coba

Senja Jatuh di Pajajaran Jilid 03

Mode Malam
Jilid 03  

Ketiga orang itu kemudian menuju gardu. Yang disebut garduh ini sebuah bangunan mirip rumah tapi dengan ukuran amat kecil mungkin lebar dua depa dan panjang tiga depa saja. Tidak memiliki dinding tertutup. Dan yang menandakan bahwa ini tempat menjaga keamanan, karena di sampingnya terdapat kentongan, juga ada beberapa alat lainnya.

Mereka bertiga langsung duduk di bale-bale yang terdapat di gardu tersebut. Sambil duduk, Ginggi meneliti beberapa alat yang disimpan di sudut bangunan kecil ini. Ada tumbak(tombak), yaitu semacam tongkat kayu tapi ujungnya diberi logam yang amat runcing. Benda ini jelas fungsinya untuk menusuk. Adacikrak , yaitu sebangsa brankar untuk mengangkut orang pingsan atau celaka. Adacangkalak , seikat tambang terbuat dari bahan bambu. Mungkin fungsinya untuk mengikat tahanan. "Dan yang ini apa namanya, Ki?" tanya Ginggi meneliti sebuah alat lain. Sama seperti tombak hanya ujungnya yang terbuat dari logam itu melengkung seperti bulan sabit atau tanduk kerbau.

"Itu namanyacagak . Fungsinya untuk menangkap orang yang dicurigai. Supaya dia tak melarikan diri dalam pengejaran, orang itu kita pepet ke dinding dengan cagak. Pasti tidak akan lepas lagi sebab badannya terkurung lengkungan cagak ini," kata Ki Ogel, "Kita hanya tinggal mengikat kaki dan tangannya saja dengan cangkalak ini," lanjutnya seraya memperlihatkan tambang bambu itu. Ginggi mengangguk-angguk.

"Seringkah para tugur menangkap penjahat, Ki?"

"Tidak dikatakan sering. Sebab pada umumnya penjahat selalu menghindari bentrokan dengan tugur. Kalau kitalengah mereka masuk. Tapi bila kita siaga, mereka tak ada," kata Ki Ogel.

Ki Banen hanya batuk-batuk kecil saja sambil mengorek-ngorek kuping dengan jari kelingkingnya.

"Tapi, ya begitulah, seperti apa yang dikatakan Rama tadi, yang namanya penjahat bukan terbatas pada pencuri dan penyamun saja. Yang datang ke kampung ini dengan niat mengacaukan, memang tidak sedikit," kata Ki Ogel setengah mengeluh.

"Heran. Kalau bukan pencuri atau penyamun, untuk apa mereka berbuat kejahatan mengacau desa?" gumam Ginggi seperti bicara pada dirinya sendiri. Ki Ogel ikut menghela napas.

"Sekarang ini jaman kacau, anak muda. Musimnya orang berambisi untuk memperoleh kesenangan, musimnya orang menganggap dirinya benar dan menuding orang lain salah serta musimnya keserakahan dan kemunafikan merajai kehidupan. Ada orang yang merasa punya kebenaran dan hal itu dipaksakan kepada orang lain agar menjadi kebenaran umum. Ada orang yang merasa punya wibawa dan kewibawaan itu dipaksakan kepada orang lain agar kebesaran tercipta pada dirinya. Dan yang menjadi korban kesemua ini adalah ambarahayat. Banyak perintah, banyak pendapat dan mereka tak tahu, apa yang harus dilakukan sebenarnya. Yang berani melakukan pilihan, akan punya risiko sebab menciptakan pertentangan satu sama lainnya," kata Ki Banen dengan wajah kusam.

Ginggi menatap wajah Ki Banen. Orang tua ini tak gemar bicara. Tapi satu kali bersuara menimbulkan renungan yang dalam baginya.

"Apa yang sedang kalian hadapi sebenarnya, sepertinya hidup ini benar-benar sesak dan sempit buat kalian, Ki?" tanya Ginggi sambil membereskan rambutnya yang tergerai ke pundak karena tanpa ikat kepala.

"Aneh sekali. Kau memang orang aneh, anak muda. Mengaku pengembara tapi tak tahu keadaan dunia," Ki Ogel yang menjawab. "Sekarang ini zaman pertentangan pendapat. Sesudah kehadiran agama baru, banyak orang bersilang pendapat mempertentangkan kebenaran hakiki. Ada orang bertahan dengan kebenaran lama, ada orang berjuang melebarkan sayap kebenaran baru. Akibatnya, orang yang tak tahu apa-apa menjadi terpecahpecah dan ada juga yang sampai berkelahi. Anak melakukan permusuhan dengan ayah dan saudara kandung menjadi renggang. Itu semua konsekuensi dari kehadiran agama baru, anak muda," tutur Ki Ogel.

"Aku tidak tahu apa itu agama. Tapi kalau ada orang yang mempertentangkan kebenaran, kedengarannya lucu. Mengapa pula tadi Aki katakan ada kebenaran baru yang dipertentangkan dengan kebenaran lama, seolah-olah kebenaran itu bisa berubah-ubah mengikuti pergantian masa. Kalau ada orang bertindak tak adil kepada yang lain apakah akan dinilai berbeda pada masa yang beda. Apakah orang-orang masa lalu, hari ini dan masa yang akan datang akan menilai berlainan terhadap orang yang suka bohong, berkhianat dan kepada orang yang gemar menganiaya?" kata Ginggi menatap saling bergantian kepada kedua orang tua itu.

Giliran Ki Ogel dan Ki Banen yang menatap pemuda itu dengan penuh rasa heran.

"Omonganmu barusan hanya akan keluar dari mulut orang yang mengenal agama. Akan tetapi, mengapa kau tadi bilang tak kenal agama, anak muda?" tanya Ki Banen mengerutkan dahi. Dibalas oleh pemuda itu dengan sama-sama mengerutkan dahi.

"Walau tidak rajin benar, tapi Ki Dar… maksudku, orangtuaku kerap mengatakan hal ini kepadaku. Tapi tak satu kali pun dia mengatakan bahwa itu agama," gumam Ginggi merenung.

"Orang mengenal tata-nilai dan aturan hidup dan apalagi melaksanakannya, itulah orang beragama, anak muda…!" kata Ki Ogel. "Adakah orangtuamu mengatakan tentang agama yang dianutnya?" lanjut Ki Ogel lagi.

Pemuda itu termenung sejenak, lalu, "Setahuku dia tak bilang apa-apa. Kalaupun dia sering memberikan petuah, apakah itu bagian dari agama, aku tak diberi tahu," katanya.

"Entah siapa orangtuamu. Tapi sikapnya aneh. Dan kesemuanya melahirkan perangai aneh padamu, anak muda. Kau datang ke kampung ini tanpa basa-basi sopan-santun. Dan lantas kami percaya serta memaklumimu setelah kau bilang tak kenal agama. Tapi sekarang, kau bicara panjang lebar penuh filsafat. Aneh, benar-benar aneh!" kata Ki Banen.

"Sudah berapa kali kalian bilang soal sopan-santun. Aku tak tahu, sopan-santun itu apa, Ki ?" tanya Ginggi, disambut gelak tawa kedua orang tua yang duduk bersila di hadapannya.

"Nah, sekarang kalian tertawa. Padahal tadi sore kalian berang padaku karena urusan sopansantun itu!" omel Ginggi menampilkan mimik jengkel. Melihat kejengkelan pemuda ini, Ki Ogel tertawa, juga Ki Banen dengan tawa tipisnya.

"Benar-benar kau orang aneh anak muda," kata Ki Ogel

"Walaupun baru sedikit-sedikit, engkau tahu akan sikap hidup yang benar, anak muda," kata Ki Banen dengan suara rendah. "Tapi, memang kau benar-benar tak mengenal agama. Sebab orang yang tahu akan agama akan tahu juga tradisi dalam menjaga nilai hidup. Orang yang mengenal danmenjunjung agama, di antaranya sanggup memperlihatkan perilaku baik.
Berkata benar, mendengar benar, melihat benar,rengkuh (sopan dengan badan membungkuk) terhadap orang yang lebih tua dengan tutur kata halus dan suara enak didengar," kata Ki Banen. "Lantas…?"

"Harus sanggup menjaga wibawa dan kehormatan baik diri sendiri maupun keluarga, juga wibawa serta kehormatan raja dan kerajaan," Ki Ogel yang melanjutkan omongan.

"Nah, kalau sudah begitu, bereslah keadaan. Tetapi, mengapa kalian tadi membingungkan hidup yang tengah berlangsung hari ini?" Ginggi menyerang dengan pertanyaan baru. Ki Ogel dan Ki Banen menundukkan kepala dan menghela nafas. "Itulah masalahnya, anak muda…" keluh Ki Banen. Kedua orang ini saling tatap dengan sorot lesu. Menundukkan kepala dan menghela nafas lagi.

Diam membisu.

Suara binatang malam mulai terdengar. Ada suara cengkerik menggerit-gerit pilu, ada suara burung malammenghardik-hardik lesu dan di kejauhan sayup-sayup burungloklok danbungaok kian menambah sepinya malam. Padahal bulan di langit benderang. Ginggi menghitung, ini hari ke duabelas di perjalanan bulan ke enam tahun Saka. Dan melihat bulan benderang, pemuda ini jadi ingat Ki Darma. Barangkali di puncak Cakrabuana Ki Darma masih sendirian. Kalau tak "diusir" pergi, seharusnya dia mengajak Ki Darma menikmati burung walik bakar yang diburu tadi pagi.

"Sudah kukatakan sejak tadi, ini zamannya orang berebut pengaruh. Sekarang di bumi Jawa Kulon, Pajajaran tidak sendirian. Di sebelah barat ada Kerajaan Banten dan di timur Kerajaan Cirebon. Kedua negara baru itu mengatur sendi negara dengan dasar agama baru. Mereka tengah berjuang untuk memperkenalkan dan melebarkan pengaruhnyakemana-mana. Jadi, termasuk pula ke wilayah Pajajaran," kata Ki Banen.

Ki Ogel menambahkan, "Kini pengaruh agama baru semakin meluas. Kerajaan Talaga dan Kerajaan Sumedanglarang yang dulu benar-benar taat kepada Pajajaran karena disana merupakan pusat-pusat agama lama, sudah lama terpengaruhi keyakinan agama baru walau sebagian masih setia dengan agama lama. Namun akibatnya, timbul perpecahan.
AdaKandagalante (setingkat wedana di zaman kini-pen) yang diam-diam mempertahankan keyakinan lama, ada juga yang terang-terangan masuk kepada keyakinan baru. Di dalam lingkungan kandalante sendiri sebetulnya sudah terpecah-pecah. Beberapa desa masih mau mempertahankan keyakinan lama, tapi beberapa diantaranya melepaskan begitu saja," kata Ki Ogel panjang lebar.

Ruwet sekali keadaan, pikir Ginggi di saat mendengar penjelasan ini. "Kampung ini sendiri, masuk ke dalam keyakinan mana, Ki?" tanyanya.
"Disini pun sebenarnya sudah ada macam-macam gagasan. Tapi Rama Dongdo tidak bersifat memaksakan sesuatu. Beliau tetap patuh kepada amanat Kangjeng Prabu Sri Baduga Maharaja, penguasa Pajajaran puluhan tahun silam. Dulu Sang Prabu bersabda, tidak akan melarangambarahayat mengambil satu keyakinan agama. Yang beliau larang bila sembarangan memilih sambil tak jelas apa yang dipilih. Tak apalah ambarahayat memilih agama yang bermanfaat bagi kesentausaan negara, asalkan jangan untuk berkhianat dan membodohi, bukan untuk memupuk kekayaan dan kesenangan pribadi. Tak apalah mengganti keyakinan dengan yang baru asalkan untuk menolong sesama yang membutuhkan dan membantu orang lain tanpa pamrih apa pun," kata Ki Banen.

"Namun kebijaksanaan Kangjeng PrabuSuargi (yang sudah meninggal) tidak dimengerti benar oleh semua lapisan ambarahayat. Banyak orang bertahan karena agama lama atau berjuang karena agama baru hanya dipertalikan dengan kepentingan politik," kata Ki Ogel.

"Aku tak mengerti, Ki !" kata Ginggi mulai menguap karena malam semakin menjelang.

"Kalau kau pandai mengamati perjalanan waktu beserta isi kehidupan ini, kau akan tahu," kata Ki Banen turun dari bale-bale. Dia mendekati kentongan. Diambilnya alat pemukulnya yang diselipkan di sela-sela lubang kentongan dan segera dipukulkannya ke tubuh benda yang terbuat dari kayu nangka ini. Trong-trong-trong-trong-trong! Beraturan dan enak didengar.

"Matamu kuyu dan tengkukmu kian melengkung. Lehermu pun tampak seperti leher kurakura. Itu tanda kau ngantuk dan kecapaian. Ayo, tidurlah kau tak perlu cari-cari jasa ikut jaga
!" kata Ki Ogel.

Ginggi tersipu. Padahal tadinya janji mau ikut tugur atau meronda. Tapi, memang baru sekarang dia rasakan, betapa lelahnya sebetulnya dia. Sejak pagi hari menuruni bukit dan lembah serta keluar masuk hutan, tidak sebentar pun dia istirahat. Makan dendeng menjangan pun, bekal dari Ki Darma, dilakukannya sambil berjalan menyusuri hutan.

Ginggi berbenah diri. Buntalan kainnya yang berisi satu dua stel pakaian sederhana dia gunakan sebagai bantal. Ginggi berbaring, telentang sebentar. Kelopak matanya dikatupkan. Tapi di kelopak matanya itu malah terbayang gadis mungil yang membawa baki dan menyodorkan penganan.

Siapakah dia, pikir pemuda itu. Namun hatinya tak sempat berbincang-bincang lagi sebab matanya sudah pedih terkatup rapat. Pemuda itu terlena.

Hanya saja, entah berapa lama ia tertidur. Sebab secara mendadak dia dikejutkan oleh sebuah pertanyaan yang diajukan cukup keras.

"Siapa dia ?" kata si suara keras.

"Dia pengembara kemalaman, Ki Kuwu. Numpang tidur!" Ki Ogel menjawab hormat.

"Di saat suasana genting seperti ini kau jangan sembarangan menerima pendatang. Kenapa pula tidak dilaporkan padaku ?" kata orang yang dipanggil Ki Kuwu.

Diam sejenak.

"Bangunkan dia !" kata Ki Kuwu lagi dengan nada jengkel.

"Jang, bangun, Jang !" Ki Ogel menggerak-gerakkan tubuh Ginggi yang sebenarnya sudah sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka.

Pemuda itu pura-pura menggeliat, menguap dan menggisik-gisik kedua matanya. Lalu dia memutar wajah ke segala arah. "Hei, bangun orang asing !" kata Ki Kuwu.

Ginggi menggisik kembali kedua belah matanya sebelum benar-benar menatap orang yang berdiri bertolak pinggang di sisi bale-bale.

Ketika pemuda itu meneliti, ternyata yang disebut Ki Kuwu adalah seorang lelaki setengah baya berpakaian kampret hitam, bercelana komprang putih dan ada kain sarung tersandang di bahunya. Dia memakai terompah kulit dan banyak hiasan cincin batu di hampir semua jari tangannya, kanan dan kiri. Ikat kepalanya juga hitam, sedikit totol-totol coklat muda. Tapi yang lebih menarik perhatian pemuda itu, Ki Kuwu ini matanya mencorong tajam karena bola matanya nampak besar menonjol. Hidungnya juga besar agak pesek, dengan hiasan kumis tebal hitam melengkung seperti tanduk kerbau.

"Beri hormat kepada Ki Kuwu Suntara, anak muda," kata Ki Banen setengah memperingatkan.

Ginggi sudah punya pengalaman. Bila berlaku seenaknya maka orang yang dibawa bicara akan tersinggung. Maka untuk tidak membuat kemarahan orang, Ginggi mengikuti tata cara seperti apa yang mereka inginkan. Melihat Ki Ogel dan Ki Banen berdiri setengah membungkuk sambil sepasang tangan bersilang di bawah pusar, pemuda itu pun ikut berdiri dan berlaku seperti mereka. Membungkuk setengah menunduk dan kedua tangan bersilang di bawah pusar.

"Siapa namamu, dari mana asalmu dan apa keperluanmu datang ke sini !" Ki Kuwu Suntara mengajukan pertanyaan beruntun.

"Aku kemalaman dan numpang tidur disini. Aku pengembara, hendak mencari kerja. Tadinya minta kerja jadi tugur di sini, Ki Kuwu," kata Ginggi menjawab berpanjang-panjang padahal untuk menyembunyikan beberapa jawaban yang tak mungkin diucapkannya.

"Hahaha !" Ki Kuwu tertawa ngakak sambil melinting ujung kumis kiri dan kanan. "Tugur bukan pekerjaan yang mesti diberi imbalan, sebab merupakan kewajibandasa (pemenuhan pajak tenaga). Dasar anak dungu !" ejek Ki Kuwu Suntara.

"Oh, aku baru tahu bahwa tugur itu suatu kewajiban," gumam Ginggi.

"Nah, memang begitu. Tapi kalau kau hanya pengembara dan berniat mencari sesuap nasi, kau boleh memilih pekerjaan di kampung ini. Aku banyak membutuhkan tenaga muda sepertimu ini," kata Ki Kuwu sambil matanya meneliti bentuk tubuh Ginggi yangsembada ( kekar) dan sedikit berotot keras.

"Ogel, teliti latar belakang anak muda ini. Kalau memenuhi syarat kau boleh ajak dia bekerja," kata Ki Kuwu Suntara sambil hendak berlalu. "Eh, mana tugur yang dua orang lagi
?" katanya lagi meneliti isi garduh.

"Sedang berkeliling, Ki Kuwu," kata Ki Ogel "Bagus!" Dan Ki Kuwu berlalu dengan tangan berlenggang gagah. Di keremangan cahaya obor, sesekali tangan kanannya mengapit ujung kain sarung, sesekali tanganna digunakan memuril ujung kumisnya.

"Itulah Ki Kuwu Suntara, anak muda…" Ki Banen berkata sedikit mengeluh. "Diakah pemimpin di desa ini ?" tanya Ginggi.
"Benar. Tapi terkadang sering berbeda pendapat dengan orang yang dituakan, yaitu Rama Dongdo," kata Ki Banen lagi. Ginggi menoleh, minta penjelasan lebih jauh.

"Ya, sudah aku katakan tadi, kemelut urusan kenegaraan juga jatuh mengalir mempengaruhi orang-orang di bawah," Ki Ogel yang menjawab. "Kemelut karena kehadiran agama baru, juga terasa disini. Rama Dongdo tetap setia dengan agama lama. Tapi beliau tidak melarang rakyat di desa untuk memilih agama apa saja, termasuk yang baru. Sebaliknya Ki Kuwu Suntara minta ketegasan kita, apakah mau ikut ke mana, sebab kalau ragu-ragu seperti Rama, diperkirakan rakyat pun jadi ragu-ragu dan akhirnya terjadi perpecahan."

" Ki Kuwu sendiri memilih yang mana?" tanya Ginggi.

"Kami juga tak jelas, dia memilih apa. Sekali waktu dia mengatakan, karena kita hidup di bawah Kerajaan Talaga yang sudah ikutke Cirebon, sebaiknya desa ini pun ikut ke Ratu Talaga saja. Ki Kuwu mencerca Kangjeng Prabu Ratu Sakti yang dianggapnya sudah tak menjadi pemimpin negara yang baik karena menarik pajak tinggi dan suka bertindak keras terhadap rakyat. Anehnya kendati dia seperti memihakCirebon, tapi tetap memerintahkan rakyat di desa ini untuk mengumpulkan barang-barangseba (pajak hasil bumi tahunan) yang akan dikirimkan ke Pakuan. Ini aneh. Dan kami hanya menduga, Ki Kuwu Suntara sebenarnya masih menyegani Pakuan dan tak berani menahan seba yang diminta Pakuan," kata Ki Banen.

"Benar. Aku kira juga demikian kemungkinannya," gumam Ki Ogel.

"Kalau begitu aku baru mengerti. Banyakcarangka dandongdang (alat pengangkut barang hasil bumi) bertebaran di pekarangan Rama untuk kepentingan seba. Ya, kan?" kata Ginggi.

Ki Ogel dan Ki Banen mengangguk.

"Sekarang masa panen di ladang dan huma. Seba ke Pakuan juga dilakukan setahun sekali saat panen tiba. Barang-barang itu memang tengah dihimpun untuk kemudian menjadi iringiringan seba ke ibukota," kata Ki Ogel.

"Tentu jauh dan amat jauh sekali. Kalau kami harus langsung mengirimkannya kesana barangkali akan mati kelelahan. Kami hanya mengirim seba sampai ke sebuah tempat selepas Sumedanglarang saja. Dari sana ada yang melanjutkan lagi, sesudah semua desa yang masih setia kepada Pakuan sama-sama mengumpulkan seba," kata Ki Banen. Menurut kedua orang ini, jauh sebelum Kerajaan Talaga berpihak ke Cirebon, seba tahunan untuk Pakuan dihimpun di Talaga. Artinya, yang mengirim seba ke Pakuan dibebankan kepada kerajaan kecil yang ada di bawah Pajajaran. Sekarang sesudah ada perpecahan, bisa saja kerajaan menghentikan seba ke Pakuan, akan tetapi satu dua desa di bawah kerajaan tersebut masih setia mengirimkannya secara pribadi, atau bergabung dengan daerah lain yang masih samasama punya rasa setia," kata Ki Ogel lagi.

"Salah-satu diantaranya, adalah desa kami inilah," kata Ki Banen menyela.

Sayup-sayup dari kejauhan terdengar kentongan dipukul berirama. Kata Ki Ogel, mereka adalah dua tugur atau ronda yang tengah tugas berkeliling. Ginggi belum bertemu dengan dua tugur ini, sebab mereka baru hadir di saat Ginggi sudah tidur. Sewaktu pemuda ini terhenyak dibangunkan Ki Kuwu Suntara, dua tugur itu tengah keliling kampung.

Sekarang suara irama kentongan lebih jelas kedengaran, tanda kedua orang tugur datang mendekat. Dan ketika irama tabuhan itu kian keras, remang-remang di arah sana nampak dua orang mendekat. Tiba di pekarangan gardu wajah-wajah mereka nampak jelas kelihatan. Itu sesudah keduanya membuka kain sarung yang sejak tadi dikerudungkan ke wajah dan kepala mereka untuk menahan serangan angin malam.

Cahaya bulan yang sudah mulai bergeser ke barat disertai goyangan cahaya api obor di tangan seorang tugur menyebabkan Ginggi bisa mengenali wajah keduanya satu persatu.

Dua-duanya ternyata masih amat muda. Mungkin usianya hanya berbeda satu atau dua tahun di atas usia Ginggi. Yang membawa kentongan kulitnya agak kehitaman, giginya tonghor, menjorok ke depan. Ada kumis tipis berbulu jarang dan di dagunya berjuntai rambut jarang menyerupai jenggot. Si pembawa cahaya obor nampak sedikit lebih tampan, kendati ada kesan angkuh lantaran bibirnya selalu nampak mencibir bagaikan orang mencemooh. Ketika melihat Ginggi duduk mendekap lutut, si pembawa kentongan berkata, "Bagaimana, apa sudah diperiksa dengan baik anak pendatang itu, Ki Ogel ?" tanyanya. Mereka kini hanya berjarak satu sikut saja dengan Ginggi yang masih memeluk lutut karena dinginnya malam.

"Aku yang melapor kepada Ki Kuwu akan kehadiran orang asing ini," kata pemuda tampan pembawa obor tanpa memandang kepada Ginggi.

"Bagaimana menurut perkiraan Ki Kuwu, orang jahatkah dia itu?" Si Tampan menunjuk wajah Ginggi dengan obor, sehingga Ginggi mendongakkan kepalanya ke belakang karena ujung obor beserta cahaya apinya hanya tinggal sejengkal ke wajahnya.

"Tidak mencurigai anak ini sejauh itu sebab Ki Ogel mengabarkan sewajarnya berdasarkan penglihatan dan penilaiannya," kata Ki Banen.

"Apa yang Ki Ogel katakan kepada Ki Kuwu. Ki ?" tanya Si Angkuh lagi.

"Aku katakan bahwa anak muda ini kecuali lugu dan sedikit bodoh, tidak membahayakan kita semua. Dia datang entah dari mana. Kemalaman di sini dan punya tujuan mengembara, atau bekerja apa saja kalau bisa," kata Ki Ogel. Melirik ke arah Ginggi yang masih kalem-kalem saja memeluk lututnya.

"Tidak jahat tapi bodoh, ya! Huh!" dengus Si Tampan angkuh.

"Ya. Tapi Ki Kuwu sudah mengizinkan anak muda ini ikut kerja di sini," kata Ki Ogel. "Pekerjaan apa yang bisa diberikan kepada orang macam dia ?" giliran pemuda hitam bergigi tonghor yang bicara.

"Tentu bukan jenis pekerjaan yang memeras jalan pikiran," kata Ki Ogel.

Ki Banen hanya tertawa masam mendengar obrolan ini. Sebaliknya Ginggi acuh tak acuh saja. Secuil pun dia tak menyimak obrolan mereka. Mengapa harus menyimaknya, pikirnya. Tokh mereka pun, terutama kedua pemuda tugur itu, dalam memperbincangkan dirinya tidak sedikit pun memandang padanya, apalagi langsung mengajaknya bicara.

Ginggi terpaksa mepet ke sudut ketika kedua pemuda itu akan ikut duduk di bale-bale. Ginggi memang mesti mengalah pergi, sebab dia hanya ikut numpang saja dan jangan sampai kehadirannya mengganggu kenyamanan para petugas jaga saat beristirahat melepas lelah.

Keempat orang tugur duduk bersila saling berhadapan di tengah bale-bale, saling bertutur sapa dan mengobrol. Kedengarannya mereka tengah memperbincangkan suatu persiapan.

"Jadi, tiga hari sesudah pesta panen, kita baru beranjak pergi mengirim seba, Madi ?" tanya Ki Ogel.

"Betul, Ki. Sayang, pesta panen hanya dilakukan satu malam saja…" gumam pemuda tonghor yang ternyata namanya Madi.

"Dulu, dulu sekali, pesta panen dilakukan seminggu berturut-turut. Semua jenis kesenian ditampilkan mulairengkong hinggadogdog lojor , mulai seni dalang hingga tembang-carita Aki Pantun. Bahkan sanggup mengundang rombonganrenggonggunung dari tatar Galuh. Para anak gadis yang molek-molek, bukan saja keluar dari rumah-rumah seputar kampung kita, tapi juga datang dari luar kampung. Mereka datang berombongan, bersama kakak laki-laki mereka, atau pun bersama kedua orangtuanya. Mereka menghadiri pasar malam dan saling menukarkan barang berdasarkan keperluannya masing -masing. Yang sudah memiliki uang logam dari Negri Campa, Cina, Keling, Parasi, atau dari Pasai dan Siem, mereka pergunakan untuk ditukar dengan barang keperluan lebih berharga lagi," tutur Ki Ogel mengenang masa lampau yang penuh kebesaran.

"Sekarang bagaimana ?" tanya Si Tonghor.

"Sekarang, tidak semarak seperti dulu. Pesta panen tahun lalu hanya dilakukan dua hari saja. Tahun ini malah satu hari. Tak ada pasar malam, kecuali menggelar pantun, mencoba mengenang masa lalu. Tahun lalu banyak saudagar dari wilayah kandagalante menawarkan kain tipis buatan Campa. Tapi benda berharga seperti itu hanya bisa ditukar dengan uang logam asing, sebab tak mampu bila harus diseimbangkan dengan sepuluh kati kapas atau sepuluh dongdang padi. Penduduk sudah tak punya kekayaan lebih," kata Ki Ogel lagi.

"Aneh, padahal ladang tak berkurang dan huma pun selebar lautan. Mengapa penduduk tak sanggup memiliki kekayaan berlebih, Ki?" pemuda tampan yang nampak angkuh di mata Ginggi mulai membuka suara.

"Itulah karena berubahnya zaman, anak muda…" kata Ki Banen yang mulai bersuara pula. "Perubahan apa yang menyebabkan orang tak punya kekayaan berlebih, Ki?" tanya lagi si tampan angkuh.

"Kalau aku yang berbicara nanti terpeleset lidah. Mendingan tak menjadi salah pengertian yang mendengar. Bila tidak , hanya akan membahayakan diri sendiri. Sebaiknya kau pelajari sendiri Seta, simak sendiri dan saksikan sendiri. Apa yang kau nilai sendiri, itulah kebenaran, paling tidak bagi keyakinanmu secara pribadi , Seta," kata Ki Banen.

Ginggi baru tahu kalau Si Tampan angkuh ini Seta namanya.

***

Suasana terasa hening ketika kokok ayam mulai berbunyi. Hampir semua orang secara bersahutan menguap panjang. Ki Ogel merebahkan dirinya di bale-bale berbantalkan kedua belah tangannya, begitu pula Ki Banen, kendati hanya tidur ayam dengan jidat menempel di atas lutut. Madi masih membunyikan kentongan tapi makin lama makin pelan dan lambat, sampai akhirnya berhenti sama sekali. Ginggi bahkan sejak dari tadi tidur meringkuk di sudut.

Pertikaian di Pancuran

Pagi-pagi sekali Ginggi sudah dibangunkan oleh Ki Ogel. Orang tua ini mengatakan padanya agar bila ingin mandi bisa pergi menuju pancuran.

"Pancuran umum terletak di luarlawang kori (pintu gerbang desa). Tapi bertepatan dengan cahaya merah jingga di ufuk timur, pintu lawang kori sudah dibuka petugas," kata Ki Ogel.

Antara sadar dan tidak karena kantuk masih juga menyerangnya, Ginggi mencoba mengucakngucak kedua belah matanya. Dia pun segera menggoyang-goyangkan kepalanya mencoba mengusir rasa kantuknya itu. Ginggi memang harus bangun pagi untuk membuat langkah perjalanan selanjutnya. Mana yang lebih penting, melanjutkan perjalanan atau mencoba mencari pekerjaan di desa ini. Nampaknya memang ada tawaran kerja di sini. Tapi tawaran kerja apa, dia tak tahu.

"Biar nanti kuputuskan seusai mandi saja," gumamnya sendirian.

Di gardu tinggal dia sendirian sebab Ki Ogel entah sudah pergi kemana, begitu pun Ki Banen. Perkara kedua pemuda bernama Madi dan Seta yang tak dia senangi, Ginggi tak perlu mengingatnya. Tak kutemui lagi pun tak mengapa, pikirnya.

Ginggi menjinjing buntalan kainnya menuju lawang kori untuk keluar kampung, sebab menurut Ki Ogel, pancuran tempat mandi ada di luar benteng kampung.

Pintu lawang kori sudah terbuka lebar namun tak ada penjaga disana. Sebagai tanda, pada siang hari penduduk tak merisaukan akan adanya gangguan yang tak diharapkan.

Ginggi melangkah ke luar kampung. Beberapa ratus langkah mengikuti jalan utama, dia sudah menemukan jalan setapakke kiri, menurun dan membelok. Ginggi mengikuti arah ini, sebab sayup-sayup dia mendengar suara air pancuran. Benar saja, di sana ada pancuran. Airnya bening keluar dari sebuah mata air di bukit terjal. Mengucur turun melalui sela-sela batu cadas dan kemudian ditampung saluran bambu. Air pancuran itu jatuh terus-menerus membentuk sungai kecil berbatu. Banyak hamparan batu kecil rata mengkilap, mungkin selalu digunakan orang mencuci kain.

Karena di situ masih sunyi, maka dengan leluasa Ginggi menanggalkan seluruh pakaiannya. Baju kampret warna nilanya dibuka, begitu pun celana sontognya. Dan brus, begitu saja dia membiarkan seluruh badannya diguyur air pancuran yang dingin menusuk tulang sumsum.

Sampai pada suatu saat terdengar jeritan tertahan dari arah jalan setapak. Ginggi menoleh dan amat terkejut, sebab jeritan itu keluar dari mulut seorang gadis. Gadis itu menutup mulutnya, membalikkan badan dan berlindung di balik rimbunan pohon.

"Nanti dulu, aku masih telanjang bulat!" seru Ginggi mempercepat mandinya.

"Saya sembunyi di sini, tidak lihat engkau!" terdengar jawaban dari balik pohon. "Tapi kau salah. Seharusnya tidak mandi di pancuran ini. Ini tempat mandi dan cuci kaum wanita!" seru suara di balik rimbunan pohon itu.

"Kau gadis yang tadi malam menyodorkan penganan di rumah Rama Dongdo, bukan?" "Betul! Beliau kakekku!" jawab dari balik rimbun pohon lagi.
"Mengapa tak mengobrol denganku?"

"Ih, tak sopan benar, seorang gadis mengajak berbincang kepada orang yang baru dikenalnya!"

"Sekarang kan bisa?"

"Ih, cepatlah, ketahuan orang lain, kau nanti dimarahi!" kata suara di balik rimbunan pohon itu. "Laki-laki tak boleh sembarangan dekat-dekat pancuran ini!" katanya pula masih sembunyi.

"Ini, aku sudah jauh dari pancuran!" kata Ginggi yang sudah berdiri di dekat gadis itu. Gadis berkain dan berkebaya hitam dengan rambut terurai sebatas pinggul ini terkejut manakala membalikkan badan sudah melihat seorang pemuda berikat kepala dan berpakaian kampret dengan rapih.

"Kapan kau selesai mandi? Tak kudengar gerakanmu," katanya menatap wajah pemuda itu selintas, namun bisa meneliti hidung pemuda itu yang sedikit mancung, bola mata bundar dan dagu sedikit terbelah dua ini. Sebaliknya Ginggi pun terpesona melihat lesung pipit di pipi kiri gadis itu. Hidungnya kecil mancung serta bibir tipis sedikit merah, dengan sudut-sudut mata yang tajam dengan mata yang hitam legam. Ginggi pun terpesona melihat ke celah di bagian dada, ada kulit kulit kuning langsat agak montok menonjol dan menantang selera kaum lelaki.

Gadis itu rupanya tahu apa yang diperhatikan pemuda itu, dan serta merta melindungi bagian yang jadi incaran mata penatapnya. Kini giliran Ginggi yang tersipu-sipu. Pipi dan telinganya terasa panas manakala dia menduga bahwa apa yang dia lakukan dengan matanya diketahui dan dirasakan gadis itu.

Plakk! Pemuda itu menempeleng pipinya sendiri dan membuat bengong gadis itu. "Apa yang kau lakukan, Kang?" tanya gadis itu heran.
"Ada … ada nyamuk di pipiku!" kata pemuda itu gagap. Sang gadis yang kini diketahui menjinjing cucian di sebuah ember kayu terkekeh lucu mendengarnya.

"Kok, urusan nyamuk saja ditertawakan?" kata Ginggi heran.

"Lucu, baru kali ini di kampungku banyak nyamuk pada pagi hari …" kata gadis itu terkekeh lagi. Tangannya yang putih lentik itu digunakannya menutup renyah tawanya.

Ginggi tersenyum. "Memang tak ada nyamuk, sih…" katanya menggaruk belakang kepala.

"Mari, aku bawakan jinjinganmu, nampaknya berat," kata pemuda itu menawarkan jasa.

"Sudah biasa aku bawa jinjingan macam begini saban pagi," kata gadis itu sebagai tanda menolak tawaran pemuda itu.

"Ini karena sekalian saja. Aku juga mau mencuci pakaian kotor !" kata Ginggi sedikit memaksa.

"Ih, sudah aku katakan, lelaki tidak di sini! Ayo, sini saja cucianmu, aku yang bersihkan!" kata gadis itu, langsung mengambil pakaian kotor yang tengah digapit Ginggi.

Pemuda itu mandah saja pakaian kotornya diambil gadis itu. Bahkan di hatinya ada perasaan senang gadis itu mau melakukan untuknya.

"Aku tunggu di sana, ya?" kata Ginggi.

"Ah, sudahlah. Di rumah ada ubi rebus, sengaja aku buatkan. Lagi pula, kakek ingin bertemu kau," kata gadis dengan rambut halus menghiasi jidatnya ini sambil berlalu menuruni anak tangga batu. Ginggi menyimak langkah kaki gadis itu, sampai hilang di kelokan.

Ginggi menghela nafas, entah karena apa. Tapi dia lupa akan ucapan gadis itu bahwa dia ditunggu Rama Dongdo. Dia malah memilih batu sebagai tempat duduk di pinggir jalan itu. Duduk termenung namun dengan hati ringan dan senang. Apalagi ketika didengarnya sang gadis mempermainkan air pancuran karena sedang membersihkan badan. Pemuda itu membayangkan, betapa Si Gadis tengah menyibakkan dan menguraikan rambutnya yang hitam legam agar diguyur airdingin dan jernih itu. Dia pun membayangkan, betapa kulit wajah yang putih halus itu ikut diguyur, juga pundaknya yang sedikit berbulu tipis-tipis, juga betisnya, juga dadanya yang montok. Dan, ah, semuanya diguyur air pancuran itu. Beruntung benar sang pancuran, dia bisa bebas dan semena-mena menyaksikan tubuh mulus tanpa busana itu. Berbahagia sekali sang air gunung, dia dengan bebas dan semena-mena mengeluselus semua lekuk dan bagian tubuh mungil itu. Sialan benar! Pasti tak ada yang terlewat, semua lekuk dan relung dirambahnya oleh air keparat itu! Tuk! Ginggi mengetuk ubun-ubunnya sendiri. Benar kata Ki Darma tempo hari, kalau tak ada kendali, lari kuda bisa kemana saja. Tidak pula untuk jalan pikiran manusia.

Dan ingat ini, Ginggi segera berdiri. Dia akan mengunjungi Rama Dongdo seperti apa yang dipesankan gadis itu. Dia melongok sebentar ke arah jalan setapak yang menurun dan berkelok itu sebelum meninggalkannya.

Namun baru saja akan membalikkan badan untuk berlalu, "tuk!", kepala bagian belakangnya terasa ada yang memukul.

Ginggi menoleh ke belakang. Bukan karena sakit tapi karena terkejutnya. Rasanya, sudah dari tadi dia menggetok kepalanya sendiri, mengapa sekarang terasa ada getokan lagi.

"Kau mencuri lihat orang mandi, ya?" kata seseorang mengamangkan alat pikul. Ternyata yang datang adalah Madi, pemuda jangkung hitam bergigi tonghor itu. Dia pasti telah menggetok kepala Ginggi dengan ujung pikulan.

"Siapa bilang aku mengintip orang mandi?" kata Ginggi menolak tuduhan.

"Pasti mengintip. Kalau tak begitu, masa engkau diam di sini. Di bawah kan pancuran tempat orang mandi?" kata si tonghor dengan pikulan siap dipukulkan lagi.

"Aku tak mengintip orang mandi. Aku bahkan baru saja mandi," kata Ginggi lagi. Mendengar perkataan ini, sitonghor membelalakkan mata. Melihat ke jalan setapak arah pancuran, lantas berpaling kembali ke wajah Ginggi.

"Kau maksudkan mandi di pancuran ini?" Ginggi menganggukkan kepala.
"Sialan kau! Tidak tahukah bahwa ini pancuran untuk kaum wanita?" bentak si tonghor berteriak. Mulutnya terbuka lebar dan gigi tonghornya kian kentara. Kuning, kehitaman dan jarang-jarang.

"Ah, biar saja!" kata Ginggi mencoba berpura-pura tak acuh akan kemarahan si tonghor.

Merasa diabaikan, pemuda kurus jangkung dan hitam ini segera mengayunkan pikulan yang kini digunakan sebagai pentungan.

Sudah barang tentu, Ginggi tak rela ubun-ubunnya begitu saja menerima pentungan, apalagi ini dilakukan dengan pengerahan tenaga. Tetapi pemuda ini pun tak mau membuat orang mencurigai bahwa dia memiliki ilmu berkelahi. Ginggi menutup wajah rapat-rapat dengan kedua belah telapak tangannya dan berteriak minta tolong. Namun sambil meringis dia menunduk dan mundur setindak. Hanya terdengar ujung pikulan bersiut lewat beberapa sentimeter saja tapi ubun-ubun pemuda itu lolos dari serangan.

Ginggi lari kesana-kemari sambil teriak minta tolong, dikejar pemuda tonghor dengan beringas. Sementara semakin matahari bersinar, semakin banyak orang menuju pancuran, laki-laki dan perempuan. Mereka heran sepagi ini ada orang teriak-teriak ketakutan. Beberapa orang berlarian mendatangi tempat kejadian dan mendapatkan dua anak muda saling berkejaran.
Yang satu minta tolong satunya lagi melayangkan pikulan ke kiri dan ke kanan.

Seorang pemuda yang jauh lebih awal tiba di sana men coba menghentikan aksi kejarmengejar.

"Madi, mengapa engkau hendak menganiaya pemuda itu?" tanyanya, sambil menahan gerak Madi.

"Dia brengsek! Dia kurang ajar, Seta!"

"Brengsek dan kurang ajar karena apa, Madi?" tanya Seta sambil mendelik kepada Ginggi.

"Dia mandi di pancuran wanita. Ketika aku peringatkan, malah bilang biar saja. Begitu kan kau bilang tadi?"

"Apa tadi perkataanku kau dengar lain?" Ginggi ringan saja menjawabnya. "Tuh, kurang ajar, kan? "
"Kurang ajar bagaimana," Ginggi memotong. "Kubilang biar saja karena tadi hari masih pagi dan tak ada wanita mandi di sana," katanya. Tapi berbareng dengan itu, dari jalan setapak arah pancuran, muncul gadis rambut tergerai sebatas pinggul sambil menjinjing ember kayu dengan setumpuk cucian.

Gadis berlesung pipit ini hanya mengenakan kain hitam sebatas dadanya dan membuat seluruh lekuk-relung tubuhnya tercetak erat dan ketat, membikin ketiga pemuda itu terpana dan melongo. Si gadis yang melangkah cepat karena mendengar ribut-ribut, segera menutupi bagian dadanya dengan tangan kiri setelah tahu bahwa ketiga pemuda itu matanya seragam menyorot ke arah bagian badan yang barusan dia tutupi.

Semuanya tersipu-sipu malu karena kelakuannya ini. Tapi rasa malu Seta berubah menjadi kemarahan. Dia cepat menghambur ke arah Ginggi, dan plak-plak-plak! Tiga tamparan mendarat di pipi Ginggi.

Gadis itu menjerit kecil karena peristiwa ini.

"Hai, mengapa kau tampar wajahku?" Ginggi lebih merasa heran ketimbang sakit melihat Seta menamparnya beberapa kali.

"Kau kurang ajar menatap wanita lewat!" bentak Seta.

"Kalau begitu, tamparlah juga wajahmu tiga kali, malah empat kali buat temanmu itu, sebab dia menatap gadis itu sambil menelan air liurnya!" kata Ginggi senyum. Tapi omongan ini kian menyulut kemarahan Seta. Dibantu Madi ia kembali menghambur menerjang Ginggi.

Para wanita yang menyaksikan pertengkaran ini menjerit-jerit ngeri karena baik Madi atau pun Seta dengan garangnya mengayunkan pikulan untuk mencecar kepala Ginggi. Yang diserang malah hanya berteriak-teriak minta tolong sambil meringis dan menutupi wajahnya. Ketika ayunan alat pemikul yang dipegang Seta hendak menyabet tengkuk, kaki Ginggi tersandung akar dan jatuh terjerembab. Namun akibatnya, sabetan ke arah tengkuk menjadi lolos. Ketika pikulan Madi hendak mencecar pinggulnya, Ginggi bangun dengan cara berguling dulu ke kiri. Santai saja dia melakukannya, namun gerakan menggulir badan dilakukan dengan pas, sehingga serangan alat pikul hanya menggebuk permukaan tanah.

Sambil menepuk-nepuk celana kampretnya karena kena debu, Ginggi berdiri dan secuil pun tidak melirik ke arah penyerangnya yang mulai mengepung dirinya. Kedua orang itu mengelilinginya sambil memutar-mutar alat pikul. Madi ada di belakang dan Seta ada di depannya. Sambil memutar alat pikul, kedua orang itu melakukan langkah-langkah mantap dan itu merupakan kuda-kuda semacam ilmu berkelahi.

Ginggi sendiri tetap menampilkan diri sebagai seorang yang tak mengenal ilmu kedigjayaan, seperti apa yang dipesankan Ki Darma. Di samping ingat pesan orang tua itu, Ginggi pun merasa tak punya kepentingan untuk mengeluarkan jurusnya, sebab menurutnya, ini hanya urusan sepele saja.

Menghadapi pasangan kuda-kuda kedua orang yang mengepungnya, Ginggi hanya meringis saja. Keduatangannya di depan dada seperti orang ketakutan dan minta diampuni.

Beberapa orang yang sedianya hendak ke pancuran atau hendak berangkat ke ladang, menyuruh mereka supaya berhenti saja. Gadis semampai berlesung pipit pun berteriak-teriak menyuruh untuk menyelesaikan urusan ini.

Namun Seta dan Madi sepertinya masih memiliki rasa penasaran bila belum menggebuk pemuda bodoh tapi ugal-ugalan ini. Secara serentak keduanya melakukan serangan. Madi mengemplangnya dari belakang Seta menyodoknya dari depan. Ginggi menjerit ngeri, begitu pun yang lain, semuanya akan membayangkan bahwa sebentar lagi ubun-ubun kepala Ginggi akan kena kemplang alat pikul yang keras itu dan ulu hatinya pasti tersodok ujung pikulan di tangan Seta.

Untuk kesekian kalinya, Ginggi berteriak minta tolong sambil punggungnya membungkuk ke depan. Karena gerakan membungkuk ini, kemplangan dari belakang hanya menggebuk angin. Sedangkan serangan Seta hanya akan lolos sementara ketika tubuh Ginggi melenting ke belakang. Bila Ginggi tak menjatuhkan tubuhnya ke samping, akhirnya sodokan akan kena juga. Sambil telapak kaki menginjak tonjolan batu, Ginggi pura-pura terpeleset dan jatuh ke samping. Di lain fihak, Seta terlanjur mengeluarkan tenaga sodokan sepenuhnya, sehingga manakala sodokan itu gagal, tubuh Seta terjerembab ke depan.

Akan halnya pemuda Madi yang merasa kemplangan pertama gagal, secara cepat mengayunkan alat pikulnya untuk menyabet badan Ginggi bagian samping. Namun tubuh Ginggi sudah jatuh duluan ke arah berlawanan karena terpeleset batu. Padahal ketika serangan itu datang, amat bersamaan dengan munculnya tubuh Seta yang terjerembab ke depan.
Akibatnya tak ayal, jidat Seta terkena sabetanujung pikulan. Tidak telak benar, namun cukup membuat jidat pemuda itu benjol dan warna hijau menghiasi benjolan itu.

Orang-orang tertawa melihatnya. Betapa tidak, serangan dua orang pengepung, dikacaukan begitu saja hanya karena yang diserang terpeleset kakinya. Lebih lucu dari itu, terjadi kesalahan penyerangan sehingga yang satu menyerang kawan satunya lagi. Madi terkejut menyaksikan hasil kerjanya lain dari harapan. Sebaliknya Seta menjadi kesal dibuatnya. Sambil menahan rasa sakit di jidat, Seta menghambur ke arah Madi.

"Hai, Seta mengapa malah menyerangku!" teriak Madi menangkis serangan Seta.

"Mengapa kau menggebukku?" Seta kembali melayangkan kemplangan. Dan, pletaaak!!! Ujung pikulan mendarat di dahi Madi. Yang dipukul balik menyerang, sehingga keduanya akhirnya saling kemplang disertai sumpah serapah. Kini suara jerit penonton disertai teriakan kesakitan sebab yang bergumul, satu sama lain berhasil mengemplang lawannya.

"Hai! Hai! Jangan berkelahi! Berhenti! Berhenti!" Ginggi sibuk melerai kedua orang yang baku hantam ini. Akhirnya semua orang ikut terjun melerai perkelahian ini. Dan suasana kacau di pagi hari, di saat burung berkicau di hutan sana, berhenti manakala terdengar suara keras memekik dan menyakitkan telinga.

"Berhenti! Apa-apaan sepagi ini kalian sudah saling kemplang, hah?" kata orang itu. Semua mundur teratur sebab yang datang adalah Ki Kuwu Suntara.
"Mengapa kalian berkelahi?" tanyanya lagi.

"Karena anak dungu itu, Ki Kuwu!" kata Seta menunjuk ke arah Ginggi. "Karena apa?"
"Dia mengintip orang mandi, Ki Kuwu!" "Lantas, mengapa malah kalian yang berkelahi?"
Keduanya tak bisa menjawab. Saling pandang dan akhirnya menunduk. Giliran Ginggi yang diperiksa Ki Kuwu.
"Kau mengintip orang mandi, anak dungu?"

"Aku hanya kena tuding saja, Ki Kuwu!" jawab Ginggi.

"Dia juga mengaku mandi di pancuran khusus wanita, Ki Kuwu," kata Madi sambil memegangi pipinya yang tergores serangan Seta dan sedikit mengeluarkan darah.

"Kau mandi di tempat wanita?" tanya Ki Kuwu Suntara.

"Betul, tapi di saat pancuran sunyi. Aku mandi paling pagi, Ki Kuwu," jawab Ginggi pula.

"Bohong Ki Kuwu, sebab di pancuran ada Nyai Santimi. Begundal ini pasti habis menggoda gadis itu, Ki Kuwu!" kata Seta dengan wajah merah dan bibir bengkak kena sabetan Madi. Wajah pemuda tampan ini jadi kian tak keruan bila ditambah hiasan jendol sebesar telur ayam di jidatnya. "Nyai, kau mandi bersama pemuda tolol itu?" Ki Kuwu mendeleng ke bagian dada gadis yang segera Nyi Santimi halangi dengan tangan kanannya.

"Ih, siapa bilang! Dia mandi duluan sebelum saya datang ke pancuran. Saya juga katakan padanya bahwa lelaki tak diperbolehkan mandi di pancuran ini," tutur Nyi Santimi marah.

"Dia memaksa?"

"Dia sedang mandi ketika saya katakan perihal aturan itu!" kata Nyi Santimi.

"Apa kau mendekati pemuda itu padahal dia sedang mandi, Nyai?" tanya Ki Kuwu Suntara dengan suara setengah menyelidik.

Tampak wajah Nyi Santimi merah merona. "Saya hanya bicara dari balik rimbunan pohon, Ki Kuwu!" katanya menundukkan wajah.

"Bagus !" kata Ki Kuwu bergembira.

"Anak itu belum tahu tata-aturan di sini, harap maafkan saja Ki Kuwu," kata seseorang dengan lemah lembut.

Ternyata yang datang adalah Rama Dongdo. Barangkali dia memaksa datang karena keributan ini.

Ki Kuwu Suntara memandang Rama Dongdo dengan wajah dingin, tapi kemudian dia mengangguk.

"Ya, kali ini aku maafkan dia!" katanya sambil berlalu. "Ayo, bubar semua. Bubar. Urusan selesai!" katanya kepada penduduk yang bergerombol. Semuanya taat dan kembali mengerjakan tugas masing-masing. Yang akan pergi mencuci pergi ke pancuran dan yang akan berangkat ke ladang kembali memanggul cangkul. Madi dan Seta yang sedianya mengambil air minum di mata air pun kembali memikul gentongnya yang masih kosong. Namun belum beranjak dari tempat itu sebab nampak Ginggi mendekati Nyi Santimi.

"Nyai, baru tahu sekarang namamu Santimi. Indah benar, pas sekali dengan semampai tubuh dan mungil wajahmu," kata Ginggi. "Oh, ya, maafkan keributan ini. Tapi sungguh aku tak mengintipmu," katanya lagi.

Madi dan Seta mendengus. Nyi Santimi juga rupanya agak terpengaruh oleh sangkaan kedua pemuda ini. Buktinya wajahnya agak cemberut.

"Nih pakaianmu, sudah aku cucikan, sudah bersih!" katanya menyerahkan cucian kepada Ginggi.

"Ah, jasamu tidak akan kulupakan, Nyai. Perlu aku balas. Ayo, biar semua cucian itu, aku yang bawa. Kalau kau mau menyuruhku mengambil air bersih, akan aku lakukan pula!" kata Ginggi.

"Mari Nyai, biar aku saja yang membawakan cucian itu!" kata Madi menawarkan jasa. "Ya, cepat, kau yang bawa Madi!" kata Seta setengah memerintah.

"Biarlah, saya tiap pagi juga membawanya sendiri," Nyi Santimi menolak. Entah kepada siapa, mungkin semuanya.

Madi dan Seta termangu. Tapi Ginggi segera menyabet ember dan tempat air dari bambu. Dia segera membawanya pergi.

"Hai, biarkan saya yang bawa! Biarkan!" seru Nyi Santimi sambil berlari kecil memburu pemuda itu. Namun sesudah keduanya berdekatan, mereka malah berjalan sama-sama.

"Nyi Santimi, kau tidak punya malu mencucikan pakaian orang asing yang dungu itu!" teriak Madi kesal. Seta hanya menggigit bibirnya sambil meringis menahan sakit. Dia lupa bahwa bibirnya pun bengkak kena sodokan temannya.

Ginggi dan Nyi Santimi melangkah cepat menyusul Rama Dongdo yang nampak sudah memasuki lawang kori.

"Kau harus percaya Nyai, aku tak mengintipmu mandi," kata Ginggi di tengah jalan. "Tapi mengapa kau masih di dekat-dekat situ?" tanya Nyi Santimi masih kurang percaya.
"Ya, gimana, ya? Ah, pokoknya aku tak mengintipmu. Percayalah, aku jujur bicara!" Ginggi minta dipercaya.

"Sejujur matamu itukah?" Nyi Santimi menyindir tapi Ginggi tak mengerti. "Lelaki dimana-mana sama saja!"
"Sama apanya, Nyai?"

"Matanya itu!" Nyi Santimi menunjuk pada mata Ginggi. Pemuda itu pun serentak meraba kedua bola matanya.

"Ah, aku kira mataku hanya bulat saja. Tapi Si Tonghor itu matanya melotot besar. Dan Si Seta biar pun tampan tapimatanya cekung. Mengapa kau katakan sama, Nyai?’ Ginggi heran dibuatnya.

"Bukan ukurannya, tapi jelalatannya, tolol!" kata Nyi Santimi membentak sambil tertawa.

Untuk kesekian kalinya orang menyebut tolol padanya. Tapi yang ini rasanya lain. Ginggi merasa senang.

"Macam-macam orang menggunakan matanya itu, Nyai ada yang karena nafsu ada juga karena kagum. Bila melihat sesuatu yang indah, mata akan senang dan kagum melihatnya. Yang salah mungkin tubuhmu, mengapa begitu indah," kata Ginggi terus terang, membuat rona merah di wajah gadis itu timbul kembali.

"Tapi aku heran Nyai, kekagumanku akan sesuatu yang indah jadi membuat kemarahan orang. Buktinya kedua pemuda itu marah besar padaku hanya karena ... ya, mataku yang jelalatan itulah. Padahal, mereka pun sebetulnya sama saja! Engkau tak adil hanya aku saja yang engkau marahi?"

"Aku malah sering memarahi kedua orang yang menyebalkan itu. Mereka sering menggodaku dan mereka sering cemburu buta. Mereka benci padamu sejak kehadiranmu pertama kali malam tadi!" kata Nyi Santimi.

"Lho, masa begitu aku datang ke sini sudah membuat kesalahan pada mereka?" tanya Ginggi menahan langkah sedikit.

0 Response to "Senja Jatuh di Pajajaran Jilid 03"

Post a Comment