coba

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari Jilid 10

Mode Malam
JILID 10

Pintu goa itu sendiri terhalang semak belukar. Mereka terlihat memasuki lubang goa yang sempit hanya cukup masuk untuk satu orang.

Namun ketika mereka semakin masuk kedalam, ternyata ada ruangan yang cukup luas selebar tiga kali kamar. Dua buah pelita berada di dua sudut cukup menerangi ruangan. Terlihat sebuah bale batu besar di tengah-tengah ruangan. Dan seorang pemuda diatas bale batu itu terkejut melihat kedatangan mereka bertiga.

“Kita kedatangan tamu istimewa, siapkan minuman dan makanan hangat untuk kami”, berkata Ki Jaran  Waha kepada pemuda itu.

Dengan sigap pemuda itu turun dari bale batu menyiapkan perapian.

“Silahkan naik keatas bale batu, cuma itu perabot didalam goa ini”, berkata Ki Jaran Waha mempersilahkan Mahesa Amping dan Empu Dangka.

“Setidaknya malam ini kita terlindung dari angin dan embun”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha mencoba membesarkan hatinya.

Demikianlah, malam itu Mahesa Amping dan Empu Dangka bermalam ditempat Ki Jaran Waha didalam sebuah goa.

“Maafkan aku saudaraku, aku telah melumpuhkan tangan kirimu”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha.

“Akulah yang seharusnya berterima kasih, dengan kejadian itu tangan kananku dapat mengerti arti hidup ini”, berkata Ki Jaran Waha sambil tersenyum.

Ketika minuman dan makanan hangat telah disiapkan, mereka pun nampak menikmati hidangan malam itu diatas bale batu. Sepanjang malam mereka asyik bercakap-cakap. Ada-ada saja yang mereka percakapkan.

Ternyata dari percakapan itu dapat diketahui bahwa Ki Jaran Waha adalah seorang Raja Leak. Para pengikutnya tersebar di seluruh daratan bumi Bali.

“Ternyata aku berhadapan dengan seorang Raja”, berkata Empu Dangka.

“Bahkan kita telah makan di satu tempat bersamanya”, menimpali Mahesa Amping.

“Tidak sebagaimana Raja Puri Dalem, Raja Leak cuma punya perabot Bale Batu”, berkata Ki Jaran Waha yang disambut tawa oleh Mahesa Amping dan Empu Dangka.

Akhirnya rasa kantuk yang menghentikan pembicaraan mereka. Terlihat satu persatu mencari tempat untuk tidur didalam goa.

Sang malam ternyata hanya tinggal menyisakan waktunya sedikit, sebentar saja sudah terdengar suara ayam hutan berkokok sebagai tanda hari sudah masuk pagi.

“Semoga perjalanan kalian dipenuhi keselamatan”, berkata Ki Jaran Waha mengantar sampai keluar goa Mahesa Amping dan Empu Dangka yang akan melanjutkan perjalanan mereka.

“Semoga hari-harimu dipenuhi kesejahteraan wahai saudaraku”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha.

“Ikat pinggang itu adalah tanda pengenalku, seluruh pengikutku di tanah Bali ini akan setia kepadamu sebagaimana mereka setia kepadaku”, berkata Ki Jaran Waha mengingatkan Mahesa Amping atas ikat pinggang pemberiannya. Sebuah ikat pinggang sederhana dengan tameng dari bahan perak bergambar matahari.

Sampai jauh Ki Jaran Waha dan pemuda yang setia menemaninya mengikuti punggung belakang Mahesa Amping dan Empu Dangka yang telah melangkah menjauh dari tempat tinggal mereka hingga akhirnya hilang terhalang semak belukar dan batang-batang kayu besar di hutan itu.

Mahesa Amping dan Empu Dangka terus membelah semak-semak belukar berjalan menyusuri hutan yang masih tetap gelap meski matahari diluar sana telah cukup tinggi.

Akhirnya ketika matahari sudah berdiri diatas puncaknya, Mahesa Amping dan Empu Dangka terlihat keluar dari hutan rimba yang pekat, sebuah hutan perawan yang jarang sekali didatangi oleh siapapun yang ternyata didalamnya adalah sebuah kediaman seorang raja Leak, pemimpin tertinggi para manusia Leak di daratan Bali yang ternyata bernama Ki Jaran Waha.

“Semoga Ki Jaran Waha dapat membimbing para pengikutnya menuju jalan kebenaran”, berkata Mahesa Amping sambil menoleh ke arah hutan rimba ketika jarak mereka dengan hutan itu terlihat sudah semakin menjauh.

“Aku pun berharap demikian, semoga juga mereka dapat mengikis sedikit demi sedikit pandangan orang Bali tentang manusia Leak”, berkata Empu Dangka.

Sementara itu hari sudah mendekati senja ketika mereka tiba di sebuah dusun.

“Dapatkah kakek menunjukkan kepada kami Padepokan Panca Agni”, berkata Mahesa Amping kepada seorang tua yang dijumpainya masih berada di sawah.

“Teruslah kalian menyusuri tegalan ini, Padepokan Panca Agni ada di puncak bukit Pejeng Gundul”, berkata orang tua itu sambil menunjuk ke sebuah perbukitan yang sudah begitu dekat dari tempat mereka berdiri.

“Jadi bukit didepan itu bernama bukit Pejeng gundul?”, bertanya Mahesa Amping.

“Benar, di puncak bukit itulah Padepokan Panca Agni berdiri”, berkata orang tua itu mengulangi keterangannya.

“Terima kasih Kek”, berkata Mahesa Amping kepada orang tua itu yang membalasnya dengan sebuah anggukan kepala sebagai tanda keramahannya.

Sebagaimana yang ditunjukkan oleh orang tua itu, Mahesa Amping dan Empu Dangka terus mengikuti tegalan sawah menuju ke sebuah perbukitan kecil.

Akhirnya manakala senja telah turun menyelimuti perbukitan kecil, Mahesa Amping dan Empu Dangka telah berada diatas puncak bukit Pejeng Gundul. Sebuah hamparan tanah lapang menghadang  dihadapan mereka. Tidak ada pohon kayu satu pun. Dan sebuah Padepokan kecil terlihat berdiri sunyi dipayungi langit senja yang bening sepertinya sebuah bangunan yang elok telah tercipta dan bersatu dengan alam perbukitan yang dipenuhi hamparan padang alang-alang.

“Sebuah Padepokan yang menjauh dari lingkungannya”, berkata Mahesa Amping memandang sebuah bangunan Padepokan kecil.

“Mungkin mereka memang ingin menjauh dan keluar dari lingkungan di sekitarnya, atau memang mereka menyukai kesunyian dan kesendirian”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping yang terus melangkah mendekati Padepokan diatas puncak bukit itu.

Ketika mereka sampai di regol Padepokan Panca Agni, pintu gerbang tidak terkunci juga tidak ada panggungan menara ronda sebagaimana sebuah padepokan besar umumnya.

Mahesa Amping mendorong pintu gerbang yang tidak terkunci dan menjulurkan kepalanya melihat kedalam.

Ternyata ada seorang lelaki tua tengah membawa sebuah pelita yang akan diletakkan disusut pintu regol halaman.

“Silahkan masuk, apakah tuan-tuan akan bertemu dengan Ki Arya Sidi ?”, bertanya lelaki tua itu.

“Benar, kami ingin bertemu dengan Ki Arya Sidi”, berkata Mahesa Amping yang telah membuka pintu gerbang lebih lebar lagi.

“Mari kuantar tuan-tuan ke Pendapa”, berkata Lelaki tua itu mengantar Mahesa Amping dan Empu Dangka menuju pendapa Padepokan Panca Agni.

“Padepokan ini begitu sepi”, bertanya Mahesa Amping kepada lelaki tua itu yang merasa aneh bahwa sebuah Padepokan begitu sepi tidak ada orang yang terlihat selain lelaki tua itu.

Lelaki tua yang mengerti keheranan Mahesa Amping hanya tersenyum.

“Penghuni padepokan saat ini masih ada di sanggar bersama Ki Arya Sidi”, berkata Lelaki tua itu kepada Mahesa Amping.

Terlihat Mahesa Amping, Empu Dangka dan orang tua itu tengah naik tangga pendapa.

“Tunggulah disini, aku akan menyampaikan tentang kedatangan tuan-tuan”, berkata orang tua itu mempersilahkan Mahesa Amping dan Empu Dangka menunggu di Pendapa.

Diam-diam senja sudah semakin surut, pandangan mata di depan halaman sudah semakin buram.

“Maaf, tentunya kalian menunggu disini begitu lama”, berkata Ki Arya Sidi yang telah muncul di Pendapa menemui Mahesa Amping dan Empu Dangka.

“Kami belum begitu lama, justru kamilah yang meminta maaf telah mengganggu kesibukan Ki Arya Sidi”, berkata Empu Dangka.

“Tidak ada yang terganggu, bahkan aku merasa sebuah kehormatan dikunjungi kalian”, berkata Ki Arya Sidi.

Akhirnya mereka pun saling bercerita tentang keselamatan masing-masing.

“Aku berharap kalian dapat dua tiga hari di Padepokan ini”, berkata Ki Arya Sidi penuh  pengharapan.

“Kami hanya pengembara yang tidak punya tujuan, dua tiga hari tidak masalah untuk kami”, berkata Empu Dangka sambil tersenyum memandang Mahesa Amping sepertinya meminta persetujuan.

“Sebuah kenikmatan dua tiga hari dapat terhindar dari angin dan hujan”, berkata Mahesa Amping sepertinya menyetujui.

Terdengar suara pintu berderit dari dalam, seorang lelaki tua yang sudah dikenal oleh Mahesa Amping dan Empu Dangka terlihat membawa beberapa hidangan.

“Silahkan dinikmati hidangan malamnya, mumpung masih hangat”, berkata Ki Arya Sidi mempersilahkan para tamunya.

Setelah menikmati hidangan malam, mereka pun mengisi malam dengan perbincangan. Banyak hal yang mereka bicarakan.

“Ternyata Empu Dangka pemerhati masalah para penguasa pura saat ini. Aku pun berpendapat yang sama bahwa saat ini para penguasa pura umumnya telah keluar dari garis kekuasaan para pendahulunya sebagai pelayan rohani”, berkata Ki Arya Sidi menyampaikan pendapatnya.

“Bukankah Ki Arya Sidi adalah guru para pangeran penguasa pura di Balidwipa ini ?”, bertanya Mahesa Amping.

“Secara turun temurun para Pangeran penguasa Pura di Balidwipa ini menjadi seorang sisya di Padepokan Panca Agni ini, namun di tahun ini hanya pangeran dari Pura Pusering Jagad saja yang mengirimkan para Pangerannya. Aku belum tahu apakah keberadaan Padepokan ini sudah mulai meluntur dalam pandangan mereka”, berkata Ki Arya Sidi.

“Jadi hanya empat orang pangeran dari Pura Pusering Jagad di Padepokan Panca Agni ini”, berkata Mahesa Amping.

“Berapapun memang bukan masalah untukku, aku hanya mewarisi apa yang telah ayah dan buyutku melakukannya, membina para pangeran para penguasa pura, menjadi guru para sisya di padepokan Panca Agni ini”, berkata Ki Arya Sidi.

Dan malam pun berlalu semakin larut diatas bumi Padepokan Panca Agni. Angin semilir dingin menghembus kantuk yang datang menggelayut.

Akhirnya Ki Arya Sidi memaklumi kedua tamunya yang terlihat sudah perlu beristirahat telah mempersilahkan keduanya masuk ke peraduan yang telah disediakan.

“Aku ini memang tuan rumah yang tidak tahu diri, sudah tahu tamunya sudah suntuk masih diajak berbincang-bincang”, berkata Ki Arya Sidi sambil tersenyum.

“Berbincang dengan Ki Arya Sidi memang mengasikkan, tapi kantuk ini memang datang tanpa diundang”, berkata Empu Dangka sambil mengangkat badannya berdiri.

Dan malam pun berlalu bersama suara keheningan yang senyap, meski kadang ditingkahi suara angin mendayu dayu diatas puncak Bukit Pejeng gundul menggulung padang ilalang. Sesekali terdengar suara burung tekukur jantan tengah menjaga sang betina yang tengah mengerami dua butir telur hasil percintaan mereka.

Itulah panggung dunia malam di sekitar Padepokan Panca Agni yang sunyi senyap jauh dari keramaian penduduk di sekitarnya.

Malam pun akhirnya surut pergi ke balik bumi yang lain, berganti sang pagi yang ditandai dengan pecahnya warna awan biru oleh sinar kuning terang di ujung timur bumi. Indahnya warna dunia pagi di saat matahari masih dibawah bibir bumi menjadikan suasana begitu bening sepanjang mata memandang, batang pohon kayu, tanah dan rumput terlihat jelas dalam nuansa kehijauannya.

Dalam suasana pagi yang indah itulah Mahesa Amping dan Empu Dangka terlihat duduk di pendapa Padepokan Panca Agni tengah menikmati suasana pagi.

“Ternyata kalian telah bangun mendahului aku”, berkata Ki Arya Sidi yang baru saja datang dan langsung bergabung di pendapa Padepokan Panca Agni.

“Sang Maha Karsa telah menciptakan awal pagi sebagai keelokan wajah bumi, memberi mata ini memandang tak pernah jemu”, berkata Empu Dangka.

“Aku iri dengan kehidupan kalian, setiap hari menikmati lukisan alam pagi yang berbeda, di sebuah tempat dan waktu”, berkata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka.

“Ki Arya Sidi tanpa disadari telah melihat warna pagi yang berbeda ketika menerima para pangeran muda di awal pertama sebagai seorang Sisya Padepokan”, berkata Empu Dangka.

“Apa yang Empu katakan memang dapat kurasakan, ada sebuah keindahan yang kurasakan di saat menerima para pangeran muda yang datang dipadepokan ini”, berkata Ki Arya Sidi membenarkan perkataan Empu Dangka.

Sementara itu tidak terasa sang mentari telah merayap naik melewati ujung bibir bumi, menerangi halaman Padepokan Panca Agni.

“Mari kita ke sanggar melihat para sisya berlatih”, berkata Ki Arya Sidi mengajak Mahesa Amping dan Empu Dangka ke Sanggar.

Ketika mereka tiba di Sanggar, keempat para Sisya Padepokan Panca Agni terlihat tengah berlatih ketahanan tubuh dengan beberapa alat yang ada dan tersedia di dalam sanggar. Namun melihat Guru mereka yang datang bersama dua orang tamu yang sudah dikenalnya mereka menghentikan latihan dan datang menghampiri.

Secara berturut Ki Arya Sidi memperkenalkan keempat Sisyanya kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka.

“Mulai dari yang paling tua bernama Wayan Dewa Bayu, adik keduanya bernama Made Dewa Apah, adik ketiga bernama Nyoman Dewa Teja, dan adik ketiganya yang terkecil bernama Ketut Dewa Akasa”, berkata Ki Arya Sidi memperkenalkan keempat sisyanya.

“Namaku Mahesa Amping, dan ini Empu Dangka, kita telah bertemu beberapa hari yang lalu”, berkata Mahesa Amping memperkenalkan dirinya kepada keempat Sisya.

“Saudaraku Mahesa Amping ingin melihat kalian berlatih, lakukanlah dari awal”, berkata Ki Arya Sidi kepada keempat orang Sisyanya.

Maka keempat sisya Padepokan Panca Agni mengambil tempat yang luas didalam sanggar. Terlihat mereka secara bersamaan dan perlahan melakukan gerakan-gerakan jurus perguruan mereka.

“Sebuah jurus yang indah”, berkata Mahesa Amping yang melihat keempat sisya melakukan gerak jurus mereka.

Ternyata yang dilihat Mahesa Amping adalah gerak awal, gerak selanjutnya terlihat semakin lama menjadi semakin cepat.

Sebagai seorang yang ahli kanuragan yang juga dikaruniai daya tangkap yang luar biasa, Mahesa Amping sudah dapat memahat dan menghafal setiap jurus yang dilihatnya. Maka ketika keempat sisya telah selesai memperlihatkan semua jurus perguruan mereka, Mahesa Amping dengan penuh hormat meminta kepada Ki Arya Sidi untuk memperlihatkan hasil rancangannya mengenai jurus yang baru saja diperagakan itu.

“Ijinkan aku yang bodoh ini memperlihatkan beberapa penyesuaian, mudah-mudahan berguna”, berkata Mahesa Amping sambil melangkah ke tempat yang agak lapang agar dapat dilihat oleh semua yang ada di sanggar itu.

Terlihat Mahesa Amping telah melakukan gerakan jurus perguruan Panca Agni dengan perlahan.

Bukan main tercengangnya Ki Arya Sidi melihat Mahesa Amping tengah menjalankan gerakan jurusnya yang nyaris sempurna, tidak ada beda sedikit pun sebagaimana sebelumnya telah diperagakan oleh para sisyanya.

Kembali Ki Arya Sidi menjadi semakin tercengang manakala memperhatikan lebih teliti lagi atas semua gerakan yang dilakukan oleh Mahesa Amping. Ternyata sebagaimana yang dikatakan oleh Mahesa Amping untuk memberikan beberapa penyesuaian jurus perguruannya telah benar-benar diperlihatkan.

“Terima kasih, sebuah penyesuaian yang nyaris sempurna”, berkata Ki Arya Sidi penuh kegembiraan melihat beberapa bagian jurus perguruannya  telah diubah menjadi begitu sempurna.

“Hanya sedikit penyesuaian”, berkata Mahesa Amping yang telah menghentikan gerakannya.

“Dengan terpaksa aku meminta saudaraku Mahesa Amping lebih lama sedikit di Padepokan Panca Agni”, berkata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping. “Untuk memberikan bimbingan langsung tentang penyesuaian jurus perguruan kami kepada para Sisyaku”, berkata kembali Ki Arya Sidi.

“Apa artinya sebuah waktu dan hari bagi seorang pengembara”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

Mahesa Amping tersenyum mendengar perkataan Empu Dangka.

“Semoga tuan rumahnya tidak bosan menanggung dua orang pengembara”, berkata Mahesa Amping yang disambut tawa oleh Ki Arya Sidi.

“Untuk dua orang pengembara seperti kalian, kami akan merasa gembira dapat menahan kalian tidak keluar dari gerbang Padepokan ini”, berkata Ki Arya Sidi dengan penuh kegembiraan bahwa permintaannya untuk tinggal beberapa hari lebih lama sepertinya dapat dikabulkan.

Demikianlah, pada hari itu Mahesa Amping langsung membimbing keempat Sisya Padepokan Panca Agni dengan beberapa jurus penyesuaian.

Ternyata para Sisya padepokan Panca Agni adalah orang-orang yang cerdas. Mereka dengan mudah dapat mengikuti bimbingan dari Mahesa Amping.

“Hanya perlu beberapa pengulangan, kalian akan terbiasa dengan beberapa bagian yang berubah”, berkata Mahesa Amping kepada para sisya yang dilihatnya telah dapat melaksanakan bimbingannya.

“Terima kasih, kami akan berlatih terus”, berkata Wayan Dewa Bayu mewakili saudaranya.

“Bagus, aku melihat kalian sangat berbakat”, berkata Mahesa Amping. Demikianlah, Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi hari itu melihat para sisya berlatih dengan penuh semangat.

“Saatnya aku yang mulai berlatih”, berkata Ki Arya Sidi sambil maju beberapa langkah langsung melakukan gerakan jurus perguruannya.

Sebagai seorang guru, Ki Arya Sidi terlihat sudah dapat langsung melakukan perubahan penyesuaian sebagaimana yang telah diperlihatkan oleh Mahesa Amping.

Demikianlah, seharian mereka berada di sanggar Padepokan Panca Agni berlatih jurus perguruan mereka yang telah disempurnakan oleh Mahesa Amping. Ketika matahari telah turun mendekati ujung barat lengkung bumi barulah mereka keluar dari sanggar.

“Semangat Ki Arya Sidi ternyata masih membara”, berkata Mahesa Amping ketika mereka duduk di  pendapa menghabisi waktu senjanya.

“Kehadiran kamulah yang telah membangkitkan semangatku, terutama penyempurnaan jurus perguruan kami”, berkata Ki Arya Sidi.

“Melihat kawanku Mahesa Amping yang selalu berbagi, aku jadi iri. Sekarang giliranku yang akan berbagi sedikit ilmu cambukku kepadamu”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

“Empu Dangka ingin memberikan ilmu cambuk kepadaku ?”, bertanya Mahesa Amping.

“Cambuk adalah lambang kelembutan, aku melihat sifat dan sikapmu sangat sejiwa dengan lambang cambuk itu sendiri yang kadang lembut, tapi kadang dapat keras menghentak”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping. “Itupun bila dirimu berkenan”, berkata kembali Empu Dangka.

“Adalah sebuah kehormatan mewarisi ilmu cambuk dari Empu Dangka, terima kasih telah mempercayakannya kepada diri ini”, berkata Mahesa Amping.

“Aku telah mewarisi ilmu cambuk ini kepada orang yang tepat, aku yakin di tanganmu akan berkembang melebihi apa yang telah aku capai”, berkata Empu Dangka merasa gembira bahwa Mahesa Amping berkenan menerima tawarannya menurunkan ilmu cambuknya.

“Empu Dangka terlalu memuji, mudah-mudahan diriku yang bodoh ini dapat menerima pengajaran yang Empu Dangka berikan”, berkata Mahesa Amping dengan penuh kerendahan hati.

“Merasa bodoh, itulah jiwa para penuntut ilmu sejati. Karena ilmu itu sendiri laksana samudra laut yang maha luas, semakin kita minum semakin kita menjadi haus. Semakin kita mendalaminya, semakin banyak yang tidak kita ketahui”, berkata Empu Dangka

“Ucapan Empu Dangka sebagai pusaka yang akan aku bawa dalam jiwa ini”, berkata Mahesa Amping.

“Besok kita akan mulai berlatih”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

“Setidaknya hari-hari di Padepokan Panca Agni ini menjadi tidak menjemukan”, berkata Ki Arya Sidi yang merasa gembira bahwa Empu Dangka dan Mahesa Amping agak lebih lama di Padepokannya.

Sementara itu tidak terasa rembulan sudah muncul di ujung timur menggelantung di langit meski awan senja masih terang berwarna pucat. Terlihat padang ilalang yang mengelilingi Padepokan Panca Agni berayun-ayun merunduk ditiup angin.

Dan sang waktu terus berlalu. Langit malam telah menyelimuti Padepokan Panca Agni di puncak bukit Pejeng Gundul itu.

Bersama dengan bergulirnya sang waktu, penguasa malam nampaknya telah bersembunyi di sisi kegelapan bumi lainnya ketika sang fajar datang menjenguk wajah bumi pagi. Suara ayam jago sudah terdengar sayup dari perkampungan yang jauh. Wajah pagi yang bening terlihat semakin cerah dan hangat manakala sang mentari telah muncul utuh bergelantung di ujung lengkung langit sebelah timur.

Para penghuni Padepokan Panca Agni di pagi itu telah memulai kembali melakukan latihan didalam sanggar bersama Mahesa Amping dan Empu Dangka.

“Biarlah aku yang mendampingi para sisya”, berkata Ki Arya Sidi yang nampaknya telah memberikan kesempatan kepada Mahesa Amping untuk menerima pengajaran ilmu cambuk dari Empu Dangka.

“Terima kasih”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi.

Terlihat Mahesa Amping dan Empu Dangka mengambil tempat disudut Sanggar.

“Aku akan memperkenalkan kepadamu tentang wujud serta sifat dari cambuk ini sebagai dasar mengenal ilmu cambuk”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

Maka mulailah Empu Dangka menjelaskan beberapa hal mengenai wujud dan sifat dari sebuah cambuk kepada Mahesa Amping yang mendengarnya dengan penuh perhatian.

Ternyata Mahesa Amping mempunyai daya tangkap yang cemerlang, dengan singkat telah memahami segala sifat maupun watak dari sebuah senjata cambuk yang disampaikan langsung dari Empu Dangka.

Setahap demi setahap Empu Dangka memberikan dasar-dasar menggunakan sebuah senjata cambuk.

“Perlu waktu satu bulan ketika aku memberikan pemahaman dasar-dasar jurus cambuk kepada Kertanegara maupun Kebo Arema. Sementara kamu sudah dapat melakukannya dengan begitu sempurna dalam waktu setengah hari”, berkata Empu Dangka yang merasa kagum atas kecepatan Mahesa Amping menguasai dasar-dasar jurus ilmu cambuknya.

Sementara itu di sisi lain didalam sanggar itu, para sisya masih terus berlatih. Terlihat juga kemajuan mereka yang membuat gembira Ki Arya Sidi sebagai gurunya.

Latihan mereka di dalam sanggar itu akhirnya terhenti ketika sang pelayan tua datang membawa hidangan untuk makan siang.

“Bila tidak ingat sedang berlatih, pasti kuisi penuh perutku ini”, berkata Mahesa Amping sambil memegang paha ayam yang ditanggapi senyum para Sisya.

“Ternyata kita punya perasaan yang sama”, berkata Wayan Dewa Bayu sambil manggut-manggut.

“Jangan khawatir, masih ada makan malam”, berkata Ki Arya Sidi.

“Artinya hari ini masih ada seekor ayam yang akan pasrah menerima takdirnya”, berkata Empu Dangka perlahan. Setelah beristirahat sejenak, mereka pun kembali berlatih. Terlihat para sisya dibawah bimbingan gurunya tengah berlatih jurus perguruan mereka yang telah disempurnakan. Sementara itu Mahesa Amping dengan tekun berlatih dasar-dasar ilmu cambuk dibawah bimbingan Empu Dangka.

“Jurus ilmu cambuk ini terdiri dari tiga belas jurus, setiap jurus bercabang lima bagian dan setiap cabang mempunyai enam pecahan gerak yang berbeda”, berkata Empu Dangka sambil memperagakan setiap jurus, cabang dan pecahan geraknya kepada Mahesa Amping.

Kembali Empu Dangka tercengang melihat Mahesa Amping dengan cepat dapat menirukan semua jurus yang diperagakannya, meski masih terlihat kaku. Namun dengan beberapa pengulangan Mahesa Amping dapat melakukannya dengan begitu sempurna.

“Luar biasa !!!”, berkata Empu Dangka seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya bahwa dengan waktu yang begitu singkat Mahesa Amping telah menghafal dan melakukan semua jurus ilmu cambuknya dengan begitu sempurna.

Sementara itu hari telah beranjak sore, matahari sudah condong ke barat diatas langit Padepokan Panca Agni.

Terlihat para Sisya tengah beristirahat mengendurkan urat-urat persendian mereka setelah hampir seharian berlatih. Sementara itu Mahesa Amping masih terus berlatih sepertinya tidak merasakan kelelahan apapun.

“Anak muda ini telah menguasai ilmu pengolahan nafas yang sempurna, mungkin tiga hari tiga malam anak muda ini mampu bertahan dalam pertempuran yang sebenarnya”, berkata Empu Dangka dalam hati mengagumi ketahanan tubuh Mahesa Amping.

Sambil berlatih, Mahesa Amping melihat para sisya sudah beristirahat. Maka akhirnya Mahesa Amping terlihat menghentikan latihannya. Tidak sedikit pun terlihat kelelahannya.

“Ilmu pengaturan nafasmu sudah begitu sempurna”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

“Empu Dangka terlalu memuji”, berkata Mahesa Amping merendahkan dirinya.

“Besok aku akan mencari bahan untuk membuat sebuah cambuk, aku perlu janget khusus dan karahkarah baja pilihan”, berkata Empu Dangka

“Aku pernah membuat sebuah cambuk dari bahan jerami”, berkata Mahesa Amping.

Empu Dangka tersenyum mendengar ucapan Mahesa Amping.

“Akulah yang akan membuatnya khusus untukmu. Cambuk yang kupunya ini dan dua lagi yang telah dimiliki oleh Kertanegara dan Kebo Arema adalah buah tangan kakekku sendiri Empu Brantas”, berkata Empu Dangka penuh kegembiraan.

“Memiliki sebuah senjata buatan seorang ahli adalah sebuah kebanggaan dan kehormatan”, berkata Mahesa Amping sambil memandang cambuk milik Empu Dangka yang masih dipegangnya.

“Aku merasa bangga telah membuat dan menitipkan sebuah cambuk untukmu, aku yakin di tanganmu ilmu cambukku akan berkembang melebihi tataran yang kumiliki”, berkata Empu Dangka.

“Sudah beberapa kali Empu Dangka memujiku, lamalama kepalaku bisa membesar”, berkata Mahesa  Amping.

Terlihat Empu Dangka sedikit tersenyum memandang Mahesa Amping. Didalam hatinya telah timbul kesukaan dan kekaguman atas pemuda yang sederhana itu, dirinya yakin bahwa didalam diri anak muda ini telah bersembunyi kekayaan dan kekuatan ilmu yang luar biasa yang tidak dimiliki oleh orang biasa.

“Sanggar ini sudah menjadi gelap”, berkata Ki Arya Sidi menghampiri Mahesa Amping dan Empu Dangka mengajak mereka bersama keluar dari sanggar.

Terlihat mereka bersama telah keluar dari sanggar Padepokan Panca Agni.

Ternyata langit diatas Padepokan sudah di ujung senja. Di pendapa padepokan Panca Agni terlihat pelayan tua tengah menyalakan pelita.

“Kutinggalkan cambukku agar dapat kau pakai untuk berlatih”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping ketika mereka berada di pendapa

“Perlu berapa lama untuk membuat sebuah cambuk

?”, bertanya Ki Arya Sidi kepada Empu Dangka

“Tergantung bahan yang tersedia. Sementara itu aku perlu waktu yang khusus juga tempat yang khusus pula”, berkata Empu Dangka

“Aku yakin, selama aku membuat sebuah cambuk, dirimu sudah menguasai sepenuhnya ilmu cambuk”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

“Aku akan berusaha”, berkata Mahesa Amping.

Terdengar suara pintu berderit, dan pelayan tua terlihat muncul dari balik pintu itu sambil membawa beberapa hidangan malam.

“Gurame bakar bumbu merah sangat nikmat untuk hidangan malam”, berkata Ki Arya Sidi sambil mempersilahkan kedua tamunya menikmati hidangan yang telah disediakan.

“Malam ini seekor ayam jago telah luput dari takdirnya”, berkata Empu Dangka yang disambut tawa semuanya.

“kapan pun, takdir ayam jago masih tetap ada ditangan Ki Nyoman”, berkata Ki Arya Sidi

“Pelayan tua itu bernama Ki Nyoman ?”, bertanya Mahesa Amping.

“ki Nyoman sudah tinggal di Padepokan ini ketika aku masih kecil”, berkata Ki Arya Sidi bercerita tentang pelayannya yang sangat setia.

Sementara itu sang malam telah semakin kelam menyelimuti puncak Bukit Pejeng.

Langit malam bertaburan bintang purba menjaga penghuni bumi yang telah tertidur bersama mimpinya. Terkantuk kantuk sang rembulan bersama cahayanya yang kian pudar berbaring mendekati kaki langit di ujung barat bumi.

Akhirnya sang rembulan tergelincir jatuh di balik bumi manakala sang fajar merah datang muncul mengintip di ujung timur bumi. Dan warna awan gelap pun pudar menjadi kuning kemerahan tersinar cahaya mentari yang terus merayap di ujung kaki langit.

Langit pagi diatas puncak bukit Pejeng berhias awan putih bersih. Cahaya matahari pagi telah menerangi Padepokan Panca Agni. Sekelompok burung manyar terlihat terbang melintas, seekor induk ayam betina di halaman padepokan terdengar memanggil anak-anaknya untuk berebut mengurai seekor cacing tanah yang terjebak diatas tanah kering.

“Secepatnya aku akan kembali”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi yang mengantarnya sampai di muka regol pintu gerbang Padepokan Panca Agni.

“Aku tidak sabar melihat sebuah cambuk hasil karya seorang Empu”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka yang hanya tersenyum melambaikan tangannya dan membalikkan badannya terus berjalan melangkahkan kakinya.

Pandang mata Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi  terus mengiringi langkah kaki Empu Dangka yang semakin menjauh yang akhirnya menghilang di ujung jalan tanah yang menurun.

“Mari kita ke sanggar, para Sisya sudah mendahului kita disana”, berkata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping.

Ketika Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi masuk kedalam sanggar, terlihat para Sisya tengah berlatih.

Mahesa Amping yang melihat para sisya berlatih dengan penuh semangat merasa kagum dan gembira bahwa para sisya telah terlihat semakin berkembang maju, semakin menguasai jurus perguruannya yang telah disempurnakannya.

“Kulihat mereka sudah semakin menguasai”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi yang terus memperhatikan keempat anak didiknya yang tengah berlatih.

“Aku menyukai semangat mereka”, berkata Ki Arya Sidi.

“Mereka juga nampaknya sangat berbakat”, berkata Mahesa Amping.

Namun perhatian Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi terpecah, terlihat seorang lelaki berjubah pendeta telah masuk kedalam sanggar.

“Maafkan hamba tuan, orang itu sudah hamba coba memperingatkannya agar menunggu di pendapa, tapi orang itu tidak menggubris peringatan hamba”, berkata Ki Nyoman pelayan tua yang juga telah masuk langsung memberitahukan tentang kedatangan orang berjubah pendeta itu. “Orang itu mengatakan dirinya berasal dari Pura Indrakila”, berkata kembali Ki Nyoman kepada Ki Arya Sidi.

“Rahajeng semengan”, berkata Ki Arya Sidi menahan diri bertutur dan bersikap hormat kepada orang yang  baru masuk itu. ”Ada kepentingan apakah tuan pendeta sepagi ini datang ke Padepokan Panca Agni?”, berkata lagi Ki Arya Sidi kepada orang berjubah pendeta itu yang diketahui lewat Ki Nyoman berasal dari Pura Indrakila. Melihat raut wajahnya orang itu dan rambut di kepala yang sudah berwarna putih semuanya itu dapat dikatakan bahwa umur orang itu sudah tua sekitar enam puluh tahunan lebih. Rambut yang sudah berwarna putih itu dibiarkan terurai tanpa ikat kepala.

“Sanggar yang bagus, sanggar yang bagus”, berkata orang berjubah pendeta itu sepertinya tidak menghiraukan pertanyaan Ki Arya Sudi, bahkan terlihat matanya menyapu seisi ruangan sanggar Padepokan Panca Agni. “Sayang penghuninya empat orang Sisya”, berkata kembali orang berjubah pendeta.

“Lebih baik empat orang Sisya tapi sepenuh jiwa menuntut ilmu, daripada seratus sisya tapi setengah jiwa”, berkata Ki Arya Sidi yang mulai kurang senang dengan orang yang datang itu.

“Apa arti menuntut ilmu di tempat yang tidak bermakna”, berkata orang itu masih dengan mata tidak memandang ke arah Ki Arya Sidi melainkan masih menyapu pandangannya ke seluruh isi sanggar.

Ki Arya Sidi sebenarnya sudah semakin tidak suka, namun masih berusaha mengendalikan dirinya.

Sementara itu Mahesa Amping diam-diam memperhatikan orang berjubah pendeta itu. Ada sedikit getaran yang dirasakannya, itu adalah pertanda bahwa orang itu mempunyai tingkat kekuatan bathin yang tinggi.

“Siapakah tuan pendeta, agar kami tuan rumah tidak salah menilai orang”, berkata Ki Arya Sidi yang masih dapat mengendalikan dirinya.

“Orang memanggilku sebagai Guru Dewa Bakula”, berkata orang itu kepada Ki Arya Sidi. Kali ini pandangannya langsung tertuju langsung kepada Ki Arya Sidi.

Bukan main terkejutnya Ki Arya Sidi mendengar orang itu menyebut namanya. Ki Arya Sidi sebagai seorang guru di Padepokan Panca Agni mempunyai pengetahuan dan pergaulan yang luas di Balidwipa pernah mendengar nama Guru Dewa Bakula sebagai orang yang berasal dari negeri Hindu. Guru Dewa Bakula didengarnya sebagai seorang yang sakti yang telah menjadi seorang guru pendeta di Pura Indrakila. Guru Dewa Bakula inilah yang menyebabkan para penguasa Pura di seluruh Balidwipa tidak lagi mengirim para pangerannya ke Padepokan Panca Agni sebagaimana telah dilakukan secara turun temurun. Saat ini hampir semua para pangeran dari semua pura di Balidwipa menjadi sisya di Pura Indrakila. Hanya penguasa dari Pura Pusering Jagad yang masih mempercayai Padepokan Panca Agni ini sebagai tempat membina para Pangerannya.

“Kami sangat tersanjung atas kedatangan tuan Guru Dewa Bakula di Padepokan Panca Agni”, berkata Ki Arya Sidi.

“Kedatanganku di Padepokan ini hanya sekedar ingin mengetahui setinggi apa ilmu perguruan Panca Agni sehingga pernah menjadi kawah candradimuka bagi para pangeran di seluruh pura Balidwipa”, berkata Guru Dewa Bakula kepada Ki Arya Sidi dengan tatapan yang begitu tajam.

Tersentak dada Ki Arya Sidi ditatap dengan pandangan mata yang sangat tajam itu. Sebuah tatapan mata yang dilambari tenaga yang tersembunyi.

Untungnya didekat Ki Arya Sidi ada Mahesa Amping yang diam-diam menyentuh tangan Ki Arya Sidi membantunya menyalurkan tenaga murninya menjadi daya kebal didalam tubuh Ki Arya Sidi tanpa sepengetahuan Ki Arya Sidi tentunya.

“Apakah ada keuntungan bagi tuan untuk menilai tinggi rendahnya ilmu perguruan Panca Agni?”, bertanya Mahesa Amping kepada Guru Dewa Bakula dengan tatapan yang kuat.

Kaget bukan kepalang Guru Dewa Bakula mendapatkan seorang muda didekat Ki Arya Sidi mempunyai kekuatan mata yang sangat tajam sebagaimana dirinya. Sedikit dadanya terasa tersentak menatap sorot mata pemuda itu. Diam-diam telah melambari dirinya dengan tenaga murni agar rongga dadanya tidak terguncang.

“Sebenarnya tidak ada keuntungan apapun, hanya sekedar mengetahui sejauh mana tingkat ilmu perguruan Panca Agni”, berkata Guru Dewa Bakula yang masih mengalihkan pandangannya ke arah Mahesa Amping.

“Tuan Pendeta terlalu berkelok-kelok dalam merangkai kata-kata, langsung saja kami maknai perkataan tuan pendeta adalah ingin menguji kemampuan kami?”, berkata Mahesa Amping kepada Guru Dewa Bakula mewakili Ki Arya Sidi.

“Ternyata kamu pandai menerjemahkan apa yang aku maksudkan”, berkata Guru Dewa Bakula kepada Mahesa Amping.

“Kuterjemahkan lagi lebih pastinya adalah bahwa tuan pendeta ingin adu tanding di tempat ini”, berkata Mahesa Amping dengan begitu tenang bahkan dengan sedikit senyum.

“Aku senang kepadamu yang pandai menerjemahkan ucapanku, aku memang ingin adu tanding ditempat ini”, berkata Guru Dewa Bakula yang diam-diam mengagumi sikap Mahesa Amping yang tidak berpengaruh atas sorot pandang matanya.

“Apakah yang tuan tawarkan kepada kami dari hasil adu tanding itu?”, bertanya Mahesa Amping dengan suara yang datar namun dengan sorot mata yang tidak kalah tajamnya menatap langsung Guru Dewa Bakula.

“Kutawarkan seluruh sisyaku di Pura Indrakila bila dapat menandingiku, sebaliknya serahkan semua sisya  di Padepokan Panca Agni ini bila ternyata tidak dapat menandingi ilmuku”, berkata Guru Dewa Bakula dengan suara yang bergema karena dilambari tenaga dalam yang tinggi.

Semua yang ada di sanggar itu merasakan rongga dadanya terguncang.

“Empat puluh sisya sebanding dengan empat sisya, sebuah penawaran yang menarik”, berkata Mahesa Amping sambil tertawa panjang bermaksud meredam daya sentak yang dilontarkan oleh Guru Dewa Bakula.

Ki Nyoman yang paling terguncang terlihat masih memegangi dadanya. Sementara empat orang sisya dan Ki Arya Sidi sudah dapat menguasai dirinya masingmasing.

Sementara itu Guru Dewa Bakula terlihat terkejut merasakan anak muda dihadapannya telah mampu mengimbangi ilmunya lewat pantulan suara.

“Ternyata kamu ingin memamerkan diri”, berkata Guru Dewa Bakula kepada Mahesa Amping.

“Aku tidak memamerkan diri, hanya sekedar menyampaikan bahwa ilmu yang tuan pendeta keluarkan dapat juga dilakukan oleh orang di pasar”, berkata Mahesa Amping dengan sedikit senyum

“Artinya ilmuku ini pasaran?”, berkata Guru Dewa Bakula dengan mata melotot tidak senang.

“Terserah tuan pendeta mengartikan perkataannku, meski aku tidak bermaksud berkata seperti itu”, berkata kembali Mahesa Amping dengan senyum dikulum berhasil membakar amarah Guru Dewa Bakula.

“Rasanya aku ingin merobek mulutmu yang terlalu banyak bicara”, berkata Guru Dewa Bakula dengan penuh amarah yang terbakar.

“Sang Hyiang Widi telah menciptakan mulut manusia dengan sempurna, apakah tuan pendeta bermaksud untuk merusaknya?”, bertanya Mahesa Amping dengan suara yang datar.

“Aku benar-benar akan merobek mulutmu”, berkata Guru Dewa Bakula yang sudah tidak dapat mengendalikan lagi perasaannya dan langsung melompat menerjang dengan dua buah tangan menerkam kepala Mahesa Amping.

“Sabar tuan pendeta, kita belum menyampaikan sebuah kesepakatan”, berkata Mahesa Amping sambil bergeser sedikit ke kiri maka terkaman kedua tangan Guru Dewa Bakula mengenai tempat kosong.

“Kesepakatan apa lagi”, berkata Guru Dewa Bakula sambil bertolak pinggang.

“Kesepakatan siapapun yang kalah dalam pertandingan ini akan mengaku murid seumur hidupnya”, berkata Mahesa Amping masih dengan senyum dikulum.

“Akan kujadikan kamu murid yang paling tersiksa sepanjang hidupmu”, berkata Guru Dewa Bakula penuh kemarahan.

“Sepertinya tuan pendeta sudah membayangkan aku sebagai murid yang terkasih”, berkata Mahesa Amping kembali memancing amarah Guru Dewa Bakula.

“Ki Arya Sidi, apakah kamu membiarkan perguruanmu diwakili oleh anak muda bau kencur ini?”, bertanya Guru Dewa Bakula kepada Ki Arya Sidi bermaksud mengecilkan diri Mahesa Amping.

“Dia adalah saudaraku, dia punya hak mewakili Padepokan Panca Agni”, berkata Ki Arya Sidi yang telah mengenal Mahesa Amping sebagai pemuda yang memiliki kemampuan ilmu yang tinggi. “Mari kita selesaikan kesepakatan ini di luar sanggar, di tempat yang lebih luas”, berkata Mahesa Amping sambil melangkah keluar dari sanggar.

Terlihat Guru Dewa Bakula mengikutinya dari belakang.

Mahesa Amping telah sampai di halaman muka Padepokan Panca Agni.

“Jadi kamu memilih tempat ini”, berkata Guru Dewa Bakula sambil mendengus geram memandang kepada Mahesa Amping.

“Aku takut tuan Pendeta salah sasaran bila kita bertempur didalam sanggar”, berkata Mahesa Amping dengan penuh ketenangan.

Sementara itu Ki Arya Sidi dan keempat Sisyanya telah tiba juga di halaman muka. Di belakang mereka mengikuti Ki Nyoman pelayan tua berdiri ditempat yang lebih jauh.

“Silahkan tuan pendeta memulai”, kembali Mahesa berkata kepada Guru Dewa masih dengan ketenangannya.

Melihat sikap yang tenang dari Mahesa Amping telah membakar hati pendeta tua itu.

“Anak muda ini begitu percaya diri, pasti baru saja menyelesaikan sebuah ilmu yang diyakininya tidak terkalahkan, dasar katak dalam tempurung”, berkata Guru Dewa Bakula dalam hati menggeram.

“Bukalah matamu lebar-lebar”, berkata Guru Dewa Bakula sambil menerjang terbang dengan kaki menjulur menghantam dada Mahesa Amping.

“Kulihat tuan pendeta menyerang dengan mata terpejam”, berkata Mahesa Amping setelah bergeser menghindari serangan lawan dan melihat Guru Dewa Bakula menemui tempat kosong.

“Jangan besar kepala”, berkata Guru Dewa Bakula sambil melayangkan serangan kedua dengan tangan kanannya yang bergerak begitu cepat, lebih cepat dari serangan pertamanya.

“Untung kepalaku tidak begitu besar”, berkata Mahesa Amping yang memiringkan sedikit kepalanya menghindari kepalan tangan Guru Dewa Bakula yang hanya merasakan angin pukulannya.

Ternyata Mahesa Amping tidak cuma menghindar, sebuah tangannya melesat cepat menghantam kearah ketiak lawannya.

Bukan main kagetnya Guru Dewa Bakula, serangan itu diluar perhitungannya dan siapapun ahli kanuragan tidak akan berpikir kearah seperti serangan Mahesa Amping. Maka dengan langkah yang terkaget seketika itu juga Guru Dewa Bakula melemparkan dirinya kebelakang dengan gerakan kayang. Itulah satu-satunya cara meloloskan diri dari serangan Mahesa Amping yang aneh dan diluar perhitungannya.

Sebenarnya, sebelum datang menyatroni Padepokan Panca Agni. Guru Dewa Bakula telah banyak mempelajari kelebihan maupun kelemahan dari jurus perguruan Padepokan Panca Agni. Namun kali ini ia terbentur melawan seorang Mahesa Amping yang telah menyempurnakan jurus perguruan Panca Agni.

Guru Dewa Bakula menjadi sangsi, apakah yang dipelajari mengenai jurus perguruan Panca Agni bukan dari sumber aslinya. Dengan takjub ia melihat Mahesa Amping mengimbanginginya dengan jurus perguruan Padepokan Panca Agni tanpa sedikit pun dilihatnya ada celah kelemahan sebagaimana yang sudah dipelajarinya jauh sebelum berangkat mendatangi Padepokan Panca Agni.

Tidak terasa ratusan jurus telah berlalu, Guru Dewa Bakula tidak menemui kesempatan sedikit pun menembus pertahanan jurus perguruan Padepokan Panca Agni. Jurus yang dimainkan oleh Mahesa Amping dengan begitu sempurna.

“Ternyata mereka telah berhasil mengembangkan ilmu mereka”, berkata Guru Dewa Bakula dalam hati setelah melihat sendiri perubahan yang terjadi dari jurus perguruan Panca Agni sangat berbeda dan berubah tidak lagi sebagaimana yang pernah dilihatnya dari beberapa orang yang pernah menjadi seorang Sisya di Padepokan Panca Agni yang selama ini telah disadapnya.

“Kuingin melihat sejauh mana kekuatan dirimu”, berkata Guru Dewa Bakula sambil melakukan penyerangan kembali. Kali ini dengan meningkatkan tataran kemampuannya lewat penyaluran tenaga murninya dalam setiap gerakan.

Luar biasa serangan itu !!!

Ada semacam angin pukulan hawa panas yang keluar dari setiap serangan Guru Dewa Bakula. Dan hawa panas itu terasa mendahului setiap serangan kearah yang dituju.

Bukan Mahesa Amping kalau tidak menyadari apa yang telah terjadi. Maka Mahesa Amping pun diam-diam telah melambari dirinya dengan kekuatan pengimbang, kekuatan hawa dingin tiba-tiba saja telah menyelimuti seluruh tubuh Mahesa Amping “Kurang ajar”, berkata Guru Dewa Bakula yang menyadari pengerahan tenaga saktinya berupa pukulan hawa panas menjadi tidak berarti dihadapan Mahesa Amping. Kekuatan ilmunya sepertinya menjadi tawar.

“Jangan gembira dulu, ilmuku belum sampai

puncaknya”, berkata Guru Dewa Bakula sambil

melontarkan kemampuan puncaknya.

Guru Dewa Bakula memang telah melepaskan kemampuan puncaknya, maka hawa panas pukulannya telah bertambah semakin membakar.

Terlihat rumput-rumput di sekelilingnya menjadi hangus terbakar. Namun ternyata kembali serangan itu menjadi tawar dihadapan Mahesa Amping yang langsung meningkatkan tataran kemampuannya pula.

Sebenarnya tataran kemampuan Mahesa Amping masih belum tuntas pada puncaknya. Anak muda itu masih saja sekedar mengimbangi kekuatan lawan.

“Biarlah lawanku ini mengumbar seluruh ilmu simpanannya”, berkata Mahesa Amping dalam hati.

Sementara itu Guru Dewa Bakula menjadi sangat penasaran menyaksikan kemampuan anak muda lawannya yang telah mampu menawarkan pukulan angin panasnya yang membakar dan dilontarkan dengan kemampuan tataran puncaknya.

“Anak gila”, berkata Guru Dewa Bakula melenting menjauh menghindari serangan Mahesa Amping yang nyaris mengenai dadanya.

Mahesa Amping tidak memburunya, membiarkan Guru Dewa Bakula siap melakukan serangan berikutnya.

Ternyata Guru Dewa Bakula tidak melakukan serangan kembali. Terlihat tangannya bersedakep diatas dadanya. Sementara bibirnya terlihat seperti komat-kamit membaca mantera.

Mahesa Amping menjadi siaga, mempersiapkan dirinya menghadapi serangan dari Guru Dewa Bakula yang mungkin akan melepaskan ilmu simpanan yang lain.

Ternyata dugaan Mahesa Amping benar adanya.

Entah darimana datangnya suara mendesis dari sekitar halaman muka Padepokan Panca Agni.

“Ular !!!”, berteriak Ki Nyoman yang melihat banyak gerakan diatas tanah halaman Padepokan Panca Agni.

Ternyata yang dilihat oleh Ki Nyoman bukan khayalan mata, ratusan ular cobra hitam tengah menjalar di halaman padepokan Panca Agni. Aneh memang bahwa ratusan ular itu sepertinya telah dikerahkan pikirannya menuju satu titik tempat. Dan satu titik tempat itu adalah dimana Mahesa Amping berdiri.

Sekali lagi bukan Mahesa Amping bila saja menjadi ciut melihat ratusan ular cobra hitam mendatanginya. Anak muda ini sudah menempa dirinya dengan berbagai tempaan. Anak muda ini sudah berhasil menguasai berbagai ilmu. Didalam dirinya sepertinya telah mengendap puncak kemampuan berbagai ilmu yang jarang sekali dimiliki oleh sembarang orang.

Terlihat Mahesa Amping telah melakukan sikap diri yang sama sebagaimana dilakukan oleh Guru Dewa Bakula. Terlihat tangannya juga bersedakep diatas dadanya. Mahesa Amping memang tengah memusatkan segala pikiran dan hatinya, menyerahkan kepasrahan jiwa raga dan sukmanya kepada Sang Hyiang Widi yang mempunyai segala keagungan, dan kekuatan. “Tidak ada daya dan upaya selain diriMU wahai Gusti Yang Maha Agung”, berkata Mahesa Amping yang telah mencurahkan segenap hatinya menembus alam ketidak terbatasan.

Mahesa Amping dan Guru Dewa Bakula telah melakukan hal yang sama. Sama-sama telah mengerahkan penguasaan dirinya masuk dalam kekuatan alam tak terbatas.

Pertempuran kali ini bukan lagi adu pukul kekuatan, tapi pertempuran yang sedang berlangsung adalah pertempuran kekuatan bathin tingkat tinggi.

Ternyata Mahesa Amping telah berhasil menembus alam tak terbatas diatas lingkaran kekuasaan bathin  Guru Dewa Bakula. Mahesa Amping telah berhasil menguasai segala kendali alam pikiran. Kekuatan telah berpihak dalam diri Mahesa Amping !!!!!!. Terlihat ratusan ular cobra hitam telah berubah arah menuju titik yang lain. Dan titik itu adalah tempat dimana Guru Dewa Bakula berdiri !!!!.

“Ular gila!!”, berteriak Guru Dewa Bakula sambil mengibaskan kedua tangannya.

Begitu menakjubkan angin pukulan yang keluar dari kedua tangan Guru Dewa Bakula. Sebuah badai hawa panas menyebar dan menghanguskan ratusan cobra hitam yang langsung mati kering tak bergerak.

Ki Arya Sidi dan keempat Sisyanya terlihat bergerak cepat menjauh menghindari dirinya dari hawa panas meski sudah ada dalam jarak yang cukup jauh.

“Ternyata tuan pendeta tidak menyukai ular”, berkata Mahesa Amping tersenyum kepada Guru Dewa Bakula yang baru saja terlepas dari serangan ratusan ular cobra hitam.

“Baru kali ini kutemui seorang yang dapat mengungguli ilmu Aji Megananda yang kumiliki”, berkata Guru Dewa Bakula yang baru menyadari siapa lawan dihadapannya.

“Silahkan tuan pendeta mengeluarkan ilmu simpanan yang lain, mudah-mudahan aku dapat melayaninya”, berkata Mahesa Amping sambil bersiap diri namun masih bersikap sebagai orang yang tidak jumawa dihadapan lawannya setelah berhasil keluar dari serangan ratusan ular cobra hitam yang dikendalikan oleh kekuatan ilmu Aji Megananda milik Guru Dewa Bakula.

“Bersiaplah melayani permainanku yang  lain”, berkata Guru Dewa Bakula sambil menghentakkan kaki kanannya diatas tanah.

Bumm!!!

Terdengar suara berdegum keras ketika kaki Guru Dewa Bakula menghentak bumi.

Akibatnya pun sangat luar biasa !!!

Tanah dihadapan Mahesa Amping sepertinya runtuh membentuk sebuah jurang yang dalam dan terus berguguran maju mengikis setiap jengkal tanah hingga akhirnya telah sampai diatas bumi tempat Mahesa Amping berpijak.

Terdengar tawa Guru Dewa Bakula menggelegar bergema dari berbagai penjuru melihat apa yang telah diperbuatnya atas diri Mahesa Amping.. Namun tiba-tiba saja tawanya berhenti berubah dengan pandangan terkesima tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Ternyata Guru Dewa Bakula melihat Mahesa Amping tidak berpengaruh apapun, dirinya terlihat seakan masih berdiri sambil bertolak pinggang diatas lubang jurang yang menganga dalam.

“Ilmu sihirmu tidak akan berpengaruh apapun terhadapku”, berkata Mahesa Amping sambil bertolak pinggang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

Ternyata bumi yang berguguran runtuh membentuk sebuah jurang yang dalam adalah sebuah bayangan semu. Bukan main marahnya Guru Dewa Bakula menyaksikan permainannya tidak berpengaruh pada diri Mahesa Amping.

Namun kemarahan Guru Dewa Bakula harus disingkarkan dulu, karena ada yang penting daripada itu yaitu manakala dihadapannya Mahesa Amping telah menjadi tiga orang yang sama bentuk sama rupa tengah mengepungnya.

“Ilmu aji kawah ari-ari!!!”, berkata tidak sengaja keluar dari bibir Guru Dewa Bakula.

“Kami bukan bayangan semu, kami adalah bayangan sejati”, berkata ketiga orang Mahesa Amping secara bersamaan.

Guru Dewa Bakula menyangka bahwa pasti cuma satu Mahesa Amping yang asli. Ternyata persangkaan Guru Dewa Bakula salah !!! Tiga orang Mahesa Amping menghentakkan sinar dari sorot matanya masing-masing.

Darrrr !!!

Terdengar suara benturan keras berasal dari kurang lebih satu jengkal dari depan dan kanan kiri kaki Guru Dewa Bakula bersumber dari hentakan sorot mata tiga sosok tubuh Mahesa Amping.

“Tiga buah lubang kecil itu bukan bayangan semu, silahkan diperiksa”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum.

Guru Dewa Bakula langsung memeriksa tiga buah bongkahan tanah dan rumput yang terangkat akibat dari hentakan sinar sorot matanya.

“Gila !!!”, berkata Guru Dewa Bakula yang telah memeriksa tiga bongkahan tanah yang ternyata semuanya adalah asli, bukan bayangan semu sebagaimana yang disangka sebelumnya.

“Aku dapat berbuat lebih keras lagi !!!”, berkata salah seorang Mahesa Amping kepada Guru Dewa Bakula.

Darrrrrrrrrr !!!!!

Tiba-tiba saja terdengar suara keras menghantam sebuah batu sebesar kepala kerbau yang tidak jauh dari tempat Guru Dewa Bakula berdiri. Terlihat batu itu hancur luluh berhamburan menjadi sebuah tepung yang sangat halus.

Ternyata itu semua akibat sebuah hentakan yang dahsyat lewat kekuatan sorot mata salah seorang Mahesa Amping.

“Tuan Pendeta, dapatkah tuan melayani kami bertiga?”, berkata Mahesa Amping yang telah kembali menjadi satu sosok tubuh.

Merinding bulu roma Guru Dewa Bakula melihat apa yang terjadi. “Anak muda, kali ini kuakui bahwa kamu memang pantas menjadi lawan tandingku”, berkata Guru Dewa Bakula sambil merangkapkan kedua tangannya diatas dadanya.

Terlihat sebuah asap tipis keluar dari ubun-ubun  Guru Dewa Bakula. “Sang Budha meninggalkan istana”, berkata Guru Dewa Bakula dengan suara berdesisis seperti berkata kepada dirinya sendiri. Setelah berkata tiba-tiba saja Guru Dewa Bakula tidak terlihat lagi sosoknya, seperti menghilang ditelan bumi.

Mahesa Amping langsung meningkatkan kewaspadaannya, meluluhkan segenap panca indranya kedalam kekuatan panca indra bathin.

Untunglah Mahesa Amping telah menguatkan panca indra bathinnya, karena tiba-tiba saja dirasakannya ada sebuah seleret cahaya merah mengarah punggung belakangnya. Dengan cepat Mahesa Amping melenting kesamping.

Belum sempat kaki Mahesa Amping berpijak ditanah, kembali sebuah serangan seleret cahaya merah meluncur mengarah kepadanya. Maka jalan satu-satunya adalah menjatuhkan dirinya bergelinding di tanah.

Terdengar suara tawa membahana dari segala penjuru, suara tawa kegembiraan dari Guru Dewa Bakula yang merasa kali ini dapat mengalahkan lawannya.

Ki Arya Sidi, Ki Nyoman dan Kempat Sisya Padepokan Panca Agni terlihat mencemaskan keadaan Mahesa Amping.

Mahesa Amping yang tengah dicemaskan itu telah dengan cepat sudah berdiri tegak kembali. Langsung Mahesa Amping menghentakkan kekuatan yang ada didalam dirinya.

“Kabut datang mengiringi perjalanan Sang Budha”, berkata Mahesa Amping dengan suara lirih sepertinya berkata kepada dirinya sendiri.

Terperanjat Guru Dewa Bakula melihat apa yang terjadi, tiba-tiba saja kabut turun menutupi halaman muka Padepokan Panca Agni.

Siapapun yang ada didalamnya tidak lagi dapat melihat apapun, batas pandang benar-benar telah tertutup oleh kabut yang tiba-tiba turun menutupi segenap sisi halaman Padepokan Panca Agni.

“Tuan Pendeta, aku dapat melihat dimana tuan berdiri, namun Tuan Pendeta tidak dapat melihat dimana keberadaanku”, berkata Mahesa Amping dengan suara yang terdengar dari berbagai arah penjuru mata angin.

“Pantas anak muda ini begitu percaya diri, entah apalagi yang dapat dilakukan dari perbendaharaan ilmunya yang lain”, berkata Guru Dewa Bakula yang diam-diam mengagumi kesaktian Mahesa Amping seorang muda yang telah mempunyai banyak kemampuan. Kembali terbayang sebuah batu yang hancur luluh berhamburan menjadi tepung halus.

“Terima kasih untuk tidak meluluhkan tubuh tuaku ini menjadi sebuah tepung halus”, berkata Guru Dewa Bakula yang telah menyadari bahwa bila diinginkan sudah lama Mahesa Amping dapat mengalahkannya.

Setelah mendengar perkataan dari Guru Dewa Bakula, dengan perlahan Mahesa Amping telah melepas kekuatan yang memancar dari dalam dirinya. Kabut pun terlihat semakin menipis dan perlahan menghilang seperti terhembus angin.

Batas pandang dihalaman muka Padepokan Panca Agni telah kembali normal sebagaimana semula.

Ternyata jarak antara Guru Dewa Bakula dan  Mahesa Amping hanya berjarak sepuluh langkah. Terlihat Mahesa Amping tengah berdiri tegak dengan wajah penuh senyum.

“Siapakah namamu anak muda?”, bertanya Guru Dewa Bakula kepada Mahesa Amping, seorang anak muda yang telah diakuinya mempunyai kemampuan yang lebih tinggi.

“Namaku Mahesa Amping”, berkata Mahesa Amping kepada Guru Dewa bakula.

“Nama yang baik, aku mengakui kekalahanku atas dirimu”, berkata Guru Dewa Bakula.

Ki Arya Sidi yang mendengar perkataan Guru Dewa Bakula menarik nafas dalam-dalam merasakan kecemasannya selama dalam pertempuran itu telah hilang berganti dengan perasaan gembira bahwa  Mahesa Amping yang mewakili perguruannya telah memenangkan pertandingannya.

“Bagaimana dengan kesepakatan kita?”, bertanya kembali Mahesa Amping kepada Guru Dewa Bakula.

“Ucapan seorang lelaki tidak dapat ditarik ulur, mulai hari ini seluruh sisya yang ada di Pura Indrakila kuserahkan kepadamu. Dan sejak hari ini dirimu adalah guru tunggal di Pura Indrakala”, berkata Guru Dewa Bakula kepada Mahesa Amping.

Sekejap Mahesa Amping tertegun. Awalnya ia hanya mewakili perguruan Panca Amping dan tidak terpikir apapun tentang dirinya yang akan menjadi seorang guru tunggal di Pura Indrakila.

Namun Mahesa Amping telah mempunyai pandangan yang luas. Telah diketahui bahwa hampir seluruh pangeran dari berbagai pura di Balidwipa telah menjadi sisya di Pura Indrakila.

“Kehadiranku di Pura Indrakala dapat membantu rencana Singasari menaklukkan kekuasaan Balidwipa ini”, berkata Mahesa Amping berpikir dalam hati. “Aku menerima kesepakatan itu, nantikan diriku bulan purnama yang akan datan di Pura Indrakila.

“Sejak ini sebutan guru didepan namaku sudah kuhapus, aku Dewa Bakula menanti kehadiranmu di Pura Indrakala”, berkata Dewa Bakula kepada Mahesa Amping.

“Berbahagialah dirimu yang mempunyai seorang saudara sebagaimana pemuda ini”, berkata Dewa Bakula kepada Ki Arya Sidi menjura penuh hormat. “Mohom maaf bila kehadiranku telah menggangu kenyamanan yang ada dipadepokan Panca Agni ini”, berkata kembali Dewa Bakula sambil mohon untuk pamit diri.

“Semoga kesejahteraan dan keselamat selalu menyertai tuan pendeta”, berkata Mahesa Amping melepas kepergian Dewa Bakula.

“Aku nantikan kehadiranmu di Pura Indrakila”, berkata Dewa Bakula sambil melambaikan tangannya yang telah melangkah menuju pintu regol halaman Padepokan Panca Agni.

Dewa Bakula akhirnya telah tidak terlihat lagi terhalang pagar batu disisi kiri Padepokan Panca Agni.

Sementara itu matahari telah bergeser dari puncaknya. Cahayanya tidak lagi sekeras sebelumnya. Awan putih bergerumbul bergumpalan mengisi seluruh lengkung langit diatas padepokan Panca Agni.

“Mari kita ke Pendapa menunggu Ki Nyoman menyiapkan makan siang untuk kita”, berkata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping yang dibanggakannya itu yang telah banyak membantunya selama ini. Mulai dari pertolongannya melawan Raja Leak di tengah hutan beberapa hari yang lalu, berlanjut dengan kemurahan hati Mahesa Amping telah menjadikan ilmu perguruannya meningkat jauh lebih sempurna dari sebelumnya. Dan terakhir bahwa anak mud itu telah mewakili perguruannya mengalahkan seorang guru pendeta dari Pura Indrakila.

Terlihat Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi beriringan menuju anak tangga pendapa. Sementara itu keempat orang Sisya telah pamit sebelumnya kepada Ki Arya Sidi mohon diri untuk kembali ke Sanggar nya.

“Masaknya terburu-buru, mudah-mudahan bumbunya tidak ada yang ketinggalan”, berkata Ki Nyoman yang datang membawa beberapa hidangan makan siangnya.

“Terima kasih Ki Nyoman, Lauk yang paling nikmat adalah rasa lapar”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Nyoman yang membalasnya dengan penuh senyum dan langsung menghilang dibalik pintu yang dirapatkannya kembali.

“Silahkan dinikmati”, berkata Ki Arya Sidi mempersilahkan Mahesa Amping untuk menikmati hidangan yang telah disediakan.

Demikianlah Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi tengah menikmati makan siangnya. Terdengar suara burung ramai berlompatan diranting pohon beringin besar yang ada disebelah kanan halaman Padepokan Panca Agni. Siang itu langit berawan cerah, sinar mentari terus menjauh dengan sinarnya yang semakin melembut.

Di pendapa Padepokan Panca Agni terlihat Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi masih asyik bercakap-cakap. Banyak sekali kecocokan diantara keduanya seakanakan apapun yang dibicarakan selalu menjadi suatu yang menarik.

“Mungkin aku minta bantuan Ki Arya Sidi”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi.

“Bantuan apa yang bisa aku lakukan?”, bertanya Ki Arya Sidi belum menangkap kemana arah pembicaraan Mahesa Amping.

“Aku telah berjanji bahwa purnama akan datang akan berada di Pura Indralika”, berkata Mahesa Amping

“Adakah hubungannya dengan diriku”, bertanya kembali Ki Arya Sidi.

“Hubungannya sangat erat sekali”, berkata kembali Mahesa Amping membuat Ki Arya Sidi semakin tidak mengerti.

“Pertama kuanggap ilmu jurus perguruan sudah cukup baik dan sempurna”, berkata Mahesa Amping. “Kedua aku tidak lama di Balidwipa ini”, berkata kembali Mahesa Amping sambil menatap Ki Arya Sidi dengan senyum penuh arti.

“Aku masih belum dapat menangkap kemana arah pembicaraanmu”, berkata Ki Arya Sidi yang masih juga belum dapat menangkap maksud arah pembicaraan dari Mahesa Amping.

“Aku ingin menyerahkan semua Sisya di Pura Indraloka kepada Ki Arya Sidi”, berkata Mahesa Amping langsung membuat Ki Arya Sidi terbelalak tidak percaya.

“Apakah itu tidak melanggar perjanjian kesepakatan?”, bertanya Ki Arya Sidi agak meragukannya.

“Kita tidak melanggar perjanjian. Aku telah mewakili pertempurannya, sekarang Ki Arya Sidi lah yang mewakili diriku menjadi guru para Sisya di Pura Indrakila”, berkata Mahesa Amping “Tapi aku masih perlu kamu mendampingiku”, berkata Ki Arya Sidi.

“Aku akan selalu disampingmu selama dapat kulakukan”, berkata Mahesa Amping membesarkan hati Ki Arya Sidi.

“Baiklah aku bersedia”, berkata Ki Arya Sidi menyanggupi permintaan Mahesa Amping.

Demikianlah mereka berdua begitu asyiknya merancang rencana mereka di Pura Indrakila.

“Mari kita melihat para sisya berlatih”, berkata Ki Arya Sidi mengajak Mahesa Amping ke sanggar untuk melihat para siya yang tengah berlatih.

Ketika mereka masuk kedalam sanggar, mereka masih melihat keempat sisya Padepokan Panca Agni berlatih dengan penuh semangat.

“Aku melihat mereka maju dengan sangat pesatnya”, berkata Ki Arya Sidi yang penuh gembira melihat para sisyanya berlatih dengan semangat dan semakin berkembang.

“Jangan lupa agar kalian juga melatih ketahanan dan ketrampilan diri. Kulihat alat latihan disini sudah lebih dari cukup untuk dipergunakan”, berkata Mahesa Amping memberikan sedikit masukan dan pengarahan kepada para sisya.

“Terima kasih Paman Guru, bimbingannya akan aku perhatikan dan laksanakan”, berkata Ketut Dewa Akasa seorang sisya yang paling muda dipadepokan Panca Agni.

Mahesa Amping tersenyum mendengar namanya dipanggil sebagai Paman Guru oleh para Sisya dipadepokan Panca Agni. “Paman Gurumu memang masih muda, tapi ditangannya kalian akan maju lebih pesat lagi”, berkata Ki Arya Sidi yang dapat mengerti keengganan Mahesa Amping dirinya dipanggil sebagai Paman guru.

“Hari ini aku dipanggil dengan sebutan paman guru, purnama depan aku akan dipanggil sebagai Maha Guru”, berbisik Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi yang disambut gelak tawa dan senyum berkepanjangan oleh Ki Arya Sidi.

Seiring perjalanan waktu, mentari diatas Padepokan Panca Agni telah bergelantung diujung langit barat. Sinarnya sudah semakin redup. Dan tanah datar bumi telah berwarna bening senja. Padang ilalang yang luas diatas puncak Bukit Pejeng melenggut tertiup angin.

Langit senja yang beningpun lambat laun semakin memudar seiring hilangnya sang mentari yang tergelincir diujung bibir bumi. Layar besar panggung tanah datar bumi telah berlatar kesunyian langit buram diujung senja menjelang malam.

Terlihat puluhan kalong beterbangan keluar dari sarangnya diatas padang ilalang yang luas di puncak bukit pejeng dan terus terbang menghilang dibalik bukit. Terdengar suara ayam jago sayup-sayup dari sebuah perkampungan di bawah bukit.

“Empu Dangka masih juga belum kembali”, berkata  Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping di atas pendapa Padepokan Panca Agni.

“Mungkin perlu waktu yang cukup untuk membuat sebuah cambuk yang bernilai ulung”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi yang tengah memandang pintu regol halaman muka Padepokan Panca Agni berharap Empu Dangka akan muncul disana. “Semoga tidak ada aral apapun atas dirinya”, berkata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping.

Terdengar suara pintu berderit, terlihat Ki Nyoman muncul dari balik pintu itu sambil membawa pelita yang telah ditambahkan minyak jaraknya.

Suasana pendapa menjadi terang setelah disinari cahaya pelita yang diletakkan diatas pojok pagar pendapa.

“Aku tidak melihat seorang wanita di Padepokan ini, apakah Ki Arya Sidi pernah mempunyai seorang istri ?”, bertanya Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi sekedar membuka pembicaraan.

Terlihat Ki Arya Sidi sepertinya memandang jauh kedepan, menembus kegelapan halaman muka Padepokan Panca Agni. “Istriku sudah lama meninggal”, berkata Ki Arya Sidi perlahan.

“Maafkan bila pertanyaanku membuat Ki Arya Sidi berduka”, berkata Mahesa Amping yang telah membuat Ki Arya Sidi sepertinya tengah menahan sebuah perasaannya yang begitu perih.

“Terlalu cepat Sang Hyiang Gusti mengambilnya”, berkata Ki Arya Sidi dengan suara tertahan.

“Cepat atau lambat kitapun pasti dipanggil-NYA juga”, berkata Mahesa Amping berusaha menghibur.

“Kamu benar, namun dalam kesendirian kadang aku berharap ada sebuah keajaiban istriku datang hidup kembali”, berkata Ki Arya Sidi sepertinya hanya berkata kepada dirinya sendiri.

“Maafkan bila pertanyaanku telah membuka kembali kepedihan dihati Ki Arya Sidi”, berkata kembali Mahesa Amping yang merasa bersalah membuka kembali lembaran lama yang pastinya begitu menyedihkan.

“Jangan merasa bersalah, justru pertanyaanmu telah menyalurkan perasaanku yang selama ini tidak pernah kuungkapkan kepada siapapun”, berkata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping agar tidak merasa bersalah telah bertanya tentang masa lalunya.

“Aku dapat ikut merasakan betapa perihnya hati ditinggal oleh seorang yang begitu dicintai”, berkata Mahesa Amping ikut merasa berduka atas apa yang  telah dialami oleh Ki Arya Sidi.

“Pada hari-hari pertama, dalam kesendirian aku berharap bahwa apa yang tengah kualami ini adalah sebuah mimpi, kuberharap segera bangun dari mimpi itu. Namun aku tidak dapat keluar dari mimpi itu, karena memang aku tidak tengah bermimpi”, berkata Ki Arya Sidi mengungkapkan perasaannya kepada Mahesa Amping.

Mahesa Amping tidak berkata apapun, hanya merasakan kepedihan yang dialami oleh Ki Arya Sidi.

Suasana dipendapa itupun telah menjadi begitu hening.

Sementara itu malam telah menjadi begitu sepi, meski terdengar suara lengking tenggorek yang tatag mengisi kesunyian malam, justru suara itu telah menambah kesenyian lebih menjadi sebuah kesenyapan.

“Berlatih dibawah langit malam kadang dapat membawa kegembiraan hati”, berkata Mahesa Amping mengajak Ki Arya Sidi turun ke halaman Padepokan Panca Agni untuk berlatih.

Dengan senang hati Ki Sidi mengikuti Mahesa Amping yang telah mendahuluinya menuruni pendapa. Langit malam saat itu memang telah memayungi Padepokan Panca Agni dalam keremangannya.

“Bersiaplah menghadapi ilmu cambukku”, berkata Mahesa Amping yang telah melepas cambuknya.

“Ilmu perguruan Panca Agni telah disentuh oleh seorang Empu”, berkata Ki Arya Sidi yang telah mempersiapkan dirinya.

Maka terlihatlah dalam keremangan malam di halaman muka Padepokan Panca Agni dua bayangan saling menyerang. Kadang terlihat bayangan cambuk yang datang terus mengejar, namun kadang pula terlihat seperti ombak yang tak pernah surut sebuah serangan datang dari bayangan lainnya.

Demikianlah Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi masih terus berlatih, semakin lama semakin mengasikkan. Mereka sepertinya telah menghapal apa yang akan dilakukan oleh lawan berlatihnya dalam setiap gerakan, menjadikan latihan mereka terlihat begitu hidup, saling berganti menyerang.

“Lihat cambukku”, berkata Mahesa Amping sambil memutar cambuknya dan dengan cepat mematuk kearah dada Ki Arya Sidi

“Aku siap menunggu”, berkata Ki Arya Sidi sambil bergeser kesamping dan dengan kecepatan yang luar biasa telah masuk mendekati jarak lawan berlatihnya meluncurkan serangan dengan sebuah kakinya yang terangkat ke arah pinggang Mahesa Amping.

Demikianlah, Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi sepertinya telah melupakan segalanya kecuali keasyikan merancang dan merangkai serangan-demi serangan sambil berusaha melepaskan diri dari setiap serangan yang kadang datang mengepung bergulung gulung bagai ombak yang tak pernah putus.

“Luar biasa !!!”, berkata seseorang yang entah dari mana telah berdiri diantara keduanya. Keremangan malam menutupi wajahnya.

Dengan serta merta Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi menghentikan latihannya.

“Mengapa kalian berhenti?”, berkata kembali orang itu yang ternyata adalah Empu Dangka.

“Kehadiran Empu Dangka menyadarkan bahwa keringat kami sudah hampir habis”, berkata Ki Arya Sidi sambil mengusap keringat yang mengucur deras di wajahnya.

“hari sudah larut malam”, berkata Mahesa Amping sambil menatap lengkung langit yang buram memayungi Padepokan Panca Agni.

Hari memang telah di pertengahan malam, lengkung langit malam yang gelap telah memayungi padepokan Panca Agni. Kesenyapan malam berlalu kadang diiringi angin dingin yang bertiup menusuk tubuh.

“Kulihat ilmu cambukmu sudah semakin meningkat”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping di pendapa bersama Ki Arya Sidi.

“Kehadiran Empu Dangka kuharapkan dapat memberikan penilaian dan pandangan”, berkata Mahesa Amping.

“Aku telah membuat sebuah cambuk baru”, berkata Empu Dangka sambil melepaskan sebuah cambuk dari pinggangnya. ”Kupersembahkan cambuk ini kepadamu”, berkata kembali Empu Dangka sambil menyerahkan cambuk barunya kepada Mahesa Amping “Mudah-mudahan aku yang bodoh ini tidak mengecewakan Empu Dangka”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka.

“Mulai besok kita sudah dapat berlatih dengan cambuk barumu”, berkata Empu Dangka penuh senyum.

Sementara itu hari memang telah terus berlalu jauh mendekati ujung malam. Dalam sebuah kesempatan Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi juga membicarakan tentang Guru Dewa Bakula dari Pura Indrakila.

“Purnama depan aku telah berjanji untuk datang ke Pura Indrakila,”, berkata Mahesa Amping.

“Sebuah beban tanggung jawab yang besar telah menantimu anak muda”, berkata Empu Dangka yang merasa percaya bahwa Mahesa Amping pasti dapat melaksanakannya dengan baik.

“Pandangan dan pemikiran dari Empu Dangka sangat kuharapkan”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka.

“Seluruh pangeran dari berbagai pura di Balidwipa telah berada dalam satu garis perguruan”, berkata Empu Dangka memberikan pemikirannya.

“Satu garis perguruan orang bercambuk”, berkata Ki Arya Sidi ikut memberikan usulan.

“Hanya mereka yang tepilih, berjodoh dengan jurus ilmu cambuk”, berkata Mahesa Amping.

“Aku setuju, hanya mereka yang terpilih”, berkata Empu Dangka menambahkan dan menyetujui ucapan Mahesa Amping.

Demikianlah mereka bertiga terus berbincangbincang tentang pura Indrakila dimana purnama yang akan datang mereka sudah harus berada disana.

“Mari kita beristirahat, masih ada sisa malam untuk sekedar meluruskan badan”, berkata Ki Arya Sidi yang mengingatkan bahwa malam sudah hampir tersisa.

Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi terlihat meninggalkan pendapa menuju biliknya masingmasing. Dan suasana pendapa yang baru saja ditinggalkan penghuninya itu menjadi begitu sunyi senyap. Pelita di pojok kanan pendapa terlihat cahayanya telah redup menyentuh setiap sudut dinding kayu, ditingkahi desir angin yang datang memaksa lidah api pelita meliuk-liuk dalam tarian kesendiriannya, di penghujung malam yang tersisa.

Pagi yang cerah menaungi bumi dalam setiap lengkung kaki langit. Awan putih bersih berbias cahaya hangat mentari menyapu butir-butir embun diujung setiap tangkai daun menguap terbang menghilang..

Bumi pagi berselimut keceriaan manakala Empu Dangka dan Mahesa Amping di padang ilalang di puncak bukit Pejeng Gundul tengah berlatih ilmu cambuk.

Dua buah cambuk yang sama terlihat saling menyerang seperti dua ekor ular sakti yang dapat terbang saling bertempur diatas bumi. Daun ilalang beterbangan manakala tersambar sabetan cambuk yang mengayun melingkar. Tanah tempat mereka berpijak terlihat sudah menjadi lingkaran rata tersapu bersih tergilas langkah kaki mereka yang terus bergerak menyerang atau menghindari setiap serangan lawan berlatihnya.

“Tahap pertama telah kamu kuasai , berkata Empu Dangka sambil menarik cambuknya yang tengah bergerak menerjang tubuh Mahesa Amping. ”Saatnya memahami setiap unsur gerakan”, berkata kembali Empu Dangka sambil menyampaikan kepada Mahesa Amping pemahaman setiap unsur gerakan ilmu cambuknya.

“Cambuk adalah sebuah senjata yang sangat lembut, namun dibalik kelembutan itulah letak kekuatannya”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

“Aku mulai jatuh cinta kepada senjata ini”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum memahami setiap uraian yang disampaikan oleh Empu Dangka.

“Biarkan kekuatan tenaga murni yang ada didalam tubuhmu mengalir mengisi setiap jengkal cambukmu”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping yang tengah berlatih memindahkan kekuatan tenaga murninya mengalir mengisi setiap jengkal cambuknya.

“Kekuatan tenaga murni melindungi cambuk dari tajamnya pedang”, berkata Mahesa Amping yang telah mampu memindahkan kekuatan tenaga murninya mengalir berpindah mengisi setiap jengkal cambuknya.

“Aku ingin melihat gerakan ilmu cambukmu yang telah dimuati sumber kekuatan tenaga murni”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

“Mudah-mudaham aku tidak mengecewakan Empu Dangka”, berkata Mahesa Amping yang tengah berdiri sambil menguarai cambuknya.

Terlihat Mahesa Amping telah mulai bergerak, diawali dengan gerakan perlahan namun Mahesa Amping sudah mulai menyalurkan kekuata tenaga murninya.

Gerakan ilmu cambuk yang Mahesa Amping mainkan terlihat semakin kencang dan keras. Ketika cambuk itu berputar dengan cepat terdengar seperti suara gasing bambu mengaum. “Geledarrrrrrrr……. !!!!!!!”

Terdengar seperti suara petir manakala cambuk itu di lepaskan dengan gerakan sandal pancing.

Terlihat Mahesa Amping tengah berdiri tegak sambil tangan kirinya memegang ujung cambuknya.

“Dengan beberapa hari latihan lagi, aku yakin kamu dapat menghentakkan cambukmu lebih sempurna”, berkata Empu Dangka yang merasa cukup puas melihat apa yang dapat dilakukan oleh Mahesa Amping dalam latihan awalnya.

“Terima kasih, aku akan terus berlatih”, berkata Mahesa Amping.

“Kurasa latihan hari ini sudah mencukupi, nanti malam kita dapat berlatih kembali”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

Terlihat Mahesa Amping dan Empu Dangka beriringan berjalan menuju Padepokan Panca Agni. Sementara itu matahari diatas puncak bukit Pejeng Gundul sudah berada diatas kepala.

Ketika mereka masuk ke Padepokan Panca Agni, dipendapa sudah menunggu Ki Arya Sidi. “Ki Nyoman telah menyiapkan makan siang untuk kalian”, berkata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka yang sudah menaiki tangga pendapa.

Di Pendapa memang sudah tersedia hidangan, sambil berbincang mereka menikmati makan siang mereka. “Bagaimana perkembangan para Sisya di sanggar?”, bertanya Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi.

“Aku bangga mempunyai empat orang Sisya yang punya semangat tinggi. Hari ini aku melihat perkembangan yang begitu pesat”, berkata Ki Arya Sidi bercerita tentang para Sisyanya.

“Di Pura Indrakila, kita akan menghadapi lebih banyak lagi para Sisya”, berkata Mahesa Amping

“Semoga semangat mereka tidak jauh berbeda dengan para Sisya di Padepokan Panca  Agni”, berkata Ki Arya Sidi.

Tidak terasa matahari di atas Padepokan Panca Agni telah bergeser dari puncaknya, langit berawan cerah memayungi puncak bukit Pejeng Gundul yang dipenuhi padang ilalang luas tempat Padepokan Panca Agni berdiri. Terdengar suara angin bergemuruh datang tanpa penghalang menggulung merebahkan ilalang merunduk tak berdaya ditiup angin yang cukup keras disiang itu.

“Beristirahatlah kalian, aku akan kembali ke sanggar”, berkata Ki Arya Sidi mohon diri untuk kembali ke sanggarnya.

“Nanti malam kami akan berlatih kembali”, berkata Empu Dangka kepada Ki Arya Sidi yang tengah  menuruni anak tangga pendapa.

Sepeninggal Ki Arya Sidi, Mahesa Amping dan Empu Dangka terlihat menjadi lebih leluasa membicarakan beberapa hal, terutama yang berkaitan dengan tugas Mahesa Amping sebagai petugas sandi Singasari.

“Diterima di Padepokan Panca Agni, menjadi guru para Sisya di Pura Indrakila, kamu sudah memberikan setengah kemenangan untuk kerajaan Singasari”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

“Ada yang Empu Dangka lupa menyebutnya, bahwa aku sudah terikat persaudaraan dengan Raja Leak”, berkata Mahesa Amping yang disambut gelak tawa Empu Dangka.

“Benar, aku lupa menyebutnya. Raja Leak dan kaumnya adalah kekuatan yang dapat diandalkan”, berkata Empu Dangka memberikan beberapa masukan kepada Mahesa Amping yang dirasakan sangat berguna terutama dengan rencana Singasari menguasai Balidwipa.

Tidak terasa sang surya di atas Padepokan panca Agni telah semakin jauh bergeser. Cahayanya sudah semakin lemah tertutup awan tebal.

Diudara bebas terbuka terlihat puluhan burung pipit terbang keutara. Sementara itu seekor Elang terlihat tengah berputar-putar diatas padang ilalang diatas bukit Pejeng Gundul, mungkin tengah mengincar seekor burung puyuh yang tengah asyik menikmati cacing tanah hidangan makan siangnya. Mungkin itulah makanan terakhirnya di hari itu.

“Dialam bebas, siapapun yang mempunyai kekuatan akan menjadi penguasa”, berkata Mahesa Amping sambil menatap seekor Elang yang masih berputar-putar diatas padang ilalang.

“Kekuatan di tangan manusia berbudi, adalah sebuah payung kehidupan”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping yang terlihat menahan nafas dalamdalam manakala melihat seekor Elang tengah menukik tajam, mungkin ada mangsa buruannya dibawah sana yang sebentar lagi akan menjadi santapan keluarga elang itu.

“Penguasaan Singasari atas Balidwipa ini tidak untuk merubah tatanan yang sudah ada, melainkan untuk mengembalikan keseimbangan sumber kehidupan sebagaimana adanya”, berkata Empu Dangka. “Apakah yang Empu Dangka maksudkan adalah mengembalikan keseimbangan perdagangan  di Balidwipa ini, dimana saat ini kekuasaan perdagangan di Balidwipa ini telah berada di tangan para saudagar dari negeri Hindu”, berkata Mahesa Amping memberikan pandangannya.

“Ternyata penglihatanmu sangat tajam”, berkata Empu Dangka penuh senyum kepada mahesa Amping yang tengah menatap seekor Elang yang terbang menjauh sambil mencengkerang hasil buruannya. Mungkin disebuah dataran puncak tinggi dimana dua ekor bayi Elang yang masih berbulu halus tengah menunggu.

“Akhirnya aku menemukan tempat berpijak dan arah pengabdian”, berkata Mahesa Amping sambil terus memandang arah terbang seekor Elang yang semakin menjauh. “Terima kasih, selama ini aku sering meragukan kemana arah pengabdianku. Hari ini hatiku sudah ajeg, bahwa aku berada bersama seekor Rajawali Singasari”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka yang membalasnya hanya dengan sebuah senyuman.

Mahesa Amping dan Empu Dangka untuk beberapa saat tidak berkata apapun, suasana di pendapa sepertinya hening sejenak, mungkin saat itu mereka tengah berada dalam alam pikirannya masing-masing.

Keheningan pun akhirnya terpecahkan manakala muncul Ki Arya Sidi datang menaiki anak tangga pendapa.

“Apakah Ki Nyoman tidak mengeluarkan minuman brem, sehingga suasana pendapa ini begitu membisu?”, berkata Ki Arya Sidi yang baru datang dengan wajah penuh ceria.

“Bremnya masih ada, bahan ceritanya yang habis”, berkata Empu Dangka kepada Ki Arya Sidi.

Ki Arya Sidi terlihat sudah duduk bersama, tiba-tiba saja Ki Nyoman muncul dari balik pintu sambil membawa ancemon hangat, lengkap dengan kelapa dan gula arennya.

“Silahkan dinikmati”, berkata Ki Nyoman sambil meletakkan hidangan ringannya.

“Jadi ingat masa kecil manakala melihat ancemon. Dulu bila ibuku pergi ke pasar, yang kutunggu adalah buah tangannya membawa ancemon kesukaanku”, berkata Ki Arya Sidi.

Sementara itu terlihat Ki Nyoman sedikit tersenyum sambil berjalan kembali kearah pintu, mungkin ikut mengenang masa kecil dan kelucuan junjungannya Ki Arya Sidi yang telah dilayaninya hingga saat itu di Padepokan Panca Agni.

“Masa kecil adalah masa penuh kesenangan”, berkata Ki Arya Sidi sambil menuangkan segelas air  putih dari sebuah kendi.

“Bermain mencari kesenangan, hanya itulah pekerjaan seorang anak kecil”, berkata Empu Dangka menanggapi perkataan Ki Arya Sidi.

“Sewaktu kecil dulu, Ki Nyoman sering membawaku keluar Padepokan ini, biasanya menjelang senja, aku dibawanya ke sebuah sungai untuk membuat beberapa pliridan.Bukan main senangnya ketika esok harinya kami mendapatkan banyak ikan yang terjebak masuk lubang”, berkata Ki Arya Sidi bercerita tentang masa kecilnya.

“Ternyata orang Bali mengenal juga tentang pliridan, kukira cuma orang jawa saja yang punya cara menjebak ikan dengan cara seperti itu”, berkata Mahesa Amping.

“Sebagai bukti bahwa orang Bali dan orang Jawa berasal dari satu keturunan, masih banyak lagi kesamaan kutemui dalam berbagai hal, bukan cuma dalam cara menangkap ikan”, berkata Empu Dangka.

“Gara-gara cerita masa kecilku, kulihat kalian belum juga menyentuh ancemon buatan Ki Nyoman”, berkata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka mempersilahkan tamunya menikmati hidangan  yang telah disediakan.

Sementara itu langit diatas halaman Padepokan Panca Agni sudah terlihat kelabu, senja telah turun memayungi bumi dalam warna beningnya.Sejauh mata memandang warna senja telah memberikan suasana keheningan yang indah. Seekor kalelawar terlihat  terbang melayang, mungkin sudah tidak sabar berburu meninggalkan saudaranya yang masih enggan membuka matanya tengah tidur menggelantung didalam goanya, hari memang belum datang gelap.

Hamparan padang ilalang luas diatas puncak bukit Pejeng Gundul itu telah dipayungi langit malam. Cahaya bulan tertutup awan kelabu masih memberi penerang setiap gerak dan bayangan yang ada.

Manakala sudut pandang telah terbiasa melihat dialam terbuka di malam hari, maka di padang ilalang itu terlihat dua sosok tubuh tengah bertempur begitu serunya. Terlihat dua bayangan kembar dengan gerakan yang indah kadang melenting, maju dan melompat kesana kemari. Terlihat keduanya menggunakan senjata yang sama, sebuah senjata cambuk.

Mereka adalah Mahesa Amping dan Empu Dangka yang tengah asyik berlatih di malam hari.

“Permainan cambukmu sudah begitu sempurna”, berkata Empu Dangka sambil bergeser kekiri menghindari sabetan cambuk Mahesa Amping.

Empu Dangka tidak sekedar menghindar, cambuknya dengan cepat memutar menyerang bagian kaki Mahesa Amping.

Melihat serangan balasan yang datang begitu cepat, Mahesa Amping dengan gerakan yang cepat pula langsung melompat sambil menggerakkan cambuknya dengan gerak sendal pancing.

Sekejap terlihat senyum kegembiraan dari Empu Dangka mendapatkan serangan balasan yang tidak terduga dari Mahesa Amping yang tertuju ke dada lawan tandingnya.

“Bagus !!!, gerakanmu tidak dapat dibaca”, berkata Empu Dangka sambil memutar badannya.

“Ilmu meringankan tubuh yang hebat”, berkata Mahesa Amping yang melihat putaran tubuh Empu Dangka yang begitu cepat dan langsung menyerang balik.

Demikianlah, semakin lama gerakan mereka begitu cepat saling menyerang. Mata kasat akhirnya tidak mampu lagi melihat dan mengikuti gerakan mereka.  Yang terlihat adalah padang ilalang seperti terkuak membentuk lingkaran luas. Ternyata setiap putaran dan sabetan cambuk mereka telah membuat sebuah prahara angin panas yang kuat. Ilalang disekitar mereka terlihat telah hangus terbakar.

“Bagus, kamu telah dapat mengalirkan kekuatan hawa murnimu lewat setiap gerak cambukmu”, berkata Empu Dangka penuh kegembiraan merasakan angin panas menerjang lewat putaran dan sabetan cambuk di tangan Mahesa Amping. Kalau saja bukan Empu Dangka, mungkin sudah menjadi arang hangus terbakar. Empu Dangka telah mengimbanginya dengan tenaga hawa dingin yang sama kuatnya.

“Gila !!!!”, berkata Empu Dangka yang terlihat tubuhnya melenting keluar dari lingkaran arena ilalang yang telah hangus terbakar.

Ternyata Mahesa Amping dengan cepat telah menyerangnya dengan angin pukulan hawa dingin yang kuat.

“Apakah Empu Dangka sudah lelah?”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum berdiri tegak dengan tangan kirinya tengah menjurai ujung cambuknya di tengah lingkaran ilalang yang telah hangus terbakar.

“Aku hanya kaget bahwa dengan cepat kamu telah merubah tenaga hawa panas menjadi tenaga hawa dingin yang kuat. Jarang sekali orang yang dapat berbuat seperti itu, sementara bagimu dapat dilakukan dengan sambil bermain”, berkata Empu Dangka yang telah  berdiri diluar lingkaran arena.

“Semua berkat bimbingan Empu Dangka”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka.

“Aku sekedar memberikan sedikit cara, sementara didalam dirimu telah bertumpuk segala macam aji kesaktian”, berkata Empu Dangka yang merasa gembira Mahesa Amping dengan mudah melaksanakan semua yang diajarkannya dengan hasil yang begitu gemilang.

“Malam sudah begitu larut”, berkata Mahesa Amping sambil menatap lengkung langit. “Besok kita mencari tempat yang jauh dari jangkauan manusia, aku ingin melihat sejauh mana engkau mampu menghentakkan puncak kekuatan dirimu lewat ilmu cambukmu”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

“Artinya sekarang kita kembali ke Padepokan Panca Agni untuk beristirahat, keesokan paginya kita sudah siap mencari tempat sesuai yang Empu Dangka inginkan”, berkata Mahesa Amping sambil melangkah mendekati Empu Dangka mengajaknya kembali kepadepokan Panca Agni.

Ketika mereka sampai di Padepokan Panca Agni, Ki Arya Sidi sudah beristirahat lebih dulu, mungkin hari ini tenaganya banyak dicurahkan untuk membimbing para Sisyanya.

“Ki Arya Sidi sudah lama tertidur, hari ini kulihat beliau begitu lelah hingga masih sore sudah masuk kepembaringannya”, berkata Ki Nyoman sambil membawa air kendi. “Kulihat kalian juga sangat begitu lelah”, berkata kembali Ki Nyoman sambil menyilahkan Mahesa Amping dan Empu Dangka untuk beristirahat.

Tidak lama Mahesa Amping dan Empu Dangka duduk di pendapa, mereka pun akhirnya terlihat masuk ke bilik masing-masing.

Suasana pendapa Padepokan Panca Agni kembali sepi, api pelita disudut pendapa melenggut semakin surut cahayanya. Diluar halaman pendapa cahaya remang malam penuh kebisuan. Langit malam berkabut awan kelabu dengan sedikit angin bertiup sejuk membelai daun dan dahan beringin putih yang tumbuh ditengah halaman Padepokan Panca Agni.

Dan malam masih terus berlalu mendekap wajah bumi bersama nyanyian kesunyian malam dalam lengking tenggorek yang pajang, kadang mencuri sedikit bunyi burung hantu yang semakin menjauh pergi, atau sekali-kali terdengar suara kodok buduk memanggil kekasihnya agar datang mendekat.

Malam pun akhirnya lelah melepaskan bumi dari pelukannya pergi kebalik bumi lain.

Dan sang fajar telah datang membelai bumi dengan senyumnya yang hangat.

“Hari ini tidurku terasa lelap”, berkata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka yang sudah sejak pagi sudah bangun dan berada lebih dulu di pendapa.

“Tidur di saat lelah memang mengasyikkan, ketika bangun badan menjadi sangat segar”, berkata Empu Dangka menanggapi perkataan Ki Arya Sidi.

Sementara itu terlihat Ki Nyoman tengah membawa beberapa hidangan untuk sarapan pagi.

“Hari ini kami bermaksud keluar Padepokan Panca Agni”, berkata Empu Dangka kepada Ki Arya Sidi menceritakan maksud dan tujuannya mencari sebuah tempat yang baik untuk menguji kemampuan puncak ilmu cambuk Mahesa Amping.

“Apakah aku boleh ikut?”, bertanya Ki Arya Sidi

“Bila Ki Arya Sidi menginginkan, kami tidak mampu melarang”, berkata Empu Dangka sambil tersenyum sebagai tanda menyetujui Ki Arya Sidi ikut bersama.

“Aku dapat memberikan sebuah tempat yang baik”, berkata Ki Arya Sidi yang gembira diajak pergi bersama.

“Tidak ada salahnya mengajak Ki Arya Sidi, pasti sebagai orang asli Balidwipa tidak ada sejengkal pun tanah daratan di Balidwipa ini yang belum disinggahi”, berkata Empu Dangka.

Sementara itu hamparan bumi pagi sudah terlihat benderang dihangati cahaya matahari. Sebagaimana pagi kemarin, di halaman muka Padepokan Panca Agni sudah diramaikan oleh suara anak ayam mencicit mengejar induknya yang tengah mencari makanan.

“Kami pergi tidak akan lama”, berkata Ki Arya Sidi didalam sanggar kepada para Sisyanya ketika akan berangkat. ”Berlatihlah dengan giat dan semangat”, berkata kembali Ki Arya Sidi sambil melambaikan tangannya keluar menuju pintu sanggar yang terbuka.

Maka terlihatlah tiga orang tengah keluar dari regol pintu halaman Padepokan Panca Agni. Langkah mereka terlihat begitu semangat, terbayang suasana alam bebas mengiringi setiap langkah kaki mereka menjelajahi ngarai, jurang dan bukit.

“Langkah kita mengarah matahari terbenam”, berkata Ki Arya Sidi yang sudah berjanji akan mencarikan sebuah tempat yang cocok dan sesuai bagi Mahesa Amping dan Empu Dangka.

“Mudah-mudahan pemandu kita tidak lupa arah”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum.

Ketiga orang itu sepertinya tidak punya beban apapun, langkah mereka begitu ringan yang selalu ditingkahi dengan canda kegembiraan.

Ketika mereka menuruni sebuah lembah, matahari terlihat mengiringi dibelakang mereka. Namun manakala mereka tengah memasuki sebuah kademangan yang cukup ramai, matahari sudah berlari mendahului mereka bergantung di puncak langit. Dan hari pun terlihat sudah sangat terang dan panas menyengat.

“Kita sudah ada di kademangan Pejeng yang ramai”, berkata Ki Arya Sidi ketika mereka sudah berada di sebuah perempatan jalan. Terlihat di ujung jalan lurus sebuah pasar yang masih terlihat ramai. Ternyata mereka tiba pada saat hari pasaran.

“Mari kita manjakan perut kita”, berkata Empu  Dangka mengajak kedua kawannya untuk singgah di sebuah kedai makanan.

Ketika mereka masuk kedai itu, terlihat beberapa pengunjung tengah menikmati hidangan mereka. Seorang pelayan tua menghampiri mereka dan menunjukkan sebuah tempat yang masih kosong.

“Sediakan masakan terbaik di kedai ini”, berkata Ki Arya Sidi kepada pelayan itu ketika mereka sudah duduk ditempatnya masing-masing.

“Hari ini kami menyediakan masakan Lawar Ayam dan jukut Mapelencing”, berkata pelayan itu.

“Tambahkan brem untuk kami”, berkata Ki Arya Sidi menambahkan pesanannya.

“Ada lagi?”, bertanya pelayan tua itu.

“Lawarnya jangan terlalu pedas”, berkata Ki Arya Sidi “Dan  jangan  pakai  lama”,  berkata  Mahesa Amping

yang disambut tawa oleh Ki Arya Sidi dan Empu Dangka

Ternyata mereka memang tidak menunggu terlalu lama. Pelayan tua itu telah datang membawa makanan pesanan mereka.

“Sebagaimana pesan tuan, masakan kami memang tidak pakai lama”, berkata pelayan itu sambil mengumbar senyumnya kepada Mahesa Amping.

“Ucapan kami cuma bercanda”, berkata Mahesa Amping sambil mengangguk dan tersenyum kepada pelayan tua itu.

Setelah pelayan tua itu pergi dan masuk kebelakang, mungkin ada tugas lain menunggunya. Maka terlihat Ki Arya Sidi, Mahesa Amping dan Empu Dangka tengah menikmati makan siang mereka.

“Yang muda saja bukan main nikmatnya, apalagi yang sudah tua”, berkata Empu Dangka ketika menikmati jukut Mapelencing yang merupakan sebuah masakan berasal dari rebung bambu.

Mendengar ucapan Ki Dangka membuat Ki Arya Sidi dan Mahesa Amping tidak mampu menahan rasa  gelinya.

Ketika mereka telah menyelesaikan makanan mereka dan bermaksud membayar semuanya, alangkah kagetnya mereka bahwa pelayan tua itu tidak mau menerima pembayaran.

“Seseorang telah membayar semua pesanan tuan”, berkata pelayan tua itu.

“Siapakah yang telah membayar pesanan makanan kami”, berkata Mahesa Amping sambil menyapu pandangannya ke arah semua pengunjung yang masih ada di kedai itu.

“Orangnya sudah keluar ketika tuan-tuan tengah masih menikmati hidangan”, berkata pelayan tua itu.

Pelayan tua itu tetap menolak manakala Ki Arya Sidi memaksa untuk membayar.

Akhirnya dengan penuh tanda tanya yang masih mengisi di kepala, mereka bertiga keluar dari kedai.

Namun belum lagi mereka bertiga melangkah jauh dari kedai itu, seorang pemuda datang menghampiri mereka.

“Maaf, ternyata kehadiran kalian disini telah membawa berkah untukku, seseorang telah memberikan kepadaku upah yang cukup hanya sekedar menyampaikan sebuah pesan kepada kalian”, berkata pemuda itu.

“Pesan?”, bertanya Ki Arya Sidi kepada pemuda itu. “Orang  itu  hanya  berpesan  bahwa  kalian ditunggu

dibalik gumuk diujung jalan ini”, berkata pemuda itu  yang

langsung menjura penuh hormat meninggalkan Ki Arya Sidi, Empu Dangka dan Mahesa Amping yang termangu, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

“Apakah orang yang berpesan itu satu orang dengan yang membayar makanan kita dikedai?”, bertanya Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka.

“Mari kita menuju ke balik gumuk itu, mungkin jawabannya ada disana”, berkata Empu Dangka.

Terlihat Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi telah berjalan ke arah sebuah gumuk yang ditunjukkan oleh pemuda tadi.

Untuk mencapai gumuk itu memang ada jalan lurus dari pasar. Ketika mereka melewati jalan lurus itu, mereka dapat merasakan bahwa jalan itu sangat jarang dilalui oleh orang, terlihat rumput-rumput liar tumbuh segar di sepanjang jalan tidak pernah terinjak. Akhirnya mereka telah sampai diujung jalan yang buntu dibawah gumuk. Tanpa kecurigaan apapun mereka langsung menapaki gumuk itu yang dipenuhi oleh rumput dan ilalang liar.

Ketika mereka sampai diatas gumuk, betapa kagetnya Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi melihat sepuluh mayat bergelimpangan tidak berdaya. Dari pakaiannya dapat ditandai bahwa mereka adalah pasukan pengawal sebuah Pura. Kesepuluh mayat itu terlihat membawa busur dan anak panah lengkap .

Kening mereka bertambah berkerut manakala dihadapan mereka terlihat dua orang tengah adu tanding. Seorang terlihat bertelanjang dada dengan rambutnya yang panjang dibiarkan terurai. Sementara lawan lainnya dapat diduga sebagai seorang pendeta, terlihat dari  jubah pendeta yang dikenakannya.

“Bukankah itu Ki Jaran Waha?”, berkata Mahesa Amping yang mengenali salah satu orang yang tengah bertempur.

“Benar, itu saudara kita Pemimpin Leak Balidwipa”, berkata Ki Arya Sidi yang juga telah melihat dan mengenali siapa salah satu yang tengah bertempur dengan sengitnya.

“Akhirnya kalian telah datang”, berkata Ki Jaran Waha sambil menghindari sabetan tongkat lawannya dan langsung melenting mendekati Mahesa Amping, Ki Arya Sidi dan Empu Dangka.

“Orang ini bermaksud mencelakaimu, saudaraku”, berkata Ki Jaran Waha kepada Mahesa Amping.

Mahesa Amping masih belum dapat mengerti, bagaimana mungkin orang didepannya yang sama sekali belum dikenalnya telah bermaksud untuk mencekai dirinya. “Tuan Pendeta, kita belum pernah bertemu. Kesalahan apa dariku sehingga dirimu bermaksud mencelakai aku ?”, bertanya Mahesa Amping kepada seorang berjubah pendeta.

“Asal kau ketahui, aku saudara tua Dewa Bakula yang pernah kau kalahkan”, berkata orang itu.

“Kami bertanding dengan adil, apakah Dewa Bakula tidak menceritakannya kepada tuan Pendeta?”, bertanya kembali Mahesa Amping kepada orang itu.

“Begitu mudahnya Dewa Bakula kalah olehmu, itulah yang aku tidak percayai, pasti kalian telah berbuat curang”, berkata orang itu.

“Percaya atau tidak, adalah hak tuan pendeta”, berkata Mahesa Amping yang merasa tersinggung dikatakan telah berbuat curang.

“Namaku Dewa Palaguna, purnama depan kutunggu dirimu di Pura Indrakila”, berkata orang itu yang mengaku bernama Dewa Palaguna.

“Mengapa harus di pura Indrakila?”, bertanya Mahesa Amping.

“Agar ada saksi bahwa dirimu belum mampu menjadi guru di Pura Indrakila”, berkata Dewa Palaguna yang langsung membalikkan badan berjalan meninggalkan tanah gumuk itu diiringi pandangan mata semua yang ada disitu.

Sepeninggal Dewa Palaguna, Ki Jaran Waha bercerita tentang keberadaannya di tanah gumuk itu. Bermula Ki Jaran Waha yang juga sebagai Raja Leak di Balidwipa mendapat berita tentang sebuah upaya untuk mencelakai Mahesa Amping oleh sekelompok orang yang ternyata berasal dari Pura Besakih yaitu saudara tua dari Dewa Bakula sendiri yang bernama Dewa Palaguna, seorang pendeta guru di Pura Besakih yang dipercayakan membimbing para pangeran penguasa pura Besakih. Dari semua pangeran di seluruh Pura Balidwipa, hanya para pangeran pura Besakih yang tidak berguru di pura Indrakila. Mereka lebih memilih Dewa Palaguna sebagai guru pembimbingnya di pura Besakih.

“Kami mengikuti mereka sampai di Kademangan Pejeng ini”, berkata Ki Jaran Waha melanjutkan ceritanya. “Pengikutku tersebar di Balidwipa ini, jadi tidak ada satupun rahasia yang terlepas dari pendengaranku”, berkata kembali Ki Jaran Waha menutup ceritanya. 

“Jadi Ki Jaran Waha yang membayar makanan kami di kedai?”, bertanya Empu Dangka kepada Ki Jaran Waha.

“Aku memerintah orangku untuk membayarnya”, berkata Ki Jaran Waha sambil tersenyum.

“Beruntungnya kita bersaudara dengan seorang Raja”, berkata Mahesa Amping yang disambut tawa oleh semua yang ada di tanah gumuk itu.

Kepada Ki Jaran Waha, Ki Arya Sidi menjelaskan tentang tujuan mereka bertiga, yaitu mencari sebuah tempat untuk melihat sejauh mana Mahesa Amping  dapat menghentakkan puncak ilmu cambuknya.

“Apakah aku diijinkan untuk ikut bersama kalian?”, bertanya Ki Jaran Waha.

“Permintaan seorang raja tidak boleh ditolak”, berkata Mahesa Amping yang kembali disambut tawa dari semua yang mendengarnya.

“Mumpung matahari masih bergeser sedikit, perjalanan kita tidak jauh lagi”, berkata Ki Arya Sidi mengajak mereka melanjutkan perjalanannya.

“Bagaimana dengan mayat-mayat itu”, berkata Mahesa Amping yang melihat sepuluh orang prajurit pengawal pura yang telah menjadi mayat bergelimpangan.

“Biarlah para pengikutku yang mengurusnya”, berkata Ki Jaran Waha dengan suara perlahan.

Sementara itu matahari memang telah bergeser sedikit kebarat, awan tebal menyelimutinya membuat cuaca saat itu menjadi adem tidak begitu terik. Ditambah semilir angin diatas gumuk itu berdesir lembut menyentuh kulit.

“Sebuah perjalanan yang menyenangkan”, berkata Ki Jaran Waha ketika angin berhembus lembut membelai rambut dan tubuhnya bersama langkah ketiga teman seperjalanannya.

Terlihatlah empat orang dengan langkah ringan membelah padang ilalang, menembus hutan perdu, lembah dan ngarai.

“Berhati-hatilah Mahesa Amping, kudengar kesaktian Dewa Palaguna dapat meruntuhkan gunung”, berkata Ki Jaran Waha kepada Mahesa Amping sambil terus berjalan beriringan.

“Terima kasih, kamu telah memperingatkanku. Semoga Gusti yang Maha Agung selalu melindungiku”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha.

“Sikap itulah yang harus kita miliki, tidak menggantungkan kepada kesaktian apapun yang kita miliki, tapi menggantungkan segalanya kepada Sanghiang Gusti Yang Maha Agung”, berkata Ki Arya Sidi ikut bicara. Akhirnya tidak terasa, sambil berjalan dan bercakapcakap, mereka telah sampai ditempat yang dituju. Sebuah tanah lapang yang dibatasi batuan bercadas disekelilingnya. Sepertinya sebuah tempat yang jarang sekali disinggahi orang karena sangat jauh dari padukuhan terdekat dan tidak ada apapun yang dapat dimanfaatkan selain batu-batu besar berserakan disekitarnya.

“Inilah tempat yang kujanjikan”, berkata Ki Arya Sidi menjelaskan bahwa mereka telah sampai ditempat yang dituju.

“Tempat seperti inilah yang kita butuhkan”, berkata Empu Dangka sambil pandangannya menyapu sekeliling.

Sementara itu sang senja telah semakin redup, layar panggung bumi telah berganti warna malam. Semburat bulan tua menerangi tanah lapang berbatu.

“Kita beristirahat dulu, sayang bila bekal ini tidak dihabisi”, berkata Ki Arya Sidi sambil membuka bekal yang dibawanya dari Padepokan Panca Agni.

Terlihat Mahesa Amping telah membuat perapian dari beberapa rumput dan ranting. Dalam sekejap perapian telah menyala.

“Aku menyiapkan bekal agak berlebih, ternyata ini rejekinya Ki Jaran Waha”, berkata Ki Arya Sidi.

“Terima kasih, kehadiranku tidak mengurangi jatah perut kalian bertiga”, berkata Ki Jaran Waha sambil menyuap nasi jagung kemulutnya.

Demikianlah, berempat mereka mengelilingi perapian yang semakin redup. Mahesa Amping sengaja tidak menambahkannya dengan daun dan ranting kering.

Dan akhirnya perapian itu memang tidak lagi menyala, mati tertiup semilir angin basah.

Ketika perapian telah mati, pandangan mereka sudah terbiasa dapat melihat apapun yang ada di atas tanah lapang berbatu itu.

“Semoga Sang Maha Karsa selalu menyertaimu”, berkata Empu Dangka ikut berdiri ketika melepas Mahesa Amping yang berdiri dan berjalan menjauh sekitar dua puluh langkah untuk mencoba mengungkapkan puncak ilmu cambuk yang dimiliki sampai sejauh mana.

Bersamaan dengan itu Ki Jaran Waha dan Ki Arya Sidi ikut berdiri mengiringi dengan pandangan matanya Mahesa Amping yang tengah berjalan menjauh dan akhirnya berhenti disebuah tempat.

Terlihat Mahesa Amping telah berdiri tegak, di tangannya telah menggenggam sebuah cambuk yang dibiarkan menjurai hampir menyentuh tanah.

“Wahai Gusti Yang Maha Karsa, kuserahkan diriku dalam kekuasaanMU”, berkata Mahesa Amping dalam hati sambil merasakan dirinya telah hilang bersatu dalam gerak dan kekuasaan Sang Maha Pencipta.

Perlahan Mahesa Amping telah bergerak memainkan jurus cambuknya. Dari Keremangan malam terlihat seperti sebuah gerak tarian yang indah dipandang mata.

“Sebuah permainan cambuk yang indah”, berkata Ki Jaran Waha kepada Ki Arya Sidi dan Empu Dangka.

“Mahesa Amping telah melakukannya dengan begitu sempurna”, berkata Empu Dangka menanggapi perkataan Ki Jaran Waha.

“Mahesa Amping telah melambari permainannya dengan kekuatan yang ada didalam dirinya”, kerkata Ki Arya Sidi manakala merasakan udara disekelilingnya semakin menghangat.

Mahesa Amping memang telah mulai mengungkapkan kekuatan yang tersembunyi di dalam dirinya, hawa panas telah semakin menyebar mengiringi setiap gerakan cambuknya.

Sementara itu Empu Dangka, Ki Arya Sidi dan Kijaran Waha masih berdiri mengikuti gerak Mahesa Amping meski udara disekitarnya sudah tidak  lagi hangat, namun sudah menjadi hawa panas yang kuat membakar kulit. Dengan mengerahkan kekuatan yang mereka miliki, mereka masih tetap bertahan di tempatnya dengan melambari kekuatan hawa dingin sebagai perisai tubuh mereka melindungi hawa panas yang terus merambat semakin memuncak.

“Luar biasa !!!!”, berkata Ki Arya Sidi sambil mundur lima langkah dari tempatnya berdiri merasakan hawa panas telah begitu menyengat.

Terlihat Empu Dangka dan Ki Jaran Waha telah berbuat yang sama sebagaimana dilakukan oleh Ki Arya Sidi.

“Siapapun lawannya yang berada dibawah tataran ilmunya akan dapat susah dibuatnya”, berkata Ki jaran Waha yang sudah berada didekat Ki Arya Sidi.

Meski jarak mereka dengan Mahesa Amping semakin bergeser menjauh, mereka masih dapat melihat dengan jelas Mahesa Amping yang terus memperlihatkan permainan jurus cambuknya.

Tidak ada terlihat kelelahan sedikitpun diwajah Mahesa Amping. Anak muda ini sepertinya tengah menikmati setiap jurus yang dimainkannya. “Aku tidak tahan !!!!”, berkata Ki Arya Sidi sambil kembali mundur lima langkah dari tempatnya berdiri manakala dirasakan hawa disekitarnya berubah-ubah dengan cepatnya antara hawa panas yang menyengat menjadi dingin yang sama kuatnya menyengat kulit.

Terlihat Empu Dangka dan Ki Jaran Waha telah berbuat yang sama sebagaimana dilakukan oleh Ki Arya Sidi.

“Gusti Sang Hyiang Widi telah mengaruniakan dibumi ini seorang yang berbakat luar biasa, sangat langka ada orang yang berbuat begitu cepatnya merubah kekuatan hawa panas dan dingin”, berkata Empu Dangka kepada Ki Arya Sidi dan Ki Jaran Waha.

“Sebuah kekuatan yang dapat menyusahkan siapapun lawannya”, berkata Ki Jaran Waha sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Aku melihat anak muda ini belum menghentakkan seluruh kekuatannya”, berkata Empu Dangka sambil tersenyum bangga merasakan kekuatan Mahesa Amping yang memang masih menyisakan puncak kekuatannya.

“Belum di puncaknya, kita sudah berdiri begitu jauh”, berkata Ki Arya Sidi yang ikut kagum sebagaimana Empu Dangka.

“Aku melihat tanah dan batuan di sekitarnya telah menjadi retak”, berkata Ki Jaran Waha.

“Perubahan hawa yang berganti dengan cepatnya telah menjadikan benda apapun retak dibuatnya”, berkata Empu Dangka menanggapi perkataan Ki Jaran Waha.

“Gusti Maha Adil, memberikan ilmu yang luar biasa  itu hanya kepada orang yang bijak sebagaimana Mahesa Amping”, berkata Ki Arya Sidi.

“Seperti itulah Mahesa Amping, tidak mengeluarkan jurus simpanannya kecuali sangat terpaksa dan mendesak”, berkata Empu dangka.

“Mahesa Amping telah dengan sadar telah menguasa segala amarah didalam dirinya”, berkata Ki Arya Sidi menambahkan dan telah mengenal Mahesa Amping seutuhnya lewat pergaulannya selama ini.

“Sementara kita yang tua kadang tergelincir tidak bisa mengendalikan amarah diri kita sendiri”, berkata Ki Jaran Waha sambil tersenyum.

“Lihatlah, inilah yang kita tunggu”, berkata Empu Dangka sambil matanya tidak lepas kepada apa yang tengah dilakukan oleh Mahesa Amping.

Ternyata Mahesa Amping tidak lagi melakukan permainan jurus cambuknya. Terlihat tengah berdiri tegak menghadap ke sebuah batu besar hitam sebesar kerbau.

Mahesa Amping tengah mengendapkan seluruh kekuatannya. Tiba-tiba saja dengan gerakan sendal pancing ujung cambuknya telah menghentakkan batu sebesar kerbau dihadapannya.

Desssss….,

Suara cambuk Mahesa Amping tidak menggelegar, hanya seperti suara cambuk biasa memecah angin.

Namun dampak dari lecutan itu sungguh luar biasa

!!!!!.

Batu sebesar seekor kerbau hancur luluh lantak menjadi sebuah debu halus yang bertebaran terbang tertiup angin. Empu Dangka, Ki Arya Sidi dan Ki Jaran Waha yang menyaksikan semua itu terhenyak nafasnya tertahan.

“Sebuah kekuatan yang dahsyat”, berkata Ki Jaran Waha tidak sadar mengucapkan pujiannya atas apa yang telah dilakukan oleh Mahesa Amping.

“Mahesa Amping telah mampu menyalurkan kekuatannya lewat ujung cambuknya, sebagaimana dilakukannya lewat sorot matanya”, berkata Empu Dangka yang merasa gembira atas apa yang telah dicapai oleh Mahesa Amping.

“Melihat usianya, tataran ilmu yang ada saat ini pasti akan terus berkembang”, berkata Ki Arya Sidi.

“Benar, itulah yang kuharapkan menitipkan ilmu cambukku kepadanya”, berkata Empu Dangka dengan mata berbinar-binar penuh kegembiraan.

“Mudah-mudahan aku tidak mengecewakan Empu”, berkata Mahesa Amping yang telah datang mendekat.

“Anakmas telah melakukannya dengan sangat sempurna”, berkata Empu Dangka dengan penuh gembira.

Sementara itu hari sudah berlari menjauhi pertengahan malam, cahaya diatas tanah lapang yang sepi masih bening dinaungi biru langit malam.

“Kita bermalam disini”, berkata Ki Arya Sidi sambil berjalan mencari tempat yang baik yang akhirnya didapati di balik sebuah batu besar yang melindungi mereka dari dinginnya angin malam.

Namun mereka tidak langsung rebah tidur, masih ada saja yang mereka percakapkan di penghujung sisa malam itu. “Apakah kamu tidak memperkirakan bahwa Dewa Palaguna akan kembali melakukan kelicikan?”, bertanya Ki Jaran Waha kepada Mahesa Amping.

“Hal-hal seperti itu memang bisa saja terjadi”, berkata Empu Dangka ikut memberikan tanggapan.

“Namun kita tidak tahu kelicikan apa lagi yang akan dilakukan oleh Dewa Palaguna”, berkata Ki Arya Sidi.

“Tidak perlu dikhawatirkan, aku dan pengikutku akan terus membayangi mereka”, berkata Ki Jaran Waha sambil tersenyum penuh ketenangan.

“Terima kasih”, berkata Mahesa Amping

“Tidak usah berterima kasih, bukankah kita bersaudara?”, berkata Ki Jaran Waha tersenyum memperlihatkan seluruh giginya yang putih dan rata umumnya orang Bali.

“Beristirahatlah kalian, sebentar lagi nampaknya akan datang pagi, biarlah aku yang berjaga”, berkata Ki Arya Sidi mempersilahkan semuanya untuk beristirahat.

Sebagaimana yang dikatakan Ki Arya Sidi, hari memang akan menjelang pagi. Terlihat sejumput semburat warna merah telah bersembul di ujung bumi,sementara warna lengkung langit semakin menghitam.

Perlahan warna merah akhirnya merata mewarnai hampir seluruh lengkung langit. Cahaya bumi pun terlihat begitu bening, sepi dan teduh.

“Beristirahatlah, aku sudah cukup beristirahat”, berkata Mahesa Amping yang sudah terbangun kepada Ki Arya Sidi yang masih bersandar di sebuah batu besar.

“Terima kasih, sekejap dua kejap lumayan untuk berbaring”, berkata Ki Arya Sidi yang terlihat melepaskan sandarannya rebah berbaring.

Mahesa Amping memang tidak dapat memejamkan matanya yang sudah tidak lagi mengantuk. Terutama ketika cahaya bulat matahari telah bersembul mengintip ditepian bumi.

Matahari diatas tanah gumuk itu telah naik sepertiga menggantung di lengkung langit pagi, empat orang lelaki terlihat berjalan beriring.

“Kita singgah di pasar Pejeng”, berkata Ki Arya Sidi. “Tepatnya  di  kedai  yang  kemarin”,   berkata   Empu

Dangka sambil tersenyum merasa maklum bahwa perut

mereka belum tersentuh apapun.

Ketika mereka sampai di pasar Kademangan Pejeng, suasana di pasar itu memang tengah ramai. Terlihat lalu lalang beberapa wanita dengan bakul diatas kepala.

“Berikan kami makanan terbaik di kedai ini”, berkata Ki Arya Sidi kepada seorang pelayan tua ketika mereka sudah berada didalam kedai makanan.

“Tidak pakai lama”, berkata Ki Jaran Waha yang ditanggapi gelak tawa semuanya.

Maka tidak lama kemudia pelayan tua itu telah membawa hidangan untuk mereka.

“Selamat menikmati”, berkata pelayan tua itu mempersilahkan tamunya penuh kesopanan.

“Sarapan yang nikmat”, berkata Ki Arya Sidi sambil memandang hidangan yang telah siap sedia.

“Tepatnya sarapan pagi menjelang siang”, berkata Empu Dangka yang ditanggapi senyum tawa ketiga kawannnya. 

itu. Terlihatlah  mereka  nampaknya  menikmati hidangan

Ketika   selesai   makan,   kembali   terjadi   apa yang pernah mereka alami, pelayan tua itu tidak menerima pembayaran dari Ki Arya Sidi.

Maka semua mata menatap Ki Jaran Waha yang tenang duduk sambil tersenyum.

“Salah seorang pengikutku telah membayarnya”, berkata Ki Jaran Waha dengan tersenyum perlahan.

“Selama bersama Raja leak, sangu kita  utuh”, berkata Ki Arya Sidi sambil memasukkan kembali pecahan logam peraknya.

Sementara itu suasana pasar masih nampak ramai manakala mereka telah keluar dari dalam kedai.

“Sampai disini aku mengiringi kalian”, berkata Ki Jaran Waha yang bermaksud untuk kembali ke tempat tinggalnya.

“Jangan lupa purnama depan”, berkata Ki Arya Sidi mengiringi langkah kaki Ki Jaran Waha yang semakin menjauh menghilang diantara lalu lalang beberapa orang laki-laki dan wanita dikeramaian pasar Kademangan Pejeng.

“Pasar yang ramai sebagai tanda kemakmuran warganya”, berkata Empu Dangka kepada Ki Arya Sidi dan Mahesa Amping sambil melihat-lihat beberapa barang yang diperjual belikan dipasar itu.

Mentari saat itu memang belum beranjak ke puncaknya, Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi sudah jauh meninggalkan Pasar Kademangan Pejeng. Terlihat mereka tengah berjalan di sebuah hutan bambu, menyusuri beberapa bulakan panjang dan akhirnya telah berada di sekitar Padukuhan yang  terdekat dari Bukit Pejeng Gundul tempat Padepokan Panca Agni berada.

“Bunting padi itu sebentar lagi akan menguning”, berkata Empu Dangka ketika mereka tengah melewati beberapa hamparan sawah.

“Kebahagiaan yang tidak dapat dibeli oleh apapun bagi seorang petani disaat melihat padi menguning”, berkata Mahesa Amping sambil menyapu pandangannya pada hamparan sawah yang tumbuh menghijau.

Akhirnya mereka telah mendaki jalan ke Bukit Pejeng Gundul. Matahari telah mulai condong ke Barat manakala langkah kaki mereka telah sampai di muka regol pintu gerbang Padepokan Panca Agni.

“Selamat datang kembali di Padepokan Panca Agni”, berkata Ki Nyoman yang menyambut kedatangan mereka.

“Para Sisya pasti masih tengah berlatih”, berkata Ki Arya Sidi yang dijawab dengan senyum dan anggukan kepala dari Ki Nyoman.

Setelah bersih-bersih diri, Mahesa Amping dan Empu Dangka terlihat duduk di Pendapa. Sementara Ki Arya Sidi masih di sanggar menemui para Sisyanya.

Menjelang senja baru Ki Arya Sidi bergabung duduk di pendapa bercerita tentang perkembangan para Sisyanya yang nampaknya sangat menggembirakan hatinya.

Sementara itu, jauh dari Padepokan Panca Agni disebuah Pura besar, tepatnya di Puri dalem besakih dua orang terlihat tengah berbicara.

Salah seorang dari keduanya telah kita kenal bernama Dewa Palaguna, seorang lagi nampak dari wajah dan pembawaannya yang penuh wibawa tidak lain adalah Raja penguasa Pura Besakih.

“Aku bercuriga bahwa anak muda itu sejatinya adalah utusan Singasari yang sengaja didatangkan untuk membuat kerusuhan di Balidwipa ini”, berkata Dewa palaguna.

“Anak muda itu telah mengalahkan Dewa Bakula”, berkata Raja Pura Besakih dengan wajah buram.

“Adikku Dewa Bakula memang terlalu bodoh dengan mempertaruhkan jabatan guru di Pura Indrakila kepada anak muda itu”, berkata Dewa Palaguna dengan wajah penuh geram.

“Kita masih punya sedikit waktu menjelang purnama untuk melenyapkan anak muda itu”, berkata Raja Pura Besakih kepada Dewa Palaguna yang tengah berpikir keras merancang sebuah muslihat besar.

“Aku sudah menyiapkan sebuah perangkap untuk anak muda itu”, berkata Dewa Palaguna penuh semangat.

Sementara itu di tempat yang berbeda, di sebuah hutan lebat didalam sebuah goa yang cukup luas. Terlihat Raja Leak tengah bersama dengan beberapa pengikutnya yang setia.

“Mulai besok kalian harus sudah menyebar mengintai setiap gerakan yang bersumber dari Pura Besakih”, berkata Raja Leak yang tidak lain Ki Jaran Waha kepada pengikutnya.

“Kami penuhi perintah Paduka”, berkata salah seorang pengikutnya mewakili kawan-kawannya.

Demikianlah suasana menjelang purnama di pura Indrakila, Dewa Palaguna telah mempersiapkan segalanya, namun tidak menyadari bahwa segala kegiatannya telah dibayangi oleh para manusia Leak yang tersebar terus mengintai di sekitar pura Besakih.

Suasana yang semakin menghangat itu memang tidak terlihat di permukaan. Para saudagar masih seperti biasa berjalan dengan gerobak-gerobak dagangnya menyusuri jalan dan jalur perdagangan. Para petani masih seperti biasa menjelang panen telah berjaga sepanjang hari agar padinya tidak dimakan burungburung.

Sementara itu kehidupan di Padepokan Panca Agni masih seperti sediakala, para Sisya penuh semangat berlatih. Ki Arya Sidi dengan sepenuh hati membimbing para Sisyanya. Kadang Mahesa Amping ikut memberikan beberapa petunjuk tambahan.

“Semoga perjalanan tuan selalu diberikan naungan keselamatan dari Sang Hyiang Widi”, berkata Ki Nyoman mewakili para Sisya ketika mereka melepas kepergian Ki Arya Sidi bersama Mahesa Amping dan Empu Dangka yang akan berangkat ke Pura Indrakila.

“Berlatihlah terus, kalian tumpuan kelanggengan Pura Pusering Jagad”, berkata Ki Arya Sidi kepada keempat Sisyanya para Pangerang dari Pura Pusering Jagad.

Angin pagi bertiup dingin mengiringi perjalanan Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi. Terlihat mereka tengah menuruni Bukit Pejeng Gundul.

“Apa yang dikhawatirkan oleh Ki Jaran Waha tentang Dewa Palaguna mungkin saja terjadi”, berkata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka.

“Kita memang perlu berhati-hati, tapi tidak membuat perjalanan kita menjadi susah”, berkata Empu Dangka sambil tersenyum.

Terlihat Ki Arya Sidi menarik nafas panjang, ia baru sadar bahwa kedua kawannya ini adalah orang-orang yang mumpuni sakti mandraguna. Jangankan sekumpulan gerombolan perampok, sepapan laskar prajurit pun tidak akan mudah mengalahkan mereka.

Ketika matahari mulai menyengat berdiri di puncak cakrawala, Ki Arya Sidi, Mahesa Amping dan Empu Dangka telah sampai di sebuah Padukuhan dibawah bukit tempat Pura Indrakila berdiri.

Ketika Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi telah melewati regol gerbang padukuhan itu, mereka mendengar kentongan nada titir berbunyi sebagai tanda agar semua penduduk berkumpul segera karena situasi yang gawat darurat.

“Aku tidak melihat ada kebakaran di Padukuhan ini”, berkata Ki Arya Sidi merasa heran mendengar nada titir berbunyi.

“Berhenti !!!”, tiba-tiba saja telah menghadang didepan mereka puluhan lelaki.

“Apa salah kami?”, bertanya Empu Dangka dengan penuh ketenangan.

“Kalian penganut ilmu hitam yang kami cari”, berkata salah seorang yang terlihat seperti pimpinan dari semua orang yang ada menghadang.

“Kami tidak mengerti apa yang kalian katakan”, berkata Empu Dangka masih dengan penuh ketenangan. “Kalian telah menyebar wabah ulat bulu ganas di sawah ladang kami, nampaknya kalian ingin melihat dari dekat hasil kerja kotor kalian kepada kami”, kembali orang yang seperti pemimpin itu berkata.

“Kalian pasti salah orang, hari ini kami baru datang di Padukuhan ini”, berkata Empu Dangka mencoba meluruskan masalah.

“Dukun Made Jakut tidak pernah berbohong!!”, berkata pemimpin mereka.

“Siapapun nama yang baru saja Kisanak sebut itu, pasti salah orang”, berkata Empu Dangka.

“Aku Made Jakut, tidak pernah salah orang”, berkata salah seorang dengan wajah hitam berbadan tegap yang tiba-tiba saja muncul dari kerumunan.

“Apa yang dapat kisanak buktikan bahwa kamilah orangnya”, berkata Empu Dangka yang sudah mulai mencurigai ada sesuatu yang terselubung dibalik semua ini.

“Aku sudah mengatakan kepada para penduduk di Padukuhan ini bahwa tiga orang penyebar wabah itu akan datang saat menjelang purnama”, berkata orang yang mengaku bernama Made Jakut itu.

Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi terlihat menarik nafas panjang, pikiran mereka sama bahwa ada yang mencoba memfitnah mereka.

“Pasti ini ulah Dewa Palaguna”, berbisik Arya Sidi kepada Mahesa Amping yang berdiri disampingnya.

“Begitu liciknya Dewa Palaguna yang sengaja mengadu dada dengan para penduduk”, berkata Mahesa Amping perlahan kepada Ki Arya Sidi. Ki Arya Sidi membenarkan apa yang dikatakan Mahesa Amping. Seandainya ada prajurit segelar sepapan dihadapan kedua sahabatnya ini mungkin tidak ada keraguan apapun dalam melakukan tindakan. Sementara itu yang mereka hadapi adalah para penduduk yang tengah marah terhasut sebuah fitnah yang menyesatkan.

“Apa yang ingin kalian lakukan atas kami”, bertanya Empu Dangka kepada para penduduk yang menghadangnya.

“Kami akan mengikat dan membakar kalian sebagai tumbal mengusir wabah”, berkata Dukun Made Jakut.

“Bakar…!!!!”,

“Bakar….!!!”,

Berteriak sebagian penduduk sambil mengacungkan berbagai senjata mereka.

Empu Dangka, Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi benar-benar bertemu dengan jalan buntu, tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Disaat kebuntuan dan teriakan para penduduk yang sepertinya tidak mudah dikendalikan lagi, tiba-tiba saja terdengar suara tertawa panjang dan bergema dari segala penjuru.

“Akulah lelembut penguasa bumi ini”, terdengar suara di ujung tawanya yang juga keras dan bergema.

Sekejap para penduduk tidak lagi berteriak, terlihat wajah mereka nampak pucat penuh ketakutan.

“Wahai para pendududuk bumiku, dukun palsu itulah yang telah menyebarkan wabah kepada kalian”, terdengar kembali suara itu yang masih terdengar tinggi menggema.

“Tunjukkan dirimu, aku tidak takut!!!”, berteriak Dukun Made Jakut yang merasa dipojokkan meski dengan  suara masih dihantui rasa takut namun dihadapan para penduduk yang selama ini mengandalkannya mencoba mengangkat dadanya.

Namun percobaan dari Dukun Made Jakut untuk mengumpulkan keberaniannya cukup sampai disitu, tibatiba saja sebuah batu kecil melejit dengan kecepatan yang sangat luar biasa persis menghantam urat lehernya.

Ahhh….,

Hanya itu suara nafas tertahan dari Dukun Made Jakut yang bisa didengar, setelah itu terlihat tubuhnya jatuh lemas.

“Pergilah ke rumah Dukun palsu ini, dirumahnya masih banyak tersimpan bibit ulat bulu beracun yang siap ditebarkan di sawah ladang kalian”, berkata kembali suara yang masih tidak diketahui dari mana datangnya.

“Mari kita periksa rumah Dukun Made Jakut”, berkata pemimpin mereka yang mulai mempercayai sumber suara itu yang mengatakan sebagai lelembut penguasa bumi Padukuhan itu.

Maka terlihat berbondong-bondong para penduduk mengikuti langkah pemimpinnya menuju rumah Dukun Made Jakut.

Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi masih diam ditempat tidak ikut bersama penduduk kerumah Dukun Made Jakut.

“He-he-heh”, terdengar suara dari sebuah semak belukar di sekitar pohon suren. Terlihat sosok badan tinggi besar dengan rambut lepas beriap. “Sudah kuduga pasti ulah Si Raja Leak”, berkata Mahesa Amping tersenyum memandang orang yang  baru datang dari gerumbulan semak belukar.

“Jarang-jarang lelembut keluar di siang bolong”, berkata Ki Arya Sidi menyambut orang yang baru datang yang memang ternyata adalah Ki Jaran Waha.

“Yang jelas para penduduk mempercayainya”, berkata Ki Jaran Waha sambil tersenyum.

“Dukun palsu ini pasti orangnya Dewa Palaguna”, berkata Empu Dangka sambil menunjuk ke arah Dukun Made Jakut yang masih rebah pingsan.

Ketika mereka tengah mempercakapkan apa yang akan mereka lakukan atas diri Dukun Made Jakut, terdengar suara banyak langkah kaki menuju mereka.

“Ssst…, aku akan kembali berperan sebagai lelembut”, berkata Ki Jaran Waha sambil berlari masuk kedalam semak belukar.

“Kami telah menemukan banyak bibit ulat bulu beracun di rumah Dukun Made Jakut”, berkata pemimpin itu kepada Empu Dangka yang dipikir adalah orang yang dituakan diantara mereka bertiga.

“Apa yang dapat kalian lakukan untuk menawarkan ulat bulu beracun di sawah ladang kalian ?”, berkata Empu Dangka kepada pemimpin para penduduk.

“Mungkin memaksa Dukun Made jakut memberikan penawarnya”, berkata pemimpin para penduduk itu sambil menatap dukun Made jakut yang masih rebah.

“Tidak ada penawar ulat bulu beracun  selain berharap datangnya hujan”, berkata Empu  Dangka penuh keyakinan. “Sayangnya saat ini masih musim kemarau”, berkata salah seorang dibelakang pemimpin itu.

“Kita tidak dapat mendatangkan hujan”, berkata pemimpin itu menatap penuh kekhawatiran kepada Empu Dangka, sepertinya wajahnya penuh dengan keputus asahan.

“Aku akan mendatangkan hujan”, berkata Mahesa Amping sambil maju kedepan berhadapan dengan para penduduk yang mendengarnya seperti tidak yakin atas apa yang dikatakannya.

“Mendatangkan hujan???”, keluar ucapan berulangulang dari beberapa penduduk yang menganggap Mahesa Amping bercanda belaka.

Mahesa Amping tidak menanggapi ucapan dari beberapa penduduk yang meragukannya, dengan langkah perlahan penuh ketenangan memisahkan diri menuju kesebuah tempat terpisah.

Terlihat Mahesa Amping telah duduk sempurna bersila. Air Wajah dan nafasnya begitu tenang slam perti patung Budha. Mahesa Amping memang telah masuk dalam semedinya, memusatkan segala nalar dan budinya masuk dalam ketiadaan, alam kesunyatan.

Terperanjat para penduduk ketika menyaksikan sebuah asap tipis keluar dari ubun-ubun Mahesa  Amping.

Asap tipis itu terlihat keluar semakin melebar menyelimuti tubuh Mahesa Amping. Dan terus melebar semakin membesar, meluas dan semakin menebal membentuk sebuah kabut putih.

Seluruh pandangan mata siapa yang ada dipadukuhan itu tidak dapat lagi menembus kabut yang telah diciptakan oleh kekuatan ilmu Mahesa Amping yang luar biasa.

Seluruh dan seluas tanah Padukuhan itu telah diliputi kabut putih yang tebal !!!!!!

Dan apa yang terjadi selanjutnya?

Kabut putih yang tebal itu perlahan naik keudara sebagaimana layaknya membentuk gumpalan awan terbang semakin meninggi.

Seluruh tanah Padukuhan seketika menjadi teduh. Mentari sore yang sudah redup menjadi semakin redup terhalang awan putih ciptaan kekuatan ilmu Mahesa Amping.

Wuutttttttt….,

Sebuah hentakan terlihat keluar dari kedua tangan Mahesa Amping meluncur menembus kabut awan putih.

Ternyata hentakan Mahesa Amping adalah sebuah kekuatan hawa inti es yang luar biasa dinginnya. Dan kabut awan seketika berubah menjadi sekumpulan batu es salju yang sangat besar.

Wuuutttttttt… ,

Kembali Mahesa Amping menghentakkan kedua tangannya ke arah gumpalan batu es salju yang tengah meluncur kebumi.

Luar biasa !!!!!!!!!

Gumpalan batu es yang sangat besar telah hancur berkeping-keping luluh menjadi air hujan yang turun bagai air bah tercurah dari langit.

Hujannn……!!!!

Hujannn… !!!! Berteriak seluruh penduduk bergembira menyaksikan hujan mengguyur seluruh bumi Padukuhan. Seluruhnya termasuk sawah ladang mereka yang terkena wabah ulat bulu beracun.

Para penduduk sepertinya tidak menghiraukan tubuh dan pakaian mereka yang basah kuyup. Mereka semua terlihat berlari menuju sawah ladang masing-masing. Bukan main gembiranya ketika menyaksikan sendiri bahwa ulat bulu beracun telah hilang hanyut terbawa air mengalir.

Terlihat berbondong-bondong mereka kembali ketempat semula dimana Mahesa Amping masih duduk bersila sempurna.

“Terima kasih wahai Manusia Dewa”, berkata beberapa penduduk sambil bersujud dihadapan Mahesa Amping.

Sementara itu hujan terlihat sudah semakin surut dan akhirnya telah berhenti tiris. Perlahan Mahesa Amping membuka kedua kelopak matanya.

Mahesa Amping tersenyum melihat beberapa penduduk tengah bersujud dihadapannya.

“Bangunlah, aku tidak pantas disembah. Semua berkat karunia Sang Hyiang Gusti yang Maha Pengasih, juga berkat doa kalian juga”, berkata Mahesa Amping sambil meminta beberapa penduduk untuk bangkit berdiri.

Pemimpin mereka terlihat mendekati Mahesa Amping yang sudah bangkit berdiri.

“Terima kasih, tuan telah menyelamatkan kehidupan kami”, berkata pemimpin itu kepada Mahesa Amping.

“Berterima kasihlah kepada Gusti Yang Maha Pengasih, sementara diriku hanya sebatas perantara”, berkata Mahesa Amping.

“Kami mohon maaf atas segala perlakuan buruk terhadap tuan”, berkata pemimpin itu kepada Mahesa Amping, juga kepada Empu Dangka dan Ki Arya Sidi yang juga datang mendekat.

“Siapapun dapat berbuat khilaf menghadapi suasana musibah wabah seperti ini”, berkata Empu Dangka.

“Namaku Nyoman Atmaya, para penduduk disini biasa memanggilku Ki Buyut”, berkata pemimpin itu yang memperkenalkan dirinya sebagai Ki Buyut.

Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi berganti memperkenalkan dirinya, mereka tanpa sungkan lagi langsung menyampaikan arah tujuan mereka yaitu  ke Pura Indrakila.

“Ternyata tuan bertiga adalah para tamu agung Pemilik Pura Indrakila”, berkata Ki Buyut penuh kekaguman mengetahui bahwa ketiga orang dihadapannya hendak mengunjungi Pura Indrakila.” Hari sudah diujung senja, sebuah kehormatan bila saja tuantuan sudi beristirahat di tempat kami”, berkata kembali Ki Buyut penuh santun.

“Hari memang akan segera gelap, asal tidak merepotkan kalian, kami akan bermalam”, berkata Ki Arya Sidi.

“Sebuah kehormatan menjamu tuan-tuan bermalam di tempat kami”, berkata kembali Ki Buyut penuh kegembiraan.

Terlihat Ki Buyut berbicara dengan salah seorang penduduk, sepertinya sebuah perintah untuk menyiapkan beberapa hal untuk tamu-tamu kehormatannya. “Mari kita berjalan menuju rumahku”, berkata Ki Buyut setelah menghampiri Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi.

Maka berjalanlah mereka bersama menuju kerumah Ki Buyut.

“Dua hari lagi kami akan panen raya”, berkata Ki Buyut sambil memandang hamparan sawah disepanjang jalan menuju rumahnya.

Ternyata rumah Ki Buyut terlihat sangat mencolok diantara rumah-rumah yang ada, terutama dalam ukuran besarnya. Ketika mereka memasuki regol rumah Ki Buyut, mereka menemui seorang yang ternyata orang kepercayaan Ki Buyut untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk tamu-tamunya.

“Nyi Buyut sudah kuberitahukan tentang kedatangan tamu-tamu kita”, berkata orang itu kepada Ki Buyut perlahan penuh kesopanan layaknya seorang bawahan.

“Beristirahatlah”, berkata Ki Buyut kepada tamutamunya sambil menunjukkan letak pringgitan untuk bersih-bersih.

Setelah bergantian ke pringgitan, terlihat Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi duduk bersama di teras depan berupa saung yang besar.

“Mudah-mudahan masakan simbok berkenan di lidah tuan-tuan”, berkata Ki Buyut sambil mempersilahkan tamunya menikmati hidangan yang telah disediakan.

“Terima kasih, jadi merepotkan”, berkata Ki Arya Sidi kepada Ki Buyut.

“Kami tidak repot, sebaliknya kami merasa terhormat tuan-tuan bersedia bermalam disini”, berkata Ki Buyut penuh senyum memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rata sebagaimana umumnya asli Bali.

Sementara itu langit diatas rumah Ki Buyut sudah terlihat semakin gelap, purnama bulat penuh berdiri diatas pohon kemboja kuning yang tumbuh di halaman rumah Ki Buyut.

Suasana di rumah Ki Buyut menjadi begitu hangat, ternyata Ki Buyut adalah seorang yang pandai bercerita. Maka saling bersambutlah cerita mereka silih berganti seperti tidak berujung berganti pangkal dan pokok pembicaraan, mulai dari panen raya sampai kehalusan orang Bali membuat sebuah keris dan berlanjut kemasalah sukar tidurnya Ki Buyut yang terganggu setiap malam karena cucunya yang baru berumur belum sepekan sering menangis dimalam hari.

Sementara itu langit malam dikediaman Ki Buyut telah semakin larut, rembulan telah lama bergeser surut. Wajah keremangan malam yang teduh hanya mendengarkan suara kesunyiannya.

“Maaf, bila sudah bicara aku memang suka lupa waktu”, berkata Ki Buyut sambil mengingatkan tamunya untuk beristirahat.

Akhirnya Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi masuk ke bilik yang telah disediakan. Di sisa malam itu cucu Ki Buyut sama sekali tidak terbangun menangis. Yang sering kadang terdengar adalah suara burung tekukur milik Ki Buyut yang sekali-sekali berbunyi dikesunyian malam.

Mahesa Amping lah yang bangun pertama, menyusul Ki Arya Sidi dan Empu Dangka.

“Mari kita keluar”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka dan Ki Arya Sidi mengajak keluar dari bilik kamar.

“Hari masih begitu pagi”, berkata Ki Arya Sidi memandang langit pagi yang masih gelap.

“Ternyata tuan-tuan sudah lebih dulu bangun pagi”, berkata Ki Buyut yang baru saja keluar dari pringgitan.

“Tidur kami sangat nyenyak di rumah Ki Buyut”, berkata Ki Arya Sidi kepada Ki Buyut yang sudah duduk bergabung bersama.

“Hari ini kami akan melaksanakan Tajen, kuharap kalian dapat menyaksikannya”, berkata Ki Buyut kepada tamu-tamunya.

“Di kesempatan lain waktu saja”, berkata Empu Dangka kepada Ki Buyut yang akhirnya tidak dapat memaksa tamu-tamunya yang untuk lebih lama di rumahnya.

Ketika matahari pagi telah bersembul di ujung timur hamparan sawah yang telah menghijau. Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi terlihat telah keluar dari rumah Ki Buyut.

Terlihat pandangan Ki Buyut mengiringi langkah kaki tamu-tamunya yang semakin lama menjauh dan hilang disebuah tikungan jalan. Jarak Pura Indrakila dari Kabuyutan tempat mereka bermalam memang tidak lagi begitu jauh. Sementara jalan yang mereka lalui memang agak menanjak karena Pura Indrakila berada di puncak sebuah bukit.

Ketika matahari pagi semakin menaik, mereka sudah dapat melihat pura Indrakila berdiri megah dari kejauhan.

“Apakah tuan-tuan berasal dari Padepokan Panca Agni?”, berkata seorang penjaga kepada mereka bertiga. “Benar, kami dari Padepokan Panca Agni”, berkata Ki Arya Sidi.

----------oOo----------

0 Response to "Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari Jilid 10"

Post a Comment