Pendekar Bunga Matahari Jilid 01 : Benih Asmara di Selat Sunda

Mode Malam
Benih Asmara di Selat Sunda

BUIH-BUIH putih itu memanjang, seperti ekor yang terus mengikuti buritan kapal, meninggalkan Pelabuhan Banten, menyibak Selat Sunda menjadi bidang biru yang mahaluas digarisi warna putih. Makin jauh, garis buih itu makin memudar, hingga menyatu dengan permukaan laut keseluruhan, berupa bidang seperti cermin buram yang memantulkan sang surya yang siap rebah tenggelam.

Di barat laut, ujung selatan Swarnadwipa seperti onggokan tanah yang mengapung, samar oleh garis-garis tipis kabut.

Suatu saat, aku harus menginjak pulau itu, pikir Jaka Wulung. Sekarang, aku masih mempunyai kewajiban yang lain.

Rambut pendekar belia itu tergerai ditampar-tampar angin barat. Jemarinya mencengkeram pagar kapal erat-erat. Tubuhnya ramping, dengan otot-otot yang tegas terlatih. Dari kejauhan, dia tampak kukuh seperti pelakon utama dalam kisah-kisah legenda.

Tapi, sebenarnya cengkeraman yang kuat itu hanyalah upayanya untuk menahan tubuhnya supaya tidak goyah oleh dua alasan. Pertama, oleh denyar-denyar di dalam dadanya. Dia memandang laut lepas dalam upayanya menghindari menatap wajah jelita di sampingnya. Selalu saja, setiap dia memandang Ciang Hui Ling, gadis jelita itu, pikirannya mengembara ke mana-mana. Khayalannya selalu melambung mendahului kenyataan.

Dengan baju kuning membungkus tubuhnya yang ramping, dengan rambut yang terurai dan sebagian diikat pita yang juga kuning, Ciang Hui Ling memanglah gadis yang benar-benar menggetarkan siapa pun yang memandangnya. Dia tampak pantas menjadi pendamping sang pelakon utama dalam kisah-kisah legenda.

Keduanya ibarat Kamajaya dan Kamaratih1.

Atau, Liang Shanbo dan Zhu Yingtai2.

Atau, lebih tepat ... Kamajaya dan Zhu Yingtai!

Itulah .... Itu yang menjadi batu besar yang mengganjal di dada Jaka Wulung. Mungkinkah seorang Kamajaya menjadi kekasih Zhu Yingtai? (Oh, tunggu, dari mana aku bisa merasa diri sebagai Kamajaya? Jangan- jangan aku hanyalah seorang Cakil yang tak tahu diri!)

Mereka hanya berdua di buritan. Bahkan, di seluruh geladak.

Tidak banyak penumpang kapal ini. Dan tampaknya orang-orang lebih suka berada di ruang penumpang, menghindari angin sore yang bertiup kencang. Bahkan, tak ada awak kapal di geladak. Mungkin mereka sedang beristirahat setelah sibuk menjelang keberangkatan tadi.

Kapal serasa milik berdua.

Kapal melaju membelah laut dengan kecepatan cukup tinggi. Layar-layar di ketiga tiang utamanya mengembang diempas angin. Sungguh kapal yang gagah. Mereka berharap perjalanan menuju Pelabuhan Kalapa tidak akan lebih dari dua hari. Syukur-syukur bisa lebih cepat. Kapal ini membawa penumpang dan mengangkut banyak barang dari Swarnadwipa menuju Kalapa. Mungkin juga akan terus menuju Cerbon.

Alasan kedua, ....

“Kau pendiam sekali sore ini, Jaka.”

Jaka Wulung menarik napas dalam. Tapi, suara lembut itu seperti besi berani yang membuat kepalanya menoleh.

Jaka Wulung memandang Ciang Hui Ling dan dadanya kembali berdenyar. “Rasanya ombak laut ini terlampau besar.”

Ciang Hui Ling membelalakkan matanya yang indah. Tapi, beberapa saat kemudian dia tertawa, dan mata indah itu menjadi sepasang garis tipis belaka.

“Jangan katakan kau mabuk laut.”

“Ini pengalaman pertamaku naik kapal laut.”

“Ini belum seberapa, Jaka. Kapan-kapan kita bisa mengarungi laut nun di sana,” Ciang Hui Ling menunjuk arah utara. “Aku pernah digoyang ombak-ombak besar di Laut Tiongkok Selatan.”

“Tetap saja, bagiku ini bukan ombak Ci Pamali.” Ciang Hui Ling tertawa lagi.
Jaka Wulung tersenyum. Tawa merdu gadis itu sungguh mengobati perutnya yang mulai serasa dikocok-kocok.

“Tentu ada dua hal mengapa kau tak boleh mabuk laut, Jaka.”

Jaka Wulung memandang Ciang Hui Ling dengan penuh perhatian.

“Pertama, bagaimana mungkin seorang pemuda berilmu tinggi sepertimu, dengan gelar Titisan Bujangga Manik, kalah oleh ombak yang tidak seberapa?”

Wajah Jaka Wulung terasa menghangat oleh rasa jengah karena gurau bernada sindir Ciang Hui Ling. Wajahnya sedikit memerah. Untunglah, langit mulai temaram dan Jaka Wulung berharap Ciang Hui Ling tidak melihat perubahan rona pada wajahnya.

“Dan yang kedua?”

“Hmmm ..., aku tak mau membersihkan kalau kau muntah.” Jaka Wulung tertawa. Disambarnya tangan Ciang Hui Ling.
Gadis itu mencoba menarik tangannya. Tapi, gerak Jaka Wulung, meskipun tidak dilambari ilmu kesaktiannya, tetap terlampau cepat bagi Ciang Hui Ling. Atau, kemungkinan lain, gadis itu memang sengaja pura- pura menarik tangannya. Selalu ada seni tersendiri jika seorang gadis kelihatan tidak mudah didapat. Seperti burung merpati yang kelihatan jinak, tapi tidak mudah ditangkap.

Jaka Wulung meremas gemas jemari Ciang Hui Ling. Ditariknya perlahan- lahan tangan si gadis. Pelan, tanpa perlu mengeluarkan tenaga yang besar. Ciang Hui Ling berusaha melawan tenaga tarikan Jaka Wulung. Tapi, perlawanan itu lemah saja. Lebih lemah dibandingkan dengan tenaga tarikan Jaka Wulung. Jengkal demi jengkal jarak di antara keduanya

menjadi semakin dekat.

Makin dekat, makin tercium bau harum rambut Ciang Hui Ling meresap ke lubang hidung Jaka Wulung.

Selama beberapa hari dalam kebersamaan sejak peristiwa di Rajatapura, Jaka Wulung selalu berjuang keras menahan diri meskipun denyut jantung dan aliran darahnya seperti membanjir.

Jaka Wulung tidak pernah gentar menghadapi para pendekar berilmu tinggi yang ditakuti di jagat persilatan, termasuk Brahala si raksasa dari Segara Anakan, si Jari-Jari Pencabik dari Gunung Cakrabuana, dan Sepasang Rajawali dari Pelabuhan Ratu.

Akan tetapi, menghadapi seorang gadis jelita bernama Ciang Hui Ling, Jaka Wulung seakan-akan mati kutu. Gentar. Keok memeh dipacok— kalah sebelum berlaga. Tapi, memang begitulah, dia tidak bisa membayangkan seandainya Ciang Hui Ling menolak keinginannya. Bagaimana kalau gadis itu menamparnya dengan penuh kemarahan? Pasti akan lebih sakit, jauh lebih sakit, dibandingkan dengan jurus Lidah Ombak Menjilat Pantai yang dilancarkan Sepasang Rajawali. Lebih dari itu, bagaimana kalau Ciang Hui Ling membencinya, dan menilainya sebagai laki-laki tidak punya moral? Ini akan lebih menyakitkan lagi.

Tapi kali ini, dia tidak dapat menahan gejolak dadanya. Angin yang membawa aroma laut, yang mengibarkan rambut lembut Ciang Hui Ling, entah mengapa menambah gejolak dan gairah Jaka Wulung.

Mabuk laut Jaka Wulung kini berganti menjadi mabuk yang lain. Mabuk cinta.
Wajah mereka kini hanya berjarak dua jengkal.

Jaka Wulung bahkan seakan-akan sudah mencium bau napas Ciang Hui Ling.

Akan tetapi, mendadak Jaka Wulung menghentikan tarikan tangannya.

Melalui bidang pandangnya yang sempit, Jaka Wulung merasa ada sesuatu yang bergerak. Bahkan, meskipun pelan, sangat pelan, telinganya

mendengar bunyi sesuatu, entah apa. Jaka Wulung cepat menoleh ke arah kabin. Matanya meneliti tiap sudut kabin. Bahkan, juga ke seluruh geladak, hingga ujung haluan di depan sana, sekitar seratus langkah dari tempat mereka.

Tak ada apa-apa.

Hanya kelebatan layar-layar putih diterpa angin. Hanya riak-riak ombak yang menjilat lambung kapal. Hanya langit yang kian temaram.

“Ada apa?” tanya Ciang Hui Ling.

Jaka Wulung menggeleng. Mungkin hanya orang yang mengintip, pikirnya.

Pikiran demikian menyadarkan Jaka Wulung sehingga hasrat dan gejolaknya untuk mendekap Ciang Hui Ling memudar pelan-pelan. Ada sesal, tapi juga bahagia. Sesal, ya, itu tadi, keinginannya untuk memeluk Ciang Hui Ling tidak terwujud. Tapi, juga bahagia karena dengan demikian dia terhindar dari perbuatan yang bisa saja hanya berdasarkan nafsu kotor.

Aku menyukai Ciang Hui Ling dengan tulus, batin Jaka Wulung.

Ditatapnya wajah gadis itu. Matanya cemerlang, seperti bintang kejora. Jaka Wulung tanpa sadar menoleh ke langit timur. Sayang, sang bintang belum kelihatan. Padahal, dia ingin membandingkan mata Ciang Hui Ling dengan bintang paling cemerlang itu. Pasti sama indahnya.

Ciang Hui Ling balas memandang Jaka Wulung, tapi kemudian menunduk. Jaka Wulung samar-samar melihat perubahan warna pada wajah Ciang Hui Ling.

“Maafkan aku, ya,” ucap Jaka Wulung pelan.

“Kesalahan apa yang sudah kau lakukan?” Ciang Hui Ling tersenyum.

Akan tetapi, sebelum Jaka Wulung menjawab, bidang pandangnya menangkap lagi seseorang, atau sesuatu, bergerak. Telinganya juga menangkap suara yang dia yakin bukan berasal dari tiupan angin, kelebatan layar kapal, atau riak ombak.

Dia menoleh ke arah sumber suara. Bahkan, nyaris pada saat yang sama, Jaka Wulung meloncat cepat menuju gerak sesuatu yang tertangkap bidang pandangnya.

Tidak ada apa-apa.

Seluruh geladak tetap sunyi. Hanya ada mereka berdua.

Jaka Wulung meloncat ke sisi kanan kapal. Tak ada apa-apa di permukaan lambung kapal itu. Begitu juga ketika dia meneliti sisi kiri kapal. Matanya kembali memutar memandang sekeliling. Tetap tidak ada apa-apa.

Jaka Wulung menarik napas dalam-dalam, meredakan kegeramannya. Apakah dia salah lihat? Apakah pendengarannya keliru?
Apakah itu sekadar penampakan karena perhatiannya sedang dia pusatkan kepada Ciang Hui Ling? Kalau gerakan yang dia lihat itu dilakukan oleh manusia, Jaka Wulung yakin tentu orang itu bukan manusia biasa, melainkan memiliki tingkat ilmu kesaktian yang sangat tinggi. Tapi, siapa? Kalau bukan manusia ... ah, apakah ada makhluk halus yang ikut-ikutan naik kapal segala?

“Kita ke dalam saja,” ajak Jaka Wulung kepada Ciang Hui Ling. “Ada apa?”
Jaka Wulung tetap menggeleng. “Mungkin aku salah lihat,” desah Jaka Wulung.

“Apa yang kau lihat?” “Entahlah.”
Kali ini, giliran Ciang Hui Ling yang menggeleng-geleng. “Orang berilmu tinggi memang selalu memiliki kelebihan ... sekaligus kekurangan,” katanya.

Jaka Wulung mengerutkan keningnya memandang Ciang Hui Ling. Kata- kata gadis ini memang selalu membuatnya terkejut. Ceplas-ceplos, sekaligus mengandung sesuatu yang berisi. Cerdas. Itulah yang disukai Jaka Wulung dari gadis ini.

“Menurutmu, apa kekurangan orang berilmu tinggi?” tanya Jaka Wulung.

Kali ini, giliran Ciang Hui Ling yang terkejut. Dia menyangka pertanyaan pertama Jaka Wulung adalah apa kelebihan orang berilmu tinggi, tapi ternyata bukan. Dia merasa pertanyaan Jaka Wulung ini terlalu mendadak. Oleh karena itu, Ciang Hui Ling tidak langsung menjawab, malahan terasa wajahnya menghangat dan memerah.

“Kekurangannya, ... ya, itu tadi

“Apa itu?” tanya Jaka Wulung gemas. Ciang Hui Ling tersipu-sipu malu.
Jaka Wulung kian gemas.

Tangannya mencengkeram pagar besi kapal kuat-kuat. Terdengar suara krrrkkk ..., besi yang dicengkeram itu retak! Jaka Wulung melepaskan cengkeramannya. Tentu saja, dia tidak mau merusak kapal penumpang itu!

Ciang Hui Ling menunduk, menyembunyikan tawanya.

Jaka Wulung tahu bahwa gadis itu menertawainya. Tapi, apa yang bisa dia lakukan? Dia benar-benar seperti seorang bocah yang sedang dipermainkan. Ah, Jaka Wulung hanya sedikit lebih tua dari seorang bocah! Alhasil, wajah Jaka Wulung juga menjadi tersipu-sipu.

Ketika keduanya berpandangan, terjadilah sebuah kejadian alami berupa pancaran batin yang saling berbenturan sedemikian rupa sehingga menyentuh saraf geli mereka.

Keduanya tertawa bersama-sama.

“Hai, kau belum menjawab pertanyaanku,” kata Jaka Wulung ketika tawa mereka mereda. “Apa kekurangan orang berilmu tinggi?”

Ciang Hui Ling memandang pendekar belia itu, “Apa perlu kujawab?” Keduanya saling tatap, lalu sama-sama tertawa lagi.
Kapal benar-benar serasa milik mereka.

CIANG Hui Ling tidur dengan posisi miring di lantai ruang penumpang dengan kepala berbantalkan kantong pakaiannya. Pedang tipisnya tergolek dekat kepalanya. Dadanya bergerak seirama dengan tarikan napasnya yang teratur. Goyangan kapal seakan-akan buaian belaka bagi gadis ini. Puluhan orang yang sama-sama tertidur juga tidak membuat dia terganggu. Dia tidur seperti bayi.

Di sebelah gadis itu, Jaka Wulung duduk menyandar dinding. Dipandangnya wajah Ciang Hui Ling yang damai dalam kelelapannya.

Malam makin merayap. Langit di luar tampak menghitam.

Jaka Wulung memejamkan matanya. Mengosongkan kepalanya. Melemaskan sekujur tubuhnya.

Hening. Hanya suara angin dan riak ombak yang samar.

Akan tetapi, mendadak, Jaka Wulung merasakan ada sesuatu yang tidak selaras dalam keheningan itu.

Matanya memang terpejam. Tubuhnya juga lemas beristirahat. Bahkan, pikirannya pun larut dalam keheningan. Tapi, tidak semua indranya tertidur. Sebagaimana hidungnya, segenap pori-pori kulit tubuhnya terus bernapas menyerap arus energi sekecil apa pun dari sekitarnya.

Saat itulah, Jaka Wulung merasakan ada arus energi yang menerpa permukaan kulitnya secara terus-menerus. Energi itu lemah, paling hanya berupa gelombang yang memancar ketika seseorang memandang orang lain tanpa maksud apa-apa, maksudnya tanpa disertai tenaga dalam.

Di luar kendali kesadarannya, indra Jaka Wulung waspada. Terutama indra perabanya, saraf-saraf yang memenuhi permukaan kulitnya. Terlebih ketika pancaran energi itu makin lama makin besar. Jelas seseorang, atau sesuatu, sedang memandang tajam Jaka Wulung.

Indra perabanya dengan cepat mengirimkan tanda kepada indra pendengaran dan penglihatan pada saat yang nyaris bersamaan.

Jaka Wulung membuka matanya dengan cepat. Telinganya segera bersiaga untuk menangkap suara sekecil apa pun yang mencurigakan.

Dipandangnya sekeliling. Hening.
Tidak ada apa-apa.

Hampir semua orang tengah lelap dalam tidur mereka. Hanya beberapa awak kapal yang masih terus terjaga, sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap keselamatan semua penumpang.

Jaka Wulung mengerutkan keningnya. Dia yakin bahwa kepekaan indranya tidak salah. Seseorang pasti sedang mengawasinya. Tapi, tidak ada satu pun sosok yang bisa dia curigai sebagai orang yang sedang mengawasinya.

Apa maksudnya mengawasinya terus-menerus? Kalau dia manusia, sekali

lagi Jaka Wulung menyimpulkan, tentu orang itu berilmu sangat tinggi. Siapa dia?

Jaka Wulung berdebar-debar. []
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Bunga Matahari Jilid 01 : Benih Asmara di Selat Sunda"

Post a Comment

close