Pendekar Pedang Siluman Darah eps 24 : Misteri Si Cadar Berdarah

SATU
Siapakah sebenarnya Sugangga? Mengapa ia dendam pada Jaka Ndableg si Pedang Siluman Darah? Untuk lebih jelasnya, akan saya kupaskan ceritanya mengenai kedua orang tua Sugangga yang sudah diketahui adalah orang yang bersekutu dengan Iblis Buto Ijo, dengan adanya timbal balik antara keduanya. Kita ikuti kejadian dua puluh tahun yang silam, di mana Sugangga dan adiknya yang masih kecil hidup dengan keadaan ekonomi yang serba kekurangan.

Kedua orang tua Sugangga dan Suganti adalah seorang petani miskin yang hidupnya dari hasil buruh, mencangkul, membajak, atau menuai pada para petani kaya. Dengan bekerja seperti itu, mereka berusaha menghidupi rumah tangganya. Memang pertama-tama mereka hidup berdua, kerepotan belum nampak terasa. Ya, hidup di desa masih merupakan hidup gotong royong, di mana satu sama lainnya mau mengerti dan bantu membantu.

Ayah Sugangga yang bernama Prikadayu dan ibunya bernama Dripadini, adalah dua orang asing dari India yang sengaja datang ke tanah Jawa untuk mengadu nasib. Namun rupanya keberuntungan belum berada di pihak mereka, sehingga mereka menerima kegetiran yang selalu menyelimuti.

Tadinya mereka menganggap bahwa India sudah tak mampu memberikan arti bagi diri mereka, namun kenyataannya lain. Seperti pepatah, lebih baik hujan batu di negeri sendiri, daripada mengharap hujan uang di negeri orang.

Dengan segala ketabahan yang ada di hati suami istri itu, mereka terus menghadapi hiduphidup pahit mereka dengan segala kepasrahan pada Yang Wenang. Kepahitan itu, sepertinya tak mau membebaskan mereka secepatnya, sampai anak mereka yang pertama lelaki lahir. Mereka beri nama Sugangga.

Dengan kelahiran anak yang pertama, kehidupan mereka nampak makin nestapa saja. Hasil buruh mereka, kini harus dimakan oleh tiga mulut. Namun begitu, mereka suami istri tak pernah mengeluh, atau pun merasakan kepedihan yang kentara. Dipendamnya segala kepedihan hidup yang terulas oleh senyum mereka.

Tiga tahun setelah kelahiran anak pertama, lahir kembali anak yang kedua seorang wanita. Anak tersebut diberi nama Suganti. Makin sengsara saja kehidupan keluarga itu dengan kehadiran anak yang kedua. Tapi seperti semula, mereka nampaknya tidak mengeluh atau putus asa.

Kehidupan mereka terus berlanjut, sampai akhirnya kedua anak mereka tumbuh menjadi anak-anak yang lucu. Lajimnya seorang anak lelaki, Sugangga pun pengin berkumpul-kumpul dengan anak-anak sebayanya untuk bermain. Namun sepertinya mereka mengucilkan diri Sugangga, bahkan sering kali mereka memperolokolok Sugangga.

"Gangga, pergilah kau. Kami tidak ingin berteman dengaamu."

"Kau anak orang kere, Gangga. Maka sepantasnya kau pun mencari teman orang kere pula."

"Atau lebih baik kau carilah para pengemis." 

Seketika semua anak-anak itu tertawa bergelak-gelak, menjadikan Sugangga marah bukan kepalang merasa dirinya dihina. Dengan keberanian yang berlebihan, Sugangga pun balik membentak mereka: "Kalian bangsat! Kalian jangan mentang-mentang kaya!"

"Hai, mengapa engkau marah, Gangga?" Purwanta, anak yang paling besar tersenyum sinis ke arah Sugangga. "Kalau kau merasa anak kere, mengapa engkau mesti marah-marah?!"

"Bangsat!" Sugangga beringas.

"Hua, ha, ha...! Lihat, Kawan-kawan! Lucu bukan? Ternyata anak seorang kere bisa juga membentak marah," Purwanta berolok-olok. "Rupanya anak ini perlu dihajar adat, Kawan-kawan."

"Huh Jangan kira aku takut pada kalian! Kalian keroyok pun, aku tak akan mundur!" Sugangga menantang.

"Sudah. Pur. Kasih dia bogem mentahmu!" teman-teman Purwanta memberi semangat.

"Beres! Ini lihat !"

Purwanta yang besar itu segera berkelebat menyerang pada Sugangga. Tapi dengan cepat Sugangga berkelit, lalu dengan cepat pula Sugangga yang sudah marah diejek begitu rupa balas menyerang. Perkelahian dua anak itu tak dapat dihindarkan. Namun walau Purwanta berbadan besar, rupanya gerakan Purwanta sangat lamban, beda dengan gerakan Sugangga. Dalam sekejap saja, Sugangga dapat mendesak Purwanta.

"Bug...!" pukulan Sugangga telak masuk ke perut Purwanta yang seketika itu terhuyunghuyung ke belakang menyeringai. Rupanya Sugangga tidak mau membiarkan Purwanta dapat mengatasi keadaan dirinya, kembali dengan cepat Sugangga memekik dan hantaman pukulan telak di muka Purwanta. Tak ayal, menjeritlah Purwanta saat itu juga. Darah meleleh dari hidungnya, terhantam telak oleh pukulan tangan Sugangga.

"Wah, anak kere itu dapat mengalahkan Purwanta!" pekik teman-teman Purwanta kaget. Dan dengan segera, keberanian mereka pun lenyap. Mereka segera berlalu pergi meninggalkan Purwanta yang masih menggerung-gerung kesakitan, ditunggui oleh Sugangga yang menyeringai dengan sinis.

"Masihkah engkau mampu menghinaku?!"

"Bangsat! Akan aku adukan dirimu pada ayahku, biar ayahmu tidak dapat lagi bekerja!" rungut Purwanta sengit. Dengan terhuyunghuyung Purwanta segera hendak pergi meninggalkan Sugangga, manakala terdengar suara ayahnya membentak Sugangga.

"Anak kurang ajar! Kau telah berani menyakiti anakku!"

"Aku tidak bersalah!" balik Sugangga mengelak tuduhan.

"Huh...!" Orang tua itu dengan tanpa mengenal ampun menghantamkan tamparan tangannya ke arah muka Sugangga. "Plak...!"

"Awas kau! Kalau engkau berani lagi pada anakku, ayahmulah yang akan mendapat akibatnya!"

Sugangga tak dapat lagi melawan, pipinya terasa sakit. Rona merah menggambar telapak tangan, menggurat di pipi kirinya, terasa sakit dan perih. Tapi sakit di pipinya tidaklah seberapa, yang lebih sakit adalah hati Sugangga. Hatinya menjerit merasa dihina habis-habisan.

"Inikah hakekat anak kere?! Inikah...!" pekik hati Sugangga penuh kemarahan yang meluap-luap. "Yang Widi tidak adil! Yang Widi ternyata tidak menghiraukan nasib keluargaku!"

Orang tua Purwanta tidak hiraukan lagi Sugangga yang menggeloprok di tanah, dengan hati yang menjerit sakit. Ia segera bergegas mengajak anaknya pulang, setelah terlebih dahulu menyibirkan bibir sinis ke arah Sugangga yang masih meringis kesakitan.

***

"Kenapa dengan pipimu, Gangga?" tanya Prikadayu demi melihat pipi anaknya memerah. "Kau habis berkelahi lagi?"

Sugangga tak menjawab, dia hanya diam saja. Hal ini menjadikan ayahnya Prikadayu kerutkan kening. Ia tahu kalau Sugangga habis berkelahi atau dianiaya oleh ayah si anak. Namun sejauh ini Sugangga tak pernah mengadukan masalahnya pada dirinya. Sepertinya Sugangga tidak menghendaki ayahnya harus menanggung beban penderitaan yang kian bertambah berat.

"Kenapa, Anakku?" kembali Prikadayu bertanya. "Kau habis dianiaya oleh ayah anak yang berkelahi denganmu, bukan?"

"Be-benar, Ayah."

"Kau yang salah?"

Sugangga gelengkan kepala.

"Siapa yang salah, Gangga?!" nada suara ayahnya makin meninggi. "Jawab, Gangga! Jangan kau seperti kerbo!"

"Mereka mengejekku, Ayah!" Sugangga akhirnya membuka mulut menjawab. "Mereka menghina kita."

"Hanya itu...?!"

"Lebih dari itu, Ayah?!"

"Apa, Gangga...?"

Sugangga sesaat terdiam. Sebenarnya ia tidak ingin memperpanjang masalah, sebab ia tahu ayahnya pasti akan makin sedih bila ia menceritakan semua kejadian yang telah ia alami. Namun bila hal ini harus ia pendam, rasa-rasanya Sugangga kecil itu tidak sanggup untuk terus larut dalam kepahitannya. Kepahitan seorang bocah yang hanya karena status sosialnya saja mesti menghadapi ketimpangan sosial lainnya.

"Kenapa diam, Gangga?"

"Mereka melarang Gangga ikut main. Mereka mengatakan bahwa Gangga adalah keturunan orang kere, sehingga tidak diperkenankan bermain dengan mereka."

"Ooh...." mengeluh panjang Prikadayu demi mendengar penuturan anaknya. Hatinya seakan remuk, hancur tertimpa badai hidup yang pahit, yang kini tengah mereka hadapi. "Mengapa semua harus diri anakku yang menerima? Mengapa?" hati Prikadayu menanya bimbang. "Mengapa Yang Widi terus menerus memberikan be-ban padaku? Sampai kapan hal ini akan bertengger di kehidupanku, juga kehidupan anak-anak-ku?"

Tak terasa, air mata Prikadayu seketika meleleh, deras membasahi pipinya. Hal ini menjadikan Sugangga seketika sedih, sedih melihat ayahnya menangis karena dirinya. Ya, kalau dirinya tidak mengadu, Sugangga kira ayahnya tak akan menangis. Tetapi rupanya ayahnya telah melihat apa yang tergurat di pipi kirinya, yang mau tak mau harus menjadi bukti.

"Kenapa ayah menangis?"

"Ayah sedih, Anakku."

"Ayah... Gangga merasa bersalah telah membuat hati ayah sedih. Gangga mohon maaf, Ayah."

Dengan menangis Sugangga memeluk kaki ayahnya, menjadikan Prikadayu makin membesar tangisnya.

Dari dapur seorang wanita yang tak lain Dripadini nongol, demi mendengar tangis suami dan anaknya. Dripadini yang telah tahu apa sebenarnya yang telah terjadi, nampak turut melelehkan air mata. Dihampirinya kedua suami dan anaknya, lalu dengan suara tersendat karena tangis ia pun berkata:

"Gangga, makanya kau janganlah main. Bukankah di rumah kau pun dapat main dengan adikmu? Kasihan adikmu, dia tidak ada yang menjaganya."

Tengah ketiga anak beranak bertangisan, terdengar suara bayi menangis. Bayi yang tidak lain anak mereka, seakan turut serta merasakan kepedihan yang diderita oleh kedua orang tuanya, juga kakaknya.

"Oa! Oaaa...!"

"Anakmu menangis, Bu," Prikadayu menyadarkan istrinya, yang dengan segera meninggalkan mereka kembali menuju kamar di mana bayi itu berada.

"Oa.... Oaaa...!"

"Cup, cup, Manis.... Cup," Dripadini segera mengangkat tubuh kecil bayinya. Ditimangnya dengan penuh kasih sayang, lalu diajaknya bayi tersebut ke luar.

***

"Sampurasun...!" terdengar suara seorang wanita menyapa.

"Rampes!" sahut Prikadayu yang tersentak dari lamunannya, yang terbang memikirkan keberadaan rumah tangganya. "Siapa Ni Sanak adanya? Masuklah...!"

"Aku, Prikadayu."

Berbareng dengan habisnya suara neneknenek menyahut, seorang nenek tua renta keriput dengan rambut seluruhnya telah memutih berjalan masuk tertatih-tatih. Prikadayu yang merasa belum mengenal siapa adanya sang nenek, nampak kerutkan kening dengan hati diliputi ribuan pertanyaan mengenai siapa adanya si nenek.

"Ah, siapakah adanya nenek ini? Rasa-rasanya aku belum pernah sekali pun menjumpai, apalagi mengenalnya," gumam hati Prikadayu. "Tapi, mengapa nenek ini telah mengenal namaku? Atau barangkali aku yang lupa?"

"Siapakah yang datang, Kakang?!" terdengar suara istrinya yang di dapur berseru.

Prikadayu hendak berkata, sehingga mulutnya telah menganga, manakala si nenek telah mendahului menjawabnya:

"Aku Padini!"

Dripadini yang merasa belum mengenal benar suara si nenek segera keluar dari dapur menuju ke luar di mana suaminya tengah duduk. Mata Dripadini seketika menyipit, merasa ia belum pernah mengenal adanya si nenek. "Siapakah engkau adanya, Nek?" tanya Dripadini. "Sepertinya kami belum pernah mengenalmu. Atau barangkali kami yang telah bingung akibat kemiskinan yang kami hadapi ini?"

"Untuk hal itulah aku datang ke mari," si nenek bagaikan tak hiraukan pertanyaan kedua suami istri itu menjawab. "Aku datang atas perintah Sinuhun Raja Bergola. Aku diutus oleh Sinuhun untuk menolong kalian dari kemelaratan yang menjadikan kalian dihina oleh orang-orang lain."

Makin tidak mengerti saja suami istri tersebut mendengar penuturan si nenek. Mereka belum mengenal siapa Sinuhun yang dikatakan oleh si nenek. Dan karena mereka menganggap Sinuhun itu hanya raja mereka, mereka pun berkata.

"Apakah Gusti Raja menyuruhmu untuk datang ke mari?"

"Bukan! Bukan Gusti Raja Wangsa Dewa."

"Lalu...?!" kedua suami istri itu belalakkan mata kaget demi mendengar ucapan si nenek. "Kalau bukan Gusti Raja Wangsa Dewa, apakah ada raja lagi di sini? Kau jangan membuat kami bertambah pusing, Nek?" Prikadayu bertanya dengan bingung.

"He, he, he...! Bukankah aku telah mengatakannya pada kalian? Yang menyuruhku ke mari adalah Sinuhun Raja Bergola, yang menetap di Gunung Kawi."

"Ah...!" Prikadayu memekik kaget. "Maksudmu kami menyupang?"

"Benar!"

"Tidak! Sekali lagi tidak!"

"Pikirkan yang baik, Prikadayu," si nenek berkata. "Pikirkan sebelum akhirnya engkau menyesal. Kalian bukankah enggan untuk terkurung dalam kemiskinan?"

"Ya!"

"Nah, mengapa engkau mesti menolak, Dayu? Mengapa?"

"Aku tak ingin semua jadi korban."

"Hi, hi, hi...!" si nenek tertawa cekikikan. "Gampang, Dayu. Gampang!"

"Ah...!" Prikadayu kembali melenguh, sepertinya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh si nenek. "Kau tentunya ingin membuatku bertambah pusing saja, Nek?"

"Huh.... Apa untungnya aku membuatmu pusing, Dayu!" si nenek merengut kesal. "Kalau aku hendak membuat pusing, semestinya aku tak hiraukan kemiskinanmu. Semestinya aku biarkan kalian terkubang dalam kemiskinan yang akan membayangi hidup kalian."

Si nenek mendengus, matanya memandang penuh kekecewaan pada kedua suami istri itu. Prikadayu dan istrinya hanya terdiam, tiada gairah lagi untuk berkata-kata. Hal itu menjadikan nenek utusan Sinuhun Raja Bergola nampak murung, lalu dengan suara berat si nenek pun berkata: "Kalau kalian tak mau, tak apalah!"

Si nenek hendak berlalu pergi, manakala terdengar suara seorang anak kecil memekik berseru: "Nenek, tunggu!"

Si nenek urungkan niatnya pergi, lalu membalikkan tubuhnya menghadap pada seorang bocah yang telah berdiri dekat dengan kedua orang tuanya seraya bertanya: "Ada apa, Bocah?"

"Nek, benarkah engkau dapat membantu kami kaya?" bocah kecil yang tidak lain Sugangga bertanya kembali, menjadikan si nenek tergelak tawa mengekeh mendengar pertanyaan polos si bocah.

"He, he, he...! Kau anak pintar, Bocah. Siapa namamu?"

"Namaku Sugangga, Nek."

"We, we, we...! Nama yang mampu mengingatkan kedua orang tuamu pada tempat kelahiran mereka. Bukan begitu, Prikadayu?"

"Ah...!" Prikadayu tersentak, kaget demi mendengar ucapan si nenek yang mampu menebak asal muasalnya, padahal dirinya telah selama hampir sepuluh tahun di tanah Jawa Dwipa. "Memang benar apa yang engkau kata, Nek."

Si nenek tertawa gelak, lalu katanya: "Anak kecil, kalau aku benar dapat membantu kalian kaya, kalian apa mau?"

Sugangga yang memang berantusias ingin menjadi anak seorang kaya nampak terkejut. Hatinya seketika bergumam senang, dengan impianimpian indah. Impian seorang bocah yang sehariharinya telah mendapatkan kesengsaraan, luka hati, serta cemooh dan ejekan dari rekanrekannya. Diliriknya kedua orang tuanya, seperti memberikan dorongan agar kedua orang tuanya mau menerima tawanan sang nenek.

"Kenapa ayah dan ibu menolak?"

"Ah...!" Prikadayu melenguh demi mendengar pertanyaan anaknya. "Kau belum mengerti, Anakku."

"Tapi bukankah kita ingin kaya, Ayah? Kalau memang nenek ini dapat membantu, mengapa ayah menolaknya? Terimalah, Ayah...! Biar kita tidak diinjak-injak oleh teman-teman."

Prikadayu terdiam tanpa kata. Matanya memandang kosong ke muka, sepertinya tiada gairah untuk menikmati alam ciptaan Yang Widi. Hatinya bertanya-tanya bimbang untuk memilih. Sungguh pun demikian, Prikadayu masih memberatkan ajaran agamanya.

"Bagaimana kalau Yang Widi mengutuk? Oh..., Apakah aku harus terbelenggu dalam ketidak-pastian hidup? Tidak! Aku tidak akan selamanya mau begini."

"Memang benar apa yang dikatakan oleh anakmu, Dayu," si nenek berkata: "Memang seharusnyalah kalian bergelimpang harta, bukan terbelenggu oleh kemiskinan yang menjadikan diri kalian dihina oleh yang kaya. Bagaimana, Dayu?"

"Terima saja, Ayah," desak Sugangga. "Gangga ingin kita hidup berkecukupan. Gangga ingin dapat belajar bela diri seperti teman-teman yang lain. Bukankah dengan kekayaan kita dapat menguasai segalanya, Ayah."

Hati Prikadayu bagaikan terhantam palu besar, berguncang penuh ketidak-pastian hidup. Desakan anaknya, tawaran si nenek utusan Sinuhan Raja Bergola, juga prinsip hidup sebagai seorang manusia beragama. Apalagi dia adalah pengikut sang Budha, yang harus selalu memikirkan tindak dan tanduk tepo sliro kehidupan dirinya.

"Baiklah aku menerima," akhirnya Prikadayu pun terseret oleh kemauan anaknya, juga tuntutan kehidupan. "Katakan pada Sinuhun, aku akan datang menuju ke sana esok hari."

Terkekeh si nenek utusan Sinuhun demi mendengar ucapan Prikadayu, seperti tersenyumnya Sugangga yang membayangkan kelak dirinya bukanlah anak orang kere, yang sepantasnya dihormati.

"He, he, he...! Bagus! Bagus! Baiklah, aku akan kembali menghadap Sinuhun untuk menyampaikan berita ini."

Setelah habis berkata begitu, tiba-tiba tubuh si nenek lenyap. Hal ini menjadikan Prikadayu dan keluarganya tersentak kaget, heran bercampur rasa tidak mengerti. Dan hanya saling pandang saja yang dapat mereka lakukan.

***
DUA
ESOK paginya Prikadayu pun memenuhi apa yang telah dijanjikan pada nenek utusan Sinuhun. Ketika pagi masih buta, dan kokok ayam jantan baru terdengar sekali-kali, Prikadayu meninggalkan rumahnya dengan diantar anak dan istrinya sampai ke pintu rumah.

"Aku berangkat dulu, Istriku," Prikadayu berkata, seakan ada rasa berat menggayut di kelopak matanya. Tanpa terasa, air mata Prikadayu menetes. Air mata pedih yang harus bertambah pedih manakala mengingat bahwa dirinya akan menyeleweng dari Sang Budha.

"Mengapa kakang menangis?" Dripadini yang melihat lelehan air mata suaminya bertanya. "Apakah kakang tidak meniat? Kalau kakang tidak meniat untuk apa kakang mesti berangkat menuju ke gunung Kawi?"

Prikadayu terdiam, tak mampu untuk berkata-kata. Bayang-bayang kemiskinan telah mengusik hatinya, hati seorang suami sekaligus hati seorang ayah. "Kalau aku tidak teguh, akan bagaimana nasib anak-anakku?" keluh hati Prikadayu.

"Tidak, Istriku. Aku menangis karena aku harus lama meninggalkan kalian. Meninggalkan beban di pundakmu untuk mengurus dan memberikan makan anak-anak kita," Prikadayu akhirnya berkata menghibur sang istri. "Aku berangkat, Istriku. Doakan aku dapat menghadapi segalanya."

"Doaku selalu menyertaimu, Kakang." Lembut Dripadini mencium pipi suaminya,

menjadikan kesejukan tersendiri di hati Prikadayu. Hatinya seketika kembali menjerit gundah, "Oh, sungguh dia istri yang baik dan bijaksana. Walaupun dia anak orang berada, namun demi cintanya padaku dia rela menderita. Kini tinggal diriku sebagai seorang suami, mampu atau tidak membalas kesetiaannya. Oh, Istriku. Semoga kita akan selalu menyatu dalam kedamaian."

"Berangkatlah, Kakang," ucap Dripadini penuh kasih.

"Aku berangkat, Istriku."

Lemah lambaian tangan Prikadayu, selemah langkahnya yang diliputi rasa gundah di hatinya. Namun bila mengingat semua kepahitan yang telah mendera rumah tangganya, Prikadayu berusaha memantapkan langkah kakinya.

Langkah kakinya seakan ada yang menyeret menjadikan Prikadayu bagaikan lari dan terbang. Kekuatan gaib telah membantunya berjalan, menjadikan istrinya terbengong sendiri penuh ketidakmengertian. Dalam sekejap saja tubuh Prikadayu telah lenyap di balik rimbunan hutan yang jauh di depan rumahnya.

Prikadayu tersentak, kaget berbaur dengan rasa ketidak-mengertian. Bagaimana mungkin dirinya yang tidak pernah belajar ilmu silat mampu berlari bagaikan angin saja. Mukanya mengerut, hatinya bertanya tak mengerti. "Hai, kekuatan apa yang telah mampu menyeret diriku hingga mampu berlari secepat ini?"

Tak ada jawaban dari pertanyaan hatinya, sepi. Ya, hutan yang ia lalui sungguh-sungguh sepi. Hutan yang lebat, seakan memaparkan keangkeran kini telah terjarah oleh dirinya. Prikadayu agak meragu, bimbang harus berbuat bagaimana. Bulu kuduknya seketika berdiri, manakala dirinya makin masuk saja ke dalam hutan.

"Aum...! Aaauuummm...!" terdengar auman raja hutan menggema, sepertinya raja hutan itu mencium kedatangannya. Dan benar saja, tibatiba manakala Prikadayu menyurut langkah seekor harimau berkelebat menghadangnya.

"Oh...!" tersentak mundur Prikadayu melihat harimau besar, tak seperti harimau biasanya menghadang. "Raja hutan, kalau kau hendak memangsaku, aku mohon jangan. Sungguh aku kini tengah diliputi kepedihan, tegakah engkau memangsa diriku?" Prikadayu mengiba.

Sorot mata harimau besar itu tajam, memandang lekat-lekat pada Prikadayu yang nampak pucat ketakutan. Perlahan harimau itu melangkah, mendekat ke arah Prikadayu berdiri yang makin nampak pucat pasi saja. "Aauummm...!" kembali harimau itu mengaum, melangkah terus menghampiri Prikadayu yang sudah pasrah. Prikadayu tak dapat lagi menahan tubuhnya, lututnya goyah hingga akhirnya Prikadayu pun terkulai bersimpuh.

"Makanlah bila kau memang menginginkan tubuhku."

"Aauuummm...!" Harimau itu makin mendekat, dekat dan bertambah dekat. Sejauh itu Prikadayu telah menyerahkan segalanya dengan pasrah. Bila ternyata harimau besar itu hendak memangsa dirinya, maka Prikadayu telah siap segala-galanya. Namun ternyata harimau itu tidak memangsanya, bahkan menjilati muka Prikadayu yang seketika terkulai pingsan, saking takutnya.

Tengah harimau itu menyeret tubuh Prikadayu masuk lebih dalam menuju semak-semak, tiba-tiba terdengar suara gelak tawa bergema.

"Hua, ha, ha...! Enak saja engkau hendak menguasainya, Raja Poleng! Aku telah capai-capai mengutus utusanku untuk mengajaknya, eh, kau dengan seenaknya membawanya."

"Aum...! Siapa engkau, Manusia!"

"Aku, Raja Poleng!"

Bareng dengan suara jawaban serak dan berat, sesosok bayangan tinggi besar berkelebat menghadang harimau Siluman tersebut, yang tersentak lepaskan tubuh Prikadayu. Kedua mahluk siluman yang berbeda jenis itu saling pandang, sepertinya hendak menunjukkan kemampuan masing-masing.

"Aumm...! Kau ternyata adanya!" Raja Poleng menggeram setelah tahu siapa adanya yang datang. "Hem, apa yang menjadikan engkau mengatakan bahwa manusia ini adalah pengikutmu. Dia aku temukan di hutan ini, maka dia aku yakin hendak menuju ke tempatku."

"Wuah...! Kau enak saja ngomong!" bentak siluman yang berbentuk manusia besar dengan mata besar sebesar piring kecil, serta lidah meleleh panjang berwarna merah menyala, semerah matanya yang tajam memandang dengan bengis ke arah Raja Poleng. "Kau ternyata siluman kurang ajar! Kau tidak mau mencari mangsa sendiri. Kau ternyata pengecut, yang maunya mengambil mangsa orang lain, Poleng!"

"Aauummm! Kau berani berkata sembrono, Bergola!"

"Hua, ha, ha...! Kenapa tidak! Akulah Raja Siluman yang paling sakti. Akulah yang mampu memberikan pada umatku kelebihan-kelebihan, tidak seperti dirimu."

"Sombong!" desis Raja Poleng marah merasa direndahkan.

"Hua, ha, ha...! Cepatlah serahkan orang itu padaku, Poleng! Jangan sampai aku marah!" bentak Raja Bergola. "Cepat, Poleng! Waktuku sudah tak ada lagi! Sebentar lagi hari menjelang pagi!"

"Aum...! Tidak bisa, Bergola! Orang ini adalah hambaku!"

"Hem, rupanya kau menginginkan pertarungan di antara kita, Poleng?!" menggeretak marah Raja Bergola merasa ditantang oleh Raja Poleng yang masih berusaha menghalangi Bergola mengambil tubuh Prikadayu. "Kalau itu yang engkau mau, jangan salahkan aku menindakmu."

"Jangan sesumbar, Bergola! Ayo kita buktikan! Aum...!"

Raja Poleng dengan segera berkelebat menyerang Raja Bergola, demi mempertahankan mangsanya yang telah ia dapatkan. Menggeretak marah Raja Bergola. Dan dengan cepat berkelebat menghindar serangan tersebut.

Pertarungan dua raja siluman itu pun tak dapat dihindarkan. Hutan di mana mereka bertarung seketika menggelegar bagaikan tak mampu menahan hantaman dan jejakan tangan serta kaki mereka bila menyerang. Pohon-pohon tumbang, terhantam dengan dahsyat pukulan-pukulan dua raja siluman tersebut.

Jurus demi jurus terlalui oleh mereka dengan cepat, seakan mereka dengan sengaja menghambur-hamburkan ilmu yang mereka miliki dengan tujuan secepatnya mampu menjatuhkan lawan. Tetapi nampaknya hal itu sangat susah untuk mereka lakukan, sebab keduanya samasama tangguh, sama-sama berilmu tinggi. Serangan mereka membahana, mampu membuat seisi hutan kalang kabut berlarian.

"Aum...! Mana buktinya, Bergola!" Raja Loreng berkata sombong.

"Heemm. Jangan engkau bangga dulu! Ini

lihat!" Raja Bergola segera keluarkan ajian simpanannya, lalu dengan secepat kilat dihantamkan larikan sinar hijau itu ke arah Raja Poleng. Raja Poleng tak mau mengalah begitu saja, dia pun kiblatkan ajian yang telah tersalur dari matanya memapaki larikan sinar hijau tersebut. Maka saat itu juga, dua larik sinar hijau dan merah menderu-deru dan...!

"Bletar! Duar...!"

Ledakan dahsyat menggema, berbareng dengan bertemunya dua larikan sinar tersebut. Raja Poleng terpental mencelat ke belakang, tak percaya melihat kenyataan tersebut. Sementara Raja Bergola nampak sunggingkan senyum, atau lebih tepat dikatakan menyeringai.

"Baiklah! Aku mengalah!" Raja Poleng akhirnya mengakui kekalahannya. Segera ditinggalkan tubuh Prikadayu, yang dengan segera diambil oleh Raja Bergola. Setelah mengetahui bahwa Prikadayu tak mengalami apa-apa. Raja Bergola pun kembali berkelebat menghilang entah ke mana. Hutan itu pun kembali sepi, senyap dengan kemisterian yang ada.

***

Gunung Kawi nampak sepi dan hening, dengan puncaknya yang tinggi menjulang. Sepertinya di situ tak ada kehidupan, yang ada hanyalah segala macam tetumbuhan dan hewan-hewan penghuni hutan. Itu bila dilihat dari mata manusia biasa, namun bila dilihat dengan mata batin, niscaya kita akan melihat bahwa di Gunung Kawi tersebut terdapat penghuni yang beraneka ragam bentuknya.

Dari bentuk manusia berkepala ular, buaya, harimau, kera, sampai pada manusia berkepala manusia yang menakutkan, yang biasa disebut Buto. (Ini menurut cerita orang tua, lho. Sedang pengarang sendiri sebenarnya tidak tahu sama sekali. Mohon maklum adanya!) Di situlah para manusia-manusia yang hendak mencari kekayaan dengan jalan pintas datang, mengajukan diri mereka untuk menjadi pengikut atau sering dikatakan menghamba. Manusia-manusia itu kelak akan menjadi hamba mereka.

Seperti terlihat pula di situ, nampak manusia-manusia tengah bekerja dengan paksa. Tubuh mereka bekerja bukan semestinya, tetapi bekerja dengan segala apa yang ada. Tangan mereka dirantai, juga kakinya. Mereka hilir mudik dengan memanggul batu sebesar gunung anakan, dari satu tempat ke tempat lainnya. (Nauzubilla mindzalik).

Merekalah orang-orang syirik, menyekutukan Tuhan yang telah memberikan apa yang baik buat mereka, tetapi nampaknya mereka tak mau menyadarinya. Dengan jalan pintas, yaitu bersekutu dengan iblis mereka mencari kekayaan dan menumpuknya.

Baru saja siksa alam gaib, sungguh mendera mereka, apalagi nanti siksa Tuhan. Memang nampaknya mereka menyesali tindakan yang telah dilakukan, tetapi untuk apa? Sesal kemudian tak ada guna. Air mata mereka walau meleleh dan membanjiri lereng gunung Kawi, namun Iblis yang merasa telah memberikan segalanya pada mereka tak mau perduli. Bagi Iblis, mereka tak lebihnya budak untuk mengikuti kesesatannya, syirik pada Allah S.W.T. Sang Maha Pencipta, yang telah menjadikan mereka hidup.

Si nenek yang mendatangi rumah Prikadayu, kini bukan berupa manusia lagi, tetapi berupa mahluk menyeramkan yang sering dikatakan Kalong Wewe. Buah dada si nenek tampak menjurai, kuping panjang meninggi, mata lebar, juga lidah merah mengurai ke luar dari mulutnya ditambah lagi dengan taring-taring runcing. Nenek itu tidak lain istri dari Raja Bergola, raja dari Buto yang menjadi penghuni kerajaan Iblis Gunung Kawi di mana para manusia mendatanginya guna mencari kekayaan.

"Weh, weh, weh...! Kenapa kakang Bergola tak muncul-muncul?" Si nenek cemas, matanya yang lebar memandang ke muka dengan pandangan tajam. Dari kedua matanya seketika nampak dua larik sinar putih, menembus kabut penghalang sukma. Kabut itu memang pintu pemisah antara alam manusia dengan alam siluman.

Sinar yang keluar dari sorot mata Wewe itu terus melesat menuju ke bawah, di mana lereng gunung Kawi menghampar dengan hutan belukar tubuh menghijau. Nampak oleh si nenek Wewe itu suaminya berlari-lari menggendong sesosok tubuh terkulai menuju ke arah situ.

"We, we, we. Ternyata kakang Bergola telah menemukannya."

"Dinda, Wewe. Tolonglah aku ini!" seru Raja Bergola yang tengah berlari-lari menuju ke tempat di mana Wewe tersebut berdiri. Langkahnya bukan sekedar berlari, tetapi terbang. "Wah, sungguh berat tubuh manusia ini, Dinda!"

"We, we, we. Ayo aku bantu, Kakang!" Wewe itu segera berkelebat terbang menghampiri suaminya, si Raja Bergola. Dan memang benar apa yang dirasakan oleh suaminya. Tubuh orang ini berat, bagaikan sebongkah gunung. "We, we, we! Sungguh kita beruntung, Kakang."

"Apa maksudmu, Dinda?" tanya Raja Bergola tak mengerti.

"Ternyata kita mampu menaklukkan umat Tuhan yang kokoh imannya, sehingga walau lahirnya menyanggupi, tetapi hatinya masih terpaut pada asma Tuhan. We, we, we."

Dengan digotong oleh dua Iblis, tubuh Prikadayu dibawa terbang menuju ke kerajaan di mana mereka berkuasa. Sebuah kerajaan Iblis, yang nampak megah terbangun oleh hasil kerja para budak-budak pengikutnya.

***

Sementara itu, di rumah Prikadayu nampak istri dan kedua anaknya menunggu kedatangan Prikadayu. Sudah seminggu lamanya Prikadayu menghilang, atau pergi meninggalkan mereka untuk memenuhi panggilan Raja Bergola yang dipanggil dengan sebutan Sinuhun. Dan sudah seminggu pula Prikadayu tak ada kabar beritanya, bagaikan hilang begitu saja.

Sedangkan si nenek yang dulu menawarkan segalanya juga tak muncul batang hidungnya entah pergi ke mana. Hal ini menjadikan cemas di hati Dripadini, gundah karena memikirkan keberadaan suaminya, juga anak-anaknya yang kini harus makan. Persediaan beras dan lainnya, makin hari makin menipis, bahkan esok mungkin sudah tak tersisa.

"Mengapa kakang Dayu tak kunjung datang?" keluh Dripadini bingung. Bagaimana tidak, anaknya Sugangga saban hari terus menanyakan kedatangan sang ayah. "Apakah nenek itu tidak mendustai kami?"

Tengah Dripadini merenung sendiri, terdengar anaknya yang bayi menjerit keras. Hal itu menjadikan Dripadini seketika melompat bangun, dan dengan segera berlari menuju ke dalam kamarnya, di mana sang bayi ia tidurkan. Mata Dripadini seketika membeliak, serta merta bagaikan orang histeris Dripadini berteriak keras: "Tidaaaakkk...!" Dripadini segera menghambur ke bayinya yang tampak tangannya berdarah, putus pergelangannya. Didekapnya tubuh sang bayi. "Tidak! Tidak...!"

"Ibu...!" Sugangga yang melihat ibunya menangis turut menumpahkan tangisnya. "Ibu... kenapa adik begitu, Bu? Kenapa... hu, hu, hu...!"

Dripadini tak dapat menjawab segala pertanyaan anaknya. Ia sendiri dalam ketidakmengertian, mengapa bayinya tiba-tiba menjerit lalu anggota tubuhnya putung dengan sendirinya. Belum juga hilang kaget Dripadini, tiba-tiba kepala si bayi lepas dan menggelinding dari lehernya. Makin menjeritlah Dripadini sekencangkencangnya, tak hiraukan apa yang terjadi.

"Tidaaaak...! Tidaaak...!"

"Ibu...! Hu, hu, hu.... Ibu! Kenapa ini, Bu? Kenapa?" Sugangga sesenggukan makin keras menjerit, melihat kepala adiknya menggelinding, lepas dari pangkal lehernya. Mata bayi itu mendelik, sepertinya menyumpah serapah pada mereka. Berbareng dengan keadaan bayi itu, di Gu-

nung Kawi nampak Prikadayu tengah menyembelih seekor anak domba kecil, Prikadayu tak tahu siapa sebenarnya yang ia sembelih, yang nampaknya hanyalah seekor anak domba.

"Hari ini kau akan makan lezat, Dayu," si nenek Wewe itu berkata. Si nenek itu kembali tampak oleh Prikadayu seorang manusia biasa, bukan seorang Wewe yang menakutkan.

"Ya, begitulah," jawab Prikadayu tenang. Dilamusnya tubuh domba itu di atas pembakaran, yang membara dan dengan seketika memanggang tubuh domba kecil tersebut.

Si nenek Wewe sunggingkan senyum, seakan ia telah mendapat kemenangan. Dari dalam istana seorang lelaki tampan keluar, diiringi para dayang yang cantik jelita menemui Prikadayu. Raja itu begitu muda dan tampan di hadapan Prikadayu, yang tak tahu siapa adanya lelaki muda tampan yang menjadi raja tersebut.

Kalau saja mata batin Prikadayu mampu melihat, sudah pasti Prikadayu akan bergidig melihat siapa adanya sang Raja. Wajah sang Raja sesungguhnya sangat menyeramkan, dengan mata besar merah, lidah menjulur panjang, serta taring runcing. Sang Raja berjalan mendekati Prikadayu yang tengah memanggang anak domba yang telah disembelihnya, dan bertanya. "Sudah matangkah, Dayu?"

"Sebentar lagi, Baginda," jawab Prikadayu tanpa palingkan muka, asyik memanggang anak domba tersebut. Tersenyum menyeringai melihat Prikadayu dengan tenang dan asyiknya memanggang tubuh anak bayinya. "Dia belum tahu siapa yang dia panggang. He, he, he...!" Raja Bergola terkekeh dalam hati.

Prikadayu tak hiraukan senyum sang raja dan nenek Wewe karena ia tidak melihatnya. Ia tengah asyik dan tenang memanggang domba yang nampak lezat. Tak lama kemudian Prikadayu telah selesai membakarnya, dan berkata: "Sudah, Baginda. Anak domba ini sudah masak, apakah baginda akan mencicipinya?"

"Makanlah olehmu dulu, Dayu." Raja tampan itu berkata. "Nanti biarlah sisanya untuk kami."

Prikadayu tercengang, sebab ia merasa baru kali ini ada raja yang sebaik raja tampan ini. Biasanya raja tak akan mau memakan sisa rakyatnya, tetapi raja tampan bernama Sinuhun ini mau menerima bahkan menyuruhnya untuk mencicipi daging domba yang dibakarnya.

"Ah...!" Prikadayu tersentak. "Sungguhkah Sinuhun tidak tengah bercanda?"

"Tidak, Dayu. Aku tidak bercanda."

"Oh, sungguh mulia hati Sinuhun, yang mau menerima sisa makan hamba yang orang kere ini."

Sinuhun geleng-geleng kepala, tersenyum manis, sepertinya mengijinkan bahwa Prikadayu memang boleh mendahuluinya makan. Keduanya sesaat saling pandang, lalu sang Sinuhun tersenyum kembali sembari berkata. "Kau kali ini miskin, tapi nanti kau akan kaya raya dan sakti, Dayu. Nah, makanlah. Setelah kau makan, kau pulanglah, sebab anak dan istrimu tengah menanti. Buka tikar di mana kau tidur, di sana kau akan menemukan uang emas yang jumlahnya banyak."

"Ooh...." Prikadayu mendesah, seakan tak percaya pada apa yang didengar. "Benarkah itu semua, Sinuhun?"

"Aku tidak bercanda, Dayu."

"Ooh, sungguh mulia hati Sinuhun." Setelah berkata begitu, dengan lahap Pri-

kadayu memakan daging anak domba. Perutnya yang sudah tiga hari tidak diisi karena harus bertapa sangat menghendaki makan. Tak berapa lama saja, daging domba kecil itu pun tinggal tiga perempatnya saja. Prikadayu terus menyantap, tak hiraukan pada kedua orang yang melihatnya dengan gelengkan kepala. Dua orang yang tak lain nenek Wewe dan Raja Bergola tersenyumsenyum senang, karena telah ada budaknya lagi. Makin banyak ia mendapatkan budak, makin mulialah hidupnya sebagai Raja Iblis Bergola.

"Sudah kenyang, Dayu?" kembali Raja Bergola bertanya.

"Sudah, Sinuhun," jawab Prikadayu.

"Nini, tolong kau ambilkan sekarung kecil oleh-oleh untuknya."

"Daulat, Sinuhun." Nini Wewe menjura, lalu bergegas tinggalkan Rajanya yang masih berdiri ditemani para dayang berbincang-bincang dengan Prikadayu. Tak lama kemudian nini Wewe kembali muncul dengan sekandi penuh oleh-oleh buat Prikadayu. "Ini untukmu, Dayu."

"Ini belum seberapa, Dayu," Raja Bergola menambahkan. "Kelak bila masanya tiba, yaitu setiap bulan purnama dan kau telah menyetorkan tumbal, maka sepuluh karung ini kau akan dapatkan."

"Jadi...!" Prikadayu tersendat, tak mampu teruskan ucapan.

"Ya! Kau setiap bulan purnama harus menunjukkan pada orang utusanku siapa yang engkau berikan mangsa."

"Bagaimana, Dayu?" si nenek menanya. "Ingat, Dayu. Kau telah menjadi hambaku,

hamba Raja Bergola." Tiba-tiba Raja Bergola berubah pada bentuk semula, begitu juga dengan si nenek. Bentuk mereka sangat menakutkan, menjadikan Prikadayu tersurut mundur. "Inilah kami, Dayu. Bila kau melanggar perjanjian, maka kaulah yang akan kami mangsa. Dan lihatlah olehmu, bahwa yang kau makan bukanlah domba, tetapi anakmu sendiri. Hua, ha, ha...!"

Prikadayu tengokkan matanya pada perapian di mana tubuh domba masih menggelantung. Dan benar, ternyata bukannya domba yang dipanggangnya, melainkan tubuh bayi berusia setahun. Dan manakala Prikadayu menatap kepala domba, tersentaklah ia. Tenaganya bagai hilang, lemas tiada daya untuk berdiri. Mata bayi itu mendelik, seakan mengutuki perbuatannya. Perbuatan seorang ayah yang telah tega membunuh anaknya sendiri demi kepuasan batinnya.

"Pantas waktu aku sembelih ia menjerit. Ayah!" mengeluh hati Prikadayu. "Oh, sungguh aku telah berdosa."

"Dayu! Jangan kau katakan dosa! Kau tak lazim berkata begitu. Kau kini telah menjadi hambaku, maka kau tak pantas mengeluh dan menyebut dosa."

"Prikadayu, pulanglah. Anggap saja semuanya hanya mimpimu. Ingat, Dayu. Setiap malam purnama kau harus menyetor padaku korban!" Raja Bergola berkata, namun tidak segalak nenek Wewe. Nada katanya seakan memberikan harapan pada Prikadayu, yang tak tahu bahwa itulah taktik Iblis untuk mampu menjeratnya.

Dengan diantar oleh Raja Bergola dan nenek Wewe menuju pintu penyekat alam Prikadayu pun pulang dengan membawa sekandi buah tangan yang dikata oleh sang Raja Kunir. Prikadayu terus berjalan dengan pikiran kosong tak berisi, hilang bagaikan melayang terbang setelah tahu bahwa anaknyalah yang telah dimakan olehnya sendiri.

"Oh, kini aku telah menjadi sekutu Iblis," Prikadayu mengeluh, namun segera hatinya kembali berkata. "Tidak! Segalanya telah terjadi, tak pantas aku menyesalinya."

Semangatnya kembali muncul, dan bagaikan seorang yang baru mudik dari kota dengan membawa hasil banyak, Prikadayu berlari-lari menuruni lereng gunung Kawi menerobos hutan untuk kembali ke rumahnya dengan harapan itu semua hanyalah mimpi.

***
TIGA
HARAPAN Prikadayu semoga apa yang telah terjadi pada dirinya hanyalah mimpi, ternyata tak tercapai. Semua adalah kenyataan, kenyataan yang makin mengkoyak-koyak hatinya. Hati seorang ayah yang telah tega-teganya memangsa anaknya sendiri.

Baru saja Prikadayu sampai di halaman rumahnya, seketika disambut jerit tangis istrinya. Prikadayu yang telah tahu apa yang terjadi hanya mampu diam, diam tak dapat berkata-kata. Hatinya bagai teriris-iris, perih. Namun segalanya sudah menjadi bubur, tak mungkin harus dikembalikan menjadi beras.

"Anak kita, Kakang! Anak kita...!" istrinya memekik.

"Sudahlah, Dinda. Segalanya telah terjadi."

"Kakang! Apa maksudmu!" Dripadini menatap lekat tak mengerti, "Kenapa kakang sepertinya tak hiraukannya. Kenapa, Kakang?! Kenapa semuanya bisa begitu. Hu, hu, hu...!"

Prikadayu tertunduk diam, melangkah dengan kaki terseret menggandeng tangan sang istri dengan pundak masih menggendong sekarung kecil sesuatu yang katanya kunir. Dilemparkannya kunir itu ke pojok ruangan, yang seketika menjadikan mata kedua suami istri itu membelalakkan mata. Suara dalam karung itu bukanlah suara kunir tetapi suara benda padat.

"Trang...!"

"Heh, mengapa kunir bunyinya begitu?" Prikadayu terheran-heran sendiri, memandang pada karung kecil di sudut ruangan rumahnya. "Apakah aku tak salah dengar, Dinda?"

Dripadini yang juga mendengar suara lain dari dalam karung tersebut pun hanya mampu gelengkan kepala. Matanya memandang tak percaya pada karung yang kini tergeletak. Sesaat kemudian matanya beralih memandang pada suaminya yang juga memandang ke arahnya dengan pandangan penuh pertanyaan.

"Cobalah kakang periksa isinya," Dripadini menyarankan.

"Ah, tak salahkah aku mendengar?" kembali Prikadayu terlolong-lolong. Dengan segera Prikadayu kembali hampiri karung yang telah ia bawa. "Cobalah aku lihat."

Dengan tangan gemetar Prikadayu membuka tali ikatan karung. Seketika matanya melotot, tak percaya pada apa yang dilihatnya di dalam karung tersebut. Hal itu menjadikan istrinya yang melihat seketika bertanya. "Kenapa, Kakang, sepertinya engkau terkejut?"

"Emas, Dinda! Emas!" Prikadayu bersorak girang, lupa pada kesedihan yang seharusnya ia alami. Matanya mendelik, dan tangannya segera meraup emas dalam karung. "Lihat! Lihat, Dinda!" Membeliak mata Dripadini, manakala sua minya mengangkat emas yang tak terkira banyaknya yang ditunjukkan ke arahnya. Bagaikan lupa pada keadaannya, seketika Dripadini berseru girang dan melompat memeluk suaminya seraya berkata: "Kakang, kita menjadi orang kaya. Kita akan kaya, Kakang!"

Diguncang-guncangkan tubuh Prikadayu, yang nampak hanya terpaku diam bagaikan orang linglung. Mata Prikadayu memandang kosong, sepertinya tengah memikirkan sesuatu. Hal itu menjadikan Dripadini hentikan guncangan tangannya, lalu dengan rasa tidak mengerti bertanya: "Kenapa kakang terbengong? Apakah...?"

"Tidak, Dinda. Kakang tengah bingung."

"Bingung...? Bingung kenapa, Kakang?"

"Apakah kita akan hidup kaya dengan bergelimpangan nyawa?"

"Maksud kakang?" Dripadini masih belum mengerti, matanya memandang penuh tanda tanya pada sang suami yang hanya terbengong kosong. "Kenapa, Kakang?"

"Sesuai dengan perjanjian antara aku dan Raja Bergola, maka aku setiap bulan purnama harus menunjukkan padanya siapa yang bakal aku korbankan sebagai wadal."

Kini Dripadini yang terdiam. Matanya menatap kosong, sehingga kebisuan yang ada seketika menyelimuti mereka. Kebisuan dengan segala hati yang gundah, hati yang bingung harus berbuat apa untuk nanti manakala bulan purnama datang.

"Bagaimana kalau kita tumbalkan tetangga kita, Kakang?"

"Ah...!" tersentak kaget Prikadayu mendengar saran istrinya, yang dirasakan sangat tidak masuk di akal. "Bagaimana mungkin orang yang tidak berdosa harus kita korbankan, Dinda?"

"Kita beri saja mereka uang dan perhiasan, Kakang."

"Apakah mereka tak curiga?" tanya Prikadayu bimbang.

"Biar saja mereka curiga. Bukankah tak ada bukti bahwa kita yang telah melakukannya?"

"Benar juga ucapanmu, Dinda."

"Nah, kini kita telah menjadi orang kaya, maka apa pun akan dapat kita perbuat. Kini mereka yang dulu menghina kita akan membuka mata. Hi, hi, hi...,!" Dripadini tertawa, seakan kebahagiaan telah terukir di pelupuk matanya. Lupa akan kepedihan yang dialami, lupa akan bayinya yang telah menjadi korban.

***

Sejak kejadian itu, maka keadaan ekonomi Prikadayu mulai meningkat. Bahkan tidak tanggung-tanggung, Prikadayu yang dulunya miskin dan hanya menjadi seorang buruh tani, seketika berubah menjadi Tuan Tanah yang kaya raya. Hingga dalam pergaulan hidup pun keluarga Prikadayu yang dulu dikucilkan, kini diterima bahkan didekati oleh orang-orang yang pekerjaan-nya hanya menjilat.

Sugangga sebagai anak yang tinggal satusatunya, sangat disayang dan dimanjakan. Segala apa saja yang dimintanya, selalu dengan cepat dikabulkan. Dan sejak saat itu pula, Sugangga tidak pernah lagi dikucilkan atau dihina oleh rekan sepermainannya. Semua menghormatinya, semua seakan ingin menunjukkan darma bakti pada juragan baru yang tidak pelit, yang selalu siap memberikan pertolongan moril bagi orang yang membutuhkannya.

"Gangga, ayah minta kau jangan nakal. Tunjukkan bahwa kita ini orang baik, yang selalu mengerti akan apa artinya kasih sayang," Ayahnya memberi saran. "Jangan karena dulu manakala kita miskin mereka membenci kita, lalu setelah kita kaya berbalik membenci mereka."

Sugangga terdiam, menurut dan mendengarkan segala petuah ayahnya. Sebenarnya sebagai seorang anak, Sugangga ingin melakukan apa yang pernah dilakukan oleh anak-anak padanya, tetapi karena kebijaksanaan ayahnya yang melarang dirinya sombong menjadikan Sugangga mampu melupakan segala kejadian yang telah dialaminya manakala dirinya masih menjadi anak orang tak punya.

"Seperti Sang Budha, ia tak pernah membalas pada orang yang membencinya dengan berbalik membenci, tetapi Sang Budha malah mengasihinya. Dan ternyata hasilnya sungguh sangat baik. Orang-orang yang dulu membencinya, seketika menjadi pengikut-pengikut Sang Budha. Demikian juga dengan kita sebagai umatnya, kita harus mengikuti apa yang pernah dilakukan oleh Sang Budha."

"Benar, Ayah. Sungguh luhur budi pekerti Sang Budha."

"Itulah, Gangga. Sang Budha sesakit apa pun, tak mau membalas dengan menyakiti. Sang Budha terus berusaha menyadarkan musuhnya dengan jalan pendekatan. Dan bila jalan tersebut tanpa hasil, Sang Budha segera meminta petunjuk pada Yang Widi bagaimana cara yang paling baik."

"Dia juga katanya sangat tekun beribadat, Ayah?"

"Ya! Dia memang sangat tekun beribadat."

"Kalau begitu Gangga pun ingin berguru, Ayah."

Prikadayu terdiam mendengar permintaan anaknya. Bukannya ia tidak mengijinkan anaknya berguru, tetapi ia sungguh sangat berat bila harus berpisah dengan anak satu-satunya. Anaknya kini tak ada lagi, tinggal Sugangga. Anaknya yang satu, telah menjadi korbannya sendiri, sebagai wadal bagi apa yang kini mereka peroleh.

"Kenapa ayah terdiam? Apakah ayah tidak mengijinkan Gangga berguru?"

"Bukan itu, Anakku." Prikadayu mencoba menarik napas, terasa sesak. Bayang-bayang hidup menyelinap, masuk mencerca jiwa dan hatinya. Bayang-bayang bagaimana kalau anaknya akan dididik keras oleh sang guru, padahal ia sendiri tak pernah melakukannya.

Dan untuk apa kekayaan ini, bila sang anak harus pergi meninggalkan dirinya? Prikadayu kembali diam, sulit untuk mengatakannya pada sang anak. Bila ia melarang, berarti ia tidak menyukai dan tidak menyayangi anaknya. Tetapi bila tidak dilarang, jelas ia harus berpisah dengan anak satu-satunya.

"Kenapa, Ayah?" Sugangga terus mendesak, sepertinya ingin mendengar kepastian dari ayahnya. "Apakah memang ayah memberatkannya?"

"Memang itulah, Anakku," Prikadayu akhirnya berkata, sebab ucapan tanya anaknya memang tujuan ucapannya. "Ayah sangat berat bila harus berpisah denganmu, juga ibumu tentunya begitu pula."

"Ah, bukankah Gangga kini sudah dewasa, Ayah?"

"Ayah mengerti, Nak. Ayah tahu kau telah dewasa. Tapi bukan kedewasaanmu yang ayah pikirkan. Ayah memikirkan bagaimana nanti ayah dan ibumu sepi, tiada anak lagi."

"Namun jika Gangga tak berguru, apa jadinya Gangga setelah besar nanti?" Gangga tercenung, melamunkan bagaimana jika ia tak dapat menguasai ilmu bela diri. Bayangannya tertumpah pada orang-orang persilatan yang sangat agung, ke mana-mana membawa pedang yang tergantung di pundaknya. Tidak seperti orang yang tak dapat berbuat apa-apa, badan mereka nampak tegar, berisi dengan otot-otot yang menunjukkan latihan yang keras.

"Apa tujuanmu belajar silat, Anakku?"

"Untuk membela ayah dan ibu," jawab Gangga pendek.

"Hanya itu...?" Ayahnya kerutkan kening. "Ya, hanya itu. Kenapa, Ayah?"

"Tidak apa. Kau memang anak yang baik. Baiklah, ayah akan mencoba mencarikan guru untukmu. Guru itu akan ayah suruh mengajarimu. Ayah juga akan membuatkan padepokan yang tak jauh dari tempat ini."

"Oh, terimakasih, Ayah." Sugangga bersorak gembira. Bayangannya untuk menjadi orang persilatan kini makin nampak menebal dan nyata. "Hore...! Aku akan menjadi seorang pendekar yang mampu membela kedua orang tuaku. Siapa saja yang berani melawan, atau menyakiti kedua orang tuaku, maka dia akan menghadapi Pendekar Sugangga. Hiat. Hiat! Hiat... hiat...!"

Sugangga dengan disaksikan oleh ayahnya yang tersenyum-senyum berkelebat-kelebat memainkan jurus-jurus silat. Tubuhnya melompat ke sana ke mari, sepertinya Sugangga tengah benar-benar melakukan latihan silat. Ibunya yang mendengar seruan-seruan anaknya, seketika berlari ke luar. Sang ibu tersenyum senang, demi melihat anaknya bergaya

"Inilah jurus Kera Memetik Mangga wak Sueb. Hiat...!"

Tubuh Sugangga bergerak cepat, lalu dengan kilat buah apel yang ada di depan meja ayahnya langsung dicomotnya. Dan dengan rakus digragotinya buah apel tersebut, tak pelak lagi semua yang melihatnya tertawa bergelak-gelak. Dan makin kencang saja gelak tawa mereka, manakala Sugangga nampak keseratan.

***

Seperti permintaan yang lainnya, permintaan Sugangga kali ini pun segera dituruti oleh ayahnya. Esok paginya sang ayah mencari guru yang dianggapnya mampu mendidik anaknya, agar kelak dapat menjadi seorang pendekar berbudi, tidak seperti dirinya yang telah bersekutu dengan Iblis.

Setiap pelosok pedukuan dijelajahi oleh anak buahnya atau para centeng guna mendapatkan seorang guru yang mau mengajari anaknya di rumah, atau paling tidak dekat dengan rumahnya. Tapi sampai sekian lama para centeng yang mencari tidak menemukan adanya seorang guru yang mau mendidik muridnya di rumah atau dekat dengan kediaman sang murid. Memang aneh-aneh saja permintaan Juragan Prikadayu, hampir menyerupai jaman modern saja. Permintaan Prikadayu memang menyerupai cara jaman sekarang, sistim Privat.

"Bagaimana, Karsan? Apakah kau telah menemukannya?"

"Waduh, Juragan. Telah seluruh pelosok wilayah gunung Kawi dan sekelilingnya hamba jelajahi, ternyata tak ada seorang guru pun yang mau."

Prikadayu termenung, memang dugaannya benar adanya. Mana ada seorang guru mau datang ke tempat muridnya? Namun sebagai seorang ayah yang ingin memanjakan anaknya, jelas ia tidak mau putus asa. Kegagalan boleh berulang, toh akhirnya keberhasilan akan didapat juga. Begitulah prinsip hidup Prikadayu, seluruh prinsip yang didasari oleh pengalaman sendiri. Dulu juga dirinya gagal melulu, sampai orang mengejek dan menghinanya, tetapi kini berhasil menjadi orang yang kaya raya.

"Karsan, besok kau sebar pengumuman di seantero wilayah ini. Aku yakin, nanti pun bakalan ada seorang pendekar yang mau menerima tawaranku."

"Baik, Juragan. Besok akan aku laksanakan."

"Sekarang kau berikan ilmu yang kau miliki pada anakku, kelak siapa tahu dapat dijadikan dasar."

"Baik, Juragan," Karsan segera bangkit dari duduknya, menjura hormat dan kemudian berlalu pergi untuk menemui anak juragannya.

Sepeninggalan Karsan ketua centengnya, Prikadayu kembali tercenung diam. Pikirannya berkecamuk seribu macam persoalan yang harus ia hadapi. "Ah, bukankah esok lusa bulan purnama?" keluh hati Prikadayu, manakala mengingat bahwa lusa adalah bulan purnama, di mana ia harus memberikan wadal untuk Rajanya. "Kenapa aku terlalai semuanya? Sungguh sangat berbahaya bila aku benar-benar lalai."

"Dinda...!" Prikadayu berseru memanggil istrinya.

"Ya...! Ada apa, Kanda?" Istrinya segera

bergegas menuju ke arah di mana suaminya berada. Tampak suaminya tengah duduk di kursinya, memandang ke depan di mana jalanan kecil yang biasanya dipakai untuk latihan menunggang kuda anaknya terhampar. Juga lapangan luas di sebelah jalan, semua adalah milik mereka. "Kanda memanggil dinda?"

"Benar," jawab Prikadayu.

"Ada gerangan apakah, Kanda?"

"Kau ingat lusa hari apa?" tanya Prikadayu kemudian.

"Hari Rabu, Kanda. Ada apakah?"

"Besok bulan purnama, Dinda."

Tersentak Dripadini mendengar ucapan suaminya. Ya, besok hari Rabu, bulan purnama tiba di mana mereka harus menyiapkan korban untuk wadalnya. Belum juga hilang rasa kaget Dripadini, kembali suaminya berkata memecahkan keheningan.

"Siapakah yang menurut dinda bakal korban?"

Kembali Dripadini hanya mampu terbisu, tiada kata yang menjawabnya. Hatinya bimbang untuk menentukan korban yang bakal untuk dijadikan wadal bagi Raja Bergola, yang telah memberikan pada mereka segalanya. Dan mereka masih ingat benar apa yang mereka katakan bersama, bahwa mereka akan selalu menjaga kerahasiaan segalanya.

"Kalau sampai lusa tak ada korban, maka kitalah yang akan menjadi korbannya, Dinda."

Tak dapat Dripadini menjawab. Bibirnya terasa kelu. Memang banyak orang yang telah mendapatkan harta pemberiannya, tapi apakah mereka layak? Kedua suami istri itu terdiam bisu, sulit untuk menemukan siapakah yang bakal mereka jadikan korban.

"Bagaimana kalau keluarga Panidi, Kanda?"

"Alasanmu, Dinda?"

"Mereka keluarga tak mampu. Apakah tidak sebaiknya mereka kita tolong, lalu dengan demikian kita mudah mengambil salah satu korban di keluarga mereka?"

"Tepat! Aku akan ke sana untuk pura-pura membantu mereka."

Kedua suami istri itu segera mempersiapkan apa saja yang akan mereka berikan bagi keluarga Panidi. Beras, sayur mayur, uang, perhiasan dan macam-macam benda berharga lainnya. Setelah semuanya dirasa cukup, kedua suami istri itu pun dengan menunggang kereta menuju ke kediaman Panidi.

***

Jeritan tangis bocah kecil yang kelaparan memecahkan keheningan sore itu. Suara tangisan sang bocah-bocah kecil itu terdengar dari sebuah rumah gubug, yang jauh letaknya dari rumahrumah penduduk lainnya.

Dari kejauhan, tampak kereta dengan dua ekor kuda penariknya berjalan menuju ke arah di mana rumah tersebut berada. Dan memang benar, kereta yang ditumpangi oleh Prikadayu dan istrinya memang menuju ke rumah tersebut. Prikadayu segera hentikan kereta kudanya, manakala telah sampai di rumah Panidi.

"Sampurasun...?!" sapa keduanya. "Rampes...! Eh, Juragan dan nyonya, tum-

ben datang berkunjung ke mari. Ada gerangan apakah?" tanya Ki Panidi yang menyambut juragannya dengan ramah. "Kalau mengenai sawah, wah, semuanya beres, Juragan."

"Jangan kau pikirkan mengenai sawah. Aku datang ke mari hanya merasa ikut prihatin melihat keadaan keluargamu. Untuk itu, aku sebagai juraganmu ingin sekali memberikan bantuan untukmu."

"Wah, dengan saya bekerja pada juragan saja, saya sudah merasa dibantu, Juragan."

"Jangan kau menolak rejeki, Panidi. Aku ingin membantumu dengan tulus. Terimalah semuanya, anggap saja sebagai ikatan persaudaraanku dengan keluargamu."

"Benar, Panidi. Suamiku ingin menolongmu dan sekaligus menjadikan dirimu saudara. Bukan begitu, Kakang?" Dripadini menambahkan, yang dengan segera diangguki oleh sang suami dengan tersenyum. Walau entah apa arti senyumnya itu.

"Waduh.... Bagaimana ini? Aku telah merepotkan juragan berdua saja," Panidi masih berusaha menolaknya.

"Jangan takut, Panidi. Aku benar-benar tulus. Ambillah olehmu apa yang ada di belakang kereta itu. Dan jadilah kita saudara, apakah kau tidak mau?" tanya Prikadayu.

"Ambillah, Panidi," Dripadini ikut menimpali.

Dengan terlebih dahulu mengundang anak-anaknya, Panidi pun segera membongkar isi kereta. Betapa berbunga-bunga hati Panidi beserta keluarganya, manakala melihat begitu banyaknya pemberian dari juragannya. Mereka beranggapan bahwa juragannya sungguh orang yang baik budi, yang mengerti akan penderitaan yang dialami oleh para buruhnya. Mereka tak tahu, apa yang sebenarnya tersirat dari kebaikan tersebut.

Sebuah bencana yang akan melanda keluarga mereka lusa. Dengan senyum senang, kedua suami istri Dripadini pun segera kembali menuju ke rumahnya.

***

Esok lusanya, gegerlah seketika tentang kematian anak Ki Panidi yang sulung. Kematiannya begitu tragis, lidahnya melet dengan mata melotot. Semua orang tak mengerti, semua orang hanya mengira bahwa kematian anak Ki Panidi semata-mata kena setan dekat rumah mereka. Memang benar dugaan semua orang, tetapi setan yang membunuh anak Ki Panidi bukanlah setan sembarangan.

Setan pembunuh anak Ki Panidi yang sebenarnya tidak mati, adalah setan peliharaan Prikadayu, juragan mereka. Mendengar kematian anak Ki Panidi, Prikadayu dan istrinya pun segera datang untuk menyatakan bela sungkawa. Wajah mereka sepertinya sedih, namun di hati mereka tersirat kebahagiaan yang teramat sangat. Sebab dengan wadal tersebut, harta mereka akan bertambah banyak, menumpuk tanpa sepengetahuan orang lain.

Ki Panidi yang tak mengerti segalanya, hanya mampu menangisi kematian anaknya. Bahkan Ki Panidi tidak segan-segan menceritakan apa yang telah menimpa anaknya, yang hanya diangguki oleh kedua juragannya dengan pura-pura turut berlinang air mata. Setelah usai berjalan segalanya, kembali semuanya diam, tak mengerti apa sebenarnya yang terjadi. Semua tak tahu, semua tak menyadari bahwa bisa saja mereka pun menjadi korbannya.

Bulan purnama kembali datang, dan korban pun seketika menggema. Paginya ditemukan hal kematian yang serupa, sepertinya kematian itu satu arah dan satu pelaku. Tapi siapa? Begitulah pertanyaan yang ada di hati mereka.

***

Bulan berganti, menjadikan tahun. Sepuluh tahun sudah desa di lereng gunung Kawi tercekam oleh kematian-kematian yang misterius. Kematian yang sama persis, tak ada bedanya. Padahal kalau memang kematian kodrat Tuhan, jelas akan berbeda-beda. Semua mati setelah mendapatkan hadiah dari Juragan Prikadayu, juragan yang mereka anggap mempunyai rasa kemanusiaan yang tinggi. Hingga karena itulah, mereka tak ada yang berani menuduh. Mereka tak ada yang mencurigai bahwa segalanya berada di tangan Prikadayu.

Malam itu bulan kembali bersinar dengan terang, menandakan bahwa bulan saat itu bulan purnama. Lolongan anjing liar menggema, menjadikan rasa takut yang teramat sangat bagi pendengarnya.

Malam yang kelam itu, seketika terpecah oleh suara jeritan dari seseorang. Suara jeritan itu melengking, sepertinya orang tersebut tengah dilanda ketakutan yang teramat sangat. Jaka Ndableg yang sudah sedari siang berada di desa itu dalam perjalanannya mencari kebenaran berita tentang kematian yang sangat misterius, segera berkelebat menuju ke arah datangnya suara tersebut.

"Tidaaak...! Jangan! Pergi! Aku tak mau! Aku tak mau...!"

.Jaka Ndableg terus berlari dengan cepatnya. Dipakainya ajian Angin Puyuhnya, maka dalam sekejap saja tubuhnya bagaikan terbang, berlari menuju ke asal suara tersebut.

"Tidak! Jangan takut-takuti aku! Jangan...! Pergi!"

Orang itu masih menjerit-jerit, menjadikan Jaka dengan segera dapat menemukan di rumah mana adanya suara tersebut. Jaka tersentak diam, manakala terdengar suara berat berkata membalas teriakan orang tadi.

"Hua, ha, ha...! Kau telah dijadikan wadal, maka kau harus mau menjadi budakku!"

"Tidak mau! Siapa kau, Setan!"

"Aku Raja Bergola! Aku akan mengambil sukmamu, yang telah dijadikan wadal oleh Juraganmu, Prikadayu. Bukankah engkau telah mendapatkan harta dari Juraganmu?"

"Tidak! Kalau engkau ingin mengambil harta itu. Harta itu masih aku simpan, belum aku makan!" memekik orang tersebut, takut melihat tampang Raja Bergola. Wajah Raja Bergola yang menyeramkan, dengan lidah menjulur panjang serta mata lebar merah terus memandang ke arah orang tersebut.

"Wuut...!"

"Tidak...!"

Tangan Raja Bergola bergerak hendak menangkap tubuh orang tersebut. Namun belum juga tangan besar berwarna hijau itu menangkap orang tersebut, tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat menghantamkan pukulannya.

"Wuss...! Duar!"

Ledakan akibat pukulan yang dilontarkan oleh Jaka, seketika menyentakkan Raja Bergola. Mata Raja Bergola menyala merah, marah demi mendapatkan seorang manusia telah berani kurang ajar padanya dan telah menghalangi niatnya.

"Siapa kau, manusia!"

"Tak penting namaku untukmu!" jawab Jaka terus. "Yang pasti, aku akan menghalangi tindakanmu. Kau terlalu telengas, Bergola! Kau telah membuat kepanikan warga desa ini!"

Terbelalak mata Raja Bergola demi mendengar pemuda di hadapannya tahu namanya. Matanya yang merah besar, menyala bagaikan memendam api. "Siapa kau, Bocah!"

"Jangan kau tanya siapa aku! Yang pasti, kau harus musnah dan minggat dari muka bumi ini!"

"Sombong!" menggeretak marah Raja Bergola, demi mendengar ucapan Jaka Ndableg. "Apakah kau belum tahu siapa aku, Anak muda?!"

"Aku tahu siapa adanya kamu! Kau adalah Raja Iblis yang berusaha mencengkeramkan kuku-kukumu di bumi, dan mengajak pada manusia untuk mengabdi pada kerajaanmu. Huh, sungguh kau Iblis yang harus dibasmi, Bergola!"

"Huah...! Jangan kau bermimpi, Anak muda!"

"Terserah kau saja! Yang pasti, kau mau minggat atau aku yang akan membuat kau minggat dari bumi ini!" Jaka nampak tenang, mengancam pada Raja Bergola yang masih memandang ke arahnya dengan nada jengkel. "Katakan padaku, siapa yang telah menyuruhmu, Bergola!"

"Aku disuruh oleh Ki Prikadayu!"

"Nah, menyingkirlah, atau dengan terpaksa aku akan membuat kau minggat dari muka bumi ini. Hah?!"

"Sombong kau, Anak muda!" Raja Bergola nampak marah dan gusar, merasa Jaka telah meremehkannya. "Aku Raja Bergola tak akan mundur menghadapi manusia. Jangankan dirimu, Bocah! Terimalah kematianmu. Hiat...!"

"Wuut...!"

Jaka segera melompat mundur, hindari sabetan tangan Bergola yang berusaha menghantam tubuhnya. Bukanlah Jaka Ndableg kalau harus mengakui kalah dengan Iblis. Nama Jaka Ndableg atau Pendekar Pedang Siluman Darah sudah kondang, manalah mungkin dirinya harus takluk dengan bangsa Iblis, siluman dan segalanya. Lebih baik dirinya mati, daripada harus menjadi budak Iblis.

"Remuk tubuhmu, Bocah!"

"Tidak kena, Oom!" Jaka segera mengelak sambil mengejek.

"Lebur. Hiat...!"

"Wuusss...!"

Jaka tersentak manakala melihat gulungan asap tebal hitam keluar dari tangan Raja Bergola. Dengan segera Jaka hentakan tubuh, mencelat ke atas hingga serangan itu melesat terus ke arah bilik rumah.

"Duar...!"

"Bedebah! Di mana kau, Bocah!" rungut Raja Bergola marah, manakala melihat Jaka telah hilang dari tempat tersebut.

"Aku ada di belakangmu, Bergola!"

Raja Bergola segera balikkan tubuh ke arah suara Jaka, namun tiba-tiba Jaka telah menyambutinya dengan hantaman ajian Bledek Sewunya.

"Terimalah ajian Bledek Sewu. Hiat...!"

"Bletar! Bletar! Bletar!"

Ledakan-ledakan halilintar menggema bersaut-sautan, menghantam tubuh Raja Bergola. Raja Bergola seketika goyah, namun tubuhnya tak mengalami apa-apa. Malah kini Raja Bergola nampak beringas, dan dengan ganas diporakporandakannya rumah bilik itu. Rupanya ledakan-ledakan petir telah mampu membuatnya bising, sehingga Raja Bergola pun akhirnya marah.

"Gusti Allah, ternyata ajian Bledek Sewu tak mempan!" keluh Jaka.

"Wuut...!"

Jaka tersentak, lemparkan tubuh ke belakang manakala tangan Raja Bergola kembali menyerang ke arahnya.

"Jangan lari, Bocah! Nyawamu harus menjadi budakku!"

"Hua, ha, ha...! Enak saja kau ngomong, Bergola!" Jaka tertawa bergelak-gelak, berkata dengan penuh sinis. "Kaulah yang seharusnya menjadi budakku, sebab kau pantas untuk mengawal diriku bila aku bepergian ke mana-mana. Tubuhmu besar, cukup dapat diandalkan, Bergola!"

"Kurang ajar!"

"Eh, rupanya kau membandel!" Jaka terus mengeluarkan kendablegannya. "Kau membandel, maka jangan salahkan aku akan menghajarmu. Nah, terimalah ini. Tapak Bahana. Hiat...!"

Berbarengan dengan tangan Raja Bergola menyerangnya, segera Jaka berkelebat menghindar dan langsung melayang menuju ke muka Raja Bergola. Tangan Jaka yang telah membara, secepat kilat menghantam.

"Duar...!" kembali terdengar ledakan.

"Hua, ha,ha ...! Keluarkan segala ilmu yang engkau miliki, Anak muda!" Raja Bergola bergelak sombong, merasa dirinya mampu menandingi ilmu Jaka Ndableg. "Keluarkan semua ilmumu, Anak muda. Aku Raja Bergola tak akan mundur!"

"Jangan senang dulu, Bergola."

Habis berkata begitu, segera Jaka melompat mundur menjauh. Jaka dengan segera duduk bersilah, heningkan cipta merapalkan sebuah ajiannya yang sangat dahsyat. Melihat hal tersebut, Raja Bergola tertawa terpingkal-pingkal.

"Hua, ha, ha, ha...! Sedang apa kau, Anak muda?!"

Namun belum juga ucapan Raja Bergola habis, tiba-tiba tubuh Jaka telah membesar dan makin bertambah besar. Tubuh Jaka kini telah jauh melebihi besarnya Raja Bergola. Raja Bergola tersentak kaget seraya melompat mundur, manakala melihat apa yang kini berdiri di hadapannya.

"Hua, ha, ha, ha...! Bergola, majulah kau! Biar aku dengan segera mematahkan tubuhnya dan memangsamu. Hua, ha, ha...!"

"Siapa kau, Buto?!" Raja Bergola bertanya dengan nada agak takut. Tubuhnya yang tadinya nampak besar, kini bagaikan tiada setengahnya tubuh Buto Dewa Wisnu.

"Raja Bergola, akulah Buto Dewa Wisnu. Akulah yang akan membuatmu harus menyingkir dari dunia ini! Hua, ha, ha, ha...!" Raja Bergola yang merasa tak akan unggulan berusaha kabur meninggalkan Buto Dewa Wisnu. Tetapi dengan cepat tangan Buto Dewa Wisnu telah mencekalnya. Dibantingnya tubuh Raja Bergola, sehingga terdengar bunyi bergedubug. Bumi seketika bagaikan digoncang hebat, goyang laksana gempa.

"Modar...!"

"Tobat...!"

"Jangan kau mengeluh, Bergola!"

Kembali dengan keras dibantingnya tubuh Raja Bergola, sehingga kembali Raja Bergola menjerit. Tak hanya sampai di situ, Raja Bergola seketika diinjaknya hingga amblas ke dalam bumi.

"Dinda...! Tolong aku...!" Raja Bergola memekik, tubuhnya masuk amblas ke dalam tanah. "Nyai...! Tolong aku...!"

Dari kejauhan, tepatnya dari puncak Gunung Kawi, sebuah bayangan berkelebat terbang menyerang Buto Dewa Wisnu. Bayangan tersebut tak lain Wewe adanya, istrinya Raja Bergola. Mata Ni Wewe nampak menyala merah, manakala melihat suaminya terpendam dalam tanah.

"Kau harus mati, Raksasa!"

"Huah... ternyata kau istrinya. Hem, biarlah sekalian saja kalian aku kubur!" Buto Dewa Wisnu segera kebatkan tangannya. Maka dari kebatan tangan besar itu keluar angin besar, menderu menyerang Ni Wewe.

Tak ayal lagi, tubuh Ni Wewe seketika oleng. Hal tersebut tidak disiasiakan oleh Buto Dewa Wisnu, yang dengan segera tangkap Ni Wewe. "Hua, ha, ha...! Kau akan menemani suamimu di dasar tanah sana! Dan kalian tak akan dapat hidup bebas. Kalian telah terhimpit oleh Sekat Gaib! Hua, ha, ha...!"

"Tobat...! Ampunilah aku," rengek Ni Wewe. Buto Dewa Wisnu tak perduli. Ditaruhnya tubuh Ni Wewe di bawah, lalu dengan kuat diin-

jaknya tubuh tersebut hingga amblas ke tanah. "Aaan...! Anakku...! Tolong...!" terdengar se-

ruan seorang wanita bukan Ni Wewe, menyebutnyebut nama anaknya untuk sesaat sebelum akhirnya hilang.

Jaka yang telah melihat kematian dua musuhnya, dengan segera kembali melakukan tiwikrama. Perlahan-lahan tubuhnya mengecil, lama kelamaan akhirnya kembali pada bentuk semula. Setelah dirasa tak ada yang memperhatikannya, segera Jaka berkelebat pergi menghilang.

Esok paginya seluruh desa geger tentang hilangnya juragan mereka. Beruntung ada seorang yang memberitahukan bahwa juragan mereka tak lain pemelihara Buto. Mereka tak ada yang membantah, sebab setelah dikait-kaitkan dengan segala kejadian ternyata benar adanya. Apalagi setelah orang tersebut menceritakan bahwa yang menginjak dua orang juragan mereka tak lain Jaka Ndableg, semuanya pun seketika percaya.

"Bukankah Jaka seorang Pendekar pembela kebenaran?" begitulah pertanyaan hati mereka, yang menjadikan mereka harus percaya bahwa juragan mereka memang seorang pengipri Buto. Dengan berbondong-bondong, mereka pun berdatangan ke rumah juragan mereka. Bagaikan orang baru terjaga dari mimpi, mereka mengamuk sejadi-jadinya. Maka dalam sekejap saja rumah Prikadayu hancur berantakan, diamuk oleh seluruh warga desa yang tak lagi mampu membendung amarahnya.

***
EMPAT
"AKU akan mencari Pendekar Pedang Siluman Darah, Guru," Sugangga berkata dengan emosinya yang meluap-luap. Dendamnya pada Jaka Ndableg, berkobar-kobar laksana api. Dendam seorang anak yang ingin menunjukkan baktinya pada kedua orang tuanya, yang telah mati di tangan seorang pendekar pembela kebenaran dan keadilan yang tak lain Pendekar Pedang Siluman Darah.

"Dia telah membunuh kedua orang tuaku."

"Aku tahu. Namun kau, apakah telah tahu asal mulanya?" tanya sang guru, nadanya seakan tidak menyetujui akan apa rencana muridnya. Ia tahu benar siapa adanya Jaka Ndableg. Dan ia tahu benar apa yang sebenarnya telah terjadi pada kedua orang tua muridnya.

"Sudah, Guru," Sugangga nampak mendengus penuh amarah, yang menjadikan sang guru hanya mampu mendesah panjang. Sebenarnya sang guru tidak menghendaki murid satusatunya itu harus bermusuhan dengan Jaka Ndableg, namun nampaknya suratan menghendaki lain. Muridnya adalah anak sepasang tokoh aliran sesat. Ayahnya bernama Prikadayu, sedangkan ibunya yang juga sealiran dengan suaminya bernama Dripadini.

"Tapi kedua orang tuamu yang salah dalam hal ini. Bagaimana, Gangga?"

"Memang kedua orang tuaku yang salah," Sugangga hela napas.

"Nah, mengapa engkau mesti memperuncingnya?"

"Sebagai seorang anak yang berbakti, tentunya aku harus membela kedua orang tuaku," Sugangga berkata masih dengan emosi yang meluap-luap.

"Walau itu tindakan yang salah?"

"Ya!"

"Ooh...." sang guru mendesah panjang, gelengkan kepalanya seakan hendak membuang beban berat. "Sungguh kau tidak memikirkan akibatnya, Gangga."

"Aku sudah memikirkannya, Guru," Sugangga ketus berkata. "Aku sudah mempersiapkan segala resikonya yang bakal aku hadapi."

"He, kau memang pemberani, tetapi keberanianmu tidak pada tempatnya," sang guru menggumam. "Seharusnya kau bersyukur ayah dan ibumu dapat mati dengan sempurna. Kalau tanpa bantuan Pendekar Pedang Siluman Darah, tentunya kedua orang tuamu akan menjadi hamba setan untuk selamanya."

"Guru membela dia?"

Sang guru kembali menarik napas panjang. Ucapan muridnya seakan menusuk tajam, menghunjam di lubuk hatinya. Kini ia berdiri dalam posisi yang salah, padahal ia memperingati muridnya karena ia tak ingin muridnya menjadi korban Pendekar Pedang Siluman Darah selanjutnya. Cukuplah dengan adik seperguruannya saja yang jadi korbannya.

Sebenarnya ia pun mendendam pada pendekar tersebut, namun bila dirasa, dendam tak akan pernah habis-habisnya, bahkan dendam akan selalu bertumpah darah. Bila ingat dan sadar akan hal itu, maka ia pun segera menguburkannya dalam-dalam. Kini ia kembali diingatkan pada masalah adik seperguruannya, yang mati di tangan pendekar tersebut. Tetapi seperti kedua orang tua muridnya, adiknya pun merupakan tokoh aliran sesat.

Ya, Datuk Raja Beracun adalah orang sesat, maka sewajarnyalah kalau pendekar tersebut menumpasnya. Sebenarnya bukannya dia takut terhadap pendekar muda itu, tapi percuma saja. Bukan kemenangan yang akan diperolehnya, bahkan kematian tragis dengan darah terhisap habis oleh Pedang Siluman Darah. Jangankan manusia macamnya, para iblis dan siluman pun akan keder bila harus meng-hadapi Pendekar Jaka Ndableg bila telah memegang senjatanya.

"Aku bukan membelanya, Gangga," sang guru akhirnya berkata dengan nada lemah. Ia sadar, bahwa muridnya bukanlah seorang anakanak lagi. Muridnya kini telah dewasa, yang berhak menentukan perjalanan hidupnya. Tapi bila sang murid harus menghadapi bencana, apakah ia harus diam diri begitu saja? Guru macam apakah ia? "Aku hanya ingin mengingatkan padamu siapa dan apa sebenarnya Jaka Ndableg tersebut."

Sugangga terdiam mendengar ucapan gurunya, seakan ucapan sang guru menyentakkan dirinya untuk kembali berpikir. Memang kalau dipikir secara benar-benar, kedua orang tuanya yang salah dalam hal ini. Kedua orang tuanyalah yang telah menjadikan Pendekar Pedang Siluman Darah melakukan tindakan tersebut, sebab bila tidak maka bencanalah yang akan diterima manusia.

Kedua orang tuanya telah bersekutu dengan iblis yang mampu memberikan kehidupan yang serba mencukupi atau dengan kata lain kedua orang tuanya telah Nyupang Buto Ijo. Sebuah persekutuan dengan iblis yang saling keterkaitan. Kedua orang tuanya harus selalu menyediakan korban yang disebut wadal untuk sang Buto.

Sementara kedua orang tuanya pun men-dapatkan timbal balik, yaitu harta kekayaan yang datang sendiri bila telah memberikan wadal tersebut. Bila hal itu berjalan terus menerus, kekayaan orang tuanya makin menumpuk, sementara manusia akan makin berkurang saja karena habis untuk wadal. Dan sebenarnya bila Sugangga berpikir jauh, bukankah adiknya juga telah dijadikan wadal pertama?

Wadal untuk menentukan kuat tidaknya kedua orang tuanya menghadapi tantangan. Wadal untuk menjadikan kedua orang tuanya tak akan hiraukan pekik kematian tetangganya, atau anaknya yang menjerit-jerit manakala dijadikan mangsa sang Buto. Bila mengingat itu semua, seketika Gangga menangis. Menangis meratapi kesesatan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.

"Tapi mereka melakukan juga karena aku," gumam Sugangga dalam hati. "Ya, karena akulah kedua orang tuaku harus menyelimpang dari keadaan sebenarnya. Aku memang yang menginginkan kedua orang tuaku kaya. Aku malu, bila mendengar segala cemooh dari tetangga yang tidak menginginkan aku main dengan anakanaknya karena aku miskin. Oh...!"

"Sepertinya engkau mengenang sesuatu, Gangga?" sang guru yang melihat perubahan di wajah muridnya bertanya. "Apa yang tengah engkau pikirkan?"

Sugangga tersentak kaget, sehingga dengan secara tidak sengaja matanya memandang ke raut tua di hadapannya. Raut tua yang sepertinya mengandung ribuan goresan perjalanan hidup, baik yang senang maupun yang susah. Seraut wajah gurunya, yang terselubung dengan kemisterian. Ya! Sampai sekarang pun Sugangga belum mengenal siapa adanya gurunya.

Nama sang guru, seakan tiada melekat. Aneh memang. Selama lima belas tahun ia berguru pada lelaki tua renta berambut serba putih itu, ia tidak pernah sekalipun mengetahui siapa adanya sang guru. Sepertinya sang guru menyembunyikan dirinya, atau ada rasa takut menyelimuti diri gurunya. Kalau memang ada rasa takut, pada siapakah gurunya takut? Sugangga tahu bahwa gurunya berilmu tinggi, mengapa mesti takut pada musuh?

"Guru, apakah aku bersalah bila membela orang tuaku?" akhirnya Sugangga bertanya. "Apakah aku salah bila mendendam pada orang yang telah membinasakan kedua orang tuaku. Bukankah sebagai seorang anak ia harus membela nama baik kedua orang tuanya?

Walau aku tahu, bahwasanya kedua orang tuaku memang telah berlaku jahat, tetapi semua itu demi untukku. Bahkan adikku pun dijadikan wadal, manakala pertama kali kedua orang tuaku melakukan persekutuan dengan Buto Ijo tersebut. Akulah yang memintanya, sebab aku sudah tak tahan menerima hinaan dari teman-temanku."

Sang guru kembali tercenung diam. Hatinya seketika menjerit, demi mendengar penuturan muridnya. Betapa ia telah mengangkat seorang manusia jahat menjadi muridnya. Manusia yang tega menjerumuskan kedua orang tuanya untuk melangkah di jalan kesesatan. Manusia egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri, walau saudaranya harus menjadi korban.

"Ooh...." sang guru mengeluh, keluh dalam hati. Tak disadari, air matanya meleleh deras membasahi pipinya. Segala ingatannya pada adik seperguruannya yaitu Datuk Raja Beracun kembali tumbuh, menguak kalbu tuanya yang sudah rapuh untuk mengenang segala kejadian demi kejadian. Kini kenangan harus terulang. Apakah mungkin muridnya juga seperti adik seperguruannya, yang menyimpang dari ajaran Tuhan yang karena mendendam dan merasa harga dirinya terinjak-injak? Dan apakah sang murid hanya akan menjalankan niatnya demi ambisi seperti Datuk Raja Beracun?

"Memang kau bersalah. Tetapi kesalahanmu ada pada segala tindakanmu yang hanya menuruti hawa nafsu setan belaka." ucap sang guru tandas. "Coba kalau engkau tidak merengekrengek agar kedua orang tuamu kaya, tentunya keadaan tidak serunyam begini. Tapi nasi sudah menjadi bubur, maka segalanya kembali aku pasrahkan padamu juga. Kaulah yang berhak menentukannya, sebab bila aku melarangmu, paling tidak kau akan mengecapku sebagai seorang guru yang tidak mengerti. Tetapi bila aku membela dan mendorong dirimu, tentu aku juga salah besar."

Sugangga memaku hening, tiada dapat berkata apa-apa. Harapannya agar sang guru mau membelanya dan membantunya menghadapi Jaka Ndableg, seketika pupus sudah. Tapi ia tak mau putus asa. Ia akan mencoba, mencoba menghadapi Jaka Ndableg. "Ah, apakah mungkin guru akan membiarkan diriku sendiri?" gumam hati Gangga meragu. "Tidak! Guru tentunya akan menolongku."

"Apakah guru mengijinkan aku mencarinya?"

"Maksudmu, Gangga?" tanya sang guru belum mengerti.

"Apakah guru mengijinkan aku menuntut balas pada Jaka Ndableg? Dan apakah guru akan sudi membantuku?" Sang guru untuk sekian kalinya menarik napas panjang. Berat rasanya untuk menjawab pertanyaan sang murid. Dirinya serba terjepit. Ke mana ia melangkah, jelas akan mendapatkan kesalahan. Membela muridnya, jelas dan pasti ia akan menghadapi kesalahan besar yang buntutnya pasti harus berhadapan dengan Pendekar Jaka Ndableg. Bila diam saja, apa artinya seorang guru yang membiarkan muridnya harus menghadapi segala masalah hidupnya sendiri.

"Bagaimana, Guru?" Sugangga mendesak. "Apakah tidak ada jalan lain, Gangga?" „ "Tidak ada."

"Hem...." sang guru mendengus. "Rupanya kau hanya berpikir pada satu jalan, Muridku. Aku kira, ada jalan lain agar kita tidak harus bentrok dengannya."

"Yang guru maksudkan, kita damai?" Sugangga menerka.

"Ya!" jawab sang guru. "Ah...!"

"Kenapa, Gangga?"

"Tidak! Aku tidak mau!"

"Lalu apa yang kau mau, Gangga?!"

"Kematian! Dia atau aku yang harus mati,"

Sugangga menyeringai, sepertinya tengah memberikan tanda pada gurunya bahwa dia telah siap segala-galanya. "Bagaimana, Guru?"

"Ah "

"Rupanya guru takut menghadapinya," sindir Sugangga dengan nada sinis. "Hem, tidak aku sangka kalau guruku sepengecut ini."

"Gangga! Lancang kau bicara!" sang guru membentak marah.

Sugangga hanya cibirkan bibirnya, seakan ia memang benar-benar ingin mengejek kenyataan gurunya yang penakut. Sugangga benarbenar tidak menyangka kalau gurunya sepengecut itu.

Gurunya yang telah dianggapnya orang paling sakti, ternyata takut menghadapi Jaka Ndableg.

"Aku bicara benar, Guru! Kalau memang guru tidak mau dianggap pengecut, tentunya guru mau membantuku."

"Bukankah aku selama lima belas tahun telah membantumu?"

"Mendidik maksudmu?" Sugangga kembali mencibir.

"Ya...!"

"Itu sudah sebuah kewajiban. Kewajiban sebagai seorang guru yang harus mendidik muridnya!" Sugangga nampak ngotot bicara, seakan ia sudah tak memperdulikan siapa dia dan siapa orang yang berada di hadapannya yang kini tengah diajak ngomong. "Dan bukankah kau telah dibayar untuk itu?"

Tersentak kaget sang guru mendengar ucapan muridnya yang telah membuka segalanya. Hatinya kini terbakar emosi, emosi yang sengaja dinyalakan oleh Sugangga muridnya. Mata sang guru memandang tajam pada Sugangga, sepertinya hendak menelan bulat-bulat tubuh sang murid. Napasnya mendesah berat, sesak menggeledak di dadanya. Sebagai seorang guru, jelas ia tidak mau menerima hinaan seperti itu oleh muridnya.

"Bagaimana? Apakah engkau masih memungkiri?" Gangga masih menyibir sinis.

Makin terasa menyesak saja dada sang guru mendengar ucapan Sugangga. Memang ia dibayar dengan mahal untuk mendidik Sugangga, tetapi itu pun atas kemauan orang tua Sugangga, bukan kemauan dirinya sendiri. Kalau Sugangga telah membuatnya harus marah, jelas karena Sugangga telah mengungkit-ungkit apa yang telah diterima-nya dengan pengorbanannya. Pengorbanan untuk mendidik Sugangga menjadi seorang pemuda yang memiliki ilmu tinggi.

"Murid celaka! Kau rupanya tak ubahnya seperti Iblis!"

"Kaulah yang tidak tahu balas budi!" Sugangga tak mau mengalah dengan gurunya. "Kau telah mendapatkan segalanya dari kedua orang tuaku, namun ternyata kau tidak mau mengerti."

"Sekali lagi kau ngomong begitu, maka aku akan menghajarmu, Gangga!" sang guru mengancam, hatinya telah begitu marah mendengar semua ucapan muridnya yang dirasa sangat menjengkelkan.

"Kalau engkau mau menghajarku, lakukanlah bila engkau berani!" Sugangga menantang.

"Iblis!"

"Hem, kau tak berani bukan?" sinis Sugangga berkata, melihat gurunya yang sudah mengangkat tangan urung menghajarnya. "Kau telah menantangku, Gangga!"

"Huh, kaulah yang mendahului!"

Sang guru makin tak dapat menahan amarahnya. Napasnya makin memburu saja, sewot dan kesal melanda hatinya. Mata tuanya kini nampak menyala merah, seakan mata itu hendak menghunjam dalam, sedalam kalbu Sugangga.

"Minggat kau dari sini!" Kini sang guru benar-benar tak dapat menahan amarahnya. "Minggat...!" sang guru menyerukan suaranya demi melihat Sugangga masih tersenyum sambil cibirkan bibirnya.

Kedua murid dan guru kini telah samasama berdiri, sama-sama menggambarkan wajah ketegangan. Mata keduanya tajam, seakan tak seorang pun yang mau mengalah untuk menyudahi segala perselisihan. Sugangga yang merasa dirinya telah mampu dan menjadi seorang pendekar, kini seperti merendahkan gurunya yang telah selama lima belas tahun membimbing dan mendidiknya.

"Kau yang harus minggat!" balik membentak Sugangga.

"Apa hakmu, Anak Iblis!"

"Hua, ha, ha...! Bukankah padepokan ini kedua orang tuaku yang mendirikan? Dan bukankah engkau datang dari Andalas tanpa membawa selembar bekal pun!" Sugangga benar-benar sudah dirasuki Iblis. "Kalau engkau tidak minggat secepatnya, maka jangan salahkan aku menurunkan tangan jahatku!"

Gusar dan marahnya sang guru mendengar ucapan muridnya yang telah dirasa kurang ajar. Ia sebagai seorang guru, apalagi sebagai orang tua jelas tidak mau diperlakukan begitu rupa, yang dirasakan telah menginjak-injak kehormatannya sekaligus harga dirinya

"Kalau aku tak mau, kau mau apa, Murid durhaka!"

Sugangga tersenyum sinis, lalu dengan membalikkan tubuh ia berkata: "Kematian untukmu, Tua bangka rewel!"

Tersentak sang guru, manakala Sugangga mencabut pedang yang tergantung di dinding padepokan. Pedang Dewa Naga milik sang guru yang merupakan pedang pusaka itu, kini tengah ditimang-timang di atas tangan Sugangga.

"Kau...!"

"Ya! Kau boleh milih, menurut dengan aku, atau selembar nyawamu harus melayang dari tubuh tuamu yang telah bau tanah!"

Sang guru melompat mundur, ketika Pedang Pusaka Dewa Naga diacungkan ke arahnya. Matanya nampak membeliak, sepertinya mata tua tersebut menyiratkan rasa takut yang teramat sangat. Bayang-bayang kematian akibat Pedang Dewa kembali menggambar di pelupuk matanya.

Pedang Dewa itu, kalau sudah keluar dari sarungnya, mau tidak mau harus mengambil nyawa. Sang guru terus menyurut mundur, di telinganya terdengar seruan seseorang yang jelas-jelas ia kenal. Suara itu seperti mengejeknya, suara itu adalah suara Daeng Susukan, seorang Daeng aliran lurus yang dibunuhnya manakala dirinya masih dalam kesesatan.

"Dato Pramunu, bukankah pembalasan itu akhirnya datang juga? Beruntung kini engkau telah lurus, kalau tidak. Pastilah engkau akan menjadi orang celaka di alam sana. Alam di mana kini aku pun berada. Terimalah segalanya, Dato. Sebab memang segalanya berjalan dengan semestinya, sebagaimana aku menerima kematianku di ujung Pedang Dewa Naga milikmu."

Dato Pramunu nampak masih ketakutan, mundur setapak demi setapak menjauhi pedang tersebut. Dan manakala ia hampir sampai di pintu, dengan segara Dato Pramunu melompatkan diri berlari ke luar.

Namun ternyata Sugangga tak mau membiarkannya begitu saja. Maka Sugangga pun segera melompat mengejar. Kejar mengejar antara guru dan murid pun terjadi, meninggalkan padepokan.

"Mau lari ke mana, kau!" Sugangga dengan pedang Dewa Naga di tangannya terus mengejar. "Ke mana pun engkau lari, aku akan terus memburumu!"

Dato Pramunu terus saja berlari tanpa hiraukan ucapan Sugangga. Karena ia tak melihat ke depan, maka manakala sebuah batu besar ada di depannya, tanpa dapat dicegah menyandung kakinya yang tengah berlari. Saat itu juga, tubuh tua renta milik Dato Pramunu jatuh.

"Gedebug...!"'

"Hua, ha, ha...! Kini kematian sudah di ambang pintu, Tua bangka!" Sugangga tertawa bergelak. Pedang pusaka Dewa Naga menggantung di kedua tangannya, siap menghunjam pada tubuh Dato Pramunu. Namun pedang itu terus menggantung, seakan ada sesuatu kebimbangan di hati Sugangga.

"Jangan lakukan itu, Gangga. Kau berdosa bila melakukannya, sebab dia adalah gurumu," sebuah suara berkata melarang Sugangga agar jangan melakukan pembunuhan pada gurunya. "Ingat, Gangga, segala tindakan pasti ada balasannya."

"Bodoh! Bila engkau tidak melakukannya, pastilah niatmu akan selalu dihalanginya. Dia manusia tiada guna bagimu. Dia hanya akan merepotkanmu saja. Bunuh dia... bunuh, Gangga!" suara lain menggema menyeretnya. Dan...!

"Wuuut...!"

Desingan pedang terseret tangan menggema, menjadikan Dato Pramunu palingkan muka menghadap. Seketika matanya mendelik, manakala pedang tersebut deras menghunjam ke punggungnya.

"Aaah...!" memekik seketika Dato Pramunu. "Kau... kau... kau tak... lebihnya Iblis! Kau... nanti... pun... mati oleh... pe... dang... ini...." terkulai lemas tubuh Dato Pramunu, mati seketika.

Tersentak Sugangga manakala sadar, seketika itu pula ia menjerit: "Guru...! Guru...! Ampunilah aku, Guru. Ampunilah aku...!"

Dicabutnya pedang pusaka Dewa Naga, lalu dengan terisak Sugangga menangisi tubuh gurunya yang telah kaku. Tengah ia menangis, sayup-sayup terdengar suara gurunya yang dibarengi munculnya asma sang guru berkata kembali.

"Gangga, aku telah bebas dari segala ikatan kehidupan. Tapi ternyata semuanya berlaku harus sebagaimana suratan yang telah tergaris. Dulu aku pun telah membunuh seorang Daeng dengan pedang tersebut yang ada di tanganmu, dan aku telah menerimanya. Kelak bila kau memang menghadapi Pendekar Pedang Siluman Darah, mukamu akan rusak oleh hantaman ajiannya yang bernama Petir Sewu.

Ingat itu, Gangga! Mukamu akan rusak oleh ajian miliknya, tetapi kau tak akan mati. Kau akan mati bila engkau telah bertemu dengan Pendekar Pedang Siluman Darah untuk yang kedua kalinya. Walau mukamu rusak dan mengeluarkan darah, sehingga engkau akan malu, tapi kau tak akan mati. Darah itu tak akan kering, selalu menetes...! Ingat! Aku menunggumu untuk saling mengadakan perhitungan denganmu di alam kelanggengan!"

"Guru...!" Sugangga memekik, namun bayangan gurunya yaitu Dato Pramunu telah lenyap menghilang. "Tidak...! Aku tidak mau menerimanya, aku tidak mau...!"

Bagaikan orang gila, Sugangga berlari dengan tangan menggenggam pedang Pusaka Naga Dewa. Sugangga seperti terpukul mendengar kutukan gurunya yang telah mati. Ia menjerit, dan terus berlari mencoba melupakannya. Namun sungguh malang, sebab semakin Sugangga berusaha melupakan, semakin deras saja kutukan itu berbicara.

"Hiat...!"

"Hiat...!"

***
LIMA
DARI balik bebatuan yang mengitari jalan di mana saat itu Jaka Ndableg berjalan, melompat beberapa orang menghadang langkahnya. Wajah orang-orang tersebut rapat tertutup oleh topeng, dan hanya matanya saja yang nampak.

Jaka sapukan mata, memandang satu persatu ke arah mereka. Setelah memandang orangorang yang menghadangnya, Jaka pun tampak sunggingkan senyum. Perlahan kakinya digeser ke belakang, sedangkan tangan kanannya telah terkepal siap untuk menghadapi apa yang bakal terjadi. Jaka maklum. Sebaik apa pun dirinya, tentulah banyak pula orang yang tidak suka.

"Kaukah yang bernama Jaka Ndableg?" terdengar seorang berkedok hitam menanya.

"Ya! Memang akulah orangnya," jawab Jaka masih berusaha tenang. Perlahan kakinya terus bergeser ke belakang, menjadikan orang-orang tersebut mengikuti langkahnya. "Siapa kalian semua!"

"Kami...?" orang berkedok hitam kembali angkat bicara. "Kami adalah orang-orang yang diutus oleh seseorang untuk menghadangmu agar jangan sampai engkau menemukan di mana adanya Wujud Raga berada."

"Hem, kalau begitu kalian tentunya anak buah Wujud Raga?!"

"Tepat dugaanmu, Jaka."

"Aku tak memerlukan kalian, tetapi yang aku perlukan adalah ketua kalian."

"Sama saja," yang angkat bicara kedok merah. "Ketua kami telah menyuruh kami untuk menangkapmu, hidup atau mati."

"Begitu?" tanya Jaka sinis.

"Ya!" jawab kedok merah. "Apakah kau telah siap?"

"Wuah! Lagakmu seperti seorang pendekar saja. Seharusnya akulah yang bertanya, apakah kalian telah mampu untuk melakukan penangkapan terhadap diriku? Aku yakin, kalian akan merasakan bagaimana sulitnya bila kalian harus menangkap kodok bangkong dengan mata tertutup sebelah."

"Sombong kau, Anak muda!" bentak Kedok Hitam.

"Aku tidak sombong, dan tidak ingin mengaku-aku sombong. Aku hanya berkata apa adanya." Jaka berkilah menggoda, menjadikan kesepuluh orang berkedok warna warni sesuai dengan pakaian mereka nampak menggeretak penuh kemarahan.

"Jangan menyesal nantinya, Jaka!" kembali Kedok Hitam membentak. "Lebih baik kau menyerah saja, biar kami tidak kelewat telengas menurunkan tangan padamu, Jaka."

"Heh, apakah kalian mengira diri kalian seorang raja, yang segala aturannya harus aku turuti?" Jaka menyibir. "Aku sekali lagi katakan, aku tak memerlukan kalian, tetapi aku memerlukan ketua kalian! Suruh dia keluar!"

"Ketua kami tidak ada!"

"Wah! Kalian ternyata pengikut setia Wujud Raga! Sayang!" Jaka berkata bagaikan tak mengarah pada mereka. Ucapannya seperti tak menentu, menyimpang dari hal sebenarnya yang tengah mereka hadapi. "Sayang! Mengapa kesetiaan kalian bukan pada tempatnya?"

"Bedebah! Kami tidak butuh kotbahmu, Jaka!" Kedok Hitam membentak marah. "Sekarang kau mau menuruti kami, atau terpaksa kami melakukan kekerasan."

Jaka terdiam, sepertinya tengah berpikir sesuatu. Matanya masih memandang tajam pada kesepuluh orang berkedok yang kini berdiri menghadangnya. Sekali kakinya bergeser, sekali itu tampak goresan bekas kakinya. Semua orang berkedok itu seketika tersentak, manakala melihat goresan kaki Jaka. Ternyata goresan kaki itu bukan goresan kaki selayaknya, tetapi goresan yang menjadikan sebuah tulisan.

"Kalian pergilah, jangan sampai kalian menjadi korban orang yang kini mengintai! Kalian tahu, bahwa orang tersebut mengintai kalian di atas sana!" begitulah bunyi tulisan yang digores oleh kaki Jaka.

Mata kesepuluh orang berkedok seketika melotot kaget, manakala melihat tulisan itu. Mata mereka kemudian beralih memandang pada Jaka, sepertinya hendak meminta kepastian bahwa Jaka menulis hal tersebut bukanlah untuk bercanda.

Jaka terus menyurut mundur. Kakinya kembali menggores pasir hingga menjadi tulisan kembali. "Kalian lihatlah ke atas sana, pasti kalian akan melihat seorang lelaki dengan mata beringas penuh dendam memandang ke mari."

"Kau jangan bercanda, Jaka?!" Kedok Hitam nampak tak puas dengan segala apa yang dilakukan oleh Jaka. "Kalau ternyata kau telah menipuku, jangan harap kau akan dapat lolos!"

Jaka nampak tersenyum, hatinya seketika berkata: "Hem, sebenarnya aku tidak memerlukan mereka. Aku tahu, mereka sebenarnya hanyalah utusan belaka. Hem, biarlah aku pergi."

Dan manakala kesepuluh orang yang menghadangnya menengadahkan muka memandang ke arah di mana tertulis oleh Jaka, secepat kilat Jaka berkelebat laksana terbang.

"Tak ada…!" rungut Kedok Merah.

"Mana dia...?!" Kedok Hitam seketika tersentak, demi melihat Jaka sudah tak ada di situ. "Heh, apakah kalian tidak mengetahui ke mana ia pergi?"

"Aneh! Baru sekejap saja kita lengah, masak dengan cepat dia bisa berlari?" Kedok Biru melenguh. Ia sangat takjub mendapatkan kenyataan itu. "Hem, sungguh bukan pendekar sembarangan. Kalau dia mau, dia akan mudah menjatuhkan kami," gumam Kedok Biru dalam hati. "Cari dia...!" Kedok Hitam selaku ketuanya berseru memerintah. Namun belum juga kesembilan anak buahnya pergi, terdengar suara Jaka tergelak tawa.

"Hua, ha, ha...! Bukankah itu suatu bukti bahwa kalian tak mampu menangkapku? Bukankah kalian ibarat menangkap kodok bangkong yang sudah ada di depan kalian, eh kalian memejamkan mata. Nah, karena aku tak ada waktu untuk mengurusi kalian, maka untuk kali ini aku pergi dulu. Kalau kalian memang penasaran, kalian boleh mencariku...!"

"Jaka, jangan kau lari!" Kedok Hitam berseru. "Mana buktimu sebagai seorang pendekar yang kesohor namanya? Mana...?!"

Tak ada jawaban, yang ada hanya hembusan angin gunung menerpa suara mereka yang seketika itu lenyap.

***

Jaka terus berlari meninggalkan gunung Bromo, di mana kesepuluh orang berkedok baru saja menghadangnya. Langkahnya begitu cepat, sehingga Jaka kini melesat bagaikan terbang. Jaka yang telah memburu waktu agar dapat segera menemukan markas Karang Segara tampak bagaikan tak menghiraukan segalanya.

"Aku harus cepat menemukan markas mereka!" Jaka menggeretak dalam hati. "Kalau tidak, tentunya mereka akan makin menjadi-jadi tindakannya." Tengah Jaka berlari dengan cepatnya hingga tak hiraukan sekeliling, tiba-tiba seseorang tampak berjalan dengan tenangnya setujuan dengan Jaka. Jaka tak perduli, malah kini makin dipercepatnya langkah kakinya.

"Maaf, aku terpaksa," sapa Jaka manakala melintasi orang tersebut.

"Hei, siapa kau?!" orang yang tersentak kaget karena Jaka nyelonong begitu saja bertanya seraya kelitkan tubuh menghindari tabrakan dengan Jaka. "Siapakah engkau adanya?"

Melihat Jaka tak menjawab, segera orang tersebut yang tidak lain Sugangga adanya tak mau tinggal diam. Dengan berlari mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya, Sugangga berusaha mengejar orang yang berlari.

"Berhenti! Berhenti kau!" Sugangga berteriak-teriak.

Merasa ada seseorang yang berseru memanggilnya, Jaka lambatkan larinya. Tak lama kemudian, Sugangga yang mengejarnya mampu menyusul.

"Ada apakah Ki Sanak berteriak-teriak?" tanya Jaka masih memalingkan mukanya ke tujuan semula. "Apakah Ki Sanak memanggil diriku?"

Sugangga yang belum tahu bagaimana adanya rupa Jaka Ndableg, nampak senyumsenyum. Kakinya melangkah, berputar dan menghadang tubuh Jaka.

"Ki Sanak, larimu begitu cepat. Aku jadi kagum dengan ilmu lari yang engkau miliki," Sugangga memuji, menjadikan Jaka Ndableg gelengkan kepala sembari tersenyum. "Kalau boleh aku bertanya? Dapatkah Ki Sanak menunjukkan di mana aku dapat menemui Jaka Ndableg?"

Jaka tak segera menjawab, matanya memandang penuh selidik pada Sugangga. Bibir Jaka seketika terurai senyum, sepertinya ada sesuatu di balik uraian senyum tersebut.

"Siapakah adanya engkau, Ki Sanak? Dan ada keperluan apakah engkau hendak mencari pendekar muda itu?" Jaka bertanya, sepertinya ia tak mengenali diri. Hal itu menjadikan Sugangga yang memang belum tahu persis wajah Jaka, seketika itu kembali berkata menerangkan.

"Aku Sugangga. Aku mencari JakaNdableg karena ia telah membunuh kedua orang tuaku."

"Siapakah kedua orang tuamu, Ki Sanak?" Jaka kembali bertanya, menjadikan Sugangga kerutkan kening ditanya begitu rupa oleh Jaka.

"Siapa engkau sebenarnya?" tanya Sugangga, kaget mendengar pertanyaan Jaka yang menanyakan nama orang tuanya. "Apakah engkau yang bernama Jaka?"

Jaka Ndableg sudah dapat membaca gelagat. Kini ia tahu siapa adanya Sugangga setelah sekian lama ia tercenung mengingat-ingat kejadian-kejadian yang telah ia alami. "Hem, tak salah. Pemuda ini mungkin anaknya orang India itu. Ya, wajahnya mirip orang keturunan India yang aku kubur hidup-hidup saat menjadi Buto Ijo," gumam Jaka dalam hati. Matanya terus memandang tajam dengan penuh kepastian memandang ke arah Sugangga.

"Kalau kau memang orang yang aku cari, sungguh kebetulan."

Jaka masih tersenyum tenang, lalu dengan suara pelan ia pun berkata. "Apa yang sebenarnya menjadi tujuanmu mencariku, Ki Sanak?"

"Jadi kaukah yang bernama Jaka Ndableg?"

"Ya! Itu namaku."

"Kalau begitu kau harus mampus. Hiat...!" Tersentak Jaka seketika, manakala dengan

cepat Sugangga tanpa menerangkan duduk persoalannya langsung menyerangnya. Jaka segera melompat mundur, berkelit dengan tubuh berjumpalitan. Dan dengan berusaha menangkis serangan yang dilancarkan Sugangga, Jaka terus berusaha menyadarkan musuhnya. "Ki Sanak, apa kesalahan yang pernah aku alami hingga engkau begitu bernafsu menghendaki nyawaku?"

"Bangsat! Masih kau ingin mungkir!" Sugangga menggeretak marah. Dan dengan menggeram, kembali Sugangga hantamkan tangannya menyerang dengan jurus Pusaran Air Toba.

"Wuut! Wuuut! Wuuut!"

"Eit! Sungguh bahaya seranganmu, Ki Sanak! Apakah tidak sebaiknya engkau lakukan latihan lagi di Danau Toba?" Jaka berseloroh dengan terus berusaha menangkis pukulan Pusaran Air Toba yang dilancarkan Sugangga. "Kurang cepat menggerakannya, Ki Sanak. Jurus Pusaran Air Toba, harus dilakukan dengan ketenangan batin. Kalau engkau melakukannya setengahsetengah, niscaya engkau sendiri yang akan celaka."

"Monyet! Jangan banyak bacot!" bentak Sugangga marah, ia merasa jurusnya telah dipahami benar oleh Jaka. Hatinya ragu untuk terus menyerang, bertanya-tanya tak mengerti, "Dari mana ia tahu nama jurusku?"

"Kau rupanya kaget, Sugangga. Wah, sungguh kau telah ketinggalan jaman. Jurus Tahi Kotok engkau masih gunakan. Bukankah engkau pelajari dari Dato Pramunu, kakak Datuk Raja Beracun?"

Makin kaget saja Sugangga mendengar penjelasan Jaka yang menguraikan siapa-siapa pemilik jurus silatnya. Segera Sugangga rubah jurusnya, setelah terlebih dahulu melompat ke belakang. Dengan didahului memekik keras, Sugangga kembali menyerang Jaka yang masih berusaha menghindar belaka, tak sekali pun Jaka berusaha membalas menyerang.

"Mampus kau, Monyet?" Sugangga hantamkan pukulan ke arah dada Jaka. Namun bagaikan menghantam angin belaka, Sugangga terhuyung ke muka. Tanpa dapat dicegah, tubuh Sugangga seketika itu terjerembab.

"Hua, ha, ha...! Mengapa engkau memakai sepatu yang telah licin, Gangga?!" Jaka bergelak meledek. "Itulah akibatnya kau tak mau gantiganti sepatumu. Wah, sayang sekali. Bukankah kau anak orang berada? Ya, walau kedua orang tuamu mendapatkan segala kekayaan dengan jalan pintas."

"Bangsat!" Sugangga yang terjatuh mencium tanah segera bangkit dengan segala amarah. Hatinya meledak-ledak mendengar ucapan Jaka yang telah membuka rahasia siapa adanya kedua orang tuanya. "Kubunuh kau, Anak edan!"

"Wah, galak banget...?" kendablegan Jaka mulai kumat. "Eh, bukankah kau sendiri yang edan? Kalau kau tak edan, manalah mungkin tega menjerumuskan kedua orang tuanya?"

Makin tersentak kaget saja Sugangga mendengar ucapan Jaka yang dirasakan benar adanya. Memang dialah yang menjerumuskan kedua orang tuanya, sehingga kedua orang tuanya akhirnya nyupang bersekutu dengan Raja Bergola. Dan sebagai perjanjianya, maka adiknyalah yang menjadi korban.

"Kau terdiam, bukan? Rupanya kau tengah menyesali diri."

"Bangsat! Jangan kira aku mau mengalah padamu," Sugangga yang benar-benar sudah dilanda amarah nampak kalap. Dengan segera dicabutnya Pedang Naga Dewa dari sarungnya. Kini Sugangga benar-benar sudah kalap, lupa pada apa yang telah dijadikan kutuk oleh gurunya sebelum mati. Kutukan gurunya berlaku dua kali, yang pertama dia akan menerima azab sengsara dengan muka rusak dan darah yang tak akan kering selamanya. Kutukan yang kedua, dia baru akan mati setelah menderita azab tersebut sekian lama. Dan dia akan mati oleh Pedang Naga Dewa.

Jaka tersentak kaget, lemparkan tubuh ke belakang manakala Sugangga telah berkelebat dengan pedang pusaka tersebut. Jaka telah tahu kehebatan pedang pusaka milik Dato Pramunu. Namun ia tak ada kesempatan untuk berpikir lagi, sebab Sugangga telah mencercanya terus menerus dengan pedang tersebut. Yang dapat dilakukan Jaka hanyalah berkelit dan berkelit dari sabetan dan tusukan pedang.

"Wadauw...! Mengapa engkau main-main dengan pedang pusaka itu, Sugangga?" Jaka walau dalam keadaan terdesak masih terus meledek dengan ucapannya yang konyol. "Aku harap, simpanlah pedang itu."

"Kau rupanya takut, Anak sinting?!" Sugangga yang menyangka Jaka benar-

benar takut dengan Pedang Naga Dewa, terus mencerca. Sedikit demi sedikit Jaka terdesak ke belakang. Kakinya terseret, seakan hendak membuat sebuah lompatan seketika dilihatnya jurang hanya beberapa tombak lagi di belakangnya.

"Hua, ha ha...! Akhirnya kau harus mati di sini, Jaka!" bergelak Sugangga menyombong, merasa bahwa dirinya telah mampu mendesak pendekar yang namanya kondang. "Akhir segala kejayaanmu, mati dalam jurang atau di ujung pedangku ini."

Jaka tersenyum sinis mendengar ucapan sombong Sugangga. Hatinya kini dihadapkan pada dua pilihan. Mengalah, atau melawan dengan ajiannya. "Hem, bagaimana aku ini? Haruskah tanganku terkotori darah lagi? Darah seorang pemuda yang mendendamku karena aku telah membunuh kedua orang tuanya yang telah berbuat dosa pada sesamanya juga pada Tuhan? Kenapa orang-orang selalu mementingkan diri mereka sendiri?"

Tengah Jaka terdiam bimbang, tiba-tiba terdengar suara halus berkata yang sebenarnya ditujukan pada Sugangga. Seketika itu Sugangga nampak pucat ketakutan, seakan suara itu adalah suara seorang Malaikat. "Gangga, kutukku yang pertama akan berjalan. Kau akan mengalaminya sebentar lagi. Kau akan mengalaminya... kau akan mengalaminya, Gangga!"

Entah perasaan apa dan tenaga apa yang bersarang, tiba-tiba Jaka yang tadinya sudah terdesak memekik dengan ajiannya Petir Sewu.

"Petir Sewu. Hiat...!"

"Tidak...!"

Bersamaan dengan jeritan Sugangga, seketika petir membahana ke luar dari telapak tangan Jaka Ndableg.

"Duar! Bletar! Bletar! Bletar!"

"Aaah...!" Sugangga menjerit, berlari sambil menutupi mukanya yang terhantam oleh petir" ciptaan Jaka Ndableg. Darah mengucur deras dari wajahnya. Sesaat Sugangga berbalik memandang ke arah Jaka. Dan manakala mukanya dibuka, saat itu juga Jaka melompat mundur kaget. Muka Sugangga sangat mengerikan, brodal-bradil dengan darah yang terus menetes.

"Kau...! Tunggulah pembalasanku, Jaka!"

"Itu sudah nasibmu, Gangga?" terdengar suara Dato Pramunu penuh ejekan. "Itulah kutukanku! Kutukan seorang guru yang telah engkau khianati!"

"Aku tak perduli! Aku tak percaya dengan ucapanmu, Iblis!" Sugangga memaki-maki pada suara gurunya, yang kemudian terdengar bergelak tawa.

"Hua, ha, ha...! Betapa pedihnya, Gangga. Pedih, bukan?"

"Bangsat! Tunjukkan dirimu, Pramunu! Tunjukkan!" Sugangga terus memekik penuh amarah, sepertinya ia tak sadar lagi dengan sakit yang dideritanya. Bayangan Dato Pramunu kini melekat pada diri Jaka Ndableg, sehingga dengan penuh marah Sugangga dengan Pedang Naga Dewanya berkelebat menyerang diikuti dengan pekikan yang membahana.

"Kubunuh kau dua-duanya, Bangsat!

Hiat...!"

Jaka tersentak kaget, secepat kilat ia pun berkelebat menghindar. Hal itu menjadikan Sugangga yang kesetanan tak mampu menghentikan laju larinya. Tanpa ampun, tubuh Sugangga pun dengan deras terjun ke dalam jurang. "Aaah...!"

"Tragis," lenguh Jaka.

Sesaat Jaka. pandangi bawah jurang yang gelap, pekat bagaikan tak berpenghuni. Setelah dirasa tak bakalan dia mampu melihat ke dalam jurang, segera Jaka pun tinggalkan tempat itu untuk kembali menemui Wujud Raga yang telah membuat kerusuhan. Tugasnya hanya satu, menangkap hidup atau mati Wujud Raga ketua gerombolan Karang Segara.

***
ENAM
"WUJUD Raga, keluar kau!"

Wujud Raga yang saat itu tengah berkumpul dengan kesepuluh anak buahnya juga seorang putrinya tersentak demi mendengar seruan seseorang yang berada di luar rumahnya. Mata mereka seketika saling pandang, lalu segera kesepuluh orang yang dikenal dengan Kedok Berwarna berkelebat menuju ke luar diikuti oleh anak Wujud Raga.

"Bujur buset! Rupanya kalian juga telah ada di sini," pemuda itu sunggingkan senyum, menjadikan gadis putri Wujud Raga tersipu malu. "Jaka, ternyata kau datang juga," Kedok Hitam silangkan tangan ke depan dada. "Sungguh kebetulan. Apakah engkau datang ke mari hanya sekedar menyerahkan diri?"

"Enak saja kalian ngomong," Jaka masih cengengesan. "Mana ketua kalian. Suruh dia keluar!"

"Ayah tak ada!" gadis itu angkat bicara. "Oh, rupanya kau putri Wujud Raga. Nona, kau janganlah berdusta. Kau anak manis, selayaknya kau harus manis pula dalam bertutur kata. Anak manis tak boleh berbohong."

"Cuih! Rayuan gombal!"

"Eh, aku tidak merayumu, Nona. Untuk apa aku mesti merayu-rayu kamu?" Jaka sewot juga dihina seperti itu oleh anak Wujud Raga. "Kalau aku mau, banyak wanita cantik melebihi dirimu yang mencintaiku."

"Tak sudi!" balik si gadis sewot.

"Wuah, galak amat," Jaka masih konyol berkelakar. "Eh, kalian sepuluh Kedok Butut! Apakah kalian masih tetap berusaha menyembunyikan ketua kalian?"

"Apa yang engkau mau, Jaka?!" Kedok Hitam kembali angkat bicara. "Kami sebagai wakilnya, maka selayaknyalah kau mau berterus terang pada kami mengapa engkau memburu ketua."

Jaka garuk-garuk kepalanya yang tak gatal. Sebenarnya hal itu sengaja ia lakukan untuk mengganggu si gadis yang nampaknya melototkan mata marah. Namun di balik kemarahan si gadis, nampak jelas tersembunyi sebuah perasaan yang dalam. Perasaan layaknya seorang gadis yang menginjak masa puber pertama.

"Waduh! Karena nona, aku jadi lupa. Eh, tadi kalian ngomong apa padaku, Kedok Butut?" Jaka masih berlaku ndableg.

Kalau orang lain yang belum tahu siapa adanya Jaka, tentulah mereka akan marah dikata Kedok Butut. Tetapi kesepuluh Kedok Berwarna merupakan orang-orang persilatan yang bukan kelas kroco.

"Jaka, kalau kau ingin menemui ketua, maka kau harus berhadapan dengan pagarnya dulu."

Jaka kembali garuk kepala, sepertinya tengah memikirkan jalan keluar. Sebenarnya bisa saja Jaka menjatuhkan kesebelas orang yang berdiri di hadapannya, namun semua tidak ia lakukan. Ia tahu bahwa sebenarnya kesepuluh Kedok Berwarna tak tahu menahu masalahnya. "Setan! Wujud Raga memang benar-benar setan!" gerutu hati Jaka sewot. Bagaimanapun, Jaka tahu bahwa Wujud Raga telah memberikan berita-berita bohong pada Kesepuluh Pendekar Kedok Berwarna, sehingga kesepuluh pendekar itu mau saja dijadikan umpan.

"Saudara-saudara, Sepuluh Kedok Butut, aku mengharapkan kalian mau sadar. Kalian hanya terpedaya hasutan Wujud Raga."

"Wuah! Makin ngelantur saja omongan bocah ini, Kakang," Kedok Kuning yang tadi diam ikut bicara.

"Benar! Anak ndableg ini ngelantur! Mungkin dia hendak mencari jalan lagi untuk mengelabui kita. Hem, jangan harap!" bisik Kedok Hitam. "Kita serang, mulai!"

Dengan segera kesepuluh Pendekar Kedok Berwarna bergerak mengurung Jaka. Tersentak Jaka Ndableg, digaruknya kepala sembari menggeleng.

"Wuah, rupanya kalian mau main petak jidor! Baik, mari kita mulai."

Jaka segera gunakan ilmu meringankan tubuhnya, berkelebat-kelebat laksana burung. Sementara kesepuluh Pendekar Berkedok itu tak mau tinggal diam, segera mereka pun merangseknya. Maka dalam sekejap saja, mereka segera terlibat pertarungan. "Wah, jurus kalian terlalu lemah!"

"Kau semakin sombong, Jaka!" Kedok Hitam menggeram, lalu dengan cepat tangannya mencengkeram ke arah Jaka. Diserang begitu, Jaka segera putar tubuh menjadi gasing.

"Aku ingin melihat sampai di mana kau bertahan, Jaka!" seru Kedok Merah.

Jaka terus berputar cepat, lalu tanpa sepengetahuan pengeroyoknya Jaka telah berkelebat terbang. Terbengong seketika kesepuluh pengeroyoknya, manakala melihat Jaka tiba-tiba telah berada di atas genting rumah.

"Nah, akhirnya aku mampu lolos dari kalian. Aku akan segera mengurusi pimpinan kalian, lalu kita pun berpisah." Jaka segera melorot masuk, membongkar beberapa genting dengan paksa.

Tersentak seorang tua berjanggut panjang hitam, yang duduk membelakangi Jaka. Namun manakala Jaka hendak melangkah menuju ke orang tersebut, tiba-tiba selarik sinar keluar dari tangan orang yang membelakanginya.

"Bangsat! Rupanya kau hendak mencelakakanku, Wujud!"Jaka menggeretak marah, lemparkan tubuhnya ke udara menghindari serangan gelap tersebut.

"Dalam keadaan apapun, semua boleh dilakukan, bukan?" terdengar suara orang tua itu berkata. "Kau adalah musuhku, maka akupun akan berusaha menjatuhkanmu."

"Aku hanya menjalankan tugas?" Jaka membentak marah. "Kalau kau mau aku tangkap, maka hukumanmu akan ringan, Wujud!"

"Hua, ha, ha,..! Sama saja, Jaka!" Wujud Raga kembali hantamkan pukulannya.

"Wuuuus...!"

"Duar...!"

Beruntung Jaka segera melompat ke samping. Kalau tidak, tentunya tubuhnyalah yang mengalami kehancuran seperti apa yang terjadi pada betonan rumah tersebut.

"Edan! Kau rupanya memaksaku, Wujud!" Jaka benar-benar menggeretak marah. "Jangan salahkan akhirnya aku menghajarmu!"

"Lakukan bila kau berani, Jaka!" Wujud Raga menantang. "Dengan kau menggunakan ajianmu, maka kau tak akan mendapatkan tubuhku yang utuh! Kau akan kehilangan peta tersebut."

Jaka mikir, seakan benar apa yang dikatakan oleh Wujud Raga. Kalau dirinya menggunakan ajian, maka tak ayal lagi peta yang dicuri Wujud Raga akan turut lebur bersama tubuh Wujud Raga. "Tapi, aku tidak yakin kalau Wujud Raga menyimpan peta tersebut dalam bajunya." Jaka membatin, bimbang harus bagaimana.

Belum juga Jaka mampu berbuat, tiba-tiba dari luar berkelebat sepuluh orang berkedok bareng menyerangnya. Kini tak ada jalan lain untuk Jaka meloloskan diri. Jalan satu-satunya menghadang serangan mereka.

"Menyerahlah, Jaka!"

"Jangan kalian bermimpi! Hiat...!"

Jaka Ndableg dengan segera melompat menyerang kesepuluh orang berkedok. Kesepuluh orang tersebut tersentak kaget, sebab mereka telah tahu apa yang kini dikeluarkan oleh Jaka. Jaka Ndableg dengan tidak sungkan-sungkan mengeluarkan jurus Elang Mematok Cobra yang dipelajari dari pertarungan burung elang dengan cobra yang ia pelajari secara tidak sengaja.

"Wuut...!" Angin pukulannya menderu. "Awas...!" Kedok Hitam menjerit, memperingatkan pada kesembilan rekannya, yang dengan segera melompat menghindar. Pukulan yang dilontarkan Jaka terus menderu, menghantam betonan tiang penyangga. Tak ayal lagi, tembok betonan penyangga itu pun hancur berantakan.

Pertarungan terus berjalan, nampaknya Jaka sudah tidak mau main-main lagi. Jaka terus mencerca mereka, menjadikan kesepuluh orang berkedok itu benar-benar dibuat kalang kabut.

"Lebih baik kalian menyingkirlah!" Jaka kembali memperingatkan. "Kalian keluarlah, dan biarkan pencuri ini sendiri."

Wujud Raga seketika bergelak tawa demi mendengar ucapan Jaka. "Hua, ha, ha...! Jangan kira aku takut menghadapimu, Jaka! Ayo kita buktikan." Setelah berkata begitu, secepat kilat Wujud Raga kembali hantamkan pukulannya.

Mau tak mau Jaka pun harus berusaha menghindari serangan yang dilancarkan berbarengan tersebut. Dua belas larikan sinar warna warni berkelebat terarah ke arahnya. Tersentak Jaka, lalu dengan sedapat mungkin tubuhnya menjebol genteng rumah tersebut. "Mau lari ke mana, Jaka!" Wujud Raga dan kesebelas anak buahnya termasuk anaknya segera memburu ke luar. "Kemanapun kau lari, jelas kau masih dalam kandang kami!"

"Aku tidak lari, Wujud! Aku hanya menyayangkan rumahmu yang dapat jebol!" Jaka balik berseru. "Aku menunggu kalian di luar!"

Dua belas orang musuhnya terus berhamburan ke luar. Namun sebelum semuanya sampai, Jaka telah mendahuluinya dengan hantaman Dewa Topan Melanda Karang.

"Wuuut...!"

Angin pukulan yang dilontarkan Jaka menderu, menjadikan kedua belas orang tersebut seketika lemparkan tubuh masing-masing untuk menghindari kalau memang tidak menghendaki tubuhnya mental terbawa hempasan angin.

"Bedebah! Rupanya kau curang, Jaka!" menggeretak Wujud Raga marah. Segera ia papaki serangan Jaka dengan ajiannya, Bayu Pitu.

"Wuuut...!"

"Duar...!" terdengar ledakan, manakala dua kekuatan bertemu dan saling menggempur.

"Bagaimana, Jaka? Apakah engkau masih bersikeras?" Wujud Raga cibirkan senyum. Ia merasa bahwa dirinya telah mampu mengimbangi ilmu yang dimiliki oleh Jaka, seorang pendekar yang namanya telah kondang.

"Jangan bangga dulu, Wujud! Apapun resikonya, aku harus dapat menangkapmu," Jaka nampak terdiam hening. Matanya menatap satu persatu pada kedua belas orang yang telah berdiri di hadapannya. Perlahan kakinya melangkah, sepertinya merasakan berat. "Wujud Raga, hari ini juga kau harus menurut padaku. Kalau tidak, ma-ka aku tak akan segan-segan menghukummu!"

"Hua, ha, ha...! Jaka Ndableg, rupanya kau tengah bermimpi. Jangankan menangkapku, mengalahkan ilmukupun engkau tak akan mungkin Jaka?!"

Jaka kerutkan mukanya, seperti ada sebuah kekesalan yang tak dapat lagi ditahan. Napasnya mendengus, matanya menatap liar, tajam setajam mata elang. Bersamaan dengan dengusnya napas Jaka memburu, seketika dari mulutnya ke luar seruan yang mengejutkan kedua belas orang musuhnya.

"Dening Ratu Siluman Darah, datanglah!"

"Pedang Siluman Darah...." kedua belas orang di hadapannya seketika membeliakkan mata kaget. Mata mereka tak berkedip, memandang, memaku pada pedang yang tiba-tiba telah berada di tangan Jaka. Dari ujung pedang, nampak meleleh darah membasahi batangnya.

"Wujud Raga, apakah engkau masih terus membandel?" Jaka masih diam di tempatnya, bertanya: "Kalau kau masih membandel, maka jangan salahkan aku bertindak, Wujud!"

"Hua, ha, ha...! Orang lain mungkin takut melihat senjatamu yang sudah terkenal itu, Jaka! Tapi aku, tidak!" Wujud Raga masih terus mencibir, merendahkan apa yang ada pada diri Jaka. Belum ada orang yang berani menantang Pedang Siluman Darah. Tapi kini Wujud Raga telah berani menantangnya.

"Hem, baiklah kalau begitu. Bersiaplah, Wujud!"

Setelah berkata begitu, serta merta Jaka pun berkelebat dengan Pedang Siluman Darah di tangannya menyerang Wujud Raga dan kambratnya.

Wujud Raga dan kesebelas anak buahnya tersentak kaget. Ternyata apa yang digembar-gemborkan para tokoh persilatan bukanlah omong kosong. Pedang Siluman Darah memang bukanlah pedang sembarangan. Hawa samberannya saja sudah begitu panasnya, apalagi bila terkena.

"Wujud Raga, menyerahlah!" Jaka memekik, sebab pengaruh Pedang Siluman Darah telah benar-benar merasuk dalam jiwanya. Mata Jaka merah laksana mengandung api. Tangannya yang berusaha mempertahankan nampak gemetaran. "Wujud! Jangan sampai Ratu Siluman Darah menghisap darahmu!"

"Aku tidak takut, Jaka!" Wujud Raga balik berang. Sementara kesebelas anak buahnya, nampak hanya terbengong bagaikan terkena sihir yang keluar dari Pedang Siluman Darah. Mereka terdiam bengong, mata mereka memandang penuh rasa takut dan was-was.

"Kalau itu yang kau mau, jangan salahkan aku. Hiat...!"

"Lakukan bila engkau mampu, Jaka.

Hiat...!"

Dua tubuh berkelebat dengan cepat. Dua tubuh itu melayang bagaikan terbang. Jaka kiblatkan Pedang Siluman Darahnya ke arah lajunya tubuh Wujud Raga. Setelah mereka mendekat, segera Jaka Ndableg tebaskan pedang tersebut.

"Wuut...!"

"Crass...!"

"Aaah...!" memekik seketika Wujud Raga, tubuhnya terpotong buntung menjadi dua. Darahnya kering, habis terhisap oleh Pedang Siluman Darah.

"Ayah...!"

Anak gadis Wujud Raga memekik, lalu dengan tanpa hiraukan semuanya yang hanya terdiam mematung, gadis itu segera memburu di mana tubuh ayahnya tergeletak.

"Bajingan! Kau telah membunuh ayahku!"

"Terpaksa! Ayahmu telah membuat segalanya. Ayahmu telah merongrong pemerintahan." Jaka menjawab dengan suara parau. Seperti dalam nada ucapannya Jaka merasakan kepedihan. Sebenarnya ia pun tak ingin Pedang di tangannya harus berlumur darah, tetapi keadaanlah yang harus memaksanya.

"Kau kejam! Kau kejam!" gadis itu menjerit. Dipukulinya dada Jaka yang hanya terpaku diam, lalu setelah puas gadis itupun berlari pergi meninggalkan semuanya yang seketika terbengong.

"Jaka! Tunggulah pembalasanku...!"

Jaka hanya mampu menarik napas, berat dan serak. "Apakah kehidupahku hanya akan diwar-nai dengan dendam dan dendam? Apakah aku harus selamanya bertualang untuk membasmi kejahatan, yang akhirnya menjadikan mata rantai cerita manusia?!" Jaka bertanya-tanya pada diri sendiri.

"Kedok Hitam, tunjukkan di mana peta tersebut ketuamu simpan," Jaka akhirnya berkata setelah untuk sekian lama terdiam membisu, menghayati arti kehidupannya. "Cepat, Kedok!"

"Ba... baik!"

Dengan dibantu oleh Kesepuluh Tokoh Kedok Berwarna, Jaka pun tak lama untuk mencari peta tersebut. Peta itu masih utuh, peta milik kerajaan yang memuat tempat-tempat para pemberontak berada. Setelah memeriksa kembali keadaan peta tersebut, segera Jakapun berkelebat pergi meninggalkan mereka yang hanya terbengong-bengong kagum dan heran melihat kelebatan Jaka yang begitu cepat laksana terbang. Dan dalam sekejap saja tubuh Jaka telah menghilang entah ke mana, lenyap dalam sekejap.

***
TUJUH
"Hua, ha, ha...!"

Tersentak kesepuluh Pendekar Kedok Berwarna demi mendengar suara gelak tawa yang membahana, menyentakkan mereka dari lamunannya. Bersamaan dengan habisnya suara gelak tawa tersebut, tiba-tiba di hadapan mereka berdiri sesosok tubuh dengan muka tertutup rapat kain hitam. Kain itu nampak bercak-bercak darah. Sepertinya darah itu belum mengering, menetes deras membasahi muka dan cadar.

"Kalian tahu ke mana larinya Pendekar Pedang Siluman Darah?" tanya orang bercadar pada kesepuluh orang berkedok.

"Siapakah engkau, Ki Sanak?" Kedok Hitam yang bertanya.

"Aku...?" orang bercadar dengan darah menetes itu mengulang tanya. "Aku adalah musuhnya. Akulah yang akan mengakhiri ketenaran namanya. Akulah si Cadar Berdarah. Hua, ha, ha...!"

"Cadar Berdarah...?!" kesepuluh orang berkedok memekik.

"Ya! Sekarang tunjukkan padaku, ke mana Jaka pergi!"

Kesepuluh orang berkedok itu tak langsung menjawab. Mereka saling pandang antar sesamanya. Hal ini menjadikan si Cadar Berdarah marah.

"Bedebah! Kalian rupanya tak hiraukan aku! Kalian harus mati. Hiat...!"

Tersentak kesepuluh orang berkedok yang terkenal dengan nama Pendekar Kedok Berwarna, demi diserang begitu tiba-tiba oleh si Cadar Berdarah. Mereka serempak menghambur, menyerang balik dengan makian marah.

"Orang sinting! Kenapa tiba-tiba engkau menyerang kami? Apa salah kami, Hah!" Kedok Hitam selaku kedok tertua, nampak gusar. "Rupanya engkau hendak mencari mati, Orang sinting!"

Si Cadar Berdarah tak hiraukan omelan dan makian Kedok Hitam, ia terus mencerca kesepuluh Pendekar Kedok Berwarna dengan serangan-serangan maut. Serangannya begitu cepat, seakan gerakannya sukar untuk diikuti.

"Bedebah! Rupanya kau memang orang sinting!" kini Kedok Merah yang membentak marah. Dengan nekad Kedok Merah menghambur, lalu dengan tanpa pikir panjang ia hantamkan pukulannya. Namun sungguh tidak disangka, sebuah pedang telah berkelebat menghantam tangannya. Pedang Naga Dewa telah menjadikan tangan Kedok Merah buntung, membawa jeritan Kedok Merah menyayat menahan sakit.

"Aaah...!"

"Bedebah! Kami akan mengadu jiwa denganmu. Hiat...!"

Dengan dikomando oleh Kedok Hitam, kedelapan kedok lainnya bergerak menyerang bareng. Namun sepertinya serangan mereka tak membawa hasil. Setiap kali mereka merangsek, setiap kali itu si Cadar Berdarah mampu mengelakkannya. Bahkan dengan cepat membalas menyerang mereka.

Dalam berapa gebrakan saja, kesembilan pendekar Kedok Berwarna dapat dijatuhkan. Setelah melihat kesembilan Kedok Berwarna tak berdaya, dengan gelak tawa si Cadar Berdarah berkelebat pergi meninggalkan tubuh mereka.

"Katakan bila kalian menjumpai Jaka Ndableg, aku si Cadar Berdarah mencarinya. Hua, ha, ha...!"

Kesembilan Kedok Berwarna hanya dapat terdiam bisu. Mereka nampaknya termangu, heran tak mengerti mengapa dalam sehari itu mereka harus berhadapan dengan dua orang pendekar sakti. Beruntung kedua pendekar itu tak menurunkan tangan jahat. Namun yang menjadi mereka heran, mengapa si Cadar Berdarah mencari Jaka Ndableg? Apa yang sebenarnya terjadi di balik cadar yang mengeluarkan darah?

Mereka tak dapat menjawab, mereka tak mengerti harus bagaimana? Nah, untuk kali ini, Misteri Cadar Berdarah saya cukupkan sampai di sini. Bila anda ingin mengikuti bagaimana Jaka selanjutnya. Dan bagaimana tindakan si Cadar Berdarah, serta anak Wujud Raga, silahkan anda ikuti kisah Pendekar Pedang Siluman Darah berikutnya!!!!

SELESAI