coba

Jurus Tanpa Nama Jilid 13 : Hati yang Damai, Dada yang Berdebar (Tamat)

Mode Malam
Hati yang Damai, Dada yang Berdebar

SIANG yang suram. Matahari kadang muncul, tapi lebih sering bersembunyi di balik gerumbul awan kelabu, seakan-akan enggan menumpahkan cahayanya yang tegak lurus ke sebidang luas tanah lapang tidak berapa jauh di sebelah utara batas Kotaraja.

Hari itu, udara Banten dicabik-cabik oleh pertempuran antara laskar kesultanan dan pasukan pendatang dari Jepara. Sebuah perang antarsaudara yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Seperti yang kerap terjadi dalam sejarah, pertempuran itu pun pecah hanya karena dilandasi sifat rakus manusia. Rakus akan harta. Atau, kekuasaan.

Jaka Wulung berdiri memandang pertempuran itu dari sebuah bukit kecil dengan wajah yang muram.

“Kenapa kau menolak ikut ajakan Braja Wikalpa?”

Jaka Wulung menoleh memandang Ciang Hui Ling yang duduk di sebongkah batu seraya menyandarkan tubuhnya di sebatang pohon rindang.

Siang yang terang makin menegaskan wajah Ciang Hui Ling yang jelita. Sekali lagi, Jaka Wulung terpesona memandangnya.

“Aku benci peperangan.”

Malam itu, seusai pertempuran Jaka Wulung melawan Si Rajawali Jantan, setelah ketegangan mereda, Braja Wikalpa memberikan penjelasan agak panjang mengenai alasan mengapa dia dan dua kakak seperguruannya, Braja Musti dan Braja Denta, mengundang para pendekar datang ke Rajatapura di Salakanagara.

“Aku mewakili bertiga akan menjelaskan bahwa kami ini bagian dari

Laskar Kesultanan Banten. Kami mendapat tugas langsung dari Sultan Maulana Muhammad, yang sekarang memimpin Kesultanan Banten, untuk meminta bantuan para pendekar di wilayah Kesultanan Banten dan sekitarnya,” Braja Wikalpa berhenti sejenak untuk memberikan jeda supaya kata-katanya bisa dipahami. “Kesultanan Banten sedang menghadapi ancaman.”

Tak ada yang menanggapi kata-katanya meskipun wajah-wajah para pendekar itu jelas diliputi pertanyaan. Para pendekar itu tampaknya menunggu penjelasan lebih lanjut dari Braja Wikalpa.

“Latar belakangnya begini,” Braja Wikalpa menarik napas sejenak. “Penguasa Banten sekarang, Sultan Maulana Muhammad, adalah anak sultan terdahulu, yaitu Maulana Yusuf. Sultan Maulana Yusuf sendiri punya seorang adik yang sekarang menjadi pangeran di Jepara karena kawin dengan putri Ratu Kali Nyamat, dan kemudian bergelar Pangeran Arya Jepara. Maulana Yusuf dan Pangeran Arya Jepara itu sama-sama anak pendiri Kesultanan Banten, yakni Maulana Hasanuddin, yang tidak lain putra tokoh besar Sunan Gunung Jati. Maulana Yusuf mangkat beberapa waktu lalu dan Pangeran Arya Jepara, sebagai adiknya, merasa berhak untuk menggantikannya. Entah apa pertimbangannya. Yang kudengar, Pangeran Arya Jepara menganggap Maulana Muhammad masih terlalu muda. Entahlah. Mungkin juga semua itu bagian dari lika-liku kehidupan para penguasa, yang tidak pernah lepas dari nafsu untuk saling menjatuhkan.”

Wajah Braja Wikalpa tampak muram. “Nah, kami, maksudku Laskar Kesultanan, diharap bersiap-siap karena telik sandi kami memperoleh bukti bahwa tak lama lagi pasukan Jepara di bawah pimpinan Pangeran Arya Jepara sendiri akan menyerbu untuk merebut takhta dari tangan keponakannya sendiri. Di sana, kabarnya sudah dilakukan berbagai persiapan. Kapal-kapal sudah siap buang sauh untuk membawa pasukan ke sini.”

“Di antara pasukan Jepara,” kata Braja Wikalpa kemudian, “kabarnya terdapat banyak tokoh silat yang terkenal karena kesaktiannya. Kabarnya, mereka lebih suka berangkat dengan jalan darat. Kita tahu, para pendekar memang lebih suka bertualang sendiri. Tapi, itulah yang menjadi bahan pemikiran kami. Meskipun kadang susah diatur, keberadaan para tokoh silat yang sakti itu tentu akan menjadi kekuatan penting bagi mereka.”

Belum terdengar tanggapan dari para pendekar.

“Kami tentu saja tidak mau menjadi pecundang karena kami yakin bahwa kami berada di jalan yang benar. Kemudian, disepakati bahwa kami juga harus meminta bantuan dari para tokoh silat di seputar Kesultanan Banten, syukur-syukur bisa pula mengajak para pendekar di Tatar Sunda. Kami kemudian meneliti siapa saja nama yang pantas diminta bantuannya.”

Lagi-lagi, Braja Wikalpa memberikan jeda waktu sebelum meneruskan kata-katanya.

Sambil bersandar di bawah pohon, Jaka Wulung memandang Braja Wikalpa. Inilah rupanya jawaban atas kepergian Braja Wikalpa berkeliling untuk mengajak Si Jari-Jari Pencabik, Sepasang Rajawali dari Pelabuhan Ratu, Ki Antaga, dan lain-lain. Pertanyaannya, mengapa para tokoh sesat itu diajaknya juga?

“Nah,” kata Braja Wikalpa. “Kami dengan merendah bermaksud mengajak dulur-dulur semua untuk bergabung dengan kami Laskar Kesultanan Banten, untuk berjuang melawan Laskar Jepara. Tentu saja kami tidak bisa memaksa. Siapa yang menolak, kami persilakan dengan besar hati. Tapi, siapa yang bersedia, mari sekarang juga ikut dengan kami ke Kotaraja.”

Mulai terdengar bisik-bisik di antara para pendekar. Mula-mula pelan, makin lama makin keras.

Jaka Wulung merenung. Selama ini tidak pernah dia membayangkan dirinya menjadi bagian dari sebuah pasukan kerajaan. Dia adalah manusia yang senang bepergian ke mana pun sesuai dengan keinginannya sendiri. Dia adalah manusia bebas. Menjadi anggota pasukan kerajaan tentu saja akan membuat kebebasannya menjadi terbatas.

Sesuai dengan gejolak jiwanya, dia ingin terus menikmati kebebasannya bertualang ke mana saja, seperti yang pernah dilakukan Eyang Guru Bujangga Manik, mengasah ilmunya, baik dalam kanuragan maupun dalam sastra, di berbagai pelosok Jawa Dwipa.

Memang sempat juga tebersit keinginan untuk mencoba mengalami dan merasakan kehidupan sebagai laskar kerajaan.

Hanya saja, Jaka Wulung, entah mengapa, masih merasa bukan bagian dari

Kesultanan Banten. Jauh di lubuk hatinya, dia masih menyimpan semangat Kerajaan Sunda warisan dari Prabu Siliwangi, kerajaan yang sekarang sudah musnah karena justru dibumihanguskan oleh Banten!

Mungkin karena dia banyak mendengar cerita, baik dari Resi Darmakusumah maupun Resi Bujangga Manik, dua gurunya, yang tidak lain adalah orang-orang yang memang memiliki darah Pajajaran, tentang masa kejayaan Pajajaran.

Lagi pula, ini yang juga penting, dia merasa perang dengan Jepara itu bukanlah perangnya.

Akan tetapi, yang pasti, Jaka Wulung merasa bahwa dia masih mempunyai tujuan lain yang lebih utama: menelusuri siapa sebenarnya dia, siapa orangtuanya, dan siapa leluhurnya.

*****

JAKA Wulung memandang Laut Jawa yang seperti kaca. Bersama Ciang Hui Ling, dia menunggu kedatangan kapal yang akan membawa mereka menuju Pelabuhan Kalapa. Dari sana, dia akan mengantar pendekar jelita itu pulang menyusuri Sungai Ci Liwung.

Jaka Wulung menoleh memandang Ciang Hui Ling. Tangannya menggamit tangan gadis itu. Lembut dan hangat. Diterpa angin laut, rambut Ciang Hui Ling melambai dengan damai.

Hati Jaka Wulung merasa damai.

Dia juga berharap Kesultanan Banten kembali damai setelah pasukannya berhasil memukul mundur Laskar Jepara.

Jaka Wulung tersenyum.

Ciang Hui Ling balas tersenyum.

Dada keduanya sama-sama berdebar-debar. []

TAMAT

0 Response to "Jurus Tanpa Nama Jilid 13 : Hati yang Damai, Dada yang Berdebar (Tamat)"

Post a Comment