coba

Senja Jatuh di Pajajaran Jilid 06

Mode Malam
Jilid 06  

Ki Kuwu juga telah mendengar ribut-ribut ini, sebab nampak oleh Ginggi, ada seorang tua berpakaian solentrang, kepala memakai bendo citak dan beralas kaki terumpah kulit.

"Sudahlah! Sudahlah! Jangan diributkan benar. Kalau majikanmu memerlukan tambahan barang untuk seba, aku akan berikan semampuku tapi jangan aniaya wargaku," kata Ki Kuwu nampak wajahnya penuh kuatir.

"Aku bukan anak buah orang-orang Cae, Ki Kuwu. Tapi aku ingin tahu, apa yang terjadi di sini," kata Ginggi tak berbasa-basi.

Sejenak nampak wajah orang tua itu lega. Namun hanya sebentar sebab wajahnya kembali keruh.

"Mari ke rumahku anak muda," ajaknya perlahan.

Di rumah kediamannya kepala kampung ini menerangkan perkara kekacauan yang sering terjadi akhir-akhir ini.

Semenjak susuhunan Sumedanglarang, yaitu Nyai Ratu Inten Dewata bersuamikan Kangjeng Pangeran Santri dari Karatuan Cirebon, Nyai Ratu otomtis memihak Cirebon. Pakuan yang pengaruhnya mulai berkurang, bagi Sumedanglarang sudah bukan merupakan pusat kekuasaan yang harus disegani lagi.

"Kedudukan kami lebih dekat ke Cirebon. Pengaruh mereka lebih kuat, apalagi sesudah Susuhunan kami bersuamikan tokoh dari pusat pemerintahan agama baru itu. Sebaliknya, kedudukan Pakuan yang lebih jauh dari kami, pengaruhnya sudah tak terasa lagi. Hampir duapuluh tahun belakangan ini, kami tak merasakan adanya sebuah perlindungan dari Pakuan. Malah yang ada hanya berupa kewajiban-kewajiban saja. Bahkan berbagai kewajiban datangnya tak beraturan serta mencekik kehidupan kami. Banyak kelompok yang datang ke kampung-kampung meminta upeti ini dan itu dengan alasan menunjang keberadaan Pakuan," kata Ki Kuwu.

"Mengapa mereka kau beri? Kalau kau lebih taat kepada susuhunan di Sumedanglarang, kau dan rakyatmu bisa menolaknya karena penolakanmu itu dilindungi oleh susuhunanmu, atau juga dilindungi oleh kekuatan Cirebon," kata Ginggi.

Ki Kuwu menghela nafas berat dan panjang. Nampaknya susah sekali dia, bagaimana harus berbuat.

"Beginilah rakyat kecil di zaman susah. Pertikaian yang ada di atas hanya menciptakan berbagai pengorbanan rakyat di bawah," tuturnya pahit.

Kata Ki Kuwu, kendati pihak Susuhunan Sumedanglarang sudah memutuskan untuk tak mengirim seba ke Pakuan, tapi masih banyak kalangan di Sumedanglarang ini yang mengaku berdiri di belakang Pakuan. Dan apa yang menjadi keputusan di ibukota, lain yang terjadi di sini.

"Buktinya kau lihat sendiri, orang-orang Cae yang masih mengaku setia kepada Pakuan, selalu memaksa kami menyerahkan seba," kata Ki Kuwu.

Kata Ki Kuwu lagi, ada kelompok-kelompok tertentu yang bertugas mengumpulkan upeti bagi kepentingan Pakuan. Mereka bekerja dan mengadakan operasi ke berbagai desa terpencil yang sekiranya jauh dari jangkauan pengawas dan perlindungan pusat pemerintahan setempat.

"Beberapa tahun ini, kami terpaksa membagi kewajiban. Separo kami abdikan kepada pemerintahan yangbiluk ( berpihak) ke Cirebon, separo lagi kami serahkan kepada utusanutusan yang mengaku tetap setia kepada Pakuan," kata Ki Kuwu lagi.

"Kalau begitu, kalian pasti repot, harus membagi kekayaan kesana-kemari, Ki Kuwu …" kata Ginggi.

Ki Kuwu hanya bisa merahuh.

"Ya, musti bagaimana lagi? Kami memenuhi keperluan pemerintahan di sini karena kewajiban dan peraturan, dan memberikan yang lainnya kepada utusan Pakuan karena mengharapkan keselamatan. Mereka selalu tegas dan keras. Raden Suji contohnya. Ada penduduk tadi malam hampir babak belur karena mencoba protes. Ada gadis muda nekat bunuh diri karena urusan ini," kata Ki Kuwu memelas.

"Apa? Bunuh diri? Mengapa mesti bunuh diri?" Ginggi heran.

"Dia hendak melangsungkan perkawinan. Orang tuanya sudah bertahun-tahun menabung untuk keperluan ini. Tapi ketika dia menolak menyumbangkan kekayaan untuk urusan seba, dia dihajar oleh Raden Suji. Secara kasar pemuda ini mengambil harta orang itu lebih dari ketentuan. Mungkin putus asa merasa perkawinannya gagal, anak gadisnya bunuh diri.
Entahlah…" keluh Ki Kuwu. Ginggi tercenung,. Rasanya ganjil sekali, bunuh diri hanya karena urusan seba.

"Antarkan aku kesana. Kalau-kalau jasad gadis itu belum dikuburkan," Ginggi setengah mengajak. Ki Kuwu mengangguk.

Tiba di rumah itu, hanya tangis sedih yang terdengar. Jasad si gadis katanya baru saja dikuburkan.

"Betulkah anak gadismu bunuh diri?" tanya Ginggi. Orang tua korban mengangguk sedih. "Coba kau ceritakan, bagaimana kau temukan cara kematiannya!" kata Ginggi lagi.
Orang tua si gadis malang menerangkan, bahwa pagi-pagi sekali sudah menyaksikan anak gadisnya tergantung lehernya dengan seutasangkin ( ikat pinggang wanita ) di kamarnya.

"Apa lagi yang kalian lihat selain tubuh tergantung itu?"

"Tak ada, selain wajah anakku yang pucat-pasi, rambutnya awut-awutan dan pakaiannya tak karuan. Bahkan ada beberapa kain yang dikenakannya robek-robek," kata orang tua malang itu dengan air mata masih berlinang.

Ginggi sedikit menahan nafas. Terbayang kembali pakain Nyi Santimi yang juga robek-robek tak karuan di dalam gua.

"Aku akan cari penyebab sesungguhnya dari kematian ini," gumam Ginggi seperti berbicara pada dirinya.

"Mari, Ki Kuwu…" kata pemuda itu meninggalkan rumah yang penghuninya tengah berduka ini.

"Engaku mencurigai sesuatu, anak muda?" tanya Ki Kuwu di tengah jalan. Ginggi hanya mendengus kecil.

"Akan aku selesaikan segalanya, Kuwu…" gumam pemuda itu akhirnya.

"Kau dan penduduk disini tak berani melawan sebab mereka orang-orang kuat. Begitukah, Kuwu?"

"Raden Suji sopan tapi memaksa. Dan dia nampaknya sakti mandraguna. Dia sanggup membengkokan tombak berbatang baja dan mendobrak daun pintu lumbung umum dengan sebelah tangannya dengan senyum dikulum," kata Ki Kuwu.

"Kau bilang dia orang sopan…"

"Tutur katanya memang begitu. Halus, lemah lembut, enak di dengar. Tapi entahlah, kami semua takut padanya."

"Aku akan pergi, Kuwu!" kata Ginggi. "Maksudmu, akan membereskan masalah ini, anak muda? Syukurlah. Kalau Kandagalante Pasanggrahan mengontrol ke sini, akan aku laporkan perjuanganmu. Mudah-mudahan engkau diberi penghargaan, anak muda…" kata Ki Kuwu. Ginggi hanya tersenyum kecil.

"Engkau harus singgah lagi ke rumahku sebelum melanjutkan perjalanan," kata Ki Kuwu. Ginggi sedianya akan menolak permintaan ini, tapi karena kepala desa ini begitu memaksa, terpaksa Ginggi menuruti kemauan orang tua ini.

Di rumah Ki Kuwu, Ginggi dijamu makanan-makanan enak. Ginggi tak sanggup menolaknya sebab sudah berhari-hari tak mengecap makanan enak. Sebelum berangkat, pemuda itu pun dibekali sebuah bungkusan kain. Entah apa isinya. Ginggi menolak keras tetapi yang memberi semakin keras memohon agar pemberian ini tak ditolak.

"Kau pengembara yang banyak kebutuhan di jalan. Hanya ini yang mampu aku lakukan untuk membalas budimu," kata Ki Kuwu.

Budi apa, pikir Ginggi. Secuil pun dia belum berbuat kebaikan kepada Ki Kuwu, apalagi kepada seisi kampung ini.

"Aku tak punya jasa apa-apa. Yang aku janjikan tadi hanya baru akan dilaksanakan. Itu pun kalau mampu," kata Ginggi tersenyum masam.

"Hanya sekadar janji pun sudah merupakan anugerah bagi kami rakyat kecil. Dan tak usah sungkan, kami sudah biasa begini. Kalau datang pengontrol dari kota, kami juga suka memberi kebaikan seperti ini. Orang pemerintahan mengontrol kami artinya mereka ingat kami. Dan itu anugrah," kata ki Kuwu.

Kembali Ginggi tersenyum masam. Dan untuk tidak menyinggung perasaan Ki Kuwu, bantalan kain itu diterimanya.

Perampok Hutan Jati

Ginggi melanjutkan perjalanan, mengikuti jalan pedati ke arah barat laut. Ki Kuwu yang memberikan panduan. Bahwa jalan ke arah barat laut akan mengantarnya ke tempat-tempat yang dituju.

"Jalan pedati ini terus berlanjut ke barat dan menyinggahi wilayah Kandagalante, baik yang di utara, mau pun yang ada di barat. Jalan pedati ini pula yang kelak akan mengantarmu ke Pakuan," kata Ki Kuwu.

Ginggi amat berterima kasih sekali atas penjelasan ini, kendati tujuan yang harus didahulukan sekarang adalah membuntuti ke mana rombongan seba itu pergi.

Pemuda itu pun berterimakasih kepada Kuwu Wado yang telah memberinya bekal perjalanan. Buntalannya yang dibawa dari gunung tempo hari tertinggal di Desa Cae, padahal pakaian cadangan dan makanan kering seperti dengdeng menjangan ada di buntalan itu.

Di tengah jalan memeriksa buntalan pemberian Ki Kuwu. Di dalamnya ada dua stel pakaian kampret lengkap dengan celana pangsi dan ikat kepalanya. Ada juga makanan yang siap dimakan dan yang bisa tahan lama untuk disimpan. Tapi yang membuat Ginggi penuh perhatian, di buntalan itu ada terdapatkanjut kundang (pundi-pundi) yang ketika dibuka isinya kepingan logam yang pemuda itu tidak tahu untuk apa keperluannya.

Ginggi tak berlama-lama memeriksa isi buntalan sebab dia harus bergegas mengejar rombongan seba. Tapi karena bekas roda pedati begitu jelas ada di permukaan jalan, pemuda itu tidak mengalami kesulitan membuntutinya. Bahkan sebentar kemudian rombongan itu sudah dapat terlihat.

Rombongan nampaknya tetap berjumlah duapuluh orang, semua bertugas dengan bawaannya dan hanya lima orang yang seolah-olah bertindak sebagai pengawal, atau pemimpin rombongan.

Ginggi terus membuntuti rombongan itu yang berliku-liku seperti ular ketika melalui jalan dengan kelokan-kelokan tajam, atau melata seperti ulat bila tengah menaiki tanjakan perbukitan. Namun ketika tiba di sebuah jalan bercabang, rombongan berhenti.

Ki Kuwu Wado tadi mengabarkan bahwa di barat laut jalan bercabang. Jangan salah mengambil jalan. Bila menuju jalan kanan akan menuju wilayah Kandagalante Pasanggrahan dan kemudian ke ibukota Sumedanglarang di Ciguling. Tapi bila mengambil ke kiri akan menuju hutan jati. Kata Ki Kuwu jalan hutan jati akan terus menuju barat yang kelak akan tiba juga di Pakuan. Merupakan jalan lain menuju Pakuan dari Talaga yang tidak melalui Sumedanglarang.

"Melalui hutan jati, jalan cukup memotong sebab tak perlu melambung ke utara untuk singgah di Sumedanglarang, kalau tujuan kita memang mau ke Pakuan. Tapi kadang-kadang perjalanan lewat sini merepotkan. Selain kondisi jalan lebih berat juga suka ada gangguan keamanan," kata Ki Kuwu.

Ginggi berusaha untuk mendekati rombongan sebab di antara sesama anggota seperti tengah merundingkan sesuatu.

"Mengapa kita memilih jalan ke kiri, Raden?" tanya Ki Ogel kepada pemuda berkuda.

"Paman Ogel, kita memilih jalan ke kiri untuk menghemat perjalanan. Jalan sini lebih singkat karena memotong dan tak begitu melambung," kata pemuda berpakaian beludru hitam itu.

"Akan tetapi jalan ke sini lebih berat dan harus keluar masuk hutan jati," tutur Ki Ogel lagi.

"Paman Ogel, lebih baik kita berpayah-payah melakukan perjalanan tapi selamat di tujuan daripada memilih jalan yang enak tapi banyak gangguan," kata pemuda itu lagi sopan tapi nadanya memerintah dan menyalahkan pendapat orang lain.

"Engkau mungkin tahu dari pembicaraan kita dengan Kuwu Wado, Sumedanglarang kini sudah dipengaruhi Cirebon. Banyak terjadi pemberontakan dan pertentangan antara yang pro dan yang kontra. Tapi bagi kita, kedua-duanya tak menguntungkan. Yang pro kepada Cirebon, akan mengganggu perjalanan kita dalam mengirim seba ke Pakuan. Yang tidak setuju dengan kebijaksanaan Pemerintah Sumedanglarang, mereka menjadi pemberontak dan suka berbuat onar. Kalau kita memilih jalan pedati, pasti harus lewat Pasanggrahan dan akhirnya musti memasuki wilayah ibukota Sumedanglarang dan itu amat tak menguntungkan kita," kata pemuda itu. Dan pemuda bercelana hitam dengan ornamen berkilat-kilat kena cahaya matahari ini rupanya amat disegani anggota rombongan, Buktinya, protes-protes kecil itu akhirnya mereda juga.
Artinya, semua setuju melakukan perjalanan lewat hutan jati.

Tapi perjalanan ini memang merupakan perjalanan sulit. Kian jauh merambah, ruas jalan kian meyempit dan kondisinya amat buruk. Tanahnya lembab karena kurang tersinari cahaya matahari. Anggota rombongan mesti bekerja ganda. Selain mereka dikenai kewajiban memikul bawaan, di saat-saat tertentu mereka mesti mendorong pedati dulu karena rodanya melesak ke tanah lembek atau masuk ke sela-sela bebatuan.

"Ayo, cepat! Kita tak boleh kesorean di tempat ini!" teriak si pemuda berkuda coklat itu.

Tapi untuk mentaati kehendak si pemuda, tak semudah seperti apa yang diucapkannya. Jangankan harus berjalan cepat, untuk sekadar menggerakkan roda pedati itu saja, sulitnya bukan main. Ki Ogel, Ki Banen beserta Seta dan Madi sekarang harus turun tangan membantu mendorong pedati yang roda-rodanya sering melesak ke tanah lembek.

Apa yang dikhawatirkan pemuda itu ternyata terbukti. Ketika cuaca di hutan semakin meremang karena cahaya matahari sudah tak sanggup lagi menembus dedaunan.

Ginggi yang selalu membuntuti rombongan itu dari jarak yang tak begitu jauh bahkan bukan merasa khawatir karena hari sudah mulai senja, melainkan karena melihat gerakan-gerakan mencurigakan di semak-semak yang ada di kiri kanan jalan.

"Ada yang tak beres," gumamnya sendirian.

Dan benar saja, dari balik semak-semak belukar kini bermunculan belasan bahkan puluhan orang, semua bersenjatakan golok, tombak dan parang. Wajah-wajah mereka nampak garang, dipimpin oleh orang yang berpakaian hitam-hitam, bertubuh tinggi besar dan wajah brewos.

Pemuda di atas kuda segera menghentikan gerakan kudanya. Semua rombongan juga berhenti. Ki Banen, Ki Ogel, beserta Seta dan Madi serentak mencabut golok masing-masing, yang lainnya segera menurunkan pikulannya dan juga serentak mencabut golok di pinggang. 

"Siapa kalian?" tanya pemuda di atas kuda yang Ginggi duga adalah Suji Angkara.

"Tak perlu tanya kami siapa. Kalau kalian ingin pulang dengan selamat, tinggalkan barangbarang itu!" kata si tinggi besar dengan golok bersilang di dada.

"Hehehe…" Suji Angkara terkekeh, nampaknya tak menganggap ini sebuah bahaya. "Aku tak biasa bermurahhati memberi barang berharga kepada orang-orang tak dikenal," katanya.

"Kali ini kau mesti bermurah hati bila tak menganggap murah nyawamu!" kata Si Brewos.

"Ingin aku tahu, nyawa siapa yang sebenarnaaya murah dan tak berharga!" Suji Angkara balas mengejek membuat Si Brewos marah.

Tanpa basa-basi lagi, dia segera menghambur mengayunkan goloknya. Suji Angkara dengan sigap menarik kendali kuda dan binatang itu seperti mengerti perintah tuannya. Dia menghentak-hentakkan kaki depannya seolah-olah hendak menangkis serangan golok. Tapi kuda itu seperti memiliki akal. Dia menghentakkan kaki depan bukan sekadar melindungi dirinya dari serangan lawan, melainkan juga sambil menyerang.

Kuda itu berputar, membuat ancang-ancang dan meloncat ke arah si penyerang. Si Brewos terkejut melihat tubuh kuda yang tinggi dan besar menerjang ke arah dirinya. Rupanya dia tak mau dirinya diterjang kaki-kaki kuda dan segera menarik serangan goloknya sambil meloncat ke kiri. Terjangan kuda hanya lewat di samping tubuh Si Brewos. Tapi bersamaan dengan itu, terdengar suara jerit kesakitan dan Si Brewos terlempar ke belakang.

Si Brewos berguling-guling di tanah lembab beberapa kali, baru badannya berdiri dengan cepat. Namun ketika dia sudah berdiri semua orang menyaksikan betapa di pipi kiri Si Brewos memanjang luka goresan. Darah mengucur menuruni leher dan dadanya walau pun tidak deras benar. Suji tersenyum dengan senjata pendeknya.

"Serbu!!!" teriak anggota Si Brewos ketika melihat pemimpinnya terluka.

Mendengar aba-aba ini, serentak semua anak buahnya berteriak dan berlari menyerbu.

Semua anggota rombongan pemikul seba pun sudah bersiap dengan senjatanya masingmasing. Sais pedati melempar-lemparkan jenis senjata yang lebih besar lagi seperti trisula, pedang bahkan busur besar.

Madi melemparkan sebuah pedang kepada Suji Angkara yang segera menangkapnya. Pemuda itu dengan cepat mencabut pedang itu dari sarungnya dan langsung digerakannya untuk menangkis serangan sebuah golok.

"Ah!" teriak Ginggi yang menyaksikan dari jauh. Golok yang Suji Angkara tangkis ternyata terlempar jauh dan si pemegangnya meringis sambil memegangi tangannya. Tenaga pemuda itu besar, kata Ginggi dalam hati.

Pertempuran berlangsung cukup seru. Sudah terdengar teriakan kesakitan dari kedua belah fihak. Namun bila Ginggi menghitung, lebih banyak anggota rombongan seba yang terluka dibandingkan para penyerangnya. Di fihak rombongan seba hanya lima orang saja kelihatan menguasai ilmu berkelahi, yaitu Ki Ogel, Ki Banen, Seta serta Madi dan dipimpin oleh Suji Angkara yang memiliki kepandaian beberapa tingkat di atas keempat orang anak buahnya. Tapi kebanyakan dari anggota rombongan seba, hanya memiliki kepandaian sedananya saja. Mereka berani terjun ke dalam pertempuran hanya karena terpacu semangatnya oleh kegagahan Suji Angkara saja.

Dan memang, pemuda yang kadang-kadang perangainya nampak halus tapi kadang-kadang mulutnya angkuh ini melakukan perkelahian dengan semangat tinggi. Dari atas kudanya Suji Angkara tidak sekadar menangkis serangan lawan, bahkan lebih banyak lagi dia bersifat menyerang. Dia memacu kudanya untuk mengejar kesana-kemari di mana lawan berada.

Pemuda itu melakukan serangan dengan ganas. Pedangnya yang dia gerakan, semua diarahkan hanya untuk membunuhlawan. Ini terlihat sekali, betapa yang diburu mata pedang hanya bagian tubuh yang mematikan saja. Satu dua lawan yang mendekat, tak ayal menderita serangan yang dahsyat. Kalau tidak segera menghindar dengan jalan berguling-guling, mereka tidak sekadar luka biasa saja, melainkan akan tamat riwayatnya karena leher terbabat pedang atau dadanya terpanggang benda yang sama.

Tapi, jumlah penyerang satu setengah lebih banyak dari rombongan seba. Apalagi di antara mereka sudah banyak yang terluka dan jumlahnya hampir mencapai setengahnya. Sekali pun Suji Angkara gagah berani menghadapi lawan, tapi perhatiannya terpecah-pecah karena dia pun berusaha juga untuk melindungi keselamatan anak buahnya.

Sambil masih mengendap-ngendap di balik semak dan batang pohon jati, Ginggi mencoba datang lebih dekat lagi. Melihat keadaan tak menguntungkan fihak rombongan seba, Ginggi harus segera membantunya. Kendati pemuda itu kurang setuju dengan tindakan rombongan seba di Desa Wado tetapi kalau harus memilih, dia akan membantu rombongan ini ketimbang memperhatikan keselamatan fihak penyerang. Selintas pun Ginggi sudah bisa menduga bahwa fihak penyerang merupakan komplotan jahat yang mencoba akan merampas barang seba.
Ginggi juga punya kepentingan dalam membantu menolong rombongan seba. Dia ingin menyelidiki lebih jauh siap Suji Angkara ini. Dia ingin menggabungkan rasa curiga Rama Dongdo, Nyi Santimi dan naluri dirinya sendiri. Pemuda tampan berkulit putih ini sepertinya punya misteri.

Ginggi mengumpulkan butiran batu kecil yang dicongkelnya dari tanah lembek, sambil matanya terus menyaksikan jalannya pertempuran.

Di salah satu sudut pertempuran, Seta nampak dikepung tiga orang musuh, padahal bahu kirinya sudah terlukamengeluarkan darah. Tapi kendati pemuda tampan yang di bibirnya selalu mencibir ini sudah terluka, para pengeroyoknya seperti belum puas dan nampaknya ingin menempatkan riwayat pemuda itu. Itu nampak dari berbagai serangan yang datang kesemuanya terlihat ganas dan mengarah ke tempat-tempat berbahaya.

Suatu saat pemuda itu jatuh terjerembab karena menangkis serangan sebuah golok. Badannya telentang tak berdaya. Dia hanya berhasil menangkis satu serangan saja, sedangkan ada serangan lainnya mengarah ke batok kepalanya. Namun ketika golok musuh diayun pemegangnya, tangan Ginggi pun segera bergerak menyambitkan satu kerikil. Serbuan batu kerikil lebih cepat dari gerakan ayunan golok dan tepat mengarah ke urat nadi pergelangan tangan. Karena urat nadi menjadi kaku dan kesemutan, gerakannya terganggu. Ini memberkan kesempatan kepada Seta untuk melakukan serangan balasan. Si penyerang menjerit ngeri dan tubuhnya limbung ke samping ketika babatan golok merobek perutnya.

Satu kali golok Seta berkelebat kembali dan kali ini si penyerang yang tangannya masih kesemutan menjadi makanan empuk golok tak bermata itu. Jeritan kedua terdengar memecah hutan jati dan tubuh orang itu terjerembab karena luka yang sama seperti kawannya.

Akan halnya penyerang ketiga yang menghambur dari belakang, secara aneh badannya terjerembab ke depan. Pemuda Seta yang posisinya masih telentang, sudah barang tentu kaget bukan main. Lawannya ini jelas melakukan serangan tetapi amat nekat dan bodoh bila begitu saja menjatuhkan diri ke atas badan lawan, apalagi tanpa bersiap dengan goloknya. Bluk, tubuh si penyerang menindih badan Seta tanpa bisa bergerak lagi. Seta heran, mengapa tubuh ini jatuh seperti karung goni. Tapi hal ini tak dibuat bingung berlama-lama, sebab goloknya segera digerakan untuk "merangkul" tengkuk penindihnya. Mata golok yang tajam ditekan kuat-kuat dan membenam dalam ke tengkuk lawan.

Seta menyingkirkan tubuh yang diam tak bergerak menindih badannya. Dia segera bangun, berdiri dan bertolak pinggang dengan gagahnya. Matanya menyipit dan meneliti ketiga tubuh yang bergelimpangan di bawah kakinya.

Sementara di tempat lain, perkelahian juga hampir dapat diselesaikan. Ini karena Ginggi pun melakukan hal yang sama, membantu rombongan seba secara diam-diam. Hanya saja, dari bantuannya ini mengejutkan dirinya, sebab setiap musuh yang dia timpuk urat nadinya dan menjadi terganggu gerakannya, menjadi sasaran empuk fihak Suji Angkara dan dibabat habis tanpa mengenal ampun.

Ginggi tersenyum pahit dari balik pohon yang jaraknya hanya sekitar empat atau lima depa saaja dari arena pertempuran. Ini adalah pemandangan pertama baginya. Ternyata yang namanya perkelahian sepertinya hanya memilih dua alternatif, dibunuh atau membunuh.

Sisa-sisa musuh yang tak telanjur menjadi mayat itu, hanya karena mereka melakukan langkah seribu saja, termasuk Si Brewos pemimpinnya. Mereka terbirit-birit masuk ke kegelapan hutan jati, dijadikan bahan tertawaan lawannya. Namun sebelum suara langkah kaki mereka menghilang, terdengar suara teriak dari mereka. Rupa-rupanya Si Brewos yang berteriak.

"Tunggulah pembalasan bagi orang orang yang berani melawan Ki Banaspati!" teriaknya lantang.

"Apa, Ki Banaspati?!" suara teriakan campur rasa heran ini keluar dari mulut Suji Angkara, Ki Ogel, Ki Banen dan mulut Ginggi dari balik semak-semak. Ginggi terkejut, Ki Banaspati adalah salah satu dari keempat orang yang tengah dicarinya atas perintah Ki Darma. Ki Banaspati menjadi perampok?

"Mustahil Ki Banaspati merampok barang yang akan diserahkan kepadanya!" teriak Seta sambil kedua tangan masih bertolak pinggang di sekeliling mayat yang bergeletakan.

"Seta, kau berhasil melumpuhkan mereka seorang diri?" berteriak Madi gembira campur heran. Keheranan serupa juga melanda semua orang, termasuk Suji Angkara.
"Kau kalahkan mereka seorang diri?" tanya Suji Angkara sambil turun dari kudanya. "Saya juga gembira bisa mengalahkan mereka, Raden…" kata Seta tersenyum cerah dan
masih bertolak pinggang. Tubuh yang bergeletakan satu-persatu dia gulingkan dengan ujung kakinya, sombong sekali. Nampak Suji Angkara tersenyum mengejek. Syukurlah kau bertindak gagah. Kelak aku akan usulkan kau jadi jagabaya di bawah kekuasaan Kandagalante Muaraberes," kata Suji Angkara. Seta menggangguk suka cita.

"Bagaimana kita sekarang, Raden?" tanya Ki Banen.

"Kita akan melanjutkan perjalanan menuju arah hilir Cipeles dan berhenti sebelum masuk jalan pedati menuju Sumedanglarang. Akan ada utusan Ki Banaspati di sana," kata Suji Angkara bicara sambil mata menerawang ke kejauhan dan tangan kanan memegang hulu senjata yang terselip di pinggang.

"Mari, kita harus segera meninggalkan tempat ini dan terpaksa dilakukan malam-malam. Banyak binatang buas di sini," kata Suji Angkara lagi.

"Ada enam orang terluka, termasuk Seta. Mereka tak akan kuat melakukan perjalanan jauh, Raden," kata Ki Ogel.

"Aku kuat, Aki!" kata Seta padahal darah di bahu kirinya terus mengucur.

Sebelum Suji Angkara memutuskan sesuatu, dari arah belakang mereka, kira-kira belasan depa jaraknya ada orang tergopoh-gopoh.

"Apa yang terjadi di sini? Hah, banyak orang luka nampaknya!" teriak Ginggi. Dia memutuskan akan bergabung dengan rombongan agar memudahkan perjalanan selanjutnya.

Mulanya semua orang bercuriga dan bersiap kembali dengan senjatanya. Namun kemudian mengurungkannya kembali setelah tahu siapa yang datang.

"Itu pemuda dungu di kampung kita," kata Ki Ogel tertawa. "Hei, kemanaa saja kau? Bukankah tempo hari kamu akan ikut membantu mengangkut barang seba?" tanya Ki Ogel.

"Oh, kalian rupanya. Mengapa meninggalkanku?" tanya Ginggi pura-pura bingung.

"Ki Ogel, jangan membawa orang tolol itu. Dia telah mengacaukan acara pertunangan saya dan Nyi Santimi dan hampir-hampir gagal," kata Seta menuding hidung Ginggi.

Ginggi mundur beberapa tindak dan memperlihatkan rasa takut terhadap Seta.

"Aku, aku tak salah. Hanya menatap wajah Nyi Santimi yang cantik, dia jatuh pingsan. Padahal mataku tidak setajam pedang, Kang!" jawab Ginggi ketakutan.

"Jangan sebut aku Kakang. Apa dikira aku ini kakakmu? Sekali lagi kau sebut itu, kau akan terbaringkan seperti tiga perampok itu, mengerti!" kata Seta mencabut golok. Kembali Ginggi mundur setindak dan semua orang tertawa dibuatnya, tidak terkecuali yang sedang terluka.

"Sekarang Nyi Santimi sakit karena matamu itu tolol!" bentak Seta lagi. Kembali semu orang tertawa, juga Suji Angkara. Aneh rasanya ada orang sakit karena dipandang.

"Bagaimana Raden, bolehkah aku membawa serta anak muda ini?" tanya Ki Ogel meminta pendapat.

"Betul. Kita kekurangan tenaga pikul. Lagi pula, ayahanda Raden pun sudah mengizinkan anak ini untuk ikut membantu," Ki Banen ikut mengusulkan.

"Aku pandai mengobati orang sakit, orang luka dan sebagainya, Raden," kata Ginggi mencoba menatap wajah pemuda itu. Namun hari sudah demikian gelap dan hanya keremangan saja yang ada di wajah pemuda itu. "Kalau benar engkau bisa mengobati orang sakit, itu lebih bersyukur lagi. Berarti, rombonganku punya dua tambahan tenaga, satu tenaga tukang pikul dan satunya lagi juru obat," kata Suji Angkara dengan bahasa yang enak didengar. "Sekarang, coba tanggulangi teman-teman kita yang terluka. O,ya… Siapa namamu?"

"Ginggi…" kata Ginggi yang tak mencoba lagi bertahan tentang identitas.

"Ginggi…Nama yang bagus. Kalau aku tahu lebih dahulu, ketika lahir ke dunia aku ingin nama itu," kata Suji Angkara.

"Tapi, Ginggi adalah jin yang jahat, Raden!" jawab Ginggi. Sejenak Suji Angkara tertegun dan seperti terkejut. Namun akhirnya dia tertawa kecil.

"Aku senang itu…Aku senang itu. Hahaha!" katanya lagi tertawa.

Sekarang Ginggi harus membuktikan bahwa dia ahli obat. Maka dia meminta izin untuk mencari dedaunan hutan yang akan digunakan sebagai obat luka. Ki Ogel ikut membantu dengan menyalakan obor.

Sebenarnya Ginggi tak benar-benar ahli sebagai peramu obat. Tapi selama bertahun-tahun hidup bersama Ki Darma di puncak gunung, dia banyak mengenal berbagai jenis tanaman yang bisa digunakan sebagai obat, termasuk obat untuk luka karena senjata tajam.

Ki Darma pernah mengatakan bahwa kehidupan manusia sebenarnya dikawal oleh empat unsur bumi, yaitu angin (udara), air, api dan tanah. Yang dimaksud unsur tanah ialah juga terdapat di bumi ini, termasuk berbagai tanaman yang tumbuh di atas tanah.

"Mereka sebenarnya menjaga kita, termasuk mengobati kita bila terjadi sesuatu penyakit. Hanya sudah barang tentu, kita harus mengenal sifat dan kekuatan berbagai kekayaan di bumi ini, termasuk macam-macam tanaman yang tumbuh di situ." Ginggi dan Ki Darma selama di puncak meneliti dan mempelajari sifat serta kegunaan berbagai tanaman hutan.

Sekarang, pengetahuan yang didapatnya di puncak gunung, mulai dipraktekkan untuk menolong orang lain. Untuk mengobati luka karena senjata tajam, Ginggi mencari daun petai cina yang kelak akan digerus dengan garam, untuk kemudian ditempelkan dan dibalutkan ke luka tubuh.

"Sekarang aku perlu jeruk nipis banyak-banyak, ragi tape dan bawang merah. Tapi dimana barang-barang itu bisa ditemukan di malam begini?" tanyanya sendirian.

"Jangan kuatir, itu semua tersedia di gerobak pedati. Seba yang akan dikirim ke Pakuan di antaranya semua hasil rempah-rempah, termasuk yang engkau tanyakan barusan," kata Ki Ogel.

"Bagus. Ramuan ini diperlukan untuk mencegah demam. Orang luka biasanya diserang demam yang hebat," kata Ginggi.

Penjemput Tak Ada Perjalanan yang rencananya harus dilakukan malam itu juga, akhirnya dibatalkan sebab enam orang yang terluka harus disembuhkan dahulu.

Di pinggir jalan lembab tengah hutan pohon jati ini, orang-orang berbenah membuat lingkaran dan memasang api unggun. Tiap dua orang mendapat giliran jaga. Kecuali Ginggi, sepanjang malam dia mengobati luka-luka para anggota rombongan. Sudah barang tentu ini pekerjaan yang melelahkan. Apalagi sebelum bertugas menjadi tabib, dia dikenakan pekerjaan mengurus mayat musuh.

Ada lima mayat terbujur kaku, tiga di antaranya "dibunuh" sendirian oleh Seta, tapi yang bertanggungjawab seluruhnya hanya Ginggi seorang.

"Aku tak mau menguburkan mayat musuhku!" kata Seta dan Madi ketus ketika Ginggi meminta bantuan.

"Kamu harus punya rasa kasihan terhadap semua orang. Kalau kamu yang tadi mati, mungkin dia pun akan menguburkan jasadmu!" kata Ginggi.

"Sialan kau!" bentak Madi hendak menempeleng wajah Ginggi yang segera menghindarinya.

Sesudah menguburkan kelima mayat, Ginggi kemudian sibuk mengurus yang luka sampai jauh malam.

"Tinggal engkau seorang yang belum kuobati, Seta," kata Ginggi mengusap keringat di jidat. Tapi Seta diam saja. Mendengar pun tidak.

Ginggi pun tak memaksanya. Dia hanya berkata kepada pasien yang lima orang, agar setiap hari mentaatinya menggunakan obat yang dibuatnya.

"Sehari saja kalian tidak makan ramuanku, kalian akan mati karena demam yang hebat dan karena luka yang membusuk," kata Ginggi yang dianggukan oleh para pasiennya.

Ketika Ginggi akan mengambil tempat untuk tidur, Seta datang menghampirinya. "Jangan tidur! Brengsek kau!" kata Seta.
"Ha! Sudah tak ada pekerjaan untukku!" kata Ginggi. "Cepat, obati aku!" kata Seta bernada perintah.
Sambil senyum dikulum, Ginggi bekerja lagi membuat ramuan sampai hari menjelang pagi.

***

Ginggi dibangunkan dari tidur lelapnya ketika rombongan akan melakukan perjalanan kembali. Kata Ki Ogel, SujiAngkara yang mengizinkan agar Ginggi dibiarkan beristirahat agak lama.

Namun tanpa memberi kesempatan kepada pemuda itu untuk mencari air guna keperluan membasuh muka, rombongan segera berangkat. Suji Angkara mengabarkan bahwa untuk sementara perjalanan hanya akan mencapai tepi Sungai Cipeles saja dulu. Di tepi jalan di ujung jembatan gantung ada garduh tempat beristirahat dan di sanalah utusan Ki Banaspati menunggu.

Sudah barang tentu, uraian ini semakin menarik bagi Ginggi. Suji Angkara yang dianggap misterius dan dicurigai Rama Dongdo, bagi Ginggi hari ini merupakan orang yang amat diperlukan karena bisa digunakan sebagai petunjuk.

Ginggi juga ingin tahu, apa hubungan Suji Angkara dengan Ki Banaspati? Kemudian, apa pula hubungan antara Ki Banaspati dengan komplotan perampok itu. Tadi malam seusai pertempuran kecil di hutan jati, perampok berteriak mengakui dirinya sebagai bawahan Ki Banaspati. Kalau benar begitu, hanya menggambarkan seolah-olah Ki Banaspati pimpinan para perampok! Sungguh gila pengakuan ini. Padahal Ki Banaspati yang dimaksud Ki Darma adalah seorang yang tengah menjalankan misi untuk membela ambarahayat Pajajaran. Atau, ada berapa banyak nama Ki Banaspati di bumi Pajajaran ini? Mungkinkah yang dikenal Suji Angkara atau pun perampok di hutan jati bukan yang dimaksud Ki Darma?

"Aku harus terus bergabung dengan rombongan ini," kata Ginggi dalam hatinya.

Seperti biasa, rombongan pengirim barang seba ini berjalan terseok-seok karena perjalanan yang berat. Sekarang barangkali lebih lambat sebab adanya orang-orang yang luka. Mereka jangankan disuruh memikul beban berat, untuk melangkah dengan tegap saja nampaknya amat kesulitan.

"Kalian nanti beristirahat di dusun kecil tepi Sungai Cipeles," kata Suji Angkara kepada yang terluka.

"Apakah di sana kita akan mengangkut barang seba yang baru lagi, Raden?" tanya Ki Banen yang selama di perjalanan jarang sekali bicara.

"Tahun-tahun lalu dusun itu suka bergabung dan mengirimkan hasil bumi kepada Umbul Cipeles, untuk selanjutnya dikirim ke Kandagalante yang menguasai Sumedang Selatan. Tapi kita lihat saja nanti, apakah ada kekayaan mereka yang perlu kita angkut," kata pemuda yang mencongklang kudanya lambat-lambat di depan.

Ginggi ada di barisan paling belakang. Dia bertugas mengawal perjalanan roda pedati. Kalau roda melesak ke tanah lembek atau masuk ke sela-sela batu, tugas Ginggi untuk mendorong pedati, dibantu oleh beberapa orang yang terpaksa menurunkan pikulannya.

Kalau mau, sebetulnya dengan tenaga seorang saja pemuda itu sanggup mendorong-dorong pedati tanpa menggunakan kerbau. Hanya saja bila dia sembrono memperlihatkan tenaganya, hanya akan membuat orang bercuriga padanya. Dia tak ingin membuat orang memperhatikannya secara khusus.

"Kalau orang mengetahui bahwa kita punya kekuatan, mereka akan bertindak hati-hati kepada kita. Tapi sebaliknya, bila kita terlihat bodoh, maka mereka akan menganggap enteng dan selalu melakukan tindakan sembrono yang dalam hal-hal tertentu akan menguntungkan kita," kata Ki Darma tempo hari di tengah-tengah latihan kerasnya. Ucapan Ki Darma ini mudah dibuktikan kebenarannya sesudah Ginggi turun gunung. Jangan jauh-jauh, pikirnya, karakter dan isi benak pemuda Seta dan Madi begitu terkuak dan mudah diketahui Ginggi, hanya karena dia berpura-pura menjadi orang lemah. Kedua pemuda itu mungkin beranggapan bahwa sikap dan kebiasaannya tak perlu mendapatkan penilaian dari pemuda "bodoh" macam Ginggi. Coba kalau pemuda ini memperlihatkan kemampuan yang sebenarnya, bisa-bisa Seta dan Madi membungkuk dan merunduk atau menyembah sampai wajah mereka mencium tanah saking hormat kepadanya. Dan penampilan hormat itu hanya polesan belaka, tidak menampilkan karakter yang sesungguhnya.

Ketika Ginggi mendorong pedati dengan susah payah, Ki Banen yang selalu berjalan di muka bersama Ki Ogel, pergi ke barisan belakang dan ikut mendorong pedati.

"Kau ke mana saja, anak muda?" tanyanya

"Dari tadi aku mendorong pedati disini, Aki!" kata Ginggi dengan nafas senggal-senggal.

"Maksudku, kemarin dulu itu," kata Ki Banen. "Malam pertama kehadiranmu di Desa Cae, kau tidur di gardu. Malam kedua, aku tahu kau menonton pertunjukan pantun. Tapi di malam ketiga, aku tak lihat kamu," katanya.

"Malam ketiga? Di mana aku, ya?" Ginggi menggaruk-garuk belakang kepalanya.

"Bukan apa-apa. Aku ingin memberikan beberapa penjelasan malam itu karena aku ingat kau ingin ikut menjadi pengirim barang-barang seba,," kata Ki Banen.

Ginggi hanya diam saja.

"Kau harus hati-hati terhadap Raden Suji…" kata Ki Banen lagi. "Pemuda tampan itu baik padaku," jawab Ginggi.
"Begitu, selama engkau menuruti kata-katanya. Tapi kalau kau punya pendapat yang tak berkenan di hatinya, kau bisa repot."

"Ya, akan kuusahakan saja," gumam Ginggi. "Tapi, kau selalu sependapat dengan pemuda tampan itu, bukan?" giliran Ginggi mengajukan pertanyaan. Tampak Ki Banen menghela nafas.

Roda pedati masuk ke sela-sela batu, berhenti mendadak karena terganjal. Ginggi tersuruk ke depan dan mukanya membentur pantat pedati. Hanya saja Ki Banen sanggup menahan tubuhnya sehingga tak sampai terjerembab ke depan. Ginggi mengusap-ngusap jidatnya, nampak seperti kesakitan.

"Ayo dorong berdua. Satu, dua, tigaaa!! Ya!!!" teriak Ki Banen memberi aba-aba. Pedati kembali berjalan.

"Kalau aku punya waktu, kapan-kapan kau kulatih ilmupenca , anak muda!" kata Ki Banen. "Penca, apakah itu?" "Itu ilmu untuk mempertahankan diri dari gangguan musuh. Bila kau memiliki ilmu penca, kau tidak akan dijadikan bulan-bulanan oleh Seta dan Madi."

Ginggi tersipu dan memalingkan muka.

"Aku dengar kau dianiaya oleh kedua pemuda sombong itu di tepi pancuran. Kalau kau punya kepandaian, kau tak mungkin dihina seperti itu," kata Ki Banen.

"Kalau aku punya kepandaian, giliran aku yang menghina orang lemah, ya, Aki!" Ki Banen tersenyum.
"Itulah kekeliruan hidup, anak muda. Manusia cenderung menganggap enteng orang yang dianggapnya lebih lemah dari kita. Padahal ilmu penca juga mengajarkan budi pekerti selain sebagai ilmu bela diri. Bila orang sudah belajar penca, jangan ingin dipuji karena punya kepandaian dan jangan menghina orang, juga karena kepandaian. Penca hanya akan memberikan kesadaran kepada kita bahwa sebenarnya kita ini makhluk lemah dan tak ada apa-apanya dibandingkan Sang Rumuhun," kata Ki Banen.

"Siapa Sang Rumuhun?"

"Itulah penguasa tunggal di jagat ini. Langit dan bumi beserta isinya, semua milikNya," kata Ki Banen.

"Kau pernah berjumpa dengannya?"

"Kita bisa berjumpa denganNya hanya melalui hati dan naluri. MencariNya hanya menggunakan akal tak akan bisa ditemukan. Akal tidak bisa menjawabnya bila ada pertanyaan mengapa Sang Rumuhun menciptakan kita, menciptakan binatang, tumbuhtumbuhan dan alam raya. Hanya dengan naluri saja kita mengakui kekuasaanNya," kata Ki Banen.

"Bila hidup kita dikuasai olehNya, barangkali kita tak boleh berbuat semaunya, Aki!" "Betul."
"Tidak boleh sewenang-wenang." "Betul…"
"Tidak boleh merampas barang orang lain walau pun apa alasannya." "Betul…"
"Termasuk dengan alasan kepentingan seba…"

Ki Banen merandek, kemudian tunduk dan menghela nafas.

"Kau pasti tahu peristiwa di Kampung Wado, anak muda," keluhnya. "Aku singgah di sana sebelum menyusulmu, Aki" kata Ginggi menatap orang tua ini untuk mencari jawab peristiwa di Wado.

"Inilah bagian dari kemelut negara, anak muda."

"Tapi menurutmu tempo hari, pengiriman seba ke Pakuan berlangsung tanpa musyawarah. Wilayah mana yang tetap bersetia terhadap Pakuan, dia pergi mengirim seba. Tetapi yang tidak mau, biarkan punya pendirian sekehendak hatinya sendiri," tutur Ginggi menirukan apa yang telah diucapkan Ki Banen tempo hari.

"Memang begitu," jawab Ki Banen.

"Nah! Tapi mengapa kalian memaksa orang Wado untuk mengirim seba ke Pakuan padahal ratunya sudah memilihbiluk ke Cirebon?"

"Memang kacau, kacau!" gumam Ki Banen. "Raden Suji punya pendirian keras. Dia tetp bersetia kepada Pakuan, bahkan berani memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Jadi menurutnya, semua orang harus tetap mengakui Pajajaran sebagai penguasa tunggal di tanah Sunda ini,’ kata Ki Banen.

"Dan Aki sendiri akan bersetia ke mana?" tanya Ginggi.

"Aku ini orang Pajajaran. Sejak pemerintahan Kangjeng Prabu Sri Baduga Maharaja lebih dari limapuluh tahun lalu, di masa remaja, aku sudah mengabdi sebagai jagabaya di beberapa kandagalante. Terakhir aku menjadi jagabaya bersama Ki Ogel di Karatuan Talaga dan baru berhenti ketika Talaga masuk wilayah Cirebon," kata Ki Banen menerawang masa-masa yang telah lalu.

"Kau terus bersetia kendati raja-raja yang memimpin Pajajaran tidak sebaik pendahulunya, Aki?" tanya Ginggi mengerutkan alisnya.

Ki Banen menghela nafas.

"Raja boleh berganti-ganti tetapi Pajajaran tetap sama. Dan kau harus ingat, bahwa sebetulnya kau hidup di bumi Pajajaran. Kepada Pajajaran pula kau harus mengabdi," kata Ki Banen pasti.

"Aku tidak akan ikut campur pada pendirianmu, Aki. Tapi aku ingin mengingatkanmu, hatihatilah dalam melakukan pengabdianmu. Kau jangan keliru memilih, jangan sampai kesetiaanmu dimanfaatkan untuk kepentingan lain oleh orang-orang yang tak bertanggungjawab," kata Ginggi. Ki Banen menatap sejenak, kemudian tertawa kecil. Ginggi tak faham, tawa kecilnya ini karena apa. Apakah karena ia mengerti akan peringatan pemuda itu, atau malah melecehkannya karena merasa dinasihati oleh anak muda.

"Satu lagi pertanyaanku, Aki," kata Ginggi sesudah untuk yang kesekian kalinya menjungkat roda pedati yang masuk terhimpit sela-sela batu.

Ki Banen menoleh ke arah Ginggi.

"Aku ingin tahu, siapa Ki Banaspati itu?" tanya Ginggi. "Aku belum jumpa dengan orang ini. Tapi pasti merupakan tokoh penting di Pakuan. Suji pun nampak menyeganinya. Kata anak muda itu, Ki Banaspati petugas penting di jajaranMuhara Pakuan,’ jawab Ki Banen.

"Muhara…?"

"Muharaadalah petugas penarik pajak. Pucukmuhara di Pakuan dipegang oleh Bangsawan Soka, masih kerabat raja juga. Kata Raden Suji, Ki Banaspati bertugas sebagaimuhara di wilayah timur, wilayah paling berat dalam pemungutan pajak, sebab selain jarak jangkaunya amat jauh, juga beberapa wilayah sudah memihak Cirebon. Raden Suji Angkara, putra Ki Kuwu Suntara, merupakan tangan kanan Ki Banaspati dalam pemungutan pajak di daerah timur," kata Ki Banen.

Ginggi masih termangu-mangu di saat-saat santai bila pedati lancar berjalan.

"Tapi, tadi malam…" Ginggi tak melanjutkan kata-katanya. Sedianya teriakan perampok yang mengaku anak buah Ki Banaspati akan ditanyakan. Tapi mana mungkin dia bertanya, padahal ketika teriakan itu terdengar, dia masih sembunyi.

Ki Banen tak memperhatikan pertanyaan yang terpotong itu sebab ada suara Suji Angkara memanggil dirinya.

Ketika matahari sudah condong ke barat, rombongan tiba di dusun kecil tepi Kali Cipeles. Di dusun ini mereka bermalam agar besok bisa melanjutkan perjalanan pagi-pagi sekali.

Tidak ada kejadian berarti di dusun kecil ini, kecuali adanya penghormatan berlebihan dari kepala dusun kepada Suji Angkara.

Kepala dusun dengan rasa takut dan segera mengatakan bahwa dusunnya tak sanggup membayar seba kekayaan hasil bumi karena panenan palawija kurang berhasil.

"Kalau bisa diterima kami akan menjalankandasa saja, yaitu membayar pajak dengan tenaga. Semua penduduk dusun siap sedia membantu mengangkut barang pikulan yang banyak ini," kata kepala dusun.

"Baik, kalian kerjakan saja apa yang mampu kalian kerjakan. Yang penting kalian tetap mengabdi kepada Pajajaran," kata Suji Angkara. Kepala dusun merunduk dan menggangguk sebagai tanda bersyukur bahwa dia diizinkan membayar pajak berdasarkan kemampuan yang ada.

"Ada enam orang petugas kami yang luka-luka karena gangguan orang jahat di tengah perjalanan. Kau berkewajiban merawat anggota kami di sini. Dan karena kami butuh anggota pengganti, kau harus sediakan tenaga enam atau sekurang-kurangnya lima orang pemuda bertubuh sehat dan bertenaga kuat. Mereka harus bergabung dalam pengiriman seba yang bertugas hingga Sagaraherang," kata Suji Angkara. Kepala dusun mengganguk tanda siap melaksanakan perintah. Besok paginya, benar saja kepala dusun sudah menyiapkan enam orang pemuda yang tegaptegap. Kepala dusun pun sudah mengatur agar enam orang petugas pengiriman seba yang luka ditampung di rumah-rumah penduduk untuk dirawat kesehatannya.

Rombongan segera berangkat lagi. Kali ini, jalan pedati sudah tak seberat seperti di bukitbukit hutan jati sana. Selain perjalanan tidak naik turun bukit, juga jalanan sedikit rata berdebu di saat kemarau yang tengah berlangsung ini.

Jalan pedati ini terus menyusuri Kali Cipeles dan yang kelak satunya akan menuju wilayah Kandagalante Sumedang dan satunya akan menyebrangi Kali Cipeles, terus ke utara menuju Sagaraherang, Cikao, Karawang, Tanjungpura, Warunggede, kemudian lurus ke barat menuju Cibarusa, Cileungsi, dan akan berakhir di ibukota Pajajaran, Pakuan.

"Tapi di beberapa daerah utara, bisa jadi kita tak akan melewati jalur utama sebab kekuatan Pasukan Cirebon di wilayah utara sudah nampak nyata. Kita harus menghindari percekcokan dengan mereka tentang urusan seba ini," kata Suji Angkara.

Ki Banen mengatakan kepada Ginggi, perjalanan pengiriman seba ini memang tersendatsendat tidak seperti masa-masa Pajajaran utuh menguasai tanah Sunda.

0 Response to "Senja Jatuh di Pajajaran Jilid 06"

Post a Comment