Jurus Tanpa Nama Jilid 07 : Ki Antaga

Mode Malam
Ki Antaga

DENGAN berpatokan pada bulan yang makin kecil dan rasi Gubuk Penceng di belahan langit selatan, Jaka Wulung bisa menentukan arah yang hendak dia tuju. Dari Pelabuhan Ratu, berdasarkan pengetahuan yang didapat dari penduduk sepanjang perjalanan, dia harus mengarah ke utara, sedikit menyerong ke barat.

Akan tetapi, entah bagaimana, tanpa disadarinya, bukannya ke utara menyerong ke barat, Jaka Wulung malah bergerak ke utara menyerong sedikit ke timur.

Pagi hari, dia tiba di sebuah kampung bernama Kalapa Nunggal.

Tanah Sunda adalah tanah dengan pemandangan yang sangat indah di mana-mana. Sungai-sungai, besar dan kecil, mengalir memberikan sumber kehidupan yang seakan tiada habis. Hutan menghijau seperti permadani raksasa yang ditebarkan Yang Mahakuasa. Gunung-gunung menjulang dan bukit-bukit memanjang, memberikan rasa aman dan kesejahteraan atas suburnya tanah.

Jaka Wulung memandang Gunung Halimun yang men-jega di sebelah kirinya. Lembahnya dikelilingi kabut putih, sedangkan puncaknya dijatuhi sinar matahari, yang memulas warna birunya menjadi hijau kekuningan. Seperti sebongkah batu biru raksasa yang mengapung di awan.

Jaka Wulung terkejut.

Dia sekarang menghadap utara. Seharusnya Gunung Halimun berada di sebelah kanan, bukan kiri. Apakah dia salah jalan? Sungguh aneh. Rasanya dia sudah berpatokan dengan benar pada kedudukan bintang-bintang di langit, terutama rasi Gubuk Penceng yang sudah sejak lama digunakan sebagai patokan untuk menentukan arah selatan.

Apa yang terjadi? Baru kali ini dalam perjalanannya, Jaka Wulung salah

mengambil arah.

Akan tetapi, Jaka Wulung harus menunda lebih dulu mencari jawaban atas keanehan ini.

Kalapa Nunggal adalah kampung yang ramai. Tampaknya daerah ini merupakan tempat pertemuan dari penduduk kampung-kampung lain di sekitarnya. Orang-orang bertemu, melakukan jual-beli di sini. Para petani membawa hasil tani berupa padi, sayur-mayur, dan buah-buahan untuk dijual kepada masyarakat dan pembeli lain. Di pusat keramaian, di pasar, bahkan sudah terlihat orang menjual pakaian dan perkakas kebutuhan rumah tangga.

Sudah lama juga aku tersaruk-saruk di hutan atau daerah lain yang jauh dari keramaian.

Akan tetapi, tersembul juga kalimat yang lain: Sudah lama juga aku tidak makan enak.

Jadi, Jaka Wulung memutuskan untuk masuk ke sebuah kedai makan.

Kedai itu berdiri di sebuah persimpangan jalan, menghadap arah matahari terbit. Dindingnya hanya sebatas kira-kira perut orang dewasa, terbuat dari anyaman bambu dengan tiang kayu yang kelihatan kokoh. Atapnya terbuat dari jalinan rumbia. Jadi, pengunjung bisa bebas memandang ke berbagai arah, kecuali ke arah dapur, tentu saja.

Jaka Wulung memesan nasi dengan ikan bakar ditambah kecap dan sambal secukupnya. Itulah makanan kesukaannya.

“Barangkali mau minum lahang, Den?” kata si pemilik kedai, seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tahun, berkumis tebal tapi wajahnya ramah.

“Tak usah. Cukup air putih saja,” sahut Jaka Wulung.

Tiga meja lain dari tujuh meja di kedai itu sudah diisi oleh sekitar tujuh atau delapan orang. Ada dua orang yang membantu melayani. Salah satunya adalah gadis berusia sekitar lima belas tahun berwajah cukup manis. Dia bertambah manis karena senyumnya selalu menghiasi wajahnya.

Dari tempat duduknya yang dekat dengan pintu keluar, Jaka Wulung memutar pandangannya keluar. Orang-orang melakukan berbagai kegiatan mereka dengan wajah yang riang. Sungguh kampung yang damai dan menyenangkan.

Dada Jaka Wulung juga merasa damai ketika si gadis manis datang dengan membawa pesanannya, nasi dan ikan bakar, yang disajikan di atas piring kayu dengan alas daun pisang.

“Silakan, Den, mudah-mudahan menikmati sajian kami,” kata si gadis manis dengan senyumnya yang memang manis.

“Terima kasih, Nyi,” Jaka Wulung balas tersenyum.

Nasi dan ikan itu masih mengepulkan asap. Jaka Wulung memuji dalam hati. Lalu, dengan jari telanjang, sesuap demi sesuap nasi dan ikan, serta lalap dan sambal, masuk ke perutnya. Jaka Wulung makan dengan lambat- lambat, menikmati tiap kunyahan dan merasakan tiap kenikmatan yang diberikan makanan itu. Dia makan hingga permukaan alas daun pisang itu bersih tandas. Hanya menyisakan duri-duri ikan dan sisa-sisa lalapan.

Di dekat dapur, si gadis manis memandang Jaka Wulung sambil tersenyum, seakan-akan bertanya, “Bagaimana rasa makanan kami?” Jaka Wulung mengangguk seraya tersenyum juga, seolah-olah menjawab, “Luar biasa. Nikmat sekali.”

Akan tetapi, Jaka Wulung mengerutkan keningnya karena senyum di wajah gadis itu mendadak sirna. Matanya memandang ke arah pintu dan darah seakan-akan lenyap dari wajahnya. Suasana di kedai makan itu pun mendadak hening. Orang-orang makan dengan suara yang sangat pelan seraya menunduk seperti ingin menyembunyikan wajah mereka.

Si pemilik kedai pun mematung di dekat pintu belakang, memandang ke arah pintu depan dengan wajah yang juga pias.

Jaka Wulung memutar lehernya.

Di pintu masuk, berdiri seorang lelaki yang berpenampilan aneh. Tubuhnya pendek dibandingkan dengan kebanyakan orang, gempal dan bulat, perutnya mengembung seperti perempuan hamil, dan pantatnya menonjol. Yang lebih aneh adalah wajahnya. Matanya besar melotot,

hidungnya pesek melesak, dan mulutnya sangat lebar, seakan-akan melintang dari telinga kiri hingga ke telinga kanan. Tidak jelas apakah mulutnya itu sedang tersenyum atau menyeringai. Dia hanya mengenakan celana sebatas lutut dan sarung yang diikatkan di pinggang, sama sekali tidak memakai baju. Di pinggangnya terselip golok yang sangat lebar dan panjang, hampir menyentuh lantai.

Orang itu melangkah menghampiri si pemilik kedai dengan gaya seperti itik berjalan. Kalau saja semua orang lain tidak dalam keadaan ketakutan, Jaka Wulung pastilah tertawa terbahak-bahak. Orang itu tampak seperti pelawak yang menggelikan ketimbang seseorang yang menakutkan.

“Si ... silakan duduk, Ki Antaga,” kata si pemilik kedai.

“Hehehe, aku sudah makan. Aku datang untuk minta uangmu,” kata orang itu, yang dipanggil Ki Antaga. Suaranya sangat serak, tak ubahnya seperti suara papan kayu retak.

Jaka Wulung terkejut. Dia baru ingat, pernah mendengar seorang pendekar berpenampilan seperti tokoh wayang bernama Togog Tejamantri. Dan benar, dia menggunakan nama asli Togog, yaitu Antaga, sebagai namanya. Kabarnya, meskipun penampilannya menggelikan, Ki Antaga adalah tokoh sesat yang sangat kejam. Dia bisa mencincang orang sambil terkekeh- kekeh.

“Tapi, ... kami baru saja buka, belum banyak pelanggan yang datang.” “Hehehe ... kau pasti punya simpanan. Jadi, berikan itu kepadaku.” “Tapi, Tuan
“Hehehe cepatlah. Jangan banyak alasan. Aku perlu uang untuk pergi ke
Rajatapura.”

Jaka Wulung terkejut mendengar kata-kata Ki Antaga. Rajatapura? “Tapi,
Brakkk! Telapak tangan Ki Antaga menggebrak meja di depannya. Meja itu langsung retak dan nyaris terbelah menjadi dua! Padahal, meja itu terbuat dari kayu yang sangat keras. Dapat dibayangkan betapa besarnya

tenaga Ki Antaga!

“Cepat! Untung pagi ini, aku sedang tidak ingin membunuh. Kalau tidak
....”

Si pemilik kedai benar-benar sudah pucat pasi. “Ya, ... ya,

Si pemilik kedai merogohkan tangannya ke bawah meja, mengeluarkan sebuah kantong hitam, kantong uangnya, dan meletakkannya di mejanya yang retak.

Ki Antaga merebut kantong itu, mengintip isinya, kemudian berbalik pergi.

“Hehehe ... aku bisa bersenang-senang dalam perjalanan menuju Rajatapura.”

Diam-diam, sambil tetap menunduk seperti orang-orang lain, Jaka Wulung memungut sepotong duri ikan dari piringnya. Duri itu kecil saja. Panjangnya kira-kira separuh kelingking. Dia membawa duri itu dengan tangannya ke bawah meja.

Tepat ketika Ki Antaga melenggang di sebelah Jaka Wulung, pendekar belia ini menjentikkan jemarinya dan meluncurlah duri ikan itu, langsung menancap tepat di ibu jari kaki kiri Ki Antaga.

“Aaauuuwww!” pekik Ki Antaga sambil terloncat.

Ki Antaga mengangkat kaki kirinya sambil memutar-mutar tubuhnya, mirip gasing raksasa, matanya membeliak dan mulutnya makin lebar saja.

“Oh, ada apa, Ki Antaga?” tanya Jaka Wulung sambil tergopoh-gopoh menghampiri Ki Antaga, dan mencoba memapahnya.

Ki Antaga kemudian membungkuk, memeriksa ibu jari kakinya yang sakit tak terkira. Jaka Wulung membantu memeriksa dan mencabut duri ikan yang menancap di ibu jari kaki kiri Ki Antaga. Tampak darah menetes dari lukanya.

“Uh, duri kurang ajar!” ucap Jaka Wulung sambil memperlihatkan duri itu, kemudian membuangnya ke luar kedai. Duri itu tadi menancap hampir sedalam separuh panjangnya.

Ki Antaga berdiri dan mendongak memandang Jaka Wulung. Dia menyeringai sangat lebar. Katanya, “Terima kasih, Bocah.”

Jaka Wulung melepaskan napas lega, lalu membungkuk, “Sama-sama, Ki Antaga.”

Akan tetapi, tiba-tiba Ki Antaga berbalik memandang si pemilik kedai. Lalu, telunjungnya menuding, “Lain kali, kalau menyapu lantai yang bersih!” Kemudian, dia berbalik dan keluar dari kedai itu dengan langkah lebar, bahkan terkesan meloncat-loncat seperti katak, tapi setelah di luar dia segera melesat sangat cepat, dan dalam beberapa kejap sudah lenyap dari pandangan.

Kalau saja yang mengalami peristiwa itu bukan Ki Antaga, para pendatang di kedai itu pastilah sudah segera melepaskan tawanya.

Ternyata, orang sakti dan kejam sekalipun bisa kesakitan hanya gara-gara duri ikan!

Jaka Wulung sengaja mengupas pisang pelan-pelan di tempat duduknya. Dia menunggu kalau-kalau Ki Antaga akan muncul lagi. Setelah habis dua buah pisang, Jaka Wulung yakin Ki Antaga sudah pergi jauh. Beberapa orang datang untuk makan, dan tampaknya Ki Antaga tidak akan kembali.

Lagi pula, pikirnya, Ki Antaga ternyata sudah menyimpan beberapa kantong uang di pinggangnya.

Tadi, diam-diam Jaka Wulung hanya mengambil kembali kantong uang milik si tukang kedai dari Ki Antaga.
Jaka Wulung bangkit dari bangkunya melangkah pelan menuju bangku si tukang kedai. Wajahnya sudah tidak pucat seperti tadi, tapi tampak jelas kesedihan pada sorot matanya. Tentu saja, uang yang dia kumpulkan berhari-hari, berminggu-minggu, lenyap dalam sekejap.

Dia tidak pernah bermimpi akan mengalami nahas pada hari itu. Selama ini, Kalapa Nunggal adalah kampung yang damai. Kali terakhir, Ki Antaga muncul sudah berlalu lebih dari setahun yang lalu. Setiap kedatangannya memang selalu menimbulkan kengerian bagi penduduk. Tidak jelas tinggalnya di mana. Ada yang bilang di Gunung Halimun, ada yang bilang

di Gunung Kendeng, tapi ada juga yang bilang di Gunung Salak.

Jaka Wulung membayar makanan lebih dulu, kemudian merogoh ke balik bajunya, mengeluarkan sebuah kantong hitam.

Lelaki pemilik kedai itu memandang Jaka Wulung dengan kening berkerut.

“Apa ini?” tanya si pemilik kedai. “Uang Ki Dulur,” sahut Jaka Wulung. “Ba ... bagaimana
“Sudahlah. Tadi, aku kebetulan melihat kantong ini di pinggangnya, jadi aku ambil saja diam-diam. Syukurlah, dia tidak tahu. Coba lihat dulu, apa benar uangnya masih sama jumlahnya.”

Pemilik kedai itu hanya membuka sedikit kantongnya, kemudian mengangguk-angguk.

“Tapi, bagaimana kalau dia kembali lagi ke sini?” Jaka Wulung menggeleng. “Aku yakin tidak.”
Si pemilik kedai kemudian meraup segenggam keping-keping uang di kantongnya. Katanya sambil menyodorkan uang itu kepada Jaka Wulung, “Sebagai tanda terima kasih, saya hanya bisa memberi sejumlah ini ”

Jaka Wulung menggeleng. “Tidak usah, Ki Dulur. Jangan. Aku tidak berniat mendapat upah dengan cara begitu. Simpan saja. Simpanlah. Aku cuma ingin tahu, kalau mau ke Rajatapura aku harus lewat mana?”

Si pemilik kedai memandang Jaka Wulung lagi-lagi dengan kening berkerut. Lalu, menggeleng-gelengkan kepalanya. Siapa bocah aneh ini?

Lelaki itu kemudian menjelaskan jalan yang mesti ditempuh. “Sudah tiga orang dalam dua hari ini yang bilang hendak ke Rajatapura. Ada apa di sana?”

Jaka Wulung tidak langsung menjawab. Dia menggaruk kepalanya sejenak, lalu katanya, “Entahlah. Mungkin kebetulan saja.”

“Anehnya, ketiga orang itu semuanya pendekar sakti,” kata si pemilik kedai. “Sekarang, Ki Dulur juga mau ke sana. Dan kau, meskipun masih sangat muda, pasti pendekar sakti juga.”

Jaka Wulung tertawa dan berkata, “Ada-ada saja Ki Dulur ini. Aku hanya bocah gelandangan yang senang bertualang ke mana saja.” Jaka Wulung berhenti sebentar ketika muncul si gadis manis. “Hmmm, ... ya, sudah, Ki Dulur, aku permisi.”

“Tunggu,” kata si pemilik kedai, yang kemudian berbisik kepada gadis manis yang membantu di kedai itu.

Si gadis manis masuk ke belakang. Tak lama kemudian, muncul lagi dengan sebuah bungkusan daun di tangannya, yang lantas diserahkannya kepada Jaka Wulung. Samar-samar tercium bau harum nasi dan ikan bakar di dalamnya.

“Terimalah, Ki Dulur,” kata si pemilik kedai. “Sekadar bekal seadanya buat di perjalanan.”

Jaka Wulung memandang si pemilik kedai, kemudian memandang si gadis manis, sebelum menerimanya dengan sedikit ragu. “Terima kasih, terima kasih,” kata Jaka Wulung.

“Kamilah yang harus berterima kasih,” kata si gadis manis.

Jaka Wulung kembali tersenyum sebelum berpamitan kepada si pemilik kedai dan si gadis manis.

Gadis manis itu menatap Jaka Wulung dengan dada yang hangat. Dari matanya terpancar sebuah pertanyaan: mungkinkah dia kembali lagi ke sini?
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Jurus Tanpa Nama Jilid 07 : Ki Antaga"

Post a Comment

close