Serial Pendekar Naga Putih eps 104 : Perantauan Ke Tanah India

SATU 
DUA sosok bayangan bergerak mengendap-endap menerobos keremangan malam. Yang dituju adalah bagian belakang sebuah bangunan besar berbentuk istana. Mereka terus bergerak mendekati sebuah gerumbulan semak-semak.

"Kise waha (siapa di situ)?"

Tiba-tiba terdengar sebuah suara bertanya dari dalam gerumbulan semak-semak, membuat sosok bayangan itu serentak menahan langkah. Sebentar mereka saling bertukar pandang.

"Basera (keluarga)!" jawab salah satu sosok bayangan dengan nada agak ditekan. Jawaban itu sepertinya adalah kata sandi, yang digunakan untuk mengetahui apakah yang datang kawan atau lawan.

Suasana hening sejenak. Sesaat kemudian, dari dalam gerumbul semak berloncatan empat sosok bayangan dan langsung menyambut kedatangan dua sosok itu.

"Me sat (ikut aku)! Batsa (raja) memang sudah menunggu-nunggu kedatangan kalian," kata salah satu dari empat penyambut. Nadanya terdengar ramah.

Dua pendatang itu sama-sama mengeluarkan gumaman tak jelas, namun nadanya terkesan meremehkan. Sementara empat orang penyambut buru-buru menyisi, saat dua pendatang itu melangkah menuju gerumbutan semak. Kemudian, barulah mereka mengiringi dengan menjaga jarak. Dan mereka semua terus menerobos gerumbulan semak dan menghilang di dalamnya.

Di balik gerumbulan semak, ternyata berupa sebuah gua kecil yang tersembunyi. Dan gua itu sebenarnya adalah terowongan rahasia yang menuju ke dalam salah satu bangunan istana. Jarang ada yang tahu jalan rahasia itu, kecuali orang-orang tertentu dan merupakan kepercayaan raja.

"Tuan-tuan silakan menunggu di ruangan ini. Me (aku) akan melaporkan kedatangan Tuan-tuan kepada Batsa," ujar lelaki berwajah galak, yang mengantarkan dua orang tamu ini ketika mereka telah tiba di salah satu ruangan dalam istana.

Dua tamu itu tidak menjawab, dan hanya mengangguk tipis dengan sikap angkuh. Tapi lelaki berwajah galak, yang merupakan orang kepercayaan raja, tidak ambil peduli. Tubuhnya sudah berputar meninggalkan tempat ini.

***

Lelaki bertampang galak ini kini sudah kembali bersama dua lelaki tua yang mengapit seorang lelaki berusia empat puluh tahun dengan kumis dan jenggot tercukur rapi. Raut wajah dan sorot matanya menunjukkan perbawa kuat. Sehingga membuat orang akan enggan untuk lama-lama menatapnya. Hal itu tidak heran karena lelaki setengah baya ini adalah Raja Godwana, sang penguasa Kerajaan Mahadur.

"Aha! Nameste (ucapan salam ketika bertemu) Raj Badur, Raj Sagar!" sambut Raja Godwana seraya mengembangkan kedua lengan sambil tersenyum lebar. "Bagaimana?"

Raja Godwana memandang wajah dua tamu yang ternyata Raj Badur dan Raj Sagar, dua tokoh sesat dari India Selatan. Merekalah yang telah berhasil menipu Pendekar Naga Putih dengan menyamar sebagai pendeta, hingga memperoleh Sepasang Intan Biru, dan membawanya pulang ke negeri India (Baca serial Pendekar Naga Putih dalam episode: Sepasang Intan Biru).

"Hamba berdua sudah berhasil memperolehnya, Paduka," jawab Raj Badur, mewakili.

"Kahe... kahe (bagus)! Cepat berikan padaku!" Raja Godwana semakin berseri wajahnya. Tangannya diulurkan untuk menerima Sepasang Intan Biru.

"Tapi..., bagaimana dengan hadiah yang Paduka janjikan untuk kami berdua?" tanya Raj Badur terdengar ragu-ragu. Wajahnya membayangkan kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan.

Begitu juga Raj Sagar. Apalagi mereka menyadari kalau saat ini berada di dalam kandang macan. Dan dikhawatirkan, jika Sepasang Intan Biru sudah berada di tangan Raja Godwana, keselamatan mereka tidak akan terjamin.

"Ha ha ha...!" Keraguan serta kecemasan Raj Badur dan Raj Sagar membuat Raja Godwana terbahak. "Bukan sifatku untuk mengingkari janji yang pernah kuucapkan, Raj Badur dan Raj Sagar! Hadiah pasti akan kalian terima. Apalagi, kalian berdua memang pantas dijadikan Guru Negara. Kecemasan kalian sama sekali tidak beralasan. Nah! Sekarang, serahkan Sepasang Intan Biru itu kepadaku..."

"Lalu..., kapan pengangkatan kami berdua akan diumumkan, Paduka?" tanya Raj Badur masih juga menaruh curiga. Sementara Sepasang Intan Biru belum diserahkan.

"Yang pasti tidak bisa malam ini, Raj Badur," sahut Raja Godwana, dengan senyum mulai samar. Rupanya sikap Raj Badur telah membuatnya agak gusar. "Tapi besok upacara pengangkatan kalian akan segera kupersiapkan..."

"Kalau begitu, malam ini kami menginap?" tanya Raj Badur, meminta ketegasan. "Tentu saja," tukas Raja Godwana. Aku sudah menyiapkan bandh (kamar) untuk kalian berdua..."

Raj Badur menoleh kepada Raj Sagar, kemudian kembali kepada Raja Godwana seraya memasukkan tangannya ke balik pakaian. Baik Raj Badur maupun Raj Sagar saat itu sudah tidak mengenakan pakaian pertapa lagi. Keduanya telah melepaskan penyamaran, setelah kembali ke Tanah India.

Raja Godwana sampai terbeliak, sewaktu Raj Badur menyerahkan Sepasang Intan Biru ke atas dua telapak tangannya. Kemilau cahaya biru yang indah gemerlap, benar-benar membuatnya ternganga takjub. Demikian pula tiga orang kepercayaannya. Sehingga, sampai beberapa saat mereka tidak mampu berkata apa-apa. Demikian menakjubkan pesona Sepasang Intan Biru, sehingga membuat mereka seperti terkena pengaruh sihir saja.

***

Raj Badur dan Raj Sagar yang berada di dalam kamar bersisian, sama-sama tidak bisa memicingkan mata. Kenyamanan tempat tidur yang indah dan harum berlapis sutera halus, ternyata tidak dapat dinikmati. Berkali-kali keduanya bergulir ke kiri-kanan, sesekali ditingkahi desah napas gelisah. Sepertinya, mereka sudah tidak sabar menunggu hari esok.

Tengah termenung resah sambil menatap langit-langit kamar, tiba-tiba saja telinga Raj Badur mendenngar sesuatu yang mencurigakan. Bergegas, ditiupnya penerangan di dalam kamar. Maka seketika ruangan menjadi gelap. Lalu dengan hati-hati dan tanpa menimbulkan suara, ia bergerak turun dari atas pembaringan, setelah menyusun bantal dan diselimuti hingga menyerupai orang tidur lelap. Sedang, ia sendiri sudah berjingkat mendekati jendela.

Tapi alangkah terkejutnya hati Raj Badur, merasakan adanya suara mendesis halus, yang disusul bau harum memabukkan. Saat itu juga, sadarlah Raj Badur bahwa ada orang sengaja meniupkan asap beracun ke dalam kamarnya.

"Keparat busuk...!" dengus Raj Badur, menggeram gusar. Tanpa, berpikir dua kali, lelaki ini menerjang pintu jendela kamar hingga pecah berantakan. Tubuhnya langsung melesat keluar, menjatuhkan diri dan bergulingan di atas tanah. Namun, belum lagi sempat melompat bangkit, dari kiri-kanannya terdengar suara mendesing senjata tajam ke arahnya. Tentu saja Raj Badur semakin terkejut dan gusar bukan kepalang.

"Bangsat tengik!" maki Raj Badur kalang-kabut. Secepat sambaran kilat, tubuh Raj Badur melesat ke udara. Gerakan itu masih dibarengi kembangan dua lengannya ke kiri dan kanan, disertai bentakan kemarahannya.

Empat sosok-bayangan yang membokong Raj Badur dari kiri-kanan terdengar sama mengeluarkan pekikan kaget. Kibasan kedua lengan Raj Badur ternyata berisi tenaga dalam tinggi. Sehingga, empat batang senjata yang digunakan untuk menyerang, terasa seperti tertahan dinding kokoh! Bahkan kemudian menyentakkan lengan mereka ke belakang. Akibatnya tubuh mereka nyaris terpelanting mencium tanah.

Tapi keempat pembokong itu ternyata terlatih dengan baik. Bahkan dapat menahan dorongan tenaga kibasan lengan Raj Badur, sehingga dengan cepat mereka kembali mempersiapkan serangan berikut.

Rupanya, bukan Raj Badur saja yang mengalami kejadian itu. Raj Sagar pun tidak luput dari ancaman maut. Tidak berapa jauh dari arena pertarungan, Raj Sagar tampak tengah dikeroyok empat orang lawan. Yang rata-rata berkepandaian tinggi. Setelah belasan jurus bertarung, Raj Sagar mulai terdesak hebat. Bahkan beberapa jurus berikutnya, salah satu pengeroyok berhasil menyarangkan senjata menusuk mata kanan Raj Sagar.

Crap!

"Aaa...!" Raj Sagar meraung setinggi langit, namun masih sempat membarengi dengan sebuah pukulan maut.

Des!

Pukulan maut Raj Sagar berhasil menggedor dada orang yang menyerangnya hingga terpelanting deras. Raj Sagar kini terhuyung sambil menekap mata kanannya yang mengucurkan darah. Sementara orang yang melukainya menggeloso tewas dengan dada hangus. Rupanya dalam kemarahannya, Raj Sagar telah mengeluarkan 'Ilmu Tapak Api' yang dahsyat dan mengerikan. Hanya sekali pukul saja, dapat membuat nyawa lawan melayang ke akhirat.

"Raj Sagar, lari...!"

Teriakan Raj Badur terdengar, selagi Raj Saga menyiapkan jurus-jurus mautnya. Kalau saja Raj Badur tidak terlihat sudah terluka kehilangan lengan kirinya belum tentu Raj Sagar mau mendengarkan teriakan rekannya. Maka setelah melepaskan pukulan jarak jauh yang menerbitkan hawa panas membakar, tubuh Raj Sagar segera melesat mengikuti Raj Badur.

Sedangkan Raj Badur sendiri sudah meninggalkani lawan-lawannya, setelah melemparkan segenggam daun pohon, yang dijadikan sebagai senjata-senjata rahasia mematikan. Bahkan seorang lawan telah terpelanting tewas dengan tiga helai daun menancap di keningnya.

"Kejar...!" teriak salah seorang pengeroyok. "Jangan biarkan pemberontak-pemberontak busuk itu sampai meloloskan diri!"

Tapi Raj Badur dan Raj Sagar sudah tidak mempedulikan lawan-lawannya lagi. Mereka terus berlompatan melalui atap-atap bangunan. Ketika berlarian di atas pagar yang mengelilingi bangunan istana dan melihat riak air di bawahnya, tanpa pikir panjang lagi Raj Badur dan Raj Sagar segera melompat.

Istana Kerajaan Mahadur memang terletak di dekat tepi Sungai Jumna. Ke dalam sungai itulah kedua tokoh sesat ini terjun dalam upayanya meloloskan diri dari kejaran. Mereka khawatir kalau Raja Godwana keburu mengerahkan prajurit-prajurit untuk mengeliling seluruh penjuru istana. Untungnya Raja Godwana terlalu memandang remeh Raj Badur dan Raj Sagar. Sehingga hanya mengerahkan beberapa jago-jago andalan saja untuk melumpuhkan mereka.

***

Dua sosok tubuh tampak tengah bergerak mendaki salah satu lereng Pegunungan Windiya. Pegunungan panjang yang membujur dari barat ke timur, memisahkan India Utara dan selatan. Lereng gunung ini sebenarnya sangat sukar didaki. Tapi dua sosok tubuh itu tampaknya merupakan pengecualian. Meskipun dengan langkah tidak tetap, namun mereka dapat menempuh perjalanan yang sukar itu. Sampai akhirnya, mereka sampai di sebuah lembah.

"Hm.... Besar sekali nyali kalian masih juga berani datang menemuiku?"

Begitu dua sosok itu berada di depan sebuah gubuk kecil yang reot, terdengar teguran yang suaranya seperti kaleng dipukul. Dua sosok yang ternyata Raj Badur dan Raj Sagar langsung saja menjatuhkan diri, berlutut di atas tanah menghadap ke arah pintu gubuk. 

Padahal saat itu jarak mereka dengan gubuk masih terpisah sekitar enam tombak. Tapi, suara seperti kaleng dipukul tadi terdengar jelas, seolah orangnya berada di dekat mereka. Jelas, betapa dahsyatnya kekuatan tenaga dalam si pemilik suara. Wujudnya belum nampak, namun suaranya sudah terdengar.

"Ampuni kami jika memang telah membuat dosa yang tidak disengaja, Guru. Jika Guru berkenan, jelaskanlah kepada kami. Agar kami tahu, kesalahan apa yang telah kami lakukan hingga membuat Guru murka," ucap Raj Badur dengan suara terengah.

Wajah lelaki ini tampak pucat sekali. Karena di samping merasa takut mendengar kemarahan dalam suara gurunya, ia pun dalam keadaan terluka. Sebelah tangannya telah hilang akibat ditipu mentah-mentah oleh Raja Godwana. Di sebelah kiri Raj Badur, tampak Raj Sagar yang berlutut dengan sebelah tangan menekap mata kanan. Dari celah-celah jari tangannya tampak darah mengalir bercampur nanah. Bisa diperkirakan kalau luka pada mata kanan Raj Sagar nampaknya malah bertambah parah.

Begitu juga lengan kiri Raj Badur. Bekas luka di tangannya tampak membengkak dan dikerumuni lalat, karena sudah mengeluarkan bau busuk yang memualkan perut. Luka itu tidak kering tapi basah dan mengandung nanah. Dan melihat dari raut wajah mereka, tampak jelas kalau luka itu membuat Raj Badur dan Raj Sagar sangat menderita.

Dua tokoh sesat dari India Selatan ini masih herlutut dengan kepala tertunduk, ketika terdengar derit daun pintu yang dibuka. Mereka masih juga belum berani mengangkat kepala, saat penghuni gubuk keluar dan melangkah.

"Jadi, kalian tidak tahu?" Dalam pertanyaan penghuni gubuk yang ternyata seorang nenek kurus, bongkok, dan berwajah buruk, terkandung nada ancaman. Sehingga, tubuh Raj Badur dan Raj Sagar menjadi gemetar.

"Nehi malum (tidak tahu), Guru..."

Raj Badur dan Raj Sagar sama-sama menggeleng seraya menjunjung telapak tangan masing-masing, yang dirangkapkan di atas kepala.

"Hi hi hi...!"

Nenek bongkok berwajah buruk itu memperdengarkan tawa sember dan menyakitkan gendang telinga, membuat Raj Badur dan Raj Sagar semakin ketakutan. Bahkan sekujur tubuh mereka telah dibanjiri keringat dingin. Rasa takut yang dialami Raj Badur dan Raj Sagar memang tidak mengherankan, sebab nenek bongkok berwajah buruk yang menjadi guru mereka itu adalah salah satu tokoh sesat berwatak aneh dan berdarah dingin.

Nama besar dan kekejamannya sudah sangat terkenal di seluruh India Selatan. Dengan julukan Ratu Iblis Tangan Darah, ia merupakan momok paling menakutkan bagi seluruh tokoh silat di kawasan India Selatan. Untungnya Ratu Iblis Tangan Darah lebih banyak bertapa di tempat tinggalnya, sehingga kaum rimba persilatan di kawasan India Selatan, khususnya kaum golongan putih, merasa agak lega. Meskipun begitu, tetap saja terkadang ada rasa cemas. Karena Ratu Iblis Tangan Darah bisa saja muncul sewaktu-waktu. Dan setiap kemunculannya, sudah pasti tangannya akan berlumur darah.

Selain itu, Ratu Iblis Tangan Darah ternyata seorang tokoh berwatak sangat ganjil. Tangan kejinya tidak akan segan-segan diturunkan terhadap siapa saja tidak peduli kawan atau lawan. Bahkan, terhadap murid-muridnya sekalipun! Raj Badur dan Raj Sagar kenal betul watak gurunya. Itu sebabnya, mengapa mereka sangat ketakutan begitu mendengar nada kemarahan dalam suara Ratu Iblis Tangan Darah.

"Khuda kasam (sumpah demi Tuhan), Guru," kata Raj Badur dan Raj Sagar sambil membentur-benturkan keningnya ke tanah.

"Jangan bawa-bawa nama Tuhan dalam hal ini Raj Badur! Kau tidak pantas menyebut-nyebut nama-Nya, tahu!" hardik Ratu Iblis Tangan Darah, membuat Raj Badur dan Raj Sagar sampai terjingkat.

"Mera tujhe (maafkan aku), Guru...." Raj Badur menyembah-nyembah dengan tubuh menggigil. Sementara Raj Sagar semakin menundukkan kepala dalam-dalam, hingga nyaris menyentuh tanah.

"Acca (baik)," kata Ratu Iblis Tangan Darah sambil mengangguk-anggukkan kepala. "Hatse kaho (sekarang katakan)! Mana Sepasang Intan Biru yang kudengar telah jatuh ke tangan kalian itu?"

"Batsa telah mengambilnya dari kami dengan cara sangat licik, Guru," tukas Raj Badur tanpa berani mengangkat kepala.

"Semula Batsa berjanji hendak memberi kami kedudukan sebagai Guru Negara, apabila dapat membawa Sepasang Intan Biru itu. Tapi nyatanya, Batsa ingkar. Malah kami berdua hendak dibunuh demi meenjaga rahasia keberadaan Sepasang Intan Biru di tangannya. Untung, kami berhasil menyelamatkan diri," tambah Raj Sagar buru-buru ketika Raj Badur terdiam.

"Hih hih hih...!" Ratu Iblis Tangan Darah malah terkekeh-kekeh dengan kepala menengadah. Saat itu, matahari sudah naik semakin tinggi. Sinarnya memancar garang, seolah hendak menghanguskan seluruh penghuni bumi.

"Kalian benar-benar anari (bodoh) dan memalukan!" Ratu Iblis Tangan Darah mengakhiri tawanya dengan kata-kata penuh ejekan. "Sebagai Guru kalian, aku merasa malu! Bagaimana mungkin murid-murid Ratu Iblis Tangan Darah sampai bisa ditipu orang mentah-mentah, sekalipun orang itu adalah Batsa!." dengus wanita berwajah buruk itu.

"Itulah sebabnya, mengapa kami berani datang menemui Guru," timpal Raj Badur merasa mendapat angin.

"Dengan menipu kami, itu sama artinya Batsa tidak memandang muka Guru," tambah Raj Sagar sengaja nama gurunya dilibatkan agar mau membalaskan sakit hatinya terhadap raja.

"Bagus kalau kalian mengerti..." Wajah buruk Ratu Iblis Tangan Darah menyunggingkan senyum dingin. "Nah, hatse (sekarang) kuperintahkan kepada kalian berdua untuk mengambil kembali Sepasang Intan Biru itu di tangan Batsa!" lanjut Ratu Iblis Tangan Darah, membuat paras Raj Badur dan Raj Sagar seketika menjadi pucat pasi!

"Tapi, Guru...," elak Raj Badur terputus. Wajahnya yang pucat diangkat. Raj Sagar juga ikut mendongak. Mereka sama-sama memandang wajah Ratu Iblis Tangan Darah dengan sorot mata penuh pertanyaan.

"Turuti perintahku, atau kupecahkan kepala kalian sekarang juga!" tukas wanita berwajah buruk ini masih dengan bibir menyunggingkan senyum dingin.

Raj Badur dan Raj Sagar buru-buru menundukkan kepala kembali. Dari sorot mata wanita itu, mereka maklum kalau perintah barusan sudah tidak bisa ditawar lagi. Tidak ada pilihan lain bagi mereka, kecuali mengangguk meski dengan hati penuh penasaran.

"Enyahlah sebelum pikiranku berubah!" Ratu Iblis Tangan Darah mengibaskan pergelangan tangannya perlahan.

Tapi, akibatnya bagi Raj Badui dan Raj Sagar sungguh mengejutkan. Tubuh mereka kontan terangkat naik walau masih dalam sikap bersujud. Bahkan mereka langsung terlempar deras, jatuh bergulingan sejauh hampir tiga tombak! Sungguh sukar dibayangkan, betapa dahsyatnya tenaga dalam Ratu Iblis Tangan Darah. Baru menggerakkan pergelangan tangan perlahan saja, sudah sedemikian hebat akibatnya.

Meskipun telah diperlakukan demikian, begitu dapat menguasai diri masing-masing, Raj Badur dan Raj Sagar kembali berlutut. Sementara, Ratu Iblis Tangan Darah sudah bergerak menuju gubuknya. Baru setelah nenek bongkok itu lenyap di balik pintu, Raj Badur dan Raj Sagar bergegas meninggalkan tempat ini.

"Haruskan kita menuruti perintah gila itu, Raj Badur?" tanya Raj Sagar ketika telah tiba di kaki gunung.

"Apakah kau sudah bosan hidup, Raj Sagar?" Raj Badur malah balik bertanya. Tapi kata-kata itu jelas menunjukkan bagaimana sikap Raj Badur.

"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang? Jika Guru sampai mendengar bahwa kita tidak mematuhi perintahnya, beliau pasti akan mencari-cari kita, Raj Badur," ungkap Raj Sagar.

"Kita sembunyi saja di markas pasukan Ardhana. Mudah-mudahan beliau memaklumi kegagalan usaha kita," kata Raj Badur seraya meringis menahan rasa sakit pada lengan kiri. Bekas luka bacok yang membuat lengannya putus sebatas siku, tampak kembali meneteskan darah bercampur nanah. Demikian pula Raj Sagar. Rongga mata kanannya yang menggembung kembali mengeluarkan darah bercampur nanah, menimbulkan bau busuk.

***
DUA 
"AYA mubarak (selamat datang) di Tanah India, Pendekar Naga Putih..."

Di Bandar Teluk Benggala, seorang gadis berlari, menyambut seorang pemuda berpakaian serba putih yang dipanggil Pendekar Naga Putih.

"Nameste... nameste, "lanjut gadis itu, seraya membungkuk dengan sikap sungguh-sungguh dan bibir tersenyum.

Demikian sungguh-sungguh gadis ini berlagak, seperti sedang menyambut seorang sahabat yang berkunjung ke negerinya. Sehingga mau tidak mau pemuda tampan yang memang Pendekar Naga Putih itu tersenyum geli melihat sikapnya. Dan kesungguhan gadis ini membuat Panji buru-buru menyembunyikan senyumnya, kemudian membungkuk. Dibalasnya penyambutan itu.

"Nameste..., nameste, Nagina," kata Panji seraya memasang senyum seperti lagaknya seorang pelancong sungguhan. "Kalau tidak salah, bukankah saat ini aku berada di Bandar Teluk Benggala?" Panji mengedarkan pandangan ke sekeliling sambil mengangguk-angguk. Seolah ia tengah mengagumi sekitar tempat itu.

Mendengar Pendekar Naga Putih menggunakan kata-kata yang diajarkannya selama dalam perjalanan, mau tidak mau gadis yang ternyata Nagina menjadi geli. Karena, logat pemuda ini terdengar kaku dan lucu. Apalagi, Panji seolah-olah telah mengetahui nama tempat itu. 

Padahal, Nagina-lah yang memberitahukan, sewaktu kapal hendak berlabuh di dermaga. Maka, meledaklah tawa gadis itu tanpa dapat ditahan lagi. Bahkan, Badundy, pembantu setia Nagina yang menyertai mereka juga terbahak sambil memegangi perut.

Pendekar Naga Putih sendiri hanya tersenyum kecut, tapi akhirnya tawanya pun meledak, malah paling keras, menindih suara tawa Nagina dan Badundy. Maka kini ganti gadis itu dan pembantunya yang keheranan dan saling bertukar pandang satu sama lain.

"Mengapa kau ikut-ikutan tertawa, Panji?" tanya Nagina, ingin tahu apa yang membuat Pendekar Naga Putih tertawa sedemikian keras.

"Eh! Jadi, di negeri ini orang asing tidak boleh tertawa?" Pendekar Naga Putih malah balik bertanya dengan raut wajah lucu. "Atau..., cara tertawaku salah?"

"Tidak... tidak," kata Nagina menggeleng sambil menahan senyumnya. "Dan cara tertawamu juga tidak salah. Cara tertawa di Tanah India maupun di Tanah Jawa sama saja..."

"Ah! Kalau cara tertawaku sudah betul, aku mau melanjutkannya lagi..."

"Cukup..., cukup," cegah Nagina buru-buru sewaktu melihat Pendekar Naga Putih siap melanjutkan tawanya. "Bisa-bisa kita dikira palki diwana (orang gila)," Buru -buru gadis ini menyeret Pendekar Naga Putih untuk segera meninggalkan bandar itu. Karena sikap mereka telah mengundang perhatian orang-orang di sekitar bandar.

"Ye kaha agee ham (ke mana kita akan pergi)?" tanya Panji dengan terpatah-patah, membuat Nagina kembali tersenyum geli.

"Prem Nagar" jawab Nagina asal jadi seraya menahan senyum.

"Tempat macam apa itu?" tanya Panji lagi dengan kening berkerut. Sementara Nagina cuma menoleh sekilas dan tersenyum tanpa menghentikan langkahnya.

"Prem Nagar itu artinya Desa Cinta. Dan itu hanya bisa-bisanya Nona Nagina saja," Badundy yang menjelaskan, sambil memandang Pendekar Naga Putih dengan senyum menggoda.

"Hussy...!" hardik Nagina pada Badundy yang buru-buru menutup mulut dengan telapak tangan, walau kikiknya masih terdengar. Badundy tidak bisa menahan geli hatinya melihat wajah Pendekar Naga Putih aaak kemerahan.

"Sonie (tunggu)...!"

Tiba-tiba saja terdengar sebuah bentakan, membuat kegembiraan Nagina, Pendekar Naga Putih, dan Badundy terganggu. Ternyata, empat lelaki bertampang bengis telah menghadang di hadapan mereka. Salah seorang yang sepertinya mengepalai rombongan kecil ini, bertindak maju.

"Tum kise (siapa kau)?" Nagina mengerutkan kening, menunjukkan ketidaksenangannya. Ia pun melangkah maju, menghadapi lelaki bertubuh pendek bulat berperut buncit.

"Meranam (namaku) Pathar," jawab lelaki pendek bulat itu sambil memilin kumis lebatnya. Sementara kedua bola matanya turun-naik merayapi wajah dan tubuh Nagina dengan sangat kurang ajar. Sehingga, sempat membuat paras gadis itu memerah, marah, dan jengah.

"Me, Sheru," kata orang yang bertubuh kekar dan kokoh sambil melangkah maju. Nama Sheru yang berarti macan, memang sesuai dengan tubuhnya. Sepasang mata, bentuk hidung, dan cambangnya pun agak mendekati sorot wajah seekor macan. Tanpa terasa Badundy sampai bergetar hatinya. Buru-buru dirinya disembunyikan di belakang Pendekar Naga Putih.

"Me, Kaalja," sambung orang yang bertubuh seperti beruang, ikut memperkenalkan diri.

Seperti halnya Sheru, orang ini pun bertubuh tinggi besar dengan cambang bauk. Kedua tangan, dada, dan bagian tengah perutnya ditumbuhi bulu-bulu hitam lebat. Melihat dari perawakannya yang cuma mengenakan rompi, sudah terkesan kalau tenaga yang dimilikinya sangat besar.

"Sekarang giliranku," serobot orang yang memiliki sorot mata buas dan beringas sambil menepuk dadanya yang tipis. Berbeda dengan tiga lainnya, orang ini bertubuh tinggi kurus dengan punggung agak melengkung ke depan seperti udang.

"Meranam Jackal," kata orang ini memperkenalkan diri. Nama itu berarti serigala, dan memang sangat cocok dengan sorot matanya yang menyembunyikan kelicikan. Ditambah perawakannya yang seperti serigala lapar.

"Ooo.... Jadi, kalian rupanya yang disebut-sebut sebagai Algojo Empat Serangkai, yang menguasai hampir sepertiga bagian India Selatan ini?" tanya Nagina sambil mengangguk-anggukkan kepala, sementara bibirnya yang menggiurkan menyunggingkan senyum mengejek.

Nagina yang berjuluk Putri Ular ini memang sudah pernah mendengar nama besar empat orang tokoh sesat itu, meski baru kali ini berhadapan. Tak seorang pun yang tahu asal-usul Algojo Empat Serangkai yang telah mencengangkan dunia persilatan di Tanah India. Dalam waktu kurang dari setahun, mereka telah merobohkan jago-jago silat kawakan di sepertiga bagian wilayah India Selatan. 

Sehingga, membuat nama mereka langsung naik ke permukaan. Tapi semua itu sama sekali tidak membuat Nagina menjadi gentar. Terlebih, bagi Pendekar Naga Putih yang sama sekali buta terhadap tokoh-tokoh silat di negeri itu.

"Sangat betul tebakanmu, Nona Cantik," sahut Pathar yang sosoknya sangat jauh dari kesan seram. Malah, justru menimbulkan kesan lucu. Ia tersenyum-senyum penuh kebanggaan. Sepasang bola matanya masih belum berhenti bergerak turun-naik. 

Sepertinya gerak bola mata itu merupakan ciri khususnya. Tapi, meskipun raut wajah, perawakan, dan sikapnya terkesan lucu, namun sesungguhnya Pathar inilah yang justru jauh lebih kejam dan lebih berbahaya. Salah satu bukti nyata adalah kedudukannya sebagai pimpinan dari tiga rekannya ini.

Dan sebagai orang-orang yang berpengalaman, baik Nagina maupun Pendekar Naga Putih memang lebih menaruh perhatian terhadap Pathar. Naluri mereka mengatakan, kemungkinan besar Pathar-lah yang paling berbahaya, kendati tidak meremehkan tiga orang lainnya. 

Dan sikap permusuhan yang ditunjukkan Algojo Empat Serangkai, membuat Nagina maupun Pendekar Naga Putih bersikap waspada. Terlebih Panji, yang telah memiliki cukup pengalaman terhadap ketangguhan tokoh-tokoh silat Negeri India.

"Lalu, apa mau kalian menghadang kami?" tanding Nagina bertolak-pinggang seraya menentang pandang mata Pathar.

"Hm... Kalau sudah tahu siapa kami, semestinya kau juga sudah tahu maksud tujuan kami," kali ini Sheru yang menjawab, langsung bergerak maju mendampingi Pathar.

"Siapa yang mengharuskan begitu?" tanya Nagina ambil mengangkat dagunya. Seolah hendak ditunjukkan kalau nama besar Algojo Empat Serangkai sama sekali tidak membuatnya gentar.

"Ini daerah kekuasaan kami. Dan kami berhak berbuat apa saja. Terlebih dengan adanya Pardesi (orang asing) yang datang bersama kalian itu," sahut Sheru, seraya menggerakkan sudut matanya ke arah Pendekar Naga Pulih. "Jika ingin lewat, kalian harus membayar upeti kepada kami. Bagi Pardesi, besarnya tiga kali lipat!"

"Hm.... Mengapa tidak terus-terang saja kalau kalian sebenarnya perampok-perampok yang bertindak dengan menggunakan kepandaian, tanpa segala macam alasan tai kucing seperti yang kalian pergunakan. Jelasnya, aku tidak sudi memberi sepeser pun kepada kalian!" tegas Putri Ular, merasa geram ketika mendengar besarnya jumlah upeti yang diminta Pathar dan kawan-kawannya.

Jawaban Nagina rupanya sama sekali tidak diduga Algojo Empat Serangkai. Mereka kelihatan kaget heran. Kalau orang berani melawan karena belum mengenal, itu masih bisa diterima. Tapi kalau sudah mengenal dan masih berani melawan, itu merupakan kejadian baru! Sehingga untuk sesaat, Algojo Empat serangkai saling bertukar pandang.

"Karena telah berani menentang peraturan yang telah kami buat, maka kau harus membayar tiga kali lipat!. Itu pun masih belum cukup. Karena, masih harus ditambah dirimu. Kau harus melayani kami selama satu bulan! Tapi, layananmu harus membuat kami puas. Jika tidak, waktunya akan diperpanjang!" tandas Jackal, yang sejak tadi diam saja. Kata-katanya malah jauh lebih tajam dan tidak sopan. Sehingga, membuat selebar wajah Nagina merah terbakar amarah.

"Baik! Sekarang juga aku akan melayani kalian!" sambut Nagina, tersenyum dingin. "Kau yang pertama, Jackal. Nah! Sambutlah layananku dengan hangat..."

Baru saja mulutnya selesai bicara, tahu-tahu Nagina menghentakkan telapak tangannya. Seketika terdengar suara menderu, siap menghajar mulut Jackal. Tapi Jackal terlalu memandang remeh. Ia teramat yakin dengan kecepatan geraknya. Ilmu meringankan tubuhnya memang paling unggul ketimbang ketiga kawannya. Namun sayang, kali ini Jackal terlalu ceroboh.

Dan Jackal baru merasa kaget, sewaktu merasakan betapa berbahayanya tenaga dalam yang terkandung pada telapak tangan mungil dan halus itu. Karena meskipun serangan itu belum tiba, namun sambaran anginnya sudah membuat wajahnya pedih. Kini baru disadari kalau serangan telapak tangan halus dan mungil itu sangatlah berbahaya! Jika tidak buru-buru dielakkan, dikhawatirkan tamparan itu akan merontokkan giginya. Maka bergegas tubuhnya ditarik ke belakang.

Sementara, Nagina malah mendengus dingin. Ia sudah dapat membaca gerakan lawan. Maka sebelum tamparannya tiba pada sasaran, kaki kanannya sudah mencuat naik menuju dada kiri Jackal. Dan....

Desss!

"Aaah...!" Kendati masih sempat memiringkan tubuhnya sedikit, namun tetap saja tendangan itu mengenai tulang iga Jackal. Karuan saja tubuhnya melintir bagai kitiran disertai keluhan tertahan merasakan tulang iganya seperti patah.

"Bagaimana layananku, Jackal? Sangat memuaskan, bukan?" ejek Nagina, tertawa lirih.

Jackal merasakan selebar wajahnya panas. Hampir tidak dipercaya kalau dirinya bisa kecolongan hanya dalam segebrakan saja. Oleh seorang wanita muda lagi! Tentu saja ia merasa malu dan marah! Sementara, Nagina berdiri menatap sambil bertolak pinggang.

"Ular betina keparat...!" dengus Jackal laksana serigala lapar. Sorot matanya mencorong, semakin tajam berkilat-kilat.

"Aha! Rupanya kau sudah tahu namaku." Makian Jackal malah membuat Nagina tersenyum. Namanya memang bisa diartikan Putri Ular atau Betina.

"Kya (apa)?" seru Jackal dengan kening berkerut, Gerakannya cepat ditunda. "Maksudmu..., kau... nama mu Nagina?"

"Itu memang namaku," sahut Nagina tersenyu dingin. "Kyo (kenapa)? Heran?"

"Apakah kakekmu bernama Garmanu?" Pertanyaan itu diajukan Pathar. Rupanya, ia juga merasa tertarik dan ingin mengetahuinya.

"Tepat sekali!" jawab Nagina cepat.

Sikap Algojo Empat Serangkai yang sepertinya sudah mengenal atau mendengar nama kakeknya, membuat Nagina menjawab tanpa ragu-ragu. Ia penasaran dan ingin tahu, apa kira-kira yang akan dilakukan Algojo Empat Serangkai setelah mengetahui kalau dirinya cucu Garmanu.

Dan yang terjadi kemudian, benar-benar membuat Nagina melenggak kaget. Bagaimana tidak? Algojo Empat Serangkai yang semula bersikap garang, mendadak saja langsung menjatuhkan diri berlutut ketika mengetahui siapa nama kakeknya.

"Kami pernah berhutang budi kepada kakekmu, Nona Nagina," jelas Pathar. "Harap kau suka memaafkan Kami benar-benar tidak tahu. Dan kami menyesal telah membuatmu marah..."

Nagina mengangguk-angguk. Kemarahannya perlahan-lahan lenyap, kendati masih nampak sisa-sisa rasa penasaran dan tidak puas pada sorot matanya.

"Kami mengaku salah, dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan seperti ini lagi," tambah Pathar yang rupanya sadar makna tatapan mata Nagina. "Dan mulai saat ini, kami menyerahkan diri kami sebagai budak-budak Nona."

"Tidak perlu sampai seperti itu, Pathar," ujar Nagina, menarik napas lega. "Dengan janji untuk merubah jalan hidup kalian saja, aku sudah merasa gembira..."

"Tapi kami sudah bersumpah, Nona Nagina. Dan karena Garmanu sudah tidak ada, maka kepada keturunannyalah kami akan mengabdikan diri. Nona adalah keturunan Tuan Garmanu. Harap, Nona Nagina tidak membuat kami mengingkari sumpah yang sudah terlanjur terucap," ungkap Pathar sambil meminta kesediaan Nagina untuk menerima mereka berempat menjadi pembantunya.

Melihat kesungguhan Pathar dan kawan-kawannya, Nagina merasa tidak tega membuat kecewa. "Baiklah," desah Nagina, mengalah. "Tapi kalian tetap merupakan orang-orang bebas. Dan kalian boleh pergi kapan saja kalian suka..."

"Sukriya (terima kasih), Nona Nagina. Sukriya..." Pathar, Sheru, Kaalja, dan Jackal sama-sama menganggukkan kepala berulang-ulang. Wajah mereka tampak menggambarkan kelegaan dan kegembiraan yang sangat. Sehingga Nagina sempat terharu menyaksikannya.

"Mulai hari ini kami akan menyertai ke mana Nona pergi!" Algojo Empat Serangkai sama-sama mengucapkan janji setia. Mereka mengangguk beberapa kali dengan kedua tangan dirangkapkan dan dijunjung di atas kepala.

"Terserah kalian," kata si Putri Ular, menyadari kalau penolakannya cuma buang-buang tenaga saja. Maka tanpa berkata apa-apa lagi, diajaknya Pendekar Naga Putih dan Badundy untuk melanjutkan perjalanan. Saat Nagina, Pendekar Naga Putih, dan Badundy bergerak meninggalkan tempat ini, Pathar dan kawan-kawannya bergegas mengikuti di belakang.

***

"Heh heh heh...! Algojo Empat Serangkai memang pemain-pemain sandiwara yang mengagumkan! Tampaknya, rencana kita berjalan sesuai rencana, Darmandu!"

Perkataan itu diucapkan seorang kakek tinggi kurus bermata cekung dan berhidung besar. Jubahnya panjang berwarna merah. Paras mukanya bergerinjul seperti jalanan berbatu. Raut wajahnya terkesan membayangkan watak licik dan bengis.

Di sebelah kiri tampak seorang kakek lain yang dipanggil Darmandu. Dia juga bertubuh kurus. Malah sangat kurus, sehingga tulang-tulang pipinya menonjol nyata. Dan ia juga mengenakan jubah panjang berwarna merah darah.

"Memang tidak percuma mereka mendapat kepercayaan untuk tugas-tugas seperti itu, Arkham," timpal Darmandu bernada memuji. "Sekarang tinggal tugas kita berdua yang harus melengkapi sandiwara Algojo Empat Serangkai..."

"Itu bukan soal sulit" tukas kakek yang dipanggil Arkham. Kepalanya berpaling disertai senyum tipis, yang membuat sorot licik pada wajahnya semakin tampak nyata. Usai berkata demikian, Arkham memberikan isyarat dengan gerakan kepalanya. Kemudian, mereka bergerak keluar dari kerumunan pedagang, sewaktu sosok Nagina dan rombongan telah berada jauh dan terlihat samar.

***
TIGA 
LANGKAH Raj Badur dan Raj Sagar yang menggilas dedaunan kering, membuat burung-burung di atas pohon-pohon terkejut dan beterbangan. Mereka sendiri tidak peduli, dan terus mengayun langkah menerobos semak-belukar Hutan Kakaala. Sebuah belantara yang ditumbuhi pepohonan rapat, hingga bagian dalamnya nyaris tidak tertembus sinar matahari. Sehingga membuat suasana di dalam hutan agak gelap dan menebarkan udara lembab.

Kakaala dalam bahasa setempat berarti hitam. Nama itu diberikan orang, karena suasana di dalam hutan, yang dalam cuaca bagaimanapun, tetap saja agak gelap. Kendati demikian, tampaknya Raj Badur dan Raj Sagar sudah terbiasa. Mereka terus saja menerobos masuk tanpa merasa khawatir oleh kemungkinan adanya bahaya.

Tidak berapa lama kemudian, setelah melalui jalanan sukar, Raj Badur dan Raj Sagar tiba di sebuah tempat yang sekitarnya dikelilingi pagar kayu bulat. Di dalam pagar, terdapat belasan rumah-rumah kayu. Tempat itulah yang dituju Raj Badur dan Raj Sagar.

Tapi untuk dapat tiba di tempat yang mirip sebuah perkampungan kecil itu pun, tidaklah mudah. Selain letaknya di dataran agak tinggi, dan terlebih dulu harus menyeberangi sebatang anak sungai, di kedua sudut pagar kayu bulat itu pada bagian atasnya terdapat pos-pos penjagaan. Tak heran kalau orang-orang yang mendatangi tempat itu akan selalu diketahui penjaga.

Sementara Raj Badur dan Raj Sagar memang tidak bermaksud datang dengan sembunyi-sembunyi. Dalam jarak puluhan tombak saja, kedatangan mereka berdua sudah terlihat para penjaga yang bertugas di kedua pos itu. Karena di sekililing pagar luar, sejarak kira-kira tiga puluh tombak, sengaja dijadikan daerah terbuka, tanpa pepohonan atau pun semak-belukar. Kecuali, rerumputan setinggi mata kaki.

"Cepat laporkan kepada Maharaj!" ujar salah seorang penjaga di pos kanan kepada kawannya. "Katakan bahwa Tuan Raj Badur dan Raj Sagar sudah kembali!" Sementara penjaga yang diperintah beranjak, sook kedua pendatang itu sudah semakin dekat dan jelas.

Dua penjaga yang membukakan pintu gerbang sempat tertegun dengan wajah membayangkan rasa jijik dan ngeri. Bau busuk memualkan yang keluar dari luka Raj Badur dan Raj Sagar, membuat mereka terpaksa menahan napas. Karena, untuk menutup hidung jelas tidak berani, khawatir Raj Badur dan Raj Sagar tersinggung. Dan akibatnya, bisa membuat mereka berdua celaka.

Tapi meskipun begitu, tetap saja Raj Badur dan Raj Sagar dapat tahu dari sikap mereka. Dan kalau saja penjaga yang melapor kepada orang yang disebut Maharaj tidak segera datang, bukan mustahil nyawa kedua orang penjaga gerbang itu akan dicabut Raj Sagar yang berwatak berangasan dan mudah tersinggung.

"Maharaj dan Maharani telah menunggu kedatangan Tuan berdua di ruangan utama," jelas penjaga yang baru datang menyambut Raj Badur dan Raj Sagar.

Raj Badur mengangguk tipis. Sedangkan Raj Sagar mendengus, seraya melemparkan lirikan tajam kepada dua penjaga gerbang yang buru-buru menundukkan wajah yang merah. Apalagi, sampai saat itu mereka masih menahan napas. Mereka baru berani melepaskan napas setelah Raj Badur dan Raj Sagar meninggalkan tempat itu, menuju ruangan utama. Di sana, Maharaj dan Maharani telah menunggu kedatangan mereka.

***

Di ruangan utama seorang lelaki bertubuh tinggi besar dengan perut buncit terbungkus pakaian merah, memandang Raj Badur dan Raj Sagar dengan matanya yang setajam elang. Kelihatan sekali perasaan kecewa dan ketidaksenangan hatinya pada raut wajahnya. Lelaki inilah yang disebut Maharaj, yang berarti Dewa. Sedang nama sebenarnya adalah Ardhana.

Sementara sosok wanita cantik berusia sekitar tiga puluh tahun, tetap duduk di kursinya dengan wajah dan sorot mata dingin. Sikap wanita menggiurkan yang dipanggil Maharani atau Dewi itu, sama sekali tidak mengurangi kecantikan dan pesonanya. Malah sikapnya menimbulkan kesan perbawa yang menggetarkan hati.

Raj Badur dan Raj Sagar tadi sudah menuturkan apa yang telah menimpa mereka berdua. Dan berita itu telah membuat penasaran Maharaj dan Maharani.

"Kyo, Raj Badur, Raj Sagar?" Maharaj menatap Raj Badur dan Raj Sagar bergantian. Dalam ucapan Maharaj sama sekali tidak menunjukkan kemarahan hatinya. Namun meskipun begitu, nada suaranya terkandung perbawa yang membuat hati siapa saja akan merasa bergetar.

"Kahahe vada (mana janjimu) yang pernah kalian ucapkan?" lanjut Maharaj.

"Ampun dan maafkan kegagalan kami, Maharaj, Maharani." Raj Badur dan Raj Sagar merangkapkan dua telapak tangan di atas kepala dengan wajah menunduk.

"Semua benar-benar di luar dugaan. Dan sampai saat ini pun kami berdua masih belum mengerti, alasan apa yang membuat Batsa hendak membunuh kami," sambung Raj Badur yang dari nadanya jelas bermaksud membela diri.

"Kami bukan hendak membela diri atau mencari-cari alasan, Maharaj, Maharani," dukung Raj Sagar. "Luka-luka yang kami derita, merupakan bukti dari kebenaran cerita kami itu..."

Mereka berdua segera memperlihatkan luka menjijikkan, membuat Maharaj dan Maharani menunjuk rasa ngeri.

"Hm... Lalu, mengapa kalian berani datang tempat ini untuk menemui kami? Padahal, kalian telah gagal menjalankan tugas," desak Maharani, yang sejak tadi cuma diam mendengarkan. Nada suaranya mencurigai Raj Badur dan Raj Sagar.

"Maharani...."

Raj Badur mengangkat kepala dengan kedua tangan tetap ditangkapkan di atas kepala. Ketidaksenangan hatinya terpancar jelas pada sorot matanya. Ia jelas tidak suka dengan nada suara yang mengandung curiga itu.

"Selama ini telah banyak bukti yang menunjuk kesetiaan kami. Pengabdian dan kesetiaan kami terhadap gerakan, tidak perlu diragukan lagi...." sambung Raj Badur.

"Tapi kedatangan kalian ke tempat ini, bukan tidak mungkin merupakan awal dari bencana!" tukas Maharani dingin menggetarkan. "Aku khawatir kalian telah dikuntit musuh tanpa disadari. Dan itu sangat berbahaya! Begawat (pemberontakan) yang telah kami susun selama bertahun-tahun, bisa hancur akibat kecerobohan kalian. 

Sebab bisa saja perbuatan Batsa dilakukan karena telah menaruh curiga terhadap kalian berdua. Sehingga rencana kami untuk menyusupkan kalian ke dalam istana jadi hancur berantakan. Jangan lupa, Batsa mempunyai mata dan telinga di mana-mana..."

"Jika benar demikian, berarti ada orang dalam yang membocorkan rahasia kami berdua," kilah Raj Badur, masih juga tidak mau disalahkan.

"Itu tidak mungkin!" tukas Maharaj seraya menggeleng pelan. "Sebab cuma kita berempat dan Khar Najad yang tahu rencana penyusupan kalian..."

"Mungkin Batsa khawatir, kalau keberadaan Sepasang Intan Biru di tangannya sampai diketahui orang banyak. Kekhawatiran itulah yang membuat Batsa bermaksud menyingkirkan kalian..."

Seorang lelaki tua bermata putih yang sejak tadi berdiri di samping Maharaj, mengemukakan dugaannya. Dialah Khar Najad, yang merupakan penasihat dan juga Guru Maharaj dan Maharani.

"Atau..., mungkin juga karena kutuk yang melekat pada Sepasang Intan Biru itu," sambung Khar Najad setelah termenung sesaat.

"Kutuk yang melekat pada Sepasang Intan Biru?" Raj Badur dan Raj Sagar mengulang kata-kata terakhir Khar Najad disertai seruan kaget.

"Kami sengaja tidak memberitahukan hal ini kepada kalian," timpal Maharaj datar.

Tapi Raj Badur dan Raj Sagar tidak memperhatikan ucapan Maharaj. Saat itu, mereka menatap Khar Najad dengan sorot mata menuntut penjelasan.

"Pada Sepasang Intan Biru melekat satu kutukan yang mengerikan," jelas Khar Najad, yang tinggi tubuhnya separuh ukuran manusia biasa. "Siapa saja yang memiliki atau pun bermaksud hendak menguasai Sepasang Intan Biru, termasuk yang hanya memegangnya untuk beberapa waktu tertentu, menurut hikayat yang kutahu akan menemui kematian yang tidak disangka-sangka. Dan nampaknya, kalian berdua telah terkena kutuk itu..."

Raj Badur dan Raj Sagar sama melengak dengan raut wajah pucat Keduanya saling bertukar-pandang. Pada sorot mata masing-masing terlihat kegelisahan dan ketakutan. Apalagi sewaktu menyeberang ke Tanah Jawa, mereka mendengar dan menyaksikan Sepasang Intan Biru telah merenggut banyak nyawa. 

Teringat akan hal itu, semakin gelisah dan ngerilah hati Raj Badur dan Raj Sagar. Terlebih setelah merasakan adanya keanehan pada luka di tubuh mereka, yang bukannya sembuh tapi malah bertambah parah dan sangat menyiksa.

"Lalu apa yang harus kami lakukan, Khar Najad? Bisakah..., bisakah kutuk itu dibuang dari diri kami?" tanya Raj Badur dengan suara terdengar memelas. Perbawa kegarangan, dan ketangguhannya seketika itu juga lenyap dari dirinya. Yang ada hanyalah ketakutan dan kengerian.

"Ada satu jalan," kata Khar Najad setelah terdiam cukup lama. Sementara, wajah dan tubuh Raj Badur serta Raj Sagar sudah dibasahi keringat dingin.

"Katakan pada kami, Khar Najad!" Raj Badur dan Haj Sagar setengah berseru. "Bagaimana cara membuang kutuk itu?"

"Tapi sangat sulit dan berbahaya...." Khar Najad yang saat itu memejamkan matanya, menggeleng perlahan. Raut wajahnya tampak menegang.

"Katakanlah, Khar Najad. Betapa pun sulit dan besar bahaya itu, kami akan berusaha. Tolong katakan, apa yang harus kami perbuat?" desah Raj Sagar semakin tak sabar. Khar Najad dianggap terlalu bertele-tele.

"Kalian harus mendapatkan Cermin Ajaib!"

"Cermin Ajaib?!" Raj Badur dan Raj Sagar saling bertukar pandang tak mengerti. Sebab, mereka belum pernah mendengar tentang benda itu.

"Memang sangat sedikit orang yang tahu tentang benda itu. Karena, merupakan Pusaka Negeri Siluman…"

"Pusaka Negeri Siluman?!" sela Raj Badur dan Raj Sagar dengan seruan heran.

"Benar. Cermin Ajaib hanya bisa ditemukan di Negeri Siluman. Bukan julukan, tapi benar-benar Negeri Siluman! Dan untuk bisa mendapatkannya, bahayanya sangat besar. Karena kalian harus masuk ke alam siluman!" jelas Khar Najad, yang sampai saat itu masih tetap memejamkan kedua matanya.

Mendengar keterangan itu, sekujur tubuh Raj Badur dan Raj Sagar menjadi lemas. Jelas hal itu tidak mungkin dapat mereka lakukan.

"Aku akan memberikan petunjuk, yang akan membawa kalian masuk ke dalam alam siluman...," kata Khar Najad seraya membuka kedua matanya perlahan.

Raj Badur dan Raj Sagar mengangkat kepala, menatap wajah Khar Najad penuh tuntutan. Terpancar sedikit harapan dalam sorot mata keduanya. Dengan wajah penuh harap dan dada berdebar tegang, mereka segera mengikuti mantera-mantera yang dibacakan Khar Najad. Dan mereka harus bisa menghapal, tanpa boleh menulisnya.

"Nah! Sekarang aku akan mengantarkan kalian ke tempat Negeri Siluman yang memiliki Cermin Ajaib itu. Setetah mendapatkannya, bawalah benda itu kepadaku. Dan dengan bantuan Cermain Ajaib, aku akan membuang kutuk yang melekat pada diri kalian," jelas Khar Najad memberi petunjuk.

***

Di bawah cuaca yang masih remang-remang, serombongan kecil penunggang kuda bergerak menyusuri Sungai Indus. Pada salah satu lembah yang terdapat air terjun, rombongan yang terdiri dari tiga orang penunggang kuda itu menghentikan perjalanan. Dua di antaranya, mendahului melompat turun dari atas punggung kuda. Baru kemudian penunggang kuda terakhir.

Salah satu dari mereka yang dari sikapnya kelihatan sangat menaruh hormat pada penunggang kuda yang baru turun, bergegas menambatkan tiga ekor kuda itu pada batang-batang pohon di tempat yang cukup tersembunyi. Kemudian, kembali ditemuinya kedua penunggang kuda lainnya.

"Mahendharata," penunggang kuda yang terakhir turun menoleh kepada orang di sebelah kanannya.

"Hamba, Paduka..." Orang yang dipanggil Mahendharata membungkukkan tubuh sambil merangkapkan kedua tangan di depan wajah.

"Pergilah lebih dulu. Periksa keadaan di sekitar air terjun itu," ujar orang yang dipanggil 'paduka'. Ia ternyata Raja Godwana.

Orang bernama Mahendharata langsung bergegas menjalankan perintah itu. Raja Godwana sendiri dan seorang pengawal kepercayaannya yang bernama Rajmid Singh berjalan lambat-lambat, sementara Mahendharata melakukan pemeriksaan di sekitar air terjun.

Ketika Mahendharata memberi isyarat bahwa keadaan di sekitar tempat itu aman, Raja Godwana dan Rajmid Singh mempercepat langkahnya. Mereka kini menyeberangi sungai, menggunakan permukaan batu-batu yang bersembulan diatas permukaan air, sebagai pijakan. Dan sebentar kemudian, mereka lenyap di balik air terjun, yang rupanya terdapat sebuah mulut gua.

Sepasang tiang yang bagian atasnya berupa patung kepala berbentuk menyeramkan dengan sepasang taring mencuat di kedua sisi mulutnya, merupakan pintu gerbang masuk ke Kerajaan Siluman. Kerajaan itulah yang dituju Raja Godwana bersama Mahendharata dan Rajmid Singh, yang merupakan pengawal-pengawal pribadi penguasa Kerajaan Mahadur.

Gaung tawa ramai yang mendirikan bulu roma langsung menyambut kedatangan Raja Godwana, Mahendharata, dan Rajmid Singh. Meskipun mereka sepenuhnya sadar akan tempat yang didatangi, tak urung suara-suara tawa itu membuat bulu tengkuk memang. 

Dan mereka tak kuasa menahan gigilan pada tubuh-masing-masing, sewaktu udara dingin menusuk tulang sumsum. Malah gigi Raja Godwana sendiri sampai bergemeletuk. Dan mereka tidak melanjutkan langkah sewaktu terpaan hawa dingin semakin kuat.

"Hawa dingin ini merupakan pertanda kalau Putra Cande Galia akan segera menyambut kedatangan kita," bisik Raja Godwana berbisik kepada dua pengawalnya dengan pandangan tertuju lurus ke depan, di mana kegelapan seolah membutakan mata.

Mahendharata dan Rajmid Singh tidak berkata apa-apa. Karena saat itu, hati mereka merasa tegang bukan main. Dan mereka cuma bisa mengangguk tipis sebagai tanda telah mendengar bisikan itu. Beberapa saat setelah Raja Godwana selesai berbisik, pada kepekatan di depan mereka, tiba-tiba muncul sebentuk sinar putih menyilaukan mata. Raja Godwana, Mahendharata, dan Rajmid Singh terpaksa harus memalangkan lengan untuk melindungi mata masing-masing.

"Selamat datang Paduka Yang Mulai Raja Godwana..." Suara bening merdu dan mendayu-dayu laksana nyanyian itu, membuat Raja Godwana, Mahendharata, dan Rajmid Singh sama-sama menurunkan lengan masing-masing.

Mahendharata dan Rajmid Singh sampai terbeliak dengan mulut ternganga, menyaksikan apa yang terlihat di depan mata. Saking kagum dan terpesona, dua pengawal pribadi Raja Godwana itu sampai bisu mendadak. Darah mereka mengalir cepat, sulit dikuasai.

Ternyata sosok yang berdiri berjarak kurang dari satu tombak di depan telah membuat kegairahan kelakian mereka bergolak laksana ombak di lautan. Padahal, usia Mahendharata dan Rajmid Singh sudah mencapai enam puluh lima tahun!

Memang sosok yang berdiri di hadapan mereka sanggup meluluhkan hati setiap lelaki bagaimanapun kuatnya. Sosok wanita yang disebut Raja Godwana sebagai Cande Galia itu luar biasa. Kulitnya yang putih dan bening, tampak seperti bersinar. Belum lagi bentuk tubuhnya yang molek, terbungkus sutera tipis berwarna putih yang tembus pandang. Sehingga, Cande Galia seolah berdiri tanpa pakaian. Tidak mengherankan kalau pemandangan itu sampai membuat lutut Mahendharata dan Rajmid Singh terasa lemas dan gemetar.

"Dinda Cande Galia," sebut Raja Godwana dengan suara seperti bisikan parau. Seperti halnya Mahendharata dan Rajmin Singh, Raja Godwana pun mengalami perasaan serupa. Malah saking tak sabar, dengan napas tersengal Raja Godwana mengayun langkah menghampiri Putri Cande Galia. Kedua tangannya dikembangkan, siap memeluk tubuh molek yang menggiurkan itu.

"Tunggu dulu, Kanda Godwana...!" cegah Putri Cande Galia seraya mengangkat tangan kanan dengan telapak terbuka.

Raja Godwana terpaksa harus menahan gejolak api birahi yang seolah telah membakar hangus sekujur tubuhnya. Sebenarnya Penguasa Kerajaan Mahadur itu bukan tidak berusaha untuk maju. Tapi karena gerakan tangan Putri Cande Galia, membuat langkahnya tidak bisa maju dan juga tidak bisa mundur. Tubuhnya seolah telah dikunci gerakan tangan wanita cantik itu.

"Apakah Kanda sudah membawa benda yang merupakan syarat utama untuk dapat mempersunting diriku?" tanya Putri Cande Galia sambil mengembangkan senyum mautnya. Dan itu cukup membuat Raja Goddwana, Mahendharata, dan Rajmin Singh tersengal-senggal dengan dada terasa sesak!

"Aku bawa, Dinda! Aku bawa...!" jawab Raja Godwana susah-payah dan napas tersengal. Kemudian kepalanya menoleh kepada Mahendharata. "Kemarikan Sepasang Intan Biru itu!"

Tapi baik Mahendharata maupun Rajmid Singh seperti tidak mendengar perintah junjungannya. Rupanya, pesona Putri Cande Galla telah merampas hati dan pikiran, sehingga sampai-sampai telinga mereka mendadak tuli.

"Mahendharata!" hardik Raja Gpdwana saking jengkel karena Mahendharata tidak mendengar perintahnya.

"Oh! Eh, apa..., apa.... Oh! Ampunkan hamba, Paduka," ucap Mahendharata gelagapan dengan wajah ketololan.

"Berikan Sepasang Intan Biru itu kepadaku, Guoblok!" bentak Raja Godwana dengan sorot mata menunjukkan kemurkaan.

Karuan saja Mahendharata gemetar ketakutan. Buru-buru Sepasang Intan Biru dikeluarkan dan diberikannya kepada junjungannya.

***
EMPAT 
SETELAH Sepasang Intan Biru berada di tangan, terburu-buru Raja Godwana menghampiri Putri Cande Galia. Wanita cantik ini memang merupakan Putri Raja Siluman, yang bersemayam di balik air terjun. Tempat itu terletak di salah satu lembah sebelah tenggara Sungai Indus.

Raja Godwana berkenalan dengan Putri Cande Galia sewaktu tengah berburu beberapa waktu lalu. Seekor kijang betina yang muda dan cantik telah membuatnya tertarik dan memburunya. Namun ternyata kijang muda yang gesit itu seperti sengaja mempermainkan, sehingga membuatnya semakin bernafsu dan mengejar. Tanpa disadari tindakannya telah membuatnya meninggalkan rombongan. Teriakan para pengawal yang memperingatkannya tidak dipedulikan. Sehingga, para pengawal kehilangan jejaknya.

Saat kijang itu kembali berhenti karena telah tersudut, Raja Godwana buru-buru menarik tali busur. Tapi belum lagi anak panah dijepretkan, tiba-tiba saja sosok kijang betina itu berubah menjadi asap. Ketika asap lenyap, tampaklah seorang putri yang sangat cantik, hingga membuat Raja Godwana ternganga takjub.

"Ghazab (luar biasa)...!" desis Raja Godwana dengan busur masih terentang. "Tum kise?" Raja Godwana menurunkan busur dan menggosok-gosokkan matanya beberapa kali. Namun sosok wanita cantik itu masih tetap tersenyum memandangnya.

"Me, Putri Cande Galia," sahut wanita cantik, yang tubuhnya membayang nyata di balik sutera tipis berwarna putih itu. Sementara senyumnya tetap dipamerkan, membuat lutut Raja Godwana goyah.

"Putri Bunga Rembulan...? Nama yang indah sekali dan sangat sesuai dengan orangnya," kata Raja Godwana dalam bisikan lirih. Namun bisikan itu tetap terdengar jelas oleh Putri Cande Galia, yang memang berarti bunga rembulan. "Tapi..., mengapa..., mengapa kau... kau...."

"Menjelma dari seekor kijang? Begitukah yang Paduka maksudkan?" kata Putri Cande Galia seakan ingin menegasi, tanpa melenyapkan senyumnya yang merontokkan jantung laki-laki. "Paduka tidak perlu heran. Karena, aku adalah Putri Raja Siluman. Letak istanaku tidak jauh dari hutan ini. Marilah Paduka singgah. Sebentar lagi, hari gelap. Sangat berbahaya berada seorang diri di dalam hutan ini, saat hari gelap..."

Tentu saja Raja Godwana langsung menerima tawaran yang memang diharapkannya. Apalagi hatinya memang sudah tertarik dan langsung bertekuk-lutut, sementara mulutnya siap mengumbar kata cinta. Padahal, usia Raja Godwana sudah tidak muda lagi. Empat puluh tahun. Tapi, kecantikan dan senyum Putri Cande Galia telah membuat dirinya merasa masih muda. Tanpa banyak cakap lagi, segera saja diikutinya Putri Cande Galia.

Lenyapnya Raja Godwana, tentu saja membuat para pengawal kelabakan. Meski hari telah menjadi gelap, mereka masih terus berusaha mencari. Tapi hasilnya tetap nihil. Sampai pada keesokan harinya mereka yang nyaris putus asa, menemukan Raja Godwana tengah membersihkan diri di sungai sambil bersenandung riang. 

Meskipun heran, namun para pengawal merasa gembira melihat junjungannya selamat. Raja Godwana sendiri tidak menceritakan pengalamannya, kecuali kepada dua orang pengawal setianya. Mahendharata dan Rajmid Singh.

Mahendharata dan Rajmid Singh pula yang mencarikan orang untuk mencari Sepasang Intan Biru. Karena menurut Raja Godwana, Putri Cande Galia hanya mau menerima lamaran apabila dibawakan Sepasang Intan Biru. Maka setelah berhasil memperoleh Sepasang Intan Biru, dengan ditemani Mahendharata dan Rajmid Singh, Raja Godwana segera menemui Putri Cande Galia kembali.

***

"Aku sudah memberi apa yang menjadi permintaanmu, Dinda Cande Galia. Dan aku sudah tidak sabar untuk segera memboyongmu ke istana," ujar Raja Godwana, setelah menyerahkan Sepasang Intan Biru kepada Putri Cande Galia.

"Kanda Paduka Raja Godwana," Putri Cande Galia tersenyum dengan sepasang mata berbinar. "Aku punn sudah tidak sabar menjadi permaisurimu, Kanda. Tapi Kanda tahu sendiri, aku belum siap untuk itu. Memang benar, aku berbeda dengan ayahku maupun rakyat kami. 

Aku setengah manusia dan setengah siluman, karena ibuku bangsa manusia. Tapi pengaruh siluman lebih kuat menguasai diriku. Sehingga, seperti halnya ayahku maupun rakyat kami, aku pun tidak tahan cahaya matahari. Sampai hatikah Kanda Paduka melihat tubuhku meleleh musnah oleh sengatan matahari?"

"Tentu saja tidak, Dinda," sahut Raja Godwana, menggelengkan kepalanya.

"Maka bersabarlah. Kanda Paduka," ujar Putri Cande Galia. "Karena sebentar lagi, aku akan bisa menjadi manusia utuh setelah bertapa dalam rendaman air Sepasang Intan Biru selama tujuh hari tujuh malam. Nah, sekarang harap Kanda Paduka kembali saja ke istana. Pada hari kedelapan, pagi-pagi Kanda Paduka silakan menjemputku. Karena, hari itu tapa yang kujalani telah sempurna. Dan, tidak ada halangan lagi bagi Kanda untuk memboyongku ke istana..."

"Aaah...! Mengapa sampai selama itu, Dinda Cande Galia?" keluh Raja Godwana, tak sabar. "Tidak bisakah waktunya dipersingkat?"

"Tidak bisa, Kanda Paduka," Putri Cande Galia tersenyum sambil menggeleng lemah. "Bersabarlah Kanda. Datanglah pada waktu yang telah kujanjikan."

"Jika memang harus demikian, baiklah, Dinda." Akhirnya Raja Godwana mengalah, meski wajahnya kelihatan sangat kecewa. Lalu setelah berpamitan, diajaknya pengawal-pengawal setianya untuk meninggalkan Kerajaan Siluman ini.

***

Sehari setelah kepergian Raja Godwana dan dua orang pengawalnya, Kerajaan Siluman yang terletak di sebelah tenggara lembah Sungai Indus kembali didatangi tiga orang lelaki. Mereka tak lain Khar Najad, Raj Badur, dan Raj Sagar. Khar Najad menghentikan langkah di dekat air terjun diikuti Raj Badur dan Raj Sagar. 

Keduanya tidak berusaha mengusik sewaktu melihat Khar Najad sudah memejamkan kedua mata dengan berdiri tegak. Raj Badur dan Raj Sagar tahu kalau kakek sakti ini tengah mengerahkan kekuatan batin untuk mengetahui letak yang pasti Kerajaan Siluman.

Khar Najad memang bukan sembarang kakek. Meskipun tubuhnya pendek kurus, dengan usia telah mencapai sembilan puluh tahun lebih, tapi tak terlihat lemah. Malah semakin tangguh dan sukar dicari tandingan. Terlebih dalam hal ilmu batin. 

Khar Najad terbilang merupakan dedengkotnya ilmu sihir di Daratan India Selatan. Begitu pula dalam hal kepandaian silat. Tak heran kalau ia yang mendapat julukan Mata Elang Iblis, merupakan seorang ahli silat kawakan. Karena, sejak muda kegemarannya ilmu silat dan ilmu sihir.

Semua kepandaian Khar Najad bukan cuma diperoleh dari satu guru saja. Semasa masih muda, laki-laki ini tidak pernah merasa puas dengan kepandaiannya. Maka ia mengembara dan berguru kepada tokoh-tokoh sakti yang ditemui. Dalam usahanya untuk menambah ilmu, bahkan tidak segan-segan ia merendahkan diri, dengan menjadi pelayan beberapa tokoh sakti yang dijumpai.

Khar Najad pandai membawa diri. Rajin bekerja dan bertutur sopan. Semua itu dijalani penuh kesabaran. Dari pengalaman-pengalamannya berhadapan dengan tokoh-tokoh sakti, ia dapat membedakan mana tokoh yang bisa dimintai petunjuk tanpa perlu bersusah payah, dan mana yang memerlukan kesabaran.

Dan kesabaran serta ketabahan hatinya, membuahkan hasil yang diharapkan. Sampai akhirnya setelah ilmunya semakin maju pesat, Khar Najad hanya mau berguru kepada tokoh yang sanggup mengalahkan kesaktiannya. Perbuatannya yang belakangan itu, membuat banyak tokoh yang ditantang tewas di tangannya. Tapi meskipun begitu, ia tetap saja tidak pernah merasa puas.

Dan dalam usianya yang telah sangat tua pun, kepandaiannya masih tetap hendak menambah. Akibatnya, korban semakin banyak jatuh. Dan, julukan Mata Elang Iblis bergaung semakin santer. Bahkan menjadi momok nomor satu, khususnya bagi tokoh-tokoh di daerah bagian India Selatan.

"Hm...." Suara gumaman, membuat Raj Badur dan Ral Sagar sama-sama memandang kakek kerdil itu. Napas Khar Najad kelihatan agak sedikit memburu. Ada sedikit keringat yang menyembul di keningnya. Ada gambaran kelelahan yang samar pada raut wajahnya.

"Istana Siluman tepat berada di balik air terjun itu. Hawa di balik air terjun itu sangat kuat," jelas Khal Najad, menjawab tatapan Raj Badur dan Raj Sagar. "Di balik air terjun itu, ada sebuah mulut gua yang merupakan pintu gerbang menuju Kerajaan Siluman. Sekarang, kalian bersembunyilah. Aku akan mengusili siluman-siluman itu, agar keluar meninggalkan tempatnya. 

Dan kalian baru bisa masuk, setelah mereka ke luar. Bersiaplah. Dan, tunggu isyarat dariku. Ingat! Tujuan kalian hanya mengambil Cermin Ajaib! Apa pun yang akan kalian temukan di dalam, jangan terkecoh. Kecuali Cermin Ajaib, lupakan semua yang dijumpai di dalam sana. Jika melanggar pesanku, kalian tidak akan bisa keluar lagi dari tempat itu. Camkan pesanku baik-baik!"

Raj Badur dan Raj Sagar mengangguk, lalu bergegas menyembunyikan diri di tempat yang ditunjuk Khar Najad. Dari kejauhan, mereka menunggu isyarat Khar Najad yang sudah duduk bersila dengan mata terpejam rapat. Dan beberapa saat kemudian, tubuh Khar Najad tampak bergerak ke kiri-kanan.

Mula-mula perlahan, namun semakin lama bertambah cepat. Bahkan sampai terlompat-lompat hingga bergeser dari tempat duduknya semula. Sementara selebar wajahnya mulai dibasahi butir-butir keringat. Kendati tidak tahu secara pasti, namun Raj Badur dan Raj Sagar maklum kalau saat itu Khar Najad tengah melakukan pertarungan batin dengan penghuni Kerajaan Siluman di balik air terjun itu.

Apa yang dilakukan Khar Najad, membuat rakyat Kerajaan Siluman yang berada di balik air terjun menjadi kelabakan. Serangan gaib ini membuat mereka merasa kepanasan. Keadaan ini membuat suasana di dalam Kerajaan Siluman menjadi kalang-kabut, sukar dikendalikan. 

Masing-masing berebutan untuk keluar dari tempat itu, karena merasa tidak tahan dengan hawa yang dirasakan semakin menggila. Sebagian berlari ke bagian belakang, menggunakan pintu gerbang darurat. Sementara sebagian lainnya menuju air terjun, yang merupakan pintu gerbang utama Kerajaan Siluman.

Putri Cande Galia sendiri yang semula tengah bersemadi di dalam kamar khusus, merasa terkejut dengan perubahan udara yang tiba-tiba menjadi panas. Meskipun bagi dirinya pengaruh serangan hawa panas itu tidak terlalu menyiksa, namun kekacauan yang terjadi membuatnya terpaksa menghentikan semadi. Kemudian bergegas ia keluar untuk melihat keadaan rakyatnya.

"Kurang ajar...!" desis Putri Cande Galia geram ketika melihat keadaan rakyatnya yang sudah sangat sulit dikendalikan. "Pasti ada yang tidak beres! Heran! Siapa yang berani mati mengganggu ketenteraman negeriku?"

Putri Cande Galia maklum, hawa panas itu bukan sewajarnya. Naluri silumannya bisa merasakan, bahwa hawa panas itu berasal dari mantera-mantera sakti yang sanggup melumpuhkan kekuatan Bangsa Siluman. Maka kekuatan silumannya segera digunakan untuk melenyapkan diri. 

Sebentar saja tubuhnya telah lenyap, berganti menjadi gulungan asap tebal berwarna merah muda, menebarkan bau harum bunga-bunga. Kemudian, tahu-tahu muncul di hadapan Khar Najad yang tentu saja langsung merasakan kehadiran Putri Cande Galia di dekatnya.

Sementara, di tempat persembunyian, mata Raj Badur dan Raj Sagar sampai terbelalak lebar-lebar sewaktu melihat adanya asap harum berwarna merah muda yang tahu-tahu muncul di hadapan Khar Najad. Dan mereka semakin terbeliak, sewaktu menyaksikan gumpalan asap itu lenyap, berganti sesosok tubuh molek terbungkus sutera tipis berwarna putih, yang diyakini pasti memiliki paras cantik.

"Hei, Kakek Tua bangsa manusia! Mengapa kau mengusik ketenteraman negeriku? Bukankah kami tidak pernah mengusik-usik bangsamu?" tegur Putri Cande Galia begitu sosoknya sudah sangat jelas. Padahal, suasana malam itu cuma diterangi cahaya bulan separuh. Namun itu sudah cukup menerangi wajah cantik menggiurkan Putri Cande Galia.

"Hm... aku memaksamu keluar hanya ingin melihat, seperti apa cantiknya putri Raja Siluman? Bukankah menurut dongeng secantik-cantiknya wanita bangsa manusia, sejelek-jeleknya putri bangsa siluman? Tapi yang kulihat cuma satu. Mana putri-putri siluman lainnya?" sahut Khar Najad yang sudah membuka kedua mata. Dipandangnya sosok Putri Cande Galia penuh perhatian. Sementara tongkatnya diangkat tinggi-tinggi dan diputarnya membentuk sebuah lingkaran.

Putri Cande Galia yang tidak tahu makna gerakan tongkat Khar Najad, mengira itu merupakan sebuah serangan. Maka, buru-buru langkahnya digeser dengan sikap waspada, siap memberi perlawanan. Padahal gerakan Khar Najad merupakan isyarat bagi Raj Badur dan Raj Sagar untuk segera memasuki Kerajaan Siluman. Karena dengan menggunakan mata batinnya, kakek kerdil ini bisa melihat kalau Kerajaan Siluman yang terdapat di balik air terjun itu telah ditinggalkan penghuninya.

Tapi Putri Cande Galia, yang membaui adanya manusia lain di sekitar tempat itu merasakan adanya gerakan di belakangnya. Sayang sebelum tubuhnya sempat berputar Khar Najad berseru. Bahkan langsung melancarkan serangan dengan mulut berkemak-kemik merapal mantera.

"Jahat sekali kau, Kakek bangsa manusia...!" dengus Putri Cande Galia gusar. Untung dalam diri wanita cantik itu ada unsur manusia. Sehingga, mantera yang digunakan Khar Najad tidak terlalu berpengaruh terhadapnya. Dan ini membuat kakek kerdil itu sempat merasa heran, ia sama sekali tidak tahu kalau wanita cantik yang dihadapinya adalah setengah manusia dan setengah siluman.

"Hm.... Rupanya kau memiliki penangkal mantera-manteraku, Putri Siluman!" desis Khar Najad seraya mempersiapkan mantera-mantera yang lebih ampuh lagi.

"Percuma kau hambur-hamburkan mantera tengikmu, Kakek Bangsa Manusia," leceh Putri Cande Galia tersenyum mengejek, membuat Khar Najad kembali melengak kaget.

Kakek sakti itu hampir tidak percaya dengan apa yang disaksikannya, karena tahu betul kalau mantera-mantera yang dirapalnya akan sanggup menghanguskan siluman setangguh apa pun! Namun nyatanya terhadap Putri Cande Galia tidak berarti apa-apa! 

Hanya sekujur tubuh wanita siluman itu saja yang dibaluri warna merah. Sosoknya sendiri sama sekali tidak lebur, seperti apa yang dibayangkan Khar Najad. Malah, kakek kerdil itu terpaksa harus menghindarkan diri dari serangan balasan yang dilancarkan Putri Cande Galia.

Whuuusss!

Serangan berupa larikan cahaya kemerahan yang dihembuskan dari mulut Putri Cande Galia menghanguskan sebatang pohon yang berada satu setengah tombak di belakang Khar Najad. Sedangkan kakek itu sudah berkelebat ke samping, lalu kembali tegak sambil memikirkan serangan berikut.

Putri Cande Galia memang sengaja tidak mau membuka rahasia dirinya yang setengah manusia. Sebab dimaklumi kalau kakek bangsa manusia yang dihadapinya adalah seorang lawan yang sangat tangguh dan berbahaya.

Sementara itu, Raj Badur dan Raj Sagar yang telah masuk ke dalam alam siluman bergegas berpencar menggeledah seluruh ruangan dan kamar-kamar istana untuk mencari Cermin Ajaib. Tapi, benda keramat ynng menurut Khar Najad tidak mudah untuk diperoleh, ternyata juga tidak mudah ditemukan.

"Keparat! Di mana Cermin Ajaib itu disembunyikan!" umpat Raj Sagar mengumpat, menumpahkan kejengkelan hatinya sewaktu bergabung kembali dengan Raj Badur yang juga belum menemukan Cermin Ajaib itu.

"Ya! Aku sudah tidak tahan berada lama-lama di alam siluman, yang menyeramkan ini. Sejak memasuki tempat ini, bulu tengkukku terus-menerus berdiri. Hawa dan suasananya benar-benar membuatku bergidik," ungkap Raj Badur mengutarakan apa yang dirasakannya. Dan lelaki ini semakin tak sabar untuk segera menemukan Cermin Ajaib, yang ciri-cirinya telah ditunjukkan Khar Najad. Tapi dari sekian banyak cermin dalam istana ini, tak satu pun yang sama dengan apa yang digambarkan Khar Najad.

"Jangan-jangan benda itu memang hanya ada di alam dongeng saja, Raj Badur," duga Raj Sagar, mengungkapkan pikiran yang saat itu melintas di benaknya.

"Tidak mungkin, Raj Sagar!" sanggah Raj Badur, menggeleng kuat-kuat. "Kau tahu sendiri kalau dalam alam siluman banyak tersimpan teka-teki yang mustahil bagi manusia. Kecuali itu, kalau memang Cermin Ajaib tidak benar-benar ada, mana mungkin Khar Najad mau bersusah-payah membantu kita?"

"Benar juga, ya," Raj Sagar menganggukkan kepala berulang-ulang. Sementara kerutan di keningnya semakin nyata. "Tapi kita harus hati-hati, Raj Badur. Siapa tahu setelah Cermin Ajaib itu diperoleh, Khar Najad malah akan membunuh kita. Ingat pengalaman di istana Raja Godwana!"

"Aku pun tidak percaya terhadap manusia itu, Raj Sagar," ungkap Raj Badur, juga mengutarakan perasaannya yang tidak berbeda. "Tapi apa daya kita? Kalaupun Cermin Ajaib didapatkan dan kita bawa lari, bagaimana cara menggunakannya? Jelasnya, tidak ada jalan lain bagi kita, kecuali bersikap hati-hati agar tidak lagi dicurangi orang."

Raj Sagar juga maklum. Tidak ada jalan lain bagi mereka berdua, kecuali menuruti segala apa yang dikatakan dan diperintahkan Khar Najad. Karena tanpa bantuan kakek kerdil itu memperoleh Cermin Ajaib pun tidak akan ada gunanya bagi mereka.

"Ayo, kita cari lagi, Raj Sagar!"

Raj Sagar tersentak dari lamunan. Setelah mengangguk, mereka kembali berpisah. Mereka langsung memeriksa ruangan-ruangan dan kamar-kamar lain dengan lebih teliti.

***
LIMA 
SETELAH benar-benar sadar kalau mantera-mantera yang digunakan tidak berpengaruh bagi Putri Cande Galia, Khar Najad mulai merubah cara bertarungnya! Kini dicobanya untuk menyerang dengan menggabungkan mantera ilmu sihir dengan ilmu silat.

Akibatnya Putri Cande Galia menjadi terkejut bukan kepalang. Serangan mantera sihir yang disatukan dengan ilmu silat, benar-benar membuat hatinya bergetar. Mantera itu telah membuat Putri Cande Galia kehilangan separuh tenaganya. Dan dalam keadaan demikian, Khar Najad langsung menyusuli dengan serangan-serangan mengandung kekuatan dahsyat. Sehingga, beberapa kali Putri Cande Galia nyaris menjadi sasaran serangan maut.

"Jahanam keparat kau, Kakek Bangsa Manusia...!" rutuk Putri Cande Galia dengan napas tersenggal, karena dipaksa berlompatan menyelamatkan diri. "Kaulah yang memulai. Dan kau harus membayar mahal kelancanganmu!" Sehabis berkata demikian, mendadak saja tubuh wanita cantik ini lenyap dari pandangan, berubah menjadi gumpalan asap berwarna merah muda, yang kemudian sirna tanpa bekas!

"Ha ha ha...!" Tapi, perbuatan itu justru malah membuat Khar Najad tertawa berkakakan. Demikian takabur nada suara tawa Khar Najad. Kelihatannya, apa yang dilakukan Putri Cande Galia bukan suatu hal yang mengejutkan. Malah, dianggapnya sebagai permainan anak-anak!

"Bagus...!" seru Khar Najad lantang dengan sikap sombong. "Seharusnya memang begitulah yang kau lakukan, Perempuan Siluman! Dengan begitu, akan sangat mudah bagiku untuk memusnahkanmu!"

Usai berkata demikian, kakek kerdil ini segera merangkapkan dua telapak tangan di depan dada, yang kemudian diputar ke kiri-kanan dalam bentuk lingkaran-lingkaran kecil. Semakin lama lingkaran yang dibuat semakin besar. Gerakan itu dibarengi gosokan telapak tangan yang dirangkapkan. Dan beberapa saat kemudian, terlihatlah kepulan asap tipis yang keluar dari dua telapak tangan yang digosok-gosokkannya.

Mula-mula asap tipis itu bergerak-gerak melingkari telapak tangan Khar Najad, namun kemudian terus melebar. Ujung dari asap tipis yang seolah merupakan tali gaib, bergerak melenggak-lenggok seperti tengah mencari sasaran. Hingga satu ketika, ujung asap tipis itu bergerak melingkari sesuatu. Dan...

"Aaa...!" Terdengar jeritan Putri Cande Galia, ketika lingkaran asap tipis itu mengecil, tak ubahnya seekor ular yang melilit tubuh dan hendak meremukkan tulang-tulang tubuh korbannya.

"Ha ha ha...!"

Jeritan Putri Cande Galia disambut tawa berkakakan Khar Najad. Tubuh wanita cantik itu sendiri kini sudah tampak kembali, namun dalam keadaan sekujur tubuh terbelenggu dalam lingkaran asap.

"Aaa...!" Putri Cande Galia melolong kesakitan. Sosoknya kini mulai disamari cahaya semerah bara yang berkedip-kedip. Dan hal itu merupakan ancaman bahaya besar baginya. Karena, cahaya semerah bara itu adalah akibat dari tali gaib yang melingkari tubuhnya, dan tengah menyedot kekuatan dalam dirinya.

"Perlu bantuan, Putri Cande Galia?"

Di tengah keputusasaannya, tiba-tiba Putri Candi Galia mendengar satu suara yang ditujukan kepadanya. Bukan cuma wanita cantik itu yang menoleh, Khar Najad pun secepat kilat memutar kepala. Seketika matanya memandang ke tempat asal suara. Ada gambaran keterkejutan dan juga penasaran pada raut wajahnya.

"Kaukah itu, Ratu Iblis Tangan Darah?!" tanya Khar Najad, memandang sesosok bayangan berperwakan kurus yang terlindung di bawah bayangan pohon.

"Putri Cande Galia," panggil sosok berperawakan kurus itu, sama sekali tidak mempedulikan pertanyaan Khar Najad. "Sekali lagi aku bertanya. Apakah kau memerlukan bantuan?" Suara itu pelan saja. Namun hebatnya, sanggup menindih lolongan Putri Cande Galia. Sehingga, suaranya terdengar sangat jelas.

"Untuk apa kau bertanya, Bangsa Manusia! Kalau memang bermaksud ingin menolong, lakukanlah. Jika tidak, pergilah dari tempat ini. Karena, aku lebih baik musnah daripada mengemis kepadamu!" sahut Putri Cande Galia dengan susah-payah dan napas tersengal.

Wanita cantik ini sudah merasa putus asa, karena telah salah mengambil langkah. Sebab, kalau saja tadi tidak khilaf menggunakan kekuatan silumannya, belum tentu Khar Najad akan dapat melumpuhkannya semudah itu. Sayang, datangnya kesadaran itu terlambat.

"Tentu saja kau tidak perlu mengemis kepadaku, Putri Cande Galia," kata sosok berperawakan kurus itu terkekeh sember. "Cukup dengan memberi imbalan sebagai balasan dari pertolongan yang akan kuberikan..."

"Apa yang kau kehendaki dariku?" tukas Putri Cande Galia, setengah menjerit. "Pinjamkanlah Cermin Ajaib kepadaku barang beberapa waktu. Setelah selesai, benda itu akan kukembalikan lagi kepadamu. Bagaimana? Apakah kau setuju?" usul sosok berperawakan kurus itu, kembali terkekeh sember.

"Mengapa kau begitu yakin kalau aku memiliki Cermin Ajaib?" Putri Cande Galia berpaling, untuk dapat melihat sosok yang menawarkan pertolongan kepadanya. Sementara, cahaya memerah bara yang menyelimuti sekujur tubuhnya tampak sudah mulai pudar warnanya. Itu merupakan tanda kalau kekuatan Putri Cande Galia sudah berkurang jauh. Dan apabila cahaya itu sudah berubah putih, tandanya akhir dari keberadaannya akan segera terjadi. Tali gaib Khar Najad akan memusnahkan dirinya.

"Dua orang muridku, Raj Badur dan Raj Sagar membawa Sepasang Intan Biru kepada Batsa, demi memperoleh jabatan sebagai Guru Negara. Dari wajah kedua muridku itulah, aku membaca semua yang akan terjadi. Dan itu ada kaitannya dengan murid-muridku. Melalui wajah mereka pula, aku bisa melihat apa yang bakal dilakukan Batsa dengan Sepasang Intan Biru. 

Ternyata, benda-benda keramat itu hendak diberikan kepadamu, agar kau bersedia menjadi istrinya. Lalu, mata batinku melihat Batsa datang menemuimu. Saat melihat wajahmu, ada satu bayangan yang benar-benar membuatku hampir tidak mempercayainya. Dan bayangan itu adalah Cermin Ajaib! Sebuah benda yang semula kusangka hanya ada dalam dongeng saja. 

Itulah sebabnya, mengapa aku bisa berada di tempat ini. Aku hanya hendak meminjamnya saja. Karena indera keenam ku mengatakan, Cermin Ajaib tidak akan bisa dimiliki bangsa manusia. Cermin Ajaib akan lenyap dengan sendirinya tepat pada waktu malam bulan purnama," jelas sosok berperawakan kurus, yang tak lain Ratu Iblis Tangan Darah, tokoh tua berwajah buruk.

"Rupanya kau cukup tahu banyak mengenai Cermin Ajaib itu. Tapi perlu kau tahu, lenyapnya Cermin Ajaib bukan berarti kembali kepadaku. Setelah lenyap, benda itu bisa jatuh ke mana saja. Siapa yang berjodoh, akan menemukannya. Kendati, hanya dapat memiliki selama satu purnama. Setelah itu, Cermin Ajaib akan kembali lenyap. Hanya apabila ditemukan bangsa siluman sajalah, yang akan terus bisa memiliki,..." jelas Putri Cande Galia, merasa kepalang sudah diketahui.

"Tapi aku hanya memerlukannya untuk beberapa hari saja," tukas Ratu Iblis Tangan Darah. "Sebelum purnama datang, aku akan mengembalikan benda itu kepadamu, Putri Cande Galia."

"Setttan!"

Percakapan Putri Cande Galia dan Ratu Iblis Tangan Darah terhenti oleh umpatan Khar Najad, yang merasa terhina karena telah disepelekan. Dan kemarahannya itu ditumpahkan kepada Putri Cande Galia dengan menambah kekuatan lilitan tali gaib.

"Aaa...!" Begitu lilitan makin mengecil, Putri Cande Galia melolong tinggi. Sedangkan Ratu Iblis Tangan Darah malah tertawa sember. Baginya perbuatan Khar Najad malah justru menguntungkan.

"Bagaimana, Putri Cande Galia?" desak Ratu Iblis Tangan Darah mendesak, tak sabar.

"Baiklah," jawab Putri Cande Galia dalam jeritan. Ia benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan siksaan itu. Sehingga dengan terpaksa tawaran Ratu Iblis Tangan Darah diterima.

"Tidak akan semudah itu, Ratu Iblis...!" Khar Najad menggereng. Dan saat itu juga telapak tangannya dibuka dan langsung didorongkan ke arah Ratu Iblis Tangan Darah, yang kemudian di tarik kembali dalam bentuk lingkaran.

Wiiirrr...!

"Hih, hih hih...!" Ratu Iblis Tangan Darah mendongakkan kepala meremehkan serangan Khar Najad yang berupa angin berputaran laksana angin puting beliung.

Sementara angin berputar itu terus bergerak mendekati Ratu Iblis Tangan Darah, dengan menggilas masuk apa saja yang dilalui. Jangankan rerumputan atau batu-batu kerikil. Pepohonan besar saja tampak doyong, tersedot putaran. Padahal pohon-pohon itu berada dalam jarak sekitar dua tombak. Dapat dibayangkan, apa jadinya jika tubuh Ratu Iblis Tangan Darah yang jadi korbannya.

Ratu Iblis Tangan Darah rupanya memang benar-benar menganggap serangan Khar Najad hanya sebagai permainan anak-anak. Usai memperdengarkan tawa sembernya, mulutnya membuka lebar-lebar seperti orang menguap. Dan, terjadilah satu pemandangan yang sangat luar biasa! Mata Khar Najad sendiri sampai terbelalak saking takjub melihat cara lawannya mengatasi serangannya.

Betapa tidak? Angin puting beliung serangan Khar Najad yang tengah bergerak mendekati sasaran, sedikit demi sedikit tersedot masuk ke dalam mulut Ratu Iblis Tangan Darah! Dalam waktu singkat saja, angin puting beliung itu lenyap masuk ke dalam perut perempuan berwajah buruk ini yang tampak membuncit bagaikan tengah mengandung sembilan bulan!

Belum lagi Khar Najad tersadar dari keterpakuannya, tiba-tiba saja mulut Ratu Iblis Tangan Darah yang tadi ditutup setelah menyedot habis angin puting beliung, kini kembali terbuka. Langsung ditiupkannya angin dalam perut ke arah Khar Najad! Rupanya ia hendak mengembalikan angin puting beliung yang baru saja ditelannya.

Whusss...!

Suara menderu ribut mengembalikan kesadaran Kitar Najad. Melihat serangan yang dikembalikan kepadanya, cepat Khar Najad memalangkan lengan kanan di depan dada dengan telapak menghadap ke bawah. Sementara, tangan kirinya dipalangkan di depan perut dengan telapak menghadap ke atas. Lalu kedua lengannya digerakkan perlahan, membentuk putaran. 

Dan hebatnya, setiap putaran kedua lengannya membuat angin puting beliung ciptaannya yang dikembalikan Ratu Iblis Tangan Darah, dapat tersedot mengikuti gerakan kedua lengannya. Dan akhirnya angin puting beliung itu kembali lenyap tanpa bekas!

Usai menyedot habis angin puting beliung ciptaannya, Khar Najad langsung menjatuhkan tubuh di tanah dalam keadaan bersila. Setelah bertepuk tangan sekali di atas kepala, dan dilanjutkan dengan menepuk kedua dadanya, Khar Najad menghantamkan kedua telapak tangan ke tanah di kiri dan kanan tubuhnya. Kening Ratu Iblis Tangan Darah berkerut dan mendadak....

"Aaah...!" Perempuan berwajah buruk itu terpekik, karena tanah yang dipijaknya tiba-tiba amblas seperti longsor menciptakan sebuah lubang. Sementara di sekitar tepi lubang, tanahnya langsung berguguran. Ratu Iblis Tangan Darah tentu saja tidak sudi dirinya terkubur hidup-hidup. Maka sambil mengeluarkan lengkingan panjang, kedua kakinya menendang dinding lubang. Dan dengan sekali menggenjot saja, tubuhnya langsung melambung tinggi ke udara.

Tapi, selagi tubuh perempuan itu melakukan putaran, Khar Najad cepat mengulurkan kedua lengannya. Kemudian jari-jari tangannya meregam, seolah tengah mencekal sesuatu yang langsung disentakkan ke bawah. Sebagai akibatnya, tubuh Ratu Iblis Tangan Darah yang tengah berada di udara tiba-tiba saja terbetot ke bawah, dan terbanting jatuh menimbulkan suara berdebuk keras.

Brukkk!

Tapi, lagi-lagi Ratu Iblis Tangan Darah menunjukkan ketangguhannya. Begitu terjatuh, tubuhnya langsung melambung kembali ke udara. Seolah tubuhnya dari gumpalan karet yang kenyal.

Khar Najad kembali dibuat penasaran. Apalagi tubuh Ratu Iblis Tangan Darah yang melambung bagai bola karet itu langsung menggelundung menerjangnya yang didahului sambaran angin panas. Kakek kerdil itu berusaha menghalau dengan melontarkan pukulan jarak jauh. Tapi serangannya ternyata sama sekali tidak berarti. Bahkan angin pukulannya malah terpecah, diterobos gelundungan tubuh Ratu Iblis Tangan Darah! Sementara tubuh perempuan berwajah buruk itu terus meluncur tanpa dapat dicegah lagi! Hingga....

Desss...!

"Aakh...!" Demikian cepat luncuran itu datang, hingga Khar Najad terhumbalang dan jatuh terguling-guling di atas tanah disertai keluhan tertahan. Dan ketika baru saja melompat bangkit, tubuh Ratu Iblis Tangan Darah yang menggelinding di atas permukaan tanah laksana sebuah bola, kembali datang. Sehingga....

Desss....

"Aakh...."

"Hih hih hih...!" Ratu Iblis Tangan Darah tertawa sember, menyaksikan Khar Najad terduduk lemas dan muntah darah setelah terpental deras. "Sebaiknya kau segera bersiap-siap melayat ke akhirat, Khar Najad!" Perempuan itu segera menyiapkan pukulan terakhir, yang akan memisahkan roh dengan raga Khar Najad.

Khar Najad sendiri sadar akan luka dalam yang diderita. Dua kali hantaman telak Ratu Iblis Tanga Darah, telah membuat beberapa bagian dalam tubuhnya rusak berat. Kalaupun dapat menyembuhkannya akan memakan waktu lama. Bahkan akan menjadikannya cacat seumur hidup. Luka itu, selain akan membuat kedua kakinya lumpuh, juga bisa mengakibatkan kebutaan pada kedua matanya.

Lebih parah lagi sebagian besar tenaga dalamnya akan hilang. Karena pusat penyimpanan tenaga dalamnya juga terluka. Sadar akan keadaan itu Khar Najad hanya bisa pasrah, menunggu kematian yang bakal menjemputnya. Kakek kerdil ini merasa lebih suka mati ketimbang hidup hanya menjadi bahan ejekan orang.

***

"Raj Badur, cepat ke sini...!" Teriakan Raj Sagar membuat Raj Badur yang tengah mengobrak-abrik sebuah kamar, menghentikan gerakannya. Lalu tanpa membuang waktu lagi, langsung saja ditinggalkannya kamar itu, dan segera menemui Raj Sagar.

"Lihat...!" Begitu melihat Raj Badur muncul di ambang pintu ruangan, Raj Sagar langsung saja menudingkan jari telunjuknya ke satu arah.

Sambil masih berdiri tegak di ambang pintu, Raj Badur mengarahkan pandangan mengikuti jari telunjuk Raj Sagar. Dan sepasang matanya langsung terbeliak, menyaksikan sebuah benda bersinar-sinar yang tergantung di salah satu dinding di dalam ruangan ini.

"Benda itukah yang dinamakan Cermin Ajaib?" tanya Raj Badur dalam desisan lirih, nyaris tak terdengar. Ia sendiri sempat heran mendengar suaranya kering. Karena selain ketegangan, ada perasaan ngeri yang tiba-tiba saja menyeruak dalam hatinya.

"Pasti, Raj Badur! Pasti!" Raj Sagar mengangguk beberapa kali. Sama seperti Raj Badur, suara Raj Sagar pun terdengar kering dan berupa desisan. Malah pada raut wajah dan sorot matanya, ada gambaran ngeri dan penasaran.

"Mengapa kau tidak lekas-lekas mengambilnya, Raj Sagar?" tanya Raj Badur seraya mengalihkan perhatian dari cermin yang dirasakan telah mendatangkan perasaan tak menentu dalam hati.

"Tidak semudah yang kau bayangkan, Raj Badur," Raj Sagar menggeleng lemah sambil mendesis berat. "Aku sudah mencobanya. Tapi sewaktu hendak menjangkau, tiba-tiba saja seperti ada satu kekuatan daya tolak. Akibatnya, aku terlempar tanpa dapat ku cegah lagi."

"Maksudmu, Cermin Ajaib itu yang melemparkanmu?" tanya Raj Badur, seolah tidak mempercayai cerita Raj Sagar.

"Memang sukar dipercaya," kata Raj Sagar, tidak menyalahkan Raj Badur. Ia maklum, Raj Badur tidak mempercayai ceritanya. "Sebaiknya cobalah sendiri."

Raj Badur menarik napas panjang, lalu segera melangkah mendekati dinding tempat benda itu tergantung. Benda yang memang sebuah cermin itu sendiri tidak seberapa besar, berbentuk bulat telur. Panjangnya kira-kira satu setengah jengkal. Dan lebarnya tak lebih dari satu jengkal. Seluruh tepiannya tertutup bingkai dari ukiran kayu cendana berwarna coklat kehitaman.

Ketika sudah berada kira-kira setengah tombak dari cermin itu, Raj Badur menghentikan langkah, tubuhnya berputar, memandang Raj Sagar. Tatapannya seolah mengatakan bahwa ia tidak mengalami keanehan apa-apa. Tapi, tentu saja ia tidak mengatakan apa yang dirasakan, saat semakin dekat dengan benda itu. 

Rasa ngeri mendadak menyergapnya tanpa sebab. Bulu tengkuknya terus-menerus berdiri. Sementara debaran dalam dadanya kian cepat. Semua itu berusaha ditekan dan tidak dikatakannya kepada Raj Sagar. Karena, ia masih belum bisa menerima kalau semua itu akibat pengaruh cermin yang tergantung di dinding ruangan.

"Ambillah cermin itu, Raj Badur!" Dalam suara Raj Sagar tersirat sedikit kejengkelan. Ia sudah siap mentertawakan. Malah, diam-diam Raj Sigar mengharapkan Raj Badur agar memperoleh kejadian yang jauh lebih parah daripada apa yang telah menimpa dirinya.

Raj Badur menoleh sekilas dengan bibir mengulas senyum tipis. Lalu, perlahan tangan kanannya terulur untuk menjangkau cermin yang tergantung setinggi dagunya. Meskipun saat mengulurkan tangan ketegangan terasa kian memuncak, namun perbuatannya tetap dilanjutkan.

Raj Sagar sudah melebarkan mulutnya. Tawanya siap meledak. Kata-kata ejekan sudah dipersiapkan untuk membalas sikap Raj Badur terhadapnya. Tapi, mulut yang sudah terbuka lebar itu mendadak mengerut kembali. Ejekan yang sudah berada di ujung lidah terpaksa harus ditelan lagi. Karena tanpa kesulitan sedikit pun, Raj Badur ternyata dapat mengambil cermin itu!

***
ENAM 
"GILA ! Bagaimana bisa begitu?! Mengapa kekuatan daya tolak itu tidak muncul dan melemparkan Raj Badur?! Aneh?!" gumam Raj Sagar. Ia termenung dengan berbagai pertanyaan memenuhi kepala.

Sementara, Raj Badur sudah melangkah ke arah Raj Sagar dengan mulut menyunggingkan senyum kemenangan. "Terus-terang, cermin ini memang agak aneh lain daripada yang lain. Tapi bukan berarti cermin ini bisa melemparkan orang," kata Raj Badur sambil menimang-nimang cermin di tangannya.

Sengaja Raj Badur tidak menceritakan kalau waktu mengulurkan tangan untuk mengambil cermin, terlebih dahulu membaca mantera pengusir siluman yang diajarkan Khar Najad. Dan ia merasa sangat yakin, mantera itu dapat melindungi selama berada Negeri Siluman. Dengan senyum masih belum meninggalkan wajah, Raj Badur mengangkat cermin ke depan wajahnya. Diperhatikannya wajahnya yang berada di dalam cermin. Puas memandangi garis-garis wajahnya, bibirnya tersenyum sendiri. Dan kini, cermin itu kembali diturunkan. Dan...

"Aaakh...!" Tiba-tiba Raj Sagar terpekik. Sepasang matanya terbeliak lebar. Wajahnya pucat-pasi, bagai tak dialiri darah! Ia cepat melompat mundur, dengan sikapnya jelas-jelas menunjukkan betapa tengah dilanda ketakutan hebat!

"Raj Sagar! Kau..., kau kenapa?" Raj Badur jadi ikut-ikutan gugup. Cepat kepalanya menoleh ke belakang, mengira ada sesuatu yang telah membuat Raj Sagar sampai sedemikian ketakutan. Tapi, di belakangnya tidak ada apa-apa, kecuali dinding ruangan. Tentu saja Raj Badur menjadi heran bukan main.

Tapi bukannya menjawab, ketika Raj Badur kembali hendak mendekat, lagi-lagi Raj Sagar melompat mundur. Malah kepalanya digeleng-gelengkan dengan wajah penuh kengerian.

"Raj Sagar! Ada apa denganmu?" hardik Raj Badur keras, saking jengkel melihat sikap Raj Sagar. Lalu ia melompat ke depan. Raj Badur merasa jantungnya nyaris copot ketika 'Raj Sagar malah berteriak-teriak kalang-kabut sambil melompat jauh hingga membentur dinding di belakangnya. Lalu bagaikan kerasukan setan, Raj Sagar melompat ke pintu, terus berlari terbirit-birit sambil berteriak-teriak ketakutan.

"Raj Sagar...! Tunggu...!" teriak Raj Badur sambil berlari mengejar.

Ketika melihat Raj Badur mengejarnya, Raj Sagar malah semakin kalap berlari. Beberapa kali kepalanya menoleh ke belakang, seolah takut kalau-kalau Raj Badur dapat mengejarnya. Akibatnya, tubuhnya pontang-panting membentur dinding lorong. Permukaan dinding lorong yang bergerinjul dan tajam, membuat pangkal lengan dan bahunya mengucurkan darah. Tapi semua itu seperti tidak dirasakan.

Raj Sagar terus saja berlari keluar. Ketika melewati pintu gerbang utama Kerajaan Siluman dan melihat air terjun, langsung saja ia melompat. Diterobosnya curahan air yang deras itu. Akibatnya, Raj Sagar terjatuh ke dalam air sungai. Tubuhnya langsung timbul tenggelam dipermainkan curahan air terjun yang jatuh tepat menghantam dirinya.

"Raj Sagaaar...!"

Suara teriakan Raj Badur yang memanggil, membuat Raj Sagar semakin bertambah kalap! Demikian hebat rasa takut yang menderanya, sehingga dengan sejadi-jadinya ia berusaha berenang untuk mencapai tepian sungai. Dengan wajah yang tak ubahnya mayat, Raj Sagar bergegas naik ke darat. 

Sebentar ia terduduk lemas dan terbatuk-batuk hebat, karena cukup banyak air yang tersedak masuk ke dalam mulut dan hidungnya. Tapi meskipun tubuhnya terasa sangat lelah dan napas masih tersengal-sengal, begitu kembali terdengar teriakan Raj Badur, Raj Sagar melompat secepat kilat dan terbirit-birit melarikan diri.

Suara langkah berlari Raj Sagar yang ditingkahi dengus napas seperti kuda pacu, membuat Putri Cande Galia, Ratu Iblis Tangan Darah, dan Khar Najad, sama-sama menolehkan kepala. Ketiganya sama terheran-heran menyaksikan cara berlari Raj Sagar, yang seperti orang dikejar setan.

"Raj Sagar...?!" Ketika mengenali siapa orang yang berlari sedemikian kalapnya, keheranan Ratu Iblis Tangan Darah semakin bertambah. Rasa heran dan penasaran membuatnya jadi lupa dengan niat semula, yang sudah siap menghabisi Khar Najad.

Dan tanpa mempedulikan lawannya yang sudah pasrah menerima kematian itu, Ratu Iblis Tangan Darah segera menjejakkan kakinya. Seketika itu juga, laksana sambaran kilat, tubuhnya melayang. Sekali menggerakkan tangan saja, leher baju bagian belakang Raj Sagar sudah tercengkeram. Dan Ratu Iblis Tangan Darah benar-benar tidak mengerti ketika Raj Sagar berteriak ketakutan.

"Tolooong...!"

"Murid keparat! Memalukan...!" maki Ratu Iblis Tangan Darah marah bukan main! Maka seiring makiannya, dibantingnya tubuh Raj Sagar.

Brak...!

"Aaakh...!" Raj Sagar memekik kesakitan. Dan tanpa menoleh sedikit pun ia langsung melompat bangkit, lalu kembali lari terbirit-birit. Dan itu membuat kemarahan Ratu Iblis Tangan Darah kian bertambah.

"Keparat! Berhenti kau, Raj Sagar!" hardik Ratu Iblis Tangan Darah.

Tapi bukannya berhenti, Raj Sagar malah berlari semakin kalap. Ratu Iblis Tangan Darah menggereng lalu melesat cepat mengejar. Dalam jarak kurang lebih satu tombak, tangan kanannya terulur ke depan dengan jari-jari terbuka. Seketika terdengar suara mencicit tajam yang disusul ambruknya tubuh Raj Sagar. Rintihan Raj Sagar yang minta-minta ampun terhenti ketika tubuhnya diangkat Ratu Iblis Tangan Darah, tepat berhadap-hadapan muka. Raj Sagar tertegun sesaat. Diperhatikannya wajah di depannya dengan perasaan heran.

"Gu..., Guru...," desis Raj Sagar, ragu-ragu.

"Memangnya kau kira aku siapa, hah?! Kau kira aku setan, Murid Keparat!"

Ratu Iblis Tangan Darah menggerakkan tangan menampar wajah muridnya beberapa kali, tak memperdulikan darah yang mengalir dari bibir Raj Sagar yang pecah. Dan perbuatannya baru dihentikan setelah Raj Sagar merintih minta ampun sambil menyebut namanya. Artinya, Raj Sagar sudah mendapatkan kesadarannya kembali.

"Raj Badur, Guru. Raj Badur...," kata Raj Sagar dengan napas terengah-engah.

"Kenapa Raj Badur? Apa yang sudah terjadi dengannya, Raj Sagar? Ayo cepat jawab!" "Raj Badur..., Raj Badur... cermin, Guru. Cermin..., cermin setan...."

"Keparat! Kau benar-benar memalukan, Raj Sagar! Sikapmu benar-benar tidak pantas menjadi murid Ratu Iblis Tangan Darah!" dengus Ratu Iblis Tangan Darah seraya mengangkat tangannya, siap memberi tambahan tamparan di wajah Raj Sagar. Tapi gerakan tangannya terhenti di tengah udara, ketika terdengar suara teriakan yang sudah dikenalnya betul. Raj Badur!

"Raj Sagaaar..., tunggu aku...!"

Ratu Iblis Tangan Darah menoleh. Tampak Raj Badur tengah berlari menuju ke tempatnya berada. Semula, perempuan berwajah buruk itu bermaksud untuk menunggu ditempatnya. Tapi niatnya segera berubah ketika melihat dari arah sebelah kanan Raj Badur, tampak Khar Najad berlari tertatih-tatih. Sambil setengah menyeret tubuh Raj Sagar, Ratu Iblis Tangan Darah segera menuju ke tempat Raj Badur dan Khar Najad.

"Raj Badur!" panggil Khar Najad sambil mengulapkan tangan ke arah Raj Badur. Sementara Raj Badur segera menoleh dan menghentikan langkah, sewaktu mengenali siapa orang yang memanggilnya.

Raj Badur sudah siap melontarkan pertanyaan mengenai cermin di tangannya. Tapi, pertanyaan batal diajukan, karena Khar Najad yang begitu tiba didekatnya langsung terpekik dan melangkah mundur. Raj Badur menjadi heran dan juga penasaran. Terlebih sewaktu melihat betapa pucatnya wajah Khar Najad. Dan, betapa dalamnya sorot mata kakek sakti itu yang menggambarkan rasa takut dan ngeri.

"Ada apa, Khar Najad? Mengapa kau seperti orang ketakutan?" Raj Badur tidak bisa menahan penasarannya.

"Kau..., kau..., sssi... ap... pa...?"

Bukannya menjawab, Raj Badur malah termenung. Ia benar-benar tidak habis pikir, mengapa Khar Najad tokoh yang kesaktiannya amat dikaguminya itu kini tampak sangat ketakutan terhadapnya. Malah sangat gugup. Dan, kata-katanya tidak begitu jelas. Parau dan kering. Pelan seperti orang mendesah dalam ketegangan.

"Apa sebenarnya yang sudah terjadi pada diriku? Tadi, Raj Sagar yang lari terbirit-birit ketakutan. Sekarang, malah Khar Najad? Aneh?" gumam Raj Badur, benar-benar bingung dengan kejadian-kejadian aneh yang dialaminya. Dan kesempatan itu dipergunakan Khar Najad untuk menjauhi Raj Badur dengan sangat hati-hati. Seolah-olah ia sedang berjalan di hadapan seekor harimau kelaparan yang sedang tidur, khawatir kalau-kalau suara langkahnya membuat harimau terbangun dan menerkamnya.

"Hei!"

Mendadak, jantung Khar Najad nyaris copot. Ketika sedang tegang-tegangnya, tahu-tahu terdengar sebuah seruan mengejutkan. Padahal, seruan itu bukan berasal dari Raj Badur. Juga, bukan ditujukan kepadanya. Seruan itu memang milik Putri Cande Galia yang ditujukan kepada Raj Badur. Dan putri Kerajaan Siluman itu sudah berdiri di hadapan Raj Badur sambil melirik cermin yang digenggam Raj Badur erat-erat.

"Berikan cermin itu kepadaku," pinta Putri Cande Galia tanpa basa-basi lagi. "Cermin itu milikku. Sebaiknya, kembalikan sebelum aku mengambil keputusan untuk mencabut nyawamu."

Tapi, Raj Badur malah menghela napas sambil menggeleng. Raj Sagar takut padanya, Khar Najad pun demikian. Tapi, mengapa wanita cantik ini tidak? Demikian pikir Raj Badur seraya menatap wajah Putri Cande Galia yang cantik menggiurkan itu. Semakin ditatap, semakin berdesirlah darahnya. Terlebih, saat melihat tubuh membayang di balik pakaian sutera pulih yang tipis dan tembus pandang itu. Kelakian Raj Badur merasa seperti ditantang. Hingga, ia tidak malu-malu lagi meneguk air liurnya.

"Kau tidak takut melihatku, Putri Siluman?" tanya Raj Badur dengan mulut tersenyum. Sementara matanya melahap wajah dan sekujur tubuh Putri Cande Galia dengan rakusnya.

"Takut kepadamu?" kata Putri Cande Galia dengan tarikan bibir membentuk ejekan. "Kau tahu siapa aku, Raj Badur?"

"Tidak perlu kau jelaskan pun, aku sudah tahu kalau kau adalah putri bangsa siluman," sahut Raj Badur masih tetap tersenyum, meski tahu kalau Putri Cande Galia mengejeknya.

"Nah! Mengapa harus bertanya lagi?" tukas Putri Cande Galia. "Sebagai bangsa siluman, tentu saja aku tidak takut terhadap segala macam setan, jin, peri, mambang, ataupun iblis. Mereka sama denganku..."

"Hm.... Dengan kata lain, kau menganggap aku ini setan? Begitu maksudmu, bukan?" desis Raj Badur mulai tersinggung.

Tentu saja Raj Badur tidak sudi disamakan dengan bangsa siluman. Tapi, Putri Cande Galia malah tertawa oleh perkataannya itu. Sehingga, Raj Badur menjadi penasaran. Seketika cermin itu diangkatnya. Diperhatikannya seluruh wajahnya. Tidak ada yang berubah, dan tidak ada yang aneh pada wajahnya.

Tapi, tidak demikian yang dilihat Putri Cande Galia, Khar Najad, maupun Ratu Iblis Tangan Darah yang tiba di dekat Raj Badur. Sementara, Raj Sagar yang telah dibebaskan dari pengaruh totokan dan tidak mampu melawan kehendak gurunya, terpaksa ikut memandang wajah Raj Badur. Kali ini, ia tidak terlihat takut. Karena selain ada gurunya di sampingnya, juga masih ditambah Khar Najad dan Putri Cande Galia.

Raj Badur sendiri sama sekali tidak tahu, bagaimana sebenarnya rupanya saat itu. Padahal sesungguhnya, wajahnya telah berubah menyeramkan. Sepasang matanya yang semula lebar, tampak bulat berwarna kebiruan seperti mata singa. Hidungnya pun lebih mendekati hidung singa, yang batangnya ditumbuhi bulu-bulu halus berwarna kecoklatan. 

Kedua alis matanya tebal, juga berwarna coklat, yang di bagian ujungnya bercabang dua. Demikian pula mulutnya. Giginya telah ditumbuhi sepasang taring yang tajam berkilat-kilat. Semua itu masih ditambah warna dan bentuk rambutnya, yang menyerupai rambut singa jantan!

Seperti itulah raut wajah Raj Badur sekarang. Dan perubahan yang tidak diketahuinya, terjadi setelah bercermin, sewaktu masih berada di Negeri Siluman. Wajah seperti itulah yang disaksikan Raj Sagar, hingga membuatnya ketakutan dan lari terbirit-birit. Raj Sagar sendiri sebenarnya bukanlah seorang laki-laki penakut. Dan kalau pun berjumpa makhluk berwajah seram pada saat tengah malam, belum tentu merasa takut. Apalagi, sampai lari terbirit-birit.

Tapi karena yang memiliki wajah seseram itu adalah Raj Badur, yang berubah di hadapannya secara tiba-tiba dan sangat mengejutkan, Raj Sagar tak mampu lagi menguasai perasaan takut yang muncul begitu saja. Terlebih, saat itu ia baru saja mengalami kejadian aneh yang menimbulkan perasaan ngeri. Juga masih ditambah perbawa Cermin Ajaib yang bisa menimbulkan rasa takut dan ngeri bagi siapa saja yang melihatnya.

"Raj Badur! Apa yang sudah terjadi denganmu?" tanya Ratu Iblis Tangan Darah. Dan meskipun telah berusaha membuat suaranya setenang mungkin, tetap saja terdengar nada kegentaran dalam suaranya.

"Apa yang sudah terjadi denganku?!" ulang Raj Badur sambil tersenyum. Sama sekali tidak disadari kalau senyumnya lebih mirip seringai seekor singa jantan yang buas dan tengah kelaparan. "Tidak ada sesuatu yang mengkhawatirkan terjadi denganku, Guru. Malah aku sangat beruntung, karena berhasil menemukan cermin ini, yang kurasa Cermin Ajaib!"

"Cermin itu milik bangsaku, Raj Badur!" selak Putri Cande Galia menggeram gusar. "Kembalikan cermin itu kepadaku. Atau, kau akan kubunuh karena telah berani mencuri Cermin Ajaib itu!"

"Kau lupa perjanjian kita, Putri Cande Galia," tukas Ratu Iblis Tangan Darah mengingatkan Putri Cane Galia. "Kau sudah kutolong. Berarti, Cermin Ajaib itu telah menjadi milikku, kendati hanya untuk beberapa hari. Jadi, biarkanlah cermin itu tetap berada di tangan muridku. Kelak setelah urusanku selesai, aku akan mengembalikannya kepadamu..."

"Tidak, Ratu Iblis Tangan Darah!" tandas Putri Cande Galia, langsung menoleh ke sebelah kanannya. "Karena Cermin Ajaib telah dicuri, dan pencurinya adalah muridmu, maka perjanjian kita tidak berlaku lagi! Lain halnya jika pencuri Cermin Ajaib bukan orang yang menjadi muridmu!"

"Hmh! Enak saja kau bicara!" dengus Ratu Iblis Tangan Darah, penuh kegeraman. "Bagiku, janji itu tetap berlaku. Dan karena kau telah berani ingkar, maka jika niatku semula hanya meminjam saja, sekarang malah aku hendak memilikinya. 

Dan setelah kugunakan untuk merubah diriku menjadi muda dan cantik, sebelum lenyap, Cermin Ajaib itu akan kujual kepada siapa saja yang berani menawar dengan harga tinggi. Mungkin juga, akan kutawarkan kepada raja-raja di seluruh Daratan India ini. Dengan begitu, aku bisa melanjutkan hidup yang penuh gelimang kesenangan dan kemewahan!"

"Jangan mimpi kau, Ratu Iblis!" sergah Putri Cande Galia, tetap pada pendiriannya. "Cermin Ajaib itu tetap tidak akan kuberikan kepadamu!" Setelah berkata demikian, Putri Cande Galia langsung bergerak. Tangannya terulur untuk merebut Cermin Ajaib dari tangan Raj Badur.

Tapi tentu saja Ratu Iblis Tangan Darah tidak membiarkan begitu saja perbuatan Putri Cande Galia. Saat itu juga tangannya meluncur ke depan, untuk mencengkeram pergelangan tangan Putri Cande Galia. Dan begitu cengkeramannya dapat dielakkan, ia sudah menyusulinya dua kali tamparan yang mengancam kepala dan lambung Putri Cande Galia. 

Kelihatannya perlahan saja, dan sama sekali tidak berbahaya. Namun, Putri Cande Galia yang sadar kalau tamparan perlahan itu akan bisa menghancurkan bagian dalam kepala maupun lambungnya, segera saja melompat ke belakang. Berbarengan dengan itu, mulutnya meniup.

Whusss...!

Seketika seberkas cahaya merah meluncur ke arah Ratu Iblis Tangan Darah. Tapi serangan itu tidak mengenai sasaran, karena perempuan berwajah buruk itu telah melompat ke kanan. Akibatnya, rerumputan tempat Ratu Iblis Tangan Darah tadi berpijak, langsung dilalap lidah-lidah api. Sedangkan Ratu Iblis Tangan Darah sendiri telah berdiri tegak, siap melanjutkan pertarungan.

Sementara itu, Raj Badur yang segera bergerak menjauhi arena pertarungan, harus menghadapi Khar Najad yang hendak merebut Cermin Ajaib di tangannya. Bergegas tubuhnya melompat ke belakang. Begitu menyadari kalau kepandaian Khar Najad berada beberapa tingkat di atas kepandaiannya, timbul kekhawatiran di hati Raj Badur. Ia takut, Cermin Ajaib akan dapat direbut orang. Maka, kepalanya segera menoleh ke arah Raj Sagar dengan sorot mata minta bantuan.

Semula, Raj Sagar agak meragu. Tapi ketika meihat sikap Raj Badur masih tetap seperti yang selama ini dikenalnya, maka tanpa ragu-ragu lagi tubuhnya melesat untuk memberi bantuan. Mereka berdua sama sekali tidak tahu kalau saat itu Khar Najad sudah menderita luka dalam yang parah!

***
TUJUH 
"KEADAAN bagian India Selatan pada masa sekarang memang sangat menyedihkan," tutur Pathar, orang tertua dari Algojo Empat Serangkai. Wajahnya tampak menunjukkan rasa penasaran di hatinya.

Saat itu, Pathar bersama tiga orang rekannya tengah menempuh perjalanan bersama Pendekar Naga Putih, Nagina, dan Badundy. Dan mereka baru saja melewati sebuah desa yang kehidupan penduduknya sangat menyedihkan. Pendekar Naga Putih, Nagina, dan Badundy, sama-sama menganggukkan kepala. Penderitaan penduduk desa yang disaksikan memang telah menimbulkan perasaan iba dan penasaran. Dan keadaan itu bukan hanya di satu desa saja, tapi juga beberapa desa lain yang dilalui selama perjalanan.

"Mengapa sampai bisa terjadi demikian, Pathar?" tanya Panji. Sejak pertama kali melihat, Pendekar Naga Putih memang sudah menyimpan bermacam pertanyaan di kepalanya. Tapi semua pertanyaannya masih disimpan, karena selama perjalanan baru sekarang Pathar mengungkapkan perasaannya. Maka kesempatan itu segera dipergunakan untuk mengetahui lebih jelas.

"Maaf, kalau selama perjalanan kami terpaksa menutup mulut, Pendekar Naga Putih," ucap Pathar sambil menoleh ke arah Pendekar Naga Putih sekilas. "Itu dikarenakan kami tidak ingin melibatkan dirimu dalam persoalan yang tengah berkecamuk di negeri ini. 

Kami tidak mau membuat dirimu, yang baru pertama kali ini datang ke Tanah India, memperoleh kesan buruk terhadap negeri kami. Khususnya, kepada kami berempat yang baru saja kau kenal. Karena bisa saja kau akan berpikiran bahwa kami hendak menghasutmu."

"Aku memaklumi perasaanmu, Pathar," sahut Pendekar Naga Putih.

"Kau adalah orang asing di Tanah India ini, Pendekar Naga Putih. Dan kami ingin memberi kesan baik tentang negeri ini. Selain agat kerasan, juga jika kembali ke Tanah Jawa, maka cerita-cerita menyenangkanlah yang akan kau bawa dari negeri ini," timpal Jackal.

"Kalau begitu, jangan sungkan-sungkan lagi. Jelaskanlah kepada kami tentang semua apa yang kalian ketahui. Jangan buat kami penasaran. Tanah di desa-desa yang telah kita lewati, kulihat sangat subur. Nah! Mengapa justru penduduknya malah hidup serba kekurangan?" desak Nagina, tak tahan untuk tidak mencampurinya. Memang, pembicaraan mengenai kesengsaraan rakyat sangat menarik di hatinya.

Pathar menoleh kepada Nagina, lalu berpaling memandangi tiga orang rekannya satu persatu. Ketika melihat ketiga rekannya sama-sama mengangguk, Pathar terlebih dahulu menarik napas dalam-dalam, sebelum menjawab pertanyaan Nagina.

"Semua ini adalah akibat dari kekejaman Batsa, yang sewenang-wenang memerintah negeri ini," tutur Pathar memulai ceritanya. "Benar, tanah-tanah di negeri ini banyak yang tandus dan kering. Tapi, beberapa desa yang kita lalui tadi, kebetulan memiliki tanah subur. Dan setiap kali musim panen tiba, hasil yang diperoleh penduduk cukup berlimpah. 

Kalau pun mereka hidup serba kekurangan, itu dikarenakan banyak pajak yang harus dibayar kepada Raja Godwana dan antek-anteknya. Rakyat tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali pasrah dengan nasib buruk yang diperoleh. Apalagi, setiap pembangkang akan dijatuhi hukuman pancung!"

"Kejam sekali...!" gumam Pendekar Naga Putih dalam desisan bernada geram. "Biadab tak berperikemanusiaan!" rutuk Nagina sambil mengepalkan tinjunya dengan wajah merah terbakar api kemarahan.

"Yah..., hanya sebatas makian dan sumpah-serapah seperti itulah yang bisa dilakukan rakyat kecil," kata Pathar dengan hempasan napas berat. Seolah dengan begitu, ia hendak melepaskan, beban berat yang menghimpit dadanya.

"Apakah selama ini tidak ada tokoh-tokoh atau pun partai-partai perguruan yang bertindak untuk menentang kesewenang-wenangan Batsa?" Nagina memandang Pathar.

Dan Pathar tampak menyeringai sambil menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Pendekar Naga Putih yang juga memiliki pertanyaan serupa, ikut memandang Pathar. Panji merasa lega mendengar pertanyaan yang dilontarkan Nagina. 

Memang, ia sendiri masih enggan untuk melontarkan pertanyaan seperti itu, karena menyadari kalau dirinya orang asing. Sedangkan pertanyaan itu, lebih kurangnya sama artinya menyinggung tokoh-tokoh persilatan negeri itu. Padahal, ia sendiri masih buta tentang tokoh-tokoh atau pun partai-partai perguruan di Tanah India.

"Hhh.... Apalah artinya kesaktian satu dua orang tokoh, jika harus melawan sekian banyak tentara kerajaan, Nona Nagina," jawab Pathar, disertai helaan napas dari wajah sedih. "Perbuatan itu jelas sia-sia karena mereka dapat ditumpas dengan mudah oleh pasukan-pasukan Raja Godwana."

"Apakah tidak ada tokoh yang mencoba membentuk satu wadah untuk menampung mereka yang menentang kelaliman Raja Godwana?" tanya Pendekat Naga Putih sambil menatap wajah Pathar yang kelihatan agak kaget.

Pathar buru-buru menurunkan pandangan matanya, yang untuk sesaat saling menatap dengan Pendekar Naga Putih. Dan baru saja ia membuka mulut…

"Hei, lihat...!" Nagina meluruskan jari telunjuknya ke arah kanan. Tampak asap hitam tebal yang bergulung-gulung naik ke angkasa di kejauhan. "Mungkin di sebelah sana ada perkampungan penduduk. Dan tampaknya asap itu berasal dari api yang berkobar-kobar..."

"Mungkin kebakaran," duga Pendekar Naga Putih seraya memperhatikan gumpalan asap hitam tebal yang bergulung-gulung. "Sebaiknya segera saja kita lihat. Siapa tahu ada orang yang tengah tertimpa musibah dan membutuhkan pertolongan."

Panji mengedarkan pandangan, menatap semua yang berada di tempat itu bergantian. Dan ketika melihat mereka sama-sama mengangguk setuju, tanpa menunggu lagi Pendekar Naga Putih langsung saja melesat mendahului yang lainnya. Nagina bergegas menambah kecepatan larinya, hingga bisa menjajari langkah Pendekar Naga Putih. 

Sekitar dua tombak di belakang mereka, tampak Alr gojo Empat Serangkai. Sedangkan Badundy, yang memiliki kepandaian terendah tertinggal jauh di belakang. Padahal, larinya sudah sekuat tenaga. Bahkan napasnya sudah hampir putus!

Ketika semakin dekat dengan asap hitam tebal yang bergulung-gulung, Pendekar Naga Putih dan yang lain sama-sama terkejut, saat mendengar adanya jerit kesakitan yang ditingkahi bentakan-bentakan ramai. Merasa kalau bukan hanya kebakaran saja yang sedang terjadi, bergegas mereka saling berlomba untuk tiba lebih dahulu di tempat kejadian.

Kedatangan Pendekar Naga Putih dan yang lain ternyata terlambat! Ketika mereka memasuki mulut desa, yang didapati cuma berupa kepulan debu tebal di kejauhan yang ditingkahi gemuruh derap kaki kuda.

"Jangan kejar!" cegah Pendekar Naga Putih, ketika melihat Nagina hendak mengejar gerombolan berkuda itu.

Nagina terpaksa menahan langkahnya. Kepalanya langsung menoleh dan memandang Pendekar Naga Putih dengan kening berkerut.

"Kekuatan mereka belum kita ketahui secara pasti Nagina," jelas Pendekar Naga Putih memberi alasan. "Sebaiknya kita menolong penduduk yang menjadi korban keganasan gerombolan berkuda itu. Kita cari keterangan dari para penduduk. Siapa tahu saja, ada di antara mereka yang mengenali gerombolan berkuda itu. Dengan begitu, kita bisa menyelidiki dan mencari markas mereka."

"Menurut keterangan beberapa orang penduduk yang terluka, gerombolan itu adalah pasukan tentara Raja Godwana," lapor Pathar kepada Pendekar Naga Putih dan Nagina.

Panji dan Nagina mengangguk, karena juga memperoleh keterangan serupa dari penduduk yang ditanyai.

"Rupanya Raja Godwana tidak sabar menunggu musim panen tiba. Pasukan tentara kerajaan itu datang dan merampas harta seluruh penduduk desa. Memang hanya sebagian yang diambil. Beberapa orang penduduk yang mencoba untuk mempertahankan, langsung dianiaya. 

Tiga orang terbunuh. Sedang belasan lainnya mengalami luka-luka cukup parah," lapor Sheru, salah satu tokoh Algojo Empat Serangkai. Sementara Pendekar Naga Putih dan Nagina bergegas memberi pertolongan dengan memberikan pengobatan kepada yang terluka.

Selesai memberi pertolongan seperlunya, Pendekar Naga Putih dan kawan-kawannya segera melanjutkan perjalanan. Dan Panji menolak usul Pathar untuk mengejar pasukan tentara kerajaan itu.

"Terlalu berbahaya, Pathar," Pendekar Naga Putih menggeleng. "Bukannya aku takut. Tapi seperti apa yang kau katakan, apalah artinya kekuatan dan kesaktian jika harus menghadapi ribuan tentara kerajaan. Itu sama artinya mencari mati. Sia-sia..."

"Kalau begitu, bagaimana jika kita bergabung saja dengan tokoh-tokoh yang menamakan diri sebagai Pasukan Pembela Rakyat?" usul Jackal. Itu pun disampaikan dengan agak ragu-ragu, seolah khawatir ditolak Pendekar Naga Putih.

"Itu aku lebih setuju," sahut Pendekar Naga Putih. "Tapi, apakah kalian tahu pasti kalau kelompok itu memang bertujuan membela kepentingan rakyat kecil? Jangan-jangan, hanya namanya saja Pasukan Pembela Rakyat. Tapi, pada dasarnya mereka terdiri dari orang-orang yang hendak mencari keuntungan diri sendiri..."

"Kami mempercayai kemuliaan perjuangan kelompok Pasukan Pembela Rakyat itu, Pendekar Naga Putih," tandas Pathar memberi jaminan. Dan ini membuat kening Pendekar Naga Putih berkerut memandang Pathar penuh selidik.

"Sebenarnya ada sesuatu yang selama ini terpaksa kami sembunyikan," tambah Sheru ketika melihat Pa thar tampak gugup oleh tatapan mata Pendekar Naga Putih.

"Sesungguhnya, kami berempat adalah anggota dari Pasukan Pembela Rakyat," aku Kaalja, tokoh ketiga dari Algojo Empat Serangkai. Selama perjalanan ia hampir tidak pernah berbicara.

Pendekar Naga Putih dan Nagina saling berpandang dengan wajah agak berubah. Lain halnya Badundy yang tampak tenang-tenang saja. Seolah, merasa kalau pengakuan Pathar dan kawan-kawannya sama sekali tidak ada artinya. Pathar, Sheru, dan Jackal sama mengangguk ketika Pendekar Naga Putih dan Nagina memandang mereka. 

Wajah Algojo Empat Serangkai tampak agak menegang, menunggu jawaban yang bakal diucapkan Pendekar Naga Putih maupun Nagina. Dan ketika melihat Pendekar Naga Putih dan Nagina tersenyum, barulah Pathar dan kawan-kawannya menghela napas lega.

"Baiklah, kami...." Tiba-tiba jawaban yang akan disampaikan Pendekar Naga Putih terhenti. Dengan kening berkerut, kepalanya ditelengkan. "Aku mendengar ada suara orang bertempur. Kemungkinan sumbernya dari arah selatan," lanjut Pendekar Naga Putih.

"Sangat samar sekali. Kadang terdengar, kadang tidak," timpal Nagina, terlihat tengah mengerahkan indera pendengarannya. "Mungkin agak jauh sumbernya, dan dipermainkan angin..."

Pathar, Sheru, Kaalja, dan Jackal saling bertukar pandang. Mereka seperti agak bingung, ketika Pendekar Naga Putih dan Nagina mengajak untuk memastikan suara-suara orang bertempur itu.

"Sebaiknya kita lupakan saja dulu suara-suara yang belum pasti itu," usul Pathar. "Dalam keadaan negeri seperti sekarang ini, sebaiknya kita harus lebih meningkatkan kewaspadaan. Siapa tahu, suara itu berupa jebakan..."

"Aku pun agak curiga," dukung Sheru. Begitu juga, Kaalja dan Jackal.

Sayangnya, Pendekar Naga Putih dan Nagina tidak sependapat. "Aku tetap ingin memastikan suara-suara orang bertempur itu. Siapa tahu, ada orang yang sedang membutuhkan pertolongan kita," tegas Pendekar Naga Putih seraya berpaling kepada Nagina.

Dan gadis itu tampak menganggukkan kepala. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, Pendekar Naga Putih memberi isyarat dengan gerakan kepala, agar Nagina, Algojo Empat Serangkai, dan Badundy mengikutinya. Pendekar Naga Putih, Nagina, dan Badundy sudah berlari menuju ke selatan. Sedangkan Pathar dan rekan-rekannya terdengar menghela napas, dan akhirnya terpaksa mengikuti.


***

Pertarungan yang melibatkan lima lelaki berlangsung sengit. Pihak pertama terdiri dari tiga orang lelaki yang masing-masing bersenjatakan golok besar yang pada bagian ujungnya bercagak dua. Namun kendati yang dihadapi hanya dua orang kakek berjubah merah dengan tangan kosong, tapi justru mereka bertigalah yang tampak di bawah angin.

Memang dua orang kakek berjubah merah itu ternyata memiliki kepandaian tangguh. Tak heran, walau pun tiga lelaki bersenjata golok besar itu menyerang sekuat tenaga, tetap saja tidak mampu mendesak. Malah kedua orang kakek berjubah merah itu kelihatan tidak bersungguh-sungguh dalam menghadapi ketiga lawannya. Dan ini membuat tiga lelaki bersenjata gol besar itu semakin penasaran.

"Heh heh heh..., Tiga Golok Cagak! Rasanya sudah cukup kesempatan buat kalian untuk membunuh kami, "ejek kakek yang tubuhnya lebih tinggi daripada kawannya. Sambil berkata, tubuh kakek meliuk-liuk, menghindari sabetan golok salah seorang rekannya yang bertubuh seperti cecak kering.

"Biar aku yang menyelesaikannya, Darmandu," lanjut kakek itu kemudian.

Kakek yang dipanggil Darmandu hanya tertawa terkekeh-kekeh, kemudian melompat mundur. Seolah ia hendak memberi kesempatan kepada kawannya untuk menyelesaikan pertarungan itu sendirian.

Sementara tiga orang lelaki yang dijuluki Tiga Golok Cagak sama-sama menggeram gusar, karena merasa diremehkan. Mereka membentak bersamaan. Dan seketika tubuh mereka melesat dengan babatan golok masing-masing.

Namun, kakek tinggi kurus yang wajahnya bergerinjul itu hanya terkekeh mengejek. Ia berdiri tegak, menunggu datangnya tiga serangan golok besar yang mengancamnya. Malah kedua lengannya dilipat di depan dada. Sikap itu jelas sangat sombong dan membahayakan diri sendiri.

Memang, kesombongan kakek berwajah buruk itu rupanya bukan tanpa alasan. Tiga batang golok besar yang menyambar disertai kilatan sinar menggidikkan, langsung disambut dengan tangan telanjang! Gerakan tangannya jauh lebih cepat daripada sambaran tiga batang golok itu.

"Heaaat...!"

Tap! Tap! Tap!

Dalam sekejap mata saja, tiga batang golok besar telah berpindah ke dalam genggaman tangan kakek itu. Dan selagi ketiga lawannya terperangah kaget, pergelangan tangannya diputar. Seketika itu juga, ketiga batang golok itu berdesing ke arah majikan masing-masing!

"Heh?!"

Tiga Golok Cagak sama terpekik dengan wajah pucat! Perbuatan kakek ini sama sekali tidak diduga. Sehingga, Tiga Golok Cagak tidak mempunyai kesempatan lagi untuk menyelamatkan diri. Namun...

Trang! Trang! Trang!

Terdengar suara berdentingan nyaring. Tiga batang golok yang tengah meluncur langsung terpental ketika membentur benda asing. Rupanya benda asing berupa kerikil itu dilemparkan Pendekar Naga Putih dan Nagina yang tiba lebih dulu di tempat terjadinya pertempuran. Begitu mereka datang, senjata Tiga Golok Cagak yang dirampas kakek jubah merah telah meluncur. Lalu dengan kecepatan mengagumkan Panji dan Nagina melempar kerikil untuk menyelamatkan Tiga Golok Cagak.

"Aku kenal tiga orang lelaki gagah itu, Panji!" seru Nagina.

Kakek jubah merah itu menoleh dengan wajah membayangkan kekagetan. Apalagi saat melihat kemunculan Pendekar Naga Putih dan Nagina yang begitu tiba-tiba.

Sementara itu Tiga Golok Cagak masih berdiri terpaku. Mereka seakan belum sadar bahwa telah diselamatkan orang, kendati tiga bilah golok yang mengancam telah berpentalan runtuh ke tanah.

"Kau..., kau.... Bukankah kau Nagina, cucu dari Kakek Garmanu?!" sapa orang tertua dari Tiga Golok Cagak baru tersadar ketika Nagina sudah berada di hadapan mereka.

"Rupanya Paman Govinda masih ingat juga kepadaku," sambut Nagina tertawa senang. "Apa yang terjadi, Paman? Siapa dua orang kakek jubah merah itu? Mengapa kalian sampai bertarung?"

"Mereka adalah manusia-manusia busuk yang kerjanya hanya menyengsarakan orang-orang tak berdosa dengan dalih perjuangan suci. Padahal mereka tak lebih dari perampok-perampok hina!" jawab Govinda, sambil menuding dua orang kakek berjubah merah yang tampak kebingungan. "Mereka adalah kawan-kawan dari Algojo Empat Serangkai!"

"Maksud Paman, mereka adalah anggota Pasukan Pembela Rakyat?" tanya Nagina, langsung teringat cerita Pathar tentang sebuah kelompok yang hendak menggulingkan pemerintahan Raja Godwana.

"Benar, Nagina," sahut Govinda mengangguk tegas. "Kesengsaraan rakyat di desa-desa yang kalian lihat adalah akibat perbuatan dua kakek iblis itu. Mereka memang telah mengatur siasat bersama Algojo Empat Serangkai, untuk menjerat kalian berdua. Mereka bermaksud menarik kalian, untuk membantu perjuangan yang hendak memberontak terhadap Kerajaan Mahadur. 

Untuk dapat mempengaruhi kalian berdua, mereka sengaja memfitnah Raja Godwana. Setiap desa yang hendak kalian lewati, sudah lebih dulu didatangi dua kakek iblis itu. Mereka mengacau dan merampas harta penduduk, lalu mengancam agar apabila ada orang yang bertanya, harus menjawab bahwa semua itu perbuatan tentara Raja Godwana. Jika tidak, dua kakek iblis itu akan datang kembali untuk membantai seluruh penduduk serta membakar hangus desa mereka..."

Panji dan Nagina cukup terkejut mendengarnya karena selama ini hampir terhanyut oleh Algojo Empal Serangkai.

"Kami bertiga telah lama memata-matai perbuatan mereka sambil berusaha mencari kesempatan untuk memberitahukan kepada kalian. Tapi untuk mendekati kalian berdua, sangat sulit. Karena Algojo Empat Serangkai tidak pernah terpisah dari kalian. Dan sebelum kesempatan itu didapat, dua kakek iblis ini telah memergoki kami. Pertempuran pun tak bisa dielakkan lagi. Untunglah kalian datang tepat pada waktunya. Jika tidak, nama Tiga Golok Cagak akan terhapus dan rimba persilatan." lanjut Govinda setelah menarik napas panjang-panjang.

"Pasukan Pembela Rakyat itu sendiri sebenarnya adalah kebohongan belaka. Di bawah pimpinan Raja Godwana, kehidupan rakyat negeri ini sudah cukup baik. Justru pemberontak-pemberontak itulah sebenarnya yang menjadi pengacau. Mereka hendak merebut kerajaan, demi kepentingan pribadi," tambah salah seorang adik seperguruan Govinda.

Pendekar Naga Putih dan Nagina tidak merasa ragu-ragu lagi. Apalagi orang-orang yang memberikan keterangan telah dikenal baik oleh Nagina. Karena, Tiga Golok Cagak memang sahabat-sahabat kakeknya.

***
DELAPAN 
WAJAH Algojo Empat Serangkai yang baru tiba di tempat itu langsung berubah. Bukan hanya karena melihat adanya dua orang kakek jubah merah yang merupakan kawan-kawan mereka. Tapi, juga karena menyaksikan Pendekar Naga Putih dan Nagina berkumpul bersama orang-orang yang dikenal sebagai Tiga Golok Cagak. Menyaksikan tatapan Pendekar Naga Putih dan Nagina, dalam menyambut kedatangan mereka, Pathar dan kawan-kawannya sadar kalau rahasia sudah terbongkar!

Merasa tidak mungkin lagi berbantah, maka Pathar dan rekan-rekannya segera bergabung dengan dua kakek berjubah merah yang bernama Darmandu dan Arkham. Bahkan mereka sudah siap bertarung, karena sadar kalau Pendekar Naga Putih, Nagina, dan Tiga Golok Cagak tidak akan sudi membiarkan mereka pergi dari tempat itu.

"Aku benar-benar kagum dengan sandiwara yang kalian mainkan, Algojo Empat Serangkai. Sayang, di saat kalian nyaris berhasil memperdayai kami, Tuhan telah mengirimkan Tiga Golok Cagak. Perbuatan kalian terhadap kami memang masih bisa dimaafkan. Tapi, karena untuk mencapai maksud itu kalian telah tega menyengsarakan penduduk-penduduk desa yang tidak berdosa, maka kami tidak bisa memaafkan. 

Apalagi, kalian adalah pemberontak-pemberontak yang hendak menggulingkan pemerintahan sah. Sulit sekali bagi kami untuk memberi maaf kepada kalian. Lain soal, jika kalian mau menyerah untuk kami serahkan kepada Raja Godwana. Terserah Batsa, hukuman apa yang pantas diberikan untuk orang-orang seperti kalian," desis Pendekar Naga Putih yang berdiri tegak di hadapan Pathar dan kawan-kawannya, sejarak satu setengah tombak.

Darmandu dan Arkham tertawa berkakakan mendengar ucapan Pendekar Naga Putih. Dengan sombong mereka melangkah ke depan menghadapi Pendekar Naga Putih.

"Mulutmu besar sekali, Pardesi," ejek Darmandu. "Coba kulihat, apakah kemampuanmu sudah sebanding mulutmu..."

Dan begitu ucapannya selesai, Darmandu langsung mengulurkan cengkeraman jari-jari tangan kanan ke tenggorokan Pendekar Naga Putih. Gerakannya cepat bukan main. Bahkan masih disertai suara mendesis, tanda betapa sangat berbahaya serangannya.

Tapi, kelitan Pendekar Naga Putih ternyata masih lebih cepat. Bahkan begitu mengelak, dengan menggunakan kuda-kuda rendah, Panji langsung mengirimkan serangan balasan berupa tusukan jari-jari tangan yang meluncur deras ke arah lambung Darmandu.

"Jangan main keroyok!" seru Nagina ketika Arkham hendak membantu Darmandu. Putri Ular ini langsung mengirimkan kepalan-kepalan mungilnya, membuat Arkham bergegas melompat ke samping. Dan dengan tidak kalah cepat dan ganasnya, ia langsung membalas serangan Nagina. Dan sebentar saja, keduanya segera terlibat dalam sebuah perkelahian sengit.

Sementara itu, begitu Pendekar Naga Putih dan Nagina sudah bertarung menghadapi Darmandu dan Arkham, Tiga Golok Cagak langsung saja berlompatan menerjang Algojo Empat Serangkai. Pertarungan pun semakin bertambah ramai. Masing-masing sibuk mengerahkan segenap kemampuan.

"Wah! Sudah ramai rupanya," desah Badundy yang tiba di tempat itu paling akhir, ia jadi ikut-ikutan sibuk. Tapi kalau yang lain sibuk bertarung, Badundy ini justru sibuk menonton.

Setelah bertarung selama puluhan jurus Darmandu baru mengakui ketangguhan Pendekar Naga Putih meski cuma dalam hati. Bermacam jurus-jurus andalan telah digunakan untuk merobohkan, namun justru malah membuatnya penasaran. Ternyata, Pendekar Tanah Jawa itu bukan saja sanggup mematahkan setiap serangan, tapi juga mampu balas menyerang.

Dan kini justru Darmandu yang mulai kelabakan. Karena tebaran hawa dingin yang keluar dari tubuh pemuda berpakaian putih itu telah mempengaruhi gerakannya. Akibatnya, Darmandu pun terdesak hebat. Pertahanannya kian lemah. Sementara, serangan Pendekar Naga Putih malah justru semakin gencar. Akibatnya belasan jurus kemudian, Darmandu tak dapat lagi mempertahankan dirinya.

Buk! Des!

"Aakh...!" Kepalan dan gedoran telapak tangan Pendekar Naga Putih pada iga dan lambung, membuat Darmandu terhumbalang muntah darah disertai pekik kesakitan. Tapi, Darmandu tidak sudi ditangkap dan diserahkan kepada Raja Godwana. Maka tanpa mempedulikan luka dalam yang diderita, ia kembali melompat dan menerjang ganas.

Tapi, Pendekar Naga Putih bergerak lebih cepat. Dengan sebuah teriakan panjang, tubuhnya melambung ke udara. Lalu dari atas, dua telapak tangannya cepat menghantam dua telinga Darmandu.

Prak!

"Aaa...!" Kontan Darmandu meraung dan menggelosor di tanah. Setelah meregang nyawa, kakek itu tewas dengan mulut, hidung, dan telinga mengalirkan darah.

Sesaat setelah Darmandu tewas, terdengar raung kesakitan yang disusul terlemparnya tubuh Arkham. Kakek bertubuh kurus itu keadaannya lebih parah lagi. Gedoran dua telapak tangan Nagina yang dilandasi 'Tenaga Sakti Inti Panas Bumi', langsung membuatnya tewas dalam keadaan tubuh hangus! Hal itu menunjukkan betapa dahsyatnya tenaga mukjizat milik Nagina.

Sementara itu, pertarungan antara Algojo Empat Serangkai melawan Tiga Golok Cagak tampak masih berlangsung sengit. Nagina dan Pendekar Naga Putih yang menyaksikan pertarungan, merasa tidak perlu turun-tangan. Sebagai ahli-ahli silat berpengalaman, mereka dapat menilai bahwa pada akhirnya Tiga Golok Cagak akan dapat mengakhiri perlawanan Algojo Empat Serangkai. Apa yang diduga Pendekar Naga Putih dan Nagina mulai terbukti. Belasan jurus kemudian....

"Aaa...!" Jackal, orang terakhir dari Algojo Empat Serangkai menjerit ngeri. Tubuhnya kontan terlempar dari kancah pertarungan dengan bersimbah darah, ia tewas dengan kepala nyaris terbelah. Pada keningnya terdapat bekas bacokan golok yang cukup dalam. Beberapa jurus kemudian, Sheru menyusul. Orang kedua dari Algojo Empat Serangkai itu menggelepar tewas dengan isi perut terburai.

Tinggallah Pathar dan Kaalja yang masih bertahan. Itu pun tidak memakan waktu lama. Sepuluh jurus setelah kematian Sheru, Kaalja menyusul. Sementara Pathar pun tidak sanggup bertahan lebih lama. Orang pertama dari Algojo Empat Serangkai itu tewas paling akhir. Sepasang matanya mendelik, seolah masih belum rela meninggalkan dunia.

Dalam perjalanan, Pendekar Naga Putih mengutarakan maksud kedatangan ke Tanah India, ketika Govinda dan dua rekannya bertanya.

"Raj Badur dan Raj Sagar juga termasuk di antara pimpinan Pasukan Pembela Rakyat," jelas Govinda, yang merupakan tokoh kawakan dan berpengalaman. "Jika kau mempunyai kepentingan dengan mereka, mari kita datangi saja markas Pasukan Pembela Rakyat, yang dipimpin Ardhana itu..."

"Apa hal itu tidak membahayakan diri kalian?" tanya Pendekar Naga Putih. "Selama ini kami memang menyelidiki gerakan mereka. Tapi, baru tadi kami bentrok dengan orang-orang Pasukan Pembela Rakyat. Jelasnya, perbuatan kami belum diketahui. Jadi, kau tidak perlu khawatir, Pendekar Naga Putih. Kita semua bisa berpura-pura datang untuk bergabung," jelas Govinda. Dan ini membuat Pendekar Naga Putih merasa lega. Tidak ada alasan lagi baginya untuk menolak usul Govinda.

Tanpa terasa mereka telah tiba di Hutan Kakaala, markas Pasukan Pembela Rakyat. Hutan Kakaala atau juga disebut Hutan Hitam, membuat Pendekar Naga Putih dan kawan-kawannya terkejut. Karena hampir di mulut hutan, tampak selusin tentara kerajaan yang seperti tengah berjaga-jaga.

"Apakah mereka anggota Pasukan Pembela Rakyat yang menyamar sebagai tentara kerajaan, Paman Govinda?" Pendekar Naga Putih memandang Govinda.

Sedangkan tokoh tertua dari Tiga Golok Cagak itu sendiri tampak tengah berpikir. "Kurasa tidak," jawab Govinda seraya menggeleng pelan, agak meragu. "Mungkin ada sesuatu terjadi. Sebaiknya, kita tanyakan saja kepada pimpinan mereka..."

Pendekar Naga Putih dan yang lain sama-sama mengangguk setuju. Lalu, mereka pun bergerak menghampiri tentara-tentara kerajaan yang berjaga-jaga di mulut Hutan Hitam.

"Berhenti!" seru salah seorang kepala pasukan dengan suara lantang. "Siapa kalian?! Dan, dari mana hendak ke mana?" Sorot mata laki-laki itu menyelidik sambil memberi isyarat kepada pasukannya untuk mengepung.

"Kami adalah sahabat-sahabat Tuan Mahendharata dan Rajmid Khan. Kebetulan kami lewat di dekat hutan ini. Kalau boleh kami bertanya, apakah yang sudah terjadi di tempat ini, Tuan Perwira? Karena sepanjang pengetahuan kami, di dalam Hutan Kakaala ini terdapat markas gerombolan penentang kerajaan yang dipimpin tokoh berjuluk Maharaj dan Maharani?" Govinda langsung saja memperkenalkan diri, sekaligus mengajukan pertanyaan.

Perwira pasukan itu merasa kaget mendengar ucapan Govinda. Dan itu membuatnya malah bertambah curiga. Dengan sikap waspada, diperhatikannya wajah keenam orang itu satu persatu. Seolah, tengah menilai apakah wajah keenam orang itu mencerminkan watak jahat atau tidak.

"Percayalah, Tuan Perwira. Kami adalah sahabat-sahabat Mahendharata dan Rajmid Khan yang merupakan pengawal-pengawal pribadi Batsa. Dan kami berjuluk Tiga Golok Cagak..." Karena tidak ingin mendapatkan kesulitan, Govinda mencoba memperkenalkan julukannya. Dengan harapan, perwira itu pernah mendengarnya. Dan apa yang diharapkan ternyata menjadi kenyataan.

"Aaah! Kalau begitu, kalian benar-benar bukan anggota gerombolan pemberontak itu!" seru kepala pasukan itu dengan wajah menunjukkan kelegaan hatinya. "Tuan Mahendharata dan Rajmid Khan memang pernah menyebut-nyebut nama kalian. Tapi kalau boleh tahu, apa keperluan kalian datang ke tempat ini?"

"Govinda! Kaukah itu, Sahabat?"

Belum lagi Govinda menjawab, tiba-tiba terdengar sebuah seruan yang kemudian disusul berkelebatnya dua sosok bayangan. Begitu mengenali siapa dua orang yang baru datang, wajah Govinda langsung berseri.

"Mahendharata, Rajmid Khan," seru Govinda seraya menjabat tangan kedua jago istana kepercayaan Raja Godwana itu. "Senang sekali bisa bertemu kalian berdua kembali..."

Govinda lalu memperkenalkan Pendekar Naga Putih, Nagina, serta Badundy kepada Mahendharata dan Rajmid Khan. Dan tanpa sungkan-sungkan lagi, langsung saja diutarakannya maksud kedatangan ke tempat ini.

"Kami memang telah menggulung gerombolan pemberontak yang menyebut diri sebagai Pasukan Pembela Rakyat itu. Dua pemimpinnya, Maharaj dan Maharani sudah tertangkap. Tapi, masih banyak pimpinan mereka yang masih berkeliaran..." Kemudian Mahendharata menyebutkan sejumlah nama. 

"Sedangkan Raj Badur dan Raj Sagar, menurut keterangan yang berhasil kami peroleh dari Maharaj, mereka berdua dibawa Khar Najad ke salah satu Lembah Sungai Indus, yang terdapat air terjun. Tempat itu terletak di sebelah tenggara," jelas Mahendharata.

"Terima kasih atas keteranganmu, Mahendharata," ucap Govinda, tersenyum lebar. "Mengenai pimpinan-pimpinan Pasukan Pembela Rakyat yang kau anggap masih berkeliaran seperti Darmandu, Arkham, dan Algojo Empat Serangkai, rasanya tidak perlu dicari lagi. Sebab, mereka semua telah kami tanam di dalam tanah..."

"Ah! Kau benar-benar mengagumkan, Govinda!" puji Mahendharata setengah berseru gembira. "Jasamu terhadap kerajaan perlu mendapat perhatian Batsa..."

Govinda tertawa sambil menggoyang-goyangkan telapak tangan, tanda tidak mengharapkan imbalan apa pun. Lalu wajahnya berpaling memandang Pendekar Naga Putih dan Nagina.

"Kami bertiga harus segera mencari Raj Badur dan Raj Sagar ke Lembah Sungai Indus," ujar Pendekar Naga Putih, maklum makna tatapan Govinda.

"Karena tidak ingin menyusahkanmu, maka biarkanlah kami tidak ikut serta," kata Govinda, tersenyum kepada Pendekar Naga Putih. Kemudian dimintanya Mahendharata memberi petunjuk agar bisa lebih mudah menemukan tempat air terjun itu.

Setelah merasa cukup mendapatkan keterangan dan petunjuk, Pendekar Naga Putih dan Nagina segera berpamit. Bersama Badundy, yang tidak pernah ketinggalan nona majikannya, mereka pun bergerak meninggalkan Hutan Kakaala.

Suara pertarungan yang tengah berlangsung, tidak jauh dari letak air terjun. Dan ini memudahkan Pendekar Naga Putih dan Nagina mencarinya. Mereka tiba tepat pada saat Khar Najad, yang dikeroyok Raj Badur dan Raj Sagar tengah jatuh bangun dihajar kedua orang itu. 

Raj Badur kini bukan hanya wajahnya saja yang mirip seekor singa. Malah pada jari-jari tangannya juga telah tumbuh kuku-kuku panjang dan runcing, ia meraung keras, mengejar Khar Najad yang jatuh terguling-guling. Dua tangannya bergerak susul-menyusul dengan cabikan liar. Dan....

Brettt! Bret!

"Aaa...!" Khar Najad yang sudah tidak berdaya meraung setinggi langit ketika tubuhnya tercabik-cabik tangan runcing Raj Badur. Darah muncrat dari beberapa bagian tubuhnya yang terkoyak. Penderitaannya pun segera berakhir. Cakaran kuku runcing pada tenggorokannya, membuat nyawanya seketika melayang.

Pendekar Naga Putih dan Nagina tidak keburu mencegah perbuatan Raj Badur. Mereka baru tiba di hadapan Raj Badur, setelah Khar Najad tewas. Raj Badur yang meskipun wajahnya telah jauh berubah itu, tampak melengak kaget ketika mengenali bahwa yang datang Pendekar Naga Putih. Hampir tidak dipercaya kalau Pendekar Naga Putih bisa sampai ke Tanah India.

Sementara Raj Sagar pun tidak kalah kagetnya. Apalagi ketika melihat Nagina, yang dikenalnya sebagai cucu dari Garmanu, seorang tokoh ahli pengobatan yang nama besarnya dikenal hampir seluruh tokoh persilatan baik di India Utara maupun Selatan.

"Kami hendak mengambil Sepasang Intan Biru yang kau curi itu, Raj Badur, Raj Sagar," tanpa basa-basi lagi, Pendekar Naga Putih langsung menuntut Raj Badur dan Raj Sagar.

"Kedua benda itu sudah tidak ada pada kami, Pendekar Naga Putih!" kata Raj Badur setengah menghardik. "Kami sudah menyerahkannya kepada Raja Godwana..."

"Aku tidak mau dibohongi untuk kedua kalinya, Raj Badur," tegas Pendekar Naga Putih, menatap Raj Badur dengan sorot mata mengancam.

"Raj Badur benar, Pendekar Naga Putih," timpal Raj Sagar. "Dan Raja Godwana telah memberi hadiah seperti ini" Raj Sagar segera memperlihatkan mata kanannya yang bengkak dan bernanah.

"Dan aku memperoleh ini!" Raj Badur mengangkat tangan kirinya yang buntung. Luka bekas bacokan itu tampak bengkak bernanah dan menjijikkan.

Menyaksikan luka itu, mau tidak mau Pendekar Naga Putih dan Nagina membuang muka ke arah lain. Mereka tak bisa membuang rasa jijik. Apalagi luka bernanah itu mengeluarkan bau busuk yang memualkan perut!

"Pada Sepasang Intan Biru melekat satu kutuk yang mengerikan. Dan sepertinya, kalian telah terkena kutuk itu," kata Nagina, seolah merasa bersyukur melihat Raj Badur dan Raj Sagar telah mendapatkan ganjaran atas kejahatannya.

"Tapi keterangan mereka belum tentu benar, Nagina. Ingat! Mereka adalah manusia-manusia licik yang menghalalkan segala cara demi kepentingan sendiri," tegas Pendekar Naga Putih, mengingatkan Nagina.

"Aku tidak peduli kalian percaya atau tidak!" hardik Raj Badur gusar. "Dan aku pun tidak takut menghadapimu, Pendekar Naga Putih!"

"Takut atau tidak, itu urusan kalian," tukas Pendekar Naga Putih tidak mau kalah gertak. "Dan perlu diketahui, aku tetap akan merebut Sepasang Intan Biru dari tangan kalian!"

Seketika Raj Badur dan Raj Sagar sama-sama melompat mundur, bersiap menghadapi Pendekar Naga Putih dan Nagina. Sementara itu, Ratu Iblis Tangan Darah yang tengah bertarung melawan Putri Cande Galia, menyempatkan diri untuk melirik ke tempat murid-muridnya berada. 

Perselisihan yang didengarnya tadi meskipun kata-katanya tidak jelas tertangkap, namun membuat serangan-serangannya terhenti. Lalu sekali menjejakkan kaki saja, tubuhnya langsung melesat ke tempat Raj Badur dan Raj Sagar berada.

Perbuatan Ratu Iblis Tangan Darah membuat terkejut Putri Cande Galia. Khawatir kalau Ratu Iblis Tangan Darah merebut Cermin Ajaib di tangan Raj Badur, maka tanpa membuang waktu lagi segera tubuhnya melesat ke arah Raj Badur, dengan maksud hendak merebut Cermin Ajaib.

"Kembalikan Cermin Ajaibku, Pencuri Laknat!" seru Putri Cande Galia semasih tubuhnya melayang di udara. Sementara tangan kanannya diulurkan untuk merebut Cermin Ajaib.

"Siluman betina tak tahu adat!" bentak Ratu Iblis Tangan Darah jengkel. Tangannya cepat dikibaskan ke samping, langsung memapak uluran tangan Putri Cande Galia.

Plakkk!

Putri Cande Galia terpental balik dengan sekujur lengan terasa sakit dan ngilu. Demikian cepat Ratu Iblis Tangan Darah menggerakkan tangan, memapak uluran tangannya. Sehingga benturan keras itu tidak sempat dihindarinya. Tapi, Putri Cande Galia merasa sangat bersyukur, karena sebelum dirinya dirobohkan, Ratu Iblis Tangan Darah sudah meninggalkan arena pertarungan. Dan mau tidak mau, Putri Cande Galia merasa sangat berterima kasih kepada dua pendatang yang tengah berdebat dengan Raj Badur dan Raj Sagar.

"Siapa kalian? Ada urusan apa dengan muridku?" tegur Ratu Iblis Tangan Darah pada Pendekar Naga Putih dan Nagina dengan sorot mata penuh selidik. Saat memandang wajah Pendekar Naga Putih, Ratu Iblis Tangan Darah berhenti agak lama. Wajah pemuda yang jauh berbeda dengan penduduk negeri ini, membuatnya maklum. Jelas, pemuda tampan itu dari negeri asing.

"Kami hendak mengambil Sepasang Intan Biru dari mereka," jelas Pendekar Naga Putih langsung tanpa basa-basi.

Ratu Iblis Tangan Darah kelihatan terkejut. Begitu juga Putri Cande Galia. Malah, putri bangsa siluman itu sampai menarik kepala ke belakang saking kagetnya. Karena benda yang dicari pemuda tampan itu, ada padanya. Dan ia tidak bisa menahan rasa penasarannya.

"Untuk apa kau mencari Sepasang Intan Biru?" tanya Putri Cande Galia, memandang Pendekar Naga Putih.

"Kami harus segera membawa kembali benda keramat itu!" Nagina yang menjawab. "Sebab, selama Sepasang Intan Biru belum dikembalikan ke tempat semula, yaitu pada kening patung Rama dan Shinta, rakyat negeriku yang berada di bagian India Utara, akan terus menderita. Baik itu berupa wabah penyakit menular, maupun bencana-bencana alam. Itulah sebabnya, mengapa kami berkeras untuk memperoleh kembali Sepasang Intan Biru, walau harus mempertaruhkan nyawa!"

Mendengar keterangan Nagina, Putri Cande Galia tampak termenung. Ia sendiri sangat memerlukan Sepasang Intan Biru untuk merubah dirinya menjadi manusia utuh. Semua itu akan diperoleh apabila mandi dalam air rendaman Sepasang Intan Biru selama tujuh hari tujuh malam berturut-turut. 

Kemudian, berkaca pada Cermin Ajaib untuk mengabadikan kecantikan dan kemudaannya. Tapi setelah mendengar ucapan Nagina, Putri Cande Galia menjadi bimbang. Benar, ia separuh siluman. Tapi, ia bukanlah golongan siluman jahat. Dan penderitaan rakyat negeri Nagina, membuatnya tersentuh.

"Sepasang Intan Biru ada padaku," kata Putri Cande Galia akhirnya, mengesampingkan kepentingan diri. "Raja Godwana memberikannya kepadaku, sebagai dari lamaran yang diajukannya kepadaku. Tapi karena kalian lebih memerlukannya, Biarlah Sepasang Intan Biru ini kukembalikan kepada kalian..."

Kemudian, wanita cantik ini mengambil Sepasang Intan Biru dari balik pakaiannya dan diserahkan kepada Nagina. Tapi sebelum Sepasang Intan Biru sempat diambil Nagina, Ratu Iblis Tangan Darah yang sudah merasa tertarik untuk memilikinya, bergerak cepat untuk merebut benda itu.

"Awas...!" Pendekar Naga Putih yang sejak tadi memperhatikan raut wajah dan sikap Ratu Iblis Tangan Darah berteriak memperingatkan. Sambil berseru demikian, langsung didorongnya tubuh Nagina dan Putri Cande Galia. Sehingga, dua orang wanita muda dan cantik itu sama terhuyung mundur beberapa langkah. Namun tindakan Pendekar Naga Putih telah menggagalkan perbuatan Ratu Iblis Tangan Darah!

Ratu Iblis Tangan Darah menggeram gusar. Demikian besar hasratnya untuk dapat memiliki Sepasang Intan Biru. Sehingga begitu gagal, langsung dikejarnya Putri Cande Galia.

"Cegah Nenek Buruk itu, Pendekar Naga Putih...!" seru Nagina terkejut.

Tapi tanpa diperingatkan Nagina pun, Pendekar Naga Putih memang sudah bermaksud mencegah, sebab memang tidak ingin kehilangan Sepasang Intan Biru itu lagi. Tentu saja perbuatan Pendekar Naga Putih membuat Ratu Iblis Tangan Darah menjadi marah bukan main. Begitu melihat pemuda itu menghadangnya, langsung serangan-serangan maut yang mematikan dilontarkannya.

Meskipun sudah menduga kalau nenek itu bukanlah orang sembarangan, namun tetap saja Pendekar Naga Putih dibuat terkejut. Dan kenyataan yang dilihat dan dirasakannya memang jauh lebih dahsyat daripada apa yang diperkirakan. Akibatnya serangan Ratu Iblis Tangan Darah yang sangat menggiriskan, membuat Pendekar Naga Putih kewalahan menghadapinya.

Dan kalau saja Putri Cande Galia tidak datang membantu, Pendekar Naga Putih maklum kalau dirinya mungkin akan mendapat cidera. Bantuan wanita cantik ini melegakan hatinya. Dan mereka berdua ternyata dapat bekerja sama dengan baik dalam menghadapi Ratu Iblis Tangan Darah. Maka pertarungan berjalan seru dan tampak berimbang.

Semula, Nagina hendak ikut terjun ke kancah pertarungan. Namun suara langkah kaki Raj Badur dan Raj Sagar yang secara licik hendak melarikan diri, membuatnya sadar kalau telah mendapatkan bagian. Dan dengan sekali lompatan saja, gadis itu telah berdiri menghadang di hadapan Raj Badur dan Raj Sagar. Raj Badur dan Raj Sagar maklum kalau Nagina tidak mungkin akan melepaskan begitu saja. Maka tanpa banyak cakap lagi, mereka langsung menerjang Nagina dengan hebat.

"Bagus! Memang begitulah seharusnya, karena aku tidak akan melepaskan kalian begitu saja. Arwah dua orang pendeta sahabat kakekku, tidak akan bisa tenang selama kalian masih berkeliaran menebar kejahatan di atas muka bumi ini!" ujar Nagina, langsung mempersiapkan jurus-jurus untuk menghadapi keroyokan Raj Badur dan Raj Sagar yang tampak telah nekat.

Raj Badur dan Raj Sagar maklum akan kesaktian Nagina. Maka mereka berusaha keras untuk memenangkan pertarungan, dengan mengerahkan seluruh kemampuan. Tapi, meskipun serangan-serangan mereka sangat ganas dan gencar, Nagina tetap dapat mengatasinya. Malah serangan-serangan balasannya, yang menggunakan 'Tenaga Sakti Inti Panas Bumi', membuat Raj Badur dan Raj Sagar seolah bertarung di tengah-tengah kobaran api.

Hawa panas yang keluar dari setiap sambaran tangan Nagina, membuat Raj Badur dan Raj Sagar tidak dapat memusatkan pikirannya dengan baik. Apalagi, tubuh mereka yang terasa seperti berada di atas tungku api, sudah basah kuyup oleh keringat. Dan itu sangat mengganggu, membuat mereka tidak bisa memainkan jurus-jurusnya dengan baik. Akibatnya, lewat dua puluh jurus kemudian, mereka pun terdesak hebat.

"Hyaaat...!" Disertai bentakan-bentakan keras, Nagina terus mendesak Raj Badur dan Raj Sagar. Serangan-serangannya yang susul-menyusul laksana ombak di lautan, membuat Raj Badur dan Raj Sagar semakin kewalahan dan tidak memiliki kesempatan balas menyerang. Sampai akhirnya....

Desss...!

"Aaa...!" Raj Sagar yang mendapat bagian pertama kontan terpental disertai raungan keras. Hantaman telapak tangan Nagina yang disertai tenaga berhawa panas, membuat bagian dadanya hangus seketika. Dan nyawanya sudah putus sebelum tubuhnya terbanting di tanah.

Kematian Raj Sagar membuat Raj Badur kalap! Dengan nekat, diterjangnya Nagina secara membabi-buta. Tapi hal itu justru merupakan kesalahan besar. Serangan-serangan yang dilakukan tanpa perhitungan, dengan mudah dapat dielakkan Nagina. Dan terbuka lebarnya pertahanan Raj Badur, membuat Nagina mudah sekali mengakhiri pertarungan itu. Sebuah tebasan sisi telapak tangan miring yang dilancarkan Nagina, telak bersarang di leher Raj Badur.

Diegh!

"Aakh...!" Terdengar suara bunyi berderak tulang leher yang patah. Dan, Raj Badur pun kontan terbanting, tewas menyusul Raj Sagar.

Di arena lain, Ratu Iblis Tangan Darah yang menghadapi gempuran Pendekar Naga Putih dan Putri Cande Galia, tampak mulai kewalahan. Putri Cande Galia menyerang menggunakan ilmu-ilmu negeri siluman yang bagi akal manusia sangat sulit dijabarkan. Karena tidak jarang, serangannya menggunakan lidah yang dapat memanjang keras seperti besi, dan panas seperti bara api. Dan itu sangat merepotkan Ratu Iblis Tangan Darah.

Sedangkan Pendekar Naga Putih sudah menggunakan Pedang Naga Langit, yang sambaran anginnya mengandung hawa panas menyengat disertai suara bergemuruh, laksana deru angin topan. Jurus-jurus 'Ilmu Silat Naga Sakti' yang bagi Ratu Iblis Tangan Darah sangat asing, membuatnya tak mampu balas menyerang. Sehingga setelah pertarungan memasuki jurus yang kedelapan puluh tujuh, Ratu Iblis Tangan Darah hanya bisa bertarung mundur. Memang, Pendekar Naga Putih dan Putri Cande Galia telah menutup setiap langkahnya.

Ratu Iblis Tangan Darah menyadari ancaman bahaya yang terus mengincarnya. Dan wajah buruknya kini mulai memperlihatkan kegelisahan hatinya. Malah, rasa gentar, mulai menjalari hatinya, ketika beberapa kali tusukan dan babatan Pedang Naga Langit sempat menggores bagian-bagian tubuhnya. Kenyataan ini membuat Ratu Iblis Tangan Darah maklum, kalau pada akhirnya akan dapat dikalahkan dua orang lawannya. Bayangan kematian tiba-tiba melintasi benaknya.

"Hiaaattt...!"

Dalam keadaan dihinggapi rasa putus asa, Ratu Iblis Tangan Darah tiba-tiba mengeluarkan lengkingan panjang yang merobek kekelaman malam. Pendekar Naga Putih dan Putri Cande Galia menjadi kaget, lalu melompat mundur. Mereka langsung menyiapkan seluruh kekuatan, karena menduga Ratu Iblis Tangan Darah akan mengamuk habis-habisan. 

Tapi mereka menjadi kaget, karena ketika melompat mundur Ratu Iblis Tangan Darah ternyata tidak menyerang. Sebaliknya, ia malah memutar tubuh dan melesat secepat-cepatnya pergi dari arena pertempuran. Dan kegelapan malam membantu Ratu Iblis Tangan Darah lolos.

"Tidak perlu dikejar...!"

Pendekar Naga Putih dan Putri Cande Galia menunda gerakannya, ketika menoleh dan melihat Nagina tengah melangkah menghampiri. Di tangan kanan gadis itu tampak tergenggam Cermin Ajaib yang semula diincar Ratu Iblis Tangan Darah untuk memperoleh kemudaan dan kecantikan. Nagina menyerahkan Cermin Ajaib kepada pemiliknya, Putri Cande Galia.

"Sepasang Intan Biru ini kukembalikan kepadamu. Semoga rakyat negerimu kembali mendapatkan ketenangan dan kedamaian," ujar Putri Cande Galia sambil menyerahkan Sepasang Intan Biru kepada Nagina, setelah mendapatkan kembali Cermin Ajaibnya.

"Hanya aku yang tidak mendapat apa-apa...."

Putri Cande Galia dan Nagina memutar kepala, memandang Pendekar Naga Putih. Kemudian mereka saling bertukar pandang sesaat, lalu sama-sama tersenyum.

"Apa kau sanggup memondong aku dan Nagina?"

"Haaah...?!"

Pendekar Naga Putih melongo seperti kerbau bego. Putri Cande Galia dan Nagina tertawa geli melihatnya. Tapi, tawa mereka segera terhenti ketika melihat Pendekar Naga Putih datang menghampiri dengan kedua lengan terkembang!

"Sangguuup...!" teriak Pendekar Naga Putih, siap menerkam dua wanita cantik bertubuh molek itu.

Nagina dan Putri Cande Galia langsung lari terbirit-birit dikejar-kejar Pendekar Naga Putih!

S E L E S A I