coba

Kisah Dua Naga Di Pasundan Jilid 09

Mode Malam
 “Kamu benar, bunga Wijaya Kusuma telah dimiliki oleh putra anakku, Raja Majapahit”, berkata Prabu Guru Darmasiksa membenarkan perkataan Putu Risang.

“Aku dapat meminta bunga Wijaya Kusuma kepada Ayahanda di Majapahit”, berkata Pangeran Jayanagara.

“Penutupan sementara jalan darah di tubuh Andini hanya bertahan satu hari ini”, berkata Prabu Guru Darmasiksa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan sebagai pertanda usulan dari pangeran Jayanagara tidak dapat dilaksanakannya.

Terlihat semua orang terdiam, semua mata seperti tengah menggantungkan harapannya kepada Prabu Guru Darmasiksa seorang diri.

Namun Prabu Guru Darmasiksa yang diharapkan akan memberikan sebuah jalan lain, sebuah obat kedua selain bunga Wijaya Kusuma terlihat seperti tercenung menatap kosong kearah kedepan halaman pendapa.

Suasana diatas pendapa itu sejenak seperti begitu sunyi, tidak ada suara apapun. Sementara hujan di luar halaman sudah mulai mereda dan malam sudah terlihat menjadi semakin gelap.

“Tunjukkan kepada hamba obat kedua selain bunga Wijaya Kusuma, hamba bersedia melakukan apapun demi kesembuhan Andini”, berkata Gajahmada memecahkan suasana keheningan diatas pendapa itu.

“Anakku tidak perlu berbuat apapun, obat atau cara kedua selain bunga Wijaya Kusuma itu masih berada di Padepokan ini”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Gajahmada.

Kembali suasana diatas Pendapa padepokan itu menjadi hening, semua mata nampaknya telah tertuju kearah Prabu Guru Darmasiksa.

Namun Prabu Guru Darmasiksa yang diharapkan berbicara itu kembali seperti tercenung menatap kosong kedepan kearah halaman pendapa yang terlihat sudah semakin gelap.

Suara hujan diluar sudah tidak terdengar lagi, semua mata masih menunggu Prabu Guru Darmasiksa menyampaikan gerangan obat apa yang dapat menyembuhkan Andini yang masih juga tidak sadarkan diri tergeletak diatas lantai pendapa Padepokan Prabu Guru Darmasiksa.

Semua mata diatas pendapa Padepokan itu melihat Prabu Guru Darmasiksa yang masih tercenung tengah menarik nafas panjang sepertinya akan memutuskan sesuatu yang sangat berat. Seperti tengah memikul sebuah beban yang amat berat dirasakan.

“Dengan sangat terpaksa bahwa aku harus membuka sebuah rahasia besar leluhur kami, rahasia leluhur para raja di Pasundan ini”, berkata Prabu Guru Darmasiksa dan kembali terdiam tidak melanjutkan perkataannya kembali.

Kembali suasana diatas pendapa Padepokan itu menjadi begitu hening, semua mata kembali menunggu apa yang akan keluar dari bibir orang tua sareh itu.

“Masih ada satu cara untuk menawarkan racun di tubuh Andini akibat goresan Kujang Pangeran Muncang. Yaitu dengan kembaran Kujang Pangeran Muncang”, berkata Prabu Guru Darmasiksa.

“Kembaran kujang Pangeran Muncang?”, terdengar suara bersamaan dari bibir semua orang yang hadir diatas pendapa Padepokan itu.

“Bersyukurlah bahwa kujang kembaran itu masih tersimpan di Padepokan ini”, berkata Prabu Guru Darmasiksa sambi menarik nafas panjang dan perlahan berdiri dari duduknya.

Semua mata di pendapa padepokan seakan-akan menempel di punggung Prabu Guru Darmasiksa dan mengikuti langkah kaki orang tua itu yang terlihat sudah memasuki pringgitan dan kemudian telah hilang masuk ke sentong tengah.

Terlihat semua mata di pendapa padepokan itu seperti tidak berkedip memandang ke arah Prabu Guru Darmasiksa yang telah muncul kembali berjalan dari arah pringgitan menuju pendapa Padepokan. Semua mata di atas pendapa telah melihat sebuah senjata pusaka ditangan Prabu Guru Darmasiksa.

“Kujang Pangeran Muncang”, berkata Gajahmada dalam hati ketika melihat sebuah senjata pusaka di tangan Prabu Guru Darmasiksa. Sebuah senjata yang sangat mirip sekali dengan yang pernah dilihatnya di pegang oleh seorang berpakaian serba hitam kemarin malam di kediaman Patih Anggajaya.

Tanpa berkata apapun terlihat Prabu Guru Darmasiksa telah duduk kembali di sisi tubuh Andini yang masih saja tidak sadarkan diri.

Perlahan Prabu Guru Darmasiksa mengangkat senjata pusaka itu seperti begitu hormat. Dan perlahan telah mengeluarkannya dari sarungnya.

“Kujang yang kemarin malam kulihat berwarna kuning keemasan, sementara kujang ini berwarna putih besi waja”, berkata kembali Gajahmada dalam hati memperhatikan kujang yang sudah terlepas dari sarungnya itu berada ditangan kanan Prabu Guru Darmasiksa.

“Racun kujang kembaran ini saling berlawanan satu dengan yang lainnya”, berkata Prabu Guru Darmasiksa sambil perlahan menggoreskan senjata itu ke bahu kanan Andini tidak jauh dari bekas lukanya.

Semua mata menahan nafas panjang seperti tengah menunggu perubahan yang terjadi pada diri Andini.

Terlihat Gajahmada dan Bango Samparan yang paling mencemaskan keadaan Andini itu seperti menunggu sebuah keajaiban penuh pengharapan.

“Wahai Gusti yang Maha Pemurah, sembuhkanlah buah hatiku ini”, berkata Bango Samparan dalam hati dengan pandangan mata tidak sedikit pun terlepas kearah Andini yang berbaring terbujur di lantai pendapa Padepokan.

“Bersabar dan berdoalah”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Gajahmada penuh rasa iba melihat anak muda itu begitu mencemaskan keadaan Andini. Sementara itu langit malam yang gelap telah menyelimuti halaman pendapa padepokan, pelita malam di pendapa itu sudah terlihat menjadi semakin redup.

Namun semua mata diatas pendapa itu masih tetap menunggu dan berharap akan ada sebuah perubahan di diri Andini. Mereka seperti arca bisu tengah berdoa berharap sebuah mukjijat datang.

“Tubuhnya basah berpeluh keringat”, berkata Gajahmada perlahan melihat tubuh Andini yang tiba-tiba saja hampir di seluruh tubuhnya telah mengeluarkan peluh keringat.

“Pertanda dua racun yang berbeda sudah saling bertemu, menawarkan satu dengan yang lainnya”, berkata Prabu Guru Darmasiksa mencoba memberikan penjelasan atas apa yang tengah terjadi pada diri Andini.

Semua mata semakin tidak lepas dari diri Andini yang berbaring terbujur itu. Dan hampir semua orang telah mendengar suara rintihan halus keluar dari bibir mungil Andini.

“Kakang Mahesa Muksa, aku akan tetap menunggu kehadiranmu di Rawa Rontek”, berkata Andini dengan mata masih terpejam.

“Gadis ini telah mengigau, sebagai tanda syaraf jalan darahnya telah tawar dari racun yang sangat kuat”, berkata Prabu Guru Darmasiksa sambil menyentuh kening Andini yang dirasakan sangat panas.

Terlihat hampir semua orang diatas pendapa Padepokan itu seperti tengah menarik nafas lega mendengar penjelasan Prabu Guru Darmasiksa tentang keadaan Andini.

Namun diam-diam Putu Risang memperhatikan warna wajah Pangeran Jayanagara.

“Diam-diam anak muda ini telah berharap cinta dari Andini. Namun Gadis ini nampaknya telah memilih Mahesa Muksa”, berkata Putu Risang dalam hati sekilas melihat ada warna duka menghiasi wajah Pangeran Putra Mahkota Majapahit itu.

“Sebentar lagi anak gadis ini akan siuman”, berkata Prabu Guru Darmasiksa seperti merasa yakin bahwa Andini sudah terlepas dari kekuatan racun Kujang Pangeran Muncang.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Prabu Guru Darmasiksa, beberapa saat kemudian terlihat Andini perlahan membuka kelopak matanya.

“Dimana aku?”, berkata Andini perlahan sambil menyapukan pandangannya.

“Kamu berada di tempat yang aman bersama orangorang yang sangat mengasihimu”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada gadis itu. ”Jangan banyak bergerak dulu, tubuhmu masih sangat lemah”, berkata kembali Prabu Guru Darmasiksa.

Terlihat Andini mencoba menggerakkan tubuhnya untuk bangkit, namun sebagaimana yang dikatakan oleh orang tua itu memang dirinya merasakan begitu lemah tidak berdaya menggerakkan tubuhnya sendiri.

“Anak muda, tubuh dan pakaianmu sangat lusuh sekali. Bersih-bersih dan beristirahatlah, jangan cemaskan lagi gadis ini, racun di tubuhnya sudah kalis hanya menunggu kekuatannya pulih seperti sedia kala”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Gajahmada.

Mendengar perkataan Orang tua itu, terlihat Gajahmada perlahan berdiri. “Tubuh dan pakaianku memang sangat lusuh sekali”, berkata Gajahmada ketika sudah berdiri dan melihat keadaan tubuh dan pakaiannya.

Sementara itu warna langit di atas Padepokan Prabu Guru Darmasiksa sudah terlihat garis tipis merah mengisi warna biru kelam sebagai pertanda sang pagi sebentar lagi akan datang menggantikan malam.

“Masih ada waktu untuk beristirahat sejenak”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada semua yang hadir di pendapanya ketika tubuh Andini yang masih lemah itu telah dipindahkan ke bilik yang telah disediakan untuknya di tunggui oleh Ayah kandungnya sendiri Bango Samparan.

Pelita malam yang menggelantung di tiang pendapa terlihat sudah seperti melenggut hampir kehabisan minyak jarak. Dan tidak lama berselang suasana di atas pendapa itu seperti lengang sunyi, semua orang nampaknya merasa lelah dan mengantuk semalaman bergadang menunggui keadaan Andini.

Sementara itu Gajahmada setelah bersih-bersih diri dan mengenakan sepotong pakaian pinjaman yang layak untuknya terlihat tidak langsung tertidur. Ternyata anak muda itu sudah terbiasa melakukan olah laku pernafasan sebelum tidur beristirahat.

Terlihat anak muda itu telah hanyut di dalam olah lakunya, telah merasakan kenikmatan lakunya dengan menghadirkan Gusti Yang Maha Agung sebagai pengendali dalam segala geraknya ketika berdiri, rukuk, sujud dan duduk bersimpuh diantara dua sujudnya.

“Jangan paksakan dirimu dapat berlenggang dengan kedua tanganmu ketika berjalan, pasrahkan dirimu dalam kendali dan pengaturan Gusti Yang Maha Agung hingga terlihat elok lenggangmu. Siapa yang mengedipkan matamu ?, berkediplah dalam kendali_NYA” , berkata Gajahmada dalam hati mencoba mengulang-ulang ujarujar dari Putu Risang kepadanya. Nampaknya Gajahmada sudah mulai memahami makna dari ujar-ujar itu. Terlihat dirinya tersenyum sambil merebahkan tubuhnya memandang langit-langit biliknya, sendiri.

Dan tidak terasa sang waktu terus berjalan,  sang fajar terlihat telah bersembul diatas perbukitan sebelah timur lereng Gunung Galunggung menghangatkan rumput-rumput basah di depan halaman Padepokan Prabu Guru Darmasiksa yang cukup luas itu.

“Akar dan daun dari beberapa tanaman ini dapat membantu Andini memulihkan kekuatannya kembali”, berkata Prabu guru Darmasiksa kepada Bango Samparan di bilik Andini.

Terlihat Prabu Guru Darmasiksa setelah memberikan beberapa pesan yang berguna untuk kesembuhan Andini telah keluar dari bilik itu dan melangkahkan kakinya menuju pendapa.

“Aku jadi sangsi, apakah kalian sempat memejamkan mata di peraduan”, berkata Prabu Guru Darmasiksa menyapa semua orang yang tengah duduk diatas lantai pendapanya.

“Kami memang para tamu yang tidak tahu diri, semoga sang tuan rumah tidak jemu menemaninya”, berkata Pendeta Gunakara dengan penuh senyum.

“Bagaimana keadaan Andini saat ini?”, bertanya Jayakatwang kepada Prabu Guru Darmasiksa.

“Gadis itu masih tertidur ketika kutemui, dua atau tiga hari ini mungkin baru dapat pulih kembali”, berkata Prabu Guru ketika sudah duduk ngeriung bersama.

Dan pagi itu menjadi begitu hangat manakala Nyi Turuk Bali datang bersama seorang pelayan wanita membawa beberapa potong jagung rebus yang masih hangat.

“Jagung rebus ini memang biasa, yang menjadikannya luar biasa adalah disajikan langsung oleh seorang permaisuri Ratu Kediri”, berkata Prabu Guru Darmasiksa ketika Nyi Jayakatwang menurunkan bakul jagung rebus yang dibawanya.

“Silahkan dinikmati, aku akan kembali kebelakang untuk belajar meramu beberapa masakan pasundan”, berkata Nyi Turuk Bali sambil tersenyum dan kembali lagi melangkah kedalam bersama pelayan wanita yang datang bersamanya itu.

“Tahukah kalian tentang masakan nirwana ?, adalah senyum tulus sang istri tercinta. Tahukah kalian taman Nirwana ?, adalah melihat dan duduk bersama putra dan putri kita tumbuh berkembang. Tahukah kalian apa yang tidak disukai oleh seorang tamu?, adalah tuan rumah yang tidak menyilahkan tamunya untuk menikmati hidangan yang telah tersedia”, berkata Prabu Guru Darmasiksa sambil menggeser sebakul jagung rebus lebih dekat lagi ke arah Jayakatwang.

Terlihat semua yang berada diatas pendapa itu tersenyum menanggapi kata-kata Prabu Guru Darmasiksa itu.

Ketika para tamu dari Majapahit itu telah menikmati makanan dan minuman pagi yang tersedia diatas pendapa itu, terlihat wajah Prabu Guru seperti berubah penuh keangkeran dan kewibawaan seperti seorang raja besar. Dan semua orang diatas pendapa itu seperti  memaklumi ada sesuatu yang ada dalam pikiran mantan Raja penguasa Pasundan itu.

“Aku banyak mengenal beberapa orang berilmu tinggi di Pasundan ini, apakah kamu dapat mengenali beberapa gerak khusus dari orang berpakaian serba hitam itu?”, berkata Prabu Guru Darmasiksa ditujukan kepada Gajahmada.

“Hanya satu gerakan dari orang itu ketika melesat melukai Andini”, berkata Gajahmada mencoba mengingat kembali bagaimana orang berpakaian serba hitam itu bergerak.

“Satu gerakan memang belum cukup untuk menilai jenis sebuah kanuragan. Apakah kamu dapat mengenali logat bahasa sunda yang digunakan oleh orang itu?”, bertanya kembali Prabu Guru Darmasiksa.

Terlihat Gajahmada tengah mencoba mengingatingat kembali perkataan orang berpakaian serba hitam itu.

“Logat yang digunakannya tidak sebagaimana orang sunda pada umumnya, hamba seperti pernah mendengarnya sangat mirip sekali dengan logat bicara Patih Anggajaya”, berkata Gajahmada merasa yakin sekali dengan apa yang masih diingatnya itu.

“Siapapun orang itu, yang pasti keberadaan kembaran Kujang pangeran Muncang masih berada di Tanah Pasundan ini”, berkata Prabu Guru Darmasiksa tanpa menyebut sebuah nama yang nampaknya sudah berada di dalam benak dugaannya.

Kembali Prabu Guru Darmasiksa bertanya kepada Gajahmada tentang beberapa hal seputar beberapa ciri khusus orang berbaju serba hitam itu seperti tinggi badan dan bentuk alis orang itu

Hampir semua mata diatas pendapa itu tengah memandang kearah Gajahmada yang membenarkan semua ciri-ciri yang digambarkan oleh Prabu Guru Darmasiksa mengenai orang berbaju serba hitam itu.

Pandangan mata pun akhirnya berpindah kearah Prabu Guru Darmasiksa. Semua orang diatas pendapa itu memang tengah menunggu apa yang akan dikatakan oleh Prabu Guru Darmasiksa yang nampaknya sudah memegang dugaan sebuah nama.

“Mungkin kita akan bertemu dengan orang itu di  hutan perburuan”, berkata Prabu Guru Darmasiksa tanpa menyebut satu nama sama sekali.

Semua orang diatas pendapa itu mungkin memaklumi bahwa ada sebuah keengganan menyebut sebuah nama yang belum pasti dialah orangnya.

“Ada banyak hal yang harus kita siapkan di hutan perburuan”, berkata Prabu Guru Darmasiksa seperti mencoba mengalihkan arah pembicaraan.

Mendengar perkataan dari Prabu Guru Darmasiksa, semua orang diatas pendapa itu akhirnya mengikuti arah pembicaraan yang berkisar tentang rencana dan persiapan mereka menghadapi Patih Anggajaya di hutan perburuan, hutan Sindur.

Terlihat Putu Risang memberikan beberapa gambaran tentang suasana Hutan Sindur sebagaimana yang telah didengar dari Bango samparan yang telah mengamati hutan itu beberapa hari yang telah lewat.

Sementara itu Pangeran Jayanagara dan Gajahmada memberikan sebuah tambahan tentang kesediaan Ki Rangga Ageng Pasek yang akan membelot memecah pasukan Patih Anggajaya.

“Gabungan pasukan Adipati Suradilaga dan pasukan Ki Rangga Ageng Pasek sudah sangat mencukupi”, berkata Prabu Guru Darmasiksa merasa gembira mendengar semua penjelasan itu.

Demikianlah, mereka di atas pendapa Prabu Darmasiksa terlihat sangat perhatian membahas rencana mereka di hutan Sindur yang sudah tinggal beberapa hari itu.

Dan tidak terasa waktu terus berlalu, Matahari diatas lereng Gunung Galunggung itu terlihat semakin bergeser ke barat.

Hari itu sudah hampir menjelang sore di atas Padepokan Prabu Guru Darmasiksa ketika semua orang diatas pendapa melihat sekelompok pasukan prajurit berkuda memasuki regol pintu gerbang Padepokan.

Terlihat rombongan pasukan itu berkisar antara dua puluh sampai dua puluh lima orang telah berada diatas halaman depan pendapa Padepokan.

Terlihat salah seorang diantara mereka segera meloncat turun dari kudanya dan langsung berjalan kearah tangga pendapa Padepokan, nampaknya salah seorang yang menjadi pimpinan pasukan itu.

“Mohon ampun sekiranya kedatangan kami telah mengganggu ketenangan Paduka Tuan Prabu”, berkata seorang prajurit itu dihadapan Prabu Guru Darmasiksa.

“Katakan apa keperluanmu membawa pasukanmu di Padepokanku ini”, berkata Prabu Guru Darmasiksa dengan pandangan mata yang begitu tajam, kuat dan penuh wibawa kepada prajurit itu.

Terlihat prajurit itu menjadi semakin menunduk tidak berani memandang langsung kearah Prabu Guru Darmasiksa.

“Ampuni hamba, pasukan kami datang ke Padepokan tuanku karena ada berita bahwa buronan kami bersembunyi disini”, berkata prajurit itu masih dengan menundukkan kepalanya penuh keengganan.

“Lurah Janget, katakan siapa yang mengatakan hal demikian kepadamu”, berkata Prabu Guru Darmasiksa dengan senyum penuh keramahan, nampaknya merasa kasihan dengan sikap prajurit tua itu yang sudah dikenalnya.

Melihat suara dan pandangan Prabu Guru Darmasiksa yang penuh senyum itu akhirnya telah memberanikan prajurit tua itu mengangkat wajahnya.

“Ampuni hamba, perintah ini datangnya dari Patih Anggajaya”, berkata prajurit tua itu yang dipanggil dengan nama Lurah janget oleh Prabu Guru Darmasiksa.

“Siapa orang yang kamu maksudkan sebagai buronan itu”, berkata kembali Prabu Guru Darmasiksa

“Ampuni hamba, buronan itu adalah seorang prajurit muda yang telah membawa paksa seorang gadis”, berkata Lurah Janget memberikan sebuah penjelasan.

“Apakah kamu mengenal prajurit muda itu ?”, bertanya Prabu Guru Darmasiksa kepada prajurit lurah Janget.

Terlihat lurah Janget mengangkat wajahnya dan dengan penuh keraguan menggelengkan kepalanya sebagai sebuah pertanda belum mengenal siapa prajurit muda yang dikatakannya sebagai buronan itu.”Hamba mohon bantuan Tuanku Prabu untuk menyerahkan buronan itu kepada kami”, berkata Lurah Janget dengan wajah penuh pengharapan.

“Kembalilah ke pasukanmu, aku akan bicara dengan orang-orangku sendiri”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada lurah Janget.

Maka tanpa perintah kedua segera prajurit tua itu berdiri dan melangkah turun ke halaman pendapa bergabung dengan pasukannya.

“Patih Anggajaya pasti akan membawa sepasukan lebih besar lagi bila hari ini tidak kita berikan apa yang diinginkannya”, berkata Prabu Guru Darmasiksa.

Terlihat semua orang diatas pendapa itu telah mengalihkan pandangan matanya kearah Mahesa Muksa.

“Dalam pembahasan mengenai rencana di hutan Sindur, kita tidak menyinggung sedikitpun tentang istana Kawali. Kita belum tahu apa yang dilakukan oleh Patih Anggajaya di saat Raja Ragasuci berburu di hutan Sindur. Hampa bersedia berada di istana Kawali. Tidak perlu mengkhawatirkan keadaanku, bukankah masih ada Pangeran Citraganda di istana Kawali ?”, berkata Gajahmada kepada semua orang di atas pendapa itu.

Semua orang diatas pendapa itu mengagumi sikap Gajahmada yang bertutur begitu tenang, juga Prabu Guru Darmasiksa yang merasa yakin bahwa anak muda itu pasti bukan orang sembarangan yang tidak merasa takut dan gentar sedikitpun.”Beberapa tahun yang lalu aku pernah melihat anak ini sebagai anak yang cerdas, pasti kemampuan olah kanuragannya telah berlipat ganda”, berkata dalam hati Prabu Guru Darmasiksa.

“Kamu benar anak muda, kita tidak terpikir sedikitpun tentang istana Kawali”, berkata Prabu Guru Darmasiksa sepertinya menerima usulan Gajahmada.

“Aku orang tua akan menemanimu, hanya sekedar sebagai bayang-bayang”, berkata pendeta Gunakara sambil tersenyum.

Demikianlah, tanpa kesulitan apapun, Gajahmada telah diserahkan kepada sepasukan prajurit Kawali untuk dibawa ke Istana Kawali.

Dan tidak lama berselang ketika pasukan itu tidak begitu jauh berjalan, terlihat Pendeta Gunakara telah berpamit untuk selekasnya mengikuti Gajahmada bersama pasukan prajurit yang membawanya.

“Kamu pasti mengetahui sejauh mana kemampuan muridmu sendiri”, berkata Prabu Guru Darmasiksa ingin mendapatkan sebuah keyakinan tentang Gajahmada kepada Putu Risang.

“Sepasukan segelar sepapan mungkin akan mengalami banyak kesulitan menghadapi Mahesa Muksa, apalagi bersama pengasuhnya sendiri Pendeta Gunakara”, berkata Putu Risang sambil tersenyum merasa yakin bahwa Gajahmada dengan kemampuan ilmunya saat itu tidak akan mengalami banyak kesulitan.

Mendengar sikap dap jawaban dari Putu Risang, terlihat Prabu Guru Darmasiksa menarik napas panjang sebagai tanda dirinya tidak perlu lagi mengkhawatirkan keadaan anak muda itu.

“Aku orang tua kalah satu langkah dengan anak muda itu, tidak terpikirkan sedikitpun olehku mengenai keselamatan keluarga istana”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Jayakatwang, Putu Risang dan Pangeran Jayanagara yang masih berada di atas pendapa Padepokan itu. “Aku mengenalnya sejak kecil, aku begitu yakin bahwa anak muda itu akan menjadi orang besar dengan pemikiran besar di kemudian hari”, berkata Jayakatwang.

“Pangeran Jayanagara, bersyukurlah dirimu dikaruniai seorang sahabat sebagaimana  Mahesa Muksa. Kejayaan Majapahit suatu waktu berada di tanganmu, jagalah hati dan kesetiaan Mahesa Muksa”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Pangeran Jayanagara.

“Ucapan dan perkataan Kakek buyut Prabu adalah pusaka yang akan cucunda jaga”, berkata Pangeran Jayanagara dengan penuh hikmat.

“Masih ada satu urusan yang harus kuselesaikan di Padepokan ini, meringkus siapa sebenarnya telik sandi dari Patih Anggajaya yang nampaknya sudah lama di pasang memata-matai Padepokan ini”, berkata Prabu Guru Darmasiksa sambil berdiri perlahan.

Terlihat Prabu Guru Darmasiksa memanggil seorang cantrik.

“Panggilkan untukku Putut Sumitra”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada seorang cantrik yang datang menghampirinya.

Terlihat cantrik itu tergopoh-gopoh menuruni anak tangga pendapa pergi mencari Putut Sumitra.

Dan tidak lama berselang terlihat seorang lelaki setengah baya muncul dan langsung menaiki tangga pendapa.

“Katakan kepadaku, siapa saja cantrik yang saat ini tidak berada di padepokan ini”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Putut Sumitra.

Terlihat Putut Sumitra tidak langsung menjawab, sekilas terlihat kerut di keningnya sebagai tanda tengah berpikir kemana arah pertanyaan Prabu Guru Darmasiksa.

Putut Sumitra memang tidak terlalu lama berpikir. “Dua orang cantrik sudah sejak dua hari ini belum

kembali, telah kutugaskan untuk mencari beberapa jamur hutan. Sementara ada seorang cantrik lagi yang baru berangkat pagi-pagi sekali untuk sebuah urusan di Kotaraja Kawali”, berkata Putut Sumitra setelah mencoba mengingat siapa saja cantrik di Padepokan itu yang saat itu tidak ada di tempat.

“Siapa cantrik yang ada urusan di Kotaraja Kawali itu?”, bertanya Prabu Guru Darmasiksa.

“Batuganal”, berkata Putut Sumitra langsung menjawab pertanyaan Prabu Guru Darmasiksa.

“Coba kamu ingat-ingat kembali, ketika terjadi perampokan atas beberapa cantrik yang tengah membawa pusaka Kujang Pangeran Muncang ke Kotaraja Kawali, apakah Batuganal juga tidak ada di Padepokan ini?”, bertanya kembali Prabu Guru Darmasiksa.

Terlihat Putut Sumitra kembali mengerutkan keningnya mencoba mengingat-ingat sebuah kejadian yang sudah berlangsung cukup lama itu.

“Aku ingat, disaat itu dua hari sebelumnya Batuganal meminta ijin kepadaku untuk sebuah urusan di Kotaraja Kawali. Dia kembali sehari setelah peristiwa perampokan itu. Aku ingat sekali karena Batuganal telah membawakan untukku sebuah ikat pinggang kulit berkepala ukiran perak naga. Katanya ini hadiah untukku”, berkata Putut Sumitra dengan lancar sekali menyampaikan semua yang diingatnya itu.

“Kebetulan yang sama”, berkata Prabu Guru Darmasiksa sambil mengusap-usap janggutnya yang panjang dan sudah memutih itu. Seperti tengah berpikir keras. ”Batuganal pasti orangnya yang telah datang ke Kotaraja Kawali melaporkan bahwa Mahesa Muksa berada di Padepokan ini”, berkata kembali Prabu Guru Darmasiksa.

“Aku tidak menyangka bahwa Batuganal telah memata-matai kita selama ini”, berkata Putut Sumitra sambil menarik nafas panjang seperti tengah menyesali bahwa kawan dan saudara seperguruannya itu ternyata adalah seorang pengkhianat.

“Semoga saja dia tidak banyak tahu tentang sebuah rencana di hutan perburuan”, berkata Prabu Guru Darmasiksa.

“Rencana di hutan perburuan?”, bertanya Putut Sumitra penuh ketidak mengertian.

“Aku memang belum bercerita apapun kepadamu, juga kepada semua cantrik di Padepokan ini”, berkata Prabu Guru Darmasiksa penuh senyum memaklumi ketidak mengertian Putut Sumitra tentang sebuah rencana di hutan perburuan.

Terlihat Prabu Guru Darmasiksa mencoba memberikan sebuah gambaran mengenai sebuah rencana licik dari Patih Anggajaya kepada Putut Sumitra. Dengan penuh seksama dan perhatian Putut Sumitra menyimak apa yang disampaikan oleh Gurunya itu.

“Celakalah diri kita seandainya rahasia ini diketahui oleh Batuganal”, berkata Putut Sumitra setelah mendapatkan penjelasan dari Prabu Guru Darmasiksa. “Malam ini kita harus menunggu hingga Batuganal kembali. Orang itu harus dikurung tidak boleh lagi keluar dari Padepokan ini”, berkata Prabu Guru Darmasiksa memberikan sebuah tindakan yang harus dilakukan terhadap Batuganal.

“Apakah malam ini Batuganal akan kembali ke Padepokan ini?”, bertanya Putu Risang kepada Putut Sumitra.

“Janjinya, malam ini dia sudah akan kembali”, berkata Putut Sumitra penuh keyakinan.

Demikianlah, Prabu Guru Darmasiksa ditemani Putut Sumitra, Putu Risang, Pangeran Jayanagara hingga jauh malam masih tetap di pendapa menunggu kedatangan Batuganal. Hanya Jayakatwang yang sudah tidak terlihat lagi di pendapa Padepokan itu, karena telah berpamit lebih dulu untuk beristirahat di biliknya.

“Siapa?”, bertanya seorang cantrik di panggungan ketika melihat seseorang berdiri di regol pintu gerbang padepokan yang tertutup di malam hari itu.

“Aku, Batuganal”, berkata orang itu sambil mendongak keatas kearah seorang cantrik yang berada di panggungan.

Terlihat cantrik yang bertugas ronda malam itu langsung turun dari panggungan dan langsung membuka pintu gerbang Padepokan.

“Tidak seperti biasanya pintu gerbang ini ditutup”, berkata orang itu sambil masuk dengan suara menggerutu seperti kurang senang dengan ditutupnya gerbang itu.

“Putut Sumitra yang memerintahkan kepadaku untuk menutup pintu gerbang ini”, berkata cantrik itu sambil segera menutup kembali pintu gerbang.

“Kamu meronda sendiri?”, bertanya orang itu yang melihat cantrik itu hanya seorang diri.

“Baru saja kawanku dipanggil menghadap tuan Prabu di pendapa”, berkata cantrik itu sambil menunjuk kearah pendapa Padepokan.

Terlihat orang itu memicingkan matanya kearah pendapa dimana cahaya lampu pelita diatas pendapa itu masih cukup terang untuk dapat melihat masih ada beberapa orang diatas pendapa itu.

Dan orang itu masih dapat melihat di keremangan malam diatas halaman seseorang telah berjalan ke arahnya.

“Batuganal, kamu diminta untuk naik keatas pendapa”, berkata seseorang ketika telah dekat dengan orang itu yang dipanggilnya bernama Batuganal.

“Aku akan segera naik keatas pendapa”, berkata Batuganal tanpa prasangka apapun sambil langsung melangkahkan kakinya kearah pendapa Padepokan.

Terlihat Batuganal tengah menaiki anak tangga pendapa Padepokan.

“Mendekat dan duduklah disini Batuganal”, berkata Prabu Guru Darmasiksa menunjuk sebuah tempat disamping Putut Sumitra kepada Batuganal yang baru datang itu.

“Cantrik baru datang dari Kotaraja Kawali”, berkata Batuganal ketika sudah duduk disamping Putut Sumitra.

“Mungkin kamu sangat lelah setelah perjalanan ini, kami tidak bermaksud lama memaksamu di atas pendapa ini”, berkata Prabu Guru Darmasiksa penuh senyum ramah memandang kearah Batuganal.

Melihat pandangan mata Prabu Guru Darmasiksa telah membuat Batuganal seperti menjadi salah tingkah, sinar dan cahaya mata Prabu Guru Darmasiksa dalam pikiran Batuganal seperti telah menelanjangi dirinya.

“Adakah cantrik telah berbuat sebuah kesalahan?”, bertanya Batuganal dalam kegelisahannya kepada Prabu Guru Darmasiksa.

“Aku belum bertanya dan berkata apapun, namun kamu sudah bertanya tentang sebuah kesalahan yang kamu perbuat”, berkata Prabu Guru Darmasiksa masih memandang kearah Batuganal.

Sekilas Batuganal membentur pandangan mata itu, telah membuat dirinya semakin gelisah, semakin seperti bertelanjang dihadapan Prabu Guru Darmasiksa. Dan Batuganal tidak berani lagi mengangkat kepalanya seperti takut akan beradu pandang kembali dengan Prabu Guru Darmasiksa. Terlihat Batuganal duduk dengan kepala menunduk.

“Hampir setiap hari aku menemui kalian para penghuni Padepokan ini, memberikan penyadaran perikehidupan, membuka mata hati kalian bahwa hidup setelah kehidupan ini jauh lebih berharga dari sepiring dunia yang fana ini. Namun nampaknya mata hatimu telah berpaling jauh dari apa yang telah kuajarkan selama ini, dan kamu telah dibeli oleh dunia menjadi kaki tangan seorang Patih Anggajaya”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Batuganal yang masih saja menundukan kepalanya tidak berani sama sekali mengangkat kepalanya.

“Ampuni aku Tuan Prabu, aku telah berbuat dosa”, berkata Batuganal sambil bersimbah sujud dihadapan Prabu Guru Darmasiksa.

“Gusti Yang Maha Agung, Maha Pemberi tobat kepada setiap hambanya yang mau mengakui dosanya. Namun untuk sementara ini aku tidak akan mengijinkan dirimu keluar dari Padepokan ini”, berkata Prabu Guru Darmasiksa. “Sekarang beristirahatlah”, berkata kembali Prabu Guru Darmasiksa.

“Aku pamit diri, hukuman apapun atas diriku pasti akan kujalani”, berkata Batuganal sambil perlahan berdiri dan mundur beberapa langkah mendekati anak tangga pendapa.

“Perintahkan beberapa cantrik untuk mengawasinya, jangan sampai keluar dari Padepokan ini”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Putut Sumitra ketika Batuganal sudah tidak terlihat lagi.

“Aku akan memerintahkan beberapa cantrik untuk mengawasinya”, berkata Putut Sumitra sambil pamit diri.

“Hari sudah jauh malam”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Putu Risang dan Pangeran Jayanagara sambil mempersilahkannya untuk beristirahat.

Demikianlah, pendapa Padepokan itu akhirnya menjadi sepi dan lengang, hanya ada satu pelita malam yang terlihat hampir redup cahayanya tertiup angin dingin dimalam itu.

Sementara itu di Kotaraja Kawali terlihat sebuah pasukan tengah memasuki batas gerbang kota dari arah selatan. Mereka adalah sepasukan prajurit berkuda yang datang membawa Gajahmada sebagai tawanan mereka

“Besok aku akan melapor kepada Patih Anggajaya, sekarang bawalah tawanan kita ke bangsal tahanan”, berkata Lurah Janget kepada salah seorang anak buahnya ketika mereka telah memasuki pintu gerbang istana.

“Ikutilah kami”, berkata seorang prajurit kepada Gajahmada yang nampak terikat kedua tangannya itu.

Maka terlihat Gajahmada mengikuti langkah kaki seorang prajurit didepannya, sementara tiga orang prajurit telah berjalan dibelakangnya.

Tidak lama berselang mereka telah berada di sebuah bangsal tahanan, sebuah bangunan yang sama sekali tidak berjendela. Hanya ada satu pintu masuk terbuat dari bahan kayu yang sangat tebal dan kokoh.

“Baru kali ini aku melihat seorang tawanan begitu tenang seperti tidak takut akan menerima sebuah hukuman atasnya yang akan diputuskan besok”, berkata seorang prajurit berbisik kepada kawannya ketika Gajahmada telah masuk kedalam bangsal tahanan itu.

“Aku jadi kurang yakin apa benar anak muda itu telah membawa kabur seorang gadis”, berkata kawan prajurit itu masih di pintu bangsal tahanan.

“Bersalah atau tidaknya bukan tugas kita, yang pasti kita sudah menjalankan tugas membawanya kemari”, berkata salah seorang dari keempat prajurit itu.

“Tapi gara-gara anak muda ini, kita berempat harus menunggu sampai pagi ditempat ini”, berkata seorang lagi sambil bergumam menggerutu.

Sementara itu di dalam bangsal tahanan, Gajahmada terlihat tersenyum sendiri. Keempat prajurit itu tidak tahu bahwa Gajahmada di dalam dapat mendengar semua pembicaraan mereka.

Ruang di bangsal itu memang sangat gelap, namun akhirnya Gajahmada dapat membiasakan diri melihat didalam kegelapan. Tidak ada barang apapun di dalam bangsal tahanan itu, hanya ada satu bale kayu sangat kecil sekali, hanya cukup untuk berbaring seluas badan.

Disitulah Gajahmada duduk di dalam bangsal yang gelap itu.

Didalam bangsal itu Gajahmada tidak dapat mengetahui waktu, siang dan malam tidak ada banyak perbedaan karena tertutup rapat.

Dan ketika sebuah cahaya terlihat dari dalam, tahulah Gajahmada bahwa cahaya itu berasal dari lubang kotak persegi menjadi satu dari bagian pintu bangsal itu.

“Makan dan kenakanlah pakaian ini”, berkata seorang prajurit penjaga dari luar lubang itu sambil menyodorkan kedalam sebuah baki kayu berisi semangkuk makanan dan setumpuk kain.

Terlihat Gajahmada melangkah mengambil tumpukan pakaian diatas baki kayu. Ternyata dua potong kain putih, sebuah pakaian khusus yang harus dikenakan oleh seorang tahanan.

Sambil tersenyum Gajahmada mengenakan pakaian tahanan itu, melilitkan satu potongan kain  untuk menutupi bagian pusar kebawah. Sementara potongan kain lagi dililitkan diantara leher dan bagian dadanya. Sebuah pakaian tahanan yang sangat mirip selayaknya biasa dipakai oleh seorang pendeta di Biara.

Ketika Gajahmada telah selesai mengenakan pakaian tahanan itu, pendengarannya yang sangat tajam telah menangkap sebuah pembicaraan diluar bangsal.

“Apakah tuan Pangeran ada kepentingan dengan tahanan ini?”, bertanya seorang prajurit penjaga kepada seorang pemuda yang datang mendekati Bangsal tahanan.

“Buka pintunya, aku ingin masuk menjumpainya”, berkata anak muda diluar bangsal tahanan.

“Hati-hati dengan tahanan ini”, berkata suara prajurit mengingatkan kepada anak muda yang baru datang itu.

Dan Gajahmada telah mendengar suara derit pintu bangsal bergeser terbuka.

Sebuah cahaya terlihat masuk lewat pintu bangsal tahanan yang terbuka. Dan Gajahmada melihat seseorang berdiri di gawang pintu yang telah terbuka.

“Apakah kamu baik-baik saja, Mahesa Muksa?”, bertanya orang itu sambil telah melangkah masuk yang ternyata adalah Pangeran Citraganda.

“Seperti yang kamu saksikan, aku tidak kurang apapun, sudah punya baju baru pakaian khusus seorang tahanan”, berkata Gajahmada sambil bertolak pinggang memperlihatkan pakaian baru yang dikenakannya itu.

“Seperti seorang pendeta di sebuah biara”, berkata Pangeran Citraganda memberikan penilaian atas pakaian yang dikenakan Gajahmada.

Setelah mempersilahkan Pangeran Citraganda duduk di bale bersama, Gajahmada menceritakan sebuah kejadian yang dialaminya bersama Andini di tempat kediaman Patih Anggajaya.

“Aku datang di istana ini sebagai seorang tawanan atas keinginanku sendiri. Dan Prabu Guru Darmasiksa telah menyetujui dimana aku dapat menjaga keluarga istana bila terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan”, berkata pula Gajahmada mengenai latar belakang mengapa dirinya dengan begitu mudah menyerahkan diri.

“Sebuah cara yang bagus untuk masuk ke dalam

istana”, berkata Pangeran Citraganda sambil tersenyum. ”Dan aku tidak sendiri di istana ini dengan adanya kamu, Mahesa Muksa”, berkata kembali Pangeran Citraganda.

“Semoga tidak ada perintah dari seorang Pangeran untuk mencambuk seorang tahanan”, berkata  Gajahmada yang ditanggapi gelak tawa oleh Pangeran Citraganda.

Mendengar suara tawa dari dalam bangsal telah membuat kedua orang prajurit penjaga mengerutkan keningnya. Mereka tidak habis pikir bahwa seorang tahanan dan Pangeran Citraganda begitu asyik berbincang didalam seperti layaknya tidak di dalam sebuah bangsal tahanan.

“Tiap saat aku akan datang mengunjungimu”, berkata Pangeran Citraganda sambil berdiri dan berjalan melangkah keluar.

Dan ketika Pangeran Citraganda telah melewati pintu bangsal tahanan, kembali suasana bangsal tahanan itu menjadi gelap gulita karena pintu bangsal telah ditutup kembali.

Sementara itu, matahari di istana Kawali sudah semakin tinggi, hari sudah tidak bisa disebut pagi lagi karena sudah begitu terang mendekati saat siang.

Berita tentang adanya penghuni baru didalam bangsal tahanan istana sudah tersebar cukup luas, jauh hingga keluar dinding istana. Berita itu juga telah didengar oleh Dyah Rara Wulan di pasanggrahan Keputriannya.

Terlihat sang putri itu begitu gelisah, hati dan pikirannya telah begitu mencemaskan keadaan Gajahmada di bangsal tahanan. Ingin dirinya untuk datang mengunjungi pemuda idaman hatinya itu, namun masih jelas teringat perkataan ibunda permaisuri Ratu Dara Puspa yang telah melarang dirinya mengunjungi Gajahmada.

“Jangan kamu rendahkan martabat keluarga istana ini, apa kata orang bila mengetahui seorang putri istana Kawali telah jatuh hati dengan seorang penjahat wanita”, berkata permaisuri Ratu Dara Puspa kepada Dyah Rara Wulan yang telah mencegahnya untuk bertemu dengan Gajahmada.

“Aku ingin bertanya langsung dengan Kakang Mahesa Muksa, apakah benar perkataan orang tentang dirinya?”, berkata Dyah Rara Wulan dalam hati penuh kegelisahan.

“Kasihan anak gadis itu”, berkata Bibi pengasuhnya dalam hati merasa kasihan melihat putri junjungannya yang terlihat sangat gelisah, gusar gundah gulana duduk melamun di pinggir kolam taman pasanggrahan Keputrian.

Namun, wanita tua pengasuh sang putri itu tidak berkata apapun, dapat mengerti hati gadis asuhannya itu dan sudah sangat paham sekali bahwa disaat seperti itu jangan sekali-kali mencoba mendekatinya, bisa-bisa akan berbalik terkena imbas kegusarannya.

Namun hati dan perasaan wanita tua itu tiba-tiba menjadi begitu cerah ketika dilihatnya seorang anak muda datang mendekati sang putri.

“Aku baru saja datang dari bangsal tahanan”, berkata pemuda itu yang tidak lain adalah Pangeran Citraganda. Pangeran Citraganda langsung bercerita tentang keadaan Gajahmada, asal muasal kejadian sebenarnya mengapa harus membawa pergi Andini.

“Jadi Kakang Mahesa Muksa tidak seperti apa yang dipersangkakan orang kepadanya?”, bertanya Dyah Rara Wulan setelah mendengar semua penjelasan Pangeran Citraganda.

“Mahesa Muksa sengaja menyerahkan dirinya agar dapat melindungimu?”, berkata Pangeran Citraganda dengan wajah menggoda.

“Mengapa Kakang Citraganda tidak segera ke Padepokan Kakek Prabu untuk melihat keadaan Andini?”, bertanya Dyah Rara Wulan berbalik menggoda Pangeran Citraganda.

“Apa maksud perkataanmu?”, berkata Pangeran Citraganda mencoba mengelak godaan dari adiknya itu.

“Kakang tidak usah menghindar dariku, aku sudah dapat menebak sikap dan perasaan Kakang terhadap Andini”, berkata Dyah Rara Wulan seperti berada diatas angin telah berbalik menggoda kakaknya itu.

“Jujur kukatakan bahwa gadis itu memang begitu cantik jelita”, berkata Pangeran Citraganda sambil mencabut sebatang rumput dan melemparnya jauh ditengah kolam.

“Nampaknya Pangeran tampanku memang telah jatuh cinta”, berkata Dyah Rara Wulan dengan senyum penuh menggoda.

“Bila seorang mengagumi, apa sudah dapat dikatakan jatuh hati?”, bertanya Pangeran Citraganda menghadapkan wajahnya dekat dengan wajah Dyah Rara Wulan. “Cinta datang berawal dari rasa kagum, dan pangeranku sudah terjerat masuk lebih dalam lagi”, berkata Dyah Rara Wulan.

“Tapi Andini kulihat lebih memilih Mahesa Muksa”, berkata Pangeran Citraganda sambil memalingkan wajahnya dari hadapan Dyah Rara Wulan, pandangannya terlihat jatuh menatap seekor ikan kecil yang berlari bersembunyi di balik sebuah tanaman air.

“Kakang belum berjalan menuju peperangan cinta, kakang belum menghunus pedang merebut hatinya. Kejarlah Andini sampai dapat, sementara aku akan menjerat pujaan hatiku sendiri, Kakang Mahesa Muksa”, berkata Dyah Rara Wulan dengan suara berbisik seperti takut terdengar oleh siapapun.

“Aku tidak akan berjalan ke peperangan apapun demi sebuah cinta. Bagiku cinta bukan sebuah tahta yang harus diperebutkan oleh siapapun”, berkata Pangeran Citraganda sambil kembali mencabut sebatang rumput dan kembali melemparnya jauh ke tengah kolam.

Sementara itu di bangsal tahanan yang gelap, terlihat Gajahmada tengah berlatih olah laku rahasianya. Di bangsal tahanan yang gelap itu membuat Gajahmada mendapat sebuah tempat berlatih yang baik, lebih dapat menekuni olah lakunya menjadi lebih dapat mengenali setiap gerak nafasnya, setiap gerak jalan syaraf aliran darahnya. Dan dengan penuh ketelitian dapat mengalirkan sebuah pusaran kekuatan jati dirinya kemanapun yang dikehendakinya.

Demikianlah, Gajahmada terus menekuni olah lakunya didalam bangsal tahanan yang gelap pekat itu, semakin berlatih semakin bertambah kesegaran didalam tubuhnya yang sudah terpupuk hawa murni yang terus kian bertambah menjadi sumber kekuatan dari diri sejati.

Dan Gajahmada tidak menyadari bahwa diluar bangsa tahanan istana itu hari sudah menjadi malam. Wajah bulan sudah hampir mendekati bulat sempurna.

“Besok Baginda Raja Ragasuci akan pergi berburu. Dan kita hanya duduk menunggu Adipati Suradilaga sebagai kuda hitam kita membunuh Sang Raja di Hutan Sindur”, berkata Patih Anggajaya kepada tiga orang kepercayaannya di rumah kediamannya sendiri.

“Saat ini Adipati Suradilaga dan pasukannya mungkin sudah tidak sabar lagi menunggu kedatangan Raja Ragasuci di Hutan Sindur”, berkata salah seorang kepercayaan Patih Anggajaya.

“Seperti Adipati Suradilaga, aku juga jadi tidak sabar untuk secepatnya duduk diatas kursi singgasana istana”, berkata Patih Anggajaya sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Tercium aroma yang menyengat dari mulut Patih Anggajaya. Nampaknya sang Patih yang licik itu sudah terlalu banyak minum arak ditemani oleh tiga orang kepercayaannya itu.

Sementara itu sebagaimana yang dikatakan oleh orang kepercayaan Patih Anggajaya, di hutan Sindur Pasukan Adipati Suradilaga memang sudah berada dua hari dua malam di hutan itu. Tapi di luar pengetahuan orang-orang Patih Anggajaya, para cantrik dari Padepokan Prabu Guru Darmasiksa juga telah berada di hutan Sindur bersembunyi ditempat-tempat yang telah ditentukan guna dapat dengan mudah menyergap kedatangan pasukan patih Anggajaya.

“Apakah Adipati Suradilaga dapat dipercaya?”, berkata Jayakatwang kepada Prabu Guru Darmasiksa di tempat persembunyiannya.

“Aku mengenalnya sebagai seorang prajurit yang sangat setia”, berkata Prabu Guru Darmasiksa penuh keyakinan.

“Semoga semua sesuai dengan apa yang telah kita rencanakan”, berkata Pangeran Jayanagara

“Kita serahkan semua kepada ketentuan pemilik segala ketentuan dan ketetapan ini, Gusti Yang Maha Agung, banyak hal yang bisa saja terjadi diluar kehendak kita”, berkata Prabu Guru Darmasiksa.

Sementara itu di saat yang sama, terlihat suasana penuh kegembiraan di rumah kediaman Patih Anggajaya.

“Raja tua Prabu Guru Darmasiksa kalah satu langkah dengan kita, mereka tidak pernah menghitung kekuatan pasukan dari Kotaraja Rakata”, berkata Patih Anggajaya dengan penuh kegembiraan hati.

Namun Patih Anggajaya dan ketiga orang kepercayaannya itu sama sekali tidak mengetahui bahwa semua pembicaraan mereka telah didengar oleh seseorang di balik pintu pringgitan.

Di balik pintu pringgitan terlihat seorang wanita tengah mendengarkan pembicaraan mereka yang tidak lain adalah Nyi Dewi Kaswari.

“Celakalah keluarga istana bila saja semua rencana suamiku benar-benar menjadi sebuah kenyataan” berkata Nyi Dewi Kaswari merasa terkejut mendengar semua rencana suaminya itu, Patih Anggajaya.

“Sayangnya aku tidak tahu kepada siapa berita ini harus aku sampaikan” berkata Nyi Dewi Kaswari merasa ragu dan bimbang tidak tahu kepada siapa berita itu akan disampaikan. ”Aku juga tidak tahu apakah perbuatanku ini adalah sebuah pengkhianatan kepada seorang suami?” berkata kembali Nyi Dewi Kaswari dalam hati menjadi bertambah ragu.

Ketika hari sudah menjadi begitu larut malam, Nyi Dewi Kaswari sudah tidak tahan lagi menahan rasa kantuknya.

Namun kebimbangan hatinya masih saja terbawa di peraduannya, keraguan antara rasa kasihan melihat kehancuran keluarga istana dan kesetiaan bakti seorang istri atas suaminya.

Akhirnya wanita yang masih berparas cantik jelita di usia yang sudah mendekati setengah baya itu terlihat sudah terlelap tidur tidak kuat menahan rasa kantuknya bersama suasana di luar yang menjadi semakin dingin akibat telah turun hujan begitu lebat mengguyur hampir merata bumi Kotaraja Kawali.

0 Response to "Kisah Dua Naga Di Pasundan Jilid 09"

Post a Comment