Jurus Tanpa Nama Jilid 05 : Pesona Putri Kandita

Mode Malam
Pesona Putri Kandita

LAUT membentang luas seakan tidak terbatas. Dari kejauhan, ombak berkejaran menuju pantai, lalu pecah ketika membentur deretan karang hitam. Matahari menggantung di langit barat, disaput awan sehingga cahayanya menjadi kemerahan, memantul di permukaan buih putih. Di kejauhan, pohon-pohon kelapa seperti pasukan yang siap bertempur melawan gelombang.

Jaka Wulung nyaris tidak berkedip menikmati pemandangan yang luar biasa itu. Dadanya hangat oleh rasa syukur kepada Sang Pencipta Alam Semesta.

Sunyi senyap alam sekitar.

Di sebuah tanah kering, beberapa puluh langkah dari bibir pantai, Jaka Wulung membuka bajunya, memperlihatkan tubuhnya yang ramping dengan kulit yang bersemu hitam seperti bambu wulung.

Ada yang mengentak-entak dalam dadanya semenjak pertempuran mautnya dengan Si Jari-Jari Pencabik, yang tidak bisa dia tahan-tahan lagi. Demikianlah, sambil memejamkan matanya, Jaka Wulung berusaha mengingat-ingat jurus-jurus yang pernah diperagakan Si Jari-Jari Pencabik. Jaka Wulung adalah pendekar belia yang memiliki kelebihan daya ingat luar biasa. Mungkin tidak semua jurus manusia iblis itu dia ingat, dan sebagian memang tidak hendak dia tiru, tetapi sebagian dia ingat dan akan dia terapkan dalam latihan kali ini.

Dia lakukan jurus-jurus yang sekiranya tidak berbenturan dengan segala ilmu yang telah dimilikinya. Dia serap jurus-jurus yang justru akan memperkuat ilmu miliknya. Inti ilmu Jari-Jari Naga Maut. Itulah yang coba diserap Jaka Wulung dari daya ingatnya yang luar biasa.

Jurus cakar harimau dari ilmu gulung maung-nya tentulah memiliki keterbatasan karena memang sifat harimau yang selalu ingin terus-menerus

menyerang. Dipadu dengan Jari-Jari Naga Maut milik Si Jari-Jari Pencabik, maka ilmu gulung maung Jaka Wulung menjadi makin kaya, tidak hanya jurus menyerang, tapi juga jurus bertahan, dan bahkan jurus perangkap.

Demikianlah, menjelang sore, di sebuah titik di Pantai Selatan, Jaka Wulung sedang mulai memadukan dua ilmu dahsyat menjadi satu ilmu yang dahsyatnya berlipat.

Jaka Wulung selangkah lagi lebih maju daripada hari sebelumnya.

*****

MATAHARI sudah tinggal sejengkal lagi tergelincir ke balik batas laut ketika Jaka Wulung menyelesaikan latihannya. Keringat membasahi tubuhnya yang telanjang. Angin sore menampar-nampar dan Jaka Wulung merasakan badannya menjadi kembali segar.

Jaka Wulung melangkah mendekati bibir laut. Dia membiarkan kaki telanjangnya melesak ke dalam pasir basah.

Sore yang sangat indah.

Di pantai inilah, suatu saat pada masa lalu, seorang putri Kerajaan Pajajaran menceburkan dirinya ke dalam ganasnya ombak laut selatan, demi mengakhiri penderitaan.

Putri itu bernama Putri Kandita, gadis jelita yang baru berusia enam belas tahun, putri Sri Baduga Maharaja alias Prabu Siliwangi dari sang permaisuri. Selain cantik, sang putri juga arif dan bijaksana sehingga Sri Baduga berniat mencalonkan Putri Kandita sebagai penggantinya kelak. Tapi, tentu saja rencana sang prabu tidak disukai oleh para selir dan putra- putrinya yang lain. Karena itu, mereka bersekongkol mengusir Putri Kandita dan ibunya dari istana.

Para selir dan putra-putrinya itu kemudian meminta bantuan seorang dukun sakti, yang menyihir Putri Kandita dan ibunya dengan penyakit kusta sehingga sekujur tubuh mereka yang semula mulus dan bersih menjadi penuh dengan luka borok dan mengeluarkan bau menjijikkan.

Prabu Siliwangi heran melihat penyakit borok itu tiba-tiba menyerang

putri dan permaisurinya secara bersamaan. Dia pun segera mengundang para tabib untuk mengobati penyakit tersebut. Tapi, tak seorang tabib pun yang mampu menyembuhkan penyakit Putri Kandita dan sang permaisuri. Sebaliknya, penyakit sang permaisuri semakin hari semakin parah dan menyebarkan bau busuk yang sangat menyengat. Tubuhnya pun semakin lemah karena tidak mau makan dan minum. Selang beberapa hari kemudian, sang permaisuri mengembuskan napas terakhirnya.

Kepergian sang permaisuri benar-benar meninggalkan luka yang sangat dalam bagi seluruh isi istana, khususnya Prabu Siliwangi. Sejak itu, dia selalu duduk termenung seorang diri. Satu-satunya harapan yang dapat mengobati kesedihannya adalah Putri Kandita. Tapi, harapan itu hanya tinggal harapan karena penyakit sang putri tak kunjung sembuh. Keadaan itu pun tidak disia-siakan oleh para selir dan putra-putrinya. Mereka bersepakat untuk menghasut Prabu Siliwangi agar segera mengusir Putri Kandita dari istana.

Jika sang putri dibiarkan terus tinggal di istana, kata mereka, dikhawatirkan penyakitnya akan membawa malapetaka bagi negeri ini.

Mulanya, Prabu Siliwangi merasa berat untuk menerima saran itu. Tapi, karena para selir terus mendesaknya, dengan berat hati sang prabu mengusir Putri Kandita dari istana. Dengan hati hancur, Putri Kandita pun meninggalkan istana melalui pintu belakang istana. Dia berjalan menuruti ke mana kakinya melangkah tanpa arah dan tujuan yang pasti.

Setelah berhari-hari berjalan, Putri Kandita tiba di Pantai Selatan. Putri Prabu Siliwangi yang malang itu bingung harus berjalan ke mana lagi. Di hadapannya terbentang samudra yang luas dan dalam. Tidak mungkin pula dia kembali ke istana.

Di sebuah batu karang, sang putri tertidur dan bermimpi bertemu dengan seseorang yang memberinya jalan keluar, yakni, jika ingin sembuh, sang putri harus mencebur ke lautan.

Ketika bangun, Putri Kandita tidak ragu lagi untuk menceburkan diri ke laut. Dan sungguh ajaib! Saat menyentuh air, seluruh tubuhnya yang dihinggapi penyakit kusta berangsur-angsur hilang hingga akhirnya kembali menjadi halus dan bersih seperti sediakala. Tidak hanya itu, sang putri menjadi sakti mandraguna.

Meskipun telah sembuh dari penyakitnya, Putri Kandita enggan untuk kembali ke istana. Dia lebih memilih untuk menetap dan menjadi penguasa di Pantai Selatan wilayah Pajajaran itu, dan dia terkenal dengan nama Nyimas Ratu Kidul.

Penduduk percaya bahwa Nyimas Ratu Kidul pada saat-saat tertentu menampakkan diri, terutama pada saat bulan purnama di bawah cuaca yang cerah.

Sayang sekali purnama sudah lewat, kata hati Jaka Wulung. Kalau saja dia lebih cepat datang ke sini, mungkin dia bisa bertemu dengan sang Putri yang menurut cerita tutur cantik jelita dan abadi dalam kemudaannya.

*****

MATAHARI sudah berendam di balik cakrawala. Tinggal menyisakan sinar merah yang makin pudar. Bebintang bermunculan seperti kerjap- kerjap orang yang baru saja bangun dari tidur. Ombak terus berdebur, menghantam-hantam bebatuan karang yang makin menghitam.

Tiba-tiba, Jaka Wulung menegakkan tubuhnya. Matanya memandang ke sebuah tonjolan batu karang yang menghitam, dengan latar belakang langit barat yang suram. Pada latar yang temaram itulah, mata Jaka Wulung menangkap sesuatu yang bergerak-gerak pelan, pada jarak sekitar dua puluh depa.

Bukan karang. Bukan tumbuhan. Bukan pula binatang. Itu adalah manusia!
Dan sesuatu yang bergerak-gerak itu pastilah rambutnya yang panjang tertiup angin laut.

Seorang perempuan!
Kapan perempuan itu muncul di sana? Dari mana datangnya? Meskipun tidak terlalu jauh dari pantai, karang itu dikelilingi air laut. Kalau perempuan itu datang dari pantai, tentu Jaka Wulung akan mengetahui
 
kedatangannya. Mungkinkah dia muncul dari laut?

Akan tetapi, kalau dia muncul dari kedalaman laut, mengapa dia kelihatan kering? Rambutnya, dan sebagian bajunya, mungkin selendangnya, terus berkibar ditiup angin.

Jaka Wulung berusaha keras mempertajam penglihatannya.

Perempuan itu, kelihatannya, masih sangat muda, mungkin seorang gadis. Meskipun masih samar-samar, makin kelihatan bahwa perempuan itu— gadis itu—memiliki tubuh yang ramping, dalam balutan busana baju dan celana panjang yang ringkas. Dan di bawah terpaan bintang-bintang, samar-samar tampak wajahnya ... sangat jelita!

Siapa gadis itu?

Jaka Wulung berdebar-debar.

Mungkinkah dia Putri Kandita alias Nyimas Ratu Kidul?

Seperti tertarik oleh sebuah kekuatan yang tidak kasatmata, Jaka Wulung tanpa sadar melangkah mendekati perempuan itu. Matanya tidak lepas dari wajah Nyimas Ratu Kidul—atau siapa pun dia. Selangkah demi selangkah, Jaka Wulung mendekati perempuan itu. Air laut mulai menjilati telapak kakinya, kemudian mata kakinya, pergelangan kakinya, lalu betisnya. Ujung celananya basah oleh buih. Lidah ombak mulai menghantamnya.

Akan tetapi, Jaka Wulung terus melangkah maju.

Dia terus melangkah meskipun gelombang laut sudah merendam tubuhnya hingga sebatas dada.

Dia hanya terhenti sejenak ketika ombak menampar-nampar wajahnya dan menghalangi pandangannya.

Ketika ombak pecah dan menepi, barulah Jaka Wulung terkesiap. Perempuan itu sudah tidak ada di tempat semula.
Jaka Wulung celingukan mencari-cari. Tidak ada, ke mana pun dia melihat. Batu karang yang tadi menjadi tempat berdiri perempuan itu membisu. Hanya suara ombak yang tak henti berdebur-debur.
 
Apakah dia mengalami sebuah penglihatan? Apakah perempuan tadi hanya sekadar penampakan? Siapa dia? Nyimas Ratu Kidul? Mengapa dia menampakkan diri di hadapan Jaka Wulung?

Akan tetapi, sebelum semua pertanyaan itu terjawab, telinga Jaka Wulung mendengar suara tawa di antara deru debur ombak.

Suara tawa perempuan.

Jaka Wulung menoleh dan membalikkan badan. Dia terkejut bukan main.

Perempuan itu sudah berdiri beberapa langkah di belakangnya, di pasir pantai.

Pada jarak yang tidak begitu jauh, kali ini jelas dalam pandangan Jaka Wulung, perempuan itu mengenakan celana dan baju hijau dari sutra yang memperlihatkan sebelah pundaknya. Pundak yang sebelah lagi tertutup oleh selendang putih. Rambutnya panjang, sebagian disanggul di pucuk kepalanya, berhias ikat kepala keemasan, dan sisanya tergerai hingga punggung, berkibar-kibar ditiup angin laut.

Wajahnya yang langsat seakan-akan memancarkan sinar. Matanya memandang lembut. Kedua ujung bibirnya melengkung memberikan senyum yang sempurna.

Sungguh kecantikan yang sangat memesona.

Jaka Wulung bisa saja menjadi patung selamanya kalau saja satu gelombang besar tidak menyeretnya ke tengah laut.

Jaka Wulung separuh tersadar, lalu menjejak dasar laut, melenting ke dalam pasir pantai, hinggap hanya tiga langkah di hadapan perempuan itu.

Giliran perempuan itu yang sekejap terkesiap melihat kemampuan Jaka Wulung meloncat dari kedalaman air laut sebatas dada seperti itu. Tapi, dengan cepat dia menyembunyikan kekagetannya, lalu kembali menyunggingkan senyumnya.

Pada jarak sedekat itu, wajah cantiknya bertambah memesona di mata Jaka Wulung.

“Kau ... kau ... Putri Kandita?” tanya Jaka Wulung.
 
Perempuan itu—usianya memang tampak masih sangat muda, mungkin sekitar enam belas tahun, usia yang sama dengan ketika Putri Kandita terjun ke samudra demi mengakhiri deritanya—tertawa ringan. Sangat renyah terdengar di telinga Jaka Wulung.

“Nyimas Ratu Kidul?” tanya Jaka Wulung lagi.

Jaka Wulung kembali seperti kehilangan akal sehat. Wajah jelita, busana berwarna hijau, tubuh ramping, dan kulit langsat yang terbuka di bagian pundak kanan, ditambah suasana remang yang sunyi, membawa Jaka Wulung terbang ke alam yang aneh. Alam yang membuat dadanya berdenyar oleh rasa hangat. Darah seperti menyembur ke sekujur tubuh.

Perempuan muda itu tertawa pelan, bibirnya sedikit membuka, memperlihatkan giginya yang seperti deretan mutiara.

“Ya, aku memang Putri Kandita,” sahut gadis itu. Bahkan, suaranya seperti berasal dari alam lain. “Tapi, kau manusia, bukan siluman?”
“Tentu saja aku manusia,” gadis yang menyebut dirinya Putri Kandita itu tersenyum menggoda. “Mendekatlah. Kau bisa menyentuh tanganku.”

Jaka Wulung mendekat, lagi-lagi seperti ditarik oleh sebuah kekuatan yang di luar nalar. Tidak ada lagi yang bisa didengar dan dilihat Jaka Wulung. Tak ada lagi kesiur angin dan debur ombak. Tak ada lagi pasir kelabu bibir pantai dan langit remang oleh bebintang. Yang ada hanyalah kata-kata sang putri dan sosok itu sendiri. Kata-kata yang merdu di telinga dan sosok jelita yang memesona.

Hanya ada Jaka Wulung dan Putri Kandita. Terlebih ketika digenggamnya telapak dan jemari lembut sang putri. Agak dingin dan basah, tapi memberikan bara yang menghangatkan seluruh rongga dada.

“Siapa namamu?” tanya sang Putri, sambil memandang Jaka Wulung langsung di mata.

“Panggil saja aku Jaka. Jaka Wulung.” Hening sekian hitungan.
 
Terasa ada entakan mendadak pada jemari di genggaman Jaka Wulung. Jemari itu pun kemudian terlepas.

Jaka Wulung terkejut oleh entakan tiba-tiba itu. “Kenapa, Putri?”
Perempuan yang mengaku bernama Putri Kandita itu dengan cepat menghapus keterkejutannya. Bibirnya lagi-lagi membentuk senyum yang sangat memikat. Jemarinya yang lepas segera mencekal jemari Jaka Wulung.

“Kau ... Titisan Bujangga Manik?”

Kali ini, giliran Jaka Wulung yang terkejut. Bagaimana mungkin seorang penguasa Laut Kidul pernah mendengar namanya? Meskipun demikian, Jaka Wulung merasa tidak perlu melepaskan pegangan sang gadis.

“Apakah manusia Laut Kidul mendengar nama tak berarti ini?” “Namamu sudah menyebar ke segala pelosok.”
“Termasuk ke Kerajaan Laut Kidul?” “Mungkin juga sampai Kerajaan Dasar Bumi.” Jaka Wulung tertawa. “Ah, itu berlebihan.”
Sang jelita tidak menyahut, tetapi menyunggingkan senyumnya lagi, lalu perlahan menarik tangan Jaka Wulung.

Debur di dada Jaka Wulung jauh lebih dahsyat daripada debur ombak pantai Laut Kidul.

Jaka Wulung seperti melayang di alam nirwana ketika sebuah teriakan melengking, disusul satu tendangan keras, menerjang tubuh Jaka Wulung hingga terjengkang.

“Kakang, dia hendak menggangguku!” pekik gadis yang mengaku bernama Putri Kandita itu sambil menjatuhkan diri di dada si penerjang.[]
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Jurus Tanpa Nama Jilid 05 : Pesona Putri Kandita"

Post a Comment

close