Pendekar Pedang Siluman Darah eps 17 : Pertarungan Dua Datuk

SATU
PEGUNUNGAN Kapur nampak menjulang, putih memuncak bagaikan puncak kristal. Kegersangan Pegunungan Kapur, jelas melekat dari areal tanah yang menghampar di bawahnya. Tanah-tanah di situ tiada menghijau, hanya kapurkapur putih dan cadas saja yang nampak nyata. Dua orang penunggang kuda nampak memacu kudanya ke arah situ. Di wajah kedua orang itu nampak rasa letih dan capai, sepertinya dua orang itu telah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan.

"Ke mana kita akan tinggal, Kakang?" tanya salah seorang dari keduanya. "Sungguh tak dapat dibayangkan. Apa mungkin tempat yang kering seperti ini dan tandus dapat dijadikan Pesanggrahan?"

Sang kakak seperguruan itu terdiam, tanpa kata. Matanya memandang lurus ke muka, mengawasi hamparan cadas dan granit yang menutupi semua dataran di situ. Sejenak ia tarik napas dalam-dalam, lalu melirik pada adik seperguruannya dan berkata: "Ini sudah menjadi perintah dari guru yang mau tak mau harus kita laksanakan. Apa kau ingin dikata membangkang, Adikku?"

"Bukan begitu, Kakang. Aku tak mengerti," keluh sang adik masih diliputi rasa tak puasnya, menjadikan sang kakak kembali menghela napas dan kembali berujar: "Setiap apa yang disarankan oleh guru, aku rasa baik. Guru sebenarnya bertujuan menguji pada kita, mampu atau tidak kita melakukannya. Kita harus berusaha. Ya, berusaha untuk dapat menjalankan apa yang menjadi perintah dari guru kita. Seperti kata pepatah, ucapan guru harus di gugu dan ditiru. Ah, sudahlah, ayo kita makin ke atas, siapa tahu di sana kita akan menemukan tempat yang agak mendingan daripada tempat ini."

Dengan menurut akhirnya sang adik pun mengikuti kakaknya. Dihelanya kais kuda melangkah menapaki lereng-lereng gunung yang terjal. Kalau saja mereka tak mahir dalam menunggang kuda, niscaya tubuh mereka beserta kudanya akan terpelanting dan jatuh ke bawah jurang yang menganga. 

Tapi rupanya kedua kakak beradik seperguruan itu telah dididik dan dilatih dengan segala keberanian dan ketangkasan termasuk di dalamnya menaiki kuda, sehingga mereka dengan gampang menjalankan ku-da-kuda mereka. Bukan saja kuda-kuda mereka berjalan tertatih-tatih, namun langkah sang kuda sepertinya ngeri dan takut kalau-kalau jatuh. Mereka kembali berhenti setelah sampai di sebuah hamparan yang ada ditumbuhi pepohonan.

"Di tempat ini kita akan mendirikannya," berkata sang kakak seraya turun dari kudanya. Ditambatkan tali kuda pada pohon yang ada di situ. Adik seperguruannya pun melakukan hal serupa, menambatkan tali kuda di sebelah pohon tempat kuda kakaknya tertambat. Mereka sejenak berdiri mematung di tempat itu, memandang ke muka di mana hamparan rumput menghijau. "Ayo kita ke sana."

Kedua kakak beradik seperguruan itu kembali melangkah, menapaki hamparan rumput menghijau. Nampaknya kedua kakak beradik itu tengah mencari tempat yang sekiranya cocok untuk mereka gunakan mendirikan Pesanggrahan. Keduanya akhirnya berhenti pada sebuah dataran di tengah-tengah rumput melebar tersebut. Sepetak tanah kering, menghampar di tengah-tengah tempat tersebut.

"Aku rasa, tempat inilah yang akan kita buat Pesanggrahan," kembali sang kakak berkata. "Ayo, kita bekerja."

Tanpa menunggu jawaban dari sang adik, segera sang kakak berkelebat lari meninggalkan adik seperguruannya. Tak lama kemudian, sang kakak telah membawa beberapa potong kayu. Melihat hal itu, sang adik segera membantu, membawakan kayu-kayu itu. Kemudian keduanya segera bekerja. Diikatnya kayu-kayu itu membentuk sebuah bangunan yang menyerupai rumah. 

Keduanya bekerja dengan tanpa mengeluh capai sedikitpun. Keduanya berhenti bekerja untuk istirahat, manakala untuk makan siang saja dan kemudian keduanya kembali bekerja lagi sampai hari benar-benar sore. Dalam sehari saja, Pesanggrahan yang mereka buat itu pun jadi.

*** 

Esok harinya kedua kakak beradik itu mencari orang-orang yang sekiranya mau menjadi murid. Kedua orang kakak beradik itu dengan cara memberikan tontonan pada masyarakat, berusaha memikat para pemuda untuk mau menjadi murid di Pesanggrahannya. Sepertinya hari itu, kedua kakak beradik seperguruan tengah melakukan pertunjukan keliling dalam usahanya mendapatkan murid.

Rakyat yang mendengar suara gamelan mengalun di hamparan lapangan segera berbondong-bondong datang untuk menyaksikan gerangan apa yang terjadi. Mereka semua seketika berkumpul, semakin lama semakin banyak saja jumlah yang datang. Manakala jumlah rakyat desa tersebut telah cukup banyak, kakak seperguruan dari dua saudara perguruan itu berkata: 

"Namaku Renggana, dan ini Adikku bernama Sanggara. Kami datang ke mari dengan maksud untuk mengajak saudara-saudara menjadi orang yang bisa main silat. Maka agar saudara-saudara yakin, kami akan memperagakan ilmu silat yang kami miliki."

Tepuk sorak seketika membahana, menyambut habisnya ucapan Renggana. Teriakan-teriakan kegembiraan dari para massa yang sudah ingin melihat pertunjukan itu, seperti suporter-suporter persepakbolaan PSSI yang antusias.

"Wah, seru nih."

"Kalau memang mainnya bagus, aku jelas mau menjadi anggota."

"Apalagi jika mereka orang yang benarbenar pendekar. Aku dan teman-temanku akan menjadi anggotanya dengan suka rela."

Begitulah komentar-komentar datang silih berganti. Semuanya yang ada di situ seketika kembali diam, manakala terdengar pekikan kedua kakak beradik seperguruan tersebut membuka pertunjukan. Mata semua yang menonton seketika terbelalak, kagum menyaksikan apa yang tengah berjalan di hadapan mereka. Tubuh kakak beradik seperguruan tersebut bagaikan menghilang, terbungkus oleh bayangan-bayangan dari baju-baju yang mereka pakai.

Decak kagum kembali menggema di antara para penonton, sepertinya mereka melihat para Dewa yang tengah bertarung. Belum juga para penonton hilang dari keterkejutannya, tiba-tiba kedua kakak beradik itu sudah saling keluarkan ilmu yang makin membelalakkan mata. Dari tangan kedua kakak beradik seperguruan seketika keluar asap hitam bergulung-gulung, dan...!

"Wah, apa yang mereka lakukan?" tanya para penonton terheran-heran tak mengerti. Mata mereka kembali membelalak, manakala tubuh kedua kakak beradik itu raib dari pandangan mereka. Asap itu makin lama makin bergumpal, lalu membentuk sebuah ujud. Ujud yang seketika menjadikan para penonton ketakutan. Tapi bagaikan terpaku, para penonton tak dapat beranjak melangkahkan kakinya barang setindak pun. Hanya mata mereka saja yang melotot tak percaya. 

Apa yang sebenarnya mereka lihat? Tak lain mereka melihat dua mahluk yang sudah mereka kenal. Namun mahluk itu tidak dalam ukuran yang sebenarnya. Burung Gagak itu jauh seratus kali lipat lebih besar, sementara Ular Kobra itu jauh lebih panjang dan besar seratus kali dari ular kobra sesungguhnya. Para penonton baru tersadar, manakala kedua kakak beradik itu telah kembali ke bentuk asalnya yaitu Renggana dan adiknya Sanggara. Kembali decak kagum pun membahana, mewarnai tepuk tangan tiada henti.

"Bagaimana saudara-saudara. Apakah kalian telah yakin benar bahwa kami dapat kalian jadikan guru?" tanya Renggana, di sela-sela tepuk sorak para penonton yang memadati tempat tersebut.

"Yakin...." jawab semua yang ada si situ, menjadikan Renggana dan Sanggara tersenyum senang seraya menjura hormat.

"Terimakasih, terimakasih. Nah, siapa yang ingin menjadi anggota Pesanggrahan kami? Silakan untuk mendaftar."

Mendengar ucapan Sanggara, seketika para penonton kembali riuh. Mereka berebut, saling dulu-mendahului untuk secepatnya menjadi anggota perguruan. Hal itu membuat Renggana dan Sanggara nampak kerepotan untuk mendata mereka. Hampir seratus lebih para pemuda berebut meminta diri untuk menjadi anggota, juga tak ketinggalan berpuluh-puluh orang tua.

"Kami kira, semua anggota cukup. Gampang nanti kalau memang kami membutuhkannya," terdengar suara Renggana memecah hiruk pikuk para pemuda yang mendaftar. "Adik Sanggara, coba kau data lagi siapa-siapa saja yang hendak menjadi anggota kita."

"Ranges, Lomper, Sulak, Dayat, Emmo, Jilam. "

"Saya "

Sahutan-sahutan pemuda itu terus menerus, menyahuti mana kala mereka kembali dipanggil satu persatu. Lengkap sudah seluruhnya, yang tercatat di daun lontar ada hampir dua ratus pemuda dan orang tua. Hari itu juga, semua yang menjadi anggota bareng dengan kedua kakak beradik tersebut berjalan menuju ke Pesanggrahan Gunung Kapur.

***

Kedua ratus orang anggota itu duduk bersilah memenuhi lapangan rumput yang berada di depan Pesanggrahan. Wajah mereka walau dibakar matahari nampak ceria. Mereka sepertinya senang dapat menjadi anggota orang-orang berilmu tinggi. Mereka tak mengerti, siapa-siapa guruguru mereka. Yang mereka tahu, kedua kakak beradik seperguruan itu adalah orang-orang yang dapat diandalkan. 

Dalam hati semua pemuda dan orang tua yang menjadi anggota tersebut hanya ada sebuah harapan, menjadi orang yang sakti seperti pimpinan mereka. Berilmu tinggi, juga mempunyai ilmu siluman. Memang kebanyakan mereka yang mendaftar adalah orang-orang yang mempunyai antusias kelewat batas. Mereka hanya mementingkan diri sendiri, tak memikirkan apa dan untuk apa ia ikut Pesanggrahan Gunung Kapur.

"Saudara-saudara anggota Pesanggrahan Gunung Kapur, sengaja kami ajak saudarasaudara ke sini sekedar untuk membicarakan bagaimana kelanjutan perguruan ini. Kami kira, saudara-saudara ingin belajar sambil mendapatkan uang, bukan?" tanya Renggana, menjadikan kedua ratus lebih anggota baru tersebut seketika berseru menjawab:

"Tentu, Tuan Pendekar...!"

"Nah, untuk itulah kami hendak memberikan sebuah rencana. Kami harap, kalian semua mau menyetujui."

"Apa itu, Tuan Pendekar?" tanya mereka serentak. Dari sinar mata mereka nampak sebercik harapan, harapan untuk mendapatkan harta yang mampu menunjang hidup mereka di samping mereka dapat belajar ilmu dari dua orang yang sudah diketahui berilmu tinggi. Mereka tak menghiraukan apa yang dapat dilakukan, dan apa yang hendak mereka perbuat. Di hati mereka hanya ada satu tujuan, menjadi murid orangorang berilmu tinggi dan mendapatkan hasil untuk menopang kehidupan mereka sehari-hari.

Sesaat kedua kakak beradik seperguruan itu diam, saling pandang dengan napas menghela panjang. Keduanya kemudian memancarkan pandangan mata mereka ke lapangan, di mana kedua ratus orang anggotanya duduk bersila di situ dengan pandangan mata penuh harapan akan apa yang bakal diberikan oleh Ketuanya. Lama hal itu terjadi, sebelum akhirnya Renggana kembali berkata: "Kami mempunyai tujuan yaitu mengembangkan Perguruan Datuk dengan seiring pencarian dana. Bukankah dana itu sangat utama ?"

"Akur...." jawab semuanya penuh semangat. "Bagaimanakah caranya, Tuan Pendekar?"

Kembali Renggana terdiam, melirik pada adik seperguruannya dan kemudian kembali meneruskan. "Bagaimana kalau kita melakukan cara pintas?" tanyanya seperti pada diri sendiri, menjadikan semua yang ada di situ terlolong tak mengerti.

"Cara pintas...! Cara pintas bagaimana yang Tuan Pendekar maksudkan?"

Dan seperti tadi, kembali Renggana terdiam. Kini agak lama, memandang satu persatu para anggota yang seketika itu terdiam, seakan pasrah pada apa yang bakal dijadikan landasan oleh Ketuanya. Melihat hal itu, Sanggara yang sedari tadi diam kini menjawab.

"Kami akan berikan pada kalian ilmu silat, dan kami akan mendidik kalian agar menjadi orang sakti serta pemberani. Dengan ilmu yang kalian miliki, apakah kalian tidak berani melakukan tindak perampokan...?"

Semua yang hadir seketika terdiam, tak ada yang berkata untuk menjawab atau menentang. Mata semuanya saling pandang, seperti ingin meminta persetujuan dari satu ke lainnya. Sanggara yang melihat kebimbangan mereka segera meneruskan, "Percayalah pada kami, bahwa kami akan selalu melindungi kalian semua. Bahwa kalian akan mampu menghadapi siapa saja yang akan menghalangi kalian dengan ilmu yang kalian miliki. Bukan begitu, saudarasaudara?"

Karena mereka sangat meyakini bahwa dua Ketuanya benar-benar sakti, maka tanpa berpikir banyak lagi semuanya segera menganggukkan kepala. Hal itu menjadikan seulas senyum di bibir kedua kakak beradik tersebut. Keduanya merasa bahwa jalan untuk mencapai segala cita-citanya menjadi datuk-datuk persilatan akan dapat mereka rebut.

"Mulai esok pagi, kalian semua akan kami didik dengan segala ilmu silat dan ilmu-ilmu yang lain. Bagaimana, apakah kalian mau? Adakah yang tidak setuju?" tanya Sanggara sembari matanya memandang pada kedua ratus anggotanya yang tak ada yang menyahut. "Kalau kalian memang setuju, baiklah hari ini juga akan kami bagi kalian dalam empat kelompok. Satu kelompok, harus dapat menjadikan kekuatan yang gagah berani dalam menghadapi apapun juga. 

Kelompok pertama, kami tugaskan untuk beroperasi di wilayah Kulon. Kelompok kedua di wilayah Kidul. Kelompok ketiga di wilayah Wetan. Sedang kelompok terakhir, di wilayah Lor. Ingat pembagi-an ini baik-baik! Besok hari, kalian datang ke mari lagi untuk mengikuti latihan silat yang akan menjadikan diri kalian sebagai seorang pendekar. Nah, sekarang kalian boleh pulang. Jangan kalian ceritakan hal ini pada yang lainnya, ingat itu!"

"Daulat, Tuan Pendekar...!" jawab semuanya serempak.

"Mulai saat ini, kalian harus memanggil kami Pemimpin. Bukan Pendekar, mengerti?"

"Daulat, Ketua?"

Setelah semuanya mendapatkan sehelai daun lontar yang entah apa isinya, semuanya pun berbondong-bondong meninggalkan Padepokan Gunung Kapur untuk kembali ke rumah masingmasing. Esok nanti, mereka akan resmi menjadi anggota Perkumpulan Pesanggrahan Gunung Kapur. Kedua kakak beradik seperguruan itu tersenyum, merasakan hasil yang maksimal. Kini mereka yakin, bahwa mereka kelak akan menjadi seorang Datuk Persilatan yang ditakuti dan disegani kawan maupun lawan.

***
DUA
SEPERTI apa yang telah mereka rencanakan, maka sejak hari itu Pesanggrahan Gunung Kapur pun mendidik semua anggotanya dengan berbagai macam ilmu. Semuanya disiapkan untuk kelak menjadi orang pemberani, siap menghadapi segala apa yang bakal mereka hadapi.

Hari berganti menjadi minggu, akhirnya minggu berganti dengan bulan. Tanpa terasa, tiga bulan sudah semuanya belajar ilmu silat dan segala hal yang sekiranya bakal berguna untuk diri mereka. Kini mereka benar-benar berubah, bukan menjadi mereka yang dulu, yang polos sebagai orang gunung. Karena didikan bagi mereka keras, jadilah kedua ratus pemuda itu sebagai pemuda pemberani pantang mau menyerah.

Namun walau mereka keras, mereka masih selalu menjunjung tinggi kebersamaan dan rasa persahabatan bagi sesama golongannya.

Kuatlah kini kuku-kuku yang mencengkeram, untuk segera kuku-kuku itu beraksi mengkoyak-koyak mangsa. Kuku-kuku tersebut telah benar-benar diasah, benar-benar tajam bila harus digunakan. Hari itu juga, anggota Pesanggrahan Gunung Kapur yang telah dibagi menjadi empat itu beraksi. Empat wilayah sekitar Pegunungan Kapur, seketika itu terkenal angker bagi para orang yang pulang malam. Tindakan mereka begitu telengas, sehingga dalam sekejap saja nama Pesanggrahan Gunung Kapur menyebar dan menjadi momok bagi para penduduk di sekitarnya.

"Hua, ha, ha... kini bukankah segalanya telah menjadi kenyataan?" tanya Renggana sepertinya puas melihat hasil yang dicapai oleh para anggotanya. "Kalian memang orang-orang yang pemberani, sehingga kalian sangat disegani tindakannya. Hem, aku mempunyai rencana lagi."

"Rencana apa, Kakang?" tanya Sanggara. "Benar, apa yang dikatakan Ketua Sangga-

ra. Adakah rencana lainnya lagi?" para anggota pun tak mau ketinggalan bertanya.

Renggana tak menjawab, ia seketika terdiam membisu. Dilangkahkan kakinya pergi ke luar, diikuti pandangan mata seluruh anggotanya yang ada di situ. Anggota yang ada di situ, merupakan anggota yang telah menjalani tugasnya. Ya, begitulah. Kelima puluh anggotanya akan menjalani tugas dalam dua kali. Dua puluh lima orang bekerja, dua puluh lima orang lainnya istirahat. 

Sengaja Renggana mengaturnya sedemikian rupa, dikarenakan ia tak ingin para anggotanya merasa jenuh untuk melakukan segala apa yang telah direncanakan. Apabila kedua puluh lima anggota yang telah menjalankan tugas kembali, maka mereka diberinya segala kepuasan dari makanan, gadis-gadis penghibur dan segala macam yang memabukkan.

Sebenarnya Sanggara tak menyukai segalanya, ia merasa segala tindakannya dan tindakan Renggana telah kelewatan. Namun untuk memperingatkannya, jelas Sanggara tak berani. Pertama, karena ia merasa sebagai adik seperguruan, yang mau tidak mau harus menghormati kakak seperguruannya. Kedua, mereka telah diberi petuah oleh guru mereka untuk saling menyokong bila diperlukan, itulah yang mengakibatkan Sanggara sukar untuk melakukan protes atau tindakan.

"Aku mempunyai maksud...." Renggana tak meneruskan kalimatnya. Ia kembali melangkah masuk ke Padepokan, berjalan hilir mudik ke sana ke mari dengan kepala terangguk-angguk. Matanya memancar tajam, setajam mata burung Gagak. Ya, memang dia adalah Datuk Gagak Hitam, yang dengan ilmu silumannya mampu mengubah dirinya menjadi seekor burung Gagak.

Semua yang ada di situ termasuk Sanggara nampak terdiam, hanya mata mereka yang tak henti-hentinya memandang tajam pada Renggana yang nampak tenang-tenang, berjalan ke sana ke mari. Lama kelamaan, Sanggara yang sudah tak tahan melihat tingkah kakaknya yang diliputi rahasia bertanya.

"Kakang, kenapa Kakang mesti menyembunyikan sesuatu?"

"Oh, tidak. Aku tidak menyembunyikan apa-apa, Adikku. Aku sebenarnya tengah berpikir untuk mengembangkan sayap ku, laksana sayap burung Gagak. Aku ingin kejayaan Datuk Gagak Hitam, melebar ke segenap penjuru dunia. Tidak hanya dalam lingkup wilayah Pesanggrahan Gunung Kapur saja, tapi harus mampu menembus dunia persilatan."

"Ah, apakah itu tidak terlalu tinggi, Kakang?"

"Maksudmu...?"

Sejurus Sanggara terdiam mengatur napas, matanya memandang ke luar dengan kosong. Ia memang telah memikirkan bahwa kakaknya yang berantusias tinggi suatu saat pasti ingin menjadikan dirinya sebagai orang yang paling kuat. Kakak seperguruannya tak berpikir, bahwa di dunia persilatan bukan mereka saja yang sakti. Bahkan lebih dari mereka berdua pun banyak. 

"Apakah Kakang Renggana tak mendengar nama seorang tokoh persilatan yang ilmunya sangat tinggi, bahkan dapat disejajarkan dengan Dewa?" keluh hati Sanggara, sepertinya menyesali cita-cita kakaknya. 

Setelah lama terdiam, Sanggara pun akhirnya berkata: "Apakah itu sudah Kakang pikirkan masak-masak?" 

"Sudah, Adikku," jawab Renggana kalem, dengan senyum keangkuhan yang melekat di bibirnya yang kebiru-biruan. "Aku sudah memikirkan segalanya. Dan aku yakin, bahwa aku akan mampu menjadi Datuk di antara Datuk Persilatan. Hua, ha, ha...!"

Gelak tawa membahana keluar dari mulut Renggana, yang seketika menjadikan rasa merinding bagi para pendengarnya. Semua yang ada di situ bagaikan tercekat, diam tanpa ada yang berkata sepertinya mereka terpengaruh kekuatan magis yang keluar bersamaan dengan gelak tawa tersebut.

Walau Sanggara juga terdiam tanpa kata, tapi dalam hatinya seketika gundah. Ia sadar, bahwa dirinya tak dapat selaras dengan kakaknya. Namun untuk menentang, untuk saat-saat sekarang ia rasa belum waktunya. Bagaimana nanti jika guru mengetahui, sungguh petaka bagi dirinya. 

"Ah, kenapa aku dulu menjadi murid Datuk Rangka Urip? Oh, sungguh tekanan batin jika aku harus terus menerus berbuat begini. Hati kecilku seperti menolak, namun aku tak mampu melakukan apa-apa. Oh, kenapa orang-orang menilai ku sebagai seorang Datuk sesat?" beriburibu macam pertanyaan menggayut dalam hatinya, menjadikan Sanggara hanya mampu tertunduk lesu.

Melihat adik seperguruannya terdiam menunduk, Renggana seketika menanya: "Kenapa kau melamun, Adikku? Apakah kau kurang setuju dengan apa yang aku cita-citakan?" 

Suara Renggana begitu halus, ramah bagaikan tak mengerti apa yang tengah melanda pikiran adiknya. Hal itu membuat Sanggara merasa makin terpukul, berat untuk berkata-kata. Walaupun dalam hati berkata Ya, namun di mulut Sanggara tak berani untuk berkata begitu. Maka sebagai penutup isi hatinya Sanggara mencoba tersenyum. Digelengkan kepalanya, lalu dengan mendesah dulu berkata:

"Tidak begitu, Kakang. Aku setuju saja pada apa yang menjadi keinginanmu, bukankah guru menyuruh kita untuk saling membantu?"

"Memang benar, Adikku. Tapi, kenapa sepertinya sedih?"

"Ah, mungkin itu hanya pandangan Kakang saja. Aku tidak sedih, atau gundah. Aku hanya tengah memikirkan bagaimana jika kelak kita menjadi Datuk-Datuk yang disegani."

Bergelak tawa Renggana mendengar jawaban adik seperguruannya.

"Bagus, bagus. Nah, para kadang ku, bagaimana dengan kalian? Apakah kalian juga senang bila mempunyai guru yang ditakuti di seluruh pelosok dunia persilatan?" tanya Renggana pada kesemua anggotanya.

"Akur...!"

"Rupanya kalian memang orang-orang gagah berani, yang suka sekali dengan kejayaan. Kelak, kalian sendiri yang akan merasakan kebahagiaannya. Hua, ha, ha...!" kembali Renggana bergelak tawa, sepertinya puas. "Tapi rencana itu nanti, kalau benar-benar telah kokoh. Bukan begitu...?"

"Akur..." kembali terdengar jawaban serempak.

Tengah mereka bercakap-cakap, dari kejauhan tampak serombongan orang yang juga anggota mereka datang menuju ke tempat itu. Di wajah keseratus orang yang datang, nampak sebuah gambaran kecemasan yang dalam bercampur dengan rasa takut. Hal itu seketika menjadikan Renggana terbelalak kaget, sebab tak biasabiasanya anak buahnya datang sebelum ganti jaga. Serta merta, Renggana segera berkelebat menyambutnya dengan penuh ketidakpengertian seraya bertanya.

"Kenapa kalian belum waktunya sudah pulang?"

"Ampun, Tetua. Kami diserang oleh gerombolan lain yang langsung dipimpin oleh Ketuanya Datuk Mujo Hitam," jawab salah seorang Ketua kelompok dengan wajah pucat ketakutan. Tersentak seketika Renggana mendengar keterangan anak buahnya, gigi-giginya bergeretukan menahan marah. Dari mulutnya seketika mendesis ucapan kekesalannya:

"Bedebah! Rupanya Datuk anjing itu hendak berlagak! Hem, jangan kira akan mudah membuat kerusuhan pada kelompok ku. Adik Sanggara "

"Ya, Kakang!" Sanggara yang waktu itu masih terduduk dengan segera bangkit, dan dalam sekejap saja tubuhnya telah berkelebat diantara anak buahnya. Tubuh itu bagaikan terbang, mungkin lebih cepat mencelat hingga tiba-tiba sampai di hadapan kakak seperguruannya yang matanya memancarkan api kemarahan. "Ada gerangan apa, sehingga Kakang begitu marahnya?"

"Datuk Anjing itu rupanya ingin menantang kita, Sanggara."

"Siapakah yang Kakang maksudkan?" Sanggara bertanya belum memahami apa yang oleh kakak seperguruannya dikatakan Datuk Anjing. Banyak sekali Datuk-Datuk yang memusuhi mereka, tidak banyak pula yang pro pada mereka. "Datuk Mujo Hitam, Adikku. Dia telah lan-

cang hendak menguasai wilayah kita. Bagaimana? Apakah kau akan mendiamkannya?"

Sanggara sesaat terdiam menunduk, sukar untuk menjawab dengan se-enak kata. Hatinya bimbang, bagaimana harus menerangkan atau mengambil keputusan. Satu sisi hatinya mengatakan, biarlah. Tapi sisi hatinya yang lain mengatakan, bahwa Renggana adalah kakak seperguruannya yang harus dibela. Walaupun Renggana berbuat jahat, sebagai seorang adik seperguruan ia harus melindungi atau membantunya. 

Karena kebimbangan itulah, sehingga Sanggara tak segera menjawab pertanyaan kakaknya. Dicarinya cara yang baik untuk dapat mengatasi apa yang telah melanda emosi kakaknya, agar Datuk Mujo Hitam pun tidak terkena gebuk. Setelah dirasa ada jalan yang paling baik, Sanggara akhirnya berkata "Baiklah, Kakang. Aku akan mencoba menghadapinya. Aku minta, janganlah Kakang terburu-buru ikut campur. Aku rasa aku akan mampu menghadapinya seorang diri."

"Bagus, bagus. Hem, memang cukup denganmu saja, tak perlu melibatkan diriku untuk menghadapi Datuk Anjing Bulukan itu. Kapan kau mau berangkat, Adikku?" tanya Renggana senang.

"Mungkin hari ini juga, Kakang." jawab Sanggara, menjadikan Renggana seketika kembali bergelak tawa. Ia bangga mempunyai adik seperguruan macam Sanggara, yang mengerti akan toleransi dan mau membantu dirinya demi mengejar cita-citanya sebagai Datuk di antara Datuk atau Datuk segala Datuk.

"Bagus! Memang lebih baik secepatnya agar Datuk Anjing itu tidak sembrono pada kita." Renggana wajahnya berseri-seri. Ia tahu kehebatan adik seperguruannya, maka itu ia sangat mengharapkan tenaga serta ilmu adiknya. Hati Renggana tenang dan tentram, merasa yakin kalau adik seperguruannya akan mampu mengalahkan Datuk Mujo Hitam. 

Walau Datuk Mujo Hitam sudah terkenal, namun ilmu yang dimiliki adiknya sungguh bukan ilmu sembarangan. Adiknya, Sanggara adalah murid terpintar di perguruan hingga kakak-kakak seperguruannya menjulukinya sebagai Anak Dewa. Tapi walau dirinya sangat pintar dan tinggi ilmunya, Sanggara tak sombong. Bahkan ia rendah diri dan tak mau memamerkan ilmu yang dimilikinya, seperti halnya Datuk-Datuk Persilatan yang lain.

"Berapa orang anak buah yang hendak eng-kau bawa, Adikku?" 

"Tiga orang saja."

"Apa...?" membeliak kaget mata Renggana, demi mendengar jawaban adik seperguruannya. Hatinya berkata bimbang, bagaimana mungkin menghadapi seratus orang gerombolan yang langsung ditangani Ketuanya hanya dengan tiga orang? Namun bila ia ingat kembali bahwa adik seperguruannya bukan orang sembarangan, Renggana akhirnya sadar dan memahami. Diangguk-anggukkan kepalanya, seakan yakin akan segala yang menjadi keputusan sang adik. "Baiklah, aku hanya menuruti apa yang menjadi permintaanmu."

"Terima kasih, Kakang," jawab Sanggara sembari sunggingkan senyum. Ia kini agak tenangan, merasa bahwa usahanya untuk mencari jalan yang baik akhirnya akan dapat terlaksana. "Tapi bila Datuk Mujo Hitam menolak, apa boleh buat," kata hatinya.

"Siapa yang akan kau bawa, Adikku?" 

"Topel...!"seru Sanggara memanggil anak buahnya tanpa memperdulikan pertanyaan kakak seperguruannya, sebab panggilan itu sudah merupakan jawaban dari pertanyaan Renggana. Renggana hanya dapat gelengkan kepala melihat tingkah laku adik seperguruanya yang serba aneh. Dari sejak mereka masih anak-anak dan dididik oleh guru mereka, hanya Sanggara saja yang berkepribadian dan tingkah laku yang aneh. 

Dulu Renggana dan kakak-kakak seperguruannya yang lain, menganggap bahwa tingkah laku adik seperguruannya itu merupakan, tingkah laku layaknya seorang anak. Tapi sekarang, rupanya tingkah laku itu merupakan pembawaan dari lahir hingga sukar untuk dirubah oleh siapa pun.

"Saya, Ketua...!" Topel yang dipanggil segera menjawab dan lari mendekati sembari bertanya. "Ada apa, Ketua?"

Seperti mana kala ditanya oleh Renggana, kali ini pun Sanggara tak menjawab pertanyaan Topel.

"Sangkel...!" kembali ia berseru tanpa hiraukan Topel yang terbengong-bengong tak mengerti dan hanya berdiri mematung di tempatnya.

"Saya, Ketua...!" terdengar jawaban yang dibarengi dengan berkelebatnya sesosok tubuh gendut pendek, sehingga tampak lucu kelihatannya. Sangkel merasa biarpun ia menanya, tak akan mendapat jawaban dari pimpinannya seperti Topel.

"Rengek...!"

"Saya Ketua...!" Rengek segera berkelebat menuju ke tempat di mana dua orang temannya berdiri berjejer. Nampak kelucuan di diri ketiga orang yang dipilih oleh Sanggara, menjadikan Renggana seketika tak dapat menahan gelak tawanya.

Melihat kakak seperguruannya tertawa. dengan rasa tak mengerti Sanggara bertanya: "Kenapa Kakang tertawa...?"

"Lucu. Sungguh lucu sekali," Renggana menjawab dengan masih menahan tawa. "Apakah kau tak salah pilih, Adikku?"

"Tidak, Kakang. Aku memilih mereka, sebab mereka adalah orang-orang yang tenang dan lucu. Aku mengharapkan mereka dapat menghibur diriku. Bukan begitu, Topel, Rengek, Sangkel" 

"Benar, Ketua...!" jawab ketiganya bareng, dengan cengar-cengir bagaikan orang bloon. Itu saja mampu mengundang gelak tawa, apalagi bila mereka telah bertingkah yang lucu-lucu.

"Baiklah, Kakang. Aku mohon pamit untuk pergi menemui Datuk Mujo Hitam. Aku harapkan do'a dari semuanya demi kesuksesan yang akan aku terima."

"Aku do'akan," jawab Renggana dengan senyum senang melekat di bibirnya. "Kalau sudah beres semua, cepatlah kau pulang."

"Akan saya usahakan," jawab Sanggara. "Ayo Topel, Rengek, Sangkel, kita berangkat."

"Daulat, Ketua. Kami iringi..." jawab ketiganya sembari menjura. Setelah menjura pada kakak seperguruannya, segera Sanggara yang diikuti oleh ketiga anak buahnya yang lucu-lucu berangkat meninggalkan Pesanggrahan Gunung Kapur menuju ke tempat di mana Datuk Mujo Hitam berada. Mereka pergi dengan jalan kaki, tanpa menggunakan kuda karena jarak yang mereka tempuh tak sampai memakan waktu sehari penuh.

***
TIGA
HUTAN Tarakan nampak hening, sunyi senyap bagaikan tak berpenghuni. Angin gunung Kapur yang gersang, bertiup merambah pohonpohon yang memadati hutan tersebut. Dari kejauhan yang tepatnya dari atas gunung, seorang penunggang kuda menggebas kudanya dengan kecepatan tinggi. Sepertinya orang tersebut ingin segera lekas sampai pada tempat yang dituju. Wajah orang itu begitu pucat, seakan ada hantu saja yang tengah mengejarnya. Mulutnya tak hentihentinya menggeretak, mengomel-omel entah ditujukan pada siapa.

"Empat orang itu sungguh lancang, berani mendatangi ke mari!" rungutnya. "Mereka seperti orang-orang Pesanggrahan Gunung Kapur. Ya, aku lihat orang yang berjalan paling depan tak lain Datuk Muda Cobra Merah. Pantas... pantas kalau dia berani menyatroni tempat ini. Sudah aku bilang pada Datuk, agar jangan sekali-kali mencari urusan dengan Pesanggrahan Gunung Kapur. Ah, entahlah. Yang penting aku harus segera memberitahukannya pada sang Datuk."

Orang itu yang ternyata anak Buah Datuk Mujo Hitam kembali menggebah kudanya dengan kecepatan tinggi. Napasnya memburu, matanya liar memandang ke muka di mana liuk-liuk sungai Berantas membujur dari arah Selatan mengalir ke Utara. Tanpa kata-kata, orang itu terus menggebah lari kudanya hingga dalam waktu singkat sampailah orang tersebut pada Hutan Tarakan di mana seluruh anggota Datuk Mujo Hitam berada.

"Datuk... Datuk...!" orang itu berteriak-teriak walau masih agak jauh jaraknya, sehingga membuat seluruh penghuni Hutan Tarakan tersentak kaget dan berserabutan keluar, tak ketinggalan Datuk Mujo Hitam yang bertampang kumal, berjubah merah menyala. Jenggot sang Datuk panjang terurai bagaikan tak pernah diurus. Matanya merah, menyipit sempit memandang ke arah orang tersebut. Setelah tahu siapa yang datang, sang Datuk membentak bertanya: "Kupret! Bikin orang jantungan saja kau, Lego! Ada apa kau berteriak-teriak kayak orang kesetanan, Hah!?"

"Ampun, Datuk. Orang-orang Pesanggrahan Gunung Kapur pada datang menuju ke mari." Membeliak mata sang Datuk, ia mengira seluruh anggota dan dua Ketuanya datang semua. Mata Datuk Mujo Hitam yang melotot, menjadikan warna merah menyala nampak jelas kentara.

"Berapa orang yang datang, Lego?"

"Empat orang, Datuk "

Mendengar jawaban dari anak buahnya seketika Datuk Mujo Hitam tertawa bergelak-gelak. Hingga saking kencangnya gelak tawa sang Datuk, sampai-sampai tubuhnya yang gemuk terguncang-guncang.

"Baru empat orang... seluruhnya hadirpun aku tak akan takut," ucap Datuk Mujo Hitam sombong. "Anak-anak, siapkah kalian untuk menghadapi tikus-tikus yang akan menyerang kita?"

"Siap, Datuk...!" jawab mereka serempak. Ada kurang lebih seratus anggota perkumpulan Datuk Mujo Hitam. Tampang mereka beringas, layaknya seekor kucing yang siap untuk menghadapi empat ekor tikus-tikus tanah. Mungkin dalam hati mereka bergumam, baru empat orang yang datang. Apakah mereka menganggap akan menang? Mereka nekad menyatroni kandang singa. Ya, memang bila dilihat dari sepintas, keempat orang Pesanggrahan Gunung Kapur bisa dikatakan nekad. 

Tapi bila dilihat siapa yang menjadi pimpinannya, maka anggota Datuk Mujo Hitam tak akan berani sembrono. Pimpinan ketiga orang itu bukanlah orang sembarangan, ia adalah Datuk Muda Cobra Merah, seorang Datuk yang paling muda di antara para Datuk dunia persilatan. Karena ilmu yang dimiliki begitu tinggi, hingga dia semuda itu diangkat menjadi seorang Datuk.

Semua anggota Datuk Mujo Hitam gelak tawa, hanya Lego saja yang diam. Ia telah mendengar kehebatan Datuk Muda Cobra Merah, maka itu ia tak berani gegabah ngomong. Lego takut kalau-kalau omongannya tak akan menjadi kenyataan, bahkan mungkin akan berakibat sebaliknya.

"Datuk, apakah Datuk tak tahu siapa yang datang ke mari?"

"Bagiku, siapa yang datang tak jadi masalah. Aku Datuk Mujo Hitam, pantang untuk mengakui kehebatan lawan."

"Tapi, Datuk...?" Lego hendak memprotes, namun seketika ia tak meneruskan ucapannya mana kala dilihatnya mata sang Datuk melototinya. Lego akhirnya hanya tertunduk, hatinya menggerutu kesal. Bagaimana tidak, ia tahu siapa yang datang. Orang yang sangat ditakuti oleh orang-orang persilatan setelah nama besar Pendekar Siluman Darah. Memang saat itu ada lima orang yang namanya cukup kondang bagi dunia persilatan. Pertama, Raja Maling Suci yang sudah lama menghilang. Kedua, Pendekar Pedang Siluman Darah disusul oleh Maling Siluman, Supit Songong dan Datuk Muda Cobra Merah.

"Kau jangan menakut-nakuti temanmu, Lego!" bentak sang Datuk marah, merasa bahwa Lego telah menakut-nakuti anak buahnya. "Baru menghadapi empat orang kau sudah ngeper. Mana kesatriaanmu, Lego?"

Lego tak dapat berkata, ia pasrah pada segala keputusan Datuk Mujo Hitam Ketuanya. Ya, begitulah hukum alam dunia persilatan, pimpinan harus memegang segalanya dan bawahan harus menuruti segala apa saja yang menjadi keputusan pimpinannya.

"Masih jauhkah mereka, Lego?" 

"Aku sudah datang, Datuk Mujo?"

Tersentak semuanya demi mendengar seseorang berseru menyahuti pertanyaan Datuk Mujo Hitam. Seketika mata semuanya memandang ke arah asalnya suara, di mana tampak empat orang dengan tiga orang bertampang konyol berada. Mata sang Datuk seketika lebih membeliak kaget, ketika diketahui siapa yang datang bersama tiga orang manusia bertampang konyol. Saking kagetnya, sampai-sampai sang Datuk berseru menyebut gelar orang tersebut. "Datuk Muda Cobra Merah...!"

Orang itu tersenyum, kakinya melangkah pelan mendekati arah Datuk Mujo Hitam berada yang kini tampak mengkeret ketakutan tidak seperti pertama kali bicara. Makin dekat Datuk Muda Cobra Merah menuju ke arahnya, makin mundur Datuk Mujo Hitam. Sementara keseratus anak buahnya telah siaga dengan senjata di tangan masing-masing siap untuk menyerang. Namun Datuk Muda Cobra Merah, sepertinya tak hiraukan. Dia terus melangkah mendekati Datuk Mujo Hitam yang makin menyurut mundur setapak demi setapak.

"Kenapa, Datuk? Apakah kau takut?" tanya Datuk Muda Cobra Merah tanpa ekspresi, tenang. Namun justru ketenangan itulah yang membuat Datuk Mujo Hitam agak jengah. "Aku tak akan mendahului, bila kau mau menuruti apa yang akan aku katakan. Bagaimana, Datuk...?"

Sejenak Datuk Mujo Hitam hentikan langkahnya, memandang tajam pada Sanggara atau Datuk Muda Cobra Merah.

"Bagaimana, Datuk...?" kembali Sanggara bertanya.

"Baiklah, aku terima apa yang hendak kau katakan," jawab Datuk Mujo Hitam setelah sekian lama berpikir, menjadikan Datuk Muda Cobra Merah tersenyum.

"Dengar baik-baik olehmu. Aku minta, pergilah kalian dari wilayah kekuasaan kakak seperguruanku." 

"Ah...!"

"Kenapa, Datuk...? Kau berat?"

"Ya," jawab Datuk Mujo Hitam dengan suara bergetar.

Datuk Muda Cobra Merah tersenyum. Matanya yang menyala laksana mata Ular Cobra, menghujam lekat pada mata Datuk Mujo Hitam. Sampai tak kuasa sang Datuk untuk meneruskan menantang pandang. Melihat Datuk Mujo Hitam tertunduk, Sanggara mendesis.

"Jadi kau hendak menentang kakak seperguruanku?"

Sang Datuk terjengat tak dapat berkata. Ia ragu untuk menjawab pertanyaan Datuk Muda Cobra Merah. Hatinya galau dan bimbang untuk menentukan segalanya. Kalau ia menyerah, berarti tamatlah riwayat persekutuannya. Namun bila ia menolak, ia harus berpikir untuk menghadapi Datuk Muda Cobra Merah yang memiliki ilmu tinggi lebih dua tingkat di atasnya. Namun bukankah ia memiliki seratus orang anggota yang siap dengan senjata masingmasing? Sesaat sang Datuk sepertinya hendak mengatakan siap! Setelah menimbang-nimbang untung ruginya, Datuk Mujo Hitam pun menjawab dengan suara agak berat.

"Aku tak mau, sebab aku pun perlu hidup."

Sang Datuk mengira kalau ucapannya bakal menjadikan Sanggara atau Datuk Muda Cobra Merah marah, tapi ternyata tidak. Datuk Muda Cobra Merah bahkan simpulkan senyum, angguk-kan kepala sembari memandang tajam pada Datuk Mujo Hitam.

"Kau ingin terus hidup?" tanyanya kemudian.

"Jelas. Setiap manusia perlu hidup. Bukankah aku pun juga?"

Kembali Sanggara tersenyum.

"Bukankah kau dapat mencari tempat lain? Mengapa kau mesti merebut tempat kuasa kakak seperguruanku?" tanya Sanggara menyindir, menjadikan muka Datuk Mujo Hitam seketika merah. "Apakah kau lupa pada semua janji para Datuk?"

"Persetan dengan janji itu. Aku yang penting hidup, dan hidup dengan segala kebisaanku."

"Hem, kalau begitu kau menentangku, Datuk?"

"Apa boleh buat. Ibarat merendam diri di air, kepalang basah. Maka lebih baik menyelam..." jawab sang Datuk, menjadikan Sanggara kembali tersenyum.

"Baiklah, Datuk. Karena aku sebagai wakil kakakku, maka aku pun harus memiliki kewajiban. Nah, apakah kau tak punya cara lain untuk semuanya, Datuk?"

"Tidak! Sudah aku katakan, tidak!" Datuk Mujo Hitam benar-benar marah merasa direndahkan oleh Sanggara. Kini ia benar-benar telah gelap, tak hiraukan siapa orang yang tengah dihadapinya. Orang yang namanya sempat menggemparkan dunia persilatan. Orang yang dijuluki dengan Anak Dewa, karena ilmunya yang tinggi. Dalam hati Datuk Mujo Hitam hanya ada satu pilihan, lebih baik mencoba menentang sekaligus menjajaki seberapa ilmu yang dimiliki oleh Datuk Muda Cobra Merah yang kesohor itu.

"Kalau memang itu yang engkau kehendaki. Jangan salahkan aku turun tangan."

"Aku sudah siap. Serang...!"

Mendengar seruan Datuknya, seketika seratus orang anggotanya berkelebat dengan senjata di tangan masing-masing menyerang Sanggara dan ketiga orang pengikutnya.

Sanggara yang tak ingin ketiga anak buahnya terkena serangan Datuk Mujo Hitam dan keseratus anak buahnya, tanpa sungkan-sungkan lagi keluarkan ilmunya. Maka tanpa ayal lagi, semuanya seketika terpelanting berjatuhan disapu angin besar yang keluar dari tangan Datuk Muda Cobra Merah. Melihat hal itu, segera Datuk Mujo Hitam balas serangan dengan ajian Api Beragam. Dari tangan sang Datuk keluar aneka warna api menyembur, menyerang ke arah Sanggara dan ketiga anak buahnya yang menjerit-jerit ketakutan melihat api besar mengarah ke arah mereka.

"Tuan, bahaya...!" seru Topel dengan tubuh gemetaran.

"Wadauw...! Panas, Pimpinan!" Sangkel ikut ketakutan, juga begitu halnya Rengek yang merengek-rengek bagaikan anak kecil saking takutnya. Mungkin saking ketakutannya, sampaisampai Rengek terkencing-kencing di celana.

"Aduh, Tuan. Bagaimana ini...? Waduh, panas..."

Walau anak buahnya bertingkah lucu dan ketakutan setengah mati, namun semua seperti tak membuat Sanggara tertawa atau bingung. Sanggara terdiam, matanya yang tajam memandang dengan sorot mata tajam. Perlahan tangannya terangkat tinggi, kemudian dengan disertai desiran tangan itu diarahkan memapaki ajian yang dilontarkan Datuk Mujo Hitam.

"Ajian Prahara Neraka. Hiat...!"

Seketika angin puting beliung yang sangat besar dart dahsyat menggelegar-gelegar, menyapu api yang hendak menyerangnya. Api itu seketika berbalik, menyerang ke arah tuannya. Tersentak kaget Datuk Mujo Hitam yang segera tarik mundur ajiannya. Dilemparkan tubuhnya, rebah rata dengan tanah mengelakkan serangan tersebut. Namun sungguh bahaya bagi anak buahnya. Seketika itu, seluruh anak buahnya beterbangan melayang-layang di udara hingga jauh dan akhirnya jatuh dengan tubuh membiru beku terkoyakkoyak.

Kini Datuk Mujo Hitam sadar, siapa yang tengah ia hadapi. Memang nama besar Datuk Muda Cobra Merah bukanlah omongan kosong belaka. Kini ia telah membuktikan kebenarannya sendiri. Maka mana kala Datuk Muda Cobra Merah lengah, segera Datuk Mujo Hitam tinggalkan tempat itu.

Merasa musuhnya telah tak ada, segera Sanggara atau Datuk Muda Cobra Merah hentikan ajiannya. Dicarinya tubuh Datuk Mujo Hitam, namun tak ditemukannya. Yang ada hanya bangkai-bangkai anak buah Datuk Mujo Hitam, dan seorang lagi yang masih hidup tampak memojok di pepohonan ketakutan. Orang itu tak lain Lego, yang sedari tadi ketakutan melihat apa yang terjadi. Ternyata segala omongannya benar, bahwa Datuk Muda Cobra Merah bukanlah orang sembarangan.

Sanggara yang melihat Lego tengah mojok dengan tubuh menggigil ketakutan segera menghampiri. Sejenak dipandangnya lekat-lekat tubuh orang tersebut, lalu dengan suara pelan seperti tak ada rasa permusuhan Sanggara bertanya: "Siapakah engkau adanya, Ki Sanak"

"Dia anak buahnya Datuk itu, Pimpinan." 

"Aku tahu, Sangkel!"

Sangkel seketika terdiam, tak berani berkata-kata. Ia tahu kalau pimpinannya yang seorang ini memang aneh, tapi baik hati. Berbeda dengan kakak seperguruannya yang kasar dan tak mengenal kompromi, Sanggara memang berjiwa tenang dan penyabar serta penyayang. Hanya saja sifatnya sungguh aneh.

"Siapa namamu, Ki Sanak?" tanya Sanggara kembali.

Mendengar suara yang tak mengandung permusuhan, Lego segera tengadahkan muka memandang pada siapa yang berkata. Walaupun jelas bahwa Sanggara tak menaruh dendam, namun rasa takut kalau-kalau Sanggara marah terus melekat di wajah Lego yang dengan terbatabata menjawab.

"Nama saya, Lego."

"Ki Sanak Lego. Apakah kau tahu ke mana larinya pimpinanmu?"

"Ti-tidak, Tuan. Saya tidak tahu, sungguh." 

"Ah, bohong kamu" hardik Rengek ikutikutan. "Masak anggotanya tak tahu ke mana pimpinannya pergi. Boong!"

"Rengek, diam kau!" 

Sanggara melotot, menjadikan Rengek tundukkan muka tak berani untuk menentang pandang. 

"Lego, apakah kau ingin bebas?"

"Be... benar, Tuan," jawab Lego terbata saking girangnya.

"Kau sekarang bebas. Tapi ingat, jangan sekali-kali kau turut serta dengan Datuk Mujo Hitam lagi. Kembalilah kau pada jalanmu, jalan yang baik!"

Tersentak Lego mendengar penuturan Datuk Muda Cobra Merah. Bagaimana tidak. Baru kali ini ia mendengar nasehat dari seorang Datuk yang sungguh-sungguh bertentangan dengan gelarnya. Gelar Datuk, biasanya untuk orang-orang beraliran sesat, tapi mengapa Datuk Cobra Merah jauh dari semuanya. Dia begitu baik, penyabar, pemberi saran yang di luar akal dan perbuatan seorang Datuk yang biasanya tak kenal ampun dan kejam. Tak percaya Lego mendengarnya, sehingga matanya memandang ke seluruhan tubuh sang Datuk dari ujung kaki ke ujung kepala seperti ingin meyakinkan.

"Kenapa, Lego? Apakah kau melihat keganjilan pada diriku?" tanya Sanggara, demi melihat Lego memandanginya terus menerus dari atas rambut sampai ke ujung kaki. "Ti-tidak. Tuan sungguh aneh." jawab Lego terbata.

"Aneh...? Apanya yang aneh, Lego? Aku manusia biasa seperti kamu. Bukan setan marakiyangan, atau dedemit yang suka mengganggu manusia."

"Sifat tuan yang aneh," Lego akhirnya menjelaskan, menjadikan Sanggara atau Datuk Cobra Merah mengernyitkan keningnya tak mengerti. "Sebagai seorang Datuk, sungguh tuan sangat berbeda. Sifat tuan yang baik dan welas asih, merupakan keterbalikan dari sifat seorang Datuk. Seorang Datuk akan tak mengenal semuanya. Yang hanya kebengisan dan keangkaramurkaan. Tapi tuan... Oh, tak ubahnya seorang Pendekar."

Jawaban Lego yang polos, menjadikan Sanggara tersenyum. Matanya berkaca-kaca, seakan gembira mendengarnya. Memang hati kecilnya menolak untuk menerima sebutan Datuk. Tapi mau dikata apa, sebab gelar tersebut bukan dia sendiri yang membuatnya, melainkan orang lain.

"Sudahlah, Lego. Kini aku berikan kebebasan padamu."

"Terimakasih, tuan, terimakasih!" Lego menjura-jura beberapa kali sebagai ungkapan rasa bahagia. Namun Lego hendak berlalu pergi, tiba-tiba Sanggara berseru memanggilnya. "Tunggu, Lego!"

Lego segera hentikan langkah, balikan tubuh kembali menghadap ke arah Datuk Muda Cobra Merah yang berjalan ke arahnya. "Ada apakah, Tuan?'

"Aku mau minta tolong padamu,"

"Tentang apa, Tuan? Kalau memang aku dapat, maka aku akan melaksanakannya," jawab Lego sembari duduk bersiku.

"Kau bisa, Lego. Kau akan aku minta tolong untuk memberikan surat pada kakak seperguruanku. Tapi ingat, kau jangan menampakkan diri. Lemparkan surat itu dari jauh dengan tombak, lalu kau harus pergi pulang ke rumahmu. Ingat, Lego. Jangan sampai ada yang mengetahui kedatanganmu, sebab tidak mungkin tidak kau akan mendapat celaka."

"Baiklah, Tuan. Segala apa yang disarankan tuan akan saya taati dengan seksama," Lego menjawab dengan muka menunduk. Hatinya masih diliputi beribu macam pertanyaan tentang Datuk yang satu ini, yang segala tindakannya sungguh-sungguh bertentangan dengan para Datuk lainnya.

Sanggara segera mengambil daun lontar yang sengaja ia simpan di balik sabuknya. Segera ditulisnya sebuah surat dengan guratan-guratan benda yang juga sengaja dia bawa.

"Datuk Gagak Hitam. Adik seperguruanmu telah aku hancurkan.

Beruntung aku tak ingin berurusan denganmu. Tapi ingat, jangan sekali-kali kau mendendam padaku. Aku telah membebaskan tanah kuasamu, dan meninggalkan dengan tulus ikhlas. Aku minta maaf, karena telah melalaikan janji para Datuk yang tidak boleh menyaingi Datuk lainnya. Kembali aku meminta maaf, karena telah berbuat jahat terhadap adik seperguruanmu. Semoga kau mau memaafkan...

Dariku: Datuk Mujo Hitam

"Ini suratnya. Coba kau ambilkan sebatang tombak itu," perintahnya pada Sangkel, yang dengan segera berlari untuk mengambil tombak yang ditunjuk pimpinannya. Setelah mengikatkan surat tersebut di ekor tombak, tombak itu pun segera diberikannya pada Lego.

"Saya pamit mundur, Tuan."

"Laksanakan dengan baik, dan hatihatilah," suara Sanggara datar, sepertinya dingin menyirami hati Lego, yang dengan segera berkelebat pergi kembali ke Hutan Tarakan di mana kudanya tadi tertambat. Dengan segera Lego pun memacu kudanya, pergi untuk menuju ke tempat Pesanggrahan Gunung Kapur yang letaknya setengah hari bila ditempuh dengan berjalan kaki. Hari telah agak sore, maka sebentar pun akan tiba malam. Hal itu sungguh sangat berarti bagi Lego, sebab dengan keadaan yang gelap Lego akan mudah menjalankan tugasnya.

***
EMPAT
MALAM mulai merambah, dan gelappun menghampar menyelimuti bumi dan isinya. Sebuah bayangan berkelebat, lompat dari kudanya dan berlari menuju ke sebuah pepohonan yang agak rimbun. Sejenak matanya memandang sekeliling, lalu menatap lekat pada titik api yang tampak dari rumah yang sesungguhnya sebuah Pesanggrahan. 

Merasa tak ada yang melihat, bayangan itu segera berkelebat lebih mendekat. Lalu dengan segenap kekuatan, dilemparkan sebuah tombak yang berada di tangannya ke arah Pesanggrahan tersebut. Terdengar seruan kaget membentak, bersamaan dengan berkelebatnya tubuh pelempar tombak itu lari menjauh menuju ke kudanya.

"Bedebah! Siapa yang telah berani lancang di sini!" memaki marah Renggana, demi melihat sebuah tombak berkelebat hampir saja menyerang tubuhnya. "Cari orang itu dan cincang tubuhnya bila tertangkap!"

Dengan tanpa banyak kata, orang-orang yang malam itu ada di situ segera menghambur ke luar untuk mengejar. Namun mereka sampai jauh menjarah tempat sekeliling, tak ada yang ditemukan. Yang tampak hanya hamparan gelap gulita di depan mereka. Maka dengan wajah penuh keputusasaan mereka kembali menemui Ketuanya.

"Mana orangnya!?"

"Tidak ada, Pimpinan," jawab mereka serempak.

"Bodoh! Mengejar seorang kunyuk saja kalian tidak becus!"

Semuanya tertunduk tak ada yang berani menjawab atau menentang pandang. Rasa takut jelas tergambar di wajah mereka, sehingga mereka nampak pucat pasi. Sementara Renggana nampak berjalan hilir mudik, dengan sekali-kali memandangi wajah-wajah anak buahnya yang masih tertunduk. 

Setelah sekian lama hilir mudik berjalan Renggana segera hampiri tombak yang menancap di dinding Pesanggrahan. Dicabutnya tombak itu, tombak yang di ekornya tergulung secarik daun lontar. Perlahan dibukanya ikatan daun lontar tersebut, lalu dengan segera dibacanya tulisan yang ada.

"Bedebah! Aku tak mau terima! Hem, kau telah membunuh adik seperguruanku, maka kau harus menghadapi aku, Datuk Anjing!" Renggana memaki-maki sendiri, entah pada siapa makian itu ditujukan. Yang pasti Renggana sangat terpukul dengan isi surat tersebut yang secara tidak langsung telah menghinanya. "Datuk Mujo Hitam. Hutang nyawa harus kau bayar dengan nyawa pula."

Mendengar ucapan Ketuanya yang mengatakan bahwa Datuk Muda Cobra Merah telah mati, seketika semuanya makin mendalamkan kepala menunduk. Ada kedukaan lewat celah-celah mata mereka, yang sepertinya duka itu terlalu berat. Memang duka itu terlalu berat bagi mereka. Bagaimana tidak, 

Datuk Muda Cobra Merah merupakan pimpinan yang baik, yang sangat bijaksana dalam memberikan apa yang mereka butuhkan. Beda dengan Datuk Gagak Hitam kakaknya, keras dan tak mengenal kasihan. Hal itulah yang mengakibatkan mereka semua seperti kehilangan segala-galanya. Kehilangan semangat juga kehilangan pimpinan yang baik.

"Sekarang kalian istirahatlah, besok kita mencari mayat Sanggara," Dengan lesu tanpa gairah Renggana meninggalkan anak buahnya yang masih terpaku di tempat mereka berdiri. Baru setelah melihat Ketuanya masuk ke dalam kamar, semuanya segera berlalu dari situ. Sebagian berjaga-jaga, kalau-kalau kejadian itu akan ada kelanjutannya. Malam terus merambah, menggelapkan segala apa yang berada di muka bumi. Angin pun bertiup, dingin menggigil ke tulang sumsum.

***

Pagi telah kembali datang, mana kala tampak serombongan orang-orang bersenjata golok yang sepertinya siap perang berjalan menuju ke arah Utara di mana terhampar hutan Tarakan. Orang-orang tersebut, tak lain dari anggota Pesanggrahan Gunung Kapur yang hendak mencari Ketua kedua mereka Sanggara. Dari kejauhan terlihat oleh mereka burung-burung Nazar beterbangan, lalu kemudian kembali menukik sambil membunyikan suaranya mencuitcuit.

"Lihat burung Nazar itu, sepertinya ia tengah memakan bangkai."

"Benar, Ketua. Sepertinya burung-burung itu memang memakan bangkai," jawab anggota yang berjalan di sebelahnya, yang sekaligus menjadi tangan kanan Renggana. Orang itu bernama Barda Kempo, berwajah menyeramkan dengan badan tinggi besar hingga ditakuti oleh para anak buahnya. Barda Kempo dulunya merupakan Ketua Bajak Laut. Setelah ditahan dan bersembunyi di desa Trenggalek. Dan mana kala ia melihat pertunjukan yang diadakan oleh kedua kakak beradik yang kini menjadi Ketuanya, Barda Kempo pun segera bergabung. Tak ada bedanya, dari Bajak Laut berubah menjadi Begal.

Semakin dekat mereka melangkah, semakin tampak jelas oleh mereka mayat-mayat yang sudah terkoyak-koyak oleh burung-burung Nazar bergelimpangan memenuhi Hutan Tarakan yang sunyi senyap laksana pekuburan.

"Cari di antara mayat-mayat tersebut. Apakah ada ciri-ciri adik seperguruanku dan ketiga orang pengikutnya?" berkata Renggana dengan nada memerintah. Mereka serentak bersamasama mencari. Namun dikarenakan keadaan tubuh mereka yang mati sudah tak karuan, susah bagi anggota Pesanggrahan Gunung Kapur untuk mengenali mayat-mayat itu lagi. Dan memang dari pakaian yang dikenakan para mayat, tak ada satu pun pakaiannya sama dengan pakaian yang dikenakan oleh Sanggara pada waktu pergi untuk mengadakan penyerangan pada gerombolan Datuk Mujo Hitam.

"Tak ada, Ketua!" Barda Kempo yang turut mencari bersama anak buahnya segera berseru memberitahukan pada Ketuanya, menjadikan Renggana kerutkan kening. 

"Mana mungkin tak ada? Sedangkan isi surat itu mengatakan bahwa Adikku telah binasa. Hem, apa artinya semua ini?" tanya Renggana penuh ketidakmengertian. 

"Jangan-jangan, semua hanya bohong belaka. Tapi... kalau bohong, mana mungkin adikku tak kembali, atau paling tidak ketiga orang anak buahnya?"

Misteri.... Ya, misteri bagi Renggana atau Datuk Gagak Hitam. Misteri yang harus diselidiki. Misteri yang menjadikan tanda tanya di hati Renggana. Semuanya serba gelap, tak ada yang dapat menjawab semua kejadian. Bagaimana mungkin, kalau memang binasa jelas ada mayatnya. Tapi ini, mereka tak menemukan bekas-bekasnya. Maka dengan hasil sia-sia, semua anggota Pesanggrahan dengan hati yang dibekali seribu satu macam pertanyaan yang harus mereka jawab.

Hilangnya Sanggara menjadikan Renggana frustasi. Namun demikian, bukannya Renggana patah semangat dengan ketidak adaannya seorang adik yang sangat dapat diandalkan. Tindakan Renggana bahkan makin menjadi-jadi. Segala apa yang pernah direncanakan, kini benarbenar dilaksanakannya. Seperti hari itu, Renggana tampak telah dihadapi oleh seluruh anak buahnya. 

Renggana sengaja memanggil semua anak buahnya untuk mengadakan pembicaraan hal rencananya untuk membuat segalanya berubah. Rencana untuk menjadikan dirinya Datuk segala Datuk. Salah satu jalan, dia harus berani menghadapi segala tantangan. Dia harus mampu menaklukan perguruan-perguruan persilatan golongan sesat. Ya, hanya itulah yang akan menjadikan namanya terkenal dan dijadikan momok pada para Datuk.

"Kalian semuanya, malam ini aku akan memberikan tugas baru pada kalian." berkata sang Datuk Gagak Hitam pada kedua ratus anak buahnya yang tampak mendengarkannya dengan seksama tanpa ada yang berani membuka mulut untuk bicara. 

"Sekian lama kalian hanya bertugas menghadapi orang-orang kecil. Malam ini aku akan memberikan tugas baru, yaitu kalian akan aku ajak untuk menguji sampai seberapa ilmu yang kalian miliki setelah digembleng oleh Adikku Sanggara atau Datuk Muda Cobra Merah. Kalian tahu apa yang bakal kalian kerjakan?"

"Tidak, Ketua...!" jawab seluruh anggotanya serempak.

"Malam nanti, kalian akan aku pimpin langsung untuk menyerbu ke Perguruan Bidak Setan. Bukankah kalian ingin sayap kita makin melebar?"

"Daulat, Ketua. Kami siap...!"

"Bagus! Itulah jiwa seorang pendekar golongan sesat. Pantang mengenal takut, siap menghadapi bahaya apapun macamnya!" suara Renggana makin berapi-api, merasa seluruh anak buahnya nampak menyetujui rencananya. "Siang ini kalian tak usah melakukan tugas, siapkan segala apa yang perlu untuk penyerbuan nanti malam."

Semuanya menurut, berlalu meninggalkan Ketuanya yang kini tinggal bersama Barda Kempo wakilnya. Semuanya pergi untuk mempersiapkan apa saja yang sekiranya dibutuhkan nanti malam. "Apakah tidak kesusu, Pimpinan?" tanya Barda Kempo, setelah anak buahnya pergi semua meninggalkan mereka. "Maksudku, apakah tidak

bisa diundur?"

"Tidak!" jawab Renggana singkat dan garang. Barda Kempo terdiam, tak lagi mengulang tanya. Lama keheningan itu berjalan, sehingga ruangan itu tampak sunyi senyap. Renggana tercenung, menancapkan matanya pada satu titik yaitu sebuah pohon cemara yang tumbuh di depan Pesanggrahan. Pohon itu mereka tanam bersama. 

Kini tinggal dia sendiri, sementara adik seperguruannya yang sama-sama mendirikan Pesanggrahan Gunung Kapur dan menanam pohon cemara itu kini entah ke mana, lenyap bagaikan ditelan bumi. Napas Renggana mendesah berat, seberat pikirannya yang bercabang. 

Pikirannya untuk menjadi Datuk segala Datuk terus menghantui jiwanya untuk mengejar cita-cita itu. Sementara di lain sisi, pikirannya melayang pada adiknya yang entah sekarang di mana rimbanya. Namun sepertinya kini yang menonjol adalah cita-citanya menjadi Datuk segala Datuk dengan kata lain, Raja para Datuk.

"Aku harus mampu," gumamnya lirih, hingga tak terdengar jelas oleh Barda Kempo yang ada di sampingnya. Barda Kempo hanya kerutkan alis mata, tak tahu apa yang telah digumamkan oleh Ketuanya. "Ketua menggumam. Apa yang Ketua gumamkan?" tanya Barda Kempo ingin mengetahui. 

Namun Renggana hanya tersenyum, lalu bagaikan orang gila Renggana tertawa bergelak-gelak. Suara tawanya makin lama makin melengking, tinggi menjadikan angin gelak tawa itu bagaikan ledakan-ledakan petir yang dahsyat mampu memecahkan gendang telinga. Ya, Renggana kini bagaikan tak waras. Ia termakan oleh anganangannya, menjadi Datuk Segala Datuk di dunia persilatan golongan sesat.

Barda Kempo hanya mampu menggigit bibir, menyumbat gendang telinganya untuk dapat mempertahankan getaran yang bagaikan ribuan petir menggema. Sampai darah menetes dari bibir yang tergigit Barda Kempo masih merasakan getaran yang aneh menghentak-hentak gendang telinganya. Tak tahan terus menerus begitu, Barda Kempo akhirnya menjerit sekencang-kencangnya.

"Berhenti...! Ketua sadarlah!"

Namun sepertinya tak mendengar jeritan Barda Kempo, Renggana yang memang benarbenar telah gila terus bergelak tawa sesuka hatinya. Tak ayal lagi, korban dari anak buahnya berjatuhan. Dari hidung dan mulutnya serta telinga mereka melelehkan darah. Barda Kempo yang sudah tak tahan, akhirnya roboh. Ia mati dengan keadaan yang sama seperti temantemannya, ku-ping dan hidung mengeluarkan darah. Sungguh tragis akhir dari Pesanggrahan Gunung Kapur.

Melihat semuanya bergelimpangan mati, serta merta Renggana yang sudah gila makin mengoncangkan irama gelak tawanya. Pohonpohon tumbang, air mencrat menerima getaran suara yang sungguh-sungguh dahsyat. Burung yang saat itu terbang di angkasa, jatuh dengan tubuh remuk bagaikan telah tercabik-cabik. Renggana seketika melompat ke luar, memandang ke langit di mana matahari bersinar. Dari mulutnya keluar sebuah pekikkan.

"Akulah yang akan menjadi Datuk segala Datuk. Hua, ha, ha...!"

Lalu dengan meninggalkan gelak tawa berkepanjangan Renggana berkelebat pergi meninggalkan Pesanggrahannya di mana tubuh-tubuh anak buahnya mati dengan keadaan mengerikan bergelimpangan memenuhi lapangan Pesanggrahan. Kini rumput yang tumbuh di lapangan, berubah warnanya bukan hijau lagi tapi kehitamhitaman tertutup oleh darah yang meleleh dari hidung dan telinga juga mulut anggota Pesanggrahan Gunung Kapur.

***
LIMA
KERAJAAN Kuning Gading tampak tenang dan tentram di bawah kepemimpinan seorang raja agung dan bijaksana bernama Prabu Briah Awangga. Di samping itu pula, patihnya yang merupakan seorang tokoh persilatan menjadikan keadaan kerajaan Kuning Gading makin tambah bersahaya. Sang patih yang kesatria bernama Rawa Sekti. Ia adalah seorang murid dari Empu Kanuruhan, yang sakti mandra guna. Di tangan sang Patih Rawa Sekti, perkembangan kerajaan Kuning Gading maju pesat. Kerajaan itu juga disegani oleh kerajaan-kerajaan lainnya.

Namun hari itu kerajaan nampak kelabu. Bias merah peperangan rupanya telah berkobar. Pokok dari peperangan itu tak lain karena pihak kerajaan Kuning Gading ingin menerapkan kebenaran dan keadilan.

Dua bulan yang lalu, pihak pemberontak yang dipimpin Longkat Ketek meminta pada kerajaan untuk mendirikan golongan kerajaan sendiri. Mereka kebanyakan di dalamnya golongan Datuk beraliran keras. Longkat Ketek menyuruh utusannya untuk meminta persetujuan pada sang raja, namun dengan mentah-mentah ditolaknya. Bahkan raja dirasa telah menghinanya.

Pertarungan itu terus berlangsung, memakan korban yang tidak sedikit baik dari pihak kerajaan mau pun dari pihak Longkat Ketek. Tapi rupanya pihak kerajaan yang dibantu oleh beberapa tokoh persilatan, ternyata tak mampu menghadang serangan para Datuk yang bergabung menjadi satu.

"Kalian menyerahlah, dan berikan pada kami kebebasan serta kemerdekaan untuk mendirikan negara sendiri yang terpisah dari kerajaan!" Longkat Ketek berseru, tangannya terus berkelebat-kelebat dengan cepatnya menyambar dengan keris pada musuh-musuh yang dijumpai dan bermaksud menghadang. Sebaliknya dari pihak kerajaan, nampak Patih Rawa Sekti tak mau kalah. 

Setiap hantaman tangan dan kakinya, menjadikan nyawa yang terkena seketika meregang. Juga Ambarik-mu, seorang Wiku istana. Dialah tokoh yang sangat disegani. Tokoh dari golongan tua yang masih malang melintang di dunia persilatan mengabdikan dirinya untuk kerajaan. Dengan kehadiran Rawa Sekti dan Ambarikmu, maka semangat para prajurit makin meninggi. Kini keadaan berbalik. Para prajurit yang tadinya terdesak, berganti mendesak musuh.

Betapa gusar dan marahnya Longkat Ketek menyaksikan hal itu. Maka dengan menggeram Longkat Ketek segera papaki serangan patih Rawa Sekti.

"Rawa Sekti, lebih baik kau menyerah dan ikut bergabung dengan aku!"

"Bedebah! Tak ada dalam kitabku untuk berkompromi dengan orang-orang semacammu!" balik menggeretak Rawa Sekti, menjadikan Longkat Ketek seketika menggeram marah. Mata Longkat Ketek merah menyala laksana bola api yang siap membakar. Napasnya mendengus, seakan ingin memangsa hidup-hidup Rawa Sekti.

"Hem, rupanya kau memang menghendaki mati, Rawa Sekti!"

"Lebih baik begitu, daripada harus menuruti segala apa yang menjadi kemauanmu, Iblis!"

"Bangsat! Kubunuh kau, Rawa Sekti.

Hiat...!"

Tubuh Longkat Ketek seketika berkelebat dengan keris pusaka di tangannya menyerang Rawa Sekti. Sebagai seorang pendekar murid Empu Kanuruhan, Rawa Sekti bukanlah pendekar murahan yang sekali gebrak saja terkencingkencing. Ia telah dididik dengan segala ilmu kanuragan dan keberanian, maka tak ayal jika Rawa Sekti menjadi seorang pendekar mumpuni.

Dipapakinya serangan Longkat Ketek dengan tangan kosong. Digunakannya ajian Lebur Raga, yang menjadikan tangannya seketika memerah bagaikan menyala. Longkat Ketek seketika tersentak kaget melihat apa yang tengah terjadi di tangan musuhnya. Ternyata musuhnya benarbenar bukan orang sembarangan. Pantaslah kalau semua tokoh persilatan golongan sesat takut padanya. 

Belum juga hilang rasa kagetnya Longkat Ketek, tiba-tiba Rawa Sekti telah memekik dengan tangannya siap dihantamkan. Longkat Ketek berusaha mengelak, namun kakinya tiba-tiba mengait sebuah batu. Tanpa ayal lagi, Longkat Ketek seketika terjengkang jatuh. Dan ketika tangan Rawa Sekti yang sudah membara hendak menyentuh tubuh Longkat Ketek, tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat menyabet tubuh Longkat Ketek dan membawanya pergi meninggalkan tempat tersebut.

Rawa Sekti sejenak tercengang menyaksikan betapa cepatnya orang itu menyambar tubuh Longkat Ketek. Kalaulah orang biasa, niscaya tak akan dapat segera mengelakkan serangan yang hanya berjarak beberapa centi saja.

"Siapakah dia? Apakah dia seorang Dewa?" tanya Rawa Sekti pada diri sendiri. Setelah sekian lama tersentak diam, Rawa Sekti segera berkelebat hendak mengejar. Namun ternyata bayangan itu telah lenyap, lenyap tak tampak oleh mata lagi. Maka dengan diliputi tanda tanya di hatinya, Rawa Sekti kembali melibatkan diri ke dalam pertempuran yang masih berjalan.

***

Orang yang tadi menyambar Longkat Ketek masih terus berlari dengan membawa tubuh Longkat Ketek dalam bopongannya. Setelah menengok ke belakang dan ternyata tak ada yang mengejarnya, segera orang bertutup muka dan pakaian serba putih hentikan langkah. Ditaruhnya tubuh Longkat Ketek, lebih tepat dilemparkannya ke atas rerumputan.

"Siapakah engkau, Ki Sanak?" tanya Longkat Ketek ingin tahu siapa orang yang telah menolongnya yang berkerudung muka serba putih dan pakaiannya pula.

"Bodoh! Dungu!" membentak orang bercadar dan berpakaian serba putih yang ditujukan pada Longkat Ketek tanpa hiraukan pertanyaan Longkat Ketek. Hal ini menjadikan Longkat Ketek terbengong-bengong tak mengerti.

"Kenapa Ki Sanak marah-marah setelah menolongku?"

"Bodoh! Lancang kau berani-berani menyerang kerajaan! Apakah kau kira kau akan mampu? Untung Pendekar Muda itu tidak datang. Kalau datang, maka sudah pasti kau akan menjadi sate!" Orang bercadar dan pakaian serba putih kembali membentak.

"Aku telah siap!" Longkat Ketek berkata setengah memekik. Ia begitu kesal pada orang di hadapannya, walau ia tahu bahwa tanpa adanya orang tersebut niscaya umurnya tak akan sampai saat itu. Sebab tangan maut Rawa Sekti mungkin telah memanggang tubuhnya menjadi panggangan orang. Tapi orang ini sungguh keterlaluan. 

Jangan karena telah menolong, lalu mentangmentang marah seenaknya. Orang itu ditanya baik-baik, malah memaki-maki. Kalau saja makian itu diucapkan oleh orang lain, niscaya Longkat Ketek akan memukul orang tersebut. Tapi yang bicara ini adalah orang yang telah menolongnya dari kematian hingga sukar bagi Longkat Ketek untuk melakukan tindakan.

"Siap...? Katamu siap?" Orang bercadar dan berpakaian serba putih bertanya dengan nada sinis. Mungkin bila cadarnya terbuka, nampaklah senyum sinisnya mengembang di kedua bibir. "Siap apa?"

Jengkel Juga Longkat Ketek mendengar ucapan yang sinis itu, yang baginya sudah keterlaluan. Maka dengan setengah membentak Longkat Ketek kembali berkata menjawab : 

"Siap mati!"

"Hua, ha, ha...! Orang dunggu! Apakah dengan dosamu yang menumpuk kau akan enak mati, hah?"

"Itu urusanku. Bukan urusanmu, Orang usil!"

"Hai, rupanya kau memang orang tak tahu diuntung, Datuk cabul! Kalau itu yang kau ingini, lakukanlah olehmu. Kembalilah kau ke kerajaan, di sana kau akan melihat sesuatu yang akan menjadikan nyalimu akan tampak jelas. Nyali seekor tikus tanah!"

Mendidih darah Longkat Ketek mendengar cacian yang dilontarkan oleh tuan penolongnya. Darahnya sebagai darah seorang Datuk seketika menggelegar, menerjang-nerjang bagaikan air bah yang membobolkan tanggul. Matanya memandang liar, menyala bagaikan penuh hawa kematian.

"Bedebah! Rupanya kau ingin menjadi pahlawan kesiangan!"

"Siapa bilang. Aku menolongmu karena hanya kebetulan saja," jawab orang bercadar itu dengan tenangnya, yang makin menjadikan dengusan kemarahan bagi Longkat Ketek.

"Bangsat! Siapa kau. Jangan sampai mati tanpa meninggalkan nama!" hardik Longkat Ketek yang sudah merasa mangkel. Namun seperti tadi, orang bercadar itu bagaikan acuh dan bicara tanpa memperdulikan ucapan Longkat Ketek.

"Sungguh orang-orang yang bodoh! Kalaulah ingin membunuh, mengapa mesti menanyakan nama segala. Kalau kau memang mampu, lakukanlah olehmu, Datuk Bodoh Cabul!"

"Bangsat! Jangan salahkan kalau aku tak tahu balas budi. Hiat!"

"Orang macammu, tak akan mengenal balas budi segala, Datuk!" 

"Benar-benar minta mampus kau. Hiat...!"

Tak ayal lagi. Longkat Ketek yang sudah tak dapat membendung kemarahannya lagi segera berkelebat menyerang. Namun bagaikan menghadapi seekor kerbau dungu saja, lelaki bercadar putih itu nampak tenang. Sepertinya segala serangan yang dilontarkan Longkat Ketek tak ada artinya sama sekali. Bahkan...!!

"Bug, bug, bug!"

Tiga kali pukulan lelaki bercadar putih itu telak menghantam tubuh Longkat Ketek. Seketika tubuh Longkat Ketek terpelanting ke belakang jatuh ke tanah dengan suara bergedebuk. Lelaki bercadar putih nampak tersenyum, terlihat dari tarikan cadarnya yang makin mengencang ke dalam.

"Nah, kalau kau belum puas dengan siapa aku, datanglah kau pada pertemuan para Datuk. Kelak kau akan tahu siapa aku. Kini orang menyebutku Datuk Suci. Hua, ha, ha...!"

Tanpa hiraukan Longkat Ketek yang masih terbengong tak mengerti siapa adanya Datuk Putih, sang Datuk segera berkelebat pergi meninggalkan Longkat Ketek. Dengan agak tertatih Longkat Ketek segera bangkit. Dipandangnya arah ke mana Datuk Putih berkelebat pergi, dengan hati seketika bergumam lirih: "Siapakah dia? Kenapa orang menyebutnya Datuk Putih? Ah, mana mungkin seorang Datuk beraliran lurus? Sungguh aneh "

Dengan tertatih-tatih, Longkat Ketek segera melangkah pergi dengan perasaan tak menentu. Pikirannya gundah, sebab sudah pasti dirinya kini menjadi buronan kerajaan. "Oh, tidak! Aku tak akan menyerah begitu saja," gertaknya dalam hati. Kakinya melangkah bagaikan melayang, terbawa oleh pikirannya yang beribu macam. 

Tentang keadaan dirinya, tantang tuan penolongnya yang misterius, tentang Eyang Sulir Kuning bekas kekasihnya yang telah ia beri janji untuk melakukan pertemuan pertarungan antara keduanya. Tenggelam segala bayang-bayang dirinya, bagaikan terbawa arus hidupnya sebagai seorang Datuk yang dimusuhi.

Tengah Datuk Longkat Ketek tercenung dalam langkahnya, tiba-tiba terdengar suara lengkingan gelak tawa. Semakin lama semakin dekat saja, lalu makin keras dan keras. Gelak tawa itu bukan gelak tawa saja, lebih tepat dikatakan pekikan. Datuk Longkat Ketek berusaha menahan getaran tawa itu sebisanya, namun tubuhnya seakan menjadi turut bergetar dahsyat. Manakala Datuk Longkat Ketek dalam keadaan begitu rupa, tiba-tiba terdengar bentakan seorang.

"Datuk Longkat Ketek, apa kau tahu di mana Datuk Mujo Hitam berada?!"

Berbareng dengan habisnya suara orang tersebut, seketika berkelebat si pemilik suara yang telah berdiri menghadapi Datuk Longkat Ketek yang terbelalak kaget dengan tubuh gemetaran. Dari mulut sang Datuk menggumam menyebut nama orang yang berada di hadapannya.

"Datuk Gagak Hitam...!"

"Ya. Aku, Longkat Ketek. Kau tahu di mana tempat Datuk Mujo Hitam?"

"Ada keperluan apakah engkau mencari Mujo Hitam?"

"Aku ingin membalas sakit hatiku. Dia telah membunuh adik seperguruanku." jawab Renggana seakan penuh kemarahan dan dendam, menjadikan sorot matanya membara bagaikan lautan api. "Katakan di mana ia berada. Cepat!"

"Sungguh dengan menyesal aku tak tahu," jawab Datuk Longkat Ketek, menjadikan Renggana yang otaknya sudah miring seketika mencengkeram baju yang dikenakan Datuk Longkat Ketek. Datuk Longkat Ketek segera tepiskan tangan Renggana, namun bagaikan sebuah beton tangan Renggana kokoh mencengkeram baju itu. Hal itu membuat Longkat Ketek tak dapat berbuat apaapa, dan hanya diam untuk menunggu ajal bila Renggana atau Datuk Gagak Hitam benarbenar membunuhnya.

"Katakan sekali lagi bahwa kau tak tahu, maka aku akan sumbat mulutmu untuk selamalamanya." Renggana mendengus, seakan ada kedukaan di matanya. Namun sejurus kemudian, tiba-tiba tawanya kembali melengking, tinggi dan memekakkan telinga.

Longkat Ketek benar-benar dibuat bingung dengan tingkah laku Renggana yang mirip kayak orang sinting. Longkat Ketek tak menyadari kalau Renggana memang tengah dilanda penyakit jiwa yang berat, yaitu tekanan batin atas segala pikirannya. Belum juga Longkat Ketek mengerti dengan arti semuanya, tiba-tiba Renggana telah kembali membentaknya.

"Katakan pada para Datuk Persilatan, akulah Datuk Segala Datuk. Akulah Raja Datuk dunia Persilatan. Ingat itu! Kalian semua DatukDatuk kroco harus menyembah padaku. Mengerti!"

Setelah berbuat begitu, tanpa memperdulikan lagi pada Datuk Longkat Ketek, Renggana segera berkelebat pergi dengan kembali bergelak tawa bagaikan orang gila. Datuk Longkat Ketek hanya tercenung. Ia ingat ucapan Renggana atau Datuk Gagak Hitam. "Ah, bagaimana ini? Kalau semuanya saling berbeda haluan, runtuhlah para Datuk akibat permusuhan para anggota." keluh Longkat Ketek. 

Dengan segera Longkat Ketek berkelebat untuk menemui para Datuk lainnya. Longkat Ketek akan menceritakan apa yang telah ia alami, bahwa Datuk Gagak Hitam bermaksud mengangkangi para Datuk yang telah ada Ketuanya walau Ketua itu bulan purnama esok sudah harus diganti. Kini bertambah lagi pikiran Longkat Ketek. Karena terlalu pusingnya pikiran Longkat Ketek tak hiraukan segalanya, ia lari dan terus lari dengan cepatnya.

***
ENAM
PERTEMPURAN di alun-alun kerajaan nampak masih terus berjalan dengan korban banyak berjatuhan di antara kedua belah pihak. Walaupun Ketuanya telah minggat, namun prajurit dari gerombolan sesat yang menghendaki kebebasan bagi diri mereka untuk memerdekakan golongannya dari kerajaan terus bersemangat. Mereka sepertinya pantang untuk mundur menyerah. Wajah mereka beringas, mata mereka menyala-nyala laksana api neraka.

Rawa Sekti dan Resi Ambarikmu nampak makin mengganas, setiap saat selalu tangan dan kaki mereka mencari kematian. Tak bosanbosannya Rawa Sekti dan Ambarikmu bagaikan anak kecil hantamkan ajian mereka pada musuh, yang seketika itu memekik dan ambruk dengan tubuh hangus terbakar.

"Menyerahlah kalian! Kalian tak akan mampu menghadapi aku!" seru Rawa Sekti setengah sombong. "Kalian percuma saja melakukan perlawanan, sebab tak ada gunanya. Apakah kalian ingin seperti teman-teman kalian itu...?!"

"Benar! Kalian menyerahlah, agar pihak kerajaan tak berat menghukum pada kalian semua!" Tiba-tiba terdengar seruan seseorang bersamaan dengan berkelebatnya orang yang memiliki suara itu. Semua mata seketika memanahkan pandangannya pada orang tersebut. Seorang pemuda berambut gondrong dan berpakaian putih perak tiba-tiba telah ada di situ. Rawa Sekti dan Ambarikmu yang mengetahui siapa adanya pemuda tersebut segera menjura hormat.

"Oh, rupanya tuan Pendekar. Kebetulan. Kami memang mengharapkan bantuan tuan untuk sudilah menghalau mereka," Ambarikmu dan Rawa Sekti berkata bareng, sepertinya kedua orang tertinggi kerajaan itu dikomando untuk menyatakannya.

"Kalau boleh aku tahu, mengapa sampai terjadi hal seperti ini? Apa masalahnya. Dan siapa pula yang telah membuat kerusuhan ini?"

"Mungkin tuan Pendekar tahu siapa-siapa adanya mereka?" tanya Ambarikmu.

Pemuda tampan berpakaian putih perak sesaat palingkan muka memandang pada para prajurit yang tengah bertempur menghadapi pemberontakan. Sejurus kemudian, pemuda itu menggumam lirih. "Golongan kaum Datuk. Hem, rupanya Datuk-datuk dunia persilatan telah berkeliaran untuk memenuhi ambisi mereka. Ini tak dapat dibiarkan. Siapa Ketuanya, Paman Patih?"

"Ketuanya tak lain Datuk Longkat Ketek. Ia ingin meminta kemerdekaan bagi para Datuk untuk mendirikan sebuah kerajaan sendiri."

Pemuda itu anggukkan kepala mendengar penuturan Rawa Sekti. Matanya tajam memandang lurus ke muka, di mana pertempuran masih terus berlangsung. Pemuda yang tak lain Jaka Ndableg, sunggingkan senyum, sepertinya ada kelucuan yang telah terjadi di antara mereka. Hal itu menjadikan kedua orang tokoh istana belalakan mata, tak percaya pada apa yang mereka saksikan. Betapa sungguh anehnya Pendekar itu. 

Dalam keadaan perang begitu rupa ia masih sempat sunggingkan senyum, seakan segalanya hanya main-main. Belum juga kedua pembesar istana itu memahami arti senyuman pendekar Pedang Siluman Darah, tiba-tiba sang Pendekar telah kembali berkelebat pergi sembari berseru. "Paman Patih, aku akan mencoba mencari pimpinannya. Kalian berdua cepatlah selesaikan pertempuran tersebut."

Kedua Patih kerajaan Kuning Gading sejenak terhenyak, lalu dengan sadar keduanya segera berkelebat masuk ke arena pertempuran. Makin bertambah ramai saja pertarungan itu, dengan datangnya dua tokoh utama kerajaan. Kini para pemberontak nampak terdesak mundur, tak mampu menghalau amukan kedua tokoh utama Kerajaan.

Tengah pertempuran itu berlangsung, tibatiba dari dalam istana sebuah bayangan berkelebat sambil membawa sesosok tubuh. Bayangan tersebut berlari, meninggalkan istana. Rawa Sekti yang melihat bayangan hitam berkelebat sembari membawa tubuh Rajanya yang sudah dalam keadaan tertotok segera berkelebat mengejar tanpa perdulikan mereka yang bertempur.

"Monyet! Berhenti kau...!"

Orang yang membawa tubuh raja Kuning Gading tak mau perduli. Malah langkah larinya makin cepat, menjadikan Rawa Sekti seketika terjengah. Digunakannya ilmu lari, namun sampai tingkatan akhir ilmu larinya Rawa Sekti tak mampu mengejar orang berjubah hitam. Orang itu akhirnya menghilang di balik bukit, tinggal Rawa Sekti yang terdiam mematung.

"Oh, apa arti semua ini?" keluh Rawa Sekti, merasa usahanya untuk kembali merebut sang raja yang diculik telah gagal. "Apa yang dapat aku lakukan? Segalanya kini berjalan cepat. Wangsit itu, oh... sungguh sebuah kebenaran. Oh, benarkah Kerajaan akan hancur dan dikuasai oleh seorang Datuk Gila...? Jagad Dewa Batara, sungguh aku tak dapat membayangkan bila hal itu harus terjadi." keluh hati Rawa Sekti. Dengan hati galau Rawa Sekti akhirnya tinggalkan bukit Lamus, kembali menuju alun-alun kerajaan.

Tersentak Rawa Sekti bercampur senang, mana kala dilihatnya seorang pemuda yang sudah ia ketahui siapa adanya nampak turun membantu menghalau para pemberontak. Saking senangnya Rawa Sekti, sampai-sampai ia bagaikan anak kecil berseru girang.

"Tuan Pendekar... jangan beri ampun mereka!"

Jaka Ndableg tak hiraukan seruan Rawa Sekti, dia masih berkelebat-kelebat menghindari serangan para pengeroyoknya dengan sesekali berteriak-teriak bagaikan orang ketakutan.

"Wadauw... kenapa kalian sadis?" tubuh Jaka berkelebat, melenting ke angkasa bagaikan orang bermain akrobatik. Tubuh itu berputar bagaikan baling-baling, lalu menukik ke bawah dan...!

"Bletok, bletok, bletok!" 

"Aduh...!"

Menjerit tiga orang pengeroyoknya seketika, manakala tangan Jaka yang menyatukan jarijarinya mematuk-matuk bagaikan paruh burung pelatuk. Tak ayal, kepala mereka seketika bocor mengeluarkan darah. Orang-orang itu berputarputar sesaat, lalu ambruk menjatuhi temantemannya dengan mata melotot bagaikan dibeset kulitnya.

Yang lainnya melihat hal itu segera menggeram dan langsung menyerang dengan senjata ke arah Jaka. Hal itu menjadikan Jaka yang sudah ke luar kekonyolannya, menanggapi dengan ocehan-ocehan yang dapat menjadikan gelak tawa bagi yang mendengarnya.

"Ladalah, mengapa memang begitu sadisnya? Itu golok jangan untuk main-main, Mang. Bahaya!"

"Bedebah! Golok kami akan merencah tubuhmu, Anak Edan!"

"Waduh! Jangan Mang... kenapa Mamang memusuhiku? Kenapa Mamang semua hendak menurunkan tangan jahat?" Jaka kembali mengoceh, lalu menjerit manakala tiga orang lagi berkelebat membabatkan golok mereka ke tubuhnya. "Tobat... Mamang...!"

Ketiga orang pengeroyoknya tak perduli pada apa yang dilakukan oleh Jaka. Mereka terus berusaha mencerca Jaka, walau Jaka telah melesat ke atas laksana terbang.

"Baik, kalau kalian memang sadis begitu. Sebagai ungkapan rasa hormatku, akan aku berikan pada kalian hadiah berupa tiket masuk ke akherat sana!" Setelah berkata demikian, segera Jaka menukik ke bawah. Tangannya yang sudah membentuk paruh burung, berkelebat-kelebat kian ke mari.

Ketiga orang pengeroyoknya sejenak tersentak melihat hal itu. Namun mereka segera babatkan golok mereka, menghadang tangan Jaka yang hendak mematuk kepala. Jaka tersentak, tarik tangannya dan kibaskan kaki yang berada di atas mengayun ke bawah. Ketiga orang yang tak menyangka kalau Jaka dapat dengan mudah bergerak seperti itu, kembali tersentak dan berusaha menghindar. Tapi... gerakan Jaka Ndableg begitu cepat hingga...!

"Dug... dug... dug...!"

Memekik seketika ketiga orang tersebut, dengan tulang dada sepertinya remuk. Tubuh ketiga orang tersebut sesaat mengerang, meregang lalu akhirnya mati terkulai.

Hal itu menjadikan yang lainnya nampak agak jeri juga. Nyali mereka hampir lenyap dari hati, manakala melihat betapa pemuda yang bertampang konyol tersebut ternyata bukan seorang pemuda sembarangan. Apalagi ketika salah seorang di antara mereka membisikkan siapa adanya pemuda tersebut, pucat pasilah wajah semuanya memandang takjub pada Jaka yang masih senyum-senyum sendiri.

"Pendekar Pedang Siluman Darah!" pekik semuanya kaget.

Jaka Ndableg masih tampak tenang. Dari belakang Rawa Sekti dan Ambarikmu telah datang menghampiri. Kedua tokoh utama kerajaan itu segera berdiri menjejeri Jaka. Mata mereka memandang tajam pada sisa-sisa pemberontak yang ketakutan setelah mengetahui siapa adanya pemuda tersebut. "Kenapa kalian kaget? Bukankah kalian anak buah Datuk Longkat Ketek yang gagah berani?" Jaka bertanya dengan senyum sinis mengembang di bibirnya. "Apakah kalian masih hendak meneruskan tindakan kalian yang dungu itu?"

Semuanya tak ada yang menjawab. Muka mereka tertunduk, tak berani menentang pandang ke arah Jaka.

"Tangkap mereka...!" Rawa Sekti seketika berseru memerintah pada anak buahnya yang dengan segera menjalankan tugas. Sisa-sisa pemberontak itu menurut, tak berani untuk melakukan perlawanan lagi. Ya, sia-sia saja bila mereka melakukan perlawanan sebab di pihak kerajaan kini telah ada seorang pendekar muda yang namanya tengah membumbung tinggi dengan ilmu yang tiada terkalahkan, sehingga orang-orang persilatan mengatakan Titisan Dewa. 

Hal itu dapat terlihat dengan ajian-ajian yang dimiliki oleh pendekar tersebut. Ajian Jamus Kalimusada, adalah ajian milik Dewa Wisnu. Juga ajian Buto Dewa Wisnu. Ajian lain adalah Tapak Bahana, ini merupakan ajian Dewa Brahma. Lalu ajian Petir Sewu, yang merupakan ajiannya Dewa Petir.

"Tuan Pendekar, tunggu!" Rawa Sekti berseru memanggil, mana kala dilihatnya Jaka hendak berkelebat pergi. Jaka segera hentikan langkah, berpaling sesaat menunggu kedatangan Rawa Sekti yang berjalan tergesa-gesa ke arah-nya.

"Ada gerangan apa lagi?" tanya Jaka setelah Rawa Sekti sampai. "Kami kembali mohon pertolonganmu." 

"Pertolonganku...?" tanya Jaka seakan tak percaya.

"Ya, pertolongan tuan."

"Tentang apa? Kalau memang sekiranya aku mampu, maka aku akan membantu kalian. Tapi kalau aku tak mampu, maka dengan amat menyesal terlebih dahulu aku meminta maaf."

"Kami rasa tuan mampu," jawab Rawa Sekti, menjadikan Jaka tersentak kerutkan kening.

"Hai, mengapa engkau berkata begitu, Paman Patih?" tanya Jaka tak mengerti. 

"Aku manusia biasa sepertimu, Paman Patih. Setiap manusia, ada kalanya mengalami kesialan. Begitu juga halnya dengan diriku, aku pun akan sekalikali membutuhkan bantuan orang lain. Kadangkala, orang yang tak terkenal tiba-tiba mampu menangani masalah yang tak dapat ditangani oleh orang yang sudah terkenal sepertiku. Ah, kenapa kau berkata tak menentu? Sudahlah, sekarang katakanlah apa yang akan Paman utarakan padaku."

Patih Rawa Sekti seketika tundukkan muka. Matanya berkaca-kaca, seakan ingin menangis. Rasa tanggung jawabnya sebagai seorang patih yang harus melindungi rajanya, ternyata tak mampu. Tengah keduanya terdiam, dari istana berlari-lari sang Permaisuri Ayuning Diah menghampiri mereka.

Kedua orang itu juga para prajurit yang lain segera tundukkan tubuh sembari menghormat, hanya Jaka saja yang cuma anggukkan kepala. Hal itu menjadikan Ayuning Diah belalakkan mata, menatap tajam pada Jaka Ndableg. Manakala ia hendak marah, tiba-tiba rasa marah itu hilang kala matanya beradu pandang dengan mata Jaka. Hati Ayuning Diah bergetar, mendesah panjang. "Ah... Kenapa aku ini? Kenapa pemuda ini mampu membuat hatiku bergetar? Oh, sungguh tampannya pemuda ini."

Jaka Ndableg yang tahu bahwa Ayuning Diah kini memperhatikan dirinya segera tundukkan muka, membuang wajahnya ke bawah. Masih ingat ucapan Ratu Siluman Penguasa Bumi, bahwa hampir seluruh wanita akan jatuh cinta padanya. Bila ingat itu semua, seketika hati Jaka menggumam dan mengumpat-umpat dirinya sendiri.

"Oh, kenapa aku tampan? Kenapa aku banyak disukai oleh orang-orang? Kenapa aku dicintai oleh wanita? Kenapa aku banyak yang memusuhi pula? Bagaimana dengan gadis-gadis itu...? Loro Ireng, Dewi Miranti atau si Bidadari Selendang Ungu, dan masih banyak lagi gadisgadis yang mendambakan cintaku. Kini... kini Permaisuri kerajaan Gading Kuning. Oh "

"Siapakah engkau adanya, Ki Sanak?" terdengar suara lembut berkata, menjadikan Jaka yang tengah menunduk tersentak dan dongakkan mukanya. Hal itu memang yang diinginkan oleh Ayuning Diah, yang tiba-tiba hatinya telah terpaut. Tidakkah itu sebuah kegilaan? Bagaimana mungkin Jaka Ndableg mau menerimanya? Bukankah Ayuning Diah adalah istri sahabatnya, Raja Briah Awangga?

Jaka segera membuang segala angannya, lalu dengan kembali menunduk menjawab pertanyaan Ayuning Diah. "Nama hamba yang rendah ini, Jaka."

"Dia adalah Pendekar Pedang Siluman Darah, Permaisuri," menambah Rawa Sekti, menjadikan kanjeng Permaisuri belalakkan matanya yang lentik. Sejurus ditatapinya lekat wajah Jaka, yang tak mau mengadu pandang lagi dengan Permaisuri. Hati Permaisuri bergetar, bagaikan meledak-ledak. Seketika kekhawatiran tentang diri suaminya menghilang, kini berganti dengan api asmara. Jaka yang melihat sinar mata sang Permaisuri dengan segera berkata pada Patih Rawa Sekti.

"Paman Patih, apa yang hendak engkau katakan padaku tadi?"

Namun patih Rawa Sekti yang tidak mengerti akan apa yang tengah terjadi antara Jaka dan Permaisuri rajanya, seketika tersentak kaget. Ia susah untuk menjawab, sebab tidak mungkin kalau Permaisuri tidak mengutarakan hal itu bakal ia ceritakan pada Jaka.

"Tuan Pendekar, mengapa mesti engkau kesusu?"

Terjengah Jaka Ndableg mendengar pertanyaan Ayuning Diah yang tak diduga-duga sebelumnya. Namun Jaka masih berusaha menunduk dengan harapan tidak kembali beradu pandang dengan Permaisuri yang ia tahu telah terpanah hatinya. Tatapan Permaisuri Ayuning Diah masih lekat, memanah pada Jaka yang tak dapat berbuat apa-apa. Hati Jaka seketika gundah, sulit untuk mengerti apa kemauan istri Raja Briah Anggawa yang memang masih muda dan cantik jelita.

"Maaf, Kanjeng Permaisuri. Hamba rasa, hamba tak mempunyai waktu banyak. Untuk itulah, sekiranya ada yang hendak Permaisuri utarakan. Hamba mohon secepatnyalah."

Permaisuri Ayuning Diah hanya tersenyum. "Oh, segitu sibuknya engkau, Tuan Pendekar?"

"Ah, tidak demikian adanya, Kanjeng Permaisuri. Hamba hanya minta secepatnyalah apa yang hendak Kanjeng Permaisuri utarakan. Kalau memang hamba dapat membantu. Hamba akan berusaha membantunya."

"Baiklah. Aku pun tiada hak menghalangimu. Aku sadar, bahwa aku telah memiliki seorang suami."

Terjengah semuanya mendengar ucapan Kanjeng Permaisuri Ayuning Diah yang tak terduga-duga itu. Betapa terkejutnya mereka, sepertinya ada halilintar menggelegar seru di siang hari bolong. Tak disangka oleh mereka kalau Kanjeng Permaisurinya ternyata jatuh hati pada pendekar muda tampan itu. Mereka maklum, bahwa kalau mereka wanita pun pasti akan mengalami hal serupa seperti Kanjeng Permaisurinya. 

Memang tampan pemuda pendekar itu, sehingga banyak gadis-gadis yang jatuh cinta. Melihat kebisuan di antara mereka, secepatnya Rawa Sekti yang mengetahui gelagat segera memecahkan keheningan berkata: "Kami memohon bantuanmu untuk dapatlah membebaskan Baginda Raja yang diculik oleh seseorang."

"Ah...." Jaka mendesah kaget. "Paman Patih tahu siapa adanya orang tersebut?"

Patih Rawa Sekti sejenak mendesah, berat. "Sungguh menyesal, aku tak mengetahuinya dengan pasti."

"Oh, susah. Bagaimana dengan Kanjeng...Kanjeng Permaisuri?"

Ucapan Jaka yang tersendat, menjadikan Ayuning Diah tersenyum dikulum. Dia senang, senang sekali mendengar Jaka berucap yang ditujukan padanya. Tanpa menghiraukan semuanya yang ada di alun-alun, Ayuning Diah hampiri Jaka. Dan dengan tiba-tiba, diciumnya Jaka yang seketika tersentak kaget tak luput juga yang lainnya.

"Kenapa?" tanya Ayuning Diah seperti tak berdosa. "Bukankah aku perlu mengucapkan terima kasih atas segala bantuanmu?"

Semuanya tak ada yang berkata, diam bagaikan sebuah patung.

"Orang yang menculik Baginda Raja, menyebut dirinya Datuk Gagak Hitam atau Datuk Segala Datuk," Permaisuri akhirnya menerangkan siapa adanya penculik tersebut. Mendengar jawaban sang Permaisuri, Jaka yang tak ingin semuanya berlarut segera berkelebat pergi laksana tiupan angin. Hal itu menjadikan semua yang ada di situ hanya terbelalak, mulut mereka melompong bengong dan kepala mereka gelengkan.

***
TUJUH
PARA Datuk-datuk persilatan golongan sesat, kini resah oleh hadirnya Dua Datuk yang beraliran lain. Salah seorang beraliran menyelimpang, yaitu beraliran lurus yang mengakui namanya sebagai Datuk Putih. Orang ini selalu dalam sepak terjangnya mengenakan segalanya serba putih, sampai-sampai cadarnya pun memakai cadar putih. Sementara salah seorang lagi, dia mengaku Datuk segala Datuk. 

Kalau orang yang kedua telah mereka ketahui adanya, tapi orang yang pertama sungguh merupakan misteri tersendiri. Mereka belum tahu siapa adanya Datuk Putih tersebut. Kalau dianalisa secara rinci, jelas Datuk Putih merupakan halangan bagi perkembangan para Datuk golongan sesat. Sebab tidak mungkin tidak, Datuk Putih akan selalu menghalangi gerakan para Datuk lainnya untuk dapat menguasai dunia persilatan. 

Jangankan ada Datuk Putih, tak ada pun mereka dibikin kalang kabut oleh seorang Pendekar muda bergelar Pendekar Pedang Siluman Darah. Sudah seorang tokoh Datuk yang disegani mati di tangan Pendekar muda tersebut. Datuk itu tak lain Datuk Tuyul Setan, yang mati dengan tubuh terbelah oleh senjata pendekar muda tersebut. (Baca Kisah Cinta Memendam Dendam). 

Apalagi kini muncul Datuk Putih, sungguh makin terjepit keadaan mereka. Mereka menyangka kalau Datuk Putih tak lain hanyalah penyamaran Pendekar Muda tersebut. Walaupun mereka tahu bahwa saat itu di dunia persilatan ada lima atau enam tokoh-tokoh persilatan yang ilmunya hampir dikatakan rata dan dapat dikatakan kelas wahid. Pertama, Jaka Ndableg si Pendekar Siluman, Supit Songong, Bidadari Selendang Ungu, Maling Siluman, dan seorang Datuk bernama Sanggara yang menurut kabar hilang entah ke mana rimbanya.

Saat itu para Datuk tengah berkumpul, membahas masalah kejadian-kejadian yang makin menghimpit kedudukan mereka. Mereka sebenarnya ingin mengangkat Datuk Gagak Hitam sebagai Ketua, tapi mereka takut Datuk gila itu akan makin merepotkan. Datuk Gagak Hitam memang tindakannya terlalu telengas, tak perduli pada kawan maupun lawan. Tapi bila tidak diangkat menjadi Ketua, mereka pun bingung siapa yang akan menghadapinya. Juga masalah Datuk Putih yang makin terasa mendesak kedudukan para Datuk.

"Apa yang harus kita perbuat?" tanya Longkat Ketek membuka kata.

"Entahlah," mengeluh Datuk Rambut Merah. "Kita belum tahu seberapa ilmu keduanya. Apakah tidak mungkin kita jajaki ilmu mereka terlebih dahulu?"

"Jangan-jangan Datuk Putih samaran dari Pendekar Muda tersebut," Datuk Setan Buntung turut nimbrung. Semuanya terdiam menganggukanggukkan kepala, sepertinya membenarkan ucapan Datuk Setan Buntung.

"Mungkin juga. Kalau benar begitu, maka keadaan kita benar-benar telah kejepit," gumam Datuk Sejuta Racun. "Sebenarnya semua dapat kita atasi apa bila kita bersatu. Tapi rupanya kita terlalu mementingkan ambisi kita masing-masing, sehingga kita kurang kompak."

"Maksudmu, Racun Sejuta?" tanya Longkat Ketek.

"Bukankah kau sendiri dapat menjawabnya?" balik menanya Datuk Racun Sejuta, menjadikan Longkat Ketek kerutkan kening tak tahu apa tujuan kata-kata Sejuta Racun.

"Aku belum mengerti," jawab Longkat Ketek.

"Kau ada masalah dengan Datuk Sulir Kuning, bukan?"

"Ya... memang kenapa?"

"Itulah yang aku maksudkan kita selalu mementingkan diri kita sendiri. Apakah kau tak dapat memaafkan Sulir Kuning?"

Longkat Ketek mengangguk-anggukan kepala mengerti.

"Tapi sebenarnya bukan aku yang tidak memaafkan. Aku telah berusaha selalu mengalah padanya, tapi rupanya dia masih menaruh dendam pada ku."

"Dendam cinta...?" Sejuta Racun bertanya dengan nada kelakar. Seketika semua yang hadir pun tertawa bergelak-gelak, menjadikan muka Datuk Longkat Ketek merah padam mukanya. "Sudah... sudah! Kita di sini bukan untuk bercanda, tapi untuk mengadakan rapat pembentukan Perserikatan Datuk guna menanggulangi bahaya yang akan menimpa persekutuan kita!"

Datuk Tangan Berapi selaku Ketuanya segera menengahi. "Kalau kita tak bisa memutuskan masalah ini, lebih baik aku akan mengundurkan diri dari Perserikatan Datuk!" ancamnya, menjadikan semua Datuk yang ada di situ tersentak kaget. Bagaimana tidak, hanya Datuk Tangan Berapi yang dapat diandalkan oleh mereka pada masa-masa sekarang ini. 

Dulu memang masih ada Datuk Tuyul Setan, tapi sekarang Datuk tersebut telah binasa di tangan Pendekar Pedang Siluman Darah. Tinggal Datuk Tangan Berapi dan Datuk Sejuta Racun serta Rambut Merah saja yang masih dapat diandalkan. Kalau tiga orang tersebut mengundurkan diri salah satunya, niscaya kekuatan mereka makin menurun saja. Hal ini sudah barang tentu sebuah bencana bagi para Datuk.

Tengah semua Datuk terdiam memikirkan bagaimana caranya menjadikan Datuk Tangan Berapi tak mundur, tiba-tiba dua bayangan berkelebat dari arah yang berlainan.

"Mengapa kalian mesti bingung. Aku Datuk Sangkala Putung yang akan menjadi Ketua kalian!"

"Aku Datuk Lolo Genderlah yang pantas menjadi Ketua!"

"Tidak bisa! Akulah yang pantas menjadi Ketua para Datuk, sebab ilmuku sangat tinggi dibandingkan dengan ilmumu juga ilmu kalian yang ada di sini!" Datuk Sangkala Putung membentak, merasa ada orang lain yang menghalangi niatnya untuk menjadi Ketua para Datuk. Sudah sepuluh tahun lebih ia menggembleng dirinya dengan kembali menekuni semua ilmu dengan harapan dapat menjadikan dirinya sebagai ketua Datukdatuk, ternyata ada orang lain yang menghalanginya.

"Ilmumu tinggi? Hua, ha, ha...! Seberapa?" tanya Datuk Lolo Gender dengan senyum mengejek. "Akulah yang berilmu paling tinggi di antara kalian semua. Apakah kalian kurang yakin? Akulah pemilik ajian Seribu Iblis. Hua, ha, ha,...!"

Tersentak semua yang ada di situ mendengar Datuk Lolo Gender menyebut nama ajian yang langka itu. Sudah seabad lamanya ajian itu menghilang dari dunia persilatan setelah si Raja Iblis yang menghilang dengan sekejap mata tanpa sepengetahuan para pendekar dunia persilatan.

"Kau tidak berdusta, Lolo Gender?" tanya Sangkala Putung kurang yakin. "Kau mungkin berdusta."

"Hem, mungkin kalian tak percaya kalau aku katakan bahwa aku adalah murid tunggal si Raja Iblis."

"Apa...!"

Semua yang hadir seketika terkesiap darahnya, demi mendengar ucapan Lolo Gender. Bagai-mana mungkin Raja Iblis yang hidup seabad yang lalu masih hidup? Dan bagaimana mungkin Lolo Gender mengaku-aku murid tunggalnya. Menurut cerita leluhur mereka, Datuk Raja Iblis tak pernah mengangkat barang seorang pun menjadi muridnya. Tapi kini Lolo Gender mengaku-aku sebagai murid si Raja Iblis. Sungguh tidak masuk di akal.

"Tidak mungkin...!"

"Kalian masih tak percaya? Akan aku buktikan!" Datuk Lolo Gender sejurus kemudian terdiam, mulutnya komat kamit membaca mantra. Kemudian...! Semua orang yang berada di situ seketika membelalakkan mata tak percaya. Mereka melihat tubuh Lolo Gender seketika berubah menjadi banyak dengan muka yang berbeda-beda dan tubuh membara. Api menyala-nyala pada tubuh keseribu Datuk Lolo Gender yang berwajah berbeda-beda.

Ketika Datuk Lolo Gender tertawa, seketika gelak tawanya membahana bersaut-sautan. Ya, karena mereka berjumlah banyak seribu orang dan bareng tertawa, jadi sudah barang tentu tawa mereka bagaikan ledakan-ledakan petir. Kini semuanya baru yakin, seyakin yakinnya bahwa Datuk Lolo Gender memang murid dari si Raja Iblis.

"Baiklah kami semua percaya," Datuk Tangan Berapi berkata mewakili semuanya. Mendengar ucapan Datuk Tangan Berapi, Lolo Gender kembali tertawa tergelak-gelak. Perlahan tubuh keseribu orang Datuk Lolo Gender yang wajahnya beraneka ragam menyatu kembali dan menjadi Datuk Lolo Gender.

"Nah, apakah kalian sangsi untuk mengangkatku sebagai Ketua kalian?" 

"Tidak! Kami tak sangsi lagi." jawab semuanya serempak.

"Baiklah. Sekarang katakan apa yang menjadikan kalian merasa bagaikan terjepit?" tanya Lolo Gender dengan suara angkuh, merasa bahwa dirinyalah yang paling sakti di antara para Datuk. "Kami tengah dihadapkan pada sesuatu masalah yang belum kami dapat selesaikan." 

"Apa itu, Rambut Merah?"

"Kini di Dunia Persilatan telah muncul dua Datuk yang berbeda, namun sama bahayanya bagi kedudukan kita. Salah seorang bernama Datuk Gagak Hitam atau Datuk segala Datuk "

"Bedebah.! Berani dia mengangkat dirinya sebagai Datuk segala Datuk. Apakah dia tak tahu ada aku yang pantas!" Datuk Lolo Gender tampak marah, sepertinya Gagak Hitam telah berani mencorengkan tahi di mukanya.

"Lancang dia!"

"Itulah yang pertama. Yang kedua, adalah seorang Datuk aneh berilmu tinggi dan beraliran lurus. Ia menyebutkan dirinya Datuk Putih."

"Hem, itu soal mudah bagiku...." Belum juga habis ucapan Datuk Lolo Gender, tiba-tiba terdengar suara seseorang membentak dari luar. "Sombong kau! Apakah kau mengira dengan ilmumu yang masih picisan itu mampu menghadapi dua Datuk itu, hah!"

"Siapa kau!" Datuk Lolo Gender segera berkelebat ke luar, diikuti oleh seluruh yang hadir. Nampak seorang bertubuh tinggi besar dengan muka lebat tertutup cambang bawuk dan mata merah menyala telah berdiri di situ. Mulut orang tersebut menyeringai sinis, menunjukkan gigigiginya yang kuning, napasnya terdengar menderu-deru, laksana tiupan angin prahara. Napas itu terasa panas, membara menyelimuti orangorang yang ada di situ yang tersentak kaget. "Datuk Gagak Hitam...!"

"Ya, akulah Datuk Gagak Hitam atau Datuk segala Datuk. Siapa saja yang membangkang padaku, maka kematianlah yang akan ia dapatkan!" Datuk Gagak Hitam atau Renggana tersenyum sinis, berjalan dengan langkah berat menghampiri mereka. Tiba-tiba dari belakang berkelebat seorang nenek-nenek tua, yang bukan lain Datuk Sulir Kuning.

"Longkat Ketek, aku datang untuk mengadakan perhitungan dengan dirimu."

Datuk Gagak Hitam menyeringai, merasa ada seorang nenek-nenek masih berani menantang para Datuk. Dengan melirik sesaat Gagak Hitam bertanya: "Apakah kau ada masalah dengan salah seorang Datuk yang ada di sini, Nek?"

"Benar. Aku ada masalah dengan Datuk itu!" jawab si nenek yang tak lain Sulir Kuning sembari tunjukkan telunjuknya ke arah Datuk Longkat Ketek.

"Masalah apa, Nek?" kembali Gagak Hitam bertanya.

Si nenek tersipu-sipu, sukar untuknya menjawab.

Melihat hal itu, segera Gagak Hitam kembali berkata: "Aku harap nenek tunggu dulu."

"Tidak bisa!" bantah si nenek. "Kenapa...?"

"Kau boleh berurusan dengan yang lainnya, tapi aku minta kau tak ikut campur dengan urusanku."

"Nenek peot, mengapa kau keras kepala. Lucu kau, Nek. Kau tak ubahnya seorang perawan centil kegatelan."

Merah padam muka Sulir Kuning demi mendengar ucapan Gagak Hitam yang menjadikan semuanya tersenyum. Maka tanpa ingin tahu terlebih dahulu siapa adanya orang yang bicara, dengan segera Sulir Kuning berkelebat menyerangnya.

Gagak Hitam hanya tersenyum, egoskan tubuh mengelakkan serangan si nenek. Tanpa ayal lagi, tubuh si nenek seketika terus terpelanting nyusur ke tanah. Si nenek makin mengganas, ia bangkit dengan menggeram dan kembali menyerang. Melihat hal itu Gagak Hitam tak kaget, malah dia tampak tersenyum. Dan ketika tubuh si nenek kembali berkelebat, Gagak Hitam segera egoskan tubuhnya dengan tangan bergerak cepat. Dan..!!!

"Bret... Slosot...!"

Semua mata terbelalak melihat apa yang terjadi. Celana yang dikenakan oleh si nenek dan baju-bajunya seketika tertarik, lepas dari tubuh si nenek yang terus melaju dan kembali menggusrak di tanah.

Bukan alang kepalang lagi kemarahan Datuk Longkat Ketek melihat hal itu. Walau ia bermusuhan dengan si nenek Sulir Kuning, namun hatinya masih mencintai si nenek yang lima puluh tahun lalu menjadi kekasihnya. Maka tanpa ayal lagi Longkat Ketek dengan didahului menggeram, menyerang Gagak Hitam yang seketika tersentak.

"Rupanya kau ingin membela kekasihmu," Gagak Hitam berkata mengejek. Senyumnya sinis, lalu dengan hanya miringkan tubuh sembari kibaskan tangan Gagak Hitam telah mampu membuat Longkat Ketek berjumpalitan sendiri menghindari kibasan tangan Gagak Hitam. Gagak Hitam terkekeh, hampiri tubuh Longkat Ketek yang terpelanting jatuh. 

Mana kala tangannya hendak mencengkram, tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat. Bayangan tersebut milik Datuk Lolo Gender, yang segera membuat Gagak Hitam tersentak urungkan niatnya. Gagak Hitam kini berpaling pada orang yang telah menyerangnya, matanya memandang bengis. Dan tiba-tiba...!

"Hua, ha, ha...! Hua, ha, ha...!"

Gagak Hitam bergelak tawa, makin lama irama tawanya makin kencang, melengking menjadikan sebuah hentakan yang mampu memecahkan gendang telinga. Kegilaanya kini mulai kambuh, menjadikan Gagak Hitam bukanlah Gagak Hitam sebenarnya. Segala Iblis telah masuk, menyusup ke dalam tubuh Gagak Hitam. Tanpa ampun lagi, orang-orang yang tak mampu bertahan bergelimpangan mati dengan hidung dan telinga keluar darah.

Tersentak semuanya yang hadir di situ, tak percaya kalau ada orang yang memiliki ilmu tertawa sedahsyat itu. Namun sebagai seorang Datuk, mereka diajukan pada keberanian. Dicobanya untuk terus bertahan, bahkan Datuk Lolo Gender yang merasa memiliki ilmu paling tinggi seketika menyerang. Hal itu rupanya diketahui oleh Gagak Hitam yang dengan segera hentakkan tawanya makin kencang sembari membentak. "Minggir...!"

Sungguh dahsyat! Karena bentakan tersebut Lolo Gender yang memiliki ajian Seribu Iblis mampu dipentalkan jatuh di hadapan para Datuk lainnya. Tapi Lolo Gender tak mau kalah begitu saja. Gengsinya yang telah mengakui sebagai pewaris ilmu Raja Iblis, menghendaki dirinya untuk tak mau mengalah. Segera ia bangkit, lalu perlahan matanya terpejam. Mulutnya komat kamit membaca mantra, dan...! Seribu Datuk Lolo Gender seketika muncul.

Melihat musuhnya berbuat begitu, Gagak Hitam pun tak mau kalah. Segera Gagak Hitam merapalkan mantranya, maka tubuhnya seketika berubah menjadi beribu-ribu ekor burung gagak raksasa. Semua yang ada dan menonton di situ tersentak kaget, tak percaya pada apa yang mereka lihat. Burung Gagak Hitam yang berjumlah seribu itu seketika beterbangan menyerang keseribu orang Datuk Lolo Gender yang muka-mukanya beraneka ragam. Dengan ganas keseribu burung Gagak Raksasa itu mematuk-matuk, menyerang dengan sekali-kali berkelit dengan gesitnya.

Pertarungan dua Datuk yang hendak mengangkat dirinya sebagai Datuk segala Datuk terus berjalan. Mereka hanya ada satu prinsip, kalah dan mati atau menang untuk menjadi pimpinan para Datuk.

Pertarungan itu tak ubahnya sebagai pertarungan dua kekuatan Iblis yang menguasai keduanya. Datuk Lolo Gender, berada di pihak Raja Iblis Muka Sewu. Sebaliknya Gagak Hitam, berada pada pihak Iblis Gagak Kematian.

Burung Gagak itu terus menyambar-nyambar, sesekali mematuk dan kemudian terbang menghindar. Karena musuhnya seekor burung yang ganas dan pemakan bangkai, maka Lolo Gender nampak kesukaran. Api yang menyala di tubuhnya bagaikan tak berarti apa-apa bagi para burung Gagak Raksasa tersebut. Namun keduanya bagaikan tak mau mengalah, mereka menginginkan kemenangan. Ya, kemenangan untuk menjadikan dirinya sebagai Datuk segala Datuk. Pertarungan itu entah kapan berakhir, yang jelas keduanya sama-sama tangguh. Keduanya terus saling rangsek, sehingga membuat tubuh keduanya makin lama makin menjauhi tempat semula.

***

Pertarungan dua Datuk tersebut masih terus berjalan dengan sengitnya. Sudah menginjak hari ketiga mereka bertarung sepertinya mereka tak mengenal rasa capai atau pun lelah. Mereka terus saling serang, saling rangsek dengan ujudujud mereka.

Sementara itu, nampak di tempat lain seorang pemuda yang tidak lain Jaka Ndableg tengah berlari-lari dalam usahanya mencari Raja Briah yang hilang diculik oleh Datuk segala Datuk atau Datuk Gagak Hitam.

"Ke mana aku harus mencarinya? Sedangkan aku sendiri tak tahu di mana kediaman Datuk tersebut?" keluh Jaka putus asa. "Ah, bukankah hari ini adalah pertemuan para Datuk?"

Jaka tercenung bingung, melangkah mengikuti ke mana kakinya berjalan. Sekali-kali ia menyanyi, menghibur hatinya yang tengah gundah gulana. Mana kala ia tengah asyik-asyiknya menyanyi, tibatiba sebuah bayangan putih berkelebat menghadangnya. Bayangan putih tersebut seketika menjura padanya, menjadikan Jaka terlolong bengong karena ia tak mengenal siapa adanya bayangan tersebut.

"Siapakah engkau adanya, Ki Sanak? Mengapa engkau tiba-tiba menjura padaku?" tanya Jaka tak mengerti. Matanya memandang atau mengawasi orang tersebut dengan seksama. Orang itu masih menjura, lalu kemudian terdengar suaranya yang berat berkata:

"Tuan Pendekar, sungguh aku tak menyangka kalau aku dapat bertemu denganmu. Hendak ke mana dan ada tujuan apa tuan pendekar menyelusuri hutan ini?"

"Ah, kenapa kau ditanya malah menanya sebelum menjawab?"

"Oh, maafkan kelancanganku. Namaku Sanggara atau orang menjuluki diriku dengan sebutan Datuk Putih. Karena pakaianku putih, juga perbuatanku tidak seperti Datuk-datuk lainnya." 

"Oh, begitu. Baiklah, Sanggara atau Datuk Putih. Aku datang ke sini semata-mata tengah mencari seorang yang diculik oleh Datuk Gagak Hitam yang menyebutnya Datuk segala Datuk. Orang tersebut adalah Raja Kerajaan Gading Kuning. Apakah Ki Sanak dapat menunjukkan di mana adanya aku dapat menemukannya?"

Sejenak Datuk Putih terdiam tanpa kata. Ia sepertinya tengah tercenung, manakala Jaka mengutarakan nama orang sangat ia kenal. Ya, Gagak Hitam, adalah nama yang sedari kecil ia kenal. Gagak Hitam tak lain kakak seperguruannya, yang kini gila akibat cita-citanya yang kelewat ambisi.

"Kenapa Ki Sanak Datuk Putih terdiam?" 

"Ah, ti-tidak. Aku sungguh menyesal tidak mengetahuinya. Tadinya aku mengira tuan Pendekar hendak menuju ke pertemuan para Datuk." 

"Oh, mungkin juga aku ke sana. Namun untuk sekarang ini, aku hendak mencari Raja Kerajaan Gading Kuning." jawab Jaka. 

"Apakah Ki Sanak hendak ke sana?"

"Benar adanya. Aku memang hendak pergi ke sana."

"Baiklah kalau begitu. Aku hanya dapat mengucapkan selamat tinggal," Jaka pun dengan segera melesat pergi setelah menjura hormat. Kepergiannya yang begitu cepat laksana angin, menjadikan Datuk Putih menggeleng-gelengkan kepala tak percaya pada apa yang dilihatnya. Setelah melihat Jaka telah menghilang, segera Datuk Putih pun berkelebat meninggalkan tempat tersebut.

Hari kelima telah berjalan, kini nampaklah siapa yang bakal menang dan siapa yang bakal kalah di antara dua Datuk yang tengah bertarung itu. Burung-burung Gagak itu makin mengganas, menyerang bagaikan tak kenal ampun. Luka-luka kini diderita oleh keduanya, namun sungguh lebih parah adalah Lolo Gender. Mata Lolo Gender Seribu Rupa itu, kini hilang satu tercucuk paruh Gagak Hitam.

Semuanya yang menyaksikan hanya mampu diam. Hati mereka tercekap tak berani untuk berkata-kata atau memisahkan salah satunya. Mereka yang bertarung bukanlah orang sembarangan, yang sudah diketahui memiliki ilmu yang sungguh tinggi.

"Apakah kita akan mendiamkan saja, Kakang?" tanya Rambut Merah pada Tangan Api yang berdiri di sampingya. "Bahaya kalau salah satunya harus ada yang mati."

Tangan Api hanya tersenyum kecut mendengarnya, laku katanya:

"Apakah ada yang berani memisahkan mereka? Huh, mencari mati."

Rambut Merah hanya diam, merasakan bahwa ucapan kakaknya memang benar adanya. Siapa yang akan berani memisahkan kedua Datuk yang berilmu tinggi itu? Kalau memang orang itu mencari mati, maka mungkin hal itu akan dilakukannya.

"Kak... Kak... Kak...! Mampuslah kau, Lolo Gender!" 

"Bedebah! Aku belum kalah, Gagak Hitam!" 

"Baiklah! Hari ini juga kau akan aku kirim ke akherat!"

"Jangan bermimpi!"

Keduanya kembali saling serang. Kini keduanya telah kembali pada bentuk asal mereka. Mata Lolo Gender benar-benar telah hilang sebelah. Mukanya morat marit dicakar oleh Gagak Hitam. Sebaliknya Gagak Hitam pun tak luput dari luka, namun sungguh tak separah Lolo Gender. Gagak Hitam hanya luka-luka kecil belaka, sehingga serangan-serangannya masih tampak lincah dan keras.

Gagak Hitam seketika kembali memekik, lalu tertawa bergelak-gelak laksana orang gila. Gunung yang berada di situ, seketika runtuh.

Bersamaan dengan runtuhnya Gunung Kapur, seketika Gagak Hitam mencelat terbang dan...!

"Aaah...!" Lolo Gender memekik sesaat, kepalanya copot tertarik oleh tangan Gagak Hitam yang seketika berubah bentuk menjadi Gagak Hitam kembali. Burung Gagak Hitam Raksasa itu terbang membawa kepala Lolo Gender, jauh dan makin menjauh. Dilemparkannya kepala tersebut, manakala sampai ke tengah-tengah lautan

Selatan. Tamatlah riwayat Lolo Gender, mati dengan keadaan yang mengerikan.

Semua seketika memburu pada tubuh Lolo Gender yang tergeletak dengan tanpa kepala. Darah membasahi sekelilingnya, menjadikan rerumputan berubah menjadi merah kehitam-hitaman. Kini Datuk Gagak Hitam telah berlalu pergi, sepertinya ia tak menghendaki dirinya menjadi pimpinan para Datuk yang kini terlolong bengong. Mereka tak mengerti dengan tingkah laku Datuk Gagak Hitam, yang serba aneh.

***
DELAPAN
TENGAH kesemua Datuk itu tak mengerti dengan segala tindakan Gagak Hitam, tiba-tiba bayangan putih berkelebat menuju ke arah mereka. Seketika mereka yang ada di situ tersentak kaget, memanahkan pandangannya ke arah orang berpakaian serta cadar serba putih.

"Datuk Putih...!!"

Datuk Putih nampak tersenyum, terbukti cadar yang dipakainya mengerut ke dalam. Matanya yang tertutup oleh kain cadar putih, memandang pada kesemuanya yang nampak ketakutan.

"Kalian para Datuk. Apa yang tengah kalian lakukan di tempat ini?" tanyanya dengan suara tenang.

Semua tak ada yang menjawab, sepertinya mulut mereka bungkam seribu kata. Hal itu menjadikan Datuk Putih terkesiap, marah seketika dan membentak

"Apakah kalian bisu!"

"Ampun! Kami-kami... tengah menyaksikan kematian salah seorang anggota kami yang mengerikan." jawab Rambut Merah mewakili temantemannya.

"Mati? Mati karena apa?"

"Ia mati di tangan Datuk Gagak Hitam." 

"Siapa dia?"

"Ia adalah Lolo Gender."

"Hem...." hanya desahan pendek saja yang keluar dari mulut Datuk Putih. Perlahan ia tengadahkan muka memandang ke arah selatan di mana Gunung Kapur menjulang tinggi dengan angkuh dan megahnya. "Kakang Renggana, sungguh perbuatanmu sudah kelewat batas. Kau telah gila dengan segala kemenangan. Hem, kalau saja Pendekar muda itu tahu bahwa Raja Kerajaan Gading Kuning mati olehmu, sungguh aku tak dapat memikirkannya." keluh hati Sanggara atau Datuk Putih.

"Apakah kalian masih menghendaki kekacauan di dunia? Apakah kalian masih menghendaki partai kalian tumbuh?" tanya Datuk Putih setelah lama tercenung diam.

"Jelas! Kami para Datuk menghendaki partai kami tumbuh!" tiba-tiba seorang Datuk yang tak lain dari pada Datuk Sangkala Putung menjawabnya. Hal itu menjadikan Datuk Putih seketika memandang ke arahnya dengan tajam, walau matanya tertutup oleh kain tapi jelas sorotan mata itu begitu menghunjam.

"Hem, kau! Rupanya kau masih ingin menjadikan dirimu orang yang disembah-sembah, Sangkala Putung. Tak aku sangka, orang setuamu masih saja bertingkah macam-macam. Apakah kau tak mengingat lagi usiamu yang sudah bau tanah itu?"

"Bedebah! Aku tak perduli. Kami adalah Datuk dan sepantasnyalah kami berbuat."

"Oh, begitu? Apakah kau akan mengulangi pertarungan antara Datuk seperti yang baru saja kalian saksikan? Hem, kalian belum tahu apa akibatnya rupanya. Atau barangkali kalian memang sengaja menutup mata. Lihatlah temanmu itu, dialah korban dari segala keserakahan kalian para Datuk!" membentak Datuk Putih agak jengkel. Merasa ucapannya seperti tak digubris oleh orang tersebut. "Kalian akan berbuat apa bila aku menghalangi kalian?"

"Aku akan menentangmu!" tak kalah Sangkala Putung membentak.

Datuk Putih hanya tersenyum, sepertinya ucapan Sangkal Putung sebuah lelucon. Ya, ia bisa saja berkata begitu, sebab ia bukanlah orang sembarangan.

"Menentangku? Apakah kau mampu, Sangkala Putung?'

"Sombong! Jangan kira aku takut dengan nama besarmu yang sudah kesohor. Aku Sangkala Putung pantang untuk takut,"

"Hua, ha, ha... kau tak ubahnya seorang yang sombong dan tak mengaca diri. Kalau kau tak mengenal takut, mengapa kau tak menghadapi Datuk Gagak Hitam? Mengapa mesti Lolo Gender yang menghadapi?"

"Hem, kau boleh berkata apa. Tapi aku tak takut padamu!"

"Oh, begitu? Kau tak akan takut bila aku buka siapa adanya aku sesungguhnya? Maaf, aku bukan ingin pamer, tapi aku hanya ingin sekedar menyadarkan kalian untuk kembali ke jalan yang lurus. Mumpung masih ada umur!"

"Benar katamu, Ki Sanak Datuk Putih!" Semua mata seketika membelalak, mana-

kala terdengar seruan seseorang yang berbarengan dengan berkelebatnya sesosok tubuh pemuda dan tahu-tahu telah berdiri sejajar dengan Datuk Putih. Tak alang kepalang, seketika semua yang ada di situ membersit kaget.

"Pendekar Pedang Siluman Darah!" 

Jaka sepertinya acuhkan kekagetan mereka, ia bertanya pada Datuk Putih yang berdiri di sampingnya. 

"Datuk Putih, menurutmu bagaimana dengan Raja Kerajaan Gading Kuning?"

Datuk Putih atau Sanggara sejenak menarik napas panjang, sepertinya hendak membuang segala beban di hatinya yang terlalu berat. Beban berat itu, tak lain dari pada orang yang menjadikan biang keladi keributan ini semua. Orang itu adalah kakak seperguruannya sendiri, yang mau tidak mau harus dia hadapi.

"Beliau telah mati di tangan Datuk Gagak Hitam." jawabnya pelan seakan tak ada semangat. 

"Sayang, dia adalah kakak seperguruanku sendiri," Datuk Putih bergumam lirih, hanya terdengar oleh Jaka saja yang seketika kerutkan ke-ning.

"Jadi...?"

 Jaka tak dapat berkata panjang.

"Ya, aku adalah adik seperguruannya. Itulah makanya aku tak dapat berbuat apa-apa," keluh Datuk Putih seperti putus asa. Jaka hanya mampu menghela panjangpanjang, ia juga turut merasakan kepedihan yang dirasakan oleh Datuk Putih. Bagaimanapun juga, Datuk Putih sukar untuk berbuat. Seperti halnya makan buah Simalakama. Dimakan ayah mati, tidak dimakan ibu pun mati. Datuk Putih pun mengalami hal begitu rupa. Ditumpas kakak sendiri, tidak ditumpas akan membuat petaka terus menerus.

"Aku jadi bingung, Tuan Pendekar."

"Aku memaklumi apa yang engkau pikirkan. Aku juga akan berbuat seperti itu bila aku menjadi dirimu."

Kedua pendekar ternama itu hanya terpekur diam, susah untuk memikirkan tindakan apa yang harus mereka lakukan. Tengah keduanya terdiam, tiba-tiba para Datuk yang merasa dirinya sudah terpepet tanpa disadari oleh Jaka dan Datuk Putih menyerang mereka.

Tersentak keduanya sembari melompat mundur, menjadikan para penyerangnya makin tambah beringas saja. Dengan bergabungnya para Datuk itu menyerang, sudah menjadikan sebuah kekuatan yang sukar untuk dibendung. Namun bukanlah Jaka Ndableg bila harus mengalah begitu saja. Maka dengan memaki-maki sejadi-jadinya Jaka terus berusaha mengelitkan serangan.

"Dasar orang-orang mencari mampus!" bentak Jaka marah.

"Kalian berdualah yang mencari mampus!" Sangkala Putung yang mengira ilmu Jaka dan Malaikat Datuk Putih berada di bawahnya membentak, lalu dengan segenap ilmu yang ia miliki menyerang membabi buta.

"Wadauw... rupanya mereka ingin hadiah dari kita, Saudara Datuk Putih. Lihat... mereka tak ubahnya kegembiraan menari-nari demi mendengar aku hendak memberi hadiah pada mereka."

Setelah berkata begitu, serta merta Jaka berkelebat bagaikan seekor burung walet menyambar. Tangannya dikepakkan bagaikan terbang.

Datuk Putih yang melihat tingkah laku Jaka, seketika terkesiap kaget. Bagaimana mungkin orang bertarung seperti orang yang main-main. Datuk Putih begitu mengawatirkan keadaan Jaka. Dan ia hendak bermaksud menolongnya manakala terdengar Jaka berseru.

"Lihat sahabat! Mereka akan aku beri kue apem. Hiat...!"

Tangan Jaka Ndableg yang tadi membentang, tiba-tiba menutup dengan salah satu tangannya mengepalkan tinju. Lalu dengan menukik Jaka hantamkan bogem mentahnya ke arah orang yang berada di depannya, yang seketika itu bermaksud mengelak. Namun ternyata hantaman yang dilontarkan Jaka hanyalah tipuan. Ketika orang itu mengelak dan menangkis tangannya, segera Jaka tarik tangannya dan ganti ayunkan kedua kakinya bagaikan orang main ayunan. "Bug...!"

Tendangan kedua kaki Jaka yang disatukan telah mengenai dada musuh. Seketika orang tersebut menjerit, mengerang sesaat dan akhirnya ambruk dengan dada bolong melelehkan darah. Tulang iganya remuk berantakan.

Sebaliknya Datuk Putih, nampak menghadapi serangan-serangan para Datuk dengan keadaan tenang. Setiap hantaman tangannya seketika mengeluarkan angin pukulan yang sungguh dahsyat. Tapi nampaknya para Datuk hitam itu bukanlah musuh-musuh kelas kroco yang sekali gebrak lari terbirit-birit. Mereka adalah Datukdatuk kaum persilatan golongan sesat.

"Bedebah! Kalian berdua akan kami cincang!"

"Hua, ha, ha,... Datuk Tangan Api, apa aku tak salah dengar bahwa aku hendak memberikan kami daging cincang? Ouh, sungguh kau adalah seorang sahabat yang mengerti situasi. Memang aku tengah lapar saat ini. Mana Daging Cincang itu..."

Marahlah Datuk Tangan Api mendengar ucapan Jaka yang seperti orang konyol. "Setan!"

"Eh, kenapa kau menyebutkan dirimu sendiri, Datuk?" tanya Jaka makin konyol, menjadikan Datuk Tangan Berapi tak alang kepalanglah kemarahannya. "Wah jangan terlalu emosi, cepat tua. Hua, ha, ha!"

Jaka segera kelitkan tubuh manakala tangan Datuk Berapi itu menyerang ke arahnya. Hawa panas yang keluar dari nyala api di tangan Datuk Tangan Berapi memang panas tiada kira. Namun bagi Jaka, yang kondang namanya tidak menjadikan masalah. Segera Jaka salurkan Hawa Murni ke sekujur tubuhnya.

"Datuk, kau janganlah suka bermain api. Aku takut kau nanti akan terbakar sendiri," Jaka berbicara seperti seorang yang menasehati. "Api di tanganmu sungguh bahaya, Datuk."

Diam-diam Jaka salurkan segenap kekuatannya ke tangan. "Akan aku lawan api tersebut dengan Bayu Dewa," gumam Jaka dalam hati. Dan secara tak diketahui oleh Datuk Tangan Api, Jaka salurkan ajian Bayu Dewa. Seketika angin puting beliung berserabutan ke luar dari telapak tangan Jaka, menjadikan api di tangan Datuk Tangan Berapi berhamburan balik menyerang tuannya. Tak ayal lagi, Datuk Tangan Berapi seketika menjerit-jerit. Tubuhnya seketika itu terbakar oleh apinya sendiri. Sang Datuk segera berlari, berusaha untuk sedapatnya memadamkan api yang membara di tubuhnya.

Jaka tertawa bergelak-gelak demi melihat musuhnya pontang panting dengan api melekat di tubuhnya. Tengah ia tertawa bergelak-gelak, tibatiba sebuah senjata berkelebat hendak menyerangnya.

"Wadaou... hampir aku kena!"

Jaka segera lemparkan tubuh bersalto, namun ternyata di belakangnya telah menyambuti sebatang tombak yang digenggam oleh musuh mengarah ke tubuhnya.

"Ah...." Jaka sesaat mengeluh. 

"Mati aku "

Akalnya seketika kembali konyol. Dan manakala kedua musuhnya menyerang seketika Jaka lentingkan tubuh ke angkasa. Maka dengan seketika kedua musuhnya saling tusuk dengan senjatanya masing-masing.

Di pihak lain Datuk Putih pun tak mau begitu saja mengalah oleh keroyokan para Datuk yang sepertinya tak mengenal rasa takut. Datuk Putih sebenarnya enggan untuk menurunkan tangan jahatnya, namun keadaan mendesaklah hingga ia terpaksa menurunkannya.

"Sebenarnya aku enggan menurunkan tangan jahatku, tapi rupanya kalian memaksaku. Baiklah, aku akan melayani kalian dengan segenap kemampuan yang aku miliki."

"Jangan banyak bacot, Datuk Putih!" bentak Sangkala Putung.

"Kau masih sombong, Sangkala Putung. Kau rupanya memang manusia yang sudah bersekutu dengan Iblis!"

Sangkala Putung tertawa bergelak-gelak sepertinya merasa bangga dapat dikatakan sekutu Iblis. Maka dengan gelak tawa yang masih ia lakukan, Sangkala Putung segera berkelebat menyerang kembali.

Pertarungan dan dikeroyok oleh puluhan Datuk-datuk persilatan golongan sesat ini terus berjalan. Mereka nampaknya tak akan segera menghentikan pertarungan tersebut. Mereka rupanya ingin mengungguli satu sama lainnya.

***

Tengah pertarungan itu berjalan dengan seru, tiba-tiba dari arah Selatan berkelebat sesosok bayangan serba hitam menuju ke arah di mana pertarungan itu terjadi. Bayangan itu yang ternyata milik seorang lelaki tinggi besar dengan muka menyeramkan serta cambang bawuk tebal, melangkahkan kakinya menghampiri mereka yang bertarung.

Mereka yang bertarung seperti tak hiraukan kedatangan orang tersebut. Makin lama, orang tersebut makin mendekat. Matanya menyorot tajam menghunjam ke arah para Datuk, juga tak luput memandang pada Jaka dan Datuk Putih. Tiba-tiba orang itu membentak, "Berhenti kalian semuanya!"

Semua yang ada di situ seketika terjengah dan hentikan pertarungan. Namun belum sempat para Datuk itu mengerti, tibatiba orang tersebut hantamkan pukulannya. Tanpa ayal lagi, semua yang ada di situ tersentak kaget termasuk Jaka dan Datuk Putih yang segera melompat menghindar. Orang tersebut tak mau ambil perduli, ia terus saja melancarkan serangannya membabi buta ke arah orang-orang yang ada di situ. Datuk Putih sungguh-sungguh terkejut, manakala tahu siapa adanya orang tersebut. Serta merta Datuk Putih berseru menyebut nama orang mengamuk. "Kakang Renggana, Hentikan!"

Seruan Datuk Putih terlambat, sebab para Datuk lainnya telah binasa tersapu dengan ajian yang dilontarkan Renggana. Renggana hentikan serangan, terpaku memandang pada orang yang berseru. Serta merta ia menjerit, menyebut nama seseorang yang dianggapnya telah hilang dari dunia atau mati.

"Adikku Sanggara, Kau...!"

"Benar aku, Kakang. Aku adikmu... adik seperguruanmu."

Mata Renggana seketika memandang tajam, tak percaya pada apa yang dilihatnya. Tibatiba Renggana berteriak-teriak bagaikan orang gila lalu berlari meninggalkan kedua pendekar yang terbengong mematung di tempat.

Nah, bagaimana dengan Renggana? Apakah ia akan hilang dari pengaruh iblis? Bagaimana pula nantinya Jaka Ndableg dan Datuk Putih atau Sanggara? Untuk lebih jelasnya, ikuti saja kisah berikutnya pada judul: Munculnya Ratu Siluman Darah. Maka dengan ini, aku cukupkan kisah Pertarungan Dua Datuk, sampai jumpa.

SELESAI
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).