya langsung teringat Ki Darma. "Kau harus belajar membaca sebab kelak kepandaian membaca akan amat diperlukan. Tapi hati-hati, jangan perlihatkan kepandaian membacamu itu. Pada suatu saat-saat tertentu, siasat kepura-puraan akan diperlukan sekali," kata Ki Darma di saat-saat melatih membaca kepada pemuda itu.

"Hamba tak pernah belajar membaca, Juragan," kata Ginggi pada akhirnya.

Sunda Sembawa segera mengambil daun nipah tersebut dan segera membacanya. Tidak keras namun bisa didengar pemuda itu.

"Ginggi, kau cari Suji Angkara di Pakuan. Kau bunuh dia!" demikian isi bacaan tersebut.

Ginggi sendiri sudah sejak tadi merasa terkejut dengan isi surat itu. Tapi baru setelah Sunda Sembawa selesai membacanya dia perlihatkan mimik terkejutnya itu.

"Mengapa hamba harus membunuh pemuda itu, Juragan?"

"Orang itu misterius. Dia mengaku anak Kuwu Suntara dari Desa Cae, tapi nampaknya terlalu dekat berhubungan dengan Pakuan. Entahlah, dengan siapa pemuda itu mengadakan hubungan. Yang jelas, kalau dia membocorkan kegiatan kita, bisa merugikan perjuangan kita semua," kata Sunda Sembawa. "Ketika Suji Angkara meninggalkan tempat ini secara diamdiam bersama empat orang pembantunya, sudah ada petugas kita yang mencari jejak pada esok harinya. Petugas kita menemukan keterangan bahwa mereka bahwa mereka tidak kembali pulang ke Cae, melainkan pergi ke arah barat. Kami khawatir, mereka melanjutkan perjalanan ke Pakuan dan melaporkan apa yang terjadi di sini," kata Sunda Sembawa.

"Begitu berbahayakah kegiatan di sini untuk Pakuan, Juragan?" tanya Ginggi mencoba meneliti sikap Sunda Sembawa.

"Hm… Ini hanya kau yang boleh tahu. Bahwa kekuatan pasukan di Sagaraherang dibelah dua. Satu bertindak seolah-olah sebagai pasukan Kandagalante Sagaraherang yang legal dan diketahui oleh fihak Pakuan. Tapi satunya lagi pasukan khusus yang melakukan tugas-tugas khusus. Tugas-tugas ini banyak macam ragamnya, termasuk di antaranya menyamar sebagai perampok dan menjarah harta pejabat atau saudagar yang mencari kekayaan tidak melalui cara-cara yang benar. Kami jarah hartanya, kami himpun untuk membangun kekuatan. Dan kelak, bila sang kekuatan telah datang, Pakuan akan kurebut dan tahta kerajaan akan kududuki. Ginggi, kau yang paling dahulu mendengarnya. Akulah kelak yang akan menjadi raja di sana! Hahaha!" Sunda Sembawa terbahak-bahak.
"Dan kedudukan Ki Banaspati di mana kelak?" tanya Ginggi dengan penuh minat. "Dialah yang paling berjasa memberi semangat padaku untuk berjuang mencari keadilan.
Maka bila perjuanganku berhasil, dia akan menjadi penasihat utamaku di Pajajaran. Hahaha!" Pemuda itu pun ikut tertawa namun dengan perasaan lain di hatinya.
Ternyata benar seperti apa kata Ki Darma tempo dulu. Pajajaran sekarang telah tercerai-berai. Kalau pun masih terdapat bentuk kesatuan, hanyalah kesatuan semu. Tidak pula yang terjadi di sini, di Sagaraherang. Siapa yang menyangka, persekutuan kuat antara Ki Banaspati dengan Ki Sunda Sembawa sebetulnya pada akhirnya hanya untuk mencoba membuka jalan masingmasing? Entahlah, siapa di sini yang paling berperan. Apakah Sunda Sembawa yang mengendalikan Ki Banaspati, atau Ki Banaspati sendiri yang memanfaatkan keberadaan Sunda Sembawa. Entahlah siapa di sini yang memanfaatkan siapa. Yang jelas, dari mulut kedua orang ini telah keluar ucapan yang sama dan kesemuanya disampaikan kepada Ginggi, bahwa masing-masing mengaku sebagai calon raja yang berjuang menggantikan penguasa yang sekarang!

Gila!

Berita Pembunuhan

Pikiran Ginggi terus berputar menerka-nerka sambil mimik wajah tetap tersenyum manis sebagaai tanda gembira melihat khayalan Sunda Sembawa. Namun tawa pemuda itu dibarengi kerutan dahi ketika dilihatnya ada lelehan air mata di pipi lelaki gagah itu.

"Aku sedih dengan peristiwa ini. Aku sedih! Aku sedih!!!" kata Sunda Sembawa menutupi wajahnya dengan kedua belah tangannya.

Sandiwarakah ini, pikir Ginggi.

"Ginggi, engkau harus tahu! Kendati tinggal jauh dari Pakuan, sebenarnya aku paling mencintai Pakuan, sebab itu adalah negri ayahandaku. Engkau pasti tahu Sang Prabu Ratu Dewata. Dialah ayahandaku. Dan aku pulalah yang seharusnya paling berhak mewarisi tahta kerajaan. Hanya karena persekongkolan jahat saja yang menyebabkan aku terlempar ke sini…" Sunda Sembawa menyumpah-nyumpah marah tapi kemudian merunduk sedih. Kulit putih di wajah bulat telur nampak pucat. Dan kesedihan ini sungguh tak sesuai dengan kumis hitam tebal yang ada di bawah hidungnya yang mancung itu.

Ki Sunda Sembawa menerawang ke arah beranda. Menatap senja yang tengah menarik matahari menyuruk bumi. Langit merah dibayangi rimbunan pohon nun jauh di sana. Ada ribuan kalong melintas di atasnya, mencari makan entah kemana.

"Aku ini dibiarkan seperti kalong-kalong itu. Mau pergi, mau tinggal, terserah kamu. Begitu mungkin mereka padaku. Mereka tak sengaja membuangku. Tapi membiarkan aku terbuang. Tapi memang itulah hukuman bagi orang yang tak mempunyai ambisi dan kesombongan. Kau dengar itu Ginggi!" kata Sunda Sembawa berpaling menatap wajah yang bersimpuh di depannya.

"Kata orang, anak dari istri tertua Sang Prabu Ratu Dewata ini mewarisi tabiat ayahandanya. Suka menyepi di kuil bersama para wiku dan bersahabat dengan dupa dan kemenyan. Katanya aku sungguh tepat untuk bertindak sebagaipurohita , pendeta tertinggi di keraton. Tapi kata mereka juga, negara sedang ada dalam bahaya peperangan. Baik peperangan melawan musuh dari luar, mau pun musuh dari dalam negri sendiri. Dan mereka berkilah, di saat situasi seperti itu, bukan purohita yang sanggup mengembalikan kejayaan negara, melainkan seorang pemimpin berhati besi bercita-cita baja. Dan kilah mereka, Sang Ratu Sakti amat memenuhi syarat mengemban itu semua. Ya, dia adikku lain ibu. Sejak masih remaja dia laki-laki romantis, menyenangi keindahan dan kemolekan wanita. Akan tetapi dia juga keras dan ambisius. Dan memang dia berhasil tampil di saat yang tepat. Hanya orang yang ambisius, keras dan banyak omong yang akan dipilih dalam suasana genting. Orang yang tak pernah menampilkan kepandaian akan tersisih. Itulah aku. Itulah kebodohanku masa lalu. Hanya karena aku tak mau disebut sombong, hanya karena aku menghargai sikap ayahanda yang senang menyepi dan membaca kitab serta mendalami filsafat, maka aku pun menyesuaikan diri. Tapi tentu, bukan berarti aku tak bisa memimpin negara. Bukan berarti aku tak bisa melawan musuh dengan keras dan gagah. Ya, itulah kesalahanku masa lalu. Aku tak suka penonjolan dan kesombongan diri. Sayangnya, sikap-sikapku dianggap tak memiliki kekuatan. Sekarang malah terbukti, bahwa memilih orang keras seperti Ratu Sakti hanya akan membuat kekeliruan saja. Negara semakin kacau. Pemberontakan terjadi di sana-sini hanya karena tak senang dengan cara kerja ratu sekarang. Amat beruntung, bahwa Pangeran Fadillah dari Cirebon dan Sultan Hasanudin dari Banten perhatiannya sedang tertumpu melawan Pasuruan dan Panarukan. Kalau tak begitu nasib Pakuan benar-benar di ujung tanduk. Pakuan tak akan memiliki kekuatan berarti bila terjadi penyerbuan total dari Banten dan Cirebon," kata Sunda Sembawa.

Lelaki gagah ini kemudian berdiri dari duduknya. Melangkah mendekati beranda dan mematung di sana sambil menggandong tangan di belakang.

"Beruntung aku punya pembantu yang bisa diandalkan. Ki Banaspati orang yang pandai mencari celah-celah keuntungan. Ilmunya tinggi dan gagasan-gagasannya banyak. Tetapi yang lebih beruntung dari itu, dia sanggup memilah-milah, di mana keadilan harus ditempatkan. Bayangkan Ginggi, sekarang Ki Banaspati menjadi pembantumuhara urusan pajak yang dipimpin Bangsawan Soka. Kalau dia penjilat, seharusnya dia mendekati Bangsawan Soka yang begitu berkuasa mengatur kekayaan negara. Tetapi Ki Banaspati lebih menitikberatkan memperjuangkan keadilan ketimbang kekayaan dan kemuliaan. Kalau tak begitu, tak nanti dia mau mendukungku. Cobalah, aku yang terbuang hanya sebagai Kandagalante Sagaraherang, tapi dia hargai, dia bangkitkan semangatku. Dia kobarkan citacitaku. Dialah yang memberi dorongan agar aku menghimpun kekuatan dan kelak harus kugunakan untuk merebut tahta kerajaan. Aku pernah menolak sebab ini kejahatan. Tapi Ki Banaspari berkata, akan lebih jahat lagi kalau kita membiarkan rakyat menderita oleh tekanan yang keras dan orang yang ambisius. Kata Ki Banaspati, kita merebut tahta bukan untuk diri pribadi tapi untuk rakyat. Jangan biarkan Pajajaran dipimpin oleh kekeliruan. Dan Ki Banaspati mendorongku untuk mengusir sikap-sikap keliru dan menggantinya dengan sikap bijaksana. Ki Banaspatilah yang mengobarkan semangatku. Ki Banaspatilah yang memberiku kepercayaan diri. Dan Ki Banaspati pulalah yang mengerjakan segalanya agar kepercayaanku timbul. Ki Banaspati pandai membuatrekaperdaya , untuk menyusun kekuatan, Ki Banaspati mengusulkan kepada Pakuan agar Kandagalante yang jauh dari pusat pemerintahan diberi wewenang menambah pasukan guna mempertahankannya dari serangan dan pengaruh musuh. Usul ini diterima dan dianggap wajar. Disangkanya, kita membangun pasukan untuk membantu mereka, padahal akan kita gunakan sebaliknya. Sudah ada beberapa Kandagalante yang faham dengan cita-cita kita dan sama-sama menghimpun kekuatan. Dan Ki Banaspati terus berjuang mencari pengaruh sekaligus mempengaruhi kandagalante lainnya. Semuanya akan menghimpun kekuatan dan semuanya bersatu untuk mengembalikan kejayaan masa lalu Pajajaran. Dan sekali lagi, engkau harus tahu Ginggi, akulah yang akan menjadi ratunya!" kata Sunda Sembawa tersenyum renyah. Dipandangnya lagi langit merah di ufuk barat.
Ditatapnya lagi puluhan atau ratusan atau bahkan ribuan kalong yang keluar dari sarangnya itu. Nampak Sunda Sembawa menyunging senyum penuh arti.

Beberapa lama dia menatap tajam ke arah tenggelamnya matahari. Tersenyum lagi sendirian. Sesudah itu baru dia mengalihkan tatapnya kepada Ginggi. "Aku hanya tahu, kau dibawa kesini oleh Ki Banaspati. Karena Ki Banaspati mempercayaimu, maka aku pun percaya padamu. Oleh sebab itu kerjakanlah apa yang menjadi tanggungjawabmu kini ," katanya.

"Membunuh Suji Angkara?" tanya Ginggi.

Ki Sunda Sembawa memalingkan muka dan berdesis, "Ya!" katanya. Ginggi menyembah takzim. "Akan hamba cari Suji Angkara!" katanya. "Bagus!" desis Sunda Sembawa lagi.
Ya, hanya akan kucari saja sebab tak ada alasan untuk membunuhnya, kata pemuda itu di dalam hatinya. Namun mencari Suji Angkara pun Ginggi merasa perlu. Kalau memang pemuda itu berangkat ke Pakuan, akan lebih menarik perhatian dirinya, sebab Suji Angkara benar-benar kumplit menjadi orang yang misterius. Keterangan pertama yang didapatnya di Desa Cae, pemuda itu hanya dikenal sebagai anak Kuwu Suntara yang pulang ke desa empat bulan sekali sambil membawa kekayaan melimpah karena berdagang dengan bangsa asing. Belakangan didengar kabar lagi bahwa pemuda tampan berpakaian mewah ini pun menjadi pembantu Ki Banaspati sebagai pengurus pajak negara. Tapi terbukti, hubungan keduanya tidak benar-benar erat. Kalau tak begitu tak mungkin mereka saling bercuriga dan saling menuduh. Upaya pembunuhan yang dilakukan Ki Banaspati terhadap pemuda angkuh itu hanya menandakan bahwa Ki Banaspati telah menganggap pemuda itu membahayakan gerakannya.

Sekarang kecurigaan kian bertambah sesudah ada dugaan Suji Angkara menuju Pakuan. Kalau benar pemuda itu menuju Pakuan, hanya punya arti dia memiliki hubungan dengan orang Pakuan.

Itu menarik untuk disimak, pikir Ginggi.

***

Ginggi tak menunggu kepulangan Ki Banaspati ke Sagaraherang. Apalagi surat di daun nipah untuknya hanya mengatakan bahwa dia harus mencari Suji Angkara ke Pakuan dan membunuh pemuda itu.

Maka sesudah dibekali pakaian baru dan uang cukup banyak, Ginggi segera pergi meninggalkan tempat itu. Dia menolak untuk ditemani satu atau dua orang pandai, dengan alasan penyelidikan secara diam-diam hanya bisa dilakukan seorang diri. Ginggi pun menolak ketika akan dibekali seekor kuda Sumba yang tinggi besar dengan alasan naik kuda gagah hanya akan menarik perhatian orang belaka.

"Melakukan perjalanan dengan berjalan kaki akan terkesan sebagai orang kebanyakan dan tak akan menarik perhatian siapa pun," kata pemuda itu.

Alasan-alasan ini dapat diterima oleh Ki Sunda Sembawa dan dia mengabulkan permintaan pemuda itu. "Yang penting kau pulang dengan membawa keberhasilan," kata Sunda Sembawa. Ginggi mengangguk pasti.

Menurut petunjuk, Ginggi perlu waktu dua hari untuk menuju wilayah Kandagalante Tanjungpura, sebuah wilayah yang boleh dikata bersinggungan dengan batas utara.

Kata Sunda Sembawa, Ginggi harus lebih hati-hati memasuki wilayah ini. Pengaruh dari kerajaan agama baru cukup kuat di sini. Ini karena Pasukan Cirebon yang telah menguasai Pelabuhan Kalapa (Sunda Kalapa) kerapkali lewat ke wilayah Tanjungpura untuk menuju Kalapa atau sebaliknya bila kembali ke Cirebon.

"Banyak juga di antara anggota Pasukan Cirebon tercecer tinggal di beberapa kampung wilayah Tanjungpura dan bahkan beristrikan wanita-wanita di sana," kata Sunda Sembawa.

Ginggi tersenyum mendengar penjelasan ini. Jadi benar kata Ki Darma, rakyat sebetulnya tak mau tahu urusan politik. Hanya apa kata pemerintah saja orang-orang dari negara agama baru itu merupakan musuh, sedangkan rakyat sendiri tidak. Buktinya, mereka tidak memisahmisahkan arti agama. Orang Pajajaran secara alamiah bisa bersatu dengan orang-orang Cirebon membentuk sebuah keluarga.

Namun di lain fihak, pemuda itu pun membenarkan bila ada orang Pajajaran yang berusaha ingin mempertahankan negaranya. Seperti apa kata Sang Prabu Sri Baduga Maharaja yang pernah disampaikan melalui mulut Rama Dongdo dan Ki Banen serta Ki Ogel, bahwa Pajajaran tidak memusuhi agama baru. Namun tentu saja yang dimaksud di sini sambil Kerajaan Pajajaran tetap diakui oleh siapa pun.

Perjalanan memang dilakukan dua hari untuk mencapai Tanjungpura. Tidak terlalu sulit sebab tak ada bukit apalagi ngarai. Hanya saja perjalanan banyak dilakukan melalui hutan jati yang udaranya terasa panas.

Ginggi memasuki wilayah Kandagalante Tanjungpura sesudah matahari condong ke barat. Dia segera menuju kediaman kepala jagabaya dan mengaku sebagai pengembara yang ingin menumpang tidur di wilayah Kandagalante ini.

Namun kepala jagabaya tak seramah dugaannya. Lelaki gemuk dengan baju kampret dibiarkan terbuka ini melihatnya dengan pandangan selidik dan penuh curiga.

"Aku tak begitu saja membiarkan orang asing memasuki Tanjungpura ini. Sudah dua kali kami menerima kehadiran pengembara. Dan sudah dua kali itu pula kami mengalami kejadian yang tidak mengenakkan!" tutur kepala jagabaya yang diketahui Ginggi bernama Ki Aliman.

"Ada terjadi dua kematian bersamaan dengan kehadiran dua pendatang asing," tutur kepala jagabaya.

"Pembunuhan?"

"Tidak. Kedua penduduk kami mati bunuh diri!"

"Ada penduduk mati bunuh diri, mengapa pendatang asing yang disalahkan?" tanya Ginggi. Kepala jagabaya bernama Aliman ini tak bisa mengemukakan alasan dengan segera. Dia nampak hanya memilin-milin ujung kumisnya yang tebal saja. "Aku juga tak punya alasan tepat, mengapa harus begitu. Kecurigaan kami terhadap orang asing, hanya karena peristiwa itu terjadi selalu secara bersamaan," katanya.

Hampir sebulan lalu, ke Tanjungpura datang empat orang asing. Mereka bertamu ke Juragan Ilun Rosa.

"Tapi malam sebelum kepergian mereka, anak gadis Juragan Ilun mati bunuh diri," kata Ki Aliman.

Ginggi hanya mendengarkan saja tanpa berniat memotong omongan jagabaya ini.

"Itu terjadi sebulan yang lalu," kata Ki Aliman, "Tiga hari lalu ada lagi pendatang asing dan mengaku pengembara. Sifatnya kasar dan berlaku seenaknya. Dia main perempuan di rumah tuak sampai jauh malam. Di tengah malam buta anak seorang perempuan penghibur, yaitu gadis kecil berusia belasan tahun meraung dan menjerit ngeri. Ketika orang-orang mendobrak kamarnya, didapatnya si gadis kecil itu sudah mati berlumuran darah."

"Lantas, apa hubungannya dengan kehadiran orang asing itu? Apakah karena kematian kedua orang gadis bersamaan waktunya dengan kehadiran mereka semata?" tanya Ginggi.

"Tidak ada bukti mereka terlibat urusan bunuh diri. Tapi kedua gadis yang nekad bunuh diri semuanya karena merasa aib kehormatan dirinya terganggu," kata Ki Aliman sambil mengucapkan sumpah serapah.

"Paman bercuriga para pendatang itu yang melakukan kejahatan berahi?" tanya Ginggi.

"Sulit aku bicara tanpa bukti. Tapi selama aku hidup di Tanjungpura, aku kenal tabiat lelaki di sini. Mereka memang senang minum tuak dan bercanda dengan perempuan penghibur. Tapi kendati begitu, pantang untuk lelaki di sini melakukan tindakan seperti itu. Untuk menghadapi kaum wanita, lelaki Tanjungpura tidak bertindak pengecut. Kalau kami menyenangi seseorang wanita, kami datangi dan kami bicara terus-terang. Mungkin ada di antara kami yang merayu bahkan memaksa. Tapi itu tetap dilakukan dengan terang-terangan tidak main sembunyi. Banyak perkelahian sesama lelaki karena memperebutkan wanita. Tapi dalam mendapatkannya, tetap saja dilakukan secara ksatria," kata Ki Aliman. Ginggi hanya tersenyum mendengar kepala jagabaya ini memuji-muji kaum lelaki di wilayahnya.

"Apakah menurutmu orang asing yang memasuki wilayah Tanjungpura hanya mereka saja?"

"Tanjungpura ini wilayah yang ramai dikunjungi orang setiap saat. Bahkan orang-orang dari agama baru suka lewat dan bermalam di sini," kata Ki Aliman.
"Nah, mengapa kalian tak mencurigai kehadiran mereka juga?" tanya Ginggi. "Kepada mereka kami tidak mencurigainya. Agama mereka keras terhadap dosa yang
melibatkan penyelewengan berahi. Jangankan melakukan pemaksaan berahi, berkencan di rumah tuak dengan perempuan penghibur yang sifatnya suka sama suka saja, mereka menganggapnya sebuah dosa besar," kata Ki Aliman. "Engkau pengikut agama baru, Paman?" tanya Ginggi. "Tidak. Aku pemeluk agama lama!"
"Dan pendatang yang paman curigai itu, apakah juga pemeluk agama lama?"

"Ya, kurasa demikian. Pemeluk agama baru mudah dilihat, sebab hampir setiap saat mereka melakukan sembahyang menghadap ke barat, sedangkan pemeluk agama lama tidak. Para pendatang yang kami lihat sepertinya bukan pemeluk agama baru," kata Ki Aliman.

"Kalau mereka juga pemeluk agama lama yang sama seperti yang dipeluk Paman, apakah kalian akan curiga juga pada mereka?" tanya Ginggi.

"Kenapa kau tanya begitu?’ tanya Ki Aliman.

"Sebab ada terkesan, agama kalian membenarkan adanya kejahatan berahi!"

Ki Aliman matanya melotot marah kepada Ginggi yang dianggapnya mengajukan pertanyaan sembrono.

"Engkau jangan merendahkan agamaku! Dalam agamaku juga ada peraturan untuk memelihara tindak-tanduk agar tak terjerumus dalam dosa.Mahayu dora sepuluh adalah memelihara dan berusaha memperoleh kebajikan dari gerbang yang sepuluh. Salah satu di antaranya menyebutkan bahwa manusia diharuskan menjaga dan memeliharabaga purusa (baga=kelamin wanita, purusa=kelamin laki-laki )," kata Ki Aliman.

"Kalau begitu, kau tak adil mencurigai orang-orang pemeluk agama lama melakukan kejahatan, sebab agama apa pun sebetulnya tetap melarang orang berbuat jahat," tutur Ginggi.

Ki Aliman memerah wajahnya. "Aku mungkin keliru. Atau, aku sebenarnya tak menyebutkan bahwa aku bercuriga kepada orang-orang selain pemeluk agama baru…" kata Ki Aliman terbata-bata.

Ginggi kembali tersenyum.

"Tapi kita memang salah. Dalam hal ini seharusnya kita tak memperbincangkan perihal agama. Mereka melakukan kejahatan tidak mengatasnamakan agama. Yang penting, Paman, sebagai kepala jagabaya harus berusaha menjaga dan kalau mungkin menangkap penjahatnya, kalau memang kedua gadis yang bunuh diri itu karena kejahatan berahi," kata Ginggi pada akhirnya.

Ki Aliman mengangguk-angguk tanda setuju dengan ucapan pemuda itu.

"Hai, engkau mau kemana anak muda?" tanya Ki Aliman, heran melihat Ginggi seperti mau berlalu dan nampaknya akan keluar melalui pintu lawang kori yang akan segera ditutup karena hari telah kelam.

"Aku akan melanjutkan perjalanan. Mudah-mudahan berjalan kaki di malam hari tidak menemukan gangguan berarti di tengah jalan," kata Ginggi dan kembali akan berlalu meninggalkan tempat itu. "Bukankah engkau akan menumpang tidur di sini?"

"Bukankah Paman tadi melarang orang asing menumpang tidur di sini?" Ginggi balik bertanya. Ki Aliman tersenyum.

"Aku tak membuat peraturan kaku. Asalkan aku yakin orang itu tak melakukan kejahatan, aku izinkan siapa pun masuk. Dan kau nampaknya bukan orang jahat, anak muda," kata Ki Aliman.

Ginggi tersenyum dibuatnya. Selama beberapa bulan banyak bergaul dengan orang-orang, Ginggi pun sudah tahu bagaimana tata caranya, termasuk dalam bertutur kata. Dengan nada bicara yang teratur serta dibumbui basa-basi sopan-santun ternyata sanggup menggoda orang lain untuk langsung menilai dirinya sebagai orang baik. Padahal sampai saat ini pemuda itu tetap beranggapan bahwa nilai seseorang bukan terletak pada tindak-tanduknya atau pun tutur-sapanya. Sebab tabiat sebenar-benarnya hanya ada di lubuk hatinya. Mungkin juga
orang bertutur-sapa dan bertindak-tanduk sopan karena begitu yang ada di dalam hatinya, tapi mungkin juga tidak. Sekarang, Ki Aliman langsung mengubah kecurigaan menjadi kepercayaan terhadapnya hanya karena Ginggi sanggup bicara sopan.

Mungkingkah aku orang baik? Tak seorang pun tahu, tidak juga aku, pikirnya. Sampai detik ini Ginggi memang tak sanggup menilai dirinya sendiri. Mungkin saja dia mengaku orang baik karena selama ini dia benci pembunuhan. Tapi sekali waktu dia mengatakan dirinya orang jahat kalau mengingat peristiwa aib yang dilakukannya bersama Nyi Santimi di hutan Desa Cae beberapa waktu lalu. Dia sembrono menuding orang lain jahat karena melakukan pemerkosaan terhadap wanita lemah. Padahal dia sendiri tak ubahnya dengan pemerkosa. Si pemerkosa melakukan nafsu berahinya dengan jalan paksa sementara dirinya melakukannya dengan alasan suka sama suka. Tapi baik berahi yang dilakukan dengan cara paksa mau pun suka sama suka, bila segalanya dilaksanakan berdasarkan naluri nafsu, Ginggi menganggapnya sebagai tindak kejahatan juga.

"Aku juga penjahat berahi," umpatnya sambil menggetok ubun-ubunnya sendiri. "Hai, kau pukul kepalamu sendiri, anak muda?" Ki Aliman terheran-heran dibuatnya. Dan pemuda itu tertawa terkekeh-kekeh setelah sadar apa yang dilakukannya.
"Saking gembiranya dipercaya olehmu, Paman," kata Ginggi. "Jadi, bolehkah aku menginap semalam di wilayahmu?" tanyanya lagi.

Kepala jagabaya itu mengangguk dan Ginggi mengucapkan terima kasih untuk yang kesekian kalinya.

"Ya, engkau boleh menumpang bermalam di wilayah ini. Carilah kedai yang cukup besar. Biasanya mereka menerima pengembara yang kemalaman, asalkan keperluan makan dan minum, kau beli di sana," kata Ki Aliman.

Obrolan di Kedai Ketika kepala jagabaya itu mempersilakan Ginggi mencari tempat menginap, hari sudah berangkat senja. Ada terdengar suara kentongan ditabuh dengan penuh irama, kemudian disambut pukulan beduk. Sayup-sayup pemuda itu pun mendengar ada suara lantunan merdu mendayu-dayu tapi dengan bahasa yang tak dimengerti olehnya. Namun kendati begitu, Ginggi sudah mengenalnya. Itulah seruan panggilan sembahyang bagi orang-orang yang telah memeluk agama baru. Ginggi hafal benar, lantunan merdu seperti itu terjadi lima kali dalam sehari semalam.

Ada beberapa orang bergegas pergi ketika mendengar panggilan merdu itu. Namun kebanyakan orang tak acuh mendengarnya. Kalau pun ada yang bergegas ke rumahnya masing-masing, itu karena hari sudah mulai gelap saja. Ini semua hanya menandakan bahwa kendati agama baru sudah merasuk ke Tanjungpura, namun penduduk asli sebagian besar masih memeluk agama lama.

Sambil berjalan mencari kedai yang cukup besar, Ginggi beberapa kali menjumpai bangunan pura yang diletakkan di halaman rumah. Bau dupa terasa tajam semerbak melalui asap tipis mengelun dari anglo kecil. Sedangkan suara lantunan panggilan sembahyang dari agama baru terdengar sayup-sayup jauh di sudut perkampungan.

Akhirnya sebuah kedai cukup besar ditemukan juga, dan pemuda itu masuk ke sana, disambut pemiliknya sambil mempersilakan duduk dan secara beruntun langsung menanyakan dan menawarkan beberapa jenis makanan yang sekiranya Ginggi akan tertarik untuk memesannya.

Ginggi sejenak berkeliling meneliti ruangan kedai itu. Ada bangku dan meja panjang tempat orang makan-makan. Namun di ruangan tengah, ada dipan bambu amat luas. Mungkin tempat orang makan sambil duduk bersila, atau juga tempat orang numpang menginap.

Belum ada pengunjung yang datang, kecuali seorang gadis kecil barangkali anak pemilik kedai, tengah menyalakan beberapa lampu teplok di sudut-sudut ruangan kedai.

"Saya mau makan di sini tapi sekalian juga menumpang tidur barang semalam," kata Ginggi mencoba mendayu-dayukan suara sopan dan halus. Tapi si pemilik kedai berpakaian kampret putih dengan kain sarung diikatkan di pinggangnya hanya menatap penuh selidik. Gadis kecil yang tengah menyalakan lampu pun sejenak menghentikan tugasnya untuk ikut menatap wajah pemuda itu.

Ditatap oleh kedua orang itu dengan penuh selidik, membuat Ginggi jadi kikuk. Dia menggosok-gosok ujung hidungnya beberapa kali seolah-olah di sana ada asap belanga mengotorinya. Dia juga menepis-nepiskan ujung tangannya ke arah pakaiannya, kalau-kalau debu jalanan membuat pakaiannya dekil. Namun pemuda itu akhirnya yakin, kedua orang itu menatapnya bukan karena kondisi tubuhnya yang dianggap kotor.

"Engkau orang asing. Kami takut dengan orang asing," gumam pemilik warung bertubuh pendek kurus ini, menatap pada anaknya.

"Saya sudah mendapatkan izin kepala jagabaya Aliman," kata Ginggi. "Betulkah?" "Untuk apa berbohong. Kami bahkan mengobrol lama. Dan saya tahu, apa penyebab kalian takut terhadap orang asing. Karena di sini ada kejadian yang tak kalian sukai bukan?" kata Ginggi lagi. Pemilik kedai itu mengangguk.

"Ya, dua malam lalu ada gadis terbunuh. Katanya bunuh diri. Tapi banyak orang mengatakan, gadis anak perempuan penghibur itu bunuh diri setelah kegadisannya dirambah manusia laknat tak bertanggung jawab!" kata pemilik warung marah dan kesal. Dia mendengus dan melotot ke arah Ginggi. Sesudah itu gadis kecil itu pergi dengan tergesa-gesa.

"Lihatlah, karena peristiwa-peristiwa yang menyangkut mereka, banyak anak gadis tak suka dan selalu bercuriga terhadap kaum pendatang. Lihatlah kesan anakku kepadamu barusan. Dia sangka setiap laki-laki yang pendatang gemar melakukan kejahatan berahi," kata pemilik warung menuding dengan hidungnya ke arah mana gadis itu berlalu.

"Kalau saya tahu, akan saya kejar penjahat itu!" kata Ginggi.

"Semua orang juga berkata begitu. Tapi siapa yang bisa menduga hati orang. Mulutnya berkata begitu, padahal mungkin hatinya berkata lain," kata pemilik kedai seperti menyindir.

"Ya, memang bisa juga begitu. Tapi aku berkata menurut apa kata hatiku. Lihat saja nanti, kalau ada terdengar peristiwa macam itu lagi, aku pasti turun tangan," kata Ginggi menegaskan. Si pemilik warung tidak mengiyakan tapi juga tidak menentang perkataan pemuda itu.

Dan karena sudah mendapatkan izin kepala jagabaya, pemilik kedai pun akhirnya mengizinkan Ginggi menumpang tidur.

"Tapi tentu dengan beberapa persyaratan. Di antaranya saja engkau tidak boleh berbuat onar, termasuk minum tuak."

"Saya tidak mau minum tuak," jawab Ginggi. "Ya, bagus!" sambut pemilik kedai.
Dua hari melakukan perjalanan, pemuda ini tidak mandi. Oleh sebab itulah pertama yang diburunya di tempat pondokannya adalah jamban untuk mandi. Pakaian yang barusan ditanggalkan sudah demikian dekil dan langsung saja dia cuci bersih.

Sekarang Ginggi perlu menggantinya dengan bekal pakaian yang didapatnya dari Kandagalante Sunda Sembawa. Ada sekitar tiga stel pakaian yang didapat di dalam buntalannya. Tapi amboi, mana yang harus dia kenakan sebab ketiga stel pakaian itu semuanya terbuat dari bahan mewah.

Ginggi sudah mengenal beberapa jenis kain, mana buatan Pajajaran dan mana yang didatangkan dari negri sebrang atau pun negri-negri jauh. Dan ketiga stel pakaian itu semuanya dibuat dari bahan-bahan pilihan hasil pertukaran dengan negri jauh.

Jenis pakaiannya masih berupa kampret juga. Tapi kainnya tipis halus dan mengkilat. Kalau kena cahaya lentera, kain baju itu memantulkan kembali cahayanya dan warna biru tuanya semakin indah. Pemuda itu bingung memikirkan jenis pakaiannya ini. Ginggi suka melihat jenis pakaian halus mengkilat ini ketika para remaja anak-anak golongansantana (kalangan menengah, saudagar dan pedagang) memakainya ketika mereka berjalan-jalan menghirup udara sore atau bila mereka bercanda bersama kaum remaja putri. Hanya anak-anak orang kaya dan yang berjiwa pesolek saja yang gemar memakai pakaian halus dengan warna mencolok seperti ini.

Ketiga pakaian di buntalan itu indah-indah belaka. Barusan yang dipegangnya adalah kampret warna biru tua. Dua lagi berwarna kuning dan merah darah, amat mencolok. Ketiganya aku tak suka, pikirnya. Tapi kalau dia tak gunakan, habis mau pakai yang mana?

Terdesak oleh keadaan, akhirnya pemuda itu terpaksa memilih salah satu pakaian. Dipilihnya warna biru tua. Ikat kepalanya pun berwarna sama hanya saja terbuat dari jenis kain yang agak tebal walau pun masih sama halus.

Ketika pemuda itu selesai berdandan dan mulai masuk ke kedai, si pemilik kedai melongo heran. Anak gadisnya pun hampir-hampir tak berkedip menatapnya.

Menerima tatapan demikian tajam dari mereka, kembali Ginggi meraba hidungnya dan menepis-nepis pakaiannya.

"Pakaianku sudah tak kotor dan badanku pun sudah tak dekil. Tapi mengapa kalian masih menatapku seperti itu?" tanyanya heran.

Si gadis kecil tersipu-sipu ditegur demikian. Ayahnya yang kurus dan kecil pun malah nampak membungkukkan badan dengan penuh hormat.

"Saya tak menyangka Raden berkenan singgah di kedai reyot macam begini …" kata pemilik kedai masih membungkuk-bungkuk.

Senyum hambar bergayut di bibir pemuda itu. Ternyata penyakit manusia tak pernah sirna, pikirnya. Selama Ginggi turun gunung dan mengenal tipe-tipe manusia, selalu ada kesamaan, bahwa orang cenderung melihat sesamanya hanya dari luar belaka. Mulut manis dan pakaian bagus akan selalu disambut hangat dan ramah. Padahal tadi sebelum mandi dan berpakaian dekil dengan jenis kasar, orang-orang ini melirik dengan sebelah mata.

"Seharusnya Raden memilih tempat peristirahatan yang lebih bagus. Barangkali Kuwu Marsonah atau bahkan Juragan Ilun Rosa pun akan berkenan menerima kehadiran Raden," kata pemilik kedai hormat.

"Aku mungkin akan bertamu kepada mereka. Tapi untuk menumpang tidur, aku memilih di sini saja," kata Ginggi. Dan karena sudah terlanjur mendapatkan penghormatan, akhirnya Ginggi pun tak ragu-ragu untuk meminta pelayanan mereka.

"Aku sekarang lapar. Coba sediakan makanan yang paling enak. Kau juga gadis kecil, ambilkan aku minuman yang sekiranya bisa menyegarkan tubuhku," kata pemuda itu yang segera memilih tempat duduk agak di sudut.

Pemilik kedai tergopoh-gopoh mempersiapkan berbagai penganan. Si gadis kecil disuruhnya menghangatkan lauk-pauk yang ada di kedai itu. Ginggi bersenandung kecil merasakan nikmatnya dilayani orang. Sambil senyum simpul dia menyaksikan anak beranak sibuk kesana-kemari menyiapkan makanan. Ada yang membawa baki kayu, ada juga mengambil piring terbuat dari tanah liat. Ginggi menghitung, ada tiga orang lagi yang bekerja di kedai besar itu. Mereka laki-laki setengah baya semua.

Oh, tidak! Ternyata masih ada seorang lagi pekerja kedai. Dan yang ini jelas gadis muda. Usianya barangkali dua atau tiga tahun di atas gadis kecil tadi. Gadis ini tidak tergopohgopoh. Dia melangkah biasa saja. Tapi Ginggi tahu, gadis itu datang untuk menghampiri dan melayaninya, sebab dia datang mendekat membawa baki yang di atasnya terdapat poci dan cangkir.

Gadis itu tepat berdiri di samping Ginggi sehingga pemuda itu bisa melihat wajahnya dari sudut matanya. Walau pun hanya terbatas dari samping tapi pemuda itu dapat menduga, gadis ini pasti anak pemilik kedai. Ginggi menduga demikian karena raut wajah gadis ini hampir serupa dengan gadis kecil yang lebih dahulu sudah dikenalnya.

Ginggi merasa kurang puas hanya menatap raut wajah gadis itu melalui sudut matanya. Dan rasa penasaran ini tak dapat ditahannya. Dia segera berpaling untuk bisa menatap langsung wajah gadis itu. Hanya sekejap saja menatap raut wajah itu secara utuh sebab gadis itu segera memalingkan wajah dengan mulut cemberut. Selesai meletakkan poci dan cangkir, gadis itu berlalu tanpa menoleh lagi barang sedikit, seolah-olah di sana tak ada orang. Atau seolah-olah gadis itu bukan melayani pengunjung, melainkan hanya menyimpan begitu saja poci dan cangkir di meja.

Kini Ginggi yang balik cemberut. Gadis itu parasnya cukup manis. Kulitnya putih bersih, bibirnya tipis merekah merah. Dan ada tahi lalat kecil di sudut dagunya. Tapi apalah kecantikan bila tidak dilengkapi perangai yang ramah.

Tuk! Pemuda itu menggetok ubun-ubunnya. Satu kebiasaan bila dia menyalahkan dirinya. Sekian lama dia bergaul dengan orang banyak, sedikit banyaknya telah terpengaruhi tradisi dan kebiasaan mereka. Dulu dia mengacuhkan tabiat orang, sebab dia sendiri pun tak mau tahu tabiat dirinya. Dulu dia bicara seenaknya kepada setiap orang dan penampilan serta sikap pun diperlihatkan seenaknya tanpa perduli apakah orang lain senang atau tidak melihat tampang dan penampilannya. Sekarang dia baru tahu rasa, dilayani dengan mulut cemberut tanpa ucapan barang sepatah sambil mata tidak melirik barang secuil, membuat hatinya tersinggung dan harga dirinya dilecehkan.

Harga diri? Sejak kapan dia mengenal harga diri? Tentu sejak dia mengenal banyak orang. Dia melihat orang lain suka tersinggung bila dilecehkan. Dan sekarang dirinya ikut-ikutan merasa tersinggung karena dilecehkan. Kalau begitu, aku sudah terpengaruh oleh kebiasaan orang lain, pikirnya. Padahal ketika aku hidup berdua saja dengan Ki Darma, tak ada perasaan seperti itu.

Tuk! Ginggi kembali menggetok ubun-ubunnya. Kalau begitu, semenjak dia banyak melihat tata pergaulan, dia menjadi orang yang mudah goyah dan rapuh terbawa arus kebiasaan orang lain.

"Mari Raden, semua masakan telah terhidang. Tapi maafkan bila segalanya kurang berkenan di hati," kata pemilik kedai mengembalikan kesadarannya. Ginggi meneliti apa yang ada di hadapannya. Ternyata meja sudah penuh diisi berbagai penganan. Ada ikan lele ditaburi bumbu menyengat. Ada juga paha ayam yang baunya wangi menggoda hidung dan air liur. Makanan-makanan lain pun tidak kalah menariknya. Semua masih mengepulkan asap yang harum dan merangsang selera makan.

Tanpa basa-basi, pemuda itu segera melahap semua makanan. Dan semuanya terasa enak, sehingga malam itu Ginggi makan banyak sekali.

Waktu semakin merengkuh malam. Dan ke dalam kedai besar ini, tidak terasa telah banyak orang. Semuanya punya maksud yang sama yaitu hendak makan. Tapi beberapa pengunjung nampak heran melihat Ginggi memborong satu meja penuh. Beberapa orang bahkan merasa ragu menumpang duduk di bangku di mana Ginggi asyik mengunyah makanan.

Rupanya pemuda itu pun merasakan kecanggungan pengunjung lainnya. Agar mereka tidak ragu-ragu, Ginggi mempersilakan mereka duduk di sampingnya. Ginggi menggeser duduknya kian ke sudut untuk memberi tempat kepada pengunjung baru. Tapi mana bisa mereka duduk bersama padahal di atas meja semua makanan milik pemuda itu. Mereka barangkali baru bisa makan bersama kalau semuanya ikut serta mencicipi makanan yang dikuasai Ginggi.

Rupanya pemuda itu pun tahu apa yang dipikirkan para pengunjung. Dan untuk yang kesekian kalinya, Ginggi mempersilakan mereka ikut duduk.

"Ayo kita makan bersama. Makanan ini enak-enak dan jumlahnya banyak. Tak mungkin aku habiskan sendirian saja. Ayo, makanlah kalian. Jangan khawatir tidak cukup. Kalau habis, biar aku pesankan lagi!" kata Ginggi.

Mulanya pengunjung ragu-ragu menerima ajakan ini. Tapi karena pemuda itu selalu mendesak, akhirnya ada satu dua orang yang berani duduk. Dan akhirnya yang duduk di sana kian bertambah. Mungkin enam orang mereka berhimpitan di bangku panjang sehingga Ginggi duduk kian mepet ke sudut. Namun ini membuat kegembiraan buatnya. Apalagi ketika dilihatnya semua orang mulai berani makan dengan ramai dan gembira.

"Hey, Pak Tua! Ayo tambah lagi makanannya!" seru Ginggi. Sebelum pemilik kedai meluluskannya, dengan agak ragu dia bertanya tentang bagaimana cara pembayarannya.

"Bayar? Maksudmu kau minta sejumlah makanan ini ditukar dengan benda logam macam ini?" kata Ginggi merogoh ke dalam buntalannya. Pemuda itu mengeluarkan beberapa pundipundi besar. Dibukanya talinya, dikeluarkanya isinya. Dia menyodorkan kepingan uang logam satu genggam.

"Cukupkah semua makanan ini aku tukar dengan segenggam kepingan logam ini?" tanya pemuda itu.

"Hah? Kau bayar segitu?" mata pemilik warung yang kecil itu mendadak terbelalak lebar.

"Kalau kurang biar kutambah lagi!" kata Ginggi yang merasa bahwa pemilik warung kurang puas diberi satu genggam. Tapi pemilik kedai semakin membelalakkan matanya. Ginggi menoleh ke kiri dan ke kanan. Ternyata semua orang menatapnya dengan cara membelalakan mata. Ginggi menggaruk-garuk kepalanya. "Kalau lebih dari ini, aku tak sanggup sebab keperluanku masih banyak dan perjalananku masih jauh!" kata Ginggi lagi.

"Engaku salah mengerti Raden. Ki Alpi bukan menganggap bayaranmu kurang tapi uang itu kelebihan, terlalu banyak. Itu uang kepingan perak dari negri Cina. Nilainya amat tinggi. Kau berikan hanya dua keping saja, maka sekali pun Ki Alpi menambah makanan sebanyak dua meja lagi, masih terlalu mahal. Artinya, uang logam dua keping itu masih bisa kau tukar dengan makanan lebih dari empat meja penuh," kata seorang tua di sampingnya.

Ginggi mengerutkan keningnya. Dia menoleh kepada Ki Alpi, pemilik kedai ini.

"Betulkah begitu, Pak?" tanyanya ingin meyakinkan. Dan ternyata Ki Alpi mengangguk. Ginggi lega hatinya sekali pun merasa heran. Di Kandagalante Sagaraherang pemuda ini memang sudah mengenal jenis kepingan uang yang bisa digunakan sebagai alat penukar keperluan hidup seperti barang dan makanan. Tapi bagaimana cara menggunakannya dan berapa perbandingannya dengan berbagai barang yang ada di pasar, Ginggi sendiri tidak tahu. Masuk ke kedai untuk berbelanja baru kali inilah dia lakukan dan hasilnya sungguh mencengangkan. Ternyata kepingan logam yang diberikan oleh Kandagalante Sunda Sembawa demikian berharganya.

"Bila demikian caranya, aku bisa makan enak tanpa harus bekerja dengan keras," pikirnya sambil meremas-remas kepingan logam yang ada di genggamannya.

"Baiklah kalau begitu, aku serahkan saja dua keping," katanya menyodorkan kepingan logam sebanyak dua keping. Ki Alpi mengangguk-angguk dan berjanji akan menambah jumlah makanan bila masih diperlukan. Namun nyatanya, makanan satu meja penuh ini tak habis dimakan bertujuh. Semuanya sudah kalah sebelum pemilik warung menambah makanan baru.

"Wah, terima kasih sekali Raden. Baru kali ini ada orang kaya raya murah hati mau membagi makanan kepada setiap orang," kata orang tua di sampingnya sambil membuka kancing bajunya dan mengusap-usap perutnya yang sedikit buncit karena makanan.

"Kau pasti anak orang kaya Raden tapi belum pengalaman menggunakan uang," kata yang lain.

"Uangmu berharga untuk apa saja, untuk kesenangan apa saja. Mari aku antar kau ke tempat hiburan. Di sana kau bisa main dadu. Kalau kalah, kau bisa dihibur oleh perempuan cantikcantik dan genit-genit!" tutur yang lainnya.

"Huh! Aku tak suka perempuan! Perempuan itu racun, tahu!" bentak Ginggi tak senang, membuat si pembicara bengong sejenak.

"Kalau begitu, untuk apa uang sebanyak itu, Raden? Anak-anak orang kaya di sini selalu membawa uang untuk keperluan di rumah hiburan!"

"Ah! Persetan dengan itu!" bentak Ginggi lagi. Tapi kemudian pemuda itu termenung. Dia heran sendiri dengan sikapnya. Di kedai ini, ketika dia berpakaian necis, ketika orang-orang memuji karena uangnya, dengan enaknya dia bisa bicara sambil membentak-bentak. Dengan seenaknya pula dia memperlihatkan sikap suka dan tidak suka akan pendapat dan gagasan orang lain. Karena apakah ini?

Benarkah Ki Rangga Guna?

Pemuda itu meraba-raba uang logam yang masih banyak terdapat di dalam pundi-pundi kainnya. Ya, dia bertindak jumawa ini karena uangnya. Di kedai ini dia dipandang orang karena uangnya. Dia menampik gagasan orang dan mereka tunduk karena uang juga. Ah, ternyata uang ini bisa amat menguntungkan tapi juga bisa amat membahayakan. Coba kalau aku menuruti saran mereka untuk main dadu dan perempuan. Dengan uang ini mudah tapi membahayakan diriku, pikirnya.

Ginggi mulai mengerti, pantas saja banyak orang berupaya memiliki kepingan logam seperti ini. Suji Angkara dikhabarkan senang berniaga dengan kaum pedagang bangsa asing dan bila pulang membawa banyak pundi-pundi seperti miliknya kini. Kandagalante Sunda Sembawa dikhabarkan sebagai seorang kaya di Sagaraherang dan dihormati semua orang karena banyak memiliki logam ini. Kemudian ada perampok dan orang jahat lainnya, berupaya merampas bahkan membunuh hanya karena kepingan logam ini pula.

"Betul-betul berbahaya benda-benda ini," pikir pemuda itu.

Ginggi melepaskan genggaman tangannya dari pundi-pundi uangnya dan disembunyikan kembali ke dalam buntalan pakaiannya. Dia harus hati-hati menggunakan kepingan uang logam ini dan jangan sampai dirinya dikendalikan oleh benda-benda seperti itu.

Orang-orang di sekelilingnya masih ramai. Mereka mengobrol kesana-kemari tapi percakapan yang paling menyita dia adalah tentang kematian dua anak gadis yang terjadi dalam selang waktu sebulan ini. Hanya saja pembicaraan ini nampaknya simpang siur. Tak ada yang mengatakan pasti bagaimana dua anak gadis belia itu bisa mati.

"Aku kira mereka memang mati bunuh diri," kata yang seorang.

"Ya memang, semua orang juga tahu mereka mati bunuh diri. Yang seorang menusuk perutnya dengan patrem, satunya lagi gantung diri. Tapi ada kesamaan dari keduanya. Mereka bunuh diri karena mempunyai sebab yang sama, yaitu merasa kesucian dirinya sebagai perawan tercemar. Kau dengar bukan, tubuh mereka ditemukan dalam keadaan mengibakan? Pakaiannya koyak-koyak, kulit tubuhnya pun lecet-lecet. Sepertinya terjadi pergumulan dulu sebelum gadis itu bunuh diri," kata yang lainnya lagi.

"Kalau benar kedua gadis itu mati karena kejahatan lelaki, ingin kukoyak-koyak isi dada si jahat itu!" teriak seorang pemuda geram.

"Ya, benar! Dia harus dibunuh sebab telah merusak nama baik lelaki di sini!" teriak yang lainnya.

"Cobalah lihat, sesudah ada kejadian seperti itu, susah sekali kita melihat gadis-gadis molek bertandang di senja hari, pergi ke mata air pun mesti dikawal ketat ayahnya." "Bahkan lebih rugi dari itu, gadis-gadis di sini sekarang tidak menyukai para pemuda. Kalau kita tatap, dia palingkan mukanya. Dia lari dan dia sembunyi. Rugi kita!" kata pemuda yang duduk di sudut sana. Semuanya mengangguk-angguk tapi sambil tawa berderai.

Ginggi yang hanya mendengar saja juga ikut tertawa.

Ternyata pada akhirnya mereka benci si pemerkosa karena tindakan lelaki biadab merugikan mereka dalam berhubungan dengan para gadis yang dilanda ketakutan dan kecurigaan. Pantas saja anak pemilik warung demikian ketus terhadapku, pikir pemuda itu.
"Siapa yang pernah tahu, kira-kira seperti apakah lelaki jahat itu?" tanya seseorang. "Kita semua rata-rata mencurigai kaum pendatang. Tapi sulit meraba-raba, siapa mereka,
sebab ke Tanjungpura banyak orang yang datang dan pergi," kata seorang pemuda sambil menatap ke arah Ginggi. Yang lain pun ikut menatapnya sehingga pemuda itu menjadi pusat perhatian walau barang sejenak.

"Aku yakin, yang berbuat kejahatan bukan anak muda seperti Raden berpakaian biru ini," tutur lelaki tua yang duduk di samping Ginggi sepertinya membela kehadiran pemuda itu.

"Bahkan aku amat mencurigai, pelakunya adalah orang yang sudah berumur. Tubuhnya agak tinggi, mukanya agak bulat, hidungnya melengkung seperti burung ekek dan matanya sipit seperti …" lelaki tua yang bicara tadi tidak melanjutkan kata-katanya ketika ke dalam kedai itu masuk seorang lelaki setengah baya. Pak tua yang barusan menghentikan kata-katanya malah melotot kaget memandang pendatang baru itu. Bibirnya gemetar, telunjuknya mengarah kepada pendatang baru itu sambil ikut gemetar pula. Semua orang sama-sama menatap pendatang itu tidak terkecuali Ginggi.

Orang itu agak jangkung, mukanya bulat, hidungnya melengkung dan matanya sipit. "Diakah orangnya?" teriak yang lain.
"Ya … dia! Benar dia! Dialah si jahat itu!" teriak lelaki tua itu. Semua orang sigap berdiri. Ada juga yang menghunus golok. "Serbuuu!!!"
"Bunuuuh!!!"

Semua orang serentak menghambur ke arah pendatang baru itu yang nampak amat terkejut dengan sambutan aneh ini. Dia hanya sempat bengong sejenak. Namun pada akhirnya tak memiliki kesempatan untuk diam mematung seperti itu bila tak ingin tubuhnya lumat oleh berbagai serbuan yang datang.

Orang berhidung bengkok bermata sipit itu nampak tak ingin melayani serangan. Dengan gerakan kaki teratur dia melangkah satu dua tindak ke belakang. Ketika serangan datang kian gencar, ujung kakinya menotol tanah dan jumpalitan ke belakang.

"Hm, dia punya kepandaian," gumam Ginggi masih tetap duduk di tempatnya Di pekarangan yang agak luas, lelaki setengah baya itu baru berdiri lagi. Tapi pengepung terus mengejar dan menyerang dan nampaknya orang-orang itu bersiap akan membunuhnya.

Namun dari tempat duduknya Ginggi menyaksikan, kepandaian orang asing itu sungguh hebat. Dia bisa berkelit kesana-kemari menghindari berbagai serangan dengan amat lincah dan tepat. Sebuah bacokan golok yang menghambur ke arah jidatnya, dengan enteng saja dia tepiskan hingga si penyerang terjerembab ke samping. Bila dia mau, sebetulnya orang asing itu bisa membalas serangan dengan telak bahkan bisa membunuh si penyerang. Tapi tubuh si penyerang dibiarkan begitu saja terjerembab di bawah kakinya tanpa berusaha untuk menyerang tengkuk si penyerang dengan pijakan kaki misalnya.

Dalam waktu yang singkat terdengar jerit dan pekik kesakitan. Bukan karena orang asing itu melancarkan serangan balasan, tapi teriakan kesakitan itu keluar dari mulut si penyerang yang serangan pukulan tangannya berbenturan dengan tangkisan tangan orang asing itu. Mereka meringis-ringis dan tak berani melanjutkan serangannya. Sebaliknya, lelaki bermata sipit itu pun nampaknya tak berniat melanjutkan keributan. Terbukti, ketika tahu penyerangnya menghentikan gerakan, dia pun segera membalikkan badan hendak berlalu pergi.

"Tangkap pemerkosa!" teriak lelaki tua penyulut keributan ini.

Ginggi tahu, lelaki ini yang tadi menuduh si hidung bengkok bermata sipit melakukan perbuatan biadab terhadap gadis di kampung ini.

"Raden, bukankah engkau tadi sore bilang akan menangkap pelaku perkosaan? Itulah orangnya seperti apa kata Mang Suepi!" kata pemilik kedai menagih janji.

Ginggi memang ingat, tadi dia berkoar hendak menangkap tukang perkosa. Tak dinyana, sekarang "tugas" itu menunggunya. Tapi benarkah lelaki berwajah bulat itu pelaku pemerkosa?

"Apakah kau tidak salah lihat, Mang?" tanya Ginggi kepada si lelaki tua.

"Mataku memang lamur, tapi masih bisa melihat wajah orang itu. Ya, dialah yang tiga malam lalu datang ke rumah hiburan dan mengganggu banyak wanita penghibur. Karena orang itu tabiatnya kasar, tak ada wanita yang mau padanya. Namun di tengah malam, terdengar jeritan pilu di rumah hiburan itu. Ternyata anak gadis salah satu wanita penghibur yang sebetulnya masih bau kencur sudah bunuh diri. Pakaiannya koyak-koyak dan seluruh tubuhnya penuh dengan cakaran-cakaran. Uh, biadab! Biadab!" kata lelaki tua itu mengepal-ngepalkan tinjunya.

"Pak, titip buntalanku, akan aku kejar orang itu!" kata Ginggi. Sesudah menyerahkan titipan barangnya, Ginggi segera pergi ke arah mana orang tadi menghilang.

Pemuda itu berlari cepat sambil sesekali melongok ke arah lorong-lorong kuta atau benteng tanah liat. Tapi sampai keempat sudut tembok benteng dia datangi, orang yang diburunya tidak ditemukan sepertinya menyusup ke dalam bumi.
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Senja Jatuh di Pajajaran Jilid 08"

Post a Comment

close